Tugas Makalah Distorsi Nilai Kemahasiswaan(1)

Hegemoni modernitas A.

Pendahuluan Antonio Gramsci seorang anak miskin yang beraliran Marxis, lahir di Ales, sebuah kota kecil di Sardinia, Itali, pada 22 Januari 1891. Ia seorang mahasiswa Fakultas Sastra di sebuah Univesitas di Turin. Disinilah awal perubahan hidupnya. Selain aktifitas kuliah, kedatangannya ke Turin menandai perjumpaan pertamanya dengan kehidupan kota industri yang bergelimang kemewahan. Namun, secara kritis Gramsci melihat dekadensi budaya di sana. Pertunjukanpertunjukan budaya nyaris kering, dan tidak memiliki perspektif baru. Sebagai mahasiswa jurusan sastra, ia sering menulis banyak kritik teater. Semua itu membuka matanya tentang betapa tajamnya jurang penghidupan kota dan desa, interaksi keduanya, dan soal hubungan politik yang timpang antara klas buruh di kota dan petani di desa. Kemiskinan dan ketidakadilan yang dialaminya diusia dini di Sardinia sangat mendalam, sehingga cukup membekas di lubuk hatinya. Pengalaman-pengalaman inilah yang juga memberi andil besar bagi pembentukan Gramsci sebagai seorang revoluasioner. Gramsci bukan sekedar tokoh yang hanya bergulat dengan ideide intelektual. Dia juga terlibat dalam berpolitik dan berkenalan dengan organisasi-organisasi massa militan. Melalui tugas-tugas politik kakaknya yang bernama Genero, Gramsci mulai masuk ke dalam aktifitas Partai Sosialis Itali. Pada tahun 1914, Gramsci menjadi editor bagi mingguan Partai Sosialis, II Grido Popolo (Jerit Tangis Rakyat), dan menjadi staf editor tetap di sana. Agustus 1917 pemberontakan spontan meletus di Turin. Para buruh di Turin bangkit dan mendirikan berikade-barikade. Pusat kota Turin di kepung oleh para buruh. Dalam pemberontakan selama empat hari itu, sekitar 50 orang buruh meninggal dan ratusan lainnya di jebloskan kedalam penjara. Bagi Gramsci, peristiwa itu mempunyai arti politik yang luar biasa, karena rakyat luar biasa. Akibat politik, Gramsci juga dijebloskan ke dalam penjara oleh Pengusaha Fasis hingga mengakhiri hidupnya dalam keadaan sakit di usia 46. Di dalam penjara itulah lahir karya-karya Gramsci yang brilian tentang tradisi filsafat dan pemikiran politik termasuk Hegemoni. Karena pada hakekatnya kekuasaan akan selalu punya taktik untuk terus-menerus memperoleh dukungan dan sebaliknya kelompok tertindas tidak selalu berani melakukan perlawanan. Rintisan perubahan yang radikal maupun gradual, tetap harus memperhitungkan, taktik pengusaha yang jelas-jelas ingin bertahan. B. Kritik terhadap Konsep Hegemoni dari Gramsci Gramsci berpendapat bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Dalam konteks pembangunanisme, konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller). Saya mencoba mengkritik konsep hegemoni yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, karena wacana Gramsci ternyata tidak membantu untuk mengerti

Dalam artikel tersebut. salah seorang penasehat komisi MacBride 20 tahun yang lalu. terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara berkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia. struktur patrimonial dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes). Atau. C. sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang. berpendapat bahwa riset terhadap perkembangan di Dunia Ketiga cenderung justru mempertajam ketergantungan negara-negara berkembang pada Barat. tanggung jawab atas segala kegagalan di Dunia Ketiga bisa dilempar ke negara-negara maju. justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann). referensi historis yang mengarah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat problematis. proses diferensiasi di dunia ketiga sendiri. paham demokrasi yang berpendapat bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat yakni pengelolaan negara harus didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan. Saya pikir. apakah imperialisme kultural dan imperialisme media diikuti imperialisme penelitian? (Halloran). Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya. dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat. Bahkan James D. akan tetapi dianggap gagal karena pada akhirnya paham ini masih menunjukkan intervensi Tuhan dengan segala otoritas-Nya yang begitu kuat sehingga pendapat rakyat akan tersubordinasi dalam 'pendapat Tuhan'. teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi yang bermanfaat dalam konteks global (ibid). 27/9/2002) menarik untuk ditanggapi. Juga paham teodemokrasi yang mencoba untuk menengahi kedua faham tersebut. Kedua. Ketiga. Lalu dia bertanya. Hegemoni dalam Relasi Negara dan Agama Artikel berjudul Pluralisme di harian Media Indonesia (Jumat. Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: pertama.interdependensi (bukan dependensi) kultural antara dunia Barat dan dunia Timur maupun antara dunia Utara dan Selatan. Di akhir tulisannya Hery Sucipto mengetengahkan masalah yang sebenarnya dihadapi oleh bangsa Indonesia. dependensi dan hegemoni. teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan dengan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial. Keempat. tanpa campur tangan agama. Polemik dan perdebatan ini telah melahirkan berbagai teori politik tentang kedaulatan. Halloran. termasuk realitas negara. Proses globalisasi itu memang jauh lebih kompleks. Dengan demikian. Hery Sucipto mencoba mengurai kembali benang kusut relasi agama dan negara yang selalu memunculkan polemik dan debat berkepanjangan namun tetap menarik untuk dibincangkan. Apa gunanya? Persepsi tentang Antonio Gramsci oleh pakar sosiologi di dunia ketiga yang sangat positif itu barangkali terjadi karena mereka sering dengan mudah dan tidak kritis mengadopsi model dan teori sosiologi Barat yang sudah ketinggalan jaman seperti modernisme. Sebut saja paham teokrasi yang mengatakan bahwa kedaulatan ada di tangan Tuhan yang menghendaki agar Tuhan bisa mengatasi semua realitas. yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat. tidak. Yakni bagaimana mendudukkan agama dan politik (baca: negara) pada proporsinya masing-masing dalam rangka .

'beragama' ternyata merupakan 'urusan negara'. Kemungkinan terjadinya ideologisasi agama ini bisa dilihat pada dua gejala. ketika agama berhadapan dengan kekuasaan tidak menjalankan fungsi kritisnya. dalam bahasa lain 'beragama' adalah sebuah 'paksaan'. maka sama sekali tidak dimungkinkan seseorang untuk tidak beragama dalam wilayah Republik Indonesia. baik pemerintahan Soekarno maupun Soeharto berusaha untuk menjinakkan dan melemahkan partai-partai Islam karena dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang potensial. yang merupakan conditio sine quanon masyarakat Indonesia. gaya. menjadi sarana yang ampuh untuk menciptakan hegemoni. Masih mengendap dalam benak kita. Karena setiap agama dikehendaki atau tidak ketika berhadapan dengan kekuasaan. Bahkan dalam konteks Indonesia. ternyata keduanya saling menunjukkan upaya untuk mendominasi. atau politisasi serta ideologisasi simbol-simbol keagamaan demi kepentingan pergulatan kekuasaan politik. Hegemoni negara atas agama Reposisi agama dan negara dengan menempatkan keduanya pada proporsi masing-masing tentunya bukanlah hal yang gampang. Hegemoni negara atas agama oleh pemerintah tampak begitu kuat mengakar. Ia menawarkan gagasan reposisi antara agama dan negara yang merupakan langkah penting untuk dilakukan. bukan hanya para pemimpin dan aktivis Islam politik gagal menjadikan Islam sebagai dasar ideologi dan agama negara pada 1945 (menjelang Indonesia merdeka) dan pada akhir 1950-an. ketika agama karena tugasnya mengkhotbahkan keselamatan dan mengajarkan kesempurnaan hidup. begitu dominannya peran organisasi formal keagamaan dan penekanannya pada aspek simbolis/ritual keagamaan ketimbang aspek substantif juga menunjukkan bagaimana kontrol negara begitu kuat atas agama. Atau. atau dinamika kehidupan beragama.saling melengkapi kapasitasnya. tetapi mereka juga mendapatkan diri mereka berkali-kali disebut 'kelompok minoritas atau kelompok luar'. yang dapat merobohkan landasan negara yang nasionalis. pertama. Kedua. Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia. Ihwal tersebut tampak tidak hanya dengan adanya 'intervensi langsung' dalam bentuk aneka peraturan negara ke dalam ranah keagamaan. Di samping itu. Atau sebaliknya. utamanya pluralitas agama. tetapi lebih banyak menjalankan peranannya sebagai sarana untuk legitimasi kekuasaan. bukan 'pilihan'. mengundang kemungkinan bagi para pemimpin agama masuk ke dalam kancah pergulatan kekuasaan. Akibatnya. . Mengingat heterogenitas dan pluralitas. alih-alih menunjukkan hubungan yang harmonis. Mengingat realitas yang ada. sebab sebagai konsekuensi logis dari sila pertama Pancasila dan rumusan yang ambigu Pasal 29 UUD 45. Kenyataan seperti ini tentunya semakin membuka kemungkinan bagi intervensi para politikus ke dalam ranah keagamaan. Sebaliknya setiap ideologi yang ingin memantapkan diri cenderung menempuh jalan untuk memberikan warna keagamaan pada dirinya (religiusifikasi ideologi). Hal ini ditunjukkan dengan masih kukuhnya dominasi negara atas agama hingga mampu menentukan langgam. selalu dimungkinkan menjadi ideologis (ideologisasi agama). Kita bisa melihat bagaimana agama diacak-acak dan diobok-obok oleh pemerintah karena dianggap membahayakan posisi kekuasaan yang ada. hampir pasti kemenangan selalu ada di pihak negara.

mengalami gegar identitas akibat benturan itu. ‘Saya berpikir. Seluruh bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan dan tidak tuntas atau bahkan belum melakukan revolusi kebudayaan. manusia yang tidak diatur tetapi mengatur sekelilingnya dengan data-data pengetahuan yang dimilikinya. ia menawarkan otonomi personal. Jarijemari negara dengan segenap kekuasaannya masih kukuh menggenggam agama. Manusia modern adalah manusia yang merasa dirinya sebagai pusat. mengembangkan forum-forum dialog agama sebagai strategi melakukan pemberdayaan (empowering) sumber daya yang ada sehingga para kaum agamawan akan semakin kritis dalam menyikapi berbagai persoalan yang tengah dihadapi. pertama. Ketiga. Ada satu problem laten yang belum sepenuhnya dibongkar dalam jagat pemikiran Indonesia kontemporer. dalam konteks ini. E.Pada titik ini reposisi agama dan negara tentunya menjadi persoalan yang makin pelik. yakni problem benturan antara tradisi dan modernitas. Reposisi ini paling tidak bisa dilakukan dengan menempuh. Mereka hidup dalam dua dunia yang saling menegasi. Tradisi dan Modernitas : Dua Bentuk Hegemoni Modernitas bukan hanya alat-alat teknis. Di saat yang bersamaan kita juga melihat agama dengan nilai-nilai profetis dan ruh sosialnya mulai memudar akibat intervensi negara yang hegemonik yang meluluhlantakkan bangunan agama. Ia dengan demikian menjadi totaliter dan tidak menerima eksistensi the other. Pada level subyek. Sementara sebagai entitas sejarah. positifisme adalah nilai pusat modernitas. Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali muncul gerakan radikalisme umat beragama yang identik dengan kekerasan (violence). mencabut 'saham' para politikus atas ranah keagamaan dengan mempertegas pemisahan antara agama dan ranah politik. Pengalaman keberagamaan selama ini telah membuktikan bahwa akibat ketiga hal tersebut tidak hanya menimbulkan masalah internal agama tapi juga sering menjadi penyulut konflik antaragama. Segala sesuatu. Pada level obyek. ada jika ia bisa diukur. dalam pandangan modernitas. modernitas memandang dirinya sebagai titik kulminasi sejarah. Agama haruslah steril dari politisasi dan manipulasi serta ideologisasi. Identitas . demikian kumandang Rene Descartes. Sekiranya reposisi agama dan negara berjalan mulus maka hegemoni negara (kekuasaan) terhadap agama akan dapat ditepis dan agama beserta fungsi kritisnya bisa menjadi alat kontrol bagi sepak terjang negara. mendeklarasikan kematian metafisika. Karenanya. reposisi negara dan agama haruslah dilakukan dengan sangat jeli. dunia tradisional dan dunia modern. menolak sama sekali intervensi negara ke dalam ranah keagamaan baik intervensi secara langsung dalam bentuk peraturan-peraturan ataupun melalui praktik-praktik manipulasi terhadap agama. Kedua. tetapi juga nilai-nilai. Dialektika historis-nya Hegel adalah bukti pandangan ini. Ini dilakukan dengan maksud pencegahan sedini mungkin politisasi terhadap agama yang sering menguntungkan segelintir orang. Problem laten ini memang bukan khas milik bangsa Indonesia. Auguste Comte. maka saya ada’.

Amerika. transportasi dan komunikasi yang canggih. desir angin yang musikal.mereka masih terkoyak dan belum menemukan formula baru yang utuh karena pertarungan belum juga usai. pertarungan dua kekuatan ini. pematangan diri dan penetrasi ke luar. ‘Saya berpikir. digerakkan oleh semangat mempersembahkan yang terbaik buat sebanyak mungkin orang. bahasa halusnya. ia menawarkan otonomi personal. Modernitas bukan hanya alat-alat teknis. Auguste Comte. positifisme adalah nilai pusat modernitas. ada jika ia bisa diukur. deburan ombak yang penuh inspirasi. demikian kumandang Rene Descartes. Penggelembungan barang dan informasi ini. Benturanpun tak terelakkan. negara-negara berkembang. maka saya ada’. dalam konteks ini. Manusia Eropa pun mulai menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Dengan kecepatan yang luar biasa. Imperialisme berabad-abad dari abad ke-16 hingga tengah abad ke-20 adalah buah nyata modernitas. negara-negara berkembang hanya punya dua pilihan: mengikuti nilai dan gaya modernitas atau siap disapu bersih dari gelanggang sejarah. Dengan teknologi sebagai tulang punggung modernitas. tidak lagi bisa ditampung oleh batas-batas geografis Eropa Barat. pemberontakan terhadap kekuasaan alam dan hegemoni agama. Pematangan diri ditandai dengan tumpukan informasi dan barang produksi sekaligus. Manusia modern adalah manusia yang merasa dirinya sebagai pusat. Ia dengan demikian menjadi totaliter dan tidak menerima eksistensi the other. tradisi bangkit melancarkan perlawanan. Pada level obyek. Massifikasi penetrasi modernitas ini dibantu dan dipercepat oleh peralatan perang. Alam bisa ‘ditelanjangi’ penemuan demi penemuan ilmiah yang secara gencar terus dilakukan. manusia yang tidak diatur tetapi mengatur sekelilingnya dengan datadata pengetahuan yang dimilikinya. ‘perluasan daerah kekuasaan modernitas’. Disinilah letak masalahnya. alam pun meleleh dari keagungan misteriusnya selama berabad-abad. menunjukkan eskalasi terus menerus ke ruang yang lebih luas dan dengan intensitas yang semakin dahsyat. berapa ton ikan yang bisa ditangkap. manusia mengalami kelebihan barang dan informasi lebih dari yang Eropa dan negara-negara modern miliki sekarang ini. Tak pelak. Pertarungan terjadi di setiap jengkal kehidupan. hendak dirubah . Tradisi tidak sepakat manusia yang diikat oleh persaudaraan. dinilai dengan keluhuran budi. hendak dirubah modernitas menjadi kalkulasi berapa kekayaan tambang yang bisa dikeruk. Dialektika historis-nya Hegel adalah bukti pandangan ini. Jepang atau Rusia sebagai negara-negara modern. modernitas memandang dirinya sebagai titik kulminasi sejarah. Pada level subyek. Segala sesuatu. Tradisi tidak rela alam yang memabukkan dengan indah panorama pegunungan. Bahkan kecenderungan belakangan. Tidak pernah. tetapi juga nilai-nilai. Modernitas memang ditakdirkan lahir sebagai penakluk. banjir bandang modernitas menghantam negara-negara bekas jajahan atau. modernitas melakukan dua hal sekaligus. Semangat kelahirannya adalah semangat pemberontakan. Imperialisme dan globalisasi sesungguhnya dua fenomena dengan pesan yang sama. Baginya. Dengan segala kekuatan. Tidak ada kamus kulonuwun dalam diri modernitas. Tradisi sebagai penjaga gawang nilai dan gaya hidup komunitas target tidak terima dengan gaya sapu bersih ini. Sementara sebagai entitas sejarah. berapa energi listrik yang bisa diolah. dalam sejarah peradaban. mendeklarasikan kematian metafisika. dalam pandangan modernitas.

rasionalitas tidak lagi memiliki tempat dan tanpa makna. tenteram dengan pegangan agama yang diyakini sebagai titah Tuhan bagi kebaikan manusia. komputer hingga mainan anak-anak. Pencarian format ini sungguh sebuah proyek sosial yang akan amat menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Kita memang tidak sedang diperhadapkan pada persoalan simpel apakah mau memilih menjadi tradisional atau modern. Sebab produk modernitas de facto. Utopia Hegemonik sebagai Pintu Masuk Utopia adalah dunia yang direka oleh Thomas Moore. Contoh gagal sudah banyak terhampar di hadapan kita. masyarakat tidak bisa mengelak dari serbuan modernitas. Muhammad Sabila. Mereka inilah bapak-bapak Utopia dunia.menjadi sekedar makhluk yang diikat oleh profesi. Disinilah keterbelahan terjadi. nyaman dalam pelukan alam yang agung dan misterius. Utopia adalah dunia tempat manusia sama rasa. media lebih penting ketimbang pesan. Inilah yang sekarang terjadi di dunia-dunia ketiga. agama digantikan oleh musik atau sepakbola. tidak lagi asyik dengan nostalgia masa lalu tetapi merancang masa kini untuk capaiancapaian masa depan yang menjanjikan kelezatan material. termasuk Indonesia. parabola. pada level ontologis. Proyek modernisasi Mesir yang dipimpin Muhammad Ali misalnya. tanpa ada penguasaan satu kelas . Di satu sisi. pesawat telepon. Apa yang kemudian terjadi? Gegar identitas. pilihan Islam formal-nya Mullah Umar di Afghanistan. ia juga tidak bisa melepaskan diri dari pelukan tradisi. Walhasil. Televisi. terbukti tidak diterima ‘tulus ikhlas’ oleh umat Islam Turki dengan kemenangan partai berbasis Islam baru-baru ini. tidak bakal ada sebuah bangunan masyarakat kokoh yang bisa menjadi landasan bagi pembangunan bersprespektif jangka panjang. telah menjadi kebutuhan masyarakat yang tak terelakkan. dipaksa untuk melepas satu demi satu kualitas ini. mobil. jauh lebih banyak saling menegasi ketimbang mengafirmasi. kemudian Robert Owen. Modernitas mendiktekan kepadanya untuk hidup serba cepat. layu sebelum berkembang. citra dan penampilan yang sulit dibedakan antara fiksi dan kenyataan. akan bentuk tatanan dunia paling sempurna. Sosok yang tadinya santun. dihargai oleh seberapa uang di sakunya dan digerakkan oleh penumpukkan sebanyak-banyakknya kapital dan kekuasaan. Meminjam Dr. Inilah yang menjadikan masalah bertambah rumit. Begitu juga. Konsumen hanyut dalam simbol. Sehingga. pakar filsafat di Maroko. ‘ini bukan persoalan memilih’. bekerja saling melengkapi. Dan sepanjang tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk menuntaskan dan mencarikan format baru yang merupakan sintesa tuntas dari keduanya. dua dunia ini. sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup keseharian kita. menjadi bagian dari kolektifitas yang taat. mesin cuci. Sistem tanda (system of signs) lebih bermakna ketimbang sistem objek (system of objects). berhitung dengan kalkulasi rasional untung rugi. F. terjun dalam kompetisi untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik. Proyek sekularisasi Turki-nya Kemal Attaturk. tetapi di sisi lain. Tradisi tidak mau. Maka. bersahaja. ternyata justru melahirkan bom bunuh diri Ketika realitas kebudayaan ini telah menjadikan penanda (signifier) lebih utama ketimbang petanda (signified).

lihat. Seperti gambaran akan watak dan lingkungan anak muda yang di rasakan oleh Yatun L. ataupun agama. yang terkadang (mungkin seringkali) sangat terasa otoriter. Sehingga untuk beberapa tulisan (pemikiran) terjadi sensor. Di mana pengakuan anti liberalisme (kebebasan). entah turunannya atau justru kritikannya. budaya. Saya katakan perlawanan maya. serta penulisan sastra pada khususnya. yang melukiskan dengan sangat sempurna bagaimana terjadinya perlawanan maya (dalam pemikiran) terhadap kerangkeng-kerangkeng nyata. Internationale (Komintern). terdapat dua macam jenis hegemoni. tidak diikuti satu sikap nyata. Marxisme itu sendiri pada perkembangan selanjutnya. Hegemoni adalah proses pembentukan memori kolektif. Lalu. Hal tersebut terjadi. Marhaenisme. Hegemoni jenis pertama adalah apa yang disebut dengan "everyday resistance". tentu saja. Ide tersebut dialirkannya dalam buku berjudul "Dromenjagers in Bandung" (Para Pemburu Impian di Bandung). terbentur pada adanya kekuasaan dewan redaksi dalam dunia nyata. juga bukan faham-faham tersebut yang akan (dan memang) selalu berdialektika. politik. yaitu usaha untuk melawan hegemoni. Adanya Dunia Maya (Cyber World). di mana pihak yang berkuasa akan mencoba membendung laju pemikiran lain selain konsep yang mereka punya. bahkan perlawanan itu hanya ada dalam pikiran saja.masyarakat terhadap kelas masyarakat lainnya. ekonomi. Baik berupa ideologi. Dari bentuk prosesnya sendiri. menemukan tatanan yang pas bagi masyarakat dan lingkungan yang membentuknya.M. Dalam perspektif sejarah mungkin terwakili dengan adanya satu buku panduan wajib pakai. karangan Nugroho Notosusanto. karena selintas terasa sebagai sikap-sikap munafik dalam masyarakat. yaitu "Sejarah Nasional Indonesia". pada perkembangan berikutnya. yaitu pemikiran masyarakat akan suatu hal. Ini . dengar. karena secara sembunyi-sembunyi hampir selalu dibarengi dengan (dan menerapkan) pola liberalisme (kebebasan). Maka muncul beberapa versinya. Maoisme. Sastramidjaja selama 6 bulan merasakan hidup di tanah pasundan. Itu juga yang membuat Dunia Maya pada umumnya. yaitu sejarah pertentangan kelas. Yang ingin saya bahas di sini bukan proses politik yang ada. Dalam nilai paling absurd. Utopia menjadi referensi bagi perkembangan wacana sosialisme di Eropa. Pemberontakan yang ada adalah pemberontakan terhadap sistem redaksional koran. serta melarang munculnya tulisan sejarah lain. Sosdem (Max Adler). dan rasakan. dan beberapa faham lain. lebih menarik untuk saya amati seiring dengan konsep pemikiran Utopia itu sendiri. Dulu orang hanya mengenal bentuk perlawanan ini dalam faham platonisme. Kemudian sosialisme mulai menemukan bentuk nyatanya dalam Marxisme-nya Karl Marx yang menjelaskan proses pembentukan Utopia dalam beberapa fase melalui Materialisme Historis. karena begitu kuatnya dogma maupun norma (serta pendidikan) dalam masyarakat yang susah ditembus. dari Leninisme. Sensor inilah yang dulu mengundang kritik Alberto Camus terhadap kebebasan berekspresi dalam seni. Terjadilah satu pemberontakan terhadap otoritas sastra koran. Seperti yang sering saya baca. perkembangan Dunia Maya adalah usaha pemberontakan terhadap kerangkeng-kerangkeng yang ada dalam dunia nyata. juga menjadi referensi baru bagi mereka yang memimpikan Utopia dalam watak lingkungan dan masyarakat yang ada.

Artinya. yaitu : "LAWAN!" untuk mencapai terciptanya Dunia Maya yang hakiki (Utopia). Suatu Contoh Kasus Sudah tidak diragukan lagi bahwa monopoli Punjabi bersaudara dalam produksi sinetron bisa dijadikan salah satu contoh bagaimana kaum kapitalis mengatur sekaligus 'mengawetkan' selera pasar. bahwa Dunia Maya juga telah menemukan batasan. Sedang untuk penindasan. Ternyata gossip artis juga bisa di-create dalam rangka promosi sebuah sinetron. Desas-desus adanya manipulasi rating kiranya sudah menjadi rahasia umum. Tapi ternyata ini belum semua. ini sudah merupakan satu penindasan pula. "Bacalah!" dan "Tulislah!". Hal tersebut juga. di mana pemikiran-pemikiran yang timbul dalam masyarakat mendapatkan ruang yang bebas untuk diapresiasikan. Sedang hegemoni jenis kedua. Menguap bersama tetap adanya gengsi. yang berusaha dilawannya. Tidak hanya 'halal' bahkan cenderung 'wajib' dilakukan. media masih merupakan alat paling jitu untuk menyampaikan satu pemikiran kepada masyarakat. dengan proporsi yang seimbang. Mestinya hal ini tidak perlu jadi fakta yang terlalu mengejutkan. G. adalah hegemoni pada sistem masyarakat yang terbuka (tanpa satu produsen). Bagaimanapun. Dunia Maya itu sendiri belum bisa lepas dari kekuasaan redaksi. Dalam arti. seperti juga yang terjadi di dunia nyata. Tentu saja. . yaitu dengan terus membaca serta menulis apapun yang kita pikirkan. Konsep ini semestinya berkembang pada Dunia Maya. Iklim persaingan yang ketat ternyata menambah tuntutan untuk mengesampingkan nurani orang-orang yang terlibat dalam dunia entertainment baik langsung atau tidak langsung. Perbedaan pandangan masih dilihat begitu tabu dan tidak mengenakkan. hanya ada satu kata. membuat penilaian akan satu pemikiran terletak pada masyarakat luas. yang tidak dapat terelakkan. yang menjadikan sastra koran berusaha memperkuat sensornya. yang masih kurang dipahami untuk mengeliminir resiko tersebut. mengingat hal tersebut tak lepas dari proses pembentukan sebuah masyarakat (akan ada identitas kolektif). yang kemudian. melihat rendahnya standar kualitas sekaligus dangkalnya pesan moral yang bisa diambil dari sinetron-sinetron pada umumnya. Sinetron . serta bebas memilah-milah pemikiran seperti apa yang menurut mereka benar. Perlawanan terhadap sastra koran. Masalahnya. disorientasi. Namun. masih saja sama dengan konsep yang ada pada dunia nyata. Sementara perbedaan pandangan itulah yang menjadikan hegemoni dapat melepaskan diri dari "everyday resistance" yang otoriter. Yang pertama. telah menjadi sublim. Mengapa ini terjadi? Ada beberapa hal. Manifestasinya jelas. publik menentukan sendiri. serta terbuka untuk menjadi bahan diskusi masyarakat umum. mengutip kata-kata Widji Thukul. ketika ada satu keterbukaan dan kebebasan dalam berkespresi. Tidak ada kesadaran akan arti sebuah perbedaan pandangan. Ini wajar. rupanya. Ada batasan-batasan dalam Dunia Maya. ataupun sentimen yang ada pada masyarakat dalam Dunia Maya. Hal ini pula. adalah sikap terbuka dalam menerima suatu kritik. karena dengan itulah kita mampu membuka ruang dialektika. Melanggengkan apresiasi serta daya kritis masyarakat yang rendah terhadap dunia entertainment atau seni pertunjukkan.jelas terlihat pada masa pemerintahan Soeharto.

telah digantikan kedudukannya oleh nilai tanda dan nilai simbol. Inilah budaya kiwari (kini). Ketiga. yakni gejala merebaknya komoditas gede-gedean di hampir seluruh aspek kehidupan. Nampaknya. citra dan tanda. tanpa pernah mampu merefleksikannya kembali dalam kehidupan yang sebenarnya. Ketujuh. Penampakan. telah menjadikan konsumerisasi sebagai institusi kekuasaan baru menggantikan peran negara. slogan ini seperti ingin mewakili tema ‘konsumerisasi’ yang melanda Indonesia. lalu lintas dan praktek sosial. Konsumen menelan mentah-mentah apa saja. yakni kondisi aktivitas konsumsi secara berlebihan. Seperti selorohan Baudrillard (1983:148). Apa yang terjadi saat ini? Konsumen. sistem tanda. citra. yang melampaui nilai-guna benda. Kapitalisme yang menikahi teknologi. Keempat. Pertama. bukan manfaat dan harga komoditi. Dominasi konsumerisasi. begitu pasif menerima segala apapun yang masuk ke dalam tubuh dan pikirannya. Hypersexuality yakni gejala pengumbaran kepuasan seks yang melampaui wilayah seksualitas itu sendiri. .H. telah merambah tidak hanya dalam kawasan ekonomi. Hyperconsumption. militer dan parlemen. gengsi telah mengalahkan fungsi. Bahkan. budaya bahkan politik. Prinsip nilai-guna dan nilai-tukar. Di sini. mereka begitu hanyut dalam gelombang deras budaya yang didakwahkan tiap detik lewat media massa. menjadi agen bagi penyebaran makna-makna dan reproduksi relasi-relasi sosial. yakni bentuk pasar yang mengkonsentrasikan dan merasionalisasikan waktu. konsumerisasi menjadi motif utama dan penggerak realitas sosial. penampilan. misalnya kegiatan seks melalui jaringan komputer jarak jauh. Hyperreality memiliki beberapa karakter diantaranya. telah digeserolehperkembangan ruang semu dan simulasi elektronik. Hyperspace yakni keadaan runtuhnya makna ruang sebagaimana dipahami berdasarkan prinsip geometri Euclidian (ruang 2 dan 3 dimensi) dan mekanika Newtonian. penampilan. Selain itu. dan cenderung memusatkan perhatian pada makna-makna personal dan sosial. Keenam. fenomena ini ditandai dengan hyperreality yang tengah melanda Indonesia. Dalam area budaya. Antara fiksi fakta berada dalam gray area. Kelima. The Silent Majorities Consumers is the silent majorities. tidak ada lagi yang dapat dibedakan antara fiksi dengan kenyataan. Kini. konsumen adalah mayoritas yang diam. simbol status. berupa gejala peningkatan perawatan dan penyempurnaan penampilan tubuh secara berlebihan.“there is no more fiction that life could possibly confront”. citra dan tanda lebih utama ketimbang makna. Apa yang ditawarkan konsumerisasi? Simbol.Hypercare. melalui bantuan kemajuan teknologi kosmetik dan medis. isi dan kedalaman.Hypermarket. misalnya melalui penggunaan teknologi elektronik dalam dunia musik. Ketika perhatian utama budaya kiwari lebih ditujukan kepada simbol. Kemasan menjadi lebih penting dari isi. Maka. Hypersensibility yakni gejala peningkatan atau penyempurnaan secara berlebihan kepuasan inderawi. dan akhirnya menjadi pusat aktivitas sosial dan referensi nilai baru. Hypercommodity. Kedua.

Dalam tulisannya. Persis seperti nyanyian Queen. maka saya tidak sepenuhnya setuju dengan pengertian Nuraini Juliastuti terhadap media massa dalam kajiannya terhadap majalah remaja HAI. melainkan merupakan bagian dari masyarakat. karya. khalayak juga aktif dalam proses tersebut. Akhirnya. pertanyaan tersebut tetap tidak terjawab. Sehingga. Tidak ada gunanya kalau kita terus bertanya. kenapa pemberitaan di media massa begitu parah? Menurut Niklas Luhmann. Pertama. Walaupun demikian. Fungsi media massa sebenarnya bukan ‘merekonstruksikan realitas sosial’. seharusnya kita bertanya. Proses penyampaian pesan dalam ilmu komunikasi kini dipandang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. budaya merupakan upaya bersama yang rentan terhadap pergeseran. masing-masing menilai. I.Ketika masyarakat dipandang sebagai kumpulan individu-individu yang beraneka ragam. budaya adalah anak yang dilahirkan masyarakat dan disusui zaman. Demikian juga pakarpakar sosiologi yang memanfaatkan potensi teori sistem sosial pasca-Talcott Parsons. media massa merupakan cermin kebaikan dan keburukan masyarakat. Maka. sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar. ia hendak menjawab pertanyaan "bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosial itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa". Sistem tanda (system of signs) lebih bermakna ketimbang sistem objek (system of objects). Dengan kata lain. budayanyalah yang terbaik dan kamilah para pemenang. Publik tidak tinggal diam dan . yang rentan terhadap persaingan dan klaim terbaik. seberapa parah kondisi masyarakat kita sampai kita membutuhkan cermin media seperti itu? Dalam konteks ini. sosiolog Jerman. Namun. ia merupakan cermin manusia. Ketika realitas kebudayaan ini telah menjadikan penanda (signifier) lebih utama ketimbang petanda (signified). suatu perubahan dalam pengertian cultural studies terhadap media massa sudah terlihat. Douglas Kellner misalnya menuntut pendekatan metateoretis dan multiperspektifis dalam menganalisis proses penyampaian pesan media. Media di Indonesia maupun di negara lain sama parahnya dengan keadaan masyarakat. fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masyarakat (Marlinkowski 1993). perpindahan dan perbedaan. budaya merupakan itikad baik untuk memuliaan manusia di dunia. pakar jurnalistik di Universitas Gadjah Mada (Abrar 1997). Maka. Artinya. yaitu adanya arus informasi yang bersifat satu arah dan adanya dampak media massa yang cukup berarti terhadap publik. Ketika kebudayaan dipandang sebagai hasil cita. Maka. bagaimana sistem itu sebenarnya beroperasi? Kedua.“We are the champion…”. dan karsa manusia. Konsumen hanyut dalam simbol. media lebih penting ketimbang pesan. rasionalitas tidak lagi memiliki tempat dan tanpa makna. Dalam bahasa teori sistem sosial yang terus menerus dikembangkan di Jerman. Hegemoni Informasi pada Media Massa Media massa sebenarnya tidak berdiri sendiri. pertanyaan Nuraini Juliastuti tampaknya mengandung dua premis pernyataan yang belum terbukti. bukan mencerminkan (dalam arti meng-copy) keadaan masyarakat. Sebagian besar pakar cultural studies selama ini masih melihat konsumsi media massa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan dan mengandung bahaya hegemoni Barat. citra dan penampilan yang sulit dibedakan antara fiksi dan kenyataan.

dan kita sebagai individu dapat mengamatinya dengan hasil yang sama. Jakarta. Akan tetapi. apakah layak bila kita sebagai ilmuwan menuntut media massa untuk mengkonstruksi realitas dengan cara pengamatan kita? Tentu tidak! Seorang peneliti mengamati realitas sosial dengan maksud mendapatkan kebenaran. Galtung. Melainkan bertanya. maka konsumerisasi adalah budaya tanpa kepala. apa yang kita alami sebagai realitas itu hanya merupakan hasil konstruksi atau kognisi kita sendiri yang berdasarkan pengamatan atas realitas. J. bila kita memanfaatkan pendekatan ontologis dan normatif dalam analisis media. Johan (1971): "A Structural Theory of Imperialism". Walaupun demikian. 2. Kita perlu melihat media massa sebagai bagian dari masyarakat kita. Sebaliknya. Bagi sekitar 210 juta penduduk Indonesia yang rata-rata pendapatan hariannya kurang dari $2. Bila kita mau menyalahkan media massa atas perkembangan masyarakat yang tidak memuaskan itu. ‘kenyataan’ Anda berbeda dengan ‘kenyataan’ saya walaupun kita mengamati realitas murni. konsumerisasi lebih dari sekedar mimpi buruk yang tiap kali muncul dalam tidur. pada JOURNAL OF PEACE RESEARCH edisi 8. maka posisi ilmu komunikasi atau sosiologi pada umumnya akan berada dalam posisi yang lemah. Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang relevan dan informatif buat pembacanya. kita sebagai peneliti tetap dapat meneliti dan terus mengkritik media massa. media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pada umumnya. faktor-faktor apa yang memungkinkan penampakan media yang kurang memuaskan. Budaya yang tak peduli berpisahnya otak dari badan. Berpisahnya emperisme dengan rasio. Jangan kita bertanya seberapa parah pemberitaan di media massa kita masa kini. Fernando Henrique/Enzo Falletto (1979): Dependency and Development in Latin America. Berkeley. mulut. Kesimpulan kita berbeda karena cara pengamatan yang dipakai tidak sama. Cardoso. Ana Nadhya (1997): Bila Fenomena Jurnalisme Direfleksikan. . melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. seharusnya kita membuktikan bahwa ada kenyataan murni yang bersifat universal (the truth out there). Tentunya. Akan tetapi.menerima pesan-pesan media massa begitu saja. LITERATUR REFERENSI Abrar. Penutup Jika budaya adalah tubuh. Dengan demikian muncul pertanyaan. Berpisahnya mata. hidung dan telinga dari pikiran.

Banyak gerakan mahasiswa terjebak berbagai kepentingan pribadi dan golongan. Mahasiswa dulu dan kini PASCAREFORMASI 1998 gerakan mahasiswa seakan-akan meredup. gerakan mahasiswa saat itu mampu mengubah sejarah negeri ini. (1998): "Social Science. James D. . gerakan mahasiswa masih memiliki legitimasi moral dari masyarakat. New York/London. Namun. Mahasiswa seakan-akan tak memiliki progresivitas dan sensitivitas dalam menanggapi berbagai persoalan riil bangsa ini. Padahal. Mahasiswa mampu menumbangkan rezim otoriter Soeharto. statis pasif. Sebagai kekuatan besar. saat ini berbanding terbalik. walau harapan tinggi dari masyarakat masih dibebankan ke pundak mahasiswa.Halloran. dan mandek. pada MEDIA DEVELOPMENTedisi 2 Talcott Parsons (1951): The Social System. Communication Research and the Third World". Jika dahulu keterbatasan media malah membuat para aktivis kampus makin kreatif dan kritis. saat ini gerakan mahasiswa cenderung menurun. Itu sangat tampak jika kita melihat ruang-ruang diskusi mahasiswa yang tak lagi diramaikan pembicaraan tentang problematika umat.

Suara keberanian dan kejujuran mahasiswa yang semula nyaring terdengar. Sifat kritis sebagai senjata utama mahasiswa dalam mengupas berbagai isu dan persoalan bangsa. Karena itulah kemandekan gerakan mahasiswa saat ini harus menjadi perhatian bersama serta disikapi secara arif dan bijaksana. menanggapi berbagai kebijakan pemerintah. Posisi tawar mahasiswa yang semula senantiasa menjadi kebanggaan. Tak pelak. saat ini hanya berperan sebatas lingkup kampus. Semua itu menjadi faktor penyebab kemandekan gerakan mahasiswa. yang tampak adalah gerakan mahasiswa mati suri. kini seakan-akan hilang bagai ditelan bumi. kini tak lagi ada. era globalisasi dengan teknologi yang makin canggih dan membuat dunia makin kecil justru makin mengerdilkan jiwa para aktivis pergerakan mahasiswa. . Gerakan mahasiswa merupakan bentuk perjuangan nyata kaum intelektual berdasar tanggung jawab moral sosial mereka kepada rakyat. Idealisme sebagai prinsip dasar gerakan mahasiswa seolah-olah tertawan di ruang perkuliahan yang sangat mengekang. Refleksi Sejarah Harus kita akui peran mahasiswa sangat penting dalam perjalananan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari masa ke masa. sejarah telah mencatat gerakan mahasiswa dengan idealisme para aktivisnya telah menumbangkan kediktatoran Soekarno dan menggulingkan rezim otoriter Soeharto. gerakan mahasiswa yang dulu lebih mengedepankan kepentingan rakyat kecil. Motivasi Refleksi sejarah perjuangan mahasiswa pada zaman dahulu diharapkan memberikan motivasi serta menyadarkan kembali mahasiswa sekarang betapa penting gerakan mahasiswa.Selain itu. Sebab. Karena. Kembali melakukan refleksi sejarah merupakan salah satu cara untuk mengembalikan semangat gerakan mahasiswa. idealnya mahasiswa merupakan golongan intelektual yang memiliki semangat berjuang tinggi. serta memperjuangkan aspirasi rakyat menumpul dan berkarat. Akibatnya. Gerakan mahasiswa telah membuktikan apa yang mereka lakukan mampu menumbangkan segala bentuk otoritarianisme penguasa terhadap rakyat. Perlu dicari akar permasalahan untuk dibuatkan satu solusi cerdas guna membangun kembali semangat gerakan mahasiswa yang mati suri. Sejarah dapat berperan penting untuk menumbuhkan kembali semangat perjuangan.

Mahasiswa adalah iron stock. dan negara. integritas dan konsistensi perjuangan yang tidak pernah gentar terhadap kekejaman dari kekuasaan penjajah yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Soekarno amat peduli dengan permasalahan bangsa. kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. Fungsi. yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai. Bukan sebaliknya. gerakan mahasiswa pada dasarnya merupakan gerakan untuk masyarakat. niscaya aku akan merubah dunia. Pola pikir dan sikap mental founding fathers sangat perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini terutama mahasiswa. hingga reformasi. Sebab.Ditambah dengan keberhasilan mahasiswa dahulu yang bisa memantik keberanian mahasiswa sekarang untuk mengukir sejarah baru. Peran serta dukungan masyarakat pun menjadi kunci keberhasilan untuk menyemai kembali pertumbuhan gerakan mahasiswa yang mati suri. tidak mungkin mahasiswa dan gerakan mahasiswa bisa eksis dan aktif. harus ada dukungan dari berbagai pihak. Salah satu dukungan dari internal kampus. peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam QS AlMaidah: 54. lemah lembut kepada orang yang beriman. Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan . Beliau berusaha mencari jalan keluar untuk menentang penjajahan asing yang menyengsarakan rakyat. Intinya mahasiswa itu merupakan aset. dari zaman nabi. kolonialisme. Semangat dan keberaniannya dalam perjuangan menuju kebangkitan bangsa perlu ditiru mahasiswa di masa kini. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan. Tanpa dukungan masyarakat. Pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat” adalah sebagian kecil karya yang berpengaruh dalam kebangkitan bangsa ini. yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua kepada golongan muda. Soekarno. Dalam konsep Islam sendiri. bangsa. dan harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir. dan Kontribusi Mahasiswa terhadap Masyarakat “Berikanlah aku lima pemuda. Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi. Tak kalah penting untuk menghidupkan kembali gerakan mahasiswa. rektorat dapat membuat kebijakan yang mendukung serta mempermudah pertumbuhan gerakan mahasiswa. cadangan.” Itulah kiranya perkataan yang terucap dari lisan presiden pertama kita. kebijakan diciptakan untuk menghambat atau mematikan mahasiswa dan gerakan mahasiswa. dan bersikap keras terhadap kaum kafir yang memerangi. posisi Peran. Iron stock itu diartikan bahwa mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan moralitas baik yang nantinya dapat menggantikan generasi sebelumnya. Oleh karena itu. Ketika muda. Soekarno berhasil meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia karena memegang teguh idealisme.

Sebagai mahasiswa. tenaga. baik itu masyarakat umum di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitarnya atau bahkan permasalahan bangsanya. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. Secara fitrah. Dinamika kampus juga mampu memberi hal positif karena kampus terdiri dari mahasiswa yang beranekaragam asal. Menjadi seorang mahasiswa tidak lantas terlepas dari dunia di luar kampus. baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan.memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan. Kemudian ada pertanyaan. masa-masa mahasiswa merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal dalam akselerasi kebangkitan masyarakat. Mahasiswa seperti itu menganggap bahwa tugasnya adalah sekedar belajar di kampus untuk pada akhirnya mencapai nilai IPK yang tinggi. misalnya bertemu dengan tokoh-tokoh (stakeholder) kampus dan masyarakat. Jika memang seperti itu kondisinya. di mana mahasiswa harus memiliki kepekaan untuk berkontribusi terhadap permasalahan yang terjadi di luar dirinya maupun kegiatan kampus. sehingga mahasiswa akan dapat lebih menghormati akan keragaman yang ada di dalam masyarakat nantinya. Untuk itu. Peran sosial yang tercermin dalam kepekaan tinggi terhadap lingkungan. Mahasiswa masih memiliki banyak tanggung jawab lain yang harus dipenuhi. di mana kampusnya dibangun dengan uang masyarakat kecil. Kita juga diharuskan untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi pada masa generasi sebelumnya. mahasiswa seringkali disematkan dengan nama agent of change (agen perubahan). kita juga mendapat kesempatan untuk mendalami ilmu yang tidak semua orang mendapatkannya. banyak dimiliki mahasiswa. kenapa harus iron stock? kenapa bukan golden stock yang mungkin lebih bagus dan mahal? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu lama. agama. Terlebih lagi bagi mereka yang berkuliah di universitas negeri. maka akan sangat sia-sia kelebihan yang dimiliki mahasiswa. selain memiliki kelebihan intelektulalitasnya. Sebenarnya memang tidak salah sebagai mahasiswa kita memiliki beban untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapat nilai yang baik sebagai tanggung jawab terhadap orangtua yang telah membiayai kita dan sebagai syarat untuk meniti karier setelah lulus. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi kepada masyarakat. sebagai mahasiswa. kita diharapkan mempunyai andil dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Akan tetapi. Itulah sebabnya mengapa kampus diistilahkan sebagai miniatur negara. dan lain-lain. Ketika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan. dan pikiran. Pemikiran politik kritis terhadap pemerintahan sangat didambakan oleh rakyat. . harus diingat bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak hanya itu saja. Sudah sepatutnya mahasiswa itu lebih memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. pandangan politik. Namun mahasiswa sering terjebak dalam kondisi dimana statusnya dalam kampus hanya diartikan sempit dengan berkutat pada dunia kampus saja. Di mata masyarakat. kondisi finansial. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi yang didapatkan dari kesempatannya untuk menjangkau pustaka-pustaka yang ada di kampus maupun dengan kesempatannya yang lebih mudah. latar belakang.

kontribusi seperti apa yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat? Ada banyak kontribusi yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat. namun sebagian besar mahasiswa masih berpikiran sempit. mahasiswa harus mengubah mindset (pemikirannya) yang sempit menjadi terbuka. Jika Tri Darma Perguruan Tinggi itu ditelaah. Pendidikan adalah jembatan untuk menyalurkan kreatifitas. Seperti yang telah dijelaskan di atas.Lantas. sampai pada insan kemasyarakatan. keilmuan. pemberdayaan masyarakat. Jika hal itu dilakukan secara sungguh-sungguh. jadilah mahasiswa yang benar. berdedikasi. tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat tanpa melupakan tugasnya sebagai mahasiswa. Jika tidak. Tri Darma Perguruan Tinggi harus dipahami oleh semua kalangan mahasiswa. dan cemerlang. dan memiliki empati terhadap masalah-masalah bangsa. pengembangan kemampuan. Lembaga pendidikan tentunya sudah mengupayakan hal ini. seperti yang telah dipaparkan di atas. dan dilaksanakan. Namun. maka diharapkan ia mampu mengimplementasikan ilmunya dalam masyarakat dan memberi manfaat bagi orang banyak. menjaga etika. seorang mahasiswa dapat berkontribusi dengan kemampuan intelektualnya sehingga memberi perubahan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. norma dan moralitas. Bagaimanakah mereposisi/memposisikan kembali peran mahasiswa? Peran mahasiswa dalam perjalanan bangsa Indonesia sangat besar dan penting. Begitupun dengan penelitian dan pengembangan yang akan mencetak insan yang kreatif. Oleh karena itu. bahwa sebagai mahasiswa tidak hanya belajar saja.benar agen pemberi harapan. pada intinya harus tercipta keseimbangan antara akademik dan sosial pada mahasiswa. Tetapi apabila Tri Darma Perguruan Tinggi hanya sebuah landasan tanpa pemahaman dan tidak diamalkan. sehingga nantinya mampu menghadapi kehidupan masyarakat yang sesungguhnya serta berkontribusi penuh di dalamnya. Sebagai contoh. insan agama. maka mahasiswa sama halnya seperti sampah yang tidak berguna bagi masyarakat. Di samping itu. tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi terpenting yang harus dilakukan mahasiswa adalah belajar dan mengasah kemampuannya sebaik mungkin dalam bidang/jurusan masing-masing. maka bangsa Indonesia akan terus terpuruk. Ia memiliki keleluasaan untuk memberi kendali dan kritik terhadap pemerintah maupun masyarakat di saat terjadi pelanggaran dan ketidakadilan yang merugikan kepentingan masyarakat. Sampai pada pengabdian masyarakat. meningkatkan SDM dan pendidikan masyarakat. mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan. inovatif. Kemudian mahasiswa memang harus benar-benar memahami tujuannya sebagai mahasiswa. Dimulai dari fungsinya sebagai insan akademis. kritis. dipahami. Hal penting yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa mahasiswa dapat berkontribusi sebagai alat social control (kontrol sosial). Mahasiswa pun masih tergolong . Jadi. dan juga penanaman budi pekerti bagi generasi yang akan memegang Negeri pada masa berikutnya. maka perguruan tinggi benar-benar menghasilkan para sarjana yang berkualitas. itu akan menjadi tugas mulia untuk memberikan hal-hal yang akan memberikan manfaat besar bagi khalayak. dan berintegritas. Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat dalam hal perjuangan dan kontribusi terhadap bangsa. disiplin ilmu pascalulus nanti dapat dimanfaatkan untuk mengupayakan proses penyelenggaraan good governance (tata pemerintahan yang baik). Ini dapat dilakukan ketika masih menjadi mahasiswa. Kalau hal itu dipahami.

dan selalu mengembangkan dirinya. . Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat Berdasarkan pemikiran M. insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu. Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyampai lidah pemerintah. dimana mahasiswa harus mencari nilainilai kebenaran itu sendiri. dan lain sebagainya. Tak jarang ia berat sebelah. ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai guardian of value (penjaga nilai). Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu: memiliki sense of crisis. sebab mahasiswa berdiri diantara idealisme dan realita. ternyata ia secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya dimiliki. saat membela idealisme ternyata ia melihat realita masyarakat yang semakin buruk. kemudian meneruskannya kepada masyarakat. Hatta. Mahasiswa diharapkan mampu membantu mensosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. yaitu mengawasi dan membahas segala pengambilan keputusan beserta keputusan-keputusan yang telah dihasilkan sebelumnya. dimana keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu. Bagaimanakah fungsi mahasiswa yang sebenarnya? Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. Dalam hal tersebut. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat 2. yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Saat kita berpihak pada realita. dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. yaitu membentuk manusia susila dan demokrat yang: 1. Mahasiswa pun dapat berperan sebagai penyalur aspirasi rakyat. Oleh karena itu tugas mahasiswalah yang harus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat.Hatta tersebut. ormas. Sehingga mahasiswa menurut saya tepat bila dikatakan memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah. dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan 3. Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Contoh: kasusnya yang paling gampang adalah saat terjadi kenaikkan BBM. Mahasiswa dalam hal hubungan masyarakat ke pemerintah dapat berperan sebagai kontrol politik.kaum idealis. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat. yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat dilanjutkan dengan analisis masalah yang tepat maka diharapkan mahasiswa mampu menyampaikan realita yang terjadi di masyarakat beserta solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Posisi mahasiswa cukuplah rentan.

dan kontribusi mahasiswa. Mahasiswa merupakan tonggak kejayaan rakyat. Kiprah mahasiswa sangat didambakan dalam mengukir peradaban bangsa ini.Demikianlah peran. Peranannya sangat didambakan oleh masyarakat sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Seorang mahasiswa tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran rakyat yang sangat memprihatinkan ini. fungsi. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful