P. 1
Luka Kraniatomi

Luka Kraniatomi

|Views: 43|Likes:
Published by Yunita Sari

More info:

Published by: Yunita Sari on Aug 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2014

pdf

text

original

luka kraniatomi

Selasa, 06 Desember 2011
luka kraniotomi
luka kraniotomi 1. Definisi Kraniotomi ialah mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial. Prosedur ini dilakukan untuk menghilangkan tumor, mengurangi TIK, mengevakuasi bekuan darah dan mengontrol hemoragi. (Brunner and Suddarth). 2. Anatomi dan Fisiologi Otak dibagi menjadi tiga bagian besar: serebrum, batang otak, dan serebelum. Semua berada dalam satu bagian struktur tulang yang disebut sebagai tengkorak, yang juga melindungi otak dari cedera. Empat tulang yang berhubungan membentuk tulang tengkorak; tulang frontal, parietal, temporal dan oksipital. Pada dasar tengkorak terdiri dari tiga bagian fosa-fosa, yaitu: - Fosa anterior: berisi lobus frontal serebral bagian hemisfer. - Bagian tengah fosa: berisi lobus parietal, temporal dan oksipital. - Bagian fosa posterior: berisi batang otak dan medula. a. Serebrum Serebrum terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Keempat lobus tersebut adalah: 1. Lobus frontal: merupakan lobus terbesar, terletak pada fosa anterior. Fungsinya: untuk mengontrol prilaku individu, membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri. 2. Lobus parietal: lobus sensasi. Fungsinya: - Menginterpretasikan sensasi. - Mengatur individu mampu mengetahui posisi dan letak bagian tubuhnya. 3. Lobus temporal Fungsinya: mengintegrasikan sensasi kecap, bau dan pendengaran. Ingatan jangka pendek sangat berpengaruh dengan daerah ini. 4. Lobus oksipital: terletak pada lobus posterior hemisfer serebri. Fungsinya: bertanggung jawab menginterpretasikan penglihatan. b. Batang otak Batang terletak pada fosa anterior. Bagian-bagian batang otak ini terdiri dari otak tengah, pons, dan medula oblongata, otak tengah (midbrasia) menghubungkan pons dan sereblum dengan hemisfer cerebrum, bagian ini berisi jalus sensorik dan motorik dan sebagai pusat refleks pendengaran dan penglihatan. c. Serebelum Terletak pada fosa posterior dan terpisah dari hemisfer cerebral, lipatan dura meter tentorium serebelum. Serebelum mempunyai dua aksi yaitu merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus. Ditambah mengontrol gerakan yang benar, keseimbangan, posisi dan mengintegrasikan input sensorik.

3. Kecepatan kekuatan yang datang. Beberapa variabel yang mempengaruhi luasnya cedera kepala adalah sebagai berikut: 1. Kondisi kepala ketika mendapat penyebab benturan. 4. Kronis: terjadi setelah beberapa minggu atau bulan dari terjadinya cedera. kikiran atau kontusi pada lobus oksipital dan frontal. Trauma langsung bila kepala langsung terluka. Hancur-bisa linear. goresan atau tekanan. epidural. Semua ini berakibat terjadinya akselerasi-deselerasi dan pembentukan rongga (dilepasnya gas. yaitu: • Bersifat terbuka: menembus melalui dura meter (peluru. defisit sensori dan motorik. Conscussion/comosio/memar Merupakan cedera kepala tertutup yang ditandai oleh hilangnya kesadaran. tulang kepala. Luka terbuka dari tengkorak ditandai kerusakan otak. baik terpisah maupun seluruhnya. Ada beberapa tipe patah tulang: 1. 4. Lokasi dan arah dari penyebab benturan.3. rusaknya otak oleh kompresi. peningkatan intra kranial. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya. Trauma tidak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau keluaran yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher. Klasifikasi cedera kepala: 1. Cedera akselerasi terjadi bila kepala kena benturan dari objek yang bergerak dari objek yang bergerak dan menimbulkan gerakan. tanpa penetrasi menembus dura (kecelakaan lalu lintas. Kebanyakan kematian cedera kepala akibat edema yang disebabkan oleh kerusakan dan disertai destruksi primer pusat vital. Akibat dari kekuatan akselerasi. Linear-retak sederhana pada tulang 2. batang. Perdarahan intracerebral biasanya timbul pada daerah frontal atau temporal. Cedera pada otak bisa berasal dari trauma langsung atau tidak langsung pada kepala. Edema otak merupakan penyebab utama peningkatan TIC. otak dan cerebelum dapat terjadi. cedera olahraga). Hematom subdural dapat diklasifikasi sebagai berikut: 1. isoheni otak dan hipoxia. Permukaan dari kekuatan yang menimpa. Pecah-retaknya satu atau lebih dari dua fragmen. dan jaringan otak). darah. intraventricular. 4. Depresi-tulang terdorong sampai di bawah permukaan tulang normal. intracerebral. Pengaruh umum cedera kepala dari tingkat ringan sampai tingkat berat adalah edema otak. Kerusakan selanjutnya timbul herniasi otak. dari cairan lumbal. 3. Perdarahan akibat trauma cranio cerebral dapat terjadi pada lokasi-lokasi tersebut: kulit kepala. Subakut: terjadi dalam 48 jam sampai 2 minggu. Patofisiologi Trauma kepala (trauma eraniocerebral) dapat terjadi karena cedera kulit kepala. Luasnya luka bukan merupakan indikasi berat ringannya gangguan. 3. subdural. pisau) • Bersifat tertutup: trauma tumpul. 2. jaringan otak. Cedera deselerasi bila kepala membentur bahan padat yang tidak bergerak dengan deselerasi yang cepat dari tulang tengkorak. otak berdeselrasi lebih lambat. 2. jatuh. Akut: terjadi dalam 24 jam sampai 48 jam. perubahan persepsi . Etiologi Penyebab cedera kepala ada 2. Cedera bervariasi dari luka kulit yang sederhana sampai geger otak. banyak potongan atau tertekan.

Angiopati Serebral Tujuan: menunjukkan kelainan sirkulasi cerebral. hemoragik. disorientasi. . Contusio cerebri Termasuk didalamnya adalah luka memar. .CT Scan (tanpa/dengan kontras) Tujuan: mengidentifikasi adanya sol.Pusing. adanya fragmen tulang. edema).MRI (Magnetic Resonance Imaging) . 3. dilatasi pupil. hemiphagia. Dapat terlihat pada lobus frontal jika dilakukan lumbal pungkri maka lumbal berdarah. . perdarahan. . . Lacertio cerebri Adanya sobekan pada jaringan otak sehingga dapat terjadi tidak sarah/pingsan. 7.Hemiparese. pergeseran jaringan otak.Perubahan dan kesadaran/perubahan perilaku. Catatan: pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca trauma. . . trauma. pusing.Keluar cairan cerebro spinal dari lubang hidung dan telinga. . 5.Terjadi peningkatan intrakranial. seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. Therapi . pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan. perdarahan dan edema. .PET (Positrion Emission Tomography) Tujuan: menunjukkan perubahan aktifitas metabolisme pada otak. 6. . .Sinar X Tujuan: mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur). Test Diagnostik .Mual dan muntah.GDA (Gas DaraH Arteri): mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIC.Fungsi lumbal. .Gangguan penglihatan dan berbicara. Tanda dan Gejala .EEG Tujuan: untuk memperlihatkan atau berkembangnya gelombang patologis. 2. menentukan ukuran ventrikuler. .BAER (Brain Auditory Evoked Respons) Tujuan: menentukan fungsi korteks dan batang otak.Kimia/elektrolit darah: mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan TIC (perubahan mental).Pemeriksaan toksilogi: mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap kesadaran pasien.Observasi dan tirah baring.Kadar antikonvulsan darah: dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang. CSS: dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan sub arachnoid. .Evaluasi hematom secara bedah. .sensori. karakteristik gejala: sakit kepala. . . .

cedera kepala terbuka. c.Keluhan lemah. secara cepat (subdural akut) dan sangat besar (subdural kronik). Perdarahan intracranial Yaitu perdarahan di dalam otak itu sendiri. Komplikasi a.Cedera. disfagia). . . 8. .Pusing/nyeri kepala.Pingsan. . lelah. Perdarahan subdural Perdarahan subdural dapat terjadi akibat perdarahan lambat yang disebut perdarahan subdural sub akut.Pemakaian alat pengaman atau pelindung diri pada saat mengendarai kendaraan atau alat pada saat bekerja. otot spastik. . Dapat timbul akibat pecahnya suatu ancorisma atau stroke hemoragik. . .Perubahan kesadaran.Kesulitan mengunyah. hilang keseimbangan. Pola tidur dan istirahat .. . Perdarahan di otak menyebabkan peningkatan TIC. .Hemiparese. Pola persepsi sensori dan kognitif . terutama pada cedera kepala terbuka. b. . . sehingga sel-sel dan vaskuler tertekan. letargi. Pola aktifitas dan latihan . c.Perlu antibiotik untuk cedera kepala terbuka.Amnesia regagrade.Gelisah. b. muntah. air liur keluar. e.Debridement secara bedah. B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Pre Operasi 1. Terjadi secara akut dan biasanya karena perdarahan arteri yang mengancam jiwa. . d. Perdarahan epidural Yaitu: penimbunan darah di bawah dura meter. atau yang lebih sering. f. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.Adanya inkontinensia kandung kemih atau mengalami gangguan fungsi.Riwayat trauma pada tempat kejadian.Pingsan beberapa lama. dan mengalami perubahan sklera. Pengkajian a. Dapat terjadi pada cedera kepala tertutup yang berat. .Sulit tidur karena nyeri kepala.Pemberian metode-metode untuk menenangkan TIC termasuk pemberian diuretik dan obat anti inflamasi. Pola nutrisi metabolik . .Gangguan menelan (batuk.Kolaborasi untuk pemberian therapi O2 (oksigen). .Keluhan mual.Kehilangan tonus otot. . Pola eliminasi . kaku.

kedalaman pernapasan. 2. 2. HYD: . Rencana Tindakan a.Menurunkan suhu pasien .Tidak mampu mengkoordinasi otot dan gerakan. emosional. Gangguan mobilisasi fisik b/d gangguan neuromuskuler. Bersihan jalan napas tidak efektif b.Kehilangan refleksi menelan atau batuk menandakan perlunya jalan napas buatan/inkubasi.Jalan udara bebas. .Adanya perubahan tingkah laku (halus dan dramatik). . konsentrasi).Kecemasan. 2) Berikan selimut hipertermi R/ . . R/ Membantu dalam mencegah hipoksia b. 3) Berikan posisi fowler R/ Memudahkan ekspansi paru dan menurunkan adanya kemungkinan lidah jatuh yang menghambat jalan napas. trauma. 5. 3. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d gangguan persepsi/kognitif. 6. Hipertermi b. . 4.Pola pernapasan pasien efektif. lekas marah.d gangguan persepsi/kognitif.Kanaikan suhu mempercepat kerusakan otak. Hasil Yang Diharapkan : . g.Suhu tubuh dalam bats normal 365-37 0C Rencana Tindakan : 1) Monitor suhu tubuh klien tiap 4 jam R/ Panas tubuh yang tidak bisa diturunkan menunjukkan adanya kerusakan hipotalamus atau panas karena peningkatan metabolisme tubuh. bebas sianosis . 4) Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian therapi oksigen. Pola nafas tidak efektif b. . trauma. R/ Perubahan dapat menandakan adanya komplikasi pulmonal atau menandakan lokasi/luasnya keterlibatan otak.d gangguan neuromuskuler.d penyakit/trauma. R/ .Kehilangan rasa bau dan selera.. Pola persepsi dan konsep diri . 3) Anjurkan pasien utnuk tirah baring R/ Mobilisasi dapat meningkatkan suhu tubuh 4) Berikan kompres es . Diagnosa Keperawatan 1.d peningkatan tekanan intra cranial. Rencana Tindakan : 1) Pantau frekuensi. Dp 1.Perubahan status mental (penglihatan. Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma. 3. trauma. catat katidakakuratan pernapasan. Perubahan perfusi jaringan otak b. gelisah dan bingung. Nyeri b/d peningkatan tekanan intra cranial. 2) Catat refleksi gangguan menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri. tingkah laku.Wajah tidak simetris dan tidak ada reflek tendon. .Kemampuan memobilisasi atau memberikan sekresi penting untuk pemeliharaan jalan napas.Gangguan penglihatan.

Tanda-tanda vital stabil Rencana Tindakan : 1) Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian terapi oksigen R/ Memperbaiki oksigenisasi otak. 5) Kaji respon motorik terhadap perintah yang sederhana. Perubahan perfusi jaringan otak b. R/ Membantu mengurangi edema otak. R/ Mengukur kesadaran secara keseluruhan dan kemampuan untuk berespon. R/ Meningkatkan sirkulasi pada seluruh bagian tubuh.Edema otak berkurang . Nyeri b. Hasil Yang Diharapkan : . d.Nyeri dapat berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan : 1) Kaji keluhan nyeri.Kebutuhan higiene. nutrisi. 6) Berikan posisi anti trandelenberg R/ Meningkatkan aliran balik darah vena kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan edema. R/ Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIC.Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIC . 2) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat dioresika. 3) Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan TIC. Rencana Tindakan : 1) Kaji kemampuan dan keadaan secara fungsional terhadap kerusakan yang terjadi.R/ Kompres dingin akan membantu menurunkan suhu tubuh.d peningkatan TIK Hasil Yang Diharapkan : . R/ Keterlibatan pasien dalam perencanaan dan kegiatan adalah sangat penting untuk meningkatkan kerjasama pasien atau keberhasilan dari suatu program tersebut.Pasien bekerjasama dengan baik terhadap perencanaan pengobatan . karakteristik. 3) Tingkatkan aktifitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan.Tekanan jaringan otak adekuat .d gangguan neuromuskuler. R/ Menentukan pilihan intervensi. R/ Meningkatkan sirkulasi dan ekstremitas kulit dan menurunkan risiko terjadinya ekstremitas kulit. lokasi dan intensitas. e. Gangguan mobilisasi fisik b. R/ Mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan. 4) Berikan perawatan kulit dan linen tetap bersih tidak berkerut. 2) Ajarkan teknik relaksasi : tarik napas dalam . 5) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan R/ Pemberian cairan penting bagi pasien dengan suhu tinggi. 2) Ubah posisi pasien secara teratur. eliminasi klien dapat terpenuhi. TTV. R/ menentukan dan memberikan tindakan yang tepat. c.d peningkatan tekanan intracranial. 4) Pantau dan catat status neurologis dan bandingkan dengan nilai standar. Hasil Yang Diharapkan : .

Rencana Tindakan : 1) Kaji keluhan sesak napas. 4.Hemiparese . kaku.Kesulitan mengunyah/menelan c) Pola aktifitas . Perencanaan a. suara napas. Potensial terhadap kerusakan pertukaran gas b.Merasa lemah.Kehilangan tonus otot.Perubahan kesadaran. hilang keseimbangan . 4) Kolaborasi medik untuk pemberian analgetik R/ Mengurangi rasa nyeri. DP. muntah .d trauma. 2. 3. letargi . apnea) 2. jumlah.Mempunyai pertukaran gas yang normal yang ditandai dengan • Gas arteri normal • Bunyi napas bersih tanpa bunyi-bunyi tambahan • Melakukan napas dalam dan mengubah posisi secara langsung.Cedera (trauma) . Post Operasi 1. d) Eliminasi . . aspirasi dan imobilisasi. dehidrasi dan infeksi. 3) Anjurkan minum 250 cc/hari bila tidak ada kontra indikasi.Keadaan luka dan balutan : tidak ada perdarahan b) Pola nutrisi metabolik .d kelemahan fisik.d edema cerebral 3. R/ Suara napas berkurang menunjukkan akumulasi sekret. Nyeri b. kecepatan.d hipoventilasi. irama. konsistensi) R/ Sebagai penentu dalam kemajuan terapi.R/ Ketegangan syaraf yang mengendur akan mengurangi nyeri.d kerusakan hipotalamus.Adanya keluhan napas (sesak. 5. 3) Beri posisi tidur yang nyaman untuk pasien dengan atau tanpa bantal.Gelisah . R/ TIC akan turun dan mengurangi nyeri. lelah.Pusing . Gangguan pemenuhan aktifitas dan latihan b. 2) Catat karakteristik sputum (warna. ronchi. Pengkajian a) Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan . Diagnosa Keperawatan 1.Inkontinensia kandung kemih atau mengalami gangguan fungsi e) Pola persepsi sensori dan kognitif .Keluhan mual.I : – HYD : . Potensial terhadap ketidakefektifan termoregulasi b.Keluhan nyeri pada kepala . Perubahan perfusi jaringan serebral b.

II: Perubahan perfusi jaringan cerebral b.Mematuhi perintah dengan respon motorik yang tepat. bicara normal .d kelemahan fisik Hasil Yang Diharapkan : . 4) Kaji tempat insisi R/ Mengetahui adanya kemerahan. 5) Anjurkan pada pasien untuk menghindari batuk. 4) Berikan posisi fowler R/ Meminimalkan expansi paru dan memudahkan dalam bernapas. 3) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan akan perawatan diri klien. nutrisi terpenuhi. d. atau meniup hidung. R/ Mencegah gangguan pada sistem pemantau TIC. R/ Dapat menyebabkan (CS dengan menciptakan takanan pada tempat operasi). Rencana Tindakan : 1) Kaji TTV R/ Mengkaji tingkat kesadaran dan responnya. 2) Anjurkan tirah baring R/ Mempertahankan suhu tubuh pasien.Membuka mata sesuai perintah.. Rencana Tindakan : 1) Kaji kemampuan pasien dalam memenuhi aktifitasnya. b. R/ Menentukan tindakan yang harus diberikan pada pasien. c. Gangguan pemenuhan perawatan diri b.R/ Mengencerkan lendir agar dapat dibatukkan. toileting. Diposkan oleh ielhams nurrsyah Ogle di 10. bau yang menyengat.d edema serebral. DP. .Tercapainya pengaturan suhu dan suhu tubuh dalam batas normal. 2) Bantu perawatan diri klien sesuai dengan kebutuhan klien. 3) Kaji tanda-tanda peningkatan TIC R/ Menentukan tindakan keperawatan yang tepat. HYD: Tercapainya hemokonsentrasi neurologis/meningkatnya perfusi jaringan cerebral yang ditandai dengan : . R/ Kebutuhan dapat terpenuhi sehingga memberikan rasa nyaman. 2) Ubah posisi pasien tiap dua jam. Rencana Tindakan : 1) Monitor TTV R/ Panas tubuh yang tidak turun-turun kemungkinan adanya kerusakan hipotalamus.Kebutuhan perorangan seperti higiene.III : – HYD : . menggunakan kata-kata yang dikenal.04 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Beranda Langganan: Entri (Atom) Pengikut . nyeri tekan. DP. hernia. R/ Kerjasama dapat meningkatkan pemenuhan perawatan diri klien.Pasien tidak mengeluh lemas.

Arsip Blog  ▼ 2011 (1) o ▼ Desember (1)  luka kraniotomi Mengenai Saya ielhams nurrsyah Ogle Lihat profil lengkapku .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->