P. 1
fasilitasi lengkap

fasilitasi lengkap

|Views: 55|Likes:
Published by aimen77
pengetahuan awal kespro
pengetahuan awal kespro

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: aimen77 on Aug 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2015

pdf

text

original

Penanggung Jawab

Siswanto Agus Wilopo

Editor
Eddy N. Hasmi Siti Fathonah

Tim Penyusun
Laurike Moeliono Indra Nurpatria Pierre Albyn Pongai Adi Respati

Reviewer
Wahyu Lulus Ariyanto Maya Trisiswati Choiruman

Teknik Fasilitasi KRR

█ PANDUAN FASILITASI
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Apa yang Dimaksud dengan Fasilitator? Bagaimana Mempersiapkan Proses Belajar yang Efektif? Lima Cara untuk Menarik Perhatian Peserta Lima Cara Meningkatkan Pemahaman Peserta secara Optimal Lima Cara Melibatkan Peserta dalam Proses Belajar Lima Cara Memastikan Peserta Memahami Topik-topik Bahasan Beberapa Cara Efektif Lain untuk Menyampaikan Topik Bahasan Apa Saja yang Harus Dipenuhi untuk Menjadi Fasilitator yang Efektif? Hal-hal Lain yang Perlu Diperhatikan oleh Seorang Fasilitator Fasilitator yang Baik Adalah Sikap Mental Seperti apa Yang Diperlukan dalam Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Remaja Sumber

Definisi Fasilitator
Fasilitator adalah orang yang membantu berjalannya proses belajar di dalam suatu kelompok. Ia memiliki dua fungsi sekaligus :

pemimpin utama, memberikan instruksi kepada para peserta mengenai apa yang
harus mereka lakukan

pembantu kelompok, selalu bersedia untuk mendengarkan serta memberikan
rasa nyaman pada para peserta untuk dapat menjalani proses belajar dengan optimal

Bagaimana Mempersiapkan Proses Belajar yang Efektif?
Fasilitasi adalah sebuah proses sadar untuk membantu atau memudahkan kelompok memenuhi tugasnya (belajar, berlatih, dll) dalam kelompok. Agar dapat memfasilitasi kelompok dengan baik maka orang yang melakukan proses fasilitator perlu memahami terlebih dahulu apa yang difasilitasi, yaitu : 1. proses pembelajaran 2. proses keterlibatan (partisipasi), diskusi atau berbagi pengalaman, dan dinamika kelompok. Belajar bukanlah sebuah proses memasukan informasi dari satu pihak ke pihak yang lain. Belajar membutuhkan keaktifan dari orang yang bersangkutan (siswa, peserta diskusi, dll). Agar sebuah proses belajar efektif, maka yang terpenting adalah melibatkan peserta ajar dalam proses pembelajaran tersebut. Ceramah seringkali tidak efektif sebagai proses belajar karena menempatkan peserta ajar sebagai pihak
Multimedia Materi KRR

1

Teknik Fasilitasi KRR

yang pasif sehingga peserta ajar cenderung akan bosan dan kehilangan perhatian. Untuk menjadikan ceramah sebagai cara efektif, maka dalam proses belajar peserta perlu dilibatkan secara aktif melalui teknik-teknik partisipatif seperti diskusi, Tanyajawab, simulasi, permainan, dll. Untuk itulah diperlukan pengetahuan dan ketrampilan memfasilitasi proses belajar dengan baik.

Lima Cara untuk Menarik Perhatian Peserta
Untuk menyampaikan pesan atau informasi secara efektif, pastikan adanya minat dan perhatian peserta atau kelompok diskusi. Untuk itu jangan langsung masuk dalam topik bahasan tetapi pancing dahulu perhatian dan minat dengan berbagai cara secara bervariasi.

Permainan atau kegiatan pengantar
Mulailah dengan sebuah permainan atau kegiatan kecil yang menarik untuk membangkitkan minat peserta ajar. Misalnya : permainan mengenai komunikasi satu arah dan dua arah untuk menunjukkan bahwa komunikasi satu arah biasanya tidak efektif.

Anekdot
Mulai dengan sebuah kisah fiksi, cerita nyata, kutipan berita, atau gambar yang bisa mengantar topik yang akan dibahas. Misalnya : cerita tentang anak pengguna NAPZA yang tertidur sehingga terkunci di kelas; poster tentang NAPZA, dll.

Kasus Nyata
Sampaikan kasus menyangkut topik yang akan dibahas, misalnya : kasus ditemukannya pabrik exctacy di Tanggerang yang memproduksi jutaan pil exctacy

Pertanyaan atau Test
Ajukan beberapa pertanyaan awal yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas walaupun peserta tidak mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai topik tersebut – agar peserta termotivasi untuk mendengarkan dan dengan demikian memperoleh jawabannya atas pertanyaan yang diajukan. Sebagai contoh, Fasilitator dapat menanyakan : “mengapa seseorang tidak bisa berhenti merokok walaupun ia ingin sekali berhenti?”. Biarkan beberapa peserta menjawab walaupun sekedar menduga-duga. Kemudian fasilitator dapat mengatakan “jawabannya akan muncul dalam pembahasan dan topik yang akan saya sampaikan”! Contoh lain : Lakukan test kecil di awal pertemuan, misalnya Test Benar – Salah. Fasilitator mempersiapkan beberapa pernyataan dan peserta diminta memperkirakan apakah pernyataan pernyataan tersebut benar atau salah. Biarkan peserta menjawab sejauh yang mereka tahu. Katakan bahwa mana pernyataan yang benar dan mana yang salah akan muncul dalam pembahasan atau diskusi selanjutnya.

Multimedia Materi KRR

2

Teknik Fasilitasi KRR

Ringkasan Isi
Sampaikan beberapa pokok-pokok penting dari topik yang akan dibahas secara menarik dan bersemangat di awal pertemuan, agar peserta tertarik dan mau terlibat untuk mengikutinya. Fasilitator dapat mengatakan : “dalam satu jam mendatang, kita akan menemukan bagaimana kita bisa menyelamatkan anak-anak kita dari kehancuran akibat NAPZA”

Lima Cara Meningkatkan Pemahaman Peserta secara Optimal
Setelah memastikan adanya perhatian dan minat peserta terhadap topik yang akan disampaikan, fasilitator harus berusaha membantu peserta untuk memahami topik bahasan sesungguhnya. Peserta akan belajar lebih banyak bila dapat memusatkan perhatian pada topik bahasan dan bila mereka bisa melihat relevansi atau kaitannya dengan diri mereka sendiri (masalah mereka, kepentingan mereka, kebutuhan mereka). Beberapa cara yang bisa dipakai untuk meningkatkan pemahaman peserta:

Garis Besar (Pointers)
Di awal pembahasan, buatlah beberapa point penting yang akan dibahas dalam bentuk ringkasan (lisan atau tulisan) agar peserta bisa mengetahui sebelumnya apa saja yang akan dibahas dan karena itu mengikuti proses dengan lebih terarah

Kata-kata Kunci
Gunakan kata-kata kunci untuk menunjuk pada topik-topik bahasan penting agar peserta mudah mengingat. Untuk itu fasilitator bisa membuat atau menggunakan rumus-rumus yang mudah diingat seperti SMART (Specifik, Measurable, Achievable, Reasonable, Timebound; dll)

Contoh-contoh
Sebanyak mungkin gunakan contoh-contoh konkrit dan nyata dari kehidupan seharihari. Kasus-kasus nyata dari surat kabar yang relevan dengan topik mempermudah peserta membayangkan dan memahami pokok bahasan yang disampaikan.

Analogi
Bila memungkinkan maka gunakan analogi/persamaan mengenai topik tertentu dengan pengetahuan atau pengalaman yang sudah dimiliki peserta. Misalnya : tersumbatnya pembuluh darah oleh nikotin atau zat lain dibandingkan dengan sedotan yang tersumbat oleh butiran makanan. Fasilitator perlu mencari analogianalogi yang bisa membantu peserta untuk memahami secara mudah (konkrit) konsep-konsep yang abstrak, terutama bila peserta adalah anak-anak.

Multimedia Materi KRR

3

Teknik Fasilitasi KRR

Alat Bantu Visual
Gunakan alat-alat penunjang untuk memvisualisasi topik bahasan. Alat penunjang seperti flip-chart, lembar transparan, gambar, dll. bisa sangat membantu peserta untuk mendengar sekaligus melihat apa yang disampaikan

Lima Cara Melibatkan Peserta dalam Proses Belajar
Walaupun metode utama yang dipakai fasilitator adalah ceramah ketika menyampaikan pokok bahasan tertentu, tetapi selalu harus diusahakan keterlibatan peserta dalam proses. Keterlibatan peserta akan meningkatkan efektifitas belajar. Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk melibatkan peserta:

Peran Pendengar
Di akhir ceramah / pembahasan topik-topik tertentu fasilitator meminta peserta untuk memberikan umpan balik (feed-back) atau tanggapan. Beberapa cara : minta peserta menyampaikan rangkuman atau poin-poin penting (intisari) dari pokok bahasan secara tertulis atau lisan, peserta diminta mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang masih perlu penjelasan, atau peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan quis yang sudah disiapkan fasilitator

Mencatat
Fasilitator berhenti sejenak di tengah proses ceramah/pembahasan untuk memberi kesempatan peserta mencatat ide-ide menyangkut topik bahasan yang terpikir oleh peserta (tidak harus berupa rangkuman)

Jeda
Fasilitator berhenti pada tahap-tahap tertentu untuk memberi peluang pada peserta memberikan contoh-contoh konkrit berdasarkan pengetahuan dan pengalaman peserta sendiri. Bisa juga fasilitator mengajukan satu atau dua pertanyaan yang relevan dengan topik yang sedang dibahas, sebelum melanjutkan ceramah atau pembahasan topik tersebut.

Sinergi Diskusi
Membagi peserta dalam beberapa kelompok dan memberi mereka informasi yang berbeda-beda (dalam bentuk kasus, hand-out, ringkasan, pertanyaan, atau bentuk lainnya) untuk didiskusikan dalam kelompok masing-masing. Setelah diskusi setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya kepada kelompok lain. Fasilitator kemudian memfasilitasi diskusi dan tanya jawab di antara kelompok-kelompok tersebut.

Simulasi
Melakukan kegiatan-kegiatan atau permaianan untuk memperjelas ide-ide tertentu. Misalnya ketika membahas soal pengaruh/tekanan kelompok sebaya terhadap
Multimedia Materi KRR

4

Teknik Fasilitasi KRR

penggunaan NAPZA, fasilitator bisa meminta peserta melakukan role-play atau main peran mengenai topik tersebut. Peserta diminta berpasangan, satu orang berperansebagai anak yang memaksa temannya menggunakan NAPZA, dan satu lagi sebagai anak yang dipaksa. Lihatlah proses permainan tersebut dan bahaslah proses permainan tersebut dengan mengacu pada topik yang sedang dibahas (tekanan sebaya, konseling, dll).

Lima Cara Memastikan Peserta Memahami Topik-topik Bahasan
Biasanya fasilitator mengakhiri pembahasan/proses belajar dengan membuat kesimpulan ringkas atau melakukan sesi tanya jawab. Kedua cara tersebut sangat bermanfaat untuk memastikan bahwa peserta cukup memahami topik-topik bahasan. Tetapi ada cara-cara efektif lain yang lebih menarik untuk dilakukan.

Conference
Undang peserta untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh fasilitator. Bisa juga fasilitator yang menyediakan beberapa pertanyaan di akhir pembahasan dan pesertalah yang memilih pertanyaan mana yang harus dijawab oleh fasilitator. Cara lain adalah membagi peserta dalam kelompok yang terdiri atas 4 atau 5 orang dan minta setiap kelompok membuat satu atau dua pertanyaan yang relevan dengan topik bahasan untuk diajukan pada fasilitator. Pertanyaan dapat bersifat dugaan, kasus, atau apapun.

Diskusi Kelompok
Fasilitator membagi peserta dalam kelompok-kelompok kecil di akhir proses belajar dan setiap kelompok diminta mendiskusikan hubungan antara beberapa pokok bahasan dengan situasi nyata peserta sendiri. Topik atau pertanyaan diskusi sudah disiapkan sebelumnya, misalnya: • • • • • Hal-hal apa saja dalam pembahasan yang baru bagi anda dan mana yang tidak baru? Hal apa saja dalam pokok bahasan yang sesuai dengan situasi nyata kamu sehari-hari? Apa yang bisa kamu lakukan kalau salah satu saudara / teman akrab kamu mengalami ketergantungan pada NAPZA Apa saja yang akan kamu sampaikan pada teman-teman sebaya kamu bila kamu diminta menerangkan mengenai NAPZA ? dst.

Pembahasan Kasus
Bagi peserta dalam kelompok-kelompok kecil dan minta setiap kelompok mendiskusikan kasus-kasus yang berkaitan dengan masalah NAPZA (kasus-kasus harus dipikirkan dan disiapkan sebelumnya). Biarkan kelompok berdiskusi sampai
Multimedia Materi KRR

5

Teknik Fasilitasi KRR

tuntas dan membagikan hasil diskusinya kepada kelompok-kelompok lain secara bergantian. Biarkan kelompok berdebat seperlunya asal masih dalam situasi yang sehat. Fasilitator cukup mengkoreksi bila terjadi kekeliruan.

Ulasan oleh Peserta
Memberikan test-test atau pertanyaan-pertanyaan umum mengenai topik bahasan dan membiarkan peserta berpasangan atau dalam kelompok mencocokkan jawabanjawaban mereka serta membahasnya bersama.

Kegiatan Experiensial
Menciptakan sebuah kegiatan yang intinya menceritakan kembali pokok-pokok bahasan secara singkat dan padat. Untuk itu bisa digunakan drama, main peran, permainan, simulasi, atau tugas. Fasilitator harus mempersiapkan sebuah atau beberapa skenario umum dari kegiatan tersebut untuk dilakukan para peserta. Melalui kegiatan tersebut peserta “dipaksa” untuk mengingat kembali (review) topiktopik bahasan dan mengungkapkannya secara lisan, tulisan atau melalui aksi lain.

Beberapa Cara Efektif Lain untuk Menyampaikan Topik Bahasan
Demonstrasi
Yaitu merancang topik bahasan untuk langsung diperagakan oleh peserta. Misalnya : beberapa peserta diminta memerankan kelompok perokok yang berhadapan dengan kelompok bukan perokok. Kedua kelompok diminta saling berargumentasi mengenai kebiasaan dan kepentingannya masing-masing sambil memperagakannya dalam gerak dan kata-kata. Dari demonstrasi tersebut, fasilitator bisa mengemukakan konsep-konsep lain yang relevan.

Studi Kasus
Yaitu mencari atau merancang kasus yang harus didiskusikan dan dianalisis oleh kelompok. Kasus harus berkaitan dengan topik bahasan. Misalnya : Kasus tentang seorang remaja yang tidak merasa nyaman di rumahnya sehingga mencari hiburan bersama teman-teman. Agar diterima oleh kelompok maka ia melakukan apa saja yang dilakukan kelompok. Suatu hari kelompok mengajaknya ke sebuah tempat hiburan dimana mereka ditawari NAPZA jenis putaw. Terjadi perdebatan antara anggota kelompok yang mau mencoba dan yang tidak mau mencoba. Akhirnya beberapa anggota mengunakan putaw dan mabuk berat sedangkan teman yang tidak memakai terpaksa mengurusi yang mabuk, dst. (fasilitator bisa mencari kasus atau membuat kasus sendiri sesuai dengan kenyataan)

Ceramah Terarah
Yaitu membahas topik-topik yang diajukan sendiri oleh peserta (tentu dengan mengacu pada topik bahasan yang tersedia seperti isi buku ini). Salah satu cara
Multimedia Materi KRR

6

Teknik Fasilitasi KRR

adalah dengan pertama-tama mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta, misalnya: • • • • • • tahukan anda singkatan dari NAPZA dan artinya? tahukan anda jenis-jenis NAPZA? mengapa orang menggunakan NAPZA? mengapa orang menyalahgunakan NAPZA? apa saja risiko penyalahgunaan NAPZA? Dst

Biarkan peserta menjawab sesuai dengan pengetahuannya. Dari jawaban-jawaban peserta, fasilitator bisa memperoleh mengetahui apa yang sudah mereka ketahui dan apa yang belum. Jawaban-jawaban pesertalah itulah yang menjadi dasar untuk ceramah/diskusi lanjutan. Cara lain adalah (fasilitator) mengajukan pertanyaan seperti: “dari apa yang kita baca di Koran-koran selama ini mengenai kasus-kasus penyalahgunaan NAPZA, apa saja yang ingin kalian ketahui lebih banyak?” (topiktopik yang mungkin muncul : jenis NAPZA, mengapa orang menyalahgunakan NAPZA, akibat penyalahgunaan NAPZA, dll).

Diskusi Kelompok Terarah
Yaitu memberi peluang pada peserta untuk mengemukakan pengetahuan mereka mengenai topik-topik NAPZA terlebih dahulu. Salah satu cara adalah membagi peserta dalam kelompok dan membiarkan mereka membaca hand-out (ringkasan yang dibuat fasilitator) serta mendiskusikannya dalam kelompok. Setelah diskusi, kelompok bisa menyampaikan hasil diskusinya kepada kelompok lain, secara bergantian. Di akhir proses diskusi, fasilitator bisa menambahkan informasi yang kurang dan mengkoreksi pendapat yang salah dengan mengacu pada isi buku ini. Cara lain adalah memberi setiap kelompok hand-out (ringkasan topik) yang berbeda-beda sehingga terjadi diskusi yang lebih bervariasi.

Baca Dan Diskusi
Fasilitator membagi ringkasan (hand-out) mengenai topik-topik atau sub-topik yang berbeda-beda kepada setiap anggota kelompok. Setelah membaca, setiap anggota kelompok saling berbagi mengenai apa yang dibacanya dalam kelompok. Fasilitator bisa meminta wakil kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi dalam kelompok dan membahasnya secara umum.

Mencari informasi
Fasilitator menyiapkan beberapa pertanyaan tertulis. Selain itu fasilitator juga menyiapkan sumber-sumber informasi tertulis berupa hand-out, kliping koran dan majalah, buku, gambar, dsb yang relevan dengan topik (NAPZA). Kelompok peserta kemudian mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan tertulis dari sumber-sumber yang tersedia. Untuk lebih menghidupkan suasana, fasilitator dapat membuat perlombaan yang menyenangkan : kelompok yang paling dahulu selesai (dengan jawaban-jawaban yang benar) dianggap pemenang dan memperoleh
Multimedia Materi KRR

7

Teknik Fasilitasi KRR

penghargaan/hadiah (harus disiapkan). Masih banyak cara alternatif yang bisa diterapkan fasilitator untuk menyampaikan topik-topik NAPZA secara efektif tetapi menarik. Untuk itu fasilitator harus berani mengembangkan cara-cara baru secara bervariasi seperti main peran, simulasi, drama kecil, permainan, observasi dan lainlain. Agar dapat menerapkan setiap cara dengan baik, fasilitator mau tidak mau harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan (seluk beluk NAPZA), ketrampilan (memfasilitasi kegiatan) dan bahan penunjang (hand-out, daftar pertanyaan, kasus, artikel/berita dari koran/majalah, gambar, foto, flipchart, dll) yang memadai. Agar tidak membosankan fasilitator sebaiknya menggunakan cara-cara seberagam (variasi) mungkin. Selalu ciptakan suasana yang nyaman bagi peserta. Suasana nyaman merupakan kunci keberhasilan untuk memperoleh perhatian dan keterlibatan peserta.

Apa Saja yang Harus Dipenuhi untuk Menjadi Fasilitator yang Efektif
Sikap yang Terbuka
Artinya, seorang fasilitator tidak hanya ingin didengarkan dan dihargai pendapatnya, tetapi juga mau menerima masukan, kritik dan pendapat yang berbeda dari orang lain.

Peka terhadap Situasi
Fasilitator yang efektif bisa dengan cepat membaca situasi yang terjadi dalam kelompok sehingga dengan mudah dapat melakukan tindakan tertentu sesuai dengan situasi yang tengah terjadi. Misalnya, ia bisa merasa apakah peserta mengantuk, bosan, tidak puas dll – sehingga ia mampu mencari alternatif solusi untuk mengatasi hal tersebut.

Fleksibel dan Kreatif
Artinya, ia tidak hanya melulu terpaku pada rencana dan rancangan yang sudah dibuat sebelumnya tetapi mampu menyesuaikan diri dengan proses dan dinamika yang dialami oleh para peserta. Untuk itu, fasilitator dituntut memiliki berbagai ide untuk membuat proses belajar berjalan dengan lancar dan menarik sehingga para peserta merasa senang dengan proses yang dijalaninya.

Komunikatif (mampu menyampaikan informasi secara jelas)
Agar informasi dapat disampaikan sesuai dengan yang diharapkan dalam proses belajar, maka seorang fasilitator harus mampu mengkomunikasikan dengan runtut dan sistematis berbagai informasi. Selain itu, penggunaan bahasa yang sederhana, suara dan intonasi yang jelas, juga akan membantu peserta pelatihan untuk semakin memahami informasi yang akan disampaikan.

Multimedia Materi KRR

8

Teknik Fasilitasi KRR

Mau Mendengarkan
Sebagai fasilitator, kemauan untuk mendengarkan menjadi salah satu hal yang penting untuk memfasilitasi proses belajar. Keterampilan mendengarkan akan membantu fasilitator untuk merangkum berbagai pendapat yang disampaikan oleh peserta. Dengan mendengarkan, secara tidak langsung akan membuat para peserta merasa bahwa dirinya diperhatikan dan dihargai.

Bersikap Positif dan Tidak Memihak
Sikap yang positif dari fasilitator akan menumbuhkan suasana belajar yang hangat dan menyenangkan. Sikap itu dapat muncul melalui keramahan atau ’sense of humour’. Hal ini secara tidak langsung akan mendorong peserta untuk merasa bebas berekspresi dan berani menyampaikan berbagai gagasan atau pendapatnya. Selain itu, sikap netral fasilitator untuk tidak berpihak pada siapa pun akan membuat peserta merasa aman.

Empati
Ketika fasilitator mampu merasakan apa yang dirasakan oleh peserta, hal ini akan membantunya untuk menangkap sudut pandang orang lain tanpa kehilangan akal sehat. Dengan berusaha merasakan kesedihan, kekecewaan dan kegembiraan peserta, maka fasilitator akan lebih terbantu untuk menangkap dinamika yang terbangun di antara peserta dan mengenali berbagai karakter atau perbedaan indivual yang muncul.

Sabar
Belajar dengan mengikuti proses atau dinamika kelompok memang tidak mudah, terutama jika pesertanya heterogen atau beragam. Oleh karena itu, fasilitator harus sangat sabar dalam membantu para peserta mencapai tujuan belajar mereka. Fasilitator juga harus menahan diri agar tidak terlalu jauh campur tangan dalam dinamika yang dialami peserta sehingga yang terjadi adalah para peserta terlalu diarahkan dan tergantung pada fasilitator.

Tidak Berhenti Belajar
Fasilitator yang tidak menambah pengetahuan dan keterampilannya akan dengan segera dirasakan membosankan karena caranya itu-itu saja. Sebagai seorang fasilitator, ia perlu selalu membaca materi pelatihan, mencari dan menemukan sendiri berbagai permainan yang tepat serta berlatih dengan permainan-permainan atau simulasi baru. Selain itu, fasilitator juga harus selalu mempelajari berbagai persoalan yang sedang dibahas sehingga membantunya untuk memfasilitasi secara optimal.

Transformatif
Fasilitator mampu memberdayakan peserta menuju aksi nyata yang menghasilkan perubahan dan pembaruan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian peserta
Multimedia Materi KRR

9

Teknik Fasilitasi KRR

terangsang untuk melakukan proses pencarian, dan penemuan sendiri, serta menghasilkan pemberdayaan dan aksi.

Hal-hal Lain yang Perlu Diperhatikan oleh Seorang Fasilitator
Mencairkan Suasana agar Tidak Kaku
Umumnya, ketika mengawali sesuatu yang baru, para peserta masih merasa kaku satu sama lain. Situasi yang asing satu sama lain juga dapat menimbulkan rasa tidak aman bagi para peserta. Tugas fasilitator adalah mengubah suasana yang kaku ini menjadi cair. Hal ini dapat dilakukan dengan permainan atau berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh peserta tanpa kecuali.

Merangkum Pendapat Para Peserta dan Menarik Benang Merah dari Seluruh Sesi
Fasilitator sebaiknya berusaha untuk memahami hubungan antar berbagai materi belajar yang diberikan serta membuat suatu rangkuman tentang hal-hal yang terjadi selama proses belajar berlangsung. Di akhir proses, diharapkan ia dapat menarik suatu kesimpulan yang integratif tentang dinamika proses belajar yang terjadi selama pelatihan.

Melakukan Elaborasi terhadap Pendapat dan Perasaan Para Peserta Selama Menjalani Proses Belajar
Kadangkala peserta merasa ragu-ragu, enggan atau takut dalam mengutarakan pendapat maupun perasaannya. Fasilitator perlu melakukan elaborasi terhadap hal tersebut untuk membantu peserta lebih berani dalam mengekspresikan ide dan perasaannya terhadap proses yang mereka jalani. Elaborasi ini juga berguna pula bagi fasilitator untuk membantu dalam membuat rangkuman terhadap proses yang dialami oleh peserta.

Mendorong Semua Peserta untuk Aktif Berpartisipasi Mengikuti Seluruh Rangkaian Proses Belajar
Kadangkala, dalam suatu kelompok, ada peserta yang cenderung dominan dan sebaliknya, ada yang pasif, ikut-ikutan atau lebih banyak diam. Tugas fasilitator adalah memberikan dorongan pada peserta yang kurang partisipasinya dan

mengurangi dominasi dari sejumlah peserta atau kelompok lain. Mendorong Peserta agar Melakukan yang Terbaik
Salah satu kesulitan dalam proses belajar berkelompok adalah bahwa akan ada satu atau dua peserta yang dominan sehingga yang lain lalu hanya “ikut-ikutan” saja. Untuk mengatasi persoalan ini, fasilitator harus selalu berada di sekitar peserta sehingga dapat memberikan dorongan bagi peserta yang tingkat partisipasinya cenderung rendah dan mengurangi dominasi dari segelintir anggota kelompok.
Multimedia Materi KRR

10

Teknik Fasilitasi KRR

Menstruktur proses belajar
Fasilitator harus memahami hubungan antara materi belajar dengan metode belajarnya. Apakah membaca dan menjawab perorangan cukup efektif sebagai metode belajar atau dibutuhkan diskusi kelompok kecil, debat, permainan, simulasi, menggambar atau suatu bentuk penugasan lain ? Pertimbangan-pertimbangan ini perlu dilakukan sebelum fasilitator memimpin sebuah proses kelompok.

Fasilitator yang Baik Adalah
• Senantiasa menciptakan suasana nyaman dan aman • Tidak menggurui atau mendominasi, apalagi memaksanakan pendapatnya sendiri • Selalu berusaha mempermudah peserta untuk belajar • Percaya pada kemampuan (pengetahuan, nilai-nilai, sikap) peserta • Bersikap netral dan tidak menilai benar-salah • Mau mendengarkan dengan aktif dan memberi kesempatan peserta pelatihan mengemukakan aspirasinya secara bebas • Bersikap empatik dan peka terhadap kekuatiran atau ketidaknyamanan peserta

Sikap Mental Seperti Apa yang Diperlukan dalam Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi?
Seks, seksualitas dan masalah kesehatan reproduski masih merupakan isu “sensitif“. Dalam proses belajar aktif ini akan banyak digunakan kata-kata dan istilah serta kegiatan yang mungkin membuat fasilitator maupun peserta pelatihan pada awalnya akan merasa malu, tidak nyaman, sungkan, dll. Istilah-istilah seperti seks, vagina, penis, menstruasi, mimpi basah dan sebagainya perlu diungkapkan secara jelas, tetapi pada awalnya akan sulit terucap. Pertama-tama, Fasilitator sendiri sebaiknya sudah menyiapkan diri secara mental untuk menggunakan kata-kata tersebut maupun bersikap wajar selama proses berlangsung. Baru kemudian ia bisa mendorong peserta proses belajar untuk merasa nyaman menggunakan kata dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang “sensitif” ini. Mungkin kegiatan ini adalah kegiatan yang pertama kali dalam hidup dimana peserta mendengar dan mengucapkan kata-kata “sensitif” tersebut. Karena itu Fasilitator jangan terlalu memaksa peserta untuk aktif di awal kegiatan. Sikap mental fasilitator yang wajar serta berbagai kegiatan selama proses berlangsung diharapkan dapat membuat peserta dengan sendirinya merasa semakin nyaman dan terbiasa mengikuti sesi-sesi dalam proses belajar ini. Selain itu biarkanlah peserta menggunakan istilah-istilah setempat yang sudah mereka kenal. Dengan menggunakan kata-kata yang lebih “akrab”, diharapkan peserta merasa lebih nyaman. Pada awal proses belajar, Fasilitator tidak perlu memaksa peserta menggunakan istilah-istilah umum atau ilmiah yang tidak pernah dikenalnya. Secara

Multimedia Materi KRR

11

Teknik Fasilitasi KRR

bertahap fasilitator bisa memperkenalkan istilah-istilah lain mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi yang lebih tepat. Fasilitator juga harus memikirkan sikap dan tindakan yang paling baik bila terjadi penolakan dari peserta. Misalnya peserta menjadi emosional, marah, sangat malu, “mogok“ ikut kegiatan. Keluwesan dan kesabaran fasilitator menanggapi hal ini sangatlah penting.

Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Remaja
Fasilitator harus terlebih dahulu mempersiapkan dirinya sendiri untuk : 1. menggunakan kata-kata sensitif mengenai seks dan seksualitas dengan baik dan tepat, 2. bersikap wajar ketika mendengar kata dan pertanyaan peserta tentang seks, 3. mendorong peserta untuk merasa nyaman dalam menggunakan kata-kata maupun mengikuti kegiatan-kegiatan “sensitif” 4. menghadapi “penolakan” dari peserta maupun orang lain karena isu-isu “sensitif” yang dibahas selama pelatihan

Sumber
Irwanto et.al. (2002). Membangun Budaya Damai dan Penyelesaian Konflik tanpa Kekerasan. Jakarta : Unesco, Unicef dan New Zealand Official Development Assistance Mansour Fakih et.al. (2001). Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta : Pact, Insist, ReaD Books, Pustaka Pelajar Moeliono, Laurike et.al. Sedia Payung Sebelum Hujan. Panduan Fasilitasi Proses Belajar Mengenai NAPZA. (2003). Jakarta : BKKBN Moeliono, Laurike et.al. Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Remaja. Bahan Pegangan Untuk Memfasilitasi Kegiatan Belajar Aktif Untuk Anak & Remaja Usia 10-14 Tahun (2003). Jakarta : UNFPA, BKKBN, PKBI Moeliono, Laurike et.al. Modul Pelatihan Hak-hak Anak (2002) Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan Yayasan Arti, Jakarta Silberman (1990). Active Training . Handbook Of Techniques, Design, Case Examples, And Tips.

Multimedia Materi KRR

12

Teknik Fasilitasi KRR

█ PANDUAN PRESENTASI FASILITASI
1. 2. Apakah isi materi ini Bagaimana menggunakan materi ini

Apakah isi materi fasilitasi ini?
Materi ini adalah bahan presentasi untuk anda melakukan fasilitasi pengetahuan KRR terhadap remaja. Materi terdiri dari: • • File presentasi (microsoft power point) File narasi (adobe acrobat-pdf)

Slide-slide yang kami sediakan adalah slide-slide yang kami sarankan, bukan kami haruskan. Anda bisa: • • • memilih merangkum, bahkan menambah

Tiap slide dilengkapi kata-kata/frase-frse kunci, bukan kalimat lengkap. Tiap kata/frase kunci merujuk pada narasi tertentu. Anda perlu mempelajari narasi untuk masing-masing kata/frase kunci tersebut. Kami telah menyediakan narasi untuk anda baca. Narasi yang terlampir juga adalah narasi yang kami sarankan, bukan kami haruskan. Anda bisa: • • • memilih merangkum, bahkan menambah

Narasi yang terlampir adalah kompilasi dari materi-materi yang pernah diterbitkan oleh Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi (Ditrem). Akan jauh lebih efektif bila anda juga membaca materi-materi tersebut. Materi bisa anda lihat di CD-ROM (folder: arh_e-files substansi Remaja).

Bagaimana menggunakan presentasi fasilitasi?
Topik fasilitasi adalah: 1. Seksualitas 2. NAPZA 3. HIV / AIDS

Multimedia Materi KRR

13

Teknik Fasilitasi KRR

Di awal dan akhir masing-masing presentasi anda diharapkan menekankan hubungan antara ketiga topik tersebut (baca narasi yang disarankan untuk masing-masing topik). Urutan presentasi secara umum adalah:

1. Tujuan
Tujuan fasilitasi yang anda lakukan adalah menyediakan informasi tentang topik terkait. Diharapkan dengan pengetahuan yang cukup, mereka akan memilih/mengembangkan sikap dan/atau tingkah laku yang positif.

2. Daftar isi
Dalam narasi, anda perlu tekankan jumlah sub bahasan (lihat contoh terlampir di bawah). Dengan begitu, audiens anda akan sadar seberapa jauh presentasi sudah berjalan. Ini akan membantu mereka mengatur konsentrasi mereka.

3. Isi
Tujuan presentasi anda memang memberikan pengetahuan, tapi harapan kita jauh lebih dari itu, yaitu mereka mengembangkan sikap/tingkah laku positif tentang topik yang anda presentasikan. Oleh karena itu, sikap positif anda dalam mempresentasikan isi juga akan sangat berpengaruh.

Tampilan presentasi sudah didesain sebisa mungkin mengoptimalkan pemahaman audiens. Perhatikan contoh slide di samping kiri: Keterangan: 1. 2. 3. 4. topik sub topik fokus sub topik isi fokus sub topik

Contoh Narasi:
Misalnya narasi anda adalah sebagai berikut: “Ada empat tahap yang dilalui seseorang dari ia terjangkit HIV sampai menderita AIDS. Empat tahap tersebut adalah: 1. 2. 3. 4.
Multimedia Materi KRR

Tahap Tahap Tahap Tahap

satu, yaitu… dua, yaitu… tiga, yaitu… empat, yaitu…”

14

Teknik Fasilitasi KRR

Maka, urutan slide yang anda tampilkan dan narasinya adalah sebagai berikut: • Untuk narasi: “Ada empat tahap yang dilalui seseorang dari ia terjangkit HIV sampai menderita AIDS. Empat tahap tersebut adalah..” Perlihatkanlah slide di sebelah kiri.

Untuk narasi: “Tahap satu, yaitu…” Perlihatkanlah slide di sebelah kiri.

Keterangan:
• ketika narasi ini, tulisan tahap 1 berwarna lebih gelap, sedangkan tulisan tahap 2, tahap 3, tahap 4 tetap ada, tapi berwarna lebih redup. Isi fokus bahasan berubah sesuai fokus sub topik masing-masing Dengan begini, audiens bisa membayangkan: o o o Sudah seberapa persen presentasi berjalan? Masih berapa persen presentasi akan berjalan? Apa yang sedang dibicarakan sekarang?

• •

Untuk narasi: “Tahap dua, yaitu…” Perlihatkanlah slide di sebelah kiri.

Multimedia Materi KRR

15

Teknik Fasilitasi KRR

Untuk narasi: “Tahap tiga, yaitu…” Perlihatkanlah slide di sebelah kiri.

Untuk narasi: “Tahap empat, Perlihatkanlah slide di sebelah kiri.

yaitu…”

Selamat menggunakan,

Multimedia Materi KRR

16

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

█ NARASI YANG DISARANKAN: SEKSUALITAS
A. B. C. D. E. F. G. H. I. Seksualitas Organ Reproduksi Pubertas Mimpi Basah Menstruasi Obrolan Seputar Organ Reproduksi Kehamilan Konsekuensi Hubungan Seks Pranikah Hubungan Seks Bebas Tidak Aman dengan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan NAPZA

A.

Seksualitas
ƒ Seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut dan sikap berkaitan dengan perilaku seksual maupun orientasi seksual.

1. Pengertian

ƒ

Kata seksualitas berasal dari kata dasar seks, yang memiliki beberapa arti:

1. Jenis Kelamin: keadaan biologis manusia yang membedakan laki dan perempuan. Istilah jenis kelamin berbeda dengan jender. Jender adalah pembedaan jenis kelamin berdasarkan peran yang dibentuk oleh masyarakat/budaya tertentu (misalnya perempuan-lembut, laki-laki kasar) 2. Reproduksi Seksual: Membuat bayi. Bagian-bagian tubuh tertentu laki maupun perempuan bisa menghasilkan bayi dengan kondisi-kondisi tertentu (lihat kondisi yang menyebabkan kehamilan, halaman 17). Bagian tubuh itu disebut alat atau organ reproduksi. Organ reproduksi laki-laki dan
Multimedia Materi KRR

17

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

perempuan berbeda yang berbeda.

karena

punya fungsi

3. Organ reproduksi: organ reproduksi lakilaki dan perempuan terdiri atas organ bagian luar dan bagian dalam. Organ reproduksi perempuan antara lain vagina dan rahim; sedangkan organ laki-laki antara lain penis dan testis

4. Rangsangan Atau Gairah Seksual: rangsangan seksual dapat disebabkan perasaan tertarik sekali (seperti magnit) pada seseorang sehingga terasa ada getaran "aneh" yang muncul dalam tubuh

5. Hubungan Seks: Hubungan seks (HUS) terjadi bila dua individu saling merasa terangsang satu sama lain (dapat terjadi pada lain jenis maupun pada sejenis) sampai organ seks satu sama lain bertemu (penetrasi). ƒ Orientasi seksual adalah kecenderungan seseorang mencari pasangan seksualnya berdasarkan jenis kelamin. Ada tiga orientasi seksual: 1. heteroseksual (tertarik pada jenis kelamin yang berbeda) 2. homoseksual (tertarik pada jenis kelamin yang sama: gay pada laki-laki, lesbian pada perempuan). 3. biseksual (tertarik pada jenis kelamin: laki-laki perempuan) dua dan

ƒ

Multimedia Materi KRR

18

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

2. Isu-Isu Penting Dalam Seksualitas ƒ Beberapa isu penting yang perlu dibahas berkaitan dengan seksualitas yaitu: ◘ ◘ ◘ ƒ Organ / alat reproduksi dan permasalahan di sekitarnya Pubertas Kehamilan

Sedangkan isu konsekuensi dari perilaku seksual bebas dan tidak aman: ◘ ◘ ◘ Kehamilan Tak Diinginkan pada remaja Aborsi di kalangan remaja IMS & HIV/AIDS

B.

Organ Reproduksi
Organ reproduksi perempuan yang penting dalam proses reproduksi adalah : • Ovarium (Indung telur) Berfungsi menghasilkan sel telur, hormon (estrogen, progesteron dll) • Tuba Falopi (saluran telur) Berfungsi sebagai tempat berjalannya sel telur setelah keluar dari ovarium (proses ovulasi) dan tempat pembuahan (konsepsi) atau bertemunya sel telur dan sperma • Uterus (rahim) Berupa rongga yang terlindungi oleh beberapa lapisan otot dan selaput lendir, fungsinya tempat berkembangnya janin. Dinding rahim yang menebal dan berisi pembuluh darah akan keluar sebagai menstruasi • Vagina (liang kemaluan) Liang digunakan untuk sanggama dan jalan lahir bayi hormon-

1. Perempuan ƒ

Multimedia Materi KRR

19

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Labia (bibir kemaluan) Terdiri menjadi dua, yaitu Labia mayor dan Labia Minor.

