DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG

PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

1

DAFTAR ISI
 
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 5
1.1  1.2  1.3  1.4  Pengertian ........................................................................................... 5  Maksud dan Tujuan ............................................................................. 5  Ruang Lingkup .................................................................................... 6  Acuan Normatif .................................................................................... 6

BAB 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) Error! Bookmark not defined.
2.1  2.2  2.3  2.4  2.5  Penjelasan umum ................................................................................ 9 Layanan Informasi PIP2B .................................................................. 10  Produk Informasi PIP2B .................................................................... 12  Sarana Pelayanan Informasi PIP2B .................................................. 13  Struktur Kelembagaan Standar dan Jumlah Personil PIP2B ............ 14

BAB 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B ............................. 15
3.1  Fungsi dan Klasifikasi Bangunan PIP2B ........................................... 15  3.1.1  Penetapan Fungsi Bangunan Gedung PIP2B ....................... 15  3.1.2  Penetapan Klasifikasi Bangunan Gedung PIP2B .................. 15  3.2  Standar Perencanaan Bangunan PIP2B ........................................... 18  3.2.1  Standar Luas Ruang Kerja .................................................... 18  3.2.2  Program Kebutuhan Luas Ruangan ...................................... 18  3.2.3  Karakteristik dan Kriteria Ruangan Pelayanan ...................... 19  3.2.4  Hubungan Antar Ruang ......................................................... 23  3.3  3.4  Persyaratan Lokasi ............................................................................ 24  Penentuan Luas Tapak ..................................................................... 25  3.4.1  Sarana Ruang Luar ............................................................... 25  3.4.2  Sarana Publik di Lantai Dasar ............................................... 25 
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

2

3.4.3  Luas Lahan Minimum ............................................................ 26 3.5  Persyaratan Administrasi ................................................................... 25 

BAB 4 KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B ........................... 31
4.1  Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan ................................... 31  4.1.1  Kesesuaian Tata Bangunan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Peraturan Daerah .................................. 31  4.1.2  Persyaratan Arsitektur ........................................................... 33  4.1.3  Persyaratan Tata Ruang Dalam ............................................ 36  4.1.4  Persyaratan Lansekap ........................................................... 49  4.2  Persyaratan Struktur Bangunan ........................................................ 51  4.2.1  Struktur Bangunan ................................................................. 52  4.2.2  Pembebanan pada Bangunan Gedung ................................. 52 4.2.3  Struktur Atas Bangunan Gedung ........................................... 53  4.2.4  Struktur Bawah Bangunan Gedung ....................................... 60 4.2.5  Keandalan Struktur Bangunan Gedung ................................. 61 4.3  Persyaratan Utilitas Bangunan .......................................................... 62  4.3.1  Persyaratan Sistem Penghawaan.......................................... 62  4.3.2  Persyaratan Sistem Pencahayaan......................................... 64  4.3.3  Persyaratan Komunikasi dalam Bangunan Gedung .............. 66  4.3.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan ................................................ 68  4.3.5  Persyaratan Sanitasi .............................................................. 69  4.3.6  Persyaratan Kenyamanan ..................................................... 72 4.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan PIP2B terhadap Bahaya Kebakaran ..................................................................................... 7774  4.4.1  Sistem Proteksi Pasif ............................................................. 74  4.4.2  Sistem Proteksi Aktif .............................................................. 75  4.4.3  Persyaratan 4.4.4  Persyaratan Jalan Keluar dan Aksesibilitas Tanda untuk Arah Pemadam Kebakaran ............................................................ 75  Pencahayaan Darurat, Keluar/Eksit, dan Sistem Peringatan Bahaya ........................ 76  4.4.5  Persyaratan Sarana Evakuasi ............................................... 76  4.5  Persyaratan fasilitas dan Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat ....... 78 
3

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

............. 90 5........ 85  4......................4  Ram ................................................... 89 BAB 5 PENYELENGGARAAN PIP2B ...................................2  Jalur Pemandu ...........5...........1  5...........................5.........................5........6  Perabot ..............5  Toilet ............5............ 83  4............ 81  4............................................................................................................................2  5...........5............ 88 4..........................3  Tahap Persiapan ..............4..1  Tempat Parkir ............... 78  4......... 80  4.....................................................................5.................7  Rambu dan Marka ..............................5......... 90  Tahap Operasional ......................................................... 90  Tahap Mobilisasi Sumber Daya Manusia .............. 93  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 4 ...................................................3  Pintu ...........................................................................................

dan standar minimal bentuk organisasinya. seperti kebutuhan luas lahan minimal. program kebutuhan bangunan. Pedoman Umum adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan 2.bab 1 PENDAHULUAN 1. kebutuhan ruang dan besaran minimal yang mencerminkan bangunan gedung yang handal. serta panduan kelembagaan penyelenggaraan PIP2B. Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan perencanaan sebuah bangunan gedung dan lembaga PIP2B yang meliputi panduan bagi perancangan bangunan. aman dan nyaman. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini adalah untuk memberikan acuan bagi: • • perencanaan dan perancangan gedung PIP2B operasional lembaga PIP2B Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan pedoman ini adalah agar terdapat pemahaman yang sama dalam membangun gedung PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 5 .1 PENGERTIAN 1.

KetentuanTeknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan 10.1. 11. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 11/KPTS/2000 tentang. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 5. SNI 02-2406-1991. SNI 19-2454-1991. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 7. Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah Perkotaan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 6 . Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi 3. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 12. yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam penatalaksanaan organisasi. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan 14. 1. SK Direktorat Jenderal Perumahan clan Permukiman Nomor 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung.4 ACUAN NORMATIF Dasar Hukum yang melandasi Pedoman Umum Perencanaan PIP2B adalah: 1. sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan PIP2B. SNI 03-1726-1989. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman 4. SNI 03-1728-1987. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 9. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung 13.3 RUANG LINGKUP Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini mencakup: • • dasar-dasar perencanaan gedung PIP2B panduan kelembagaan penyelenggaraan PPIP2B. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 8. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 2. SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara 6.

2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatik untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 27.1745 . Tata Cara Instalasi Petir Untuk Bangunan 17. SNI 03-1735-1993. SNI 03-3242-1994. Pemasangan. SNI 03-453-1987.2000 tentang Tata Cara Perencanaan.1746 . SNI 03 . SNI 03-1733-2004 SNI 03-3985-1995. SNI 03 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan pemasangan Sistem Plambing pada Bangunan Gedung 31.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Selang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 30. SNI 03 . SNI 03-1734-1989.1736 .1735 . Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman 16. SNI 03 . Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan dan Gedung 23.2000 tentang Tata Cara Akses Bangunan dan Akses Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya kebakaran pada Bangunan Gedung 28. SNI 03-1728-1989. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 19.15. Tata Cara Perencanaan Pemasangan Sistem Deteksi Alarm Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 25. SNI 03 . Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung 20.2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 29. SNI 03 . dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 7 . SNI 03-2847-1992.6481 . Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan Pencegah Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 21. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 24.3985 . SNI 03-1745-1989. SNI 03-1736-1989. SNI 03-1727-1989.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 26. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 18. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 22. SNI 03 .3989 .

6570 .2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung 35.2001 tentang Sistem Pengendalian Asap Kebakaran pada Bangunan Gedung 34.6575 . SNI 03 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja pada Bangunan Gedung 40.2001 tentang Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung 38.2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung 39. SNI 03 . Tanda Arah.2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton pada Bangunan Gedung 41. SNI 03 – 6759 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 8 . dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan Gedung 37.2396 . SNI 03 .1726 .1729 . SNI 03 .2001 tentang Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung 36.2001 tentang Pompa yang Dipasang Tetap untuk Proteksi Kebakaran 33. SNI 03 . SNI 03 . SNI 03 .6572 .2001 tentang Tata Cara Penerangan Darurat. SNI 03 .1728 .6571 .32.6574 . SNI 03 .

bab 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2. dan melakukan berbagai kegiatan yang mendukung penyebar luasan informasi pengembangan permukiman dan bangunan gedung (diagram 2-1). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 9 . pelaksana. nantinya akan menjadi milik Dinas PU Pemerintah Propinsi. masyarakat serta kalangan akademisi. pihak pemerintah. pengusaha bahan bangunan.1 PENJELASAN UMUM Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah lembaga inovatif yang ditargetkan untuk menjadi lembaga publik yang mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada berbagai unsur: perencana. Tujuan dibentuknya adalah membangun jaringan informasi untuk meningkatkatkan reputasi lembaga perumahan dan permukiman yang mandiri khususnya dalam mendukung pembangunan perumahan swadaya. Dalam mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) yang dalam pembentukannya difasilitasi Pemerintah Pusat. Wadah ini merupakan fasilitas yang terbuka untuk umum.

1 Kerangka Acuan Revitalisasi/ Pengembangan Kembali Building Information Center (BIC) sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Ketrampilan Teknis bidang Perumahan. ada 4 produk pelayanan utama yang dapat diberikan oleh Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) sebagai berikut1: a. Lingkup pelayanan tersebut dapat mencakup hal-hal yang sifatnya praktis maupun analisis. dan perancangan bangunan gedung serta advokasi penataan permukiman. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis PIP2B dapat memberikan pelayanan informasinya dalam bentuk konsultasi dan advokasi teknis yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung.2 LAYANAN INFORMASI PIP2B Secara garis besar.Diagram 2. Juni 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 10 . tergantung tingkat kemampuan dan sumberdaya yang tersedia pada lembaga PIP2B serta kebutuhan masyarakat yang ada. Arsitektur dan Bangunan Gedung. Ruang lingkup kegiatannya antara lain dapat berupa layanan konsultasi kegiatan perencanaan. Permukiman.1 PIP2B memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada para stakeholder bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung 2. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

computer. c.b. Bentuknya dapat berupa penyuluhan. Disamping itu. Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga2. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. peralatan dokumentasi. event-organizer pada suatu penyelenggaraan kegiatan pameran. serta sosialisasi kebijakan dan program termasuk peraturan dan perundangan. baik yang berupa peralatan pendukung perpustakaan. baik untuk sekretariat maupun kegiatan pelayanan informasi lainnya Peralatan kantor/ sekretariat. dan perlengkapan kantor lainnya. serta peralatan pendukung lainnya Kajian Pengembangan Usaha (Business Plan) Building Information Center. Peralatan pelayanan informasi. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengembangan usaha pelayanan informasi melalui kerjasama dengan lembaga lain yang terkait di sektor ini. Kegiatan penyusunan dan penyebar luasan harga bangunan. peralatan display bahan peraga untuk informasi. pengembangan layanan dapat berupa penyelenggara. peralatan audio visual. d. seperti IAI. seminar yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. Dokumen Interim. Pelatihan dan Penyebarluasan Informasi Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatannya antara lain pelayanan pelatihan/ pengembangan ketrampilan teknis dan penyebar luasan informasi penyelenggaraan program bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung. baik berupa alat tulis kantor. perpustakaan dan penerbitan bukubuku/ bahan cetakan yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Inkindo. dibutuhkan prasarana dan sarana yang berupa antara lain: • • • Gedung dan ruang operasional PIP2B. Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi Kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup ini dapat meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasis website. harga satuan bahan dan upah kerja dalam bidang jasa konstruksi secara periodik juga dapat menjadi salah satu materi layanan informasi yang disediakan oleh PIP2B. Untuk kegiatan pengelolaan institusi PIP2B sendiri. ataupun industri lainnya yang terkait dengan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Mei 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2 11 . mejakursi kerja. REI.

teknologi kontruksi yang terkait dengan perumahan dan permukiman. 2.3 PRODUK INFORMASI PIP2B Jenis layanan informasi yang dikembangkan oleh PIP2B berbasis kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Standar. Peraturan Pemerintah c. seperti: a. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. 2. Informasi Khusus seperti kebijakan dan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kaitannya dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. RTBL. mencakup Peraturan Daerah. Pengembangan Permukiman. 3. Informasi yang terkait dengan produk-produk bidang Ke Cipta Karyaan mencakup Tata Bangunan dan Lingkungan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 12 . Pengembangan Air Minum. usaha dan kegiatan produktif b. Pedoman Harga Satuan Upah dan Bahan Bangunan yang dilengkapi dengan harga. merk serta produsennya c. Informasi maupun publikasi yang bersifat Umum seperti: a. Pedoman dan Manual bidang tata bangunan dan permukiman f. Serta informasi yang bermanfaat bagi pelaku pembangunan gedung. perumahan dan permukiman.• Peralatan mobilitas dalam rangka mendukung mobilitas kegiatan penyebar luasan informasi. dan lain-lainnya. Berdasarkan jenis informasi yang dapat diperoleh/ diberikan oleh PIP2B adalah sebagai berikut: 1. Surat Keputusan (SK) e. Undang-undang b. serta Pengembangan PLP untuk perkotaan maupun perdesaan 4. Peraturan tentang Bangunan Gedung d. serta inovasi berbasis keunggulan lokal (sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah). Ketentuan-ketentuan daerah.

mencakup: • • Ruang Konsultasi Ruang-ruang Diskusi b. Sarana bagi Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. Sarana bagi Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga: • • • • Gedung Kantor Ruang-ruang kerja sesuai standar kebutuhan dan jumlah personil Ruang-ruang Pertemuan Ruang-ruang Penunjang seperti: Pantry. Juli 2007 13 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Mushola. Paket PBL IV-3. Sarana bagi Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi: • • • • Ruang Perpustakaan E-library/ perpustakaan digital Ruang Server Ruang Pengolahan Informasi d.2. Sarana Penunjang lainnya. lembaga ini harus dapat menyediakan sarana pelayanan informasi yang lebih interaktif sebagai berikut3: a. Direktorat Jenderal Cipta Karya. seperti: • • • • 3 Ruang Lobby dan Informasi Ruang-ruang Mekanikal Elektrikal Mushola Publik Toilet Publik Pengarahan Tim Teknis. Sarana bagi Pelayanan Pelatihan dan Penyebar luasan informasi • • • • Ruang audiovisual Ruang-ruang Pertemuan Ruang Pamer Ruang Display c.4 SARANA PELAYANAN INFORMASI PIP2B Di dalam menyiapkan infrastruktur Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B). Toilet Karyawan. dll e.

Dengan demikian dapat diprediksi jumlah personil dalam struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai berikut4: Diagram 2. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Cipta Karya.• • • Fasilitas bagi Penyandang Cacat Parkir Dll. 4 Pengarahan Tim Teknis. ditetapkan pejabat ketua struktur organisasi PIP2B merupakan seorang pejabat setingkat eselon III . 2. Nopember 2007 14 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) .5 STRUKTUR KELEMBAGAAN STANDAR DAN JUMLAH PERSONIL PIP2B Di dalam menyiapkan struktur kelembagaan Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di setiap propinsi. Paket PBL IV-3.2 Struktur Organisasi PIP2B Maka total jumlah personil pada struktur organisasi PIP2B di atas seluruhnya berjumlah 23 orang.

1. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung bertingkat rendah e.bab 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B 3. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung perkantoran pemerintah b. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung milik negara DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 15 . bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung pelayanan umum 3.1. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Risiko Kebakaran. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan tidak sederhana. Menurut Fungsi Usaha. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan gedung tingkat resiko kebakaran rendah d. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan permanen c. yaitu bangunan gedung negara yang memiliki kompleksitas dan atau teknologi tidak sederhana. Klasifikasi berdasarkan Kepemilikan. Bangunan gedung PIP2B dapat dijelaskan sebagai gedung kantor dengan luas lebih dari 500 m2. b.1 PENETAPAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Penetapan fungsi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a.1 FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN PIP2B 3.2 PENETAPAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Adapun penetapan klasifikasi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. Klasifikasi berdasarkan Ketinggian. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Kompleksitas. Menurut Fungsi Sosial dan Budaya. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Permanensi.

32 0.24 0.20 evaluasi 3 0.f. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun yang nilai rataratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 1 dan table 3-1.33 0.03 0.04 0. Hal ini perlu dilakukan karena adanya perbedaan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa dan untuk masing-masing jenis tanah yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung dalam rangka menjamin kekekaran (robustness) minimum dari struktur gedung tersebut.28 0.34 setiap lokasi 5 0.1 Zonasi Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun (berdasarkan SNI 1726-2002) Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.30 khusus di 4 0.30 0. Tabel 3-1 Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa Indonesia (berdasarkan SNI 1726-2002). Percepatan Percepatan puncak muka tanah Ao (‘g’) Wilayah Puncak Batuan Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Tanah Gempa Dasar (`g) Khusus 1 0. di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi.05 0.36 6 0.28 0.12 0.18 0. Pembagian Wilayah Gempa ini.20 0.36 0.25 0.10 0.08 Diperlukan 2 0.15 0.15 0.38 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 16 . Klasifikasi berdasarkan lokasi pada Zonasi Gempa adalah sesuai dengan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang (Gambar 3-1) Gambar 3.23 0.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 17 .Gasmbar 3-2 Respons Spektrum Gempa Rencana (berdasarkan SNI 1726-2002).

 Tunggu R.3 Standar Detail Luas Ruangan Kerja bagi Kantor Pemerintah No. maupun menurut standar dan ketentuan yang berlaku. Kerja 2 R. digunakan standar detail luas ruangan kerja kantor pemerintah seperti yang tercantum pada Tabel C pada buku Pedoman Pembangunan Bangunan Negara.00           ‐           ‐           ‐         3.00            ‐           ‐         3. Perkiraan luas ruang-ruang pelayanan informasi dihitung berdasarkan perkiraan kapasitas tampung. Kebutuhan total luas ruang kerja dihitung berdasarkan jumlah personil yang akan ditampung dikalikan standar luas sesuai dengan klasifikasi bangunannya. Klasifikasi berdasarkan kepadatan lokasi (padat. Toilet 5 6 7 8 Jumlah 9 1 Eselon III 2 Staff          6.2 Acuan Standar Umum Ruang Kantor PIPB Struktur Organisasi Jumlah Personil 23 orang Standar 10. Berdasarkan persyaratan kelembagaan bahwa institusi PIP2B akan dipimpin oleh pejabat eselon III. Jabatan 1 R.2 STANDAR PERENCANAAN BANGUNAN PIP2B 3.7 m2 Total Luas     246. yaitu rata-rata sebesar 10.2 PROGRAM KEBUTUHAN LUAS RUANGAN Kebutuhan ruang bangunan gedung PIP2B terdiri atas sarana ruang kerja serta sarana ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat.00          6. 3. Sekr R.2. studi banding di lapangan.2) Tabel 3.00 m2          2. Tamu 3 R. sedang.g. Rapat 4 Luas Ruang R. adalah sbb: Tabel 3.7 m2 perpersonil. maka perkiraan luas ruang kerja bagi gedung PIP2B adalah sekitar 246.10 m2 (Tabel 3. ditentukan berdasarkan ketentuan standar luas ruang kerja pada gedung kantor pemerintah dengan klasifikasi tidak sederhana. renggang). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 18 .00 m2 3.00            ‐           ‐            ‐        18.10 m2 Adapun untuk merencanakan tata ruang dalam gedung PIP2B.1 STANDAR LUAS RUANG KERJA Dalam menghitung luas ruang kerja pada bangunan gedung kantor PIP2B.2. ditetapkan oleh instansi yang berwenang di daerahnya masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.00           ‐          2. Simpan R.

20 m2        12.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2        32. 3.70          0.5.00          6.Tabel 3.00        20. dengan perkiraan luas total lantai bangunan adalah sekitar 949.  seperti:   ‐ Model  RISHA  ‐ Prototipe rumah  tahan gempa  ‐ Beberapa model  sistem struktur  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 19 .00            6.4 Studi Kebutuhan Ruang Gedung PIP2B RUANG Pameran Indoor R.00 m2          6.00        32.00          0.00     759.00        60.00          1. Tabel 3.7.4 memperlihatkan perkiraan kebutuhan ruang untuk bangunan gedung PIP2B.00          4.20         10.00 m2        27.00            8.13 m2 3.80          6.6 dan 3.00        40.90 m2         20. Asosiasi  Profesi R.00 Publik m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 Semi Publik m2        36.00 m2          2.83 LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN      949. Tabel 3. Kerja Penunjang Ruang Sirkulasi m2      189.00          4.00          4.00        18.00            8.40         12.00          6.00            6.00 m2         60. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik (2m2/25 org) Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility KAPASITAS 200 org 1 bh 20 org 1 bh 1 bh 6 org 23 org 23 org 23 org 1 bh 8 1 2 2 23 2 1 1 25% sat bh sat sat org bh bh bh SATUAN LUAS          0.3 KARAKTERISTIK DAN KRITERIA RUANGAN PELAYANAN Sifat kegiatan yang ditampung di dalam ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat dan kriteria disain standar bagi masing-masing ruang dapat dilihat pada Tabel 3.00 R.10 m2            9.00 m2         32.40        12.60 m2      246.2.00          6.5 Sifat Kegiatan Penyebarluasan Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  A  1.30 LUAS      180. Pamer  Outdoor  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat permanen  maupun temporer dan  eventual  sesuai dengan  kebutuhan daerah. Display R.13 m2. Kegiatan  Kriteria Disain Standar  Fungsi  4    ‐ Berupa outdoor plasa multifungsi ‐ Meningkatkan kualitas lingkungan dan bangunan   ‐ Menampung kapasitas 500 orang Fisik  5  Lingkungan  6    ‐ Merupakan bagian terintegrasi dari disain bangunan dan lingkungan ‐ Memperbaiki iklim mikro ‐ Tetap dapat berfungsi meningkatkan resapan air 2  3  SARANA PENYEBARLUASAN INFORMASI   R.00            6. Audiovisual Perpustakaan E‐ Library R.

2. Display  Dapat  menampung  materi‐materi  display ke‐ Cipta Karya‐an yang  dipasang sepanjang  tahun.  R. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan tertutup ‐ Menggunakan insulasi penahan suara ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan menggunakan pengendalian dg system switching dan dimming untuk memperoleh efek pencahayaan ‐ Konsep Ruangan secara tata suara tertutup. atau void dengan ceiling > 1 lantai ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan. Pamer Indoor ‐ Display ditempatkan pada bagian yang mengundang. Pertemuan  Dapat menampung  pertemuan staff maupun  dengan pihak luar  ‐ Berupa ruang rapat yang siap dengan peralatan presentasi ‐ Menampung kapasitas ruang untuk pertemuan 10-12 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . dan informatif ‐ Isi display dapat berganti-ganti sesuai tema ‐ Berupa ruang kelas yang siap dengan peralatan audio visual ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 200 orang ‐ Memiliki ceiling yang tinggi. Audio  Visual  Dapat menampung  materi ke‐Cipta Karyaan  yang ditampilkan secara  audio visual  ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 20-30 orang 5. secara visual dapat transparan ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan ‐ Dalam keadaan display.  R.  R. Pamer  Indoor  ‐ Dsb  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat temporer dan  eventual seperti :   ‐ Pameran  ‐ Seminar    ‐ Berupa indoor hall yang bersifat multifungsi untuk memamerkan produk-produk ke-Cipta Karya-an maupun teknologi bangunan terkini ‐ Merupakan bagian yang menyatu dengan R. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan. seperti:   ‐ Banner UUBG  ‐ Running Text    ‐ Panel display atau apapun yang menjadi media display 4. ruangan dapat menjadi gelap dan tidak silau 20 3.  R.

namun mudah dipelihara ‐ Menampung kapasitas 2 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. namun mudah dipelihara ‐ Memungkinkan untuk melakukan pemeliharaan data dan reparasi computer 4. namun mudah dipelihara ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata 3. ‐ Ruang Kerja R.6 Sifat Kegiatan Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Kriteria Disain Standar  Ruangan  1  B  Kegiatan  Fungsi  2  3  SARANA PELAYANAN  PENGEMBANGAN/   DOKUMENTASI INFORMASI   R.Tabel 3. ‐ Rak buku sesuai standar ‐ Ruang Baca sesuai standar ‐ Menampung kapasitas ruang baca 8-12 orang ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2. R. ‐ Ruang browsing komputer sesuai standar ‐ Menampung kapasitas 6-8 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.  Melayani  Perpustakaan  kebutuhan  Elektronik  informasi  masyarakat dalam  bentuk digital     4      Fisik  5    Lingkungan  6  1. Server  Menampung  informasi dalam  bentuk digital     ‐ Ruang Komputer Terpusat ‐ Menampung kapasitas 1 bh server komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.  Dapat  Perpustakaan  menampung buku‐ buku terbitan/  bahan cetakan  yang terkait  dengan ke‐Cipta  Karya‐an &  melayani  kebutuhan  informasi  masyarakat    R.  Pengolahan  Meng up‐date  untuk Informasi  database informasi  memasukkan dalam bentuk  dan memantau digital  informasi digital    ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 21 .

R. Diskusi  Dapat digunakan  untuk keperluan  diskusi kecil  ‐ Merupakan ruang multifungsi yang berkaitan dengan kegiatan konsultasi ‐ Berupa ruang pertemuan dengan kapasitas 6-8 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 22 .7 Sifat Kegiatan Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  C  1. 2  Kegiatan  Fungsi  3  4  Kriteria Disain Standar  Fisik  5  Lingkungan  6  SARANA PELAYANAN KONSULTASI  DAN ADVOKASI TEKNIS   R. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2.Tabel 3. Konsultasi  Dapat digunakan  untuk keperluan  konsultasi   ‐ Berupa ruang kerja dengan kursi hadap ‐ Terdiri atas 1 atau 2 orang yang merupakan konsultan dan 2 atau 4 orang yang berkonsultasi ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara.

2.3 Matriks Hubungan Antar Ruang Gedung PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 23 . Hubungan antar ruang dibedakan atas: • • • Hubungan Langsung.3. yaitu ruang berdekatan dan terhubung oleh pintu Dekat dengan Hubungan Tidak Langsung. Gambar 3.4 HUBUNGAN ANTAR RUANG Hubungan antara ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B ditetapkan berdasarkan matriks hubungan antar ruang pada gambar 3-2. yaitu ruang berdekatan tetapi tidak perlu terhubung oleh pintu Tidak Berhubungan. artinya ruang tidak perlu berdekatan maupun terhubung oleh pintu.

2.3. Lokasi harus dekat dengan masyarakat pengguna dengan pencapaian mudah. drainase. Radius pencapaian lokasi ditentukan oleh jarak dan waktu tempuh dari pusat kota.3 PERSYARATAN LOKASI Penentuan lokasi bangunan gedung PIP2B mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: 1. mencakup: jalan lingkungan. Pencapaian secara berjalan kaki harus terhindar dari lalu lintas berkepadatan tinggi. Peraturan Tata Ruang Kota Lokasi disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan mendapat persetujuan pemerintah daerah yang bersangkutan untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). 3. termasuk rencana pengembangan lahan dan bangunannya. Kesiapan Prasarana Lokasi gedung PIP2B harus memiliki prasarana yang memadai. 4. Jarak tempuh maksimum 5 km dari pusat kota atau tidak lebih dari waktu tempuh 20 menit perjalanan dengan kendaraan umum pada saat normal (tidak macet). maka jarak tempuh maksimum dari titik transit adalah 10 menit berjalan kaki. Radius Pencapaian Gedung PIP2B dibangun pada lokasi-lokasi di ibukota propinsi. jaringan air limbah. Apabila gedung PIP2B terletak di dalam sebuah kompleks perkantoran yang tidak dapat dicapai secara langsung oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. jaringan air bersih. dengan asumsi kepadatan penduduk yang dilayani dapat mendukung kegiatan pelayanan informasi bagi masyarakat. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 24 . jaringan listrik dan telepon. Aksesibilitas Lokasi gedung PIP2B harus dapat dicapai oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

harus dipertimbangkan tersedianya sarana sebagai berikut: • Ruang Pamer Outdoor.4.3. Prototipe Rumah Tahan Gempa. yang cukup luas agar dapat menampung materi-materi pameran ke-Cipta Karya-an yang bersifat permanen maupun temporer dan eventual sesuai dengan kebutuhan di daerahnya masing-masing. Sarana ruang minimum yang harus disediakan serta posisinya baik di lantai dasar atau di lantai atas ditentukan dalam tabel 3. disediakan minimal untuk 25 kendaraan Jalur pedestrian yang memadai Ruang Terbuka Hijau. dan beberapa model system struktur.4 PENENTUAN LUAS TAPAK 3. minimal 40% dari luas total lahan diperuntukkan bagi penghijauan dan lansekap 3.2 SARANA PUBLIK DI LANTAI DASAR Dalam merencanakan bangunan PIP2B.8. • • • • • • Parkir dan sirkulasi mobil kantor maupun karyawan. Beberapa contoh produk pameran outdoor yang permanen adalah: Model RISHA.1 SARANA RUANG LUAR Dalam rangka menentukan luas tapak yang dibutuhkan bagi sarana dan fasilitas bangunan PIP2B. Sehingga sarana dan fasilitas pelayanan tersebut memungkinkan untuk dapat diakses pula oleh masyarakat penyandang cacat. dengan rasio 1 kendaraan setiap 100 m2 luas lantai Parkir dan sirkulasi mobil bagi penyandang cacat. disediakan minimal untuk 5 kendaraan Parkir dan sirkulasi motor baik karyawan maupun pengunjung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 25 . harus dipertimbangkan sarana dan fasilitas pelayanan bagi publik wajib untuk ditempatkan di lantai dasar. disediakan minimal untuk 2 kendaraan Parkir dan sirkulasi mobil pengunjung.4.

00        40.00 m2 Lantai Atas Semi Publik        36.4.40 m2       12.00 m2           8. maka bangunan PIP2B memungkinkan untuk dikembangkan sebagai 1 lantai saja dengan lahan yang lebih luas.00        20. metropolitan dan pusat kota. sedangkan simulasi rancangan digambarkan dalam gambar 3-3 dan 3-4.00        32. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 2.00 m2         6.00 m2     388.13 m2 3. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 26 .40        12.00          6.00 m2        371.00 m2       32.10 m2          9.8 Posisi Ruang Publik RUANG Pameran Indoor R.3 LUAS LAHAN MINIMUM Dalam merencanakan bangunan PIP2B.00 m2        27. atau di kota yang masih relatif rendah intensitasnya. Perhitungan kebutuhan luas tapak bangunan dan penentuan luas lahan minimum untuk kedua alternatif diatas dapat dilihat pada tabel 3-9 dan 3-10.00 m2         36. • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di pusat kota.00 m2        32.200 m2 • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di tepian kota. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility                                         759.00          6.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2       32.00 m2       60. maka pemanfaatan lahan yang efisien mengakibatkan bangunan terdiri atas 2 lantai.83 m2      949.00 m2     485.00          6.60 m2       246. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R.00          8.83 m2      464. perlu disadari kondisi terbatasnya lahan terutama di daerah kota besar.30 m2         92.00 m2           6.100 m2. Beberapa kemungkinan harus dipertimbangkan sehubungan dengan lokasi bangunan PIP2B. Asosiasi Profesi R.13 m2 Sub Total Ruang Sirkulasi LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN 25%      189.20 m2        12.00 m2       97.10 m2           9.00 m2         18.00        60.00 m2       20.00 m2         6. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 3.00 m2         27. Display R.00 m2 m2 m2 m2 m2 Lantai Dasar     180.00 m2 R. Kerja Penunjang           8.20 m2         12.00        18.30 LUAS      180.00 m2       40.Tabel 3.00          8.60 m2        246.

74                68.20            125.395.10                     5.77 m2       3.70 Tabel 3.00            284.00 0.163.13 m2          920 m2 100% thd luas total 30% thd luas lahan     949.00          25.48            350.00                   34.395.00 40%                  949.140.70                   30.100 m2 70% thd luas total 30% thd luas lahan     642.9 Perhitungan Kebutuhan Luas Tapak Bangunan PIP2B Kapasitas Alternatif Bangunan 1 lantai Total Lantai Bangunan Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (1 lt) Satuan Luas Jumlah Luas            949.45 Jumlah Luas            949.00                40.00                   34.38         3.00            9.Tabel 3.28         2.10 Penentuan Luas Lahan Minimum Bangunan PIP2B Luas Total Lantai Bangunan Alternatif Bangunan PIP2B 1 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Alternatif Bangunan PIP2B 2 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Perkiraan Luas Luas Minimum     949.13            350.45 Kapasitas Alternatif Bangunan 2 lantai Total Lantai Bangunan Bangunan Lantai Dasar thd total lantai Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (2lt) Satuan Luas 60%         500.8               3.25 m2 2.00            958.00            9.13                      0.74                68.00         1.70                   30.13 m2 3.00          25.00          50.49            2.028.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 27 .49            2.00          50.028.00                40.70         500.00 40%                      0.20            125.13            569.211.83 m2       2.8               2.00 0.10                     5.00            284.

5 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 2 lantai dengan Luas Lahan Minimum 2.100 m2 Gambar 3.4 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 1 lantai dengan Luas Lahan Minimum 3.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 28 .Gambar 3.

d. c. 3. STATUS HAK ATAS TANAH Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki kejelasan tentang status hak atas tanah lokasi tempat bangunan gedung PIP2B berdiri. dan Izin Penggunaan Bangunan dalam hal Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setempat. biaya perencanaan konstruksi. Persyaratan administrasi bangunan gedung negara meliputi pemenuhan persyaratan: 1. 4. baik yang dihasilkan oleh Penyedia DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 29 . Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah Instansi/lembaga pemerintah/negara yang bersangkutan. 2.3. biaya pengelolaan proyek. b. termasuk surat penunjukan/penetapan Pimpinan Proyek. Kejelasan status atas tanah ini dapat berupa hak milik atau hak guna bangunan. Dalam dokumen pembiayaan pembangunan bangunan gedung negara terdiri atas: a. PERIZINAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perizinan yang berupa: Izin Mendirikan Bangunan. DOKUMEN PEMBIAYAAN Setiap kegiatan pembangunan bangunan gedung PIP2B harus disertai/memiliki bukti tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundangan yang berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen lainnya yang dipersamakan. yang dihasilkan dari proses perencanaan teknis.5 PERSYARATAN ADMINISTRASI Setiap bangunan gedung PIP2B harus memenuhi persyaratan administrasi baik dalam tahap pembangunan maupun tahap pemanfaatan sebagaimana bangunan gedung negara. DOKUMEN PERENCANAAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perencanaan. biaya pelaksanaan konstruksi fisik. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi.

Fotokopi sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah. 5. Berita Acara Serah Terima I dan II. DOKUMEN PEMBANGUNAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pembangunan yang terdiri atas: Dokumen Perencanaan. DOKUMEN PENDAFTARAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pendaftaran untuk pencatatan dan penetapan HDNO meliputi: a. dan As Built Drawings. dan Surat Izin Penggunaan Bangunan (IPB) dalam hal Peraturan DaerahKabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB. hasil uji coba/test run operational. Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan. 6.Jasa Perencana Konstruksi atau Tim Swakelola Perencanaan. dan Sertifikat Penjaminan atas Kegagalan bangunan sesuai ketentuan yang berlaku. c. asistensi terhadap instansi pemerintah pusat harus dilakukan. d. As built drawings (gambar sesuai yang dilaksanakan) disertai gambar leger. Fotokopi Dokumen Pembiayaan/DIP (otorisasi pembiayaan). f. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 30 . Fotokopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Dokumen Pelelangan. Di dalam proses perencanaannya. Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi. b. Izin Mendirikan Bangunan. e.

yaitu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan.1. yaitu: a. b. Peruntukan Lokasi Bangunan PIP2B harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota yang bersangkutan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 31 .1 KESESUAIAN TATA BANGUNAN DENGAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN PERATURAN DAERAH Persyaratan tata bangunan dan lingkungan meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan PIP2B dari segi tata bangunan dan lingkungannya. maka bangunan PIP2B merupakan bangunan tunggal (freestanding) dengan jarak bebas antara blok/masa bangunan dengan batas lahan minimum adalah 4. termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan.bab 4   KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B 4.00 meter serta harus mempertimbangkankan hal-hal seperti: • • • • Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Jarak Bebas Bangunan Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung. Kesehatan. Kenyamanan. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan.1 PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 4.

00 meter. Ketinggian bangunan Ketinggian bangunan PIP2B. maka diusulkan ketinggian langit-langit minimum di Lantai Dasar adalah 3. dan Ramp bagi Penyandang Cacat Jalur Pedestrian KDH merupakan perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan yang harus digunakan sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 32 . Mengingat bangunan gedung PIP2B memiliki fasilitas pelayanan masyarakat di lantai dasarnya. KDB maksimum adalah 60%. e. Ketinggian langit-langit Ketinggian langit-langit bangunan PIP2B minimum di setiap lantai adalah 2. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Koefisien Daerah Hijau (KDH) Ketentuan besarnya KDB. maka bangunan PIP2B mengikuti ketentuan berikut KDB merupakan perbandingan antara luas seluruh perkerasan di lantai dasar dengan luas lahan.c. KLB. GSB minimum bangunan PIP2B adalah 7. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi. • GSB merupakan jarak tepi ruas jalan dengan bangunan terluar. GSB dan KDH mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung untuk lokasi yang bersangkutan. Koefisian Lantai Bangunan (KLB). termasuk didalamnya: o o o o o • Lantai Dasar Bangunan (maksimum 30% dari Luas Lahan) Ruang Pamer Outdoor Sirkulasi dan Parkir Kendaraan (mobil dan motor) Sirkulasi. • Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat. KDH minimum dari bangunan PIP2B adalah 40%.80 meter dihitung dari permukaan lantai. maksimum adalah 3 lantai.50 meter. Parkir. d. Koefisien Dasar Bangunan (KDB).

Bangunan khususnya lantai dasar harus memperlihatkan sebagai bangunan yang ramah kepada publik dengan memperlihatkan kejelasan arah jalan masuk. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 33 . Penempatan massa bangunan arsitektur berorientasi terhadap arah sinar matahari dan iklim setempat.1.2 PERSYARATAN ARSITEKTUR a. Ruang Pamer Outdoor. Sirkulasi dan Parkir Kendaraan & Penyandang Cacat dan Jalur Pedestrian 4.1 Simulasi Rancangan Tapak: memperlihatkan KDB maks 60%. • Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. keterbukaan (mengundang untuk masuk).Gambar 4. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau panutan bagi lingkungannya. • Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. Persyaratan Keserasian dengan Lingkungan • Bangunan PIP2B harus serasi dengan lingkungannya. Lantai Dasar maks 30%. serta elemen-elemen dan material yang mempermudah untuk berorientasi menuju maupun di dalam bangunan.

guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa.• Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. 29/PRT/M/2006) • Dalam hal denah bangunan berbentuk T. • Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan segala sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam rencana tata ruang. maka harus dilakukan pemisahan struktur atau dilatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa atau penurunan tanah. Bentuk denah bangunan gedung sedapat mungkin simetris dan sederhana. Gambar 4. dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut.2 Bentuk denah bangunan gedung (PerMen PU no. • • Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. atau U. L. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 34 .

kearifan lokal dapat diwujudkan melalui penggunaan ornamen di dalam lansekap.b. dan penggunaan elemen-elemen yang mengandung identitas lokal harus merupakan bagian yang menyatu dengan arsitektur bangunan PIP2B. Persyaratan Ekspresi dan Wujud Arsitektur Setiap arsitektur bangunan PIP2B memiliki kebebasan dalam berekspresi dan menentukan wujud arsitekturnya. • Ekspresi kekinian bangunan tidak boleh mengabaikan kaidah-kaidah dasar Arsitektur Tropis. art-work (benda seni). Dalam konteks bangunan dengan ekspresi modern. untuk memberikan citra keterbukaan era informasi sekaligus memperlihatkan kegiatan pameran indoor dan outdoor kepada publik. Gambar 4. Kreatifitas dan inovasi disain sangat dianjurkan dalam mewujudkan kearifan lokal pada bangunan PIP2B.3 Simulasi Rancangan Berbagai Ekspresi Arsitektur Bangunan PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 35 . • Kearifan lokal harus dihargai. maupun elemen interior. Fasade bangunan harus cukup transparan terutama di lantai dasar. namun tidak menutup kreatifitas dan inovasi disain dalam mewujudkan Arsitektur Tropis yang modern. Kriteria-kriteria dasar yang harus dipenuhi dalam ekspresi bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: • • Wujud arsitektur mencerminkan fungsi bangunan PIP2B sebagai bangunan pusat informasi yang modern dan mencerminkan teknologi bangunan terkini.

papan kayu dengan tingkat kekuatan dan keawetan tinggi. atau kaca dengan kosen aluminium. Kriteria utama adalah durabilitas (keawetan) bahan bangunan sebagai material bangunan publik. maupun karpet. sirap. beton pracetak. yang disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. parket. celcon atau hebel. marmer. • Bahan kosen dan daun pintu/jendela: kayu minimum kelas kuat II. atau rangka hollow besi. atau bondek cor. termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari sistem fabrikasi komponen bangunan. keramik. • • • Bahan kerangka langit-langit: rangka kayu minimum kelas kuat II di anti rayap. 4. Bahan penutup lantai: ubin PC. vynil. Beberapa contoh bahan bangunan yang dapat digunakan adalah: • • Bahan penutup dinding fasade bangunan: marmer. panel gypsum/GRC dan/atau panel aluminium dengan rangka hollow besi. • Bahan dinding pengisi: batu bata.c. disesuaikan dengan fungsi dan ekspresi bangunan. batu alam. Persyaratan Teknis • Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang pintu/ jendela diusahakan sedapat mungkin pada sumbu-sumbu denah bangunan mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat gempa DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 36 . disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. dan panel GRC. gypsum. kaca dengan rangka kayu atau aluminium. Bahan penutup atap: genteng beton. dan sejenis.1. GRC atau sejenis. granit tile. Persyaratan Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan diupayakan secara mayoritas merupakan bahan bangunan setempat dan produksi dalam negeri. teraso. dak beton dengan lapisan kedap air. Bahan penutup langit-langit: kayu lapis. akustik. serta penampilan yang sesuai dengan fungsi dan ekspresi yang diinginkan. genteng keramik. aluminium. batu alam.3 PERSYARATAN TATA RUANG DALAM Beberapa kriteria dalam menata ruang dalam bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: a.

• • Ruangan di dalam bangunan harus memiliki tinggi yang cukup untuk fungsifungsi yang sesuai. Asosiasi Profesi R.80 meter dihitung dari permukaan lantai. • Terdapat 4 jenis ruang menurut tingkat privasinya. maupun staff Asosiasi Profesi yang ditempatkan di bangunan ini. Tabel 4. diperlukan pemisahan pemisahan zona pelayanan (publik) dan zona ruang kerja (privat) agar dapat dicapai tingkat privasi yang cukup bagi staff PIP2B. Display R. • Permukaan lantai dari lantai dasar harus: o o Sekurang-kurangnya 15 cm di atas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan Sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan.50 meter. semi publik dan privat (Tabel 4-1). Sedangkan ketinggian langit-langit minimum untuk ruang-ruang lainnya adalah 2. mengingat lantai dasar mewadahi kegiatan pelayanan publik. Zona Publik dan Privat • Didalam mengelola fasilitas PIP2B dan melakukan kegiatan kerja sehari-hari.1 Karakteristik Ruang berdasarkan tingkat privasi KARAKTERISTIK  Sangat Publik Publik           Semi Publik     Privat           Publik     Privat                 RUANG  Pameran Indoor R. publik. Rapat Ruang Kerja Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 37 . Audiovisual Perpustakaan E‐Library R. Ketinggian langit-langit minimum di lantai dasar adalah 3. b. yaitu sangat publik.

DASAR ZONA DI LT. tata ruang dalam bangunan PIP2B harus sederhana. ATAS Gambar 4.4 Simulasi Rancangan yang mengakomodasi Ruang Pelayanan Publik di Lantai Dasar dan Privasi bagi staff PIP2B dan Asosiasi Profesi di Lantai Atas c. Efisiensi Flow Bangunan Yang termasuk dalam efisiensi flow bangunan adalah persyaratan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan yang sesuai dengan fungsi bangunan sebagai sebuah Pusat Informasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. jelas dan memberikan kemudahan orientasi bagi pengunjung yang akan memakai sarana dan fasilitas publik di dalam bangunan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 38 .ZONA DI LT.

ruang konsultasi. rak buku. elibrary. Ruang Pameran Indoor harus memiliki pencahayaan alami yang cukup. Persyaratan Ergonomis Ruangan • • Tata ruang dalam bangunan harus dapat memberikan suasana yang tepat dan sesuai dengan fungsi ruangan Tata letak perabotan (meja kerja. dsb) harus terintegrasi dengan kenyamanan ruang gerak secara ergonomis sesuai dengan fungsi ruangan. maupun pencahayaan buatan secara merata dan setempat. Lebih baik lagi apabila dari ruang pameran indoor dapat dicapai sarana publik lainnya. ruang display dan audiovisual.1 Beberapa simulasi rancangan lay-out tata ruang dalam yang mengakomodasi flow pengunjung yang efisien d. Penghawaan alami harus dapat berfungsi agar konservasi energi dapat dicapai pada kondisi sehari-hari. Pengkondisian udara dapat berfungsi pada saat udara termal alami tidak pada batas yang nyaman. Ruang Pameran Indoor dapat sekaligus mengakomodasi fungsi lobby dan Ruang Display Permanen. pameran outdoor dan koridor menuju ruang kerja. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 39 . Ruang Pameran Indoor merupakan sarana pelayanan publik yang pertama dijumpai oleh pengunjung di bangunan PIP2B. Ruang Pameran Indoor Ruang Pameran Indoor merupakan ruang serba guna dengan luas ruangan sekitar 180-200 m2 yang dapat mengakomodasi materi-materi pameran keciptakaryaan di dalam bangunan. kursi. seperti ruang perpustakaan.Gambar 3. • Persyaratan ergonomis pada masing-masing ruangan adalah sbb: 1. Minimal memiliki akses kepada pintu utama.

Perabot standar set komputer. Ruang Perpustakaan & E-Library Ruang Perpustakaan harus dapat mengakomodasi koleksi buku-buku keciptakaryaan. Satu set working station dapat terdiri dari 1 unit. dengan jalur dari ruang server hingga ruang e-library.70 x 1. 3 unit maupun 4 unit modul tergantung kondisi ruangan.00 meter harus dapat mengakomodasi sistem pencarian data E-library ƒ perpustakaan secara elektronik.30 meter Lebar rak buku minimal 40 cm Ketinggian rak buku maksimal 2. Untuk memudahkan perawatan berkala komputer. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 40 .5 Simulasi R. ƒ ƒ Seluruh kabel LAN harus tersembunyi dengan rapih pada tempat yang disediakan secara khusus. Standar ruangan yang harus diperhatikan adalah: ƒ ƒ ƒ ƒ Jarak minimum koridor diantara rak buku adalah 1.25 meter Ukuran standar meja baca adalah 0. dilakukan penaikan lantai (raised floor) atau penetapan jalur kabel LAN melalui sirkuit yang terlindungi (race way) dan dapat dibuka dan ditutup setiap waktu.Gambar 4. meja dan kursi disebut modul working station. Pameran Indoor 2. 2 unit.

Pengawasan ruang perpustakaan dan e-library dapat dilakukan pada satu titik counter pengawas sekaligus librarian.6 Simulasi Rancangan Ruang Perpustakaan & ELibrary DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 41 . STANDAR LEBAR KORIDOR DAN TINGGI RAK BUKU STANDAR MEJA BACA MODUL WORKING STATION Simulasi jalur kabel LAN pada lokasi plint dinding Gambar 4.

Alternatif kedua. Alternatif pertama. maupun digunakan sebagai ruang display pada event tertentu yang membutuhkan fasilitas audiovisual. ruang audiovisual merupakan ruang yang cukup luas. Ruang Display & Audiovisual Ruang Audiovisual dapat direncanakan dalam dua alternatif. ruang audiovisual dirancang permanen dengan kapasitas secukupnya.7 Simulasi Rancangan Jalur kabel LAN untuk menunjang sistem data serta kemudahan dalam perawatan 3. yaitu sekitar 45 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 42 .Gambar 4. yaitu sekitar 90 m2 yang dirancang untuk dapat dibagi menjadi 2 ruangan. Sehingga dapat digunakan sebagai 2 ruangan audiovisual yang dapat digunakan bersamaan.

sehingga keberadaan gudang untuk menyimpan perabotan meja dan kursi mutlak diperlukan. Ruang Kerja Ruang Kerja dengan total luas sekitar 220 m2 terdiri atas: ƒ Ruang Pimpinan ƒ Ruang Sekretaris ƒ Ruang Tunggu ƒ Ruang Kepala Staff 5 unit ƒ Ruang Staff 11 unit ƒ Ruang Staff IT 1 unit ƒ Ruang Arsip ƒ Ruang Konsultasi 1-2 unit DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 43 .Kedua alternatif harus dapat secara fleksibel menjadi ruang diskusi dengan tipe teater maupun kelas. Ruang Audiovisual alternatif 1 Alternatif ruangan 1 ketika menjadi 2 Ruang Audiovisual alternatif 2 4. Kedua alternatif harus berdekatan dengan ruang operator untuk kemudahan operasional.

Ruang Asosiasi Profesi Ruang asosiasi profesi dengan luas sekitar 50 m2 dapat menampung 6 staff asosiasi.ƒ Ruang Petugas Perpustakaan & E Library 1-2 unit ƒ Ruang Rapat Total area ruang kerja menampung 23 orang Gambar 4.8 Simulasi Rancangan Ruang Kerja 5. dengan lemari arsip dan satu set meja rapat yang dapat digunakan bersama. Simulasi Rancangan Ruang Asosiasi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 44 .

jenis peralatan. volume ruang. orientasi bangunan. Ruang Penunjang Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Publik Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Staff e. Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara dalam Ruang Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. 2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan. dan penggunaan bahan bangunan. letak geografis. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara yang ideal didalam ruangan. dan 3) prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 45 .6. jumlah pengguna. dapat dilakukan dengan alat penkondisian udara yang mempertimbangkan: 1) fungsi bangunan gedung/ruang.

atau edisi terbaru. 4. atau edisi terbaru. Jumlah. dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. fungsi ruang. ukuran. 4) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 46 . Persyaratan Hubungan Ke. f. dan jumlah pengguna. atau edisi terbaru. 3) SNI 03-6196-2000 Prosedur audit energi pada bangunan gedung. atau edisi terbaru. 3. Dari dan di Dalam Bangunan PIP2B • Persyaratan Kemudahan Hubungan Horizontal dalam Bangunan PIP2B 1. 2) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung. fungsi ruang. dan nyaman bagi semua orang. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 2. dari. dan jumlah pengguna ruang. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. termasuk penyandang cacat dan lansia. Bangunan PIP2B harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan.Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mengikuti: 1) SNI 03-6389-2000 Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung. aman. 5. atau yang belum mempunyai SNI. Kemudahan hubungan ke. dan jenis pintu.

Gambar 4. Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut berupa tersedianya tangga dengan disain dan ukuran sesuai standar yang berlaku DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 47 . aman dan nyaman bagi semua orang untuk mencapai fasilitas di dalam bangunan Gambar 4.10 Simulasi Rancangan Lantai Dasar memperlihatkan kemudahan hubungan horizontal dengan tersedianya pintu dan koridor yang memadai • Persyaratan Kemudahan Hubungan Vertikal dalam Bangunan PIP2B 1.9 Simulasi Rancangan Tapak memperlihatkan tersedianya fasilitas dan aksesibiitas yang mudah.

Gambar 4. serta jumlah pengguna bangunan gedung Persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung harus mengikuti: 1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. toilet. atau edisi terbaru. tepat sampah.2. ukuran. serta fasilitas komunikasi dan informasi. Jumlah. dan konstruksi sarana hubungan vertikal tangga harus berdasarkan fungsi bangunan gedung. meliputi: ruang ibadah. tempat parkir. ruang bayi. luas bangunan. Persyaratan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pemanfaatan Bangunan Gedung Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya. ruang ganti.11 Simulasi Rancangan Tangga dengan ketinggian anak tangga 18 cm dan lebar pijakan tangga 30 cm g. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan gedung. dan jumlah pengguna ruang. atau edisi terbaru. serta keselamatan pengguna bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 48 . setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung.

tanah dan permukaan tanah. Keserasian tersebut antara lain mencakup pagar dan gerbang. vegetasi besar/pohon. atau yang belum mempunyai SNI. pohon-pohon menahun. a. atau edisi terbaru. maupun dari segi ekosistem. sungai besar. gunung dan sebagainya. Persyaratan Ruang Sempadan Bangunan 1. keserasian dan keselarasan dengan lingkungan bangunan PIP2B adalah perlakuan terhadap lingkungan di sekitar bangunan PIP2B yang menjadi pertimbangan penyelenggaraan bangunan.3) SNI 03-6573-2001 Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). 6. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. sirkulasi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 49 . bangunan penunjang seperti pos jaga.1. b. 3. unsur-unsur estetik. baik dari segi sosial. peresapan air. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan seperti dari bahaya banjir. budaya. RTHP berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Setiap perencanaan bangunan PIP2B yang baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. tiang bendera. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan PIP2B dan terletak di dalam persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). 4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 4. 5. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. sungai. bak sampah dan papan nama bangunan. Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP) 1.4 PERSYARATAN LANSEKAP Keseimbangan. 2.

serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. 2. ruang sempadan depan bangunan. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 50 . tiang telepon di kedua sisi jalan/ruas jalan yang dimaksud. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. 4. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. 3. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. pagar. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. Tata Tanaman 1. c. Penggunaan tanaman khas lokal sangat dianjurkan dalam rangka meningkatkan identitas lokal. batang dan cabangnya rapuh. 2.2. d. e. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. jalur pejalan kaki. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. Hijau Pada Bangunan 1. kestabilan tanah/wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. air. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan caracara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan.

9. 4. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. dan ruang terbuka umum. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. 4. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. struktur atas bangunan gedung. penghijauan. 8. 5. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). dan keandalan bangunan gedung. 3. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. dan memberikan pemandangan yang menarik. 6. Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. 11.2. Elemen pedestrian (street furniture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. dan kejelasan kontinuitas pedestrian. struktur bawah bangunan gedung. guna mendukung sistem sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. dan kendaraan pelayanan lainnya. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. 7. Bangunan PIP2B diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. ramburambu. papan informasi sirkulasi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 51 . nyaman. aman. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan.2 PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN Persyaratan struktur bangunan gedung PIP2B meliputi persyaratan struktur bangunan gedung. pembebanan pada bangunan gedung. 10.

dan serangga perusak. dan (2) SNI 03-1727-1989 Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. • Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.2. intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti: (1) SNI 03-1726-2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung. termasuk beban tetap. serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan gedung. sesuai harus dengan mempertimbangkan persyaratan keselamatan pedoman dan standar teknis yang berlaku.2 PEMBEBANAN PADA BANGUNAN GEDUNG • Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. • Dalam perencanaan struktur bangunan gedung terhadap pengaruh gempa. 4. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). kokoh. lokasi.1 STRUKTUR BANGUNAN • Setiap bangunan gedung PIP2B. pengaruh korosi. angin. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. jamur.4. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. • Penentuan mengenai jenis. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 52 . semua unsur struktur bangunan gedung. beban sementara (angin. atau edisi terbaru. keawetan. atau edisi terbaru.2. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. • Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. gempa) dan beban khusus. • Perencanaan dan pelaksanaan perawatan struktur bangunan gedung seperti halnya penambahan struktur dan/atau penggantian struktur struktur.

atau edisi terbaru. dan bahan tambahan). Adapun hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan bahan secara lengkap tercantum dalam SNI 03-3449-2002 meliputi proses pengujian. sampai pada tahap pelindungan dan pelaksanaan. atau yang belum mempunyai SNI. kualitas.2. Berikut ini adalah persyaratan yang harus diperhatikan dalam pemilihan penggunaan air pada campuran beton menurut SNI 03-3449-2002 : DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 53 .Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 4. atau edisi terbaru. Adapun prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam membangun gedung PIP2B dengan ketinggian maksimal 2 lantai adalah sebagai berikut : 1. bahan. (2) SNI 03-2847-1992 Tata cara penghitungan struktur beton untuk bangunan gedung. pencetakan. pemilihan bahan (semen. Pemilihan dan Penggunaan Bahan • Air Air berfungsi sebagai pencampur bahan-bahan beton. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau edisi terbaru. keawetan. agregat. pencampuran. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus mengikuti: (1) SNI 03-1734-1989 Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. baja tulangan. Tata cara pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung mencakup hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan yang meliputi struktur. (5) SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. air. Air yang telah bercampur dengan semen akan mengalami persenyawaan yang berfungsi sebagai perekat antar senyawa. dan (6) SNI 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. (4) SNI 03-3976-1995 atau edisi terbaru. pengecoran. (3) SNI 03-3430-1994 Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung.3 STRUKTUR ATAS BANGUNAN GEDUNG a. atau edisi terbaru. sampai pada tahap penyimpanan. Tata cara pengadukan pengecoran beton. atau edisi terbaru.

retakan. • Baja Persyaratan baja tulangan yang akan digunakan adalah sebagai berikut: Baja tulangan harus bebas dari lipatan. 3) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton. (2) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji morta yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 54 . alkali. yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ). kecuali ketentuan berikut terpenuhi: (1) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. yang prinsipnya nilai kuat-leleh dan berat per meter panjang bahan tulangan yang dimaksud. tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.1) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli. bahan organik. garam. dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70% diameter nominalnya. o o Tulangan dengan Ø ≤ 12mm dipakai BJTP 24 (polos). serpihan. dan lapisan-lapisan yang dapat mengurangi daya lekat. dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5% diameter nominalnya. Kualitas dan diameter nominal baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium. atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. asam. o Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur)harus digunakan baja tulangan doform (BJTD). sisik. dan untuk tulangan dengan Ø > 16mm memakai BJTD (deform) bentuk ulir. karat. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa. terkecuali pada air pencampur. 2) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium.

posisi. 10 cm pada bagian tumpuan sepanjang ¼L. Kedudukan tulangan harus vertikal. Pada ujung tulangan harus diberi kait 90˚. Jarak tulangan begel yang diikat dengan tulangan kolom. tidak boleh satu sisi/segaris. tulangan yang akan dipasang disesuaikan dengan jenis tulangan berdasarkan RKS dan gambar kerja yang ada.5 cm. sambunganya tidak boleh satu tempat (disalang-seling). atau d = 12. Pada tahap penyetelan tulangan.9029 √B. dimulai dari penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan finishing.o Diameter nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut yang ditentukan dengan rumus : d = 4. Pemasangan begel harus siku dengan tulangan pokok. Setiap pemasangan besi kolom harus diakhiri dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 55 . • • Penempatan kait begel selang-seling.3 Toleransi berat yang diijinkan 2. Tulangan pokok satu dengan lainnya harus berjarak minimal sama dengan diameternya. Pekerjaan Kolom Proses pekerjaan kolom melalui beberapa tahap. baik itu jenis dimensi dan jumlah tulangannya. dan diameternya sesuai dengan gambar. Tulangan pokok jumlah. diikat bendrat dengan kuat. Hal yang diperhatikan dalam proses penulangan kolom antara lain : • Pembuatan begel diperhitungkan selimut beton (beton decking) 2.47 √G d = diameter nominal (mm) B = berat baja tulangan (N/mm) G = beraT baja tulangan (Kg/mm) o Toleransi berat batang contoh yang diijinkan di dalam pasal ini sebagai berikut : Diemeter tulangan baja tulangan Ø < 10 mm 10 mm < Ø < 16 mm 16 mm < Ø < 28 mm Ø > 28 mm Toleransi berat yang diijinkan ±7% ±6% ±5% ±4% Tabel 4. dan sisanya jarak begel 15 cm.

Sambungan tidak boleh satu tempat.13 Detail Kolom 3. yaitu dimulai dari tahap penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan perawatan. yang ditengah berjarak 15 cm. Jarak tulangan begel yang dekat tumpuan 10 cm sejauh ¼ L. Tulangan harus terselimuti beton secara simetris dengan tebal 3 cm. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan penulangan balok adalah sebagai berikut : • Pada pembuatan begel. Setiap pemasangan tulangan segera diberi tahu beton. jumlah. • Tulangan pokok. memperhitungkan selimut beton decking 2. diameter. Pekerjaan Balok Pekerjaan balok dilakukan apabila pekerjaan penulangan kolom sudah selesai dilakukan. Pada ujungnya harus diberi kait 45˚-90˚. harus diberi jarak minimum=diameter tulangannya.5 cm. kedudukannya harus lurus horisontal. Antar tulangan tidak boleh bersinggunagn.pemasangan beton tahu sebelum di bekisting. dan posisi sesuai dengan gambar. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 56 . Jarak tulangan pokok baris kesatu denga kedua dibuat sebesar diameternya. Pemasangan begel siku-siku terhadap tulangan pokok/vertikal diikat dengan bendrat pada tulangan pokok. Penempatan kawat begel selang-seling tidak boleh satu sisi. Gambar 4.

Coating Pekerjaan waterproofing Pemasangan kawat mesh Screed Pemasangan bekisting Penulangan Penulangan lantai ada 2 cara. Sebelum dipasang BRC terlebih dahulu dibersihkan dari karat. yaitu secara manual dan dengan menggunakan BRC M 8 berukuran 510 cm x 210 m. Antara BRC satu dengan lainnya diikat dengan bindraat dan saling overlap 1 kotak. berfungsi untuk mengatur ketebalan pengecoran. Hal-hal yang perlu 57 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Penulangan pada pelat lantai dilakukan dengan dua arah. Pekerjaan Pelat Lantai Pekerjaan pelat lantai melalui beberapa tahapan yaitu : • • • • • • • • • • Pengurugan pasir Urugan berupa berupa pasir dan batu dengan ketebalan 10 cm. dan kerikil dengan perbandingan 1 : 3 : 5. pasir. Beton decking tebuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 3. Pada pemasangannya BRC bertumpu pada beton decking setebal 7 cm. Pembuatan lantai kerja Bahan pembuatan lantai kerja berupa semen.Gambar 4.14 Detil Penulangan Balok 4. Pembuatan lantai kerja dilakukan selama 3 hari. karena 10/4=25<4 berdasarkan persyaratan ly/lx<lx.

atau yang belum mempunyai SNI. air bersih. jarak antar tulangan 20 cm as ke as. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. (3) Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja.diperhatikan dalam pekerjaan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : • • • • • • Diameter tulangan polos 10 mm. AC. Sebelum pengecoran semua sparing pipa listrik (lampu. air kotor. tidak ada standar baku ukuran yang dapat menjadi sebuah patokan untuk bangunan gedung PIP2B ini. harus sudah terpasang semua. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 58 . • • • Pemasangan shear connector Pengecoran Perawatan Gambar 4.15 Detil Penulangan Pelat Lantai b. Selimut beton decking 1.5 cm (jarak tulangan atas dan bawah 9 cm). stop kontak. dan (4) Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi.5 cm dipasang 5 buah tiap m². Oleh karena itu. Setiap persilangan tulangan pokok diikat dengan tulangan balok dengan kawat bendrat. Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti: (1) SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. Jarak sisi luar atas tulangan tumpuan dengan telasaran papan triplek sebesar 10. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. akses untuk LCD). atau edisi terbaru. Tulangan pelat tidak boleh diikat dengan tulangan balok. (2) Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. stek penggantung plafon. Konstruksi Baja Prinsip dasar penggunaan konstruksi baja membutuhkan perhitungan yang spesifik dan akurat tergantung bentang dan luasan bangunan. Pada daerah tumpuan diberi kursi/kuda-kuda setiap jarak 50 cm.

Berikut ini adalah gambar contoh simulasi sederhana potongan portal dan detail sambungan baja untuk bangunan dengan ketinggian maksimal 2 lantai : Gambar 4.17 Potongan Portal konstruksi baja Gambar 4.18 Detail sambungan baja DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 59 .

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. (4) Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang.c. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus mengikuti: (1) SNI 03-2407-1994 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek.2. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. atau edisi terbaru. sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. 4.4 STRUKTUR BAWAH BANGUNAN GEDUNG • Pondasi Langsung (1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. (3) Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 60 . dan (3) Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. atau yang belum mempunyai SNI. (2) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. (3) Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. • Pondasi Dalam (1) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah.

harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. (5) Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random.5 KEANDALAN SRTRUKTUR BANGUNAN GEDUNG • Keselamatan Struktur (1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. (9) Apabila perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak. (4) Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang.percobaan pembebanan. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. (3) Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala seDRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 61 . atau yang belum mempunyai SNI. (2) Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung.2. (6) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung harus memperhatikan gangguan yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan pada masa pelaksanaan konstruksi. (8) Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. (7) Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. 4. Tangga. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.3 PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN Persyaratan utilitas bangunan PIP2B meliputi persyaratan sistem penghawaan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 62 . dan Toilet. atau yang belum mempunyai SNI. (2) Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. dan/ atau jarak lantai ke ceiling yang cukup tinggi digunakan terutama pada ruangan Pameran Indoor. Hall. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. kemampuan bangunan terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan. • Persyaratan Bahan (1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. dan sanitasi. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. komunikasi dalam bangunan. 4. pencahayaan. Sistem cross ventilasi yang memadai.1 PERSYARATAN SISTEM PENGHAWAAN • Setiap bangunan PIP2B harus dapat menjadi contoh yang memperlihatkan kinerja ventilasi alami beserta ventilasi mekanik/buatan yang menyesuaikan dengan iklim setempat • • Bangunan harus memiliki bukaan permanen dan/ atau kisi-kisi yang dapat dibuka dan ditutup untuk kepentingan ventilasi alami yang dapat dikendalikan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. (3) Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan.suai klasifikasi bangunan. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.3.

R. PAMERAN INDOOR

TOILET

R. PAMERAN INDOOR

Gambar 4- 19 Simulasi Penggunaan Void yang meningkatkan cross ventilasi pada ruang public

Penggunaan sistem penghawaan alami merupakan salah satu upaya konservasi energi dengan mengurangi beban energi yang digunakan untuk menyalakan ventilasi buatan (AC) pada kondisi sehari-hari apabila memungkinkan. Ruang pameran indoor, ruang kerja dan ruang rapat, harus dapat digunakan dengan penghawaan alami maupun buatan.

Bangunan PIP2B harus dapat memberikan contoh perancangan sistem penghawaan yang sehat pada ruang-ruang toilet, terutama toilet publik.

TOILET LT. DASAR

TOILET LT. ATAS

Gambar 4- 20 Simulasi Sistem Penghawaan yang sehat pada ruang-ruang Toilet
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

63

• •

Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan, maka diperlukan ventilasi mekanis yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran. Ruang-ruang yang harus menggunakaan pengkondisian udara buatan adalah perpustakaan, e-library, ruang server & IT, dan audio visual.

Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, harus mengikuti: a) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung; b) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; c) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi; d) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi mekanis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
Tabel 4- 4 Kebutuhan Laju Udara Ventilasi berdasarkan SNI 03-6572-2001

Fungsi Ruang Kerja Ruang Pertemuan WC Umum

Kerapatan Penghunian per 100m2 Luas Lantai 7 orang 60 orang 100 orang

Kebutuhan Udara Luar Merokok Tidak Merokok                    0.30                     0.15                    1.05                     0.21                    2.25                     3.25

Satuan m3/min orang m3/min orang m3/min orang

4.3.2

PERSYARATAN SISTEM PENCAHAYAAN
Setiap bangunan gedung untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. • Bangunan PIP2B sebagai bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan yang memadai untuk pencahayaan alami.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

64

• Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan PIP2B dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan gedung.
Bukaan bagi pencahayaan ruang pameran indoor alami

Bukaan bagi pencahayaan ruang-ruang kerja

alami

Gambar 4- 21 Simulasi Sistem Pencahayaan Alami Bangunan PIP2B

• Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan gedung dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
Tabel 4- 5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang direkomendasikan
Fungsi  Ruangan Tingkat Pencahayaan Kelompok Renderasi Keterangan (lux) Warna Ruang Direktur 350 1 atau 2 Ruang Kerja 350 1 atau 2 Menggunakan armatur berkisi Ruang Komputer 350 1 atau 2 untuk mencegah silau akibat  pantulan komputer Ruang Rapat 300 1 atau 2 Gudang Arsip 150 3 atau 4 Ruang Arsip Aktif 300 1 atau 2 Ruang Audio visual 100 1 Sistem pengendalian pencahayaan Perpustakaan 300 1 atau 2
sumber: SNI  03‐6575‐2001 tentang  Ta ta  Cara  Perancanga n  Si stem  Pencaha yaan  Buatan  pada  Bangunan  Gedung

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

65

pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 66 . kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat. serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang. atau edisi terbaru. • Pencahayaan alami dan buatan diterapkan pada ruangan baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan gedung. dan/atau otomatis. 3) SNI 03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung.3 PERSYARATAN KOMUNIKASI DALAM BANGUNAN GEDUNG Persyaratan komunikasi dalam bangunan gedung dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar. atau edisi terbaru.0                                    1.0                                  15. atau yang belum mempunyai SNI. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Persyaratan pencahayaan harus mengikuti: 1) SNI 03-6197-2000 Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung.6 Daya Pencahayaan Maksimum Jenis Bangunan/ Ruangan Kantor Ruang Kelas Auditorium Gudang Pintu Masuk dengan Kanopi Gedung Kantor Taman Jalan untuk Kendaraan dan Pejalan Kaki Tempat Parkir Data Pencahayaan Maksimum Watt/m2                                  15.0                                  15.5                                    2.3. Tabel 4. • Semua sistem pencahayaan buatan. 2) SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung.0                                    5. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.0                                    1.• Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan gedung dengan fungsi tertentu. atau edisi terbaru.0                                  25.0 sumber: SNI 03‐6759‐2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung 4.

(3) Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility).50 m x 0. (2) Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 67 .lainnya. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. dioperasikan. tidak ada genangan air. tidak membahayakan.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. (ii) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. minimal berjarak 0. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. (ii) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. aman dan mudah dikerjakan. penempatannya harus mudah diamati. (iii) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. dan lain-lain. sistem voice evacuation. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. (2) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. dipelihara. dll. (3) Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Ruang yang bersih. Termasuk antara lain: sistem telepon. (iii) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui • ambang batas yang ditentukan. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. Instalasi Telepon (1) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. sistem tata suara. terang.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke bangunan gedung pada saat hujan dll. • Perencanaan Komunikasi dalam Gedung (1) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komunikasi gedung dan lain-lainnya. kedap debu. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku.

Pemeriksaan dan Pemeliharaan Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem proteksi petir pada bangunan gedung. vi. dan perlindungan lingkungan. b. terang. dan iii. iii. atau yang belum mempunyai SNI. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung. instalasi. perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan bangunan gedung yang terjamin terhadap aspek keselamatan manusia dari bahaya listrik. Sumber daya listrik. dalam upaya untuk mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang diproteksi. Perencanaan sistem proteksi petir. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. panel hubung bagi. Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut: i. 4. Pemeriksaan dan pengujian.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PETIR dan BAHAYA KELISTRIKAN a. keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya. Jaringan distribusi listrik. jaringan distribusi listrik. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. dan pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir terhadap bangunan gedung secara efektif untuk proteksi terhadap petir serta inspeksi. Persyaratan Instalasi Proteksi Petir Persyaratan proteksi petir ini memberikan petunjuk untuk perancangan. Beban listrik. ii. v. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. Transformator distribusi. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.3. Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan: i. termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan lainnya. Instalasi Proteksi Petir.(4) Ruang batere sistem telepon harus bersih. iv. Persyaratan Sistem Kelistrikan Persyaratan sistem kelistrikan meliputi sumber daya listrik. dan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 68 . Perencanaan instalasi listrik. keamanan gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat listrik. ii.

3. Persyaratan Plambing Dalam Bangunan Gedung • Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air minum. sistem distribusi. 4. • • • Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan. dan penampungannya. (3) SNI 04-7018-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga. 2) SNI 03-6481-2000 Sistem Plambing 2000. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Sistem Pengolahan dan Pembuangan Air Limbah/Kotor DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) sedangkan instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman 69 .vii. atau edisi terbaru. atau yang belum mempunyai SNI. 3) Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. (4) SNI 04-7019-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan. Persyaratan plambing dalam bangunan gedung harus mengikuti: 1) Kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan Permenkes 907/2002. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi bangunan gedung. Plambing. kualitas air bersih. Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin kualitas air.5 PERSYARATAN SANITASI a. atau edisi terbaru. (2) SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2000). b. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Pemeliharaan Persyaratan sistem kelistrikan harus mengikuti: (1) SNI 04-0227-1994 Tegangan standar. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau yang belum mempunyai SNI. atau edisi terbaru.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 70 . 3) SNI 03-6379-2000 Spesifikasi dan pemasangan perangkap bau. pemasangan. air kotor dan air limbah Shaft bagi sistem plumbing disediakan untuk memudahkan maintenance bagi sistem sanitasi bangunan Posisi toilet di lantai dasar berhubungan dengan posisi di lantai atas untuk mencapai sistem sanitasi yang efisien Gambar 4. atau edisi terbaru. 2) SNI 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. dan pemeliharaan sistem pembuangan air limbah dan air kotor pada bangunan gedung mengikuti standar baku serta ketentuan teknis yang berlaku. permeabilitas tanah. Persyaratan teknis air limbah harus mengikuti: 1) SNI 03-6481-2000 Sistem plambing 2000. atau edisi terbaru. 4) Tata cara perencanaan. dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. Persyaratan Penyaluran Air Hujan • Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah. atau yang belum mempunyai SNI. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • Air limbah domestik sebelum dibuang ke saluran terbuka harus diproses sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru. • • • Simulasi pemisahan sistem air bersih. Pertimbangan jenis air limbah dan/atau air kotor diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan.• • Sistem pembuangan air limbah dan/atau air kotor harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.22 Simulasi Sistem Sanitasi Bangunan PIP2B c.

atau edisi terbaru. jumlah penghuni. • • Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Kecuali untuk daerah tertentu. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 71 . Penampungan Sampah. d. Persyaratan Fasilitasi Sanitasi Dalam Bangunan Gedung (Saluran Pembuangan Air Kotor. dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung. atau yang belum mempunyai SNI. Persyaratan penyaluran air hujan harus mengikuti: 1) SNI 03-4681-2000 Sistem plambing 2000. air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran.• • Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. dan volume kotoran dan sampah. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. 2) SNI 03-2453-2002 Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan. pemasangan. • Pertimbangan jenis sampah padat diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni. dan/atau Pengolahan Sampah) • • Sistem pembuangan sampah padat direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya. 4) Standar tentang tata cara perencanaan. maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. Tempat Sampah. masyarakat dan lingkungannya. 3) SNI 03-2459-2002 Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan.

melalui pemakaian horizontal dan/atau vertical blind.23 Tempat sampah daur ulang • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 2) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya. Persyaratan Kenyamanan Pandangan • Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan (visual) harus mempertimbangkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunan ke luar dan dari luar bangunan ke ruang-ruang tertentu dalam bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 72 . • Kenyamanan pandangan (visual) dari dalam bangunan ke luar harus mempertimbangkan: 1) gubahan massa bangunan. dan 3) pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar. rancangan bukaan. memanfaatkan kembali beberapa jenis sampah seperti botol bekas. Dengan demikian harus disediakan tempat sampah untuk mendaur ulang.3. tata ruang-dalam dan luar bangunan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. • Kenyamanan pandangan (visual) dari luar ke dalam bangunan harus mempertimbangkan: 1) rancangan bukaan. kertas koran. kardus. Gambar 4.6 PERSYARATAN KENYAMANAN a. tata ruang-dalam dan luar bangunan. dan rancangan bentuk luar bangunan. atau yang belum mempunyai SNI. kertas. 4. aluminium. dan penggunaan elemen sunscreen. dan rancangan bentuk luar bangunan gedung. wadah plastik dan sebagainya. kaleng. 2) pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan RTH.• Potensi reduksi sampah padat dapat dilakukan dengan mendaur ulang.

b. yaitu Standar kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung. • Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan dan getaran pada bangunan gedung harus mengikuti persyaratan teknis. yaitu Standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap getaran pada bangunan gedung. kesehatan. • • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Getaran dapat berupa getaran kejut. Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran.Simulasi rancangan penggunaan sistem void memberikan kenyamanan pandang dari ruang kerja di lt atas ke arah ruang pameran indoor di lt dasar Simulasi rancangan penggunaan horizontal atau vertical blind untuk ruang kerja dapat mengurangi silau dan panas matahari tanpa mengurangi kenyamanan pandang ke arah luar bangunan • Untuk kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung harus dipenuhi persyaratan teknis. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 73 . Persyaratan Kenyamanan terhadap Tingkat Getaran dan Kebisingan • Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya. atau yang belum mempunyai SNI. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau yang belum mempunyai SNI.

dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. • Pada sistem proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan kinerja. atau yang belum mempunyai SNI. • Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi: 74 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . luas. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. kompartemenisasi dan pemisahan. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.4. ketinggian. tipe konstruksi yang diwajibkan. bahan bangunan terpasang. geometri ruang. volume bangunan. atau yang belum mempunyai SNI. ketahanan api dan stabilitas.4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.• Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. • Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Sistem proteksi pasif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi. • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dan perlindungan pada bukaan. 4. klasifikasi.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BAHAYA KEBAKARAN BANGUNAN PIP2B TERHADAP 4.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF • • Setiap PIP2B harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan proteksi aktif. 4. tipe konstruksi tahan api.1 SISTEM PROTEKSI PASIF • Setiap bangunan PIP2B harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang memproteksi komponen arsitektur dan struktur bangunan gedung sehingga dapat melindungi penghuni gedung dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran. dan (2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

4.4. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 4. (2) SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan. .Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Sistem proteksi aktif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.3 PERSYARATAN JALAN KELUAR dan AKSESIBILITAS untuk PEMADAM KEBAKARAN Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran meliputi perencanaan akses bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. dan perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran. dan (5) SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal.Sistem Pemadam Kebakaran.4 PERSYARATAN SARANA EVAKUASI Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana evakuasi bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 75 . digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau yang belum mempunyai SNI. 4. dan ruangan bervolume besar. . atrium. atau yang belum mempunyai SNI. dan (2) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada gedung.Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. (4) SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung.

dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.24 Simulasi Rancangan dengan jalur evakuasi dari ruang-ruang di lantai atas Gambar 4.pengguna.25 Simulasi Rancangan sarana evakuasi di lantai dasar dengan 3 buah pintu yang berhubungan langsung dengan alaram terbuka DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 76 . Gambar 4. pintu keluar darurat.

dan dari bangunan gedung serta beraktivitas dalam bangunan gedung secara mudah.4. serta rambu dan marka bagi penyandang cacat dan lansia.26 Simulasi Rancangan yang menjamin kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia untuk beraktifitas di dalam gedung PIP2B dengan mudah aman.5 PERSYARATAN FASILITAS DAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT Bangunan PIP2B harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia masuk dan keluar. aman.1 TEMPAT PARKIR • • • Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/ fasilitas yang dituju. Gambar 4. nyaman dan mandiri. ke. Area perkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol tanda parkir penyandang cacat yang berlaku. Fasilitas dan aksesibilitas meliputi tempat parkir. Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat dan lansia harus mengikuti ketentuan yang berlaku. nyaman dan mandiri 4. ram.5. toilet. pintu. dengan jarak maksimum 60 meter. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 77 . jalur pemandu.

• RUTE AKSESIBILITAS DARI • JARAK KE AREA PARKIR PARKIR TIPIKAL RUANG PARKIR • Ruang Parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ram dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya. Daerah menaik-turunkan penumpang dilengkapi dengan fasilitas ram. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 78 . dan rambu penyandang cacat. Kemiringan maksimal dengan perbandingan tinggi dan panjang adalah 1:11 dengan permukaan rata/datar di semua bagian. • • • Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm.• Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ram trotoir di kedua sisi kendaraan. jalur pedestrian.

Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan. d. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya.2 JALUR PEMANDU a. Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat. maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga.5. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks): • • • • • Di depan jalur lalu-lintas kendaraan. sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin peringatan. c. Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai. Jalur pemandu adalah jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan. f. Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan. Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang. e. PRINSIP PERENCANAAN JALUR PEMANDU TIPE TEKSTUR UBIN PEMANDU (GUIDING BLOCKS) DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 79 . Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting. Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan ubin lainnya.4. b.

dan sulit untuk dibuka/ditutup. g. Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan: • Pintu geser • Pintu yang berat.5. Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam waktu lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 80 . Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran. e. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda dan tongkat tunanetra. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu. b. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. d. • Pintu yang terbuka kekedua arah ( "dorong" dan "tarik"). • Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra.SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA PINTU MASUK SUSUNAN BELOKAN UBIN PEMANDU PADA 4.3 PINTU a. c. Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna. dan pintupintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm. • Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil. karena pintu yang terbuka sebagian dapat membahayakan penyandang cacat. f.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 81 .

Apabila DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 82 . dirancang untok menghalangi roda kursi roda agal tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm. d. dan 120 cm dengan tepi pengaman. f. sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut.4. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b. c. g. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7°) tidak boleh lebih dari 900 cm.5. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7°. e. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6°. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.4 RAM a.

Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. Ramp harus diterangi dengan pencahayean yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari.berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. i.bagian yang membahayakan. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65-80 cm. Pencahayaan disediakan pada bagianbagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian. h. TIPIKAL RAM DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 83 .

sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b.5. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu "penyandang cacat" pada bagian luarnya.5 TOILET a. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 84 .KEMIRINGAN RAM HANDRAIL BENTUK RAM YANG DIREKOMENDASIKAN 4. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu.

Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel. Pintu harus mudah dibuka untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup. k. n. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda. g. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga tinggi permukaannya dan lebar depannya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik. air. kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda. j. l. f. m. h. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. d. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. o. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. i. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. Letak kertas tissu.c. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. seperti pada daerah pintu masuk. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai. (45-50 cm) e. dianjurkan untuk menyediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu-waktu terjadi listrik padam. Pemasangan ketinggian cermin diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 85 .

ANALISA RUANG GERAK PADA RUANG TOILET

TINGGI TOILET

UKURAN SIRKULASI MASUK

RUANG GERAK PADA TOILET

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

86

PERLETAKAN URINER

TIPIKAL PEMASANGAN WASTAFEL

PERLETAKAN KRAN WASTAFEL

RUANG GERAK AREA WASTAFEL

RUANG BEBAS AREA WASTAFEL

4.5.6 PERABOT
a. Perletakan barang-barang perabot bangunan dan furniture harus menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat. b. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan umum harus dapat digunakan oleh penyandang cacat, termasuk dalam keadaan darurat. c. Ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B yang digunakan oleh masyarakat banyak, yaitu ruang perpustakaan, e- library, dan audio visual maka jumlah meja dan tempat duduk aksesibel yang harus disediakan minimum adalah 1 set untuk masing-masing ruangan.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

87

UKURAN PERABOT RUANG DUDUK

UKURAN TINGGI MEJA

4.5.7 RAMBU DAN MARKA
a. Rambu dan Marka adalah fasilitas dan elemen bangunan yang digunakan untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk bagi penyandang cacat. b. Penggunaan rambu terutama dibutahkan pada: • • • • Arah dan tujuan jalur pedestrian KM/WC umum, telpon umum Parkir khusus penyandang cacat Nama fasilitas dan tempat.
88

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

Lokasi penempatan rambu: • Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang. d. SIMBOL AKSESIBILITAS. • Rambu yang menerapkan metode khusus (misal. dll).c. • Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya. atau sebaliknya. • Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional. TUNA DAKSA. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar belakangnya. • Karakter dan latar belakang rarnbu harus dibuat dari bahan yang tidak silau. • Cukup mendapat pencahayaan. termasuk penambahan lampu pada kondisi gelap. warna kontras. • Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan artinya. apakah karakter terang di atas Kelap. • Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3: 5 dan 1:1. serta ketebalan huruf antara 1: 5 danl:10. Persyaratan Rambu yang digunakan: • Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan penyandang cacat lain. pembedaan perkerasan tanah. • Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca . TUNA NETRA DAN TUNA RUNGU SIMBOL RAM SIMBOL PENUNJUK ARAH RUANGAN DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 89 .

Kepala Unit PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 90 . b. berupa Bangunan Gedung PIP2B beserta isinya. Tahapan Pembangunan Bangunan PIP2B. Dengan kelembagaan standar yang telah ditentukan bahwa PIP2B dipimpin oleh seorang pejabat setingkat eselon III . Tahap Perencanaan Bangunan PIP2B yang mengacu kepada Pedoman Umum Perencanaan PIP2B.1 TAHAP PERSIAPAN Tahap Persiapan merupakan tahap pertama yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan sebuah Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di daerah. a. yang mengacu pada Tata Cara Pembangunan Bangunan Gedung Negara. serta ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan Bangunan Gedung dan Pembangunan Bangunan Gedung Negara. sehingga PIP2B diharapkan memiliki staf yang bisa diandalkan untuk melaksanakan program-program maupun kegiatan. prasarana dan 5.2 TAHAP MOBILISASI SUMBER DAYA MANUSIA Pada tahap ini dilakukan perekrutan staf untuk menjadi pengelola harian PIP2B. maka jumlah personil yang akan terlibat didalam organisasi PIP2B adalah 23 orang. Tujuan dari tahap persiapan adalah terbentuknya kesekretariatan atau lembaga PIP2B yang lengkap dengan sarananya.bab 5 PENYELENGGARAAN PIP2B 5. Struktur organisasi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut: a.

Urusan Tata Usaha PIP2b merupakan pelaksana teknis pendukung kegiatan administrasi dan tata laksana kantor dan sekaligus berfungsi sebagai humas PIP2B. Bidang Data. 2. Kehumasan. serta kegiatan terkait lainnya. Kepala Unit PIP2B mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam kegiatan perencanaan program dan anggaran. iii. c. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 91 . dan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. Bidang-bidang dalam Unit PIP2B 1. 3. Kepala Bidang Data. ii. Kesekretariatan/ Tata Usaha PIP2B 1. Bidang Data.1. dan Penyusunan Program dan Keuangan. Kepala Bagian Tata Usaha dipinpin oleh seorang Kepala Bagian dan dapat dibantu beberapa staf pelaksana untuk urusan Tata Usaha. penyiapan sumber daya dan pengendalian pelaksanaan administrasi dan keuangan pengelolaan PIP2B. 3. merupakan pelaksana teknis dan penanggung jawab kegiatan operasional PIP2B yang akan mengelola dan menjalankan semua kegiatan PIP2B baik ke dalam maupun ke luar lembaga 2. Sub Bidang Data merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan input data dan informasi. Perpustakaan dan E-Library i. b. PIP2B dipimpin oleh seorang Kepala Unit setingkat eselon III. Perpustakaan dan E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan data dan informasi. Perpustakaan dan E-library dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. Dalam menjalankan tugasnya. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bagian Tata Usaha PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Kepala Unit PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Dinas lingkup Perumahan dan Permukiman/ Bangunan Gedung Propinsi.

mudah dan cepat diakses serta dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Layanan Informasi Audiovisual dan Internet ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Sub Bidang Perpustakaan merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan dokumentasi buku-buku perpustakaan. vi. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Data. Kepala Bidang Layanan Informasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. vi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 92 . iii. vii. 2. Perpustakaan dan E-library ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. v. termasuk layanan informasi audio visual dan layanan informasi internet. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas. termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan database informasi internet. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat data dan informasi perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung yang mudah dan cepat serta yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. serta kegiatan terkait lainnya. Bidang Layanan Informasi i. ii. iv. Sub Bidang E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. Sub Bidang Layanan Informasi Audiovisual merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi audiovisual. v.iv. Bidang Layanan Informasi merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. Sub Bidang Layanan Informasi Internet merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi internet.

3. v. Sub Bidang Pameran Indoor merupakan pelaksana teknis tugas yang iv. ii. Bidang Pameran i. Sub Bidang Pameran Outdoor merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan materi pameran termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan informasi berkaitan dengan permukiman dan bangunan gedung. sehingga PIP2B dapat secepatnya melakukan pelayanan pada masyarakat. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi dan pelatihan yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas dan mampu menjadi lembaga yang responsif terhadap perkembangan masalah dan tantangan yang ada di bidang perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung. berkaitan dengan pengelolaan penyuluhan. Pengelola PIP2B harus segera melengkapi pengetahuan dalam database baik elektronik maupun perpustakaan. pameran seminar dan lokakarya. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Pameran ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. vi. Kepala Bidang Pameran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. pelatihan. serta kegiatan terkait lainnya. Bidang Pameran merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. termasuk penyelenggaraan pelatihan. 5. penyuluhan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 93 . iii. pengembangan ketrampilan teknis. seminar dan lokakarya.3 TAHAP OPERASIONAL Setelah prasarana dan sarana telah lengkap dan PIP2B mempunyai staf pengelola harian maka program kerja dapat dilaksanakan.

Disamping kinerja dari pengelola PIP2B sendiri. diperlukan pula keterlibatan Dinas Teknis terkait khususnya untuk melakukan monitoring dan evaluasi. dan publikasi untuk menghasilkan pelayanan PIP2B yang prima. kegiatan updating data.Pihak pengelola PIP2B harus memberikan perhatian pada kegiatan rutin seperti pelayanan. Gambar 5.1 Struktur Organisasi Lembaga PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful