TINEA UNGUIUM

Putri Dwi Kartini, S.Ked Pembimbing : Dr. Fitriani, SpKK Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNSRI/RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang 2013

PENDAHULUAN Tinea unguium (dermatophytic onychomycosis) adalah infeksi jamur dermatofita pada kuku.
1,2

Sedangkan onikomikosis adalah infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur

dermatofita, jamur non-dermatofita atau yeast.1,2,3 Dermatofita dibagi menjadi 3 genus, yaitu Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton. Golongan jamur ini mempunyai kemampuan mencerna keratin. Patogen lain golongan non-dermatofita yang menyebabkan tinea unguium adalah S. Dinidiatum, S. Hyalinum dan kadang-kadang Candida spp.1,2 Tinea unguium terjadi di seluruh belahan dunia. Dapat terjadi baik pada anak-anak maupun dewasa.1 Prevalensi tinea unguium meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Sekitar 1% pada individu <18 tahun dan hampir 50% pada usia >70 tahun.4 Dari 1305 anak yang berusia 3-15 tahun di 17 sekolah di Barcelona tahun 2003-2004 didapatkan bahwa prevalensi dermatofita di kaki (tinea pedis) 2,5%, dermatofita di kepala (tinea kapitis) 0,23% dan di kuku (tinea unguium) 0,15%.5 The Achilles project memperkirakan prevalensi tinea unguium di Eropa sekitar 27% dan di Amerika Utara sebesar 13,8%. Peningkatan prevalensi ini dikarenakan peningkatan status imunosupresi seseorang, sepatu yang terlalu sempit, dan peningkatan penggunaan locker room bersama.2 Tinea unguium lebih banyak terjadi pada laki-laki dan biasanya dikaitkan dengan tinea pedis.1-4 Tinjauan pustaka ini akan membahas tinea unguium terutama, etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan tinea unguium. Dengan memahami karakteristik penyakit ini, diharapkan kita dapat mendiagnosis dan menatalaksana pasien dengan tinea unguium dengan tepat.

1

matriks.6 Kuku merupakan struktur unit yang tiap komponennya bergabung dan disebut sebagai unit kuku. violaaceum. Lempeng kuku berbentuk persegi panjang. Semua jenis dermatofita dapat menyebabkan tinea unguium. Penyebab lain diantaranya E. T. dasar kuku (nail bed) dan hiponikium.ETIOLOGI Dermatofita merupakan penyebab terbanyak terjadinya onikomikosis. Lipatan kuku proximal lunula lempeng kuku kutikula dasar kuku tautan onikodermal lipatan dorsum proksimal kuku lipatan ventral proksimal kuku bagian lipatan proksimal kuku kutikula dasar kuku lempeng kuku hiponikium lekukan distal matriks phalanges distal Gambar 1. Anatomi dan struktur kuku. T. T. Yaitu sekitar 80-90%. tembus pandang relatif tidak fleksibel. (Gambar 1).2 PATOGENESIS Sebelum memahami patogenesis terjadinya tinea unguium maka diperlukan pemahaman mengenai fungsi dan anatomi kuku. Floccosum. Unit kuku terdiri dari lempeng kuku (nail plate) dan empat struktur epitel: lipatan kuku proksimal (proximal nail fold). meningkatkan diskriminasi sensorik. Schoenleinii. 2 . penyebab terbanyak adalah Trichophyton rubrum (71%) dan Trichophyton mentagrophytes (20%). Verrrucosum. dan dalam beberapa individu. berfungsi sebagai aksesori kosmetik. Fungsi utama dari kuku adalah untuk memberikan perlindungan ke ujung digiti.

tinea corporis dan tinea kapitis. penyakit arteri perifer.1 Sekitar 80% tinea unguium terjadi pada kaki. menghasilkan keratinases (enzim yang memecah keratin). hal ini akan memberikan gambaran klinis berbeda sesuai dengan klasifikasi berdasarkan bagian kuku yang terkena. Jamur dapat masuk melalui tiga cara yaitu dari manusia ke manusia (antrofopilik). Di bagian proksimal terdapat lingkaran putih yang disebut lunula.1 Jamur menyerang kuku melalui berbagai area sesuai dengan bagian kuku yang pertama diinfeksinya. trauma berulang pada kuku. Invasi jamur ke kuku biasanya di mulai dari lipatan kuku lateral atau ujung kuku. Selanjutnya dapat terjadi onikomikosis sekunder dimana infeksi terjadi setelah jaringan di sekitar kuku sudah terinfeksi seperti pada psoriasis atau trauma pada kuku. juga sulfur dalam matriks kuku yang bertanggung jawab untuk kualitas fisik kuku. Terdapat beberapa predisposisi yang memudahkan terjadinya tinea unguium yang mungkin sama dengan penyakit jamur superfisial lainnya seperti kelembaban. penurunan imunitas serta gaya hidup seperti penggunaan kaos kaki dan sepatu tertutup terus-menerus. Daerah antara permukaan dorsal dan ventral terdapat kutikula (eponychium) yang melindungi matriks dari kerusakan. Gambaran klinis tinea unguium berdasarkan klasifikasinya. yang memungkinkan untuk invasi jamur ke dalam jaringan keratin. Permukaan dorsal unit kuku tampak berwarna merah muda karena peningkatan pembuluh darah dari dasar kuku (nail bed). Lempeng kuku muncul dari bawah lipatan kuku proksimal dan berbatasan di kedua sisi dengan lipatan kuku lateralis. Invasi kuku oleh jamur juga akan meningkat pada pasien dengan defek pada suplai vaskularisai seperti akibat pertambahan usia. pada kuku jari tangan dikaitkan dengan tinea manus. tinea unguium pada kuku jari kaki biasanya terjadi setelah tinea pedis. mangan dan tembaga.4 GAMBARAN KLINIS Kuku jari kaki lebih sering terinfeksi dibandingkan kuku jari tangan. seng. Dermatofita. Dinding sel dermatofit juga mengandung mannans (sejenis polisakarida) yang dapat menghambat respon kekebalan tubuh.mengandung kalsium. serta pasien imunokompromise. yaitu: 3 . besi. insufisiensi vena. fosfat.6 Pada tinea unguium invasi terjadi pada kuku yang sehat. olahraga berlebihan dan juga penggunaan tempat mandi umum. dari hewan ke manusia (zoofilik) dan dari tanah ke manusia (geofilik). tidak seperti kebanyakan jamur lain. Trichophyton rubrum khususnya mengandung mannans yang dapat mengurangi proliferasi keratinosit.

Tipe ini selalu dikaitkan dengan keadaan immunocompromised. paling sering disebabkan oleh T. Biasanya disebabkan oleh T. Onikomikosis Distal Subungual (ODS) Onikomikosis Distal Subungual (ODS) merupakan pola tinea unguium yang paling sering terjadi.3. Onikomikosis Subungual Distal (OSD)4 2. rubrum. Infeksi dimulai dari stratum korneum daerah hiponokium atau lipatan kuku. kemudian masuk ke subungual.4 Gambar 3.4 Gambar 2. Onikomikosis Distal Subungual (ODS) sering dikaitkan dengan tinea pedis. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP) dapat mengenai satu atau dua kuku. Pada tipe ini. Banyak ditemukan pada pasien HIV. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP)4 4 . Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah bintik putih di bawah lipatan kuku proksimal. rubrum. 3. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP) Jamur masuk melalui kutikula lipatan kuku posterior kemudian berpindah sepanjang lipatan kuku proksimal menginvasi matrik kuku.1.

