BAB I PENDAHULUAN Infeksi menular seksual (IMS) terutama ditularkan melalui hubungan seksual, namun penularan dapat juga

terjadi dari ibu kepada janin dalam kandungan atau saat kelahiran, melalui produk darah atau transfer jaringan yang telah tercemar, kadang-kadang dapat ditularkan melalui alat kesehatan. Dengan perkembangan di bidang sosial, demografik, serta meningkatnya migrasi penduduk, populasi berisiko tinggi tertular IMS akan meningkat pesat. Beban terbesar akan ditanggung negara berkembang, namun negara maju pun dapat mengalami beban akibat meningkatnya IMS oleh virus yang tidak dapat diobati, perilaku seksual berisiko serta perkembangan pariwisata. IMS menempati peringkat 10 besar alasan berobat di banyak negara berkembang, dan biaya yang dikeluarkan dapat mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Pelayanan untuk komplikasi atau sekuele IMS mengakibatkan beban biaya yang tidak sedikit, misalnya untuk skrining dan pengobatan kanker serviks, penanganan penyakit jaringan hati, pemeriksaan infertilitas, pelayanan morbiditas perinatal, kebutaan bayi, penyakit paru pada anakanak, serta nyeri panggul kronis pada wanita. Beban sosial meliputi konflik dengan pasangan seksual dan dapat mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam 20 tahun belakangan ini, pengetahuan tentang dinamika transmisi IMS telah berkembang sebagai dampak pandemi HIV dan peningkatan upaya untuk mengendalikan infeksi lainnya. Model matematika dan riset menunjukkan peran penting jejaring seksual dalam menentukan arah penyebaran berbagai jenis infeksi tersebut. Pemahaman yang semakin baikterhadap dinamika penularan IMS

1

misalnya gonore. misalnya kandidosis vaginalis dan vaginosis bacterial.1 Definisi Infeksi menular seksual adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. parasit. 2 . Secara gender perempuan memiliki resiko tinggi terhadap penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Supresi system imun akan semakin meningkat seiring dengan berlanjutnya usia kehamilan. ternyata berbagai perubahan tersebut dapat mengubah kerentanan dan juga mempermudah terjadinya infeksi selama kehamilan. trikomoniasis. pada waktu partus atau pasca partus dan dapat juga oleh karena kontaminasi instrument. Perubahan imunologik Selama kehamilan terjadi supresi imunokompetensi ibu yang dapat mempengaruhi terjadi berbagai penyakit infeksi. Kandidosis pada perempuan hamil lebih sering dijumpai dan dapat lebih parah jika dibandingkan dengan perempuan tidak hamil. virus. kondiloma akuminata dan infeksi HIV Infeksi endogen oleh flora normal komensal yang tumbuh berlebihan. atau jamur yang penularannya terutama melalui hubungan seksual dari seseorang yang terinfeksi kepada mitra seksualnya. juga terdapat penyakit kronik dan infeksi. Infeksi menular seksual merupakan salah satu penyebab infeksi saluran reproduksi (ISR). tetapi tidak demikian halnya dengan limfosit B. Infeksi saluran reproduksi dapat dibedakan menjadi :    Infeksi menular seksual. perempuan mengalami berbagai perubahan. ulkus mole. Limfosit T jumlahnya berkurang dalam sampel darah tepi perempuan hamil. Pengurangan maksimal CD4+ limfosit T terjadi pada trimester ketiga. 2. Tidak semua IMS menyebabkan ISR dan sebaliknya tidak semua ISR disebabkan IMS. Pada sejumlah besar perempuan yang dievaluasi selama dan setelah kehamilan. Infeksi iatrogenic yang disebabkan bakteri atau mikroorganisme yang masuk ke saluran reproduksi akibat prosedur medic atau intervensi selama kehamilan. perubahan tersebut antara lain sebagai berikut : a. tampak gangguan dalam respons transmisi limfosit secara in vitro terhadap sejumlah antigen mikroba selama kehamilan dibandingkan periode pascapartus dan secara bermakna juga lebuh rendah pada perempuan hamil dibandingkan dengan perempuan tidak hamil. yang secara alamiah sebenarnya diperlukan untuk kelangsungan hidup janin dalam kandungannya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. sifilis.2 Etiologi Berdasarkan penyebabnya. serta mempengaruhi perjalanan penyakit inffeksi genital. herpes genitalis. Demikian pula dengan kondiloma akuiminata herpes genital. Selama masa kehamilan. Namun.

2. prevalensi dan kuantitas laktobasilus bertambah. Gonore hanya ditemukan sebanyak kurang dari 1 % di Eropa Barat dan beberapa bagian Amerika Utara. tetapi di Negara afrika sub-sahara. 2. Beberapa penelitian menemukan. kandungan glikogen dan vaskularisasi genital bawah. cepat mati pada keadaan kering. Serviks akan menyekresikan mucus yang yang sangat kental selama kehamilan. gonoroe di bawah mikroskop cahaya tampak sebagai diplokokus berbentuk biji kopi dengan lebar 0. sebagian besar Amerika Latin dan Fiji. Dinding vagina menjadi hipertrofik dan penuh darah. Gambaran klinik dan perjalanan panyakit pada perempuan berbeda dengan pria. Infeksi pada uretra dapat bersifat simptomatik ataupun asimptomstik. Perluasan ektopiserviks selama kehamilan mengakibatkan mudahnya infeksi serviks atau reaktivasi laten. dan menoragia. dan tidak tahan zat desinfektan. perdarahan anata masa haid. tidak tahan pada suhu di atas 390C. Prevalensi sifilis pada perempuan hamil di Negara-negara maju hanya sebesar 0. Anatomi saluran genital sangat berubah pada saat kehamilan. tetapi umunya jarang terjadi tanpa infeksi pada serviks. tidak dapat bertahan lama di udara bebas. angka kejadian gonore 10-15 kali lebih tinggi. Hal ini disebabkan perbedaan anatomi fisiologi alat kelamin pria dan wanita. kecuali pada perempuan yang telah di histerektomi. Namun. sejumlah spesies bakteri yang terdapat di dalam vagina terutama spesies anaerob berkurang. Perubahan anatomik.03-0. Keluhan traktus genitourinarius bawah yang paling sering adalah bertambahnya duh genital.8 µm dan bersifat asam. Kuman ini bersifat gram negative. Namun. 3 . Macam – macam penyakit menular seksual Gonoroe Gonoroe adalah semua infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrohoeae.3 1. dan sifilis 10-100 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka kejadiannya pada perempuan hamil di Negara industry. Pada perempuan hamil di Negara dunia ketiga.3 %. Serviks mengalami hipertrofi dan semakin luas daerah epitel kolumnar pada ektoserviks yang terpajan mikroorganisme. Diduga mekanisme yang menyebabkan perubahan tersebut adalah pH vagina. disuria yang kadang – kadang disertai poliuria. Flora vagina merupakan ekosistem heterogen untuk berbagai bakteri anaerob dan bakteri fakulatif anaerob. hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efektivitas mucus serviks sebagai penghalang fisik ataupun antimikrobial. Gonoroe pada perempuan kebanyakan asimtomatik sehingga sulit untuk menemukan masa inkubasinya. hal tersebut belum diteliti lebih lanjut. c. bahwa selama kehamilan. Sifilis didapatkan 3-22 % perempuan hamil. Perubahan flora mikrobial servikovaginal.4 Epidemiologi Prevalensi IMS/ISR di negara sedang berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Negara maju.tampak di luar dan didalam leukosit polimorfnuklear. infeksi klamidia 2-3 kali lebih tinggi. tetapi terdapat sebesar 4-20% di Afrika Sub Sahara dan Thailand. sedangkan bakteri fakultatif lainnya tidak berubah. N.b. Mucus ini umumny dianggap sebagai penghalang jalannya mikroorganisme menuju uterus. membentuk mucous plug.

untuk perempuan hamil dengan resiko tinggi dianjurkan untuk dialakukan skrining terhadap infeksi gonoroe pada saat dating untuk pertama kali antenatal care dan juga trimester ketiga kehamilan. kondisi ini dapat mengarah pada perforasi kornea dan panoftalmitis. 90-99%. Jika tidak diterapi. perlu diingatkan pemberian golongan kuinolon pada perempuan hamil tidak dianjurkan. dosis tunggal dengan dosis maksimum 125 mg. manifestasi tersering dari infeksi perinatal. umumnya ditransmisikan selama proses persalinan. Infeksi ini sering ditemukan pada trimester pertama sebelum korion berfusi dengan desidua dan mengisi kavum uteri. Neisseria gonorrohoeae diasosiasikan dengan ruftur membrane yang premature. Diagnosis gonoroe dapat dipastikan dengan menemukan N. Konjungtivitis gonokokal. gonorrhoeae sebagai penyebab. dan infeksi pascapersalinan.korioamnionitis. Pilihan terapi yang direkomendasi oleh CDC adalah sefiksim 400 mg per oral. Oleh karena itu. Bila terjadi konjungtivitis gonoroe pada neonates. Oleh karena itu. levofloksasin 250 mg per oral. ofloksasin 400 mg per oral. Infeksi neonatal lainnya yang lebih jarang termasuk meningitis sepsis diseminata dengan arthritis. intamuskular. serta infeksi genital dan rekatal. pengobatan yang diajurkan adalah pemberian seftrikason 50 – 100 mg/kg BB. serviks tampak hiperemis denga erosi dan secret mukopurulen. baik secara mikroskopik maupun kultur (biakan). untuk menegakkan diagnosis gonoroe pada perempuan perlu dilakukan kultur. Secara epidemologi pengobatan yang dianjurkan untuk infeksi gonoroe tanpa komplikasi adalah pengobatan dosis tunggal. sedangkan sensivitas dan spesifitas dengan kultur sebesar 85-95%. kelahiran premature. Pada pemeriksaan. Komplikasi yang sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal genitalia. Infeksi pada serviks dapat menimbulkan komplikasi salpingitis atau penyakit radang panggul (PRP). Sensitivitas dan spesifitas dengan pewarnaan gram dari sediaan serviks hanya berkisar antara 45-65 %. Akat tetapi.Daerah yang paling sering terinfeksi adalah serviks. seftriakson 250 mg intramuscular. Dosis dan obat – obatan yang diberikan tidal berbeda dengan keadaan tidak hamil. Pada tahap lanjut. PRP yang simptomatik ataupun asimptomatik dapat mengakibatkan jaringan parut pada tuba sehingga menyebabkan infertilitas atau kehamilan ektopik. atau spektinomisin 2 g dosis tunggal intramuscular. Gonore pada pria Gonore pada wanita 4 .> 99%. siprofloksasin 500 mg per oral. Infeksi gonoroe selama kehamilan telah diasosiasikan dengan pelvic inflammatory disease (PID).

Terdapat 3 spesies yang pathogen terhadap manusia yaitu. Klamidiasis Klamidiasis genital adalah infeksi yang disebabakan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Oleh karena itu.J. Yang menjadi dasar pembagian berbagai serovar CT adalah ekspresi major outer membrane protein. Diagnosis dapat ditegakkan dengan mendeteksi CT yang dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu: Kutur Deteksi antigen secara : direct fluorescent antibody (DFA). serovar L1.2. serovar A. Infeksi pada serviks dapat menyebar melalui rongga endometrium hingga mencapai tuba falloppii. yaitu kerusakan jaringan akibat reflikasi CT. pneumonia. uji amplikasi asam nukleat seperti polymerase chain reaction (PCR).dan L3 menyebabkan penyakit limfogranuloma verereum. Di samping itu.C. ektopi serviks.dan C merupakan penyebab trachoma endemic.E. 37 % perempuan memberi gambaran klinik duh mukopurulen dan 19 % ektopi hipertrofik. dan perdarahan serviks baik spontan maupun dengan hapusan ringan lidi kapas.L2. C.F. Servisitis dapat ditegakkan bila ditemukan duh serviks yang mukopurulen. dan ligase chain reaction (LCR) 5 . Sebanyak 10% CT pada serviks akan menyebar secara asendens dan menyebabkan penyakit radang panggul (PRP). odema.G. untuk perempuan hamil dengan resiko tinggi juga dianjurkan untuk skrining terhadap infeksi CT pada saat dating untuk pertama kali antenatal dan juga pada trimester III kehamilan. sebagian besar perempuan hamil tidak menunjukkan gejala. berbentuk sferis.2 – 1.C. tidak bergerak. perdarahan. respons inflamasi terhadap CT. walaupun umunya infeksi CT asimptomatik.H.psittaci. Perdarahan endoserviks juga dapat mengarah pada infeksi serviks pada kehamilan. enzyme immune assay/enzyme linked immunororbent assay (EIA/ELISA) dan rapid atau point of care test Deteksi asam nukleat : hibridisasi probe deoxyribonucleic acid (DNA). Manifestasi klinik infeksi CT merupakan efek gabungan berbagai factor. dan nyeri panggul. Perempuan hamil yang terinfeksi dengan C. dan merupakan parasit intrasel obligat. dan kematian perinatal. Sementara itu. Komplikasi lain dapat pula terjadi seperti arthritis reaktif dan perihepatitis. berukuran 0. dan C. Sebagian besar infeksi CT asimptomatik dan tidak menunjukkan gejala klinik spesifik.5 mikron. serovar B.B. dan K dan M merupakan penyebab infeksi trakrtus genitourinarius serta pneumonia pada neonates. Endoseriviks merupakan organ pada perempuan yang paling sering terinfeksi CT. Namun. Masa inkubasi berkisar antara1-3 minggu. Pemeriksaan panggul dapat membantu menunjukkan adanya servisitis. disuria. Komplikasi jangka panjang yang sering adalah kehamilan ektopik dan infertilitas akibat obstruksi. Infeksi CT yang kronis dan / atau rekuren menyebabkan jaringan parut pada tuba. kelahiran premature. dan bahan nerotik dari sel pejamu yang rusak.Ba. Secara klinis dapat memberi gejala menoragia dan metroragia. trachomatis menunjukkan gejala keluarnya secret vagina. trachomatis sendiri mempunyai 15 macam serovar.I.D. bisa juga mengakibatkan konjungtivitis pada neonates dan pneumonia infantile. Dampak infeksi CT pada kehamilan dapat menyebabkan abortus spontan.

Trikomoniasis Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh Trichomonas Vaginalis (TV). 2 kali sehari selama 9 hari. per oral 4 kali per hari selama 7 hari. dijumpai kasus trikomoniasis sebesara 1. gatal – gatal dan iritasi. Dari berbagai penelitian di Indonesia yang dilakukan pada tahun 1987-1997 pada perempuan beresiko rendah. pemeriksaan skrining pada pertama kali antenatal perlu dilakukan. Obat yang dianjurkan adalah doksisiklin 100 mg per oral.6 – 7. Baku emas untuk diagnostic adalah kultur. Untuk pengobatan hingga saat ini metronidazol merupakan antimikroba yang efektif untuk mengobati trikomoniasis yang dianjurkan adalah dosis tunggal 2 g secara oral atau dapat jdiberikan dalam dosis harian 2 x 500 mg/hari selama 7 hari. 6 . biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah baik pada perempuan maupun pria. Gejala klinik pada perempuan hamil tidak banyak berbeda dengan keadaan tidak hamil. Namun media kultur diamond tidak mudah didapat dan penggunaanya terutama untuk penelitian. bau (50%) dan edema atau eritema (22-27%). Kolopitis makularis (strawberry cerviks) merupakan tanda klinik yang spesifik untuk infeksi ini. bayi berat lahir rendah (BBLR) dan abortus. Oleh karena itu. 3.3 %. obat yang diberikan terutama yang dapat mempengaruhi sintesis protein CT. per hari dibagi dalam 4 dosis dan diberikan selama 14 hari. Duh tubuh yang klasik berwarna kuning kehijauan dan berbusa. Diagnosis trikomoniasis paling sering ditegakkan dengan melihat trikomonad hidup pada sediaan langsung duh tubuh penderita dalam larutan NaCl fisiologik. misalnya golongan tetrasiklin dan eritromisin. Tanda dari infeksi tersebut meliputi duh tubuh vagina (42%). 2 kali sehari selama 7 hari atau azitromisin 1 g per oral. tetapi jarang ditemukan pada pemeriksaan rutin. Gejala yang dikeluhkan oleh perempuan dang trikomoniasis adalah keputihan. atau tetrasiklin 500 mg. tetapi keadaan ini hanya ditemukan pada 10-30 % kasus. atau eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari atau ofloksasin 200 mg. 50 mg per kg BB per oral.Pemeriksaan serologi Untuk pengobatan. bila ditemukan infeksi TV pada trimester kedua kehamilan dapat mengakibatkan premature rupture membrane. Untuk kehamilan obat golongan kuinolon dan tetrasiklin tidak dianjurkan pemakainnya. Untuk pengobatan konjungtivitis pada neonates atau pneumonia infantile dianjurkan pemberian sirop eritromisin. dosis tunggal. Akan tetapi. Pemberian metronodazol telah direkomendasikan oleh FDA selama masa kehamlian.

Bukti yang ada saat ini tidak mendukung perlunya skrining rutin untuk vaginosis bacterial pada perempuan hamil pada populasi umum. persalinan premature. Infeksi terbagi atas beberapa fase. dan berwarna keabu. putih keabu – abuan. tipis. Mengingat dampak vaginosis bacterial pada kehamilan dan akhir kehamilan. bayi lahir dengan berat badan rendah. kelahiran premature. Perempuan dengan vaginosis bacterial dapat tanpa gejala atau mempunyai keluhan dangan bau vagina yang khas yaitu bau amis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan criteria amsel yaitu adanya tiga dari empat tanda – tanda berikut : Cairan vagina homogen. Pada perempuan hamil jenis obat dan dosisnya sama seperti pada perempuan tidak hamil. dan juga dapat tanpa manifestasi lesi di tubuh.sekret vagina yang diasosiasikan dengan vaginosis bakterialis berasal dari vagina dan bukan dari serviks. dan secret vagina yang homogen. dan mycoplasma hominis). Pada pemeriksaan ditemukan secret yang homogeny. tipis. jantung hingga susunan saraf pusat.endometritis pascapersalinan dan infeksi luka pascaoperasi sesar. 5. Disuria dan dispareunia jarang ditemukan sedangkan pruritas dan inflamasi tidak ada. mukosa. skrining pada kunjungan pertama prenatal direkomendasikan untuk pasien dengan riwayat kelahiran premature (misalnya pasien dengan riwayat kelahiran premature atau rupture membran yang premature). abu – abu keputihan. tidak menggumpal. mobiluncus spp.4. koroiamnionitis. 7 .5 Secret vagina barbau amis sebelum atau setelah penambahan KOH 10% Clue cells pada pemeriksaan mikroskopik Pengobatan yang dianjurkan adalah metronidazol 500 mg 2x sehari selam 7 hari. Sebagian besar kasus (50-75%) vaginosis bacterial bersifat asimptomatik atau dengan gejala ringan. rupture membrane yang premature. Tidak ditemukan tanda inflamsi pada vagina dan vulva. yaitu sifilis primer. Vaginosis bacterial Vaginosis bacterial adalah sindrom klinik akibat pergantian lactobasillus spp penghasil H2O2 yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi (seperti : bacteroides spp. Namun. Gejala klinik termasuk bau amis seperti ikan atau bau seperti ammonia yang berasal dari secret vagina. maka sebaiknya dilakukan skrining minimal pada waktu dating antenatal pertama kali. Bau tersebut disebabkan adanya amin yang mnguap bila cairan vagina menjadi basa. dan melekat pada dinding vagina PH vagina > 4. Vaginosis bacterial telah diasosiasikan dengan gangguan kehamilan termasuk abortus spontan pada kehamilan trimester pertama dan kedua. terutama pada waktu / setelah senggama. Sifilis Sifilis merupakan penyakit infeksi sistemik disebabkan oleh trefonema pallidum yang dapat mengenai seluruh organ tubuh. mulai dari kulit.abuan. gardnerella vaginalis. metronidazol 2 g per oral dosis tunggal atau klindamisin per oral 2x300 mg/hari selama 7 hari.

sehingga tes ini merupakan jenis tes konfirmatif misalnya : trefonema pallidum haemaglutinatiun assay (TPHA). demam. sitem kardivaskuler.pallidum dalam specimen dengan menggunakan mikroskop lapang pandang gelap. pewarnaan burry atau sel treponema misalnya : rapid plasma reagen (RPR). kulit. Hasil positif palsu tes nontreponemal dalam populasi masyarakat umum mencapai 1-2% (termasuk pada ibu hamil). dapat berupa macula. kemudian permukaanya mengalami nekrosis dan ulserasi dengan tepi yang meninggi. labia minora. serta organ lain. atau serviks. Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menemukan T. Sifilis laten merupakan fase sifilis tanpa gejala klinik dan hanya pemeriksaan serologic yang reaktif. lesi tersebut bersifat destruktif dan biasanya muncul di kulit. mukosa oral atau genital.plantar. limfadenopati generalisata. papula. Tes treponemal menggunakan T. kondiloma lata di daerah intertrigenosa dan alopesia. Sifilis tersier terjadi pada 1/3 pasien yang tidak diobati.namun dapat juga multiple. pallidum. dan pustule yang jarang disertai keluhan gatal. Lesi kulit biasanya simetris. dan berbatas tegas. Pada system kardivaskuler dapat terjadi aneurismaaorta dan endokarditis. Gambaran klinik dapat khas.sifilis laten dini dan lanjut. kemungkinan untuk timbulnya sifilis congenital lebih memungkinkan. Hal ini mengidentifikasikan organisme ini masih tetap ada di dalam tubuh. Lesi primer sifilis berupa tukak yang bisanya timbul di daerah genital eksterna dalam waktu 3 minggu setelah kontak. Pada kehamilan gejala klinik tidak banyak berbeda dengan keadaan tidak hamil. bahkan seumur hidup. hanya perlu diwaspadai hasil tes serologi sifilis pada kehamilan normal bisa memberikan hasil positif palsu. Fase ini dapat terjadi sejak beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah fase laten dimulai T. ruam generalisata dengan lesi di palmar. namun juga dapat secara vertical pada masa kehamilan. atau organ dalam. venereal disease research laboratory (VDRL). 8 . tulang.sifilis sekunder. Gumma timbul akibat reaksi hipersensitivitas tife lambat terhadap antigen T. akan tetapi dapat juga tidak khas. Lesi sekunder ditandai dengan malase. fourchette. Lesi awal berupa papul berindurasi yang tidak nyeri. Jumlah ulserasi biasanya hanya satu. papuloskuamosa.dan dalam perjalanannya fase ini dapat berlangsung selama bertahun – tahun. pallidum menginvasi dan menimbulkan kerusakan pada system saraf pusat. T. Oleh karena itu bila sifilis primer atau sekunder ditemukan pada kehamilan 16 minggu. serta neurosifilis (sifilis tersier). Kurang lebih 2/3 pasien sifilis laten yang tidak diobati akan tetap dalam fase ini selama hidupnya. pallidum subspecies pallidum sebagai antigen. Sifilis umunya ditularkan lewat kontak seksual. palladium banyak ditemukan pada lesi diselaput lender atau lesi yang basah seperti kondiloma lata. nyeri kepala. mata. teraba keras. Pada perempuan kelainan sering ditemukan dilabia mayora. kira – kira sekitar umur kehamilan 16 minggu. Transmisi treponema dari ibu ke janin umumnya terjadi setelah plasenta berbentuk utuh.

perinatal. operasi sesar tidak di rekomendasikan sebagai prevensi transmisi HPV pad bayi dan hanya di pertimbangkan pada kasus dengan obsrtuksi jalan lahir atau bila persalinan pervaginam dapat menimbulkan perdaran brlebihan. Di perkirakan bahwa virus HPV mungkin di dapat saat melewati jalan lahir. dan podofilrfeoktoksin di kontraindikasikan pada kehamilan. Genital warts(kutil kelamin) Genital warts. juga di kenal sebagai kondilomata akuminatadi sebabkan oleh human papiloma virus( HPV).6. maupun postnatal) tidak sepenuhya di mengerti. Nilai preventif dari operasi sesar masih tidak di ketahui. bahkan dapat lebih lama. sedangkan virus herpes simpleks tipe1 (VHS-1) yang lebih sering di kaitkan dengan lesi di mulut dan bibir. Krioterapi dan trikloroasetik asid merupakan terapi yang di rekomendasikan. hal ini tidak di perlukan untuk diagnosis dan manajemen genital warts. Karena area genital sangat vaskuler selam kehamilan dan perdarahn berlebihan dapat pada elektrokauterisasi. Terapi dapat di pertimbangkan. Episode yang pertama HG dapat primer maupun non-primer. introitus vagina dan serviks. di lakukan di rumah sakit. Rute tranmisi (misal transplasenta. pajanan VHS sebelumnya. Diagnosis klinik dari genital warts biasnya sudah cukup. Episode pertama primer adalah episode penyakit yang terdapat pada seseorang tanpa di dahului oleh pajanan/ infeksi VHS-1 9 . Lesi dapat berprofesi selama kehamilan dan sering mengalami regresi spontan setelah persalinan.karena lesi dapat menjadi rapuh ketika berprofesi selam kehamilan atau mengganggu proses persalinan. Herpes genitalis Herpes genitalis(HG) merupakan IMS virus yan menempati urutan kedua tersering di dunia dan merupakan penyebab ulkus genital tersering di negara maju virus herfes simpleks tipe-2(VHS-2) merupakan penyebab HG tersering (82%).walaupun pemeriksaan serotife untuk HPV tersedia. Oleh karena itu.5fluorourasil. Predileksi pada perempuan dapat di temukan di daerah labya mayor/minor. ternyata dapat pula di temukan pada 18% kasus herfes genital. jika di indikasikan. dan mons pubis. bokong. terutama pada pasien simptomatik. Masa inkubasi umumnya berkisar 3-7 hari. Imikuimod. direkomendasikan terapi kauterisasi. podofilin. klitoris.HPV tipe 6 dan 11 dapat menyebabkan papilomatosis respiratoris pada bayi dan anak. 7. Manifestasi klinik HG sangat di pengaruhi oleh faktor pejamu. Tidak ada komplikasi dalam kehamilan yang di sebabkan HPV yang di ketahui srperti abortus spontan ataupun persalinan prematur. episode terdahulu dan tife virus. sedangkan yang lebih jarang di derah perianan.

sedangkan tahun-tahun berikutnya lebih jarang. atau (3) infeksi genital pada seseorang dengan riwayat infeksi orolabialis sebelumnya.maupun VHS-2 sebelunya. dapat pula di sertai gejala konstitusi seperi malese. Selain itu. Lesi tipikal berupa vesikel berkelompok engan dasar eritema yang mudah pecah dan menimbulkan erosi multipel. Selain itu. Diagnosis secara klinik di tegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema. Transmisi virus dapat terjadi melalui kontak seksual dengan pasangan yang telah terinfeksi. tetapi juga dapat secara vertikal dari ibu kepada janin Sekitar neonatus yang 70% terjadi di kandungnya. infeksi oral VHS-1 terdahulu akan memberkan perlindungan parsial terhadap pajanan infeksi VHS-2. atau (2) reaktifasi dari inveksi genital asimptomatik. dengan gambaran lesi tidak khas. lebih kurang 60% kasus di jumpai sebagai lesi atipik. episode pertama non-primer dapat merupakan : (1) episode penyakit yang terjadi pada seseorang dengan riwayat pajanan / infeksi VHS-1 atau VHS2 sebelumnya. sehingga gejala klinik akibat infeksi VHS-2 sehingga gejala klinik akibat infeksi VHS-2 menjadi lebih ringan atau subklinik. Perlu di perhatikan bahwa 10 . infeksi dapat terjadi pada saat janin masih berda di dalam kandungan secara asendens dari serviks atau vulva. Kelenjar getah bening regional dapat membesar dan nyeri. infeksi pada pada saat persalinan ketika bayi berkontak langsung melalui jalan lahir dengan duh vagina ibu yang terinfeksi. yaitu keadaan tidak di temukan gejala. demam dan nyeri otot.. penyembuhan lebih cepat. Deteksi VHS dengan kultur masih merupakan pemeriksaan baku emas untuk infeksi VHS genital dini. atau pemakaian alat monitor pada kulit kepala bayi dengan ibu seropositif. Sementara itu . akan tetapi sensetifitas dan spesifisitas pemeriksaan ini umumnya rendah. Herfes genitalis rekulen dapat hanya berupa fisura yang cepat hilang tanpa gejala. Masa pelepasan virus pada infeksi primer terjadi kurang lebih 12 hari. Transmisi ini juga dapat terjadi pada masa asimptomatik. maupun transplasental. Lesi rekuren dapat terjadi dengan gejal klinik umumnya lebih ringan. Pemeriksaan laboratorium paling sederhana adalah uji tzank. Pemeriksaan ELISA merupakan pemeriksaan untuk menentukan adanya antigen atau antibodi VHS dalam seru penderita. dan riwayat gejala serupa berulang. Selain itu. sehingga tidak diduga sebagai HG.. Manifestasi klinik yng timbul bervariasi dari ringan sampai berat. Umumnya rekurensi lebih sering terjadi pada satu tahun pertama setelah episode pertama. atau keadaan seronegatif dengan suami seropositif. Gejala biasanya diawali dengan rasa terbakar dan gatal di daerah lesi yang terjadi beberapa jam sebelumnya timbulnya lesi. Dikenal pula keadaan subklinik /asimptomatik. Resiko tinggi transmisi pada janin akan terjadi pada keadaan timbul lesi primer pada kehamilan. terapi pada pemeriksaan serologi di dapatkan antibodi terhadap VHS. dan masa pelepasan virus berlangsung kurang dari 5 hari.rekulensi HG oleh virus VHS-2 lebih sering di bandingkan VHS-1.

bahkan bisa lebih lama lagi. 11 . namun tidak di anjurkan untuk perempuan yang terserang HG lesi primer pada trimester pertama ataupu kedua.v. 3-5 mg/kgBB/ hari.akan dapat terjadi kronik asimtomatik selam beberapa tahun di sertai replikasi virus secara lambat. HIV awalnya di kenal dengan nama lhymphadenopathy associated virus (LAV) merupakan golongan retrovirus dengam materi genetik ribonucleic acid (RNA) yang dapat di ubah menjadi deoxyribonucleic acid (DNA) untuk di integrasikan kedalam sel pejamu dan di proggram membentuk gen virus. Virus masuk kedalam tubuh manusia terutama melalui perantara darah. Infeksi HIV dan AIDS Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah sindroma dengan gejal penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunya sstem kekebalan tubuh oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pada keadaan perempuan hamil menjelang partus dan terdapat lesi HG rekurens. Dosis asiklovir / valassiklovir yang di anjurkan untuk infeksi primer Asiklovir peroral 5 x 200 mg/hari selam 7 hari pada lesi berat asiklovir i. Penatalaksanaan HG pada kehamilan dapat di bedakan antara perempuan hami dengan episode primer dan perempuan hamil dengan episode rekuren. Dianjurkan untuk di lakukan seksio sesarea terhadap semua perempuan hamil yang datang dengan HG lesi primer pada ssaat menjelang kelahiran.tes serologi IgM dan IgG tidak dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan saat terjadinya pelepasan virus (viral shedding). semen. mulai dari infeksi tanpa gejala (asimptomatik) pada stadium awal sampai pada gejalagejala yang berat pada stadium yang lebih lanjut. dan sekret vagina. Pengobatan untuk neonatus dengan infeksi VHS dapat di berikan asiklovir 10 mg/kgBB/hari intravena tiap 8 jam selam 10-21 hari 8. Virus ini cendrung menyerang sel jenis tertentu. Terapi sepresif dengan asiklovir pada 4 minggu terakhir kehamilan dapat mencegah rekurensi HG pada saat partus. Perjalanan penyakit lambat dan gejala-gejala AIDS rata-rata baru timbul 10 tahun sesudah infeksi pertama. Pengobatan dengan asiklovir harus di berikan kepada semua perempuan yang menderita HG episode primer dalm kehamilan. Sebagian besar(75%) penularan terjadi melalui hubungan seksual. Setelah di awali dengan infeksi akut. Infeksi HIV memberikan gambaran klinik yang tidak spesifik dengan spektrum yang lebar. Kemudian setelah terjadi penurunan sistem imun yang berat. bukan merupakan indikasi mutlak untuk melakukan seksio sesarea. terutama limposit T yang memegang peranan penting dalam mengatur dan mempertahan kan sistem kekebalan tubuh. selam 7-10 hari atau Valasiklovir 2 x 500 mg/hari selama 7 hari. yaitu sel-sel yang mempunyai antigen permukaan CD4. HG rekurens di hubungkan dengan resiko yang kecil mendapat herfes neonatus. maka terjadi berbagai infeksi oportunistik dan dapat di katakan pasien telah masuk pada keadaan AIDS. Untuk infeksi rekurens Asiklovir 5 x 200 mg/hari selam 5 hari atau Valasiklovir 2 x 500 mg/hari selam 5 hari.

saat persalin (10-20%) dan pascapersalinan (5-20%). Tingkat infeksi HIV pada perempuan hamil di negara-negara asia si perkirakn belum melebihi 3-4%. Antibodi virus mulai dapat di deteksi kira-kira 3 hingga 6 bulan sesudah infeksi. Penelitian prevalensi HIV pada ibu hamil di daerah miskin di jakarta pada tahun 1999-2001 oleh kharbiati mendapatkan angka prevalensi sebesar 2. tetapi epideminya berpotensi untuk terjadi lebih besar. sebagai penggantinya dapat dengan melakukan 3 pemeriksaan ELISA sebagai tes penyaring mamakai reagen dan tehnik berbeda Telah banyak bukti menunjukan bahwa keberadaan IMS meningkatkan kemudahan seseorang terkena HIV. dan abortus spontan. serta united states public health services (USPHS).86%.Transmisi vertikal merupakn penyebab tersering infeksi HIV pada bayi dan anak-anak di amerika serikat. Kelaina yang dapat terjadi pada janin adalah berat badan lahir rendah. disertai hak pasien untuk menolak. Oleh karena itu. American college of obstetricians and Gynecologist. supaya pengendalian infeksi HIV dapat di laksanakan dengan melakukan pengendalian IMS. 12 . Transmisi HIV dari ibu kepada janin dapat terjadi intrauterin (5-10%). partus preterm. sehingga IMS dianggap sebagai kofaktor HIV. Pada tahun 1999 The institute of medicine (IOM) telah merekomendasikan pemeriksaan HIV untuk semua perempuan hamil sepengetahuan perempuan tersebut. Rekomendasi ini juga diadopsi oleh American Academy of Pediadtrics. bayi lahir mati. Pemeriksaan konfirmasi menggunakan western blot (WB) cukup mahal.

BAB III KESIMPULAN IMS (Infeksi Menular Seksual) merupakan salah satu penyakit yang mudah ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit yang termasuk dalam kelompok IMS di antaranya Gonore (kencing nanah) dan Kondiloma Akuminata (KA). Saat ini diperkirakan 80%-90% PSK terinfeksi IMS seperti : Neisseria gonorrhoeae. baik di negara maju (industri) maupun di negara berkembang. Pekerja seks memerlukan skrining secara rutin untuk IMS seperti penggunaan kondom tidak sepenuhnya protektif. 13 . Prilaku seksual berupa bergonta-ganti pasangan seksual akan meningkatkan penularan penyakit. dengan ciri khas adanya penyebab dan kelainan yang terjadi terutama di daerah genital. IMS sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Angka penyakit IMS di kalangan PSK (Pekerja Seks Komersial) tiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Kelompok berisiko tinggi terkena infeksi menular seksual yaitu PSK (Pekerja Seks Komersial). Herpes simplex vinio tipe 2 dan clamidia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful