ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) TUMOR MEDIASTINUM BAB II Tinjauan Pustaka 2.

1 Anatomi dan Fisiologi Mediastinum Batas ruang mediastinum, atas: pintu masuk toraks, bawah: diafragma, lateral: pleura mediastinalis, posterior : tulang belakang, anterior : sternum. Karena rongga mediastinum tidak dapat diperluas, maka pembesaran tumor dapat menekan organ penting di sekitarnya dan dapat mengancam jiwa. Kebanyakan tumor mediastinum tumbuh lambat sehingga pasien sering datang setelah tumor cukup besar, disertai keluhan dan tanda akibat penekanan tumor terhadap organ sekitarnya. Secara garis besar mediastinum dibagi atas 4 bagian penting: 1. Mediastinum superior, mulai pintu atas rongga dada sampai ke vertebra torakal ke-5 dan bagian bawah sternum. 2. Mediastinum anterior, dari garis batas mediastinum superior ke diafargma didepan jantung. 3. Mediastinum posterior, dari garis batas mediastinum superior ke diafragma dibelakang jantung. 4. Mediastinum medial (tengah), dari garis batas mediastinum superior ke diafragma di antara mediastinum anterior dan posterior. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003) 2.2 Definisi Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum yaitu rongga di antara paru-paru kanan dan kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003) Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di mediastinum yaitu rongga imaginer di antara paru kiri dan kanan. Mediastinum berisi jantung, pembuluh darah besar, trakea, timus, kelenjar getah bening dan jaringan ikat. (Elisna Syahruddin) Tumor adalah suatu benjolan abnormal yanga ada pada tubuh, sedangkan mediastinum adalah suatu rongga yang terdapat antata paru-paru kanan dan paru-paru kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya. Jadi, Tumor mediastinum adalah tumor yang berada di daerah mediastinum. Tidak ada hal yang spesifik yang dapat mencegah tumor mediastinum ini. Tetapi jika kita terbiasa berperilaku hidup sehat insyaalloh kita akan tehindar dari penyakit tumor dan kanker. (dr. Agus Rahmadi, 2010) 2.3 Etiologi Secara umum faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab tumor adalah: 1. Penyebab kimiawi Di berbagai negara ditemukan banyak tumor kulit pada pekerja pembersih cerobong asap. Zat yang mengandung karbon dianggap sebagai penyebabnya. 2. Faktor genetik (biomolekuler) Perubahan genetik termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal dan pengaruh protein bisa menekan atau meningkatkan perkembangan tumor. 3. Faktor fisik Secara fisik, tumor berkaitan dengan trauma/pukulan berulang-ulang baik trauma fisik maupun penyinaran. Penyinaran bisa berupa sinar ultraviolet yang berasal ari sinar matahari maupun sinar lain seperti sinar X (rontgen) dan radiasi bom atom. 4. Faktor nutrisi Salah satu contoh utama adalah dianggapnya aflaktosin yang dihasilkan oleh jamur pada kacang dan padi-padian sebagai pencetus timbulnya tumor. 5. Penyebab bioorganisme Misalnya virus, pernah dianggap sebagai kunci penyebab tumor dengan ditemukannya hubungan virus dengan penyakit tumor pada binatang percobaan. Namun ternyata konsep itu tidak berkembang lanjut pada manusia. 6. Faktor hormon Pengaruh hormon dianggap cukup besar, namun mekanisme dan kepastian peranannya belum jelas. Pengaruh hormone dalam pertumbuhan tumor bisa dilihat pada organ yang banyak dipengaruhi oleh hormone tersebut.

2.4 Klasifikasi Tumor Mediastinum 1. Timoma Thymoma adalah tumor yang berasal dari epitel thymus. Ini adalah tumor yang banyak terdapat dalam mediastinum bagian depan atas. Dalam golongan umur 50 tahun, tumor ini terdapat dengan frekuensi yang meningkat. Tidak terdapat preferensi jenis kelamin, suku bangsa atau geografi. Gambaran histologiknya dapat sangat bervariasi dan dapat terjadi komponen limfositik atau tidak. Malignitas ditentukan oleh pertumbuhan infiltrate di dalam organ-organ sekelilingnya dan tidak dalam bentuk histologiknya. Pada 50% kasus terdapat keluhan lokal. Thymoma juga dapat berhubungan dengan myasthenia gravis,pure red cell aplasia dan hipogamaglobulinemia. Bagian terbesar Thymoma mempunyai perjalanan klinis benigna. Penentuan ada atau tidak adanya penembusan kapsul mempunyai kepentingan prognostic. Metastase jarak jauh jarang terjadi. Jika mungkin dikerjakan terapi bedah. (Aru W. Sudoyo, 2006)

Terdapat banyak tipe limfoma. tergantung pada hasil terapi pembedahan radikal dan tipe histologiknya. 5. (Aru W. Teratoma paling sering ditemukan pada mediatinum anterior. tetapi jarang sampai lebih dari 10 cm. penyakit ini disebut penyakit Hodgkin karena ditemukan oleh Thomas Hodgkin tahun 1832. yaitu: 1) Kista Dermoid 2) Contoh dari kista dermoid adalah dahak penderita mengandung gigi. 3) Teratoma (Mesoderm) Teratoma merupakan neoplasma yang terdiri dari beberapa unsur jaringan yang asing pada daerah dimana tumor tersebut muncul. Stage IV : Limphogen / hematogen e. Pada teratoma maligna. Limfoma adalah bagian dari grup penyakit yang disebut kanker Hematological. yang berasal dari Tiroid. Pembagian dari tumor neurogenik. terletak jaug di mediastinum belakang. Sudoyo. berbatas licin. Sampai desenium ke 5 atau 6. Sewaktu tumor tumbuh lebih besar di dalam mediastinum posterosuperior. Paraganglioma Kista Bronkhogenik Kista Bronkogen kebanyakan mempunyai dinding cukup tipis. Kista bronkus terletak menempel pada trakea atau bronkus utama. tumor teratokarsinoma dan karsinoma embrional atau kombinasi dari tumor itu menduduki tempat yang terpenting. menurut letaknya: a. Kista-kista ini sering terdapt. Sudoyo. tetapi relative frekuen pada umur anak. terisi cairan jernih yang selalu dapat menempel pada perikard dan kadang-kadang berada dalam hubungan terbuka dengan perikard itu. Kista pericardium Ini adalah kista dengan dinding yang tipis. 3. Penderita dengan kelainan ini adalah yang pertamatama perlu mendapat perhatian untuk penanganan dan pembedahan. Limfoma dikategorikan sebagai limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Limfoma adalah tipe kanker yang terjadi pada limfosit (tipe sel darah putih pada sistem kekebalan tubuh vertebrata). Pada teratoma maligna dan tumor sel benih seminoma. bronki utama atau esophagus. Kecuali itu terdapat bahaya infeksi dan perforasi sehingga kalau ditemukan diperlukan pengangkatan dengan pembedahan. manifestasinya hampir selalu sebagai tumor bulat atau oval. Dari saraf tepi: Neurofibroma. Kista-kista coelom di sebelah kanan harus differensiasi dengan lemak parakardial dan dengan hernia diafragmatika melalui foramen Morgagni.2. Tumor ini dapat berasal dari saraf intercostals. rambut. tapi ini harus diikuti dengan radioterapi atau kemoterapi. 4. Teratoma yang histologik benigna mengandung terutama derivate ectoderm (kulit) dan entoderm (usus). Tumor ini dapat terjadi pada semua umur. Dari saraf simpati:GanglionNeurinoma. Stage dari Timoma: a. Tumor Tiroid Tumor tiroid merupakan tumor berlobus. Stage II : invasi s/d pleura mediastinalis c. kebanyakan dorsal dan selalu dekat dengan bifurkatio.Simpatikoblastoma c. meskipun tentang hal ini tidak ada data yang jelas. Kista pleuroperikardial adalah kelainan congenital. ganglia simpatis. . Teratoid Teratoid dibagi menjadi dua. tetapi baru muncul manifestasi pada usia dewasa. limfoma merupakan keganasan yang paling sering pada mediastinum. infeksi sangat jarang dan malignitasnya tidak diketahui. di sudut diafragma jantung. yang terdiri dari jaringan ikat. Kista ini tidak menimbulkan keluhan.Neuroblastoma. Kista ini dapat tetap asimptomatik tetapi dapat juga menimbulkan keluhan karena kompresi trakea. Neurolinoma b. kista-kista ini sering terlihat sebagai rongga-rongga dengan dinding yang tipis dengan perubahan bentuk pada pernapasan dalam. sesak napas s/d sianosis. Nyeri dada atau punggung biasanya akibat kompresi atau invasi tumor pada nervus interkostalis atau erosi tulang yang berdekatan. 2006) Limfoma Secara keseluruhan. maka tumor ini bisa menyebabkan sindrom pancoast atau Horner karena kompresi peleksus brakhialis atau rantai simpatis servikalis. pada fluoroskopi. 2006) Banyak Tumor Nerogenik menimbulkan beberapa gejala dan ditemukan pada foto thorax rutin. 6. Stage I : belum invasi ke sekitar b. Gejala dari kista ini adalah batuk. dan dari sel-sel yang mempunyai cirri kemoreseptor. jaringan otot dan kadangkadang tulang rawan. Kista ini juga dikenal sebagai kista coelom. Yang terbanyak terdapat di ventral. dahulu disebut kista dermoid. Karena itu ekstirpasi hanya diperlukan pada keraguan yang serius mengenai diagnosisnya atau pada ukuran kista yang sangat besar. Batuk dan dispneu merupakan gejala yang berhubungan dengan kompresi batang trakeobronchus. Kista ini dilapisi epitel rambut getar atau planoselular dan terisi lendir putih susu atau jernih. Dari paraganglion: Phaeocromocitoma. Gejala biasanya merupakan akibat dari penekanan pada struktur yang berdekatan. Tumor neurogenik Tumor Neurogen merupakan tumor mediastinal yang terbanyak terdapat. Pada abad ke-19 dan abad ke-20. Stage III : invasi s/d pericardium d. (Aru W. tulang. Mengenai teratoma benigna. ukuran tumor biasanya secara lambat bertambah. prognosisnya cukup baik.

Diperlukan berbagai pemeriksaan akurat untuk menentukan masalah adanya kanker pada suatu jaringan. 5. Adanya gejala pada pasien dengan massa mediastinum mempunyai kepentingan prognosis dan menggambarkan lebih tingginya kemungkinan neoplasma ganas. Serangan batuk dan spasme bronchus karena tekanan pada nervus vagus. Kondisi kanker juga meningkatkan resiko timbulnya infeksi sekunder. bahkan batuk darah atau lendir berwarna merah (hemaptoe) manakala telah melibatkan banyak kerusakan pembuluh darah. batuk. 11. nyeri inspirasi. Keterlibatan esophagus bisa menyebabkan disfagia atau gejala obstruksi. 5.5 Patofisiologi Sebagaimana bentuk kanker/karsinoma lain. Adanya pertumbuhan sel-sel progresif pada mediastinum secara mekanik menyebabkan penekanan (direct pressure/indirect pressure) serta dapat menimbulkan destruksi jaringan sekitar. Suara serak karena tekanan pada nerves laryngeus inferior. Keterlibatan nervus frenikus bisa menyebabkan paralisis diafragma. yang menimbulkan manifestasi seperti penyakit infeksi pernafasan lain seperti sesak nafas. tuberkulosis walaupun mungkin secara klinik pada kanker ini kurang dijumpai gejala demam yang menonjol. 9. Kompresi batang trakhebronkhus biasanya memberikan gejala seperti dispneu. 8. nyeri dada.Kebanyakan kelompok melaporkan bahwa antara 56 dan 65 persen pasien menderita gejala pada waktu penyajian. 10. Gangguan menelan karena kompresi esophagus. nyeri dan sesak pada posisi tertentu (menelungkup) Sekret berlebihan Batuk dengan atau tanpa dahak Riwayat kanker pada keluarga atau pada klien Pernafasan tidak simetris Unilateral Flail Chest Effusi pleura Egophonia pada daerah sternum Pekak/redup abnormal pada mediastinum serta basal paru Wheezing unilateral/bilateral Ronchii Sebagian besar pasien tumor mediastinum akan memperlihatkan gejala pada waktu presentasi . Nyeri dada timbul paling sering pada tumor mediastinum anterosuperior. namun lebih lazim gejala disebabkan oleh kompresi local atau invasi oleh neoplasma dari struktur mediastinum yang berdekatan. 2. rantai simpatis atau plekus brakhialis masing-masing menimbulkan paralisis plika vokalis. pada foto thorax rutin atau bisa menyebabkan gejala karena efek mekanik local sekunder terhadap kompresi tumor atau invasi struktur mediastinum.6 1. sebagian besar massa mediastinum terlihat pada pasien yang asimtomatik. Nyeri dada yang serupa biasanya disebabkan oleh kompresi atau invasi dinding dada posterior dan nervus interkostalis. Tetapi. 2. dan penderita dengan lesi ganas jauh lebih mungkin menunjukkan gejala pada waktu presentasi. 2. 7. Vena leher yang mengembang pada sindroma vena cava superior. radikal bebas dan protein-protein reaktif secara berlebihan sebagai ikutan dari timbulnya karsinoma meningkatkan daya rusak sel-sel kanker terhadap jaringan sekitarnya. 6. Manifestasi Klinis Mengeluh sesak nafas. penyebab dari timbulnya karsinoma jaringan mediastinum belum diketahui secara pasti. 3. 4. 4. Batuk atau stridor karena tekanan pada trachea atau bronchi utama. sehingga kadangkala manifestasi klinik yang lebih menonjol mengarah pada infeksi saluran nafas seperti pneumonia. 3. Gejala sistemik bisa nonspesifik atau bisa membentuk kompleks gejala yang sebenarnya patogmonik untuk neoplasma spesifik. Adanya pertumbuhan sel-sel karsinoma dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat maupun timbul dalam suatu proses yang memakan waku bertahun-tahun untuk menimbulkan manifestasi klinik. penurunan berat badan dan meningkatnya rasa lelah mungkin menjadi gejala yang disajikan oleh pasien dengan massa mediastinum. peningkatan produksi sputum. sindrom Horner dan sindrom Pancoast. Keterlibatan nervus laringeus rekuren.2. Adakalanya berbagai bentuk karsinoma sulit terdeteksi secara pasti dan cepat oleh tim kesehatan. Kanker sebagai bentuk jaringan progresif yang memiliki ikatan yang longgar mengakibatkan sel-sel yang dihasilkan dari jaringan kanker lebih mudah untuk pecah dan menyebar ke berbagai organ tubuh lainnya (metastase) melalui kelenjar. . namun diduga berbagai faktor predisposisi yang kompleks berperan dalam menimbulkan manifestasi tumbuhnya jaringan/sel-sel kanker pada jaringan mediastinum. terutama jaringan yang memiliki ikatan yang relatif lemah. 6. dengan peningkatan penggunaan rontgenografi dada rutin. Keluhan yang biasanya dirasakan adalah : 1. Dengan semakin meningkatnya volume massa sel-sel yang berproliferasi maka secara mekanik menimbulkan desakan pada jaringan sekitarnya. Walaupun gejala sistemik yang samar-samar dari anoreksia. pneumonitis berulang atau gejala yang agak jarang yaitu stridor. pembuluh darah maupun melalui peristiwa mekanis dalam tubuh. Tumor mediastinum yang meyebabkan gejala ini paling sering berlokalisasi pada mediastinum superior. 7. pelepasan berbagai substansia pada jaringan normal seperti prostalandin. Massa mediastinum bisa ditemukan dalam pasien asimtomatik.

penurunan kesadaran Data Obyektif: letargi d. Penyakit paru. Pemeriksaan Per Sistem a. sputum banyak. baik pada diri sendiri maupun dari keluarga. 4. atau melalui metastatic di tempat lain. Sindrom Vena Cava Superior 3.8 Komplikasi Komplikasi dari kelainan mediastinum mereflekikan patologi primer yang utama dan hubungan antara struktur anatomic dalam mediastinum. adanya riwayat tumor pada organ lain. jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat gejala klinis penderita. dada tertekan. Rupture esofagus BAB III Asuhan Keperawatan 3. Sistem Pencernaan (B5) Data Subyektif: mual. Kemoterapi Kemoterapi telah menunjukkan kemampuannya dalam mengobati beberapa jenis tumor. Tumor atau infeksi dalam mediastinum dapat menyebabkan timbulnya komplikasi melalui: perluasan dan penyebaran secara langsung. Pada beberapa kasus sering dilaporkan keluhan infeksi lebih menjadi sebab klien melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Riwayat Penyakit Sekarang 3. laju pernafasan meningkat. nyeri dada berulang Data Obyektif: hiperventilasi. anoreksia. kualitas darah menurun. batuk (produktif/nonproduktif). Invasi vascular dan catastrophic hemorrhage. Sistem pernafasan (B1) Data Subyektif: sesak nafas. Sistem Perkemihan (B4) Data Subyektif: Data Obyektif: produksi urine menurun e. Obat-obatan Immunoterapi Misalnya interleukin 1 dan alpha interferon 3. nyeri telan . dan 4. dengan tekanan sel bersebelahan. 5. terdengar stridor. Identitas Nama pasien Umur : Karsinoma cenderung ditemukan pada usia dewasa Jenis kelamin : Laki-laki lebih beresiko daripada wanita Suku /Bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat 2. dengan melibatkan struktur-struktur (sel-sel) bersebelahan. ronchii pada lapang paru. Empat komplikasi terberat dari penyakit mediastinum adalah: 1. Pembedahan Tindakan bedah memegang peranan utama dalam penanggulangan kasus tumor mediastinum 2. Radioterapi Masalah dalam radioterapi adalah membunuh sel kanker dan sel jaringan normal. 4. Sistem Persarafan (B3) Data Subyektif: gelisah. disfagia. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah sesak nafas dan nyeri dada yang berulang tidak khas. terdengar suara nafas abnormal. Sistem kardiovaskuler (B2) Data Subyektif: sakit kepala Data Obyektif: denyut nadi meningkat. kadang muntah.2. egophoni b. Obstruksi trachea 2. dengan menyebabkan sindrom paraneoplastik. 2.7 Penatalaksanaa 1. pembuluh darah vasokontriksi. Riwayat Penyakit Keluarga 6.1 Pengkajian 1. Riwayat Penyakit Dahulu Penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA. mungkin disertai batuk darah. influenza sering terjadi dalam rentang waktu yang relatif lama dan berulang. disritmia. Sedangkan tujuan radioterapi adalah meninggikan kemampuan untuk membunuh sel tumor dengan kerusakan serendah mungkin pada sel normal. penggunaan otot diagfragma pernafasan diafragma dan perut meningkat. c.

pemeriksaan angiografi sering diperlukan untuk membedakan massa mediastinum dari berbagai proses pada jantung dan aorta seperti aneurisma thorax dan suni aneurisma Valsava. teknik ini bisa memberikan informasi unggul tentang ada atau tidaknya keganasan di dalam kelenjar limfe dan massa tumor. banyak keringat. CT bermanfaat dalam diagnosis kista bronkogenik pada bayi dengan infeksi berulang dan timoma dalam pasien myasthenia gravis. Sebelumnya. j. Neoplasma mediastinum dapat diramalkan timbul pada bagian tertentu mediastinum. Perbaikan jelas dalam teknik sitologi telah memungkinkan penggunaan biopsy aspirasi jarum halus untuk mendiagnosis tiga perempat pasien lesi mediastinum. Fluoroskopi dan barium enema bisa membantu lebih lanjut dalam menggambarkan bentuk massa dan hubungannya dengan struktur mediastinum lain. Foto polos bisa mengenal densitas relatif massa ini. Elektrolit: Natrium/kalsium menurun/normal d. Hal ini perlu menjadi pertimbangan bila bioopsi akan dilakukan. USG Germ Cell Mediastinum Kemajuan dalam teknologi nuklir telah bermanfaat dalam mendiagnosis sejumlah tumor. dan apakah padat atau kistik. sidik CT mampu membedakan lesi asal vascular dari neoplasma mediastinum. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Magnetic Resonance Imaging (MRI) mempunyai potensi yang memungkinkan diferensiasi struktur vascular dari massa mediastinum tanpa penggunaan materi kontras atau radiasi. Sistem Endokrin (B7) Pengkajian Psikososial Personal Hygiene dan Kebiasaan Perokok berat dapat terkena penyakit tumor mediastinum. Penentuan lokasi yang tepat amat penting untuk langkah diagnostik lebih lanjut. terutama esofagus dan pembuluh darah besar. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Data Subyektif: lemah. Dasar dari evaluasi diagnostik adalah pemeriksaan rontgenografi. turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder). Belakangan ini kemajuan dalam radiofarmakologi telah membawa ke diagnosis tepat. Kegunaan teknik ini dalam mendiagnosis tumor primer mediastinum tetap akan ditegaskan. Tambahan lagi. Tomografi Komputerisasi Kemajuan terbesar dalam diagnosis dan penggambaran massa dalam mediastinum pada tahun belakangan ini adalah penggunaan sidik CT untuk diagnosis klinis. 10. esofagogram. Dengan memberikan gambaran anatomi potongan melintang yang memuaskan bagi mediastinum. f. Pada langkah selanjutnya untuk membedakan apakah massa tersebut adalah tumor metastasis. g. tonus otot menurun. kista enteric dan tumor telah dibuat dengan CT karena gambarannya yang khas. sianosis. CT scan thorax diperlukan untuk membedakan apakah lesi berasal dari vaskuler atau bukan vaskuler. kasus yang foto polosnya sering gagal mendeteksi kelainan apapun. Biopsy Berbagai teknik invasif untuk mendapatkan diagnosis jaringan tersedia saat ini. USG Ultrasonografi bermanfaat dalam menggambarkan struktur kista dan lokasinya di dalam mediastinum. Pemeriksaan diagnostik e. dalam laporan belakangan ini. Di masa yang akan datang. Teknik ini sangat bermanfaat dalam mendiagnosis penyakit metastatik pada pasien dengan keganasan primer yang ditemukan di manapun. CT mampu memisahkan massa mediastinum dari struktur mediastinum lainnya. suhu kulit meningkat /normal. Analisa Gas Darah: asidosis respiratorik. Sidik gallium dan teknesium sangat memperbaiki kemampuan mendiagnosis dan melokalisir adenoma parathyroid. Rontgenografi Investigasi suatu massa di mediastinum harus dimulai dengan foto dada anterior-superior. Sidik yodium radioiotop bermanfaat dalam membedakan struma intratoraks dari lesi mediatinum superior lain. CT telah menjadi alat diagnostik yang jauh lebih sensitif dibandingkan dengan teknik radiografi rutin. berat badan turun. flail chest g. selain itu CT scan juga berguna untuk menentukan apakah lesi tersebut bersifat kistik atau tidak.7. adenoma paratiroid. cepat lelah Data Obyektif: kulit pucat. Tomografi komputerisasi juga memberikan banyak informasi tentang sifat invasi relatif tumor mediastinum. diagnosis prabedah pada sejumlah lesi yang mencakup kista pericardial. lateral. Diferensiasi antara kompresi dan invasi seperti dimanifestasikan oleh robeknya bidang lemak mediastinum dapat dibuat dengan pemeriksaan cermat. 9. i. Terutama dengan penggunaan materi kontras intravena untuk membantu menggambarkan struktur vascular. . Hb: menurun/normal b. oblik. h. penurunan intake makanan f. dan terakhir tomogram bila perlu. kadar karbon darah meningkat/normal c. 8. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan. Foto thorax lateral dan posteroanterior standar bermanfaat dalam melokalisir massa di dalam mediastinum. Data Obyektif: konsistensi feses normal/diare. Dengan perbaikan resolusi belakangan ini. limfoma atau tuberculosis/ sarkoidosis maka mediastinoskopi dan biopsy perlu dilakukan. Pengkajian Spiritual Pemeriksaan Penunjang a. penurunan kadar oksigen darah. nyeri otot.

Kompresi esofagus Gangguan menelan DS : malaise DO : badan klien lemah Tumor mediastinum Dilakukan radioterapi Intoleransi aktivitas Badan lemah 3. mencegah obstruksi 3. Berikan antibiotic dan antipiretik sesuai order. Diare Gangguan keseimbangan Cairan berhubungan dengan: Penurunan intake cairan Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam. ronki. cyanosis. sianosis. DS : klien mengeluh sesak Terbentuknya formasi tumor Perubahan Nutrisi nafas DO : anoreksia. Catat hasil pulse oximeter bila terpasang. haluaran hidung. 4.d adaptasi fisik tidak adekuat sekunder terhadap penekanan jaringan paru oleh sel tumor. Intake adekuat 2. No. demam.2 Analisa Data Data Etiologi Masalah Keperawatan DS : sesak nafas dan batuk Sel tumor membesar Ketidakefektifan pola nafas klien mengeluh DO : batuk (baik produktif Vena leher mengembang maupun non produktif). muntah. retraksi. mual. muntah. Berikan oksigen lembab.. Lakukan suction secara bertahap Membantu pembersihan jalan nafas.3. kaji keefektifan terapi. Tumor mediastinum diare. dan Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan tanda-tanda keefektifan jalan napas yang akan/telah diberikan 2. tiap 2-4 Evaluasi berkala keberhasilan terapi tindakan jam. 7. efek chemoteraphi. turgor kulit buruk. Kriteria Hasil: 1.3 Intervensi Diagnosa: Ketidakefektifan pola nafas b. sesak nafas. Intervensi Rasional 1. membrana mukosa kering. S. laju nafas dalam rentang normal dan tidak terdapat batuk. Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru. takipnea. Tidak adanya muntah dan diare . tim kesehatan Diagnosa: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan diare akibat khemoterapi. Dilakukan kemoterapi penurunan output urine. Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen. Tujuan: Keefektifan pola nafas Kriteria Hasil: Suara nafas paru relatif bersih. Resiko tertekannya faring dan laring Saluran nafas tersumbat DS : letargi. kaji Menurunkan resiko infeksi sekunder. keefektifan dan efek samping ( diare ) 5. retraksi. demam. Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal. thoraks evaluasi kondisi jaringan paru 6. Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR. Tujuan: Asupan cairan dan elektrolit dapat di penuhi. Mengeluarkan sekresi jalan nafas.

Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan sesuai kebutuhan pasien pulih kembali Setelah latihan dan aktivitas kaji respons Menjaga kemungkinan adanya respons pasien abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan 2 3 4 . Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Menstimulasi nafsu makan dan mempertahankan suplemen dan obat-obatan peningkat nafsu intake nutrisi yang adekuat. No 1 Intervensi Rencanakan periode istirahat yang cukup. 3. Berikan latihan aktivitas secara bertahap Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat. nafsu makan klien timbul kembali 3. pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivtas tanpa dibantu. mobilisasi dini. klien Timbang berat badan sesuai indikasi Mengawasi keefektifan secara diet Memeberikan asupan nutrisi sesuai Kebutuhan pasien akan nutrisi terpenuhi kebutuhan Anjurkan makan sedikit tapi sering Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan Anjurkan kebersihan oral sebelum makan Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan. nafsu makan klien. Status nutrisi terpenuhi 2. Tujuan : Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. 4. demam. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan distres pernafasan. berat badan normal 4. perlu. Rasional Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan. Intervensi Rasional Catat intake dan output Evaluasi ketat kebuituhan intake dan output Kaji dan catat suhu setiap 4 jam tanda deficit Meyakinkan terpenuhi kebutuhan cairan. jumlah Hb dan albumin normal No 1 2 3 4 5 6 7 Intervensi Rasional Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi Menganalisa penyebab melaksanakan intervensi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi/ proliferasi sel dan efek radiasi/chemoterapi. 2. makan. Kriteria hasil :Perilaku menampakkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri. Lakukan perawatan mulut tiap 4 jam Meningkatkan bersihan saluran cerna. cairan. Kriteria Hasil : 1. latergi. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia. Kolaborasi ahli gizi pemberian makanan Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan yang bervariasi. koordinasi otot. muntah. tulang dan anggota gerak lainnya baik. penurunan intake. Catat pengeluaran feses tiap 4 jam atau bila Evaluasi objektif sederhana deficit volume cairan. Suhu tubuh dalam batas normal No. meningkatkan nafsu makan/ minum. 1.3. dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

id.wikipedia. Diakses tanggal 26 September 2010 . http://id. 2010.com/2009/04/18/askep-tumor-paru. Diakses tanggal 30 September 2010 ElisnaSyahruddin. Diakses tanggal 26 September 2010 Anonymousf. Diakses tanggal 30 September 2010 Anonymousc.org/wiki/Limfoma. 2010.com/konsultasi/sehat/tumor-mediastinum-itu-apa.Diakses tanggal 26 September 2010 Anonymuouse.2010.blogspot.eramuslim.org/wiki/Tumor_mediastinum.com/2010/02/tumor-mediastinum.blogspot./tumor-mediastinum. http://www.org/jurnal/Okto09JRI/Penatalaksanaan%20tumor%20mediastinum_6_. 2010..blog.Daftar Pustaka Anonymuousa.htm.http://gwen-miracle.html.com/2010/06/askep-pada-pasien-dengan-karsinoma. perinatologi. Diakses tanggal 30 September 2010 Agus Rahmadi. 2010.dkk.html.com/..pdf.2010.wikipedia. wildanprasetya.blogspot.Diakses tanggal 26 September 2010 Anonymousd. 2010.html.http://jurnalrespirologi.2010. Diakses tanggal 26 September 2010 Anonymuosb.http://perinatologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful