P. 1
EKOLOGI PRATIKUM

EKOLOGI PRATIKUM

|Views: 9,964|Likes:
Published by krisman_siahaan
LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI

More info:

Published by: krisman_siahaan on Jun 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2015

pdf

text

original

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

DISUSUN OLEH:

BENNY ARDI
DWI UTAMI
KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN
NANDA ANDREAN
RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TA. 2007-2008
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Latar belakang dari pembuatan laporan ini adalah guna mengevaluasi
hasil praktikum mata kuliah Ekologi Kesehatan yakni tentang kehidupan
bawah tanah (cacing tanah). Percobaan ini dilakukan dengan latar belakang
memenuhi tugas praktikum mata kuliah tersebut, Namun sesunggguhnya
adapun kehendak untuk melakukan praktikum ini hakikatnya adalah karena
keingintahuan kami sebagai calon sanitarian mengenai kehidupan cacing
yang sebagai dasar untuk aplikasi kepada lingkungan dalam proses
pembusukan, salah satu contohnya pada dasar pratikum sampah.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Cacing tanah merupakan organisme tanah yang melakukan fingsi
ekologis dalam ekosistem tanah. Namun aktivitas konversi lahan terjadinya
efek terhadap habitat cacing tanah, melalui perubahan iklim mikro dan
masukkan bahan organic. Populasi cacing tanah akan berhubungan dengan
pembentukan porositas makro tanah sebagai mata rantai peranan cacing
dalam menjaga system hidrologis pada ekosistem tanah. Itulah sebabnya kita
semestinya perlu banyak tahu tentang kehidupan cacing bawah tanah. Salah
satu bentuk dari kesadaran kita adalah dengan melakukan pratikum ini.

B. MASALAH

Permasalahan yang difokuskan dalam pratikum ini adalah tentang
kehidupan bawah tanah dari cacing tanah terhadap habitatnya. Dimana
cacing yang kami ambil sebagai pratikum adalah cacing tanah biasa.

C. TUJUAN

Tujuan dari pratikum ini adalah sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi cacing tanah dalam membuat partikel tanah
menjadi gembur
b. Mengidentifikasi cacing tanah dalam mebuat lorong di dalam

tanah

c. Mengidentifikasi cacing tanah dalam berkembang dalam jumlah
dan ukurannya.

D. MANFAAT

Adapun manfaat daripada pratikum ini adalah kita dapat mengetahui dari
pengidentifikasian aktifitas cacing dalam membuat penggemburan tanah

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

serta pembuatan lorong serta dapat mengetahui perkembangan kehidupan
cacing tanah

BAB II

LANDASAN TEORI

Annelida (latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok
cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan platyhelminthes dan
nemaltheminthes, annelida merupakan hewan triplobastik yang sudah
memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata), namun, diantara hewan
selomata, annelida adalah hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana.

A. Ciri tubuh

Ciri tubuh Annelida meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.

a. Ukuran dan bentuk tubuh

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 meter.
Contoh annelida yang panjangnya mencapai 3 m adalah cacing
tanah Australia.

b. Struktur dan fungsi tubuh

Annelida memiliki segmen pada bagian luar dan dalam tubuhnya.
Antara satu segmen dengan segmen lainnya terdapat sekat yang
disebit septa. Pembuluh darah, ekskresi, dan system saraf di
antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan
menembus septa.

Rongga tubuh annelida berisi cairan yang berperan dalam
pergerakan Annelida. Pergerakan otot. Otot nya terdiri dari otot
melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal) Lihat
Gambar.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

System pencernaan annelida adalah sudah lengkap, terdiri dari
mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini
sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem
peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung hemoglobin
sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari
esofagus memiliki struktur berotot. Pembuluh darah berfungsi
memompa darah ke seluruh tubuh.
Sistem saraf cacing Annelida adalah sistem saraf ganglia otak
terletak didepan faring pada bagian anterior. Ekresi dilakukan oleh
organ ekresi dilakukan oleh organ ekresi yang terdiri dari
nefridia,nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggal = nefridium)
merupakan organ ekresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom
merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupakan pori
permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang organ
ekskresi pada setiap segmen tubuhnya

c) Cara hidup

Sebgaian besar annelida hidup bebas. Jenis lainnya hidup
sebagai parasit yang menempel sementara pada tubuh vertebrata,
termasuk manusia.

d) Habitat

Annelida umumnya hidup di dasar laut dan perairan tawar.
Beberapa jenis lainnya hidup di tanah dan tempat – tempat
lembab. Annelida hidup di perairan dan tanah di dalam liang yang
di buatnya.

e) Reproduksi

Annelida pada umumnya bereproduksi secara seksual dengan
pembentukan gamet. Beberapa jenis dapat bereproduksi secara
aseksual dengan fragmentasi, kemudian beregenerasi. Organ
kelamin jantan testir dan organ kelamin betina ovarium ada yang

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

terdapat pada satu individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah
pada individu yang berbeda (gonokoris)

f) Klasifikasi

Filum annelida terdiri dari 15 ribu jenis. Annelida dikelompokkan
menjadi tiga kelas yaitu, polychaeta (cacing berambut banyak),
Oligochaeta (berambut sedikit) dan Hirudinea
a. Polychaeta (cacing berambut banyak)

Ciri-ciri:

Polychaeta hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah
pasang surut air laut. Tubuh memanjang dan mempunyai segmen. Setiap
segmen mempunyai parapodia dan setiap parapodia memiliki setae, kecuali
pada segmen terakhir.
Contoh cacing ini adalah :
1) Eunice viridis (cacing wawo)
2) Lysidice oele (cacing palolo)
3) Nereis virens (kelabang laut)

Gambar 25. A. Polychaeta dengan parapodia B. Polychaeta dengan bagian tubuh

b. Olygochaeta (cacing berambut sedikit)
Ciri-ciri:

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

• Sebagian besar hidup di air tawar atau di darat.
• Hermafrodit, tidak mempunyai parapodia dan terdapat beberapa
setae pada pada setiap ruas

Contoh:

• Pheretima posthurna (cacing tanah – Asia)
• Lumbricus terrestris (cacing tanah – Eropa dan Amerika)
• Perichaeta (cacing hutan)
• Tubifex (cacing air)

Lumbricus terrestris
Lumbricus terrestris dikenal dengan cacing tanah,dan ciri-cirinya sebagai
berikut

• Tubuh dengan segmen yang jelas, berjumlah 15 – 200 buah•

Alat
eksresi berupa sepasang nefridia pada setiap segmen dan disebut
metanefridia.

Gambar 26. Metanefridia pada cacing tanah

• ada setiap segmen terdapat setae kecuali pada segmen pertama dan
terakhir.
• Hewan ini hermafrodit, tetapi pembuahan sendiri tidak akan terjadi
melainkan pembuahan silang yakni pada waktu dua hewan mengadakan
kopulasi.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

• Pada segmen ke 32 sampai segmen ke 37 terdapat klitelum sebagai alat
kopulasi.
• Bernafas dengan menggunakan seluruh permukaan tubuh yang lembab.
• Darah terdiri dari plasma darah, mengandung haemoglobin hingga
berwarna merah, sedangkan butir-butir darahnya tidak berwarna.
• Sistem saraf merupakan sistem saraf tangga tali.
Sistem pencernaan makanan sempurna, yaitu mulai dari mulut,
faring, atau esofagus, tembolok, lambung, usus dan anus.

a) Struktur tubuh cacing tanah (Lumbricus terestris)
b) potongan melintang tubuh, dan
c) bagian sistem pencernaan didekat kepala

b. Hirudinea

Ciri-ciri Hirudinea:
c. Banyak terdapat di air tawar, air laut atau di darat.
d. Tubuh tidak memiliki parapodia atau setae dan memiliki alat penghisap
pada bagian anterior dan posterior.
e. Pada hewan hermafrodit, lubang genetalia jantan terletak di muka lubang
genetalia betina.
f. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, tembolok, lambung, rektum,
anus. Anus terletak pada bagian dorsal.
g. Peredaran darah tertutup dan pernafasan berlangsung melalui kulit.
h. Pengeluaran (eksresi) melalui nefridium yang terdapat pada setiap

segmen.

i. Hewan ini mempunyai kelenjar ludah yang menghasilkan sekret yang
mengandung bahan anti koagulasi (mencegah penggumpalan darah).

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB III

HASIL PENGAMATAN

I. Materi :

Kehidupan bawah tanah (pengamatan cacing tanah)

II. Alat :

1. Toples kaca volume 5 liter
2. Kain kassa
3. Penggaris
4. Tali raffia
5. Plastic

III. Bahan :

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

1. Cacing 20 ekor
2. Tanah merah
3. Pasir
4. Air
5. Daun kering
6. Daun basah

IV. Cara kerja :

1. Siapkan semua alat dan bahan
2. Cucilah toples hingga bersih
3. Masukkan tanah merah 1/3 bagian,percikan dengan air
4. Masukkan kembali dengan tanah merah yang dicampur pasir
hingga ½ bagian
5. Tambahkan daun kering dan percikan dengan air
6. Masukkan cacing sebanyak 20 ekor yang telah di ukur
panjangnya

Tanggal 7 Mei 2008

a) Cacing 1 :
5,5cm
b) Cacing 2 : 10
cm
c) Cacing 3 :6,5
cm
d) Cacing 4 : 4
cm
e) Cacing 5 : 5
cm

f) Cacing 6 : 5
cm
g) Cacing 7 : 4
cm
h) Cacing 8 :3,5
cm
i) Cacing 9 : 6
cm
j) Cacing 10: 6 cm
k) Cacing 11 : 6 cm
l) Cacing 12 : 7 cm

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

m) Cacing 13 : 6 cm
n) Cacing 14 : 6 cm
o) Cacing 15 : 6 cm
p) Cacing 16 : 12 cm

q) Cacing 17 : 8 cm
r) Cacing 18 : 7 cm
s) Cacing 19 : 6 cm
t) Cacing 20 : 5 cm
7. Masukkan dengan tanah merah yang ditambah kan pasir lalu
percikkan dengan air
8. Isi kembali dengan daun kering
9. Isi dengan daun yang segar percikan dengan air
10.Tutup mulut toples dengan kassa

V. Hasil Pengamatan

Tanggal 4 Juni 2008

a) Cacing 1 : 7cm
b) Cacing 2 : 12 cm
c) Cacing 3 : 11 cm
d) Cacing 4 : 11 cm
e) Cacing 5 : 9 cm
f) Cacing 6 : 8 cm
g) Cacing 7 : 8 cm
h) Cacing 8 : 3 cm
i) Cacing 9 : 5 cm
j) Cacing 10 : 7 cm
k) Cacing 11 : 6 cm
l) Cacing 12 : 4 cm
m) Cacing 13 : 4 cm
n) Cacing 14 : 8 cm
o) Cacing 15 : 6 cm
p) Cacing 16 : 12 cm
q) Cacing 17 : 7 cm

r) Cacing 18 : 5
cm
s) Cacing 19 : 4
cm
t) Cacing 20:
9 cm

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB IV
PEMBAHASAN

Salah satu mahluk hidup penghuni tanah adalah cacing. Cacing tanah
tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang)
yang hidupnya di tanah yang gembur dan lembab. Ada lebih dari 1.800 jenis
cacing tanah yang dikenal para ilmuwan.
Kemampuan hewan ini mendaur ulang limbah organik dicirikan dari
sistem pencernaannya yang spesifik dan cara mencerna makanan. Sistem

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

pencernaan hewan ini terdiri dari farink, kerongkongan, kelenjar kalsiferous,
tembolok, lambung dan usus besar.
Bahan organik menjadi sumber makanan cacing tanah. Kotoran cacing
tanah sisa mencerna bahan organik adalah pupuk penyubur tanah, yang
lebih dikenal sebagai kascing atau bekas cacing.
Cacing yang sangat menyukai bahan organik, terutama yang berasal
dari kotoran ternak dan sisa-sisa tumbuhan.
System pencernaan cacing tanah sangat adaptif dengan aktifitas
makan dan menggali pori – pori tanah. Cacing tanah menelan tanah
(termasuk residu dekomposisi organic dalam tanah) atau residu dan sisa
tanaman pada permukaan tanah. Kemudian otot yang kuat mengolah
material yang tertelan dan mengeluarkannya melalui system pencernaan
yang mengandung cairan pencernaan berupa enzim dan bercampur dengan
material itu. Cairan pencernaan itu mengeluarkan asam amino, gula dan
molekuk organic dari residu organic (termasuk protozoa hidup, nematode,
bakteri,jamur dan mikroorganisme lain). Molekul yang paling kecil diabsorbsi
melalui membrane intestinal cacing tanah yang digunakan untuk energi dan
sintesis sel.

Cacing tanah tidak mempunyai pembagian pernafasan yang spesifik.
Pertukaran dalam pernafasan terjadi melalui permukaan tubuh.
Cacing tanah tidak selalu bereproduksi dengan perkawinan dirinya
sendiri melalui system hermafrodit (masing – masing individu mempunyai
organ reproduksi jantan dan betina). Pertukaran sperma bersama terjadi
diantara dua cacing selama perkawinan.
Sperma dewasa dan sel telur serta cairan nutrisi tersimpan dalam
kokon yang diproduksi clitellum,conspicuous struktur seperti korset dekat
ujung anterior tubuh. Sel telur dibuahi oleh sel sperma dalam kokon, emudian
terlepas dan mengendap didalam atau di atas tanah, telur menetas setelah
tiga minggu. Masing – masing kokon menghasilkan dua hingga dua puluh
baby cacingCacing tanah dikelompokkan dalam tiga plasma yaitu Epigeic,

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Endogeic dan Aneic. Epigeic biasanya hidup diatas permukaan tanah dan
memakan kotoran. Endogeic hidup di bawah permukaan tanah secara
horizontal. Aneic hidup di lapisan tanah lebih dalam .
Cacing tanah makan dengan cara menelan tanah selama menggali.
Organisme hidup maupun bahan organic yang membusuk dalam tanah
dicerna cacing. Makanan yang tidak di cerna termasuk tanah dikeluarkan
melalui anus. Buangan ini dibawa ke permukaan tanah sehingga tampak
seperti gundukan kecil. Gundukan tersebut dinamakan kascing , kascing
menyuburkan tanah. Kemampuan cacing tanah menggali tanah memberi
keuntungan karena dapat menggemburkan tanah. Cacing tanah juga
dimanfaatkan untuk bahan kosmetika, obat, dan campuran makanan
berprotein tinggi bagi hewan ternak
Siklus hidup hewan ini dimulai dari kokon, cacing muda, cacing
produktif dan cacing tua. Lama siklus hidup hewan ini dari telur hingga mati
dapat mencapai 1-5 tahun.Kemampuan cacing tanah mengurai bahan
organik 3-5 kali lebih cepat dibandingkan proses pembusukan sampah
secara alami.

“Tanpa cacing, sampah baru bisa membusuk dalam waktu kurang
lebih dua bulan sedangkan jika menggunakan cacing, dalam dua minggu
sudah jadi,”

BAB V

KESIMPULAN

1. CACING TANAH marupakan hewan triploblastik selomata; tubuh simetri
bilateral dan bersegmen; memiliki otot; system pencernaan lengkap;
memiliki system sirkulasi,system saraf tangga tali, system ekskresi; tidak
memiliki system resprasi; bersifat hermafrodit atau gonokoris; hidup pada
umumnya di daerah lembab, hidup bebas atau parasit, reproduksi secara

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI
KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

aseksual dengan fragmentasi, secara seksual dengan pembentukan
gamet.

2. Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organik 3-5 kali lebih cepat
dibandingkan proses pembusukan sampah secara alami.
“Tanpa cacing, sampah baru bisa membusuk dalam waktu kurang lebih
dua bulan sedangkan jika menggunakan cacing, dalam dua minggu sudah
jadi,”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->