DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG

PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

1

DAFTAR ISI
 
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 5
1.1  1.2  1.3  1.4  Pengertian ........................................................................................... 5  Maksud dan Tujuan ............................................................................. 5  Ruang Lingkup .................................................................................... 6  Acuan Normatif .................................................................................... 6

BAB 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) Error! Bookmark not defined.
2.1  2.2  2.3  2.4  2.5  Penjelasan umum ................................................................................ 9 Layanan Informasi PIP2B .................................................................. 10  Produk Informasi PIP2B .................................................................... 12  Sarana Pelayanan Informasi PIP2B .................................................. 13  Struktur Kelembagaan Standar dan Jumlah Personil PIP2B ............ 14

BAB 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B ............................. 15
3.1  Fungsi dan Klasifikasi Bangunan PIP2B ........................................... 15  3.1.1  Penetapan Fungsi Bangunan Gedung PIP2B ....................... 15  3.1.2  Penetapan Klasifikasi Bangunan Gedung PIP2B .................. 15  3.2  Standar Perencanaan Bangunan PIP2B ........................................... 18  3.2.1  Standar Luas Ruang Kerja .................................................... 18  3.2.2  Program Kebutuhan Luas Ruangan ...................................... 18  3.2.3  Karakteristik dan Kriteria Ruangan Pelayanan ...................... 19  3.2.4  Hubungan Antar Ruang ......................................................... 23  3.3  3.4  Persyaratan Lokasi ............................................................................ 24  Penentuan Luas Tapak ..................................................................... 25  3.4.1  Sarana Ruang Luar ............................................................... 25  3.4.2  Sarana Publik di Lantai Dasar ............................................... 25 
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

2

3.4.3  Luas Lahan Minimum ............................................................ 26 3.5  Persyaratan Administrasi ................................................................... 25 

BAB 4 KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B ........................... 31
4.1  Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan ................................... 31  4.1.1  Kesesuaian Tata Bangunan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Peraturan Daerah .................................. 31  4.1.2  Persyaratan Arsitektur ........................................................... 33  4.1.3  Persyaratan Tata Ruang Dalam ............................................ 36  4.1.4  Persyaratan Lansekap ........................................................... 49  4.2  Persyaratan Struktur Bangunan ........................................................ 51  4.2.1  Struktur Bangunan ................................................................. 52  4.2.2  Pembebanan pada Bangunan Gedung ................................. 52 4.2.3  Struktur Atas Bangunan Gedung ........................................... 53  4.2.4  Struktur Bawah Bangunan Gedung ....................................... 60 4.2.5  Keandalan Struktur Bangunan Gedung ................................. 61 4.3  Persyaratan Utilitas Bangunan .......................................................... 62  4.3.1  Persyaratan Sistem Penghawaan.......................................... 62  4.3.2  Persyaratan Sistem Pencahayaan......................................... 64  4.3.3  Persyaratan Komunikasi dalam Bangunan Gedung .............. 66  4.3.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan ................................................ 68  4.3.5  Persyaratan Sanitasi .............................................................. 69  4.3.6  Persyaratan Kenyamanan ..................................................... 72 4.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan PIP2B terhadap Bahaya Kebakaran ..................................................................................... 7774  4.4.1  Sistem Proteksi Pasif ............................................................. 74  4.4.2  Sistem Proteksi Aktif .............................................................. 75  4.4.3  Persyaratan 4.4.4  Persyaratan Jalan Keluar dan Aksesibilitas Tanda untuk Arah Pemadam Kebakaran ............................................................ 75  Pencahayaan Darurat, Keluar/Eksit, dan Sistem Peringatan Bahaya ........................ 76  4.4.5  Persyaratan Sarana Evakuasi ............................................... 76  4.5  Persyaratan fasilitas dan Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat ....... 78 
3

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

............. 90  Tahap Mobilisasi Sumber Daya Manusia .......6  Perabot ..3  Pintu ..................1  Tempat Parkir ....... 93  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 4 ................................... 81  4....................................5....................................................5.......1  5.............................................2  5.....................4......................................................... 88 4.......................................................................................5............................................................................. 90 5................................................. 83  4............................ 90  Tahap Operasional ..5...........................................2  Jalur Pemandu ............................5...................................5. 89 BAB 5 PENYELENGGARAAN PIP2B ......................................................................................................... 80  4...7  Rambu dan Marka .....................4  Ram .5........3  Tahap Persiapan .......... 78  4.......5  Toilet .... 85  4...

1.bab 1 PENDAHULUAN 1. Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan perencanaan sebuah bangunan gedung dan lembaga PIP2B yang meliputi panduan bagi perancangan bangunan.2 MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini adalah untuk memberikan acuan bagi: • • perencanaan dan perancangan gedung PIP2B operasional lembaga PIP2B Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan pedoman ini adalah agar terdapat pemahaman yang sama dalam membangun gedung PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 5 .1 PENGERTIAN 1. Pedoman Umum adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan 2. dan standar minimal bentuk organisasinya. kebutuhan ruang dan besaran minimal yang mencerminkan bangunan gedung yang handal. seperti kebutuhan luas lahan minimal. program kebutuhan bangunan. aman dan nyaman. serta panduan kelembagaan penyelenggaraan PIP2B.

Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 5.1. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan 14. KetentuanTeknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan 10. yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam penatalaksanaan organisasi. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 11/KPTS/2000 tentang. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 7. SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara 6. SNI 03-1726-1989. sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan PIP2B. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi 3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 2. SNI 19-2454-1991.3 RUANG LINGKUP Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini mencakup: • • dasar-dasar perencanaan gedung PIP2B panduan kelembagaan penyelenggaraan PPIP2B.4 ACUAN NORMATIF Dasar Hukum yang melandasi Pedoman Umum Perencanaan PIP2B adalah: 1. SNI 02-2406-1991. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung 13. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 9. Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah Perkotaan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 6 . 11. 1. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 12. SK Direktorat Jenderal Perumahan clan Permukiman Nomor 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 8. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman 4. SNI 03-1728-1987.

2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Selang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 30. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan dan Gedung 23. SNI 03 .2000 tentang Tata Cara Akses Bangunan dan Akses Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya kebakaran pada Bangunan Gedung 28.2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 29.1745 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 26.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatik untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 27. SNI 03-1745-1989. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 19. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 18. SNI 03-453-1987.1735 . Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 22. Pemasangan. SNI 03 . SNI 03-1727-1989.3989 . SNI 03-1733-2004 SNI 03-3985-1995. SNI 03-1734-1989. SNI 03 . SNI 03 . dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 7 . Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 24. SNI 03 . Tata Cara Instalasi Petir Untuk Bangunan 17. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman 16.6481 . SNI 03-3242-1994. SNI 03 . Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung 20. SNI 03-2847-1992.15.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan pemasangan Sistem Plambing pada Bangunan Gedung 31. SNI 03-1736-1989. SNI 03-1728-1989.1736 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan Pencegah Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 21. SNI 03-1735-1993. SNI 03 .3985 . Tata Cara Perencanaan Pemasangan Sistem Deteksi Alarm Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 25.1746 .

1728 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton pada Bangunan Gedung 41.2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung 35.6571 . SNI 03 – 6759 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 8 .2396 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja pada Bangunan Gedung 40. Tanda Arah.2001 tentang Tata Cara Penerangan Darurat. SNI 03 .2001 tentang Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung 38.32.6575 .6570 .2001 tentang Sistem Pengendalian Asap Kebakaran pada Bangunan Gedung 34. SNI 03 . SNI 03 .1729 . SNI 03 . SNI 03 . SNI 03 .6572 . SNI 03 .2001 tentang Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung 36.1726 . SNI 03 .6574 . SNI 03 . dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan Gedung 37.2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung 39.2001 tentang Pompa yang Dipasang Tetap untuk Proteksi Kebakaran 33.

Wadah ini merupakan fasilitas yang terbuka untuk umum.bab 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2. masyarakat serta kalangan akademisi.1 PENJELASAN UMUM Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah lembaga inovatif yang ditargetkan untuk menjadi lembaga publik yang mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. pihak pemerintah. Dalam mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. pengusaha bahan bangunan. Tujuan dibentuknya adalah membangun jaringan informasi untuk meningkatkatkan reputasi lembaga perumahan dan permukiman yang mandiri khususnya dalam mendukung pembangunan perumahan swadaya. nantinya akan menjadi milik Dinas PU Pemerintah Propinsi. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 9 . pelaksana. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) yang dalam pembentukannya difasilitasi Pemerintah Pusat. dan melakukan berbagai kegiatan yang mendukung penyebar luasan informasi pengembangan permukiman dan bangunan gedung (diagram 2-1). Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada berbagai unsur: perencana.

dan perancangan bangunan gedung serta advokasi penataan permukiman.Diagram 2. Arsitektur dan Bangunan Gedung. Lingkup pelayanan tersebut dapat mencakup hal-hal yang sifatnya praktis maupun analisis. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Juni 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 10 . ada 4 produk pelayanan utama yang dapat diberikan oleh Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) sebagai berikut1: a. tergantung tingkat kemampuan dan sumberdaya yang tersedia pada lembaga PIP2B serta kebutuhan masyarakat yang ada. 1 Kerangka Acuan Revitalisasi/ Pengembangan Kembali Building Information Center (BIC) sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Ketrampilan Teknis bidang Perumahan. Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis PIP2B dapat memberikan pelayanan informasinya dalam bentuk konsultasi dan advokasi teknis yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Ruang lingkup kegiatannya antara lain dapat berupa layanan konsultasi kegiatan perencanaan.1 PIP2B memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada para stakeholder bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung 2. Permukiman.2 LAYANAN INFORMASI PIP2B Secara garis besar. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman.

dan perlengkapan kantor lainnya. serta sosialisasi kebijakan dan program termasuk peraturan dan perundangan. d. Dokumen Interim. ataupun industri lainnya yang terkait dengan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. peralatan audio visual. Untuk kegiatan pengelolaan institusi PIP2B sendiri.b. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. perpustakaan dan penerbitan bukubuku/ bahan cetakan yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Pelatihan dan Penyebarluasan Informasi Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatannya antara lain pelayanan pelatihan/ pengembangan ketrampilan teknis dan penyebar luasan informasi penyelenggaraan program bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung. mejakursi kerja. dibutuhkan prasarana dan sarana yang berupa antara lain: • • • Gedung dan ruang operasional PIP2B. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengembangan usaha pelayanan informasi melalui kerjasama dengan lembaga lain yang terkait di sektor ini. event-organizer pada suatu penyelenggaraan kegiatan pameran. seperti IAI. harga satuan bahan dan upah kerja dalam bidang jasa konstruksi secara periodik juga dapat menjadi salah satu materi layanan informasi yang disediakan oleh PIP2B. peralatan dokumentasi. baik untuk sekretariat maupun kegiatan pelayanan informasi lainnya Peralatan kantor/ sekretariat. REI. seminar yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. Mei 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2 11 . Kegiatan penyusunan dan penyebar luasan harga bangunan. baik yang berupa peralatan pendukung perpustakaan. baik berupa alat tulis kantor. Peralatan pelayanan informasi. Inkindo. peralatan display bahan peraga untuk informasi. computer. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. pengembangan layanan dapat berupa penyelenggara. Bentuknya dapat berupa penyuluhan. Disamping itu. serta peralatan pendukung lainnya Kajian Pengembangan Usaha (Business Plan) Building Information Center. Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga2. c. Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi Kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup ini dapat meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasis website.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. Ketentuan-ketentuan daerah. perumahan dan permukiman. Peraturan tentang Bangunan Gedung d. Peraturan Pemerintah c. Berdasarkan jenis informasi yang dapat diperoleh/ diberikan oleh PIP2B adalah sebagai berikut: 1. Informasi yang terkait dengan produk-produk bidang Ke Cipta Karyaan mencakup Tata Bangunan dan Lingkungan. RTBL. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 12 . 2. serta inovasi berbasis keunggulan lokal (sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah).• Peralatan mobilitas dalam rangka mendukung mobilitas kegiatan penyebar luasan informasi. Pedoman dan Manual bidang tata bangunan dan permukiman f. 3. Standar. 2. Informasi Khusus seperti kebijakan dan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kaitannya dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. Serta informasi yang bermanfaat bagi pelaku pembangunan gedung. Informasi maupun publikasi yang bersifat Umum seperti: a. mencakup Peraturan Daerah. seperti: a. serta Pengembangan PLP untuk perkotaan maupun perdesaan 4. usaha dan kegiatan produktif b. Pedoman Harga Satuan Upah dan Bahan Bangunan yang dilengkapi dengan harga. dan lain-lainnya. Pengembangan Air Minum. Pengembangan Permukiman. teknologi kontruksi yang terkait dengan perumahan dan permukiman. Surat Keputusan (SK) e.3 PRODUK INFORMASI PIP2B Jenis layanan informasi yang dikembangkan oleh PIP2B berbasis kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. merk serta produsennya c. Undang-undang b.

2. Sarana bagi Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi: • • • • Ruang Perpustakaan E-library/ perpustakaan digital Ruang Server Ruang Pengolahan Informasi d. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. Sarana bagi Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga: • • • • Gedung Kantor Ruang-ruang kerja sesuai standar kebutuhan dan jumlah personil Ruang-ruang Pertemuan Ruang-ruang Penunjang seperti: Pantry. mencakup: • • Ruang Konsultasi Ruang-ruang Diskusi b. seperti: • • • • 3 Ruang Lobby dan Informasi Ruang-ruang Mekanikal Elektrikal Mushola Publik Toilet Publik Pengarahan Tim Teknis.4 SARANA PELAYANAN INFORMASI PIP2B Di dalam menyiapkan infrastruktur Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B). Sarana bagi Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis. Juli 2007 13 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Toilet Karyawan. Paket PBL IV-3. Direktorat Jenderal Cipta Karya. dll e. lembaga ini harus dapat menyediakan sarana pelayanan informasi yang lebih interaktif sebagai berikut3: a. Sarana Penunjang lainnya. Sarana bagi Pelayanan Pelatihan dan Penyebar luasan informasi • • • • Ruang audiovisual Ruang-ruang Pertemuan Ruang Pamer Ruang Display c. Mushola.

ditetapkan pejabat ketua struktur organisasi PIP2B merupakan seorang pejabat setingkat eselon III . Dengan demikian dapat diprediksi jumlah personil dalam struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai berikut4: Diagram 2. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. 2.5 STRUKTUR KELEMBAGAAN STANDAR DAN JUMLAH PERSONIL PIP2B Di dalam menyiapkan struktur kelembagaan Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di setiap propinsi. Paket PBL IV-3.• • • Fasilitas bagi Penyandang Cacat Parkir Dll. Nopember 2007 14 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Direktorat Jenderal Cipta Karya. 4 Pengarahan Tim Teknis.2 Struktur Organisasi PIP2B Maka total jumlah personil pada struktur organisasi PIP2B di atas seluruhnya berjumlah 23 orang.

Klasifikasi berdasarkan Ketinggian. yaitu bangunan gedung negara yang memiliki kompleksitas dan atau teknologi tidak sederhana. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Kompleksitas. Menurut Fungsi Sosial dan Budaya. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung milik negara DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 15 . bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan gedung tingkat resiko kebakaran rendah d. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan permanen c. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung perkantoran pemerintah b. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Risiko Kebakaran. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan tidak sederhana.2 PENETAPAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Adapun penetapan klasifikasi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a.1 PENETAPAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Penetapan fungsi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a.1.1. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung bertingkat rendah e.1 FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN PIP2B 3. b. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung pelayanan umum 3. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Permanensi. Bangunan gedung PIP2B dapat dijelaskan sebagai gedung kantor dengan luas lebih dari 500 m2.bab 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B 3. Menurut Fungsi Usaha. Klasifikasi berdasarkan Kepemilikan.

30 khusus di 4 0.03 0.04 0.12 0.38 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 16 . Pembagian Wilayah Gempa ini.18 0. Tabel 3-1 Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa Indonesia (berdasarkan SNI 1726-2002).34 setiap lokasi 5 0.20 evaluasi 3 0.1 Zonasi Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun (berdasarkan SNI 1726-2002) Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1. Percepatan Percepatan puncak muka tanah Ao (‘g’) Wilayah Puncak Batuan Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Tanah Gempa Dasar (`g) Khusus 1 0.28 0.23 0. di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi.f.15 0.32 0. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun yang nilai rataratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 1 dan table 3-1. Hal ini perlu dilakukan karena adanya perbedaan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa dan untuk masing-masing jenis tanah yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung dalam rangka menjamin kekekaran (robustness) minimum dari struktur gedung tersebut.30 0.08 Diperlukan 2 0.05 0.24 0.33 0. Klasifikasi berdasarkan lokasi pada Zonasi Gempa adalah sesuai dengan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang (Gambar 3-1) Gambar 3.36 0.15 0.28 0.10 0.25 0.20 0.36 6 0.

Gasmbar 3-2 Respons Spektrum Gempa Rencana (berdasarkan SNI 1726-2002). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 17 .

yaitu rata-rata sebesar 10.7 m2 Total Luas     246. studi banding di lapangan. Berdasarkan persyaratan kelembagaan bahwa institusi PIP2B akan dipimpin oleh pejabat eselon III. Jabatan 1 R. renggang). Simpan R. maupun menurut standar dan ketentuan yang berlaku. Tamu 3 R. maka perkiraan luas ruang kerja bagi gedung PIP2B adalah sekitar 246.2 STANDAR PERENCANAAN BANGUNAN PIP2B 3. digunakan standar detail luas ruangan kerja kantor pemerintah seperti yang tercantum pada Tabel C pada buku Pedoman Pembangunan Bangunan Negara. Rapat 4 Luas Ruang R.2.g. Toilet 5 6 7 8 Jumlah 9 1 Eselon III 2 Staff          6.10 m2 Adapun untuk merencanakan tata ruang dalam gedung PIP2B. sedang. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 18 .2 Acuan Standar Umum Ruang Kantor PIPB Struktur Organisasi Jumlah Personil 23 orang Standar 10. ditentukan berdasarkan ketentuan standar luas ruang kerja pada gedung kantor pemerintah dengan klasifikasi tidak sederhana. Tunggu R. ditetapkan oleh instansi yang berwenang di daerahnya masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.00           ‐          2.10 m2 (Tabel 3. Kerja 2 R. Sekr R.00 m2          2. Perkiraan luas ruang-ruang pelayanan informasi dihitung berdasarkan perkiraan kapasitas tampung.00 m2 3.00           ‐           ‐           ‐         3. Kebutuhan total luas ruang kerja dihitung berdasarkan jumlah personil yang akan ditampung dikalikan standar luas sesuai dengan klasifikasi bangunannya.2 PROGRAM KEBUTUHAN LUAS RUANGAN Kebutuhan ruang bangunan gedung PIP2B terdiri atas sarana ruang kerja serta sarana ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat.1 STANDAR LUAS RUANG KERJA Dalam menghitung luas ruang kerja pada bangunan gedung kantor PIP2B.00            ‐           ‐         3.3 Standar Detail Luas Ruangan Kerja bagi Kantor Pemerintah No.7 m2 perpersonil. adalah sbb: Tabel 3.00          6.2.2) Tabel 3. Klasifikasi berdasarkan kepadatan lokasi (padat.00            ‐           ‐            ‐        18. 3.

00        60.40         12.00 m2          6.20 m2        12. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik (2m2/25 org) Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility KAPASITAS 200 org 1 bh 20 org 1 bh 1 bh 6 org 23 org 23 org 23 org 1 bh 8 1 2 2 23 2 1 1 25% sat bh sat sat org bh bh bh SATUAN LUAS          0.5 Sifat Kegiatan Penyebarluasan Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  A  1.00 R.4 memperlihatkan perkiraan kebutuhan ruang untuk bangunan gedung PIP2B.7.40        12.00          4.00            6. Kerja Penunjang Ruang Sirkulasi m2      189.80          6.2.83 LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN      949.00          6.00            8.70          0. Kegiatan  Kriteria Disain Standar  Fungsi  4    ‐ Berupa outdoor plasa multifungsi ‐ Meningkatkan kualitas lingkungan dan bangunan   ‐ Menampung kapasitas 500 orang Fisik  5  Lingkungan  6    ‐ Merupakan bagian terintegrasi dari disain bangunan dan lingkungan ‐ Memperbaiki iklim mikro ‐ Tetap dapat berfungsi meningkatkan resapan air 2  3  SARANA PENYEBARLUASAN INFORMASI   R.20         10.00            8.00            6.00          1.6 dan 3. Tabel 3.00        18. Asosiasi  Profesi R.00 m2        27.13 m2 3.Tabel 3.00 m2         32.00          6.90 m2         20.00        40. Pamer  Outdoor  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat permanen  maupun temporer dan  eventual  sesuai dengan  kebutuhan daerah.13 m2. 3.00 Publik m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 Semi Publik m2        36.5.30 LUAS      180. dengan perkiraan luas total lantai bangunan adalah sekitar 949.00          4.00 m2          2.  seperti:   ‐ Model  RISHA  ‐ Prototipe rumah  tahan gempa  ‐ Beberapa model  sistem struktur  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 19 .00          4.00        20.00     759.60 m2      246.4 Studi Kebutuhan Ruang Gedung PIP2B RUANG Pameran Indoor R.3 KARAKTERISTIK DAN KRITERIA RUANGAN PELAYANAN Sifat kegiatan yang ditampung di dalam ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat dan kriteria disain standar bagi masing-masing ruang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3.00        32.10 m2            9. Display R.00          6.00 m2         60.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2        32.00          0. Audiovisual Perpustakaan E‐ Library R.00            6.

atau void dengan ceiling > 1 lantai ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan.  R. Display  Dapat  menampung  materi‐materi  display ke‐ Cipta Karya‐an yang  dipasang sepanjang  tahun. secara visual dapat transparan ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan ‐ Dalam keadaan display. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan. Audio  Visual  Dapat menampung  materi ke‐Cipta Karyaan  yang ditampilkan secara  audio visual  ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 20-30 orang 5. Pertemuan  Dapat menampung  pertemuan staff maupun  dengan pihak luar  ‐ Berupa ruang rapat yang siap dengan peralatan presentasi ‐ Menampung kapasitas ruang untuk pertemuan 10-12 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . seperti:   ‐ Banner UUBG  ‐ Running Text    ‐ Panel display atau apapun yang menjadi media display 4.  R. ruangan dapat menjadi gelap dan tidak silau 20 3. Pamer  Indoor  ‐ Dsb  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat temporer dan  eventual seperti :   ‐ Pameran  ‐ Seminar    ‐ Berupa indoor hall yang bersifat multifungsi untuk memamerkan produk-produk ke-Cipta Karya-an maupun teknologi bangunan terkini ‐ Merupakan bagian yang menyatu dengan R.  R.2. Pamer Indoor ‐ Display ditempatkan pada bagian yang mengundang. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan tertutup ‐ Menggunakan insulasi penahan suara ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan menggunakan pengendalian dg system switching dan dimming untuk memperoleh efek pencahayaan ‐ Konsep Ruangan secara tata suara tertutup. dan informatif ‐ Isi display dapat berganti-ganti sesuai tema ‐ Berupa ruang kelas yang siap dengan peralatan audio visual ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 200 orang ‐ Memiliki ceiling yang tinggi.  R.

‐ Ruang browsing komputer sesuai standar ‐ Menampung kapasitas 6-8 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. namun mudah dipelihara ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata 3.  Pengolahan  Meng up‐date  untuk Informasi  database informasi  memasukkan dalam bentuk  dan memantau digital  informasi digital    ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 21 .  Dapat  Perpustakaan  menampung buku‐ buku terbitan/  bahan cetakan  yang terkait  dengan ke‐Cipta  Karya‐an &  melayani  kebutuhan  informasi  masyarakat    R. namun mudah dipelihara ‐ Menampung kapasitas 2 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.Tabel 3.  Melayani  Perpustakaan  kebutuhan  Elektronik  informasi  masyarakat dalam  bentuk digital     4      Fisik  5    Lingkungan  6  1. ‐ Ruang Kerja R. namun mudah dipelihara ‐ Memungkinkan untuk melakukan pemeliharaan data dan reparasi computer 4. Server  Menampung  informasi dalam  bentuk digital     ‐ Ruang Komputer Terpusat ‐ Menampung kapasitas 1 bh server komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi.6 Sifat Kegiatan Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Kriteria Disain Standar  Ruangan  1  B  Kegiatan  Fungsi  2  3  SARANA PELAYANAN  PENGEMBANGAN/   DOKUMENTASI INFORMASI   R. ‐ Rak buku sesuai standar ‐ Ruang Baca sesuai standar ‐ Menampung kapasitas ruang baca 8-12 orang ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2. R.

namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara.7 Sifat Kegiatan Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  C  1. 2  Kegiatan  Fungsi  3  4  Kriteria Disain Standar  Fisik  5  Lingkungan  6  SARANA PELAYANAN KONSULTASI  DAN ADVOKASI TEKNIS   R. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2.Tabel 3. Konsultasi  Dapat digunakan  untuk keperluan  konsultasi   ‐ Berupa ruang kerja dengan kursi hadap ‐ Terdiri atas 1 atau 2 orang yang merupakan konsultan dan 2 atau 4 orang yang berkonsultasi ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara. Diskusi  Dapat digunakan  untuk keperluan  diskusi kecil  ‐ Merupakan ruang multifungsi yang berkaitan dengan kegiatan konsultasi ‐ Berupa ruang pertemuan dengan kapasitas 6-8 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 22 . R.

2. artinya ruang tidak perlu berdekatan maupun terhubung oleh pintu. yaitu ruang berdekatan dan terhubung oleh pintu Dekat dengan Hubungan Tidak Langsung.3. yaitu ruang berdekatan tetapi tidak perlu terhubung oleh pintu Tidak Berhubungan. Hubungan antar ruang dibedakan atas: • • • Hubungan Langsung.3 Matriks Hubungan Antar Ruang Gedung PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 23 . Gambar 3.4 HUBUNGAN ANTAR RUANG Hubungan antara ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B ditetapkan berdasarkan matriks hubungan antar ruang pada gambar 3-2.

jaringan air limbah. termasuk rencana pengembangan lahan dan bangunannya. 4. jaringan listrik dan telepon. Apabila gedung PIP2B terletak di dalam sebuah kompleks perkantoran yang tidak dapat dicapai secara langsung oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. 3. Jarak tempuh maksimum 5 km dari pusat kota atau tidak lebih dari waktu tempuh 20 menit perjalanan dengan kendaraan umum pada saat normal (tidak macet). Radius pencapaian lokasi ditentukan oleh jarak dan waktu tempuh dari pusat kota. Kesiapan Prasarana Lokasi gedung PIP2B harus memiliki prasarana yang memadai. drainase. Radius Pencapaian Gedung PIP2B dibangun pada lokasi-lokasi di ibukota propinsi. Pencapaian secara berjalan kaki harus terhindar dari lalu lintas berkepadatan tinggi. Lokasi harus dekat dengan masyarakat pengguna dengan pencapaian mudah. dengan asumsi kepadatan penduduk yang dilayani dapat mendukung kegiatan pelayanan informasi bagi masyarakat. Aksesibilitas Lokasi gedung PIP2B harus dapat dicapai oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Peraturan Tata Ruang Kota Lokasi disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan mendapat persetujuan pemerintah daerah yang bersangkutan untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). mencakup: jalan lingkungan.3.3 PERSYARATAN LOKASI Penentuan lokasi bangunan gedung PIP2B mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: 1. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 24 . maka jarak tempuh maksimum dari titik transit adalah 10 menit berjalan kaki. 2. jaringan air bersih.

harus dipertimbangkan tersedianya sarana sebagai berikut: • Ruang Pamer Outdoor. • • • • • • Parkir dan sirkulasi mobil kantor maupun karyawan.1 SARANA RUANG LUAR Dalam rangka menentukan luas tapak yang dibutuhkan bagi sarana dan fasilitas bangunan PIP2B. Prototipe Rumah Tahan Gempa.4.2 SARANA PUBLIK DI LANTAI DASAR Dalam merencanakan bangunan PIP2B. harus dipertimbangkan sarana dan fasilitas pelayanan bagi publik wajib untuk ditempatkan di lantai dasar. minimal 40% dari luas total lahan diperuntukkan bagi penghijauan dan lansekap 3.3. Sarana ruang minimum yang harus disediakan serta posisinya baik di lantai dasar atau di lantai atas ditentukan dalam tabel 3. disediakan minimal untuk 2 kendaraan Parkir dan sirkulasi mobil pengunjung. Beberapa contoh produk pameran outdoor yang permanen adalah: Model RISHA. disediakan minimal untuk 25 kendaraan Jalur pedestrian yang memadai Ruang Terbuka Hijau. dengan rasio 1 kendaraan setiap 100 m2 luas lantai Parkir dan sirkulasi mobil bagi penyandang cacat. Sehingga sarana dan fasilitas pelayanan tersebut memungkinkan untuk dapat diakses pula oleh masyarakat penyandang cacat.4. disediakan minimal untuk 5 kendaraan Parkir dan sirkulasi motor baik karyawan maupun pengunjung.8. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 25 .4 PENENTUAN LUAS TAPAK 3. yang cukup luas agar dapat menampung materi-materi pameran ke-Cipta Karya-an yang bersifat permanen maupun temporer dan eventual sesuai dengan kebutuhan di daerahnya masing-masing. dan beberapa model system struktur.

40        12.00 m2 R.Tabel 3. sedangkan simulasi rancangan digambarkan dalam gambar 3-3 dan 3-4.00          8. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R.00 m2     388.13 m2 3.3 LUAS LAHAN MINIMUM Dalam merencanakan bangunan PIP2B.00          6.13 m2 Sub Total Ruang Sirkulasi LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN 25%      189.00 m2        32.00 m2       32.00 m2     485.00 m2        371. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility                                         759.00 m2         6.20 m2         12. maka pemanfaatan lahan yang efisien mengakibatkan bangunan terdiri atas 2 lantai.40 m2       12.60 m2        246.30 m2         92.00 m2        27.4.100 m2. Perhitungan kebutuhan luas tapak bangunan dan penentuan luas lahan minimum untuk kedua alternatif diatas dapat dilihat pada tabel 3-9 dan 3-10.00 m2         6.00 m2 m2 m2 m2 m2 Lantai Dasar     180.00 m2       60.83 m2      464.00 m2       40. metropolitan dan pusat kota. atau di kota yang masih relatif rendah intensitasnya.30 LUAS      180. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 26 .00        60.00          6.83 m2      949. maka bangunan PIP2B memungkinkan untuk dikembangkan sebagai 1 lantai saja dengan lahan yang lebih luas.8 Posisi Ruang Publik RUANG Pameran Indoor R.00        20. Beberapa kemungkinan harus dipertimbangkan sehubungan dengan lokasi bangunan PIP2B.00        18.60 m2       246.00          8.00        40.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2       32.10 m2          9. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 2.00          6.00 m2           6. Kerja Penunjang           8.200 m2 • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di tepian kota.00 m2           8.00 m2         27.00 m2       97.00        32. Display R.00 m2         18.10 m2           9.20 m2        12.00 m2       20. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 3. Asosiasi Profesi R.00 m2         36.00 m2 Lantai Atas Semi Publik        36. perlu disadari kondisi terbatasnya lahan terutama di daerah kota besar. • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di pusat kota.

10                     5.10                     5.9 Perhitungan Kebutuhan Luas Tapak Bangunan PIP2B Kapasitas Alternatif Bangunan 1 lantai Total Lantai Bangunan Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (1 lt) Satuan Luas Jumlah Luas            949.00            958.83 m2       2.28         2.211.395.00            284.48            350.00            9.028.13 m2 3.13 m2          920 m2 100% thd luas total 30% thd luas lahan     949.00                40.70                   30.10 Penentuan Luas Lahan Minimum Bangunan PIP2B Luas Total Lantai Bangunan Alternatif Bangunan PIP2B 1 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Alternatif Bangunan PIP2B 2 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Perkiraan Luas Luas Minimum     949.74                68.25 m2 2.100 m2 70% thd luas total 30% thd luas lahan     642.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 27 .8               2.70 Tabel 3.45 Kapasitas Alternatif Bangunan 2 lantai Total Lantai Bangunan Bangunan Lantai Dasar thd total lantai Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (2lt) Satuan Luas 60%         500.163.70         500.70                   30.13            569.00          25.38         3.13            350.395.00                   34.00                40.20            125.028.00 0.45 Jumlah Luas            949.49            2.00                   34.13                      0.77 m2       3.00 40%                      0.00          50.00 0.00          25.00            9.00 40%                  949.140.00         1.20            125.49            2.8               3.Tabel 3.00            284.00          50.74                68.

5 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 2 lantai dengan Luas Lahan Minimum 2.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 28 .100 m2 Gambar 3.Gambar 3.4 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 1 lantai dengan Luas Lahan Minimum 3.

biaya pengelolaan proyek. 4. dan Izin Penggunaan Bangunan dalam hal Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setempat. Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah Instansi/lembaga pemerintah/negara yang bersangkutan. 2. Persyaratan administrasi bangunan gedung negara meliputi pemenuhan persyaratan: 1. biaya pelaksanaan konstruksi fisik. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi. termasuk surat penunjukan/penetapan Pimpinan Proyek. d. c. baik yang dihasilkan oleh Penyedia DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 29 . DOKUMEN PERENCANAAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perencanaan. DOKUMEN PEMBIAYAAN Setiap kegiatan pembangunan bangunan gedung PIP2B harus disertai/memiliki bukti tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundangan yang berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen lainnya yang dipersamakan. b. STATUS HAK ATAS TANAH Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki kejelasan tentang status hak atas tanah lokasi tempat bangunan gedung PIP2B berdiri. biaya perencanaan konstruksi. Kejelasan status atas tanah ini dapat berupa hak milik atau hak guna bangunan.5 PERSYARATAN ADMINISTRASI Setiap bangunan gedung PIP2B harus memenuhi persyaratan administrasi baik dalam tahap pembangunan maupun tahap pemanfaatan sebagaimana bangunan gedung negara.3. PERIZINAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perizinan yang berupa: Izin Mendirikan Bangunan. 3. Dalam dokumen pembiayaan pembangunan bangunan gedung negara terdiri atas: a. yang dihasilkan dari proses perencanaan teknis.

Di dalam proses perencanaannya. b. 5. Dokumen Pelelangan. dan Surat Izin Penggunaan Bangunan (IPB) dalam hal Peraturan DaerahKabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB. d. Fotokopi Dokumen Pembiayaan/DIP (otorisasi pembiayaan). f. 6. DOKUMEN PENDAFTARAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pendaftaran untuk pencatatan dan penetapan HDNO meliputi: a. hasil uji coba/test run operational. Fotokopi sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah. dan Sertifikat Penjaminan atas Kegagalan bangunan sesuai ketentuan yang berlaku. Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi. c. Izin Mendirikan Bangunan.Jasa Perencana Konstruksi atau Tim Swakelola Perencanaan. Fotokopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). DOKUMEN PEMBANGUNAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pembangunan yang terdiri atas: Dokumen Perencanaan. dan As Built Drawings. Berita Acara Serah Terima I dan II. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 30 . As built drawings (gambar sesuai yang dilaksanakan) disertai gambar leger. e. Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan. asistensi terhadap instansi pemerintah pusat harus dilakukan.

00 meter serta harus mempertimbangkankan hal-hal seperti: • • • • Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan. maka bangunan PIP2B merupakan bangunan tunggal (freestanding) dengan jarak bebas antara blok/masa bangunan dengan batas lahan minimum adalah 4. Kesehatan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 31 .1 PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 4.bab 4   KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B 4. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan. Kenyamanan.1 KESESUAIAN TATA BANGUNAN DENGAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN PERATURAN DAERAH Persyaratan tata bangunan dan lingkungan meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan PIP2B dari segi tata bangunan dan lingkungannya. b. yaitu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Peruntukan Lokasi Bangunan PIP2B harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota yang bersangkutan. yaitu: a. Jarak Bebas Bangunan Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung.1.

d. Ketinggian bangunan Ketinggian bangunan PIP2B. KLB. • GSB merupakan jarak tepi ruas jalan dengan bangunan terluar. Mengingat bangunan gedung PIP2B memiliki fasilitas pelayanan masyarakat di lantai dasarnya.c. maka diusulkan ketinggian langit-langit minimum di Lantai Dasar adalah 3. KDB maksimum adalah 60%. dan Ramp bagi Penyandang Cacat Jalur Pedestrian KDH merupakan perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan yang harus digunakan sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. GSB dan KDH mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung untuk lokasi yang bersangkutan. Koefisian Lantai Bangunan (KLB).80 meter dihitung dari permukaan lantai. e. Parkir. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 32 . KDH minimum dari bangunan PIP2B adalah 40%. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Ketinggian langit-langit Ketinggian langit-langit bangunan PIP2B minimum di setiap lantai adalah 2. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Koefisien Daerah Hijau (KDH) Ketentuan besarnya KDB. maka bangunan PIP2B mengikuti ketentuan berikut KDB merupakan perbandingan antara luas seluruh perkerasan di lantai dasar dengan luas lahan.50 meter. GSB minimum bangunan PIP2B adalah 7. • Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat. termasuk didalamnya: o o o o o • Lantai Dasar Bangunan (maksimum 30% dari Luas Lahan) Ruang Pamer Outdoor Sirkulasi dan Parkir Kendaraan (mobil dan motor) Sirkulasi.00 meter. maksimum adalah 3 lantai. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi.

1. Ruang Pamer Outdoor. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau panutan bagi lingkungannya.Gambar 4. Persyaratan Keserasian dengan Lingkungan • Bangunan PIP2B harus serasi dengan lingkungannya. Lantai Dasar maks 30%. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 33 . Penempatan massa bangunan arsitektur berorientasi terhadap arah sinar matahari dan iklim setempat.1 Simulasi Rancangan Tapak: memperlihatkan KDB maks 60%. Bangunan khususnya lantai dasar harus memperlihatkan sebagai bangunan yang ramah kepada publik dengan memperlihatkan kejelasan arah jalan masuk. keterbukaan (mengundang untuk masuk).2 PERSYARATAN ARSITEKTUR a. serta elemen-elemen dan material yang mempermudah untuk berorientasi menuju maupun di dalam bangunan. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Sirkulasi dan Parkir Kendaraan & Penyandang Cacat dan Jalur Pedestrian 4. • Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. • Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan.

dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut.2 Bentuk denah bangunan gedung (PerMen PU no. • • Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. • Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan segala sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam rencana tata ruang. L. maka harus dilakukan pemisahan struktur atau dilatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa atau penurunan tanah. Bentuk denah bangunan gedung sedapat mungkin simetris dan sederhana. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 34 . atau U. guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa. Gambar 4. 29/PRT/M/2006) • Dalam hal denah bangunan berbentuk T.• Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya.

3 Simulasi Rancangan Berbagai Ekspresi Arsitektur Bangunan PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 35 . • Kearifan lokal harus dihargai. Gambar 4. Dalam konteks bangunan dengan ekspresi modern. • Ekspresi kekinian bangunan tidak boleh mengabaikan kaidah-kaidah dasar Arsitektur Tropis. Persyaratan Ekspresi dan Wujud Arsitektur Setiap arsitektur bangunan PIP2B memiliki kebebasan dalam berekspresi dan menentukan wujud arsitekturnya. Fasade bangunan harus cukup transparan terutama di lantai dasar. namun tidak menutup kreatifitas dan inovasi disain dalam mewujudkan Arsitektur Tropis yang modern. Kriteria-kriteria dasar yang harus dipenuhi dalam ekspresi bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: • • Wujud arsitektur mencerminkan fungsi bangunan PIP2B sebagai bangunan pusat informasi yang modern dan mencerminkan teknologi bangunan terkini. maupun elemen interior. kearifan lokal dapat diwujudkan melalui penggunaan ornamen di dalam lansekap. Kreatifitas dan inovasi disain sangat dianjurkan dalam mewujudkan kearifan lokal pada bangunan PIP2B. dan penggunaan elemen-elemen yang mengandung identitas lokal harus merupakan bagian yang menyatu dengan arsitektur bangunan PIP2B. art-work (benda seni).b. untuk memberikan citra keterbukaan era informasi sekaligus memperlihatkan kegiatan pameran indoor dan outdoor kepada publik.

GRC atau sejenis.c. batu alam. dan sejenis. marmer. atau bondek cor. Kriteria utama adalah durabilitas (keawetan) bahan bangunan sebagai material bangunan publik. Bahan penutup lantai: ubin PC. dan panel GRC. aluminium. Bahan penutup atap: genteng beton. 4. serta penampilan yang sesuai dengan fungsi dan ekspresi yang diinginkan. Persyaratan Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan diupayakan secara mayoritas merupakan bahan bangunan setempat dan produksi dalam negeri. Persyaratan Teknis • Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang pintu/ jendela diusahakan sedapat mungkin pada sumbu-sumbu denah bangunan mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat gempa DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 36 . termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari sistem fabrikasi komponen bangunan. granit tile. kaca dengan rangka kayu atau aluminium. sirap. beton pracetak. Beberapa contoh bahan bangunan yang dapat digunakan adalah: • • Bahan penutup dinding fasade bangunan: marmer.1. panel gypsum/GRC dan/atau panel aluminium dengan rangka hollow besi. disesuaikan dengan fungsi dan ekspresi bangunan. Bahan penutup langit-langit: kayu lapis. atau kaca dengan kosen aluminium. dak beton dengan lapisan kedap air. vynil. disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. celcon atau hebel. • • • Bahan kerangka langit-langit: rangka kayu minimum kelas kuat II di anti rayap. yang disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang.3 PERSYARATAN TATA RUANG DALAM Beberapa kriteria dalam menata ruang dalam bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: a. gypsum. akustik. • Bahan dinding pengisi: batu bata. maupun karpet. parket. • Bahan kosen dan daun pintu/jendela: kayu minimum kelas kuat II. atau rangka hollow besi. teraso. papan kayu dengan tingkat kekuatan dan keawetan tinggi. batu alam. genteng keramik. keramik.

 Asosiasi Profesi R. Rapat Ruang Kerja Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 37 .1 Karakteristik Ruang berdasarkan tingkat privasi KARAKTERISTIK  Sangat Publik Publik           Semi Publik     Privat           Publik     Privat                 RUANG  Pameran Indoor R.80 meter dihitung dari permukaan lantai. b. diperlukan pemisahan pemisahan zona pelayanan (publik) dan zona ruang kerja (privat) agar dapat dicapai tingkat privasi yang cukup bagi staff PIP2B. • Terdapat 4 jenis ruang menurut tingkat privasinya.50 meter. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R. • Permukaan lantai dari lantai dasar harus: o o Sekurang-kurangnya 15 cm di atas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan Sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. Tabel 4. publik. maupun staff Asosiasi Profesi yang ditempatkan di bangunan ini. Zona Publik dan Privat • Didalam mengelola fasilitas PIP2B dan melakukan kegiatan kerja sehari-hari. semi publik dan privat (Tabel 4-1).• • Ruangan di dalam bangunan harus memiliki tinggi yang cukup untuk fungsifungsi yang sesuai. Display R. Sedangkan ketinggian langit-langit minimum untuk ruang-ruang lainnya adalah 2. Ketinggian langit-langit minimum di lantai dasar adalah 3. mengingat lantai dasar mewadahi kegiatan pelayanan publik. yaitu sangat publik.

ATAS Gambar 4. jelas dan memberikan kemudahan orientasi bagi pengunjung yang akan memakai sarana dan fasilitas publik di dalam bangunan.4 Simulasi Rancangan yang mengakomodasi Ruang Pelayanan Publik di Lantai Dasar dan Privasi bagi staff PIP2B dan Asosiasi Profesi di Lantai Atas c. DASAR ZONA DI LT. tata ruang dalam bangunan PIP2B harus sederhana.ZONA DI LT. Efisiensi Flow Bangunan Yang termasuk dalam efisiensi flow bangunan adalah persyaratan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan yang sesuai dengan fungsi bangunan sebagai sebuah Pusat Informasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 38 .

rak buku. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 39 . ruang konsultasi. Pengkondisian udara dapat berfungsi pada saat udara termal alami tidak pada batas yang nyaman. Ruang Pameran Indoor dapat sekaligus mengakomodasi fungsi lobby dan Ruang Display Permanen. ruang display dan audiovisual. maupun pencahayaan buatan secara merata dan setempat. Ruang Pameran Indoor harus memiliki pencahayaan alami yang cukup. seperti ruang perpustakaan. dsb) harus terintegrasi dengan kenyamanan ruang gerak secara ergonomis sesuai dengan fungsi ruangan. elibrary. Ruang Pameran Indoor merupakan sarana pelayanan publik yang pertama dijumpai oleh pengunjung di bangunan PIP2B.1 Beberapa simulasi rancangan lay-out tata ruang dalam yang mengakomodasi flow pengunjung yang efisien d. Penghawaan alami harus dapat berfungsi agar konservasi energi dapat dicapai pada kondisi sehari-hari. Lebih baik lagi apabila dari ruang pameran indoor dapat dicapai sarana publik lainnya. • Persyaratan ergonomis pada masing-masing ruangan adalah sbb: 1. Minimal memiliki akses kepada pintu utama. Persyaratan Ergonomis Ruangan • • Tata ruang dalam bangunan harus dapat memberikan suasana yang tepat dan sesuai dengan fungsi ruangan Tata letak perabotan (meja kerja.Gambar 3. Ruang Pameran Indoor Ruang Pameran Indoor merupakan ruang serba guna dengan luas ruangan sekitar 180-200 m2 yang dapat mengakomodasi materi-materi pameran keciptakaryaan di dalam bangunan. kursi. pameran outdoor dan koridor menuju ruang kerja.

70 x 1. Pameran Indoor 2. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 40 .25 meter Ukuran standar meja baca adalah 0. dengan jalur dari ruang server hingga ruang e-library. meja dan kursi disebut modul working station. 2 unit. 3 unit maupun 4 unit modul tergantung kondisi ruangan.5 Simulasi R. Standar ruangan yang harus diperhatikan adalah: ƒ ƒ ƒ ƒ Jarak minimum koridor diantara rak buku adalah 1. Untuk memudahkan perawatan berkala komputer.30 meter Lebar rak buku minimal 40 cm Ketinggian rak buku maksimal 2. dilakukan penaikan lantai (raised floor) atau penetapan jalur kabel LAN melalui sirkuit yang terlindungi (race way) dan dapat dibuka dan ditutup setiap waktu.00 meter harus dapat mengakomodasi sistem pencarian data E-library ƒ perpustakaan secara elektronik. Ruang Perpustakaan & E-Library Ruang Perpustakaan harus dapat mengakomodasi koleksi buku-buku keciptakaryaan. Perabot standar set komputer. ƒ ƒ Seluruh kabel LAN harus tersembunyi dengan rapih pada tempat yang disediakan secara khusus. Satu set working station dapat terdiri dari 1 unit.Gambar 4.

STANDAR LEBAR KORIDOR DAN TINGGI RAK BUKU STANDAR MEJA BACA MODUL WORKING STATION Simulasi jalur kabel LAN pada lokasi plint dinding Gambar 4.Pengawasan ruang perpustakaan dan e-library dapat dilakukan pada satu titik counter pengawas sekaligus librarian.6 Simulasi Rancangan Ruang Perpustakaan & ELibrary DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 41 .

ruang audiovisual dirancang permanen dengan kapasitas secukupnya. Sehingga dapat digunakan sebagai 2 ruangan audiovisual yang dapat digunakan bersamaan. ruang audiovisual merupakan ruang yang cukup luas. yaitu sekitar 45 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 42 . Ruang Display & Audiovisual Ruang Audiovisual dapat direncanakan dalam dua alternatif. yaitu sekitar 90 m2 yang dirancang untuk dapat dibagi menjadi 2 ruangan. maupun digunakan sebagai ruang display pada event tertentu yang membutuhkan fasilitas audiovisual. Alternatif pertama.Gambar 4.7 Simulasi Rancangan Jalur kabel LAN untuk menunjang sistem data serta kemudahan dalam perawatan 3. Alternatif kedua.

Kedua alternatif harus dapat secara fleksibel menjadi ruang diskusi dengan tipe teater maupun kelas. Ruang Kerja Ruang Kerja dengan total luas sekitar 220 m2 terdiri atas: ƒ Ruang Pimpinan ƒ Ruang Sekretaris ƒ Ruang Tunggu ƒ Ruang Kepala Staff 5 unit ƒ Ruang Staff 11 unit ƒ Ruang Staff IT 1 unit ƒ Ruang Arsip ƒ Ruang Konsultasi 1-2 unit DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 43 . Ruang Audiovisual alternatif 1 Alternatif ruangan 1 ketika menjadi 2 Ruang Audiovisual alternatif 2 4. Kedua alternatif harus berdekatan dengan ruang operator untuk kemudahan operasional. sehingga keberadaan gudang untuk menyimpan perabotan meja dan kursi mutlak diperlukan.

8 Simulasi Rancangan Ruang Kerja 5. Ruang Asosiasi Profesi Ruang asosiasi profesi dengan luas sekitar 50 m2 dapat menampung 6 staff asosiasi.ƒ Ruang Petugas Perpustakaan & E Library 1-2 unit ƒ Ruang Rapat Total area ruang kerja menampung 23 orang Gambar 4. dengan lemari arsip dan satu set meja rapat yang dapat digunakan bersama. Simulasi Rancangan Ruang Asosiasi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 44 .

2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan. dan 3) prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 45 . orientasi bangunan. dapat dilakukan dengan alat penkondisian udara yang mempertimbangkan: 1) fungsi bangunan gedung/ruang. Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara dalam Ruang Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. jumlah pengguna. letak geografis. volume ruang. jenis peralatan. Ruang Penunjang Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Publik Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Staff e. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara yang ideal didalam ruangan. dan penggunaan bahan bangunan.6.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 2. 3) SNI 03-6196-2000 Prosedur audit energi pada bangunan gedung. ukuran. 3. aman. 4. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. atau edisi terbaru. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. fungsi ruang. 5. atau edisi terbaru.Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mengikuti: 1) SNI 03-6389-2000 Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 46 . digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau yang belum mempunyai SNI. atau edisi terbaru. f. Persyaratan Hubungan Ke. dari. fungsi ruang. dan jumlah pengguna. 2) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung. dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. dan jenis pintu. Kemudahan hubungan ke. Dari dan di Dalam Bangunan PIP2B • Persyaratan Kemudahan Hubungan Horizontal dalam Bangunan PIP2B 1. termasuk penyandang cacat dan lansia. dan jumlah pengguna ruang. Jumlah. atau edisi terbaru. Bangunan PIP2B harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. dan nyaman bagi semua orang. 4) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung.

9 Simulasi Rancangan Tapak memperlihatkan tersedianya fasilitas dan aksesibiitas yang mudah. aman dan nyaman bagi semua orang untuk mencapai fasilitas di dalam bangunan Gambar 4.10 Simulasi Rancangan Lantai Dasar memperlihatkan kemudahan hubungan horizontal dengan tersedianya pintu dan koridor yang memadai • Persyaratan Kemudahan Hubungan Vertikal dalam Bangunan PIP2B 1.Gambar 4. Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut berupa tersedianya tangga dengan disain dan ukuran sesuai standar yang berlaku DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 47 .

setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung. Jumlah.11 Simulasi Rancangan Tangga dengan ketinggian anak tangga 18 cm dan lebar pijakan tangga 30 cm g. tepat sampah. dan jumlah pengguna ruang. toilet. dan konstruksi sarana hubungan vertikal tangga harus berdasarkan fungsi bangunan gedung. meliputi: ruang ibadah. serta jumlah pengguna bangunan gedung Persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung harus mengikuti: 1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. luas bangunan.2. ruang ganti. Gambar 4. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan gedung. serta keselamatan pengguna bangunan gedung. Persyaratan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pemanfaatan Bangunan Gedung Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 48 . ukuran. ruang bayi. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. tempat parkir. 2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. serta fasilitas komunikasi dan informasi.

maupun dari segi ekosistem. 3. sungai besar.4 PERSYARATAN LANSEKAP Keseimbangan. sungai. bangunan penunjang seperti pos jaga. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP) 1. atau edisi terbaru. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. tiang bendera. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah. 6. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 49 . a. gunung dan sebagainya. 2. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan PIP2B dan terletak di dalam persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan seperti dari bahaya banjir. b. keserasian dan keselarasan dengan lingkungan bangunan PIP2B adalah perlakuan terhadap lingkungan di sekitar bangunan PIP2B yang menjadi pertimbangan penyelenggaraan bangunan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 5. baik dari segi sosial. Setiap perencanaan bangunan PIP2B yang baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Persyaratan Ruang Sempadan Bangunan 1.3) SNI 03-6573-2001 Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). budaya. pohon-pohon menahun. vegetasi besar/pohon. sirkulasi. RTHP berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman.1. Keserasian tersebut antara lain mencakup pagar dan gerbang. atau yang belum mempunyai SNI. unsur-unsur estetik. bak sampah dan papan nama bangunan. 4. tanah dan permukaan tanah. peresapan air. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. 4.

Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Tata Tanaman 1. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. air. 4. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. e. pagar. jalur pejalan kaki. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. 2. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. 3. Hijau Pada Bangunan 1. 2. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 50 . Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. d. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. c. kestabilan tanah/wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Penggunaan tanaman khas lokal sangat dianjurkan dalam rangka meningkatkan identitas lokal. tiang telepon di kedua sisi jalan/ruas jalan yang dimaksud.2. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan caracara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. ruang sempadan depan bangunan. batang dan cabangnya rapuh.

penghijauan. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. 4. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. Bangunan PIP2B diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. aman. 4. guna mendukung sistem sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. dan kejelasan kontinuitas pedestrian. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 51 . struktur bawah bangunan gedung. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. nyaman. dan memberikan pemandangan yang menarik. 6. Elemen pedestrian (street furniture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. dan kendaraan pelayanan lainnya. dan keandalan bangunan gedung. 10. papan informasi sirkulasi.2 PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN Persyaratan struktur bangunan gedung PIP2B meliputi persyaratan struktur bangunan gedung. 3. Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. 11. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman).2. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. 9. 7. pembebanan pada bangunan gedung. 5. ramburambu. dan ruang terbuka umum. struktur atas bangunan gedung. 8.

4. pengaruh korosi. • Dalam perencanaan struktur bangunan gedung terhadap pengaruh gempa. intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti: (1) SNI 03-1726-2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung. • Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. sesuai harus dengan mempertimbangkan persyaratan keselamatan pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru.2. angin.1 STRUKTUR BANGUNAN • Setiap bangunan gedung PIP2B. lokasi. dan serangga perusak. apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 52 . termasuk beban tetap. kokoh.4.2. • Penentuan mengenai jenis. • Perencanaan dan pelaksanaan perawatan struktur bangunan gedung seperti halnya penambahan struktur dan/atau penggantian struktur struktur. • Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. beban sementara (angin. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. atau edisi terbaru. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. semua unsur struktur bangunan gedung. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan gedung.2 PEMBEBANAN PADA BANGUNAN GEDUNG • Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. jamur. dan (2) SNI 03-1727-1989 Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. keawetan. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). gempa) dan beban khusus.

pencetakan. atau yang belum mempunyai SNI. (4) SNI 03-3976-1995 atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. Air yang telah bercampur dengan semen akan mengalami persenyawaan yang berfungsi sebagai perekat antar senyawa. (2) SNI 03-2847-1992 Tata cara penghitungan struktur beton untuk bangunan gedung. atau edisi terbaru.Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. sampai pada tahap pelindungan dan pelaksanaan. sampai pada tahap penyimpanan. Tata cara pengadukan pengecoran beton. pemilihan bahan (semen. Pemilihan dan Penggunaan Bahan • Air Air berfungsi sebagai pencampur bahan-bahan beton. atau edisi terbaru. Tata cara pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung mencakup hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan yang meliputi struktur.3 STRUKTUR ATAS BANGUNAN GEDUNG a. dan (6) SNI 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus mengikuti: (1) SNI 03-1734-1989 Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. agregat. pengecoran. 4. atau edisi terbaru. Berikut ini adalah persyaratan yang harus diperhatikan dalam pemilihan penggunaan air pada campuran beton menurut SNI 03-3449-2002 : DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 53 . baja tulangan. keawetan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. air. dan bahan tambahan). (3) SNI 03-3430-1994 Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan bahan secara lengkap tercantum dalam SNI 03-3449-2002 meliputi proses pengujian.2. atau edisi terbaru. bahan. (5) SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. kualitas. Adapun prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam membangun gedung PIP2B dengan ketinggian maksimal 2 lantai adalah sebagai berikut : 1. pencampuran.

dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70% diameter nominalnya. (2) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji morta yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. dan lapisan-lapisan yang dapat mengurangi daya lekat. asam. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 54 .1) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli. o o Tulangan dengan Ø ≤ 12mm dipakai BJTP 24 (polos). tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. Kualitas dan diameter nominal baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium. serpihan. o Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur)harus digunakan baja tulangan doform (BJTD). sisik. • Baja Persyaratan baja tulangan yang akan digunakan adalah sebagai berikut: Baja tulangan harus bebas dari lipatan. garam. dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5% diameter nominalnya. atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat. alkali. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa. 2) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium. yang prinsipnya nilai kuat-leleh dan berat per meter panjang bahan tulangan yang dimaksud. bahan organik. retakan. terkecuali pada air pencampur. yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ). dan untuk tulangan dengan Ø > 16mm memakai BJTD (deform) bentuk ulir. karat. 3) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton. kecuali ketentuan berikut terpenuhi: (1) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama.

tidak boleh satu sisi/segaris.47 √G d = diameter nominal (mm) B = berat baja tulangan (N/mm) G = beraT baja tulangan (Kg/mm) o Toleransi berat batang contoh yang diijinkan di dalam pasal ini sebagai berikut : Diemeter tulangan baja tulangan Ø < 10 mm 10 mm < Ø < 16 mm 16 mm < Ø < 28 mm Ø > 28 mm Toleransi berat yang diijinkan ±7% ±6% ±5% ±4% Tabel 4.5 cm. Tulangan pokok jumlah. Pekerjaan Kolom Proses pekerjaan kolom melalui beberapa tahap. • • Penempatan kait begel selang-seling.9029 √B. baik itu jenis dimensi dan jumlah tulangannya. tulangan yang akan dipasang disesuaikan dengan jenis tulangan berdasarkan RKS dan gambar kerja yang ada. dan diameternya sesuai dengan gambar. 10 cm pada bagian tumpuan sepanjang ¼L. dan sisanya jarak begel 15 cm.3 Toleransi berat yang diijinkan 2. Tulangan pokok satu dengan lainnya harus berjarak minimal sama dengan diameternya. Jarak tulangan begel yang diikat dengan tulangan kolom. Hal yang diperhatikan dalam proses penulangan kolom antara lain : • Pembuatan begel diperhitungkan selimut beton (beton decking) 2. Kedudukan tulangan harus vertikal. posisi. Setiap pemasangan besi kolom harus diakhiri dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 55 . atau d = 12. sambunganya tidak boleh satu tempat (disalang-seling). Pada tahap penyetelan tulangan. Pemasangan begel harus siku dengan tulangan pokok. diikat bendrat dengan kuat. Pada ujung tulangan harus diberi kait 90˚. dimulai dari penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan finishing.o Diameter nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut yang ditentukan dengan rumus : d = 4.

Tulangan harus terselimuti beton secara simetris dengan tebal 3 cm. jumlah. Penempatan kawat begel selang-seling tidak boleh satu sisi. harus diberi jarak minimum=diameter tulangannya. Jarak tulangan begel yang dekat tumpuan 10 cm sejauh ¼ L. Sambungan tidak boleh satu tempat. • Tulangan pokok. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 56 .pemasangan beton tahu sebelum di bekisting. Antar tulangan tidak boleh bersinggunagn. Pada ujungnya harus diberi kait 45˚-90˚. Pemasangan begel siku-siku terhadap tulangan pokok/vertikal diikat dengan bendrat pada tulangan pokok. yaitu dimulai dari tahap penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan perawatan.5 cm. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan penulangan balok adalah sebagai berikut : • Pada pembuatan begel. memperhitungkan selimut beton decking 2. Gambar 4. yang ditengah berjarak 15 cm.13 Detail Kolom 3. diameter. kedudukannya harus lurus horisontal. Jarak tulangan pokok baris kesatu denga kedua dibuat sebesar diameternya. Setiap pemasangan tulangan segera diberi tahu beton. Pekerjaan Balok Pekerjaan balok dilakukan apabila pekerjaan penulangan kolom sudah selesai dilakukan. dan posisi sesuai dengan gambar.

Penulangan pada pelat lantai dilakukan dengan dua arah. Pembuatan lantai kerja dilakukan selama 3 hari. berfungsi untuk mengatur ketebalan pengecoran. Pembuatan lantai kerja Bahan pembuatan lantai kerja berupa semen. Coating Pekerjaan waterproofing Pemasangan kawat mesh Screed Pemasangan bekisting Penulangan Penulangan lantai ada 2 cara.Gambar 4. Hal-hal yang perlu 57 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Pada pemasangannya BRC bertumpu pada beton decking setebal 7 cm. dan kerikil dengan perbandingan 1 : 3 : 5. pasir. Beton decking tebuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 3. Pekerjaan Pelat Lantai Pekerjaan pelat lantai melalui beberapa tahapan yaitu : • • • • • • • • • • Pengurugan pasir Urugan berupa berupa pasir dan batu dengan ketebalan 10 cm. yaitu secara manual dan dengan menggunakan BRC M 8 berukuran 510 cm x 210 m. karena 10/4=25<4 berdasarkan persyaratan ly/lx<lx. Sebelum dipasang BRC terlebih dahulu dibersihkan dari karat. Antara BRC satu dengan lainnya diikat dengan bindraat dan saling overlap 1 kotak.14 Detil Penulangan Balok 4.

digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Jarak sisi luar atas tulangan tumpuan dengan telasaran papan triplek sebesar 10. air kotor. atau edisi terbaru. jarak antar tulangan 20 cm as ke as. • • • Pemasangan shear connector Pengecoran Perawatan Gambar 4. akses untuk LCD). Oleh karena itu. stek penggantung plafon. Pada daerah tumpuan diberi kursi/kuda-kuda setiap jarak 50 cm. Konstruksi Baja Prinsip dasar penggunaan konstruksi baja membutuhkan perhitungan yang spesifik dan akurat tergantung bentang dan luasan bangunan. Setiap persilangan tulangan pokok diikat dengan tulangan balok dengan kawat bendrat. Sebelum pengecoran semua sparing pipa listrik (lampu. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 58 . dan (4) Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi.5 cm (jarak tulangan atas dan bawah 9 cm). (2) Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. harus sudah terpasang semua. Tulangan pelat tidak boleh diikat dengan tulangan balok. (3) Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. stop kontak.15 Detil Penulangan Pelat Lantai b. tidak ada standar baku ukuran yang dapat menjadi sebuah patokan untuk bangunan gedung PIP2B ini. air bersih. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau yang belum mempunyai SNI.5 cm dipasang 5 buah tiap m². Selimut beton decking 1.diperhatikan dalam pekerjaan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : • • • • • • Diameter tulangan polos 10 mm. Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti: (1) SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. AC.

17 Potongan Portal konstruksi baja Gambar 4.18 Detail sambungan baja DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 59 .Berikut ini adalah gambar contoh simulasi sederhana potongan portal dan detail sambungan baja untuk bangunan dengan ketinggian maksimal 2 lantai : Gambar 4.

(3) Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 60 .c. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus mengikuti: (1) SNI 03-2407-1994 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. dan (3) Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu. atau yang belum mempunyai SNI.4 STRUKTUR BAWAH BANGUNAN GEDUNG • Pondasi Langsung (1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. (3) Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. (4) Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. 4. (2) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. atau edisi terbaru. sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. • Pondasi Dalam (1) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah.2. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.

(9) Apabila perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak. (7) Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi. (8) Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal.2. harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait.percobaan pembebanan.5 KEANDALAN SRTRUKTUR BANGUNAN GEDUNG • Keselamatan Struktur (1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. 4. (4) Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. (6) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung harus memperhatikan gangguan yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan pada masa pelaksanaan konstruksi. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. (2) Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. (3) Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala seDRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 61 . harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau yang belum mempunyai SNI. harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. (5) Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random.

dan Toilet. Hall. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan/ atau jarak lantai ke ceiling yang cukup tinggi digunakan terutama pada ruangan Pameran Indoor. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. 4. • Persyaratan Bahan (1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan.3 PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN Persyaratan utilitas bangunan PIP2B meliputi persyaratan sistem penghawaan. (3) Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. komunikasi dalam bangunan.3. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud.suai klasifikasi bangunan.1 PERSYARATAN SISTEM PENGHAWAAN • Setiap bangunan PIP2B harus dapat menjadi contoh yang memperlihatkan kinerja ventilasi alami beserta ventilasi mekanik/buatan yang menyesuaikan dengan iklim setempat • • Bangunan harus memiliki bukaan permanen dan/ atau kisi-kisi yang dapat dibuka dan ditutup untuk kepentingan ventilasi alami yang dapat dikendalikan. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 62 . (2) Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. 4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. pencahayaan. kemampuan bangunan terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. dan sanitasi. Sistem cross ventilasi yang memadai. atau yang belum mempunyai SNI. Tangga. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan.

R. PAMERAN INDOOR

TOILET

R. PAMERAN INDOOR

Gambar 4- 19 Simulasi Penggunaan Void yang meningkatkan cross ventilasi pada ruang public

Penggunaan sistem penghawaan alami merupakan salah satu upaya konservasi energi dengan mengurangi beban energi yang digunakan untuk menyalakan ventilasi buatan (AC) pada kondisi sehari-hari apabila memungkinkan. Ruang pameran indoor, ruang kerja dan ruang rapat, harus dapat digunakan dengan penghawaan alami maupun buatan.

Bangunan PIP2B harus dapat memberikan contoh perancangan sistem penghawaan yang sehat pada ruang-ruang toilet, terutama toilet publik.

TOILET LT. DASAR

TOILET LT. ATAS

Gambar 4- 20 Simulasi Sistem Penghawaan yang sehat pada ruang-ruang Toilet
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

63

• •

Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan, maka diperlukan ventilasi mekanis yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran. Ruang-ruang yang harus menggunakaan pengkondisian udara buatan adalah perpustakaan, e-library, ruang server & IT, dan audio visual.

Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, harus mengikuti: a) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung; b) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; c) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi; d) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi mekanis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
Tabel 4- 4 Kebutuhan Laju Udara Ventilasi berdasarkan SNI 03-6572-2001

Fungsi Ruang Kerja Ruang Pertemuan WC Umum

Kerapatan Penghunian per 100m2 Luas Lantai 7 orang 60 orang 100 orang

Kebutuhan Udara Luar Merokok Tidak Merokok                    0.30                     0.15                    1.05                     0.21                    2.25                     3.25

Satuan m3/min orang m3/min orang m3/min orang

4.3.2

PERSYARATAN SISTEM PENCAHAYAAN
Setiap bangunan gedung untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. • Bangunan PIP2B sebagai bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan yang memadai untuk pencahayaan alami.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

64

• Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan PIP2B dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan gedung.
Bukaan bagi pencahayaan ruang pameran indoor alami

Bukaan bagi pencahayaan ruang-ruang kerja

alami

Gambar 4- 21 Simulasi Sistem Pencahayaan Alami Bangunan PIP2B

• Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan gedung dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
Tabel 4- 5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang direkomendasikan
Fungsi  Ruangan Tingkat Pencahayaan Kelompok Renderasi Keterangan (lux) Warna Ruang Direktur 350 1 atau 2 Ruang Kerja 350 1 atau 2 Menggunakan armatur berkisi Ruang Komputer 350 1 atau 2 untuk mencegah silau akibat  pantulan komputer Ruang Rapat 300 1 atau 2 Gudang Arsip 150 3 atau 4 Ruang Arsip Aktif 300 1 atau 2 Ruang Audio visual 100 1 Sistem pengendalian pencahayaan Perpustakaan 300 1 atau 2
sumber: SNI  03‐6575‐2001 tentang  Ta ta  Cara  Perancanga n  Si stem  Pencaha yaan  Buatan  pada  Bangunan  Gedung

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

65

3) SNI 03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung.3 PERSYARATAN KOMUNIKASI DALAM BANGUNAN GEDUNG Persyaratan komunikasi dalam bangunan gedung dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar. harus dilengkapi dengan pengendali manual. 2) SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung.0                                  15. atau edisi terbaru. • Semua sistem pencahayaan buatan. Tabel 4.0                                  15.0                                  25.0                                    1.0 sumber: SNI 03‐6759‐2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung 4. atau edisi terbaru.6 Daya Pencahayaan Maksimum Jenis Bangunan/ Ruangan Kantor Ruang Kelas Auditorium Gudang Pintu Masuk dengan Kanopi Gedung Kantor Taman Jalan untuk Kendaraan dan Pejalan Kaki Tempat Parkir Data Pencahayaan Maksimum Watt/m2                                  15.0                                    5. pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 66 . dan/atau otomatis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.5                                    2. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau edisi terbaru. • Pencahayaan alami dan buatan diterapkan pada ruangan baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan gedung. serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang.• Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan gedung dengan fungsi tertentu. serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. atau yang belum mempunyai SNI.3.0                                    1. Persyaratan pencahayaan harus mengikuti: 1) SNI 03-6197-2000 Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung.

serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. sistem tata suara. serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui • ambang batas yang ditentukan.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. (3) Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Ruang yang bersih. dan lain-lain. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku. tidak ada genangan air. (ii) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. minimal berjarak 0. • Perencanaan Komunikasi dalam Gedung (1) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komunikasi gedung dan lain-lainnya.lainnya. aman dan mudah dikerjakan. (ii) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. sistem voice evacuation. (3) Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility).50 m x 0. (iii) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. dll. penempatannya harus mudah diamati. (iii) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. terang. kedap debu. Termasuk antara lain: sistem telepon. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 67 . tidak membahayakan. dioperasikan. (2) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. (2) Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. Instalasi Telepon (1) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. dipelihara.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke bangunan gedung pada saat hujan dll. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung.

Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut: i. Perencanaan instalasi listrik. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik.3. ii. instalasi. atau yang belum mempunyai SNI. dalam upaya untuk mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang diproteksi. v. dan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 68 . perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan bangunan gedung yang terjamin terhadap aspek keselamatan manusia dari bahaya listrik. dan pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir terhadap bangunan gedung secara efektif untuk proteksi terhadap petir serta inspeksi. Instalasi Proteksi Petir. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. iii. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan: i. Jaringan distribusi listrik. 4. dan iii. b. jaringan distribusi listrik. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem proteksi petir pada bangunan gedung.(4) Ruang batere sistem telepon harus bersih.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PETIR dan BAHAYA KELISTRIKAN a. terang. Pemeriksaan dan pengujian. Persyaratan Instalasi Proteksi Petir Persyaratan proteksi petir ini memberikan petunjuk untuk perancangan. Sumber daya listrik. Persyaratan Sistem Kelistrikan Persyaratan sistem kelistrikan meliputi sumber daya listrik. dan perlindungan lingkungan. panel hubung bagi. vi. keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya. iv. Transformator distribusi. Perencanaan sistem proteksi petir. termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan lainnya. keamanan gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat listrik. Beban listrik. ii.

• Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi bangunan gedung. Plambing.3.5 PERSYARATAN SANITASI a. atau edisi terbaru. kualitas air bersih. sistem distribusi. dan penampungannya. atau edisi terbaru. (3) SNI 04-7018-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.vii. atau edisi terbaru. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 2) SNI 03-6481-2000 Sistem Plambing 2000. (4) SNI 04-7019-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan. atau edisi terbaru. atau yang belum mempunyai SNI. • • • Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan. Pemeliharaan Persyaratan sistem kelistrikan harus mengikuti: (1) SNI 04-0227-1994 Tegangan standar. Persyaratan plambing dalam bangunan gedung harus mengikuti: 1) Kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan Permenkes 907/2002. atau yang belum mempunyai SNI. 3) Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau edisi terbaru. Persyaratan Plambing Dalam Bangunan Gedung • Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air minum. 4. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. b. Sistem Pengolahan dan Pembuangan Air Limbah/Kotor DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) sedangkan instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman 69 . Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin kualitas air. (2) SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2000).

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 70 . dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota.• • Sistem pembuangan air limbah dan/atau air kotor harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. • Air limbah domestik sebelum dibuang ke saluran terbuka harus diproses sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru. • • • Simulasi pemisahan sistem air bersih. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.22 Simulasi Sistem Sanitasi Bangunan PIP2B c. 2) SNI 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. atau edisi terbaru. air kotor dan air limbah Shaft bagi sistem plumbing disediakan untuk memudahkan maintenance bagi sistem sanitasi bangunan Posisi toilet di lantai dasar berhubungan dengan posisi di lantai atas untuk mencapai sistem sanitasi yang efisien Gambar 4. 4) Tata cara perencanaan. atau yang belum mempunyai SNI. pemasangan. 3) SNI 03-6379-2000 Spesifikasi dan pemasangan perangkap bau. permeabilitas tanah. Persyaratan Penyaluran Air Hujan • Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah. atau edisi terbaru. dan pemeliharaan sistem pembuangan air limbah dan air kotor pada bangunan gedung mengikuti standar baku serta ketentuan teknis yang berlaku. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Pertimbangan jenis air limbah dan/atau air kotor diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan. Persyaratan teknis air limbah harus mengikuti: 1) SNI 03-6481-2000 Sistem plambing 2000.

atau edisi terbaru. masyarakat dan lingkungannya. maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. • • Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Tempat Sampah. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 4) Standar tentang tata cara perencanaan. atau edisi terbaru. Persyaratan penyaluran air hujan harus mengikuti: 1) SNI 03-4681-2000 Sistem plambing 2000. • Pertimbangan jenis sampah padat diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni. jumlah penghuni. Persyaratan Fasilitasi Sanitasi Dalam Bangunan Gedung (Saluran Pembuangan Air Kotor. pemasangan. dan/atau Pengolahan Sampah) • • Sistem pembuangan sampah padat direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya. air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan volume kotoran dan sampah. Penampungan Sampah. • Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Kecuali untuk daerah tertentu. 2) SNI 03-2453-2002 Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. atau yang belum mempunyai SNI. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima. dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung. d. atau edisi terbaru. 3) SNI 03-2459-2002 Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan.• • Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 71 .

digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Gambar 4. atau yang belum mempunyai SNI.23 Tempat sampah daur ulang • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. tata ruang-dalam dan luar bangunan. dan penggunaan elemen sunscreen. aluminium. • Kenyamanan pandangan (visual) dari luar ke dalam bangunan harus mempertimbangkan: 1) rancangan bukaan. memanfaatkan kembali beberapa jenis sampah seperti botol bekas. kertas koran.• Potensi reduksi sampah padat dapat dilakukan dengan mendaur ulang. • Kenyamanan pandangan (visual) dari dalam bangunan ke luar harus mempertimbangkan: 1) gubahan massa bangunan. 4. tata ruang-dalam dan luar bangunan.3. dan rancangan bentuk luar bangunan. Dengan demikian harus disediakan tempat sampah untuk mendaur ulang. Persyaratan Kenyamanan Pandangan • Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan (visual) harus mempertimbangkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunan ke luar dan dari luar bangunan ke ruang-ruang tertentu dalam bangunan gedung. melalui pemakaian horizontal dan/atau vertical blind. 2) pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan RTH. kaleng. rancangan bukaan. dan 3) pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 72 .6 PERSYARATAN KENYAMANAN a. kertas. wadah plastik dan sebagainya. kardus. dan rancangan bentuk luar bangunan gedung. 2) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya.

digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. • • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. yaitu Standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap getaran pada bangunan gedung. yaitu Standar kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.Simulasi rancangan penggunaan sistem void memberikan kenyamanan pandang dari ruang kerja di lt atas ke arah ruang pameran indoor di lt dasar Simulasi rancangan penggunaan horizontal atau vertical blind untuk ruang kerja dapat mengurangi silau dan panas matahari tanpa mengurangi kenyamanan pandang ke arah luar bangunan • Untuk kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung harus dipenuhi persyaratan teknis. Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran. Getaran dapat berupa getaran kejut. atau yang belum mempunyai SNI. dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. atau yang belum mempunyai SNI. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 73 . b. kesehatan. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan dan getaran pada bangunan gedung harus mengikuti persyaratan teknis. Persyaratan Kenyamanan terhadap Tingkat Getaran dan Kebisingan • Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya.

• Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. tipe konstruksi yang diwajibkan. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. Sistem proteksi pasif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. atau yang belum mempunyai SNI. ketahanan api dan stabilitas. geometri ruang. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan (2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BAHAYA KEBAKARAN BANGUNAN PIP2B TERHADAP 4. • Pada sistem proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan kinerja. ketinggian.• Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. dan perlindungan pada bukaan. • Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi: 74 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . 4.4. bahan bangunan terpasang. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. atau yang belum mempunyai SNI. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. kompartemenisasi dan pemisahan. tipe konstruksi tahan api. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi.1 SISTEM PROTEKSI PASIF • Setiap bangunan PIP2B harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang memproteksi komponen arsitektur dan struktur bangunan gedung sehingga dapat melindungi penghuni gedung dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran. volume bangunan. • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. klasifikasi.4.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF • • Setiap PIP2B harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan proteksi aktif. 4. luas.

Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. (4) SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung. dan (5) SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal. pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. dan ruangan bervolume besar. (2) SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan. atau yang belum mempunyai SNI..Sistem Pemadam Kebakaran. atau yang belum mempunyai SNI.4. atrium. 4.3 PERSYARATAN JALAN KELUAR dan AKSESIBILITAS untuk PEMADAM KEBAKARAN Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran meliputi perencanaan akses bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.4 PERSYARATAN SARANA EVAKUASI Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana evakuasi bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 75 . . Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. 4. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran.4. dan (2) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada gedung. .Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Sistem proteksi aktif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

25 Simulasi Rancangan sarana evakuasi di lantai dasar dengan 3 buah pintu yang berhubungan langsung dengan alaram terbuka DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 76 . dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.pengguna.24 Simulasi Rancangan dengan jalur evakuasi dari ruang-ruang di lantai atas Gambar 4. Gambar 4. pintu keluar darurat.

ke. ram. dan dari bangunan gedung serta beraktivitas dalam bangunan gedung secara mudah. nyaman dan mandiri 4.26 Simulasi Rancangan yang menjamin kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia untuk beraktifitas di dalam gedung PIP2B dengan mudah aman. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 77 . nyaman dan mandiri.1 TEMPAT PARKIR • • • Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/ fasilitas yang dituju. serta rambu dan marka bagi penyandang cacat dan lansia. Gambar 4. Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat dan lansia harus mengikuti ketentuan yang berlaku. toilet.4. dengan jarak maksimum 60 meter. jalur pemandu. Fasilitas dan aksesibilitas meliputi tempat parkir.5 PERSYARATAN FASILITAS DAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT Bangunan PIP2B harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia masuk dan keluar. aman. Area perkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol tanda parkir penyandang cacat yang berlaku. pintu.5.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 78 . jalur pedestrian. Daerah menaik-turunkan penumpang dilengkapi dengan fasilitas ram. Kemiringan maksimal dengan perbandingan tinggi dan panjang adalah 1:11 dengan permukaan rata/datar di semua bagian. • RUTE AKSESIBILITAS DARI • JARAK KE AREA PARKIR PARKIR TIPIKAL RUANG PARKIR • Ruang Parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ram dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya.• Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ram trotoir di kedua sisi kendaraan. dan rambu penyandang cacat. • • • Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm.

Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks): • • • • • Di depan jalur lalu-lintas kendaraan. e. PRINSIP PERENCANAAN JALUR PEMANDU TIPE TEKSTUR UBIN PEMANDU (GUIDING BLOCKS) DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 79 . Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan. Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai. Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang.2 JALUR PEMANDU a. d. Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat. Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan ubin lainnya. f. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting. Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan.5. c. sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin peringatan.4. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya. b. Jalur pemandu adalah jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan. maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga.

f.SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA PINTU MASUK SUSUNAN BELOKAN UBIN PEMANDU PADA 4. e. karena pintu yang terbuka sebagian dapat membahayakan penyandang cacat. d. • Pintu yang terbuka kekedua arah ( "dorong" dan "tarik").5. c. b. dan pintupintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm. Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan: • Pintu geser • Pintu yang berat. dan sulit untuk dibuka/ditutup. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. • Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil. Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna. • Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 80 . Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu. Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam waktu lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda dan tongkat tunanetra.3 PINTU a. g.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 81 .

g. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman. d. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan. e. perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6°. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7°. f. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri. Apabila DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 82 . dirancang untok menghalangi roda kursi roda agal tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. c.5. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7°) tidak boleh lebih dari 900 cm. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. dan 120 cm dengan tepi pengaman.4. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b. sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut.4 RAM a.

bagian yang membahayakan. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. TIPIKAL RAM DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 83 . i. Ramp harus diterangi dengan pencahayean yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65-80 cm. h. Pencahayaan disediakan pada bagianbagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian.berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.

Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu.5. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 84 .5 TOILET a. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu "penyandang cacat" pada bagian luarnya.KEMIRINGAN RAM HANDRAIL BENTUK RAM YANG DIREKOMENDASIKAN 4. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b.

(45-50 cm) e. Pintu harus mudah dibuka untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pemasangan ketinggian cermin diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 85 . Pada tempat-tempat yang mudah dicapai. g. i. o. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda. f. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda. kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda.c. seperti pada daerah pintu masuk. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga tinggi permukaannya dan lebar depannya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik. k. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. air. n. dianjurkan untuk menyediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu-waktu terjadi listrik padam. d. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel. m. j. Letak kertas tissu. h. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. l. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda.

ANALISA RUANG GERAK PADA RUANG TOILET

TINGGI TOILET

UKURAN SIRKULASI MASUK

RUANG GERAK PADA TOILET

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

86

PERLETAKAN URINER

TIPIKAL PEMASANGAN WASTAFEL

PERLETAKAN KRAN WASTAFEL

RUANG GERAK AREA WASTAFEL

RUANG BEBAS AREA WASTAFEL

4.5.6 PERABOT
a. Perletakan barang-barang perabot bangunan dan furniture harus menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat. b. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan umum harus dapat digunakan oleh penyandang cacat, termasuk dalam keadaan darurat. c. Ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B yang digunakan oleh masyarakat banyak, yaitu ruang perpustakaan, e- library, dan audio visual maka jumlah meja dan tempat duduk aksesibel yang harus disediakan minimum adalah 1 set untuk masing-masing ruangan.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

87

UKURAN PERABOT RUANG DUDUK

UKURAN TINGGI MEJA

4.5.7 RAMBU DAN MARKA
a. Rambu dan Marka adalah fasilitas dan elemen bangunan yang digunakan untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk bagi penyandang cacat. b. Penggunaan rambu terutama dibutahkan pada: • • • • Arah dan tujuan jalur pedestrian KM/WC umum, telpon umum Parkir khusus penyandang cacat Nama fasilitas dan tempat.
88

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

d. • Karakter dan latar belakang rarnbu harus dibuat dari bahan yang tidak silau. apakah karakter terang di atas Kelap. • Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan artinya. pembedaan perkerasan tanah. • Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca . dll). warna kontras.c. • Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya. termasuk penambahan lampu pada kondisi gelap. SIMBOL AKSESIBILITAS. serta ketebalan huruf antara 1: 5 danl:10. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar belakangnya. TUNA NETRA DAN TUNA RUNGU SIMBOL RAM SIMBOL PENUNJUK ARAH RUANGAN DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 89 . TUNA DAKSA. Lokasi penempatan rambu: • Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang. • Cukup mendapat pencahayaan. • Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional. Persyaratan Rambu yang digunakan: • Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan penyandang cacat lain. • Rambu yang menerapkan metode khusus (misal. atau sebaliknya. • Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3: 5 dan 1:1.

1 TAHAP PERSIAPAN Tahap Persiapan merupakan tahap pertama yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan sebuah Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di daerah. Struktur organisasi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut: a. Dengan kelembagaan standar yang telah ditentukan bahwa PIP2B dipimpin oleh seorang pejabat setingkat eselon III . berupa Bangunan Gedung PIP2B beserta isinya. Tahapan Pembangunan Bangunan PIP2B. serta ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan Bangunan Gedung dan Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Tujuan dari tahap persiapan adalah terbentuknya kesekretariatan atau lembaga PIP2B yang lengkap dengan sarananya. Tahap Perencanaan Bangunan PIP2B yang mengacu kepada Pedoman Umum Perencanaan PIP2B. sehingga PIP2B diharapkan memiliki staf yang bisa diandalkan untuk melaksanakan program-program maupun kegiatan. yang mengacu pada Tata Cara Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Kepala Unit PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 90 . a. maka jumlah personil yang akan terlibat didalam organisasi PIP2B adalah 23 orang.2 TAHAP MOBILISASI SUMBER DAYA MANUSIA Pada tahap ini dilakukan perekrutan staf untuk menjadi pengelola harian PIP2B.bab 5 PENYELENGGARAAN PIP2B 5. b. prasarana dan 5.

Kesekretariatan/ Tata Usaha PIP2B 1. Perpustakaan dan E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan data dan informasi. iii. Kepala Bagian Tata Usaha dipinpin oleh seorang Kepala Bagian dan dapat dibantu beberapa staf pelaksana untuk urusan Tata Usaha. Perpustakaan dan E-library dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. Bidang Data. b. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 91 . 3. Urusan Tata Usaha PIP2b merupakan pelaksana teknis pendukung kegiatan administrasi dan tata laksana kantor dan sekaligus berfungsi sebagai humas PIP2B. 3. PIP2B dipimpin oleh seorang Kepala Unit setingkat eselon III. Kepala Unit PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Dinas lingkup Perumahan dan Permukiman/ Bangunan Gedung Propinsi. serta kegiatan terkait lainnya. dan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. dan Penyusunan Program dan Keuangan. Kehumasan. Kepala Unit PIP2B mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam kegiatan perencanaan program dan anggaran. Dalam menjalankan tugasnya. c.1. Kepala Bidang Data. penyiapan sumber daya dan pengendalian pelaksanaan administrasi dan keuangan pengelolaan PIP2B. Perpustakaan dan E-Library i. Bidang-bidang dalam Unit PIP2B 1. 2. ii. Sub Bidang Data merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan input data dan informasi. merupakan pelaksana teknis dan penanggung jawab kegiatan operasional PIP2B yang akan mengelola dan menjalankan semua kegiatan PIP2B baik ke dalam maupun ke luar lembaga 2. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bagian Tata Usaha PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Bidang Data.

iv. v. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Layanan Informasi Audiovisual dan Internet ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. vi. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat data dan informasi perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung yang mudah dan cepat serta yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 92 . Kepala Bidang Layanan Informasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. vii. 2. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Data. Bidang Layanan Informasi merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. Perpustakaan dan E-library ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas. termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan database informasi internet.iv. Sub Bidang E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi. v. Sub Bidang Layanan Informasi Audiovisual merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi audiovisual. Bidang Layanan Informasi i. iii. termasuk layanan informasi audio visual dan layanan informasi internet. Sub Bidang Layanan Informasi Internet merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi internet. vi. serta kegiatan terkait lainnya. Sub Bidang Perpustakaan merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan dokumentasi buku-buku perpustakaan. mudah dan cepat diakses serta dikelola secara profesional dan berkelanjutan. ii.

pengembangan ketrampilan teknis. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Pameran ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. penyuluhan. 5. serta kegiatan terkait lainnya. iii. termasuk penyelenggaraan pelatihan. Bidang Pameran merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi.3.3 TAHAP OPERASIONAL Setelah prasarana dan sarana telah lengkap dan PIP2B mempunyai staf pengelola harian maka program kerja dapat dilaksanakan. Pengelola PIP2B harus segera melengkapi pengetahuan dalam database baik elektronik maupun perpustakaan. Kepala Bidang Pameran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. ii. Sub Bidang Pameran Indoor merupakan pelaksana teknis tugas yang iv. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi dan pelatihan yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. pameran seminar dan lokakarya. vi. Bidang Pameran i. pelatihan. berkaitan dengan pengelolaan penyuluhan. Sub Bidang Pameran Outdoor merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan materi pameran termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan informasi berkaitan dengan permukiman dan bangunan gedung. sehingga PIP2B dapat secepatnya melakukan pelayanan pada masyarakat. v. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 93 . seminar dan lokakarya. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas dan mampu menjadi lembaga yang responsif terhadap perkembangan masalah dan tantangan yang ada di bidang perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung.

kegiatan updating data. dan publikasi untuk menghasilkan pelayanan PIP2B yang prima. Gambar 5. Disamping kinerja dari pengelola PIP2B sendiri.1 Struktur Organisasi Lembaga PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 94 .Pihak pengelola PIP2B harus memberikan perhatian pada kegiatan rutin seperti pelayanan. diperlukan pula keterlibatan Dinas Teknis terkait khususnya untuk melakukan monitoring dan evaluasi.