Bagian distal terdorong ke atas oleh akumulasi bahan keratin di bawahnya sehingga bagian lempeng kuku bebas menghadap ke atas. selain kuku pada umumnya kelainan juga ditemukan pada bagian kulit lain.3 5 .3. Penyebab yang jarang Acremonium.3 Pada liken planus dapat ditemukan papul merah ungu yang dapat dilihat di bawah lempeng kuku dan manifestasi lanjut berupa pterigium. ekzema dan dermatitis kontak. Pakionikia kongenital memberikan gambaran bagian proksimal lempeng kuku tampak licin. 3. jamur menginvasi permukaan dorsal kuku. seperti tepung/ serbuk kapur (chalky white) dan kadang mudah retak. Penyebab terbanyak adalah T. Pada dermatitis kelainan pada ujung jari kadang disertai onikolisis. Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT) Pada tipe ini. Meski demikian dapat terjadi kelainan psoriasis yang hanya mengenai kuku. mengkilat dan melekat pada dasar. liken planus.3. serta pakionikia kongenital.4 Pada ekzema dan dermatitis kontak.4 Gambar 3. dan Aspergillus terreus. yaitu kuku psoriasis. kelainan biasanya terdapat pada lipatan kuku posterior. translusen di bawah lempeng kuku dan sering meluas ke hiponikium. 3. rubrum (pada anak-anak). Fusarium. Gambaran ini tidak ditemukan pada tinea unguium. Pada kuku psoriasis sering ditemukan pitting nail dan tanda onikolisis berupa “oil spot” dan “salmon patch” yaitu warna kuning-kemerahan. Psoriasis kuku memberikan gambaran mirip Onikomikosis Subungual Distal (OSD).4 Pada psoriasis. Permukaan lempeng kuku yang terinvasi oleh jamur menunjukkan gambaran putih. Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT)4 DIAGNOSIS BANDING Sangat penting untuk membedakan tinea unguium dengan berbagai penyakit lain yang memberikan gambaran klinis yang hampir sama. mentagrophytes atau T.

psoriasis.1 Singkirkan penyebab non-jamur  Penyakit kulit yang bermanifestasi pada kuku atau penyakit sistemik (contoh. 6 . maka dapat digunakan pendekatan diagnosis pada kuku yang distrofi.DIAGNOSIS Anamnesis dan gambaran klinis saja pada umumnya sulit untuk memastikan diagnosis terutama pada tinea unguium yang merupakan kelainan sekunder pada kelainan kuku yang telah ada sebelumnya. Gambaran klinis harus dikonfirmasi dengan ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan mikroskopik langsung dengan preparat KOH. Darier disease) Pemeriksaan mikroskopik dengan preparat KOH/Calcoflour. dermatitis)  Faktor dari luar (contoh: trauma. lichen planus. pemeriksaan dengan kerokan kuku dan debris subungual Atau PAS ( Periodic Acid Schiff Stain) Ulangi + Biakan dan mulai pengobatan untuk tinea unguium - Biakan Terapi tinea unguium Bagan 1. Pendekatan diagnosis pada kuku distrofi. kontak iritan)  Genodermatosis (contoh: pachyonychia congenital. Mengingat banyaknya diagnosis banding secara klinis.1 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopik langsung yang diikuti biakan untuk identifikasi spesies penyebab. pemeriksaan histopatologi dari clipping nail atau dengan biakan jamur.

Zat warna tambahan misalnya tinta parker blue-black. hifa Scytalidium panjang dan berkelok-kelok serta jamur dematiaceae berwarna hitam. 7 .Pemeriksaan mikroskopik langsung Pemeriksan langsung dapat dilakukan dengan sediaan KOH 20-30% dalam air atau dalam dimetil sulfoksida (DMSO) 40% untuk mempermudah lisis keratin.7 Pada pemeriksaan mikroskopik terkadang sulit untuk mengidentifikasi jenis jamur spesifik tetapi pada kebanyakan kasus yeast dapat dibedakan dengan dermatofita secara morfologi. tetapi tidak pada keratin atau benang dan artefak lain. Pada biakan jamur pemisahan jamur akan lebih baik jika menggunakan antibiotik untuk mencegah kontaminasi bakteri. Pemeriksaan secara mikroskopik merupakan pemeriksaan yang paling sederhana dan cepat. Untuk melihat hasil biakan jamur ini dibutuhkan waktu beberapa hari sampai dengan satu minggu. Sampel yang diambil dari kuku yang terinfeksi disuntikkan ke media agar Sabouraud dengan atau tanpa cycloheximide. pemeriksaan histopatologi dapat membantu. Periodic Acid Schiff (PAS) digunakan untuk mencari elemen jamur pada kuku.4 Pemeriksaan Biakan Pemeriksaan dengan biakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah untuk menentukan spesies jamur. misalnya hifa dermatofita tidak berwarna (hialin).7 Selain memastikan hasil positif atau negatif. Namun untuk calcoflour white dibutuhkan mikroskop fluoresen untuk memeriksannya. Dapat dilakukan biopsi kuku atau cukup dengan nail clippings pada Onikomikosis Subungual Distal (ODS). perlu dicari bentuk tipikal atau atipikal elemen jamur. Penghancuran spesimen kuku harus dilakukan sebelum inokulasi pada media. Penambahan zat warna chorazol black E atau calcofluor white pada KOH bersifat spesifik untuk elemen jamur karena hanya terikat pada khitin yang merupakan dinding jamur.4.6. atau pewarnaan PAS akan mempermudah visualisasi jamur.7 Pemeriksaan Histopatologi Bila secara klinis kecurigaan tinea unguium besar namun hasil sediaan mikroskopik langsung maupun biakan negatif. Biakan jamur menggunakan media agar Sabouroud dengan chloramphenicol dan cycloheximide memiliki sensitivitas 32%.

4. yakni: a. Untuk infeksi jamur pada tinea unguium digunakan amorolfin dalam bentuk cat kuku konsentrasi 5% untuk kuku jari tangan. Obat topikal dengan formulasi khusus dapat meningkatkan penetrasi obat ke dalam kuku. serta terapi dengan obat anti jamur yang sesuai dengan penyebab dan keadaan patologi kuku. namun masih dapat digunakan untuk superfisial Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT). Bekerja dengan cara menghambat biosintesis ergosterol jamur. namun sulit untuk penetrasi ke dalam kuku sehingga kurang efektif untuk pengobatan tinea unguium.4 b. Siklopiroks merupakan anti jamur sintetik hydroxypiridone. larutan tersebut akan mengering dalam waktu 30-45 detik. Amorolfin : merupakan derivat morfolin yang bersifat fungisidal. Diberikan 2 hari 8 .7 PENATALAKSANAAN Seperti penatalaksanaan penyakit jamur superfisial lainnya. Perlu ditelusuri pula sumber penularan. Untuk pengobatan tinea unguium digunakan siklopiroks nail lacquer 8%. dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama 6 bulan sedangkan untuk kuku kaki harus digunakan selama 9-12 bulan. sporosidal dan anti jamur ini mempunyai penetrasi yang baik pada kulit dan kuku. Setelah dioleskan pada kuku yang sakit.4 Obat topikal Obat topikal berbentuk krim dan solusio.7 Pengobatan pada tinea unguium yaitu dengan pemberian obat anti jamur baik secara topikal maupun sistemik. Sedangkan pengobatan sistemik digunakan anti jamur golongan alilamin seperti terbinafin dan golongan azol seperti flukonazol dan itrakonazoltinea unguium ada dua cara yaitu secara sistemik dengan menggunakan obat.Pemeriksaan ini dapat sekaligus membantu memastikan bahwa jamur terdapat dalam lempeng kuku dan bukan komensal atau kontaminan di luar lempeng kuku. Pengobatan topikal yaitu dengan menggunakan siklopiroks dan amprolfin. maka prinsip penatalaksanaan tinea unguium menghilangkan faktor predisposisi yang memudahkan terjadinya penyakit. Teknik ini merupakan teknik yang paling dapat dipercaya untuk membangun diagnosis tinea unguium. zat aktif akan segera dibebaskan dari pembawa berdifusi menembus lapisan lempeng kuku hingga ke dasar kuku dalam beberapa jam sampai kedalaman 0. bersifat fungisidal.4 mm dan hasil pengobatan akan dicapai setelah 24-48 kali pemakaian. Pada beberapa penelitian sensitivitas PAS adalah 41-93%.

relatif lebih murah dan dapat digunakan sebagai kombinasi dengan oral untuk memperpendek masa pengobatan.5 mg/hari (<20 kg) 125 mg/hari (20–40 kg) or 250 mg/hari (>40 kg) × 6 minggu (kuku tangan) or 12 minggu (kuku kaki) 250 mg/hari × 6 minggu 250 mg/hari × 12 minggu 9 . Obat antijamur baru memberikan lebih banyak pilihan untuk terapi sistemik. 100 mg/hari (20–40 kg).7 Obat Sistemik Terapi anti jamur sistemik.1 Table 1.4 Dibutuhkan ketekunan pasien karena umumnya masa pengobatan panjang. namun tetap diperlukan untuk pengobatan infeksi tertentu. Meskipun penggunaan obat topikal mempunyai keterbatasan. namun masih dapat digunakan sebagai pengobatan tinea unguium karena tidak mempunyai risiko sistemik. kapitis dan unguium.sekali selama bulan pertama.1 Flukonazol 150–200 mg/minggu × 9 bulan Dosis Dewasa Griseofulvin 1–2 g/hari hingga kuku normal Itrakonazol Terbinafin Kuku tangan dan kuku kaki 200 mg/hari × 12 minggu Atau 200 mg × 1 minggu/bulan selama 3–4 bulan Hanya kuku tangan 150–200 mg/minggu × 6 bulan 1–2 g/day hingga kuku normal 200 mg/hari × 6 minggu Atau 200 mg × 1 bulan selama 2 bulan 6 mg/kg/ minggu × 12–16 minggu Dosis anakanak (kuku tangan) or 18–26 minggu (kuku kaki) 20 mg/kg/hari hingga kuku normal 5 mg/k/hari (<20 kg). termasuk tinea manus. Obat yang dianjurkan pada tinea unguium. meski dikaitkan dengan tingginya angka kejadian dan peningkatan keparahan efek samping. Dianjurkan pemakaian cat kuku siklosporik tidak melebihi dari 6 bulan. setiap 3 hari sekali pada bulan kedua dan seminggu sekali pada bulan ketiga hingga bulan keenam pengobatan. 200 mg/hari (40–50 kg) Atau 200 mg (>50 kg) × 1 minggu/bulan for 2 (kuku tangan) atau 3 (kuku kaki) bulan 62. selain itu bentuk cat kuku juga mudah digunakan.

4 Terapi Bedah Pengangkatan kuku dengan tindakan bedah skalpel selain menyebabkan nyeri juga dapat memberikan gejala sisa distrofi kuku. Ada 3 jenis onikomikosis yaitu Onikomikosis Subungual Distal (OSD). Diagnosis berdasarkan gambaran klinis yang harus dikonfirmasi dengan ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan mikroskopik langsung dengan preparat KOH.4 KESIMPULAN Tinea unguium (dermatophytic onychomicosis) adalah infeksi jamur dermatofita pada kuku. Tindakan bedah dapat dipertimbangkan bila kelainan hanya 1-2 kuku.7 PROGNOSIS Kondisi ini sulit diobati. dan pada keadaan patogen resisten terhadap obat. lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada wanita.Obat sistemik yang dapat digunakan untuk pengobatan tinea unguium yaitu derivat azol dan derivat alilamin. Derivat azol bersifat fungistatik tetapi mempunyai spektrum anti jamur luas dan derivat alilamin bersifat fungisidal namun efektif terutama terhadap dermatofita. Jenis yang paling sering adalah Onikomikosis Subungual Distal (OSD). Patogen penyebab terbanyak adalah T. dan individu sehat dibandingkan dengan individu yang sudah tua dengan kondisi kesehatan yang buruk. Tindakan bedah tetap harus dikombinasi dengan obat anti jamur topikal atau sistemik. rubrum dan T. mentagrophytes. bila terdapat kontraindikasi terhadap obat sistemik. Penatalaksanaan dengan topikal yaitu dengan menggunakan siklopirok dan amorolfin. Prevalensi tinea meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP). pemeriksaan histopatologi PAS (Periodic Acid Schiff Stain) atau dengan biakan jamur. Penatalaksanaan khusus terdiri dari pengobatan topikal dan sistemik. dibutuhkan pengobatan dalam waktu yang panjang. dan Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT).3 Tinea unguium tahap awal lebih mudah diobati pada orang muda. Penatalaksanaan umum yaitu memberikan informasi dan edukasi mengenai tinea unguium kepada pasien. sedangkan penatalaksanaan dengan sistemik digunakan anti jamur golongan alilamin seperti terbinafin dan golongan azol seperti 10 . Penatalaksanaan pada tinea unguium terdiri dari penatalaksanaan umum dan khusus.

Tinea unguium sulit untuk diobati. 11 .flukonazol dan itakonazol. Pengobatan tahap awal lebih mudah diobati pada orang muda dan individu sehat dibandingkan individu yang sudah tua dengan kondisi kesehatan yang buruk.

Dermatology.3. Sobera JO. Cambridge: Wiley-Balckwell: 2010. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. p. Philadelphia: Saunders Elsevier. Haffernan MP. 2008. Berger G.305-7. Fungal disease. 2009. 12 . 7th ed. 2nd ed. Andrew’s Disease of The Skin Clinical Dermatology. Prevalence of tinea pedis. Moore Mk. 5th ed.DAFTAR PUSTAKA 1. Martinez A. In: Bolognia J L. Budi IP. New York: Mosby Elsevier. Rook’s Textbook of Dermatology. editors.1016-21. Johnson RA. 2008. p. In: Fitzpatrick’s Color Atlas & Sinopsis Of Clinical Dermatology. In: Berth-jones J. Segura S. Grira G. New York: The McGraw-Hill companies. Paller AS. p. Onikomikosis. In: Wolff K. editors. Rapini RP.1817-18. Goldsmith LA. New York: McGraw-Hill. 3. editors. Torres JM. Revista Iberoamericana de Micologı´a. Hughey LC. 7.228-32. Perez M. Leffel DJ. tinea unguium of toenails and tinea capitis in school children from Barcelona. 2007. Trivino L. Diseases resulting from fungi and yeast. James D. ED et al. Hay RJ. hal. 126570. p. Anatomy and organization of human skin. Verma S. 2008. 2008. Elewski BE.26(1): p. Katz SI. p.9-12. Wolff KL. Elston M. 4. 2. 10th edition.14-5. Fungal disease. 5. Hay R. Disorder of The Nail Apparatus. Medan: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Universitas Sumatera Utara. Lorizzo J L. Gilchrest BA. 8th ed. 6.

Apakah ada perbedaan terapi pada ketiga jenis tinea unguium yang diklasifikasikan berdasarkan gambaran klinis? Jika iya. Terbinafin merupakan antijamur yang berspektrum luas. Pemberian bersama makanan tidak mempengaruhi absorbsi obat. Terbinafin merupakan antijamur golongan alilamin yang dapat diberikan secara oral. bila terdapat kontraindikasi terhadap obat sistemik. Dosis terbinafin oral untuk dewasa yaitu 250 mg/hari tetapi pada pasien dengan gangguan hepar 13 . dengan cara menghambat kerja squalene epoxidase ( merupakan suatu enzim yang berfungsi sebagai katalis untuk mengubah squalene 2. 3. Apa indikasi terapi bedah pada tinea unguium? Jawaban: Pengangkatan kuku dengan tindakan bedah skalpel selain menyebabkan nyeri juga dapat memberikan gejala sisa distrofi kuku.DISKUSI 1. Tindakan bedah dapat dipertimbangkan bila kelainan hanya 1-2 kuku. Obat sistemik derivat alilamin apa yang menjadi pilihan pertama untuk pengobatan tinea unguium? Jawaban: Pilihan pertama derivat alilamin yang digunakan untuk pengobatan tinea unguium adalah terbiafin. Tindakan bedah tetap harus dikombinasi dengan obat anti jamur topikal atau sistemik.3 epoxide). Terbinafin diabsorbsi dengan baik jika diberikan dengan cara oral yaitu >70% dan akan tercapai konsentrasi puncak dari serum 0. 2.5 mg/L setelah pemberian 2 jam dengan 250 mg dosis tunggal. apa perbedaannya? Jawaban: Tidak ada perbedaan. Sangat efektif terhadap dermatofita yang bersifat fungsidal.8-1. Terbinafin bekerja menghambat sintesis ergosterol (merupakan komponen sterol yang utama yang membrane plasma sel jamur). Klasifikasi tersebut hanya membedakan tinea unguium berdasarkan gambaran klinis dan tidak ada perbedaan dalam pemberian terapi. dan pada keadaan patogen resisten terhadap obat. Oral terbinafin efektif untuk pengobatan dermatofitosis pada kulit dan kuku.

sering dijumpai. Namun konsentrasi darah akan menurun jika terbinafin diberikan bersama rifampisin dan level darah pada terbinafin dapat meningkat jika pemberiaannya bersama cimetidin yang merupakan P-450 inhibitor. dispepsia.atau fungsi ginjal (kreatinin clearance <50 ml/menit atau konsentrasi kreatinin >300 μmol/ml) dosis harus diberikan setengah dari dosis di atas. Untuk kuku jari tangan diberikan selama 6 minggu dan untuk kuku jari kaki selama 12-16 minggu. Efek samping pada gastrointestinal seperti diare. Terbinafin tidak mempunyai efek clearance terhadap obat lain yang metabolismenya melalui hepatik sitokrom P-450. 14 . Terbinafin tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit hepar yang kronik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful