P. 1
Makalah Tentang Motivasi Pendidikan

Makalah Tentang Motivasi Pendidikan

|Views: 23|Likes:
Published by habibsaputraa

More info:

Published by: habibsaputraa on Aug 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2014

pdf

text

original

MAKALAH MOTIVASI PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU : Hayatun Thayibah, M.PSI

Disusun Oleh : NAMA NIM SEMESTER MATA KULIAH : KARLINAWATI : A1 F11 2599 : II (DUA) : PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PRODI PENDIDIKAN LUAR BIASA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur atas kasih dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Motivasi Pendidikan”, makalah ini dibuat dan dapat terselesaikan sebagaimana yang diharapkan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik berupa moril maupun materil sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Demikian yang dapat penulis sampaikan dengan harapan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan pembelajaran.

Penulis

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian, Sumber dan Penggolongan Motivasi Perilaku Manusia B. Dinamika Proses Perilaku Manusia C. Cara Mengukur dan Usaha Meningkatkan Motivasi D. Proses Membuat Pilihan dan Keputusan, Konflik dan Frustasi, Serta Bentuk Perilaku Penyesuaiannya

BAB III PENUTUP Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan

B. Rumusan Masalah Seberapa pentingkah motivasi bagi dunia pendidikan? C. Tujuan  Mengetahui pengertian motivasi dalam dunia pendidikan  Mengetahui tugas guru sebagai seorang motivator dalam kegiatan belajar mengajar.  Mengetahui sumber dan penggolongan motivasi manusia  Mengetahui dinamika prilaku sosial manusia

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian, Sumber dan Penggolongan Motivasi Perilaku Manusia Para ahli mendefinisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun esensinya menuju kepada maksud yang sama, ialah bahwa motivasi itu merupakan:  Suatu kekuatan atau tenaga atau daya;  Suatu keadaan kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.

Motivasi tersebut timbul dan tumbuh berkembang dengan jalan:  Datang dari dalam diri individu itu sendiri (intrinsik)  Datang dari lingkungan (ekstrinsik)

Atas dasar sumber dan proses perkembangan, terjadi penggunaan berbagai macam istilah yang sering dipertukarkan. Untuk keperluan studi psikologis telah diadakan penertiban dengan diadakan penggolongannya, antara lain sebagai berikut ini.

1. Motif primer (motivasi dasar) Menunjukkan kepada motif yang tidak dipelajari yang untuk ini sering juga digunakan istilah dorongan. Golongan motif ini pun dibedakan lagi ke dalam: (a) Dorongan fisilogis yang bersumber pada kebutuhan organis yang mencakup antara lain lapar, haus, pernapasan, seks, kegiatan, dan istirahat. (b) Dorongan umum da motif darurat, termasuk didalamnya dorongan takut, kasih sayang, kegiatan, kekaguman, dan ingin tahu,dalam hubungannya dengan rangsangan dari luar, termasuk dalam golongan melarikan diri, menyerang, berusaha dan mengejar untuk menyelamatkan dirinya.

2. Motif sekunder Menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam diri individu karena pengalaman, dan dipelajari kedalam golongan sebagai berikut : a. Takut yang dipelajari (learned fears) b. Motif social (ingin diterima, ingin dihargai, konformitas, afiliasi dll) c. Motif-motif obyektif (eksplorasi, manipulasi, dan minat) d. Maksud (purpose) dan aspirasi e. Motif berprestasi (achievement motive)

B. Dinamika Proses Perilaku Manusia Dipandang dari segi motifnya setiap gerak manusia itu selalu mengandung 3 aspek yang kedudukannya bertahap dan berurutan : 1. Motivating states Timbul kekuatan dan terjadinya kesiapsediaan sebagi akibat terasanya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal dari dalam diri organisme atau tergantung pada stimulasi tertentu. 2. Motivating behavior Bergeraknya organisme kearah tujuan tertentu sesuai dengan sifat kebutuhan yang hendak dipenuhi dan dipuaskannya. Misal: haus mencari air untuk diminum, dengan demikian setiap prilaku manusia bersifat instrumental (sadar atau tak sadar). 3. Satisfied conditions Dengan dicapai tujuan yang dapat memenuhi kebutuhan yang terasa, maka dalam kesimbangan dari dalam organism pulih kembali dengan terpeliharanya, homostetis, kondisi demikian dihayati sebagai rasa nikmat dan puas atau lega.

Terjadinya metabolism dan penggunaan atau pelepasan kalori, perangsangan kembali, dan sebagainya, kepuasan itu hanya bersifat temporal (sementara). Oleh karena itu, gerakkan proses prilaku itu sebenarnya akan berlangsung secara siklus (cyclical) yang dapat digambarkan secara sistematis :

C. Cara Mengukur dan Usaha Meningkatkan Motivasi Meskipun motivasi itu merupakan suatu kekuatan, namun tidaklah merupakan suatu substansi yang dapat kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikator dalam term-term berikut : a. Durasinya kegiatan ( berapa lama kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan) b. Frekuensinya kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam preiode waktu tertentu) c. Presistensinya ketetapan dan kelekatannya pada tujuan kegiatan d. Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan e. Devosi pengabdian dan pengorbanan uang, tenaga, pikiran bahkan jiwanya atau nyawanya untuk mencapai tujuan

Dari indicator diatas maka akan melahirkan teknik pendekatan dan pengukuran tertentu dapat dipergunakan: a. Tes tindakan disertai observasi b. Quesioner dan infentori c. Mengarang bebas untuk mengetahui cita – cita dan aspirasi d. Tes prestasi dan skala sikap

Saran upaya untuk meningkatkan motivasi kerja dan termasuk belajar sebagai berikut : a. Hindarkan sugesti dan kondisi yang negatif b. Ciptakan situasi kompetisi yang sehat c. Adakan pacemaking atas dasar prinsip goalgradiened d. Informasikan hasil kegiatan dan berikan kesempatan pada individua tau kelompok

D. Proses Membuat Pilihan dan Keputusan, Konflik dan Frustasi, Serta Bentuk Perilaku Penyesuaiannya Dalam rangkaian proses pemenuhan felts needs individu pada umumnya dihadapkan pada sejumlah alternatif baik dalam aspek maupun dalam tahapan  Instrumentals behaviornya kemungkinan-kemungkinan tindakan yang dapat ditempuh.  Goal atau incentive kemungkinan sasaran tujuan yang hendak dicapai

Individu harus menentukan pilihan diantara alternative yang ada faktor-faktornya :  Pertimbangan untung rugi (cost – benefite) dari setiap alternatif secara rasional diuji  Kemauan (the willingess) dan kata hati (the conscience of man) juga turut menentukan dalam proses pemilihan dan pengambilan keputusan itu karena resiko akibatnya juga harus ditanggung. Seandainya individu menghadapi alternative yang mengandung motif-motif atau resiko untung rugi atau positif negative yang sama kuatnya, dan proses pemilihan dan pengambilan keputusanpun tidak dapat dilakukan dengan segera, maka dalam diri individu yang bersangkutan akan terjadi perang batin yang tidak berkesudahan dan berkeputusan (Psychological conflict)

Sesuai dengan sifat motivasi atau resikonya dari setiap alternative ia akan mengalami kemungkinan:  Approach – approach conflict kalau semua alternatif yang ada sama-sama dikehendaki karena mengandung resiko yang sama-sama positif  Avoidance conflict kalau semua alternative yang ada sama-sama tidak dikehendaki karena mengandung resiko yang sama negative  Approach – avoidance conflict kalau alternative tertentu yang dikehendaki mengandung resiko yang positif tetapi sekalugus juga negative yang sama kuatnya. Reaksi individu yang bersangkutan terhadap frustasi bermacam-macam prilakunya, tergantung pada kemampuan akal sehatnya (reasoning intelligence) Kalau akal sehat berani menghadapi kenyataan, pada akhirnya mungkin dengan bantuan pihak dan cara tertentu konselor, psikolog, orang tua, temen deket, ulama, pendeta, istikhoroh/meditasi. Ia juga dapat mengambil keputusan yang sehat secara rasional sehingga tujuannya tercapai. Tindakan itu disebut Adjusment (penyesuaian permasalahan). Adjustment ini mungkin dilakukan dengan cara :  Aktif ia merubah lingkungan, mungkin mencari dan mengubah alternatifnya tetapi dapat sampai pada goalnya yang diinginkan.  Pasif ia mengubah dirinya mungkin mengadakan modifikasi aspirasinya sehingga ia dapat menetapkan tujuan secara realistic dan bertindak secara realistic pula. Intellegence secara fungsional dalam proses tindakan dapat dikemukanan menjadi beberapa jenis ialah : - Agresi marah - Kecemasan tak berdaya - Regresi - Fiksasi - Represi - Rasionalisasi

BAB III PENUTUP Kesimpulan Kegiatan belajar tidak selalu dilakukan di dalam ruangan kelas berdasarkan rancangan tertentu tetapi ada kegiatan belajar yang dilakukan di luar ruang kelas tanpa mengikuti rancangan tertentu. Dengan kegiatan belajar di kelas secara konvensional siswa belajar untuk memenuhi tuntutan tugas dan rancangan dari guru. Tetapi masih begitu banyak aktivitas belajar yang tanpa mengikuti aturan konvensional yang dicerminkan dalam desain instruksional. Artinya, siswa belajar karena keinginannya sendiri. Karenanya pengetahuan tentang “belajar” karena ditugasi dan belajar karena motivasi diri “penting” bagi guru. Dalam hal ini peranan guru sangat dibutuhkan karena peranan guru sebagai motivator sangat memberikan dampak yang besar bagi siswanya. Menghadapi siswa yang kurang termotivasi sangat membutuhkan strategi untuk mengembalikan semangat dalam belajarnya. Tak heran jika di sini guru dituntu untuk bisa memahami sedikit banyak karakter siswa dan problem solving bagi setiap masalah. Dengan begitu diharapkan semangat siswa akan memberikan output yang baik bagi diri mereka sendiri dan bagi dunia pendidikan pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin M., (2000), Psikologi Kependidikan, Bandung: Remaja R. http://www.google.co.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->