P. 1
kupinang

kupinang

|Views: 1,929|Likes:
Published by lepomedia
buku panduan bagi kita yang hendak menuju ke sebuah bahtera kehidupan rumah tangga.....met bahagia yaaaaa...by udinlepo
buku panduan bagi kita yang hendak menuju ke sebuah bahtera kehidupan rumah tangga.....met bahagia yaaaaa...by udinlepo

More info:

Published by: lepomedia on Jun 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Isi Buku

Dari Penerbit Dari Penulis Ucapan Terima Kasih Mukadimah Pernikahan Itu Agung

Jendela Pertama: Sebelum Sampai Ke Akad Nikah Bagian Satu: Kupinang Engkau Dengan Hamdalah Bab 1: Kupinang Engkau Dengan Hamdalah Bab 2: Mempertimbangkan Pinangan Bab 3: Mengenai Sumber Informasi dan Perantara Bab 4: Selama Proses Berlangsung Bab 5: Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa Bagian Dua: Mencapai Pernikahan Barakah Bab 6: Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu? Bab 7: Undangan-undangan Mubazir Itu... Bab 8: Awalnya Dari Niat

Jendela Kedua: Sejak Akad Nikah dan Malam Pertama Bagian Satu: Maka, Ia Menjadi Istrimu Bab 9: Memasuki Malam Zafaf Bab 10: Masa Pengantin Baru Bab 11: Tinggal Dimana Setelah Menikah?

Bagian Dua: Saat-saat Indah Bersama Suami Bab 12: Saat Tepat Untuk Berhias Bab 13: Keindahan Suami Istri Bab 14: Keindahan yang Lebih Besar

Jendela Ketiga: Rumah Tangga Pasca Nikah Bagian Satu: Menjaga Rumah Kita Bab 15: Biarlah Engkau yang Tercantik di Hatiku Bab 16: Komunikasi Suami Istri Bagian Dua: Membawa Keluarga Ke Masa Depan Bab 17: Komunikasi Kita dan Pendidikan Anak Bab 18: Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga Kita Bagian Tiga: Persoalan Rumah Tangga Bab 19: Konflik dan Perceraian Bab 20: Poligami

Epilog Tuhan, Dimana Fathimatuz Zahra Sekarang? Pamit Penulis

Jendela Pertama Sebelum Sampai Ke Akad Nikah
.....................................................

Bagian Satu: Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Bab 1 Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Kupinang Engkau dengan Hamdalah

- Mendahului dengan Hamdalah Wanita Boleh Menawarkan Diri Bab 2 Mempertimbangkan Pinangan Catatan Bagi Ayah Memperhatikan Agama Meminta Izin Anak Meminta Pertimbangan Istri Musywarah Catatan Bagi Wanita yang Dipinang Agama Calon Suami Kemandirian Ekonomi Ada Ladang Amal Shalih Nikah dan Menuntut Ilmu Mengenai Syarat Nikah Menyampaikan Isi Hati Kepada Ibu Jangan Buka Pintu Lagi Mengapa Kau Mempersulit Diri? Bab 3 Mengenai Sumber Informasi dan Perantara Pertama, Memberi Informasi Obyektif Kedua, Tidak Persuasif Ketiga, Memberi Informasi Menurut Apa Yang Diketahuinya Keempat, Lebih Melihat Pada Usaha Kelima, Moderat dan Tidak Menyudutkan

Keenam, Memotivasi Jika Mampu Perantara untuk Menawarkan Maksud Seorang Wanita .................................................................................................................................... Bab 4 Selama Proses Berlangsung Persangkaan Kepada Allah Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon .................................................................................................................................... Bab 5 Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa Pertama, Tanda-tanda Hati Kedua, Tanda-tanda Perumpamaan Segala Puji Bagi Allah

Bagian Dua: Mencapai Pernikahan Barakah
Bab 6 Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu? MASALAH MAHAR Sebaik-baik Mahar -Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif Pernikahan Fathimah Az-Zahra -Seperti Apakah Keturunan Kita? Berapa Ukuran Mahar? Berlebihan Menuntut Mahar -Biarlah Rasulullah yang Menjadi Wali -Peringatan Penting jalinan Perasaan yang Barakah -Peringatan bagi Suami
- Hak Atas Mahar

MEMPERSULIT PROSES PERNIKAHAN Pertama, Menyebabkan Pembandingan Kedua, Menimbulkan Keraguan

Ketiga, Melemahkan Kesediaan Berjuang Bersama-sama Keempat, Mengeraskan Hati Antara Mempersulit dan Kesulitan MENGAJUKAN SYARAT NIKAH Mempersyaratkan Tinggal Di Rumah Istri Mensyaratkan Tidak Berhubungan Intim Mempertimbangkan Kembali Syarat Nikah Kelak Ada Dialog Bab 7 Undangan-undangan Mubazir itu Bab 8 Awalnya Dari Niat NIAT KETIKA MENIKAH -Niat Ketika Memilih Pendamping -Niat Dalam Urusan Pernikahan

MASIH ADA NIAT SESUDAH AKAD NIKAH HUJAN ITU MENSUCIKAN BUMI

Jendela Dua
............................ Bagian Satu Memasuki Jenjang Pernikahan ***

Bab 9 Memasuki Malam Zafaf Ikatan itu Bernama Mitsaqan-Ghalizhan Mengucapkan Ijab-Qobul Nikah - Siapa yang Menikahkan? Walimah Itu Ungkapan Syukur Memasuki Malam Zafaf Kelengkapan Zafaf - kelengkapan laki-laki - kelengkapan Wanita Kelengkapan Tambahan Mengajak Istri Shalat Bersama - Masalah Kita Makanan Kecil Pembuka Apakah Sekarang Saat yang Tepat? - Urusan Berkenaan dengan Pakaian - Bercanda - Salah Tingkah Itu Rahmat - Selanjutnya, Istri Hendaknya Tidak Malu - Berbicara Dari Hati Ke Hati - Mandi Janabah Bersama - Masih Ada Kehangatan Bab 10 Masa Pengantin Baru Belajar Mendampingi Suami Merintis Kebiasaan Yang Baik Dan Istri Pun Hamil Bab 11 Tinggal Dimana Setelah Menikah? TINGGAL DI RUMAH SENDIRI Catatan Ketika Mengontrak Rumah - Masalah Anak Ketika Pindah

TINGGAL BERSAMA ORANGTUA - Anak yang Diharapkan - Keluarga yang Menuntut - Saudara Perempuan Tinggal Serumah PRIORITAS TEMPAT TINGGAL

Bagian Dua Saat-saat Indah Bersama Suami *** Bab 12 Saat Tepat Untuk Berhias Saat Suami Akan Pergi Saat Suami Pulang - Ketika Suami Harus Pulang Mendadak Saat Berangkat Ke Pembaringan Bab 13 Keindahan Suami Istri Laki-laki dan Perempuan Memang Beda Mandi Jinabah Istri Juga Memiliki Kebutuhan Maka dalam Jima’ Ada Kemuliaan MENGGAIRAHKAN SUAMI - Membuang Rasa Malu - Allah Telah Menghalalkan - Pakaian dan Parfum Istri - Ciptakan Suasana Dulu - Hanya Untuk Anda - Aktif Secara Bijak - Mandi Jinabah Bersama - Kebutuhsn Wanita Lebih Bersifat Psikis SAAT-SAAT YANG TEPAT - Malam-malam Bahagia - Ketika Hati Yang Berselisih Rukun Kembali - Saat Suami Menghadapi Cobaan

KETIKA JIMA’ MENJADI KEUTAMAAN Pertama, Ketika Pulang dari Bepergian Kedua, Ketika Harus Pulang Mendadak JIMA’ SELAMA HAMIL Jangan Tinggalkan Istri Anda Kesepian Mengubah Posisi Jima’ JIMA’ SETELAH PERSALINAN Padahal Istri Sedang Haid Bab 14 Keindahan yang Lebih Besar

Jendela 3

.........................................................................................

Bagian Satu
Menjaga Rumah Kita .........................................................................................

Bab 15 Biarlah Kau yang Tercantik di Hatiku Engkau yang Tercantik Di Hatiku Bab 16 Komunikasi Suami Istri Menyalahkan Pasangan Saling Menyalahkan Tanpa Alternatif Sangat Sensitif Terhadap Kritik Cara Berpikir “Semua Salah” Tidak Mencari Akar Masalah Tanpa Jangkauan Ke Depan Komunikasi Kursif karena Cara Berbicara Kenangan Indah

Bagian Dua
Membawa Keluarga Ke Masa Depan

Bab 17 Komunikasi Kita dan Pendidikan Anak Bab 18 Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga Sudah Termasuk Menggunjing Ada Yang Dibolehkan Allah Mengancam Allah Akan Mempermalukan Mereka Memakan Bangkai Manusia Ia Merusak Kita Hubungan Suami Istri Cenderung Bersifat Permukaan Kepercayaan Sulit Dibangun Kepuasan Rendah Saling Pengertian Sulit Tumbuh “Sibuk” Menepis Penilaian Sosial

Dan Masyarakat Pun Hancur Zhan Yang Terpenuhi Terbentuknya Persistensi Tentang Orang Lain Masyarakat Tak Lagi Ikut Mendidik Anak Kita Anak-anak Pun Menjadi Korban

Bagian Tiga
Persoalan Rumah Tangga ***

Bab 19 Konflik dan Perceraian Perbedaan dalam Perkara Yang Wadag Sikap Terhadap Hidup dan Teman Hidup Perbedaan Prinsip Keimanan Ketika Kemelut Itu Terjadi - Sabar - Dialog - Mencari Penengah Konflik dan Perceraian Perceraian Para Sahabat Yang Harus Dijaga Ketika Bercerai Jangan Rusak Kehormatannya Jangan Kau Rampas Rezeki Anakmu Kemana Engkau Pergi?

Bab 20 Poligami Poligami Orang-orang Shaleh

Epilog
Bab 21 Tuhan, Dimana Fathimatuz Zahra Sekarang? Mihrab Agung Orang-orang Tercinta

Pamit Penulis

[Kata Pengantar]

Dari Penulis
.........................................................................

❖❖❖

H

anya Allah yang berhak dipuji, meskipun kita sering haus pujian. Hanya Allah yang mampu menyangga segala macam pujian yang ditujukan bagiNya. Selain Allah, tak ada yang kuat menyangga berba-gai pujian, kecuali orang yang Allah telah berikan kepada-nya taufiq dan hidayah. Maka, izinkanlah saya untuk memu-lai buku ini dengan hamdalah, dengan pujian kepada Allah 'Azza wa Jalla. Bersama-sama saya, mari kita ucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Kemudian mari kita ingat nikmat-Nya yang lebih sering kita ingkari daripada kita syukuri itu. Kemudian mari terima nikmat-Nya dan kita berbahagia karenanya. U-capkanlah pujian kepadanya bahwa hari ini kita bisa makan. Sementara jutaan saudara-saudara kita menahan lapar se-tiap hari. Sepiring nasi panas dengan lauk ala kadarnya ada-lah kenikmatan luar biasa jika dihidangkan dan dilahap de-ngan rasa syukur, berterima kasih kepada Allah yang telah memperhatikan kebutuhan kita. Bergembiralah, karena kita bisa mengenyangi perut kita dan istri kita dengan rizki yang halal, di saat ada saudara kita yang harus mencuri tiga batang pohon singkong milik tetangganya untuk mempertahankan hidup agar anaknya tidak sampai mati kelaparan. Sesungguhnya Allah memberi kita nikmat yang ba-nyak. Sayang, kita sulit mensyukurinya. Sesudah itu, marilah kita tundukkan hati sejenak. Mari kita ucapkan shalawat atas Nabi Muhammad, manusia suci yang Allah sendiri memujinya. Shalawat kita juga untuk ke-luarganya yang mulia, yang Allah juga memujinya. Mari kita ucapkan pelan-pelan: "Allahumma shalli 'alaa Muham-mad wa 'alaa ali Muhammad". Selebihnya, saya ingin menceritakan kepada Anda ten-tang buku yang sedang Anda baca ini. Secara umum, buku ini merupakan edisi satu jilid dari keseluruhan trilogi Kupinang Engkau dengan Hamdalah, yakni buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah -judul buku sama dengan nama triloginya-- yang terbit akhir Juni 1997, Mencapai

Pernikahan Barakah (akhir Oktober, 1997), serta yang ketiga Disebabkan Oleh Cin-ta, Kupercayakan Rumahku Padamu (Juli, 1998). Isinya, dengan demikian, ya sama. Hanya ada berbagai penambahan infor-masi atau pendalaman pembahasan. Bab Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga dibahas lebih tuntas pada buku ini, hal yang belum bisa saya lakukan pada buku Disebabkan Oleh Cinta mengingat terbatasnya halaman. Begitu juga misalnya, bab Mempertimbangkan Pinangan dibahas lebih jauh pada bu-ku Kado Pernikahan untuk Istriku yang sedang Anda baca ini. Ada penambahan dua sub judul pada bab tersebut, yakni peringatan agar tidak membuka pintu pinangan setelah menerima pinangan dari orang lain serta pertimbangan bagi yang telah menikah untuk tidak mempersulit diri dengan merahasiakan pernikahan jika tidak ada sesuatu yang membawa madharat besar manakala diumumkan. Sub bab Jangan Buka Pintu Lagi, sekedar contoh saja, sebelumnya tidak masuk dalam buku Kupinang Engkau de-ngan Hamdalah. Akan tetapi ketika saya menjumpai ada sau-dara kita yang menghadapi masalah karena menerima pinangan setelah pinangan orang lain secara resmi diterima, maka saya tergerak untuk menambah-kan sub bab ini pada bab Mempertimbangkan Pinangan agar bisa menjadi peringatan bagi kita. Sebab tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan melakukan hal yang sama, seandai-nya kita tidak ingat peringatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar tidak meminang wanita yang telah dipinang saudaranya. Selain penambahan dan pendalaman, ada juga peng-hapusan hal-hal yang ternyata saya lihat tidak terlalu perlu, meskipun tidak semua penghapusan karena alasan ini. Sebagian saya hapus karena pijakannya kurang kuat, sekali-pun secara psikologis dapat dipertanggungjawabkan. Sebagian saya hapus semata-mata untuk meringankan be-ban moral. Mengapa? Itu yang saya tidak enak untuk me-nulis di sini. Alhasil, buku ini tidak persis sama isinya dengan edisi yang terpisah-pisah. Mudahmudahan bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita semua, terutama bagi Anda yang mau menikah atau baru menikah dan punya anak. Mudah-mudahan Allah meridhai usaha ini dan memaafkan kesalahan-kesalahan saya dalam menulis buku ini.

Pembaca, Sebelum kata pengantar ini saya tutup, masih ada yang ingin saya sampaikan. Ada perubahan dalam perwajahan buku ini. Tidak seperti buku-buku kita sebelumnya, daftar isi untuk buku Kado Pernikahan ini kita cetak berwarna. Se-lain itu, daftar isi tidak memberi informasi isi buku secara lengkap. Hanya garis besar. Informasi tentang isi buku se-cara lebih rinci, bisa Anda jumpai pada tiap-tiap Jendela Pembahasan. Pada beberapa halaman diberi ornamen. Selain itu, jenis huruf yang dipakai juga sangat beragam, sehingga tidak terasa monoton. Jarak antar paragraf juga diusahakan

setepat mungkin dengan mempertimbangkan berat ringan-nya pembahasan, nilai penting tiap-tiap paragraf, serta ke-mampuan mata untuk membaca secara efektif. Berbagai perbaikan pada buku ini, khususnya pada per-wajahan buku, dilakukan untuk tujuan sederhana: memudah-kan Anda membaca dan memahami buku ini. Buku ini tebal, ka-rena itu kami tidak ingin Anda kecapekan membaca karena perwajahan buku yang kaku. Betapa banyak buku-buku yang sangat bagus isinya, tetapi tidak disentuh oleh pemba-ca semata-mata karena perwajahan yang melelahkan atau sampul buku yang salah. Saya pernah melihat satu buku terjemahan yang sampulnya menjengkelkan dan perwajah-annya (lay out) menyedihkan, ternyata isinya sangat berman-faat. Masih ada keinginan saya berkenaan dengan perwajah-an buku, tetapi untuk kondisi kita saat ini masih belum me-mungkinkan. Saya sebenarnya ingin memberi ruangan yang cukup lebar di bagian pinggir buku, sehingga Anda bisa memberi hasyiah (catatan pinggir) --salah satu tradisi Islam yang sangat berharga. Tetapi jika ini dilakukan untuk selu-ruh bab, buku yang sudah tebal ini akan membengkak hala-mannya secara besarbesaran. Padahal, harga kertas seka-rang sangat mahal. Begitulah. Dan tegur sapa Anda saya tunggu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Yogyakarta, 1 Juli 1998 Mohammad Fauzil Adhim

[Pendahuluan] ...........................................................

(Mukadimah)

ika ada surga di dunia, maka surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia, itu adalah rumah tangga yang penuh pertengkaran dan kecurigaan-kecurigaan yang menakutkan di antara suami dan istri. Di Timur dan di Barat, banyak usaha dilakukan orang untuk mencapai pernikahan yang bahagia. Kadangkala usa-ha itu mendekati kebaikan, kadangkala justru menjauhkan orang dari pernikahan yang sungguh-sungguh bahagia. Ma-rriage contracts adalah salah satu contoh usaha mencapai ke-bahagiaan pernikahan yang saya kira lebih banyak sedihnya daripada bahagianya. Marriage contracts atau kontrak perka-winan adalah model yang lazim dipergunakan oleh pengan-tin-pengantin di Amerika untuk mengatur hubungan antara suami dan istri seperti yang dikehendaki oleh kedua belah pihak. Masing-masing menandatangi surat perjanjian yang berisi tentang kewajiban masing-masing pihak terhadap orang lain. Misalnya, siapa yang harus membuat secangkir kopi panas setiap pagi. Atau, apa yang harus dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Katakanlah, kapan suami berkewajiban mengatakan "I love you". Kebahagiaan memang mahal. Buku-buku konseling atau psikologi perkawinan terus berusaha menemukan akar masalah ketidakbahagiaan perkawinan, meskipun ternyata masih banyak yang menemui kegagalan. Tulisan James O. Prochaska & Carlo C. DiClemente adalah salah satu yang bisa menerangkan dengan agak baik. Dari serangkaian pene-litian, Prochaska dan DiClemente menyimpulkan bahwa faktor yang sangat banyak mempengaruhi perkawinan itu bahagia atau tidak, perkawinan yang lumpuh dapat diper-baiki atau tidak, adalah orientasi pasangan suami istri itu terhadap anak. Suami istri yang memiliki orientasi kuat ter-hadap pendidikan anak, mempunyai keinginan-keinginan yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya, akan lebih bahagia. Mereka ini --yang memiliki orientasi kuat terhadap pendidikan anakanak mereka-- semakin bahagia manakala anaknya semakin banyak. Kalau begitu, apakah sebaiknya kita mengikuti James O. Prochaska agar pernikahan kita bahagia? Emm, kita be-lum bisa memutuskan. Sebab, mereka yang mempunyai orientasi kuat terhadap pendidikan anak, sering mengalami situasi kesepian dan tidak berguna begitu anak-anak mereka telah mandiri dan satu per satu meninggalkan rumah untuk memasuki rumah mereka sendiri. Mereka dapat merasa ba-hagia, sejauh anak-anak mereka yang telah mandiri menun-jukkan bahwa mereka masih membutuhkan peran orang-tuanya. Alhasil, bagaimana kesimpulannya? Silakan Anda am-bil kesimpulan sendiri setelah menyimak sedikit informasi yang telah saya sampaikan.

J

Sambil menanti Anda mengambil kesimpulan, saya ingin mengajak Anda untuk melihat gambaran yang sangat berbeda tentang orientasi perkawinan. Jika buku-buku psi-kologi atau artikel-artikel perkawinan selalu berbicara ten-tang perkawinan yang bahagia (happy marriage atau successful marriage), maka kita mendapati cerita yang berbeda da-lam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Sinni dan yang lainnya dengan kedudukan hasan. Selengkapnya, mari kita simak kisah pernikahan Uqail bin Abu Thalib dengan seorang wanita dari kalangan Bani Jasym. Seperti lazimnya upacara pernikahan, tamutamu berdatangan. Dan seperti lazimnya upacara pernikahan di masa sekarang, para tamu ketika itu memberi ucapan sela-mat sekaligus sebagai do'a. "Semoga bahagia dan banyak anak," kata para tamu kepada pengantin laki-laki. Menerima ucapan selamat seperti itu, Uqail segera ter-ingat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Ke-mudian ia berkata, "Jangan kalian mengatakan demikian, karena sesungguhnya Rasulullah Saw. telah melarang hal tersebut." "Kalau demikian," kata mereka, "apakah yang harus ka-mi katakan, wahai Abu Zaid?" "Katakanlah oleh kalian," jawab Uqail, "Semoga Allah membarakahi Anda sekalian dan melimpahkan barakah kepa-da Anda. Demikian yang diperintahkan kepada kita." Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting untuk dicari dalam pernikahan bukan kebahagiaan. Yang paling penting justru barakah, konsep yang sangat se-ring terdengar tetapi tidak banyak diketahui artinya. Men-do'akan pengantin baru agar dapat mencapai pernikahan yang bahagia dan sekaligus banyak anak dilarang (makruh). Sebaliknya, sunnah bagi kita mendo'akan saudara kita yang menikah dengan do'a barakah. Mudah-mudahan pernikahan itu barakah bagi pengantinnya dan barakah atas pengantin-nya, yakni barakah pernikahan tersebut juga terasakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Kalau begitu, apakah "bahagia dan banyak anak" meru-pakan kata yang tabu dalam pernikahan yang Islami? Bukan begitu. Melalui lisan suci Rasulullah Saw., Islam justru me-ngingatkan kita agar tidak melupakan kriteria memilih istri agar dapat memperoleh kesenangan dan banyak anak. "Kawinilah wanita yang subur rahimnya (waluud) dan pencinta," sabda Rasulullah Saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa'i dan AlHakim. "Sebab aku kelak berbanyak-banyak kepada umat-umat lain de-ngan kalian." Rasulullah Saw. juga pernah menganjurkan, "Pilihlah yang masih gadis karena ia lebih manis mulutnya, lebih da-lam kasih-sayangnya, lebih terbuka, dan lebih menginginkan kemudahan."

Yang dimaksud dengan "mulut manis" adalah ucapan-nya, kata Abdul Hamid Kisyik. Adapun yang dimaksud de-ngan "lebih dalam kasih-sayangnya" adalah banyak melahir-kan anak, terbuka, dan polos. Ketika seorang sahabat memberi tahu Rasulullah bah-wa ia baru saja menikah dengan seorang janda, Rasulullah Saw. mengatakan, "Mengapa tidak gadis yang ia dapat berma-in denganmu, dan engkau dapat bermain dengannya, eng-kau menggigitnya dan ia menggigitmu?" (HR An-Nasa'i, sha-hih). Sebagian sahabat Nabi memberi keterangan, Tetaplah kalian mengawini gadisgadis, sebab mereka lebih manis mu-lutnya, lebih rapat rahimnya, lebih hangat vaginanya, lebih sedikit tipuannya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit. Keterangan sahabat ini senada dengan hadis Nabi yang mengingatkan:

Khath Arab

"Kawinilah oleh kalian perawan, sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya, lebih hangat vagina-nya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit." (HR. Abu Na'im melalui Ibnu Umar r.a.. Periksa Mukhtarul Ahaadits). Yang dimaksud dengan lebih rapat rahimya (antaqu ar-haman) adalah banyak melahirkan. Umar bin Khaththab menganjurkan, "Perbanyaklah anak karena kalian tidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rezeki." Anak yang barakah adalah rezeki akhirat sekaligus reze-ki dunia. Kita tidak tahu anak yang mana yang paling besar membawa rezeki, sehingga bisa mengangkat kita kepada kebahagiaan akhirat. Masih ada hadis-hadis mengenai kesenangan-kesena-ngan yang bisa diperoleh ketika menikah dan perlu diper-timbangkan ketika akan melangkah ke sana. Allah Swt. juga telah berfirman, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sen-diri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepa-danya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sa-yang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Ruum [30]: 21). Tetapi ada yang unik. Kita dilarang mendo'akan orang yang menikah agar mendapat kebahagiaan dan banyak anak dalam pernikahannya. Kita diminta untuk mendo'akan me-reka semoga Allah membarakahi pengantin itu dan melim-pahkan barakah bagi mereka. Yang pertama, mendo'akan agar mereka menjadi suami istri yang penuh barakah, sehingga sekelilingnya ikut terkena barakahnya. Yang kedua, mendo'a-kan agar mereka mendapatkan barakah. Wallahu A'lam bisha-wab. Mengapa kita disuruh mendo'akan dengan do'a barakah dan tidak dengan do'a banyak anak, padahal ada beberapa anjuran untuk memperbanyak anak? Sekali lagi, Allahu A'lam bishawab.

Ketika bertemu kawan, kita juga mendo'akan barakah. Tapi sebelum sampai kepada barakah, kita mendo'akannya semoga Allah melimpahkan salam (kedamaian dan keten-teraman) dan rahmat. Maka kita pun mengucapkan assalamu-'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Untuk mencapai barakah, orang terlebih dulu mempe-roleh salam dan rahmat. Sebuah keluarga bisa barakah jika di dalamnya ada sakinah. Mereka merasakan ketenteraman. Dalam keadaan diguncang kesulitan atau dikarunia kesuk-sesan, suami dan istri merasakan ketenteraman saat ber-dekatan. Ketika suami datang dengan wajah kusam berlipat-lipat, istri memberi sambutan hangat besemangat. Wajahnya tetap teduh dan penuh perhatian sehingga suami semakin sayang. Jika Anda mempunyai istri demikian, bersyukurlah. Anda sudah mendapatkan kunci kebahagiaan. "Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan-mu, dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak mem-buatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa men-jaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu merasa lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di da-lamnya." Kalau keluarga Anda penuh barakah dan Allah melim-pahkan barakah atas keluarga Anda, maka Anda akan men-dapati rumah tangga yang diliputi oleh mawaddah wa rahmah (ketulusan cinta dan kasih-sayang). Kalau suami resah, ada pangkuan istri yang siap merengkuh dengan segenap pera-saannya. Kalau istri gelisah, ada suami yang siap menam-pung airmata dengan dekapan hangat di dada, serta usapan tangan yang memberi ketenteraman dan perlindungan. Tanpa adanya sakinah, mawaddah wa rahmah, keluarga sulit mencapai barakah dan penuh dengan kebarakahan. Su-ami-istri tidak bisa saling mencurahkan kasihsayang secara penuh. Mereka tidak bisa saling menerima, mempercayai dan memaafkan kekurangan-kekurangan, padahal setiap ki-ta selalu punya kekurangan. Di sini keluarga dipenuhi oleh keluh-kesah dan kekecewaan. Bukan oleh keadaan ekonomi, melainkan oleh ketidakpuasan terhadap teman hidupnya beserta keluarganya. Sehingga interaksi antar keduanya menjadi kering, sangat periferal. Bukan dari hati ke hati, se-hingga saling merindukan. Pergi tiga hari saja tidak ditunggu-tunggu kedatangannya. Apalagi sekedar terlambat pulang satu atau dua jam. Dalam keadaan yang demikian, keluarga tidak menjadi tempat terbaik untuk membesarkan anak dan menumbuh-kan kekuatan jiwa mereka. Rumah menjadi tempat yang sempit, sehingga anak-anak dan suami tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Meskipun secara fisik, rumah cukup besar dan megah. Jadi, jika Anda mendo'akan barakah, insya-Allah Anda juga mendo'akan sakinah, mawaddah wa rahmah bagi keluarga yang akan dibangun oleh pengantin baru itu.

Anda juga mendo'akan mereka mendapatkan keturunan yang barakah. Biar anak banyak asal barakah, sungguh sangat alhamdulillah. Mendo'akan barakah sama seperti menyuruh shalat. Kalau Anda menyuruh saya melakukan shalat, berarti Anda juga menyuruh saya untuk berwudhu atau malah mandi jinabah jika saya sedang berhadas besar. Sebab, tidak bisa saya melakukan shalat kalau saya berhadas. Kalau Anda menganjurkan saya shalat dengan khusyuk dan tenang, berarti Anda juga menganjurkan saya menghi-langkan perintang-perintang ketenangan. Anda tetap bisa shalat, tetapi ketika isya' itu perut Anda melilit-lilit shalat Anda tidak bisa tenang. Karena itu makanlah lebih dulu. Semoga shalat Anda lebih sempurna. Tetapi kalau Anda menyuruh saya mandi, tidak secara otomatis menyuruh saya shalat. Begitu juga kalau Anda mendo'akan banyak anak, belum tentu barakah. Malah anak bisa menjadi fitnah yang menyusahkan orangtua dunia akhirat. Ini tidak berarti Anda tidak boleh meraih kesenangan dan bercanda dengan anak istri. Malah sebagaiman ditun-jukkan di awal tulisan ini, kita banyak ditunjukkan dan "di-perintahkan" untuk memperoleh kesenangan-kesenangan itu. Bahkan, berjima' pun bernilai ibadah. Kalau Anda berhubungan intim, Anda akan mendapat pahala shalat Dhuha. Kalau Anda meremas-remas jemari istri dengan remasan sayang, dosa-dosa Anda berdua bergu-guran. Kalau Anda menyenangkan istri sehingga hatinya bahagia dan diliputi suka cita, Anda hampir-hampir sama dengan menangis karena takut kepada Allah. SubhanaLlah. Maha Suci Allah. Ia memberi keindahan. Ia juga memberi pahala dan ridha-Nya. "Barangsiapa menggembirakan hati seorang wanita (is-tri), "kata Rasulullah Saw., "seakan-akan menangis karena takut kepada Allah. Barangsiapa menangis karena takut ke-pada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari ne-raka." "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya," kata Nabi Saw. menjelaskan, "maka Allah memperhatikan mereka ber-dua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka bergu-guranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jari-jema-rinya." (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri r.a.). Bahkan, pahala yang didapatkan ketika bersetubuh de-ngan istri bisa mencapai tingkat pahala mati terbunuh dalam perang di jalan Allah. Nabi kita Muhammad alma'shum bersabda, "Sesungguhnya seorang suami yang mencampuri istrinya, maka pencampurannya (jima') itu dicatat memper-oleh pahala seperti pahala anak lelaki yang berperang di jalan Allah lalu terbunuh." Mengenai hadis yang disebut terakhir ini, saya tidak menemukan keterangan lebih lanjut. Tetapi dari berbagai hadis tentang jima' dan bercumbu, kita mendapati bahwa ke-duanya merupakan sesuatu yang dihormati dan bagi yang melakukannya secara sah, Allah memberi pahala yang besar. Bahkan, orang yang meninggalkan jima' bisa "keluar dari Islam" (tidak termasuk ummat Muhammad) manakala tindakannya menyebabkan suami atau istri mengalami pen-deritaan.

Wallahu A'lam bishawab.

Jika pernikahan Anda barakah, insyaAllah Anda mendapati pernikahan sebagai jalan yang menyelamatkan. Siapa saja yang memperoleh keselamatan? Anda sendiri, istri atau suami Anda, anak-cucu serta orangtua Anda, termasuk mer-tua. Mereka akan saling tolong menolong dengan amalnya sepanjang anak, istri, orangtua dan mertua tetap dalam ke-imanan dan takwa. Mereka yang derajat amalnya kurang disusulkan kepada yang derajat amalnya lebih tinggi. Allah Swt. menjanjikan hal ini dalam surat Az-Zukhruf ayat 70, Masuklah ke surga beserta istri kamu untuk digem-birakan. Kemudian, di dalam surat Ar-Ra'd ayat 23, Allah Swt. mengabarkan, Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya ber-sama mereka yang saleh di antara orangtua mereka, istri-is-tri mereka, dan keturunan mereka. Abdullah bin 'Abbas, kata Ath-Thabrani dan Ibn Mar-dawaih, meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Ketika seorang masuk ke surga, ia menanyakan orangtua, istri dan anak-anaknya. Lalu dikatakan padanya, 'Mereka tidak mencapai derajat amalmu.' Ia berkata, 'Ya Tuhanku, aku beramal bagiku dan bagi mereka.' Lalu Allah memerin-tahkan untuk menyusulkan keluarganya ke surga itu." Setelah itu Ibn 'Abbas membaca surat Ath-Thur ayat 21, Dan orang-orang beriman, lalu anak-cucu mereka meng-ikuti mereka dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedi-kit pun. Pertanyaannya, bagaimana pernikahan bisa menjadi jalan keselamatan bagi mertua? Bukankah yang akan disu-sulkan adalah orangtua, istri dan anak-cucu? Mertua adalah orangtua teman hidup kita, istri kita. Jika saat menikah istri meniatkan untuk mencapai keselamatan agama dan menja-ga kehormtan farjinya, insya-Allah yang demikian ini dapat membawa orangtuanya kepada keselamatan dunia akhirat. Bukankah kalau seorang anak perempuan melakukan per-buatan dosa karena tidak dinikahkan oleh ayahnya pada saat ia seharusnya menikah, dosa-dosanya akan ditanggung oleh ayahnya? Jadi, pernikahan barakah adalah jalan keselamatan. Me-milih calon istri --juga calon suami-- juga berarti memilih orang yang diharapkan dapat ikut menyelamatkan orangtua dan anak-cucu kelak di yaumil-qiyamah, seorang yang dapat ikut mendekatkan kepada syafa'at di hari akhir. Seorang is-tri yang membantu suaminya bertakwa dan memperbaiki akhlak, berarti membantu mertuanya mencapai surga. Tindakannya sendiri merupakan "wasilah" untuk mencapai surga dan kasih-sayang Allah bagi dirinya sendiri maupun orangtua, karena orangtua bisa disusulkan kepada derajat amal anaknya. Wallahu A'lam bishawab. Maka semakin besar barakah pernikahan Anda, berarti semakin luas wilayah keselamatan dan kedamaiannya. Ti-dak hanya keluarga, masyarakat pun bisa ikut memperoleh barakahnya, meskipun saat itu mereka tidak merasakan langsung. Sebab adakalanya barakah yang sampai ke masya-rakat tampak dengan segera. Adakalanya,

sesudah anak-anak yang lahir dari pernikahan itu dewasa. Adakalanya malah sesudah mereka tidak ada lagi. Sebagian malah tidak terlihat secara kasat mata, padahal Allah menolak bencana karena satu orang ini. Misalnya, jika keluarga itu melahirkan seorang wali 'abdal. Siapakah wali 'abdal itu? Abu Nu'aim dalam Hilyat Al-Awliya', kata K.H. Jalaluddin Rakhmat, meriwayatkan sabda Nabi Saw., "Karena merekalah Allah menghidupkan dan me-nolak bencana." Sabda Nabi ini terdengar begitu berat sehingga Ibnu Mas'ud bertanya, "Apa maksud 'karena mereka-lah Allah menghidupkan dan mematikan'?" Rasulullah Saw. ber-sabda, "Karena mereka berdo'a kepada Allah supaya diper-banyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memo-hon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan me-reka. Mereka berdo'a agar turun hujan, maka Allah turun-kan hujan. Karena permohonan mereka, maka Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena do'a mereka, Allah menolak berbagai bencana." Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap ba-gian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terima kasih khu-sus kepada mereka. Kata Rasulullah, "Mereka mencapai kedudukan mulia itu karena banyak shalat atau puasa." Karena apa mereka mencapai derajat itu? Bissakhai wan-nashihati lil muslimin, kata Rasulullah Saw. Dengan kederma-wanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum muslimin.

Bab 1

K

upinang Engkau

dengan Hamdalah

S

uatu saat, seorang akhwat bertanya kepada saya. Pertanyaannya sederhana, akan tetapi tidak mudah bagi saya untuk dengan tepat menjawabnya. Saat itu akhwat kita ini mengajukan pertanyaan retoris, pertanyaan yang seolah-olah tidak membutuhkan jawaban, akan tetapi sekarang saya bisa merasakan bahwa ada hal yang diam-diam menjadi masalah. Saya bisa merasakan, ada sesuatu yang sedang berlangsung namun tidak banyak terungkap karena berbagai sebab. Ketika itu, akhwat tersebut mengajukan pertanyaan yang pada intinya adalah: “Apa yang menghalangi ikhwan-ikhwan itu meminang seorang akhwat? Mengapa ikhwan banyak yang egois, hanya memikirkan dirinya sendiri?” “Sesungguhnya,” kata akhwat tersebut, “banyak akhwat yang siap.” Akhwat itu bertanya bukan untuk dirinya. Telah beberapa bulan ia menikah. Ketika mempertanyakan masalah itu kepada saya, ia didampingi suaminya. Ia bertanya untuk mewakili “suara hati” (barangkali demikian) akhwat-akhwat lain yang belum menikah. Sementara usia semakin bertambah, ada kegelisahan dan kadangkadang kekhawatiran kalau mereka justru dinikahkan oleh orangtuanya dengan lakilaki yang tidak baik agamanya. Pertanyaan akhwat itu serupa dengan pertanyaan Rasulullah al-ma’shum. Beliau yang mulia pernah bertanya, “Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri? Mudah-mudahan Allah mengaruniainya keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.” Apa yang menghalangi kita untuk menikah? Kenapa kita merasa berat untuk meminang seorang akhwat secara baik-baik dengan mendatangi keluarganya? Apa

Kado Pernikahan

1

yang menyebabkan sebagian dari kita merasa terhalang langkahnya untuk mempersunting seorang gadis muslimah yang baik-baik sebagai istri, sementara keinginan ke arah sana seringkali sudah terlontarkan. Sementara kekhawatiran jatuh kepada maksiat sudah mulai menguat. Sementara ketika “maksiat-maksiat kecil” (atau yang kita anggap kecil) sempat berlangsung, ada kecemasan kalau-kalau keterlambatan menikah membuat kita jatuh kepada maksiat yang lebih besar. Saya teringat kepada burdah, syair karya Al-Bushiri. Di dalamnya ada beberapa bait sindiran mengenai saya dan Anda: Siapakah itu yang sanggup kendalikan hawa nafsu seperti kuda liar yang dikekang temali kuat? Jangan kau berangan dengan maksiat nafsu dikalahkan maksiat itu makanan yang bikin nafsu buas dan kejam Sungguh, hampir saja kaki kita tergelincir kepada maksiat-maksiat besar kalau Allah tidak menyelamatkan kita. Dan kita bisa benar-benar memasukinya (na’udzubillahi min dzalik tsumma na’udzubillahi min dzalik) kalau kita tidak segera meniatkan untuk menjaga kesucian kemaluan kita dengan menikah. Awalnya menumbuhkan niat yang sungguh-sungguh untuk suatu saat menghalalkan pandangan mata dengan akad nikah yang sah. Mudah-mudahan Allah menolong kita dan tidak mematikan kita dalam keadaan masih membujang. Rasulullah Muhammad Saw. pernah mengingatkan: “Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan.” Rasulullah Saw. juga mengingatkan bahwa, “Sebagian besar penghuni neraka adalah orang-orang bujangan.” Seorang laki-laki yang membujang harus menanggung beban syahwat yang sangat berat. Apalagi pada masa seperti sekarang ini ketika hampir segala hal memanfaatkan gejolak syahwat untuk mencapai keinginan. Perusahaan-perusaan obat memanfaatkan gambar-gambar wanita untuk menarik pembeli. Perusahaan-perusaan rokok juga memanfaatkan gadis-gadis muda yang seronok untuk mempromosikan rokoknya di stasiun-stasiun dengan merelakan diri mengambilkan sebatang rokok sekaligus menyalakan apinya ke laki-laki yang sedang lengah ataupun sengaja

Kado Pernikahan

2

“melengahkan” diri. Saya pernah menyaksikan kejadian semacam ini di stasiun Tugu, Yogyakarta sekitar bulan Juli tahun 1996 yang lalu. Tidak sekedar sampai di situ, acara-acara TV, radio bahkan artikel-artikel kesehatan dan olahraga di koran dimanfaatkan untuk mengekspos rangsang pornografis demi meningkatkan oplah. Kadang malah acara-acara keislaman yang diselenggarakan organisasi keislaman, tanpa sadar tergelincir untuk untuk ikut memanfaatkan hal-hal semacam ini lantaran ikut-ikutan dengan prosedur protokoler di TV. Maka, tak semua dapat menahan pikiran dan angan-angannya. Saya sering mendengarkan “keluhan” teman laki-laki yang seusia dengan saya mengenai pikiranpikiran dan angan-angan mereka tentang pernikahan atau mengenai harapannya terhadap seorang gadis. Dorongan-dorongan alamiah untuk mempunyai teman hidup yang khusus ini telah menyita konsentrasi. Daya serap terhadap ilmu tidak tajam. Apalagi untuk shalat, sulit merasakan kekhusyukan. Ketika mengucapkan iyyaKa na’budu wa iyyaKa nasta’in yang muncul bukan kesadaran mengenai kebesaran Allah yang patut disembah, melainkan bayangan-bayangan kalau suatu saat telah menikah. Malah, sebagian membayangkan pertemuan-pertemuan. Shalat orang yang masih belum menikah memang sulit mencapai kekhusyukan, apalagi memberi bekas dalam akhlak sehari-hari. Barangkali itu sebabnya Rasulullah Muhammad Saw. menyatakan, “Shalat dua rakaat yang didirikan oleh orang yang menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa pada siang harinya yang dilakukan oleh seorang lelaki bujangan.” Maka, bagaimana seorang yang masih membujang dapat mengejar derajat orangorang yang sudah menikah, kalau shalat malam yang disertai puasa di siang hari saja tak bisa disejajarkan dengan derajat shalat dua rakaat mereka yang telah didampingi istri. Padahal mereka yang telah mencapai ketenangan batin, penyejuk mata dan ketenteraman jiwa dengan seorang istri yang sangat besar cintanya, bisa jadi melakukan shalat sunnah yang jauh lebih banyak dibandingkan yang belum menikah. Maka, apa yang bisa mengangkat seorang bujangan kepada kemuliaan di akhirat? Alhasil, membujang rasanya lebih dekat dengan kehinaan, sekalipun jenggot yang lebat telah membungkus kefasihan mengucapkan dalil-dalil suci Al-Qur’an dan Al-Hadis. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah, “Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan.” Bujangan. Tanpa seorang pendamping yang dapat membantunya bertakwa kepada Allah, hati dapat terombang-ambing oleh gharizah (instink) untuk memenuhi panggilan biologis, oleh kerinduan untuk mempunyai sahabat khusus yang hanya kepadanya kita bisa menceritakan sisi-sisi hati yang paling sakral, serta oleh panjangnya angan-angan yang sulit sekali memangkasnya. Dalam keadaan demikian, agaknya sedikit sekali yang sempat merasakan khusyuknya shalat dan tenangnya hati karena zikir. Dalam keadaan demikian, kita bisa disibukkan oleh maksiat yang terus-menerus. Sesekali dapat melepaskan diri dari maksiat memandang wanita ajnabi (bukan muhrim), tetapi

Kado Pernikahan

3

masuk kepada maksiat lainnya. Pikiran disibukkan oleh hal-hal yang kurang maslahat, sedang mulut mengucapkan kalimat-kalimat yang memiriskan hati. Di saat seperti ini, kita dapat merenungkan sekali lagi peringatan Rasulullah Muhammad yang terjaga. Dalam sebuah hadis yang berasal dari Abu Dzar r.a., Rasulullah Saw. menegaskan: “Orang yang paling buruk di antara kalian ialah yang melajang (membujang), dan seburuk-buruk mayat (di antara) kalian ialah yang melajang (membujang).” (HR Imam Ahmad dalam Musnadnya, diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari Athiyyah bin Yasar. Hadis ini dha'if, begitu 'Abdul Hakim 'Abdats menjelaskan). Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita dari kematian dalam keadaan membujang, sementara niat yang sungguh-sungguh untuk segera melangsungkan pernikahan, belum tumbuh. Semoga Allah Swt. menolong mereka yang telah mempunyai niat. Kalau belum lurus niatnya, mudah-mudahan Allah mensucikan niat dan prasangkanya. Kalau telah kuat tekadnya (‘azzam), semoga Allah menyegerakan terlaksananya pernikahan yang barakah dan dipenuhi ridha-Nya. Kalau mereka masih terhalang, mudah-mudahan Allah melapangkan dan kelak memberikan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Saya teringat, terhadap hal-hal yang sangat dikecam dan diberikan peringatan mengenai bahayanya, biasanya Islam memberikan penghormatan yang tinggi untuk hal-hal yang merupakan kebalikannya. Kalau membujang sangat tidak disukai, kita mendapati bahwa menikah mendekatkan manusia kepada surga-Nya. Ketika dikabarkan kepada kita bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah bujangan, kita banyak mendapati di dalam hadis tentang kemuliaan akhirat dan bahkan keindahan hidup di dunia yang insya-Allah akan didapatkan melalui pernikahan. Seorang yang menikah, berarti menyelamatkan setengah dari agamanya. Bahkan, bagi seorang remaja, menikah berarti menyelamatkan dua pertiga dari agamanya. Kita menjumpai hadis yang memberikan pertanyaan retoris sebagai sindiran, “Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri? Mudahmudahan Allah mengaruniainya keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.” Maka kita juga menjumpai hadis-hadis yang menjaminkan kepada kita yang ingin menikah demi menjaga kehormatan dan kesucian farjinya. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani) Dalam hadis lain dalam derajat shahih, Rasulullah Saw. bersabda: “Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan

Kado Pernikahan

4

maksud memelihara kehormatannya, dan orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim dan Daruquthni). Masih ada hadis senada. Namun demikian, ada baiknya kalau kita alihkan perhatian sejenak kepada peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah, “Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR Thabrani). Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang memiliki keyakinan. Tanpa keyakinan, ilmu akan kosong maknanya.

Kupinang Engkau dengan Hamdalah Banyak jalan yang mengantarkan orang kepada peminangan dan pernikahan. Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang semula saling jauh menjadi suamiistri yang penuh barakah dan diridhai Allah. Tapi sekarang bukan saatnya untuk membicarakan masalah ini. Insya-Allah lain kali saya akan membicarakan dalam buku tersendiri. Sekarang, ketika niat sudah mantap dan tekad sudah bulat, marilah mempersiapkan hati untuk melangkah ke peminangan.

Mendahului dengan Hamdalah Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kekuatan pada Anda menghadap orangtua seorang wanita untuk melakukan peminangan. Setelah perkenalan dan percakapan sejenak dengan keluarga akhwat yang akan dipinang, sekarang marilah kita mendengarkan nasehat Imam Nawawi. Orang yang meminang, kata Imam Nawawi dalam Al-Adzkaarun Nawawiyyah, disunnahkan untuk memulai dengan membaca hamdalah dan shalawat untuk Rasul Saw. Ustadz Abdul Hamid Kisyik dalam bukunya Bimbingan Islam untuk Mencapai Keluarga Sakinah (Al-Bayan, 1995) mengingatkan kembali. Dianjurkan, kata Hamid Kisyik, memulai lamaran dengan hamdalah dan pujian lainnya kepada Allah Swt. serta shalawat kepada Rasul-Nya. Pinanglah ia dengan mengucapkan, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli ‘aala Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad.” Kalau ingin menggunakan shalawat lain, silakan. Ada berbagai ucapan shalawat yang dibenarkan oleh As-Sunnah. Ada shalawat yang panjang, meliputi Rasulullah, istri-istri beliau serta keluarganya. Tetapi shalawat yang pendek juga tidak apa-apa. Hanya saja, sebaiknya shalawat tidak dipenggal hanya sampai kepada Rasulullah saja. Ucapkanlah shalawat minimal untuk Rasulullah beserta ‘aal beliau Saww. Semoga yang demikian ini menjadikan peminangan Anda barakah.

Kado Pernikahan

5

Sesudah itu, ucapkan:

Khat Arab

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Aku datang pada kalian untuk mengungkapkan keinginan kami melamar putri kalian --Fulanah binti Fulan -- atau janda kalian --Fulanah binti Fulan." Atau kalimat lain yang semakna. Kami, kata Imam Nawawi selanjutnya, di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, dan yang lainnya meriwayatkan melalui Abu Hurairah r. a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Setiap perkataan --menurut riwayat yang lain setiap perkara-- yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya --menurut riwayat yang lain terputus dari kebarakahannya.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, hasan). Pada sebuah kumpulan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Abu Hurairah, kata Ustadz Abdul Hamid Kisyik, dari Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda, “Setiap lamaran yang tidak ada syahadat di dalamnya seperti tangan yang tidak membawa berkah.” Setelah pinangan kita sampaikan, biarlah pihak keluarga wanita dan wanita yang bersangkutan untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban dengan segera, sebelum kaki bergeser dari tempat berpijaknya, sebab pernikahan mendekatkan kepada keselaman akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui akhlaknya. Sebagian memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian apakah pinangan ditolak atau diterima, karena pernikahan bukanlah untuk sehari dua hari saja. Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang lebih tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Cukuplah Anda memegangi husnuzhan Anda kepada mereka. Bukankah ketika Anda meminang seorang wanita berarti Anda mempercayai wanita yang Anda harapkan beserta keluarganya? Keputusan apa pun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah yang lurus, adalah baik dan insya-Allah memberi akibat yang baik bagi Anda. Tidak kecewa orang yang istikharah dan tidak merugi orang yang musyawarah. Maka, apa pun hasil musyawarah sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan kebaikan. Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang
Kado Pernikahan 6

didasarkan pada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi kesempatan kepada Anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat Anda memang untuk silaturrahmi, bukankah masih tersedia banyak peluang lain untuk itu? Anda telah meminangnya dengan hamdalah. Anda telah dimampukan datang oleh Allah yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semua yang lain adalah kecil. Apalagi kita. Kita cuma manusia. Manusia adalah makhluk yang ke mana pun mereka pergi, selalu membawa wadah kotoran yang busuk baunya. Kita ini kecil. Anda juga kecil. Saya apalagi. Lalu, apa alasan kita untuk merasa besar kalau tidak ada yang takabur kepada kita? Apakah karena Anda merasa hanya mencari ridha Allah, padahal ketika memutuskan pun mereka berniat mencari ridha Allah? Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan Rasulullah Saw. tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan: “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budakbudak belian, kemudian Allah memerdekakan...,” kata Bilal. Kemudian ia melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Dan kalau Anda menolak, maka kami mengucapkan Allahu Akbar. Allah Maha Besar.” Menurut pandangan Bilal, jika pinangan diterima, maka hanya Allah yang berhak dan layak dipuji. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Pujian dalam segala bentuknya. Peminangan pun insya-Allah merupakan sebentuk pujian kepada-Nya dengan menjaga kehormatan atas apa yang dikaruniakan kepada kita. Adapun kalau pinangan ditolak, kita ingat bahwa yang besar dan seharusnya besar di mata dan hati kita adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Peminangan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk mengagungkan Allah. Kita mengagungkan Allah dengan berusaha menghalalkan karunia kecintaan kepada lawan jenis melalui ikatan pernikahan yang oleh Allah disebut mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat berat). Maka, kalau pinangan yang Anda sampaikan ditolak, agungkan Allah. Semoga kita tetap berbaik sangka kepada Allah. Kita tetap berprasangka baik. Sebab, bisa jadi, penolakan justru merupakan jalan pensucian jiwa dari kezaliman-kezaliman diri kita sendiri. Boleh jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan, dan kejernihan niat, mengingat bahwa ada banyak hal yang dapat menyebabkan terkotorinya niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat Anda, kecuali jika justru Anda merendahkan diri sendiri. Tapi kita juga perlu memeriksa hati, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ‘ujub (kagum pada diri sendiri). Penolakan bisa saja merupakan “metode Allah” untuk meluruskan niat dan orientasi Anda.

Kado Pernikahan

7

Kekecewaan mungkin saja timbul. Barangkali ada yang merasa perih, barangkali juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri ketika itu. Dan ini merupakan reaksi psikis yang wajar, sehingga saya juga tidak ingin mengatakan, “Tidak usah kecewa. Anggap saja tidak ada apa-apa.” Kecewa adalah perasaan yang manusiawi. Tetapi ia harus diperlakukan dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan kita ke jurang kenistaan yang sangat jelas. Rasulullah Saw. mengajarkan, “Ada tiga perkara yang tidak seorang pun dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial, dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan; dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan; dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan.” Kekecewaan memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa. Mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Mereka berusaha memendam dalam-dalam atau segera menutupi rapat-rapat dengan menjauh dari sumber kekecewaan. Repress, istilah psikologinya. Sekilas tampak tak ada masalah, tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian ini tidak dikehendaki Islam. Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang pelan-pelan secara wajar, sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan sehingga tidak kehilangan obyektivitas dan kejernihan hati. Kalau kita bisa mengambil jarak, kita tidak lingsem, tidak terjerembab dalam subjektivisme yang berlebihan. Kita menjadi lebih tegar, meskipun untuk menghapus rasa kecewa dengan cara itu dibutuhkan proses yang lebih lama jika dibandingkan dengan cara me-repress-nya. Kalau Anda ternyata mengalami rasa kecewa, periksalah niat-niat Anda. Di balik yang Anda anggap baik, mungkin ada niat-niat yang tidak lurus. Periksalah motifmotif yang melintas-lintas dalam batin Anda selama peminangan hingga saat-saat menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati Anda berproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangannya secara mantap. Perahu telah berlayar. Ketika angin bertiup kencang, matikan mesin. Inilah tawakkal, begitu seorang guru pernah menasehati “murid”-nya. Tetapi, kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai dengan harapan Anda, berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya-Allah kesendirian yang Anda alami dengan menanggung rasa sepi, sebentar lagi akan berganti dengan canda dan keramahan istri yang setia mendampingi. Wajahnya yang ramah dan teduh, insyaAllah akan menghapus kepenatan Anda selama berada di luar rumah. Insya-Allah, sebentar lagi. Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi Anda untuk melakukan apa saja yang menjadi hak Anda bersamanya. Setelah tiba masanya, halal bagi Anda untuk merasakan kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah

Kado Pernikahan

8

mempercayakan kesetiaannya kepada Anda. Setelah tiba masanya, halal bagi Anda untuk menemukan pangkuannya ketika Anda risau. Tetapi, tunggulah beberapa saat. Sebentar lagi. Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan, Allah memberikan banyak keindahan dan kemuliaan. Ada amanah apa di baliknya? --... jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan-santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan .... ---

Wanita Boleh Menawarkan Diri Ada empat wanita yang mulia di surga, salah satunya adalah Khadijah bin Khuwailid. Kelak dari rahimnya yang suci, lahir salah seorang wanita utama lainnya, yaitu Fathimah az-Zahra. Keduanya adalah orang yang paling dicintai Rasulullah Muhammad Saw. Yang pertama adalah istri beliau, sedang yang kedua adalah ummu abiha (ibu yang melahirkan bapaknya). Begitu Rasulullah menjuluki. Sangat besar rasa cinta Rasulullah kepada Khadijah. Sampai-sampai Aisyah, istri Nabi yang paling dicintai di antara istri-istri lain sesudah Khadijah, merasa sangat cemburu. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menceritakan bahwa Aisyah mengatakan, “Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari istri-istri Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabatsahabat Khadijah. Maka aku pun berkata kepadanya, ‘Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah...!’ Maka berkatalah Rasulullah, ‘Ya, begitulah ia, dan darinyalah aku mendapat anak.’“
Kado Pernikahan 9

Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Aisyah merasa cemburu, lalu berkata, “Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik daripadanya? Maka beliau pun marah sampai berguncang rambut depannya. Lalu beliau berkata, ‘Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik daripadanya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia yang lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadaku anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.’ Maka aku berkata dalam hati, “Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.” Pernikahan Khadijah dengan Rasulullah Saw. adalah yang paling indah dan penuh barakah. Pernikahan yang seagung ini justru berawal dari inisiatif Khadijah. Ia mengusulkan pernikahan kepada Muhammad Saw., menurut riwayat, dengan mahar yang berasal dari hartanya. Ia menolak menikah dengan raja-raja, para bangsawan, dan para hartawan yang meminangnya, tetapi ia lebih menyukai Muhammad yang miskin dan yatim. Ia mencari suami yang agung, kuat, berkepribadian tinggi, dan berjiwa bersih. Dan itu ada pada Muhammad. Ia terkesan dengan Muhammad. Ketika hatinya terpikat betul, ia meminta Maisarah yang menjadi pembantu dekatnya untuk memperhatikan gerak-gerik dan tingkah-laku Muhammad dari dekat. Laporan Maisarah kelak mendorong Khadijah menawarkan dirinya kepada beliau. Khadijah mengungkapkan kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.” Setelah melalui proses peminangan yang agung, Khadijah kemudian menikah dengan Muhammad. Abu Thalib menyampaikan khotbah nikah mewakili pihak pengantin laki-laki. Sedang pihak pengantin perempuan diwakili oleh Waraqah bin Naufal dengan khotbah yang fasih dan memikat. Kelak, Allah mengaruniakan keturunan, salah satunya wanita agung Fathimah Az-Zahra. Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat berat). Mitsaqanghalizha adalah nama dari perjanjian yang paling kuat dihadapan Allah. Hanya tiga kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan-ghalizha. Hanya untuk tiga perjanjian Allah memberi nama mitsaqan-ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para Nabi ulul-azmi, Nabi yang paling utama di antara para Nabi. Dan, pernikahan termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan-ghalizha. Allah menjadi saksi ketika seseorang melakukan akad nikah. Wallahua’lam bishawab.

Kado Pernikahan

10

Setiap jalan menuju mitsaqan-ghalizha dimuliakan oleh Allah. Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis. Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah adalah teladan pertama bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan mujahadah (perjuangan) suci. Tidak peduli tawarannya itu diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak memiliki seorang wali. Demikian saya mencatat dari buku Memilih Jodoh dan Tatacara Meminang dalam Islam karya Husein Muhammad Yusuf (GIP, Jakarta, 1995). Insya-Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopansantun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang laki-laki insya-Allah akan sangat hormat, setia, dan menaruh kasihsayang mendalam jika ia menerima tawaran wanita shalihah untuk menikahi. Mudahmudahan Allah menambahkan kemuliaan dalam keluarganya dan memberikan keturunan yang meninggikan derajat orangtua di hadapan Allah. Kalau terhalang untuk menerima tawaran, insya-Allah pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya. Sungguh, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Khadijah di Al-Haudh. Allahumma amin. Ya Allah ini hamba-Mu memohon kepadaMu. Saya ingin membahas masalah ini lebih lanjut, mengingat pentingnya masalah ini. Sedang sikap seperti ini merupakan sikap terhormat yang dimuliakan. Tetapi untuk lebih baik dan tuntasnya, insya-Allah akan saya tuliskan dalam buku tersendiri. Saat ini cukuplah dengan melihat contoh-contoh lain yang tercatat dalam sejarah. Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a. Ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah! apakah Baginda membutuhkan daku?” Putri Anas yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.”
Kado Pernikahan 11

Anas berkata kepada putrinya itu, “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah Saw., lalu menawarkan dirinya untuk beliau!” (HR Bukhari). Rabi’ah binti Ismail Asy-Syamiyah, istri Ahmad bin Abu Al-Huwari --murid Abu Sulaiman Ad-Darani, seusai menunaikan shalat Isya’, berhias lengkap dengan busananya. Setelah itu ia mendekati tempat tidur suaminya. Ia menawarkan kepada suaminya, “Apakah malam ini engkau membutuhkan kehadiranku atau tidak?” Jika suaminya berhasrat untuk menggaulinya, ia melayani sampai suaminya mencapai kepuasan. Kalau malam itu suaminya sedang tidak berminat, maka ia menukar pakaian yang dikenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang biasa digunakan untuk beribadah. Malam itu, ia tenggelam di tempat shalatnya hingga subuh. Rabi’ah adalah salah satu istri Ahmad bin Abu Al-Huwari. Suatu hari, ia memasak makanan yang enak. Masakan itu diberi campuran aroma yang harum. Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata kepada suaminya, “Pergilah ke istrimu yang lain dengan membawa tenaga baru.” Sebelum menikah dengan Ahmad bin Abu Al-Huwari, Rabi’ah telah menikah dengan seorang suami yang kaya. Sesudah kematian suaminya, ia memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia kesulitan menasharufkan (membelanjakan) hartanya demi kepentingan Islam dan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia melihat Ahmad bin Abu Al-Huwari sebagai orang yang dapat menjalankan amanah. Sementara itu, Rabi’ah sendiri seorang perempuan yang adil. Maka, ia meminang Syekh Ahmad bin Abu Al-Huwari agar berkenan memperistri dirinya. Ketika mendapatkan pinangan Rabi’ah, Syekh Ahmad berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin berkonsentrasi dalam beribadah.” Rabi’ah menjawab, “Syekh Ahmad, sesungguhnya konsentrasiku dalam beribadah lebih tinggi daripada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan keinginan untuk tidak menikah. Tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain agar dapat menasharufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada saudara-saudara yang muslim, dan untuk kepentingan Islam sendiri. Aku pun mengerti bahwa kamu adalah seorang yang shalih. Tetapi, justru dengan begitu aku akan memperoleh keridhaan dari Allah Swt.” Ahmad bin Abu Al-Huwari tidak segera memberikan jawaban. Ia perlu mengkonsultasikan dulu dengan Abu Sulaiman Ad-Darani, gurunya. Memperoleh penjelasan dari Syekh Ahmad, Ad-Darani berkata, “Baiklah, kalau begitu nikahilah dia. Karena perempuan itu adalah seorang wali”. Bagi banyak wanita, mengajukan tawaran secara langsung barangkali sulit dilakukan karena kendala-kendala psikis. Bisa juga untuk lebih menjaga kehormatan. Jika menghadapi yang demikian, Anda bisa menyampaikan niat Anda melalui orang lain yang dapat dipercaya (tsiqah), terutama orangtua jika masih ada.

Kado Pernikahan

12

Orangtua juga bisa mengambil inisiatif untuk menawarkan anak gadisnya kepada laki-laki yang telah dikenal akhlaknya. Umar bin Khaththab r.a., ayah Hafshah, adalah salah satu contoh. Imam Bukhari meriwayatkan, Umar bin Khaththab berkata: Saya datang kepada Utsman bin Affan, menawarkan Hafshah kepadanya. Lalu Utsman berkata, “Nantilah, saya akan pikirkan dulu!” Pada waktu itu istri Utsman bin Affan, Sayyidatina Ruqaiyyah binti Rasulullah Saw. meninggal dunia ketika perang Badar berkobar. Dan Utsman diperintahkan oleh Nabi untuk mengurus istrinya. Beberapa malam kemudian, Utsman berjumpa dengan saya dan berkata, “Saya pikir, pada waktu ini saya belum berminat untuk kawin.” Setelah itu, saya pergi menawarkan putriku kepada Abu Bakar, “Kalau kau mau, saya akan menikahkan engkau dengan Hafshah!” Abu Bakar diam dan tidak menjawab tawaran saya. Saya sangat marah dan kurang senang dengan sikapnya yang berbeda dengan Utsman, meski Ustman juga menolak anakku. Beberapa malam kemudian, Hafshah dipinang oleh Rasulullah Saw. Beliau sudah mengobati luka hati saya karena penolakan kedua sahabatku itu. Tiba-tiba Abu Bakar datang dan menemuiku sambil berkata, “Mungkin kau marah dan kurang senang kepada saya. Ketika kau menawarkan Hafshah, saya diam dan tidak menjawab sepatah pun!” Saya jawab, “Ya, benar.” Lalu Abu Bakar melanjutkan, “Sebenarnya saya ingin sekali menerima tawaranmu itu. Tetapi sebelum engkau menawarkan Hafshah kepadaku, aku sudah mendengar Nabi Saw. menyebut-nyebut untuk meminangnya. Dan aku tidak mau membuka rahasia beliau kepadamu. Namun, jika beliau tidak jadi menikahinya, tentu akan saya terima tawaranmu itu dengan senang hati.” (Shahih Bukhari). Kita tinggalkan dulu kisah pernikahan Ummul Mukminin Hafshah r.a. dengan manusia utama, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa `alihi wasallam. Insya-Allah kita bisa melanjutkan lagi dengan kisah-kisah lain yang kemudian melahirkan keturunan pilihan. Misal, pernikahan orangtua ‘Abdullah bin Mubarok. Ia sangat terkenal di kalangan para ulama, shalihin, ahli zuhud dan para ilmuwan. Ia lahir dari pernikahan anak gadis Nuh bin Maryam dengan Mubarok, budaknya yang jujur. Kita bisa melanjutkan ke kisah-kisah lainnya. Tetapi saya kira, Anda bisa menemukan sendiri kisah-kisah demikian di berbagai buku. Sekarang, marilah kita tutup bab ini dengan memohon kepada Allah mudah-mudah kita tidak dimatikan oleh-Nya dalam keadaan membujang. Mudah-mudahan Allah memperbaiki akhlak kita yang masih penuh maksiat ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.

Kado Pernikahan

13

Sesudahnya, bagi para orangtua maupun akhwat yang sedang menghadapi pinangan (atau, sedang bersiap menghadapi pinangan), mari kita lanjutkan pembicaraan ke bab dua Mempertimbangkan Pinangan. Sedang bagi ikhwan yang telah memiliki hasrat, atau sempat jatuh hati, jika telah memenuhi syaratnya silakan mendatangi orangtuanya secara resmi. Menikah secara resmi. Menantikan saatnya tiba yang kadang prosesnya tak mudah, tetapi sering juga sangat sederhana. Di sinilah indahnya mujahadah. Semoga Allah menjadikan pendamping kita termasuk wanita shalihah yang penuh barakah, dan darinya lahir keturunan yang hukma-shabiyya rabbi radhiya (memiliki kearifan semenjak kecil dan diridhai Allah). Allahumma amin. Ya Allah, kabulkanlah do’a kami.

Kado Pernikahan

14

Bab 2

M

empertimbangkan

Pinangan

S

uatu waktu,“ demikian seorang akhwat dalam suratnya menuturkan, "(saya) bertemu dengan beberapa akhwat yang sedih dengan godaan dari sekian ikhwan dalam sekian perjumpaan."

“Apa jawab atas masalah ini?” kata akhwat tersebut melanjutkan, “Ada kesamaan dalam jawaban, bahwa ketika seorang akhwat sudah menikah, maka insyaAllah kemungkinan digoda lebih kecil karena si penggoda akan lebih mikir-mikir kalau ia sudah bersuami.” Akhwat itu kemudian melanjutkan, “Sampai-sampai, ada yang berencana untuk memakai cincin nikah walaupun belum menikah, demi menghindari godaan. Karena ternyata berkerudung pun masih sering digoda. Sehingga nikah dipandang dapat digunakan sebagai kerudung keamanan.” Ketika usia semakin bertambah, orang semakin peka terhadap dorongan untuk berumah-tangga. Pada diri manusia, memang terdapat naluri untuk mengikat persahabatan dengan lawan jenis. Dorongan ini muncul pada diri laki-laki maupun perempuan. Seorang wanita yang matang, mengekspresikan kebutuhannya terhadap lawan jenis sebagai teman hidup dengan cara-cara yang dewasa dan mempersiapkan diri baik-baik untuk menyambutnya, jauh-jauh hari sebelumnya. Kerinduan terhadap teman hidup yang membantunya bertakwa kepada Allah, ditunjukkan dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk menata hati dan tujuan. Sementara itu, wanita yang belum matang orientasi hidupnya lebih banyak menunjukkannya melalui bentuk-bentuk lahiriah. Kurang matangnya kondisi psikis, membuat ia kurang mempercayai daya tarik psikis. Apalagi ikatan-ikatan yang lebih

Kado Pernikahan 15

bersifat ideologis atau menyentuh kedalaman aqidah. Ia akan lebih mempercayai daya tarik badaniah. Bahkan, pada taraf ini pun ia sering mengalami keraguan, sehingga memilih kosmetik untuk membuatnya lebih menarik. Ini di satu sisi. Di sisi lainnya, ketika ia mulai menginjak usia yang layak baginya untuk menjadi istri dan ibu, terkadang ia “harus” disibukkan oleh laki-laki yang juga sudah mulai menginjak masanya. Sebagian laki-laki hanya merasakan dorongan, tetapi belum memiliki keberanian untuk sungguh-sungguh menemaninya sebagai suami yang setia dan bertanggung jawab. Sebagian telah memiliki niat dan keinginan untuk bersungguhsungguh menjalin ikatan pernikahan dengan seorang akhwat yang siap dan qanitat, tetapi masih ada kendala-kendala psikis. Masih ada keraguan, sehingga ia lebih memilih untuk melemparkan godaan-godaan halus atau godaan-godaan yang agak lebih terang-terangan dengan harapan bisa bersambut dengan pertanyaan serius dari akhwat (siapa tahu?). Sebagian ikhwan mengalami kejutan beitu mendengar kajian tentang pentingnya menyegerakan nikah, sehingga ia menghadapi akhwat dengan semangat meluap-luap, apakah ia siap dikhitbah. Sayang, dorongan yang meluap-luap itu kadang tidak disertai dengan kesiapan dalam hal-hal lain, terutama dalam hal ilmu berkenaan dengan tugas kerumahtanggaan maupun dalam memenuhi kebutuhan istri. Di antara tiga kebutuhan yang harus dipenuhi, ada kalanya baru satu yang ia miliki, yaitu kesiapan memenuhi kebutuhan biologis. Sedang kebutuhan psikis dan kebutuhan ma’isyah (nafkah), lazimnya kurang diperhatikan. Seorang ikhwan bahkan sempat mengemukakan pendapatnya, bahwa orangtua mestinya membiasakan diri menumbuhkan budaya yang memungkinkan anak laki-lakinya segera menikah dengan jalan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang akan terbentuk itu. Padahal kewajiban memenuhi kebutuhan ekonomi ada pada suami, bukan pada orangtua suami. Sebagian ikhwan telah menyiapkan bekal secara sungguh-sungguh sehingga betul-betul bisa menjadi pendamping istri yang insya-Allah diridhai Allah. Pada diri mereka barangkali masih banyak kekurangan, meskipun demikian mereka dengan serius berikhtiar untuk memperbaiki diri dalam hal kesiapannya memenuhi tiga kebutuhan istrinya maupun dalam hal kesiapan memikul tanggungjawab sebagai ayah, anak, dan menantu. Kemampuannya mencukupi ma’isyah barangkali belum memadai, walaupun begitu mereka memiliki kesungguhan untuk memenuhinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Yang demikian ini, insya-Allah lebih siap untuk mengemban tanggungjawab besar di balik mitsaqan-ghalizha. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan pertolongan kepada mereka. Allahumma amin. Situasi psikis yang berbeda-beda, juga jenjang kedewasaan yang tak sama, melahirkan sikap yang beragam dalam menghadapi dorongan untuk mencari teman hidup. Ada yang berkeinginan sekedar untuk melegitimasi keinginan bersebadan dengan lawan jenis, tanpa harus jatuh ke dalam dosa. Tetapi, mereka menghendaki untuk tidak tinggal satu rumah. Sebagian berkeinginan kuat untuk terikat secara resmi melalui pernikahan yang sah di hadapan agama, negara, dan dalam pandangan masyarakat, walaupun kondisi yang mereka hadapi tidak jauh berbeda dengan yang

Kado Pernikahan 16

pertama. Mereka memilih ini karena di dalamnya ada kemaslahatan yang lebih besar dan kedudukan wanita lebih mulia, karena agama menghendaki suami yang memuliakan istrinya dengan seutama-utama kemuliaan yang mampu ia berikan. Keutamaan ini terutama berkait dengan sikap dan perlakuan. Di sini, ada mujahadah. Ada perjuangan besar yang insya-Allah mulia di hadapan Allah dan mempesona di hati istri. Kelak, insya-Allah kita akan merasakan keindahannya, di dunia maupun di akhirat. Ada banyak mujahadah (perjuangan) pada masa-masa ini. Perjuangan untuk menyiapkan sekaligus menambah bekal dalam mendampingi suami dan menyusui anak dengan tenang di tengah malam. Perjuangan untuk menegakkan prasangka yang baik (husnuzhan) kepada Allah. Pasti Ia menolong, sebagaimana Ia mempertemukan Zulaikha sebagai istri Yusuf a.s. setelah bertahun-tahun Zulaikha berdoa karena tidak kuat menahan sakitnya merindukan Yusuf yang dicintainya. Perjuangan untuk tetap menjadi muslimah yang memiliki komitmen terhadap agamanya. Dan juga, perjuangan untuk tetap mempertahankan busana muslimah beserta identitas keislamannya ketika dilanda keraguan, sedang pada saat yang sama mereka yang menanggalkan hijab juga mengalami masalah yang sama. Apakah engkau mengira mereka yang berlepas diri, yang bergandengan tangan dengan pemuda yang ia inginkan, tidak mengalami ketidakpastian? Tidak. Sama sekali tidak. Insya-Allah engkau lebih tenang. Ketika saya sedang mengerjakan buku ini, saya menerima berbagai surat. Salah satunya “mengeluhkan” masalah ini. Seorang cewek mempunyai teman laki-laki. Selama ini keinginannya tak “terlalu jauh”. Akan tetapi suatu ketika, teman laki-laki itu menginginkan hubungan suamiistri. Cewek itu menangis terus. Ia bingung (ada saran?). Zaman memang telah berubah. Gadis-gadis sekarang semakin lambat dewasa. Padahal mereka mengalami menstruasi (haid) pada usia yang lebih dini dibandingkan dengan wanita-wanita sebelum mereka. Para lelaki juga tidak banyak dipersiapkan oleh keluarganya ataupun mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi dewasa secara penuh ketika mereka telah melewati usia 20 tahun. Padahal, mereka mengalami mimpi indah (ihtilam) pada masa yang lebih awal dibandingkan dengan generasi orangtua mereka. Sementara ihtilam seharusnya --begitu kalau kita menengok fiqih-- menjadi pertanda datangnya masa ‘aqil-baligh (akalnya sampai, kedewasaan intelektual). Segera sesudah mengalami ihtilam (mimpi indah), mereka seharusnya sudah siap untuk memikul taklif (pembebanan tanggung-jawab). Salah satunya, membiayai hidupnya sendiri dan anak orang lain (jika sudah menikah) bagi laki-laki, selambat-lambatnya pada usia 18 tahun. Berbagai informasi yang diberikan melalui media massa, penataran, serta iklim yang tumbuh dalam keluarga, juga banyak yang tidak mendorong mereka untuk siap mencapai kedewasaan dalam arti yang utuh ketika mereka telah mencapai kemasakan seksual (sexual maturation). Akibatnya, kedewasaan sekaligus tanggungjawab mereka terlambat beberapa tahun dibanding kemasakan seksualnya. Apalagi banyak di antara mereka yang tidak mempunyai bekal ilmu, orientasi, dan misi yang kuat sebelum mereka mengalami kemasakan seksual. Keadaan ini, acapkali, menimbulkan

Kado Pernikahan 17

reaksi-reaksi impulsif terhadap lawan jenis. Ini menimbulkan beban psikis, meskipun banyak di antara mereka yang tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Media massa juga kerap menyampaikan informasi yang timpang, searah, tidak adil, dan kadang bahkan menyesatkan. Media massa menjadikan informasinya sebagai alat eksploitasi bagi satu kepentingan tertentu (maaf, saya menggunakan kata “tertentu”) terhadap pembacanya yang berada pada masa rawan ini. Alasan psikologis dan medis sering digunakan, meskipun tidak sungguh-sungguh memiliki pijakan ilmiah, sehingga para gadis dan pemuda berada dalam situasi ketakutan ketika akan melangkah ke pernikahan yang tergolong dini tanpa tahu bagaimana mesti menyikapinya. Variabel pengaruh seolah-olah hanya terletak pada faktor usia, padahal usia tidak bisa mengindikasikan tingkat kedewasaan dan tanggungjawab seseorang. Banyak yang sudah hampir jadi sarjana, usia sudah menginjak 25 tahun, tetapi pola pikirnya masih sama dengan pola pikir anak SMA. Saya sering tidak paham (mungkin karena saya tidak tergolong orang jenius) dengan apa yang berlangsung di sekeliling. Menikah usia muda dikecam dalam berbagai kesempatan (bahkan melalui jalur ilmiah), akan tetapi kondom dijual bebas dengan harga murah. Sementara itu, ekspos sumber-sumber rangsang seksual pun dibiarkan meningkat, terutama melalui TV dan tabloid-tabloid. Kampanye anti pelecehan digelar habis-habisan, namun demikian pada saat yang sama wanita dipakai sebagai alat untuk menarik perhatian di berbagai kesempatan resmi. Ironisnya, kadang-kadang malah dilakukan oleh mereka yang menyerukan sikap anti-pelecehan terhadap wanita. Melalui engineering of consent (rekayasa persetujuan) diciptakan image (citra) -sekaligus rasa takut-- bahwa menikah muda hanya dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki intelektualitas tinggi. Menikah muda adalah tindakan orang yang berpendidikan rendah. Sehingga mereka tidak memiliki kesiapan yang memadai (coba, apa ukurannya sehingga disebut memadai) untuk menjadi istri dan ibu. Sementara itu, pada saat yang sama, sekolah dan perguruan tinggi tidak pernah menyiapkan mereka untuk mengerti dan mencintai tanggungjawab sebagai istri dan ibu. Ironisnya, berlawanan dengan pernyataan sebelumnya, berkembang citra “untuk apa berpendidikan tinggi-tinggi sampai jenjang perguruan tinggi kalau hanya untuk mendidik anak?” Alhasil, mereka menjumpai suami, anak, dan rumahtangganya sebagai “hanya”. “Hanya” bangunan yang disebut rumah. “Hanya”.... Jadi, ada yang perlu kita cermati dengan kecerdasan tinggi. Ada yang perlu kita pikirkan di sini. Sekarang pinangan telah datang. Jawaban atas pinangan itu sedang dinantikan. Maka pertimbangkanlah matang-matang, dengan melihat berbagai kondisi yang ada di sekeliling, serta kondisi yang ada di dalam keluarga dan diri sendiri. Ayah perlu memikirkan kemaslahatan anak gadisnya, sebelum mengambil keputusan. Engkau pun perlu mempertimbangkan pinangan itu.

Kado Pernikahan 18

Catatan bagi Ayah Rasulullah pernah bersabda, “Pukullah anak-anak karena meninggalkan sholat pada usia tujuh tahun, pisahkan tempat tidurnya pada usia sembilan tahun, dan kawinkanlah pada usia 17 tahun jika memungkinkan. Apabila perkawinan dilakukan, maka suruhlah si anak duduk di hadapan bapaknya, kemudian katakanlah, ‘Mudahmudahan Allah tidak menjadikan kamu dalam fitnah di dunia, tidak pula di akhirat’.” Anak gadis sudah memungkinkan untuk dinikahkan kalau ia dipersiapkan untuk memasuki masa dewasa sejak awal. Seorang gadis bahkan dapat memiliki kesiapan dan kedewasaan lebih dini dibanding anak laki-laki. Wanita memang cenderung lebih cepat matang dibanding laki-laki. Dari Anas r.a., Rasulullah al-ma’shum bersabda, “Barangsiapa mempunyai anak perempuan yang telah mencapai usia dua belas tahun, lalu ia tidak segera mengawinkannya, kemudian anak perempuan tersebut melakukan suatu perbuatan dosa, maka dosanya ditanggung oleh dia (ayahnya).” (HR. Baihaqi). Pebuatan dosa. Perbuatan dosa apakah yang menyebabkan ayah ikut menanggung dosanya? Wallahua’lam bishawab. Jika kita perhatikan, insya-Allah kita akan mendapat pengetahuan bahwa perbuatan dosa yang seorang ayah ikut menanggung dosanya bila tidak segera mengawinkan anak perempuannya adalah dosa-dosa yang berkait dengan dorongan gharizah (naluri) untuk berdekat-dekat dengan lawan jenis. Pada usia-usia yang rawan ini, gejolak mudah membakar dada. Akan tetapi, apakah ia sudah memungkinkan untuk dikawinkan? Saya tidak bisa menjawab. Anda yang lebih tahu siapa anak Anda. Anda yang lebih tahu bagaimana Anda mempersiapkan anak Anda memasuki masa ‘aqil-baligh. Apakah persiapan yang Anda berikan melalui pendidikan semenjak kecil telah mengantarkannya menjadi wanita yang betul-betul mencapai ‘aqil-baligh, taklif (dewasa dan bertanggungjawab) dan sekaligus telah memiliki keterampilan untuk menasharufkan harta (manajemen anggaran) di rumah? Sekarang ia sudah memasuki masa taklif. Jika ia belum terampil, insya-Allah kelak akan memiliki keterampilan yang diperlukan. Sedang saat ini, yang diharapkan adalah kepekaan ayah untuk cepat tanggap terhadap apa yang dirasakan oleh anak gadisnya. Ketika seorang laki-laki datang meminang, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh seorang ayah. Memperhatikan Agama Pernah, ada orang bertanya kepada Al-Hasan r.a. mengenai calon suami putrinya. Kemudian Al-Hasan r.a. menjawab, “Kamu harus memilih calon suami (putrimu) yang taat beragama. Sebab, jika dia mencintai putrimu, dia akan memuliakannya. Dan jika dia kurang menyukai (memarahinya), dia tidak akan menghinakannya.” Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah bersabda:

Kado Pernikahan 19

“Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab, jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.” Kemudian ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau kekurangan-kekurangan)?” Maka, Rasulullah Saw. menjawab, (mengulangnya tiga kali) “Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim AlMazni). Pada hadis ini --sampai-sampai Rasulullah Saw. mengulang jawaban tiga kali-seorang ayah diperingatkan agar memperhatikan orang yang beragama dan berakhlak bagus. Akhlak yang bagus adalah sebagian tanda-tanda bagusnya agama seseorang. Tanda ini lebih kuat daripada tanda lainnya, misal pengetahuan agama dan lingkungan. Dua hal yang disebut terakhir ini menjadi pertimbangan pendukung mengenai agama dan akhlak orang yang berniat menjadi suami putri Anda. Seorang ayah bisa mencari pengetahuan mengenai laki-laki yang meminang anak gadisnya dengan seksama sebelum mengambil keputusan. Antara lain, ia dapat menanyai orang yang dekat dengan calon menantunya. Ia juga bisa menanyakan kepada orang-orang yang dapat dipercaya (tsiqah). Sebelum membicarakan masalah lain, marilah kita renungkan peringatan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya.” Meminta Izin Anak Pernikahan berkaitan langsung dengan perasaan anak gadis yang insya-Allah akan mendampingi suaminya seumur hidup. Dialah nanti yang akan merasakan manis-indahnya pernikahan ataupun pahit-getirnya perpisahan, kalau ternyata cinta tak bisa tumbuh juga. Oleh karena itu, seorang ayah perlu meminta izin kepada anak gadisnya sebelum menikahkan. Islam menolak pemaksaan orangtua atas anak gadis agar mau menikah dengan laki-laki pilihan orangtua, sedang ia sendiri tidak menyukai. Pemaksaan dapat menjerumuskan anak kepada dosa besar. Minimal dosa karena tidak taat pada suami, termasuk dalam melayani keinginan suami di tempat tidur, karena tidak ada kehangatan cinta di hatinya. Padahal, penolakan istri untuk melakukan hubungan intim termasuk perkara yang sangat dilaknat oleh agama. Dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang hamba sahaya yang masih gadis datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia melaporkan bahwa dia dikawinkan oleh ayahnya, padahal dia tidak suka terhadap laki-laki pilihan

Kado Pernikahan 20

ayahnya itu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan terhadapnya. Demikian hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Adz-Dzaruquthni. Dan dari ‘Aisyah, bahwa ada seorang remaja putri dikawinkan dengan seorang laki-laki kemudian dia berkata, “Sesungguhnya ayah telah mengawinkanku dengan anak saudaranya agar kehinaannya dapat terangkat karena aku. Sedangkan aku tidak menyukainya.” Kemudian ‘Aisyah berkata, “Duduklah”, sehingga Ra-sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang. Lalu aku mengabarkannya. Kemudian Rasulullah mengutus seseorang kepada ayahnya untuk mengundangnya ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah menyerahkan perkara itu terhadap sang gadis tersebut. Lalu gadis itu berkata, “Ya Rasulullah, sebenarnya aku telah rela terhadap apa yang telah diperbuat ayahku terhadapku, akan tetapi aku berkeinginan untuk memberitahukan kepada wanita-wanita tentang sesuatu dalam masalah ini.” (HR An-Nasa’i). Maka, sebelum memberi jawaban kepada peminang, tanyakanlah kepada anak gadis Anda. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang janda dikawinkan, sehingga dia dimintai persetujuannya dan tidak pula seorang gadis hingga dia dimintai persetujuannya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah persetujuannya?” Rasulullah menjawab, “Persetujuannya adalah pada saat dia diam.” (HR Bukhari dan Muslim). Al-Bukhari dan Muslim juga pernah meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Ya Rasulullah, apakah wanita-wanita harus dimintai persetujuannya jika mereka akan dikawinkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya”. Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya seorang gadis jika dimintai persetujuannya, kemudian dia diam, karena malu?” Rasulullah bersabda: “Diamnya itu adalah persetujuannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Syaikh Yusuf Qardhawi mengingatkan, seorang gadis kadang-kadang merasa malu untuk menjelaskan tentang persetujuannya itu dan dia juga malu untuk menampakkan bahwa dia sudah berkeinginan untuk melangsungkan perkawinan. Sedangkan diamnya itu menunjukkan kebersihannya dari segala penyakit yang dapat mencegahnya dari hubungan seksual, atau adanya sebab lain yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan dengan laki-laki itu, di mana sebab-sebab itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali dia sendiri. Wallahu A’lam. Demikian kutipan saya dari Ruang Lingkup Aktifitas Wanita Muslimah (Al-Kautsar, 1996). Selain meminta izinnya, berikanlah kesempatan kepadanya untuk mengetahui siapa calon suaminya, terutama jika calon suami itu pilihan Anda sedang anak gadis Anda belum mengenalnya. Biarkanlah anak gadis Anda untuk menilai sendiri calon

Kado Pernikahan 21

suaminya, apakah ia menyukai atau tidak. Anda bisa memberikan informasi, memberi keterangan seperlunya tentang si calon. Tetapi sebaiknya tidak banyak mempersuasi (membujuk) dengan menampakkan yang baik-baik saja. Sebab persuasi dapat menimbulkan harapan-harapan yang akan ia peroleh ketika akad nikah telah dilaksanakan. Sehingga bisa jadi ia mengalami kekecewaan justru karena terlalu tingginya harapan yang muncul lantaran persuasi Anda. Padahal, pada mulanya ia tak banyak mengharapkan hal-hal yang tidak mendasar. Sebagian gadis menikah dengan orang yang belum pernah dikenalnya sama sekali dan baru melihat laki-laki yang menikahinya ketika akad nikah telah selesai, yaitu saat pertama kali memasuki kamar pengantin. Mereka ridha dengan suaminya. Tetapi ini tidak berlaku umum. Sehingga Anda tidak bisa mengambilnya sebagai hukum yang Anda terapkan begitu saja kepada anak gadis Anda. Anda perlu bersikap tengah-tengah dan memahami kebutuhan anak gadis Anda, kecuali jika dia telah ridha dengan pilihan Anda tanpa mensyaratkan apa pun mengenai laki-laki yang akan menjadi suaminya. Seorang gadis yang tidak diberi kesempatan untuk mengetahui dan mempertimbangkan calon suaminya, berhak untuk memutuskan hubungan perkawinan apabila ia tidak rela terhadap suami pilihan ayahnya. Kesempatan mengetahui ini meliputi hal-hal yang berkenaan dengan segi lahiriah maupun segisegi yang lebih bersifat psikis dan agama dari si calon suami. “Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS Al-Baqarah: 229). Kasus gagalnya perkawinan karena istri belum mengetahui calon suaminya pernah terjadi di masa Rasulullah. Ketika menikah, Hadiqah tidak pernah bertemu dengan Tsabit bin Qais kecuali pada malam pengantin mereka. Sang istri sangat terkejut dengan suami yang dijumpainya pada malam pengantin itu dan secara spontan timbul keinginan untuk berpisah. Hadiqah berkata kepada Rasulullah, “Tampaklah apa yang tidak saya ketahui pada malam pengantin kami. Saya pernah melihat beberapa orang laki-laki, namun suami saya adalah laki-laki yang paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya. Tidak ada satu kebagusan pun yang saya temui pada dirinya. Saya tidak mengingkari kebagusan akhlaknya dan agamanya, ya... Rasulullah, tetapi saya takut menjadi kafir jika tak bercerai darinya. Saya takut jika terus-menerus maksiat padanya karena ketidaktaatan saya pada suami, dan saya tahu itu menyalahi perintah Allah Swt.” Rasulullah Saw. memanggil Tsabit dan berkata kepadanya, “Temui istrimu, Hadiqah dan ceraikan ia sebagaimana layaknya, biarkan mahar itu menjadi haknya.” Kisah Hadiqah dan Tsabit bin Qais ini juga disampaikan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. Sesungguhnya, kata Ibnu Abbas, istri Tsabit bin Qais telah menghadap kepada Nabi Saw. Ia berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak mencela

Kado Pernikahan 22

akhlak dan agamanya, tetapi saya tidak mau kufur dalam Islam." Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Maukah Anda mengembalikan kebun-kebunnya?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda (kepada Tsabit), “Terimalah kebun itu, dan talaklah istrimu itu satu kali.” Ada hadis lain yang meriwayatkan kisah Tsabit bin Qais ini. “Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya r.a. dalam riwayat Ibnu Majah; Sesungguhnya Tsabit bin Qais itu adalah orang yang buruk rupa dan bentuknya, dan istrinya berkata, “Kalau saya tidak takut pada Allah, tentu saya ludahi muka suami saya itu apabila mendatangi saya”. Dan dalam riwayat Ahmad dari hadis Sahal bin Abi Hasmah, “Dan kejadian itu adalah permulaan khulu’ dalam Islam." Khulu’ merupakan hak istri untuk meminta cerai karena sebab tertentu yang kuat. Jadi, sebelum menikahkan anak gadis Anda dengan laki-laki yang meminangnya, tanyakan dulu apakah ia setuju atau tidak. Berikan kesempatan padanya untuk mengetahui calon suaminya agar lebih dapat mengekalkan hubungan kalau ia ternyata rela dan menyukai. Ada pun kalau ia tidak menyukai, ini lebih baik daripada terlanjur menikah. Kalau sudah terlanjur, silaturrahmi bisa rusak. Meminta Pertimbangan Istri “Berkonsultasilah terhadap wanita-wanita dalam masalah anak-anak perempuan,” kata Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud. Dalam hadis ini terdapat rawi yang majhul, tetapi banyak hadis yang maknanya senada dengan hadis ini. Begitu Syaikh Yusuf Qardhawi memberi keterangan. Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khaththabi memberikan beberapa catatan penting dalam menyampaikan kesimpulan mengenai hadis-hadis tersebut. Beliau mengatakan, “Berkonsultasilah dengan kaum ibu dalam masalah perkawinan anak-anak perempuan mereka, bukan berarti bahwa mereka mempunyai wewenang terhadap akad nikah tersebut. Akan tetapi dipandang dari segi kebaikan dan perbaikan terhadap diri mereka dan dalam segi menggauli mereka dengan baik. Dan karena upaya itu lebih dapat mengekalkan persahabatan dan akan dapat menimbulkan rasa cinta kasih di antara anak-anak gadis mereka dengan sang suami. Hal ini dapat terjadi jika akad nikah itu atas dasar kerelaan dari ibu-ibu mereka dan sesuai dengan keinginan mereka. Dan jika akad pernikahan itu di luar kerelaan ibu-ibu mereka, maka bisa jadi ibu-ibu mereka merongrong suami mereka. Dia juga akan menimbulkan kerusakan terhadap hati anak gadisnya. Sedangkan anak-anak perempuan, biasanya lebih cenderung terhadap ibu-ibu mereka dan akan lebih menerima perkataan yang datangnya dari ibu-ibu mereka.

Kado Pernikahan 23

--Pernikahan itu sangat sensitif. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, negatif maupun positif. --Dengan adanya permasalahan yang seperti ini, maka berkonsultasi dengan sang ibu adalah sunnah hukumnya dalam masalah akad pernikahan anaknya. Wallahu A’lam.” Beliau juga pernah berkata, “Dan terkadang juga hal itu menjadi penting oleh karena adanya alasan-alasan tertentu, selain apa yang telah kita sebutkan di atas. Dan hal itu karena mungkin seorang wanita lebih mengetahui tentang masalahmasalah khusus yang terdapat pada diri anak-anak perempuan, atau juga dapat mengetahui tentang kejadian-kejadian yang rahasia, di mana (kalau) anak perempuannya itu melangsungkan pernikahan dengan orang tersebut, maka hal itu tidak akan berlangsung lama atau tidak akan memberikan kebaikan. Sedang alasanalasan itu berada pada ibunya tersebut. Dan adanya penyakit dapat menggagalkan terlaksananya hak-hak pernikahan. Pendapat ini adalah sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan kamu kawinkan seorang gadis, kecuali dengan seizinnya. Sedangkan persetujuannya adalah diamnya.” Ketika bertemu Musa a.s., Syafura sangat terkesan oleh sikap dan perilakunya. Ia tidak menunjukkan perasaannya kepada Musa a.s. karena rasa malu yang besar. Tetapi ia menceritakan kepada ayahnya, Nabiyullah Syu’aib a.s. Kelak, Nabi Syu’aib menikahkan putrinya dengan Musa a.s. yang di kemudian hari juga menjadi Nabi. Putri Anda barangkali juga mempunyai perasaan-perasaan serupa. Ada seseorang yang memiliki tempat khusus di hatinya. Ada laki-laki yang begitu berarti baginya, meskipun ia tidak menunjukkan gelagat di hadapan Anda maupun di hadapan lakilaki yang telah memunculkan kesan membekas dalam jiwanya. Ada halangan kejiwaan yang membuatnya tidak berani menceritakan kepada Anda. Meski masih ada rasa malu, kadang-kadang ia berani terbuka pada ibunya atau neneknya tentang rahasia-rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Ia berani mengungkapkan bahwa hatinya telah terpaut dengan seorang laki-laki, yang barangkali berbeda dengan laki-laki yang sempat dipikirkan ayahnya untuk dijodohkan dengannya. Dan jika laki-laki yang disukainya itu datang untuk mengawini anak perempuan itu, kata Syaikh Yusuf Qardhawi, maka orang itulah yang akan didahulukan dan diterima pinangannya. Sebagaimana yang diisyaratkan di dalam sebuah hadis shahih:

Kado Pernikahan 24

Khat Arab Belum pernah terlihat bagi dua orang yang bercinta seperti pernikahan. Kuatnya ikatan perasaan antara dua hati, dapat kita baca pada kisah pernikahan Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dengan Atikah binti Amr bin Nufail. Abu Bakar pernah mengkhawatirkan anaknya sehingga khawatir kalau perasaan anaknya yang begitu kuat terhadap istrinya, Atikah, akan mengalahkan pikiran dan agamanya. Ia kemudian menyuruh Abdurrahman untuk menceraikan Atikah, tetapi Abdurrahman tidak sanggup melakukan. Abu Bakar terus mendesak, sampai akhirnya Abdurrahman tidak mampu menghadapi perintah ayahnya. Tetapi perceraian tidak pernah bisa melemahkan ikatan perasaan dua orang yang diliputi kerinduan. Perpisahan tidak mematikan perasaan Zulaikha kepada Yusuf dan tetap menantikan perjumpaan dengan Yusuf, meskipun kecantikannya telah banyak dimakan usia. Perceraian Abdurrahman juga demikian. Ia tidak bisa melupakan kelembutan dan ketinggian akhlak Atikah. Ia mengadukan cekaman perasaannya kepada Allah dengan bersyair: “Demi Allah tidaklah aku melupakanmu Walau matahari kan terbit meninggi “Dan tidaklah terurai air mata merpati itu kecuali berbagi hati “Tidak pernah kudapatkan orang sepertiku mentalak orang seperti dia, Dan tidaklah orang seperti dia Ditalak karena dosanya "Dia berakhlak mulia, beragama dan bernabikan Muhammad, Berbudi pekerti tinggi bersifat pemalu dan halus tutur katanya Perpisahan tidak melemahkan ikatan perasaan. Ia justru semakin kuat dengan disirami air mata. Melihat rintihan tangis anaknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak tega hatinya. Kepada anaknya ia mengatakan, "Wahai anakku, rujuklah engkau kepadanya kalau memang engkau tidak dapat melupakannya." Maka, rujuklah Abdurrahman kepada Atikah, istri yang sangat dicintainya. Mereka hidup dalam rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan hingga Abdurrahman mencapai syahid pada perang Tha'if. Konon, ketika mendengar kabar syahidnya Abdurrahman, Atikah sangat sedih disebabkan dalamnya rasa cinta kepada

Kado Pernikahan 25

Abdurrahman. Tetapi kecintaannya terhadap Abdurrahman, tidak menghalanginya untuk melepas Abdurrahman pergi berjihad. Inilah ketinggian Atikah. Wallahu A'lam bishawab. Ikatan perasaan demikian kuat. Anak gadis Anda barangkali telah terpaut hatinya kepada seseorang yang ia rela terhadapnya. Ia berharap dapat menemani hidupnya sebagai istri shalihah, sekalipun ia belum pernah bertegur sapa. Ia mempunyai perasaan itu, mempunyai cita-cita tentang rumah tangga yang akan dibangunnya. Sekali saat, barangkali ia menceritakan isi hatinya kepada neneknya, kepada ibunya saat ia menemukan kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati, kepada saudara perempuan yang lebih tua, atau kepada bibinya. Seringkali, seorang gadis mempercayakan rahasia hatinya kepada mereka. Karena itu, bertanyalah kepada mereka agar keputusan Anda lebih dekat kepada maslahat dan jauh dari madharat dan mafsadah (kerusakan). Musyawarah Banyak hadis yang menunjukkan keutamaan musyawarah. Al-Qur'an juga memberi perhatian kepada pentingnya musyawarah. Allah Swt berfirman, "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah." (QS Ali Imran: 159). Ada musyawarah. Kemudian, ada tawakal yang mengikuti. Yang disebut terakhir ini seringkali tertinggal, tidak mengikuti hasil musyawarah. Tak mudah memang. Karena itu, silakan Anda mencari sendiri pembahasan mengenai tawakal ini. Ada syarat-syarat musyawarah. Musyawarah dengan orang yang memenuhi syarat, dapat memberi manfaat dan lebih dekat dengan maslahat dan keselamatan akhirat, bahkan keselamatan dunia. Tetapi musyawarah dengan orang yang tidak memenuhi syarat, justru lebih dekat kepada madharat dan mafsadat. Imam Abu 'Abdillah mengingatkan, musyawarah dengan orang yang tidak memenuhi syarat lebih besar bahayanya dibanding manfaatnya. Pembahasan lebih lanjut tentang musyawarah, silakan Anda cari di buku lain. Saya kira, cukuplah pembahasan saya tentang musyawarah. Semoga bermanfaat. Catatan bagi Wanita yang Dipinang "Suatu hari yang lain," begitu cerita seorang akhwat dalam suratnya, "Allah mempertemukan saya dengan seorang akhwat yang sedih dengan setumpuk masalahnya. Dengan sedih ia berkata, 'Alangkah enaknya kalau saat ini ada suami...' Mengapa? Dan bagaimana suami dapat meringankan kesedihannya?" "Mengapa suami? Karena adanya keyakinan bahwa suami dapat membimbing untuk mencintai Allah. Dan karena pendekatan suami lebih dari hati ke hati, dengan kasih sayang, maka lebih menyentuh untuk dilakoni.”
Kado Pernikahan 26

"Masalahnya, bagaimana kriteria suami yang seperti itu?” Saya kadang-kadang menerima pertanyaan tentang bagaimana memilih suami yang baik, suami yang dapat membimbing istri dalam menjalani kehidupan bersama sebagai satu keluarga yang saling mencintai. Pada suatu seminar, pertanyaan mengenai ini berkembang ke arah yang lebih mendasar lagi. Pertanyaan itu dikaitkan dengan janji Allah bahwa wanita yang baik adalah bagi laki-laki yang baik dan begitu pula sebaliknya. Allah Swt berfirman: Khat Arab "Dan perempuan-perempuan yang keji adalah diperuntukkan bagi laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji juga diperuntukkan bagi perempuan yang keji, sedangkan perempuan-perempuan yang baik diperuntukkan bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik..." (QS An-Nur:26). Pembahasan tentang ini memerlukan ruang yang khusus. Pada kesempatan ini insya-Allah saya membahas sedikit saja sejauh yang saya mampu. Dan sesungguhnya, pengetahuan yang haq hanya di sisi Allah. Wallahul Musta'an. Sekarang, ketika pinangan telah datang, apa yang perlu engkau perhatikan sebagai bahan pertimbangan. Agama Calon Suami Baik laki-laki maupun perempuan, diperingatkan agar memilih pendamping hidup atas dasar agama calonnya. Sebagian orang menempatkan peringatan ini dalam derajat yang paling ringan. Asal seagama, dianggap telah memenuhi ketentuan untuk memilih berdasarkan agama calonnya. Sebagian orang bertanya, "Kenapa agama?" "Kadang-kadang, orang yang agamanya baik memperlakukan istri dengan cara yang buruk. Sikapnya kepada orang lain juga tidak menyenangkan. Padahal, ia rajin ke masjid, shalat, puasa, dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Tetapi, mereka tidak memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik." "Sebaliknya, orang-orang yang tidak begitu mengenal agama, sikapnya kepada istri justru sangat baik. Perhatiannya kepada istri, besar sekali. Kadang mereka malah bisa menjadi sahabat yang enak diajak bicara oleh istri dan anak-anaknya." Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan beragama? Apakah mereka yang lebih utama agamanya adalah mereka yang luas pengetahuan agamanya? Jika ini yang dimaksud, sesungguhnya para orientalis memiliki pengetahuan agama yang lebih luas daripada kebanyakan kita saat ini. Penulis kamus bahasa Arab yang menjadi pegangan standar sekarang, Al-Munjid, adalah Louis Ma'luf, seorang orientalis.

Kado Pernikahan 27

Kalau begitu, bagaimana menentukan ukuran bahwa calon suami yang datang meminang termasuk laki-laki yang beragama? Wallahu A'lam bishawab. Agama meliputi tauhid yang merupakan intinya dan syari'at sebagai aturan-aturan baku yang lebih bersifat zhahir. Tauhid hidup dalam iman. Iman adalah perkara qalbiyyah (rahasia hati). Orang tidak dapat melihat derajat iman seseorang. Orang tidak bisa menilai aqidah-qalbiyyah (urusan keyakinan dalam hati) orang lain. Tetapi, keyakinan hati mempengaruhi sikap dan perilaku. Keagamaan seeorang insya-Allah dapat dilihat melalui amal perbuatannya. Ada berbagai petunjuk AsSunnah yang dapat dipakai untuk "menerka" agama dari laki-laki yang datang meminang Anda. Rasulullah Saw. bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya." (HR Ahmad dan Abu Daud). Dalam hadis lain yang bersumber dari 'Aisyah r.a., dari Nabi dikatakan, "Sesungguhnya kelembutan tidak menghinggapi sesuatu kecuali memperindahnya dan tiada dicabut dari sesuatu melainkan memperburuknya." (HR. Muslim). Rasulullah Saw. juga bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajat dan kedudukan yang tinggi di akhirat, walau ibadahnya sedikit." (HR Thabrani dengan sanad baik). Masih banyak hadis yang menunjukkan tanda-tanda keimanan melalui sikap, perilaku dan ketinggian moral. Tanda-tanda ini yang dapat engkau perhatikan ketika seorang pemuda meminangmu. Ada tanda lain yang dapat engkau perhatikan, terutama berkait dengan tanggungjawabnya kelak sebagai kepala rumah keluarga. Misal, bagaimana sikapnya terhadap upaya mencari nafkah pada saat ini, sedang ia masih menuntut ilmu di perguruan tinggi. Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada sub judul Kemandirian Ekonomi. Seorang ulama mengatakan bahwa, tidak mungkin mengetahui keberagamaan seseorang melalui shalat dan puasa serta sebagian ritual agama. Keimanan dalam beragama, dapat diketahui melalui aspek-aspek akhlak, penjagaan hak-hak orang lain, dan sikap menghindarkan orang lain dari kezaliman-kezaliman dirinya. Adakalanya ketika seseorang berpuasa, sangat takut kemasukan air setetes sehingga tidak berani berkumur. Tetapi ia tidak takut melanggar hak-hak orang lain. Begitu KH. Abdurrahman Wahid pernah mencontohkan. Peringatan Imam Abu 'Abdillah dapat Anda pertimbangkan ketika menilai agama calon suami Anda. Beliau pernah berkata, "Janganlah kalian tertipu dengan shalat mereka dan puasa mereka. Sesungguhnya mungkin ada seseorang yang mengerjakan shalat dan puasa sampai-sampai seandainya ia meninggalkannya, ia merasa takut. Tetapi, amatilah mereka dalam kebenaran bicara dan penunaian amanat."
Kado Pernikahan 28

Ada contoh yang ekstrem tentang masalah ini. Abu Said Al-Khudri, salah seorang sahabat terkenal, mengatakan bahwa Abu Bakar pernah bercerita di hadapan Nabi. Saat itu Abu Bakar menuturkan pengalamannya ketika melintasi padang pasir dan melihat seorang lelaki berwajah tampan sedang melakukan shalat dengan khusyuk. "Pergi dan bunuhlah orang itu," tukas Nabi. Abu Bakar segera pergi menemukan lelaki yang itu masih dalam keadaan seperti semula, shalat dengan khusyuk. Abu Bakar jadi ragu untuk membunuhnya. Akhirnya ia kembali. Nabi kemudian memanggil Umar bin Khaththab. "Pergilah ke sana dan bunuhlah lelaki itu!" perintah Nabi kepada Umar. Umar pun segera pergi ke sana. Umar melihat lelaki itu sedang larut dalam ibadah. Umar tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia pun kembali menghadap Nabi. "Wahai Nabi, yang aku lihat adalah lelaki yang sedang shalat dengan sangat khusyuk. Aku tidak tega membunuhnya," ujar Umar. Nabi akhirnya menyuruh Ali untuk membunuhnya. Ali segera pergi ke sana, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu. Ali kembali menghadap Nabi, lalu memberitahukan hal itu kepada beliau. Nabi berkata, "Orang itu dan kawan-kawannya membawa Al-Qur'an hanya sampai tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama bagai anak panah melesat dari busurnya. Bunuhlah mereka! Karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk di muka bumi." (Shahih Muslim). Ketika mendapatkan pinangan, engkau juga bisa memperhatikan tanda-tanda membekasnya agama pada diri calon suami berkait dengan kewajiban-kewajibannya terhadapmu kelak. Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hak istri, beliau bersabda: "Memberikan makanan kepadanya apabila engkau makan, memberikan pakaian apabila engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mengatakan wajah engkau buruk, dan jangan menghukum (tidak menanyainya) kecuali di dalam rumah, yakni jangan memindahkannya ke rumah lain kemudian tidak ditanyainya di dalam rumah tersebut." (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh AlHakim). Penjelasan Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi ketika menjelaskan surat 'Ali Imran ayat 159-160, menarik untuk kita simak. Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini sebenarnya sama dengan ayat-ayat sebelumnya surat ini, yaitu berkenaan dengan perang Uhud. Tetapi, kali ini kita akan mengambil pelajaran dari Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi untuk mengetahui

Kado Pernikahan 29

keberagamaan calon suami, orang yang akan memimpinmu jika engkau menerimanya. Kata Al-Fakhurrazi, "Kalau kita belum paham perbedaan antara fazhzhan dan ghalizhal-qalbi, perhatikanlah contoh ini. Mungkin ada orang yang akhlaknya tidak jelek. Tidak pernah mengganggu orang lain. Lidahnya tidak pernah menyakiti orang lain. Hanya saja, dalam hatinya tidak pernah ada rasa kasihan kepada orang lain. Orang ini tidak kasar, namun dalam hatinya tidak ada rasa kasih-sayang. Ia tidak fazhzhan, tetapi ghalizhal qalbi. Kedua sifat ini tidak boleh menempel pada diri seorang pemimpin. Dia tidak boleh berperilaku yang menganggu orang lain dan juga tidak boleh mempunyai hati yang keras. Karena itu, “Sekiranya kamu ini bertingkahlaku kasar dan hati kamu keras, maka orang-orang itu akan lari darimu." Seorang yang beragama, tidak bersifat fazhzhan. Juga tidak ghalizhal qalbi. Jika dua sifat ini tidak ada pada dirinya, insya-Allah dia akan memiliki akhlak yang lemah lembut. Meskipun begitu, ada perbedaan yang besar sekali antara sifat lemah lembut dengan menampakkan kelembutan. Mengenai hal ini, hatimu yang lebih tahu. Wallahu A'lam bishawab. Insya-Allah, engkau juga bisa melihatnya ketika meminang. Kalau ia meminangmu dalam rangka berpoligami, engkau dapat menilai alasannya dari alasannya berpoligami, sikapnya terhadap istri dan keseimbangannya antara harapan terhadapmu dan sikapnya terhadap istrinya terdahulu. Jika ia berpoligami karena menurutnya istri terdahulu tidak memiliki akhlak yang baik sebagai istri, engkau dapat menilainya dari bagaimana ia mengungkapkan hal itu kepadamu. Sebagian di antara caranya menceritakan, merupakan tanda apakah ia akan menjaga rahasiamu ataukah menunjukkan tidak ada rasa cemburu di hatinya kalau rahasia istrinya diketahui orang lain. Tanda-tanda keberagamaan yang bersifat akhlaqi insya-Allah lebih utama, termasuk di dalamnya sikap dan semangatnya terhadap agama. Seorang yang bersemangat dan memiliki sikap yang baik, insya-Allah lebih mudah menyerap ilmuilmu agama yang belum ia punyai. Akhir-akhir ini, sebagian orang telah menyempitkan batasan agama kepada yang dianggap sefikrah saja. Atau bahkan lebih sempit lagi se-harakah atau se-halaqah. Padahal, kesamaan harakah atau halaqah tidak menandakan tingkat kematangan dalam beragama. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan. Saya sempat khawatir, pola interaksi pada sebagian kelompok cenderung mengarah kepada kerahiban. Kemandirian Ekonomi Seorang laki-laki seharusnya telah mampu membiayai hidupnya sendiri sejak memasuki masa taklif, yaitu usia 15 tahun menurut sistem penanggalan qamariyyah atau lunar system. Selambat-lambatnya usia 18 tahun, seharusnya ia sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan hasil keringatnya sendiri, walaupun orangtua masih mampu membiayai dan sekaligus masih mau membiayai.

Kado Pernikahan 30

Ketika menikah, ia mempunyai kewajiban untuk menafkahi istrinya, termasuk di dalamnya makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal dengan cara yang baik. Setelah menikah, orangtua tidak mempunyai kewajiban memberi nafkah terhadap anak perempuannya. Kebutuhan ekonomi seorang wanita menjadi tanggungan suami. Adapun kalau orangtua memberi, itu bersifat shadaqah. Tidak wajib. Tetapi, marilah kita simak hadis berikut. Rasulullah Saw. bersabda, "Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna." (HR Tirmidzi). Karena itu, seorang laki-laki hendaknya berusaha mandiri. Apalagi ketika ia telah mempunyai niat untuk menikah, bahkan telah meminang. Berusaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan keluarga adalah suatu kehormatan, sehingga seseorang lebih bisa menegakkan kepala ketika ada sesuatu yang harus disikapi. Ketergantungan secara ekonomi kepada keluarga, bisa melahirkan tekanan psikis dan konflik-konflik yang pelik manakala seseorang telah menikah. Kemandirian ini perlu saya bahas di sini mengingat pentingnya masalah. Sebagian laki-laki berharap menikah, akan tetapi hendak menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada keluarga. Di antara mereka bahkan ada yang bersikap agak apatis terhadap usaha mencari sendiri penghasilan yang halal, sebelum menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ada pikiran untuk tetap meminta kiriman orangtua, dan mengharapkan agar orangtua istrinya juga tetap mengirimkan biaya hidup setiap bulannya. Sikap ini melemahkan keberanian untuk bertanggungjawab terhadap istri yang dinikahinya. Tanggung jawab tidak hanya berkait dengan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan mencakup pula berbagai tanggung jawab lain yang juga bersifat penting dan mendasar bagi kehidupan bersama dalam rumah tangga. Sikap ini potensial untuk menimbulkan konflik, terutama konflik psikis bagi istri. Harga diri dan rasa percaya diri sebagai keluarga sulit untuk ditegakkan. Dengan demikian ketergantungan secara ekonomi melahirkan ketidakberdayaan pada aspekaspek lain yang seharusnya dibangun berdua dalam rumah-tangga yang mesra. Mereka mempunyai posisi yang lemah di hadapan orangtua, mertua, saudara, kerabat lain, dan bahkan mereka lemah di hadapan dirinya sendiri. Kepercayaan istri terhadap integritas pribadi suami juga kurang bisa terbangun. Dampak dari keadaan ini sangat luas, khususnya terhadap pembentukan orientasi keluarga dan kesiapannya untuk memberikan pendidikan kepada anak menurut apa yang dipandang maslahat dan ideal. Kurang terbangunnya rasa percaya diri sekaligus harga diri sebagai keluarga, mempengaruhi citra mereka tentang keluarga mereka sendiri. Ini mempengaruhi mereka dalam memberi pengasuhan kepada anak, sehingga bisa melahirkan pola-pola sikap yang kurang sesuai dalam mengasuh anak. Sejak dari child-abuse (kekejaman terhadap anak), pengabaian anak sampai ketidakpekaan orangtua terhadap kebutuhan psikis anak. Kalau ditarik lagi, akan terdapat rentetan dampak psikis yang lain.

Kado Pernikahan 31

Lalu, bagaimana kalau orangtua berinisiatif untuk tetap membiayai anaknya masing-masing agar kuliahnya dapat diselesaikan dengan baik? Tidak masalah dan bahkan baik, sejauh suami tetap mempunyai keinginan untuk tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada kiriman orangtua. Sekalipun kenyataannya, hampir seratus persen masih tetap berasal dari orangtua masing-masing. Tetapi niat yang kuat untuk tidak menggantungkan sepenuhnya, merupakan bentuk adanya tanggung jawab. Inilah yang paling penting. Rasulullah Saw. bersabda, "Terlaknatlah orang yang membebankan semua kebutuhannya kepada orang lain." Terkadang, inisiatif menikah berasal dari orangtua demi menyelamatkan anaknya dari kekejaman maksiat. Mereka menawarkan untuk tetap membiayai kuliah sampai selesai sekaligus memberi biaya hidup. Ini adalah sikap yang baik dan terpuji. InsyaAllah, kelak mereka akan menjumpai upayanya sebagai kemuliaan di akhirat. Allahumma amin. Tetapi, kesediaan orangtua tertentu --ada yang bahkan mengajukan inisiatif-untuk membiayai keluarga yang baru dibangun oleh anak mereka, tidak bisa menjadi ukuran agar orangtuanya juga memberi perlakuan yang sama terhadap keluarganya. Kalau pun orangtua ternyata menjaminkan biaya hidup, mestinya ia juga tetap memiliki keinginan yang kuat untuk mencari nafkah yang halal dan thayyib agar yang masuk ke perut istri, kelak janin yang dikandung istrinya hingga saatnya lahir, adalah harta yang halal dan utama. Islam menunjukkan sikap yang sangat menghargai kesungguhan seorang pemuda memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri. Rasulullah Saww. bersabda: "Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari (rezeki) yang halal." Rasulullah Saw. juga bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat." Pada hadis yang lain, Rasulullah Saww. bersabda, "Tidak seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya (sendiri)." (HR Bukhari). Rasulullah Saw. juga bersabda: "Orang yang minta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api." (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya). Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis shahih, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Selalu minta-minta itu dilakukan oleh oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging." (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah Saw. juga menegaskan:

Kado Pernikahan 32

"Barangsiapa merasa lelah karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rezeki yang halal, niscaya diampuni segala dosanya." Ketika seseorang telah diampuni segala dosanya, maka Allah akan mencurahkan rahmat-Nya. Ia menjadi penjaga dan pelindung. Dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Kalau Allah yang memberi penjagaan, insya-Allah kelak akan lahir dari rahim istri anak-anak yang takwa lagi suci sebagaimana do'a suami ketika pertama kali memegang kening istrinya. Insya-Allah mereka akan menjadi anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Sedang di akhirat mereka akan menjadi penolong bagi orangtuanya selagi orangtuanya tetap beriman, meski derajat amalnya tidak sebanding dengan derajat amal anaknya. Nanti, simaklah ArRa'd ayat 23. Oleh karena itu, ketika datang pinangan, perhatikan apakah calon suami Anda telah mandiri. Kalau tidak, apakah calon suami Anda selama ini telah berusaha mandiri dan mempunyai iktikad untuk mandiri. Barangkali ia belum mempunyai penghasilan yang memadai. Tetapi pilihan sikapnya untuk mandiri, insya-Allah menjadi petunjuk tentang kesiapannya memikul tanggung jawab sebagai suami dan kelak sebagai ayah. Seorang suami yang bertanggung jawab lebih berarti dan lebih dekat dengan keselamatan dunia-akhirat serta kemesraan keluarga. Insya-Allah, kehadiran Anda kelak sebagai istri, memudahkan pertolongan Allah terhadap datangnya rezeki yang mencukupi kebutuhan-kebutuhan keluarga. Mencukupi kebutuhannya yang besarnya barangkali tak terbayangkan dapat dipenuhinya ketika calon suami Anda belum menikah seperti sekarang ini. Allah akan menolong. Insya-Allah. Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal ini. Rasulullah Saw. bersabda, "Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga)." (HR Imam Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus). Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, "Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatan dirinya." (HR Thabrani). Dalam hadis lain dengan derajat shahih, Rasulullah Saww. bersabda: "Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang orang berjihad di jalan Allah." (HR Turmudzi, An-Nasa'i, Al-Hakim dan Daruquthni). Di dalam Al-Qur'anul Karim, Allah Swt. telah berfirman, "Dan kawinkanlah orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.

Kado Pernikahan 33

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya." (QS AnNur:32). Berkenaan dengan ayat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, "Taatlah kepada Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu yaitu perkawinan, maka Allah akan melestarikan janji-Nya kepadamu yaitu kekayaan. Allah telah berfirman; 'jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya'". (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ad-Dur Al-Mantsur). Ada perkataan dari Umar bin Khaththab yang dapat Anda renungkan. Beliau berkata, "Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengkaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya." Dan Umar pun menganjurkan, "Perbanyaklah anak, karena kalian tidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rizki." Akhirnya, marilah kita menengok sebuah hadis Nabi. Luruskanlah niat dan tumbuhkan keyakinan. Mudah-mudahan dengan jernihnya pikiran dan bersihnya hati ketika mempertimbangkan pinangan seorang pemuda yang akhlaknya tidak engkau ragukan, sedangkan kemampuannya memenuhi ma'isyah saat ini masih belum mapan, mendekatkan pada pertolongan-Nya. Mari kita simak hadis ini, mudah-mudahan Allah memasukkan keyakinan dan husnuzhan kepada-Nya. Rasulullah Muhammad Saw. diriwayatkan berkata, "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka." Allah Maha Luas Pertolongan-Nya. Maha Luas. Ada Ladang Amal Shalih Pernikahan adalah keagungan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Di dalamnya ada keindahan dan ketenteraman. Di dalamnya ada rasa cinta kepada kekasih yang menemukan tamannya. Di dalamnya juga ada ladang amal shalih. Jodoh ada di tangan Tuhan. Kadang-kadang seorang wanita mendapatkan pendamping yang sekilas menurut pandangan mata zhahir manusia, tidak sepadan ilmu maupun ibadahnya. Wanitanya sangat khusyuk dalam beribadah, kuat menegakkan shalat malam --barangkali seperti Rabi'ah Asy-Syamiyah-- dan tinggi ilmu agamanya. Sedangkan laki-laki yang menikahinya, ternyata tidak sebanding dalam hal ilmu maupun ibadah. Sebaliknya juga bisa terjadi. Laki-lakinya sangat luas pengetahuannya mengenai kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu agama. Bekas shalatnya tampak di kening. Tetapi istrinya sekilas tidak mencapai kedudukan yang sederajat karena ilmu dan ibadahnya yang kurang.

Kado Pernikahan 34

Ada pertanyaan, mengapa demikian? Jawab saya sederhana, wallahu a'lam bishawab. Allah Maha Bijaksana. Ia mengetahui kebaikan-kebaikan besar yang tidak nampak dalam penglihatan mata akal kita. Sebagian dari pernikahan semacam itu adalah ujian, kecuali jika mereka memang memilih bukan atas dasar agama. Mereka menikahi laki-laki atau wanita yang tidak sepadan karena mengejar kemuliaan, harta, atau martabat. Tentang ini Rasulullah telah memperingatkan agar kita tidak terjerumus ke dalamnya. Tetapi, adakalanya pernikahan semacam ini berlangsung tidak karena dorongandorongan rendah seperti itu. Pernikahan yang sepintas tidak seimbang itu, membuka ladang amal shalih yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang belum menikah. Tugas suami memang memberi pendidikan dan pengarahan kepada istri. Tetapi ketika istri mempunyai pengetahuan agama yang lebih banyak, dia dapat mengajarkan kepada suaminya apa-apa yang belum diketahui suaminya, dengan niat berbakti kepada suami dalam rangka mencari ridha Allah. Insya-Allah, pada pernikahan yang semacam ini Allah melimpahkan barakah dan kelak memberikan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Seorang istri yang mengajarkan beberapa pengetahuan agama kepada suaminya, perlu berhati-hati agar tidak terjatuh kepada sikap meninggikan diri di hadapan suami. Sehingga ia tidak mendengarkan kata-kata suaminya dan tidak menaati. Juga, seorang wanita shalihah perlu menjaga diri benar-benar agar sikapnya tidak menjauhkan suami dari ibunya sedemikian sehingga si suami lebih mendengar kata-kata istrinya dan mengabaikan nasehat ibunya. Seorang suami yang memiliki ilmu agama yang lebih tinggi dari istri, dapat menjadi pegangan bagi istri untuk bertanya hal-hal yang tidak diketahuinya. Suami yang demikian ini perlu memiliki sifat yang penuh kasih-sayang, membimbing dan ridha ketika mendidik dan mengarahkan istrinya. Mudah-mudahan istri dapat belajar kepada suaminya bagaimana memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anakanak yang lahir dari rahimnya, kelak ketika Allah telah menjadikan dia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Setiap ilmu yang sampai kepada manusia dan diamalkan, maka Allah mengalirkan pahala kepada yang menyampaikan tanpa mengurangi pahala yang melaksanakan sedikit pun. Kalau amalan suami yang diridhai Allah berawal dari ilmu yang disampaikan istri, maka baginya pahala sebanyak yang dilakukan oleh suami tanpa terkurangi. Demikian juga sebaliknya, istri yang mengerjakan kebajikan setelah mendapatkan pendidikan dari suaminya, maka Allah akan mencatat kebaikan yang sama. Insya-Allah, di sinilah ilmu akan barakah sampai anak-cucu. Kalau suami-istri itu adalah ahli ibadah, insya-Allah mereka dapat saling membantu dalam ketakwaan. Kalau istri sudah menjadikan shalat malam sebagai perhiasan hidupnya, sedangkan suami masih belum terbiasa, istri dapat membiasakan suaminya untuk mulai menegakkan shalat malam. Demikian pula bagi seorang suami, ia dapat membimbing istri untuk melakukan shalat malam di rumah. Adapun kalau keduanya belum terbiasa untuk shalat malam, mereka dapat saling membantu.

Kado Pernikahan 35

Ada banyak hadis yang dapat kita renungkan, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya serta al-Hakim, bahwa Rasulu-llah bersabda, "Barangsiapa bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian keduanya shalat dua raka'at --Nasa'i menambahkan, berjama'ah-- maka keduanya ditulis di antara orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang banyak berzikir". (Al-Hakim berkata: shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim. Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan, hadis ini shahih). Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada bab Keindahan Yang Lebih Besar, di bagian dua jendela kedua buku ini. Saat ini, yang penting adalah memeriksa sikap calon suami yang datang meminang Anda. Sikap dan semangat yang baik, insya-Allah lebih dapat mengantarkan suami-istri kepada jalan kebaikan. Betapa banyak orang yang mempunyai pengetahuan luas, tetapi kurang memiliki keyakinan. Jadi, inilah jawaban saya atas pertanyaan sebagian akhwat mengenai (calon) suami yang ilmu agamanya kurang atau suami yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi. Di luar itu, saya ingin menambahkan. Kita tidak bisa mengukur tinggi tidaknya derajat ketakwaan seseorang. Ada kalanya seseorang mencapai derajat yang tinggi bukan karena banyaknya ibadah yang dilakukan maupun luasnya pengetahuan yang dimiliki. Ia mencapai derajat yang lebih tinggi karena kejujurannya dalam berdagang maupun hati yang tidak pernah memiliki prasangka buruk kepada saudaranya sesama muslim, misalnya. Allahu A'lam bishawab wallahul musta'an. Nikah dan Menuntut Ilmu Islam memandang pernikahan sebagai kemuliaan yang sangat tinggi derajatnya. Allah menyebut ikatan pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat berat). Hanya tiga kali istilah ini disebutkan dalam Al-Qur'an, dua lainnya berkenaan dengan tauhid. Sedang tauhid adalah inti agama. Islam menganjurkan ummatnya untuk menikah. Demikian tingginya kedudukan pernikahan dalam Islam, sehingga menikah merupakan jalan penyempurnaan separuh agama. Rasulullah Saw. bersabda, "Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Maka takutlah kepada Allah terhadap separuh yang lainnya." (HR Ath-Thabrani). Islam juga meletakkan penghormatan yang sangat tinggi terhadap ilmu dan orang yang menuntutnya. Banyak sekali hadis shahih maupun hasan yang menunjukkan keutamaan menuntut ilmu. Dalam surat Al-Mujadilah, Allah Swt. telah berfirman, "Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa derajat." Shafwan bin 'Assal al-Muradi r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Selamat datang kepada penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu dikitari oleh para malaikat dengan sayap-sayapnya kemudian sebagian mereka menaiki sebagian yang lain hingga mencapai langit dunia karena kecintaan mereka kepada apa yang ia tuntut." (HR Ahmad dan Thabrani).

Kado Pernikahan 36

"Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim," kata Rasulullah Saw. dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya. Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, sejak lahir hingga masuk ke liang lahat. Menikah juga diarahkan untuk tetap utuh dalam keluarga yang sakinah mawaddah warahmah sampai kematian menjemput mereka. Mudah-mudahan keduanya akan mendapati pernikahan sebagai jalan yang diridhai Allah dan mengantarkan kepada keselamatan dari pedihnya siksa api neraka. Pernikahan dan menuntut ilmu diharapkan untuk seumur hidup. Maka mestinya keduanya berjalan seiring. Menuntut ilmu seharusnya lebih memberikan kesiapan dan bekal bagi penuntutnya untuk menikah, serta menegakkan kehangatan keluarga. Menuntut ilmu seharusnya mendorong seseorang untuk lebih bersemangat menikah, dan lebih yakin terhadap janji Allah kepada orang yang menikah demi menyelamatkan kehormatannya dari lawan jenis yang masih belum halal. Sementara menikah, seharusnya membuat orang lebih matang dalam berilmu. Seharusnya, ....ya seharusnya...! Seharusnya, pernikahan dan mencari ilmu bisa berjalan beriringan. Tidak saling mengacaukan. Insya-Allah, pernikahan tidak menjadikan orang tidak bisa menuntut ilmu. Kurangnya gairah menuntut ilmu, bukanlah karena melakukan pernikahan. Rasanya, agak mustahil Allah menyerukan dua hal yang sama-sama mulia, tetapi sifatnya justru saling bertentangan (Mudah-mudahan anggapan saya ini tidak salah). Kalau kita mau lebih jujur sedikit saja, insya-Allah kita akan mendapati bahwa masalahnya bukan terletak pada status pernikahannya. Sesekali tengoklah rumah kost mahasiswa di Yogya. Anda akan menemukan jam Belajar Masyarakat, Pukul 19.0021.00. Tapi, ini bukan jam belajar mahasiswa, sebab ujian masih jauh. Padahal mereka hidup sejahtera dengan shadaqah tetap dari orangtua. Dengan demikian, mudah-mudahan keinginan mencari ilmu tidak membuat Anda mempersulit pernikahan. Pertimbangkanlah masak-masak madharat dan mafsadahnya jika Anda berat untuk menerima pinangan semata-mata karena ingin tetap menuntut ilmu, sedangkan Anda telah memiliki kesiapan dan mempunyai bekal yang cukup. Saya khawatir, menunda-nunda pernikahan karena alasan ini sementara mental telah siap, justru melahirkan madharat. Antara lain kompleks psikis yang berat. Sekali saat, luangkanlah waktu untuk merenungkan masalah ini sejenak. Pikirkanlah secara jernih. Apalagi pada masa-masa yang rawan fitnah seperti sekarang ini. Ukhty fillah, marilah kita berdo'a semoga Allah menjernihkan hati kita setelah kita berkali-kali jatuh dalam kekeruhan jiwa dan pekatnya zhan yang kurang baik. Mengenai Syarat Nikah Terkadang, kata Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, seorang wanita mensyaratkan kepada orang yang meminangnya dengan persyaratan tertentu agar bisa menikahinya.
Kado Pernikahan 37

Syarat itu adakalanya menegakkan dan memperkuat akad nikah. Adakalanya merusak akad nikah, misalnya tidak boleh menjima' sebelum lulus kuliah. Adakalanya, wanita mengajukan persyaratan yang keluar dari masalah tersebut seluruhnya. Syarat nikah adakalanya berasal dari keinginan calon mempelai wanita. Tetapi, adakalanya berasal dari kehendak orangtua atau anggota keluarga lain. Keinginan itu kemudian dibebankan kepada anak gadisnya agar mempersyaratkan kepada calon suami yang akan menikahinya. Islam membolehkan wanita mengajukan syarat-syarat nikah kepada calon suaminya ketika melakukan akad. Jika Anda termasuk yang berkeinginan untuk mengajukan beberapa persyaratan kepada orang yang meminang Anda, silakan baca bab "Di manakah Wanita-wanita Barakah Itu?" di bagian satu jendela pertama buku ini. Saya berharap kepada Allah, mudah-mudahan saya bisa membahas masalah ini lebih mendalam. Adapun tinjauan menurut fiqih, silakan periksa buku-buku lain yang telah menjelaskan masalah ini dengan sangat baik. Wallahu A'lam bishawab. Pada bab ini, cukuplah saya kutipkan sebuah hadis. Rasulullah bersabda, "Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya." Dari 'Aisyah r.a., bahwa Rasulullah bersabda, "Nikah yang paling besar barakahnya adalah yang paling kecil maharnya." Nikah yang paling besar barakahnya bukan yang sangat besar maharnya, sehingga menimbulkan decak kagum pada tetangga dan kenalan, serta perasaan takut dan gemetaran pada orang-orang berikutnya yang mau nikah. Nikah yang paling besar barakahnya bukan yang paling banyak hadiahnya, sehingga menimbulkan perasaan malu bagi saudara-saudara dan kerabat yang menikah tanpa hadiah sebesar itu dari calon suaminya. Jadi, begitulah. Selebihnya, wallahu A'lam bishawab. Menyampaikan Isi Hati Kepada Ibu Anda mungkin mempunyai pandangan mengenai pernikahan yang agak berbeda dengan yang banyak dipahami masyarakat, khususnya orangtua. Anda menghendaki tata cara yang menurut Anda lebih Islami, misalnya. Sementara yang demikian ini masih kurang dikenal. Perbedaan pandangan itu bisa jadi karena Anda telah belajar lebih banyak, bisa jadi karena pengetahuan Anda masih kurang sehingga belum bisa bersikap di tengahtengah. Jika tidak dikomunikasikan, perbedaan ini bisa mendatangkan masalah. Membicarakannya jauh-jauh hari, bahkan ketika pinangan belum tiba, insya-Allah lebih dekat dengan kemaslahatan dan membuahkan kesejukan bagi semua pihak.

Kado Pernikahan 38

Demikian juga pandangan mengenai suami yang baik dan insya-Allah dapat membahagiakan Anda. Suami yang dapat menjadi teman hidup dan menyiapkan perbekalan menuju kampung akhirat. Atau...? Anda mungkin telah mempunyai perasaan tentang siapa kiranya laki-laki yang paling sesuai di hati Anda untuk teman pulang ke kampung akhirat, seandainya ada orang-orang yang ingin bersungguh-sungguh menemani Anda. Barangkali, seperti Syafura putri Nabi Syuaib, di dalam hati Anda telah tertambat harapan kepada seseorang yang menurut Anda tsiqah (bisa dipercaya). Sementara Anda gelisah, apa yang paling maslahat (membawa kebaikan) untuk dilakukan. Atau, ada rahasia-rahasia lain yang tidak layak bagi saya untuk mengetahuinya, padahal masalah itu sangat berarti bagi Anda. Ada bagian-bagian rahasia hati yang dapat Anda simpan sendiri. Meskipun demikian, ada sejumlah rahasia hati yang sebaiknya Anda kemukakan pada orang terdekat, selagi belum datang pinangan. Sampaikan rahasia hati Anda yang menyangkut masalah penting dalam hidup Anda kepada ibu. Jika malu, Anda bisa menyampaikan kepada nenek. Bisa juga kepada tante atau kakak wanita yang telah memiliki pengalaman hidup. Mereka insya-Allah dapat bersikap bijaksana. Sehingga kalau ada masalah yang Anda anggap pelik, mudah-mudahan Allah memudahkan jalan keluarnya. Kalau orangtua melihat ada madharat dan mafsadat yang mungkin terjadi dalam masalah Anda, insya-Allah mereka dapat memikirkan jalan keluarnya. Sehingga, Anda akan mendapat pemecahan terbaik. Mereka telah memiliki pengalaman hidup. Bagi anak perempuan, seorang ayah memiliki hak perwalian. Tidak sah nikah tanpa wali. Ada berbagai hadis yang menunjukkan hal ini. Silakan Anda periksa. Semoga Allah Swt. memberikan hidayah dan ilmu kepada kita, sehingga kita menjadi orang-orang yang yakin. Orang-orang yang memahami hikmah di balik disyariatkannya wali pernikahan seorang anak gadis. Komunikasikanlah rahasia hati Anda, termasuk pandangan Anda tentang pernikahan. Komunikasikanlah secara lemah lembut dengan pembicaraan yang memuliakan mereka. Sehingga ketika masanya tiba, insya-Allah semua berjalan dengan penuh kemaslahatan, barakah dan melegakan semua pihak. Allahu A'lam bishawab. Komunikasikanlah baik-baik. Mudah-mudahan semuanya berujung pada kebaikan dunia-akhirat. Allahumma amin. Jangan Buka Pintu Lagi Suatu ketika seorang akhwat datang dengan membawa masalah. Seorang lakilaki yang baik agamanya, begitu menurut akhwat tersebut, telah meminangnya dan dengan tangan terbuka diterima. Tetapi karena sesuatu dan lain hal (sekedar menirukan gaya panitia ketika menyampaikan kabar tentang pembicara yang tidak

Kado Pernikahan 39

bisa datang), pernikahan belum bisa diselenggarakan segera. Masih perlu waktu untuk melengkapi keperluan nikah. Dalam masa penantian, secara informal ada ikhwan lain datang dengan maksud untuk meminang. Ketika diberitahu bahwa telah ada yang meminang dan sekarang sedang dalam penantian, ikhwan kita ini mengatakan tak masalah. Bukankah belum ada akad nikah? Kalau nanti di tengah jalan ternyata peminang pertama jadi menikahi, maka dia akan mundur dengan senang hati. Karena itu, tak ada salahnya kan kalau mencoba-coba untuk menjajagi kemungkinan menikah? Toh, kalau peminang pertama memang serius bisa mundur sewaktu-waktu. Sementara kalau tidak jadi, dia bisa maju. Tapi, mencabut perasaan dan keputusan ternyata tak semudah mencabut duri dalam daging. Sekarang keduanya berkeinginan untuk segera menikah dengan sahabat kita ini dan kedua-duanya siap untuk segera melangsungkan pernikahan. Persoalan ini semakin sulit dipecahkan karena sahabat kita merasa kedua-duanya baik. Selain itu, sangat tidak mudah untuk menyuruh salah satu mundur karena keduanya sudah melangkah agak jauh. Ikhwan yang pertama telah meminta dan orangtua kedua belah pihak telah saling mengadakan pembicaraan. Pembaca, Ketika persoalan ini dihadapkan kepada saya, tidak ada jalan keluar yang saya tawarkan kepada saudara kita ini. Saya berada dalam perasaan yang tidak jelas. Saya hanya teringat pesan Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wasallam agar tidak meminang wanita yang sedang berada dalam pinangan saudaranya. Perintah yang ada dalam hadis Nabi itu ditujukan kepada kaum laki-laki. Tetapi, saya rasa (ya, saya rasa) wanita pun perlu membantu saudaranya --yakni laki-laki Muslim-- agar tak meminangnya ketika ia sedang berada dalam pinangan, terutama ketika pinangan itu telah positif dinyatakan diterima. Marilah sejenak kita tengok hadis Nabi Saw. ini. Nabi kita yang mulia telah mengingatkan: Khath Arab Dari 'Uqbah bin 'Amir r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya." (HR Jama'ah). Rasulullah juga bersabda: Khath Arab

Kado Pernikahan 40

Dan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, "Jangan hendaknya lelaki meminang wanita yang telah dipinang orang lain, sehingga orang itu melangsungkan perkawinan atau meninggalkannya (tidak jadi)." (HR Ahmad dan Muslim). Apa arti pesan Rasulullah itu bagi kita? Jawaban pertama adalah wallahu A'lam bishawab. Saya tidak tahu apa-apa tentang soal ini. Sesudah itu, mari kita periksa apa hikmah di balik peringatan untuk tidak meminang pinangan saudaranya sesama Mukmin ini. Mari kita ingat perkataan Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengenai pernikahan sebelum kita melangkah lebih dalam. Kata 'Aisyah r.a., "Pernikahan itu sangat sensitif, dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya." Pernikahan itu sangat sensitif. Hampir setiap hal yang bersangkutan dengan nikah sangat sensitif. Hampir setiap tahap dan proses peka terhadap munculnya sikap maupun perasaan-perasaan tertentu secara khusus, baik yang dinyatakan ataupun tidak. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, negatif maupun positif. Padahal, lembaga pernikahan sangat agung. Lembaga pernikahan sangat mempengaruhi bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya serta anak-anak yang dilahirkan kelak akan tumbuh. Secara umum, lembaga pernikahan sebagian besar masyarakat akan menentukan corak masyarakat yang terbentuk. Kekecewaan dalam pernikahan, terutama proses-proses paling awal dari pernikahan, sangat mudah mempengaruhi sikap orang yang bersangkutan terhadap lawan jenis, ikatan pernikahan, kepercayaan terhadap sesama manusia, dan bahkan agama --khususnya dalam perkara mengimani prinsip-prinsip agama. Secara khusus, cacat dalam proses awal --di antaranya perasaan dilecehkan karena keluarga calon istri menerima pinangan dari orang lain-- dapat mengakibatkan sikapnya kelak kepada istri dan anak-anaknya menjadi tidak baik. Sedangkan bagi peminang kedua -seandainya kelak menikah dengan peminang kedua-- sikap keluarga/calon istri juga merupakan tanda yang yang tidak baik. Kepercayaan sulit dibangun. "Benar, saat ini saya yang menang. Tapi apa yang dapat menjamin bahwa istri saya ini nanti akan memiliki kesetiaan, sedangkan ludah yang sudah ditumpahkan saja ia masih mau menjilat kembali." Ini salah satu kemungkinan saja. Kemungkinan yang lain boleh jadi bukan sesuatu yang pasti buruk. Tuhan Sangat Kuasa untuk menentukan peristiwa yang sama sekali lain dibanding perhitungan-perhitungan 'aqliyyah (akal) manusia. Hanya saja, sejauh yang mampu saya baca, itulah kemungkinan yang bisa terjadi. Mudah-mudahan kejadiannya tidak sampai seperti itu. Pintu-pintu Allah masih terbuka, seandainya hati kita mampu mengetuk-Nya. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita dengan memperjalankan diri kita beserta keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang suka berbuat baik. Mu-dah-mudahan Allah kelak mematikan kita, orangtua kita,

Kado Pernikahan 41

teman hidup kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita serta orang-orang yang dekat kita dalam keadaan memperoleh ampunan dan ridha Allah. Setiap kita mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan, bahkan yang lebih besar lagi. Mudah-mudahan kita bisa merenungkan lebih dalam tentang urusan agama kita, setahap demi setahap. Mengapa Engkau Persulit Dirimu? Banyak saudara-saudara kita yang harus berkeringat deras untuk bisa mencapai pernikahan. Banyak yang bingung harus bagaimana lagi agar desakan untuk menikah bisa surut, sementara puasa sudah dijalaninya dengan istiqamah. Banyak yang harus melewatkan malam-malamnya dengan perasaan gelisah yang memuncak, sehingga kadang harus diteduhkan dengan air mata, demi menenangkan hati dari kerinduan bersanding dengan teman hidup. Banyak yang terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak untuk merintih kepada Tuhan, "Ya Allah, hadirkanlah bagiku istri yang menjadi penyejuk mataku dari sisi-Mu." Atau, "Ya Allah, hampir-hampir tak kuat hamba-Mu ini menahan keinginan untuk menikah. Ya Allah, inilah hamba-Mu mengadu kepada-Mu." Banyak yang resah. Dan kemudian Allah menolongnya. Tetapi ada juga yang dimudahkan jalannya oleh Allah untuk menikah. Di saat ada orang-orang yang harus jatuh bangun menghadapi kesulitan, ia dengan ringan dilapangkan jalan untuk menikah. Pada saat ada sejumlah orang yang dihimpit kesedihan karena keinginan untuk menikah semasa masih kuliah tak bisa terlaksana, justru ada yang menyembunyikan pernikahan karena alasan-alasan yang tak prinsip. Padahal kita dianjurkan untuk segera mengumumkan pernikahan. Walimah, salah satu fungsinya adalah untuk mengabarkan kepada masyarakat tentang pernikahan kita. Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing. Kalau tak mampu, dengan menyembelih seekor ayam pun bisa, yang penting kabar pernikahan kita tersampaikan. Bahkan lazim di sebagian masyarakat Jawa Timur walimah nikah diselenggarakan tanpa memotong kambing ataupun ayam. Mengumumkan nikah bisa merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang telah menyempurnakan setengah dari agama kita. Juga untuk menghindarkan saudarasaudara kita dari fitnah dan tindakan memfitnah kita. Alhasil, mengapa kau sembunyikan pernikahanmu jika tidak ada alasan yang prinsip untuk membuatmu harus merahasiakan pernikahanmu? Mengapa...? Berbicara tentang walimah, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Di sebagian masyarakat, pernikahan sudah bukan lagi bentuk syukur kepada Allah dengan mengharap do'a barakah dari para tamu untuk mempelai berdua. Pesta pernikahan sudah menjadi pertaruhan status sosial, sehingga perhitungan-perhitungan penilaian sosial menjadi sangat diperhatikan. Dan demi prestise maupun mempertahankan gegap-gempita acara, sebuah pernikahan yang Islami harus tercoreng oleh cacat yang bisa mengurangi barakah
Kado Pernikahan 42

(mudah-mudahan Allah mengampuni). Demi mendapatkan hasil rias yang menakjubkan (kita ini memang suka membesarkan diri sendiri, ya) atau menjaga agar riasan tidak luntur, kadang ada yang secara sengaja meninggalkan shalat. Kadang pengantin harus repot dengan riasan-riasan yang memenuhi wajah dan kepalanya ketika ia tetap shalat, karena prosesi merias tetap dilaksanakan menjelang waktu shalat. Ironis sekali. Di saat Allah menyempurnakan setengah dari agama kita dengan memberi kemudahan bagi kita untuk menikah, kita justru mengecilkan asma' Allah. Padahal setiap shalat ketika selalu bertakbir. "Hanya Engkaulah ya Allah Yang Maha Besar dan Maha Lebih Besar...." Masih banyak yang bisa kita bicarakan tentang masalah ini. Tapi karena bab ini bukan tentang walimah, maka pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini kita tunda dulu. Insya-Allah kita akan mendiskusikannya nanti pada bab Memasuki Malam Zafaf di jendela kedua buku ini. Sebelum saya akhiri bab kita ini, saya masih ingin mengingat satu hal lagi berkenaan dengan walimah. Di masyarakat kita, akhir-akhir ini mulai terjadi kecenderungan menjadikan walimah untuk "investasi". Penyelenggaraan walimah secara sengaja diorientasikan hampir semata-mata untuk mendapatkan uang yang mencukupi untuk kebutuhan hidup beberapa saat. Seorang akhwat bahkan mengeluh, orangtua mengizinkan dia menikah sebelum lulus dengan catatan pesta nikah harus diadakan besar-besaran dengan perhitungan bahwa dari pesta nikah itu akan terkumpul banyak sekali uang. Dari uang yang terkumpul ini nanti bisa didepositokan, sehingga bunganya bisa diambil setiap bulan untuk biaya hidup keluarga baru itu sehari-hari. Jalan pikiran semacam ini kelihatan tepat dan runtut. Tetapi semakin besar dan mewah pesta pernikahan yang dilangsungkan, tidak menjadi jaminan sama sekali bahwa akan semakin besar juga isi amplop yang akan diberikan oleh para tamu. Apalagi dalam situasi seperti sekarang. Oleh karena itu, mengadakan walimah besarbesaran dengan perhitungan seperti itu, saya khawatikan justru akan meninggalkan kekecewaan yang besar manakala uang yang didapat tidak cukup untuk didepositokan. Lebih-lebih kalau sampai "tekor" (merugi) dalam jumlah yang besar, sedangkan modal penyelenggaraan walimah diperoleh dari hutang, sehingga yang tersisa dari pesta pernikahan itu boleh jadi justru tangis dan kesedihan yang panjang. Hari-hari selanjutnya, kecemasan tentang bagaimana melunasi hutang akan terus mengejar. Mudah-mudahan tidak sampai kehabisan nafas. Artinya apa? Pesta pernikahan janganlah justru menjatuhkan kita ke dalam madharat dan mafsadah yang besar. Jangan karena perhitungan tentang isi amplop, kita justru menjadi tidak percaya kepada Allah; tidak percaya bahwa Allah menjamin rezeki kita setiap bulan, bahkan setiap hari, setiap jam dan setiap detik. Janganlah pesta pernikahan menjadikan kita berubah, dari berharap kepada rezeki Allah beralih mengharapkan bunga dari deposito bank (padahal bank saja tidak bisa menjamin nasibnya sendiri dari kebangkrutan).

Kado Pernikahan 43

Saya teringat dengan teman saya. Di daerahnya, sudah mulai lazim dalam undangan nikah dicantumkan permintaan agar tidak membawa kado, cukup amplop saja. Karena sudah disarankan oleh shahibul bayt (tuan rumah) untuk membawa amplop saja, berangkatlah mereka ke pesta pernikahan itu dengan menyiapkan amplop masing-masing. Keluarga mempelai wanita pun berbahagia bahwa tamutamunya membawa amplop. Tapi malang tak dapat ditolak. Untung tak bisa diraih. Setelah dibuka, banyak amplop yang kosong (“Tidak salah mereka,” kata istri saya. “Kan mereka disuruh bawa amplop?”). "Masih untung kalau isi uang seratus perak. Ini kosong sama sekali," kata teman saya cerita. Di luar itu, ada persoalan lebih mendasar yang membuat sikap mencari dana untuk didepositokan itu tidak tepat. Persoalan itu bukan terletak pada perhitunganperhitungan ekonomi yang ternyata kemungkinannya untuk "impas" atau "rugi" memang sangat besar. Persoalan yang lebih mendasar ada pada masalah adab, akhlak, aqidah dan khususnya persangkaan kita kepada Allah serta keadaan hati kita tentang apa yang seharusnya dicita-citakan dalam menikah. Andaikan ternyata hasil akhir pesta nikah itu kerugian, lalu menyebabkan hutang membengkak, saya khawatir pengantin yang baru menikah beserta orangtua dan anggota keluarga yang lain senantiasa disibukkan oleh impian-impian, di samping kecemasan-kecemasan berkenaan dengan masalah hutang.

Kado Pernikahan 44

Bab 3

M

engenai

Sumber Informasi dan Perantara

S

uatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ingin menilai seorang laki-laki yang datang kepada beliau memohon agar diberi jabatan dalam pemerintahan. Umar r.a. berkata kepadanya, "Bawa orang yang mengenalmu ke sini!" Lelaki itu pulang dan kembali membawa seorang teman. Lalu Umar r.a. bertanya kepada orang itu, "Apakah kau kenal orang ini?" "Ya." "Apakah kau tetangganya, dan tahu keadaan yang sebenarnya?" Umar r.a. bertanya. "Tidak," kata orang itu. "Apakah kau pernah menemaninya dalam perjalanan, sehingga kau tahu pasti perangai dan akhlaknya..." "Tidak." "Apakah kau pernah berhubungan masalah uang dengan orang itu, sehingga kau tahu bahwa dia sangat takut memakan barang yang haram?" "Tidak". "Apakah kau hanya mengenalnya di masjid ketika dia berdiri dan duduk di masjid?" "Ya". "Enyahlah kau dari sini. Kau tidak mengenalnya...!" Lalu Umar r.a. menoleh kepada laki-laki yang datang kepadanya itu dan berkata, "Bawa lagi orang yang benar-benar mengenalmu ke sini."

Kado Pernikahan 45

Dalam riwayat lain dikatakan, ada seseorang berkata kepada Amirul Mukminin Umar r.a. bahwa di fulan itu seorang yang jujur. Maka Amirul Mukminin bertanya, "Apakah kau pernah menempuh perjalanan bersamanya?" "Tidak". "Apakah pernah terjadi permusuhan antara kau dan dia?" tanya Umar bin Khaththab. "Tidak." "Apakah kau pernah memberinya amanat?" "Tidak." "Kalau begitu," kata Umar r.a., "kau tidak mengenalnya selain melihatnya mengangkat dan menundukkan kepalanya di masjid." Kisah percakapan Umar bin Khaththab ini saya angkat dari buku Memilih Jodoh dan Tatacara Meminang dalam Islam (GIP, 1995) karya Husein Muhammad Yusuf ketika membicarakan tema cara memilih suami yang baik. Dalam dua riwayat tersebut, Umar memeriksa apakah orang yang dihadapkan kepadanya memenuhi syarat untuk menjadi sumber informasi mengenai seseorang. Dalam proses pernikahan, pihak calon pengantin perempuan seringkali membutuhkan sumber informasi. Kadang, sumber informasi ini sekaligus menjadi perantara (comblang) yang mengusahakan pertemuan dua pihak menjadi satu keluarga. Sering juga, calon pengantin membutuhkan informasi dari berbagai sumber informasi di luar perantara. Selama proses menuju pernikahan, orang membutuhkan sumber informasi. Pertama, untuk memperoleh keterangan mengenai aspek-aspek pribadi calon suami/istri. Kedua, orang yang membutuhkan sumber informasi, bisa untuk memperoleh keterangan tentang persoalan-persoalan temporer (sesaat) dan situasional. Tentang persoalan kedua ini, insya-Allah kita akan membahasnya pada bab berikutnya Selama Proses Berlangsung, segera setelah bab ini selesai. Memperantarai dua orang untuk menikah mendapat kedudukan mulia dalam Islam. Membantu dua orang yang berkeinginan untuk menikah, sehingga Allah mempertemukan mereka sebagai suami istri yang sah di hadapan Allah, insya-Allah lebih dekat kepada ridha Allah. Ada berbagai keterangan mengenai keutamaan menjadi perantara nikah, insya-Allah termasuk menjadi sumber informasi bagi mereka yang mau menikah. Tetapi bukan bagian saya untuk membahas masalah ini, mengingat belum adanya ilmu pada saya tentang ini. Selain itu, saya belum tepat untuk membicarakan masalah ini. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim. Cukuplah saya kutipkan nasehat Sayyidinina 'Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu. Beliau mengatakan, "Sebaik-baik syafaat adalah memperantarai dua orang untuk menikah, di mana dengan itu Allah mengumpulkan mereka berdua." Selanjutnya, saya ingin membahas beberapa hal penting bagi mereka yang meniatkan diri untuk memperantarai pernikahan. Demikian juga bagi sumber informasi yang dimintai keterangan oleh salah satu pihak calon pengantin. Pembahasan ini saya harapkan juga bisa bermanfaat bagi mereka yang akan menikah,

Kado Pernikahan 46

sehingga mereka memperoleh maslahat dan barakah yang besar dalam pernikahan. Mudah-mudahan Allah 'Azza wa Jalla memberi petunjuk kepada saya tentang ini, memperjalankan saya dengan kekuasaan-Nya untuk menepati petunjuk-Nya, dan menjauhkan saya dari kekeliruan-kekeliruan saya sendiri.

Pertama, Memberi Informasi Objektif Perantara maupun sumber informasi seyogyanya memberikan informasi yang objektif. Ia memberi keterangan yang bersifat informatif sehingga dapat bermanfaat bagi calon pengantin maupun keluarganya untuk menilai calon pasangannya. Adakalanya, sebagian informasi tidak informatif, tidak bernilai sebagai informasi. Justru, kadang malah menimbulkan penilaian (persepsi) yang salah tentang calonnya. Tidak informatifnya keterangan yang diberikan, kadang karena kurangnya deskripsi (penggambaran) mengenai informasi yang abstrak. Kalau Anda mengatakan "dia wanita yang baik" ketika ada seseorang yang memiliki "maksud" bertanya, maka perlu Anda tunjukkan perilaku-perilaku dan sikap yang membuat Anda menyimpulkan dia sebagai wanita yang baik. Tanpa penjelasan, peminang bisa salah persepsi sehingga ia menemui kekecewaan-kekecewaan yang beruntun setelah menikah. Padahal, andaikata ia memperoleh keterangan yang objektif dan informatif, insya-Allah dia justru mendapati istrinya sebagai wanita yang menyejukkan, sekalipun ada kekurangan-kekurangan.

Kedua, Tidak Persuasif Kita sebaiknya tidak memberi keterangan yang bersifat persuasif (membujuk). Keterangan yang persuasif, apalagi jika sengaja mempersuasi agar kedua orang itu berhasil dipertemukan, dapat memunculkan kondisi psikis yang tidak menguntungkan. Pertama, informasi persuasif (bersifat membujuk, promosi) dapat memunculkan harapan (atau malah angan-angan) yang terlalu tinggi mengenai calonnya. Ini menjadikannya kurang peka terhadap kebaikan-kebaikan pasangannya kelak setelah menikah, karena secara tak sadar selalu membandingkan dengan harapan semula sebelum menikah. Ia lebih peka terhadap kekurangan, meskipun sedikit, sementara kebaikannya sebenarnya banyak. Keadaan ini mudah menimbulkan kekecewaan atau bahkan kecenderungan untuk melakukan penolakan psikis terhadap pasangannya. Padahal, semakin tidak bisa mensyukuri kebaikan pasangannya, semakin besar penderitaan psikisnya. Sementara

Kado Pernikahan 47

untuk mengambil jarak dari masalah, lebih sulit karena sudah mengalami distorsi kognitif. Sebagian informasi persuasif ini berasal dari buku-buku yang lebih banyak menjanjikan keindahan yang akan didapatkan ketika menikah, tetapi kurang banyak membahas pada bagaimana keduanya harus memperjuangkan keluarganya. Ketiadaan misi dan lebih banyak persuasi, menumbuhkan harapan yang tidak seimbang. Kedua, informasi yang persuasif mengarahkan harapan orang tentang keindahankeindahan yang akan diberikan pasangan hidupnya. Bukan apa yang kelak perlu ia lakukan kepada pasangannya. Ini menjadikannya mudah merasa kurang terhadap apa yang telah diberikan oleh pasangannya. Bahkan, ketika pasangannya telah banyak memberikan keindahan-keindahan, kehangatan dan penghormatan, ia tidak merasakannya sebagai kebaikan yang layak disyukuri. Ia menerimanya sebagai sekedar kewajaran yang memang sudah seharusnya ia terima. Tuntutan terhadap pasangan lebih mudah muncul dalam dirinya. Susahnya, tuntutan itu sering tidak dinyatakannya karena ia merasa bahwa mengenai hal itu "seharusnya dia sudah mengerti". K.H. Jalaluddin Rakhmat menceritakan, bila sepasang suami-isteri saling mencintai, lama kelamaan wajahnya akan saling mirip satu dengan yang lain. Terjadi perubahan fisiologis di antara mereka. Ini disebabkan oleh perubahan psikologis. Karena itu, kata Kang Jalal, mulailah dari perubahan akhlak, nanti fisik mengikuti. Wallahu A'lam. Tetapi ada yang patut dicatat dari cerita Kang Jalal. Suami-istri yang saling mencintai akan saling menemukan kesamaan-kesamaan. Kalau mereka menjumpai perbedaan, insya-Allah mereka akan berusaha mempersamakan atau menoleransi perbedaan. Ada sebuah keluarga yang setiap membuat sayur, harus selalu dipisahkan dua ketika suami di rumah. Istrinya suka masakan yang manis, sedang suaminya suka asin. Tetapi keduanya hidup harmonis. Tetapi ketika harapan terhadap pasangan terlalu tinggi, ia akan peka terhadap perbedaan-perbedaan. Sementara perbedaan yang ada melahirkan kesenjangan psikis maupun komunikasi. Sesungguhnya, kalau kita selalu mencari perbedaan pada diri pasangan sebagai kekurangan, maka tidak ada orang yang sama persis dengan kita kecuali dengan diri kita sendiri. Tetapi, kalau kita mencari kesamaan-kesamaan sebagai kebaikan atau untuk introspeksi, insya-Allah kita akan menjumpai kesamaan pada pasangan kita sebanyak yang kita cari. Wallahua'lam wallahul musta'an. Ketiga, orang justru menjadi takut menikah karena membandingkan persepsinya (penilaiannya) mengenai calon dengan keadaan dirinya. Seorang ikhwan bisa bisa merasa minder dan "ngeri", karena menganggap akhwat yang ia harapkan terlalu tinggi derajatnya dan "hampir-hampir mencapai kesempurnaan". Alhasil, ia tidak berani meminang atau menerima pinangan justru karena pengaruh informasi yang persuasif. Padahal, keadaan yang sesungguhnya tidak demikian.

Kado Pernikahan 48

Dalam kasus ini, informasi persuasif justru bisa mendekatkan kepada madharat. Allahua'lam wastaghfirullahal 'adzim.

Ketiga, Memberi Informasi Menurut Apa yang Diketahui Nilai keutamaan orang yang memperantarai pernikahan atau pun yang menjadi sumber informasi, insya-Allah terletak pada usaha untuk memberi keterangan yang tepat. Bukan pada banyaknya informasi yang dapat ia sampaikan. Seyogyanya, kita menjauhkan diri dari memberi informasi yang bersifat qila wa qila (katanya sih katanya, kononnya konon). Informasi mengenai hal-hal fisik, seharusnya ia ketahui dari melihat langsung. Bagi Anda yang ingin mengetahui keadaan fisik calon, masalah ini perlu mendapat perhatian. Wajah dan telapak tangan, dapat Anda lihat sendiri. Tetapi mengenai bagian fisik lainnya, Anda perlu meminta orang lain jika Anda ingin mengetahuinya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah Saw. Imam Ahmad, Imam Thabrani, Imam Hakim, dan Imam Baihaqi pernah meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik r.a. Suatu ketika, Rasulullah Saw. pernah mengutus Ummu Sulaim r.a. kepada seorang wanita (yang akan dilamar). Rasulullah mengatakan, "Perhatikanlah urat di atas tumitnya dan ciumlah bau lehernya." Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Saw. berkata, "Ciumlah bau gigi (depannya) di sepanjang lebar mulutnya."

Keempat, Lebih Melihat Pada Usaha Memperantarai dua orang untuk menikah, menurut Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu merupakan sebaik-baik syafaat. Nilai usaha orang yang memperantarai, insya-Allah terletak pada kesungguhannya dalam mengusahakan. Berhasil atau tidak, baginya pahala orang menikahkan dua orang saudara sesama Muslim. Karena itu, seorang perantara hendaknya lebih memperhatikan kemaslahatan dalam mengusahakan, bukan berorientasi pada keberhasilan mempertemukan. Kegagalan mempertemukan insya-Allah bukan keburukan, jika Anda mengusahakan pada kemaslahatan. Kesudahan bagi keduanya insya-Allah baik. Sebaliknya, keberhasilan mempertemukan tetapi kurang memperhatikan kemaslahatan-kemaslahatan, terma-suk dalam memberi informasi, bisa justru menghasilkan madharat. Mudah-mudahan Allah Swt. memasukkan kita ke dalam

Kado Pernikahan 49

golongan orang-orang yang selamat dan bahagia. Bukan golongan orang-orang yang tersesat dan menderita.

Kelima, Moderat dan Tidak Menyudutkan Adakalanya orang yang diperantarai menghadapi beberapa pilihan. Menentukan pilihan untuk masalah yang menyangkut kehidupan selama di dunia dan sampai akhirat ini, bukan perkara mudah. Butuh kejernihan agar tidak terombang-ambing oleh desakan hawa nafsu yang jahat. Butuh kejernihan, agar hati semakin berih dan lurus ketika mengambil keputusan. Tidak justru merusak niat. Padahal, niat adalah masalah mendasar dalam mengambil keputusan. Seorang perantara yang menjumpai keadaan seperti ini, hendaknya berusaha untuk bersikap moderat. Sikap moderat (al-wasthiyyah) insya-Allah lebih dekat kepada kemaslahatan dan ridha Allah. Sekalipun ia berdiri untuk memperantarai salah satu orang yang sedang dipertimban-kan, ia sebaiknya bersikap netral. Kecenderungan hati barangkali sulit dihapuskan. Tetapi, insya-Allah akan baik kalau ia mencoba memilih berdiri di tengah-tengah dalam ucapan. Ini akan membuahkan ketenangan. Dan ketenangan lebih dekat kepada kejernihan. Adakalanya sebagian orang bersikap kurang moderat. Ia cenderung mengarahkan pikiran orang yang diperantarai, sekalipun barangkali tidak disadari. Kadang-kadang bahkan mengarahkan kepada "sikap negatif" yang memojokkan, sehingga orang yang diperantarai merasa tertekan. Merasa berada pada situasi yang riskan. Atau, menyebabkan orang yang diperantarai tertekan secara emosional. Padahal, dalam saat-saat seperti itu, yang ia butuhkan adalah kejernihan dan ketenangan agar lebih dekat kepada tawakal dan ridha Allah. Pada saat-saat seperti ini orang yang hendak menikah sangat perlu menjaga prasangka dan keyakinannya terhadap Allah Swt. Moderat lebih dekat dengan keseimbangan. Saya pernah mendengar seorang perantara memberikan pertanyaan yang bernada memojokkan, "Apa sudah ada tandatanda penolakan dari pihak sana?" Pertanyaan yang semacam ini juga termasuk tidak netral dan bisa menyebabkan ketidakamanan secara emosional, "Bagaimana, apa sudah ada kecenderungan ke pihak yang di sini? Barangkali sudah ada kepastian kalau tidak jadi." Pertanyaan-pertanyaan sejenis, juga keterangan-keterangan lain yang tidak berimbang, membawa orang yang diperantarai kepada situasi yang tidak mengenakkan emosi. Keputusan yang hampir jadi sesuai yang dikehendaki perantara, bisa justru mentah kembali karena pertanyaan atau pun pernyataan yang menyudutkan secara emosional.

Kado Pernikahan 50

Saya ingat kisah Sayyidina 'Ali karamallahu wajhahu. Semua musuhnya tahu kalau Sayyidina 'Ali sudah mengangkat pedang, sulit mengelak dari tebasannya ketika berhadapan di medan peperangan. Suatu ketika, seorang musuh berada pada situasi terdesak. Ia berhadapan dengan Sayyidina 'Ali. Merasa terdesak dan tak ada pilihan lain, ia meludahi Sayyidina 'Ali. Pedang yang hampir menebas, ternyata tidak jadi menghilangkan nyawanya. Mengapa Sayyidina 'Ali mengurungkan tebasan pedangnya? Beliau tidak ingin mengayunkan pedangnya karena hati yang terusik oleh ludah. Sikap seorang ustadz berikut agaknya bisa dicontoh. Ketika ada orang mengajukan masalahnya, ia menunjukkan sisi baik dari keduanya secara berimbang. Kekurangan pada salah satu pihak, ditunjukkan sebagai kesempatan untuk memperoleh kemuliaan akhirat, dan diimbangi dengan kelebihan yang mungkin ada. Sementara kekurangan pihak lainnya, dijelaskan dengan cara yang sama secara seimbang dan adil.

Keenam, Memotivasi Jika Mampu Sebagian perantara maupun sumber informasi, selain memberikan keterangan yang diperlukan juga memberi motivasi. Ini baik, agar orang bersemangat dan tetap optimis menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada. Jika orang yang diperantarai masih ragu-ragu, motivasi dapat membuatnya yakin dan mantap untuk segera melangkah ke jenjang pernikahan. Ia dapat memikirkan kesulitan-kesulitan yang ada secara tenang, sehingga Allah memudahkannya keluar dari masalah. Insya-Allah. Meskipun demikian, seorang perantara maupun sumber informasi perlu berhatihati dalam memberikan motivasi (targhiib). Syukur, jika motivasi yang diberikan lebih dapat menumbuhkan keyakinan terhadap pertolongan Allah. Sesungguhnya Allah itu dekat dan sangat luas karunia-Nya. Juga berkenaan dengan firman Allah Swt, "Fa idza 'azzamta, fa tawakkal 'alaLlah." Maka, jika kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Jika Anda dapat memotivasi orang ke arah yang demikian, insya-Allah kelak Anda akan mendapatkan syafa'at dan keutamaan di akhirat. Sementara itu, di mata manusia sikap demikian merupakan kemuliaan. Akan tetapi, jika Anda memotivasi dengan menonjolkan aspek-aspek pada diri calon yang mungkin menjadikannya lebih terpengaruh, saya khawatir kesudahannya malah tidak baik. Sikap ini rawan terhadap impression management (pengelolaan kesan). Dan impression management mendekati manipulasi informasi, tidak menunjukkan sebagian informasi untuk lebih menonjolkan informasi yang dianggap penting. Ini menimbulkan kesan dan harapan. Kalau tidak sesuai dengan yang diangankan, dapat menimbulkan kekecewaan di belakang hari.

Kado Pernikahan 51

Menceritakan aspek-aspek yang ada pada diri calon, boleh dilakukan. Tetapi hendaknya tetap memperhatikan, agar keterangan tersebut tidak mendorong munculnya persepsi yang keliru dan harapan yang tidak tepat. Bersyukur, jika sumber informasi atau perantara dapat memberikan keterangan mengenai diri calon sekaligus mengarahkan pada kelurusan niat. Ada ladang amal shalih di dalamnya.

Perantara untuk Menawarkan Maksud Seorang Wanita Jika seorang wanita bermaksud menawarkan diri dan meminta bantuan kepada Anda untuk memperantarai, ada persoalan yang perlu mendapat perhatian. Perantara adalah penghubung antara maksud mulia seorang wanita dengan laki-laki yang diharapkan. Sekaligus, ia menjadi orang pertama yang memberi keterangan kepada pihak laki-laki mengenai wanita yang mempunyai maksud. Perantara perlu berhati-hati dalam mengemukakan alasan wanita tersebut memilih laki-laki yang dimaksudkan. Ia perlu menjaga agar sikap dan keterangannya, tidak menimbulkan pandangan yang keliru dari laki-laki yang dimaksud terhadap wanita yang menginginkannya. Ini terutama berkait dengan wanita itu, sekaligus nanti pengaruh mendasarnya pada niat laki-laki itu ketika mempertimbangkan. Niat dan harapan, sebagaimana kita bahas di bagian awal bab ini, sangat mempengaruhi bagaimana orang menjalani kehidupannya setelah berumahtangga. Seorang perantara sebaiknya berusaha untuk tidak menonjolkan aspek fisik, terutama kecantikan dan kekayaan, dengan harapan agar laki-laki yang dimaksudkan lebih terdorong. Kalaupun wanita itu bermaksud mempercayakan hartanya kepada suaminya, perantara sebaiknya berusaha mengarahkan kepada kelurusan niat. Kisah Rabi'ah binti Ismail Asy-Syamiyah, menarik untuk disimak. Selanjutnya, pembicaraan ini saya cukupkan dengan dua hadis Nabi Saw. Mudah-mudahan dapat menjadi renungan. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk. Imam Thabrani meriwayatkan hadis dari Anas bin Ma-lik r.a. yang menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatannya), maka Allah hanya akan menambahkan kehinaan." "Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakirannya." "Barangsiapa yang menikahi wanita karena nasabnya (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambahkannya kerendahan." "Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita ka-rena ingin menutupi (kehormatan) matanya, membentengi farjinya, dan mempererat tali silaturrahmi, maka Allah akan memberikan barakah-Nya kepada dia (suami) dan istrinya (dalam kehidupan keluarganya)."

Kado Pernikahan 52

Ada hadis senada yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam An-Nasa'i. Di samping itu, terdapat hadis-hadis lain yang memberikan peringatan dalam soal ini. Sebagai penutup, marilah kita simak hadis riwayat Imam Abu Daud dan At-Tirmidzi berikut. Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. "Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. "Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak beragama)". Begitu. Mudah-mudahan Allah memberikan kemuliaan kepada mereka yang telah memperantarai dengan bijak dan adil. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua. Allahumma amin. 'Alaa kulli hal, semoga Allah memberi kekuatan dan kejernihan kepada kita jika ada yang membutuhkan informasi dari apa yang kita ketahui tentang seseorang atau ketika ada yang harus kita perantarai. Sungguh, tidak mudah menjaga kejernihan hati. Tetapi, juga tidak mudah untuk melepaskan diri dari ghurur (keadaan terkelabui); menyangka berhati-hati, tetapi sesungguhnya bukan. Sebagaimana juga tidak mudah melepaskan diri dari keburukan, meski kita telah tahu ada penyakit hati yang bersarang. Hanya Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah menolong kita. Dan atas segala kesalahan saya pada Anda, maafkan saya.

Kado Pernikahan 53

Bab 4

S

elama Proses Berlangsung

Ummul Mukminin 'Aisyah r.a. mengatakan: "Pernikahan itu sangat sensitif dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya."

enikah adalah kesucian. Sangat besar kemuliaan di dalamnya. Sangat tinggi kedudukannya dalam Islam, sehingga Al-Qur'an menyebutnya sebagai mitsaqan-ghaliza (perjanjian yang sangat berat). Hanya tiga kali kata ini disebut, dua untuk perjanjian tauhid. Maka, pernikahan yang diridhai Allah akan dipenuhi oleh doa malaikat yang menjadi saksi pernikahan. Ketika akad nikah terjadi, halal apa-apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi kemuliaan, kehormatan dan besar sekali pahala di sisi Allah. Pernikahan telah mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan manusia dalam beragama. Allah menyempurnakan setengah agama ketika seseorang melakukan pernikahan. Namun demikian, sebelum akad ada proses. Selama proses inilah setan berusaha memanfaatkan momentumnya untuk menggoda dan merusak, sehingga pernikahan bergeser jauh dari makna dan tujuannya. Proses menuju akad nikah banyak memberi pengaruh terhadap hubungan antara suami dan istri kelak setelah menikah. Demikian juga, hubungan antara dua keluarga, yaitu keluarga istri dan keluarga suami, banyak dipengaruhi oleh proses dari
Kado Pernikahan 54

M

peminangan hingga akad berlangsung. Persepsi dan penerimaan masing-masing anggota keluarga, banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan qalbiyyah (hati, termasuk niat) ketika proses sedang berlangsung. Oleh karena itu, setelah peminangan, yang perlu kita jaga adalah segala hal yang dapat merusak makna dan tujuan pernikahan, yang mungkin muncul selama proses berlangsung. Sebagian proses berjalan dengan mudah dan sederhana. Sebagian harus menempuh proses yang pelik dan rumit. Sebagian berlangsung cepat dalam waktu singkat, sebagian harus menunggu dalam waktu yang cukup lama. Proses pernikahan manakah yang terbaik? Yang terbaik adalah yang paling maslahat dan barakah, serta jauh dari mafsadah (kerusakan) dan bibit-bibit kekecewaan yang menjauhkan orang dari rasa syukur. Proses pernikahan yang mendatangkan maslahat dan barakah bisa jadi berlangsung dengan mudah, bisa pula berlangsung melalui jalan yang pelik. Allah Maha Tahu apa yang paling maslahat bagi Anda. Ketika hujan lebat sedang turun dan petir menggelegar sambutmenyambut, kalau Anda tidak berhati-hati, bisa tersambar oleh petir yang nyasar. Kalau Anda menjaga diri, istiqamah, dan tawakal, insya-Allah Anda akan mendapati hujan sebagai pensucian bumi hati Anda. Sedang petir membawa muatan listrik yang menerangi. Sesungguhnya, sepanjang yang saya ketahui, salah satu pandangan Islam tentang pernikahan adalah sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan. Anda harus memperhatikan keadaan hati Anda ketika akan melaksanakan. Sebab, di sinilah setan berusaha untuk menyimpangkan niat dan tujuan Anda. Islam menganjurkan kita untuk menyegerakan menikah, tetapi setan bisa mengambil bentuk yang mirip ketika kita tidak mau menunda-nunda tanpa alasan. Setan mengarahkan kita untuk bersikap tergesa-gesa. Khusus pembahasan mengenai menyegerakan dan tergesa-gesa, insyaAllah akan kita bicarakan pada bab berikutnya, Antara Menyegerakan dan Tergesagesa. --Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu karena persangkaan kita yang baik kepada Allah ataukah justru karena persangkaan kita yang kurang tepat kepada-Nya. --Setan berusaha untuk merebut masa sebelum menikah, masa yang sangat rawan. Masa ini bisa menyesatkan manusia jika tidak berhati-hati. Dengan demikian boleh jadi ia mendapati pernikahannya kelak tidak sebagaimana harapannya, meskipun -barangkali-- pasangan hidupnya sudah berperilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam

Kado Pernikahan 55

dan bahkan melakukan kebajikan-kebajikan dalam rumah tangga. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian. Ada dua hal yang perlu kita jaga sejak berangkat meminang (atau, sejak datangnya pinangan bagi seorang gadis) sampai dengan pelaksanaan akad-nikah. Pertama, menyangkut persangkaan kita kepada Allah. Ini yang paling rawan. Kedua, persangkaan dan persepsi kita terhadap pernikahan dan calon pasangan hidup kita. Masalah kedua ini, banyak kaitannya dengan masalah pertama. Jika masalah yang pertama tidak baik, masalah yang kedua sangat mungkin untuk ikut tidak baik.

Persangkaan Kepada Allah Orang yang tampak bersungguh-sungguh ketika berdoa, bisa jadi karena keyakinannya bahwa Allah itu dekat. Allah Maha Mendengar doa orang-orang yang berpengharapan kepada-Nya. Ia yakin bahwa Allah memperhatikan orang yang datang kepada-Nya untuk mengadukan keluh-kesahnya atau memohon pertolonganNya. Karena kemuliaan-Nya, maka adalah kelayakan bagi manusia untuk berdoa secara sungguh-sungguh sekaligus berhati-hati agar terjauh dari berdoa yang tidak layak, sekalipun Allah Sangat Luas Pemberian-Nya. Meskipun demikian, bisa jadi orang tampak sangat bersungguh-sungguh ketika berdoa, sampai wajahnya berkerut-kerut dan ekspresinya berubah, justru karena ketidakyakinannya. Ia mengkhusyuk-khusyukkan diri ketika berdoa, justru karena keyakinannya yang tipis bahwa Allah Maha Mengabulkan doa orang-orang yang berpengharapan kepada-Nya. Ia menyangatkan diri ketika memohon kepada Allah karena khawatir keinginannya tidak tercapai, padahal ia tahu Allah Maha Besar Kekuasaan-Nya. Sungguh, sangat jauh perbedaan antara kesungguhan doa orang yang yakin dan kesungguhan orang yang berdoa justru karena kurang yakin terhadap kemurahan Allah. Orang yang sangat besar keyakinannya kepada Allah ketika berdoa bisa jadi sampai menangis, mengingat-ingat besarnya karunia Allah dan kecilnya amanah yang sudah ia tunaikan. Orang yang berdoa karena kurngnya keyakinan, juga bisa menangis. Tetapi jauh sekali perbedaannya. Dan berbeda sekali persangkaannya kepada Allah. Padahal, Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi: "Aku menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." (HR Bukhari dan Muslim). Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu karena persangkaan kita yang baik kepada Allah ataukah karena persangkaan kita yang kurang tepat kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sering tidak bisa membedakan, kecuali setelah mengambil jarak dari masalah itu dengan pertolongan Allah. Dan datangnya pertolongan Allah, adakalanya sesuai dengan persangkaan kita mengenai pertolongan, bisa pula sebaliknya, justru nampak berkebalikan dengan apa yang kita anggap sebagai cara menolong. Sungguh, rugi orang yang menyangka pertolongan Allah

Kado Pernikahan 56

sebagai pengabaian-Nya. Semoga kita terhindar dari prasangka yang tidak diridhaiNya. Pernikahan adalah salah satu amanah Allah bagi manusia yang beriman kepadaNya. Pernikahan adalah ketundukan kita kepada-Nya, sekalipun Allah memberi tempat kepada perasaan-perasaan manusiawi. Justru, Allah-lah yang memberikan perasaan-perasaan dan dorongan itu kepada manusia. Sementara itu, setan berusaha untuk memanfaatkan momentum menjelang nikah, selama proses menuju pernikahan, justru untuk mengangkuhkan diri seolah Allah tidak memperhatikan. Padahal tidak ada yang bisa disembunyikan dari pengetahuan dan "penglihatan" Allah. Pernikahan adalah amanah Allah. Dan Allah tidak pernah zalim kepada makhluk-Nya. Tidak pernah Allah memberikan amanah kepada manusia, kecuali Ia akan memberikan sarana untuk memenuhi amanah. Allah tidak pernah zalim. Maha Suci Allah dari kezaliman. Setiap amanah telah dicukupi dengan sarana yang dengan itu orang bisa melaksanakan amanah-Nya, dalam hal ini melaksanakan pernikahan. Walaupun demikian, manusia sering melakukan kezaliman kepada dirinya sendiri maupun kepada Allah dengan prasangka-prasangka buruk kepada-Nya. Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya yang luas ampunan dan kasih sayang-Nya. Astaghfirullahal'adzim. Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazhzhalimin. Masya Allah. Manusia seringkali tergesa-gesa dan penuh keluh-kesah karena dangkalnya ilmu dan pendeknya jangkauan akalnya terhadap rahmat Allah. Ketika membutuhkan gerimis untuk mendinginkan bumi hatinya, ia mengeluh dan kadang bahkan cepat memberikan penilaian yang salah ketika Allah mengirimkan mendung. Padahal, mendung yang tebal itu membawa muatan air yang melimpah, lebih dari sekedar yang ia butuhkan. Ketika ia tidak melihat mendung, dan hanya merasakan teriknya matahari, ia lupa bahwa matahari pun adalah rahmat. Berkait dengan keinginannya, matahari mempercepat penguapan air laut menjadi awan yang selanjutnya akan menjadi hujan. Tetapi manusia sangat pendek jangkauan akalnya, tergesa-gesa dan mudah mengeluh. Semoga Allah mengampuni kezaliman kita dan menggantikan dengan hati yang bersyukur. Masalah-masalah berkenaan dengan prasangka yang kurang baik terhadap Allah, tidak hanya ketika berhadapan dengan apa yang oleh anggapan lahiriah sebagai kesulitan. Keadaan-keadaan yang dirasa mudah, juga perlu dijaga agar kemudahan yang diberikan oleh Allah tidak menjatuhkan kita ke dalam keadaan "mengabaikan" rahmat Allah. Seolah-olah, kitalah yang menyebabkan kemudahan. Manusia memang rawan terhadap sikap takabur, menyombongkan diri di hadapan orang lain dan di hadapan dirinya sendiri. Mudah-mudahan kita bisa menjaga persoalan-persoalan qalbiyyah selama proses menuju pernikahan berlangsung. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menyelamatkan

Kado Pernikahan 57

kita dari urusan hati yang menjerumuskan. Semoga Allah mensucikan niat kita dalam melangkah ke jenjang pernikahan. Saya sangat mengharap kepada Allah niat terbaik saat melangsungkan akad-nikah. Mudah-mudahan Allah menjadikan pernikahan kita barakah dan diridhai Allah hingga kelak kita menghadap-Nya di yaumil-akhir. Mudah-mudahan Allah Swt. mengaruniai kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Inilah yang kita perlu jaga. Kita perlu menata hati ketika menjalani urusanurusan selama proses berlangsung, termasuk ketika nanti mengadakan walimah. Mudah-mudahan kebersahajaannya maupun kemeriahannya, kita laksanakan di atas niat serta jalan yang diridhai Allah. Semoga barakah dunia akhirat. Allahumma amin. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.

Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon Proses pernikahan ada yang berlangsung cepat, ada yang membutuhkan waktu lama. Mengenai waktu yang dibutuhkan selama proses, saya teringat kepada doa keluar rumah yang artinya, "Dengan menyebut nama Allah atas jiwaku, hartaku, dan agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan dan jadikanlah barakah apa yang telah Engkau takdirkan. Sehingga, tidak kepingin aku untuk menyegerakan apa yang Engkau tunda, dan menunda apa yang Engkau segerakan." Ada satu catatan. Pernikahan termasuk salah satu dari tiga perkara yang dianjurkan untuk disegerakan. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya adalah lebih baik. Mempercepat proses pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan lebih dekat dengan kemaslahatan, barakah, dan ridha Allah. Insya-Allah, pertolongan Allah sangat dekat. Apa-apa yang menghalangi langkah untuk menyegerakan, akan dimudahkan dan dilapangkan. Sesungguhnya Allah tidak zalim terhadap apa-apa yang diserukan-Nya. Allah tidak zalim terhadap hamba-Nya, betapa pun Allah Mutlak Kekuasaan-Nya. Kitalah yang sering zalim kepada Allah. Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazh-zhalimin. Rabbana zhalamna anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin. Ya Allah, ampunilah hamba atas kezaliman hamba sendiri. Mempercepat proses pernikahan adalah lebih baik, tetapi hendaknya tidak terjatuh pada sikap tergesa-gesa. Selama proses berlangsung, kita membutuhkan informasi dan pembicaraan berkaitan dengan rencana pernikahan. Adakalanya, kita mendapatkan informasi mengenai beberapa hal dari keluarga calon, perantara, atau orang lain. Adakalanya, kita mendapatkan keterangan tentang beberapa hal dari calon pendamping secara langsung. Selama masa ini kita sangat peka terhadap berbagai informasi yang kita terima, disebabkan oleh besarnya harapan untuk menyegerakan ataupun besarnya

Kado Pernikahan 58

kekhawatiran. Bisa juga oleh sebab-sebab lain yang bersifat qalbiyyah (hati). Kadangkadang, orang mengalami deprivasi (kebutuhan yang sangat, seperti orang yang lapar) yang menyebabkannya menjadi lebih peka terhadap jenis-jenis informasi tertentu. Pada saat Anda sedang mengalami deprivasi makanan, Anda akan cepat mengira orang yang sedang memukul-mukulkan besi kecil sebagai penjual nasi goreng sedang lewat. Masa menjelang nikah adalah masa yang sensitif. Apa yang berlangsung selama masa ini, bagaimana memaknainya, mempengaruhi bagaimana kedua manusia itu kelak akan menghayati pernikahannya. Proses antara pinangan dengan pelaksanaan akad, hingga detik-detik akadnya, bisa menjernihkan niat-niat yang masih keruh sehingga pada saat keduanya melakukan shalat berjama'ah segera setelah akad, mereka banyak beristighfar, memohon pertolongan Allah untuk melimpahkan kebarakahan dan menjauhkan dari keburukan, serta merasakan syukur yang dalam karena telah terhindar dari ancaman maksiat. Tetapi, proses menuju pernikahan bisa juga mengeruhkan niat-niat, sekalipun sekilas tampak mendapat pembenaran agama. Padahal manusia mendapatkan hasil dari perbuatannya sesuai dengan apa yang diniatkan. Pada masa ini, di antara sekian banyak hal yang mungkin harus diselesaikan, masalah lisan adalah yang paling peka dan paling rawan. Sebab, masalah memperlakukan lisan ini mempengaruhi keseluruhan masalah lain, termasuk dalam hubungan suami-istri setelah menikah. Bahkan termasuk bagaimana menghayati hubungan intim suami-istri. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim. Saya mohon perlindungan Allah dari kekejian lisan saya sendiri. Ada dua hal yang perlu dijaga dalam memperlakukan lisan selama proses berlangsung (juga sesudahnya). Pertama, menjaga lidah dalam mengucapkan katakata (hifdhul-lisan). Kedua, menjaga persepsi kita terhadap apa yang kita dengar dari lisan orang lain. Ada dua bagian manusia yang dapat menjaminkan surga atau menjerumuskan ke neraka, yaitu lisan dan kemaluan. Nikah adalah proses menjaga kesucian kemaluan kita dari tindakan yang tidak diridhai Allah (mudah-mudahan kita termasuk orang yang menikah demi menjaga kesucian farji). Melalui nikah, apa yang sebelumnya merupakan dosa besar, menjadi ibadah yang dimuliakan. Nikah adalah kesucian. Tetapi, lisan dapat menjadikannya keruh. Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'di r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa yang menjamin kepadaku akan menjaga apa yang ada di antara kedua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara kedua kaki pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin surga untuknya." (HR Bukhari). Suatu ketika Uqbah bin Amir r.a. bertanya, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau menjawab, "Tahanlah lisanmu, kerasanlah di rumahmu, dan tangisilah dosamu." (HR Tirmidzi).

Kado Pernikahan 59

Saya tidak bisa menjelaskan bab ini lebih lanjut. Cukuplah saya akhiri bab ini dengan beberapa hadis. Mudah-mudahan Allah Swt. mengampuni kesalahankesalahan niat dalam menikah disebabkan oleh ketidaktahuan kita, dan meluruskannya dengan menyemayamkan niat terbaik yang diridhai-Nya. Mudahmudahan kelak kita akan mendapati pernikahan kita dan keturunan kita seluruhnya barakah dan diridhai Allah 'Azza wa Jalla. Allahumma amin. Al-Maqdisi mengetengahkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Berikan penafsiran terbaik tentang apa yang engkau dengar, dan apa yang diucapkan saudaramu, sampai engkau menghabiskan semua kemungkinan dalam arah itu." Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai hadis, "Jika engkau mendengar sesuatu yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya." Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam berkata, "Carilah alasan untuknya dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau mungkin maksudnya begini." Tabayyun (meminta penjelasan) adalah bentuk lain upaya untuk mendapatkan interpretasi sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya. Bisa jadi kita mendengar langsung dengan orang yang berbicara, tetapi kita menangkapnya tidak sebagaimana dimaksud. Di sinilah tabayyun (mengecek kebenaran informasi) diperlukan. Rasulullah Saw. juga diriwayatkan pernah bersabda, "Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma'ah, yang jika orang lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orangorang baik, maka engkau juga baik, dan jika mereka jelek, hendaklah engkau menjauhinya keburukan-keburukan mereka." (HR Tirmidzi). Apakah imma'ah itu? Kita minta Muhammad Hashim Kamali, seorang guru besar ilmu fiqih pada International Islamic University, Malaysia, untuk menjelaskan. Menurut Muhammad Hashim Kamali, imma'ah adalah, "Memuji atau mencela orang lain tanpa alasan, tetapi semata-mata karena dia melihat orang lain melakukan hal itu." Kita imma'ah ketika kita dengan cepat menyimpulkan ucapan orang lain hanya dari mendengar selintas. Kita juga imma'ah kalau kita segera memberikan pujian karena mendengar kabar sekedarnya mengenai dia. Apalagi kalau sampai menjatuhkan kesimpulan dengan sangat yakin tentang seseorang hanya dari rumor -entah, apakah masih termasuk imma'ah atau bukan. Alhasil, dengan kriteria seperti itu, rasanya hampir setiap hari kita terperosok ke dalam imma'ah. Kadang-kadang tersadar sesudah lewat, tetapi melakukan kesalahan lagi beberapa menit sesudah sadar.

Kado Pernikahan 60

Saya mohon ampunan kepada Allah atas berbagai perbuatan imma'ah yang saya lakukan karena ketidaktahuan saya atau karena kecerobohan saya. Saya meminta maaf kepada Anda jika saya pernah gegabah menyimpulkan ucapan Anda, padahal saya belum memeriksanya. Apapun, kita mengharap pertolongan Allah semoga kemudahan dalam proses menumbuhkan kehangatan dan keakraban setelah menikah. Adapun kesulitan dalam proses, melahirkan kesetiaan, kedalaman cinta, dan kelurusan niat setelah melaksanakan akad nikah. Bagi mereka ketenteraman, mawaddah wa rahmah hingga hari kiamat kelak. Allahumma amin. Rahmat Allah datang dalam berbagai bentuk.

Kado Pernikahan 61

Bab 5

A

ntara Menyegerakan

dan Tergesa-gesa

Rasulullah menasehatkan: "Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya."

S

alah satu perkara yang perlu disegerakan adalah menikah. Begitu Islam mengajarkan. Menyegerakan bagi seorang laki-laki yang telah mencapai ba'ah adalah dengan segera meminang wanita baik-baik yang ia mantap dengannya. Ia mendatangi orangtua wanita tersebut dengan menjaga adab sambil membersihkan niat. Rasulullah Muhammad Saw. bersabda: Khath Arab "Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah, maka tidaklah ia termasuk golonganku." (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).1

Nabi kita juga mengingatkan, "Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah." (HR Ath-Thabrani). Sedang menyegerakan nikah bagi keluarga wanita adalah dengan mempercepat pelaksanaan jika tidak ada kesulitan yang menghalangi. Juga, menyederhanakan proses agar tidak membebani kedua mempelai. Mudah-mudahan mereka akan
Kado Pernikahan 62

mendapatkan rumah tangga yang barakah dan diridhai Allah, keluarga yang di dalamnya terdapat anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Menyegerakan nikah insya-Allah lebih dekat kepada pertolongan Allah dan syafa'at Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah akan menyempurnakan setengah agama kita kalau kita menyegerakan menikah. Insya-Allah, kita akan mendapati pernikahan yang barakah. Sebuah pernikahan yang barakah akan menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya tenteram dan saling memberi manfaat. Mereka akan memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hidup yang sia-sia. Seorang pemalas akan menjadi rajin, seorang peragu akan memperoleh yakin, dan seorang yang bimbang akan memperoleh keteguhan. Nikah adalah satu di antara tiga perkara yang sunnah untuk disegerakan. Allah akan melimpahkan ridha-Nya kepada orang yang menyegerakan nikah. Mereka yang menyegerakan nikah atau membantu orang untuk menyegerakan nikah, insya-Allah akan mendapati rahmat dan perlindungan Allah kelak di yaumil-hisab. Sebab, sesungguhnya perbuatan menyegerakan nikah merupakan perkara yang disunnahkan oleh Rasulullah. Dan setiap perkara yang disunnahkan, adalah tindakan yang diridhai dan dicintai Allah. Wallahu A'lam bishawab. Akan tetapi, di dalam setiap perbuatan, setan berusaha untuk menggelincirkan manusia. Jika orang tidak mau melakukan kemaksiatan, setan berusaha untuk menggelincirkan manusia dengan menampakkan apa-apa yang sepintas mirip dengan perkara yang disunnahkan. Banyak contoh tentang ini. Agama menganjurkan kita untuk syukur nikmat, mengabarkan dan menampak-nampakkan nikmat yang kita peroleh demi mengagungkan kemurahan Allah. Dan setan berusaha untuk menyimpangkan niat kita, sehingga kita menampak-nampakkan bukan dalam rangka syukur nikmat, tetapi dalam rangka riya' dan sum'ah. Jika riya' adalah tindakan yang dilakukan dengan harapan orang melihat kebaikan yang ada pada diri kita, sum'ah adalah tindakan agar orang mendengarkan keunggulan kita. Kadang orang bersikap merendah karena tawadhu', tetapi orang bisa merendah dalam rangka meninggikan diri di hadapan orang lain. Yang pertama, adalah kemuliaan akhlak yang sering dianjurkan agama. Yang kedua, adalah rekayasa kesan agar tampak sebagai orang yang memiliki kedalaman pemahaman agama. Masih banyak yang lain. Hanya saja, kita sering tidak tahu bahwa yang ada pada hati kita bukanlah sebagaimana yang diharapkan oleh agama. Bisa jadi, kita mampu menunjukkan argumentasi (hujjah) atas apa yang kita lakukan. Kita berargumentasi melalui kekuatan nalar dan lisan yang dikaruniakan kepada kita, akan tetapi hati kita mengingkari. Sayangnya, kita pun sering tidak tahu bahwa hati kita mengingkari disebabkan pekatnya penghalang mata hati kita untuk melihat beningnya kebenaran.

Kado Pernikahan 63

Perkara nikah juga demikian. Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan. Meskipun demikian, kita bisa jadi terjatuh pada tindakan tergesa-gesa. Bersegera, akan mendekatkan orang kepada saat menikah. Penantian yang telah melewati berpuluh-puluh malam, insya-Allah segera terbayarkan dengan akad nikah yang dalam waktu dekat akan terlaksana. Sementara itu, tergesa-gesa bisa jadi justru menjadikan tibanya saat akad nikah harus melalui waktu yang lama. Ada perbedaan yang jauh antara pernikahan yang disegerakan dengan pernikahan yang dilaksanakan secara tergesa-gesa. Waktu yang dibutuhkan dari peminangan sampai akad nikah bisa jadi sama. Tetapi, suasana yang terbawa dalam rumahtangga sangat berbeda. Pernikahan yang disegerakan insya-Allah penuh barakah dan diridhai Allah. Di dalamnya, Allah mencurahkan perasaan sakinah kepada suami-istri tersebut. Bahkan, suasana sakinah juga terasakan oleh seisi rumah, sanak famili yang mengetahui, serta orangtua dari keduanya, kecuali bagi mereka yang sedang merasakan kekeruhan dalam jiwanya. Tapi, apakah sakinah itu? Wallahu A'lam. Sepanjang pengetahuan saya, sakinah adalah ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan terbebasnya diri dari keinginankeinginan yang dilarang, sebab sesuatu yang dilarang akan menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Mereka juga tidak begitu terganggu oleh penilaian-penilaian sesaat dari masyarakat, sebab mereka menyandarkan penilaian kepada sumber yang jernih dalam soal-soal yang diatur dan mendasarkan pada kesepakatan dan kecintaan berdua dalam soal-soal yang dilapangkan (mubah) bagi kita. Mereka mungkin akan melakukan apa yang secara sosial diharapkan, tetapi itu bukan karena terdesak oleh tekanan norma sosial semata. Melainkan menurut pertimbangan kemaslahatan. Mereka mungkin akan menolak apa yang diharapkan secara sosial, tetapi itu bukan karena ingin menentang tatanan. Tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berkenaan dengan madharat dan mafsadah. Apa pengaruh sakinah bagi suami-istri yang baru memasuki jenjang pernikahan? Apakah makna sakinah dalam membina kehidupan berumahtangga, mendidik anak, dan menetapkan misi setelah mereka mempunyai anak dari pernikahan mereka? Sayang sekali kita tidak bisa membahas saat ini. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk, ilmu, dan kekuatan pada saya untuk membahasnya di waktu lain dalam kesempatan yang lebih baik. Saat ini, cukuplah saya katakan bahwa sakinah menguatkan ikatan perasaan antara suami dan istri dengan jalinan perasaan yang diliputi oleh kerinduan yang menenteramkan saat tidak bertemu dan ketenangan yang menyejukkan saat berjumpa. Sakinah menumbuhkan kelembutan dan keramahan dalam pergaulan mereka, termasuk dalam mendidik anak kelak, serta memunculkan optimisme dan kekuatan jiwa ketika menghadapi masalah sehingga mereka tidak lebih tua dari usianya. Bagaimana suasana keluarga yang sakinah? Sayang sekali saya belum bisa menggambarkan. Hanya saja, diam-diam saya kadang terkesan ketika menjumpai hadis yang mengabarkan sebagian tandanya.

Kado Pernikahan 64

"Akan lebih sempurna ketakwaan seorang mukmin," kata Rasulullah Saw., "jika ia mempunyai seorang istri yang shalihah, jika diperintah suaminya ia patuh, jika dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah membuatnya merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya." "Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw. menunjukkan, "adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya." Kita cukupkan pembicaraan sekilas tentang sakinah. Kita kembali lagi kepada pembahasan kita mengenai pernikahan yang disegerakan dan pernikahan yang tergesa-gesa. Jika pernikahan yang disegerakan lebih dekat kepada kemaslahatan dan barakah, maka pernikahan yang tergesa-gesa lebih dekat kepada kegersangan dan kekecewaan. Pernikahan yang tergesa-gesa mendatangkan penyesalan dan ketidakbahagiaan. Ia mendapati istrinya menyusahkan dan membuatnya cepat beruban sebelum waktunya (he hmm, tapi bukan cepat beruban karena minyak rambut). Saya teringat kepada penghujung do'a Nabi Daud 'alaihissalam, "Ya Allah, ... Hindarkanlah saya dari anak-anak yang durhaka terhadap orangtuanya; harta yang jadi bencana bagi saya maupun orang lain; tetangga yang buruk sifatnya, yaitu jika melihat kebaikan pada saya difitnahnya dan jika melihat keburukan disebarluaskannya, dan istri yang menyusahkan, membuat saya beruban sebelum waktunya." Jika pernikahan yang barakah membuat rumah terasa damai dan penuh kasih sayang, pernikahan yang tidak barakah mengakibatkan rumah terasa sempit dan orang tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Ukuran fisiknya barangkali luas, bahkan jauh melebihi kebutuhan. Akan tetapi, tidak ada kelapangan di dalamnya. Betapa bedanya antara luas dan lapang. Pernikahan yang barakah insya-Allah akan kita dapati ketika kita menyegerakan nikah. Tetapi, pernikahan yang dilakukan tergesa-gesa justru bisa melahirkan kehampaan, kecuali kalau Allah menolong kita mengambil jarak dari keadaan kita sendiri, melakukan introspeksi yang teliti dan berhati-hati dalam menilai masalah. Selanjutnya, mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan (hifdhul-lisan) dari mengatakan apa-apa yang tidak baik di hadapan Allah dan manusia mengenai pasangan hidup kita, sekalipun dia tidak tahu. Sebab ungkapan kekesalan dan kekecewaan -apalagi sampai menutupi kebaikan yang ada padanya-- bisa menjadi do'a yang pasti

Kado Pernikahan 65

dikabulkan ketika ucapan itu keluar bersamaan dengan sa'atu-nailin, yaitu saat ketika ucapan menjadi do'a, dan do'a pada saat itu pasti terkabul. Pembicaraan mengenai ini akan semakin panjang jika diteruskan. Cukuplah kita akhiri dengan berdo'a, mudah-mudahan Allah mengarunia kita dengan kemuliaan dan kebarakahan dalam keluarga kita. Semoga dari sana lahir keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Keturunan yang hukmashabiyya rabbi radhiyyah, yang memberikan kesejukan mata dan ketenteraman jiwa di dunia hingga kelak di hari kiamat. Selanjutnya, mari kita lihat perbedaan antara menyegerakan dan tergesa-gesa. Kita akan membicarakan masalah ini melalui dua cara. Pertama, melalui tanda-tanda hati (mudah-mudahan Allah menjernihkan hati kita). Kedua, melalui perumpamaan yang dapat dipikirkan oleh akal.

Tanda-tanda Hati "Orang yang mempunyai niat yang tulus," kata Imam Ja'far Ash-Shadiq, guru dari Imam Abu Hanifah, "adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk Allah dalam segala perkara." Pada hari ketika harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang suci. (QS 26: 88-90). Kalau kita menyegerakan nikah karena niat yang jernih, insya-Allah hati kita akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan dan kekhawatiran meliputi dada. Kita merasa tenang, meskipun ada sejumlah masalah yang membebani dan menyita perhatian. Ketenangan dan beban masalah bukanlah dua hal yang bertentangan. Seperti seorang ibu yang telah memiliki kematangan, kedewasaan dan kasih sayang besar kepada anak serta pengharapan besar terhadap ridha Allah. Saat menghadapi persalinan, ia merasakan ketenangan hati dan keyakinan. Meskipun harus melewati perjuangan mendebarkan yang melelahkan secara fisik dan ketegangan psikis, namun ketegangan ini bukan sejenis perasaan tidak aman. Lain halnya dengan tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan ditandai oleh perasaan tidak aman dan hati yang diliputi kecemasan yang memburu. Seperti berdiri di depan anjing galak yang tidak pernah kita kenal, ada perasaan ingin untuk cepat-cepat berlari pergi menjauhi tempat itu. Kalau berlari, takut dikejar dan terjatuh. Kalau tetap berdiri di dekatnya, tidak ada kepastian dan ada kekhawatiran jangan-jangan anjing itu menggigit. Inilah gambaran sekilas. Kalau belum jelas, bertanyalah kepada hati nuranimu. Mintalah fatwa kepadanya.

Kado Pernikahan 66

Rasulullah Saw. bersabda, "Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." (HR Ahmad).

Tanda-tanda Perumpamaan Kalau suatu saat Anda naik motor dan menjumpai tikungan tajam, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi kecepatan karena ingin cepat sampai? Atau, Anda mengurangi kecepatan sedikit, menelikung dengan miring, dan sesudah berbelok baru menambah kecepatan sedikit demi sedikit? Jika Anda memilih yang pertama, sangat mungkin Anda terpental sendiri. Anda terjatuh, sehingga harus berhenti sejenak atau agak lama. Baru kemudian dapat meneruskan perjalanan. Keinginan Anda untuk cepat sampai di tempat tujuan dengan tidak mengurangi kecepatan, apalagi justru dengan menambah kecepatan, tidak membuat Anda lebih cepat sampai dengan tenang, tenteram, dan aman. Bisa-bisa, kalau kecepatan Anda tetap antara sebelum berbelok dengan saat-saat berbelok, Anda justru terpental. Antara gaya sentrifugal dan gaya sentripetal, tidak seimbang. Jika Anda memilih yang kedua, insya-Allah Anda akan dapat sampai lebih cepat. Awalnya memang mengurangi kecepatan, tapi sesudah betul-betul memasuki tikungan dengan baik, Anda bisa menambah kecepatan. Jika Anda mengurangi kecepatan lebih banyak lagi, Anda bahkan dapat membelok tanpa harus memiringkan badan banyak-banyak. Jalan yang lempang adalah tamsil dari masa melajang, masa ketika masih sendiri. Belokan adalah proses peralihan menuju status baru, menikah dan berumah tangga. Sedang jalan berikutnya yang dilalui setelah berbelok, adalah kehidupan keluarga setelah menikah. Pilihan pertama adalah sikap tergesa-gesa untuk menikah, sedangkan pilihan yang kedua adalah menyegerakan. Ada perumpamaan lain. Kita melihat perumpamaan yang dekat-dekat dengan kita. Kalau suatu saat Anda bikin kolak kacang hijau, ada beberapa bahan yang perlu Anda masukkan. Bahan yang paling pokok adalah kacang hijau dan gula. Kalau Anda memasukkan gula bersamaan dengan kacang hijau, sesudah itu segera direbus, Anda akan mendapati kacang hijau itu tidak mau mekar. Anda tergesa-gesa. Kalau Anda memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar, Anda menyegerakan. Tetapi, kalau Anda lupa tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup lama, Anda akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.

Kado Pernikahan 67

Sampai di sini, saya kira cukup pembahasan mengenai menyegerakan dan tergesa-gesa. Mudah-mudahan Allah Ta'ala memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang menyegerakan, bukan tergesa-gesa. Semoga Allah menjadikan pernikahan kita barakah dan diridhai Allah. Saya memohon perlindungan kepada Allah dari penjelasan yang tidak menambah kejelasan. Mudah-mudahan apa yang kurang dalam tulisan ini menjadikan Anda berhati-hati. Mudah-mudahan apa yang terang, menjadikan Anda mempunyai keyakinan hati. Mantap dalam melangkah.

Segala Puji bagi Allah Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan banyak karunia. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir. Maha suci Allah dari segala persangkaan hamba-hamba-Nya. Maha Mulia Allah yang menurunkan hujan untuk mensucikan bumi dan menumbuhkan berbagai tanaman, baik yang berbuah, yang berbunga maupun yang berbuah sekaligus berbunga. Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada saya untuk menulis bab ini, sekaligus buku ini secara keseluruhan. Semoga menjadi do'a yang baik. Menjadi sunnah hasanah yang diridhai. Catatan Kaki: 1. "Ini dinisbahkan atas nama Nabi yang Nabi sama sekali terbebas dari mengucapkan yang demikian. Ini hadis dha'if." Kata Ustadz Abdul Hakim Abdats, "Hadis ini mursal, tabi'in langsung menyandarkan kepada nama Nabi, jelas tidak membawa nama sahabat."

Kado Pernikahan 68

Bab 6

D

i Manakah

Wanita-wanita Barakah Itu?

Rasulullah bersabda, "Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya."

enikah hampir menyamai kemuliaan agama. Perjanjian nikah disebut mitsaqan-ghalizhan. Istilah ini tidak pernah dipakai dalam Al Qur’an, kecuali hanya untuk tiga peristiwa. Satu untuk perjanjian akad nikah, dan dua kali untuk perjanjian tauhid. Dalam masalah tauhid, pembelaan terhadap kebenaran agama dari mereka yang menyerang, bisa dilakukan dengan mubahalah (perang doa). Masing-masing pihak memohon kepada Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh agar pihak yang salah mendapat kutukan. Mendapat azab. Hal yang sama juga kita jumpai dalam pernikahan. Ada yang serupa dengan mubahalah dalam pernikahan, yaitu li'an. Keduanya merupakan perang doa. Jika mubahalah disebutkan dalam satu ayat, kita mendapati Al Qur’an menerangkan tentang li'an tidak cukup satu ayat. Allah Swt. berfirman: "Dan orang-orang yang menuduh istri mereka (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah orang-orang

M

Kado Pernikahan

69

yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Dan istrinya itu akan dihindarkan dari hukuman, apabila sumpah empat kali atas nama Allah yang dilakukan suaminya itu adalah dusta. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar." (QS An-Nur [24]: 6-9). Bila perceraian biasa bisa diakhiri dengan rujuk dan masih terbuka kesempatan untuk merajut kebahagiaan bersama-sama seperti sebelumnya, maka tidak demikian dengan li'an. Dua orang yang telah bercerai setelah keduanya saling me-li'an (melaknat) haram untuk bersatu kembali untuk selama-lamanya. Rasulullah Saw., bersabda, Khat Arab "Dua orang suami-istri yang saling melaknat, apabila telah berpisah (bercerai), maka tidak akan pernah bertemu lagi selamanya." (Hadis Shahih). Jadi, tak ada lagi ruang untuk menyatukan hati yang telah berpisah, ketika penyesalan datang. Apabila sebelumnya keduanya saling melaknat, tidak ada lagi kesempatan untuk menghayati kebersamaan dan kebahagiaan ketika mereka menyadari kesalahan-kesalahannya. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak pernah sedikit pun tergelincir ke dalam prasangka yang buruk kepada teman hidup kita, karena prasangka yang buruk merupakan bibit li'an. Pernikahan sedemikian pentingnya dalam pandangan Islam. Pernikahan menjadi sunnah Rasul. At-Tirmidzi, Imam Ahmad ibn Hanbal, dan Al-Baihaqi pernah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Empat macam perkara termasuk sunnah-sunnah para Rasul, yaitu: memakai pacar, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah." Pernikahan merupakan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Mulia. Ia menciptakan kasih-sayang dan kerinduan-kerinduan. Ia memberikan ketenteraman yang tidak pernah bisa dirasakan oleh orang yang belum menikah. Rumah bagi mereka yang menikah adalah tempat yang menyejukkan. Tiap-tiap anggota keluarga insya-Allah memperoleh ketenteraman dan terjalin ikatan kasih-sayang. Pernikahan yang barakah akan menumbuhkan al-'athifah (jalinan perasaan) yang demikian. Mereka akan mendapati pernikahan sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Ar-Rum ayat 21, surat yang paling populer untuk penghias undangan nikah, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Ia menciptakan untukmu istriistri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram dengannya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui."

Kado Pernikahan

70

Dalam pernikahan yang barakah, insya-Allah akan tumbuh sakinah. Antara suami dan istri, tumbuh perasaan kasih dan sayang. Perasaan ini bukan sejenis luapanluapan sesaat, sehingga semakin kering ketika pernikahan sudah dimakan usia. Ketika sebuah pernikahan barakah, suami merasa semakin sayang ketika tertegun memandang istrinya yang semata wayang. Istri merasakan getaran cinta yang semakin mendalam saat memandangi wajah suaminya. Bagaimana keluarga yang sakinah itu? Allahu A'lam bishawab. Hadis berikut mudah-mudahan dapat memahamkan kita sebagian di antara tanda-tandanya. "Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw. menunjukkan, "adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya." "Akan lebih sempurna ketakwaan seorang Mukmin," kata Rasulullah Saw., "jika ia mempunyai seorang istri shalihah; jika diperintah suaminya ia patuh, jika dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah membuatnya merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya." Tetapi, tidak semua pernikahan mendapatkan barakah. Adakalanya, indahnya pernikahan segera kering setelah masa pengantin baru berlalu. Setahun belum berlalu, tetapi rumahtangga sudah dipenuhi oleh rasa jemu. Anak belum lagi satu, malah istri baru menjalani kehamilan pertama, tetapi hubungan keduanya justru semakin kaku. Bahkan lebih kaku dibanding malam pertama, saat keduanya masih belum begitu kenal. Apa yang menyebabkan pernikahan tidak barakah? Wallahu A'lam bishawab. Saya hanya bisa berharap kepada Allah Swt semoga Ia menjadikan pernikahan saya, juga pernikahan Anda, dibarakahi dan diridhai-Nya. Dengan demikian, pernikahan semakin mendekatkan kita kepada-Nya. Bukan justru mendatangkan kekecewaankekecewaan yang membuat kita sulit bersyukur kepada Allah Swt. Betapa banyak nikmat Allah. Akan tetapi alangkah sulitnya mensyukuri sekian banyak karunia-Nya, kalau hati penuh kekecewaan. Tulisan ini merupakan doa saya, mudah-mudahan saya dan Anda mencapai pernikahan yang barakah. Sejauh yang saya bisa, saya berusaha untuk membahas beberapa hal yang menjadikan pernikahan tidak barakah atau berkurang kebarakahannya. Mudah-mudahan, dengan demikian saya dan Anda semuanya dapat mengambil pelajaran. Sehingga kita bisa menghindarkan diri dari keadaan-keadaan yang mengurangkan barakah. Apalagi sampai menghilangkan.

Kado Pernikahan

71

Ada pernikahan yang penuh barakah. Ada pernikahan yang sedikit kebarakahannya. Dan yang paling menakutkan, adalah pernikahan yang tidak akan pernah ada kebarakahan di dalamnya. Pernikahan yang bagaimanakah yang tidak akan pernah ada kebarakahan di dalamnya? Rasulullah Saw. menunjukkan, "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya." Sebagian pernikahan kurang barakah karena niatnya yang tidak tepat. Sebagian disebabkan oleh berbagai hal selama proses berlangsung. Sebagian dipengaruhi oleh pelaksanaan pernikahan. Sebagian disebabkan akhlak setelah menikah. Tetapi perubahan akhlak setelah menikah, banyak disebabkan oleh niat orang yang menikah dan yang menikahkan (karena itu, ajaklah orangtua berbicara). Pernikahan yang barakah insya-Allah justru menjadikan akhlak keduanya semakin baik. Bila sebelumnya masih kurang sesuai dengan keutamaan akhlak, insya-Allah setelah menikah mereka menjadi baik akhlaknya. Ini berdasarkan hadis Nabi: "Kawinkanlah (zawwajuu) orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rizki mereka, dan menambah keluhuran mereka." Mengenai niat, insya-Allah kita akan membahasnya tiga bab mendatang. Sementara beberapa aspek yang mempengaruhi kebarakahan dan sakinah dalam pernikahan, sudah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya, betapa pun masih terbatas. Pada bab ini, saya ingin mengajak Anda untuk menyelami beberapa peringatan berikut, dengan segala keterbatasan yang ada pada saya saat ini (semoga Allah mengampuni kesalahan dalam pembahasan ini dan memberikan petunjukNya). "Sesungguhnya," kata Rasulullah Saw., "termasuk dari keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya, ringan mas kawinnya, dan subur rahimnya." (HR Ahmad). Sabda Rasulullah Saw.: Khat Arab "Wanita yang paling agung kebarakahannya, adalah yang paling ringan maharnya." (HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih). Rasulullah juga mengingatkan, Khat Arab

Kado Pernikahan

72

"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya." Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Anas r.a., Rasulullah bersabda, "Orang yang menikahi wanita karena kedudukannya, Allah hanya akan menambahinya kehinaan; yang menikahinya karena kekayaannya, Allah hanya akan memberinya kefakiran; yang menikahinya karena nama besar keturunannya, Allah justru akan menambahinya kerendahan. Namun, laki-laki yang menikahi wanita hanya karena menjaga pandangan mata dan memelihara nafsunya atau untuk mempererat hubungan kasih-sayang (silaturrahim), maka Allah akan membarakahi laki-laki itu dan memberi kebarakahan yang sama pada wanita itu sepanjang ikatan pernikahannya." Cukup sampai di sini kutipan kita terhadap hadis-hadis Nabi mengenai pernikahan dan kebarakahannya. Sekarang, marilah kita melanjutkan pembahasan kita. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita, kemudian melimpahkan barakah dan ridha-Nya. Allahumma amin.
---

Rasulullah tidak pernah memberikan mahar melebihi 12 uqiyah.
---

Masalah Mahar Mahar atau maskawin, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan dalam buku Mahar & Walimah, merupakan satu hak yang ditentukan oleh syariah untuk wanita sebagai ungkapan hasrat laki-laki pada calon istrinya, dan juga sebagai tanda cinta kasih serta ikatan tali kesuciannya. Maka mahar merupakan keharusan tanpa boleh ditawar oleh laki-laki untuk menghargai pinangannya dan simbol untuk menghormatinya serta membahagiakannya. Mahar disebut juga dengan istilah yang indah, yakni shidaq. Shidaq berarti kebenaran. Mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki yang meminangnya. Ia merupakan bukti kebenaran ucapan laki-laki atas keinginannya untuk menjadi suami bagi orang yang dicintainya. Mahar bukanlah harga atas diri seorang wanita. Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar. Namun ia membuktikan kebenaran kesungguhan, cinta, dan kasih-sayang laki-laki yang bermaksud kepadanya dengan mahar.

Kado Pernikahan

73

Jadi, makna mahar atau maskawin dalam sebuah pernikahan lebih dekat kepada syari'at agama dalam rangka menjaga kemuliaan peristiwa suci. Mahar adalah syarat sahnya sebuah perkawinan. Juga, sebagai ungkapan penghormatan seorang laki-laki kepada wanita yang menjadi istrinya. Memberikan mahar merupakan ungkapan tanggung-jawab kepada Allah sebagai Asy-Syari' (Pembuat Aturan) dan kepada wanita yang dinikahinya sebagai kawan seiring dalam meniti kehidupan berumahtangga. Kelak, mahar merupakan aspek penting yang banyak memberi pengaruh apakah sebuah pernikahan akan barakah atau tidak. Kita telah membaca beberapa hadis Nabi berkenaan dengan hal ini di awal bab. Oleh karena itu, saya tidak membahasnya lagi. Saat ini, kita lebih baik melanjutkan pembahasan kita mengenai berbagai hal dalam masalah mahar. Sebaik-baik Mahar Ada kenangan indah dalam sejarah. Tak hanya orang-orang di zaman Rasulullah yang terkesan. Orang-orang yang hidup jauh sesudah Rasulullah tiada, masih sering menyebut-nyebut dengan penuh penghormatan. Perjalanan hidupnya banyak yang diabadikan oleh Al Qur’an dan Al-Hadis. Keturunannya menambah keharuman Islam. Sebuah pernikahan yang benar-benar penuh barakah. Mengenai pernikahannya, Tsabit berkata, "Belum pernah aku mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim. Ia hidup rukun bersamanya dan melahirkan anak." Apa mahar Ummu Sulaim? Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad sebagaimana disebut dalam Mahar & Walimah, mencatat: .... Dan dalam Sunan AnNasa'i bahwa Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim lalu berkata, "Demi Allah, wahai Abu Thalhah, orang seperti Anda tidak akan ditolak (melamar wanita), akan tetapi Anda seorang kafir, sedangkan saya seorang Muslimah. Tidak halal bagiku untuk kawin dengan Anda. "Namun jika Anda masuk Islam, maka yang demikian dapat menjadi maharku. Saya tidak meminta selain itu." Kemudian Abu Thalhah masuk Islam dan masuk Islamnya itu merupakan mahar untuk Ummu Sulaim. Saya tidak tahu, apakah ada seorang mukminah dengan aqidah yang betul-betul kuat meminta mahar seperti mahar Ummu Sulaim. Kita tidak tahu, adakah wanitawanita di masa sekarang yang bertindak seperti Ummu Sulaim. Saat ini, banyak wanita muslimah yang bersedia menikah dengan pemuda nonmuslim setelah pemuda itu menyatakan masuk Islam. Tetapi, tidak sedikit muslimahmuslimah kita masih sangat kurang dalam agamanya dan sedikit sekali pengamalannya. Masuk Islamnya calon suami, agak tragis, sering sekedar legitimasi atau malah strategi untuk mendapatkan pengesahan sebagai suami-istri. Kelak,

Kado Pernikahan

74

sesudah punya anak satu, suami itu kembali ke agama semula. Sementara itu wanitanya memiliki dua alternatif pilihan saja: bercerai dengan suami dan anaknya, atau bercerai dengan Islam yang telah menjadi agamanya sejak bayi. Ada yang bisa kita catat dari kisah agung pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah. Kita mencatat bahwa mahar dapat menjadi dakwah. Mahar menjadi pengikat kasih-sayang sekaligus untuk syi'ar Islam. Barangkali untuk tujuan ini, kita mendapati banyak orang memberikan mahar kepada istrinya berupa mushaf Al Qur’an dan mukena. Jika ini tujuannya, kita dapat bertanya kembali, apakah mahar jenis ini masih mempunyai kekuatan untuk menegakkan syi'ar Islam ketika yang demikian ini telah menjadi tradisi dan orangorang di sekeliling kita sudah banyak yang menggunakan mukena. Apalagi, kita juga mendapati bahwa mahar yang seperti ini tidak jarang sekedar sebagai basa-basi formal. Basa-basi sosial atau religi. Sedangkan mahar yang sesungguhnya, bukan itu. Di atas kertas, mahar yang disebutkan pada saat akad adalah mushaf Al Qur’an dan seperangkat alat shalat. Tetapi di belakangnya, ada sejumlah mahar yang atas pertimbangan sosial tidak dinyatakan saat itu, tetapi disebar berita pada saat lain. Jika ini yang terjadi, saya khawatir mahar tersebut tidak menjadi syi'ar Islam. Hari ini, kita merasakan itu. Mahar yang dekat dengan nafas agama itu, justru tidak membuat kita bergetar. Tidak membuat darah kita berdesir terkesiap karena tertegun oleh keagungannya, di balik yang tampak bersahaja. Saya khawatir, mahar yang demikian bukannya menjadi syi'ar, jika di belakangnya ada yang tidak ditampakkan atas alasan-alasan basa-basi sosial. Janganjangan tindakan ini mengandung unsur kebohongan, sehingga pernikahan justru menjadi tidak barakah. Wallahu A'lam bishawab. Apakah mahar berupa mushaf Al Qur’an tidak bisa menjadi syi'ar? Insya-Allah masih mempunyai kekuatan syi'ar jika kita meniatkan betul dan menjaga niat itu ketika menyampaikan mahar. Selebihnya, syi'ar dalam bentuk-bentuk seperti itu, sifatnya sangat kontekstual. Kalau dulu, mahar berupa perlengkapan shalat mempunyai kekuatan syi'ar sangat besar, maka sekarang perlu kita pikirkan kembali. Ketika orang belum begitu mengenal shalat, mahar berupa perlengkapan shalat membuat undangan terkesan dan mencatat dalam hatinya tentang sebuah kemuliaan: shalat. Sekarang, ketika masalahnya berganti, bentuk mahar yang menjadi syi'ar dapat dipilih yang lebih sesuai dengan semangat yang ingin kita tumbuhkan sekarang. Misalnya, jubah dengan atau tanpa cadar dan perlengkapannya. Di luar itu, disampaikan mahar lain jika memungkinkan dan disebut bersamaan dengan penyebutan mahar jubah. Adapun kalau ada hadiah sebelum atau sesudah akad nikah, maka yang demikian ini tidak termasuk yang disebutkan. Selanjutnya, ada yang perlu kita waspadai. Mahar bisa menjadi syi'ar. Tetapi juga bisa menjadi sarana untuk mendapatkan penilaian sosial. Yang pertama, kita

Kado Pernikahan

75

mengarahkan masyarakat kepada suatu kesan yang baik terhadap agama, dan mudahmudahan hati mereka tergerak. Yang kedua, penilaian masyarakat mengarahkan kita untuk menentukan mahar yang disebut layak, baik dan pantas. Atau, penyebutan mahar malah dalam rangka menunjukkan ketinggian derajat atau kebesaran martabat keluarga wanita yang menikah, meskipun untuk itu harus dilakukan impression management (manajemen kesan) sehingga orang mendapat kesan yang lebih dari sesungguhnya. Berbeda sekali antara dua hal tersebut, baik dalam makna maupun dalam akibatnya. Satu catatan, tidak ada keharusan memberikan bentuk mahar sebagai syi'ar khusus. Mahar lebih dekat artinya kepada pemberian sebagai bukti kebenaran kasihsayang dan ketaatan kepada syari'at yang telah ditetapkan oleh Asy-Syari' (Allah Swt). Ini yang paling penting. Pembahasan kita tentang mahar Ummu Sulaim dan tujuan dakwahnya, sekedar untuk menunjukkan bahwa mahar tidak harus selalu berbentuk harta. Musa diminta memberi mahar berupa pekerjaan menggembala kambing beberapa tahun. Dan Ummu Sulaim meminta mahar berupa kesediaan masuk Islam demi meninggikan kemuliaan Islam. Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif Kisah mahar Ummu Sulaim menunjukkan pengertian bahwa, mahar tidak dapat diukur dari sedikit-banyaknya secara kuantitatif. Segenggam tepung bahan roti (makanan); sebuah cincin besi; dan sepasang terompah dapat dijadikan sebagai mahar yang menjadikan perkawinan sah karenanya. Begitu pengertian yang bisa kita ambil dari Shaleh bin Ghanim. Pernikahan Fathimah Az-Zahra Siapakah Fathimah Az-Zahra? Kita bisa menjawab, dia adalah putri Muhammad Rasulullah. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, wanita paling agung di zamannya. Tetapi ini tidak mencukupi untuk memperoleh gambaran tentang siapa Fathimah Az-Zahra. Banyak orang yang menulis buku khusus untuk mencoba menggambarkan keagungan dan kebesarannya. Seandainya kita sempat mengetahui, yang agak lengkap sedikit saja, tentang bagaimana wanita yang akan pertama kali masuk surga ini mengatur rumah tangga dan mendidik anaknya, betapa besar pelajaran yang akan diperoleh oleh kaum muslimin. Seandainya, kita sempat menghayati sedikit saja bagaimana Fathimah Az-Zahra menjadi madrasah dan masjid pertama bagi anakanaknya, insya-Allah kita akan mendapatkan kesempurnaan cara mendidik yang sebaik-baiknya. Sehingga, kelak akan lahir anak-anak yang penuh barakah dan diridhai Allah sampai keturunan yang lahir jauh sesudah masanya lewat.

Kado Pernikahan

76

Tetapi, sedikit sekali yang kita ketahui, kecuali peristiwa ketika tangan putri pemimpin besar ini melepuh karena memutar gilingan. Itu pun sering tidak lengkap. Sangat tinggi keagungan Fathimah Az-Zahra. Ayahnya memberi julukan Ummu Abiha (ibu yang melahirkan ayahnya) karena besarnya penghormatan dan kebaktian Az-Zahra kepada Rasulullah. Setiap Rasulullah Saw. datang dari bepergian, beliau langsung singgah di rumah Fathimah, setelah menunaikan shalat dua raka'at di masjid. Baru sesudah itu beliau menjenguk istrinya. Kalau Fathimah datang, Rasulullah segera berdiri menyambut dan menciumnya. 'Aisyah, istri yang paling dicintai Rasulullah sesudah Khadijah, menceritakan, "Tidak pernah aku melihat seorang pun yang paling mirip keadaannya dengan Rasulullah Saw. dalam cara berdiri dan duduknya seperti Fathimah, putri Rasulullah Saw. Bila dia datang, Nabi Saw. segera berdiri dan menyambutnya, menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya." Sebagai istri, Az-Zahra juga teladan yang tak habis-habisnya untuk setiap muslimah. Tidak pernah ia membuat marah suaminya, karena Allah tidak menerima ibadah seorang istri sampai suaminya ridha. Tentang Az-Zahra, suaminya mengatakan dengan kalimat singkat, "Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku." Fathimah Az-Zahra memang penuh kemuliaan dan kasih-sayang. Ketika suaminya pulang perang dalam keadaan penuh luka, Fathimah merawatnya dengan penuh kasih-sayang. Ia bersihkan darah suaminya, Ali bin Abi Thalib, dengan penuh perhatian. Dari rahimnya lahir anak-anak yang penuh kemuliaan. Dua orang putranya, Hasan dan Husain r.a. sudah kita kenal kemuliaannya. Zainab, putri Fathimah, adalah wanita yang tegar dan penuh kehormatan berani mempertahankan diri di hadapan penguasa yang telah menghina dan memenggal leher saudaranya, Al-Husain. Ia melindungi 'Ali Ausath, putra Al-Husain, setelah dua 'Ali lainnya mendapati kematian di ujung pedang yang kejam. Kelak 'Ali Ausath dikenal sebagai 'Ali Zainal 'Abidin, pemuka ahli ibadah. Dan, dari keturunan laki-laki mulia ini, kita menjumpai orangorang yang banyak berjuang demi keharuman agama dan kehormatan ummat manusia, sampai sekarang. Mulai dari Mesir, Yaman, Malaysia, Bandung, Surakarta hingga bagian timur Indonesia. Bagaimana Fathimah melahirkan keturunan yang penuh barakah? Anak-anak itu lahir dari pernikahan yang barakah. Pernikahan yang diridhai Allah. Kemudian Fathimah mendidiknya dengan keteguhan yang mengagumkan. Sebagai gambaran, kita dengarkan penuturan Jabir Al-Anshari. Jabir meriwayatkan bahwa, Nabi melihat Fathimah sedang menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. Maka mengalirlah air mata Rasulullah. "Anakku," kata Rasulullah, "engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat."

Kado Pernikahan

77

Ketika mendengar ucapan Rasulullah, Fathimah Az-Zahra mengatakan, "Ya Rasulullah, segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya." Begitu sebagian berita yang sampai kepada kita tentang rumahtangga Fathimah Az-Zahra. Bagaimana pernikahan Fathimah Az-Zahra dengan 'Ali putra Abi Thalib? Apa mahar yang diberikan oleh 'Ali dalam pernikahan yang penuh barakah itu? Kita sudah sering mendengar berita bahwa, 'Ali menjual baju besi untuk membayar maharnya. Konon, baju besi itu dibeli oleh Utsman bin Affan seharga 400 dirham yang kemudian menghadiahkan kembali kepada 'Ali. Begitu menurut sebagian riwayat. Tetapi, apa yang dilakukan setelah memperoleh hasil penjualan baju besi itu? Ia menyerahkan uang itu kepada Rasulullah Saw. Nabi Saw. kemudian memberikan sebagian uang itu kepada Asma' untuk membeli wewangian, sebagian kepada Ummu Salamah untuk makanan, sebagian kepada tiga orang sahabat, yaitu 'Ammar, Abu Bakar, dan Bilal. Ketiga sahabat ini membelanjakan uang untuk membeli perlengkapan dan perabot rumahtangga Fathimah Az-Zahra. Perabot rumahtangga yang sederhana. Padahal ayahnya adalah seorang pemimpin, seorang tokoh besar yang disegani dan dihormati. Andaikan Rasulullah mau yang jauh lebih mewah, beliau akan bisa mendapatkan dengan cara apa pun. Tetapi Rasulullah tidak melakukannya. Di sini ada yang bisa kita renungkan. Inilah mahar pernikahan Fathimah Az-Zahra yang penuh barakah. Darinya lahir keturunan yang penuh barakah sampai hari ini. Sekarang ketika kita hendak mencari pernikahan yang barakah, kita bertanya dimana Fathimah Az-Zahra? Kita membutuhkan teladan yang suci dari wanita agung ini. Akan tetapi, Fathimah Az-Zahra telah lama tiada menyusul ayahnya ke rahmatullah. Az-Zahra telah tiada. Entah, teladannya masih kita ikuti ataukah ikut pergi bersama ketiadaan beliau.

Seperti Apakah Keturunan Kita?
Pernikahan Fathimah Az-Zahra dan Sayyidina 'Ali yang penuh barakah telah melahirkan orang-orang yang penuh kemuliaan. Kita mengenal Imam Syafi'i, peletak dasar ‘ushul fiqih yang melalui jalur ibu bersambung kepada Fathimah Az-Zahra. Kita mengenal Sayyid 'Abdullah Haddad, seorang 'alim yang wara' dan faqih. Kita juga mengenal Syaikh 'Abdul Qadir Al-Jailani. Mengenai beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mengatakan dalam bukunya Qodho' dan Qodar, "Adapun para imam kaum Sufi serta para syaikh terdahulu yang terkenal seperti Al-Junaid bin Muhammad beserta pengikut-pengikutnya, juga seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan orang-orang semisalnya, maka mereka adalah termasuk orang yang paling memperhatikan perintah dan larangan, termasuk orang yang sering mewasiatkan (kepada murid-muridnya) untuk mengikuti yang demikian itu, dan paling sering mengingatkan agar mereka jangan berjalan bersama (memikirKado Pernikahan 78

mikirkan) takdir, sebagaimana pengikut-pengikut berikutnya berjalan mengikuti mereka." "Inilah perbedaan kedua yang pernah dikatakan oleh Al-Junaid kepada para pengikutnya dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani; perkataan yang semuanya berkisar pada ittiba' terhadap perintah, meninggalkan larangan dan sabar menerima takdir. Beliau tidak pernah menetapkan suatu tarekat-pun yang bertentangan dengan prinsip di atas sama sekali; baik beliau sendiri maupun pada umumnya syaikh-syaikh yang bisa diterima kehadirannya oleh kaum Muslimin...." Orang-orang seperti mereka itulah yang lahir dari pernikahan Fathimah AzZahra! Lalu, seperti apakah keturunan yang akan lahir dari pernikahan kita? Apakah kelak Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah? Kita berharap demikian. Pada saat yang sama, marilah kita periksa niat dan keadaan hati kita. Ya Allah, sesungguhnya hati kami dalam genggaman Engkau. Kepada-Mu ya Allah, kami memohon rahmat, bersihkanlah hati kami yang kami sendiri tidak sanggup memeriksanya. Betapa pun kami masih banyak melakukan maksiat kepadaMu, Ya Allah, kami masih berharap kepada-Mu dengan hak ummat Muhammad, karuniakanlah kepada kami keturunan yang menyejukkan mata dan meninggikan kalimat-Mu. Allahumma amin. Berapa Ukuran Mahar? Suatu ketika, seorang wanita datang kepada Rasulullah Saw. Demikian yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi'i dari Malik dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad. Wanita itu menjumpai Rasulullah dan mengatakan, "Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah merelakan diri untuk engkau nikahi." Wanita itu berdiri lama. Kemudian seorang lelaki berdiri dan mengatakan, "Ya Rasulullah, nikahkanlah ia dengan aku, jika engkau tidak berkenan menikahinya." Kemudian Rasulullah bersabda, "Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk memberinya mahar?" Lelaki itu pun menjawab, "Aku tidak memiliki apa-apa selain kainku ini." Rasulullah kemudian bersabda lagi, "Jika engkau berikan kainmu itu, engkau tidak mempunyai kain lagi. Carilah sesuatu untuk diberikan kepadanya." Lelaki itu menjawab, "Aku tidak dapat menemukan apa pun." Akhirnya Rasulullah bersabda, "Carilah sesuatu meskipun hanya sebuah cincin besi." Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis tentang ini dalam shahihnya, "Carilah maskawin meskipun hanya sebuah cincin terbuat dari besi." (Muttafaq 'alaih).

Kado Pernikahan

79

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang membayar dengan satu dirham, maka ia telah sah nikahnya." Menurut hadis ini, satu dirham saja telah mencukupi untuk menjadi mahar bagi sebuah pernikahan yang sah. Satu dirham telah mencukupi. Rasulullah Saw. juga bersabda, "Mahar yang paling baik adalah mahar yang paling sederhana." (HR AnNasa'i). Sementara, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis berkenaan dengan keberuntungan wanita dan mahar pernikahannya. Rasulullah Saw., dalam hadis itu, bersabda, "Sesungguhnya termasuk keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya, ringan maskawinnya, dan subur rahimnya." (HR Ahmad). Dari hadis-hadis ini, kita memperoleh gambaran tentang kesederhanaan mahar. Sebuah cincin besi kalau memang tidak memungkinkan untuk memberi yang lebih, sudah cukup untuk menjadi maskawin yang layak bagi sebuah pernikahan Islami. Dalam riwayat lain, kita menjumpai kisah wanita Fuzarah menikah dengan memperoleh mahar berupa sepasang terompah. Lalu Rasulullah Saw. menanyai kerelaan wanita itu, "Apakah kamu mau menerima pernikahanmu dengan mahar sepasang terompah?" Ia menjawab, "Ya saya terima." Kemudian Rasulullah menyetujui pernikahan itu. Demikian hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Amir bin Rabi'ah.

--Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan kehilangan barakahnya. Istri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan. Sedang suami merasakan kehampaan ketika berada di rumah. --Harta yang sedikit saja, telah layak untuk menjadi mahar meskipun cuma satu dirham. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah setelah mengemukakan hadis-hadis yang berkenaan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang mahar, mengatakan: "Hadis-hadis itu mengandung ajaran bahwa mahar tidak ditetapkan batas minimalnya; segenggam gandum, sebuah cincin besi, dan sepasang terompah pun

Kado Pernikahan

80

dapat dijadikan sebagai mahar dan sah pernikahannya. Hadis-hadis itu juga mengandung ajaran bahwa berlebihan dalam mahar makruh hukumnya dalam pernikahan dan mengurangi barakah perkawinan." Jika satu genggam tepung telah mencukupi sebagai mahar, kita menemukan 'Abdurrahman bin 'Auf memberi mahar satu nawat emas ketika menikah. Satu nawat, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan, bagi penduduk Madinah adalah seperempat dinar. Menurut riwayat, Sayyidina 'Ali karamallahu wajhahu pernah mengatakan, "Sungguh, aku benci kepada maskawin yang kurang dari sepuluh dirham. Hal ini karena jangan sampai menyerupai maskawin pelacur." Berapa besar mahar yang diberikan oleh Rasulullah kepada istri-istrinya? Abu Salamah r.a. menceritakan hadis berikut: Aku telah berkata kepada Siti 'Aisyah r.a. "Berapakah maskawin yang telah dibayar oleh Rasulullah Saw.?" Ia menjawab, "Maskawin yang diberikannya kepada istri-istrinya adalah dua belas uqiyah dan satu nasy." Ia bertanya, "Tahukah kamu berapakah satu nasy itu?" Aku menjawab, "Tidak." Ia berkata, "Setengah uqiyah, jumlah semuanya seharga lima ratus dirham." (HR Muslim, Abu Daud dan An-Nasa'i). Berapakah satu uqiyah itu? Syaikh Mansur Ali Nashif menceritakan, satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham. Sehingga 12 uqiyah ditambah satu nasy, total berjumlah 500 dirham. 500 dirham senilai seperempat dinar, setara dengan nilai mahar 'Abdurrahman bin 'Auf. Menurut riwayat, Rasulullah Saw. tidak pernah memberikan mahar melebihi 12,5 uqiyah. Hanya Ummu Habibah yang mendapat mahar lebih dari 12,5 uqiyah, karena Raja Najasyi yang membayar maharnya, bukan Rasulullah Saw. sendiri. Ummu Habibah menceritakan bahwa, dahulu ia menjadi istri Ubaidillah ibnu Jahsy. Lalu Ubaidillah mati di negeri Habasyah. Kemudian Raja Najasyi mengawinkannya dengan Nabi Saw. dan membayarkan maharnya sebanyak empat ribu dirham. Setelah itu Raja Najasyi mengirimkannya (Ummu Habibah) kepada Rasulullah Saw. dengan dikawal oleh Syuhrabil ibnu Hasanah. (HR Abu Daud, AnNasa'i dan Ahmad). Baik mahar Rasulullah Saw. maupun mahar 'Abdurrahman bin 'Auf, nilainya mencapai 500 dirham. Sebuah jumlah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Meskipun demikian, ada peristiwa yang dapat kita renungkan, ketika seorang sahabat memberikan mahar kepada istrinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa, seorang laki-laki datang dan berkata kepada Nabi Saw., "Aku telah menikahi seorang wanita Anshar." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sudahkah kamu melihatnya? Sebab pada mata para wanita Anshar terdapat sesuatu."

Kado Pernikahan

81

Dia menjawab, "Sudah, aku telah melihatnya." Rasulullah kemudian berkata, "Berapa mahar pernikahanmu?" Dia menjawab, "Empat uqiyah." Rasulullah kemudian berkata, "Empat uqiyah? Seolah kamu mengukir perak pada permukaan gunung ini. Kami tidak mempunyai sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu, akan tetapi mudah-mudahan kami dapat mengutus rombongan bersamamu yang dapat memberi bantuan." Lalu Rasulullah pun mengirim utusan kepada Bani 'Abs untuk pergi bersama laki-laki itu. (HR Muslim, shahih). Apa maksud hadis ini? Kita dengarkan penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim: "Ungkapan ini," kata Imam An-Nawawi, "memberi makna makruh memberi mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan." Jadi, berapa ukuran mahar yang sesuai dan layak? Tidak bisa kita menentukan secara kuantitatif. Kita hanya bisa mengambil pelajaran agar mahar tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Berapa ukuran mahar yang disebut terlalu besar? Pertama, apabila mahar yang diberikan melebihi kemampuan yang dimiliki suami, seperti dalam kasus pemberian mahar empat uqiyah atau senilai 160 dirham, meskipun Rasulullah Saw. sendiri maupun 'Abdurrahman bin 'Auf memberikan mahar kepada istrinya sebesar 12,5 uqiyah atau senilai 500 dirham. Kedua, mahar yang diberikan berlebihan dibanding apa yang biasa berlaku dalam masyarakat. Sekalipun suami mampu memberikan mahar melebihi mitsil (mahar yang biasa berlaku dalam masyarakat), ada baiknya untuk menahan diri. Kelak, ia bisa memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya. Ini akan menambah kecintaan istri. Sementara bermewah-mewah dalam mahar, sehingga masyarakat membicarakannya, saya khawatir bisa membawa madharat. Awal tradisi adalah peristiwa-peristiwa semacam ini. Kalau tradisi ini menjadikan orang-orang di kemudian hari berpengharapan lebih, sementara para pemudanya menjadi takut menikah, apakah yang demikian tidak termasuk sunnah-sayyi'ah (kebiasaan baru yang buruk)? Wallahu A'lam bishawab.
---

Tetapi, apakah himbauan agar mahar tidak melebihi apa yang biasa berlaku dalam masyarakat tidak bertentangan dengan kisah Umar? Padahal Umar bin Khaththab telah mengakui kekhilafannya. Ketika itu, Umar bin Khaththab melarang memberi mahar 40 mata uang perak. Barangsiapa yang melebihi itu, maka kelebihannya masuk Baitul-Mal. Kemudian

Kado Pernikahan

82

seorang wanita membantah ucapan Umar bin Khaththab sambil menyebutkan ayat 20 surat An-Nisa'. Setelah mendengar teguran itu, Umar berkata, "Wanita ini benar, Umar salah." Mengenai kisah Umar bin Khaththab ini, marilah kita dengar penjelasan dari Shaleh bin Ghanim As-Sadlan. Meskipun begitu populernya kisah ini, kata Shaleh bin Ghanim, tetapi di sana banyak jalan cerita yang menimbulkan keraguan. Apalagi munculnya kisah ini jauh setelah masa Umar dan tidak ditemukan di berbagai kitab yang dapat dijadikan sumber yang kuat. Banyak ulama dan ahli hadis yang tidak memakai kisah ini sebagai dalil dalam masalah mahar yang berlebihan. Mereka merasa cukup dengan petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam masalah mahar. Dan Abu Bakar bin 'Arabi menegaskan dalam kitab Ahkam Al Qur’an bahwa riwayat yang masyhur dari Umar adalah yang tidak bertentangan dengan masalah wanita. Shaleh bin Ghanim lebih lanjut menjelaskan, sebagian ahli hadis menyebutkan beberapa riwayat yang membantah adanya interupsi seorang wanita dengan ayat dan sikap menerima yang ditunjukkan oleh Umar. Bahkan sebagian di antara mereka mengajukan dalil tambahan yang menolak interupsi wanita itu terhadap Umar.
---

Akhirnya, sebaiknya mahar diberikan atas kerelaan kedua belah pihak. Kerelaan istri dibutuhkan terutama ketika mahar yang diberikan jauh lebih kecil daripada yang biasa dan layak berlaku, seperti kasus mahar sepasang terompah bagi wanita dari kalangan Fuzarah. Kerelaan suami untuk memenuhi perintah Allah Swt. dalam surat An-Nisa' ayat 4: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS AnNisa' [04]: 4). Maskawin diberikan penuh kerelaan. Wanita menerimanya penuh kerelaan. Apalagi masa-masa mendekati akad nikah, sangat sensitif. Tepatlah yang dikatakan oleh Ummul Mukminin 'Aisyah r.a. Kata beliau, "Pernikahan itu sangat sensitif dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya." Berlebihan Menuntut Mahar "Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah," kata Rasulullah Saw., "adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya."

Kado Pernikahan

83

Banyak ulama memperingatkan agar kita tidak berlebihan dalam mahar. Ada berbagai madharat dan bahkan mafsadat (kerusakan) yang bisa timbul jika urusan mahar berlebih-lebihan. Apalagi, jika ketentuan besarnya mahar tidak lagi menjadi urusan wanita yang akan dinikahi dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya. Misalnya, keluarga bermaksud ikut memperoleh bagian dari mahar yang diterima oleh anak gadisnya, sehingga mereka memberatkan mahar anaknya. Padahal mahar merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya. Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan menjadi kehilangan barakahnya. Istri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan. Sedang suami merasakan kehampaan ketika berada di rumah. Melihat istri tidak membuatnya bertambah sayang. Rumah tidak terasa lapang, meskipun secara fisik tampak luas dan besar. Di sinilah kita bisa mengingat ulasan Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku Fatwa-fatwa Mutakhir (Fatawa Mu'ashirah). Ketika seorang pemuda bertanya mengenai beratnya maskawin yang harus dibayarkan, Syaikh Yusuf Qardhawi menutup penjelasannya dengan satu peringatan tajam. Ia berkata, "Kepada segenap kaum muslimin saya berseru, demi Allah, kita diharamkan merintangi perkawinan dengan cara demikian itu." Apa yang terjadi jika mahar sudah berlebihan? Wallahu A'lam. Sepanjang yang saya ketahui, setidaknya ada dua lingkup madharat dan bahkan mafsadat (kerusakan) yang bisa timbul akibat mahar yang berlebih-lebihan. Pertama, madharat dan mafsadat bagi istri. Ini bisa terbawa dalam keluarga yang mereka bangun kelak. Kedua, mahar berlebih bisa mempengaruhi sistem pernikahan masyarakat. Selanjutnya, ini membentuk persepsi sosial tentang status sosial, stratifikasi sosial, pola interaksi dan rasa aman kolektif masyarakat, serta prasangka sosial (social prejudice). Mengenai yang disebut terakhir, bukan tempatnya untuk dibahas di sini. Sekarang kita cukupkan pembahasan mengenai madharat mahar yang berlebihan bagi istri dan keluarga yang akan mereka jalani. Sayyidina 'Ali karamallahu wajhahu pernah mengingatkan, "Jangan berlebihlebihan dengan mahar wanita, sebab hal itu akan menyebabkan permusuhan." Masalah ini juga pernah diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab. Abu Al'Ajfa As-Sulami mengatakan, "Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, 'Jangan berlebihan dalam mahar wanita. Sebab seandainya mahar berlebihan itu merupakan hal yang mulia dan bagian dari taqwa di sisi Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak melakukannya. Tetapi Rasulullah tidak memberi mahar istri-istrinya dan tidak pula putri-putrinya menikah dengan mahar lebih dari dua belas uqiyah. 'Seseorang berlebihan dalam memberi mahar kepada istrinya sehingga dapat menimbulkan permusuhan dalam dirinya kepada istrinya itu dan mudah baginya

Kado Pernikahan

84

berkata: aku telah mengeluarkan biaya mahal untuk kamu dalam ikatan keluarga ini'." (Shahih At-Tirmidzi, An-Nasa'i). Saya merasa masih terhalang untuk menjelaskan masalah ini. Insya-Allah, saya akan menjelaskannya di kesempatan yang lain. Saat ini, saya ingin mengutarakan penjelasan singkat mengenai hikmah di balik urusan mahar ini. Ketika pernikahan berlangsung melalui proses sederhana dan mahar yang ringan, insya-Allah yang tumbuh dalam hati suami adalah kasih-sayang dan penerimaan. Sedang pada wanita adalah ridha dan kesetiaan. Ketika suami membayarkan mahar yang ringan karena yang dikehendaki istri bukanlah besarnya mahar, suami justru merasa masih belum banyak berbuat untuk istrinya. Ia perlu menjaga kepercayaan istri yang diberikan kepadanya. Insya-Allah, ia akan merawat kerelaan istrinya dengan menyuburkan kasih-sayang, penghormatan, dan kepercayaan. Pada mahar yang ringan, ada kepercayaan tentang ketulusan cinta istri. Ada kepercayaan tentang kesediaan istri untuk berjuang bersama-sama. Ketika Ummu Sulaim mengatakan tidak meminta apa-apa kecuali keislaman Abu Thalhah, yang terkesan bukanlah keinginan calon istri untuk kepentingan dirinya sendiri. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu: misi. Misi keselamatan bagi keduanya di dunia dan akhirat. Misi mengibarkan keharuman bendera agama. Alhasil, di balik ringannya mahar ada kekayaan jiwa. Inilah kekayaan yang menenteramkan jiwa. Khath Arab

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa." (Muttafaqun 'alaihi). Sebaliknya, ketika mahar berlebihan, suami merasa telah memberi ikatan. Ia telah banyak berbuat untuk mencapai ikatan pernikahan. Sehingga ia tidak begitu perlu untuk membina ikatan lagi. Sekarang, istrilah yang harus banyak berbuat untuk membuat suasana rumahtangga seperti yang ia kehendaki. Istri harus memahami tuntutan-tuntutan suami yang sayangnya sering tidak dikemukakan secara lisan. Bukankah istri “seharusnya sudah mengerti apa tugasnya"? Alhasil, pernikahan demikian tidak diikat dengan ikatan jalinan perasaan (al'athifah). Pernikahan semacam ini diikat dengan mahar. Ketundukan istri pada suami bukan karena semakin dalamnya kecintaan, melainkan karena besarnya kekuasaan dan wewenang suami. Atau, semata-mata karena syari'at memerintahkan kepatuhan. Kepatuhan yang pertama bisa semakin menyuburkan jalinan perasaan (al'athifah) istri maupun suami. Sehingga hubungan hatin mereka semakin dekat sebagaimana 'Abdurrahman bin Abu Bakar dan Atikah binti Amr. Sedang yang kedua
Kado Pernikahan 85

bisa semakin menjauhkan keduanya dari perasaan saling merindukan dan kasih sayang. Ikatan mereka bukan lagi al-'athifah (jalinan perasaan), melainkan serangkaian kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan sosial. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim. Biarlah Rasulullah yang Menjadi Wali Hari ini, ketika Anda sedang mempertimbangkan mengenai mahar dari suamimu, marilah kita mendengarkan nasehat Rasulullah Saw. Dalam sebuah khotbahnya, Rasulullah menjanjikan, Jangan mempermahal nilai maskawin. Sesungguhnya kalau laki-laki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya. (HR Ash-habus Sunan). Kalau Rasulullah menjadi wali pernikahan, Allah akan melimpahkan barakahNya. Mudah-mudahan pernikahan itu penuh barakah sampai ke anak-cucu. Mudahmudahan dari pernikahan itu lahir anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati barakahnya. Karena dengan meringankan mahar mereka dan memberi jalan mudah untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah kemalangan yang akan menimpa wanita (yang dalam perwalian)mu jika kamu memberatkan maharnya dan mempersulit pernikahannya dan itu dapat menyebabkan akhlaknya menjadi buruk." Peringatan Penting Setiap yang berlebihan adalah ketidakwajaran. Setiap ketidakwajaran bisa mendatangkan keburukan (madharat) dan kerusakan (mafsadat). Mahar yang berlebihan bisa menimbulkan permusuhan. Permusuhan antara suami dan istri maupun permusuhan antar keluarga. Tetapi mahar yang terlalu sedikit bisa menyebabkan wanita merasa tidak dihormati dan dihargai. Sehingga ia tidak merasa hormat kepada suami. Karena itu, mudah-mudahan kita bisa mencapai kemaslahatan dalam urusan mahar ini. Seperti wanita dari kaum Fuzarah, Anda bisa menanyakan kerelaannya jika Anda hendak memberikan mahar sederhana. Jika suku calon istri berbeda, menanyakan kerelaannya juga dimaksudkan agar istri tidak merasa kurang dihargai. Barangkali mahar dari Anda di luar kelaziman masyarakat setempat. Wallahul Musta'an.

Kado Pernikahan

86

Jalinan Perasaan yang Barakah Suatu ketika Rasulullah Saw. bersabda, "Bilamana seorang wanita menyedekahkan maharnya kepada suaminya sebelum si suami menggaulinya, maka Allah menulis (kebaikan) baginya untuk setiap satu dinar dengan pahala membebaskan budak." Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Lalu bagaimana jika hal itu diberikan setelah berhubungan?" Beliau menjawab, Khat Arab "Hal itu termasuk kecintaan (mawaddah) dan keharmonisan." Menyedekahkan mahar kepada suami setelah merasakan hubungan intim, insyaAllah akan menumbuhkan cinta dan keharmonisan. Mereka merasakan suasana rumahtangga yang diliputi oleh kerinduan dan kehangatan cinta-kasih. Bagi mereka sakinah (ketenteraman), mawaddah dan rahmah. Syaratnya, istri menyedekahkan dengan senang hati. Dalam kitab suci Al Qur’an Allah Swt mengabarkan masalah maskawin (shadaq), antara lain: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS AnNisa' [04]: 4). Jika Anda ingin menyerahkan sebagian mahar Anda kepada suami dengan senang hati dan penuh kerelaan, sampaikanlah dengan cara yang sebaik-baiknya. Sampaikan dengan perkataan yang menyejukkan dan lemah lembut, sehingga tidak membuat suami merasa pemberiannya kurang berarti. Ingatlah perkataan Ummu Sulaim kepada Abu Thalhah ketika hendak menikahinya. Mudah-mudahan mahar yang Anda sedekahkan kepada suami dapat menjadi pemberian yang sedap lagi baik akibatnya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan kebarakahan yang berlimpah. --Tuntutan psikis yang tinggi menjadikan apa yang dipandang selalu kurang. Kalau Anda memakai kacamata gelap, matahari yang terang pun kelihatan redup! ---

Kado Pernikahan

87

Peringatan bagi Suami Allah dan Rasul-Nya membolehkan wanita menyerahkan maharnya kepada suami dengan penuh kerelaan. Di dalamnya, insya-Allah akan didapatkan keindahan dan akibat yang baik. Tetapi, ini tidak bisa menjadi alasan bagi suami untuk mendesak istri agar menyerahkan mahar yang telah dibayarkan. Tidak. Sama sekali tidak bisa. Sebab, syarat penyerahan mahar adalah kerelaan dengan senang hati. Bisa jadi istri menyerahkan mahar yang telah diterima karena desakan suami, tetapi ia masih berharap akan memperoleh kembali sekalipun ia tidak mengatakan. Yang demikian ini termasuk beratnya hati. Bukan kerelaan. Bukan tindakan dengan senang hati. Istri yang menyerahkan dengan senang hati, bisa jadi mempunyai harapan akan mempunyai perhiasan. Tetapi bentuk pengharapannya berbeda. Ia mengharap karena ada rasa yakin. Kalau suami dilapangkan rezekinya, ia akan dengan senang hati memberikan perhiasan seperti yang dikehendaki. Jadi, jangan sekali-kali mendesak istri untuk menyerahkan maharnya sebagai pemberian kepada suami. Ingatlah peringatan Rasulullah Saw. yang disampaikan di hari-hari terakhir menjelang wafatnya. Kata Rasulullah, "Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di tepian jahannam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh tujuh puluh kharif (ukuran panjang). Siapa yang merampas mahar istrinya (atau tidak membayarnya) di sisi Allah ia menjadi pezina. Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat, "Aku menikahkan kamu kepada hamba-Ku dengan perjanjian-Ku. Engkau tidak memenuhi perjanjian itu." Allah akan menagih hak istrinya dan bila ia tidak sanggup membayar dengan seluruh kebaikannya, ia dilemparkan ke neraka." Betapa sedikit perolehannya. Betapa pedihnya neraka. Tak ada kesempatan untuk bertemu dan melihat keramahan Rasulullah di yaumil-mahsyar bagi mereka yang merampas mahar istrinya. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari halhal yang demikian. Rasulullah Saw. mengingatkan, Khat Arab Siapa saja laki-laki mengawini seorang wanita dengan mahar sedikit atau banyak, tetapi di dalam hatinya bermaksud tidak akan menunaikan apa yang menjadi haknya itu kepadanya, berarti ia mengecohnya. Bila ia mati sebelum menunaikan hak perempuan itu, maka kelak pada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai orang yang berzina. (HR Thabrani).
Kado Pernikahan 88

Seorang suami terlarang mencari-cari alasan untuk menyudutkan istrinya sehingga ia mendapat kesempatan untuk tidak memberi maskawin. Suami juga tidak boleh menarik kembali maharnya dengan alasan apapun. Istri boleh menyedekahkan sebagian maharnya kepada suami. Meskipun demikian, itu harus merupakan pemberian yang penuh kerelaan dan senang hati. Memberi dengan penuh kerelaan. Bukan atas desakan-desakan suami yang dapat menyebabkan istri terbebani secara psikis, karena dalam hati ia merasa tidak rela. Ini tidak boleh terjadi. Ini justru bisa menjadikan istri tidak hormat pada suami. Sekaligus merupakan bibit nusyuz (pembangkangan) istri kelak di kemudian hari. Alhasil, keluarga jauh dari barakah dan sakinah. Na'udzubillahi min dzalik. Sekali lagi, suami tidak boleh menimbulkan situasi yang membuat istrinya merasa sungkan atau tidak enak kalau tidak memberikan maharnya. Mari kita perhatikan nasehat Abdul Hamid Kisyik, ".... Dengan kata lain berikanlah mahar kepada wanita yang telah kamu pilih sebagai pemberian penuh kerelaan tanpa tendensi dan pamrih. Kemudian jika mereka memberikan sebagian dari mahar itu kepadamu setelah mereka miliki tanpa paksaan sedikit pun ataupun merasa malu dan tertipu maka terima dan ambillah itu sebagai anugerah bukan dianggap sebagai suatu hal yang menyedihkan atau suatu kesalahan. "Apabila seorang istri memberikan hartanya kepada suaminya karena merasa sungkan, takut atau terpaksa maka tidak halal bagi suami untuk mengambilnya, firman Allah Swt.: Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? (QS An-Nisa':20). Bagaimana kamu akan dapat mengambilnya kembali padahal kamu telah menggaulinya sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha). (QS An-Nisa': 21).” Mahar adalah hadiah. Sedangkan hadiah dapat menumbuhkan dan menguatkan perasaan sayang dan cinta-kasih, seperti yang disinyalir oleh sebuah hadis Rasulullah Saw., "Berikanlah hadiah, itu akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta." Hak Atas Mahar Sekalipun pembahasan ini kurang relevan, tapi saya harus membicarakannya agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami pembicaraan saya sebelumnya. Di awal sub bab Berlebihan Menuntut Mahar saya telah mengatakan, "Padahal mahar merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya." Maksud pembicaraan ini, ketika berlangsung pernikahan wanitalah yang berhak atas mahar itu, termasuk kerelaan atas sedikitnya banyaknya jumlah mahar yang

Kado Pernikahan

89

diterima. Hak ini ada pada wanita yang akan menikah dan baginya mahar tersebut. Bukan keluarganya. Tetapi setelah menjadi hak penuh wanita, ia boleh memberikan kepada sebagian keluarganya. Atau, ia menyimpan sendiri. Mudah-mudahan pembicaraan singkat ini memberi kejelasan, sehingga tidak ada jalan bagi mereka yang ingin memberat-beratkan mahar melalui anak gadisnya. Mari kita ingat peringatan 'Abdul Hamid Kisyik, seorang ulama Mesir yang memiliki pena tajam. Beliau berkata, "Jika mahar dibuat mahal, akhirnya menyebabkan kerusakan dan keresahan di muka bumi. Hal ini tidak lagi maslahat untuk ummat. Karena itu, wanita yang paling sedikit maharnya justru memiliki keagungan dan akan mendapat kebarakahan yang amat besar." MEMPERSULIT PROSES PERNIKAHAN "Pernikahan itu sangat sensitif," kata Ummul Mukminin 'Aisyah r.a., "dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya." Pernikahan itu sangat sensitif. Pada saat itu seseorang menjadi peka, lebih peka dari sebelumnya. Boleh jadi ia menjadi lebih peka terhadap kebajikan-kebajikan dan akhlak mulia. Boleh jadi ia justru menjadi peka terhadap kekurangan-kekurangan orang lain sekalipun sedikit, sedangkan kebaikannya yang banyak tidak nampak di mata. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau sebuah pernikahan mengalami keretakan dan kegersangan, yang merasakan panas serta gerahnya tidak hanya suami dan istri. Sanak-kerabat pun bisa ikut merasakan. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masingmasing pribadi berusaha untuk saling menyelami dan menguatkan jalinan perasaan (al-athifah) untuk kebaikan bersama, guncangan-guncangan besar pun insya-Allah tidak menggoyahkan. Apalagi guncangan kecil, baik dari tetangga maupun keluarga. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing berusaha untuk mendapatkan kemuliaan --bukan dimuliakan-- insya-Allah mereka akan meraih rumahtangga yang barakah, sakinah (menenteramkan jiwa) mawaddah wa rahmah (diliputi oleh rasa cinta dan kasih-sayang). Pernikahan itu sangat sensitif. Segala jalan yang menyebabkan munculnya keraguan dan kebimbangan mengenai akhlak maupun fisiknya, perlu dijauhkan. Setiap pintu yang bisa membukakan penyesalan perlu ditutup, sedangkan pintu yang mendatangkan kemantapan dan terhapusnya jalan penyesalan sebaiknya dibuka lebar. Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar menuju keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah. Sementara itu, mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu madharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadat (kerusakan) masyarakat. Tetapi yang ingin saya bahas di sini adalah madharat bagi suami-istri yang akan menikah.

Kado Pernikahan

90

Rasulullah bersabda,"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya." Ada beberapa madharat yang bisa muncul akibat proses pernikahan yang dipersulit: Pertama, Menyebabkan Pembandingan Sulitnya menempuh proses pernikahan, dapat menyebabkan orang melakukan pembandingan. Ia membandingkan proses yang ia jalani. Bisa juga membandingkan orang yang dikehendaki. Adakalanya, orang membandingkan dengan proses yang ditempuh oleh orang lain. Pembandingan menyebabkan munculnya penilaian. Sebagian dari penilaian masih berada dalam kebenaran, akan tetapi sebagian lagi dapat menjatuhkan kepada prasangka dan dosa. Ia menilai iktikad calon teman hidupnya maupun keluarganya. Adakalanya, orang membandingkan calon istrinya dengan orang lain. Pembandingnya bisa jadi memang benar-benar ada, bisa jadi imajinatif. Ia tidak membandingkan calon istrinya dengan seseorang, tetapi membandingkan dengan apa yang diangan-angankannya di waktu dulu. Sumber pembandingan bisa jadi cerita orang, bisa juga buku-buku tentang nikah. Mungkin ia membandingkan calonnya dalam aspek psikis. Misalnya, keramahan dan kelembutannya. Mungkin juga ia membandingkan aspek fisik si calon dengan orang lain, sehingga ia menjadi kurang lega dan mantap dibanding sebelumnya. Padahal, ketika sudah menikah saja seorang istri perlu menjauhkan suami dari membanding-bandingkan kecantikan istri dengan orang lain. Sebab ini dapat membuka jalan ketidakpuasan dan penyimpangan. Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Khat Arab Seorang wanita tidak boleh bergaul dengan wanita lain, kemudian ia ceritakan kepada suaminya keadaan wanita itu, sehingga suaminya seolah-olah melihat wanita tersebut." (HR Bukhari & Muslim). Kedua, Menimbulkan Keraguan Ketika Mughirah bin Syu'bah r.a. akan meminang seorang wanita, begitu AnNasa'i menceritakan dalam hadisnya, Rasulullah bertanya, "Sudahkah kamu melihat wanita itu?"

Kado Pernikahan

91

Kemudian Mughirah menjawab, "Belum." Rasulullah kemudian berkata, "Lihatlah wanita itu, karena akan mengurangi penyesalan antara kedua belah pihak. Yakni memberi kemungkinan tumbuhnya keserasian, keselarasan, dan kebersamaan antara keduanya." Al-Amasy berkata, "Setiap perkawinan yang dilangsungkan tanpa saling melihat akan menyebabkan kesusahan dan kesedihan." Melihat wanita yang akan dinikahi dapat menumbuhkan kemantapan. Ia lebih yakin kepada satu pilihan. Mudah-mudahan mereka akan memperoleh keserasian dan keselarasan setelah menikah. Ketika proses pernikahan dipersulit, orang dapat membanding-bandingkan. Ini membuka jalan ketidakpuasan dan ketidakrelaan. Proses pernikahan yang dipersulit juga dapat mengakibatkan orang menjadi tidak mantap melangkah, sekurang-kurangnya menjadi ragu. Padahal kemantapan terhadap pilihan sangat diperlukan agar tercapai keselarasan, keserasian dan kebersamaan antara keduanya. Demi mencapai kemantapan agar tidak mengangankan yang lain, orang boleh melihat calonnya. Mari kita lihat kembali kisah Mughirah bin Syu'bah r.a. melalui jalur lain: Ketika Mughirah bin Syu'bah berkeinginan untuk menikahi seorang wanita, Nabi Saw. bersabda kepadanya, "Pergilah untuk melihat wanita itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jaminan bagi kelangsungan hubunganmu berdua". Dia melaksanakannya, lalu menikahinya. Di kemudian hari ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan wanita tersebut. (HR Ibnu Majah, An-Nasa'i dan AtTirmidzi). Kalau orang merasakan keraguan, barakah Na'udzubillahi min dzalik. Ketiga, Melemahkan Kesediaan untuk Berjuang Bersama Proses pernikahan yang dipersulit bisa melemahkan kesediaan untuk berjuang bersama-sama. Kalau semula keluarga dibayangkan sebagi perahu yang perlu dikayuh bersama-sama, sulitnya proses pernikahan dapat menyebabkan pikiran berubah. Ia telah membayar proses pernikahan dengan kesulitan. Setelah akad nikah tercapai, tibalah saatnya untuk menjadi penumpang saja di perahu itu. Tidak mengayuhnya bersama-sama. Keluarga yang demikian ini akan timpang. Apalagi kalau masing-masing merasa paling banyak berjuang dalam mengibarkan layar pernikahan. pernikahan bisa berkurang.

Kado Pernikahan

92

Keempat, Mengeraskan Hati Proses pernikahan yang sulit dapat mengeraskan hati dan meninggikan tuntutan psikis terhadap istri. Kerasnya hati menyebabkan komunikasi begitu kering. Tidak ada dialog dari hati ke hati, sehingga mata harus menangis karena perhatian orang yang tercinta ada yang mengikis. Jarang sekali ada silaturrahmi, justru antar anggota keluarga yang tinggal serumah. Sehingga masing-masing berjalan sendiri. Kalau ada kebahagiaan, ia rasakan sendiri. Kalau ada keperihan, ia tangisi sendiri. Tingginya tuntutan psikis terhadap istri, menyebabkan suami kurang bisa merasakan kebaikan-kebaikan istri walaupun sebenarnya sangat besar. Ia selalu merasa kecewa dan kesal terhadap istrinya. Padahal istri sudah melakukan banyak hal. Ia mudah menyalahkan istrinya sebagai orang yang tidak bisa menjalankan perannya dengan baik. Meskipun ia tahu setiap orang mempunyai kekurangan (sama seperti dirinya). Tuntutan psikis yang tinggi menjadikan apa yang dipandang selalu kurang. Kalau Anda memaki kacamata gelap, matahari yang terang pun kelihatan redup! Antara Mempersulit dan Kesulitan Adakalanya terhambatnya akad nikah karena keluarga wanita mempersulit proses pernikahan. Adakalanya, kedua pihak tidak mempersulit proses, tetapi mereka menjumpai kesulitan-kesulitan. Yang pertama, membuat orang merasa terhalang dan dihambat. Yang kedua, insya-Allah dapat memperkokoh ikatan ketika keduanya merasa mendapat tantangan yang harus disikapi dengan baik, arif, bijaksana, dan tenang. Adakalanya sebuah pernikahan harus menghadapi kesulitan untuk menguji kesungguhan dan kejernihan niat. Ketika menghadapi masalah ini, sebagian mungkin lari atau segera berhenti di tengah jalan. Sebagian lagi tetap mencoba untuk tidak menyerah. Kesulitan adalah perkara yang wajar, bahkan sangat wajar, dalam sebuah mujahadah (perjuangan). Mencapai pernikahan yang barakah adalah perjuangan untuk menjaga kesucian dan kehormatan. Kesulitan adalah kelayakan. Ia seperti hujan yang diikuti petir, sedang petir membawa muatan energi besar. Sebelum hujan turun, terlebih dulu ada awan. Mereka yang berada di bawahnya merasa kepanasan. Meskipun demikian, kesulitan yang merupakan ujian kesungguhan niat agar mendapat kemuliaan dan barakah Allah, berbeda sekali dengan kesulitan karena mempersulit diri. Yang pertama adalah takdir Allah yang di dalamnya pasti ada kebaikan. Yang kedua, Allahu a'lam bishawab. Saya tidak bisa menjelaskan. Bagaimana memahaminya? Anda bisa jadi tidak berpuasa ketika Ramadhan tiba. Dini hari Anda makan sahur bersama keluarga. Sesudah itu meniatkan untuk

Kado Pernikahan

93

melakukan puasa. Siang harinya Anda masuk-masukkan batang pensil ke tenggorokan sehingga Anda muntah-muntah. Alhasil, Anda harus membatalkan puasa. Bisa jadi sebaliknya. Anda sudah berniat puasa. Jam tiga dini hari sudah masak dan makan sahur. Pagi sampai siang hari menjaga diri dari melakukan hal-hal yang dapat membatalkan. Tetapi pukul lima sore hari Anda datang bulan (menstruasi) sehingga Anda harus membatalkan puasa. Yang pertama Anda batal berpuasa karena mempersulit diri. Yang kedua, Anda tidak jadi berpuasa karena mendapatkan kesulitan yang tidak bersumber dari diri Anda. Yang pertama adalah perbuatan dosa, karena Anda memiliki pilihan untuk taat atau tidak taat kepada perintah Allah. Yang kedua insya-Allah justru memberi kemuliaan bagi Anda. Derajat Anda terangkat jika Anda ridha. Anda tidak berdosa ketika membatalkan puasa, karena Anda menghadapi "paksaan takdir" (jabr) yang tidak dapat Anda tentukan. Keduanya perlu diganti dengan puasa di lain hari. Tapi makna keduanya sangat berbeda. Ada contoh lain. Ketika puasa, Anda sakit, sehingga Anda tidak berpuasa. Jika Anda ridha, Allah akan membebaskan dosa-dosa Anda sesuai dengan sakit yang Anda alami dan keridhaan Anda menerima. Dalam hal ini, kesulitan meningkatkan kemuliaan dan derajat Anda. Walaupun demikian, bisa jadi Anda sakit karena Anda tidak mau mengambil rukhshah (keringanan). Misalnya Anda melakukan perjalanan jauh yang melelahkan dan membahayakan fisik jika tidak makan, akan tetapi Anda tidak mengambil hak Anda untuk tidak berpuasa. Akibatnya Anda sakit. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah memberi keringanan. Pada kasus ini, Anda tidak mendapat kesulitan karena takdir mengharuskan demikian. Anda sakit karena Anda menzalimi diri sendiri. Anda mempersulit diri. Anda memberat-beratkan, sehingga Anda terkalahkan. Wallahu A'lam bishawab wallahul musta'an. MENGAJUKAN SYARAT NIKAH Sebagian wanita mengajukan syarat-syarat ketika seorang laki-laki hendak menikahinya. Adakalanya syarat itu muncul karena kehendaknya sendiri. Tetapi, adakalanya syarat itu merupakan kehendak orangtua atau keluarga yang dibebankan kepada anak gadisnya jika ingin melangsungkan pernikahan. Pokok persoalan sehubungan dengan syarat-syarat nikah tidak terletak kepada siapa yang pertama mempersyaratkan, istri sendiri atau keluarganya. Tetapi berkaitan dengan kedudukan syarat itu menurut syari'at. Kita ikuti penjelasan Abu Bakr Jabir Al-Jazairi tentang masalah ini. Jika persyaratan yang ditetapkannya itu menegakkan dan memperkuat akad nikah, kata
Kado Pernikahan 94

Al-Jazairi, seperti syarat nafkah, menggauli, atau pembagian yang adil apabila peminangnya sudah beristri, maka syarat-syarat tersebut berkaitan langsung dengan asal (pokok) akad, sehingga tidak perlu ditetapkan lagi. Jika syaratnya itu merusak akad nikah, seperti disyaratkan tidak boleh bersenangsenang dengannya (termasuk bersebadan, pen.), atau tidak usah menyediakan makanan dan minuman yang biasa disiapkan oleh wanita, maka syarat tersebut tidak benar dan tidak wajib memenuhinya. Hal ini dikarenakan syarat-syarat tersebut bertentangan dengan tujuan menikahinya, deikian kata Al-Jazairi dalam Pedoman Hidup Muslim (Litera AntarNusa, 1996). Masih dalam buku yang sama, Al-Jazairi menjelaskan bahwa jika syarat-syarat tersebut keluar dari masalah tersebut seluruhnya, seperti si wanita mensyaratkan calon untuk mengunjungi keluarganya, atau jangan membawanya ke luar negeri misalnya, maka selama bukan syarat yang bersifat menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, maka persyaratan itu wajib dipenuhi. Jika tidak, wanita bisa mengajukan fasakh (pembatalan) pernikahan, jika memang mau. Rasulullah Saw. bersabda, Khat Arab

"Seutama-utama syarat yang harus dipenuhi, adalah persyaratan dalam rangka menghalalkan kemaluan (bersenggama dengan istri)." (HR Bukhari & Muslim). Masalah lain berkenaan dengan syarat nikah adalah menyangkut sah tidaknya akad nikah. Adakalanya nikah sah tetapi syaratnya batal, misalnya mensyaratkan tidak usah memberi maskawin atau nafkah. Sekalipun nikahnya sah, tetapi kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah tetap tidak terhapus. Ada hadis yang dapat kita simak. Rasulullah Saw. bersabda, "Hanya satu syarat saja yang tidak ada pada Al-Qur-'an adalah salah, apalagi jika ada 100 syarat." (HR Bukhari). Pembicaraan lebih lanjut tentang masalah ini silakan diperiksa di berbagai sumber. Anda juga bisa bertanya kepada pihak-pihak yang berhak, sehingga Anda mendapat kejelasan tentang berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam perkara ini. Bukan bagian saya untuk membahasnya di sini. Saya belum memiliki hak untuk itu. Sekali lagi, jika Anda hendak mengajukan syarat-syarat nikah kepada calon suami Anda, periksa dulu berbagai sumber yang membahas masalah ini agar Anda mendapat pemahaman hukum yang matang. Bertanyalah kepada orang-orang yang faqih dan adil, agar Anda mendapatkan penjelasan yang mendalam dan rinci, sehingga terang apa-apa yang kabur. Sampai Anda mendapatkan keyakinan setelah Anda berada dalam keraguan. Dan itu, sekali lagi, bukan bagian saya untuk

Kado Pernikahan

95

membahas. Saya takut tergelincir dalam masalah ini mengingat masih sangat sedikitnya bekal. Bagian saya sekarang insya-Allah membahas maslahat dan madharat di balik pengajuan syarat-syarat kepada calon suami yang akan menikahi. Mempersyaratkan Tinggal Di Rumah Istri Atsram menceritakan, seorang laki-laki menikahi seorang wanita dan ia mensyaratkan tetap tinggal di rumahnya. Kemudian laki-laki itu bermaksud akan membawa istrinya pindah, sedang istri-istrinya tidak mau yang kemudian mengadukan masalahnya kepada Khalifah Umar. Umar berkata bahwa wanita itu mempunyai hak agar dipenuhi syaratnya. Maka laki-laki itu berkata, "Kalau begitu engkau menceraikan kami." Maka Umar berkata, "Putusnya hak tergantung pada syarat." Ada dua pendapat dalam maslah ini. Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa syarat seperti ini hukumnya batal, tetapi akad nikahnya sah. Imam Ahmad, Auza'y dan Abu Ishaq memandang syarat ini sah dan wajib dipenuhi. Jika kita mengikuti pendapat yang terakhir, maka ikatan pernikahan itu telah berakhir dengan perceraian ketika suami terpaksa harus pindah tempat tinggal. Kata Umar bin Khaththab, "Putusnya hak tergantung pada syaratnya." Jika kita mengikuti pendapat pertama, masalahnya tidak selesai dengan sederhana. Kalau suami mengabaikan persyaratan istri atau keluarga istri, akan muncul masalah-masalah psikis yang bisa menjadi bibit madharat dan mafsadat (kerusakan). Misalnya, istri merasa dilecehkan dan tidak diperhatikan haknya. Istri bisa mengalami kekecewaan dan mengarahkan kepada perbuatan nusyuz (pembangkangan, mendurhakai suami). Jadi, ada masalah yang tidak sederhana di sini. Ketika seorang suami bermaksud melakukan kebaktian kepada orangtua, terutama ibu, selama beberapa minggu misalnya, masalah bisa timbul. Baik masalah pada suami, maupun pada istri. Padahal, orang yang harus ditaati oleh seorang laki-laki yang pertama adalah orangtua, terutama ibu. Sedang bagi wanita yang pertama kali harus ditaati sesudah menikah adalah suaminya, sejauh tidak bertentangan dengan hukum. Ini baru satu contoh masalah. Sepanjang hidup, manusia selalu berhadapan dengan pilihan-pilihan. Kadang pilihan hidup menghadapkan orang kepada kemungkinan pindah dari tempat tinggalnya untuk mencapai kemaslahatan dan barakah. Demikian juga ketika ia telah menjalin ikatan pernikahan, keluarga itu bisa berhadapan dengan kemungkinan pindah domisili karena ada sesuatu yang bisa mendatangkan kemaslahatan, sakinah dan barakah bagi keduanya. Atau, kepindahan itu mempunyai makna syi'ar, ketaatan, dan bahkan kecintaan terhadap agama. Wallahu A'lam bishawab. Wallahul musta'an.

Kado Pernikahan

96

Saya teringat nasehat Yahya Ibn Mu'adz kepada saudaranya. Ketika saudaranya mengemukakan ingin tinggal di tempat yang paling baik di muka bumi, Yahya menjawab, "Menyinggung perkataanmu tentang keinginanmu tinggal tinggal di tempat yang paling baik di muka bumi ini, jadikanlah dirimu sebagai orang yang terbaik di antara manusia, kemudian menetaplah di manapun engkau suka. Sebuah tempat menjadi terhormat karena penduduknya, bukan karena yang lain." Di balik apa-apa yang tidak kita sukai, kadang Allah memberikan kebaikan yang sangat besar. Kadang kita mengharap hujan, tetapi mengeluh ketika ada mendung yang tebal. Sementara di balik apa-apa yang kita sukai, bisa jadi terdapat banyak kerugian yang tidak kita lihat saat ini. Mensyaratkan Tidak Berhubungan Intim "Seutama-utama syarat yang harus dipenuhi," kata Rasulullah Saw., "adalah persyaratan dalam rangka menghalalkan kemaluan (bersenggama dengan istri)." (HR Bukhari & Muslim). Dalam hadis ini istilah yang dipakai adalah mastahlaltum bihi furuj. Kata kunci dalam soal kita sekarang adalah furuj, farji (alat kemaluan). Bukan nikah atau zawaj (kawin). Ini menunjukkan kepada kejelasan dan kekuatan kedudukan hubungan kelamin sebagai sesuatu yang menyebabkan munculnya persyaratan. Sementara, tidak mungkin melakukan hubungan kelamin secara halal tanpa melakukan akad pernikahan. Karena itu, memang tidak salah jika diartikan persyaratan dalam rangka menikah, tetapi titik tekannya ada pada masalah persyaratan untuk terjadinya hubungan kelamin. Begitu. Dalam fiqih dikenal adagium, perintah untuk melakukan sesuatu berarti perintah untuk melakukan perbuatan yang menjadi sarana terjadinya sesuatu. Kalau Anda diperintahkan shalat, berarti Anda juga diperintahkan berwudhu. Sebab tidak sah shalat Anda jika Anda tidak memiliki wudhu (jika Anda berhadas). Meskipun begitu, perintah berwudhu tidak menunjukkan perintah untuk shalat. Nah, jika Anda mempersyaratkan suami untuk tidak melakukan hubungan intim kelak sesudah menikah sampai Anda lulus kuliah, apakah yang demikian ini tidak bertentangan dengan akad dan tujuan menikah? Padahal, salah satu tujuan menikah adalah untuk memelihara kehormatan kemaluan agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan karena menyalurkan tidak pada yang halal. Rasulullah Saw. bersabda, "Hai para pemuda, barangsiapa di antara kamu mampu kawin, maka hendaklah dia menikah, karena pernikahan itu lebih mampu menahan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan." (HR Bukhari & Muslim). Syarat pernikahan yang seperti ini, sepanjang yang saya ketahui, tidak perlu ditaati. Tetapi persoalan yang ingin saya bahas di sini bukan boleh-tidaknya melanggar persyaratan yang merusak makna dan tujuan akad nikah. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat pintu-pintu madharat dan mafsadat (kerusakan) yang bisa terjadi akibat adanya persyaratan semacam ini.

Kado Pernikahan

97

Jika Anda mempersyaratakan kepada suami Anda karena Anda tidak ingin mengandung selama Anda masih kuliah atas berbagai pertimbangan, baik pertimbangan sendiri maupun pertimbangan bersama dengan suami yang sama-sama masih kuliah, maka ada yang perlu diperhatikan. Ketika Anda sudah terikat oleh pernikahan yang sah, maka halallah apa-apa yang sebelumnya haram dan dosa besar. Anda berhak mendapat kesenangan-kesenangan khusus bagi suami-istri. Pada saatsaat tertentu, gejolak itu rendah. Tetapi pada saat-saat lain, gejolak bisa meninggi bahkan tak terkendali. Kalau hari sedang hujan, es tidak menarik. Tapi kalau matahari sedang terikteriknya, keinginan yang mendesak untuk mereguk kenikmatan tak bisa ditahan lagi. Nah, ibarat kebutuhan terhadap es, segalanya bisa terjadi saat Anda berdua saling memendam kerinduan. Sebenarnya, Anda halal melakukan hubungan intim karena Anda telah mengikat pernikahan yang sah. Masalahnya adalah, kalau sesudah "kecelakaan yang halal" itu terjadi ternyata Anda harus hamil dari benih suami Anda sendiri. Apalagi kalau sebelumnya Anda sempat memakai alat-alat kontrasepsi dan tidak terjadi apa-apa, maka kehamilan yang terjadi dapat mengakibatkan Anda melakukan penolakan terhadap anak yang Anda kandung. Padahal ia adalah anak Anda sendiri, anak yang sah dari suami yang sah melalui hubungan intim yang sah dan halal. Sepenuhnya sah. Rentetan akibatnya akan sangat panjang. Akibatnya terhadap Anda maupun akibat terhadap suami karena sebelumnya tidak memiliki orientasi untuk memiliki anak semasa kuliah. Rentetan akibatnya juga merugikan anak secara langsung untuk masa yang sangat panjang, karena penolakan Anda menyebabkan ketidakmampuan Anda untuk menerima keberadaannya dan memberikan kasih sayang kepadanya. Padahal kasih-sayang dan penerimaan merupakan hal yang sangat penting dalam mendidik anak. Selain itu, penolakan terhadap anak dapat melahirkan sejumlah konflik-konflik psikis yang berat. Kalau misalnya Anda tidak sampai mengalami kecelakaan karena Anda berdua mematuhi persyaratan itu, masih ada yang harus Anda perhatikan. Bagaimana pengaruh problem-problem psikis yang terakumulasi selama menunggu perkuliahan selesai, padahal ia telah memiliki istri yang sah? Bagaimana kesiapan kalian untuk menjadi suami istri yang baik dan saling menerima, apabila sebelumnya Anda terhalang untuk menjalin kebersamaan? Apalagi kalau masing-masing masih tinggal di kost yang berbeda. Akhirnya juga berkait dengan kesiapan untuk menjadi orangtua. Kurangnya orientasi sejak awal dapat menyebabkan Anda mengalami kejutan mental (shock) setelah berkumpul bersama. Setelah kalian menjalin kebersamaan selama beberapa waktu sebagai suami-istri dengan menjauhkan jima', sekarang tiba-tiba Anda menghadapi bahwa seorang anak sebentar lagi akan lahir setelah beberapa bulan sebelumnya Anda dikumpuli. Jadi, soal orientasi dan kesiapan menjadi orangtua ini yang potensial menimbulkan madharat dan mafsadat jika Anda mempersyaratkan suami untuk tidak

Kado Pernikahan

98

melakukan hubungan intim, meskipun syarat ini tidak berhak untuk ditaati. Saya kira lebih baik kita meniatkan semenjak awal untuk melahirkan anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah sekalipun masih kuliah. InsyaAllah yang demikian ini merupakan mujahadah. Kelak, kita akan merasakan keindahannya di dunia dan akhirat. Insya-Allah. Allahumma amin. Mempertimbangkan Kembali Syarat Nikah Jacqueline McCord Leo pernah menulis sebuah buku berjudul New Womens Guide to Getting Married (Bantam Books, 1982). Buku ini menceritakan tentang berbagai seluk beluk proses pernikahan. Sejak dari pemesanan undangan, jumlah pakaian yang harus dipesan, warna apa saja yang perlu dipilih, kuenya bagaimana, bunga apa saja yang harus disediakan kalau menikah untuk pertama kali. Juga, pesta yang bagaimana kalau untuk perkawinan yang kedua atau yang berikutnya. Termasuk di dalamnya, bagaimana jika Anda tidak menikah tetapi mendambakan prosesi pernikahan, karena hidup ini sedemikian sepi tanpa prosesi pernikahan (he he he, heran juga mereka). Tetapi di antara isi buku itu, yang paling menarik untuk pembahasan kita kali ini adalah mengenai syarat nikah. Dalam sebuah perkawinan Amerika, ada surat perjanjian yang disebut sebagai Marriage Contracts. Isinya perjanjian mengenai beberapa masalah yang dianggap penting untuk ditaati, yang mencakup karier dan tempat tinggal sampai perlakuan pihak yang satu kepada pihak yang lain. Surat perjanjian ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian tuntutan istri yang harus ditaati oleh suami dan tuntutan (syarat nikah) suami yang harus ditaati oleh istri. Misal, setiap Selasa selepas makan malam suami mengecup kening istri dan mengatakan I love you. Surat perjanjian ini dibuat untuk satu rentang waktu tertentu, misal 5 tahun. Sesudah jatuh tempo, mereka membuat surat perjanjian baru untuk disepakati selama rentang waktu lain. Tergantung kesepakatan bersama. Melalui surat perjanjian semacam ini, hak-hak kedua pihak lebih terjamin dan mempunyai kedudukan hukum formal yang kuat. Istri berhak melakukan complaint jika suami tidak mencium keningnya sambil mengatakan I love you sehabis makan malam hari Selasa. Tetapi, dapatkah Anda membayangkan perasaan apa yang muncul ketika suami mengecup keningnya? Kira-kira mana yang lebih menyentuh hati, kecupan karena terikat syarat nikah ataukah usapan lembut karena perasaan sayang? Melalui surat perjanjian ada kesepakatan yang diakui secara hukum. Tetapi ada harga yang harus dibayar. Mereka menjadi lebih peka terhadap perilaku-perilaku yang mengarah kepada tidak dipatuhinya perjanjian daripada sentuhan kasih-sayang dalam peristiwa-peristiwa kecil setiap hari. Ini justru mendekatkan kepada ketidakbahagiaan dan konflik daripada kemesraan dan saling menerima.

Kado Pernikahan

99

Sekarang ketika Anda ingin mengajukan syarat-syarat pernikahan, pertimbangkanlah kembali. Apakah syarat-syarat nikah yang Anda ajukan tidak membuka pintu madharat dan mafsadat (kerusakan)? Ataukah syarat pernikahan Anda justru akan mendekatkan kepada maslahat dan kemuliaan dunia akhirat? Pertimbangkanlah secara jernih. Mintalah fatwa kepada hatimu. Bertanyalah kepada nuranimu yang jernih. Rasulullah Saw. bersabda, "Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." (HR Ahmad). Perkara syarat nikah adalah haq. Wanita berhak mengajukan syarat nikah. Wallahu A'lam bishawab. Kelak Ada Dialog Jika masih terbuka kemungkinan untuk didialogkan bersama setelah menikah, ada baiknya Anda menahan diri untuk tidak mempersyaratkan kepada suami. Kelak ada saat yang lebih leluasa untuk berbicara dari hati ke hati, sehingga ia dapat memahami dengan lebih baik ketika memikirkan dan mengambil keputusan atas masalah yang sebelumnya ingin Anda persyaratkan. Sementara Anda bisa mengambil jarak dari masalah. Bisa jadi, Anda justru berubah setelah membicarakannya dari hati ke hati. Insya-Allah yang demikian ini akan lebih dekat kepada kemaslahatan. Masalah yang Anda hadapi, bisa jadi justru menumbuhkan mawaddah (rasa cinta) dan keharmonisan (ulfah) di antara Anda dan suami ketika dibicarakan bersama-sama. Melalui dialog yang terbuka dan saling percaya, bisa jadi tercapai apa yang semula ingin Anda persyaratkan. Bisa jadi tidak. Tetapi di dalamnya Anda mendapat pemahaman bahwa di balik apa-apa yang tampak tidak baik, bisa jadi di dalamnya ada kebaikan yang berlimpah. Sebaliknya, bisa jadi Anda menganggapnya baik padahal banyak madharat di dalamnya. Akhirnya, kepada Allah kita memohon kebaikan yang sempurna di dunia dan akhirat bagi kita dan keluarga kita, termasuk orangtua kita. Langkah untuk menikah sebagian-nya merupakan langkah untuk mencapai keselamatan atas diri kita dan orangtua kita, termasuk mertua kita. Kalau dari pernikahan itu akhlak dan agama kita menjadi baik sehingga derajat amal kita jauh lebih tinggi dari derajat amal orangtua kita misalnya, insya-Allah mereka akan disusulkan kepada kita meskipun derajat amalnya tidak mencukupi sejauh mereka tetap beriman. Yang demikian ini termasuk di antara barakah pernikahan. (Ya Allah, barakahilah kami, ya Allah, dan jadikanlah pernikahan kami penuh barakah). Mereka yang pernikahannya barakah, insya-Allah kelak termasuk orang-orang yang di Hari Akhirat dikumpulkan Allah bersama orangtua dan keturunan mereka.

Kado Pernikahan 100

Apakah kita tidak ingin dimasukkan ke dalam golongan yang disebutkan Allah dalam surat Az-Zukhruf [43] ayat 70, "Masuklah ke surga beserta istrimu untuk digembirakan." Selanjutnya dalam surat Ar-Ra'd [13] ayat 23, Allah menjanjikan, "Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh di antara orangtua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka." Abdullah bin 'Abbas, dalam hadis yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Mardawaih, meriwayatkan sabda Rasulullah Saw., "Ketika seseorang masuk ke surga, ia menanyakan orangtua, istri, dan anak-anaknya. Lalu dikatakan padanya, 'Mereka tidak mencapai derajat amalmu.' Ia berkata, 'Ya Tuhanku, aku beramal bagiku dan bagi mereka.' lalu Allah memerintahkan untuk menyusulkan keluarganya ke surga itu." Setelah itu Ibn 'Abbas membaca surat Ath-Thuur [52] ayat 21, Dan orang-orang yang beriman, lalu anak-cucu mereka mengikuti dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikit pun. Di hari ketika anak dan orangtua bercerai-berai, antar sanak-kerabat dan teman akrab menjadi musuh, mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dikecualikan sekalipun saat ini bekal kita masih jauh dari mencukupi. Mari kita perhatikan firman Allah Swt. dalam surat Az-Zukhruf [43] ayat 67, Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. Saya jadi teringat kepada sebuah hadis. Rasulullah Saw. bersabda, "Harta yang utama adalah lisan yang senantiasa dzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri beriman yang membantu suami dalam menegakkan bangunan imannya." (HR Ibnu Majah & Tirmidzi, hasan). --Jadi, keputusan untuk menikah sampai kepada pernik-pernik pernikahan banyak mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Wallahu A'lam bishawab. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kesalahan kita dalam melangkah. Sejak dari niat ketika akan berangkat sampai tindakan-tindakan sesudah akad pernikahan hingga walimahnya. Astaghfirullahal 'adzim. Laa ilaaha illaa Anta, subhanaKa innii kuntu minadz dzalimin. TENTANG BARAKAH Kita telah membicarakan masalah barakah. Tetapi apakah yang dimaksud dengan barakah? Kita mulai dulu pembicaraan kita dengan orang yang membawa laknat dan orang yang membawa barakah. Kalau seorang yang suka membuat kerusakan ada di tengah kita, semua yang ada di situ bisa mendapatkan keburukannya. Adapun kalau seorang yang takwa hadir di tengah kita, kehadirannya mendatangkan barakah, seperti kata Al Qur’an, Sekiranya penduduk negeri beriman

Kado Pernikahan 101

dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan dari bumi... (QS 7: 96). Untuk menggambarkan konsep laknat dan barakah ini, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat, Rasulullah Saw. membuat perbandingan mengenai orang yang bergaul dengan orang yang jahat dan dengan orang yang saleh. Kata Rasulullah, kalau Anda bergaul dengan orang saleh, Anda seperti bergaul dengan pedagang minyak wangi. Walaupun Anda tidak kecipratan minyak wangi itu, Anda tetap tercium harum oleh orang-orang yang ada di sekitar Anda. Sementara itu, jika Anda bergaul dengan orang yang jahat, maka Anda seperti bergaul dengan pandai besi. Walaupun Anda tidak tercoreng arangnya, paling tidak Anda sesak nafas karena kepulan asapnya. Sebuah pernikahan disebut barakah jika terjadinya akad mendatangkan kebaikan tidak hanya bagi kedua suami istri itu. Seperti minyak wangi, sekeliling pun ikut merasakan barakahnya. Pernikahan mendatangkan kemanfaatan bagi orang-orang sekitar, sekalipun tak langsung tampak. Adakalanya orang baru merasakan wanginya setelah wewangian itu lewat. Seperti ketika ada truk yang mengangkut durian, kita baru mencium wanginya setelah truk berlalu beberapa meter. Adakalanya, orang merasakan kemanfaatan tetapi tidak tahu sumber wewangian yang dihirupnya. Sebaliknya, pernikahan yang justru mendatangkan kerusakan, adakalanya baru terasa setelah lewat jauh. Kita merasakan bau yang menusuk, justru setelah motor yang mengangkut ikan asin agak basah telah lewat beberapa ratus meter dari hadapan kita.

Kado Pernikahan 102

Bab 7

U

ndangan-undangan

Mubazir Itu…

etelah melangsungkan akad nikah, orang perlu mengumumkan pernikahannya, i'lan, agar masyarakat mengetahui. Melalui walimah, pengantin yang baru menikah mengabarkan kepada orang banyak, menyatakan rasa syukurnya atas rezeki yang dikaruniakan Allah padanya, serta memohon doa agar pernikahan yang baru saja dilangsungkan dibarakahi oleh Allah dan Allah ridha kepada keluarga baru itu beserta seluruh keturunannya kelak. Allahumma amin. Pada masa dulu, orang memberitahu kepada khalayak dan sanak kerabat secara lisan. Mereka kemudian mengabarkan kepada orang lain dan siapa saja yang ditemui, jika pihak yang mengadakan walimah mengizinkan. Selain khalayak umum, ada orang-orang yang secara khusus diundang. Mengundang dengan cara ini, lebih dekat dengan silaturahmi dan lebih dekat dengan kesucian hati serta kebersihan niat. Zaman kemudian berkembang, orang semakin sulit menyediakan waktu kalau tidak diberitahu jauh sebelumnya secara tertulis. Kesibukan pada masing-masing pihak, pengundang maupun yang diundang, menjadikan undangan tertulis lebih praktis. Melalui undangan tertulis, kita lebih memungkinkan untuk mengundang orang yang lebih banyak. Setelah undangan tertulis marak digunakan, mulai ada pergeseran. Undangan cetak tidak hanya menyangkut fungsinya untuk memberitahu orang. Ada sejumlah hal yang kemudian masuk di dalamnya. Awalnya sekedar agar tidak tampak terlalu bersahaja, sehingga orang berusaha mendesain kartu undangan sehingga tampak lebih menarik dan lebih anggun. Pilihan kertas juga demikian, semakin berkembang.

S

Kado Pernikahan 103

Sejauh semua itu masih fungsional, sepanjang pemahaman saya masih tidak masalah. Hanya saja, saya kemudian mulai bertanya ketika melihat undanganundangan nikah yang mewah dan lebih banyak fungsi aksesorisnya. Atau, malah fungsi prestise. Undangan-undangan itu dicetak di atas kertas yang jauh melebihi kebutuhan. Ada sekian aksesoris yang tidak fungsional, kecuali sekedar sebagai keunikan dan kekhasan. Padahal, sesudah itu undangan-undangan itu dibuang ke tempat sampah. Kertas yang biasanya bertuliskan ayat suci Al-Qur'an, surat Ar-Rum ayat 21 itu, berbaur dengan sampah-sampah lain yang siap diangkut tukang sampah. Saya sempat berpikir, apakah undangan yang demikian ini tidak mubazir? Membuat sesuatu yang jauh melebihi kebutuhan, kertasnya kadang sampai berlembarlembar yang ditumpuk-tumpuk, padahal hanya dibaca sesaat. Sesudah itu tidak berguna lagi. Ironis sekali. Undangan-undangan mubazir itu justru banyak yang berasal dari kita yang beragama Islam. Bahkan dari kita yang tampak sekali ghirah keagamaannya. Saya tidak hendak mengajak Anda untuk bersikap kaku dengan tulisan ini. Tidak. Kita melihat kenyataan sekarang bahwa kehadiran undangan cetak hampirhampir tidak mungkin untuk dihilangkan. Sehingga undangan itu mempunyai fungsi untuk menyampaikan khabar, untuk i'lan (mengumumkan) atas peristiwa membahagiakan. Melalui undangan, kita lebih memungkinkan mengundang banyak orang. Melalui tulisan ini, saya hendak mengajak berpikir sejenak, sehingga kita bisa menghindari kemubaziran. Tetapi, kita juga menjauhkan diri dari sikap terlalu bakhil. Kemubaziran banyak lahir dari sikap israf (berlebih-lebihan), sedang sikap bakhil (kikir, terlalu mengurang-ngurangkan) menjauhkan kebaikan. Langkah ini dapat dilakukan dengan mencegah diri dari pemakaian undangan cetak yang berlebih-lebihan. Undangan boleh jadi tetap elegan, tetapi tidak berlebihan dalam pemakaian kertas dan penggunaan aksesoris. Menjauhkan kemubaziran juga bisa dilakukan dengan memberi manfaat tambahan pada kartu undangan yang dicetak. Misalnya, dengan mengoptimalkan fungsi seluruh kertas yang ada. Sehingga selain bermanfaat untuk menyampaikan undangan walimah, juga bermanfaat untuk dakwah dalam waktu lama. Bukan yang sekali dilihat, segera dimasukkan tong sampah. Memberi manfaat lebih ini dilakukan dengan mendesain pesan-pesan maslahat. Bisa juga dengan menyertakan fungsi lain yang diperlukan orang, kalender misalnya. Bisa juga tabel zakat. Atau, Anda bisa menambahkan jadwal shalat untuk daerah tempat walimah dilaksanakan yang mudah dibawa kemana-mana. Sedang kelebihan kertas yang ada bisa dimanfaatkan juga dengan mendisain pembatas buku sekaligus mengisinya dengan pesan maslahat. Masih banyak sentuhan lain yang dapat diberikan. Anda dapat memikirkan peluang-peluang itu agar undangan tidak terlalu mubazir. Semoga dengan demikian,

Kado Pernikahan 104

lebih dekat kepada barakah dan ridha Allah. Dengan demikian setan tidak mempunyai kesempatan untuk menimbulkan kemubaziran. Mudah-mudahan ikhtiar kita untuk menjadikan berbagai langkah selama proses dengan sesuatu yang manfaat dan maslahat, menjadikan pernikahan kita barakah, sakinah mawaddah wa rahmah. Semoga kelak Allah mengaruniai keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.

Kado Pernikahan 105

Bab 8

A

walnya dari Niat

walnya dari niat. Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri, insya-Allah engkau akan mendapati anakanak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Jika engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya. Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaan-Nya. Banyak cara Allah membaguskan hamba-hamba-Nya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu sebagai kesalahan. Sungguh, sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia. Awalnya dari niat. Maka, atas dasar apakah engkau menikahi istrimu? Jika gadis yang engkau pinang itu cantik, apakah engkau menikahinya karena mengharap keindahan dan wajah yang mengesankan? Ataukah, karena khawatir kecantikannya dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan sungguhsungguh untuk segera menikahinya demi menjaga kehormatan farjimu berdua. Beda sekali antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit barakahnya. Sedang yang kedua, insyaAllah akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus melimpah. Ketika engkau melihat calon istrimu memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas

A

Kado Pernikahan 106

dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkekurangan, atas dasar apakah engkau memintanya kepada kedua orangtuanya. Awalnya adalah niat. Maka aku bertanya kepadamu wahai istriku, apakah yang menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu padaku? Aku bertanya kepadamu karena niat akan menentukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama-sama menjadi jenazah. Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadapi masalah, sampai bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya. Semua berawal dari niat. Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, niat ketika berhias, niat ketika memuji suami, dan niat ketika akan melakukan berbagai hal. Niat-niat itu bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau berikan kepada suami. Awalnya dari niat. Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan itu (dinilai) hanya berdasarkan niatnya (innamal a'malu binniyyati) --di dalam riwayat lain: berdasarkan niat-niatnya-- dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan; barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan Rasul-Nya maka (nilai) hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya (diniatkan) kepada dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka (nilai) hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan An-Nasa'i, shahih). Innamal a'malu binniyati, kata Rasulullah Saw. dalam hadis tersebut. Mungkin kita semua sudah pernah mendengar hadis ini. Barangkali malah sudah sangat sering mendengar. Kadang malah menjadi alasan bagi sebagian orang untuk memaafkan diri sendiri ketika melakukan perbuatan keliru. Dalilnya, bukankah setiap perbuatan dinilai berdasarkan niatnya? Aku ingatkan kepada diriku sendiri, bukan demikian itu yang disebut niat. Bukan. Niat yang sesungguhnya melandasi perbuatan, bukanlah apa yang dengan mudah engkau ucapkan lalu engkau hapus di saat lain yang engkau kehendaki. Kalau seorang gadis memintamu untuk memboncengkannya sedangkan engkau sudah lama sekali menginginkan, maka tidak bisa engkau menyertainya dengan niat menolong sebagai sesama muslim meskipun niat itu engkau ucapkan berulang-ulang. Bukankah hatimu sendiri sudah gelisah dan tidak tenang? Aku ingatkan kepada diriku sendiri dan orang-orang yang aku cintai, mintalah kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan kebusukan yang tidak mampu engkau hilangkan sendiri saat ini. Semoga Allah mengampunimu dan memperbaiki niat kita.

Kado Pernikahan 107

Dengarkanlah keterangan Imam Al-Ghazali rahimahuLlah. Beliau mengatakan, barangkali ada orang bodoh mendengar perkataan kami tentang niat. Lalu ia berkata, "Aku berdagang karena Allah", atau "Aku makan karena Allah". Jauh, amatlah jauh. Hal itu hanya perkataan diri dan perpindahan dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Niat jauh dari yang demikian. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungannya pada apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan. --Pelacur itu kemudian datang meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri. Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari Ibnu Mas'ud dari Salman Al-Farisi. ---

Selama kecenderungan itu tidak ada di dalam batin, kata Imam Al-Ghazali melanjutkan, tidak mungkin diusahakan, diciptakan dengan usaha, dan dipaksakan. Melainkan hal itu, hasilnya kembali kepada perpindahan pemikiran dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Seperti seorang yang kenyang berkata, "Aku telah berniat untuk lapar," atau "Aku berniat untuk makan disebabkan lapar," Atau orang yang gelisah berkata, "Aku telah berniat untuk mencintai seseorang," atau "Aku telah berniat memuliakan seseorang." Hal ini tidak muncul di dalam batinnya, dan itu mustahil. Selama tidak muncul motif hal itu, maka tidak akan ada kebangkitan jiwa, karena kebangkitan jiwa merupakan tanggapan (respons) terhadap motif dan tujuan yang muncul. Contohnya adalah menikah, kata Imam Al-Ghazali. Orang yang dikuasai syahwat dan ingin menikah, kemudian hendak memaksakan diri berniat mengikuti Rasulullah Saw. dan sunnahnya, serta berniat mendapatkan anak yang shaleh. Hal itu tidak mungkin terjadi karena tidak muncul motif-motif ini dari batinnya. Melainkan di dalam batinnya hanya ada syahwat semata. Demikian penjelasan Imam Al-Ghazali dalam buku Mutiara Ihya' 'Ulumuddin. Wallahu A'lam bishawab. Awalnya dari niat. Nikah juga diawali dengan niat. Niat yang baik dan jernih akan mendekatkan kepada barakah. Semakin baik niat kita, insya-Allah semakin barakah rumah tangga kita, sekalipun kita tidak bisa menunaikan seluruh perkara yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh, maka bagi kita apa yang kita

Kado Pernikahan 108

niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa melaksanakan. Tetapi beda sekali antara niat yang sungguh-sungguh kuat dengan mengadaadakan niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghurur (terkelabui). Kita menyangka kita punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan dengan akal. Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah, sebab Rasulullah Saw. bersabda, "Niat orang mukmin lebih baik daripada perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih jelek daripada perbuatannya." Maka marilah kita meniatkan satu kebaikan di dalam pernikahan. Niat mendidik anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah bagi kita beserta istri (suami) kita. Niat untuk memuliakan istri dengan perkataan yang lembut, bukan kasar dan menyakitkan. Serta niat lain. Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan, insya-Allah menjadi pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang berhak menentukan kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Pemberi Kebaikan. Maha Suci Allah dari segala keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah --dalam apa yang diriwayatkan dari Rabbnya-- bersabda, "Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut (di dalam kitab-Nya); barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak mengerjakannya maka Allah menulisnya di sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, jika dia meniatkannya kemudian dia melakukannya maka Allah menulisnya di sisi-Nya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus sampai berlipat-lipat ganda. Dan barangsiapa berniat (melakukan) keburukan tetapi dia tidak mengerjakannya maka Allah menulisnya di sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, dan jika dia meniatkannya kemudian dia mengerjakannya maka Allah menulisnya satu keburukan". Dalam riwayat lain Ibnu Abbas menambahkan, "Atau Allah menghapuskannya dan tidaklah berniat jahat kepada Allah kecuali orang yang binasa." (HR Bukhari & Muslim, shahih). Akan tetapi, "Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk mengkhianati (menipu) orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dalam kemurkaan Allah kecuali bila ia mati atau bertaubat. Jika ia mati dalam keadaan itu, maka ia mati bukan dalam agama Islam. Ketahuilah siapa yang mengkhianati kami, ia bukan golongan kami (Nabi Saw. menyebutkan hal ini sebanyak tiga kali)." Nah, sekarang ketika akan menikah, apa niat Anda?

Kado Pernikahan 109

NIAT KETIKA MENIKAH Sebagian pernikahan menjadi penuh barakah karena niat awal ketika memutuskan untuk menikah. Al-Idris Asy-Syafi'i menikah semata karena ingin mendapatkan ridha dari pemilik pohon delima atas apa yang ia makan. Ia bersedia menikah asal delima yang sudah dimakannya diikhlaskan dan pemiliknya ridha. Maka ia menikah dengan Fathimah, putri pemilik pohon delima itu. Dari rahim istrinya, lahir Muhammad bin Idris yang kelak dikenal sebagai Imam Syafi'i karena keutamaan ilmu dan akhlaknya. Pernikahan Al-Idris melahirkan anak yang sangat penuh barakah. Sampai sekarang kita masih mengambil ilmu dari apa yang diwariskan oleh Imam Syafi'i, buah pernikahan Al-Idris dan Fathimah yang diridhai. Ada contoh lain pernikahan karena menjaga diri dari hal yang meragukan, semata-mata demi mencapai keselamatan akhirat. Imam Bukhari dalam hadis shahihnya pernah meriwayatkan sebuah cerita dari Rasulullah. "Seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw., "membeli sebidang tanah dan menemukan sebuah tempayan berisi emas dalam tanah itu. Katanya kepada si penjual, 'Ambillah emasmu, karena hanya tanah yang saya beli dari engkau dan saya tidak membeli emas'. Kata yang punya tanah, 'Tanah itu beserta isinya telah saya jual kepada engkau'. Keduanya lalu minta putusan kepada seseorang. Kata orang itu, 'Adakah kamu berdua mempunyai anak?' Seorang di antara mereka berkata, 'Ya, saya mempunyai seorang anak laki-laki'. Kata yang seorang lagi, 'Ya, saya mempunyai seorang anak perempuan'. Kata hakim tadi, 'Kawinkanlah anak perempuan itu dengan anak laki-laki ini dan belanjailah dengan keduanya dari harta itu dan bershadaqahlah'." (HR Bukhari dalam shahihnya, hadis No. 1513). Suatu ketika seorang pemuda ahli 'ibadah mendatangi pelacur karena desakan keinginan yang kuat. Setelah berada dalam kamar berdua dengan pelacur itu, ia merasakan ketakutan yang amat sangat mengingat pengawasan Allah yang tak pernah lepas serta kedudukannya di hadapan Allah. Maka ia berkeringat dan pucat karena takutnya. Ia meninggalkan tempat pelacuran itu dan tidak mengambil uangnya kembali, meskipun pelacur itu berusaha menahannya. Setelah pemuda itu pergi, pelacur itu merenung. Seharusnya dialah yang lebih takut kepada Allah mengingat perbuatan-perbuatannya. Maka ia berniat bertaubat dan mencari pemuda itu agar dinikahi. Tetapi ketika sampai, ia dapati pemuda itu meninggal seketika karena rasa takutnya saat melihat kedatangan pelacur itu. Maka ia bertanya, "Adakah 'Abid (ahli 'ibadah) ini mempunyai saudara laki-laki yang belum menikah?" Orang-orang menunjukkan saudaranya yang juga seorang ahli 'ibadah, tetapi sangat miskin. Ia kemudian datang meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri. Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari Ibnu Mas'ud dari Salman Al-Farisi.

Kado Pernikahan 110

Niat banyak mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Sebagian dari niat menikah, dijamin akan penuh dengan barakah selama-lamanya. Istri barakah bagi suami, suami barakah bagi istri. Allah 'Azza wa Jalla insya-Allah juga memberi barakah yang sangat besar kepada seorang wanita yang menyerahkan diri kepada laki-laki yang ia mantap dengan akhlak dan agamanya, semata karena mengharapkan ridha-Nya atau karena ingin menjaga diri dari dosa. Apalagi jika laki-laki itu seorang yang masih sendirian. Rasulullah Saw. menjanjikan, "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka." Sebagian orang menikah karena takut mati dalam keadaan membujang. Ini yang pernah terjadi pada Mu'adz bin Jabal r.a., salah seorang sahabat utama Rasulullah Saw. Ketika dua orang istrinya meninggal dunia pada waktu menjalar wabah pes, sedangkan ia sendiri mulai kejangkitan, maka ia berkata, "Kawinkanlah aku. Aku khawatir akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tak beristri." Ibnu Mas'ud pernah mengatakan, "Seandainya tinggal sepuluh hari saja dari usiaku, niscaya aku tetap ingin kawin. Agar aku tak menghadap Allah dalam keadaan masih bujang." Ada lagi niat-niat menikah yang insya-Allah dimuliakan dan baginya barakah yang melimpah sampai yaumil-qiyamah. Anda bisa membaca berbagai sumber atau bertanya kepada orang yang mempunyai hikmah. Atau, Anda bisa bertanya kepada hati nurani Anda sendiri.

Niat Ketika Memilih Pendamping Ada pernikahan yang tidak akan pernah diberi barakah karena niat orangtua ketika memilih suami bagi anak gadisnya yang salah. Rasulullah Saw. mengingatkan, "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya." Pernikahan yang demikian ini kering dan hampa, kecuali jika istri bersedia untuk bermujahadah (berjuang) untuk membawa suami kepada kelurusan agama. Ia "berzuhud" terhadap harta dan kedudukan suami. Tetapi ia menunjukkan kelembutan saat mengajak suami kepada kejernihan hati. Ia bisa tegas di saat lain dalam menyikapi apa yang kurang tepat, tetapi tidak menunjukkan sikap keras dan perkataan yang menyakitkan. Ia berzuhud dari kebaikan suami dalam perkara dunia karena menjaga agar tidak lemah dan dilemahkan secara fisik maupun psikis. Al-ihsanu yu'jizul insan. Sesungguhnya kebaikan itu melemahkan (mematikan) manusia. Masalahnya, adakah wanita yang seperti itu manakala orangtua menikahkan karena silau terhadap kekayaan seorang laki-laki? Tidak mudah bersikap seperti itu. Apalagi, kalau semenjak awal tidak disadari.

Kado Pernikahan 111

Wallahu A'lam bishawab. Dari Anas r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah hanya akan menambah kehinaan kepadanya; siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan; siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambah kerendahan padanya. Namun, siapa yang menikah karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih-sayang, Allah akan senantiasa membarakahi dan menambah kebarakahan itu kepadanya." (HR Ath-Thabrani). Dari 'Abdullah bin Amr r.a., Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena hartanya, mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi nikahilah seorang wanita karena agamanya. Sebab, seorang wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama." (HR Ibnu Majah). Ada hadis yang sangat populer tentang menentukan kriteria wanita yang akan dinikahi. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Biasanya wanita dikawini karena empat (hal): karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena kecantikan, dan karena agamanya (akhlaknya). Maka pilihlah yang beragama (berakhlak) semoga beruntung usahamu." (HR Bukhari & Muslim, shahih). Muhammad Fuad 'Abdul Baqi yang mengkompilasi hadis-hadis shahih yang disepakati Bukhari dan Muslim dalam Al-Lu'lu' wal Marjan mengatakan, "Arti taribat yadaaka (engkau akan rugi dan miskin jika Anda tidak mengikuti tuntunan ini), yakni jika Anda kawin dengan wanita yang tidak beragama (berakhlak) niscaya akan menjadi fakir miskinlah Anda, yakni tidak akan bahagia dalam hidup.” Sebagaimana seorang laki-laki yang akan meminang, seorang wanita yang berkeinginan untuk menyerahkan diri kepada laki-laki untuk dinikahi juga perlu memperhatikan niatnya memilih laki-laki itu. Menawarkan diri karena terkesan oleh kekayaan dan ketampanan, hanya akan melahirkan penderitaan psikis yang berkepanjangan kelak setelah madunya tak manis lagi. Kalau Anda menikah, Anda bisa meminang wanita yang masih gadis. Bisa juga seorang janda. Insya-Allah pernikahan Anda akan barakah jika Anda memilih istri yang masih gadis atas pertimbangan sunnah Rasulullah Saw. atau apa yang dimaksudkan dalam sunnah itu, yakni Anda bisa bercanda, bercumbu, saling menggigit dan tertawa bersama. Anda memilih yang masih gadis karena hatinya belum pernah terpaut pada orang lain, sehingga kasih-sayangnya lebih penuh. Pertimbangan-pertimbangan semacam ini bisa Anda lihat pada berbagai hadis. Di antaranya hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari maupun Imam Muslim. Masih berkenaan dengan gadis, mungkin Anda memilih yang masih belia karena cintanya lebih hangat, kasih sayangnya lebih tulus dan lebih sedikit tipuannya, disamping lebih rela terhadap belanja yang sedikit. Mungkin juga Anda memilih

Kado Pernikahan 112

gadis yang sudah beranjak tua usianya untuk menolongnya dan menyelamatkan kehormatan agama. Yang demikian ini insya-Allah justru besar barakahnya. Pernikahan yang penuh barakah insya-Allah juga Anda dapatkan ketika memilih untuk menikah dengan seorang janda karena mengharapkan dia dapat merawat, mendidik, dan mengasihi anak-anak dan saudara-saudara Anda yang masih perlu penjagaan dan kasih sayang. Rasulullah Saw. pernah mendo'akan Jabir bin 'Abdullah ketika menikahi seorang janda dengan harapan bisa merawat adik-adik perempuannya yang masih kecil, setelah ayahnya meninggal. Ketika itu Rasulullah Saw. mendo'akan, "Barakallah (semoga Allah membarakahi)." atau "Khaira (baik saja)." (HR Bukhari & Muslim dalam Al-Lu'lu' wal Marjan, hadis No. 930). Masih ada. Jika Anda memiliki pembantu, insya-Allah Anda akan mendapati pernikahan yang sangat penuh barakah dengan menikahi pembantu Anda setelah memberikan pendidikan sehingga dia matang, siap untuk menjadi istri dan ibu. Khath Arab

Abu Musa r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, "Siapa yang memiliki jariyah (hamba wanita, pembantu), lalu dipelihara dengan baik, kemudian dimerdekakan dan dikawini, maka ia mendapat pahala dua kali lipat." (HR Bukhari & Muslim, shahih). Wallahu A'lam bishawab.

Niat dalam Urusan Pernikahan Masalah niat tidak berhenti sampai saat memilih pendamping. Sesudah pinangan datang dan kata sepakat dari dua keluarga sudah tercapai bahwa mereka akan mengikat tali kekeluargaan melalui anaknya masing-masing, niat masih terus menyertai dalam berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, penyelenggaraan walimah sampai dengan waktu yang dihabiskan untuk menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari dekat kepada madharat. Walimah hari ketiga termasuk riya'. Proses pernikahan dapat mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah, insya-Allah akan mendekatkan orang kepada bersihnya niat. Memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat yang sebelumnya masih keruh. Sedang mempersulit dapat merusak niat yang sebelumnya sudah cukup bersih. Saya kira Anda dapat memikirkan lebih jauh masalah itu. Mudah-mudahan Allah Ta'ala meluruskan niat kita dalam menempuh urusan pernikahan seluruhnya. Mudahmudahan Allah membaguskan hati kita dan mengampuni kesalahan-kesalahan hati

Kado Pernikahan 113

kita dalam menempuh pernikahan, khususnya bagi yang telah menikah. Mudahmudahan Allah memaafkan apa yang belum bersih dan menggantikannya dengan keikhlasan dan sakinah.

MASIH ADA NIAT SESUDAH AKAD NIKAH Sesudah akad nikah, ada kesempatan untuk memeriksa kembali niat ketika hendak melangkah ke pelaminan. Bahtera rumah tangga mulai mengarungi lautnya. Sebelum berlayar jauh, kita bisa beristighfar bersama-sama atau apa pun yang baik untuk kejernihan hati. Saya perlu menggarisbawahi tambahan kata-kata "atau apa pun yang baik" karena perkara ini tidak termasuk perkara yang wajib, sehingga saya khawatir jika ini dianggap wajib. Istighfar atau apa pun kalimat-kalimat thayyibah itu tidak wajib, hanya bersifat sebagai ikhtiar untuk mencapai kemaslahatan. Jika dianggap wajib, saya khawatir justru saya berdosa karenanya. 'Alaa kulli hal, masih ada niat sesudah akad nikah. Niat yang baik setelah mengarungi bahtera rumah tangga, insya Allah dapat memperbaiki kesalahankesalahan niat sebelumnya. Mudah-mudahan Allah menjadikan rumah tangga kita penuh barakah. Masih ada niat sesudah hidup bersama. Niat ketika berhias maupun niat ketika berhubungan intim. Niat Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu adalah salah satu contohnya. Beliau pernah berkata, "Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya." Pembahasan lebih lanjut mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan hubungan intim suami istri insya-Allah akan kita bicarakan pada bab Keindahan Suami Istri di jendela kedua buku kita ini.

Hujan Itu Mensucikan Bumi Adakalanya niat kita ketika hendak menikah masih belum bersih, kemudian Allah memberikan kasih sayang-Nya. Allah memberikan berbagai keadaan sehingga kita mensucikan niat kita. Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga kita mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita sendiri. Adakalanya niat seseorang sudah bersih, kemudian Allah menguji kesungguhan niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah ia bersungguh-sungguh dengan niatnya. Sehingga tampak apakah ia tetap berpegang pada tali-Nya di saat menghadapi kesulitan. Sehingga semakin kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi niatnya. Yang demikian ini insya-Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada barakah dan tidak mudah luntur oleh keadaan sesudah menikah.

Kado Pernikahan 114

"Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati." (Q.S. Ali 'Imran: 154). Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi, sehingga Allah menambah kemuliaan dan barakahnya. Sebagian merasa kecewa kepada Allah. Sebagian lagi merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahankesalahannya. Adakalanya Allah mensucikan bumi dengan menurunkan hujan. Dalam hujan ada kilat dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang membuat gerah orangorang di muka bumi. Sayangnya, seringkali kita salah sangka. Kita sering tidak bisa membedakan antara panasnya terik matahari dengan gerahnya awan tebal yang mengawali hujan penuh rahmat. Pensucian niat bisa juga terjadi karena bertambahnya ilmu. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya, akhirnya ia mengenali kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya. Oleh karena itu, suamiistri tetap perlu mencari ilmu setelah berumah tangga. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi suami-istri yang penuh barakah. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi orangtua yang penuh barakah, melahirkan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah melalui pernikahan mereka. Allahumma amin. Wallahu A'lam bishawab. Mudah-mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari ghurur (terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat kita, padahal hanya angan-angan yang kita jelaskan dengan akal saja.

Kado Pernikahan 115

Bab 9

M

emasuki Malam Zafaf

alau sudah ada kerelaan untuk menjadi teman hidup, maka tunggu sesaat lagi jalinan perasaan itu akan sah. Sesaat lagi, apa-apa yang haram bagi kita telah menjadi halal atas karunia Allah. Sesaat lagi, seorang jejaka mulai harus memberikan kelembutan sikap kepada wanita yang beberapa waktu lalu dipinangnya. Sesaat lagi, seorang wanita mulai mempunyai kewajiban untuk bertaba’ul (pengurusan dan pelayanan). Ini kelak di akhirat akan dimintakan tanggung jawab kita. Ada perjanjian yang sangat berat kepada Allah, sehingga Allah memberi hak kepada kita beberapa kesenangan dan memberi amanah di balik kesenangan-kesenangan itu. Perjanjian ini terikat sesaat lagi, ketika seorang ayah mengucapkan ijab atas anak gadisnya dan seorang laki-laki mengucapkan qabul (penerimaan) untuk mengikat jalinan perasaan sebagai suami-istri. Inilah akad nikah. Inilah akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa. Ikatan Itu Bernama Mitsaqan-Ghalizhan Nabi berdiri di Mina, di Masjid Kheif. Dia memandang ribuan jama’ah yang hadir untuk berhaji di sekitarnya. Kemudian bibirnya yang tidak pernah berdusta menyebutkan pujian kepada Allah. Lalu memulai khuthbahnya. “Wahai manusia,” kata Rasulullah berseru, “dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.”

K

Kado Pernikahan 116

Suara Rasulullah bergetar. Para sahabat merasa ada yang akan hilang. Ada tangis yang terasa, tapi menahannya di tenggorokan. Ada kesedihan. Ucapan Rasulullah kali ini, mengisyaratkan perpisahan. Tahun depan mungkin Rasulullah sudah tidak bersama mereka lagi. Betapa besar kehilangan kalau Rasulullah benar-benar dipanggil oleh Yang Mengutusnya, Allah subhanahu wa ta’ala. Betapa besar kehilangan kalau kali ini adalah haji perpisahan, haji wada’, sedang wajah suci itu telah bertahun-tahun membimbing mereka sekaligus menanggung luka-luka dalam beberapa peperangan. Para sahabat merasakan kesedihan itu. Kemudian Rasulullah berkata, “Apakah aku sudah menyampaikan risalah Tuhanku kepada kalian?” Para sahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan dengan jawaban yang sama, “Benar. Engkau sudah menyampaikan risalah kepada kami.” “Allahumma isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka. Mereka mengetahui bahwa tugas Nabi sudah berakhir, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat. “Wahai manusia,” begitu kata Nabi selanjutnya, “Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini?” “Hari yang suci.” “Negeri apakah ini?” “Negeri yang suci.” “Bulan apakah ini?” “Bulan yang suci.” “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?” Suara para sahabat bergemuruh. Mereka menjawab, “Benar.” Begitulah setiap kali Nabi menyampaikan satu bagian (maqtha’) nasehatnya, beliau mengakhirinya dengan “apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”; dan para sahabat menjawab serentak dengan “benar”. Setiap beliau memulai bagian nasehatnya, kata Kang Jalal, beliau berkata, “Simaklah pembicaraanku, kalian akan memperoleh manfaat sesudah aku tiada. Pahamilah baik-baik supaya kalian memperoleh kemenangan.” Hari ini, Rasulullah telah tiada. Dan sekarang, saya ingin menyampaikan salah satu pesan Rasulullah saat itu, ketika Anda sudah menguatkan hati untuk mengikat perjanjian yang sangat berat (mitsaqan-ghalizhan). Istri Anda mempunyai hak atas

Kado Pernikahan 117

Anda karena perjanjian itu. Ia mempunyai hak yang suci, sama sucinya dengan hari ketika khothbah perpisahan itu diucapkan. Ketika Anda sudah mengikat perjanjian yang sangat berat, tahukah Anda apa hak istri Anda? Dan ketika Anda menerima perjanjian berat dari suami Anda, tahukah Anda hak suami atas Anda? Di haji wada’ itu, Rasulullah Saw. Mengingatkan dengan peringatan suci, “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Hak kalian atas mereka ialah mereka (para istri) tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik.” “Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik,” begitu kata-kata terakhir dari Rasulullah ketika mengingatkan kita tentang kewajiban di balik amanah pernikahan. Ada yang harus dijaga dalam perjanjian yang sangat berat ini (mitsaqan-ghalizhan). Ada yang harus diperjuangkan karena amanah ini. Ada yang besar dalam perjanjian berat ini. Hati yang menerima, jiwa yang rela, sikap yang menenteramkan, dan kesediaan untuk berjuang bersama. Sudah siapkah engkau? Aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga kepadamu. Perjanjian berat akan kita ikrarkan. Allah dan para malaikat menjadi saksi. Para tamu juga menjadi saksi. Ada yang menjadi saksi khusus ketika perjanjian berat itu diucapkan. Akad nikah memang harus ada saksi. Sebenarnya, apakah saksi itu? Mengapa perjanjian berat ini memerlukan saksi? Padahal Allah Maha Tahu dan tak ada yang bisa disembunyikan dari penglihatan-Nya. Maha Besar Allah. Sungguh Allah tidak pernah zalim kepada setiap makhlukNya. Pernikahan memerlukan saksi untuk mengingatkan kepada kita tentang amanah di baliknya. Mudah-mudahan kita selalu ingat dan tetap menjaganya sampai kelak bertemu dengan Allah di Hari Kiamat. Jadi, ikatan pernikahan bukanlah ikatan main-main. Ada kesenangan-kesenangan di dalamnya yang boleh kita rasakan bersama, dan ada amanah di baliknya. Ada sebuah amanah besar. Sekarang ketika ayah dari calon istri Anda akan mengucapkan ijab nikah, marilah kita perhatikan beberapa hal berkenaan dengan Ijab-Qabul Nikah.

Kado Pernikahan 118

Mengucapkan Ijab-Qabul Nikah Perjanjian berat itu terikat melalui beberapa kalimat sederhana. Pertama adalah kalimat ijab, yaitu keinginan pihak wanita untuk menjalin ikatan rumah tangga dengan seorang laki-laki. Kedua adalah kalimat qabul, yaitu pernyataan menerima keinginan dari pihak pertama untuk maksud tersebut. Ijab-qabul adakalanya diucapkan dalam bahasa Arab. Adakalanya juga diucapkan dalam bahasa setempat. Keduanya boleh dipakai. Ibnu Taimiyyah mengatakan, ikatan nikah bisa terjalin dengan ungkapan yang bermakna nikah, dengan kata dan bahasa apa pun. Mana yang lebih afdhal? Mana yang lebih baik untuk dipakai? Wallahu A’lam bishawab. Nikah adalah perjanjian yang berat. Kita perlu menghayati ucapan ijabqabul. Salah satu syarat ijab-qabul adalah kedua pihak memiliki sifat tamyiz (mampu membedakan baik dan buruk), sehingga ia memahami perkataan dan maksud dari ijab-qabul itu. Di atas pemahaman terhadap maksud ijab-qabul, ada penghayatan. Sebagian dari kita mungkin lebih bisa merasakan makna di balik perjanjian yang sangat berat ini ketika diucapkan dalam bahasa Arab, karena ini merupakan bahasa Al-Qur’an. Tetapi sebagian lainnya, lebih dapat merasakan makna dari setiap kata yang didengar dan diucapkan ketika ketika menggunakan bahasanya sehari-hari, misal bahasa Indonesia. Jika Anda lebih mudah merasakan makna ijab-qabul dalam bahasa Arab, Anda dapat memilih untuk menggunakan bahasa Arab ketika berlangsung akad nikah. Tetapi jika Anda lebih mampu menghayati dan lebih mudah terharu dengan bahasa Indonesia, sesungguhnya akad-nikah dalam bahasa Indonesia tidak membuatnya lebih rendah nilainya dibanding bahasa Arab. Jika dengannya Anda lebih merasakan kedalaman arti akad nikah, insya-Allah bahasa Indonesia bisa lebih baik. Yang jelas, apa pun bahasa yang digunakan, akad nikah hendaknya tidak berbelit-belit dan terlalu mempersulit proses demi kesempurnaan adat istiadat. Keagungan pernikahan tidak diukur dari lengkap tidaknya mengulang kalimat ijab ketika mengucapkan qabul. Ini sekedar satu contoh saja. Juga, hendaknya kita tidak terjebak ke dalam keinginan untuk mencapai "suasana khusyuk" sehingga justru mempersulit diri. Jika kita menengok kisah-kisah pernikahan di masa shahabat dan beberapa generasi berikutnya, kita sering mendapati proses akad nikah yang begitu sederhana. Kadang terasa "terlalu sederhana" untuk ukuran kita yang senang berbelit-belit ini. Misalnya, bukan hal yang aneh kalau kita membaca seseorang minta dinikahkan --meminang-- lalu orangtua sang perempuan mengatakan, "Ya, kau kunikahkan dengan Fulanah binti Fulan." Selesai. Dan dari pernikahan-pernikahan semacam itulah justru lahir orang-orang yang memiliki keutamaan besar di dunia dan akhirat. Di zaman kita sekarang, agaknya sulit menjumpai model pernikahan yang sederhana seperti itu. Barangkali hanya tinggal di sebagian daerah Lamongan, Jawa Timur saja tradisi pernikahan Islami yang sangat sederhana tetap bisa berlangsung.

Kado Pernikahan 119

Proses pernikahan berlangsung sangat cepat. Begitu pinangan diterima --ini yang pernah terjadi-- orangtua si gadis langsung menyatakan, kurang lebih, "Bagaimana, akad nikah sekarang?" Jika ya, saksi bisa dipanggil dari tetangga kanan kiri. Perkara mahar, gampang. Bisa dicari. Walimah, bisa dipersiapkan besok. Sedang untuk hidangan sekarang, orang dapur bisa mempersiapkan. Saya tidak tahu apakah ada daerah lain yang masih mempunyai tradisi pernikahan yang sederhana dan Islami seperti itu. Jika masih ada daerah lain, saya kira itu ada di daerah-daerah basis pesantren yang masih kental budaya pesantrennya. Daerah-daerah Situbondo dan Probolinggo, barangkali. Wallahu A'lam bishawab. Siapa yang Menikahkan? Sesungguhnya yang paling berhak untuk menikahkan seorang anak wanita adalah ayahnya, karena dia adalah wali bagi anaknya. Tetapi adakalanya, keluarga pengantin wanita menyerahkan kepada orang lain untuk mengijabkan pernikahan anak wanitanya dengan laki-laki yang akan menjadi suami anaknya. Sesungguhnya pernikahan merupakan ikatan yang suci. Ketika seorang ayah mengucapkan ijab nikah, di dalamnya juga tersirat penyerahan tanggungjawab atas anak wanitanya kepada laki-laki yang ia telah mantap dengannya. Ketika mengijabkan, seorang ayah juga telah mempersaksikan bahwa tanggungjawabnya terhadap anak wanitanya telah tertunaikan. Jadi, ijab nikah bukan sekedar ucapan untuk mensahkan ikatan batin antara anak wanitanya dengan seorang laki-laki yang telah dipilihnya. Di dalamnya juga terdapat tanggungjawab ruhiyyah, semoga pernikahan ini menjadi jalan kebaikan bagi orangtua serta keluarga anaknya yang baru saja menikah. Ini antara lain tampak ketika seorang ayah mendoakan menantu laki-lakinya sebelum mengantarkannya untuk menemui istrinya di malam pertama. Anas bin Malik r.a. menceritakan kisah perkawinan Fathimah Az-Zahra r.a. Anas berkata, Nabi bersabda, “Bawakan aku air!” ‘Ali berkata, “Aku tahu apa yang dimaksudkan oleh beliau. Maka aku bangkit dan memenuhi gelas besar kemudian memberikannya. “Beliau mengambilnya lalu meludahinya, kemudian bersabda kepadaku, “Majulah!” Maka beliau menyiram kepalaku dan bagian depan tubuhku. Kemudian beliau bersabda: Khath Arab Allahumma innii u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithaanirrajiim. Ya Allah, sesungguhnya aku melindungi dirinya dan keturunannya dengan-Mu dari setan yang terkutuk.

Kado Pernikahan 120

Beliau bersabda, “Menghadap ke belakang!” Maka aku pun menghadap ke belakang. Lalu beliau menyiram daerah antara dua belikat, lalu berdoa: Khath Arab Inni u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithanir rajiim. Sesungguhnya aku melindunginya dan keturunannya dengan-Mu dari setan yang terkutuk. Kemudian bersabda, “Hai Ali, temuilah istrimu dengan membaca basmalah supaya mendapat barakah.” (HR. Abu Bakar bin As-Sina). Abu Bakar bin As-Sina menulis dalam kitabnya, “Abu ‘Abdurrahman memberitahukan kepada kami, ‘Abdul A’la bin Washil dan Ahmad bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Malik bin Isma’il menceritakan kepada kami, dari ‘Abdurrahman bin Hamid Ar-Rawasi, ‘Abdul Karim bin Salith menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya r.a. Dia menceritakan perkawinan Fathimah, lalu berkata: Pada saat malam pertama tiba, Nabi Saw. bersabda, “Hai ‘Ali, jangan mengucapkan apapun sebelum kamu menemuiku.” Kemudian Nabi Saw. meminta air. Beliau menggunakannya untuk wudhu, lalu membasuhkannya kepada ‘Ali sambil berdoa: Khath Arab Allahumma baarik fiihimaa wa baarik ‘alaihima wa lahumaa fii syamlihimaa. Ya Allah, barakahilah keduanya dengan barakah yang meliputi keharmonisan keduanya. Ketika seorang ayah mempercayakan anak wanitanya dengan ucapan ijab kepada calon menantu, insya-Allah ia berada dalam keadaan hati yang sangat bersih dan paling besar pengharapannya kepada Allah. Adapun kalau bukan ayah, maka keluarga wanita bisa meminta kepada orang yang ‘alim (berilmu) untuk mewakili ayah wanita tersebut dalam mengijabkan. Tetapi, siapakah orang ‘alim itu? Wallahu A’lam bishawab. Sepanjang pengetahuan saya orang ‘alim adalah orang yang sangat besar rasa takutnya kepada Allah dan mengetahui halal-haramnya suatu perkara. Wallahu A'lam bishawab. Ada perkara-perkara lain dalam masalah ijab-qabul. Tetapi bukan wilayah saya untuk membahasnya, termasuk yang berkenaan dengan orang yang mengijabkan pernikahan seorang wanita kepada seorang laki-laki. Adapun pembahasan saya sekilas tentang orang yang menikahkan, yang demikian ini sebagai ikhtiar untuk menyampaikan apa yang lebih utama dan insya-Allah lebih besar barakahnya.

Kado Pernikahan 121

Mudah-mudahan pernikahan yang baru saja berlangsung akan penuh barakah Allah dan dibarakahi atas mereka. Semoga dari pernikahan itu lahir keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Wallahu A'lam bishawab. Walimah Itu Ungkapan Syukur Kalau pernikahan sudah berlangsung, maka suami bisa menyelenggarakan walimah sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah. Melalui walimah, ia mengungkapkan kerendahan hatinya dengan meminta doa barakah kepada kaum muslimin yang datang; doa yang sungguh-sungguh, bukan sekedar mengikuti kebiasaan bikin undangan, serta mengumumkan kepada masyarakat bahwa dua orang yang bukan muhrim itu kini telah halal hidup bersama. Rasulullah Saw. menganjurkan kepada kita untuk mengadakan walimah ketika kita menikah. Rasulullah mengingatkan dengan sangat agar kita mengadakan walimah untuk pernikahan kita, sesederhana apapun. Banyak hadis yang menunjukkan perkara ini. Ketika Rasulullah mengetahui 'Abdurrahman bin Auf menikah --saat itu 'Abdurrahman bin Auf tidak menyelenggarakan walimah-- maka Rasulullah bersabda, "Buatlah sebuah perayaan, adakan walimahan meskipun hanya dengan memotong seekor kambing." Ada hadis yang senada dengan itu. Dari Anas r.a., ia berkata, "Rasulullah belum pernah berpesta untuk sesuatu kejadian sebagaimana yang Rasulullah lakukan terhadap Zainab, "Buatlah walimah, berpestalah meskipun hanya dengan memotong seekor kambing." (HR Bukhari dan Muslim). Masih banyak hadis-hadis lain yang berbicara tentang perintah untuk mengadakan walimah. Semuanya menunjukkan bahwa mengadakan walimah untuk sebuah pernikahan sangat penting. Dari sinilah lahir kesimpulan hukum tentang walimah. Sebagian besar 'ulama sepakat bahwa walimah hukumnya sunnah muakkadah. Dalam hal ini, masalah penting yang perlu kita ingat adalah, titik tekan anjuran walimah ada pada penyelenggaraan walimahnya, bukan pada penyembelihan seekor kambing sebagai pesta minimal. 'Abdurrahman bin Auf --sahabat utama Nabi Saw.-adalah termasuk orang paling kaya di masa itu, sehingga perkataan "meskipun hanya dengan memotong seekor kambing" menggambarkan penegasan tentang pentingnya mengadakan walimah. Tetapi jika untuk memberi mahar cincin besi saja tidak bisa, tentu ia tidak diharuskan mengadakan walimah dengan memotong seekor kambing. Sebab jika ini dilaksanakan, justru bisa mendatangkan madharat. Wallahu A'lam bishawab. Di Indonesia, umumnya pesta walimah diselenggarakan oleh orangtua dari mempelai wanita. Karena itulah, saya ingatkan kepada mereka agar memperhatikan kemaslahatan dalam menyelenggarakan pesta pernikahan untuk anaknya.

Kado Pernikahan 122

Menyelenggarakan pesta walimah secara berlebihan sampai di luar kesanggupan mereka atau pun menantunya, justru bisa mendatangkan madharat dan kerusakan sehingga pernikahan yang suci itu kehilangan barakah. Memaksakan diri dalam menyelenggarakan walimah juga bisa menjadi sunnah sayyi'ah, teladan buruk yang bila dicontoh orang lain akan menyebabkan kita berdosa. Wallahu A'lam bishawab. Ukuran berlebihan ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Kedua, penyelenggaraan walimah dibandingkan dengan kemampuan secara pribadi. Pesta walimah yang amat jauh lebih sederhana dari kebiasaan yang berlaku di masyarakat masih dapat digolongkan berlebihan, apabila untuk mengadakan walimah itu pengantin laki-laki atau orangtua pengantin perempuan sampai memaksakan diri melebihi kesanggupan ekonominya saat itu. Jadi, jika Anda mengadakan walimah dengan memotong seekor kambing, sementara untuk membeli seekor ayam pun Anda sangat kepayahan, maka walimah yang Anda laksanakan sudah termasuk berlebihan. Disebabkan oleh walimah itu, boleh jadi Anda sudah termasuk melampaui batas. Tindakan yang melampaui batas ini akan membawa akibat dalam dua hal. Pertama, beban bagi diri Anda pribadi. Kedua, hilang atau berkurangnya barakah pernikahan Anda lantaran agama tidak menyukai tindakan yang melampaui batas, termasuk dalam soal pernikahan. Kecuali Anda menyadari kekeliruan Anda dan beristighfar, mungkin Allah akan mengaruniakan barakah dan rahmat-Nya. Persoalannya kemudian, di zaman kita ini kadang seorang pengantin laki-laki tidak diberi kewenangan untuk menentukan bagaimana bentuk walimah yang sesuai dengan kemampuannya sendiri secara pribadi, tanpa mengaitkan dengan kemampuan orangtua atau saudaranya. Di sebagian daerah, adat istiadat pernikahan kaum Muslimin sudah bergeser jauh dari pesan Islam. Sehingga menyebabkan para pemuda mengalami kesulitan menikah disebabkan oleh tingginya biaya walimah yang harus ia tanggung. Ketika persoalan ini sudah menyangkut masalah prestise keluarga di hadapan masyarakat atau keluarga besan (mertua), maka persoalan yang suci dan penuh kemuliaan ini bergeser men-jadi persoalan harga diri pribadi dan harga diri keluarga. Alhasil, sistem pernikahan ini tidak mengkondisikan tumbuhnya pribadi yang matang, mandiri, dan berani bertanggung jawab --yang saking jarangnya, sampai-sampai terasa seperti slogan. Sistem pernikahan ini lebih cenderung membentuk orang untuk memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap orang lain, sekalipun itu kerabatnya sendiri, dan memudahkan tumbuhnya kekuasaan keluarga terhadap anak-anaknya, sekalipun sudah waktunya untuk mandiri. Sistem yang demikian ini juga menyulitkan lahirnya pemuda yang memiliki sikap laisal fataa ma yaquulu kaana abi, wa inna mal fataa ma yaquulu ha ana dza (bukan pemuda mereka yang berkata "inilah bapakku", tetapi sesungguhnya pemuda adalah yang berkata inilah dadaku). Selain itu, karena sistem yang demikian sering mempertaruhkan rasa malu seseorang atau bahkan keluarga di hadapan sekelompok orang atau masyarakat secara terbuka, maka secara jangka panjang mendorong orientasi setiap individu yang ada di

Kado Pernikahan 123

masyarakat itu untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mengangkat prestise keluarga daripada apa yang membawa kemaslahatan sangat besar bagi masyarakat. Juga, karena sistem semacam itu mempersulit perkara yang sebenarnya sederhana, akhirnya menimbulkan perasaan takut pada pemuda untuk memenuhi panggilan agama ini dengan wanita-wanita setempat. Rentetan akibat berikutnya tentu sangat panjang. Salah satu yang sempat saya identifikasi adalah keluarnya ketentuan dari pemuka masyarakat yang melarang pemudanya untuk menikah dengan wanitawanita dari lain suku. Ini, tentu saja, merupakan langkah yang tidak tepat dan dapat membawa masyarakat kepada kejumudan yang besar. Disamping itu, langkah yang semacam ini tidak akan mampu mengobati kerawanan sosial dengan sempurna. Langkah itu hanya mengobati simptom (gejala), bukan akar penyakitnya. Kembali ke soal berlebihan tidaknya pesta pernikahan yang kita selenggarakan. Jika walimah seyogyanya dilakukan berdasarkan kemampuan mempelai laki-laki secara pribadi, apakah ini berarti keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai perempuan tidak boleh mengeluarkan biaya untuk acara tersebut? Letak persoalannya bukan di sini. Letak persoalannya terletak pada ada tidaknya hal-hal yang membuat seorang mempelai laki-laki menyelenggarakan walimah jauh melampaui batas kemampuan wajarnya, terpaksa atau tidak. Ada pun kalau pihak keluarga mempelai wanita atau keluarga mempelai laki-laki ada yang berinisiatif untuk ikut membantu menyelenggarakan walimah, insya-Allah baik saja, sejauh hal itu memang diniatkan untuk membantu. Apalagi kalau niatnya lebih luhur lagi, bukannya sekadar demi mempertahankan harga diri keluarga. 'Alaa kulli hal, karena walimah merupakan ungkapan syukur kepada Allah sekaligus majelis untuk meminta doa para hadirin agar pernikahan kita barakah, maka hendaknya walimah itu tidak merendahkan asma'-Nya yang tinggi lagi mulia. Maksud saya, penyelenggaraan walimah hendaknya tidak mengakibatkan kita secara sengaja mengejek Tuhan dengan alasan keadaan dharurat. Misalnya, apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan berhias sebelum memasuki waktu shalat Dzuhur --kadang malah persiapannya sejak sebelum Subuh-- dan melewati beberapa waktu shalat tanpa menyentuh air demi menjaga agar keindahan rias tidak rusak oleh air wudhu. Saya sempat sedih dan merasa terpukul ketika pada suatu pesta pernikahan, seseorang dengan ringan berkata bahwa Allah Maha Pengampun. Benar bahwa Tuhan Maha Pengampun, tetapi Dia juga Maha Pedih Siksa-Nya. Saya juga merasa bingung ketika dalam pesta pernikahan yang lain periasnya bercerita, biasanya ia merias pengantin sebelum masuk waktu shalat, kecuali jika pengantinnya termasuk orangorang yang dipandang taat. Padahal, itu untuk pesta-pesta walimah yang diadakan sore atau malam hari. Sehingga merias sebelum memasuki waktu shalat --kecuali jika sedang mens-- berarti secara sengaja mengabaikan waktu shalat. Saya belum termasuk orang yang khusyuk. Tetapi ketika mendengar hal yang semacam itu, saya jadi bertanya apakah pesta pernikahan itu tidak justru memburukkan taat kita kepada Allah di saat Ia menyempurnakannya? Apakah kita tidak mendustakan-Nya ketika mengatakan dharurat (apa boleh buat, terpaksa

Kado Pernikahan 124

begini), padahal saat itu kita sedang mendapat kemudahan dan kebaikan dari-Nya? Atau, jangan-jangan sikap kita seperti itu memang telah menjadi doa mohon keadaan dharurat sehingga kita sekarang mengalami kesulitan yang bermacam-macam di negeri ini. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim. Masih banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang acara walimah nikah ini, semoga walimah tidak menjadikan pernikahan kita berkurang barakahnya. Apalagi sampai merusak dan menghapus barakah atas pernikahan kita, sehingga kita mendapati rumah tangga kita kering, gersang, menjengkelkan, dan penuh pertengkaran. Masih banyak yang bisa kita bicarakan agar walimah nikah dapat menjadi ungkapan syukur kita yang jernih dan kerendahan hati kita untuk meminta doa dengan tulus, lalu para tamu pun be-nar mendoakan dengan hati yang ikhlas (bukan sebagai basa basi sosial) sehingga Allah berkenan melimpahkan barakah-Nya. Semoga melalui pernikahan yang barakah itu Allah berkenan memberi syafa'at kepada kita, kelak di hari kiamat. *** O ya, satu lagi masalah yang berkenaan dengan walimah. Sebagian dari kita ada yang bersikap sangat keras sehingga pengantin wanita sama sekali tidak mau keluar untuk menjumpai tamu dari kaum laki-laki dengan mengajukan argumentasi (hujjah) perintah hijab bagi Ummahatul Mukminin, istri-istri Nabi. Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam soal hijab, kecuali dengan meyakini wajibnya menutup aurat secara sempurna dengan mengulurkan kain yang menutupi dada. Saya tidak berpanjang-panjang dalam soal ini karena bukan bagian saya. Yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah, seorang pengantin wanita boleh menjumpai tamu laki-laki berdasarkan sebuah hadis shahih riwayat Bukhari & Muslim. Dari Sahal, dia berkata, "Ketika Abu Usaid As-Sa'idi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi Saw. beserta para sahabat beliau. Maka tidak ada yang membuat makanan dan menghidangkannya pada mereka selain istrinya, Ummu Usaid. Dia telah merendam beberapa biji kurma di dalam satu bejana kecil yang terbuat dari batu pada malam harinya. Tatkala Nabi Saw. selesai makan, Ummu Usaid menghancurkan kurma tersebut, lalu menuangkannya sebagai hadiah khusus untuk Nabi Saw." (HR Bukhari & Muslim). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah shahih Bukhari paling otoritatif, menerangkan, "Hadis ini dapat dijadikan dalil mengenai diperbolehkannya wanita melayani suami dan tamu undangannya, tapi dengan catatan tidak menimbulkan fitnah, serta dengan tetap memperhatikan hal-hal yang wajib dia tutup." Ada dua catatan yang diberikan oleh Al-Hafizh sehubungan dengan pembolehan wanita melayani suami dan tamu undangan, yaitu tidak menimbulkan fitnah serta dengan tetap memperhatikan hal-hal wajib dia tutup. Dua hal inilah barangkali yang sulit dijaga sehingga membuat sebagian dari kita bersikeras tidak mau menampakkan diri sama sekali di hadapan para undangan --yang terdiri dari wanita dan laki-laki-- lalu ada kesan bahwa menampakkan diri ketika walimah adalah tidak
Kado Pernikahan 125

boleh. Padahal untuk melayani undangan laki-laki saja dibolehkan, asal memenuhi dua ketentuan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar. Wallahu A'lam. Masalah ini perlu saya kemukakan kepada Anda atas dua alasan. Pertama, saya melihat sikap tidak mau menampakkan diri sama sekali mulai merebak, sehingga kadang-kadang menimbulkan "fitnah" di masyarakat. Jika sikap itu dikarenakan tidak bisa memenuhi dua ketentuan dari Al-Hafizh, maka yang demikian itu insya-Allah akan membawa kebaikan. Apalagi kalau bisa menjelaskan kepada tamu dengan cara yang baik. Kedua, saya menyampaikan disebabkan oleh kekhawatiran saya bahwa hal ini dipandang haram. Sikap ini saya dasarkan pada peristiwa ketika Sayyidina 'Ali karamallahu wajhahu minum sambil berdiri seraya mengatakan kepada khalayak tentang dibolehkannya minum sambil berdiri. Selengkapnya tentang peristiwa Sayyidina 'Ali ini bisa Anda baca pada bab Keindahan Suami-istri. Begitulah. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita, dunia dan akhirat. Selebihnya, karena walimah sudah selesai, saya hanya bisa menitip doa semoga pernikahan Anda penuh barakah. Doa yang maksudnya sama dengan doa Anda tatkala mengecup ubun-ubun istri di malam zafaf: Khath Arab Barakallahu likulli waahidin minnaa fii shaahibihi. Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya. Ya Allah Ya Rahim, barakahilah pernikahan orang-orang yang mengharapkan barakah-Mu. Allahumma amin. Ehmm, karena tamu-tamu sudah pulang ke rumah masing-masing dan burungburung juga sudah kembali ke sarangnya, maka jangan lupa: malam zafaf Anda telah tiba. Di kamar pengantin, istri Anda telah lama menunggu. Maka jangan biarkan ia gelisah karena Anda tak kunjung datang untuk menghabiskan malam bahagia dan penuh barakah (mudah-mudahan. Allahumma amin). Tapi sabar dulu. Sebelum memasuki malam zafaf, apa yang sudah Anda ketahui tentang malam yang penuh cerita? Bagaimana agar malam zafaf terlewatkan dengan baik, dan bukannya meninggalkan cerita duka dan benih kekecewaan? Ada ilmunya. Mudah-mudahan Allah menjadikan tulisan berikut ini bermanfaat dan penuh barakah bagi kita semua, terutama bagi Anda yang akan memasuki malam zafaf. Dan agar Anda tak terlalu gelisah, inilah pembahasan tentang malam zafaf itu. Silakan mencermati.

Kado Pernikahan 126

Memasuki Malam Zafaf Masa sesudah akad nikah adalah saat yang peka. Hari itu seorang jejaka baru saja menjadi suami, dan seorang gadis memulai kehidupannya sebagai istri. Perasaan mereka sangat sensitif ketika pertama kali bertemu dan berdekatan. Ada salah tingkah, tapi ada perasaan ingin dekat. Ada rasa bahagia, tapi tak sedikit canggungnya. Agak takut, tapi juga agak terbuka. Malam zafaf memang malam yang peka. Kekecewaan di malam ini, bisa membawa pengaruh bagi kehidupan selanjutnya. Kebahagiaan atau sentuhan perasaan yang dalam sangat membantu keduanya untuk hidup bersama menuju keluarga barakah. Keindahan di malam zafaf menjadi jalan untuk saling menerima, saling percaya dan rasa cinta yang diliputi kerinduan-kerinduan halus. Adapun salah tingkah dan canggung, itu adalah rahmat Allah Ta'ala. Maha Besar Allah dengan segala rahmat-Nya. Insya-Allah ini akan kita bicarakan nanti. Lalu, apakah malam zafaf itu? Inilah malam ketika seorang wanita pertama kali memasuki rumah suaminya setelah ia dinikahkan. Ini adalah malam ketika ia pertama kali berdekatan dengan suami dalam satu kamar --yang meskipun luas, rasanya sempit saja. Sederhananya, malam zafaf adalah malam pemboyongan istri ke kamar suaminya. Pada masa sekarang, malam zafaf adalah malam ketika pertama kali mereka bermalam bersama. Yang tidak sederhana adalah bagaimana menghabiskan malam zafaf itu. Yang demikian ini agar Anda dapat menikmati keindahan agung sebagai suami-istri. Mudah-mudahan dengan demikian malam zafaf Anda akan penuh barakah. Sehingga hari-hari berikutnya Anda merasakan ketenteraman jiwa (sakinah), kecintaan yang tulus (mawaddah) dan rahmah. Ada beberapa hal yang diajarkan oleh agama kita agar pengantin baru memperoleh kenikmatan yang mesra di malam zafaf. Jika Anda akan memasuki malam zafaf, kesampingkan dulu salah tingkah Anda. Mari kita simak beberapa hal yang mudah-mudahan dapat membawa rumahtangga Anda penuh rasa cinta dan harmonis (ulfah). Kelengkapan Zafaf Pengantin baru perlu melakukan beberapa persiapan sehingga malam zafaf terlaksana dengan penuh barakah dan keindahan yang tak terlupakan. Persiapan ini meliputi fisik, atribut-atribut kebendaan, maupun persiapan psikis dan ruhiyyah. Persiapan-persiapan fisik inilah yang saya sebut sebagai kelengkapan zafaf, sematamata agar tulisan ini hanya dibaca oleh mereka yang telah memerlukan. Seorang laki-laki maupun wanita perlu memperhatikan kelengkapan zafaf ini. Mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah bagi kedua mempelai di malam pertama mereka.

Kado Pernikahan 127

Kelengkapan Laki-laki Seorang lelaki, kata Ustadz Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa, hendaknya berhias dengan menghilangkan bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, membersihkan janggutnya, menggunting kukunya, mandi dengan air dan sabun, dan memakai pakaian yang baru jika berkemampuan. Jika tidak, maka hendaklah ia memakai pakaian yang bersih. Seorang lelaki dianjurkan untuk berhias di malam itu. Sebab, hubungan seksual di malam itu mempunyai kesan yang sangat dalam untuk jangka waktu yang sangat lama, kata Mahmud Al-Shabbagh. ‘Aisyah r.a. pernah ditanya, “Pekerjaan apa yang mula-mula dilakukan oleh Nabi pada saat beliau memasuki rumahnya?” ‘Aisyah menjawab, “Sikat gigi.” (HR Muslim). Ada kemungkinan, kata Al-Shabbagh, bahwa Nabi Muhammad Saw. Melakukan hal itu untuk menyambut istri beliau dengan ciuman. Alangkah manisnya jika seorang suami mencium istrinya bila hendak meninggalkan rumahnya pada pagi hari, dan jika bertemu lagi dengan istrinya pada sore harinya, agar tetap awet muda. Sebelum memasuki malam zafaf, seorang laki-laki hendaknya memotong kumisnya dan merapikan jenggotnya. Jenggot bukan untuk dicukur, karena memanjangkan jenggot merupakan sunnah. Sedang wewangian akan menyempurnakan kelengkapan fisik sehingga lebih indah bagi Anda berdua. InsyaAllah. Kelengkapan Wanita Wanita hendaknya melakukan beberapa hal untuk memasuki malam zafaf. Wanita hendaknya memotong kuku-kukunya terutama kuku jemari tangan. Yang demikian ini agar tidak menjadikan malam zafaf kurang mengenakkan di ujungnya, karena ketika wanita mencapai puncak kenikmatan dalam berhubungan intim, wanita banyak mengenakan jari-jemari tangannya pada suami dengan cengkeraman yang kuat. Mengenai rambut, wanita hendaknya dalam keadaan bersih ketika memasuki malam zafaf. Ia telah mencukur rambut ketiaknya sehingga bersih. Juga mencukur rambut kemaluannya1. Yang demikian ini termasuk perkara-perkara sunnah. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Kami pernah bersama-sama Nabi Saw. dalam suatu perang. Pada saat kami telah selesai, kami bergegas menunggangi unta yang lambat jalannya, sehingga aku tersusul oleh seorang penunggang dari belakangku. Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba aku bertemu dengan Rasulullah Saw. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tergesa-gesa?’ Aku menjawab, ‘Baru saja aku menikah (menjadi pengantin).’ Beliau bertanya, ‘Gadis atau janda yang engkau nikahi?’ Aku menjawab, ‘Janda!’

Kado Pernikahan 128

Nabi bersabda, ‘Hendaklah engkau menikah dengan seorang gadis agar engkau bisa bermain dengannya dan ia bisa bermain denganmu.’ Jabir berkata, ‘Maka pada saat kami tiba, kami berangkat untuk masuk.’ Beliau lantas berkata, ‘Bersabarlah! Masuklah kalian pada waktu malam atau waktu Isya’ agar wanita yang rambutnya kusut bisa menyisirnya dan wanita yang ditinggal pergi dapat mencukur bulu kemaluannya.’” (HR Bukhari). Rasulullah Saw. bersabda, “Lima perkara dari fithrah; mencukur bulu kemaluan, berkhitan, menggunting kumis, mencabuti bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR Jama’ah). Dari Anas bin Malik r.a., berkata, “Telah dijangkakan waktu untuk kami terhadap urusan menggunting kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari2, yakni jangan lebih dari empat puluh hari sekali.” (HR Muslim dan Ibnu Majah). Inilah perkara-perkara sunnah yang berkenaan dengan kebersihan. Melaksanakannya insya-Allah akan dirahmati. Sehingga kita mendapatkan kemanisannya kelak setelah hari perhitungan. Apalagi untuk malam zafaf. InsyaAllah ada hikmah yang sangat besar di dalamnya. Sebagian kecil dari hikmah itu adalah agar di malam zafaf itu pengantin wanita memiliki askhanu aqbalan. Apa yang dimaksud dengan askhanu aqbalan? Askhanu aqbalan adalah lebih hangatnya vagina pada seorang wanita. Sebagian sahabat Nabi menganjurkan kita agar tetap menikahi gadis-gadis karena lebih hangat vaginanya (askhanu aqbalan). Mereka lebih hangat dibanding janda. Dan seorang gadis dapat mencapai yang lebih hangat lagi dengan mencukur rambut kemaluannya sehingga bersih. Dalam sebuah hadis disebutkan, Khath Arab “Kawinilah oleh kalian perawan sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya, lebih hangat vaginanya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.” (HR Abu Na’im melalui Ibnu Umar r.a. Periksa Mukhtarul Ahaadits). Manfaat mencukur rambut kemaluan bagi wanita, agar ia lebih dapat terdorong gairahnya untuk menikmati hubungan seksual pertama bersama suaminya. Sementara suaminya belum begitu ia kenal. Kalaupun sebelumnya sempat mengenal, tak pernah sedekat ini. Sehingga ada salah tingkah, canggung, sekaligus perasaan malu bercampur rindu dan takut. Kalau gairahnya tumbuh dan perasaannya terbangkitkan, insya-Allah malam zafaf akan menjadi malam yang sangat mengesankan dan sulit terlupakan. Adapun bagi laki-laki, bersihnya kemaluan wanita dan askhanu-aqbalan dapat membuatnya lebih bersemangat sekaligus memudahkannya melaksanakan tugas sakralnya dengan

Kado Pernikahan 129

baik, sekalipun ia masih gugup dan berkeringat cemas. Mudahmudahan mereka memperoleh kenikmatan yang sempurna dan penuh barakah. Mudah-mudahan dari pertemuan pertama di malam zafaf itu lahir keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Malam itu pengantin wanita juga perlu memakai wangi-wangian, agar malam zafafnya dipenuhi malaikat rahmat dan menjadikan suami terkesan karena bau yang pertama kali tercium dari istrinya adalah yang sedap. Wewangian ini terutama dipakai pada daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari, ma'athif (antara leher dan geraham), kening, lipatan payudara serta kemaluan, yaitu pada dindingdindingnya serta permukaannya, bila perlu. Khusus pada daerah lipatan, kalau pun tidak sempat memberi wewangian, cukuplah dalam keadaan bersih. Dari ‘Aisyah r.a., berkata, “Sepuluh perkara dari fithrah; menggunting kumis, menurunkan sedikit jenggot, bersikat gigi, berkumur-kumur dan menghisap air ke dalam hidung, memotong kuku, membasuh lipatan-lipatan anak jari, lipatan-lipatan telinga, mencabuti bulu ketiak, mencukur bulu-bulu air, beristinja, dan saya telah lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur.” (HR Ahmad, Muslim, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi). Dalam sebuah hadis shahih ‘Aisyah menceritakan kepada kita tentang wewangian wanita. Katanya, “Kami keluar bersama Nabi Saw. ke Makkah. Maka kami ikatkan pada dahi pembalut yang diberi wewangian ketika kami berihram. Ketika salah seorang dari kami berkeringat dan mengalir di wajahnya, lalu Nabi Saw. melihatnya, maka beliau tidak melarangnya.” (HR Abu Dawud, shahih). Dari Umainah binti Rafiqah, bahwa istri-istri Nabi Saw. membuat pembalutpembalut yang di dalamnya terdapat wars dan za’faran, lalu mereka mengikatkan pada bagian bawah rambut mereka dari dahi mereka, sebelum mereka berihram. Kemudian mereka berihram dalam keadaan seperti itu. (HR Ath-Thabrani)3. Mengharumkan kemaluan setelah membersihkan dengan kapas, terdapat pada tuntunan bersuci dari haid. Di malam zafaf, ada baiknya wanita memasukinya dalam keadaan telah memberi wewangian pada kemaluannya. ‘Aisyah menerangkan bahwa Asma’ bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang mandi haid. Nabi menjawab, “Hendaklah seseorang kamu mengambil air beserta daun bidara, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian sesudah itu, hendaklah menyiramkan air atas kepalanya dan menggosok-gosoknya, hingga sampailah air ke pangkal rambutnya. Sesudah itu, baru menuangkan air ke dalamnya. Sesudah itu, hendaklah ia mengambil sepotong kapas yang sudah dikasturikan (diberi minyak wangi), lalu ia membersihkan diri dengan dia.” Kala itu Asma’ bertanya, “Bagaimana ia membersihkan diri dengan kapas yang dikasturikan itu, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Subhanallah, kau bersuci dengan itu.”

Kado Pernikahan 130

Kala itu ‘Aisyah dengan suara yang halus berkata, “Kau menggosok-gosokkan dengan dia tempat-tempat bekas darah (pada dinding kemaluan) yang telah kotor dengan darah haid.” Dan Asma’ bertanya lagi tentang mandi janabah. Maka Nabi menjawab, “Hendaklah ia mengambil air, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian barulah ia menuangkan air atas kepala dengan menggosok-gosokkan kepalanya sehingga air itu sampai ke pangkal rambutnya (ke tulang kepala). Sesudah itu barulah ia menuangkan air atas badannya.” Di akhir pembicaraan, ‘Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita ialah wanita Anshar. Mereka tidak malu bertanya tentang hal-hal agama.” (HR Muslim, shahih). Berkenaan dengan berhias dan wewangian bagi wanita, ada baiknya kita mengingat hadis dari Abu Hurairah. Khath Arab Wewangian lelaki adalah yang tampak baunya dan tersembunyi warnanya. Dan perhiasan wanita adalah apa yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya. (HR An-Nasa’i dan At-Tirmidzi. Muhammad Nashiruddin Al-Albani menilai hadis yang dikeluarkan At-Tirmidzi sebagai hadis shahih). Perhiasan seorang lelaki adalah yang tampak baunya dan tersembunyi warnanya. Ini adalah perhiasan yang terpuji bagi laki-laki. Sedang bagi wanita, perhiasan yang ter-puji adalah yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya. Maksud perkataan ini adalah, wewangian yang dipakai seorang wanita tidak tercium harumnya oleh orang lain kecuali dengan berdekatan betul. Dan tidak ada laki-laki yang diperbolehkan untuk berdekatan dengan seorang wanita dengan kedekatan yang rapat kecuali suaminya. Wallahu A’lam bishawab. Kelak ketika tak ada mata yang melihat kecuali mata suaminya, wanita boleh memakai ghumrah (pemerah pipi dari minyak za’faran). Juga boleh menggunakan perhiasan lain. Wanita-wanita dewasa dapat menghias pengantin wanita sehingga menjadi wanita tercantik dan paling anggun di malam itu, sebagaimana para wanita dulu juga menghias ‘Aisyah sebelum dipertemukan dengan Rasulullah. Selain itu, wanita ada baiknya bercelak. Dari Ibnu ‘Abbas r.a., berkata, “Nabi Saw. bersabda, ‘Hendaklah kamu selalu bercelak, karena celak itu menumbuhkan bulu mata, menghilangkan kotoran-kotoran pada mata dan membersihkan penglihatan’.” (HR Ath-Thabrani). Tapi terlarang baginya untuk mencukur alisnya. Mencukur alis merupakan salah satu cara berhias untuk memperoleh kesan mata lebih sayu. Mata yang terkesan terlalu lebar --menurut pemilik mata bersangkutan-- dapat diubah kesannya menjadi lebih sipit dengan cara mencukur sebagian alis. Tetapi Rasulullah melarang cara ini.

Kado Pernikahan 131

Nabi Saw. melaknat cara ini. Karena itu, tidak ada tempat bagi wanita untuk mempercantik diri dengan mencukur alis. Kata Ibnu Mas’ud r.a. : Khath Arab Rasulullah Saw. melaknati perempuan yang membuat tahi lalat, perempuan yang minta dibuatkan tahi lalat, perempuan yang menipiskan alis mata dan perempuan yang mengikir giginya supaya menjadi baik yang mengubah ciptaan Allah. Kemudian ada seorang perempuan yang bertanya kepadanya tentang itu. Maka beliau berkata, “Bagaimana aku tidak melaknati orang yang dilaknati oleh Rasulullah Saw., sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” Di malam itu, wanita juga boleh menggunakan cincin untuk berhias. Masih ada pembahasan lain yang lebih khusus berkenaan dengan persiapan untuk melakukan hubungan intim. Insya-Allah kita akan membicarakan dengan tenang masalah ini pada bab Keindahan Suami-istri. Adapun untuk memasuki malam zafaf, insya-Allah pembahasan ini telah cukup. Kelengkapan Tambahan Ada kelengkapan tambahan yang dapat dilakukan oleh suami. Sebelum memasuki malam zafaf, suami bisa menata tempat tidur dengan baik. Ia menutupinya dengan sprei yang bersih. Sprei yang baru diseterika insya-Allah lebih baik, karena lebih memberikan kenyamanan dan kehangatan. Juga, suami dapat memberi wewangian pada permukaan spreinya sehingga harum dan sedap. Pada masa sekarang, malam pertama umumnya di rumah orangtua istri. Karena itu, sebaiknya istri yang menata tempat tidur dan memberikan sprei yang hangat. Seorang wanita insya-Allah dapat memilih parfum untuk tempat tidurnya yang pas, tidak terlalu harum dan tidak menyengat baunya. Ia bisa memilih bau-bau yang lembut, jika memungkinkan. Adapun kalau sulit dilakukan, sprei yang bersih telah cukup. Berkenaan dengan pakaian pada malam zafaf, seorang lelaki hendaknya tetap menjaga agar pakaian yang dikenakan tidak memperlihatkan aurat. Sebab yang demikian itu makruh, kata Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa menjelaskan. Ia bisa mengenakan pakaian yang menarik, tetapi tetap sederhana. Pengantin wanita bisa mengenakan pakaian-pakaian yang bagus dan menarik, sehingga ia terlihat anggun di malam itu. Wanita juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan pakaian yang tidak menyulitkan tugas suami. Mungkin suami Anda termasuk yang masih canggung dan rikuh.

Kado Pernikahan 132

Mengajak Istri Shalat Bersama Ada saat-saat untuk merasakan keindahan. Ada saat-saat untuk menghayati kebesaran Tuhan Yang Telah Men-ciptakan. Sangat besar kasih-sayang Allah kepada kita. Dan hari ini, Allah mengaruniakan kepada kita seorang sahabat, penyayang, pelindung, pengasih dan pemberi ketenteraman. Di saat inilah kita perlu mengingat kebesaran Allah dan mensyukurinya. Malam ini adalah malam pertama untuk memasuki malam-malam berikutnya sebagai suami-istri. Hari ini ada-lah hari pertama untuk melangkah ke hari-hari berikutnya yang panjang. Mudah-mudahan kita dapat tetap bersama-sama sampai kelak hari perhitungan di hadapan mahkamah Allah. Maka, alangkah baiknya jika malam ini kita awali dengan shalat sunnah bersama. Kita mulai kehidupan kita sebagai suami-istri dengan menyebut-nyebut nama-Nya dan menundukkan diri di hadapan-Nya. Kita memohon pertolongan kepada-Nya. Kita memohon perlindungan-Nya dari segala keburukan, yang tampak oleh kita maupun yang tidak tampak. Mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah atas malam pertama kita dan malam-malam berikutnya. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita dari pertemuan di malam ini keturunan yang penuh barakah, keturunan yang dapat menjadi syafa’at bagi kita kelak di yaumil-hisab. Ketika malam zafaf tiba, ada baiknya engkau memasuki kamar pengantin dalam keadaan berwudhu. Sehingga ketika suamimu masuk, engkau dapat mengikuti shalat di belakangnya. Shalat dua raka’at untuk memohon agar jalinan perasaan (al-’athifah) berupa rasa kasih dan sayang antara engkau dan suamimu dapat berkembang dan mengakar kuat di jantung hatimu. Sedang benih-benih kebencian dapat dimatikan sebelum tumbuh. Mudah-mudahan pula, akan dipenuhi Allah dengan barakah-Nya. Barakah bagi Anda berdua maupun barakah bagi keluarga Anda, baik dari pihak istri maupun dari pihak suami. Sesungguhnya, sebaik-baik pernikahan adalah yang paling besar barakah-Nya. Karena itu, marilah kita awali malam zafaf ini dengan shalat dua raka’at. Apabila aku telah bertakbir, maka ikutilah dengan takbir di belakangku. Sesungguhnya, shalat bersama dua rakaat bagi pengantin baru, dapat menjauhkan keduanya dari perasaan benci. Saat-saat awal memang penuh keindahan. Tetapi di saat-saat awal pula, benih-benih kebencian mudah tumbuh. Ketidakpercayaan mudah muncul di hati masing-masing. Dan dengan shalat dua raka'at, insya-Allah keburukan itu menjauh dengan rahmat Allah. Telah diriwayatkan dari Syaikh Syaqiq, ia berkata, “Datanglah seorang lelaki bernama Abu Huraiz, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku menikah dengan perempuan gadis, dan aku merasa khawatir ia membenciku”. Maka ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata,

Kado Pernikahan 133

Sesungguhnya rasa kasih itu dari Allah, sedang kebencian itu dari setan dimana ia berkeinginan untuk membencikan kepada kalian pada apa yang telah Allah halalkan bagimu. Maka apabila istrimu datang kepadamu, maka perintahlah agar ia shalat di belakangmu dua raka’at, dan berdo’alah Anda, “Ya Allah barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka padaku. Ya Allah, kumpulkan antara kami apa yang Engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara Kami jika Engkau memisahkan menuju kebaikan”. (Ditakhrij oleh Ibnu Syaibah). Ada doa-doa lain yang bisa dipanjatkan ketika itu. Ada yang berupa rangkaian doa untuk memohon barakah dengan cinta kasih dan penerimaan istri atas diri kita. Sesudahnya dilanjutkan dengan doa memohon keturunan yang bertakwa. Kemudian segera diikuti dengan mengajak istri mengecap kemesraan bersama. Tentang ini, Anda bisa mencari di berbagai sumber. Insya-Allah ada banyak sumber yang bisa Anda rujuk untuk doa sesudah shalat bersama. Tetapi, sebelum shalat, ada doa yang sebaiknya tidak Anda abaikan. Ketika pertama kali menemui istri di malam perkawinannya, suami disunatkan menyebut asma' Allah. Lalu memegang nashiyahnya pada permulaan menjumpainya, kata Imam An-Nawawi, dan mengucapkan doa berikut: Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya. Doa ini diucapkan dengan memegang dan mengecup nashiyah istri. Apa nashiyah itu? An-nashiyah adalah rambut yang tumbuh di bagian depan kepala. Makna yang dimaksud ialah ubun-ubun, baik yang ada rambutnya ataupun tidak. Dalil memegang ubun-ubun di atas ialah hadis Abu Dawud dan Nasa’i serta Abu Ya’la Al-Maushuli, melalui Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya secara marfu’ dengan adanya sanad ini. Demikian keterangan yang saya ambil dari AlAdzkaar Imam An-Nawawi. Kemudian dilanjutkan dengan doa lain, misalnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Sinni dalam hadis yang shahih: Khath Arab Apabila salah seorang dari kamu menikahi seorang perempuan, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, membaca basmalah dan memanjatkan doa memohon barakah, serta mengucapkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. Kalau engkau sudah mengucapkan doa, maka sekarang engkau bisa bergegas shalat bersama istrimu. Sebelum mengajaknya melakukan kebersamaan, ajaklah untuk beristighfar. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahankesalahan dan memulai kehidupan baru dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan hati dan niat yang lebih baik.

Kado Pernikahan 134

Wallahu A’lam bishawab. Masalah Kita Shalat bersama di malam zafaf (secara umum di hari pertama setelah akad nikah) sangat baik dilakukan untuk memohon barakah dan ulfah (keharmonisan) kepada Allah Ta'ala, sehingga tidak ada kebencian yang tersisa di hati kita. Masalahnya, rangkaian acara setelah akad kadang demikian panjangnya dan langsung bersambung dengan walimah. Rangkaian acara yang panjang kadang demikian melelahkan, sehingga suami-istri yang baru menikah itu tidak berkesempatan untuk melaksanakan shalat bersama dua rakaat. Alhasil, shalat bersama dua rakaat tidak bisa dilangsungkan di hari pertama. Nah, kalau begitu, apa yang harus Anda lakukan? Makanan Kecil Pembuka Ketika suami mendatangi istrinya pada malam zafaf, kata Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa, maka hendaknya ia tersenyum kepada istrinya dengan wajah yang manis sambil menyampaikan salam penghormatan kepadanya dengan ucapan: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Semoga kesejahteraan atasmu rahmat Allah dan barakah-Nya. Dalam kaitannya dengan ini, telah diriwayatkan hadis dari Anas r.a. bahwa ia berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda kepada saya, Khath Arab Wahai Anakku, jika engkau datang pada keluargamu, maka ucapkan salam, maka akan menjadikan kebarakahan atasmu dan atas keluargamu (penghuni rumahmu). (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata, “Ini hadis hasan lagi shahih). Pada malam zafaf ini, suami hendaknya bersikap lemah lembut dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati dengan perkataan yang halus dan menyenangkan. Ini insyaAllah akan mencairkan kekakuan. Kalaupun wajah masih gugup dan tangan masih gemetar, rasa cinta dan kedamaian berada di dekat suami mulai terasa bergetar di dada. Perkataan yang halus dan menyenangkan ini diikuti dengan sikap penuh kasihsayang ketika membuka malam zafaf dengan segelas susu atau sedikit makanan kecil yang manis-manis. Di malam zafaf ini, segelas susu berdua bukanlah retorika bahasa agar tulisan ini terasa indah. Tetapi demikianlah contoh yang sampai kepada kita. Segelas susu berdua di awal pertemuan dapat menghapus kekakuan di antara kedua mempelai. Ada kemesraan dan kelembutan yang tumbuh. Ada jalinan perasaan

Kado Pernikahan 135

yang mulai terajut. Ada sikap kikuk mencair pelahan ketika Anda berdua meminum dari gelas yang sama. Insya-Allah. Saya kira pembicaraan kita tentang segelas susu berdua cukup sampai di sini. Silakan Anda melanjutkan sendiri dengan menyeduh segelas susu untuk malam zafaf Anda kelak. Selebihnya, mari kita dengarkan cerita dari Asma' binti Yazid bin Sakan: Khath Arab Aku menghias ‘Aisyah untuk Rasulullah Saw., lalu aku datang kepadanya. Kemudian aku memanggil beliau supaya memandang ‘Aisyah secara jelas. Beliau kemudian datang di sampingnya. Selanjutnya didatangkan sebuah wadah besar berisi susu. Beliau meminumnya. Lalu Nabi memberikan kepada ‘Aisyah. Ketika itu ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan merasa malu. Asma’ berkata, “Kemudian aku membentaknya dan berkata kepadanya, ‘Terimalah dari tangan Nabi Saw.” Asma’ berkata lagi, “Lalu ia menerimanya dan meminumnya sedikit.” Kemudian Nabi bersabda kepadanya, “Berilah temanmu itu.” (HR Ahmad). Apakah Sekarang Saat yang Tepat? Salah satu keindahan yang berhak dirasakan oleh suami-istri adalah saat ketika mereka telah bersatu dalam kemesraan yang dalam. Mereka mencapai kenikmatan yang belum pernah terasakan sebelumnya ketika melakukan hubungan seks. Inilah keindahan dan sekaligus kenikmatan yang oleh Allah dijanjikan pahala besar di sisiNya. Bagi Anda pahala shalat Dhuha sampai pahala anak laki-laki yang gugur di medan perang ketika melakukan itu kepada istri. Tetapi apakah sekarang saat yang tepat untuk maksud tersebut? Bukankah suami-istri masih rikuh dan gugup ketika bertemu? Apakah malam zafaf tidak sebaiknya dihabiskan dengan bincang- bincang saja agar tumbuh keakraban dan perasaan dekat? Baru beberapa malam lagi dapat mengajak istri untuk maksud tersebut. Sebagian informasi yang disampaikan dalam beberapa pembicaraan memang menyebutkan, hubungan intim ketika baru pertama kali bertemu cenderung tidak bisa mengantarkan kepada puncak kenikmatan (orgasme). Tetapi pembicaraan tentang orgasme sering hanya bersifat fisik biologis saja. Padahal ada kebahagiaan dan keindahan di atas kenikmatan biologis belaka. Lihatlah wanita melahirkan, secara biologis mereka sakit. Mereka secara fisik mengalami perobekan. Tetapi dengarkan betapa bahagianya mereka. Kelelahan dan nyeri akibat proses persalinan, seakan tak ada bekasnya begitu anak yang dinantinanti lahir.

Kado Pernikahan 136

Hubungan Anda berdua insya-Allah juga demikian. Jika kerinduan Anda tidak sekedar kerinduan biologis, insya-Allah Anda akan merasakan betapa indah malam itu, meskipun harus salah tingkah dan gugup. Justru, salah tingkah dan gugup bisa memberi kebahagiaan tersendiri yang membuat malam zafaf tidak pernah terlupakan. Ada hal lain. Sebagian informasi tentang keringnya hubungan intim di malam pertama, sejauh yang saya ketahui tidak memiliki dasar yang dapat dipercaya secara ilmiah. Argumen qila wa qila (kabarnya konon katanya) tidak bisa diterima sebagai hukum ilmiah. Selain itu, melakukan hubungan intim di malam zafaf bukan sekedar sebagai pelampiasan dorongan seks terhadap lawan jenis. Ada yang lebih tinggi dari itu. Di atas dorongan biologis, ada dorongan cinta terhadap lawan jenis. Di atas cinta ada kasih-sayang yang lebih tulus. Di atas kasih ada dorongan ruhiyyah, dorongan untuk mencapai kesucian dan keutamaan ukhrawi. Masing-masing dorongan memiliki keindahannya sendiri. Jika engkau menunduk karena besarnya rasa cinta dan sayang pada suami, maka kehadirannya saja sudah membuatmu bahagia. Sedang sentuhannya semakin membuatmu tidak bisa berkata apa-apa. Insya-Allah. Pada malam zafaf, suami-istri yang baru menikah insya-Allah berada dalam keadaan hati yang paling bersih dan paling baik persangkaannya kepada Allah. Mereka berada dalam keadaan hati yang lapang, jiwa yang tenang serta muatan ruhiyyah yang tinggi. Keadaan ini tidak selalu bisa dicapai di malam-malam selanjutnya. Manusia berada dalam keadaan hati yang paling bersih, niat yang paling suci dan kesadarannya tentang kebesaran Allah yang paling mendalam hanyalah sa’atan-sa’atan (sesaat-sesaat). Tidak setiap waktu kita bisa mencapai niat yang sangat suci dan persangkaan kepada Allah yang paling baik. Ketika kita dalam keadaan sangat merasakan betapa agungnya Allah dan niat yang betul-betul mengharapkan pertolongan dan ridha-Nya, insya-Allah akan tumbuh di rahimmu anak yang takwa lagi suci. Anak yang penuh barakah dan dibarakahi. Mereka lahir untuk memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Mereka lahir atas kekuasaan dan keputusan Allah Yang Maha Suci, diikuti niat yang suci serta persangkaan yang baik pada bapak-ibunya ketika melakukan hubungan suci suami-istri. Jadi jika memungkinkan untuk melakukan di malam itu, maka melaksanakannya insya-Allah lebih baik dan lebih besar barakah-Nya. Meskipun gugup dan masih sangat salah tingkah. Kalaupun tidak, meniatkan untuk mendatangi karena mengharap ridha dan barakah-Nya insya-Allah sudah tercatat sebagai kemuliaan. Selain itu, mendatangi istri untuk maksud tersebut di malam zafaf juga sebagai ungkapan syukur atas karunia Allah Yang Maha Penyayang. Hubungan seks di malam ini lebih dimaksudkan untuk mencapai barakah. Adapun kalau Anda telah mempunyai dorongan yang meluap-luap, yang demikian ini adalah rahmat Allah sebagai rizqi bagi Anda dan istri Anda. Kita memohon kepada Allah mudah-mudahan rizqi yang dikaruniakan Allah kepada kita di malam zafaf ini

Kado Pernikahan 137

dipenuhi dengan barakah-Nya dan atas perantara itu Allah menjauhkan kita dari siksa api neraka. Rizqi ketika melakukan kemesraan bersama, meliputi beberapa tingkatan. Pertama, rizqi dimampukan untuk melakukan hubungan intim secara halal. Kedua, rizqi diberi kenikmatan yang ada di dalam jima’. Ketiga, rizqi diberi pahala dan kemuliaan karena hubungan seks yang kita lakukan, dari pahala shalat Dhuha sampai dengan pahala seorang anak laki-laki yang terbunuh dalam peperangan fi sabilillah. Dan Allah Maha Kuasa untuk melipatgandakan dan meninggikan lagi pahala serta barakah jima’ yang dilakukan oleh suami-istri sesuai dengan niatnya. Masih ada tingkatan-tingkatan rizqi lainnya dalam hu-bungan intim suami-istri, khususnya di malam zafaf. Salah satunya adalah rizqi berupa anak yang dilahirkan dari hu-bungan intim di malam itu. Sebaik-baik rizqi adalah yang paling besar barakah-Nya. Dan pada malam zafaf insya-Allah kita berada dalam keadaan hati dan jiwa yang paling siap untuk menerima karunia ruhiyyah. Pada malam zafaf insyaAllah kita berada dalam niat paling bersih, pengharapan terbaik, dan prasangka kepada Allah yang paling bersih. Karena itu, melaksanakan kemesraan suami-istri di malam zafaf insya-Allah merupakan kemuliaan yang utama. Insya-Allah dari malam zafaf ini lahir anak-anak yang menjadi syafa’at bagi orangtuanya di hari kiamat dengan seizin Allah. Anak-anak yang hukma-shabiyyan rabbi-radhiyyan (sejak kecil memiliki kearifan dan diridhai Tuhan). Anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Islam memberikan tuntutan kepada kita ketika memasuki malam zafaf adalah agar suami-istri yang baru menikah dapat segera memperoleh kenikmatan hubungan intim. Ibarat puasa, segerakanlah berbuka ketika maghrib tiba. Yang demikian ini lebih besar barakah dan ridha-Nya. Wallahu A’lam bishawab. Ada yang bisa kita renungkan untuk kita jadikan sebagai cermin ketika membicarakan masalah melakukan hubungan intim dan rizqi yang ada di dalamnya. Salah satu teladan kita adalah Umar bin Khaththab, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang termasuk khulafaur-rasyidin. Umar bin Khaththab r.a. mengingatkan dengan mencontohkan dirinya, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.” Umar r.a. juga menganjurkan, “Perbanyak anak, karena kalian tidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rizqi.” Jadi kalau memungkinkan, mendatangi istri di malam zafaf insya-Allah lebih utama dan lebih besar barakah-Nya. Sedang istri bisa mengingatkan suami tentang niat. Adapun kalau suami tampak masih ragu, istri bisa menyemangati dengan caracara yang baik, halus dan mengesankan suaminya. Semoga Allah meridhai usaha Anda.

Kado Pernikahan 138

Rasulullah Saw. bersabda, “Nikah itu sunnahku. Siapa yang tidak mau menerapkan sunnahku, sudah tentu ia bukan dari golonganku. Maka budayakanlah perkawinan, karena aku bangga dengan banyaknya bilanganmu lebih dari umat-umat lain di hari kiamat.” (HR Ibnu Majah). Nah, mari kita tetapkan niat untuk memberikan kesenangan kepada istri di malam pertama. Mudah-mudahan Allah mengaruniai dengan kebersihan hati, memperbaiki akhlak kita sesudahnya, dan mensucikan niat. Semoga pertemuan kita saat ini penuh barakah dan dibarakahi. Allahum-ma amin. Tetapi sekalipun Anda sebaiknya bersegera mendatangi istri untuk melakukan apa yang lazim dilakukan oleh orang yang sudah menikah, Anda juga perlu memperhatikan kesiapan dan perasaan istri. Jika Anda tetap memaksakan untuk hubungan intim, sementara istri berada dalam ketidaksiapan dan ketakutan, malam pertama Anda bisa meninggalkan kesan yang mengerikan, bukan membahagiakan. Karena itulah, barangkali ada baiknya Anda jawab pertanyaan Ukasyah Abdul Mannan Al-Thayyibi Hasan 'Asur (namanya memang panjang sekali) dalam bukunya Etika & Nasehat Malam Pertama. Salah satu bab di buku itu diberi judul berupa pertanyaan, "Malam Pertama, Mengerikan atau Membahagiakan?" Jika Anda ingin malam zafaf Anda tidak berakhir dengan kesedihan yang mengerikan, maka Anda perlu mendekati istri dengan cara yang baik dan lembut agar ia siap. Sesudahnya, Anda bisa melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan. Urusan Berkenaan dengan Pakaian Setelah kecupan di kening ketika berdoa, shalat dua raka’at bersama-sama, meminum susu segelas berdua --kalau bersedia bisa meminum di bekas bibir istri pada mulut gelas-- dan menjalin kedekatan dengan sikap lembut serta pembicaraan yang halus, sekarang kita bisa menjalin kedekatan yang lebih dalam lagi. Sebelum suami membuka aurat dan istri membuka auratnya, Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa mengingatkan agar kita masing-masing memanjatkan doa kepada Tuhan. Ada doa yang diajarkan Nabi Saw.: Allahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithana maa razaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Setelah memanjatkan doa dengan permohonan yang sungguh-sungguh, pengantin pria dapat melepaskan pakaiannya. Demikian juga pengantin wanita dapat melepaskan pakaiannya. Anda dapat melepas pakaian seluruhnya dan kemudian menutupi keadaan Anda berdua dengan selimut. Tetapi yang lebih utama adalah melepaskan sedikit demi sedikit. Melepaskan sedikit demi sedikit dapat membuat suami lebih tertarik dan semangatnya tumbuh. Tetapi mudahkanlah suami untuk mendapatkan apa-apa yang ingin dimaksudkan. Jangan menyulitkan, apalagi ketika perasaannya sudah

Kado Pernikahan 139

terbangkitkan. Anda yang tahu bagaimana menggoda suami. Anda juga bisa membantu suami melepaskan pakaian, dan suami juga bisa membantu istrinya melepas pakaian. Ketika suami-istri melepas pakaian, sebaiknya suami aktif mengajak bergurau, seperti bermain, memeluk, dan mencium. Demikian nasehat Ustadz ‘Abduh Ghalib Ah-mad ‘Isa, seorang ulama di Khartoum. Rasulullah Saw. bersabda, Khath Arab Janganlah salah seorang dari kalian mengumpuli istrinya seperti binatang mengumpuli. Tetapi agar ada utusan antara kedua. Maka ditanyakan, “Apakah yang dimaksud utusan itu?” Beliau bersabda, “Mencium dan bercanda.” (HR AdDailami).

Bercanda Hubungan intim hendaknya dilakukan dengan tenang dan sabar. Tidak tergesagesa. Apalagi di malam zafaf, ketika istri baru pertama kalinya membuka aurat di hadapan suami. Karena itu, jangan terlalu panas (tapi juga jangan terlalu dingin). Di malam zafaf, seorang suami hendaknya melakukan persenggamaan secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit. Sikap terburu-buru dapat membuat istri takut sehingga cenderung menarik diri secara psikis. Sikap tenang dan sabar, insya-Allah lebih dekat kepada maslahat dan kebahagiaan agung, meskipun suami harus menempuh jalan beberapa kali agar bisa melaksanakan maksudnya. Itulah sebabnya, sebelum memasuki malam zafaf istri ada baiknya mempersiapkan kelengkapan zafafnya agar tercapai kenikmatan yang mengesankan. Ibnu Qayyim mengatakan, “Setiap kenikmatan yang membantu terwujudnya kenikmatan di hari akhir adalah kenikmatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Swt. Pencipta kenikmatan itu akan merasakan kenikmatan dalam dua segi. Pertama, perbuatan tersebut menyampaikan dirinya kepada ridha Allah Swt. Selain itu, akan datang pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.” Ketika mengajak untuk menghabiskan malam zafaf dengan kenikmatan yang diridhai Allah, suami dapat memberitahukan kepada istrinya bahwa ia tidak akan tergesa-gesa. Ia ingin menghabiskan malam zafaf dengan tenang secara bersamasama. Dan ini diberitahukan kepada istri sebelum sama-sama melepas pakaian ataupun pada permulaannya. Yang demikian ini insya-Allah akan menumbuhkan rasa cinta istri kepada suami serta perasaan tenteram ketika berada di dekatnya. Sebab,

Kado Pernikahan 140

seorang suami yang mencintai istrinya dengan kecintaan yang kuat akan berusaha untuk memperhatikan perasaan istrinya. Ajaklah istri untuk bercanda dan bergurau dulu sebelum Anda melakukan persetubuhan. Sehingga istri merasa senang, perasaannya terhadap hubungan intim terbangkitkan, lalu menumbuhkan kesiapan padanya untuk melakukan itu bersama Anda dalam kenikmatan yang sempurna. Ketika perasaannya terbangkitkan dan cintanya kepada suami berkembang, istri bisa lebih terbuka. Ia tidak terhalang oleh rasa malunya. Mendatangi istri tanpa menyenangkannya terlebih dulu, termasuk kelemahan bagi seorang suami. Rasulullah Saw. mengingatkan, Khath Arab Tiga hal yang termasuk kelemahan suami. Beliau menghitung darinya: Dari seorang suami mendekati budak perempuannya atau istrinya kemudian ia mengumpulinya sebelum mengajak bercanda kepadanya dan menyenangkannya. Ia mengumpulinya kemudian ia memperoleh hajatnya dari istrinya itu sebelum ia (istri atau budak perempuannya) memperoleh hajatnya. Katakan, keindahan-keindahan serta rasa bahagia yang ingin Anda sampaikan kepada istri. Begitu juga istri, dapat menyampaikan perasaannya yang sedang mekar kepada suami. Mudah-mudahan Anda dapat meresapi ketenteraman yang ada di antara Anda berdua. Bukankah Anda adalah pakaian suami Anda, dan suami adalah pakaian bagi Anda? Pakaian itu memberi perlindungan, rasa aman, ketenteraman dan kesenangan. --“Wanita yang terbaik di antara kamu ialah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi.” --O ya, jangan lupa nasehat Kanun al-Idrisi al-Hasani, penulis kitab Qurratul 'Uyun fin Nikah Syar'i wa Adabihi. Dalam kitabnya itu, Kanun mengingatkan agar Anda tidak lupa meletakkan bantal di bawah --maaf-- pantat istri. Yang demikian ini adalah untuk kebaikan Anda berdua sehingga malam zafaf terlewatkan dengan indah dan meninggalkan kenangan yang mengesankan.

Kado Pernikahan 141

Sekali lagi saya ingatkan Anda soal bantal ini. Kelihatannya sepele, tapi dari masalah-masalah yang sampai kepada saya ternyata tidak semua orang tahu nasehat Kanun Al-Idrisi ini. Soal mengapa Anda perlu memakai bantal, silakan baca sendiri di kitab Qurratul 'Uyun. Atau, Anda bisa ikut pengajiannya setiap bulan Ramadhan di berbagai musholla dan masjid di Jombang, Jawa Timur. Salah Tingkah Itu Rahmat Ada yang bertanya kepada saya tentang salah tingkah dan canggung, bagaimana menghilangkannya? Mengapa saya harus merasa rikuh? Saya menjawab, salah tingkah itu rahmat. Ini adalah rahmat yang perlu disyukuri. Ada keindahan-keindahan yang Anda dapatkan ketika salah tingkah. Salah satu manfaat salah tingkah, Anda tidak saling menuntut ketika pertama kali melakukan kemesraan bersama di malam zafaf. Anda justru merasa ingin melakukan yang menyenangkan teman hidup Anda. Anda tidak ingin melukainya. Nah, di sinilah insya-Allah Anda akan merasakan betapa salah tingkah itu rahmat yang tidak perlu ditakuti, justru disyukuri. Begitu. --Semangat suami bisa surut karena istri yang bersikap dingin. Sebaliknya, seorang suami yang sulit bangkit dapat menjadi suami yang penuh kehangatan karena istrinya... --Selanjutnya, Istri Hendaknya Tidak Malu Al-Khara’ithy mengatakan, “Ammarmah bin Watsi-mah memberitahu kami, bapakku memberitahuku, dia berkata, “Abdullah bin Rabi’ah adalah orang yang terkenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Penisnya tidak bisa ereksi. Sementara orang-orang Quraisy tidak pernah ada yang memberi kesaksian tentang kebaikan atau keburukannya dalam masalah ini. Dia pernah menikahi seorang wanita. Tapi hanya beberapa waktu berselang, istrinya lari darinya dan kembali ke keluarganya lagi. Begitu seterusnya. Lalu Zainab binti Umar bin Salamah bertanya, “Mengapa para wanita itu lari dari anak pamannya?” Ada yang menjawab, “Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tak mampu membuatnya mampu melaksanakan tugas sebagai suami.”

Kado Pernikahan 142

“Tak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bangkit,” kata Zainab, “Demi Allah, saya adalah wanita berperawakan besar dan bergairah.” Maka akhirnya Zainab menikah dengannya, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, selalu sabar meladeninya dan akhirnya mereka dikaruniai enam anak. Semangat suami bisa surut karena istri yang bersikap dingin dan menahan tangannya dari cengkeraman yang mesra kepada suami. Sikap dingin adakalanya karena rasa malu yang menguasai, sementara ia sebenarnya berkeinginan untuk memperoleh kehangatan cinta dari suaminya. Tapi seperti minuman hangat yang didekatkan pada segelas es, gairah dan kemesraan suami bisa surut oleh dinginnya sikap istri dalam menanggapi usapan sayang dan kecupan cinta suaminya. Sebaliknya, seorang suami yang sulit terbangkitkan hasratnya dapat menjadi laki-laki yang penuh kehangatan karena istri yang tahu bagaimana menumbuhkan ketertarikan suami kepada dirinya saat melakukan hubungan intim. Rasa malu tidak menghalanginya untuk memberikan kebahagiaan pada suaminya, dan merasakan keindahan berdekatan dengan suami. Karena keindahan dalam berhubungan intim merupakan kenikmatan yang dicintai dan diridhai Allah. Insya-Allah, seorang istri yang mau menggairahkan suaminya akan memperoleh ridha dan barakah-Nya. Mudah-mudahan Allah memberikan kebahagiaan kepada Anda; kebahagiaan ketika melakukan hubungan intim bersama suami, kebahagiaan ketika menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari, kebahagiaan ketika Allah menitipkan benih suami di rahim Anda, kebahagiaan ketika bayi Anda mengisap ASI yang menjadi bagian dari diri Anda sendiri, dan terutama kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah. Allahumma amin. Benarlah nasehat Sayyidina Muhammad Al-Baqir kepada kaum wanita. Beliau mengatakan, “Wanita yang terbaik di antara kamu ialah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi.” Seorang suami akan merasa semakin sayang ketika istri mampu membangkitkan semangatnya ketika sama-sama menanggalkan pakaian. Dan ia merasakan cinta semakin mendalam disertai kebahagiaan dan keinginan untuk memberikan ketenteraman ketika ada rona merah di wajah istri setelah ia menutupi tubuhnya dengan pakaian kembali. Inilah sebagian di antara rahasia-rahasia. Berbicara Dari Hati Ke Hati Setelah mencapai kenikmatan puncak dari istri Anda, dan urat-urat telah melemah, tunggulah istri untuk mencapai ketenangan kembali. Jangan cepat-cepat meninggalkannya, karena yang demikian ini termasuk salah satu kelemahan laki-laki sebagaimana kita simak pada hadis terdahulu. Usapan pelan yang mesra dan kecupan lembut di kening masih ada yang mengharapkan. Kalau Anda berdua telah mencapai ketenangan yang membahagiakan, suami dapat membantu istrinya untuk mengenakan pakaiannya kembali. Tetapi jika istri tampak sangat malu, Anda dapat

Kado Pernikahan 143

membiarkannya dengan memberikan perlindungan. Ketika seorang istri mencapai puncak kenikmatan (orgasme), ada semburat merah di wajah yang menyertai. Sesudah itu ia merasa malu sekali terhadap suaminya. Apalagi ini untuk pertama kalinya ia terbuka terhadap lawan jenis. Sayangilah istri Anda. Ajaklah ia berbicara dari hati ke hati dalam suasana yang lebih tenang. Dengarkan apa yang ingin ia sampaikan; perasaannya, kebahagiaannya, harapan-harapannya, dan mungkin juga sedikit kekhawatirannya sekaligus keinginannya untuk mendapatkan suami yang memberi perlindungan, rasa aman, ketenteraman, ikatan batin dan penerimaan. Anda dapat membicarakan masalah-masalah ringan untuk beberapa saat. Kalau di antara perasaan bahagia itu istri sempat merasakan perasaan takut kehilangan, atau kekhawatiran apakah ia bisa menjadi istri sebagaimana yang Anda harapkan, atau ada pengharapan-pengharapan, maka biarkanlah dada Anda menjadi tempat istri merebahkan kegelisahannya. Berikan keteduhan padanya beberapa saat. Sesudah tenang, Anda bisa bersuci dari hadas besar. Tetapi jika Anda ingin mengulangi sekali lagi atau istri masih merasakan kerinduan, cukuplah seorang suami berwudhu dan membersihkan apa yang menjadi bagiannya sebelum melakukannya lagi. Adapun kalau Anda memilih untuk mandi ketika akan mengulangi, yang demikian ini lebih utama dan insya-Allah lebih mendatangkan kebahagiaan bagi istri. Tetapi berwudhu saja telah mencukupi. Mandi jika terlalu lama justru dapat memadamkan kerinduan istri. Mandi Janabah Bersama Ada kewajiban sesudah jima’. Masing-masing wajib mandi janabah untuk mensucikan diri dari hadas besar. Anda dapat melakukannya sendiri-sendiri, tapi bisa juga mandi bersama-sama dalam satu bak agar keindahan dan kemesraan pada malam zafaf dapat lebih sempurna. Mudah-mudahan jalinan perasaan (al-’athifah) di antara Anda terikat lebih kuat. Semoga jalinan perasaan itu penuh barakah dan dibarakahi. Anda masih bisa bermain-main kecil, bercanda bersama istri ketika mandi janabah. ‘Aisyah r.a. mengatakan, “Aku pernah mandi jinabat bersama-sama Rasulullah Saw. dari satu bejana. Tangan kami berulang-ulang ke dalamnya.” (Muttafaq ‘alaih). Ibnu Hibban menambah, “Dan tangan kami bertemu di dalamnya.” Selain untuk lebih menyempurnakan kemesraan dan keakraban, kesempatan mandi jinabat juga merupakan kesempatan pertama untuk melakukan amal shalih. Barangkali ada yang masih belum mengerti cara mandi, Anda bisa mengingatkan dengan penuh kasih-sayang dan perhatian. Semoga Allah meridhai dan memberikan barakah atas niat Anda.

Kado Pernikahan 144

Masih Ada Kehangatan Masih ada kehangatan yang tersisa untuk menuju peraduan malam yang indah. Kerlingan mata dan pembicaraan singkat yang pendek bisa mengantarkan Anda ke peraduan sebelum menutup malam zafaf dengan doa dan memanjatkan rasa syukur kepada Allah. Semoga apa yang menjadi rizqi Anda di malam ini, bisa menjadi rizqi yang penuh barakah di waktu-waktu berikutnya hingga hari kiamat. Semoga dari keindahan di malam zafaf, akan tumbuh di rahim istri keturunan yang penuh barakah, keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Setelah mengucapkan doa, terkatuplah mata pelahan-lahan. Sedangkan tangan dengan tangan masih bisa saling menggenggam. Ada ketenteraman di sana. InsyaAllah. Khath Arab Barakallahu likulli waahidin minkumaa fii shaahibihi wa jama’a bainakumaa fii khairin. Semoga Allah membarakahi masing-masing Anda berdua terhadap teman hidup Anda, dan menghimpunkan Anda berdua dalam kebaikan. Allahumma amin. Catatan Kaki: 1. Membersihkan rambut-rambut yang tumbuh pada daerah kemaluan, baik pada laki-laki maupun perempuan, lazim disebut dengan istilah istihdaad. Istihdaad boleh dilakukan dengan menggunting atau memotong habis dan dengan mencabutnya, atau dengan cara melumurinya dengan obat perontok rambut. Tetapi lebih utama dengan cara mencukur, membersihkan dengan menggunakan pisau cukur. Demikian penjelasan dari Muhammad ‘Athiyah Khumais dalam Fiqih Wanita tentang Thaharah. Saat ini banyak tersedia pisau cukur yang higienis, praktis, aman dan nyaman. Syekh Ibnu Daqiqil ‘Aid mengatakan, “Sebagian mereka cenderung menguatkan wanita mencukur, karena dengan cara mencabut dapat merusak kulit. Hal itu dikuatkan pula oleh Imam Nawawi dan lain-lain dengan katanya: Menurut Sunnah, mencukur bulu ari-ari dengan pisau cukur, itulah yang lebih baik bagi laki-laki dan perempuan.” Yang dimaksud dengan bulu ari-ari adalah rambut yang tumbuh pada bagian atas zakar laki-laki dan yang tumbuh di sekitar vagina (faraj) perempuan. Demikian penjelasan Muhammad ‘Athiyah Khumais. Abdul Halim Abu Syuqqah menjelaskan, Ath-Thabrani menjelaskan dalam AlKabir dan di dalamnya terdapat Haki-mah binti Umaimah. Ibnu Juraij meriwayatkan darinya, tetapi tak seorang pun berbicara tentangnya. Abu Dawud berhujjah dengan riwayatnya, dan sisa rijalnya adalah rijal shahih.

2.

3.

Kado Pernikahan 145

Bab 10

M
M

asa-masa Pengantin Baru

asa pengantin baru barangkali sama pentingnya dengan malam pertama. Masa ini istri Anda sangat sensitif. Perasaannya sangat peka. Apalagi kalau ia masih gadis. Begitu juga suami, sekalipun perasaan laki-laki konon tak sehalus perasaan wanita, ia akan peka. Karena keduanya sangat sensitif, maka ibarat negatif film yang belum dicuci, ia mudah terbakar. Kalau terbakar, hanguslah potret yang telah dibidik dengan sangat hati-hati itu. Masa ini memang sangat peka. Kehancuran ikatan suci pernikahan, kadang bermula dari masa-masa pengantin baru yang tak terlewati dengan baik. Apalagi jika salah satu atau keduanya telah membawa perasaan yang negatif ketika memasuki pernikahan, goresan luka yang perih akan mudah terjadi. Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi hikmah di balik pesan Nabi Saw. agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah. Di sinilah kita melihat bahwa hikmah di balik pesan-pesan Nabi tak cukup jika hanya ditulis dalam satu bab panjang seperti pada bab "Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu?". Di sinilah kita melihat bahwa masa-masa ketika proses sedang berlangsung terasa sangat penting. Tetapi karena akad nikah telah berlangsung dan malam zafaf telah lewat, maka marilah kita teruskan pembicaraan kita tentang masa-masa pengantin baru. Soal indahnya masa yang penuh cerita ini, tak perlu saya tulis. Anda sudah tahu sendiri. Lagi pula indahnya masa pengantin baru itu lebih enak dialami daripada dipelajari. Karena itu lebih baik kita memahami masalah-masalah yang lebih penting berkenaan dengan masa pengantin baru ini.

Kado Pernikahan 146

Pertama, jangan lupa menemani istri Anda. Sediakan waktu khusus untuknya. Lebih-lebih jika ini merupakan pernikahan kedua dalam rangka matsna (poligami), maka Anda perlu sekali memperhatikan. Jangan abaikan haknya untuk tinggal bersama Anda dan menghabiskan masa-masa yang khusus untuk Anda berdua itu. Tentang berapa lama Anda harus tinggal bersama istri Anda ini, mari kita simak Anas (bin Malik) r.a. riwayat Abu Qilabah yang berkata: Khath Arab Termasuk sunnah bagi (seseorang) jika menikahi (lagi) seorang gadis, setelah dia mempunyai istri, dia bermukim padanya selama tujuh hari, lalu mengadakan pembagian. Apabila menikahi seorang janda, dia berhak untuk bermukim padanya selama tiga hari (tiga malam), kemudian barulah mengadakan pembagian (waktu). (Selanjutnya) Abu Qilabah berkata, "Jika aku mau, pasti aku mengatakan bahwa Anas r.a. memarfu'kan berita (atsar) tersebut kepada Rasulullah Saw." (HR Bukhari). Selama masa pengantin baru ini, sebaiknya suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani istri, sehingga istri memiliki kesempatan untuk mulai belajar bertaba'ul (mengurus dan melayani) kepada suami dengan baik dan sesuai dengan suami. Sebaliknya, suami bisa belajar mengenal istri. Yang dimaksud dengan mengenal istri boleh jadi berkait-erat dengan persoalan-persoalan psikis, termasuk yang bersangkutan dengan bagaimana ia dibesarkan keluarganya, sehingga suami dapat memahami perbedaan sikap istri dan menerima apa yang bisa diterima. Tetapi mengenal istri boleh jadi bersangkutan dengan hal-hal yang kelihatan kecil dan sepele, misalnya makanan kesukaan istri. Berkenaan dengan masalah yang disebut terakhir ini, boleh jadi sebagian orang menganggap sepele (ah, rumah tangga kok cuma ngurusi soal makanan). Tetapi menyepelekan masalah yang sepele ini, bisa memicu ketidakpuasan suami-istri. Mereka merasa diabaikan. Jika ini terus berlanjut, percekcokan bisa timbul. Pentingnya memperhatikan persoalan yang dianggap sepele itu tidak berarti melupakan soal-soal yang lebih penting. Sebab di atas itu semua, masalah yang paling berpengaruh memang orientasi. Pernikahan Hari Moekti adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan bahwa orientasi masing-masing sangat mempengaruhi kebahagiaan pernikahan. Ketika Kang Hari masih menjadi rocker, pernikahannya sering diwarnai ketidakpuasan dan ketegangan-ketegangan. Akan tetapi setelah menemukan Islam, mereka mendapati keluarganya penuh kebahagiaan.1 Salah satu masalah penting yang perlu dicatat dari perjalanan keluarga Hari Moekti adalah soal perubahan orientasi keluarga yang ikut mempengaruhi kebahagiaan pernikahan mereka. Ketika Kang Hari telah menemukan Islam, ia menemukan cara pandang yang sama sekali baru tentang istri, tentang bagaimana

Kado Pernikahan 147

bersikap dan memuliakan istri, tentang bagaimana memandang kehidupan, serta tentang tujuan hidup yang semuanya berpulang kepada Allah.2 Wallahu A'lam bishawab. Semoga kita berkesempatan untuk menemukan Islam sebelum kita meninggal. Singkat cerita, masa pengantin baru sangat peka. Dan seperti yang dinasehatkan oleh Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, tergantung pribadi masingmasing untuk memperoleh kemuliaannya. --... Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi hikmah di balik pesan Nabi Saw. agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah. Di sinilah kita melihat hikmah di balik pesan-pesan Nabi .... --Lalu apa yang bisa kita lakukan pada masa-masa pengantin baru? Wallahu A'lam bishawab. Selebihnya, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Belajar Mendampingi Suami Anda barangkali geli dengan sub judul ini. Tetapi kita menghadapi kenyataan bahwa para wanita usia nikah di zaman kita umumnya tidak memperoleh pendidikan memadai tentang bagaimana mendampingi suami. Sama halnya dengan suami mereka yang pada umumnya tidak sempat mendapat pendidikan tentang bagaimana menjadi suami sebagaimana yang diterima oleh orangtua mereka dulu. Sebabnya sederhana, sebagian besar dari generasi usia nikah maupun keluarga baru di zaman kita umumnya menghabiskan masa kecil hingga masa dewasa di sekolah-sekolah formal saja. Mereka tidak memperoleh pengalaman dan pendidikan mengenai peran-peran sosial maupun peran keluarga dari lingkungan, katakanlah dari masjid dan pesantren. Bahkan, mereka juga tidak mendapatkan pengalaman itu dari keluarga --komunitas terdekat yang sebenarnya paling memungkinkan untuk memberi pengalaman kepada anak. Jika pada generasi orangtua, suami-istri memasuki pernikahan dengan membawa bekal ilmu berumah-tangga yang mereka peroleh dari pesantren atau mushalla, maka pada generasi kita tidak seperti itu. Kita memasuki pernikahan dengan tangan kosong;

Kado Pernikahan 148

sebagian nyaris tanpa bekal, kecuali ijazah diploma atau kursus MS Excel. Jika tidak, kita membawa bekal sertifikat seminar menjelang pernikahan --yang tidak cukup untuk memberi gambaran kepada kita tentang bagaimana berumah tangga, khususnya mendampingi suami. Adapun bagaimana bersikap kepada suami ketika sedang marah, bagaimana meredam emosi suami, bagaimana memberi sentuhan yang membangkitkan gairah istri ketika suami mempunyai keinginan besar sementara istri sedang dingin-dinginnya, dan soal-soal semacamnya, kita nyaris tidak tahu. Saya sendiri baru tahu bahwa di pesantren ada literatur (sekaligus pengajiannya) tentang urusan yang saya sebut terakhir itu ketika saya sudah menikah. Sampai sekarang saya belum mengetahui isi kitabnya secara persis. Saya hanya mendengar penjelasan dari seorang gus (putra kiai) tentang isi kitab yang membahas soal itu ketika menyarankan kepada saya untuk mempelajari, sehingga bisa melengkapi pembahasan tentang jima' pada buku Mencapai Pernikahan Barakah. Kembali ke persoalan mendampingi suami, ada baiknya kita mendengar nasehat dari Al-Khasyat, "Mendampingi suami merupakan sebuah proses belajar. Kecocokan perasaan harus melalui beberapa tahapan, entah membutuhkan waktu lama atau relatif singkat dari 'usaha dan kesalahan'." Persoalan yang lebih penting dalam mendampingi suami adalah keinginan yang tulus, bukan keterampilan memasak atau menjahit sebelum Anda menikah. Kata AlKhasyat, "Sebelum ini seorang istri perlu memiliki keinginan tulus untuk memahami suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi dengan kesabaran, kelembutan, dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta menjauhi sebab-sebab perselisihan, dan menciptakan suasana yang sesuai dengan perkembangan semangat kasih-sayang dan cinta-kasih." "Adalah mustahil," kata Al-Khasyat lebih lanjut, "bila kelembutan dan keharmonisan dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaan yang lalu." Seperti yang telah kita dengar dari Al-Khasyat, yang kita perlukan agar bisa mendampingi suami adalah keinginan yang tulus. Istilah ini sangat indah dan barangkali sangat sering Anda dengar. Tetapi apakah keinginan yang tulus itu? Apa yang dapat menandakan kita tulus atau tidak? Wallahu A'lam bishawab. Silakan Anda cari jawabnya dengan bertanya kepada diri Anda sendiri. Sementara Anda mencari jawabnya, mari kita melanjutkan pembicaraan kita kepada persepsi. Secara sederhana, bagaimana Anda mempersepsi sesuatu sama halnya dengan bagaimana Anda memandang. Jika Anda memakai kacamata merah, maka apa pun yang Anda lihat akan tampak ada warna merahnya. Daun yang hijau dan bunga yang putih pun akan tampak kemerah-merahan. Selain itu, pengalaman dan pengetahuan Anda juga mempengaruhi. Orang Jawa Timur akan berbinar-binar melihat rujak cingur yang hitam pekat bumbunya dan

Kado Pernikahan 149

menebar bau petis campur terasi (Ouw, sedapnya). Air liurnya akan segera mengucur sehingga tak sabar lagi untuk segera menikmati. Tetapi orang lain, akan segera bergidik. Jijik. Jangankan untuk memakannya, melihat orang lain makan saja rasanya tengkuk sudah geli. Iihh, makanan kok hitam begitu. Baunya nusuk-nusuk lagi...! Singkatnya, persepsi dipengaruhi oleh zhan (prasangka) Anda, sebagaimana warna kacamata mempengaruhi penglihatan kita terhadap benda-benda yang kita lihat. Selain itu, persepsi kita dipengaruhi oleh pengalaman, ilmu, dan juga kondisi psikis kita saat itu. Jika Anda sedang marah sekali, Anda akan mudah melakukan kesalahan dalam menafsiri perkataan orang lain, termasuk perkataan suami atau istri Anda. Ini satu contoh. Lalu apa perlunya kita berdiskusi soal persepsi dengan pembicaraan kita mengenai masa pengantin baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, sekali lagi mari kita ingat bahwa masa pengantin baru adalah masa yang sangat peka. Keindahan malam zafaf dan kebahagiaan masa pengantin baru bisa berantakan karena persepsi kita tidak baik. Akibatnya, kita mudah menaruh "kecurigaan" manakala kita menjumpai hal-hal yang tidak mengenakkan. Ini dapat menjadi sebab munculnya bibit perselisihan yang bersifat latent (tersembunyi).3 Karena itu, pengantin baru perlu belajar menjaga persepsi terhadap apa yang dilakukan oleh suami atau istrinya. Jika tidak, bersama keindahan itu akan tumbuh penyakit yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika masa pengantin baru telah lewat. Ada hal lain yang kita butuhkan di masa pengantin baru, yaitu penerimaan yang tulus. Penerimaan dari kedua pihak. Bukan suami saja atau istri saja. Sederhana bukan? Ya, sederhana. Sangat sederhana menuliskannya. Jauh lebih sederhana daripada mengamalkannya.

Merintis Kebiasaan Yang Baik Allah menyempurnakan setengah agama kita ketika kita dikaruniai kekuatan untuk menikah. Kemudian kita disuruh menyempurnakan yang setengahnya. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan setengah dari agama kita adalah dengan merintis kebiasaan yang baik dan saling mengingatkan tentang watak (khuluq) serta perilaku yang tidak baik. Sebagian dari kita mungkin memiliki perilaku buruk yang tidak diketahuinya, kecuali dengan bantuan orang lain, termasuk suaminya sendiri. Berkenaan dengan merintis kebiasaan yang baik ini, ada sebuah hadis yang dapat kita renungkan:

Kado Pernikahan 150

Khath Arab

"Barangsiapa yang menetapkan sunnah-hasanah (kebiasaan yang baik) lalu ia diamalkan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barangsiapa yang menetapkan dalam Islam satu sunnah sayyi'ah (kebiasaan yang buruk) lalu ada yang mengamalkannya, maka ia memperoleh dosa seperti yang mengerjakannya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun." (HR Muslim). Kebiasaan baik yang kita rintis di rumah kita bisa jadi menyangkut ibadah mahdhah seperti shalat, bisa jadi berkenaan dengan perilaku kita kepada keluarga atau perilaku kita terhadap tetangga atau lebih luas lagi. Yang jelas, bisa merintis sunnah hasanah atau tidak, sebaiknya suami isteri berusaha untuk mengurangi perilakuperilaku yang buruk. Syukur kalau bisa saling belajar melihat kekurangan masingmasing dan kemudian menyadarinya, bukan menjadikannya untuk berapologi. Syukur pula kalau bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga menjadi kebaikan. Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah sunnah hasanah ini. Saya grogi membahasnya. Karena itu, marilah kita beralih kepada tema kita yang lain, yakni mengenai mengurangi keburukan dan memperbaiki kekurangan. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, keluarga kita akan barakah dan selamat dan fitnah dunia maupun fitnah akhirat. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, anak-anak kita dapat lebih memikirkan ummat Muhammad dibanding orangtuanya atas sebab kita berusaha memperbaiki sebagian kekurangan kita. Hambatan besar yang mungkin muncul ketika kita ingin menjadikan rumah kita sebagai tempat untuk saling memperbaiki kekurangan, adalah seperti yang pernah dilukiskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin pada pembahasan tentang penyakit hati. Ia berkata, "Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang itu bahwa ia sendiri juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya: 'Anda sendiri juga melakukan begini... dan begitu....' Dan sikap permusuhan seperti itu pasti menghalangi kita daripada memanfaatkan nasehatnya." Seperti kata Al-Ghazali, adakalanya kita berkata saat diingatkan, "Habis, Mas kemarin juga begitu." Atau kalimat lain yang mirip dengan itu, misalnya, "Ah, Mas nyuruh bangun awal. Mas sendiri susah dibangunkan. Bagaimana mau shalat malam kalau tidur terus?" Contoh lain yang semakna dengan itu masih banyak. Silakan Anda cari sendiri. Atau, silakan Anda ingat-ingat apakah dalam hidup Anda pernah mengucapkan

Kado Pernikahan 151

kalimat-kalimat yang seperti itu manakala Anda diingatkan oleh suami Anda (atau suami diingatkan oleh isterinya). Atau, Anda sering mengucapkannya? Jika ya, maka ingatlah bahwa sesungguhnya suami Anda bukan Nabi yang Allah mema'shumkannya, sehingga ia terjaga dari melakukan kesalahan. Ia juga bukan tergolong sahabat Nabi --yang sekalipun tidak ma'shum, tetapi Allah meridhai mereka dan mengampuni kesalahannya. Ia adalah manusia biasa, sangat biasa. Sehingga terbuka kemungkinan melakukan kesalahan, sekalipun ia sangat menginginkan kebaikan. Sederhananya, ia mungkin sering tidur tanpa bangun malam, meskipun berkali-kali ia mengatakan ingin shalat malam. Mari kita perhatikan hadis ini:

Khath Arab "Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan shalat. Dia bangunkan istrinya dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya." (HR Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan yang lainnya. Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkan hadis ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berpendapat, hadis ini hasan). Atau mari kita simak hadis ini:

Khath Arab

Dari Abu Darda' r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Tiga (orang), Allah mencintai mereka, tersenyum kepada mereka dan merasa gembira dengan mereka. Pertama, orang yang apabila suatu golongan menghadapi serbuan maka ia berperang sendirian semata-mata karena Allah 'Azza wa Jalla, maka ia terbunuh atau ditolong oleh Allah 'Azza wa Jalla dan dicukupi-Nya lalu Allah berfirman (kepada para malaikat, "Lihatlah hamba-Ku ini bagaimana dia bershabar karena-Ku dengan (mengorbankan) dirinya." Kedua, orang yang memiliki istri cantik dan kasur empuk lagi bagus, kemudian ia bangun (melakukan shalat) malam, maka Allah berfirman, "Ia meninggalkan syahwatnya dan mengingat-Ku. Padahal kalau suka ia tidur saja."
Kado Pernikahan 152

Ketiga, orang yang apabila dalam perjalanan (safar) bersama dengan rombongan lalu di saat itu begadang malam kemudian tidur, ia bangun waktu sahur dalam keadaan susah dan senang." (HR Thabrani dengan sanad hasan. AlHaitsami berkata, "Para perawinya terpercaya." Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini hasan). Hadis-hadis ini tidak berbicara tentang sifat suami sebagai manusia biasa. Dan saya pun tidak bermaksud untuk menjelaskan kepada Anda makna dari dua hadis tersebut karena saya belum berhak menjelaskan. Tetapi melalui hadis ini saya ingin berbincang-bincang dengan Anda bahwa suatu saat barangkali Anda yang memercikkan air ke wajahnya, dan di saat lain Anda yang susah dibangunkan sehingga suami perlu memercikkan air ke wajah Anda. Suatu saat Anda yang perlu mengingatkan suami ketika ia melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimatkalimat yang merusak. Tetapi di saat lain boleh jadi suamilah yang harus mengingatkan Anda karena Anda melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimat yang tidak baik; kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh suami Anda. Jika Anda menerima peringatan dan nasehat suami, sementara suami pun demikian, maka insya-Allah dari rumah Anda akan terbit cahaya yang menerangi dan memberi kesejukan bagi sekeliling. Paling tidak bagi orang yang mendiami rumah Anda. Tetapi jika Anda berkata "Uuh, Mas juga sering begitu", maka kisah romantis tentang pernikahan penuh barakah selesai sampai di sini. Ia akan merasa terhalang secara psikis untuk mengingatkan Anda dengan segera di saat ia menjumpai Anda melakukan kesalahan. Yang paling mudah ia lakukan kemudian adalah marah dan menyalahkan. Kalau ini terus berlanjut, berarti Anda berdua telah jatuh dalam coercive communication (komunikasi memaksa). Selengkapnya tentang coercive communication ini bisa Anda simak pada bab Komunikasi Suami-Istri di jendela tiga buku ini. --Seperti kata Al-Ghazali, saat diingatkan adakalanya kita berkata, "Habis, Mas kemarin juga begitu." ---

Dan Istri Pun Hamil Masa pengantin baru, barangkali terasa belum lewat ketika istri Anda muntahmuntah di pagi hari. Ketika Anda mendekat, ia menepis Anda. Di saat Anda membutuhkan seorang teman untuk berbincang santai, ia malah berangkat tidur dan enggan bangun. Belakangan periksa, ternyata ia telah positif mengandung.

Kado Pernikahan 153

Sebagian orang terkejut dengan masa nyidam. Apalagi kalau mereka sama-sama tidak mengerti bahwa perubahan situasi emosi yang drastis itu disebabkan oleh datangnya kehamilan, percekcokan bisa tersulut dengan cepat sebagaimana api yang membakar rumput kering. Akibatnya, hubungan suami dengan istri akan renggang. Masing-masing menyimpan perasaan yang tidak mengenakkan. Datangnya kehamilan dan masa nyidam itu adakalanya pada bulan ketiga pernikahan, adakalanya dua tahun kemudian. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan istri sudah mengandung setelah satu bulan menikah. Nah, jika Anda masih menginginkan suasana pengantin baru, apa yang sebaiknya Anda lakukan bersama istri Anda yang mulai mengandung?

Silakan Anda jawab sendiri. Mumpung masih pengantin baru.

Catatan Kaki: 1. Ustadz Hari Moekti sempat menceritakan pengalaman-nya berumah tangga pada kesempatan acara bedah buku "Seni Dalam Pandangan Islam" karya Abdurrahman Al-Baghdadi di Fakultas Sastra UGM. Cerita serupa juga dikemukakan ketika menjadi pembicara pada seminar Memaksimalkan Kecerdasan Anak yang diselenggarakan oleh Unpas, Bandung awal Juli lalu. Soal bagaimana perubahan pandangan itu mengubah juga kehidupan pernikahannya, lebih baik Anda bertanya langsung kepada Ustadz Hari Moekti sehingga memperoleh penjelasan yang lebih baik dan lebih jernih. Di atas segala-galanya, tentu saja hanya Allah 'Azza wa Jalla sumber segala kebahagiaan dan Dia-lah yang memberi kebahagiaan kepada siapa pun yang Dia Kehendaki. Wallahu A'lam bishawab.

2.

3.

Bibit perselisihan bersifat latent (tersembunyi) karena pada masa ini keindahan sebagai pengantin baru menutupi berbagai "ketidaksesuaian kecil". Di sinilah permaafan dan permakluman dibutuhkan agar hal yang tidak mengenakkan tidak menjadi bibit perselisihan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Setelah masa pengantin baru usai, rumah tangga masih penuh kesejukan. Rumah terasa lapang dan damai, meskipun secara fisik sempit. Masalahnya, persoalan hubungan antara suami dan istri tidak sesederhana menuliskan kata permaafan dan permakluman.

Kado Pernikahan 154

Bab 11

T

inggal di Mana

Setelah Menikah?

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu...” (Al-Qur’an 65: 6)

S

etelah menikah, suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan tempat tinggal bagi istri sesuai dengan kemampuannya. Para Imam Mazhab1 sepakat, dengan beberapa perbedaan kecil, bahwa seorang suami wajib menempatkan istri di tempat tinggal yang layak. Sehingga istri terjaga kehormatannya dan merasakan kedamaian dalam kehidupan berumahtangga bersama suami.

Kalau suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan tempat tinggal yang memberikan kedamaian, rasa aman dan privacy2 bagi istri, maka secara seimbang istri mempunyai kewajiban untuk tinggal di tempat yang telah disediakan oleh suaminya. Kewajiban untuk tinggal di rumah suami, betapa pun sederhananya tempat tinggal itu, merupakan ketetapan syari’at. Syari’at menjadikan kewajiban sang istri itu sebagai salah satu hak laki-laki yang menjadi suaminya. Suami berhak menuntut istrinya agar tinggal di rumah dan tidak meninggalkannya, kata Dr. Musa Kamil menjelaskan. Sekarang, ketika Anda telah mengikat perjanjian berat (mitsaqan ghalizha) bersama istri, pikirkanlah di mana Anda tinggal. Kalau sekarang Anda dihadapkan pada beberapa kemungkinan tempat tinggal, Anda bisa mempertimbangkan maslahat dan madharat pada masing-masing tempat dengan tetap mengingat bahwa menyediakan tempat tinggal bagi istri merupakan kewajiban Anda.

Kado Pernikahan 155

Masalah ini juga bisa Anda musyawarahkan dengan istri, wanita yang insyaAllah telah mengikhlaskan kesetiaan dan kasih-sayangnya untuk mendampingi Anda sepanjang hidupnya. Apakah sebaiknya Anda tinggal di rumah kontrakan sederhana, kredit rumah KPR/BTN, membangun sendiri rumah tinggal secara berangsur-angsur, atau memenuhi permintaan mertua untuk tinggal bersama mereka?

TINGGAL DI RUMAH SENDIRI Ada kelebihannya tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik, bagi mereka yang baru saja membangun rumah-tangga. Dengan tempat tinggal yang terpisah sehingga kita bisa mengatur sendiri roda rumah-tangga, kita bisa belajar secara lebih leluasa untuk saling mengenal, memahami secara lebih baik dan sekaligus membina kepekaan. Ketika suami-istri merasakan peluh perjuangan dalam meletakkan fondasi keluarga, insya-Allah akan dapat mengokohkan arah dan misi perkawinan. Perkawinan melahirkan kekuatan jiwa pada masing-masing anggotanya, kecuali jika masing-masing tidak memiliki kedewasaan yang cukup. Darinya lahir orang-orang yang memiliki kejelasan arah dan keberanian berjuang. Inilah yang dibutuhkan untuk masa depan masyarakat yang lebih mulia. Sepanjang sejarah, orang-orang besar yang membawa kemuliaan bagi umat manusia lahir dari keluarga yang memiliki kekuatan jiwa. Jiwalah yang menyimpan kekuatan dan kekayaan. Jiwa yang besar dan kokoh mampu mencairkan gununggunung batu yang keras. Tetapi, jiwa yang kerdil justru menyembunyikan kelemahan di balik apa-apa yang tampak sebagai kekuatan. Lihatlah Baghdad setelah masa Nizamul Mulk lewat. Bangsa yang besar dengan sejumlah kemajuan peradaban itu, segera jatuh dan habis oleh serangan Tartar yang waktu itu masih belum berbudaya. Dan dengan tempat tinggal yang terpisah dari orang lain, insya-Allah kita bisa lebih menghayati bagaimana membangun kekuatan jiwa untuk membentuk orientasi yang kokoh. Dalam rumah sederhana yang kita atur sendiri kita mempunyai kesempatan untuk menguati dan melengkapi. Melengkapi secara fisik dengan perabot-perabot rumah-tangga yang diperlukan, maupun melengkapi secara psikis dengan hati yang menerima, jiwa yang rela dan kesediaan untuk berjuang bersamasama. Jika kita mau menengok sejenak ke masa Rasulullah Saw dan para sahabat, kita melihat bahwa keluarga-keluarga yang baru saja terbentuk memulai kehidupan berumah-tangga dalam rumah yang terpisah dari orangtua. Fathimah putri Rasulullah, tinggal di rumah sederhana bersama suaminya Ali bin Abi Thalib dengan perabot rumah tangga yang dibeli dari sebagian mahar. Padahal mahar yang diterima Fathimah dari Ali bin Abi Thalib tidak terlalu besar untuk ukuran waktu itu maupun untuk ukuran waktu sekarang. Barangkali keseluruhan yang dikeluarkan untuk kepentingan tersebut tidak lebih besar dibanding sebuah prosesi perkawinan yang sangat sederhana di negeri kita yang jarang lahir orang besar ini. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 156

Ketika menikah, Ali tidak memiliki sebuah rumah yang akan ditempati untuk hidup berumah-tangga. Fathimah meminta sebuah rumah pada ayahnya, kata ‘Abdurrahman Asy-Syarqawi dalam buku Muhammad Sang Pembebas. Tapi ayahnya menolak keras permintaannya. Lalu datanglah seorang laki-laki kaya dari kalangan Anshor yang bermaksud untuk memberikan sebuah rumah yang mungil di antara rumah yang dimilikinya pada kedua suami-istri yang masih muda belia. Ali dan Fathimah tidak mau menerima pemberian laki-laki tersebut. Akan tapi laki-laki itu bersumpah tak akan memasuki rumah itu selama-lamanya. Laki-laki itu tetap bersikap keras untuk memberikan rumahnya, hingga akhirnya Muhammad Saw. membolehkan mereka berdua menerima pemberian itu dengan cara jual-beli. Tidak dengan cara hibah. Begitu Fathimah putri Rasulullah dan Sayyidina Ali membangun rumahtangganya. Bagaimana dengan pengantin baru lainnya? Mari kita tengok Asma’ binti Abu Bakar yang baru saja menikah dengan Az-Zubair. Ayahnya adalah seorang pedagang kaya yang sukses (kelak kita mengenalnya sebagai khalifah Rasulullah yang pertama). Ketika mengungsi ke Yatsrib, Abu Bakar membawa kekayaan yang bernilai empat puluh ribu dirham Makkah, ukuran yang sangat besar waktu itu. Abu Bakar memang sangat kaya waktu itu. Tetapi bagaimana dengan keluarga Asma’ binti Abu Bakar dengan Az-Zubair? Mari kita dengar penuturan Asma’ binti Abu Bakar: “Az-Zubair mengawiniku,” kata Asma’, “Di bumi ini dia tidak memiliki harta atau hamba atau apapun kecuali unta dan kudanya. Akulah yang memberi makan kudanya, menimba air, menjahit timba airnya (yang terbuat dari kulit) serta membuat adonan.... Aku juga biasa mengangkut biji kurma dari tanah Az-Zubair yang diserahkan kepadanya oleh Rasulullah Saw. di atas kepalaku. Tanah itu jauhnya kirakira dua pertiga farsakh (2 mil)... hingga Abu Bakar mengirimkan seorang pelayan kepadaku setelah itu untuk menggantikanku mengurusi kuda. Dengan demikian seolah-olah dia memerdekakanku.” (HR Bukhari dan Muslim). Salah satu manfaat tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik, adalah istri bisa berusaha melepaskan ikatan-ikatan keluarganya3 untuk memulai satu warna kehidupan rumah-tangga yang baru bersama suaminya. Ia belajar mengatur rumah-tangga sekaligus menyelami pikiran, semangat, dan perasaan suaminya. Sehingga ia bisa betul-betul mengenal suaminya dengan baik. Ini sangat penting bagi kelangsungan kehidupan rumah-tangga yang sejuk dan penuh kasih-sayang sesuai dengan keunikan pribadi masing-masing, sejauh tidak melanggar batas-batas agama. Kondisi ini merupakan fondasi untuk mendidik anak setelah mereka mendapatkan amanah tersebut dari Allah Swt. Cita-cita melahirkan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah sulit untuk tercapai jika kedua orangtua anak itu belum memiliki bekal jiwa yang mantap dan kokoh. Bagaimana orangtua harus memberikan pendidikan yang akan menumbuhkan syaja’ah (keberanian), iffah (kemampuan menahan diri), dan izzah (harga diri) jika

Kado Pernikahan 157

orang tuanya masih berkubang dengan kurangnya kehangatan dalam hubungan suami-istri? Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘azhim. Dalam rumah-tangga kita menginginkan kedamaian. Kita mengharapkan suasana keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, sehingga masing- masing anggota keluarga merasakan rumah mereka sebagai tempat peristirahatan yang memberikan keteduhan jiwa, kelapangan dan kedamaian. Tetapi adalanya keluarga yang baru belajar berumah-tangga harus mengalami benturan-benturan sampai menyebabkan mereka saling mendiamkan. Situasi semacam ini tidak perlu terjadi. Tetapi adakalanya, situasi konflik yang lahir karena masing-masing masih kurang mampu menyesuaikan diri, “menuntut” sikap khusus yang tidak memungkinkan ketika mereka tinggal dalam satu rumah dengan orangtua atau mertua. Alhasil, mereka harus tampil dengan topeng manis di depan anggota keluarga lainnya tanpa ada pengendapan masalah secara jernih. Akibatnya, mereka mengalami konflik-konflik tersembunyi. Na’udzubillahi min dzalik. Allahu A’lam bishawab. Saya kira cukup sampai di sini pembicaraan kita tentang manfaat tinggal di rumah sendiri. Masih ada manfaat lain, yaitu suami-istri bisa belajar bertaba’ul dengan lebih baik serta lebih memungkinkan terbentuk kedekatan yang lebih erat antara suami dan istri. Tetapi saya kira lebih baik kita membicarakan beberapa hal yang perlu kita perhatikan kalau kita akhirnya memutuskan untuk mengontrak rumah. Adapun bagi Anda yang telah memiliki rumah hak milik, bisa langsung menyimak bab berikutnya Saat Tepat untuk Berhias. Atau, Anda bisa mempertimbangkan untuk tinggal bersama orangtua. Tentang ini insya-Allah akan kita bicarakan di bagian akhir bab ini.

Catatan Ketika Mengontrak Rumah Sewa-menyewa rumah termasuk salah satu kegiatan muamalah yang memerlukan perjanjian tertulis. Dalam hukum positif, akta sewa sangat penting untuk memberi jaminan hukum terhadap transaksi yang terjadi antara penyewa dengan pihak yang menyewakan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Baik secara perdata maupun pidana. Persoalan ini penting untuk Anda perhatikan, terutama ketika perjanjian sewa berlaku untuk jangka waktu beberapa tahun dimana selama masa itu banyak perubahan dan kemajuan yang mungkin terjadi. Anda perlu membuat perjanjian tertulis yang memiliki kedudukan di hadapan hukum, sehingga Anda maupun pihak yang menyewakan dituntut untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku antar kedua pihak. Pelanggaran atas ketentuan yang disepakati bersama dapat berimplikasi hukum. Sebaliknya, Anda juga akan memperoleh jaminan hukum karena segala

Kado Pernikahan 158

bentuk tindakan pemilik rumah yang menciderai kesepakatan bersama dapat mendatangkan sanksi hukum. Keluarga muda kadang harus menghadapi berbagai masalah karena ketidaksiapan ketika pemilik rumah secara sepihak menciderai perjanjian, sementara penyewa tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada akta perjanjian yang memiliki kekuatan hukum. Mereka harus panik ketika pemilik rumah mengambil tindakan sepihak, misalnya dengan menaikkan harga secara tiba-tiba dan harus dipenuhi dalam tempo yang singkat semata sebagai strategi untuk mengeruk keuntungan secara sewenang-wenang. Mereka harus kalut karena tidak siap dalam banyak hal. Ketidaksiapan psikis untuk pindah, ketidaksiapan finansial untuk membayar atau mencari kontrakan baru, ketidaksiapan sosial untuk secara tiba-tiba menghadapi masyarakat yang berbeda, ketidaksiapan dalam masalah pendidikan anak-anak yang juga berarti proses adaptasi ulang yang mendadak serta ketidaksiapan lainnya yang riskan. Cukup mahal yang harus dibayar atas berbagai ketidaksiapan, terutama yang harus dibayar oleh anak bagi perkembangan dan pertumbuhannya di masa-masa berikutnya. Kepribadian anak bisa menjadi fragile (seperti barang yang mudah pecah) jika peristiwa semacam ini sering terjadi. Kecuali jika Anda mampu menjadi ibu seperti Khadijah istri Rasulullah. Keadaan semacam ini tidak hanya bisa membahayakan kondisi psikis anak. Orangtua pun bisa mengalami masalah berkenaan dengan interaksi sosial maupun interaksi antar anggota keluarga. Keadaan tempat tinggal yang tidak stabil dan selalu dihadapkan pada sejumlah kecemasan untuk melakukan penyesuaian diri kembali secara total akibat tindakan sepihak, dapat mengubah orientasi keluarga. Sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang sulit berempati kepada orang lain, sekaligus mengembangkan sikap-sikap egois. Mereka juga bisa mengembangkan orientasiorientasi materialis atau bahkan ketidakpercayaan pada akhlak-akhlak suci. Ini merupakan predisposisi untuk tumbuhnya ideologi-ideologi yang bertentangan dengan watak suci aqidah Islam. Ideologi ini bisa jadi tumbuh sebagai sikap hidup sehari-hari sekalipun mereka tetap merasa Islam sebagai pandang-an dunianya yang otentik. Bisa jadi secara sadar mereka mengalami perubahan pandangan. Yang pertama sebagai pandangan dunia aktual saja, sedang yang kedua menjadi pandangan dunia aktual sekaligus tekstual.4 Karena itu, Anda perlu memperhatikan betul masalah-masalah penting yang berkenaan dengan sewa-menyewa rumah, baik berkenaan dengan aspek hukum maupun as-pek psikis dan pendidikan. Perjanjian sewa-menyewa secara tertulis yang memiliki kekuatan hukum perlu Anda perhatikan sekalipun Anda melakukan transaksi (muamalah) dengan sesama muslim. Apalagi jika Anda berniat melakukan sewa selama beberapa tahun sementara bea sewa tidak dapat Anda penuhi sekaligus dalam satu kali pembayaran.

Masalah Anak Ketika Pindah
Kado Pernikahan 159

Keluarga-keluarga muda di masa sekarang semakin banyak yang tinggal di rumah-rumah kontrakan sampai mereka mempunyai beberapa anak. Bahkan adakalanya mereka masih tinggal di rumah kontrakan ketika anak-anak mereka sudah memasuki usia sekolah dasar maupun menengah pertama. Tidak jarang mereka harus berpindah-pindah karena berbagai alasan, sejak dari pencideraan akad sewa-menyewa secara sepihak oleh pemilik rumah sampai dengan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan sering berpindah. Setiap perpindahan ke tempat tinggal baru menuntut penyesuaian diri kembali secara drastis. Apalagi jika rumah baru yang akan ditempati berada di lokasi yang sama sekali asing. Tidak ada orang yang telah dikenal sebelumnya. Keadaan ini dapat menimbulkan masalah, terutama bagi anak usia TK ataupun awal SD. Karena itu, orangtua perlu mempersiapkan mental anak jauh-jauh hari sebelum pindah. Kecuali jika Anda terpaksa pindah secara mendadak atau anak Anda masih bayi (kalau ini, ibunya yang perlu mempersiapkan diri). Orangtua perlu memberitahukan rencana kepindahan kepada anak beberapa minggu sebelumnya. Syukur bisa satu atau dua bulan sebelumnya. Selama masa itu, orangtua bisa memberi gambaran tentang tempat tinggal yang baru dan apa saja yang bisa dilakukan di sana. Orangtua juga bisa menceritakan mengenai berbagai hal yang “dapat” menjadi nilai lebih dari tempat tinggal yang baru sehingga menggerakkan keinginan anak untuk pindah. Ini akan sangat membantu anak untuk mengurangi stress dan perasaan terasing karena berpisah dari kawan-kawan bermainnya setelah berpindah. Keterlibatan orangtua untuk membantu anaknya melakukan penyesuaian diri sangat diperlukan. Di saat-saat anak masih terasa terasing, orangtua perlu menjadi kawan yang akrab dan hangat bagi anak-anaknya sehingga mereka tetap bisa berkembang secara baik. Jika Anda mampu menjadi sahabat yang baik bagi anakanak Anda, bisa jadi saat-saat seperti ini merupakan kesempatan bagi Anda untuk bisa menyelami anak Anda secara lebih mendalam dan akrab. Sehingga Anda mengenal betul anak Anda, dan anak merasa hormat sekaligus sayang terhadap Anda. Ini membantu Anda menjadi orangtua yang efektif. Untuk menuju ke arah sana, orangtua dapat melibatkan anak-anak untuk pindah tempat tinggal sekaligus melakukan penyesuaian diri. Ini dilakukan sejak masa belum pindah, ketika sedang pindah, sampai dengan awal-awal menjalani kehidupan di tempat tinggal yang baru. Yang disebut terakhir ini misalnya menemani anak untuk memperoleh kesempatan bergaul dengan teman sebaya, tanpa menjadikan anak terhambat proses sosialisasinya. Maksudnya, keterlibatan orangtua jangan sampai menjadikan teman-teman anak tidak bisa berekspresi sebagai anak-anak karena rikuh terhadap Anda. Contoh lain adalah berkenaan dengan proses penyesuaian diri dengan sekolah yang baru. Orangtua bisa membantu anak melakukan sosialisasi dengan mengantarkan anak ke sekolah. Membantu anak melakukan penyesuaian diri dan sosialisasi ini juga bisa Anda lakukan dengan menanyakan perkembangan anak di

Kado Pernikahan 160

sekolah yang baru maupun mengajak anak mengkomunikasikan pengalamanpengalaman serta perasaannya dalam penyesuaian diri dan bergaul dengan teman barunya. Sekali waktu Anda juga bisa memaklumi kebutuhan anak untuk bertemu dengan teman-teman lamanya di tempat tinggal Anda yang dulu. Anda justru bisa mengajak anak silaturrahmi ke tetangga-tetangga lama jika memungkinkan.

TINGGAL BERSAMA ORANGTUA Adakalanya keluarga muda memilih tinggal bersama orangtua, bukan di rumah kontrakan atau bahkan rumah sendiri. Sebagian memilih tinggal bersama mertua karena desakan orangtua atau sanak kerabat istri. Sebagian karena desakan ekonomi, sehingga lebih baik dana yang terbatas dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan lain yang maslahat daripada membayar sewa rumah. Sebagian lagi karena dorongan untuk berbakti kepada orangtua. Ada juga yang ingin menyenangkan istri dengan berbagai alasan. Dan mungkin juga ada yang tinggal bersama mertua karena masalah ini menjadi syarat nikah dari istri ketika suami mengajukan keinginannya untuk menikahi. Khusus yang terakhir ini, saya tidak membahas di bab ini. Silakan Anda melihat kembali pada bab "Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu?" di jendela pertama buku kita ini. Ada kelebihannya tinggal bersama mertua atau orang-tua5. Mereka telah memiliki pengalaman hidup yang banyak, sehingga insya-Allah telah cukup arif untuk memahami masalah-masalah suami-istri yang baru menikah. Mereka dapat memberi bimbingan kepada anak dan menantunya, sehingga mereka dapat membangun keluarga dengan kondisi yang lebih baik. Mereka juga bisa memberikan bantuan-bantuan kepada rumah tangga anaknya, tanpa menjadikan fondasi rumah tangga anaknya lemah. Sebab kebaikan dapat melemahkan manusia. Al-ihsanu yu’jizul insan. Ada sebuah ungkapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib6. Katanya, “Ajaklah bermusyawarah orang yang sudah tua karena mereka telah banyak pengalaman. Dan mintailah pendapat yang masih muda karena mereka masih jernih.” Dalam keadaan demikian, tinggal bersama orangtua atau mertua di masa awalawal menikah bisa justru lebih dekat kepada kemaslahatan. Mereka dapat membimbing Anda bagaimana menjalankan kehidupan berumah tangga, tanpa mencampuri perkara-perkara yang mestinya memang diserahkan kepada Anda sendiri untuk menentukan. Mereka dapat mengarahkan bagaimana Anda harus menjadi suami dan istri Anda harus mendampingi Anda, tanpa menjadikan Anda berdua mengalami ketegangan dan konflik-konflik psikis. Orangtua yang bagus agamanya, insya-Allah dapat bertindak demikian. Mereka tahu apa yang menjadi hak menantu atas mertua. Juga, mereka insya-Allah dapat

Kado Pernikahan 161

memahami batas-batas kewajiban seorang menantu. Hak menantu atas mertua antara lain “pembelaan” ketika menghadapi konflik. Sejauh yang saya pahami, Islam menggariskan bahwa mertua merupakan pembela bagi menantu ketika menengahi masalah. Mereka membela menantunya, bukan anaknya. Mereka merupakan sumber rasa aman bagi menantu sekaligus membantu dalam proses ishlah (perbaikan hubungan) ketika masalah yang ada pada mereka tidak dapat diselesaikan sendiri. Sekalipun demikian, tentu saja mereka tetap dituntut untuk adil terhadap anaknya sendiri maupun menantu. Jadi, orangtua suami merupakan “pembela” sekaligus sumber rasa aman bagi istri. Sementara orangtua istri merupakan “pembela” bagi suami. Bukan sebaliknya, menjadi sumber ketegangan dan perasaan tertekan karena adanya berbagai tuntutan yang ditujukan kepada menantunya. Ketegangan dan konflik psikis ini rentan muncul ketika orangtua atau saudarasaudara perempuan suami sudah memiliki sikap “seharusnya seorang istri itu sikapnya begini atau begitu”. Ketika sikap semacam ini muncul, yang terjadi adalah pihak keluarga suami mengembangkan tuntutan-tuntutan psikis terhadap istri. Padahal ketika seseorang memiliki tuntutan psikis untuk memperoleh perlakuan dari orang lain, ia akan berkurang kepekaannya terhadap kebaikan yang ada. Masalah ini riskan, terutama jika terdapat dua hal. Pertama, tidak terbangun komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kurang bagusnya komunikasi bisa jadi karena mereka mengalami kekalutan emosi, sehingga cenderung melihat masalah dengan satu arah. Bisa jadi karena belum matangnya kedua pihak, terutama suami, sehingga menghasilkan komunikasi yang cenderung koersif (memaksa)7. Kedua, orangtua memiliki prasangka yang kurang baik tentang iktikad menantunya, sehingga dapat menjadi self-fulfilling prophecy (nubuwwah yang dipenuhi sendiri). Ini bisa membawa ke persoalan psikis yang akumulatif. Orang tua tetap mengingat “kesalahan-kesalahan” menantunya yang terjadi di masa lalu. Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi yang demikian, khususnya dampak akumulatif. Salah satunya yang cukup rentan adalah kebiasaan untuk saling menceritakan kekecewaan dan secara bersama-sama mengembangkan sikap minor. Dalam keadaan demikian, masing-masing pihak tidak berusaha untuk memberikan interpretasi terbaik terhadap sikap atau perkataan pihak lain. Tentang ini, Rasulullah Saw. mengingatkan, “Jika engkau mendengar sesuatu yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya.” Ketika Imam Ahmad ibn Hanbal ditanya mengenai hadis ini, beliau berkata, “Carilah alasan untuknya dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau mungkin maksudnya begini.”

Kado Pernikahan 162

Saya tidak berani meneruskan pembicaraan tentang masalah ini. Hanya kepada Allah kita berharap, mudah-mudahan Allah memperbaiki lisan kita dan menjaminkan bagi kita beserta keturunan kita keselamatan dunia akhirat. Allahumma amin. Selain masalah komunikasi, terutama jika tidak ada budaya tabayyun (mengklarifikasi informasi), ada beberapa hal yang bisa menyebabkan munculnya konflik. Konflik ini mungkin bersifat internal, mungkin bersifat eksternal. Konflik internal lebih bersifat beban psikis. Mereka mengalami konflik batin, tetapi tidak sampai muncul ke permukaan sehingga tidak menimbulkan pertengkaran. Namun demikian masalah semacam ini dapat muncul dalam bentuk lain, misalnya sikap mereka atau salah satu di antara mereka terhadap orang lain. Bisa juga sikap mereka terhadap anak. Sebagian sistem perkawinan juga potensial menimbulkan masalah. Hanya saja, pembicaraan tentang masalah ini perlu tempat khusus agar cukup leluasa untuk mendalami. Saat ini cukuplah saya garis bawahi bahwa sejauh pemahaman saya, Islam menetapkan prinsip kesederhanaan dan kemudahan. Sederhana dalam proses, sederhana dalam pelaksanaan. Mudah dalam proses, mudah dalam pelaksanaan. Sejauh memenuhi ketentuan minimal; ada kedua mempelai, ada wali, ada saksi, dan ada mahar, cukuplah. Selanjutnya, suami dapat melaksanakan walimah --meskipun hanya dengan seekor kambing-- setelah memboyong istrinya ke rumah. Beberapa hal yang bisa menjadi sumber masalah, antara lain:

Anak yang Diharapkan Ada anak yang sangat diharapkan oleh keluarga dan sanak saudara. Ia menjadi orang yang dibanggakan. Ia menjadi orang yang diperhatikan dan didengarkan. Keluarga merasa kurang lengkap kalau ia tidak hadir dalam acara yang khas keluarga. Anak yang diharapkan bisa juga karena keluarga bertumpu kepadanya untuk melanjutkan garis kehormatan keluarga; untuk melanjutkan klan keluarga --apa pun istilahnya. Posisi sebagai anak yang diharapkan dapat menjadikan istri pilihannya lebih mudah diterima dan dipahami oleh keluarga. Keluarga memberi dukungan yang penuh dan tulus kepada menantunya, sehingga memudahkan dia dalam penyesuaian diri. Bisa juga sebaliknya, keluarga bias dengan sikapnya terhadap orang yang sekarang menjadi suami Anda. Keluarga biasa memperlakukannya sebagai porselen antik, sehingga mereka mengharapkan Anda memperlakukan suami (juga keluarganya, barangkali) sebagai porselen antik. Padahal Anda dan suami menghendaki pola interaksi yang berbeda.

Kado Pernikahan 163

Keluarga yang Menuntut Sikap menuntut kadang menimbulkan masalah. Ini terutama jika tidak diimbangi dengan kelapangan hati bahwa setiap orang memiliki sejarah hidup dan sejarah keluarga sendiri. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Setiap orang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang berbeda-beda keadaannya maupun kerangka sikapnya. Pola berpikir antara dua orang bersaudara saja bisa berbeda. Sikap menuntut yang tidak diimbangi dengan penerimaan tentang keunikan perkembangan setiap manusia, menyebabkan keluarga tidak mau mengerti mengenai proses belajar. Mereka menuntut menantunya untuk bisa bersikap dan berperilaku sesuai “standar nilai keluarga” dengan tidak memberi permakluman bahwa untuk itu orang membutuhkan waktu. Waktu untuk belajar, waktu untuk menyesuaikan diri, dan waktu untuk mensinkronkan nilai-nilai yang ada dalam dirinya. Di sinilah perlu komunikasi yang baik. Setiap kita wajar memiliki tuntutan. Yang kita perlukan adalah mempertemukan tuntutan-tuntutan itu agar tidak menjadi benturan yang keras.

Saudara Perempuan Serumah Salah satu hal yang riskan ketika saudara perempuan serumah dengan istri adalah pembandingan. Saudara perempuan membandingkan dengan apa yang ideal menurutnya terhadap iparnya; membandingkan dirinya atau bahkan ibu dan kerabat dengan iparnya. Masalah juga bisa muncul jika saudara perempuan memiliki kecemburuan terhadap iparnya karena “telah mengambil” perhatian saudaranya. Masalah ini ketika disimak kadang terasa lucu. Akan tetapi, peristiwa semacam ini acapkali memang terjadi. Meskipun demikian, tentu saja Anda jangan menggeneralisir sehingga menyamaratakan. Kehadiran saudara perempuan serumah kadang malah sangat positif karena mau memahami, mendampingi, membimbing ipar dalam memahami suaminya. Ini memudahkan istri mengenali dan menyesuaikan diri dengan suaminya. *** Insya-Allah benturan-benturan tidak akan terjadi seandainya keluarga memahami agama, sehingga mereka menghormati kedudukan menantu dan saudara ipar dalam rumah serta memahami batas-batas hak dan kewajiban. Benturan kadang muncul karena tuntutan maupun penilaian didasarkan pada standar nilai pribadi yang kadang tidak jelas ukurannya. Selain itu, peran suami dalam menyelaraskan sikap keluarga dengan istrinya sangat banyak menentukan. Misalnya berkenaan dengan kecemburuan saudara perempuannya, ia dapat menetralisir sejak awal.

Kado Pernikahan 164

Pada akhirnya, memang kedewasaan sikap dari kita yang banyak menentukan. Masalahnya, apakah kita selama ini telah cukup dewasa dalam mengarifi kehidupan kita? Itulah!

PRIORITAS TEMPAT TINGGAL Setelah menikah, maka yang harus ditaati pertama kali oleh seorang suami adalah orangtua, terutama ibunya. Sedang bagi istri, yang pertama kali harus dipatuhi adalah suaminya. Suami berkewajiban menyediakan tempat tinggal bagi istri. Sebagai imbangan, istri harus bersedia bertempat tinggal di mana pun, sejauh suami tidak menjerumuskan dengan menempatkannya pada lingkungan yang rusak dan penuh kefasikan (naudzubillahi min dzalik). Kalau suatu saat mereka dihadapkan pada pilihan untuk tinggal bersama orangtua agar bisa berkhidmat kepada mereka, sedangkan orangtua dari kedua belah pihak menghendaki, maka yang perlu diprioritaskan pertama kali adalah orangtua suami. Sesudah itu, baru orangtua istri. Meskipun demikian, jalan musyawarah adalah lebih baik, sehingga tercapai kemaslahatan bersama. Ada hukum. Ada kearifan (tanpa merusak hukum). Sampai di sini pembahasan kita tentang tempat tinggal. Semoga bermanfaat. Semoga Allah Swt. memberikan barakah dan ampunan-Nya. Allahumma amin.

Catatan Kaki: 1. 2. Periksa misalnya dalam buku Suami-Istri Islami karya Dr. Musa Kamil terbitan Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997. Penjagaan terhadap privacy istri ini terutama menonjol pada pandangan mazhab Hanafi. Menurut mazhab Hanafi, suami harus menyediakan tempat tinggal untuk istrinya di satu rumah yang terpisah, tidak ada seorang pun keluarganya di situ, kecuali yang dikehendaki oleh istrinya. Melepaskan ikatan keluarga tidak dalam pengertian mengurangi silaturrahmi, apalagi sampai memutus. Melepaskan ikatan keluarga berarti melepaskan pola berumahtangga sebagaimana yang diterimanya dalam keluarga orangtua, untuk kemudian bisa memulai pola kehidupan berumahtangga sebagaimana dikehendaki oleh kedua pihak: suami dan istri. Semoga dengan demikian, lebih mudah mencapai keharmonisan dan kekukuhan. Wallahu A’lam bishawab.

3.

Kado Pernikahan 165

4.

Pembahasan mengenai pandangan-dunia aktual dan pandangan-dunia tekstual silakan lihat pada buku Mendidik Anak menuju Taklif (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996). Dalam bab ini, jika saya menyebut kata mertua dan orangtua secara bersamaan, maka kata mertua berarti orangtua istri. Sedang kata orangtua berarti orangtua suami. Ini karena yang berkewajiban menyediakan tempat tinggal adalah suami, sehingga pembicaraan ini seakan-akan saya tujukan kepada suami. Meskipun sesungguhnya juga perlu dibaca oleh istri karena istri juga bisa ikut memberi pertimbangan. Saya belum menemukan sumber tertulis apakah qaul (pendapat, nasehat) ini memang berasal dari beliau r.a. atau tidak. Karena itu saya tidak memastikan bahwa qaul ini berasal dari beliau. Meskipun demikian dari isinya, insya-Allah kita bisa mengambil beberapa pelajaran yang bermanfaat. Coercive-communication adalah pola komunikasi yang memberi efek perasaan dipaksa atau terpaksa pada orang yang diajak berkomunikasi. Pembahasan lebih lanjut tentang coercive communication bisa Anda baca pada bab Komunikasi Suami-Istri di jendela ketiga buku ini.

5.

6.

7.

Kado Pernikahan 166

Bab 12

S
A

aat Tepat untuk Berhias

bdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu biasa membaca Al-Qur’an, kata Al-Qasim bin Abdurrahman. Jika sudah selesai membaca dia bertanya, “Mana orang-orang yang masih bujangan?” Kemudian ia berkata lagi, “Mendekatlah ke sini, kemudian katakan, ‘Ya Allah anugerahilah aku seorang wanita yang apabila kupandang dia membuatku senang, jika kusuruh dia menurutiku, dan jika aku meninggalkannya dia menjaga dirinya dan hartaku’.”

Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugerahkan kepadanya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah, terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan-kesenangan di luar, tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya. Baiti jannati. Rumahku surgaku. Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami semakin bertambah kuat jalinan perasaannya (‘athifah). Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Barangkali ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu tentang istrinya, Fathimah binti Rasulullah, merupakan gambaran sempurna tentang istri yang apabila dipandang membuat suami merasa semakin sayang. Kata Sayyidina Ali, “Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.” Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia mempunyai istri yang wajahnya cantik memikat.

Kado Pernikahan 167

Tetapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa faktafakta. Kedua, bantahan as-Sunnah dari Rasulullah Muhammad Saw. Konon, Christina Onassis mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir, ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri. Christina memiliki kecantikan wajah yang memikat. Banyak laki-laki yang mengaguminya. Tetapi perkawinannya tak pernah lama. Mereka yang dulu sangat mengaguminya, menyudahi perkawinan Christina dengan bercerai. Kecantikan wajah tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan (‘athifah) antara Christina dan suami-suaminya tidak semakin kuat. Kasus Christina memberi pelajaran bagi kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya lebih bersifat qalbiyyah. Christina Onassis tidak sendirian. Ada kasus-kasus lain, baik yang mencuat ke permukaan maupun tidak. Tetapi bukan bagian kita saat ini untuk mengkompilasi kasus-kasus seperti yang dialami oleh putri Onassis ini. Cukuplah kasus Christina Onassis sebagai bantahan pertama. Rasa cinta dan ‘athifah (jalinan perasaan) bukan tumbuh dari wajah yang mempesona. --“Engkau tak mungkin dapat mencukupi kebutuhan semua orang dengan hartamu; karenanya, cukupilah mereka semua dengan wajahmu yang gembira dan watak yang baik.” --Dalam bentuk sederhana, kita mendapati di sekeliling kita bahwa orang lebih mudah tersentuh hatinya oleh keramahan dan kelembutan daripada keelokan wajah. Sikap yang baik meluluhkan hati manusia sehingga di hatinya tumbuh kasih-sayang. Sedang kecantikan wajah segera sirna pesonanya ketika ia menampakkan sikap kurang bersahabat, keras hati, dan meninggikan diri. Allahu A’lam bishawab. Dari bantahan pertama yang berupa fakta, marilah kita memeriksa bantahan kedua, yaitu hadis Nabi Muham-mad Saw. Rasulullah al-ma’shum pernah bersabda,
Kado Pernikahan 168

“Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikannya itu membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena hartanya, mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi nikahilah seorang wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya, adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah). Ada lagi hadis yang sangat populer di kalangan kita tentang kriteria wanita yang akan dinikahi. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Biasanya wanita dikawini karena empat (hal): karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya (akhlaknya). Maka pilihlah yang beragama (berakhlak) semoga beruntung usahamu.” (HR Bukhari & Muslim). Lalu, apakah hadis-hadis tersebut tidak bertentangan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Khathib? Al-Khathib meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi, “Memandang wajah yang tampan atau cantik dapat menjernihkan mata, sedangkan memandang wajah yang jelek mengakibatkan wajah masam dan cemberut.” Sebelum berbicara lebih lanjut, mari kita dengarkan penjelasan pakar hadis zaman ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Dalam Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’, Al-Albani menyatakan bahwa hadis itu maudhu’. Palsu. Dengan demikian sama sekali tidak tidak bisa dipakai sebagai argumentasi (hujjah) yang dapat diterima. Al-Albani lebih lanjut menegaskan, “Umumnya perawi ini meriwayatkan haditshadits munkar, bahkan saya yakin bahwa dialah yang memalsu hadits ini. Demikian pernyataan Ibnu Adi.” Ada hadis-hadis serupa dengan ini, tetapi kedudukannya juga maudhu’ (palsu). Karena itu, saya kira saya tidak perlu menambahkan di sini. Cukuplah penjelasan tentang kemaudhu’an satu hadis di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan ini semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zahir. Ada yang lebih bersifat bathiniyyah. Lebih bersifat psikis. Lebih lanjut tentang masalah ini bisa Anda baca pada bab Ada Keindahan Yang Lebih Besar. Sekalipun demikian, perhatian terhadap kecantikan yang bersifat psikis hendaknya tidak melalaikan wanita untuk merawat kecantikan fisiknya. Seorang wanita shalihah insya-Allah akan merawat kecantikannya dan berdandan untuk suaminya, justru karena rasa sayangnya yang sangat besar terhadap suami dan terutama karena kesadarannya tentang kewajiban untuk menjadikan pandangan mata suaminya sejuk ketika memandangnya. Dengan demikian suami tak tergerak untuk memandang yang lain. Ia mencukupkan diri dengan hanya memandang istrinya. Saya jadi teringat kepada sebuah hadis Nabi. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, AdDailami meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, yaitu keras menjaga kehormatannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.”

Kado Pernikahan 169

Muhammad Utsman al-Khasyat menulis di dalam buku Muslimah Ideal Di Mata Pria tentang penampilan fisik bagi wanita. Kata al-Khasyat, “Setiap wanita sangat membutuhkan penampilan fisik. Ia juga mesti bertingkah-laku wanita dan berusaha menampakkan kelembutan dan daya tariknya. Wanita seperti ini menunjukkan penghormatan kepada kewanitaannya dan memperlihatkan keinginannya untuk menarik perhatian suaminya.” Seorang istri shalihah yang mencintai suaminya akan berusaha merawat kecantikannya untuk menyejukkan pandangan mata suami, sehingga tidak memandang wanita ajnabi yang bukan haknya. Ia berhias ketika di rumah, dan tidak melakukannya ketika keluar rumah. Di saat ia berada di samping suaminya, ia bisa memakai parfum yang menghangatkan penciuman suami. Tetapi tidak memakainya ketika keluar, karena untuk ke masjid saja ia harus membersihkannya sampai tak tercium baunya kalau pada saat itu ia sedang berparfum. Lebih lanjut silakan periksa kembali bab Memasuki Malam Zafaf pada pembahasan tentang sebaik-baik perhiasan bagi laki-laki dan perempuan. Berhias bagi seorang istri untuk suaminya termasuk perbuatan yang mempunyai nilai ‘ibadah. Demikian juga bagi suami, sunnah berhias bagi istrinya sekalipun ada perbedaan antara berhias bagi laki-laki dan berhias bagi wanita. Mengharumi tubuh merupakan salah satu sunnah dalam berhias bagi seorang laki-laki. Rasulullah Saw., kata Muhammad Abdul Halim Hamid dalam buku Bagaimana Membahagiakan Istri (Citra Islami Press, Solo, 1996), adalah orang yang paling wangi baunya. Beliau mencintai wewangian dan memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk memakainya. Bau wewangian juga merupakan faktor penguat ikatan cinta suami-istri dan menjauhkan dari rasa sebal. Wallahu A’lam bishawab. Seorang istri bisa berhias untuk suaminya kapan saja, sejauh tidak menyebabkan kewajibannya terlalaikan. Tetapi ada tiga waktu yang insya-Allah tepat untuk berhias, yaitu ketika suami akan pergi, ketika suami pulang, dan ketika berangkat ke pembaringan. Tiga waktu ini memberi kesan khusus bagi suami, sehingga lebih berarti dibanding waktu lain kecuali saat berjima’ dan saat suami sedang manja. Wallahu A’lam.

Ketika Suami Akan Pergi Pada awal berumah-tangga, seorang istri mungkin bisa berhias secara sempurna. Tetapi ketika anak sudah banyak, agaknya repot bagi istri untuk berhias secara sempurna setiap pagi ketika akan melepas suaminya berangkat bekerja. Urusan dengan anak, terutama ketika anak masih balita, cukup menyita waktu dan perhatian. Sekalipun demikian, hendaklah istri bisa menyisakan waktu untuk berhias bagi

Kado Pernikahan 170

suaminya agar ketika suami berangkat yang terakhir dilihatnya adalah wajah istri yang cantik dan menyejukkan. Berhias ketika suami akan berangkat kerja, tidak mesti harus mempercantik diri dengan alat kosmetik. Di saat sangat repot mengurusi anak, agaknya menjaga kebersihan muka yang berseri-seri telah cukup untuk merawat jalinan perasaan suami kepada Anda. Ini terutama ketika Anda menemaninya di meja makan, saat-saat yang berarti bagi suami sebelum berangkat kerja. Suasana di meja makan, kata Muhammad Abdul Halim Hamid, dapat digunakan untuk menunjukkan rasa kasih-sayang, demikian juga ketika Rasulullah Saw. sedang menyantap hidangan dengan istrinya. Ia mengambilkan makanan, menyuapkannya dan demikian pula sebaliknya. Ia meminum di tempat istrinya dan demikian pula sang istri berbuat yang sama. Begitu Muhammad Abdul Halim Hamid menulis di bukunya. Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Suatu saat ketika saya haid saya minum dengan gelas Rasulullah Saw., kemudian beliau meminum di tempat saya meletakkan mulut. Ketika saya haid dan tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada Rasulullah dan beliau meminumnya di tempat mana saya meminum.” (HR Muslim). Sekali lagi, dalam kehidupan sehari-hari istri Anda mungkin tidak bisa berhias dengan sempurna setiap Anda akan berangkat kerja karena banyaknya kesibukan yang harus ia jalani sebagai istri, ibu dan kepala rumah-tangga (sedang Anda sebagai kepala keluarga). Apalagi jika anak sudah banyak, sebagian masih kecil dan membutuhkan banyak perhatian. Sedangkan yang ada dalam kandungan sudah mencapai usia tujuh bulan. Ia mungkin tidak sempat memakai ghumrah (pemerah pipi dari za’faran), padahal Anda termasuk suami yang menyukai melihat wajah istri yang memerah lembut. Dan Anda pun termasuk suami yang mengharapkan dapat merasakan aroma mewangi ketika mengecup istri menjelang berangkat kerja atau pergi jauh. Ia mungkin juga tidak sempat untuk memberi khidhab (pewarna telapak tangan), jika sebelumnya ia biasa memakai untuk Anda. Ia juga tidak mempercantik dirinya dengan sesuatu yang sangat Anda sukai. Semua itu bukan karena cintanya kepada Anda telah berkurang. Tetapi karena besarnya perhatian dan tanggung jawab istri Anda terhadap anak-anak. Dalam hal ini, Anda perlu memahami dan menerima istri Anda. Ada satu catatan. Pagi hari merupakan stressful-time (waktu yang paling mudah menimbulkan stres) bagi hampir semua anggota keluarga, terutama keluarga yang tidak memiliki pembantu. Apalagi pada masa sekarang, ketika pendidikan anak umumnya diserahkan kepada lembaga pendidikan formal, sejak dari TK (bahkan play-group) sampai dengan SLTA, stres “pagi hari” lebih mudah muncul. Ibu sibuk memandikan si kecil yang baru menginjak usia satu setengah tahun sambil tetap menjaga agar nasinya tidak hangus. Sementara kakaknya yang usia 5 tahun bersiapsiap untuk pergi ke TK bersama kakaknya yang akan belajar di SD. Belum lagi harus mengurusi Anda yang kadang juga meminta perhatian hampir sama besarnya dengan

Kado Pernikahan 171

anak yang sudah duduk di SMP. Praktis, istri tidak bisa setiap hari berhias secara sempurna. Meskipun demikian, seorang istri ada baiknya untuk tetap mengusahakan agar dapat kelihatan berseri-seri ketika menemani suami makan dan melepasnya pergi. Menata rambut secara sederhana (kalau di hadapan suami kan nggak apa-apa melepas jilbab) dan membersihkan muka sekedarnya dengan air (tanpa lotion pembersih muka), cukuplah. Asal tidak awut-awutan. Apalagi kalau setiap pagi begitu. Adapun kalau Anda ingin membahagiakan suami dengan berhias secara sempurna, maka yang demikian ini lebih baik. Insya-Allah pandangan mata suami Anda akan lebih terjaga, sehingga hatinya juga ikut terjaga. Tetapi Anda tetap perlu memperhatikan siapa suami Anda. Sebab Anda berhias untuk suami Anda seorang. Sebagian suami senang melihat istri yang memakai kosmetik. Sebagian ada yang senang kalau istrinya polos. Tidak menggunakan alat-alat kosmetik apa pun meskipun hanya untuk di rumah. Bahkan bedak pun tidak, karena kecantikan memancar dari jiwa. Sebagian senang melihat istrinya memakai ghumrah (pemerah pipi) dan lipstik saat di rumah. Tetapi ada juga yang tidak suka kalau istrinya memakai lipstik karena merasa seronok. Nah, Anda perlu memperhatikan masalah-masalah se-macam ini disamping memperhatikan kesukaan Anda sendiri. Biarlah sekali waktu suami Anda tertegun ketika melihat Anda. Masih ada satu catatan lagi. Seorang istri hendaknya menjaga diri agar tidak berlebihan dalam berhias, baik dalam pemakaian alat kosmetika dan perhiasan maupun waktu yang dihabiskan untuk berhias. Terkadang ada wanita yang karena kurang percaya diri atau karena kecenderungan untuk mengagumi kecantikan dirinya secara berlebihan, menjadikan dirinya tidak dapat mengendalikan keinginan untuk menggunakan berbagai alat kosmetik. Begitu juga terhadap mode-mode pakaian, tidak terkecuali busana muslimah. Juga, terkadang ada wanita yang senang berlamalama mematut diri di depan cermin untuk berhias. Begitu lamanya ia berhias sampai ia tertegun kagum memandang dirinya. Sementara suami bosan menunggu dan sampai menyebabkan dirinya merasa jengkel. Hal semacam ini perlu dihindari oleh seorang istri shalihah. Berhias untuk suami itu baik. Berhias itu fithrah. Apalagi bagi seorang wanita. Ia bisa memperoleh kebahagiaan di dalamnya. Tetapi ia harus memperhatikan agar tidak sampai berlebihan. Selebihnya, bagi Anda yang ingin membaca lebih jauh silakan periksa buku Muslimah Ideal Di Mata Pria karya Muhammad Utsman al-Khasyat. Sebaliknya, seorang suami juga perlu belajar memahami istrinya. Kalau Anda cukup lima atau sepuluh menit saja untuk berhias, maka tidak demikian untuk istri Anda. Perawatan tubuh pada laki-laki berbeda dengan wanita. Kecenderungan alamiah maupun proses belajar antara Anda dan istri Anda juga berbeda. Jumlah penampang penghasil bau badan juga berbeda. Wanita memiliki apocrine yang

Kado Pernikahan 172

menghasilkan bau badan khasnya, 70% lebih banyak dibanding laki-laki, meskipun ada sebagian laki-laki yang apocrinenya cukup besar. Jadi pahamilah istri Anda kalau ia membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk berhias. Terimalah istri Anda. Insya-Allah Anda akan mendapati istri Anda semakin sayang kepada Anda. Dan Anda pun merasa semakin sayang ketika memandang wajahnya yang bersih dan bola matanya yang memancarkan rasa cinta dan kerinduan halus kepada Anda.

Ketika Suami Pulang “Engkau,” kata Rasulullah Saw., “tak mungkin dapat mencukupi kebutuhan semua orang dengan hartamu; karenanya, cukupilah mereka semua dengan wajahmu yang gembira dan watak yang baik.” (HR Al-Hakim dalam Mustadrak). Rumah bukan hanya rumah, kata Ruqayyah Waris Maqsood. Rumah adalah tempat berlindung, tempat yang memberikan ketenteraman, kedamaian, tempat berbagai hal, dan tempat rizki. Ketenteraman dan keteduhan jiwa bagi istri. Juga tempat suami menemukan ketenangan. Rumah adalah surga bagi penghuninya (mudah-mudahan Allah menjadikan rumah kita termasuk yang demikian. Amin). Ketika seorang suami mengalami kepenatan selama di luar rumah, terutama kepenatan-kepenatan yang bersifat psikis, maka ia mendapatkan kegairahan dan semangat baru ketika bertemu dengan istrinya di rumah. Sambutan yang hangat disertai senyum mesra dan pandangan mata yang menampakkan kerinduan, meluluhkan rasa capek dan mungkin juga gumpalan-gumpalan emosi di luar rumah. Apalagi jika suami sedang menghadapi pekerjaan yang memeras energi psikis, maka yang dapat menyejukkannya adalah wajah yang gembira dan watak yang baik. Begitu pelajaran yang bisa kita tarik dari hadis riwayat Al-Hakim di awal sub bab ini. Atau pada saat tertentu suami harus mencari pangkuan istri untuk menemukan kedamaian ketika merebahkan kepalanya. Suatu ketika mungkin Anda akan benar-benar menjumpai suami Anda berharap bisa merebahkan kepalanya di pangkuan Anda (sebagaimana, Anda akan mencari dada suami di saat ada air mata yang harus ditumpahkan dan luapan perasaan yang ingin Anda bagi tanpa dinyatakan secara lisan). Inilah salah satu manfaat perkawinan yang barakah: menghidupkan kembali semangat dan kekuatan saat bertemu istri di rumah. Imam Al-Ghazali menulis, “Salah satu manfaat perkawinan adalah kenikmatan mempunyai pendamping dan memandangnya dan dengan berbagi kegembiraan bersamanya membuat hati disegarkan kembali dan diperkuat untuk mengabdi kepada Allah; karena jiwa cenderung mengalami kebosanan dan cenderung untuk mengelak kewajiban sebagai sesuatu yang tak wajar. Jika jiwa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tak disukainya, maka ia akan mengeluh dan mundur, tetapi jika dihidupkan kembali

Kado Pernikahan 173

dengan kesenangan dari waktu ke waktu maka ia akan memperoleh kekuatan dan semangat baru.” Sempurnalah perkawinan dan kebahagiaan yang dirasakan ketika rumah memberi kedamaian dan penuh kasih-sayang (sehingga anak-anak kelak tak ingin lari dari rumah). Sempurnalah kebahagiaan ketika suami semakin sayang setiap memandang wajah istrinya yang semata wayang. “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw., “istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak bisa membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.” Di saat suami pulang dari bepergian (terutama bepergian jauh), istri diharapkan dapat menyambutnya dengan kegembiraan wajah, kehangatan senyuman, dan diri dalam keadaan berhias. Barangkali, dibanding berhias saat suami akan pergi, berhias ketika suami pulang jauh lebih besar maslahat dan manfaatnya. Kepercayaan dan rasa cinta yang mendalam, bisa disuburkan dari sini. Kepercayaan dan rasa sayang suami kepada istri, juga kepercayaan dan kesetiaan istri kepada suami, insya-Allah akan berkembang dari sini. Begitu pentingnya berhias dan menampakkan kehangatan sikap ketika suami pulang, sehingga Rasulullah Saw. melarang suami pulang mendadak di malam hari agar istri berkesempatan untuk membersihkan diri dan merapikan dandanan terlebih dulu. Yang demikian ini juga dimaksudkan agar kepulangan suami yang mengagetkan, tidak menumbuhkan bibit rasa tidak suka dalam diri istri terhadap suami. Khath Arab

Dari Jabir r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Bila salah seorang dari kalian bepergian untuk waktu lama, janganlah pulang menemui istri pada malam hari.” (Muttafaqun ‘alaih). Mengapa suami yang habis bepergian jauh untuk waktu yang lama tidak diperkenankan pulang mendadak? Ada tujuannya. Dari Jabir r.a., Rasulullah Saw. bersabda:
Kado Pernikahan 174

Khath Arab

“Apabila kamu datang dari bepergian, janganlah kembali kepada istrimu pada malam hari, agar ia dapat mencukur rambut kemaluannya lebih dulu dan merapikan dandanannya serta lakukanlah jima’.” (HR Imam yang Lima kecuali An-Nasa’i). Berhias semenarik mungkin ketika suami pulang dari bepergian jauh, apalagi jika seminggu tidak pulang, barangkali lebih mudah dilakukan istri. Tanpa diminta pun, istri insya-Allah akan menyambut suaminya dengan penuh kecantikan dan kehangatan. Perasaan kangen yang besar dan cinta yang meluap, akan menjadikan pertemuan dengan suami begitu berarti. Inilah saatnya istri menyambut suami dengan dandanan yang rapi, kening yang harum dan (maaf) kemaluan yang tercukur bersih rambutnya. Kata Rasulullah Saw., “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Ad-Dailami dari Anas r.a.). Tapi istri barangkali tidak bisa selalu menyambut suami dengan dandanan sempurna setiap hari. Mungkin hari itu ia kelelahan karena banyaknya pekerjaan rumah-tangga yang menumpuk, si kecil yang rewel seperti bapaknya (he hmmm) dan tamu bulanan yang datang beserta sindrom menstruasinya yang menyebabkan istri mudah letih. Mungkin hari itu ia lagi teringat orangtua dan saudara-saudaranya yang sudah lama tak berjumpa. Begitu kangennya dengan orang-orang yang ia cintai (meskipun ia sangat mencintai Anda), sehingga ia menjadi lamban. Dan ia tak sempat berhias ketika menyambut kedatangan Anda. Hal-hal semacam ini perlu Anda pahami. Tanpa kesediaan untuk memahami, keindahan rumah-tangga sulit tercapai. Nasehat Ruqayyah Waris Maqsood mengenai masalah ini patut kita simak. Jika seorang laki-laki tiba di rumah lebih awal dari biasanya, kata Ruqayyah, sebaiknya ia menunggu, sehingga istri yang belum berpakaian secara layak mempunyai waktu untuk merapikan diri. Sekali waktu, mungkin istri tidak bersikap seperti yang Anda kehendaki. Padahal saat itu Anda ingin sekali melihat istri Anda tampak anggun dan menyenangkan. Anda juga ingin sekali mencium aroma wangi dari ma'athif (antara leher dan geraham) istri Anda tersayang.

Kado Pernikahan 175

--“Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, yaitu keras menjaga kehormatannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.” --Jika suatu saat Anda mengalami, dengarkan nasehat Ruqayyah Waris Maqsood. Kata Ruqayyah, “Jangan merasa bersedih karena istri Anda tidak bersikap seperti yang Anda kehendaki. Bicaralah! ‘Sayang, aku senang sekali kalau kau mengenakan baju yang bersih dan parfum untukku seorang. Aku tahu kau merasa lelah hari ini, tetapi jika kau mau melakukannya untuk menyenangkan hatiku, aku tahu kau masih menyayangiku’.” “Perhatikanlah kata-kata penting pernyataan Anda,” kata Ruqayyah mengingatkan, “ungkapkan kekecewaan Anda, akuilah kerja keras dan pengorbanan mereka, nyatakan kebutuhan Anda akan cinta dan kehormatan --dan lihatlah hasilnya.”

Ketika Suami Harus Pulang Mendadak Salah satu saat yang penting lainnya adalah saat datangnya fitnah, kata Muhammad Abdul Halim Hamid, yaitu ketika seorang istri merasakan perubahan jiwa pada diri suaminya yang diakibatkan oleh pengaruh para pesolek jalanan yang menggoda. Maka hendaklah ia segera berdandan secantik mungkin. Hal ini dilakukan untuk memagarinya dari fitnah nafsu dan menghindarkan matanya dari melirik wanita lain. Ada saatnya ketika pulang menemui istri menjadi keharusan. Mungkin tidak lama setelah suami Anda berangkat kerja. Mungkin ketika suami Anda sedang bepergian santai untuk menikmati suasana. Dan ia tiba-tiba pulang menemui Anda karena mengingat nasehat Rasulullah Mu-hammad Saw., “Jika salah seorang di antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi cenderung kepada wanita itu, maka ia harus langsung pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di tempat tidur supaya ia terhindar dari pikiran yang kotor.” (HR Muslim). Maka jika suatu saat suami Anda pulang mendadak dan mengajak Anda untuk melakukan jima’, berbahagialah. Karena suami Anda memelihara cinta dan kesetiaannya kepada Anda. Suami Anda masih menjaga agama dan kehormatan

Kado Pernikahan 176

seksualnya. Rasa cintanya kepada Anda mencegah dia dari membiarkan pikirannya terkotori oleh fantasi yang bukan-bukan. Karena itu, jika suatu ketika suami Anda harus pulang mendadak untuk memperoleh kehangatan dari Anda, segeralah membersihkan diri dan merapikan dandanan. Mintalah suami Anda untuk menunggu Anda berhias sejenak dengan sikap yang mesra, hangat dan menggemaskan. Atau, kalau suami Anda tidak sabar untuk memandangi wajah Anda, biarlah ia tertegun memandangi Anda ketika berhias. Akan tetapi kalau suami Anda tidak sabar menunggu Anda berhias, maka Anda lebih bijaksana. Jangan biarkan ia kecewa karena hasratnya tersendat beberapa saat. Dorongan seks laki-laki memang berbeda dengan dorongan seks wanita! Ekspresi keinginan untuk melakukan hubungan seks antara Anda dan suami Anda memang berbeda! Khath Arab

Dari Abu Ali Thalaq bin Ali r.a., sesungguhnya Ra-sulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah Saw. bersabda,

Khath Arab

“Seorang istri yang diajak oleh suaminya ke tempat tidurnya, tetapi dia menangguhkannya hingga suaminya tidur, maka istri tersebut dalam keadaan laknat.” Begitulah. Maka ketika suami Anda harus pulang mendadak demi menyelamatkan agama, kehormatan seksnya, serta kesetiaan cintanya kepada Anda, segeralah menyambut suami Anda dengan kehangatan yang lain daripada hari-hari biasanya. Tunjukkanlah kerinduan Anda kepadanya dan tatapan mata cinta yang menggemaskan, sehingga ia semakin kuat hasratnya. Atau, (kalau anak-anak tak melihat) berikan kecupan hangat yang menggairahkan dan kemanjaan yang membuatnya dekat dengan Anda.

Kado Pernikahan 177

“Sebaik-baik istri kamu,” kata Rasulullah Saw., “ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Dailami dari Anas r.a.). Sesudah itu, segeralah berhias secantik mungkin hanya untuk suami Anda seorang. Kalau perlu Anda bisa memakai ghumrah untuk mengharumkan pipi sekaligus menjadikannya bersemu merah. Anda juga bisa memakai pengharum kening dan nashiyah (ubun-ubun) sekaligus menjadi-annya tampak menarik. Pakailah gaun yang paling menyenangkan suami. Sebagian suami akan merasa begitu bahagia ketika melihat istrinya menggunakan gaun tertentu. Ia begitu terkesan olehnya. Berhiaslah secantik mungkin. Tetapi jangan terlalu lama mematut di depan cermin, sehingga menjadikan suami Anda kesal menunggu. Apalagi ia pulang mendadak untuk menemui Anda karena desakan untuk menjaga kehormatan seks dan kesetiaan cintanya! O ya, jangan lupa wewangian yang menghangatkan semangat. Berilah wewangian pada daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari, ma'athif (antara leher dan geraham), ketiak, lipatan payudara serta kemaluan (kalau sempat). Atau, Anda juga bisa memberi wewangian pada tempat-tempat yang Anda harapkan suami bersemangat mengecupnya. Sebagian istri, sangat menikmati usapan dan kecupan pada tempat-tempat tertentu dibanding bagian lain tubuhnya. Jika Anda masih menyimpan wewangian yang Anda pakai pada malam pertama, Anda bisa memakainya sekarang sehingga perasaannya semakin terbangkitkan dan mengingatkan pada keagungan jima’ di malam pertama. Jadikanlah saat ini seperti malam pertama atau lebih indah lagi. Semoga Allah memberikan kenikmatan yang paling besar barakahnya pada jima’ yang Anda lakukan saat ini. Semoga Allah semakin menguatkan jalinan perasaan (‘athifah) antara Anda dan suami Anda sehingga mencapai ulfah (keharmonisan). Dan semoga, kelak Anda berdua memperoleh keutamaan di akhirat disebabkan oleh besarnya keinginan Anda untuk membantu suami melaksanakan perintah Rasulullah Muhammad al-ma’shum, yaitu segera pulang dan mengajak istri berjima’ ketika hatinya tergoda di tengah perjalanan. Mudah-mudahan dari sini Allah memberikan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah (ya Allah, karuniakanlah kepada kami keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah). Sebagai penutup sub judul ini cukuplah saya tandaskan, jadikanlah diri Anda sebagai istri yang paling pandai membangkitkan syahwat suami ketika ia harus pulang mendadak menemui Anda.

Ketika Berangkat Ke Pembaringan Umamah binti Al-Harits pernah berwasiat kepada putrinya ketika menikah dengan Raja Kendah. Ada sepuluh nasehat yang diberikan. Salah satunya adalah nasehat untuk memeriksa urusan makan dan tidur suami. Karena, kata Umamah,

Kado Pernikahan 178

sesungguhnya panasnya lapar begitu membakar, dan kurangnya tidur memicu kemarahan. Saya tidak tertarik untuk membahas bagaimana kurangnya tidur dapat menyebabkan seseorang mudah tersulut kemarahannya (padahal ketika marah, pikiran orang jarang yang jernih). Saya lebih tertarik untuk mengajak Anda mengetahui bagaimana berhias akan menjadikan suami Anda merasa lebih sejuk dan teduh ketika berdekatan dengan Anda di pembaringan. Sedang Anda pun insya-Allah akan merasakan ketenteraman berada dalam satu selimut dengannya. Banyak suami maupun istri yang senang untuk berintim-intim ketika berangkat tidur, meskipun tidak melakukan jima’. Mereka bercakap-cakap ringan menjalin keakraban sebelum menutup mata dengan do’a. Sebagian senang membicarakan masalah-masalah ringan dalam keluarga, tentang harapannya terhadap anak misalnya. Sebagian suka apabila suami atau istri mengajak berbicara tentang diri mereka, sehingga mereka merasa memperoleh perhatian dari orang yang dicintai dan mencintainya. Sebagian suami (juga istri) berkeinginan untuk saling berintim-intim ketika berangkat ke pembaringan. Sebagian berkeinginan untuk menjalin keakraban dengan kedekatan fisik: berpegangan tangan, mengusap rambut istri, mengecup kening atau sekedar mengusap-usap pergelangan tangan. Kadang ini dilanjutkan dengan bercumbu dan jima’. Tetapi kadang mereka menutupnya dengan tidur lelap yang nikmat. Di antara para suami, ada juga yang berkeinginan agar istrinya menggunakan pakaian-pakaian yang menarik dan seksi ketika beristirahat di tempat tidur. Ia senang kalau istrinya mau memakai pakaian dalam saja1 dan bertingkah laku manja saat berdekatan di pembaringan, meskipun ia ketat terhadap hijab istri saat di luar. Dan ini merupakan perkara yang boleh saja dilakukan. Wallahu A’lam bishawab. Allah Swt. telah mengisyaratkan tentang waktu-waktu aurat, waktu ketika Anda bisa menanggalkan pakaian luar. Apalagi buat suami Anda. Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah shalat isya’. Itulah tiga aurat bagi kamu.” (QS. An-Nuur: 58). Begitu pentingnya berhias saat berangkat ke pembaringan bersama suami, sampai-sampai Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani menulis dalam bukunya, Uquudullujain, “Seorang istri wajib memiliki rasa malu (membiasakan) di hadapan suaminya dan menyedikitkan pertengkaran dengannya. Wajib merendahkan pandangannya di hadapan suaminya, menaati perintahnya, tidak berbicara ketika suaminya sedang berbicara dan wajib berdiri (menyambut) ketika suaminya datang dari perjalanan atau dari mana saja. Demikian pula ketika suaminya berangkat dari rumah, memperlihatkan rasa cinta ketika dekat suami dan memperlihatkan

Kado Pernikahan 179

kegembiraan ketika melihat suami. Wajib menyerahkan dirinya kepada suami ketika hendak tidur dan memakai wewangian hanya untuk suami, harus memakai wangiwangian pada mulutnya dengan misik atau lainnya yang wangi. Mengenakan pakaian yang bersih dan rapi, dan selalu mengenakan perhiasan di hadapan suami serta tidak memakai wewangian ketika suami tidak ada.” Tentu saja berhias ketika berangkat ke pembaringan berbeda dengan berhias di waktu-waktu lain. Anda tak perlu memakai ghumrah atau lipstik, apalagi kalau Anda biasa tidur dengan lampu dimatikan. Cukuplah wewangian dan kebersihan tubuh. Kecuali jika Anda akan melakukan jima’. Atau, barangkali suami Anda sedang manja saat itu. Selama berada di tempat tidur, keinginan untuk berintim-intim dan mendapat perhatian bisa jadi bukan dari suami. Seorang istri boleh saja meminta perhatian dan kehangatan belaian suami. Jika suami kurang bisa menangkap isyarat keinginan Anda untuk memperoleh perhatiannya, bantulah ia untuk memahami keinginan Anda dengan menyampaikan maksud Anda secara lisan. Katakanlah, “Mas, aku kangen sekali padamu.” (padahal Anda bertemu setiap hari). Atau katakan secara lebih jelas jika ia belum menangkap maksud Anda. Bagaimana mengungkapkannya? Saya kira Anda lebih mengenal suami Anda dibanding saya. Dalam masalah ini, Ruqayyah Waris Maqsood mengingatkan kepada para suami. Kata Ruqayyah, “Jika seorang laki-laki bersikeras menolak untuk mengabulkan permohonan istrinya untuk diberi perhatian, ia harus menyadari bahwa nantinya di hari pengadilan ia akan mendapatkan pertanyaan yang sulit dijawab. Buku catatannya akan dibuka untuk mengungkapkan segala perbuatannya, betapapun memalukannya itu! Mungkin ia telah merasa sebagai Muslim yang terbaik, tanpa menyadari kebenaran nasehat dari ajaran Rasulullah Saw.: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada istri dan keluarganya.” Bayangkanlah kekagetannya pada akhir kehidupan agama dengan shalat dan perbuatan baik, ketika mendapati bahwa sebenarnya Anda telah bersalah dengan bersikap kejam terhadap istri di tahun-tahun itu, dan kini dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya!” Rasulullah Saw. bersabda: “Ada dua dosa yang akan disegerakan Allah siksanya di dunia ini juga, yaitu albaghyu dan durhaka kepada orangtua.” (HR Turmudzi, Bukhari dan Thabrani). Al-baghyu, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat, adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menelantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah, kata Kang Jalal, Rasulullah Saw. mengukur tinggi-rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara ia bergaul dengan istrinya. Nabi Saw. bersabda:

Kado Pernikahan 180

“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.” Karena itu, wahai istriku, ingatkanlah aku jika aku ternyata telah menyakiti hatimu atau merampas kehangatan cinta yang menjadi hakmu dariku, sementara aku tidak menyadari. Maafkanlah suamimu karena tidak peka terhadap kerinduanmu untuk memperoleh kehangatan dan perhatian. Sampaikanlah apa yang menjadi kerinduan dan keinginanmu agar suamimu dapat menunjukkan perhatian yang menyejukkanmu. Yang demikian ini juga agar tidak ada fitnah yang bisa mendekat kepadamu maupun kepadaku. Insya-Allah. Bicaralah, Sayang, agar aku mengerti.

‘Alaa kulli hal, kepada sidang pembaca silakan memeriksa kembali tulisan ini. Apa-apa yang salah, itu semata karena kesalahan dan kekurangan saya. Ingatkan dengan cara yang ma’ruf agar saya lebih terbuka dan dapat menerima. Adapun kalau ada yang benar, itu semata karena hidayah Allah 'Azza wa Jalla. Mudah-mudahan kita bisa menerapkan semampu kita. Ya Allah, tolonglah kami. Berikanlah barakah atas kami dan bagi kami. Allahumma amin.

Catatan Kaki: 1. Ada dua pengertian tentang pakaian dalam. Pertama, secara umum masyarakat mengartikan pakaian dalam adalah sejenis celana dalam, BH, kaos dalam dan rok dalam. Kedua, pakaian dalam berarti pakaian yang dipakai setelah pakaian dalam menurut pengertian umum sebelum jubah dan jilbab. Pakaian dalam pada tulisan ini mencakup kedua pengertian tersebut.

Kado Pernikahan 181

Bab 13

S

entuhan Mesra Saat

Berdua

Malam kian larut dan diselimuti kegelapan Telah sekian lama kekasih tiada kucumbu Demi Allah, bila tidak karena-Mu yang kuingat Niscaya ranjang ini berguncang keras Tetapi wahai Tuhanku, rasa malu telah menghalangiku Dan suamiku lebih mulia untuk kendaraannya diinjak orang

S

uatu ketika saya menerima surat dari sebuah kota di Jawa Tengah. Isinya berupa keluhan sekaligus pertanyaan. Seorang istri mengeluhkan, suaminya jarang sekali mengajak berjima’. Padahal keinginan untuk dicumbu suami demikian besar. Kadang ingin bicara kepada suami agar memberi kehangatan padanya, tapi tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ia malu dan takut. Nah, apakah yang sebaiknya dilakukan oleh seorang istri muslimah? Dari kota yang sama, ada lagi istri yang bermasalah. Kalau yang pertama mengeluh setengah bertanya bagaimana suaminya agar lebih sering mengajak jima’, maka akhwat kita ini berbeda lagi. Yang menjadi kebingungannya justru bagaimana menghadapi kemauan suami yang begitu tinggi. Perut sudah besar karena usia kehamilan yang semakin bertambah, tetapi keinginan suami untuk bermesraan dan melakukan jima’ tidak berkurang.

Kado Pernikahan 182

Masalah hubungan seks merupakan tema penting yang sering menjadi pembahasan para ulama terdahulu. Ada berbagai kitab karya ulama kita yang secara luas mengupas berbagai segi kehidupan seks antara suami dan istri, baik dalam satu kitab tersendiri yang membahas masalah hubungan seks secara rinci dan mendalam maupun sebagai bagian dari pembahasan mengenai agama secara keseluruhan. Berbeda dengan berbagai agama lain (juga interpretasi dari sebagian orang Islam yang belum banyak menyelami ajaran Islam), hubungan seks suami-istri dipandang sebagai bagian dari kesucian agama. Bahkan, Allah Swt. memberi pahala kepada suami-istri yang melakukan persetubuhan (jima’). Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang suami yang memandang istrinya dan istrinya pun memandangnya (dengan syahwat), maka Allah akan memandang dua insan tersebut dengan pandangan rahmat. Dan jika suami itu memegang telapak tangan istrinya dengan maksud mencumbunya atau menjima’nya, maka dosa-dosa kedua insan itu akan berjatuhan dari sela-sela jemarinya.” (H.R. Maisarah bin Ali dan Imam Rafi’i dari Abu Said al-Khudri). Sudah sama-sama dimaklumi, kata Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, bahwa cinta orang yang bisa merasakan sesuatu yang sesuai dengan harapannya dan dia tidak sabar lagi untuk menikmatinya, lebih kuat dari cinta orang yang belum merasakannya. Bahkan jiwanya akan tersapih darinya. Cinta yang terjalin antara suami-istri dan cinta yang tumbuh setelah mereka bersetubuh, kata Ibnu Qoyyim lebih lanjut, lebih besar dari cinta sebelumnya. Merupakan penyebab yang lazim jika nafsu hati bercampur dengan kenikmatan pandangan mata. Jika mata sudah bisa memandang, maka hati semakin bernafsu. Jika badan beradu badan, maka nafsu hati, kenikmatan mata dan kelezatan berkumpul menjadi satu. Jika hal-hal itu tidak terpenuhi, maka kerinduan akan semakin menggelora, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: “Kerinduan semakin melecut suatu waktu jika jarak sebelumnya semakin berdekatan.” Oleh karena itu, masih kata Ibnu Qoyyim, penderitaan terasa semakin berlipat bagi orang yang pernah melihat kekasihnya atau bersanding dengannya, lalu tiba-tiba keduanya harus berpisah. Penderitaan wanita jauh lebih terasa jika pernah merasakan madunya laki-laki, terlebih lagi jika ia baru pertama itu merasakannya. Sehingga hampir-hampir dia tak kuasa menahannya. Aiman bin Huzaim berkata: “Tiada lagi resah saat bersanding wanita resah itu hadir saat berjauhan dengannya.” Kebutuhan untuk memperoleh kehangatan dan pelukan sayang dari kekasih, tampak lebih halus pada wanita. Kalau seorang laki-laki cenderung lebih impulsif (meskipun tidak sepenuhnya impulsif), maka wanita merasakannya dengan proses yang lebih mendalam. Ia merindukan dengan keterlibatan emosi yang penuh,

Kado Pernikahan 183

sehingga ketika kekasih tercinta lama tak mencumbu, dia akan sangat menderita. Kalau tak ada rasa takut kepada Allah dan kesetiaan cinta kepada suami tercinta, tepi ranjangnya bisa terguncang oleh laki-laki lain. Inilah yang pernah ditakutkan oleh seorang wanita Arab ketika hatinya tak kuat menahan rindu untuk bercumbu dengan kekasih di atas ranjang yang suci. Di saat malam semakin sepi dan dingin, ia merintih di balik pintu rumahnya yang terkunci rapat: Malam kian larut dan diselimuti kegelapan Telah sekian lama kekasih tak kucumbu Demi Allah, bila tidak karena-Mu yang kuingat niscaya ranjang ini berguncang keras Tetapi wahai Tuhanku, rasa malu telah menghalangiku Dan suamiku lebih mulia untuk kendaraannya diinjak orang Alangkah sepinya malam kalau di saat mata akan terpejam, tak ada suami yang mengajaknya berbicara. Kehangatan berdampingan dengannya akan menjadi beku kalau kekasih tak pernah mencandai. Kelak ketika ia pernah mencicipi madu suaminya, jiwanya akan tersapih kalau suami lama tak menyentuhnya. Malam-malam akan terasa panjang. Hati gelisah tak menemukan ketenangan. Jari-jemari pun terasa dingin dan kaku karena tak ada kekasih yang mencumbu. Padahal telah ada suami yang wajib memberi kehangatan seks padanya. Saya teringat kepada perkatan Hindun binti Al-Muhallab. Kata Hindun, “Saya tidak melihat sesuatu yang lebih berharga bagi wanita yang baik maupun yang buruk selain perbuatan mengikuti laki-laki yang bisa mendatangkan ketenangan bagi dirinya. Berapa banyak orang yang diharapkan bisa mendatangkan ketenangan, tapi justru tak ada gunanya. Dalam keadaan seperti apapun ketenangan jauh lebih dibutuhkan.” Jima’ dengan suami dapat melahirkan ketenangan pada jiwa yang membutuhkan. Kebutuhan istri untuk berjima’ memang tidak seekspresif suami. Istri juga relatif lebih mampu menahan gejolak seksnya. Berbeda dengan suami yang cenderung lebih impulsif dan tidak dapat menunda hasratnya. Ini antara lain bisa kita lihat dari hadishadis yang memperingatkan istri agar tidak menunda kebutuhan seks suami. Bahkan ada hadis yang menyuruh seorang suami untuk cepat-cepat pulang menemui istri dan mengajaknya berjima’ ketika syahwatnya tergoda saat melihat wanita di perjalanan.

Kado Pernikahan 184

Tetapi hasrat istri yang tampak lebih tenang itu lebih kuat pengaruhnya. Sebab ketika sama-sama mencapai kenikmatan puncak, istri merasakan kenikmatan yang jauh lebih besar dibanding suami. Seorang istri bisa mencapai multi-orgasme (kenikmatan puncak yang berulang-ulang) dalam satu kali jima’. Tetapi suami tidak bisa demikian. Lebih jelasnya, nanti silakan periksa Mukhtarul Ahaadits. Ada hadis yang menerangkan masalah ini. Sebagai tambahan, cukuplah penjelasan Ibnu Umar sebagaimana disebutkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath1. Kata Ibnu Umar, “Kelebihan yang ada di antara kenikmatan wanita dan kenikmatan laki-laki, bagaikan goresan jarum di debu. Hanya saja Allah menutupi para wanita dengan rasa malu.” Begitu dalamnya kenikmatan yang mampu dicapai oleh seorang istri, sehingga dialah yang paling merasakan kerinduan kalau berbulan-bulan tak ada kesempatan untuk berjima’ dengan kekasih. Kata Ibnu Qoyyim, “Penderitaan wanita jauh lebih terasa jika pernah merasakan madunya laki-laki, terlebih lagi jika dia baru pertama itu merasakannya.”2 Tetapi (segala puji bagi Allah Yang Maha Sempurna), Allah telah memberi keseimbangan. Allah meletakkan dorongan untuk berhubungan seks pada diri seorang wanita sebagai kebutuhan psikis, bersumber dari kedalaman perasaan dan emosinya. Ia merasakan kebutuhan untuk berjima’ secara perlahan-lahan, tidak meledak-ledak sebagaimana laki-laki sehingga harus segera dipenuhi (sebagai gambaran Anda dapat membaca hadis-hadis berkenaan dengan jima’). --Hanya dengan cara inilah insya-Allah kita memperoleh ketenteraman dan kebahagiaan terdalam hari kiamat. Begitu kita melihatnya sebagai kekurangan dan kelemahan, maka terbukalah pintu kekecewaan kepada teman hidup kita. --Sekalipun demikian, seorang suami tidak boleh mengabaikan kebutuhan istri untuk memperoleh kehangatan jima’. Jika istri harus memenuhi kebutuhan seks Anda sekalipun ia saat itu sedang memasak di dapur, maka istri pun mempunyai kebutuhan seks yang harus dipenuhi oleh suami. Jumhur ulama’ menyatakan, melakukan jima’ bagi seorang suami hukumnya wajib, kecuali jika ada halangan. Ada perbedaan pendapat soal rentang waktu yang dapat ditoleransi. Sebagian ulama menyatakan paling lama enam bulan sekali suami harus memenuhi kebutuhan istri untuk berjima’. Sebagian lainnya berpendapat empat bulan sekali.

Kado Pernikahan 185

Imam Ahmad berpendapat paling lama empat bulan, karena Allah menentukan masa ini untuk sahaya. Bila seorang suami pergi dan tidak ada halangan untuk pulang, maka ia diberi waktu enam bulan. Ketika Imam Ahmad ditanya, berapa lama seorang suami boleh pergi meninggalkan istrinya, Imam Ahmad menjawab enam bulan. Dan kalau suami tidak mau pulang, maka hakim memisahkan keduanya. Ibnu Hazm lebih ketat lagi. Kata Ibnu Hazm, “Wajib seorang suami menjima’ istrinya minimal sekali setiap masa suci bila hal itu mampu dilakukan. Apabila tidak demikian, maka ia telah bermaksiat kepada Allah SWT.” Firman Allah: “.... apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu....” (QS Al-Baqarah: 222). Bahkan Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, menasehatkan agar suami menjima’ istri empat hari sekali demi menjaga ketenangan istri. Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, “Sebaiknya ia mendatangi istrinya sekali setiap empat malam. Yang demikian itu lebih adil mengingat jumlah wanita yang boleh dinikahinya sekaligus ialah empat orang. Karena itu, boleh saja ia menunda waktunya sampai sebatas ini. Kendatipun demikian, hendaknya ia menambah atau mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri. Hal ini terutama mengingat bahwa upaya membentengi istri dan gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang suami.” Jika seorang suami melupakan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan seks istri sehingga istri mengalami penderitaan batin yang panjang, keretakan rumahtangga bisa terjadi. Muhammad Abdul Halim Hamid mengingatkan, “Setiap amal yang diwajibkan Allah pasti mengandung kebajikan yang banyak. Barang siapa menyia-nyiakannya, maka akan datanglah berbagai musibah.” “Oleh karena itu,” kata Muhammad Abdul Halim Hamid lebih jauh, “barangsiapa yang mengabaikan kewajiban jima’ akibatnya berbahaya bagi istri. Ia akan merasa tertekan dan gelisah. Dengan demikian berarti tak dapat merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.” Suami bisa jadi telah jatuh ke dalam al-baghyu apabila ia menelantarkan kebutuhan jima’ istrinya. Ia berbuat sewenang-wenang dan zalim tanpa ia sadari. Padahal al-baghyu termasuk perbuatan yang disegerakan siksanya di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim.

Laki-laki dan Perempuan Memang Beda Laki-laki dan perempuan memang beda. Allah menciptakan perbedaan di antara mereka, termasuk dalam dorongan untuk berjima’. Segala puji bagi Allah 'Azza wa

Kado Pernikahan 186

Jalla. Tidaklah Dia menciptakan perbedaan melainkan ada kebaikan di dalamnya. Maka, mudah-mudahan kita termasuk yang memperoleh sebesar-besar kebaikan atas perbedaan tersebut. Semoga mengantar kita kepada kebahagiaan dan kenikmatan yang penuh barakah fid dunya wal akhirah. Hasrat berjima’ pada laki-laki banyak berkaitan dengan fisiologinya, berkenaan dengan fungsi biologis fisiknya. Penimbunan sel-sel sperma dan air mani dalam rongga air mani secara teratur, merangsangnya untuk melakukan hubungan seks. Ketika rongga air mani penuh, maka hasrat untuk berjima’ muncul dan butuh segera untuk terpenuhi. Ia akan gelisah jika tidak segera terpenuhi, misalnya karena istri menunda-nunda ketika diajak bercinta di atas tempat tidur. Berbeda dengan laki-laki, hasrat untuk berjima’ pada wanita lebih banyak bersumber dari kebutuhan psikisnya untuk memperoleh kehangatan dan kemesraan dari orang yang dicintainya. Secara fisik tidak ada sesuatu yang menimbun sehingga memunculkan dorongan untuk segera melakukan jima’. Secara fisik tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk berjima’ dan apabila tidak segera dipenuhi akan mengakibatkan kegelisahan. Birahinya lebih banyak terbangkitkan oleh perasaan dan kebutuhan psikisnya. Jika ia merasa dicintai, dikagumi dan dihargai oleh suaminya, maka gairahnya dapat terbangkitkan untuk secara fisik berhubungan intim dengannya. Tentu saja penjelasan ini tidak cukup. Pembicaraan tentang sumber dorongan berjima’ lebih banyak berhubungan dengan sifat pemenuhan kebutuhan untuk berjima’ antara suami dan istri. Laki-laki membutuhkan pemenuhan yang lebih segera dibanding wanita. Perintah Rasulullah Saw. kepada suami untuk segera pulang dan mengajak istri-nya berjima’ ketika syahwatnya tergoda oleh wanita di jalan, memberi gambaran betapa pentingnya segera memenuhi kebutuhan seks bagi seorang laki-laki. Insya-Allah yang demikian ini lebih maslahat. Wallahu A’lam bishawab. Barangkali berangkat dari sini, kita mendapati perbedaan nasehat dari Muhammad Abdul Halim Hamid ketika berbicara tentang jima’. Kepada suami, Abdul Halim mengingatkan bahwa ada kewajiban untuk menjima’ istri, kemu-dian menyebutkan rentang waktu paling lama seorang wanita dapat menahan gejolak seksnya. Tetapi kepada istri, Ab-dul Halim mengingatkan, hak suami yang ada pada istri adalah mendapatkan pemenuhan segera, apabila istri diajak untuk itu (jima’). Pemenuhan segera seorang istri atas ajakan suaminya ini sesungguhnya dapat menciptakan rasa bahagia baginya. Karena dengan begitu seorang suami dapat menjaga kehormatan dirinya, memenuhi kebutuhan biologisnya, sekaligus melindungi masyarakat dari perbuatan kotor dan munkar.” Rasulullah Saw. mengingatkan, “Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Maha Suci Allah Yang Di Tangan-Nya terletak rahasia penciptaan. Seorang lakilaki mudah terangsang gairah jima’nya dan bisa segera melakukannya setelah membayangkan sejenak tanpa memerlukan persiapan-persiapan pendahuluan. Ia juga

Kado Pernikahan 187

mudah terbangkitkan oleh kecantikan dan kesegaran. Karena itu, jangan menceritakan kecantikan seorang wanita kepada suami Anda seolah-olah ia menyaksikan sendiri (selengkapnya baca bab Biarlah Engkau yang Tercantik Di Hatiku). Juga, jangan melupakan berhias untuk suami Anda tersayang. Apalagi kalau sewaktu-waktu ia harus pulang mendadak, berikanlah kecantikan, kesegaran dan kehangatan Anda yang paling sempurna (masih ingat Saat Tepat untuk Berhias, kan?). Maha Suci Allah. Jika seorang laki-laki mudah terbangkitkan oleh kecantikan dan kesegaran, maka seorang wanita baru akan terangsang gairah jima’nya ketika suami menge-cup dan mencumbunya dengan penuh kecintaan.3 Istri juga perlu mendengar kata-kata rayuan dari suami agar gairahnya terbangkitkan, sehingga bartholin yang ada dalam farj-nya menjadikan siap untuk didatangi. Inilah yang lebih penting bagi seorang istri --cumbu rayu-- daripada sekedar bertemunya dua khitan. Kata Imam Al-Ghazali, “Dan hendaknya ia mendahuluinya dengan rayuan, belaian, ciuman, dan sebagainya.” Imam As-Suyuti mengingatkan para suami dengan cara yang lebih lembut. Beliau mendo’akan: Semoga Allah memberikan kemuliaan dan keselamatan yang abadi kepada mereka yang mengetahui cara yang baik untuk menepuk pipi yang lembut, untuk membelai pinggang yang ramping, untuk memasuki farj terindah dengan terampil! Di sinilah kadang timbul masalah. Suami merasa sudah melakukan hubungan seks, sementara istri baru mulai bangkit gairahnya. Sehingga ketika suami mencapai kenikmatan puncak, istri baru berada dalam perjalanan. Tak mudah menyesuaikan dua karakter jima’ yang berbeda. Tetapi Rasulullah Saw. telah memberi tuntunan, “Apabila seorang dari kalian bersetubuh dengan istrinya, hendaklah menyempurnakannya. Apabila hajatnya telah selesai, janganlah ia mempercepat (meninggalkan) istrinya itu hingga selesai pula hajatnya.” (HR. Abdur Razzaq dan Abu Ya’la dari Anas). Rasulullah Saw. juga mengingatkan: “Apabila salah seorang dari kalian bersetubuh dengan istrinya, janganlah menyingkir hingga hajat istrinya selesai sebagaimana ia senang selesai (dengan) hajatnya.” (HR. Ibnu ‘Adiy dari Ibnu Abbas). Ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bisa mencapai orgasme dalam waktu 5 atau 10 menit. Sementara wanita membutuhkan waktu yang lebih lama

Kado Pernikahan 188

untuk bisa mencapai puncak kenikmatan. Dalam perbedaan inilah ada kesempatan untuk saling belajar, saling menerima, saling memaafkan sekaligus ada ladang amal shalih di dalamnya. Tanpa itu, yang muncul hanyalah keretakan dan keteganganketegangan psikis. Ego yang paling nampak. O ya, hampir lupa. Sekalipun dorongan berjima’ pada wanita lebih berakar pada kebutuhan psikis, tetapi perubahan-perubahan hormonal karena adanya menstruasi setiap bulan juga mempengaruhi. Dari pasang surutnya perubahan yang sering ia alami selama menstruasi, kadang wanita merasakan gairah yang sangat kuat untuk melakukan hubungan seksual hingga mencapai puncak kenikmatan. Tetapi kadangkadang keinginannya untuk berjima’ sangat lemah. Kedua hal ini bisa berlangsung selama beberapa hari, bisa juga hanya sebentar. ‘Alaa kulli hal, perbedaan antara laki-laki dan perempuan memang ada. Perbedaan itu tidak menunjukkan kelemahan di satu pihak, dan kelebihan di pihak lain. Perbedaan itu tidak berarti kekurangan dan ketidaksempurnaan. Allah Swt. telah menciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Ia ciptakan perbedaan sebagai kesempurnaan dan jalan untuk mencapai barakah yang paling besar. Hanya dengan cara inilah insya-Allah kita memperoleh ketenteraman dan kebahagiaan terdalam hingga kelak di yaumil-qiyamah. Begitu kita melihatnya sebagai kekurangan dan kelemahan, maka terbukalah pintu kekecewaan kepada teman hidup kita. Terbukalah pintu untuk merasa lebih tinggi dan paling banyak berbuat. Ini akan mempersempit pintu sakinah, mawaddah wa rahmah. Maha Besar Allah yang telah menciptakan perbedaan. Tidaklah Allah menciptakan segala sesuatu (termasuk karakter seks yang berbeda) dengan sia-sia. Maha Suci Allah, semoga kita dijauhkan dari siksa api neraka. Tak ada cela dalam perbedaan yang diciptakan Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mensyukuri dan meraih kebahagiaan tertinggi di samping-Nya. Semoga barakah dan diridhai Allah setiap jima’ kita. Allahumma amin.

Mandi Jinabah Seorang wanita pernah bercerita, masalah yang kadang membuatnya malas melayani keinginan suami adalah mandi wajib sesudah jima’. Kadang-kadang ia dihinggapi rasa enggan kalau harus mengurai rambut dan membersihkannya dengan shampoo. Belum lagi rambut tidak mudah kering. Sehingga ketika suami mengajak berjima’, kadang muncul gejala mual-mual serasa mau muntah (nausea). Munculnya nausea (mual-mual) atau bahkan muntah (vomiting), sebenarnya merupakan reaksi psikis akibat keengganan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan jima’. Keengganan untuk mengurai rambut dan mengeramasi sesudah melakukan jima’, merupakan salah satu perkara yang bisa memunculkan nausea.

Kado Pernikahan 189

Wajar memang jika sebagian wanita mengalami masalah ini. Apalagi kalau suaminya termasuk laki-laki yang tinggi kebutuhan jima’nya, sehingga istri harus mandi wajib setiap hari atau bahkan dua kali sehari. Tetapi ini sebenarnya tidak perlu terjadi andaikan ia mengetahui bahwa Islam memberikan keringanan terhadap masalah ini. Mandi junub sehabis jima’ wajib dilakukan oleh wanita, sebagaimana ia wajib mandi ketika haid atau nifasnya selesai. Tetapi Anda tidak harus membuka dan mengurai rambut ketika mandi wajib sehabis jima’. Allah dan Rasul-Nya telah meringankan Anda. Dandanan rambut Anda yang indah tidak perlu Anda acak-acak dengan mengeramasi, kecuali jika Anda memang ingin keramas. Cukuplah menuangkan air di atas kepala Anda tiga kali (baca Box 6.1. Kaifiyah Mandi Wajib). Khath Arab

Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, saya seorang perempuan yang berambut panjang dan bersanggul. Apakah saya harus membuka (mengurai) rambut saya yang disanggul untuk mandi haid dan janabat?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak, cukup bagimu menuangkan air di atas kepalamu tiga kali cidukan, kemudian siramlah badanmu dengan air. Dengan begitu engkau telah bersih.” (HR. Muslim). Mandi junub sebaiknya disegerakan. Tetapi jika malam terlalu dingin atau tangan terlalu berat untuk melepas kehangatan, Anda bisa menunda mandi jinabah. Cukuplah Anda berwudhu seperti wudhu untuk shalat sebelum Anda tidur. Nanti sesudah bangun, Anda bisa melakukan mandi junub sendirian atau bersama suami dalam satu bak mandi. Jadi, Anda mandi junub sekaligus mandi pagi. Ibnu Umar pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Bolehkah salah seorang dari kami tidur dalam keadaan junub (hadas besar)?” “Ya,” jawab beliau, “jika ia telah berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain bahkan meringankan ketentuan ini, sehingga seseorang bisa tidur sehabis berjima’ tanpa melakukan wudhu terlebih dulu. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah r.a. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa “adakalanya Rasulullah Saw. tidur dalam keadaan junub sebelum beliau menyentuh air.” Alhasil, janganlah kewajiban mandi junub membuat Anda enggan melayani keinginan suami untuk bercinta di atas tempat tidur, setelah mengetahui kemudahan yang diberikan Islam.

Kado Pernikahan 190

Semoga sesudah ini tak ada masalah karena keengganan mandi junub. Adapun kalau Anda tidak berat dan tidak ada kesulitan, Anda bisa menyegerakan mandi junub. Box. 6.1. Kaifiyah Mandi Wajib Ada beberapa hadis yang menerangkan mengenai kaifiyah (tata cara) mandi wajib. Ibnu Syaibah meriwayatkan sebuah hadis, “Bukalah rambutmu dan mandilah, yakni dalam haid.” Hadis ini juga ditakhrij oleh Ibnu Majah dari jalur Ibnu Syaibah dan Ali bin Muhammad. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini sanadnya shahih menurut syarat Asy-Syaikhani. Menurut keduanya, kata Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Hadis Shahih, hadis ini berkaitan dengan kisah 'Aisyah sewaktu haid dalam haji Wada’ dan Nabi Saw. berkata kepadanya, “Bukalah kepalamu, sisirlah, dan tahanlah dari umrahmu!” Hadis ini tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Zubair dari Ubaid bin Umair yang menceritakan: Telah sampai kepada ‘Aisyah bahwa Abdullah bin Amr memerintahkan kaum wanita ketika mandi supaya membuka kepalanya. Maka Aisyah berkata, “Alangkah mengherankan sekali Ibnu Amr ini. Ia memerintahkan agar mereka mencukur rambut kepalanya? Sesungguhnya aku biasa mandi dengan Rasulullah dari satu bejana dan aku tidak menambah siraman atas kepalaku dengan tiga siraman.” Hadis ini ditakhrij oleh Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Al-Baihaqi serta Imam Ahmad. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, antara kedua hadis di atas tidak ada pertentangan karena dua hal sebagai berikut: Pertama, hadis pertama lebih shahih daripada hadis yang belakangan. Karena hadis yang belakangan ini meskipun ditakhrij oleh Imam Muslim, tetapi Abu Zubair adalah mudallis. Kedua, hadis yang pertama berlaku untuk kasus haid. Sedangkan hadis yang belakangan ini berlaku untuk kasus jinabat (mandi junub), sehingga keduanya bisa dikompromikan. Jadi dikatakan wajib membuka (rambut) sewaktu haid, bukan mandi junub. Demikian menurut Imam Ahmad dan ulama salaf lain. “Penyatuan ini adalah lebih tepat,” kata Syaikh Al-Albani menambahkan.

Kado Pernikahan 191

Istri juga memiliki kebutuhan Telah kita bicarakan bahwa suami mempunyai kewajiban untuk berhubungan seks dengan istri, termasuk mengenai batas waktu minimal yang dapat ditoleransi. Suami harus memperhatikan bahwa istri juga mempunyai kebutuhan untuk bersetubuh. Sekarang kita akan membicarakan kembali masalah ini. Tetapi kita tidak membicarakan masalah ini dalam kedudukannya sebagai kewajiban. Ada sesuatu yang lain ketika suami-istri melakukan jima’. Ada sedekah pada hati yang merindukan ketika suami mengajak istrinya bersetubuh. Ketika jiwa terlalu lama menantikan belaian cinta dari suami, air mata bisa mengalir karena tidak kuat menahan rasa sepi yang mencekam. Sementara tidak ada kekasih yang menguak hasratnya. Inilah yang pernah diceritakan oleh Al-Abbas bin Hi-syam Al-Kalby. Ia menuturkan bahwa Abdul-Malik bin Marwan mengirim pasukan perang ke Yaman dan mereka menetap di sana hingga beberapa tahun lamanya. Suatu malam ketika sedang berada di Damaskus, Abdul-Malik bin Marwan berkata, “Demi Allah, malam ini saya akan menelusuri kota Damaskus untuk mendengar apa komentar orang-orang tentang pasukan yang kukirim untuk berperang yang terdiri dari kaum laki-laki, hingga harta mereka menjadi melimpah.” Tatkala sedang berada di sebuah lorong, tiba-tiba Abdul-Malik bin Marwan mendengar suara wanita yang sedang mendirikan shalat. Dia mencuri dengar. Ketika wanita itu beranjak ke tempat tidurnya, ia berkata, “Ya Allah yang telah menjalankan onta-onta yang cantik, menurunkan kitab-kitab dan menganugerahkan keinginan, aku memohon kepada-Mu untuk mengembalikan suami yang saat ini tidak ada di sampingku, sehingga dia bisa menguak hasratku dan aku menjadi senang karenanya. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau menetapkan keputusan antara diriku dan Abdul-Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami.” Lalu wanita itu berucap: Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir hatiku terasa kelu karena derita yang mendera Kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang cinta membuat hati terasa terpotong-potong jika di sana ada bintang yang menghilang mataku berpendar mencari bintang yang datang seandainya tidak kuingat jalinan

Kado Pernikahan 192

di antara kami akan kudapatkan hati ini memberontak tak terkendali Setiap kekasih tentu mengingat kekasihnya pertemuan setiap hari yang diharapkannya Ya Allah, ringankanlah kerinduan yang mendera do’a dipanjatkan dan Engkau mendengarnya kupanjatkan sepotong do’a setiap waktu karena keinginan yangmenyeruak di dalam diriku Abdul-Malik bertanya pada pengawalnya, “Tahukah kamu, rumah siapakah ini?” “Ya, saya tahu. Ini adalah rumah Yazid bin Sinan.” “Siapakah wanita yang berada di dalamnya?” “Istrinya.” Ada yang bisa kita petik dari kisah ini. Kerinduan yang tak menemukan muaranya, dapat menjadikan hati ingin memberontak. Kalau saja tak ada iman yang dipegang dan jalinan yang diingat, cinta yang ada di hati bisa terguncang. Dan ini bisa membawa kepada fitnah yang besar. Benarlah kata-kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Menurut Ibnu Qayyim, persetubuhan yang dihalalkan bisa menambah cinta, jika memang hal itu dikehendaki orang yang dicintai. “Jika dia sudah mencicipi kenikmatan percintaan dan persetubuhan,” kata Ibnu Qayyim menambahkan, “keinginannya untuk merasakan lagi justru semakin menggebu, jauh lebih menggebu daripada sebelum dia merasakannya.” Hal semacam ini juga terjadi pada istri. Apalagi Allah telah memberinya dorongan syahwat yang jauh lebih besar dibanding laki-laki. Hanya Allah telah menutupinya dengan rasa malu. Di sinilah perlu komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kalau suami sudah lama tidak menyentuh Anda, maka Anda dapat mengingatkannya agar memberikan kehangatan di atas tempat tidur. Anda bisa mengingatkan secara langsung dengan mengungkapkan keinginan Anda. Bisa juga menyampaikan secara halus. Jika di masa-masa pengantin baru Anda berdua bisa membentuk ungkapan yang baik untuk menyatakan keinginan berjima’, insya-Allah akan lebih baik. Tetapi, tentu saja

Kado Pernikahan 193

banyak cara yang bisa Anda pakai agar lebih menyentuh perasaannya sehingga ia semakin sayang. Bukan tersinggung. Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim. Insya-Allah Tuhan Yang Maha Pengasih akan mencatat apa yang Anda lakukan sebagai kebaikan jika Anda mengingatkan suami karena ingin mencegahnya dari kesalahan. Mencegahnya agar tidak melalaikan kewajiban untuk memuaskan gejolak syahwat Anda. Juga mencegah agar diri Anda tidak terjatuh ke dalam perbuatan dosa karena kurangnya sentuhan suami. Wallahu A’lam bishawab. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Tidak diperbolehkan bagi seorang istri memasukkan seseorang yang tidak disukai suaminya ke dalam rumah-tangganya.... Ia tidak boleh menolak suaminya di tempat tidur. Ia tidak boleh mendiamkannya. Jika suami bersalah, istri boleh menegurnya hingga ia merasa puas. Jika suami menerima tegurannya dengan baik dan benar, maka tegurannya itu akan diterima oleh Allah, sedang jika suami tidak suka pada teguran istrinya, maka tegurannya itu tetap akan diterima oleh Allah bagaimanapun juga.” (HR. Al-Hakim). Ketika mengingatkan suami agar mendatangi istri empat hari sekali, Imam AlGhazali menulis, “Kendatipun demikian hendaknya ia menambah atau mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri. Hal ini terutama mengingat bahwa upaya membentengi istri dari gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang suami.” Tetapi tidak setiap suami dapat menangkap keinginan istri, sekalipun istri sudah menunjukkan secara samar hasratnya untuk berjima’. Apalagi kalau istri tidak menampakkan tanda-tanda keinginannya. Karena itu istri perlu menyampaikan kerinduannya (selain dengan membangkitkan gairah suami) jika tidak adanya jima’ dapat membuatnya kecewa dan frustasi. Hal ini untuk membentengi iman dan menjaga kehormatan kemaluan. Insya-Allah ini merupakan sikap yang mulia.4 Peringatan Ruqayyah Waris Maqsood tentang masalah ini patut diperhatikan. Kata Ruqayyah, “Jika seorang laki-laki bersikeras menolak untuk mengabulkan permohonan istrinya untuk diberi perhatian, ia harus menyadari bahwa nantinya di hari pengadilan ia akan mendapatkan pertanyaan yang sulit dijawab. Buku catatannya akan dibuka untuk mengungkapkan segala perbuatannya, betapa pun memalukannya itu! Mungkin ia telah merasa sebagai Muslim yang terbaik, tanpa menyadari kebenaran nasehat dari ajaran Rasulullah Saw.: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada istri dan keluarganya.” Bayangkanlah kekagetannya pada akhir kehidupan agama de-ngan shalat dan perbuatan baik, ketika mendapati bahwa sebenarnya Anda telah bersalah dengan bersikap kejam terhadap istri di tahun-tahun itu, dan kini dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya!” Kalau seorang suami datang memberikan kehangatan seksual kepada istri (begitu pula istri kepada suami) maka Allah mencatatkan pahala sedekah bagi mereka.

Kado Pernikahan 194

Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam hubungan intim yang kamu lakukan di antara kamu ada sedekah.” Para sahabat menanggapi, “Wahai Rasulullah, ketika salah seorang di antara kami memuaskan gairah seksualnya, apakah ia akan mendapat pahala untuk itu?” Dan Beliau menjawab, “Tidakkah kamu berpikir bahwa jika ia melakukannya secara tidak sah ia akan mendapat dosa? Dengan demikian, jika ia melakukannya secara sah, ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim). Hadis ini, kata Ruqayyah Waris Maqsood, hanya berarti jika perbuatan seksual dilakukan jauh di atas tingkat hewani semata-mata. Apakah hal menakjubkan yang mengubah seks menjadi sedekah, yang menjadikannya sebagai masalah pahala atau dosa dari Allah? Yaitu dengan menjadikan kehidupan seks seseorang lebih dari sekedar hubungan fisik biasa; yaitu dengan niatan untuk mendapat ridha Allah dengan cara bersikap perhatian terhadap pasangannya. Seorang suami yang tak dapat memahami hal ini tidak akan mendapatkan penghormatan dari istrinya. Wallahu A’lam bishawab. Tak selalu mudah memahami apa yang disukai istri ketika berjima’. Kadang ada suami yang merasa sudah memuaskan kebutuhan jima’ istrinya, tetapi istri tidak merasakannya. Hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan karakteristik seks antara laki-laki dan perempuan sebagaimana kita sebut terdahulu. Bagi laki-laki, jima’ lebih berpusat pada bertemunya dua kemaluan. Padahal bagi wanita, itu “hanyalah” pelengkap ketika farji sudah siap untuk menerima. Artinya, perlu ada yang lain, yaitu percumbuan dan ungkapan kata-kata cinta yang merayu dari suaminya. Dalam hal ini istri perlu membantu suami agar dapat memberikan kepuasan padanya. Kalau ada bagian-bagian tertentu tubuhnya yang terasa sakit atau risih ketika diusap atau dibelai-belai, ia perlu mengemukakan kepada suaminya (kecuali yang ia bisa belajar menikmati). Ia bisa menunjukkan bagian mana yang ia merasa paling senang kalau dicumbu suaminya, sehingga ia memperoleh kenikmatan. Ia perlu menyampaikan hal-hal semacam ini dengan cara yang tepat agar suami dapat menerima dan memperbaiki diri. Bukan merasa tidak mampu. Selebihnya, adalah kesediaan untuk saling menerima dan memaafkan kekurangan-kekurangan yang ada pada kekasihnya. Ada hal lain. Istri bukanlah seonggok bantal guling yang dingin dan kaku ketika berjima’. Ia juga perlu berperan untuk menjadikan jima’ lebih indah. Gairahkanlah suami Anda, antara lain dengan menunjukkan gairah Anda kepadanya di atas tempat tidur. Kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang wanita, semakin besar pula gairah laki-laki padanya.” Kalau Anda pandai membangkitkan gairahnya, insya-Allah ia akan lebih tertarik untuk mencumbu Anda. Ia akan lebih mampu menjadikan Anda terangsang, karena ketika semangatnya tumbuh, ia akan lebih mudah menyatakan perasaan cintanya kepada Anda. Tangannya akan lebih ringan untuk membelai dan bermain-main

Kado Pernikahan 195

dengan Anda (sementara Anda butuh permainan pendahuluan untuk bisa terangsang). Insya-Allah yang demikian akan menjadikan Allah ridha dan memandang Anda berdua dengan pandangan rahmat. Berkenaan dengan ini, marilah kita ingat kembali nasehat Rasulullah Saw. (semoga kita tetap bershalawat kepadanya). Kata Rasulullah Saw., “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Dailami dari Anas r.a.). Sebaliknya, seorang suami hendaknya juga memperhatikan agar tidak terburuburu ketika melakukan persetubuhan. Hendaknya ia mengajak istrinya bermain dulu. Jangan langsung menyenggamainya karena ini akan menyakitkan istri. Sakit secara fisik karena bartholin yang ada dalam vaginanya belum mengeluarkan pelumas.5 Sakit secara psikis karena kecewa dan frustasi. Apalagi kalau suami segera meninggalkan istri sesudah berjima’, padahal istri baru terangsang saat itu. Kecuplah istri Anda untuk mengawali jima’. Ciuman yang penuh kerinduan akan membangkitkan birahi wanita. Banyak wanita yang merasa senang ketika beberapa bagian tubuhnya dicium agak lama. Wanita juga lebih mudah terangsang apabila suami memberikan belaian yang hangat sebelum menjima’. Klitoris (al-badhar) termasuk bagian yang sensitif. Berkenaan dengan ciuman ini, Imam Al-Zabidi menasehatkan, “Ciuman ini tidak hanya mencakup pipi dan bibir saja, tetapi suami harus membelai dada serta semua bagian tubuh istrinya.” Ciuman, cumbuan, dan kata-kata cinta insya-Allah bisa mengantar istri Anda untuk mencapai kenikmatan puncak, disamping Anda sendiri insya-Allah akan merasakan kenikmatan yang lebih indah. Ciuman tidak hanya ke pipi dan bibir. Genggaman tidak hanya pada pergelangan tangannya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah menasehatkan agar persetubuhan bisa mencapai puncak kenikmatan. Kata Ibnu Qayyim, “Mata memperoleh kenikmatan dengan memandang kekasih, telinga mendengar perkataannya, hidung mencium aromanya, mulut mengecupnya dan tangan mengelusnya. Setiap anggota badan mendapat bagian kenikmatan yang dituntutnya. Jika ada satu anggota badan tidak mendapatkan bagiannya, maka jiwa terus akan menuntutnya dan tidak merasa tenang kecuali setelah mendapatkannya. Maka dari itu wanita juga disebut sakan (ketenteraman), karena jiwa merasa tenteram jika bersanding dengannya. Allah Swt. berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (Ar-Ruum: 21).” “Maka dari itu,” kata Ibnu Qayyim menambahkan, “Allah melebihkan jima’ pada siang hari daripada jima’ pada malam hari, karena alasan yang sifatnya naluri,

Kado Pernikahan 196

yaitu karena biasanya indera menjadi pasif pada malam hari dan menuntut untuk diistirahatkan.” Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ruqayyah Waris Maqsood. Ia menulis, “Baik untuk diingat bahwa dalam beberapa masyarakat Islam, waktu terbaik untuk seks bukanlah pada malam hari tetapi pada waktu istirahat siang hari. Ia tak mudah dilakukan kalau Anda bekerja sejak pagi hingga sore hari! Tetapi mungkin sesekali, Anda bisa masuk kamar satu jam lebih awal dari biasanya. Adalah hal yang menyebalkan bagi seorang istri jika satu-satunya perhatian yang diterimanya adalah “pemberitahuan” yang tiba-tiba tentang keinginan seks suaminya.” Tetapi sebagian ulama berpendapat lain. Jima’ sebaik-nya dilakukan pada malam hari, apalagi bagi pengantin yang baru pertama kali melakukan “tugas sakralnya”. Lepas dari itu tidak ada batasan kapan suami-istri melakukan jima’, kecuali larangan berjima’ di siang hari pada bulan Ramadhan. Petunjuk-petunjuk dari As-Sunnah lebih menekankan pemenuhan segera ketika suami bangkit nafsu syahwatnya, serta tidak cepat-cepat menyudahi agar istri juga bisa ikut merasakan kenikmatan hubungan intim. Wallahu A’lam. --Pembahasan lebih rinci mengenai bagaimana mencumbu istri, melakukan jima’ serta berbagai hal yang berhubungan dengan itu, dapat Anda periksa di berbagai sumber. Literatur keislaman telah kaya dengan pembahasan mengenai masalah ini, meskipun ada yang lebih tepat disebut seksologi Arab daripada Islam. Tetapi pembahasan yang telah disumbangkan melalui literatur klasik telah memberi sumbangan yang sangat berharga. Pengajian-pengajian di pesantren atau lingkungan yang berdekatan dengan pesantren, sering mengambil masalah ini sebagai pembahasan rutin. Sebagian daerah di Jombang misalnya, mengadakan pengajian dengan tema ini setiap sore selama bulan Ramadhan.

Maka Dalam Jima’ Ada Kemuliaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu biasa memaksakan dirinya berjima’. Ia menuturkan, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.” Tasabbub (membuat sebab) atau jima’ dalam rangka ingin mempunyai anak, merupakan tindakan yang disukai Allah. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu contoh. Ia seorang sahabat utama Rasulullah Saw.. Ia

Kado Pernikahan 197

bertasabbub disebabkan oleh keinginan untuk mempunyai anak yang bertasbih dan mengingat-Nya. Syaikh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan, melakukan jima’ dengan upaya melahirkan keturunan merupakan bentuk pendekatan kepada Allah dari empat segi, yaitu: 1. Menegakkan mahabbah (kecintaan) kepada Allah dalam upaya melahirkan keturunan dengan maksud melestarikan keberadaan manusia. 2. Mencari kecintaan Rasulullah Saw. sebab memperbanyak keturunan merupakan kebanggaannya. 3. Mencari kebarakahan dengan do’a anak shalih pada saat kedua orangtuanya meninggal dunia. 4. Mencari syafa’at (pertolongan) dengan meninggalnya anak yang masih kecil bagi kedua orangtuanya. Di satu sisi, kemampuan untuk melaksanakan kebaikan yang disengaja, insyaAllah telah memberikan kebahagiaan tersendiri, di luar kenyataan bahwa Allah memang telah menyediakan kebahagiaan ketika suami-istri berjima’. Dorongan untuk mencapai kebaikan dapat menumbuhkan perasaan yang baik ketika bisa melaksanakan. Barangkali inilah sebabnya keluarga yang memiliki satu misi suci relatif tak terdengar keluhannya dalam masalah ini (semoga Allah menanamkan misi dalam hati kita dan keluarga kita. Allahumma amin). Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis, “Dalam jima’ terdapat puncak kenikmatan, puncak kasih-sayang terhadap kekasih tercinta, pahala, shadaqah, kesenangan jiwa, hilangnya pikiran-pikiran yang kotor, hilangnya ketegangan, badan terasa ringan dan bertambah sehat dan bisa melampiaskan cumbuan. Jika jima’ itu sengaja dilakukan untuk suatu kebaikan, melampiaskan kasih-sayang, kerinduan, kesenangan dan mengharapkan pahala, maka itulah kenikmatan yang tidak bisa ditandingi kenikmatan macam apa pun. Terlebih lagi jika persetubuhan itu dilakukan hingga mencapai puncak orgasme.” Alhasil, ada dua kenikmatan yang insya-Allah kita cerap saat berjima’ kalau niat kita baik. Paling tidak, ada satu kenikmatan yang kita reguk jika persetubuhan tak sempat mencapai orgasme. Masalahnya, apakah niat kita sudah baik? Ini yang saya tidak berani menjawab.

MENGGAIRAHKAN SUAMI Dalam sebuah seminar kemuslimahan di Yogyakarta, seorang peserta menyampaikan masalahnya. Setiap suami menginginkan, ia selalu melayani. Tetapi ketika ia menghendaki kemesraan, suami sering tidak siap untuk berjima’. Alhasil ia

Kado Pernikahan 198

harus memendam kekecewaan dan kejengkelan karena suami tidak memberi kehangatan yang ia minta. Padahal ia sangat membutuhkan. Laki-laki dan perempuan memang berbeda karakteristik seksnya. Seorang perempuan bisa melayani keinginan syahwat suaminya kapan saja, sekalipun ia tidak siap. Ekstremnya, ketika sedang tidak memiliki gairah syahwat pun perempuan bisa melakukan jima’ dengan suaminya. Tetapi tidak demikian dengan laki-laki. Secara fisik, hanya dalam keadaan tertentu ia bisa memenuhi hasrat istrinya. Dan ini banyak dipengaruhi oleh kondisi psikis. --"Tidak ada yang lebih menjamin kebahagiaan hidup berumah tangga, dan tidak ada yang lebih menjamin utuhnya kejantanan dan keikhlasan suami, daripada pengalaman dan pengetahuan istri mengenai seni bercinta...." Demikian kata Al-Khasyat. --Potensi seks suami memang merupakan masalah umum suami-istri. Tidak lama setelah menikah, seorang ikhwan pernah bertanya kepada saya jamu atau ramuan apa yang dapat menguatkan syahwatnya ketika bersama istri. Secara berseloroh saya sempat menyebutkan bumbu masakan yang dapat menguatkan syahwat. Konon begitu kabarnya. Ada juga pil yang menguatkan sesuatu yang ada pada suami. Tetapi di antara pil kuat atau obat perangsang, ada yang secara jangka panjang berdampak negatif, antara lain terhadap ginjal. Di samping itu, bisa secara langsung mengakibatkan lemahnya kesanggupan seks suami setelah sekian lama mengkonsumsi. Sebenarnya, insya-Allah suami tidak perlu menggunakan pil jika istri mampu membangkitkan gairah suami. Kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang wanita, semakin besar pula gairah laki-laki kepadanya.” Menurut riwayat, Rasulullah Saw. juga pernah bersabda tentang masalah ini. Kata Rasulullah, “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Dailami dari Anas r.a.). Berkenaan dengan masalah ini, ada baiknya kita mendengar kisah Abdullah bin Rabi’ah. Dia adalah orang yang terkenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai

Kado Pernikahan 199

orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Penisnya tidak bisa ereksi. Sementara orang-orang Quraisy tidak pernah ada yang memberi kesaksian tentang kebaikan dan keburukannya dalam masalah ini. Dia pernah menikahi seorang wanita. Tapi hanya beberapa waktu berselang, istrinya lari darinya dan kembali ke keluarganya lagi. Begitu seterusnya sampai suatu ketika Zainab binti Umar bin Salamah berkata, “Mengapa para wanita lari dari anak pamannya?” Ada yang menjawab, “Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tidak mampu membuatnya melaksanakan tugas sebagai suami.” Zainab kemudian berkata: “Tak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bangkit. Demi Allah, saya adalah wanita yang berperawakan besar dan bergairah.” Maka Zainab menikah dengannya, selalu sabar meladeninya dan akhirnya mereka dikaruniai enam anak. Kisah Abdullah bin Rabi’ah dengan Zainab binti Umar ini memberi pelajaran yang menarik. Impotensi yang cukup berat bisa tersembuhkan karena istri yang bergairah dan pandai membangkitkan gairah seks suaminya. Abdullah bin Rabi’ah bahkan bukan sekedar sembuh dari impotensi. Tidak lahir enam orang anak kalau mereka tidak aktif ber-tasabbub. Wallahu A’lam bishawab. Istri yang mengenal suaminya, insya-Allah akan mampu membangkitkan syahwat suaminya sehingga lebih puas ketika berjima’. Tentang bagaimana menggairahkan suami, saya kira Anda lebih tahu. Tetapi ada beberapa hal yang mungkin dapat Anda perhatikan. Selengkapnya bisa Anda simak poin-poin berikut. Mudah-mudahan ada manfaat-nya bagi Anda untuk menghangatkan kembali hubungan Anda bersama suami:

Membuang Rasa Malu Malu merupakan perhiasan orang-orang beriman. Rasulullah Muhammad Saw. dikenal sebagai orang yang sangat pemalu, begitu pemalunya sehingga diibaratkan seperti wanita pingitan. Utsman bin Affan, khalifah ketiga sekaligus menantu Rasulullah juga seorang pemalu. Sifat malu memang perhiasan orang-orang beriman (seberapa besarkah sifat malu kita?). Tetapi ada saatnya membuang rasa malu adalah lebih baik. Seorang istri sebaiknya membuang rasa malu ketika telah membuka pakaiannya di depan suami dan segera mengenakan kembali setelah jima’ selesai, saat ia kembali bergaul bersama orang lain yang ada di rumahnya. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 200

Imam Muhammad Al-Baqir menasehatkan, “Wanita yang terbaik di antara kamu ialah yang membuang perisai malu ketika ia membuka bajunya untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi.” Bilal bin Abi Bardah, kata Ibnu Asakir, suatu hari berkata kepada majelisnya, “Siapakah wanita yang paling mencintai suaminya?” Orang-orang dalam majelis itu segera bergeming. Lalu Ishaq bin ‘Abdillah bin Harits an-Naufali maju dan berkata, “Telah datang orang yang akan memberitahukannya kepada kalian!” Mereka pun menanyakan masalah hal itu. Ia menjawab, “Yaitu wanita pemalu yang berusaha menghilangkan rasa malunya kepada suaminya.” Ia lalu melantunkan bait syair berikut ini: Wanita-wanita itu selalu mencurahkan cintanya sewaktu suaminya tidak ada di sisinya. Dan bila suami mereka telah kembali, wanita itu menghilangkan rasa malunya.6 Seorang suami akan semakin sayang kepada istri yang mampu membangkitkan semangatnya ketika sama-sama menanggalkan pakaian. Dan ia merasakan cinta semakin mendalam disertai kebahagiaan dan keinginan untuk memberikan ketenteraman ketika ada rona merah di wajah istri setelah ia kembali menutupi tubuhnya dengan pakaian. Inilah sebagian di antara rahasia-rahasia. Insya-Allah. Majid Sulaiman Daudin mengingatkan, keindahan perasaan adalah pakaian bagi pasangan suami-istri. Sama sekali tidak berdosa bagi mereka berdua untuk saling bermesraan dan bercumbu rayu mengungkap perasaan-perasaannya dalam bentuk kata-kata maupun sikap yang disukai. Sikap suami-istri yang melepas pakaian ketika melakukan hubungan seksual, atau hanya sedang bercumbu berdua saja di dalam kamar, tidaklah bertentangan dengan sunnah. Namun tetap, kata Daudin, hendaknya mereka tidak melakukan hubungan seksual tanpa busana atau tanpa kain penutup. Selanjutnya Sulaiman Daudin menerangkan, “Sesungguhnya figur seorang wanita muslim dalam kehidupan rumah tangganya haruslah cukup memiliki rasa malu saat ditinggal suaminya atau di depan sang suami ketika ada orang ketiga di rumahnya. Rasa malu seperti itu sangat dianjurkan. Namun, jika suami dan istri sedang berduaan perasaan malu seperti itu harus ditanggalkan, terutama jika sedang menuju proses hubungan seksual. Bagaimanapun proses tersebut merupakan perjalanan yang mampu menjauhkan pasangan suami-istri dari kenistaan atau melihat sesuatu yang tidak dihalalkan oleh Allah. Oleh karena itu, mereka tidak terlarang melampiaskan segala keinginannya atau menyegarkan jiwanya dengan cara yang disukai tanpa merasa bersalah.”
Kado Pernikahan 201

Penulis kitab Qurratul ‘Uyun --kitab klasik pengantar seksologi yang banyak dibaca di pesantren-- bahkan menyatakan bodoh suami-istri yang berjima’ dengan masih ada kain yang melekat di balik selimutnya. Suami-istri hendaknya melepaskan setiap kain yang melekat ketika berjima’, sehingga tidak ada yang menghalangi tercapainya kenikmatan yang sempurna bagi suami-istri. Cukuplah selimut yang menutup mereka. Wallahu A’lam bishawab. ‘Alaa kulli hal, seorang istri hendaknya memahami bagaimana mencapai kenikmatan dan memuaskan suami ketika sedang melakukan keintiman. “Tidak ada yang lebih menjamin kebahagiaan hidup berumah tangga, dan tidak ada yang lebih menjamin utuhnya kejantanan dan keikhlasan suami, daripada pengalaman dan pengetahuan istri mengenai seni bercinta. Kasih sayang yang tercurah di malam hari akan memperteguh kebahagiaan di siang hari,” demikian kata Al-Khasyat. Istri hendaknya tidak menjadi mitra yang pasif ketika sedang berjima’ bersama suami. Istri hendaknya memainkan peran aktif. Jika Anda dingin seperti es, air panas pun akan menjadi dingin ketika berdekatan dengan Anda. Sebaliknya, jika Anda bergairah, insya-Allah Anda akan mendapati suami Anda berada di sisi Anda dengan penuh cinta. Seperti kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang wanita, semakin besar pula gairah laki-laki kepadanya”.

Allah Telah Menghalalkan Suatu ketika, Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu sengaja berdiri di hadapan penduduk Kufah. Kemudian ia meminum sisa air yang digunakan untuk mencuci muka sambil berdiri. Kemudian beliau berkata, “Sebagian orang tidak menyukai minum sambil berdiri, padahal Nabi Saw. pernah melakukan seperti apa yang telah aku lakukan ini.” (HR. Bukhari). Ketika memberi syarah (komentar) terhadap hadis ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar AlAsqalani berkata dalam Fathul-Bari, “Dalam hadis tersebut terdapat beberapa pelajaran yang bermanfaat, di antaranya adalah jika orang ‘alim melihat manusia menjauhi sesuatu, padahal dia tahu bahwa hal itu diperbolehkan dalam agama, hendaklah dia menjelaskan apa yang benar karena dikhawatirkan berlarut-larut sehingga manusia menyangkanya haram. Artinya, jika kondisinya seperti itu yang dikhawatirkan, hendaklah salah seorang yang mengetahui segera memberi tahu hukumnya, sekalipun tidak diminta, dan jika ditanya, sudah pasti dia harus menjawabnya.” Rasulullah Saw. mengingatkan, “Orang yang mengharamkan yang halal sama dengan orang yang menghalalkan yang haram.” (HR. Ath-Thabrani. Para perawinya adalah perawi-perawi hadis shahih, kata Hafizh Haitsami).

Kado Pernikahan 202

Sesungguhnya, telah sempurna kebijakan Allah atas apa-apa yang dihukumkanNya, baik mengenai apa yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Adapun kalau kita tidak mengambil apa yang dihalalkan tanpa mengharamkannya, maka yang demikian ini insya-Allah termasuk keleluasaan yang diberikan kepada kita. Kita tidak berdosa karenanya. Wallahu A’lam bishawab. --Suami-istri boleh telanjang dan melihat kemaluan, tetapi lebih sopan kalau saling menutupi seperti yang dilakukan Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib. --Memandang aurat istri termasuk perkara yang dihalalkan. Allah telah menghalalkan seorang suami untuk melihat aurat istri seluruhnya. Konsensus (ijma’) ulama-ulama terdahulu telah menegaskan kebolehannya. Nanti silakan periksa Ensiklopedi Ijma’ (Pustaka Firdaus) terjemahan KHA. Mustofa Bisri dan KH. Sahal Mahfudz pada entri aurat. Ijma’ ini ditegaskan lagi oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ketika ditanya tentang laki-laki apabila melihat kepada seluruh tubuh istrinya, dan meraba-rabanya hingga kemaluannya, ia menjawab, “Tidak haram.” Ketika ditanya apakah boleh suami-istri telanjang dan melihat kemaluan yang lain, M. Mutawalli Sya’rawi menjawab, “Boleh, tetapi lebih sopan kalau saling menutupi seperti yang dilakukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu.” Jawaban Sya’rawi ini tidak menunjuk kepada keharaman memandang aurat istri. Sya’rawi tetap menunjukkan kehalalan sambil pada saat yang sama mengemukakan adab. Dalam hal ini perlu dibedakan antara ketentuan hukum dengan adab. Masalah ini perlu saya kemukakan karena saya mendengar sebagian orang telah memandang haram apa yang telah dihalalkan oleh Allah ini. Juga, saya tergerak untuk menuliskan ini ketika saya mendengar adanya kemadharatan yang dilakukan oleh sebagian orang karena tidak adanya pengetahuan bahwa hal ini, yaitu melihat kemaluan istri dan merasakannya, dibolehkan. Saya teringat kepada Ustadz Abdul Hakim Abdats dalam kuliahnya tentang derajat hadis. Ketika menerangkan mengenai contoh-contoh hadis dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu), beliau sampai kepada hadis-hadis yang melarang suami melihat kamaluan istri sesudah memberitahukan kedudukan hadisnya, Ustadz Abdul Hakim

Kado Pernikahan 203

Abdats mengatakan, “Allah telah halalkan. Maka halallah seluruhnya. Halal dilihat, halal disentuh, halal dirasa, dan seterusnya.”7 Anggapan tentang haramnya suami-istri saling melihat aurat, antara lain berangkat dari sebuah hadis: Khath Arab

“Apabila seorang dari kalian melakukan persetubuhan, maka janganlah melihat kemaluan karena yang demikian dapat mengakibatkan kebutaan. Dan jangan pula memperbanyak pembicaraan karena dapat mengakibatkan kebisuan.” Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini maudhu’ (palsu) dan diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dengan sanad dari Uzdi, dari Ibrahim bin Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, dari Muhammad bin Abdur Rahman at-Tastiri, dari Abu Hurairah r.a. Ibrahim, kata Al-Uzdi, adalah tidak diperhitungkan. Sedang menurut Al-Albani, kelemahan hadis ini karena Muhammad bin Abdur Rahman mengutarakan sanadnya secara tunggal, di samping ia banyak mengutarakan riwayat-riwayat munkar. Ada hadis lain yang mirip dengan ini, yaitu yang berbunyi: Khath Arab “Apabila seorang dari kalian menjima’ istri atau budak wanitanya, maka jangan melihat kemaluannya, karena yang demikian dapat menyebabkan kebutaan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dari riwayat Ibnu Adi dengan sanad dari Hi-syam bin Khalif, dari Buqyah, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ibnu Abbas r.a.. Begitu Syaikh Muhammad Nashirud-din Al-Albani menerangkan. --Hadis tersebut dengan jelas menunjukkan kebolehan suami-istri saling melihat kemaluan masing-masing, baik dalam keadaan mandi bersama atau ketika bersetubuh. (Muhammad Nashiruddin Al-Albani) ---

Kado Pernikahan 204

Mengenai hadis ini, Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini maudhu’. Palsu. Artinya, Nabi tidak pernah mengatakan yang demikian ini, sehingga tidak bisa dipakai untuk istidlal (pengambilan dalil) hukum haram atau makruhnya memandang aurat istri. Masih ada hadis-hadis lain yang berkenaan dengan hal ini, tetapi kedudukannya juga lemah sehingga tidak perlu kita tambahkan di sini. Penilaian terhadap hadis ini dapat kita tambahkan dengan mengutip tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam bukunya Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’. Al-Albani menulis bahwa Ibnul Jauzi berkata, “Menurut Ibnu Hibban, Buqyah dahulunya suka meriwayatkan dari para pendusta dan suka mencampur aduk perawi sanad, banyak mempunyai kitab sahib dhu’afa dalam meriwayatkan hadis. Riwayat ini boleh jadi merupakan salah satu yang diriwayatkan dari sanad yang dha’if, yaitu Ibnu Juraij, kemudian ditadliskan (campur aduk). Hadis ini adalah maudhu’.” Penilaian di atas, kata Al-Albani menambahkan, dari segi sanadnya. Adapun dari segi maknanya, ia bertentangan dengan hadis shahih yang ada dalam Shahihain dan Ashabus Sunan lainnya, yang menyebutkan bahwa Aisyah r.a. mandi bersama dengan Rasulullah Saw. dengan bergantian gayungnya, dan bahkan disebutkan saling berebutan gayung. Hadis tersebut dengan jelas menunjukkan kebolehan suami-istri saling melihat kemaluan masing-masing, baik dalam keadaan mandi bersama atau ketika bersetubuh. Yang lebih menguatkan hal ini, tegas Al-Albani, adalah riwayat Ibnu Hibban dari sanad Sulaiman bin Musa bahwa ia ditanya tentang suami melihat kemaluan istrinya, maka ia menjawab, “Aku tanyakan kepada Atha, maka ia menjawab, ‘Aku tanyakan kepada Aisyah r.a., maka ia menjawab seraya menyebutkan hadis.’” Ibnu Hajar, pensyarah Shahih Bukhari paling otoritatif sampai saat ini, mengomentari dengan satu perkataan singkat, “Inilah nash tentang pembolehan seorang suami melihat kemaluan istrinya, atau sebaliknya, yakni istri melihat kemaluan suami.” Jadi, tidak ada halangan bagi Anda untuk melihat kemaluan pasangan hidup Anda begitu akad nikah diucapkan. Allah telah halalkan persetubuhan bagi Anda, maka halallah apa-apa yang dengannya Anda bertasabbub. Halal untuk dilihat, halal untuk disentuh, halal untuk diraba, halal untuk dirasa, dan seterusnya. Demikian kita mengingat kembali penjelasan Abdul Hakim Abdats. Seorang istri boleh melihat apa yang ada pada suaminya. Dan seorang suami juga boleh memandang perhiasan istrinya. Melihat kemaluan dapat menghangatkan kembali gairah suami yang sedang menurun. Seorang suami yang dingin dapat digairahkan syahwatnya dengan memberinya kesempatan untuk melihat, memandang maupun menyentuh kemaluan istri. Kata Al-Razi, memandang adalah obat perangsang birahi yang begitu hebat sehingga rangsangan yang ditimbulkannya tidak tertahankan.

Kado Pernikahan 205

“Jika wanita itu halal bagi laki-laki, maka laki-laki itu boleh melihat semua bagian tubuhnya,” kata Al-Zabidi. Sedang Khuraisi mengemukakan, “Seorang suami diperbolehkan melihat kemaluan istrinya.” Bahkan ketika ada orang bertanya, “Bolehkah seseorang mencium vagina istrinya?”, Imam Abul-Hasan Al-Kazhim mengatakan “Tidak ada masalah.” Masih banyak sumber dan argumen yang menunjukkan kebolehan. Sebagian kitab yang melarang, juga tidak menyatakan sebagai larangan syar’i. Ketika Qurratul ‘Uyun melarang suami untuk mendatangi istri dalam posisi miring, penulisnya tidak melarang secara syar’i. Tetapi hanya pertimbangan kesehatan agar pinggang tidak sakit. Begitu menikah, suami-istri berhak untuk merasakan keindahan dari tubuh teman hidupnya, kecuali menjima’ dubur. Menjima' dubur adalah terlarang. Demikianlah, saya perlu menerangkan masalah ini agar apa yang dibolehkan agama tidak sampai dianggap haram. Mengharamkan yang halal, dapat mendatangkan madharat (kerugian) dan mafsadat (kerusakan) yang besar di belakang hari. Setiap perkara yang besar bermula dari yang kecil. Adapun kalau Anda tidak menyukai, misalnya karena alasan adab, maka yang demikian insya-Allah termasuk keleluasaan bagi Anda sejauh tidak mengharamkan. Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim. Sebaliknya, seorang suami juga perlu memahami istrinya. Sekalipun halal memandang kemaluan istri, Anda perlu memperhatikan kesiapan dan perasaannya. Apalagi pada awal-awal menikah ketika ia merasa belum betul-betul menjadi bagian dari diri Anda. Ketika ia merasa masih agak asing terhadap Anda karena dulu Anda adalah orang lain, maka yang ia perlukan adalah kehalusan dan kelembutan. Sikap kasar dan tergesa-gesa ketika meminta istri mengizinkan Anda melihatnya, dapat membuatnya menarik diri secara psikis. Tetapi jika Anda dapat mendekati dengan kelembutan dan kasih-sayang, insya-Allah ia justru dipenuhi dengan perasaan cinta dan kerelaan terhadap Anda. Allahumma amin. Suami bisa jadi tergerak hatinya untuk melihat ketika sedang berjima’. Bisa juga Anda saling melihat sesudah melakukan jima’. Mudah-mudahan yang demikian ini dapat menjadikan istri mencapai kenikmatan yang lebih indah karena suami tidak buru-buru tidur, padahal istri masih ingin ada pembicaraan dan cumbuan yang hangat. Suami biasanya cepat mengantuk setelah mencapai orgasme, kecuali jika ia berusaha keras untuk menyenangkan istrinya karena mengingat hadis Nabi, “Apabila salah seorang dari kalian bersebadan dengan istrinya, hendaklah menyempurnakannya (istrinya). Jika ia mendahului istrinya, janganlah mempercepat (meninggalkan) istrinya itu.” (HR. Abu Ya’la dari Anas). Astaghfirullahal ‘adzim. Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah. Allahumma amin.

Kado Pernikahan 206

Sebagai penutup pembahasan tentang masalah ini (semoga Allah mengampuni kita), mari kita dengarkan penegasan Ruqayyah Waris Maqsood, seorang muslimah dari Inggris yang menikah dengan orang Pakistan. Dalam bukunya Mengantar Remaja Ke Surga, Ruqayyah menjelaskan kepada para suami agar tidak merasa jijik terhadap apa yang ada pada istrinya. Ia menulis, “Wanita buang air kecil dari saluran yang benar-benar berbeda dengan tempat yang digunakan untuk hubungan seksual. Adalah hal yang benar-benar diperbolehkan bagi seorang suami untuk menyentuh vagina (dan klitoris) istrinya, dan tidak menyentuhnya dari tempat keluarnya air kencing. Rasulullah Saw. menganjurkan untuk mencukur secara teratur rambutrambut yang tumbuh di kemaluan. Ini merupakan pekerjaan yang sulit bagi wanita, tetapi lebih disukai demi kebersihan dan membangkitkan daya tarik seksual bagi pasangan.” “Jika wanita mandi sebelum mengadakan hubungan intim, dan mungkin mengenakan parfum kesayangan,” kata Ruqayyah lebih lanjut, “tetapi suami tetap menganggap istri kotor, maka itu berarti ia telah bersikap mengabaikan, dan secara zalim mengecam ciptaan dan tujuan Allah, dan melalaikan tugasnya.” Nah. Berkenaan dengan hikmah mencukur rambut kemaluan dan memakai wewangian bagi wanita, bisa Anda simak kembali bab Memasuki Malam Zafaf. Selebihnya mari kita periksa sub judul berikut ini.

Pakaian dan Parfum Istri Allah telah memberi keleluasaan bagi kita pada tiga waktu aurat untuk menanggalkan pakaian luar. Saat-saat ini (sebelum shalat subuh, tengah hari dan sesudah shalat isya’) memberi ruang privacy (kerahasiaan) bagi kita. Kita diajarkan untuk membiasakan orang-orang di sekeliling kita, bahkan termasuk anak kita yang belum baligh, untuk meminta izin kalau mereka ingin memasuki kamar kita. Pada waktu-waktu ini, suami-istri boleh mengenakan pakaian yang seandainya dilihat orang lain mengakibatkan dosa, tetapi menyenangkan bagi pasangannya dan insya-Allah menjadikan Allah merahmati Anda. Di antara para suami ada yang senang jika istrinya mengenakan pakaian-pakaian menarik ketika beristirahat di tempat tidur. Ia ingin agar istri memakai pakaian dalam saja dan bertingkah laku manja saat berdekatan di pembaringan. Adapun kalau sudah di luar, ia akan bersikap tegas karena seorang muslimah memang seharusnya mengenakan busana yang menutup auratnya dengan benar. Sebagian suami, demikian juga istri, berkeinginan untuk saling berintim-intim ketika berangkat ke pembaringan. Sebagian berkeinginan untuk menjalin keakraban dengan kedekatan fisik tanpa melakukan jima’; berpegangan tangan, mengusap rambut, mengecup kening dan saling memandang dengan rasa sayang. Adakalanya kedekatan fisik berarti jima’.
Kado Pernikahan 207

Keinginan untuk menciptakan keakraban, khususnya berkenaan dengan jima’ antara lain tumbuh karena kepandaian istri dalam mengenakan pakaian dan aroma mewangi dari parfum pilihannya. Rangsangan ini mendorong suami untuk melakukan percumbuan --satu hal yang menyenangkan istri-- sebelum berjima’. Pemakaian parfum bagi istri insya-Allah juga mendatangkan kemaslahatan bagi kedua pihak, terutama istri. Ada tempat-tempat yang dapat membangkitkan birahi istri apabila suami mengecupnya dalam-dalam. Dan pemakaian parfum pada tempattempat itu membimbing suami untuk mencumbu dengan penuh kecintaan dan semangat. Kalau begitu, seorang istri muslimah dituntut untuk glamour? Tentu saja tidak. Anda juga perlu membatasi diri, di samping mengingatkan suami untuk tidak berlebihan. --Membentengi istri dari gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang suami. Tetapi ada baiknya istri juga memahami cara membangkitkan gairah seks suami. --Mudah-mudahan Allah membarakahi pernikahan kita semua dan mengampuni kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Semoga Allah memberikan kepada kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah dan dapat menjadi syafa’at bagi orangtuanya kelak di yaumil-hisab. Allahumma amin.

Ciptakan Suasana Dulu Ada kalanya keinginan untuk berjima’ datang dari istri. Keinginan bisa muncul di saat suami sedang bergairah, sehingga keduanya dapat melakukan jima’ yang paling indah. Tetapi bisa jadi, permintaan istri untuk melakukan jima’ datang pada saat suami sedang dingin sehingga tidak bisa menguak hasrat istrinya. Suami tidak menjima’ istri, pada-hal istri sangat membutuhkan. Masalah inilah yang pernah dikeluhkan oleh seorang peserta seminar keputrian di Yogyakarta sebagaimana saya sebut pada bagian terdahulu. Ada kalanya istri menginginkan ada yang menyentuh dirinya sebelum mata terlelap tidur. Ia ingin suami mencumbu dan memberikan keintiman fisik tanpa jima’ saat bersama-sama di pembaringan, sedang mata belum mengantuk dan gairah sedang

Kado Pernikahan 208

bangun. Tetapi karena suami kecapekan, sementara keinginan itu demikian kuatnya, ia menghabiskan malam itu dengan pelukan air mata yang mengering. Membentengi istri dari gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang suami. Begitu Imam Al-Ghazali mengingatkan dalam Ihya’nya. Tetapi ada baiknya istri juga memahami cara membangkitkan gairah seks suami. Meminjam kata-kata Utsman al-Khasyat, seorang istri perlu memahami seni bercinta. Jika Anda sedang bergejolak dan ingin ada sentuhan hangat dari kekasih, ciptakan suasana kehangatan dan romantis antara Anda dengan suami terlebih dulu. Anda tentu lebih mengerti bagaimana tersenyum kepadanya. Mudah-mudahan yang demikian ini menjadikannya lebih siap. Kalau hari itu ia merencanakan kegiatan sampai malam hari sehingga menyebabkannya kecapekan seperti beberapa hari belakangan, mungkin ia bisa mengambil keputusan untuk pulang satu dua jam lebih awal demi memenuhi kerinduan Anda. Atau ia akan menunda keberangkatannya untuk mencurahkan kasih-sayangnya kepada Anda. Atau Anda bisa menyampaikan keinginan ketika ia akan berangkat, “Mas..., jangan pergi. Aku ingin engkau di sisiku.” Bisa juga Anda menelponnya agar tidak pulang terlalu malam. Begitu. Saya kira pembicaraan ini telah cukup.

Hanya Untuk Anda Menurut riwayat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Bilamana rambut seseorang bertambah, dorongan seksnya berkurang.” Rambut yang dimaksud di sini adalah rambut yang tumbuh antara pusar dan kemaluan. Semakin bertambah rambut seseorang pada bagian itu, semakin berkurang dorongan seksnya. Meskipun harus diingat bahwa dorongan seks tidak hanya muncul karena satu sebab. Perkataan ini juga berarti, menghilangkan rambut pada area pusar dan kemaluan dengan cara mencukurnya akan dapat menambah gairah. Gairah Anda ketika berjima’ dengan suami, maupun gairah suami terhadap Anda. Sehingga mencukur rambut kemaluan bisa sebagai cara untuk membangkitkan birahi Anda sendiri maupun suami. Mencukur rambut kemaluan dapat menjadikan vagina lebih hangat. Yang demikian ini insya-Allah menjadikan jima’ Anda lebih nikmat dan menyenangkan. Selengkapnya bisa Anda baca kembali uraian tentang ini pada bab Memasuki Malam Zafaf di awal jendela dua buku ini. Maka kalau suatu saat Anda merasa gairah Anda surut, barangkali Anda sudah lama tidak mencukur rambut kemaluan Anda. Padahal telah lebih dari 40 hari -jangka waktu terlama untuk mencukur rambut, memotong kuku, dan mencabuti bulu ketiak. Begitu mestinya.

Kado Pernikahan 209

Tentang perkara ini ada yang perlu dijelaskan. Askhanu aqbalan (lebih hangatnya vagina) baru akan tercapai kalau seseorang memotongnya secara bersih. Bukan sekedar memangkasnya. Hal ini juga berlaku bagi suami. Mencukur rambut dapat menjadikannya bergairah jika dilakukan hingga bersih. Bukan sekedar mengurangi. Wallahu A’lam. Mencukur rambut secara teratur termasuk perkara yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw.. Kata Rasulullah Saw., “Lima perkara dari fithrah; mencukur bulu kemaluan, berkhitan, menggunting kumis, mencabuti bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Jama’ah). Dari Anas bin Malik r.a., berkata, “Telah dijangkakan waktu untuk kami terhadap urusan menggunting kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, mencukur bulu ari, yakni jangan lebih dari empat puluh hari sekali.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Anda dapat mengingatkan suami tentang sunnah Rasulullah ini. Di luar kenyataan bahwa hal ini bisa membangkitkan dorongan seks suami, yang lebih penting lagi adalah bahwa ini merupakan perkara sunnah. Insya-Allah jika Anda senantiasa mengingatkan suami, termasuk mandi di hari Jum’at, Allah akan ridha terhadap Anda dan melimpahkan barakah ke dalam perkawinan Anda. Allahumma amin. Akhirnya, kita bisa menggarisbawahi bahwa seandainya Anda melakukan untuk merangsang keinginan seks suami, maka yang demikian ini insya-Allah tetap merupakan perbuatan yang dirahmati dan diridhai Allah. Sebab berjima’ dengan suami yang sah adalah perkara yang diridhai Allah. Sedang hal-hal yang menjadi “wasilah”nya, juga dipandang sebagai kebaikan yang diridhai Allah. Sebagaimana kata Ibnu Qayyim ketika membahas masalah jima’, “Setiap kenikmatan yang membantu terwujudnya kenikmatan di hari akhir adalah kenikmatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Swt.. Pencipta kenikmatan itu akan merasakan kenikmatan dalam dua segi. Pertama, perbuatan tersebut menyampaikan dirinya kepada ridha Allah Swt.. Selain itu, akan datang pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.” *** Rasulullah Saw. menganjurkan untuk mencukur secara teratur rambut-rambut yang tumbuh di kemaluan. Ini merupakan pekerjaan yang sulit bagi wanita, tetapi lebih disukai demi kebersihan dan membangkitkan daya tarik seksual bagi pasangan. Begitu Ruqayyah mengingatkan. Sulitnya mencukur rambut kemaluan bagi wanita, barangkali disebabkan tempatnya yang tidak mudah dibersihkan dengan menggunakan pisau cukur biasa. Kepekaan kulit juga mempengaruhi, sehingga banyak wanita yang enggan mencukur

Kado Pernikahan 210

rambut kemaluan. Ini berbeda dengan mencukur rambut ketiak yang relatif lebih mudah dan tidak bikin risih. Jika Anda termasuk yang mengalami masalah dengan pisau cukur yang tidak sesuai, barangkali Anda bisa mempertimbangkan untuk memakai pisau cukur yang khusus didesain untuk keperluan wanita. Tetapi kalau Anda bertanya bagaimana mengatasi rasa risih karena mencukur rambut itu, saya tidak bisa menjawab. Begitu. Mudah-mudahan uraian ini bermanfaat bagi Anda.

Aktif Secara Bijak Ketika seorang sahabat memberi tahu Rasulullah bahwa ia baru saja menikah dengan seorang janda, Rasulullah Saw. mengatakan, “Mengapa tidak gadis yang ia dapat bermain denganmu dan engkau bermain dengannya, engkau menggigitnya dan ia menggigitmu?” (HR. An-Na-sa’i). Nabi Saw. juga pernah menasehatkan, “Hendaklah kalian kawin dengan gadis karena ia lebih lembut mulutnya, lebih lengkap rahimnya, tidak berfikir untuk berbuat serong, dan lebih menerima keadaan.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari Uwaimir bin Saidah). Berangkat dari hadis ini, Husein Muhammad Yusuf dalam buku Memilih Jodoh dan Tata-cara Meminang dalam Islam (GIP, 1995) menerangkan, “Pernikahan dengan seorang gadis lebih utama dari janda, karena dapat membuat hubungan lebih erat, hati bersatu, bisa bercanda dan bersenang-senang. Bahkan Rasulullah Saw. menerangkan kepada para sahabat suatu kenikmatan yang tidak akan dijumpai pada janda. Kecupan pada lidah, bibir dan ciuman pada mulut istri yang masih gadis mempunyai kesan dan kenikmatan tersendiri.” Saling mencandai dan menggoda dengan godaan sayang dapat menambah keindahan rumah-tangga. Ini bisa kita jumpai pada hadis yang lain lagi. Masih berkenaan dengan kelebihan menikahi gadis. Dari Jabir r.a., berkata, “Kami suatu saat bersama Nabi Saw. pada suatu peperangan. Ketika kami pulang dan sudah dekat dengan Madinah, saya berkata kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, saya baru jadi pengantin.” Rasulullah Saw. berkata, “Kamu sudah menikah?” Saya menjawab, “Benar.” Beliau Saw. bertanya lagi, “Dengan perawan atau janda?” Saya menjawab, “Dengan janda.” Bersabdalah Rasulul Saw., “Kenapa tidak dengan perawan sehingga engkau bisa bercanda dengannya?”

Kado Pernikahan 211

Dalam riwayat lain, “Kenapa tidak dengan yang muda sehingga engkau bisa menggodanya dan ia bisa menggodamu?” Atau bersabda, “... sehingga engkau dapat tertawa dengannya dan ia tertawa denganmu?” (Muttafaqun ‘Alaihi). Hadis-hadis ini antara lain menggambarkan keuntungan menikah dengan gadis adalah bisa saling menggoda, bercanda, dan bahkan saling menggigit dengan gigitan mesra. Istri penuh gairah dan menampakkan cinta kasihnya. Inilah yang insya-Allah dapat mengantarkan kita mencapai kenikmatan surgawi. Sehingga perasaan suamiistri menjadi hidup dan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang demikian ini merupakan sifat-sifat bidadari di surga yang dijanjikan Allah Swt.. Mereka adalah gadis yang sebaya usianya dan penuh cinta kasih. Artinya, mereka penuh kelembutan dan gairah. Demikian antara lain maknanya sebagaimana dapat kita pahami dari sebuah hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrany. Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata, “Saya berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli.” Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nazar.” Saya berkata lagi, “Jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.”8 Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepada-ku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’”9 Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.” Saya berkata lagi, “Jelaskanlah kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.”10 Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada pada bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.” Saya berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.”11 Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Kado Pernikahan 212

Saya bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadaribidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.” Saya berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?” Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”12 Ketika menuliskan hadis ini dalam bukunya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim melanjutkan dengan pembahasan mengenai kelebihannya kenikmatan bersetubuh dengan istri yang dinikahi ketika masih perawan dan belum pernah merasakan persetubuhan sebelumnya. Ini menarik untuk disimak. Tetapi pembahasan kita sekarang bukanlah mengenai masalah ini. Masalah yang menjadi perhatian sekarang adalah, aktifnya seorang istri dengan penuh kelembutan dan perasaan cinta, dapat menjadikan suami lebih bergairah. Keaktifan merupakan sikap yang disukai oleh Islam. Islam memandang kecintaan yang penuh sebagai sifat wanita ideal yang ada dalam surga. “Hendaknya kaum wanita mengetahui bahwasanya tidak ada yang lebih menyakitkan hati pria yang memiliki perasaan membara dalam pernikahan kecuali dengan seorang wanita yang “dingin”, yang kurang memberikan reaksi pada ungkapan perasaan suaminya,” kata Muhammad Utsman Al-Khasyat, “Beberapa sensus menunjukkan bahwa sikap seperti ini dianggap sebagai faktor pemicu timbulnya perceraian, rusaknya rumah tangga, serta hancurnya kendali diri.”

Kado Pernikahan 213

“Oleh karena itu,” kata Muhammad Utsman Al-Kha-syat melanjutkan, “seharusnya setiap wanita yang tulus dan ikhlas memperhatikan kebahagiaan suaminya agar berusaha keras melaksanakan segala sesuatu guna mewujudkan keharmonisan seksual yang sempurna bersamanya.” Keaktifan dan sikap yang penuh kecintaan ketika berjima’ dapat ditunjukkan dengan kata-kata yang menimbulkan kerinduan, kerjapan mata, maupun ciuman manja. Istri juga memberikan pijatan romantis di saat-saat berjima’. Sebagian di antara cara memijat dapat meningkatkan birahi suami. Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim.

Mandi Jinabah Bersama Menggairahkan suami juga bisa dilakukan dengan mandi jinabah bersama setelah melakukan jima’. Sehingga kenikmatan selama berjima’, semakin sempurna dengan kedekatan dan canda di saat sedang mandi bersama.13 Ada kedekatan, ada penunaian kewajiban agama untuk membersihkan diri dari hadas besar, ada canda, ada kenikmatan dan ada keindahan di saat saling melihat, memandang dan melayani hingga berangkat kembali ke kamar tidur bersama-sama. Di saat ini Anda masih bisa menjalin kemesraan. Barangkali justru semakin mempererat jalinan perasaan di antara Anda. Semoga Allah mempersatukan Anda berdua hingga yaumil-akhir. Kalau ada sebagian orang mengungkapkan, “Tak ada yang dapat memisahkan kita kecuali kematian.”, maka jika keduanya mencapai pernikahan yang penuh barakah, keduaduanya beriman kepada Allah, insya-Allah mereka akan dipersatukan oleh Allah ke dalam surga-Nya. Sehingga tak ada yang dapat memisahkan mereka, sekalipun itu kematian (semoga kita termasuk yang demikian). Mandi bersama insya-Allah akan melengkapi kenikmatan yang masih kurang, terutama bagi istri, jika sebelumnya belum mencapai kenikmatan yang paling sempurna. Perasaan dicintai merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang wanita. Dan tidak ada yang lebih indah kecuali perasaan dicintai oleh orang yang ia cintai. Tak berbeda dengan kebahagiaan seorang laki-laki ketika ia merasa mendapat penghormatan dari kekasihnya, istri yang telah dipinangnya dengan kalimat Allah di waktu yang lalu. Mandi bersama bagi pengantin yang baru menikah, insya-Allah akan dapat mempererat cinta kasih antara keduanya. Mereka akan lebih mudah menemukan keharmonisan (ulfah) dan pertautan hati. Rasa rikuh dan kekakuan akan lebih mudah mencair. Sehingga keduanya dapat saling menemukan kecocokan dan keselarasan, termasuk dalam masalah jima’. Adakalanya istri merasa malu dan risih dengan payudaranya. Karena sekalipun yang melihat adalah suaminya sendiri yang telah menikahinya secara sah, tetapi

Kado Pernikahan 214

sebelumnya ia adalah orang lain. Ini perlu diatasi dengan baik. Sikap yang tidak tepat karena suami terburu-buru ingin mereguk kebebasan bersama, justru dapat menjadikan istri menarik diri secara psikis. Ia tidak merasa dekat. Jika Anda mendapati istri Anda demikian, padahal Anda ingin lebih dari itu, nasehat Ruqayyah dapat Anda perhatikan. Kata Ruqayyah, “Ingat juga, jika istri merasa malu dengan payudaranya, maka ia akan lebih malu terhadap daerah di sekitar alat kelaminnya. Laki-laki yang mau mengatasi perasaan semacam itu pada dirinya sendiri, dan perlahan-lahan menghilangkan rasa malu istrinya adalah salah satu ciri seorang Muslim yang pandai dan berhasil.” Kalau ia tidak bisa mengatasi rasa malu istrinya, tidak bisa lemah lembut dan sabar ketika menguak rasa malu istri, maka ia sulit menjumpai pengalaman jima’ yang sempurna. Sulit merasakan kenikmatan surga, meminjam istilah Imam AlGhazali, yang dicicipkan Allah di dunia. Benarlah kata-kata Ruqayyah ketika menyinggung masalah laki-laki yang sembarangan dan ceroboh dalam mengatasi rasa malu istri. Kalau para suami menguak rasa malu istri dengan cara yang menyakitkan perasaan, “Akibatnya, mereka tidak pernah menikmati pengalaman berhubungan intim dengan wanita yang benarbenar penuh gairahnya,” kata Ruqayyah. Padahal, ‘Ketika gairah wanita sudah benarbenar sempurna, ia tak dapat lagi mengendalikan gerakan-gerakannya yang penuh semangat, yang dikenal sebagai qabd yang terjadi di dalam vagina. Sebagian laki-laki tak pernah melihat keadaan ini --suatu tragedi yang menyedihkan dan sebenarnya tak perlu terjadi,” Menghilangkan rasa malu istri ketika telah membuka pakaian di hadapan suami, perlu kelembutan dan kearifan.14 Perasaan wanita sangat peka. Jika ia masih sangat pemalu saat jima’ di malam pertama, maka suami dapat menghilangkan perasaan itu perlahan-lahan di saat tidak sedang melakukan jima’. Mandi janabah bersama misalnya. Sehingga istri bisa lebih terbuka dan dapat lebih bersemangat saat melakukan jima’ pada kesempatan berikutnya. Alhasil, insya-Allah banyak sekali maslahat yang akan Anda peroleh jika Anda melaksanakan sunnah mandi janabah bersama, terutama di masa-masa pengantin baru. Masa awal-awal pengantin baru adalah saat yang penting. Anda dapat memulainya di malam pertama. Masalahnya, malam pertama ada kalanya tidak berarti zafaf (pemboyongan) istri ke rumah suami. Malam pertama di masa sekarang sering berarti kesempatan untuk menikmati jima’ yang pertama kali di rumah mertua. Jadinya, malu kan sama mertua kalau mau mandi janabah bersama? He hmm. Tentu saja mandi jinabah bersama bukan hanya untuk pengantin baru. Anda bisa melakukannya di saat-saat ada kesempatan. Meskipun pernikahan Anda sudah membuahkan keturunan yang sekarang sudah saatnya menikah. Anda dapat meminta suami menemani mandi jinabah untuk mempererat jalinan perasaan dan menyegarkan kembali gairah suami terhadap Anda. Atau --tak harus mandi jinabah-- Anda dapat memintanya mandi bersama, atau Anda menemaninya di saat sedang mandi, untuk

Kado Pernikahan 215

kemudian melanjutkan dengan jima’. Ini insya-Allah dapat menjadikannya bergairah ketika Anda membutuhkan, maupun ketika ia ingin sekali meluapkan rasa rindunya setelah lama berada di perjalanan (selengkapnya baca sub bab Ketika Jima’ Menjadi Keutamaan). Menurut riwayat, Rasulullah Saw. biasa mandi bersama istrinya, Aisyah r.a. Selengkapnya mari kita dengar penuturan Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya: Khath Arab 'Aisyah berkata, “Saya mandi bersama-sama dengan Rasulullah Saw. dari satu bejana. Beliau mendahului saya hingga saya berkata, ‘Tinggalkan saya, tinggalkan saya’.” Waktu itu keduanya berjanabat. (HR. Muslim). Di dalam hadis lain, Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi meriwayatkan: Khath Arab

Dari Ibnu Abbas; ia berkata, “Salah seorang istri Nabi Saw. mandi dalam sebuah bejana. Maka datanglah Nabi Saw. untuk berwudhu atau mandi dari bejana itu. Namun istrinya menegur beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ini junub.” Nabi menjawab, “Sesungguhnya air ini tidak ikut memuat janabat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi). Ummu Salamah juga pernah mengatakan: Khath Arab “Aku pernah mandi janabat bersama-sama Rasulullah Saw. dari satu bejana.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, tak ada halangan syar’i bagi Anda untuk mandi bersama. Baik dalam satu kamar mandi maupun dalam satu bathtube (jika Anda punya). Semoga Allah merahmati dan memberi kesempurnaan barakah kepada kita semua. Allahumma amin.

Kado Pernikahan 216

Kebutuhan Wanita Lebih Bersifat Psikis Kebutuhan dan kegairahan seks wanita lebih bersifat psikis daripada fisik. Ia akan merasakan kegairahan dan kerelaan jika ia merasa dicintai oleh orang yang ia cintai. Laki-laki sedikit berbeda. Wallahu A’lam bishawab. Ada hikmah di dalamnya. Ini yang dapat kita pikirkan. *** Akhirnya, saya juga harus menjelaskan kepada Anda untuk melengkapi pembahasan kita tentang menggairahkan suami. Selain peran istri yang besar dalam membangkitkan gairah suaminya dan menjaganya agar tidak surut, suami juga perlu memperhatikan hal-hal yang dapat menyebabkan hubungan intimnya menjadi berantakan. Inilah jawaban saya atas pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya oleh seorang ikhwan yang baru menikah tentang ramuan yang dapat membangkitkan syahwat, sebagaimana telah saya paparkan di muka. Lebih lanjut marilah bersama-sama memahami soal ini dengan perumpaan sederhana. Istri Anda di rumah (namanya istri ya di rumah), mungkin pernah menggoreng kerupuk untuk teman lauk di kala Anda makan. Kalau istri Anda sering menggoreng kerupuk, dia mesti tahu bedanya menggoreng kerupuk ketika minyak belum panas, sedang panas, dan ketika terlalu panas karena api yang kelewat besar. Kalau minyak belum begitu panas, kerupuk sulit mengembang. Sering dalamnya tidak matang. Selain itu tidak bisa renyah. Lebih repot lagi kalau minyak goreng yang dipakai kurang bagus, rasanya akan serik, merepotkan tenggorokan. Sedang kalau api terlalu besar sehingga minyak goreng terlampau panas, kerupuk tidak mau mengembang. Sebentar saja akan hangus. Padahal dalamnya belum matang. Sama seperti menggoreng kerupuk, yang terbaik adalah kalau panasnya tepat dan terkendali. Terlalu dingin, kerupuk tidak matang. Terlalu panas, kerupuk hangus sebelum matang. Repot, kan? Alhasil, semuanya ternyata berpulang pada pengendalian diri Anda. Susahnya, ini yang banyak tidak diketahui orang, termasuk oleh saudara-saudara kita. Berkenaan dengan pengendalian diri ini, ada satu kisah yang sangat menarik. Ketika Sayyid Muhammad Al-Baqir menikah, banyak tamu yang datang untuk ikut berbahagia atas peristiwa mulia ini. Ketika hari sudah malam dan tamu-tamu sudah pada pulang, Sayyid Al-Baqir bermaksud mendatangi istrinya di kamar pengantin. Tetapi di sana masih banyak kaum perempuan yang berkumpul, sehingga beliau malu. Setelah ditunggu agak lama, perempuan-perempuan itu belum juga pergi. Akhirnya beliau menyelinap ke kamar sebelah. Di sana beliau membaca kitab dan menelaahnya. Beliau memang seorang 'ulama yang sangat cinta terhadap 'ilmu.

Kado Pernikahan 217

Begitu asyiknya menelaah kitab dan memikirkannya, sampai-sampai beliau tidak tahu kalau perempuan-perempuan yang berkumpul di kamar pengantin sudah pergi. Di kamar pengantin istrinya menunggu, tapi suaminya tak kunjung datang. Sementara Sayyid Muhammad Al-Baqir semakin tenggelam dalam kitab yang dibacanya. Beliau terus membacanya hingga tersadar hari sudah pagi ketika terdengar adzan Subuh. Kisah Al-Marhum Sayyid Muhammad Al-Baqir ini memberi kita dua pelajaran penting. Pertama, kecintaan yang sangat besar kepada 'ilmu, dapat membuat kita mampu terjaga semalam suntuk untuk membaca, kegiatan yang bagi sebagian orang sangat membosankan dan monoton. Kedua, soal pengendalian diri yang sangat bagus, sehingga di malam pertama pernikahan pun dapat menyibukkan diri dengan membaca kitab secara serius. Kalau tak mempunyai pengendalian diri yang bagus, orang tak bisa berkonsentrasi di waktu yang sangat menegangkan seperti itu. Lalu, bagaimana dengan kita?

SAAT-SAAT YANG TEPAT “Istri yang cerdas,” kata Muhammad Abdul Halim Hamid, “adalah istri yang dapat memilih saat-saat yang tepat untuk membangkitkan gairah suami dan menciptakan aktivitas jima’ yang indah.” “Untuk itu, “ kata Muhammad Abdul Halim Hamid menambahkan, “maka siapkanlah segala sesuatunya sedemikian rupa, sehingga menambah rasa suka cita yang lebih dalam.” Di bagian yang lain, ia juga menulis, “Suami yang cerdas melakukan jima’ pada waktunya yang pas, sehingga semakin sempurna kenikmatan dan kebahagiaan yang diraih.” Sebelum melanjutkan pembicaraan mengenai saat-saat yang tepat untuk berjima’, ada baiknya kita mengingat kembali peringatan-peringatan Rasulullah mengenai pentingnya segera memenuhi panggilan suami untuk melakukan jima’. “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya,” kata Rasulullah Saw., “tidaklah seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian ia menolaknya kecuali bahwa yang ada di langit marah kepadanya sehingga suaminya ridha kembali.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi). Dari Aththa’ bin Dinar Al-Hadzali berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Tiga golongan yang tidak diterima shalatnya, kebaikannya tidak bisa naik ke atas langit bahkan tidak melewati kepala-kepala mereka, (salah satunya adalah) seorang wanita yang ketika diajak suaminya di malam hari ia menolaknya.” (HR. Ibnu Huzaimah). Rasulullah Muhammad al-ma’shum juga menasehatkan:

Kado Pernikahan 218

Khath Arab Dari Abu Ali Thalaq bin Ali r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Hadis-hadis ini menunjukkan pentingnya segera memenuhi gairah syahwat suami. Jika suami mengajaknya berjima’, sekalipun saat itu ia sedang memasak, maka memenuhi ajakan suami untuk bercinta di atas tempat tidur lebih utama. Bahkan melakukan puasa sunnah saja, akan tidak bernilai apa-apa jika suami tidak ridha lantaran menghambat pemenuhan kebutuhan seksnya. Memenuhi keinginan suami untuk bersetubuh dalam hal ini lebih mulia daripada melakukan ibadah puasa sunnah. Sebagian suami memang memiliki dorongan seks yang besar, sehingga ia bisa melakukan jima’ beberapa kali dalam sehari. Umar ibn Ubaydillah r.a., menurut riwayat melakukan jima’ tujuh kali di malam pengantinnya ketika menikah dengan Aisyah binti Thalhah r.a., kemenakan Ummul Mukminin 'Aisyah r.a..15 Pembahasan mengenai saat-saat yang tepat, tidak berkait langsung dengan kewajiban segera memenuhi keinginan seks suami. Saat-saat yang tepat lebih berkenaan dengan bagaimana mencapai keindahan, keharmonisan, dan kenikmatan yang lebih sempurna bagi pasangan dengan berusaha untuk melakukan jima’. Kenikmatan jima’ yang sempurna akan melapangkan jiwa, menyegarkan pikiran, meringankan badan, dan memberikan ketenteraman. Sehingga dapat menambah keharmonisan, menjalin kembali kerukunan jika sempat keruh, dan --salah satu hikmahnya-- menjadikan suami lebih bersemangat ketika berkiprah di tengah masyarakat. Saat-saat yang tepat itu antara lain:

Malam-malam Bahagia Jima’ dianjurkan dilakukan pada malam-malam bahagia, kata Abdul Halim Hamid, seperti malam walimah kerabat dan handai tolan. Suami maupun istri dapat saling mengingatkan pasangannya kepada kenangan terindah di malam pertama, sehingga membangkitkan kerinduan dan rasa cinta yang menggelora. Pada saat seperti ini, insya-Allah suami-istri sangat siap melakukan jima’ sehingga mencapai kebahagiaan tersendiri yang tidak setiap saat bisa diraih. Ada yang lain dalam kebahagiaan kali ini.

Kado Pernikahan 219

Ketika Hati yang Berselisih Rukun Kembali Kadang-kadang hati manusia tidak jernih. Ia mudah terbakar ketika mendengar perkataan yang belum jelas kedudukannya, tanpa melakukan tabayyun terlebih dulu untuk memeriksa kebenaran berita maupun kebenaran interpretasinya. Kadang-kadang suami-istri mengalami ketegangan, sehingga komunikasi antara keduanya menjadi beku. Dan ketika menyadari kekhilafan masing-masing, ada keinginan untuk menghapus kesalahan dan mencairkan kembali kebekuan yang ada di antara mereka. Di saat seperti inilah, jima’ sangat baik untuk dilakukan dengan penuh kecintaan. Jima’ menjadi pertanda penyerahan diri dan kerelaan hati untuk merajut kembali sulaman cinta kasih berumah tangga. Jima’ menjadi kesempatan untuk menyatakan ketulusan dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki hubungan dan memaafkan kekurangan-kekurangan pasangannya.

Saat Suami Menghadapi Cobaan Kadangkala orang harus menghadapi kesulitan di luar rumah. Bisa jadi benturanbenturan kecil karena adanya gesekan dengan orang lain, termasuk gesekan ideologis. Bisa kesulitan di tempat kerja. Di saat seperti ini, istri bisa cepat tanggap. Ia tidak membiarkan suaminya menahan beban berat sendirian. Ia bisa menghiburnya. Ia memberi perhatian yang sangat tulus --sesuatu yang begitu berharga bagi orang yang bermasalah. Ia memberikan kecintaan yang tulus. Ia juga membangkitkan kerinduan suami, menumbuhkan gairahnya untuk berjima’ dan kemudian melayaninya di atas tempat tidur dengan gairah dan cinta kasih yang penuh. Jika suami mampu mencapai kenikmatan yang sempurna karena istri pandai membangkitkan gairah syahwatnya, ia akan merasakan kelegaan, kelapangan dan merasa ada yang mendukungnya. Ini merupakan kekuatan psikis yang sangat besar artinya untuk membuatnya tetap tegar dan kuat. Jadi, hubungan intim di saat ini tidaklah sekedar pelampiasan kebutuhan biologis. Ada yang lebih penting dari itu. Perasaan dicintai dan diterima. Selain itu, ada yang masih bisa dilakukan oleh seorang istri ketika suami menghadapi masalah. Ketika orang menghadapi beban berat, apakah itu berupa perasaan bahagia yang teramat sangat ataukah ketegangan dan kesedihan, maka yang ia butuhkan adalah seorang sahabat yang tulus dan mau mendengarkan dengan baik. Ia membutuhkan pendengar yang baik; seorang yang mau mendengar sekaligus menunjukkan perhatian. Dan yang seharusnya bisa demikian adalah istri.

Kado Pernikahan 220

Biarkanlah ia menumpahkan segala bebannya. Dengarkanlah semuanya. Tetapi tidak pasif. Dengarkan dengan menunjukkan bahwa Anda memperhatikannya. Inilah yang terpenting. Anda juga bisa belajar untuk menentukan kapan sebaiknya Anda memberikan pendapat dan meluruskan hal-hal yang kurang tepat. Kalau ia masih meluap-luap, sebaiknya Anda menunda dulu sampai ia menumpahkan seluruh beban jiwanya. Sesudah ia tenang, baru Anda bisa menyampaikan koreksi. Mungkin esok hari atau ketika ia berbincang santai.

KETIKA JiMA’ MENJADI KEUTAMAAN Setiap kali suami-istri melakukan jima’, Allah telah memberikan pahala bagi mereka di surga kelak. Ketika seorang suami menjima’ istrinya, maka baginya tercatat pahala shadaqah. Kapan saja suami-istri melakukan, sejauh tidak dalam waktu yang terlarang (misal ketika istri haid), Allah menyediakan kebaikan bagi mereka. Di luar itu, ada jima’ yang insya-Allah lebih utama. Keutamaan ini karena Nabi Saw. memberi anjuran untuk melakukannya. Insya-Allah jika kita melaksanakannya karena mengharap syafa’at Rasulullah dan ingin memperoleh kemaslahatan yang ada di dalamnya, Allah akan memberikan barakah dan ridha-Nya atas jima’ yang kita lakukan hingga kelak kita menemuinya sebagai kemuliaan di akhirat. Allahumma amin. Ada dua waktu yang di dalamnya terdapat kemuliaan. Setidaknya, hanya inilah yang saya ketahui. Pertama, ketika suami pulang dari bepergian jauh, terutama untuk waktu yang cukup lama. Kedua, ketika suami pulang mendadak karena ia terangsang birahinya saat berada di luar rumah.

Pertama, Ketika Pulang dari Bepergian Pulang dari bepergian jauh merupakan saat-saat mulia untuk melakukan jima’. Rasulullah Saw. memberi tuntunan bagi suami dan istri mengenai jima’ setelah pulang dari bepergian jauh, terutama jika perjalanan itu sampai memakan waktu beberapa hari. Apalagi kalau sampai berminggu-minggu. Seorang suami hendaknya bersegera mengajak istrinya berjima’ ketika sampai di rumah. Salah satu hikmah melaksanakan sunnah berjima’ ketika pulang dari bepergian adalah menghibur hati istri yang selama ditinggal di rumah harus memendam kerinduan, harus menanggung sepi saat di pembaringan dan gelisah karena menanti serta memikirkan keselamatan suami di perjalanan. Jima’ setelah

Kado Pernikahan 221

lama tidak bertemu dengan kekasih, insya-Allah akan membawa berbagai kemaslahatan. Antara lain, ada rasa sayang yang semakin bertambah. Hikmah lain menyegerakan jima’ setelah bepergian jauh adalah menghilangkan kekeruhan hati dan mungkin juga syahwat suami, sehingga tak ada tempat lagi untuk berkembang. Godaan-godaan syahwat dan benih-benih ketidakbaikan akan segera terkikis ketika memperoleh kehangatan dari istri terkasih. Kehangatan yang berbeda dengan saat-saat biasa. Kadang-kadang masalah seperti ini diabaikan karena benih ketidakbaikan itu begitu kecil. Barangkali tidak kelihatan. Tetapi benih yang kecil itu dapat tumbuh besar dan menampakkan bentuknya 10 atau 20 tahun mendatang. Bisa jadi memang tak ada penyakit hati yang sempat menyentuh suami maupun istri. Tetapi tak ada jaminan bahwa setiap bepergian selalu aman dari penyakit hati, baik bagi yang bepergian maupun bagi yang ditinggal. Karena itu, segera melakukan jima’ dengan penuh keinginan setelah pulang, dapat menjadi usaha preventif. Lebih penting dari itu, jima’ sesudah bepergian jauh merupakan sunnah Rasulullah Saw.. Di dalamnya pasti ada kebaikan yang sangat besar. Kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Begitu sebagian hikmah jima’ sesudah bepergian jauh. Barangkali itulah sebabnya --Wallahu A’lam-- maka tugas untuk mempersiapkan jima’ terletak pada keduanya, baik suami maupun istri. Islam menganjurkan pada seorang istri untuk berhias ketika menyambut kedatangan suami dan memberi kehangatan seks yang paling sempurna. Ini dilakukan dengan, antara lain, mencukur rambut kemaluan (masih ingat hikmahnya, bukan?). Dalam sebuah hadis dinyatakan: Khath Arab

Dari Jabir r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Jika engkau datang dari bepergian, janganlah kembali kepada istrimu pada malam hari, agar ia dapat mencukur rambut kemaluannya lebih dulu dan merapikan dandanannya serta lakukanlah jima’.” (HR. Khamsah kecuali An-Nasa’i). Agar istri dapat bersiap-siap, suami sebaiknya memberi tahu terlebih dulu kepulangannya sebelum ia sampai di rumah. Di masa lalu, ini dapat dilakukan dengan menyuruh orang untuk mengabarkan. Tetapi pada masa sekarang, umumnya sudah banyak yang memperoleh kemudahan dengan adanya fasilitas telepon. Sebaiknya, suami juga tidak kembali ke rumah pada malam hari. Pada saat ini mungkin istri sedang tidak siap. Apalagi jika ia sudah tidur nyenyak, pikirannya bisa

Kado Pernikahan 222

panik. Sehingga tidak bisa memberikan sambutan yang paling hangat. Justru bisa sebaliknya, istri merasa jengkel. Selain itu, Anda mungkin juga sangat lelah dan mengantuk di saat itu, sehingga Anda tidak bisa lama menemani istri. Tidak bisa lama ketika merayu dan mencumbu sebelum berjima’. Sesudah melakukan jima’, Anda mungkin sudah mengantuk sehingga tidak sempat lagi untuk memberikan kecupan dan kemesraan kepada istri. Padahal istri menghendaki masih ada kemesraan sesudah jima’. Tidak langsung ditinggal tidur suaminya, sementara ia harus menyimpan kecewa. Tetapi yang demikian ini barangkali tidak selalu bisa kita lakukan. Jika kita bisa memperkirakan sebelumnya, kita bisa memberi tahu istri kapan kira-kira kita pulang. Sehingga pada waktu tersebut istri mempersiapkan diri sekedarnya dan menyempurnakan sesudah suami tiba. Adapun kalau kita tidak sempat memberi tahu, maka kita bisa menunggu istri untuk mempersiapkan diri terlebih dulu. Kalau kita terpaksa pulang malam, kita bisa mengusahakan agar sampai di rumah tidak terlalu malam sehingga ada waktu untuk mencandai istri. Tetapi jika terpaksa pulang cukup malam (sementara masjid sekarang biasanya dikunci sehabis Isya’), maka Anda yang lebih tahu bagaimana sebaiknya. Istri yang cerdas akan menguak kerinduan suaminya. Ia memberi sambutan hangat dan membangkitkan syahwat suami. Ia berhias dengan dandanan yang menyenangkan. Ia memberi kemanjaan yang menggemaskan, tanpa kehilangan kedewasaannya. Ia menarik minat suaminya dengan perkataan yang menyejukkan dan kecupan yang penuh kasih-sayang. “Kecupan yang dilakukan dengan penuh perasaan,” kata Muhammad Utsman AlKhasyat dalam buku Muslimah Ideal Di Mata Pria, “memberikan bukti yang tulus bagi terwujudnya keharmonisan jasmani dan ruhani. Nilainya melebihi ribuan janji. Selain memberikan tanda keharmonisan jasmani dan ruhani, kecupan juga menjadikan hubungan seksual semakin mengasyikkan.” “Pria tidak akan melupakan hal ini ketika melakukan hubungan seksual dengan istrinya,” kata Al-Khasyat menandaskan, “Ia akan menganggap istrinya sebagai wanita ideal jika memiliki kemampuan untuk mengekspresikan kerinduan melalui ungkapan-ungkapan bibir dari kedua belah pihak. Wanita yang mengabaikan dan tidak mau tahu tentang semuanya itu akan kehilangan pondasi keharmonisan rumah tangga dan mendapatkan celaan dari semua pria.” Wallahu A’lam.

Kado Pernikahan 223

Kedua, Ketika Harus Pulang Mendadak “Jika salah seorang di antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi cenderung kepada wanita itu,” kata Rasulullah Saw. menasehatkan, “maka ia harus pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di tempat tidur supaya ia terhindar dari pikiran yang kotor.” (HR. Muslim). Suatu saat suami Anda mungkin akan pulang mendadak karena mengingat pesan Rasulullah Saw.. Ia pulang tidak seperti biasanya. Baru satu atau dua jam meninggalkan rumah, ia sudah kembali lagi dan meminta Anda untuk bercinta di tempat tidur. Di saat seperti ini, Anda barangkali tidak begitu siap. Mungkin juga Anda tidak begitu bergairah karena sedang sibuk di dapur. Bau bumbu masak yang tak sedap saja masih melekat. Tapi, kesampingkan dulu masalah itu. Saat ini yang lebih utama adalah menyambutnya dengan memberi pelayanan di atas tempat tidur sebaik-baiknya. Biarkanlah kepuasan seksnya ia peroleh dari Anda, sehingga pikirannya tidak keruh mengharapkan yang lain. Berbahagialah kalau suami Anda ternyata harus pulang mendadak, sekalipun Anda tidak begitu siap, karena ini menandakan ia menjaga agamanya, kehormatan seksnya, serta kesetiaan cintanya kepada Anda. Dalam keadaan tertentu, suami juga mungkin tidak sempat mencumbu dan merayu Anda sehingga Anda benar-benar terangsang ketika akan berjima’. Ia mungkin melakukannya cuma sebentar sebelum Anda sempat merasakan birahi. Ia buru-buru bersetubuh tanpa pemanasan yang cukup. Quickie istilahnya. Maka jika suami ternyata melakukan quickie di saat pulang mendadak, relakanlah. Insya-Allah masih ada kesempatan untuk jima’ yang lebih indah di lain waktu. Atau, jika ia masih bergairah, Anda dapat memintanya untuk mengulang jima’ sehingga ia dapat menyempurnakannya untuk Anda. Antarkanlah ia untuk berwudhu. Kemudian Anda bisa menjalin kemesraan kembali. O ya, jangan lupa menutup pintu, jendela-jendela, kerai-kerai, dan tirai. Jagalah agar tidak ada anak yang mendengar.16 Suara orangtua yang berjima’ bisa mengganggu pikiran anak. Apalagi jika anak sampai melihatnya. Pengalaman primalscene (melihat orang berjima’ pada masa kanak-kanak) dapat menimbulkan dampak yang kurang baik. Jangan lupa gantungkan dulu gagang telepon. Dering telepon saat berjima’ hanya akan mengganggu. Biarlah saat ini hanya khusus untuk Anda berdua. Satu lagi, bagaimana kalau Anda sedang haid? Tak ada halangan untuk melayani suami. Jika ia harus pulang mendadak, Anda bisa ber-mubasyarah (bermesraan). Suami boleh memperoleh kenikmatan dari tubuh istrinya, kecuali apa yang ada di bawah pusar. Selain itu istri bisa membantu suami untuk beristimna’. Mengenai

Kado Pernikahan 224

masalah ini, nanti silakan baca sub judul Padahal Istri Sedang Haid di bab ini juga. Nggak enak membicarakannya sekarang . . . .

JIMA’ SELAMA HAMIL Sebagian literatur kesehatan yang membahas masalah kehamilan, merekomendasikan agar suami-istri tidak melakukan hubungan intim selama trimester (tiga bulan) pertama. Alasannya, jima’ pada trimester pertama dapat membahayakan janin yang ada dalam kandungan. Tetapi, rekomendasi ini lemah. Pertama, tidak banyak suami-istri yang mampu mengetahui kehamilan hingga beberapa minggu. Mereka mengetahui bahwa istri sudah mengandung ketika kehamilan menginjak usia 8 atau 10 minggu. Selama masa tidak mengetahui, tidak ada hambatan untuk melakukan hubungan seks. Dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Kedua, sejauh ini saya tidak melihat argumentasi medis yang betul-betul kuat untuk kehamilan yang normal. Sehingga rekomendasi yang semacam ini tidak mempunyai kekuatan untuk diikuti. Kekhawatiran sebagian orang untuk berjima’ dengan istrinya ketika hamil, bukan masalah baru. Sejak dulu orang sering mencemaskan. Dulu orang-orang Arab juga tidak berani melakukan hal itu karena khawatir akan menimbulkan mudharat terhadap anaknya. Kemudian Nabi Saw. menjelaskan kebolehannya. Judamah binti Wahb AlAsadiyyah r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya aku hampir saja akan melarang ghilah (menyetubuhi istri yang sedang menyusui) sebelum aku ingat bahwa orang-orang Rumawi dan Persia biasa melakukan hal tersebut dan ternyata tidak membahayakan anak-anak mereka.” Dalam sebuah hadis diriwayatkan: Seorang laki-laki datang lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ber’azal terhadap istriku.” Nabi Saw. bertanya, “Mengapa?” Laki-laki itu menjawab, “Aku kasihan terhadap anaknya.” Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya hal tersebut membahayakan, maka niscaya orang-orang Persia dan orang-orang Rumawi tertimpa bahayanya.” (Hadis ini dan hadis sebelumnya diriwayatkan oleh Imam Muslim). Alangkah panjangnya penantian jika untuk melakukan jima’ harus menunggu istri melahirkan. Alangkah lamanya waktu, jika selama merawat kehamilan tak ada suami yang membelai. Padahal jima’ di saat ini dibolehkan. Suami-istri tidak terlarang untuk melakukan jima’ meskipun perut sudah membesar. Masalah ini perlu diketahui agar tidak menimbulkan sikap yang tidak tepat hanya karena tidak memiliki pengetahuan. Suami-istri perlu memahami agar dapat mencapai

Kado Pernikahan 225

yang terbaik di saat hamil. Semoga dengan demikian, istri tidak merasa tertekan ketika suami memintanya melayani di tempat tidur saat hamil tujuh bulan. Demikian juga, semoga suami tetap bisa memberi kehangatan jima’ kepada istrinya yang sedang mengandung, terutama pada trimester kedua. Sehingga tidak ada keluhan sebagaimana saya ceritakan di awal bab ini. Sekali lagi, jima’ ketika istri mengandung bisa tetap dilakukan. Jima’ selama hamil dan menyusui tidak berbahaya. Seandainya jima’ di waktu ini membahayakan, bangsa Persia dan Rumawi tentu sudah merasakan akibatnya. --“Engkau boleh bersetubuh dari depan dan boleh juga dari belakang, tetapi hindari di waktu haid dan dubur.” (HR Ahmad dan Tirmidzi) ---

Jangan Tinggalkan Istri Anda Kesepian Istri tetap merasakan kebutuhan jima’ selama hamil. Sehingga menjauhinya karena khawatir terhadap kondisi kesehatan janin maupun karena kasihan (habis istri mudah capek), tidaklah tepat. Kalau perasaan kasihan muncul, atau istri memang mengeluhkan rasa capeknya jika melakukan jima’, maka yang perlu dilakukan adalah membicarakan dengan terbuka bagaimana melakukan jima’ yang lebih baik dan lebih menyenangkan bagi keduanya. Ini antara lain dengan mengubah posisi saat berjima’. Nanti insya-Allah akan kita bicarakan, segera sesudah sub judul ini selesai. Jima’ pada trimester pertama, istri mungkin masih membutuhkan penyesuaian. Ini jika istri merasakan kekhawatiran (Anda perlu menghilangkan perasaan itu). Pada trimester kedua, gairah istri acapkali meningkat. Aliran darah pada payudara dan pelvis meningkat, sehingga meningkatkan kepekaannya ketika mendapat rangsangan dari suaminya. Lubrikasi atau pelumasan vagina juga meningkat dan berlangsung dalam waktu yang lebih cepat (sesuatu yang kadang sulit bagi seorang laki-laki untuk merangsangnya di saat istri tidak sedang hamil), sehingga wanita lebih mudah mencapai kenikmatan jima’ yang sempurna. Wanita lebih cepat terangsang birahinya, sehingga dapat beriringan dengan birahi suami yang biasanya lebih cepat bangkit daripada istri. Anda tak perlu terlalu berharap. Tetapi sangat mungkin pada trimester kedua ini Anda akan mencapai kenikmatan puncak berulang (multi-orgasme). Kenikmatan yang mungkin jarang Anda peroleh pada jima’-jima’ sebelum hamil.

Kado Pernikahan 226

Produksi estrogen dan steroids juga mengalami kenaikan. Peningkatan produksi estrogen dan steroids ini menjadikan sebagian wanita merasa erotis. Tak berlebihan kalau hasrat untuk berjima’ pada trimester kedua ini kerap meningkat. Karena itu, jangan tinggalkan istri Anda kesepian di saat-saat yang sangat membutuhkan kehangatan ini. Hubungan seks pada trimester ketiga membutuhkan kerjasama yang lebih baik, terutama untuk minggu-minggu terakhir menjelang persalinan. Wanita cenderung merasakan ketergantungan dan mudah lelah saat berjima’. Kadang wanita merasa dirinya tidak menarik, sehingga ketika suami sering mengajaknya berjima’, ia merasa heran, “Lha wong hamil seperti ini kok masih minta.” Posisi berjima’ yang beragam dapat dicoba pada masa ini. Pembicaraan lebih lengkap, silakan simak sub bab berikut: Mengubah Posisi Jima’ Suatu saat Umar bin Khaththab r.a. menyetubuhi vagina istri dari belakang. Setelah jima’, Umar merasa cemas kalau perbuatan itu merupakan pelanggaran hukum Allah. Karena itu, Umar cepat-cepat menghadap Rasulullah Saw. dengan wajah sedih. Kata Umar, “Ya Rasulullah! Celaka aku.” Nabi bertanya, “Apa yang mencelakakanmu?” Umar menjawab, “Tadi malam saya mengubah (posisi) pelana saya” --sebagai ungkapan halus tentang posisi bersetubuh dari belakang. Maka Nabi tidak menjawab hingga turun ayat (Q.S. 2:223). Beliau lalu berkata kepada Umar, “Engkau boleh bersetubuh dari depan dan boleh juga dari belakang, tetapi hindari di waktu haid dan dubur.” Kisah Umar bin Khaththab ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi. Pada hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad diceritakan, seorang perempuan Anshar bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang seorang suami yang menyetubuhi vagina istrinya melalui jalan belakang. Maka Rasulullah Saw. membacakan ayat: Istrimu bagaikan ladang-ladang kamu; karena itu, datangilah ladangmu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al-Baqarah [2]” 223). Rasulullah Saw. juga menegaskan, “Dari belakang atau dari depan (tidak apaapa), asalkan pada vagina.” (HR. Muslim dan Abu Dawud). Jadi, Anda boleh melakukan jima’ dengan posisi apapun yang Anda sukai, sejauh tidak menyetubuhi vagina pada masa haid dan tidak menyetubuhi anus. Mengubah posisi jima’ dapat menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan. Disamping itu, mengubah posisi jima’ juga akan memberikan nuansa kenikmatan yang berbeda. Setiap bagian tubuh, terutama tubuh wanita, memiliki kepekaan dan kenikmatan yang berbeda-beda saat dirangsang.

Kado Pernikahan 227

Jika di malam pertama sebaiknya melakukan jima’ dengan posisi suami di atas dan istri telentang di bawah karena lebih mudah dilakukan dan lebih besar kemungkinan untuk menyebabkan kehamilan, maka saat ini (juga tujuh hari pertama) Anda bisa mencoba berbagai posisi yang bisa memberi kenikmatan pada kedua pihak. Paling tidak, dapat meringankan istri ketika beban perutnya semakin berat. Sebelum membicarakan lebih jauh, mari kita ingat kembali firman Allah: Khath Arab

Istri-istrimu bagaikan ladang-ladang kamu; karena itu, datangilah ladangladang kamu bagaimana saja kamu kehendaki, dan takutlah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan bertemu Allah, dan gembirakanlah (Muhammad) orang-orang Mukmin. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 223). Sekarang, ketika usia kehamilan semakin mempertimbangkan beberapa posisi jima’, antara lain: bertambah, Anda dapat

Istri Di Atas Posisi ini berkebalikan dengan biasanya. Kali ini istri yang perlu aktif ketika melakukan jima’. Istri mengambil posisi di atas setengah jongkok dan suami telentang di bawahnya. Suami dapat mengimbangi dengan gerakan kakinya. Pada posisi ini istri insya-Allah lebih mudah meraih kenikmatan puncak. Istri dapat mengatur waktu untuk penetrasi dengan lebih tenang. Posisi ini juga memberikan rangsangan pada klitoris (al-badhar), sehingga lebih memungkinkan memberikan kenikmatan yang lebih pada wanita. Rangsangan pada al-badhar ini berlanjut karena ketika penetrasi, al-badhar bersentuhan dengan bagian dari apa yang ada pada suaminya. Posisi ini dapat dilakukan terutama ketika usia kehamilan belum mencapai trimester ketiga. Posisi ini juga baik untuk suami yang cepat mencapai inzal.

Suami-Istri Berdampingan Suami-istri tidur dengan posisi miring. Kemudian suami bisa aktif melaksanakan jima’, sedang istri membantu. Suami bisa menyesuaikan dengan keadaan istri yang sedang hamil. Posisi ini lebih ringan bagi wanita yang hamil tua, tidak terlalu melelahkan. Tetapi bagi suami, pinggangnya mudah sakit. Atas alasan ini penulis kitab Qurratul 'Uyun menganjurkan untuk tidak melakukan dengan posisi ini.

Kado Pernikahan 228

Sekalipun demikian, Anda dapat mempertimbangkan. Termasuk ketika istri tidak sedang hamil sehingga bisa lebih aktif.

Duduk Berhadapan Kalau melakukan dengan posisi duduk berhadapan, sebaiknya istri duduk di atas pangkuan suami dengan kaki terbuka. Istri lebih aktif daripada suami, sedangkan suami tidak leluasa. Posisi ini insya-Allah baik bagi wanita yang ingin mencapai kenikmatan puncak. Apalagi jika suami sedang capek, sementara istri sangat membutuhkan.

Suami Mendatangi Istri dari Belakang Cara berjima’ ini cocok bagi wanita yang sedang hamil tua, meskipun tidak tertutup kemungkinan melakukan di saat lain sebagaimana pernah dilakukan oleh seorang laki-laki Anshar. Juga ketika nifas belum lama berakhir. Posisi mendatangi istri dari belakang sedang istri menungging, meringankan wanita. Ketika persalinan tinggal beberapa minggu lagi, posisi ini cukup baik. Tetapi wanita relatif tidak mudah mencapai orgasme karena al-badhar jarang mendapat rangsangan. Sekalipun demikian, posisi ini dapat memberikan kenikmatan ketika suami memberikan rabaan pada payudara selama melakukan jima’. Sedangkan mengenai albadhar, keduanya dapat memberi perhatian sebelum jima’. Masalah mendatangi istri dari belakang ini perlu saya jelaskan lebih lanjut agar tidak disalahpahami. Ketika buku Mencapai Pernikahan Barakah terbit, saya sempat menerima surat yang mempertanyakan keabsahan pembolehan mendatangi istri dari belakang sekaligus menanyakan dalilnya. Pertanyaan ini dilontarkan sebab dari diskusi dengan saudara-saudara seiman, tidak menghasilkan kesimpulan yang menunjukkan bolehnya mendatangi istri dari belakang. Munculnya kebingungan atas soal ini sangat wajar. Sebab selama ini banyak ustadz kita yang menggunakan istilah mendatangi istri dari belakang sebagai ungkapan halus untuk pengertian menjima' istri pada duburnya. Dan menjima' pada dubur, tidak diragukan lagi keharamannya. Ada beberapa hadis yang menjadi hujjah haramnya (sebagian ada yang menghukumi karahah syadidah [sangat tidak disukai]) menjima' dubur istri. Di antaranya hadis riwayat Imam Ahmad dan AtTirmidzi, serta hadis shahih riwayat Imam Muslim dan Imam Abu Dawud. Kedua hadis ini sekaligus merupakan dalil yang membolehkan mendatangi istri dari belakang dengan pengertian menjima' vagina istri dengan mendatanginya dari arah belakang. Selengkapnya tentang kedua hadis ini bisa Anda baca kembali pada sub bab Mengubah Posisi Jima' di halaman 234.

Kado Pernikahan 229

Jadi sekali lagi, boleh menjima' istri dari belakang asal masuknya pada vagina (farji), bukan pada dubur. Beda sekali hukumnya antara menjima' vagina istri dari belakang dengan menjima' dubur (anus). Sangat beda. Tetapi keduanya kadang diungkapkan oleh sebagian guru-guru kita dengan istilah yang sama, yaitu mendatangi istri dari belakang. Saya kira pembahasan masalah mendatangi istri dari belakang cukup sampai di sini. Semoga bahasan ini berman-faat. Semoga Allah menjaminkan barakah di dalamnya, serta mengampuni dosa-dosa akibat kekhilafan dalam menjelaskan.

JIMA’ SETELAH PERSALINAN Setelah istrinya bersalin, suami harus sabar menunggu selama enam minggu jika ingin melakukan jima’. Sebelum itu, ia tidak bisa melakukan hubungan suami-istri. Di sinilah kadang ada kesenjangan. Kadang suami sangat berkeinginan, sedangkan istri masih nifas (disamping kurang minat). Sekalipun demikian, istri sebaiknya tidak menolak ajakan suami ke tempat tidur. Suami-istri masih boleh memperoleh berbagai kesenangan selama istri menjalani masa nifas, sejauh tidak sampai kepada persetubuhan. Majid Sulaiman Daudin mengingatkan, “Haid bukanlah uzur untuk menolak, karena itu suami halal mencumbui istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau nifas (bersalin), asalkan tidak melanggar batas antara pusar dan lutut. Yang dimaksud dengan mencumbui di sini adalah meraba, mengusap, dan mencium. Bersumber dari Aisyah r.a., ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Saw. menyuruh salah seorang kami apabila sedang dalam keadaan haid untuk memakai kain, dan beliau mencumbuinya pada bagian atas kain’.” Selanjutnya Sulaiman Daudin mengatakan, “Hadis-hadis yang mengharamkan seorang istri menolak ajakan suami ke tempat tidur menunjukkan bahwa laknat atau kutukan akan terus menimpanya sampai berakhirnya maksiat dengan terbitnya fajar, atau sampai dia mau bertaubat, atau dia mau kembali ke tempat tidur. Seorang wanita yang mengerti akan hak-hak suami-istri akan memenuhi permintaan suaminya apapun yang sedang dia lakukan, sebab memenuhi ajakan suami adalah lebih baik. Bahkan, memenuhi permintaan tersebut termasuk salah satu kewajibannya.” Jika kebutuhan untuk berjima’ sangat mendesak, suami bisa beristimna’ dengan tangan istrinya. Tentu saja, suami tetap perlu memperhatikan kondisi istrinya. Lebih jauh tentang istimna’ (masturbasi dengan tangan istri), silakan baca sub judul Padahal Istri Sedang Haid. Kelak setelah masa nifas selesai, suami juga perlu menyesuaikan diri kalau melakukan jima’. Betapa pun keadaan istri saat ini berbeda dengan keadaannya sebelum hamil. Sehingga untuk melakukan jima’ secara sempurna, perlu bertahap.

Kado Pernikahan 230

Suami hendaknya tidak tergesa-gesa ketika menjima’ istrinya yang baru selesai nifasnya. Sikap tergesa-gesa dapat menyebabkan istri merasa sakit. Sakit secara fisik karena liang persenggamaan belum pulih sepenuhnya. Sakit secara psikis karena ia kurang siap dan belum bisa menikmati cumbuan maupun rangsangan langsung secara sempurna. Bau vagina setelah bersalin bisa menjadi masalah yang agak mengganggu proses hubungan intim. Sebagian literatur yang membahas masalah hubungan suami-istri setelah bersalin, merekomendasikan untuk menggunakan vaginal-sprays, yaitu parfum semprot khusus untuk mengharumkan vagina. Tetapi vaginal-sprays ini mempunyai resiko iritasi vagina, sehingga saya tidak merekomendasikan penggunaannya ketika membahas masalah ini dalam buku Menjadi Ibu Bagi Muslimah (MitraPustaka, 1995). Bau vagina insya-Allah tidak menjadi masalah jika Anda memperhatikan sunnah ghusl (mandi) ketika bersuci dari haid. Oleskanlah kasturi pada bekas darah di dinding vagina setelah selesai ghusl. Salah satu kelebihan kasturi adalah baunya yang wangi-lembut dan tidak mudah hilang karena terkena air. Keharuman kasturi masih terasa sekalipun dicuci. Dan dari ‘Aisyah r.a., bahwa seorang wanita Anshar pernah bertanya kepada Nabi Saw. tentang cara mandi dari haid. Kepada wanita itu beliau Saw. kemudian menerangkan cara-cara mandi. Beliau kemudian bersabda, “Ambillah sepotong kapas yang dibasahi minyak kasturi, lalu bersucilah kamu dengannya.” Wanita itu masih bertanya, “Bagaimana caranya saya bersuci dengan itu?” Nabi bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Maka saya (‘Aisyah) menarik wanita itu ke arahku, lalu berkata, “Usapkanlah kapas itu mengikuti bekas darah (pada vaginamu).” (HR. Jama’ah selain AtTirmidzi). Begitu.

Padahal Istri Sedang Haid Berjima’ ketika istri sedang haid termasuk perkara yang dilarang agama. Islam telah mengharamkan persetubuhan dengan istri yang sedang haid. Apalagi jika melakukan tidak pada tempat yang lazim untuk berjima’. Sekalipun ada madzhab yang membolehkan, tetapi kedudukannya juga lebih dekat ke haram dan tetap dengan catatan untuk memilih tidak melakukan demi kehati-hatian. Persoalannya, syahwat suami adakalanya sulit untuk diredakan di saat istri sedang menghadapi halangan syar’i dan kesehatan. Suami terangsang birahinya di saat haid istri baru memasuki hari pertama. Ini tentu menjadi beban yang berat bagi suami kalau harus menunggu haid berakhir (yang kadang sampai tujuh hari). Juga bagi istri jika ia mampu berempati.

Kado Pernikahan 231

Tetapi Islam telah memberikan kemudahan. Ketika hubungan seks dilarang, Islam memberikan kesempatan kepada suami-istri untuk ber-mubasyarah (bermesraan). Suami istri tetap boleh saling bercumbu, mencium, dan memeluk kekasihnya. Suami berhak memperoleh kenikmatan atas apa-apa yang ada pada tubuh istrinya, sejauh tidak pada vaginanya. Dan istri pun berhak menikmati mubasyarah. Ketika ditanya tentang apa saja yang boleh dilakukan oleh suami terhadap istrinya yang sedang haid, Aisyah menjawab: Khath Arab Segala sesuatu boleh, kecuali jima’. (HR. Thabrani). Masruq bin Ajda pernah bertanya kepada Aisyah r.a. tentang apa saja yang diperkenankan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Maka Aisyah menjawab, “Segala sesuatu selain vagina.”17 Aisyah r.a. berkata, “Nabi Saw. memeluk dan menciumku, padahal saya sedang haid.” (HR. Ahmad dan Baihaqi). Dalam riwayat lain di sebutkan: Dan dari Ikrimah, dari salah seorang istri Nabi Saw. (dikatakan) bahwa apabila menginginkan sesuatu dari istrinya yang sedang haid, Nabi Saw. menutupkan sesuatu pada kemaluan istrinya. (HR. Abu Dawud). Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. pernah menyuruh saya berkain saja, lalu ia menyentuhkan badannya kepada badan saya, padahal saya sedang haid.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedang Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis yang menguatkan hal ini: Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Saya tidur bersama Rasulullah Saw. di atas sebuah tikar, padahal saya sedang haid, dan di tubuh saya hanya selembar kain.” (HR. Ahmad). Seorang suami bahkan boleh membaringkan kepala di antara kedua paha dan lutut istri untuk memperoleh kemanjaan dan kehangatan. Suami boleh tidur di antara kedua paha istri yang sedang haid tanpa ditutup kain. Ini bisa kita lihat pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud. Dari Imarah bin Khurab; suatu saat bibinya bercerita kepadanya bahwa ia (bibi Imarah) pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.a., “Salah seorang dari kami (para wanita) sedang haid, padahal ia dan suaminya tidak mempunyai kain yang dipergunakan untuk berbaring kecuali satu kain saja (untuk selimut tidur). Maka bagaimana?” ‘Aisyah berkata, “Saya beritahukan kepadamu apa yang pernah diperbuat oleh Rasulullah. Pada suatu malam, beliau masuk ke rumah, lalu ke tempat sujud beliau. Beliau tidak berpaling sedikit pun sehingga saya tertidur. Ketika merasa kedinginan,

Kado Pernikahan 232

beliau berkata, ‘Dekatkanlah dirimu kepadaku.’ Maka saya berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang haid.’ Beliau bersabda, ‘Walaupun kamu sedang haid, bukakanlah kedua pahamu.’ (Kata ‘Aisyah r.a.) Saya lalu membukakan kedua paha saya, sementara beliau meletakkan pipi dan dadanya di atas paha saya; saya pun menelengkungkan diri kepada beliau, dan hangatlah beliau dan tidur.” (HR. Abu Dawud). Selain boleh memperoleh kenikmatan mengusap, mencium dan memeluk ketika istri sedang haid, suami bisa ber-istimna’ (masturbasi). Tetapi ini dilakukan dengan tangan istri. Tidak bermasturbasi dengan tangannya sendiri (self-sex). Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan masalah ini. Kata Imam Al-Ghazali, “Dibolehkan pula bagi seorang suami beristimna’ (masturbasi) dengan tangan istrinya yang sedang dalam keadaan haid. Juga bersenang-senang dengan bagian tubuh istrinya, di bawah sarung, kecuali melakukan jima’. Demi mencegah pelanggaran dalam hal ini, hendaknya si istri yang sedang haid mengenakan kain sarung mulai pinggang sampai ke atas lututnya. Hal ini termasuk adab (tata krama atau kesopanan).” Keleluasaan untuk beristimna’ dengan tangan istri ini insya-Allah dapat mencegah terjadinya keadaan yang tidak baik karena suami sulit membendung keinginannya. Ikatan suami-istri insya-Allah masih terjaga. Tetapi jika suami melakukannya sendiri, istri dapat terluka perasaannya. Sehingga dapat merusak ikatan pernikahan. *** Alhamdulillah, bab ini telah selesai. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil. Tetapi masih ada beberapa pokok permasalahan yang tidak saya angkat dalam buku ini. Adab berjima’, misalnya. Sikap ini saya ambil bukan karena memandang hal tersebut tidak penting, tetapi sudah banyak ulama’ yang menuliskan dan dapat dibaca secara luas. Anda dapat mempelajarinya. Sikap ini juga tidak hanya pada pembahasan mengenai jima’. Pada bab-bab yang lain, sebagaimana saya katakan dalam pendahuluan, ada pokok-pokok bahasan yang tidak saya angkat. Sekali lagi bukan karena tidak penting. Sebagiannya justru sangat mendasar untuk diketahui. Untuk itu, silakan merujuk ke sumber-sumber lain yang telah mengangkatnya dengan baik. Bab ini telah selesai. Masalah yang kita bicarakan meru-pakan tema penting dan perlu diketahui oleh ummat Islam untuk mencapai pernikahan Islami yang lebih berbahagia dan harmonis. Tetapi tidak semua orang berhak membacanya di saat ini. Kepada Anda saya menitipkan, jagalah bab ini agar tidak terbaca oleh yang belum berhak. Kecuali jika Anda mendampingi pembahasan sehingga dapat menjaga penangkapannya sebagaimana pembahasan tentang masalah-masalah seperti ini dapat dilakukan secara umum melalui forum pengajian kitab setiap Ramadhan di Jombang.

Kado Pernikahan 233

Ada beberapa tempat yang biasa menyelenggarakan pengajian untuk tema semacam ini di sana dengan didampingi oleh seorang ustadz. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kesalahan-kesalahan saya dalam membahas masalah ini. Semoga Allah menjadikan barakah apa-apa yang baik dan haq dalam buku ini. Allahumma amin.

Catatan Kaki: 1. 2. Dikutip dari Taman Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta, 1417 H. Barangkali, inilah salah satu hikmah disyari’atkannya tinggal bersama istri selama tujuh hari setelah zafaf, jika istrinya seorang perawan. Dengan demikian istri bisa mereguk kenikmatan bersama suaminya. Insya-Allah dari sini istri akan lebih kokoh cintanya. Selain itu, tidak setiap pengantin dapat melakukan jima’ pada malam pertama. Karena itu, masa tujuh hari pertama memberi mereka kesempatan untuk menemukan saat-saat bercinta. Baru sesudah tujuh hari suami membagi masa gilir dengan istri-istri lain. Pemakaian wewangian saat berjima’, sesungguhnya lebih banyak manfaatnya bagi istri, selain menjadikan suami lebih senang dan bersemangat. Suami insyaAllah lebih tergerak untuk mencumbu ketika berjima’, sehingga istri memperoleh kenikmatan. Wallahu A’lam bishawab. Pada masa kekhalifahan Islam, pengadilan juga menangani masalah kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan seks istri. Seperti pada kasus yang diberitakan oleh Muhammad bin Ma’an Al-Ghifari. Katanya: Seorang wanita datang kepada Umar bin Khaththab. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, suamiku berpuasa siang hari dan terus beribadah pada malam hari. Saya tidak ingin mengganggunya. Ia senantiasa beribadah kepada Allah Swt.” Maka Umar berkata, “Ya, itulah suamimu, bagus!” Tetapi wanita tersebut tidak suka jawaban Umar, ia mengulangi ucapannya dan Umar menjawab dengan jawaban yang sama. Maka Ka’ab Al-Asadi berkata pada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya wanita ini mengadu tentang perlakuan suaminya yang menjauhi dirinya untuk bercumbu.” Umar kemudian menangani perkara ini. Suami wanita itu akhirnya menyadari kekhilafannya setelah Umar menengahi masalah yang dialami oleh wanita tersebut. Begitu contoh yang sempat kita dengar. Dan Umar adalah salah satu sahabat utama Nabi Saw.

3.

4.

Kado Pernikahan 234

5.

Untuk membantu istri memperoleh kenikmatan jima’, paling tidak agar ia tidak merasa sakit, kadangkala kita bisa memakai pelumas buatan (lubrikasi artifisial). Ada beberapa jenis pelumas buatan yang bisa dipakai. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh ad-Dimasyq sebagaimana dikutip dalam Muslimah Ideal Di Mata Pria karya Muhammad Utsman al-Khasyat (Pustaka Hidayah, Bandung, 1997). Sebagaimana saya transkrip dari kaset rekaman kuliah beliau di Semarang. Kepada Ustadz Abdul Hakim Abdats, Afwan wa jazaakumullah khairan katsiran. Al-Waqi’ah ayat 23. Ar-Rahman ayat 70. Ash-Shaffat ayat 49. Al-Waqi’ah ayat 37. Ibnu Qayyim memberi catatan, Sulaiman bin Abu Karamah (salah satu perawi hadis ini) menyendiri dalam ri-wayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha’if. Menurut Ibnu Adiy, mayoritas hadis-hadisnya adalah munkar dan saya tidak melihat orang-orang terdahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadis ini dari jalannya, seraya berkata, “Hanya sanad inilah yang diketahui.” Suami-istri perlu memperhatikan bagaimana mereka bercanda ketika bersamasama di kamar mandi agar tidak membawa kepada madharat. Pembahasan tentang ini silakan baca buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 1996) pada bab Awas! Usianya Sudah 10 Tahun. Ingat kembali nasehat Imam Muhammad Al-Baqir maupun Bilal bin Abi Bardah bahwa sebaik-baik istri adalah yang membuang rasa malunya ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan melekatkan kembali rasa malunya ketika ia mengenakan pakaian kembali. Periksa Mengantar Remaja Ke Surga karya Ruqayyah Waris Maqsood. Pembahasan selengkapnya bisa Anda baca pada buku Bersikap Terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 1996) pada bab Awas! Usianya Sudah 10 Tahun. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Daruquthni.

6.

7.

8. 9. 10. 11. 12.

13.

14.

15. 16.

17.

Kado Pernikahan 235

Bab 14

K

eindahan Tak Sekedar

“Itu”

r. Achmad Tafsir pernah bercerita bahwa orang sering meremehkan masalah seksual dalam keluarga, padahal banyak krisis keluarga yang sebetulnya terjadi dikarenakan adanya masalah-masalah seksual yang tidak diselesaikan. Kedua belah pihak tidak terbuka. Dalam perkembangan waktu masalah-masalah itu kemudian terakumulasi, dan akhirnya meledak menjadi krisis keluarga. Ada sikap-sikap ekstrem terhadap seks itu, yang tidak seluruhnya benar. Begitu Jalaluddin Rakhmat menulis di dalam makalahnya yang kemudian diterbitkan bersama makalah dari beberapa penulis lain dalam buku Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern (Remadja Rosdakarya, Bandung, 1993). Seks dalam keluarga merupakan masalah suci. Islam memberi tempat bagi manusia untuk menghidupkan aktivitas seks bagi suami-istri. Allah menyediakan kemuliaan akhirat ketika suami-istri memenuhi kebutuhan seksnya, sekalipun itu sekedar untuk memperoleh kesenangan dari kekasihnya yang sah. Ketika seorang suami memandang istrinya, atau istri memandang suami, dengan penuh syahwat untuk bercumbu atau berjima’, Allah memandang mereka dengan pandangan rahmat. Alhasil, seorang muslim yang baik juga perlu memahami tuntunan Islam mengenai seks agar perilaku dan kebutuhan seksnya mempunyai nilai di hadapan Allah. Sikap ekstrem dalam masalah seks, sebaiknya dihindari. Menyibukkan dalam zikir sehingga melalaikan kebutuhan seks istrinya, tidak dipandang sebagai kemuliaan oleh agama. Begitu juga, tidak benar seorang istri menenggelamkan diri dengan kesibukan ibadah sehingga mengakibatkan kebutuhan seks suami terlantar.

D

Kado Pernikahan 236

Abu Sa’d menuturkan, Rasulullah Saw. pernah menegur istri Shafwan ibn Mu’attal karena terlalu banyak beribadah sehingga mengganggu kehidupan perkawinannya. Wanita itu biasa membaca dua surah yang panjang-panjang dalam shalat Isya’nya, sehingga membuat suaminya menunggu. Ia juga kerap melakukan puasa tanpa seizin suaminya, yang membuatnya kelelahan dan menghindari setiap kesempatan untuk melakukan hubungan intim dengan suaminya di siang hari (karena hubungan seksual dilarang ketika melakukan ibadah puasa). Rasulullah memberikan peraturan demi suaminya, kata Ruqayyah Waris Maqsood. Beliau menganjurkan untuk membatasi bacaannya pada satu surah saja, dan puasa bila diizinkan suaminya. Hal yang sama juga terjadi ketika Rasulullah Saw. mendengar tentang seseorang yang suka berkhalwat, yaitu ‘Abdullah ibn ‘Amr. Ia biasa melakukan shalat di sepanjang malam dan puasa di sepanjang siang. Rasulullah menasehatinya untuk tidak berlebihan dalam ibadahnya seraya mengatakan, “Matamu mempunyai hak atas kamu, tamumu mempunyai hak atas kamu, dan istrimu pun mempunyai hak atas kamu.” (HR Bukhari). Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rahmat bagi suami-istri yang melakukan jima’. Allah juga memberikan kenikmatan surgawi yang sangat menyenangkan ketika kita berjima’. Jima’ memberikan kelegaan dan keindahan dalam rumah tangga. Jima’ sangat penting dalam menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Ia bisa mempererat jalinan perasaan dua orang yang berlainan jenis itu. Jima’ begitu penting dalam menegakkan kehidupan rumah tangga. Tetapi ada yang lebih penting dari itu. Manusia membutuhkan ketenangan (sakinah), cinta kasih dan rahmah. Jima’ hanyalah salah satu wasilah (perantara) untuk mencapai ketenangan jiwa karena gejolak syahwat dapat disalurkan melalui jalan yang halal dan dihormati Allah. Karena itu, jima’ secara halal dapat menambah kecintaan suami-istri. Jima’ hanyalah wasilah. Ketika seseorang melakukan jima’, maka yang paling penting bukanlah kenikmatan bersetubuh, tetapi ketenangan jiwa, kejernihan hati, dan kelapangan dada dari beban karena desakan itu bisa disalurkan dengan baik. Sekalipun demikian, jima’ bukan semata peristiwa biologis. Ia juga merupakan peristiwa psikis. Ketika jima’ terhenti hanya sebagai peristiwa biologis, maka yang ia peroleh hanyalah kenikmatan saat inzal (ejakulasi bagi laki-laki, lubrikasi dan keterangsangan bagi wanita). Sesudahnya tak ada ketenangan hati dan ketenteraman jiwa saat menjalani kehidupan bersama dalam rumah tangga, saat mendidik anak, dan saat memperjuangkan komitmen kehidupan. Atau barangkali hal-hal semacam ini sudah tidak mengusik hati, karena keresahan jiwa sudah menjadikan mereka sibuk terhadap kenikmatan-kenikmatan periferal (semu). Ketika jima’ hanya merupakan peristiwa biologis yang cuma memberi kenikmatan inzal, sedang mereka tak menemukan kenikmatan lain yang lebih menyentuh rasa kemanusiaan (jangan bicara yang lebih tinggi dulu), maka hari ini kita saksikan orang sibuk membicarakan seks, seks, dan seks tanpa beranjak dari pola pembahasan yang hampir semuanya cenderung menekankan kepada aspek fisik. LagiKado Pernikahan 237

lagi tidak menyentuh kepada aspek jiwa. Setiap hari orang sibuk berbicara tentang seks. Media massa memberi porsi yang besar terhadap seks; seks di rumah, seks di kantor, dan menyegarkan kembali hubungan seks dengan istri (masih untung kalau begini) melalui perpindahan tempat. Mereka sibuk menawarkan cara, misalnya suami-istri bepergian ke satu hotel dan melakukan hubungan seks di sana, tanpa mendengar keceriaan tawa anak-anak yang mengganggu. Pada saat yang sama, manusia juga disibukkan untuk mempercantik diri. Sebagian dari mereka disibukkan dengan obsesi untuk melakukan rekayasa kecantikan demi mempertahankan daya tarik seks mereka di hadapan suami. Kita pernah membaca di media massa, sebagian di antara mereka melakukan operasi plastik untuk memancungkan hidung dan memontokkan payudara. Di antaranya berakhir dengan tragis; hidung yang patah, pembusukan payudara, kerusakan wajah akibat kosmetik yang berlebihan. Ini adalah ironi kemanusiaan. Di saat manusia semakin “terdidik”, mereka justru mengalami kemerosotan dalam kehidupan psikisnya. Mereka terjebak pada aspek fisik yang sangat zahir, sehingga keelokan rupa yang menjadi perhatian utama (dan karena itu cepat membosankan). Padahal sesungguhnya, ada yang lebih berarti. Adakalanya orang aktif secara seksual, tetapi mereka tidak menemukan kesejukan dalam rumahnya. Rumah berhenti sebagai bangunan yang beratap dan berpintu. Mereka aktif bertasabbub, istri melahirkan anak hampir setiap dua tahun sekali (kadang malah tidak sampai dua tahun), anak mereka sampai lebih dari lima orang, tetapi tak ada kedamaian di rumah. Hubungan antara suami dan istri tidak akrab, apalagi mesra (kecuali saat berjima’). Ini berarti, ada yang lebih indah dari jima’. Keindahan di luar jima’ ini memang bisa semakin menyempurnakan keindahan dan kenikmatan jima’. Tetapi keindahan itu bukan terletak pada tercapainya inzal saat berjima’. Ada kesenangan hidup dalam rumah tangga (semoga Allah memberikan kesenangan itu kepada keluarga kita). Dan kesenangan itu bukan terletak pada kecantikan wajah --yang membuat sebagian orang merasa cemas dan dilanda ketakutan ketika usia mendekati 40 tahun. Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikata penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali. Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu tidak ada kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab.” Keberadaan istri (atau suami) itulah yang lebih indah daripada jima’ atau memandangi kecantikan wajah istri yang tidak terhalangi oleh bedak tebal. Sekalipun demikian, seorang istri perlu menjaga suaminya agar tidak tergoda oleh kecantikan

Kado Pernikahan 238

wanita lain. Ini dilakukan dengan dua hal, setidaknya baru ini yang saya ketahui. Pertama, melayani dengan penuh kehangatan (syukur jika mau mengingatkan suami tentang hal ini) jika suami harus pulang mendadak karena tergoda oleh kecantikan wanita di perjalanan. Kedua, tidak menceritakan kecantikan wanita lain seolah-olah suami melihat sendiri. Apalagi imajinasi sering memberi kesan yang lebih kuat dibanding melihat secara langsung (selengkapnya baca bab Biarlah Engkau yang Tercantik Di Hatiku di jendela tiga buku ini). Anda bisa memberi izin atau bahkan menganjurkan suami untuk matsna (menikah lagi untuk yang kedua kali) dengan wanita lain secara sah sehingga bisa menjadi teman untuk berjuang bersama-sama dengan Anda. Tetapi Anda tidak bisa memberinya izin untuk membayangkan wanita lain. Anda perlu menjaganya (disamping suami juga perlu menjaga dirinya sendiri). Di sinilah keunikan agama kita sekaligus menunjukkan kesempurnaannya dalam mengatur setiap sisi kehidupan kita. Ada wasilah (perantara), ada ghoyah (tujuan). Kita hendaknya tidak terjebak pada wasilah sehingga melupakan ghoyah. Tetapi kita juga sebaiknya tidak melupakan wasilah karena memandang ghoyah.1 Maka mudah-mudahan kita bisa mengikhtiarkan agar keberadaan kita mempunyai makna bagi teman hidup kita. Jika kehadiran kita tidak bisa dirasakan maknanya oleh teman hidup kita, maka keluarga akan runyam. Akan terasakan kekeringan atau kegersangan komunikasi dan selanjutnya membuat jiwa merasa lapar jika terlalu lama berlangsung. Hubungan dalam keluarga terasa beku tanpa kehangatan. Hubungan dalam keluarga lebih bersifat peran-peran atau tugas-tugas. Ini dapat menegangkan. Apalagi kalau sampai terjadi keadaan di mana adanya kita lebih buruk daripada tidak adanya, maka dapat dibayangkan bagaimana suasana dalam keluarga itu (naudzubillahi min dzalik). Saya ingin melanjutkan pembahasan mengenai masalah ini. Tetapi sebelum itu, marilah kita berhenti sejenak untuk memohon barakah kepada Allah Yang Maha Pengasih atas keluarga kita, pernikahan kita, dan atas diri kita. Mudah-mudahan Allah mengampuni kekeliruan kita. Ketika pernikahan kita barakah (ya Allah, barakahilah pernikahan kami dan ampunilah kesalahannya), maka kehadiran kita sangat berarti bagi teman hidup kita. Kehadiran Fathimah Az-Zahra bagi suaminya, Sayyidina Ali karamallahu wajhahu adalah gambaran paling mempesona. Saya sangat terkesan dengan keindahan pernikahan mereka, sehingga ingin menuliskan sekali lagi komentar Sayyidina Ali tentang istrinya. Kata Sayyidina Ali, “Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.” Ah, seandainya para istri seperti Fathimatuz Zahra, maka akan lahir kekuatan yang sangat besar melalui suami dan anak-anak yang dilahirkan. Suami tidak keder ketika harus menghadapi benturan di luar. Suami menjadi tegar ketika harus menegakkan kepala di luar rumah. Suami berani menanggung rasa sakit karena ketika di rumah, ia temukan surga yang memberi kedamaian. Bukan keadaan yang

Kado Pernikahan 239

mencekam karena harus menghadapi tuntutan istri yang tidak pernah puas dengan rezeki suaminya. Ya Allah, kami sambat kepada-Mu, penuhilah keluarga kami dengan barakahMu. Jadikanlah istri-istri kami sebagai penyejuk mata. Karuniakanlah kepada kami keturunan yang menyejukkan mata dan menjadi imam orang yang bertakwa. Jika jalinan perasaan tumbuh subur di ladang keluarga kita, maka perasaan kita akan mengharap kehadiran teman hidup kita ketika ia sedang jauh dari kita. Di sinilah keindahan yang lebih mulia insya-Allah akan terbentuk. Suami-istri akan merasa bermakna dan mengalami keterpenuhan jiwa kita ia merasa ada yang mencintai dan merindukannya; ada yang menggelisahkan dirinya kalau sesuatu yang kurang mengenakkan terjadi. Jalaluddin Rakhmat memberi gambaran indah dalam khothbahnya. Ia mengingatkan kedua mempelai dengan uraian singkat. Kata Jalaluddin Rakhmat, “Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi, sejak pagi ini, bila Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda. Kini, bila berharihari Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang perempuan lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu, bila Anda mendapat musibah, Anda hanya mendapat ucapan “turut berduka cita” dari sahabatsahabat Anda. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah untuk berbagi suka dan duka dengan Anda.” Perasaan ada yang menerima, ada yang mencintai dengan tulus, ada yang memperhatikan dan tidak menginginkan kemarahannya, serta perasaan ada yang mengharapkannya menjadi baik secara tulus dan ikhlas, jauh lebih indah daripada kehangatan tubuh dan keharuman pipi saat berjima’. Inilah yang dirindukan manusia dalam pernikahan. Saya jadi teringat kepada salah satu nasehat Rasulullah. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidakkah kalian mau saya beritahu tentang wanita ahli surga?” Kami berkata, “Tentu ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap istri yang wadud (sayang) dan walud (banyak anak). Apabila ia membuat marah suami atau menyakiti hatinya atau suami marah kepadanya, ia berkata, ‘Inilah tanganku berada di tanganmu. Saya sungguh tidak bisa menikmati tidur dan istirahat sehingga engkau ridha kembali.” Ketika suami mendengar perkataan yang tulus dari istrinya, maka kekerasan hatinya insya-Allah akan luluh. Kemarahannya akan reda dan berganti dengan perasaan rahmah dan ingin melindungi. Api akan padam ketika berhadapan dengan air. Tetapi akan berkobar ketika dihembus angin, kecuali ketika apinya masih kecil.

Kado Pernikahan 240

--Perasaan ada yang menerima, ada yang mencintai dengan tulus, ada yang memperhatikan dan tidak menginginkan kemarahannya, jauh lebih indah daripada kehangatan saat berjima’. Inilah yang dirindukan manusia dalam pernikahan. --Maka di sinilah kita perlu belajar. Ketika ada yang meluap emosi negatifnya, salah satu pihak perlu menahan diri. Ia perlu menjadi air. Kalau keduanya tidak ada yang bersedia untuk berendah hati mendengar kemarahan dan kekesalan pasangannya, yang terjadi adalah pertengkaran dan perseteruan. Kalau terus berlanjut, keduanya bisa mengembangkan sikap mempersalahkan teman hidupnya. Dialah yang harus begini atau begitu. Sebaliknya, kelapangan hati untuk meredam emosi insya-Allah akan membawa kepada kebaikan. Kelembutan akan membawa kepada keindahan dan tegaknya sikap yang seharusnya. Insya-Allah. Kelembutan akan mencairkan hati yang beku dan melunakkan gunung yang keras. Setelah kemarahan reda, keduanya bisa melakukan ishlah. Anda bisa mengoreksi secara bijak. Insya-Allah teman hidup Anda akan lebih mudah menerima. Lebih bisa menyadari jika memang ada kesalahan yang harus diperbaiki. Kita mungkin tidak bisa meniru kelapangan hati Rasulullah Saw.. Tetapi ada baiknya kita mengingat bagaimana reaksi Rasulullah menghadapi kemarahan Aisyah, istri beliau yang tercinta. Suatu ketika Aisyah pernah marah kepada beliau. Aisyah berkata, “Engkau ini hanya mengaku-aku saja sebagai Nabi.” Rasulullah yang mulia hanya tersenyum menghadapi hal itu dengan penuh kesabaran dan keagungan. Jika suami-istri dapat saling meredakan hati yang bergejolak, maka kehadiran seorang istri akan lebih bermakna bagi suami. Begitu juga, istri akan merasakan ketenteraman dan kebahagiaan dengan hadirnya suami di rumah. Sekedar hadir saja. Tak lebih dari itu. Barangkali hanya untuk duduk-duduk bersama dan bercanda. Sesuatu yang kelihatan tidak penting dan tidak bermanfaat. Tetapi adakalanya jiwa kita merindukan saat-saat seperti itu. Anak-anak kadang juga menunggu-nunggu kesempatan semacam itu. Ketika kebutuhan jiwa itu tak terpenuhi, kadang anak menderita sakit. Bukan karena ada gangguan fisik, tetapi semata sebagai reaksi somatis atas kebutuhan jiwanya. Ah. Kalau berbicara seperti ini saya jadi teringat kepada kehidupan rumah tangga Rasulullah (kita bisa meniru nggak, ya?). Rasulullah adalah seorang pemimpin besar, panglima militer yang besar dan sekaligus tokoh panutan masyarakat yang terbesar
Kado Pernikahan 241

sampai zaman ini. Rasulullah juga seorang manusia yang memiliki kesibukan luar biasa untuk berbagai keperluan, sejak dari melayani masyarakat sampai dengan mencari ma’isyah (penghidupan keluarga). Tetapi beliau masih sempat bercanda dengan istri-istrinya dengan canda yang mungkin tidak akan dilakukan oleh seorang pemimpin tingkat kabupaten. Pernah Rasulullah mengajak istrinya, Aisyah, untuk berlomba lari dengannya. Rasulullah kalah. Lain kali Rasulullah kembali mengajak Aisyah berlomba lari dan Rasulullah memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata, “Ini pembalasan yang dulu.” Begitu Imam Ahmad dan Abu Dawud menceritakan dalam hadisnya. Kata Muhammad Abdul Halim Hamid, hadis ini shahih. Rasulullah juga menunjukkan perhatian dan kemesraan kepada Aisyah ketika meminum. Rasulullah meminum dari gelas yang sama dengan Aisyah dan meminum di bekas tempat Aisyah meminum. Begitu yang diceritakan Imam Muslim dalam hadisnya. Begitu juga ketika mandi bersama, kadang Rasulullah menunjukkan candanya. Bercanda dengan istri atau suami insya-Allah membawa kepada kebaikan dan langgengnya perasaan cinta antara keduanya. Agama ini bahkan menilai canda suamiistri sebagai tindakan di luar dzikrullah yang tidak termasuk kesia-siaan. Rasulullah Saw. bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid). Begitu dekatnya hubungan Rasulullah dengan istrinya, sehingga beliau dapat mengenali kapan Aisyah marah dan kapan Aisyah ridha hanya dari perbedaan diksi ketika berbicara kepada Rasulullah. Padahal Aisyah tidak menampak-nampakkan emosinya. Ketika rumah diwarnai dengan kehangatan, penerimaan, perhatian, dan kasihsayang, maka ia menjadi surga bagi penghuninya. Rumah tidak sekedar bangunan kokoh dari batu bata dan semen. Rumah memberi arti kedamaian dan keteduhan psikis. Dan ini lebih indah dari sekedar kenikmatan hubungan seks berhenti sebagai peristiwa biologis semata-semata. Jika hubungan seks tidak berhenti sebagai peristiwa biologis semata-semata, ada keindahan yang lebih dari itu. “Banyak orang yakin bahwa ekspresi yang ada dalam pandangan seseorang dapat mengungkapkan isi hati seseorang,” kata Ruqayyah, “Pasti, pandangan kekasih adalah hal yang paling menyenangkan dan menenteramkan. Banyak kaum istri yang mendambakan pandangan semacam itu, sekalipun mereka sudah menikah selama bertahun-tahun.” “Jika Anda tak dapat membuat diri Anda untuk memandang dan memperhatikan istri Anda,” kata Ruqayyah lebih lanjut, “maka baginya itu adalah tanda bahwa Anda
Kado Pernikahan 242

tak benar-benar mencintainya. Walaupun tidak menyenangkan dan tampak berlebihan, banyak wanita merasa tersentuh sekali jika seorang laki-laki benar-benar mengucapkan bahwa ia mencintainya.” Rasulullah kadang memanggil Aisyah dengan sebutan humaira’ (wanita yang pipinya bersemu merah). Ini merupakan panggilan mesra seorang suami kepada istrinya. Bagaimana dengan kita? Ungkapan cinta merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang istri. Mungkin Anda benar-benar mencintainya. Meskipun demikian, jika tidak pernah Anda ungkapkan melalui kata-kata mesra ketika tidak sedang berjima’, cinta itu bisa terasa hambar baginya. Begitu juga pandangan mata. Kebutuhan untuk mendengar dan didengarkan merupakan sesuatu yang penting, termasuk mendengar perkataan cinta suaminya. Manusia mempunyai kebutuhan untuk itu. Seorang istri mempunyai kebutuhan untuk didengar perasaannya. Ia butuh ada orang yang mau menerima ceritanya, tentang kelelahannya, tentang kecemasannya menunggu Anda, dan isyarat-isyarat yang diberikannya. Suami adakalanya tidak bisa mendengarkan ungkapan perasaan istri sebagaimana yang diharapkan. Ketika istri bercerita tentang betapa capeknya ia hari itu dengan mencuci popok yang bertumpuk dan anaknya yang cerewet (atau cerdas?), suami segera menanggapinya sebagai persoalan yang perlu segera diselesaikan agar tidak menjadi masalah. Yang terjadi kemudian, istri justru jengkel. Persoalan ini terlalu sepele untuk didiskusikan. Yang ia butuhkan adalah kekasih yang mau mendengarkan. Mendengar inilah yang berharga. Bukan pembahasan mengenai masalah yang disampaikan. “Keunikan” istri yang semacam ini kadang membingungkan suami. Padahal, suami juga mempunyai sikap serupa. Hanya obyeknya yang berbeda. Lihat saja bagaimana para bapak yang baru selesai menyaksikan siaran langsung sepak bola. Mereka sibuk membicarakan tendangan pemain dari kesebelasan favoritnya dengan rekan-rekannya yang juga menyaksikan, semeja lagi. Mereka membicarakan, kalau mau jujur, bukan untuk memberi informasi karena mereka sudah sama-sama tahu. Mereka juga tidak mendiskusikan untuk memperoleh pemecahan masalah karena mereka tidak memiliki kompetensi untuk membicarakan. Mereka membicarakan pertandingan sepak bola yang baru saja selesai sebagai luapan perasaan yang butuh disampaikan dan butuh ada yang mau mendengarkan. Lain istri, lain pula suami. Di tempat kerja, banyak laki-laki yang lebih suka memecahkan masalahnya seorang diri, dan membicarakan hanya kepada orang-orang yang sarannya benar-benar ia butuhkan, kata Ruqayyah. Sebagian orang lebih suka menjauhkan diri untuk sementara waktu dari permasalahan, dan kembali lagi nanti. Ketika mereka tiba di rumah, kadang-kadang mereka ingin menyepi --dan inilah yang tidak diketahui dan kurang dihargai oleh banyak istri.

Kado Pernikahan 243

“Sebagian kaum istri kurang pandai menangani kebutuhan suami untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan,” kata Ruqayyah Waris Maqsood, “Secara naluriah mereka merasakan ketegangan itu, dan bereaksi dengan mendesak suami untuk diberitahu semuanya. Mungkin suami merasa malu dan tidak enak bila istri mengetahui hal tersebut, dan mungkin ia tidak ingin membicarakannya dengan istrinya. Ia ingin menjaga istrinya dan rumahnya sebagai tempat berlindung dari semua persoalan. Apalagi menceritakan seluk-beluk masalah itu kepada istri akan memakan waktu terlalu lama dan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu malamnya.2 Di sinilah kadang timbul persoalan. Apalagi kalau istri membiarkan sikap curiga tumbuh dalam hatinya. Konflik bisa muncul, meskipun bersifat internal. Istri merasa suami tidak mencintainya. Istri merasa suami tidak mempercayainya. Padahal persoalannya adalah pada bagaimana istri menghadapi suaminya. Jika suami memperoleh dukungan psikis yang menjadikannya menemukan ketenangan, suami akan dapat menceritakan kepada istri tanpa perasaan terbebani. Sikap Khadijah binti Khuwailid ketika suaminya pulang dengan wajah pucat sehabis memperoleh wahyu, barangkali dapat menjadi pelajaran bagi para istri. Selengkapnya bisa Anda baca sendiri pada buku-buku yang berbicara tentang kehidupan Khadijah r.a., sirah Nabawiyah, atau tentang keluarga Nabi Saw.. Ketika istri mampu mendampingi dan memberikan perhatian yang ikhlas, maka suami merasakan kekuatan psikis dan dorongan semangat yang luar biasa. Inilah yang ada pada diri Khadijah, terutama ketika Rasulullah Saw. berada pada masa-masa sulit. Karena itu, tidaklah berlebihan jika kedudukan Khadijah di hati Rasulullah tak bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk oleh Aisyah yang usianya jauh lebih muda. Padahal, ketika itu Khadijah telah lama meninggal dunia. Muhammad Utsman Al-Khasyat pernah menulis, “Tindakan logis yang dilakukan oleh setiap wanita yang berpikir cemerlang sewaktu berada di samping suaminya adalah membantunya dengan kata-kata yang baik, memberikan senyuman yang memotivasi, dan mendorongnya terus-menerus untuk merealisasikan semua tujuan yang diharapkan. Setiap keberhasilan yang diraih bukanlah milik sendiri, melainkan milik mereka berdua.” Mendengarkan dan didengarkan secara tulus inilah sesuatu yang sangat berharga, disamping keberadaan istri. Ada saat-saat di mana kita sebenarnya butuh untuk saling berbicara, apa saja, dengan teman hidup kita. Seperti bercanda dengan istri, yang terpenting bukanlah isi dari canda itu melainkan kesempatan untuk bercanda itulah yang membukakan katup-katup hati. Begitu juga dengan berbicara antara suami-istri, ada saat-saat di mana yang terpenting adalah kesempatan berbicara itu sendiri. Bukan isi pembicaraannya. Keakraban dan perasaan dicintai ketika berbicara itulah yang lebih berharga daripada tema-tema yang dibicarakan. Inilah yang disebut healthy communication climate (suasana komunikasi yang sehat). Pada masa sekarang, orang kadang membutuhkan waktu khusus untuk pergi meninggalkan keluarga dan menikmati kebersamaan berdua di tempat yang jauh dari hiruk pikuk keluarga. Mereka ingin mengulang bulan madunya dengan merencanakan

Kado Pernikahan 244

secara khusus acara yang memungkinkan mereka berbicara apa saja di luar kesibukan sehari-hari. Sebenarnya, insya-Allah kita tidak perlu sampai menyediakan waktu khusus untuk melakukan revitalisasi perkawinan dengan meninggalkan anak-anak di rumah. Ada waktu-waktu yang jika kita memanfaatkannya, insya-Allah jiwa kita akan menemukan apa yang dibutuhkan. Hubungan perasaan antara suami dan istri dapat terjaga. Waktu itu misalnya ba’da Dzuhur. Tengah hari sehabis shalat Dzuhur, suami-istri bisa menutup pintu kamarnya. Mungkin ber-qailulah (tidur siang) bersama. Mungkin juga “sekedar” (apa sih yang sekedar?) untuk berbicara apa saja, tanpa harus ada tema. Mungkin juga sekali waktu saling merayu dan memberikan pujian yang membesarkan hati. Atau mungkin bercakap-cakap tanpa kata; saling memperhatikan tanpa banyak mengucapkan katakata karena mata sudah berbicara banyak. Bisa juga mereka melakukan keintiman fisik tanpa melakukan jima’. Wallahu A’lam bishawab. Ada lagi yang insya-Allah lebih indah dari jima’: kepercayaan. Perasaan bahwa istri atau suami memberikan kepercayaan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Perasaan memiliki kepercayaan terhadap teman hidup, juga sangat berharga. Ketika rasa percaya itu ada, suami tidak khawatir ketika meninggalkan istrinya di rumah. Dan ini termasuk salah satu dari tiga kebahagiaan seorang laki-laki. Rasulullah Saw. bersabda, “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar kema-na kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.” Proses menuju pernikahan banyak memberi pengaruh terhadap seberapa jauh masing-masing memiliki kepercayaan dan merasa mendapatkan kepercayaan dari orang yang dicintai. Selengkapnya, bisa Anda renungkan kembali bab terdahulu Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu.... Selain kepercayaan, mendengarkan dan didengarkan, serta perasaan diterima dan didukung, perhatian dan kelembutan merupakan sesuatu yang berharga. Keintiman fisik sebagai salah satu bentuk kebersamaan di luar jima’, juga dibutuhkan. Kedekatan fisik atau mungkin sampai membawa mereka kepada permainan dan cumbuan, dapat dilakukan misalnya ketika menghabiskan waktu aurat. Pada saat ini masing-masing bisa beristirahat dengan melepaskan pakaian luar. Selebihnya mereka

Kado Pernikahan 245

bisa saling memandang dan saling menyentuh. Tidak lebih. Kecuali jika Anda memang ingin melanjutkan ke hubungan seks. Akhirnya, kata Ruqayyah, sedikit “sentuhan” tambahan sebenarnya dapat memperlancar hubungan. Rasulullah Saw. bersabda, “Menyuapkan sedikit makanan ke dalam mulut istri adalah sedekah.” (Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan jenis kelembutan yang harus hadir dalam keluarga Muslim. Remasan, rangkulan, sentuhan tangan, cubitan kecil di pipi, hadiah kecil yang menunjukkan Anda mengingat istri selama bekerja --semua itu merupakan sarana penghantar cinta Anda kepada istri. Begitu Ruqayyah menjelaskan. Kelak ketika Allah telah menganugerahkan seorang anak dalam pernikahan kita, keindahan itu semakin sempurna jika orangtua memiliki misi terhadap anaknya dan mampu membina hubungan yang serasi dengan anaknya. Tanpa itu, kita bisa mengalami kebosanan selama berada di rumah. Yuni Nur Kayati, seorang ibu berputera satu menulis di dalam bukunya Anakku, Dengarlah Ibu Ingin Bicara tentang masalah ini. Kata Yuni, “Menjalani rutinitas sehari-hari di rumah akan menjadi suatu yang membosankan jika kita tidak mampu memaknainya. Untuk itu, kesadaran bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah sangat penting. Dan kita akan menjalankan dengan perasaan bahagia.” Demikian. Keindahan tak sekedar “itu”. Tak sekedar jima’. Mudah-mudahan keindahan ini ada dalam keluarga kita. Mudah-mudahan Allah membarakahi. Allahumma amin.

Catatan Kaki:

1.

Wasilah dalam konteks ini dapat dipahami sebagai perantara, kenikmatan perantara untuk tercapai kenikmatan yang lebih besar, cara yang mengantarkan orang kepada tujuan, sesuatu yang memperantarai atau menjadi mediator tercapai kenikmatan atau kemaslahatan yang besar. Ghoyah adalah tujuan, kenikmatan yang lebih prinsipil dan lebih langgeng, lebih menjamin keharmonisan, sesuatu yang memiliki nilai yang lebih mendasar, kebahagiaan akhir. Kecantikan wajah dapat menjadikan orang senang. Ini merupakan wasilah. Tetapi ini bukan ghoyah. Kecantikan dapat menjadikan hubungan seks lebih indah dan menyenangkan. Mempercantik diri demi membahagiakan suami merupakan perbuatan sunnah. Ini dapat menjadikan suami lebih dalam cintanya. Tetapi istri hendaknya tidak melulu disibukkan dengan berhias. Demikian juga suami hendaknya tidak hanya menyibukkan perhatian terhadap kecantikan istrinya. Pada saat yang sama istri harus membentengi

Kado Pernikahan 246

suami dari keterjebakan terhadap kecantikan wanita lain. Begitu rangkaiannya. Prinsip semacam ini juga kita jumpai dalam masalah-masalah lain. Secara umum ini dijabarkan melalui prinsip-prinsip fiqih.
2. Baca kembali Saat-saat yang Tepat pada bab sebelumnya.

Kado Pernikahan 247

Bab 15

B
S

iarlah Engkau

yang Tercantik di Hatiku

etelah menikah, ada amanah untuk saling menjaga pandangan. Antara lain untuk menjaga pandangan suami sehingga tidak memandang dengan perasaan yang besar kecuali terhadap istri. Sehingga ia tidak mengangankan orang lain kecuali istrinya sendiri. Tidak menginginkan yang lain kecuali istrinya. Tidak ada yang lebih cantik, kecuali istrinya. Jadi, Anda para istri, hendaknya berusaha membuat pandangan mata suami hanya tertuju kepada diri Anda seorang. Tidak ada kesempatan baginya untuk memandang yang lain, apalagi sampai membayang-bayangkan, apalagi lebih dari sekadar membayangkan. Mata suami banyak bergantung kepada wajah Anda. Jika wajah Anda membawa kesejukan, insya-Allah ia tidak akan tergerak untuk memalingkan pandangan. Kesejukan wajah, sungguh tidak berhubungan dengan kecantikan. Bagi seorang yang belum menikah, kecantikan wajah boleh jadi begitu penting atau bahkan terpenting, sehingga ada yang menikah atas dasar kecantikan wajah. Akan tetapi seorang yang sudah menikah, atau seorang yang sudah menghayati sebuah pernikahan, kecantikan wajah terasa demikian tidak pentingnya. Kecantikan wajah terletak di urutan nomor kesekian. Jauh lebih penting daripada kecantikan wajah adalah kesejukan wajah Anda ketika suami memandang. Alhasil, hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wasallam mengenai seorang istri yang apabila dipandang membuat suami semakin

Kado Pernikahan 248

sayang, tidak hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kecantikan luar biasa. Boleh jadi mereka yang menurut penilaian umum sangat tidak cantik, justru menyimpan keteduhan jiwa yang luar biasa sehingga dapat menghapus kepenatan psikis dan fisik suami saat datang. Sebaliknya, bisa jadi kecantikan wajah yang dikenang-kenang dan diangan-angankan sebelum menikah, tampak demikian membosankan dan melelahkan mata. Selengkapnya bunyi hadis Nabi Saw. itu berbunyi: “Tiga kunci kebahagiaan laki-laki adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu lelah dan jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.” --Kecantikan wajah terletak di nomor kesekian. Jauh lebih penting daripada kecantikan wajah adalah kesejukan wajah Anda ketika suami memandang. --Saya teringat kepada Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam bukunya yang berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim berkata, “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikan penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali. Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu tidak ada kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab.” Perkatan Ibnu Qayyim ini berarti, jika Anda menikah dengan seorang gadis disebabkan oleh tingkah lakunya yang menggemaskan, maka tiga bulan

Kado Pernikahan 249

setelah menikah boleh jadi rumah tangga akan penuh dengan ketegangan psikis karena di saat nyidam ia tidak menggemaskan lagi. Pembawaannya kuyu dan lusuh, seperti kain sarung yang tertumpuk di kotak cucian. Apalagi kalau pembawaannya di masa nyidam itu menyebalkan sekaligus bikin risih. Kasus pernikahan Christina Onassis adalah contoh yang tepat untuk memahami penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ini. Konon, Christina adalah perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa. Ia juga pandai membawakan diri di kalangan selebritis, sehingga tidak malu-maluin kalau diajak menghadiri berbagai pertemuan. Justru di kalangan selebritis, Christina adalah orang yang sangat dikenal. Sementara itu, untuk soal kekayaan, cukuplah saya kabarkan kepada Anda bahwa dari mendiang ayahnya saja ia sudah mewarisi kapal pesiar pribadi, pulau pribadi, danau, sejumlah bangunan, perusahaan realestate, pesawat terbang pribadi, deposito milyaran dolar, serta armada kapal (di luar kapal pesiar pribadi itu). Akan tetapi, pernikahan-pernikahannya selalu berakhir dengan kekecewaan dan kegetiran. Ia tak menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya. Usahanya untuk menemukan kebahagiaan pernikahan ini akhirnya ia hentikan dengan bunuh diri di Argentina. Begitu menurut shahibul hikayat. Apa artinya? Kecantikan dan kepandaian mempercantik diri tidak dapat menjamin utuhnya cinta dalam pernikahan. Kita merasa tenteram saat memandang, lalu perasaan sayang kita kepada istri semakin besar, bukan karena kecantikan dan kepandaian berhias. Lalu, apa yang membuat suami merasa semakin dekat ketika memandangnya sedangkan ia telah bergaul lama? Wallahu A’lam bishawab. Saya tidak tahu persis bagaimana menjelaskannya, di samping saya juga tidak tahu persis persoalan ini sampai ke akarnya yang terdalam. Hanya saja, secara kasar dapat kita pahami bahwa itu bukan terletak pada wajah. Bukan. Melainkan apa yang memancar dari wajah itu. Hati kita menjadi hidup jika wajah yang kita pandang memberikan keramahan, memancarkan kerinduan, dan menebar kehangatan. Hati kita semakin terpaut jika kehadiran kita diharap-harapkan dan ditunjukkan dengan pancaran wajah yang hidup dan tidak kaku beku.1 Boleh jadi Anda saat itu sakit, akan tetapi Anda bisa memancarkan pandangan mata yang menggambarkan bahwa cinta dan kerinduan Anda tidak sakit; Anda menampakkan melalui pandangan mata Anda bahwa kehadiran suami sangat berarti. --Banyak peristiwa komunikasi yang lebih bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jiwa daripada informasi. ---

Kado Pernikahan 250

Alangkah letihnya suami jika ia bergegas-gegas pulang, diterpa panas yang menyengat atau hujan yang menyiramkan rasa dingin, tetapi sesampai di rumah tak ada senyum hangat yang menyambut, tak ada mulut yang bicara, dan tak ada mata yang membalas pandangan dengan penuh keinginan. Tubuh yang telah letih akan terasa semakin letih ketika beban psikis yang hendak ditumpahkan ternyata tidak tertampung karena istri tak tertarik mendengarkan. Beban psikis boleh jadi berupa problem-problem yang ia jumpai selama berada di luar rumah, bisa jadi persoalan-persoalan serius yang ia pikirkan sejak lama, tetapi bisa juga “hanya sekadar” kejadian-kejadian ringan yang ingin ia ceritakan kepada istri. Kejadian ringan ini mungkin berupa pengalamannya merasakan semangkuk kecil rujak gobet, mungkin pertemuannya dengan teman sekolah semasa SD, atau mungkin kegembiraannya karena tadi menerima surat dari ibunya. Kisah-kisah yang ingin diceritakan oleh suami barangkali tidak begitu penting substansinya. Pengalaman-pengalaman itu tidak memiliki isi yang dapat mempengaruhi jalannya sejarah, misalnya. Katakanlah, apa pentingnya kisah semangkuk rujak gobet yang pedas bagi kemajuan pendidikan anakanak? Tidak ada. Apa pentingnya kisah rujak gobet itu untuk kemajuan masyarakat? Tidak ada. Namun demikian, persoalannya bukan pada substansi semata-mata. Persoalannya lebih kepada bagaimana memperhatikan dan diperhatikan. Persoalannya lebih kepada bagaimana mendengarkan dan didengarkan. Sebab setiap kita butuh memperhatikan dan diperhatikan. Sebab setiap kita butuh mendengarkan dan didengarkan. Lihatlah orang-orang yang baru usai melihat pertandingan sepak bola bersama-sama. Kadang-kadang malah duduk bersama-sama dalam satu kursi. Mereka juga minum dari gelas yang sama ketika sedang menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, begitu pertandingan selesai, mereka saling bercerita. Kadang malah sambil menggambarkan detail peristiwa, misalnya peristiwa masuknya gol ke gawang lawan. Padahal mereka sama-sama menyaksikan. Lalu, apa yang diharapkan dari cerita itu? Apakah mereka bermaksud ingin memberitahu, ingin menyampaikan informasi kepada rekannya? Jelas tidak, sebab mereka melihat bersama-sama. Apakah mereka mendiskusikan sepak bola demi meningkatkan mutu persepakbolaan Indonesia di masa mendatang? Juga tidak. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki ilmu persepakbolaan, sehingga pembicaraan mereka tidak mencukupi untuk merumuskan strategi persepakbolaan yang bisa berkelit dari praktek sepak bola gajah. Apakah mereka hendak melakukan renungan bersama mengenai pelajaran yang bisa diambil dari sebuah pertandingan sepak bola? Lagi-lagi tidak. Lalu apa, kalau semua kemungkinan di atas tidak tepat? Kebutuhan untuk mendengar dan didengarkan; kebutuhan untuk mengungkpkan apa yang menarik dan mengesankan kepada orang yang tepat, sekalipun sama-sama sudah tahu.

Kado Pernikahan 251

Banyak komunikasi sehari-hari ytang dimaksudkan untuk berbagi cerita dan kebahagiaan. Peristiwa-peristiwa menarik biasanya cenderung mendorong kita untuk menceritakan tidak hanya satu kali kepada satu orang. Padahal dalam kesempatan lain, kadang bukan sekadar sebagai dorongan naluriah, melainkan telah melalui proses pemikiran, menceritakan satu episode cerita beberapa kali kepada orang lain. Ini terutama ketika kita menganggapnya ada yang perlu diambil pelajaran dalam cerita tersebut. Singkat cerita, banyak peristiwa komunikasi yang lebih bersifat pemenuhan kebutuhan jiwa daripada untuk memperoleh informasi. Di sisi lain, seringkali kita butuh mendengar sesuatu dua-tiga kali untuk bisa menyadari makna pentingnya. Kadang kita diingatkan atau diberi cerita tentang sesuatu tanpa bisa mengambil pelajaran apa-apa, akan tetapi ketika mendengar untuk yang keempat kali kita merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Namun demikian, alangkah seringnya kita takabbur. Kita mementahkan orang yang menceritakan sesuatu lebih dari satu kali. Kita takabbur terhadap diri sendiri (’ujub) sehingga memastikan diri kita bisa mengingat dengan jelas satu cerita yang pernah sampai kepada kita; kita juga takabbur terhadap orang lain sehingga menganggap tidak perlu mendengarkan cerita yang disampaikan dua kali. Padahal banyak peristiwa komunikasi yang memerlukan perulangan cerita untuk bisa mengkomunikasikan suatu perkara dengan baik. Bentuk tindakan mementahkan pembicaraan orang yang menceritakan suatu kejadian lebih dari satu kali, misalnya bertanya, “Kamu itu mengalami itu berapa kali?” “Satu kali.” Jawaban ini diberikan sudah dengan menyimpan kekecewaan psikologis. Besar-kecilnya tingkat kekecewaan bergantung kepada seberapa besar nilai cerita itu untuk diungkapkan kepada Anda. Kekecewaan ini semakin besar ketika Anda menukas dengan perkataan, “Satu kali? Kok kamu menceritakannya berkali-kali?” Komunikasi semacam ini mudah memancing konflik, lebih-lebih jika terjadi antara suami-istri. Istri atau suami yang pernah merasakan kekecewaan yang teramat sangat karena pembicaraannya dimentahkan dengan cara seperti itu dapat mencari kesempatan untuk mementahkan pasangan hidupnya. Masalah bisa timbul. Misalnya dalam kesempatan membahas suatu peristiwa, suami tidak ingat cerita yang pernah dikemukakan istrinya. Ketika ia bertanya, istrinya menukas, “Apakah harus diceritakan lagi? Saya sudah pernah cerita dan berita tidak ada yang diulang, kecuali kalau terjadi berkali-kali. Masak nggak ingat?” Kalau sudah demikian, pertengkaran bisa meledak. Kalau sudah demikian, kita bisa jatuh dalam komunikasi kursif (lebih lanjut tentang komunikasi kursif, silakan baca di bab berikutnya Komunikasi Suami Istri). Kalau sudah demikian, wajah kita terasa sangat menjengkelkan bagi pasangan hidup kita. Kalau sudah demikian, engkau bukan yang tercantik di hati suami.

Kado Pernikahan 252

--Sambutan ketika suami datang banyak memegang peranan. Lebih-lebih sambutan ketika suami harus pulang mendadak karena ada yang membuatnya tergoda di tengah perjalanan. Padahal boleh jadi Anda tidak tahu persis apakah saat ini ia pulang karena tergoda di jalan ataukah karena sudah saatnya pulang. Artinya, sambutan hangat sebaiknya diberikan setiap saat. Memberi sambutan hangat bukan berarti mesti menyelenggarakan acara yang “gegap-gempita”, misalnya dengan segera memeluk suami tercinta atau membawakan tasnya. Yang terpenting bagi suami bukan itu. Yang terpenting bagi suami adalah kabar bahwa istrinya baik-baik saja (sekalipun tidak dinyatakan secara lisan) atau ada pertanyaan-pertanyaan dan cerita-cerita istri. Yang juga penting bagi suami adalah bahwa kedatangannya diharapkan istri. Ini ditunjukkan dengan tidak ada rasa engan memberi senyuman dan keringanan hati untuk menanggapi pembicaraan suami, meskipun boleh jadi si istri tidak banyak bicara. Pada saat-saat tertentu, tidak ada yang lebih diharapkan oleh suami selain sambutan hangat dan sikap yang menenteramkan dari seorang istri. Seperti Muhammad yang mencari Khadijah untuk diselimuti sebelum akhirnya bertandang ke Waraqah bin Naufal, kita kadang pulang dengan harapan segera disambut istri dengan penuh kehangatan. Pada saat seperti ini, kita mencari tangan yang dengan penuh perhatian mengusap peluh-peluh kecemasan kita. Kita tidak siap untuk bercerita sekalipun untuk peristiwa yang paling ringan. Kita hanya butuh dipahami dan ditenangkan dulu. Nanti setelah hati cukup siap, suami bisa bercerita banyak tentang apa yang dialami. Meskipun begitu, jangan terburu-buru mengharap cerita dulu. Adakalanya suami tidak segera “mampu” menceritakan gejolak hatinya. Ia hanya mampu mengungkapkan kerisauannya yang paling kuat. Oleh sebab itu, tunggulah sampai memungkinkan baginya untuk bercerita sebelum Anda menanyakan apa saja yang terjadi. Kadang persoalan muncul karena istri mengharapkan suaminya segera bercerita tentang apa saja yang dia alami selama berada di luar rumah, sementara suami bergegas-gegas pulang agar segera mendengar apa saja yang berlangsung di rumah selama ia tidak ada. Persoalan menjadi rumit ketika istri “menuntut” suami untuk segera bercerita banyak, dan ketika suami tidak segera bercerita, ia menjadi muram. Padahal ini menjadikan suami justru tidak bisa bercerita, sekalipun saat itu ia sudah sangat ingin bercerita. Apalagi kalau saat itu kondisi suami justru membutuhkan “pengertian” dan penenangan. Persoalan akan lebih runyam lagi sehingga menyebabkan pertengkaran terbuka di saat suami justru membutuhkan kasih sayang dan kehangatan istri, Jika istri menuntut suaminya untuk bercerita sekaligus menaruh prasangka buruk atas sikap suaminya yang tidak segera bercerita. Dalam situasi seperti ini, keadaan justru jadi serba tidak enak. Kalaupun akhirnya suami bercerita,

Kado Pernikahan 253

itu tidak akan mengubah apa-apa. Istri mendengar tidak dengan kelegaan dan kepercayaan penuh, dan suami pun --sebagai konsekuensi logis-- tidak bisa bercerita dengan hati lapang. Ujung-ujungnya akan timbul kecurigaan dan perasaan tidak puas terhadap pasangan hidupnya. Jika tidak diredakan, hal ini dapat menjadi sebab terjadinya keretakan rumah tangga yang parah. Na’udzubillahi min dzalik. Menjalin hubungan suami-istri yang saling pengertian dan penuh perhatian memang membutuhkan usaha dan cara-cara yang tepat. Hubungan suami-istri merupakan cermin bahwa dua orang atau lebih yang mempunyai kehendak searah, yang sama-sama menginginkan kebaikan dan keindahan, yang sama-sama menginginkan kemuliaan dan keselamatan (dunia-akhirat) bisa mengalami perselisihan karena adanya kesalahan dalam komunikasi dan menempatkan sikap. Jika masing-masing bersikukuh dengan persepsinya, kebaikan bisa jadi akan segera lari menjauhi mereka. Alhasil, apa yang mereka usahakan bersama-sama harus kandas bukan karena keduanya tidak memiliki komitmen yang sama, melainkan lebih dikarenakan tidak adanya komunikasi yang baik dan penempatan sikap yang tepat. Mendidik anak juga demikian. Boleh jadi anak ingin melakukan sesuatu yang baik. Akan tetapi karena tidak tahu bagaimana cara mencapainya, ia melakukan dengan cara yang salah. Boleh jadi Anda sebagai orangtua tidak menanyainya lebih dulu dan hanya memberi cap (judgement) bahwa ia nakal dan bandel. Ini membuat anak berontak. Alhasil, iktikad anak untuk melakukan perbuatan-perbuatan bajik harus kandas hanya karena orangtuanya tidak mau mencoba memahami jalan pikiran anak. Jika dalam menjalin hubungan suami-istri sulit untuk duduk bersama meluruskan persepsi dengan lapang dada, maka sulit untuk melakukan hal semacam ini terhadap anak. Suami-istri sudah memiliki pengalaman hidup, ilmu, dan kedewasaan. Anak belum memiliki itu semua. Padahal kesemuanya merupakan bekal penting untuk bisa mendudukkan persepsi masing-masing pada tempatnya. Akhirnya, persoalan mendidik anak ternyata banyak berhubungan dengan bagaimana kita membina hubungan suami-istri. Banyak persoalan pendidikan anak yang tidak berhubungan langsung dengan proses mendidik anak, namun lebih kepada bagaimana kita menjalin suami-istri, bagaimana kita menjalin hubungan dengan orang lain, tetangga, tukang becak, sopir, sampai dengan pengemis. Dan yang terakhir ini, seingat saya belum pernah dibahas dalam seminar-seminar, buku-buku, atau berbagai kesempatan lain. Perkara semacam ini sering dianggap tidak penting karena “tidak memiliki pijakan ilmiah”, kecuali oleh kiai-kiai di pesantren-pesantren kecil yang tersembunyi tempatnya. Sungguh, perkara-perkara itu memiliki pijakan ilmiah yang kuat jika kita mau berpikir dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang jernih dan bekal

Kado Pernikahan 254

yang memadai. Repotnya, kita umumnya tidak dituntut untuk memiliki kematangan sebagai syarat “lulus” atas ilmu yang kita pelajari. Ah, kok ngelantur sampai ke sana. Engkau yang Tercantik di Hatiku Dari pembicaraan kita semenjak awal bab ini, kita mendapati bahwa kecantikan tak dapat menjamin bahwa yang tercantik di hati suami adalah istri semata. Ada yang lebih penting daripada sekadar kecantikan, yaitu keramahan, kehangatan, dan rasa cinta yang tulus. Ada yang bisa menyuburkan perasaan, yaitu perhatian dan penerimaan yang tulus terhadap kekasih. Ada yang bisa memperindah, yaitu canda yang menyenangkan. Rasulullah Saw. pernah kejarkejaran --lomba lari-- dengan istrinya, ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar ada orang yang kejar-kejaran dengan istri untuk bercanda, sehingga istrinya sangat terkesan dan menaruh rasa cinta yang sangat dalam. Sebaliknya, yang pernah saya dengar adalah istri yang lari ketakutan karena dikejar-kejar oleh suaminya yang sedang marah. Jika ‘Aisyah hanya mampu menangis dan berkata, “Ah, semua perilakunya mengesankan bagiku (kana kullu amrihi ajaba)” saat ditanya tentang perilaku Rasulullah yang peling mengensankan; maka saya ragu apakah istri yang lari ketakutan karena dikejar-kejar oleh suaminya akan berkata seperti itu ketika suaminya telah meninggal. Singkat cerita, bukan wajah yang membuat suami terkesan sehingga yang tercantik di hatinya adalah istrinya semata, melainkan apa yang memancar dari wajah itulah yang paling mempengaruhi perasaan suami. Sekalipun demikian, Anda tidak bisa meninggalkan masalah merawat kecantikan dan berhias untuk suami tercinta. Dalam hal ini yang terpenting adalah menunjukkan iktikad untuk memberikan yang terbaik bagi suami, bukan pada kesempurnaan Anda berhias. Berhias dengan sempurna tetapi suami merasa bahwa istri tak pernah berhias untuknya, maka apa yang Anda lakukan tidak mempunyai nilai apa-apa. Sebaliknya, sesederhana apa pun engkau berhias, jika suami merasa apa yang engkau lakukan itu disebabkan oleh cintamu kepada suami, maka tak ada yang lebih cantik di hatinya kecuali engkau. Yang menjadi pertanyaan kemudian, kapan seorang suami merasa bahwa istrinya berhias untuk suami, kapan suami memandang istrinya berhias untuk orang lain di sepanjang jalan atau majelis-majelis, serta kapan suami memandang istrinya berhias untuk kepuasan diri sendiri saja? Wallahu A’lam bishawab. Saya tidak tahu. Silakan Anda bertanya kepada diri Anda sendiri ketika sedang berhias: apakah Anda berhias demi menjaga pandangan suami ataukah Anda berhias semata karena itu telah menjadi kebiasaan Anda ataukah karena yang lainya lagi…(yang saya tidak tahu apa itu)? Kalau Anda bisa

Kado Pernikahan 255

menjawab pertanyaan ini dengan jernih, insya-Allah juga bisa menjawab pertanyaan sebelumnya. Anda bisa memahami kapan suami merasa Anda berhias sama sekali bukan untuknya. Sama sekali. Alhasil, di samping mengetahui saat tepat untuk berhias, Anda juga perlu mengetahui apa yang dapat merawat perasaan suami kepada Anda. Termasuk dalam kategori merawat adalah menjaga lisan untuk tidak menceritakan kecantikan wanita lain sehingga suami seolah-olah memandangnya sendiri. Meskipun kecantikan bukan segala-galanya, namun orang mudah dipengaruhi oleh kesan-kesan visual. Orang mudah terpengaruh oleh keindahan pandangan dan suara. Orang mudah terpengaruh oleh kesan sekilas, sehingga banyak peristiwa serong terjadi hanya karena suami terkesan oleh perhatian yang “tulus” dari rekan sekerjanya karena sering mengingatkan, “Maaf, Pak…. Itu krah bajunya kurang pas.” Setelah mereka menikah, suami mendapati rekan sekerja yang sekarang menjadi istrinya itu sama saja dengan istrinya yang terdahulu. Kembali ke soal larangan menceritakan kecantikan wanita lain. Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita temui Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam bukunya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Menurut Ibnu Qayyim, ada tiga pendorong cinta yang datang dari diri orang yang dicintai. Salah satunya adalah, “Pandangan dengan menggunakan mata atau hati, jika boleh diistilahkan begitu. Betapa banyak laki-laki yang mencintai wanita, hanya karena mendengar ciri-ciri wanita itu dan belum pernah melihatnya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita memberitahukan sifat-sifat wanita lain di hadapan suaminya, hingga seakan-akan suaminya melihat wanita itu.”2 Dalam bahasa kita sekarang, pandangan dengan hati sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibnu Qayyim barangkali adalah fantasi atau imajinasi. Secara sederhana, bayangan yang kita ciptakan mendorong perasaan kita untuk menyukai, merindukan, memiliki, membenci --meskipun kita sama sekali belum pernah melihat secara langsung. Jika ini terus berlangsung, maka ada beberapa keadaan yang mungkin terjadi. Tetapi kali ini, cukuplah dua di antara berbagai kemungkinan itu saja yang kita bahas di sinsi. Pertama, suami akan membanding-bandingkan istrinya dengan kecantikan yang dibayangkannya berdasar cerita istrinya. Membandingkan istri dengan fantasi akan selalu berakhir dengan kenyataan bahwa istri sangat jauh dari yang diharapkan, berbeda sekali dengan yang diangan-angankan suami. Ini memicu kekecewaan dan ketidakpuasan perkawinan. Sehingga secantik apa pun istri berhias, ia tidak akan pernah menjadi yang tercantik di hati suami. Kedua, jika fantasinya semakin kuat sehingga perasaannya terhadap wanita yang diceritakan oleh istri semakin besar, maka perasaan yang meluapluap itu tidak bisa tidak akan mendorongnya untuk bertindak. Keinginan yang

Kado Pernikahan 256

besar terhadap wanita yang diceritakan oleh istri inilah yang dapat membuka pintu fitnah. Bahkan seandainya pun suami sempat bertemu dengan wanita yang diceritakan dan ternyata secara objektif jauh dari yang digambarkan oleh istrinya, ia tetap memiliki harapan positif terhadap wanita tersebut. Apa ini artinya? Silakan Anda renungkan sendiri dengan jernih. Yang juga termasuk merawat perasaan suami adalah memberi sambutan hangat di saat ia harus pulang mendadak karena hatinya tergoda oleh kecantikan wanita lain di perjalanan. Barangkali sudah tiga atau empat kali saya menyampaikan kepada Anda tentang masalah ini di sepanjang buku Kado Pernikahan untuk Istriku ini. Meskipun demikian, saya masih harus menjelaskannya lagi dari sisi lain, mengingat pentingnya soal meredakan gejolak suami karena ketertarikan terhadap apa yang dilihatnya. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita perhatikan sekali lagi hadis Nabi tentang perkara ini. Dari Jabir r.a. berkata, Rasullullah Saw. Bersabda, “Seorang wanita itu datang dalam bentuk syaithan, maka ketika salah seorang dari kalian melihat wanita yang memikatnya, segeralah mendatangi istrinya, karena itu bisa meredam gejolak yang ada dalam dirinya.” (HR. Muslim) Ketika suami harus pulang mendadak ingin menjaga syahwatnya, maka hendaknya istri memberi sambutan dengan sebaik-baiknya sehingga persetubuhan yang dilakukan itu berakhir dengan mengesankan. Bukan justru meninggalkan kekecewaan, sehingga gejolaknya semakin meluap-luap. Istri yang sangat bergairah akan dapat meredakan gejolak suami yang sedang memuncak. Masalah yang kemudian bisa terjadi adalah, di saat sedang penuh gairah, suami boleh jadi tidak mampu lagi menahan dirinya untuk bersegera melakukan hubungan seks. Ia terlalu panas untuk menunggu. Pada saat seperti ini boleh jadi suami akan terdorong untuk melakukan quickie (hubungan seks kilat) sebagaimana telah saya jelaskan pada bab Keindahan Suami Istri. Karena itu ia perlu disambut dengan penuh gairah dan rasa cinta yang membakar. Persoalan bisa muncul karena satu di antara dua hal ini. Pertama, istri memandang remeh karena tak mampu berempati. Seorang akhwat pernah bertanya, “Laki-laki itu kok aneh, sih. Lihat pisau berkilat saja bisa membangkitkan syahwat.” Gejolak suami diremehkan karena istri memandangnya berdasarkan dinamika syahwatnya sendiri. Karena istri tidak empatik, ia tidak memberi pelayanan dengan gairah yang hangat. Akibatnya, suami merasakan kekecewaan yang berat, meskipun ia dilayani istrinya di tempat tidur. Kedua, istri tidak memberi sambutan yang hangat dan penuh gairah ketika suaminya pulang mendadak karena ia sedang tidak berminat sama sekali untuk

Kado Pernikahan 257

berjima’. Dinginnya syahwat istri ini karena suaminya termasuk memiliki dorongan seks yang tinggi sehingga frekuensi jima’ di antara mereka sangat tinggi. Padahal saat pulang mendadak, jima’ perlu disegerakan dengan penuh gairah. Di sinilah kita melihat salah satu hikmah poligami. Pembagian masa gilir memungkinkan istri untuk tidak jenuh terhadap hubungan seks, sehingga setiap masa gilir tiba istri selalu dalam keadaan bersemangat dan syahwatnya bangkit saat berdua dengan suami di tempat tidur. Sebaliknya bagi suami, terutama yang gairahnya sangat tinggi, pembagian masa gilir itu lebih menjamin keteraturan dalam menjaga syahwatnya. Maslahat lainnya, suami lebih terjaga agar tidak terlalu panas saat berkumpul bersama istrinya, sehingga lebih menjamin kebahagiaan seksual istri. Wallahu A’lam bishawab. Tentu saja, pernikahan poligamis bukan hanya sekedar (meskipun itu juga bukan sekedar) untuk memberi kepuasan seks bagi suami maupun istriistrinya. Ada hal yang lebih penting. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai poligami, silakan periksa bab Poligami di bagian akhir buku kita ini. Begitu.

Catatan Kaki: 1. Silakan periksa Bagaimana Membahagiakan Suami karya Muhammad Abdul Halim Hamid, Citra Islami Press, Solo, 1993, pada bab Sambutan yang Menyenangkan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan redaksi, “Janganlah wanita bergaul dengan wanita lain, lalu dia memberitahukan sifat wanita itu kepada suaminya seakan-akan dia dapat melihatnya.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad.

2.

Kado Pernikahan 258

Bab 16

K
B

omunikasi Suami-Istri

erbicara tentang komunikasi, ada cerita menarik yang sebaiknya kita simak baik-baik. Seorang psikiater mewawancarai pasiennya dalam satu session terapi. Pasien itu berkata, “Suami saya baik sekali. Bila kami bertengkar dan ia salah, ia cepat-cepat mengakui kesalahannya dan meminta maaf.” “Bagaimana kalau Nyonya yang salah?” tanya psikiater. Pasien itu menjawab, “Saya salah? O, itu tidak mungkin terjadi, Dokter.” Pasien ini memang sakit jiwa. Tetapi, kata Jalaluddin Rakhmat, MSc., betapa sering kita pun menirunya. Kita jarang meneliti kembali persepsi kita. Padahal persepsi yang tidak cermat dapat mengakibatkan berbagai bentuk distorsi kognitif -satu istilah yang muluk-muluk untuk maksud sederhana, bahwa anggapan kita, perasaan kita, dan tindakan kita menjadi kacau dan tidak akurat karena kita telah memiliki praduga yang keliru sebelumnya. Karena kita mengalami distorsi kognitif, ucapan orang lain kita tangkap secara salah. Ia memaksudkan A, kita menangkapnya B, atau bahkan kita tidak mau menerima bahwa apa yang dikatakannya adalah A hanya karena kita telah terlanjur menganggap tidak mungkin itu terjadi. Dari bangun tidur di pagi hari hingga berbaring kembali menjelang tengah malam, 70% waktu bangun kita gunakan untuk berkomunikasi. Begitu sebuah penelitian mengungkapkan. Ini berarti, kualitas hidup kita banyak ditentukan oleh bagaimana kita berkomunikasi dengan sesama; antara suami dan istri, orangtua dan anak, tetangga dengan tetangga lainnya, dan begitu seterusnya kalau dipanjangkan

Kado Pernikahan 259

terus. Singkatnya, hidup kita ini ternyata banyak sekali ditentukan oleh bagaimana kita menggunakan mulut kita. Alhasil, urusan mulut banyak memberi andil dalam perjalanan kita menempuh kehidupan. Pertama, bagaimana kita menangkap komunikasi orang lain. Kedua, bagaimana kita mengkomunikasikan apa yang ingin kita nyatakan, apa yang kita rasakan, ataupun apa yang tidak kita inginkan. James O. Prochaska dan Carlo. C. DiClemente, peneliti di Texas Research Institute of Mental Sciences (TRIMS) pernah menulis sebuah buku berjudul The Transtheoretical Approach, Crossing Traditional Boundaries of Therapy (1984). Salah satu bab dalam buku tersebut membahas problem-problem perkawinan dan perceraian. Kata Prochaska dan Di-Clemente, sebagian terbesar ketidakpuasan perkawinan ternyata bersumber dari masalah komunikasi. Masalah komunikasilah yang paling banyak menyebabkan suami-istri bertengkar. Juga masalah komunikasi sering menjadi sebab paling pokok, dan repotnya justru sering tidak tampak, pada banyak kasus perceraian. Demikian juga, kejadian-kejadian mental yang buruk dan menyedihkan setelah perceraian, banyak diakibatkan oleh komunikasi, terutama jika kedua pihak saling menyalahkan. Mereka puas, akan tetapi anak-anak kehilangan kepercayaan kepada kedua orangtua. Saling menyalahkan satu sama lain bukan monopoli mereka yang telah bercerai. Suami-istri yang belum lama menikah dan masih terikat dalam pernikahan, sering melakukan hal yang sama. Mereka mudah menyalahkan jika teman hidupnya melakukan sesuatu secara kurang pas menurut ukurannya (meskipun secara objektif apa yang dilakukan tidak salah). Sikap mudah menyalahkan teman hidup (blaming partner) inilah yang menurut Prochaska dan DiClemente dapat menyebabkan kegagalan komunikasi. Tentang kegagalan komunikasi ini, mari kita minta kembali Jalaluddin Rakhmat, MSc. untuk menjelaskan. Persepsi orang sering tidak cermat, kata Kang Jalal. Bila kedua pihak menanggapi yang lain secara tidak cermat, terjadilah kegagalan komunikasi (communication breakdowns). Anda menduga istri Anda tidak setia, dan istri Anda menduga Anda sudah bosan kepadanya. Komunikasi di antara Anda berdua akan mengalami kegagalan, karena Anda berdua menafsirkan pernyataan orang lain dengan kerangka tadi. Katakanlah, kata Kang Jalal lebih lanjut, Anda pulang terlambat dari kantor. Istri Anda kelihatan menyambut Anda dengan gembira. Ia mengungkapkan betapa senangnya Anda pulang setelah cemas menunggu. Karena persepsi di atas, Anda menganggap ucapan istri Anda hanya kamuflase dari ketidaksetiaannya. Dengan suara keras, Anda menanggapi istri Anda, “Ah, bilang saja, kamu tidak senang aku pulang cepat.” Istri Anda pasti terkejut dan menduga Anda mencari garagara untuk menceraikannya. Anda dapat membayangkan apa yang terjadi selanjutnya, demikian tutur Kang Jalal di buku Psikologi Komunikasi (2000). Sementara Anda membayangkan apa yang terjadi selanjutnya, mari kita runut bagaimana kegagalan komunikasi terjadi. Sebelum menjadi konflik terbuka, awalnya

Kado Pernikahan 260

adalah persepsi yang tidak cermat. Persepsi ini tidak dibetulkan, tidak dikoreksi, sehingga kita percaya bahwa persepsi kita benar. Kita meyakini persepsi kita. Pada tingkat tertentu, keyakinan kita bisa mencapai keadaan persisten alias tetap dan tidak bisa diubah-ubah. Jika keadaannya demikian, diberi informasi seobjektif apa pun, dipaparkan segamblang apa pun dan diyakinkan dengan bukti sekuat apa pun tak akan mengubah keyakinan. Kamu beritahu atau tidak, sama saja keadaan hatinya. Munculnya persistensi ini bisa melalui beberapa jalan. Pertama, dari kebiasaan buruk dalam keluarga berupa kesukaan membicarakan keburukan orang lain, lebihlebih jika sampai tingkat tajassus (selengkapnya baca bab Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga). Kedua, adanya salah persepsi yang tidak diluruskan, tetapi justru dikuatkan dengan mencari-cari kesalahan. Ketiga, sikap saling menyalahkan yang tetap dipertahankan. *** Pembicaraan tentang persistensi anggapan kita cukupkan sampai di sini. Selanjutnya kita akan memusatkan pembicaraan ke masalah komunikasi kursif, satu bentuk komunikasi yang paling sering menyebabkan perpecahan keluarga. Komunikasi kursif (coercive comunication) adalah bentuk hubungan dua orang atau lebih yang menyampaikan pesan dengan efek memaksa pada orang yang menerima pesan. Komunikasi kursif adakalanya merupakan cara yang secara sadar dipilih orang untuk memenangkan pendapatnya. Akan tetapi, amat sering orang melakukan komunikasi kursif tanpa menyadari bahwa ia telah melakukan komunikasi dengan efek memaksa yang amat kuat. Komunikasi persuasif cenderung membuat orang yang mendengar pesan melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak orang yang mengkomunikasikan (komunikator). Meskipun demikian, ada perbedaan mendasar antara komunikasi persuasif dengan komunikasi kursif. Bagi Anda yang ingin mendalami lebih jauh mengenai hal ini bisa membaca buku yang secara khusus membahas komunikasi. Sekarang bukan saat yang tepat untuk membahasnya berpanjang-panjang mengingat terbatasnya ruang. Cukuplah kita mengingat tulisan James O. Prochaska dan Carlo C. DiClemente. Mereka mengatakan, “Kepercayaan yang baik menjadi rusak manakala proses perubahan biasa berlangsung secara kursif untuk saling memaksa masingmasing pihak berubah.” Mengingat banyak orang melakukan komunikasi kursif tanpa sadar telah melakukan, saya ingin mengajak Anda untuk menengok ciri-ciri komunikasi kursif. Penjelasan berikut ini mudah-mudahan bisa memberi gambaran yang gamblang. Dalam komunikasi kursif, ada beberapa ciri. Selengkapnya, inilah tanda-tanda komunikasi kursif:

Kado Pernikahan 261

--Sikap saling menyalahkan rentan terhadap percekcokan. --Menyalahkan Pasangan Ada sebuah ucapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu, salah seorang shahabat Nabi yang dikenal keluasan ilmunya dan kedalaman hikmahnya. Konon beliau mengatakan, “Sahabat terbaik bukanlah orang yang selalu membenarkanmu. Tetapi sahabat terbaik adalah yang membuat kamu benar.” Sampai sekarang saya belum mendapati sumber untuk merujukkan perkataan ini, apakah benar merupakan ucapan beliau. Tetapi dari sisi makna, perkataan ini mempunyai maksud bahwa sahabat terbaik adalah seseorang yang senantiasa menginginkan kebenaran selalu beserta kita sehingga tidak membiarkan kita berada dalam kesalahan. Ia mengingatkan kita ketika terjatuh dalam perilaku atau pikiran yang salah, apalagi sesat. Ia menunjukkan kepada kita dengan penuh kasih-sayang letak kesalahan kita dan bila perlu memarahi kita, marah karena rasa kasih. Ia mengoreksi apa yang melenceng, membetulkan apa yang tidak tepat, meluruskan apa yang bengkok, dan apabila perlu mematahkan apa yang berlebihan dan tidak perlu. Sahabat yang berbahaya bagi keselamatan kita di dunia dan akhirat justru yang selalu mengiyakan perkataan kita, membenarkan setiap perkataan kita meskipun nyata-nyata salah hanya agar kita menganggapnya sebagai sahabat yang setia, dan seterusnya. Lebih berbahaya lagi jika sahabat itu mencarikan untuk kita bahan-bahan pujian untuk perkara yang seharusnya tidak dipuji, selalu menunjukkan permakluman dengan pembelaan panjang atas kekeliruan kita (bukan memaklumi untuk meluruskan kita dengan cara hikmah), dan semacamnya. Jika sahabat terbaik adalah yang selalu ingin membuat kita benar sehingga ia tak pernah segan mengingatkan kita tentang perkara yang salah, maka tidak demikian yang dimaksud dengan sikap menyalahkan pasangan dalam tema yang kita bahas sekarang. Sikap menyalahkan pasangan merupakan bentuk pertahanan diri, ketidakmauan dikoreksi atau karena ingin menunjukkan “jika aku bisa salah, sesungguhnya engkau juga sangat bisa salah, karenanya jangan salahkan aku”. Apa yang dipersalahkan bisa jadi tepat, bisa jadi keliru. Boleh jadi istri memang melakukan kesalahan seperti yang dipersalahkan oleh suami; tetapi juga sangat mungkin bahwa apa yang dipersalahkan oleh suami adalah perkara yang tidak salah. Hanya suami belum melakukan tabayyun (mencari kejelasan) atau suami memang tidak mau mendengar bayan (penjelasan) yang diterima. Pertanyaannya, bagaimana mungkin menyatakan sesuatu yang benar-benar salah dapat digolongkan sebagai tindakan keliru? Mengapa menyalahkan perkara yang salah merupakan kekeliruan? Soalnya bukan terletak pada dia salah atau tidak. Dari pembicaraan tentang sahabat yang membuat kita benar di atas, kita tahu bahwa salah

Kado Pernikahan 262

satu bentuk perilaku yang baik adalah mengingatkan kita terhadap kesalahan kita. Letak perbedaannya dengan menyalahkan ada pada iktikad dan cara. Menyalahkan lebih dekat pengertiannya kepada laknat, meski tidak tepat betul. Nanti silakan lihat Al-Adzkaar karangan Imam Nawawi. Di bagian belakang ada pembahasan mengenai laknat, salah satunya berkenaan dengan laknat terhadap pelaku perbuatan dosa. Kita boleh melaknat pelaku perbuatan dosa dengan catatan tidak menunjuk identitas yang bisa mengungkap siapa orangnya, tetapi dengan menisbahkan kepada perbuatannya. Misalnya kita bisa mengatakan, “Terlaknatlah orang yang merampas tanah orangorang miskin”, tetapi tidak boleh mengatakan, “Terlaknatlah Si Fulan yang merampas tanah orang-orang miskin”, terkecuali jika memenuhi persyaratan untuk dilaknat. Pengertian apa yang bisa kita ambil dari sini? Bukankah perbuatan munkar sepatutnya dikecam demi melaksanakan perintah amar makruf nahi munkar? Secara sederhana kita bisa melihat perbedaannya. Menyalahkan pasangan lebih dekat kepada tindakan menilai negatif pada pribadinya, bukan menunjukkan pada tindakan yang keliru secara spesifik. Selengkapnya, bertanyalah kepada hati nurani atau orang-orang yang berpengalaman. Saya hanya bisa mengatakan bahwa tindakan menyalahkan pasangan (blaming partner) mudah menyulut kemarahan --tersembunyi atau terbuka-- karena orang menjadi mudah tersinggung. Sedangkan tindakan “membuat kamu benar” menjadikan kita dapat menyadari kesalahan kita, menerima dengan lapang dada, dan insya-Allah akan lebih siap memperbaiki sesuai dengan tingkat kesanggupannya melakukan proses perubahan. Terakhir, ada kalanya kita tidak bermaksud menyalahkan, tetapi ditafsirkan sebagai sikap menyalahkan karena yang kita ajak bicara sedang sensitif emosinya. Persepsi seperti itu juga bisa muncul karena sudah ada zhan (dugaan) kepada kita. Zhan membuat kita menyeleksi informasi yang kita terima sehingga sesuai dengan zhan kita. Ibaratnya, kalau memakai kacamata hijau, kertas putih pun tampak hijau, setidaknya banyak berisi bercak hijau; memakai kacamata merah semua tampak merah; dan memakai kacamata bening membuat kita melihat segala sesuatu apa adanya, merah tampak merah dan hijau tampak hijau. Saling Menyalahkan Komunikasi suami-istri akan bertambah runyam jika keduanya sudah saling menyalahkan. Munculnya situasi saling menyalahkan ini mudah dipahami. Kebanyakan dari kita mudah sekali terpancing oleh sikap yang ditunjukkan teman hidup kita, bahkan kadang sikap yang tidak dimaksudkan untuk membuat kita masygul. Kita mudah mereaksi, sehingga berbalas menyalahkan dapat dengan mudah terjadi ketika teman hidup kita menyalahkan. Alhasil, tak ada penyelesaian masalah kecuali menambah gerahnya suasana batin di rumah. Kita memang bukan Rasulullah, tetapi mudah-mudahan dapat mendekatinya. Kita memang tak terbiasa mengendalikan diri. Lihatlah bagaimana Rasulullah menghadapi istrinya, bahkan dalam situasi fitnah sekalipun.

Kado Pernikahan 263

Mari kita ingat sejenak peristiwa yang sempat mengguncangkan dada Rasulullah ketika tersebar fitnah mengenai ‘Aisyah, istrinya. Apakah yang lebih besar guncangannya bagi seorang suami selain mendengar kabar bahwa istrinya telah berbuat selingkuh? Adakah yang lebih pedih bagi seorang laki-laki melebihi tersebarnya pembicaraan di setiap sudut kampung dan negeri tentang istrinya yang dikabarkan menyeleweng dengan seorang laki-laki yang dikenalnya sangat dekat? Apakah yang akan Anda lakukan jika Anda yang mengalami peristiwa semacam ini? Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami. Nabi besar kita ini merasakan sendiri peristiwa haditsul ‘ifk yang mengguncangkan kota Madinah bahwa istri yang paling dikasihinya melakukan penyelewengan dengan Shafwan. Ini merupakan guncangan yang besar. Masyarakat banyak yang percaya. Kehancuran mudah terjadi kalau tak kuat menahan lidah. Tetapi Muhammad bukan kita. Muhammad adalah orang yang paling mulia lidahnya dan paling mampu menahan diri. Kalau tidak, kalau sampai menuduh dan saling menyalahkan, berakhirlah kisah manis pernikahan Rasulullah dan ‘Aisyah r.a.. Tetapi sekali lagi, Muhammad tidak tergelincir kepada tindakan-tindakan yang membawa kepada kerusakan. Guncangan yang besar dapat diredakan kembali dengan kekuatan hati untuk tetap mendahulukan tabayyun. Tetapi sandungan-sandungan kecil bisa berubah menjadi malapetaka yang keperihannya tidak hanya dirasakan oleh mereka berdua jika peristiwa-peristiwa menjengkelkan yang kecil-kecil membuat mereka saling menyalahkan. Lebih-lebih jika sikap saling menyalahkan ini sudah ditingkatkan lagi kepada bentuk saling melecehkan. “Alaah, kamu ngomong doang!” Sikap saling menyalahkan ini rentan terhadap percekcokan; mulanya terpendam lama-lama muncul ke permukaan, syukur kalau tidak sampai menyebabkan piring beterbangan dari meja ke dinding rumah. Pada taraf yang “ringan” sikap saling menyalahkan menyebabkan masing-masing merasa dongkol. Pada gilirannya menyebabkan masing-masing merasa sebagai pihak yang benar, sementara itu pihak yang lain dianggap tidak pernah mau mengerti, meskipun mereka sebenarnya belum mencoba untuk saling terbuka dan saling memahami. Sekali lagi, zhanlah yang banyak menyebabkan kita tidak mau melakukan ishlah (perbaikan keadaan) dengan saling terbuka dan saling memahami. Jika sikap saling merasa paling benar ini terus tumbuh, kelak pada waktunya akan menyebabkan kepercayaan terhadap teman hidupnya runtuh. Persis seperti yang telah diperingatkan oleh Prochaska dan DiClemente, “Kepercayaan yang baik menjadi rusak manakala proses perubahan biasa berlangsung secara kursif untuk saling memaksa masing-masing pihak berubah.” Sikap saling menyalahkan ini bisa berkembang, dari lingkup suami-istri kepada lingkup yang lebih luas ketika ipar turut serta dalam adegan saling menyalahkan. Keadaan ini bisa berkembang ke skala yang lebih luas, misalnya antar orangtua masing-masing pihak atau bahkan antar keluarga besar.

Kado Pernikahan 264

Banyak hal yang bisa menyebabkan. Sebagian di antaranya bisa Anda simak kembali bab “Tinggal di Mana Setelah Menikah?” pada pembahasan tentang anak yang diharapkan. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari kemelut? Tak tahu saya bagaimana menjawabnya. Tetapi jika masing-masing cukup berlapang dada, buku Muhammad Hashim Kamali berjudul Kebebasan Berpendapat dalam Islam bisa dibaca. Dalam buku yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung ini, Kamali membahas secara cukup memuaskan tentang berbagai sisi komunikasi yang rawan, termasuk di antaranya tentang tabayyun. Tanpa Alternatif Munculnya sikap menyalahkan pasangan dan bahkan saling menyalahkan antara suami dan istri antara lain karena mereka tidak biasa melihat alternatif dalam menghadapi berbagai masalah. Mereka cenderung melihat masalah dalam satu arah, dari satu segi, sehingga tidak bisa berpikir secara tenang dan sejuk tentang apa yang diharapkan, apa yang terbaik, dan bagaimana mencapai yang terbaik. Tidak adanya alternatif ini merupakan ciri komunikasi kursif, baik yang masih berada pada taraf menyalahkan pasangan maupun saling menyalahkan. Di sinilah letaknya masalah mengapa sikap negatif lebih mudah muncul, kecaman lebih mudah dilontarkan daripada mengingatkan sekalipun kedua hal ini bisa mirip bentuk zahir ucapannya, dan orang bisa merasa dirinya ditolak seluruhnya manakala apa yang diharapkan dianggap tidak dipenuhi oleh teman hidupnya. Sekali lagi, ini karena mereka tidak terbiasa melihat alternatif. Ada contoh sederhana berkenaan dengan masalah ini yang mungkin dengan mudah dapat Anda jumpai di sekeliling Anda. Suami dan istri adakalanya mempunyai selera yang berbeda dalam hal masakan. Suami menyukai sayur yang cenderung asin, sedangkan istri lebih menyukai yang manis. Perbedaan ini bisa menyulut pertengkaran jika keduanya tidak bisa melihat alternatif. Suami mengatakan kepada istri, “Kamu tidak tahu masakan yang benar. Ini bukan sayur untuk teman makan. Ini kolak atau bubur.” Komentar semacam ini bisa menyulut perasaan terlecehkan atau tertolak pada istri. Jika istri membalas komentar itu dengan komentar senada, jadilah mereka terperosok ke dalam sikap saling menyalahkan. Dan kalau ini terjadi, masalah tidak selesai. Tetapi jika istri mencoba memahamkan suami ketika saatnya tepat, misal dengan menawarkan jalan pemecahan masing-masing disediakan sayur sendiri dengan jenis masakan yang sama hanya beda asin-manisnya, bibit konflik itu bisa reda kalau bukan malah semakin merekatkan hubungan mereka. Kecuali jika salah satu pihak tetap bersikukuh dan memandang alternatif semacam itu sebagai pemborosan besar tanpa ada alternatif lain yang lebih ringan serta lebih mungkin untuk diterapkan.

Kado Pernikahan 265

Ketika salah satu pihak tidak bisa melihat alternatif, pembicaraan tentang apa yang salah, di mana letak kesalahan sesuatu, apa yang seharusnya, sampai kepada bagaimana upaya yang memungkinkan untuk mencapai yang baik bisa kehilangan makna. Pembicaraan semacam ini tetap bisa ditafsirkan sebagai bentuk sikap memojokkan “pihaknya”. Bisa juga ditafsirkan sebagai sikap pembelaan sepihak manakala seseorang berusaha menerangkan duduk persoalannya. Pada kasus sikap saling menyalahkan yang sudah meluas lingkup pelakunya, penjelasan seorang suami atau istri kepada kerabat bisa ditafsirkan sebagai pembelaan terhadap teman hidup secara subjektif. “Kamu mau membela istrimu, ya?” Pembicaraan ini jadinya mengingatkan saya tentang satu hal: pembela istri seharusnya keluarga suami, dan pembela suami seharusnya keluarga istri. Jika masing-masing justru berposisi sebaliknya, keadaan yang timbul bisa tidak mengenakkan. Kecuali dalam perkara tertentu yang menjadikan keluarga harus mengingatkan dan bahkan memperingatkan menantu, misalnya dalam perkara yang sudah membahayakan syari’at. Tapi bersikap demikian memang sulit, ya? Sangat Sensitif terhadap Kritik Yang menyebabkan komunikasi tidak bisa berjalan dengan lancar, khususnya dalam membicarakan masalah-masalah, adalah jika salah satu pihak begitu sensitif terhadap kritik. Pembicaraan yang mengarah kepada kesalahan-kesalahannya, sedikit saja, dianggap sebagai kritik. Ini menyebabkan keduanya tidak bisa mendiskusikan dengan baik kesalahan masing-masing maupun masalah yang sedang mereka hadapi bersama-sama. Hal-hal yang semestinya bisa diurai dengan tenang dan jelas agar bisa diambil sikap yang tepat, tidak bisa didiskusikan karena salah satu pihak cepat merasa dikritik. Lebih-lebih jika sampai menyebabkannya tersinggung. Perhatikanlah kalimat berikut: “Setiap orang kan bisa melakukan kesalahan. Masak saya tidak boleh salah? Saya kan bukan malaikat?” Kalimat ini merupakan contoh ungkapan yang membuat diskusi tidak bisa berlanjut. Kalimat seperti ini tidak memberi kemungkinan untuk berbicara secara terbuka terhadap masalah atau kesalahan yang ada, sebab kalimat tersebut tidak bisa dibantah. Selain itu juga rawan terhadap munculnya sikap menyalahkan pasangan maupun sikap saling menyalahkan. Ini artinya, akar masalah tidak pernah bisa digali karena sudah ditutup dengan pernyataan semacam itu. So sensitive to criticism (begitu peka terhadap kritik) berbeda dengan cepat menyadari kritik. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang mudah sekali tersentuh oleh kritik yang dilontarkan kepadanya meskipun disampaikan oleh perempuan tua. Sahabat lain ketika diingatkan Nabi karena mengatakan sebagai budak hitam, segera menelungkupkan kepalanya ke tanah dan mempersilakan sahabat yang telah dihina itu untuk menginjaknya.

Kado Pernikahan 266

Sikap semacam ini bukan termasuk sensitif terhadap kritik, tetapi termasuk sikap cepat menyadari kekeliruan setelah menerima kritik dan lapang mengakui. Salah satu keagungan Umar bin Khaththab adalah mudahnya menerima kritik dan cepatnya menyadari. Sedangkan salah satu kekurangan kita yang besar adalah kita lebih sering peka terhadap kritik daripada menerima dan menyadarinya. Dari sisi ini saja derajat kita memang amat jauh dibandingkan Umar bin Khaththab. Apalagi dibanding Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa `aalihi wasallam. Jika peka terhadap kritik menyebabkan kita mudah emosi dan ujung-ujungnya bisa menyebabkan kita menyalahkan pasangan hidup kita, maka mudah menerima kritik menjadikan kita merasa berterima kasih dan ujung-ujungnya lebih mendekatkan hati. Akhirnya saya mohon maaf tidak bisa menerangkan lebih lanjut bagian ini. Silakan Anda mencari penjelasan sendiri. Sekarang mari kita simak sub judul berikutnya. Cara Berpikir “Semua Salah” Jika Anda membuat secangkir susu, kemudian tanpa sadar Anda menambahkan jeruk ke dalamnya sehingga susunya menggumpal-gumpal tidak mau terseduh dengan baik, maka Anda dapat mengatakan bahwa minuman susu Anda telah terkontaminasi alias tercemari. Penggemar HT yang suka ngebreak menyebutnya splitter jika dalam HT-nya masuk suara-suara yang tidak dikehendaki. Sebagaimana penggemar HT, psikolog juga mempunyai istilah khas. Jika para breaker menyebut HT yang tercampuri oleh suara dari luar dengan splitter, maka psikolog menyebut pikiran yang tercemari prosesnya dalam menarik kesimpulan sebagai distorsi kognitif. --... kekurangan kita yang besar adalah kita lebih sering peka terhadap kritik daripada menerima dan menyadarinya … --Ada bermacam-macam bentuk distorsi kognitif. Tetapi sebagian besar tidak penting untuk kita bicarakan di sini, di samping saya banyak yang belum mengerti. Bentuk distorsi kognitif yang sesuai dengan bahasan kita sekarang adalah cara berpikir “semua salah atau semua benar”, sebut saja begitu untuk lebih mudahnya. Cara berpikir “semua salah” memandang satu dua peristiwa sebagai keseluruhan. Jika Anda dikritik beberapa orang karena warna pakaian yang Anda kenakan, Anda mengatakan “semua orang telah mengkritik saya.” Mari kita perhatikan kesalahan berpikir yang tampak pada ucapan tadi. Setidaknya ada dua hal. Pertama, hanya beberapa orang yang mengkritik, maka tidak

Kado Pernikahan 267

tepat kalau mengatakan semua orang mengkritik. Kedua, para pengkritik itu mengkritik cara berpakaian bukan orangnya, sehingga tidak tepat perkataan “telah mengkritik saya”. Distorsi kognitif dalam bentuk cara berpikir “semua salah” mirip contoh yang saya sebut di atas. Dalam kehidupan sehari-hari, kalimat semacam itu sering terucapkan, secara serius atau tidak. Kadang juga diungkapkan oleh orangtua kepada anak, sehingga anaknya belajar berpikir secara salah sejak kecil. Salah satu ungkapan distorsi kognitif cara berpikir “semua salah” adalah pemakaian kata “selalu” atau “tidak pernah” untuk mengungkapkan sikap. Jika Anda beberapa kali mendapat kritik, Anda mengatakan, “Selalu saya yang dikritik.”; “Saya memang tidak pernah benar. Saya selalu salah.” Padahal kritik itu hanya dilontarkan beberapa kali. Tidak Mencari Akar Masalah Komunikasi kursif terjadi antara lain karena kita enggan mencari akar masalah. Karena enggan mencari masalah, maka kita tidak melihat alternatif. Pada gilirannya ini memu-dahkan kita terjatuh ke dalam bentuk distorsi kognitif beru-pa cara berpikir “semua salah”. Ini terjadi karena zhan kita yang negatif, persepsi kita yang salah, sikap menyalahkan pasangan dan terlebih-lebih sikap saling menyalahkan. Karena kita tidak mau mencari akar masalah, maka kita tidak dapat memahami dengan sungguh-sungguh mengapa masalah itu muncul dan tidak segera hilang. Ini kemudian bisa menimbulkan distorsi kognitif dengan mengalihkan masalah kepada orang, sehingga kita melihat negatif pada suami atau istri kita. Ah, pasti dia ini yang tidak mau memperbaiki diri. Mencari akar masalah memang tidak selalu enak. Mengakui diri sendiri berbuat salah, melakukan sesuatu yang bodoh atau yang sejenisnya merupakan pekerjaan yang sangat berat, malah paling berat. Mengaku kepada diri sendiri jauh lebih susah dilakukan daripada mengatakan kepada teman hidup kita, “Ya sudah, aku akui. Aku memang salah. Aku memang salah, kok.” Pengakuan kepada orang lain adakalanya bukan cerminan dari sikap rendah hati, melainkan justru sebaliknya. Contoh berikut ini jangan membuat Anda GR (gedhe rasa) jika mendengar orang mengatakan kepada Anda, “Ya, sudah. Saya hargai kamu. Saya akui kamu memang hebat dan layak dibanggakan.” Tanpa Jangkauan Ke Depan Orang yang banyak berpikir secara seksama tentang implikasi dari tindakan masa kini ke masa yang akan datang, cenderung memperhitungkan secara lebih matang. Jika kita berpikir tentang pendidikan anak untuk jangka waktu yang panjang dengan mendasarkan pada akibat yang berkelanjutan pada ucapan kita, kita akan cenderung lebih cermat melihat apa yang dapat membawa kebaikan di masa 25 tahun mendatang

Kado Pernikahan 268

pada anak kita dan apa yang membawa keburukan. Hal-hal yang bersifat jangka pendek bukan menjadi perhatian utama kecuali dalam rangka mencapai hasil jangka panjang dan amat sangat jangka panjang. Seorang ibu yang berpikir tentang bagaimana anaknya yang sekarang usia 2 tahun kelak di usianya yang ke-25 berpikir dan beragama, akan lebih mampu menahan diri daripada ibu yang lebih berpikir bagaimana agar tidak malu dengan tetangga karena anaknya sering belepotan jika makan ice cream. Ibu yang berpikir bagaimana caranya agar tidak capek mengurusi anak sepulang kantor, akan lebih mudah memilih mendiamkan anak dengan cara apa pun ketika si kecil menangis. Tetapi ibu yang tidak ingin capek mengurusi anak setelah ia tua, akan lain cara berpikirnya. Lain pula cara berpikir ibu yang menginginkan agar anak-anaknya tidak membuat ia dan suami susah di Hari Akhir. Alhasil, ada tidaknya jangkauan berpikir ke masa depan atau yang amat jauh di depan sangat menentukan kesabaran dan kecermatan kita. Orang yang memiliki jangkauan yang jauh ke depan dengan berbekal ilmu, akan tidak risau untuk membuat anaknya hafal nama menteri meskipun anak lain sesama nol besar sudah hafal namanama menteri (dari yang paling menyedihkan sampai yang paling memprihatinkan). Jangkauan yang jauh ke masa depan juga menjadikan kita lebih tenang dan lebih mampu menjaga keseimbangan berpikir. Kita menjadi tidak begitu mudah tersinggung, meskipun kita menjadi lebih mudah sedih jika mendengar perkataan yang untuk masa 2 tahun memiliki dampak yang kelihatan bagus tetapi untuk 20 tahun ke depan bisa memberi dampak negatif. Jangkauan berpikir yang sangat jauh ke masa depan insya-Allah membuat kita lebih betah mencari alternatif saat menemui masalah dan lebih tahan mencari akar masalah. Ini merupakan efek positif yang besar sekali artinya dalam menahan diri kita untuk tidak mudah jatuh ke dalam sikap saling menyalahkan maupun dalam distorsi kognitif berupa cara berpikir “semua salah”. So, what do you think about your future? Komunikasi Kursif karena Cara Berbicara Cara kita berbicara bisa menimbulkan efek kursif. Kita memakai kata-kata yang tidak bisa dielakkan oleh orang lain, kata yang tidak bisa dibantah karena merupakan kebenaran umum tetapi mengandung kesalahan untuk perkara-perkara khusus, serta jenis-jenis kalimat tanya tak tanya (semacam question tag dalam bahasa Inggris). Contoh-contoh berikut ini mudah-mudahan bisa memperjelas keterangan saya yang masih belum jelas tersebut. Suatu saat Anda sedang melakukan kegiatan bersama dengan rekan Anda. Dia sedang ingin melakukan sesuatu yang Anda tidak tertarik dan menurut Anda tidak penting. Pertanyaannya, bagaimana perasaan Anda jika dia berkata kepada Anda dengan kalimat seperti ini:

Kado Pernikahan 269

“Kamu mau membantu saya, kan? Nggak apa-apa, kok. Aku nggak apa-apa kalau kamu memang mau membantu.” Saya rasa, saya tidak perlu menunggu jawaban Anda atas pertanyaan ini. Karena itu, lebih baik saya mengajukan pertanyaan berikutnya, bagaimanakah perasaan Anda jika saat itu Anda memandang apa yang ingin dikerjakan teman Anda sebagai perkara yang baik? Seperti apakah perasaan Anda ketika dimintai tolong dengan kalimat yang tiba-tiba memastikan bahwa Anda mau membantunya? Rasanya tetap tidak enak, sekalipun Anda tetap membantu. Ada perasaan yang tidak sreg dan rasanya berat mengerjakan. Perasaan jengkel dan merasa terpaksa juga bisa muncul dari komunikasi suamiistri. Seharian Anda capek mengasuh anak dan mendiamkannya dari kerewelan dengan seluruh kasih-sayang Anda lantaran ia agak tidak enak badan. Suami Anda tidak banyak tahu tentang apa yang Anda kerjakan. Menjelang Isya’ ia baru pulang, ketika Anda sedang kecapekan sementara anak Anda masih menangis. Anda sengaja membiarkannya dulu karena ingin menyelesaikan masak. Kemudian suami Anda berkata, “Seorang ibu harus menyayangi anak. Kalau ibunya sendiri tidak mau memperhatikan, apakah ia harus mencari perhatian dari ibunya teman-temannya.” Ia berhenti sejenak. Kemudian berkata lagi, “Kamu mau menyayangi anakmu, kan? Cobalah kau beri perhatian.” Kalimat suami Anda sama sekali tidak salah. Kesalahannya adalah waktu penyampaian dan tujuan penggunaannya yang tidak tepat. Setiap ibu memang harus menyayangi anaknya. Anda sendiri merasa begitu. Anda akan membantah jika ada orang yang mengatakan bahwa kasih-sayang bisa dari orang lain. Tetapi, meskipun Anda sangat menyayangi anak dengan sepenuh hati, Anda bisa merasa terpaksa saat memeluk anak gara-gara ucapan suami yang seperti itu. Anda bahkan bisa marah pada anak, sehingga Anda berkata, “Diam kamu. Kamu kenapa sih dari tadi nangis terus? Bapakmu yang seharian tidak menggendongmu, marah-marah sama ibu garagara kamu menangis. Ibu ini capek.” Kalimat Anda ini jika terdengar oleh suami bisa menyulut kemarahan karena ia merasa tidak marah kepada Anda ketika berkata kepada Anda. Suami merasa Anda menyalahkannya. Sementara Anda sebenarnya hanya ingin memberi tahu kepada suami Anda, “Mas, aku ini memperhatikan dan menyayangi anakmu sejak pagi hingga petang tanpa henti.” Kalau diteruskan, ini bisa menjadi pertengkaran. Nggak enak, kan? Saya kira Anda akan mengiyakan pertanyaan ini. Dan jika Anda setuju, maka kita tahu bahwa itu berakar pada komunikasi yang bersifat kursif. Kenangan Indah Menulis komunikasi suami-istri membuat ingatan saya melayang kepada keluarga Rasulullah dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Suatu saat ‘Aisyah pernah marah kepada beliau sambil mengatakan, “Engkau ini hanya mengaku-aku saja

Kado Pernikahan 270

sebagai Nabi.” Rasul yang mulia hanya tersenyum menghadapi hal itu dengan penuh kesabaran dan keagungan.1 Dialah Muhammad, Rasul Allah yang lembut jiwanya. Dialah suami ‘Aisyah yang sepeninggalnya membuat ‘Aisyah menangis tak mampu menjelaskan ketika ada yang bertanya tentang akhlak Rasulullah.2 Dialah suami yang mampu menahan emosi mendengar ucapan istrinya. Seandainya kita, apakah yang akan kita lakukan kalau istri kita mengucapkan kalimat yang serupa dengan itu? Berbahagialah ‘Aisyah yang mencapai derajat kemuliaan amat tinggi dengan pendamping yang mulia. Berbahagialah ‘Aisyah yang suaminya tak pernah memberi perlakuan kepadanya, kecuali yang baik, bahkan saat terjadi perselisihan. Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berselisih dengan ‘Aisyah, istri beliau putri Abu Bakar. Abu Bakar menjadi penengah. Ketika itu Rasulullah berkata, “Bicaralah atau saya yang bicara.” 'Aisyah menjawab dengan lantang, “Bicaralah Anda! Jangan mengucapkan yang tidak benar!” Mendengar perkataan itu, Abu Bakar menampar muka putrinya hingga mulutnya mengeluarkan darah. Kemudian Abu Bakar berkata, “Engkau ini memusuhi dirimu sendiri. Apakah beliau pernah mengucapkan yang tidak benar?” Maka ‘Aisyah duduk berlindung di belakang Rasul yang mulia. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini. Kami tidak menginginkan tindakan seperti itu darimu.” Ah, tak ada yang tercela pada Rasulullah. Tapi betapa sulitnya meniru. Astaghfirullah. Kisah rumah tangga Rasulullah Saw. masih banyak yang bisa kita kenangkan. Tetapi bukan di sini tempatnya untuk membicarakan. Anda yang tertarik, bisa mencari-cari di berbagai bahan bacaan. Begitu. Catatan Kaki: 1. Kisah ini saya kutip dari buku Mahmud Al-Shabbagh, Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam (Remadja Rosdakarya, Bandung, 1991) dengan satu catatan: hadis shahih. 2. Selengkapnya, ceritanya begini: ‘Abdullah bin Umar dan dua orang kawannya menemui ‘Aisyah dan memintanya bercerita tentang Nabi Saw. ‘Aisyah menarik nafas panjang. Kemudian dia menangis seraya berkata lirih, “Ah, semua perilakunya menakjubkan.” ‘Abdullah mendesak lagi, “Ceritakan kepada kami yang paling menakjubkan dari semua yang engkau saksikan.” Kemudian ‘Aisyah menceritakan sepotong kisah indah bersama Rasulullah Saw: Pada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, “Ya ‘Aisyah, izinkan aku untuk
Kado Pernikahan 271

beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata, “Aku sesungguhnya senang merapat denganmu; tetapi aku juga senang melihatmu beribadah kepada Tuhanmu.” Dia bangkit mengambil ghuraba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya. Ketika dia berbaring, air mata mengalir lewat pipinya membasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi Saw. menangis, “Mengapa Anda menangis padahal telah Allah ampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang kemudian?” tanya Bilal. “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena tadi malam turun ayat (Ali Imran 190-191): ‘Celakalah orang-orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.’” ***

Kado Pernikahan 272

Bab 17

K
S

omunikasi Kita

dan Pendidikan Anak

ekitar dua puluh menit pertama kuliah psikiatri, biasanya dosen memberi kesempatan pada kami untuk mewawancarai pasien gangguan jiwa yang dihadirkan di depan kelas. Ini sangat penting bagi mahasiswa agar bisa memahami isi perkuliahan dengan lebih baik, sehingga nantinya ia bisa lebih mudah mengenali simptom-simptom1 gangguan jiwa sebagai bekal untuk menentukan jenis gangguan jiwa yang dialami dan bentuk terapi yang harus diberikan. Peserta kuliah umumnya tertarik dengan sesi ini. Mereka bertanya kepada pasien dengan penuh rasa ingin tahu. Banyak yang mereka tanyakan. Satu selesai memberi perta-nyaan, peserta lain segera menyampaikan pertanyaan. Jika peserta kuliah kebingungan mau bertanya apa, Pak Soewadi yang mengajar psikiatri memancing pertanyaan-pertanyaan dengan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditanyakan. Jika rekan-rekan peserta kuliah lainnya antusias bertanya, saya sebaliknya. Saya sering merasa tidak tega melihat pasien yang duduk di hadapan kami semua. Barangkali saya memang tidak berbakat menjadi terapis, tetapi pikiran saya biasanya berkecamuk oleh pertanyaan-pertanyaan, misalnya mengapa anak gadis yang cantik dan cerdas itu sampai perlu mendapatkan perawatan jiwa? Mengapa peristiwa tidak naik kelas dapat menjadi pemicu munculnya gangguan jiwa yang secara umum orang menyebutnya gila --istilah sederhana untuk menyebut berbagai macam gangguan jiwa. Menurut pandangan psikologi, gangguan jiwa tidak datang tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses hidup yang panjang. Apa yang sering kita sebut sebagai penyebab terjadinya gangguan jiwa sebenarnya hanya merupakan peristiwa pemicu.
Kado Pernikahan 273

Ibarat kita meniup balon anak-anak sampai menggelembung keras sekali, begitu berbenturan dengan ranting pohon sedikit saja sudah menyebabkan balon meletus. Apa yang menyebabkan balon itu meletus? Bukan terbenturnya ia dengan ranting pohon, tetapi tiupan kita yang menjadikan balon menggelembung sedemikian besar dan keras. Benturan dengan ranting hanya peristiwa pemicu. Jadi, tidak ada orang gila karena putus cinta. Juga tidak ada orang yang harus menjadi gila karena kehilangan jabatan. Yang ada adalah orang dengan keadaan jiwa yang sudah rapuh, sudah rawan, struktur mentalnya sudah kurang bagus dan kemudian mengalami peristiwa yang mengguncangkan sebagai pemicu munculnya gangguan jiwa. Persoalannya, apa yang menyebabkan seseorang memiliki jiwa yang rapuh? Apakah karena mereka banyak menghadapi pengalaman-pengalaman pahit? Apakah karena mereka sering dihadapkan pada kegagalan demi kegagalan? Ataukah, mereka memang memiliki mental bawaan yang labil? --sebagian besar pelaku bunuh diri adalah perempuan yang memiliki sifat manja --Tidak demikian persoalannya. Banyak orang yang sering mengalami kegagalan, ditimpa berbagai pengalaman pahit, serta mengalami kegetiran demi kegetiran. Akan tetapi mereka mampu menjadi manusia yang besar dan membawa kebaikan bagi umat manusia sepanjang sejarah. Tidak jarang orang merasa bersyukur dengan pengalaman masa lalunya yang sulit karena dianggapnya sebagai proses penempaan diri yang bagus. Sebaliknya, orang-orang yang pengalamannya manis-manis saja, harus terjungkal begitu menemui persoalan yang tak seberapa besar. Perbedaan mereka yang tangguh dan yang rapuh adalah pada penghayatan mereka terhadap peristiwa yang mereka alami. Lantaran bab ini bukan membicarakan kesehatan mental, maka izinkan saya untuk mengajak Anda melihatnya dari sisi pendidikan anak, khususnya bagaimana komunikasi kita sehari-hari mempengaruhi pendidikan anak. Sebelum berbicara lebih jauh, cerita berikut sebaiknya Anda simak. Prof. Dr. dr. Hernomo Ontoseno Koesoemobroto, Kabag SPK (Sentra Pengobatan Keracunan) IRD RSUD dr. Soetomo Surabaya mengungkapkan hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga yang dipimpinnya. Menurut Hernomo, sebagian besar pelaku bunuh diri yang dikirimkan ke IRD SPK adalah perempuan yang memiliki sifat manja (ngaleman dalam bahasa Jawa). Artinya, pada masa hidupnya mereka itu sangat manja kepada orangtuanya, terutama kepada ibunya.

Kado Pernikahan 274

“Untuk itu, ibu-ibu yang memiliki anak perempuan aleman memang harus memperlakukannya ekstra hati-hati,” kata Hernomo sebagaimana diberitakan oleh harian Jawa Pos, 23 Januari 1998. Apa yang menyebabkan anak manja? Banyak yang salah paham. Manja sering dihubungkan dengan kasih-sayang berlebihan, sehingga membuat para orangtua berhati-hati dalam memberikan kasih-sayang (untuk tidak menyebut kurang sayang). Mereka bersikap keras pada anak, padahal sikap keras ini bisa menyebabkan mental anak kurang kokoh. Manja sebenarnya tidak berhubungan dengan banyak sedikitnya kasih-sayang yang diterima anak. Al-Hasan dan Al-Husain adalah anak yang banyak memperoleh kasih-sayang, dari orangtua maupun kakeknya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada orang yang menyayangi anak seperti Rasulullah, sampai harus merangkak kuda-kudaan dengan anak, menjulurkan lidah untuk bercanda ataupun memanjangkan sujud demi kenyamanan cucunya ketika menaiki lehernya di saat bersujud. Tetapi kita semua melihat, mereka berdua tidak menjadi pribadi yang manja. Bahkan sebaliknya mereka menjadi pahlawan-pahlawan yang rela ditebas lehernya dengan keharuman syuhada. Mereka tidak menjadi orang yang manja dan cengeng. Ketika ada yang merenggut anak secara kasar dari gendongan Rasulullah karena pipis, Rasulullah bahkan menegur, “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar?” Sepanjang yang saya ketahui, sikap manja lebih banyak berhubungan dengan komunikasi kita kepada anak. Secara sederhana, kita dapat membagi komunikasi ini ke dalam dua macam, yaitu komunikasi kepada anak dan komunikasi bersama anak. Komunikasi kepada anak, maksudnya adalah bagaimana orangtua berbicara kepada anak, menyatakan maksud dan nasehat kepada anak, serta mendiskusikan sesuatu dengan anak. Termasuk dalam kategori komunikasi kepada anak antara lain menyuruh, melarang, menganjurkan, menceritakan sesuatu, serta bentuk-bentuk komunikasi lainnya yang secara langsung ditujukan kepada anak dan diungkapkan secara langsung kepada anak. Tulisan dan seminar-seminar tentang komunikasi orangtua dan anak umumnya hanya membicarakan komunikasi jenis ini. --Akibat peristiwa itu pun akhirnya berbeda-beda bagi tiap anak. Apa yang membedakan? Ungkapan spontan masing-masing orangtua ---

Kado Pernikahan 275

Komunikasi bersama anak, maksudnya adalah segala bentuk perilaku komunikasi kita yang tidak kita tujukan kepada anak, akan tetapi anak dapat menangkap dan mendengarnya. Kalau Anda berbicara dengan suami Anda dengan cara yang manja merajuk-rajuk dan anak melihat perilaku komunikasi Anda itu, maka anak menerimanya sebagai proses belajar dan secara otomatis ia mempersepsi apa yang ia lihat, dengar, dan rasa. Bab ini akan membicarakan lebih jauh masalah komunikasi bersama anak. Secara lebih khusus insya-Allah akan menyoroti apa pengaruhnya perilaku komunikasi suami-istri terhadap pendidikan anak. Sementara itu, berkenaan dengan masalah komunikasi kepada anak, bukan buku tentang pernikahan yang bertugas membahasnya. Kembali ke kasus gadis manja. Komunikasi orangtua banyak berperan menjadikan seorang anak memiliki sifat manja. Anak belajar melakukan identifikasi diri, tidak sekedar imitasi atau meniru-niru dari orangtua. Anak belajar menghayati peristiwa “dari bagaimana orangtua menghayati”. Dalam hal ini, anak belajar dari ekspresi yang tampak. Ini terutama kelihatan pada komunikasi sehari-hari antara suami dan istri dan justru bukan pada komunikasi antara orangtua kepada anak. Bukan merupakan sesuatu yang aneh jika istri berbicara dengan cara merajukrajuk manja. Bagi pengantin baru, ini menyenangkan. Segala keindahan rasanya bertabur menjadi satu ketika mendengar istri berkata manja. Tetapi hati-hatilah dalam menempatkan kemanjaan agar tidak tetap terbawa ketika anak-anak telah lahir. Gaya bicara istri yang merajuk manja bisa membawa anak untuk cengeng dan manja. Masih sejenis ini adalah respon kita ketika mengalami sesuatu; entah tersandung batu, entah digelitik suami, entah ketika udara begitu panas ataupun dingin; baik dalam suasana bercanda, serius, santai ataukah dalam suasana tegang. Kadangkala ketika udara terasa panas, kita cepat mengatakan, “Aduuh, panas, Mas. Kenapa sih kok panas? Aduuh...!” Dari sisi cara pengucapannya (sayang saya tidak bisa mencontohkan secara lisan kepada Anda) kalimat itu bisa membawa anak belajar cengeng dan manja. Dari sisi isi, kalimat-kalimat sejenis ini mendorong anak untuk mudah mengeluhkan cuaca yang jika pola itu dibawa terus bisa sampai kepada sikap mudah menyalahkan keadaan dan zaman (seperti yang kadang kita lihat di sekeliling kita). Kalimat seperti itu juga merangsang anak tidak mensyukuri nikmat Allah dan menilai keadilan Ilahi dengan cara yang sedemikian dangkal. Hanya karena hawa dingin yang agak kuat, kita merasa Tuhan sedang “tidak berpihak kepada kita”; kita merasa Tuhan tidak mendengar do’a kita. Alangkah seringnya kita bertuhan dengan sikap yang kekanakkanakan dan egois. Alangkah seringnya kita ini keminter (sok cerdas) di hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Luas Pengetahuan-Nya. Allah telah mengabarkan: “Maha sempurna pengetahuan-Nya tentang apa saja.” (QS. Al-Baqarah [2]: 29). “Dan Allah Maha Luas, Maha Tahu.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73).

Kado Pernikahan 276

Ungkapan yang spontan tentang apa saja di sekeliling kita maupun ucapanucapan Anda kepada suami, merupakan alat untuk bercermin bagi anak. Anak belajar menghayati hidup sehari-hari, memaknai rasa capek, ganjalan, dan berbagai bentuk kejadian sebagaimana ia mengidentifikasi dari orangtua, terutama ibu. Saya ingin memberi contoh kepada Anda tentang ungkapan spontan ini. Sebagaimana ibu-ibu yang lain, anak Anda mungkin pernah kehujanan dan kepanasan. Tetapi reaksi anak Anda terhadap pengalaman kehujanan yang ia alami bisa berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding anak-anak lain. Akibat dari peristiwa itu pun akhirnya berbeda-beda bagi tiap anak. Apa yang membedakan? Ungkapan spontan masing-masing orangtua, atau setidaknya ungkapan orangtua ketika mengalami peristiwa serupa. --Gaya bicara istri yang merajuk manja bisa membawa anak untuk cengeng dan manja. --Sebagian orangtua merespon anak yang pulang dalam keadaan basah kuyup dengan ungkapan gembira. Bahkan sebagian ada yang bangga, “Lihat, dia datang. Dia memang punya semangat. Itu, anakmu!” Tetapi sebagian lainnya segera menyambut anak dengan sejumlah pertanyaan, secara langsung kepada anak maupun tidak. Orangtua berkata, “Aduh..., kenapa kamu basah kuyup begini? Tadi kan sudah kelihatan berawan, kenapa tidak membawa jas hujan atau payung. Coba kalau tadi bawa payung, kamu tidak sampai kehujanan seperti ini. Makanya, lain kali dengar kata Mama. Ini, kasihan sekali kamu. Pasti kamu kedinginan....” Atau, “Aduuh, Pak. Tadi kenapa Didin nggak disuruh bawa payung? Tuh, kasihan dia. Kedinginan pasti. Coba tadi kamu mau perhatian sedikit, dia nggak harus pulang dengan kehujanan begitu.” Kalimat ini akan lebih “heroik” lagi kalau diteruskan hingga panjang sekali dan diucapkan berulang-ulang, bahkan ketika anak sudah tidak merasa kedinginan (secara fisik). Meskipun kalimat ini mengekspresikan perasaan ibu yang khawatir terhadap anaknya karena besarnya perasaan sayang, tetapi efeknya bagi anak justru tidak menguatkan jiwa. Anak merasa tertekan oleh “kesalahan-kesalahannya” (apalagi jika Anda sebelumnya tidak mengingatkan untuk bawa payung)2 di saat dia masih merasa kedinginan. Anak belajar untuk mengasihani dirinya sendiri sehingga ia melatih dirinya untuk tidak berani menghadapi hujan dan tidak tahan terhadap “rintanganrintangan kecil” yang ia jumpai, bahkan yang belum ia jumpai. Ia tidak bisa menjadi seorang Emha Ainun Nadjib “muda” yang suatu saat harus tergopoh-gopoh memberesi kertas yang akan dijualnya di saat hujan akan turun. Ia tidak bisa menjadi seorang Imam Al-Ghazali yang ketika akan berguru disuruh gurunya untuk membuang kotoran kuda dengan tangannya sendiri. Ia tidak bisa menjadi pribadi cemerlang tanpa fasilitas (dimulai dari fasilitas payung).3 Ia hanya akan menjadi

Kado Pernikahan 277

manusia biasa-biasa saja sebatas fasilitas yang sanggup ia dapatkan dari orangtua. Akibatnya, biaya mendidik akan sangat mahal. Ini berbeda dengan kalimat pertama. Pada kalimat pertama ungkapan rasa kasihan dari ibu tidak ditunjukkan dengan kata-kata kasihan, tetapi dengan kata-kata yang menunjukkan kegembiraan ibu melihat anaknya datang. Kalimat seperti ini memberikan efek yang lebih membesarkan hati dan menguatkan semangat. Apalagi kalau diikuti dengan tindakan memberikan handuk (tubuh yang basah dapat dikeringkan dengan handuk, bukan omelan), mengantarkannya ke kamar mandi, memberinya minuman hangat, dan menemaninya sambil mendengar cerita-cerita dari anak. Sikap seperti inilah yang menghangatkan jiwa anak. Bukan kata-kata penyesalan dari Anda lantaran anak tidak membawa payung atau jas hujan. Saya teringat dengan almarhum kakek. Saya menghabiskan masa kecil saya bersama kakek sampai ia meninggal ketika saya kelas 1 SMP. Kami tinggal di rumah yang bocor kalau hujan. Rumah-rumah lain juga banyak yang bocor. Bedanya, ketika hujan datang, kami tidak menggerutu dan sedih sebagaimana yang kadang saya dengar dari orang-orang lain yang mempunyai pengalaman serupa. Hujan selalu disambut dengan penuh rasa syukur oleh almarhum kakek, setidaknya begitu yang saya ingat. Setelah memberesi apa yang perlu diberesi, kami biasa berkumpul bersama untuk menikmati makanan ringan yang digoreng nenek. Pada saat seperti itu, kakek saya biasa menyitir ayat-ayat suci atau hadis yang menceritakan tentang nikmat Allah, tentang turunnya hujan yang akan menumbuhkan tanaman-tanaman, tentang mensyukuri nikmat, tentang surga, tentang kufur nikmat yang akan mengubah karunia menjadi malapetaka. Allah Maha Kuasa mengubah hujan yang penuh kenikmatan menjadi malapetaka yang merobohkan pohon-pohon dan menghanyutkan rumahrumah. Kadang pada saat hujan seperti itu, kakek tekun membaca kitab dan menceritakan isinya. Cerita tentang isi kitab sering seperti tidak ditujukan secara langsung kepada anak cucunya, tetapi dibaca sedemikian rupa sehingga kami mendengarnya. Atau, kakek berdialog dengan nenek tentang isi kitab. Situasi semacam ini, yang melahirkan penghayatan tentang hujan sebagai nikmat dan saat-saat akrab, saya rasakan amat besar manfaatnya. Saya tidak tergantung kepada suasana yang terang dan tenang untuk membaca. Saat-saat hujan deras tetap memberikan keasyikan untuk membaca, menulis, atau pun berdiskusi. Rintik hujan bukan halangan untuk pergi (dengan jalan kaki) demi memperoleh apa yang dibutuhkan, misalnya buku baru di toko. Ada lagi manfaat-manfaat lain, khususnya bagi tumbuhnya semangat dan kemampuan menghayati panas dan dingin atau keadaan lain sebagai karunia Tuhan Yang Memberi Nikmat dengan adil. Begitu. Astaghfirullahal ‘adzim. Alhasil, komunikasi kita sehari-hari mempengaruhi kematangan anak, mempengaruhi pendidikan anak. Komunikasi bersama anak ini mempengaruhi baik dari segi cara kita berkomunikasi maupun dari segi isi komunikasi. Jika peribahasa
Kado Pernikahan 278

mengatakan bahasa menunjukkan bangsa, maka komunikasi “bagaimana kita” sehingga seperti itulah anak mengidentifikasi.

menunjukkan

Pengaruh ini tidak hanya secara khusus berkenaan konteks komunikasi kita. Maksudnya, jika kita sering mengeluhkan hujan di saat kita akan pergi atau menjemur pakaian, maka pengaruhnya bagi anak tidak hanya terhadap perasaannya ketika hujan turun, tetapi meluas ke aspek-aspek lain. Bicara tentang pengaruh isi komunikasi kita bagi pendidikan anak, saya teringat dengan Murtadha Muthahhari. Ia pernah berkata: Kita meratapi generasi ini disebabkan ia meninggalkan Al-Qur’an. Mengapa mereka tidak mempelajari Al-Qur’an di sekolah-sekolah mereka? Bahkan setelah memasuki perguruan tinggi, mereka tetap saja tidak mampu membaca Al-Qur’an. Tak diragukan lagi, hal ini tentunya amat menyedihkan. Namun seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri. “Apa kiranya yang telah kita lakukan sampai sekarang mengenai hal ini? Apakah, dengan menyelenggarakan beberapa pelajaran fiqih dan cara membaca Al-Qur’an seperti sekarang ini, kita dapat mendorong generasi ini mengerti kandungan Al-Qur’an? Sungguh aneh, generasi tua sendiri telah meninggalkan Al-Qur’an; namun ia menyesali generasi mudanya karena tidak mengenal Al-Qur’an! Sungguh, kita sendirilah yang telah menjauh dari Al-Qur’an, lalu mengharap generasi muda kita mendekat kepadanya! Mari saya buktikan, bagaimana Al-Qur’an menjadi sesuatu yang ditinggalkan di antara kita. Jika seseorang diketahui sebagai pakar tentang Al-Qur’an, yakni banyak melakukan penelitian dan perenungan tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya; atau ia mempelajari tafsir Al-Qur’an secara mendalam, sejauh apa ia dihormati di kalangan kita? Nihil! Saya tertarik untuk mengutip tulisan Muthahhari ini karena saya belum bisa baca Al-Qur’an dan belum mampu menjadikannya sebagai pegangan hidup, yang kepadanya saya berkonsultasi setiap hari dalam menghadapi berbagai hal. Muthahhari menunjukkan lebih lengkap lagi dalam bukunya bahwa jauhnya generasi muda dari Al-Qur’an karena orang-orang tua tidak menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap orang yang memiliki penguasaan bagus atas Al-Qur’an. Generasi muda mengambil semangat dari bagaimana orangtua mereka menyikapi segala sesuatu di sekeliling mereka. Ketika mereka mendapati orangtua kurang perhatian terhadap orang yang memiliki penguasaan Al-Qur’an, memberi respon yang datar, dan tidak terdengar ucapan yang menyiratkan kecintaan, maka mereka tidak menaruh minat dan bahkan lebih jauh lagi dibanding orangtua mereka. Ini tidak berarti orangtua mereka tidak mengajarkan kepada mereka tentang Al-Qur’an, tidak berarti orangtua mereka tidak membaca Al-Qur’an, tidak berarti orangtua mereka jauh dari Al-Qur’an, dan juga tidak berarti orangtua mereka tidak mencintai AlQur’an. Tetapi kecintaan dan kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tidak dicerminkan dalam ucapan spontan dan sikap menghargai terhadap Al-Qur’an dan orang-orang
Kado Pernikahan 279

yang menguasainya, kecuali dalam bentuk ungkapan formal dalam pengajaran. Contoh ungkapan formal ini adalah, “Al-Qur’an adalah pegangan hidup setiap muslim. Setiap muslim harus mempunyai Al-Qur’an.” Ungkapan semacam ini tidak menggerakkan jiwa. Ungkapan ini lebih bersifat kognitif yang menjadi makanan bagi otak saja, tetapi tidak menghidupkan kehendak (konasi) dan rasa (afeksi). Padahal jika kehalusan perasaan dan kehendak kita bergerak (dzauq), pikiran kita juga ikut hidup. Pikiran kita bekerja. Bandingkan dengan ungkapan kita ketika mendengar rekan kita diterima di sebuah perusahaan otomotif. Apa yang kita katakan? Kita mengucapkan, “MasyaAllah, hebat ya. Wah, nanti besar sekali gajinya itu.” Sangat lain efeknya terhadap perasaan kita antara kalimat pertama tadi dengan kalimat terakhir yang baru saja kita dengar. Kalimat pertama lebih banyak bermuatan informasi dengan urutan logis: jika Al-Qur’an penting, maka setiap orang perlu punya Al-Qur’an. Sedang kalimat kedua secara langsung membangkitkan rasa kagum kita terhadap pekerjaan di perusahaan otomotif sekaligus menanamkan nilai bahwa letak kehebatan itu ada pada gaji. Karena itu, saya pernah merasa risau ketika membaca sebuah buku panduan untuk ustadz/ustadzah TPA. Dalam buku itu dituliskan kalimat yang perlu diucapkan oleh seorang ustadz ketika menerangkan konsep tentang qadha dan qadar. Mari kita simak cuplikan sekilas tentang qadar sambil merenungkan apakah itu sesuai untuk anak. Silakan periksa kalimat berikut ini: “SEKARANG apa yang dimaksud dengan Qadar itu? Adapun yang dimaksud dengan Qadar adalah ketentuan-ketentuan Allah yang harus berlaku bagi setiap makhluk sesuai dengan batas ketentuan Allah yang telah diputuskan sejak zaman azali. Apakah hal tersebut berakibat baik atau buruk, segala sesuatunya telah ditentukan oleh Allah SWT.”4 Kalimat seperti itu tidak memiliki muatan perasaan, sehingga sulit menggerakkan jiwa dan membangkitkan perasaan terhadap kekuasaan Allah. Kalimat di atas lebih bersifat kognitif, hanya memberi informasi definisi qadar pada otak kita. Ditinjau dari segi tingkat abstraksinya,5 kalimat tersebut lebih sesuai untuk mahasiswa daripada santri TKA. Penjelasan dengan kalimat yang membutuhkan kemampuan memahami konsep seperti pada kalimat di atas, saya rasa lebih sesuai untuk mahasiswa Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah Filsafat dibanding anak usia TK atau SD. Ditinjau dari teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif, anakanak usia TK belum mencapai tahap berpikir operasional formal. Dan menurut perkembangan taklif pun, mereka baru berkisar tahap tamyiz (membedakan benar salah dan baik buruk dengan kemampuan akalnya). Anda barangkali merasa bingung dengan penjelasan ini lantaran dalam praktek pengajaran, anak-anak TKA menunjukkan respon dan mampu menanggapi ketika ditanya tentang pengertian qadar. Mereka dapat menyahut ketika ustadz mengucapkan kalimat yang memang sengaja tidak diselesaikan.

Kado Pernikahan 280

Mengenai persoalan tersebut, saya ingin menjelaskan dengan apa yang saya sebut sebagai pseudo-afektif (seolah-olah bersifat afektif). Guru dan orangtua sering merasa bahwa anak-anak antusias betul dan tanggap terhadap apa yang disampaikan ketika anak dengan cepat melengkapi kalimat kita yang tidak selesai. Guru (juga orangtua) mengira, itu menunjukkan bahwa anak mampu menyerap materi yang diajarkan, sekalipun sulit. Padahal anak sesungguhnya hanya antusias untuk melengkapi kalimat dan tidak bersangkut paut dengan pemahaman dan penghayatan materi. Kecepatan melengkapi kalimat lebih banyak berhubungan dengan daya ingat daripada pencerapan. Apalagi jika anak “belajar” dari orangtua bahwa pendengar harus segera merespon kata-kata yang terpenggal ketika seorang ustadz memberi ceramah. Misalnya, anak melihat bagaimana ibunya selalu meneruskan kata-kata ustadz yang tidak selesai sekalipun tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena itu ketika di TKA ustadznya mengucapkan kalimat, “Jadi, ini merupakan takdir Al... All...?”, maka ia segera menyahut, “Allah....!” Pembicaraan ini saya cukupkan sampai di sini, mengingat bab ini bukan tentang komunikasi ustadzah TKA. Pembicaraan lebih jauh tentang kalimat yang mempunyai muatan perasaan, silakan Anda baca sendiri di buku yang lain. Salah satu buku yang bisa Anda baca adalah Mutiara Ilmu Balaghah terbitan Mutiara Ilmu, Surabaya. Sebagai penutup pembicaraan kita tentang kalimat yang menggerakkan jiwa, rasakan kalimat berikut. Ucapkan kepada anak Anda yang mulai mengerti: “Wahai Anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan selalu berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah pada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.”6 *** Pembicaraan kita tentang pengaruh komunikasi suami-istri terhadap pendidikan anak masih panjang. Tetapi saya mengalami kesulitan dalam mengungkapkan secara tertulis karena sebagian lebih mengena untuk dibicarakan secara lisan daripada melalui tulisan. Pengungkapan secara lisan memungkinkan untuk mencontohkan secara gamblang, terutama yang bersangkut paut dengan cara bicara, ekspresi wajah, intonasi, dan perbedaan volume suara. Demikianlah. Dan sekarang izinkan saya untuk memasuki bab berikutnya Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga.

Kado Pernikahan 281

Astaghfirullahal ‘adzim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Catatan Kaki: 1. Simptom adalah gejala yang nampak. 2. Kadang ibu tidak mengingatkan anak untuk membawa payung atau jas hujan ketika anak akan berangkat les, misalnya. Tetapi ketika melihat anak pulang dalam keadaan kehujanan, ia sibuk menanyai anak mengapa tadi tidak membawa payung dan asyik menyalahkan suami lantaran tadi tidak menyuruh anak membawa payung. Sikap semacam ini memberi efek yang negatif bagi anak. Inilah yang disebut dengan argumentum ad hominem atau menyalahkan orang untuk membenarkan diri sendiri. Lebih jauh silakan lihat Salahnya Kodok: Bahagia Mendidik Anak bagi Ummahat (MitraPustaka, 1996). Sesungguhnya, rasa penyesalan bisa menjadi semangat bagi anak jika diungkapkan dengan cara yang tepat tanpa si-buk menutup-nutupi kesalahan diri sendiri. Misalnya, “Maaf-kan, Ibu. Ibu lupa tidak mengingatkanmu membawa payung sebelum kau berangkat tadi.” 3. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dunia ini, di sekeliling kita ini, adalah fasilitas bagi pencapaian kesempurnaan kita. Peristiwa hujan dan panas, air yang mengalir maupun angin yang berhembus, adalah fasilitas bagi kematangan jiwa anak dan latihan jiwa anak. Sesungguhnya setiap hal yang kita jumpai adalah pelajaran bagi orang-orang yang mengambil pelajaran. Mahasuci Allah dengan segala ciptaan-Nya. 4. Pengurus TKA dan TPA Al-Ikhlas Bidang Kurikulum, Kumpulan Materi TKA: Aqidah, Akhlak dan Syari’ah, TKA dan TPA Al-Ikhlas Samirono, Catur Tunggal, Yogyakarta, 1997. 5. Semakin tinggi tingkat abstraksi sebuah kalimat, semakin sulit orang membayangkan, semakin rendah tingkat abstraksinya semakin mudah orang membayangkan. Penggambaran tentang surga dalam Al-Qur’an memakai kalimat yang mengandung nilai abstraksi rendah sehingga justru memungkinkan orang untuk membayang-bayangkan betapa indahnya surga yang di dalamnya ada bidadari-bidadari yang sebaya usianya dengan kita, yang selalu perawan dan penuh gairah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai susu, yang.... ah, bisakah kita mendapatkan surga-Nya? Setelah orang membayang-bayangkan betapa nikmatnya surga, kita diberi penjelasan dengan tingkat abstraksi yang tinggi. Sehingga insya-Allah justru membangkitkan rasa penasaran kita. Sebab segala keindahan yang sanggup kita bayangkan, ternyata masih tidak akan sanggup mewakili keindahan yang ada di surga. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 282

6. Kalimat ini adalah nasehat Rasulullah kepada Ibnu ‘Abbas. Ketika itu Ibnu ‘Abbas masih kanak-kanak yang baru mengerti. Hadis ini diriwayatkan oleh AtTirmidzi. Membandingkan materi panduan untuk ustadzah TKA dengan hadis Nabi memang tidak adil. Tapi saya tidak menemukan contoh yang lebih baik dibanding hadis ini. Ada contoh lain sebagaimana termuat pada buku Mendidik Anak Bersama Rasulullah karya Muhammad Nur Abdul Hafizh (Al-Bayan, 1997) hal. 120, akan tetapi sama-sama hadis Nabi. Karena itu saya mohon maaf. ***

Kado Pernikahan 283

Bab 18

K

easyikan yang

Menghancurkan Keluarga

“Wahai orang yang telah menghancurkan kehormatan orang lain, dan yang memutuskan tali kasih, kau akan hidup penuh kehinaan. Jika engkau orang merdeka dan dari keturunan orang yang baik-baik, pastilah kau tidak akan menodai kehormatan orang lain.” (Imam Syafi’i)

B

etapa seringnya kita menghancurkan keluarga kita sendiri demi memperoleh keasyikan-keasyikan kecil. Saat-saat berkumpul yang mestinya bisa digunakan untuk berbicara dari hati ke hati, berubah menjadi pembicaraan yang menggelapkan hati lantaran kita tidak berhati-hati. Pembicaraan yang mestinya bisa saling mengakrabkan antar anggota keluarga dan menguatkan perasaan kasih-sayang, berubah menjadi ajang untuk membuka aib orang lain. Betapa mengasyikkannya ghibah (menggunjing) dan betapa buasnya ia menerkam kita. Betapa besarnya bahaya ghibah dan betapa sulitnya kita menghindari. Ia datang mengajak setiap orang, sehingga kita bisa mendengar orang melakukan ghibah saat pengajian, saat ngobrol santai, saat..., bahkan saat memberikan khotbah nikah.

Kado Pernikahan 284

Di keluarga, menggunjing sering terjadi saat acara-acara santai; saat melepas lelah di siang hari; saat minum kopi atau teh panas di malam hari; saat kawan lama datang bertamu; atau saat suami pulang dengan membawa sedikit “kekecewaan” karena terbentur dengan teman. Kadang acara santai tidak dihabiskan dengan menggunjing, tetapi digunakan untuk melotot di depan TV yang sebagian beritanya juga berisi gunjingan terhadap orang lain. Hampir setiap kita tidak bisa melepaskan dari perbuatan ghibah (menggunjing), kecuali orang-orang yang betul-betul wara’ (sangat menjaga diri) saja. Ia menyerang semua lapisan, semua kelas sosial ekonomi, serta segala latar belakang. Kita sering mendapat kesempatan untuk ghibah di saat sedang “berdakwah”. Kita kadang melakukan ghibah dengan alasan amar makruf nahi munkar meskipun kita tidak pernah mengingatkan orang yang kita gunjing. Saya teringat dengan ceramah Ustadz Dzikrullahu Akbar (semoga Allah memuliakan hidup dan matinya). Beliau pernah bercerita tentang masa’il qalbiyyah (masalah-masalah hati) sampai akhirnya sampai kepada pembahasan tentang menjaga komentar. Ustadz Dzikrullahu Akbar menceritakan seorang ulama yang sangat menjaga komentarnya sehingga tidak bisa dipancing-pancing, sampai-sampai seakan lebih baik disembelih daripada membicarakan keburukan orang lain. Ustadz Dzikrullahu Akbar sendiri konon adalah orang yang berhati-hati dalam masalah ghibah. Pernah seorang aktivis dakwah datang mengadu. Ia menceritakan kawannya begini dan begitu. Semua untuk pengertian yang negatif. Kali ini Ustadz Dzikrullah diam. Di waktu yang lain, aktivis tersebut datang lagi. Ceritanya masih sama dengan sebelumnya; tindakan teman lain yang justru membawa dampak yang negatif, dan seterusnya. Semuanya menggambarkan negatifnya orang lain dan positifnya apa yang diperjuangkan, tanpa pernah membicarakan kekurangan-kekurangannya. Kali ini Ustadz Dzikrullahu masih tetap diam. Aktivis itu kemudian datang lagi untuk ketiga kali. Ia menceritakan lagi tentang temannya di remaja masjid yang menjadi “pengganggu” dakwahnya. Ia bercerita panjang lebar. Selesai bercerita, Ustadz Dzikrullahu Akbar berkata kepada aktivis tersebut, “Aku ini heran, Mas. Sampeyan sedari dulu hingga sekarang sudah tiga kali bicara kepada aku tentang masalah itu. Tapi seingatku, Sampeyan itu tidak pernah mengakui bahwa Sampeyan ya pernah berbuat salah kepada orang itu, entah sekali atau dua kali. Kok tidak pernah. Cerita Sampeyan itu, yang jelek semua teman Sampeyan. Teman Sampeyan itu jeleeek thok, tidak ada baiknya.” “Kesimpulanku begini akhirnya,” kata Ustadz Dzikrullahu Akbar, “Sampeyan itu malaikat atau Nabi. Teman Sampeyan itu setan. Bagaimana?” “Ah, ya tidak begitu,” kata aktivis dakwah itu menyergah.

Kado Pernikahan 285

“Lha cerita Sampeyan begitu-e. Tidak pernah menyebut kebaikannya, jeleek thok. Sementara sikap Sampeyan pada dia, baiiik thok,” kata Ustadz dari Jawa Timur ini. Cerita Ustadz Dzikrullahu Akbar kita cukupkan sampai di sini dulu. Selanjutnya, saya ingin menulis lebih jauh tentang menggunjing, bahayanya bagi kehidupan kita, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Saya tulis bab ini sebagai peringatan bagi diri saya sendiri, istri saya (perhatikan tulisan ini baik-baik), orangtua saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, orang-orang yang saya cintai, serta kaum muslimin seluruhnya. Semoga Allah menolong saya dalam menulis bab ini dan mengampuni dosa-dosa serta kezaliman saya. Semoga Allah memperbaiki mulut-mulut kita yang sering kita kotori ini dengan perkataan-perkataan yang membawa maslahat. Astaghfirullahal ‘adzim. Laa ilaaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu minadzdzalimin. --Banyak di antara kita yang merasa tidak menggunjing ketika mereka membicarakan orang lain, meskipun telah jelas-jelas menggunjing. --Sudah Termasuk Menggunjing Tak jarang kita sulit diingatkan. Kita tetap saja menggunjing karena yang kita bicarakan memang benar-benar terjadi. Kita merasa tidak menggunjing karena ada fakta yang membenarkan pembicaraan kita. Padahal larangan menggunjing bukan atas alasan faktual atau tidak, tetapi atas alasan menjaga kehormatan sesama muslim. Setiap muslim dijaga kehormatannya. Tak seorang pun boleh membuka-buka kekhilafan orang lain yang disembunyikan, sekalipun yang membuka itu seorang kepala negara. Tak seorang pun boleh mengintip dan memasuki rumah orang lain jika tidak diizinkan, sekalipun itu rumah rakyat jelata yang miskin dan tak berdaya. Apalagi jika sampai merampas tanahnya, sekalipun untuk mendirikan bangunanbangunan yang membawa kemaslahatan bagi ummat manusia. Barangkali kita sulit menemukan contoh yang lebih indah di zaman ini ketimbang yang pernah dicontohkan oleh Umar bin Khaththab. Suatu ketika Umar melakukan ronda malam bersama Abdullah bin Mas’ud. Pada tempat yang terpencil mereka melihat kerlipan cahaya. Dari arah yang sama, mereka mendengar sayupsayup suara orang bernyanyi. Keduanya mengikuti cahaya itu dan sampai di sebelah rumah. Diam-diam Umar menyelinap masuk. Ia melihat seorang tua sedang duduk santai. Di hadapannya ada cawan minuman dan seorang perempuan yang sedang bernyanyi.

Kado Pernikahan 286

Umar menampakkan dirinya dan menghardik, “Belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini. Seorang tua yang menanti ajalnya! Hai musuh Allah, apakah kamu mengira Allah akan menutup aibmu padahal kamu berbuat maksiat.” Orang tua itu menjawab, “Janganlah tergesa-gesa, ya Amirul Mukminin. Saya hanya berbuat maksiat satu kali. Anda menentang Allah sampai tiga kali. Tuhan berfirman: “Janganlah mengintip keburukan orang lain [tajassus].” (Al-Hujuraat 49: 12). Anda telah mengintip. Tuhan berfirman: “Masuklah ke rumah-rumah dari pintunya.” (Al-Baqarah 2: 189). Anda menyelinap masuk. Dan Anda sudah masuk ke sini tanpa izin, padahal Allah berfirman: “Janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalamnya.” (An-Nuur 24: 27). Umar berkata, “Kamu benar!” Ia keluar, menggigit pakaiannya sambil menangis, “Celaka kamu, Umar, jika Allah tidak mengampunimu. Ada orang yang bersembunyi dari keluarganya. Sekarang ia akan berkata: Umar mengetahuiku. Kemudian keluarganya menguntitnya.” Selama beberapa waktu, orang tua itu tidak pernah menghadiri majelis Umar. Pada suatu hari, ia datang dan duduk di barisan paling belakang; seakan-akan ia mau bersembunyi dari pandangan Umar. Akan tetapi, Umar melihatnya dan memanggilnya. Orang tua itu berdiri dengan penuh kekhawatiran khalifah akan mempermalukannya dengan apa yang pernah dilihatnya. Umar menyuruhnya mendekat, “Dekatkan telingamu padaku.” Ia berbisik kepadanya, “Demi Yang telah mengutus Mu-hammad dengan haq sebagai Rasul! Seorang pun tak akan kuberitahukan apa yang telah kusaksikan pada dirimu. Begitu pula Ibnu Mas’ud yang ada bersamaku.” “Ya Amirul Mukminin, dekatkan juga telingamu”, kata orang tua itu. Sekarang dia berbisik, “Begitu pula saya. Demi Yang mengutus Muhammad dengan haq sebagai Rasul, saya tidak pernah kembali pada perbuatan itu sampai aku datang ke majelis ini.” Mendengar itu, Umar mengucapkan takbir dengan suara keras. Orang-orang yang hadir tidak tahu karena apa ia bertakbir. Allahu Akbar. Betapa tingginya kehormatan kita dalam masyarakat Islam. Kesalahan yang kita lakukan tidak menjadi alasan untuk menjerumuskan kita dalam aib yang memalukan, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kesalahan kita tetap dijaga kerahasiaannya sehingga memungkinkan kita untuk memperbaiki diri,

Kado Pernikahan 287

menata hati, dan memperbagus akhlak tanpa terbebani oleh bisik-bisik tetangga dan tatapan curiga orang-orang yang tak percaya bahwa kita bisa baik. Sekali lagi, marilah kita simak kembali salah satu peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Pernah datang seorang laki-laki kepada Umar. Ia menceritakan seorang gadis yang pernah berbuat dosa, kemudian bertaubat. Ketika ia dilamar, pamannya ragu-ragu apakah ia harus menceritakan masa lalunya yang buruk. Umar berkata, “Apakah kamu ingin membongkar apa yang telah Allah sembunyikan? Demi Allah, jika kamu memberitahukan keadaan dia kepada orang banyak, aku akan menghukum kamu sebagai pelajaran kepada semua penduduk kota. Nikahkanlah dia sebagai perempuan yang suci.” Allahu Akbar. Perempuan ini jelas telah melakukan perbuatan dosa. Tetapi Islam merangkulnya sebagai perempuan suci ketika ia telah bertaubat. Islam menjaga kehormatannya dan menutupi keburukan masa lalunya. Umar bahkan memberi ancaman kalau paman gadis itu sampai menceritakan masa lalunya yang kelam. Bandingkan dengan apa yang terjadi di zaman kita sekarang. Kehormatan manusia sering diabaikan. Koran-koran sering membuka aib orang tanpa ada jaminan bahwa orang-orang tersebut benar-benar melakukan keburukan, padahal andaikan ia benar-benar melakukan saja mestinya tetap dihormati martabatnya. Demi sebuah kepentingan, kadang saya merasakan sebuah koran menjatuhkan kehormatan berdasarkan zhan dan kabar-kabar yang masih perlu ditabayyuni. Hanya karena wartawan tidak pernah melihat seorang ulama melakukan shalat, koran telah menebar fitnah dengan menyebutkan ulama ini tidak pernah shalat. Wartawan ini tidak melakukan tabayyun dengan bertanya kepada yang bersangkutan, orang-orang yang mengenal detail kehidupannya sehari-hari, maupun keluarganya. Wartawan dengan ringan menulis bahwa ulama ini diisukan tidak shalat. Padahal setelah orang lain melakukan tabayyun kepada orang-orang yang mengenal detail kehidupan seharihari-nya, diperoleh bukti bahwa ulama ini mengerjakan shalat. Hanya tidak bisa melakukan sambil berdiri. Saya pernah memiliki prasangka yang kurang baik (biar terkesan tidak terlalu negatif atas prasangka buruk saya) terhadap seorang ulama. Waktu itu koran-koran memberitakan tentang ulama ini, menggambarkannya sebagai ulama yang pengetahuannya dangkal dan kurang wawasan, menceritakannya sebagai orang yang emosional, menunjukkan sebagai figur yang banyak digerakkan oleh vested interest dengan kharisma yang diwarisi dari orangtua daripada kematangan ilmunya. Pendeknya, ulama ini tidak tergolong sebagai orang yang betul-betul berilmu, emosional, tidak tulus, dan menyandang berbagai konotasi negatif. Koran memang berkepentingan menimbulkan citra negatif terhadap ulama ini, sampai-sampai saya hampir percaya. Saya lupa bahwa koran lebih berpihak kepada oplah daripada kejujuran dan kebenaran.

Kado Pernikahan 288

--“Ghibah,” kata Nabi, “adalah membicarakan saudara kalian dengan cara yang tidak akan dia sukai.” --Ketika saya datang ke Jombang untuk mengikuti acara halaqah diniyyah, ulama yang dikesankan negatif ini ikut memberikan presentasi. Ia datang tanpa membawa makalah, tanpa membawa kitab untuk rujukan di meja pembicara, dan tanpa membawa catatan kasar tentang apa yang akan dipresentasikannya. Allahu Akbar wastaghfirullahal 'adzim. Saya harus tertegun dan menangis begitu kiai ini mempresentasikan “maqalahnya”. Ia menguraikan pendapatnya dengan argumentasi yang sangat kuat; terampil menyebutkan kitab rujukan sekaligus mengutipkan paragraf-paragraf yang ada di dalamnya berikut menyebutkan jilid, bab, dan halamannya tanpa membaca (yang bisa dicek oleh sebagian peserta halaqah yang memegang kitab tersebut); sangat pandai menjabarkan yang sulit secara sederhana dan rinci; teliti dalam memberikan keterangan dan peka terhadap perbedaan di antara dua hal yang kelihatannya sama tetapi berbeda sekaligus menjelaskan kepada para peserta halaqah dengan sangat tenang tanpa membuka catatan sambil telapak tangan kanannya diletakkan di atas punggung telapak kirinya. Ia mampu menepis cercaan dan serangan yang sangat emosional dengan wajah yang tetap tersenyum teduh tanpa perubahan ekspresi, lalu menjelaskan dengan cermat tentang persoalan yang diajukan untuk menyerangnya sehingga orang yang menyerangnya dengan penuh emosi, tidak bisa berkutik. Ia menunjukkan melalui kematangan bicaranya, bahwa ia senantiasa membaca kitab-kitab yang mutakhir dan mengkaji dengan tekun, termasuk disertasi para cendekiawan muslim belakangan yang ditulis dalam bahasa Arab. Selama mendengar presentasinya, saya merasakannya sebagai orang yang tulus, senantiasa mendo’akan kebaikan bagi orang lain, dan berhati-hati dalam menilai pendapat yang kelihatan salah. Ia selalu mendasari jawaban-jawabannya atas pertanyaan para peserta dengan mendasarkan pada kitab-kitab rujukan yang beragam dan dalil yang banyak. Saya tidak melihatnya sebagai orang yang berpengetahuan dangkal, berwawasan sempit, emosional dan tanpa kharisma. Saya tidak melihatnya seperti itu. Saya beruntung bisa berjumpa langsung dengan ulama tersebut setelah saya menyimpan prasangka yang buruk (bahkan ketika menghadiri halaqah pun prasangka buruk itu masih saya bawa). Saya bersyukur Allah membukakan bukti kepada saya bahwa ulama itu sama sekali tidak seperti persangkaan saya, sehingga saya bisa meminta maaf dan memohon do’a kepada ulama tersebut (semoga Allah memuliakannya di dunia dan akhirat). Akan tetapi, masih banyak orang yang tidak sempat melihat bukti bahwa ulama tersebut tidak sebagaimana yang mereka baca dan

Kado Pernikahan 289

mereka dengar. Lalu, dengan apakah mereka memperbaiki prasangkanya? Padahal sebagian prasangka adalah dosa. Wallahu A’lam bishawab. Apa yang ingin saya ceritakan di sini? Ghibah. Menggunjing. Bahwa ghibah atau menggunjing itu dapat membuat kita memiliki prasangka yang buruk terhadap orang lain. Kita bisa menaruh kecurigaan kepada orang lain yang pernah dipergunjingkan orang kepada kita. Kita bahkan bisa mencapai taraf yakin bahwa orang yang digunjing benar-benar buruk, sehingga membuat kita bersikap yang sangat merugikan atas dasar keyakinan yang salah bahwa Si Fulan buruk. Cerita tentang keburukan menggunjing kita teruskan nanti saja. Sekarang mari kita memasuki pembicaraan yang mendasar sebelum beranjak lebih jauh, yakni apa sih yang dimaksud menggunjing itu? Apa saja yang termasuk perbuatan menggunjing? Dan pertanyaan-pertanyaan lain. Mengapa masalah ini perlu saya bahas? Banyak di antara kita yang merasa tidak menggunjing ketika mereka membicarakan orang lain, meskipun mereka telah jelasjelas menggunjing. Banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa dirinya menggunjing, bahkan di saat mereka mengungkap keburukan orang lain. Tentang pengertian menggunjing ini, marilah kita dengarkan percakapan Rasulullah Saw. dengan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. “Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu?” tanya Nabi. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” “Ghibah,” kata Nabi, “adalah membicarakan saudara kalian dengan cara yang tidak akan dia sukai.” Salah seorang sahabat kemudian bertanya, “Bagaimana jika yang aku katakan mengenai saudaraku itu hal yang sebenarnya?” Rasulullah menjawab, “Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah mencemarkan nama baiknya (dengan ghibah), dan jika dia tidak seperti yang engkau katakan, maka engkau telah menuduhnya dengan kebohongan dan dusta (buhtan).”1 --Allah benci kepada makhluk yang merendahkan sesama ciptaan-Nya yang telah Ia jaga kehormatannya. Kepada mereka yang membuka aurat saudaranya, Allah memberikan ancaman. ---

Kado Pernikahan 290

Jadi menurut penjelasan Rasulullah, yang dimaksud menggunjing bukanlah perbuatan memburuk-burukkan seseorang tanpa didukung bukti. Akan tetapi, menggunjing adalah membicarakan keburukan orang lain yang memang benar-benar terjadi, bisa dibuktikan dan tidak mengada-ada. Kalau tidak ada buktinya, tidak benarbenar terjadi dan mengada-ada, kita bukan lagi menggunjing. Kita sudah buhtan. Kita sudah melakukan kebohongan. Alhasil, ada fakta atau tidak ada fakta, tetap dosa. Begitu penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sederhana dan jelas. Tak perlu dijelaskan lebih jauh lagi. Tetapi jika Anda masih ingin mendengar penjelasan yang lain lagi, kita bisa menemui Imam Nawawi melalui kitabnya, AlAdzkaar. Kata Imam Nawawi (rahimahullah): “Ghibah ialah menyebut perihal seseorang dengan sebutan yang tidak disukainya, baik menyebutnya melalui lisan, tulisan, sindiran, atau dengan isyarat mata, tangan, dan kepala.” “Batasan pengertian ghibah yang diharamkan,” kata Imam Nawawi melanjutkan, “ialah semua pengertian yang dilontarkan kepada orang lain untuk mengungkapkan kekurangan seorang muslim, antara lain dengan cara meniru-niru, umpamanya berjalan dengan langkah yang dipincangkan, atau mengangguk-anggukkan kepala, atau gerakan lainnya. Dilakukan demikian dengan tujuan meniru-niru keadaan orang yang diejek. Semua itu diharamkan tanpa ada yang memperselisihkan.” Imam Nawawi kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai ghibah, termasuk siapa saja yang bisa melakukan ghibah beserta bentuk ghibah yang mereka lakukan. Kalangan ahli fiqih dan ahli ibadah, kata Imam Nawawi, sesungguhnya mereka melakukan ghibah dengan kata-kata sindiran yang memberikan pengertian sama dengan perkataan yang jelas. Dikatakan kepada seseorang di antara mereka, “Bagaimana keadaan Si Fulan?” Maka dijawab, “Semoga Allah memperbaiki kita, semoga Allah mengampuni kita, semoga Allah memperbaikinya. Kami memohon keselamatan kepada Allah, kami memuji kepada Allah yang tidak menguji kita terjerumus dalam kegelapan, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan. Semoga Allah membebaskan kita dari sedikit rasa malu, semoga Allah menerima taubat kita,” dan kata-kata lain yang serupa dengan pengertian mencela orang yang dimaksud. Semua itu merupakan ghibah yang diharamkan. Penjelasan Imam Nawawi masih panjang, tetapi saya kira lebih baik Anda membaca sendiri buku Al-Adzkaar. Begitu juga definisi dari para ulama lainnya, bisa Anda cari di buku lain. Sekarang, marilah kita memasuki bagian berikutnya. Ada Yang Dibolehkan Mari kita melihat sekilas saja tentang ghibah yang dibolehkan. Selebihnya silakan Anda mencari sendiri pada buku-buku tentang ghibah.

Kado Pernikahan 291

Ada beberapa keadaan yang membolehkan kita untuk menceritakan keburukan orang lain. Misalnya ketika memberi informasi kepada orang yang sedang meneliti kepribadian orang yang akan dijadikan mitra usahanya, atau orang yang akan dinikahinya (atau menikahinya). Berkenaan dengan mengungkapkan informasi tentang kepribadian orang yang akan menikahi, contoh dari Rasulullah Saw. agaknya patut kita renungkan. Suatu ketika Fathimah binti Qais ra. dilamar oleh Mu’awiyah dan Abu Al-Jahim. Kemudian datang bertanya kepada Nabi, maka Nabi mengatakan, “Mu'awiyah orang yang lemah, sedangkan Abu Al-Jahim tidak pernah meletakkan tongkatnya di pundaknya.” Perhatikan ucapan Rasulullah ini. Beliau mengungkapkan kekurangan masingmasing pelamar. Tetapi sekalipun demikian, Rasulullah Saw. tidak sampai menilai begitu jauh untuk mempengaruhi keputusan Fathimah binti Qais. Lebih lanjut mengenai ini, kita perlu belajar. Mudah-mudahan Allah memberi taufik dan hidayah-Nya. Hal lain yang membolehkan untuk menggunjing adalah ketika Anda dizalimi (dianiaya). Jika Anda mempunyai sepetak tanah yang dengannya Anda menghidupi anak istri, kemudian tanah Anda dirampas oleh seseorang atau penguasa tanpa diberi ganti rugi yang seimbang sedangkan Anda tidak diberi hak untuk menentukan bolehtidaknya tanah Anda dibeli, maka Anda boleh menggunjing orang yang telah menganiaya Anda itu. Allah berfirman: Allah tidak menyukai orang-orang yang mengungkapkan keburukan, kecuali bagi orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. AnNisaa’ 4: 148). Penguasa yang melakukan kezaliman dan kekejaman secara terang-terangan, menurut sebagian ulama boleh digunjing, kecuali Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sirin yang sangat ketat melarang menggunjing penguasa --yang sangat kejam sekalipun. Berkenaan dengan ghibah yang dibolehkan, saya teringat dengan suatu peristiwa. Saya pernah mengingatkan seseorang tentang menggunjing ini, kemudian orang tersebut berhujjah (beralasan dengan mengemukakan dasar) bahwa Nabi menyuruh kita untuk tidak sepenuhnya husnuzhan, tetapi menyediakan buruk sangka sebagai kewaspadaan. Ia menyebutkan sebuah hadis: Khath Arab “Waspadalah kalian dari manusia dengan berlaku buruk sangka.” (HR AthThabrani dan Ibnu Adi). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan, hadis itu dha’if sekali karena di dalam sanadnya terdapat Buqyah bin Walid. Selanjutnya, Al-Albani mengutip Al-Haitsami yang berkata, “Buqyah bin Walid adalah mudallas (tukang

Kado Pernikahan 292

campur aduk sanad maupun perawi), sedangkan selainnya adalah perawi-perawi yang dapat dipercaya (tsiqah).” Menurut Al-Albani, di samping dari segi sanadnya sangat lemah, hadis tersebut bertentangan dengan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, juga oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadis-hadis shahih tersebut, kata Al-Albani, dengan tegas Rasulullah Saw. memerintahkan kaum muslimin untuk menjauhi dan meninggalkan buruk sangka kepada saudaranya sesama muslim. Contohnya adalah hadis beliau “Iyyakum wazhzhanni fainnazh zhanna akdzabul haditsi” (jauhilah olehmu berburuk sangka, karena sesungguhnya berburuk sangka itu adalah sejelekjelek ucapan). Wallahu A’lam bishawab. Tulisan dalam sub judul ini sama sekali belum mencukupi. Saya membicarakan sekilas saja sekedar agar kita tidak sampai terbelenggu mengungkapkan kebenaran hanya karena kita tidak tahu kebolehannya. Ilmu yang lebih banyak tentang ini, tentu saja kita sendiri yang perlu mencari. Selebihnya, mudah-mudahan kita bisa bertanya kepada hati nurani kita. Boleh jadi dalam situasi yang dibolehkan, hati kita mengarahkan kita memanfaatkan kebolehan itu untuk iktikad yang buruk. Astaghfirullahal ‘adzim. Singkatnya, ada ghibah yang dibolehkan, tetapi lebih banyak yang diharamkan. Jika ghibah yang haram kita kerjakan --dan ini mengasyikkan-- Allah telah mempersiapkan ancaman-Nya untuk kita. Na’udzubillahi min dzalik. Allah Mengancam Allah memelihara kehormatan manusia. Allah menjaga kehormatan manusia. Allah melindungi martabat ciptaan-ciptaan-Nya. Karena itu, jangan engkau rusak kehormatan anak Adam yang telah dijaga oleh Allah. Allah murka kepada hamba-hamba-Nya yang telah Ia jaga kehormatannya, Ia rahasiakan aibnya, Ia pelihara martabatnya, Ia sembunyikan khilafnya, tetapi hamba itu membongkar sendiri aib dan keburukannya kepada manusia lainnya. Allah Tuhan kita juga benci kepada makhluk yang merendahkan sesama ciptaan-Nya yang telah Ia jaga kehormatannya. Kepada mereka yang membuka aurat saudaranya, Allah memberikan ancaman. Sesungguhnya Allah Maha Pedih Siksa-Nya. Ia sudah menegaskan: “Mereka ingkari ayat-ayat Allah, lalu Allah mengazab mereka karena dosadosanya. Sungguh, Allah Maha Kuat, dan dahsyat hukuman-Nya.” (QS. al-Anfal 8: 52). Allah sungguh memberi ancaman kepada kita yang masih membiarkan mulut kita membongkar-bongkar aib saudara kita. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita tentang ancaman bagi orang-orang yang menggunjing.

Kado Pernikahan 293

Kita rasanya masih sering membuka aib saudara-saudara kita. Kita perlu berlindung kepada Allah dari ancaman-Nya. Bukankah mulut kita masih sering kita nodai dengan perkataan menggunjing? Astaghfirullahal ‘adzim. Semoga Allah mengampuni keburukan-keburukan kita dan memperbaiki akhlak kita hingga kita mencapai husnul-khatimah. Allahumma amin. Allah Akan Mempermalukan Mereka yang menggunjing saudaranya sama seperti mengoyak-ngoyak kehormatan, mempermalukan sesama, dan merendahkan derajat manusia. Mereka yang membuka aib saudaranya berarti menghambat jalan saudaranya untuk mencapai kebaikan puncak, untuk mencapai kebaikan yang sempurna. Mereka mempermalukan saudaranya. Kepada mereka Allah akan mempermalukan, sehingga di dalam rumahnya sendiri pun ia masih harus sibuk menutupi rasa malu yang sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi karena Allah telah membuka aibnya. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “Wahai orang-orang yang menyatakan Islam dengan lidahnya, tetapi iman belum masuk ke dalam kalbunya, janganlah kamu menyakiti kaum Muslim. Janganlah kamu mempermalukan mereka. Janganlah kamu mengintip-intip (mencari-cari) aib mereka. Barangsiapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya orang Islam, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aib-nya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.” Nabi menyampaikan sabdanya dengan suara yang keras, seakan-akan beliau ingin agar orang-orang yang tinggal di kemah-kemah pun mendengarnya. Waktu itu, Nabi baru saja selesai shalat subuh.2 Apa yang dapat engkau lakukan untuk mempertahankan nama baikmu jika Allah sendiri yang berkenan mempermalukan? Siapakah yang lebih kuasa untuk menolongmu dari rasa malu jika Allah sudah mempermalukanmu sampai-sampai di dalam rumah pun engkau merasa malu? Apakah yang engkau pertaruhkan untuk keasyikan membicarakan keburukan orang lain yang kadang tidak buruk (karena merupakan kehendak Allah) jika untuk itu engkau harus kehilangan semua kehormatan dan kepercayaan, bukan hanya dari masyarakat melainkan juga dari anak cucu dan sanak kerabat. Dalam psikologi ada istilah image building (pembentukan citra). Bidang ini berurusan dengan bagaimana membentuk citra tentang seseorang sehingga masyarakat menganggapnya sebagai orang yang baik, berwawasan luas, dan seterusnya sesuai dengan citra yang ingin dibentuk. Ini merupakan salah satu bentuk rekayasa psikologis dengan memanfaatkan berbagai sarana publikasi. Jika medianya tepat, image building dapat berhasil dengan baik. Meskipun begitu, segala rekayasa manusia tak akan mampu menghadapi rekayasa Allah. Segala upaya sistematis untuk menimbulkan citra yang positif, akan menghasilkan citra yang sebaliknya jika Allah telah mempermalukannya, bahkan sampai di rumahnya sendiri.
Kado Pernikahan 294

Banyak jalan yang bisa menyebabkan seseorang merasa sangat malu jika Allah sudah menetapkan untuk mempermalukannya. Ilmu Allah sungguh terlalu luas jika hanya sekedar untuk mempermalukan orang yang sering membuat malu saudaranya. Jika engkau sudah berhadapan dengan ilmu Allah, maka segala perbendaharaan ilmu yang engkau miliki tak akan mempunyai kekuatan apa-apa jika Allah sudah menetapkanmu untuk menanggung malu yang teramat besar. Peristiwa atau keadaan yang mempermalukanmu bisa berasal dari siapa saja yang ada di rumahmu; bisa anakmu, bisa istrimu, bisa kerabat yang menjadi tanggunganmu, dan bahkan bisa juga dirimu sendiri. Engkau mungkin sudah mendidik anakmu dengan baik, dengan sungguh-sungguh, dan dengan ilmu yang lengkap. Tetapi jika Allah sudah menetapkan untuk mempermalukanmu melalui anakmu, maka kesungguhan dan ilmumu tak bisa apa-apa. Engkau mungkin sudah memperlakukan istri secara ma’ruf dan membimbingnya dengan berdasar ilmu. Akan tetapi jika Allah sudah memutuskan bahwa engkau harus menanggung aib melalui istrimu, ada saja kelengahan yang akan engkau lakukan. Ada saja yang bisa menyebabkan ketentuan Allah berlaku sekalipun engkau merasa sudah menjalankan apa yang semestinya dengan sebaik-baiknya (kecuali berhenti menggunjing). Tentu saja, kita juga perlu berhati-hati dalam menilai perkara semacam ini manakala terjadi pada lingkungan yang ada di dekat kita. Boleh jadi itu ujian dari Allah bagi hambaNya yang beriman. Lain sekali nilainya. Berkenaan dengan ini, mari kita dengarkan hadis lain yang membawa pesan senada dengan hadis sebelumnya. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barangsiapa menyimpan rahasia (aib) temannya, Allah menyimpan pula rahasianya di hari kiamat. Dan barangsiapa membuka rahasia temannya sesama Muslim, Allah membukakan pula rahasianya, hingga Allah mempermalukan dia dalam rumah tangganya.” Rasulullah juga bersabda: Barangsiapa menyimpan rahasia (aib), seakan-akan dia menghidupkan kembali anak yang dikubur hidup-hidup. (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Begitulah Allah menjaga kehormatan manusia. Allah meninggikan siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan Allah Maha Kuasa untuk merendahkan siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, sekalipun mereka berasal dari keturunan baik-baik dan golongan orang-orang yang mulia. Dalam perjalanan hidup saya, terasa oleh saya bahwa adakalanya orang-orang dari keturunan yang baik dan sangat menjaga agamanya, terpuruk jatuh karena mereka berhenti hanya sekedar membanggakan keturunan, tetapi tidak berhenti membicarakan aib orang lain. Sebaliknya, dari keturunan orang-orang yang biasabiasa saja, ternyata lebih baik dari persangkaan orang yang memiliki prasangka negatif. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 295

Ketika menulis bab ini, saya sempat merasakan kesedihan. Teringat oleh saya bagaimana di daerah saya, di wilayah bekas pesantren almarhum kakek saya, berdiri pabrik bir yang sangat besar. Teringat oleh saya, orang-orang yang berlarian ke rumah meminta perlindungan saat mereka mempertahankan tanahnya. Teringat oleh saya bahwa mereka yang gigih di depan justru dari kalangan yang disebut orang-orang awam yang bukan santri, sedangkan mereka yang mengaku ulama justru merestui dan mengizinkan. Dan santri-santri pun bungkam. Bungkam! Di saat itu, rasanya pedih sekali ketika harus melihat bahwa pesantren kakek saya sudah tidak ada lagi. Bangunannya sudah tidak ada lagi. Pengajian-pengajian kitabnya sudah tidak ada lagi. Bahkan bekas-bekas sikap kesantrian pun tak terlalu mudah dilihat pada orang-orang di sekitar wilayah bekas pesantren itu, termasuk keturunan para pengasuh pesantren yang di masa wibawanya terkenal sangat wara’ dan luas ilmunya. Saya merasakan, ada perbedaan antara mulut para kiai yang ikhlas membimbing umatnya dengan mulut anak cucu yang hanya sekedar membanggakan leluhurnya. Dari mulut para kiai yang mukhlis, ucapan yang keluar adalah do’a ketika menyaksikan keburukan atau menghadapi perilaku yang tidak baik dari orang lain. Sedangkan orang-orang yang hanya sekedar membanggakan, lebih banyak menyebut keutamaan-keutamaan leluhurnya tetapi lupa tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang utama. Sebaliknya, mereka kadang merendahkan orang lain (yang bisa jadi lebih tinggi dari dirinya) hanya karena tak semulia leluhurnya. Saya kadang mendengar (tentu saja secara wadag) betapa orang-orang keturunan yang mulia dan berakhlak agung, jatuh ke dalam kerendahan martabat dan rasa malu yang tak dapat disembunyikan karena tidak hati-hati menjaga lisan. Sebaliknya, orang-orang dari keturunan yang tidak memiliki sejarah keluhuran (tentu saja hanya Allah Yang Maha Tahu) ternyata justru menjadi pelopor berbagai kebaikan. Hanya Allah Yang Maha Menguasai perbendaharaan langit dan bumi. Hanya Allah Yang Menggenggam kehormatan dan kemuliaan anak Adam. Dan Allah Maha Kuasa untuk memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa untuk mencabut dari siapa saja yang dikehendaki-Nya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari keburukan disebabkan oleh busuknya mulut kita sendiri. Semoga Allah berkenan mensucikan kita, mencuci kita, dan kita menerima kita dengan ridha. Semoga Allah memperjalankan kita di atas ridha-Nya sekalipun saat ini masih banyak kemungkaran dan kesesatan yang kita kerjakan. Sekalipun masih banyak kesalahan yang kita kerjakan. Mereka Memakan Bangkai Manusia Di daerah Rumania, di sebuah negara bagian, pernah hidup seorang raja. Namanya Vlad. Ia mempunyai kebiasaan yang sangat aneh. Diceritakan bahwa di kerajaannya banyak sekali gelandangan, orang-orang miskin yang kelaparan. Oleh

Kado Pernikahan 296

raja, para gelandangan dan orang miskin itu diundang ke istananya. Kemudian ia makan malam, dan menyembelih mereka, atau memasukkannya ke suatu tempat untuk dibakar hidup-hidup. Hal itu ia lakukan sambil menikmati makan malamnya. Katanya, itu salah satu cara untuk mengentas kemiskinan. Vlad mempunyai kebiasaan menikmati kesenangan dalam menyiksa orang sambil makan. Salah satu siksaan yang paling ia sukai adalah meletakkan korban itu di atas ujung logam yang sangat tajam. Pantat korban itu diletakkan di atas ujung logam tersebut. Kalau orang itu bergerak, maka tusukannya makin lama makin dalam, dan darahnya bercucuran. Vlad mengambil darah itu, meminumnya sebagai dessert, cuci mulut. Karena kelakuannya yang aneh itu, ia disebut dalam bahasa Rumania dengan “Dracul”, Setan Vlad Dracul. Dari situlah kemudian muncul film tentang drakula yang artinya orang yang senang menghisap darah. Kalau drakula hanya merupakan film, maka Vlad Dracul adalah manusia yang pernah hidup dan menjadi penguasa. --Kita rasanya masih sering membuka aib saudara-saudara kita. Kita perlu berlindung kepada Allah dari ancaman-Nya. --Jalaluddin Rakhmat menceritakan kisah Vlad ini dalam tulisannya yang diberi judul Lindungilah Kami Dari Penguasa yang Zalim. Kang Jalal menganggap Vlad Dracul sebagai manusia yang zalim dan kejam. Saya tidak tahu Anda setuju atau tidak dengan anggapan Kang Jalal. Jika Anda setuju, maka sebutan apa lagi yang bisa dikenakan pada orang yang suka memakan bangkai manusia dengan rakus? Kekejaman seperti apakah perilaku orang yang suka mengunyah daging mayat saudaranya sendiri, sedangkan Vlad yang sekejam itu hanya meminum darah manusia. Tidak sampai mengunyah mayatnya. Padahal Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencaricari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. AlHujuraat 49: 12).

Kado Pernikahan 297

Allah menyamakan menggunjing dengan memakan mayat saudaranya. Ini menggambarkan banyaknya keburukan dan kenistaan dalam menggunjing, serta apa yang akan diperoleh dari orang yang menggunjing. Sayangnya, kita sering tidak sadar ketika kita sedang memakan mayat saudara kita. Kita asyik melahapnya, di saat menasehati, ngobrol santai maupun bercanda. Kita tidak merasa jijik karena mata hati kita terlanjur demikian gelap, sehingga mulut kita tetap saja mau mengunyah bangkai manusia. Padahal, makan daging sapi yang sudah agak bau saja (belum sampai busuk) banyak dari kita yang tidak mau dan bahkan sampai muntah-muntah. Mari kita kenang kembali kisah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wasallam yang berkenaan dengan menggunjing ini. Diriwayatkan dari Ubaid, pembantu Rasulullah Saw. bahwa ada dua wanita yang sedang berpuasa sementara mereka hampir meninggal karena kehausan. Lalu dia memberitahu beliau, tetapi beliau berpaling dan mendiamkannya. Dia berkata, “Wahai Nabi Allah, kedua wanita itu sudah mati atau hampir mati.” Beliau berkata, “Panggillah mereka berdua.” Lalu dia memanggil keduanya, kemudian Rasulullah menemui mereka dengan membawa bejana atau mangkuk. Beliau berkata kepada salah seorang dari mereka, “Muntahlah!” Maka wanita yang disuruh itu pun memuntahkan makanan dan minuman, darah dan nanah hingga memenuhi setengah mangkuk. Kemudian beliau berkata kepada yang satunya lagi, “Muntahlah!” Lalu dia pun memuntahkan makanan dan minuman, darah, nanah, daging, darah segar, dan lain-lain, sehingga memenuhi mangkuk. Beliau kemudian berkata, “Sesungguhnya kedua wanita itu berpuasa dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka dan berbuka dengan apa yang telah diharamkan Allah bagi mereka. Salah seorang dari mereka mendatangi yang lainnya dan duduk-duduk bersamanya kemudian memakan daging-daging manusia.” (HR Al-Baihaqi. Juga Ahmad dari jalan yang lain).3 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Ma’iz pernah datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina.” Lalu Rasulullah berpaling darinya sampai dia mengatakan empat kali. Ketika dia mengucapkan yang kelima kalinya, beliau berkata, “Engkau telah berzina?” Dia pun menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Apakah engkau tahu zina itu?” Dia menjawab, “Ya, aku melakukan sesuatu yang haram, yakni laki-laki mendatangi perempuan dengan tidak halal.” Beliau berkata, “Apa maksudnya engkau berkata begitu?” Dia menjawab, “Aku ingin agar engkau membersihkanku.” Rasulullah Saw. berkata, “Engkau telah memasukkan itu darimu ke dalam itu darinya, seperti tenggelamnya cangkul di ladang dan tongkat di sumur?” Dia menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah menyuruh untuk merajamnya, dan dia pun dirajam.
Kado Pernikahan 298

Kemudian Nabi Saw. mendengar seorang laki-laki berkata kepada temannya, “Tidakkah engkau lihat orang yang ditutupi Allah, tetapi jiwanya dibiarkan sehingga dia dirajam seperti anjing yang dirajam?” Kemudian mereka mendatangi Nabi Saw. --dan karena ingin segera sampai-mereka menunggangi keledai. Rasulullah berkata, “Turunlah kalian berdua (dari tunggangan) dan makanlah mayat keledai ini.” Mereka berkata, “Semoga Allah mengampunimu wahai Rasulullah, apakah yang begini harus dimakan?” Nabi Saw. berkata, “Apa yang telah kamu dapatkan dari saudaramu (yang digunjingkan) tadi adalah makanan yang lebih buruk daripada ini. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya dia sekarang benar-benar telah berada di sungai-sungai surga dan berenang di dalamnya.”4 Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika aku naik (ke langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj), aku melewati suatu kaum yang berkuku kuningan sedang mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Lalu aku bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menjatuhkan kehormatan manusia.” (HR Abu Dawud). Astaghfirullahal ‘adzim. Mulut kita ini, lidah kita ini, tubuh kita ini, betapa seringnya merendahkan manusia lain. Allah tidak malu menciptakan mereka, tetapi kita sering merasa malu berdekatan dengan mereka, bergaul dengan mereka, bersahabat dengan mereka, atau sekedar bertemu dengan mereka hanya karena derajatnya tidak sama. Betapa menyedihkan jika telinga ini mendengar orang mengeluhkan dengan pandangan yang merendahkan atas orang-orang kampung yang karena tidak berkesempatan kuliah, membuat mereka tidak bisa menangkap pembicaraan Pak Mahasiswa yang bicaranya pakai istilah sulit-sulit (meskipun sebenarnya bisa disederhanakan sampai sangat sederhana). Betapa menyedihkan ketika saya harus membaca tukang-tukang becak dipersalahkan dan dinistakan sebagai pembangkang hanya karena mereka tidak bisa beralih profesi menjadi sopir angkot ketika pejabat melarang becak dan menyuruh mereka untuk menjadi sopir angkot saja.5 Bukankah untuk menca-pai yang lebih baik seseorang membutuhkan ilmu, keterampilan, dan modal, di samping kemauan? Aku tahu, tukang-tukang becak itu bukannya tidak mau berjualan di kios-kios pasar atau menjadi sopir angkot. Tetapi mereka itu tidak mampu. Karena itu, jangan sekali-kali engkau rendahkan saudarasaudaraku itu di rumah-rumahmu ketika engkau membaca koran atau majalah hanya karena engkau belum pernah merasakan bagaimana letihnya menarik becak. Jangan engkau rendahkan orang yang kulitnya tidak seputih dirimu. Jangan engkau rendahkan orang yang rambutnya tidak sebaik rambutmu. Jangan engkau rendahkan mereka yang diciptakan Allah dengan wajah yang tidak tampan dan tidak pula manis. Sebab Allah tidak pernah malu menciptakan mereka. Apakah engkau hendak menghina Tuhan dengan penghinaanmu terhadap pekerjaan (af’al) Tuhan? Bukankah

Kado Pernikahan 299

Tuhan yang menciptakan mereka hitam atau putih, hidungnya mancung atau pesek, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya? Aku ingatkan engkau sekali lagi wahai awak yang zalim, wahai istriku yang Allah tidak menjaminkan keselamatanmu di akhirat (sebab engkau bukan nabi atau rasul), wahai saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku serta orang-orang yang kucintai, jangan hina af’al Allah! Apakah engkau akan merusak kehormatan orang-orang yang karena telah renta tak bisa merawat bantal dan selimutnya dengan baik sehingga engkau jadikan ia sebagai bahan tertawaan, padahal mungkin Allah senantiasa tersenyum ketika melihatnya? Apakah engkau sudah sedemikian terhormat dan terjamin keselamatanmu di akhirat sehingga engkau bisa merendahkan orang menyerahkan sisa hidupnya di tempat-tempat peribadatan untuk melayani Tuhan dan ummat-Nya? Bukankah di antara kekasih-kekasih Allah terkadang tersembunyi kemuliaannya, sehingga datangnya tidak dihiraukan dan perginya tidak ditangisi?6 Sesungguhnya, di antara orang-orang yang engkau rendahkan barangkali memang tidak tergolong orang-orang yang memiliki kemuliaan tinggi di hadapan Allah. Tetapi ketika engkau merendahkannya, merusak kehormatannya, menggunjingnya, mentertawakannya, boleh jadi ia menjadi mulia karena pahalapahalamu dan orang-orang lain yang ikut mentertawakan diberikan oleh Allah kepadanya. Maka dengan perasaan hina dan penuh pengharapan, kepada siapa saja yang merasa pernah kurendahkan atau pernah kugunjing (padahal engkau tidak mengetahuinya), maafkanlah aku dan ikhlaskanlah kesalahan-kesalahanku. Mudahmudahan Allah mempersaudarakan kita. Allahumma amin. Sungguh, aku melihat hati yang masih lemah sulit untuk dilunakkan ketika ia tahu saudaranya telah menggunjingnya. Saya pernah mendengar langsung orangorang yang menggunjing saya dengan perkataan yang sangat tidak saya sukai, dan saya dapati perasaan saya sangat berubah. Perasaan itu sulit diubah meskipun saya insya-Allah sudah memaafkannya meskipun ia tidak meminta maaf. Maka, betapa riskannya menggunjing. Maka, hanya orang-orang khusus saja yang sanggup berterima kasih (karena telah dihilangkan dosanya atas sebab digunjing) kepada orang-orang yang telah menggunjingnya. Saya teringat cerita tentang seorang kiai. Ketika ada orang yang menggunjingnya dengan perkataanperkataan yang buruk, ia ambilkan sejumlah barang beserta uang sebagai hadiah kepada orang yang telah menggunjingnya. Ya Allah, lunakkanlah hatiku dan tumbuhkanlah kepadaku rasa cinta pada kebaikan dan kebenaran. Ya Allah, santunkanlah masing-masing dari kami kepada saudaranya yang lain. Ya Allah, ampunilah kami dan sempatkanlah kami untuk menebus penyesalan-penyesalan kami. Perjalankanlah kami karena tidak akan mampu kami melewati jalan-Mu yang benar jika bukan karena kehendak-Mu.

Kado Pernikahan 300

Ia Merusak Kita Setelah kita berbicara panjang tentang menggunjing; apa yang saja yang termasuk menggunjing dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang menggunjing dan merusak kehormatan saudaranya; sekarang marilah kita berbicara tentang bagaimana menggunjing sebenarnya merusak kita sendiri. Kalau kita menggunjing, maka kita melukai diri sendiri. Kita merusak diri kita sendiri (sayangnya, sulit sekali kita menyadari ini ketika sedang menggunjing). Kita menciderai diri kita sendiri, jiwa kita sendiri, keluarga kita sendiri, dan bahkan anak-anak kita sendiri yang kita cintai kita sayang-sayang setengah mati. Saya tak hendak berpanjang-panjang dengan prolog semacam ini. Sudah gerah rasanya. Karena itu, segera saja kita melihat kerusakan apa saja yang bisa ditimbulkan oleh keasyikan kita menggunjing. Hubungan Suami-istri Cenderung Bersifat Permukaan Suami-istri kadang merasa telah menjalin kedekatan, tetapi hubungan mereka renggang-renggang saja. Padahal mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan melihat TV sambil menikmati snack dari bungkus yang sama. Orangtua juga demikian. Kadang mereka merasa tidak kurang-kurang menyayangi dan menemani anak. Mereka merasa selalu dekat dengan anak. Waktunya di rumah ba-nyak sekali --kalau bukan sebagian besar-- dihabiskan untuk menonton TV bersama-sama; satu kursi, satu meja atau satu tikar bersama-sama. Tetapi ia terkejut ketika anaknya yang mulai menginjak remaja berontak dan memprotes orangtua karena kurang perhatian, kurang kasih-sayang, kurang mendengar, serta kurang dekat dengan anak. Muncul pertanyaan, apakah yang terjadi pada suamiku sehingga ia berkata demikian? Apakah ia hanya mencari alasan saja untuk bisa menjauh dari rumah? Apakah yang terjadi pada istriku sehingga ia mengatakan kurang diberi perhatian? Apakah hanya untuk menyembunyikan kebosanannya saja? Apakah ia sedang mencari-cari alasan untuk memperoleh perhatian “lebih” dari suami? Apakah yang terjadi pada anak-anak yang manis-manis itu sehingga berubah menjadi hantu di siang hari? Siapa yang berani-berani mempengaruhinya sehingga ia tampak begitu garang mengatakan orangtua tidak dekat, padahal setiap hari selalu menghabiskan waktu di depan TV bersama-sama selama berjam-jam? Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Sebelum menginjak jauh ke menggunjing, mari kita pahami dulu mengapa orang-orang yang sering menonton TV bersama kita bisa memprotes karena merasa tidak dekat dengan kita. Pada saat kita menonton TV bersama-sama, sebenarnya yang terjadi bukan kontak psikis yang erat dan akrab. Kedekatan kita lebih bersifat fisik saja (physical closeness) karena tempat kegiatan yang sama. Tetapi secara psikis, masing-masing memiliki kegiatan sendiri yang menyibukkan sekalipun yang disaksikan sama. Tiap-tiap orang larut dalam keasyikannya sendiri-sendiri, sehingga

Kado Pernikahan 301

kedekatan secara fisik tidak menyebabkan mereka dekat secara psikis. Karena itu, lamanya waktu yang dihabiskan untuk duduk-duduk bersama tidak menjadikan masing-masing semakin akrab. Bahkan ketika acara usai pun, tak jarang masingmasing terbenam dalam keasyikannya memikirkan tokoh cerita yang baru saja ditayangkan di TV atau berpikir, “Seandainya saya tadi cepat-cepat menelpon, tentu hadiah kuis empat setengah juta itu menjadi milik saya....” Singkat kata, kedekatan yang tampak pada mereka sebenarnya cuma kedekatan semu (pseudo-attachment). Seolah-olah dekat, tetapi batin mereka saling berjauhan dan tidak saling menyapa. Masing-masing memiliki kepentingan sendiri yang tak seorang pun boleh mengganggu. Sekali waktu, cobalah mengalihkan acara yang sedang asyik ditonton oleh orang yang Anda cintai; entah suami, anak, atau bahkan cucu. Alihkan secara tiba-tiba. Dan nantikan kegusaran mereka kepada Anda. Cucu Anda yang paling kecil pun mungkin akan segera memarahi Anda dengan cara khas anak-anak; teriak-teriak, memukul-mukul kaki, menangis, atau bahkan mengatangatai Anda. Apa ini artinya? Kedekatan yang terlihat sungguh-sungguh hanya bersifat permukaan, bukan benar-benar merupakan kedekatan. Karenanya jangan terlalu banyak berharap dari kedekatan semacam ini. Sama seperti kedekatan orang yang naik bus bersama-sama. Mereka duduk dalam satu kursi, tetapi sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara, tidak saling menanyakan alamat, tidak saling menanyakan tujuan, dan bahkan tidak saling menanyakan nama (ini yang sangat minimal). Jika untuk hal-hal seperti itu saja tidak, apa-lagi untuk saling berbincang-bincang jauh yang akrab untuk dijadikan bahan renungan di rumah. Lebih jauh tentang pseudo-attachment (kedekatan semu) insya-Allah akan saya bahas lebih lanjut pada buku “Akan Kau Apakan Anak-anakku?” yang rencananya akan saya tulis dalam waktu dekat ini. Adapun pembahasan tentang pseudoattachment pada bab ini, sekedar untuk memudahkan kita memahami bagaimana menggunjing dapat menjadikan hubungan suami-istri cenderung bersifat permukaan. Tetapi, bukankah menonton TV berbeda dengan menggunjing? Bukankah ketika kita asyik menggunjing bersama istri, kita saling berbincang-bincang, saling mendengarkan, saling menanggapi, dan bahkan saling mendukung? Bukankah ini berarti ada komunikasi dua arah yang baik? Dan barangkali tidak ada komunikasi dua arah yang lebih gayeng (asyik dan intens) melebihi acara menggunjing bersama. Argumentasi ini kelihatannya benar. Untuk membuktikan benar tidaknya argumentasi ini, marilah kita periksa secara teliti, sehingga kita mendapatkan bukti yang kuat. --Dalam komunikasi yang bersifat permukaan, suami-istri tidak memperoleh kebutuhan psikis inter-personalnya.

Kado Pernikahan 302

Hal ini menyebabkan jiwa mereka tidak merasakan keterpenuhan, sehingga... --Setiap saat kita menggunjing, maka perhatian utama kita tertuju pada kejelekankejelekan orang yang kita gunjingkan. Pada saat seperti itu, kita sadari atau tidak kita merasa unggul dan benar. Kalau kita tidak merasa lebih baik, lebih unggul dan lebih benar, rasanya tidak ada ruang untuk membicarakan kejelekan orang. Perasaan unggul (bukan kesadaran tentang keunggulan yang dikaruniakan Allah kepada kita) menjadikan kita kurang peka terhadap kelemahan-kelemahan kita, termasuk kelemahan dalam memberi perhatian dan memahami istri atau suami. Perasaan unggul --yang bentuknya adalah memandang rendah orang yang digunjing (meskipun tidak merasa merendahkan)-- menjadikan kita lebih siap untuk memperoleh affirmasi (peng-iya-an) dan tidak siap kalau pernyataan kita dibantah oleh suami. Kita cepat emosi. Kita akan dengan sigap membantah dengan menunjukkan “bukti-bukti”. Ini menunjukkan bahwa yang kita butuhkan bukanlah istri atau suami kita, tetapi dukungan terhadap penilaian kita tentang orang lain di saat sedang ghibah. Percakapan yang sering kelihatan gayeng (asyik dan intens) itu ditinjau dari aspek komunikasi interpersonal juga kering. Tampaknya dua orang sedang berbicara bersama-sama, tetapi mereka sebenarnya sedang berbicara sendiri-sendiri. Apa yang mereka bicarakan merupakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pengenalan terhadap orang yang diajak bicara, tidak saling memenuhi kebutuhan psikis, dan tidak juga memasuki wilayah komitmen pribadi tentang berbagai persoalan. Pembicaraan yang menyangkut nilai-nilai akhlak atau kegelisahan sosial yang lahir dari penghayatan, sekalipun tidak menyangkut keadaan individu masing-masing, dapat membuat jiwa semakin dekat sebab selaras dengan nurani dasar manusia (fithrah). Akan tetapi dalam menggunjing hal ini tidak terjadi. Jika setiap saat pikiran kita disibukkan oleh pembicaraan tentang orang lain7 dan keburukan-keburukannya, akhirnya kita tidak merasa benar-benar akrab dengan istri dan anak-anak kita --apalagi dengan tetangga kita. Kita sering ngobrol dengan mereka, membicarakan berbagai keburukan orang lain, tetapi kita tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Ini menjadikan kita tidak bisa merasa dekat secara emosional dengan orang-orang yang mestinya paling dekat dengan kita. Kalau sudah seperti ini, kita tidak merasa gelisah dan mendo’akan dengan suara lirih ketika suami tidak kunjung pulang, melainkan justru menyiapkan berbagai macam prasangka. Begitu ia datang, sikap yang kita nampakkan bukan kerinduan yang menggelisah, tetapi kejengkelan yang membawa rasa curiga. Apa akibat selanjutnya? Baca kembali bagian awal bab sebelumnya Komunikasi Suami-istri, khususnya bagian cuplikan tulisan Kang Jalal di buku Psikologi Komunikasi.

Kado Pernikahan 303

Dalam komunikasi yang cenderung bersifat permukaan, suami-istri tidak memperoleh kebutuhan psikis interpersonalnya. Ini menyebabkan jiwa mereka tidak merasakan keterpenuhan, sehingga bisa mencapai kualitas-kualitas yang lebih baik dan lebih baik lagi. Seandainya saya boleh menggunakan istilahnya Maslow, mereka mengalami “human diminution” (kemerosotan kemanusiaan manusia) dan semakin jauh dari “full-humaness” (menjadi manusia yang sepenuhnya manusia). Pada situasi komunikasi yang sudah terjatuh ke dalam bentuk yang sangat permukaan (periferal), problem manusia tidak lagi bisa dihayati dan dicintai untuk mendapat pemecahan yang paling mendatangkan kemaslahatan. Sebab, masingmasing mereka terlanjur terbiasa mentertawakan problem dan memberikan pemecahan yang periferal dan tidak tahan uji. Lihatlah ketika orang menggunjing, dengan mudah ia mampu memberi penyelesaian masalah untuk semua hal. Padahal jika mereka diminta untuk sungguh-sungguh memecahkan satu masalah yang “kecil” saja, mereka akan kesulitan; kesulitan dengan diri mereka sendiri dan kesulitan menemukan akar permasalahan. Budaya pemecahan masalah yang cenderung periferal (permukaan) ini pada gilirannya akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Masalah-masalah yang datang disikapi secara dangkal saja (karena tidak terbiasa lagi melihat akar masalah), diselesaikan dengan mengandalkan otoritas --terutama jika berkenaan dengan anak-- se-hingga masalah tak benar-benar terselesaikan, kecuali permukaannya saja. Ibarat seorang dokter, ia hanya menyembuhkan simptomnya saja. Ia tidak melacak etiologi penyakitnya. Dari sinilah kemudian anak merasa tidak memperoleh perhatian yang dibutuhkan,8 tidak menemukan kesejukan yang diharapkan, dan tidak mendapatkan orangtua yang “mendengarkan dia”. Anak akhirnya tidak betah di rumah. Dan ini bisa menjadi salah satu jalan yang membuka aib orangtua, sehingga orangtua merasa malu sekalipun dalam rumahnya sendiri.9 Penjelasan di atas barangkali agak ekstrem: menggunjing saja bisa menyebabkan anak lari dari rumah. Tetapi ada yang lebih ekstrem lagi. Budaya bicara dan pemecahan masalah yang lebih banyak menyangkut keburukan orang lain, dan jarang berbicara tentang apa yang dibutuhkan oleh jiwanya sendiri, menjadikannya merasa asing dengan realitas psikis istri atau suaminya. Bahkan bisa terjadi, ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Inilah yang disebut dengan keterasingan diri. Orang yang mengalami keterasingan diri, senantiasa merasa kesepian. Kegiatan yang ia lakukan --seperti pulang ke rumah, menyiram bunga, atau mengantar anak ke sekolah misalnya-- bersifat mekanis (seperti mesin). Bahasa umumnya: rutinitas. Padahal letak persoalannya bukan pada kerutinan, melainkan pada kosongnya makna dalam kegiatan-kegiatan itu. Contoh di atas belum menunjuk pada keterasingan diri (self-alienation), tetapi baru pada gejala yang memiliki muatan alienasi diri. Saya ingin mengajak Anda memahami masalah ini secara bertahap. Ketika orang sudah merasa jenuh pada rutinitas, giliran berikutnya ia mulai merasakan kekosongan makna pada apa yang ia lakukan. Ia sudah semakin mekanis sampai akhirnya benar-benar mekanis; seperti

Kado Pernikahan 304

robot yang sudah diprogram untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa mengerti apa yang harus dilakukan ketika semua terasa hampa, kering, dan kosong. Karena sudah menjadi mekanis seperti robot, maka manusia yang sudah terkikis nilai kemanusiaannya (human diminution) ini disebut sebagai robopath (pathologi robot). Ada berbagai jenis robopath --saya lupa apa saja-- sesuai dengan bentuk perilaku yang muncul dari gangguan robopath. Salah satunya adalah cheerful-robo yang berusaha menghalau rasa sepinya dan kekosongan jiwanya dengan banyak melahap hal-hal yang bersifat sensual serta makan berbagai jenis makanan yang lezat. Hal-hal yang bersifat sensual ia dapatkan dari TV, film, video, majalah,nonton orang-orang cantik di jalan-jalan, ngrumpi, dan seterusnya sampai yang berbentuk obat-obatan terlarang sejenis ekstasi (agar bisa mengalami “ekstase”). Padahal keasyikan saat menonton TV atau ngrumpi hanya bertahan selama nonton atau ngrumpi berlangsung. Sesudah itu, rasa sepi hinggap lagi. Mereka yang tidak tahan, akhirnya lari dari dirinya sendiri (salah satunya ya minum ekstasi tadi). Mereka rapuh secara emosional dan mental, sehingga mudah mengalami keputusasaan. Agar lebih bisa memahami, mari kita simak contoh kecil berikut. Orang yang pertama ikut lomba --baca puisi misalnya-- akan merasa senang dan bahagia begitu dirinya menjadi juara harapan I. Tetapi orang yang sering ikut lomba dan selalu juara satu -- gelar juara tidak lagi menarik. Menjadi juara tidak lagi menyenangkan. Makna piala dan gelar juara sudah hilang, kecuali jika ada misi tertentu yang menggerakkan untuk tetap meraih gelar juara. Tetapi ini sekaligus berarti, bukan gelar juara itu yang memberi kebahagiaan dan makna, melainkan misi yang ada di baliknya. Pada orang yang setiap ikut lomba terpaksa menjadi juara, pujian orang-orang yang kagum tidak memberikan kebahagiaan apa-apa. Bisa jadi, pujian itu malah membuat dia semakin hampa karena ada perasaan, “Piala ini hanya membuat mereka terkagum-kagum, tetapi tidak lagi memperhatikan saya.” Saya teringat cerita tentang Cak Nun. Saya pernah membaca sebuah koran yang memuat peristiwa ketika Cak Nun dicekal, sehingga Cak Nun harus bertemu dengan kepala kantor yang berurusan dengan ini (saya tidak ingat kantor apa itu). Ketika Cak Nun masuk, kepala kantor tersebut sudah memasang muka seram. Tetapi ketika Cak Nun ternyata sangat tidak memasalahkan pencekalannya, dan justru bertanya hal-hal yang menjadi kebutuhan psikisnya sebagai manusia; ketika ditanya bagaimana keadaannya hari ini, bagaimana perasaannya, kabar anak istrinya, dan sejenisnya, kepala kantor ini justru terharu dan mengundang Cak Nun untuk bicara di tempatnya. Banyak pejabat yang kaget ketika melihat dirinya sendiri setelah tidak memiliki jabatan. Pada saat memiliki kekuasaan, ia “mencacatkan” tangannya sendiri sehingga karyawanlah yang membukakan dan menutupkan pintu mobilnya. Ia tidak menyetir sendiri mobilnya. Sudah ada orang yang bertugas untuk mengantarkan ke mana pun ia pergi, termasuk bepergian untuk acara-acara di luar kepentingan dinas. Ia menyangka itu merupakan bentuk ketulusan hubungan manusia dengan manusia, bentuk cinta kasih antar sesama, padahal itu hanya merupakan obligasi (kewajiban) kepegawaian yang hanya bersifat permukaan. Begitu ia turun dari jabatan, ia kehilangan itu semua

Kado Pernikahan 305

karena para bawahan tadi membukakan pintu atau membawakan tas bukan karena cinta kasih kepadanya, tetapi karena memang pekerjaannya membukakan pintu kepala kantornya. Ia terkejut. Dan akhirnya sakit. Orang pun menyebutnya dengan istilah mewah: post power syndrome atau sindrom karena kehilangan kekuasaan. Saya harap contoh-contoh di atas, termasuk contoh hubungan karyawan dengan atasannya, dapat menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan hubungan yang cenderung bersifat periferal atau dangkal. Begitu. Dan bagaimana dengan Anda? Suami Anda masih sayang, kan? Semoga Anda sehat-sehat saja hari ini. Kepercayaan Sulit Dibangun Dalam rumah tangga, orang membutuhkan sahabat yang bisa mendengar dan menjaga rahasia-rahasianya. Ia menceritakan kepada istri atau suami hal-hal yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain, seorang sahabat dekat sekalipun. Hal yang bersifat rahasia ini boleh jadi persoalan-persoalan berat, boleh jadi persoalanpersoalan yang ringan-ringan saja; persoalan yang sangat sepele dan tidak berpengaruh terhadap kebijakan politik luar negeri sama sekali. Tetapi ketika tidak ada kepercayaan, ke mana suami akan mengungkapkan rahasia-rahasianya? Di sinilah persoalan yang pelik bisa muncul dan bisa menjadi jalan yang akan mempermalukan mereka, sehingga di rumahnya sendiri pun akan merasa malu. Tetapi jalan untuk mempermalukan orang yang akan dipermalukan-Nya, sungguh tidak sesempit penjelasan saya yang sederhana. --Membicarakan keburukan-keburukan orang membuat kita banyak dikendalikan oleh prasangka-prasangka kita tentang penilaian orang lain terhadap kita. --Apa yang menyebabkan kepercayaan terhadap istri atau suami berkurang atau bahkan nyaris menghilang? Perasaan tidak aman. Jika Anda tidak segan-segan menggunjing atau bahkan memburuk-burukkan keluarga Anda sendiri, orangtua Anda sendiri, saudara Anda sendiri, serta orang-orang yang sangat dekat dengan Anda dalam keluarga ketika sedang berkumpul bersama suami dan anggota keluarga lainnya, maka ini juga menyiratkan bahwa tidak ada jaminan Anda akan menjaga rahasia-rahasianya. Tidak ada jaminan kalau suami Anda bercerita tentang sesuatu yang ingin dirahasiakannya --sekalipun sekedar tentang betapa nikmatnya makan

Kado Pernikahan 306

jagung rebus di rumah orang saat bertamu-- Anda tak akan menceritakannya kepada orang lain ketika obrolan sudah gayeng (asyik dan intens). Boleh jadi suami Anda percaya bahwa Anda mencintainya, akan tetapi ia ragu apakah Anda dapat memilah mana yang boleh diceritakan dan mana yang tidak saat Anda bertemu dengan kawan lama. Keraguan itu bertingkat-tingkat, dari yang kadarnya rendah sampai yang sangat tinggi. Menceritakan aib orangtuanya saja ia tidak segan-segan, apalagi menceritakan aib suami atau istrinya sendiri! Ada saat-saat dimana suami atau istri bisa menceritakan tentang berbagai persoalan yang tak satu telinga pun boleh mendengarnya, kecuali istri atau suaminya sendiri. Cerita ini boleh jadi bersangkut-paut dengan saudara atau orang tua. Tetapi ini tidak untuk menggunjing. Contoh di atas adalah kasus sederhana dengan penjelasan sederhana, sangat sederhana. Di luar yang telah dibahas, masih ada wilayah-wilayah kepercayaan yang lebih luas. Berkurangnya kepercayaan tidak hanya mencakup dapat tidaknya Anda menjaga rahasia pembicaraan suami atau istri, tetapi mencakup keseluruhan wilayah kepercayaan. Sayangnya kita tidak bisa membahas seluruhnya di bab ini. Mudah-mudahan nanti bisa dipaparkan lebih mendalam pada kesempatan lain. Kepuasan Rendah Jika ada surga di dunia, itu hanya ada pada pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia, itu ada pada perkawinan yang dipenuhi percekcokan, kecurigaan, kekecewaan, dan pertengkaran. Rumah menjadi tidak nyaman. Rumah tidak memberi ketenteraman. Kepuasan perkawinan banyak berhubungan dengan kepercayaan suami-istri. Jika masing-masing memiliki kepercayaan yang tinggi, mereka lebih mungkin untuk mencapai kepuasan perkawinan. Tetapi jika kepercayaan rendah, kepuasan perkawinan juga cenderung rendah. Kepuasan lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek psikis; intensitas hubungan batin antara suami dan istri, terpenuhinya kebutuhan psikis, tercukupinya perhatian, dan sejenisnya. Kepuasan perkawinan tidak terlalu banyak berhubungan dengan banyaknya harta yang kita miliki. Keluarga Fathimatuz Zahra dan ‘Ali bin Abi Thalib tidak termasuk kaya. Tetapi apa kata ‘Ali tentang Fathimah? “Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.” Kepuasan perkawinan juga memerlukan saling pengertian antara suami dan istri. Lebih lanjut tentang saling pengertian, silakan simak sub judul berikut:

Kado Pernikahan 307

Saling Pengertian Sulit Tumbuh Pada bab "Di Mana Wanita-wanita Barakah Itu"10 saya sudah bercerita sedikit tentang Marriage Contracts. Dalam pernikahan yang menggunakan sistem marriage contracts, pola hubungan diatur berdasarkan tugas-tugas yang telah dituangkan dalam surat perjanjian sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Di sini, yang paling berperan adalah kekuatan hukum dari surat perjanjian. Bukan saling pengertian antara suami dan istri. Saling pengertian merupakan kekuatan rumah tangga yang sangat besar. Saling pengertian antara suami dan istri membuahkan kearifan sehingga bisa menempatkan sikap secara tepat (dan ini tak mudah); sikap ketika suami harus meninggalkan rumah karena panggilan untuk melayani umat, sikap ketika suami harus berhadapan dengan kondisi yang menantang, dan juga sikap dalam berbagai kondisi yang berbeda. Saling pengertian inilah modal penting dalam menegakkan misi dan menyiapkan anak-anak yang lahir dari pernikahan kita menuju pribadi yang matang dan memiliki misi kuat. Tumbuhnya saling pengertian banyak dipengaruhi oleh adanya kesadaran misi pada masing-masing pihak, oleh pemahaman mengenai tugas-tugas kehidupan, oleh jalinan perasaan masing-masing, dan oleh mendalamnya hubungan masing-masing. Dalam hubungan suami-istri yang cenderung bersifat permukaan, ini sulit terbentuk. Sedangkan hubungan yang bersifat permukaan merupakan akibat logis dari keasyikan menggunjing yang dipelihara terus dan dibudayakan setiap hari di rumah, di kantor, dan di tempat lain. “Sibuk” Menepis Penilaian Sosial Jika Anda sering mengamati perkembangan anak, maka Anda akan peka sekali terhadap gejala-gejala yang ada pada perkembangan anak. Sebaliknya, jika Anda tekun mendalami perkayuan (yang sekarang semakin sedikit karena berjuta-juta meter persegi hutan kita sudah terbakar)11, maka Anda cepat berpikir tentang kekuatan maupun kegunaan kayu begitu melihat ada sebatang kayu di hadapan Anda. Begitu juga jika Anda sering mencela, mencaci, memaki, merendahkan, menggunjing sesama, atau melecehkan kehormatan orang lain, Anda akan sangat peka terhadap gelagat orang yang bisa ditafsirkan sebagai penilaian. Anda akan cepat berpikir tentang komentar orang kelak jika Anda akan melakukan sesuatu, katakanlah sesuatu yang baru. Alhasil, gerak Anda dipengaruhi (sebagai pengganti kata dihambat) oleh persepsi Anda tentang orang lain --yang ternyata boleh jadi keliru sama sekali. Bahasa lugasnya, Anda mudah berprasangka buruk (su’uzhan) dan prasangka buruk itulah yang mengontrol tindakan-tindakan Anda. Membicarakan keburukan-keburukan orang membuat kita banyak dikendalikan oleh prasangka-prasangka kita tentang penilaian orang lain terhadap kita. Kita sangat mudah risau dengan “kata orang” (sekali pun baru mungkin) tentang kita, sehingga langkah kita yang membawa maslahat ada kemungkinan tidak jadi kita kerjakan

Kado Pernikahan 308

karena khawatir terhadap penilaian orang. Kita akhirnya sibuk memilih tindakan yang melahirkan penilaian positif dari orang lain. Alhasil, kita semakin jauh dari kebaikan. Betapa seringnya orang tidak berani melakukan apa yang dapat mengantarkannya kepada cita-cita hanya karena takut dikomentari. Betapa lazimnya kita mendengar orang takut berbicara di muka umum untuk menyampaikan kebenaran hanya karena takut dinilai, takut tidak bisa berbicara secara menarik. Alhasil, ia tidak menyampaikan kebenaran karena takut mencemarkan nama baik Islam mengingat dia “tidak bisa mewakili” Islam dalam membawakan retorika yang bagus. Alhasil, kita biarkan keadaan yang kritis hanya demi menjaga agar orang tidak memberi komentar yang buruk (meskipun orang lain belum tentu berkomentar demikian). Kita sudah terlalu banyak belajar dari orangtua kita; baik orangtua di rumah, masyarakat, maupun sekolah. Kita belajar dari mereka agar tidak punya keberanian menyampaikan apa yang harus disampaikan jika suara kita tidak bisa menggelegar, retorika kita tidak bagus, dan pakaian kita tidak seperti pakaian “penyampai kebenaran”. Kita sering belajar --dari orangtua kita maupun masyarakat-- untuk mentertawakan orang yang maju dengan sangat lugu, sehingga ketika tiba saatnya kita harus tampil, kita mundur teratur karena khawatir ditertawakan orang sebagaimana kita juga mentertawakan mereka (meskipun kita melihatnya sebagai perasaan grogi).12 Saya teringat dengan satu peristiwa di tahun 1993. Ketika itu ada sarasehan di Salman, Bandung untuk membicarakan tentang metodologi pendidikan agama untuk anak prasekolah. Banyak sekali yang hadir pada acara tersebut, salah satunya adalah seorang guru TK. Guru kita ini kemudian mendapat kepercayaan untuk mempresentasikan pikiran-pikirannya cemerlang, tak lama setelah Menteri Agama membuka acara. Tak banyak yang mendapat kehormatan untuk berbicara di sesi pertama. Kesedihan dan kerisauan menyergap saya ketika ibu kita mulai mempresentasikan makalahnya di hadapan para undangan, tidak sedikit di antaranya pemikir-pemikir pendidikan dan praktisi berpengalaman. Ibu kita ini tidak termasuk orang yang akrab dengan dunia seminar, apalagi mempresentasikan. Ia juga masih heran melihat OHP --yang bagi mahasiswa seperti makanan kecil. Tetapi sekali presentasi, pesertanya orang-orang yang sudah biasa tampil di depan. Tak terlalu heran jika ibu kita ini gugup dan sekaligus gagap teknologi. Yang membuat saya sedih, orang-orang yang intelek itu rupanya banyak yang tidak betah mendengar. Ada kegelisahan atau mungkin rasa malu melihat presentasi dari ibu kita, padahal apa yang dikemukakannya begitu bagus jika kita mau berendah hati dalam memakai bahasa. Saya merasa aneh melihat sikap yang semacam itu. Bukankah yang “lebih intelek” mestinya justru memahami yang “agak kurang intelek”? Waktu itu yang saya lihat mendengar dengan serius dan sungguh adalah saudara-saudara kita dari Al-Arqam. Yang lainnya pun insya-Allah ada, tetapi saya tidak melihat. Astaghfirullahal ‘adzim. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 309

Apa yang bisa kita ambil dari cerita ini? Sikap kita dapat menjadi hijab (penghalang) bagi datangnya ilmu yang baik. Tetapi, dari mana sikap yang semacam itu lahir? Dan Masyarakat Pun Hancur Rusaknya masyarakat tidak hanya karena pemimpin yang tidak adil. Keasyikankeasyikan kita menggunjing sesama, juga ikut berperan menghancurkan masyarakat. Karena menggunjing, kesalahan seorang hamba Allah yang telah disembunyikan Tuhannya kita sebarluaskan sehingga semua orang tahu, sehingga ia sibuk menutupi wajahnya. Saya teringat tulisan K.H. Jalaluddin Rakhmat. Katanya, “Perhatikan, betapa banyak keburukan telah Anda lakukan dan Tuhan menyembunyikannya dari mata dan telinga manusia. Sekiranya semua kejelekan Anda diketahui orang, Anda tidak akan tahan hidup di tengah-tengah masyarakat.” Ketika keburukan-keburukan kita disembunyikan oleh Allah dari penglihatan orang, insya-Allah kita bisa lebih leluasa untuk memperbaiki diri. Kita bisa melakukan perbaikan atas jiwa kita, mental kita, dan niat-niat kita tanpa terkungkung oleh penilaian orang atas kita. Jika kita sebelumnya telah melakukan keburukan dan tidak seorang pun mengetahui, kita memiliki kesempatan untuk menghapus keburukan dengan banyak melakukan kebajikan tanpa takut ditolak oleh masyarakat, atau setidaknya beberapa orang. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, jika seseorang dikenal kebaikannya oleh masyarakat (meskipun sangat sedikit), ia akan cenderung berusaha untuk meningkatkan kebaikan-kebaikannya. Seiring dengan usahanya untuk semakin meningkatkan kebaikan dan keutamaannya, keburukan-keburukan yang melekat padanya akan menyusut. Ia tidak memiliki hambatan psikis yang berarti karena masyarakat menerima perkembangan-perkembangan baiknya. Sebaliknya, jika keburukannya yang dikenal masyarakat (sekalipun sedikit sekali), maka sulit baginya untuk melakukan kebajikan-kebajikan yang diterima. Masyarakat cenderung tidak menerima perbaikan yang bertahap dan pelan. Masyarakat cenderung menghendaki perubahan yang tiba-tiba, spontan, dan menyeluruh. Padahal ini merupakan syarat yang sulit dipenuhi manusia secara umum (kecuali orang-orang khusus). Alhasil, orang itu semakin berkembang dengan keburukannya (yang semula hanya sedikit). Dan boleh jadi ia justru menjadi penyebab tersebarnya keburukan di tengah-tengah masyarakat. Artinya, ketika keburukan seseorang tersebar luas, maka akan menyebabkan yang bersangkutan sulit melakukan perubahan ke arah yang baik dan masyarakat sulit menerima perbaikan yang bertahap dan pelan. Padahal, manusia umumnya melakukan perubahan secara bertahap. Perubahan baru bisa dilakukan secara bertahap, progresif dan baik ketika sudah pindah ke masyarakat lain yang tidak dikenal atau kulturnya sangat berbeda. Akhawat yang memiliki militansi tinggi,

Kado Pernikahan 310

umumnya adalah mereka yang berasal dari daerah-daerah yang sangat jauh. Mereka mengalami perubahan (metamorfosis spiritual) setelah pindah ke tempat yang tidak dikenalnya. Sekalipun bab ini bukan tentang kebaikan merantau, tetapi izinkanlah saya untuk melengkapi pembicaraan kita ini dengan nasehat Imam Syafi’i. Katanya, “Sungguh aku melihat air yang tergenang dan terhenti memercikkan bau yang tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, air itu akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya, jika engkau biarkan air itu menggenang, ia akan membusuk.” Imam Syafi’i juga pernah mengingatkan, “Emas bagaikan debu sebelum ditambang menjadi emas. Dan pohon cendana yang masih tertancap di tempatnya tak ubahnya pohon-pohon untuk kayu bakar. Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu, kau akan temui derajat mulia di tempat yang baru, dan kau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya.” Jika memperhatikan nasehat Imam Syafi’i, merantau membuat “emas yang terpendam” dalam diri kita dapat terangkat sehingga kelihatan kilau emasnya. Merantau membuat emas jiwa kita terasah dan mencapai ketinggian dengan lebih banyak belajar, menghadapi tantangan, dan lingkungan yang lebih siap menerima kita. Kita tidak dikenal, karena itu kacamata yang dipakai orang untuk melihat kita lebih jernih. Kadangkala masyarakat baru tempat kita merantau justru menempatkan sekaligus mengharapkan kita sebagai orang baik, sehingga “do’a” mereka akhirnya menjadi kenyataan. Saya beberapa kali mendengar kabar baik tentang teman-teman dari Jombang setelah mereka kuliah di tempat lain. Sebagian di antara teman-teman itu konon tidak biasa mengenakan sarung sebagai pakaian sehari-hari,13 tetapi di tempatnya yang baru mereka mengalami perubahan positif. Mereka dianggap sebagai wakil sah dari santri Jombang yang ‘alim. Mereka dianggap sekaligus diperlakukan sebagai orang yang tahu bagaimana membawakan agama dan kesan tidak santri dalam penampilan mereka dianggap hanya sebagai penyamaran (bukankah wali-wali Allah itu kadang ada yang nampak sebagai orang yang tidak banyak faham agama?). Ini menyebabkan mereka mengalami perubahan perilaku. Mereka juga mulai “malu” dengan anggapan orang sehingga mereka berusaha untuk benar-benar menjadi orang baik, faham agama, dan menjaga perilaku. Di sinilah kemudian terasa barakah do’a para kiai terdahulu, sehingga sepeninggal mereka pun masih membawa kebaikan. --“Perhatikan, betapa banyak keburukan telah Anda lakukan dan Tuhan menyembunyikannya dari mata dan telinga manusia. Sekiranya semua kejelekan Anda diketahui orang, Anda tidak akan tahan hidup di tengah-tengah masyarakat.” --Kado Pernikahan 311

Mengapa tanah rantau memberi kesempatan yang lebih besar kepada seseorang untuk menjadi orang baik dibanding tanah asal? Jawabnya, tidak ada gunjingan buruk yang sampai kepada mereka sehingga mereka tidak memiliki prophecy (arti harfiahnya sih nubuwwah)14 tentang kita. Karena tidak memiliki prophecy, mereka menilai sesuai dengan yang mereka lihat dari kita selama bersama mereka. Tetapi jika sudah ada prophecy, orang sudah memasang prasangka (sekaligus menyiapkan sikap) kepada kita, “O..., orang ini begini dan begitu.” Pada masyarakat tempat asal kita, perubahan ini relatif lebih sulit terjadi. Apalagi jika kebiasaan menggunjing sudah merata. Mengapa? Mari kita simak secara lebih rinci pada sub judul Zhan Yang Terpenuhi, Terbentuknya Persistensi Tentang Orang Lain, dan Masyarakat Tak Lagi Ikut Mendidik Anak Kita. Sekarang, mari kita lihat satu per satu. Zhan Yang Terpenuhi Kebiasaan menggunjing membuat kita tidak peka terhadap kebaikan orang. Kita merasa nyaman dengan sikap-sikap kita mengungkap keburukan orang, sehingga kita akhirnya tidak cermat dalam memeriksa penilaian kita kepada orang lain, apakah tepat atau tidak. Pada gilirannya, kita mudah sekali berprasangka. Kita sudah tak bisa membedakan mana zhan (prasangka) mana keburukan yang benar-benar dilakukan. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, setiap kita mendengar sesuatu, kita segera menghubungkan kabar tersebut dengan sesuatu yang “seharusnya ada”. Maksud saya sederhana saja, jika Anda mendengar ada seorang yang sangat ‘alim, maka Anda segera membayangkan bahwa orang itu memiliki perilaku-perilaku yang lazim dimiliki oleh orang ‘alim (menurut persepsi Anda) atau yang seharusnya ada pada orang ‘alim menurut angan-angan Anda. Selanjutnya, Anda berperilaku kepada orang tersebut sesuai dengan anggapan Anda. Anda menjadi lebih sopan (apalagi jika Anda sebelumnya mengira dia sebagai orang biasa-biasa saja), lebih hormat, dan lebih merendahkan suara Anda. Padahal jika Anda mendengarnya sebagai orang yang terusir karena menyalahi adat, Anda akan menyikapinya dengan sinis, meskipun sesungguhnya dia orang yang ‘alim. Zhan (prasangka) inilah yang membuat kita sulit objektif terhadap orang. Kita sulit untuk bersikap adil (padahal kita diperintahkan untuk adil, sekalipun pada musuh, sekalipun kita sedang marah). Zhan menjadi penghambat psikis (psychological barriers) untuk menerima kenyataan bahwa orang yang paling buruk pun bisa berubah menjadi orang yang sepenuhnya baik. Ia juga menjadi psychological barriers (hambatan psikis) bagi orang yang terlanjur dinilai jelek untuk mengubah dirinya menjadi orang baik. Orang-orang yang bekerja di rumah sakit jiwa ataupun lembaga pemasyarakatan, sangat akrab dengan fenomena terhambatnya kemajuan kepribadian seseorang “hanya” gara-gara prasangka orang. Mereka yang telah dinyatakan sembuh dari rumah sakit jiwa seringkali harus kembali lagi menjadi pasien karena masyarakat tetap menyimpan prasangka yang buruk sehingga mereka tidak mau menerima alumni
Kado Pernikahan 312

RSJ sebagai anggota masyarakat yang normal. Mereka menolak alumni RSJ itu dalam pergaulan sehari-hari, misalnya dengan bahasa isyarat yang menunjukkan “keengganan” saat berkumpul bersama. Demikian juga alumni lembaga pemasyarakatan, “terpaksa” menjadi penjahat lagi karena selalu dicurigai. Satu lagi. Saya ingin mengajak Anda sekali lagi untuk melihat akibat dari zhan yang tersebar dalam masyarakat ini terhadap seseorang. Jika seseorang dikenal keburukannya (meskipun sedikit) dalam masyarakat, maka keburukan yang sedikit ini lama-lama akan semakin berkembang, kecuali jika ia termasuk orang khusus yang memiliki telinga cukup tebal untuk tidak menghiraukan ucapan orang, sehingga ia tetap mampu menjadi orang baik. Kita mendengar, kadang-kadang seorang remaja menjadi nakal karena ia terlanjur dicap nakal. Ia menjadi nakal karena, “Daripada cuma dicap nakal padahal saya tidak nakal, mending sekalian nakal. Ngapain? Toh sama saja, orang tetap menganggap saya nakal.” Begitu. Terbentuknya Persistensi Tentang Orang Lain Jika Anda mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain dan Anda sering menggunjingnya, atau minimal mendengar orang membicarakan “keburukannya” (yang belum tentu benar), lama-lama Anda akan yakin bahwa orang tersebut memang buruk. Anda sangat yakin tentang hal itu, sedemikian yakinnya sampai Anda tidak bisa percaya ketika mendengar bahwa orang tersebut tidak sebagaimana yang Anda yakini. Anda tetap tidak bisa percaya sekalipun ditunjukkan bukti-bukti yang kuat. Anda mengajukan berbagai kemungkinan motif (yang ini berarti Anda berprasangka buruk lagi), sehingga Anda berkata, “Ah, tidak mungkin. Itu mungkin hanya sekedar biar orang menganggapnya sebagai orang baik saja.” Anggapan yang sudah menetap dan sulit diubah-ubah sekalipun dengan bukti kuat itulah yang dinamakan dengan persistensi. Anda mengalami persistensi anggapan tentang orang lain. Artinya, anggapan Anda tentang orang lain telah bersifat menetap kuat-kuat dan tidak bisa berubah sekalipun orang itu benar-benar lain sama sekali dari yang Anda duga. Anda tetap tidak bisa menerima. Anda lebih percaya pada anggapan Anda daripada fakta-fakta yang sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan. Persistensi terbentuk melalui proses penguatan yang terus menerus. Sederhananya begini, prasangka tentang seseorang akan menjadi persistensi jika setiap hari kita mendengarkan pembicaraan yang mendukung prasangka kita, jika setiap hari kita membicarakan prasangka kita, dan seterusnya. Lama-lama prasangka itu kita yakini. Dan terbentuklah persistensi. Persistensi ini jika kita kuatkan terus akan membuat kita tidak mau lagi menerima bahwa orang itu tidak seperti prasangka kita, sekalipun kita sudah membuktikan sendiri bahwa prasangka kita salah. Akhirnya kita berkata, “Pokoknya

Kado Pernikahan 313

saya tetap tidak mau menerima dia. Saya tahu dia tidak begitu. Tapi kalau saya tidak mau, mau apa?” Dan ini berarti hati kita telah tertutup. Na’udzubillahi min dzalik. Jika persistensi menyebar luas di masyarakat, apa yang akan terjadi pada masyarakat itu? Apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlanjur terkena persistensi orang banyak? Saya tiba-tiba teringat kepada Rasulullah. Ah, semua contoh dari Rasulullah sangat menakjubkan. Sayangnya saya tidak bisa mencontoh perilaku-perilakunya (ya Allah, sempurnakanlah kecintaanku padanya dan perjalankanlah aku dan orang-orang yang mencintainya untuk bisa mencontoh Rasul-Mu sepenuhnya). Sebelum menceritakan salah satu contoh dari Rasulullah, saya ingin mengajak Anda bershalawat bersama-sama. Ucapkanlah dengan suara lirih dan hati yang menghadap, memohon kepada Allah: “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad. Ya Allah, bangkitkanlah kami kelak sebagai golongan orang-orang yang mencintai Rasul-Mu. Amin.” Dan inilah contoh dari Rasul yang mulia itu: Rasulullah Saw. mempunyai paman yang sebaya usianya. Namanya Hamzah (baginya ridha Allah). Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, Rasulullah sangat dekat. Dialah paman yang sangat dicintai Rasulullah. Dialah yang menyertai Rasulullah dalam berbagai keadaan. Jika Abi Thalib adalah pembela Rasulullah yang utama, maka Hamzah adalah sahabat Rasulullah yang paling dekat dari kalangan pamannya. Dalam sebuah peperangan, Hamzah radhiyallahu ‘anhu ikut serta. Hamzah membela Rasulullah mati-matian, sementara musuh-musuh mengincarnya terusmenerus. Mereka tahu, Hamzah adalah orang yang paling dekat di hati Nabi. Kalau Hamzah mati, Rasulullah akan sangat kehilangan. Dan inilah Wahsyi, penombak ulung yang mengintainya. Ia mempunyai tugas khusus dari Hindun untuk mengintai Hamzah. Ia tak membiarkan dirinya kehilangan jejak Hamzah. Dipantaunya terus kemana Hamzah bergerak. Diincarnya terus. Dan diarahkan mata tombaknya setepat-tepatnya. Sampai ketika ia merasa yakin bidikannya tak akan meleset, ia lepaskan tombak itu dengan dendam yang membakar. Ujung tombak itu tak meleset lagi. Ujung tombak yang runcing itu menusuk dada Hamzah. Tombak yang tajam itu merobek jantung Hamzah. Hindun berlari. Ia ambil jantungnya. Ia makan jantung kekasih Rasulullah itu. Ia kunyah-kunyah jantung orang suci itu dengan meninggalkan kepedihan yang mendalam di hati Rasulullah. Tak ada pemandangan yang lebih menyedihkan hati saat itu kecuali melihat Hindun mengunyah jantung pahlawan semua orang yang masih memiki nurani. Apa yang Anda rasakan jika itu terjadi pada Anda? Kesedihan semacam apa yang Anda rasakan jika kekasih Anda yang sudah meninggal diinjak-injak dan

Kado Pernikahan 314

dimakan jantungnya oleh orang yang Anda kenal? Apa yang akan Anda katakan kalau suatu saat orang itu datang meminta maaf kepada Anda? Saya sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana Anda menjawab pertanyaanpertanyaan saya. Tetapi lebih sulit lagi membayangkan bagaimana Rasulullah memaafkan mereka, menerima mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan bersikap ramah terhadap mereka ketika mereka datang kepada Rasulullah untuk menyatakan masuk Islam. Mereka diterima oleh Rasulullah. Dan mereka menjadi orang-orang yang dikenang Islam dengan dua sejarah; sejarah pedih ketika mereka membunuh Hamzah, dan sejarah trenyuh ketika mereka bertaubat. Lihatlah Wahsyi yang setiap saat menangis. Tak tahan hatinya jika mengenang mata tombaknya yang menusuk dada Hamzah. Tak tahan hatinya merasakan keagungan Rasulullah yang memaafkannya tanpa persyaratan apa-apa. Begitulah Muhammad. Ia menyaksikan sendiri kekejian orang yang mengunyah jantung Hamzah. Ia tidak mendengar desas-desus. Ia tidak mendengar gunjingan. Tetapi itu tidak menjadikan hatinya keras sehingga tak mau memaafkan mereka, meskipun kita akan sangat maklum seandainya Rasulullah tak mau memaafkan. Tidak ada persistensi di hati Rasulullah bahwa mereka --Wahsyi dan Hindun-- tak mungkin bisa berubah. Tidak ada itu. Andaikan Wahsyi dan Hindun hidup di zaman kita ini, mungkin mereka tak berkesempatan menjadi orang-orang yang bisa dikenang kebaikannya. Tetapi tidak. Mereka hidup di zaman Rasulullah yang agung, sehingga mereka bisa mencapai keagungan di hadapan Allah. Mereka bisa termasuk sebagai sahabat Nabi. Sekedar penyimpul, dalam masyarakat yang percaya bahwa setiap manusia selalu mempunyai kemungkinan untuk mencapai kebaikan, di detik-detik terakhir kehidupannya sekalipun, akan memberi kesempatan yang seluas-luas-nya pada setiap orang untuk lebih baik daripada sebelumnya. Tetapi dalam masyarakat yang telah dipenuhi zhan --apalagi jika sampai bersifat persisten (menetap)-- perbaikan itu sulit dilakukan. Bahkan seseorang yang memiliki banyak kebaikan pun, bisa menjadi orang yang penuh keburukan ketika keburukannya yang sedikit diketahui orang dan terus dibicarakan di setiap sudut rumah. Masyarakat Tak Lagi Ikut Mendidik Anak Kita Maka, masih adakah kegelisahan jika anak-anak tetangga mulai nakal dan akhlaknya tidak baik? Masih adakah rasa tenteram untuk melepas anak berbaur dengan anak-anak orang se-RT, se-RW, sekampung, atau (apalagi) sekota? Masih tetap adakah orang-orang tua yang akan memanggil anak-anak “nakal” lalu menasehati mereka dengan lemah lembut tentang hak Allah dan hak anak Adam, kemudian memberikan kepada mereka mangga yang lebih banyak daripada yang mereka curi demi menghalalkan makanan yang masuk ke perut anak orang? Masih adakah sikap seperti itu, atau minimal kepercayaan bahwa orang lain tidak merusak akan anak-anak kita, jika kita setiap hari menggunjing? Jika setiap hari kita mendengar orang menggunjing?
Kado Pernikahan 315

Hari ini, saya merasakan pertanyaan-pertanyaan saya itu sebagai romantisme, meskipun di masa kecil seingat saya hal-hal semacam itu masih ada pada masyarakat saya. Hari ini, saya merasakan masyarakat kita tidak seperti dulu kepeduliannya kepada kebaikan anak-anak tetangga. Bergesernya kepedulian masyarakat ini saya rasa merupakan konsekuensi logis dari hidupnya semangat menggunjing di tengah-tengah kita. Ketika keburukan orang menjadi keasyikan kita di rumah saat menggunjing bersama istri, maka memperbaiki masyarakat sama halnya dengan menghapus keasyikan. Dan itu sangat berat. Ketika hati ini sudah terlalu keras, sulit merasakan kepedihan orang lain; sulit merasakan kegelisahan orangtua yang memikirkan anaknya; sulit menangisi masyarakat yang sedang sakit. Bagaimana bisa menangisi hal-hal yang seharusnya ditangisi, sedangkan menangisi keburukan diri sendiri saja sulitnya masya-Allah. Sebaliknya, kita justru lebih peka terhadap hal-hal yang semestinya tidak mendapat prioritas untuk ditangisi. Kita mudah risau kalau nasi kita tidak enak, tetapi tidak risau kalau umat Muhammad dilanda kebingungan. Saya akhirnya harus mohon maaf kepada Anda. Saya tidak bisa melanjutkan pembicaraan di sub judul ini. Maafkan saya, semoga Allah memuliakan Anda. Ya Allah, bersihkan hati kami sebagaimana Engkau telah membersihkan bumi dengan hujan. Ya Allah, ampuni kami. Anak-anak Pun Menjadi Korban Dan akhirnya, keasyikan menggunjing saat berkumpul bersama sambil menikmati kopi itu, menerkam anak-anak kita sendiri sebagai korbannya. Ada banyak madharat yang disebabkan kebiasaan menggunjing. Setidaknya ada 13 madharat menggunjing bagi anak yang sempat saya catat. Catatan ini tidak termasuk madharat dalam aqidah dan keimanan mereka. Selengkapnya, kerugian dan kerusakan yang bisa terjadi pada anak akibat keasyikan kita menggunjing setiap hari, dapat Anda baca pada daftar berikut: Merusak Harga Diri Anak Merusak ‘iffah anak atau kemampuan kendali diri anak. Hal ini erat terkait dengan harga diri dan rasa percaya diri anak. Melemahkan kepercayaan terhadap orangtua Menumbuhkan rasa takut bereksplorasi Mematikan rasa percaya diri anak Membunuh kreativitas anak Terlalu berorientasi pada penilaian orang lain

Kado Pernikahan 316

Menciptakan ketergantungan pada otoritas orang lain Merangsang anak membuat apologi Lebih mengaktifkan quwwatusy-syahwiyah danghadhabiyyah daripada quwwatul-’aqliyyah. Arti-nya, kekuatan syahwat dan agresi anak lebih berkembang dibanding kekuatan akal budi anak. Mematikan hati Membuat anak sulit dinasehati Menghabiskan waktu produktif anak Sayang, kita tidak bisa mengupasnya sekarang mengingat keterbatasan halaman pada buku ini. Semula saya merencanakan untuk membahas secara tuntas pada buku ini, tetapi ternyata belum bisa. Insya-Allah dalam kesempatan lain kita akan membahas dengan lebih leluasa, jika itu memang membawa kebaikan bagi kita semua. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita dan keturunan kita untuk mencapai puncak kebajikan yang diterima Allah Ta’ala. Allahumma amin. Ya, Allah demikianlah yang kutulis. Kumohonkan barakah-Mu atas tulisan ini bagi kami dan anak cucu kami. Jauhkanlah kami dari perbuatan menggunjing dengan kekuatan dan ilmu-Mu. Selanjutnya, saya serahkan kepada sidang pembaca untuk memeriksa benar salahnya. Mudah-mudahan Allah memberi taufik dan hidayah-Nya. Kepada istriku, keluargaku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan orangorang yang kucintai, kumohon engkau semua berkenan saling mengingatkan --dan bukan saling menyalahkan. Kehidupan kita setelah ini tak ada yang menjamin, kecuali jika Allah meridhai hidup kita sekarang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenan memberi syafa’at bagi kita semua. Ya Rasul, salam bagimu. Ya Rasul, shalawat bagimu dan anak cucumu. Astaghfirullahal ‘adzim. Catatan Kaki: 1. Mohammad Hashim Kamali, Kebebasan Berpendapat dalam Islam, Mizan, Bandung, 1996 dari Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, hadis No. 1806 dengan memberi catatan: Hadis tersebut merupakan bukti tentang perbedaan ghibah dan buhtan. Tafsir bil Ma’tsur, Remadja Rosdakarya, Bandung, 1994 dari Al-Durr AlMantsur. Ibrahim M. Al-Jamal, Penyakit-penyakit Hati, Pustaka Hidayah, Bandung, 1995.

2. 3.

Kado Pernikahan 317

4.

Ibrahim M. Al-Jamal, ibid, dengan catatan kaki: Dikeluarkan oleh Abu Ya’la. Ibnu Katsir juga mengatakan dalam tafsirnya, dan isnadnya shahih, IV/215, terbitan Al-Halabi. Martin van Bruinessen melaporkan kejadian-kejadian semacam ini dari penelitian lapangan yang ia lakukan di negeri kita yang semata wayang ini. Kumpulan laporan ini kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul Rakyat Kecil, Islam dan Politik, Bentang, Yogyakarta, 1998. Mari kita ingat kembali penjelasan Nabi Saw. tentang wali ‘abdal. Abu Nu’aim meriwayatkan sabda Nabi Saw., “Karena merekalah Allah menghidupkan dan menolak bencana.” Sabda Nabi ini terdengar begitu berat sehingga Ibnu Mas’ud bertanya, “Apakah maksud ‘karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?’” Rasulullah Saw. bersabda, “Karena mereka berdo’a supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdo’a agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, maka Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena do’a mereka, Allah menolakkan berbagai bencana.” Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terima kasih khusus kepada mereka. Kata Rasulullah Saw., “Mereka tidak mencapai kedudukan mulia itu karena banyak shalat atau puasa.” Karena apa mereka mencapai derajat itu? Bis-sakhai wan-nashihati lil muslimin, kata Rasulullah Saw.. Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum muslimin.

5.

6.

7.

Tidak berarti istri, suami, dan anak bukan termasuk orang lain. Kadang ketika orang asyik menggunjing, tanpa sadar (?) mereka menggunjing istri atau suaminya sendiri. Kadangkala tidak hanya anak, melainkan istri atau suami juga. Tetapi jalan Allah untuk mempermalukan orang yang suka membuka aib saudaranya, tidak sesempit penjelasan saya ini. Ada banyak jalan yang tidak selalu bisa dijelaskan secara betul-betul memadai menurut disiplin ilmiah, sehingga kita hanya mengatakan, “Tiba-tiba dia berubah demikian setelah bertemu dengan Si Fulan. Dia terpengaruh Si Fulan. Padahal anak saya itu baik. Dia itu sangat cerdas sebenarnya. Sangat mengerti. Ya, karena terpengaruh saja dia menjadi begitu.” Masih ada pertanyaan yang tersisa jika ada orang yang berkata seperti itu: Mengapa anak yang manis itu bisa tiba-tiba mudah dipengaruhi? Bab ini ada pada jendela pertama buku ini.

8. 9.

10.

Kado Pernikahan 318

11.

Suara Merdeka, 19 April 1998 melaporkan hutan yang terbakar sejak Januari sampai 17 April 1998 seluas 393.850 hektar atau 3.938.500.000 meter persegi. Ini jika satu hektar masih tetap 10 ribu meter persegi. Dan ini hanya di Kalimantan Timur. Belum termasuk tempat-tempat lain di Sumatera dan Kalimantan (selain Kalimantan Timur). Dalam hal ini perlu dibedakan antara grogi dan malu. Kebanyakan kita belum punya malu (termasuk yang menulis buku ini), tetapi memiliki perasaan takut dinilai orang. Rasa malu tidak menghalangi orang menyatakan apa yang harus dinyatakan, tetapi perasaan takut dinilai menyebabkan orang tidak berani menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan. Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani menyebut kedua sikap itu dengan istilah yang sama: malu. Tetapi ia membedakan antara sikap malu yang syar’i dan malu yang mewatak. Syaikh Asy-Sya’rani mengingatkan, “Malu yang mewatak ialah jika seseorang malu untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan suara keras di hadapan orang banyak, yaitu orang yang mempunyai nafsu (terhormat), seperti para qadhi (hakim negara), para penguasa pemerintah, para guru dan sebagainya. Maka apabila di antara mereka dianjurkan untuk berzikir kepada Allah Ta’ala di muka banyak orang, yang hasil dari mereka adalah rasa malu, seakan-akan mereka disuruh melakukan maksiat.”

12.

13.

Di Jombang dan beberapa tempat lain, kebiasaan memakai sarung mencirikan orang yang santri, yaitu orang yang banyak belajar di pesantren dan (mestinya) menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang “bukan” santri cenderung untuk memakai pakaian sehari-hari yang bukan sarung. Tentu saja ini tidak bisa digeneralisasi. Karena pakaian sarung sudah membawa citra kesantrian, maka perubahan dari kebiasaan memakai celana panjang biasa ke pemakaian sarung beserta kopyah menimbulkan tuntutan pada diri sendiri untuk menyesuaikan diri dengan citra santri.

14.

Dalam psikologi dikenal istilah self-fulfilling prophecy atau nubuwwah yang dipenuhi sendiri. Jika kita menganggap diri kita sebagai orang yang bodoh dan memiliki hafalan rendah, maka kita berperilaku yang sesuai dengan anggapan kita sehingga akhirnya kita memang benar-benar bodoh. Jika masyarakat menganggap seseorang jelek, maka mereka memperlakukan orang tersebut sebagai orang yang jelek, sehingga orang tersebut akhirnya benar-benar menjadi orang jelek. Wallahu A’lam bishawab.

Kado Pernikahan 319

Bab 19

K
S

onflik

Dan Perceraian

sama sekali tak ada yang berharap pernikahan yang suci harus tergores oleh konflik-konflik, apalagi sampai menyebabkan pertengkaran yang menakutkan. Sama sekali tak ada yang menginginkan pernikahan yang kukuh hancur berantakan sehingga anak-anak tak lagi dapat bersama bapaknya karena perceraian. Sama sekali tak ada yang mendambakan pernikahan yang suci harus berwarna kelam karena tak ada tempat lagi untuk bersatu. Tetapi angin tak selalu bertiup ke arah yang kita inginkan. Laut yang tenang kadang juga berombak keras, sehingga kapal harus terhempas dan perahu bisa terbalik. Kalau bukan pelaut yang tangguh, perahu terbalik tak bisa sampai ke tempatnya berlabuh. Kehidupan perkawinan kadang harus menghadapi benturan keras. Terkadang benturan keras itu bernama keadaan, contohnya kesulitan ekonomi yang menghimpit. Terkadang benturan keras itu bernama tekanan sosial, misalnya keinginan saudara-saudara dekat atau jauh untuk menentukan warna perkawinan kita sesuai dengan apa yang mereka anggap nbaik --dan bukan menurut syara’. Terkadang benturan keras itu bernama fitnah yang bermacammacam sumbernya: prasangka yang diperturutkan, keadaan sulit tak tereleakkan seperti kejadian yang pernah menimpa Ummul Mukmininm ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa haditsul ‘ifk, atau malah bersumber dari kesukaan kita membuka keburukan saudara sendiri.

Kado Pernikahan 320

Adakalanya, benturan keras itu juga berasal dari tuntutan-tuntutan kita kepada teman hidup kita. Ini misalnya dalam kasus tuntutan istri-istri Nabi agar Nabi shallallahu ‘alaihi wassalaam memberi tambahan uang belanja. Mereka akhirnya diberi pilihan ; kehidupan akhirat yang kekal ataukah perceraian. Ringkasnya, sangat banyak hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya benturan keras dalam rumah tangga. Sebagian dari sebab-sebab itu memang tidak sepatutnya terjadi. Sebagian lagi, hanya Allah Yang Maha Tahu kebaikan dibalik segala ketetapan-Nya. Kita hanya mencoba memahami sebatas kesanggupan kita. Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang-orang yang mudah menjatuhkan penilaian atas hukum Allah, sedang ilmu kita sama sekali belum lengkap. Tulisan di bab ini ingin mengajak Anda untuk melihat bagian yang sering kelihatan gelap dengan cara yang lebih adil. Mudah-mudahan saya dapat memenuhi keinginan saya itu. Mudah-mudahan tulisan ini tidak jatuh ke dalam penilaian yang gegabah. Sebelum menginjak lebih jauh, saya ingin menunjukkan sebuah ilustrasi kepada Anda tentang masalah konflik dan perceraian dengan peristiwa antara ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Atikah, istrinya. Keduanya saling mencintai, sama-sama memiliki kekuatan agama dan sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tetapi mereka bercerai ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengkhawatiri iman mereka jangan-jangan karena kecintaan mereka pada pasangannya, dapat menyebabkan mereka lalai dalam menetapi agama Allah. Kelak mereka rujuk kembali dan menjadi pasangan suami istri yang sangat bahagiasampai ‘Abdurrahman (dalam riwayat lain ‘Abdullah) syahid dalam sebuah peperangan. Apa arti ilustrasi peristiwa perceraian ‘Abdurrahman r.a. dengan Atikah r.a.? Banyak hal yang dapat menghantarkan seseorang kepada perceraian, sehingga kita tidak bisa memberi penilaian yang sama atas semua perceraian. Ini juga berarti, kita tidak bisa memberi penilaian terhadap kedua pihak secara sama rata. Persoalan ini sangat penting untuk saya kemukakan karena dari pemahaman tentang masalah ini, kita akan menentukan sikap kita. Perasaan, pandangan dan persepsi kita tentang orang lain dipengaruhi oleh pemahaman kita tentang masalah yang menyangkut orang tersebut. Ada tiga kategori masalah --menurut saya--yang dapat membawa rumah tangga kepada konflik, terpendam maupun terbuka. Masing-masing masalah dapat membawa pada keretakan rumah tangga, perceraian atau bahkan kehancuran yang lebih parah dari semua itu. Secara sederhana, mari kita lihat masing-masing kategori masalah tersebut :

Kado Pernikahan 321

Perbedaan dalam Perkara yang Wadag
Suami istri yang secara psikis belum matang, mudah terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan yang sangat wadag (sangat-sangat permukaan). Mereka cepat sekali mereaksi karena perbedaan selera makanan, perbedaan cara menghidangkan ataupun perbedaan perilaku ketika makan. Mereka bisa mengalami konflik --terbuka maupun tertutup-- hanya gara-gara persoalan semacam ini. Sebelum berbicara lebih jauh, rasanya lebih baik kita lihat sekilas apa yang dimaksud konflik tertutup dan konflik terbuka. Konflik tertutup artinya, suami istri merasakan kekecewaan yang mendalam atau kemarahan yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang cukup lama, tetapi tidak dinyatakan secara terbuka. Mereka tidak mendialogkan, juga tidak mengungkapkannya dalam bentuk kemarahan. Hanya, mereka “bertengkar” dalam hati. Konflik terbuka berarti, masing-masing melontarkan kekecewaannya atau kemarahannya secara frontal kepada pasangannya dan masing-masing tidak bisa saling menerima. Ini menyebabkan mereka melakukan pertengkaran. Dan setiap pertengkaran yang tidak diikuti islah dapat menyebabkan mereka merasakan kekecewaan dan kemarahan yang semakin kuat. Perbedaan wadag yang menjadi penyebab konflik ini, bisa jadi berupa soal selera bentuk rumah atau bahkan sekedar warnanya saja. Bisa jadi konflik muncul karena perbedaan cara menyajikan makanan atau perbedaan rangkaian makanan yang disajikan ketika acara makan malam. Bahkan bisa jadi konflik terbuka bersumber dari perbedaan kesukaan terhadap warna pakaian istri. Kadang perbedaan yang remeh temeh itu bisa menyebabkan konflik terbuka. Tetapi, sejarah keruntuhan rumah tangga ternyata masih saja menyimpan catatan bahwa perbedaan-perbedaan yang sungguh-sungguh wadag sanggup untuk menghancurkan bangunan rumah tangga. Ironisnya, yang membuat warna rumah tangga menjadi kelam kadang bukan suami dan istri, tetapi saudara-saudara dari suami atau istri. Keadaan ini kadang muncul dan menjadi masalahyang meluas karna mereka tidak berkesempatan untuk belajar berumah tangga secara alamiah dan wajar, misalnya karena mereka belum hidup di rumah sendiri. Lebih jauh tentang masalah ini bisa Anda baca pada bab Tinggal Dimana Setelah Menikah. Kesulitan menemukan tempat tinggal sendiri bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena “ketidaklayakan” tempat tinggal baru yang akan ditempati, baik menurut suami dan istri maupun oleh orang-orang berpengaruh dalam keluarga. Bisa juga karena ketidakmampuan memperoleh biaya pengadaan tempat tinggal sendiri. Yang menyebabkan orang peka terhadap persoalan-persoalan yang sangat wadag (permukaan, hal-hal yang tidak prinsipil) dan merasa sangat kesal dengan perbedaan itu, bisa bermacam-macam. Orientasi dangkal dan

Kado Pernikahan 322

bersifat jangka pendek saja. Orang yang biasa berpikir sampai besok pagi, maka perhatiannya hanya sampai pada hari ini. Ia tidak berpikir lebih jauh tentang apa yang tampaknya kurang baik di hari ini, tetapi membawa kebaikan untuk masa lima tahun ke depan. Ia tidak berpikir tentang hal-hal yang mendasar dalam hidup ini untuk kehidupan yang sebenarnya kelak setelah mati. Kita mudah sekali mengikuti trend antara lain karena orientasi kita masih dangkal. Kita mengukur kebermaknaan kita sebagai manusia dari seberapa jauh kita mampu mengikuti apa yang lagi menjadi pusat perhatian masyarakat dan selera masyarakat sambil melupakan bahwa di balik trend ada peletak trend (trend setter). Trend setter boleh jadi orang yang secara khusus bekerja untuk merancang bangkitnya trend, boleh jadi tidak bekerja secara khusus untuk menciptakan trend, tetapi ia menjadi rujukan bagi orang-orang yang mengikutinya. Perancang trend profesional bekerja untuk menciptakan kebutuhan pada masyarakat yang tidak butuh, sehingga produk-produk baru yang tidak penting akan dicari-cari. Pembicaraan tentang trend kita hentikan dulu sejenak. Kita masuki lagi pembicaraan tentang hal yang menyebabkan kita peka (dan mudah tersinggung) terhadap persoalan-persoalan yang sangat wadag. Dan inilah salah satu penyebab itu : kebiasaan menggunjing. Kebiasaan menggunjing juga ikut berperan menjadikan kita lebih peka terhadap perbedaan selera warna rumah misalnya, atau perbedaan dalam halhal lain sesuai dengan tema gunjingan yang sering kita lakukan.lebih jauh tentang masalah ini, silakan baca kembali bab Keasyikan Yang Menghancurkan Keluarga, khususnya sub judul “sibuk” Menepis Penilaian Sosial.

Sikap Terhadap Hidup & Teman Hidup
Suatu ketika istri Anda ingin membuat kejutan yang menyenangkan Anda. Saat itu, orang bilang ulang tahun Anda. Ia buat puding yang agak mewah dibanding biasanya tanpa sepengetahuan Anda. Sekali lagi, ini dilakukan istri Anda karena karena ingin membuat kejutan yang menyenangkan Anda. Nanti, ia akan menghidangkan puding istimewa itu kepada Anda begitu pulang kerja. Dan ia akan bahagia manakala melihat Anda berseri-seri, apalagi kalau mau mengucapkan terima kasih dan sedikit pujian buat istri. Tetapi ketika datang dan memperoleh sambutan semacam itu, Anda justru tidak bahagia. Anda sedih. Bukankah ulang tahun berarti kepergian seseorang ke alam kubur semakin dekat? Mengapa kematian yang mendekat sebelum kematian itu datang disambut bahagia oleh orang lain?

Kado Pernikahan 323

Tak hanya itu. Anda bahkan marah. Ulang tahun, menurut Anda, hanya penghambur-hamburan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Ulang tahun hanya membuat orang untuk cenderung kepada dunia yang sebentar dan tidak mendorong untuk mempersiapkan mati. Padahal meninggalkan kecintaan terhadap dunia dan membangkitkan kecintaan terhadap kehidupan sesudah mati, alangkah sulitnya. Mengapa harus dipersulit lagi dengan pesta-pesta ulang tahun? Alhasil, istriAnda kecewa. Sangat-sangat kecewa (kecuali jika istri anda seperti Fathimatuz Zahra yang segera istighfar begitu Rasulullah tidak jadi masuk ke rumahnya karena melihat ada kelambu terpasang). Menurut istri Anda, tidak seharusnya Anda bersikap demikian. Mestinya Anda bisa sedikit toleran. Toh, kita dianjurkan bersyukur. Pesta ulang tahun itu sebagai bentuk syukur. Sementara Anda tetap tidak bisa menerima. Sikap istri sangat berlebihan. Peristiwa ini akhirnya membuat istri Anda tak acuh terhadap Anda. Ia kurang memperhatikan urusan taba’ul (pelayanan) suami. Apa gunanya bersikap penuh perhatian kepada suami macam itu kalu dia tidak bisa berterima kasih ? Kalau ini terjadi, maka pintu konflik telah terbuka. Jika terus berlangsung, konflik yang benar-benar terbuka bisa meledak. Suami istri melakukan pertengkaran atas sebab puding ulang tahun. Pertengkaran yang terjadi karena perbedaan sikap terhadap ulang tahun ini, sangat mungkin meledak karena tidak adanya tabayyun (saling memberi dan meminta penjelasan) secara lapang dada. Karena tidak ada tabayyun, masing-masing berjalan dengan anggapan dan prasangkanya sendiri-sendiri. Keduanya tidak saling meluruskan kekeliruan, tetapi saling menyalahkan. Dan orang cenderung tidak mau disalahkan, meskipun mereka suka kalau diingatkan terhadap kesalahannya (lebih lanjut silakan baca kembali bab Keasyikan Yang Menghancurkan Keluarga sub judul Menyalahkan Pasangan dan Saling Menyalahkan). Selanjutnya, sikap tidak mau melakukan tabayyun ini membuat masingmasing tidak mampu memperbaiki hubungan. Mereka tidak menemukan titik temu dan saling menyadari kekhilafan untuk kemudian menemukan yang terbaik. Dalam bahasa agama mereka tidak bisa melakukan ishlah (perbaikan). Melakukan ishlah tidak berarti suami istri mengkompromikan apa pun yang dianggap tidak sesuai, asal keharmonisan hubungan keduanya bisa terjaga dengan baik. Tidak. Tidak demikian. Lebih-lebih kalau ketidaksesuaian sikap itu menyangkut hal-hal yang menyangkut keyakinan tentang benar dan salah. Akan tetapi, keduanya menmukan titik perdamaian ketika harus mengoreksi perilaku yang salah.

Kado Pernikahan 324

Jadi, kalau perayaan ulang tahun tidak bisa diterima misalnya, maka sikap ini bisa dipahami dan diterapkan dalam rumah tangga mereka tanpa harus ada perpecahan. Masalah sikap ini sering menyebabkan konflik dalam rumah tangga, terutama ketika mereka berdua tidak biasa berdialog untuk tabayyun. Masalah ini juga sering menyebabkan terjadinya pertengkaran dan bahkan perceraian. Perbedaan Prinsip Keimanan Iman kita kadang naik, kadang turun. Kita kadang sangat bersemangat melaksanakan sebagian ketentuan agama, termasuk perkara-perkara sunnah, tetapi kadang untuk melaksanakan yang wajib agak enggan. Penghayatan iman kita juga tidak tetap. Setiap saat sangat mungkin untuk mengalami perubahan; baik karena membaca, mendengar pengajian, merenungkan kejadian-kejadian setiap saat, atau mengikuti serangkaian kursus ilmu-ilmu keislaman secara berkesinambungan. Peristiwa-peristiwa khusus juga bisa mengubah penghayatan iman kita secara mencolok. Orang yang sebelumnya tidak peduli terhadap kesengsaraan orang lain, bisa berubah sama sekali karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat itu tidak ada yang menolongnya sama sekali sampai akhirnya seorang pengemis melihatnya dan memberikan pertolongan. Ini mengubah sikapnya secara total, sehingga setiap saat ia memikirkan orang lain. Perubahan naik turunnya iman atau perubahan dalam menghayati iman kepada Allah, kadang tidak terjadi secara bersamaan dan seimbang antara suami istri. Perbedaan ini bisa memunculkan konflik. Lebih-lebih pada orang yang baru mengalami penyadaran, biasanya sangat peka terhadap kesalahan orang lain dan cenderung mudah bersikap reaktif. Begitu ada kesalahan, dia segera menanggapi --repotnya kadang tidak bijak caranya. Ketika orang bersikap reaktif dan sangat peka terhadap kesalahan orang, maka ia kurang bisa menerima bahwa setiap orang memiliki tahap-tahap sendiri. Ia lupa bahwa hidayah Allah tidak datang pada waktu yang bersamaan, serentak dan sama kadarnya untuk semua orang. Ia lupa bahwa kesadaran tentang apa yang harus dikerjakan oleh hamba Allah, tidak semata-mata dari pengetahuan dan ilmu, tetapi hidayah Allah-lah yang lebih menentukan. Ia lupa itu sehingga cenderung tidak sabar menasehati. Situasi semacam ini bisa muncul manakala seseorang memperoleh kejutan pemahaman dari murabi yang sebenarnya belum mengerti tentang muridnya; belum paham soal tahap-tahap , soal akal binaannya, dan seterusnya. Bahkan adakalanya, pengetahuan tentang al-mad’uw (orang yang didakwahi) tidak dianggap penting. Semua orang disamaratakan. Ibarat menghadapi orang banyak dengan gangguan jiwa yang bermacam-macam, semua diberi anti-depressant. Kalau sebagian besar mengalami depresi, maka

Kado Pernikahan 325

resep itu masih lumayan hasilnya. Tetapi kalau yang mengalami depresi hanya satu orang, sementara sebagian besar mengalami gangguan jiwa dengan ciriciri yang justru berkebalikan dengan depresi, resep itu justru membawa keburukan bagi orang-orang yang kita hadapi. Situasi semacam itu juga bisa muncul dari kegiatanyang memberi kejutan besardengan mencecar mereka tentang dosa-dosa, sementara tidak ada syaikh yang mampu membimbing dan mengawasi keadaan ruhani peserta. Ini menjadikan mereka mengalami perubahan yang total tanpa kesiapan dan keseimbangan. Mereka secara psikis masih labil. Mereka masih dalam suasana terkejut tanpa ada yang membimbing tentang bagaimana menghadapi keadaan dirinya, sehingga akhirnya mereka bersikap kaku dan keras. Begitu kaku dan kerasnya, sampai akhirnya mereka harus berpisah atau bahkan memusuhi orang tua disebabkan oleh perkara-perkara yang tidak wajib. Sebagian orang memandang sikap semacam ini sebagai militansi. Tetapi sesungguhnya sangat berbeda antara militansidengan kekakuan. Konflik terbuka juga bisa muncul bukan karena salah satunya mengalami perubahan secara mencolok tanpa diimbangi oleh yang lain. Konflik bisa muncul karena sejak mula memang ada perbedaan mendasar dalam memahami dan meyakini soal-soal aqidah. Ada juga konflik yang berkenaan dengan perbedaan prinsip keimanan,tetapi berangkat dari masalah sikap, keras kepala misalnya.ia tidak mau diingatkan tentang persoalan-persoalan yang telah jelas-jelas dipesankan dalam As-Sunnah, hanya karena ia mendengar informasi yang mirip dengan itu sebagai paham yang salah. Misalnya tentang kewajiban mencintai ahl-bayt. Karena selama ini mencintai ahl-bayt selalu dikaitkan dengan tasyayyu’ (menjadi Syiah), maka begitu ada yang mengingatkan agar kita mencintai ahlbayt, serta merta ia dituding sebagai pengikut Syiah. Padahal mencintai ahlbayt wajib atas setiap orang yang mengikuti jalan ahl-sunnah, sebagaimana banyak disebutkan dalam berbagai hadis. Di antaranya itu ada hadis-hadis yang kedudukannya sangat kuat, sehinga tidak ada keraguan di dalamnya. Bukhari dan Muslim termasuk perawi yang pernah meriwayatkan hadis tentang ahl-bayt. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“KUTINGGALKAN kepada kalian dua peninggalanku: kitabullah sebagai tali yang terentang antara langit dan bumi, dan keturunanku ahlul baytku. Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di al-Haudh (surga).” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dari Hadis Zaid bin Tsabit dan dari dua shahih Bukhari-Muslim). Akhirnya saya harus mohon maaf bahwa ketiga sub judul di atas belum dibahas dengan tuntas.

Kado Pernikahan 326

KETIKA KEMELUT ITU TERJADI Perbedaan-perbedaan itu akhirnya bisa benar-benar menjadi konflik terbuka. Jika ini terjadi, suami istri perlu menghadapinya dengan sikap yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan mudah-mudahan Allah selalu menolong kita dalam perkara ini, yaitu: Sabar Saat konflik merebak, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran. Kesabaran meliputi kerelaan menerima, ketahanan menghadapi dan kemampuan menahan diri dari melakukan sesuatu yang mampu ia lakukan, tetapi jika dikerjakan tidak banyak mendatangkan kemaslahatan. Lebih banyak mudharat daripada maslahat. Jika Anda bersabar dari kezaliman orang lain, bukan berarti Anda tidak mampu melakukan pembalasan. Tetapi Anda tidak mau melakukannya disebabkan Anda masih menunggu kalau-kalau ia akan menjadi baik dan dapat menjadi saudara dalam naungan Islam. Jika Anda bersabar dalam menasehati seseorang yang keras kepala, bukan berarti Anda tidak bisa membentak dan berkata dengan sangat keras kepadanya. Akan tetapi Anda mengharap ridha dari Allah dengan meneladani perintah Allah kepada Musa ‘alaihi salam ketika mengingatkan Fir’aun. Sabar tidak sama dengan ketidakberdayaan--sebagaimana dipahami oleh sebagian orang. Sabar juga bukan kejumudan, sehingga kita hanya terdiam tidak melakukan apa-apa. Tetapi sabar lebih condong kepada kemampuan mengendalikan diri untuk tidak mengambil tindakan sebelum tepat saatnya. Tetapi sabar lebih cenderung kepada usaha untuk menjaga kejernihan pikiran dan kebersihan hati sehingga tidak mengambil tindakan secara tergesa-gesa. Lalu apa persisnya tentang pengertian sabar? Bukan bagian saya untuk membahas. Telah ada buku-buku yang sangat bagus membahas masalah sabar ini. Ulama-ulama kita yang insya-Allah bersih dan jernih hatinya telah menuangkan tintanya untuk menerangkan kepada kita tentang sabar. Kepada merekalah Anda perlu merujuk, apa definisi (ta’rif) sabar yang benar. Di buku ini saya belum berani memberi kesimpulan tentang apa itu sabar. Saya hanya ingin memberi berbagai ilustrasi tentang sabar ini. Sabar juga memuat ketahanan untuk menunggu saat yang baik karena bersama kesulitan ada kemudahan, serta menjaga harapan kepada Allah karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Pada titik tertentu, sabar dalam perkara nikah juga bisa berarti keikhlasan untuk bercerai dengancara yang baik dan demi mencapai kebaikan tertinggi. Sebagaimana Allah tidak menyukai kekerasan dan penganiayaan, tetapi pada saatnya berperang merupakan bentuk kesabaran yang paling tinggi nilainya

Kado Pernikahan 327

sehingga kematian dalam berperang di jalan-Nyaberarti jaminan surga tanpa hisab. Sabar juga bearti Anda rela diamputasi yang memotong kaki kanan Anda ketika tak ada pilihan yang lebih baik daripada memotong kaki; ketika mempertahankan kaki justru akan merusak bagian-bagian tubuh yang lebih penting dan membahayakan jiwa Anda. Jika dulu Anda mengikhlaskan kaki Anda sakit termasuk sabar; maka sekarang merelakan kaki sakit tanpa mengizinkannya dipotong boleh jadi sudah keluar dari batas kesabaran. Anda boleh jadi sudah termasuk menganiaya diri sendiri. Anda menzalimi diri sendiri. Wallahu A’lam bishawab. Gambaran-gambaran tentang sabar ini perlu saya kemukakan di sini agar dapat merangsang Anda untuk memahami sabar dengan lebih baik. Saya sendiri masih berusaha untuk memahami sabar dengan lebih tepat. Hal ini karena kita sering sekali berbicara tentang sabar tanpa penjelasan, sehingga kita seakan-akan sudah mengerti semua apa makna sabar. Sekali lagi, pengertian yang lebih lanjut bukan bagian buku ini utuk membahas. Saya kira, itu saja dulu pembahasan kita. Dialog Dialog suami istri dimaksudkan untuk mengikis hambatan-hambatan psikis. Kadang masalah muncul bukan karena tidak ada kecocokan di kedua belah pihak, melainkan karena sangat kurangnya kesempatan bagi keduanya untuk saling berbincang dari hati ke hati. Boleh jadi, hanya dengan dialog atau sekedar obroloan ringan, konflik-konflik yangkelihatan sulit untuk dipecahkan dapat mencair sendiri. Dialog juga dimaksudkan untuk tabayyun atau saling memperoleh kejelasan. Tabayyun dilaksanakan untuk meluruskan informasi yang kita terima atau untuk meluruskan persepsi kita mengenai informasi yang kita dengar. Kadang kita kesal, dongkol dan marah kepada seseorang ketika mendengar informasi tentang dia. Padahal setelah melakukan tabayyun, kita menangis karena persepsi sama sekali terbalik. Melalui tabayyun kita melakukan perbaikan hubungan. Kita membangun kembali bagian-bagian yang retak, memaafkan kesalahan-kesalahan teman hidup kita dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, mau menerima bahwa untuk melakukan perbaikan perlu proses dan waktu, serta tak bosan mengingatkan. Melalui tabayyun (saling meminta penjelasan) kita melakukan ishlah (perbaikan untuk mengakurkan kembali). Selagi hati masih bisa terbuka dan tak ada luka yang terlalu parah untuk disembuhkan.

Kado Pernikahan 328

Mencari Penengah Jika konflik sudah tak bisa diatasi dengan dialog --mungkin karena keduanya sudah tidak bisa berdialog meskipun mereka merasa berdialog-sementara keadaan semakin kritis dan pertengkaran semakin runcing, maka kehadiran penengah yang adil sudah diperlukan. Kita mengambil penengah dari keluarga kita. Merekalah yang akan bertindak sebagai hakim. Allah Swt. berfirman: “Apabila kamu khawatir kesulitan di antara keduanya, maka utuslah seorang hakim dari keluarganya apabila keduanya menghendaki perdamaian dan kebaikan, maka Allah akan mndamaikan di antara keduanya. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 35). Jadi, masing-masing mengambil penengah yang bisa diterima, penengah yang adil dan mengerti tentang keduanya serta berdiri di tengah-tengah. Artinya, dia netral dan tidak cenderung membela salah satu pihak, padahal ia belum mengetahui permasalahan diantara keduanya. Mengenai penengah ini, ‘Abdul Hamid Kisyik berkata, “penyelesaian akhir yang masih dapat ditempuh adalah dengan cara mendatangkan waliyul amri atau orang tua keduanya. Sebab, mereka inilah yang mengetahui perkara dan dapat mencari jalan pemecahannya dengan mengirim hakim (penengah) dari keluarga suami dan hakim dari keluarga istri agar mereka mempelajari konflik yang terjadi, kemudian mendamaikan keadaan bila memungkinkan bagi keduanya.” Jadi, tugas saudara-saudara dan orang tua suami maupun istri bukanlah untuk mendukung sikap saudara atau anaknya, apalagi justru memberi nilai rapor yang jelek bagi ipar atau menantunya. Tugas mereka adalah menjadi penenang, orang yang memahami,dan syukur-syukur bisa menjadi hakim yang adil dan mengerti apa yang terbaik untuk kebaikan yang lebih tinggi yang lebih tinggi bagi rumah tangga saudara dan iparnya. Jika ipar atau mertua lebih banyak memberi nilai rapor yang merah daripada menasehati dengan penuh cinta kasih dan kelembutan, maka konflik akan semakin memanas. Konflik ini bisa berkembang menjadi “ganjalan perasaan” antara dua keluarga besar, yaitu keluarga besar suami berikut sanak kerabatnya dengan keluarga besar istri berikut sanak kerabatnya. Boleh jadi, akhirnya tidak sekedar “ganjalan perasaan” yang ada diantara mereka. Dan yang saya rasa sangat ironis adalah kalau sikap ipar beserta mertua inilah justru yang menjadi penyebab munculnya konflik. Ini bukan berarti saudara tidak boleh menilai iparnya dan orang tua tidak boleh mengoreksi istri anaknya. Tidak demikian. Apalagi jika menyangkut halhal yang sangat prinsipil dan tidak bisa ditawar-tawar secara syar’i. tetapi tugas mereka adalah membatasi komentar negatif untuk hal-hal yang tidak begitu penting, terutama untuk hal-hal yang tidak menjadi kewajiban ipar.

Kado Pernikahan 329

Wallahu A’lam bishawab. Konflik dan Perceraian Pada akhirnya, jika dialog sudah tak bisa memberi kebaikan lagi dan datangnya penengah tak membawa perdamaian, sementara konflik semakin meruncing, maka konflik bisa berakhir dengan perceraian sebagai bentuk kesabaran. Jika sudah tak ada jalan untuk memperbaiki suasana perkawinan sehingga justru membahayakan kondisi jiwa anak, maka perceraian boleh jadi sama seperti amputasi kaki yang membusuk. Jika dibiarkan akan merusak organorgan yang lebih penting dan keselamatan jiwa, sementara itu jika dipotong tubuh kita akan pincang. Alhasil, perceraian bisa menjadi jalan terbaik yang mendatangkan kemaslahatan duania dan akhirat, kecuali jika kita tidak berhati-hati dalam melangkah memasuki hari-hari berikutnya, ketika kaki sudah tinggal satu. Inilah salah satu hikmah di balik pembolehan cerai dalam Islam. Inilah salah satu “rahasia” mengapa perceraian menjadi jalan yang Islami. Perceraian Para Sahabat Akhirnya, ada baiknya kita menengok peristiwa-peristiwa perceraian sahabat Nabi yang mulia radhiyallahu ‘anhum. Salah satunya dalah perceraian penuh barakah antara Zaid bin Tsabit dan Zainab; perceraian yang oleh Allah diabadikan dalam Al Qur’an, kitab pegangan kaum Muslim sampai akhir zaman. Wallahu A’lam bishawab. Hanya Allah saja yang tahu. Mengenai perceraian Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dan Zainab radhiyallahu ‘anha, Allama Muhammad Zakariyya berkata, “Ummul Mukminin Zainab (r.a.) adalah seupu Rasulullah (Saw.). beliau telah memeluk Islam sejak awal kemunculannya. Pada mulanya beliau telah dikawinkan dengan Zaid yang menjadi seorang hamba yang telah dimerdekakan dan menjadi anak angkat Rasulullah (Saw.). Beliau kemudian dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Zaid tidak dapat menyesuaikan diri dengan Zainab dan akhirnya menceraikan Zainab.1 Sahabat Nabi yang juga pernah melakukan pereraian adalah ‘Abdurrahman (dalam riwayat lain ‘Abdullah) r.a. putera Abu Bakar AshShiddiq r.a. dengan Atikah radhiyallahu ‘anha. Sampai saat bercerai, keduanya tidak pernah ceksok. Keduanya saling mencintai. Bahkan karena begitu kuatnya rasa cinta di antara mereka berdua, sampai Abu Bakar AshShiddiq khawatir kalau kecintaan itu akan mengalahkan kecintaan mereka

Kado Pernikahan 330

kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sebabnya Abu Bakar menyuruh anaknya, ‘Abdurrahman, untuk menceraikan istrinya. Di kemudian hari, mereka rujuk. Mereka bangun kembali rumah tangganya bersama-sama, sampai saat ‘Abdurrahman menemui syahidnya. Kisah perceraian ‘Abdurrahman ibn Abu Bakar dengan ‘Atikah ini memberi contoh yang unik tentang alasan bercerai. Perpisahan bukan karena saling membenci, melainkan justru karena kuatnya rasa cinta sehingga dikhawatiri mengalahkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya. Saya tidak tahu, apakah ada orang-orang sesudah mereka yang bercerai demi menjaga rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang kita dengar kadang orang menceraikan Allah dan Rasul-Nya demi menjaga kecintaan kepada istri atau suaminya (Na’udzubillahi min dzalik. Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang demikian.). Dari kisah perceraian ‘Abdurrahman dan Atikah, kita beralih ke cucu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam, AlHassan r.a.. Sebelum bererita lebih lanjut, saya perlu mengingatkan bahwa ada perselisihan di antara para ulama tentang sikap Al-Hassan r.a. terhadap perceraian. Sebagian ulama percaya bahwa Al-Hassan sering melakukan kawin-cerai, sedangkan sebagian lainnya menolak dengan tegas dengan menunjukkan bahwa berita itu merupakan rekayasa busuk untuk mendiskreditkan Al-Hassan radhiyalahu ‘anhu. Mana pendapat yang paling kuat? Wallahu A’lam bishawab. Tetapi saya melihat --sejauh kemampuan mata wadag saya melihat-- para ulama yang percaya bahwa Al-Hassan sering melakukan kawin-cerai sungguh menaruh kecintaan yang tulus. Mereka melihat keagungan Al-Hassan dalam perkara ini sambil berusaha memahami dengan adil. Mereka tidak melecehkan kehormatan cucu Rasulullah yang termasuk salah satu pemuka surga, kelak setelah Hari Kiamat tiba. Di antara ulama yang percaya, ada yang termasuk pencinta ahl-bayt yang gigih mengajak umat untuk mematuhi Rasulullah Saww. Dengan mencintai ahl-bayt beliau. H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini adalah salah satu contohnya. Para ulama yang percaya menjelaskan bahwa, seringnya kawin-cerai yang dilakukan oleh Al-Hassan radhiyallahu ‘anhu didasarkan pada alasan untuk mempertahankan keturunan. Pada waktu itu, keturunan Rasulullah Saww. sangat terancam keselamatan hidupnya dan kelangsungan generasinya. Sementara itu, untuk memperbanyak keturunan dibatasi oleh ketentuan jumlah maksimal istri yang boleh dinikahi, yakni empat orang. Sedangkan usia rasanya sudah tak lama lagi. Selain itu, para wanita ikhlas kalau nanti harus bercerai karena ynag mereka cari adalah pertalian hubungan keluarga yang bersambung ke Raulullah melalui anak yang dilahirkannya. Pada hari kiamat nanti, semua hubungan pertalian darah akan putus kecuali hubungan pertalian darah dengan

Kado Pernikahan 331

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebabkan oleh keinginan untuk memiliki hubungan pertalian darah dengan Rasulullah inilah, pernah Umar bin Khatthab mendesak Sayyidina ‘Ali agar dinikahkan dengan putrinya, meskipun ketika itu Ummi Kultsum --putri Imam ‘Ali-- masih belum cukup umur. Kelak, kita mendengar berita sedih. Al-Hassan meninggal karena diracun. Sepeninggalnya, keturunannya dari istri-istrinya nyaris tanpa sisa terbunuh saat membela Al-Husain pada peristiwa pembantaian di tanah duka (Karbala). Mereka menjadi syuhada’ yang darahnya harum oleh kemuliaan. Tak lama kemudian, Al-Husain pun menyusul para kemenakannya. Ia menjadi syahid ketika kepalanya dipenggal. Ia menjadi mulia di hadapan Alah ketika wajahnya dihinakan oleh manusia dan giginya diketuk-ketuk dengan ujung pedang. Ia menjadi pahlawan yang tetap hidup di hati kaum mukminin, meski jasadnya sudah terkubur lama. Wallahu A’lam bishawab Yang Harus Dijaga Ketika Bercerai Sekarang ketika engkau terpaksa mengambil jalan perceraian, perhatikanlah urusan-urusan yang menjadi kewajibanmu saat ini dan sesudah bercerai. Juga, jangan engkau lupakan persoalan-persoalan penting yang akan kusebutkan di bawah ini. Perhatikan dengan seksama dan jangan keliru membacanya. Perhatikan masalah-masalah ini agar engkau tidak jatuh kepada kezaliman: Jangan Rusak Kehormatannya Yang sering membawa kerusakan pada hubungan silaturahmi antara keluarga mantan suami dan keluarga mantan istri bukanlah perceraian itu sendiri, melainkan sikap mengkambinghitamkan orang lain atas kejadian yang sebenarnya dihalalkan Allah. Keduanya saling menyalahkan --termasuk di depan anak-- demi menjaga nilai dirinya di depan orang lain, termasuk anakanak. Bahkan, kadang sebagian mengeluarkan perkataan-perkataan yang merusak kehormatan mantan istrinya dengan ghibah, buhtan, atau caci-maki (meskipun disampaikan dengan katakalimat yang lembut). Aku ingatkan kepadamu. Begitu engkau menceraikannya, maka ia bukan lagi istrimu. Karena itu, apa urusanmu sehingga engkau sibuk memberitahukan kepada orang lain hal-hal yang tidak engkau sukai pada dirinya? Mengapa engkau sibuk mengurusi orang lain yang bukan istrimu, sedangkan engkau tidak hendak menolong dan tidak pula mengangkat martabatnya?

Kado Pernikahan 332

Aku ingatkan kepadamu, jangan engkau hancurkan kepercayaan anakmu kepadamu, kepada manusia, dan kepada dirinya sendiri dengan kesukaanmu membicarakan keburukan mantan istrimu, sedangkan engkau tidak hendak membuat perbaikan dengan perkataanmu itu. Jangan engkau sakiti hati anakmu dengan merendahkan ibu yang merawatnya, sedangkan engkau tidak pernah memeluknya dan mengusap airmatanya yang telah mengering semenjak lama. Jangan KaurampasRezeki anakmu Setelah bercerai, ayah tetap memiliki kewajiban utuk memberi makan kepada anak-anaknya. Jika anak-anak tu menangis karena tak menemukan makanan yang dapat mengenyangkan sekalipun butir-butir nasi yang mengering, sementara dia asyik menikmati kue-kue dan minuman hangat bersama anak-anaknya yang lain, maka dalam setiap tetes airmata anaknya yang kelaparan ada dosa yang akan diperhitungkan oleh Allah kelak si yaumil hisab. Jika anak-aak itu merintih karena perutnya sangat perih disebabkan seharian tak menerima sesuap nasi, sementara bapaknya harus berbaring karena kekenyangan, maka pada setiap tarikan nafas ada dosa yang aiperhitungkan sebelum anak itu bisa tertawa kembali. Maka aku ingatkan kepadamu, jangan kaurampas harta anakmu yang ada padamu. Jangan engkau renggut sesuap nasi yang hampir masuk ke mulut anakmu dengan tidak mempedulikan kewajibanmu. Bukankah Allah telah melapangkan rezekimu? Sesungguhnya , apa yang menjadi kewajibanmu atas perutnya yang lapar telah jelas. Dan sesudah terang apa-apa yang menjadi kewajibanmu, janganlah engkau menyamarkannya dengan mencari-cari alasan yang sesungguhnya tidak akan mengubah malam menjadi siang dan tidak akan mengubah siang menjadi malam! Ke Mana Engkau Pergi? Anak-anakmu mencari kasih sayangmu…. Ke mana saja engkau pergi? Tidakkah engkau lihat anak-anakmu sedang kelaparan terhadap kasih-sayangmu? Tidakkah engkau lihat anak-ankmu kehausan menunggu usapan kasih-sayangmu? Ke mana engkau pergi…! Ke mana saja engkau pergi? Tengoklah sebentar anakmu itu. Ajak ia bercanda meski hanya sebentar. Tidakkah engkau dengar ia memanggilmanggilmu ke sana ke mari mencari kasih sayangmu? Tidakkah engkau dengar ia merindukan perhatian dan usapan yang tulus darimu? Ke mana engkau pergi?

Kado Pernikahan 333

Berhentilah engkau melangkah meninggalkan dia. Berhentilah sejenak. Tengoklah wajahnya yang telah kuyu dan lihatlah bhahwa ia tetap anakmu. Itu berarti, masih wajib bagimu untuk menyayanginya. Itu berarti, masih wajib bagimu untuk memberi pengakuan kepadanya dan menguatkan hatinya. Itu berarti, engkau masih perlu mendoakannya, jangan-jangan dalam pemenuhann hak anak itulah syafa’at untuk hari akhirmu berada. Ke mana engkau pergi? Apakah akan engkau samakan perceraian orang-orang yang tidak mengenal agama dengan orang-orang yang telah memahami agamanya> apakah engkau akan mempersamakan diri dengan orang-orang yang hatinya tak pernah tersentuh oleh hidayah, sehingga engkau mengabaikan hak-hak anakmu yang telah berpisah darimu, sedangkan perpisahan itu terjadi bukan karena kesalahannya? Apakah engkau akan berkilah lagi sedangkan telah jelas apa yang wajib atasmu dan apa yang tidak? Ke mana engkau akan pergi?

Catatan Kaki: 1. 2. Allama Mohammad Zakariyya D.B., Asli Fadhilat Dzikir (FadhaelaDzikir), Fazal Mohammed Bros., Penang-Malaysia, tanpa tahun. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Darul Falah, Jakarta, 1417.

Kado Pernikahan 334

Bab 20

P
I

oligami

jinkanlah saya untuk mengetengahkan masalah ini ke hadapan Anda. Saya berharap bisa menyampaikan salah satu pesan Islam ini kepada Anda dengan jernih dan adil. Semoga Allah menjadikan tulisan ini barakah dan membawa keselamatan bagi hidup saya di dunia dan akhirat, beserta orangtua saya, istri saya, dan keturunan saya seluruhnya. Semoga Allah menjadikan tulisan ini barakah dan membawa keselamatan bagi hidup Anda di dunia dan akhirat, beserta orangtua Anda, istri Anda, dan keturunan Anda seluruhnya. Saya ingin mengabarkan kepada Anda tentang firman Allah: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhdap (hak-hak) perempuan yang yatim (kalau kamu menikahinya), maka kawinilah wanitawanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saj, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisa’ [4]: 3) Tak ada keraguan di dalamnya. Telah jelas firman Allah bahwa menikahi lebih dari satu istri merupakan bentuk sikap Islami. Syaratnya satu: suami dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, sehingga seorang pun yang teraniaya secara psikis karena tidak diperhatikan. Lebih-lebih jika sampai teraniaya secara fisik karena ditelantarkan nafkahnya. Ketentuan untuk bersikap adil terhdap semua istri inilah yang secara hukum dan moral membedakan pernikahan poligamis dalam Islam dibandingkan praktek-praktek poligamis lainnya.

Kado Pernikahan 335

Hal ini berarti, untuk melakukan pernikahan poligamis kita harus melihat diri kita sendiri pakah kita termasuk orang yang mampu berbuat adil atau tidak. Untuk bisa melihat diri sendiri dengan tepat dan adil, ia memerlukan ilmu yang matang dan pegenalan diri yang mendalam. Kehadiran seorang guru yang jujur dan adil sangat membantu untuk mengetahui apakah seseorang memenuhi persyaratan atau tidak ketika ingin melakukan pernikahan poligamis. Amat sering kita tidak mampu menilai diri kita sendiri. Terkadang kita menilai lebih (over estimate) diri kita sehingga kita menganggap diri kita memenuhi syarat, padahal tidak. Namun demikian, kita kadangkala juga menilai diri kita terlalu rendah (under estimate) sehingga menganggap belum memenuhi syarat, padahal sudah saatnya menolong saudara-saudara kita. Keadaan ini sama seperti nikah monogami. Di utara dan di selatan, di timur dan di barat, orang bergegap-gempita menganjurkan pemuda-pemuda kita untuk segera menikah. Semua disamakan keadaannya, padahal sebagian ada yang perlu ditakut-takuti (tarhib) agar tidak segera menikah meski semangatnya sudah besar, karena keadaan mereka (bukan secara ekonomi) masih perlu menahan diri dari menikah. Sebaliknya, sebagian ada yang perlu didorong-dorong, disemangati (targhib) dan kalau perlu dibantu prosesnya, meski ketika itu ia masih agak-agak takut ketika keadaannya sudah mencukupi untuk segera menikah, dan menikah jauh lebih besar maslahatnya dibanding membujang. 1 Jadi, tidak setiap laki-laki muslim dengan sendirinya boleh begitu saja menikah secara poligamis. Kata Jamilah Jones dan Amu Aminah Bilal Philips dalam buku mereka yang berjudul Poligami dan Poligini dalam Islam, “Kita perlu ingat bahwa prialah yang pertama kali disuruh menikah dengan dua, tiga, atau empat orang wanita (istri), kemudian dia dinasehati agar menikah dengan seorang wanita saja bila dia tidak dapat berbaut adil dengan labih dari seorang istri. Ini tidak berarti bahwa Islam menganjurkan semua pria untuk menikah dengan sekurang-kurangnya dua orang wanita, tetapi tambahan (istri) itu jelas diperbolehkan bagi orang-orang (pria) yang dapat memenuhi persyaratanpersyaratannya. 2 Saya teringat kepada Ustadz Yunahar Ilyas, Lc.. dalam kesempatan mengisi seminar di FIPS IKIP Yogyakarta, Ustadz Yunahar menyatakan ada tiga kelompok orang yang melakukan pernikahan poligamis. Pertama, para kiai dan orang-orang alim. Mereka menikah poligamis karena dengan kedalaman ilmunya mereka bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Kedua, para penguasa. Mereka menikah poligamis karena dengan kekuasannya itu mereka (mudah-mudahan) bisa berbuat adil. Ketiga, orang-orang nekad. Mereka menikah secara poligamis tanpa mengetahui atau bahkan tidak mempedulikan soal berbuat adil. Mereka inilah yang banyak menyebabkan orang memiliki kesan buruk terhadap poligami. Hal ini muncul karena mereka tidak berbuat adil terhadap istri-istrinya, menelantarkan salah seorang di antara istri-istrinya,

Kado Pernikahan 336

atau mereka lebih memperhatikan seorang istri dan mengabaikan yang lain. Akibatnya, orang memiliki kesan yang tidak baik dan bahkan cenderung membenci pernikahan poligamis. Bahkan, orang bisa bersikap sinis terhadap mereka yang berpoligami tanpa mempedulikan apakah mereka termasuk yang tidak adil ataukah justru sebaliknya. Alhasil, pernikahan poligamis perlu sangat didukung ketika syaratsyaratnya terpenuhi, terlebih ketika dilaksanakan untuk maksud-maksud yang membawa kepada kemaslahatan masyarakat. Meskipun begitu, pernikahan poligamis sebaiknya tidak dilakukan, jika syarat-syaratnya tidak terpenuhi sehingga jika dilaksanakan dapat membawa keburukan dan kerusakan pada dirinya maupun masyarakat. Agar pembicaraan ini lebih pertanyaan, mengapa pernikahan Islam. Wallahu A’lam bishawab. demikian, insya-Allah kita dapat pernikahan poligamis. lengkap, mari kita lanjutkan dengan satu poligamis sangat mendapat tempat dalam Saya tidak tahu apa sebabnya. Meskipun melihat hikmah di balik disyari’atkannya

Ada banyak aspek yang bisa kita tinjau untuk melihat sebagian hikmah pernikahan poligamis, akan tetapi bukan bagian saya untuk membahas keseluruhan aspek di sini. Telah banyak buku yang membahas hikmah pernikahan poligamis, salah satunya secara khusus membahas hikmah di balik pernikahan poligamis Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Salah satu hal yang penting untuk kita jadikan sebagai renungan tentang hikmah pernikahan poligamis ini adalah fakta bahwa jumlah wanita secara umum jauh melebihi jumlah pria. Mereka semua berhak menikah dan perlu hidup secara terhormat. Mereka perlu mendapatka pemenuhan kebutuhan akan kasih-sayang, perlindungan, juga hubungan seks secara terhormat. Pernikahan poligamis memungkinkan mereka mendapatkan apa-apa yang bisa diperoleh wanita lain. Jika Moise Tshombe3 yang sangat menentang poligami mengatakan cukup baginya seorang istri asal bisa mengganti sekretaris wanitanya setiap tahun, maka Islam tidak bisa menerima bentuk pelecehan wanita semacam ini. Bagi Islam, sikap Moise Tshombe ini sangat melecehkan wanitakarena wanita hanya dijadikan objek kenikmatan tanpa menjaga hak-hak mereka dan perlindungan hukum yang pasti. Menikah poligamis, meskipun boleh memperoleh kenikmatan-kenikmatan seksual di dalamnya, namun lebih cenderung diarahkan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang menjelang menopause masih belum datang pinangan; menolong janda-janda yang mengasuh anak-anak yatim; atau untuk tujuan-tujuan maslahat lainnya, semisal untuk memperoleh keturunan yang baik. Contoh tentang yang terakhir ini bisa kita ingat pada peristiwa pernikahan Al-Hasan dan Al-Husain dengan putri-putri Imri’il Qais.

Kado Pernikahan 337

Dengan demikian, jika pernikahan poligamis diterapkan secara Islami, insya-Allah akan meninggikan harkat wanita Islam. Sebaliknya, pernikahan poligamis yang dipesankan Islam justru lebih banyak memuat aspek misi, mencegah keburukan, mencari kemaslahatan, serta menolong wanita dari tipu daya kehidupan yang menghancurkan. Poligami Orang-orang Saleh Jika kita menengok sekilas catatan emas sejarah Islam, akan kita dapati bahwa orang-orang yang membuat catatan agung dalam sejarah pada masa Nabi maupun sesudahnya banyak yang melakukan pernikahan poligamis. Mereka adalah orang-orang yang dihormati dan siakui kehalusan akhlaknya serta kebesaran jiwanya. Sahabat dan musuh sama-sama mengakui keagungannya. Dan mereka tidak menjadi buruk dengan pernikahan poligamis yang mereka lakukan. Dan kadang justru kemuliaannya tampak dari pernikahan poligamisnya. Ini antara lain karena banyak di antara pernikahan poligamis yang dilakukan oleh orang-orang saleh terdahulu jauh dari motifmitif seksual. Pernikahan poligamis antara Umar bin Khaththab dengan Ummi Kultsum putri Sayyidina ‘Ali misalnya, terjadi karena didorong oleh keinginan yang sangat besar untuk mempunyai hubungan pertalian darah dengan Rasulullah. Mengapa demikian? Kelak pada hari kiamat semua pertalian darah akan putus kecuali hubungan pertalian darah dengan Rasulullah. Karena itulah, Umar bin Khaththab berusaha keras agar bisa menikah dengan cucu Rasulullah ini sehingga memiliki pertalian darah dengan Rasulullah Saww. di akhirat. Wallahu A’lam bishawab. Pernikahan Syaikh Ahmad bin Abu Al-Huwari lain lagi. Suami Rabi’ah Asy-Syamiyyah meninggal dengan mewariskan harta yangs angat besar jumlahnya; cukup melimpah-limpah. Rabi’ah menginginkan agar sepeninggal suaminya, ada yang mampu mentasharufkan (membelanjakan) harta untuk kepentingan agama. Maka ia mendatangi Syaikh Ahmad dengan maksud menawarkan dirinya sebagai istri. Mendapat penawaran diri dari Rabi’ah, Syaikh Ahmad berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin berkonsentrasidalam ibadah.” Rabi’ah berkata, “Syaikh Ahmad, sesungguhnya konsentrasiku dalam beribadah lebih tingi daripada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan keinginan untuk tidak menikah. Tetapi, tujuanku menikah kali ini tidak lain supaya dapat mentasharufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada saudarasaudara yang muslim, dan untuk kepentingan Islam sendiri. Aku pun mengerti bahwa kamu adalah seorang yang saleh. Tetapi, justru dengan begitu aku akan memperoleh ridha Allah Swt.”

Kado Pernikahan 338

Syaikh Ahmad berkata, “Baiklah, aku minta waktu. Aku hendak meminta izin kepada guruku.” Syaikh Ahmad menemui gurunya, Syaikh Sulaiman Ad-Darani. Kepadanya ia menceritakan perihal penawaran diri dari Rabi’ah. Emndengar penjelasan itu, Syaikh Sulaiman Ad-Darani berkata, “Baiklah, kalau begitu nikahilah dia, karena perempuan itu adalah seorang wali.” --Pembahasan dalam bab ini tentu saja belum cukup. Masih banyak hal yang perlu dicantumkan di sini agar hati kita lebih lapang memahami. Akan tetapi, sebagai pembahasan awal, saya harapkan tulisan singkat ini dapat membuka hati kita tentang satu hal: poligami merupakan bagian dari syari’at Islam, sehingga kita tidak bisa memberikan label pro poligami kepada mereka yang menunjukkan kebaikannya atau kontra poligami kepada mereka yang mengingatkan untuk berhati-hati. Sebagai bagian dari syari’at Islam, maka persoalannya bukanlah dalam hal setuju atau tidak setuju dengan pelaksanaan pernikahan poligamis. Persoalannya lebih berkait dengan apakah kita punya kesiapan atau tidak, bisa berbuat adil atau tidak, memenuhi persyaratan atau tidak, dan termasuk soal ia tergerak untuk melakukan pernikahan poligamis saat ia dalam keadaan menikah poligamis atau monogamis baginya sama saja. Sebaliknya, tidak setiap pernikahan poligamis yang dilakukan umat Islam dengan sendirinya Islami. Pernikahan poligamis tidak dengan sendirinya sesuai dengan pesan Islam. Justru bertentangan dengan Islam apabila pernikahan poligamis tersebut dilakukan dengan melanggar hak-hak kaum perempuan yang harus dihormati martabatnya, tidak memenuhi persyaratan, dan berbuat aniaya melalui pernikahan poligamisnya itu. Sama halnya ketika Al-Qur’an banyak berbicara mengenai kaum mustadh’afun (proletar) yang sering berhadapan dengan penindas dari kalangan mustakbirun (penguasa), tidak dengan sendirinya berarti Al Qur’an sangat sejalan dengan Marxisme. Kita tidak bisa berkata demikian. Kesimpulan yang tergesa-gesa dengan menganggap Islam sangat Marxian terjadi karena kurang data. Kita tahu-tahu menyimpulkan demikian. Bahasa mewahnya orang psikologi, kita melakukan jump to the conclusion (lompatan ke kesimpulan). Atau kalau bukan karena lompatan ke kesimpulan, barangkali kita sedang “memasukkan nash ke dalam kerangka pikir tertentu yang terlanjur kita sepakati” (damj annash ithar al-khash). Begitu.

Kado Pernikahan 339

Catatan Kaki: 1. Kita perlu mengingat bahwa hukum nikah atas setiap orang bisa berbedabeda sesuai dengan keadaan orang tersebut. Hukum nikah pada seseorang bisa berubah-ubah tergantung perubahan keadaan orang tersebut. Nikah bisa wajib, bisa sunnah, mubah, dan bisa pula makruh, atau bahkan haram. jamilah Jones dan Abu Aminah Bilal Philips, Monogami dan Poligini dalam Islam, Srigunting, Jakarta, 1996. Moise Tshombe pernah menjabat sebagai Presiden Republik Katanaga dan pernah menduduki jabatan Perdana Menteri Kongo dalam waktu singkat.

2. 3.

Kado Pernikahan 340

Bab 21

T

uhan,

di Mana Fatimatuz Zahra Sekarang?

unia masih mengenangnya. Airmata masih ada yang mengalir ketika mengingat kebesarannya. Ada rasa malu kalau membandingkan dengan keadaan kita sekarang. Ada rasa haru kalau melihat kembali perjuangan-perjuangannya; bagaimana ia dengan penuh kasih-sayang mengusap darah suaminya seusai perang dan merawatnya penuh perhatian; bagaimana ia mengambil air sendiri dengan berjalan jauh sampai membekas di dadanya; dan bagaimana ia menginap di rumah Rasulullah sementara ‘Ali menggantikan tempat tidur Nabi saat orang kafir Quraisy mengepung. Malam itu, Rasulullah meninggalkan Makkah dan bersembunyi di gua Tsaur. Sementara orang kafir mengancam nyawanya. Fathimah sangat besar perjuangannya. Dia adalah putri dari seorang yang suci. Dia sendiri suci. Dari rahimnya yang suci, kita pernah mendengar nama Al-Hasan dan Al-Husain yang ikut bersama kakeknya ketika akan melakukan mubahalah (perang doa) dengan pendeta Bani Najran. Ia juga melahirkan Zainab yang kelak harus meninggalkan Mesir. Dari keturunan Zainab inilah kelak Imam Syafi’I mendapat tempat dan perlindungan. Juga membuka pesantrennya. Hari ini adalah hari Jum’at. Bulannya Dzulhijjah. Tahun 1417 hijriyah. Bulan haji. Bulan ketika orang memotong leher kambing dan sapi, tepat pada

D

Kado Pernikahan 341

tanggal 10. Sama seperti tahun itu, ketika orang-orang Kufah memintanya menjadi khalifah dan mereka siap berbai’at kepadanya. Tanggal 10 Dzulhijjah tahun itu, kaum muslimin juga menyembelih leher kambing kibasy. Tetapi sebulan berikutnya, dunia tidak akan pernah melupakan. Jika pada tanggal 10 Dzulhijjah orang-orang Islam bergembira ketika memotong leher kambing dan onta, hari itu hati yang bersih menjerit menangis ketika penguasa yang zalim memotong leher orang yang paling dicintai Rasulullah Saw.. Jika dulu Fathimah Az-Zahra membukakan pintu kepada Rasulullah ketika akan menemui Al-Husain, hari itu para wanita segera menutup wajahnya dengan niqab untuk menyembunyikan keperihan hatinya ketika melihat kepala AlHusain diarak. Jika dulu Rasulullah sering mendekap dan menciumnya, hari itu wajah yang sering didoakan Rasulullah itu dihinakan. Bahkan ketika sudah menjadi mayat, giginya masih diantuk-antuk dengan ujung pedang. Padahal, jenazah orang kafir saja kita disuruh menghormati. Akan tetapi Al-Husain justru harum dengan darahnya. Sama seperti airmata Zainab yang menyelamatkan ‘Ali Ausath, satu-satunya putra AlHusain yang masih tersisa dari pembantian. Airmata itu sampai sekarang tetap mengalir di dada kaum muslimin yang tahu hak mereka, bercampur dengan darah Al-Husain yang harum. Pelajaran kadang memang harus pahit. Namun peristiwa di tanah duka (Karbala) itu rasanya terlalu pahit. Hanya Al-Husain yang sanggup memikul kemuliaan itu. Kita yang mencintai leher kita, apalagi kita masih mencintai sapu tangan dan keramik unik, tidak cukup layak untuk mendapatkan kehormatan. Alangkah tingginya Al-Husain dan keturunannya. Alangkah jauhnya kita darinya. Lantas, apakah masih ada alasan untuk bersombong di hadapan kemuliannya? Kita memang terlalu jauh dari derajat Al-Husain. Bahkan untuk layak disebut sebagai golongan yang mencintainya saja, entah layak entah tidak. Sekadar meniru An-Nasa’I saja, saya belum yakin kita mempunyai cukup keberanian dan ketegaran. Sekarang, tangan kita lecet sedikit saja sudah membuat wajah kita muram dan mulut meringis. Padahal An-Nasa’i merelakan nyawanya demi kecintaannya. Sama seperti Imam Ahmad ibn Hanbal yang bersedia dipukuli penguasa. Sama seperti Imam Syafi’i yang konon adalah imam kaum muslim Indonesia, sebab mayoritas umat Islam Indonesia bermadzab Syafi’iyah meskipun kadang masih mencela orang yang melaksanakan qaul (pendapat hasil ijtihad) Imam Syafi’i.1 Dan kita tahu, mereka semua adalah ulama-ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah Ah, sudahlah. Dengan rasa malu atau tidak sama sekali, kita harus mengakui betapa jauhnya kita dari orang-orang terdahulu. Sangat jauh. Meskipun demikian, masih ada yang dapat kita ambil. Kita dapat melihat kembali sebagian kecil teladan Fathimatuz Zahra sehingga mempunyai

Kado Pernikahan 342

keturunan yang mulia sampai generasi-generasi yang jauh sesudahnya, termasuk Syaih ‘Abdul Qadir Al-Jailani2 maupun Sayyid ‘Abdullah Haddad. Keteladanan Fathimatuz Zahra mencakup kedekatan kepada Allah, kuatnya dalam menegakkan shalat malam, khusyuknya dalam berzikir, kesetiaannya yang sangat luar biasa kepada suami, serta kuatnya kecintaan dan perhatian kepada anak-anaknya. Hari ini, insya-Allah kita akan mencoba melihat bagaimana Fathimah Az-Zahra mendidik dan membesarkan putraputrinya. Sedangkan keteladanan lain, silakan periksa sendiri. Tentu saja, membicarakan Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha tidak bisa lepas dari pembicaraan mengenai suaminya ‘Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu dan ayahnya Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. --Kepada anak-anak perempuannya, Fathimah mengajarkan keberanian, pengorbanan, keteguhan, dan tidak takut kepada orang lain. --Imam Nawawi al-Bantani (Al-Jawi) pernah menuliskan keagungan Fathimah Az-Zahra ketika berbicara masalah hak dan kewajiban suami-istri. Berikut ini saya kutip dari Uqudul Lujain karya Imam Nawawi Al-Bantani. 3 Suatu hari Rasulullah Saw. Menjenguk Az-Zahra. Ketika itu ia sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. “Kenapa menangis, Fathimah?” Tanya Rasulullah, “Mudah-mudahan Allah tidak membuatmu menangis lagi.” “Ayah,” Fathimah menjawab, “aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku yang silih berganti.” Rasulullah kemudian mengambil tempat duduk di sisinya, kata Abu Hurairah. Fathimah berkata, “Ayah, demi kemuliaanmu, mintakan kepada ‘Ali supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah.” Setelah mendengar perkataan putrinya, Rasulullah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan ke penggilingan. Dengan membaca bismillahir rahmanir rahim maka berputarlah alat penggiling itu atas ijin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara alat penggiling terus berputar sendiri, sambil memuji Allah dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ini terus berjalan sampai biji-bijian itu habis.

Kado Pernikahan 343

Rasulullah Saw. berkata kepada alat penggiling itu, “Berhentilah atas ijin Allah. Seketika alat pengiling pun berhenti. Beliau berkata sambil mengutip ayat Al-Qur’an, Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Merasa takut jika menjadi batu yang kelak masuk neraka, tiba-tiba batu itu bisa berbicara atas ijin Allah. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Batu itu berkata, “Ya, Rasulallah. Demi Dzat yang Mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan Rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada di seluruh jagat Timur dan Barat, pastilah akan kugiling semuanya.” Dan aku mendengar pula, kata Abu Hurairah yang meriwayatkan kisah ini, nahwa Nabi Saw. bersabda, “Hai Batu, bergembiralah kamu. sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak dipergunakan untuk membangun gedung Fathimah di surga.” Seketika itu, batu penggiling itu bergembira dan berhenti. Nabi Saw. bersabda kepada putrinya, Fathimah Az-Zahra, “Kalau Allah berkehendak, hai Fathimah, pasti batu penggiling itu akan berputar sendiri untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu, serta mengangkat derajatmu. Hai Fathimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya, serta mengangkat derajatnya. Hai Fathimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta. Hai Fathimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut dan mencucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan dan seperti orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang. Hai Fathimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka Allah kelak akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum dari telaga Kautsar pada hari kiamat. Hai Fathimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu.

Kado Pernikahan 344

Bukankah engkau mengerti, Hai Fathimah, bahwa ridha suami itu bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah. Hai Fathimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan, dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya. Hai Fathimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhaji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat. Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas, dan niat yang benar, maka Allah akan mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhaji dan berumrah. Hai Fathimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat. Hai Fathimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada seruan yang ditujukan kepadanya dari langit. ‘Hai wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang. Hai Fathimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya, demikian pula jenggotnya, memangkas kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah akan memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari sungai yang ada di surga. Bahkan kelak Allah akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak ia akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian). 4 Mihrab Agung Orang-orangTercinta Lima orang anak yang dikaruniakan Allah Swt. Kepada Az-Zahra, yaitu Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, dan Muhsin --yang meninggal keguguran ketika masih berupa janin dalam rahim sucinya. Ummu Kultsum

Kado Pernikahan 345

kelak dinikahi oleh Umar bin Khaththab karena keinginan Umar yang kuat untuk bersambung ikatan darah dengan Rasulullah. Fathimah Az-Zahra mendidik sendiri dua putra dan dua putri yang diamanahkan Allah Swt. kepadanya. Ia susui anak-anaknya dengan air susunya sendiri. Ia rawat anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Ia memilih untuk mendekap anaknya sendiri, meskipun kepayahan bekerja dan ada orang yang mau menggantikan, karena ibulah yang bisa menyayangi anaknya, bukan orang lain --termasuk baby-sitter. Padahal sekarang ibu-ibu muda kadang memilih untuk bisa makan dengan tenang dan enak, sedangkan menggendong anak biar dikerjakan oleh baby-sitter. Mari kita dengarkan cerita dari Bilal, muadzin Rasulullah: “Saya melewati Fathimah yang sedang menggiling,” kata Bilal, “sementara anaknya menangis.” “Saya berkata kepadanya,” kata Bilal melanjutkan. “Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang memegang anak itu dan engkau memegang gilingan.” Ia berkata, “Aku lebih dapat mengasihi anakku daripada engkau.” Sebagaimana istrinya, Sayyidina Ali juga menolak orang membawakan makanan yang akan diberikan kepada anaknya (masyaAllah, betapa hatihatinya beliau menjaga kebarakahan). Shalih, seorang pedagang pakaian pernah mendapat cerita dari neneknya, “Saya melihat Ali karamallahu wajhahu membeli kurma dengan harga satu dirham, lalu beliau membawanya dibungkus selimut. Saya berkata kepadanya atau seseorang berkata kepadanya, ‘Saya yang akan membawanya, wahai Amirul Mukminin.’ Beliau berkata, ‘Jangan! Kepala keluarga lebih berhak membawanya.’” Kisah ini disampaikan oleh Imam Bukhari. Jabatan Imam Ali saat itu adalah khalifah, Amirul Mukminin. Pada masa sekarang, jabatan itu lebih tinggi daripada presiden atau raja sebuah negara, sebab kekuasaannya meliputi negeri-negeri lain. Tetapi untuk membawakan makanan anak, Amirul Mukminin tidak mau menyerahkan kepada orang lain. Jabir Al-Anshari menceritakan bahwa Nabi melihat Fathimah sedang menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. Maka mengalirlah airmata Rasulullah. “Anakku,” katanya, ”engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat.” Fathimah mengatakan, “Ya Rasulallah, segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya.” Lalu Allah menurunkan ayat, “Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberimu karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Kado Pernikahan 346

Kepada anak-anak perempuannya, Fathimah mengajarkan keberanian, pengorbanan, keteguhan, dan tidak takut kepada orang lain sejauh ia berdiri di atas kebenaran. Sehingga kita mendapati, dalam situasi yang penuh ketakutan dan leher sewaktu-waktu bisa terputus, Zainab masih bisa menghadap Ibnu Ziyad dengan penuh ketegaran. Kesedihan yang teramat sangat ketika hampir semua saudara, kemenakan, sanak-kerabat, dan sahabat menjadi mayat berserakan, tidak membuatnya kehilangan keberanian dan ketegaran untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Mengatakan kebernaran. Ketika Ibnu Ziyad menghina Zainab dengan perkataan, “Puji Tuhan yang telah mempermalukan dan menyingkap dusta kalian. Puji Tuhan yang telah mengobati rasa dendam dan kesumatku kepada saudaramu.”; Zainab menjawab dengan tegar, tanpa rasa takut. “Puji Tuhan yang telah menganugerahi kami keutamaan syahadah. Puji Tuhan yang telah menetapkan kenabian pada keluarga kami. Kekalahan dan kenistaan adalah milik kalian wahai orang-orang zalim dan fasik. Syahadah adalah kebanggaan, bukan kenistaan. Orang-orang zalimlah yang suka berbohong, bukan kami. Kami ahli hakikat. Semoga Tuhan mencabut nyawamu, wahai anak marjanah!” Ibnu Ziyad dan orang-orang yang hadir kaget mendengar kata “marjanah”, wanita lacur. Ibnu Ziyad sangat tertampar dengan kata itu, sehingga ia berkata, “sudah begini kalian masih berani angkat suara.” Ibnu Ziyad mengambil kesempatan bicara dengan ‘Ali Ausath, kelak dikenal dengan gelar ‘Ali Zainal ’Abidin. Dia pun memberi jawaban yang tak kalah pedasnya dengan Zainab, padahal dia masih sangat kecil (bandingkan dengan anak TPG/TPA sekarang). Kemudian Ibnu Ziyad memanggil algojo, tukang jagal manusia, untuk memotong kepala ‘Ali Zainal ’Abidin. Tiba-tiba Zainab bangkit dan memeluk ‘Ali Zainal ’Abidin dengan erat sambil mengatakan, “Demi Allah, lehernya tidak akan terpenggal sebelum kalian penggal leherku terlebih dulu.” Ibnu Ziyad memandang Zainabdengan heran dan berkata, “Alangkah kuatnya rahim mempererat mereka.” Inilah Zainab, hasil didikan madrasah suci bernama Fathimatuz Zahra. Semenjak kecil mereka dididik oleh ibu yang sangat kuat kasih sayangnya. Dari Az-Zahra juga, mereka belajar pengorbanan. Mereka belajar banyak tentang pengorbanan dari ibu mereka, Fathimah Az-Zahra, dan ayah mereka, ‘Ali karamallahu wajhahu. Ada kisah pengorbanan mereka yang kemudian menjadi sebab turunnya surat Al-Insaan (76) ayat 8-9. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mendapat ridha Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insaan:8-9).

Kado Pernikahan 347

Ketika itu Hasan dan Husain sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah ditemani oleh beberapa sahabat, datang menjenguk mereka. Rasulullah menyarankan kepada ‘Ali untuk mengucapkan janji (bernazar) kepada mereka itu. Semua anggota keluarga, termasuk Fathimah, ‘Ali dan Fazzah, pembantu mereka, mengucapkan janji kepada Allah untuk menjalankan puasa selama tiga hari bila putra-putra ‘Ali sembuh dari sakit. Ketika mereka sembuh, puasa pun dimulai. Tetapi mereka tidak memiliki apa-apa untuk berbuka puasa. ‘Ali kemudian meminjam tiga sha’ gandum dari seorang Yahudi di Khaibar bernama Syam’un. Fathimah memegang lima keping roti dengan sepertiga bagian gandum itu dan meletakkan di atas meja makan saat berbuka puasa. Pada saat hendak berbuka puasa, seorang pengemis mengetuk pintu dan meminta makanan sambil berkata, “Tolonglah aku, semoga Allah memberimu makan dengan makanan surga.” Keluarga itu pun memberikan makanan mereka dan berbuka hanya dengan air. Hari berikutnya mereka masih berpuasa. Sekali lagi lima keping roti dipersiapkan. Kini, seorang anak yatim mengetuk pintu untuk meminta makanan. Keluarga itu sekali lagi memberikan makanan mereka kepada anak yatim itu. Pada hari ketiga datang tawanan menjelang saat berbuka. Mereka melakukan hal yang sama. Pada hari ketiga, ‘Ali membawa anak-anaknya ke rumah Rasulullah. Melihat keadaan cucu-cucunya, beliau menjadi sedih dan berkata, “betapa susah bagiku melihat kalian dalam keadaan yang sulit ini.” Lalu beliau mengajak mereka kembali ke rumah Fathimah. Ketika tiba di sana, Fathimah sedang berdo’a, sementara kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan lemah dan matanya begitu sayu. Melihat ini, Rasulullah Saw. menjadi bertambah sedih. Pada waktu itu, malaikat Jibril datang kepada beliau dan mengatakan, “Terimalah hadiah dari Allah ini. Allah mengirimkan ucapan selamat bagimu karena memiliki keluarga yang begitu mulia.” Lalu Jibril membacakan kepada Rasulullah surat Al-Insaan (Hal Ata). Inilah Fathimah, ibu yang mendidik anak-anaknya dengan kesabaran dan kelembutan luar biasa itu. Ia menanamkan ke dada anak tauhid dan kesediaan untuk berdarah-darah. Fathimah, kata Soraya Maknun, mendidik seorang anak perempuan seperti Zainab seorang wanita yang terpelajar, bijaksana dan terhormat, yang kata-katanya dapat menenangkan saudaranya yang tak berdosa pada saat-saat kritis di senja bulan Asyura’ (Muharram). Inilah wanita yang emosinya sangat matang.

Kado Pernikahan 348

Kisah Fathimah Az-Zahra akan lebih panjang lagi kalau diteruskan. Dan makalah ini tidak cukup untuk menuliskan. Oleh karena itu, kita sudahi dulu. Sebagai penutup, saya sampaikan kisah singkat. Hasan dan Husain, kata Abu Hurairah, bergulat. Lalu Rasulullah Saw. berkata, “Ayo Hasan!” Maka Fathimah mengatakan, “Wahai Rasulullah, engkau mengatakan ‘ayo Hasan’, padahal dia lebih besar.” Maka Rasulullah menjawab, “Aku mengatakan ‘Ayo Hasan’ dan malaikat Jibril mengatakan ‘Ayo Husain.” Sambil bermain-main dengan Hasan, Fathimah mengajarkan kepada anaknya dengan mengatakan : Jadilah seperti ayahmu, wahai Hasan Lepaskan tali kendali yang membelenggu kebenaran Sembahlah Tuhan yang memiliki anugerah Janganlah kau bantu orang yang memiliki dendam Saya tidak tahu apakah kita bisa meneladani Fathimatuz Zahra, sedangkan tingkatan kita masih seperti ini. Jauh sekali. Tetapi saya berharap pembicaraan ini ada manfaatnya. Setidaknya mengajari kita rasa malu, untuk tahu diri. Kalau kita sudah merasa berkorban dan berjasa, sebandingkah dengan pengorbanan Az-Zahra dan keluarganya? Satu hal, tulisan ini adalah do’a. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang penuh barakah dan Allah mengaruniakan kepada mereka barakah, sampai yaumil-qiyamah. Semoga Allah mengaruniakan pada kita keluarga yang penuh barakah dan Allah melimpahkan barakah kepada kita. Mudah-mudahan kita yang hadir saat ini dikumpulkan bersama Rasulullah Muhammad Saw. di Al-Haudh. Allahumma amin. Allahu A’lam bishawab.*

Catatan Kaki: 1. Menurut pendapat Imam Syafi’i, wanita wajib mengenakan cadar. Sekarang jangankan bercadar, ada yang berjubah panjang dan berjilbab menjulur saja sering sudah dianggap berlebihan dan sok alim. Saya sering sedih jika mendengar komentar bernada cemooh dari mereka yang mengerti betul qaul-qaul fiqih dan menganggap mereka eksklusif.

Kado Pernikahan 349

Sungguh, mereka adalah saudara-saudara kita yang belajar menjadi muslimah yang baik. 2. Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani termasuk ulama sufi yang terpercaya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menulis, “Adapun para imam kaum Sufi serta para syaikh terdahulu yang terkenal seperti Al-Junaid bin Muhammad beserta pengikut-pengikutnya, juga seperti Abdul Qadir AlJailani dan orang-orang semisalnya, maka mereka adalah termasuk orang yang paling memperhatikan perintah dan larangan, termasuk orang yang paling sering mewasiatkan (kepada murud-muridnya) untuk mengikuti yang demikian itu, dan paling sering mengingatkan agar mereka jangan berjalan bersama (memikir-mikirkan) takdir, sebagaimana pengikutpengikut berikutnya berjalan mengikuti mereka.” Lebih lanjut silakan periksa Qadha’ dan Qadar (Mantiq, Solo, 1996), bagian dari Majmu’atur Rasail Liibni Taimiyyah. 3. Imam Nawawi Al-Bantani adalah syaikh Muhammad Ibnu Umar AnNawawi, ulama asal Banten Jawa Barat yang hidup di Arab pada masanya dan banyak menulis kitab. Bukan Imam Nawawi penulis kitab Al-Adzkaar dan Syarah Shahih Muslim. 4. 5. Saya tidak menemukan catatan mengenai kedudukan hadis ini. Wallahu ‘Alam Bishawab. Tulisan ini semula merupakan makalah yang saya sampaikan pada acara Diskusi Psikologi Anak di Pondok Pesantren (putri) Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, 11 April 1997. Kemudian diperbaiki untuk diskusi KMIS Fakultas Sastra UGM, 26 April 1997 dan acara Studium General Training Kemuslimahan yang diselenggarakan oleh KSAI, 10 April 1998. Persoalan yang paling sulit yang sering tidak bisa dielakkan oleh orangtua adalah perasaan berjasa terhadap keberhasilan anak, di samping rasa bangga. Halimah, ibu yang melahirkan Emha Ainun Najib, menasehatkan agar orangtua tidak berani memiliki rasa bangga jika anaknya mulai berhasil. Sebaliknya, perlu belajar terus-menerus, terusmenerus. Pada tingkat ini saja --belum tingkatan Fathimah Az-Zahra-- sudah penuh tanda tanya, bisakah kita meniru, meskipun cuma sedikit?

6.

Kado Pernikahan 350

Pamit Penulis A khirnya, pada hari Jum’at tanggal 17 Juli 1988 pukul 7 lewat 13 menit,
buku Kado Pernikahan untuk Istriku selesai dengan rahmat Allah. Buku ini mudah-mudahan bermanfaat dan barakah bagi saya, Anda, keturunan kita, saudara-saudara kita, tetangga kita dan masyarakat kita hingga yaumil qiyamah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan saya selama menulis buku ini. Semoga Allah Swt. menerima kebaikan yang ada di buku ini, sehingga Allah menerima umat Muhammad ini kelak ketika malaikat maut telah datang. Semoga buku ini membawa manfaat bagi umat Muhammad. Dan semoga dari pernikahan saya, pernikahan Anda, pernikahan saudara-saudara kita…, pernikahan kita semua akan lahir anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illallah dan banyak memikirkan umat Muhammad. Buku ini telahselesai dan saya berharap dapat menjelaskan banyak hal yang kita butuhkan untuk memperoleh kebaikan dalam rumah tangga. Saya telah berusaha mengambil bagian-bagian yang jarang dibahas oleh buku-buku di masa kita (tidak berarti belum pernah dibahas oleh para pendahulu kita). Tetapi itu tidak berarti semua hal yang kita butuhkan sudah terpenuhidalam buku ini. Saya masih punya PR --semoga Allah menolong saya untuk menyelesaikannya-- tentang masalah pernikahan ini, sementara masalah pendidikan anak pun masih harus mendapat perhatian. Saya kadang-kadang menerima surat dari saudara-saudara kita di tempat yang jauh maupun dekat. Ada suara-suara perih yang tidak berani mereka ungkapkan kepada orang lain dan kemudian berkirim surat kepada saya. Ada cerita sedih karena pernikahan dipersulit oleh hal-hal yang tidak diwajibkan oleh agama. Dan masih ada halhal lain yang mungkin bisa kita perbincangkan di lain waktu. Saya berharap --mudah-mudahan Allah menolong saya-- bisa menulis di antara persoalan-persoalan itu ke hadapan Anda. Insya-Allah, saya akan menulis buku. Rencananya, buku ini akan saya beri judul “Tuhan, Di mana Khadijah Sekarang?”. Sesudah itu saya mengharap nasehat Anda --mudah-mudahan Allah membuka hati saya untuk menerima nasehat-- agar saya tidak lupa. Doakan saya agar tidak termasuk orang-orang yang merugi. Semoga kita semua mendapatkan husnul khatimah. Allahumma amin. Selanjutnya, masih ada yang ingin saya sampaikan sebelum kita berpisah. Jika Imam Syafi’i yang wara’, zuhud, dan betul-betul ‘alim itu masih mengingatkan tentang kemungkinan adanya kesalahan dalam kitab-kitabnya, maka apatah lagi buku ini. Masalahnya, tidah mudah mengetahui kesalahan

Kado Pernikahan 351

diri sendiri, termasuk apa yang saya tulis di buku ini. Karena itu, tegur sapa Anda dan nasehat yang Anda sampaikan dengan cara yang baik Insya-Alah sangat penting bagi saya dan para pembaca. Semoga buku ini tidak sia-sia dan ada nilainya di sisi Allah. Allahumma amin. Akhirnya, maafkan saya. kepada siapa pun yang pernah saya gunjing, saya sakiti hatinya, atau apa pun saja yang membuat hati Anda tidak enak, saya mohon keikhlasan Anda memaafkan saya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla meninggikan derajat Anda dunia-akhirat. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada-Nya dengan ridha dan diridhai. Billahi tawfiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kampung Mranggen Tegal, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta 17 Juli 1998, pukul 07 lewat 40 menit

Kado Pernikahan 352

[Penutup]

Pamit Penulis

khirnya, pada hari Jum'at tanggal 17 Juli 1998 pukul 7 lewat 13 menit, buku Kado Pernikahan untuk Istriku selesai dengan rahmat Allah. Buku ini mudahmudahan bermanfaat dan barakah bagi saya, Anda, keturunan kita, saudarasaudara kita, tetangga kita dan masyarakat kita hingga yaumil qiyamah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan saya selama menulis buku ini. Semoga Allah menerima kebaikan yang ada di buku ini, sehingga Allah menerima ummat Muhammad ini kelak ketika malaikat maut telah datang. Semoga buku ini membawa kebaikan bagi ummat Muhammad. Dan semoga dari pernikahan saya, pernikahan Anda, pernikahan sau-dara-saudara kita..., pernikahan kita semua akan lahir anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah dan banyak memikirkan ummat Muhammad. Tidak seperti kita, orangtua mereka. Allahumma amin. Buku ini telah selesai dan saya berharap bisa menjelas-kan banyak hal yang kita butuhkan untuk memperoleh ke-baikan dalam rumah tangga. Saya telah berusaha mengam-bil bagian-bagian yang jarang dibahas oleh buku-buku di masa kita (tidak berarti belum pernah dibahas oleh para pendahulu kita). Tetapi itu tidak berarti semua hal yang kita butuhkan sudah terpenuhi dalam buku ini. Saya masih punya PR --semoga Allah menolong saya untuk menyelesaikannya-tentang masalah pernikahan ini, sementara masalah pendidikan anak pun masih harus men-dapat perhatian. Saya kadang-kadang menerima surat dari saudara-saudara kita di tempat yang jauh maupun dekat. Ada suara-suara perih yang tak berani mereka

A

ungkapkan kepada orang lain dan kemudian berkirim surat kepada saya. Ada cerita sedih karena pernikahan dipersulit oleh hal-hal yang tidak diwajibkan agama. Dan masih ada hal-hal lain yang mungkin bisa kita perbincangkan di lain waktu. Saya berharap --mudah-mudahan Allah menolong saya-- bisa menulis sebagian di antara persoalan-persoalan itu ke hadapan Anda. Insya-Allah, saya akan menulis buku. Rencananya, buku ini akan saya beri judul "Tuhan, Dimana Khadijah Sekarang?". Sesudah itu, saya mengharap nasehat Anda --mudah-mudahan Allah membuka hati saya untuk mau menerima nasehat-- agar saya tidak lupa. Do'akan saya agar tidak termasuk orang-orang yang merugi. Semoga kita semua men-dapatkan husnul khatimah. Allahumma amin. Selanjutnya, masih ada yang ingin saya sampaikan se-belum kita berpisah. Jika Imam Syafi'i yang wara', zuhud dan betul-betul 'alim itu masih mengingatkan tentang kemungkinan adanya kesalahan dalam kitab-kitabnya, maka apatah lagi buku ini. Masalahnya, tidak mudah mengetahui kesalahan diri sendiri, termasuk apa yang saya tulis di buku ini. Karena itu, tegur sapa Anda dan nasehat yang Anda sampaikan dengan cara yang baik insya-Allah sangat pen-ting bagi saya dan para pembaca. Semoga buku ini tidak sia-sia dan ada nilainya di sisi Allah. Allahumma amin. Akhirnya, maafkan saya. Kepada siapa pun yang per-nah saya gunjing, saya sakiti hatinya, atau apa pun saja yang membuat Anda merasa tidak enak, saya mohon keikhlasan Anda memaafkan saya. Semoga Allah 'Azza wa Jalla me-ninggikan derajat Anda dunia akhirat. Mudah-mudahan ki-ta termasuk orang-orang yang kembali kepadaNya dengan hati yang ridha dan diridhai. Billahi tawfiq wal hidayah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kampung Mranggen Tegal, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta 17 Juli 1998, pukul 07 lewat 40 menit

[Puisi]

Hati-hati Bawa Hati
Aduh, susahnya punya hati letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali

(he hemm, malu juga diri ini)

Makanya, lebih baik punya istri kalau tersenyum ada yang menanggapi kalau berekspresi ada yang memahami sikapnya lembut tak bikin keki kadang malah memuji "Tuhan tak pernah ingkar janji, kalau terus menjaga diri, akan mendapat pendamping yang lurus hati." Tapi kalau masih sendiri, hati-hati bawa hati kalau sibuk mencari perhatian, kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan? bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan saat-saat tak terbayangkan

(maunya sih kutulis memperbaiki iman)

Adapun kalau sudah beristri, jangan lupa mengingatkan kalau ada yang dilalaikan tentang perkara yang disyari'atkan tapi kalau ia memelihara kewajiban ingat-ingatlah untuk memberi perhatian jangan menunggu dapat peringatan Karangmalang, 1 Maret 1997

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->