P. 1
Makalah Bimbingan Dan Konseling Pada Pasien Terminal Dan Perawatan Lanjutan Di Rumah

Makalah Bimbingan Dan Konseling Pada Pasien Terminal Dan Perawatan Lanjutan Di Rumah

|Views: 456|Likes:
Published by Dewi Pradnyani
h
h

More info:

Published by: Dewi Pradnyani on Aug 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2014

pdf

text

original

makalah Bimbingan dan Konseling Pada Pasien Terminal dan Perawatan Lanjutan di Rumah

2.1 Konsep Bimbingan Konseling 2.1.1 Pengertian Bimbingan adalah Proses pemberian bantuan (process of helping) kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan ( agama dan budaya) sehingga men-capai kehidupan yang bermakna (berbahagia, baik secara personal maupun sosial)” Bimbingan dan Konseling, “Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka mem-bantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya”. 2.1.2 fungsi layanan Bimbingan Dan Konseling  fungsi pemahaman Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu mereka untuk memahaminya secara objektif/realistik  fungsi preventif Memberikan Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah  fungsi pengembangan Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya  fungsi kuratif Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)
2.1.3 Jenis – jenis Bimbingan dan Konseling  Bimbingan akademik Bertujuan: 1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif 2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat 3. Memiliki keterampilan belajar yang efektif 4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan 5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian

1. Memahami perasaan diri dan mampu mengekspresikannya secara wajar 8. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko 3. Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan 5. Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan 7.4 Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling 1. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan 8. Memiliki kemampuan memecahkan masalh 9. Memiliki keterampilan membaca buku  Bimbingan pribadi/sosial Bertujuan: 1. Memiliki pemahaman ttg irama kehidupan yg bersifat fluktuatif (antara anugrah dan musibah) dan mampu meresponnya dg positif 3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif 4. Mampu memberdayakan diri secara produktif 3. Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja 4. Memiliki sikap respek thd diri sendiri 5. Mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang diharamkan agama 7. Dapat mengelola stress 6. Mampu menyesuaikan diri dengan norma yang ada dalam keluarga 4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif . Memiliki rasa percaya diri 10. Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan 3. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir 6. Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dg pekerjaan  Bimbingan keluarga Bertujuan: 1. Mampu berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia 2. Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan 2. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri 4. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME 2.6. Memiliki mental yang sehat  Bimbingan karier Bertujuan: 1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku 2. Memiliki sikap pemimpin dalam keluarga 2.

berpusat pada kondisi krisis. inkopntinensia urin terjadi akibat penurunan kesadaran atau kondisi penyakit mis trauma medulla spinalis. pernafasan cheyne stokes. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat 2. nilai. termasuk kondisi medis. tetapi pasti terjadi Klien dalam kondisi Terminal akan mengalami berbagai masalah baik fisik. Pengertian Keadaan Terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penyakit / sakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh sehingga sangat dekat dengan proses kematian. Konstipasi. social yang dialami.2 KONSEP PASIEN TERMINAL A. maupun psikologis  Fase Kronis. sirkulasi perifer menurun.persahabatan. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku. retensi urin. interpersonal. dan kompetensi yang mendukung pilihan karir 10. akumulasi secret. yaitu :  Fase Prediagnostik terjadi ketika diketahui ada gejala atau factor resiko penyakit  Fase Akut.dalam berinteraksi dengan orang lain 6. dalam kondisi ini kematian bukan lagi hanya kemungkinan. medikasi atau imobilitas memperlambat peristaltic. psikologis. hypoksia. perubahan mental. inkontinensia fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau kondisi penyakit(mis Ca Colon). Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang ditunjukan oleh pasien terminal. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif 9. Respon klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi fisik. Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam hidup kedalam empat fase. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial 7.nilai-nilai. sehingga dampak yang ditimbulkan pada tiap individu juga berbeda. tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai. oliguri terjadi seiring penurunan intake cairan atau kondisi penyakit mis gagal ginjal .keharmonisan.dan. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal. nadi ireguler  Problem Eliminasi. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif 8. psikologis. klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya. Gambaran problem yang dihadapi pada kondisi terminal antara lain :  Problem Oksigenisasi . maupun social-spiritual.5. tekanan darah menurun. respirasi irregular.  Fase Terminal. agitasi-gelisah. Klien dihadapkan pada serangkaian keputusasaan. cepat atau lambat. kurang diet serat dan asupan makanan jugas mempengaruhi konstipasi. Memelihara.

klien terminal dan orang terdekat biasanya mengalami banyak respon emosi. sensasi menurun  Problem nyeri . perasaaan marah dan putus asa seringkali ditunjukan. kesenjangan komunikasi / barrier komunikasi  Perubahan Sosial-Spiritual. kesepian. menyebabkan kekeringan pada kornea. atau mengalami penderitaan sepanjang hidup Seseorang yang menghadapi kematian/kondisi terminal. kesepian. distensi abdomen. ditelantarkan. harkat . Perhatian utama pasien terminal sering bukan pada kematian itu sendiri tetapi lebih pada kehilangan kontrol terhadap fungsi tubuh. kehilangan BB. peristaltic menurun. cegukan. kedinginan sehingga harus memakai selimut  Problem Sensori . Orang yang telah lama hidup sendiri. merespon terhadap berbagai kejadian dan orang disekitarnya sampai kematian itu terjadi. ambang nyeri menurun. refleks berkedip hilang saat mendekati kematian. lidah kering dan membengkak. bibir kering dan pecah-pecah. depresi dan isolasi Mempertahankan rasa aman. muntah. kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun  penglihatan kabur. pengalaman nyeri yang menyakitkan atau tekanan psikologis yang diakibatkan ketakutan akan perpisahan.pendengaran berkurang. asupan makanan dan cairan menurun. Atau sebagian beranggapan bahwa kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai. kehilangan orang yang dicintai. seringkali tirah baring lama menimbulkan masalah pada kulit sehingga pasien terminal memerlukan perubahan posisi yang sering  Masalah Psikologis . Problem Nutrisi dan Cairan. dikuncilkan. Problem psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain ketergantungan. pengobatan nyeri dilakukan secara intra vena. terisolasi akibat kondisi terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai kondisi peredaan terhadap penderitaan. Tujuan merawat klien terminal adalah sebagai berikut : Mencapai kembali dan mempertahankan kenyamanan fisik Mempertahankan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari Mempertahankan harapan Mencapai kenyamanan spiritual Menghindarkan / mengurangi rasa kesepian. dia akan menjalani hidup. dan rasa berguna Membantu klien menerima kehilangan        . Sedangkan yang lain beranggapan takut akan perpisahan. ditelantarkan. klien mulai merasa hidup sendiri. terisolasi akibat kondisi terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai kondisi peredaan terhadap penderitaan. Sebagian beranggapan bahwa kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai. Penglihatan menjadi kabur. Pendengaran menurun. takut. Sedangkan yang lain beranggapan takut akan perpisahan. hilang control diri. ekstremitas dingin. klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan kenyamanan  Problem Kulit dan Mobilitas . dehidrasi terjadi karena asupan cairan menurun  Problem suhu. kehilangan harga diri dan harapan. mual. tidak mampu lagi produktif dalam hidup. dikuncilkan. atau mengalami penderitaan sepanjang hidup.

dan fungsi psikologis. sehingga perawat bisa memberikan bimbingan dan konseling bagi keluarga tentang bagaimana cara memberikan kenyamanan pada klien. Ketika kematian mendekat. Perawat bisa memberikan dorongan kepada keluarga untuk membiarkan klien membuat keputusan. Perawat harus memberikan informasi tentang pilihan ini kepada keluarga dank lien. Perawat dapat berbagi penderitaan klien menjelang ajal dan melakukan intervensi yang dapat meningkatkan kualitas hidup. mobilitas. bimbingan dan konsultasi tentang perawatan diperlukan. Pencegahan Kesepian dan Isolasi Perawat membutuhkan kesabaran dan pengalaman untuk merespon secara efektif terhadap klien menjelang ajal. terutama saat-saat terkhir hidupnya. Kontrol nyeri terutama penting karena mengganggu tidur. c. Dalam melakukan perawatan keluarga dan orang terdekat klien harus dilibatkan. Peningkatan Kenyamanan Kenyamanan bagi klien menjelang ajal termasuk pengenalan dan peredaan distress psikobiologis. . akan meningkatkan martabat klien.2. keterlibatan anggota keluarga. Klien menjelang ajal mungkin mencari untuk menemukan tujuan dan makna hidup sebelum menyerahkan diri kepada kematian. Pemeliharan Kemandirian Tempat perawatan yang tepat untuk pasien terminal adalah perawatan intensif. Perawat dan keluarga dapat membantu klien mengekspresikan nilai dan keyakinannya. membaca. Peningkatan Ketenangan Spiritual Peningkatan ketenangan spiritual mempunyai arti lebih besar dari sekedar meminta rohaniawan. makan.3. Keluarga atau penjenguk harus diperbolehkan bersama klien menjelang ajal sepanjang waktu. Mengizinkan pasien untuk melakukan tugas sederhana seperti mandi. b.1 Konsep Bimbingan dan Konseling pada Pasien Terminal Asuhan perawatan klien terminal tidaklah mudah. Perawat memberikan bimbingan kepada keluarga untuk tetap/ selalu bersama klien menjelang ajal. Untuk mencegah kesepian dan penyimpangan sensori. Ketakutan terhadap nyeri umum terjadi pada klien kanker. pilihan lain adalah perawatan hospice yang memungkinkan perawatan komprehensif di rumah. Sebagian besar klien terminal ingin mandiri dalam melakukan aktivitasnya. Klien mungkin akan bergantung pada perawat dan keluarganya untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya. teman dekat dapat mencegah kesepian. Pokok – pokok dalam memberikan bimbingan dan konseling dalam perawatan pasien terminal terdiri dari : a. Lingkungan harus diberi pencahayaan yang baik. Perawat tidak boleh memaksakan partisipasi klien terutama jika ketidakmampuan secara fisik membuat partisipasi tersebut menjadi sulit. Klien sering mencari ketenangan. d. nafsu makan. klien harus dirawat dengan respek dan perhatian penuh. Perawat harus memberikan bimbingan kepada keluarga tentang tindakan penenangan bagi klien sakit terminal. Pemberian kenyamanan bagi klien terminal juga mencakup pengendalian gejala penyakit dan pemberian terapi. Perawat membantu klien untuk meraih kembali martabatnya.3 PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PASIEN TERMINAL 2. perawat mengintervensi untuk meningkatkan kualitas lingkungan.

o Pelayanan medis dan keperawatan tersedia sepanjang waktu. perawat. penampilan dan bau yang tidak menyenangkan. dan Canada pada tahun 1970-an. banyak hal sulit yang dialami keluarga untuk mengatasi kondisi anggota keluarganya yang terminal.Klien mungkin minta pengampunan baik dari yang maha kuasa atau dari anggota keluarga. Sebagian besar klien dalam program hospice mempunyai waktu hidup 6 bulan atau kurang. dan buruknya hubungan dengan pemberi perawatan. Dukungan untuk keluarga yang berduka Anggota keluarga harus didukung melewati waktu menjelang ajal dan kematian dari orang yang mereka cintai. peralatan yang digunakan pada klien harus diberikan penjelasan. e. Perawatan Hospice adalah program perawatan yang berpusat pada keluarga yang dirancang untuk membantu klien terminal dapat hidup nyaman dan mempertahankan gaya hidup senormal mungkin sepanjang proses menjelang ajal. rohaniawan. amerika.2 Prosedur Bimbingan dan Konseling pada pasien terminal Dalam memberikan bimbingan dan konseling kepada pasien terminal atau keluarganya.4. gejala yang sulit dikontrol. yang kemudian di Inggris. empati.3. 2. Hal ini mencakup lamanya periode menjelang ajal. seperti alat Bantu nafas atau pacu jantung. Semua tindakan medis. Ketentuan tim perawatan interdisiplin ilmu yang terdiri dari dokter. Komponen Perawatan Hospice yaitu: Perawatan di rumah yang terkoordinasi dengan pelayanan rawat jalan dibawah administrasi rumah sakit o Control gejala (fisik. Alternatif perawatan bisa dilaksanakan di rumah. sosio-spiritual) o Pelayanan yang diarahkan dokter. Kemungkinan yang terjadi selama fase kritis pasien terminal harus dijelaskan pada keluarga.fisiologis. Keluarga mungkin takut berkomunikasi dengan klien. hal ini berarti memberikan bimbingan pada aspek perbaikan fisik. harus ditetapkan tujuan bersama. membaca kitab suci. Bimbingan yang diberikan harus berfokus pada peningkatan kenyamanan dan perbaikan sisa kualitas hidup. Selain kebutuhan spiritual ada juga harapn dan cinta. psikologis. atau mendengarkan musik. social dan spiritual. o o . dikenal dengan Perawatan Hospice. berdoa dengan klien. pekerja sosial. dan konselor. sumber koping yang terbatas. Program ini dimulai di Irlandia tahun 1879. Hal ini menjadi dasar untuk evaluasi tindakan perawatan.1 Batasan Perawatan Lanjut di Rumah Penyakit terminal menempatan tuntutan yang besar pada sumber social dan financial. cinta dapat diekspresikan dengan baik melalui perawatan yang tulus dan penuh simpati dari perawat dan keluarga. Perawat dan keluarga memberikan ketenangan spiritual dengan menggunakan ketrampilan komunikasi. 2.4 PELAKSANAAN PERAWATAN LANJUTAN DI RUMAH 2.

keamanan. berpakaian. mengevaluasi asuhan yang diberikan. RN membuat delegasi tugas-tugas perawatan yang harus dilaksanakan oleh perawat pelaksana yang telah mempunyai izin (lisenced) dari lembaga berwenang.4. Pencegahan Kesepian dan Isolasi. pemberian medikasi dan pengobatan. Program hospice menekankan pengobatan paliatif yang mengotrol gejala ketimbang pengobatan penyakit. Dalam perawatan pasien di rumah. peningkatan kemandirian. laithan dan mobilisasi. Diluar negeri Registered nurses (RN).o Klien dan keluarga sebagai unit perawatan. ambulasi. o Tindak lanjut kehilangan karena kematian setelah keamatian klien. rujukan pasien harus dibuat oleh penanggung jawab perawatan. perawatan kulit. tim interdisiplin memberikan sumber psikologis dan fisik yang diperlukan untuk mendukung keluarga. Pengkajian Kebutuhan Istirahat dan Tidur Aspek yang perlu dikaji pada klien untuk mengidentifikasi mengenai gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi pengkajian mengenai: .4. system rujukan bisa dibuat.3 Langkah Perawatan Lanjut di Rumah Perawatan lanjut di rumah ditujukan untuk memberikan perawatan fisik berupa perawatan kebersihan diri. kemampuan eliminasi dan lainnya. Inti perawatan harus bisa memberikan kenyamanan bagi klien. dimana perawatan klien oleh perawat home care dibawah yurisdiksi Registered nurses (RN). Perawatan harus memberikan kebersihan. o Penerimaan kedalam program didasarkan pada kebutuhan perawatan kesehatan ketimbang pada kemampuan untuk membayar.2 Sistem Rujukan Dalam pelayanan rujukan. Keluarga menjadi pemberi perawatan primer.perawatan klien dikoordinasikan antara lingkungan rumah dan klien. bimbingan dan konseling pasien terminal Pemberian terapi intravena tergantung peraturan pemerintah setempat. Upaya diarahkan untuk tetap merawat klien dirumah selama mungkin. mempunyai kewenangan untuk merujuk pasien ke system pelayanan yang lebih tinggi lagi. 2. kenyamanan dan lingkungan yang tenang. binas kesehatan) memberi kan izin pada perawat pelaksana untuk merawat dan membuat rujukan berdasarkan standar asuhan keperawatan 2. ada juga yang tidak Lembaga berwenang (Rumah sakit. Klien dan keluarga berpartisipasi dalam perawatan . ada yang memberi kewenangan untuk melakukan terapi intravena oleh pelaksana perawat. peningkatan ketenagan spiritual. o Penggunaan tenaga sukarela terlatih sebagai bagian dari tim. o o o o Prinsip Delegasi/Rujukan : Perawat pelaksana secara hukum bertanggung jawab langsung untuk merawat klien Perawat pelaksana bertanggung jawab untuk merujuk pasien.

h. klien melakukan aktivitas tanpa disadari sehingga berisiko terjadinya kecelakaan. kurang konsentrasi. Ciptakan lingkungan yang nyaman. misalnya apakah klien tampak lelah. Intervensi Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur Pada klien yang dirawat di rumah sakit dapat mengalami masalah istirahat dan tidur. atau mata yang terlihat cekung. atau terlihat bingung. jam berapa biasa bangun tidur. c. Lingkungan tidur klien. 3. dan lain-lain. bisa berupa jatuh dari tempat tidur. letidakmampuan mengatasi stres yang dialami. f. Perawat perlu mengkaji mengenai status emosional dan mental klien. lingkungan yang bising). Status emosional dan mental memengaruhi terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Walaupun begitu. atau penyakit yang dideritanya. Kelelahan. rutinitas ruangan. apakah kondisinya bising. Bagaimana kondisi lingkungan tidur klien?. Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya. selalu menguap. bengkak di kelopak mata. konjungtiva kemerahan. d.a. dan nyeri akibat penyakit yang diderita klien. d. misalnya adalah adakah area gelap di sekitar mata. turun tangga. antara lain: Gangguan pola tidur Gangguan pola tidur inin dapat disebabkan karena ansietas yang dialami klien. Perubahan proses pikir Perubahan proses berpikir ini disebabkan oleh terjadinya deprivivasi tidur Gangguan harga diri Gangguan harga diri terutama dialami pada klien yang mengalami enuresis Risiko cedera Risiko cedera terutama pada klien yang menderita somnambulisme. b. e. yang menyebabkan klien mengalami gangguan tidur? Status emosi dan mental klien. Kebiasaan tidur siang. lingkungan yang tidak kondusif untuk tidur (misalnya. letih. Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur. b. dapat dilakukan misalnya dengan: . Pada somnambulisme ini. seperti jam berapa klien masuk kamar untuk tidur. a. atau suhu dingin? Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. g. atau lesu. Masalah tersebut sering berhubungan dengan lingkungan rumah sakit. Berikut ini merupakan beberapa intervensi yang dapat diterapkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur pada klien yang dirawat. dan lain-lain. Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul sebagai akibat gangguan istirahat tidur. gelap. dan keteraturan pola tidur klien. buang air kecil. misalnya apakah klien mudah tersinggung. Pola tidur. Perilaku yang terkait dengan gangguan istirahat tidur. seperti membaca buku. Diagnosis Keperawatan Diagnosis keperawatan yang mungkin ditemukan pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur. perawat mesti membantu klien untuk dapat istirahat dan tidur. c. 2. misalnya apakah klien mengalami stress emosional atau ansietas? Juga dikaji sumber stres yang dialami klien. Perawat mempelajari apakah peristiwa yang dialami klien. atau membentur tembok. a. seperti: Penampilan wajah.

memegang boneka atau benda yang disukainya. dan berdoa. d. Pada klien anak-anak. h. Pintu kamar klien ditutup Kurangi stimulus. dapat dilakukan dengan membacakan dongeng. misalnya dengan: Mengatur posisi yang nyaman untuk tidur Anjurkan klien berkemih sebelum tidur Tempat tidur yang bersih dan tidak boleh basah Pada klien nyeri. misalnya dengan mendengarkan musik. misalnya percakapan Tempatkan klien dengan teman yang cocok. ataupun stres sebelum tidur. berikan obat analgesik 30 menit sebelum tidur Hindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur Berdoa sesuai dengan agamanya . g. f.b. dan lain-lain Membantu kebiasaan klien sebelum tidur. tidak cemas. Maksudnya. usahakan psikologi klien tenang. Berikan rasa nyaman dan rileks. seperti susu dan keju Hindari banyak minum sebelum tidur Hindari latihan fisik yang berlebihan sebelum tidur Hindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan sebelum tidur. membaca. c. e. Diet Anjurkan klien untuk memakan makanan yang mengandung tinggi protein.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->