Kepemimpinan Pembelajaran

Submitted by admin on April 7, 2013 – 5:10 amNo Comment | 231

Pembahasan yang sekarang sering mengemukan tentang peran kepempimpinan pembelajaran menunjukkan adanya perubahan paradigma tetang pentingnya tindakan kepala sekolah dalam mengerahkan keuatannya sebagai personal kunci di sekolah. Pembahasan ini menggeser perhatian terhadap manajemen berbasis sekolah. Kajian ini memandu kepala sekolah dalam memadukan dan meningkatkan kekuatan dengan melibatkan dan menggerakan warga sekolahnya untuk mencapai tujuan.Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran berbeda dengan peranny sebagai administrator
atau manajer. Telaah kepemimpinan pembelajaran lebih fokus pada pengkajian tindakan atau pendelegasian wewenang yang kepala sekolah lakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas belajar siswa. Masalah utama kepemimpinan adalah bagaimana kepala sekolah bertindak sehingga berpengaruh terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran?

Dalam realitasanya, kepemimpinan pembelajaran lebih dari sekedar keterampilan mempengaruhi orang-orang, namun mencakup proses moral. Sergiovanni (1996) menyatakan kepemimpinan pembelajaran mencakup moral atau kode etik yang dipahami dan diterima warga sekolah yang dibangun berdasarkan tujuan, nilai-nilai dan keyakinan. Potensi kepala sekolah diukur dengan kemampuan mengintegrasikan seluruh kekuatan organisasi secara formal, juga mepersatukan emosi atau psikologi warganya sehingga terbangun kolegialitas yang kuat, semangat bekerja sama dan menggerakan orang-orang agar saling bergantung dan saling menghargai satu sama lain. Dalam memberdayakan pengaruhnya pemimpin pembelajaran, seperti halnya pemimpin organisasi yang lain, dibedakan dalam dua tipe yaitu tipe pemimpin “transaksional” dan “transformasional”. Tipe kepemimpinan transaksional bersikap responsif. Mereka mengemban tugas berasakan kultur lembaga, memotivasi bawahan dengan memberikan penghargaan dan hukuman. Kepemimpinan berlandaskan asumsi (1) bawahan tidak memotivasi dirinya (2) motivasi bawahan meningkat jika digerakan dengan penghargaan dan hukuman (3) bawahan harus mematuhi perintah atasan. Tiga asumsi ini melahirkan pikiran lanjutan bahwa bawahan harus dipantau bahkan dikendalikan. Dengan dasar itu, maka pemimpin harus mengembangkan daya inisiatif dan interaktifnya agar bawahan bergerak untuk mewujudkan tujuan organisasi.

Hubungan antara pokok kegiatan dapat digambarkan pada diagram peran kepemimpinan pembelajaran berikut: . (James MacGregor Burns : 1979. Pemimpin dan bawahan menjadi dua pihak yang saling membutuhkan. memotivasi bawahan untuk mencapai tujuan yang lebih bernilai dengan motivasi yang dilandasi moral dan idelisme yang tinggi pula. maupun dalam pemenuhan standar dan prosedur. dikaitkan dengan kepentingan pendidikan abad ke-21. Kesadaran bersamanya meningkatkan motivasi dan keuatan moral yang mempersatukan kekuatannya. Semangatnya tidak hanya didasari atas kepentingan diri sendiri malainkan karena mereka bergerak atas kepentingan bersama. pemimpin dengan bawahan berinteraksi dan berintegrasi.Kepemimpinan tipe transaksional sesuai untuk mewujudkan tujuan jangka pendek. Berdasarkan kajian di atas dapat dinyatakan secara singkat bahwa pimpinan pembelajaran memiliki peran penting dalam (1) menentukan arah pengembangan sekolah (2) menyelaraskan jalinan hubungan kerja untuk meningkatkan semangat kebersamaan 3) menggerakan seluruh kekuatan sekolah untuk meningkatkan kompetensi pendidik untuk menujang efektivitas pembelajaran (4) meningkatkan motivasi seluruh warga sekolah untuk mewujudkan keunggulan. Rotherham dan Daniel Willingham. Dalam peran kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional berperan sebaliknya. yaitu mengembangkan kurikulum terbaik. dan melaksanakan penelitian tindakan untuk melakukan perbaikan proses (Glickman. Peran utama kepemimpinan pembelajaran adalah mengembangkan proses pengintegrasian kekuatan pendidik. Menurut Andrew J. kepala sekolah hendaknya memperhatikan tiga komponen kegiatan utama. 1985).p36) Pemimpin transformasional bersikap proaktif. meningkatkan kompetensi pendidik. meningkatkan budaya organisasi melalui kreasi ide-ide baru. meningkatkan kompetensi pendidik. Pemimpin tidak memerlukan banyak daya inisiatif dan kreativitas bawahan karena target dan prosedur kerja telah ditetapkan dengan ketat. Keempat pilar kegiatan kepemimpinanya adalah untuk menunjang efektivitas pembelajaran. mengembangkan kurikulum. pimpinan dan bawahan memiliki motif bersama berlandaskan nilai-nilai dan tujuan yang dikuatkan dengan pengakuan bahwa pemimpinnya “benar”. dan mengembangkan sistem penilaian terbaik.

kepala sekolah hendaknya dapat mengembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan pengemban yang tetapkan dalam kebijakan sekolah. Dalam hal ini sekolah hendaknya menetapkan visi-misi. tujuan. mengembangkan kerja sama. interaksi sosial. Peran ketiga adalah menggunakan pengaruhnya untuk meningkatkan kompetensi pendidik. Turunan dari kegiatan ini ialah membangun komunikasi yang sering dan mendalam. Untuk mencapai visi-misi sekolah mengembangkan sejumlah rencana dan pengaturan pembelajaran atau kurikulum. Dalam menentukan arah pengembangan. dan menilai pembelajaran sehingga tujuan penerapan kurikulum terwujud. Peran terutama untuk menunjang pengembangan kompetensi adalah kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi dengan mengerahkan sumber daya dirinya maupun tim. Peningkatan kopetensi yang paling penting adalah kompetensi dalam merencanakan. Peran utama kedua adalah menyeleraskan hubungan kerja semua pemangku kepentingan sehingga tumbuh suasana pisikologis. Kebutuhan untuk menentukan arah pengembangan sekolah adalah kemampuan kepala sekolah menentukan keputusan berbasis data. . dan interaksi akademik yang kondusif.Peran utama kepemimpinan pembelajaran yang pertama menentukan arah pengembangan sekolah. dan indikator pencapaian agar memudahkan seluruh pemangku kepentingan mengukur ketercapaian tujuan. meningkatkan koordinasi dan siskronisasi pekerjaan secara terprogram. Yang diperlukan dalam hal ini adalah pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah sehingga dapat menjadi model yang didukung pembiasaan belajarnya. melaksanakan.

menyikapi dengan arif kebijakan terdahulu mendorong pendidik berani mengambil resiko menyediakan sumber belajar untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan . peningkatan motivasi dapat didorong dengan memanfaatkan rangsangan dari luar. atau tenaga kependidikan lain dalam interaksi personal dalam aktivitas sehari-hari. mengembangkan daya kompetisi dengan sekolah lain bahkan berusaha mengunggulinya dapat menjadi strategi dalam mengobarkan semangat dan daya juang tim dalam peningkatan mutu. Target mensejajarkan keunggulan dengan lembaga pesaing yang sejenis. Memberikan pujian atau penghargaan. namun tidak mendominasi. menggunakan contoh yang terkait langsung dengan pelaksanaan tugas sehari-hari memberikan peluang untuk memilih atau menyediakan beberapa alternatif sehingga mendorong tumbuhnya inisiatif. kepala sekolah perlu merealisasikan strategi berikut: • • • • • • Memberikan saran. mensupervisi. Menggunakan hasil riset. tujuan. Berkaitan dengan itu. menurut Joseph Blase and Jo Blase (1999). Namun demikian. melaksanakan. & Anderson. Referensi: Anderson. Sejumlah tindakan praktis dalam meningkatkan pengaruh dalam menggerakan warga sekolah kepala sekolah perlu melakukan tindakan praktis seperti contoh berikut: • • • • • • • • Berdialog dengan guru. San Francisco: Jossey-Bass. Indiktor utama keberhasilan kepala sekolah adalah dalam memantau atau melaksanakan supervisi. D. dan mengevaluasi program dalam bentuk tindakan yang terukur. dan keyakinan bersama dalam merencanakan. Dengan kekuatan yang tumbuh dari dalam akan mendorong tumbuhnya daya insiatif yang tumbuh berkelanjutan. siswa. bertindaklah menjadi kepala sekolah yang dominan. Mengembangkan model. berbagi pengalaman dengan guru atau siswa. Dari telaahan pada akhirnya dapat kita peroleh kesimpulan bahwa tugas kepala sekolah dalam perannya sebagai pemimpin pembelajaran adalah mengembangkan tindakan yang muncul dari daya inisiatif dan interaktif dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah membangun kekuatan moral yang terintegrasi dengan nilai-nilai. menjadi pendengar yang baik dalam pertemuan formal maupun nonformal. LA 2001. Meminta pendapat. Memberikan umpan balik terhadap aktivitas pendidik. . Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders.Peran keempat adalah membangun motivasi warga sekolah agar mengerahkan kekuatan dari dalam diri tiap individu sehingga menjadi kekuatan internal sekolah untuk mewjudkan tujuan yang lebih bernilai.

1978. D. 1996. J. 2005. The Free Press.. CA .Bradford.D. 1995.W. and Burke. New Approaches to Change in Organizations San Francisco. 1999. Boston. Change Management: Best Practice in Whole School Development. Glickman.J. T. Sergiovanni.. MacGregor Burns. Allyn and Bacon. Danida. San Francisco. 1990. Gordon Mitchell. Harper & Row. 3rd ed.P. John P. James.L. Moral Leadership. CA: Pfeiffer. MA. Leadership. W. and Ross-Gordon. S.M. Kooter. Gordon. New York. Reinventing Organization Development. C. Supervision of Instruction: A Developmental Approach. London. Denmark. Jossey-Bass. A Force For Change: How Leaders Differs From Management.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful