P. 1
1 Protap Pb Pmi

1 Protap Pb Pmi

|Views: 64|Likes:

More info:

Published by: Bpbd Lamongan Bidang Kedaruratan on Aug 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA

Catatan:

2007

26

Penyusun : Palang Merah Indonesia (PMI) Desain sampul & Layout : Indra Yogasara Penerbit : Palang Merah Indonesia (PMI) Copyright Ó 2007 All right reserved Cetakan 1.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA Catatan : PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA Pedoman melakukan kegiatan pemberian pertolongan dan bantuan secara cepat dan tepat dalam kesatuan sikap. pikiran dan tindakan. Oktober 2007 ISBN : 978-979-3575-13-1 25 .

hambatan serta kendala kita alami baik dalam hal koordinasi maupun kegiatan pemberian pelayanan pada masa tanggap darurat. pengalaman terbaik dari lapangan. PMI telah selesai menyusun Prosedur Tetap Tanggap Darurat Bencana sebagai suatu panduan dalam upaya memberikan petunjuk dan kejelasan langkah yang harus dikerjakan oleh PMI Pusat. dan harapan para pembuat kebijakan serta pelaksana lapangan yang mempunyai kapasitas serta komitmen tinggi dalam bidang penanggulangan bencana. Oleh karenanya diperlukan penyempurnaan standar operasional yang telah kita miliki sebelumnya yakni Standar Prosedur Operasional PMI dalam Penanggulangan Bencana tahun 2001 berdasarkan perkembangan saat ini. tsunami di Pangandaran Juni 2006. 25 tahun 1950 telah melakukan upaya penanganan pada masa tanggap darurat secara maksimal. Kita ketahui bersama beragam jenis bencana di wilayah Indonesia meningkat frekuensi serta intensitasnya dengan membawa dampak yang besar di masyarakat. Kondisi ini hendaknya memotivasi kita untuk memberikan pelayanan terbaik secara cepat.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA KATA PENGANTAR Seraya memanjatkan puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. gempa bumi di Sumatera Barat Maret 2007 dan di Bengkulu September 2007 telah membawa penderitaan bagi para korban bencana. bahwasannya PMI bukanlah satusatunya organisasi dalam penanganan bencana. Iyang D. Erupsi gunung Merapi April 2006. PMI Daerah dan PMI Cabang dalam upaya tanggap darurat bencana di semua tingkatan. Protap ini merupakan hasil penyempurnaan standar operasional sebelumnya serta hasil pemikiran. Sukandar i ii . Bencana yang terjadi memunculkan banyak organisasi-organisasi baru yang memberikan pelayanan tanggap darurat pada saat bencana. Jakarta. PMI sebagai satu-satunya organisasi Kepalangmerahan di Indonesia yang berstatus badan hukum dan disahkan dengan Keputusan Presiden No. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan berkat dan petunjukNya. Staf dan Relawan dalam pemberian pelayanan darurat saat bencana. Organisasi-organisasi ini bersaing memberikan pelayanan darurat terbaiknya. Kita menyadari tidaklah mudah mencapai tujuan tersebut. tepat dan terkoordinasi saat bencana terjadi. Besar harapan kami Prosedur Tetap Tanggap Darurat Bencana PMI ini dapat diimplementasikan segenap Pengurus PMI. Hal ini mengingatkan kita. 23 Oktober 2007 Sekretaris Jenderal. gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah Mei 2006. Isi dari protap adalah kerangka umum bagi internal organisasi PMI dalam tanggap darurat bencana yang nantinya akan dijelaskan terperinci pada petunjuk pelaksana (Juklak) dan petunjuk teknis (Juknis) penanganan bencana.

37. Indonesia juga dilintasi garis khatulistiwa dengan pengaruh iklim tropis. 24 1 1 . dengan luas wilayah 5.176.504 pulau besar dan pulau-pulau kecil. Wartel : Warung Telekomunikasi WATSAN : Water & Sanitation (Air dan Sanitasi). Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara Kepulauan terbesar di dunia. 42. Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Sulawesi dan Sumatra. bagian Utara Papua dan wilayah sepanjang laut Banda. 30. Indonesia juga terletak di antara dua benua. Jawa. 41. PROTAP REL/DIST RFL : : : BAB I PENDAHULUAN A. Bali dan Sumatra yang termasuk kategori wilayah rawan bencana. Indonesia juga menjadi titik pertemuan lempengan bumi. dimana 60% di antaranya menempati Pulau Jawa. yaitu Circum Mediterania yang membentuk palungan dan garis pegunungan mulai dari Pulau Sumatra. Indonesia terdiri dari 5 (lima) pulau besar dan 30 (tiga puluh) kelompok pulau-pulau kecil. Sebaliknya di Selatan Jawa. Bali dan Nusa Tenggara. 43. Prosedur Tetap Relief / Distribution Restoring Family Links (Pemulihan Hubungan Keluarga) SDM : Sumber Daya Manusia BPBD Tingkat Provinsi: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tingkat Provinsi BPBD Tingkat Kab. Oleh karena itu.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA 29.800 Km2 yang membentang dari 6º LU hingga 11º LS dan 95º BT hingga 141º BT.272. 38. tsunami dan gunung api. 32./Kota: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tingkat Kabupaten/Kota SATGANA : Satuan Penanggulangan Bencana SATGAS PB : Satuan Tugas Pelaksanaan Penanganan Bencana SEKJEN : Sekretaris Jenderal SIBAT : Siaga Bencana Berbasis Masyarakat SOP : Standart Operating Procedure TELKOM : Telekomunikasi UN Agency : United Nation Agency (Badan-badan Perserikatan Bangsa bangsa). 39. Luas Wilayah laut adalah 3. dan dua samudra. 35. Tidaklah mengherankan apabila Indonesia merupakan wilayah rawan gempa bumi. 40. Banjir dan tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di wilayah tersebut. 33. total terdapat 17. kepulauan Nusa Tenggara dan Kalimantan hanya memiliki curah hujan yang sangat rendah. Juga Circum Pasifik yang membentuk palungan dan garis pegunungan di Sulawesi Utara. Asia dan Australia. 34. Kotakota besar di ketiga pulau tersebut juga dipadati oleh migrasi penduduk yang berasal dari wilayah pedesaan (urbanisasi) sehingga turut memberi kontribusi terhadap besarnya jumlah korban bencana.230 km2 dan sisanya (81%) merupakan wilayah daratan. Di beberapa wilayah memiliki curah hujan cukup tinggi seperti : Papua. 31. Indonesia juga memiliki penduduk yang jumlah lebih dari 220 juta orang. 36.

Penanganan bencana yang terjadi beberapa dekade selama ini. 3. 26. 27. untuk dapat melakukan kegiatan pemberian pertolongan dan bantuan secara cepat dan tepat perlu adanya satu kesatuan sikap. 5. 11. : International Non Government Organization : Petunjuk Pelaksanaan : Petunjuk Teknis : Keuangan : Koordinator Lapangan : Perlindungan Masyarakat : Non Government Organization : Palang Merah Indonesia : Pos Komando : Participating National Societies (Mitra Perhimpunan Nasional). 6. INGO JUKLAK JUKNIS KEU KORLAP LINMAS NGO PMI POSKO PNSs PPK PSP PROTAP B. Bencana Alam adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam yang meliputi bencana gempa bumi. 2. 16. : Pertolongan Pertama dan Penyelamatan Korban : Psychosocial Support Programme : Prosedur Tetap : : 17. 2 23 . 25. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam (faktor alam) dan non alam (faktor manusia) yang mengakibatkan korban manusia. merupakan proses pembelajaran yang cukup berharga bagi PMI. 21. DAFTAR SINGKATAN 1. Terjadinya perubahan situasi politik nasional dan ekonomi global juga menyebabkan Indonesia semakin rawan terhadap konflik. 12. Pengertian Umum 1. Tindakan tanggap darurat yang dilakukan oleh PMI dan berbagai pihak terkait sudah cukup maksimal. 28. pikiran dan tindakan. 9. kerusakan lingkungan. 14. kerusakan sarana dan prasarana. 8. lingkungan hidup dan 2. 23. geologis dan demografis mempengaruhi kondisi wilayah sehingga frekuensi bencana alam di Indonesia sangat tinggi. dll yang mengakibatkan timbulnya korban manusia. 7. Selain itu. 10. harta benda. namun masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam Prosedur Tetap di bidang Tanggap Darurat Bencana. banjir. 22. sesuai dengan tugas dan fungsi organisasi. gunung meletus. 13. tetapi dalam proses penanganannya masih banyak kendala dan hambatan yang dihadapi. Meskipun PMI telah menerbitkan “Standar Prosedur Operasional Palang Merah Indonesia Dalam Penanggulangan Bencana” tahun 2001. ADM AD/ART APBN APBD ASSMNT ATK BNPB BAP BBM DU EV / Shelter HUMAS HP ICRC INGO IFRC Administrasi Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah : Assessment : Alat Tulis Kantor : Badan Nasional Penanggulangan Bencana : Berita Acara Penerimaan : Bahan Bakar Minyak : Dapur Umum : Evakuasi / Penampungan Darurat : Hubungan Masyarakat : Handphone : International Committee of the Red Cross (Komite Palang Merah Internasional) : International Non Governmen Organization : International Federation of the Red Cross and Red Crescent Societies (Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah). 29. 24. tsunami. 4. 18 19 20. 15. Menyadari pengalaman tersebut. kerugian harta benda. kerusakan sarana dan prasarana serta fasilitas umum.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA Beberapa faktor geografis. Palang Merah Indonesia berkewajiban melakukan upaya memberikan pertolongan dan bantuan pada fase darurat kepada yang membutuhkan secara profesional dengan memegang teguh prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. tanah longsor.

