DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG

PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

1

DAFTAR ISI
 
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 5
1.1  1.2  1.3  1.4  Pengertian ........................................................................................... 5  Maksud dan Tujuan ............................................................................. 5  Ruang Lingkup .................................................................................... 6  Acuan Normatif .................................................................................... 6

BAB 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) Error! Bookmark not defined.
2.1  2.2  2.3  2.4  2.5  Penjelasan umum ................................................................................ 9 Layanan Informasi PIP2B .................................................................. 10  Produk Informasi PIP2B .................................................................... 12  Sarana Pelayanan Informasi PIP2B .................................................. 13  Struktur Kelembagaan Standar dan Jumlah Personil PIP2B ............ 14

BAB 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B ............................. 15
3.1  Fungsi dan Klasifikasi Bangunan PIP2B ........................................... 15  3.1.1  Penetapan Fungsi Bangunan Gedung PIP2B ....................... 15  3.1.2  Penetapan Klasifikasi Bangunan Gedung PIP2B .................. 15  3.2  Standar Perencanaan Bangunan PIP2B ........................................... 18  3.2.1  Standar Luas Ruang Kerja .................................................... 18  3.2.2  Program Kebutuhan Luas Ruangan ...................................... 18  3.2.3  Karakteristik dan Kriteria Ruangan Pelayanan ...................... 19  3.2.4  Hubungan Antar Ruang ......................................................... 23  3.3  3.4  Persyaratan Lokasi ............................................................................ 24  Penentuan Luas Tapak ..................................................................... 25  3.4.1  Sarana Ruang Luar ............................................................... 25  3.4.2  Sarana Publik di Lantai Dasar ............................................... 25 
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

2

3.4.3  Luas Lahan Minimum ............................................................ 26 3.5  Persyaratan Administrasi ................................................................... 25 

BAB 4 KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B ........................... 31
4.1  Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan ................................... 31  4.1.1  Kesesuaian Tata Bangunan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Peraturan Daerah .................................. 31  4.1.2  Persyaratan Arsitektur ........................................................... 33  4.1.3  Persyaratan Tata Ruang Dalam ............................................ 36  4.1.4  Persyaratan Lansekap ........................................................... 49  4.2  Persyaratan Struktur Bangunan ........................................................ 51  4.2.1  Struktur Bangunan ................................................................. 52  4.2.2  Pembebanan pada Bangunan Gedung ................................. 52 4.2.3  Struktur Atas Bangunan Gedung ........................................... 53  4.2.4  Struktur Bawah Bangunan Gedung ....................................... 60 4.2.5  Keandalan Struktur Bangunan Gedung ................................. 61 4.3  Persyaratan Utilitas Bangunan .......................................................... 62  4.3.1  Persyaratan Sistem Penghawaan.......................................... 62  4.3.2  Persyaratan Sistem Pencahayaan......................................... 64  4.3.3  Persyaratan Komunikasi dalam Bangunan Gedung .............. 66  4.3.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan ................................................ 68  4.3.5  Persyaratan Sanitasi .............................................................. 69  4.3.6  Persyaratan Kenyamanan ..................................................... 72 4.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan PIP2B terhadap Bahaya Kebakaran ..................................................................................... 7774  4.4.1  Sistem Proteksi Pasif ............................................................. 74  4.4.2  Sistem Proteksi Aktif .............................................................. 75  4.4.3  Persyaratan 4.4.4  Persyaratan Jalan Keluar dan Aksesibilitas Tanda untuk Arah Pemadam Kebakaran ............................................................ 75  Pencahayaan Darurat, Keluar/Eksit, dan Sistem Peringatan Bahaya ........................ 76  4.4.5  Persyaratan Sarana Evakuasi ............................................... 76  4.5  Persyaratan fasilitas dan Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat ....... 78 
3

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

... 85  4........................ 81  4...2  5.............................5....................................................................................... 88 4...................................... 83  4..............................................1  Tempat Parkir ........................................ 90 5........................................... 80  4..................... 78  4....................3  Tahap Persiapan .......................................2  Jalur Pemandu ..................................................5..................................................4  Ram ............ 93  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 4 ...... 89 BAB 5 PENYELENGGARAAN PIP2B .....................................5.................4.....1  5....... 90  Tahap Operasional ............5................3  Pintu ................5...........................6  Perabot .........................................................................5  Toilet ..7  Rambu dan Marka ...........5..........5.......................... 90  Tahap Mobilisasi Sumber Daya Manusia ..........................................

2 MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini adalah untuk memberikan acuan bagi: • • perencanaan dan perancangan gedung PIP2B operasional lembaga PIP2B Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan pedoman ini adalah agar terdapat pemahaman yang sama dalam membangun gedung PIP2B. 1. Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan perencanaan sebuah bangunan gedung dan lembaga PIP2B yang meliputi panduan bagi perancangan bangunan. dan standar minimal bentuk organisasinya. program kebutuhan bangunan.1 PENGERTIAN 1. serta panduan kelembagaan penyelenggaraan PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 5 . kebutuhan ruang dan besaran minimal yang mencerminkan bangunan gedung yang handal. aman dan nyaman. seperti kebutuhan luas lahan minimal.bab 1 PENDAHULUAN 1. Pedoman Umum adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan 2.

SNI 19-2454-1991. SNI 03-1728-1987.4 ACUAN NORMATIF Dasar Hukum yang melandasi Pedoman Umum Perencanaan PIP2B adalah: 1. 1. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 5. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 9. SK Direktorat Jenderal Perumahan clan Permukiman Nomor 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung. Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah Perkotaan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 6 . SNI 03-1726-1989. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung 13. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 12. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 2. yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam penatalaksanaan organisasi.3 RUANG LINGKUP Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini mencakup: • • dasar-dasar perencanaan gedung PIP2B panduan kelembagaan penyelenggaraan PPIP2B. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan 14. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 7. KetentuanTeknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan 10. SNI 02-2406-1991. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 8. SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara 6. 11. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 11/KPTS/2000 tentang. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman 4.1. sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan PIP2B.

1736 . SNI 03 . SNI 03 .3989 .1746 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 26. SNI 03-1745-1989. SNI 03-453-1987. Pemasangan.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Selang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 30.2000 tentang Tata Cara Perencanaan. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman 16. SNI 03-1736-1989. SNI 03-1734-1989. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 24. SNI 03 . dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 7 . SNI 03-1733-2004 SNI 03-3985-1995.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatik untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 27. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan dan Gedung 23. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan Pencegah Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 21.1735 . Tata Cara Perencanaan Pemasangan Sistem Deteksi Alarm Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 25.15. SNI 03 . SNI 03-1735-1993. SNI 03 .1745 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan pemasangan Sistem Plambing pada Bangunan Gedung 31. SNI 03 . SNI 03 . SNI 03-1727-1989. SNI 03-1728-1989. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 19.2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 29.6481 . Tata Cara Instalasi Petir Untuk Bangunan 17. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung 20.2000 tentang Tata Cara Akses Bangunan dan Akses Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya kebakaran pada Bangunan Gedung 28. SNI 03-2847-1992.3985 . Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 22. SNI 03-3242-1994. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 18.

2001 tentang Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung 38.2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung 39. SNI 03 .6571 .6574 . SNI 03 .1728 . SNI 03 – 6759 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 8 .2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung 35. SNI 03 .2001 tentang Sistem Pengendalian Asap Kebakaran pada Bangunan Gedung 34.2396 . SNI 03 .2001 tentang Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung 36. dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan Gedung 37. Tanda Arah. SNI 03 .2001 tentang Pompa yang Dipasang Tetap untuk Proteksi Kebakaran 33.6575 . SNI 03 . SNI 03 . SNI 03 .1729 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton pada Bangunan Gedung 41.32.1726 .6570 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja pada Bangunan Gedung 40. SNI 03 .6572 .2001 tentang Tata Cara Penerangan Darurat.

masyarakat serta kalangan akademisi. pelaksana. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada berbagai unsur: perencana. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 9 . Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) yang dalam pembentukannya difasilitasi Pemerintah Pusat. Wadah ini merupakan fasilitas yang terbuka untuk umum. dan melakukan berbagai kegiatan yang mendukung penyebar luasan informasi pengembangan permukiman dan bangunan gedung (diagram 2-1). pengusaha bahan bangunan. Dalam mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. pihak pemerintah. nantinya akan menjadi milik Dinas PU Pemerintah Propinsi.1 PENJELASAN UMUM Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah lembaga inovatif yang ditargetkan untuk menjadi lembaga publik yang mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman.bab 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2. Tujuan dibentuknya adalah membangun jaringan informasi untuk meningkatkatkan reputasi lembaga perumahan dan permukiman yang mandiri khususnya dalam mendukung pembangunan perumahan swadaya.

1 PIP2B memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada para stakeholder bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung 2. Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis PIP2B dapat memberikan pelayanan informasinya dalam bentuk konsultasi dan advokasi teknis yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Juni 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 10 . Arsitektur dan Bangunan Gedung. Lingkup pelayanan tersebut dapat mencakup hal-hal yang sifatnya praktis maupun analisis. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. tergantung tingkat kemampuan dan sumberdaya yang tersedia pada lembaga PIP2B serta kebutuhan masyarakat yang ada.Diagram 2. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. dan perancangan bangunan gedung serta advokasi penataan permukiman. 1 Kerangka Acuan Revitalisasi/ Pengembangan Kembali Building Information Center (BIC) sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Ketrampilan Teknis bidang Perumahan. Ruang lingkup kegiatannya antara lain dapat berupa layanan konsultasi kegiatan perencanaan. ada 4 produk pelayanan utama yang dapat diberikan oleh Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) sebagai berikut1: a.2 LAYANAN INFORMASI PIP2B Secara garis besar. Permukiman.

perpustakaan dan penerbitan bukubuku/ bahan cetakan yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Peralatan pelayanan informasi. dan perlengkapan kantor lainnya. peralatan audio visual. computer. Pelatihan dan Penyebarluasan Informasi Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatannya antara lain pelayanan pelatihan/ pengembangan ketrampilan teknis dan penyebar luasan informasi penyelenggaraan program bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung. mejakursi kerja. REI. baik untuk sekretariat maupun kegiatan pelayanan informasi lainnya Peralatan kantor/ sekretariat. seperti IAI. peralatan display bahan peraga untuk informasi. baik berupa alat tulis kantor. Bentuknya dapat berupa penyuluhan. serta sosialisasi kebijakan dan program termasuk peraturan dan perundangan. harga satuan bahan dan upah kerja dalam bidang jasa konstruksi secara periodik juga dapat menjadi salah satu materi layanan informasi yang disediakan oleh PIP2B. event-organizer pada suatu penyelenggaraan kegiatan pameran. baik yang berupa peralatan pendukung perpustakaan. serta peralatan pendukung lainnya Kajian Pengembangan Usaha (Business Plan) Building Information Center. seminar yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. ataupun industri lainnya yang terkait dengan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga2. Inkindo. Mei 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2 11 . c. Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi Kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup ini dapat meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasis website. peralatan dokumentasi. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengembangan usaha pelayanan informasi melalui kerjasama dengan lembaga lain yang terkait di sektor ini. Untuk kegiatan pengelolaan institusi PIP2B sendiri. dibutuhkan prasarana dan sarana yang berupa antara lain: • • • Gedung dan ruang operasional PIP2B. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. Disamping itu. Dokumen Interim. pengembangan layanan dapat berupa penyelenggara. Kegiatan penyusunan dan penyebar luasan harga bangunan. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. d.b.

Pedoman Harga Satuan Upah dan Bahan Bangunan yang dilengkapi dengan harga. Informasi yang terkait dengan produk-produk bidang Ke Cipta Karyaan mencakup Tata Bangunan dan Lingkungan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 12 . Peraturan Pemerintah c. Pengembangan Permukiman. serta inovasi berbasis keunggulan lokal (sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah). Berdasarkan jenis informasi yang dapat diperoleh/ diberikan oleh PIP2B adalah sebagai berikut: 1. 2. Serta informasi yang bermanfaat bagi pelaku pembangunan gedung. serta Pengembangan PLP untuk perkotaan maupun perdesaan 4. seperti: a. 3. mencakup Peraturan Daerah. Undang-undang b. Standar. Informasi Khusus seperti kebijakan dan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kaitannya dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. Surat Keputusan (SK) e. Pedoman dan Manual bidang tata bangunan dan permukiman f.• Peralatan mobilitas dalam rangka mendukung mobilitas kegiatan penyebar luasan informasi. usaha dan kegiatan produktif b. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. dan lain-lainnya. perumahan dan permukiman. Informasi maupun publikasi yang bersifat Umum seperti: a. 2.3 PRODUK INFORMASI PIP2B Jenis layanan informasi yang dikembangkan oleh PIP2B berbasis kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan Air Minum. Peraturan tentang Bangunan Gedung d. Ketentuan-ketentuan daerah. merk serta produsennya c. teknologi kontruksi yang terkait dengan perumahan dan permukiman. RTBL.

Direktorat Jenderal Cipta Karya. Toilet Karyawan. Sarana Penunjang lainnya. Sarana bagi Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi: • • • • Ruang Perpustakaan E-library/ perpustakaan digital Ruang Server Ruang Pengolahan Informasi d. Juli 2007 13 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) .2. dll e. Mushola. seperti: • • • • 3 Ruang Lobby dan Informasi Ruang-ruang Mekanikal Elektrikal Mushola Publik Toilet Publik Pengarahan Tim Teknis. Paket PBL IV-3. Sarana bagi Pelayanan Pelatihan dan Penyebar luasan informasi • • • • Ruang audiovisual Ruang-ruang Pertemuan Ruang Pamer Ruang Display c. Sarana bagi Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis. Sarana bagi Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga: • • • • Gedung Kantor Ruang-ruang kerja sesuai standar kebutuhan dan jumlah personil Ruang-ruang Pertemuan Ruang-ruang Penunjang seperti: Pantry.4 SARANA PELAYANAN INFORMASI PIP2B Di dalam menyiapkan infrastruktur Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B). lembaga ini harus dapat menyediakan sarana pelayanan informasi yang lebih interaktif sebagai berikut3: a. mencakup: • • Ruang Konsultasi Ruang-ruang Diskusi b. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan.

• • • Fasilitas bagi Penyandang Cacat Parkir Dll. 2.5 STRUKTUR KELEMBAGAAN STANDAR DAN JUMLAH PERSONIL PIP2B Di dalam menyiapkan struktur kelembagaan Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di setiap propinsi. Nopember 2007 14 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Direktorat Jenderal Cipta Karya. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. Paket PBL IV-3. ditetapkan pejabat ketua struktur organisasi PIP2B merupakan seorang pejabat setingkat eselon III . 4 Pengarahan Tim Teknis. Dengan demikian dapat diprediksi jumlah personil dalam struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai berikut4: Diagram 2.2 Struktur Organisasi PIP2B Maka total jumlah personil pada struktur organisasi PIP2B di atas seluruhnya berjumlah 23 orang.

bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan tidak sederhana. b. yaitu bangunan gedung negara yang memiliki kompleksitas dan atau teknologi tidak sederhana. Klasifikasi berdasarkan Kepemilikan. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Permanensi. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Risiko Kebakaran. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung perkantoran pemerintah b.bab 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B 3. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun. Menurut Fungsi Usaha.1. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung milik negara DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 15 .1. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung pelayanan umum 3. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung bertingkat rendah e. Menurut Fungsi Sosial dan Budaya. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan gedung tingkat resiko kebakaran rendah d. Bangunan gedung PIP2B dapat dijelaskan sebagai gedung kantor dengan luas lebih dari 500 m2. Klasifikasi berdasarkan Ketinggian.1 PENETAPAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Penetapan fungsi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan permanen c.1 FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN PIP2B 3.2 PENETAPAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Adapun penetapan klasifikasi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Kompleksitas.

Percepatan Percepatan puncak muka tanah Ao (‘g’) Wilayah Puncak Batuan Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Tanah Gempa Dasar (`g) Khusus 1 0.1 Zonasi Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun (berdasarkan SNI 1726-2002) Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.10 0.30 0. Tabel 3-1 Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa Indonesia (berdasarkan SNI 1726-2002).f. Klasifikasi berdasarkan lokasi pada Zonasi Gempa adalah sesuai dengan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang (Gambar 3-1) Gambar 3.23 0.25 0. Pembagian Wilayah Gempa ini. Hal ini perlu dilakukan karena adanya perbedaan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa dan untuk masing-masing jenis tanah yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung dalam rangka menjamin kekekaran (robustness) minimum dari struktur gedung tersebut.12 0.15 0. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun yang nilai rataratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 1 dan table 3-1.33 0.15 0.32 0.08 Diperlukan 2 0.20 evaluasi 3 0.38 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 16 .05 0.36 0.18 0.30 khusus di 4 0.20 0.28 0.28 0.34 setiap lokasi 5 0.03 0.24 0.04 0.36 6 0. di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi.

Gasmbar 3-2 Respons Spektrum Gempa Rencana (berdasarkan SNI 1726-2002). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 17 .

maupun menurut standar dan ketentuan yang berlaku. maka perkiraan luas ruang kerja bagi gedung PIP2B adalah sekitar 246. ditentukan berdasarkan ketentuan standar luas ruang kerja pada gedung kantor pemerintah dengan klasifikasi tidak sederhana.3 Standar Detail Luas Ruangan Kerja bagi Kantor Pemerintah No.2. Rapat 4 Luas Ruang R.2. Kerja 2 R. adalah sbb: Tabel 3. Berdasarkan persyaratan kelembagaan bahwa institusi PIP2B akan dipimpin oleh pejabat eselon III. Perkiraan luas ruang-ruang pelayanan informasi dihitung berdasarkan perkiraan kapasitas tampung. digunakan standar detail luas ruangan kerja kantor pemerintah seperti yang tercantum pada Tabel C pada buku Pedoman Pembangunan Bangunan Negara. ditetapkan oleh instansi yang berwenang di daerahnya masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.10 m2 (Tabel 3. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 18 .g. Kebutuhan total luas ruang kerja dihitung berdasarkan jumlah personil yang akan ditampung dikalikan standar luas sesuai dengan klasifikasi bangunannya.00          6. sedang.00            ‐           ‐            ‐        18.00           ‐           ‐           ‐         3. Tunggu R. studi banding di lapangan. Sekr R.2 STANDAR PERENCANAAN BANGUNAN PIP2B 3.2 PROGRAM KEBUTUHAN LUAS RUANGAN Kebutuhan ruang bangunan gedung PIP2B terdiri atas sarana ruang kerja serta sarana ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat. Simpan R.7 m2 perpersonil. 3.7 m2 Total Luas     246. Tamu 3 R.2 Acuan Standar Umum Ruang Kantor PIPB Struktur Organisasi Jumlah Personil 23 orang Standar 10.00            ‐           ‐         3.10 m2 Adapun untuk merencanakan tata ruang dalam gedung PIP2B. Toilet 5 6 7 8 Jumlah 9 1 Eselon III 2 Staff          6.00 m2          2.00 m2 3. renggang).1 STANDAR LUAS RUANG KERJA Dalam menghitung luas ruang kerja pada bangunan gedung kantor PIP2B. Jabatan 1 R.2) Tabel 3. yaitu rata-rata sebesar 10. Klasifikasi berdasarkan kepadatan lokasi (padat.00           ‐          2.

00          4.83 LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN      949.00            6. Kerja Penunjang Ruang Sirkulasi m2      189.00          6.00 m2         60.00 Publik m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 Semi Publik m2        36.00 m2          2.00        18.70          0.00 m2          6. Kegiatan  Kriteria Disain Standar  Fungsi  4    ‐ Berupa outdoor plasa multifungsi ‐ Meningkatkan kualitas lingkungan dan bangunan   ‐ Menampung kapasitas 500 orang Fisik  5  Lingkungan  6    ‐ Merupakan bagian terintegrasi dari disain bangunan dan lingkungan ‐ Memperbaiki iklim mikro ‐ Tetap dapat berfungsi meningkatkan resapan air 2  3  SARANA PENYEBARLUASAN INFORMASI   R.00          1.7. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik (2m2/25 org) Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility KAPASITAS 200 org 1 bh 20 org 1 bh 1 bh 6 org 23 org 23 org 23 org 1 bh 8 1 2 2 23 2 1 1 25% sat bh sat sat org bh bh bh SATUAN LUAS          0.00          6. Tabel 3.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2        32. Asosiasi  Profesi R. 3.00          0.00 m2        27.40         12.00            6.4 memperlihatkan perkiraan kebutuhan ruang untuk bangunan gedung PIP2B.30 LUAS      180.10 m2            9.00 R.90 m2         20. Display R.60 m2      246.2. Audiovisual Perpustakaan E‐ Library R.00 m2         32.5 Sifat Kegiatan Penyebarluasan Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  A  1.00        40.20         10.Tabel 3.80          6. dengan perkiraan luas total lantai bangunan adalah sekitar 949.00        32. Pamer  Outdoor  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat permanen  maupun temporer dan  eventual  sesuai dengan  kebutuhan daerah. Tabel 3.00            6.13 m2.6 dan 3.40        12.00        20.00        60.00            8.  seperti:   ‐ Model  RISHA  ‐ Prototipe rumah  tahan gempa  ‐ Beberapa model  sistem struktur  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 19 .20 m2        12.00          6.00          4.5.13 m2 3.00            8.4 Studi Kebutuhan Ruang Gedung PIP2B RUANG Pameran Indoor R.00     759.00          4.3 KARAKTERISTIK DAN KRITERIA RUANGAN PELAYANAN Sifat kegiatan yang ditampung di dalam ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat dan kriteria disain standar bagi masing-masing ruang dapat dilihat pada Tabel 3.

Pamer Indoor ‐ Display ditempatkan pada bagian yang mengundang. Pamer  Indoor  ‐ Dsb  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat temporer dan  eventual seperti :   ‐ Pameran  ‐ Seminar    ‐ Berupa indoor hall yang bersifat multifungsi untuk memamerkan produk-produk ke-Cipta Karya-an maupun teknologi bangunan terkini ‐ Merupakan bagian yang menyatu dengan R. atau void dengan ceiling > 1 lantai ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan. Display  Dapat  menampung  materi‐materi  display ke‐ Cipta Karya‐an yang  dipasang sepanjang  tahun. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan tertutup ‐ Menggunakan insulasi penahan suara ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan menggunakan pengendalian dg system switching dan dimming untuk memperoleh efek pencahayaan ‐ Konsep Ruangan secara tata suara tertutup. Audio  Visual  Dapat menampung  materi ke‐Cipta Karyaan  yang ditampilkan secara  audio visual  ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 20-30 orang 5. Pertemuan  Dapat menampung  pertemuan staff maupun  dengan pihak luar  ‐ Berupa ruang rapat yang siap dengan peralatan presentasi ‐ Menampung kapasitas ruang untuk pertemuan 10-12 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) .  R.  R.  R. ruangan dapat menjadi gelap dan tidak silau 20 3.  R. secara visual dapat transparan ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan ‐ Dalam keadaan display. dan informatif ‐ Isi display dapat berganti-ganti sesuai tema ‐ Berupa ruang kelas yang siap dengan peralatan audio visual ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 200 orang ‐ Memiliki ceiling yang tinggi.2. seperti:   ‐ Banner UUBG  ‐ Running Text    ‐ Panel display atau apapun yang menjadi media display 4. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan.

Tabel 3. namun mudah dipelihara ‐ Memungkinkan untuk melakukan pemeliharaan data dan reparasi computer 4.  Melayani  Perpustakaan  kebutuhan  Elektronik  informasi  masyarakat dalam  bentuk digital     4      Fisik  5    Lingkungan  6  1. namun mudah dipelihara ‐ Menampung kapasitas 2 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.  Pengolahan  Meng up‐date  untuk Informasi  database informasi  memasukkan dalam bentuk  dan memantau digital  informasi digital    ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 21 . namun mudah dipelihara ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata 3. Server  Menampung  informasi dalam  bentuk digital     ‐ Ruang Komputer Terpusat ‐ Menampung kapasitas 1 bh server komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. ‐ Ruang Kerja R. ‐ Rak buku sesuai standar ‐ Ruang Baca sesuai standar ‐ Menampung kapasitas ruang baca 8-12 orang ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2. R.  Dapat  Perpustakaan  menampung buku‐ buku terbitan/  bahan cetakan  yang terkait  dengan ke‐Cipta  Karya‐an &  melayani  kebutuhan  informasi  masyarakat    R. ‐ Ruang browsing komputer sesuai standar ‐ Menampung kapasitas 6-8 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.6 Sifat Kegiatan Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Kriteria Disain Standar  Ruangan  1  B  Kegiatan  Fungsi  2  3  SARANA PELAYANAN  PENGEMBANGAN/   DOKUMENTASI INFORMASI   R.

 Konsultasi  Dapat digunakan  untuk keperluan  konsultasi   ‐ Berupa ruang kerja dengan kursi hadap ‐ Terdiri atas 1 atau 2 orang yang merupakan konsultan dan 2 atau 4 orang yang berkonsultasi ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara.Tabel 3. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara. 2  Kegiatan  Fungsi  3  4  Kriteria Disain Standar  Fisik  5  Lingkungan  6  SARANA PELAYANAN KONSULTASI  DAN ADVOKASI TEKNIS   R. Diskusi  Dapat digunakan  untuk keperluan  diskusi kecil  ‐ Merupakan ruang multifungsi yang berkaitan dengan kegiatan konsultasi ‐ Berupa ruang pertemuan dengan kapasitas 6-8 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 22 . R. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2.7 Sifat Kegiatan Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  C  1.

artinya ruang tidak perlu berdekatan maupun terhubung oleh pintu. yaitu ruang berdekatan dan terhubung oleh pintu Dekat dengan Hubungan Tidak Langsung. Hubungan antar ruang dibedakan atas: • • • Hubungan Langsung. Gambar 3.2.3 Matriks Hubungan Antar Ruang Gedung PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 23 .3. yaitu ruang berdekatan tetapi tidak perlu terhubung oleh pintu Tidak Berhubungan.4 HUBUNGAN ANTAR RUANG Hubungan antara ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B ditetapkan berdasarkan matriks hubungan antar ruang pada gambar 3-2.

maka jarak tempuh maksimum dari titik transit adalah 10 menit berjalan kaki. 3. Pencapaian secara berjalan kaki harus terhindar dari lalu lintas berkepadatan tinggi.3 PERSYARATAN LOKASI Penentuan lokasi bangunan gedung PIP2B mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: 1. dengan asumsi kepadatan penduduk yang dilayani dapat mendukung kegiatan pelayanan informasi bagi masyarakat. Radius pencapaian lokasi ditentukan oleh jarak dan waktu tempuh dari pusat kota. 4. Peraturan Tata Ruang Kota Lokasi disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan mendapat persetujuan pemerintah daerah yang bersangkutan untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). mencakup: jalan lingkungan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 24 . Apabila gedung PIP2B terletak di dalam sebuah kompleks perkantoran yang tidak dapat dicapai secara langsung oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. jaringan air bersih. drainase. jaringan listrik dan telepon. termasuk rencana pengembangan lahan dan bangunannya. Aksesibilitas Lokasi gedung PIP2B harus dapat dicapai oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jarak tempuh maksimum 5 km dari pusat kota atau tidak lebih dari waktu tempuh 20 menit perjalanan dengan kendaraan umum pada saat normal (tidak macet). Radius Pencapaian Gedung PIP2B dibangun pada lokasi-lokasi di ibukota propinsi. 2.3. Lokasi harus dekat dengan masyarakat pengguna dengan pencapaian mudah. Kesiapan Prasarana Lokasi gedung PIP2B harus memiliki prasarana yang memadai. jaringan air limbah.

harus dipertimbangkan sarana dan fasilitas pelayanan bagi publik wajib untuk ditempatkan di lantai dasar.4. Prototipe Rumah Tahan Gempa. dengan rasio 1 kendaraan setiap 100 m2 luas lantai Parkir dan sirkulasi mobil bagi penyandang cacat. Sarana ruang minimum yang harus disediakan serta posisinya baik di lantai dasar atau di lantai atas ditentukan dalam tabel 3. Sehingga sarana dan fasilitas pelayanan tersebut memungkinkan untuk dapat diakses pula oleh masyarakat penyandang cacat. minimal 40% dari luas total lahan diperuntukkan bagi penghijauan dan lansekap 3. yang cukup luas agar dapat menampung materi-materi pameran ke-Cipta Karya-an yang bersifat permanen maupun temporer dan eventual sesuai dengan kebutuhan di daerahnya masing-masing.1 SARANA RUANG LUAR Dalam rangka menentukan luas tapak yang dibutuhkan bagi sarana dan fasilitas bangunan PIP2B.3. • • • • • • Parkir dan sirkulasi mobil kantor maupun karyawan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 25 . disediakan minimal untuk 2 kendaraan Parkir dan sirkulasi mobil pengunjung. dan beberapa model system struktur.4. disediakan minimal untuk 25 kendaraan Jalur pedestrian yang memadai Ruang Terbuka Hijau. Beberapa contoh produk pameran outdoor yang permanen adalah: Model RISHA.4 PENENTUAN LUAS TAPAK 3.2 SARANA PUBLIK DI LANTAI DASAR Dalam merencanakan bangunan PIP2B. disediakan minimal untuk 5 kendaraan Parkir dan sirkulasi motor baik karyawan maupun pengunjung. harus dipertimbangkan tersedianya sarana sebagai berikut: • Ruang Pamer Outdoor.8.

00 m2     485.20 m2         12.8 Posisi Ruang Publik RUANG Pameran Indoor R.00        60.00 m2         6. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R. atau di kota yang masih relatif rendah intensitasnya.00          8. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility                                         759.60 m2       246.00 m2 Lantai Atas Semi Publik        36.20 m2        12.00 m2           8.00 m2 m2 m2 m2 m2 Lantai Dasar     180.00 m2         27.00 m2       40.00 m2     388.00        40.00 m2       32.40        12.00 m2 R. maka bangunan PIP2B memungkinkan untuk dikembangkan sebagai 1 lantai saja dengan lahan yang lebih luas.00 m2       97. perlu disadari kondisi terbatasnya lahan terutama di daerah kota besar. • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di pusat kota.30 LUAS      180.100 m2. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 2.00 m2         18. maka pemanfaatan lahan yang efisien mengakibatkan bangunan terdiri atas 2 lantai. Display R.00        20. Asosiasi Profesi R. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 26 .200 m2 • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di tepian kota. Kerja Penunjang           8.40 m2       12.13 m2 Sub Total Ruang Sirkulasi LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN 25%      189.00        18.3 LUAS LAHAN MINIMUM Dalam merencanakan bangunan PIP2B.Tabel 3.00          6.00          6. sedangkan simulasi rancangan digambarkan dalam gambar 3-3 dan 3-4.4.00 m2        32.00 m2        371. metropolitan dan pusat kota.00 m2         6. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 3.60 m2        246.10 m2          9. Beberapa kemungkinan harus dipertimbangkan sehubungan dengan lokasi bangunan PIP2B.83 m2      464.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2       32.10 m2           9.00          8.30 m2         92.13 m2 3.00        32.00 m2        27.00 m2       60.00          6.00 m2       20.00 m2         36. Perhitungan kebutuhan luas tapak bangunan dan penentuan luas lahan minimum untuk kedua alternatif diatas dapat dilihat pada tabel 3-9 dan 3-10.83 m2      949.00 m2           6.

00         1.13 m2 3.74                68.10                     5.38         3.13            569.100 m2 70% thd luas total 30% thd luas lahan     642.00            9.49            2.028.74                68.70                   30.28         2.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 27 .395.13                      0.48            350.13 m2          920 m2 100% thd luas total 30% thd luas lahan     949.77 m2       3.20            125.00                40.00 0.25 m2 2.00                   34.00 0.00            958.45 Kapasitas Alternatif Bangunan 2 lantai Total Lantai Bangunan Bangunan Lantai Dasar thd total lantai Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (2lt) Satuan Luas 60%         500.13            350.10 Penentuan Luas Lahan Minimum Bangunan PIP2B Luas Total Lantai Bangunan Alternatif Bangunan PIP2B 1 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Alternatif Bangunan PIP2B 2 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Perkiraan Luas Luas Minimum     949.163.211.70 Tabel 3.00          25.00                40.00          50.00            9.8               3.70         500.00          25.Tabel 3.70                   30.00 40%                  949.8               2.00            284.20            125.49            2.395.00          50.00                   34.00 40%                      0.83 m2       2.45 Jumlah Luas            949.10                     5.028.00            284.9 Perhitungan Kebutuhan Luas Tapak Bangunan PIP2B Kapasitas Alternatif Bangunan 1 lantai Total Lantai Bangunan Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (1 lt) Satuan Luas Jumlah Luas            949.140.

100 m2 Gambar 3.5 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 2 lantai dengan Luas Lahan Minimum 2.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 28 .Gambar 3.4 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 1 lantai dengan Luas Lahan Minimum 3.

Dalam dokumen pembiayaan pembangunan bangunan gedung negara terdiri atas: a.5 PERSYARATAN ADMINISTRASI Setiap bangunan gedung PIP2B harus memenuhi persyaratan administrasi baik dalam tahap pembangunan maupun tahap pemanfaatan sebagaimana bangunan gedung negara. Persyaratan administrasi bangunan gedung negara meliputi pemenuhan persyaratan: 1. dan Izin Penggunaan Bangunan dalam hal Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setempat. b. biaya perencanaan konstruksi. 4. DOKUMEN PEMBIAYAAN Setiap kegiatan pembangunan bangunan gedung PIP2B harus disertai/memiliki bukti tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundangan yang berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen lainnya yang dipersamakan. PERIZINAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perizinan yang berupa: Izin Mendirikan Bangunan. 3. Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah Instansi/lembaga pemerintah/negara yang bersangkutan. 2. DOKUMEN PERENCANAAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perencanaan. termasuk surat penunjukan/penetapan Pimpinan Proyek. biaya pengelolaan proyek. baik yang dihasilkan oleh Penyedia DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 29 . d. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi. yang dihasilkan dari proses perencanaan teknis. biaya pelaksanaan konstruksi fisik. STATUS HAK ATAS TANAH Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki kejelasan tentang status hak atas tanah lokasi tempat bangunan gedung PIP2B berdiri.3. c. Kejelasan status atas tanah ini dapat berupa hak milik atau hak guna bangunan.

asistensi terhadap instansi pemerintah pusat harus dilakukan. As built drawings (gambar sesuai yang dilaksanakan) disertai gambar leger. 6. dan Sertifikat Penjaminan atas Kegagalan bangunan sesuai ketentuan yang berlaku.Jasa Perencana Konstruksi atau Tim Swakelola Perencanaan. hasil uji coba/test run operational. dan As Built Drawings. Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi. Fotokopi sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah. b. Izin Mendirikan Bangunan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 30 . DOKUMEN PENDAFTARAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pendaftaran untuk pencatatan dan penetapan HDNO meliputi: a. 5. d. c. Fotokopi Dokumen Pembiayaan/DIP (otorisasi pembiayaan). Berita Acara Serah Terima I dan II. f. e. Dokumen Pelelangan. Di dalam proses perencanaannya. Fotokopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). dan Surat Izin Penggunaan Bangunan (IPB) dalam hal Peraturan DaerahKabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB. Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan. DOKUMEN PEMBANGUNAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pembangunan yang terdiri atas: Dokumen Perencanaan.

Jarak Bebas Bangunan Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 31 . Peruntukan Lokasi Bangunan PIP2B harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota yang bersangkutan. yaitu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan.1 KESESUAIAN TATA BANGUNAN DENGAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN PERATURAN DAERAH Persyaratan tata bangunan dan lingkungan meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan PIP2B dari segi tata bangunan dan lingkungannya.00 meter serta harus mempertimbangkankan hal-hal seperti: • • • • Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Kenyamanan. yaitu: a. termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan. maka bangunan PIP2B merupakan bangunan tunggal (freestanding) dengan jarak bebas antara blok/masa bangunan dengan batas lahan minimum adalah 4.1 PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 4. b. Kesehatan. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan.bab 4   KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B 4.1.

• Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat. Mengingat bangunan gedung PIP2B memiliki fasilitas pelayanan masyarakat di lantai dasarnya. KDB maksimum adalah 60%. Ketinggian bangunan Ketinggian bangunan PIP2B. maka bangunan PIP2B mengikuti ketentuan berikut KDB merupakan perbandingan antara luas seluruh perkerasan di lantai dasar dengan luas lahan.00 meter. GSB dan KDH mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung untuk lokasi yang bersangkutan. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi.50 meter. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Koefisien Daerah Hijau (KDH) Ketentuan besarnya KDB. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). maka diusulkan ketinggian langit-langit minimum di Lantai Dasar adalah 3. d. GSB minimum bangunan PIP2B adalah 7.c. maksimum adalah 3 lantai. • GSB merupakan jarak tepi ruas jalan dengan bangunan terluar. Parkir. Ketinggian langit-langit Ketinggian langit-langit bangunan PIP2B minimum di setiap lantai adalah 2. termasuk didalamnya: o o o o o • Lantai Dasar Bangunan (maksimum 30% dari Luas Lahan) Ruang Pamer Outdoor Sirkulasi dan Parkir Kendaraan (mobil dan motor) Sirkulasi.80 meter dihitung dari permukaan lantai. dan Ramp bagi Penyandang Cacat Jalur Pedestrian KDH merupakan perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan yang harus digunakan sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. KLB. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 32 . Koefisian Lantai Bangunan (KLB). e. KDH minimum dari bangunan PIP2B adalah 40%.

Sirkulasi dan Parkir Kendaraan & Penyandang Cacat dan Jalur Pedestrian 4. • Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. keterbukaan (mengundang untuk masuk). Penempatan massa bangunan arsitektur berorientasi terhadap arah sinar matahari dan iklim setempat. Bangunan khususnya lantai dasar harus memperlihatkan sebagai bangunan yang ramah kepada publik dengan memperlihatkan kejelasan arah jalan masuk.Gambar 4.1 Simulasi Rancangan Tapak: memperlihatkan KDB maks 60%. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. • Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. Lantai Dasar maks 30%. Ruang Pamer Outdoor. serta elemen-elemen dan material yang mempermudah untuk berorientasi menuju maupun di dalam bangunan. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau panutan bagi lingkungannya. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 33 .1.2 PERSYARATAN ARSITEKTUR a. Persyaratan Keserasian dengan Lingkungan • Bangunan PIP2B harus serasi dengan lingkungannya.

29/PRT/M/2006) • Dalam hal denah bangunan berbentuk T. • • Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. • Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan segala sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam rencana tata ruang. dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut.• Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. L. Bentuk denah bangunan gedung sedapat mungkin simetris dan sederhana. guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa.2 Bentuk denah bangunan gedung (PerMen PU no. Gambar 4. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 34 . atau U. maka harus dilakukan pemisahan struktur atau dilatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa atau penurunan tanah.

art-work (benda seni). dan penggunaan elemen-elemen yang mengandung identitas lokal harus merupakan bagian yang menyatu dengan arsitektur bangunan PIP2B. maupun elemen interior.b. untuk memberikan citra keterbukaan era informasi sekaligus memperlihatkan kegiatan pameran indoor dan outdoor kepada publik. Kriteria-kriteria dasar yang harus dipenuhi dalam ekspresi bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: • • Wujud arsitektur mencerminkan fungsi bangunan PIP2B sebagai bangunan pusat informasi yang modern dan mencerminkan teknologi bangunan terkini. Gambar 4. Kreatifitas dan inovasi disain sangat dianjurkan dalam mewujudkan kearifan lokal pada bangunan PIP2B. • Ekspresi kekinian bangunan tidak boleh mengabaikan kaidah-kaidah dasar Arsitektur Tropis. kearifan lokal dapat diwujudkan melalui penggunaan ornamen di dalam lansekap. • Kearifan lokal harus dihargai. Persyaratan Ekspresi dan Wujud Arsitektur Setiap arsitektur bangunan PIP2B memiliki kebebasan dalam berekspresi dan menentukan wujud arsitekturnya. namun tidak menutup kreatifitas dan inovasi disain dalam mewujudkan Arsitektur Tropis yang modern. Fasade bangunan harus cukup transparan terutama di lantai dasar.3 Simulasi Rancangan Berbagai Ekspresi Arsitektur Bangunan PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 35 . Dalam konteks bangunan dengan ekspresi modern.

granit tile. aluminium. celcon atau hebel. • Bahan kosen dan daun pintu/jendela: kayu minimum kelas kuat II. Bahan penutup atap: genteng beton. 4. atau kaca dengan kosen aluminium. Persyaratan Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan diupayakan secara mayoritas merupakan bahan bangunan setempat dan produksi dalam negeri. keramik. Persyaratan Teknis • Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang pintu/ jendela diusahakan sedapat mungkin pada sumbu-sumbu denah bangunan mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat gempa DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 36 . atau rangka hollow besi.3 PERSYARATAN TATA RUANG DALAM Beberapa kriteria dalam menata ruang dalam bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: a. disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. Kriteria utama adalah durabilitas (keawetan) bahan bangunan sebagai material bangunan publik. disesuaikan dengan fungsi dan ekspresi bangunan. vynil. Bahan penutup langit-langit: kayu lapis. panel gypsum/GRC dan/atau panel aluminium dengan rangka hollow besi. yang disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. dan panel GRC. gypsum. • Bahan dinding pengisi: batu bata.1. atau bondek cor. Beberapa contoh bahan bangunan yang dapat digunakan adalah: • • Bahan penutup dinding fasade bangunan: marmer. sirap. kaca dengan rangka kayu atau aluminium. • • • Bahan kerangka langit-langit: rangka kayu minimum kelas kuat II di anti rayap. marmer. dak beton dengan lapisan kedap air. termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari sistem fabrikasi komponen bangunan. Bahan penutup lantai: ubin PC. akustik. dan sejenis. serta penampilan yang sesuai dengan fungsi dan ekspresi yang diinginkan. papan kayu dengan tingkat kekuatan dan keawetan tinggi. parket. batu alam. beton pracetak. teraso. maupun karpet. GRC atau sejenis. genteng keramik. batu alam.c.

 Display R. Zona Publik dan Privat • Didalam mengelola fasilitas PIP2B dan melakukan kegiatan kerja sehari-hari. Tabel 4. • Permukaan lantai dari lantai dasar harus: o o Sekurang-kurangnya 15 cm di atas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan Sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan.80 meter dihitung dari permukaan lantai. b. yaitu sangat publik. Rapat Ruang Kerja Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 37 . Ketinggian langit-langit minimum di lantai dasar adalah 3. Sedangkan ketinggian langit-langit minimum untuk ruang-ruang lainnya adalah 2. Asosiasi Profesi R.50 meter.• • Ruangan di dalam bangunan harus memiliki tinggi yang cukup untuk fungsifungsi yang sesuai. publik. diperlukan pemisahan pemisahan zona pelayanan (publik) dan zona ruang kerja (privat) agar dapat dicapai tingkat privasi yang cukup bagi staff PIP2B.1 Karakteristik Ruang berdasarkan tingkat privasi KARAKTERISTIK  Sangat Publik Publik           Semi Publik     Privat           Publik     Privat                 RUANG  Pameran Indoor R. semi publik dan privat (Tabel 4-1). • Terdapat 4 jenis ruang menurut tingkat privasinya. mengingat lantai dasar mewadahi kegiatan pelayanan publik. maupun staff Asosiasi Profesi yang ditempatkan di bangunan ini. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R.

4 Simulasi Rancangan yang mengakomodasi Ruang Pelayanan Publik di Lantai Dasar dan Privasi bagi staff PIP2B dan Asosiasi Profesi di Lantai Atas c.ZONA DI LT. DASAR ZONA DI LT. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 38 . Efisiensi Flow Bangunan Yang termasuk dalam efisiensi flow bangunan adalah persyaratan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan yang sesuai dengan fungsi bangunan sebagai sebuah Pusat Informasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. ATAS Gambar 4. tata ruang dalam bangunan PIP2B harus sederhana. jelas dan memberikan kemudahan orientasi bagi pengunjung yang akan memakai sarana dan fasilitas publik di dalam bangunan.

Gambar 3. pameran outdoor dan koridor menuju ruang kerja. maupun pencahayaan buatan secara merata dan setempat. Penghawaan alami harus dapat berfungsi agar konservasi energi dapat dicapai pada kondisi sehari-hari. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 39 . dsb) harus terintegrasi dengan kenyamanan ruang gerak secara ergonomis sesuai dengan fungsi ruangan. Lebih baik lagi apabila dari ruang pameran indoor dapat dicapai sarana publik lainnya. seperti ruang perpustakaan. Ruang Pameran Indoor dapat sekaligus mengakomodasi fungsi lobby dan Ruang Display Permanen. ruang display dan audiovisual. Ruang Pameran Indoor harus memiliki pencahayaan alami yang cukup. • Persyaratan ergonomis pada masing-masing ruangan adalah sbb: 1. Pengkondisian udara dapat berfungsi pada saat udara termal alami tidak pada batas yang nyaman. Ruang Pameran Indoor Ruang Pameran Indoor merupakan ruang serba guna dengan luas ruangan sekitar 180-200 m2 yang dapat mengakomodasi materi-materi pameran keciptakaryaan di dalam bangunan. Ruang Pameran Indoor merupakan sarana pelayanan publik yang pertama dijumpai oleh pengunjung di bangunan PIP2B. rak buku. Minimal memiliki akses kepada pintu utama. Persyaratan Ergonomis Ruangan • • Tata ruang dalam bangunan harus dapat memberikan suasana yang tepat dan sesuai dengan fungsi ruangan Tata letak perabotan (meja kerja. kursi. ruang konsultasi. elibrary.1 Beberapa simulasi rancangan lay-out tata ruang dalam yang mengakomodasi flow pengunjung yang efisien d.

dengan jalur dari ruang server hingga ruang e-library. Perabot standar set komputer. Satu set working station dapat terdiri dari 1 unit.30 meter Lebar rak buku minimal 40 cm Ketinggian rak buku maksimal 2. Pameran Indoor 2.00 meter harus dapat mengakomodasi sistem pencarian data E-library ƒ perpustakaan secara elektronik.25 meter Ukuran standar meja baca adalah 0.5 Simulasi R. meja dan kursi disebut modul working station. 2 unit. Ruang Perpustakaan & E-Library Ruang Perpustakaan harus dapat mengakomodasi koleksi buku-buku keciptakaryaan. dilakukan penaikan lantai (raised floor) atau penetapan jalur kabel LAN melalui sirkuit yang terlindungi (race way) dan dapat dibuka dan ditutup setiap waktu. Standar ruangan yang harus diperhatikan adalah: ƒ ƒ ƒ ƒ Jarak minimum koridor diantara rak buku adalah 1. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 40 . Untuk memudahkan perawatan berkala komputer.70 x 1. 3 unit maupun 4 unit modul tergantung kondisi ruangan.Gambar 4. ƒ ƒ Seluruh kabel LAN harus tersembunyi dengan rapih pada tempat yang disediakan secara khusus.

6 Simulasi Rancangan Ruang Perpustakaan & ELibrary DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 41 . STANDAR LEBAR KORIDOR DAN TINGGI RAK BUKU STANDAR MEJA BACA MODUL WORKING STATION Simulasi jalur kabel LAN pada lokasi plint dinding Gambar 4.Pengawasan ruang perpustakaan dan e-library dapat dilakukan pada satu titik counter pengawas sekaligus librarian.

Alternatif kedua. Ruang Display & Audiovisual Ruang Audiovisual dapat direncanakan dalam dua alternatif. yaitu sekitar 45 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 42 . ruang audiovisual dirancang permanen dengan kapasitas secukupnya. yaitu sekitar 90 m2 yang dirancang untuk dapat dibagi menjadi 2 ruangan. maupun digunakan sebagai ruang display pada event tertentu yang membutuhkan fasilitas audiovisual. Sehingga dapat digunakan sebagai 2 ruangan audiovisual yang dapat digunakan bersamaan. ruang audiovisual merupakan ruang yang cukup luas.7 Simulasi Rancangan Jalur kabel LAN untuk menunjang sistem data serta kemudahan dalam perawatan 3.Gambar 4. Alternatif pertama.

sehingga keberadaan gudang untuk menyimpan perabotan meja dan kursi mutlak diperlukan. Ruang Audiovisual alternatif 1 Alternatif ruangan 1 ketika menjadi 2 Ruang Audiovisual alternatif 2 4. Kedua alternatif harus berdekatan dengan ruang operator untuk kemudahan operasional.Kedua alternatif harus dapat secara fleksibel menjadi ruang diskusi dengan tipe teater maupun kelas. Ruang Kerja Ruang Kerja dengan total luas sekitar 220 m2 terdiri atas: ƒ Ruang Pimpinan ƒ Ruang Sekretaris ƒ Ruang Tunggu ƒ Ruang Kepala Staff 5 unit ƒ Ruang Staff 11 unit ƒ Ruang Staff IT 1 unit ƒ Ruang Arsip ƒ Ruang Konsultasi 1-2 unit DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 43 .

dengan lemari arsip dan satu set meja rapat yang dapat digunakan bersama.ƒ Ruang Petugas Perpustakaan & E Library 1-2 unit ƒ Ruang Rapat Total area ruang kerja menampung 23 orang Gambar 4. Simulasi Rancangan Ruang Asosiasi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 44 . Ruang Asosiasi Profesi Ruang asosiasi profesi dengan luas sekitar 50 m2 dapat menampung 6 staff asosiasi.8 Simulasi Rancangan Ruang Kerja 5.

6. dan 3) prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 45 . dan penggunaan bahan bangunan. dapat dilakukan dengan alat penkondisian udara yang mempertimbangkan: 1) fungsi bangunan gedung/ruang. jenis peralatan. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara yang ideal didalam ruangan. 2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan. Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara dalam Ruang Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. Ruang Penunjang Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Publik Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Staff e. orientasi bangunan. jumlah pengguna. letak geografis. volume ruang.

Dari dan di Dalam Bangunan PIP2B • Persyaratan Kemudahan Hubungan Horizontal dalam Bangunan PIP2B 1. Persyaratan Hubungan Ke. Bangunan PIP2B harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut. 5. atau edisi terbaru. dan jenis pintu. 2) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung. dan jumlah pengguna ruang. 2. atau yang belum mempunyai SNI. Jumlah. 4. termasuk penyandang cacat dan lansia. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang.Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mengikuti: 1) SNI 03-6389-2000 Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. fungsi ruang. dan nyaman bagi semua orang. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. f. dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. ukuran. 3. Kemudahan hubungan ke. atau edisi terbaru. 3) SNI 03-6196-2000 Prosedur audit energi pada bangunan gedung. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. 4) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 46 . aman. dari. dan jumlah pengguna. fungsi ruang.

Gambar 4.9 Simulasi Rancangan Tapak memperlihatkan tersedianya fasilitas dan aksesibiitas yang mudah. aman dan nyaman bagi semua orang untuk mencapai fasilitas di dalam bangunan Gambar 4. Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut berupa tersedianya tangga dengan disain dan ukuran sesuai standar yang berlaku DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 47 .10 Simulasi Rancangan Lantai Dasar memperlihatkan kemudahan hubungan horizontal dengan tersedianya pintu dan koridor yang memadai • Persyaratan Kemudahan Hubungan Vertikal dalam Bangunan PIP2B 1.

tempat parkir. setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung. serta jumlah pengguna bangunan gedung Persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung harus mengikuti: 1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.2. tepat sampah. toilet. ruang ganti. atau edisi terbaru.11 Simulasi Rancangan Tangga dengan ketinggian anak tangga 18 cm dan lebar pijakan tangga 30 cm g. luas bangunan. 2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Gambar 4. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 48 . serta keselamatan pengguna bangunan gedung. atau edisi terbaru. serta fasilitas komunikasi dan informasi. ruang bayi. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan gedung. ukuran. meliputi: ruang ibadah. dan jumlah pengguna ruang. dan konstruksi sarana hubungan vertikal tangga harus berdasarkan fungsi bangunan gedung. Persyaratan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pemanfaatan Bangunan Gedung Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya. Jumlah.

3) SNI 03-6573-2001 Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). RTHP berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 49 . Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah. peresapan air. atau yang belum mempunyai SNI. 6. gunung dan sebagainya. atau edisi terbaru. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan PIP2B dan terletak di dalam persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). 4. tiang bendera. vegetasi besar/pohon. keserasian dan keselarasan dengan lingkungan bangunan PIP2B adalah perlakuan terhadap lingkungan di sekitar bangunan PIP2B yang menjadi pertimbangan penyelenggaraan bangunan.1. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan seperti dari bahaya banjir. orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. sirkulasi. 3. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut.4 PERSYARATAN LANSEKAP Keseimbangan. sungai besar. bak sampah dan papan nama bangunan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. unsur-unsur estetik. a. 5. Setiap perencanaan bangunan PIP2B yang baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Persyaratan Ruang Sempadan Bangunan 1. Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP) 1. pohon-pohon menahun. 2. budaya. b. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. Keserasian tersebut antara lain mencakup pagar dan gerbang. 4. baik dari segi sosial. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. bangunan penunjang seperti pos jaga. tanah dan permukaan tanah. sungai. maupun dari segi ekosistem.

e. batang dan cabangnya rapuh. 2. ruang sempadan depan bangunan. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. 2. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. Hijau Pada Bangunan 1. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Penggunaan tanaman khas lokal sangat dianjurkan dalam rangka meningkatkan identitas lokal. 4. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan caracara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. 3. d. jalur pejalan kaki. Tata Tanaman 1. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 50 . tiang telepon di kedua sisi jalan/ruas jalan yang dimaksud. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. pagar. kestabilan tanah/wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. c. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya.2. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. air. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1.

Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. 10. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi.2 PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN Persyaratan struktur bangunan gedung PIP2B meliputi persyaratan struktur bangunan gedung. 7. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. 4. 11. Bangunan PIP2B diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. 6. 3.2. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Elemen pedestrian (street furniture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. 8. aman. 9. struktur bawah bangunan gedung. guna mendukung sistem sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. dan ruang terbuka umum. penghijauan. struktur atas bangunan gedung. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. dan kendaraan pelayanan lainnya. dan keandalan bangunan gedung. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 51 . dan kejelasan kontinuitas pedestrian. 4. nyaman. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. dan memberikan pemandangan yang menarik. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). pembebanan pada bangunan gedung. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. ramburambu. papan informasi sirkulasi. 5.

beban sementara (angin. angin. 4. jamur. dan serangga perusak. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). • Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. • Perencanaan dan pelaksanaan perawatan struktur bangunan gedung seperti halnya penambahan struktur dan/atau penggantian struktur struktur.4. kokoh. dan (2) SNI 03-1727-1989 Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan gedung. keawetan. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. sesuai harus dengan mempertimbangkan persyaratan keselamatan pedoman dan standar teknis yang berlaku.2. • Dalam perencanaan struktur bangunan gedung terhadap pengaruh gempa.2. termasuk beban tetap. lokasi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 52 . • Penentuan mengenai jenis. intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti: (1) SNI 03-1726-2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri. pengaruh korosi.2 PEMBEBANAN PADA BANGUNAN GEDUNG • Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. semua unsur struktur bangunan gedung. • Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur.1 STRUKTUR BANGUNAN • Setiap bangunan gedung PIP2B. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. gempa) dan beban khusus.

air. pencetakan. agregat. sampai pada tahap penyimpanan.2. bahan. atau edisi terbaru. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan bahan secara lengkap tercantum dalam SNI 03-3449-2002 meliputi proses pengujian. atau edisi terbaru. kualitas. Adapun prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam membangun gedung PIP2B dengan ketinggian maksimal 2 lantai adalah sebagai berikut : 1. atau edisi terbaru. 4. baja tulangan. dan bahan tambahan). (2) SNI 03-2847-1992 Tata cara penghitungan struktur beton untuk bangunan gedung. atau edisi terbaru. pencampuran. pemilihan bahan (semen. atau yang belum mempunyai SNI. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus mengikuti: (1) SNI 03-1734-1989 Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. Tata cara pengadukan pengecoran beton.Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. (4) SNI 03-3976-1995 atau edisi terbaru. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. (5) SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal.3 STRUKTUR ATAS BANGUNAN GEDUNG a. keawetan. sampai pada tahap pelindungan dan pelaksanaan. Berikut ini adalah persyaratan yang harus diperhatikan dalam pemilihan penggunaan air pada campuran beton menurut SNI 03-3449-2002 : DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 53 . (3) SNI 03-3430-1994 Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. dan (6) SNI 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. Pemilihan dan Penggunaan Bahan • Air Air berfungsi sebagai pencampur bahan-bahan beton. pengecoran. Tata cara pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung mencakup hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan yang meliputi struktur. Air yang telah bercampur dengan semen akan mengalami persenyawaan yang berfungsi sebagai perekat antar senyawa. atau edisi terbaru.

tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. o o Tulangan dengan Ø ≤ 12mm dipakai BJTP 24 (polos). garam. dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70% diameter nominalnya. 3) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton. yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ). atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 54 . termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat. dan lapisan-lapisan yang dapat mengurangi daya lekat. retakan. asam. dan untuk tulangan dengan Ø > 16mm memakai BJTD (deform) bentuk ulir. dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5% diameter nominalnya. (2) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji morta yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. serpihan. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa. karat. • Baja Persyaratan baja tulangan yang akan digunakan adalah sebagai berikut: Baja tulangan harus bebas dari lipatan. sisik. 2) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium. kecuali ketentuan berikut terpenuhi: (1) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. Kualitas dan diameter nominal baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium.1) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli. o Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur)harus digunakan baja tulangan doform (BJTD). yang prinsipnya nilai kuat-leleh dan berat per meter panjang bahan tulangan yang dimaksud. bahan organik. terkecuali pada air pencampur. alkali.

10 cm pada bagian tumpuan sepanjang ¼L. Pada ujung tulangan harus diberi kait 90˚. dan sisanya jarak begel 15 cm. Kedudukan tulangan harus vertikal. sambunganya tidak boleh satu tempat (disalang-seling). atau d = 12. Pada tahap penyetelan tulangan.5 cm. tidak boleh satu sisi/segaris. dan diameternya sesuai dengan gambar. tulangan yang akan dipasang disesuaikan dengan jenis tulangan berdasarkan RKS dan gambar kerja yang ada.9029 √B. Tulangan pokok jumlah. diikat bendrat dengan kuat.o Diameter nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut yang ditentukan dengan rumus : d = 4. Hal yang diperhatikan dalam proses penulangan kolom antara lain : • Pembuatan begel diperhitungkan selimut beton (beton decking) 2. Tulangan pokok satu dengan lainnya harus berjarak minimal sama dengan diameternya. baik itu jenis dimensi dan jumlah tulangannya. Pekerjaan Kolom Proses pekerjaan kolom melalui beberapa tahap.47 √G d = diameter nominal (mm) B = berat baja tulangan (N/mm) G = beraT baja tulangan (Kg/mm) o Toleransi berat batang contoh yang diijinkan di dalam pasal ini sebagai berikut : Diemeter tulangan baja tulangan Ø < 10 mm 10 mm < Ø < 16 mm 16 mm < Ø < 28 mm Ø > 28 mm Toleransi berat yang diijinkan ±7% ±6% ±5% ±4% Tabel 4.3 Toleransi berat yang diijinkan 2. Jarak tulangan begel yang diikat dengan tulangan kolom. • • Penempatan kait begel selang-seling. Setiap pemasangan besi kolom harus diakhiri dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 55 . dimulai dari penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan finishing. Pemasangan begel harus siku dengan tulangan pokok. posisi.

Sambungan tidak boleh satu tempat. Jarak tulangan pokok baris kesatu denga kedua dibuat sebesar diameternya. harus diberi jarak minimum=diameter tulangannya. Tulangan harus terselimuti beton secara simetris dengan tebal 3 cm.pemasangan beton tahu sebelum di bekisting. Jarak tulangan begel yang dekat tumpuan 10 cm sejauh ¼ L. Pada ujungnya harus diberi kait 45˚-90˚. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 56 . Gambar 4. dan posisi sesuai dengan gambar. • Tulangan pokok. jumlah. yang ditengah berjarak 15 cm. yaitu dimulai dari tahap penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan perawatan. kedudukannya harus lurus horisontal. diameter. Antar tulangan tidak boleh bersinggunagn. Penempatan kawat begel selang-seling tidak boleh satu sisi. Setiap pemasangan tulangan segera diberi tahu beton. memperhitungkan selimut beton decking 2. Pekerjaan Balok Pekerjaan balok dilakukan apabila pekerjaan penulangan kolom sudah selesai dilakukan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan penulangan balok adalah sebagai berikut : • Pada pembuatan begel.5 cm.13 Detail Kolom 3. Pemasangan begel siku-siku terhadap tulangan pokok/vertikal diikat dengan bendrat pada tulangan pokok.

Sebelum dipasang BRC terlebih dahulu dibersihkan dari karat. Pada pemasangannya BRC bertumpu pada beton decking setebal 7 cm.14 Detil Penulangan Balok 4. Pembuatan lantai kerja dilakukan selama 3 hari. berfungsi untuk mengatur ketebalan pengecoran. pasir.Gambar 4. Pekerjaan Pelat Lantai Pekerjaan pelat lantai melalui beberapa tahapan yaitu : • • • • • • • • • • Pengurugan pasir Urugan berupa berupa pasir dan batu dengan ketebalan 10 cm. Coating Pekerjaan waterproofing Pemasangan kawat mesh Screed Pemasangan bekisting Penulangan Penulangan lantai ada 2 cara. Beton decking tebuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 3. Hal-hal yang perlu 57 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Pembuatan lantai kerja Bahan pembuatan lantai kerja berupa semen. karena 10/4=25<4 berdasarkan persyaratan ly/lx<lx. yaitu secara manual dan dengan menggunakan BRC M 8 berukuran 510 cm x 210 m. Penulangan pada pelat lantai dilakukan dengan dua arah. Antara BRC satu dengan lainnya diikat dengan bindraat dan saling overlap 1 kotak. dan kerikil dengan perbandingan 1 : 3 : 5.

Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti: (1) SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. Selimut beton decking 1. Tulangan pelat tidak boleh diikat dengan tulangan balok. air kotor.5 cm dipasang 5 buah tiap m². Setiap persilangan tulangan pokok diikat dengan tulangan balok dengan kawat bendrat. AC.5 cm (jarak tulangan atas dan bawah 9 cm). Oleh karena itu. air bersih. tidak ada standar baku ukuran yang dapat menjadi sebuah patokan untuk bangunan gedung PIP2B ini.diperhatikan dalam pekerjaan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : • • • • • • Diameter tulangan polos 10 mm. jarak antar tulangan 20 cm as ke as. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau edisi terbaru. akses untuk LCD). (3) Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. Pada daerah tumpuan diberi kursi/kuda-kuda setiap jarak 50 cm. atau yang belum mempunyai SNI. stek penggantung plafon. • • • Pemasangan shear connector Pengecoran Perawatan Gambar 4. dan (4) Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Konstruksi Baja Prinsip dasar penggunaan konstruksi baja membutuhkan perhitungan yang spesifik dan akurat tergantung bentang dan luasan bangunan. stop kontak. (2) Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. Jarak sisi luar atas tulangan tumpuan dengan telasaran papan triplek sebesar 10.15 Detil Penulangan Pelat Lantai b. Sebelum pengecoran semua sparing pipa listrik (lampu. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 58 . Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. harus sudah terpasang semua.

Berikut ini adalah gambar contoh simulasi sederhana potongan portal dan detail sambungan baja untuk bangunan dengan ketinggian maksimal 2 lantai : Gambar 4.17 Potongan Portal konstruksi baja Gambar 4.18 Detail sambungan baja DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 59 .

2.c. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. (3) Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 60 . berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus mengikuti: (1) SNI 03-2407-1994 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. (3) Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau edisi terbaru. 4. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. atau yang belum mempunyai SNI.4 STRUKTUR BAWAH BANGUNAN GEDUNG • Pondasi Langsung (1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. dan (3) Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. • Pondasi Dalam (1) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah. (2) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. (4) Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek.

(7) Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi. harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. atau yang belum mempunyai SNI. (3) Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala seDRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 61 . 4. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. (5) Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random.5 KEANDALAN SRTRUKTUR BANGUNAN GEDUNG • Keselamatan Struktur (1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. (8) Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal. harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. (4) Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. (9) Apabila perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak.percobaan pembebanan. (6) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung harus memperhatikan gangguan yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan pada masa pelaksanaan konstruksi. (2) Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung.2. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.

termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. (2) Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.3. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 62 . atau yang belum mempunyai SNI. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.suai klasifikasi bangunan. pencahayaan. 4. • Persyaratan Bahan (1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan.3 PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN Persyaratan utilitas bangunan PIP2B meliputi persyaratan sistem penghawaan. Hall. dan sanitasi. Sistem cross ventilasi yang memadai. 4. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Tangga. (3) Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. dan Toilet. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. komunikasi dalam bangunan.1 PERSYARATAN SISTEM PENGHAWAAN • Setiap bangunan PIP2B harus dapat menjadi contoh yang memperlihatkan kinerja ventilasi alami beserta ventilasi mekanik/buatan yang menyesuaikan dengan iklim setempat • • Bangunan harus memiliki bukaan permanen dan/ atau kisi-kisi yang dapat dibuka dan ditutup untuk kepentingan ventilasi alami yang dapat dikendalikan. kemampuan bangunan terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan. dan/ atau jarak lantai ke ceiling yang cukup tinggi digunakan terutama pada ruangan Pameran Indoor.

R. PAMERAN INDOOR

TOILET

R. PAMERAN INDOOR

Gambar 4- 19 Simulasi Penggunaan Void yang meningkatkan cross ventilasi pada ruang public

Penggunaan sistem penghawaan alami merupakan salah satu upaya konservasi energi dengan mengurangi beban energi yang digunakan untuk menyalakan ventilasi buatan (AC) pada kondisi sehari-hari apabila memungkinkan. Ruang pameran indoor, ruang kerja dan ruang rapat, harus dapat digunakan dengan penghawaan alami maupun buatan.

Bangunan PIP2B harus dapat memberikan contoh perancangan sistem penghawaan yang sehat pada ruang-ruang toilet, terutama toilet publik.

TOILET LT. DASAR

TOILET LT. ATAS

Gambar 4- 20 Simulasi Sistem Penghawaan yang sehat pada ruang-ruang Toilet
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

63

• •

Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan, maka diperlukan ventilasi mekanis yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran. Ruang-ruang yang harus menggunakaan pengkondisian udara buatan adalah perpustakaan, e-library, ruang server & IT, dan audio visual.

Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, harus mengikuti: a) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung; b) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; c) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi; d) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi mekanis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
Tabel 4- 4 Kebutuhan Laju Udara Ventilasi berdasarkan SNI 03-6572-2001

Fungsi Ruang Kerja Ruang Pertemuan WC Umum

Kerapatan Penghunian per 100m2 Luas Lantai 7 orang 60 orang 100 orang

Kebutuhan Udara Luar Merokok Tidak Merokok                    0.30                     0.15                    1.05                     0.21                    2.25                     3.25

Satuan m3/min orang m3/min orang m3/min orang

4.3.2

PERSYARATAN SISTEM PENCAHAYAAN
Setiap bangunan gedung untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. • Bangunan PIP2B sebagai bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan yang memadai untuk pencahayaan alami.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

64

• Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan PIP2B dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan gedung.
Bukaan bagi pencahayaan ruang pameran indoor alami

Bukaan bagi pencahayaan ruang-ruang kerja

alami

Gambar 4- 21 Simulasi Sistem Pencahayaan Alami Bangunan PIP2B

• Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan gedung dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
Tabel 4- 5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang direkomendasikan
Fungsi  Ruangan Tingkat Pencahayaan Kelompok Renderasi Keterangan (lux) Warna Ruang Direktur 350 1 atau 2 Ruang Kerja 350 1 atau 2 Menggunakan armatur berkisi Ruang Komputer 350 1 atau 2 untuk mencegah silau akibat  pantulan komputer Ruang Rapat 300 1 atau 2 Gudang Arsip 150 3 atau 4 Ruang Arsip Aktif 300 1 atau 2 Ruang Audio visual 100 1 Sistem pengendalian pencahayaan Perpustakaan 300 1 atau 2
sumber: SNI  03‐6575‐2001 tentang  Ta ta  Cara  Perancanga n  Si stem  Pencaha yaan  Buatan  pada  Bangunan  Gedung

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

65

3) SNI 03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung.0                                    1. atau yang belum mempunyai SNI.0                                  15.0                                    1. • Pencahayaan alami dan buatan diterapkan pada ruangan baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan gedung. pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 66 .• Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan gedung dengan fungsi tertentu. atau edisi terbaru.0                                  15. serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang. atau edisi terbaru. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Persyaratan pencahayaan harus mengikuti: 1) SNI 03-6197-2000 Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung. atau edisi terbaru. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.0                                  25. Tabel 4. harus dilengkapi dengan pengendali manual. serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. 2) SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung.3 PERSYARATAN KOMUNIKASI DALAM BANGUNAN GEDUNG Persyaratan komunikasi dalam bangunan gedung dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar.0 sumber: SNI 03‐6759‐2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung 4. dan/atau otomatis.6 Daya Pencahayaan Maksimum Jenis Bangunan/ Ruangan Kantor Ruang Kelas Auditorium Gudang Pintu Masuk dengan Kanopi Gedung Kantor Taman Jalan untuk Kendaraan dan Pejalan Kaki Tempat Parkir Data Pencahayaan Maksimum Watt/m2                                  15.5                                    2.3. • Semua sistem pencahayaan buatan. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat.0                                    5.

penempatannya harus mudah diamati. • Perencanaan Komunikasi dalam Gedung (1) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komunikasi gedung dan lain-lainnya. kedap debu. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. sistem tata suara. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. (2) Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. (ii) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. (iii) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. (ii) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. terang. aman dan mudah dikerjakan. (iii) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. dioperasikan. dan lain-lain. tidak membahayakan. dll.lainnya. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 67 . sistem voice evacuation.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke bangunan gedung pada saat hujan dll. minimal berjarak 0. (3) Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Ruang yang bersih. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui • ambang batas yang ditentukan. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Instalasi Telepon (1) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Termasuk antara lain: sistem telepon. (2) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik.50 m x 0. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. tidak ada genangan air. (3) Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). dipelihara.

Beban listrik. dan pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir terhadap bangunan gedung secara efektif untuk proteksi terhadap petir serta inspeksi. Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan: i. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. ii. jaringan distribusi listrik. iv. Persyaratan Instalasi Proteksi Petir Persyaratan proteksi petir ini memberikan petunjuk untuk perancangan. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem proteksi petir pada bangunan gedung. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Sumber daya listrik. panel hubung bagi. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. dan perlindungan lingkungan.3. Persyaratan Sistem Kelistrikan Persyaratan sistem kelistrikan meliputi sumber daya listrik. v. 4.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PETIR dan BAHAYA KELISTRIKAN a. dan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 68 . Pemeriksaan dan pengujian. Perencanaan instalasi listrik. terang. vi. ii.(4) Ruang batere sistem telepon harus bersih. atau yang belum mempunyai SNI. Perencanaan sistem proteksi petir. dan iii. Transformator distribusi. keamanan gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat listrik. iii. instalasi. dalam upaya untuk mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang diproteksi. Jaringan distribusi listrik. Instalasi Proteksi Petir. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan bangunan gedung yang terjamin terhadap aspek keselamatan manusia dari bahaya listrik. keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya. b. termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan lainnya. Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut: i. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung.

atau edisi terbaru. Sistem Pengolahan dan Pembuangan Air Limbah/Kotor DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) sedangkan instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman 69 .3. Persyaratan plambing dalam bangunan gedung harus mengikuti: 1) Kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan Permenkes 907/2002. • • • Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi bangunan gedung. b. kualitas air bersih. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 2) SNI 03-6481-2000 Sistem Plambing 2000. atau yang belum mempunyai SNI. (3) SNI 04-7018-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga.5 PERSYARATAN SANITASI a. Pemeliharaan Persyaratan sistem kelistrikan harus mengikuti: (1) SNI 04-0227-1994 Tegangan standar. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. 3) Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau edisi terbaru. atau yang belum mempunyai SNI. Plambing. (4) SNI 04-7019-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin kualitas air. (2) SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2000). sistem distribusi. 4. dan penampungannya. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru.vii. Persyaratan Plambing Dalam Bangunan Gedung • Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air minum.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 70 . Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau edisi terbaru. • Air limbah domestik sebelum dibuang ke saluran terbuka harus diproses sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru. dan pemeliharaan sistem pembuangan air limbah dan air kotor pada bangunan gedung mengikuti standar baku serta ketentuan teknis yang berlaku. 2) SNI 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. Persyaratan Penyaluran Air Hujan • Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah. pemasangan. dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. Pertimbangan jenis air limbah dan/atau air kotor diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan.22 Simulasi Sistem Sanitasi Bangunan PIP2B c. permeabilitas tanah. 4) Tata cara perencanaan. atau edisi terbaru. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • • • Simulasi pemisahan sistem air bersih.• • Sistem pembuangan air limbah dan/atau air kotor harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. Persyaratan teknis air limbah harus mengikuti: 1) SNI 03-6481-2000 Sistem plambing 2000. atau yang belum mempunyai SNI. air kotor dan air limbah Shaft bagi sistem plumbing disediakan untuk memudahkan maintenance bagi sistem sanitasi bangunan Posisi toilet di lantai dasar berhubungan dengan posisi di lantai atas untuk mencapai sistem sanitasi yang efisien Gambar 4. 3) SNI 03-6379-2000 Spesifikasi dan pemasangan perangkap bau.

3) SNI 03-2459-2002 Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. pemasangan. d. atau edisi terbaru. atau yang belum mempunyai SNI. 4) Standar tentang tata cara perencanaan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 71 . dan/atau Pengolahan Sampah) • • Sistem pembuangan sampah padat direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya. Kecuali untuk daerah tertentu.• • Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. masyarakat dan lingkungannya. air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. • Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima. dan volume kotoran dan sampah. 2) SNI 03-2453-2002 Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. atau edisi terbaru. Persyaratan penyaluran air hujan harus mengikuti: 1) SNI 03-4681-2000 Sistem plambing 2000. atau edisi terbaru. jumlah penghuni. Penampungan Sampah. maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. • Pertimbangan jenis sampah padat diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni. dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung. Tempat Sampah. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan. • • Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Persyaratan Fasilitasi Sanitasi Dalam Bangunan Gedung (Saluran Pembuangan Air Kotor.

dan rancangan bentuk luar bangunan gedung. kaleng.3. Persyaratan Kenyamanan Pandangan • Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan (visual) harus mempertimbangkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunan ke luar dan dari luar bangunan ke ruang-ruang tertentu dalam bangunan gedung. atau yang belum mempunyai SNI. rancangan bukaan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. wadah plastik dan sebagainya. melalui pemakaian horizontal dan/atau vertical blind. tata ruang-dalam dan luar bangunan. tata ruang-dalam dan luar bangunan. kertas.23 Tempat sampah daur ulang • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. aluminium. kardus. 2) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya.6 PERSYARATAN KENYAMANAN a. • Kenyamanan pandangan (visual) dari luar ke dalam bangunan harus mempertimbangkan: 1) rancangan bukaan. Gambar 4. • Kenyamanan pandangan (visual) dari dalam bangunan ke luar harus mempertimbangkan: 1) gubahan massa bangunan. Dengan demikian harus disediakan tempat sampah untuk mendaur ulang. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 72 . memanfaatkan kembali beberapa jenis sampah seperti botol bekas. kertas koran. dan penggunaan elemen sunscreen.• Potensi reduksi sampah padat dapat dilakukan dengan mendaur ulang. dan rancangan bentuk luar bangunan. 2) pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan RTH. 4. dan 3) pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar.

dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. atau yang belum mempunyai SNI. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. yaitu Standar kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 73 . Getaran dapat berupa getaran kejut. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. b.Simulasi rancangan penggunaan sistem void memberikan kenyamanan pandang dari ruang kerja di lt atas ke arah ruang pameran indoor di lt dasar Simulasi rancangan penggunaan horizontal atau vertical blind untuk ruang kerja dapat mengurangi silau dan panas matahari tanpa mengurangi kenyamanan pandang ke arah luar bangunan • Untuk kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung harus dipenuhi persyaratan teknis. Persyaratan Kenyamanan terhadap Tingkat Getaran dan Kebisingan • Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. • Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan dan getaran pada bangunan gedung harus mengikuti persyaratan teknis. kesehatan. atau yang belum mempunyai SNI. Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran. yaitu Standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap getaran pada bangunan gedung.

luas. 4.1 SISTEM PROTEKSI PASIF • Setiap bangunan PIP2B harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang memproteksi komponen arsitektur dan struktur bangunan gedung sehingga dapat melindungi penghuni gedung dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. geometri ruang. dan (2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. klasifikasi. ketahanan api dan stabilitas. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.• Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. ketinggian.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF • • Setiap PIP2B harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan proteksi aktif.4. dan perlindungan pada bukaan. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi. Sistem proteksi pasif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. atau yang belum mempunyai SNI. atau yang belum mempunyai SNI.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BAHAYA KEBAKARAN BANGUNAN PIP2B TERHADAP 4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. bahan bangunan terpasang. • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. tipe konstruksi tahan api. • Pada sistem proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan kinerja. kompartemenisasi dan pemisahan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 4. volume bangunan. • Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi: 74 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) .4. tipe konstruksi yang diwajibkan.

4. dan (2) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada gedung.Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Sistem proteksi aktif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.. (2) SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan. Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung.Sistem Pemadam Kebakaran. atau yang belum mempunyai SNI. dan perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran. . atau yang belum mempunyai SNI.4. atrium. dan ruangan bervolume besar. pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. (4) SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung.Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. 4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.3 PERSYARATAN JALAN KELUAR dan AKSESIBILITAS untuk PEMADAM KEBAKARAN Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran meliputi perencanaan akses bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. . digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dan (5) SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal.4.4 PERSYARATAN SARANA EVAKUASI Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana evakuasi bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 75 .

pintu keluar darurat. Gambar 4.24 Simulasi Rancangan dengan jalur evakuasi dari ruang-ruang di lantai atas Gambar 4. dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.25 Simulasi Rancangan sarana evakuasi di lantai dasar dengan 3 buah pintu yang berhubungan langsung dengan alaram terbuka DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 76 .pengguna.

Area perkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol tanda parkir penyandang cacat yang berlaku. serta rambu dan marka bagi penyandang cacat dan lansia. jalur pemandu. Fasilitas dan aksesibilitas meliputi tempat parkir.5 PERSYARATAN FASILITAS DAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT Bangunan PIP2B harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia masuk dan keluar. Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat dan lansia harus mengikuti ketentuan yang berlaku. ram.5. nyaman dan mandiri. nyaman dan mandiri 4. Gambar 4. dan dari bangunan gedung serta beraktivitas dalam bangunan gedung secara mudah. aman. toilet. ke. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 77 . pintu.1 TEMPAT PARKIR • • • Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/ fasilitas yang dituju.26 Simulasi Rancangan yang menjamin kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia untuk beraktifitas di dalam gedung PIP2B dengan mudah aman.4. dengan jarak maksimum 60 meter.

Kemiringan maksimal dengan perbandingan tinggi dan panjang adalah 1:11 dengan permukaan rata/datar di semua bagian. dan rambu penyandang cacat. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 78 . jalur pedestrian. • • • Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm. Daerah menaik-turunkan penumpang dilengkapi dengan fasilitas ram. • RUTE AKSESIBILITAS DARI • JARAK KE AREA PARKIR PARKIR TIPIKAL RUANG PARKIR • Ruang Parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ram dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya.• Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ram trotoir di kedua sisi kendaraan.

Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan. c. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting.4. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya. Jalur pemandu adalah jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan. Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks): • • • • • Di depan jalur lalu-lintas kendaraan. Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai. Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan ubin lainnya. d.5. Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan. maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga. sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin peringatan. PRINSIP PERENCANAAN JALUR PEMANDU TIPE TEKSTUR UBIN PEMANDU (GUIDING BLOCKS) DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 79 . b. Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat. f.2 JALUR PEMANDU a. e.

SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA PINTU MASUK SUSUNAN BELOKAN UBIN PEMANDU PADA 4. dan pintupintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran. g. d. dan sulit untuk dibuka/ditutup. • Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu. b. Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna.3 PINTU a. • Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil. f.5. c. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 80 . Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai. karena pintu yang terbuka sebagian dapat membahayakan penyandang cacat. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan: • Pintu geser • Pintu yang berat. e. • Pintu yang terbuka kekedua arah ( "dorong" dan "tarik"). Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam waktu lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda dan tongkat tunanetra.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 81 .

Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7°.4 RAM a. e.4. f. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6°. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b. dan 120 cm dengan tepi pengaman. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm. c. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. g. sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut. d. Apabila DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 82 . atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri.5. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7°) tidak boleh lebih dari 900 cm. dirancang untok menghalangi roda kursi roda agal tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman.

Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65-80 cm. TIPIKAL RAM DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 83 . Ramp harus diterangi dengan pencahayean yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. h. Pencahayaan disediakan pada bagianbagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian.berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. i.bagian yang membahayakan.

KEMIRINGAN RAM HANDRAIL BENTUK RAM YANG DIREKOMENDASIKAN 4.5. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 84 . Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu "penyandang cacat" pada bagian luarnya.5 TOILET a.

Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda. d. k. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga tinggi permukaannya dan lebar depannya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik. air. seperti pada daerah pintu masuk. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda. (45-50 cm) e. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. Pemasangan ketinggian cermin diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 85 .c. j. dianjurkan untuk menyediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu-waktu terjadi listrik padam. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel. m. g. h. kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel. n. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai. o. f. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. Letak kertas tissu. Pintu harus mudah dibuka untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup. l. i.

ANALISA RUANG GERAK PADA RUANG TOILET

TINGGI TOILET

UKURAN SIRKULASI MASUK

RUANG GERAK PADA TOILET

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

86

PERLETAKAN URINER

TIPIKAL PEMASANGAN WASTAFEL

PERLETAKAN KRAN WASTAFEL

RUANG GERAK AREA WASTAFEL

RUANG BEBAS AREA WASTAFEL

4.5.6 PERABOT
a. Perletakan barang-barang perabot bangunan dan furniture harus menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat. b. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan umum harus dapat digunakan oleh penyandang cacat, termasuk dalam keadaan darurat. c. Ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B yang digunakan oleh masyarakat banyak, yaitu ruang perpustakaan, e- library, dan audio visual maka jumlah meja dan tempat duduk aksesibel yang harus disediakan minimum adalah 1 set untuk masing-masing ruangan.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

87

UKURAN PERABOT RUANG DUDUK

UKURAN TINGGI MEJA

4.5.7 RAMBU DAN MARKA
a. Rambu dan Marka adalah fasilitas dan elemen bangunan yang digunakan untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk bagi penyandang cacat. b. Penggunaan rambu terutama dibutahkan pada: • • • • Arah dan tujuan jalur pedestrian KM/WC umum, telpon umum Parkir khusus penyandang cacat Nama fasilitas dan tempat.
88

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

pembedaan perkerasan tanah. • Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional. TUNA NETRA DAN TUNA RUNGU SIMBOL RAM SIMBOL PENUNJUK ARAH RUANGAN DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 89 . SIMBOL AKSESIBILITAS. • Rambu yang menerapkan metode khusus (misal. • Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan artinya. Lokasi penempatan rambu: • Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang. • Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3: 5 dan 1:1. d. • Karakter dan latar belakang rarnbu harus dibuat dari bahan yang tidak silau. • Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya. • Cukup mendapat pencahayaan. apakah karakter terang di atas Kelap. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar belakangnya. serta ketebalan huruf antara 1: 5 danl:10. atau sebaliknya. TUNA DAKSA. warna kontras.c. termasuk penambahan lampu pada kondisi gelap. dll). Persyaratan Rambu yang digunakan: • Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan penyandang cacat lain. • Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca .

1 TAHAP PERSIAPAN Tahap Persiapan merupakan tahap pertama yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan sebuah Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di daerah. serta ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan Bangunan Gedung dan Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Tahapan Pembangunan Bangunan PIP2B. a. prasarana dan 5. b. Tahap Perencanaan Bangunan PIP2B yang mengacu kepada Pedoman Umum Perencanaan PIP2B. yang mengacu pada Tata Cara Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Struktur organisasi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut: a.bab 5 PENYELENGGARAAN PIP2B 5. Kepala Unit PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 90 . Tujuan dari tahap persiapan adalah terbentuknya kesekretariatan atau lembaga PIP2B yang lengkap dengan sarananya.2 TAHAP MOBILISASI SUMBER DAYA MANUSIA Pada tahap ini dilakukan perekrutan staf untuk menjadi pengelola harian PIP2B. berupa Bangunan Gedung PIP2B beserta isinya. maka jumlah personil yang akan terlibat didalam organisasi PIP2B adalah 23 orang. sehingga PIP2B diharapkan memiliki staf yang bisa diandalkan untuk melaksanakan program-program maupun kegiatan. Dengan kelembagaan standar yang telah ditentukan bahwa PIP2B dipimpin oleh seorang pejabat setingkat eselon III .

merupakan pelaksana teknis dan penanggung jawab kegiatan operasional PIP2B yang akan mengelola dan menjalankan semua kegiatan PIP2B baik ke dalam maupun ke luar lembaga 2. PIP2B dipimpin oleh seorang Kepala Unit setingkat eselon III. Kepala Unit PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Dinas lingkup Perumahan dan Permukiman/ Bangunan Gedung Propinsi. b. Kesekretariatan/ Tata Usaha PIP2B 1. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 91 . Kepala Unit PIP2B mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam kegiatan perencanaan program dan anggaran. 3. serta kegiatan terkait lainnya. ii. Dalam menjalankan tugasnya. Kehumasan. 3. Perpustakaan dan E-library dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. iii. Perpustakaan dan E-Library i. dan Penyusunan Program dan Keuangan. Bidang Data. dan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bagian Tata Usaha PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Sub Bidang Data merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan input data dan informasi. Bidang-bidang dalam Unit PIP2B 1. Kepala Bidang Data.1. Perpustakaan dan E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan data dan informasi. c. Kepala Bagian Tata Usaha dipinpin oleh seorang Kepala Bagian dan dapat dibantu beberapa staf pelaksana untuk urusan Tata Usaha. Bidang Data. 2. penyiapan sumber daya dan pengendalian pelaksanaan administrasi dan keuangan pengelolaan PIP2B. Urusan Tata Usaha PIP2b merupakan pelaksana teknis pendukung kegiatan administrasi dan tata laksana kantor dan sekaligus berfungsi sebagai humas PIP2B.

Sub Bidang Layanan Informasi Audiovisual merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi audiovisual. iii. vii. termasuk layanan informasi audio visual dan layanan informasi internet. iv.iv. termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan database informasi internet. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Data. Bidang Layanan Informasi merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. Bidang Layanan Informasi i. Perpustakaan dan E-library ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Layanan Informasi Audiovisual dan Internet ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat data dan informasi perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung yang mudah dan cepat serta yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. vi. ii. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi. serta kegiatan terkait lainnya. v. v. vi. 2. Kepala Bidang Layanan Informasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. Sub Bidang Layanan Informasi Internet merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi internet. mudah dan cepat diakses serta dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Sub Bidang Perpustakaan merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan dokumentasi buku-buku perpustakaan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 92 . Sub Bidang E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik.

pameran seminar dan lokakarya. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi dan pelatihan yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. termasuk penyelenggaraan pelatihan. serta kegiatan terkait lainnya. sehingga PIP2B dapat secepatnya melakukan pelayanan pada masyarakat. ii. iii. pengembangan ketrampilan teknis.3.3 TAHAP OPERASIONAL Setelah prasarana dan sarana telah lengkap dan PIP2B mempunyai staf pengelola harian maka program kerja dapat dilaksanakan. Sub Bidang Pameran Indoor merupakan pelaksana teknis tugas yang iv. Sub Bidang Pameran Outdoor merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan materi pameran termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan informasi berkaitan dengan permukiman dan bangunan gedung. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas dan mampu menjadi lembaga yang responsif terhadap perkembangan masalah dan tantangan yang ada di bidang perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung. Bidang Pameran i. Bidang Pameran merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. v. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Pameran ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. seminar dan lokakarya. 5. Kepala Bidang Pameran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. penyuluhan. Pengelola PIP2B harus segera melengkapi pengetahuan dalam database baik elektronik maupun perpustakaan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 93 . pelatihan. vi. berkaitan dengan pengelolaan penyuluhan.

Disamping kinerja dari pengelola PIP2B sendiri. kegiatan updating data.Pihak pengelola PIP2B harus memberikan perhatian pada kegiatan rutin seperti pelayanan.1 Struktur Organisasi Lembaga PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 94 . Gambar 5. diperlukan pula keterlibatan Dinas Teknis terkait khususnya untuk melakukan monitoring dan evaluasi. dan publikasi untuk menghasilkan pelayanan PIP2B yang prima.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful