Hegemoni modernitas A.

Pendahuluan Antonio Gramsci seorang anak miskin yang beraliran Marxis, lahir di Ales, sebuah kota kecil di Sardinia, Itali, pada 22 Januari 1891. Ia seorang mahasiswa Fakultas Sastra di sebuah Univesitas di Turin. Disinilah awal perubahan hidupnya. Selain aktifitas kuliah, kedatangannya ke Turin menandai perjumpaan pertamanya dengan kehidupan kota industri yang bergelimang kemewahan. Namun, secara kritis Gramsci melihat dekadensi budaya di sana. Pertunjukanpertunjukan budaya nyaris kering, dan tidak memiliki perspektif baru. Sebagai mahasiswa jurusan sastra, ia sering menulis banyak kritik teater. Semua itu membuka matanya tentang betapa tajamnya jurang penghidupan kota dan desa, interaksi keduanya, dan soal hubungan politik yang timpang antara klas buruh di kota dan petani di desa. Kemiskinan dan ketidakadilan yang dialaminya diusia dini di Sardinia sangat mendalam, sehingga cukup membekas di lubuk hatinya. Pengalaman-pengalaman inilah yang juga memberi andil besar bagi pembentukan Gramsci sebagai seorang revoluasioner. Gramsci bukan sekedar tokoh yang hanya bergulat dengan ideide intelektual. Dia juga terlibat dalam berpolitik dan berkenalan dengan organisasi-organisasi massa militan. Melalui tugas-tugas politik kakaknya yang bernama Genero, Gramsci mulai masuk ke dalam aktifitas Partai Sosialis Itali. Pada tahun 1914, Gramsci menjadi editor bagi mingguan Partai Sosialis, II Grido Popolo (Jerit Tangis Rakyat), dan menjadi staf editor tetap di sana. Agustus 1917 pemberontakan spontan meletus di Turin. Para buruh di Turin bangkit dan mendirikan berikade-barikade. Pusat kota Turin di kepung oleh para buruh. Dalam pemberontakan selama empat hari itu, sekitar 50 orang buruh meninggal dan ratusan lainnya di jebloskan kedalam penjara. Bagi Gramsci, peristiwa itu mempunyai arti politik yang luar biasa, karena rakyat luar biasa. Akibat politik, Gramsci juga dijebloskan ke dalam penjara oleh Pengusaha Fasis hingga mengakhiri hidupnya dalam keadaan sakit di usia 46. Di dalam penjara itulah lahir karya-karya Gramsci yang brilian tentang tradisi filsafat dan pemikiran politik termasuk Hegemoni. Karena pada hakekatnya kekuasaan akan selalu punya taktik untuk terus-menerus memperoleh dukungan dan sebaliknya kelompok tertindas tidak selalu berani melakukan perlawanan. Rintisan perubahan yang radikal maupun gradual, tetap harus memperhitungkan, taktik pengusaha yang jelas-jelas ingin bertahan. B. Kritik terhadap Konsep Hegemoni dari Gramsci Gramsci berpendapat bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Dalam konteks pembangunanisme, konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller). Saya mencoba mengkritik konsep hegemoni yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, karena wacana Gramsci ternyata tidak membantu untuk mengerti

justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann). teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan dengan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial. Juga paham teodemokrasi yang mencoba untuk menengahi kedua faham tersebut. terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara berkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia. proses diferensiasi di dunia ketiga sendiri. Di akhir tulisannya Hery Sucipto mengetengahkan masalah yang sebenarnya dihadapi oleh bangsa Indonesia. Polemik dan perdebatan ini telah melahirkan berbagai teori politik tentang kedaulatan. termasuk realitas negara. Ketiga. Dalam artikel tersebut. Hegemoni dalam Relasi Negara dan Agama Artikel berjudul Pluralisme di harian Media Indonesia (Jumat.interdependensi (bukan dependensi) kultural antara dunia Barat dan dunia Timur maupun antara dunia Utara dan Selatan. referensi historis yang mengarah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat problematis. C. Dengan demikian. akan tetapi dianggap gagal karena pada akhirnya paham ini masih menunjukkan intervensi Tuhan dengan segala otoritas-Nya yang begitu kuat sehingga pendapat rakyat akan tersubordinasi dalam 'pendapat Tuhan'. Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya. Sebut saja paham teokrasi yang mengatakan bahwa kedaulatan ada di tangan Tuhan yang menghendaki agar Tuhan bisa mengatasi semua realitas. tidak. Keempat. berpendapat bahwa riset terhadap perkembangan di Dunia Ketiga cenderung justru mempertajam ketergantungan negara-negara berkembang pada Barat. apakah imperialisme kultural dan imperialisme media diikuti imperialisme penelitian? (Halloran). sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang. Atau. Kedua. Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: pertama. Saya pikir. salah seorang penasehat komisi MacBride 20 tahun yang lalu. yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat. Hery Sucipto mencoba mengurai kembali benang kusut relasi agama dan negara yang selalu memunculkan polemik dan debat berkepanjangan namun tetap menarik untuk dibincangkan. Halloran. Lalu dia bertanya. dependensi dan hegemoni. 27/9/2002) menarik untuk ditanggapi. dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat. struktur patrimonial dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes). Apa gunanya? Persepsi tentang Antonio Gramsci oleh pakar sosiologi di dunia ketiga yang sangat positif itu barangkali terjadi karena mereka sering dengan mudah dan tidak kritis mengadopsi model dan teori sosiologi Barat yang sudah ketinggalan jaman seperti modernisme. tanpa campur tangan agama. paham demokrasi yang berpendapat bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat yakni pengelolaan negara harus didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan. tanggung jawab atas segala kegagalan di Dunia Ketiga bisa dilempar ke negara-negara maju. teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi yang bermanfaat dalam konteks global (ibid). Proses globalisasi itu memang jauh lebih kompleks. Yakni bagaimana mendudukkan agama dan politik (baca: negara) pada proporsinya masing-masing dalam rangka . Bahkan James D.

Kenyataan seperti ini tentunya semakin membuka kemungkinan bagi intervensi para politikus ke dalam ranah keagamaan. bukan 'pilihan'. sebab sebagai konsekuensi logis dari sila pertama Pancasila dan rumusan yang ambigu Pasal 29 UUD 45. Hegemoni negara atas agama oleh pemerintah tampak begitu kuat mengakar. Ia menawarkan gagasan reposisi antara agama dan negara yang merupakan langkah penting untuk dilakukan. baik pemerintahan Soekarno maupun Soeharto berusaha untuk menjinakkan dan melemahkan partai-partai Islam karena dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang potensial. Kita bisa melihat bagaimana agama diacak-acak dan diobok-obok oleh pemerintah karena dianggap membahayakan posisi kekuasaan yang ada. alih-alih menunjukkan hubungan yang harmonis. menjadi sarana yang ampuh untuk menciptakan hegemoni. yang dapat merobohkan landasan negara yang nasionalis.saling melengkapi kapasitasnya. Mengingat realitas yang ada. Sebaliknya setiap ideologi yang ingin memantapkan diri cenderung menempuh jalan untuk memberikan warna keagamaan pada dirinya (religiusifikasi ideologi). pertama. Bahkan dalam konteks Indonesia. hampir pasti kemenangan selalu ada di pihak negara. Kemungkinan terjadinya ideologisasi agama ini bisa dilihat pada dua gejala. ternyata keduanya saling menunjukkan upaya untuk mendominasi. Atau. tetapi mereka juga mendapatkan diri mereka berkali-kali disebut 'kelompok minoritas atau kelompok luar'. ketika agama karena tugasnya mengkhotbahkan keselamatan dan mengajarkan kesempurnaan hidup. Hal ini ditunjukkan dengan masih kukuhnya dominasi negara atas agama hingga mampu menentukan langgam. atau politisasi serta ideologisasi simbol-simbol keagamaan demi kepentingan pergulatan kekuasaan politik. Akibatnya. maka sama sekali tidak dimungkinkan seseorang untuk tidak beragama dalam wilayah Republik Indonesia. Atau sebaliknya. Karena setiap agama dikehendaki atau tidak ketika berhadapan dengan kekuasaan. Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia. Di samping itu. yang merupakan conditio sine quanon masyarakat Indonesia. ketika agama berhadapan dengan kekuasaan tidak menjalankan fungsi kritisnya. . selalu dimungkinkan menjadi ideologis (ideologisasi agama). gaya. begitu dominannya peran organisasi formal keagamaan dan penekanannya pada aspek simbolis/ritual keagamaan ketimbang aspek substantif juga menunjukkan bagaimana kontrol negara begitu kuat atas agama. Kedua. tetapi lebih banyak menjalankan peranannya sebagai sarana untuk legitimasi kekuasaan. 'beragama' ternyata merupakan 'urusan negara'. bukan hanya para pemimpin dan aktivis Islam politik gagal menjadikan Islam sebagai dasar ideologi dan agama negara pada 1945 (menjelang Indonesia merdeka) dan pada akhir 1950-an. dalam bahasa lain 'beragama' adalah sebuah 'paksaan'. mengundang kemungkinan bagi para pemimpin agama masuk ke dalam kancah pergulatan kekuasaan. Hegemoni negara atas agama Reposisi agama dan negara dengan menempatkan keduanya pada proporsi masing-masing tentunya bukanlah hal yang gampang. atau dinamika kehidupan beragama. utamanya pluralitas agama. Ihwal tersebut tampak tidak hanya dengan adanya 'intervensi langsung' dalam bentuk aneka peraturan negara ke dalam ranah keagamaan. Mengingat heterogenitas dan pluralitas. Masih mengendap dalam benak kita.

mengalami gegar identitas akibat benturan itu. E. Di saat yang bersamaan kita juga melihat agama dengan nilai-nilai profetis dan ruh sosialnya mulai memudar akibat intervensi negara yang hegemonik yang meluluhlantakkan bangunan agama. dalam pandangan modernitas. yakni problem benturan antara tradisi dan modernitas. Mereka hidup dalam dua dunia yang saling menegasi. Sementara sebagai entitas sejarah. Kedua. Problem laten ini memang bukan khas milik bangsa Indonesia. dalam konteks ini. reposisi negara dan agama haruslah dilakukan dengan sangat jeli. Ini dilakukan dengan maksud pencegahan sedini mungkin politisasi terhadap agama yang sering menguntungkan segelintir orang. Seluruh bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan dan tidak tuntas atau bahkan belum melakukan revolusi kebudayaan. demikian kumandang Rene Descartes.Pada titik ini reposisi agama dan negara tentunya menjadi persoalan yang makin pelik. Pada level subyek. Agama haruslah steril dari politisasi dan manipulasi serta ideologisasi. ‘Saya berpikir. tetapi juga nilai-nilai. Ketiga. mencabut 'saham' para politikus atas ranah keagamaan dengan mempertegas pemisahan antara agama dan ranah politik. Auguste Comte. positifisme adalah nilai pusat modernitas. menolak sama sekali intervensi negara ke dalam ranah keagamaan baik intervensi secara langsung dalam bentuk peraturan-peraturan ataupun melalui praktik-praktik manipulasi terhadap agama. pertama. modernitas memandang dirinya sebagai titik kulminasi sejarah. Tradisi dan Modernitas : Dua Bentuk Hegemoni Modernitas bukan hanya alat-alat teknis. mendeklarasikan kematian metafisika. Jarijemari negara dengan segenap kekuasaannya masih kukuh menggenggam agama. ia menawarkan otonomi personal. Dialektika historis-nya Hegel adalah bukti pandangan ini. Pada level obyek. Ia dengan demikian menjadi totaliter dan tidak menerima eksistensi the other. Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali muncul gerakan radikalisme umat beragama yang identik dengan kekerasan (violence). Ada satu problem laten yang belum sepenuhnya dibongkar dalam jagat pemikiran Indonesia kontemporer. Sekiranya reposisi agama dan negara berjalan mulus maka hegemoni negara (kekuasaan) terhadap agama akan dapat ditepis dan agama beserta fungsi kritisnya bisa menjadi alat kontrol bagi sepak terjang negara. maka saya ada’. Karenanya. Identitas . Segala sesuatu. Reposisi ini paling tidak bisa dilakukan dengan menempuh. ada jika ia bisa diukur. mengembangkan forum-forum dialog agama sebagai strategi melakukan pemberdayaan (empowering) sumber daya yang ada sehingga para kaum agamawan akan semakin kritis dalam menyikapi berbagai persoalan yang tengah dihadapi. Pengalaman keberagamaan selama ini telah membuktikan bahwa akibat ketiga hal tersebut tidak hanya menimbulkan masalah internal agama tapi juga sering menjadi penyulut konflik antaragama. manusia yang tidak diatur tetapi mengatur sekelilingnya dengan data-data pengetahuan yang dimilikinya. dunia tradisional dan dunia modern. Manusia modern adalah manusia yang merasa dirinya sebagai pusat.

digerakkan oleh semangat mempersembahkan yang terbaik buat sebanyak mungkin orang. deburan ombak yang penuh inspirasi. berapa ton ikan yang bisa ditangkap. tetapi juga nilai-nilai. Tradisi tidak sepakat manusia yang diikat oleh persaudaraan. Semangat kelahirannya adalah semangat pemberontakan. pematangan diri dan penetrasi ke luar. Dengan segala kekuatan. alam pun meleleh dari keagungan misteriusnya selama berabad-abad. Auguste Comte. Tidak pernah. Dialektika historis-nya Hegel adalah bukti pandangan ini. pemberontakan terhadap kekuasaan alam dan hegemoni agama. manusia yang tidak diatur tetapi mengatur sekelilingnya dengan datadata pengetahuan yang dimilikinya. Baginya. negara-negara berkembang hanya punya dua pilihan: mengikuti nilai dan gaya modernitas atau siap disapu bersih dari gelanggang sejarah. Amerika. dalam pandangan modernitas. Alam bisa ‘ditelanjangi’ penemuan demi penemuan ilmiah yang secara gencar terus dilakukan. tidak lagi bisa ditampung oleh batas-batas geografis Eropa Barat. maka saya ada’. Imperialisme dan globalisasi sesungguhnya dua fenomena dengan pesan yang sama. ia menawarkan otonomi personal. Pematangan diri ditandai dengan tumpukan informasi dan barang produksi sekaligus. bahasa halusnya. Sementara sebagai entitas sejarah. Manusia Eropa pun mulai menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Modernitas memang ditakdirkan lahir sebagai penakluk. Dengan kecepatan yang luar biasa. pertarungan dua kekuatan ini. Tak pelak. modernitas memandang dirinya sebagai titik kulminasi sejarah. Modernitas bukan hanya alat-alat teknis. dalam sejarah peradaban. Pada level obyek. Pada level subyek. ‘Saya berpikir. Manusia modern adalah manusia yang merasa dirinya sebagai pusat. menunjukkan eskalasi terus menerus ke ruang yang lebih luas dan dengan intensitas yang semakin dahsyat. ada jika ia bisa diukur.mereka masih terkoyak dan belum menemukan formula baru yang utuh karena pertarungan belum juga usai. Disinilah letak masalahnya. banjir bandang modernitas menghantam negara-negara bekas jajahan atau. Tradisi sebagai penjaga gawang nilai dan gaya hidup komunitas target tidak terima dengan gaya sapu bersih ini. modernitas melakukan dua hal sekaligus. dinilai dengan keluhuran budi. manusia mengalami kelebihan barang dan informasi lebih dari yang Eropa dan negara-negara modern miliki sekarang ini. negara-negara berkembang. Dengan teknologi sebagai tulang punggung modernitas. mendeklarasikan kematian metafisika. Tidak ada kamus kulonuwun dalam diri modernitas. Bahkan kecenderungan belakangan. Pertarungan terjadi di setiap jengkal kehidupan. dalam konteks ini. Benturanpun tak terelakkan. desir angin yang musikal. hendak dirubah modernitas menjadi kalkulasi berapa kekayaan tambang yang bisa dikeruk. Segala sesuatu. Tradisi tidak rela alam yang memabukkan dengan indah panorama pegunungan. Jepang atau Rusia sebagai negara-negara modern. positifisme adalah nilai pusat modernitas. Imperialisme berabad-abad dari abad ke-16 hingga tengah abad ke-20 adalah buah nyata modernitas. berapa energi listrik yang bisa diolah. Penggelembungan barang dan informasi ini. Massifikasi penetrasi modernitas ini dibantu dan dipercepat oleh peralatan perang. transportasi dan komunikasi yang canggih. Ia dengan demikian menjadi totaliter dan tidak menerima eksistensi the other. tradisi bangkit melancarkan perlawanan. demikian kumandang Rene Descartes. ‘perluasan daerah kekuasaan modernitas’. hendak dirubah .

jauh lebih banyak saling menegasi ketimbang mengafirmasi. Apa yang kemudian terjadi? Gegar identitas. Disinilah keterbelahan terjadi. akan bentuk tatanan dunia paling sempurna. Walhasil. bersahaja. Meminjam Dr. Sehingga. termasuk Indonesia. Konsumen hanyut dalam simbol. Sosok yang tadinya santun. Inilah yang menjadikan masalah bertambah rumit. Mereka inilah bapak-bapak Utopia dunia. Pencarian format ini sungguh sebuah proyek sosial yang akan amat menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan. komputer hingga mainan anak-anak. Proyek modernisasi Mesir yang dipimpin Muhammad Ali misalnya. ia juga tidak bisa melepaskan diri dari pelukan tradisi. tidak bakal ada sebuah bangunan masyarakat kokoh yang bisa menjadi landasan bagi pembangunan bersprespektif jangka panjang. tanpa ada penguasaan satu kelas . rasionalitas tidak lagi memiliki tempat dan tanpa makna. pesawat telepon. pilihan Islam formal-nya Mullah Umar di Afghanistan. masyarakat tidak bisa mengelak dari serbuan modernitas. agama digantikan oleh musik atau sepakbola. nyaman dalam pelukan alam yang agung dan misterius. Televisi. F. tetapi di sisi lain. dua dunia ini. Di satu sisi. Kita memang tidak sedang diperhadapkan pada persoalan simpel apakah mau memilih menjadi tradisional atau modern. pakar filsafat di Maroko. tidak lagi asyik dengan nostalgia masa lalu tetapi merancang masa kini untuk capaiancapaian masa depan yang menjanjikan kelezatan material. bekerja saling melengkapi. dipaksa untuk melepas satu demi satu kualitas ini. Maka. mesin cuci. berhitung dengan kalkulasi rasional untung rugi. Sebab produk modernitas de facto. menjadi bagian dari kolektifitas yang taat. Proyek sekularisasi Turki-nya Kemal Attaturk. citra dan penampilan yang sulit dibedakan antara fiksi dan kenyataan. Utopia adalah dunia tempat manusia sama rasa. Tradisi tidak mau. kemudian Robert Owen. ‘ini bukan persoalan memilih’. Begitu juga. Contoh gagal sudah banyak terhampar di hadapan kita. dihargai oleh seberapa uang di sakunya dan digerakkan oleh penumpukkan sebanyak-banyakknya kapital dan kekuasaan. Sistem tanda (system of signs) lebih bermakna ketimbang sistem objek (system of objects). terjun dalam kompetisi untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik. Utopia Hegemonik sebagai Pintu Masuk Utopia adalah dunia yang direka oleh Thomas Moore. pada level ontologis.menjadi sekedar makhluk yang diikat oleh profesi. Dan sepanjang tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk menuntaskan dan mencarikan format baru yang merupakan sintesa tuntas dari keduanya. Muhammad Sabila. tenteram dengan pegangan agama yang diyakini sebagai titah Tuhan bagi kebaikan manusia. parabola. Inilah yang sekarang terjadi di dunia-dunia ketiga. telah menjadi kebutuhan masyarakat yang tak terelakkan. media lebih penting ketimbang pesan. layu sebelum berkembang. terbukti tidak diterima ‘tulus ikhlas’ oleh umat Islam Turki dengan kemenangan partai berbasis Islam baru-baru ini. mobil. ternyata justru melahirkan bom bunuh diri Ketika realitas kebudayaan ini telah menjadikan penanda (signifier) lebih utama ketimbang petanda (signified). sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup keseharian kita. Modernitas mendiktekan kepadanya untuk hidup serba cepat.

Dalam nilai paling absurd. Sensor inilah yang dulu mengundang kritik Alberto Camus terhadap kebebasan berekspresi dalam seni. serta penulisan sastra pada khususnya. karena begitu kuatnya dogma maupun norma (serta pendidikan) dalam masyarakat yang susah ditembus. Marxisme itu sendiri pada perkembangan selanjutnya. Seperti gambaran akan watak dan lingkungan anak muda yang di rasakan oleh Yatun L. di mana pihak yang berkuasa akan mencoba membendung laju pemikiran lain selain konsep yang mereka punya. Ide tersebut dialirkannya dalam buku berjudul "Dromenjagers in Bandung" (Para Pemburu Impian di Bandung). Hal tersebut terjadi. Saya katakan perlawanan maya. Kemudian sosialisme mulai menemukan bentuk nyatanya dalam Marxisme-nya Karl Marx yang menjelaskan proses pembentukan Utopia dalam beberapa fase melalui Materialisme Historis. karena selintas terasa sebagai sikap-sikap munafik dalam masyarakat. politik. Utopia menjadi referensi bagi perkembangan wacana sosialisme di Eropa. Itu juga yang membuat Dunia Maya pada umumnya. lebih menarik untuk saya amati seiring dengan konsep pemikiran Utopia itu sendiri. yaitu "Sejarah Nasional Indonesia". dan beberapa faham lain. perkembangan Dunia Maya adalah usaha pemberontakan terhadap kerangkeng-kerangkeng yang ada dalam dunia nyata. karangan Nugroho Notosusanto. yang terkadang (mungkin seringkali) sangat terasa otoriter. yang melukiskan dengan sangat sempurna bagaimana terjadinya perlawanan maya (dalam pemikiran) terhadap kerangkeng-kerangkeng nyata. Dalam perspektif sejarah mungkin terwakili dengan adanya satu buku panduan wajib pakai. Lalu. Hegemoni jenis pertama adalah apa yang disebut dengan "everyday resistance". Yang ingin saya bahas di sini bukan proses politik yang ada. Di mana pengakuan anti liberalisme (kebebasan). Baik berupa ideologi. Dari bentuk prosesnya sendiri.M. tentu saja. lihat. yaitu pemikiran masyarakat akan suatu hal. Terjadilah satu pemberontakan terhadap otoritas sastra koran. dari Leninisme. Internationale (Komintern). Sehingga untuk beberapa tulisan (pemikiran) terjadi sensor. Maka muncul beberapa versinya. karena secara sembunyi-sembunyi hampir selalu dibarengi dengan (dan menerapkan) pola liberalisme (kebebasan). ataupun agama. dan rasakan. Marhaenisme.masyarakat terhadap kelas masyarakat lainnya. juga menjadi referensi baru bagi mereka yang memimpikan Utopia dalam watak lingkungan dan masyarakat yang ada. tidak diikuti satu sikap nyata. ekonomi. Adanya Dunia Maya (Cyber World). pada perkembangan berikutnya. Seperti yang sering saya baca. Sastramidjaja selama 6 bulan merasakan hidup di tanah pasundan. Ini . terbentur pada adanya kekuasaan dewan redaksi dalam dunia nyata. Maoisme. serta melarang munculnya tulisan sejarah lain. Dulu orang hanya mengenal bentuk perlawanan ini dalam faham platonisme. Pemberontakan yang ada adalah pemberontakan terhadap sistem redaksional koran. yaitu usaha untuk melawan hegemoni. Sosdem (Max Adler). yaitu sejarah pertentangan kelas. dengar. menemukan tatanan yang pas bagi masyarakat dan lingkungan yang membentuknya. terdapat dua macam jenis hegemoni. Hegemoni adalah proses pembentukan memori kolektif. entah turunannya atau justru kritikannya. juga bukan faham-faham tersebut yang akan (dan memang) selalu berdialektika. bahkan perlawanan itu hanya ada dalam pikiran saja. budaya.

Ini wajar. Menguap bersama tetap adanya gengsi. Sementara perbedaan pandangan itulah yang menjadikan hegemoni dapat melepaskan diri dari "everyday resistance" yang otoriter. mengutip kata-kata Widji Thukul. Mengapa ini terjadi? Ada beberapa hal. publik menentukan sendiri. serta bebas memilah-milah pemikiran seperti apa yang menurut mereka benar. melihat rendahnya standar kualitas sekaligus dangkalnya pesan moral yang bisa diambil dari sinetron-sinetron pada umumnya. yang menjadikan sastra koran berusaha memperkuat sensornya. telah menjadi sublim. disorientasi. Bagaimanapun. Tidak ada kesadaran akan arti sebuah perbedaan pandangan. Suatu Contoh Kasus Sudah tidak diragukan lagi bahwa monopoli Punjabi bersaudara dalam produksi sinetron bisa dijadikan salah satu contoh bagaimana kaum kapitalis mengatur sekaligus 'mengawetkan' selera pasar. Dalam arti. dengan proporsi yang seimbang. Manifestasinya jelas. Sedang hegemoni jenis kedua. yang berusaha dilawannya. ketika ada satu keterbukaan dan kebebasan dalam berkespresi. Tapi ternyata ini belum semua. Sedang untuk penindasan. karena dengan itulah kita mampu membuka ruang dialektika.jelas terlihat pada masa pemerintahan Soeharto. yang tidak dapat terelakkan. masih saja sama dengan konsep yang ada pada dunia nyata. Sinetron . Melanggengkan apresiasi serta daya kritis masyarakat yang rendah terhadap dunia entertainment atau seni pertunjukkan. yaitu : "LAWAN!" untuk mencapai terciptanya Dunia Maya yang hakiki (Utopia). rupanya. media masih merupakan alat paling jitu untuk menyampaikan satu pemikiran kepada masyarakat. hanya ada satu kata. adalah hegemoni pada sistem masyarakat yang terbuka (tanpa satu produsen). Iklim persaingan yang ketat ternyata menambah tuntutan untuk mengesampingkan nurani orang-orang yang terlibat dalam dunia entertainment baik langsung atau tidak langsung. Tidak hanya 'halal' bahkan cenderung 'wajib' dilakukan. Hal tersebut juga. serta terbuka untuk menjadi bahan diskusi masyarakat umum. G. ini sudah merupakan satu penindasan pula. Namun. mengingat hal tersebut tak lepas dari proses pembentukan sebuah masyarakat (akan ada identitas kolektif). Mestinya hal ini tidak perlu jadi fakta yang terlalu mengejutkan. Masalahnya. Konsep ini semestinya berkembang pada Dunia Maya. Dunia Maya itu sendiri belum bisa lepas dari kekuasaan redaksi. yaitu dengan terus membaca serta menulis apapun yang kita pikirkan. Perbedaan pandangan masih dilihat begitu tabu dan tidak mengenakkan. ataupun sentimen yang ada pada masyarakat dalam Dunia Maya. Artinya. adalah sikap terbuka dalam menerima suatu kritik. di mana pemikiran-pemikiran yang timbul dalam masyarakat mendapatkan ruang yang bebas untuk diapresiasikan. Desas-desus adanya manipulasi rating kiranya sudah menjadi rahasia umum. . bahwa Dunia Maya juga telah menemukan batasan. Perlawanan terhadap sastra koran. Tentu saja. yang masih kurang dipahami untuk mengeliminir resiko tersebut. yang kemudian. Ternyata gossip artis juga bisa di-create dalam rangka promosi sebuah sinetron. Hal ini pula. seperti juga yang terjadi di dunia nyata. Yang pertama. Ada batasan-batasan dalam Dunia Maya. "Bacalah!" dan "Tulislah!". membuat penilaian akan satu pemikiran terletak pada masyarakat luas.

Inilah budaya kiwari (kini). Hyperspace yakni keadaan runtuhnya makna ruang sebagaimana dipahami berdasarkan prinsip geometri Euclidian (ruang 2 dan 3 dimensi) dan mekanika Newtonian. Maka. Dominasi konsumerisasi. konsumerisasi menjadi motif utama dan penggerak realitas sosial. yakni kondisi aktivitas konsumsi secara berlebihan. menjadi agen bagi penyebaran makna-makna dan reproduksi relasi-relasi sosial. citra dan tanda lebih utama ketimbang makna. telah digeserolehperkembangan ruang semu dan simulasi elektronik. Keenam. Hypercommodity. tidak ada lagi yang dapat dibedakan antara fiksi dengan kenyataan. citra dan tanda.Hypermarket. Hyperreality memiliki beberapa karakter diantaranya. berupa gejala peningkatan perawatan dan penyempurnaan penampilan tubuh secara berlebihan.“there is no more fiction that life could possibly confront”. dan akhirnya menjadi pusat aktivitas sosial dan referensi nilai baru. misalnya melalui penggunaan teknologi elektronik dalam dunia musik. konsumen adalah mayoritas yang diam. begitu pasif menerima segala apapun yang masuk ke dalam tubuh dan pikirannya. gengsi telah mengalahkan fungsi. telah menjadikan konsumerisasi sebagai institusi kekuasaan baru menggantikan peran negara. The Silent Majorities Consumers is the silent majorities. lalu lintas dan praktek sosial. mereka begitu hanyut dalam gelombang deras budaya yang didakwahkan tiap detik lewat media massa. slogan ini seperti ingin mewakili tema ‘konsumerisasi’ yang melanda Indonesia. yang melampaui nilai-guna benda. misalnya kegiatan seks melalui jaringan komputer jarak jauh. telah merambah tidak hanya dalam kawasan ekonomi. Hypersensibility yakni gejala peningkatan atau penyempurnaan secara berlebihan kepuasan inderawi. Penampakan. Kini. penampilan. Ketujuh. yakni gejala merebaknya komoditas gede-gedean di hampir seluruh aspek kehidupan. telah digantikan kedudukannya oleh nilai tanda dan nilai simbol. isi dan kedalaman. Nampaknya. Pertama. Apa yang ditawarkan konsumerisasi? Simbol. Di sini. Antara fiksi fakta berada dalam gray area. Kedua. Dalam area budaya. Selain itu. militer dan parlemen. Apa yang terjadi saat ini? Konsumen. Hyperconsumption. simbol status. penampilan. melalui bantuan kemajuan teknologi kosmetik dan medis. dan cenderung memusatkan perhatian pada makna-makna personal dan sosial. sistem tanda. Hypersexuality yakni gejala pengumbaran kepuasan seks yang melampaui wilayah seksualitas itu sendiri. Ketika perhatian utama budaya kiwari lebih ditujukan kepada simbol.H. fenomena ini ditandai dengan hyperreality yang tengah melanda Indonesia. Bahkan.Hypercare. yakni bentuk pasar yang mengkonsentrasikan dan merasionalisasikan waktu. bukan manfaat dan harga komoditi. Prinsip nilai-guna dan nilai-tukar. citra. Ketiga. Kelima. budaya bahkan politik. Konsumen menelan mentah-mentah apa saja. Seperti selorohan Baudrillard (1983:148). Kemasan menjadi lebih penting dari isi. tanpa pernah mampu merefleksikannya kembali dalam kehidupan yang sebenarnya. Keempat. Kapitalisme yang menikahi teknologi. .

Demikian juga pakarpakar sosiologi yang memanfaatkan potensi teori sistem sosial pasca-Talcott Parsons. melainkan merupakan bagian dari masyarakat. budaya adalah anak yang dilahirkan masyarakat dan disusui zaman. Dengan kata lain. citra dan penampilan yang sulit dibedakan antara fiksi dan kenyataan. Maka. perpindahan dan perbedaan. bagaimana sistem itu sebenarnya beroperasi? Kedua. ia hendak menjawab pertanyaan "bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosial itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa". dan karsa manusia.“We are the champion…”. budaya merupakan itikad baik untuk memuliaan manusia di dunia. Maka. Publik tidak tinggal diam dan . kenapa pemberitaan di media massa begitu parah? Menurut Niklas Luhmann. Ketika realitas kebudayaan ini telah menjadikan penanda (signifier) lebih utama ketimbang petanda (signified). Walaupun demikian. Fungsi media massa sebenarnya bukan ‘merekonstruksikan realitas sosial’. Sistem tanda (system of signs) lebih bermakna ketimbang sistem objek (system of objects). media lebih penting ketimbang pesan. Sebagian besar pakar cultural studies selama ini masih melihat konsumsi media massa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan dan mengandung bahaya hegemoni Barat. seharusnya kita bertanya. rasionalitas tidak lagi memiliki tempat dan tanpa makna. Namun. seberapa parah kondisi masyarakat kita sampai kita membutuhkan cermin media seperti itu? Dalam konteks ini. sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar. masing-masing menilai. pertanyaan Nuraini Juliastuti tampaknya mengandung dua premis pernyataan yang belum terbukti. Persis seperti nyanyian Queen. fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masyarakat (Marlinkowski 1993). bukan mencerminkan (dalam arti meng-copy) keadaan masyarakat. Dalam bahasa teori sistem sosial yang terus menerus dikembangkan di Jerman. Artinya. budaya merupakan upaya bersama yang rentan terhadap pergeseran. Proses penyampaian pesan dalam ilmu komunikasi kini dipandang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. Media di Indonesia maupun di negara lain sama parahnya dengan keadaan masyarakat. karya. khalayak juga aktif dalam proses tersebut. ia merupakan cermin manusia. Pertama. I. pertanyaan tersebut tetap tidak terjawab. sosiolog Jerman. Douglas Kellner misalnya menuntut pendekatan metateoretis dan multiperspektifis dalam menganalisis proses penyampaian pesan media. Sehingga. media massa merupakan cermin kebaikan dan keburukan masyarakat. yaitu adanya arus informasi yang bersifat satu arah dan adanya dampak media massa yang cukup berarti terhadap publik. maka saya tidak sepenuhnya setuju dengan pengertian Nuraini Juliastuti terhadap media massa dalam kajiannya terhadap majalah remaja HAI. yang rentan terhadap persaingan dan klaim terbaik. Ketika kebudayaan dipandang sebagai hasil cita. pakar jurnalistik di Universitas Gadjah Mada (Abrar 1997). Dalam tulisannya.Ketika masyarakat dipandang sebagai kumpulan individu-individu yang beraneka ragam. Tidak ada gunanya kalau kita terus bertanya. suatu perubahan dalam pengertian cultural studies terhadap media massa sudah terlihat. budayanyalah yang terbaik dan kamilah para pemenang. Akhirnya. Hegemoni Informasi pada Media Massa Media massa sebenarnya tidak berdiri sendiri. Maka. Konsumen hanyut dalam simbol.

Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang relevan dan informatif buat pembacanya. Walaupun demikian. Penutup Jika budaya adalah tubuh. dan kita sebagai individu dapat mengamatinya dengan hasil yang sama. bila kita memanfaatkan pendekatan ontologis dan normatif dalam analisis media. kita sebagai peneliti tetap dapat meneliti dan terus mengkritik media massa. Bila kita mau menyalahkan media massa atas perkembangan masyarakat yang tidak memuaskan itu. J. media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pada umumnya. Jakarta. 2. Fernando Henrique/Enzo Falletto (1979): Dependency and Development in Latin America. Tentunya. Berpisahnya mata. Jangan kita bertanya seberapa parah pemberitaan di media massa kita masa kini. Kita perlu melihat media massa sebagai bagian dari masyarakat kita. ‘kenyataan’ Anda berbeda dengan ‘kenyataan’ saya walaupun kita mengamati realitas murni. maka posisi ilmu komunikasi atau sosiologi pada umumnya akan berada dalam posisi yang lemah. seharusnya kita membuktikan bahwa ada kenyataan murni yang bersifat universal (the truth out there). Budaya yang tak peduli berpisahnya otak dari badan.menerima pesan-pesan media massa begitu saja. Berpisahnya emperisme dengan rasio. Berkeley. Kesimpulan kita berbeda karena cara pengamatan yang dipakai tidak sama. Akan tetapi. Galtung. maka konsumerisasi adalah budaya tanpa kepala. Ana Nadhya (1997): Bila Fenomena Jurnalisme Direfleksikan. pada JOURNAL OF PEACE RESEARCH edisi 8. Johan (1971): "A Structural Theory of Imperialism". Cardoso. hidung dan telinga dari pikiran. Melainkan bertanya. LITERATUR REFERENSI Abrar. Dengan demikian muncul pertanyaan. apakah layak bila kita sebagai ilmuwan menuntut media massa untuk mengkonstruksi realitas dengan cara pengamatan kita? Tentu tidak! Seorang peneliti mengamati realitas sosial dengan maksud mendapatkan kebenaran. konsumerisasi lebih dari sekedar mimpi buruk yang tiap kali muncul dalam tidur. melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. . Sebaliknya. mulut. Bagi sekitar 210 juta penduduk Indonesia yang rata-rata pendapatan hariannya kurang dari $2. apa yang kita alami sebagai realitas itu hanya merupakan hasil konstruksi atau kognisi kita sendiri yang berdasarkan pengamatan atas realitas. Akan tetapi. faktor-faktor apa yang memungkinkan penampakan media yang kurang memuaskan.

Namun. . Banyak gerakan mahasiswa terjebak berbagai kepentingan pribadi dan golongan. (1998): "Social Science. Communication Research and the Third World". Mahasiswa dulu dan kini PASCAREFORMASI 1998 gerakan mahasiswa seakan-akan meredup. James D. Itu sangat tampak jika kita melihat ruang-ruang diskusi mahasiswa yang tak lagi diramaikan pembicaraan tentang problematika umat. Jika dahulu keterbatasan media malah membuat para aktivis kampus makin kreatif dan kritis. pada MEDIA DEVELOPMENTedisi 2 Talcott Parsons (1951): The Social System. walau harapan tinggi dari masyarakat masih dibebankan ke pundak mahasiswa. New York/London. gerakan mahasiswa masih memiliki legitimasi moral dari masyarakat. Sebagai kekuatan besar.Halloran. gerakan mahasiswa saat itu mampu mengubah sejarah negeri ini. Mahasiswa mampu menumbangkan rezim otoriter Soeharto. saat ini berbanding terbalik. saat ini gerakan mahasiswa cenderung menurun. Mahasiswa seakan-akan tak memiliki progresivitas dan sensitivitas dalam menanggapi berbagai persoalan riil bangsa ini. dan mandek. Padahal. statis pasif.

Sebab. saat ini hanya berperan sebatas lingkup kampus. Karena itulah kemandekan gerakan mahasiswa saat ini harus menjadi perhatian bersama serta disikapi secara arif dan bijaksana. Idealisme sebagai prinsip dasar gerakan mahasiswa seolah-olah tertawan di ruang perkuliahan yang sangat mengekang. sejarah telah mencatat gerakan mahasiswa dengan idealisme para aktivisnya telah menumbangkan kediktatoran Soekarno dan menggulingkan rezim otoriter Soeharto. yang tampak adalah gerakan mahasiswa mati suri. Posisi tawar mahasiswa yang semula senantiasa menjadi kebanggaan. . Akibatnya. Gerakan mahasiswa merupakan bentuk perjuangan nyata kaum intelektual berdasar tanggung jawab moral sosial mereka kepada rakyat. serta memperjuangkan aspirasi rakyat menumpul dan berkarat. era globalisasi dengan teknologi yang makin canggih dan membuat dunia makin kecil justru makin mengerdilkan jiwa para aktivis pergerakan mahasiswa. Karena. Perlu dicari akar permasalahan untuk dibuatkan satu solusi cerdas guna membangun kembali semangat gerakan mahasiswa yang mati suri. Refleksi Sejarah Harus kita akui peran mahasiswa sangat penting dalam perjalananan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari masa ke masa. Semua itu menjadi faktor penyebab kemandekan gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa telah membuktikan apa yang mereka lakukan mampu menumbangkan segala bentuk otoritarianisme penguasa terhadap rakyat. Sifat kritis sebagai senjata utama mahasiswa dalam mengupas berbagai isu dan persoalan bangsa. menanggapi berbagai kebijakan pemerintah. kini tak lagi ada. Kembali melakukan refleksi sejarah merupakan salah satu cara untuk mengembalikan semangat gerakan mahasiswa. idealnya mahasiswa merupakan golongan intelektual yang memiliki semangat berjuang tinggi. Sejarah dapat berperan penting untuk menumbuhkan kembali semangat perjuangan. kini seakan-akan hilang bagai ditelan bumi. Suara keberanian dan kejujuran mahasiswa yang semula nyaring terdengar. Motivasi Refleksi sejarah perjuangan mahasiswa pada zaman dahulu diharapkan memberikan motivasi serta menyadarkan kembali mahasiswa sekarang betapa penting gerakan mahasiswa. gerakan mahasiswa yang dulu lebih mengedepankan kepentingan rakyat kecil. Tak pelak.Selain itu.

Mahasiswa adalah iron stock. pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. cadangan. yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua kepada golongan muda. Iron stock itu diartikan bahwa mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan moralitas baik yang nantinya dapat menggantikan generasi sebelumnya. rektorat dapat membuat kebijakan yang mendukung serta mempermudah pertumbuhan gerakan mahasiswa. bangsa. kebijakan diciptakan untuk menghambat atau mematikan mahasiswa dan gerakan mahasiswa. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.Ditambah dengan keberhasilan mahasiswa dahulu yang bisa memantik keberanian mahasiswa sekarang untuk mengukir sejarah baru. peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam QS AlMaidah: 54. Pola pikir dan sikap mental founding fathers sangat perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini terutama mahasiswa. Soekarno. dan harapan bangsa untuk masa depan. dari zaman nabi. Beliau berusaha mencari jalan keluar untuk menentang penjajahan asing yang menyengsarakan rakyat. Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir. posisi Peran. integritas dan konsistensi perjuangan yang tidak pernah gentar terhadap kekejaman dari kekuasaan penjajah yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat.” Itulah kiranya perkataan yang terucap dari lisan presiden pertama kita. Sebab. yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai. Dalam konsep Islam sendiri. Tanpa dukungan masyarakat. Tak kalah penting untuk menghidupkan kembali gerakan mahasiswa. tidak mungkin mahasiswa dan gerakan mahasiswa bisa eksis dan aktif. lemah lembut kepada orang yang beriman. Bukan sebaliknya. Soekarno berhasil meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia karena memegang teguh idealisme. dan Kontribusi Mahasiswa terhadap Masyarakat “Berikanlah aku lima pemuda. Ketika muda. kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. gerakan mahasiswa pada dasarnya merupakan gerakan untuk masyarakat. kolonialisme. Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan . Pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat” adalah sebagian kecil karya yang berpengaruh dalam kebangkitan bangsa ini. Oleh karena itu. harus ada dukungan dari berbagai pihak. Salah satu dukungan dari internal kampus. Intinya mahasiswa itu merupakan aset. Peran serta dukungan masyarakat pun menjadi kunci keberhasilan untuk menyemai kembali pertumbuhan gerakan mahasiswa yang mati suri. Fungsi. hingga reformasi. Soekarno amat peduli dengan permasalahan bangsa. niscaya aku akan merubah dunia. dan bersikap keras terhadap kaum kafir yang memerangi. dan negara. Semangat dan keberaniannya dalam perjuangan menuju kebangkitan bangsa perlu ditiru mahasiswa di masa kini.

Pemikiran politik kritis terhadap pemerintahan sangat didambakan oleh rakyat. selain memiliki kelebihan intelektulalitasnya. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi kepada masyarakat. Sudah sepatutnya mahasiswa itu lebih memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. Terlebih lagi bagi mereka yang berkuliah di universitas negeri. Secara fitrah. Jika memang seperti itu kondisinya. Peran sosial yang tercermin dalam kepekaan tinggi terhadap lingkungan. harus diingat bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak hanya itu saja. Kita juga diharuskan untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi pada masa generasi sebelumnya. masa-masa mahasiswa merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal dalam akselerasi kebangkitan masyarakat. Akan tetapi. Kemudian ada pertanyaan. sehingga mahasiswa akan dapat lebih menghormati akan keragaman yang ada di dalam masyarakat nantinya. dan lain-lain.memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan. Di mata masyarakat. latar belakang. kita juga mendapat kesempatan untuk mendalami ilmu yang tidak semua orang mendapatkannya. Menjadi seorang mahasiswa tidak lantas terlepas dari dunia di luar kampus. kenapa harus iron stock? kenapa bukan golden stock yang mungkin lebih bagus dan mahal? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu lama. Untuk itu. kita diharapkan mempunyai andil dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. sebagai mahasiswa. maka akan sangat sia-sia kelebihan yang dimiliki mahasiswa. Sebagai mahasiswa. Mahasiswa seperti itu menganggap bahwa tugasnya adalah sekedar belajar di kampus untuk pada akhirnya mencapai nilai IPK yang tinggi. dan pikiran. banyak dimiliki mahasiswa. . sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. kondisi finansial. Sebenarnya memang tidak salah sebagai mahasiswa kita memiliki beban untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapat nilai yang baik sebagai tanggung jawab terhadap orangtua yang telah membiayai kita dan sebagai syarat untuk meniti karier setelah lulus. mahasiswa seringkali disematkan dengan nama agent of change (agen perubahan). Namun mahasiswa sering terjebak dalam kondisi dimana statusnya dalam kampus hanya diartikan sempit dengan berkutat pada dunia kampus saja. Mahasiswa masih memiliki banyak tanggung jawab lain yang harus dipenuhi. di mana kampusnya dibangun dengan uang masyarakat kecil. misalnya bertemu dengan tokoh-tokoh (stakeholder) kampus dan masyarakat. baik itu masyarakat umum di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitarnya atau bahkan permasalahan bangsanya. agama. Ketika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan. Dinamika kampus juga mampu memberi hal positif karena kampus terdiri dari mahasiswa yang beranekaragam asal. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. tenaga. di mana mahasiswa harus memiliki kepekaan untuk berkontribusi terhadap permasalahan yang terjadi di luar dirinya maupun kegiatan kampus. pandangan politik. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi yang didapatkan dari kesempatannya untuk menjangkau pustaka-pustaka yang ada di kampus maupun dengan kesempatannya yang lebih mudah. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu. Itulah sebabnya mengapa kampus diistilahkan sebagai miniatur negara.

Jadi. Kalau hal itu dipahami. maka bangsa Indonesia akan terus terpuruk. keilmuan. mahasiswa harus mengubah mindset (pemikirannya) yang sempit menjadi terbuka. Oleh karena itu. Bagaimanakah mereposisi/memposisikan kembali peran mahasiswa? Peran mahasiswa dalam perjalanan bangsa Indonesia sangat besar dan penting. menjaga etika. namun sebagian besar mahasiswa masih berpikiran sempit. dan dilaksanakan. Jika tidak. Tetapi apabila Tri Darma Perguruan Tinggi hanya sebuah landasan tanpa pemahaman dan tidak diamalkan. Ia memiliki keleluasaan untuk memberi kendali dan kritik terhadap pemerintah maupun masyarakat di saat terjadi pelanggaran dan ketidakadilan yang merugikan kepentingan masyarakat. Pendidikan adalah jembatan untuk menyalurkan kreatifitas. seperti yang telah dipaparkan di atas. pengembangan kemampuan. Sampai pada pengabdian masyarakat. itu akan menjadi tugas mulia untuk memberikan hal-hal yang akan memberikan manfaat besar bagi khalayak. Jika hal itu dilakukan secara sungguh-sungguh. mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan. Hal penting yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa mahasiswa dapat berkontribusi sebagai alat social control (kontrol sosial). maka perguruan tinggi benar-benar menghasilkan para sarjana yang berkualitas. insan agama. Ini dapat dilakukan ketika masih menjadi mahasiswa. tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat tanpa melupakan tugasnya sebagai mahasiswa. dan juga penanaman budi pekerti bagi generasi yang akan memegang Negeri pada masa berikutnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas. seorang mahasiswa dapat berkontribusi dengan kemampuan intelektualnya sehingga memberi perubahan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. Dimulai dari fungsinya sebagai insan akademis. pemberdayaan masyarakat. Jika Tri Darma Perguruan Tinggi itu ditelaah. tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi terpenting yang harus dilakukan mahasiswa adalah belajar dan mengasah kemampuannya sebaik mungkin dalam bidang/jurusan masing-masing. dipahami. Mahasiswa pun masih tergolong . kritis. dan berintegritas. Di samping itu. berdedikasi. maka diharapkan ia mampu mengimplementasikan ilmunya dalam masyarakat dan memberi manfaat bagi orang banyak. norma dan moralitas. dan memiliki empati terhadap masalah-masalah bangsa. Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat dalam hal perjuangan dan kontribusi terhadap bangsa. disiplin ilmu pascalulus nanti dapat dimanfaatkan untuk mengupayakan proses penyelenggaraan good governance (tata pemerintahan yang baik). bahwa sebagai mahasiswa tidak hanya belajar saja. inovatif. Begitupun dengan penelitian dan pengembangan yang akan mencetak insan yang kreatif. sampai pada insan kemasyarakatan. Tri Darma Perguruan Tinggi harus dipahami oleh semua kalangan mahasiswa. dan cemerlang. jadilah mahasiswa yang benar. Namun.benar agen pemberi harapan. sehingga nantinya mampu menghadapi kehidupan masyarakat yang sesungguhnya serta berkontribusi penuh di dalamnya. meningkatkan SDM dan pendidikan masyarakat. Lembaga pendidikan tentunya sudah mengupayakan hal ini. Kemudian mahasiswa memang harus benar-benar memahami tujuannya sebagai mahasiswa. kontribusi seperti apa yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat? Ada banyak kontribusi yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat. Sebagai contoh. maka mahasiswa sama halnya seperti sampah yang tidak berguna bagi masyarakat. pada intinya harus tercipta keseimbangan antara akademik dan sosial pada mahasiswa.Lantas.

dimana keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu: memiliki sense of crisis. dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu. . Hatta. Mahasiswa pun dapat berperan sebagai penyalur aspirasi rakyat. yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Dalam hal tersebut. Tak jarang ia berat sebelah. dan lain sebagainya. dimana mahasiswa harus mencari nilainilai kebenaran itu sendiri. Contoh: kasusnya yang paling gampang adalah saat terjadi kenaikkan BBM. Bagaimanakah fungsi mahasiswa yang sebenarnya? Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Posisi mahasiswa cukuplah rentan. Oleh karena itu tugas mahasiswalah yang harus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat.kaum idealis. sebab mahasiswa berdiri diantara idealisme dan realita. Saat kita berpihak pada realita. yaitu membentuk manusia susila dan demokrat yang: 1.Hatta tersebut. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat Berdasarkan pemikiran M. Mahasiswa diharapkan mampu membantu mensosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Mahasiswa dalam hal hubungan masyarakat ke pemerintah dapat berperan sebagai kontrol politik. ormas. Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan 3. yaitu mengawasi dan membahas segala pengambilan keputusan beserta keputusan-keputusan yang telah dihasilkan sebelumnya. dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut. dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat dilanjutkan dengan analisis masalah yang tepat maka diharapkan mahasiswa mampu menyampaikan realita yang terjadi di masyarakat beserta solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. dan selalu mengembangkan dirinya. kemudian meneruskannya kepada masyarakat. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai guardian of value (penjaga nilai). ternyata ia secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya dimiliki. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat 2. Sehingga mahasiswa menurut saya tepat bila dikatakan memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah. saat membela idealisme ternyata ia melihat realita masyarakat yang semakin buruk. insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu. Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyampai lidah pemerintah.

Demikianlah peran. . fungsi. Mahasiswa merupakan tonggak kejayaan rakyat. Seorang mahasiswa tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran rakyat yang sangat memprihatinkan ini. dan kontribusi mahasiswa. Peranannya sangat didambakan oleh masyarakat sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Kiprah mahasiswa sangat didambakan dalam mengukir peradaban bangsa ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful