P. 1
Referat Tinea Unguium

Referat Tinea Unguium

|Views: 1,438|Likes:
Published by Putri Dwi Kartini
Referat Tinea Unguium
Referat Tinea Unguium

More info:

Published by: Putri Dwi Kartini on Aug 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2015

pdf

text

original

TINEA UNGUIUM

Putri Dwi Kartini, S.Ked Pembimbing : Dr. Fitriani, SpKK Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNSRI/RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang 2013

PENDAHULUAN Tinea unguium (dermatophytic onychomycosis) adalah infeksi jamur dermatofita pada kuku.
1,2

Sedangkan onikomikosis adalah infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur

dermatofita, jamur non-dermatofita atau yeast.1,2,3 Dermatofita dibagi menjadi 3 genus, yaitu Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton. Golongan jamur ini mempunyai kemampuan mencerna keratin. Patogen lain golongan non-dermatofita yang menyebabkan tinea unguium adalah S. Dinidiatum, S. Hyalinum dan kadang-kadang Candida spp.1,2 Tinea unguium terjadi di seluruh belahan dunia. Dapat terjadi baik pada anak-anak maupun dewasa.1 Prevalensi tinea unguium meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Sekitar 1% pada individu <18 tahun dan hampir 50% pada usia >70 tahun.4 Dari 1305 anak yang berusia 3-15 tahun di 17 sekolah di Barcelona tahun 2003-2004 didapatkan bahwa prevalensi dermatofita di kaki (tinea pedis) 2,5%, dermatofita di kepala (tinea kapitis) 0,23% dan di kuku (tinea unguium) 0,15%.5 The Achilles project memperkirakan prevalensi tinea unguium di Eropa sekitar 27% dan di Amerika Utara sebesar 13,8%. Peningkatan prevalensi ini dikarenakan peningkatan status imunosupresi seseorang, sepatu yang terlalu sempit, dan peningkatan penggunaan locker room bersama.2 Tinea unguium lebih banyak terjadi pada laki-laki dan biasanya dikaitkan dengan tinea pedis.1-4 Tinjauan pustaka ini akan membahas tinea unguium terutama, etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan tinea unguium. Dengan memahami karakteristik penyakit ini, diharapkan kita dapat mendiagnosis dan menatalaksana pasien dengan tinea unguium dengan tepat.

1

tembus pandang relatif tidak fleksibel. Verrrucosum. dasar kuku (nail bed) dan hiponikium. 2 . Schoenleinii. Floccosum. (Gambar 1).ETIOLOGI Dermatofita merupakan penyebab terbanyak terjadinya onikomikosis. violaaceum. Anatomi dan struktur kuku. Yaitu sekitar 80-90%. berfungsi sebagai aksesori kosmetik. T. penyebab terbanyak adalah Trichophyton rubrum (71%) dan Trichophyton mentagrophytes (20%). Unit kuku terdiri dari lempeng kuku (nail plate) dan empat struktur epitel: lipatan kuku proksimal (proximal nail fold). meningkatkan diskriminasi sensorik. T. Penyebab lain diantaranya E.2 PATOGENESIS Sebelum memahami patogenesis terjadinya tinea unguium maka diperlukan pemahaman mengenai fungsi dan anatomi kuku. dan dalam beberapa individu.6 Kuku merupakan struktur unit yang tiap komponennya bergabung dan disebut sebagai unit kuku. Lipatan kuku proximal lunula lempeng kuku kutikula dasar kuku tautan onikodermal lipatan dorsum proksimal kuku lipatan ventral proksimal kuku bagian lipatan proksimal kuku kutikula dasar kuku lempeng kuku hiponikium lekukan distal matriks phalanges distal Gambar 1. T. matriks. Lempeng kuku berbentuk persegi panjang. Semua jenis dermatofita dapat menyebabkan tinea unguium. Fungsi utama dari kuku adalah untuk memberikan perlindungan ke ujung digiti.

penurunan imunitas serta gaya hidup seperti penggunaan kaos kaki dan sepatu tertutup terus-menerus. fosfat. seng. insufisiensi vena. besi. Trichophyton rubrum khususnya mengandung mannans yang dapat mengurangi proliferasi keratinosit.mengandung kalsium. mangan dan tembaga. tinea unguium pada kuku jari kaki biasanya terjadi setelah tinea pedis. Terdapat beberapa predisposisi yang memudahkan terjadinya tinea unguium yang mungkin sama dengan penyakit jamur superfisial lainnya seperti kelembaban. Gambaran klinis tinea unguium berdasarkan klasifikasinya. Lempeng kuku muncul dari bawah lipatan kuku proksimal dan berbatasan di kedua sisi dengan lipatan kuku lateralis. hal ini akan memberikan gambaran klinis berbeda sesuai dengan klasifikasi berdasarkan bagian kuku yang terkena. yang memungkinkan untuk invasi jamur ke dalam jaringan keratin. Invasi kuku oleh jamur juga akan meningkat pada pasien dengan defek pada suplai vaskularisai seperti akibat pertambahan usia.1 Sekitar 80% tinea unguium terjadi pada kaki. juga sulfur dalam matriks kuku yang bertanggung jawab untuk kualitas fisik kuku. menghasilkan keratinases (enzim yang memecah keratin). Daerah antara permukaan dorsal dan ventral terdapat kutikula (eponychium) yang melindungi matriks dari kerusakan. tidak seperti kebanyakan jamur lain.6 Pada tinea unguium invasi terjadi pada kuku yang sehat. Di bagian proksimal terdapat lingkaran putih yang disebut lunula. pada kuku jari tangan dikaitkan dengan tinea manus. tinea corporis dan tinea kapitis. penyakit arteri perifer. Jamur dapat masuk melalui tiga cara yaitu dari manusia ke manusia (antrofopilik).1 Jamur menyerang kuku melalui berbagai area sesuai dengan bagian kuku yang pertama diinfeksinya. Selanjutnya dapat terjadi onikomikosis sekunder dimana infeksi terjadi setelah jaringan di sekitar kuku sudah terinfeksi seperti pada psoriasis atau trauma pada kuku. trauma berulang pada kuku. olahraga berlebihan dan juga penggunaan tempat mandi umum. Dinding sel dermatofit juga mengandung mannans (sejenis polisakarida) yang dapat menghambat respon kekebalan tubuh. Permukaan dorsal unit kuku tampak berwarna merah muda karena peningkatan pembuluh darah dari dasar kuku (nail bed). Invasi jamur ke kuku biasanya di mulai dari lipatan kuku lateral atau ujung kuku. serta pasien imunokompromise.4 GAMBARAN KLINIS Kuku jari kaki lebih sering terinfeksi dibandingkan kuku jari tangan. dari hewan ke manusia (zoofilik) dan dari tanah ke manusia (geofilik). Dermatofita. yaitu: 3 .

Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP) Jamur masuk melalui kutikula lipatan kuku posterior kemudian berpindah sepanjang lipatan kuku proksimal menginvasi matrik kuku. Pada tipe ini. Infeksi dimulai dari stratum korneum daerah hiponokium atau lipatan kuku. Onikomikosis Distal Subungual (ODS) sering dikaitkan dengan tinea pedis. Onikomikosis Subungual Distal (OSD)4 2. Banyak ditemukan pada pasien HIV. 3. Onikomikosis Distal Subungual (ODS) Onikomikosis Distal Subungual (ODS) merupakan pola tinea unguium yang paling sering terjadi. rubrum.4 Gambar 3. Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah bintik putih di bawah lipatan kuku proksimal.4 Gambar 2.3. rubrum. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP) dapat mengenai satu atau dua kuku. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP)4 4 . Tipe ini selalu dikaitkan dengan keadaan immunocompromised. Biasanya disebabkan oleh T. paling sering disebabkan oleh T.1. kemudian masuk ke subungual.

Pada kuku psoriasis sering ditemukan pitting nail dan tanda onikolisis berupa “oil spot” dan “salmon patch” yaitu warna kuning-kemerahan.3. Fusarium. dan Aspergillus terreus. mentagrophytes atau T. 3. kelainan biasanya terdapat pada lipatan kuku posterior.3 Pada liken planus dapat ditemukan papul merah ungu yang dapat dilihat di bawah lempeng kuku dan manifestasi lanjut berupa pterigium.3 5 . mengkilat dan melekat pada dasar. Penyebab terbanyak adalah T. Psoriasis kuku memberikan gambaran mirip Onikomikosis Subungual Distal (OSD).4 Pada ekzema dan dermatitis kontak. seperti tepung/ serbuk kapur (chalky white) dan kadang mudah retak. Gambaran ini tidak ditemukan pada tinea unguium. Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT) Pada tipe ini.4 Gambar 3. Pada dermatitis kelainan pada ujung jari kadang disertai onikolisis.3. selain kuku pada umumnya kelainan juga ditemukan pada bagian kulit lain. liken planus. Permukaan lempeng kuku yang terinvasi oleh jamur menunjukkan gambaran putih. Meski demikian dapat terjadi kelainan psoriasis yang hanya mengenai kuku. rubrum (pada anak-anak). 3. ekzema dan dermatitis kontak. yaitu kuku psoriasis. translusen di bawah lempeng kuku dan sering meluas ke hiponikium. Penyebab yang jarang Acremonium. Bagian distal terdorong ke atas oleh akumulasi bahan keratin di bawahnya sehingga bagian lempeng kuku bebas menghadap ke atas. serta pakionikia kongenital. jamur menginvasi permukaan dorsal kuku. Pakionikia kongenital memberikan gambaran bagian proksimal lempeng kuku tampak licin. Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT)4 DIAGNOSIS BANDING Sangat penting untuk membedakan tinea unguium dengan berbagai penyakit lain yang memberikan gambaran klinis yang hampir sama.4 Pada psoriasis.

Gambaran klinis harus dikonfirmasi dengan ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan mikroskopik langsung dengan preparat KOH. Mengingat banyaknya diagnosis banding secara klinis. Pendekatan diagnosis pada kuku distrofi. Darier disease) Pemeriksaan mikroskopik dengan preparat KOH/Calcoflour. lichen planus. psoriasis.1 Singkirkan penyebab non-jamur  Penyakit kulit yang bermanifestasi pada kuku atau penyakit sistemik (contoh. dermatitis)  Faktor dari luar (contoh: trauma.1 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopik langsung yang diikuti biakan untuk identifikasi spesies penyebab. maka dapat digunakan pendekatan diagnosis pada kuku yang distrofi. pemeriksaan dengan kerokan kuku dan debris subungual Atau PAS ( Periodic Acid Schiff Stain) Ulangi + Biakan dan mulai pengobatan untuk tinea unguium - Biakan Terapi tinea unguium Bagan 1.DIAGNOSIS Anamnesis dan gambaran klinis saja pada umumnya sulit untuk memastikan diagnosis terutama pada tinea unguium yang merupakan kelainan sekunder pada kelainan kuku yang telah ada sebelumnya. kontak iritan)  Genodermatosis (contoh: pachyonychia congenital. 6 . pemeriksaan histopatologi dari clipping nail atau dengan biakan jamur.

Dapat dilakukan biopsi kuku atau cukup dengan nail clippings pada Onikomikosis Subungual Distal (ODS). Penghancuran spesimen kuku harus dilakukan sebelum inokulasi pada media. Sampel yang diambil dari kuku yang terinfeksi disuntikkan ke media agar Sabouraud dengan atau tanpa cycloheximide.7 Selain memastikan hasil positif atau negatif. Biakan jamur menggunakan media agar Sabouroud dengan chloramphenicol dan cycloheximide memiliki sensitivitas 32%.6. tetapi tidak pada keratin atau benang dan artefak lain.4 Pemeriksaan Biakan Pemeriksaan dengan biakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah untuk menentukan spesies jamur. perlu dicari bentuk tipikal atau atipikal elemen jamur. Zat warna tambahan misalnya tinta parker blue-black. Namun untuk calcoflour white dibutuhkan mikroskop fluoresen untuk memeriksannya. Periodic Acid Schiff (PAS) digunakan untuk mencari elemen jamur pada kuku. Penambahan zat warna chorazol black E atau calcofluor white pada KOH bersifat spesifik untuk elemen jamur karena hanya terikat pada khitin yang merupakan dinding jamur. 7 . Untuk melihat hasil biakan jamur ini dibutuhkan waktu beberapa hari sampai dengan satu minggu. hifa Scytalidium panjang dan berkelok-kelok serta jamur dematiaceae berwarna hitam. Pemeriksaan secara mikroskopik merupakan pemeriksaan yang paling sederhana dan cepat.4. Pada biakan jamur pemisahan jamur akan lebih baik jika menggunakan antibiotik untuk mencegah kontaminasi bakteri.7 Pada pemeriksaan mikroskopik terkadang sulit untuk mengidentifikasi jenis jamur spesifik tetapi pada kebanyakan kasus yeast dapat dibedakan dengan dermatofita secara morfologi.7 Pemeriksaan Histopatologi Bila secara klinis kecurigaan tinea unguium besar namun hasil sediaan mikroskopik langsung maupun biakan negatif.Pemeriksaan mikroskopik langsung Pemeriksan langsung dapat dilakukan dengan sediaan KOH 20-30% dalam air atau dalam dimetil sulfoksida (DMSO) 40% untuk mempermudah lisis keratin. atau pewarnaan PAS akan mempermudah visualisasi jamur. pemeriksaan histopatologi dapat membantu. misalnya hifa dermatofita tidak berwarna (hialin).

Teknik ini merupakan teknik yang paling dapat dipercaya untuk membangun diagnosis tinea unguium.Pemeriksaan ini dapat sekaligus membantu memastikan bahwa jamur terdapat dalam lempeng kuku dan bukan komensal atau kontaminan di luar lempeng kuku. maka prinsip penatalaksanaan tinea unguium menghilangkan faktor predisposisi yang memudahkan terjadinya penyakit. Siklopiroks merupakan anti jamur sintetik hydroxypiridone.4. Amorolfin : merupakan derivat morfolin yang bersifat fungisidal. Setelah dioleskan pada kuku yang sakit. bersifat fungisidal. sporosidal dan anti jamur ini mempunyai penetrasi yang baik pada kulit dan kuku.4 Obat topikal Obat topikal berbentuk krim dan solusio. larutan tersebut akan mengering dalam waktu 30-45 detik. Untuk pengobatan tinea unguium digunakan siklopiroks nail lacquer 8%. namun masih dapat digunakan untuk superfisial Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT). Pengobatan topikal yaitu dengan menggunakan siklopiroks dan amprolfin.4 b. Bekerja dengan cara menghambat biosintesis ergosterol jamur. serta terapi dengan obat anti jamur yang sesuai dengan penyebab dan keadaan patologi kuku. Perlu ditelusuri pula sumber penularan.4 mm dan hasil pengobatan akan dicapai setelah 24-48 kali pemakaian. Diberikan 2 hari 8 . dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama 6 bulan sedangkan untuk kuku kaki harus digunakan selama 9-12 bulan. namun sulit untuk penetrasi ke dalam kuku sehingga kurang efektif untuk pengobatan tinea unguium. Untuk infeksi jamur pada tinea unguium digunakan amorolfin dalam bentuk cat kuku konsentrasi 5% untuk kuku jari tangan. Obat topikal dengan formulasi khusus dapat meningkatkan penetrasi obat ke dalam kuku. zat aktif akan segera dibebaskan dari pembawa berdifusi menembus lapisan lempeng kuku hingga ke dasar kuku dalam beberapa jam sampai kedalaman 0. Pada beberapa penelitian sensitivitas PAS adalah 41-93%. yakni: a.7 PENATALAKSANAAN Seperti penatalaksanaan penyakit jamur superfisial lainnya.7 Pengobatan pada tinea unguium yaitu dengan pemberian obat anti jamur baik secara topikal maupun sistemik. Sedangkan pengobatan sistemik digunakan anti jamur golongan alilamin seperti terbinafin dan golongan azol seperti flukonazol dan itrakonazoltinea unguium ada dua cara yaitu secara sistemik dengan menggunakan obat.

sekali selama bulan pertama. Dianjurkan pemakaian cat kuku siklosporik tidak melebihi dari 6 bulan. selain itu bentuk cat kuku juga mudah digunakan. namun tetap diperlukan untuk pengobatan infeksi tertentu.4 Dibutuhkan ketekunan pasien karena umumnya masa pengobatan panjang.1 Table 1. termasuk tinea manus. Meskipun penggunaan obat topikal mempunyai keterbatasan.5 mg/hari (<20 kg) 125 mg/hari (20–40 kg) or 250 mg/hari (>40 kg) × 6 minggu (kuku tangan) or 12 minggu (kuku kaki) 250 mg/hari × 6 minggu 250 mg/hari × 12 minggu 9 . Obat yang dianjurkan pada tinea unguium. meski dikaitkan dengan tingginya angka kejadian dan peningkatan keparahan efek samping. namun masih dapat digunakan sebagai pengobatan tinea unguium karena tidak mempunyai risiko sistemik. 200 mg/hari (40–50 kg) Atau 200 mg (>50 kg) × 1 minggu/bulan for 2 (kuku tangan) atau 3 (kuku kaki) bulan 62. Obat antijamur baru memberikan lebih banyak pilihan untuk terapi sistemik.1 Flukonazol 150–200 mg/minggu × 9 bulan Dosis Dewasa Griseofulvin 1–2 g/hari hingga kuku normal Itrakonazol Terbinafin Kuku tangan dan kuku kaki 200 mg/hari × 12 minggu Atau 200 mg × 1 minggu/bulan selama 3–4 bulan Hanya kuku tangan 150–200 mg/minggu × 6 bulan 1–2 g/day hingga kuku normal 200 mg/hari × 6 minggu Atau 200 mg × 1 bulan selama 2 bulan 6 mg/kg/ minggu × 12–16 minggu Dosis anakanak (kuku tangan) or 18–26 minggu (kuku kaki) 20 mg/kg/hari hingga kuku normal 5 mg/k/hari (<20 kg). kapitis dan unguium. setiap 3 hari sekali pada bulan kedua dan seminggu sekali pada bulan ketiga hingga bulan keenam pengobatan. relatif lebih murah dan dapat digunakan sebagai kombinasi dengan oral untuk memperpendek masa pengobatan. 100 mg/hari (20–40 kg).7 Obat Sistemik Terapi anti jamur sistemik.

rubrum dan T. Derivat azol bersifat fungistatik tetapi mempunyai spektrum anti jamur luas dan derivat alilamin bersifat fungisidal namun efektif terutama terhadap dermatofita. dan Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT). Prevalensi tinea meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Ada 3 jenis onikomikosis yaitu Onikomikosis Subungual Distal (OSD). Penatalaksanaan khusus terdiri dari pengobatan topikal dan sistemik. sedangkan penatalaksanaan dengan sistemik digunakan anti jamur golongan alilamin seperti terbinafin dan golongan azol seperti 10 . mentagrophytes. dan pada keadaan patogen resisten terhadap obat.3 Tinea unguium tahap awal lebih mudah diobati pada orang muda. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP). lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada wanita. dibutuhkan pengobatan dalam waktu yang panjang.7 PROGNOSIS Kondisi ini sulit diobati.Obat sistemik yang dapat digunakan untuk pengobatan tinea unguium yaitu derivat azol dan derivat alilamin. bila terdapat kontraindikasi terhadap obat sistemik. Diagnosis berdasarkan gambaran klinis yang harus dikonfirmasi dengan ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan mikroskopik langsung dengan preparat KOH. dan individu sehat dibandingkan dengan individu yang sudah tua dengan kondisi kesehatan yang buruk. Penatalaksanaan dengan topikal yaitu dengan menggunakan siklopirok dan amorolfin.4 KESIMPULAN Tinea unguium (dermatophytic onychomicosis) adalah infeksi jamur dermatofita pada kuku. Penatalaksanaan pada tinea unguium terdiri dari penatalaksanaan umum dan khusus. Jenis yang paling sering adalah Onikomikosis Subungual Distal (OSD). pemeriksaan histopatologi PAS (Periodic Acid Schiff Stain) atau dengan biakan jamur. Tindakan bedah tetap harus dikombinasi dengan obat anti jamur topikal atau sistemik.4 Terapi Bedah Pengangkatan kuku dengan tindakan bedah skalpel selain menyebabkan nyeri juga dapat memberikan gejala sisa distrofi kuku. Patogen penyebab terbanyak adalah T. Tindakan bedah dapat dipertimbangkan bila kelainan hanya 1-2 kuku. Penatalaksanaan umum yaitu memberikan informasi dan edukasi mengenai tinea unguium kepada pasien.

Pengobatan tahap awal lebih mudah diobati pada orang muda dan individu sehat dibandingkan individu yang sudah tua dengan kondisi kesehatan yang buruk. Tinea unguium sulit untuk diobati.flukonazol dan itakonazol. 11 .

Paller AS. 3. Grira G. p. tinea unguium of toenails and tinea capitis in school children from Barcelona.9-12. hal. New York: McGraw-Hill. In: Wolff K. p. Lorizzo J L. Dermatology.228-32. Moore Mk. Goldsmith LA. 126570.1817-18. Elewski BE. 5. 6. 2nd ed. Katz SI. Johnson RA. Anatomy and organization of human skin. Cambridge: Wiley-Balckwell: 2010. 2008. Elston M. Torres JM. Disorder of The Nail Apparatus. p. Prevalence of tinea pedis. 10th edition. Andrew’s Disease of The Skin Clinical Dermatology. Hay RJ. 12 . Gilchrest BA. Onikomikosis. ED et al. 2008. Haffernan MP. 7th ed.1016-21. Fungal disease. 2007.3.305-7. Wolff KL. Sobera JO. p. 8th ed. 4. Rook’s Textbook of Dermatology. 7. Rapini RP. Segura S. editors. Trivino L. In: Berth-jones J. In: Bolognia J L. 2. Berger G. Philadelphia: Saunders Elsevier. editors. editors. Revista Iberoamericana de Micologı´a. Medan: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Universitas Sumatera Utara.26(1): p. 2008. Verma S. New York: Mosby Elsevier. 2009. Fungal disease. Perez M. Leffel DJ. New York: The McGraw-Hill companies. Hay R. Diseases resulting from fungi and yeast. Budi IP. 2008. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 5th ed. James D. p.14-5. Martinez A. In: Fitzpatrick’s Color Atlas & Sinopsis Of Clinical Dermatology.DAFTAR PUSTAKA 1. Hughey LC.

DISKUSI 1. 3. Klasifikasi tersebut hanya membedakan tinea unguium berdasarkan gambaran klinis dan tidak ada perbedaan dalam pemberian terapi. Apakah ada perbedaan terapi pada ketiga jenis tinea unguium yang diklasifikasikan berdasarkan gambaran klinis? Jika iya. Terbinafin merupakan antijamur yang berspektrum luas. Terbinafin diabsorbsi dengan baik jika diberikan dengan cara oral yaitu >70% dan akan tercapai konsentrasi puncak dari serum 0.3 epoxide). Terbinafin merupakan antijamur golongan alilamin yang dapat diberikan secara oral. dan pada keadaan patogen resisten terhadap obat. Tindakan bedah tetap harus dikombinasi dengan obat anti jamur topikal atau sistemik. Terbinafin bekerja menghambat sintesis ergosterol (merupakan komponen sterol yang utama yang membrane plasma sel jamur). Oral terbinafin efektif untuk pengobatan dermatofitosis pada kulit dan kuku. Pemberian bersama makanan tidak mempengaruhi absorbsi obat.5 mg/L setelah pemberian 2 jam dengan 250 mg dosis tunggal. 2. Apa indikasi terapi bedah pada tinea unguium? Jawaban: Pengangkatan kuku dengan tindakan bedah skalpel selain menyebabkan nyeri juga dapat memberikan gejala sisa distrofi kuku. apa perbedaannya? Jawaban: Tidak ada perbedaan. Sangat efektif terhadap dermatofita yang bersifat fungsidal. Dosis terbinafin oral untuk dewasa yaitu 250 mg/hari tetapi pada pasien dengan gangguan hepar 13 .8-1. dengan cara menghambat kerja squalene epoxidase ( merupakan suatu enzim yang berfungsi sebagai katalis untuk mengubah squalene 2. Tindakan bedah dapat dipertimbangkan bila kelainan hanya 1-2 kuku. Obat sistemik derivat alilamin apa yang menjadi pilihan pertama untuk pengobatan tinea unguium? Jawaban: Pilihan pertama derivat alilamin yang digunakan untuk pengobatan tinea unguium adalah terbiafin. bila terdapat kontraindikasi terhadap obat sistemik.

Untuk kuku jari tangan diberikan selama 6 minggu dan untuk kuku jari kaki selama 12-16 minggu.atau fungsi ginjal (kreatinin clearance <50 ml/menit atau konsentrasi kreatinin >300 μmol/ml) dosis harus diberikan setengah dari dosis di atas. Efek samping pada gastrointestinal seperti diare. Namun konsentrasi darah akan menurun jika terbinafin diberikan bersama rifampisin dan level darah pada terbinafin dapat meningkat jika pemberiaannya bersama cimetidin yang merupakan P-450 inhibitor. Terbinafin tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit hepar yang kronik. dispepsia. sering dijumpai. 14 . Terbinafin tidak mempunyai efek clearance terhadap obat lain yang metabolismenya melalui hepatik sitokrom P-450.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->