kegiatan pencegahan bencana. dan sesudah terjadi bencana yang mencakup pencegahan bencana. kerugian harta benda dan korban jiwa manusia. Konflik Sosial adalah pertentangan fisik antara dua pihak atau lebih yang mengakibatkan hilangnya hak dan aset kelompok masyarakat. ketentraman. tanggap darurat. tanggap darurat. 22 3 . dan pemulihan kondisi akibat dampak bencana. sosial. Peringatan dini adalah rangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana di suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. 4. ekonomi. semua pedoman dan SOP / PROTAP yang berkaitan dengan operasional tanggap darurat bencana dinyatakan masih dapat dijadikan sebagai referensi / acuan sepanjang tidak bertentangan dengan PROTAP ini. Bencana Konflik (bencana sosial) adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan konflik sosial oleh antar kelompok atau komunitas masyarakat yang menimbulkan penderitaan.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA BAB V PENUTUP Dengan berlakunya Prosedur Tetap Tanggap Darurat Bencana ini. rehabilitasi dan rekonstruksi. saat. keselamatan dan atau terganggunya martabat dan keseimbangan kehidupan sosial masyarakat. meredam. mitigasi. klimatologis. 5. Hal hal yang belum dijelaskan dalam Prosedur Tetap Tanggap 3. 7. budaya. dan teknologi di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah. tidak berfungsinya pranata sosial. geografis. terancamnya keamanan. Rawan Bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. gangguan hubungan sosial. hidrologis. kegiatan pada sebelum. 8. kesiapsiagaan. biologis. Kegiatan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang mencakup penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana. politik. 6. dan berkurangnya kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. mencapai kesiapan. timbulnya rasa takut. Penanggulangan Bencana adalah keseluruhan aspek perencanaan kebijakan pembangunan yang berisiko bencana. Darurat ini akan diatur tersendiri dalam Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) maupun Petunjuk Teknis (JUKNIS).

4 21 . Laporan penanggulangan bencana dilengkapi foto dan atau film dokumenter yang memuat informasi. Pelaporan dan Dokumentasi 1. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar perencanaan kegiatan tanggap darurat bencana berikutnya. Tujuan Untuk memberikan petunjuk dan kejelasan langkah yang harus dikerjakan oleh PMI Pusat. PMI Cabang adalah struktur organisasi Palang Merah Indonesia yang berkedudukan di kota kabupaten/kotamadya dimana keputusan tertinggi ada pada Musyawarah Cabang. serta pemenuhan kebutuhan dasar. 13. harta benda. Evaluasi 1. Evaluasi dilakukan untuk menilai pencapaian hasil kegiatan operasi tanggap darurat bencana sesuai target /sasaran / indikator yang telah ditetapkan. 10. D. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. PMI Daerah adalah struktur organisasi Palang Merah Indonesia yang berkedudukan di kota provinsi dimana keputusan tertinggi ada pada Musyawarah Daerah. Prosedur tetap yang selanjutnya disebut PROTAP adalah petunjuk tata cara bertindak sesuai dengan fungsi masingmasing yang telah ditetapkan dalam protap secara terkoordinir sehingga tindakan yang dilakukan dapat mencapai sasaran yang maksimal secara berdayaguna dan berhasil guna. 12. 11. pengurusan pengungsi. 9. Daerah dan Cabang dalam upaya tanggap darurat bencana di semua tingkatan. perubahan situasi dan kondisi masyarakat akibat dampak bencana yang telah ditimbulkan. 14. pemulihan sarana dan prasarana. 2. PMI Pusat adalah struktur organisasi Palang Merah Indonesia tertinggi yang berkedudukan di ibukota negara dimana keputusan tertinggi ada pada Musyawarah Nasional.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA C. PMI Ranting adalah struktur organisasi Palang Merah Indonesia yang berkedudukan di kecamatan dimana keputusan tertinggi ada pada Musyawarah Ranting. Tanggap Darurat Bencana adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. perlindungan. Pelaporan menggunakan format laporan baku yang telah ditentukan. C. 2.

2007 F. Kode perilaku dalam tanggap darurat bencana (Code of Conduct in Disaster Relief). AD/ART Palang Merah Indonesia. suratmenyurat. 3. Peninjauan lapangan bertujuan untuk melihat perkembangan/perubahan situasi dan kondisi wilayah bencana. Penilaian lengkap dan Penilaian perkembangan). 2. pemantauan. konferensi pers. evaluasi dan pelaporan. faximile. National Disaster Preparedness and Response Mechanisms Guidelines. Pokok-Pokok Kebijakan dan Rencana Strategis PMI. Rujukan 1. 2. Hal-hal yang dilakukan dalam pemantauan yaitu : a. 24 Tahun 2007 7. b. Safer Access. 246 tahun 1963 tentang Perhimpunan Palang Merah Indonesia. Sebagai penanggung jawab kegiatan pengendalian dan pengawasan adalah Pengurus PMI yang membidangi Penanggulangan Bencana A. Menganalisa data yang diterima menjadi informasi. 3. B. IFRC. Pemantauan 1. Pendahuluan Organisasi Operasional Tanggap Darurat Bencana Pengendalian dan Pengawasan Penutup 20 5 . Pemantauan dilakukan untuk memastikan kegiatan tanggap darurat bencana berjalan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat. e-mail dll.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA BAB IV PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN Kegiatan pengendalian dan pengawasan mencakup : personil. Komunikasi dilakukan secara berkesinambungan dengan berbagi informasi dan pemutakhiran data / informasi baik internal maupun eksternal disemua tingkatan. Membandingkan hasil perkembangan kegiatan berdasarkan indikator penilaian. penyebaran berita. 4. 5. Ruang Lingkup Prosedur Tetap ini memuat : 1. E. logistik dan penerima bantuan. telepon. 5. keuangan. 4. D. 3. IFRC 6. Kegiatan pengendalian dan pengawasan dilakukan oleh pengurus PMI di semua tingkatan. Keppres RI No. Komunikasi dilakukan melalui : rapat koordinasi. ICRC 8. 2. 2. Pedoman Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia. c. Untuk melaksanakan tindakan pengendalian dan pengawasan menggunakan perangkat yang terdiri dari : koordinasi. Koordinasi (melalui komunikasi aktif) 1. metode/cara. Undang-Undang Penanggulangan Bencana No. Isi/materi informasi yang perlu dikomunikasikan berdasarkan pada hasil assessment (Penilaian awal. Sasaran Semua pihak yang terlibat dalam upaya tanggap darurat bencana di lingkungan PMI.

PMI Ranting/PMI Cabang dalam upaya tanggap darurat bencana dapat memobilisasi TSR PMI yang ada di tingkat desa / kelurahan atau anggota masyarakat terlatih dalam wadah Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) yang dibina oleh PMI Ranting/PMI Cabang. Struktur Koordinasi Penanganan Bencana PMI 1. Format-format pelaporan. c. BNPB IFRC ICRC Badan-badan Nasional & Internasional BPBD tingkat Provinsi PMI DAERAH BIDANG PB Satgana PMI Daerah (Ad Hoc) BPBD tingkat Kab. d./Kota PMI CABANG SEKSI PB Satgana PMI Cabang SATGAS PB PMI RANTING LINMAS Desa/Kelurahan TSR PMI di tingkat Desa/Kelurahan Anggota masyarakat terlatih Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Keterangan : A. terdiri dari : a. Format-format pengelolaan bantuan (formulir registrasi. GARIS PELAPORAN : : : : 6 19 . kartu/kupon penerima bantuan. buku kas/bank. laporan keuangan). GARIS KOMANDO B. Format-format keuangan (jurnal. surat Jalan). daftar penerima bantuan). b. PMI PUSAT DIVISI PB Satgana PMI Pusat (Ad Hoc) 5. Format-format pergudangan (BAP barang. formulir permohonan barang. GARIS KORDINASI C.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA BAB II PENGORGANISASIAN TANGGAP DARURAT BENCANA A. kartu stok. Standar Format Pencatatan dan Pelaporan PMI Standart format pencatatan dan pelaporan yang dimaksud disini adalah format-format isian yang sudah dibakukan oleh PMI.

asuransi dll). Perlengkapan perorangan sesuai dengan pedoman Satgana. c. c. dan sumber dana lain yang tidak mengikat). Struktur Posko Tanggap Darurat Bencana 1. B. faks/telepon melalui Wartel. Penjelasan tentang tugas pokok dan fungsi serta mekanisme mobilisasi TSR PMI di tingkat desa / kelurahan dalam Wadah Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT). 2. telepon kantor) Biaya dokumentasi dan pencetakan Pengadaan Corporate Identity material (spanduk. Posko (Pos Komando) Tanggap Darurat Bencana dapat dibentuk di Markas Pusat PMI. sewa kendaraan/truk/motor/boat dll) Biaya administrasi Umum (pengadaan ATK. 5. Standar Operasional Perlengkapan standar operasional untuk tanggap darurat bencana diatur dalam petunjuk pelaksanaan tersendiri yang meliputi : a. APBN/APBD. 18 7 . bendera) Biaya-biaya personil (perdiem. serta mobilisasi Satgana PMI Cabang. PMI Pusat memiliki satuan tugas yang bersifat ad-hoc dalam penanganan bencana yang disebut Satgana PMI Pusat.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA 3. b. Besar kecilnya Struktur Posko dan cakupan jenis kegiatan pelayanannya disesuaikan dengan besar kecilnya bencana sesuai kebutuhan pelayanannya. Biaya transport lokal (BBM kendaraan dinas PMI. 3. cetak kartu/formulir ) Biaya Komunikasi (Voucher HP. b. komunikasi dan sarana transportasi) sesuai dengan pedoman Satgana. Perlengkapan Operasional sesuai dengan pedoman Satgana. Markas Daerah PMI dan Markas Cabang PMI yang pada saat terjadi bencana diaktifkan dan dimobilisasi oleh Pengurus PMI di masing-masing tingkatan. Kegiatan Operasional Tanggap Darurat Bencana dipimpin oleh Koordinator Lapangan / Manajer Operasional. b. 4. Satgana PMI Daerah dan Satgana PMI Pusat dalam penanggulangan bencana dijelaskan dalam petunjuk pelaksanaan tersendiri. 3. akomodasi apabila di luar kota. 2. Tim Pengarah Posko yaitu Pengurus PMI di masing-masing tingkatan yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Pengurus PMI. Dana dan Standar Akuntabilitas Penyedia dana-dana operasional dan cara-cara pertanggungjawaban keuangan akan diatur dalam JUKLAK terpisah termasuk besaran standar anggaran yang ditentukan oleh PMI. Masyarakat. f. Cara-cara pertanggungjawaban keuangan harus dibedakan menurut sumber dana yang dapat berasal dari PMI. Secara umum struktur Organisasi Struktur Posko terdiri dari : a. Pos-pos pengeluaran keuangan untuk operasi tanggap darurat bencana meliputi : a. Tim Pelaksana Posko di pimpin oleh Pengurus PMI yang membidangi bencana atau Sekretaris dibantu oleh Kepala Markas PMI / Kepala Divisi / Bidang / Seksi di masing-masing tingkatan PMI. Perlengkapan kelompok/tim (termasuk peralatan dokumentasi. e. d. 4. c. PMI Daerah memiliki satuan tugas yang bersifat ad-hoc dalam penanganan bencana yang disebut Satgana PMI Daerah. Donor Internasional (misal : IFRC / ICRC / PNS's. PMI Cabang memiliki wadah pelayanan penanggulangan bencana yang disebut dengan Satuan Siaga Penanggulangan Bencana (Satgana) PMI Cabang.

8. antara lain dapat berupa : 1). Unit fungsional pendukung operasional Tanggap darurat bencana terdiri atas : 1). 7. Unit Pemulihan Hubungan Keluarga (Restoring Family Links).PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA d. 9). f. Humas (Hubungan Masyarakat) 4). Keuangan 3). Penugasan dilakukan sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan lapangan. 4). Penyediaan Sumber Daya Manusia Manfaatkan secara maksimal anggota Satgana dan SIBAT serta masyarakat yang terlatih b. Unit lainnya yang relevan dengan mandat dan cakupan pelayanan. Unit Dapur Umum. Gudang Regional dan Gudang Emergency). Teknologi Informasi. 6. Unit Relief dan Distribusi 8). 2. 5). 7). Unit Ambulan 6). PMI Pusat/ PMI Daerah/ PMI Cabang memberikan dukungan dan menyiapkan kebutuhan anggota Satgana yang dimobilisasi. 5. b. Anggota Satgana yang ditugaskan harus membuat laporan kegiatan. Lama penugasan dan jumlah Anggota Satgana yang dimobilisasi oleh PMI Pusat/ PMI Daerah sesuai dengan kebutuhan dan situasi bencana (sesuai hasil assessment). Unit Medis (Medical Action Team). 3). Untuk menunjang pelaksanaan tanggap darurat bencana. Unit Air dan Sanitasi (Watsan). 11). Peran. Penyediaan dan mobilisasi barang bantuan (relief) diatur tersendiri dalam petunjuk pelaksanaan logistik tanggap darurat bencana. Logistik 5). Barang bantuan yang dimaksud dalam butir 1 adalah barang-barang bantuan yang telah tersedia (stock) dan ditempatkan di gudang-gudang PMI (Gudang Sentral. mobilisasi lintas Daerah dikoordinasikan oleh PMI Pusat. c. Mobilisasi anggota Satgana lintas PMI Daerah/PMI Cabang oleh PMI Pusat/PMI Daerah dilakukan ketika PMI setempat tidak mampu merespon bencana. dan tugas Posko PMI beserta unit-unit operasionalnya di masing-masing akan diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan tersendiri. fungsi. 4. Mobilisasi lintas Cabang dikoordinasikan oleh PMI Daerah. perlu dibentuk Posko baik di Markas dan/atau di lokasi bencana (lihat struktur Posko Bencana) D. a. 8 17 . Unit Assessment 2). Dukungan Logistik Standar Perlengkapan a. e. Administrasi 2). Pendukung Operasional 1. Unit Operasional Pelayanan Tanggap Darurat Bencana diaktifkan berdasarkan kebutuhan pelayanan dan cakupan besar kecilnya bencana. Kriteria dan rekruitmen SDM sesuai dengan standar kompetensi yang diatur dalam Pedoman Relawan PMI. Unit Evakuasi dan Penampungan Darurat (Shelter). Unit Pertolongan Pertama dan Penyelamatan Korban. Unit Dukungan Psikososial (PSP) 10). baik selama penugasan maupun sesudah penugasan.

Struktur Pos Komando Operasional Tanggap Darurat Bencana Pengarah Ketua Posko e. perlengkapan operasional d. g. Telkom Administrasi Keuangan Humas Logistik Assessment Dapur Umum Relief/Distribusi Watsan RFL PSP C. Keterlibatan relawan bukan anggota PMI/relawan dari negara asing diatur dalam ketentuan tersendiri. Dalam memobilisasi anggota Satgana oleh PMI Pusat/PMI Daerah/PMI Cabang harus melakukan koordinasi dengan Divisi/Bidang/Seksi Relawan Markas. h. b. b . c. Dana) seperti tersebut dalam butir a. Mengalokasikan dana darurat bencana untuk mendukung operasi Komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan PMI Daerah yang terkena bencana. Material. Bertindak selaku focal point dalam hubungannya dengan sumber-sumber bantuan internasional. maka PMI Pusat melakukan : a. Mengeluarkan Surat Edaran kepada PMI Daerah se-Indonesia berkenaan dengan kebutuhan bantuan bencana Komunikasi dan koordinasi dengan sumber-sumber penyedia bantuan/donasi. Kepala Posko 2. Catatan: Pembentukan Unit Pelayanan Operasional disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi/kondisi bencana. kartu identitas PMI c. Garis Komando : Kepala Pos Komando : Kordinator Lapangan : 16 9 . d. c dan d untuk membantu PMI Cabang yang terkena bencana. PPK Evakuasi/ Shelter Medis Tim Ambulans 2. Korlap 3. Tim Satgana yang dimobilisasi oleh PMI Pusat/PMI Daerah/PMI Cabang harus sesuai dengan persyaratan dan kompetensi yang dibutuhkan.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA Setelah mendapatkan permohonan bantuan dari PMI Daerah yang wilayahnya terkena bencana. Keterangan: 1. mendapatkan perlindungan asuransi selama masa penugasan. Koordinator Lapangan f. Mekanisme Mobilisasi Anggota Tim Satgana 1. baik domestik maupun masyarakat Internasional Mengorganisir dan mengkoordinasikan bantuan-bantuan (SDM. Membuat laporan secara periodik kepada publik melalui media massa. Anggota Satgana yang ditugaskan harus dilengkapi dengan: a. surat tugas b. 3.

Menyiapkan dan mengirimkan kebutuhan operasional pendukung tanggap darurat bencana ke PMI Cabang di wilayah yang terkena bencana.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA C. 2. Menetapkan kebijakan umum Penanggulangan Bencana PMI tingkat Nasional. e. memastikan serta mengkoordinasikan bantuan-bantuan seperti tersebut pada butir c. Melakukan komunikasi dan koordinasi di lokasi bencana dengan pihak terkait 10) Melakukan koordinasi dan evaluasi internal setiap hari yang dipimpin oleh Ketua Posko PMI Cabang. d. Tugas dan Tanggungjawab 1. b. c. 11) Membuat dan menyampaikan laporan kegiatan secara tertulis disertai dengan pendokumentasian ke PMI Daerah tembusan ke PMI Pusat. c. Menugaskan seorang anggota Pengurus/Staf Senior untuk memantau. Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait. b. Dalam hubungan ini. material. Membuat dan menyampaikan laporan kepada PMI Pusat. dibantu oleh Kepala Divisi Penanganan Bencana. 3. Tingkat Pusat Pelaksanaan tanggap darurat bencana di tingkat Pusat dikoordinir oleh Sekretaris Jenderal/Pengurus PMI Pusat yang membidangi Penanggulangan Bencana. Setelah mendapatkan permohonan bantuan dari PMI Cabang yang wilayahnya terkena bencana. Menjabarkan dan melaksanakan kebijakan PMI Pusat dalam hal tanggap darurat bencana sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. dengan tugas dan tanggungjawab sbb : a. maka PMI Daerah melakukan : a. 2. Komunikasi dan koordinasi internal dengan PMI Cabang di wilayah kerjanya. berdasarkan persetujuan PMI Daerah dan Cabang yang berkepentingan. dana) dari PMI Cabang di wilayah kerjanya untuk membantu PMI Cabang yang terkena bencana. petunjuk dan pedoman pelaksanaan tanggap darurat bencana bagi PMI Cabang di wilayah kerjanya. Mengorganisir dan mengkoordinasikan bantuan-bantuan (SDM. Mengkoordinir sumber daya PMI Daerah untuk mendukung PMI Cabang yang wilayahnya dilanda bencana. PMI DAERAH Pelaksanaan upaya tanggap darurat bencana di tingkat Daerah/Provinsi berada di bawah pengawasan dan pembinaan Sekretaris PMI Daerah atau Anggota Pengurus PMI Daerah yang ditunjuk. yang dalam pelaksanaannya sehari-hari dibantu oleh Kepala Markas Daerah dan Kepala Bidang Penanganan Bencana. PMI PUSAT Pelaksanaan upaya tanggap darurat bencana secara umum berada di bawah pengawasan dan pembinaan Sekretaris Jenderal PMI. yang dalam pelaksanaannya sehari-hari dibantu oleh Divisi Penanganan Bencana Markas Pusat PMI dengan tugas dan tanggungjawab sbb : a. Tingkat Daerah Pelaksanaan tanggap darurat bencana di tingkat Daerah dikoordinasikan oleh pengurus PMI Daerah yang membidangi penanggulangan bencana. Memberikan bantuan. arahan. Penyediaan dan mobilisasi sumber daya untuk mendukung kegiatan tanggap darurat bencana baik dari sumber Nasional maupun Internasional. d. b. dibantu oleh Kepala Markas Daerah atau Kepala Bidang PB. PMI pusat dapat memobilisasi satuan tugas yang bersifat ad-hoc yang disebut sebagai Tim Satgana PMI Pusat. 9) 10 15 . Menetapkan peran dan tugas PMI dalam hal tanggap darurat bencana. termasuk bantuan lintas cabang.

2) Memastikan dukungan logistik dan transportasi untuk bantuan. 4) Koordinasi dan komunikasi dengan pihak terkait. serta pemutakhiran data secara rutin. melakukan briefing. berdasarkan persetujuan PMI Cabang yang berkepentingan. Menyampaikan laporan kepada PMI Daerah dengan tembusan kepada PMI Pusat dan PMI Cabang lain yang membantu. Menjabarkan dan melaksanakan arah kebijakan PMI Daerah sesuai dengan karakteristik situasi dan kondisi PMI Cabang. Melaksanakan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. PMI Daerah dapat memobilisasi satuan tugas yang bersifat ad-hoc yang disebut sebagai Tim Satgana PMI Daerah. Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait di tingkat provinsi. ditampilkan di papan pengumuman Posko Markas atau Posko Lapangan. menginformasikan dan melaporkan peristiwa yang berlangsung.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA B. dan Pusat) 1. 14 11 . Tiba di lokasi bencana Setibanya di lokasi bencana. Termasuk dalam hal ini adalah membina dan melatih anggota masyarakat di wilayah rawan bencana yang disebut sebagai Tim Sibat (Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) c. Mengkoordinir sumber daya PMI Cabang dan mitra terkait dalam hal tanggap darurat bencana. b. Menyampaikan laporan kepada PMI Pusat dengan tembusan ke PMI Cabang yang wilayahnya terkena bencana dan PMI Cabang lain yang membantu. Dalam hubungan ini. e. a. Tingkat Cabang Pelaksanaan tanggap darurat bencana di tingkat Cabang dikoordinasikan oleh Pengurus PMI Cabang bidang penanggulangan bencana. dengan tugas dan tanggungjawab sbb : a. Daerah. Dalam hubungan ini. Petunjuk Pelaksana Pembagian Peran dan Tanggungjawab (Cabang. c. sehingga mudah dilihat dan dikenali. operasional perorangan dan tim. 3) Pemeriksaan kesehatan. 5) Mobilisasi anggota Satgana. PMI CABANG Pelaksanaan upaya tanggap darurat bencana di tingkat kabupaten/kota berada di bawah pengawasan dan pembinaan Sekretaris PMI Cabang atau Anggota Pengurus PMI yang ditunjuk. dibantu oleh Kepala Markas/Kepala Seksi yang membidangi. Mengkoordinir sumber daya PMI Cabang lain di wilayah kerjanya untuk mendukung operasi PMI Cabang yang wilayahnya dilanda bencana. Sebelum melakukan tanggap darurat bencana : 1) Mengumpulkan anggota Satgana. 3. b. Melaksanakan kegiatan operasional tanggap darurat bencana. d. PMI Cabang wajib mengerahkan satuan tugasnya yang disebut sebagai Satgana PMI Cabang untuk bertugas di wilayah Bencana e. anggota Satgana segera melakukan upaya tanggap darurat secara terpadu. 2) Melaksanakan penilaian awal (rapid assessment) 3) Melaksanakan upaya pencarian dan pertolongan dan evakuasi 4) Koordinasi dengan pihak terkait untuk rujukan pelayanan kesehatan 5) Membantu pendirian tempat penampungan darurat 6) Pengelolaan dapur umum 7) Penyaluran bantuan pangan/non pangan beridentitas PMI 8) Menghimpun. berupa : 1) Menempatkan identitas PMI di lokasi dimana ada kegiatan PMI. yang dalam pelaksanaannya sehari-hari dibantu oleh Kepala Markas Cabang dan Seksi Penanganan Bencana. d.

Bantuan ini merupakan upaya tanggap darurat lapis kedua.Pembentukan Unit Pelayanan Operasional disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi / kondisi bencana.PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA PROSEDUR TETAP TANGGAP DARURAT BENCANA BAB III OPERASIONAL TANGGAP DARURAT BENCANA A. PNSs. Selanjutnya PMI Daerah dapat mengkoordinir bantuan dari PMI Cabang di wilayahnya maupun pihak terkait lainnya. ICRC. maka PMI Pusat dapat meminta bantuan sumber daya Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional atau pihak terkait lainnya di tingkat Nasional maupun Internasional. Selanjutnya PMI Pusat dapat mengkoordinir bantuan dari PMI Daerah maupun pihak terkait lainnya. Daerah. PMI Cabang/PMI Ranting memobilisasi anggota TSR PMI di tingkat desa/kelurahan serta anggota masyarakat terlatih binaan PMI dalam wadah Tim SIBAT (Siaga Bantuan Berbasis Masyarakat). maka PMI Daerah dapat meminta bantuan PMI Pusat. Staf dan Satgana/Relawan kedalam fungsi-fungsi yang digambarkan dalam Posko Tanggap Darurat PMI Pusat. Uraian tentang tugas dan fungsi dalam Posko Tanggap Darurat Bencana akan diuraikan dalam JUKLAK tersendiri. Bila skala bencana melampaui kapasitas PMI. Pengorganisasian Kegiatan Operasional Tanggap Darurat Bencana Berskala Nasional dan Internasional 4.Uraian tentang tugas dan fungsi dalam Posko diuraikan dalam JUKLAK terpisah 12 13 . Bantuan ini merupakan upaya tanggap darurat lapis ketiga. 3. PMI Cabang dapat membentuk Posko Tanggap Darurat Bencana PMI Cabang atau Posko PMI Cabang dengan mendayagunakan unsur-unsur Pengurus. maka PMI Cabang dapat meminta bantuan PMI Daerah. IFRC. Staff dan Satgana/Relawan ke dalam fungsi-fungsi yang digambarkan dalam Posko Tanggap Darurat PMI Cabang. Untuk mengkoordinasikan penanganan Bencana dimaksud. Bila skala bencana melampaui kapasitas PMI Cabang setempat. BNPB. Bila skala bencana melampaui kapasitas PMI Daerah setempat. Tahapan-tahapan Bantuan 1. khususnya di desa/kelurahan rawan bencana. 2. UN Agency. . Upaya tanggap darurat bencana di tingkat PMI Cabang merupakan upaya tanggap darurat lapis pertama. PMI Pusat dapat membentuk Posko Tanggap Darurat Bencana PMI Pusat atau Posko PMI Pusat dengan mendayagunakan unsur-unsur Pengurus. PMI Daerah dapat membentuk Posko Tanggap Darurat Bencana PMI Daerah atau Posko PMI Daerah dengan mendayagunakan unsur-unsur Pengurus. Donor. NGO/INGO PP PMI/Sekjen Semua Divisi dan Unit Operasional di MP PMI Ketua Posko (PMI Pusat. Cabang) Koordinator Lapangan Tingkat Pusat Perwakilan Mitra Telkom Adm Keu Humas Logistik Tingkat Wilayah Operasi RFL Assmnt PPK Ev/ Shelter Medis Tim Ambulans Rel/Dist DU Watsan PSP Catatan : . Staf dan Satgana/Relawan ke dalam fungsi-fungsi yang digambarkan dalam Posko Tanggap Darurat PMI Daerah. Untuk operasional tanggap darurat bencana berbasis masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->