PRINSIP ATAU AZAS HUKUM DALAM PERBANKAN

1

Prinsip Atau Asas Hukum dalam Perbankan
 Prinsip kepercayaan (fiduciary

principle,fiduciary relation )  Prinsip kerahasiaan (confidential principle, confidential relation)  Prinsip kehati-hatian (prudential principle, prudential relation)  Prinsip mengenal nasabah ( know your customer/KYC )
2

Prinsip dan Hubungan Kepercayaan (fiduciary principle dan fiduciary relation)

Hubungan antara bank dan nasabah bukan sekedar hubungan debitur dan kreditur semata. Mengingat status bank yang unik : sebagai “a place of special safety and probity”, ( keamanan dan kejujuran ), maka sifat hubungan hukum antara bank dengan nasabah adalah hubungan “fiduciary” ( kepercayaan ). Oki “ kepercayaan “ mrpkn prinsip yg hrs dipegang teguh dalam pengelolaan perbankan.

3

hal tersebut di dalam praktek perbankan dipandang terlalu sempit dan tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.Hubungan Kepercayaan  Oleh karena itu jika hubungan antara bank dan nasabah penyimpan dana (misalnya deposan) sekedar hubungan pinjammeminjam uang biasa seperti yang diatur di dalam Ps 1755 KUHPerdata dimana bank berkewajiban mengembalikan dana yang diterima dari deposan pada saat tertentu sesuai dengan kesepakatan. 4 .

Karena dalam praktek. 5 . bank dapat menggunakan dana simpanan nasabah ( portofolio ) tersebut sedemikian rupa atas dasar kepercayaan (fiduciary principle) untuk tujuan dan dengan cara yang dapat menjamin kepastian bahwa jika sewaktu-waktu diminta nasabah bank mampu mengembalikan dana tersebut.Hubungan Kepercayaan  Mengapa demikian?.

setiap bank perlu terus menjaga kesehatannya dan memelihara kepercayaan masyarakat padanya”.Hubungan Kepercayaan  Secara normatif “fiduciary relation“ dapat di pahami melalui penjelasan Pasal 29 UU No. 6 .7 Thn 1992 jo UU No.10 Thn 98 ( UU Perbankan ) : “bank terutama bekerja dengan dana masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan.

7 . berdasarkan analisis atas itikad baik bahwa yang bersangkutan akan mampu melunasi utangnya atau mengembalikan kredit sesuai dengan perjanjian. bank harus sampai pada tingkat kepercayaan kepada calon nasabah.Hubungan Kepercayaan  Fiduciary Relation juga dapat dipahami dari Psl 8 UU Perbankan : dalam pemberian kredit bank kepada nasabah.

Trust tidak dikenal di dlm sistem hukum Indonesia.Hubungan Kepercayaan  Fiduciary Relation secara yuridis teoritis sama pengertiannya dg trust. last geving atau bevindvoering. curatele. Zaakwaarneming. Tanda-tandanya ada pada hukum pemberian kuasa. Namun pertanyaannya kuasa jenis apa ?. secara teoritis masih perlu dikaji. 8 . Volmacht.

l. : bank harus memberi advis kepada nasabah ttg risiko yg mungkin terjadi dalam penyimpanan dana di bank dan bank dalam melaksanakan transaksi untuk kepentingan nasabah harus dilakukan dengan hati-hati. Informasi tersebut perlu diberikan dalam hal bank bertindak sebagai perantara penempatan dana dari nasabah atau pembelian / penjualan surat berharga untuk kepentingan dan atau perintah nasabah.Hubungan Kepercayaan    Pelaksanaan prinsip fiduciary relation a. bank wajib menyediakan informasi mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank. 9 . Oleh karena itu Pasal 29 ayat (4) UUPerbankan menetapkan bahwa untuk kepentingan nasabah.

 Apabila nasabah dan simpanannya di bank dg mudah dibocorkan keluar. akan dapat mengancam perekonomian dan sistem perbankan nasional. jika bank tidak menganut prinsip kerahasiaan. rush.Prinsip Kerahasiaan dan hubungan kerahasiaan ( Confidential principle and relation )  Prinsip rahasia bank menjadi sangat penting dijaga dalam industri perbankan karena prinsip tersebut merupakan jiwa dari industri perbankan. Kepercayaan masyarakat akan goyah. Stabilitas sistem keuangan akan dapat goyah. dapat menular ke industri bank yang lain. 10 .

7 Thn 92 jo UU No.  Ketidakjelasan bersumber dari ruang lingkup rahasia bank yang terlalu luas : meliputi keadaan keuangan nasabah dan hal-hal lain dari nasabah yg harus dirahasiakan menurut kelaziman dlm dunia perbankan (blanket norm).23 Thn 64. UU No.Prinsip Rahasia Bank Menurut UUPerbankan Indonesia  Batasan pengertian rahasia bank belum jelas. 11 .10 Thn 98.14 Thn 67. 10 Thn 98 ruang lingkup rahasia bank diubah hanya meliputi “nasabah penyimpan dana dan simpanannya“. UU No.  Dg keluarnya UU No.  Ketidakjelasan itu terdapat dlm Perpu No.

 Menjadi pertanyaan : Apakah dg demikian berarti : nama nasabah.  “Segala sesuatu yg berhubungan“ dan “keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya“ masih menyisakan perdebatan karena tidak ada kriteria standart mengenai hal ini di dalam praktek. hobi. alamat.10 Thn 98 : segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. keluarga nasabah. nomor mobil. 12 .Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Pewrbankan Indonesia  Rahasia bank mnrt UU No.  Difinisi tsb mengandung : unsur subyektif – diri nasabah penyimpan dan unsur obyektif – simpanan nasabah. dsb harus dirahasiakan ?. nomor rekening.

 Dlm kasus nasabah yg telah meninggal tsb.  Apakah hanya meliputi nasabah bank yg masih aktif atau juga meliputi mantan nasabah bank ? Krn indikasinya ada di Ps 44 A ayat (1) UU No.10 Thn 98 : dalam hal nasabah penyimpan telah meninggal dunia ( tentu masih punya rekening di bank ).Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  Menjadi pertanyaan : Siapakah nasabah penyimpan dana yg harus dirahasiakan ?. hrs dirahasiakan sampai kapan ?. Apakah seluruh nasabah penyimpan dana baik perorangan maupun badan hukum ?.8 Thn 97 ( 10 tahun ) ?. ahli waris yg sah berhak memperoleh keterangan mengenai simpanan nasabah penyimpan tsb ?. Boleh atau tdk mengacu pada UU No. 13 .

14 .  Pada waktu itu kuat kesan bhw segala sesuatu mengenai nasabah dan keadaan keuangan nasabah wajib dirahasiakan oleh bank. pengertian rahsia bank di Indonesia selalu diterjemahkan meliputi keadaan keuangan nasabah bank secara individual. baik nasabah penyimpan dana.Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  Sebelum krisis thn 97.  Kemudian terjadi antagonis antara kepentingan individu ( privasi ) dengan kepentingan umum ( public interest ). peminjam dana maupun nasabah yg hanya menggunakan jasa bank secara temporer tanpa memiliki rekening di bank ( walk-in customer ).

1998 ?.  Masalahnya apakah semua kepentingan umum telah diakomodir oleh UU No.10 Th.10 Th. 1998 kemudian mengakomodir “kepentingan umum“ dpt dijadikan alasan atau dasar hukum untuk menerobos prinsip rahasia bank. 15 .Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  UU No.10 Th. Apakah escape clausula yg ada pada UU No.  Hal ini menunjukkan bahwa UU No. 1998 itu bersifat limitatif ?. 1998 menganut prinsip rahasia bank yg bersifat relatif.10 Th.

(3) kepentingan peradilan perkara pidana. 6) kepentingan ahli waris. (7) Kepentingan nasabah sendiri dengan persetujuan atau kuasa tertulis dari nasabah (Baca . (2) Kepentingan penagihan piutang bank terutama piutang bank milik negara. (5) Kepentingan informasi antar bank. Ps 41 – 44 A UUP). 16 .Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  UUP mencantumkan 7 jenis kepentingan umum sbg alasan utk menerobos prinsip rahasia bank : (1) kepentingan pajak. (4) Kepentingan dalam sengketa perdata antara bank dg nasabah.

kerjasama internasional. dll. eksekutif dan yudikatif.  DPR. Peradilan Agama. Peradilan Perburuhan belum ada aturannya utk menerobos ketentuan rahasia bank. Mis: Bank menjadi korban tindak pidana karena uang nasabah yg ada pada rekening di bank diambil atau dipindahkan tanpa hak ke rekening orang lain dibank yg sama. Apakah bank dg mengungkap rekening nasabah korban maupun pelaku ?.Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  Masih banyak kepentingan umum lain yg belum terakomidir dlm UUP mis : kepentingan lembaga legislatif. Peradilan Militer. Peradilan TUN. 17 .  Ada kepentingan bank sendiri yg belum diakomodir berkaitan dg rahasia bank.

menyembunyikan atau mengaburkan asal-usul uang hasil kejahatan.  Kadang aparat penyidik kesulitan dlm memblokir rekening pelaku kejahatan di bank.Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  Di sisi lain ketentuan rahasia bank. dinilai oleh beberapa kalangan mis : BPKP. BPK dipandang sebagai penghambat pemberantasan tindak pidana korupsi. 18 . tameng untuk bersembunyi bagi pelaku tindak pidana.  Krn bank dpt dipakai sebagai tempat menyimpan.

rekening tersangka di bank dalam waktu sekejap dpt saja dipindahkan ke rekening pihak lain yg menyulitkan utk pelacakannya.31 Thn 99 Tg Pemberantasan Tipikor.1 Thn 01 Tg Tindak Pidana Terorisme. tp ada dlm UU No. 19 . Kapolri. juga dg kemajuan tehnologi IT.Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  Pemblokiran rekening dan penyitaan dana dalam praktek kadang kurang dapat efektif disamping karena waktu perijinan sering lama. UU No.15 Thn 02 Tg Tindak Pidana Pencucian Uang. Perpu No. Gub BI Tgl 6 – 11 – 97. SK Bers Jagung.  Pemblokiran tdk diatur didalam KUHAP.

terorisme. sedang uangnya tetap berada di bank. 20 .Prinsip Rahasia Bank Menurut UU Perbankan Indonesia  Pemblokiran adalah upaya paksa agar uang yg ada pada rekening di bank tdk dipindahkan atau ada mutasi.  Pemblokiran menyangkut informasi tg rekening nasabah yg hrs dirahasiakan. tdk hanya dalam SKB.l : pencucian uang. Pemblokiran boleh dilakukan untuk tindak pidana tertentu.  Pemblokiran adalah penguasaan sementara. Oki perlu diatur dlm UU. a. korupsi.

disidik. Laporan ditolak.Contoh Kasus Rahasia Bank  Prinsip Rahasia Bank dpt disalahgunakan juga oleh nasabah nakal maupun bank.  Nasabah “ nakal “ bisa saja menyerang balik bank dg tuduhan melanggar rahasia bank. (3) Bank Niaga Surabaya dilaporkan ke Kepolisian (1994 ). demikian sebaliknya  Beberapa contoh kasus adalah : (1) Bank Eksim Cabang Jember dilaporkan nasabahnya. sampai di Kejaksaan dihentikan ( 1989). (4) Bank Umum Satrivia Medan dilaporkan ke Kepolisian (1994). Bank Angkasa dilaporkan ke Mabes Polri dan digugat secara perdata di PN Jaksel. 21 . perdata damai ( 1995 ). (2) Panin Bank Surabaya dilaporkan ke Kepolisian ( 1994 ).

Contoh Kasus Rahasia Bank  Secara umum kasus2 tsb di atas bermula dari kredit macet.G/1994/PN. Nasabah tsb melaporkan bank secara pidana dg tuduhan melanggar rahasia bank.  Sementara itu secara perdata ada nasabah yg menggugat banknya atas dasar perbuatan melawan hukum ( 1365 KUHPdt ). 22 .Sel.307/Pdt. krn bank dalam menagih atau menegor nasabah dg memberikan tembusan surat tagihan/teguran tsb kpd pihak yg memberi referensi atau rekomendasi. karena dianggap telah membocorkan rahasia bank yg menimbulkan kerugian bagi nasabahnya ( Taufik Hidayat vs Bank Angkasa No.Jak.

setelah diminta untuk mengembalikan B mengalami kesulitan dan akhirnya dilaporkan secara pidana oleh bank dg tuduhan penggelapan. tetapi dikirim ke rekening B.  Kemudian nasabah tsb melaporkan bank dg tuduhan telah melanggar rahasia bank. dg alasan pihak bank ketika melaporkan dirinya telah menyebutkan rekening dan keadaan keuangan dirinya. 23 .Contoh Kasus Rahasia Bank  Tahun 90 ada kasus kesalahan tranfer yg seharusnya utk rekening A. Oleh B uang ini dipakai.  Sampai ditingkat MA terdakwa dibebaskan.

hakim memang tidak pernah meminta izin dari Pimpinan BI agar saksi dpt memberikan keterangan tg keadaan simpanan/keuangan tersangka. Pd sidang 15 Februari 99.Contoh Kasus Rahasia Bank  Pernah terjadi ketentuan rahasia bank dipakai oknum Pengacara utk “ mengintimidasi “ seorang saksi. 24 . seorang saksi yg dihadapkan ke PN urung memberikan kesaksian karena diancam oleh Pengacara terdakwa akan diperkarakan secara pidana apabila memberikan kesaksian tanpa izin Pimpinan BI.  Dlm kasus korupsi dg terdakwa “NH” di PN Makasar.

 Tahun 1999 sebenarnya ijin tdk lagi ke Menkeu. tapi ke BI.Contoh Kasus Rahasia Bank  Akhirnya saksi tdk jadi memberi keterangan dan anehnya jaksa dan hakim tidak berupaya semaksimal mungkin agar saksi dapat memberikan keterangan di PN melalui prosedur yg benar. 25 .  Kemudian jaksa menuntut bebas terdakwa dan dikabulkan hakim.

 Permintaan ditolak oleh Bank dg alasan rahasia bank.  Tdk ada upaya keterangan diberikan secara tertutup tanpa hrs melanggar rahasia bank. seorang anggota DPR dlm sidang resmi meminta penjelasan mengenai rekening yg berkaitan dg kasus tsb kepada Direksi Bapindo.Contoh-contoh Kasus  Dlm kasus Golden Key thn 1994 yg telah merugikan negara 1.3 T. 26 .

 27 . kewajiban untuk merahasiakan (duty of secrecy) merupakan kewajiban yang tersirat (implied duties) dlm setiap perjanjian antara bank dg nasabah. Artinya kewajiban tersebut bukan kewajiban yang secara tegas dicantumkan di dalam kontrak antara bank dengan nasabahnya. tetapi tersirat atau secara implisit dianggap ada dalam setiap kontrak perbankan.Rahasia Bank : Jiwa Perbankan  Di Inggris misalnya.

Rahasia Bank : Jiwa Perbankan    Kewajiban untuk merahasiakan itu tidak terbatas hanya kepada informasi mengenai keadaan rekening nasabah tetapi mengenai semua informasi yang berasal dari rekening nasabah dan Mengenai semua informasi yang diperoleh bank sebelum maupun sesudah terjadinya hubungan hukum antara bank dengan nasabah. sehingga bank sering mengambil pendekatan yang berhati-hati. 28 . Namun kedua hal tersebut menjadi perdebatan dalam sidang pengadilan di Inggris.

apabila nasabah memberikan persetujuannya (Yunus Husein. ketiga. 2003 : 138). 29 . apabila pengungkapan tersebut diharuskan oleh hukum ( diatur dalam undang-undang ). kedua apabila bank berkewajiban untuk melakukan pengungkapan kepada masyarakat (alasan kepentingan umum). pertama.Rahasia Bank : Jiwa Perbankan      Dalam Tournier’Case di Inggris( Tournier v National Provincial and Union Bank of England ) 1924. keempat. apabila pengungkapan dikehendaki demi kepentingan bank. telah diputuskan bahwa bank berhak untuk mengungkapkan informasi mengenai urusan-urusan nasabahnya hanya dalam empat keadaan saja.

Rekening P di Bank T mengalami saldo negatif sebesar 9 Pounds. 30 .Rahasia Bank : Jiwa Perbankan  Kasus ini diawali oleh gugatan Penggugat yi Nasabah (P) dari Tergugat (T) ( Kantor Cabang Bank Moorgate Street Branch ). Pimpinan Cabang Bank tsb mengetahui P menerima pembayaran dari nasabah lain berupa cek sebesar 45 Pounds. Bank T mendesak Nasabahnya (P) untuk membayar dan P sepakat akan membayar secara mengangsur sebesar 1 Pounds per minggu. P menghentikan pembayarannya. tetapi tdk dimasukkan ke dalam rekeningnya.  Setelah 3 x angsuran.

31 .  Akibat informasi tsb kontrak P dg majikannya tdk diperpanjang dan ia diberhentikan dari pekjaannya.  Dalam pembicaraan telepon itu diceritakan bahwa P mempunyai utang di bank T dan ketika menerima cek tdk disetorkan ke rekeningnya.Kasus Tournier di Inggris  Cek tsb ditagihkan melalui London City and Midland Bank utk rekening sebuah rumah judi ( Bookmaker or gambler ). menelpon majikan dari nasabahnya untuk meminta alamat rumahnya. Pimpinan Bank T.Fennel. tp dialihkan ke rek lain.  Kemudian Mr.

 Dlm putusan akhir perkara dinayatakan bahwa hak dari nasabah untuk dijaga kerahasiaan informasinya oleh bank adalah hak yang sah. 32 .  Seluruh Hakim yg memeriksa kasus tsb berpendapat bhw kewajiban utk merahasiakan tdk saja pada moral. tp juga dlm hukum yg didasarkan pd hub kontraktual. Bank dianggap tdk memenuhi kewajibannya dalam menjaga kerahasiaan ( slander and breach of duty of confidentiality ).Kasus Tournier Di Inggris  Kemudian P menggugat Bank T dg alasan fitnah dan pencemaran nama baik.

7 Thn 1992 tentang Perbankan. mengakibatkan penegak hukum. Dengan meningkatnya kredit macet perbankan yang dirasakan terlalu dilindungi oleh ketentuan rahasia bank .Hubungan kerahasiaan  Ruang lingkup rahasia bank yang luas tersebut di atas (dari sisi nasabah kreditur dan nasabah debitur) pernah diatur dalam UU No.  33 . lembaga legislatif (DPR) maupun masyarakat luas menuntut dilakukan perubahan atas ruang lingkup ketentuan rahasia bank tsb. 14 Thn 1967 Ttg Pokok-pokok Perbankan maupun UU No.

2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi pihak terafliasi”. Pasal 44 dan Pasal 44A. Pasal 43.Hubungan kerahasiaan  UU No. 34 . Pasal 42. Bank wajib merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dana dan simpanannya kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41. Pasal 41A. 10 Tahun 1998 merubah ruang lingkup rahasia bank seperti yang diatur dalam Pasal 40 menjadi sebagai berikut : 1.

atas izin Pimpinan Bank Indonesia memenuhi permintaan Ketua BUPLN/PUPN 35 . atas perintah tertulis dari Pimpinan Bank Indonesia memenuhi permintaan Menteri Keuangan.Hubungan kerahasiaan Di samping itu. pengecualian atas ketentuan rahasia bank juga diperluaskan. sehingga meliputi :   Kepentingan perpajakan. Kepentingan penagihan piutang oleh BUPLN/PUPN.

atas izin Pimpinan Bank Indonesia memenuhi permintaan Kapolri.Hubungan kerahasiaan     Kepentingan perkara peradilan pidana. Dalam rangka tukar menukar informasi antar bank (tanpa izin BI) Permintaan atau persetujuan tertulis nasabah (tanpa izin BI) Kepentingan ahli waris yang sah dari nasabah (tanpa izin BI) 36 . Jaksa Agung dan Ketua Mahkamah Agung.

Hubungan kerahasiaan Ancaman pidana berkaitan dengan ketentuan rahasia bank ini dikenakan terhadap :  Pihak yang dengan sengaja memaksa bank untuk memberikan keterangan yang wajib dirahasiakan.  Direksi.  Direksi. komisaris atau pegawai bank yang dengan sengaja membuka keterangan yang wajib dirahasiakan. komisaris atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi. 37 .

7 Thn 92 jo UU No 10 Thn 98 .Hubungan kerahasiaan  Selanjutnya ketentuan rahasia bank sebagaimana diatur dalam UU No. 38 . 2/PBI/2000 tanggal 7 September tahun 2000 tentang Persyaratan dan Tatacara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank. lebih lanjut diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.

suratsurat. 39 . 2. memperlihatkan bukti-bukti tertulis. dan hasil cetak data elektronis. Bank dilarang memberikan keterangan tentang keadaan keuangan Nasabah Penyimpan selain yang disebutkan dalam perintah atau izin tertulis Bank Indonesia. Bank wajib melaksanakan perintah atau izin tertulis dari Bank Indonesia sebagaimana diatur Pasar 41.Hubungan kerahasiaan  Beberapa ketentuan dalam peraturan tersebut antara lain adalah sebagai berikut : 1. 10 Tahun 1998 dengan memberikan keterangan baik lisan maupun tertulis. tentang keadaan keuangan Nasabah Penyimpan yang disebutkan dalam perintah atau izin tertulis tersebut. Pasal 41 A dan Pasal 42 UU No.

Hubungan kerahasiaan Permintaan tersebut diajukan kepada Gubernur Bank Indonesia melalui Direktorat Hukum Bank Indonesia. 3. 40 . 4. sedangkan pemberian izin tertulis yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi dilaksanakan oleh Gubernur Bank Indonesia dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah surat permintaan diterima secara lengkap oleh Direktorat Hukum Bank Indonesia. Jangka waktu pemberian perintah atau izin Gubernur Bank Indonesia dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari setelah surat permintaan diterima secara lengkap oleh Direktorat Hukum Bank Indonesia.

6. jaksa atau hakim dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tanpa memerlukan izin tertulis dari Pimpinan Bank Indonesia.Hubungan kerahasiaan Gubernur Hukum Bank Indonesia dapat menolak untuk memberikan perintah atau izin tertulis membuka rahasia bank apabila surat permintaan tidak memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku. 41 . Pemblokiran dan atau penyitaan simpanan atas nama nasabah penyimpan yang telah dinyatakan sebagai tersangka atau terdakwa oleh polisi. 5. yang akan diberitahukan selambatlambatnya 14 hari sejak permintaan diterima dan 3 hari kerja terhitung sejak surat permintaan yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi diterima.

8.Hubungan kerahasiaan Apabila polisi bermaksud untuk memperoleh keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanan Nasabah yang diblokir dan atau disita pada bank. bank yang tidak melaksanakan ketentuan dalam Peraturan ini maupun sesuai UU Perbankan dapat dikenakan sanksi administratif oleh Bank Indonesia. 7. Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dan Pasal 47 A UU No. 42 . harus dimintakan izin membuka rahasia bank kepada Bank Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. 10 Tahun 1998.

Apabila pemberian keterangan oleh Bank tersebut adalah mengenai nasabah bukan penyimpan dana. hal tersebut tentunya sudah jelas tidak ada masalah karena bukan merupakan Rahasia Bank. sering sekali Bank atau Pegawai Bank mendapat panggilan dari Penyidik (Kepolisian maupun Kejaksaan ) untuk dimintai keterangan sebagai saksi atas dugaan adanya perbuatan pidana yang terjadi di suatu Bank yang melibatkan seseorang nasabah Bank tersebut. 43 .PERMASALAHAN RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK   Dalam kaitan dengan dugaan atau adanya indikasi perkara pidana pada suatu Bank tertentu.

44 .10 Tahun 1998 tentang Perbankan.7 Tahun 1992 jo UU No. Sementara itu dilain pihak aparat penyidik sesuai dengan ketentuan KUHAP dan UU terkait (UU Kepolisian dan Kejaksaan) mempunyai kewenangan untuk meminta keterangan kepada siapapun juga.PERMASALAHAN RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK   Namun permasalahan akan segera muncul bilamana keterangan yang harus diberikan adalah mengenai nasabah penyimpan dana karena seringkali berbenturan dengan ketentuan mengenai Rahasia Bank sebagaimana diatur di dalam UU No.

menurut aparat penyidik apa yang diminta tersebut tidak termasuk kategori Rahasia Bank sehingga Bank dapat langsung memberikan keterangan yang diminta Aparat Penyidik.RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK    Bahwa di dalam pemberian keterangan mengenai nasabah penyimpan dana seringkali timbul permasalahan karena adanya perbedaan penafsiran mengenai batasan Prinsip Rahasia Bank. 45 . Di pihak lain. Menurut Bank keterangan yang diminta aparat penyidik tersebut termasuk kategori Rahasia Bank sehingga apabila Bank diminta untuk memberikan keterangan harus mendapat izin Bank Indonesia terlebih dahulu.

46 .RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK  Bahwa menurut Pasal 40 UU Perbankan : Bank wajib untuk merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. pimpinan Bank Indonesia dapat memberikan izin kepada polisi.  Menurut Pasal 42 Ayat (1) UU Perbankan : Untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana. jaksa atau hakim untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa.

RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK   Bahwa adanya perbedaan rumusan dan pemahaman terhadap ketentuan Pasal 40 dan Pasal 42 UU Perbankan . oleh karena tidak termasuk yang diatur dalam Pasal 42 tersebut. sedangkan keterangan mengenai nasabah penyimpan. misalnya keterangan mengenai jatidiri nasabah penyimpan termasuk keterangan yang wajib dirahasiakan . 47 . sehingga perlu mendapat izin Bank Indonesia terlebih dahulu atau sebaliknya Bank dapat memberikan keterangan mengenai data nasabah penyimpan tersebut kepada penyidik tanpa perlu ada izin dari Bank Indonesia karena sesuai Pasal 42 yang harus mendapat izin Bank Indonesia adalah keterangan mengenai simpanan nasabah tersangka atau terdakwa . tidak perlu mendapat ijin Bank Indonesia terlebih dahulu. menimbulan permasalahan : Apakah keterangan yang diminta oleh penyidik mengenai nasabah penyimpan.

RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK

Bahwa sesuai ketentuan Pasal 1 Angka 5 UU Perbankan, yang dimaksud dengan simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito atau yang dipersamakan dengan itu. Apakah kriteria pengertian simpanan menurut Pasal 42 UU Perbankan tersebut hanya mengenai dananya saja dalam arti jumlah dana atau saldo simpanan dan mutasi-mutasinya sebagaimana dapat dilihat dari rekening Koran atau buku tabungan atau meliputi pula lain-lainnya yaitu misalnya nomor rekening, cek atau bilyet giro yang sudah dicairkan, slip penarikan dan penyetoran.
48

RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK

 Berdasarkan ilustrasi kasus di atas,

pertanyaannya :  Bahwa berdasarkan Pasal 42 Ayat (1) UU Perbankan, hanya disebutkan keterangan mengenai simpanan tersangka atau terdakwa.

49

RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK

Bagaimanakah menurut Sdr, apabila keterangan yang diminta tersebut adalah mengenai simpanan nasabah yang statusnya sebagai saksi, apakah juga harus mendapat izin dari Bank Indonesia atau sebaliknya oleh karena yang harus mendapat izin Bank Indonesia adalah hanya ansabah yang berstatus sebagai tersangka atau terdakwa, maka untuk nasabah yang berstatus sebagai saksi tidak perlu mendapat izin Bank Indonesia ?. Atau yang benar justru Bank Indonesia tidak dapat memberikan izin sehingga Penyidik tidak dapat memperoleh keterangan tentang simpanan nasabah yang berstatus sebagai saksi ?.
50

RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK   Bahwa ada kalanya. Bank atau pegawai Bank dilaporkan oleh nasabah penyimpan dana kepada Aparat Penyidik karena dianggap telah melakukan tindak pidana tertentu. 51 . misalnya penggelapan atau penipuan. Atas laporan nasabah tersebut. pihak kepolisian kemudian memanggil Bank atau Pegawai Bank tersebut untuk dimintai keterangannya sebagai “tersangka“ dan dalam pemberian keterangan oleh Bank atau Pegawai Bank tersebut tentunya mau tidak mau akan menyangkut keterangan mengenai simpanan nasabah pelapor. di mana Bank ditengarai seolah-olah telah melakukan pendebetan rekening nasabah tanpa sepengetahuan atau seijin nasabah.

adakalanya Bank terpaksa melaporkan nasabahnya kepada Aparat Kepolisian karena dianggap si nasabah telah melakukan tindak pidana penggelapan.RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK   Dalam hal demikian. misalnya dalam kasus pembayaran ganda suatu transfer (misalnya masuk ke rekening nasabah dua kali) atau transfer salah masuk ke rekening nasabah lain yang tidak beritikad baik mau mengembalikan jumlah kekeliruan uang transfer tersebut. 52 . Bahwa sebaliknya. apakah Bank dapat langsung memberikan keterangan dimaksud kepada Kepolisian tanpa harus minta ijin kepada bank Indonesia terlebih dahulu dengan pertimbangan bahwa yang melaporkan adalah nasabah sendiri atau tetap Bank harus meminta Kepolisian untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada bank Indonesia atau ijin atau dengan persetujuan nasabahnya ?.

namun nasabah tidak bersedia untuk mengembalikan dana tersebut sehingga bank terpaksa melaporkannya kepada Aparat Penyidik. namun atas kelebihan transfer tersebut telah ditarik pula oleh nasabah sehingga saldonya tidak cukup untuk didebet kembali sejumlah kelebihan transfer tersebut kepada nasabah. 53 . Dalam laporan tentunya akan menyangkut keterangan mengenai simpanan nasabah.RAHASIA BANK DI DALAM PRAKTEK   Atas kelebihan transfer tersebut tentunya Bank akan mendebet kembali rekening nasabah. Apakah dalam hal demikian kepada Kepolisian diharuskan untuk mendapat ijin Bank Indonesia terlebih dahulu baru bank boleh memberikan keterangan atau data mengenai simpanan nasabah tersebut atau bank dapat langsung memberikan keterangan atau data nasabah tanpa perlu ada ijin terlebih dahulu dari Bank Indonesia ?.

that degree of care required by the exigencies or circumstances under which it is to be exercised (Black’s Law Dictionary). 10 Th 1998 menyebutkan bahwa perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. 1998 tidak disebutkan secara tegas mengenai pengertian dari prinsip kehati-hatian. definisi prinsip kehati-hatian dari berbagai sumber dapat disimpulkan yaitu pengendalian risiko melalui penerapan peraturan perundangundangan dan ketentuan yang berlaku secara konsisten. 54 .Prinsip kehati-hatian (prudential principle) PENGERTIAN:  Dalam UU No. 10 Th. as applied to action or conduct.  Dalam bahasa Inggris “Prudence is carefullness. Pasal 2 UU No. precaution attentiveness and good judgement.

7 Th.1992 tentang Perbankan yang disempurnakan dengan UU. 1998 mengandung pengertian mengenai prinsip kehati-hatian yang harus diterapkan oleh perbankan yaitu: 55 .Prinsip kehati-hatian  Beberapa pasal dalam UU No. 10 Th.

56 .Prinsip kehati-hatian Pasal 2 :   “Perbankan Indonesia dalam melakukan usahnya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian.” Saat ini bagi calon pemohon fasilitas kredit apabila usahanya dapat menimbulkan dampak negatif maka bank mensyaratkan agar dalam penjelasan umum undangundang tersebut menyatakan bahwa prinsip kehati-hatian harus dipegang teguh. khusus kegiatan menyalurkan dana masyarakat berupa kredit disempurnakan dengan peningkatan peranan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

” 57 . Pasal 8 :  “Bank umum wajib memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan. 23 Th. 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.Prinsip kehati-hatian  Bank berusaha bahwa pemberian kredit tersebut tidak menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan karena apabila ternyata di kemudian hari atas proyek yang dibiayai dengan kredit tersebut menimbulkan pencemaran maka bank dapat dituntut oleh pihak tercemar berdasarkan UU No. oleh sebab itu bank harus hati-hati dalam pemberian kredit.

Penjelasan ini meyakinkan kita bahwa pada hakekatnya setiap kredit yang diberikan bank harus ada agunan sebagai pengamanan karena setiap kredit mengandung risiko. kemampuan.Prinsip kehati-hatian  Dalam penjelasan umum disebutkan keyakinan bank atas kemampuan dan kesanggupan debitur dengan cara melakukan penilaian yang seksama terhadap watak. Penjelasan ini mewajibkan bank untuk melakukan analisis yang mendalam terhadap setiap permohonan kredit atau yang dipersamakan dengan itu termasuk fasilitas NCL. modal dan prospek usaha. 58 . Khusus mnengenai agunan disebutkan bahwa apabila berdasar analisis tersebut bank telah yakin bahwa debitur cukup barang-barang yang berkaitan langsung dengan kredit.

59 . pemberian jaminan. yang pada akhirnya bila kreditnya bermasalah akan sangat merugikan bank dan pada akhirnya merugikan nasabah penyimpan dana yang selama ini mempercayakan dananya pada bank tersebut.Prinsip kehati-hatian Pasal 11:   Pasal ini mengatur mengenai bank dalam memberikan kredit. Filosofi pengaturan ini agar bank tidak gegabah dalam memberikan fasilitas kredit atau hal ini yang serupa kepada kelompoknya sendiri atau padadebitur tertentu dengan jumlah yang sangat besar.penempatan investasi surat berharga atau hal lain yang serupa untuk debitur kelompok atau perusahaan dalam kelompok bank tersebut ataupun yang tidak pada kelompok tersebut harus membatasi jumlahnya. Pembatasan ini disebut Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).

BMPK ini kemudian diatur dalam Surat Keuputan Direksi Bank Indonesia (SKBI) No. 26/21/KEP/DIR dan Suurat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No/3/BPPP tanggal 29 Mei 1996 yang menyatakan bahwa:  60 . Sebagai contoh ditutup atau dilikuidasinya Bank BHS tahun 1996 setelah diteliti ternyata BHS memberikan kredit yang sangat besar kepada kelompok (grupnya) untuk pembelian property. bahkan ada kecurigaan bahwa hal tesebut merupakan suatu skenario yang memang telah dibuat sebelumnya. kemudian kredit tersebut menjadi macet.Prinsip kehati-hatian  Gejala memberikan kredit dengan jumlah besar pada satu atau sekelompok debitur sudah sejak lama terjadi.

Prinsip kehati-hatian 1.  Bagi bank yang melanggar BMPK ini akan dikenakan sanksi pidana yaitu hukuman 6 tahun dan denda paling banyak Rp 6.000. BMPK bagi pihak terkait dengan pihak bank adalah 10% dari modal bank. BMPK bagi satu peminjam yang tidak terkait dengan bank adalah 20% dari modal bank. 61 . 2.000. 3.00(enam milyar rupiah). BMPK bagi satu kelompok peminjam yang tidak terkait dengan bank adalah 20% dari modal bank.000.

oleh sebab itu bagi mereka yang pernah melakukan tindakan tercela di bidang perbankan dilarang mendirikan atau turut mendirikan bank.Prinsip kehati-hatian Pasal 16 sampai 28:  Beberapa pasal ini mengatur perizinan. Hal ini diatur dalam SKBI No: 27/118/KEP/DIR dan SEBI No: 27/4/UPPB tanggal 25 Januari 1995 yang mengatur orangorang yang digolongkan dalam Daftar Orang Tercela (DOT) yaitu: 62 . bentuk hukum dan kepemilikan bank bahwa dalam mendirikan bank harus diatur secara tegas mengenai kepemilikan bank mengingat bisnis perbankan mengandung prinsip kepercayaan yang diberikan nasabah kepada bank tersebut.

6. 2. 5.Prinsip kehati-hatian 1. 3. Penggelapan atau manipulasi yang merugikan bank Kolusi dengan nasabah atau pihak lain yang merugikan bank. Manipulasi dalam pembukuan atau laporan bank Kerja sama yang naik wajar sehingga salah satu atau beberapa kantornya berdiri sendiri 63 . Perselisihan intern yang mengakibatkan bank mengalami kesulitan. 4. Transaksi fiktif baik yang dilakukan pada sisi aktiva maupun pasiva.

64 . Terhadap bank-bank yang tidak sehat Bank Indonesia akan melakukan pengawasan secara khusus sekaligus mencarikan solusinya sehingga kondisi tidak sehat menjadi sehat seandainya tidak dapat sehat. maka bank tersebut akan dilikuidasi. Penjabaran dari ketentuan ini adalah bahwa bank dalam menjalankan usaha memiki kewajibankewajiban untuk mempertahankan atau mencapai ratioratio yang dapat mencerminkan kondisi bank tersebut antara lain Capita Adequancy Ratio (CAR) yaitu ratio kecukupan modal minimal 8% apabila suatu bank tidak mencapai CAR 80% maka dapat dipastikan kondisi bank tidak sehat.Prinsip kehati-hatian Pasal 29 ayat (3):  Pasal ini mengatur kewajiban bank untuk menjaga tingkat kesehatannya dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

Prinsip kehati-hatian  Berbagai pasal yang mengatur masalah kewajiban bank untuk menjalankan ketentuan dalam pasal tersebut memberikan keyakinan bahwa menjalankan usaha di bidang perkreditan termasuk dalam hal ini menyalurkan kredit atau fasilitas yang dipersamakan dengan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak merugikan bank dan pada akhirnya merugikan nasabah yang seharusnya mendapatkan perlindungan. 65 .

Daftar Orang Tercela terhadap orang-orang yang tidak dapat menjadi pemegang saham dan atau pengurus bank) maupun penetapan ketentuan yang berkaitan dengan prinsip kehati-hatian dalam melakukan kegiatan usaha bank misalnya Batas Maksimum Pemberian Kredit. 66 . pengurus dan pejabat eksekutif. baik tentang persyaratan yang harus dipenuhi dalam mengajukan izin usaha (antara lain syarat kecukupan modal. Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif. fit and proper test terhadap pemegang saham pengendali.Prinsip kehati-hatian  Bank Indonesia selaku otoritas perbankan sangat peduli terhadap pengaturan perbankan. dsb). Penyisihan Aktiva Produktif. Posisi Devisa Neto.

67 . Sistem perbankan merupakan suatu sistem yang berpotensi menimbulkan bahaya. Moral hazard yang timbul dari peranan perbankan sebagai the lender of the last resort perlu diantisipasi secara terus menerus oleh pemerintah (contoh dalam transaksi pasar uang bank dapat menjadi kreditur bagi bank lainnya yang mengalami kekurangan likuiditas). c. Pentingnya posisi bank dalam sistem keuangan. terutama dalam sistem pembayaran dan kliring. Sifat dari perjanjian bank. berkenaan dengan operasional perbankan. d. b.Prinsip kehati-hatian Alasan klasik perlunya pengaturan dan pengawasan terhadap perbankan didasarkan pada empat pertimbangan utama : a.

maka kekacauan sistem keuangan yang timbul akan lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh sektor lain dalam sistem keuangan (misalnya sektor asuransi). Jika sistem perbankan yang ada membahayakan atau berisiko. 68 . pertama bank merupakan satu-satunya sumber dana bagi sejumlah besar peminjam. lebih penting lagi perbankan mengelola sistem pembayaran. Karakter yang spesifik dari kegiatan usaha bank adalah kewajiban bank untuk membayar simpanan masyarakat dalam jumlah pasti namun hal tersebut tergantung pada kinerja dan kualitas asetnya misalnya kredit. surat berharga dan lain-lain yang nilainya tidak pasti.Prinsip kehati-hatian   Bank mempunyai posisi yang penting dalam ekonomi karena dua alasan utama.

69 . oleh karena itu kejatuhan suatu bank karena ketidakmampuan bank tersebut untuk membayar kewajibannya dalam pasar uang antar bank. Keterkaitan posisi antar bank dalam sistem kliring lebih besar daripada industri lainnya.Prinsip kehati-hatian   Apabila bank mengalami kesulitan likuiditas. kemungkinan besar terjadi efek yang menular khususnya apabila suatu bank di-rush (dananya diambil secara besar-besaran) oleh nasabahnya (contoh Bank BCA setelah jatuhnya Suharto pada bulan Mei 1998). dapat langsung menyebabkan kerugian kepada bank lainnya.

70 . maka peranan yang penting dari otoritas pengatur dan pengawas perbankan adalah mengawasi tindak tanduk dari bank secara efektif dan efisien.Prinsip kehati-hatian   Bahaya yang mungkin timbul. karena bank yang baik sekalipun akan kesulitan untuk menjual kreditnya di pasar sekunder (sekalipun pada beberapa pasar sekunder dapat dilihat kolektibilitas kredit-kredit yang dijual) mengingat pembeli yang potensial akan sulit untuk mengetahui informasi yang spesifik tentang debitur bank. namun skala usaha mereka dalam kegiatan ekonomi cukup penting. Mengingat pada umumnya nasabah bank tidak dapat melakukan pengawasan yang berkelanjutan terhadap operasional bank mereka.

oleh karena itu dalam beberapa kasus. otoritas perbankan dapat dianggap sebagai pemberi jasa pengawasan perbankan kepada nasabah. Hal ini merupakan isu yang spesifik yagn terkandung dalam hubungan antara perbankan dan nasabah bank. 71 . Pada umumnya perlindungan nasabah merupakan hal yang terpenting yang dipertimbangkan oleh otoritas perbankan.Prinsip kehati-hatian   Dalam kenyataannya nasabah bank mendelegasikan tugas untuk mengawasi lembaga keuangan tersebut kepada otoritas perbankan.

72 .Prinsip kehati-hatian    Tujuan utama dari pengaturan perbankan adalah untuk melindungi sistem keuangan dari ketidakstabilan sistem yang mungkin terjadi. Karakteristik dari neraca bank yang terdiri dari kewajiban yang pasti dalam jangka pendek dan aset dalam jangka panjang dengan nilai yang tidak pasti (contoh kredit dan surat berharga) . Di samping itu bermacam-macam dan besarnya keterkaitan antar bank membuat perbankan sangat rentan terhadap efek menular yang terjadi dari kegagalan operasional suatu bank.

Untuk melindungi nasabah yang lebih kecil atau yang bergerak di sektor retail yang pada umumnya kurang mendapat informasi yang cukup. 2. Untuk memastikan terciptanya kestabilan sistem keuangan. 73 . Untuk melindungi nasabah bank dari kekuatan monopolistik.Prinsip kehati-hatian  Berkenaan dengan hal tersebut di atas tiga alasan utama perlunya pemerintah mengatur sektor publik seperti industri perbankan adalah : 1. 3.

Prinsip kehati-hatian   Perlindungan kepada nasabah timbul dari dua alasan (1) karena lembaga keuangan dimana masyarakat menyimpan dananya bangkrut atau pailit atau gagal melaksanakan usahanya. Bangkrutnya lembaga keuangan akan menimbulkan efek yang merugikan kestabilan sistem keuangan dan menyebabkan hilangnya kepercayaan nasabah penyimpanan dana. 74 . (2) karena adanya tingkah laku perusahaan yang merugikan nasabah.

Prinsip kehati-hatian

Mengingat dampak dari bangkrutnya lembaga perbankan terhadap nasabahnya dan bagi kestabilan sistem keuangan menyebabkan otoritas pengatur perbankan harus peduli terhadap peraturan kehati-hatian antara lain tentang ketentuan-ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit, Kualitas Aktiva Produktif, Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif, Pemantauan Likuiditas Bank, Posisi Devisa Neto.

75

Prinsip kehati-hatian

Prinsip kehati-hatian dan pengaturan sistemik hampir serupa, namun pengaturan sistemik lebih ditujukan kepada keamanan dan kesehatan lembaga keuangan itu sendiri, sedangkan prinsip kehati-hatian lebih ditujukan kepada keamanan dan kesehatan lembaga keuangan tersebut dalam kaitannya dengan perlindungan nasabah khususnya kerugian nasabah yang timbul ketika institusi tersebut bangkrut, walaupun tidak menimbulkan dampak terhadap sistem keuangan.

76

Prinsip kehati-hatian

Pengaturan ketentuan kehati-hatian dan pelaksanaan pengawasan serta pemeriksaan perbankan dilaksanakan karena nasabah tidak berada dalam posisi untuk menilai dan mengetahui keamanan serta kesehatan dari banknya serta tidak memiliki informasi yang lengkap tentang kegiatan usaha lembaga keuangannya.
Hal tersebut perlu dilaksanakan sekalipun nasabah dapat menuntut kompensasi pembayaran dana yang disimpan di banknya deposit insurance fund atau penjaminan pemerintah dalam hal banknya dilikuidasi.
77

31/177/KEP/DIR tanggal 31 Desember 1998 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank UMUM.  Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif  Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.Prinsip kehati-hatian Berikut ini diuraikan beberapa ketentuan kehati-hatian yang ditetapkan oleh Bank Indonesia :  Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 31/148/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Pembentukan Penyisihan Pancadangan Aktiva Produktif 78 .

15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undangundang No.  Saat ini ada semacam paradigma baru dari masyarakat perbankan internasional untuk tidak melakukan transaksi dengan menggunakan fasilitas perbankan yang tidak atau belum memiliki ketentuan KYC atau belum menerapkan ketentuan KYC. semenjak lahirnya UU No. 25 Tahun 2003 (selanjutnya disebut ”UU TPPU”). 79 .KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Prinsip KYC mulai digalakkan untuk diterapkan dalam industri perbankan.

80 . karena Bank-bank di Indonesia diragukan kredibilitasnya karena belum menerapkan prinsip KYC ini di dalam kegiatan bisnisnya. Namun baru berumur satu tahun sudah harus diubah karena harus menyesuaikan dengan perkembangan dunia perbankan internasional khususnya dalam kaitannya dengan persoalan money laundering.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Mengapa demikian. tidak mustahil transaksi ekport impor hanya akan dilakukan melalui Bank-bank Asing yang ada di Indonesia.KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Jika bank-bank Indonesia tidak segera memberlakukan Prinsip KYC ini di dalam menjalankan kegiatan usahanya.  Menyadari akan kecenderungan tersebut. Pemerintah melahirkan UU No.

PBI tersebut di atas diubah lagi dengan PBI Nomor : 5/21/PBI/2003 Tentang Perubahan Kedua Atas PBI Nomor : 3/10/PBI/2001 Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah.KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Sebelum keluar ”UU TPPU” pada tahun 2001 Bank Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor : 3/10/PBI/2001 Tentang Pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah yang kemudian diubah dengan PBI Nomor : 3/23/PBI/2001.  Setelah keluarnya ” UU TPPU ”. selanjutnya disebut ” SEBI No :5/2003. Tanggal : 4 Desember 2003 Kepada Semua Bank Umum di Indonesia perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor : 3/29/DPNP perihal Pedoman Standar Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. 81 .  Kemudian Bank Indonesia juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor : 5/32/DPNP.

KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Prinsip KYC adalah prinsip yang diterapkan bank untuk mencermati. termasuk pelaporan jika terdapat transaksi yang di duga mencurigakan. dan mengetahui identitas nasabah. 82 . Tujuan penerapan KYC adalah untuk mengenal profil dan karakter transaksi nasabah sehingga secara dini bank dapat mengidentifikasikan tarnsaksi yang diduga mencurigakan tersebut. memantau kegiatan transaksi nasabah. tidak sekedar berarti mengenal nasabah secara harafiah.  Prinsip mengenal nasabah atau KYC Priciple . legal risk. untuk meminimalisasi operasional risk. concentration risk dan reputasional risk.

juga hal-hal yang berkaitan dengan profil dan karakter transaksi nasabah yang dilakukan melalui jasa perbankan.  Oleh sebab itu. 83 .  Prinsip KYC menginginkan informasi lebih menyeluruh di samping jati diri atau identitas nasabah. dari segi operasional perbankan. barangkali bukan pekerjaan yang mudah untuk melaksanakan prinsip KYC ini.KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Prinsip KYC menginginkan lebih dari sekedar mengenal nasabah secara harafiah.

karena pekerjaan ini telah memasuki wilayah yang sangat sensitif yaitu dekat dengan privacy seseorang nasabah atau calon nasabah bank.  Dengan demikian. tanpa membuat dia tersinggung atau terganggu privacynya. bukan pekerjaan mudah. penerapan KYC memerlukan seni dan sekaligus etika.KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Untuk melakukan due deligence atau menanyakan kepada nasabah baru maupun lama tentang asal dana atau sumber dana yang dimilikinya yang disimpan atau akan disimpan di bank tertentu.  Salah-salah bisa membuat nasabah tersinggung dan memindahkan dananya ke sarana investasi yang lain. 84 .

Basel Committee telah mengembangkan rekomendasi yang memberikan basic framework untuk bank. Maulana Ibrahim. disebutkan bahwa saat ini pengawas bank di hampir seluruh dunia menyadari pentingnya due deligence terhadap nasabah baru dan nasabah yang telah ada pada banknya.KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Berdasarkan Basel Committee on Banking Supervision Consultative Document: Customer Due Deligence for Banks. 85 . dalam : Pengembangan Perbankan.  Oleh karena itu. Deputi Gubernur Bank Indonesia. 2002 ).95. Rekomendasi inilah yang selanjutnya dikembangkan sebagai Know Your Costumer ( KYC ) Principles ( R. Edisi MeiJuni No. agar menghindari banknya digunakan sebagai sarana tindak kejahatan.

86 . nasabah atau mitra transaksi bank terhadap bank yang bersangkutan. risiko operasional. prinsip KYC yang kurang sempurna dapat mengakibatkan bank-bank harus berhadapan dengan risiko perbankan yang terkait dengan penilaian masyarakat. yaitu risiko reputasi.KNOW YOUR CUSTOMER ( KYC )  Menurut R. Maulana Ibrahim selanjutnya. risiko hukum dan risiko konsentrasi.

5/2003. pada Bab III huruf A Angka 1 dan 2. huruf B angka 2 dan huruf C. 87 . selanjutnya disebut ”SEBI No.Prosedur Penerimaan Calon Nasabah Bank Dalam Rangka Penerapan Prinsip KYC  Berdasarkan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor : 5/32/DPNP Tanggal 4 Desember 2003 kepada Semua Bank Umum di Indonesia perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 3/29/DPNP perihal Pedoman Standar Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. diatur tentang prosedur penerimaan nasabah sebagai berikut.

3. 4. Perorangan Prosedur Penerimaan Nasabah Perusahaan Prosedur Identifikasi dan Verifikasi Prosedur Persetujuan Penerimaan Calon Nasabah Beneficial Owner 88 .Prosedur Penerimaan Calon Nasabah Bank Dalam Rangka Penerapan Prinsip KYC 1. 5. Prosedur Penerimaan Nasabah 2.

1. Prosedur Penerimaan Nasabah Perorangan
a. Pengisian formulir standar yang ditetapkan oleh bank sekurang-kurangnya memuat informasi :
1) nama, tempat dan tanggal lahir, alamat serta kewaganegaraan yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM) atau Paspor dan dilengkapi dengan informasi mengenai alamat tinggal tetap apabila berbeda dengan yang tertera dalam dokumen. Khusus warga negara asing (WNA) selain paspor dibuktikan dengan Kartu Izin Menetap Sementara ( KIMS/KITAS) atau Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP);

89

1. Prosedur Penerimaan Nasabah Perorangan
2) alamat dan nomor telepon tempat bekerja yang dilengkapi dengan keterangan mengenai kegiatan usaha perusahaan/instansi tempat bekerja; 3) keterangan mengenai pekerjaan/jabatan dan penghasilan calon nasabah. Dalam hal calon nasabah tidak memiliki pekerjaan, maka data yang diperlukan adalah sumber pendapatan; 4) keterangan mengenai sumber dan tujuan penggunaan dana; 5) spesimen tanda tangan.

90

1. Prosedur Penerimaan Nasabah Perorangan
b. Apabila diperlukan Bank dapat meminta informasi lain antara lain berupa major credit card, identitas pemberi kerja dari calon nasabah, rekening telpon dan rekening listrik. c. Khusus untuk calon nasabah yang melakukan pembukaan rekening melalui telepon, surat menyurat atau electronic banking maka petugas Bank wajib melakukan pertemuan dengan calon nasabah sebelum pembukaan rekening tersebut disetujui. d. Persyaratan pada huruf a, b dan c di atas berlaku pula untuk: 1) calon nasabah yang melakukan pembukaan joint account; dan 2) calon nasabah selaku perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain (beneficial owner).

91

92 . surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara. maka Bank wajib meminta informasi berkaitan dengan beneficial owner berupa: a) Bagi beneficial owner perorangan:  informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perorangan.  hubungan hukum seperti bukti penugasan.  pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner perorangan.1. Prosedur Penerimaan Nasabah Perorangan Apabila calon nasabah tersebut merupakan perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain yang merupakan beneficial owner.

” 93 .  dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili perusahaan. kecuali lembaga pemerintah.1.  dokumen identitas pemegang saham pengendali perusahaan. lembaga internasional dan perwakilan negara asing.  pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner perusahaan. surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara. Prosedur Penerimaan Nasabah Perorangan b) Bagi beneficial owner perusahaan  informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perusahaan.  hubungan hukum seperti bukti penugasan.

Badan Hukum 1) Perusahaan yang Tergolong Usaha Kecil 2) Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil B. Prosedur Penerimaan Nasabah Perusahaan A. Badan Lainnya 94 .2.

 alamat perusahaan.  nama.  negara asal dalam hal perusahaan dimaksud berbentuk badan hukum asing. nomor telepon dan atau nomor faksimili. spesimen tanda tangan dan kuasa kepada pihakpihak yang ditunjuk bertindak untuk dan atas nama perusahaan.  keterangan mengenai sumber dan tujuan penggunaan dana.a.  izin usaha atau izin lainnya dari instansi yang berwenang yang dibuktikan antara lain dengan SIUP. SITU. sedangkan kuasa untuk bertindak atas nama perusahaan dibuktikan dengan surat kuasa dari Direksi dan atau hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Badan Hukum: Perusahaan yang Tergolong Usaha Kecil a) Pengisian formulir standar yang ditetapkan oleh Bank sekurangkurangnya memuat informasi tentang:  status hukum dari usaha dimaksud yang dibuktikan dengan akte pendirian dan anggaran dasar. 95 .

c) Bank dapat meminta informasi kepada calon nasabah mengenai hubungannya dengan Bank lain. Badan Hukum: Perusahaan yang Tergolong Usaha Kecil b) Apabila diperlukan Bank dapat meminta dokumen lain misalnya laporan keuangan calon nasabah atau keterangan mengenai pelanggan utamanya. d) Persyaratan dokumen tersebut di atas berlaku pula untuk calon nasabah yang melakukan pembukaan joint account dan calon nasabah selaku perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain (beneficial owner). 96 .a.

a.  pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner perorangan 97 . Badan Hukum: Perusahaan yang Tergolong Usaha Kecil Apabila calon nasabah tersebut merupakan perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain yang merupakan beneficial owner maka Bank wajib meminta informasi berkaitan dengan beneficial owner berupa: (1) Bagi beneficial owner perorangan:  informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perorangan. surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara.  hubungan hukum seperti bukti penugasan.

lembaga internasional dan perwakilan negara asing.  dokumen identitas pemegang saham pengendali perusahaan. Badan Hukum: Perusahaan yang Tergolong Usaha Kecil (2) Bagi beneficial owner perusahaan :  informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perusahaan.a. kecuali lembaga pemerintah.  dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili perusahaan.  hubungan hukum seperti bukti penugasan. 98 . surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara. pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner perusahaan.

Badan Hukum: Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil a) Pengisian formulir standar yang ditetapkan oleh Bank sekurang-kurangnya memuat informasi tentang:  status hukum dari usaha dimaksud yang dibuktikan dengan akte pendirian dan anggaran dasar.  negara asal dalam hal perusahaan dimaksud berbentuk badan hukum asing.  alamat perusahaan. sedangkan kuasa untuk bertindak atas nama perusahaan dibuktikan dengan surat kuasa dari Direksi dan atau hasil RUPS. 99 .  nama. nomor telepon dan atau nomor faksimili. spesimen tanda tangan dan kuasa kepada pihak-pihak yang ditunjuk bertindak untuk dan atas nama perusahaan. SITU.  izin usaha atau izin lainnya dari instansi yang berwenang yang dibuktikan antara lain dengan SIUP.b.

maka calon nasabah wajib membuat pernyataan bahwa yang bersangkutan merupakan pihak yang tidak wajib memiliki NPWP. Badan Hukum: Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil b) Persetujuan oleh pejabat Bank yang berwenang termasuk pejabat khusus yang menangani nasabah perusahaan yang dianggap mempunyai bidang usaha risiko tinggi atau yang dimiliki oleh penyelenggara negara. 100 . Bank wajib meminta NPWP tersebut kepada nasabah. Apabila pada saat mengajukan permohonan untuk menjadi nasabah belum memiliki NPWP maka yang bersangkutan dapat menyampaikan fotokopi permohonan NPWP. c) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi nasabah yang diwajibkan untuk memiliki NPWP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. d) Dalam hal calon nasabah tidak wajib memiliki NPWP.b. Segera setelah nasabah memperoleh NPWP.

101 . h) Nama. paspor atau SIM. spesimen tanda-tangan dan kuasa kepada pihakpihak yang ditunjuk bertindak untuk dan atas nama perusahaan dalam melakukan hubungan usaha dengan Bank. misalnya KTP. alamat tempat kegiatan usaha dan nomor telepon perusahaan.b. g) Dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili perusahaan. Kuasa untuk bertindak atas nama perusahaan dibuktikan dengan surat kuasa dari Direksi dan atau hasil RUPS. profil pelanggan. Deskripsi kegiatan usaha perusahaan mencakup informasi mengenai bidang usaha. Badan Hukum: Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil e) Laporan keuangan dari perusahaan atau deskripsi kegiatan usaha perusahaan. f) Struktur manajemen perusahaan.

Dalam hal ini calon nasabah dapat diminta mengisi formulir pembukaan rekening atau transaksi yang antara lain mencantumkan keterangan mengenai sumber dana dan tujuan penggunaan dana atau membuat surat pernyataan.b. j) Bank dapat meminta informasi kepada calon nasabah mengenai hubungannya dengan Bank lain. Badan Hukum: Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil i) Keterangan mengenai sumber dana dan tujuan penggunaan dana. 102 . k) Persyaratan dokumen tersebut di atas berlaku pula untuk calon nasabah yang melakukan pembukaan joint account dan calon nasabah selaku perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain (beneficial owner).

Badan Hukum: Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil Apabila calon nasabah tersebut merupakan perantara atau pemegang kuasa dari pihak lain yang merupakan beneficial owner maka Bank wajib meminta informasi berkaitan dengan beneficial owner berupa: (1) Bagi beneficial owner perorangan: (a) informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perorangan.b. (c) pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner perorangan 103 . (b) hubungan hukum seperti bukti penugasan. surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara.

. (c) dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili perusahaan. (b) hubungan hukum seperti bukti penugasan.b. (d) dokumen identitas pemegang saham pengendali perusahaan. (e) pernyataan dari calon nasabah bahwa telah dilakukan penelitian terhadap kebenaran identitas maupun sumber dana dari beneficial owner 104 perusahaan. Badan Hukum: Perusahaan yang Tidak Tergolong Usaha Kecil (2) Bagi beneficial owner perusahaan (a) informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perusahaan kecuali lembaga pemerintah. lembaga internasional dan perwakilan negara asing. surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara.

Sedangkan kuasa untuk bertindak atas nama badan dibuktikan dengan surat kuasa dari pimpinan atau pengurus yang sah. Khusus nama dan spesimen tandatangan harus dibuktikan dengan identitas berupa KTP. Badan Lainnya 1) Yang dimaksud dengan badan lainnya antara lain partai politik. yayasan atau organisasi lainnya. paspor atau SIM. lembaga swadaya masyarakat (LSM). 2) Pengisian formulir standar yang ditetapkan oleh Bank sekurang-kurangnya mencakup informasi tentang: a) izin usaha atau izin lainnya atau akte/dokumen pendirian atau pengesahan dari instansi yang berwenang. 105 . b) pihak yang ditunjuk bertindak untuk dan atas nama badan dimaksud.B.

3) Apabila diperlukan Bank dapat meminta informasi lain berupa keterangan mengenai bidang kegiatan. 106 . struktur manajemen dan identitas pengurus yang berwenang mewakili badan dimaksud.B. e) NPWP (apabila ada). laporan keuangan. Badan Lainnya c) alamat badan dimaksud. d) keterangan mengenai sumber dan tujuan penggunaan dana.

3. Nasabah Perusahaan 107 . Nasabah Perorangan B. Prosedur Identifikasi dan Verifikasi A.

b. Melakukan pertemuan dengan calon nasabah sebelum pembukaan rekening tersebut disetujui bagi calon nasabah yang menggunakan media elektronis. Menatausahakan fotokopi dokumen setelah dilakukan pencocokan dengan dokumen asli yang sah. Pertemuan Bank dengan calon nasabah dapat dilakukan melalui petugas khusus atau pihak lain yang mewakili Bank untuk meyakini identitas calon nasabah dan menilai kewajaran informasi yang diberikan oleh calon nasabah.A. 108 . c. telepon dan surat menyurat. Meneliti kebenaran dokumen dan mengidentifikasi adanya kemungkinan hal-hal yang tidak wajar atau mencurigakan. Nasabah Perorangan a.

Melakukan verifikasi yang lebih ketat (extensive due dilligence) terhadap calon nasabah yang dianggap mempunyai risiko tinggi termasuk penyelenggara negara (High Risk Customer). Nasabah Perorangan d. g. e.A. 109 . f. Melakukan verifikasi yang lebih ketat (extensive due dilligence) terhadap calon nasabah yang berasal dari negara yang diklasifikasikan sebagai High Risk Countries atau negara yang belum/tidak menerapkan ketentuan Prinsip Mengenal Nasabah. Melakukan verifikasi yang lebih ketat (extensive due dilligence) terhadap calon nasabah High Risk Business yaitu bidang usaha yang potensial digunakan sebagai sarana pencucian uang. Melakukan pengecekan silang untuk memastikan adanya konsistensi dari berbagai informasi yang disampaikan oleh calon nasabah.

b. c. Menatausahakan fotokopi dokumen setelah dilakukan pencocokan dengan dokumen asli yang sah. 110 .B. dan mempertimbangkan kewajaran informasi yang diberikan oleh nasabah. d. Pertemuan Bank dengan calon nasabah dapat dilakukan melalui petugas khusus atau pihak lain yang mewakili Bank untuk meyakini identitas nasabah. telepon dan surat menyurat. Melakukan pertemuan dengan calon nasabah sebelum pembukaan rekening tersebut disetujui bagi calon nasabah yang menggunakan media elektronis. Melakukan pengecekan silang untuk memastikan adanya konsistensi dari berbagai informasi yang disampaikan oleh calon nasabah. Nasabah Perusahaan a. Meneliti kebenaran dokumen dan mengidentifikasi adanya kemungkinan hal-hal yang tidak wajar atau mencurigakan.

Melakukan verifikasi yang lebih ketat (extensive due dilligence) terhadap calon nasabah yang dianggap mempunyai risiko tinggi (High Risk Customer).B. f. omset usaha. h. deskripsi kegiatan usaha. Melakukan verifikasi yang lebih ketat (extensive due dilligence) terhadap calon nasabah yang berasal dari negara yang diklasifikasikan sebagai High Risk Countries atau negara yang belum/tidak menerapkan ketentuan Prinsip Mengenal Nasabah. laporan keuangan. Nasabah Perusahaan e. g. shell companies dan trust company. Melakukan verifikasi yang lebih ketat (extensive due dilligence) terhadap calon nasabah High Risk Business yaitu bidang usaha yang potensial digunakan sebagai sarana pencucian uang. 111 . lokasi perusahaan dan lain sebagainya. termasuk perusahaan milik pejabat penyelenggara negara. profil transaksi. Mempertimbangkan kewajaran informasi berkaitan dengan bidang usaha perusahaan.

112 . Persetujuan diberikan oleh pejabat Bank sesuai dengan jenjang kewenangan yang ditetapkan setelah meyakini kebenaran identitas dan kelengkapan dokumen calon nasabah. b. Prosedur Persetujuan Penerimaan Calon Nasabah Prosedur persetujuan penerimaan calon nasabah diatur sebagai berikut. high risk business dan high risk customer diberikan oleh pejabat Bank yang memiliki kewenangan satu tingkat lebih tinggi dari pejabat yang berwenang dalam memberikan persetujuan penerimaan non high risk customer.4. a. Persetujuan terhadap penerimaan calon nasabah yang tergolong dalam high risk countries.

113 . meliputi :  Informasi yang relevan sebagaimana halnya prosedur penerimaan nasabah perorangan.  Pernyataan dari calon nasabah bahwa dilakukan penelitian terhadap kebenaran identias maupun sumber dana dari beneficial owner – perorangan. Beneficial Owner  benficial owner adalah pemberi kuasa pembukaan rekening pada suatu bank.Peorangan.  Hubungan hukum seperti bukti penugasan.5. surat kuasa atau kewenangan bertindak sebagai perantara.  Adapun penelitian atas Beneficial Owner .

Transaksi Mencurigakan   Ada beberapa Pasal di dalam ”UUTPPU” dan peraturan perundangan yang terkait yang mengatur tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan transaksi mencurigakan itu. Pasal 14 dan Pasal 17 dengan Penjelasannya pada ayat (1) dan (4). Pasal 8. Pasal 9. Pasal-pasal di dalam ”UU TPPU” tersebut adalah Pasal 1 angka 7. yang dalam rangka penerapan prinsip KYC harus diteliti. dicermati dan dilaporkan oleh Bank kepada Bank Indonesia dan/atau PPATK. Kesemuanya akan dikutip dibawah ini : 114 . Pasal 13 beserta penjelasannya. Pasal 11.

Transaksi Mencurigakan Pasal-pasal di dalam ”UU TPPU” tersebut adalah :  Pasal 1 angka 7.  Pasal 11.  Pasal 13 beserta penjelasannya.  Pasal 14 dan  Pasal 17 dengan Penjelasannya pada ayat (1) dan (4).  Pasal 9.  Pasal 8. 115 .

atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan. transaksi keuangan yang menyimpang dari profil. transaksi keuangan yang dilakukn atau batal dilakukan dengan menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh penyedia jasa keuangan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini. b.” 116 . atau c. karakteristik.Transaksi Mencurigakan Pasal 1 angka 7 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan :“Transaksi keuangan mencurigakan adalah: a.

000.000.-. 250. dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp.000.Transaksi Mencurigakan  Pasal 8 menyebutkan : ”Penyedia Jasa Keuangan yang dengan sengaja tidak menyampaikan laporan kepada PPATK sebagaimana dimaksud Pasal 13 Ayat (1).(dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.(satu miliar rupiah) ”. 1. 117 .000.-.000.

00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 300.00 (seratus juta rupiah) atau lebih atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu yang dibawa ke dalam atau ke luar wilayah Negara Republik Indonesia.000.000.000.00 (tiga ratus juta rupiah).Transaksi Mencurigakan  Pasal 9 menyebutkan :“Setiap orang yang tidak melaporkan uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp 100.000.000.” 118 .000. dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp 100.

(2) Pidana penjara sebagai pengganti pidana denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan dalam amar putusan hakim.Transaksi Mencurigakan Pasal 11 menyebutkan : (1) Dalam hal terpidana tidak mampu membayar pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Bab II dan Bab III.” 119 . pidana denda tersebut diganti dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun.

000.00 (lima ratus juta rupiah) atau lebih atau mata uang asing yang nilainya setara. Transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai dalam jumlah kumulatif besar Rp 500. baik dilakukan dalam satu kali transaksi maupun beberapa kali transaksi dalam 1 (satu) hari kerja.Transaksi Mencurigakan Pasal 13 menyebutkan : (1) Penyedia jasa keuangan wajib menyampaikan laporan kepada PPATK sebagaimana dimaksud dalam Bab V. untuk hal-hal sebagai berikut: a. Transaksi keuangan mencurigakan.000. 120 . b. (1a) Perubahan besarnya transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan dengan Keputusan Kepala PPATK.

Transaksi Mencurigakan
(2) Penyampaian laporan transaksi keuangan mencurigakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah penyedia jasa keuangan mengetahui adanya unsur transaksi keuangan mencurigakan. (3) Penyampaian laporan transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal transaksi dilakukan.
121

Transaksi Mencurigakan
(4) Kewajiban pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak berlaku untuk transaksi yang dikecualikan. (5) Transaksi yang dikecualikan dari kewajiban pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi transaksi antar bank, transaksi dengan pemerintah, transaksi dengan bank sentral, pembayaran gaji, pensiun, dan transaksi lainnya yang ditetapkan oleh Kepala PPATK atau atas permintaan penyedia jasa keuangan yang disetujui oleh PPATK.”
122

Transaksi Mencurigakan
Penjelasan Pasal 13 ayat (1) huruf a menyebutkan: “Pada dasarnya transaksi keuangan mencurigakan tidak memiliki ciri-ciri yang baku, karena hal tersebut dipengaruhi oleh variasi dan perkembangan jasa dan instrumen keuangan yang ada. Meskipun demikian, terdapat ciri-ciri umum dari transaksi keuangan mencurigakan yang dapat dijadikan acuan antara lain sebagai berikut: 1) tidak memiliki tujuan ekonomis dan bisnis yang jelas; 2) menggunakan uang tunai dalam jumlah yang relatif besar dan/atau dilakukan secara berulang-ulang di luar kewajaran; 3) aktivitas transaksi keuangan nasabah di luar kebiasaan dan kewajaran.
123

” 124 . dan huruf c. huruf b. Unsur transaksi keuangan mencurigakan adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 7 huruf a.Transaksi Mencurigakan Penjelasan Pasal 13 ayat (2) menyebutkan : “Ketentuan ini dimaksudkan agar penyedia jasa keuangan dapat sesegera mungkin melaporkan transaksi keuangan mencurigakan agar harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana dan pelaku pencucian uang dapat segera dilacak.

misalnya setoran rutin oleh pengelola jalan tol atau pengelola supermarket. atau wilayah kerja penyedia jasa keuangan tertentu. PPATK menetapkan transaksi lainnya yang dikecualikan berdasarkan besarnya jumlah transaksi.Transaksi Mencurigakan Penjelasan Pasal 13 ayat (5) menyebutkan : “Yang dimaksud dengan transaksi lainnya adalah transaksi-transaksi yang dikecualikan yang sesuai dengan karakteristiknya selalu dilakukan dalam bentuk tunai dan dalam jumlah yang besar. Pemberlakuan pengecualian tersebut dapat dilakukan baik untuk waktu yang tidak terbatas (permanen) maupun untuk waktu tertentu (temporer). Selain berdasarkan jenis transaksi.” 125 . bentuk penyedia jasa keuangan tertentu.

(2) Penyedia jasa keuangan wajib memastikan pengguna jasa keuangan bertindak untuk diri sendiri atau untuk orang lain. dikecualikan dari ketentuan rahasia bank sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang yang mengatur mengenai erahasia bank”. Pasal 17 menyebutkan : (1) Setiap orang yang melakukan hubungan usaha dengan penyedia jasa keuangan wajib memberikan identitasnya secara lengkap dan akurat dengan mengisi formulir yang disediakan oleh penyedia jasa keuangan dan melampirkan dokumen yang diperlukan. 126 .Transaksi Mencurigakan Pasal 14 menyebutkan: ”Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh penyedia jasa keuangan yang berbentuk bank.

Transaksi Mencurigakan (3) Dalam hal pengguna jasa keuangan bertindak untuk orang lain.” 127 . identitas dan dokumen pendukung yang diminta dari pengguna jasa keuangan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Bagi penyedia jasa keuangan berbentuk bank. (5) Pengguna jasa keuangam wajib menyimpan catatan dan dokumen mengenai identitas pengguna jasa keuangan sampai dengan 5 (lima) tahun sejak berakhirnya hubungan usaha dengan pengguna jasa keuangan tersebut. penyedia jasa keuangan wajib meminta informasi mengenai identitas dan dokumen pendukung dari pihak lain tersebut.

ketentuan tersebut juga sejalan dengan kesepakatan internasional yang menginginkan agar setiap negara memiliki ketentuan yang melarang pembukaan rekening tanpa identitas yang jelas dari nasabah. pengiriman dana melalui transfer. dan penggunaan jasa keuangan lainnya. pembelian dan penjualan valuta asing. penitipan.Transaksi Mencurigakan Penjelasan Pasal 17 ayat (1) menyebutkan :“ Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi penegak hukum melakukan pelacakan terhadap nasabah apabila dikemudian hari terdapat dugaan bahwa yang bersangkutan melakukan tindak pidana pencucian uang. jenis kelamin. alamat. umur. Hubungan usaha dengan penyedia jasa keuangan dalam ketentuan ini termasuk pembukaan rekening. Selain itu. penguangan cek. Yang dimaksud dengan “identitas yang lengkap dan akurat” antara lain menyebutkan nama. pembelian traveller cheques.” 128 . agama dan pekerjaan.

Transaksi Mencurigakan Penjelasan Pasal 17 ayat (4) menyebutkan: “Yang dimaksud dengan “peraturan perundangundangan” pada saat ini adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/10/PBI/2001 tentang Pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/23/PBI/2001 dan peraturan pelaksanaannya.” 129 .

3/23/PBI/2001 tersebut telah diubah dengan PBI Nomor : 5/21/PBI/2003 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/10/PBI/2001 Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) (selanjutnya disebut dengan “PBI 5/2003”) . 130 .Transaksi Mencurigakan Perlu dijelaskan di sini bahwa PBI No.

5/2003 tersebut adalah Pasal 14. sebagai berikut : 131 .Transaksi Mencurigakan Adapun Pasal-pasal yang berkaitan dengan Penerapan Prinsip KYC di dalam PBI No. Pasal 17 dan Pasal 18 ayat (1) dan (1a).

(2) Penyampaian laporan transaksi keuangan mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang berlaku.Transaksi Mencurigakan Pasal 14 menyebutkan : (1) Bank wajib menyampaikan laporan transaksi keuangan mencurigakan kepada PPATK paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Bank mengetahui adanya unsur transaksi keuangan mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5.” 132 .

000.00 (seratus juta rupiah) atau nilai yang setara dengan itu.000.Transaksi Mencurigakan Pasal 17 menyebutkan : “Bank wajib menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah terhadap Nasabah yang tidak memiliki rekening di Bank dalam hal nilai transaksi yang dilakukan melebihi Rp100.” 133 .

Transaksi Mencurigakan Pasal 18 ayat (1) dan (1a) menyebutkan : (1) Bank yang terlambat menyampaikan pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b dan huruf c serta laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 berupa kewajiban membayar sebesar Rp1.000.00 (satu juta rupiah)per hari keterlambatan dan setinggi-tingginya Rp30. 134 .00 (tiga puluh juta rupiah).000.000.000.

Transaksi Mencurigakan (1a) Bank yang tidak menyampaikan pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b dan c serta laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (1) dikenakan sanksi adminstratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a dan huruf b Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 berupa teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar Rp50.000.” 135 .00 (lima puluh juta rupiah).000.

Pasal 6 dan Pasal 7 diatur transaksi-transaksi yang dikecualikan dari kewajiban pelaporan sebagai berikut : 136 .Transaksi Mencurigakan Berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan Nomor: 3/9/KEP. PPATK/2004 tentang Transaksi Keuangan Tunai Yang Dikecualikan Dari Kewajiban Pelaporan (selanjutnya disebut dengan “Keputusan Kepala PPATK 3/2004”) pada Pasal 3.

dan transaksi lainnya yang ditetapkan oleh Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau atas permintaan Penyedia Jasa Keuangan (“PJK”) yang disetujui oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (“PPATK”). transaksi dengan Bank Sentral. c.” 137 . pembayaran gaji. b. transaksi dengan Pemerintah. transaksi antar bank.Transaksi Mencurigakan Pasal 3 menyebutkan : “Transaksi Keuangan Tunai yang dikecualikan dari kewajiban pelaporan adalah: a. f. e. pembayaran pensiun. d.

Transaksi Mencurigakan Pasal 6 menyebutkan: “PJK dapat mengajukan permintaan pengecualian kewajiban pelaporan Transaksi Keuangan Tunai kepada Kepala PPATK.” 138 .

dan c.Transaksi Mencurigakan Pasal 7 menyebutkan : “Kriteria Transaksi Keuangan Tunai yang dapat diajukan oleh PJK kepada KepalaPPATK untuk dikecualikan dari kewajiban pelaporan adalah sebagai berikut: a. Transaksi Keuangan Tunai yang terkait secara langsung dengan kegiatan usaha nasabah dan sesuai dengan karakteristik usaha yang umumnya dilakukan secara tunai. Transaksi Keuangan Tunai yang merupakan transaksi rutin yaitu transaksi yang dilakukan secara harian. mingguan atau bulanan. b.” 139 . Transaksi Keuangan Tunai dilakukan oleh nasabah yang telah menjadi nasabah PJK sekurangkurangnya 6 (enam) bulan secara terus menerus.

Apakah transaksi yang bersangkutan merupakan transaksi yang dapat diyakini kewajarannya atau tidak atau transaksi yang lazim dilakukan oleh nasabah yang bersangkutan atau tidak. 140 . 2. Apakah transaksi yang bersangkutan merupakan transaksi normal atau tidak sesuai dengan profil nasabah. maka transaksi tersebut telah mengindikasikan sebagai transaksi yang patut dicurigai sebagai salah satu jenis transaksi yang wajib dilaporkan kepada PPATK.Identifikasi Transaksi yang Mencurigakan 1. Jika tidak.

Apa ukuran bahwa transaksi itu normal atau tidak. Dari indikator sebagaimana disebutkan di atas. lazim atau tidak sangat tergantung dari keyakinan bank untuk meneliti sedemikian seksama dikaitkan dengan profil nasabah yang bersangkutan. transaksi itu wajar atau tidak.Identifikasi Transaksi yang Mencurigakan    Indikator tersebut di dalam praktik sering disebut sebagai ”red flag” atau ”bendera merah” yang merupakan simbol atau tanda bahwa dengan munculnya indikator tersebut berarti ada sesuatu yang mencurigakan yang wajib dicermati secara lebih mendalam oleh karyawan atau petugas bank dalam rangka penerapan prinsip-prinsip perbankan yang sehat. memang harus diakui bahwa indikator transaksi mencurigakan itu masuk dalam kategori ”norma kabur” atau ”blanket norm”. 141 .

10. maka menurut pendangan kami transaksi tersebut sudah patut dicurigai sebagai transaksi yang tidak normal atau tidak wajar.000.000. yang berarti masuk kategori transaksi mencurigakan menurut ”UU TPPU”.000. Di sinilah peran penting bank atau karyawan bank dalam rangka pelaksanaan prinsip KYC dalam kaitannya dengan pelaksanaan ”UU TPPU”.000. 142 .Identifikasi Transaksi yang Mencurigakan   Misalnya.( satu miliar ).-. jika keseharian transaksi yang dilakukan seorang nasabah bank tertentu lazimnya atau biasanya hanya berkisar Rp.( sepuluh juta ).000.-. tiba-tiba melakukan transaksi yang bernilai 1.

spiritualitas seseorang. kejujuran. Hal ini merupakan tantangan bagi setiap bankir. erat kaitannya dengan moral. 143 . Keyakinan itu sesuatu yang sangat subyektif.Identifikasi Transaksi yang Mencurigakan   Berhasil tidaknya penerapan prinsip KYC dalam kaitannya dengan pelaksanaan ”UU TPPU” sangat digantungkan kepada keyakinan bank atau karyawan bank dalam mendeteksi transaksi-transaksi mencurigakan yang terjadi di lingkungan banknya.

Nasabah menggunakan identitas palsu. d. b. Sumber penghasilan nasabah tidak jelas/meragukan.Identifikasi Transaksi yang Mencurigakan Langkah-langkah untuk mendeteksi secara dini adanya indikasi transaksi yang mencurigakan dapat dilakukan melalui tiga tahapan sebagai berikut : 1. c. Alamat usaha menggunakan perush kamuflase. jauh melampaui penghasilan yang semestinya. Pada saat pembukaan rekening : a. Nasabah menggunakan identitas palsu. 144 .

Penyimpanan dana dalam jumlah besat yang sumbernya tidak sesuai dengan kondisi bisnis perusahaan nasabah. Mengkaji langkah 1. Pada saat pelaksanaan transaksi: a. Menanyakan transaksi kpd nasabah (delicately). 145 . e. Melakukan review atas informasi yang sudah dimiliki. 2 tersebut di atas dan kemudian mengambil keputusan ada tidaknya transaksi yang mencurigakan yang wajib dilaporkan. Pelunasan kredit bermasalah dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Pembelian traveler check oleh nasabah dlm jumlah yang sangat besar. b.Identifikasi Transaksi yang Mencurigakan 2. d. c. 3.

Transaksi yang berkaitan dengan investasi: 146 . Transaksi dengan menggunakan pola transaksi tunai: 2.Contoh Indikator Transaksi yang Mencurigakan 1. Transaksi dengan menggunakan Rekening Bank: 3.

Penyetoran tunai dalam jumlah yang besar yang tidak lazim oleh perorangan maupun perusahaan yang memiliki kegiatan usaha tertentu dan penyetoran tersebut biasanya dilakukan dengan menggunakan cek atau instrumen non-tunai lainnya. 147 . Penyetoran tunai dengan menggunakan beberapa slip setoran dalam jumlah kecil sehingga total penyetoran tunai tersebut mempunyai jumlah sangat besar.1. b. Transaksi dengan menggunakan pola transaksi tunai a. Peningkatan penyetoran tunai yang secara material pada rekening perorangan atau prusahaan tanpa disertai penjelasan yang memadai. c.

Transaksi dengan menggunakan pola transaksi tunai d. Penyetoran tunai yang didalamnya selalu terdapat uang palsu. Transfer dalam jumlah besar dari negara lain dengan instruksi untuk dilakukan pembayaran tunai.1. Penukaran uang tunai kedalam mata uang asing dalam frekuensi yang tinggi. Peningkatan kegiatan transaksi tunai dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran suatu kantor bank. f. g. e. 148 .

149 b. Pembayaran dari rekening nasabah yang dilakukan setelah adanya penyetorantunai kepada rekening dimaksud pada hari yang sama atau dari sebelumnya. Penyetoran dan atau penarikan dalam jumlah besar dari rekeing perorangan atau perusahaan yang tidak sesuai atau tidak terkait dengan usaha nasabah.2. c. Penyetoran dalam jumlah kecil kedalam bebrapa rekening yang dimiliki nasabah pada bank sehingga total penyetoran tersebut mempunyai jumlah sangat besar. Pemeliharaan beberapa rekening atas nama pihak lain yang tidak sesuai dengan jenis kegiatan usaha nasabah. . Transaksi dengan menggunakan Rekening Bank a. d.

3. Transaksi yang berkaitan dengan investasi a. perusahaan afiliasi. atau institusi perbankan di negara lain yang dikenal sebagai negara tempat lalu lintas perdagangan narkotika. Transaksi pinjaman dengan jaminan dana yang diblokir antara bank dengan anak perusahaan. Pembelian surat berharga untuk disimpan di Bank sebagai kustodian yang seharusnya tidak layak. apabila memperhatikan reputasi atau kemampuan finansial nasabah. 150 . b.

3. e. atau investor lain dari negara yang diketahui umum sebagai tempat produksi atau perdagangan narkotika. 151 . jumlah dan frekuensi transaksi yang tidak lazim. Investor yang diperkenalkan oleh bank di negara lain. Transaksi dengan pihak lawan yang tidak dikenal atau sifat. Transaksi yang berkaitan dengan investasi c. Permintaan nasabah untuk jasa pengelolaan investasi dengan sumber dana investasi yang tidak jelas sumbernya atau tidak konsisten dengan reputasi atau kemampuan finansial nasabah. perusahaan afiliasi. d.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful