P. 1
BAB I - Rumah Sakit Jiwa di Semarang dengan Konsep Healing Environment

BAB I - Rumah Sakit Jiwa di Semarang dengan Konsep Healing Environment

|Views: 313|Likes:
Published by Della Ratamanjari
Bab I - Pendahuluan Tugas Akhir Rumah Sakit Jiwa di Semarang dengan Konsep Healing Environment Draft Proposal
Bab I - Pendahuluan Tugas Akhir Rumah Sakit Jiwa di Semarang dengan Konsep Healing Environment Draft Proposal

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Della Ratamanjari on Aug 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

JUDUL: Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami. 1.1. PENGERTIAN JUDUL Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami, merupakan sebuah rumah sakit khusus menangani gangguan jiwa, mulai dari yang ringan hingga berat. Dipilihnya nama “Pusat Rehabilitasi” daripada dengan gamblang menyebutkan “Rumah Sakit”, adalah untuk memberikan gambaran umum tentang rumah sakit jiwa ini kepada masyarakat luas bahwa rumah sakit jiwa ini berbeda dengan rumah sakit jiwa pada umumnya. Di sini diterapkan pendekatan holistik, yakni melibatkan aspek spiritual dan lingkungan di dalam usaha menangani gangguan yang dialami pasien. Psikologi klinis secara islami (psikoterapi Islam) disuntikkan untuk melengkapi aspek spiritual, kemudian difasilitasi dengan suasana Islami di seluruh elemen bangunan untuk melengkapi aspek lingkungan. Image rumah sakit, khususnya rumah sakit jiwa, selama ini identik dengan suasana yang kaku, dingin, jenuh dan tempat para pesakitan mengasingkan diri dari kehidupan sosial yang bergairah. Kehadiran Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami ini hadir untuk mengubah paradigma tersebut. Pusat rehabilitasi ini bukan bertindak secara kuratif (pengobatan), namun juga preventif (pencegahan) sampai pada tindakan rehabilitatif untuk mengembalikan pasien kepada masyarakat. Pusat rehabilitasi ini bukanlah rumah pesakitan, melainkan penggerak utama kesehatan jiwa berbasis Islami, khususnya di Kabupaten Klaten.

1.2. LATAR BELAKANG Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita gangguan jiwa di dunia pada 2001 adalah 450 juta jiwa. Dengan mengacu data tersebut, kini jumlah itu diperkirakan sudah meningkat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Roskesdas) tahun 2007,

100 kasus psikosis di Jawa Tengah. Sementara pada tahun 2011. yang tercatat hanya kasus psikosis saja. serta 22.diperkirakan ada 19 juta penderita gangguan jiwa di Indonesia. hanya terdapat 48 Rumah Sakit Jiwa dengan kapasitas 7. dengan jumlah 10. Di Indonesia. Dulu sebelum otonomi. Dari jumlah tersebut.harianhaluan.com/index.209 kasus gangguan mental dan perilaku.479 kali3. jumlah kunjungan mengalami penurunan menjadi 130. Indonesia memiliki lumayan banyak rumah sakit jiwa.php?option=com_content&view=article&id=9385:19-jutapenduduk-indonesia-gangguan jiwa&catid=43:inspirasi&Itemid=195) 2 3 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 .000 tempat tidur untuk penderita gangguan jiwa berat. tercatat adanya 5693 kunjungan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan yang tersebar di seantero kabupaten Klaten. tapi 1 http://www. dengan jumlah kunjungan 156. Sedang pada tahun 2011. Padahal sesuai standar yang dianjurkan World Health Organization (WHO) Indonesia membutuhkan setidaknya 80. Satu juta di antaranya mengalami gangguan jiwa berat atau psikosis1 Di Provinsi Jawa Tengah sendiri.849 kasus gangguan mental dan perilaku. pada survei yang dilakukan pada tahun 2006 terjadi 38.700 tempat tidur.188 kali2. dan 1634 kasus psikosis2. Daerah yang tercatat paling banyak terjadi kasus gangguan mental/perilaku dan psikosis adalah Kabupaten Klaten. yang mengalami peningkatan hingga mencapai angka 3467 jumlah kasus psikosis di Kabupaten Klaten. yakni sejumlah 708 kunjungan. Daerah Jatinom adalah yang paling banyak mencatat kunjungan gangguan jiwa di daerahnya.

Yang dimaksud pengguna adalah pasien pada fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. Munculah berbagai pertanyaan mengenai pengaruh lingkungan terhadap kualitas penyembuhan. Sekitar 30 persen pasien jiwa yang dinyatakan sembuh pasca perawatan pihak rumah sakit. Kehadiran sebuah suasana tertentu dapat mengurangi faktor stress yang dialami oleh pasien yang sedang menjalani proses penyembuhan.waspada. Permasalahan lainnya adalah. jiwa dan lingkungan (fisik dan sosial). Dalam memecahkan segala masalah manusia.php?option=com_content&view=article&id=9385:19-juta-pendudukindonesia-gangguan jiwa&catid=43:inspirasi&Itemid=195 5 http://www.id/index. pasien yang telah dirawat dan dinyatakan sembuh setelah mendapat penanganan dari instansi penanggulangan gangguan jiwa pun berkemungkinan untuk kembali kambuh. pencegahan. Menilik kepada ilmu kedokteran jiwa. baik pada fase penyembuhan maupun fase pasca penyembuhan. Jelaslah bahwa lingkungan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kesembuhan pasien gangguan jiwa. akan tetapi harus memperhatikan serta mempertimbangkan ketiga-tiganya secara keseluruhan. Contoh salah satu kasus yang terjadi adalah yang terdapat pada RSJ Provinsi Aceh. Sebuah riset yang dilakukan Robert Ulrich. Hasilnya membuktikan bahwa tidak hanya lingkungan alamiah tetapi juga lingkungan buatan memiliki pengaruh dalam menciptakan suatu kesatuan lingkungan yang kondusif bagi proses penyembuhan tidak hanya kondisi psikis tetapi juga fisik. Riset tersebut membuktikan bahwa lingkungan tempat sebuah fasilitas pelayanan kesehatan berada berpengaruh pada kualitas proses penyembuhan yang berlangsung di dalamnya. Pendekatan semacam ini disebut pendekatan holistik. kita tidak boleh memisahkan unsur satu dengan yang lain. dikenallah istilah pendekatan holistik. penyakitnya kembali kambuh setelah beberapa bulan dipulangkan kepada keluarganya5. Di mana manusia merupakan hasil interaksi antara badan. Akibatnya tempat tidur untuk penderita gangguan jiwa pun tergusur4. pengobatan.harianhaluan. Ketiga unsur ini senantiasa saling mempengaruhi.com/index. 4 http://www. rehabilitasi dan sebagainya. Texas A&M University Amerika Serikat menyebutkan mengenai efek user-centered design atau desain yang menekankan pada kebutuhan pengguna.co.php?option=com_content&task=view&id=54849&Itemid= . sehingga mempercepat berlangsungnya proses penyembuhan. yang diterapkan baik dalam hal pemeriksaan.sekarang banyak daerah yang mengalih-fungsikan rumah sakit jiwa menjadi rumah sakit umum. direktur pada Center for Health Systems & Design.

dan juga penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi. Pondok Pesantren ini menyediakan fasilitas rehabilitasi mental dengan mengedepankan program Inabah. remaja-remaja nakal. Karena dalam perkembangannya. yakni Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang berlokasi di Jakarta Timur. Di Indonesia. salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren Suryalaya dengan program inabahnya. karena untuk beberapa kasus gangguan jiwa. yang menjadi metode bagi program rehabilitasi pecandu narkotika.Namun badan-jiwa-lingkungan saja belumlah cukup sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi perilaku manusia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR. perilaku manusia dipengaruhi juga oleh faktor agama-kepercayaan dan kebudayaan. sehingga pengobatan medis maupun farmakoterapi tidak dapat dilakukan di tempat ini. 93. untuk saat ini faktor spiritual belum dipertimbangkan sebagai faktor utama yang diimplementasikan ke dalam rumah sakit jiwa. Juhaya S.suryalaya. yaitu perilaku manusia yang tertuju kepada Sang Pencipta atau roh-roh (perilaku religius). Untuk dapat meraih lingkungan yang 6 http://www. KH. Sayangnya. khususnya unsurunsur ajaran Islam. baik dalam program psikoterapinya. Atas keberhasilan metoda Inabah tersebut. maupun dalam elemen-elemen pembentuk lingkungannya.org/ver2/inabah. dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.A Shohibulwafa Tajul Arifin mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse. panti-panti rehabilitasi tersebut belumlah dianggap cukup. Pondok Pesantren Suryalaya bukanlah rumah sakit. Sayangnya. Walaupun telah menerapkan unsur spiritual ke dalam pengobatannya. melainkan wadah rehabilitasi.845 anak bina yang mengikuti program inabah dapat dikembalikan ke keadaan semula dan dapat kembali hidup di masyarakat dengan normal. Unsur kultural dan spiritual. Praja.1% dari 5. dalam tahun 1981-1989. farmakoterapi (penanganan dengan obat) dan beberapa langkah medis lainnya tetaplah perlu dilakukan. terutama korban Narkotika dan Kenakalan remaja6. Sedangkan selebihnya hanya berupa panti pengobatan saja yang belum berkapasitas rumah sakit. hanya ada satu rumah sakit jiwa yang telah mengimplementasikan unsur spiritual. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk merancang sebuah rumah sakit jiwa yang menerapkan unsur-unsur Islami.html .

PERMASALAHAN DAN PERSOALAN 1. TUJUAN Menyusun dan membuat konsep perencanaan dan perancangan serta mendesain rumah sakit jiwa Islami yang dapat mewadahi segala aktivitas yang berkaitan dengan penanganan gangguan jiwa mulai dari tindakan preventif. 1.1. . 1.1. strategi desain yang paling tepat untuk diterapkan ke dalam bangunan ialah pendekatan Arsitektur Islam.3. hingga rehabilitatif. hingga rehabilitatif. yakni nilai-nilai Islami. agar gangguan yang dideritanya tidak kambuh lagi. serta mampu mewadahi kegiatan-kegiatan psikoterapi Islam dengan menerapkan prinsip-prinsip desain arsitektur Islami. PERSOALAN Dari rumusan permasalahan di atas. kuratif. maka dapat ditarik persoalan yang terkait dengan Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami sebagai berikut.3. SASARAN 1.3. Pasien yang telah dinyatakan sembuh pun tidak akan ragu untuk datang dan melakukan kontrol. sehingga penderita gangguan jiwa ringan tidak akan malu untuk datang dan berkonsultasi sebagai tindakan preventif sebelum terjadi gangguan jiwa yang lebih berat. serta mampu mewadahi kegiatan-kegiatan psikoterapi Islam dengan menerapkan prinsip-prinsip desain arsitektur Islami. PERMASALAHAN Bagaimana mendesain Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami yang dapat mewadahi kegiatankegiatan penanganan gangguan jiwa secara medis mulai dari tindakan yang preventif.2. 1.sesuai dengan nilai-nilai yang ingin dicapai. 2.2.4. sesuai dengan tujuan pendekatan holistik. TUJUAN DAN SASARAN 1.4. kuratif. 1.4. Memperbaiki image rumah sakit jiwa ke arah yang lebih baik melalui rancangan bangunan yang lebih membumi. Membentuk lingkungan yang mampu meningkatkan efisiensi penanganan gangguan jiwa.

2. Bagaimana program ruang (pengelompokan kegiatan. psikoterapi secara umum dan secara Islami. skizofrenia dan paranoia. 4. LINGKUP PEMBAHASAN 1. . serta fasilitas-fasilitas pendukung dalam kawasan bangunan tersebut. pola hubungan antar ruang) yang sesuai dengan kebutuhan. berbagai jenis pengobatan dalam ilmu kedokteran jiwa. gangguan kepribadian dan kejahatan. BATASAN PEMBAHASAN 1.5. gangguan afektif. Tinjauan umum dalam perencanaan bangunan Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami seperti pengertian berbagai gangguan jiwa dan penanganannya.1. gangguan kecanduan. 2. kebutuhan ruang. Pembahasan akan mengarah pada Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami.5. Pembahasan mengacu pada sasaran yang berupa tinjauan serta analisa yang akhirnya akan menghasilkan konsep berupa penyelesaian masalah. Berpedoman pada tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Bagaimana konsep lokasi dan site yang direncanakan. Pembahasan menitik-beratkan pada hal-hal arsitektural yang berpengaruh terhadap perencanaan dan perancangan Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami terkait fungsi bangunan sebagai rumah sakit jiwa yang mengedepankan psikoterapi Islam dalam praktek klinisnya. pengertian mengenai arsitektur Islam dan sebagainya akan menjadi pertimbangan awal menuju proses perencanaan. neurosis. 3. sesuai dengan pendekatan arsitektur Islami. faktor psikologis dan penyakit fisik. LINGKUP DAN BATASAN PEMBAHASAN 1. Bagaimana tampilan fisik bangunan yang mewujudkan karakteristik kegiatannya.5. gangguan perilaku kanak-kanak dan remaja. 2. Bagaimana struktur dan utilitas bangunan yang sesuai dengan kebutuhan. Pembatasan jenis gangguan jiwa yang ditangani adalah: reaksi sementara terhadap stress. 1.     Bagaimana kegiatan yang direncanakan. 1.

Kemudian disusul dengan adanya temuan Robert Ulrich tentang pengaruh lingkungan terhadap kualitas penyembuhan. Kemudian dilengkapi dengan kegiatan yang mendukung kegiatan layanan medis tersebut seperti pengelolaan dan servis.6.6. Pembatasan jenis kegiatan yang akan diwadahi dibatasi pada aktivitas yang berlangsung di dalam rumah sakit jiwa pada umumnya. 1. yakni: pengobatan. Dari Ide atau gagasan awal di atas. METODE PEMBAHASAN 1.gangguan mental organik dan retardasi mental. dan kecenderungan untuk bunuh diri. 3. jiwa. 4. Lokasi yang menjadi titik pembahasan adalah Kabupaten Klaten. . Ide/ Gagasan Awal Ide dasarnya berasal dari keinginan menghadirkan suatu wadah rumah sakit jiwa yang berbeda daripada yang rumah sakit jiwa konvensional. dikarenakan lokasi tersebut menunjukkan angka paling banyak terjadinya kunjungan gangguan jiwa di Jawa Tengah. lingkungan. rehabilitasi. Hal ini pun mendorong penulis untuk merancang rumah sakit jiwa yang dapat menggabungkan elemen-elemen di atas menjadi satu kesatuan yang berfungsi secara optimal dalam penanganan gangguan jiwa. maka dilakukan eksplorasi dan perumusan judul yang dapat menggambarkan secara tepat perencanaan wadah rumah sakit jiwa berbasis Islami.1. kultural dan spiritual. GAGASAN AWAL 1. melihat betapa banyaknya jumlah pasien yang kembali kambuh setelah melakukan perawatan. ditambah dengan psikoterapi Islam. mengacu pada pendekatan holistik dalam aktivitas penyembuhannya. barulah kemudian penulis menemukan adanya teori pendekatan holistik di dalam ilmu kedokteran jiwa yang menyebutkan adanya kaitan tak terpisahkan antara badan. Pendekatan tersebut dibuktikan keberhasilannya oleh program Inabah (program psikoterapi Islam) yang telah diterapkan di Pondok Pesantren Suryalaya.

serta konsep arsitektur Islami. arsitektural desain. dan memahami buku yang sesuai dengan judul berkaitan dengan ilmu kedokteran. Dokumentasi dapat memperjelas gambaran detail yang mendukung data 3. Selain itu. Studi Literatur Melakukan literatur dengan mencari. membaca. Dokumentasi Melengkapi informasi dan data yang dimiliki dengan memberi ilustrasi visual mengenai objek observasi. Analisis Data Tahap analisis data merupakan proses pengolahan data dari semua informasi yang telah didapatkan pada tahap sebelumnya dan merangkum hasil pengolahan data pada setiap akhir pembahasan. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. e-book. kegiatan psikologi klinis. Browsing informasi dapat diperoleh dari jurnal ilmiah. d. Informasi Teknologi Mencari informasi dan gambar-gambar menggunakan teknologi internet.2. peruangan yang ada. Kemudian mengamati segala hal seperti kegiatan yang dilakukan user. Studi empiris ini dilakukan dengan mengeksplorasi contohcontoh objek sejenis sehingga dapat dijadikan perbandingan. e. juga melakukan survey ke lokasi perencanaan untuk mengetahui dan mengamati kondisi existing. b. e-encyclopedia dan website yang mendukung dalam penulisan konsep. Survey Melakukan survey atau kunjungan ke tempat-tempat yang dijadikan preseden. c. . sampai dengan pengaruhnya terhadap lingkungan dan kehidupan sosial sekitarnya. a. Studi Empiris Menambah informasi berupa preseden yang dapat dijadikan acuan. standar-standar rumah sakit.

Tahapan ini dilakukan dengan menerjemahkan secara skematik dan deskriptif kebutuhan calon pengguna berdasarkan alur kegiatan yang terbentuk di dalam Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami menuju respon desain dan pendekatan fungsi bangunan.1. analisis digunakan sebagai metode untuk menguraikan data dan informasi yang kemudian digunakan sebagai data relevan dalam proses perencanaan dan perancangan. Analisis Analisis memiliki pengertian penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan7. tenaga medis. Pada tahap ini. dan akademisi) dan alur kegiatan secara skematik. c. Pemrograman Arsitektural Pemrograman arsitektural merupakan penerjemahan analisis berdasarkan efektifitas fungsi dan persyaratan performansi secara 7 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) . LANGKAH ANALISIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Adapun langkah analisis konsep perencanaan dan perancangan yang terdiri dari analisis data dan sintesis sebagai berikut: 1. Pemrograman Performansi Pemrograman performansi merupakan pendekatan sistem fungsi dari wadah arsitektur sehingga ditemukan persyaratan karakteristik respon desain. Proses analisis data sendiri dilakukan secara deskriptif dan diperjelas dengan gambar-gambar sebagai ilustrasi visual.6. b. Proses analisis terbagi menjadi tiga tahapan yaitu: a. pengelola dan karyawan. Tahapan ini ditujukan untuk mengidentifikasi pengguna dari Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami (pasien.2. Pemrograman Fungsional Pemrograman fungsional merupakan penerjemahan penstrukturan pengguna dan kegiatan yang diwadahi.

dan sistematika penulisan. permasalahan dan persoalan. SISTEMATIKA PEMBAHASAN Berikut sistematika pembahasan pada penulisan konsep perencanaan dan perancangan Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami: Tahap I : PENDAHULUAN Pengungkapan dan penjabaran tentang seluruh isi penulisan dan pembahasan pada tahap konsep desain yang meliputi judul. Sintesis Sintesis merupakan proses memadukan tiap-tiap bagian agar membentuk suatu kesatuan yang selaras. utilitas dan struktur. latar belakang. Pendekatan konsep perencanaan dan perancangan tersebut digunakan untuk proses transformasi menuju desain yang diinginkan. PENERAPAN DALAM DESAIN Proses penerapan dalam desain dilakukan dengan cara melakukan sintesis terhadap hasil analisis ke dalam bentuk suatu transformasi desain dan realisasi gambar desain. Tahap II : TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka yang berkaitan dengan Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa secara umum. tujuan dan sasaran pembahasan. 1. Pada tahap ini. 1. hasil dari pemograman pada tahap analisis diolah untuk mencari kesimpulan sebagai upaya mendapatkan pendekatan konsep perencanaan dan perancangan yang sesuai.7. Dilakukan dengan cara menganalisis hasil dari pemograman fungsional dan performansi dalam bentuk pengolahan site. metoda pembahasan.6. Dalam proses inilah prinsip-prinsip arsitektur Islami diterapkan. serta tinjauan khusus mengenai penekanan arsitektur islami . lingkup dan batasan pembahasan. dilanjutkan dengan tinjauan mengenai psikoterapi dalam konsep Islam.arsitektural ke dalam spesifikasi bangunan yang akan dirancang. tampilan fisik.3. 2. gubahan massa.

analisa pemilihan site . Karena dengan adanya bangunan ini akan menjadi suatu wadah yang dapat membantu mengatasi banyaknya kasus gangguan jiwa yang terjadi khususnya di Kabupaten Klaten. Tahap VI : KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Mengungkapkan konsep perencanaan dan perancangan yang merupakan hasil akhir untuk Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami yang direncanakan.yang dapat memberikan citra bangunan rumah sakit jiwa yang berbasis Islami. analisa sistem utilitas. analisa penampilan bangunan. analisa jenis kegiatan. analisa pola hubungan dan organisasi ruang. analisa kebutuhan luasan ruang. analisa pola kegiatan pelaku. analisa pola gubahan massa. analisis konsep pemilihan bahan bangunan dan warna. Tahap III: TINJAUAN KABUPATEN KLATEN Mengemukakan tinjauan Kabupaten Klaten yang akan menjadi tempat didirikannya Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami. dan analisa struktur dan konstruksi bangunan untuk mendapatkan konsep dasar perencanaan dan perancangan. mencakup analisa pemilihan lokasi. Tahap V :ANALISIS PERANCANGAN Melakukan analisa pendekatan perencanaan dan perancangan Pusat PENDEKATAN KONSEP PERENCANAAN DAN Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami. . analisa orientasi bangunan. analisa penzoningan. Kemudian meninjau rumah sakit jiwa Islami yang telah ada. Tahap IV : PUSAT REHABILITASI GANGGUAN JIWA BERBASIS ISLAMI YANG DIRENCANAKAN Mengemukakan deskripsi mengenai Pusat Rehabilitasi Gangguan Jiwa melalui Psikoterapi Islam dengan Pendekatan Arsitektur Islami yang direncanakan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->