Historiografi

Sejarah adalah salah satu disiplin ilmu yang dipelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan berbagai generasi. Dalam sejarah, ada unsur observasi dan mencari bukti-bukti (tahqiq) dan sebab-sebab terjadinya peristiwa (hlm. 3). Para sejarahwan Muslim telah menuliskan peristiwaperistiwa sejarah secara luas dan mendalam. Sayangnya, di dalam penulisan sejarah itu masih ada cerita-cerita palsu tanpa dilakukan pengecekan, yang kemudian sampai ke generasi berikutnya. Sejarahwan berikutnya cenderung menerima apa adanya warisan sejarah yang telah ditemukan sejarahwan sebelumnya. Mereka menyajikan sejarah dalam bentuk seadanya tanpa materi substantif. Karya mereka tidak memasukkan para penulis, permulaan negara, sebab musabab dan kebeasaran dan jatuhnya negara (hlm. 6). Namun demikian, di antara sejarahwan ada yang melakukan penyelidikan mendalam terhadap negara dan bangsa sebelum Islam (al-Mas’udi). Ada pula sejarahwan yang meninggalkan generalisasi dan lebih cenderung kaku dan mengambil sikap ragu-ragu terhadap peristiwaperistiwa untuk diteliti secara mendalam (Abu Hayyan dan Ibn al-Rafiq) (hlm. 3). Inilah yang menjadi alasan Ibnu Khaldun menulis buku sejarah (Mukaddimah). Buku ini ditulis berdasarkan fakta-fakta sejarah tentang bangsa-bangsa. Buku ini dikoreksi secara teliti dengan menggunakan metode yang menakjubkan. Sayang Ibnu Khaldun, tidak menyebutkan apa dan bagaimana metodenya bekerja. (hlm. 7). Khaldun mengakui kelemahannya dalam mengatasi sulitnya menulis buku ini dengan berbagai problem yang ada. Hingga ia harus meminta kepada pembacanya untuk merespons secara kritis (hlm. 9). Manfaat sejarah: memahami bangsa-bangsa terdahulu, merefleksikan diri dalam perilaku kebangsaan mereka, mengetahui biografi Nabi, negara, dan kebijakan raja-raja. Penulisan sejarah membutuhkan sumber dan pengetahuan beragam, perhitungan dan ketekunan. Banyak sejarahwan melakukan kesalahan dalam mengemukakan hikayat dan peristiwa sejarah. Hal itu terjadi karena mereka hanya begitu saja menukilkan hikayat dan berita sejarah tanpa memeriksan benar-salahnya (hlm. 12). Misalnya cerita yang dituturkan Ibn ‘Abdi Rabbih. Pada suatu malam ketika berkeliling menelusuri lorong kota Baghdad, Al-Makmun menemukan keranjang yang terjulur keluar dari atap rumah, diturunkan dengan alat kerek dan tali dari benang sutera. Kemudian ia duduk di dalam keranjang itu, dan dia pun terangkat ke atas oleh tali yang mulai ditarik. Dia sampai di sebuah bilik dengan tempat tidur terhias indah. Bangunannya kokoh dan menarik pandangan. Tiba-tiba seorang wanita muncul dari balik tirai. Wajahnya cantik dan memukau. Perempuan itu memberinya salam serta mengajaknya berkencan malam itu. Demikianlah Al-Makmun mabuk sampai pagi. Lalu dia pulang menuju tempat rekan-rekannya yang sedang menunggunya. Al-Makmun tergoda oleh kecantikan wanita tersebut. Akhirnya dia mengirim utusan untuk meminang (hlm.32). Cerita semacam ini banyak sekali dan sudah dikenal di dalam buku sejarah. Motivasi untuk menulis cerita ini adalah tendensi untuk tenggelam dalam kesenangan yang diharamkan (hlm.33). Sebagai akibatnya, historiografi menjadi tidak berarti. Oleh karena itu, para sejarahwan membutuhkan pengetahuan tentang prinsip politik, watak, perbedaan bangsa-bangsa, tempat, periode, kebiasaan, sekte-sekte dan segala ihwalnya. Dia harus mengetahui perbedaan sumber

Perubahan-perubahan ini memang sangat tersembunyi. menganggap baik segala perbuatan mereka. Ibn Ishaq dan para sarjana lainnya terjun ke bidang ini (hlm. eksistensi manusia tidak akan sempurna. 45-46).Kecenderungan terikat pada orang besar. Selama gotong-royong itu tidak ada. sehingga Al-Tabari.Ketidaktahuan tentang bagaimana peristiwa sesuai dengan realitas 6. “Rakyat mengikuti agama rajanya― (hlm. yaitu melalui peraturan-peraturan yang dibuat oleh seorang penguasa atau dengan bantuan solidaritas sosial yang memungkinkannya untuk memaksa orang lain agar mengikutinya ke mana saja. Masyarakat yang memiliki Kitab Suci dan yang mengikuti para Nabi sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kaum Majusi (Zoroaster) yang tidak memiliki Kitab Suci. Bagi filosof. Karena itulah. 3. 107-110) 1. historiografi dianggap tinggi nilainya. Para filosof menegaskan bahwa manusia butuh nubuwah untuk menegakkan otoritas. sebab eksistensi manusia dapat berlangsung tanpa adanya nubuwah.ketika menerima wahyu. manusia akan memperoleh kesulitan. Ketika umat manusia telah membentuk organisasi dan peradaban sudah tewujud.Keterlibatan yang terlalu dalam terhadap madzhab 2. maka manusia pun memerlukan otoritas yang akan melaksanakan kewibawaan. manusia diciptakan hanya dapat hidup dan mempertahankan hidupnya dengan bantuan yang lainnya.Kepercayaan yang berlebihan terhadap orang-orang yang memberitakan sejarah 3. Tanpa organisasi. otoritas seperti itu ada pada syariat Islam. Hanya karena alasan ini.Ketidaktahuan tentang watak berbagai peristiwa yang muncul dalam peradaban Peradaban Manusia Organisasi adalah suatu keharusan dalam masyarakat karena secara sunnatullah. Sebab perubahan itu karena kebiasaan setiap generasi mengikuti kebiasaan pemerintah.mereka mempunyai akhlak yang baik dan menjauhi segala sifat tercela serta menghindarkan diri dari perkataan yang tak ada gunanya. akibatnya perubahan itu sukar sekali dilihat.pada diri mereka terdapat hal-hal aneh yang luar biasa yang membuktikan kebenaran mereka .dan awal timbulnya alasan dan dorongan yang membuat semua itu terbentuk. menyiarkan kemasyhuran. Keterangan sejarah bisa diinfiltrasi oleh manipulasi. Sebagaimana peribahasa. manusia memerlukan gotong-royong dengan sesamanya. mereka seakan-akan nampak aneh bagi orang-orang disekitarnya 2. Manusia Pilihan Tanda manusia pilihan: (hlm. 7. Pernyataan filosof ini nampaknya tidak logis.mereka berseru untuk beragama dan beribadah 4. 46-47).Tidak dapat memahami maksud yang sebenarnya 4. Maka. Salah satu kesalahan dalam historiografi ialah mengabaikan perubahan situasi dan kondisi pada bengsa dan generasi. Penyebabnya adalah: 1. organisasi menjadi suatu keharusan.Asumsi yang tidak beralasan terhadap kebenaran 5. berkedudukan tinggi untuk memuji.mereka mempunyai prestise di kalangan kaumnya 5. Al-Bukhari.

hawa nafsu dan kesenangan (hlm. murninya ras dan solidaritas kesukuan hanyalah berlaku dengan sebenarnya pada suku-suku bangsa Arab pengembara (hlm. keturunan bangsa pengembara tidak dikuatirkan bercampur dengan suku lain. Solidaritas Sosial Hanya suku-suku yang terikat solidaritas sosial yang mampu bertahan hidup di padang pasir. Di antara mereka ada yang hidup bertani. Karena itu. Mereka larut dalam kenikmatan dan kemewahan. namun masih dalam batas kebutuhan. Orang Badui hidup di padang pasir. Apabila tingkat kekeluargaan antara dua orang dekat sekali. sehingga orang lain tidak akan mencoba masuk ke padang pasir atau hidup sebagai pengembara. Akibatnya. maka ikatan darah itu lemah (hlm. melainkan bersih dan murni. 144). sedangkan orang kota menetap. Penduduk kota banyak berurusan dengan hidup enak.Sosiologi Masyarakat: Peradaban Badui. Karena penduduk kota malas dan suka yang mudah-mudah. Orang-orang yang taat beragama sedikit sekali yang tinggal di kota-kota karena kota telah dipenuhi kekerasan dan masa bodoh. maka jelaslah bahwa ikatan darah itu membawa kepada solidaritas yang sesungguhnya. menanam sayur dan buah-buahan. sebagian orang yang hidup di padang pasir adalah orang zuhud. Orang Kota. Kemurniaan keturunan hanya terdapat pada orang-orang Arab Padang pasir yang liar. pengaruh wibawa ada pada pemuka suku. 145). Sedangkan orang-orang Badui. Jiwa mereka telah dikotori oleh berbagai macam akhlak tercela. Mereka hidup liar di tempat-tempat jauh di luar kota dan tak pernah mendapatkan pengawasan tentara. Mereka mempercayakan urusan keamanan diri dan harta kepada penguasa. Oleh karena itu. Daerah yang subur berpengaruh terhadap persoalan agama. Sedangkan orang Badui hidup memencilkan diri dari masyarakat. 151). Penjagaan yang mereka lakukan baru akan berhasil apabila mereka terdiri dari satu ikatan solidaritas sosial (hlm. dan bukan dalam kemewahan. meskipun juga berurusan dengan dunia. mereka sendiri yang mempertahankan diri mereka sendiri dan tidak minta bantuan pada orang lain. Kampung-kampung suku Badui dijaga dari serangan musuh yang datang dari luar dengan satu pasukan yang terdiri dari pemuda gagah berani. Solidaritas sosial itu berasal dari ikatan darah atau ikatan lain yang memiliki fungsi yang sama. dan Solidaritas Sosial Orang Badui dan Orang Kota Manusia hidup bermasyarakat tidak lain hanyalah untuk saling membantu di dalam mempeoleh penghidupan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka. Padang pasir adalah tempat yang berat. dan memelihara binatang (hlm. Orang Badu lebih berani daripada penduduk kota. Orang Badui merupakan basis dan lebih tua daripada orang-orang kota dan penduduk yang menetap (hlm. 141). Mereka terbiasa hidup mewah dan banyak mengikuti hawa nafsu. 152). Di kalangan suku-suku Badui. . Apabila tingkat kekeluargaan itu jauh. Orang-orang Badui yang hidup sederhana dan orang-orang kota yang hidup berlapar-lapar serta meninggalkan makanan yang mewah lebih baik dalam beragama dibandingkan dengan orang yang hidup mewah dan berlebih.

mereka lebih mampu memiliki kekuasaan dan merampas segala sesuatu yang berada dalam genggaman bangsa lain. Kemewahan telah menghancurkan dan melenyapkan solidaritas sosial. Solidaritas sosial menjadi syarat kekuasaan (hlm. suku liar lebih berani dibanding yang lainnya. Sebabnya. Oleh karena itu. 157). 165).153). Tujuan terakhir solidaritas adalah kedaulatan. Jika solidaritas sosial dapat menaklukan solidaritas lain. Akhirnya. Hambatan jalan mencapai kedaulatan adalah kemewahan. apabila suatu negara sudah tua umurnya dan para pembesarnya yang terdiri dari solidaritas sosial sudah tidak lagi mendukungnya. maka ia akan mencari solidaritas golongan lain yang tak ada hubungan dengannya. 154). Tetapi lama-kelamaan. Begitu solidaritas sosial memperoleh kedaulatan atas golongannya. atau menghindarkan dari siksaan kaumnya atas perbuatan keriminal yang telah diperbuatnya (hlm. Dalam situasi demikian. Semakin besar kemewahan dan kenikmatan mereka semakin dekat mereka dari kehancuran. maka ia akan digantikan oleh orang yang memiliki solidaritas yang campur di dalam solidaritas sosial. Jika solidaritas sosial itu setara. Apabila di antara golongan ini ada yang lebih hebat terbiasa hidup di padang pasir dan lebih liar. adalah karena kekuasaan dimiliki melalui keberanian dan kekerasan. Kahidupan padang pasir merupakan sumber keberanian. mempertahankan diri dan mengalahkan musuh. dia akan lebih mudah memiliki kekuasaan daripada golongan lain (hlm. memimpin hanya dapat dilaksanakan dengan kekuasaan. Solidaritas pada keturunan yang bersifat khusus ini lebih mendarah-daging daripada solidaritas dari keturunan yang bersifat umum. maka butuh solidaritas lain. Sebab. maka orang-orang yang berada di bawahnya akan sebanding.156-157). Oleh karena itulah. Hal ini membawa akibat pada lemahnya solidaritas sosial (hlm. maka akan siap untuk tunduk dan patuh mengikutinya (hlm. Setiap suku biasanya terikat pada keturunan yang bersifat khusus atau umum. Bangsa-bangsa liar lebih mampu memiliki kekuasaan daripada bangsa lainnya. . apabila solidaritas masing-masing individu mengakui keunggulan solidaritas sosial sosial sang pemimpin. percampuran antara orang-orang Arab dengan non-Arab terjadi di kota. 155). negara akan memasukkan para pengikut solidaritas sosial yang kuat ke dalam kedaulatannya dan dijadikan sebagai alat untuk mendukung negara. Karena solidaritas sosial itulah yang mempersatukan tujuan. Bisa juga ketika negara sudah berumur tua. 167). Jika suatu negara sudah hancur. Di dalam memimpin kaum. Maka solidaritas sosial yang dimiliki oleh pemimpin harus lebih kuat daripada solidaritas lain yang ada. harus ada satu solidaritas sosial yang berada di atas solidaritas sosial masing-masing individu. Inilah yang terjadi pada orang-orang Turki yang masuk ke kedaulatan Bani Abbas (hlm. maka solidaritas sosial yang baru akan merebut kedaulatan negara. Bercampurnya keturunan disebabkan karena ada perasaan lebih baik bersatu dengan suku lain atau karena adanya perasaan satu sekutu atau karena perlindungan kepada sahabat. sehingga dia memperoleh kekuasaan dan sanggup memimpin rakyatnya dengan sempurna. Tak ayal lagi. Sifat kepemimpinan selalu dimiliki orang yang memiliki solidaritas sosial. keduanya akan bercampur yang secara bersama-sama menuntun tujuan yang lebih tinggi dari kedaulatan. bukan tambah memperoleh kedaulatan.

Karena di tempat semacam itu akan terdapat perbedaan pandangan dan keinginan. sedangkan kemenangan terdapat pada golongan yang menunjukkan lebih kuat solidaritas sosialnya dan lebih bersatu dalam tujuannya (hlm. 201). kewalian atau pengaruh agama yang besar. Karena rakyat hanya bisa digerakkan dan bangkit bertindak berkat dorongan solidaritas sosial. orang Badui menjadi bangsa yang paling sulit dipimpin orang lain. Sifat mereka kasar. Orang Badui dapat memiliki kedaulatan hanya dengan mempergunakan rona relijius. maka mereka memiliki pengaruh yang menguasai diri mereka. maka orang akan lupa keadannya yang asal. Tiap pandangan dan keinginan dibantu oleh solidaritas sosial yang bisa diharapkan perlindungannya. kekuasaan para raja dan dinasti besar hanya bisa ditumbangkan dengan serangan yang hebat yang didukung oleh solidaritas suku (hlm. Karena negara yang baru didirikan hanya dapat memiliki kepatuhan rakyat dengan bantuan banyak paksaan dan kekerasan. Kedudukan sebagai raja adalah suatu kedudukan yang terhormat dan diperebutkan karena memberikan kepada orang yang memegang kedudukan itu segala kekayaan duniawi dan juga kepuasaan lahir dan batin. Namun. Kerajaan yang luas dan memiliki kedaulatan yang kuat didasarkan pada agama. mudah bagi mereka untuk tunduk dan berkumpul membentuk kesatuan sosial. Kesemuanya itu tidak bisa terjadi kalau tidak dengan solidaritas sosial (hlm. 182-183). Gerakan keagamaan tanpa solidaritas sosial tidak akan berhasil. Negara yang memiliki lebih banyak suku dan orang-orang yang mempunyai semangat dan solidaritas. Karena bangsa yang demikian lebih mampu memperoleh kekuasaan dan mengadakan kontrol secara penuh da menaklukan golongan lain (hlm. sekalipun negara itu sendiri didasarkan atas solidaritas sosial. 188). Dengan demikian. Orang-orang yang mempunyai solidaritas sosial itulah yang menjadi pelindung dan tinggal di kerajaan-kerajaan di seluruh pelosok negara. apabila ada agama di sana melalui kenabian atau kewalian. Sebab. Agama itu melenyapkan sifat kasar dan bangga diri (hlm. Jarang sekali negara ditegakkan dengan aman di tempat yang didiami oleh banyak suku dan golongan.192). 175). Dalam tingkat ini. Maka penyelewengan dan pemberontakan terhadap negara sering terjadi. Karena sifat liar yang ada pada mereka. Karena kekuasaan hanya bisa diperoleh dengan kemenangan. Pemerintahan Kerajaan hanya bisa ditegakkan dengan solidaritas sosial. kedaulatannya akan sangat luas. Apabila negara telah berdiri. orang yang memerintah tidak lagi bergantung pada kekuatan angkatan bersenjata yang besar (hlm. ambisius dan berlomba-lomba menjadi pemimpin. . karena tiap suku merasa dirinya terjamin dan kuat (hlm. ia dapat meninggalkan solidaritas sosial. Akan tetapi apabila kedudukan raja telah ditegakkan dan diwarisi keturunan demi keturunan atau dinasti demi dinasti. Besarnya suatu negara tergantung pada besar kekuatan pendukungnya. bangga. 199).Apabila suatu bangsa itu liar. seperti kenabian. maka negara itu akan lebih kuat dan lebih banyak punya kerajaan dan daerah kekuasaan yang jauh lebih luas (hlm. Karena suatu kedaulatan tidak dapat didirikan tanpa solidaritas. 195). 188).

berarti ia telah mulai menekan keinginan orang lain dan merusak perasaan solidaritas. 2. Satu golongan lebih kuat dari yang lain. dan semangat yang tumbuh bersama.Tahap sukses. Rakyatlah yang menderita. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.Watak negara menuntut kepatuhan. tentram dan damai. Lima tahap dinasti: (hlm. 3. Negara hancur karena beberapa sebab: 1.Tahap kepuasan hati. orang yang memimpin negara menjadi model bagi rakyatnya. Tapi bersamaan dengan itu. Pada tahap ini. kemauan yang keras.Kekuasaan akhirnya terpusat pada satu orang. . 204). 3. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara. maka mereka menjadi lemah (hlm. Akibatnya anggota golongan menjadi malas dan enggan berperang. lalu dilanjutkan dengan periode selanjutnya. Pada tahap ini. penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya. maka kekayaan dan kemakmuran bangsa itu akan bertambah. 202-203). Di antara orang-orang itu akan dipilih sebagai pemimpin untuk golongan yang lebih luas mengingat adanya kelebihan yang dimiliki keluarganya atas golongan lain (hlm. yaitu perjuangan yang membawa kemenangan dan berdirinya suatu negara. Apabila seseorang telah memusatkan kekuasaan. sedangkan orang-orang kaya bermewah-mewah. Mereka malah hidup bersenang-senang dan bermalasmalasan.Tahap sejahtera. perjuangan akan berhenti. sehingga keperluan hidup yang pokok saja tidak lagi memuaskan. Apabila tujuan itu telah tercapai. 215-216) 1. penggulingan seluruh oposisi dan penguasaan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. Apabila suatu bangsa mengalahkan dan merampas penduduk suatu negeri. ketika kedaulatan telah dinikmati. Pada tahap ini. orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Solidaritas telah dilemahkan oleh hilangnya sifat kejantanan dan negara mendekati kehancurannya. Solidaritas yang luas ini diusahakan oleh golongan-golongan yang termasuk keluarga yang berpengaruh dan di dalam keluarga itu tentu ada sejumlah orang terkemuka yang dapat memimpin dan menguasai selebihnya. Jika orang sudah membiasakan diri dengan kepatuhan dan malas akibat kemewahan yang diraih.Pembentukan suatu negara membawa pada kemewahan disertai dengan bertambahnya kebutuhan dan akibat buruk karena pengeluaran lebih besar daripada penerimaan. 4. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Pada mulanya negara dibangun atas dasar solidaritas. Dan akhirnya yang lebih kuat menghimpun semuanya. 211). Kini mereka menikmati kekuasaan (hlm.Pemusatan kekuasaan. 205-207) Babak pertama dinasti adalah kehidupan padang pasir dengan solidaritas yang kuat. kebutuhan mereka juga bertambah. Begitu kekuasaan tercapai. Solidaritas itu terbentuk oleh sebab bersatunya beberapa golongan. kebudayaan hidup menetap dengan kemewahan yang ada (hlm. 2.Tahap penguasa mulai bertindak sewenang-wenang kepada rakyatnya. Suatu golongan umat manusia hanya bisa mendapat kekuasaan dengan berjuang. lalu menguasai dan mengatur yang lain. Mereka membutuhkan barang-barang kesenangan dan kemewahan yang sekunder.

suatu fakta bahwa dia juga ditunjuk sebagai penggantinya untuk mengurus masalah duniawi. solidaritas. perlunya manusia terhadap organisasi sosial. negara tinggal menunggu kehancurannya. 239-242). Lembaga ini disebut khilafah. Solidaritas mereka lenyap karena hidup mewah. dan persaudaraan.Memiliki sifat adil 3. 233-234). Namun. Jika pemerintahan diserahkan kepada pihak lain. Apabila hukum dibuat oleh orang cerdik pandai. Karena itulah.Tahap hidup boros dan berlebihan. pastilah pertentangan dan ketidaktaatan akan merusak segalanya. Negara berdasar Agama Tidak ada suatu negara yang tegak dan kuat tanpa hukum. yang dibuktikan dengan dibai’atnya Abu Bakar sebagai khalifah. Pada tahap ini. keturunan Quraiys dimasukkan dalam prasyarat kesanggupan. Karena itu. Dan faktanya tidak pernah khalifah yang empat menyerahkan tugas imam shalat kepada . penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya. Bangsa-bangsa non-Arab pun menaklukan mereka. Suku-suku Arab lainnya mengakui dan tunduk pada kaum Quraiys. Namun hukum wajibnya dalah fardhu kifayah (hlm. Khilafah adalah pengganti Nabi Muhammad dengan tugas mempertahankan agama dan menjalankan kepemimpinan dunia. Lembaga imamah adalah wajib menurut hukum agama. Orang yang menjalankan tugas ini adalah khalifah. melainkan juga akhirat. Oleh karena itu. imam. baik soal akherat maupun dunia (hlm. Sebab. Pemerintahan berdasar agama inilah yang berguna baik di dunia maupun di akhirat. 4.Adanya kemampuan. Jika demikian. pemuas hawa nafsu dan kesenangan.Sehat panca indera dan anggota badan 5. manusia tidak dijadikan hanya untuk dunia saja.Keturunan Quraiys Keturunan Quraiys Khusus untuk prasyarat keturunan Quraiys didasarkan pada ijma’ Shahabt pada peristiwa Saqifah ketika Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah. Jumlah mereka banyak. lambat laun kekuasaan kaum Quraiys melemah. Kaum Quraiys termasuk golongan suku Mudhar. imamah wajib karena akal. Hak ini dibuktikan ketika para sahabat menarik kesimpulan bahwa Abu Bakar telah ditunjuk sebagai pengganti Nabi menjadi imam shalat. solidaritas mereka telah membuat mereka berwibawa di kalangan suku Mudhar lainnya. Tapi sebenarnya ada hikmah dijadikannya keturunan Quraiys sebagai syarat. seharusnyalah negara berdasarkan agama. Tetapi ada juga yang berpendapat. ada yang menolak syarat ini (al-Baqillani). Tidak hanya berwasilah kepada Nabi Saw. yaitu solidaritas sosial (hl.5.Memiliki pengetahuan 2. maka pemerintahan itu bersadarkan akal. Pada tahap ini. Apabila hukum itu ditentukan oleh Allah dengan perantaraan Rasul. Imamah Shalat Imamah shalat adalah kepemimpinan yang paling tinggi. 234). Prasyarat menjadi khalifah: 1. Maka kekhalifahan adalah memerintah rakyat sesuai dengan petunjuk agama. imamah atau sulthanah. Padahal. atau sulthan. Nabi Saw menginginkan persatuan. maka pemerintahan itu berdasarkan agama. maka masyarakat Islam akan terpecah-pecah.

pengawas pasar. Fawaid . Ada juga bab-bab tentang peradaban kota. hakim.orang lain. maqshurah. bendera. dan ilmu pengetahuan.. pencetakan uang logam gelar kepala negara. thiraz. polisi. dll. 13 Juli 2006) Dimuat 26/07/2006 oleh A. (Bersambung…. tahta singgasana. atribut negara: terompet. Mereka mengimami shalat demi pertimbangan kehormatan dan jabatan mereka yang tertinggi.) (Disampaikan oleh Khamami Zada dalam Diskusi Bulanan Staf di Kantor PP LAKPESDAM NU. Kebiasaan ini berlanjut hingga Daukah Bani Umayyah. wizarah. Di dalam Mukadimah juga dibahas tentang jabatan-jabatan pemerintahan. mata pencaharian (profesi) masyarakat. khattam. diwan. kitabah. seperti mufti.