P. 1
Energi, Lemak, Dan Natrium Terhadap Profil Lipid

Energi, Lemak, Dan Natrium Terhadap Profil Lipid

|Views: 174|Likes:
Published by Herman Pasrah

More info:

Published by: Herman Pasrah on Aug 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

ABSTRAK Hermansyah, 2013.

Gambaran Tingkat Konsumsi Energi, Lemak Dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penyakit Jantung Koroner Di Ruang Rawat Inap Rsud Waluyojati Kraksaan. Program Studi DIII Gizi Malang, Jurusan Gizi. Politeknilk Kesehatan Kemenkes Malang. Pembimbing Utama : Endang Widajati, SST., M. Kes, pembimbing Pendamping : Dwie Soelistyorini, SST.,M. Kes. Penyakit jantung koroner merupakan suatu penyakit pengerasan dinding pembuluh darah baik arteri yang kecil maupun yang besar yang disebabkan penimbunan lemak dan meningkatkan permeabilitas komponen plasma seperti trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol sehingga zat-zat tersebut masuk ke dalam arteri dan mengalami penyempitan. Tujuan umum penelitian ini yaitu mengkaji gambaran tingkat konsumsi energi, lemak dan natrium terhadap profil lipid pasien penyakit jantung koroner di ruang rawat inap RSUD Waluyojati Kraksaan. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengetahui karakteristik pasien, terapi diet pasien, tingkat konsumsi lemak dan kolesterol, tingkat konsumsi natrium, dan mengetahui profil lipid pasien penyakit jantung koroner (HDL, LDL, TG dan Kolesterol Total). Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah observasional deskriptif, dengan design penelitian berupa studi kasus yang dilaksanakan pada bulan Juli 2013. Subjek penelitian sebanyak 10 pasien dengan kriteria yang telah ditetapkan. Data yang dikumpulkan yaitu gambaran umum pasien, data kebutuhan energi dan zat gizi, data terapi diet, data asupan energi dan zat gizi, data asupan natrium, data pengukuran tekanan darah, dan data profil lipid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dan didiagnosa penyakit jantung koroner serta ada 2 pasien dengan komplikasi hipertensi, 1 pasien dengan komplikasi Diabetes Mellitus (DM). Diet yang diberikan berupa Diet Jantung 1500 Kkal + RG dan 1700 Kkal + RG. Asupan energi, lemak dalam kategori defisit masing-masing 9 dan 5 orang pasien. Sedangkan tingkat konsumsi kolesterol tergolong baik sebanyak 9 pasien dan 1 pasien dalam kategori buruk. Begitu juga perkembangan tekanan darah pasien yaitu pada hasil akhir menunjukkan 10 pasien tekanan darahnya tergolong normal. Perkembangan profil lipid (kolesterol total, Trigliserida, HDL, dan LDL) pada saat akhir penelitian yaitu untuk kolesterol total tidak ada perubahan, untuk TG dan LDL ada perkembangan perubahan yaitu masing-masing 8 dan 4 pasien dalam kategori normal. sedangkan untuk profil lipid HDL yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak 7 pasien. . Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada pihak rumah sakit supaya Standar diet perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasien, dan memberikan penyuluhan tentang pemilihan jenis bahan makanan supaya pasien tidak sembarangan mengkonsumsi makanan dari luar. Kata kunci : Penyakit jantung koroner, terapi diet, tingkat konsumsi energi, lemak, dan natrium, profil lipid, tekanan darah

i

ABSTRACT Hermansyah, 2013. Overview Energy Consumption, Fat And Sodium Against Lipid Profile of Coronary Heart Disease Patients In Hospital Inpatient Room Waluyojati Kraksaan. Malang Nutrition Studies Diploma Program, Department of Nutrition. MoH Health Politeknilk Malang. Main supervisor: Endang Widajati, SST., M. Kes, supervising companion: Dwie Soelistyorini, SST., M. Kes. Coronary heart disease is a disease hardening of the arterial walls of blood vessels either small or large induced fat accumulation and increase the permeability of the plasma components such as triglycerides, phospholipids, and cholesterol so that these substances into the arteries and narrowed. The general objective of this research is assessing level overview of energy consumption, fat and sodium on the lipid profile of patients of coronary heart disease in hospital wards Waluyojati Kraksaan. While the goal was to determine the characteristics of the particular patient, diet therapy patients, the level of fat and cholesterol intake, sodium consumption levels, lipid profile and determine coronary heart disease patients (HDL, LDL, TG and total cholesterol). This type of research used in this study was an observational descriptive, with a design case study research that was conducted in July 2013. Research subjects, 10 patients with established criteria. The data collected is an overview of the patient, the data needs of energy and nutrients, dietary therapy of data, the data energy and nutrient intake, sodium intake of the data, the data measurement of blood pressure, and lipid profile data. The results showed that patient sex and the men and women diagnosed with coronary heart disease, and there were 2 patients with complications of hypertension, 1 patient with complications of Diabetes Mellitus (DM). Given a diet Diet Heart 1500 Kcal and 1700 Kcal + RG + RG. Energy intake, fat deficits in each category 9 and 5 patients. While the level of consumption is quite good cholesterol as much as 9 patients and 1 patient in the poor category. So also the development of the patient's blood pressure at the final results showed 10 patients classified as normal blood pressure. Development of the lipid profile (total cholesterol, triglycerides, HDL, and LDL) at the end of the study was to no change in total cholesterol, TG and LDL to no change in the development of each of 8 and 4 patients in the normal category. whereas for HDL lipid profiles were included in the low category by 7 patients. . Based on this research to the hospital suggested that dietary standards need to be adjusted to the needs of the patient, and providing information about the selection of the type of food that the patient does not carelessly taking food from outside. Keywords: Coronary heart disease, diet therapy, the level of energy consumption, fat, and sodium, lipid profile, blood pressure

ii

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Gambaran Tingkat Konsumsi Lemak dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penderita Penyakit jantung Di RSUD Waluyojati Kraksaan” sehubungan dengan selesainya karya tulis ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada : 1. Direktur Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan Probolinggo 2. Kepala Instalasi Gizi RSUD Waluyojati Kraksaan yang telah memberikan arahan selama proses penelitian 3. Kepala Ruang Rekam Medik, Ruang MASKIN, Ruang DALAM, Ruang Paviliun Utama, Ruang ICU Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan 4. B. Doddy Riyadi. SKM.,MM selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang 5. I Dewa Nyoman Supariasa, MPS selaku Ketua Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang 6. I Nengah Tanu Komalyna, DCN. SE., selaku Ketua Program Study DIII Jurusan Gizi Politeknik KesehatanKemenkes Malang ketua penguji 7. S. Rum Teguh K, SKM, M.Kes., selaku ketua penguji Karya Tulis Ilmiah 8. Endang Widajati, SST, M.Kes selaku pembimbing I Karya Tulis Ilmiah 9. Dwie Soelistyorini, SST, M.Kes selaku pembimbng II Karya Tulis Ilmiah 10. Pasien yaitu penderita penyakit jantung yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan penelitian 11. Kedua orang tua, teman-teman dan berbagai pihak yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan do’a. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Malang, 21 Juli 2013

Penulis

iii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN ABSTRAK ............................................................................................................... i ABSTRACT ............................................................................................................ ii KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv HALAMAN JUDUL.............................................................................................. iv LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... iv DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii

BAB I A. Latar Belakang ............................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 3 D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyakit Jantung Koroner ............................................................................ 5 1. 2. 3 4 5 Definisi ..................................................................................................... 5 Patofisiologi.............................................................................................. 6 Etiologi....................................................................................................... 6 Gejala Klinik .............................................................................................. 8 Faktor Resiko penyebab Jantung menurut Price (2006) .......................... 10

B. Tingkat konsumsi Lemak dan kolesterol ................................................... 11 C D. Tingkat Konsumsi Natrium ........................................................................ 13 Profil Lipid ............................................................................................... 14

E. Terapi diet penyakit jantung ....................................................................... 16 1. Menurut Persagi, 1996 ............................................................................. 16 2.Menurut Almatsier, 2004 sebagai berikut : ................................................ 17 F. Intervensi dan pendidikan pasien menurut (Mary Courtney Moore, 1997) 18
iv

BAB III Kerangka Konsep .............................................................................................. 22

BAB IV A. Desain Penelitian ........................................................................................ 24 B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................... 24 C. Instrumen Pengumpulan Data .................................................................... 24 E. Metode Sampling .......................................................................................... 26 F. Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 26

G. Metode Pengolahan dan Analisi Data ........................................................ 28 H. Etika Penelitian .......................................................................................... 29

BAB V A. Karakteristik Pasien ................................................................................... 30 B. Terapi Diet Rumah Sakit ............................................................................ 35 C. Tingkat Konsumsi Energi, Lemak, Kolesterol, dan Natrium..................... 37 D. Profil Lipid Pasien ..................................................................................... 41

BAB VI A. Kesimpulan ................................................................................................... 43 B. Saran ........................................................................................................... 44

DAFTAR PUSTAKA Lampiran lampiran 1…………………………………………………………………48 lampiran 2………………………………………………………………….59 lampiran 3………………………………………………………………….50 Lampiran 4. .................................................................................................... 51 Lampiran 5 ..................................................................................................... 53 Lampiran 6 ..................................................................................................... 55 Lampiran 7 ..................................................................................................... 56

v

Lampiran 8 ..................................................................................................... 62 Lampiran 9 ..................................................................................................... 64 Lampiran 10 ................................................................................................... 65 Lampiran 11 ................................................................................................... 66 Lampiran 12 ................................................................................................... 67 Lampiran 13 ................................................................................................... 68 Lampiran 14 ................................................................................................... 69 Lampiran 15 ................................................................................................... 70 Lampiran 16 ................................................................................................... 71

vi

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel ................................................................. 25 Tabel 2. Kebutuhan Energi Berdasarkan Kategori Aktivitas Fisik ...................... 27 Tabel 3. Kebutuhan Energi Berdasakan Kategori Faktor Stres ............................ 27 Tabel 4. Kadar Lipid Serum Normal..................................................................... 29 Tabel 5. Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Medis, Jenis Kelamin, Umur, Status Gizi, dan Tekanan Darah ............................................................................ 30 Tabel 6. Riwayat Gizi Dahulu ............................................................................... 32 Tabel 7. Perkembangan Tekanan Darah Pasien .................................................... 33 Tabel 8. Standar Diet Rumah Sakit Umum Daerah Waluyo Jati Kraksaan .......... 35 Tabel 9. Tingkat Konsumsi Energi Pasien ............................................................ 37 Tabel 10. Tingkat Konsumsi Lemak ..................................................................... 38 Tabel 11. Asupan Kolesterol ................................................................................. 38 Tabel 12. Asupan Natrium .................................................................................... 39 Tabel 13. Perkembangan Profil Lipid ( Kolesterol Total) Pasien ......................... 41 Tabel 14. Data Karakteristik Pasien Pasien Berdasarkan Antropometri, Tekanan Darah dan Riwayat Gizi Dahulu ........................................................................... 55 Tabel 15. Asupan Pasien Selama 3 hari ................................................................ 56 Tabel 16. Terapi Diet Pasien Asupan Energi Dan Zat Gizi Subjek Selama Penelitian ............................................................................................................... 62 Tabel 17. Nilai Laboratorium Profil Lemak Pasien Selama Penelitian Di Rumah Sakit Waluyojati Kraksaaan .................................................................................. 64 Tabel 18. Status Gizi Pasien................................................................................. 65 Tabel 19. Data Perkembangan Tekanan Darah Pasien Selama 3 Hari ................. 66 Tabel 20. Terapi Diet Pasien ................................................................................. 67 Tabel 21. Asupan Energi Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit .......................................................................................................... 68 Tabel 22. Asupan lemak Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit .......................................................................................................... 69 Tabel 23. Asupan Kolesterol Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit .......................................................................................................... 70 Tabel 24. Asupan Natrium Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit .......................................................................................................... 71

vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung merupakan penyakit nomor satu di dunia dalam artian penyakit yang paling banyak ditemukan diseluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa penyakit jantung, infeksi dan kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama kematian di dunia, serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh nomor satu dengan raihan 29 persen kematian global setiap tahun. Peringkat kedua diduduki penyakit infeksi dengan 16,2 persen kematian, disusul kanker yang diklaim menyebabkan 12,6 persen kematian di dunia (Kompas, 2008). Adapun menurut Soediawan 2009, Indonesia merupakan salah satu negara yang menduduki sebagai penyebab kematian yang banyak (17,5 juta) ditahun 2005. Pendapat ini setara dengan Lenterabiru 2002, angka kematian akibat Penyakit jantung yang diperkirakan meningkat 11 juta pada tahun 2020 (J.B. Suharjo, 2008). Pola makan yang kurang baik merupakan penyebab dari penyakit degeneratif salah satunya penyakit jantung koroner. Mengkonsumsi energi berlebihan akan disimpan dalam tubuh. Dalam hal ini penghasil energi atau kalori utama yaitu lemak dan karbohidrat namun yang paling banyak dikonsumsi adalah

karbohidrat. Konsumsi kalori dari karbohidrat yang berlebihan diubah oleh tubuh menjadi lemak tubuh, yang mengakibatkan terjadinya berat badan berlebih atau kegemukan (Almatsier, 2004). Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan Khomsan 2003, bahwasanya meningkatnya konsumsi kalori dalam bentuk karbohidrat dan lemak akan meningkatkan aktifitas sistem saraf simpatetik sehingga mempercepat denyut jantung dan mikromolekuler dari karbohidrat dan lemak yang dapat meningkatkan profil lipid dalam darah kemudian dibawa ke jaringan dan organ tubuh sehingga mengakibatkan seseorang gemuk atau

obesitas. Itulah sebabnya orang yang gemuk karena kelebihan konsumsi lemak sering mengalami jantung koroner. Bagi orang yang menderita penyakit jantung tingkat konsumsi natrium harus dikurangi karena menyebabkan beberapa penyakit penyerta lainnya.

1

Pengaruh konsumsi garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung, dan tekanan darah (Suyono 2001), pendapat ini senada dengan Beevers 2002 yaitu, Konsumsi garam memiliki efek langsung terhadap tekanan darah karena garam mengandung natrium yang

merupakan cairan ekstra sel sehingga dapat mempengaruhi tekanan darah. Para peneliti yang bekerja dalam sebuah penelitian besar yang dilakukan pada 2007 menemukan bahwa pasien dengan tekanan darah tinggi yang normal mendapat keuntungan secara signifikan dengan mengurangi asupan garam mereka, oleh karena itu risiko mereka menderita penyakit jantung koroner menurun hingga 25 persen untuk 10 hingga 15 tahun mendatang. Kemungkinan mereka meninggal akibat penyakit jantung koroner juga turun sebanyak 20 persen (Kompas, 2011). Rumah Sakit Waluyojati Kraksaan merupakan salah satu rumah sakit rujukan di daerah probolinggo. Berdasarkan hasil studi pendahuluan penyakit jantung merupakan peringkat dua dari lima peringkat besar penyakit di RSUD Waluyojati, disamping itu jumlah pasien yang membutuhkan diet jantung sebagian besar mengalami penambahan ( laporan bulanan instalasi gizi RSUD Waluyojati Kraksaan tahun 2012) yaitu pada bulan Agustus sebanyak 58 dan pada bulan September 69 pasien. Sedangkan dari hasil rekam medik terkait dengan persentase pasien yang terdiagnosa penyakit jantung dan menjalani rawat inap mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2009 sebanyak 241 pasien, 2010 sebanyak 247 pasien, dan pada tahun 2011 sebanyak 288 pasien, sehingga persentase pada tahun 2009 ke 2010 sebesar 2,4% dan pada tahun 2010 ke 2011 sebesar 14%. Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji Tingkat Konsumsi Energi, Lemak dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penyakit Jantung Koroner di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan

2

B. Rumusan Masalah Bagaimana Tingkat Konsumsi Energi, Lemak dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Waluyojati Kraksaan.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Gambaran Tingkat Konsumsi Energi, Lemak Dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penyakit Jantung Koroner di RSUD Waluyojati Kraksaan.

2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah : a. Mengetahui karakteristik (diagnosa pasien, umur, jenis kelamin, status gizi, riwayat gizi dan tekanan darah) pasien penyakit jantung koroner di Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan b. Mengetahui terapi diet yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan c. Mengetahui tingkat konsumsi lemak dan kolesterol, natrium pasien penyakit jantung di Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan d. Mengetahui profil lipid pasien penyakit jantung (HDL, LDL, TG, Kolesterol total)

3

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Rumah Sakit Meningkatkan upaya pelayanan maksimal dalam memberikan terapi diet pada pasien penyakit jantung koroner khususnya standar diet untuk menstabilkan kadar profil lipid pasien. 2. Bagi Peneliti Memberikan wawasan serta pengalaman nyata kepada peneliti mengenai gambaran tingkat konsumsi lemak dan natrium terhadap profil lipid pasien penyakit jantung koroner.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyakit Jantung Koroner 1. Definisi Pembuluh darah koroner merupakan penyalur aliran darah (membawa 02 dan makanan yang dibutuhkan jantung agar dapat berdifusi dengan baik. penyakit jantung koroner adalah salah satu akibat utama arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah nadi) yang dikenal sebagai atherosklerosis. Pada keadaan ini pembuluh darah nadi menyempit karena terjadi endapan-endapan lemak (atheroma dan plaques) pada dinding pembuluh darah (Price, 2006). Aterosklerosis merupakan suatu penyakit pengerasan dinding pembuluh darah baik arteri yang kecil maupun yang besar yang disebabkan penimbunan lemak, trombosit, leukosit dan makrofag di lapisan sel endotelium dan akhirnya ke lapisan otot polos. Infeksi atau kelainan pada sel endotelium meningkatkan

permeabilitas komponen plasma seperti trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol sehingga zat-zat tersebut masuk ke dalam arteri dan mengalami penyempitan (Price, 2006). Oksidasi asam lemak tersebut menghasilkan radikal bebas yang merusak pembuluh darah. Hal itu merupakan awal terjadinya inflamasi dan gangguan pada imun yaitu sel darah putih yang mengeluarkan sitokin proinflanmatori poten dan dapat mengaktifkan sel T dan sel B, sel tersebut menarik lebih banyak sel darah putih dan menstimulasi proses koagulasi darah ke area lesi (Taylor 2006). Pada saat penempelan di lapisan endotelium terjadi osmolaritas interstisial yang dapat memperburuk siklus inflamasi. Akumulasi sel darah putih dan pelepasan mediator inflamasi merupakan suatu akibat dari gabungan penyebab terbentuknya lesi di dinding pembuluh darah. Selain itu kolesterol dan asam lemak mendapat akses ke tahap indikasi kerusakan arteri dan agregasi trombosit mulai meningkat dan membentuk koagulasi darah yang menumpuk (trombus). Penimbunan kolesterol dan asam lemak membentuk deposit jaringan parut dan profilerasi sel otot polos (Price, 2006).

5

2.

Patofisiologi Aterosklerosis koroner pembuluh arteri, semakin bertambahnya umur dalam

arteri juga terjadi proses seperti penebalan lapisan intima, berkurangnya elastisitas, penumpukan kalsium dan bertambahnya lapisan intima , perubahan variabel intima arteri yang merupakan akumulasi fokal lemak, kompleks karbohidrat, darah dan hasil produk darah, jaringan fibrous dan deposit kalsium yang kemudian diikuti oleh perubahan lapisan media (WHO, 1958). Menurut Price, 2006 pembuluh arteri koroner terdiri dari tiga lapisan yaitu : Tunika intima yang terdiri dari dua bagian. Lapisan tipis sel-sel endotel merupakan lapisan yang memberikan permukaan licin antara darah dan dinding arteri serta lapisan sub endotelium. Sel ini menghasilkan prostaglandin, heparin dan aktivator plasminogen yang membantu mencegah agregasi trombosit dan vasokonstriksi, dan juga jaringan ikat yang memisahkan dengan lapisan yang lain. Lapisan otot jantung yaitu tunika media merupakan lapisan otot dibagian tengah dinding arteri yang mempunyai tiga bagian; bagian sebelah dalam disebut membran elastin internal kemudian jaringan fibrus otot polos dan sebelah luar memberana elastika eksterna.Tunika adventisia umumnya mengandung jaringan ikat dan dikelilingi oleh vasavasorum yaitu jaringan arteriol (Price, 2006). Pada pembuluh koroner terlihat penonjolan yang diikuti dengan garis lemak (fattystreak) pada intima pembuluh yang timbul sejak umur di bawah 10 tahun. Pada kebanyakan orang umur 30 tahun garis lemak ini tumbuh lebih progresif menjadi fibrous plaque yaitu suatu penonjolan jaringan kolagen dan sel-sel nekrosis.Lesi ini padat, pucat berwarna kelabu yang disebut ateroma. Lesi kompleks terjadi apabila pada plak fibris timbul nekrosis dan terjadi perdarahan trombosis, ulserasi, kalsifikasi atau aneurisma (Price, 2006).

3

Etiologi a. ateroklerosis Penyumbatan pembuluh darah di tunika intima karena adanya penimbunan lipid dan jaringan fibrosa dalam arteri koronaria. Akibat itu terjadi

penyempitan pembuluh darah. Secara otomatis terjadi resistensi terhadap aliran darah meningkat. Kemungkinan yang terjadi yaitu penurunan vaskularisasi untuk melebar. Vaskularisasi menyebabkan nutrisi dan oksigen
6

tidak terbawa ke jantung dengan baik dan pada tahap selanjutnya terjadi \iskemik. Plak ateroma juga sering menonjol melalui intima masuk aliran darah dan permukaan plak yang kasar menyebabkan terbentuknya bekuan darah, dengan akibatnya trombus atau embolus ( Guyton, Arthur C, 1997). Penyebab ateroklerosis berdasarkan Elizabeth J. Corwin (2009) antara lain yaitu : 1) Kolesterol serum yang tinggi Kadar kolesterol serum dan trigliserida yang tinggi dan dapat menyebabkan pembentukan aterosklerosis. Kolesterol dalam darah tebungkus oleh lipoprotein. Lipoprotein yang tinggi (HDL) membawa lemak keluar sel untuk diuraikan dan diketahui bersifat protektif terhdap ateroklerosis. Lipoprotein yang berdensitas rendah (LDL) dan yang sangat rendah (VLDL) membawa lemak ke sel tubuh. 2) Obesitas Masalah obesitas meningkat pada pria maupun wanita, yang berhubungan dengan gaya hidup yang kurang gerak (olahraga). Peningkatan Body Mass Index (BMI) menambah rasio kejadian serangan jantung dan kematian karenanya. Berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara BMI dengan lemak tubuh dan risiko terkena penyakit degeneratif atau risiko kematian karena penyakit degeneratif ( Riyadi, 2001). 3) Tekanan darah tinggi Tekanan darah yang tinggi secara kronis dapat menimbulkan gaya regang/potong yang merobek lapisan endotel arteri dan arteriol. Gaya regang terutama timbul ditempat-tempat arteri bercabang (bifurkasi) atau membelok. Robeknya lapisan endotel maka timbul kerusakan yang berulang-ulang sehingga terjadi peradangan, penimbunan sel darah putih dan trombosit, serta pembekuan (Elizabeth J. Corwin, 2009). 4) Trombosis Trombosis adalah pemadatan isi darah yang pembentukannya terjadi di dalam sistem pembuluh darah. Ada tiga faktor predisposisi terbentuknya trombus yaitu :  Perubahan pada permukaan intima pembuluh darah

7

 

Perubahan pada pola aliran darah Perubahan pada kandungan darah (Elizabeth J. Corwin, 2009).

5) Emboli Embolus adalah masa yang beredar dalam sistem pembuluh darah dan kemudian dapat berhenti serta menutup lumen pembuluh darah. Bahan embolus tersebut dapat berasal dari tubuh atau dari luar tubuh baik berupa padat, cairan maupun gas. Emboli beredar dalam peredarah darah melewati cabang pembuluh darah sampai mencapai pembuluh darah kecil sehingga masa emboli tersebut berhenti karena tidak dapat melewati dan berefek pada sirkulasi kolateral yang menuju pada arteri tersebut tidak sampai (Elizabeth J. Corwin, 2009).

b.

Infark Miokard Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari pengobatan karena

rasa sakit didada. Namun demikian ,gambaran klinis bisa bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, sampai pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara cepat berkembang menjadi syok dan edem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal.

4

Gejala Klinik Gejala klinik penyakit jantung pada usia dewasa muda jarang sekali

dinyatakan oleh pasien secara langsung, tanda dan gejala tidak khas dan asimtomatic.banyak studi menunjukkan hanya sekitar 3 % dari semua kasus penyakit jantung tejadi dibawah 40 tahun. Yang menjadi ciri khas dan merupakan faktor tunggal yang berhubungan kuat atas kejadian penyakit jantung pada usia muda adalah merokok sigaret menemukan pada pasien yang menjadi kajian pada framingham heart study memiliki resiko 3 kali lebih tinggi pada perokok usia 35 – 45 tahun. Berdasarkan Price, 2006 gejala klinik pada penyakit jantung sebagai berikut : a. Angina pektoris

8

Angina pektoris adalah jeritan otot jantung yang merupakan sakit dada kekurangan oksigen. Satu gejala klinik yang disebabkan oleh iskemia miokard yang sementara. Akibat dari ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen dan kemampuan pembuluh darah koronaria untuk menyediakan oksigen secukupnya guna kontraksi miokard. Ada beberapa subyek klinik terkait dengan angina pektoris antara lain yaitu :

1) Angina pektoris stabil. Angina pektoris stabil yaitu frekuensi gejala yang timbul tetap baik lamanya maupun kadar pencetusnya. Rasa nyeri sering menjalar ke lengan kiri atas/bawah bagian medial leher, daerah maksila hingga dagu atau punggung, tetapi jarang menjalar ke tangan. 2) Angina pektoris tidak stabil. Angina pektoris tidak stabil yaitu pola gejala yang timbul berubahberubah, baik frekuensinya, lamanya, maupun yang dirasakan. Nyeri bersifat progresif dengan frekuensi timbulnya nyeri yang sering bertambah. 3) Angina variant Angina variant disebabkan karena terjadinya spasme arteri koroner. Kejadian tidak didahului oleh meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Hal ini dapat terjadi pada arteri koroner yang mengalami stenosis ataupun normal. Proses spasme biasanya bersifat lokal hanya melibatkan satu arteri koroner, dan sering terjadi pada daerah arteri koroner yang mengalami stenosis. 4) Gejala dan Tanda angina pekoris  Nyeri seperti dipukul/ditimpa benda berat disertai nyeri abdomen (kadang-kadang) dan bangguan pencernaan (mual, muntah-muntah dan anoreksia).   Nyeri timbul secara tiba-tiba lebih hebat dan lebih lama dari angina pektoris Faktor-faktor yang dihubungkan dengan nyeri :

 Aktifitas
9

 Stress  Istirahat.

5

Faktor Resiko penyebab Jantung menurut Price (2006) a. Terkendali 1) Hipertensi Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung,

sehingga menyebabkan hipertropi ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel kiri (faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat dan lamanya hipertensi. Serta tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis koroner (faktor koroner). Hal ini menyebabkan angina pektoris, insufisiensi koroner dan miokard infark lebih sering didapatkan pada penderita hipertensi dibandingkan orang normal. 2) Kadar Kolesterol dalam Darah Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh derah tersebut menyempitdan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga aliran darah pada pembuluh derah koroner yang fungsinya memberi suplay oksigen dan nutrisi terganggu atau menjadi kurang. Itu akan menyebabkan otot jantung menjadi lemah,sakit dada, serangan jantung bahkan kematian. 3) Merokok Efek rokok adalah menyebabkan beban miokard bertambah karena rangsanganoleh katekolamin dan menurunnya konsumsi 02 akibat inhalasi CO. Katekolamin juga dapat menambah reaksi trombosis dan juga menyebabkan kerusakan dindingarteri, sedangkan glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif dinding arteri. Di samping itu rokok dapat menurunkan kadar HDL kolesterol tetapi mekanismenya belum jelas. Makin banyak jumlah rokok yang diisap, kadar HDL kolesterol makin menurun. 4) Kegemukan

10

Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL kolesterol. Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah. Mekanismenya belum jelas, akan tetapi terjadi peningkatan tipe IV hiperlipidemia dan hipertrigliserid, pembentukan platelet yang abnormal dan DM yang disertai obesitas dan hipertensi. 5) Diabetes Mellitus Diabetes mellitus (DM) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi normal. Menurut WHO (1985), kadar gula darah normal waktu puasa tidak boleh melebihi 120 mg/dl dan kadar gula darah 2 jam setelah makan kurang dari 200 mg/dl. Penderita DM memilliki resiko relatif 2 kali lebih besar terkena penyakit jantung dibanding yang bukan DM. 6) Stres Ketegangan saraf (stres) juga berperan atas terjadinya penyakit jantung. Sebab dampak stres dan selalu tegang akan menimbulkan gangguan irama jantung yang bisa berakibat fatal. Selain itu juga secara langsung maupun tidak langsung dapat mengganggu aliran darah koroner, karena stres memicu pengeluaran zat katekolamin yang dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah jantung serta peningkatan denyut jantung, sehingga dapat menyebabkan terganggunya suplai darah ke jantung. b. Tidak Terkendali Ini merupakan faktor yang tidak dapat dirubah yaitu : 1) Jenis kelamin 2) Usia > 35 tahun 3) Keturunan

B. Tingkat konsumsi Lemak dan kolesterol Lemak atau lipid adalah ikatan organik yang terdiri dari unsur-unsur karbon, hidorgen dan oksigen yang bersifat larut dalam pelarut lemak seperti benzena dan eter (Lubis, 2009). Lemak adalah makanan terdiri dari trigliserida, kolesterol dan fosfolipid dan terbanyak dalam bentuk trigliserida. Berdasarkan ikatan lemaknya dan kemudahan proses pencernaan, lemak yang mengandung asam lemak jenuh tunggal yang mudah dicerna, dan lemak

11

mengandung asam lemak jenuh sulit dicerna. Makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan tunggal umumnya berasal dari makanan nabati, kecuali minyak kelapa. Makanan sumber asam lemak jenuh umumnya berasal dari hewan. Mengkonsumsi lemak hewani secara berlebih dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri sehingga dapat menyebabkan penyakit jantung dan menderita penyakit jantung. Namun membiasakan makan ikan dapat mengurangi risiko menderita penyakit jantung, karena lemak ikan mengandung omega 3. Asam lemak omega 3 berperan mencegah terjadinya penyumbatan lemak pada dinding pembuluh darah (lubis, 2009). Lemak didasarkan struktur dan fungsinya berbeda-beda. Komponen utama lemak terdiri dari : asam lemak, turunan asam lemak (ester gliserol, ester kolesterol, dan glikolipid), dan sterol beserta turunannya (kolesterol, asam empedu, steroid, dan komponen minor yaitu vitamin-vitamin yang larut lemak dan prostaglandin). Fungsi utama lemak yaitu menyuplai sejumlah energi dengan volume relatif sedikit, membantu absorpsi vitamin-vitamin larut lemak, sumber asam lemak esensial yang tidak dapat disintesa oleh tubuh ( Piliang & Al-Haj, 2006). Kolesterol adalah salah satu turunan dari lemak yang saat in banyak diteliti karena keterkaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif. kolesterol adalah lemak berwarna kekuning-kuningan dan berupa seperti lilin yang diproduksi oleh tubuh terutama di liver (Heslet, 2007). WHO (1990) dalam Almatsier (2009) menganjurkan konsumsi kolesterol kurang dari 300 mg sehari. Hasil penelitian Jonnalagadda dkk pada tahun 1996 dalam linder 1992, konsumsi tinggi asam lemak jenuh akan meningkatkan kadar koleterol dalam plasma, diperkirakan setiap penambahan asam lemak jenuh 1% dari totral kalori terjadi peningkatan kolesterol darah sebanyak 1, 9 mg/dl. Selain konsumsi yang berpengaruh terhadap penyakit jantung yaitu kurangnya aktifitras fisik. Kolesterol dari penguraian lemak adalah faktor yang mendominasi penyakit degeneratif, salah satunya penyakit jantung. WHO (1997) diacu dalam Almatsier (2009) menganjurkan konsumsi kolesterol kurang dari 300 mg perhari. Kolesterol dalam jumlah banyak yang terdapat dalam darah akan membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan arteri

12

yang disebit artheroklerosis. Anjuran asupan kolesterol dalam pecegahan penyakit degeneratif menurut PERKI (2002) bahwa asupan kolesterol harus dibatasi yakni < 300 mg/hari dengan membatasi konsumsi kolesterol dari makanan yang tinggi lemak hewani. Pengurangan konsumsi kolesterol sampai kadar yang lebih rendah yaitu 200 mg/hari harus dilakukan pembatasan dari diet serta dianjurkan bagi individu yang memiliki kadar kolesterol LDL yang meningkat, diabetes mellitus dan atau penyakit kardiovaskuler.

C

Tingkat Konsumsi Natrium Natrium bersifat mengikat air .pada saat garam dikonsumsi, maka garam

tersebut akan mengikat air sehingga air akan diserap masuk dalam intravaskuler yang menyebabkan meningkatnya volume darah. Apabila volume darah meningkat maka mengakibatkan tekanan darah juga meningkat. Selain itu natrium merupakan salah satu komponen zat terlarut dalam darah. Dengn mengkonsumsi garam konsentrasi zat terlarut akan tinggi sehingga penyerapan air masuk dan selanjutnya menyebabkan peningkatan tekanan darah (Puspitorini 2008).

13

D.

Profil Lipid Lipid merupakan suatu subtansi atau zat yang hanya larut dalam pelarut

organik dan tidak larut dalam air. Sifatnya yang tidak larut air menjelaskan bahwasanya lemak atau lipid dalam plasma darah (yang mengandung air) harus dibawa dalam bentuk ikatan kimia dengan protein plasma yang bersifat hidrofolik dan berukuran relatif besar ( Andry, 2007). Metabolisme lemak dalam tubuh dilakukan di dalam sel lemak dalam jaringan adiposa. Sel-sel adiposa mempunyai enzim khusus pada permukaanya, yaitu lipoprotein lipase (LPL) yang dapat melepas trigliserida dan lipoprotein untuk dihidrolisis dan meneruskan hasil hidrolisis ke dalam sel. Terdapat enzim lain dalam sel yang merakit kembali hasil hidrolisa, sehingga menjadi trigliserida untuk disimpan sebagai cadangan energi ( Andry, 2007). Bahan makanan yang termasuk lemak hewani yaitu udang (lobster, ebi, rebon), otak (sapi, kerbau, domba, kambing, ayam , bebek dll), sumsum, jerohan (hati, paru-paru, usus dll), susu sapi, dan produk olahannya (yogurt, keju, butter, mentega), kuning telur, ikan ( ikan laut, ikan tawar dll), madu. Sedangkan bahan makanan yang termasuk lemak nabati diantaranya minyak goreng (minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak wijen dll), margarine, kacang-kacangan ( kemiri, kacang tanah, kacang kedelai, kacang mente dll), kelapa parut, santan, dan alpukat (Almatsier, 2004). Profil lipid merupakan penguraian dari lemak. Adapun macam-macam lipid yaitu sebagai berikut : 1 Kadar Kolesterol Kolesterol lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh derah tersebut menyempitdan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga aliran darah pada pembuluh derah koroner yang fungsinya memberi suplay oksigen dan nutrisi terganggu atau menjadi kurang. Itu akan menyebabkan otot jantung menjadi lemah,sakit dada, serangan jantung bahkan kematian. Adapun untuk mengetahui tingkat kolesterol yaitu dikategorikan sebagai berikut :

14

a. Normal b. Sedang c. Tinggi

:

200 mg/dl

: 200 – 239 mg/dl : 240 mg/dl

(Mary Courtney Moore, 1997) Makin itnggi kadar kolesterol total dalam darah terjadinya penyakit jantung semakin meningkat. 2 LDL ( Low Density Lipoprotein ) LDL merupakan jenis kolesterol yang bersifat merugikan karena LDL yang meninggi akan menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah. Kadar kolesterol LDL dalam darah dikategorikan menjadi: a. Normal b. Sedang c. Tinggi : 130 mg/dl : 130 – 159 mg/dl : 160 mg/dl

(Mary Courtney Moore, 1997) Makin tinggi kadar LDL dalam darah maka resiko untuk terjadinya penyakit jantung semakin meningkat.

3

HDL ( High Density Lipoprotein ) HDL merupakan jenis kolesterol yang bersifat baik karena dapat mengangkut

kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati dibuang sehingga mencegah penebalan dinding pembuluh darah atau mencegah terjadinya proses

ateriosklerosis. Kadar HDL dalam darah dikategorikan menjadi : a. Normal b. Sedang c. Rendah : ≥ 60 mg/dl : 40 – 59 mg/ dl : < 40 mg/dl

(Sizer F dan Whiney E, 2006). Makin rendah kadar HDL dalam darah maka resiko terjadinya penyakit jantung akan semakin meningkat. Kadar HDL dalam darah dapat dinaikkan dengan mengurangi berat badan, berolahraga, dan berhenti merokok.

4

Kadar Trigliserida Kadar trigliserida dalam darah dikategorikan menjadi :

15

a. Normal b. Sedang c. Tinggi

: < 150 mg/dl : 150 – 199 mg/dl : > 200 – 499 mg/dl

(Sizer F dan Whiney E, 2006). Makin tinggi kadar trigliserida dalam darah maka resiko terjadinya penyakit jantung akan semakin meningkat.

E. Terapi diet penyakit jantung 1. Menurut Persagi, 1996 Penatalaksanaan gizi adalah menurunkan resiko penyakit jantung pada orang dewasa dengan kadar LDL kolesterol tinggi dengan : a. Menurunkan kadar kolesterol LDL di bawah 130 mg/dl pada individu dengan penyakit jantung definitif atau dua faktor resiko penyakit jantung selain resiko tinggi kolesterol LDL. b. Menurunkan kadar kolesterol LDL di bawah 160 mg/dl pada individu yang tidak mempunyai penyakit jantung definitif ataupun dua faktor resiko penyakit jantung selain tingkat resiko tinggi kolesterol LDL. c. Diet penyakit jantung 1) Tujuan diet penyakit jantung adalah :    Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung. Menurunkan berat badan bila terlalu gemuk. Mencegah dan menghilangkan penimbunan garam dan atau air. (Persagi, 1996). 2) Prinsip diet penyakit jantung      Energi cukup Karbohidrat, lemak, dan protein cukup Vitamin dan Mineral cukup

3) Syarat diet penyakit jantung Energi cukup, untuk mencapai danmempertahankan berat badan normal. Protein cukup yaitu 0,8 g/kg BB

16

        

Lemak sedang, yaitu 25 – 30 % dari kebutuhan total, 10% berasl dari lemak jenuh, dan 10 – 15 % lemak tidak jenuh Kolesterol rendah, terutama jika disertai dengan dislipidemia Vitamin da mineral cukup. Hindari penggunaan suplemen kalium, kalsium, dan magnesium jika tidak dibutuhkan. Garam rendah, 2 – 3 gram per hari, jika disertai hipertensi dan edema. Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas. Natrium cukup untuk menghindari konstipasi. Cairan cukup, ± 2 liter/hari sesuai dengan kebutuhan. Bentuk makanan disesuaikan dengan penyakit, diberikan dalam porsi kecil. Bila kebutuhan gizi tidak dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi. ( Rahardja dkk, 2002 )

2.Menurut Almatsier, 2004 sebagai berikut : a. Diet jantung I Diet jantung I diberikan kepada pasien penyakit jantung akut seperti infark miokard atau dekompensasi kordis berat. Diet diberikan berupa 1-1,5 liter cairan / hari pertama bila pasien dapat menerimanya. Diet ini sangat rendah energi dan semua zat gizi, sehingga hanya diberikan selama 1 – 3 hari (Almatsier, 2004) b. Diet jantung II Diet jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Dieta diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung I, atau setelah fase akut dapat diatasi. Jika disertai hipertensi atau edema, diberikan sebagai diet jantung II rendah. Diet ini rendah energi, protein, kalsium, dan tiamin (Almatsier, 2004). c. Diet jantung III Diet jantung III diberikan dalam bentuk makanan lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung II atau kepada pasien jantung dengan kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi dan atau edema, diberikan sebagai diet jantung III garam rendah. Diet ini rendah energi dan kalsium, tetapi cukup zat gizi lain (Almatsier, 2004).

17

d. Diet Jantung IV Diet jantung IV diberikan dalam bentuk makanan lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung III atau kepada pasien jantung dengan keadaan ringan. Jika disertai hipertensi dan atau edema, diberikan diet jantung IV garam rendah. Diet ini cukup energi dan zat gizi lain , kecuali kalsium (Almatsier, 2004).

F. Intervensi dan pendidikan pasien menurut (Mary Courtney Moore, 1997) 1. Kenali kebutuhan untuk perubahan permanen pada diet dan gaya hidup untuk mengurangi risiko. Perubahan diet dan gaya hidup yang permanen termasuk pencapaian pengaturan berat badan, penurunan lemak dan kolesterol diet, tidak merokok, dan mengembangkan cara-cara membangun dalam menghapai stres. Perubahan ini mungkin dapat lebih diterima dan kurang mengecewakan jika pasien dikonsultasikan untuk membuat perubahan secara perlahan. Misalnya, mereka dituntun untuk memilih satu atau dua kebiasaan, seperti merokok atau makan daging 250 gram setiap hari, dan membuat rencan mengubahnya. Ketika perubahan awal ini dibuat, pasien dapat memilih beberapa kebiasaan lainnya yang dikerjakan. 2. Kurangi lemak dan kolesterol dalam diet National Cholesterol Education Program (suatu badan di Amerika Serikat) telah mengkampanyekan bahwa individu dengan kolesterol LDL lebih besar dari atau sama dengan 160 mg/dl dan mereka dengan batas risiko tinggi kolesterol LDL yang juga memiliki penyakit jantung koroner definitif atau dua faktor risiko lainnya maka harus mendapat terapi diet intensif. Program diet dua tahap atau mengurangi pemasukan lemak jenuh dan kolesterol telah dikembangkan. Pemasukan total juga dibatasi untuk menurunkan berat badan. Pada awalnya, pasien mendapat konseling tentang tahap pertama, yaitu mengurangi sumbersumber utama dan yang paling umum dan sangat nyata dari asam lemak jenuh dan kolesterol dalam diet dan dapat dilaksanakan tanpa perubahan drastis pada diet dan gaya hidup untuk hampir seluruh pasien. jika telah melaksanakan diet tersebut

18

selama tiga bulan, pasien tidak berhasil dalam menurunkan kolesterol LDL ke kadar yang diinginkan, dia dapat dipindah ke diet tahap kedua. Sementara dokter dan perawat dapat sering menyediakan pendidikan tentang diet tahap pertama, pengiriman konsul ke ahli gizi sangat berharga bagi pasien yang mempunyai kesulitan dalam mempertahankan dietnya untuk mendapat respon diet yang mengecewakan. Bantuan ahli gizi teruatama diperlukan oleh pasien yang berpindah ke diet tahap dua. Pendidikan diet harus menekankan fakta bahwa perubahan tdak harus berakibat pada makanan yang sangat ketat atau tidak enak dimakan. Makanan yang enak dan menarik dapat disiapkan. Informasi lebih lanjut yang berguna untuk pendidikan yaitu seperti yang telah dikeluarkan oleh American Heart Association yang memerlukan pedoman khusus terhadap diet trahap pertama dan tahap kedua. Informasi khusus tentang setiap kelompok makanan : a. Daging : tidak lebih dari 150 g daging tanpa lemak, ayam, kalkun, dan ikan setiap harinya. Sajian 75 g daging kira-kira sebesar dek kartu bridge. Potongan daging tanpa lemak harus digunakan : daging cincang extra lean (sangat kurus), sirloin tip, round steak, rum panggang, lengan panggang, lengan panggang atau center cut ham, loin chops, dan tender loin.potong dan buang semua bentuk lemak yang kelihatan sebelum memasaknya. Dan tuang atau buang semua lemak yang meleleh setelah dagingnya matang. Kulit dan semua lemak yang terdapat diantara jaringan daging ayam harus dibuang sebelum diamasak. Bagian anggota daging termasuk otak, hati, jantung, buah pinggang, dan daging kelenjar perut dan kerongkongan adalah bagian yang kaya kolesterol dan karenanya harus dihindari. Udang secara relatif kaya akan kolesterol tetapi rrendah lemak dan dapat dimakan sekali-kali. Beberapa jenis ikan ( misal : salmon, sardin, herring, tuna/tongkol, dan ikan pedang) adalah sumber dari asam lemak “omega 3” yang baik. Asam-asam lemak ini dilaporkan dapat menurunkan trigliserida serum dan menghambat penggumpalan trombosit dan peradangan, yang mempunyai

19

kotribusi terhapadap penyakit jantung, walaupun tidak ada bukti pengaruh terhadap kolesterol LDL namun pada studi epidemiologi, konsumsi ikan yang sering baik yang mengandung omega 3 atau tidak tetap berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Untuk menghindari sajian tampaknya kurang banyak dan untuk menekankan pentingnya pergeseran perencanaan makanan sekitar daging, kombinasikan sejumlah daging dengan sejumlah besar nasi, pasta, atau sayuran untuk memenuhi sajian. Kacang-kacangan keringdan kapri dan tahu rendah lemak dan tinggi protein, dan bebas kolesterol dan dapat digunakan untuk menggantikan daging. b. Bahan olahan dari susu : sedikitnya dua sajian susu skim atau equivalennya setiap hari. Lemak susu pada umumnya jenuh, dan karena itu bahan olahan dari susu direkomendasikan dibuat dair susu skim. Keju alami dan olahan pada umumya kaya akan lemak. Keju cottage rendah lemak atau yogurt dapat disubsitusikan ke sour cream untuk saos celupan dan kuah salad pada kentang. c. Telur : batasi kuning telur sampai tiga perminggu pada diet tahap pertama dan satu perminggu pada diet tahap kedua. Kuning telur kaya akan lemak dan kolesterol. Putih telur bebas lemak dan kolesterol dan dapat digunakan sering. d. Buah-buahan dan sayuran : gunakan secara bebas. Buah-buahan dan sayuran memberikan warna, tekstur, vitamin, mineral, dan natrium digunakan sebagai bagian dari makanan setiap bersantap. Bahan nabati tidak mengandung kolesterol, dan hampir semua buah-buahan dan sayuran rendah lemak. Terkecuali buah alpukat dan zaitun, yang didiskusikan pada lemak dan minyak. Gorengan atau penambahan mentega, krim atau saos keju meningkatkan kandungan lemak buah-buahan dan sayuran samapai kadar yang tidak diinginkan. e. Sereal dan roti : tingkatkan penggunaannya untuk menggantikan daging dalam diet. Roti dan sereal merupakan sumber yang baik dari vitamin dan mineral dan biji-bijian utuh juga menyediakan natrium. Walaupun

demikian roti-rotian yang dijual dan bahkan beberapa sereal (seperti

20

granola) sering tinggi lemak. Selain itu roti intan (muffin), pisang dan buah lainnya seperti kacang, roti jagung, pancakes, dan waffles mengandung sejumlah telur yang bermakna. Bahan yang dibuat dirumah dengan putih telur atau pengganti telur dan lemak ataupun minyak yang dapat diberikan. f. Lemak dan minyak : batasi 6 – 8 sendok teh perhari . lemak dan minyak yang tinggi akan lemak jenuh dan atau kolesterol harus sebisa mungkin dihindari. Mentega, lard, dan lemak hewan lainnya yang kaya lemak jenuh dan kolesterol. Minyak ini sering digunakan dalam roti-rotian, makanan olahan, minyak popcorn, dan nondairy creamer. Lemak tidak jenuh adalah lemak yang mengandung satu (monounsaturated) atau lebih (polyunsaturated) ikatan rangkap. Lemak in tidak meningkatkan kolesterol darah, tetapi tinggi kalori dan rendah zat gizi lainnya.

21

BAB III KERANGKA KONSEP Kerangka Konsep Terapi diet Pasien Penyakit Jantung

Tingkat konsumsi energi, lemak dan natrium panyakit jantung koroner

Profil lipid Keterangan : Kolesterol, HDL, LDL dan Trigliserida Faktor Resiko Penyakit Jantung koroner 1. Terkendali  Hipertensi  Hiperkolesterol  Diabetes Milletus Life Stile  Gaya hidup tidak sehat  Merokok Tidak berolahraga 2.     Tidak terkendali Usia Jenis kelamin Keturunan Ras

Diteliti Tidak diteliti

: :

22

Keterangan : Penyakit jantung dipengaruhi banyak faktor risiko yaitu faktor resiko yang terkendali dan faktor resiko yang tidak terkendali. Salah satu faktor risiko yang terkendali dan dapat dirubah yaitu life style. Dalam kerangka konsep peneliti ingin mengetahui tingkat konsumsi energi, lemak dan natrium terhadap profil lipid pasien penyakit jantung.

23

BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan

desain penelitian berupa studi kasus yang memberikan gambaran tentang tingkat konsumsi energi, lemak dan natrium terhdap profil lipid pasien penderita penyakit jantung di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan Probolinggo. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Probolinggo. 2. Waktu : Bulan 1 Juli sampai 10 Juli 2013 : Ruang rawat inap RSUD Waluyojati Kraksaaan

C. Instrumen Pengumpulan Data 1. Alat tulis dan alat hitung 2. Rekam medik 3. Form plate waste 4. Formulir pernyataan kesediaan pasien 5. Form recall 6. Mikrotoa 7. DKBM 8. Daftar URT 9. CD menu 10. Daftar bahan makanan penukar 11. Laptop

24

D. Definisi Operasional Variabel Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Variabel Tingkat konsumsi Energi dan lemak Devinisi Rata-rata jumlah asupan zat gizi yang diperoleh (energi dan lemak) dari makanan dan minuman dibandingkan dengan kebutuhan pasien. Cara dan Alat ukur - Wawancara Food recall 3x24 jam (makanan dari luar rumah sakit) -Metode Come stok -Wawancara Food recall 3x24 jam (makanan dari luar rumah sakit) Metode Come stok Hasil Laboratorium dari rekam medik Skala ukur Rasio Kategori -Baik : ≥ 80% -Sdg : 70 – 79% -Kurang : 60 – 69 % -Defisit : < 60% (DEPKES RI, 1994) Tinggi (mg) ≥ 2400 Normal (mg) 1200 – 2399 Rendah (mg) <1200 (WHO, 1999) Kolesterol total (mg%) Normal <200 Sdg 200 – 239 Tinggi ≥240 LDL (mg%) Normal 150 Sedang 150 – 169 Tinggi 170 HDL (mg%): -Tinggi > 82 -Normal 36 – 82 -Rendah < 40 Trigliserida (mg%) Normal <150 Sdg 150 – 199 Tinggi ≥200 – 499 (RSUD Waluyo jati, 2013 ).

Tingkat konsumsi natrium

Rata-rata jumlah asupan natrium dalam makanan (g/hari) dibandingkan dengan standar

Rasio

Profil lipid

Data laboratorium kadar profil lipid pasien meliputi kadar Kolesterol, HDL, LDL, Trigliserida

Rasio

25

E. Metode Sampling 1. Populasi Populasi yang digunakan dalam penellitian adalah pasien penyakit jantung koroner yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaaan Probolinggo. 2. Kriteria sampel a. Inklusi 1) Penderita yang sedang menjalani rawat inap di Poli penyakit jantung rumah sakit Waluyojati Kraksaan Probolinggo. 2) Diijinkan oleh pihak rumah sakit untuk diteliti (adanya surat izin dari rumah sakit). 3) Pasien bersedia menjadi sampel penelitian (lembar pernyataan

persetujuan). 4) Jenis kelamin laki-laki atau perempuan. 5) Usia ≥ 35 tahun b. Eklusi 1) Pasien meninggal selama penelitian berlangsung. 2) Pasien menolak prosedur penelitian. c. Besar sampel Besar pasien dalam penelitian ini berjumlah 10 orang yang merupakan pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan selama penelitian berlangsung.

F. Metode Pengumpulan Data 1. Data Karakteristik Pasien Data karakteristik pasien didapat dengan wawancara langsung dengan pasien meliputi umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, tekanan darah dan riwayat gizi. Data karakteristik pasien dari data rekam medik dan wawancara dengan pasien. 2. Data terapi diet yang diberikan Data terapi diet yang diberikan oleh pihak rumah sakit meliputi jenis diet, komposisi zat gizi, bentuk makanan, dan cara pemberian makan yang diperoleh dengan cara observasi langsung dan wawancara dengan ahli gizi.
26

3. Data tingkat konsumsi energi, lemak dan kolesterol Data tingkat konsumsi energi diperoleh dengan mengumpulkan data sebagai berikut: a. Asupan energi, lemak dan kolesterol dengan metode come stok dan food recall untuk mengetahui asupan dari luar rumah sakit. b. Menghitung kebutuhan dengan rumus Harris Bennedict sebagai berikut: TEE = BEE x Faktor aktifitas x Faktor stres BEE (Laki-laki) BEE (Perempuan) Keterangan : BB = Berat Badan (Kg) TB = Tinggi Badan (cm) U = Umur (tahun) Dengan memperhatikan faktor aktifitas dan faktor stress sebagai berikut : Tabel 2. Kebutuhan Energi Berdasarkan Kategori Aktivitas Fisik Aktivitas Istirahat total Mobilisasi ditempat tidur Jalan disekitar kamar Ringan ( pegawai, ibu RT dll) Sedang (mahasiswa, pegawai pabrik dll (Sumber : Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang, 2011) Nilai 1,05 1,10 1,20 1,40 1,50 = 66,4 + 13,7 BB + 5 TB – 6,7 U = 665 + 9,6 BB + 1,8 TB – 4,6 U

Tabel 3. Kebutuhan Energi Berdasakan Kategori Faktor Stres Stres Nilai Ringan (peradangan saluran cerna, kanker, bedah 1,4 elektif dll) Sedang (sepsis, bedah tulang, trauma kerangka 1,5 mayor dll) Berat (trauma multipel, bedah multisistem) 1,6 Sangat berat (luka kepala berat, luka bakar dll) 1,7 (Sumber : Almatsier, 2004).

27

c. Menghitung tingkat konsumsi energi, lemak, dan kolesterol dengan rumus x100% 4. Data tingkat natrium Data tingkat konsumsi natrium diperoleh dengan menghitung asupan natrium perhari dan dibandingkan dengan standar 5. Data profil lipid darah Data profil lipid (Kolesterol, LDL, HDL, Trigliserida) diperoleh dari hasil Pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan oleh pihak rumah sakit kemudian dibandingkan dengan nilai normal atau standar Rumah sakit.

G. Metode Pengolahan dan Analisi Data 1. Data karakteristik pasien penelitian yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif dalam tabel 5. 2. Data terapi diet rumah sakit Data terapi diet yang diberikan meliputi jenis terapi diet, komposisi zat gizi, dan bentuk makanan disajikan dalam bentuk tabel 9 dan dianalisis secara deskriptif. 3. Data tingkat konsumsi energi, lemak dan kolesterol disajikan dalam bentuk tabel 10, 11 dan dianalisis secara deskriptif. Tingkat konsumsi tersebut dikategorikan berdasarkan kriteria Depkes RI (1994), yaitu : a. b. c. d. Baik Sedang Kurang Defisit : ≥ 80 % : 70 – 79 % : 60 – 69 % : < 60 %

4. Data tingkat konsumsi natrium disajikan dalam bentuk tabel 13 dan dianalisis secara deskriptif. Data tingkat konsumsi natrium dikategorikan sebagai berikut (WHO, 1999) : a. Tinggi : ≥ 2400 mg/hari b. Normal : 1200 – 2399 mg/hari c. Rendah : < 1200 mg/hari

28

5. Data profil lipid darah (kolesterol, LDL, HDL, Trigliserida) yang diperoleh dari hasil laboratorium (rekam medik) dalam bentuk tabel 14 – 17 dan dianalisis secara deskriptif. Adapun nilai normal untuk pemeriksaan profil lipid sebagai berikut : Tabel 4. Kadar Lipid Serum Normal Lipid Serum (mg/dl) Kolesterol <200 200-239 ≥240 LDL 130 130 – 159 160 HDL: ≥ 60 40 – 59 < 40 Trigliserida <150 150 – 199 ≥200 – 499 Sumber : Sizer F dan Whiney E, 2006. Keterangan Normal Sedang Tinggi Normal Sedang Tinggi

Normal Sedang Rendah

Normal Sedang Tinggi

H. Etika Penelitian Sebelum melakukan pengambilan data peneliti memberikan informed concent dan lembar persetujuan menjadi pasien dengan tujuan agar pasien mengerti maksud dan tujuan penelitian, jika pasien bersedia maka pasien harus menandatangani lembar persetujuan dan jika pasien tidak bersedia maka peneliti tetap menghormati hak dari pasien.

29

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Pasien Berdasarkan karakteristik 10 pasien meliputi jenis kelamin, umur, tinggi badan, berat badan, tekanan darah maka diperoleh data sebagai berikut : 1. Karakteristik pasien berdasarkan diagnosa medis, jenis kelamin, umur, status gizi, dan tekanan darah Tabel 5. Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Medis, Jenis Kelamin, Umur, Status Gizi, dan Tekanan Darah No 1 Diagnosa Medis PJK Murni PJK dengan komplikasi Jumlah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Umur (Tahun) 42-51 52-60 >60 Jumlah Status Gizi Obesitas Normal Kurang Jumlah Tekanan darah awal MRS Sistol/Diastol (mmHg) <90/<60 90 – 120/60 – 80 121 – 140/81 – 90 141 – 200/91 – 120 Jumlah n 7 3 10 5 5 10 2 3 5 10 0 6 4 10

2

3

4

5

0 3 5 2 10

Berdasarkan tabel 5, didapatkan jumlah pasien yaitu 5 laki-laki dan 5 perempuan. Pada umumnya laki-laki memiliki risiko yang lebih besar menderita penyakit jantung koroner dari pada wanita sebagaimana yang dikemukakan oleh Mangoenprasodjo, 2004 yang menyatakan laki-laki memiliki risiko yang lebih
30

besar terkena serangan jantung dan kejadiannya lebih awal dari pada wanita. Wanita yang masih mengalami menstruasi lebih terlindung dari penyakit jantung. Hal ini karena hormon esterogen pada wanita. Berdasarkan usia menunjukkan bahwa pasien paling banyak yaitu berusia > 60 tahun sebanyak 5. Dari data diatas diketahui bahwa penyakit jantung koroner banyak terjadi pada usia >40 tahun. Menurut Patel, 1994 menyatakan bahwa seiring dengan bertambahnya usia, efisiensi dari sistem kardiovaskuler menurun sehingga memberikan risiko yang lebih besar terjadinya gangguan jantung

koroner. Menurut Maulana, 2007 bahwa usia 45 tahun merupakan usia yang kritis dan harus diwaspadai oleh kaum pria sedangkan kaum wanita yaitu pada usia 55 tahun. Berdasarkan tabel 5, diketahui bahwa status gizi pasien sebanyak 6 pasien tergolong normal dan sebanyak 4 pasien tergolong kurang. Munurut Wardlaw, 2007, status gizi kurang atau lebih sering disebut undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit atau lebih banyak dari energi yang dibutuhkan individu. Status gizi ke empat pasien tersebut dalam kategori kurang, hal tersebut bisa terjadi karena pasien sudah lanjut usia dan pola makannya tidak teratur. Status gizi kurang pada pasien dengan penyakit jantung jarang diketahui, karena biasanya penderita penyakit jantung koroner sering dialami oleh pasien yang overweight atau gizi lebih. Beberapa referensi menyebutkan bahwa rata-rata orang yang menderita penyakit jantung status gizinya lebih atau kegemukan. Menurut Price, 2006, Kegemukan/Obesitas dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL kolesterol. Lemak sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah. Mekanismenya belum jelas, akan tetapi terjadi pembentukan platelet yang abnormal, DM dan juga hipertensi Dilihat dari tekanan darah menunjukkan bahwa pada saat masuk rumah sakit sebanyak 2 pasien tekanan darahnya tergolong tinggi. Tekanan darah masingmasing ke 2 pasien yaitu 220/120 mmHg dan 170/90 mmHg. Tekanan darah erat kaitannya dengan konsumsi natrium, semakin tinggi konsumsi natrium maka tekanan darah cenderung juga tinggi. Tekanan darah tinggi tersebut sering menyebabkan seseorang menderita penyakit jantung koroner sebagaimana yang

31

dijelaskan oleh Moerdowo, 1994 bahwa tekanan darah tinggi dapat menimbulkan perubahan ateroklerosis dalam pembuluh darah di otak atau perubahan patologis di pembuluh perifer arteri otak, sehingga menyebabkan penyakit jantung dan sroke. Tabel 6. Riwayat Gizi Dahulu Riwayat Gizi Dahulu Kesukaan Makanan berlemak Makanan gorengan Berlemak dan gorengan Makanan asin Jumlah n 4 1 3 2 10

Tabel 6 menunjukkan sebanyak 4 pasien suka mengkonsumsi makanan berlemak seperti sate, daging, gajih, dan jeroan. Sedangkan pasien yang suka makanan berlemak dan gorengan seperti ayam potong, daging, telur dan camilan yang digoreng sebanyak 3 pasien, dan pasien yang suka makanan gorengan saja yaitu 1 pasien. Baraas, 2006 menyatakan makanan berlemak memicu terjadinya plak pada atheroma dan penyempitan progresif dari arteri yang menyuplai darah ke otot jantung, sehingga aliran darah dalam pembuluh koroner tidak adekuat lagi, dengan demikian dinding otot jantung mengalami iskemia dimana oksigen untuk otot jantung sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme sel. Pada dasarnya lemak tidak mempunyai hubungan langsung dengan tekanan darah namun berdasarkan Griel 2006 dalam penelitian Sulityowati 2009 yaitu terdapat hubungan antara penyakit jantung koroner dengan tekanan darah. Lemak tersebut dapat membuat plak kolesterol dalam darah menyebabkan dinding arteri menebal dan saluran arteri semakin sempit sehingga denyut jantung semakin cepat dan tekanan darah semakin meningkat untuk mengalirkan darah keseluruh tubuh. Dari tabel 5 diketahui bahwa dari 10 pasien terdapat satu pasien PJK disertai dengan diabetes mellitus (DM). Berdasarkan riwayat gizi dahulu, pasien sering mengkonsumsi makanan berlemak dan gorengan. Penyakit DM yang diderita sudah dari dulu yaitu sekitar 6 tahun yang lalu. Menurut WHO, 1989 Diabetes Mellitus (DM) termasuk faktor penyakit strok iskemik yaitu gangguan ketersedian

32

darah pada suatu daerah di otak. Hal ini merupakan penyebab terbesar yaitu 85% dari semua strok disebabkan oleh stok iskemik atau infark. Menurut Puspita 2009 dalam penelitiannya menyatakan terdapat hubungan antara menkonsumsi makanan berlemak dan kolesterol terhadap kecepatan kesembuhan penyakit pembuluh darah di RSU Unit Swadaya Daerah Gambiran Kediri, sehingga pada pasien yang terdiagnosa penyakit jantung dengan komplikasi Diabetes Mellitus (DM) diperlukan pengaturan makan yang tepat, karena itu hal yang sangat

penting mengingat komplikasi yang sangat membahayakan bagi pasien tersebut. Adapun untuk pasien yang suka dan sering mengkonsumsi makanan asin yaitu sebanyak 2 pasien. Makanan asin yang dikosnsumsi misalnya ikan pindang, cakalang, dan hasil laut lainnya. Sedangkan sayuran dan lauk pauk sering ditambahkan natrium/garam pada saat pengolahan dan penambahan natrium atau garam tersebut melebihi anjuran( ⁄ sdm atau 6 gram). Tabel 7. Perkembangan Tekanan Darah Pasien Perkembangan tekanan darah pasien Kategori Awal n Normal Normal tinggi Hipertensi Jumlah 6 2 2 10 Akhir n 10 0 0 10

Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa perkembangna tekanan darah pasien pada awal pengamatan yaitu sebanyak 6 pasien yang kategori tekanan darahnya normal dan sebanyak 2 pasien yang kategorinya hipertensi. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu pemilihan jenis makanan, stress, dll. Menurut Anggraini, 2009 stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Tekanan darah pasien pada awal dan akhir ada kemajuan disebabkan dari 10 pasien tekanan darahnya normal. Hal itu bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya adanya pemberian obat anti hipertensi yaitu seperti captopril, ceftriaxone,

33

ratidin, dan Lasix yang bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pasien menjadi normal kembali. Menurut DEPKES 2006, tujuan pemberian obat anti hipertensi yaitu mengurangi risiko lebih lanjut dan untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan kerusakan organ target misalkan kejadian kardiovaskuler, gagal jantung dan penyakit ginjal. Pasien PJK yang tekanan darahnya tinggi perlu diwaspadai karena hal itu merupakan salah satu penyakit komplikasi dan menyebabkan kondisi pasien lebih parah serta dapat menimbulkan penyakit yang mematikan atau stroke.

Berdasarkan Mardjono (1997), tekanan darah tinggi dapat menimbulkan perubahan ateroklerosis pada pembuluh darah otak atau perubahan patologis di pembuluh arteri otak yang dapat menyebabkan terjadinya stroke. Apabila tekanan darah sistolik dan diastolik meningkat, kemungkinan terjdai stroke 4x lipat daripada orang-orang yang memiliki tekanan darah normal (normotensif). Tetapi apabila peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya diabetes mellitus, hipertropi jantung kiri, hyperlipidemia pada pasien dengan umur lebih dari 40 tahun, kemungkinan terjadi stroke 6 –10 kali orang normal.

34

B. Terapi Diet Rumah Sakit Tabel 8. Standar Diet Rumah Sakit Umum Daerah Waluyo Jati Kraksaan No 1 Jenis Diet Jantung 1500 Kkal+RG III Jantung 1500 Kkal+RG II Jantung 1700 Kkal + RG I Jantung 1700 Kkal + RG III Jantung 1700 Kkal + DM Jumlah 2 Bentuk Makanan Awal MRS Saring Lunak Biasa Jumlah 3 Cara Pemberian Oral Enteral Oral+Parenteral Jumlah
Keterangan RG : Rendah Garam DM : Diabetes Mellitus

Terapi Diet n 3 1 1 3 1 10 n 2 7 1 10 n 9 0 1 10

Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa jenis diet yang diberikan oleh rumah sakit terhadap 10 pasien berbeda-beda sesuai dengan kondisinya. Sebanyak 3 pasien diberikan diet jantung 1500 Kkal + RG III dan 1 pasien diberikan diet jantung 1500 Kkal + RG II. Pasien yang diberikan jenis diet jantung RG II karena tekanan darah MRS tergolong cukup tinggi, sehingga pemberian

garam dibatasi. Adapun kandugan natrium maksimal diberikan kepada pasien tersebut yaitu 800 mg atau ½ sdt garam dapur, hal itu berguna untuk mencegah terjadinya hipertensi tingkat lanjut. Diet jantung 1700 Kkal + RG I diberikan kepada satu pasien. Terapi diet jantung RG I, disebabkan tekanan

35

darah pasien tinggi dan tergolong hipertensi berat. Untuk terapi diet jantung 1700 Kkal + RG III diberikan kepada 3 pasien yang tidak menderita hipertensi, karena pasien yang didiagnosa sakit jantung rentan mengalami peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Dan pemberian diet jantung 1700 Kkal + DM karena pasien menderita diabetes mellitus dan untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit lain. Standar energi dari 10 orang pasien yaitu 5 pasien diberikan terapi diet sudah sesuai dengan kebutuhan, sedangkan 5 pasien lagi masih belum sesuai dengan kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan energi pasien berguna untuk mempercepat pemulihan kondisi dan kesembuhan pasien. Menurut Borzotta, 2000 menyatakan bahwa pemenuhan nutrisi pada fase perbaikan akan mencegah terjadinya pemecahan protein sebagai cadangan energi sehingga dapat mencegah terjadinya malnutrition energy protein (MEP). Bentuk makanan berupa makanan lunak diberikan kepada 7 pasien, makanan saring 2 pasien dan makanan biasa 1 pasien. Pasien yang mendapat makanan biasa yaitu pada awal MRS dan pada hari ke- 2 pasien mendapat makanan dalam bentuk makanan saring, dan pada hari ke -3 pasien diberikan makanan dalam bentuk lunak. Secara teoritis perubahan makanan dari biasa menuju lunak berarti keadaan pasien kurang baik, namun pada masalah ini ternyata perubahan makanan tersebut ditujukan sebagai upaya untuk mengurangi sisa makanan, karena pada hari pertama sisa atau waste cukup banyak (73, 5%), sedangkan pada hari ke-2 waste lebih sedikit yaitu 71,6 %. Cara pemberian makanan kepada pasien secara oral terdapat 9 pasien. Hal ini dikarenakan kondisi pasien yang masih mampu untuk mengkonsumsi makanan secara oral. Sedangkan cara pemberian oral+parenteral diberikan kepada 1 pasien disebabkan kondisinya yang sangat lemah dan adanya gangguan pencernaan, sehingga makanan oral saja tidak mencukupi kebutuhan pasien. Pemberian secara parenteral menurut Baron 2005, yaitu pemberian nutrisi parenteral dikarenakan adanya gangguan proses menelan, gangguan pencernaan, dan absorspi. .

36

C. Tingkat Konsumsi Energi, Lemak, Kolesterol, dan Natrium Rata-rata tingkat konsumsi energi pasien selama 3 hari baik intake dari diet rumah sakit maupun dari luar rumah sakit bisa diketahui pada tabel berikut ini. 1. Tingkat Konsumsi Energi Pasien

Tabel 9. Tingkat Konsumsi Energi Pasien No 1 2 3 4 Baik Sedang Kurang Defisit Jumlah Tingkat konsumsi energi n 0 1 0 9 10

Berdasarkan tabel 9 sebagian besar tingkat konsumsi energi tergolong defisit sebanyak 9 pasien. Hal ini disebabkan asupan makan pasien hanya sedikit dibandingkan kebutuhannya. Pasien hanya mengkonsumsi sedikit makanan dari rumah sakit karena rata-rata pasien tidak nafsu makan. Hal tersebut dikarenakan gejala dari penyakit yang dialami pasien misalkan sesak napas dan batuk. Asupan energi pasien pada hari ke -1 (lihat lampiran 8) tidak ada yang mencapai standar energi diet rumah sakit, rendahnya asupan energi pasien disebabkan oleh penurunan nafsu makan yang ditandai dengan besarnya sisa (waste) pada setiap menu yang disajikan oleh rumah sakit. Menurut Borzotta, 2000 yaitu penurunan nafsu makan disebabkan karena adanya gangguan sesak napas akibat suplai oksigen dalam darah berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada pernapasan yang membuat intake makanan pasien menurun. Asupan energi pasien yang tergolong dalam kategori sedang hanya 1 pasien yaitu mencapai 72 % dari kebutuhan energi total. Dari total 10 pasien tingkat konsumsi energi rata-rata sebesar 49% dari kebutuhan energi. Hasil ini hampir sama dengan penelitian dari Wardani, 2000 yang menyatakan asupan energi rata-rata hanya mencukupi 60% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). Selama penelitian ke sepuluh pasien hanya mampu mengkonsumsi makanan yang diberikan oleh rumah sakit rata-rata sebesar 44 % dari standar rumah sakit.

37

2.

Tingkat Konsumsi Lemak

Tabel 10. Tingkat Konsumsi Lemak No 1 2 3 4 Baik Sedang Kurang Defisit Jumlah Tingkat konsumsi lemak n 2 2 1 5 10

Berdasarkan tabel 10 diketahui bahwa terdapat 5 pasien tingkat konsumsi lemaknya dalam kategori defisit, 2 pasien dalam kategori sedang dan 1 pasien dalam kategori kurang. Hal ini disebabkan kecenderungan pasien dalam selera makan yang tidak baik, pasien merasa malas dan tidak nafsu makan. Hal tersebut bisa terjadi karena dampak dari gejala penyakit yang diderita pasien seperti batuk dan sesak napas sebagaimana yang pernah dipaparkan oleh beberapa ahli diantaranya oleh Borzotta, 2000 yaitu penurunan nafsu makan disebabkan karena adanya gangguan sesak napas akibat suplai oksigen dalam darah berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada pernapasan yang membuat intake makanan pasien menurun.

3. Kolesterol Tabel 11. Asupan Kolesterol No Kolesterol (mg) n

1 2

≤ 300 >300 Jumlah

9 1 10

38

Nilai ≤ 300 dalam kategori baik dan >300 buruk McGowan, 2001dalam dewi 2010. Berdasarkan tabel 11, diketahui bahwa asupan kolesterol pasien dibandingkan dengan standar yaitu dalam baik sebanyak 9 pasien dan yang dalam kategori buruk sebanyak 1 orang pasien. Adapun tingkat konsumsi kolesterolnya sebesar 325,1 mg (lampiran 9), itu dikarenakan pasien tersebut mendapatkan makanan dari luar berupa kuning telur dalam sehari sebanyak 1 kali dan dari rumah sakit pada hari pertama mendapatkan 2 kali, pada hari ke dua mendapatkan 1 kali dan pada hari ke tiga mendapatkan 2 kali. Kuning telur termasuk makanan yang tinggi kolesterol, mengkonsumsi kolesterol yang berlebih dalam setiap hari dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Sebagian besar pasien mengerti penyebab penyakit jantung yaitu makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, namun pasien kurang mengetahui tentang kadar kolesterol dalam suatu bahan makanan. Menurut Junaidi, 2003 konsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi dapat mempengaruhi risiko jantung dan memberikan efek pada tekanan darah, kadar kolesterol serum, gula darah, berat badan dan precursor ateroklerosis lainnya.

4.

Asupan Natrium

Tabel 12. Asupan Natrium No 1 2 3 Tinggi Normal Rendah Jumlah Natrium (mg) n 0 8 2 10

Berdasarkan tabel 12 diketahui bahwa sebanyak 8 pasien asupan natriumnya dalam kategori normal. Hal ini disebabkan diet yang diberikan rumah sakit sudah sesuai dengan kebutuhan pasien. Sedangkan untuk 2 pasiennya lagi yaitu asupan natriumnya tergolong rendah. Masing-masing ke 2 pasien dalam pemberian natriumnya berbeda, yaitu 1 pasien yang didiagnosa penyakit jantung koroner dengan hipertensi berat sehingga pasien diberikan diet rendah garam atau tidak

39

diberikan garam pada saat proses pengolahan makanan dan untuk kandungan natriumnya maksimal 400 mg. Sedangkan 1 pasiennya lagi terdiagnosa penyakit jantung koroner dengan hipertensi sedang, dan untuk proses pengolahan makanannya diberikan sedikit garam yaitu ½ sdt atau kandungan natriumnya 600 – 800 mg. Menurut Almatsier, 2006 pembatasan konsumsi natrium ditujukan untuk menghilangkan retensi air dalam jaringan tubuh serta menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Sumber yang lain mengatakan Madjiono, dkk, 2003 hipertensi merupakan salah satu faktor resiko PJK dan dapat menyebabkan stroke. Tekanan darah yang meningkat dapat merusak dinding pembuluh darah dengan memperkeras arteri dan mendorong terbentuknya bekuan darah terutama pada orang dengan kisaran usia 45 tahun.

40

D. Profil Lipid Pasien Profil lipid pasien diperoleh dengan cara membandingkan nilai awal dengan nilai akhir penelitian atau setelah 3 – 5 hari setelah data profil lemak diambil. Profil lemak pasien dapat dilihat dilampiran. Adapun untuk perkembangan profil lipid pasien yaitu bisa dilihat di tabel 13. 1. Profil lipid pasien Tabel 13. Perkembangan Profil Lipid ( Kolesterol Total) Pasien Profil lipid pasien No 1 Kolesterol total Normal Tinggi Sedang Rendah Jumlah 2 Trigliserida Normal Tinggi Sedang Rendah Jumlah 3 HDL Normal Tinggi Rendah Jumlah 4 LDL Normal Tinggi Rendah Jumlah 1 3 6 10 4 2 4 10 4 0 6 10 3 0 7 10 7 1 2 0 10 8 2 0 0 10 Awal n 7 1 1 1 10 Akhir n 7 2 0 1 10

41

Nilai normal kolesterol total < 200 mg%. Dari tabel 13 menunjukkan bahwa dari 10 pasien terdapat 7 pasien nilai kolesterol totalnya dalam kategori normal. Sebanyak 2 orang pasien nilai akhir kolesterolnya naik Nilai normal trigliserida < 150 mg%. Berdasarkan tabel 13 menunjukkan bahwa nilai trigliserida dari ke 10 pasien pada awalnya normal sebanyak 7 pasien, dan pada akhir menjadi 8 pasien. Sedangkan 2 pasien lainnya dalam kategori tinggi. Hal ini dimungkinkan faktor lain misalkan usia, alasan ini didukung oleh pendapat dari Soen, 1994 peningkatan profil lipid darah juga disebabkan karena faktor usia dimana pada usia > 30 tahun akan terjadi penuaan yang menyusutkan masa otot dan sekaligus menyuburkan masa lemak. Nilai normal HDL yaitu 36 – 82 mg%. Berdasarkan profil lipid HDL menunjukkan bahwa nilai HDL pada awalnya sebanyak 6 pasien dalam kategori rendah dan pada nilai akhir bertambah menjadi 7 pasien. Penurunan

perkembangan nilai HDL tersebut bisa terjadi karena asupan kolesterol pasien hanya 66,8% dibandingkan dengan standar sehingga dimungkinkan penguraian kolesterol menjadi HDL tidak terpenuhi dan masih ada beberapa faktor lain misalkan faktor usia dan menopause sehingga penyerapan dan metabolisme dalam tubuh tidak sempurna. Nilai normal LDL < 150 mg%. Berdasarkan profil lipid LDL,

menunjukkan bahwa nilai profil lipid LDL dalam kategori normal sebanyak 4 pasien yang pada awalnya hanya 1 pasien. Dan pasien yang dalam kategori rendah sebanyak 4 pasien, yang awalnya 6 pasien

42

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Pasien yang menjadi subjek penelitian berjumlah 10 pasien, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan kisaran usia 42 – 78 tahun. Terdapat 3 pasien dengan komplikasi yaitu komplikasi hipertensi 2

pasien, dan diabetes mellitus 1 pasien . Terdapat 6 pasien status gizinya dalam kategori normal dan 4 pasien dalam kategori kurang. Dan untuk kategori tekanan darah pasien, yaitu sebanyak 3 pasien dalam kategori normal, 5 pasien dalam kategori normal tinggi, dan 2 pasien dalam kategori hipertensi. 2. Terapi diet yang diberikan rumah sakit meliputi jenis diet, bentuk makanan dan cara pemberian. Standar diet rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan pasien sebanyak 5 pasien. Jenis diet pasien berupa diet jantung 1500 + RG dan 1700 + Kkal dan diet jantung + DM. 3. Tingkat konsumsi energy pasien dalam kategori defisit sebanyak 9 pasien dan dalam kategori sedang sebanyak 1 pasien. Tingkt konsumsi lemak pasien dalam kategori defisit 5 orang pasien, kurang 1 pasien, sedang 2 pasien dan baik 2 pasien. Tingkat konsumsi kolesterol yaitu sebanyak 9 pasien dalam kategori baik dan 1 pasien dalam kategori buruk. Dan untuk tingkat konsumsi natrium yaitu sebanyak 8 pasien tergolong normal dan 2 pasien tergolong rendah. 4. Dari hasil akhir profil lipid menunjukkan bahwa tidak ada perubahan pada nilai kolesterol total. Untuk nilai akhir dari profil lipid TG dan LDL masing-masing dalam kategori normal yaitu 8 dan 4 pasien. Sedangkan profil lipid HDL yang dalam kategori rendah ada 7 pasien.

43

B. Saran 1. Standar diet perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasien. 2. Diharapkan adanya penyuluhan yang lebih sering tentang pemilihan jenis makanan, supaya pasien tidak sembarangan mengkonsumsi makanan luar dari rumah sakit.

44

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama Astawan, M. dan Tutik, W. 2004. Diet Sehat dengan Makanan Bernatrium. Solo : Tiga Serangkai. Anggraini. 2009. Faktor-Faktor Risiko Penyebab Hipertensi. Jakarta : EGC Bahri. 2004. Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner. Sumatera: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Baraas F. Respons imunologi. dalam : Kardiologi Molekuler. Jakarta : Bagian Kardiologi. FKUI / RS Jantung Harapan Kita ; 2006 : 194-264. Baron. 2005. Total Parenteral Nutrition. Jakarta : Airlangga Beevers, Prof.d.g.2002. Seri Kesehatan Bimbingan Dokter Pada Tekanan Darah jakarta: Dian Rakyat) Borzotta, A.P. 2000. Nutritional Support in Neurologic Injury. Berlin : Spinger Depkes 2006. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi. Dewi, N C. Gambaran Pola Konsumsi dan Aktivitas Yang Mempengaruhi Penyakit Jantung Koroner di RSUD banyuwangi : Malang. Karya Tulis Ilmiah, hal 41 – 42 Eastwood. Commite Research. 1968. Diet and Healt. Washington : National Academic Press Elizabeth J. Corwin. 2009. Buku saku: Patofisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC Guyton, Arthut C. & John E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9 Editor : Irawati Setiawan. Jakarta : EGC. Hernawati. 2009. Pengaruh Penambahahan Bekatul Pada Pakan Terhadap Gambaran Histologi Organ Hati Mencit (Mus Musculus L.) Jantan Galur Swiss Webster. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia Heslet L. 2007. Kolesterol Yang Perlu Anda Ketahui. Anton Adiwiyoto (Penerjemah). Jakarta : Kesain Blanc.

45

Http://Health.Kompas.Com/Read/2011/09/19/12144289/10.Alasan.Harus. Mengontrol.Garam Http://Nasional.Kompas.Com/Read/2008/10/28/12315315/Who.Sakit.Jantung. Pembunuh.No.1.Di.Dunia J.B. Suharjo B. Cahyono 2008. Gaya Hidup Dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Kanisius hal 25. Junaidi I. 2006. Pengenalan, Pencegahan, Pengobatan, Rehabilitasi, Serta Tanya Jawab Seputar Jantung. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer Kromhout et al 2000. Dietary Reference Intakes for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids (Macronutrients). Washington. DC : National Academies Press Lanny. Dewani. Sitanggan, Maloedyn. 2005. Terapi Jus & 38 Ramuan Tradisional. Tangerang : PT. Agromedia Pustaka Linder. 1992. Dietary Reference Intakes for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids (Macronutrients). Washington DC : National Academic Press. Linder, 1998. Nutirisi dan Metabolisme Lemak. Jakarta : EGC Mangoenprasodjo, A. Setiono. 2005. Makanan Berkhasiat Agar Jantung Sehat. Yogyakara : Think Fresh Madjiono, Roehandi, Yogieantoro. 2003. Hipertensi dan Stoke. Jakarta : PT raya Grafindo Persada.

Mardjono M & sidharta P. 1997. Neurologi Klinik Dasar. Edisi ke-7. Jakarta : Dian Rakyat Maulana, Mirza. 2007. Penyakit Jantung. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group Moore Mary Courtney. 1997. Pocket Guide To Nutritional Assessment And Care. America : Elsevier Mosby Soediawan. 2009 Moore Mary Courtney. 1997. Terapi Diet dan Nutrisi, edisi II. Jakarta : Hipokrates Moerdowo, R. M. 1986. Sekitar Masalah Jantung. Jakarta ; PT. Karya Grafindo Persada Patel C. 1994. Fighting Heart Disease A Pratical Self Help Guide To Prevention and Treatment. London : Darling Kindersley Publisher Limited

46

PERKI Pusat dan Yayasan Jantung. , 2002, Pedoman Makan Untuk Kesehatan Jantung Indonesia : Jakarta PERSAGI dan Bagian Gizi RSCM. 1996. Penuntun Diet : Jakarta. Piliang WG dan SD Al-Haj. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume 1. Bogor. : IPB Press Price, Silvia Anderson dan Wilson L M. 2006. Patofisiologi, volume 1. Jakarta : EGC. Puspita , M. R. 2009. Hubungan Antara Gaya Hidup dengan Kejadian Stroke di Rumah Sakit Umum Unit Swadaya Daerah Gambiran Kediri, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya Puspitorini, Mira. 2008. Hipertensi cara mudah mengatasi tekanan darah tinggi. Jojakarta. Image press Rahardja. Ekky. 2002. Suatu Faktor Risiko pada Kesehatan Tubuh, Simposium Mengenal Lebih Dini serta Penanganan Penyakit Stroke dan Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : R.S. Husada Riyadi H. 2001. Metode Penelitian Status Gizi Secara Antropometri. [Diktat Kuliah]. Bogor : Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Sizer F and Whitney E. 2006. Nutrition Concept and Controversies. USA : Thomson Wadsworth Sulistyowati T. 2009. Efek Lemak Jenuh Tak Jenuh terhadap Kesehatan. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Volume XIX. Suyono. Slamkfiet. 2001. Ilmu Penyakit dalam Jilid 3. Jakarta : FKUI Smeltzer, S. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner Suddarth. Volume 2 Edisi 8. Jakarta : EGC. 2001. Tala, Zaimah Z. 2009. Manfaat Natrium Bagi Kesehatan. Sumatera : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Taylor, Clive R dan Candrasoma P. 2006. Patologi Anatomi, edisi 2. Jakarta : EGC Tirtawinata. 2006. Hubungan Asupan Natrium Dan Asupan Kolesterol dengan Kadar Kolesterol Total dan Kadar Trigliserida Penderita Jantung Koroner Rawat Jalan di RSUD Tugurejo Semarang. Wardlaw. 2007. Pengertian Status Gizi. Jakarta

47

Weijenberg, M.P., Feskens, E.J., Kromhout, D. 2000. White blood cell count and the risk of tolerance . Atherosclerosis 163: 17581 Willet. 1998. Nutritional Epidemiology. Newyork : Oxford University Press Winarno F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Lovastatin dan Kohlmeier, 2006. Penyakit jantung dan Tekanan Darah Tinggi Pengenalan Gejala, Pencegahan dan Penanganan dengan Metode Alami. Jakarta : Prestasi Pustaka Karya. Khomsan , Ali. 2003. Pangan Dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta . PT raya Grafindo Persada. The WHO Task Force on Stroke and other Cerebrovascular Disorders (1989), Hansson GK. Inflammation, atherosclerosis, and coronary artery disease. N Engl J Med 2005; 352 : 1685 – 95.

48

Lampiran Lampiran 4. Diet Jantung Rumah Sakit Waluyojati Kraksaan. a. Makanan yang tidak diberikan        Makanan yang digoreng dan berlemak tinggi yaitu gajih, santan dan susu full cream Sayuran yang menimbulkan gas : sawi, kol, nangka muda Buah yang berlemak tinggi dan menimbulkan gas : durian, nangka

b. Makanan yang dibatasi Daging diberikan tidak lebih 1x seminggu, tidak lebih 100 gram sehari Ayam diberikan tidak lebih 3x seminggu, tidak lebih 100 gram sehari Telur diberikan tidak lebih 3x seminggu, tidak lebih 1 butir sehari Kacang tanah tidak lebih 25 gram sehari

Pembagian makananan sehari  Makan pagi     Nasi/tim/bubur kasar/bubur halus : sesuai standar porsi Lauk hewani : daging 50 gram Lauk nabati : tempe 25 gram Sayur : sesuai standar porsi

 Snack pagi untuk pasien R. Tengger, Utama, Kelas I, Kelas II.   Bubur sumsum / kentang rebus / kue tanpa soda kue / digoreng / buah Kacang ijo / teh

 Makan siang   Nasi/tim/bubur kasar/bubur halus : sesuai standar porsi Lauk hewani : daging 50 gram

51

   

Lauk nabati : tempe 25 gram Sayur : sesuai standar porsi

 Snack siang untuk pasien Ruang Tengger, Utama, Kelas I. Bubur sumsum / kentang rebus / kue tanpa soda kue / digoreng / buah Air putih (untuk pasien di R. Tengger).

 Makan sore/malam      Nasi / tim / bubur kasar/ bubur halus : sesuai standar porsi Laukhewani : ayam : 75 gram Lauk nabati : tempe : 25 gram Sayur : sesuai standar porsi Buah selain pisang (untuk pasien di R. Tengger).

52

Lampiran 5 PERHITUNGAN KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT GIZI KODE SUBJEK : 01 Identitas 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Usia BB TB TL LLA Status Gizi Perhitungan % LLA = = = 83,6% TBestimasi BBideal = 64,19 + (2, 02 x 45) – (0,24 x 48) = 143,5 = TB2 x 22,5 = 1,432 x 22,5 = 46 = 25 Kkal/KgBBI = 25 x 46 = 1159 Kkal = 1,2 x 46 = 55,2 g = 220,8 Kkal = 19% = 30 % x Total Energi = 0,3 x 1159 = 347,7 Kkal = 38,6 g = 100 – (19 + 30%) = 51 % = 0,51 x 1159 = 591 Kkal x 100% : NY. AT : 48 TH ::: 45cm : 25 cm : kurang

Energi

Protein

Lemak

Kh

53

PERHITUNGAN KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT GIZI KODE SUBJEK : 06 Identitas 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Usia BB TB TL LLA Status Gizi Perhitungan Energi : P. PA : 78 Th : 57 Kg : 166 cm : 45cm : 25 cm : kurang

= BEE x FA x FS = 66,4 + (13,7 x 57) + (5 x 166) – (6,7 x 78) = 1154 x 1,1 = 1270 x 1,4 = 1778 Kkal = 15 % x Energi Total = 15 % x 1778 = 266,7 Kkal = 30 % x Total Energi = 0,3 x 1778 = 533,4 Kkal = 59,2 g = 100 – (15 + 30%) x Total Energi = 55 % x 1778 = 0,55 x 1778 = 977,9 Kkal = 244,5 g

Protein

Lemak

Kh

54

Lampiran 6 Tabel 14. Data Karakteristik Pasien Pasien Berdasarkan Antropometri, Tekanan Darah dan Riwayat Gizi Dahulu Karakteristik Umur (Th) 42-51 52-60 >60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tinggi badan(cm) 132-159 ≥ 160 Berat badan (Kg) 39-50 >50 Tekanan darah(mmHg) Awal penelitian Sistole <100 100-139 ≥ 140 Diastole <60 60-95 >95 Tekanan darah (mmHg) Akhir penelitian Sistole <100 100-139 ≥ 140 Diastole <60 60-95 >95 Riwayat gizi dahulu Kesukaan Makana berlemak Makanan asin Makanan gorengan Berlemak dan gorengan n 2 3 5 5 5 5 5 4 6 % 20 30 50 50 50 50 50 40 60

0 6 4 1 8 1

0 60 40 10 80 10

0 10 0 1 9 0

0 100 0 10 90 0

4 2 1 3

40 20 10 30

55

Lampiran 7 Tabel 15. Asupan Pasien Selama 3 hari Kode subjek : 01 Nama : Ny. AT Hari Ke -1 Waktu Menu Nasi Lauk Hewani Bahan Makanan Beras Ayam Berat (gram) 25 25 Standar RS 75 50 Nilai Gizi Energi 90 75,5 Lemak 0,18 6,25 Natrium 6,75 25

Tahu Pagi Lauk Nabati

10

50

6,8

0,46

-

Wortel Sayur Buncis

0 0

20 20

0 0

0 0

0 1,6

Buah Snack Pagi Nasi Lauk Hewani Siang

Semangka Minyak

75 10

75 10

21 90,2

0,15 10 0,11 12,5

-

Beras Ayam

15 50

75 50

54 151

4,05 50

Tahu Lauk Nabati

50

50

34

2,3

-

56

Kacang panjang Sayur Wortel

10

20

4,4

0,03 0,05

3 10,5

15

20

6,3

Buah Snack Siang Malam Nasi Lauk Hewani

Semangka Minyak

0 5

75 5

0 45,1

0 5 0,18 4,9

-

Beras Daging

25 35

75 50

90 72,5

6,75 32,55

Tahu Lauk Nabati

50

50

34

2,3

-

Bayam Sayur Labu siam

10 10

20 20

3,6 2,6

0,05 0,01

-

Buah

Semangka Minyak Santan

25 5 5

75 5 5

7 45,1 6,1 839,1

0,05 5 0,5 50

540,2

Jumlah

57

Hari Ke -2 Waktu Menu Nasi Lauk Hewani Bahan Makanan Beras Ayam Telur Tahu Pagi Lauk Nabati Berat (gram) 10 25 25 10 Standar RS 75 50 50 50 Nilai Gizi Energi 36 75,5 40,5 6,8 Lemak 0,07 6,25 2,88 0,46 Natrium 2.7 25 47,5 -

Wortel Sayur Tauge Kentang Buah Snack Pagi Nasi Lauk Hewani Melon Minyak

5 10 10 0 5

20 20 20 50 5

5 6,7 10 0 45,1

0,02 0,26 0,01 0 5 0,11 1,4

3,5 0,7

Beras Daging

15 10

75 50

54 20,7

4,05 9,3

Tahu Siang Lauk Nabati

0

50

0

0

-

Buncis Sayur Wortel

15 10

20 20

5,25 4,2

0,03 0,03

1,2 7

Buah

Semangka

0

75

0

0

-

58

Snack Siang Malam Nasi Lauk Hewani Beras Ikan Telur Tempe Lauk Nabati 15 25 10 12,5 75 50 50 40 54 28,25 16,2 19,37 0,11 1,13 1,15 0,52 4,05 25 19 -

Kacang P Sayur Wortel Manisa Snack Roti Minyak Jumlah

10 5 10 0 12,5

20 20 20 50 12,5

4,4 2,1 4,5 0 112,75 546,72

0,03 0,02 0,06 0 12,5 32

3 3,5 -

555,5

59

Hari ke -3 Waktu Menu Nasi Lauk Hewani Bahan Makanan Beras Telur Berat Standar (gram) RS 25 30 75 50 Nilai Gizi Energi 90 48,6 Lemak 0,18 3,45 Natrium 6,75 57

Tahu Pagi Lauk Nabati

25

50

17

1,15

-

Kentang Sayur Wortel

10 5

20 20

8,3 2,1

0,01 0,47

0,7 3,5

Buah Snack Pagi Nasi Lauk Hewani

Semangka

50

75

14

0,1

-

Beras Ayam

20 25

75 50

72 75,5

0,14 6,25

5,4 25

Tahu Siang Lauk Nabati

25

50

17

1,15

-

Kacang P Sayur Buncis Wortel Buah Semangka

5 5 10 0

20 20 20 75

2,2 2,7 4,2 0

0,01 0,01 0,04 0

1,5 0,4 7 -

60

Snack Siang Malam Nasi Lauk Hewani

Kecap

5

5

2,3

0,07 0,18 6,25 6,75 25

Beras Ayam

25 25

75 50

90 75,5

Tahu Lauk Nabati

10

50

6,8

0,46

-

Wortel Sayur Manisa

5 0

20 20

2,1 0

0,02 0

3,5 -

Buah Jumlah

Melon

50

50

50 591,2

0 19,4

542,5

Keterangan Jumlah natrium sudah ditambahkan sesuai dengan terapi diet rumah sakit

61

Lampiran 8 Tabel 16. Terapi Diet Pasien Asupan Energi Dan Zat Gizi Subjek Selama Penelitian Kode Pasien 01 Zat Gizi Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) 1 839,15 34,41 50 63,8 69,5 540,2 575,29 25,1 33,6 42,2 236 1005,4 567,5 20,06 29,8 55,7 218,5 1320,1 546,72 23,14 32 40 214,5 1296,5 453,5 22,37 21,5 27,2 360 1266,5 767,49 30,64 37,8 76,1 352,5 1402,4 871,65 36,24 31,1 97,4 372,5 1537,2 629,33 Hari ke 2 546,72 23,2 32 40 214,5 555,5 491,31 20,3 18,1 46,3 35,8 1085,8 791,3 28,34 29,9 101 286,5 1376,4 612,7 24,3 19,4 70 195 1332,4 671,99 30,66 24,9 64,7 69,05 1309,8 529,69 14,7 23,7 41,3 132,8 1369,4 1316,6 57,11 58,8 140 58,5 1706,2 784,63
62

Rata-rata 3 591,2 23,5 19,4 64,8 195 542,5 567,35 20,0 29,8 55,7 218,5 1099,3 990,5 45,56 30,2 131 470,3 1431,4 527,21 21,0 18,2 54,2 35,8 1288,1 872,25 41,87 49,6 66 532,5 1342,1 791,63 28,3 29,9 101 286,5 1412,6 1024,4 42,99 39 109 390 1620,4 630,85 659,02 27,02 33,80 56,2 159,67 546,1 544,65 21,84 27,17 48,07 163,43 1096,8 783,12 31,32 29,97 95,90 325,10 1376,0 562,21 22,84 23,2 54,73 148,43 1305,7 665,91 31,64 32 52,63 200,52 1306,1 696,27 24,58 30,47 72,77 257,27 1394,8 1070,88 45,45 42,97 115,47 274,50 1621,3 681,60

02

03

04

05

06

07

08

09

10

Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg) Energi (Kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Kolesterol (mg) Na (mg)

22,68 22,4 67,9 372,5 1345,4 865,73 37,64 33,1 87,7 760,5 1488,2 636,73 19,7 19,6 78,7 262,5 1349,4

28,22 29,8 99,2 286,5 1366,9 807,75 35,47 35,1 89,5 372 1450,8 636,8 27,32 29,2 65,6 272,8 1350,1

19,27 24,8 75 31,75 1341,2 1020,4 30,99 54,7 92,2 58,5 1521,9 705.03 24,38 27,5 81,6 43,5 1354,2

23,39 25,67 80,70 230,25 1351,2 897,96 34,70 40,93 89,80 397 1487,0 659,52 23,80 25,43 75,30 192,93 1351,2

63

Lampiran 9 Tabel 17. Nilai Laboratorium Profil Lemak Pasien Selama Penelitian Di Rumah Sakit Waluyojati Kraksaaan
Kode pasien 01 Profil lemak Hasil laboratorium (mg%) Awal 188 168 31 123,4 244 127 42 176,6 229 219 21 162 67 95 32 16 122 100 41 89 125 75 52 58 104 78 30 161 125 97 39 66,6 126 56 25 89,8 145 152 29 72 akhir 197 219 19 134,2 260 132 40 189,4 302 208 20 240,4 70 98 30 85 130 124 35 140 130 70 45 86,7 120 102 33 150 130 105 42 75 180 70 32 128 140 149 32 90 Nilai normal (mg%) < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 < 200 < 150 36 – 82 <150 Keterangan Akhir Normal Tinggi Rendah Normal Tinggi Normal Normal Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Rendah Normal Rendah Rendah Normal Norma Normal Normal Normal Normal Normal Rendah Normal Normal Rendah Normal Normal Normal Normal Rendah Normal Normal Rendah Normal Normal Normal Rendah Rendah

02

03

04

05

06

07

08

09

10

Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL Kolesterol TG HDL LDL

64

Lampiran 10 Tabel 18. Status Gizi Pasien Kode pasien 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 Umur (Th) 48 65 59 52 69 78 42 75 64 60 BB (Kg) 60 57 60 55 62 TB/ TBE (cm) 143.57 143.53 155 136,5 132.47 166 160 168 165 160 Lila (cm) 25 30 33 30 27 23 25 28 28 26 BBI (Kg) 46 46 50.5 39,2 36.9 57.9 53.8 59.3 57.2 53.8 Kurang Normal Normal Normal Normal Kurang Kurang Normal Normal Kurang Status gizi

65

Lampiran 11 Tabel 19. Data Perkembangan Tekanan Darah Pasien Selama 3 Hari Kode Pasien 01 02 03 04 05 06 07 08 09 Hari ke 1 130/53 220/120 170/90 110/60 130/90 130/90 120/70 120/90 140/70 Kategori Normal hipertensi hipertensi Normal Normal Normal Normal Normal Normal tinggi 2 107/68 210/140 120/80 120/70 120/80 120/80 120/70 140/100 160/90 Kategori Normal Hipertensi Normal Normal Normal Normal Normal Normal tinggi Normal tinggi Normal tinggi 3 102/64 120/40 110/80 100/70 120/90 110/90 120/90 110/70 130/90 130/90 Kategori Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

10 140/80 Normal tinggi 140/100 (Sumber Smelzer dalam Brunner & Suddarth, 2010)

66

Lampiran 12 Tabel 20. Terapi Diet Pasien Kode Pasien 1 01 Jantung 1700 Kkal + RG I Lunak Jenis Diet Bentuk makanan Pada hari ke 2 Lunak 3 Biasa Oral+ Parenteral 02 Jantung 1500 Kkal + RG II Lunak Lunak Lunak Oral Cara pemberian

03

Jantung 1700 Kkal + RG III

Lunak

Lunak

Lunak

Oral

04

Jantung 1500 Kkal + RG III

Biasa

Saring

Lunak

Oral

05

Jantung 1500 Kkal + RG III

Saring

Lunak

Lunak

Oral

06

Jantung 1700 Kkal + RG III

Lunak

Lunak

Lunak

Oral

07

Jantung 1700 Kkal + RG III

Saring

Lunak

Saring

Oral

08 09

Jantung 1500 Kkal + DM Jantung 1700 Kkal + RG III

Lunak Lunak

Lunak Lunak

Lunak Saring

Oral Oral

10

Jantung 1700 Kkal + RG III

Lunak

Lunak

Lunak

Oral

67

Lampiran 13 Tabel 21. Asupan Energi Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit Kode pasien Kebutuhan Energi (Kkal) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 Ratarata 1159 1159 1923 979 921 1778 2167 1482 1873 2023 Energi rata-rata selama 3 hari Asupan Energi (Kkal) 659 545 783 562 666 696 1071 682 898 660 % 57 47 41 57 72 39 49 46 48 33 Tingkat konsumsi Standar RS 1700 1500 1700 1500 1500 1700 1700 1500 1700 1700 % 38.8 defisit 36.3 defisit 46.1 defisit 37.5 defisit 44.4 sedang 41.0 defisit 63.0 defisit 45.4 defisit 52.8 defisit 38.8 defisit Kriteria

1546

722

49

44.4

68

Lampiran 14 Tabel 22. Asupan lemak Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit Lemak Kebutuhan Asupan Tingkat konsumsi % Kode pasien 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 Standar RS 61.7 56 61.7 56 56 61.7 61.7 56 61.7 61.7 Gram 38.6 38.6 64.1 32.6 30.7 59.3 72.2 49.4 62.4 67.4 51.5 Gram 33.8 27.2 30.0 23.2 32.0 30.5 43.0 25.7 40.9 25.4 31.2 % 87.5 70.3 46.8 71.1 104.2 51.4 59.5 52.0 65.6 37.7 64.6 Standar RS 54.8 48.5 48.6 41.4 57.1 49.4 69.6 45.8 66.3 41.2 52.3 baik sdg defisit sdg baik defisit defisit defisit kurang defisit Kriteria

Rata-rata

69

Lampiran 15 Tabel 23. Asupan Kolesterol Rumah Sakit Kolesterol Kode pasien 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 (Sumber McGowan, 2001) Asupan mg 159.7 163.4 325.1 148.4 200.5 257.3 274.5 230.3 300.0 192.9 Baik Baik Buruk Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Keterangan Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet

70

Lampiran 16 Tabel 24. Asupan Natrium Dibandingkan Dengan Kebutuhan Dan Standar Diet Rumah Sakit Natrium Kode pasien 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 Asupan (mg) 546.1 1096.0 1376.0 1305.7 1306.1 1394.8 1621.3 1351.2 1487.0 1351.2 Rendah Rendah Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Keterangan

71

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->