ƒ

Berikut adalah gambaran perempuan (rinci) a. Ovarium (indung telur)

organ

reproduksi

Yaitu organ di kiri dan kanan rahim di ujung saluran fimbrae (umbai-umbai) dan terletak di rongga pinggul indung telur berfungsi mengeluarkan sel telur (ovum), sebulan sekali indung telur kiri dan kanan secara bergiliran mengeluarkan sel telur. Sel telur adalah sel yang dihasilkan oleh indung telur yang dapat dibuahi oleh sperma sehingga terjadi janin. Bila tidak dibuahi, akan ikut keluar bersama darah pada saat menstruasi. b. Fimbrae (umbai-umbai) Dapat dianalogikan dengan jari-jari tangan. Umbai-umbai ini berfungsi untuk menangkap ovum yang dikeluarkan indung telur. c. Tuba Falopi (saluran telur) Yaitu saluran di kiri dan kanan rahim yang berfungsi untuk dilalui oleh ovum dari indung telur menuju rahim. Ujungnya adalah fimbrae. d. Uterus (rahim) Yaitu tempat calon bayi dibesarkan, bentuknya seperti buah alpukat gepeng dan berat normalnya antara 30 – 50 gram. Pada saat tidak hamil, besar rahim kurang lebih sebesar telur ayam kampung, Dindingnya terdiri dari : ◘ Lapisan parametrium Adalah lapisan yang paling luar dan lapisan yang berhubungan dengan rongga perut. ◘ Lapisan miometrium Adalah lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar pada proses persalinan (kontraksi).
Multimedia Materi KRR

20

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Lapisan endometrium Adalah lapisan dalam dari rahim tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan endometrium terdiri dari lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah.

e. Cervix (leher rahim) Yaitu bawah rahim bagian luar yang ditetapkan sebagai batas penis masuk ke dalam vagina. Pada saat persalinan tiba, leher rahim membuka sehingga bayi dapat keluar. f. Vagina (lubang senggama) Yaitu sebuah saluran berbentuk silinder dengan diameter dinding depan ± 6,5 cm dan dinding belakang ± 9 cm yang bersifat elastis dengan berlipat-lipat. Fungsinya sebagai tempat penis berada waktu bersanggama, tempat keluarnya menstruasi dan bayi. g. Mulut vagina yaitu awal dari vagina, merupakan rongga penghubung rahim dengan bagian luar tubuh. Lubang vagina ini ditutupi oleh selaput dara. o Hymen (selaput dara) yaitu selaput tipis yang terdapat di muka liang vagina. Selaput dara tidak mengandung pembuluh darah.

h. Klitoris (kelentit), yaitu benjolan daging kecil yang paling peka dari seluruh alat kelamin perempuan. Klitoris banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf. 2. Laki-Laki ƒ Organ reproduksi laki-laki yang penting dalam proses reproduksi adalah : a. Testis (buah pelir) Ada 2 buah dan berada di dalam kantung pelir (scrotum), berfungsi menghasilkan sperma. Sperma berbentuk seperti kecebong yang memiliki kepala, badan dan ekor, bentuk/morfologi sperma sangat mempengaruhi proses reproduksi/kesuburan seorang laki-laki.
Multimedia Materi KRR

21

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

b. Vas deferens (saluran sperma) Tempat prostat. berjalannya sperma dari testis ke

c. Prostat dan beberapa kelenjar lainnya Adalah kelenjar yang berfungsi menghasilkan cairan mani d. Uretra (saluran kemih) Adalah saluran lewatnya mengandung sperma e. Penis (batang kemaluan) Berfungsi sebagai alat kemih (mengeluarkan air kemih) dan alat reproduksi (sanggama, ejakulasi), ukuran penis tidak /bukan merupakan faktor kesuburan. ƒ Berikut adalah laki-laki (rinci) a. Penis Berfungsi sebagai alat sanggama dan sebagai saluran untuk pembuangan sperma dan air seni. Pada keadaan biasa, ukuran penis kecil. Ketika terangsang secara seksual darah banyak dipompakan ke penis sehingga berubah menjadi tegang dan besar —disebut ereksi (lihat bagian ereksi, halaman 11). b. Glans Adalah bagian depan atau kepala penis. Glans banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf. Kulit yang menutupi bagian glans disebut foreskin (Preputium). Di beberapa negara memiliki kebiasaan membersihkan daerah sekitar preputium ini atau yang dikenal dengan sunat. Sunat dianjurkan karena memudahkan pembersihan penis sehingga mengurangi kemungkinan terkena infeksi, radang dan beberapa macam kanker. c. Uretra (saluran kencing) Yaitu saluran untuk mengeluarkan air seni dan air mani.
Multimedia Materi KRR

cairan

mani

yang

gambaran

organ

reproduksi

22

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Mulut uretra adalah kencing / uretra.

awal

dari

saluran

d. Vas deferens (saluran sperma) Adalah saluran yang menyalurkan sperma dari testis menuju ke prostat. Vas deferens panjangnya ± 4,5 cm dengan diameter ± 2,5 mm. e. Epididimis Adalah saluran-saluran yang lebih besar dari vas deferens. Bentuknya berkelok-kelok dan membentuk bangunan seperti topi. Sperma yang dihasilkan oleh testis akan berkumpul di Epididymis. f. Testis (pelir) Berjumlah dua buah untuk mereproduksi sperma setiap hari dengan bantuan testosteron. Testis berada di dalam scrotum, di luar rongga panggul karena pertumbuhan sperma membutuhkan suhu yang lebih rendah dari pada suhu tubuh. ◘ Sperma yaitu sel yang berbentuk seperti berudu berekor hasil dari testis yang dikeluarkan saat ejakulasi bersama cairan mani dan bila bertemu dengan sel telur yang matang akan terjadi pembuahan.

g. Scrotum Adalah kantung kulit yang melindungi testis, berwarna gelap dan berlipat-lipat. Scrotum adalah tempat bergantungnya testis. Scrotum mengandung otot polos yang mengatur jarak testis ke dinding perut dengan maksud mengatur suhu testis agar relatif tetap. h. Kelenjar prostat Yaitu kelenjar yang menghasilkan hormon lakilaki (testosteron). i. Vesikula seminalis Berfungsi menghasilkan sekaligus menampung cairan mani sebagai media pengantar sperma. j.
Multimedia Materi KRR

Kandung kencing

23

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Adalah tempat penampungan sementara air yang berasal dari ginjal ( air seni ) Tambahan: a. Ereksi ƒ Ereksi adalah pengerasan dan pembesaran pada penis yang terjadi ketika pembuluh darah di penis dipenuhi dengan darah. Ereksi diperlukan hubungan seksual. laki-laki untuk melakukan

ƒ ƒ

Ketika ereksi, otot-otot di dasar kandung kemih akan menjadi lebih rapat, sehingga tidak akan mengeluarkan air seni/kencing saat melakukan hubungan seksual. Ereksi bisa terjadi karena rangsangan seksual. Misalnya, ketika orang lain atau diri sendiri menyentuh penis atau buah pelir. Kita juga bisa terangsang ketika kita menonton adegan erotis di televisi, melihat gambar-gambar seksi, atau berfantasi seksual, yaitu membayangkan adeganadegan erotis. Ereksi bisa juga terjadi ketika ada gerakan atau getaran, seperti halnya bila kita naik bajaj atau kereta api.

ƒ

ƒ

b. Ejakulasi ƒ ƒ Ejakulasi adalah keluarnya cairan sperma melalui saluran kemih. Ejakulasi bisa terjadi melalui rangsangan maupun tanpa rangsangan (mimpi basah). Ejakulasi yang yang dilakukan dengan rangsangan yang dilakukan terhadap organ seks sendiri disebut masturbasi atau onani.

C.

Pubertas
ƒ Masa puber adalah masa dimana seseorang mengalami perubahan struktur tubuh: dari anakanak menjadi dewasa.

1. Pengertian

Multimedia Materi KRR

24

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Masa pubertas ditandai dengan kematangan organ-organ reproduksi, baik organ reproduksi primer (produksi sperma, sel telur) maupun sekunder (kumis, rambut kemaluan, payudara, dll). Lihat perubahan fisik pada perempuan, perubahan fisik pada laki-laki.

2. Kapan Awal Masa Pubertas ƒ Awal masa puber berkisar antara 13-14 tahun pada laki-laki, dan 11-12 tahun pada perempuan (lebih cepat daripada laki-laki). Pubertas berakhir sekitar umur 17 - 18 tahun. Batasan umur ini tidak mutlak karena kondisi tubuh masing-masing orang berbeda-beda. Ada laki-laki atau perempuan yang mengalami masa puber lebih cepat, ada yang terlambat. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain adalah gizi, lingkungan keluarga, dll. Karena perubahan yang terjadi banyak dan cepat, perasaan dan emosi remaja akan terpengaruh (lihat perubahan psikologis).

ƒ

ƒ

3. Apa Yang Terjadi Pada Masa Pubertas ƒ ƒ Tubuh mengalami perubahan kerja hormon. Perubahan terjadi karena hypothalamus (pusat pengendali utama otak) bekerja sama dengan kelenjar bawah otak mengeluarkan hormonhormon tertentu, antara lain hormon estrogen dan testosteron. Pada perempuan, yang dominan adalah hormon estrogen dominan. Pada laki-laki yang dominan adalah testosteron.

ƒ

a. Pada Perempuan ƒ Hormon estrogen. Hormon estrogen membuat seorang anak perempuan memiliki sifat kewanitaan setelah remaja. Perubahan yang disebabkan estrogen adalah sebagai berikut: ◘ merangsang pertumbuhan saluran susu di payudara sehingga payudara membesar

Multimedia Materi KRR

25

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

◘ ◘ ◘ ◘

merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan vagina sehingga membesar membuat dinding vagina makin tebal dan cairan vagina bertambah banyak. mengakibatkan tertimbunnya daerah panggul wanita lemak di

memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula sudah dirangsang oleh kelenjar bawah otak (Itulah sebabnya mengapa perempuan dewasa tidak setinggi anak lakilaki sebayanya).

ƒ

Hormon progesteron. Efeknya yang utama progesteron adalah: ◘ ◘ ◘ ◘ melemaskan otot-otot halus meningkatkan produksi zat lemak di kulit meningkatkan suhu badan. Efek terpenting: pada rahim, progesteron mempertebal dinding di dalam rahim dan merangsang kelenjar-kelenjar agar mengeluarkan cairan pemupuk bagi sel telur yang dibuahi (Dengan demikian sel telur yang sudah dibuahi akan terpelihara selama mencoba memperkuat kedudukannya di dinding rahim).

b. Pada Laki-Laki ƒ Hormon testosteron. ◘ ◘ Hormon testosteron dihasilkan oleh prostat. Ada di dalam darah dan mempengaruhi alatalat dalam tubuh serta menyebabkan terjadinya beberapa pertumbuhan seks primer. Hormon testosteron bersama anak ginjal (androgen) menimbulkan ciri-ciri pertumbuhan seks sekunder.

ƒ

Karena di masa puber hormon-hormon seksual berkembang dengan pesat, remaja sangat mudah terangsang secara seksual. Pada lakilaki, reaksi dorongan seks adalah mengerasnya penis (ereksi).

Multimedia Materi KRR

26

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Karena belum stabilnya hormon di dalam tubuh, ereksi bisa muncul tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi yang sering kali muncul secara tak terduga ini bisa membuat remaja laki-laki salah tingkah (kebingungan menyembunyikan tonjolan di celana gara-gara ereksi).

4. Perubahan Fisik Pada Perempuan ƒ Hormon estrogen dan progesteron mulai berperan aktif akan menimbulkan perubahan fisik, seperti tumbuh payudara, panggul mulai melebar dan membesar dan akan mengalami menstruasi atau haid. Di samping itu akan mulai tumbuh bulu-bulu halus di sekitar ketiak dan vagina. Tambahan: Perubahan fisik lainnya adalah: ◘ ◘ ◘ ◘ ◘ Kulit dan rambut mulai berminyak (wajah menjadi berjerawat) Keringat bertambah banyak Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang Tangan dan kaki bertambah besar Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar (sehingga tidak terlihat seperit anak kecil lagi) Pantat berkembang lebih besar Indung telur mulai membesar Vagina mulai mengeluarkan cairan

ƒ

◘ ◘ ◘

5. Perubahan Fisik Pada Laki-Laki ƒ Hormon testosteron akan membantu tumbuhnya bulu-bulu halus di sekitar ketiak, kemaluan, wajah (janggut dan kumis), terjadi perubahan suara pada remaja laki-laki, tumbuhnya jerawat dan mulai diproduksinya sperma yang pada waktu-waktu tertentu keluar sebagai mimpi basah. Tambahan: Perubahan fisik lainnya adalah: ◘ ◘ ◘ ◘
Multimedia Materi KRR

ƒ

Tubuh bertambah berat dan tinggi Keringat bertambah banyak Kulit dan rambut mulai berminyak Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang

27

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

◘ ◘ ◘ ◘ ◘ ◘

Tangan dan kaki bertambah besar Tulang wajah mulai memanjang dan membesar (sehingga tidak terlihat seperti anak kecil lagi) Pundak dan dada bertambah besar dan bidang Tumbuh jakun Suara berubah menjadi berat Penis dan buah zakar membesar

6. Perubahan Psikologis ƒ Perubahan-perubahan kebutuhan, konflik nilai antara keluarga-dunia luar dan perubahan fisik menyebabkan remaja sangat sensitif. Remaja jadi sering bersikap tersinggung, bahkan stres. irasional, mudah

ƒ ƒ

Ciri-ciri tingkah laku remaja yang sedang puber: ◘ ◘ ◘ ◘ Mulai meninggalkan ketergantungan kepada keluarga dan ketenangan masa kecil. Butuh diterima oleh kelompoknya. Mulai banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman sebaya. Mulai mempelajari sikap serta pandangan yang berbeda antara keluarganya dengan dunia luar (tentang moral, seksualitas, dll). Mulai menghadapi konflik dan harus memutuskan apa saja norma yang harus diambil dari luar, serta berapa banyak ajaran orang tuanya yang harus dia tolak. Mulai muncul kebutuhan akan privasi Mulai muncul kebutuhan keintiman dan ekspresi erotik Mulai memperhatikan penampilan Tertarik pada lawan jenis Ingin menjalin hubungan yang lebih dekat pada lawan jenisnya

◘ ◘ ◘ ◘ ◘

D.

Mimpi Basah
ƒ Secara alamiah sperma akan keluar saat tidur, sering pada saat mimpi tentang seks, disebut ’mimpi basah’.

1. Pengertian Mimpi Basah

Multimedia Materi KRR

28

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Mimpi basah sebetulnya merupakan salah satu cara tubuh laki-laki ejakulasi. Ejakulasi terjadi karena sperma, yang terus-menerus diproduksi, perlu dikeluarkan. Ini adalah pengalaman yang normal bagi semua remaja laki-laki.

ƒ

2. Proses Mimpi Basah ƒ Sperma yang telah diproduksi akan dikeluarkan dari testis melalui saluran/vas deferens kemudian berada dalam cairan mani yang ada di vesicula seminalis . Sperma disimpan dalam kantung mani, jika penuh akan secara otomatis keluar, dan jika tidak terjadi pengeluaran sperma ini akan diserap kembali oleh tubuh. Mimpi basah umumnya terjadi secara periodik, berkisar setiap 2 – 3 minggu. Mereka yang sudah dewasa/menikah jarang mengalami mimpi basah karena mereka teratur mengeluarkannya melalui hubungan seksual dengan pasangan/istri.

ƒ

ƒ ƒ

a. Pernyataan-Pernyataan Seputar Mimpi

Basah
ƒ Benar : Semua anak laki-laki akan mengalami mimpi basah pada masa pubertas. Benar : Bila ereksi atau penis tegang tidak selalu berarti harus ejakulasi Salah : Bila tidak mimpi basah maka ia tidak normal. Salah : Bila tidak mimpi basah, maka penisnya akan penuh dan pecah. Salah : Penis akan menjadi lebih besar bila sering ditarik-tarik. Salah :

ƒ

ƒ ƒ

ƒ

ƒ
Multimedia Materi KRR

29

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Mimpi basah hanya terjadi pada laki-laki yang nakal. E.

Menstruasi
ƒ Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam/endotrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina. Menstruasi dimulai saat pubertas, berhenti sesaat waktu hamil atau menyusui, dan berakhir saat menopause, ketika seorang perempuan berumur sekitar 40 sampai 50an. Di Indonesia, menopause terjadi rata-rata di atas 50 tahun.

1. Pengertian

ƒ

2. Proses Menstruasi ƒ Ovarium bayi perempuan yang baru lahir mengandung ratusan ribu sel telur, tetapi belum berfungsi. Ketika pubertas, ovariumnya mulai berfungsi dan terjadi proses yang disebut siklus menstruasi (jarak antara hari pertama menstruasi bulan ini dengan hari pertama menstruasi bulan berikutnya). Dalam satu siklus dinding rahim menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan (akibat produksi hormon-hormon oleh ovarium). Sel telur yang matang akan berpotensi untuk dibuahi oleh sperma hanya dalam 24 jam. Bila ternyata tidak terjadi pembuahan maka sel telur akan mati dan terjadilah perubahan pada komposisi kadar hormon yang akhirnya membuat dinding rahim tadi akan luruh disertai perdarahan, inilah yang disebut menstruasi. Menstruasi yang pertama disebut menarche.

ƒ

ƒ

Kapan menstruasi terjadi? ƒ Kira-kira umur 9 tahun (paling lambat kira-kira 16 tahun). Variasi Ini terjadi karena proses pertumbuhan setiap orang berbeda-beda. Menstruasi biasanya terjadi setelah buah dada mulai membesar, rambut tumbuh di seputar alat

ƒ

Multimedia Materi KRR

30

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

vital dan di ketiak, dan vagina mengeluarkan cairan keputih-putihan. Berapa lama masa menstruasi berlangsung? ƒ Rata-rata masa menstruasi berlangsung empat sampai lima hari. Namun ada juga yang mengalami haid hanya tiga hari, ada juga yang sampai satu minggu.

Apakah akan terjadi berulang-ulang? ƒ Ya. Menstruasi akan terus selama sel telur yang matang tidak dibuahi sperma (lihat masa subur, halaman 17)

Bagaimana menghitung siklus menstruasi?
ƒ Pada kebanyakan perempuan, siklus haid berkisar antara 28 sampai 29 hari. Namun demikian, siklus yang berlangsung dari 20 sampai 35 hari masih dianggap normal. Siklus menjadi teratur setelah tahun pertama dan seterusnya. Siklus men struasi pada setiap orang tidak sama. Siklus menstruasi yang normal sekitar 24–31 hari tetapi ada juga yang kurang atau lebih dari siklus menstruasi yang normal. Siklus ini tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres dan usia. Pada masa remaja biasanya memang mempunyai siklus yang belum teratur, bisa maju atau mundur beberapa hari. Pada masa remaja, hormon-hormon seksualnya belum stabil. Semakin dewasa biasanya siklus menstruasi menjadi lebih teratur, walaupun tetap saja bisa maju atau mundur karena faktor stres atau kelelahan. Biasanya paling lambat setelah satu tahun sejak menstruasi pertama, siklus menstruasi sudah mulai teratur. Namun bisa juga tidak, karena dipengaruhi oleh kondisi emosional atau oleh perubahan kebiasaan.

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

31

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Bila masa haid tetap tidak teratur sampai dua tahun sejak mulai pertama haid, maka harus segera menghubungi dokter.

3. Pernyataan-Pernyataan Seputar

Menstruasi
ƒ Salah: Darah yang keluar dari remaja perempuan haid menunjukkan bahwa ia sakit. Salah: Remaja Perempuan yang sedang Haid adalah perempuan yang kotor. Salah: Selama haid perempuan tidak boleh mencuci rambutnya. Salah: Perempuan haid sebaiknya tidak melakukan kegiatan seperti olahraga Salah: selama masa menstruasi dilarang makan makanan yang asam (misal: nanas) waktu

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

F.

Obrolan Seputar Organ Reproduksi
ƒ Onani adalah aktifitas merangsang dengan menyentuh/meraba organ seks sendiri. Aktifitas ini dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

1. Onani (Masturbasi)

Tambahan: Apakah onani mempengaruhi kesehatan? ƒ Dari sisi medis onani tidak menimbulkan dampak yang membahayakan kesehatan sepanjang dilakukan dengan tidak merusak bagian tubuh misalnya dengan menggunakan alat atau kebersihan yang tidak terjaga sehingga menimbulkan infeksi.

Multimedia Materi KRR

32

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Pendapat bahwa onani dapat menyebabkan kebutaan, dengkul kopong, kerusakan syaraf atau kemandulan adalah tidak benar.

Apa dampak onani secara psikologis? ƒ Dari sisi psikologis onani justru banyak menimbulkan masalah, antara lain ketagihan sehingga aktifitas ini menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan, lalu dapat timbul rasa bersalah, rasa tertekan karena melakukan aktifitas seksual padahal belum menikah. Dampak lainnya yaitu menurunnya konsentrasi (terokupasi pikiran dan perasaan bersalah terhadap keinginan memuaskan diri sendiri). Ini dapat menyebabkan produktifitas seseorang menurun (kerja / belajar terganggu). Dampak onani dapat sampai pada apa yang disebut dengan ‘obsesif kompulsif’, yaitu merasa belum nyaman kalau belum melakukan onani.

ƒ

ƒ

Apa dampak onani secara fisik? ƒ Onani menghabiskan energi yang cukup banyak sehingga biasanya orang mudah merasa lelah dan menurun produktivitasnya.

Apakah onani diperlukan untuk mengeluarkan sperma? ƒ Onani dapat dipakai sebagai suatu cara untuk mengeluarkan sperma. Sudah ada mekanisme khusus tubuh bila sperma sudah menumpuk tapi belum mimpi basah.

2. Sunat (Sirkumsisi) ƒ ƒ Sunat pada laki-laki berbeda dengan perempuan Pada laki-laki sunat dilakukan dengan cara membuang kulit/preputium. Dalam beberapa suku bangsa hal ini merupakan bagian dari budaya. Dan menurut ajaran agama Islam, sirkumsisi bahkan sangat dianjurkan atas alasan kebersihan. Secara medis sunat pada laki-laki sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan penis

ƒ

Multimedia Materi KRR

33

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

karena preputium dapat menjadi tempat berkumpulnya sisa-sisa air seni dan kotoran lain. Akibatnya, terbentuk zat berwarna putih disebut smegma. Ini sangat potensial sebagai sumber infeksi. Dengan membuang kulit/preputium maka risiko terkena infeksi dan penyakit lain menjadi lebih kecil. Walaupun tetap kebersihan penis harus dijaga. Tambahan: Bagaimana dengan sunat perempuan? ƒ Pada perempuan sunat dilakukan dengan cara sedikit melukai klitoris atau dipotong habis seperti pada beberapa suku bangsa di Afrika. Latar belakang adalah kultural. dilakukan sunat perempuan

ƒ ƒ ƒ

Dalam agama Islam sunat anak perempuan tidak diwajibkan. Dari sisi medis sunat perempuan tidak mempunyai manfaat karena klitoris tidak memiliki fungsi dalam proses reproduksi perempuan. Klitoris merupakan organ yang kaya syaraf sehingga sangat sensitif dan sumber orgasmus sehingga memotong habis klitoris dianggap oleh beberapa kalangan sebagai pelanggaran hak reproduksi perempuan.

ƒ

3. Keperawanan ƒ Di mulut vagina terdapat selaput dara (hymen). Suatu saat selaput ini akan robek. Selama selaput dara belum robek, seorang perempuan disebut perawan. Robeknya selaput biasanya terjadi karena hubungan seks (masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam vagina). Selaput dara dapat juga robek karena kecelakaan atau kegiatan olah raga yang berat (berkuda atau jatuh dari sepeda), tetapi hal ini jarang terjadi. Kegiatan olah raga berat tersebut

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

34

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

dapat menyebabkan robeknya selaput dara karena adanya luka penetrasi pada mulut vagina. ƒ Pada saat hubungan seks yang pertama dapat disertai sedikit pendarahan tetapi bisa juga tidak, hal ini tergantung pada kekenyalan selaput dara. Pendarahan terjadi karena ada luka pada pembuluh darah yang ada di sekitar dinding vagina, bukan berasal dari selaput dara. Selaput dara memiliki lubang atau pori-pori, karena melalui lubang atau pori-pori tersebut keluar darah sewaktu kita menstruasi. Kalau tidak ada lubangnya justru akan menimbulkan penyakit, karena darah menstruasi menumpuk tidak bisa keluar yang akhirnya bisa membahayakan organ reproduksi perempuan. Bila hal ini terjadi, dianjurkan agar remaja perempuan tersebut memeriksakan diri ke dokter atau bidan untuk dicari penyebabnya. Selaput dara mempunyai elastisitas yang berbeda-beda, ada yang kaku dan ada yang kenyal. Elastisitasnya inilah yang antara lain mempengaruhi pendarahan pada hubungan seksual pertama terjadi atau tidak.

ƒ

G.

Kehamilan
ƒ Kehamilan merupakan suatu bentuk alamiah reproduksi manusia, yaitu proses regenerasi yang diawali dengan pertemuan sel telur perempuan dengan sel sperma laki-laki yang membentuk suatu sel (embrio) dimana merupakan cikal bakal janin, dan berkembang di dalam rahim sampai akhirnya dilahirkan sebagai bayi.

1. Pengertian

2. Kondisi Yang Menyebabkan Kehamilan 1. Usia Subur ƒ Yaitu usia dimana seorang individu secara seksual sudah matang, pada umur yang bervariatif untuk pria dan wanita. Untuk pria dimulai sejak diproduksinya sperma, biasanya

Multimedia Materi KRR

35

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ditandai dengan mimpi basah. Untuk perempuan dimulai sejak diproduksinya sel telur, ditandai dengan terjadinya menstruasi. ƒ Menopause (berakhirnya usia subur) adalah saat tidak diproduksinya lagi sperma pada pria, atau sel telur pada perempuan. Menopause pada perempuan terjadi pada usia 40-50an. Pada laki-laki dikenal dengan nama andropause. Pada andropause produksi testosteron menurun, bukan berhenti. Usia terjadinya andropause lebih variatif (bisa di atas 60 bahkan 70an). Variasi usia menopause dan andropause disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya faktor genetis maupun gizi.

ƒ

2. Melakukan Hubungan Seksual 3. Masa Subur Perempuan Dan Ejakulasi LakiLaki ƒ Masa subur adalah waktu di mana sel telur yang telah matang potensial untuk dibuahi oleh sperma. Pada seorang perempuan usia subur, setiap bulannya secara teratur akan terjadi pematangan satu atau lebih sel telur. Cara menghitung masa subur misalnya seseorang dengan siklus normal yaitu 28 hari maka ovulasi diperkirakan akan terjadi pada 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Untuk melihat rata-rata siklus menstruasi dicatat selama 6 bulan berturut-turut. Bila siklus menstruasinya tidak teratur 28 hari maka perlu ada penghitungan khusus.

ƒ

ƒ

4. Pertemuan Sperma Dan Ovum ƒ Kehamilan diawali dengan keluarnya sel telur yang telah matang dari indung telur. Sel telur yang matang (yang berada di saluran telur) yang bertemu sperma (yang masuk) akan menyatu membentuk sel yang akan bertumbuh (zygote).

Multimedia Materi KRR

36

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ ƒ

Baik sel telur maupun sel sperma harus berada dalam kondisi sehat. Zygote akan membelah dari satu sel menjadi dua sel lalu membelah menjadi 4 sel dan seterusnya berkembang sambil bergerak menuju rahim. Sesampainya di rahim hasil konsepsi tersebut akan menanamkan diri pada dinding rahim(uterus), sel yang tertanam tersebut disebut embrio. Jika embrio tersebut bertahan hingga dua bulan untuk selanjutnya dia akan disebut janin (fetus) sampai pada saat bayi dilahirkan.

ƒ

3. Tanda-Tanda Kehamilan Tanda-tanda pasti
Terdengar detak jantung janin Ibu merasakan gerakan bayi Teraba bagian bayi Pemeriksaan medis melalui USG

Tanda-tanda dugaan (tidak pasti)
Tidak datang haid Pusing dan muntah pada pagi hari Buah dada membesar Daerah sekitar puting susu menjadi agak gelap Perut membesar

4. Keadaan Ideal Untuk Hamil Kesiapan seorang perempuan untuk hamil atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/emosi/psikologis dan kesiapan sosialekonomi. a. Kesiapan fisik ƒ Bila ia telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya, yaitu sekitar usia 20 tahun

Multimedia Materi KRR

37

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

b. Kesiapan mental /emosional /

psikologis
ƒ Bila seorang perempuan dan pasangannya merasa telah ingin mempunyai anak dan merasa telah siap menjadi orang tua termasuk mengasuh dan mendidik anaknya.

c. Kesiapan sosial-ekonomi ƒ Bila orangtua sudah siap memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperti: makanminum, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan pendidikan bagi anaknya. Meskipun seorang remaja perempuan telah melampaui usia 20 tahun tetapi ia dan pasangannya belum mampu memenuhi kebutuhan sandang pangan dan tempat tinggal bagi keluarganya maka ia belum dapat dikatakan siap untuk hamil dan melahirkan.

ƒ

Tambahan: Apa yang terjadi jika kamu menikah/hamil pada usia sangat muda (di bawah 20 tahun)? ƒ Perempuan yang belum mencapai usia 20 tahun sedang berada di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan fisik. Karena tubuhnya belum berkembang secara maksimal, maka perlu dipertimbangkan hambatan/kerugian antara lain: ◘ Ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilannya termasuk kontrol kehamilan. Ini berdampak pada meningkatnya berbagai resiko kehamilan Ibu muda pada waktu hamil sering mengalami ketidakteraturan tekanan darah yang dapat berdampak pada keracunan kehamilan serta kejang yang berakibat pada kematian

Multimedia Materi KRR

38

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Penelitian juga memperlihatkan bahwa kehamilan usia muda (di bawah 20 tahun) sering kali berkaitan dengan munculnya kanker rahim. Ini erat kaitannya dengan belum sempurnanya perkembangan dinding rahim.

5. Perawatan Kehamilan Selama kehamilan pemeriksaan ke bidan atau dokter minimal dilakukan sebanyak 4 kali. a. Pemeriksaan pertama dilakukan paling tidak pada akhir minggu ke 16 (bulan keempat kehamilan) untuk melihat adanya penyakit (anemia, penyakit menular seksual, malaria). Dianjurkan pemberian tablet zat besi dan imunisasi TT pertama pada ibu hamil. b. Pemeriksaan kehamilan kedua dilakukan pada bulan ke 6 atau ke 7 dari kehamilan. c. Pemeriksaan kehamilan ketiga dilakukan pada bulan ke 8, untuk kemungkinan keracunan kehamilan dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah, kaki dan tangan (ada atau tidaknya pembengkakan), keluhan pusing dan pandangan kabur, serta mulai merencanakan tempat dan penolong persalinan. d. Pemeriksaan kehamilan keempat dilakukan pada bulan ke 9, yaitu dengan memeriksa posisi atau letak bayi dan sekali lagi memastikan tempat dan penolong persalinan. 6. Persalinan a. Persalinan yang berisiko tinggi ƒ ƒ ƒ ƒ Terlalu muda (usia ibu yang kurang dari 20 tahun). Terlalu tua (usia ibu yang lebih dari 35 tahun). Terlalu banyak (jumlah anak sudah lebih dari 3 orang). Terlalu dekat (jarak kehamilan kurang dari 3 tahun).

Multimedia Materi KRR

39

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Riwayat kehamilan dan persalinan yang buruk (persalinan macet, operasi, lahir mati, lahir prematur, kehamilan kembar, atau mengalami keguguran 3 kali berturut-turut). Adanya kelainan letak bayi dalam kandungan.

ƒ

b. Beberapa tanda bahaya kehamilan dan

persalinan
Bila tanda-tanda ini muncul perlu dilakukan rujukan ke rumah sakit dimana persalinan harus segera ditolong tenaga medis: ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Terjadi perdarahan. Pengeluaran cairan pada kehamilan. Pucat dan berat badan kurang dari 45 Kg. Gejala kejang yang timbul tiba-tiba. Pembengkakan di tubuh terutama pada kaki, pandangan kabur, dan sering sakit kepala. Tekanan darah yang meningkat. Demam dengan temperatur suhu diatas 38 derajat celcius.

7. Pasca Persalinan a. Perawatan bayi ƒ Segera menyusui setelah melahirkan, berikan ASI yang pertama keluar (disebut kolostrum dan berwarna kuning) pada bayi karena mengandung zat kekebalan dari ibu. Memberikan imunisasi kepada bayi karena imunisasi dapat melindungi bayi dari bahaya terserang penyakit menular seperti difteri, batuk rejan, tetanus, polio, TBC dan campak. Memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan, kemudian baru makanan tambahan yang mengandung gizi yang baik sesuai dengan umur bayi.

ƒ

ƒ

Apa yang perlu diketahui tentang ASI? ƒ Air Susu Ibu yang pertama keluar (Kolostrum) dan berwarna kuning merupakan susu yang bersih dan makanan yang paling cocok untuk

Multimedia Materi KRR

40

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

bayi, serta mengandung kadar zat kekebalan untuk melindungi bayi dari penyakit menular. ƒ ƒ ASI mengandung gizi yang bernilai tinggi untuk pertumbuhan dan kecerdasan bayi. ASI mudah dicerna dan dihisap, tidak menyebabkan susah buang air besar dan alergi, selalu bersih dan segar serta mempunyai suhu yang sesuai untuk bayi dan anak. Juga dapat langsung diminum setiap saat dibutuhkan. ASI dapat menjalin hubungan batin yang erat bagi bayi dan ibunya. Pemberian ASI secara eksklusif (tanpa memberikan makanan tambahan apapun) diberikan sampai bayi berumur 6 bulan.

ƒ ƒ

b. Perawatan ibu ƒ Melakukan perawatan payudara untuk membantu keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya (memperlancar dan memperbanyak ASI). Makan hidangan bergizi terutama yang mengandung banyak zat besi. Jika dirasakan kurang maka perlu mengkonsumsi tablet zat besi yang dosisnya menurut anjuran petugas medis. Menjaga kebersihan diri, tetapi sebaiknya tidak melakukan cara-cara tradisional yang berbahaya misalnya meletakkan abu yang sudah dipanaskan pada luka vagina. Melakukan senam persalinan. secara teratur pasca setelah

ƒ

ƒ

ƒ ƒ

Melakukan pemeriksaan kepada mereka yang ahli.

persalinan

8. Pengaturan Kehamilan a. Alasan perlunya pengaturan kehamilan ƒ ƒ
Multimedia Materi KRR

Memulihkan kesehatan dan kesiapan fisik setelah melahirkan. Dapat merencanakan kehamilan berikutnya.

41

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ ƒ

Meningkatkan konsentrasi untuk mengasuh anak. Merencanakan kesiapan ekonomi.

b. Cara mengatur kehamilan ƒ Alat kontrasepsi (alokon) digunakan pada program keluarga berencana untuk menunda, mengatur jarak dan mencegah terjadinya kehamilan. Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alokon, tetapi pada beberapa kasus di mana terjadi remaja telah seksual aktif, atau pernah melakukan aborsi biasanya dilakukan konseling untuk mencari jalan keluarnya. Setelah melalui proses konseling, dapat diketahui perilaku remaja tersebut dan bila memang sulit untuk dihentikan aktifitas seksualnya dan tidak/belum mau menikah maka dapat dipertimbangkan konseling untuk penggunaan alokon. Konselor harus memiliki pengetahuan mengenai seluruh metode kontrasepsi beserta jenisnya, indikasi, kontraindikasi, cara kerja, efektivitas, efek samping, waktu penggunaan dan cara penggunaan yang benar.

ƒ

ƒ

Beberapa metode kontrasepsi yang perlu diketahui adalah:
ƒ

Metode alami:
Dengan cara pantang berkala (sistem kalender) dan / atau senggama terputus. Perlu diingat metode ini dapat dilakukan jika perempuan memiliki daur menstruasi yang cukup teratur. Tidak semua perempuan yang memiliki daur menstruasi yang teratur. Karena itu sangat dianjurkan untuk meminta petunjuk petugas medis yang bisa membantu menentukan masa subur.

Multimedia Materi KRR

42

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Metode hormonal:
Yang dimaksud metode hormonal adalah metode pencegahan kehamilan dengan memasukkan hormon/zat tertentu ke dalam tubuh kita, baik yang berupa pil, suntikan ataupun susuk. Untuk perempuan yang berusia di bawah 20 tahun kurang dianjurkan untuk menggunakan metode ini, karena dikhawatirkan zat/hormon tersebut dapat mengganggu proses pertumbuhan fisik yang sedang berlangsung. Perlu juga diwaspadai akibat sampingan pemakaian kontrasepsi seperti pusing terus menerus, rasa mual, menstruasi menjadi tidak teratur, pengurangan atau pertambahan berat badan yang cukup menyolok. Jika hal-hal tersebut terjadi sebaiknya perempuan mengganti cara pengaturan kehamilannya.

ƒ

Metode IUD / Spiral:
Metode ini dilakukan dengan cara memasang alat yang biasa diseb8ut spiral atau IUD sehingga sering disebut juga sebagai AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim). Alat dipasang oleh petugas medis yang sudah terlatih didahului oleh pemeriksaan kesehatan yang cermat.

ƒ

Metode operatif:
Metode ini lazim disebut sterilisasi atau vasektomi untuk laki-laki dan tubektomi untuk perempuan. Metode ini membutuhkan tindakan operasi yang hanya dapat dilakukan oleh dokter yang telah dilatih khusus. Metode ini hampir tidak pernah dilakukan terhadap pasangan yang tidak mempunyai anak.

ƒ

Kondom:
Metode ini dinilai bermanfaat baik untuk mencegah kehamilan maupun untuk mencegah penularan penyakit menular seksual jika dipergunakan dengan cara yang benar (lihat bab tentang IMS). Kondom juga baik untuk digunakan sebagai pelengkap dari metode alami.

Multimedia Materi KRR

43

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Jika perempuan tidak yakin apakah dia berada pada masa tidak subur, maka kondom bisa digunakan sebagai pelindung ganda untuk mencegah kehamilan. Tambahan: Mengapa remaja tidak menggunakan alat kontrasepsi ? ƒ dianjurkan

Peraturan Perundang-undangan di Indonesia tidak memperbolehkan penggunaan Alokon bagi remaja yang belum menikah; Ada jenis alat kontrasepsi tertentu (misalnya IUD) tidak boleh digunakan pada rahim yang belum pernah hamil karena dapat merusak dinding rahim; Secara mental remaja yang menggunakan alokon akan merasa bahwa dia dapat berperilaku seksual aktif tanpa risiko kehamilan dalam arti dia akan permisif terhadap perilaku tersebut dan akan sangat mudah terjadi gonta-ganti pasangan, padahal semua alokon tetap punya angka kegagalan dan hubungan seksual tidak hanya berakibat kehamilan tetapi juga terkena IMS (Penyakit Menular Seksual). Lebih baik bila jalan keluar yang dipilih adalah pengendalian dorongan seksual, menikah atau mengalihkan ke aktifitas lain yang lebih positif.

ƒ

ƒ

ƒ

H.

Konsekuensi Hubungan Seks Pranikah
a. Pengertian KTD Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan oleh salah satu atau kedua-duanya calon orang tua bayi tersebut.

1. KTD (Kehamilan Tak Diinginkan)

Multimedia Materi KRR

44

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

b. Sebab KTD ƒ Ketidaktahuan atau rendahnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat menyebabkan kehamilan. Akibat pemerkosaan, diantaranya pemerkosaan oleh teman kencannya (date rape). Tidak menggunakan alat kontrasepsi. Kegagalan alat kontrasepsi akibat mereka menggunakan alat kontrasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang metode kontrasepsi yang benar atau kegagalan alokonnya sendiri (efektivitas / efikasi)

ƒ

ƒ ƒ

c. Dampak KTD ƒ ƒ ƒ Dampak fisik: pendarahan, kehamilan bermasalah, dll. Dampak psikologis: malu, stres. tidak komplikasi, diri,

percaya

Dampak sosial: drop-out sekolah, dikucilkan masyarakat, dll.

2. Aborsi a. Pengertian aborsi ◘ Aborsi spontan (abortus spontane) adalah keguguran yang terjadi secara alamiah atau tidak sengaja. ◘ Aborsi buatan (abortus provokatus) adalah usaha penguguran yang disengaja. Ada dua cara melakukan aborsi buatan, yaitu cara yang aman secara medis dan cara yang tidak aman secara medis (self treatment). b. Alasan remaja memilih aborsi ƒ ƒ ƒ Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah. Takut pada kemarahan orangtua. Belum siap secara mental dan ekonomi untuk menikah dan mempunyai anak.

Multimedia Materi KRR

45

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ ƒ ƒ

Malu pada lingkungan sosial bila ketahuan hamil sebelum nikah. Tidak mencintai pacar yang menghamili. Tidak tahu status anak nantinya karena kehamilan terjadi akibat perkosaan, terlebih bila pemerkosa tidak dikenal oleh si remaja putri.

Tambahan: Mengapa aborsi cenderung dengan usaha ‘Self treatment’? ƒ dilakukan

Aborsi di Indonesia illegal, sehingga remaja yang mengalami KTD tidak dapat mengakses pelayanan aborsi. Tenaga medis tidak mau mengambil risiko melakukan aborsi kecuali atas indikasi medis. Tidak semua remaja mencoba pergi ke dukun karena takut konsekuensi negatif dari layanan yang tidak higienis dan tidak profesional. Mereka mencoba usaha-usaha self-treatment karena percaya pada cerita atau pengalaman orang lain (biasanya teman/sahabat mereka) dan mempercayai bahwa usaha-usaha itu akan berhasil menggugurkan kandungan mereka. Tindakan aborsi mengandung risiko yang cukup tinggi, bahkan menyebabkan kematian, apabila dilakukan tidak sesuai standar profesi medis, misalnya dengan cara : ◘ Penggunaan ramuan yang membuat panas rahim seperti nanas muda yang dicampur dengan merica atau obat-obatan yang keras lainnya. Manipulasi fisik, seperti melakukan pijatan pada rahim agar janin terlepas dari rahim. Menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril (misalnya ujung bambu yang diruncingkan, daun alang-alang) yang dapat mengakibatkan infeksi pada rahim.

ƒ ƒ

ƒ

ƒ

◘ ◘

Multimedia Materi KRR

46

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

c. Dampak aborsi ƒ ƒ Aborsi sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan. Dampak fisik: Aborsi yang dilakukan secara sembarangan (oleh mereka yang tidak terlatih) dapat menyebabkan kematian bagi ibu hamil. Perdarahan yang terus menerus serta infeksi yang terjadi setelah tindakan aborsi merupakan sebab utama kematian wanita yang melakukan aborsi. Dampak psikologis: Perasaan bersalah seringkali menghantui pasangan khususnya perempuan setelah mereka melakukan tindakan aborsi. Konseling mutlak diperlukan kepada pasangan sebelum mereka memutuskan aborsi. Tindakan aborsi harus diyakini sebagai tindakan terakhir jika alternatif lain sudah tidak dapat diambil.

ƒ

ƒ

Tambahan: Apa akibat yang timbul bila aborsi dilakukan secara tidak aman? ƒ Pendarahan sampai menimbulkan shock dan gangguan neurologis/syaraf di kemudian hari. Pendarahan juga dapat mengakibatkan kematian. Infeksi alat reproduksi karena kuretasi yang dilakukan secara tidak steril. Hal tersebut dapat membuat perempuan mengalami kemandulan. Risiko terjadinya ruptur uterus (robek rahim) besar dan penipisan dinding rahim akibat kuretasi. Hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan karena rahim yang robek harus diangkat seluruhnya. Terjadinya fistula genital traumatis. Fistula genital adalah timbulnya suatu saluran/hubungan yang secara normal tidak

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

47

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ada antara saluran genital dan kencing atau saluran pencernaan. 3. Infeksi Menular Seksual (IMS) a. Informasi umum tentang IMS ƒ

saluran

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang menyerang organ kelamin seseorang dan sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit menular seksual akan lebih berisiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal.

b. Contoh IMS 1. Gonore/GO (Kencing nanah) Penyebab: Bakteri Neisseria Gonorrhea Masa inkubasi: 2-10 hari setelah kuman masuk ke tubuh Gejala pada pria ƒ dari uretra (lubang kencing) keluar cairan berwarna putih, kuning kehijauan, rasa gatal, panas dan nyeri Mulut uretra bengkak dan agak merah

ƒ

Gejala pada wanita ƒ ƒ ƒ Terdapat keputihan (cairan kental, berwarna kekuningan Rasa nyeri di rongga panggul Rasa sakit waktu haid vagina),

Akibat ƒ ƒ ƒ ƒ Penyakit radang panggul, kemungkinan kemandulan Infeksi mata pada bayi yang dilahirkan Memudahkan penularan HIV Lahir muda, cacat bayi, lahir mati

2. Sifilis (Raja Singa) Penyebab: Bakteri Treponema Pallidum Masa inkubasi: 2-6 minggu, kadang-kadang sampai 3 bulan sesudah
Multimedia Materi KRR

48

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

kuman masuk ke tubuh melalui hubungan seksual Gejala ƒ Luka pada kemaluan tanpa rasa nyeri biasanya tunggal, kadang-kadang bisa sembuh sendiri Bintil/bercak merah di tubuh, tanpa gekala klinis yang jelas Kelainan syaraf, jantung, pembuluh darah dan kulit

ƒ ƒ

Akibat ƒ ƒ Jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan berat pada otak dan jantung Selama masa kehamilan dapat ditularkan pada bayi dalam kandungan dan dapat menyebabkan keguguran, lahir cacat Memudahkan penularan HIV

ƒ

3. Herpes Genitalis Penyebab: Virus Herpes Simplex Masa inkubasi: 4-7 hari setelah virus masuk ke tubuh, dimulai dengan rasa terbakar atau rasa kesemutan pada tempat virus masuk Gejala ƒ ƒ ƒ Bintil-bintil berkelompok seperti anggur yang sangat nyeri pada kemaluan Kemudian pecah dan meninggalkan luka yang kering berkerak, lalu hilang sendiri Gejala kambuh lagi seperti di atas namun tidak senyeri pada tahap awal, biasanya hilang dan timbul, kambuh apabila ada faktor pencetus (misalnya stres) dan menetap seumur hidup

Akibat ƒ ƒ Rasa nyeri berasal dari syaraf Dapat ditularkan kepada bayi pada waktu lahir

Multimedia Materi KRR

49

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Dapat menimbulkan infeksi baru, penularan pada bayi dan menyebabkan lahir muda, cacat bayi dan lahir mati Memudahkan penularan HIV Kanker leher rahim

ƒ ƒ

4. Trikomonas Vaginalis Penyebab: Sejenis Protozoa Vaginalis Trikomonas

Masa inkubasi: 3-28 hari setelah kuman masuk ke tubuh Gejala ƒ Cairan vagina (keputiihan encer, berwarna kuning kehijauan, berbusa dan berbau busuk Bibir kemaluan agak bengkak, kemerahan, gatal, berbusa dan terasa tidak nyaman

ƒ

Akibat ƒ ƒ ƒ Kulit seputar bibir kemaluan lecet Dapat menyebabkan bayi prematur Memudahkan penularan HIV

5. Chancroid Penyebab: Bakteri Haemophilus Ducreyi Gejala ƒ ƒ Luka yang sangat nyeri, tapa radang yang jelas Benjolan di lipatan paha yang sangat sakit dan mudah pecah, meninggalkan ulkus (luka) yang dalam

Akibat ƒ ƒ Luka infeksi mengakibatkan kematian jaringan di sekitarnya Merupakan resiko tertinggi penularan HIV/AIDS

Multimedia Materi KRR

50

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

6. Klamidia Penyebab: Chlamidia Trachomatis Gejala ƒ pada pria keluar duh tubuh/cairan melalui lubang kencing. Sepintas mirip GO tetapi gejalanya lebih ringan Keluar cairan dari vagina atau “keputihan encer” berwarna putih kekuningan Terasa nyeri di rongga panggul Pendarahan setelah hubungan seksual

ƒ ƒ ƒ

Akibat ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Penyakit radang panggul, kemungkinan kemandulan Kehamilan di luar kandungan (ektopik) Rasa sakit kronis di rongga panggul Infeksi mata berat Infeksi paru-paru pada bayi baru lahir Memudahkan penularan HIV

7. Condiloma Akuminata (Jengger Ayam) Penyebab: Virus Human Papilloma Masa inkubasi: 2-3 bulan setelah kuman masuk ke tubuh Gejala ƒ ƒ Terdapat satu atau beberapa kutil di sekitar daerah kemaluan Kutil (lesi) dapat membesar

Akibat ƒ Menimbulkan kanker mulut rahim

8. Candidiasis (Jamur) Penyebab: Jamur Candida, Albicans yang umumnya terdapat di susu dan vagina Gejala ƒ ƒ Keputihan yang menyerupai keju disertai lecet Rasa gatal dan iritasi di daerah bibir kemaluan dan bau khas

Multimedia Materi KRR

51

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

Akibat ƒ Memudahkan penularan HIV 9. Kutu Pubis Penyebab: kutu pada daerah kemaluan Gejala ƒ ƒ ƒ ƒ Hidup dirambut kecuali rambut kepala Gatal-gatal dengan adanya kutu dirambut kemaluan dan ketiak Kadang-kadang di alis, bulu mata Kutu di rambut kemaluan tidak mudah terlihat kasat mata. Tanda-tandanya yaitu adanya kutu kemaluan (black dot), bercak keabu-abuan di celana dalamn penderita.

10.Hepatitis B Penyebab: Virus Hepatitis B Masa inkubasi: 1-6 bulan Gejala ƒ ƒ ƒ Kuning pada mata dan kulit Hati membesar Gejala lain yang sering muncul yaitu sering merasa cepat lesu dan lemah, gangguan pada perut bagian atas (mual, kembung)

Akibat ƒ Kanker Hati

11.HIV/AIDS Penjelasan HIV/AIDS detailnya lihat pembahasan

.

Multimedia Materi KRR

52

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

c. Pencegahan ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali Menjalankan perilaku seksual yang sehat Menghindari berhubungan berganti-ganti pasangan seksual dengan

Menggunakan kondom ketika hubungan seksual berisiko tinggi

melakukan

Memeriksakan segera bila ada gejala-gejala IMS yang dicurigai

Yang terbaik bagi remaja agar tidak terkena IMS adalah : ƒ ƒ Menghindari melakukan sebelum menikah hubungan seksual

Melakukan kegiatan-kegiatan positif (menghilangkan keinginan melakukan hubungan seksual) Mencari informasi yang benar sebanyak mungkin tentang risiko tertular IMS Meningkatkan ketahanan pendidikan agama moral melalui

ƒ ƒ ƒ

Mendiskusikan dengan orang tua, guru atau teman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seksual, jangan malu untuk bertanya Menolak ajakan pasangan yang untuk melakukan hubungan seksual Mengendalikan diri saat bermesraan Bersikap waspada jika diajak ke suatu tempat yang sepi dan berbahaya meminta

ƒ ƒ ƒ

d. Pengobatan ◘ IMS yang disebabkan oleh disembuhkan, sedangkan disebabkan oleh virus tidak. bakteri IMS dapat yang

Satu-satunya cara adalah berobat ke dokter atau tenaga kesehatan. Jika kita terkena IMS,

Multimedia Materi KRR

53

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

pasangan kita juga harus diperiksa dan diobati, serta jangan mengobati diri sendiri. ◘ Patuhi cara pengobatan sesuai petunjuk yang diberikan oleh dokter atau tenaga kesehatan untuk memastikan kesembuhan. Hindari hubungan seksual selama masih ada keluhan/gejala. Bila hamil, beritahukan dokter atau tenaga kesehatan.

Tambahan: Bagaimana benar? ƒ cara pengobatan IMS yang

Sebelum pengobatan dilakukan, perlu dipastikan terlebih dahulu bahwa tubuh sudah dijangkiti IMS. Periksa ke dokter atau laboratorium.

Untuk mengobati IMS, perlu diperhatikan : ƒ ƒ ƒ Jangan sekali-kali konsultasi dokter minum obat tanpa

Beri tahu bila ada riwayat alergi Sedapat mungkin pasangan seksual diajak serta untuk berobat untuk menghindari penularan berulang Hindari hubungan seksual selama masih ada gejala IMS.

ƒ

e. Pernyataan-pernyataan seputar ims ƒ Salah: Suntikan antibiotik secara rutin dapat mencegah IMS Suntikan antibiotik tidak dapat mencegah IMS, tapi hanya mematikan kuman yang tertular setelah melakukan hubungan seksual. Dosisnyapun hanya untuk menyembuhkan satu jenis IMS dan penggunaannya pun ada aturan-aturannya.

Multimedia Materi KRR

54

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Salah: IMS dapat diobati dengan minum ciproxin, supertetra dan antibiotik lainnya Untuk pengobatan setiap jenis IMS membutuhkan jenis antibiotik yang berbeda, sehingga tidak dapat disembuhkan hanya dengan menggunakan satu jenis antibiotik saja untuk segala jenis IMS. Resiko konsumsi antibiotik tanpa pengawasan dokter adalah Risiko Resistensi, yaitu menjadi kebalnya tubuh terhadap infeksi menular seksual akibat ketidakbenaran konsumsi antibiotik.

ƒ

Salah: Gejala IMS dapat terlihat secara kasat mata Gejala IMS dapat tidak terlihat oleh mata terutama jika dialami oleh perempuan.

ƒ

Salah: IMS dapat mencuci alat kelamin

dicegah

dengan

Tidak ada sabun atau disinfektan apapun yang dapat mencegah IMS, bahkan penggunaan sabun pada vagina akan mempertinggi risiko terkena keputihan akibat dari berkurangnya kadar keasaman dari permukaan vagina yang berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang ada. ƒ Salah: Minum antibiotik hubungan seksual akan penularan IMS sebelum mencegah

Minum antibiotik sebelum hubungan seksual tidak dapat mencegah IMS, karena masingmasing penyakit menggunakan jenis antibiotik yang berbeda, dan antibiotik yang dimakan bukan sebagai pencegah IMS. ƒ Salah: Apakah IMS dapat melalui kamar mandi / WC ditularkan

Kuman IMS tidak dapat bertahan cukup lama di luar tubuh, sehingga tidak akan menulari orang lain selain melalui cairan sperma, vagina dan darah, atau adanya perlukaan.
Multimedia Materi KRR

55

Presentasi Fasilitasi KRR - Seksualitas

ƒ

Salah: Melakukan hubungan seksual pada pagi hari akan mempunyai risiko lebih tinggi Selama kedua pihak tidak ada yang terkena IMS maka, kapan saja melakukan hubungan seksual tidak akan berisiko pada penularan IMS.

ƒ

Salah: Seseorang dapat mengobati IMS jika berhubungan seksual dengan perawan Justru sang perawannya yang akan tertular, sedangkan laki-lakinya tetap mengidap IMS.

I.

Hubungan Seks Bebas Tidak Aman Dengan HIV/AIDS Dan Penggunaan NAPZA
ƒ Individu yang melakukan hubungan seksual bebas dan tidak aman rentan tertular dan menularkan IMS dan HIV/AIDS, karena kedua penyakit ini ditularkan melalui media cairan sperma maupun cairan vagina.

ƒ

Perilaku hubungan seksual bebas dan tidak aman banyak dilakukan oleh penyalahguna NAPZA, karena: o o penurunan tingkat kesadaran saat berada dibawah pengaruh NAPZA Beberapa NAPZA hasrat seksual mampu meningkatkan

Sekian, Terima kasih

Multimedia Materi KRR

56

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

█ NARASI YANG DISARANKAN: HIV/AIDS
A. B. C. D. E. F. G. H. Informasi Umum Tahapan Perubahan HIV/AIDS Penularan HIV/AIDS Hubungan HIV/AIDS dengan Penyalahgunaan NAPZA dan Hubungan Seks Bebas Tidak Aman Pencegahan Penularan Bagaimana Mengetahui Seseorang Terinfeksi HIV/AIDS Pengobatan HIV/AIDS Stigma dan Diskriminasi

A.

Informasi Umum

1. Pengertian HIV ƒ ƒ ƒ HIV adalah kependekan Immunodeficiency Virus. dari Human

Virus ini menurunkan sampai merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk.

2. Pengertian AIDS ƒ AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) atau kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV Ketika individu sudah tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh maka semua penyakit dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

ƒ

Multimedia Materi KRR

57

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

ƒ

Karena sistem kekebalan tubuhnya menjadi sangat lemah, penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi sangat berbahaya.

3. Mengapa Istilah HIV/AIDS Sering

Bersama Tapi Terpisah
ƒ ƒ Orang yang baru terpapar HIV belum tentu menderita AIDS. Hanya saja lama kelamaan sistem kekebalan tubuhnya makin lama semakin lemah, sehingga semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Pada tahapan itulah penderita disebut sudah terkena AIDS.

ƒ

4. Asal HIV/AIDS Dari mana AIDS berasal ? ƒ ƒ Belum diketahui dengan jelas dari mana dan kapan jelasnya HIV/AIDS muncul. Diperkirakan pada akhir 1970-an di daerah sub sahara Afrika HIV sudah berkembang dan meluas. Perkiraan ini dibuat berdasarkan catatan kasus-kasus penyakit yang ada di rumahrumah sakit di beberapa negara Afrika pada saat itu. Hal ini juga diperkuat oleh beberapa contoh darah pada tahun 1950-an yang telah mengandung HIV. Tetapi kasus HIV/AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottleib dan kawan-kawan di Los Angeles pada tanggal 5 Juni 1981.

ƒ

ƒ

ƒ

Siapa penemu virus HIV ? ƒ ƒ HIV ditemukan oleh Dr. Luc Montaigner dan kawan-kawan dari Institute Pasteur Perancis. Mereka berhasil mengisolasi virus penyebab AIDS ini dengan mengisolasi virus dari kelenjar getah bening dalam tubuh ODHA

Multimedia Materi KRR

58

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

(Orang Dengan membengkak. ƒ

HIV/AIDS)

yang

Kemudian pada bulan Juli 1994 Dr. Robert Gallo dari Lembaga Kanker Nasional di Amerika Serikat menyatakan bahwa dia menemukan virus baru dari seorang penderita AIDS yang diberi nama HTLV-III. Kemudian Ilmuwan lainnya, J. Levy juga menemukan virus penyebab AIDS yang ia namakan AIDS Related Virus yang disingkat ARV. Akhir Mei 1986 Komisi Taksonomi International sepakat menyebut nama virus AIDS ini dengan HIV.

ƒ

ƒ

5. Kapan Kasus HIV/AIDS Pertama Di

Indonesia
ƒ Secara resmi kasus AIDS pertama di Indonesia yang dilaporkan adalah pada seorang turis asing di Bali pada tahun 1987. Walaupun sebelumnya sudah ada berita tidak resmi bahwa sedikitnya ada tiga kasus AIDS di Jakarta pada tahun 1983 tetapi karena tidak tercatat di Indonesia maka kasus pertama di Indonesia disepakati pada tahun 1987

ƒ

6. Perkembangan Kasus HIV/AIDS Di

Indonesia Saat Ini
ƒ ƒ ƒ ƒ Melonjak tajam sejak akhir tahun 90-an Banyak diidap oleh penduduk usia produktif Lebih banyak diindap oleh laki-laki daripada perempuan Penyebaran penyakit ini sudah dimulai sejak tahun 1987

Mengapa penyebaran HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi? Dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Menurut Jaringan Epidemiologi Nasional ada
Multimedia Materi KRR

59

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

beberapa kondisi yang membuat penyebaran AIDS di Indonesia menjadi cepat, antara lain : ƒ ƒ Meluasnya pelacuran Peningkatan hubungan seks pra nikah (sebelum menikah) dan ekstra marital (di luar nikah) Prevalensi penyakit menular seksual yang tinggi Kesadaran pemakaian kondom masih rendah Urbanisasi dan migrasi penduduk yang tinggi Penggunaan jarum suntik yang tidak steril Lalu lintas dari dan ke luar negeri yang bebas

ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ
3000 2700 2400 2100 1800 1500 1200 900 600 300 0

Penjelasan Grafik:
2834 2720 2552

HIV

Cumulative Kumulatif
1904

1172 769 465 382 178 105 83 126 96 71 208 69 277 18 5 6 4 4 4 137 13 17 23 41 9 4 591 403 168 114 732 648

1987

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa kasus HIV pertama yang tercatat pada tahun 1987 sebanyak 4 kasus. Sampai tahun 1991 jumlah kasus yang tercatat relatif stabil, kecuali pada tahun 1988 (5 kasus) dan tahun 1991 (6 kasus). Tetapi mulai 1992 kasus HIV yang tercatat mulai melonjak, yaitu 16 kasus sampai yang tertinggi tahun 2001 dengan 732 kasus. Secara kumulatif terlihat perkembangan kasus HIV yang tercatat selalu mengalami peningkatan mulai dari 4 kasus di tahun 1987 sampai 2834 pada tahun 2004. Percepatan perkembangannya terlihat bertambah dari tahun 1992, dan bertambah lebih tajam lagi mulai tahun 1999. Dan mulai mengalami perlambatan mulai tahun 2003.

Multimedia Materi KRR

2004

60

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

3000 2700 2400 2100 1800 1500 1200 900 600 300 0
1016 671 355 452 345 178 219 154 74 227 47 274 34 153 12 10 17 16 20 32 119 5 2 2 3 87 67 51 34 24 12 7 2 4 1525 1371

AIDS

Cumulative Kumulatif

1987

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

Sedangkan untuk kasus AIDS yang tercatat terlihat lebih rendah dari kasus HIV yang tercatat. Hal ini wajar, karena berdasarkan fase perkembangannya AIDS memang lebih lama sejak terinfeksi HIV. Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa kasus AIDS pertama yang tercatat pada tahun 1987 sebanyak 2 kasus. Terlihat juga bahwa kasus AIDS yang tercatat selalu mengalami peningkatan kecuali pada tahun 1999 mengalami penurunan kasus, dari 74 pada tahun 1998 menjadi 47 kasus; dan pada tahun 2004 dari 355 kasus pada tahun 2003 menjadi 154 kasus. Kasus AIDS yang tercatat tertinggi adalah pada tahun 2003 sebanyak 355 kasus. Secara kumulatif terlihat perkembangan kasus HIV yang tercatat selalu mengalami peningkatan mulai dari 2 kasus di tahun 1987 sampai 1525 pada tahun 2004. Percepatan perkembangannya terlihat bertambah dari tahun 2000. Dan mulai mengalami perlambatan mulai tahun 2004. 7. Fenomena Gunung Es ƒ ƒ Kasus HIV/AIDS bagaikan gunung es. Yang nampak hanyalah permukaan belaka namun kasus yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada kasus yang nampak, maka terjadi apa yang disebut sebagai “Fenomena Gunung Es”. Artinya adalah data kasus

Multimedia Materi KRR

2004

61

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

statistik mengenai jumlah angka individu yang terinfeksi HIV maupun individu yang AIDS bukan jumlah yang sebenarnya. ƒ Terdapat banyak kasus HIV/AIDS yang tidak dilaporkan mengingat pada fase awal AIDS selain tanpa gejala, juga tidak dapat dideteksi. Selain itu kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV masih rendah. Sehingga dimungkinkan masih banyak kasus yang tidak terdata, dan menjadikan data yang ada adalah bukan angka yang sebenarnya.

B.

Tahapan Perubahan HIV/AIDS
1. Fase 1 ƒ ƒ ƒ Umur infeksi 1 – 6 bulan (sejak terinfeksi HIV) Individu sudah terpapar dan terinfeksi. Tetapi ciri-ciri terinfeksi belum terlihat meskipun ia melakukan tes darah. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Bisa saja terlihat/mengalami gejala-gejala ringan, seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)

ƒ

2. Fase 2 ƒ ƒ ƒ ƒ Umur infeksi: 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV dan belum menampakkan gejala sakit Sudah dapat menularkan pada orang lain. Bisa saja terlihat/mengalami gejala-gejala ringan, seperti flu (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri)

3. Fase 3 ƒ ƒ ƒ Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit. Belum disebut sebagai gejala AIDS. Gejala-gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh,

Multimedia Materi KRR

62

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

ƒ

nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan terus berkurang. Pada fase ketiga ini sistem kekebalan tubuh mulai berkurang.

4. Fase 4 ƒ ƒ Sudah masuk pada fase AIDS. AIDS baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-T nya. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, kanker, khususnya sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, , infeksi usus yang menyebabkan diare parah bermingguminggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.

ƒ

C.

Penularan HIV/AIDS
1. Media Penularan HIV/AIDS ƒ ƒ ƒ Aliran darah, bisa berbentuk luka Cairan sperma Cairan vagina

2. Cara Penularan HIV/AIDS ƒ Hubungan Seksual Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang telah terpapar HIV

Multimedia Materi KRR

63

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

ƒ

Transfusi Darah Melalui transfusi darah yang tercemar HIV

ƒ

Penggunaan Jarum Suntik Penggunaan jarum suntik, tindik, tato, pisau cukur, dll yang dapat menimbulkan luka yang tidak disterilkan secara bersama-sama dipergunakan dan sebelumnya telah dipakai orang yang terinfeksi HIV. Cara-cara ini dapat menularkan HIV karena terjadi kontak darah.

ƒ

Ibu Hamil kepada Anak yang Dikandungnya o o o o Antenatal yaitu saat bayi masih berada didalam rahim, melalui plasenta Intranatal yaitu saat proses persalinan, bayi terpapar darah ibu atau cairan vagina Postnatal yaitu setelah proses persalinan, melalui air susu ibu Kenyataannya 25-35% dari semua bayi yang dilahirkan oleh ibu yang sudah terinfeksi di negara berkembang tertular HIV, dan 90% bayi dan anak yang tertular HIV tertular dari ibunya.

a. Perilaku Berisiko Yang Menularkan

HIV/AIDS
ƒ ƒ ƒ Menggunakan jarum dan peralatan yang sudah tercemar HIV Berhubungan seks melalui dubur, oral maupun melalui vagina tanpa perlindungan Memiliki banyak pasangan seksual atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain

Multimedia Materi KRR

64

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

3. Pernyataan-Pernyataan Seputar

Penularan HIV
Beberapa pendapat yang penularan HIV diantaranya: ƒ salah, mengenai

Salah: HIV / AIDS menular melalui hubungan kontak sosial biasa dari satu orang ke orang lain di rumah, tempat kerja atau tempat umum lainnya Salah: HIV / AIDS menular melalui makanan Salah: HIV / AIDS menular melalui udara dan air (kolam renang, toilet, dll) Salah: HIV / AIDS menular melalui serangga/nyamuk Salah: HIV / AIDS menular melalui batuk, meludah bersin,

ƒ ƒ

ƒ ƒ

ƒ

Salah: HIV / AIDS menular melalui bersalaman, menyentuh, berpelukan atau cium pipi

D.

Hubungan Antara HIV/AIDS dengan Penyalahgunaan Napza dan Hubungan Seks Bebas Tidak Aman
1. HIV/AIDS – Hubungan Seks Bebas Dan

Tak Aman
ƒ Salah satu media penularan HIV/AIDS yaitu melalui cairan sperma maupun cairan vagina, maka perilaku hubungan seks bebas tidak aman merupakan perilaku yang beresiko tertular maupun menularkan virus HIV.

Multimedia Materi KRR

65

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

2. HIV/AIDS – Penyalahgunaan Napza ƒ Walau tidak seluruh pengguna NAPZA, namun sebagian besar pengguna beberapa jenis NAPZA cenderung menggunakan Jarum Suntik sebagai media pemakaiannya. Penggunaan jarum suntik yang tidak seril dan dilakukan secara bergantian sangat rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS (tertular maupun menularkan). Hal yang lebih mengerikan, Pengguna Napza yang merupakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akan membuatnya lebih cepat memasuki fase AIDS. Hal ini dikarenakan karakteristik NAPZA yang bersifat menggerogoti organ tubuh. Termasuk juga perokok, karena rokok memiliki sifat yang sama.

ƒ

E.

Pencegahan Penularan
1. Secara Umum Lima cara pokok untuk mencegah penularan HIV (A, B, C, D, E), yaitu: A: Abstinence – memilih untuk tidak melakukan hubungan seks berisiko tinggi, terutama seks pranikah saling setia Menggunakan kondom secara konsisten dan benar Tolak penggunaan NAPZA Jangan pakai jarum suntik bersama

B: Be faithful C: Condom D: Drugs E: Equipment

– – – –

2. Untuk Pengguna Napza Pencandu yang IDU dapat penularan HIV/AIDS jika : ƒ terbebas dari

Mulai berhenti menggunakan Napza, sebelum terinfeksi HIV

Multimedia Materi KRR

66

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

ƒ ƒ ƒ

Atau paling suntik

tidak, tidak

memakai

jarum

Atau paling tidak, sehabis dipakai, jarum suntik langsung dibuang Atau paling tidak kalau menggunakan jarum yang sama, sterilkan dulu, yaitu dengan merendam pemutih (dengan kadar campuran yang benar) atau direbus dengan ketinggian suhu yang benar. Proses ini biasa disebut bleaching (sterilisasi dengan pemutih)

3. Untuk Remaja Karena semua orang tanpa kecuali dapat tertular HIV apabila perilakunya sehari-hari termasuk dalam perilaku yang berisiko tinggi terpapar HIV, maka yang perlu dilakukan remaja antara lain: ƒ Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Yang ditekankan di sini yaitu, hubungan seks tidak aman berisiko IMS, dan IMS memperbesar risiko penularan HIV/AIDS. Mencari informasi yang lengkap dan benar yang berkaitan dengan HIV/AIDS Mendiskusikan secara terbuka permasalahan yang sering dialami remaja --dalam hal ini tentang masalah perilaku seksual- dengan orang tua, guru, teman maupun orang yang memang paham mengenai hal ini. Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tato dan tindik Tidak melakukan kontak langsung percampuran darah dengan orang yang sudah terpapar HIV Menghindari perilaku yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab

ƒ ƒ

ƒ ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

67

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

F.

Bagaimana Mengetahui Seseorang Terinfeksi HIV/AIDS
1. Tes Darah HIV/AIDS ƒ Orang tidak akan tahu apakah dia terpapar HIV/AIDS atau tidak tanpa melakukan tes HIV/AIDS lewat contoh darah yang bersangkutan.

Apa yang dimaksud dengan tes HIV/AIDS itu? ƒ Tes HIV adalah tes yang dilakukan untuk memastikan apakah individu yang bersangkutan telah dinyatakan terkena HIV atau tidak. Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibodi terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah. Ada beberapa jenis tes yang biasa dilakukan di antaranya yaitu tes Elisa, tes Dipstik dan tes Western Blot. Masing-masing alat tes memiliki sensitivitas atau kemampuan untuk menemukan orang yang mengidap HIV dan spesifitas atau kemampuan untuk menemukan individu yang tidak mengidap HIV. Untuk tes antibodi HIV semacam Elisa memiliki sensitivitas yang tinggi. Dengan kata lain persentase pengidap HIV yang memberikan hasil negatif palsu sangat kecil. Sedangkan spesifitasnya adalah antara 99,7%-99,90% dalam arti 0,1% - 0,3% dari semua orang yang tidak berantibodi HIV akan dites positif untuk antibodi tersebut. Untuk itu hasil Elisa positif perlu diperiksa ulang (dikonfirmasi) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi.

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

68

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

2. Syarat Dan Prosedur Tes Darah

HIV/AIDS
Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah : ƒ ƒ ƒ Bersifat rahasia Harus dengan konseling baik pra tes maupun pasca tes Tidak ada unsur paksaan

Sedangkan prosedur pemeriksaan darah untuk HIV/AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu : a. Pre tes konseling ► Identifikasi risiko perilaku seksual (pengukuran tingkat risiko perilaku) ► Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif) ► Informasi HIV/AIDS sejalas-jelasnya ► Identifikasi kebutuhan mengetahui hasil tes pasien, setelah

► Rencana perubahan perilaku b. Tes darah Elisa ► Hasil tes Elisa konseling untuk yang lebih aman diulang kembali berikutnya. (-) kembali melakukan penataan perilaku seks (safer sex). Pemeriksaan dalam waktu 3-6 bulan

► Hasil tes Elisa (+), konfirmasikan dengan Western Blot c. Tes Western Blot ► Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan pasca konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuh diri). ► Hasil tes Western Blot (-) sama dengan Elisa (-)

Multimedia Materi KRR

69

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

G.

Pengobatan HIV/AIDS
1. HIV/AIDS Belum Dapat Disembuhkan ƒ Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu. Ada beberapa kasus yang menyatakan bahwa HIV/AIDS dapat disembuhkan. Setelah diteliti lebih lanjut, pengobatannya tidak dilakukan dengan standar medis, tetapi dengan pengobatan alternatif atau pengobatan lainnya. Obat-obat yang selama ini digunakan berfungsi menahan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, bukan menghilangkan HIV dari dalam tubuh. Hal inilah yang dialami Magic Johnson, pebasket tim LA Lakers. Konsumsi obat-obatan dilakukan menahan jalannya virus sehingga tubuh tetap terjaga. untuk kondisi

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

Obat-obatan ARV sudah dipasarkan secara umum, untuk obat generic, biaya obat ARV yaitu sekitar Rp. 380.000,- per paket. Namun tidak semua orang yang HIV positif sudah membutuhkan obat-obat ARV, ada kriteria khusus. Jadi pengobatan HIV Magic Johnson belum tentu dapat diterapkan pada orang lain. Meskipun semakin hari makin banyak individu yang dinyatakan positif HIV, namun sampai saat ini belum ada informasi adanya obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Bahkan sampai sekarang belum ada perkiraan resmi mengenai kapan obat yang dapat menyembuhkan AIDS atau vaksin yang dapat mencegah AIDS ditemukan.

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

70

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

2. Pengobatan HIV/AIDS Untuk menahan lajunya tahap perkembangan virus beberapa obat yang ada adalah antiretroviral dan infeksi oportunistik. ƒ Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembang-biakan virus. Obat-obatan yang termasuk anti retroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine. Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang muncul sebagai efek samping rusaknya kekebalan tubuh. Yang penting untuk pengobatan oportunistik yaitu menggunakan obat-obat sesuai jenis penyakitnya, contoh: obat-obat anti TBC, dll.

ƒ

H.

Stigma Dan Diskriminasi
1. Diskriminasi Terhadap ODHA Dan

OHIDHA
a. Oleh masyarakat Masyarakat banyak meminta ODHA untuk dikarantina ke shelter khusus pengidap HIV / AIDS, padahal tanpa media dan cara yang ada di atas HIV / AIDS tidak akan tertular. Sebagian masyarakat melakukan diskriminasi karena : ƒ Kurang informasi yang benar bagaimana cara penularan HIV/AIDS, hal-hal apa saja yang dapat menularkan dan apa yang tidak menularkan Tidak percaya pada informasi yang ada sehingga ketakutan mereka terhadap HIV/AIDS berlebihan

ƒ

Multimedia Materi KRR

71

Presentasi Fasilitasi KRR – HIV/AIDS

b. Oleh penyedia layanan kesehatan ƒ Masih ada penyedia layanan kesehatan yang tidak mau memberikan pelayanan kepada penderita HIV/AIDS Hal ini disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap penyakit ini dan juga kepercayaan yang mereka miliki

ƒ

2. Apa Yang Harus Dilakukan Oleh ODHA ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Mendekatkan diri pada Tuhan Menjaga kesehatan fisik Tetap bersikap / berpikir positif Tetap mengaktualisasikan dirinya Masuk dalam kelompok dukungan (support group) Menghindari penyalahgunaan NAPZA Menghindari seks bebas dan tidak aman Berusaha mendapatkan terapi HIV / AIDS

3. Apa Yang Dapat Dilakukan Oleh

Masyarakat Thd ODHA
ƒ Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan kepada ODHA yaitu dengan memberikan dukungan. Dukungan di sini tentunya dalam pengertian yang luas, yaitu misalnya dengan memberikan kesempatan, dsb. Di antaranya anggota masyarakat harus peduli dengan penanggulangan epidemi AIDS dan mendukung ODHA untuk melawan diskriminasi, peduli terhadap ODHA yang sering mendapatkan penolakan dari orang lain.

ƒ

Sekian, Terima kasih

Multimedia Materi KRR

72

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

█ NARASI YANG DISARANKAN: NAPZA
A. B. C. D. E. Pengertian NAPZA Kategorisasi NAPZA Penyalahgunaan NAPZA Hubungan Penyalahgunaan NAPZA dengan HIV/AIDS dan Hubungan Seks Bebas Tidak Aman Keterampilan Sosial yang Bermanfaat

A.

Pengertian NAPZA
1. NAPZA

ƒ

NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung). Kata lain yang sering dipakai adalah Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Bahanbahan berbahaya lainnya). Ada banyak istilah yang dipakai untuk menunjukkan penyalahgunaan zat-zat berbahaya. Dalam buku ini selanjutnya akan digunakan istilah NAPZA dengan catatan tidak semua jenis NAPZA tersebut akan dibahas secara khusus dan terperinci, misalnya alkohol dan tembakau. Penggunaan NAPZA yang terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan atau psikologis serta kerusakan pada sistem syaraf dan organ-organ tubuh. NAPZA terdiri atas bahan-bahan yang bersifat alamiah (natural) maupun yang sintetik (buatan). Bahan alamiah berasal dari tumbuh-tumbuhan/tanaman, sedangkan yang buatan berasal dari bahan-bahan kimiawi.

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

73

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

2. Narkotika a. Pengertian umum

ƒ

Narkotika adalah zat yang terbuat dari bahan alamiah maupun buatan (sintetik) yaitu candu/kokain atau turunannya dan padanannya yang mempunyai efek psikoaktif. Narkotika digunakan untuk keperluan medis, namun banyak yang menyalahgunakan untuk memperoleh efek psikoaktif yang dihasilkannya.

ƒ

b. Pengertian menurut Undang-Undang

ƒ

Menurut Undang-undang RI No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan dalam 3 golongan sebagai berikut: ◘ Narkotika golongan I: ■ Hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. ■ Mempunyai potensi sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan. ■ Contoh: heroin, kokain dan ganja. ◘ Narkotika golongan II: ■ Digunakan untuk terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. ■ Mempunyai potensi tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan. ■ Contoh: morfin, petidin, turunan/garam dalam golongan tersebut.

ƒ

Multimedia Materi KRR

74

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

◘ Narkotika golongan III: ■ Digunakan untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan ■ Mempunyai potensi ringan untuk mengakibatkan ketergantungan ■ Contoh: kodein, garam-garam narkotika dalam golongan tersebut. 3. Alkohol

ƒ

Alkohol adalah zat aktif dalam berbagai minuman keras, mengandung etanol yang berfungsi menekan syaraf pusat

4. Psikotropika a. Pengertian umum ƒ Adalah zat (biasanya dalam bentuk tablet) yang mempengaruhi kesadaran karena sasaran obat tersebut adalah pusat-pusat tertentu di dalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Menurut UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropik meliputi: Extacy, shabu-shabu, LSD, obat penenang/tidur, obat anti depresi dan anti psikosis. Psikoaktiva adalah semua zat yang mempunyai komposisi kimiawi dan berpengaruh pada otak hingga dapat menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, pikiran, persepsi, kesadaran.

ƒ

ƒ

b. Pengertian menurut uu

ƒ

Menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropika adalah zat atau obat, baik

Multimedia Materi KRR

75

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

ƒ

Psikotropika dibedakan dalam 4 golongan sebagai berikut : ◘ Psikotropika golongan I: ■ Hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. ■ Mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. ■ Contoh: MDMA, extacy, LSD, dan ST. ◘ Psikotropika golongan II: ■ Berkhasiat untuk pengobatan, karenanya sering digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan. ■ Mempunyai potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan. ■ Contoh: amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakualon, metilfenidat (ritalin). ◘ Psikotropika golongan III : ■ Berkhasiat untuk pengobatan, sehingga banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan. ■ Mempunyai potensi sedang untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan. ■ Contoh: fenobarbital, flunitrazepam.

Multimedia Materi KRR

76

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

◘ Psikotropika golongan IV : ■ Berkhasiat untuk pengobatan serta sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan. ■ Mempunyai potensi ringan untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan. ■ Contoh: diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam, khlordiazepoxide, nitrazepam (BK,DUM, MG). 5. Zat Adiktif

ƒ ƒ ƒ ƒ

ZAT ADIKTIF lainnya yaitu zat-zat mengakibatkan ketergantungan.

yang

Contohnya zat-zat solvent, termasuk inhalansia (aseton, thinner cat, lem). Zat-zat ini sangat berbahaya karena bisa mematikan sel-sel otak. Nikotin (tembakau) dan kafein (kopi) juga termasuk zat adiktif.

B.

Kategori NAPZA

1. Berdasarkan Bahan

ƒ

Natural Diambil dari tanaman, seperti: ganja, candu, kokaina, jamur, kaktus, tembakau, kopi, pinang, dan sirih

Multimedia Materi KRR

77

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Sintetis Dibuat dari bahan kimia farmasi atau dicampur dengan bahan alamiah, seperti: amphetamin, kodein, dan lem.

2. Berdasarkan Efek Kerja

ƒ

Merangsang Sistem Syaraf Pusat Yaitu jenis NAPZA yang mampu memacu kerja jantung, memompa paru-paru dengan lebih giat dan mengaktifkan berbagai hormon transmitter di dalam otak sehingga menyebabkan rasa segar dan bersemangat.

ƒ

Menekan Sistem Syaraf Pusat Yaitu jenis NAPZA yang mampu memperlambat jantung dan denyut nadi, memperlambat kerja paru-paru dan mengurangi transmitter pada otak sehingga menyebabkan rasa mengantuk atau rasa tenang

ƒ

Mengacaukan Sistem Syaraf Pusat (Halusinasi) Yaitu jenis NAPZA yang mampu mempengaruhi kerja susunan saraf pusat, otak dan tulang belakang, sehingga mampu menyebabkan halusinasi, melihat dan merasakan realitas palsu.

3. Berdasarkan Cara Penggunaan

ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ

Dimasukan dalam mulut/diminum (Oral) Disuntikan ke dalam tubuh (Injeksi) Diletakan di dalam luka (biasanya sayatan yang sengaja dibuat) Dihisap (sniffed)/dihirup (inhaled) Dimasukan melalui anus (Insersi anal) luka

Multimedia Materi KRR

78

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

4. Berdasarkan Bentuk ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Cairan Pasta Pil/kapsul Kristal/blok Bubuk Gas Lapisan kertas (impregnated paper)

Tambahan:

Mengenal Beberapa Jenis Napza:

1. Ganja / Mariyuana Ganja atau Cannabis sativa, adalah tanaman sejenis rumput yang antara lain mengandung zat kimia 9 tetrahidrocannabinol (delta - 9 - THC) atau lebih sering dikenal sebagai THC yaitu zat psikoaktif yang mempengaruhi perasaan dan penglihatan serta pendengaran. Saat pertama kali orang mengisap ganja, reaksi juga akan berbeda-beda tergantung kekuatan THC serta dosis yang dipakai. Ada yang tidak merasakan reaksi apa-apa, tetapi ada pula yang mendapatkan perasaan aneh atau takut. Ganja menimbulkan ketergantungan mental yang diikuti oleh kecanduan fisik dalam jangka waktu yang lama. Bila seseorang terus-menerus mengisap ganja, maka lama-kelamaan timbul kerusakan seperti bronchitis, sinusitis, emphysema, dan pharingitis. Efek-efek yang ditimbulkan adalah antara lain hilangnya konsentrasi, peningkatan denyut jantung, kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh, rasa gelisah dan panik, depresi, kebingungan atau halusinasi . Gejala psikologis: hilang semangat, menurunnya prestasi sekolah dan
Multimedia Materi KRR

79

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

prestasi olahraga, cepat berubahnya suasana hati, sulit berkonsentrasi, hilang ingatan jangka pendek. Ganja atau cannabis juga dikenal dengan istilah : Marijuana, gele, cimeng, hash, kangkung, oyen, ikat, bang, labang, rumput atau grass, dan lain-lain. 2. Heroin / Putaw Heroin diambil dari morfin melalui suatu proses kimiawi. Heroin tidak dipakai di dunia kedokteran karena menimbulkan efek ketergantungan yang sangat berat, dan kekuatannya jauh lebih besar daripada morfin. Jumlah yang sedikit saja sudah menimbulkan efek. Heroin biasa berbentuk bubuk berwarna agak kecoklatan. Turunan heroin yang sekarang banyak dipakai adalah Putaw yang mengakibatkan ketergantungan sangat berat bagi pemakainya. Heroin biasanya digunakan dengan cara menyuntik melalui pembuluh darah (berbeda dengan morfin) karena efeknya jauh lebih cepat terasa dan lebih lama tertahan. Ada pula yang menggunakannya dengan cara menghirup lewat hidung. Seperti morfin, heroin dapat mengurangi rasa sakit, mengurangi kecemasan , menenangkan dan memberikan rasa aman. Seperti opiat lainnya, heroin menimbulkan toleransi, ketergantungan fisik dan ketergantungan psikologis. Heroin / Putauw adalah obat yang sangat keras dengan zat adiktif yang tinggi berbentuk serbuk, tepung, atau cairan. Heroin “menjerat” pemakainya dengan cepat, baik secara fisik maupun mental, sehingga usaha mengurangi pemakaiannya menimbulkan rasa sakit dan kejang-kejang luar biasa Gejala-gejala yang muncul dalam usaha berhenti memakai heroin berupa rasa sakit disertai kejang-kejang, kram di perut disertai rasa seperti akan pingsan, menggigil dan muntahmuntah, keluar ingus, mata berair, tidak ada nafsu makan, dan kehilangan cairan tubuh

Multimedia Materi KRR

80

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

Salah satu jenis heroin yang popular adalah “putauw” yaitu heroin dengan kadar lebih rendah (heroin kelas lima atau enam) yang berwarna putih. Jenis heroin ini dikenal dengan berbagai nama : putauw, putih, bedak, PT, white, etep, dan lain-lain 3. Kokain / Crack Kokain adalah zat perangsang berupa bubuk kristal putih yang disuling dari daun coca (Erythroxylon coca) yang tumbuh di pegunungan Amerika Tengah dan Selatan. Seperti juga amphetamin, kokaina merupakan stimulan/merangsang sistem saraf pusat sehingga pengguna merasa enak dan bergelora. Karena efek yang timbul relatif singkat, dan setelah perasaan bergelora hilang, orang akan menggunakannya lagi untuk menghilangkan rasa tidak enak. Penggunaan secara kronis dapat menimbulkan gangguan pencernaan, mual, hilangnya nafsu makan, berkurangnya berat badan, sulit tidur, dan waham atau halusinasi ringan. Bila kokain disedot lewat hidung, juga timbul kerusakan pada tulang hidung. Kokain adalah obat yang sangat berbahaya dan menimbulkan ketergantungan psikologis yang besar. 4. MDMA / Ecstasy MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) yang terkenal dengan sebutan Ecstasy sangat popular di kalangan anak muda. Sayangnya, mitos sudah berkembang bahwa obat ini aman, padahal tidaklah demikian kenyataannya. Penelitian di Amerika menemukan bahwa obat ini sangat berbahaya karena merusak sistem kerja otak dan jantung. MDMA, adalah zat turunan amphetamine yang memiliki sifat merangsang SSP (stimulant) maupun mengupah persepsi (hallucinogen). Obat ini berbentuk tablet dan digunakan melalui cara ditelan. Berbagai tablet yang disebut Ecstasy seringkali tidak hanya mengandung zat MDMA, tetapi campuran dari berbagai zat lain seperti methamphetamine,
Multimedia Materi KRR

81

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

caffeine, dextromethorphan, ephedrine, and cocaine. Dampak penyalahgunaan MDMA sangat berat. MDMA bekerja di otak. Serupa dengan amphetamines lainnya, MDMA meningkatkan aktifitas di otak yang justru menghambat fungsi—fungsi otak yang seharusnya. Penelitian membuktikan bahwa MDMA juga berdampak sangat buruk terhadap system kerja jantung (cardiovascular sistim) dan kemampuan tubuh untuk mengatur suhu. Karena penggunaan MDMA seringkali dihubungkan dengan kegiatan fisik yang tinggi dan lama (dansa misalnya), maka dampaknya paling besar terhadap sistem kerja jantung. Akibat jangka panjang penyalahgunaan MDMA adalah kerusakan otak, gangguan jiwa (psychiatric) seperti : gelisah, paranoid, tidak bisa tidur, dan gangguan daya ingat. 5. Methamphetamin / Shabu-Shabu Methamphetamine adalah stimulan yang sangat kuat mempengaruhi sistem syaraf pusat. Obat ini dikelompokkan sebagai psycho-stimulan seperti amphetamin dan kokain yang sering disalahgunakan. Obat ini dibuat dari berbagai zat sint etis dalam bentuk serbuk putih, bening dan tak berbau yang dihirup dan disuntikan. Karena bentuknya yang bening maka ia disebut Ice atau kristal. Methamphetamin merupakan turunan amphetamin dan karenanya dalam hal kandungan zat dan efek terhadap pengguna hampir sama yaitu menyebabkan aktivitas tinggi dan mengurangi nafsu makan. Penyalahgunaannya dilakukan karena obat ini merangsang kegairahan dan kegembiraan (euphoria). Penyalahgunaan methamphetamin dapat mengakibatkan ketergantungan yang selanjutnya menyebabkan berbagai gangguan pada jantung, stroke, tingginya suhu badan, dan juga kematian pada kasus over-dosis. Shabu-shabu (salah satu Methamphetamine) berbentuk kristal,
Multimedia Materi KRR

82

jenis tidak

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

berbau dan tidak berwarna. Karena itu diberi nama “Ïce” . Ice adalah julukan untuk methamphetamine. Ice memiliki efek yang sangat kuat pada jaringan syaraf. Pengguna ice akan menjadi tergantung secara mental pada obat ini. Pemakaian yang lama dapat menyebabkan peradangan pada otot hati, bahkan kematian. Efek yang ditimbulkan pada pengguna Ice : penurunan berat badan, impotensi, sawan yang parah, halusinasi, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung, stroke, bahkan kematian. Ice dikenal dengan istilah : shabu-shabu, kristal, ubas, ss. Mecin, dan lain-lain. 6. Amphetamin Amphetamin, adalah zat sintetik yang menyerupai kokain, berbentuk pil, kapsul atau tepung. Amphetamin adalah zat perangsang yang digunakan untuk mengubah suasana hati, meningkatkan semangat, mengurangi kelelahan dan rasa ngantuk, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengurangi berat badan. Tetapi karena dosis pemakaian akan terus bertambah, maka obat ini tidak dipakai lagi dalam program diet. Bagi orang yang menyalahgunakan obat ini, efeknya adalah memperoleh energi serta semangat tinggi serta pada saat sedang intoksikasi. Jenis-jenis amphetamin antara lain: Dexedrine, Laroxyl, Reactivan. Amphetamin meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan pernafasan, serta mengurangi nafsu makan. Si pemakai dapat berkeringat, mulutnya kering, mengantuk, dan cemas. Dosis tinggi menyebabkan seseorang merinding, pucat, gemetar, kehilangan koordinasi, dan pingsan. Suntikan amphetamin dapat menyebabkan naiknya tekanan darah secara mendadak sehingga mengakibatkan stroke, demam tinggi, atau jantung lemah. Banyak orang merasa tergantung kepada amphetamin secara psikologis, sedangkan ketergantungan fisik tidak terlampau hebat.
Multimedia Materi KRR

83

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

7. LSD LSD (Lysergie Diethylamide Acid) yaitu obat yang sifatnya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. LSD dijual dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan, dan digunakan dengan cara dimakan/diminum maupun disuntikkan. Gejala intoksikasi yang timbul antara lain: perubahan panca indera, pupil melebar, denyut jantung cepat, berkeringat, berdebar, pandangan kabur, gemetar, gangguan koordinasi motorik, kecemasan, serta gangguan daya penilaian realita. LSD seperti juga halusinogen lainnya tidak menimbulkan ketergantungan fisik, tetapi psikologis. 8. Sedativa Sedativa atau sedatif-hipnotik merupakan zat yang dapat mengurangi fungsi sistem syaraf pusat. Sedativa dapat menimbulkan rasa santai dan menyebabkan ngantuk (sering disebut obat tidur). Biasanya sedativa digunakan untuk mengurangi stress atau sulit tidur. Karena toleransi dan ketergantungan fisik, maka gejala putus obat bias jauh lebih hebat daripada putus obat dengan opiat. Zatzat ini juga mudah membuat ketergantungan psikologis. Secara farmokologi sedativa dapat dibedakan antara barbiturat dan bukan barbiturat. Barbiturat adalah jenis obat sintetik yang digunakan untuk membuat orang tidur, mengurangi rasa cemas, dan mengontrol kekejangan, mengurangi tekanan darah tinggi. Beberapa jenis barbiturat yang sering disalahgunakan adalah: Dumolid, Rohypnol, Magadon, Sedatin, Veronal, Luminal. Nonnarbiturat, contohnya Methaqualone yang berbentuk pil putih (misalnya Mandrax/MX). Sedativa bias mengakibatkan koma bahkan kematian bila dipakai melebihi takaran.

Multimedia Materi KRR

84

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

C.

Penyalahgunaan NAPZA
1. Pengertian Penyalahgunaan NAPZA

ƒ

NAPZA pada mulanya ditemukan dan dikembangkan untuk pengobatan dan penelitian. Tujuannya adalah untuk kebaikan manusia. Namun berbagai jenis obat tersebut kemudian disalahgunakan untuk mencari kenikmatan sementara atau mengatasi persoalan sementara. Penyalahgunaan NAPZA adalah Pemakaian NAPZA yang bukan untuk tujuan pengobatan atau yang digunakan tanpa mengikuti aturan atau pengawasan dokter. Digunakan secara berkali-kali atau terus menerus. Penyalahgunaan NAPZA menyebabkan ketagihan/ kecanduan atau ketergantungan baik secara fisik/jasmani maupun mental emosional, bahkan menimbulkan gangguan fisik mental emosional dan fungsi sosial. Biasanya penyalahgunaan menghasilkan akibat yang serius, dan dalam beberapa kasus, bisa fatal atau mengakibatkan kematian dan tentunya kerugian sosial dan ekonomi yang luar biasa.

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

2. Tahapan Pengguna

ƒ

Karena bermula dari rasa ingin tahu, senangsenang/hura-hura, pemakai seringkali pada awalnya berpikiran bahwa kalau hanya mencoba-coba saja tidak mungkin kecanduan atau ketagihan. Kenyataannya, walaupun hanya coba-coba (experimental user) derajat pemakaian tanpa disadari akan meningkat (intensive user), dan pada akhirnya akan menjadi sangat tergantung pada obat tersebut (compulsary user). Tahap pemakai dalam: narkoba dapat dibedakan

ƒ
Multimedia Materi KRR

85

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

1. Pemakai coba-coba Biasanya untuk memenuhi rasa ingin tahu atau agar diakui oleh kelompoknya.

2. Pemakai sosial/rekreasi Biasanya untuk bersenang-senang, pada saat rekreasi atau santai, umumnya dilakukan dalam kelompok.

3. Pemakai situasional Biasanya untuk menghilangkan rasa ketegangan, kesedihan, atau kekecewaan.

4. Pemakai ketergantungan Biasanya sudah tidak dapat melalui hari tanpa mengkonsumsi NAPZA.

3. Faktor Yang Mempengaruhi

Penyalahgunaan NAPZA
a. Internal

ƒ

Individulah yang paling berperan menentukan apakah ia akan atau tidak akan menjadi pengguna NAPZA. Keputusannya dipengaruhi oleh dorongan dari dalam maupun luar dirinya.

Multimedia Materi KRR

86

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Dorongan dari dalam biasanya menyangkut kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang yang membuatnya mampu atau tidak mampu melindungi dirinya dari penyalahgunaan NAPZA. Dorongan dari dalam atau motivasi tersebut merupakan predisposisi untuk menggunakan obat, misalnya ingin mencoba-coba, pendapat bahwa NAPZA bisa menyelesaikan masalahnya, dan seterusnya. Hal lain adalah adanya masalah pribadi, seperti stres, tidak percaya diri, takut, ketidakmampuan mengendalikan diri, serta tekanan mental dan psikologis menghadapi berbagai persoalan. Kepribadian tidak begitu saja terbentuk dari dalam individu melainkan juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam sejak kecil dalam keluarga (enkulturasi) dan sosialisasi baik dari keluarga maupun lingkungan masyarakat. Kemampuan membentuk konsep diri (self concept), sistem nilai yang teguh sejak kecil, dan kestabilan emosi, merupakan beberapa ciri kepribadian yang bisa membantu seseorang untuk tidak mudah terpengaruh atau terdorong menggunakan NAPZA. Faktor-faktor individual penyebab penyalahgunan NAPZA antara lain: ◘ Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berpikir panjang mengenai akibatnya Keinginan untuk mencoba-coba karena “penasaran” Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun) Keinginan untuk mengikuti trend atau gaya (fashionable)

ƒ

ƒ

ƒ

◘ ◘ ◘

Multimedia Materi KRR

87

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

Keinginan untuk diterima oleh lingkungan atau kelompok (konformitas) Lari dari kebosanan, masalah atau kegetiran hidup Adanya pemahaman yang salah bahwa penggunaan sekali-sekali tidak akan menimbulkan ketagihan Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan NAPZA Tidak dapat berkata TIDAK terhadap NAPZA

◘ ◘

b. Eksternal

ƒ

Faktor eksternal adalah masyarakat dan lingkungan sekitar yang tidak mampu mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan NAPZA, bahkan membuka “kesempatan” pemakaian NAPZA. Yang dimaksud dengan faktor “kesempatan” adalah adanya situasi-situasi “permisif” (memungkinkan) untuk memakai NAPZA di waktu luang, di tempat rekreasi seperti diskostik, dan pesta. Lingkungan pergaulan dan lingkungan sebaya merupakan salah satu pendorong kuat untuk menggunakan NAPZA. Keinginan untuk menganut nilai-nilai yang sama dalam kelompok (konformitas), diakui (solidaritas), dan tidak dapat menolak tekanan kelompok (peer pressure) merupakan hal-hal yag mendorong penggunaan NAPZA. Dorongan dari luar adalah ajakan, rayuan, tekanan dan paksaan terhadap individu untuk memakai NAPZA sementara individu tidak dapat menolaknya.

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

88

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Dorongan luar juga bisa disebabkan pengaruh media massa yang memperlihatkan gaya hidup dan berbagai rangsangan lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendorong pemakaian NAPZA. Di lain pihak, masyarakat tidak mampu mengendalikan bahkan membiarkan penjualan dan peredaran NAPZA, misalnya karena lemahnya penegakan hukum, penjualan obat-obatan secara bebas, bisnis narkotika yang terorganisir dan keuntungan yang menggiurkan. NAPZA semakin mudah diperoleh dimanamana dengan harga terjangkau. Berbagai kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan NAPZA memudahkan terjadinya penggunaan dan penyalahgunaan NAPZA

ƒ

ƒ

c. Kandungan Zat dalam NAPZA

ƒ

Ketika seseorang sudah terbiasa menggunakan NAPZA, maka secara fisik dan psikologis (sugesti) orang tersebut tidak dapat lagi hidup normal tanpa ada zat-zat NAPZA di dalam tubuhnya. Apabila zat-zat NAPZA tidak berada lagi dalam tubuh penyalahgyuna NAPZA, secara fisik ia akan merasa kesakitan dan sangat tidak nyaman. Kesakitan dan penderitaannya hanya akan berhenti ketika zat-zat tersebut kembali berada dalam tubuhnya. Secara psikologis, ia membutuhkan rasa nikmat yang biasa ia rasakan ketika zat-zat tersebut bereaksi dalam tubuhnya dalam bentuk perubahan perasaan dan pikiran. Ketika kenikmatan itu tidak ada, pikiran dan perasaannya hanya terfokus pada kebutuhan tersebut.

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

89

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Pikiran dan perasaannya kembali tenang ketika zat tersebut kembali ada dalam tubuhnya. Zat-zat yang memberikan “kenikmatan” bagi pemakainya mendorong terjadinya pemakaian berulang, pemakaian berkepanjangan, dan ketergantungan karena peningkatan dosis pemakaian yang terus bertambah. Lingkaran setan seperti inilah yang menyebabkan ketergantungan.

4. Dampak Penyalahgunaan a. Fisik

ƒ

Efek NAPZA bagi tubuh tergantung pada jenis NAPZA, jumlah/dosis, frekuensi pemakaian, cara menggunakan (apakah digunakan bersamaan dengan obat lain), faktor psikologis (kepribadian, harapan dan perasaan saat memakai), dan faktor biologis (berat badan, dan kecenderungan alergi). Secara fisik organ tubuh yang paling banyak dipengaruhi adalah sistim syaraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang, organ-organ otonom (jantung, paru, hati, ginjal) dan pancaindera (karena yang dipengaruhi adalah susunan syaraf pusat). Pada dasarnya penyalahgunaan NAPZA akan mengakibatkan komplikasi pada seluruh organ tubuh hingga adanya gangguan bahkan kematian, seperti: ◘ Gangguan pada sistim syaraf (neurologis), seperti kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi; Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), seperti infeksi akut otot jantung dan ganguan peredaran darah; Gangguan (dermatologis), pada seperti: kulit adanya

ƒ


Multimedia Materi KRR

90

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

nanah, bekas suntikan atau sayatan, dan alergi; ◘ Gangguan pada paru-paru, seperti: kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru, dan penggumpulan benda asing yang terhirup; Gangguan pada darah: pembentukan sel darah terganggu; Gangguan pencernaan (gastrointestinal): mencret, radang lambung & kelenjar ludah perut, hepatitis, perlemakan hati, pengerasan dan pengecilan hati; Gangguan sistim reproduksi, seperti gangguan fungsi seksual sampai kemandulan, gangguan fungsi reproduksi, ketidakteraturan menstruasi, serta cacat bawaan pada janin yang dikandung; Gangguan pada otot dan tulang, seperti peradangan otot akut, penurunan fungsi otot (akibat alkohol); Terinfeksi virus Hepatitis B dan C, serta HIV, akibat pemakaian jarum suntik bersama-sama dengan salah satu penderita. Saat ini terbukti salah satu sebab utama penyebaran HIV yang pesat, terjadi melalui pertukaran jarum suntik di kalangan pengguna NAPZA suntik (Injecting Drug Users = IDU); Kematian sudah terlalu banyak terjadi akibat pemakaian NAPZA, terutama karena pemakaian berlebih (Over Dosis =OD) dan kematian karena AIDS serta penyakit lainnya.

◘ ◘

Multimedia Materi KRR

91

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

b. Psikologis

ƒ

Ketergantungan fisik dan psikologis kadangkala sulit dibedakan, karena pada akhirnya ketergantungan psikologis lebih mempengaruhi. Ketergantungan pada NAPZA menyebabkan orang tidak lagi dapat berpikir dan berperilaku normal. Perasaan, pikiran dan perilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya. Berbagai gangguan psikis atau kejiwaan yang sering dialami oleh mereka yang menyalahgunakan NAPZA antara lain adalah: depresi, paranoid, percobaan bunuh diri, melakukan tindak kekerasan, dan lain-lain. Gangguan kejiwaaan ini bisa bersifat sementara tetapi juga bisa permanen karena kadar kergantungan pada NAPZA yang semakin tinggi. Gangguan psikologis paling nyata ketika pengguna berada pada tahap compulsif yaitu berkeinginan sangat kuat dan hampir tidak bisa mengendalikan dorongan untuk menggunakan NAPZA. Dorongan psikologis untuk memakai dan memakai ulang ini sangat nyata pada pemakai yang sudah kecanduan. Banyak pengguna sudah mempunyai masalah psikologis sebelum memakai NAPZA dan penyalahgunaan NAPZA menjadi pelarian atau usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut. NAPZA tertentu justru memperkuat perasaan depresi pada pengguna tertentu. Demikian pula ketika mereka gagal untuk berhenti. Depresi juga akan dialami karena sikap dan perlakukan negatif masyarakat terhadap para pengguna NAPZA.

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

92

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Gejala-gejala psikologis yang biasa dialami para pengguna NAPZA adalah : ◘ Keracunan (Intoksikasi), Adalah suatu keadaan ketika zat-zat yang digunakan sudah mulai meracuni darah pemakai dan mempengaruhi perilaku pemakai, misalnya tidak lagi bisa berbicara normal, berpikir lambat dan lain-lain. Perilaku orang mabuk adalah salah satu bentuk intoksikasi NAPZA. ◘ Peningkatan Dosis (Toleransi) Yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan jumlah zat yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama setelah pemakaian berulang kali. Dalam jangka waktu lama, jumlah atau dosis yang digunakan akan meningkat. Toleransi akan hilang jika gejala putus obat hilang. ◘ Gejala Putus Obat (“Withdrawal syndrome”) Adalah keadaan dimana pemakai mengalami berbagai gangguan fisik dan psikis karena tidak memperoleh zat yang biasa ia pakai. Gejalanya antara lain gelisah, berkeringat, kesakitan, mual-mual. Gejala putus obat menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan zat atau bahan yang biasa dipakai. Gejala putus obat akan hilang ketika kebutuhan akan zat dipenuhi kembali atau bila pemakai sudah terbebas sama sekali dari ketergantungan pada zat/obat tertentu. Perlu diketahui bahwa menangani gejala putus obat bukan berarti menangani ketergantungannya pada obat. Gejala putus obatnya selesai, belum tentu

Multimedia Materi KRR

93

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ketergantungannya selesai. ◘

pada

obatpun

Ketergantungan (dependensi) Adalah keadaan dimana seseorang selalu membutuhkan zat/obat tertentu agar dapat berfungsi secara wajar, baik fisik maupun psikologis. Pemakai tidak lagi bisa hidup wajar tanpa zat/obat-obatan tersebut.

c. Sosial – Ekonomi

ƒ

Dampak sosial menyangkut kepentingan lingkungan masyarakat yang lebih luas di luar diri para pemakai itu sendiri, yaitu: keluarga, sekolah, tempat tinggal, bahkan bangsa. Penyalahgunaan NAPZA yang semakin meluas merugikan masyarakat di berbagai aspek kehidupan mulai dari aspek kesehatan, sosial psikologis, hukum, hingga ekonomi. Aspek Kesehatan ■ Dalam aspek kesehatan, pemakaian NAPZA sudah pasti menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan para pemakai. Tetapi penyalahgunaan NAPZA tidak hanya berakibat buruk pada diri para pemakai tetapi juga orang lain yang berhubungan dengan mereka. Pemakaian NAPZA melalui pemakaian jarum suntik bersama misalnya, telah terbukti menjadi salah satu penyebab meningkatnya secara drastis penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, selain penyakit lain seperti Hepatitis B dan C. Beberapa jenis NAPZA yang sangat popular saat ini seperti Putaw dan Shabu-shabu juga digunakan dengan cara menyuntikan ke dalam tubuh (disamping ditelan atau dihirup).

Multimedia Materi KRR

94

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

Penggunaan NAPZA melalui jarum suntik bergantian adalah salah satu cara paling efisien untuk menularkan HIV/AIDS di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Sementara itu, data menunjukkan bahwa mereka yang terkena AIDS melalui NAPZA yang menggunakan jarum suntik secara bergantian dan seks tidak aman, sebagian besar adalah mereka yang berusia muda dan produktif. Apa yang akan terjadi pada bangsa ini bila sebagian penduduk mudanya yang produktifnya sakit dan meninggal karena NAPZA dan AIDS.

Aspek Sosial dan Psikologis ■ Tekanan berat pada orang-orang terdekat pemakai, seperti: saudara, orang tua, kerabat, teman. Keluarga sebagai unit masyarakat terkecil harus menanggung beban sosial dan psikologis terberat menangani anggota keluarga yang sudah terjerumus dalam penyalahgunaan NAPZA.

Aspek Hukum dan Keamanan ■ Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak perilaku menyimpang seperti perkelahian, tawuran, kriminalitas, pencurian, perampokan, dan perilaku seks berisiko, dipengaruhi atau bahkan dipicu oleh penggunaan NAPZA. Pemakai NAPZA seringkali tidak dapat mengendalikan diri dan bersikap sesuai dengan norma-norma umum masyarakat. Perilaku menyimpang ini jelas mengganggu ketenteraman dan kenyamanan masyarakat yang terkena imbas perilaku penyalahgunaan NAPZA,

Multimedia Materi KRR

95

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

misalnya dengan terjadinya berbagai perilaku kriminal. ■ Pemakai NAPZA yang sulit mengendalikan pikiran dan perilakunya juga mudah menyakiti (pada kasuskasus tertentu bahkan membunuh) dirinya sendiri maupun orang lain.

Aspek Ekonomis ■ Aspek ekonomis dari penyalahgunaan NAPZA sudah sangat nyata yaitu semakin berkurangnya sumber daya manusia yang potensial dan produktif untuk membangun negara. Para pemakai NAPZA tidak membantu, tetapi justru menjadi beban bagi negara. Bukan hanya dalam bentuk ketiadaan tenaga dan sumbangan produktif, tetapi negara justru harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk menanggulangi persoalan penyalahgunaan NAPZA. Perawatan dan penanganan para pemakai NAPZA tidaklah murah. Biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk kesehatan jelas meningkat dengan meningkatnya masalah kesehatan akibat pemakaian NAPZA. Perkiraan biaya tersebut terus menerus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya antara lain karena meningkatnya epidemi HIV dan jumlah penyalahgunaan NAPZA dari tahun ke tahun. Penelitian ini juga menyatakan bahwa sebagian besar (46 persen) biaya harus ditanggung negara, dan sebagian lainnya (44 persen) ditanggung oleh pengguna dan anggota keluarganya. Keadaan seperti ini sangat mungkin juga menggambarkan situasi Indonesia.

Multimedia Materi KRR

96

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

5. Penanggulangan Penyalahgunaan

NAPZA
a. Pencegahan (preventif) 1. Mengurangi pasokan (Supply Reduction)

ƒ

Biasanya berkaitan dengan langkahlangkah penegakan hukum terhadap penanaman atau pembuatan NAPZA, pengolahan, pengangkutan serta peredaran dan perdagangan NAPZA. Kemauan politis untuk mengurangi pemasokan tidak selalu ada, terutama di negara-negara penghasil tanaman illegal (bahan dasar NAPZA). Kalaupun ada kemauan politis untuk menindak secara hukum pihak-pihak yang terlibat dalam pemasokan, maka kesulitannya adalah menghadapi perlawanan dari pihak-pihak yang mengambil manfaat besar dari pemasokan (sindikat). Berbagai upaya lain untuk mengurangi pemasokan NAPZA masih dan sedang dilakukan di berbagai negara seperti penggantian jenis tanaman, perundangundangan mengenai NAPZA dan persetujuan internasional dan multilateral. Pengurangan pasokan tidak akan berhasil selama perdagangan NAPZA mampu menghasilkan keuntungan yang sangat besar dan selama upaya tidak ada upaya pengurangan permintaan. Pengurangan pasokan bisa berhasil bila dimulai di akar-akar persoalan: penegakan hukum, pemberantasan korupsi, pengembangan ekonomi, dan lain-lain.

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

97

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

2. Mengurangi permintaan (Demand Reduction)

ƒ

Biasanya dilakukan dalam bentuk upaya preventif dan kuratif. Upaya preventif atau pencegahan biasanya berbentuk pendidikan mengenai bahaya NAPZA maupun penyediaan alternatif kegiatan lain agar orang tidak memakai NAPZA. Upaya ini juga mencakup terapi pada pengguna untuk mengurangi konsumsi mereka. Pendidikan mengenai NAPZA dan dampak buruknya biasanya ditujukan pada masyarakat umum, generasi muda melalui program di sekolah maupun di luar sekolah, dan pada para pengguna NAPZA sendiri. Program pendidikan yang berisi pesanpesan kampanye dan bersifat massal ini biasanya tidak terlalu besar dampaknya dalam mengurangi penggunaan NAPZA, apalagi bila memberi kesan bahwa penggunan NAPZA adalah musuh atau sampah masyarakat karena ini hanya membuat para pengguna bersembunyi tetapi tidak mengurangi penggunaan NAPZA. Pendidikan yang lebih berhasil adalah yang memandang kecanduan sebagai penyakit, dan karenanya pengguna NAPZA membutuhkan dukungan dan terapi. Dengan simpati dan empati (bukan berarti menyetujui) terhadap pengguna NAPZA sebagai “korban”dari sebuah situasi (sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain) yang tidak harmonis, maka terapi bisa lebih berhasil. Terapi yang berhasil, terutama terhadap ketergantungan NAPZA, memerlukan lebih dari sekedar detoksifikasi atau

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

98

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

pembersihan racun-racun NAPZA dari dalam darah, melainkan pemahaman menyeluruh terhadap setiap individu pemakai (jenis yang dipakai, lama memakai, karakteristik individu, dan lain-lain) sehingga dapat dilakukan pendekatan terapi yang sesuai dengan karakter dan masalah setiap individu.

ƒ

Kampanye dengan slogan-slogan kurang efektif karena biasanya tidak mengenai sasaran. Strategi yang benar harus didasarkan pada pemahaman yang tepat dan menyeluruh mengenai permasalahan para pengguna NAPZA sehingga terapi dilakukan sesuai dengan latarbelakang dan permasalahan khas para pengguna. Meluruskan persepsi yang salah mengenai NAPZA dan mengganti slogan-slogan dengan pemahaman ilmiah lebih berguna untuk menjembatani kesenjangan antara pemahaman masyarakat umum dengan fakta ilmiah mengenai NAPZA Menanggapi kecanduan sebagai penyakit dan menyediakan pelayanan untuk menyembuhkan penyakit dengan perhatian, tidak bersikap mengadili, dan menegakkan etika (menjaga kerahasiaan, menghormati martabat dan hak sebagai pasien, dan lain-lain) akan jauh lebih efektif untuk mengurangi permintaan akan NAPZA dibandingkan pendekatan represif atau pengucilan misalnya. Perlu diingat terapi biasanya tidak cukup satu kali, tetapi bisa berulang karena jarang sekali seorang pecandu berhasil langsung berhenti samasekali setelah menjalani terapi. Perawatan pengguna NAPZA tidak hanya akan membantu pasien sendiri,

ƒ

ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

99

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

melainkan juga berguna bagi masyarakat karena akan meningkatkan fungsi sosial dan psikologis, mengurangi kriminalitas dan kekerasan, dan mengurangi penyebaran AIDS, selain juga akan sangat mengurangi berbagai kerugian biaya karena penyalahgunaan NAPZA. 3. Mengurangi dampak buruk (Harm Reduction)

ƒ

Adalah sebuah upaya jangka pendek untuk mencegah dampak buruk yang lebih luas dari penggunaan NAPZA. Strategi ini terutama diarahkan pada pencegahan dampak buruk meluasnya penyebaran HIV/AIDS melalui penggunan NAPZA dengan jarum suntik. Dasar pemikirannya adalah kenyataan bahwa NAPZA tidak dapat diberantas dalam waktu cepat dan dalam waktu dekat ini. Ketersediaan NAPZA dan keadaan sosial yang melahirkan permintaan akan NAPZA mengakibatkan permintaan pada NAPZA akan berlangsung terus. Strategi ini meliputi beberapa tahap : mulai dari mendorong pengguna untuk berhenti menggunakan NAPZA jika belum dapat berhenti, mendorong pengguna berhenti menggunakan cara menyuntik NAPZA kalau belum dapat berhenti dengan cara menyuntik, memastikan ia tidak berbagi/bertukar semua peralatan suntiknya dengan pengguna lain bila masih belum dapat menghentikan cara berbagi, memastikan (mendorong dan melatih) para pengguna untuk menyucihamakan peralatan setiap kali menyuntik. Selama upaya penggurangan dampak buruk ini dilakukan, pengguna tidak

ƒ

ƒ

ƒ
Multimedia Materi KRR

100

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ditempatkan sebagai penerima pelayanan yang pasif, melainkan dilibatkan secara aktif dalam pencegahan dampak buruk NAPZA bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Untuk dapat melakukan hal ini, dibutuhkan berbagai cara pendekatan kepada kelompok-kelompok pengguna.

ƒ

Program-program pengurangan dampak buruk pada dasarnya bertujuan merubah perilaku, meliputi: penyediaan informasi untuk menyadarkan pengguna mengenai berbagai risiko panggunaan NAPZA; pengalihan NAPZA dengan obat/zat pengganti yang lebih aman (metadon); pendidikan penjangkauan oleh pendidik sebaya; penyebaran jarum suntik suci hama dan pembuangan jarum suntik bekas; konseling dan tes HIV di antara pengguna NAPZA; memperbesar peluang pemberian layanan kesehatan bagi para pengguna NAPZA.

b. Penyembuhan (kuratif)

ƒ

Yaitu usaha penanggulangan yang bersifat sekunder, artinya penanggulangan yang dilakukan pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment). Fase ini biasanya ditangani oleh lembaga professional di bidangnya yaitu lembaga medis seperti klinik, rumah sakit, dokter. Fase ini biasanya meliputi : 1. Fase penerimaan awal (inisial intake) Antara 1-3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental. 2. Fase detoksifikasi Antara 1-3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahanbahan adiktif secara bertahap.

Multimedia Materi KRR

101

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

3. Terapi komplikasi medik c. Pemulihan (Rehabilitatif)

ƒ

Yaitu usaha penanggulangan yang bersifat tertier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini memakan waktu cukup lama dan biasanya dilakukan di lembaga-lembaga khusus seperti klinik rehabilitasi dan kelompok masyarakat yangn dibentuk khusus untuk itu (therapeutic community). Tahap ini biasanya terdiri atas: 1. Fase Stabilisasi Antara 3 12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat; 2. Fase Sosialisasi Dalam Masyarakat Agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif , dan lain-lain.

D.

Hubungan Penyalahgunaan NAPZA Dengan HIV/AIDS Dan Hubungan Seks Bebas Tidak Aman
1. Penyalahgunaan Napza – Hubungan

Seks Bebas Dan Tidak Aman
Ada dua karakteristik efek dari NAPZA yang mampu memicu seorang pengguna NAPZA melakukan hubungan seks bebas tidak aman, yaitu:

ƒ

penurunan tingkat kesadaran (awareness) seseorang yang sedang berada di bawah pengaruh NAPZA. Atas efek inilah seorang individu kurang memiliki kontrol diri terhadap tindakan yang akan diambilnya, apalagi untuk

Multimedia Materi KRR

102

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

memikirkan konsekuensi tindakannya tersebut (termasuk melakukan hubungan seks bebas tidak aman).

ƒ

Pada beberapa jenis NAPZA, peningkatan hasrat seksual merupakan efek yang ditimbulkan saat sesorang berada di bawah pengaruhnya. Atas efek ini kontrol diri seseorang akan dihadapkan dengan keinginan seksualnya yang meningkat.

2. Penyalahgunaan NAPZA – HIV/AIDS

ƒ

Walau tidak seluruh pengguna NAPZA, namun sebagian besar pengguna beberapa jenis NAPZA cenderung menggunakan Jarum Suntik sebagai media pemakaiannya. Penggunaan jarum suntik yang tidak seril dan dilakukan secara bergantian sangat rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS (tertular maupun menularkan). Hal yang lebih mengerikan, pengguna NAPZA yang merupakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akan membuatnya lebih cepat memasuki fase AIDS. Hal ini dikarenakan karakteristik NAPZA yang bersifat menggerogoti organ tubuh. Termasuk juga perokok, karena rokok memiliki sifat yang sama.

ƒ

E.

Ketrampilan Sosial Yang Bermanfaat

Multimedia Materi KRR

103

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

1. Kemampuan Menghadapi Stres

ƒ

Salah satu alasan seseorang menggunakan NAPZA adalah menghilangkan stres. Akan sangat membantu bila remaja dibekali kemampuan untuk menghadap stres sehingga menggunakan NAPZA tidak menjadi pilihannya. Salah satu langkah menghadapi stres adalah mengenali tahap-tahap stres. Berikut adalah tahap-tahap stres ƒ Tahap peringatan. Ada respons fisiologis yang rumit yang diawali oleh adanya stresor. Muncul ketegangan otot, detak jantung dan sebagainya. Tahap resistensi: Tubuh menggunakan seluruh kemampuannya untuk melawan reaksi stres. Tahap kelelahan: Sumber daya habis. Resistensi menurun. Penyakit atau kematian datang.

ƒ

ƒ

ƒ

2. Mengatasi Rendah Diri

ƒ

Seperti menghadapi stres, menghindari rasa rendah diri adalah salah satu alasan menggunakan NAPZA. Beriku t adalah hal-hal yang bisa dilatih pada seseorang untuk menumbuhan perasaan positif terhadap dirinya (konsep diri yang sehat): Belajar tentang diri sendiri, melihat sifat-sifat kelebihan dan kekurangan. Belajar peka terhadap saran dan kritik dari orang lain tentang diri kita sehingga kita makin kaya akan pengenalan diri kita sendiri. Mengembangkan mungkin. kemampuan semaksimal

ƒ ƒ

ƒ

Multimedia Materi KRR

104

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Menerima dan mengakui diri sebagai manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Berpikir positif tentang diri kita dan orang lain. Bergaul dengan banyak teman. Mengikuti kegiatan-kegiatan positif usaha menemukan bakatbakat kita. dalam

ƒ ƒ ƒ

3. Sikap Asertif ƒ Adalah kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai perasaan pihak lain. Kebalikan asertif adalah agresif. Seseorang dikatakan agresif bila yang disampaikan justru terkesan melecehkan, menghina, menyakiti, merendahkan bahkan mengusai pihak lain. Sikap asertif jadi sangat berguna ketika seseorang dibujuk mencoba-coba oleh teman-temannya.

ƒ

ƒ

4. Negosiasi (Menolak Ajakan) ƒ Sekuat apapun pengaruh dan ajakan dari pertemanan tersebut, remaja harus tetap memiliki rasa percaya diri untuk berani menolak hal-hal yang dapat merugikan dan membahayakannya seperti: ◘ menolak ajakan yang tidak bermanfaat (nongkrong sambil ngeganja). ◘ menolak ajakan yang jelas merugikan dan melanggar kosopanan (menjual/mengedarkan obat/NAPZA) ◘ menolak ajakan untuk melakukan perbuatan yang menakutkan atau mencurigakan, (menemui bandar NAPZA)

Multimedia Materi KRR

105

Presentasi Fasilitasi KRR - NAPZA

ƒ

Tips untuk menolak ajakan ◘ Orang yang berpendirian kuat biasanya lebih dihargai dan disukai temantemannya (tidak perlu ikut-ikutan). Katakan saja: “maaf, saya tidak mau mencobanya” ◘ Menolak ajakan harus dengan jelas dan tegas. Katakan: “tidak, terima kasih!” “maaf, saya tidak bias ikut” ◘ Bila perlu atau merasa tidak nyaman, segeralah tinggalkan tempat tersebut tanpa ragu. Katakan: “saya harus pergi” ”saya harus bertemu teman” “ada hal lain yang harus saya kerjakan!” disampaikan

Sekian, Terima kasih

Multimedia Materi KRR

106

Lampiran Hand-out Presentasi Fasilitasi

█ Pengantar

Saat mengembangkan materi ini, sepenuhnya kami menyadari bahwa banyak sekali keterbatasan yang akan dihadapi pengguna materi ini di lapangan. Oleh karena materi ini berbasis komputer, kami memahami sepenuhnya bahwa masih banyak keterbatasan di lapangan berkaitan dengan ketersediaan fasilitas komputer maupun LCD (fasilitas proyektor untuk komputer). Namun kami selaku Tim Penyusun berusaha untuk tidak bersifat menunggu. Karena bila selalu menunggu keadaan menjadi ideal, bisa jadi kami tidak akan kerja. Dengan kata lain bila kita selalu menunggu kapan kita sebagai bangsa bisa maju menghadapi perkembangan media yang semakin cepat berkembang. Daripada menunggu, kami selaku Tim Penyusun justru berusaha menyiasati materi yang akan dihasilkan agar dapat dipergunakan dalam berbagai keterbatasan fasilitas yang mungkin terjadi. Dengan demikian kita sebagai bangsa tidak tertinggal dalam perkembangan media, namun di sisi lain, materi yang dihasilkan juga tetap digunakan dalam berbagai keterbatasan yang mungkin ada. Untuk itu, Lampiran Hand-out Presentasi ini kami sertakan dalam usaha memberikan alternatif bentuk presentasi berbeda. Bila penggunaan CD-Rom hanya terbatas dengan fasilitas komputer dan LCD, maka Lampiran Hand-out Presentasi ini diharapkan dapat menjadi penunjang dikala komputer dan LCD tidak tersedia. Lampiran Hand-out Presentasi ini dapat digunakan oleh fasilitator yang ingin melakukan presentasi fasilitasi Kesehatan Reproduksi Remaja dengan hanya menggunakan OHP (Over Head Projetor), yaitu dengan cara mem-foto copy Lampiran Hand-Out ini ke dalam transparan. Atau bila ternyata OHP pun tidak tersedia, fasilitator yang ingin melakukan presentasi fasilitasi KRR dapat memperbanyak (fotocopy) Lampiran Hand-Out Presentasi ini, lalu membagikan pada peserta. Demikian pengantar dari kami, selanjutnya kami ucapkan selamat berpresentasi.

Sukses Selalu,

Tim Penyusun

Multimedia Materi KRR

Lampiran Hand-out Presentasi Fasilitasi

█ Pengantar

Saat mengembangkan materi ini, sepenuhnya kami menyadari bahwa banyak sekali keterbatasan yang akan dihadapi pengguna materi ini di lapangan. Oleh karena materi ini berbasis komputer, kami memahami sepenuhnya bahwa masih banyak keterbatasan di lapangan berkaitan dengan ketersediaan fasilitas komputer maupun LCD (fasilitas proyektor untuk komputer). Namun kami selaku Tim Penyusun berusaha untuk tidak bersifat menunggu. Karena bila selalu menunggu keadaan menjadi ideal, bisa jadi kami tidak akan kerja. Dengan kata lain bila kita selalu menunggu kapan kita sebagai bangsa bisa maju menghadapi perkembangan media yang semakin cepat berkembang. Daripada menunggu, kami selaku Tim Penyusun justru berusaha menyiasati materi yang akan dihasilkan agar dapat dipergunakan dalam berbagai keterbatasan fasilitas yang mungkin terjadi. Dengan demikian kita sebagai bangsa tidak tertinggal dalam perkembangan media, namun di sisi lain, materi yang dihasilkan juga tetap digunakan dalam berbagai keterbatasan yang mungkin ada. Untuk itu, Lampiran Hand-out Presentasi ini kami sertakan dalam usaha memberikan alternatif bentuk presentasi berbeda. Bila penggunaan CD-Rom hanya terbatas dengan fasilitas komputer dan LCD, maka Lampiran Hand-out Presentasi ini diharapkan dapat menjadi penunjang dikala komputer dan LCD tidak tersedia. Lampiran Hand-out Presentasi ini dapat digunakan oleh fasilitator yang ingin melakukan presentasi fasilitasi Kesehatan Reproduksi Remaja dengan hanya menggunakan OHP (Over Head Projetor), yaitu dengan cara mem-foto copy Lampiran Hand-Out ini ke dalam transparan. Atau bila ternyata OHP pun tidak tersedia, fasilitator yang ingin melakukan presentasi fasilitasi KRR dapat memperbanyak (fotocopy) Lampiran Hand-Out Presentasi ini, lalu membagikan pada peserta. Demikian pengantar dari kami, selanjutnya kami ucapkan selamat berpresentasi.

Sukses Selalu,

Tim Penyusun

Multimedia Materi KRR

Lampiran Hand-out Presentasi Fasilitasi

█ Pengantar

Saat mengembangkan materi ini, sepenuhnya kami menyadari bahwa banyak sekali keterbatasan yang akan dihadapi pengguna materi ini di lapangan. Oleh karena materi ini berbasis komputer, kami memahami sepenuhnya bahwa masih banyak keterbatasan di lapangan berkaitan dengan ketersediaan fasilitas komputer maupun LCD (fasilitas proyektor untuk komputer). Namun kami selaku Tim Penyusun berusaha untuk tidak bersifat menunggu. Karena bila selalu menunggu keadaan menjadi ideal, bisa jadi kami tidak akan kerja. Dengan kata lain bila kita selalu menunggu kapan kita sebagai bangsa bisa maju menghadapi perkembangan media yang semakin cepat berkembang. Daripada menunggu, kami selaku Tim Penyusun justru berusaha menyiasati materi yang akan dihasilkan agar dapat dipergunakan dalam berbagai keterbatasan fasilitas yang mungkin terjadi. Dengan demikian kita sebagai bangsa tidak tertinggal dalam perkembangan media, namun di sisi lain, materi yang dihasilkan juga tetap digunakan dalam berbagai keterbatasan yang mungkin ada. Untuk itu, Lampiran Hand-out Presentasi ini kami sertakan dalam usaha memberikan alternatif bentuk presentasi berbeda. Bila penggunaan CD-Rom hanya terbatas dengan fasilitas komputer dan LCD, maka Lampiran Hand-out Presentasi ini diharapkan dapat menjadi penunjang dikala komputer dan LCD tidak tersedia. Lampiran Hand-out Presentasi ini dapat digunakan oleh fasilitator yang ingin melakukan presentasi fasilitasi Kesehatan Reproduksi Remaja dengan hanya menggunakan OHP (Over Head Projetor), yaitu dengan cara mem-foto copy Lampiran Hand-Out ini ke dalam transparan. Atau bila ternyata OHP pun tidak tersedia, fasilitator yang ingin melakukan presentasi fasilitasi KRR dapat memperbanyak (fotocopy) Lampiran Hand-Out Presentasi ini, lalu membagikan pada peserta. Demikian pengantar dari kami, selanjutnya kami ucapkan selamat berpresentasi.

Sukses Selalu,

Tim Penyusun

Multimedia Materi KRR

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->