LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

LAPORAN PRATIKUM (EKOLOGI)

DISUSUN OLEH:
BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TA. 2007-2008

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa atas rahmat dan tuntunanNya hingga kami menyelesaikan penyusunan laporan Pratikum,ekosistem air buatan (Aquarium air tawar), Kehidupan dalam Tanah (Cacing Tanah), Pengaruh Limbah cair terhadap Biota Air Ikan Cere, Pengenalan Mikroalgae dalam air, Penentuan frekuensi vegetasi tumbuhan. Penulisan laporan ini berdasarkan kesesuaian ilmu yang disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi Kesehatan Menyadari keterbatasan kami dalam merampungkan tulisan ini, diharapkan kritik dan saran dapat disampaikan secara terbuka dan sesuai dengan tujuan penyusunan laporan pratikum ini. Selanjutnya atas segala bimbingan dan kerjasama berbagai pihak, perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada : 1. Ibu DRA.Syarifah MEJ Biomed Selaku Dosen Mata Kuliah Ekologi Kesehatan 2. Bpk Sujono SKM, MKes selaku Dosen Mata Kuliah Ekologi Kesehatan 3. Bpk Hadi Siswanto selaku Dosen Mata Kuliah Ekologi Kesehatan 4. Ibu Rahayu Winarni Selaku Dosen Mata Kuliah Ekologi Kesehatan 5. Bpk. Drs Pangestu selaku Dosen Mata Kuliah Ekologi Kesehatan 6. Ibu Desembra Lisa selaku Dosen Mata Kuliah Ekologi Kesehatan Demikianlah prakata ini kami sampaikan , semoga tulisan ini mampu memberi manfaat sesuai dengan maksudnya Jakarta, 20 Mei 2008 Tim Penulis BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH (Kelompok II)

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

EKOSISTEM AIR TAWAR BUATAN (AQUARIUM AIR TAWAR)

DISUSUN OLEH:
BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TA. 2007-2008

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Latar belakang dari pembuatan laporan ini adalah guna mengevaluasi hasil praktikum mata kuliah Ekologi Kesehatan yakni tentang Ekosistem buatan Air tawar. Habitat air sebagai tempat hidup dari organisme perairan memiliki porsi relative lebih kecil dibandingkan dengan daratan dan lautan,namun di lihat kepentingan bagi mahluk hidup sangat lah besar. Air tawar yang relative lebih muda untuk dimanfaatkan terutama berasal dari air permukaan (sungai, danau, rawa) dan air tanah. Kebutuhan akan air dari waktu – waktu semakin meningkat. Di dalam ekosistem terjadi suatu interaksi dan keseimbangan antara komponen satu dengan yang lainnya. Ekosistem buatan ini menggambarkan senagian kecil dari ekosistem air tawar yang ada di biosfer ini. Itulah sebabnya kita semestinya bagaimana interaksi yang terjadi, salah satu bentuk itu kita melakukan pratikum ini. B. MASALAH Permasalahan yang difokuskan dalam pratikum ini adalah tentang interaksi dan perilaku masing – masing kehidupan air tawar yang di gambarkan melalui aquarium buatan ini.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

C. TUJUAN Tujuan daripada pratikum ini adalah sebagai berikut :

a. Mengetahui interaksi dan perlaku dari masing – masing komponen yang ada di dalam ekosistem aquarium (biotic dan abiotik) b. Mengetahui keseimbangan antara komponen satu dengan yang lainnya c. Mengetahui perubahan suhu dan pH dalam aquarium sebagai akibat dari adanya perombakan bagan organic. D. MANFAAT Adapun manfaat daripada pratikum ini adalah kita dapat mengetahui kehidupan biota air tawar dari interaksi, penyesuaian, persaingan.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB II LANDASAN TEORITIS Latar belakang dari pembuatan laporan ini adalah guna mengevaluasi hasil praktikum mata kuliah Ekologi Kesehatan yakni tentang Ekosistem buatan Air tawar. Habitat air sebagai tempat hidup dari organisme perairan memiliki porsi relative lebih kecil dibandingkan dengan daratan dan lautan,namun di lihat kepentingan bagi mahluk hidup sangat lah besar. Air tawar yang relative lebih muda untuk dimanfaatkan terutama berasal dari air permukaan (sungai, danau, rawa) dan air tanah. Kebutuhan akan air dari waktu – waktu semakin meningkat, sementara itu kenyataan yang di hadapi bahwa kuantitas sumber daya air tidak mungkin ditingkatkan sedangkan kualitasnya semakin lama semakin menurun. Ekosistem air tawar dibagi kedalam dua golongan besar yaitu habitat lentik (tenang) seperti danau, kolam dan rawa dan habitat mengalir seperti sungai dan selokan (parit). Pada ekosistem air tawar terdapat beberapa factor pembatas yang mempengaruhi kehidupan dari organisme, yaitu : 1. temperature, perubahan temperature air memiliki variasi yang kecil dibandingkan dengan perubahan di udara. Namun bagi biota perairan, perubahan ini akan berdampak penting, sebab banyak biota yang tidak toleran terhadap perubahan temperature. 2. kebeningan (transparensi), kebeningan suatu perairan akan mempengaruhi penetrasi cahaya kedalam ekosistem perairan, sehingga semakin benng suatu perairan, maka cahaya dapat menembus semakin dalam, sehingga proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau dapat berlangsung dengan baik. Proses erosi tanah dan kepadatan organisme perairan dapat menurunkan derajat kebeningan suatu perairan. Kekeruhan yang disebabkan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

oleh banyaknya organisme perairan merupakan petunjuk tingkat kesuburan perairan tersebut. 3. arus air, merupakan factor pembatas bagi ekosistem air mengalir (stream), karena dengan adanya arus mempengaruhi distribusi gas, garam dan organisme kecil. Selain itu adanya arus air ini menyebabkan organisme harus menyesuaikan diri dengan arus air. Misalnya organisme tersebut dilengkapi dengan alat penempel yang mampu meletakkan dirinya di batu. Kadar oksigen pada ekosistem perairan ini cukup berlimpah sehinga kebanyakan mahluk hidupnya sangat peka terhadap kekurangan oksigen. 4. kosentrasi gas – gas pernafasan (respirasi), di dalam ekosistem air tawar kosentrasi oksigen dan karbon dioksida merupakan factor pembatas bagi organisme perairan. Oksigen dibutuhkan untuk proses pernafasan, sedangkan karbondioksida dubutuhkan oleh tumbuhan hijau dalam proses fotosintesis. 5. kosentrasi garam biogenic, kandungan nitrat dan fosfat di dalam perairan menunjukkan pula tingkat kesuburan suatu perairan. Dalam beberapa kepentingan manusi. Kesuburan perairan yang tinggi tidak di inginkan, misalnya air tersebut digunakan untuk pembangkit tenaga listrik, selain itu perairan subur dapat mempercepat proses pendangkalan. Ekosistem kolam yang cukup dalam seperti digambarkan pada aquarium buatan memiliki komponen – komponen yang mebangun ekosistem tersebut. Seperti produsen, konsumen dan pengurai sebagai komponen biotic dan factor fisik kimia sebagai komponen abiotiknya. Didalam ekosistem lapangan yang lengkap seperti yang di ilustrasikan, memiiki emoat komponen ekosistem yaitu produsen, konsumen, decomposer yang ketiganya termasuk ke dalam komponen biotic, serta factor fisik kima sebagai komponen abiotik Ekosistem air tawar di bagi menjadi dua :

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

a. ekosistem air tawar lotik memiliki ciri – ciri airnya berarus. Contoh ekosistem ini adalah kali dan sungai. Organisme yang hidup pada ekosistem ini dapat menyesuaikan diri dengan arus air, contoh nya ikan belida, serangga air, dan diatom yang dapat menempel pada batu. Produsen utama pada ekosistem ini adalah ganggang. Tetapi umumnya organisme lotik memakan detritus yang berasal daru ekosistem darat dan sekitarnya. b. ekosistem air tawar lentik memiliki ciri airnya tidak berarus. Ekosistem air tawar lentik meliputi rawa air tawar, rawa gambut, padang rumput rawa, kolam dan danau. Rawa didominasi oleh vegetasi berkayu. Rawa gambut didominasi oleh lumut Sphagnum. Ekosistem danau dan kolam terdiri dari tiga wilayah horizontal, yaitu litoral, limtetik, dan profundal. 1. wilayah litoral wilayah tepi danau dan kolam. Organisme litoral antara lain : teratai, hydrilla,hydra, capung, katak, burung, dan tikus. Vegetasi pada wilayah litoral didominasi oleh tumbuhan yang mengapung atau tenggelam. 2. wilayah limnetik wilayah perairan terbuka yang masih dapat ditembus cahaya matahari. Pada wilayah ini banyak mengandung fitoplankton dan zooplankton. Karena banyak mengandung plankton, pada wilayah limtetik dan litoral terdapat banyak ikan 3. wilayah profundal daerah yang dalam dengan berbagai dekomposer pada bagian dasarnya. Contoh danau di Indonesia yaitu danau singkarak dan danau maninjau di sumatra barat, serta danau Toba di Sumatera Utara

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN I. Materi : Ekosistem air tawar buatan (Aquarium Air Tawar) II. Alat : 1. Aquarium ukuran 30cm x 40cm 2. Aerator 3. Lampu Anti Kuman dan Tahan air 4. Saringan 5. Gayung 6. Ember 7. Kertas pH 8. Thermometer III. Bahan : 1. Ikan c. Black yellow d. Lemon f. Golden g. Buntal 2. Kura – kura 3. Udang 4. Hydrilla 5. Pasir malang 6. Kayu jati : 3 ekor : 3 ekor : 1 ekor : 1 ekor : 1 ekor : 2 ekor : 5 tumbuhan : 4 bungkus : 1 biji

e. Blue silver : 3 ekor

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

IV.

Cara Kerja

:

1. Bersihkan aquarium, pasir dan kayu yang akan dimaksukkan 2. Masukkan pasir kedalam aquarium dan ratakan sedalam 2 cm 3. Masukkan kayu jati dan di tata sedemikian rupa 4. Rangkaikan aerator yang di lengket kan pada dinding aquarium 5. Isi air secara perlahan kedalam aquarium dengan menggunakan kertas Koran agar pasir tidak terangkat 6. Ukur pH dan suhu air aquarium 7. Masuk kan hydrilla dan ikan, kura – kura, serta udang kedalam aquarium 8. Ukur pH dan suhu setiap hari rabu dan sabtu (setiap hari) V. Hasil Pengamatan

TANGGAL

HARI

p H

30 APRIL 2OO8

RABU

2 MEI 2OO8

JUM'A T

KOMPONEN KETERANGAN AQUARIUM KURA - KURA :1 KONDISI SEHAT LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI EKOR KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA IKAN BLACK KONDISI SEHAT YELLOW : 3 EKOR IKAN BLUE SILVER: KONDISI SEHAT 3 EKOR IKAN LEMON :3 KONDISI SEHAT EKOR 38,70 IKAN BUNTAL : 2 7 JERNIH / BENING KONDISI SEHAT O C EKOR IKAN GOLDEN : 1 KONDISI SEHAT EKOR UDANG :2 KONDISI SEHAT EKOR HIDRYLLA :5 KONDISI SEHAT TUMBUHAN IKAN KOI : KONDISI KURANG 15 EKOR SEHAT KURA - KURA :1 KONDISI SEHAT EKOR IKAN BLACK KONDISI SEHAT YELLOW : 3 EKOR IKAN BLUE SILVER KONDISI SEHAT : 3 EKOR IKAN LEMON KONDISI SEHAT : 3 EKOR IKAN BUNTAL : 2 KONDISI SEHAT EKOR IKAN GOLDEN : 1 KONDISI SEHAT 36,57 EKOR 7 O UDANG :2 C KONDISI SEHAT EKOR HIDRYLLA :5 KONDISI SEHAT TUMBUHAN KONDISI FISIK AIR SUHU
MATI SEMUA,DIMANGSA IKAN LAIN DITAMBAH KONDISI AWAL YANG KURANG SEHAT DALAM PERJALANAN MENUJU KAMPUS

IKAN KOI 15 EKOR

:

KURA - KURA :1 EKOR IKAN BLACK YELLOW : 3 EKOR IKAN BLUE SILVER : 3 EKOR 5 MEI 2OO8 JERNIH,SEDIKIT BAU AMIS DAN BERLENDIR 36,57 O C IKAN LEMON EKOR IKAN BUNTAL EKOR :3 :2

KONDISI SEHAT KONDISI SEHAT
MATI 1 EKOR, DIMANGSA IKAN LAIN, JUMLAH SISA 2 EKOR

KONDISI SEHAT MATI 1 EKOR, DIMANGSA IKAN LAIN, JUMLAH SISA 1 EKOR KONDISI SEHAT KONDISI SEHAT

SENIN

7

IKAN GOLDEN : 1 EKOR UDANG :2 EKOR

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB V KESIMPULAN

1. dari hasil pengamatan dapat diketahui interaksi dan perilaku dari masing – masing komponen dalam aquarium antara abiotik dan biotic 2. dari perubahan suhu dan pH, dan mengganggu keseimbangan dan interaksi ekosistem. Ini disebabkan akibat perubahan bahan organic 3. dalam beberapa hari perubahan yang terjadi yaitu : tumbuhan air mulai tampak layu, habis, kematian, volume air berkurang,timbulnya lendir dan berbau amis.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

KEHIDUPAN DALAM TANAH (CACING TANAH)

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

DISUSUN OLEH:
BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TA. 2007-2008 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Latar belakang dari pembuatan laporan ini adalah guna mengevaluasi hasil praktikum mata kuliah Ekologi Kesehatan yakni tentang kehidupan bawah tanah (cacing tanah). Percobaan ini dilakukan dengan latar belakang memenuhi tugas praktikum mata kuliah tersebut, Namun sesunggguhnya adapun kehendak untuk melakukan praktikum ini hakikatnya adalah karena keingintahuan kami sebagai calon sanitarian mengenai kehidupan cacing yang sebagai dasar untuk aplikasi kepada lingkungan dalam proses pembusukan, salah satu contohnya pada dasar pratikum sampah.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Cacing tanah merupakan organisme tanah yang melakukan fingsi ekologis dalam ekosistem tanah. Namun aktivitas konversi lahan terjadinya efek terhadap habitat cacing tanah, melalui perubahan iklim mikro dan masukkan bahan organic. Populasi cacing tanah akan berhubungan dengan pembentukan porositas makro tanah sebagai mata rantai peranan cacing dalam menjaga system hidrologis pada ekosistem tanah. Itulah sebabnya kita semestinya perlu banyak tahu tentang kehidupan cacing bawah tanah. Salah satu bentuk dari kesadaran kita adalah dengan melakukan pratikum ini. B. MASALAH Permasalahan yang difokuskan dalam pratikum ini adalah tentang kehidupan bawah tanah dari cacing tanah terhadap habitatnya. Dimana cacing yang kami ambil sebagai pratikum adalah cacing tanah biasa. C. TUJUAN Tujuan dari pratikum ini adalah sebagai berikut menjadi gembur b. Mengidentifikasi cacing tanah dalam mebuat lorong di dalam tanah c. Mengidentifikasi cacing tanah dalam berkembang dalam jumlah dan ukurannya. D. MANFAAT Adapun manfaat daripada pratikum ini adalah kita dapat mengetahui dari pengidentifikasian aktifitas cacing dalam membuat penggemburan tanah :

a. Mengidentifikasi cacing tanah dalam membuat partikel tanah

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

serta pembuatan lorong serta dapat mengetahui perkembangan kehidupan cacing tanah

BAB II LANDASAN TEORI Annelida (latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan platyhelminthes dan nemaltheminthes, annelida merupakan hewan triplobastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata), namun, diantara hewan selomata, annelida adalah hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. A. Ciri tubuh Ciri tubuh Annelida meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. a. Ukuran dan bentuk tubuh

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 meter. Contoh annelida yang panjangnya mencapai 3 m adalah cacing tanah Australia. b. Struktur dan fungsi tubuh Annelida memiliki segmen pada bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan segmen lainnya terdapat sekat yang disebit septa. Pembuluh darah, ekskresi, dan system saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakan Annelida. Pergerakan otot. Otot nya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal) Lihat Gambar.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

System pencernaan annelida adalah sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung hemoglobin sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari esofagus memiliki struktur berotot. Pembuluh darah berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Sistem saraf cacing Annelida adalah sistem saraf ganglia otak terletak didepan faring pada bagian anterior. Ekresi dilakukan oleh organ ekresi dilakukan oleh organ ekresi yang terdiri dari nefridia,nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggal = nefridium) merupakan organ ekresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupakan pori permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi pada setiap segmen tubuhnya c) Cara hidup Sebgaian besar annelida hidup bebas. Jenis lainnya hidup sebagai parasit yang menempel sementara pada tubuh vertebrata, termasuk manusia. d) Habitat Annelida umumnya hidup di dasar laut dan perairan tawar. Beberapa jenis lainnya hidup di tanah dan tempat – tempat lembab. Annelida hidup di perairan dan tanah di dalam liang yang di buatnya. e) Reproduksi Annelida pada umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembentukan gamet. Beberapa jenis dapat bereproduksi secara aseksual dengan fragmentasi, kemudian beregenerasi. Organ kelamin jantan testir dan organ kelamin betina ovarium ada yang

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

terdapat pada satu individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu yang berbeda (gonokoris) f) Klasifikasi Filum annelida terdiri dari 15 ribu jenis. Annelida dikelompokkan menjadi tiga kelas yaitu, polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (berambut sedikit) dan Hirudinea a. Polychaeta (cacing berambut banyak) Ciri-ciri: Polychaeta hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah pasang surut air laut. Tubuh memanjang dan mempunyai segmen. Setiap segmen mempunyai parapodia dan setiap parapodia memiliki setae, kecuali pada segmen terakhir. Contoh cacing ini adalah : 1) Eunice viridis (cacing wawo) 2) Lysidice oele (cacing palolo) 3) Nereis virens (kelabang laut)

Gambar 25. A. Polychaeta dengan parapodia B. Polychaeta dengan bagian tubuh

b. Olygochaeta (cacing berambut sedikit) Ciri-ciri:

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

• Sebagian besar hidup di air tawar atau di darat. • Hermafrodit, tidak mempunyai parapodia dan terdapat beberapa setae pada pada setiap ruas Contoh: • Pheretima posthurna (cacing tanah – Asia) • Lumbricus terrestris (cacing tanah – Eropa dan Amerika) • Perichaeta (cacing hutan) • Tubifex (cacing air) Lumbricus terrestris Lumbricus terrestris dikenal dengan cacing tanah,dan ciri-cirinya sebagai berikut • Tubuh dengan segmen yang jelas, berjumlah 15 – 200 buah• metanefridia. Alat

eksresi berupa sepasang nefridia pada setiap segmen dan disebut

Gambar 26. Metanefridia pada cacing tanah • ada setiap segmen terdapat setae kecuali pada segmen pertama dan terakhir. • Hewan ini hermafrodit, tetapi pembuahan sendiri tidak akan terjadi melainkan pembuahan silang yakni pada waktu dua hewan mengadakan kopulasi.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

• Pada segmen ke 32 sampai segmen ke 37 terdapat klitelum sebagai alat kopulasi. • Bernafas dengan menggunakan seluruh permukaan tubuh yang lembab. • Darah terdiri dari plasma darah, mengandung haemoglobin hingga berwarna merah, sedangkan butir-butir darahnya tidak berwarna. • Sistem saraf merupakan sistem saraf tangga tali. Sistem pencernaan makanan sempurna, yaitu mulai dari mulut, faring, atau esofagus, tembolok, lambung, usus dan anus. a) Struktur tubuh cacing tanah (Lumbricus terestris) b) potongan melintang tubuh, dan c) bagian sistem pencernaan didekat kepala

b. Hirudinea Ciri-ciri Hirudinea: c. Banyak terdapat di air tawar, air laut atau di darat. d. Tubuh tidak memiliki parapodia atau setae dan memiliki alat penghisap pada bagian anterior dan posterior. e. Pada hewan hermafrodit, lubang genetalia jantan terletak di muka lubang genetalia betina. f. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, tembolok, lambung, rektum, anus. Anus terletak pada bagian dorsal. g. Peredaran darah tertutup dan pernafasan berlangsung melalui kulit. h. Pengeluaran (eksresi) melalui nefridium yang terdapat pada setiap segmen. i. Hewan ini mempunyai kelenjar ludah yang menghasilkan sekret yang mengandung bahan anti koagulasi (mencegah penggumpalan darah).

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB III HASIL PENGAMATAN

I.

Materi

:

Kehidupan bawah tanah (pengamatan cacing tanah) II. Alat : 1. Toples kaca volume 5 liter 2. Kain kassa 3. Penggaris 4. Tali raffia 5. Plastic III. Bahan :

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

1. Cacing 20 ekor 2. Tanah merah 3. Pasir 4. Air 5. Daun kering 6. Daun basah IV. Cara kerja :

1. Siapkan semua alat dan bahan 2. Cucilah toples hingga bersih 3. Masukkan tanah merah 1/3 bagian,percikan dengan air 4. Masukkan kembali dengan tanah merah yang dicampur pasir hingga ½ bagian 5. Tambahkan daun kering dan percikan dengan air 6. Masukkan cacing sebanyak 20 ekor yang telah di ukur panjangnya Tanggal 7 Mei 2008 a) Cacing 1 5,5cm b) Cacing 2 cm c) Cacing 3 cm d) Cacing 4 cm e) Cacing 5 cm : 5 : 4 :6,5 : 10 : f) Cacing 6 cm g) Cacing 7 cm h) Cacing 8 cm i) Cacing 9 cm j) Cacing 10: 6 cm k) Cacing 11 : 6 cm l) Cacing 12 : 7 cm : 6 :3,5 : 4 : 5

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

m) Cacing 13 : 6 cm n) Cacing 14 : 6 cm o) Cacing 15 : 6 cm p) Cacing 16 : 12 cm percikkan dengan air 8. Isi kembali dengan daun kering

q) Cacing 17 : 8 cm r) Cacing 18 : 7 cm s) Cacing 19 : 6 cm t) Cacing 20 : 5 cm

7. Masukkan dengan tanah merah yang ditambah kan pasir lalu

9. Isi dengan daun yang segar percikan dengan air 10. Tutup mulut toples dengan kassa

V.

Hasil Pengamatan a) Cacing 1 b) Cacing 2 c) Cacing 3 d) Cacing 4 e) Cacing 5 f) Cacing 6 : 7cm

Tanggal 4 Juni 2008 r) Cacing 18 : cm s) Cacing 19 : cm t) 9 cm Cacing 20: 4 5

: 12 cm : 11 cm : 11 cm : 9 cm : 8 cm

g) Cacing 7 : 8 cm h) Cacing 8 : 3 cm i) Cacing 9 : 5 cm j) Cacing 10 : 7 cm k) Cacing 11 : 6 cm l) Cacing 12 : 4 cm 4 cm 8 cm 6 cm 12 cm 7 cm m) Cacing 13 : n) Cacing 14 : o) Cacing 15 : p) Cacing 16 : q) Cacing 17 :

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB IV PEMBAHASAN Salah satu mahluk hidup penghuni tanah adalah cacing. Cacing tanah tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang) yang hidupnya di tanah yang gembur dan lembab. Ada lebih dari 1.800 jenis cacing tanah yang dikenal para ilmuwan. Kemampuan hewan ini mendaur ulang limbah organik dicirikan dari sistem pencernaannya yang spesifik dan cara mencerna makanan. Sistem

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

pencernaan hewan ini terdiri dari farink, kerongkongan, kelenjar kalsiferous, tembolok, lambung dan usus besar. Bahan organik menjadi sumber makanan cacing tanah. Kotoran cacing tanah sisa mencerna bahan organik adalah pupuk penyubur tanah, yang lebih dikenal sebagai kascing atau bekas cacing. Cacing yang sangat menyukai bahan organik, terutama yang berasal dari kotoran ternak dan sisa-sisa tumbuhan. System pencernaan cacing tanah sangat adaptif dengan aktifitas makan dan menggali pori – pori tanah. Cacing tanah menelan tanah (termasuk residu dekomposisi organic dalam tanah) atau residu dan sisa tanaman pada permukaan tanah. Kemudian otot yang kuat mengolah material yang tertelan dan mengeluarkannya melalui system pencernaan yang mengandung cairan pencernaan berupa enzim dan bercampur dengan material itu. Cairan pencernaan itu mengeluarkan asam amino, gula dan molekuk organic dari residu organic (termasuk protozoa hidup, nematode, bakteri,jamur dan mikroorganisme lain). Molekul yang paling kecil diabsorbsi melalui membrane intestinal cacing tanah yang digunakan untuk energi dan sintesis sel. Cacing tanah tidak mempunyai pembagian pernafasan yang spesifik. Pertukaran dalam pernafasan terjadi melalui permukaan tubuh. Cacing tanah tidak selalu bereproduksi dengan perkawinan dirinya sendiri melalui system hermafrodit (masing – masing individu mempunyai organ reproduksi jantan dan betina). Pertukaran sperma bersama terjadi diantara dua cacing selama perkawinan. Sperma dewasa dan sel telur serta cairan nutrisi tersimpan dalam kokon yang diproduksi clitellum,conspicuous struktur seperti korset dekat ujung anterior tubuh. Sel telur dibuahi oleh sel sperma dalam kokon, emudian terlepas dan mengendap didalam atau di atas tanah, telur menetas setelah tiga minggu. Masing – masing kokon menghasilkan dua hingga dua puluh baby cacingCacing tanah dikelompokkan dalam tiga plasma yaitu Epigeic,

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Endogeic dan Aneic. Epigeic biasanya hidup diatas permukaan tanah dan memakan kotoran. Endogeic hidup di bawah permukaan tanah secara horizontal. Aneic hidup di lapisan tanah lebih dalam . Cacing tanah makan dengan cara menelan tanah selama menggali. Organisme hidup maupun bahan organic yang membusuk dalam tanah dicerna cacing. Makanan yang tidak di cerna termasuk tanah dikeluarkan melalui anus. Buangan ini dibawa ke permukaan tanah sehingga tampak seperti gundukan kecil. Gundukan tersebut dinamakan kascing , kascing menyuburkan tanah. Kemampuan cacing tanah menggali tanah memberi keuntungan karena dapat menggemburkan tanah. Cacing tanah juga dimanfaatkan untuk bahan kosmetika, obat, dan campuran makanan berprotein tinggi bagi hewan ternak Siklus hidup hewan ini dimulai dari kokon, cacing muda, cacing produktif dan cacing tua. Lama siklus hidup hewan ini dari telur hingga mati dapat mencapai 1-5 tahun.Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organik 3-5 kali lebih cepat dibandingkan proses pembusukan sampah secara alami. “Tanpa cacing, sampah baru bisa membusuk dalam waktu kurang lebih dua bulan sedangkan jika menggunakan cacing, dalam dua minggu sudah jadi,” BAB V KESIMPULAN

1. CACING TANAH marupakan hewan triploblastik selomata; tubuh simetri bilateral dan bersegmen; memiliki otot; system pencernaan lengkap; memiliki system sirkulasi,system saraf tangga tali, system ekskresi; tidak memiliki system resprasi; bersifat hermafrodit atau gonokoris; hidup pada umumnya di daerah lembab, hidup bebas atau parasit, reproduksi secara

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

aseksual dengan fragmentasi, secara seksual dengan pembentukan gamet. 2. Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organik 3-5 kali lebih cepat dibandingkan proses pembusukan sampah secara alami. “Tanpa cacing, sampah baru bisa membusuk dalam waktu kurang lebih dua bulan sedangkan jika menggunakan cacing, dalam dua minggu sudah jadi,”

PENGARUH PENCEMARAN LIMBAH ANORGANIK TERHADAP IKAN CERE DAN LARVA NYAMUK

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

DISUSUN OLEH:
BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TA. 2007-2008 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Latar belakang dari pembuatan laporan ini adalah guna mengevaluasi hasil praktikum mata kuliah Ekologi Kesehatan yakni tentang Pengaruh Pencemaran Limbah Anorganik Minyak terhadap Ikan cere dan Larva nyamuk Culex. Percobaan ini dilakukan dengan latar belakang memenuhi tugas praktikum mata kuliah tersebut, Namun sesunggguhnya adapun

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

kehendak untuk melakukan praktikum ini hakikatnya adalah karena keingintahuan kami sebagai calon sanitarian mengenai pencemaran air yang sekarang banyak terjadi yang menimbulkan gangguan pada kehidupan ekosistem air khususnya dampaknya terhadap ikan cere dan larva nyamuk culex yang pada umumnya hidup di sungai-sungai yang seringkali menjadi tempat pembuangan limbah cair, baik dari lingkungan rumah, lingkungan pabrik maupun lingkungan lain yang memiliki sisa-sisa (residu) bahan cair yang tidak digunakan yang dibuang ke sungai-sungai tersebut, Spesifikasinya kami ingin mengetahui seberapa besar pengaruh air limbah tersebut terhadap ikan cere dan larva nyamuk culex. Habitat ikan cere umumnya di sungai dan larva nyamuk culex di air yang kotor, Siklus hidup mereka dari telur hingga dewasa terjadi di air sungai itu serta di air untuk larva nyamuk culex, Namun sewaktu manusia membuang limbah cair mereka di sungaisungai dan air tempat hidup ikan cere dan larva nyamuk culex tersebut, kehidupan ikan cere dan larva nyamuk culex terancam. Populasi mereka menurun drastis. Hal ini disebabkan bahan-bahan kimia yang terkandung dalam limbah tersebut berbahaya bagi tubuh mereka sehingga menyebabkan kematian ikan-ikan dan dan larva nyamuk culex tersebut. Berarti secara tidak langsung kelestarian ikan cere terancam akibat ulah manusia sendiri. Itulah sebabnya kita semestinya berupaya mengendalikan dampak ini. Salah satu bentuk dari kesadaran kita adalah dengan melakukan praktikum ini,

B. MASALAH Permasalahan yang difokuskan dalam praktikum ini adalah tentang pengaruh limbah cair minyak terhadap ikan cere dan larva nyamuk culex. Dimana limbah yang kami gunakan adalah limbah cucian motor di Pencucian Motor di daerah Depok. Sedangkan objek yang kami gunakan adalah ikan cere dan larva nyamuk culex. Spesialisasi dari permasalahan ini adalah bagaimana konsentrasi air limbah dapat mematikan bagi ikan cere dan larva

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

nyamuk culex, Kuantitas dari limbah tersebut dalam air sungai tentunya berperan penting dalam proses ini, Sehingga kami pun menggunakan konsentrasi limbah yang berbeda-beda guna mengetahui tingkat nilai ambang batas berbahayanya kandungan limbah tersebut bagi mahluk hidup. C. TUJUAN Tujuan daripada praktikum ini adalah untuk mengetahui adanya limbah atau buangan minyak pada perairan akan menyebabkan terganggunya biota air. D. MANFAAT Adapun manfaat daripada praktikum ini adalah kita dapat mengetahui bahwa limbah buangan minyak dapat mengganggu kehidupan biota air sungai khususnya terhadap ikan cere dan larva nyamuk culex. Setelah mengetahui hal ini kita dapat merancang cara pengendalian limbah cair berupa buangan minyak ini sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekositem air sungai.

BAB II LANDASAN TEORI Bahan buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila bahan buangan an organik ini masuk ke air lingkungan maka akan terjadi ion logam di air. Bahan buangan anorganik biasanya berasal dari industri yang melibatkan penggunaan unsur – unsur logam tibal (Pb), Arsen (As), Kadium (Cd), Air raksa (Hg), Kroom (Cr), Nikel (Ni), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Kobalt (Co) dan lain - lain

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Dalam sample air limbah yang kami gunakan, terdapat deterjen sebagai bahan cuci yang digunakan untuk mencuci motor. Produk yang disebut deterjen ini merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahanbahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Pada umumnya, oli bekas mengandung deterjen yang bahan-bahan berikut: 1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu: a. Anionik : a. -Alkyl Benzene Sulfonate b. -Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS) c. -Alpha Olein Sulfonate (AOS) b. Kationik : Garam Ammonium c. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle d. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines 2. Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. a. Phosphates : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP) b. Acetates : - Nitril Tri Acetate (NTA) - Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA) c. Silicates : Zeolith d. Citrates : Citrate acid

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh : Sodium sulfate 4. Additives adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC). Dampak negatif dibalik manfaat deterjen Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, harus diakui bahwa bahan kimia yang digunakan pada deterjen dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya. Deterjen dalam badan air dapat merusak insang dan organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi ikan terhadap badan air yang kandungan oksigennya rendah menjadi menurun. Keberadaan busa-busa di permukaan air menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian. Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam deterjen adalah phosphate. Phosphate memegang peranan penting dalam produk deterjen, sebagai softener air. Bahan ini mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci deterjen meningkat. Phosphate yang biasa dijumpai pada umumnya berbentuk Sodium Tri Poly Phosphate

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

(STPP). Phosphate tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Tetapi dalam jumlah yang terlalu banyak, phosphate dapat menyebabkan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di badan air, sehingga badan air kekurangan oksigen akibat dari pertumbuhan algae (phytoplankton) yang berlebihan yang merupakan makanan bakteri. Populasi bakteri yang berlebihan akan menggunakan oksigen yang terdapat dalam air sampai suatu saat terjadi kekurangan oksigen di badan air dan pada akhirnya justru membahayakan kehidupan mahluk air dan sekitarnya.

BAB III HASIL PENGAMATAN I. Materi : Pengaruh Pencemaran Minyak Terhadap Ikan Cere II. Alat : 1. 2. 3. Lima buah Erlenmeyer volume 500ml Pipet Pasteur Timer

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

III. Bahan

:

1. Air keran 2. Oli minyak bekas kendaraan motor 3. 100 ekor ikan Cere IV. Cara Kerja : 1. Isi masing-masing erlemeyer dengan 550 ml air keran blanko

1
2,5 ml 0,5 %

2
5 ml 1,0 %

3
7,5 ml 1,5 %

4
10 ml 2,0 %

5
kontrol

Keterangan : Pada beaker glass kelima tidak ditambah dengan limbah

2. Kemudian masukkan 20 ekor ikan cere disetiap beaker glass 3. Catat pada lembar kerja jumlah ikan yang mati pada setiap interval waktu. Interval waktunya 5 menit pertama, 10 menit kedua dan 15 menit terakhir dan 24 jam (totalnya 24). V. Hasil Pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

PENGARUH LIMBAH ANORGANIK KEHIDUPAN TERHADAP IKAN CERE (YANG MATI) KOSENTRASI LIMBAH (%) WAKTU 0,5 1,0 1,5 2 KONTROL 0' 0 0 0 0 0 5' 0 0 0 0 0 10' 0 0 0 0 0 15' 0 0 0 0 0 30' 0 0 0 0 0 120' 0 8 14 20 0

Grafik Hasil Pengamatan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

I.

Materi : Pengaruh Pencemaran Minyak Terhadap Larva Nyamuk Culex

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

II.

Alat : 1. Lima buah Erlenmeyer volume 500ml 2. Pipet Pasteur 3. Timer

III.

Bahan

:

1. Air keran 2. Oli minyak bekas kendaraan motor 3. 100 Larva nyamuk culex IV. Cara Kerja : 4. Isi masing-masing erlemeyer dengan 500 ml air keran blanko

1
1 ml 0,2 %

2
2 ml 0,4 %

3
4 ml 0,8 %

4
8 ml 1,6 %

5
kontrol

Keterangan : Pada beaker glass kelima tidak ditambah dengan limbah

5. Kemudian masukkan 20 ekor Larva Nyamuk Culex disetiap beaker glass

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

6. Catat pada lembar kerja jumlah Larva yang mati pada setiap interval waktu. Interval waktunya 5 menit pertama, 5 menit kedua dan 10 menit terakhir dan 24 jam (totalnya 24).

V.

Hasil Pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan

PENGARUH LIMBAH ORGANIK KEHIDUPAN TERHADAP LARVA NYAMUK KOSENTRASI LIMBAH (%) WAKTU 0,2 0,4 0,8 1,6 KONTROL 0' 0 0 0 0 0 5' 0 2 0 4 0 10' 1 0 0 1 0 15' 0 0 0 1 0 30' 1 0 0 1 0 120' 18 18 20 13 0

\

Grafik Hasil Pengamatan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB IV PEMBAHASAN Ikan dan larva berespirasi di udara jika ikan dan larva nyamuk ingin mengambil oksigen dipermukaan air ,sedangkan air yang tertutup minyak (oli) maka ikan dan larva akan terhambat pada respirasinya. Hal itu yang menyebabkan kematian pada ikan dan larva, ikan dan larva tersebut mati karena proses respirasi terhambat. Berdasarkan dosis yang digunakan : 1. Semakin banyak dosis yang digunakan semakin banyak pula ikan dan larva yang mati 2. Banyaknya ikan dan larva yang mati karena air limbah yang menutupi permukaan air sehingga ikan sulit untuk melakukan respirasi. Berdasarkan waktu kontak 1. Aktivitas matinya ikan dan larva bisa dilihat dari setiap pergantian atau penambahan waktu permenit tertentu dan mempengaruhi kadar oksigen pada air. 2. Semakin lama waktu kontak semakin banyak ikan dan larva yang mati. Dari pengamatan ikan dan larva selama 24 jam dapat di lihat bahwa pada blanko terdapat ikan yang mati yaitu berjumlah 8 ekor pada kosentrasi 1,0 %, 14 ekor pada kosentrasi 1,5 %, , sedangkan pada dosis 2 % yang lain ikan banyak yang mati sebanyak 20 ekor. Sedangkan pada pengamatan larva yang mati 1 pada menit ke 10 dan 1 ekor pada menit ke 30 dan 18 ekor pada menit 120 menit pada kosentrasi 0,2 %, 2 ekor pada menit ke 5 dan 18 ekor menit ke 120 pada kosentrasi 0,4 %,20 ekor pada menit ke 120 pada kosentrasi 0,8 , sedangkan pada dosis 1,8 % yang lain ikan banyak yang mati

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

sebanyak 4 ekor pada menit ke 5, 1 ekor pada menit ke 10,15 dan 30 dan 13 ekor pada menit ke 120. Sedangkan pada pengamatan hal ini terjadi karena permukaan air yang tertutup oleh limbah sehingga proses respirasi terganggu dan ikan serta larva mati. Sedangkan pada blanko mengapa jumlah ikan dan larva yang mati begitu tinggi dalam hal ini kami mempunyai dua kemungkinan yang menyebabkan jumlah ikan dan larva pada blanko tinggi, pertama mungkin karena 1. kondisi ikan dan larva yang sudah tidak baik pada saat perjalanan pembawaan ke kampus, 2. kedua ikan dan larva yang sebagian mati tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, seperti yang kita ketahui bahwa habitat asli ikan dan larva pada tempat yang kurang bersih seperti got, comberan.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Terjadinya ketidak seimbangan ekosistem yang ada menyebabkan terganggunya ikan dan larva dan kematian pada ikan dan larva 2. Dengan adanya limbah minyak dapat mempengaruhi kadar oksigen dalam air. 3. Karena ikan dan larva mengambil oksigen di udara menggunakan insang dan corong udara, jadi dengan adanya limbah yang menutupi permukaan maka menghambat terjadinya respirasi pada ikan dan larva 4. Semakin tinggi dosis yang masuk kedalam air maka semakin tinggi tingkat kematian pada ikan dan larva. Saran 1. Kita harus mengurangi pembuangan limbah ke badan air karena kita tahu bahwa kandungan ikan dan deterjen larva dan minyak menghambat system pertumbuhan respirasinya, terutama mengahambat

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

PENGENALAN MIKROALGAE DALAM AIR

DISUSUN OLEH:
BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TA. 2007-2008

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB I PENDAHULUAN A) LATAR BELAKANG Latar belakang dari pembuatan lapran ini adalah guna mengevaluasi hasil pratikum mata kuliah Ekologi kesehatan yakni tentang pengenalan mikroalgae yang terdapat pada air (akuarium pada pratikum I). percobaan ini dilakukan dengan latar belakan memenuhi tugas pratikum mata kuliah tersebut, namun sesungguhnya adapun kehendak untuk melakukan pratikum ini hakikatnya adalah keingintahuan kami sebagai calon sanitarian mengenai perubahan fisik air akibat peranan mikro algae.Air merupakan substansi yang sangat vital dibutuhkan mahluk hidup. Oleh karena itu salah satu bentuk kesadaran kita adalah melakukan pratikum ini untuk mengenali mikroalgae B) MASALAH Permasalahan yang di fokuskan dalam pratikum ini adalah tentang perubahan yang terjadi pada kondisi fisik air, dari warna, bau, rasa. Ini terjadi karena kandungan air sudah mengandung suatu organisme algae. Hal ini dikarenaka air yang terdapat pada akuarium buatan pada pratikum pertama berubah kondisi fisiknya,diperkirakan adanya peranan alga C) TUJUAN Tujuan dari pratikum ini adalah untuk mengetahui nama dan jenis yang terdapat di dalam air yang telah berwana atau blooming D) MANFAAT Adapun manfaat dari pratikum ini untuk mengenali nama algae, bentuknya serta akibat yang di bentuk algae tersebut, setelah iti kita dapat mengetahui peranan dan mengenali secara jelas mikroalgae tersebut

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB II LANDASAN TEORI Ganggang adalah suatu berbeda dan besar kelompok organisma sederhana,secara khas autotrophic, berkisar antara unicellular ke format terdiri dari banyak sel. Format Angkatan laut [yang] paling kompleks dan yang paling besar disebut gangguan laut. Mereka adalah photosynthetic, sebab mereka kekurangan orang banyak organ/ bagian badan yang beda menemukan [pabrik/tumbuhan] daratan. Meskipun [demikian] cyanobacteria yang prokaryotic yang biasanya dikenal sebagai blue-green ganggang) secara kebiasaan dimasukkan seperti ganggang] Ganggang itu berbagai struktur yang menandai daratan menanam, seperti phyllids dan rhizoids di (dalam) nonvascular atau daun-daun, akar, dan lain organ/ bagian badan yang ditemukan tracheophytes. Mereka dibedakan dari amuba (binatang bersel satu) di (dalam) bahwa mereka adalah photosynthetic. Banyak orang adalah photoautotrophic, walaupun beberapa kelompok berisi anggota yang adalah mixotrophic, menurunkan energi kedua-duanya dari fotosintesis dan pengambilan [dari;ttg] karbon organik yang manapun oleh osmotrophy, myzotrophy, atau phagotrophy. Beberapa jenis unicellular mempercayakan seluruhnya pada [atas] sumber energi eksternal dan sudah mengurangi atau hilang piranti photosynthetic mereka. Semua ganggang mempunyai sistem photosynthetic [yang] akhirnya memperoleh dari cyanobacteria, dan demikian menghasilkan oksigen sebagai byproduct fotosintesis, tidak sama dengan lain bakteri photosynthetic seperti warna ungu dan bakteri belerang hijau. Berbagai sort;jenis ganggang main peran penting di (dalam) ekologi yang berhub dengan air. Format mikroskopik yang [tinggal/hidup] dipenjarakan kolom air ( phytoplankton) menyediakan dasar makanan [itu] untuk kebanyakan rantai makanan angkatan laut. Di (dalam) kepadatan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

sangat tinggi ( yang disebut algal mekar) ganggang ini boleh discolor air dan outcompete, racun, atau menyebabkan mati lemas lain format hidup. Gangguan laut tumbuh kebanyakan di (dalam) perairan angkatan laut [dangkal/picik], bagaimanapun beberapa telah direkam untuk suatu kedalaman 300 m.[beberapa digunakan sebagai makanan manusia atau memanen untuk unsur yang bermanfaat seperti agar, carrageenan, atau pupuk Penggolongan Cyanobacteria telah secara kebiasaan mencakup di antara ganggang, dikenal sebagai Cyanophytes atau blue-green ganggang, pekerjaan terbaru pada atas ganggang yang pada umumnya mengeluarkan/meniadakan [seperti membrane-bound organelles, kehadiran chromosome lingkar tunggal, kehadiran peptidoglycan di (dalam) dinding sel, dan ribosomes isi dan ukuran berbeda dari eukaryotes. di (dalam) chloroplasts, mereka melakukan fotosintesis pada [atas] selaput cytoplasmic dibungkus/dipeluk khusus [memanggil/hubungi] thylakoid selaput. Oleh karena itu, mereka berbeda dengan mantap dari ganggang di samping pendudukan relung ekologis serupa. Dengan ganggang definisi modern adalah eukaryotes dan melakukan fotosintesis di dalam membrane-bound organelles [memanggil/hubungi] chloroplasts. Chloroplasts berisi DNA lingkar dan adalah struktur serupa ke cyanobacteria, [yang] kiranya mewakili cyanobacterial dikurangi endosymbionts. Alam[I] yang tepat chloroplasts adalah berbeda di antara bentuk ganggang yang berbeda, mencerminkan peristiwa endosymbiotic berbeda. [Tabel;Meja] di bawah mendaftar ke tiga kelompok utama ganggang dan hubungan garis keturunan mereka ditunjukkan figur pada sisi kiri. Catat banyak dari kelompok ini berisi anggota beberapa yang adalah [yang] tidak lagi photosynthetic. Beberapa mempertahankan plastids, tetapi bukan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

chloroplasts, [selagi/sedang] (orang) yang lain sudah hilang [mereka/nya] seluruhnya Bentuk ganggang Kebanyakan dari ganggang yang lebih sederhana adalah unicellular mencambuk atau amoeboids, tetapi kolonial dan format non-motile sudah mengembang;kan dengan bebas antar beberapa kelompok [itu]. Sebagian dari tingkatan organisatoris semakin umum, lebih dari satu [di/yang/ttg] mana boleh terjadi jalan kehidupan suatu jenis, adalah o Kolonial: kelompok kecil, reguler motile sel o Capsoid: sel non-motile individu menempelkan lem cair/getah o Coccoid: sel non-motile individu dengan dinding sel o Palmelloid: sel non-motile menempelkan lem cair/getah o Filamentous: suatu dawai [dari;ttg] sel non-motile menghubungkan bersama-sama, kadang-kadang bercabang o Parenchymatous: sel [yang] membentuk suatu thallus dengan pembedaan jaringan/tisu parsial Di (dalam) tiga bentuk genap untuk tingkat yang lebih tinggi organisasi telah dicapai, dengan pembedaan jaringan. Ini adalah ganggang yang coklat beberapa mana boleh menjangkau 50 m panjangnya ganggang merah dan ganggang yang hijau. Format yang paling rumit ditemukan di antara ganggang yang hijau ( lihat Charales dan Charophyta), di (dalam) suatu garis keturunan yang secepatnya menuju/mendorong daratan yang lebih tinggi menanam. Titik [di mana/jika] [pabrik/tumbuhan] [yang] non-algal ini mulai dan perhentian ganggang pada umumnya mempertimbangkan kehadiran organ/ bagian badan reproduktif dengan lapisan sel bersifat melindungi, suatu karakteristik yang tidak ditemukan ganggang lain menggolongkan.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Ganggang dan symbioses Beberapa jenis ganggang membentuk hubungan simbiotik dengan lain organisma. Di (dalam) ini symbioses, ganggang menyediakan photosynthates ( zat organik) kepada organisma tuan rumah yang menyediakan perlindungan kepada algal sel. Organisma Tuan rumah memperoleh beberapa atau semua dari kebutuhan energi nya dari ganggang [itu]. Contoh meliputi o sebangsa lumut: suatu cendawan adalah tuan rumah, [yang] pada umumnya dengan suatu ganggang hijau atau suatu cyanobacterium [sebagai/ketika] symbiont nya. Kedua-Duanya fungal dan algal jenis menemukan sebangsa lumut adalah mampu untuk [hidup/tinggal] dengan bebas, walaupun tempat kediaman kebutuhan mungkin (adalah) sangat berbeda dari mereka yang dari pasangan sebangsa lumut. o karang: ganggang mengenal sebagai zooxanthellae adalah symbionts dengan karang. [yang] terkemuka Di antara ini adalah dinoflagellate Symbiodinium, yang ditemukan banyak karang [sulit/keras]. Hilangnya Symbiodinium, atau lain zooxanthellae, dari tuan rumah dikenal sebagai karang [yang] mengelantang. o spons/bunga-karang: ganggang hijau [tinggal/hidup] dekat dengan permukaan beberapa spons/bunga-karang, sebagai contoh, spons/bunga-karang remah roti ( Halichondria Panicea). Ganggang [dengan] begitu dilindungi dari pemangsa; spons/bunga-karang dilengkapi dengan oksigen dan gula yang dapat meliputi 50 [bagi/kepada] 80% tentang pertumbuhan spons/bunga-karang dalam beberapa species

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB III HASIL PENGAMATAN I. II. Materi : Pengenalan microalgae dalam air Alat : 1. Gayung 2. Pipet Pasteur 3. Tabung Sentrifuse 4. Sentrifuse 5. Kaca benda 6. Kaca penutup 7. Mikroskop III. IV. Bahan : 1. Air ekosistem air tawar buatan Cara kerja : 1. Ambil kurang lebih 250 ml air dari aquarium (ekosistem air tawar buatan pada pratikum 1) 2. Isi kan air tersebut ke dalam tabung centrifuge hingga memenuhi ¾ volume tabung 3. Putar tabung dalam centrifuge dengan kecepatan 1500 rpm selama 10 menit hingga terjadi endapan. 4. Buang supernatant / cairan yang bagian atas, kemudian kocok tabung hingga homogeny 5. Dengan menggunakan pipet Pasteur, ambil endapan tersebut dan letakkan diatas kaca benda dan tutup dengan kaca penutup. 6. Amati dengan mikroskop pembesaran 10x dan 40x 7. Identifikasi jenis algae yang ditemukan dengan melihat gambar.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

V.

Hasil pengamatan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah

diamati

kehadiran

kehidupan

mikro

algae

selalu

mempengaruhi lingkungan sekitar, mikro alga timbul akibat membentuk hubungan simbiotik dengan lain organisma. Di (dalam) ini symbioses, ganggang menyediakan photosynthates ( zat organik) kepada organisma tuan rumah yang menyediakan perlindungan kepada algal sel. Perubahan warna, bau, dan lender yang terjadi pada aquarium (pratikum I) terjadi akibat adanya mikro alga, Alga yang di temukan antara lain : 1. volvox 2. dynobryon 3. chlorogonium 4. anacytis 5. navicula

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB I KESIMPULAN MIKROALGA,dapat hadir akibat simbisosi antara oganisme lain yang hidup yang dimana jenis dan bentuk nya beragam, dan membawa efek baru terhadap habitat (air) seperti baud an warna serta lender.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

PENENTUAN FREKUENSI VEGETASI TUMBUHAN

DISUSUN OLEH:
BENNY ARDI DWI UTAMI KRISMAN HAMONANGAN SIAHAAN NANDA ANDREAN RAHMAWATI NINGSIH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TA. 2007-2008

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB I PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Sejumlah besar (lebih dari 10.000 buah) dari pulau-pulau tersebut adalah merupakan pulau-pulau berukuran kecil. memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan jasad renik yang tinggi. Hal ini terjadi karena keadaan alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama. Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat didalamnya. Keanekaragaman hayati yang sangat tinggi merupakan suatu koleksi yang unik dan mempunyai potensi genetik yang besar pula. Dengan mempelajari tingkat keberadaan jenis – jenis tumbuhan pada suatu komunitas, maka kita akan dapat mempelajari pola struktur vegetasi penyusunnya, terutama yang berkaitan dengan susunan jenis tumbuhan utama yang berkaitan dengan susunan jenis tumbuhan utama, distribusi dan dipersalnya atau homogenitasnya atau heterogenitasnya. Jenis – jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Istilah frekuensi diperkenalkan dan digunakan oleh Raunkiaer pada tahun 1934, untuk menyatakan jumlah unit sampling dari suatu species tumbuhan yang terdapat pada petak – petak pertelaan yang dikerjakan pengukuran atau cara kerjanya sangat mudah sekali, hanya dengan mengetahui ada atau tidaknya suatu species tumbuhan pada petak – petak pertelaan yang diamati. Penetuan nilai frekuensi pada petak – petak pertelaan yang diamati dapat dilakukan cara kerja : metode kuadrat (dengan pembuatan petak tunggal, dengan anak petak tunggal dengan petak ganda dan petak ganda

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

dengan anak petak). Metoda jalur transek line dan belt ransect dan metoda kuadrat (point centered quarter bietterlich,dll)

B. MASALAH Permasalahan yang difokuskan dalam praktikum ini adalah tentang penyebaran frekuensi vegetasi tumbuhan yang terdapat di Bumi Perkemahan Cibubur, Apakah Homogenitas atau Heterogen. Ekosistem meliputi mahluk hidup dengan lingkungan organisme, masing – masing mempengaruhi untuk memelihara kehidupan sehingga terjadi keseimbangan, keselaran dan keserasian alam di bumi. C. TUJUAN Tujuan daripada praktikum ini adalah untuk 1. menentukan frekuensi dan kelas frekuensi vegetasi tumbuhan berdasarkan hokum Raunkiner, terhadap jenis – jenis tumbuhan yang terdapat pada suatu komunitas. 2. menentukan sebaran frekuensi vegetasi tumbuhan yang terdapat Bumi Perkemahan Cibubur, Apakah Homogen atau Heterogen?

D. MANFAAT Adapun manfaat daripada praktikum ini adalah kita dapat mengetahui keanekaragaman hayati atau kanekaragaman ekositem yang ada di taman langsat dan mengetahui jenis tanaman apa saja yang dapat hidup di taman langsat.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB II LANDASAN TEORI Taman umum merupakan taman yang di peruntukkan sebagai ruang terbuka hijau untuk umum, Lokasi Bumi Perkemahan Cibubur merupakan vegetasi buatan. Di sini banyak di jumpai beberapa species tumbuhan. a. Jenis tanaman Elemen Taman Berdasarkan gradasi ketinggian, tanaman dapat di bedakan atas lima kelompok besar, yaitu rumput, tanaman penutup tanah, semak, herbal, perdu dan pohon. a. Rumput Merupakan jenis taman pengalas, posisinya dalam tanaman merupakan lapisan paling bawah di atas tanah. Jenis rumput yang dapat di pilih untuk taman, antara lain. i. Rumput gajah ii. Rumah paitan iii. Rumput Manila iv. Rumput Jarum b. Tanaman Penutup Tanah Sering disebut Groud Cover Merupakan tanaman yang sedikit lebih tinggi dari rumput, umumnya jenis tanaman ini terdiri dari tanaman yang berdaun atau berbunga indah. Jenis tanaman penutup tanah yang dapat di pilih untuk taman, antara lain : a. Dinding ari b. Krokot c. Nanas hias d. Urat perak e. Sutra bombai f. lili paris g. daun mutiara h. blue ayes i. mega Mendung v. Rumput Peking vi. Rumput Embun vii. Rumput Bermuda atau Grinting

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

c. semak. Merupakan jenis tanaman yang agak kecil dan rendah, agak berkayu atau hanya cabang utamanya yang berkayu, serta pertumbuhan nya cenderung merambat atau melebar. Jenis tanaman semak yang dapat di pilih untuk taman, antara lain : a. alamanda b. soka c. mawar d. pedang – pedangan d. perdu merupakan jenis tanaman yang menyerupai pohon tetapi lebih kecil dan biasanya batangnya cukup berkayu tetapi tumbuhnya kurang tegak dan kurang gagah. Tanaman perdu biasanya bercabang banyak dengan percabangan yang selalu dekat dengan tanah. Jenis perdu yang dapat di pilih untuk tanaman, antara lain: a. Puring b. Kembang merak c. Kemuning d. Kembang sepatu e. Kol banda f. Kdondong laut g. Landep h. Wali songo i. j. Bougenvil Kaca piring e. lantana f. melati g. mirten h. teh – tehan

k. Siantho

e. Pohon Merupakan tanaman berkayu keras dan tumbuh tegak, berukuran besar dengan percabangan yang kokoh. Jenis pohon yang dapat di pilih untuk taman, antara lain: a. Biola cantik b. Kerai paying c. Dadap merah d. Palem raja

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

e. Cemara kipas f. Nyamplung a. Pola penataan Taman

g. Mahoni h. Tanjung

Aspek manfaat merupakan prinsip utama yang diterapakan untuk sebuah taman umum, agar dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak maka kelegaan taman menjadi prioritas utama. Jalan setapak dan hamparan rerumputan di tanam agar orang leluasa berjalan – jalan atau duduk santai rerumputan, pepohonan berdaun rimbun dan teduh dengan tajuk yang lebar menyebabkan orang sering berteduh di bawah pohon tersebut. Untuk taman umum yang luasnya sangat terbatas biasanya pola penataan hanya diarahkan pada keindahaan taman saja, taman seperti ini akhirnya hanya berfungsi memperindah kota, buka sebagai tempat santai atau berteduh

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

BAB III HASIL PENGAMATAN I. MATERI PENENTUAN FREKUENSI VEGETASI TUMBUHAN BERDASARKAN HUKUM KELAS RAUNKIANER II. ALAT a. Tali raffia b. Patok bamboo c. Patok pukulan d. Kantong plastic III. CARA KERJA a. Tentukan lokasi yang akan dijadikan pengamatan. b. Ukur tanah tersebut dengan menggunakan meteran ukuran panjang 10meter x 10 meter. c. Setelah di ukur tancapkan patok disetiap sisinya lalu bagi lahan yang telah di ukur meteran 2 7 12 17 22 3 8 13 18 23 menjadi yang 25 bagian – 5 10 15 20 25 kecil masing dengan bagian menggunakan 1 6 11 16 21 masing 4 9 14 19 24 : : : : 12 tali 14 buah 1 buah 1 buah

berukuran 2 meter (lihat gambar)

d. Lakukan pengamatan tumbuhan yang ada dan hitung berapa jumlahnya juga tentukan jenisnya e. Setelah melakukan pengamatan hasil yang didapat dimasukkan dalam table pengamatan

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

KETERANGAN
JUMLAH TOTAL SAMPLING UNIT YANG MEMILIKI SPECIES TUMBUHAN PETAK UNIT
PETAK UNIT TAPAK LIMAN PETAK UNIT RUMPUT JARUM PETAK UNIT RUMPUT GAJAH PETAK UNIT HERBAL PETAK UNIT MIMOCAPODICA (PUTRI MALU) PETAK UNIT RUMPUT TEKI PETAK UNIT POHON TANJUNG PETAK UNIT POHON NYAMPLUNG PETAK UNIT SEMAK DAUN KECIL PETAK UNIT ALANG - ALANG

JUMLAH BAGIAN 5 25 22 23 12 1 2 2 4 1 97

JUMLAH Perhitungan.

% Frekuensi

=

jumlah total sampling unit yang memiliki species tumbuhan x100% jumlah total sampling unit yang digunakan

% Frekuensi TAPAK LIMAN

=

5 25 25 25 22 25 23 25

x100% =

20%

0 - 20 %

KELAS A KELAS E KELAS E KELAS E

% Frekuensi RUMPUT JARUM

=

x100% = 100%

81 - 100 % 81 - 100 % 81 - 100 %

% Frekuensi RUMPUT GAJAH

=

x100% =

88%

% Frekuensi HERBAL

=

x100% =

92%

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

% Frekuensi MIMOCAPODICA (PUTRI MALU)

=

12 25 1 25 2 25 2 25 4 25 1 25

x100% =

48%

41 - 60 % 0 - 20 %

KELAS C KELAS A KELAS A KELAS A KELAS A KELAS A

% Frekuensi RUMPUT TEKI

=

x100% =

4%

% Frekuensi POHON TANJUNG

=

x100% =

8%

0 - 20 %

% Frekuensi POHON NYAMPLUNG % Frekuensi SEMAK DAUN KECIL

=

x100% =

8%

0 - 20 %

=

x100% =

16%

0 - 20 %

% Frekuensi ALANG - ALANG

=

x100% =

4%

0 - 20 %

HUKUM RAUNKAINER A>B>C<D<E MAKA, A B =6 =C D =1 =E =3

Maka ABCD Tinggi, Sebaran tumbuhan Heterogen LUAS BASAL AREA SPECIES TUMBUHAN

BASAL AREA
TAPAK LIMAN RUMPUT JARUM

LUAS -

RUMPUT GAJAH PETAK UNIT HERBAL

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

MIMOCAPODICA (PUTRI MALU) RUMPUT TEKI

13,5 meter 10 meter -

POHON TANJUNG POHON NYAMPLUNG

SEMAK DAUN KECIL ALANG - ALANG

Perhitungan % Relatif Dominan = Total basal area species tumbuhan x 100% Total basal area seluruh Species 13,5 100

% Rlatif Dominant Pohon Tanjung

=

100%

=

13,50%

% Rlatif Dominant Pohon Nyamplung

=

10 100

100%

=

10,00%

JUMLAH INDIVIDU SUATU SPECIES SPECIES
TAPAK LIMAN RUMPUT JARUM RUMPUT GAJAH HERBAL MIMOCAPODICA (PUTRI MALU) RUMPUT TEKI POHON TANJUNG POHON NYAMPLUNG SEMAK DAUN KECIL ALANG - ALANG

JUMLAH SPECIES 27 3941 3908 1071 134 25 6 6 124 167 9409

JUMAH Perhitungan.

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

% Relatif Densitas
% Relatif Densitas TAPAK LIMAN % Relatif Densitas RUMPUT JARUM % Relatif Densitas RUMPUT GAJAH % Relatif Densitas HERBAL % Relatif Densitas MIMOCAPODICA (PUTRI MALU) % Relatif Densitas RUMPUT TEKI % Relatif Densitas POHON TANJUNG % Relatif Densitas POHON NYAMPLUNG % Relatif Densitas SEMAK DAUN KECIL % Relatif Densitas ALANG - ALANG

=

Jumlah Individu species tumbuhan x 100% Jumlah Individu seluruh Species 27 9409 3941 9409 3908 9409 1071 9409 134 9409 25 9409 6 9409 6 9409 124 9409 167 9409

=

100%

=

0,286959294

=

100%

=

41,88542884

=

100%

=

41,53470082

=

100%

=

11,38271867

=

100%

=

1,424168349

=

100%

=

0,26570305

=

100%

=

0,063768732

=

100%

=

0,063768732

=

100%

=

1,317887129

=

100% BAB IV

=

1,774896376

KESIMPULAN

LAPORAN PRATIKUM EKOLOGI KRISMAN SIAHAAN,RAHMAWATI N,BENNY ARDY,DWI UTAMI,NANDA

Dari hasil pengamatn di BUMI PERKEMAHAN CIBUBUR dapat diketahui frekuensi tumbuhan bersifat heterogen, karena species yang di temukan beragam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful