Hegemoni modernitas A.

Pendahuluan Antonio Gramsci seorang anak miskin yang beraliran Marxis, lahir di Ales, sebuah kota kecil di Sardinia, Itali, pada 22 Januari 1891. Ia seorang mahasiswa Fakultas Sastra di sebuah Univesitas di Turin. Disinilah awal perubahan hidupnya. Selain aktifitas kuliah, kedatangannya ke Turin menandai perjumpaan pertamanya dengan kehidupan kota industri yang bergelimang kemewahan. Namun, secara kritis Gramsci melihat dekadensi budaya di sana. Pertunjukanpertunjukan budaya nyaris kering, dan tidak memiliki perspektif baru. Sebagai mahasiswa jurusan sastra, ia sering menulis banyak kritik teater. Semua itu membuka matanya tentang betapa tajamnya jurang penghidupan kota dan desa, interaksi keduanya, dan soal hubungan politik yang timpang antara klas buruh di kota dan petani di desa. Kemiskinan dan ketidakadilan yang dialaminya diusia dini di Sardinia sangat mendalam, sehingga cukup membekas di lubuk hatinya. Pengalaman-pengalaman inilah yang juga memberi andil besar bagi pembentukan Gramsci sebagai seorang revoluasioner. Gramsci bukan sekedar tokoh yang hanya bergulat dengan ideide intelektual. Dia juga terlibat dalam berpolitik dan berkenalan dengan organisasi-organisasi massa militan. Melalui tugas-tugas politik kakaknya yang bernama Genero, Gramsci mulai masuk ke dalam aktifitas Partai Sosialis Itali. Pada tahun 1914, Gramsci menjadi editor bagi mingguan Partai Sosialis, II Grido Popolo (Jerit Tangis Rakyat), dan menjadi staf editor tetap di sana. Agustus 1917 pemberontakan spontan meletus di Turin. Para buruh di Turin bangkit dan mendirikan berikade-barikade. Pusat kota Turin di kepung oleh para buruh. Dalam pemberontakan selama empat hari itu, sekitar 50 orang buruh meninggal dan ratusan lainnya di jebloskan kedalam penjara. Bagi Gramsci, peristiwa itu mempunyai arti politik yang luar biasa, karena rakyat luar biasa. Akibat politik, Gramsci juga dijebloskan ke dalam penjara oleh Pengusaha Fasis hingga mengakhiri hidupnya dalam keadaan sakit di usia 46. Di dalam penjara itulah lahir karya-karya Gramsci yang brilian tentang tradisi filsafat dan pemikiran politik termasuk Hegemoni. Karena pada hakekatnya kekuasaan akan selalu punya taktik untuk terus-menerus memperoleh dukungan dan sebaliknya kelompok tertindas tidak selalu berani melakukan perlawanan. Rintisan perubahan yang radikal maupun gradual, tetap harus memperhitungkan, taktik pengusaha yang jelas-jelas ingin bertahan. B. Kritik terhadap Konsep Hegemoni dari Gramsci Gramsci berpendapat bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Dalam konteks pembangunanisme, konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller). Saya mencoba mengkritik konsep hegemoni yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, karena wacana Gramsci ternyata tidak membantu untuk mengerti

proses diferensiasi di dunia ketiga sendiri. Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: pertama. Apa gunanya? Persepsi tentang Antonio Gramsci oleh pakar sosiologi di dunia ketiga yang sangat positif itu barangkali terjadi karena mereka sering dengan mudah dan tidak kritis mengadopsi model dan teori sosiologi Barat yang sudah ketinggalan jaman seperti modernisme. struktur patrimonial dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes). Hegemoni dalam Relasi Negara dan Agama Artikel berjudul Pluralisme di harian Media Indonesia (Jumat. Di akhir tulisannya Hery Sucipto mengetengahkan masalah yang sebenarnya dihadapi oleh bangsa Indonesia. referensi historis yang mengarah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat problematis. Atau. C. Bahkan James D. teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi yang bermanfaat dalam konteks global (ibid). justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann). Keempat. Proses globalisasi itu memang jauh lebih kompleks. Saya pikir. tanggung jawab atas segala kegagalan di Dunia Ketiga bisa dilempar ke negara-negara maju. Sebut saja paham teokrasi yang mengatakan bahwa kedaulatan ada di tangan Tuhan yang menghendaki agar Tuhan bisa mengatasi semua realitas. Ketiga. apakah imperialisme kultural dan imperialisme media diikuti imperialisme penelitian? (Halloran). Yakni bagaimana mendudukkan agama dan politik (baca: negara) pada proporsinya masing-masing dalam rangka . Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya. termasuk realitas negara. 27/9/2002) menarik untuk ditanggapi. Dalam artikel tersebut. Juga paham teodemokrasi yang mencoba untuk menengahi kedua faham tersebut. paham demokrasi yang berpendapat bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat yakni pengelolaan negara harus didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan. akan tetapi dianggap gagal karena pada akhirnya paham ini masih menunjukkan intervensi Tuhan dengan segala otoritas-Nya yang begitu kuat sehingga pendapat rakyat akan tersubordinasi dalam 'pendapat Tuhan'. Halloran. Hery Sucipto mencoba mengurai kembali benang kusut relasi agama dan negara yang selalu memunculkan polemik dan debat berkepanjangan namun tetap menarik untuk dibincangkan. dependensi dan hegemoni. tanpa campur tangan agama. teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan dengan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial. Kedua. dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat. sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang. yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat. salah seorang penasehat komisi MacBride 20 tahun yang lalu. terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara berkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia. Dengan demikian. tidak. berpendapat bahwa riset terhadap perkembangan di Dunia Ketiga cenderung justru mempertajam ketergantungan negara-negara berkembang pada Barat. Polemik dan perdebatan ini telah melahirkan berbagai teori politik tentang kedaulatan. Lalu dia bertanya.interdependensi (bukan dependensi) kultural antara dunia Barat dan dunia Timur maupun antara dunia Utara dan Selatan.

Sebaliknya setiap ideologi yang ingin memantapkan diri cenderung menempuh jalan untuk memberikan warna keagamaan pada dirinya (religiusifikasi ideologi). 'beragama' ternyata merupakan 'urusan negara'. Mengingat heterogenitas dan pluralitas. ternyata keduanya saling menunjukkan upaya untuk mendominasi. ketika agama karena tugasnya mengkhotbahkan keselamatan dan mengajarkan kesempurnaan hidup. Kedua. Kenyataan seperti ini tentunya semakin membuka kemungkinan bagi intervensi para politikus ke dalam ranah keagamaan. tetapi lebih banyak menjalankan peranannya sebagai sarana untuk legitimasi kekuasaan. Atau. Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia. Di samping itu. sebab sebagai konsekuensi logis dari sila pertama Pancasila dan rumusan yang ambigu Pasal 29 UUD 45. Akibatnya. bukan 'pilihan'. begitu dominannya peran organisasi formal keagamaan dan penekanannya pada aspek simbolis/ritual keagamaan ketimbang aspek substantif juga menunjukkan bagaimana kontrol negara begitu kuat atas agama. tetapi mereka juga mendapatkan diri mereka berkali-kali disebut 'kelompok minoritas atau kelompok luar'. mengundang kemungkinan bagi para pemimpin agama masuk ke dalam kancah pergulatan kekuasaan. selalu dimungkinkan menjadi ideologis (ideologisasi agama). Hal ini ditunjukkan dengan masih kukuhnya dominasi negara atas agama hingga mampu menentukan langgam. Bahkan dalam konteks Indonesia. yang merupakan conditio sine quanon masyarakat Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana agama diacak-acak dan diobok-obok oleh pemerintah karena dianggap membahayakan posisi kekuasaan yang ada. Hegemoni negara atas agama oleh pemerintah tampak begitu kuat mengakar. alih-alih menunjukkan hubungan yang harmonis. Masih mengendap dalam benak kita. Ia menawarkan gagasan reposisi antara agama dan negara yang merupakan langkah penting untuk dilakukan. yang dapat merobohkan landasan negara yang nasionalis. Atau sebaliknya. Ihwal tersebut tampak tidak hanya dengan adanya 'intervensi langsung' dalam bentuk aneka peraturan negara ke dalam ranah keagamaan. menjadi sarana yang ampuh untuk menciptakan hegemoni. atau politisasi serta ideologisasi simbol-simbol keagamaan demi kepentingan pergulatan kekuasaan politik. dalam bahasa lain 'beragama' adalah sebuah 'paksaan'. utamanya pluralitas agama. Hegemoni negara atas agama Reposisi agama dan negara dengan menempatkan keduanya pada proporsi masing-masing tentunya bukanlah hal yang gampang. hampir pasti kemenangan selalu ada di pihak negara. . Kemungkinan terjadinya ideologisasi agama ini bisa dilihat pada dua gejala. bukan hanya para pemimpin dan aktivis Islam politik gagal menjadikan Islam sebagai dasar ideologi dan agama negara pada 1945 (menjelang Indonesia merdeka) dan pada akhir 1950-an. atau dinamika kehidupan beragama. Mengingat realitas yang ada. baik pemerintahan Soekarno maupun Soeharto berusaha untuk menjinakkan dan melemahkan partai-partai Islam karena dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang potensial. pertama. gaya. maka sama sekali tidak dimungkinkan seseorang untuk tidak beragama dalam wilayah Republik Indonesia. ketika agama berhadapan dengan kekuasaan tidak menjalankan fungsi kritisnya. Karena setiap agama dikehendaki atau tidak ketika berhadapan dengan kekuasaan.saling melengkapi kapasitasnya.

Karenanya. mengembangkan forum-forum dialog agama sebagai strategi melakukan pemberdayaan (empowering) sumber daya yang ada sehingga para kaum agamawan akan semakin kritis dalam menyikapi berbagai persoalan yang tengah dihadapi. Pada level obyek. modernitas memandang dirinya sebagai titik kulminasi sejarah. Dialektika historis-nya Hegel adalah bukti pandangan ini. Sekiranya reposisi agama dan negara berjalan mulus maka hegemoni negara (kekuasaan) terhadap agama akan dapat ditepis dan agama beserta fungsi kritisnya bisa menjadi alat kontrol bagi sepak terjang negara. Pada level subyek. Mereka hidup dalam dua dunia yang saling menegasi. yakni problem benturan antara tradisi dan modernitas. Ada satu problem laten yang belum sepenuhnya dibongkar dalam jagat pemikiran Indonesia kontemporer. Reposisi ini paling tidak bisa dilakukan dengan menempuh. Auguste Comte. tetapi juga nilai-nilai. Tradisi dan Modernitas : Dua Bentuk Hegemoni Modernitas bukan hanya alat-alat teknis. Sementara sebagai entitas sejarah. ia menawarkan otonomi personal.Pada titik ini reposisi agama dan negara tentunya menjadi persoalan yang makin pelik. Segala sesuatu. ada jika ia bisa diukur. Ini dilakukan dengan maksud pencegahan sedini mungkin politisasi terhadap agama yang sering menguntungkan segelintir orang. pertama. demikian kumandang Rene Descartes. Identitas . mencabut 'saham' para politikus atas ranah keagamaan dengan mempertegas pemisahan antara agama dan ranah politik. Jarijemari negara dengan segenap kekuasaannya masih kukuh menggenggam agama. Ketiga. manusia yang tidak diatur tetapi mengatur sekelilingnya dengan data-data pengetahuan yang dimilikinya. menolak sama sekali intervensi negara ke dalam ranah keagamaan baik intervensi secara langsung dalam bentuk peraturan-peraturan ataupun melalui praktik-praktik manipulasi terhadap agama. dalam pandangan modernitas. Problem laten ini memang bukan khas milik bangsa Indonesia. ‘Saya berpikir. maka saya ada’. Ia dengan demikian menjadi totaliter dan tidak menerima eksistensi the other. mengalami gegar identitas akibat benturan itu. Seluruh bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan dan tidak tuntas atau bahkan belum melakukan revolusi kebudayaan. Pengalaman keberagamaan selama ini telah membuktikan bahwa akibat ketiga hal tersebut tidak hanya menimbulkan masalah internal agama tapi juga sering menjadi penyulut konflik antaragama. Di saat yang bersamaan kita juga melihat agama dengan nilai-nilai profetis dan ruh sosialnya mulai memudar akibat intervensi negara yang hegemonik yang meluluhlantakkan bangunan agama. Agama haruslah steril dari politisasi dan manipulasi serta ideologisasi. Kedua. positifisme adalah nilai pusat modernitas. dunia tradisional dan dunia modern. Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali muncul gerakan radikalisme umat beragama yang identik dengan kekerasan (violence). E. mendeklarasikan kematian metafisika. Manusia modern adalah manusia yang merasa dirinya sebagai pusat. reposisi negara dan agama haruslah dilakukan dengan sangat jeli. dalam konteks ini.

pematangan diri dan penetrasi ke luar. pertarungan dua kekuatan ini. positifisme adalah nilai pusat modernitas. pemberontakan terhadap kekuasaan alam dan hegemoni agama. berapa energi listrik yang bisa diolah. Pada level obyek. berapa ton ikan yang bisa ditangkap. Segala sesuatu. dalam konteks ini. Benturanpun tak terelakkan. ia menawarkan otonomi personal. tidak lagi bisa ditampung oleh batas-batas geografis Eropa Barat. manusia yang tidak diatur tetapi mengatur sekelilingnya dengan datadata pengetahuan yang dimilikinya. digerakkan oleh semangat mempersembahkan yang terbaik buat sebanyak mungkin orang. negara-negara berkembang. dalam pandangan modernitas. Bahkan kecenderungan belakangan. demikian kumandang Rene Descartes. banjir bandang modernitas menghantam negara-negara bekas jajahan atau. Manusia modern adalah manusia yang merasa dirinya sebagai pusat. Tradisi sebagai penjaga gawang nilai dan gaya hidup komunitas target tidak terima dengan gaya sapu bersih ini. Auguste Comte. dinilai dengan keluhuran budi. Tidak pernah. Alam bisa ‘ditelanjangi’ penemuan demi penemuan ilmiah yang secara gencar terus dilakukan. Pematangan diri ditandai dengan tumpukan informasi dan barang produksi sekaligus. Tidak ada kamus kulonuwun dalam diri modernitas. bahasa halusnya. menunjukkan eskalasi terus menerus ke ruang yang lebih luas dan dengan intensitas yang semakin dahsyat. Pada level subyek. modernitas melakukan dua hal sekaligus. Dengan kecepatan yang luar biasa. Imperialisme dan globalisasi sesungguhnya dua fenomena dengan pesan yang sama. dalam sejarah peradaban. deburan ombak yang penuh inspirasi. negara-negara berkembang hanya punya dua pilihan: mengikuti nilai dan gaya modernitas atau siap disapu bersih dari gelanggang sejarah.mereka masih terkoyak dan belum menemukan formula baru yang utuh karena pertarungan belum juga usai. Massifikasi penetrasi modernitas ini dibantu dan dipercepat oleh peralatan perang. Tradisi tidak sepakat manusia yang diikat oleh persaudaraan. ‘Saya berpikir. Disinilah letak masalahnya. transportasi dan komunikasi yang canggih. Dengan teknologi sebagai tulang punggung modernitas. Semangat kelahirannya adalah semangat pemberontakan. Tak pelak. Jepang atau Rusia sebagai negara-negara modern. Modernitas bukan hanya alat-alat teknis. desir angin yang musikal. Tradisi tidak rela alam yang memabukkan dengan indah panorama pegunungan. Imperialisme berabad-abad dari abad ke-16 hingga tengah abad ke-20 adalah buah nyata modernitas. mendeklarasikan kematian metafisika. Dengan segala kekuatan. maka saya ada’. hendak dirubah modernitas menjadi kalkulasi berapa kekayaan tambang yang bisa dikeruk. Modernitas memang ditakdirkan lahir sebagai penakluk. modernitas memandang dirinya sebagai titik kulminasi sejarah. alam pun meleleh dari keagungan misteriusnya selama berabad-abad. Ia dengan demikian menjadi totaliter dan tidak menerima eksistensi the other. Amerika. hendak dirubah . Baginya. Sementara sebagai entitas sejarah. manusia mengalami kelebihan barang dan informasi lebih dari yang Eropa dan negara-negara modern miliki sekarang ini. ada jika ia bisa diukur. Dialektika historis-nya Hegel adalah bukti pandangan ini. tetapi juga nilai-nilai. Manusia Eropa pun mulai menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. ‘perluasan daerah kekuasaan modernitas’. tradisi bangkit melancarkan perlawanan. Penggelembungan barang dan informasi ini. Pertarungan terjadi di setiap jengkal kehidupan.

tenteram dengan pegangan agama yang diyakini sebagai titah Tuhan bagi kebaikan manusia. media lebih penting ketimbang pesan. Proyek sekularisasi Turki-nya Kemal Attaturk. tidak lagi asyik dengan nostalgia masa lalu tetapi merancang masa kini untuk capaiancapaian masa depan yang menjanjikan kelezatan material. sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup keseharian kita. dipaksa untuk melepas satu demi satu kualitas ini. Meminjam Dr. Utopia adalah dunia tempat manusia sama rasa. layu sebelum berkembang. tidak bakal ada sebuah bangunan masyarakat kokoh yang bisa menjadi landasan bagi pembangunan bersprespektif jangka panjang. pada level ontologis. menjadi bagian dari kolektifitas yang taat. mesin cuci. akan bentuk tatanan dunia paling sempurna. Sebab produk modernitas de facto. Maka. F. Inilah yang sekarang terjadi di dunia-dunia ketiga. bekerja saling melengkapi. Modernitas mendiktekan kepadanya untuk hidup serba cepat. Kita memang tidak sedang diperhadapkan pada persoalan simpel apakah mau memilih menjadi tradisional atau modern. Proyek modernisasi Mesir yang dipimpin Muhammad Ali misalnya. terjun dalam kompetisi untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik. pilihan Islam formal-nya Mullah Umar di Afghanistan. mobil. tanpa ada penguasaan satu kelas . Televisi. Muhammad Sabila. termasuk Indonesia. Disinilah keterbelahan terjadi. Mereka inilah bapak-bapak Utopia dunia. berhitung dengan kalkulasi rasional untung rugi. jauh lebih banyak saling menegasi ketimbang mengafirmasi. dua dunia ini. Sosok yang tadinya santun. citra dan penampilan yang sulit dibedakan antara fiksi dan kenyataan. agama digantikan oleh musik atau sepakbola. Dan sepanjang tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk menuntaskan dan mencarikan format baru yang merupakan sintesa tuntas dari keduanya. pakar filsafat di Maroko. ia juga tidak bisa melepaskan diri dari pelukan tradisi. Begitu juga. Konsumen hanyut dalam simbol. ‘ini bukan persoalan memilih’. terbukti tidak diterima ‘tulus ikhlas’ oleh umat Islam Turki dengan kemenangan partai berbasis Islam baru-baru ini. Walhasil. Sistem tanda (system of signs) lebih bermakna ketimbang sistem objek (system of objects). kemudian Robert Owen. Pencarian format ini sungguh sebuah proyek sosial yang akan amat menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan. telah menjadi kebutuhan masyarakat yang tak terelakkan. ternyata justru melahirkan bom bunuh diri Ketika realitas kebudayaan ini telah menjadikan penanda (signifier) lebih utama ketimbang petanda (signified). masyarakat tidak bisa mengelak dari serbuan modernitas. Inilah yang menjadikan masalah bertambah rumit. Sehingga. nyaman dalam pelukan alam yang agung dan misterius. Di satu sisi. bersahaja. Utopia Hegemonik sebagai Pintu Masuk Utopia adalah dunia yang direka oleh Thomas Moore. rasionalitas tidak lagi memiliki tempat dan tanpa makna. Tradisi tidak mau. Apa yang kemudian terjadi? Gegar identitas. tetapi di sisi lain. dihargai oleh seberapa uang di sakunya dan digerakkan oleh penumpukkan sebanyak-banyakknya kapital dan kekuasaan. komputer hingga mainan anak-anak. Contoh gagal sudah banyak terhampar di hadapan kita. pesawat telepon. parabola.menjadi sekedar makhluk yang diikat oleh profesi.

dari Leninisme. entah turunannya atau justru kritikannya.masyarakat terhadap kelas masyarakat lainnya. Hegemoni adalah proses pembentukan memori kolektif. ataupun agama. serta melarang munculnya tulisan sejarah lain. yaitu sejarah pertentangan kelas.M. Sehingga untuk beberapa tulisan (pemikiran) terjadi sensor. Dari bentuk prosesnya sendiri. tentu saja. Sensor inilah yang dulu mengundang kritik Alberto Camus terhadap kebebasan berekspresi dalam seni. Maka muncul beberapa versinya. Pemberontakan yang ada adalah pemberontakan terhadap sistem redaksional koran. yaitu "Sejarah Nasional Indonesia". Dulu orang hanya mengenal bentuk perlawanan ini dalam faham platonisme. juga menjadi referensi baru bagi mereka yang memimpikan Utopia dalam watak lingkungan dan masyarakat yang ada. yaitu usaha untuk melawan hegemoni. perkembangan Dunia Maya adalah usaha pemberontakan terhadap kerangkeng-kerangkeng yang ada dalam dunia nyata. di mana pihak yang berkuasa akan mencoba membendung laju pemikiran lain selain konsep yang mereka punya. Terjadilah satu pemberontakan terhadap otoritas sastra koran. terdapat dua macam jenis hegemoni. lihat. karena begitu kuatnya dogma maupun norma (serta pendidikan) dalam masyarakat yang susah ditembus. juga bukan faham-faham tersebut yang akan (dan memang) selalu berdialektika. Yang ingin saya bahas di sini bukan proses politik yang ada. Itu juga yang membuat Dunia Maya pada umumnya. yang terkadang (mungkin seringkali) sangat terasa otoriter. terbentur pada adanya kekuasaan dewan redaksi dalam dunia nyata. lebih menarik untuk saya amati seiring dengan konsep pemikiran Utopia itu sendiri. Seperti yang sering saya baca. karangan Nugroho Notosusanto. karena selintas terasa sebagai sikap-sikap munafik dalam masyarakat. ekonomi. Dalam nilai paling absurd. politik. Sosdem (Max Adler). Utopia menjadi referensi bagi perkembangan wacana sosialisme di Eropa. Internationale (Komintern). budaya. Hegemoni jenis pertama adalah apa yang disebut dengan "everyday resistance". dan beberapa faham lain. karena secara sembunyi-sembunyi hampir selalu dibarengi dengan (dan menerapkan) pola liberalisme (kebebasan). dengar. Dalam perspektif sejarah mungkin terwakili dengan adanya satu buku panduan wajib pakai. menemukan tatanan yang pas bagi masyarakat dan lingkungan yang membentuknya. Maoisme. serta penulisan sastra pada khususnya. Adanya Dunia Maya (Cyber World). tidak diikuti satu sikap nyata. Saya katakan perlawanan maya. Marxisme itu sendiri pada perkembangan selanjutnya. Ini . Ide tersebut dialirkannya dalam buku berjudul "Dromenjagers in Bandung" (Para Pemburu Impian di Bandung). yang melukiskan dengan sangat sempurna bagaimana terjadinya perlawanan maya (dalam pemikiran) terhadap kerangkeng-kerangkeng nyata. Seperti gambaran akan watak dan lingkungan anak muda yang di rasakan oleh Yatun L. Kemudian sosialisme mulai menemukan bentuk nyatanya dalam Marxisme-nya Karl Marx yang menjelaskan proses pembentukan Utopia dalam beberapa fase melalui Materialisme Historis. pada perkembangan berikutnya. Lalu. Di mana pengakuan anti liberalisme (kebebasan). Baik berupa ideologi. Marhaenisme. bahkan perlawanan itu hanya ada dalam pikiran saja. Sastramidjaja selama 6 bulan merasakan hidup di tanah pasundan. Hal tersebut terjadi. yaitu pemikiran masyarakat akan suatu hal. dan rasakan.

Bagaimanapun. publik menentukan sendiri. mengutip kata-kata Widji Thukul. Tentu saja. Dunia Maya itu sendiri belum bisa lepas dari kekuasaan redaksi. masih saja sama dengan konsep yang ada pada dunia nyata. Hal ini pula. Tapi ternyata ini belum semua. seperti juga yang terjadi di dunia nyata. Ini wajar. yang tidak dapat terelakkan.jelas terlihat pada masa pemerintahan Soeharto. serta bebas memilah-milah pemikiran seperti apa yang menurut mereka benar. G. Mengapa ini terjadi? Ada beberapa hal. melihat rendahnya standar kualitas sekaligus dangkalnya pesan moral yang bisa diambil dari sinetron-sinetron pada umumnya. ataupun sentimen yang ada pada masyarakat dalam Dunia Maya. yang kemudian. serta terbuka untuk menjadi bahan diskusi masyarakat umum. Yang pertama. yang masih kurang dipahami untuk mengeliminir resiko tersebut. adalah sikap terbuka dalam menerima suatu kritik. dengan proporsi yang seimbang. Sementara perbedaan pandangan itulah yang menjadikan hegemoni dapat melepaskan diri dari "everyday resistance" yang otoriter. Mestinya hal ini tidak perlu jadi fakta yang terlalu mengejutkan. Sinetron . Perlawanan terhadap sastra koran. membuat penilaian akan satu pemikiran terletak pada masyarakat luas. ketika ada satu keterbukaan dan kebebasan dalam berkespresi. Menguap bersama tetap adanya gengsi. di mana pemikiran-pemikiran yang timbul dalam masyarakat mendapatkan ruang yang bebas untuk diapresiasikan. yang menjadikan sastra koran berusaha memperkuat sensornya. Iklim persaingan yang ketat ternyata menambah tuntutan untuk mengesampingkan nurani orang-orang yang terlibat dalam dunia entertainment baik langsung atau tidak langsung. Desas-desus adanya manipulasi rating kiranya sudah menjadi rahasia umum. Suatu Contoh Kasus Sudah tidak diragukan lagi bahwa monopoli Punjabi bersaudara dalam produksi sinetron bisa dijadikan salah satu contoh bagaimana kaum kapitalis mengatur sekaligus 'mengawetkan' selera pasar. Manifestasinya jelas. . yaitu dengan terus membaca serta menulis apapun yang kita pikirkan. media masih merupakan alat paling jitu untuk menyampaikan satu pemikiran kepada masyarakat. Dalam arti. Perbedaan pandangan masih dilihat begitu tabu dan tidak mengenakkan. bahwa Dunia Maya juga telah menemukan batasan. mengingat hal tersebut tak lepas dari proses pembentukan sebuah masyarakat (akan ada identitas kolektif). "Bacalah!" dan "Tulislah!". Tidak hanya 'halal' bahkan cenderung 'wajib' dilakukan. disorientasi. ini sudah merupakan satu penindasan pula. Masalahnya. rupanya. Namun. Ada batasan-batasan dalam Dunia Maya. Ternyata gossip artis juga bisa di-create dalam rangka promosi sebuah sinetron. Artinya. telah menjadi sublim. yaitu : "LAWAN!" untuk mencapai terciptanya Dunia Maya yang hakiki (Utopia). karena dengan itulah kita mampu membuka ruang dialektika. yang berusaha dilawannya. hanya ada satu kata. Melanggengkan apresiasi serta daya kritis masyarakat yang rendah terhadap dunia entertainment atau seni pertunjukkan. adalah hegemoni pada sistem masyarakat yang terbuka (tanpa satu produsen). Sedang untuk penindasan. Hal tersebut juga. Konsep ini semestinya berkembang pada Dunia Maya. Sedang hegemoni jenis kedua. Tidak ada kesadaran akan arti sebuah perbedaan pandangan.

citra. Ketiga. dan cenderung memusatkan perhatian pada makna-makna personal dan sosial. citra dan tanda. isi dan kedalaman. penampilan. konsumen adalah mayoritas yang diam. telah merambah tidak hanya dalam kawasan ekonomi. Kedua. melalui bantuan kemajuan teknologi kosmetik dan medis. Penampakan. dan akhirnya menjadi pusat aktivitas sosial dan referensi nilai baru. Ketika perhatian utama budaya kiwari lebih ditujukan kepada simbol. Hypercommodity. simbol status. Hypersexuality yakni gejala pengumbaran kepuasan seks yang melampaui wilayah seksualitas itu sendiri.“there is no more fiction that life could possibly confront”. Maka. citra dan tanda lebih utama ketimbang makna. telah menjadikan konsumerisasi sebagai institusi kekuasaan baru menggantikan peran negara. Kini. sistem tanda. Bahkan. telah digantikan kedudukannya oleh nilai tanda dan nilai simbol. Kemasan menjadi lebih penting dari isi. Apa yang terjadi saat ini? Konsumen. Dominasi konsumerisasi. Ketujuh. menjadi agen bagi penyebaran makna-makna dan reproduksi relasi-relasi sosial. berupa gejala peningkatan perawatan dan penyempurnaan penampilan tubuh secara berlebihan. Apa yang ditawarkan konsumerisasi? Simbol. budaya bahkan politik. konsumerisasi menjadi motif utama dan penggerak realitas sosial. misalnya kegiatan seks melalui jaringan komputer jarak jauh. slogan ini seperti ingin mewakili tema ‘konsumerisasi’ yang melanda Indonesia. Konsumen menelan mentah-mentah apa saja. militer dan parlemen. bukan manfaat dan harga komoditi. mereka begitu hanyut dalam gelombang deras budaya yang didakwahkan tiap detik lewat media massa. yang melampaui nilai-guna benda.Hypercare. Kapitalisme yang menikahi teknologi. penampilan. lalu lintas dan praktek sosial. Kelima. yakni bentuk pasar yang mengkonsentrasikan dan merasionalisasikan waktu. Hyperconsumption. Prinsip nilai-guna dan nilai-tukar. Hypersensibility yakni gejala peningkatan atau penyempurnaan secara berlebihan kepuasan inderawi. Di sini. begitu pasif menerima segala apapun yang masuk ke dalam tubuh dan pikirannya. tanpa pernah mampu merefleksikannya kembali dalam kehidupan yang sebenarnya. Nampaknya. The Silent Majorities Consumers is the silent majorities. Selain itu. telah digeserolehperkembangan ruang semu dan simulasi elektronik.Hypermarket. Seperti selorohan Baudrillard (1983:148). gengsi telah mengalahkan fungsi. misalnya melalui penggunaan teknologi elektronik dalam dunia musik. . Keenam. fenomena ini ditandai dengan hyperreality yang tengah melanda Indonesia. yakni gejala merebaknya komoditas gede-gedean di hampir seluruh aspek kehidupan. yakni kondisi aktivitas konsumsi secara berlebihan. Pertama.H. Antara fiksi fakta berada dalam gray area. Hyperspace yakni keadaan runtuhnya makna ruang sebagaimana dipahami berdasarkan prinsip geometri Euclidian (ruang 2 dan 3 dimensi) dan mekanika Newtonian. Inilah budaya kiwari (kini). tidak ada lagi yang dapat dibedakan antara fiksi dengan kenyataan. Dalam area budaya. Hyperreality memiliki beberapa karakter diantaranya. Keempat.

pertanyaan tersebut tetap tidak terjawab. Maka. yaitu adanya arus informasi yang bersifat satu arah dan adanya dampak media massa yang cukup berarti terhadap publik. kenapa pemberitaan di media massa begitu parah? Menurut Niklas Luhmann. Sehingga. maka saya tidak sepenuhnya setuju dengan pengertian Nuraini Juliastuti terhadap media massa dalam kajiannya terhadap majalah remaja HAI. dan karsa manusia. ia merupakan cermin manusia. Walaupun demikian. seharusnya kita bertanya. karya. Sebagian besar pakar cultural studies selama ini masih melihat konsumsi media massa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan dan mengandung bahaya hegemoni Barat. budaya merupakan itikad baik untuk memuliaan manusia di dunia. pertanyaan Nuraini Juliastuti tampaknya mengandung dua premis pernyataan yang belum terbukti. khalayak juga aktif dalam proses tersebut. budayanyalah yang terbaik dan kamilah para pemenang. media lebih penting ketimbang pesan. Dalam tulisannya. Maka. Namun. ia hendak menjawab pertanyaan "bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosial itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa". Akhirnya. Artinya. yang rentan terhadap persaingan dan klaim terbaik.Ketika masyarakat dipandang sebagai kumpulan individu-individu yang beraneka ragam. budaya merupakan upaya bersama yang rentan terhadap pergeseran. Konsumen hanyut dalam simbol. Persis seperti nyanyian Queen. rasionalitas tidak lagi memiliki tempat dan tanpa makna. bagaimana sistem itu sebenarnya beroperasi? Kedua. pakar jurnalistik di Universitas Gadjah Mada (Abrar 1997). fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masyarakat (Marlinkowski 1993). I. melainkan merupakan bagian dari masyarakat. Tidak ada gunanya kalau kita terus bertanya. Douglas Kellner misalnya menuntut pendekatan metateoretis dan multiperspektifis dalam menganalisis proses penyampaian pesan media. bukan mencerminkan (dalam arti meng-copy) keadaan masyarakat. sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar. Sistem tanda (system of signs) lebih bermakna ketimbang sistem objek (system of objects). budaya adalah anak yang dilahirkan masyarakat dan disusui zaman. sosiolog Jerman. suatu perubahan dalam pengertian cultural studies terhadap media massa sudah terlihat. Publik tidak tinggal diam dan . seberapa parah kondisi masyarakat kita sampai kita membutuhkan cermin media seperti itu? Dalam konteks ini. Ketika kebudayaan dipandang sebagai hasil cita. Ketika realitas kebudayaan ini telah menjadikan penanda (signifier) lebih utama ketimbang petanda (signified).“We are the champion…”. Proses penyampaian pesan dalam ilmu komunikasi kini dipandang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. media massa merupakan cermin kebaikan dan keburukan masyarakat. perpindahan dan perbedaan. Dalam bahasa teori sistem sosial yang terus menerus dikembangkan di Jerman. Maka. Media di Indonesia maupun di negara lain sama parahnya dengan keadaan masyarakat. Fungsi media massa sebenarnya bukan ‘merekonstruksikan realitas sosial’. citra dan penampilan yang sulit dibedakan antara fiksi dan kenyataan. Pertama. Demikian juga pakarpakar sosiologi yang memanfaatkan potensi teori sistem sosial pasca-Talcott Parsons. Hegemoni Informasi pada Media Massa Media massa sebenarnya tidak berdiri sendiri. Dengan kata lain. masing-masing menilai.

Tentunya. Akan tetapi. konsumerisasi lebih dari sekedar mimpi buruk yang tiap kali muncul dalam tidur. Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang relevan dan informatif buat pembacanya. Berpisahnya emperisme dengan rasio. Kita perlu melihat media massa sebagai bagian dari masyarakat kita. Ana Nadhya (1997): Bila Fenomena Jurnalisme Direfleksikan. dan kita sebagai individu dapat mengamatinya dengan hasil yang sama. mulut. Sebaliknya. Jakarta. 2. Berpisahnya mata. pada JOURNAL OF PEACE RESEARCH edisi 8.menerima pesan-pesan media massa begitu saja. Dengan demikian muncul pertanyaan. apakah layak bila kita sebagai ilmuwan menuntut media massa untuk mengkonstruksi realitas dengan cara pengamatan kita? Tentu tidak! Seorang peneliti mengamati realitas sosial dengan maksud mendapatkan kebenaran. J. Penutup Jika budaya adalah tubuh. Cardoso. LITERATUR REFERENSI Abrar. Kesimpulan kita berbeda karena cara pengamatan yang dipakai tidak sama. . Berkeley. apa yang kita alami sebagai realitas itu hanya merupakan hasil konstruksi atau kognisi kita sendiri yang berdasarkan pengamatan atas realitas. bila kita memanfaatkan pendekatan ontologis dan normatif dalam analisis media. Bila kita mau menyalahkan media massa atas perkembangan masyarakat yang tidak memuaskan itu. Jangan kita bertanya seberapa parah pemberitaan di media massa kita masa kini. Bagi sekitar 210 juta penduduk Indonesia yang rata-rata pendapatan hariannya kurang dari $2. Melainkan bertanya. media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pada umumnya. hidung dan telinga dari pikiran. maka konsumerisasi adalah budaya tanpa kepala. maka posisi ilmu komunikasi atau sosiologi pada umumnya akan berada dalam posisi yang lemah. melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. Budaya yang tak peduli berpisahnya otak dari badan. seharusnya kita membuktikan bahwa ada kenyataan murni yang bersifat universal (the truth out there). Johan (1971): "A Structural Theory of Imperialism". Walaupun demikian. Akan tetapi. Galtung. faktor-faktor apa yang memungkinkan penampakan media yang kurang memuaskan. Fernando Henrique/Enzo Falletto (1979): Dependency and Development in Latin America. ‘kenyataan’ Anda berbeda dengan ‘kenyataan’ saya walaupun kita mengamati realitas murni. kita sebagai peneliti tetap dapat meneliti dan terus mengkritik media massa.

saat ini berbanding terbalik. Sebagai kekuatan besar. . walau harapan tinggi dari masyarakat masih dibebankan ke pundak mahasiswa. James D. Padahal. saat ini gerakan mahasiswa cenderung menurun. Itu sangat tampak jika kita melihat ruang-ruang diskusi mahasiswa yang tak lagi diramaikan pembicaraan tentang problematika umat. Mahasiswa dulu dan kini PASCAREFORMASI 1998 gerakan mahasiswa seakan-akan meredup. Jika dahulu keterbatasan media malah membuat para aktivis kampus makin kreatif dan kritis.Halloran. Namun. statis pasif. New York/London. Mahasiswa mampu menumbangkan rezim otoriter Soeharto. Mahasiswa seakan-akan tak memiliki progresivitas dan sensitivitas dalam menanggapi berbagai persoalan riil bangsa ini. Communication Research and the Third World". gerakan mahasiswa saat itu mampu mengubah sejarah negeri ini. pada MEDIA DEVELOPMENTedisi 2 Talcott Parsons (1951): The Social System. Banyak gerakan mahasiswa terjebak berbagai kepentingan pribadi dan golongan. gerakan mahasiswa masih memiliki legitimasi moral dari masyarakat. dan mandek. (1998): "Social Science.

menanggapi berbagai kebijakan pemerintah. kini seakan-akan hilang bagai ditelan bumi. saat ini hanya berperan sebatas lingkup kampus. sejarah telah mencatat gerakan mahasiswa dengan idealisme para aktivisnya telah menumbangkan kediktatoran Soekarno dan menggulingkan rezim otoriter Soeharto. Sejarah dapat berperan penting untuk menumbuhkan kembali semangat perjuangan. Perlu dicari akar permasalahan untuk dibuatkan satu solusi cerdas guna membangun kembali semangat gerakan mahasiswa yang mati suri. Karena itulah kemandekan gerakan mahasiswa saat ini harus menjadi perhatian bersama serta disikapi secara arif dan bijaksana. kini tak lagi ada. Semua itu menjadi faktor penyebab kemandekan gerakan mahasiswa. serta memperjuangkan aspirasi rakyat menumpul dan berkarat. Sebab. Kembali melakukan refleksi sejarah merupakan salah satu cara untuk mengembalikan semangat gerakan mahasiswa. idealnya mahasiswa merupakan golongan intelektual yang memiliki semangat berjuang tinggi. era globalisasi dengan teknologi yang makin canggih dan membuat dunia makin kecil justru makin mengerdilkan jiwa para aktivis pergerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa telah membuktikan apa yang mereka lakukan mampu menumbangkan segala bentuk otoritarianisme penguasa terhadap rakyat. Sifat kritis sebagai senjata utama mahasiswa dalam mengupas berbagai isu dan persoalan bangsa. Refleksi Sejarah Harus kita akui peran mahasiswa sangat penting dalam perjalananan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari masa ke masa. . Motivasi Refleksi sejarah perjuangan mahasiswa pada zaman dahulu diharapkan memberikan motivasi serta menyadarkan kembali mahasiswa sekarang betapa penting gerakan mahasiswa. Posisi tawar mahasiswa yang semula senantiasa menjadi kebanggaan.Selain itu. Tak pelak. Akibatnya. yang tampak adalah gerakan mahasiswa mati suri. Gerakan mahasiswa merupakan bentuk perjuangan nyata kaum intelektual berdasar tanggung jawab moral sosial mereka kepada rakyat. Karena. gerakan mahasiswa yang dulu lebih mengedepankan kepentingan rakyat kecil. Idealisme sebagai prinsip dasar gerakan mahasiswa seolah-olah tertawan di ruang perkuliahan yang sangat mengekang. Suara keberanian dan kejujuran mahasiswa yang semula nyaring terdengar.

lemah lembut kepada orang yang beriman. dan harapan bangsa untuk masa depan. cadangan. Intinya mahasiswa itu merupakan aset. hingga reformasi. Tak kalah penting untuk menghidupkan kembali gerakan mahasiswa. dari zaman nabi. Ketika muda. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan. Iron stock itu diartikan bahwa mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan moralitas baik yang nantinya dapat menggantikan generasi sebelumnya. tidak mungkin mahasiswa dan gerakan mahasiswa bisa eksis dan aktif. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir. kebijakan diciptakan untuk menghambat atau mematikan mahasiswa dan gerakan mahasiswa. niscaya aku akan merubah dunia. Peran serta dukungan masyarakat pun menjadi kunci keberhasilan untuk menyemai kembali pertumbuhan gerakan mahasiswa yang mati suri. Bukan sebaliknya. yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai. Salah satu dukungan dari internal kampus. integritas dan konsistensi perjuangan yang tidak pernah gentar terhadap kekejaman dari kekuasaan penjajah yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. rektorat dapat membuat kebijakan yang mendukung serta mempermudah pertumbuhan gerakan mahasiswa. Pola pikir dan sikap mental founding fathers sangat perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini terutama mahasiswa. harus ada dukungan dari berbagai pihak. dan bersikap keras terhadap kaum kafir yang memerangi. Soekarno amat peduli dengan permasalahan bangsa.Ditambah dengan keberhasilan mahasiswa dahulu yang bisa memantik keberanian mahasiswa sekarang untuk mengukir sejarah baru. pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi. Sebab. yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua kepada golongan muda. kolonialisme. Pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat” adalah sebagian kecil karya yang berpengaruh dalam kebangkitan bangsa ini. Dalam konsep Islam sendiri. peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam QS AlMaidah: 54. Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan . dan Kontribusi Mahasiswa terhadap Masyarakat “Berikanlah aku lima pemuda. Tanpa dukungan masyarakat. posisi Peran. gerakan mahasiswa pada dasarnya merupakan gerakan untuk masyarakat. Beliau berusaha mencari jalan keluar untuk menentang penjajahan asing yang menyengsarakan rakyat.” Itulah kiranya perkataan yang terucap dari lisan presiden pertama kita. Soekarno. kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. bangsa. Soekarno berhasil meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia karena memegang teguh idealisme. Semangat dan keberaniannya dalam perjuangan menuju kebangkitan bangsa perlu ditiru mahasiswa di masa kini. Oleh karena itu. dan negara. Fungsi. Mahasiswa adalah iron stock.

selain memiliki kelebihan intelektulalitasnya. kita diharapkan mempunyai andil dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Mahasiswa masih memiliki banyak tanggung jawab lain yang harus dipenuhi. di mana mahasiswa harus memiliki kepekaan untuk berkontribusi terhadap permasalahan yang terjadi di luar dirinya maupun kegiatan kampus. dan lain-lain. Untuk itu. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi kepada masyarakat. tenaga. Menjadi seorang mahasiswa tidak lantas terlepas dari dunia di luar kampus. Akan tetapi. Sudah sepatutnya mahasiswa itu lebih memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. Jika memang seperti itu kondisinya. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi yang didapatkan dari kesempatannya untuk menjangkau pustaka-pustaka yang ada di kampus maupun dengan kesempatannya yang lebih mudah. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu. Dinamika kampus juga mampu memberi hal positif karena kampus terdiri dari mahasiswa yang beranekaragam asal. mahasiswa seringkali disematkan dengan nama agent of change (agen perubahan). kenapa harus iron stock? kenapa bukan golden stock yang mungkin lebih bagus dan mahal? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu lama. Pemikiran politik kritis terhadap pemerintahan sangat didambakan oleh rakyat. sebagai mahasiswa. sehingga mahasiswa akan dapat lebih menghormati akan keragaman yang ada di dalam masyarakat nantinya. banyak dimiliki mahasiswa. Kita juga diharuskan untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi pada masa generasi sebelumnya. sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh.memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan. maka akan sangat sia-sia kelebihan yang dimiliki mahasiswa. Namun mahasiswa sering terjebak dalam kondisi dimana statusnya dalam kampus hanya diartikan sempit dengan berkutat pada dunia kampus saja. Sebenarnya memang tidak salah sebagai mahasiswa kita memiliki beban untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapat nilai yang baik sebagai tanggung jawab terhadap orangtua yang telah membiayai kita dan sebagai syarat untuk meniti karier setelah lulus. baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan. Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. harus diingat bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak hanya itu saja. agama. masa-masa mahasiswa merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal dalam akselerasi kebangkitan masyarakat. Secara fitrah. kita juga mendapat kesempatan untuk mendalami ilmu yang tidak semua orang mendapatkannya. pandangan politik. Kemudian ada pertanyaan. . di mana kampusnya dibangun dengan uang masyarakat kecil. baik itu masyarakat umum di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitarnya atau bahkan permasalahan bangsanya. misalnya bertemu dengan tokoh-tokoh (stakeholder) kampus dan masyarakat. Terlebih lagi bagi mereka yang berkuliah di universitas negeri. Sebagai mahasiswa. latar belakang. kondisi finansial. Peran sosial yang tercermin dalam kepekaan tinggi terhadap lingkungan. Mahasiswa seperti itu menganggap bahwa tugasnya adalah sekedar belajar di kampus untuk pada akhirnya mencapai nilai IPK yang tinggi. Di mata masyarakat. dan pikiran. Itulah sebabnya mengapa kampus diistilahkan sebagai miniatur negara. Ketika masyarakat terkungkung oleh tirani kezaliman dan kebodohan.

disiplin ilmu pascalulus nanti dapat dimanfaatkan untuk mengupayakan proses penyelenggaraan good governance (tata pemerintahan yang baik). namun sebagian besar mahasiswa masih berpikiran sempit. Oleh karena itu. Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat dalam hal perjuangan dan kontribusi terhadap bangsa. mahasiswa harus mengubah mindset (pemikirannya) yang sempit menjadi terbuka. Tetapi apabila Tri Darma Perguruan Tinggi hanya sebuah landasan tanpa pemahaman dan tidak diamalkan. Jika tidak. Lembaga pendidikan tentunya sudah mengupayakan hal ini. maka diharapkan ia mampu mengimplementasikan ilmunya dalam masyarakat dan memberi manfaat bagi orang banyak. tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat tanpa melupakan tugasnya sebagai mahasiswa. Jadi. kritis. Tri Darma Perguruan Tinggi harus dipahami oleh semua kalangan mahasiswa. tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi terpenting yang harus dilakukan mahasiswa adalah belajar dan mengasah kemampuannya sebaik mungkin dalam bidang/jurusan masing-masing. pengembangan kemampuan. Jika hal itu dilakukan secara sungguh-sungguh. dan berintegritas. sehingga nantinya mampu menghadapi kehidupan masyarakat yang sesungguhnya serta berkontribusi penuh di dalamnya. mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan. Dimulai dari fungsinya sebagai insan akademis. Jika Tri Darma Perguruan Tinggi itu ditelaah. dan memiliki empati terhadap masalah-masalah bangsa. bahwa sebagai mahasiswa tidak hanya belajar saja. Kemudian mahasiswa memang harus benar-benar memahami tujuannya sebagai mahasiswa. Mahasiswa pun masih tergolong . meningkatkan SDM dan pendidikan masyarakat. pemberdayaan masyarakat. Pendidikan adalah jembatan untuk menyalurkan kreatifitas. dipahami. dan juga penanaman budi pekerti bagi generasi yang akan memegang Negeri pada masa berikutnya. maka bangsa Indonesia akan terus terpuruk. menjaga etika. dan cemerlang. jadilah mahasiswa yang benar. berdedikasi. seorang mahasiswa dapat berkontribusi dengan kemampuan intelektualnya sehingga memberi perubahan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. maka perguruan tinggi benar-benar menghasilkan para sarjana yang berkualitas. Hal penting yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa mahasiswa dapat berkontribusi sebagai alat social control (kontrol sosial). maka mahasiswa sama halnya seperti sampah yang tidak berguna bagi masyarakat. insan agama.benar agen pemberi harapan. kontribusi seperti apa yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat? Ada banyak kontribusi yang dapat dilakukan mahasiswa untuk masyarakat. Kalau hal itu dipahami. Sebagai contoh. Sampai pada pengabdian masyarakat.Lantas. Seperti yang telah dijelaskan di atas. pada intinya harus tercipta keseimbangan antara akademik dan sosial pada mahasiswa. Bagaimanakah mereposisi/memposisikan kembali peran mahasiswa? Peran mahasiswa dalam perjalanan bangsa Indonesia sangat besar dan penting. Ini dapat dilakukan ketika masih menjadi mahasiswa. itu akan menjadi tugas mulia untuk memberikan hal-hal yang akan memberikan manfaat besar bagi khalayak. keilmuan. dan dilaksanakan. seperti yang telah dipaparkan di atas. sampai pada insan kemasyarakatan. inovatif. norma dan moralitas. Ia memiliki keleluasaan untuk memberi kendali dan kritik terhadap pemerintah maupun masyarakat di saat terjadi pelanggaran dan ketidakadilan yang merugikan kepentingan masyarakat. Di samping itu. Namun. Begitupun dengan penelitian dan pengembangan yang akan mencetak insan yang kreatif.

Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan 3. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. yaitu membentuk manusia susila dan demokrat yang: 1. dan selalu mengembangkan dirinya. kemudian meneruskannya kepada masyarakat. Oleh karena itu tugas mahasiswalah yang harus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat. ormas. Sehingga mahasiswa menurut saya tepat bila dikatakan memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah. Dalam hal tersebut. Mahasiswa pun dapat berperan sebagai penyalur aspirasi rakyat. dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat 2. Bagaimanakah fungsi mahasiswa yang sebenarnya? Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. Tak jarang ia berat sebelah. insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu. sebab mahasiswa berdiri diantara idealisme dan realita. dimana keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol. yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Posisi mahasiswa cukuplah rentan. Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. yaitu mengawasi dan membahas segala pengambilan keputusan beserta keputusan-keputusan yang telah dihasilkan sebelumnya. Contoh: kasusnya yang paling gampang adalah saat terjadi kenaikkan BBM. dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat. .kaum idealis. ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai guardian of value (penjaga nilai). saat membela idealisme ternyata ia melihat realita masyarakat yang semakin buruk. Hatta. dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat dilanjutkan dengan analisis masalah yang tepat maka diharapkan mahasiswa mampu menyampaikan realita yang terjadi di masyarakat beserta solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut. Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyampai lidah pemerintah. Mahasiswa dalam hal hubungan masyarakat ke pemerintah dapat berperan sebagai kontrol politik. dan lain sebagainya. Saat kita berpihak pada realita. dimana mahasiswa harus mencari nilainilai kebenaran itu sendiri. ternyata ia secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya dimiliki. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu. Mahasiswa diharapkan mampu membantu mensosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu: memiliki sense of crisis.

Mahasiswa merupakan tonggak kejayaan rakyat. fungsi. .Demikianlah peran. dan kontribusi mahasiswa. Kiprah mahasiswa sangat didambakan dalam mengukir peradaban bangsa ini. Peranannya sangat didambakan oleh masyarakat sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik. Seorang mahasiswa tidak layak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan di tengah kemunduran rakyat yang sangat memprihatinkan ini.