DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG

PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

1

DAFTAR ISI
 
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 5
1.1  1.2  1.3  1.4  Pengertian ........................................................................................... 5  Maksud dan Tujuan ............................................................................. 5  Ruang Lingkup .................................................................................... 6  Acuan Normatif .................................................................................... 6

BAB 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) Error! Bookmark not defined.
2.1  2.2  2.3  2.4  2.5  Penjelasan umum ................................................................................ 9 Layanan Informasi PIP2B .................................................................. 10  Produk Informasi PIP2B .................................................................... 12  Sarana Pelayanan Informasi PIP2B .................................................. 13  Struktur Kelembagaan Standar dan Jumlah Personil PIP2B ............ 14

BAB 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B ............................. 15
3.1  Fungsi dan Klasifikasi Bangunan PIP2B ........................................... 15  3.1.1  Penetapan Fungsi Bangunan Gedung PIP2B ....................... 15  3.1.2  Penetapan Klasifikasi Bangunan Gedung PIP2B .................. 15  3.2  Standar Perencanaan Bangunan PIP2B ........................................... 18  3.2.1  Standar Luas Ruang Kerja .................................................... 18  3.2.2  Program Kebutuhan Luas Ruangan ...................................... 18  3.2.3  Karakteristik dan Kriteria Ruangan Pelayanan ...................... 19  3.2.4  Hubungan Antar Ruang ......................................................... 23  3.3  3.4  Persyaratan Lokasi ............................................................................ 24  Penentuan Luas Tapak ..................................................................... 25  3.4.1  Sarana Ruang Luar ............................................................... 25  3.4.2  Sarana Publik di Lantai Dasar ............................................... 25 
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

2

3.4.3  Luas Lahan Minimum ............................................................ 26 3.5  Persyaratan Administrasi ................................................................... 25 

BAB 4 KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B ........................... 31
4.1  Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan ................................... 31  4.1.1  Kesesuaian Tata Bangunan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Peraturan Daerah .................................. 31  4.1.2  Persyaratan Arsitektur ........................................................... 33  4.1.3  Persyaratan Tata Ruang Dalam ............................................ 36  4.1.4  Persyaratan Lansekap ........................................................... 49  4.2  Persyaratan Struktur Bangunan ........................................................ 51  4.2.1  Struktur Bangunan ................................................................. 52  4.2.2  Pembebanan pada Bangunan Gedung ................................. 52 4.2.3  Struktur Atas Bangunan Gedung ........................................... 53  4.2.4  Struktur Bawah Bangunan Gedung ....................................... 60 4.2.5  Keandalan Struktur Bangunan Gedung ................................. 61 4.3  Persyaratan Utilitas Bangunan .......................................................... 62  4.3.1  Persyaratan Sistem Penghawaan.......................................... 62  4.3.2  Persyaratan Sistem Pencahayaan......................................... 64  4.3.3  Persyaratan Komunikasi dalam Bangunan Gedung .............. 66  4.3.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan ................................................ 68  4.3.5  Persyaratan Sanitasi .............................................................. 69  4.3.6  Persyaratan Kenyamanan ..................................................... 72 4.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan PIP2B terhadap Bahaya Kebakaran ..................................................................................... 7774  4.4.1  Sistem Proteksi Pasif ............................................................. 74  4.4.2  Sistem Proteksi Aktif .............................................................. 75  4.4.3  Persyaratan 4.4.4  Persyaratan Jalan Keluar dan Aksesibilitas Tanda untuk Arah Pemadam Kebakaran ............................................................ 75  Pencahayaan Darurat, Keluar/Eksit, dan Sistem Peringatan Bahaya ........................ 76  4.4.5  Persyaratan Sarana Evakuasi ............................................... 76  4.5  Persyaratan fasilitas dan Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat ....... 78 
3

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

...... 90 5.................5.........4...................................................................2  Jalur Pemandu .............................. 85  4.............................................................................3  Pintu ...................5..............................2  5. 89 BAB 5 PENYELENGGARAAN PIP2B .. 88 4.................................................................................................................1  5......1  Tempat Parkir ....5  Toilet ...........4  Ram .................... 80  4...................................5...... 90  Tahap Mobilisasi Sumber Daya Manusia .......5............................ 83  4...................................5...........................5..............................................................................6  Perabot .........5... 81  4......................................3  Tahap Persiapan ... 93  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 4 .............................................................7  Rambu dan Marka ........................ 78  4...................... 90  Tahap Operasional ........................

aman dan nyaman. Pedoman Umum adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan 2. program kebutuhan bangunan. serta panduan kelembagaan penyelenggaraan PIP2B. seperti kebutuhan luas lahan minimal. dan standar minimal bentuk organisasinya.2 MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini adalah untuk memberikan acuan bagi: • • perencanaan dan perancangan gedung PIP2B operasional lembaga PIP2B Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan pedoman ini adalah agar terdapat pemahaman yang sama dalam membangun gedung PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 5 . 1. Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan perencanaan sebuah bangunan gedung dan lembaga PIP2B yang meliputi panduan bagi perancangan bangunan. kebutuhan ruang dan besaran minimal yang mencerminkan bangunan gedung yang handal.bab 1 PENDAHULUAN 1.1 PENGERTIAN 1.

SK Direktorat Jenderal Perumahan clan Permukiman Nomor 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 8. 11. Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah Perkotaan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 6 . sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan PIP2B. SNI 19-2454-1991. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi 3.4 ACUAN NORMATIF Dasar Hukum yang melandasi Pedoman Umum Perencanaan PIP2B adalah: 1. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 12. SNI 02-2406-1991. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 7. yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam penatalaksanaan organisasi. SNI 03-1726-1989. KetentuanTeknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan 10. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan 14.3 RUANG LINGKUP Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini mencakup: • • dasar-dasar perencanaan gedung PIP2B panduan kelembagaan penyelenggaraan PPIP2B. 1. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 11/KPTS/2000 tentang. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung 13. SNI 03-1728-1987.1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 2. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 5. SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara 6. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 9.

2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Selang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 30.1745 . SNI 03-1745-1989.3989 . SNI 03-2847-1992. SNI 03 . SNI 03-1734-1989. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman 16. SNI 03 . Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 19. SNI 03-1727-1989. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 22. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan Pencegah Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 21.2000 tentang Tata Cara Perencanaan.1746 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 26. SNI 03 . SNI 03 . Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 24.2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 29.1735 . Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung 20. SNI 03 . SNI 03 .1736 . SNI 03-3242-1994. SNI 03-1728-1989.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatik untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 27.3985 . dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 7 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan pemasangan Sistem Plambing pada Bangunan Gedung 31. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan dan Gedung 23. SNI 03 .2000 tentang Tata Cara Akses Bangunan dan Akses Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya kebakaran pada Bangunan Gedung 28.6481 . SNI 03-453-1987. Tata Cara Perencanaan Pemasangan Sistem Deteksi Alarm Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 25. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 18. SNI 03-1736-1989.15. Pemasangan. SNI 03-1733-2004 SNI 03-3985-1995. Tata Cara Instalasi Petir Untuk Bangunan 17. SNI 03-1735-1993.

1728 . SNI 03 . Tanda Arah.6572 .6571 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja pada Bangunan Gedung 40.2001 tentang Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung 38.1726 .2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung 39. SNI 03 – 6759 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 8 .6575 .2001 tentang Tata Cara Penerangan Darurat. SNI 03 .2396 .6570 . SNI 03 . SNI 03 . SNI 03 .2001 tentang Sistem Pengendalian Asap Kebakaran pada Bangunan Gedung 34. dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan Gedung 37. SNI 03 . SNI 03 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton pada Bangunan Gedung 41.1729 . SNI 03 .2001 tentang Pompa yang Dipasang Tetap untuk Proteksi Kebakaran 33.6574 .32.2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung 35. SNI 03 .2001 tentang Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung 36.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 9 . Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) yang dalam pembentukannya difasilitasi Pemerintah Pusat. nantinya akan menjadi milik Dinas PU Pemerintah Propinsi. dan melakukan berbagai kegiatan yang mendukung penyebar luasan informasi pengembangan permukiman dan bangunan gedung (diagram 2-1). Wadah ini merupakan fasilitas yang terbuka untuk umum. Dalam mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. pengusaha bahan bangunan. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada berbagai unsur: perencana.bab 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2. pihak pemerintah. Tujuan dibentuknya adalah membangun jaringan informasi untuk meningkatkatkan reputasi lembaga perumahan dan permukiman yang mandiri khususnya dalam mendukung pembangunan perumahan swadaya. masyarakat serta kalangan akademisi. pelaksana.1 PENJELASAN UMUM Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah lembaga inovatif yang ditargetkan untuk menjadi lembaga publik yang mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman.

dan perancangan bangunan gedung serta advokasi penataan permukiman.1 PIP2B memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada para stakeholder bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung 2. ada 4 produk pelayanan utama yang dapat diberikan oleh Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) sebagai berikut1: a. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 1 Kerangka Acuan Revitalisasi/ Pengembangan Kembali Building Information Center (BIC) sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Ketrampilan Teknis bidang Perumahan. Arsitektur dan Bangunan Gedung. Permukiman.2 LAYANAN INFORMASI PIP2B Secara garis besar. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. Juni 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 10 . Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis PIP2B dapat memberikan pelayanan informasinya dalam bentuk konsultasi dan advokasi teknis yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. tergantung tingkat kemampuan dan sumberdaya yang tersedia pada lembaga PIP2B serta kebutuhan masyarakat yang ada. Lingkup pelayanan tersebut dapat mencakup hal-hal yang sifatnya praktis maupun analisis.Diagram 2. Ruang lingkup kegiatannya antara lain dapat berupa layanan konsultasi kegiatan perencanaan.

Disamping itu. event-organizer pada suatu penyelenggaraan kegiatan pameran. serta peralatan pendukung lainnya Kajian Pengembangan Usaha (Business Plan) Building Information Center. Inkindo. Peralatan pelayanan informasi. baik untuk sekretariat maupun kegiatan pelayanan informasi lainnya Peralatan kantor/ sekretariat. d. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. dibutuhkan prasarana dan sarana yang berupa antara lain: • • • Gedung dan ruang operasional PIP2B. harga satuan bahan dan upah kerja dalam bidang jasa konstruksi secara periodik juga dapat menjadi salah satu materi layanan informasi yang disediakan oleh PIP2B. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. serta sosialisasi kebijakan dan program termasuk peraturan dan perundangan. perpustakaan dan penerbitan bukubuku/ bahan cetakan yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. computer. c. seperti IAI. pengembangan layanan dapat berupa penyelenggara. Pelatihan dan Penyebarluasan Informasi Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatannya antara lain pelayanan pelatihan/ pengembangan ketrampilan teknis dan penyebar luasan informasi penyelenggaraan program bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Bentuknya dapat berupa penyuluhan. Untuk kegiatan pengelolaan institusi PIP2B sendiri.b. Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi Kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup ini dapat meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasis website. REI. peralatan dokumentasi. dan perlengkapan kantor lainnya. Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga2. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengembangan usaha pelayanan informasi melalui kerjasama dengan lembaga lain yang terkait di sektor ini. seminar yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. Mei 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2 11 . Kegiatan penyusunan dan penyebar luasan harga bangunan. mejakursi kerja. baik berupa alat tulis kantor. peralatan display bahan peraga untuk informasi. ataupun industri lainnya yang terkait dengan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Dokumen Interim. peralatan audio visual. baik yang berupa peralatan pendukung perpustakaan.

Serta informasi yang bermanfaat bagi pelaku pembangunan gedung. serta Pengembangan PLP untuk perkotaan maupun perdesaan 4. Surat Keputusan (SK) e. seperti: a. serta inovasi berbasis keunggulan lokal (sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah).• Peralatan mobilitas dalam rangka mendukung mobilitas kegiatan penyebar luasan informasi. Informasi Khusus seperti kebijakan dan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kaitannya dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. Pedoman dan Manual bidang tata bangunan dan permukiman f. Pengembangan Air Minum. Undang-undang b. Informasi maupun publikasi yang bersifat Umum seperti: a. Standar. 2. Peraturan Pemerintah c. Pedoman Harga Satuan Upah dan Bahan Bangunan yang dilengkapi dengan harga. Pengembangan Permukiman. dan lain-lainnya. perumahan dan permukiman. usaha dan kegiatan produktif b. Berdasarkan jenis informasi yang dapat diperoleh/ diberikan oleh PIP2B adalah sebagai berikut: 1. RTBL. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. merk serta produsennya c. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 12 .3 PRODUK INFORMASI PIP2B Jenis layanan informasi yang dikembangkan oleh PIP2B berbasis kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. teknologi kontruksi yang terkait dengan perumahan dan permukiman. Informasi yang terkait dengan produk-produk bidang Ke Cipta Karyaan mencakup Tata Bangunan dan Lingkungan. Ketentuan-ketentuan daerah. 3. mencakup Peraturan Daerah. Peraturan tentang Bangunan Gedung d. 2.

Mushola. Sarana Penunjang lainnya. lembaga ini harus dapat menyediakan sarana pelayanan informasi yang lebih interaktif sebagai berikut3: a. Juli 2007 13 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Sarana bagi Pelayanan Pelatihan dan Penyebar luasan informasi • • • • Ruang audiovisual Ruang-ruang Pertemuan Ruang Pamer Ruang Display c. Sarana bagi Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga: • • • • Gedung Kantor Ruang-ruang kerja sesuai standar kebutuhan dan jumlah personil Ruang-ruang Pertemuan Ruang-ruang Penunjang seperti: Pantry. mencakup: • • Ruang Konsultasi Ruang-ruang Diskusi b.2. seperti: • • • • 3 Ruang Lobby dan Informasi Ruang-ruang Mekanikal Elektrikal Mushola Publik Toilet Publik Pengarahan Tim Teknis. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Sarana bagi Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis. Sarana bagi Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi: • • • • Ruang Perpustakaan E-library/ perpustakaan digital Ruang Server Ruang Pengolahan Informasi d.4 SARANA PELAYANAN INFORMASI PIP2B Di dalam menyiapkan infrastruktur Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B). Paket PBL IV-3. Toilet Karyawan. dll e. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan.

Nopember 2007 14 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . 2. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan.2 Struktur Organisasi PIP2B Maka total jumlah personil pada struktur organisasi PIP2B di atas seluruhnya berjumlah 23 orang. Dengan demikian dapat diprediksi jumlah personil dalam struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai berikut4: Diagram 2. Direktorat Jenderal Cipta Karya.• • • Fasilitas bagi Penyandang Cacat Parkir Dll. Paket PBL IV-3. ditetapkan pejabat ketua struktur organisasi PIP2B merupakan seorang pejabat setingkat eselon III . 4 Pengarahan Tim Teknis.5 STRUKTUR KELEMBAGAAN STANDAR DAN JUMLAH PERSONIL PIP2B Di dalam menyiapkan struktur kelembagaan Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di setiap propinsi.

1 FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN PIP2B 3. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Kompleksitas. Bangunan gedung PIP2B dapat dijelaskan sebagai gedung kantor dengan luas lebih dari 500 m2. Menurut Fungsi Sosial dan Budaya. yaitu bangunan gedung negara yang memiliki kompleksitas dan atau teknologi tidak sederhana. Klasifikasi berdasarkan Ketinggian. Klasifikasi berdasarkan Kepemilikan.1. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan tidak sederhana. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung milik negara DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 15 . bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung bertingkat rendah e. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Permanensi.2 PENETAPAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Adapun penetapan klasifikasi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Risiko Kebakaran. b. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung perkantoran pemerintah b.bab 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B 3. Menurut Fungsi Usaha. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung pelayanan umum 3.1. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan permanen c. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan gedung tingkat resiko kebakaran rendah d.1 PENETAPAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Penetapan fungsi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun.

f.03 0.36 0.38 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 16 .08 Diperlukan 2 0.10 0.05 0.34 setiap lokasi 5 0.18 0.23 0. Tabel 3-1 Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa Indonesia (berdasarkan SNI 1726-2002). di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi.32 0.33 0. Hal ini perlu dilakukan karena adanya perbedaan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa dan untuk masing-masing jenis tanah yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung dalam rangka menjamin kekekaran (robustness) minimum dari struktur gedung tersebut.15 0.30 khusus di 4 0. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun yang nilai rataratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 1 dan table 3-1. Pembagian Wilayah Gempa ini.20 evaluasi 3 0.25 0.04 0.30 0.24 0.1 Zonasi Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun (berdasarkan SNI 1726-2002) Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.28 0. Klasifikasi berdasarkan lokasi pada Zonasi Gempa adalah sesuai dengan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang (Gambar 3-1) Gambar 3.12 0.36 6 0.28 0. Percepatan Percepatan puncak muka tanah Ao (‘g’) Wilayah Puncak Batuan Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Tanah Gempa Dasar (`g) Khusus 1 0.20 0.15 0.

Gasmbar 3-2 Respons Spektrum Gempa Rencana (berdasarkan SNI 1726-2002). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 17 .

10 m2 (Tabel 3.00            ‐           ‐         3. Tamu 3 R. Sekr R. maka perkiraan luas ruang kerja bagi gedung PIP2B adalah sekitar 246. ditetapkan oleh instansi yang berwenang di daerahnya masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku. Rapat 4 Luas Ruang R.1 STANDAR LUAS RUANG KERJA Dalam menghitung luas ruang kerja pada bangunan gedung kantor PIP2B.10 m2 Adapun untuk merencanakan tata ruang dalam gedung PIP2B. Tunggu R. 3.00 m2 3.2 PROGRAM KEBUTUHAN LUAS RUANGAN Kebutuhan ruang bangunan gedung PIP2B terdiri atas sarana ruang kerja serta sarana ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat.00          6. ditentukan berdasarkan ketentuan standar luas ruang kerja pada gedung kantor pemerintah dengan klasifikasi tidak sederhana.2) Tabel 3.2.00           ‐           ‐           ‐         3. Simpan R.2.2 STANDAR PERENCANAAN BANGUNAN PIP2B 3. yaitu rata-rata sebesar 10. digunakan standar detail luas ruangan kerja kantor pemerintah seperti yang tercantum pada Tabel C pada buku Pedoman Pembangunan Bangunan Negara.7 m2 perpersonil. studi banding di lapangan. adalah sbb: Tabel 3.3 Standar Detail Luas Ruangan Kerja bagi Kantor Pemerintah No. Berdasarkan persyaratan kelembagaan bahwa institusi PIP2B akan dipimpin oleh pejabat eselon III.00 m2          2. renggang).00           ‐          2. sedang. Klasifikasi berdasarkan kepadatan lokasi (padat. Perkiraan luas ruang-ruang pelayanan informasi dihitung berdasarkan perkiraan kapasitas tampung.2 Acuan Standar Umum Ruang Kantor PIPB Struktur Organisasi Jumlah Personil 23 orang Standar 10. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 18 .g. Kerja 2 R.00            ‐           ‐            ‐        18.7 m2 Total Luas     246. Kebutuhan total luas ruang kerja dihitung berdasarkan jumlah personil yang akan ditampung dikalikan standar luas sesuai dengan klasifikasi bangunannya. Jabatan 1 R. maupun menurut standar dan ketentuan yang berlaku. Toilet 5 6 7 8 Jumlah 9 1 Eselon III 2 Staff          6.

00        32.00        20.00          6.00 m2          2.30 LUAS      180.3 KARAKTERISTIK DAN KRITERIA RUANGAN PELAYANAN Sifat kegiatan yang ditampung di dalam ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat dan kriteria disain standar bagi masing-masing ruang dapat dilihat pada Tabel 3.00     759. Kegiatan  Kriteria Disain Standar  Fungsi  4    ‐ Berupa outdoor plasa multifungsi ‐ Meningkatkan kualitas lingkungan dan bangunan   ‐ Menampung kapasitas 500 orang Fisik  5  Lingkungan  6    ‐ Merupakan bagian terintegrasi dari disain bangunan dan lingkungan ‐ Memperbaiki iklim mikro ‐ Tetap dapat berfungsi meningkatkan resapan air 2  3  SARANA PENYEBARLUASAN INFORMASI   R.60 m2      246. dengan perkiraan luas total lantai bangunan adalah sekitar 949.00          1.00            6.00        40.00          4.00            8.00            8.20 m2        12.00          4.00 R. Kerja Penunjang Ruang Sirkulasi m2      189.00 m2        27.20         10.80          6. Display R.00          6.5.7.10 m2            9.6 dan 3.00        60.00          0. 3.40         12.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2        32.40        12.Tabel 3.70          0.13 m2.00            6.2.00        18.00          6.00 m2         60.13 m2 3. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik (2m2/25 org) Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility KAPASITAS 200 org 1 bh 20 org 1 bh 1 bh 6 org 23 org 23 org 23 org 1 bh 8 1 2 2 23 2 1 1 25% sat bh sat sat org bh bh bh SATUAN LUAS          0.00            6.00 m2         32. Asosiasi  Profesi R. Tabel 3.  seperti:   ‐ Model  RISHA  ‐ Prototipe rumah  tahan gempa  ‐ Beberapa model  sistem struktur  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 19 .4 Studi Kebutuhan Ruang Gedung PIP2B RUANG Pameran Indoor R. Tabel 3.5 Sifat Kegiatan Penyebarluasan Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  A  1. Pamer  Outdoor  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat permanen  maupun temporer dan  eventual  sesuai dengan  kebutuhan daerah.00          4.90 m2         20.00 m2          6. Audiovisual Perpustakaan E‐ Library R.83 LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN      949.4 memperlihatkan perkiraan kebutuhan ruang untuk bangunan gedung PIP2B.00 Publik m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 Semi Publik m2        36.

 Pertemuan  Dapat menampung  pertemuan staff maupun  dengan pihak luar  ‐ Berupa ruang rapat yang siap dengan peralatan presentasi ‐ Menampung kapasitas ruang untuk pertemuan 10-12 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) .  R.  R.2. dan informatif ‐ Isi display dapat berganti-ganti sesuai tema ‐ Berupa ruang kelas yang siap dengan peralatan audio visual ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 200 orang ‐ Memiliki ceiling yang tinggi. Pamer Indoor ‐ Display ditempatkan pada bagian yang mengundang. seperti:   ‐ Banner UUBG  ‐ Running Text    ‐ Panel display atau apapun yang menjadi media display 4.  R. Audio  Visual  Dapat menampung  materi ke‐Cipta Karyaan  yang ditampilkan secara  audio visual  ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 20-30 orang 5. Pamer  Indoor  ‐ Dsb  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat temporer dan  eventual seperti :   ‐ Pameran  ‐ Seminar    ‐ Berupa indoor hall yang bersifat multifungsi untuk memamerkan produk-produk ke-Cipta Karya-an maupun teknologi bangunan terkini ‐ Merupakan bagian yang menyatu dengan R. secara visual dapat transparan ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan ‐ Dalam keadaan display. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan. Display  Dapat  menampung  materi‐materi  display ke‐ Cipta Karya‐an yang  dipasang sepanjang  tahun. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan tertutup ‐ Menggunakan insulasi penahan suara ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan menggunakan pengendalian dg system switching dan dimming untuk memperoleh efek pencahayaan ‐ Konsep Ruangan secara tata suara tertutup. atau void dengan ceiling > 1 lantai ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan.  R. ruangan dapat menjadi gelap dan tidak silau 20 3.

R. ‐ Ruang Kerja R. ‐ Ruang browsing komputer sesuai standar ‐ Menampung kapasitas 6-8 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. Server  Menampung  informasi dalam  bentuk digital     ‐ Ruang Komputer Terpusat ‐ Menampung kapasitas 1 bh server komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.6 Sifat Kegiatan Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Kriteria Disain Standar  Ruangan  1  B  Kegiatan  Fungsi  2  3  SARANA PELAYANAN  PENGEMBANGAN/   DOKUMENTASI INFORMASI   R. namun mudah dipelihara ‐ Memungkinkan untuk melakukan pemeliharaan data dan reparasi computer 4.  Pengolahan  Meng up‐date  untuk Informasi  database informasi  memasukkan dalam bentuk  dan memantau digital  informasi digital    ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 21 . namun mudah dipelihara ‐ Menampung kapasitas 2 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. namun mudah dipelihara ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata 3.  Melayani  Perpustakaan  kebutuhan  Elektronik  informasi  masyarakat dalam  bentuk digital     4      Fisik  5    Lingkungan  6  1.  Dapat  Perpustakaan  menampung buku‐ buku terbitan/  bahan cetakan  yang terkait  dengan ke‐Cipta  Karya‐an &  melayani  kebutuhan  informasi  masyarakat    R.Tabel 3. ‐ Rak buku sesuai standar ‐ Ruang Baca sesuai standar ‐ Menampung kapasitas ruang baca 8-12 orang ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2.

namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara.7 Sifat Kegiatan Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  C  1. Diskusi  Dapat digunakan  untuk keperluan  diskusi kecil  ‐ Merupakan ruang multifungsi yang berkaitan dengan kegiatan konsultasi ‐ Berupa ruang pertemuan dengan kapasitas 6-8 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 22 . Konsultasi  Dapat digunakan  untuk keperluan  konsultasi   ‐ Berupa ruang kerja dengan kursi hadap ‐ Terdiri atas 1 atau 2 orang yang merupakan konsultan dan 2 atau 4 orang yang berkonsultasi ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara. 2  Kegiatan  Fungsi  3  4  Kriteria Disain Standar  Fisik  5  Lingkungan  6  SARANA PELAYANAN KONSULTASI  DAN ADVOKASI TEKNIS   R.Tabel 3. R. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2.

3.4 HUBUNGAN ANTAR RUANG Hubungan antara ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B ditetapkan berdasarkan matriks hubungan antar ruang pada gambar 3-2. yaitu ruang berdekatan dan terhubung oleh pintu Dekat dengan Hubungan Tidak Langsung.2.3 Matriks Hubungan Antar Ruang Gedung PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 23 . yaitu ruang berdekatan tetapi tidak perlu terhubung oleh pintu Tidak Berhubungan. Gambar 3. Hubungan antar ruang dibedakan atas: • • • Hubungan Langsung. artinya ruang tidak perlu berdekatan maupun terhubung oleh pintu.

3. Radius pencapaian lokasi ditentukan oleh jarak dan waktu tempuh dari pusat kota.3 PERSYARATAN LOKASI Penentuan lokasi bangunan gedung PIP2B mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: 1. Pencapaian secara berjalan kaki harus terhindar dari lalu lintas berkepadatan tinggi. jaringan listrik dan telepon. maka jarak tempuh maksimum dari titik transit adalah 10 menit berjalan kaki. Jarak tempuh maksimum 5 km dari pusat kota atau tidak lebih dari waktu tempuh 20 menit perjalanan dengan kendaraan umum pada saat normal (tidak macet). Kesiapan Prasarana Lokasi gedung PIP2B harus memiliki prasarana yang memadai. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 24 . drainase. Apabila gedung PIP2B terletak di dalam sebuah kompleks perkantoran yang tidak dapat dicapai secara langsung oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. termasuk rencana pengembangan lahan dan bangunannya. dengan asumsi kepadatan penduduk yang dilayani dapat mendukung kegiatan pelayanan informasi bagi masyarakat. jaringan air limbah. Peraturan Tata Ruang Kota Lokasi disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan mendapat persetujuan pemerintah daerah yang bersangkutan untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). 2. mencakup: jalan lingkungan. jaringan air bersih. Radius Pencapaian Gedung PIP2B dibangun pada lokasi-lokasi di ibukota propinsi. 3. Lokasi harus dekat dengan masyarakat pengguna dengan pencapaian mudah. Aksesibilitas Lokasi gedung PIP2B harus dapat dicapai oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. 4.

minimal 40% dari luas total lahan diperuntukkan bagi penghijauan dan lansekap 3. Sehingga sarana dan fasilitas pelayanan tersebut memungkinkan untuk dapat diakses pula oleh masyarakat penyandang cacat. Sarana ruang minimum yang harus disediakan serta posisinya baik di lantai dasar atau di lantai atas ditentukan dalam tabel 3. disediakan minimal untuk 2 kendaraan Parkir dan sirkulasi mobil pengunjung. dan beberapa model system struktur. disediakan minimal untuk 25 kendaraan Jalur pedestrian yang memadai Ruang Terbuka Hijau.8.2 SARANA PUBLIK DI LANTAI DASAR Dalam merencanakan bangunan PIP2B. dengan rasio 1 kendaraan setiap 100 m2 luas lantai Parkir dan sirkulasi mobil bagi penyandang cacat.4. • • • • • • Parkir dan sirkulasi mobil kantor maupun karyawan.3.1 SARANA RUANG LUAR Dalam rangka menentukan luas tapak yang dibutuhkan bagi sarana dan fasilitas bangunan PIP2B.4. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 25 .4 PENENTUAN LUAS TAPAK 3. harus dipertimbangkan tersedianya sarana sebagai berikut: • Ruang Pamer Outdoor. Prototipe Rumah Tahan Gempa. yang cukup luas agar dapat menampung materi-materi pameran ke-Cipta Karya-an yang bersifat permanen maupun temporer dan eventual sesuai dengan kebutuhan di daerahnya masing-masing. Beberapa contoh produk pameran outdoor yang permanen adalah: Model RISHA. harus dipertimbangkan sarana dan fasilitas pelayanan bagi publik wajib untuk ditempatkan di lantai dasar. disediakan minimal untuk 5 kendaraan Parkir dan sirkulasi motor baik karyawan maupun pengunjung.

00 m2           8.00        18.10 m2          9.30 LUAS      180.13 m2 Sub Total Ruang Sirkulasi LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN 25%      189.00        32.20 m2        12.00 m2        27.8 Posisi Ruang Publik RUANG Pameran Indoor R.00 m2 Lantai Atas Semi Publik        36.00          6.3 LUAS LAHAN MINIMUM Dalam merencanakan bangunan PIP2B. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R. maka bangunan PIP2B memungkinkan untuk dikembangkan sebagai 1 lantai saja dengan lahan yang lebih luas.00          6.00 m2         6. atau di kota yang masih relatif rendah intensitasnya.20 m2         12.10 m2           9.83 m2      949. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 26 .00          8.00 m2        371. Beberapa kemungkinan harus dipertimbangkan sehubungan dengan lokasi bangunan PIP2B.200 m2 • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di tepian kota.100 m2.00 m2 m2 m2 m2 m2 Lantai Dasar     180.00        40.00 m2       20.00 m2         6.00 m2       97. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 2. maka pemanfaatan lahan yang efisien mengakibatkan bangunan terdiri atas 2 lantai. sedangkan simulasi rancangan digambarkan dalam gambar 3-3 dan 3-4.Tabel 3.4.00          6. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility                                         759. Kerja Penunjang           8. metropolitan dan pusat kota.00        20.00 m2         18. • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di pusat kota. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 3.00 m2       40.30 m2         92.60 m2        246.00 m2       32. perlu disadari kondisi terbatasnya lahan terutama di daerah kota besar.00          8. Display R.00 m2        32.00 m2       60.00 m2     485.40 m2       12.83 m2      464.00        60.13 m2 3.00 m2     388.00 m2 R. Perhitungan kebutuhan luas tapak bangunan dan penentuan luas lahan minimum untuk kedua alternatif diatas dapat dilihat pada tabel 3-9 dan 3-10.40        12.00 m2         27.00 m2         36.00 m2           6.60 m2       246. Asosiasi Profesi R.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2       32.

00            9.00 0.20            125.49            2.48            350.13 m2          920 m2 100% thd luas total 30% thd luas lahan     949.00          50.028.45 Kapasitas Alternatif Bangunan 2 lantai Total Lantai Bangunan Bangunan Lantai Dasar thd total lantai Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (2lt) Satuan Luas 60%         500.395.45 Jumlah Luas            949.00          25.70 Tabel 3.13                      0.13            350.00                   34.9 Perhitungan Kebutuhan Luas Tapak Bangunan PIP2B Kapasitas Alternatif Bangunan 1 lantai Total Lantai Bangunan Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (1 lt) Satuan Luas Jumlah Luas            949.10                     5.00          50.028.00         1.77 m2       3.38         3.00 0.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 27 .100 m2 70% thd luas total 30% thd luas lahan     642.10 Penentuan Luas Lahan Minimum Bangunan PIP2B Luas Total Lantai Bangunan Alternatif Bangunan PIP2B 1 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Alternatif Bangunan PIP2B 2 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Perkiraan Luas Luas Minimum     949.74                68.49            2.00            9.70                   30.00                40.28         2.00                   34.74                68.140.395.00            958.8               2.70                   30.00            284.10                     5.211.70         500.13 m2 3.20            125.83 m2       2.13            569.00 40%                  949.00                40.25 m2 2.00 40%                      0.Tabel 3.00            284.8               3.00          25.163.

100 m2 Gambar 3.5 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 2 lantai dengan Luas Lahan Minimum 2.Gambar 3.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 28 .4 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 1 lantai dengan Luas Lahan Minimum 3.

Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah Instansi/lembaga pemerintah/negara yang bersangkutan. biaya pelaksanaan konstruksi fisik. Kejelasan status atas tanah ini dapat berupa hak milik atau hak guna bangunan. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi. 4. baik yang dihasilkan oleh Penyedia DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 29 . d. DOKUMEN PERENCANAAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perencanaan. biaya pengelolaan proyek. Persyaratan administrasi bangunan gedung negara meliputi pemenuhan persyaratan: 1.3. PERIZINAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perizinan yang berupa: Izin Mendirikan Bangunan. termasuk surat penunjukan/penetapan Pimpinan Proyek. biaya perencanaan konstruksi. yang dihasilkan dari proses perencanaan teknis. 3. STATUS HAK ATAS TANAH Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki kejelasan tentang status hak atas tanah lokasi tempat bangunan gedung PIP2B berdiri. 2. dan Izin Penggunaan Bangunan dalam hal Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setempat. c. DOKUMEN PEMBIAYAAN Setiap kegiatan pembangunan bangunan gedung PIP2B harus disertai/memiliki bukti tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundangan yang berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen lainnya yang dipersamakan.5 PERSYARATAN ADMINISTRASI Setiap bangunan gedung PIP2B harus memenuhi persyaratan administrasi baik dalam tahap pembangunan maupun tahap pemanfaatan sebagaimana bangunan gedung negara. Dalam dokumen pembiayaan pembangunan bangunan gedung negara terdiri atas: a. b.

As built drawings (gambar sesuai yang dilaksanakan) disertai gambar leger. c. Dokumen Pelelangan. dan Surat Izin Penggunaan Bangunan (IPB) dalam hal Peraturan DaerahKabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB. asistensi terhadap instansi pemerintah pusat harus dilakukan. Fotokopi sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah. d. Fotokopi Dokumen Pembiayaan/DIP (otorisasi pembiayaan). DOKUMEN PENDAFTARAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pendaftaran untuk pencatatan dan penetapan HDNO meliputi: a. Berita Acara Serah Terima I dan II. Fotokopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB).Jasa Perencana Konstruksi atau Tim Swakelola Perencanaan. dan As Built Drawings. b. dan Sertifikat Penjaminan atas Kegagalan bangunan sesuai ketentuan yang berlaku. 5. e. f. Di dalam proses perencanaannya. Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 30 . Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan. DOKUMEN PEMBANGUNAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pembangunan yang terdiri atas: Dokumen Perencanaan. Izin Mendirikan Bangunan. 6. hasil uji coba/test run operational.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 31 .00 meter serta harus mempertimbangkankan hal-hal seperti: • • • • Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. b. yaitu: a. Jarak Bebas Bangunan Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung.1 PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 4. yaitu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan.bab 4   KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B 4.1 KESESUAIAN TATA BANGUNAN DENGAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN PERATURAN DAERAH Persyaratan tata bangunan dan lingkungan meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan PIP2B dari segi tata bangunan dan lingkungannya. Kenyamanan. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan. termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan.1. Kesehatan. maka bangunan PIP2B merupakan bangunan tunggal (freestanding) dengan jarak bebas antara blok/masa bangunan dengan batas lahan minimum adalah 4. Peruntukan Lokasi Bangunan PIP2B harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

KDB maksimum adalah 60%. KDH minimum dari bangunan PIP2B adalah 40%. e. termasuk didalamnya: o o o o o • Lantai Dasar Bangunan (maksimum 30% dari Luas Lahan) Ruang Pamer Outdoor Sirkulasi dan Parkir Kendaraan (mobil dan motor) Sirkulasi.50 meter.80 meter dihitung dari permukaan lantai. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Koefisien Daerah Hijau (KDH) Ketentuan besarnya KDB. Ketinggian bangunan Ketinggian bangunan PIP2B. Ketinggian langit-langit Ketinggian langit-langit bangunan PIP2B minimum di setiap lantai adalah 2. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 32 . Parkir. GSB dan KDH mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung untuk lokasi yang bersangkutan. maka bangunan PIP2B mengikuti ketentuan berikut KDB merupakan perbandingan antara luas seluruh perkerasan di lantai dasar dengan luas lahan. GSB minimum bangunan PIP2B adalah 7. Koefisian Lantai Bangunan (KLB). dan Ramp bagi Penyandang Cacat Jalur Pedestrian KDH merupakan perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan yang harus digunakan sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. d. maka diusulkan ketinggian langit-langit minimum di Lantai Dasar adalah 3. KLB.00 meter. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi. Koefisien Dasar Bangunan (KDB).c. Mengingat bangunan gedung PIP2B memiliki fasilitas pelayanan masyarakat di lantai dasarnya. maksimum adalah 3 lantai. • Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat. • GSB merupakan jarak tepi ruas jalan dengan bangunan terluar.

1.1 Simulasi Rancangan Tapak: memperlihatkan KDB maks 60%. Penempatan massa bangunan arsitektur berorientasi terhadap arah sinar matahari dan iklim setempat. Bangunan khususnya lantai dasar harus memperlihatkan sebagai bangunan yang ramah kepada publik dengan memperlihatkan kejelasan arah jalan masuk.Gambar 4. • Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. Ruang Pamer Outdoor.2 PERSYARATAN ARSITEKTUR a. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. • Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. serta elemen-elemen dan material yang mempermudah untuk berorientasi menuju maupun di dalam bangunan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 33 . Lantai Dasar maks 30%. keterbukaan (mengundang untuk masuk). Persyaratan Keserasian dengan Lingkungan • Bangunan PIP2B harus serasi dengan lingkungannya. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau panutan bagi lingkungannya. Sirkulasi dan Parkir Kendaraan & Penyandang Cacat dan Jalur Pedestrian 4.

atau U. • Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan segala sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam rencana tata ruang. maka harus dilakukan pemisahan struktur atau dilatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa atau penurunan tanah. L. Bentuk denah bangunan gedung sedapat mungkin simetris dan sederhana. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 34 . guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa.2 Bentuk denah bangunan gedung (PerMen PU no. 29/PRT/M/2006) • Dalam hal denah bangunan berbentuk T.• Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. Gambar 4. • • Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa.

Fasade bangunan harus cukup transparan terutama di lantai dasar. dan penggunaan elemen-elemen yang mengandung identitas lokal harus merupakan bagian yang menyatu dengan arsitektur bangunan PIP2B.b. art-work (benda seni). Kreatifitas dan inovasi disain sangat dianjurkan dalam mewujudkan kearifan lokal pada bangunan PIP2B. untuk memberikan citra keterbukaan era informasi sekaligus memperlihatkan kegiatan pameran indoor dan outdoor kepada publik. • Ekspresi kekinian bangunan tidak boleh mengabaikan kaidah-kaidah dasar Arsitektur Tropis.3 Simulasi Rancangan Berbagai Ekspresi Arsitektur Bangunan PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 35 . Persyaratan Ekspresi dan Wujud Arsitektur Setiap arsitektur bangunan PIP2B memiliki kebebasan dalam berekspresi dan menentukan wujud arsitekturnya. maupun elemen interior. namun tidak menutup kreatifitas dan inovasi disain dalam mewujudkan Arsitektur Tropis yang modern. kearifan lokal dapat diwujudkan melalui penggunaan ornamen di dalam lansekap. Kriteria-kriteria dasar yang harus dipenuhi dalam ekspresi bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: • • Wujud arsitektur mencerminkan fungsi bangunan PIP2B sebagai bangunan pusat informasi yang modern dan mencerminkan teknologi bangunan terkini. Gambar 4. Dalam konteks bangunan dengan ekspresi modern. • Kearifan lokal harus dihargai.

• Bahan kosen dan daun pintu/jendela: kayu minimum kelas kuat II. parket. marmer. teraso. GRC atau sejenis. disesuaikan dengan fungsi dan ekspresi bangunan. termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari sistem fabrikasi komponen bangunan. akustik. Beberapa contoh bahan bangunan yang dapat digunakan adalah: • • Bahan penutup dinding fasade bangunan: marmer. aluminium. genteng keramik. maupun karpet.3 PERSYARATAN TATA RUANG DALAM Beberapa kriteria dalam menata ruang dalam bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: a. Persyaratan Teknis • Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang pintu/ jendela diusahakan sedapat mungkin pada sumbu-sumbu denah bangunan mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat gempa DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 36 . Bahan penutup lantai: ubin PC. batu alam.c. atau bondek cor. papan kayu dengan tingkat kekuatan dan keawetan tinggi. granit tile. gypsum. Bahan penutup langit-langit: kayu lapis. yang disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. serta penampilan yang sesuai dengan fungsi dan ekspresi yang diinginkan. vynil. dan sejenis. sirap. atau kaca dengan kosen aluminium. keramik. Persyaratan Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan diupayakan secara mayoritas merupakan bahan bangunan setempat dan produksi dalam negeri. celcon atau hebel. Bahan penutup atap: genteng beton. 4.1. beton pracetak. atau rangka hollow besi. dak beton dengan lapisan kedap air. disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. batu alam. kaca dengan rangka kayu atau aluminium. • Bahan dinding pengisi: batu bata. • • • Bahan kerangka langit-langit: rangka kayu minimum kelas kuat II di anti rayap. panel gypsum/GRC dan/atau panel aluminium dengan rangka hollow besi. dan panel GRC. Kriteria utama adalah durabilitas (keawetan) bahan bangunan sebagai material bangunan publik.

 Rapat Ruang Kerja Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 37 .50 meter. • Terdapat 4 jenis ruang menurut tingkat privasinya. Tabel 4.• • Ruangan di dalam bangunan harus memiliki tinggi yang cukup untuk fungsifungsi yang sesuai. yaitu sangat publik. Zona Publik dan Privat • Didalam mengelola fasilitas PIP2B dan melakukan kegiatan kerja sehari-hari. semi publik dan privat (Tabel 4-1). • Permukaan lantai dari lantai dasar harus: o o Sekurang-kurangnya 15 cm di atas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan Sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. mengingat lantai dasar mewadahi kegiatan pelayanan publik. Ketinggian langit-langit minimum di lantai dasar adalah 3. Asosiasi Profesi R. publik. Sedangkan ketinggian langit-langit minimum untuk ruang-ruang lainnya adalah 2. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R.80 meter dihitung dari permukaan lantai. maupun staff Asosiasi Profesi yang ditempatkan di bangunan ini.1 Karakteristik Ruang berdasarkan tingkat privasi KARAKTERISTIK  Sangat Publik Publik           Semi Publik     Privat           Publik     Privat                 RUANG  Pameran Indoor R. Display R. b. diperlukan pemisahan pemisahan zona pelayanan (publik) dan zona ruang kerja (privat) agar dapat dicapai tingkat privasi yang cukup bagi staff PIP2B.

4 Simulasi Rancangan yang mengakomodasi Ruang Pelayanan Publik di Lantai Dasar dan Privasi bagi staff PIP2B dan Asosiasi Profesi di Lantai Atas c. Efisiensi Flow Bangunan Yang termasuk dalam efisiensi flow bangunan adalah persyaratan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan yang sesuai dengan fungsi bangunan sebagai sebuah Pusat Informasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. DASAR ZONA DI LT.ZONA DI LT. ATAS Gambar 4. jelas dan memberikan kemudahan orientasi bagi pengunjung yang akan memakai sarana dan fasilitas publik di dalam bangunan. tata ruang dalam bangunan PIP2B harus sederhana. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 38 .

dsb) harus terintegrasi dengan kenyamanan ruang gerak secara ergonomis sesuai dengan fungsi ruangan. Penghawaan alami harus dapat berfungsi agar konservasi energi dapat dicapai pada kondisi sehari-hari. pameran outdoor dan koridor menuju ruang kerja. Ruang Pameran Indoor dapat sekaligus mengakomodasi fungsi lobby dan Ruang Display Permanen. Persyaratan Ergonomis Ruangan • • Tata ruang dalam bangunan harus dapat memberikan suasana yang tepat dan sesuai dengan fungsi ruangan Tata letak perabotan (meja kerja. Ruang Pameran Indoor Ruang Pameran Indoor merupakan ruang serba guna dengan luas ruangan sekitar 180-200 m2 yang dapat mengakomodasi materi-materi pameran keciptakaryaan di dalam bangunan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 39 . elibrary. seperti ruang perpustakaan. Lebih baik lagi apabila dari ruang pameran indoor dapat dicapai sarana publik lainnya.Gambar 3. maupun pencahayaan buatan secara merata dan setempat.1 Beberapa simulasi rancangan lay-out tata ruang dalam yang mengakomodasi flow pengunjung yang efisien d. Minimal memiliki akses kepada pintu utama. ruang display dan audiovisual. ruang konsultasi. Pengkondisian udara dapat berfungsi pada saat udara termal alami tidak pada batas yang nyaman. rak buku. Ruang Pameran Indoor merupakan sarana pelayanan publik yang pertama dijumpai oleh pengunjung di bangunan PIP2B. kursi. Ruang Pameran Indoor harus memiliki pencahayaan alami yang cukup. • Persyaratan ergonomis pada masing-masing ruangan adalah sbb: 1.

Gambar 4. 3 unit maupun 4 unit modul tergantung kondisi ruangan. Satu set working station dapat terdiri dari 1 unit. Ruang Perpustakaan & E-Library Ruang Perpustakaan harus dapat mengakomodasi koleksi buku-buku keciptakaryaan. Perabot standar set komputer. Pameran Indoor 2. meja dan kursi disebut modul working station.00 meter harus dapat mengakomodasi sistem pencarian data E-library ƒ perpustakaan secara elektronik. dilakukan penaikan lantai (raised floor) atau penetapan jalur kabel LAN melalui sirkuit yang terlindungi (race way) dan dapat dibuka dan ditutup setiap waktu. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 40 .30 meter Lebar rak buku minimal 40 cm Ketinggian rak buku maksimal 2.5 Simulasi R. ƒ ƒ Seluruh kabel LAN harus tersembunyi dengan rapih pada tempat yang disediakan secara khusus. dengan jalur dari ruang server hingga ruang e-library.25 meter Ukuran standar meja baca adalah 0. Untuk memudahkan perawatan berkala komputer. Standar ruangan yang harus diperhatikan adalah: ƒ ƒ ƒ ƒ Jarak minimum koridor diantara rak buku adalah 1.70 x 1. 2 unit.

6 Simulasi Rancangan Ruang Perpustakaan & ELibrary DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 41 . STANDAR LEBAR KORIDOR DAN TINGGI RAK BUKU STANDAR MEJA BACA MODUL WORKING STATION Simulasi jalur kabel LAN pada lokasi plint dinding Gambar 4.Pengawasan ruang perpustakaan dan e-library dapat dilakukan pada satu titik counter pengawas sekaligus librarian.

Sehingga dapat digunakan sebagai 2 ruangan audiovisual yang dapat digunakan bersamaan. yaitu sekitar 90 m2 yang dirancang untuk dapat dibagi menjadi 2 ruangan. Alternatif pertama. Alternatif kedua. Ruang Display & Audiovisual Ruang Audiovisual dapat direncanakan dalam dua alternatif. maupun digunakan sebagai ruang display pada event tertentu yang membutuhkan fasilitas audiovisual.Gambar 4. yaitu sekitar 45 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 42 . ruang audiovisual merupakan ruang yang cukup luas.7 Simulasi Rancangan Jalur kabel LAN untuk menunjang sistem data serta kemudahan dalam perawatan 3. ruang audiovisual dirancang permanen dengan kapasitas secukupnya.

Kedua alternatif harus dapat secara fleksibel menjadi ruang diskusi dengan tipe teater maupun kelas. Ruang Audiovisual alternatif 1 Alternatif ruangan 1 ketika menjadi 2 Ruang Audiovisual alternatif 2 4. Kedua alternatif harus berdekatan dengan ruang operator untuk kemudahan operasional. Ruang Kerja Ruang Kerja dengan total luas sekitar 220 m2 terdiri atas: ƒ Ruang Pimpinan ƒ Ruang Sekretaris ƒ Ruang Tunggu ƒ Ruang Kepala Staff 5 unit ƒ Ruang Staff 11 unit ƒ Ruang Staff IT 1 unit ƒ Ruang Arsip ƒ Ruang Konsultasi 1-2 unit DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 43 . sehingga keberadaan gudang untuk menyimpan perabotan meja dan kursi mutlak diperlukan.

8 Simulasi Rancangan Ruang Kerja 5. dengan lemari arsip dan satu set meja rapat yang dapat digunakan bersama. Simulasi Rancangan Ruang Asosiasi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 44 . Ruang Asosiasi Profesi Ruang asosiasi profesi dengan luas sekitar 50 m2 dapat menampung 6 staff asosiasi.ƒ Ruang Petugas Perpustakaan & E Library 1-2 unit ƒ Ruang Rapat Total area ruang kerja menampung 23 orang Gambar 4.

volume ruang. jenis peralatan. 2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan. orientasi bangunan. dapat dilakukan dengan alat penkondisian udara yang mempertimbangkan: 1) fungsi bangunan gedung/ruang. Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara dalam Ruang Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. dan 3) prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 45 . dan penggunaan bahan bangunan. letak geografis. Ruang Penunjang Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Publik Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Staff e. jumlah pengguna.6. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara yang ideal didalam ruangan.

Dari dan di Dalam Bangunan PIP2B • Persyaratan Kemudahan Hubungan Horizontal dalam Bangunan PIP2B 1. termasuk penyandang cacat dan lansia. atau edisi terbaru. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. 5. atau edisi terbaru. aman. 2) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. Persyaratan Hubungan Ke. f. fungsi ruang. Bangunan PIP2B harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut. Jumlah. Kemudahan hubungan ke. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 46 . dan jumlah pengguna ruang. dan jenis pintu. atau edisi terbaru. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 4. 3) SNI 03-6196-2000 Prosedur audit energi pada bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dari.Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mengikuti: 1) SNI 03-6389-2000 Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung. dan jumlah pengguna. 2. 3. atau yang belum mempunyai SNI. fungsi ruang. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. ukuran. dan nyaman bagi semua orang. atau edisi terbaru. 4) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung.

Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut berupa tersedianya tangga dengan disain dan ukuran sesuai standar yang berlaku DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 47 . aman dan nyaman bagi semua orang untuk mencapai fasilitas di dalam bangunan Gambar 4.9 Simulasi Rancangan Tapak memperlihatkan tersedianya fasilitas dan aksesibiitas yang mudah.Gambar 4.10 Simulasi Rancangan Lantai Dasar memperlihatkan kemudahan hubungan horizontal dengan tersedianya pintu dan koridor yang memadai • Persyaratan Kemudahan Hubungan Vertikal dalam Bangunan PIP2B 1.

11 Simulasi Rancangan Tangga dengan ketinggian anak tangga 18 cm dan lebar pijakan tangga 30 cm g. Jumlah.2. ruang ganti. ukuran. toilet. ruang bayi. atau edisi terbaru. dan konstruksi sarana hubungan vertikal tangga harus berdasarkan fungsi bangunan gedung. atau edisi terbaru. tepat sampah. tempat parkir. Persyaratan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pemanfaatan Bangunan Gedung Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya. 2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung. Gambar 4. luas bangunan. serta jumlah pengguna bangunan gedung Persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung harus mengikuti: 1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 48 . serta keselamatan pengguna bangunan gedung. serta fasilitas komunikasi dan informasi. meliputi: ruang ibadah. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan gedung. dan jumlah pengguna ruang.

4. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah. budaya. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. a. baik dari segi sosial. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan PIP2B dan terletak di dalam persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). sungai. bangunan penunjang seperti pos jaga. Setiap perencanaan bangunan PIP2B yang baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Keserasian tersebut antara lain mencakup pagar dan gerbang. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. 2. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.4 PERSYARATAN LANSEKAP Keseimbangan. atau yang belum mempunyai SNI. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 49 . 4. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan seperti dari bahaya banjir. Persyaratan Ruang Sempadan Bangunan 1. tiang bendera. keserasian dan keselarasan dengan lingkungan bangunan PIP2B adalah perlakuan terhadap lingkungan di sekitar bangunan PIP2B yang menjadi pertimbangan penyelenggaraan bangunan. gunung dan sebagainya.3) SNI 03-6573-2001 Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). 3. sirkulasi. tanah dan permukaan tanah. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. peresapan air. maupun dari segi ekosistem. Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP) 1. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. 6. RTHP berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. b. orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. unsur-unsur estetik. vegetasi besar/pohon. 5. bak sampah dan papan nama bangunan. atau edisi terbaru.1. pohon-pohon menahun. sungai besar.

2. air. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. d. Tata Tanaman 1. 4. pagar. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Hijau Pada Bangunan 1. c. 2. kestabilan tanah/wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi.2. batang dan cabangnya rapuh. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 50 . Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. e. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. Penggunaan tanaman khas lokal sangat dianjurkan dalam rangka meningkatkan identitas lokal. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. 3. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. jalur pejalan kaki. tiang telepon di kedua sisi jalan/ruas jalan yang dimaksud. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. ruang sempadan depan bangunan. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan caracara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin.

aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan.2 PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN Persyaratan struktur bangunan gedung PIP2B meliputi persyaratan struktur bangunan gedung. dan kendaraan pelayanan lainnya. 9. pembebanan pada bangunan gedung. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. guna mendukung sistem sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. papan informasi sirkulasi. 6. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. 4. ramburambu. 7. Elemen pedestrian (street furniture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. aman. dan ruang terbuka umum. dan kejelasan kontinuitas pedestrian. Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. dan keandalan bangunan gedung. struktur atas bangunan gedung. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. nyaman. 3. dan memberikan pemandangan yang menarik. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 51 . Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. struktur bawah bangunan gedung. 10. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. 11.2. 8. Bangunan PIP2B diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. penghijauan. 5. 4. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman).

• Perencanaan dan pelaksanaan perawatan struktur bangunan gedung seperti halnya penambahan struktur dan/atau penggantian struktur struktur.1 STRUKTUR BANGUNAN • Setiap bangunan gedung PIP2B. • Dalam perencanaan struktur bangunan gedung terhadap pengaruh gempa.2. sesuai harus dengan mempertimbangkan persyaratan keselamatan pedoman dan standar teknis yang berlaku. serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan gedung. termasuk beban tetap. jamur. semua unsur struktur bangunan gedung. • Penentuan mengenai jenis. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. • Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. atau edisi terbaru. • Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. keawetan. dan serangga perusak.4. kokoh. 4. intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti: (1) SNI 03-1726-2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung.2. dan (2) SNI 03-1727-1989 Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung.2 PEMBEBANAN PADA BANGUNAN GEDUNG • Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 52 . angin. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. gempa) dan beban khusus. lokasi. beban sementara (angin. pengaruh korosi. atau edisi terbaru.

digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Air yang telah bercampur dengan semen akan mengalami persenyawaan yang berfungsi sebagai perekat antar senyawa. Berikut ini adalah persyaratan yang harus diperhatikan dalam pemilihan penggunaan air pada campuran beton menurut SNI 03-3449-2002 : DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 53 .2.3 STRUKTUR ATAS BANGUNAN GEDUNG a. Tata cara pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung mencakup hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan yang meliputi struktur. pencetakan. (3) SNI 03-3430-1994 Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. dan (6) SNI 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. atau edisi terbaru. (4) SNI 03-3976-1995 atau edisi terbaru. bahan. (2) SNI 03-2847-1992 Tata cara penghitungan struktur beton untuk bangunan gedung. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus mengikuti: (1) SNI 03-1734-1989 Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. sampai pada tahap pelindungan dan pelaksanaan. Pemilihan dan Penggunaan Bahan • Air Air berfungsi sebagai pencampur bahan-bahan beton.Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dan bahan tambahan). atau edisi terbaru. sampai pada tahap penyimpanan. pengecoran. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. baja tulangan. 4. kualitas. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan bahan secara lengkap tercantum dalam SNI 03-3449-2002 meliputi proses pengujian. Adapun prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam membangun gedung PIP2B dengan ketinggian maksimal 2 lantai adalah sebagai berikut : 1. agregat. air. pemilihan bahan (semen. atau yang belum mempunyai SNI. Tata cara pengadukan pengecoran beton. pencampuran. keawetan. (5) SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal.

o o Tulangan dengan Ø ≤ 12mm dipakai BJTP 24 (polos). yang prinsipnya nilai kuat-leleh dan berat per meter panjang bahan tulangan yang dimaksud. bahan organik. Kualitas dan diameter nominal baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium.1) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli. 3) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton. termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat. serpihan. yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ). dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5% diameter nominalnya. dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70% diameter nominalnya. 2) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium. atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. (2) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji morta yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. kecuali ketentuan berikut terpenuhi: (1) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. asam. retakan. dan untuk tulangan dengan Ø > 16mm memakai BJTD (deform) bentuk ulir. karat. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 54 . o Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur)harus digunakan baja tulangan doform (BJTD). alkali. tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. dan lapisan-lapisan yang dapat mengurangi daya lekat. terkecuali pada air pencampur. garam. • Baja Persyaratan baja tulangan yang akan digunakan adalah sebagai berikut: Baja tulangan harus bebas dari lipatan. sisik.

atau d = 12. Tulangan pokok jumlah. tidak boleh satu sisi/segaris.5 cm. tulangan yang akan dipasang disesuaikan dengan jenis tulangan berdasarkan RKS dan gambar kerja yang ada.47 √G d = diameter nominal (mm) B = berat baja tulangan (N/mm) G = beraT baja tulangan (Kg/mm) o Toleransi berat batang contoh yang diijinkan di dalam pasal ini sebagai berikut : Diemeter tulangan baja tulangan Ø < 10 mm 10 mm < Ø < 16 mm 16 mm < Ø < 28 mm Ø > 28 mm Toleransi berat yang diijinkan ±7% ±6% ±5% ±4% Tabel 4. Pemasangan begel harus siku dengan tulangan pokok. Pekerjaan Kolom Proses pekerjaan kolom melalui beberapa tahap. posisi.o Diameter nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut yang ditentukan dengan rumus : d = 4. diikat bendrat dengan kuat. Tulangan pokok satu dengan lainnya harus berjarak minimal sama dengan diameternya. 10 cm pada bagian tumpuan sepanjang ¼L. Hal yang diperhatikan dalam proses penulangan kolom antara lain : • Pembuatan begel diperhitungkan selimut beton (beton decking) 2. Setiap pemasangan besi kolom harus diakhiri dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 55 . baik itu jenis dimensi dan jumlah tulangannya. dan diameternya sesuai dengan gambar. Pada tahap penyetelan tulangan. dan sisanya jarak begel 15 cm.9029 √B. dimulai dari penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan finishing. • • Penempatan kait begel selang-seling. Jarak tulangan begel yang diikat dengan tulangan kolom.3 Toleransi berat yang diijinkan 2. sambunganya tidak boleh satu tempat (disalang-seling). Pada ujung tulangan harus diberi kait 90˚. Kedudukan tulangan harus vertikal.

• Tulangan pokok. Setiap pemasangan tulangan segera diberi tahu beton. Jarak tulangan pokok baris kesatu denga kedua dibuat sebesar diameternya. Jarak tulangan begel yang dekat tumpuan 10 cm sejauh ¼ L. Penempatan kawat begel selang-seling tidak boleh satu sisi.pemasangan beton tahu sebelum di bekisting. dan posisi sesuai dengan gambar. yaitu dimulai dari tahap penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan perawatan. yang ditengah berjarak 15 cm. memperhitungkan selimut beton decking 2. Pekerjaan Balok Pekerjaan balok dilakukan apabila pekerjaan penulangan kolom sudah selesai dilakukan.5 cm. Gambar 4. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan penulangan balok adalah sebagai berikut : • Pada pembuatan begel. diameter. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 56 .13 Detail Kolom 3. Antar tulangan tidak boleh bersinggunagn. Sambungan tidak boleh satu tempat. jumlah. Pemasangan begel siku-siku terhadap tulangan pokok/vertikal diikat dengan bendrat pada tulangan pokok. kedudukannya harus lurus horisontal. Tulangan harus terselimuti beton secara simetris dengan tebal 3 cm. harus diberi jarak minimum=diameter tulangannya. Pada ujungnya harus diberi kait 45˚-90˚.

Sebelum dipasang BRC terlebih dahulu dibersihkan dari karat. Beton decking tebuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 3. Pada pemasangannya BRC bertumpu pada beton decking setebal 7 cm. Pekerjaan Pelat Lantai Pekerjaan pelat lantai melalui beberapa tahapan yaitu : • • • • • • • • • • Pengurugan pasir Urugan berupa berupa pasir dan batu dengan ketebalan 10 cm. pasir.14 Detil Penulangan Balok 4. yaitu secara manual dan dengan menggunakan BRC M 8 berukuran 510 cm x 210 m.Gambar 4. Pembuatan lantai kerja Bahan pembuatan lantai kerja berupa semen. berfungsi untuk mengatur ketebalan pengecoran. dan kerikil dengan perbandingan 1 : 3 : 5. Penulangan pada pelat lantai dilakukan dengan dua arah. Antara BRC satu dengan lainnya diikat dengan bindraat dan saling overlap 1 kotak. Coating Pekerjaan waterproofing Pemasangan kawat mesh Screed Pemasangan bekisting Penulangan Penulangan lantai ada 2 cara. karena 10/4=25<4 berdasarkan persyaratan ly/lx<lx. Hal-hal yang perlu 57 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Pembuatan lantai kerja dilakukan selama 3 hari.

AC. Jarak sisi luar atas tulangan tumpuan dengan telasaran papan triplek sebesar 10. Tulangan pelat tidak boleh diikat dengan tulangan balok. Selimut beton decking 1. Pada daerah tumpuan diberi kursi/kuda-kuda setiap jarak 50 cm. stop kontak. Sebelum pengecoran semua sparing pipa listrik (lampu. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Konstruksi Baja Prinsip dasar penggunaan konstruksi baja membutuhkan perhitungan yang spesifik dan akurat tergantung bentang dan luasan bangunan. • • • Pemasangan shear connector Pengecoran Perawatan Gambar 4.5 cm dipasang 5 buah tiap m². Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti: (1) SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. atau edisi terbaru. Setiap persilangan tulangan pokok diikat dengan tulangan balok dengan kawat bendrat.5 cm (jarak tulangan atas dan bawah 9 cm). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 58 . (3) Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. akses untuk LCD). air bersih. jarak antar tulangan 20 cm as ke as. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan (4) Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi.diperhatikan dalam pekerjaan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : • • • • • • Diameter tulangan polos 10 mm. air kotor. tidak ada standar baku ukuran yang dapat menjadi sebuah patokan untuk bangunan gedung PIP2B ini. (2) Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. harus sudah terpasang semua. Oleh karena itu. stek penggantung plafon.15 Detil Penulangan Pelat Lantai b. atau yang belum mempunyai SNI.

Berikut ini adalah gambar contoh simulasi sederhana potongan portal dan detail sambungan baja untuk bangunan dengan ketinggian maksimal 2 lantai : Gambar 4.17 Potongan Portal konstruksi baja Gambar 4.18 Detail sambungan baja DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 59 .

Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus mengikuti: (1) SNI 03-2407-1994 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. • Pondasi Dalam (1) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau yang belum mempunyai SNI. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. (4) Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. (2) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. (3) Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 60 . (3) Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai.c.2. dan (3) Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu.4 STRUKTUR BAWAH BANGUNAN GEDUNG • Pondasi Langsung (1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. 4. atau edisi terbaru. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek.

digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. (5) Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random.percobaan pembebanan. (8) Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. atau yang belum mempunyai SNI. harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. (6) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung harus memperhatikan gangguan yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan pada masa pelaksanaan konstruksi.2. harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait. (2) Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. (4) Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.5 KEANDALAN SRTRUKTUR BANGUNAN GEDUNG • Keselamatan Struktur (1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. 4. (3) Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala seDRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 61 . (9) Apabila perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak. (7) Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur.

digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. (3) Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Hall. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. dan sanitasi. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. • Persyaratan Bahan (1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan.3 PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN Persyaratan utilitas bangunan PIP2B meliputi persyaratan sistem penghawaan. komunikasi dalam bangunan. dan/ atau jarak lantai ke ceiling yang cukup tinggi digunakan terutama pada ruangan Pameran Indoor. Tangga. atau yang belum mempunyai SNI. 4.1 PERSYARATAN SISTEM PENGHAWAAN • Setiap bangunan PIP2B harus dapat menjadi contoh yang memperlihatkan kinerja ventilasi alami beserta ventilasi mekanik/buatan yang menyesuaikan dengan iklim setempat • • Bangunan harus memiliki bukaan permanen dan/ atau kisi-kisi yang dapat dibuka dan ditutup untuk kepentingan ventilasi alami yang dapat dikendalikan. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.3. dan Toilet. Sistem cross ventilasi yang memadai. (2) Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. kemampuan bangunan terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan. pencahayaan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 62 . Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. 4.suai klasifikasi bangunan.

R. PAMERAN INDOOR

TOILET

R. PAMERAN INDOOR

Gambar 4- 19 Simulasi Penggunaan Void yang meningkatkan cross ventilasi pada ruang public

Penggunaan sistem penghawaan alami merupakan salah satu upaya konservasi energi dengan mengurangi beban energi yang digunakan untuk menyalakan ventilasi buatan (AC) pada kondisi sehari-hari apabila memungkinkan. Ruang pameran indoor, ruang kerja dan ruang rapat, harus dapat digunakan dengan penghawaan alami maupun buatan.

Bangunan PIP2B harus dapat memberikan contoh perancangan sistem penghawaan yang sehat pada ruang-ruang toilet, terutama toilet publik.

TOILET LT. DASAR

TOILET LT. ATAS

Gambar 4- 20 Simulasi Sistem Penghawaan yang sehat pada ruang-ruang Toilet
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

63

• •

Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan, maka diperlukan ventilasi mekanis yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran. Ruang-ruang yang harus menggunakaan pengkondisian udara buatan adalah perpustakaan, e-library, ruang server & IT, dan audio visual.

Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, harus mengikuti: a) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung; b) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; c) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi; d) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi mekanis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
Tabel 4- 4 Kebutuhan Laju Udara Ventilasi berdasarkan SNI 03-6572-2001

Fungsi Ruang Kerja Ruang Pertemuan WC Umum

Kerapatan Penghunian per 100m2 Luas Lantai 7 orang 60 orang 100 orang

Kebutuhan Udara Luar Merokok Tidak Merokok                    0.30                     0.15                    1.05                     0.21                    2.25                     3.25

Satuan m3/min orang m3/min orang m3/min orang

4.3.2

PERSYARATAN SISTEM PENCAHAYAAN
Setiap bangunan gedung untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. • Bangunan PIP2B sebagai bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan yang memadai untuk pencahayaan alami.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

64

• Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan PIP2B dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan gedung.
Bukaan bagi pencahayaan ruang pameran indoor alami

Bukaan bagi pencahayaan ruang-ruang kerja

alami

Gambar 4- 21 Simulasi Sistem Pencahayaan Alami Bangunan PIP2B

• Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan gedung dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
Tabel 4- 5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang direkomendasikan
Fungsi  Ruangan Tingkat Pencahayaan Kelompok Renderasi Keterangan (lux) Warna Ruang Direktur 350 1 atau 2 Ruang Kerja 350 1 atau 2 Menggunakan armatur berkisi Ruang Komputer 350 1 atau 2 untuk mencegah silau akibat  pantulan komputer Ruang Rapat 300 1 atau 2 Gudang Arsip 150 3 atau 4 Ruang Arsip Aktif 300 1 atau 2 Ruang Audio visual 100 1 Sistem pengendalian pencahayaan Perpustakaan 300 1 atau 2
sumber: SNI  03‐6575‐2001 tentang  Ta ta  Cara  Perancanga n  Si stem  Pencaha yaan  Buatan  pada  Bangunan  Gedung

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

65

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 66 . • Pencahayaan alami dan buatan diterapkan pada ruangan baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • Semua sistem pencahayaan buatan.0                                  15.• Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan gedung dengan fungsi tertentu.0                                    1.0                                  25.3.0                                    5.3 PERSYARATAN KOMUNIKASI DALAM BANGUNAN GEDUNG Persyaratan komunikasi dalam bangunan gedung dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar. atau edisi terbaru. harus dilengkapi dengan pengendali manual. 3) SNI 03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung. Tabel 4.0 sumber: SNI 03‐6759‐2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung 4.6 Daya Pencahayaan Maksimum Jenis Bangunan/ Ruangan Kantor Ruang Kelas Auditorium Gudang Pintu Masuk dengan Kanopi Gedung Kantor Taman Jalan untuk Kendaraan dan Pejalan Kaki Tempat Parkir Data Pencahayaan Maksimum Watt/m2                                  15. Persyaratan pencahayaan harus mengikuti: 1) SNI 03-6197-2000 Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung. atau edisi terbaru. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat. atau edisi terbaru.5                                    2.0                                  15. serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang. 2) SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung. serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. dan/atau otomatis. atau yang belum mempunyai SNI.0                                    1.

(ii) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke bangunan gedung pada saat hujan dll. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan.lainnya.50 m x 0. • Perencanaan Komunikasi dalam Gedung (1) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komunikasi gedung dan lain-lainnya. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. (2) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. sistem voice evacuation. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. dll. dan lain-lain. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui • ambang batas yang ditentukan. minimal berjarak 0. kedap debu. penempatannya harus mudah diamati. (ii) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. (iii) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. dioperasikan. (3) Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). aman dan mudah dikerjakan.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. (2) Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. tidak membahayakan. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. sistem tata suara. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 67 . (iii) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. terang. Termasuk antara lain: sistem telepon. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. dipelihara. tidak ada genangan air. Instalasi Telepon (1) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. (3) Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Ruang yang bersih. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. vi. v. dan pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir terhadap bangunan gedung secara efektif untuk proteksi terhadap petir serta inspeksi. ii. Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut: i. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Persyaratan Instalasi Proteksi Petir Persyaratan proteksi petir ini memberikan petunjuk untuk perancangan. Sumber daya listrik. Transformator distribusi. Jaringan distribusi listrik. 4.3. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. dalam upaya untuk mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang diproteksi. Instalasi Proteksi Petir. keamanan gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat listrik.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PETIR dan BAHAYA KELISTRIKAN a. instalasi. dan iii. perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan bangunan gedung yang terjamin terhadap aspek keselamatan manusia dari bahaya listrik. termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan lainnya. dan perlindungan lingkungan. ii. b.(4) Ruang batere sistem telepon harus bersih. iii. Pemeriksaan dan pengujian. terang. dan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 68 . atau yang belum mempunyai SNI. iv. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Perencanaan sistem proteksi petir. Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan: i. jaringan distribusi listrik. panel hubung bagi. Persyaratan Sistem Kelistrikan Persyaratan sistem kelistrikan meliputi sumber daya listrik. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung. Beban listrik. keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya. Perencanaan instalasi listrik. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem proteksi petir pada bangunan gedung.

(2) SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2000). digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. sistem distribusi. Persyaratan plambing dalam bangunan gedung harus mengikuti: 1) Kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan Permenkes 907/2002. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Sistem Pengolahan dan Pembuangan Air Limbah/Kotor DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) sedangkan instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman 69 . Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin kualitas air. Pemeliharaan Persyaratan sistem kelistrikan harus mengikuti: (1) SNI 04-0227-1994 Tegangan standar. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi bangunan gedung.3. 2) SNI 03-6481-2000 Sistem Plambing 2000. Plambing. atau yang belum mempunyai SNI. 3) Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • • • Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan. atau edisi terbaru. (3) SNI 04-7018-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga. atau edisi terbaru. 4. • Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru. dan penampungannya. Persyaratan Plambing Dalam Bangunan Gedung • Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air minum. (4) SNI 04-7019-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan.5 PERSYARATAN SANITASI a. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. b. atau yang belum mempunyai SNI.vii. kualitas air bersih.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 70 . atau yang belum mempunyai SNI. 2) SNI 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. Persyaratan Penyaluran Air Hujan • Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah. atau edisi terbaru.22 Simulasi Sistem Sanitasi Bangunan PIP2B c. • Air limbah domestik sebelum dibuang ke saluran terbuka harus diproses sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang berlaku. air kotor dan air limbah Shaft bagi sistem plumbing disediakan untuk memudahkan maintenance bagi sistem sanitasi bangunan Posisi toilet di lantai dasar berhubungan dengan posisi di lantai atas untuk mencapai sistem sanitasi yang efisien Gambar 4. atau edisi terbaru. Persyaratan teknis air limbah harus mengikuti: 1) SNI 03-6481-2000 Sistem plambing 2000. dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. permeabilitas tanah. 3) SNI 03-6379-2000 Spesifikasi dan pemasangan perangkap bau. Pertimbangan jenis air limbah dan/atau air kotor diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.• • Sistem pembuangan air limbah dan/atau air kotor harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. atau edisi terbaru. dan pemeliharaan sistem pembuangan air limbah dan air kotor pada bangunan gedung mengikuti standar baku serta ketentuan teknis yang berlaku. • • • Simulasi pemisahan sistem air bersih. pemasangan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 4) Tata cara perencanaan.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. d. atau edisi terbaru. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan. dan volume kotoran dan sampah. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 2) SNI 03-2453-2002 Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. jumlah penghuni. atau yang belum mempunyai SNI. Tempat Sampah. • • Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. atau edisi terbaru. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 71 . 3) SNI 03-2459-2002 Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. atau edisi terbaru. pemasangan. • Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. masyarakat dan lingkungannya. Persyaratan penyaluran air hujan harus mengikuti: 1) SNI 03-4681-2000 Sistem plambing 2000. dan/atau Pengolahan Sampah) • • Sistem pembuangan sampah padat direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya. dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung. Kecuali untuk daerah tertentu. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima. maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. • Pertimbangan jenis sampah padat diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni. 4) Standar tentang tata cara perencanaan.• • Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. Persyaratan Fasilitasi Sanitasi Dalam Bangunan Gedung (Saluran Pembuangan Air Kotor. Penampungan Sampah.

aluminium. rancangan bukaan. Gambar 4. kertas koran. • Kenyamanan pandangan (visual) dari luar ke dalam bangunan harus mempertimbangkan: 1) rancangan bukaan. dan 3) pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar. • Kenyamanan pandangan (visual) dari dalam bangunan ke luar harus mempertimbangkan: 1) gubahan massa bangunan. dan penggunaan elemen sunscreen. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.6 PERSYARATAN KENYAMANAN a. 2) pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan RTH. kertas. wadah plastik dan sebagainya. melalui pemakaian horizontal dan/atau vertical blind.23 Tempat sampah daur ulang • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dan rancangan bentuk luar bangunan gedung.3. Dengan demikian harus disediakan tempat sampah untuk mendaur ulang. dan rancangan bentuk luar bangunan. Persyaratan Kenyamanan Pandangan • Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan (visual) harus mempertimbangkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunan ke luar dan dari luar bangunan ke ruang-ruang tertentu dalam bangunan gedung. kaleng. tata ruang-dalam dan luar bangunan.• Potensi reduksi sampah padat dapat dilakukan dengan mendaur ulang. memanfaatkan kembali beberapa jenis sampah seperti botol bekas. tata ruang-dalam dan luar bangunan. 4. 2) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya. atau yang belum mempunyai SNI. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 72 . kardus.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 73 . digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran. • Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan dan getaran pada bangunan gedung harus mengikuti persyaratan teknis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. kesehatan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. • • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau yang belum mempunyai SNI. atau yang belum mempunyai SNI. b. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. Getaran dapat berupa getaran kejut. yaitu Standar kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung.Simulasi rancangan penggunaan sistem void memberikan kenyamanan pandang dari ruang kerja di lt atas ke arah ruang pameran indoor di lt dasar Simulasi rancangan penggunaan horizontal atau vertical blind untuk ruang kerja dapat mengurangi silau dan panas matahari tanpa mengurangi kenyamanan pandang ke arah luar bangunan • Untuk kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung harus dipenuhi persyaratan teknis. Persyaratan Kenyamanan terhadap Tingkat Getaran dan Kebisingan • Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya. yaitu Standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap getaran pada bangunan gedung.

1 SISTEM PROTEKSI PASIF • Setiap bangunan PIP2B harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang memproteksi komponen arsitektur dan struktur bangunan gedung sehingga dapat melindungi penghuni gedung dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran. • Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. • Pada sistem proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan kinerja. dan (2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.4. atau yang belum mempunyai SNI.4. volume bangunan. dan perlindungan pada bukaan. 4. • Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi: 74 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) .2 SISTEM PROTEKSI AKTIF • • Setiap PIP2B harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan proteksi aktif. Sistem proteksi pasif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 4. klasifikasi. ketahanan api dan stabilitas. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau yang belum mempunyai SNI. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.• Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. tipe konstruksi yang diwajibkan. luas. geometri ruang. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BAHAYA KEBAKARAN BANGUNAN PIP2B TERHADAP 4. bahan bangunan terpasang. kompartemenisasi dan pemisahan. ketinggian. tipe konstruksi tahan api. • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.

Sistem Pemadam Kebakaran.4. Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. . pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. dan (5) SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. (4) SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.4.. dan ruangan bervolume besar. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. . Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 4. atau yang belum mempunyai SNI. atrium. 4.3 PERSYARATAN JALAN KELUAR dan AKSESIBILITAS untuk PEMADAM KEBAKARAN Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran meliputi perencanaan akses bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. (2) SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan.Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Sistem proteksi aktif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. dan perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran. atau yang belum mempunyai SNI. dan (2) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada gedung.4 PERSYARATAN SARANA EVAKUASI Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana evakuasi bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 75 .

pengguna.25 Simulasi Rancangan sarana evakuasi di lantai dasar dengan 3 buah pintu yang berhubungan langsung dengan alaram terbuka DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 76 . pintu keluar darurat. dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat. Gambar 4.24 Simulasi Rancangan dengan jalur evakuasi dari ruang-ruang di lantai atas Gambar 4.

Fasilitas dan aksesibilitas meliputi tempat parkir. pintu. nyaman dan mandiri 4. aman. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 77 . toilet. ke. serta rambu dan marka bagi penyandang cacat dan lansia. dengan jarak maksimum 60 meter. Area perkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol tanda parkir penyandang cacat yang berlaku.5 PERSYARATAN FASILITAS DAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT Bangunan PIP2B harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia masuk dan keluar. Gambar 4.5. ram. Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat dan lansia harus mengikuti ketentuan yang berlaku. dan dari bangunan gedung serta beraktivitas dalam bangunan gedung secara mudah.26 Simulasi Rancangan yang menjamin kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia untuk beraktifitas di dalam gedung PIP2B dengan mudah aman. jalur pemandu.1 TEMPAT PARKIR • • • Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/ fasilitas yang dituju.4. nyaman dan mandiri.

Kemiringan maksimal dengan perbandingan tinggi dan panjang adalah 1:11 dengan permukaan rata/datar di semua bagian. • • • Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm. Daerah menaik-turunkan penumpang dilengkapi dengan fasilitas ram. dan rambu penyandang cacat. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 78 . • RUTE AKSESIBILITAS DARI • JARAK KE AREA PARKIR PARKIR TIPIKAL RUANG PARKIR • Ruang Parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ram dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya.• Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ram trotoir di kedua sisi kendaraan. jalur pedestrian.

Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan. sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin peringatan. Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks): • • • • • Di depan jalur lalu-lintas kendaraan. Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan ubin lainnya.5.4. c. Jalur pemandu adalah jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan. d. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya. maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga. PRINSIP PERENCANAAN JALUR PEMANDU TIPE TEKSTUR UBIN PEMANDU (GUIDING BLOCKS) DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 79 . Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting. f. Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai. b. Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat. Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan. e.2 JALUR PEMANDU a.

Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna.5. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan: • Pintu geser • Pintu yang berat. d. Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 80 . • Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra. g. Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam waktu lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda dan tongkat tunanetra. f. • Pintu yang terbuka kekedua arah ( "dorong" dan "tarik"). c.SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA PINTU MASUK SUSUNAN BELOKAN UBIN PEMANDU PADA 4. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm.3 PINTU a. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran. e. karena pintu yang terbuka sebagian dapat membahayakan penyandang cacat. dan sulit untuk dibuka/ditutup. b. • Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil. dan pintupintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 81 .

dirancang untok menghalangi roda kursi roda agal tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. f. Apabila DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 82 . Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan. e. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7°. dan 120 cm dengan tepi pengaman. d. c. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang.5. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6°. atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm.4 RAM a. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b.4. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman. sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut. g. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7°) tidak boleh lebih dari 900 cm.

TIPIKAL RAM DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 83 . Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. h. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65-80 cm. Pencahayaan disediakan pada bagianbagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian.bagian yang membahayakan. i.berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. Ramp harus diterangi dengan pencahayean yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari.

5 TOILET a. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 84 . sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b.5.KEMIRINGAN RAM HANDRAIL BENTUK RAM YANG DIREKOMENDASIKAN 4. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu "penyandang cacat" pada bagian luarnya.

f. n. h. j. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai.c. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. i. o. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga tinggi permukaannya dan lebar depannya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik. dianjurkan untuk menyediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu-waktu terjadi listrik padam. k. Pintu harus mudah dibuka untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup. g. Letak kertas tissu. air. Pemasangan ketinggian cermin diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 85 . m. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. d. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. (45-50 cm) e. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel. kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda. seperti pada daerah pintu masuk. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda. l.

ANALISA RUANG GERAK PADA RUANG TOILET

TINGGI TOILET

UKURAN SIRKULASI MASUK

RUANG GERAK PADA TOILET

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

86

PERLETAKAN URINER

TIPIKAL PEMASANGAN WASTAFEL

PERLETAKAN KRAN WASTAFEL

RUANG GERAK AREA WASTAFEL

RUANG BEBAS AREA WASTAFEL

4.5.6 PERABOT
a. Perletakan barang-barang perabot bangunan dan furniture harus menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat. b. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan umum harus dapat digunakan oleh penyandang cacat, termasuk dalam keadaan darurat. c. Ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B yang digunakan oleh masyarakat banyak, yaitu ruang perpustakaan, e- library, dan audio visual maka jumlah meja dan tempat duduk aksesibel yang harus disediakan minimum adalah 1 set untuk masing-masing ruangan.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

87

UKURAN PERABOT RUANG DUDUK

UKURAN TINGGI MEJA

4.5.7 RAMBU DAN MARKA
a. Rambu dan Marka adalah fasilitas dan elemen bangunan yang digunakan untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk bagi penyandang cacat. b. Penggunaan rambu terutama dibutahkan pada: • • • • Arah dan tujuan jalur pedestrian KM/WC umum, telpon umum Parkir khusus penyandang cacat Nama fasilitas dan tempat.
88

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

d. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar belakangnya. • Cukup mendapat pencahayaan. Persyaratan Rambu yang digunakan: • Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan penyandang cacat lain. • Karakter dan latar belakang rarnbu harus dibuat dari bahan yang tidak silau. SIMBOL AKSESIBILITAS. • Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3: 5 dan 1:1. • Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan artinya. pembedaan perkerasan tanah. apakah karakter terang di atas Kelap. serta ketebalan huruf antara 1: 5 danl:10. TUNA DAKSA. atau sebaliknya. Lokasi penempatan rambu: • Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang. dll). warna kontras. TUNA NETRA DAN TUNA RUNGU SIMBOL RAM SIMBOL PENUNJUK ARAH RUANGAN DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 89 . • Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya. • Rambu yang menerapkan metode khusus (misal.c. • Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional. • Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca . termasuk penambahan lampu pada kondisi gelap.

2 TAHAP MOBILISASI SUMBER DAYA MANUSIA Pada tahap ini dilakukan perekrutan staf untuk menjadi pengelola harian PIP2B. Tujuan dari tahap persiapan adalah terbentuknya kesekretariatan atau lembaga PIP2B yang lengkap dengan sarananya. prasarana dan 5. sehingga PIP2B diharapkan memiliki staf yang bisa diandalkan untuk melaksanakan program-program maupun kegiatan. serta ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan Bangunan Gedung dan Pembangunan Bangunan Gedung Negara. b. yang mengacu pada Tata Cara Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Tahap Perencanaan Bangunan PIP2B yang mengacu kepada Pedoman Umum Perencanaan PIP2B. maka jumlah personil yang akan terlibat didalam organisasi PIP2B adalah 23 orang.1 TAHAP PERSIAPAN Tahap Persiapan merupakan tahap pertama yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan sebuah Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di daerah. Tahapan Pembangunan Bangunan PIP2B. Struktur organisasi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut: a. Dengan kelembagaan standar yang telah ditentukan bahwa PIP2B dipimpin oleh seorang pejabat setingkat eselon III . berupa Bangunan Gedung PIP2B beserta isinya.bab 5 PENYELENGGARAAN PIP2B 5. Kepala Unit PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 90 . a.

3. c. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bagian Tata Usaha PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. serta kegiatan terkait lainnya. Perpustakaan dan E-Library i. 2. dan Penyusunan Program dan Keuangan. Urusan Tata Usaha PIP2b merupakan pelaksana teknis pendukung kegiatan administrasi dan tata laksana kantor dan sekaligus berfungsi sebagai humas PIP2B. Kepala Bagian Tata Usaha dipinpin oleh seorang Kepala Bagian dan dapat dibantu beberapa staf pelaksana untuk urusan Tata Usaha. Dalam menjalankan tugasnya. penyiapan sumber daya dan pengendalian pelaksanaan administrasi dan keuangan pengelolaan PIP2B. b. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 91 . PIP2B dipimpin oleh seorang Kepala Unit setingkat eselon III. Kesekretariatan/ Tata Usaha PIP2B 1. Kepala Unit PIP2B mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam kegiatan perencanaan program dan anggaran. iii. Sub Bidang Data merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan input data dan informasi. Kepala Bidang Data. dan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. 3. Bidang Data. merupakan pelaksana teknis dan penanggung jawab kegiatan operasional PIP2B yang akan mengelola dan menjalankan semua kegiatan PIP2B baik ke dalam maupun ke luar lembaga 2. ii.1. Perpustakaan dan E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan data dan informasi. Kepala Unit PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Dinas lingkup Perumahan dan Permukiman/ Bangunan Gedung Propinsi. Perpustakaan dan E-library dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. Bidang Data. Bidang-bidang dalam Unit PIP2B 1. Kehumasan.

vi. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Data. iii. v. iv. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat data dan informasi perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung yang mudah dan cepat serta yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. serta kegiatan terkait lainnya. Sub Bidang Layanan Informasi Internet merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi internet. mudah dan cepat diakses serta dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Sub Bidang E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. termasuk layanan informasi audio visual dan layanan informasi internet. v. Sub Bidang Perpustakaan merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan dokumentasi buku-buku perpustakaan. termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan database informasi internet. 2.iv. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi. vii. vi. Perpustakaan dan E-library ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas. ii. Bidang Layanan Informasi i. Kepala Bidang Layanan Informasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. Bidang Layanan Informasi merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 92 . Sub Bidang Layanan Informasi Audiovisual merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi audiovisual. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Layanan Informasi Audiovisual dan Internet ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B.

pengembangan ketrampilan teknis. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Pameran ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 93 . Bidang Pameran merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi dan pelatihan yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Sub Bidang Pameran Indoor merupakan pelaksana teknis tugas yang iv. Bidang Pameran i. Kepala Bidang Pameran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. sehingga PIP2B dapat secepatnya melakukan pelayanan pada masyarakat. serta kegiatan terkait lainnya. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas dan mampu menjadi lembaga yang responsif terhadap perkembangan masalah dan tantangan yang ada di bidang perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung. iii. 5.3. seminar dan lokakarya. ii. berkaitan dengan pengelolaan penyuluhan. termasuk penyelenggaraan pelatihan. Pengelola PIP2B harus segera melengkapi pengetahuan dalam database baik elektronik maupun perpustakaan. pelatihan. penyuluhan. pameran seminar dan lokakarya. Sub Bidang Pameran Outdoor merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan materi pameran termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan informasi berkaitan dengan permukiman dan bangunan gedung. v.3 TAHAP OPERASIONAL Setelah prasarana dan sarana telah lengkap dan PIP2B mempunyai staf pengelola harian maka program kerja dapat dilaksanakan. vi.

Gambar 5.Pihak pengelola PIP2B harus memberikan perhatian pada kegiatan rutin seperti pelayanan. Disamping kinerja dari pengelola PIP2B sendiri. dan publikasi untuk menghasilkan pelayanan PIP2B yang prima. kegiatan updating data. diperlukan pula keterlibatan Dinas Teknis terkait khususnya untuk melakukan monitoring dan evaluasi.1 Struktur Organisasi Lembaga PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful