P. 1
Pedagogik_Mengapa Manusia Harus Dididik

Pedagogik_Mengapa Manusia Harus Dididik

|Views: 21|Likes:

More info:

Published by: Brigitta Yulielza Bezinkle Cara on Aug 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2014

pdf

text

original

Mengapa Manusia Harus Dididik?

Usaha pengembangan hakekat manusia dalam dimensi keindividuan, kesosialan, kesusilaan, & keberagamaan berangkat dari anggapan dasar bahwa manusia secara potensial memiliki semua dimensi tersebut, yang memungkinkan dan harus dapat dikembangkan secara bertahap, terarah dan terpadu melalui pendidikan, sehingga dapat menjadi aktual. Pengembangannya sebagai peserta didik diselenggarakan dalam lingkungan pendidikan keluarga, sekolah, & masyarakat pengembangan self extence menyangkut aspek jasmani-rohani, cipta-rasa-karsa sebagai dimensi keindividuan. Pengembangan dimensi tersebut harus dimulai sejak di keluarga, sekolah dan masyarakat, untuk itu nilai/norma/kaidah yang berlaku didalam keluarga juga perlu dijunjung tinggi di sekolah dan masyarakat. Pada hakekatnya manusia itu adalah animal educable (binatang yang dapat dididik) ,animal educandum (binatang yang harus dididik) dan homo educandus( makhluk yang dapat mendidik) . Dari hakekat ini jelas bahwa pendidikan itu merupakan keharusan mutlak bagi manusia. Oleh karena itu mengapa manusia perlu dididik maka dapat ditinjau dari berbagai aspek. Bayi/anak-anak mula-mula yang paling berperan adalah dari segi fisik, yang dalam perkembangannya ditentukan oleh dua faktor yaitu maturation (kematangan) dan learning (belajar). kemudian segi rohani berganti memegang peranan penting. Ditinjau dari sisi lain hakekat manusia adalah sebagai makhluk indifidu dan sosial makhluk dunia dan akhirat, terdiri dari unsur jiwa dan raga yang diciptakan oleh tuhan lewat hubungan orang tua untuk hidup bersama secara sah lewat pernikahan, maka orang tua harus mendidik anak-anaknya secara bertanggung jawab. Faktor dari dalam yang mempengaruhi perkembangan manusia meliputi semua potensi yang dibawa sejak lahir, potensi ini tetap terpendam apabila tidak dikembangkan melalui pendidikan,inipun juga tergantung dari kemauan(aktivitet). Faktor dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan manusia yaitu lingkungan alam.Artinya lingkungan anak dengan anak ,anak dengan orang dewasa, orang dewasa dengan orang dewasa yang saling berinteraksi.Lingkungan budaya berupa sopan santun,TV,majalah, dll.serta lingkungan alam secara geografisnya, namun karena perkembangan iptek pengaruh lingkungan alam dapat diatasi.

Terdapat lima prinsip antropologis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu : 1. Prinsip Potensialitas Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal tersebut antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral/berakhlak mulia, cerdas, berperasaan, berkemauan, mampu berkarya. Di pihak lain manusia memiliki berbagai potensi yaitu: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk mampu berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, dan potensi karya. Sebab itu, manusia akan dapat dididik karena ia memiliki potensi untuk menjadi manusia ideal. 2. Prinsip Dinamika Ditinjau dari sudut pendidik, pendidikan diupayakan dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar menjadi manusia ideal. Di pihak lain, manusia (peserta didik) itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. Manusia (peserta didik) selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. 3. Prinsip Individualitas Praktek pendidikan merupakan upaya pendidik memfasilitasi manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar mampu menjadi dirinya sendiri (menjadi seseorang/pribadi). Di pihak lain, manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki kediri-sendirian (subyektivitas), bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab itu, individualitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. 4. Prinsip Sosialitas Pendidikan pada hakikatnya berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan oleh pendidik dan diterima oleh

peserta didik. Hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, hidup bersama dengan sesamanya. Dalam kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi hubungan pengaruh timbal balik dimana setiap individu akan menerima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu, sosialitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. 5. Prinsip Moralitas Pendidikan bersifat normatif. Artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu. Disamping itu, pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia; agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya. Di pihak lain manusia berdimensi moralitas, manusia mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Sebab itu, dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. Atas dasar berbagai asumsi di atas, jelas kiranya bahwa manusia akan dapat dididik. Sehubungan dengan ini M.J. Langeveld (1980) memberikan identitas kepada manusia sebagai “Animal Educabile” atau hewan yang dapat dididik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->