DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG

PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

1

DAFTAR ISI
 
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 5
1.1  1.2  1.3  1.4  Pengertian ........................................................................................... 5  Maksud dan Tujuan ............................................................................. 5  Ruang Lingkup .................................................................................... 6  Acuan Normatif .................................................................................... 6

BAB 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) Error! Bookmark not defined.
2.1  2.2  2.3  2.4  2.5  Penjelasan umum ................................................................................ 9 Layanan Informasi PIP2B .................................................................. 10  Produk Informasi PIP2B .................................................................... 12  Sarana Pelayanan Informasi PIP2B .................................................. 13  Struktur Kelembagaan Standar dan Jumlah Personil PIP2B ............ 14

BAB 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B ............................. 15
3.1  Fungsi dan Klasifikasi Bangunan PIP2B ........................................... 15  3.1.1  Penetapan Fungsi Bangunan Gedung PIP2B ....................... 15  3.1.2  Penetapan Klasifikasi Bangunan Gedung PIP2B .................. 15  3.2  Standar Perencanaan Bangunan PIP2B ........................................... 18  3.2.1  Standar Luas Ruang Kerja .................................................... 18  3.2.2  Program Kebutuhan Luas Ruangan ...................................... 18  3.2.3  Karakteristik dan Kriteria Ruangan Pelayanan ...................... 19  3.2.4  Hubungan Antar Ruang ......................................................... 23  3.3  3.4  Persyaratan Lokasi ............................................................................ 24  Penentuan Luas Tapak ..................................................................... 25  3.4.1  Sarana Ruang Luar ............................................................... 25  3.4.2  Sarana Publik di Lantai Dasar ............................................... 25 
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

2

3.4.3  Luas Lahan Minimum ............................................................ 26 3.5  Persyaratan Administrasi ................................................................... 25 

BAB 4 KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B ........................... 31
4.1  Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan ................................... 31  4.1.1  Kesesuaian Tata Bangunan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Peraturan Daerah .................................. 31  4.1.2  Persyaratan Arsitektur ........................................................... 33  4.1.3  Persyaratan Tata Ruang Dalam ............................................ 36  4.1.4  Persyaratan Lansekap ........................................................... 49  4.2  Persyaratan Struktur Bangunan ........................................................ 51  4.2.1  Struktur Bangunan ................................................................. 52  4.2.2  Pembebanan pada Bangunan Gedung ................................. 52 4.2.3  Struktur Atas Bangunan Gedung ........................................... 53  4.2.4  Struktur Bawah Bangunan Gedung ....................................... 60 4.2.5  Keandalan Struktur Bangunan Gedung ................................. 61 4.3  Persyaratan Utilitas Bangunan .......................................................... 62  4.3.1  Persyaratan Sistem Penghawaan.......................................... 62  4.3.2  Persyaratan Sistem Pencahayaan......................................... 64  4.3.3  Persyaratan Komunikasi dalam Bangunan Gedung .............. 66  4.3.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan ................................................ 68  4.3.5  Persyaratan Sanitasi .............................................................. 69  4.3.6  Persyaratan Kenyamanan ..................................................... 72 4.4  Persyaratan Kemampuan Bangunan PIP2B terhadap Bahaya Kebakaran ..................................................................................... 7774  4.4.1  Sistem Proteksi Pasif ............................................................. 74  4.4.2  Sistem Proteksi Aktif .............................................................. 75  4.4.3  Persyaratan 4.4.4  Persyaratan Jalan Keluar dan Aksesibilitas Tanda untuk Arah Pemadam Kebakaran ............................................................ 75  Pencahayaan Darurat, Keluar/Eksit, dan Sistem Peringatan Bahaya ........................ 76  4.4.5  Persyaratan Sarana Evakuasi ............................................... 76  4.5  Persyaratan fasilitas dan Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat ....... 78 
3

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

..4............................................... 80  4..............................................................................................5..............1  5............................ 85  4.5..........7  Rambu dan Marka ....................................1  Tempat Parkir ............................................................................6  Perabot ....................... 89 BAB 5 PENYELENGGARAAN PIP2B ................................. 83  4.................3  Pintu ... 90 5......................2  5..........5............................ 93  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 4 ................ 90  Tahap Operasional ..................................................................................5  Toilet ..........2  Jalur Pemandu ................ 90  Tahap Mobilisasi Sumber Daya Manusia ................ 88 4...................................5.....................................................4  Ram ................5............................................ 81  4.............3  Tahap Persiapan ......................5.......................5................. 78  4.....

seperti kebutuhan luas lahan minimal.1 PENGERTIAN 1. Pedoman Umum adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan 2. kebutuhan ruang dan besaran minimal yang mencerminkan bangunan gedung yang handal. program kebutuhan bangunan. dan standar minimal bentuk organisasinya.bab 1 PENDAHULUAN 1. 1. aman dan nyaman.2 MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini adalah untuk memberikan acuan bagi: • • perencanaan dan perancangan gedung PIP2B operasional lembaga PIP2B Tujuan yang ingin dicapai dengan penyusunan pedoman ini adalah agar terdapat pemahaman yang sama dalam membangun gedung PIP2B. serta panduan kelembagaan penyelenggaraan PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 5 . Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan perencanaan sebuah bangunan gedung dan lembaga PIP2B yang meliputi panduan bagi perancangan bangunan.

11. SNI 03-1726-1989.4 ACUAN NORMATIF Dasar Hukum yang melandasi Pedoman Umum Perencanaan PIP2B adalah: 1. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 7. SK Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara 6. sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan PIP2B. yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam penatalaksanaan organisasi. SK Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 11/KPTS/2000 tentang. SK Direktorat Jenderal Perumahan clan Permukiman Nomor 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung 13.1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi 3. Tata Cara Pengolahan Teknik Sampah Perkotaan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 6 . Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 2. SNI 03-1728-1987. KetentuanTeknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan 10. SNI 02-2406-1991. 1. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 12. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan 14. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 5.3 RUANG LINGKUP Pedoman Umum Perencanaan Bangunan Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) ini mencakup: • • dasar-dasar perencanaan gedung PIP2B panduan kelembagaan penyelenggaraan PPIP2B. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman 4. SNI 19-2454-1991. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 8.

SNI 03-1734-1989. SNI 03 . SNI 03-3242-1994. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 18. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung 19. SNI 03-1735-1993. Tata Cara Instalasi Petir Untuk Bangunan 17. SNI 03-1727-1989. SNI 03-2847-1992.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Selang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 30.2000 tentang Tata Cara Akses Bangunan dan Akses Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya kebakaran pada Bangunan Gedung 28. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 24.1745 . Pemasangan.1736 . SNI 03 . SNI 03-1733-2004 SNI 03-3985-1995. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 22. SNI 03 . SNI 03 .2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatik untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 27. dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 7 .15. SNI 03-1745-1989.2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 29.3985 . SNI 03-1736-1989. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman 16.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan pemasangan Sistem Plambing pada Bangunan Gedung 31. SNI 03-453-1987.1735 .1746 . SNI 03 .6481 . Tata Cara Perencanaan Pemasangan Sistem Deteksi Alarm Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung 25.2000 tentang Tata Cara Perencanaan.2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar untuk Penyelamatan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung 26. Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung 20. SNI 03 . SNI 03-1728-1989. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan Pencegah Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung 21.3989 . Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan dan Gedung 23. SNI 03 .

SNI 03 – 6759 – 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 8 . SNI 03 .6575 . SNI 03 .2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung 39. SNI 03 . SNI 03 .2396 .1729 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja pada Bangunan Gedung 40.2001 tentang Tata Cara Penerangan Darurat.2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung 35. Tanda Arah.6574 .1728 .6570 .2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton pada Bangunan Gedung 41.2001 tentang Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung 38. SNI 03 .1726 . SNI 03 .2001 tentang Pompa yang Dipasang Tetap untuk Proteksi Kebakaran 33. SNI 03 .6572 . SNI 03 .2001 tentang Sistem Pengendalian Asap Kebakaran pada Bangunan Gedung 34. SNI 03 .32. dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan Gedung 37.6571 .2001 tentang Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung 36.

Tujuan dibentuknya adalah membangun jaringan informasi untuk meningkatkatkan reputasi lembaga perumahan dan permukiman yang mandiri khususnya dalam mendukung pembangunan perumahan swadaya. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada berbagai unsur: perencana. pelaksana. masyarakat serta kalangan akademisi. pihak pemerintah. Dalam mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. nantinya akan menjadi milik Dinas PU Pemerintah Propinsi.bab 2 PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2.1 PENJELASAN UMUM Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) adalah lembaga inovatif yang ditargetkan untuk menjadi lembaga publik yang mendukung penyelenggaraan perumahan dan permukiman. Wadah ini merupakan fasilitas yang terbuka untuk umum. pengusaha bahan bangunan. Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Gedung (PIP2B) yang dalam pembentukannya difasilitasi Pemerintah Pusat. dan melakukan berbagai kegiatan yang mendukung penyebar luasan informasi pengembangan permukiman dan bangunan gedung (diagram 2-1). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 9 .

tergantung tingkat kemampuan dan sumberdaya yang tersedia pada lembaga PIP2B serta kebutuhan masyarakat yang ada. Ruang lingkup kegiatannya antara lain dapat berupa layanan konsultasi kegiatan perencanaan. Permukiman. ada 4 produk pelayanan utama yang dapat diberikan oleh Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) sebagai berikut1: a. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. dan perancangan bangunan gedung serta advokasi penataan permukiman.2 LAYANAN INFORMASI PIP2B Secara garis besar. Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis PIP2B dapat memberikan pelayanan informasinya dalam bentuk konsultasi dan advokasi teknis yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. Juni 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 10 .Diagram 2. Lingkup pelayanan tersebut dapat mencakup hal-hal yang sifatnya praktis maupun analisis. 1 Kerangka Acuan Revitalisasi/ Pengembangan Kembali Building Information Center (BIC) sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Ketrampilan Teknis bidang Perumahan. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. Arsitektur dan Bangunan Gedung.1 PIP2B memberikan kemudahan layanan dan akses untuk mendapatkan informasi kepada para stakeholder bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung 2.

dibutuhkan prasarana dan sarana yang berupa antara lain: • • • Gedung dan ruang operasional PIP2B. Bentuknya dapat berupa penyuluhan. serta peralatan pendukung lainnya Kajian Pengembangan Usaha (Business Plan) Building Information Center. baik yang berupa peralatan pendukung perpustakaan. ataupun industri lainnya yang terkait dengan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. pengembangan layanan dapat berupa penyelenggara. Inkindo. event-organizer pada suatu penyelenggaraan kegiatan pameran. Dokumen Interim. Disamping itu. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengembangan usaha pelayanan informasi melalui kerjasama dengan lembaga lain yang terkait di sektor ini. Peralatan pelayanan informasi.b. d. perpustakaan dan penerbitan bukubuku/ bahan cetakan yang terkait dengan penyelenggaraan pengembangan permukiman dan bangunan gedung. baik untuk sekretariat maupun kegiatan pelayanan informasi lainnya Peralatan kantor/ sekretariat. Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman. Mei 2003 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 2 11 . dan perlengkapan kantor lainnya. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. c. serta sosialisasi kebijakan dan program termasuk peraturan dan perundangan. seperti IAI. baik berupa alat tulis kantor. computer. Untuk kegiatan pengelolaan institusi PIP2B sendiri. Kegiatan penyusunan dan penyebar luasan harga bangunan. Pelatihan dan Penyebarluasan Informasi Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatannya antara lain pelayanan pelatihan/ pengembangan ketrampilan teknis dan penyebar luasan informasi penyelenggaraan program bidang pengembangan permukiman dan bangunan gedung. mejakursi kerja. seminar yang terkait dengan bidang perumahan dan permukiman serta bangunan gedung. peralatan audio visual. REI. peralatan dokumentasi. harga satuan bahan dan upah kerja dalam bidang jasa konstruksi secara periodik juga dapat menjadi salah satu materi layanan informasi yang disediakan oleh PIP2B. peralatan display bahan peraga untuk informasi. Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi Kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup ini dapat meliputi pengembangan sistem informasi yang berbasis website. Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga2.

dan lain-lainnya. Pengembangan Air Minum. Pengembangan Permukiman. Peraturan tentang Bangunan Gedung d. Standar. Serta informasi yang bermanfaat bagi pelaku pembangunan gedung. merk serta produsennya c. Informasi Khusus seperti kebijakan dan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kaitannya dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman serta bangunan gedung.• Peralatan mobilitas dalam rangka mendukung mobilitas kegiatan penyebar luasan informasi. Informasi maupun publikasi yang bersifat Umum seperti: a. 3. 2. serta Pengembangan PLP untuk perkotaan maupun perdesaan 4. mencakup Peraturan Daerah. Informasi yang terkait dengan produk-produk bidang Ke Cipta Karyaan mencakup Tata Bangunan dan Lingkungan. seperti: a. Pedoman dan Manual bidang tata bangunan dan permukiman f. 2. teknologi kontruksi yang terkait dengan perumahan dan permukiman. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota.3 PRODUK INFORMASI PIP2B Jenis layanan informasi yang dikembangkan oleh PIP2B berbasis kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. usaha dan kegiatan produktif b. Pedoman Harga Satuan Upah dan Bahan Bangunan yang dilengkapi dengan harga. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 12 . Peraturan Pemerintah c. serta inovasi berbasis keunggulan lokal (sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah). Surat Keputusan (SK) e. perumahan dan permukiman. Berdasarkan jenis informasi yang dapat diperoleh/ diberikan oleh PIP2B adalah sebagai berikut: 1. RTBL. Ketentuan-ketentuan daerah. Undang-undang b.

4 SARANA PELAYANAN INFORMASI PIP2B Di dalam menyiapkan infrastruktur Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B). dll e. Mushola. Juli 2007 13 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . Sarana bagi Penyelenggaraan urusan Administrasi dan Rumah Tangga organisasi lembaga: • • • • Gedung Kantor Ruang-ruang kerja sesuai standar kebutuhan dan jumlah personil Ruang-ruang Pertemuan Ruang-ruang Penunjang seperti: Pantry. mencakup: • • Ruang Konsultasi Ruang-ruang Diskusi b. Sarana bagi Pelayanan Pelatihan dan Penyebar luasan informasi • • • • Ruang audiovisual Ruang-ruang Pertemuan Ruang Pamer Ruang Display c. Paket PBL IV-3.2. Sarana Penunjang lainnya. seperti: • • • • 3 Ruang Lobby dan Informasi Ruang-ruang Mekanikal Elektrikal Mushola Publik Toilet Publik Pengarahan Tim Teknis. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Sarana bagi Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis. lembaga ini harus dapat menyediakan sarana pelayanan informasi yang lebih interaktif sebagai berikut3: a. Sarana bagi Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi: • • • • Ruang Perpustakaan E-library/ perpustakaan digital Ruang Server Ruang Pengolahan Informasi d. Toilet Karyawan.

Nopember 2007 14 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . ditetapkan pejabat ketua struktur organisasi PIP2B merupakan seorang pejabat setingkat eselon III .• • • Fasilitas bagi Penyandang Cacat Parkir Dll. Direktorat Jenderal Cipta Karya. 4 Pengarahan Tim Teknis. Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan. 2.5 STRUKTUR KELEMBAGAAN STANDAR DAN JUMLAH PERSONIL PIP2B Di dalam menyiapkan struktur kelembagaan Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di setiap propinsi. Paket PBL IV-3.2 Struktur Organisasi PIP2B Maka total jumlah personil pada struktur organisasi PIP2B di atas seluruhnya berjumlah 23 orang. Dengan demikian dapat diprediksi jumlah personil dalam struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai berikut4: Diagram 2.

Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan tidak sederhana. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan permanen c.1. Menurut Fungsi Sosial dan Budaya. bangunan gedung PIP2B diklasifikasikan sebagai bangunan gedung tingkat resiko kebakaran rendah d. Klasifikasi berdasarkan Kepemilikan. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung milik negara DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 15 . Bangunan gedung PIP2B dapat dijelaskan sebagai gedung kantor dengan luas lebih dari 500 m2.1 PENETAPAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Penetapan fungsi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung perkantoran pemerintah b. bangunan gedung PIP2B merupakan bangunan gedung bertingkat rendah e. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Permanensi. Klasifikasi berdasarkan Ketinggian. bangunan gedung PIP2B dikategorikan sebagai bangunan gedung pelayanan umum 3.1 FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN PIP2B 3. b.2 PENETAPAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Adapun penetapan klasifikasi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah: a. Menurut Fungsi Usaha. yaitu bangunan gedung negara yang memiliki kompleksitas dan atau teknologi tidak sederhana. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Risiko Kebakaran.1. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Kompleksitas.bab 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B 3.

20 evaluasi 3 0.12 0.23 0.25 0.15 0.04 0. di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi.05 0.10 0.1 Zonasi Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun (berdasarkan SNI 1726-2002) Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.34 setiap lokasi 5 0.36 0.f.03 0.32 0. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun yang nilai rataratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 1 dan table 3-1.30 0.28 0.36 6 0. Tabel 3-1 Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa Indonesia (berdasarkan SNI 1726-2002). Klasifikasi berdasarkan lokasi pada Zonasi Gempa adalah sesuai dengan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang (Gambar 3-1) Gambar 3.15 0.18 0.38 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 16 .33 0.28 0. Percepatan Percepatan puncak muka tanah Ao (‘g’) Wilayah Puncak Batuan Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Tanah Gempa Dasar (`g) Khusus 1 0.20 0.08 Diperlukan 2 0. Hal ini perlu dilakukan karena adanya perbedaan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa dan untuk masing-masing jenis tanah yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung dalam rangka menjamin kekekaran (robustness) minimum dari struktur gedung tersebut.24 0.30 khusus di 4 0. Pembagian Wilayah Gempa ini.

Gasmbar 3-2 Respons Spektrum Gempa Rencana (berdasarkan SNI 1726-2002). DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 17 .

 Rapat 4 Luas Ruang R.7 m2 perpersonil.00            ‐           ‐         3. Jabatan 1 R.00           ‐           ‐           ‐         3. adalah sbb: Tabel 3.3 Standar Detail Luas Ruangan Kerja bagi Kantor Pemerintah No. Klasifikasi berdasarkan kepadatan lokasi (padat. maka perkiraan luas ruang kerja bagi gedung PIP2B adalah sekitar 246.2 STANDAR PERENCANAAN BANGUNAN PIP2B 3. Toilet 5 6 7 8 Jumlah 9 1 Eselon III 2 Staff          6.1 STANDAR LUAS RUANG KERJA Dalam menghitung luas ruang kerja pada bangunan gedung kantor PIP2B. maupun menurut standar dan ketentuan yang berlaku.2.7 m2 Total Luas     246.00           ‐          2. Simpan R.00            ‐           ‐            ‐        18.00 m2          2. Kerja 2 R.2. studi banding di lapangan. 3. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 18 . ditentukan berdasarkan ketentuan standar luas ruang kerja pada gedung kantor pemerintah dengan klasifikasi tidak sederhana.10 m2 Adapun untuk merencanakan tata ruang dalam gedung PIP2B.00          6.2 Acuan Standar Umum Ruang Kantor PIPB Struktur Organisasi Jumlah Personil 23 orang Standar 10. yaitu rata-rata sebesar 10.2) Tabel 3. digunakan standar detail luas ruangan kerja kantor pemerintah seperti yang tercantum pada Tabel C pada buku Pedoman Pembangunan Bangunan Negara. Tunggu R. Kebutuhan total luas ruang kerja dihitung berdasarkan jumlah personil yang akan ditampung dikalikan standar luas sesuai dengan klasifikasi bangunannya. Tamu 3 R. Sekr R. Perkiraan luas ruang-ruang pelayanan informasi dihitung berdasarkan perkiraan kapasitas tampung.00 m2 3. sedang. renggang).2 PROGRAM KEBUTUHAN LUAS RUANGAN Kebutuhan ruang bangunan gedung PIP2B terdiri atas sarana ruang kerja serta sarana ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat.g. Berdasarkan persyaratan kelembagaan bahwa institusi PIP2B akan dipimpin oleh pejabat eselon III. ditetapkan oleh instansi yang berwenang di daerahnya masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.10 m2 (Tabel 3.

00 R.00          0.10 m2            9. Kerja Penunjang Ruang Sirkulasi m2      189.00            6.00          6. Kegiatan  Kriteria Disain Standar  Fungsi  4    ‐ Berupa outdoor plasa multifungsi ‐ Meningkatkan kualitas lingkungan dan bangunan   ‐ Menampung kapasitas 500 orang Fisik  5  Lingkungan  6    ‐ Merupakan bagian terintegrasi dari disain bangunan dan lingkungan ‐ Memperbaiki iklim mikro ‐ Tetap dapat berfungsi meningkatkan resapan air 2  3  SARANA PENYEBARLUASAN INFORMASI   R. Tabel 3.00          6.4 Studi Kebutuhan Ruang Gedung PIP2B RUANG Pameran Indoor R.5.20 m2        12. Tabel 3.00        40.3 KARAKTERISTIK DAN KRITERIA RUANGAN PELAYANAN Sifat kegiatan yang ditampung di dalam ruang-ruang pelayanan informasi bagi masyarakat dan kriteria disain standar bagi masing-masing ruang dapat dilihat pada Tabel 3.13 m2.00          4.00        18.00          4. dengan perkiraan luas total lantai bangunan adalah sekitar 949.90 m2         20.30 LUAS      180.7.2.00 m2          6.80          6. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik (2m2/25 org) Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility KAPASITAS 200 org 1 bh 20 org 1 bh 1 bh 6 org 23 org 23 org 23 org 1 bh 8 1 2 2 23 2 1 1 25% sat bh sat sat org bh bh bh SATUAN LUAS          0.00 Publik m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 Semi Publik m2        36.00 m2         60. Display R.00 m2         32.00        60.  seperti:   ‐ Model  RISHA  ‐ Prototipe rumah  tahan gempa  ‐ Beberapa model  sistem struktur  DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 19 .20         10.40         12.00 m2          2.00            6.60 m2      246.00          4. 3.00          1.13 m2 3.00     759.4 memperlihatkan perkiraan kebutuhan ruang untuk bangunan gedung PIP2B. Pamer  Outdoor  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat permanen  maupun temporer dan  eventual  sesuai dengan  kebutuhan daerah.00            8.00        32.5 Sifat Kegiatan Penyebarluasan Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  A  1.00          6.70          0.00            8.40        12.83 LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN      949.Tabel 3. Audiovisual Perpustakaan E‐ Library R.00            6.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2        32.00 m2        27.6 dan 3. Asosiasi  Profesi R.00        20.

  R. Pamer  Indoor  ‐ Dsb  Dapat menampung  materi‐materi pameran  ke‐Cipta Karya‐an yang  bersifat temporer dan  eventual seperti :   ‐ Pameran  ‐ Seminar    ‐ Berupa indoor hall yang bersifat multifungsi untuk memamerkan produk-produk ke-Cipta Karya-an maupun teknologi bangunan terkini ‐ Merupakan bagian yang menyatu dengan R. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan tertutup ‐ Menggunakan insulasi penahan suara ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan menggunakan pengendalian dg system switching dan dimming untuk memperoleh efek pencahayaan ‐ Konsep Ruangan secara tata suara tertutup. Pamer Indoor ‐ Display ditempatkan pada bagian yang mengundang. Audio  Visual  Dapat menampung  materi ke‐Cipta Karyaan  yang ditampilkan secara  audio visual  ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 20-30 orang 5. Pertemuan  Dapat menampung  pertemuan staff maupun  dengan pihak luar  ‐ Berupa ruang rapat yang siap dengan peralatan presentasi ‐ Menampung kapasitas ruang untuk pertemuan 10-12 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . seperti:   ‐ Banner UUBG  ‐ Running Text    ‐ Panel display atau apapun yang menjadi media display 4.  R. Display  Dapat  menampung  materi‐materi  display ke‐ Cipta Karya‐an yang  dipasang sepanjang  tahun. merata maupun setempat ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan.  R. dan informatif ‐ Isi display dapat berganti-ganti sesuai tema ‐ Berupa ruang kelas yang siap dengan peralatan audio visual ‐ Menampung kapasitas ruang Pamer 200 orang ‐ Memiliki ceiling yang tinggi. atau void dengan ceiling > 1 lantai ‐ Konsep Ruangan Hemat Energi ‐ Dual pengkondisian: penghawaan alami maupun AC ‐ Sistem pencahayaan alami ‐ Sistem pencahayaan buatan secara gabungan.2. ruangan dapat menjadi gelap dan tidak silau 20 3. secara visual dapat transparan ‐ Pengkondisian udara menggunakan AC ‐ Pencahayaan buatan ‐ Dalam keadaan display.  R.

‐ Ruang Kerja R.Tabel 3. namun mudah dipelihara ‐ Menampung kapasitas 2 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. namun mudah dipelihara ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata 3.  Pengolahan  Meng up‐date  untuk Informasi  database informasi  memasukkan dalam bentuk  dan memantau digital  informasi digital    ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 21 .  Melayani  Perpustakaan  kebutuhan  Elektronik  informasi  masyarakat dalam  bentuk digital     4      Fisik  5    Lingkungan  6  1. ‐ Ruang browsing komputer sesuai standar ‐ Menampung kapasitas 6-8 komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. namun mudah dipelihara ‐ Memungkinkan untuk melakukan pemeliharaan data dan reparasi computer 4. ‐ Rak buku sesuai standar ‐ Ruang Baca sesuai standar ‐ Menampung kapasitas ruang baca 8-12 orang ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2. Server  Menampung  informasi dalam  bentuk digital     ‐ Ruang Komputer Terpusat ‐ Menampung kapasitas 1 bh server komputer ‐ Jaringan kabel tersembunyi. R.6 Sifat Kegiatan Pelayanan Pengembangan/ Dokumentasi Informasi dan Kriteria Disain Standar Ruangan Kriteria Disain Standar  Ruangan  1  B  Kegiatan  Fungsi  2  3  SARANA PELAYANAN  PENGEMBANGAN/   DOKUMENTASI INFORMASI   R.  Dapat  Perpustakaan  menampung buku‐ buku terbitan/  bahan cetakan  yang terkait  dengan ke‐Cipta  Karya‐an &  melayani  kebutuhan  informasi  masyarakat    R.

Tabel 3. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara. Diskusi  Dapat digunakan  untuk keperluan  diskusi kecil  ‐ Merupakan ruang multifungsi yang berkaitan dengan kegiatan konsultasi ‐ Berupa ruang pertemuan dengan kapasitas 6-8 orang DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 22 . 2  Kegiatan  Fungsi  3  4  Kriteria Disain Standar  Fisik  5  Lingkungan  6  SARANA PELAYANAN KONSULTASI  DAN ADVOKASI TEKNIS   R.7 Sifat Kegiatan Pelayanan Konsultasi dan Advokasi Teknis dan Kriteria Disain Standar Ruangan Ruangan  1  C  1. Konsultasi  Dapat digunakan  untuk keperluan  konsultasi   ‐ Berupa ruang kerja dengan kursi hadap ‐ Terdiri atas 1 atau 2 orang yang merupakan konsultan dan 2 atau 4 orang yang berkonsultasi ‐ Konsep Ruangan tertutup secara tata suara. R. namun dapat transparan secara visual ‐ Ruangan dengan pengkondisian buatan (AC) ‐ Pencahayaan buatan secara merata ‐ Pencahayaan alami yang dapat dikendalkan melalui blind 2.

4 HUBUNGAN ANTAR RUANG Hubungan antara ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B ditetapkan berdasarkan matriks hubungan antar ruang pada gambar 3-2. Gambar 3. Hubungan antar ruang dibedakan atas: • • • Hubungan Langsung.3 Matriks Hubungan Antar Ruang Gedung PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 23 .2.3. artinya ruang tidak perlu berdekatan maupun terhubung oleh pintu. yaitu ruang berdekatan tetapi tidak perlu terhubung oleh pintu Tidak Berhubungan. yaitu ruang berdekatan dan terhubung oleh pintu Dekat dengan Hubungan Tidak Langsung.

termasuk rencana pengembangan lahan dan bangunannya. Apabila gedung PIP2B terletak di dalam sebuah kompleks perkantoran yang tidak dapat dicapai secara langsung oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Peraturan Tata Ruang Kota Lokasi disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan mendapat persetujuan pemerintah daerah yang bersangkutan untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). drainase. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 24 .3 PERSYARATAN LOKASI Penentuan lokasi bangunan gedung PIP2B mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: 1. jaringan air bersih. Kesiapan Prasarana Lokasi gedung PIP2B harus memiliki prasarana yang memadai. Jarak tempuh maksimum 5 km dari pusat kota atau tidak lebih dari waktu tempuh 20 menit perjalanan dengan kendaraan umum pada saat normal (tidak macet). jaringan listrik dan telepon. mencakup: jalan lingkungan.3. Radius Pencapaian Gedung PIP2B dibangun pada lokasi-lokasi di ibukota propinsi. Aksesibilitas Lokasi gedung PIP2B harus dapat dicapai oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. dengan asumsi kepadatan penduduk yang dilayani dapat mendukung kegiatan pelayanan informasi bagi masyarakat. Radius pencapaian lokasi ditentukan oleh jarak dan waktu tempuh dari pusat kota. 3. Lokasi harus dekat dengan masyarakat pengguna dengan pencapaian mudah. 4. maka jarak tempuh maksimum dari titik transit adalah 10 menit berjalan kaki. 2. jaringan air limbah. Pencapaian secara berjalan kaki harus terhindar dari lalu lintas berkepadatan tinggi.

dengan rasio 1 kendaraan setiap 100 m2 luas lantai Parkir dan sirkulasi mobil bagi penyandang cacat. harus dipertimbangkan sarana dan fasilitas pelayanan bagi publik wajib untuk ditempatkan di lantai dasar. Beberapa contoh produk pameran outdoor yang permanen adalah: Model RISHA. yang cukup luas agar dapat menampung materi-materi pameran ke-Cipta Karya-an yang bersifat permanen maupun temporer dan eventual sesuai dengan kebutuhan di daerahnya masing-masing.4. minimal 40% dari luas total lahan diperuntukkan bagi penghijauan dan lansekap 3. • • • • • • Parkir dan sirkulasi mobil kantor maupun karyawan.4. Sarana ruang minimum yang harus disediakan serta posisinya baik di lantai dasar atau di lantai atas ditentukan dalam tabel 3. disediakan minimal untuk 25 kendaraan Jalur pedestrian yang memadai Ruang Terbuka Hijau. Sehingga sarana dan fasilitas pelayanan tersebut memungkinkan untuk dapat diakses pula oleh masyarakat penyandang cacat.4 PENENTUAN LUAS TAPAK 3. Prototipe Rumah Tahan Gempa. disediakan minimal untuk 2 kendaraan Parkir dan sirkulasi mobil pengunjung.1 SARANA RUANG LUAR Dalam rangka menentukan luas tapak yang dibutuhkan bagi sarana dan fasilitas bangunan PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 25 .8.2 SARANA PUBLIK DI LANTAI DASAR Dalam merencanakan bangunan PIP2B. dan beberapa model system struktur. harus dipertimbangkan tersedianya sarana sebagai berikut: • Ruang Pamer Outdoor. disediakan minimal untuk 5 kendaraan Parkir dan sirkulasi motor baik karyawan maupun pengunjung.3.

00 m2        32. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 26 .00 m2     388.00 m2 m2 m2 m2 m2 Lantai Dasar     180.00        32.00 m2         18.00          8.00          6.83 m2      464.00          6.3 LUAS LAHAN MINIMUM Dalam merencanakan bangunan PIP2B.8 Posisi Ruang Publik RUANG Pameran Indoor R. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R.10 m2          9.00 m2         27. Display R.00 m2         36.00 m2       97. maka bangunan PIP2B memungkinkan untuk dikembangkan sebagai 1 lantai saja dengan lahan yang lebih luas.20 m2         12. sedangkan simulasi rancangan digambarkan dalam gambar 3-3 dan 3-4.00 m2       40.30 LUAS      180.00 m2     485.00 m2       32.00 m2 R.13 m2 3.00 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2       32. Rapat Setingkat Eselon III Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility                                         759. maka pemanfaatan lahan yang efisien mengakibatkan bangunan terdiri atas 2 lantai.100 m2. Beberapa kemungkinan harus dipertimbangkan sehubungan dengan lokasi bangunan PIP2B.00 m2 Lantai Atas Semi Publik        36.83 m2      949. atau di kota yang masih relatif rendah intensitasnya.4.20 m2        12.40        12.00        20.00        18. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 3.00        60.00 m2        27.Tabel 3.00 m2           8.00          6.00        40.00 m2         6.13 m2 Sub Total Ruang Sirkulasi LUAS TOTAL LANTAI BANGUNAN 25%      189.60 m2       246.00          8.00 m2       60.200 m2 • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di tepian kota. perlu disadari kondisi terbatasnya lahan terutama di daerah kota besar.60 m2        246.40 m2       12.00 m2        371.30 m2         92. Luas tapak yang dibutuhkan adalah minimum 2. metropolitan dan pusat kota. • Alternatif apabila lokasi bangunan PIP2B terletak di pusat kota.00 m2       20.10 m2           9.00 m2           6. Asosiasi Profesi R. Kerja Penunjang           8.00 m2         6. Perhitungan kebutuhan luas tapak bangunan dan penentuan luas lahan minimum untuk kedua alternatif diatas dapat dilihat pada tabel 3-9 dan 3-10.

38         3.74                68.00                   34.00 40%                      0.00                40.140.00          25.00         1.70 Tabel 3.00            284.00          25.028.70                   30.45 Kapasitas Alternatif Bangunan 2 lantai Total Lantai Bangunan Bangunan Lantai Dasar thd total lantai Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (2lt) Satuan Luas 60%         500.48            350.00 40%                  949.8               3.00          50.8               2.00 0.211.20            125.00            9.00 0.00                   34.9 Perhitungan Kebutuhan Luas Tapak Bangunan PIP2B Kapasitas Alternatif Bangunan 1 lantai Total Lantai Bangunan Ruang Pamer Outdoor Parkir & Sirkulasi Mobil (1mobil:100m2) Parkir & Sirkulasi Penyandang Cacat Parkir & Sirkulasi Motor Pedestrian Ruang Hijau Total Luas Lahan Minimum PIP2B (1 lt) Satuan Luas Jumlah Luas            949.395.00          50.20            125.10                     5.163.49            2.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 27 .00            284.83 m2       2.77 m2       3.13                      0.10                     5.00                40.Tabel 3.13            569.49            2.10 Penentuan Luas Lahan Minimum Bangunan PIP2B Luas Total Lantai Bangunan Alternatif Bangunan PIP2B 1 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Alternatif Bangunan PIP2B 2 lantai Perkiraan Luas Lantai Dasar % Lt Dasar  Perkiraan Luas Lahan Min Perkiraan Luas Luas Minimum     949.13 m2 3.100 m2 70% thd luas total 30% thd luas lahan     642.00            9.13            350.70         500.028.395.25 m2 2.74                68.45 Jumlah Luas            949.70                   30.28         2.13 m2          920 m2 100% thd luas total 30% thd luas lahan     949.00            958.

100 m2 Gambar 3.Gambar 3.5 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 2 lantai dengan Luas Lahan Minimum 2.4 Simulasi Rencana Tapak untuk Bangunan PIP2B 1 lantai dengan Luas Lahan Minimum 3.200 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 28 .

2. biaya pengelolaan proyek. Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah Instansi/lembaga pemerintah/negara yang bersangkutan. Kejelasan status atas tanah ini dapat berupa hak milik atau hak guna bangunan. 4.5 PERSYARATAN ADMINISTRASI Setiap bangunan gedung PIP2B harus memenuhi persyaratan administrasi baik dalam tahap pembangunan maupun tahap pemanfaatan sebagaimana bangunan gedung negara. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi. DOKUMEN PERENCANAAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perencanaan. termasuk surat penunjukan/penetapan Pimpinan Proyek.3. biaya pelaksanaan konstruksi fisik. baik yang dihasilkan oleh Penyedia DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 29 . STATUS HAK ATAS TANAH Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki kejelasan tentang status hak atas tanah lokasi tempat bangunan gedung PIP2B berdiri. PERIZINAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen perizinan yang berupa: Izin Mendirikan Bangunan. dan Izin Penggunaan Bangunan dalam hal Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setempat. yang dihasilkan dari proses perencanaan teknis. b. DOKUMEN PEMBIAYAAN Setiap kegiatan pembangunan bangunan gedung PIP2B harus disertai/memiliki bukti tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundangan yang berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen lainnya yang dipersamakan. Dalam dokumen pembiayaan pembangunan bangunan gedung negara terdiri atas: a. c. Persyaratan administrasi bangunan gedung negara meliputi pemenuhan persyaratan: 1. d. 3. biaya perencanaan konstruksi.

f. b. asistensi terhadap instansi pemerintah pusat harus dilakukan. Izin Mendirikan Bangunan. Dokumen Pelelangan. Berita Acara Serah Terima I dan II. hasil uji coba/test run operational. e.Jasa Perencana Konstruksi atau Tim Swakelola Perencanaan. 6. As built drawings (gambar sesuai yang dilaksanakan) disertai gambar leger. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 30 . DOKUMEN PENDAFTARAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pendaftaran untuk pencatatan dan penetapan HDNO meliputi: a. Fotokopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). c. 5. Di dalam proses perencanaannya. dan Sertifikat Penjaminan atas Kegagalan bangunan sesuai ketentuan yang berlaku. Fotokopi Dokumen Pembiayaan/DIP (otorisasi pembiayaan). DOKUMEN PEMBANGUNAN Setiap bangunan gedung PIP2B harus memiliki dokumen pembangunan yang terdiri atas: Dokumen Perencanaan. Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi. dan As Built Drawings. dan Surat Izin Penggunaan Bangunan (IPB) dalam hal Peraturan DaerahKabupaten/Kota yang bersangkutan mengharuskan adanya IPB. Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan. d. Fotokopi sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 31 . maka bangunan PIP2B merupakan bangunan tunggal (freestanding) dengan jarak bebas antara blok/masa bangunan dengan batas lahan minimum adalah 4.1. b.00 meter serta harus mempertimbangkankan hal-hal seperti: • • • • Keselamatan terhadap bahaya kebakaran. Kenyamanan. yaitu: a. Peruntukan Lokasi Bangunan PIP2B harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan.bab 4   KETENTUAN TEKNIS BANGUNAN PIP2B 4. yaitu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Jarak Bebas Bangunan Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung.1 KESESUAIAN TATA BANGUNAN DENGAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN PERATURAN DAERAH Persyaratan tata bangunan dan lingkungan meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan PIP2B dari segi tata bangunan dan lingkungannya.1 PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 4. termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan. Kesehatan.

maka bangunan PIP2B mengikuti ketentuan berikut KDB merupakan perbandingan antara luas seluruh perkerasan di lantai dasar dengan luas lahan. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Koefisien Daerah Hijau (KDH) Ketentuan besarnya KDB. Mengingat bangunan gedung PIP2B memiliki fasilitas pelayanan masyarakat di lantai dasarnya. maksimum adalah 3 lantai. termasuk didalamnya: o o o o o • Lantai Dasar Bangunan (maksimum 30% dari Luas Lahan) Ruang Pamer Outdoor Sirkulasi dan Parkir Kendaraan (mobil dan motor) Sirkulasi. KDH minimum dari bangunan PIP2B adalah 40%. Parkir. KLB. d. GSB minimum bangunan PIP2B adalah 7. dan Ramp bagi Penyandang Cacat Jalur Pedestrian KDH merupakan perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan yang harus digunakan sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau.80 meter dihitung dari permukaan lantai. • GSB merupakan jarak tepi ruas jalan dengan bangunan terluar. Ketinggian bangunan Ketinggian bangunan PIP2B. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Koefisian Lantai Bangunan (KLB).50 meter. e. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 32 . KDB maksimum adalah 60%. • Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat.00 meter.c. maka diusulkan ketinggian langit-langit minimum di Lantai Dasar adalah 3. GSB dan KDH mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah setempat tentang Bangunan Gedung untuk lokasi yang bersangkutan. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi. Ketinggian langit-langit Ketinggian langit-langit bangunan PIP2B minimum di setiap lantai adalah 2.

• Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. Sirkulasi dan Parkir Kendaraan & Penyandang Cacat dan Jalur Pedestrian 4. Ruang Pamer Outdoor. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau panutan bagi lingkungannya. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Penempatan massa bangunan arsitektur berorientasi terhadap arah sinar matahari dan iklim setempat.2 PERSYARATAN ARSITEKTUR a. • Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya.Gambar 4. Persyaratan Keserasian dengan Lingkungan • Bangunan PIP2B harus serasi dengan lingkungannya. serta elemen-elemen dan material yang mempermudah untuk berorientasi menuju maupun di dalam bangunan. keterbukaan (mengundang untuk masuk). Bangunan khususnya lantai dasar harus memperlihatkan sebagai bangunan yang ramah kepada publik dengan memperlihatkan kejelasan arah jalan masuk.1 Simulasi Rancangan Tapak: memperlihatkan KDB maks 60%.1. Lantai Dasar maks 30%. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 33 .

• Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan segala sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam rencana tata ruang. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 34 .• Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. L. atau U. guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa.2 Bentuk denah bangunan gedung (PerMen PU no. Gambar 4. maka harus dilakukan pemisahan struktur atau dilatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa atau penurunan tanah. dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. Bentuk denah bangunan gedung sedapat mungkin simetris dan sederhana. 29/PRT/M/2006) • Dalam hal denah bangunan berbentuk T. • • Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa.

untuk memberikan citra keterbukaan era informasi sekaligus memperlihatkan kegiatan pameran indoor dan outdoor kepada publik. art-work (benda seni). Dalam konteks bangunan dengan ekspresi modern. • Ekspresi kekinian bangunan tidak boleh mengabaikan kaidah-kaidah dasar Arsitektur Tropis.3 Simulasi Rancangan Berbagai Ekspresi Arsitektur Bangunan PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 35 .b. namun tidak menutup kreatifitas dan inovasi disain dalam mewujudkan Arsitektur Tropis yang modern. Gambar 4. kearifan lokal dapat diwujudkan melalui penggunaan ornamen di dalam lansekap. • Kearifan lokal harus dihargai. Kriteria-kriteria dasar yang harus dipenuhi dalam ekspresi bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: • • Wujud arsitektur mencerminkan fungsi bangunan PIP2B sebagai bangunan pusat informasi yang modern dan mencerminkan teknologi bangunan terkini. dan penggunaan elemen-elemen yang mengandung identitas lokal harus merupakan bagian yang menyatu dengan arsitektur bangunan PIP2B. Persyaratan Ekspresi dan Wujud Arsitektur Setiap arsitektur bangunan PIP2B memiliki kebebasan dalam berekspresi dan menentukan wujud arsitekturnya. maupun elemen interior. Kreatifitas dan inovasi disain sangat dianjurkan dalam mewujudkan kearifan lokal pada bangunan PIP2B. Fasade bangunan harus cukup transparan terutama di lantai dasar.

1. vynil. kaca dengan rangka kayu atau aluminium. sirap. Bahan penutup lantai: ubin PC. dan sejenis. keramik. atau rangka hollow besi. papan kayu dengan tingkat kekuatan dan keawetan tinggi. atau kaca dengan kosen aluminium. maupun karpet. Persyaratan Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan diupayakan secara mayoritas merupakan bahan bangunan setempat dan produksi dalam negeri. disesuaikan dengan fungsi dan ekspresi bangunan. beton pracetak.3 PERSYARATAN TATA RUANG DALAM Beberapa kriteria dalam menata ruang dalam bangunan PIP2B adalah sebagai berikut: a. • • • Bahan kerangka langit-langit: rangka kayu minimum kelas kuat II di anti rayap. GRC atau sejenis. Bahan penutup atap: genteng beton. serta penampilan yang sesuai dengan fungsi dan ekspresi yang diinginkan. aluminium. gypsum. akustik. granit tile. genteng keramik.c. • Bahan kosen dan daun pintu/jendela: kayu minimum kelas kuat II. atau bondek cor. celcon atau hebel. dak beton dengan lapisan kedap air. batu alam. termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari sistem fabrikasi komponen bangunan. Beberapa contoh bahan bangunan yang dapat digunakan adalah: • • Bahan penutup dinding fasade bangunan: marmer. Bahan penutup langit-langit: kayu lapis. • Bahan dinding pengisi: batu bata. parket. teraso. panel gypsum/GRC dan/atau panel aluminium dengan rangka hollow besi. marmer. Persyaratan Teknis • Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang pintu/ jendela diusahakan sedapat mungkin pada sumbu-sumbu denah bangunan mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat gempa DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 36 . dan panel GRC. batu alam. yang disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi ruang. Kriteria utama adalah durabilitas (keawetan) bahan bangunan sebagai material bangunan publik. 4.

 Display R. maupun staff Asosiasi Profesi yang ditempatkan di bangunan ini. Zona Publik dan Privat • Didalam mengelola fasilitas PIP2B dan melakukan kegiatan kerja sehari-hari. b.• • Ruangan di dalam bangunan harus memiliki tinggi yang cukup untuk fungsifungsi yang sesuai. mengingat lantai dasar mewadahi kegiatan pelayanan publik.50 meter. yaitu sangat publik. publik. Sedangkan ketinggian langit-langit minimum untuk ruang-ruang lainnya adalah 2. diperlukan pemisahan pemisahan zona pelayanan (publik) dan zona ruang kerja (privat) agar dapat dicapai tingkat privasi yang cukup bagi staff PIP2B. Rapat Ruang Kerja Ruang Arsip Ruang Server & IT Toilet Publik Toilet Penyandang Cacat Toilet Karyawan Pria Toilet Karyawan Wanita Mushola Gudang Pantry Utility DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 37 . • Permukaan lantai dari lantai dasar harus: o o Sekurang-kurangnya 15 cm di atas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan Sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. semi publik dan privat (Tabel 4-1).1 Karakteristik Ruang berdasarkan tingkat privasi KARAKTERISTIK  Sangat Publik Publik           Semi Publik     Privat           Publik     Privat                 RUANG  Pameran Indoor R. Tabel 4.80 meter dihitung dari permukaan lantai. Audiovisual Perpustakaan E‐Library R. Asosiasi Profesi R. Ketinggian langit-langit minimum di lantai dasar adalah 3. • Terdapat 4 jenis ruang menurut tingkat privasinya.

4 Simulasi Rancangan yang mengakomodasi Ruang Pelayanan Publik di Lantai Dasar dan Privasi bagi staff PIP2B dan Asosiasi Profesi di Lantai Atas c.ZONA DI LT. DASAR ZONA DI LT. jelas dan memberikan kemudahan orientasi bagi pengunjung yang akan memakai sarana dan fasilitas publik di dalam bangunan. ATAS Gambar 4. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 38 . Efisiensi Flow Bangunan Yang termasuk dalam efisiensi flow bangunan adalah persyaratan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan yang sesuai dengan fungsi bangunan sebagai sebuah Pusat Informasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. tata ruang dalam bangunan PIP2B harus sederhana.

Persyaratan Ergonomis Ruangan • • Tata ruang dalam bangunan harus dapat memberikan suasana yang tepat dan sesuai dengan fungsi ruangan Tata letak perabotan (meja kerja. Minimal memiliki akses kepada pintu utama. Ruang Pameran Indoor dapat sekaligus mengakomodasi fungsi lobby dan Ruang Display Permanen. Ruang Pameran Indoor harus memiliki pencahayaan alami yang cukup. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 39 . • Persyaratan ergonomis pada masing-masing ruangan adalah sbb: 1. Penghawaan alami harus dapat berfungsi agar konservasi energi dapat dicapai pada kondisi sehari-hari. Ruang Pameran Indoor Ruang Pameran Indoor merupakan ruang serba guna dengan luas ruangan sekitar 180-200 m2 yang dapat mengakomodasi materi-materi pameran keciptakaryaan di dalam bangunan.1 Beberapa simulasi rancangan lay-out tata ruang dalam yang mengakomodasi flow pengunjung yang efisien d.Gambar 3. rak buku. elibrary. dsb) harus terintegrasi dengan kenyamanan ruang gerak secara ergonomis sesuai dengan fungsi ruangan. Ruang Pameran Indoor merupakan sarana pelayanan publik yang pertama dijumpai oleh pengunjung di bangunan PIP2B. Lebih baik lagi apabila dari ruang pameran indoor dapat dicapai sarana publik lainnya. ruang konsultasi. pameran outdoor dan koridor menuju ruang kerja. kursi. seperti ruang perpustakaan. ruang display dan audiovisual. Pengkondisian udara dapat berfungsi pada saat udara termal alami tidak pada batas yang nyaman. maupun pencahayaan buatan secara merata dan setempat.

Standar ruangan yang harus diperhatikan adalah: ƒ ƒ ƒ ƒ Jarak minimum koridor diantara rak buku adalah 1. Perabot standar set komputer. meja dan kursi disebut modul working station. dilakukan penaikan lantai (raised floor) atau penetapan jalur kabel LAN melalui sirkuit yang terlindungi (race way) dan dapat dibuka dan ditutup setiap waktu. 2 unit. dengan jalur dari ruang server hingga ruang e-library. Satu set working station dapat terdiri dari 1 unit. Pameran Indoor 2. Untuk memudahkan perawatan berkala komputer.25 meter Ukuran standar meja baca adalah 0. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 40 . 3 unit maupun 4 unit modul tergantung kondisi ruangan.30 meter Lebar rak buku minimal 40 cm Ketinggian rak buku maksimal 2.70 x 1. ƒ ƒ Seluruh kabel LAN harus tersembunyi dengan rapih pada tempat yang disediakan secara khusus. Ruang Perpustakaan & E-Library Ruang Perpustakaan harus dapat mengakomodasi koleksi buku-buku keciptakaryaan.Gambar 4.00 meter harus dapat mengakomodasi sistem pencarian data E-library ƒ perpustakaan secara elektronik.5 Simulasi R.

STANDAR LEBAR KORIDOR DAN TINGGI RAK BUKU STANDAR MEJA BACA MODUL WORKING STATION Simulasi jalur kabel LAN pada lokasi plint dinding Gambar 4.Pengawasan ruang perpustakaan dan e-library dapat dilakukan pada satu titik counter pengawas sekaligus librarian.6 Simulasi Rancangan Ruang Perpustakaan & ELibrary DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 41 .

Alternatif kedua. Alternatif pertama.Gambar 4. Ruang Display & Audiovisual Ruang Audiovisual dapat direncanakan dalam dua alternatif. Sehingga dapat digunakan sebagai 2 ruangan audiovisual yang dapat digunakan bersamaan. yaitu sekitar 45 m2 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 42 . yaitu sekitar 90 m2 yang dirancang untuk dapat dibagi menjadi 2 ruangan. ruang audiovisual merupakan ruang yang cukup luas. ruang audiovisual dirancang permanen dengan kapasitas secukupnya.7 Simulasi Rancangan Jalur kabel LAN untuk menunjang sistem data serta kemudahan dalam perawatan 3. maupun digunakan sebagai ruang display pada event tertentu yang membutuhkan fasilitas audiovisual.

sehingga keberadaan gudang untuk menyimpan perabotan meja dan kursi mutlak diperlukan.Kedua alternatif harus dapat secara fleksibel menjadi ruang diskusi dengan tipe teater maupun kelas. Kedua alternatif harus berdekatan dengan ruang operator untuk kemudahan operasional. Ruang Kerja Ruang Kerja dengan total luas sekitar 220 m2 terdiri atas: ƒ Ruang Pimpinan ƒ Ruang Sekretaris ƒ Ruang Tunggu ƒ Ruang Kepala Staff 5 unit ƒ Ruang Staff 11 unit ƒ Ruang Staff IT 1 unit ƒ Ruang Arsip ƒ Ruang Konsultasi 1-2 unit DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 43 . Ruang Audiovisual alternatif 1 Alternatif ruangan 1 ketika menjadi 2 Ruang Audiovisual alternatif 2 4.

8 Simulasi Rancangan Ruang Kerja 5. dengan lemari arsip dan satu set meja rapat yang dapat digunakan bersama. Ruang Asosiasi Profesi Ruang asosiasi profesi dengan luas sekitar 50 m2 dapat menampung 6 staff asosiasi.ƒ Ruang Petugas Perpustakaan & E Library 1-2 unit ƒ Ruang Rapat Total area ruang kerja menampung 23 orang Gambar 4. Simulasi Rancangan Ruang Asosiasi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 44 .

letak geografis. jumlah pengguna. dan penggunaan bahan bangunan. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara yang ideal didalam ruangan. 2) kemudahan pemeliharaan dan perawatan. orientasi bangunan. Persyaratan Kenyamanan Kondisi Udara dalam Ruang Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. dapat dilakukan dengan alat penkondisian udara yang mempertimbangkan: 1) fungsi bangunan gedung/ruang. jenis peralatan. volume ruang.6. Ruang Penunjang Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Publik Simulasi Rancangan Sarana Penunjang Staff e. dan 3) prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 45 .

3) SNI 03-6196-2000 Prosedur audit energi pada bangunan gedung. dan nyaman bagi semua orang.Persyaratan kenyamanan termal dalam ruang harus mengikuti: 1) SNI 03-6389-2000 Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung. 4. atau edisi terbaru. termasuk penyandang cacat dan lansia. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau edisi terbaru. Bangunan PIP2B harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut. 5. dan jenis pintu. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 46 . 2) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. ukuran. Persyaratan Hubungan Ke. 3. dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah. Jumlah. dari. f. 4) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung. fungsi ruang. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. Kemudahan hubungan ke. fungsi ruang. 2. aman. Dari dan di Dalam Bangunan PIP2B • Persyaratan Kemudahan Hubungan Horizontal dalam Bangunan PIP2B 1. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. dan jumlah pengguna ruang. dan jumlah pengguna. atau yang belum mempunyai SNI.

aman dan nyaman bagi semua orang untuk mencapai fasilitas di dalam bangunan Gambar 4.10 Simulasi Rancangan Lantai Dasar memperlihatkan kemudahan hubungan horizontal dengan tersedianya pintu dan koridor yang memadai • Persyaratan Kemudahan Hubungan Vertikal dalam Bangunan PIP2B 1. Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung tersebut berupa tersedianya tangga dengan disain dan ukuran sesuai standar yang berlaku DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 47 .Gambar 4.9 Simulasi Rancangan Tapak memperlihatkan tersedianya fasilitas dan aksesibiitas yang mudah.

2. serta jumlah pengguna bangunan gedung Persyaratan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung harus mengikuti: 1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Persyaratan Kelengkapan Prasarana dan Sarana Pemanfaatan Bangunan Gedung Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya. tepat sampah.11 Simulasi Rancangan Tangga dengan ketinggian anak tangga 18 cm dan lebar pijakan tangga 30 cm g. tempat parkir. Gambar 4. ruang bayi. dan jumlah pengguna ruang. setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung. toilet. Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan luas bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 48 . Jumlah. serta keselamatan pengguna bangunan gedung. serta fasilitas komunikasi dan informasi. ukuran. 2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. ruang ganti. meliputi: ruang ibadah. atau edisi terbaru. dan konstruksi sarana hubungan vertikal tangga harus berdasarkan fungsi bangunan gedung. atau edisi terbaru. luas bangunan.

orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. tanah dan permukaan tanah. 5.1.4 PERSYARATAN LANSEKAP Keseimbangan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 49 . b. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan seperti dari bahaya banjir. 6. budaya. baik dari segi sosial. Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP) 1. Setiap perencanaan bangunan PIP2B yang baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. sirkulasi. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah. 4. pohon-pohon menahun. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan PIP2B dan terletak di dalam persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. RTHP berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. tiang bendera. atau edisi terbaru. keserasian dan keselarasan dengan lingkungan bangunan PIP2B adalah perlakuan terhadap lingkungan di sekitar bangunan PIP2B yang menjadi pertimbangan penyelenggaraan bangunan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. unsur-unsur estetik. bak sampah dan papan nama bangunan. 2. 3.3) SNI 03-6573-2001 Tata cara perancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung (lif). sungai besar. a. sungai. atau yang belum mempunyai SNI. maupun dari segi ekosistem. bangunan penunjang seperti pos jaga. Keserasian tersebut antara lain mencakup pagar dan gerbang. gunung dan sebagainya. Persyaratan Ruang Sempadan Bangunan 1. vegetasi besar/pohon. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. peresapan air. 4.

c. e. air. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. 2. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan. 4. batang dan cabangnya rapuh. Penggunaan tanaman khas lokal sangat dianjurkan dalam rangka meningkatkan identitas lokal. ruang sempadan depan bangunan. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 1. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas.2. Hijau Pada Bangunan 1. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. jalur pejalan kaki. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 50 . Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan caracara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. kestabilan tanah/wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. pagar. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. 2. d. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. tiang telepon di kedua sisi jalan/ruas jalan yang dimaksud. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. 3. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. Tata Tanaman 1.

Bangunan PIP2B diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. struktur atas bangunan gedung. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. dan kejelasan kontinuitas pedestrian. ramburambu. 4. dan kendaraan pelayanan lainnya. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. Sirkulasi perlu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. dan ruang terbuka umum. pembebanan pada bangunan gedung.2. 3. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 51 . Elemen pedestrian (street furniture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. dan memberikan pemandangan yang menarik. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. 7. 11. guna mendukung sistem sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. nyaman. aman. 5. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). 4.2 PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN Persyaratan struktur bangunan gedung PIP2B meliputi persyaratan struktur bangunan gedung. 6. struktur bawah bangunan gedung. 8. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. dan keandalan bangunan gedung. 10. 9. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. papan informasi sirkulasi. penghijauan.

dan (2) SNI 03-1727-1989 Tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa. serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan gedung. strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat. pengaruh korosi.4. kokoh. • Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. 4. atau edisi terbaru. • Penentuan mengenai jenis. keawetan. termasuk beban tetap. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety). apabila terjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan gedung menyelamatkan diri.1 STRUKTUR BANGUNAN • Setiap bangunan gedung PIP2B. semua unsur struktur bangunan gedung.2. baik bagian dari sub struktur maupun struktur gedung. angin. beban sementara (angin. • Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan. lokasi. intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti: (1) SNI 03-1726-2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk rumah dan gedung.2 PEMBEBANAN PADA BANGUNAN GEDUNG • Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayanan struktur. jamur. sesuai harus dengan mempertimbangkan persyaratan keselamatan pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.2. • Perencanaan dan pelaksanaan perawatan struktur bangunan gedung seperti halnya penambahan struktur dan/atau penggantian struktur struktur. • Dalam perencanaan struktur bangunan gedung terhadap pengaruh gempa. atau edisi terbaru. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 52 . dan serangga perusak. gempa) dan beban khusus.

atau yang belum mempunyai SNI.2. pencetakan. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan bahan secara lengkap tercantum dalam SNI 03-3449-2002 meliputi proses pengujian. agregat. 4. pemilihan bahan (semen. kualitas. atau edisi terbaru. sampai pada tahap penyimpanan. baja tulangan. pengecoran. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus mengikuti: (1) SNI 03-1734-1989 Tata cara perencanaan beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung. (4) SNI 03-3976-1995 atau edisi terbaru. Berikut ini adalah persyaratan yang harus diperhatikan dalam pemilihan penggunaan air pada campuran beton menurut SNI 03-3449-2002 : DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 53 . (5) SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. atau edisi terbaru. pencampuran. sampai pada tahap pelindungan dan pelaksanaan. (2) SNI 03-2847-1992 Tata cara penghitungan struktur beton untuk bangunan gedung.3 STRUKTUR ATAS BANGUNAN GEDUNG a. Tata cara pengadukan pengecoran beton. Tata cara pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung mencakup hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan yang meliputi struktur. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Pemilihan dan Penggunaan Bahan • Air Air berfungsi sebagai pencampur bahan-bahan beton. dan (6) SNI 03-3449-2002 Tata cara rencana pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan.Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. atau edisi terbaru. bahan. keawetan. Air yang telah bercampur dengan semen akan mengalami persenyawaan yang berfungsi sebagai perekat antar senyawa. atau edisi terbaru. Adapun prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam membangun gedung PIP2B dengan ketinggian maksimal 2 lantai adalah sebagai berikut : 1. (3) SNI 03-3430-1994 Tata cara perencanaan dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk bangunan rumah dan gedung. dan bahan tambahan). atau edisi terbaru. air.

yang prinsipnya nilai kuat-leleh dan berat per meter panjang bahan tulangan yang dimaksud. terkecuali pada air pencampur. serpihan. dan lapisan-lapisan yang dapat mengurangi daya lekat. dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5% diameter nominalnya. bahan organik. o Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur)harus digunakan baja tulangan doform (BJTD). 3) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton.1) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli. Perbandingan uji kekuatan tersebut harus dilakukan pada adukan serupa. Kualitas dan diameter nominal baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 54 . alkali. retakan. atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan. dan untuk tulangan dengan Ø > 16mm memakai BJTD (deform) bentuk ulir. garam. 2) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium. termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat. karat. sisik. asam. kecuali ketentuan berikut terpenuhi: (1) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama. tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70% diameter nominalnya. • Baja Persyaratan baja tulangan yang akan digunakan adalah sebagai berikut: Baja tulangan harus bebas dari lipatan. (2) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji morta yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum. o o Tulangan dengan Ø ≤ 12mm dipakai BJTP 24 (polos). yang dibuat dan diuji sesuai dengan “Metode uji kuat tekan untuk mortar semen hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)” (ASTM C 109 ).

tulangan yang akan dipasang disesuaikan dengan jenis tulangan berdasarkan RKS dan gambar kerja yang ada. • • Penempatan kait begel selang-seling. Tulangan pokok jumlah. diikat bendrat dengan kuat.9029 √B. dan diameternya sesuai dengan gambar. 10 cm pada bagian tumpuan sepanjang ¼L. tidak boleh satu sisi/segaris. sambunganya tidak boleh satu tempat (disalang-seling).47 √G d = diameter nominal (mm) B = berat baja tulangan (N/mm) G = beraT baja tulangan (Kg/mm) o Toleransi berat batang contoh yang diijinkan di dalam pasal ini sebagai berikut : Diemeter tulangan baja tulangan Ø < 10 mm 10 mm < Ø < 16 mm 16 mm < Ø < 28 mm Ø > 28 mm Toleransi berat yang diijinkan ±7% ±6% ±5% ±4% Tabel 4.5 cm. atau d = 12.3 Toleransi berat yang diijinkan 2. Setiap pemasangan besi kolom harus diakhiri dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 55 . Pemasangan begel harus siku dengan tulangan pokok. posisi. Tulangan pokok satu dengan lainnya harus berjarak minimal sama dengan diameternya. dimulai dari penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan finishing. baik itu jenis dimensi dan jumlah tulangannya. Pada tahap penyetelan tulangan. Hal yang diperhatikan dalam proses penulangan kolom antara lain : • Pembuatan begel diperhitungkan selimut beton (beton decking) 2. dan sisanya jarak begel 15 cm. Jarak tulangan begel yang diikat dengan tulangan kolom.o Diameter nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut yang ditentukan dengan rumus : d = 4. Pada ujung tulangan harus diberi kait 90˚. Kedudukan tulangan harus vertikal. Pekerjaan Kolom Proses pekerjaan kolom melalui beberapa tahap.

Tulangan harus terselimuti beton secara simetris dengan tebal 3 cm. diameter.13 Detail Kolom 3. memperhitungkan selimut beton decking 2. jumlah. Gambar 4. Setiap pemasangan tulangan segera diberi tahu beton. Sambungan tidak boleh satu tempat. Jarak tulangan pokok baris kesatu denga kedua dibuat sebesar diameternya. Pemasangan begel siku-siku terhadap tulangan pokok/vertikal diikat dengan bendrat pada tulangan pokok. Jarak tulangan begel yang dekat tumpuan 10 cm sejauh ¼ L. harus diberi jarak minimum=diameter tulangannya. Pekerjaan Balok Pekerjaan balok dilakukan apabila pekerjaan penulangan kolom sudah selesai dilakukan. • Tulangan pokok. kedudukannya harus lurus horisontal.5 cm.pemasangan beton tahu sebelum di bekisting. Pada ujungnya harus diberi kait 45˚-90˚. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan penulangan balok adalah sebagai berikut : • Pada pembuatan begel. dan posisi sesuai dengan gambar. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 56 . yang ditengah berjarak 15 cm. Antar tulangan tidak boleh bersinggunagn. yaitu dimulai dari tahap penyetelan tulangan sampai pada tahap pengecoran dan perawatan. Penempatan kawat begel selang-seling tidak boleh satu sisi.

Pembuatan lantai kerja Bahan pembuatan lantai kerja berupa semen.Gambar 4. Hal-hal yang perlu 57 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . dan kerikil dengan perbandingan 1 : 3 : 5. berfungsi untuk mengatur ketebalan pengecoran. pasir. Pekerjaan Pelat Lantai Pekerjaan pelat lantai melalui beberapa tahapan yaitu : • • • • • • • • • • Pengurugan pasir Urugan berupa berupa pasir dan batu dengan ketebalan 10 cm. Beton decking tebuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 3. Sebelum dipasang BRC terlebih dahulu dibersihkan dari karat. Pada pemasangannya BRC bertumpu pada beton decking setebal 7 cm. yaitu secara manual dan dengan menggunakan BRC M 8 berukuran 510 cm x 210 m. Pembuatan lantai kerja dilakukan selama 3 hari. Coating Pekerjaan waterproofing Pemasangan kawat mesh Screed Pemasangan bekisting Penulangan Penulangan lantai ada 2 cara. karena 10/4=25<4 berdasarkan persyaratan ly/lx<lx. Penulangan pada pelat lantai dilakukan dengan dua arah.14 Detil Penulangan Balok 4. Antara BRC satu dengan lainnya diikat dengan bindraat dan saling overlap 1 kotak.

Sebelum pengecoran semua sparing pipa listrik (lampu.15 Detil Penulangan Pelat Lantai b.5 cm (jarak tulangan atas dan bawah 9 cm).5 cm dipasang 5 buah tiap m². jarak antar tulangan 20 cm as ke as. Selimut beton decking 1. stek penggantung plafon. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. tidak ada standar baku ukuran yang dapat menjadi sebuah patokan untuk bangunan gedung PIP2B ini. (2) Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. dan (4) Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Jarak sisi luar atas tulangan tumpuan dengan telasaran papan triplek sebesar 10. (3) Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. Konstruksi Baja Prinsip dasar penggunaan konstruksi baja membutuhkan perhitungan yang spesifik dan akurat tergantung bentang dan luasan bangunan.diperhatikan dalam pekerjaan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : • • • • • • Diameter tulangan polos 10 mm. Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti: (1) SNI 03-1729-2002 Tata cara perencanaan bangunan baja untuk gedung. atau yang belum mempunyai SNI. Tulangan pelat tidak boleh diikat dengan tulangan balok. • • • Pemasangan shear connector Pengecoran Perawatan Gambar 4. stop kontak. Pada daerah tumpuan diberi kursi/kuda-kuda setiap jarak 50 cm. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 58 . akses untuk LCD). atau edisi terbaru. AC. air kotor. Oleh karena itu. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. air bersih. Setiap persilangan tulangan pokok diikat dengan tulangan balok dengan kawat bendrat. harus sudah terpasang semua.

18 Detail sambungan baja DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 59 .Berikut ini adalah gambar contoh simulasi sederhana potongan portal dan detail sambungan baja untuk bangunan dengan ketinggian maksimal 2 lantai : Gambar 4.17 Potongan Portal konstruksi baja Gambar 4.

berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus mengikuti: (1) SNI 03-2407-1994 Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung. (2) Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. (3) Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. (4) Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. atau edisi terbaru.c. sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. • Pondasi Dalam (1) Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah.4 STRUKTUR BAWAH BANGUNAN GEDUNG • Pondasi Langsung (1) Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas.2. atau yang belum mempunyai SNI. 4. (3) Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 60 . (2) Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. dan (3) Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu.

(7) Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. (9) Apabila perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak. (3) Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala seDRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 61 . harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim.5 KEANDALAN SRTRUKTUR BANGUNAN GEDUNG • Keselamatan Struktur (1) Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. (2) Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung. (8) Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal. (4) Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. atau yang belum mempunyai SNI. (5) Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.percobaan pembebanan. 4. (6) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung harus memperhatikan gangguan yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan pada masa pelaksanaan konstruksi. harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi terkait.2. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur.

3 PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN Persyaratan utilitas bangunan PIP2B meliputi persyaratan sistem penghawaan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. 4. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.3. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. Hall. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. kemampuan bangunan terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 62 . pencahayaan. atau yang belum mempunyai SNI. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. dan Toilet. komunikasi dalam bangunan. (2) Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. Tangga. (3) Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. dan/ atau jarak lantai ke ceiling yang cukup tinggi digunakan terutama pada ruangan Pameran Indoor. 4. dan sanitasi.suai klasifikasi bangunan.1 PERSYARATAN SISTEM PENGHAWAAN • Setiap bangunan PIP2B harus dapat menjadi contoh yang memperlihatkan kinerja ventilasi alami beserta ventilasi mekanik/buatan yang menyesuaikan dengan iklim setempat • • Bangunan harus memiliki bukaan permanen dan/ atau kisi-kisi yang dapat dibuka dan ditutup untuk kepentingan ventilasi alami yang dapat dikendalikan. • Persyaratan Bahan (1) Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. Sistem cross ventilasi yang memadai.

R. PAMERAN INDOOR

TOILET

R. PAMERAN INDOOR

Gambar 4- 19 Simulasi Penggunaan Void yang meningkatkan cross ventilasi pada ruang public

Penggunaan sistem penghawaan alami merupakan salah satu upaya konservasi energi dengan mengurangi beban energi yang digunakan untuk menyalakan ventilasi buatan (AC) pada kondisi sehari-hari apabila memungkinkan. Ruang pameran indoor, ruang kerja dan ruang rapat, harus dapat digunakan dengan penghawaan alami maupun buatan.

Bangunan PIP2B harus dapat memberikan contoh perancangan sistem penghawaan yang sehat pada ruang-ruang toilet, terutama toilet publik.

TOILET LT. DASAR

TOILET LT. ATAS

Gambar 4- 20 Simulasi Sistem Penghawaan yang sehat pada ruang-ruang Toilet
DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

63

• •

Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan, maka diperlukan ventilasi mekanis yang memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran. Ruang-ruang yang harus menggunakaan pengkondisian udara buatan adalah perpustakaan, e-library, ruang server & IT, dan audio visual.

Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, harus mengikuti: a) SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara pada bangunan gedung; b) SNI 03-6572-2001 Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung, atau edisi terbaru; c) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi; d) Standar tentang tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem ventilasi mekanis. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.
Tabel 4- 4 Kebutuhan Laju Udara Ventilasi berdasarkan SNI 03-6572-2001

Fungsi Ruang Kerja Ruang Pertemuan WC Umum

Kerapatan Penghunian per 100m2 Luas Lantai 7 orang 60 orang 100 orang

Kebutuhan Udara Luar Merokok Tidak Merokok                    0.30                     0.15                    1.05                     0.21                    2.25                     3.25

Satuan m3/min orang m3/min orang m3/min orang

4.3.2

PERSYARATAN SISTEM PENCAHAYAAN
Setiap bangunan gedung untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan harus mempunyai pencahayaan alami dan pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. • Bangunan PIP2B sebagai bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan yang memadai untuk pencahayaan alami.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

64

• Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan PIP2B dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan gedung.
Bukaan bagi pencahayaan ruang pameran indoor alami

Bukaan bagi pencahayaan ruang-ruang kerja

alami

Gambar 4- 21 Simulasi Sistem Pencahayaan Alami Bangunan PIP2B

• Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang-dalam bangunan gedung dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
Tabel 4- 5 Tingkat Pencahayaan Minimum yang direkomendasikan
Fungsi  Ruangan Tingkat Pencahayaan Kelompok Renderasi Keterangan (lux) Warna Ruang Direktur 350 1 atau 2 Ruang Kerja 350 1 atau 2 Menggunakan armatur berkisi Ruang Komputer 350 1 atau 2 untuk mencegah silau akibat  pantulan komputer Ruang Rapat 300 1 atau 2 Gudang Arsip 150 3 atau 4 Ruang Arsip Aktif 300 1 atau 2 Ruang Audio visual 100 1 Sistem pengendalian pencahayaan Perpustakaan 300 1 atau 2
sumber: SNI  03‐6575‐2001 tentang  Ta ta  Cara  Perancanga n  Si stem  Pencaha yaan  Buatan  pada  Bangunan  Gedung

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

65

Persyaratan pencahayaan harus mengikuti: 1) SNI 03-6197-2000 Konservasi energi sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung.3 PERSYARATAN KOMUNIKASI DALAM BANGUNAN GEDUNG Persyaratan komunikasi dalam bangunan gedung dimaksudkan sebagai penyediaan sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk hubungan ke luar.3. 3) SNI 03-6575-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.• Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan gedung dengan fungsi tertentu.0                                  15. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Tabel 4. atau edisi terbaru.0 sumber: SNI 03‐6759‐2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Rumah dan Gedung 4.0                                  15. atau yang belum mempunyai SNI. • Pencahayaan alami dan buatan diterapkan pada ruangan baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan gedung. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat. 2) SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung. serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. atau edisi terbaru. dan/atau otomatis. pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 66 . serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang.0                                    1.0                                  25. harus dilengkapi dengan pengendali manual.0                                    5. atau edisi terbaru.0                                    1. • Semua sistem pencahayaan buatan.6 Daya Pencahayaan Maksimum Jenis Bangunan/ Ruangan Kantor Ruang Kelas Auditorium Gudang Pintu Masuk dengan Kanopi Gedung Kantor Taman Jalan untuk Kendaraan dan Pejalan Kaki Tempat Parkir Data Pencahayaan Maksimum Watt/m2                                  15.5                                    2.

sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku.80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan air masuk ke bangunan gedung pada saat hujan dll. dll. tidak ada genangan air. (iii) Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. (iii) Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. tidak membahayakan. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui • ambang batas yang ditentukan. Instalasi Telepon (1) Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. dan lain-lain. Termasuk antara lain: sistem telepon. mengganggu dan merugikan lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya. • Perencanaan Komunikasi dalam Gedung (1) Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komunikasi gedung dan lain-lainnya.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. minimal berjarak 0. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 67 . terang. dioperasikan. (ii) Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1.50 m x 0. (ii) Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. (3) Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). serta direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar. dipelihara. kedap debu. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. (2) Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. sistem tata suara. penempatannya harus mudah diamati. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. aman dan mudah dikerjakan. Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku.lainnya. (2) Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. (3) Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: (i) Ruang yang bersih. sistem voice evacuation.

iii. jaringan distribusi listrik. ii. dan DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 68 . keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya.3. termasuk di dalamnya manusia serta perlengkapan bangunan lainnya. ii. Perencanaan sistem proteksi petir. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Persyaratan sistem proteksi petir harus memenuhi SNI 03-7015-2004 Sistem proteksi petir pada bangunan gedung. sirkulasi udara cukup dan udara buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik. dan pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir terhadap bangunan gedung secara efektif untuk proteksi terhadap petir serta inspeksi. Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan: i. keamanan gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat listrik. dan iii. Sumber daya listrik. atau yang belum mempunyai SNI. Pemeriksaan dan pengujian. Persyaratan Instalasi Proteksi Petir Persyaratan proteksi petir ini memberikan petunjuk untuk perancangan. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. serta tidak boleh kena sinar matahari langsung. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. b. v. Persyaratan Sistem Kelistrikan Persyaratan sistem kelistrikan meliputi sumber daya listrik. panel hubung bagi. instalasi. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.(4) Ruang batere sistem telepon harus bersih. Transformator distribusi. dan perlindungan lingkungan. Perencanaan instalasi listrik. perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan bangunan gedung yang terjamin terhadap aspek keselamatan manusia dari bahaya listrik. dalam upaya untuk mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap bangunan gedung yang diproteksi.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PETIR dan BAHAYA KELISTRIKAN a. Persyaratan proteksi petir harus memperhatikan sebagai berikut: i. 4. Beban listrik. iv. Jaringan distribusi listrik. Instalasi Proteksi Petir. terang. vi.

Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan sedemikian rupa agar menjamin kualitas air. atau yang belum mempunyai SNI. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. dan penampungannya. Plambing. atau edisi terbaru. sistem distribusi. (4) SNI 04-7019-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan. (3) SNI 04-7018-2004 Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga. Persyaratan plambing dalam bangunan gedung harus mengikuti: 1) Kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan Permenkes 907/2002.3. atau yang belum mempunyai SNI. Persyaratan Plambing Dalam Bangunan Gedung • Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air minum.5 PERSYARATAN SANITASI a. kualitas air bersih. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 3) Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. (2) SNI 04-0225-2000 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2000). b. Pemeliharaan Persyaratan sistem kelistrikan harus mengikuti: (1) SNI 04-0227-1994 Tegangan standar. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 2) SNI 03-6481-2000 Sistem Plambing 2000.vii. atau edisi terbaru. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi bangunan gedung. 4. Sistem Pengolahan dan Pembuangan Air Limbah/Kotor DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) sedangkan instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman 69 . Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. atau edisi terbaru. • • • Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.

permeabilitas tanah. 2) SNI 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. Persyaratan teknis air limbah harus mengikuti: 1) SNI 03-6481-2000 Sistem plambing 2000. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 70 . Pertimbangan jenis air limbah dan/atau air kotor diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan. • • • Simulasi pemisahan sistem air bersih. 3) SNI 03-6379-2000 Spesifikasi dan pemasangan perangkap bau. atau edisi terbaru. 4) Tata cara perencanaan.• • Sistem pembuangan air limbah dan/atau air kotor harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. • Air limbah domestik sebelum dibuang ke saluran terbuka harus diproses sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. atau edisi terbaru. pemasangan. atau edisi terbaru. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan pemeliharaan sistem pembuangan air limbah dan air kotor pada bangunan gedung mengikuti standar baku serta ketentuan teknis yang berlaku. atau yang belum mempunyai SNI.22 Simulasi Sistem Sanitasi Bangunan PIP2B c. Persyaratan Penyaluran Air Hujan • Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah. air kotor dan air limbah Shaft bagi sistem plumbing disediakan untuk memudahkan maintenance bagi sistem sanitasi bangunan Posisi toilet di lantai dasar berhubungan dengan posisi di lantai atas untuk mencapai sistem sanitasi yang efisien Gambar 4. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.

masyarakat dan lingkungannya. dan pemeliharaan sistem penyaluran air hujan pada bangunan gedung. 3) SNI 03-2459-2002 Spesifikasi sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. d. atau edisi terbaru. atau edisi terbaru. Persyaratan penyaluran air hujan harus mengikuti: 1) SNI 03-4681-2000 Sistem plambing 2000.• • Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan. atau yang belum mempunyai SNI. • Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. • • Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. dan/atau Pengolahan Sampah) • • Sistem pembuangan sampah padat direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya. atau edisi terbaru. Penampungan Sampah. pemasangan. Tempat Sampah. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 71 . jumlah penghuni. dan volume kotoran dan sampah. • Pertimbangan jenis sampah padat diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni. air hujan harus diresapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kecuali untuk daerah tertentu. 4) Standar tentang tata cara perencanaan. Persyaratan Fasilitasi Sanitasi Dalam Bangunan Gedung (Saluran Pembuangan Air Kotor. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 2) SNI 03-2453-2002 Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan.

melalui pemakaian horizontal dan/atau vertical blind. kertas. wadah plastik dan sebagainya.6 PERSYARATAN KENYAMANAN a. atau yang belum mempunyai SNI. • Kenyamanan pandangan (visual) dari dalam bangunan ke luar harus mempertimbangkan: 1) gubahan massa bangunan. • Kenyamanan pandangan (visual) dari luar ke dalam bangunan harus mempertimbangkan: 1) rancangan bukaan. dan rancangan bentuk luar bangunan. Gambar 4. kardus. rancangan bukaan. memanfaatkan kembali beberapa jenis sampah seperti botol bekas.• Potensi reduksi sampah padat dapat dilakukan dengan mendaur ulang. dan 3) pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar. dan rancangan bentuk luar bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.23 Tempat sampah daur ulang • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. Persyaratan Kenyamanan Pandangan • Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan (visual) harus mempertimbangkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunan ke luar dan dari luar bangunan ke ruang-ruang tertentu dalam bangunan gedung. 2) keberadaan bangunan gedung yang ada dan/atau yang akan ada di sekitarnya. 4. tata ruang-dalam dan luar bangunan. dan penggunaan elemen sunscreen.3. kertas koran. tata ruang-dalam dan luar bangunan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 72 . 2) pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan RTH. kaleng. Dengan demikian harus disediakan tempat sampah untuk mendaur ulang. aluminium.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan dan getaran pada bangunan gedung harus mengikuti persyaratan teknis. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. yaitu Standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap getaran pada bangunan gedung. getaran mekanik atau seismik baik yang berasal dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan. kesehatan. Getaran dapat berupa getaran kejut. dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan. b. atau yang belum mempunyai SNI. Persyaratan Kenyamanan terhadap Tingkat Getaran dan Kebisingan • Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan kegiatannya. atau yang belum mempunyai SNI. Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran.Simulasi rancangan penggunaan sistem void memberikan kenyamanan pandang dari ruang kerja di lt atas ke arah ruang pameran indoor di lt dasar Simulasi rancangan penggunaan horizontal atau vertical blind untuk ruang kerja dapat mengurangi silau dan panas matahari tanpa mengurangi kenyamanan pandang ke arah luar bangunan • Untuk kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung harus dipenuhi persyaratan teknis. yaitu Standar kenyamanan pandangan (visual) pada bangunan gedung. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 73 . • • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.

dan (2) SNI 03-1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. klasifikasi. • Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. ketinggian.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF • • Setiap PIP2B harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan proteksi aktif. geometri ruang.• Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan gedung. tipe konstruksi yang diwajibkan.4 PERSYARATAN KEMAMPUAN BAHAYA KEBAKARAN BANGUNAN PIP2B TERHADAP 4. luas. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. • Pada sistem proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan kinerja. 4. volume bangunan. atau yang belum mempunyai SNI. bahan bangunan terpasang. kompartemenisasi dan pemisahan. ketahanan api dan stabilitas. 4. atau yang belum mempunyai SNI. • Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi. • Pada sistem proteksi aktif yang perlu diperhatikan meliputi: 74 DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) . tipe konstruksi tahan api. dan perlindungan pada bukaan. Sistem proteksi pasif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.4. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.4.1 SISTEM PROTEKSI PASIF • Setiap bangunan PIP2B harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran yang memproteksi komponen arsitektur dan struktur bangunan gedung sehingga dapat melindungi penghuni gedung dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran.

4.3 PERSYARATAN JALAN KELUAR dan AKSESIBILITAS untuk PEMADAM KEBAKARAN Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran meliputi perencanaan akses bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. dan ruangan bervolume besar.Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. dan (2) SNI 03-1736-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada gedung. .Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Sistem proteksi aktif tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1745-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.4. dan (5) SNI 03-0712-2004 Sistem manajemen asap dalam mal.4 PERSYARATAN SARANA EVAKUASI Bangunan PIP2B harus menyediakan sarana evakuasi bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 75 . 4. (2) SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan. (4) SNI 03-6571-2001 Sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung. atau yang belum mempunyai SNI. .. atau yang belum mempunyai SNI. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung. dan perencanaan dan pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran. Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung.Sistem Pemadam Kebakaran. atrium. Persyaratan jalan keluar dan aksesibilitas untuk pemadaman kebakaran tersebut harus mengikuti: (1) SNI 03-1735-2000 Tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis. 4.

dan jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan gedung untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat. Gambar 4.25 Simulasi Rancangan sarana evakuasi di lantai dasar dengan 3 buah pintu yang berhubungan langsung dengan alaram terbuka DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 76 . pintu keluar darurat.pengguna.24 Simulasi Rancangan dengan jalur evakuasi dari ruang-ruang di lantai atas Gambar 4.

toilet.4.26 Simulasi Rancangan yang menjamin kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia untuk beraktifitas di dalam gedung PIP2B dengan mudah aman. Gambar 4. ke.5 PERSYARATAN FASILITAS DAN AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT Bangunan PIP2B harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lansia masuk dan keluar. dengan jarak maksimum 60 meter. Area perkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol tanda parkir penyandang cacat yang berlaku.1 TEMPAT PARKIR • • • Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/ fasilitas yang dituju. serta rambu dan marka bagi penyandang cacat dan lansia. pintu. nyaman dan mandiri 4. nyaman dan mandiri. aman.5. ram. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 77 . dan dari bangunan gedung serta beraktivitas dalam bangunan gedung secara mudah. Fasilitas dan aksesibilitas meliputi tempat parkir. jalur pemandu. Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat dan lansia harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

• • • Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm. jalur pedestrian. • RUTE AKSESIBILITAS DARI • JARAK KE AREA PARKIR PARKIR TIPIKAL RUANG PARKIR • Ruang Parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ram dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya. Kemiringan maksimal dengan perbandingan tinggi dan panjang adalah 1:11 dengan permukaan rata/datar di semua bagian.• Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ram trotoir di kedua sisi kendaraan. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 78 . Daerah menaik-turunkan penumpang dilengkapi dengan fasilitas ram. dan rambu penyandang cacat.

c. Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan. maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga.5. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks): • • • • • Di depan jalur lalu-lintas kendaraan. e.4. b. d. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting. sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin peringatan. Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang. Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan.2 JALUR PEMANDU a. PRINSIP PERENCANAAN JALUR PEMANDU TIPE TEKSTUR UBIN PEMANDU (GUIDING BLOCKS) DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 79 . Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan ubin lainnya. Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai. f. Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya. Jalur pemandu adalah jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan.

Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan: • Pintu geser • Pintu yang berat. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda dan tongkat tunanetra. e. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 80 . Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm. • Pintu yang terbuka kekedua arah ( "dorong" dan "tarik"). f. dan pintupintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.3 PINTU a. Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam waktu lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran. b. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu. d.SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA PINTU MASUK SUSUNAN BELOKAN UBIN PEMANDU PADA 4. g. Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai. c. karena pintu yang terbuka sebagian dapat membahayakan penyandang cacat. • Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil. dan sulit untuk dibuka/ditutup.5. • Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 81 .

4 RAM a.4. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b. dan 120 cm dengan tepi pengaman. c. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu. Apabila DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 82 . perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6°. g. sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut. atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri.5. d. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman. f. e. dirancang untok menghalangi roda kursi roda agal tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7°. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7°) tidak boleh lebih dari 900 cm. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm.

berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. Pencahayaan disediakan pada bagianbagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian. Ramp harus diterangi dengan pencahayean yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp saat malam hari. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. h. i. TIPIKAL RAM DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 83 . Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65-80 cm.bagian yang membahayakan.

5.KEMIRINGAN RAM HANDRAIL BENTUK RAM YANG DIREKOMENDASIKAN 4. sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga b. Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu.5 TOILET a. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu "penyandang cacat" pada bagian luarnya. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 84 .

l. dianjurkan untuk menyediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu-waktu terjadi listrik padam. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda. d. n. i. Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. m. Letak kertas tissu. Pintu harus mudah dibuka untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga tinggi permukaannya dan lebar depannya dapat dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik. f. Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat. kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda. h. Pemasangan ketinggian cermin diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 85 . seperti pada daerah pintu masuk. o. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel. k. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai. air. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda. (45-50 cm) e. j.c. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. g. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain.

ANALISA RUANG GERAK PADA RUANG TOILET

TINGGI TOILET

UKURAN SIRKULASI MASUK

RUANG GERAK PADA TOILET

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

86

PERLETAKAN URINER

TIPIKAL PEMASANGAN WASTAFEL

PERLETAKAN KRAN WASTAFEL

RUANG GERAK AREA WASTAFEL

RUANG BEBAS AREA WASTAFEL

4.5.6 PERABOT
a. Perletakan barang-barang perabot bangunan dan furniture harus menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat. b. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan umum harus dapat digunakan oleh penyandang cacat, termasuk dalam keadaan darurat. c. Ruang-ruang di dalam bangunan PIP2B yang digunakan oleh masyarakat banyak, yaitu ruang perpustakaan, e- library, dan audio visual maka jumlah meja dan tempat duduk aksesibel yang harus disediakan minimum adalah 1 set untuk masing-masing ruangan.

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

87

UKURAN PERABOT RUANG DUDUK

UKURAN TINGGI MEJA

4.5.7 RAMBU DAN MARKA
a. Rambu dan Marka adalah fasilitas dan elemen bangunan yang digunakan untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk bagi penyandang cacat. b. Penggunaan rambu terutama dibutahkan pada: • • • • Arah dan tujuan jalur pedestrian KM/WC umum, telpon umum Parkir khusus penyandang cacat Nama fasilitas dan tempat.
88

DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B)

d. termasuk penambahan lampu pada kondisi gelap. • Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan artinya. • Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya. dll). Karakter dan simbul harus kontras dengan latar belakangnya. warna kontras. • Cukup mendapat pencahayaan. serta ketebalan huruf antara 1: 5 danl:10. • Rambu yang menerapkan metode khusus (misal.c. Lokasi penempatan rambu: • Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang. atau sebaliknya. • Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional. • Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3: 5 dan 1:1. apakah karakter terang di atas Kelap. SIMBOL AKSESIBILITAS. TUNA DAKSA. • Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca . TUNA NETRA DAN TUNA RUNGU SIMBOL RAM SIMBOL PENUNJUK ARAH RUANGAN DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 89 . Persyaratan Rambu yang digunakan: • Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan penyandang cacat lain. • Karakter dan latar belakang rarnbu harus dibuat dari bahan yang tidak silau. pembedaan perkerasan tanah.

prasarana dan 5.2 TAHAP MOBILISASI SUMBER DAYA MANUSIA Pada tahap ini dilakukan perekrutan staf untuk menjadi pengelola harian PIP2B. sehingga PIP2B diharapkan memiliki staf yang bisa diandalkan untuk melaksanakan program-program maupun kegiatan. Kepala Unit PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 90 .bab 5 PENYELENGGARAAN PIP2B 5.1 TAHAP PERSIAPAN Tahap Persiapan merupakan tahap pertama yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan sebuah Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B) di daerah. yang mengacu pada Tata Cara Pembangunan Bangunan Gedung Negara. berupa Bangunan Gedung PIP2B beserta isinya. Tahap Perencanaan Bangunan PIP2B yang mengacu kepada Pedoman Umum Perencanaan PIP2B. b. Struktur organisasi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut: a. Dengan kelembagaan standar yang telah ditentukan bahwa PIP2B dipimpin oleh seorang pejabat setingkat eselon III . Tujuan dari tahap persiapan adalah terbentuknya kesekretariatan atau lembaga PIP2B yang lengkap dengan sarananya. maka jumlah personil yang akan terlibat didalam organisasi PIP2B adalah 23 orang. serta ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan Bangunan Gedung dan Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Tahapan Pembangunan Bangunan PIP2B. a.

iii. b. Kepala Unit PIP2B mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam kegiatan perencanaan program dan anggaran. Kepala Bagian Tata Usaha dipinpin oleh seorang Kepala Bagian dan dapat dibantu beberapa staf pelaksana untuk urusan Tata Usaha. Kepala Bidang Data. 2. ii. Bidang Data. c. Dalam menjalankan tugasnya. Kepala Unit PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Dinas lingkup Perumahan dan Permukiman/ Bangunan Gedung Propinsi. Kehumasan. Bidang-bidang dalam Unit PIP2B 1. serta kegiatan terkait lainnya. merupakan pelaksana teknis dan penanggung jawab kegiatan operasional PIP2B yang akan mengelola dan menjalankan semua kegiatan PIP2B baik ke dalam maupun ke luar lembaga 2. Perpustakaan dan E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan data dan informasi. 3.1. dan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. Urusan Tata Usaha PIP2b merupakan pelaksana teknis pendukung kegiatan administrasi dan tata laksana kantor dan sekaligus berfungsi sebagai humas PIP2B. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bagian Tata Usaha PIP2B bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. 3. Sub Bidang Data merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan input data dan informasi. Bidang Data. Kesekretariatan/ Tata Usaha PIP2B 1. Perpustakaan dan E-Library i. PIP2B dipimpin oleh seorang Kepala Unit setingkat eselon III. penyiapan sumber daya dan pengendalian pelaksanaan administrasi dan keuangan pengelolaan PIP2B. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 91 . Perpustakaan dan E-library dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. dan Penyusunan Program dan Keuangan.

Kepala Bidang Layanan Informasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang. iv. vii.iv. Bidang Layanan Informasi i. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat data dan informasi perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung yang mudah dan cepat serta yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Layanan Informasi Audiovisual dan Internet ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Perpustakaan dan E-library ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. 2. Sub Bidang Layanan Informasi Audiovisual merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi audiovisual. iii. Sub Bidang Perpustakaan merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan dokumentasi buku-buku perpustakaan. serta kegiatan terkait lainnya. termasuk layanan informasi audio visual dan layanan informasi internet. ii. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 92 . v. vi. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi. Sub Bidang Layanan Informasi Internet merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan layanan informasi internet. Bidang Layanan Informasi merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. vi. v. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Data. Sub Bidang E-library merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pengelolaan sistem jaringan informasi elektronik. termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan database informasi internet. mudah dan cepat diakses serta dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

pelatihan. v. Sub Bidang Pameran Outdoor merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan materi pameran termasuk kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam rangka pemutakhiran dan pengayaan informasi berkaitan dengan permukiman dan bangunan gedung. vi. 5. iii. Bidang Pameran i. pengembangan ketrampilan teknis. sehingga pelayanan informasi dapat berkembang luas dan mampu menjadi lembaga yang responsif terhadap perkembangan masalah dan tantangan yang ada di bidang perumahan dan permukiman termasuk arsitektur dan bangunan gedung. berkaitan dengan pengelolaan penyuluhan. pameran seminar dan lokakarya. Pengelola PIP2B harus segera melengkapi pengetahuan dalam database baik elektronik maupun perpustakaan. serta kegiatan terkait lainnya. seminar dan lokakarya. Melalui bidang-bidang ini akan dikembangkan tahapan operasional PIP2B sebagai pusat pelayanan informasi dan pelatihan yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Kepala Bidang Pameran dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu beberapa staf pelaksana Sub Bidang.3. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bidang Pameran ini bertanggung jawab kepada Kepala Unit PIP2B. Bidang Pameran merupakan pelaksana teknis tugas yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat akan kebutuhan data dan informasi. termasuk penyelenggaraan pelatihan. Sub Bidang Pameran Indoor merupakan pelaksana teknis tugas yang iv. ii. DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 93 . sehingga PIP2B dapat secepatnya melakukan pelayanan pada masyarakat. penyuluhan.3 TAHAP OPERASIONAL Setelah prasarana dan sarana telah lengkap dan PIP2B mempunyai staf pengelola harian maka program kerja dapat dilaksanakan.

dan publikasi untuk menghasilkan pelayanan PIP2B yang prima. kegiatan updating data.Pihak pengelola PIP2B harus memberikan perhatian pada kegiatan rutin seperti pelayanan. diperlukan pula keterlibatan Dinas Teknis terkait khususnya untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Disamping kinerja dari pengelola PIP2B sendiri. Gambar 5.1 Struktur Organisasi Lembaga PIP2B DRAFT PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PUSAT INFORMASI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN BANGUNAN (PIP2B) 94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful