P. 1
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir

|Views: 363|Likes:
Published by Crist Temang
hasil penelitian
hasil penelitian

More info:

Published by: Crist Temang on Aug 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya permasalahan perekonomian masyarakat; karena definisi kemiskinan adalah lemahnya sumber penghasilan yang mampu diciptakan individu masyarakat yang juga mengimplikasikan akan lemahnya sumber penghasilan yang ada dalam masyarakat itu sendiri dalam memenuhi segala kebutuhan

perekonomian dan kehidupannya. Imran (2003) mengatakan bahwa : “Kemiskinan adalah suatu konsep yang cair, serba tidak pasti dan bersifat multi dimensional. Disebut cair karena kemiskinan bisa bermakna subjektif, tetapi sekaligus juga bermakna objektif. Secara objektif bisa saja masyarakat tidak dapat dikatakan miskin karena pendapatannya sudah berada di atas batas garis kemiskinan, yang oleh sementara ahli diukur menurut standar kebutuhan pokok berdasarkan atas kebutuhan beras dan gizi. Akan tetapi, apa yang tampak secara objektif tidak miskin itu, bisa saja dirasakan sebagai kemiskinan oleh pelakunya karena adanya perasaan tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonominya, atau bahkan dengan membandingkan dengan kondisi yang dialami oleh orang lain, yang pendapatnya lebih tinggi darinya.” Dengan demikian, kemiskinan merupakan masalah yang bersifat kompleks dan multidimensional, baik dilihat dari aspek kultural maupun struktural. Ada empat masalah pokok yang menjadi penyebab dari kemiskinan, yaitu kurangnya kesempatan (lack of opportunity), rendahnya kemampuan (low of capabilities), kurangnya jaminan (low level-security) dan keterbatasan hak-hak sosial, ekonomi dan politik sehingga menyebabkan kerentanan (vulnerability), keterpurukan (voicelessness), dan

ketidakberdayaan (powerlessness) dalam segala bidang. Tidak dapat disangkal lagi bahwa masyarakat pesisir merupakan segmen anak bangsa yang paling tertinggal tingkat kesejahteraannya dibandingkan dengan anak bangsa lainnya yang bergelut di sektor non perikanan. Betapa tidak, nelayan kecil yang jumlahnya cukup banyak mendiami wilayah pesisir mempunyai pendapatan hanya sekitar Rp 300.000,-/bulan/keluarga. Memang

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

1

sungguh ironis, padahal wilayah pesisir sangat kaya sumberdaya kelautan dan perikanan serta jasa kelautan lainnya. (Direktorat PEMP – Ditjen P3K) Masalah kemiskinan struktural yang terjadi pada masyarakat pantai, di mana faktor-faktor yang menjadi penyebabnya pada dasarnya dikelompokkan atas : (1) masalah yang berkaitan dengan kepemilikan alat tangkap atau lebih tegasnya perahu bermotor; (2) akses terhadap modal khususnya menyangkut persyaratan kredit; (3) persyaratan pertukaran hasil tangkapan yang tidak berpihak pada buruh nelayan; (4) sarana penyimpanan ikan; (5) hak pengusahaan kawasan tangkap; dan (6) perusakan sistem organisasi masyarakat pesisir. Atas dasar pendapat di atas dan melihat kondisi kekinian di daerah kabupaten Lombok Timur, salah satu akar kemiskinan masyarakat pantai adalah keterbatasan mengakses permodalan yang ditunjang oleh kultur kewirausahaan yang tidak kondusif yang dilandasi dengan sifat usaha yang individual, tradisional dan subsistem. Banyak kasus pengentasan kemiskinan yang dilakukan dengan menjadikan masyarakat nelayan sebagai objek. Ini dilakukan misalnya dalam bentuk pemberian bantuan (yang sebenarnya adalah pinjaman yang harus dibayar oleh nelayan) alat tangkap yang tidak mengacu pada kebutuhan nelayan, melainkan merupakan paket yang sudah ditentukan dari atas, dan cenderung seragam antar berbagai daerah. Dengan sistem bantuan yang sifatnya top down ini, mengakibatkan alat bantuan menjadi tidak efektif. Seharusnya, jenis bantuan itu tidak semata-mata ditentukan dari atas, melainkan didasarkan atas dialog dengan masyarakat setempat. Dengan cara demikian, nelayan diposisikan sebagai subjek dalam pembangunan perikanan sehingga jenis bantuan yang diberikan akan betul-betul sesuai dengan yang dibutuhkan oleh nelayan. Permasalahan yang terkait dengan produksi memang merupakan permasalahan utama yang dihadapi oleh nelayan di kabupaten Lombok Timur, selain masalah pemasaran. Untuk mengatasi permasalahan itu, nelayan berusaha melakukan terobosan untuk meningkatkan pendapatan dengan cara mengandalkan tengkulak untuk memasarkan hasil tangkapannya, dan meminjam uang kepada pemilik modal untuk pengadaan alat tangkap. Akan

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

2

tetapi, ternyata berbagai upaya yang dilakukan oleh nelayan untuk meningkatkan kesejahteraannya telah menjebak mereka dalam ketergantungan dengan pihak lain sekaligus menempatkan pada posisi yang lemah. Pada kondisi seperti tersebut di atas, berakibat potensi sumber daya alam kelautan dan perikanan yang melimpah hingga kini belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal sehingga belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan bangsa secara keseluruhan. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, di mana lingkaran setan kemiskinan terus saja terjadi di berbagai daerah pesisir. Lingkaran setan ini, pada pokoknya berasal dari fakta bahwa produktivitas total di daerah terbelakang (pesisir) sangat rendah sebagai akibat kekurangan modal, pasar yang tidak sempurna, dan keterbelakangan perekonomian. Lingkaran setan tersebut kalau dilihat dari sudut permintaan dapat dijelaskan sebagai berikut: “Rendahnya tingkat pendapatan nyata menyebabkan tingkat permintaan menjadi rendah, sehingga pada gilirannya tingkat investasi pun rendah. Tingkat investasi yang rendah kembali menyebabkan modal kurang dan produktivitas rendah. Produktivitas rendah tercermin di dalam pendapatan yang nyata rendah. Pendapatan nyata rendah berarti tingkat tabungan juga rendah. Tingkat tabungan yang rendah menyebabkan tingkat investasi rendah dan modal kurang. Kekurangan modal pada gilirannya bermuara pada produktivitas yang rendah. Dengan demikian lingkaran setan itu lengkaplah pula kalau dilihat dari sudut penawaran”. Jhingan (2004 : 33-34) Apabila digambarkan, maka lingkaran setan itu akan membentuk pola sebagai berikut:
Produktivitas Produktiv Rendah itas Rendah Kurang Modal Pendapatan Rendah Kurang Modal Produktivitas Rendah

Pendapatan Rendah

Investasi Rendah

Permintaan Rendah

Investasi Rendah

Tabungan Rendah

Gambar 3.1

Gambar 3.2

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

3

Melihat

kenyataan

ini,

Departemen

Kelautan

dan

Perikanan

menginisiasi program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Program ini berupaya mengangkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Upaya yang akan dilaksanakan itu belum memuaskan, karena ada obsesi untuk menjadikan profesional dan mandiri para pengelola Koperasi LEPP-M3. Untuk itu Departemen Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan PT. BANK BUKOPIN mendirikan sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Swamitra Mina. Hadirnya lembaga ini di masyarakat pesisir akan menjadi lokomotif permodalan bagi masyarakat pesisir. Lembaga ini telah hadir di 139 kabupaten/kota. Launching LKM Swamitra Mina telah dilaksanakan dan diresmikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi pada tanggal 12 Desember 2004 di Cilincing, Jakarta Utara. Cikal bakal pelaksanaan program Swamitra Mina bermula dari program PEMP. Pada tahun 2004 program PEMP mendapat kucuran dana sebesar Rp 140 milyar untuk mengakomodir 160 kabupaten/kota. Adapun pagu untuk Dana Ekonomi Produktif (DEP) yang digunakan sebagai penguatan modal sebesar Rp 98.347.592,000 yang dikelola melalui LKM Swamitra Mina, BPR-Pesisir, dan USP. Adapun jumlah LKM Swamitra Mina yang ada saat ini sebanyak 139 buah yang kesemuanya adalah Koperasi LEPP-M3/Koperasi Perikanan yang telah berbadan hukum. Dengan status berbadan hukum, maka telah memenuhi persyaratan perundang-undangan yang mensyaratkan bahwa untuk menyerap dana masyarakat dan memberikan pinjaman kepada masyarakat hanyalah lembaga perbankan dan koperasi yang berbadan hukum. (Direktorat PEMP – Ditjen P3K) Persoalannya kemudian adalah apakah dengan hadirnya LKM Swamitra Mina di wilayah pesisir, peran tengkulak dan rentenir akan berkurang ataukah sebaliknya? Ataukah keberadaan LKM Swamitra Mina ini sendiri menjadi lembaga yang ekslusif nantinya, sehingga masyarakat pesisir sebagai subyek pemberdayaan ekonomi sulit untuk mengaksesnya? Selain itu juga, apakah dengan kebijakan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui swamitra mina akan hanya dijadikan alat untuk mengeruk

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

4

keuntungan/modal

oleh

pihak-pihak

yang

berkepentingan

dengan

mengatasnamakan lembaga keuangan dan kepentingan rakyat pesisir? Keberadaan sebuah lembaga yang ditujukan untuk pemerataan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan ekonomi daerah pada umumnya, tentu tidak terlepas dari persoalan-persoalan dan dampak yang ditimbulkannya secara sosial, ekonomi, dan politik. Oleh karena itu, kajian yang lebih mendalam mengenai keberadaan LKM Swamitra Mina di Kabupaten Lombok Timur perlu dilakukan secara lebih mendalam.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah keberadaan swamitra mina dapat memberdayakan ekonomi masyarakat pesisir di Kabupaten Lombok Timur? 2. Kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan program

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui swamitra mina di kabupaten Lombok Timur? 3. Upaya apa yang dilakukan guna menangani kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui swamitra mina di kabupaten Lombok Timur?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1. Keberadaan swamitra mina dalam memberdayakan ekonomi masyarakat pesisir di Kabupaten Lombok Timur. 2. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui swamitra mina di kabupaten Lombok Timur. 3. Upaya yang dilakukan guna menangani kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui swamitra mina di kabupaten Lombok Timur.

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

5

D. Manfaat Penelitian Manfaat/kegunaan hasil penelitian ini diantaranya adalah: 1. Manfaat Teoretis : a. Memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu ekonomi; b. Dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk penelitian berikutnya, dan c. Dapat digunakan sebagai referensi dalam menyusun rencana dan kebijakan pembangunan ekonomi masyarakat pesisir di Kabupaten Lombok Timur.

2. Manfaat Praktis: a. Dapat digunakan sebagai bahan evaluasi kebijakan formal

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui program-program kerja kepemerintahan. b. Dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengelola program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Lombok Timur A.1 Kondisi Fisik Wilayah Kabupaten Lombok Timur berada disebelah timur Pulau Lombok, jika ditinjau dari letak geografis terletak antara 116° - 117° Bujur Timur, dan 8° 9° Lintang Selatan. Sedangkan secara administratif, Kabupaten Lombok Timur dibatasi : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : Laut Jawa : Samudera Indonesia : Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Barat : Selat Alas

Berdasarkan kondisi perwilayahan, Kabupaten Lombok Timur mempunyai luas wilayah ± 160.555 Ha. Dari 20 Kecamatan yang ada saat ini, maka kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah Kecamatan Sambelia ± 245,22 Km² (16,9%) dari luas wilayah Kabupaten Lombok Timur sedangkan wilayah kecamatan yang terkecil adalah Kecamatan Sukamulia, ± 14,49 Km² atau hanya 1,0 % dari luas keseluruhan. Ketinggian wilayah Kabupaten Lombok Timur bervariasi antara 0 m diatas permukaan laut pada daerah pantai sampai dengan 3.726 meter dpl pada daerah pegunungan. Berdasarkan klasifikasi Topografi, maka untuk

kelerengan antara 0 – 2% atau daerah yang datar mencakup kecamatan Jerowaru, Keruak, Labuhan Haji dan Kecamatan Pringgabaya dengan luas keseluruhan mencapai 25.760 Ha, Untuk wilayah dengan kelerengan antara 2 – 15% dan merupakan kriteria kelerengan yang dominan di Kabupaten Lombok Timur, mencakup wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Barat, Sakra Timur, Selong, Sukamulia, Suralaga, Terara, Montong Gading, Sikur, Masbagik, Pringgasela, Aikmel, Wanasaba, Suela dan Kecamatan Sambelia dengan luas keseluruhan wilayah sekitar 96.763 Ha, sedangkan untuk wilayah

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

7

dengan kelerengan antara 15 – 40% mencakup sebagian wilayah Kecamatan Suela, dan sebagian wilayah Kecamatan Sembalun, adapun untuk wilayah yang paling curam dengan kelerengan >40% meliputi daerah Pegunungan Rinjani yang ada di Kecamatan Sembalun dengan luas areal sekitar 13.810 Ha. Jenis tanah di Kabupaten Lombok Timur secara umum terdiri atas jenis Aluvial, Regosol, Grumosol, Mediteran dan Asosiasi Litosol dan Litosol coklat kemerahan. Adapun penyebaran jenis tanah berdasarkan wilayah

kecamatan yang ada, diperoleh gambaran sebagai berikut: Tanah jenis Grumosol tersebar di kecamatan Keruak, Jerowaru, Terara, Montong Gading, Sikur, Sukamulia, Suralaga, Selong, Labuhan Haji, sebagian Aikmel, Wanasaba dan sebagian Kecamatan Sembalun, dengan luas 38.423 ha

(23.93%) dari seluruh luas Kabupaten Lombok Timur. Kecamatan Keruak dan Jerowaru mempunyai luas tanah Gromusol 18.462 Ha (11.50%), sedangkan Kecamatan Sukamulia dan Suralaga hanya 23 Ha. Seperti daerah lainnya di Indonesia, maka Kabupaten Lombok Timur juga beriklim trofis yang ditandai dengan dua musim, yaitu musim panas dan musim penghujan. Curah hujan rata-rata sebesar 1882 mm/tahun dengan jumlah hari hujan perbulan selama 15 hari. Adapun kecamatan yang paling basah pada musim penghujan adalah Kecamatan Aikmel, Suela, Sembalun, Masbagik, Pringgasela, Montong

Gading. Sedangkan daerah kering adalah Kecamatan Keruak dan Jerowaru dengan curah hujan rata-rata 1080 mm/tahun. Wilayah Kabupaten Lombok Timur dilalui oleh banyak aliran sungai dan anak sungai, akan tetapi tidak semua sungai berair sepanjang tahun. Danau hanya satu di daerah ini, yaitu danau Segara Anak yang berada diperbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dengan Kabupaten Lombok Timur, yang luasnya kira-kira 30 Km dengan kedalaman 200 meter. Luas wilayah menurut penggunaan lahan di kabupaten Lombok Timur dapat dilihat pada tabel berikut:

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

8

Tabel 2.1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Kabupaten Lombok Timur Tahun 2000
JENIS PENGGUNAAN LAHAN (Ha) N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 KECAMAT AN Jerowaru Keruak Sakra Sakra Barat Sakra Timur Terara Mt. Gading Sikur Masbagik Pringgasela Sukamulia Suralaga Selong Labuhan Haji Pringgabaya Suela Aikmel Wanasaba Sembalun Sambelia Jumlah 1 3.356 2.083 2.074 2.807 3.090 2.959 1.625 2.806 184 141 937 1.894 1.205 1.505 2.818 1.239 3.325 2.249 1.105 3.042 40.31 7 2 1.176 164 140 180 106 304 624 3.246 251 459 809 2.722 6.752 2.648 868 804 515 21.76 6 3 12 17 83 573 746 1 2 1 250 1.684 4 837 698 196 222 167. 346 225 239 514 175 200 192 484 250 503 239 294 304 237 318 6.473 5 6.540 47 132 400 7.556 2.371 6.142 2.432 2.186 15.46 3 16.17 1 59.44 0 6 13 8 7 56 12 96 7 318 53 371 8 2.370 1.105 56 88 150 316 180 158 162 340 61 156 666 480 3.547 4.155 1.344 54 3.388 2.606 21.75 3 Jumlah 14.292 4.057 2.484 3.370 3.441 4.241 2.466 7.827 3.317 11.331 1.449 2.702 3.168 4.957 15.991 14.424 12.292 5.597 20.708 22.440 160.555

Sumber : Kecamatan dalam angka 2000 Keterangan: 1. Tanah Sawah 2. Kebun campur Tegalan 3. Kolam/Tambak 4. Permukiman 5. Hutan 6. Padang/semak belukar 7. Tanah Rusak 8. Lain-lain

A.2 Pola Perkembangan Kawasan Perikanan Wilayah Kabupaten Lombok Timur yang sebagian wilayahnya adalah daerah pantai, maka terdapat beberapa wilayah perikanan. Di wilayah Lombok Timur bagian timur yang berbatasan dengan Selat Alas Indonesia Kecamatan berkembang kawasan perikanan yang dan Samudera wilayah

mencakup

Pringgabaya dan

Kecamatan Sambelia, sedangkan wilayah

kecamatan pantai yang berada di Kabupaten Lombok Timur bagian selatan mencakup Kecamatan Labuhan Haji, kawasan perikanan yang dikenal berada

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07

9

di Desa Labuhan Haji dan Desa Suryawangi, Kecamatan Keruak mencakup Desa Tanjung Luar, Kecamatan Jerowaru kawasan perikanan yang terkenal berada di Desa Pemongkong. Pada umumnya daerah pantai di wilayah

Kabupaten Lombok Timur merupakan daerah penghasil ikan dan tempat pengembangan tambak, meliputi tambak udang/Lobster disekitar Kecamatan Keruak dan Sambelia. Tambak garam disekitar wilayah Kecamatan Jerowaru. Lokasi pemasaran hasil ikan yang dominan di Lombok Timur bagian selatan berada di Desa Tanjung, Desa Labuhan Haji Kecamatan Labuhan Haji, berikutnya di Desa Rumbuk Kecamatan Sakra, sebagai imbas dari adanya kawasan perikanan utama yang berada di Tanjung Luar Kecamatan keruak, sedangkan untuk wilayah timur Lombok Timur lokasi pemasaran ikan yang dominan terletak di Labuhan Lombok wilayah Kecamatan Pringgabaya.

A.3 Pola Perkembangan Ekosistem Pesisir 1. Hutan Mangrove Hutan Mangrove di wilayah Lombok Timur secara umum tersebar di Gili Lawang, Gili Sulat dan Gili Petagan di bagian pantai utara. Luas keseluruhan hutan bakau ± 1.301,32 Ha dengan penyebaran di kawasan Telong-elong seluas 33,52 Ha, Teluk Jor seluas 43,35 Ha, Teluk Kecibing seluas 41,55 Ha, Teluk Serewe seluas 107,06 Ha, Teluk Ekas seluas 73,48 Ha, Teluk Saung seluas 7,05 Ha, Gili Sulat & Gili Lawang seluas 995,31 Ha. Adapun jenis tumbuhan yang dilestarikan, antara lain :Sonneratia alba

Rhiziphora stylosa, Rhizophora apiculata, Avicennia alba, Rhizophora mucronata, Ceriops tagal, Aegialitis annulata, Penphis acidula, Lumnitcera recemosa. Walaupun secara umum hutan Mangrove di Kabupaten Lombok Timur masih bagus, namun harus tetap dilindungi guna menjaga

keseimbangan ekosistem, melalui pengawasan yang ketat untuk mencegah pengurangan luasan hutan mangrove serta untuk menunjang sektor wisata. 2. Terumbu Karang Terumbu karang dapat ditemukan pada perairan sekitar Gili Sulat, Gili Lawang dan Gili Lampu sedangkan pada bagian selatan terdapat di

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 10

perairan Gili Meringkik, terutama di daerah-daerah yang mempunyai aktifitas perikanan tinggi. Luas terumbu karang diperairan Kabupaten Lombok Timur 622 Ha, adapun kawasan yang masih memiliki prosentase penutupan karang yang kondisinya baik seluas 311 Ha, sedangkan luas terumbu karang dalam kondisi rusak 15 - 50 % seluas 218 Ha dan yang mengalami kondisi kritis 93 Ha. Kondisi terumbu karang yang disebabkan oleh adanya aktivitas penangkapan ikan karang yang tidak ramah lingkungan. 3. Padang Lamun (Sea Grass) Tumbuhan Lamun terdiri dari rhizome, daun dan akar. Lamun di perairan pantai pulau Lombok diantaranya berada di Gili Lampu, Padang lamun ini merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Didaerah ini hidup bermacam-macam biota laut seperti crustacea, moluska, cacing dan juga ikan. Salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting yang berassosiasi dengan lamun adalan ikan beronang. 4. Estuaria Estuaria dapat dikatakan sebagai tempat peralihan dari kedua ekosistem akuatik, kebanyakan estuaria didominasi oleh substrat yang berlumpur. Substrat yang berlumpur ini berasal dari sedimen yang dibawa kedalam estuaria baik oleh air laut mapun air tawar (sungai). Wilayah perairan estuaria berada di muara sungai, dalam teluk dan di daerah pantai yang memiliki mata air yang langsung bercampur dengan air laut. Perairan estuaria berada dalam teluk yang memiliki muara sungai seperti di sekitar Teluk Ekas, Teluk Serewe, Teluk Kecibing, dan Teluk Jor. Pada musim kemarau, perairan estuaria ini sempit tergeser oleh perairan laut dan bahkan hilang.

B. Deskripsi Umum Swamitra Mina B.1 Pengertian Swamitra Mina adalah suatu bentuk kerjasama/kemitraan antara Bank Bukopin dengan Koperasi LEPP3-M3, untuk memodernisasi usaha simpan pinjam melalui pemanfaatan jaringan teknologi (network) dan dukungan

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 11

sistem manajemen yang profesional serta untuk mendapatkan Dana DEP dalam rangka melaksanakan program PEMP. Swamitra Mina merupakan unit simpan-pinjam milik seluruh masyarakat pesisir yang direpresentasikan oleh Koperasi LEPP-M3/Koperasi Perikanan lainnya. Swamitra Mina dikelola secara profesional oleh tenaga-tenaga muda pesisir yang sebelumnya telah memperoleh pelatihan dari Bank Bukopin. Dengan pendampingan Bank Bukopin Cabang, Swamitra Mina diharapkan akan menjadi lembaga keuangan mikro terkemuka di daerah pesisir, yang mudah diakses oleh para nelayan dan masyarakat pesisir lainnya. Sebagai konsekuensi dari kepemilikan Swamitra Mina, maka nelayan dan masyarakat pesisir akan mendapatkan sisa hasil usaha (deviden) setiap tahun dari keuntungan Swamitra Mina. Selain itu, melalui Swamitra Mina dana masyarakat dapat dimobilisasi melalui tabungan dengan tingkat suku bunga yang kompetitif serta dana dari sumber lain, untuk akhirnya disalurkan kembali ke masyarakat pesisir dari lembaga keuangan lainnya. Swamitra Mina merupakan proses pembelajaran bagi nelayan dan masyarakat pesisir untuk mengakses dana dari pihak perbankan, begitu pula sebaliknya proses pembelajaran bagi perbankan dalam mengakses masyarakat pesisir. Agar masyarakat pesisir dapat mengakses dengan mudah LKM Swamitra Mina serta mengelola secara efesien modal yang telah diperolehnya, maka disediakan tenaga pendamping desa (TPD) masing-masing dua orang tiap kabupaten/kota. TPD tersebut terdiri atas sarjana-sarjana baru yang sebelumnya dilatih secara nasional. Selain itu, juga disediakan Konsultan Manajemen (Perguruan Tinggi, LSM, atau lembaga konsultan profesional) untuk membantu mengembangkan dan meningkatkan kinerja kelembagaan dan pemasaran. Hadirnya LKM Swamitra Mina di wilayah pesisir, maka secara bertahap peran tengkulak dan rentenir akan berkurang sehingga LKM dapat memobilisasi dana masyarakat dengan adanya suku bunga tabungan yang menarik. Dengan lancarnya pengelolaan LKM Swamitra Mina maka perlahan tapi pasti bantuan modal yang disalurkan di masyarakat pesisir bukan lagi berasal dari APBN, tapi dari LKM Swamitra Mina itu sendiri. Sehingga LKM

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 12

Swamitra Mina semakin dilirik oleh lembaga keuangan lainnya untuk bermitra mengakses permodalan. Dengan demikian LKM Swamitra Mina sebagai lokomotip dapat menggandeng lembaga keuangan lainnya dalam kiprahnya membangun usaha sektor perikanan dan kelautan. (Sumber : Direktorat PEMP – Ditjen P3K)

B.2 Tujuan • Menumbuh kembangkan simpan pinjam dikalangan anggota guna memacu petumbuhan/usaha dalam rangka peningkatan kesejahteraan anggota tersebut. • Membuka peluang akses permodalan bagi Koperasi yang selama ini menghadapi banyak ..kendala dalam kerjasama dengan bank atau lembaga keuangan lainnya. • Mendukung terciptanya jaringan kerja antar kantor Swamitra Mina diseluruh Indonesia.

B.3 Manfaat Swamitra Mina • • • Anggota/nasabah Swamitra Mina dapat melakukan transaksi keuangan, informasi, dan komunikasi bisnis dengan jaringan teknologi yang modern. Transaksi Keuangan dapat dilakukan secara ON Line, berdasarkan kesepakatan antar Swamitra Mina. Laporan Keuangan beserta perubahanya dapat diketahui secara cepat dan akurat sehingga >.pengendalian dan pengawasan Swamitra Mina dapat dilakukan dengan lebih baik.

B.4 Produk Swamitra Mina a. Simpanan Setiap Penyimpan dapat menempatkan dananya di Swamitra Mina dengan mengisi permohonan Simpanan.yang berfungsi sekaligus sebagai tanda mendaftarkan keanggotaan dan persetujuannya mematuhi.segala ketentuan yang berlaku di Swamitra bersangkutan, dan juga berfungsi

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 13

sebagai pemberian kuasa..kepada Swamitra untuk melakukan tindakan tertentu. Didalam form permohonan Simpanan terdapat persyaratan yang harus penuhi oleh Penyimpan yang..belum masuk kategori sebagai anggota Koperasi seperti tersebut diatas, antara lain : Ø Penyimpan menyatakan dan mandaftarkan diri sebagai Calon Anggota atau Anggota Luar Biasa, dan.karenanya.bersedia memenuhi

persyaratan yang ditetapkan dan tunduk pada AD/ART Koperasi pendiri.Swamitra Mina bersangkutan. Ø Penyimpan memberikan kuasa kepada Swamitra Mina untuk melakukanbpendebetan langsung dari rekening Simpanan.Penyimpan guna memenuhi kewajiban Penyimpan selaku calon anggota Koperasi. Ø Khusus Penyimpan yang berstatus Calon Anggota atau Anggota Luar Biasa, menyatakan bersedia.menerima.keputusan yang menyangkut keanggotaannya di Koperasi bersangkutan apabila..Simpanannya bersaldo minimum.dan tidak bermutasi selama 4 bulan berturut-turut. Kewajiban Penyimpan dapat berupa Simpanan Pokok, Simpanan Wajib, Simpanan Sukarela dan Simpanan Khusus yang besarnya dan cara pembayarannya ditetapkan dalam AD/ART yang berlaku dimasing-masing Koperasi pendiri Swamitra.

b. Simpanan Berjangka Setiap Penyimpan dapat menempatkan dananya di Swamitra Mina dengan sekaligus mengisi permohonan tanda Simpanan.Berjangka mendaftarkan yang..berfungsi dan

sebagai

keanggotaan

persetujuannya..mematuhi segala ketentuan yang.berlaku di Swamitra Mina bersangkutan, dan juga berfungsi sebagai..pemberian kuasa kepada Swamitra untuk melakukan tindakan tertentu. Didalam form Permohonan Simpanan Berjangka terdapat

persyaratan yang harus dipenuhi oleh Penyimpan yang belum masuk kategori sebagai anggota Koperasi seperti tersebut diatas, antara lain :

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 14

Ø Penyimpan menyatakan dan mandaftarkan diri sebagai Calon Anggota atau Anggota Luar Biasa, dan karenanya .bersedia memenuhi persyaratan yang bbditetapkan dan tunduk pada AD/ART Koperasi pendiri Swamitra Mina bersangkutan. Ø Bersamaan dengan penyetoran nominal Simpanan Berjangka,

Penyimpan membayar kewajiban Penyimpan untuk keanggotaan Koperasi, atau bbmenyatakan bersedia untuk dibebankan dari bunga atau nominal Simpanan Berjangka pada saat jatuh tempo untuk pembayaran sisa kewajiban yang belum dipenuhi Penyimpan selaku calon anggota Koperasi. Ø Khusus Penyimpan yang berstatus Colan Anggota atau Anggota Luar Biasa, menyatakan bersedia menerima keputusan yang menyangkut keanggotaannya di Koperasi bersangkutan, apabila setelah jatuh tempo Simpanan Berjangka, Penyimpan itidak lagi memiliki Simpanan Berjangka bbdan atau Simpanan di Swamitra Mina selama 4 bulan berturut-turut. Kewajiban Penyimpan dapat berupa Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib, Simpanan Sukarela, Simpanan Khusus yang besarnya ditetapkan dalam AD/ART yang berlaku masing-masing Koperasi pendiri Swamitra Mina. c. Pinjaman Produk Pinjaman terdiri dari : o Pinjaman Berulang o Pinjaman Fleksibel o Pinjaman Insidentil o Pinjaman Angsuran Harian Yang dapat dilayani Swamitra Mina adalah : Anggota, Calon Anggota, dan Anggota Luar Biasa dari Koperasi bersangkutan, dan atau Koperasi lainnya dan Anggotanya (sesuai Peraturan Pemerintah yang berlaku).

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 15

Calon Peminjam harus telah menjadi Anggota dari Koperasi pendiri Swamitra Mina bersangkutan, dengan memenuhi persyaratan

keanggotaan sesuai AD/ART Koperasi tersebut.

d. Syarat Pendirian Swamitra Mina 1. Berbadan Hukum Koperasi 2. Memiliki Unit Simpan Pinjam 3. Tersedia Aliran Listrik dari PLN 4. Tersedia sambungan. Telepon dari Telkom 5. Tersedia Gedung kantor / Ruang Kerja 6. Memiliki Laporan Keuangan yang terpisah dari Unit lain (Otomon) 7. Tidak sedang menanggung kerugian yang material 8. Tidak sedang terjadi perselisihan (Perdata/Pidana/Kepailitan) C. Konsep Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan (Dahuri dkk, 2001 dalam Mulyadi 2005 : 1). Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), suatu wilayah pesisir (pantai) memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu batas yang sejajar garis pantai (long shore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Adanya pemetaan semacam itu, terkait dengan pola pemberdayaan masyarakat desa dan masyarakat pesisir, di mana pembangunan masyarakat nelayan dan desa pantai tidak bisa lepas dari pembangunan masyarakat desa pada umumnya. Strategi pada pembangunan masyarakat desa harus diterapkan juga pada pembangunan masyarakat pantai, yaitu membantu masyarakat untuk dapat membangun dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri, dengan mendasarkan pada pengembangan potensi alam lingkungan desa. Kebijakan yang digariskan di dalam melaksanakan pembangunan masyarakat desa meliputi beberapa hal. Pertama , program pembangunan masyarakat desa diarahkan untuk mencegah dan meniadakan kemiskinan dan kesengsaraan yang dapat terjadi di kalangan masyarakat. Untuk itu perlu selalu dilakukan usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan hidup minimum, sehingga dengan terpenuhinya kebutuhan ini akan dapat

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 16

mendorong masyarakat desa untuk selanjutnya tumbuh dan berkembang dengan kekuatan sendiri/mandiri. Kedua, mendorong dan meningkatkan aktivitas, kerativitas, prestasi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ketiga, di dalam usaha menghapus kemiskinan di kalangan masyarakat perlu diusahakan peningkatan sumber daya alam, swadaya serta produktivitas masyarakat guna dapat menciptakan kehidupan ekonomi yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan dan taraf hidup masyarakat. Keempat, meningkatkan dan memanfaatkan peranan lembaga-lembaga masyarakat yang berfungsi sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Kelima, pembangunan desa diarahkan untuk lebih

mengutamakan desa dengan masyarakat yang relatif miskin, masyarakat terpencil, masyarakat di wilayah kritis, wilayah pantai, kepulauan perbatasan, dan sebagainya. Untuk meningkatkan pendapatan agar kesejahteraan masyarakat pantai meningkat perlu usaha-usaha untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi. Permasalahan masyarakat pantai memang kompleks, baik masalah

pendudukan/sumber daya manusia, permasalahan potensi alam daratan maupun masalah perairan sebagai lahan masyarakat mencari nafkah. Di dalam pembangunan masyarakat, desa pantai sesuai sifat, situasi dan kondisi yang ada, ditemukan beberapa permasalahan (Dahuri dkk, 2001, dalam Mulyadi, 2005 : 128) sebagai berikut: (1) Desa pantai pada umumnya terisolasi. (2) Sarana pelayanan dasar termasuk prasarana fisik masih terbatas. (3) Kondisi lingkungan kurang terpelihara sehingga kurang memenuhi persyaratan kesehatan. (4) Air bersih dan sanitasi jauh dari mencukupi. (5) Keadaan perumahan umumnya masih jauh dari layak huni. (6) Keterampilan yang dimiliki penduduk umumnya terbatas pada masalah penangkapan ikan sehingga kurang mendukung diversifikasi kegiatan. (7) Pendapatan penduduk rendah karena teknologi yang dimiliki tidak mendukung penangkapan ikan dalam skala besar. (8) Peralatan yang dimiliki terbatas pada perahu dayung dan jala saja sehingga hasil tangkapannya pun kecil/sedikit. (9) Permasalahan modal karena langkanya lembaga keuangan/kredit yang melayani atau berada di desa-desa pantai mempersulit usaha pengembangan.

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 17

(10) Waktu dan tenaga yang tersita untuk kegiatan penangkapan ikan cukup besar sehingga kurang mempunyai kesempatan untuk mencari usaha tambahan maupun memperhatikan keluarga (sor pergi ke laut, pagi-pagi kembali mendarat, siang hari dipakai istirahat mengembalikan tenaga dan menyiapkan diri beserta alat-alat kerja untuk menghadapi tugas ke laut sorenya) (11) Kurang pengetahuan tentang pengelolaan kehidupan ikan maupun siklus hidup biota laut, sehingga pencarian tempat-tepat ikan berkumpul, jenisjenis ikan dan lain-lain hanya berdasarkan pengalaman dan instink saja. (12) Pada umumnya keadaan lingkungan alam sekitar pantai kurang mendukung usaha pengembangan kegiatan pertanian. (13) Karena kurun waktu senggang, umumnya mereka kurang bergaul, kekeluargaan lemah dan kurang perhatian pada pengembangan lembagalembaga masyarakat di desa maupun dalam pembangunan desanya. (14) Kegiatan ekonomi masyarakat, umumnya masih tradisional terbatas pada satu produk saja yaitu ikan. Dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat pantai perlu diprioritaskan usaha-usaha peningkatan pendapatan melalui hal-hal berikut: Pertama, tunjangan modal. Kepada masyarakat pantai perlu diusahakan tunjangan modal dalam bentuk pemberian bantuan kredit lunak dengan prosedur yang sederhana dan mudah, misalnya melalui koperasi nelayan atau dengan bantuan dana bergulir (revolving fund ). Untuk mekanisme dana bergulir perlu dikembangkan melalui LKMD dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Masyarakat Nelayan. Tentunya bagi mereka perlu didahului pelatihan manajemen. Kedua, usaha pelatihan dan supervisi. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan para penduduk masyarakat nelayan perlu usaha pelatihan yang meliputi: tentang manajemen siklus perikanan, ikan,

pengolahan/pengawetan,

pengetahuan

kehidupan

pengelolaan lingkungan hidup, dan lain sebagainya.

Ketiga, untuk

meningkatkan produksi perlu diperkenalkan berproduksi seperti motorisasi perahu agar jangkauan lebih jauh ke tengah laut, teknik pengenalan berkumpulnya ikan, penggunaan jala yang memadai, teknologi pengolahan dan pengawetan ikan, dan sebagainya. Keempat, Pemantauan organisasi masyarakat yang ada agar dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan, seperti LKMD, PKK, koperasi, dan sebagainya. Kelima, peningkatan perbaikan lingkungan hidup. Usaha-usaha

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 18

ini termasuk juga usaha-usaha untuk mencegah atau mengurangi perusakan pantai. Lingkungan hidup di desa-desa pantai cukup memperihatinkan. Langkanya air bersih dan sanitasi yang baik, perumahan,

transportasi/komunikasi, penerangan/listrik dan sebagainya menyebabkan lingkungan yang kurang sehat. Di dalam mengelola sumber daya wilayah pesisir dan lautan perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: (1) Pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir harus diterjemahkan dalam program kegiatan. (2) Kegiatan dan program pelatihan wilayah pesisir dan lautan perlu diarahkan untuk memenuhi tujuan: menjawab tantangan dan permasalahan jangka pendek dan pengembangan ilmu dan teknologi kelautan. (3) Ruang lingkup penelitian di laut dan pesisir bersifat luas dan kompleks. (4) Perlu pentahapan dalam pendidikan kelautan antara lain peningkatan minat terhadap wilayah pesisir dan lautan bagi siswa dan generasi muda, pengembangan bertahap program pendidikan dan pelatihan, dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan. (5) Perlu ditingkatkan sarana dan fasilitas praktik dalam program kelautan untuk dipakai sebagai acuan bersama di antara instansi yang terlibat di dalam penelitian dan pendidikan. (6) Perlu deregulasi dan debirokrasi dalam hal perizinan penelitian dan dunia usaha yang berhubungan dengan wilayah pesisir dan lautan. Mulyadi (2005 : 130-131)

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 19

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan participatory action research (PAR). Action research adalah proses spiral yang meliputi (1)

perencanaan tindakan yang melibatkan investigasi yang cermat; (2) pelaksanaan tindakan ; dan (3) penemuan fakta-fakta tentang hasil dari tindakan, dan (3) penemuan makna baru dari pengalaman sosial (Kurt Lewin, 1947). Lebih lanjut dikemukan oleh Corey (1953), bahwa: action research adalah proses dimana kelompok sosial berusaha melakukan studi masalah mereka secara ilmiyah dalam rangka mengarahkan, memperbaiki, dan mengevaluasi mengemukakan, keputusan yaitu dan action tindakan research mereka. Hopkins upaya (1985), untuk

merupakan

mengkontribusikan baik pada masalah praktis pemecahan masalah maupun pada tujuan ilmu sosial itu sendiri dengan mengkolaborasikan didalamnya yang dapat diterima oleh kerangka kerja etik, sedangkan Peter Park (1993) menjelaskan bahwa action research, merupakan cara penguatan rakyat melalui penyadaran diri untuk melakukan tindakan yang efektif menuju perbaikan kondisi kehidupan mereka. Alur aktivitas program action research adalah cyclical, berupa siklus kegiatan yang berulang dan berkesinambungan. Dalam konteks program action reserach ini, siklus kegiatannya terdiri dari kegiatan (mapping), penyusunan rencana tindak (action planning), pelaksanaan rencana tindak (implementation), monitoring dan evaluasi. Hasil monitoring dan evaluasi tersebut untuk selanjutnya dipetakan kembali dan kemudian dilakukan penyusunan ulang rencana tindak (replan), implementasi, monitoring dan evaluasi, dan terus kembali berulang. Setiap selesai satu tahapan kegiatan, sesuai dengan prinsip dasar riset aksi, dilakukan kegiatan refleksi untuk mengetahui tingkat keberhasilan masing-masing tahapan.

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 20

Oleh karena itu, program tindak lanjut dari riset ini pada dasarnya merupakan aktivitas pengulangan dari kegiatan refleksi-pemetaan ulangpenyusunan rencana tindak-pelaksanaan rencana tindak, dan monitoring dan evaluasi. Namun demikian, ada beberapa penekanan yang akan dilakukan, yakni: (1) Peningkatan kemandirian dan kinerja masyarakat pesisir; (2) Penguatan misi transformasi sosial masyarakat pesisir, dan (3) Penguatan jejaring kerja (networking) dan aliansi strategis antar masyarakat pesisir.

B. Desain PAR Program Pemberdayaan masyarakat pesisir ini hakikatnya adalah sebuah "riset aksi". Oleh karena itu, pelaksanaannya secara umum mengelaborasi konsep Participatory Action Research (PAR) dengan berbagai modifikasi. Sesuai dengan prinsip emancipatory research dan collaborative resources yang menjadi bagian penting dari ciri sebuah riset aksi, maka dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan masyarakat pesisir ini, masyarakat pesisir adalah aktor utamanya (main actor). Peneliti tidak lebih dari sekedar "pendamping" yang semaksimal mungkin berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan partisipasi stakeholders masyarakat pesisir memetakan dan merumuskan masalah, membuat rencana tindak, melaksanakan program kegiatan, memantau dan mengevaluasi setiap proses implementasi program. Pada setiap tahapan dan proses tersebut, peneliti juga berusaha membangun suasana dan menciptakan iklim yang kondusif, memberi berbagai masukan (input), meningkatkan kapasitas (capacity), membuka akses ke berbagai jejaring kerja (networking), peluang, dan kesempatan (opportunities) yang ada di luar komunitas masyarakat pesisir.

C. Lokasi Penelitian Mengenai penentuan lokasi penelitian atau lapangan penelitian, Moleong (1989) berpendapat bahwa: “Cara terbaik yang perlu ditempuh dalam penentuan lapangan penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif; pergilah dan jajakilah

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 21

lapangan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berada dilapangan. Keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu, biaya, tenaga, perlu pula dijadikan pertimbangan dalam penentuan lokasi penelitian” Berdasarkan pendapat di atas dan sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, maka lokasi yang dipilih adalah di Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Penetapan lokasi penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa di desa Tanjung Luar terdapat Tempat Penangkapan Ikan (TPI). D. Tahapan-Tahapan Pelaksanaan PAR Dalam pelaksanaan participatory action research (PAR), ada beberapa tahapan yang dilalaui, yaitu: 1. Tahap persiapan sosial/awal Pada tahap persiapan sosial/awal ini, peneliti terlibat secara langsung dalam kehidupan kelompok sosial masyarakat

2. Identifikasi Data, Fakta Sosial Mengamati dan mengidentifikasi realitas sosial, biasanya muncul sebagai keluhan-keluhan masyarakat (Freire: Kodifikasi) 3. Analisa Sosial Mendiskusikan/mengurai realitas sosial, (Freire: Dekodifikasi) untuk menemukan isu sentral atau kata kunci (fokus masalah). Mempertanyakan terus menerus, mengapa masalah itu terjadi, bagaimana hubungan- hubungan antar kelompok sosial yang ada. Menilai posisi masyarakat dalam peta hubungan-hubungan antar kelompok masyarakat tersebut 4. Perumusan Masalah Sosial

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 22

5. Mengorganisir gagasan-gagasan yang muncul guna mencari peluangpeluang yang mungkin bisa dilakukan bersama guna memecahkan masalah dengan memperhatikan pengalaman-pengalaman masyarakat dimasa lalu (keberhasilan dan kegagalannya) 6. Merumuskan rencana tindakan strategis yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut (menentukan apa, kapan, dimana dan siapa serta bagaimana) 7. Pengorganisasian sumber daya, dengan mengidentifikasi siapa yang harus diajak bekerjasama dan siapa yang akan menghambat. 8. Aksi Untuk Perubahan 9. Observasi Evaluasi Untuk menilai keberhasilan dan kegagalan/learning experience. 10. Refleksi Alur tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

PREPARATION

MAPPING

ACTION PLANNING

IMPLEMENTATION

MON & EVALUATION

Re-PLAN

Preliminary Research T eamwork Buil ding

P esantren selfsurvey; Need-Risk Assesment; T he effect ive demand; The resources-base; P esantren SlfAnalysis; Survey Instansional; Reconfirmat ion Data

St rat egic Planning self-planning Logical Frame-work Analysis Prioritizat ion

Managing Program; Develop Guidelines and T cehnique for Implementat ion

Develop Guidelines and T cehnique for Implementation

Strat egic P lanning self-planning Logical Framework Analysis Prioritization

Cencept, Strategy , Teamw ork

DATABASE

Dev elopment Plan (RIPP) Output, Impact Feed back RIPP Rev is ion

,, ,,

refleksi

refleksi

refleksi

refleksi

refleksi

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 23

E. Jadwal Penelitian Jadwal Penelitian terlampir F. Personalia Penelitian 1. Ketua Tim Penelitian: a. Nama Lengkap dan gelar b. Jabatan dalam Organisasi c. Pendidikan Terakhir d. Alamat : e. Telp./HP. : f. Bidang Keahlian : FAUZAN, S.Pd., M.Pd. : Ketua : S2 (Penelitian dan Evaluasi Pendidikan) IKIP Negeri Singaraja : Rakam, Kelurahan Rakam Kec. Selong (0376)22178/081805641615 : Pendidikan, Penelitian, dan Evaluasi Program

2. Anggota Tim Peneliti: a. Nama Lengkap dan gelar Jabatan dalam Organisasi Pendidikan Terakhir Alamat Telp./HP. Bidang Keahlian b. Nama Lengkap dan gelar Jabatan dalam Organisasi Pendidikan Terakhir Alamat Telp./HP. Bidang Keahlian

: Muhammad Ali Gunawan, S.Pd : Sekretaris : S1 (Pendidikan Matematika) STKIP HAMZANWADI Pancor : Jln. Rinjani-Pringgasela, Kec. Pringgasela : 085937074721 : Pendidikan, Penelitian dan Sosial : Habibuddin, M.Pd. : Wakil Ketua : S2 Pend. Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta : Kalijaga Kec. Aikmel : 081805762917 : Ekonomi, Penelitian dan Sosial

3. Waktu Penelitian G. Perkiraan Biaya Penelitian

: 6 (enam) bulan

Dana penelitian bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lombok Timur Tahun Anggaran 2007. Dengan rincian sebagai berikut:

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 24

No 1.1

Uraian Kegiatan Bahan/Material A Kertas HVS (F4) b. Kerta Kuarto (A4) c. Spidol White Board d. Tinta Komputer (HP Laserjet 1300) e. Bolpoint f. Steples g. Isi Steples h. Lem Dlukol i. Plash Disk (1 Gb) j. CD Writer k. Amplop l. Klip Biaya Operasional a. Transportasi ( 3 org x 180 hari x 2 kali) b. Konsumsi ( 3 org x 180 hari x 3) Pengurusan Izin c. Penelitian d. Pengetikan Proposal Penggandaan & e. Penjilidan Seminar Proposal dan Hasil Penelitian/Publikasi a. Seminar Proposal Rental LCD Makan dan Minum Peserta Snack Penggandaan Proposal Pengetikan Hasil b. Penelitian c. Seminar Hasil Penelitian Rental LCD Makan dan Minum Peserta Snack Penggandaan & d. Penjilidan Hasil Penelitian

Satuan 4 6 4 2 2 3 5 3 1 1 2 5 rim rim kotak kali isi ulang kotak buah kotak buah buah bok kotak kotak

Harga Satuan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 27,000.00 24,000.00 20,000.00 150,000.00 11,000.00 20,000.00 4,500.00 5,000.00 525,000.00 35,000.00 11,000.00 3,500.00 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

Total 108,000.00 144,000.00 80,000.00 300,000.00 22,000.00 60,000.00 22,500.00 15,000.00 525,000.00 35,000.00 22,000.00 17,500.00

2.

Rp Rp 1 1 6 kali keg eks Rp Rp Rp

25,000.00 15,000.00 200,000.00 100,000.00 50,000.00

Rp 27,000,000.00 Rp 16,200,000.00 Rp Rp Rp 200,000.00 100,000.00 300,000.00

3.

1 40 40 50 1 1 40 40 8

keg org org eks keg keg org org eks

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

250,000.00 7,500.00 3,500.00 5,000.00 300,000.00 250,000.00 7,500.00 3,500.00 250,000.00

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

250,000.00 300,000.00 140,000.00 250,000.00 300,000.00 250,000.00 300,000.00 140,000.00

Rp 2,000,000.00

Total Biaya

Rp 49,081,000.00

TOTAL BIAYA PENELITIAN = Rp. 49.081.000,00 (Empat Puluh Sembilan Juta Delapan Puluh Satu Ribu Rupiah)

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 25

DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan, 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif, Edisi Pertama, Cetakan Pertama. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. BPS. 2006. Lombok Timur Dalam Angka. Dahuri, Rokhmin. 2000. Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat. Jakarta: LISPI ----------------------. 2004. “Kebijakan Pemerintah Dalam Pembiayaan Usaha Mikro – Kecil Bidang Kelautan dan Perikanan”. Paper. Jakarta: USAKTI, 23 Juli 2004. Dahuri, Rokhmin, dkk. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT. Pradnya Paramitha. Ibrahim, Bafadal, Teknik Analisis Data Kualitatif, dalam Bakri, Masykuri, Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis, 2002. Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang Kerjasama Dengan VISSIPRESS, 2002. Imron, Masyuri. 2001. Pemberdayaan Masyarakat Nelayan. Yogyakarta: Media Pressindo. --------------------. 2002. Penanggulangan Sumber Daya Laut Secara Terpadu: Masyarakat Nelayan dan Negosiasi Kepentingan. Jakarta: PMBLIPI. Jhingan, M.L. 2004. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Penerjemah D. Guritno. Cet. 10. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Miles, Matthew B. & A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif, Penerjemah Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press. Moleong, Lexy J., 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Pertama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyadi. 2005. Ekonomi Kelautan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Mulyono, Ali. “Nelayan Hanya Melaut Empat Bulan”. Suara Merdeka, Sabtu, 13 Maret 2004

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 26

Nadjib, Mochammad. 1993. “Karakteristik Sosial Budaya dan Masalah Perkoperasian Masyarakat Nelayan”, dalam Masyarakat Indonesia. No. 1 (20). 1993. Nawawi, H. Hadari., 1998. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Bisnis Yang Kompetitif, Cetakan kedua. Yogyakarta: Gajah Mada University. ____________, 1995. Metode Penelitian Bidang Sosial, Cetakan ketujuh. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Nazir, Moh., 1998. Metode Penelitian, Cetakan ketiga. Jakarta: Ghalia Indonesia. Notoatmodjo, Soekidjo, 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. N. Djunaidi Rahma, 2002. Masa Depan Otonomi Daerah, Kajian Sosial, Ekonomi, dan Politik Untuk Menciptakan Sinergi Dalam Pembangunan Daerah. Surabaya: SIC. Prayitno, Hadi & Budi Santoso. 1996. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Ghalia Indonesia. Saad, Sudirman. “Masa Depan Nelayan Pasca UU Perikanan Baru”. Inovasi Online: Edisi Vol.2/XVI/November 2004 . Siagian, Sondang P., Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan kesembilan, Bumi Aksara, Jakarta, 2002. Simamora, Henry. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi kedua, Cetakan ketiga. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN. Soetopo, HB., 2002. Pengumpulan dan Pengolahan Data Kualitatif, Masykuri Bakri, Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis, Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang Kerjasama Dengan VISIPRESS. Subeno, Bambang Tri. “Industri Bahari, Raksasa Tidur Yang Butuh Dukungan”. Suara Merdeka. Selasa, 30 Nopember 2004. Sulistyani, Ambar Teguh dan Rosidah, 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 27

DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………..i Kata Pengantar…………………………………………………………………….ii Daftar Isi………………………………………………………………………….iii BAB I .................................................................................................................. 1 PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian.................................................................................... 6 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 7 A. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Lombok Timur............................. 7 B Deskripsi Umum Swamitra Mina........................................................... 11 C. Konsep Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir .............................. 16 BAB III : METODE PENELITIAN ................................................................... 20 A. Jenis Penelitian....................................................................................... 20 B. Desain PAR ............................................................................................ 21 C. Lokasi Penelitian .................................................................................... 21 D. Tahapan-Tahapan Pelaksanaan PAR....................................................... 22 E. Jadwal Penelitian.................................................................................... 24 F. Personalia Penelitian .............................................................................. 24 G. Perkiraan Biaya Penelitian...................................................................... 24 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 26 LAMPIRAN

1

pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir-LKSP2M.doc07 28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->