P. 1
tokoh hamka

tokoh hamka

4.0

|Views: 2,612|Likes:
Published by Lukman bin Ma'sa

More info:

Published by: Lukman bin Ma'sa on Jun 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

HAMKA DAN PEMIKIRAN TASAWUFNYA

Oleh: Imam Taufik Al Khotob Rahim Islam di bumi pertiwi ini telah melahirkan tokoh-tokoh yang disegani baik di tingkat nasional maupun internasional. Tokoh-tokoh tersebut telah menyebarkan amal jariyah berupa gagasan pemikiran, ide-ide, konsep-konsep, maupun penjelasan-penjelasan tentang soal-soal keislaman dan umum sebagai mutiara yang terus menjadi bahan pengkajian. Salah satu tokoh yang menonjol itu adalah Hamka. Dengan dilahirkannya konsep Tasawuf Modern, dunia Islam di Asia begitu terkesan dengan apa yang disampaikannya. Catatan-catatan beliau tentang hidup bertasawuf mampu mewarnai dunia pemikiran Islam yang sarat dengan kritik dan gagasan membangun. Kata kunci: filsafat, mujaddid, ma’rifat, tasawuf, modern, akidah Pendahuluan Hamka merupakan salah satu tokoh ulama Islam yang berhasil mempengaruhi pemikiran keislaman Indonesia melalui konsep dan ide yang dihasilkannya. Ini terlihat dari tulisan-tulisan yang pernah dituangkannya di dalam salah satu rubrik pada majalah Pedoman Masyarakat dengan judul “Bahagia”, yang kemudian dibukukan dengan judul Tasawuf Modern, mendapat tempat di hati pembacanya. Tulisan-tulisan tersebut mulai disusun pada tahun 1937 dan berakhir pada nomor ke-43 tahun 1938, baru kemudian dibukukan atas permintaan sahabat Hamka yang bernama Oei Ceng Hein, salah seorang mubaligh yang terkenal di Bintuhan.1 Sebagaimana yang tertera dalam pengantar cetakan pertama, Hamka memberikan keterangan tentang mengapa rubrik yang dipakai di dalam menuangkan tulisannya itu bernama Tasawuf Modern. Menurutnya, meskipun tulisan yang ia tuangkan juga merujuk pada buku-buku tasawuf (klasik), akan tetapi hal itu dimaksudkan untuk mengetengahkan ilmu tasawuf yang telah dipermodern. Di dalam catatan pendahuluan buku ini disebutkan bahwa meletakkan rubrik ‘Tasawuf Modern’ itu pun menjadi bukti bahwasanya ia juga mencintai hidup di dalam tasawuf, yaitu tasawuf yang diartikan dengan kehendak memperbaiki budi dan men-shifa’-kan (membersikan) bathin. Hal yang menurutnya sebagai ‘keterangan yang modern’ meskipun asalnya terdapat
1

Hamka, Tasawuf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1991, hal. vii.

13

dari buku-buku tasawuf juga. Jadi Tasawuf Modern yang dimaksud ialah keterangan ilmu tasawuf yang dipermodern.2 Buku Hamka ini berisikan tentang bagaimana seharusnya membangun kehidupan yang bahagia sebagaimana yang diinginkan oleh Islam. Di dalamnya banyak dikutip pikiran dan pendapat-pendapat dari banyak sumber, baik tokohtokoh filsafat Timur maupun tokoh-tokoh tasawuf Barat yang kemudian isinya di bandingkan kembali dengan barometer al Qur’an dan al Sunnah. Di antara buku-buku rujukan yang digunakan Hamka untuk mengetengahkan pemikirannya adalah Ihyâ’ Ulûmuddîn, Arba’în fî ushûluddîn, Bidâyah, alHidâyah, Minhâj al-Abidîn, Tahdzîb al-Akhlâq, Tafsir Muhammad Abduh, Raddu ‘ala Dahriyîn, Adâb al-Dunya wa al-Dîn, Riyâdh al-Shâlihîn, kumpulan majalah ‘Azhar’, beberapa risalah Ibnu Sina dan lain-lain.3 Semua buku-buku itu dijadikan oleh Hamka sebagai penguat argumentasi yang dibangunnya, dengan terkadang menambahkan beberapa poin analisa pribadinya. Sekilas Biografi Hamka Nama lengkap Hamka adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (16 Februarui 1908 - 24 Juli 1981 M). Ia dilahirkan di desa Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat.4 Dalam sejarah nasional, daerah Maninjau merupakan tempat di mana dilahirkan tokoh-tokoh politik, ekonomi, pendidikan dan pergerakan Islam seperti Mohammad Natsir, A.R Sutan Mansyur, Rasuna Said, dan lain-lain.5 Dilihat dari nasab keturunannya, Hamka adalah keturunan tokoh-tokoh ulama Minangkabau yang tidak semuanya memiliki faham keislaman yang sama, baik itu dalam masalah furû’ maupun ushûl. Kakek Hamka sendiri, Syaikh Muhammad Amrullah adalah penganut tarekat mu’tabarah Naqsabandiyah yang sangat disegani dan dihormati bahkan dipercaya memiliki kekeramatan dan disebut-sebut sebagai wali. Kerapkali masyarakat setempat mencari berkah melalui sisa makanan, sisa minuman atau sisa air wudhu dan sebagainya.6 Syaikh Muhammad Amrullah mengikuti jejak ayahnya Tuanku Syaikh Pariaman dan saudaranya Tuanku Syaikh Gubug Katur. Ia pernah berguru di Makkah dengan Sayyid Zaini, Syaikh Muhammad Hasbullah,
2 3

Ibid. Ibid.,hal. vi 4 Flori Berta Aning, 100 Tokoh yang Menggubah Indonesia, Yogyakarta: Penrebit Narasi, 2007, Cet. 3, hlm. 79 5 www.kabupaten-agam. go.id, 08 November 2003 . 6 Wawancara dengan Rusydi Hamka, Ketua YPPI Al Azhar, di Jakarta, 17 November 2005.

14

bahkan ikut belajar kepada mereka yang lebih muda seperti Syaikh Ahmad Khatib dan Syaikh Taher Jalaludin.7 Akan tetapi ayah Hamka, Syaikh Abdul Karim Amrullah (lahir 17 Shafar 1296 H/16 Februari 1879) yang biasa dipanggil dengan sebutan Haji Rasul, memiliki pemahaman yang berbeda dengan pendahulunya. Meskipun samasama belajar di Makkah, Haji Rasul terkenal sangat menolak praktek-praktek ibadah yang pernah dilakukan dan di da’wahkan ayah dan kakeknya. Ia terkenal sebagai tokoh pembaharu (al-tajdîd). Dalam kondisi dan situasi yang penuh dengan pertentangan antara kaum muda dan kaum tua itulah Hamka dilahirkan dan melihat sendiri sepak terjang yang dilakukan ayahnya. Situasi itu agaknya memiliki persamaan sabagaimana yang pernah terjadi di akhir tahun 1910 di kota Surabaya antara kaum muda dan kaum tua (Kaum tua dipimpin oleh Kiai Wahab Hasbullah dan kaum muda dikomandoi oleh Kiai Haji Mas Mansyur, Ahmad Syurkati, dan Fakih Hasjim).8 Pada kenyataannya, Hamka sendiri banyak mengikuti cara berfikir ayahnya dalam memahami pokok-pokok agama Islam, meskipun berbeda dalam sisi pendekatan. Haji Rasul keras, sementar Hamka lebih santun. Hamka mengawali masa pendidikan di dalam pengawasan langsung ayahnya. Ia mulai mempelajari al Qur’an dari orang tuanya hingga usia enam tahun, yang ketika itu berpindah rumah dari Maninjau ke Padang Panjang di tahun 1948. Setahun kemudian di usia Hamka yang ke tujuh tahun sang ayah memasukkannya ke sekolah desa.9 Di sekolah desa itu ia hanya menjalaninya selama tiga tahun. Akan tetapi di sisi lain ia juga mendapatkan pendidikan di sekolah sekitarnya (sekolah-sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek dekat Bukit Tinggi) kira-kira tiga tahun lamanya pula.10
7 8

Hamka, Ayahku, Jakarta: Uminnda, 2000, hal. 27-42. Bisri Affandi, Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943): Pembaharuan dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta: Al Kautsar, 1999, Cet. I, hal. 222-223. 9 M. Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al Azhar, Jakarta: Permadani, 2003, Cet. II, hal 40-41 yang mengutip buku Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hal. 54-55. 10 Tim Editor, “Hamka”, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997, Cet. IV, hal.75. Disebutkan pula bahwa Hamka pernah memasuki Diniyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan di Parabek dari tahun 1916 hingga 1923. Guru-gurunya waktu itu adalah Syeikh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainudin Labai. Hamka juga pernah berguru dengan A.R Sutan Mansur, R.M Surjo Pranoto dan Kibagus Hadikusumo dalam pendidikannya di surau dan di masjid. Kondisi Padang Panjang waktu itu ramai dikunjungi oleh para penuntut ilmu dari daerah-daerah. Lihat Salahudin Hamid, Seratus Tokoh Islam Indonesia, Jakarta: Intermedia, 2003, Cet. I, hal. 63.

15

Para sejarawan mengenal Hamka dengan semangat otodidaknya yang gigih. Ia belajar sendiri tentang buku-buku yang menurutnya penting. Ilmu-ilmu seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik baik yang datang dari Islam maupun Barat ditelaahnya dengan bermodal pendidikan yang pernah diterimanya.11 Ketika Hamka berusia 16 tahun, pencarian ilmunya dilanjutkan dengan hijrah ke tanah Jawa pada tahun 1924.12 Di Jawa ia berinteraksi dengan beberapa tokoh Pergerakan Islam modern seperti H. Oemar Said, Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah 1944-1952), R.M Soerejo, Pranoto (1871-1959), dan KH Fakhrudin (ayah dari KH Abdur Razzaq). Kota Yogjakarta terlihat memiliki arti penting dalam proses perkembangan pribadi dan pemikiran Hamka. Kota itu telah memberikan kesadaran baru dalam beragama yang selama ini difahami olehnya. Ia sendiri menyebutkan bahwa di kota inilah ia menemukan “Islam sebagai sesuatu yang hidup, yang menyodorkan suatu pendirian dan perjuangan yang dinamis.”13 Di Yogjakarta, Hamka lebih banyak menginternalisasikan ilmu-ilmu yang lebih berorientasi kepada peperangan terhadap keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan, serta bahaya kristenisasi yang mendapat sokongan dari pemerintah kolonial Belanda.14 Hal itu berbeda dengan pendidikan semasa masih di kampung halaman yang lebih berorientasikan pada pembersihan akidah dari syirik, bid’ah dan khurafat di mana penampilan perjuangan itu sudah terlihat semenjak munculnya Perang Paderi sampai kemasa tiga serangkai; Haji Abdullah Ahmad, Syeikh Abdul Karim Amrullah dan Syeikh Muhammad Djamil Djambek.15 Ditahun-tahun berikutnya, Hamka kemudian mulai banyak

11

Herry Mohammad, dkk, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006, Cet. 1, hlm. 61. Hamka sendiri pernah dijuluki ‘al Manfaluthi Indonesia’ oleh para rekan sejamannya (1876-1924). Al Manfaluti adalah pengarang serta sastrawan romantis besar di abad itu. Tulisan-tulisan al Manfaluti banyak digemari Hamka serta mempengaruhi beberapa karya sastranya baik dalam bentuk novel maupun roman. Lihat Nona Abaza, Islamic Education Perceptions and Exchanges, Indonesian Studens in Cairo, (Terj. S. Harlinah), Jakarta: LP3ES, 1999, Cet. I, hal. 68. 12 Kepergian Hamka yang tanpa sepengetahuan ayahnya ini menjadikan ia terkenal dengan sebutan “si bujang jauh” (anak yang tak kunjung pulang). 13 M.Yunan Yusuf, Corak Kalam, hal. 43. 14 Da’wah Hamka untuk membendung gerakan kristenisasi tetap dilakukannya sampai ia diangkat menjadi ketua MUI. Dalam kunjungannya ke Istana Negara (17 September 1975), setelah melaporkan susunan kepengurusan MUI ia menyampaikan pula bahwa kristenisasi benar-benar ada di Indonesia. Lihat. H. Ramlan Marjoned, KH. Hasan Bashri 70 Tahun: Fungsi Ulama dan Peran Masjid, Jakarta: Media Da’wah, 1990, Cet. I, hal. 290-295. 15 M. Yunan Yusuf, Corak Kalam, hal.45.

16

berkiprah dan mengabdikan diri kepada umat, baik melalui gerakan Muhammadiyah maupun pada lembaga lainnya. Khusus di bidang politik, peran Hamka dimulai dari aktivitasnya di tahun 1925 di dalam Partai Serikat Islam. Hingga pada tahun 1945 ia membantu perjuangan melawan pihak kolonial melalui pidato-pidato dan menyertai kegiatan gerilya di hutan belantara Medan, Hamka kemudian dilantik menjadi ketua Front Pertahanan Nasional Indonesia (1947). Menjadi anggota konstituante mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah untuk Partai Masyumi pada tahun 1955.16 Konstituante dibubarkan (1959) dan dengan dibubarkannya Masyumi pula (1960) ia memusatkan kegiatanya dalam da’wah melalui ta’lim dan tabligh dan menjadi imam masjid agung Al Azhar Kebayoran Jakarta.17 Merasakan hidup di Penjara pada rezim Soekarno, atas tuduhan (fitnah) makar anti Soekarno (GAS: Gerakan Anti Soekarno). Ia dipenjarakan di rumah sakit pemberian Rusia tepatnya di daerah Rawa Mangun yang diberi nama R.S Persahabatan.18 Bersamanya pula Mr. Kasman, Ghazali Sahlan, Dalari Umar, Yusuf Wibisono. Hamka sendiri baru dibebaskan pada 23 Mei 1966.19 Sebelumnya telah ditangkap pula rekan-rekannya seperti Mohammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Syahrir, Mohammad Roem, Prawoto, Yunan Nasution dan Isa Anshori pada tahun 1962 karena dituduh sebagai pemberontak PRRI.20 Hamka terpilih sebagai ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada tahun 1975 oleh pemerintahan Orde Baru, yang kemudian terpilih kembali pada periode kedua tahun 1980, dengan salah satu ungkapannya yang terkenal “Kalau saya diminta menjadi ketua Majelis Ulama, saya terima. Akan tetapi ketahuilah, saya sebagai ulama tidak dapat dibeli”.21 Hamka tidak hanya memiliki kemampuan memberikan pidato atau mengisi ceramah di depan podium, akan tetapi ia juga seorang penulis yang
16

Dalam sidang konstituante inilah Hamka melakukan pidato untuk mengkritik pemerintahan Demokrasi Terpimpin ala Soekarno. 17 Hamka sempat memimpin pula Yayasan Al Azhar menggantikan Anwar Tjokroaminoto yang berakhir masa jabatannya pada tahun 1975. Ia memimpin yayasan tersebut selama 3 periode (1980-1983). Lihat, Badruzzaman Busyairi, Setengah Abad Al Azhar, Jakarta: PT ABADI, 2002, Cet. I, hal.29-30. 18 Hamka, Antara Fakta dan Khayal “Tuanku Rao, Jakarta: Bulan Bintang, 1974, Cet. I, hal. 13. 19 Panitia Peringatan 75 tahun Kasman, Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimejo 75 tahun, Bulan Bintang, Jakarta: 1982, Cet. I, hal. 373-382. 20 Dalam masa tahanannya itulah, Hamka melahirkan karya Magnum Opus-nya berupa Tafsir al Qur’an 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al Azhar. Lihat, www Pks.jak-sel.0r.id, Sabtu, 20 Maret 2004. 21 Mohammad Roem, Bunga Rampai dari Sejarah, Jakarta: Bulan Bintang, 1983. hal. 107.

17

sangat produktif. Jumlah tulisannya dalam bentuk buku hingga mencapai 118 buah, dari Khatibul Ummah, Tasawuf Modern (1939), dan yang terakhir Tafsir Al Azhar 30 Juz. Hamka dan Arti Tasawuf Di dalam literatur Hamka, ia tidak menggunakan istilah Tazkiyatun Nafs sebagaimana yang sering dipakai sebagian ulama untuk merujuk kepada model penyucian jiwa di dalam Islam. Akan tetapi, jika dilihat dari misi dan definisi yang disebutkan Hamka melalui istilah tasawuf22, maka kita akan menemukan kesamaan maksud. Dalam mendefinisikan istilah tasawuf Hamka menyebutnya sebagai ‘ilmu’. Artinya, Hamka menilai bahwa tasawuf adalah sebuah disiplin ilmu yang telah mapan di dalam kajian Islam. Dalam buku Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, Hamka menjelaskan bahwa tasawuf adalah Shifâ’ul Qalbi, artinya membersihkan hati, pembersihan budi pekerti dari perangai-perangai yang tercela, lalu memperhias diri dengan perangai yang terpuji.”23 Dalam bukunya yang lain Tasawuf Modern, tasawuf adalah membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi sahwat yang terlebih dari keperluan untuk keperluan diri”.24 Sedangkan dalam buku Tasawuf dari Abad ke Abad, Hamka mendefinisikan tasawuf sebagai, “Orang yang membersihkan jiwa dari pengaruh benda dan alam, supaya dia mudah menuju Tuhan”.25 Dari definisi yang dijelaskan Hamka di atas dapatlah kita melihat kesamaan misi antara Tazkiyatun Nafs dan tasawuf, di mana keduanya
22

Istilah Tasawuf berasal dari bahasa Arab yang diambil dari kata tasawwuf. Istilah ini muncul kira-kira 10-60 tahun sesudah wafatnya Rasulullah saw. Asal-usul tasawuf secara etimologis memang diperdebatkan oleh para ahli, sehingga Abu Hasan al Fusyandi seorang generasi tabi’in yang hidup sezaman dengan Hasan al Bashri (w. 110./728 M.) mengatakan, “Hari ini, tasawuf hanyalah sekedar nama, tetapi tidak ada buktinya. Dahulu di zaman Rasulullah tasawuf ada buktinya, tetapi tidak ada namanya. Dan sekarang, ia hanyalah sekedar nama, tapi tanpa bukti.” Di zaman Rasulullah, istilah tasawuf memang belum dikenal, akan tetapi terdapat kata-kata kunci yang termaksud di dalamnya seperti zuhûd, warâ’ dan lainnya. Karena itu, ketika Imam Ahmad menulis tenang kehidupan tasawuf, beliau memberi nama kitabnya dengan nama Kitab al-Zuhd. Lihat, Rachmat Taufiq, et.al., Almanak Alam Islami, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 2000, Cet. I, hal. 191. 23 Hamka, Prinsip dan Kebijaksanaan dalam Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990, Cet. III, hal. 202. 24 Hamka, Tasawuf, hal. 7. 25 Siti Fatimah Yasin, Tasawuf Modern, Tesis, Jakarta: perpustakaan UIN, 1992, hal. 58. Dalam tesis ini, Siti Fatimah Yasin mengutip buku Hamka, Perkembangan Tasawuf dari Abad keabad, Jakarta:1992, Cet. I, hal. 77.

18

menginginkan sebuah upaya yang satu, yaitu pembersihan diri atau jiwa seseorang dari perangai buruk dan dosa yang di anggap buruk oleh syari’at Islam.26 Oleh sebab itulah, paparan di atas sejalan dengan apa yang dijelaskan Hamka ketika menafsirkan QS. Asy-Syams: 9-10 dalam Tafsir al Azhar: 910,“Sungguh beruntung orang yang mensucikan (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”. Menurutnya, penyakit yang paling berbahaya bagi jiwa ialah mempersekutukan Allah dengan yang lainnya. Termasuk juga mendustakan kebenaran yang dibawa oleh Rasul, atau memiliki sifat hasud, dengki kepada sesama manusia, benci, dendam, sombong, angkuh dan lain-lain. Maka seseorang yang beriman hendaknya mengusahakan pembersihan jiwa dari luar dan dalam, dan janganlah mengotorinya. Sebab menurut Hamka, kekotoran itulah yang justeru akan membuka segala pintu kepada berbagai kejahatan besar.27 Meskipun Hamka menggunakan istilah tasawuf, akan tetapi tasawuf yang dikemukakan Hamka bukanlah tasawuf sebagaimana yang difahami kebanyakan orang. Tasawuf yang dikembangkan Hamka adalah tasawuf yang memiliki basis pada koridor syari’at agama (Tasawwûf Masyrû’).28 Oleh sebab itulah, di dalam penilaian Hamka, tasawuf tidaklah memiliki sumber lain melainkan bersumberkan murni dari Islam.29 Dirinya sangat menekankan
26

Definisi Tazkiyâh al-Nafs yang diungkapkan Dr. Anis Ahmad Karzun adalah; ‘Pembersihan jiwa dari pengaruh kejelekan dan dosa-dosa, kemudian menyingkapkan fitrah yang mengarah kepada kebaikan dan yang akan membawa pelakunya menjadi hamba istiqâmah, dan menjadikannya sampai kepada derajat ihsân. Lihat, Anis Ahmad Karzun, Manhâj al-Islamî fî Tazkiyâh al-Nafs, Beirut: Dâr al-Nur al-Maktabah, 1997, Cet. 2, hal. 12. Muhammad Zaki Ibrahim menyebutkan definisi tasawuf bagi para ulama yang mendukungnya yaitu, “Membersihkan diri dari semua yang rendah, dan menghiasi diri dengan segala yang mulia.” Lihat, Muhammad Zaki Ibrahim, Abjâdiyah al-Tasawuf al-Islamî, (terj. Yazid Muttaqin), Solo: Tiga Serangkai, 2004, Cet. I, hal. 24. 27 Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984, Cet. V, Jilid XXX, hal. 176 . 28 Sebagaimana yang dipahami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dimana ia tidak mempersoalkan istilah tasawuf sebagai disiplin ilmu. Baginya, esensi dan pengalaman di dalamnya yang harus sesuai dengan standar al Qur’an dan As Sunnahlah yang jauh lebih penting. Oleh sebab itulah, terkadang Ibnu Taimiyah dalam karangannya menggunakan istilah tasawwûf masyrû’ (Tasawuf yang sesuai dengan syari’at), atau zuhûd masyrû’ (zuhud yang sesuai dengan syari’at). Menurut Ibnu Taimiyah, tasawuf yang dimaksud itu adalah tasawuf yang selaras dengan kehidupan para sahabat Rasulullah saw. Lihat, Abdul Fattah Sayyid Ahmad, al-Thasawwûf bayna Al-Ghazâli wa Ibn Taymiyah, (terj. Muhammad Muchson Anasy), Jakarta: Khalifa, 2005, Cet. I, hal. 275. 29 Hamka tidak sependapat dengan teori-teori yang mengatakan tasawuf tidak bersumberkan dari Islam. Ia membantah teori yang mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari pandangan hidup Hindu, Persia, Nashrani, atau filsafat Yunani. Lihat, Hamka, Tasawuf: Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993, Cet. XIX, hal. 59. Ibnu Taimiyah juga

19

keharusan setiap individu untuk melakukan pelaksanaan tasawuf agar tercapai budi pekerti yang baik.30 Hamka mendasarkan konsep tasawufnya ini pada kerangka agama dibawah pondasi aqîdah yang bersih dari praktek-praktek kesyirikan, dan amalan-amalan lain yang bertentangan dengan syari’at. Sebab bagaimanapun juga Hamka benar-benar menyadari bahwa tasawuf yang telah menjadi ilmu tersendiri ini31, pada perjalanannya mendapatkan pencemaran dari pandangan hidup lain dan tak jarang bagi para pelakunya terjerumus pada praktek-praktek yang tidak di syari’atkan oleh Islam.32 Hamka mengatakan, “Karena kita tidak dapat memungkiri bahwa ajaran asli itu (tasawuf) di jaman akhir sudah banyak dicampuri, kalau tidak boleh dikatakan dikotori oleh pengaruh yang lain itu.” Dalam bukunya yang lain Dari Perbendaharaan Lama, Hamka juga menyebutkan keadaan ilmu tasawuf yang diterima oleh sebagian besar muslim di negeri ini telah mendapat percampuran dengan hikayat, dongeng-dongeng, serta pemahaman dan keyakinan-keyakinan lain, terutama dari agama nenek moyangnya yaitu Hindu. Dalam proses menuju ma’rifat sebagai puncak kebahagiaan para pelaku tasawuf (kedekatan yang intens kepada Allah), di mana tasawuf menjembatani hal itu, maka Hamka menjelaskan bahwa secara umum ilmu tasawuf menawarkan trilogi konsep sebagai pencapaian kearah itu di antaranya takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli, yaitu sebuah usaha pembebasan diri dari sifat-sifat tercela, sementara tahalli, sebagai usaha untuk mengisi dan berhias diri dengan sikap-sikap terpuji, dan tajalli merupakan penghayatan rasa ketuhanan atau dalam istilah Hamka, “Kelihatan Allah di dalam hati. Bukan di mata, tapi terasa di hati, bahwa Dia ada”.33 Untuk menimbulkan persepsi yang berbeda di kalangan khalayak ramai tentang tasawuf, Hamka kemudian memunculkan istilah tasawuf modern.
menolak teori-teori yang mengatkan tasawuf berasal dari Yunani, atau dari Kata Shafa, ahl alShuffah, dari kata Shafwah (hamba pilihan), penisbatan terhadap Shuffah bin Bisyr bin ‘Ad bin Thabikhan. Lihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, t.tp.: Majlis al Islamî al Asiwwai; Lajnâh al Da’wah wa al Ta’lîm, 1997, Jilid XXIV, hal. 29. Lihat pula kesimpulan Barmawi Umari dalam bukunya Sistematika Tasawuf. Ia memiliki pendapat yang sama dengan Hamka bahwa tasawuf bersumber dari al Qur’anul Karim, al hadits, contoh kehidupan Rasulullah saw, dan para sahabat. Lihat, Barwari Umairi, Sistematika Tasawuf, Solo: Al Siti Syamsiyyah, 1961, Cet. I, hal. 179. 30 Hamka, Tasawuf, hal. 7. 31 Siti Fatimah Yasin, Tasawuf Modern, hal. 58. 32 Hamka, Tasawuf: Pemurnian dan Perkembangannya, hal. 59. 33 Hamka, Renungan Tasawuf, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995, Cet. II, hal. 21-22 .

20

Penggunaan istilah tasawuf yang diimbuhi dengan kata ‘modern’ sebenarnya merupakan suatu terobosan yang rentan kritik. Hal itu mengingat ketokohan Hamka yang lahir dari pergerakan kaum modernis yang berafiliasi dalam gerakan Muhammadiyah, dimana dalam faham keagamaannya organisasi ini menentang praktek-praktek tasawuf pada umumnya. Oleh karenanya, Muhammad Damimi dalam bukunya Tasawuf Positif mencoba mendudukan kepentingan Hamka dalam mengetengahkan konsep tasawuf modernnya, bahwa istilah ‘tasawuf modern’ merupakan lawan terhadap istilah ‘tasawuf tradisional’. Di mana tasawuf yang ditawarkan Hamka berdasar pada prinsip tauhid, bukan pencarian pengalaman mukasyafah. Jalan tasawufnya dibangun lewat sikap zuhûd yang dapat dirasakan melalui peribadatan resmi. Penghayatan tasawufnya berupa pengamalan taqwa yang dinamis, bukan keinginan untuk bersatu dengan Tuhan (unitive state), dan refleksi tasawufnya berupa penampakan semakin tingginya semangat dan nilai kepekaan social-religius (sosial keagamaan), bukan karena ingin mendapatkan karâmah (kekeramatan) yang bersifat magis, metafisis dan yang sebangsanya.34 Keberadaan tasawuf yang fahami oleh Hamka adalah semata-mata hendak menegakkan prilaku dan budi manusia yang sesuai dengan karakter Islam yang seimbang atau menurut bahasa Hamka, i’tidal. Untuk itulah, manusia dalam prosesnya mesti mengusahakan benar-benar ke arah terbentuknya budi pekerti yang baik, terhindar dari kejahatan dan penyakit jiwa atau penyakit batin. Hamka menegaskan, “Budi pekerti jahat adalah penyakit jiwa, penyakit batin, penyakit hati. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit jasmani. Orang yang ditimpa penyakit jiwa akan kehilangan makna hidup yang hakiki, hidup yang abadi. Ia lebih berbahaya dari penyakit badan. Dokter mengobati penyakit jasmani menurut syarat-syarat kesehatan. Sakit itu hanya kehilangan hidup yang fana. Oleh sebab itu hendaklah dia utamakan menjaga penyakit yang hendak menimpa jiwa, penyakit yang akan menghilangkan hidup yang kekal itu”.35 Hamka menambahkan, ”Adapun jalan tasawuf ialah merenung ke dalam diri sendiri. Membersihkan diri dan melatihnya dengan berbagai macam latihan (riyâdhah al-nafs), sehingga kian lama kian terbukalah selubung diri dan

34

Sulaiman Al Kumayi, Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Semarang: Pustaka Nuun, 2004, Cet. I, hal. 57. 35 Hamka, Akhlaqul Karimah, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1992, hal. 1

21

timbullah cahaya yang gemilang”.36 Maka menurutnya kehidupan bertasawuf tidaklah seperti yang digambarkan oleh para sufi pada umumnya, hingga melemahan gerak manusia. Dalam membangun hidup bertasawuf, Hamka melandasinya dengan kekuatan Aqidah. Sebab dengan kekuatan inilah, perjalanan tasawuf akan terhindar dari bentuk-bentuk kemusyrikan yang sering kali terjadi pada seorang sufi. Penutup Islam merupakan jalan kebahagiaan yang hakiki. Meski banyak rumusanrumusan tentang kebahagiaan datang, namun Islamlah satu-satunya jalan itu. Agama yang akan dijadikan sandaran dan kerangka hidup bukanlah agama Islam yang saat ini dipahami telah terpecah belah menjadi memiliki sektesektenya masing-masing, dan dengan praktik ibadah yang mereka buat serta mereka yakini masing-masing untuk diamalkan, sehingga sesungguhnya mereka sendiri telah jauh dari sumber utama (al Qur’an dan Sunnah). Oleh karenanya, Hamka menginginkan agar agama Islam yang menjadi kerangka dalam hidup itu adalah agama Islam yang murni, dan terbebas dari praktek syirik, bid’ah dan khurafât. Konsep-konsep tasawuf yang di terangkan Hamka sangat dinamis. Ia memahami tasawuf dengan pemahaman yang lebih tepat dengan ruh dan semangat ajaran Islam. Hamka tidak memahami tasawuf sebagaimana gerakan tarekat dan sufistik pada umumnya. Tasawuf model Hamka ini menandingi tasawuf tradisional yang cenderung membawa bibit-bibit kebid’ahan, khurafat, dan kesyirikan. Sementara Hamka adalah ulama modernis (Mujaddid) yang begitu anti dengan hal-hal tersebut. Dapat dikatakan, corak tasawuf Hamka adalah tasawuf pemurnian.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Fattah Sayyid Ahmad, al-Thasawwûf bayna al-Ghazâli wa Ibn Taimiyah, (terj. Muhammad Muchson Anasy), Jakarta: Khalifa, 2005. Anis Ahmad Karzun, Manhâj al-Islamî fî Tazkiyah al-Nafs, Beirut: Dâr Nurul Maktabah, 1997.
36

Hamka, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973, Cet. V, hal. 33.

22

Badruzzaman Busyairi, Setengah Abad Al Azhar, Jakarta: PT ABADI, 2002. Barwari Umairi, Sistematika Tasawuf, Solo: Siti Syamsiyyah, 1961. Bisri Affandi, Syaikh Ahmad Syurkati (1874-1943): Pembaharuan dan Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta: Al Kautsar, 1999. Flori Berta Aning, 100 Tokoh yang Menggubah Indonesia, Yogyakarta: Penrebit Narasi, 2007. Hamka, Akhlaqul Karimah, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1992. _____, Ayahku, Jakarta: Uminnda, 2000. _____, Antara Fakta dan Khayal “Tuanku Rao”, Jakarta: Bulan Bintang, 1974. _____, Kenang-Kenangan Hidup, Jakarta: Bulan Bintang, 1979. _____, Renungan Tasawuf, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995. _____, Tafsir Al Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984. _____, Tasawuf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1991. _____,Tasawuf Pemurnian dan Perkembangannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993. _____, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973. Herry Mohammad, dkk, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006. M. Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsyir Al Azhar, Jakarta: Permadani, 2003 Muhammad Roem, Bunga Rampai dari Sejarah, Jakarta:Bulan Bintang, Jakarta: 1983 Muhammad Zaki Ibrahim, Abjâdiyyah al-Tasawuf al-Islamî, (terj. Yazid Muttaqin), Solo: Tiga Serangkai, 2004. Nona Abaza, Islamic Education Perceptions and Exchanges, Indonesian Studens in Cairo, (terj. S. Harlinah), Jakarta: LP3ES, 1999. Rachmat Taufiq, et.al., Almanak Alam Islami, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 2000. Ramlan Marjoned, KH. Hasan Bashri 70 Tahun: Fungsi Ulama dan Peran Masjid, Jakarta: Media Da’wah, 1990. Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, Pustaka Panjimas, Jakarta: 1981. Salahudin Hamid, Seratus Tokoh Islam Indonesia, Jakarta: Intermedia, 2003. Siti Fatimah Yasin, “Tasawuf Modern”, Tesis, Jakarta: perpustakaan UIN, 1992. Sulaiman Al Kumayi, Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym, Semarang: Pustaka Nuun, 2004. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ al Fatâwâ, Lajnah al-Da’wah wa alTa’lîm, 1997. Tim Editor, “Hamka”, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997. Tim Editor, Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimejo 75 tahun, Bulan Bintang, Jakarta: 1982.

23

www.kabupaten-agam. go.id, 08 November 2003 . www.pks.jak-sel.or.id, Sabtu, 20 Maret 2004.

24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->