Proposal Penelitian PTK: MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL-SPASIAL ANAK MELALUI PEMANFAATAN BAHAN LIMBAH ANORGANIK PADA ANAK

KELOMPOK B2 DI RA/TK “AL-MU‟MININ” KECAMATAN KAMBU KOTA KENDARI

Sabtu, 01 Juni 2013
PROPOSAL PENELITAN: MENINGKATKAN KECERDASAN VISUALSPASIAL ANAK MELALUI PEMANFAATAN BAHAN LIMBAH ANORGANIK PADA ANAK KELOMPOK B2 DI RA/TK „AL-MU‟MININ‟ KECAMATAN KAMBU KOTA KENDARI

PROPOSAL PENELITIAN
MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL-SPASIAL ANAK MELALUI PEMANFAATAN BAHAN LIMBAH ANORGANIK PADA ANAK KELOMPOK B2 DI RA/TK “AL-MU‟MININ” KECAMATAN KAMBU KOTA KENDARI

UMK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIK ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI

HALAMAN PERSETUJUAN

MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL-SPASIAL ANAK MELALUI PEMANFAATAN BAHAN LIMBAH ANORGANIK PADA ANAK KELOMPOK B2 DI RA/TK „AL-MU‟MININ‟ KECAMATAN KAMBU KOTA KENDARI Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian proposal Pembimbing Tanda Tangan Tanggal

1. Drs. Fahruddin Hanafi, M.Pd

....................................

.....................

2. Dra. Sri Astuti, M.Pd

....................................

.....................

Mengetahui, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kendari Drs. H. Muh. Natsir, M.Si. NIP. 19640828 199303 1 002

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengamanatkan dilaksanakannya pendidikan kepada seluruh rakyat Indonesia sejak usia dini, yakni sejak anak dilahirkan. Disebutkan secara tegas dalam Undang-Undang tersebut bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (pasal 1, butir 14). Pendidikan bagi anak usia dini semakin popular. Orang tua semakin merasakan pentingnya memberikan

pendidikan kepada anak sejak dini dan berlomba memberikan fasilitas pendidikan terbaik pada anak-anaknya. Perkembangan tersebut mendorong semakin menggeliatnya pertumbuhan lembaga pendidikan pra sekolah atau yang lebih dikenal dengan sekolah Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak. Ditengah beragam alternatif Pendidikan Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak, pada

dasarnya tujuan Pendidikan Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak adalah membantu peserta didik mengembangkan berbagai kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak baik psikis maupun fisik, yang biasa disebut “Multiple Intelegences”. Kecerdasan visual-spasial merupakan salah satu kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Gardner. Anak yang memiliki kecerdasan ini memiliki kemampuan untuk

memvisualisasikan berbagai hal dan memiliki kelebihan dalam hal berpikir melalui gambar

Hildayani, (2005:5.16). Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial dapat dilihat dari kesehariannya misalnya anak dapat menceritakan gambar dengan jelas, lebih senang membaca peta, diagram, lebih menyukai gambar daripada teks, menyukai kegiatan seni, pandai menggambar, yang terkadang mendekati atau persis aslinya, dapat membangun konstruksi tiga dimensi yang menarik, lebih mudah belajar dengan gambar daripada teks, dan membuat coretancoretan yang bermakna dibuku kerja atau kertas. Kecerdasan visual-spasial dapat dikembangkan melalui kegiatan membayangkan,

menggambar, membuat kerajinan, mengatur, dan merancang, membentuk dan bermain konstruktif, bermain sandiwara boneka, meniru gambar objek, bermain dengan lilin mainan, menyusun objek mainan, bermain peran, membaca buku, dan bermain video game. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang melibatkan semua indera anak terlibat dalam pembelajaran yang diawali dengan menampilkan model dan diakhiri dengan membuat atau menciptakan sesuatu klinik Pediatri, (2009:2). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kostelnik Masitoh, (2005:7.4) bahwa pengalaman langsung harus mendahului penggambaran atau sesuatu yang lebih abstrak dan model lebih konkret daripada gambar, dan gambar lebih konkret daripada katakata. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 2 sampai 25 April 2012 menunjukkan bahwa kemampuan visual-spasial anak di RA/TK Al-Mu‟minin Kecamatan Kambu kota Kendari tidak begitu tampak. Ketika diberikan bahan limbah anorganik berupa kulit aqua gelas anak hanya mampu mengguntingnya yang menghasilkan bentuk tidak beraturan, ketika kegiatan menggambar orang sebagian besar anak hanya mampu membuat coretan

sederhana berupa garis, lingkaran dan titik, setelah mencuci tangan anak tidak langsung mengeringkannya padahal sudah disampaikan oleh ibu gurunya, dan ketika kegiatan

Kondisi di lapangan tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan sekolah.Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari. Pemanfaatan bahan limbah anorganik bagi usia RA/TK merupakan kegiatan bermain dan memiliki unsur pendidikan yang kompleks. khususnya pembelajaran di RA Al. Metode ceramah merupakan metode yang mendominasi pembelajaran di RA/TK. dan kanan-kiri. dengan catatan perlu melakukan tindakan perbaikan pembelajaran dalam aktivitas belajar sambil bermain anak. sedangkan sekolah sendiri menginginkan anak memiliki kecerdasan visual-spasial diantaranya anak sudah mengenal spasial dua arah berpasangan seperti arah depan-belakang. disamping harganya yang murah dan menarik bagi anak. berdasarkan amatan penulis. Meskipun demikian. hal tersebut dipicu oleh penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. potensi kecerdasan visual-spasial masih memiliki peluang yang potensial untuk dikembangkan secara optimal. atas-bawah.menggambar bebas ada anak yang masih bingung gambar apa yang akan dibuat. maka dipandang perlu untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dalam program pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi anak. Upaya tersebut. anak mampu menggambar figur orang. dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab kongkrit dan kewajiban untuk mengoptimalkan perkembangan kecerdasan visual-spasial yang dimiliki . juga bahannya banyak dan mudah diperoleh disekitar lingkungan anak. Selain itu media yang digunakan juga kebanyakan berupa lembar kerja dalam bentuk buku yang berupa latihan-latihan yang lebih menekankan pada kemampuan akademik. anak dapat membedakan beberapa warna dan anak dapat membuat bentuk dari bahan limbah anorganik yang diberikan oleh ibu gurunya. Minimnya pembelajaran yang bisa menggali kecerdasan visual-spasial anak serta kurangnya keterlibatan anak dalam mengeksplorasi media atau sumber belajar yang bisa mengasah kecerdasan mereka merupakan faktor utama yang menjadi masalah mengapa anak memiliki kecerdasan yang minim khususnya kecerdasan visual-spasial.

daya nalar dan pola berimajinasi secara . Bertolak dari keinginan pada latar belakang diatas. maka penulis tertarik untuk menerapkan kegiatan memanfaatan bahan limbah anorganik dalam meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak RA/TK Al-Mu‟minin Kendari. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas . maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatan kecerdasan visual-spasial pada anak kelompok B2 di RA/TK AlMu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik. maka permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah “ Apakah melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik dapat meningkatkan kecerdasan visual spasial pada anak kelompok B2 di kecamatan Kambu kota Kendari?” C. yang mana penulis memandangnya masih memiliki peluang yang potensial untuk lebih dikembangkan lagi. selanjutnya mendorong penulis dan berkolaborasi dengan guru RA/TK Al-Mu‟minin kota Kendari untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Dengan Memanfaatkan Bahan Limbah Anorganik Pada Anak Kelompok B2 di RA/TK Al-Mu‟minin kecamatan Kambu Kota Kendari”. D. Ketertarikan ini. Bagi anak didik kelompok B2 RA/TK Al-Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari: agar mereka terstimulasi sehingga memiliki pola pikir. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat bermanfaat : 1. B. Tujuan Penelitian RA/TK Al-Mu‟minin Mengacu pada rumusan masalah diatas.anak.

4. Dari segi teoritis/keilmuwan. Bagi guru RA/TK Al-Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari sebagai tambahan pengetahuan keprofesian yang selalu dituntut untuk melakukan upaya inovatif sebagai implementasi berbagai teori dan teknik pembelajaran bagi anak usia dini di RA/TK serta bahan ajaran yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan dipakainya dalam kegiatan belajar sambil bermain bagi anak didiknya terutama dalam hal meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak usia dini. Bagi Lembaga PAUD/RA/TK Al-Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari dan bagi pihakpihak yang berkompeten dengan masalah perkembangan anak usia dini. hasil penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi khasanah ilmiah dalam mengembangkan kecerdasan visual. kreatif dan meningkatkan interaksi positif antar mereka (anak). 5. respon. khususnya yang relevan dengan pemanfaatan bahan limbah anorganik yang ada dilingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak. motivasi positif.kompleks. diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi untuk menyusun lankahlangkah yang lebih konkrit dan dalam penyusunan kebijakan usaha pengembangan dan peningkatan kecerdasan visual-spasial anak usia dini di RA/TK dan sekolah PAUD lain yang sederajat. 2.spasial anak RA/TK Al-Mu‟minin melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik yang banyak terdapat disekitar lingkungan anak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak secara khusus dan memperkaya kajian ilmu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada umumnya. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta sebagai bahan rujukan atau kajian lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang lebih luas dan mendalam . aktif. 3.

bentuk. Bahan limbah anorganik yang dimaksud adalah bahan bekas atau bahan sisa pakai yang terbuat dari bahan plastik dan dianggap tidak memiliki manfaat yang terdapat dilingkungan. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna.mengenai peningkatan kecerdasan visual-spasial anak usia RA/TK. ruang dan hubungan antar unsur-unsur tersebut. bekas botol minuman plastik. yakni seperti berikut: 1. dan lain sejenisnya). diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran yang memfasilitasi capaian perkembangan kecerdasan visual-spasial anak secara optimal sesuai yang diharapkan. Pemanfaatan bahan limbah anorganik yang dimaksud adalah suatu kegiatan pengelolaan sumber pembelajaran berupa penggunaan atau pemanfaatan bahan limbah anorganik yang terdapat di lingkungan sekitar anak untuk tujuan peningkatan kecerdasan visual spasial anak dalam kegiatan belajar sambil bermain di RA/TK Al-Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari. Mereka kaya khayalan internal (internal imagery) sehingga cenderung imajinatif dan kreatif. juice gelas. Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan untuk membentuk suatu gambaran tentang tata ruang didalam pikiran. garis. dan lain sebagainya. khususnya dengan memanfaatkan bahan limbah anorganik yang banyak terdapat dilingkungan sekitar. 2. E. seperti: bekas minuman ringan (bekas. bekas pembungkus makanan dari plastik. Defenisi Operasional Untuk menyamakan persepsi dan menghindari terjadinya kesalahan penafsiran terhadap aspek-aspek atau variabel-variabel pengamatan dalam penelitian ini. teh gelas. Anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi cenderung berpikir secara visual. Melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik itu. aqua gelas. 3. maka perlu untuk diperjelas terlebih dahulu batasan-batasan konsepsinya pada bagian defenisi operasional. Yang semua .

e. kerja sama dan empati. berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan. dalam rangka meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak didik.bahan limbah anorganik tersebut. d. menalar dan berpikir logis. berargumentasi dan berdebat. b. Kecerdasan Intrapersonal. kepekaan soasial. mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat music. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kecerdasan Musikal. berkaitan dengan kemampuan menggambar. berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain. g. Kecerdasan kinestetik/gerak. Kecerdasan Interpersonal. . yakni: a. f. Kecerdasan Linguistik/bahasa. Konsep Kecerdasan Visual-Spasial Anak 1. berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri. dimanfaatkan dalam kegiatan belajar sambil bermain anak didik (anak “RA/TK Al-Mu‟minin” kecamatan Kambu kota Kendari). berdiskusi. memimpin. berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu. memecahkan masalah. berkaitan dengan kemampuan berhitung. membuat patung. motivasi diri. Kecerdasan Visual-Spasial. menulis. dan h. memotret. tujuan hidup dan pengembangan diri. c. Konsep Kecerdasan Teori “Multiple Intelegence” yang dikemukakan oleh Howard Gardner merupakan gebrakan yang sangat fundamental dibidang ilmu pengetahuan. Kecerdasan Matematis-Logis. mendesain. berkaitan dengan kemampuan membaca.

(2) . Munculnya teori “Multiple Intelegence” atau kecerdasan majemuk membuktikan bahwa tidak ada anak yang bodoh atau pintar. melakukan identifikasi dan observasi terhadap lingkungan sekitar. diantara pengertian itu adalah sebagai berikut: a. Selain itu. Dalam mengartikan kecerdasan ini. yaitu: (1) “Fluid Inteligence”. sebagaimana yang dikemukakan oleh Yusuf (2005:106). Kecerdasan dibagi dalam dua kategori. Maksud dari pernyataan tersebut adalah kedelapan kecerdasan yang diungkapkan oleh Gardner bisa saja dimiliki oleh individu. melainkan sesuatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Misalnya saja bila anak pintar bernyanyi sebagai kecerdasan musikal.Kecerdasan Naturalis. ia dapat mengikuti dan menyesuaikan gerakannya dengan ritme atau alunan musik yang didengarkannya. Teori tersebut membuka mata dunia yang selama ini mengidentikkan suatu kecerdasan dengan nilai IQ. yaitu kemampuan untuk belajar. hanya saja dalam taraf yang berbeda. Kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. ia juga pada umumnya cerdas dalam gerakan tubuh. b. Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat kebendaan. dan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. yang ada hanyalah anak yang lebih menguasai satu bidang tertentu dan kurang menguasai bidang lain. c. para ahli mempunyai pengertian yang beragam. keseluruhan pengetahuan untuk diperoleh. berkaitan dengan kemampuan meneliti perkembangan alam. yaitu tipe kemampuan analisis kognitif yang relatif tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya. Intelegensi meliputi tiga pengertian. (2006:36). kecerdasan ini tidak berdiri sendiri terkadang bercampur dengan kecerdasan lain Agustin.

kemampuan berpikir logis. arah. kemampuan untuk mengingat. Sebagaimana dikemukakan oleh Armstrong Masfiroh. 4. garis-garis. kemampuan untuk memahami hal-hal yang dinyatakan secara verbal atau menggunakan bahasa. dan bangunan-bangunan”. Reasoning. kemampuan untuk memahami dan memecahkan masalh-masalah matematis. Memory. Word Fluecy. 7. 3. Spatial Ability. 2. Menurut Thurstone Syaodih. Number Ability. yaitu: 1. 5.“Crystalized Inteligence ”. (2004:67) anak yang memiliki kemampuan visual-spasial dapat mengenali identitas objek ketika objek tersebut ada . Konsep Kecerdasan Visual-Spasial pada Anak Kecerdasan Visual-Spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna. (2007:93) individu memiliki sejumlah faktor kecerdasan yang berkelompok menjadi tujuh faktor kemampuan. bentukbentuk. 2. dan ruang secara akurat. kemampuan untuk memahami ruang. Paceptual Ability. 6. (2004:67) bahwa “anak yang cerdas dalam visual-spasial memiliki kepekaan terhadap warna. Verbal Comprehension. yaitu keterampilan-keterampilan atau kemampuan nalar (berpikir) yang dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya. Sedangkan menurut Indra Masfiroh. yaitu masalah yang menyangkut dan menggunakan angka-angka atau bilangan-bilangan. kemampuan untuk mengamati dan memberikan penafsiran atas hasil pengamatan. kelancaran dan kefasihan menyatakan buah pikiran dengan menggunakan katakata.

gunting. rancangan busana. dan menyusun potongan gambar. Kepekaan artistik pada kecerdasan ini tetap bertahan hingga seseorang itu berusia tua. mencecap.dari sudut pandang yang berbeda. sana-sini. alat-alat dekoratif (kertas warna-warni. sudah mengenal spasial dua arah biner (berpasangan) seperti arah depan-belakang. mengesankan adanya unsur transformasi bentuk yang rumit. rumah. (2004:69) kecerdasan visual-spasial mempunyai lokasi diotak bagian belakang hemisfer kanan. mobil. seperti bentuk pesawat terbang. Kecerdasan Visual-Spasial memiliki manfaat yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Bangunan yang dirancang arsitektur. lasie). Akan lebih baik. pahatan. pewarna. rumah-rumahan. balok-balok bentuk geometri berbagai warna dan ukuran. lukisan. Anak usia 4 tahun. membentuk sesuatu dengan plastisin. peralatan menggambar. Kemampuan mencipta satu bentuk. burung. benang). pesawat terbang. Pola pikir topologis (bersifat mengurai bagian-bagian dari suatu objek) pada awal masa kanak-kanak memungkinkan mereka menguasai kerangka pikir euclidean pada usia 9-10 tahun. jika menyediakan beberapa miniatur benda-benda yang disukai anak. hewan dan orang-orangan. Hampir semua pekerjaan yang menghasilkan karya nyata memerlukan sentuhan kecerdasan ini. meskipun adakalanya masih bingung dengan arah . dan berbagai buku bergambar. Kecerdasan ini berkaitan erat dengan kemampuan imajinasi anak. puzzle. bahkan benda-benda sehari-hari yang dipakai manusia pun adalah hasil buah kecerdasan visual-spasial yang tinggi mengesankan kreativitas. dan mampu memperkirakan jarak dan kecerdasan darinya dengan sebuah objek. desain taman. seperti alat-alat permainan konstruktif (Lego. Menurut Gardner Musfiroh. seperti mobil-mobilan. atas-bawah. Kecerdasan Visual-Spasial dapat distimulasi melalui berbagai program seperti melukis. Guru perlu menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan anak mengembangkan daya imajinasi mereka. umumnya. lem.

(2004:137) untuk mengasah kecerdasan visual-spasial.kanan dan kiri. Secara umum deskripsi tentang kecerdasan spasial pada anak beserta indikatornya yang dicetuskan oleh Howard Gardner Agustin. Mereka yang menunjukkan kemampuan memperkirakan secara spasial yang masih terbatas. metafora. peta. Menurut Amstrong Musfiroh. dan cenderung merusak posisi atau benda. (2004:93) anak usia 4 tahun sudah dapat menata balok-balok menjadi bentuk yang tinggi dan agak kompleks. Mereka cenderung mengubah mainan yang memiliki bagian-bagian yang masih bagus. Cara terbaik untuk menstimulasi mereka adalah film. meskipun diantaranya dapat menyebutkan nama mata angin. Menurut Beredekamp dan Copple Musfiroh. (2006:37) diuraikan sebagai berikut : . anak-anak perlu dibelajarkan melalui gambar. dan grafik. visual dan warna. Mereka belum dapat memahami arah mata angin. video. diagram.

Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan memahami. memproses. dan berpikir dalam .

(2006:36) mengemukakan. salah satunya adalah dengan belajar bentuk geometri. pemahat. navigator.bentuk visual. pilot. Rachmani. bentuk. garis dan luas. fotografer. pemahaman. Dalam kaitannya dengan upaya membantu mengembangkan kecerdasan spasial anak. (2006:57). Selain itu Andi Yudha mengemukakan mengenai bagaimana cara mengembangkan kecerdasan visualspasial anak. (2006:36) menjelaskan bahwa stimulasi-stimulasi berikut dapat digunakan guru untuk membantu mengembangkan kecerdasan spasial anak : (a) menggambar dan melukis. Adapun Yusuf dan Nurihsan Agustin. e. Adapun cirri-ciri yang tampak pada aktifitas anak adalah sebagai berikut : a. Memiliki kepekaan terhadap warna. (b) mencoret-coret. Mampu memperkirakan jarak dan keberadaan dirinya dengan sebuah objek. dan (d) melakukan permainan konstruktif. Anak dengan kecakapan ini mampu menerjemahkan bentuk gambaran dalam pikirannya ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Memiliki kemampuan membayangkan sesuatu. serta penggadaan imajinasi nyata maupun imajinasi dalam diri/abstrak. Memiliki kemampuan mengenai identitas objek ketika objek itu ada pada sudut pandang yang berbeda. proyeksi visual. melahirkan ide secara visual dan spasial. Kecerdasan ini melibatkan imajinasi aktif yang membuat seseorang mampu mempersiapkan warna. imajinasi mental pemahaman ruang. ruang. kecerdasan spasial sebagai sekumpulan kemampuan-kemampuan yang berhubungan dengan pemilihan. d. dan penemu Lwin Mubiar. garis. insyinyur mesin. (2009:53). manipulasi imajinasi. salah satu caranya yaitu . b. Secara karier kecerdasan spasial biasanya dimiliki oleh arsitek. (c) membuat prakarya. mewarnai. serta menetapkan arah dengan tepat Andi Yudha. seniman. suka mencoret-coret. c. dan menyusun unsur-unsur bangunan. dan bangunan. membentuk gambar. Agustin.

Menurut Apriany (2007:8) kemampuan visual-spasial sangat dibutuhkan anak ketika belajar. dan angka) dan hubungan ruangan yang menyatu dengan sekitarnya. seperti menyebutkan konsep garis.. yaitu: 1. Diskriminasi Visual (Visual discrimination) Menunjukkan pada kemampuan membedakan suatu objek dari objek yang lain.dengan meminta anak memperhatikan bentuk-bentuk rumah. kecerdasan visual-spasial juga dibutuhkan anak untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan manipulasi motorik halus misalnya menggambar. Anak yang kurang memiliki kemampuan visual-spasial akan merasa kebingungan saat diperkenalkan dengan huruf sehingga terjadi penafsiran huruf yang terbalik seperti pada huruf b dan d. anak dengan mudah mempelajari materi ajar yang diberikan oleh guru khususnya menulis dan membaca. Menurut Abdurrahman Apriani. bulat. menyusun mainan bongkar pasang. Dengan kemampuan visual-spasial yang dimilikinya. dan lain-lain. terutama ketika anak diperkenalkan dengan huruf-huruf. persegi. Diskriminasi Bentuk dan latar belakang (figure-ground discrimination) . angka. lurus. Dalam tes kesiapan belajar misalnya anak diminta menemukan gambar kelinci yang bertelinga satu dari sederetan gambar kelinci yang bertelinga dua. Hubungan keruangan (Spasial relation) Menunjukkan persepsi tentang posisi berbagai objek dalam ruang. Jika anak diminta untuk membedakan antara huruf m dan n. bola. Dimensi fungsi visual ini mengimplikasikan prsepsi tentang suatu objek atau symbol (gambar. 2. Selain itu. Untuk itu kecerdasan visual-spasial sangat berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar. atau benda yang ada dalam buku. dan bentuk. atau kerucut. anak harus mengetahui jumlah bongkol pada tiap huruf tersebut. 3. (2007:57) ada lima jenis kecerdasan visual-spasial. huruf. zig-zag. melukis. anak sering salah dalam membaca dan menuliskan huruf-huruf tersebut.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan visual-spasial sangat penting. Mengenal Objek (Object recognition) Menunjuk pada kemampuan mengenal sifat berbagai objek pada saat mereka memandang. krayon. Anak senang dengan alat seni. dan sebagainya. Pengenalan tersebut mencakup berbagai bentuk geometri. 5. (2011:24) anak dengan kecerdasan visual-spasial bisa melihat aneka perbedaan warna yang hampir tidak kentara dan berbagai pola yang tidak biasa serta mampu menerjemahkan desain-desain ini pada media ekspresi yang dipilih. kata. lukisan. dan grafik computer. 4. hewan. demikian juga kemampuan membedakan huruf dan kata secara visual merupakan bagian yang esensial dalam belajar membaca. kuas-lukis. akibatnya dari keadaan semacam itu anak menjadi terkecoh perhatiannya oleh berbagai rangsangan yang berada disekitar objek yang harus diperhatikan. meskipun objek tersebut tidak diperhatikan secara keseluruhan. termasuk pensil. B. Anak yang memiliki kekurangan dalam bidang ini tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu objek karena sekeliling objek tersebut ikut mempengaruhi perhatiannya. dan akan . Visual Clouser Menunjuk pada kemampuan mengingat dan mengidentifikasi suatu objek. Mengembangkan Potensi Kecerdasan Visual-Spasial Anak Usia Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak Menurut Hildayani Watiah. angka. Dimana kemampuan tersebut dapat membantu anak dalam proses belajar mengajar serta mengenali lingkungan sekitarnya. Misalnya kemampuan hubungan keruangan merupakan bagian yang sangat penting dalam belajar matematika.Menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari latar belakang yang mengelilinginya. huruf.

menghabiskan waktu senggangnya untuk membuat sketsa. Dalam hal perkembangan fisik motorik halusnya. merdeka. Pembelajaran di Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak harus menerapkan esensi bermain. persepsi. . bebas memilih. Esensi bermain meliputi perasaan menyenangkan. estetik. Pentingnya pengembangan visual-spasial pada anak usia Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik. Anak tidak hanya duduk tenang mendengarkan ceramah guru. Metode pembelajaran dengan menggunakan permainan adalah cara atau pendekatan yang dipergunakan dalam menyajikan atau menyampaikan materi pembelajaran di Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak. sosial. dan merangsang anak terlibat aktif. intelektual. Perkembangan mental antara lain: emosi. tetapi mereka aktif berinteraksi dengan berbagai benda dan orang dilingkungannya. C. membentuk sesuatu dengan plastisin. anak sudah dapat melakukan aktifitas seperti menggunakan pensil atau krayon. mencoret-coret. untuk mengembangkan imajinasinya sehingga merangsang aktifitas kreatifnya. Muslihuddin dan Agustin (2008:80) mengemukakan guru dapat merangsang kecerdasan spasial dengan melakukan berbagai program seperti melukis. Pembelajaran disusun sehingga menggembirakan dan demokratis agar anak tertarik untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. meniru bentuk gambar. mengecap dan menyusun potongan gambar. Sering kali. dan kreatif. dan mendesain. baik secara fisik maupun mental. karya-karya yang sempurna dari anak ini menunjukan berbagai hubungan visual-spasial seperti pola-pola inovatif dan pengubahan imajinatif atas berbagai objek sehari-hari. Peran Guru dalam Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Peran pendidik atau guru bertugas merangsang dan membina kecerdasan visual-spasial anak. menggambar.

guru dapat melengkapi ruang kelas dengan berbagai bahan seni. Hasil karya seni anak ini termasuk dalam kecerdasan visual-spasial. dan model karya seni. ekspresif. Melalui kegiatan bermain. Menyusun balok. dan orisinal. Anak-anak usia Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak dalam berekspresi seni rupa memiliki kekuatan yang menunjukkan karakteristik dan hal ini penting bagi terwujudnya karya seni. Metode pengajaran yang memasukkan berpikir spasial seperti bentuk-bentuk balok yang menghubungkan konsep spasial dapat membantu terhadap pemecahan masalah dalam dunia anak-anak. jujur. program computer atau grafik. spontan. kamera. dapat membantu anak menguasai konsep bidang. anak dapat memuaskan keinginannya yang terpendam. D. perbedaan warna serta bentuk. Ragam Aktifitas Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Ragam aktifitas pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial salah satunya adalah dengan permainan balok. Pada berbagai situasi dan tempat anak selalu menyempatkan untuk menggunakan tempat serta media sebagai arena bermain dan permainan. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan menangkap warna. Ekspresi seni anak-anak usia dini pada umumnya menunjukkan keunikan.Menurut Purba Watiah. (2010:46) kecerdasan visual-spasial dapat dikembangkan dengan pembelajaran seni rupa. Menurut Edy Sulistyowati. juga dalam kaitannya dengan berbagai tugas dibidang kurikulum yang lain. (2010:46). bebaskan anak untuk bereksperimen disemua wilayah seni visual secara bebas. Permainan dapat membantu anak mengerti lebih baik melalui indera penglihatan dan pendengaran. Elliot dalam Sulistyowati. (2011:25) untuk mengembangkan dan menginspirasi kecerdasan visual-spasial ini di ruang kelas. naïf. anak dapat mengerti pelajaran dengan memahami perbedaan arah. . Bermain merupakan suatu kegiatan yang sangat disenangi anak. arah. peta. Untuk merangsang kecerdasan ini.

monoton. melatih motorik halus. dan kurang dapat mengembangkan potensi yang dimiliki anak. serta mampu menceritakan tentang hasil karya yang dibuat. Pelaksanaan pembelajaran di Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak seharusnya guru menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan rancangan. proyek. Metode pembelajaran yang digunakan kurang menyenangkan. pengembangan kecerdasan visual-spasial hendaknya mendapatkan kesempatan dan pembinaan secara terarah lebih intensif dan efektif sesuai dengan masa perkembangannya. permainan warna atau mewarnai gambar merupakan kegiatan kreatif anak usia dini yang dapat mengenalkan warna pada anak. Melalui bermain warna atau membuat coretan gambar anak akan berekspresi dan bereksplorasi. Lembaga ataupun pendidik kurang memahami karakteristik anak. sehingga kreatifitas anak dapat tersalurkan dengan baik.dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain. Potensi ini ditumbuhkembangkan. E. Sehingga kurang mempengaruhi tingkat berpikir. bakat dan minat yang dimiliki anak. minat belajar anak. kebebasan yang diinginkan anak. Oleh karena itu. yang berarti akan menumbuhkan kecerdasan visual-spasial anak. Banyak Raudatul Athfal/Taman Kanak-Kanak dalam menyampaikan pembelajaran kurang memperhatikan potensi. Kegiatan menggambar bebas. dan bercerita. demonstrasi. Peningkatan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik yang Terdapat Di Lingkungan Sekitar Anak . kecerdasan anak. seperti lukisan atau menggambar bebas. Anak usia dini rasa keingintahuan serta kemampuan menyimpan memori diingatannya masih sangat tinngi. karyawisata. kebutuhan anak. Metode pembelajaran tersebut antara lain terdiri dari metode bermain. kurang memberikan kesempatan pada anak dan kurang memahami pemberian penilaian kepada anak. dan guru menjelaskan materi pembelajaran di papan tulis.

Hal tersebut . serta imajinasi dan daya kreativitas anak. guru dapat mengamati dan memilih benda-benda kongkrit apa saja yang terdapat di lingkungan sekitar anak.Sehubungan dengan kegiatan belajar sambil bermain anak terhadap sesuatu yang ada pada alam sekitar mereka. menuntun dan mengajak anak mengeksplorasi bahan limbah anorganik/materi tersebut menjadi bentuk mainan yang edukatif baginya. (3) dapat memperjelas konsep dan mengembangkan kemampuan. Dalam konsep ini. kecerdasan. (2) menumbuhkan rasa keingintahuan anak tentang sesuatu yang telah ataupun baru diketahuinya. baik itu yang masih alami maupun yang sudah terbuang atau merupakan bahan sisa yang telah dibuang. K. cuaca. berupa: (1) wawasan informasi yang lebih luas dan lebih nyata. juga mengemukakan pandangan bahwa dalam proses membelajarkan anak. hendaknya guru mampu memanfaatkan bahan limbah anorganik/materi yang terdapat di lingkungan sekitar anak sebagai media pembelajaran dalam suatu bentuk kegiatan pendekatan seperti.. menurut Moeslichatoen. tanaman. hewan. (5) memperoleh pengetahuan tentang bagaimana memahami lingkungan yang ada disekitar serta bagaimana pemanfaatannya. dan sebagainya yang terdapat di lingkungan dengan berbagai situasi dan kondisi yang ada. akan memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dan memanfaatkan oleh jajahannya atau sifat petualangannya yang merupakan salah satu ciri sifat khas pada anak. Lingkungan kita memang kaya dengan bahan-bahan yang dapat digunakan/dimanfaatkan guru untuk membuat media bermain atau permainan bagi anak. untuk selanjutnya benda-benda yang sesungguhnya tersebut di eksplorasi secara lebih mendalam yang dilakukan anak sambil bermain sehingga didapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang bermakna bagi anak dalam mengembangkan kecerdasan visual-spasial dan daya kreatifitasnya. (2005:74). keterampilan. (4) memperoleh pemahaman penuh tentang kehidupan manusia. Berkaitan dengan hal tersebut Rachmawati dan Euis. (1995:37).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa. menghias botol bekas menjadi binatang. dan penghargaan yang tulus atas hasil kerja anak akan membekas. Dukungan. pujilah proses mereka dalam membuat suatu karya sehingga anak tidak akan stres. seperti permainan dan mainan dari bahan-bahan sederhana yang banyak . dengan kegiatan seperti permainan membuat robot-robot dari kardus bekas. membuat mobil-mobilan dari bahan kaleng bekas. Berkaitan dengan hal pemanfatan media yang mampu mengembangkan imajinasi dan kecerdasan visual-spasial anak.dipandang sebagai pemanfaatan yang menunjuang pendidikan kreativitas anak ke arah yang lebih baik. menuntun dan membantu anak untuk membuat mainan kerajinan sendiri dari bahan limbah anorganik yang dianggap tak digunakan lagi yang banyak terdapat di lingkungan sekitar mereka. gabus. Yuliani N. dorongan. dan lebih menarik lagi. botol bekas.com. Sujiono. anak memang perlu terus dilatih untuk mampu bekerja memgembangkan kecerdasan visual-spasial dan kreatifitasnya dalam durasi yang relatif lama dan berorientasi hasil. seperti pandangan yang dikutip dari http://asepsofyan.multiply. anak-anak juga penting untuk terus dibiasakan membuat aneka mainan sendiri dan berilah terus dia support dalam kegiatan tersebut. membuat anak tambah semangat bekerja. dan sebagainya. yang mengemukakan bahwa pendidikan kreatifitas yang baik adalah mengajak. Mengajak mereka dengan perasaan riang dan gembira membuat mainan dari bahan limbah anorganik aneka minuman kaleng dan gelas. (2009). kardus. dan lebih kreatif serta termotivasi mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitasnya untuk selalu ingin membuat hal-hal yang unik. original. (2005:8. dan lain sebagainya.5) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa adanya keluhan dari berbagai kalangan masyarakat tentang rendahnya kemampuan imajinatif dan kecerdasan visual-spasial yang dimiliki anak saat ini. disebabkan antara lain oleh minimnya para guru RA/TK mengunakan atau memanfaatkan media belajar ketika mereka mengajar. baru. dkk.

Mereka terus mencoba dan mencoba lagi untuk membuat berbagai bentuk pola-pola dengan kombinasi baru atau membuat berbagai kombinasi susunan baru dari bahan-bahan tersebut. maka dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak kelompok B2 RA Al – Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari”. BAB III . dan kreatifitas anak sehingga dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak. maka dapat di kemukakan hipótesis tindakan dalam penelitian ini. imajinatif. F. Nampaklah bahwa media yang sederhana dengan hanya memanfaatkan bahan limbah anorganik. mampu berpikir logis. meskipun itu dibuat dari bahan limbah anorganik dalam bentuk yang sederhana. mampu menstimulasi anak untuk melakukan kegiatan belajar yang bermakna. Penerapan media juga bisa lebih mampu memenuhi kepuasan diri anak dalam belajar sambil bermain. yaitu “ melalui pemanfaatan bahan limbah anorganik dalam proses kegiatan belajar sambil bermain. mampu menyelesaikan permasalahan dari tugas perkembangannya. seperti yang terbuat dari bahan kertas dan pelastik yang banyak terdapat dilingkungan sekitar anak. nampak mereka sangat asyik sekali dan bahkan tidak mau diganggu. anak yang sedang bermain dengan menggunting-gunting kertas atau bahan limbah dari plastik atau dengan media permainan konstruktif lainnya. Misalnya saja.terdapat dilingkungan sekitar anak selanjutnya dikatakan bahwa media. namun dapat menjadikan anak mampu lebih berpikir kreatif. Hipotesis tindakan Berdasarkan uraian-uraian yang telah dipaparkan pada bagian kajian pustaka di atas. juga dapat berperan sebagai sumber munculnya inspiratif. mampu meningkatkan daya nalarnya dan mampu menemukan satu jawaban yang paling tepat terhadap masalah yang diberikan berdasarkan informasi yang tersedia.

dengan melibatkan atau berkolaborasi dengan seorang mitra peneliti yakni guru RA/TK Al-Mu‟minin Kenadri sendiri. mengamati dan memperhatikan segala aktifitas guru RA/TK yang mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sambil bermain bagi anak sebagai upaya peningkatan kecerdasan visual-spasial anak. . dalam upaya peningkatan kecerdasan visualspasial anak. Faktor anak RA/TK. di rencanakan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2012. Subjek Subjek yakni seluruh anak didik yang tergabung dalam kelas kelompok B2 yang seluruhnya berjumlah 15 anak. Setting Penelitian 1. Tempat Penelitian ini bertempat di kelas anak kelompok B2 RA/TK Al-Mu‟minin kecamatan Kambu kota Kendari. B. Faktor Yang Diteliti itu Adapun faktor-faktor yang ingin diamati peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. terdiri dari 7 anak laki-laki dan 8 anak perempuan. 2. mengamati aktifitas anak-anak dalam proses kegiatan sambil bermain dengan bahan limbah anorganik di dadalam kelas.METODE PENELITIAN A. 3. Waktu Waktu pelaksanaan. 2. Faktor guru RA/TK.

Selain itu. 2. bahan atau perangkat pembelajaran yang diterapkan atau dimanfaatkan guru yang dapat mendukung dan melancarkan pelaksanaan kegiatan belajar sambil bermain bagi anak pada bidang pengembangan kemampuan dasar kognitif khusus kecerdasan visual-spasial anak. dan BB = Belum Berkembang). C. 4. Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif berupa nilai perolehan yang dinyatakan dengan simbol huruf (BSB = Berkembang Sangat Baik. dan dengan mengadakan pencatatan secara sistematis atau pengkodean tentang hal-hal atau aspek-aspek tertentu yang diamati. mengamati dan memperhatikan proses tindakan-tindakan pembelajaran yang diberikan selama kegiatan pembelajaran bidang pengembangan kecerdasan visual-spasial anak berlangsung dengan aktivitas pemanfaatan bahan limbah anorganik. Sumber data penelitian diperoleh dari guru dan anak RA/TK. jenis data dan teknik dalam pengumpulannya pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. yang diperoleh dengan menggunakan pedoman atau lembar checklist penilaian yang berisikan sejumlah indikator penilaian. lalu mencheklist atau memberi tanda pada lembar pengamatan penilaian dan atau pada pedoman . Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik penilaian dengan melakukan observasi yaitu cara pengumpulan data dengan menggunakan pengamatan langsung terhadap suatu objek yang diteliti dalam satu periode tertentu. Faktor sumber. BSH = Berkembang Sesuai Harapan. MB = Mulai Berkembang. Data dan Teknik Pengumpulan Data Sumber data. 3. bersumber dari dokumen-dokumen yang dipandang penting berupa catatan-catatan khusus tentang programprogram kegiatan belajar anak yang belum terdapat dalam pedoman observasi namun dianggap dapat mendukung hasil penelitian. Faktor proses pembelajaran.3.

peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif dengan presentatif hasil. Selanjutnya melakukan analisis data setelah semua data yang dibutuhkan telah terkumpul. Data yang sudah berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini. Disamping teknik observasi. (2005:7. 4. Kegiatan observasi adalah suatu teknik pengamatan yang dapat dilakukan guru RA/TK/PAUD untuk mengetahui kemajuan perkembangan kemampuan. dan sikap anak. atas dasar hasil jawaban tersebut dapat ditarik suatu kesimpulannya. unjuk kerja/kinerja. D.14). Selanjutnya.observasi sesuai hasil yang tampak di lapangan. Menurut Sujiono. Teknik Analisis Data Sebelum data-data dianalisis (nilai tingkat pencapaian perkembangan kecerdasan visualspasial anak didik). observasi merupakan salah satu alat dalam kegiatan evaluasi di lembaga PAUD yang digunakan dalam mengevaluasi pengembangan berbagai aspek perkembangan anak. peneliti juga menggunakan teknik tanya jawab dengan anak yang bermaksud untuk mengetahui kelancaran anak dalam memberikan jawaban verbal atas pertanyaan-pertanyaan sederhana yang berkisar tentang apa yang dibuatnya dengan bahan limbah anorganik. yang disesuaikan dengan indikator-indikator atau ketentuan yang telah . N. Yuliani. yang dilakukan dengan mengamati aktivitas dan tingkah laku anak dalam kegiatan belajar sambil bermain dengan berbagai bentuk permainan untuk setiap aspek perkembangan anak. peneliti terlebih dahulu melakukan evaluasi atau penilaian dengan observasi. Untuk keperluan analisis data-data. berikutnya diolah dan dideskripsikan secara kualitatif dalam bentuk paparan logis sesuai keadaan apa adanya yang diperoleh dari hasil pengamatan di dalam kelas. kemudian dilakukan interpretasi sebagai jawaban terhadap permasalahan yang diajuakan dalam penelitian ini.

yakni jika anak menunjukkan kecerdasan visualspasial sesuai tagihan indikator tanpa bantuan guru. ( ) = Berkembang Sesuai Harapan (BSH). yang telah dipersiapkan sebelumnya pada tahap kegiatan perencanaan (seperti terlampir). yakni dengan diberikan dalam bentuk simbol-simbol dengan huruf seperti : ( ) = Berkembang Sangat Baik (BSB). yakni jika anak mampu menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun terkadang masih harus diberikan bimbingan dan bantuan guru. Usman Uzer dan Lilisetiawati. (1993:75).ditetapkan. Direktorat Pembinaan TK dan SD (2010). Penilaian terhadap pencapaian perkembangan kecerdasan visual-spasial yang ditampakkan setiap anak terhadap tagihan indikator penilaian dalam memanfaatkan bahan limbah anorganik untuk menghasilkan sebuah karya seperti yang telah diperlihatkan guru. ( ) = Mulai Berkembang (MB). melakukan pengamatan dan penilaian dengan memberi nilai terhadap aspek . yakni jika anak belum menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator pencapaian perkembangan kecerdasan visual-spasial karena dalam melakukannya harus selalu dibimbing dan dibantu secara langsung dari awal oleh guru. peneliti menggunakan kriteria tertentu yang disesuaikan dengan bentuk penilaian yang digunakan guru di RA Al-Mu‟minin Kendari dalam menilai capaian perkembangan kemampuan dasar anak didiknya dan memperhatikan pula pedoman penilaian di TK yang disarankan Depdiknas. Untuk maksud analisis data berupa nilai-nilai capaian perkembangan kecerdasan visual-spasial anak. Direktorat PAUD. ( ) = Belum Berkembang (BB). untuk sampai pada data perolehan nilai akhir pengembangan kemampuan masing-masing anak didik (setiap siklus tindakan). dilakukan atau diberi nilai dengan mengacu pada pedoman pemberian penilaian dalam satuan pendidikan Taman Kanak-Kanak. (2010). yakni jika anak telah mampu menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun masih sering dibimbing dan dibantu langsung oleh guru.

(1993:75) Indikator kinerja yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan kinerja secara klasikal pada setiap siklus tindakan.49 (BSH = Berkembang Sesuai Harapan) Nilai Konversi 1. .49 ( MB = Mulai Berkembang) Nilai Konversi 0.50-3.(2010).50-2. (dalam penelitian ini menggunakan acuan patokan 75% secara klasikal) sebagai berikut : Jumlah anak yang memperoleh nilai bintang ( .50-4.pengembangan yang dicapai anak didik berdasarkan indikator penilaian yang diamati/dinilai disetiap kegiatan evaluasi.00 (BSB = Berkembang Sangat Baik) Nilai Konversi 2. & ) . Usman Uzer dan Lilis Setiawati.49 ( BB = Belum Berkembang). seperti berikut : Dengan ketentuan perolehan nilai (secara individu) dengan kriteria hasil hitungan berdasarkan konversi.49 atau minimal BSH (Berkembang Sesuai Harapan) seperti berikut : Nilai Konversi 3. Perolehan Nilai AkhirAnak Didik Adapun rumus yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: melakukan perhitungan berdasarkan jumlah perolehan nilai yang dicapai masing-masing anak didik sesuai yang ada dalam penilaian setiap siklus.50-3. anak dikatakan mampu jika minimal 2.01-1. Direktorat Pembinaan TK dan SD.

dan tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dalam bentuk penulisan penelitian.94% = BSB = BSH Hasil hitungan berada pada persentase 75% . E. dan secara klasikal 75% sebagai acuan apakah penelitian tindakan ini telah dapat diselesaikan ataukah masih harus dilanjutkan ke siklus selanjutnya. kemudian disesuaikan dengan indikator keberhasilan kinerja yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil .00 atau jumlah anak didik yang memperoleh nilai akhir kecerdasan visual-spasial dengan nilai BSB (Berkembang Sangat Baik) dan BSH (Berkembang Sesuai Harapan). Indikator Keberhasilan Kinerja Berdasarkan hasil evaluasi/penilaian yang telah disesuaikan tersebut dan hasil perhitungan dengan formulasi diatas.84% = MB Hasil hitungan berada pada persentase di bawah 75% = BB Selanjutnya adalah tahap pelaporan berdasarkan hasil pelaksanaan pembelajaran peningkatan kecerdasan visual-spasial anak dengan pemanfaatan bahan limbah anorganik selama kegiatan. selanjutnya diberi makna secara kualitatif berupa nilai kemampuan dasar kecerdasan visual-spasial anak dalam konveksi.100% Hasil hitungan berada pada persentase 85% .% P= Total banyaknya anak didik dalam kelas (B2) X100% P = Perolehan nilai klasikal Jika : Hasil hitungan berada pada persentase 95% . Adapun persentase indikator kinerja yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan menghitung banyaknya anak didik yang memperoleh nilai konversi 2.50 – 4.

maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tindakan atau yang oleh Hopkins (1993) disebut penelitian tindakan (action research) yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif. dan secara klasikal 75% yang diterapkan guru RA/TK Al-Mu‟minin kota Kendari. secara individu anak kelompok B2 RA/TK Almuminin Kendari dikatakan berhasil jika telah memperoleh perkembangan kecerdasan visual spasial dengan nilai BSB Berkembang Sangat Baik) dan BSH (Berkembang Sesuai Harapan). yaitu penelitian yang dilakukan untuk mencari makna yang melatarbelakangi kinerja guru. Dan langkah Ketiga. diadakan perencanaan bersama (planning converence) anatara guru (Guru RA/TK) dengan penelitian. Proses penelitian tindakan kelas menggunakan proses penelitian observasi dan wawancara yang bersifat reflektif. partisipatif. dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama. observasi kelas (classroom observation) pada kegiatan ini peneliti mengobservasi guru (Guru RA/TK) yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran atau mengajar di kelas dan selanjutnya mengumpulkan data yang objektif tentang aspek-aspek pengamatan yang telah direncanakan semula. F.penilaian dari tagihan indikator penilaian berupa item-item aspek perkembangan kecerdasan spasial anak yang diamati dan diberi nilai (terdapat pada lembar observasi/assesmen checklist pada halaman lampiran). maka kegiatan penilitian tindakan ini dihentikan karena dipandang telah terselesaikan. Kedua. dan kolaboratif sebagaimana yang dikemukakan oleh Hopkins (1993:88-89). khususnya yang menyangkut pelaksanaan pengelolaan dan proses pembelajaran di kelas. Model Rancangan Pendekatan dan Prosedur Penelitian Tindakan Sesuai dengan maksud dan tujuan yang terkandung dalam pelaksanaan penelitian ini. peneliti dan guru (Guru RA/TK) mengadakan diskusi untuk saling memberi penilaian (evaluation) atau yang merupakan . sehingga akan diperoleh tingkat pemahaman tentang masalah atau situasi yang ada dilapangan. Berarti. pertemuan balikan (feedback conference).

Kedua model tersebut dipadukan dengan formulasi sesuai dengan kebutuhan penelitian ini yang disesuaikan dengan kondisi lapangan yang tahapannya dapat digambarkan dalam bentuk siklus seperti pada halaman berikut: Alternatif pemecahan (Rencana TindakanI) Pelaksanaan Tindakan I SKETSA SIKLUS PENELTIAN TINDAKAN .refleksi terhadap tampilan pembelajaran. Kemmis dan Mc Taggar. (3) observasi. (2) tindakan. (4) refleksi. lebih lanjut mengemukakan bahwa penelitian tindakan dilaksanakan dalam beberapa siklus tindakan dengan beberapa kali tindakan dalam setiap siklusnya yang mengacu pada empat langkah utama yaitu (1) perencanaan. Keemapat langkah tersebut akan dilaksanakan secara bersiklus dengan jumlah putaran akan ditentukan berdasarkan perkembangan efektifitas solusi aksi yang ditawarkan kepada subjek (guru dan siswa).

PERMASALAHAN SIKLUS I ANALISISDATA I Terselesaikan REFLEKSI I OBSERVASI (Monitoring) BELUM TERSELESAIKAN .

SIKLUSII (ProgramPerbaikan) Alternatif Pemecahan (Rencana Tindakan II) PELAKSANAAN TINDAKAN II Terselesaikan REFLEKSIII ANALISISDATAII .

tahapan atau prosedur kegiatan dalam penelitian tindakan ini yakni: (1) Perencanaan kegiatan dan tindakan yang akan dilakukan. Dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini. Secara garis besar menurut gambar tersebut. langkah-langkah prosedur kegiatan yang akan dilakukan juga mengikuti tahapan kegiatan sebagaimana yang nampak terlihat pada gambar skema di halaman sebelumnya. (2) Pelaksanaan tindakan (dalam proses belajar-mengajar di kelas).OBSERVASI (Monitoring) SIKLUS SELANJUTNYA BELUM TERSELESAIKAN Sri Wuryan Aziz. terlihat bahwa aktifitas penelitian tindakan berlangsung dari siklus ke siklus selanjutnya. prosedur kegiatan tindakan yang akan dilakukan didesain seoptimal mungkin bersama mitra peneliti (Guru) dan pengamatannya disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam aspek-aspek yang akan diamati mengenai faktor perkembangan kreatifitas anak RA/TK Al-Mu‟minin Kendari. (2000:57) Memperhatikan bagan tahapan atau prosedur penelitian tindakan kelas yang disajikan pada halaman sebelumnya. Oleh sebab itu. Begitu pun juga pada penelitian yang penulis akan lakukan kali ini direnacakan dan diupayakan kegiatan tindakan yang dilakukan dapat terselesaikan dengan baik dalam dua siklus saja. . dalam perencanaannya. (3) Pengadaaan observasi/pengamatan dan penilaian (evaluasi). dan (4) Refleksi.

Membuat lembar daftar pengamatan atau pedoman observasi untuk dijadikan acuan pengamatan dalam mengetahui perkembangan daya kecerdasan visual-spasial anak yang diamati. Mempersiapkan pedoman untuk jurnal refleksi diri. Mempersiapkan berbagai bahan limbah anorganik dan peralatan permainan serta perlengkapan lainnya yang diperlukan dan yang dapat membantu guru dalam membimbing membelajarkan anak RA/TK secara baik. Membuat skenario kegiatan belajar sambil bermain bagi anak dengan memanfaatkan bahan limbah anorganik (RKH). b. serta bagaimana situasi atau keadaan dalam proses kegiatan pembelajaran anak yang bermain dengan anak yang bermain dengan memanfaatkan media dari bahan limbah anorganik. c. Mendesain alat evaluasi/penilaian yang digunakan untuk melihat dan mengetahui hasil pelaksanaan tindakan dan perkembangan kecerdasan visual-spasial anak dalam program kegiatan belajar sambil bermain membuat pola-pola dari bahan limbah anorganik dan membentuknya menjadi objek seperti yang akan diperlihatkan atau dicontohkan guru. Pelaksanaan tindakan . maupun untuk anak RA/TK guna menilai kecerdasan visual-spasialnya dalam kegiatan belajar sambil bermain membuat pola-pola bahan limbah anorganik dan membentuknya menjadi objek seperti yang telah diperlihatkan guru. d. e.Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahapan prosedur tersebut. baik untuk guru RA/TK (untuk keperluan perbaikan tindakan pada setiap siklus kegiatan pembelajaran). Kegiatan perencanaan. secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. hal-hal yang dilakukan pada tahapan ini adalah: a. dan 2.

3. dan tentunya dengan memilih tema yang sesuai dengan kurikulum RA/TK dan lingkungan kehidupan sekitar anak. maka diambil suatu keputusan apakah tindakan tersebut dapat dianggap terselesaikan ataukah dipandang masih perlu perbaikanperbaikan sehingga siklus tindakan selanjutnya masih harus dilakukan lagi. semaua hal ini dalam pengamatan dan pencatatannya diupayakan evaluasi atau penilaiannya relevan dan sesuai dengan aspek-aspek pengamatan yang ingin diselidiki pada anak. dapat diketahui kelemahan dan kekurangan yang terjadi dari tindakan yang dilakukan pada setiap kegiatan pembelajaran dalam satu siklus. Kegiatan Observasi dan Evaluasi Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mengadakan observasi atau pengamatan yang skema dan faktual terhadap pelaksanaan tindakan dalam proses kegiatan pembelajaran anak RA/TK.Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini adalah melaksanakan aktivitas proses belajar sambil bermain bersama anak di dalam kelas dalam rangka mengembangkan kecerdasan visual-spasial anak. yang sesuai dengan rencana kegiatan pembelajaran yang telah disusun dan direncanakan sebelum tindakan dilakukan. Setelah diketahui hal-hal yang dimaksud. 4. dan selanjutnya mencatat semua kejadian-kejadian penting dan perubahan-perubahan serta hal-hal lain yang nampak dalam aktivitas mengajar dan belajar sambil bermain anak. Kegiatan ini dilakukan secara berkolaborasi dengan salah satu guru RA/TK AlMu‟minin kota Kendari. Refleksi Hasil-hasil pengamatan dan pencatatan yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis. . Berdasarkan hasil analisis ini.

Lampiran 1. 2. Menyediakan dan menjelaskan media yang akan digunakan dalam peningkatan kecerdasan visual-spasial 5. Aspek Yang Diamati Pengamatan Ya 1. Lembar Observasi Guru Berkaitan dengan Pelaksanaan Pembelajaran Peningkatan Kecerdasan Visual-Spasial melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik Hari / Tanggal : Tempat Responden : RA/TK „Al-Mu‟minin : Guru Hasil No. Melaksanakan Apersepsi Menyampaikan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran mengenal bilangan yang akan disampaikan 3. Melaksanakan prosedur peningkatan kecerdasan visual-spasial yang akan dilaksanakan 4. Memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk memanfaatkan bahan limbah Tidak Keterangan .

Kepala RA/TK Al-Mu‟minin Lampiran 2. Melakukan evaluasi dengan mereview materi pembelajaran kecerdasan visualspasial yang telah disampaikan Kendari. Guru Kelompok B2 Peneliti Mengetahui.anorganik dalam proses pembelajaran 6. Pedoman Observasi Anak Berkaitan dengan Aktivitas Anak Hari / Tanggal : Tempat Responden : RA/TK „Al-Mu‟minin : Anak Hasil .

5. Anak mengalami kesulitan dengan permasalahan yang disajikan 10. Anak mampu memegang dan menggunakan peralatan secara baik dan benar 3. Anak merapikan peralatan yang telah digunakan . Anak mengemukakan hasil perlakuannya Anak memberikan tanggapan terhadap perlakuan yang telah diselesaikannya 8. 4.No. Anak berinteraksi aktif dalam pembelajaran Anak melakukan yang diperintahkan Anak dapat memegang dan menggunting bahan limbah anorganik (gelas air mineral) hingga terbagi dua mengikuti garis lengkung 6. 7. Aspek Yang Diamati Pengamatan Ya Tidak Keterangan 1. Anak mampu secara kreatif memanfaatkan bahan limbah anorganik dalam berbagai bentuk media yang bisa meningkatkan kecerdasan visual-spasial 9. Anak mengetahui permasalahan peningkatan kecerdasan visual-spasial yang disampaikan 2.

Anak mampu memegang dan menggunakan peralatan gunting secara baik dan benar . Indikator BSH MB BB 1. Lembar Instrumen Penilaian Instrumen Penilaian Anak Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik Pada Anak Kelompok B2 RA/TK Al-Mu‟minin Kendari. Kepala RA/TK Al-Mu‟minin Lampiran 3.Kendari. Guru Kelompok B2 Peneliti Mengetahui. Nama Anak Didik : ……………………………… Nilai Perolehan BSB No.

Anak mampu membuat guntingan . Anak dapat memegang dan menggunting bahan limbah anorganik (gelas air mineral) hingga terbagi dua mengikuti garis lengkung 6. Anak dapat memegang dan menggunting bahan limbah anorganik (gelas air mineral) menjadi bentuk gelang-gelang 7. Anak dapat membuat pola gambar kursi dan meja serta mampu menggunting pola gambar kursi dan meja yang telah anak buat sendiri 4. Anak dapat memegang dan menggunting bahan limbah anorganik (gelas air mineral) hingga terbagi dua mengikuti garis vertikal 5. Anak mampu membuat guntingan mengikuti pola garis lurus tidak terputus yang dibuat guru 8. Anak dapat menggunting kertas karton dan plastik membentuk 6-8 lekukan gerigi 3.2.

= (BSH) Berkembang Sesuai Harapan. Dengan kecerdasan visual-spasialnya. jika anak mampu menunjukkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator tanpa bantuan guru.mengikuti pola gambar bentuk segitiga. anak mampu membuat guntingan membentuk 1-2 buah kursi dan meja mengikuti pola yang telah dibuat dan ditunjukk an guru serta mampu menghiasinya atau mewarnainya dengan spidol warna yang telah disiapkan guru 10. anak mampu membuat guntingan membentuk 1-2 buah mata angin dan mampu menghiasinya atau mewarnainya dengan cat warna Keterangan: = (BSB) Berkembang Sangat Baik. segi empat. jika anak menunjukkan . dan kerucut seperti yang telah dibuat dan ditunjukkan oleh guru 9. Dengan memanfaatkan bahan limbah anorganik.

= (MB) Mulai Berkembang. = (BB) Belum Berkembang. (Jml nilai BSB x 4) + (Jml nilai BSH x 3) + (Jml nilai MB x 2) + (Jml nilai BB x 1) Perolehan Anak Didik Nilai Akhir = Jumlah Seluruh Indikator = 10 Sedangkan untuk mengetahui keberhasilan kinerja secara klasikal pada setiap siklus tindakan menggunakan acuan patokan 75% secara klasikal sebagai berikut : Jumlah anak yang memperoleh nilai bintang ( . yakni jika anak telah mampu menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun masih sering dibimbing dan dibantu langsung oleh guru. yakni jika anak belum menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator pencapaian perkembangan kecerdasan visual-spasial karena dalam melakukannya harus selalu dibimbing dan dibantu secara langsung dari awal oleh guru.kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun terkadang masih harus diberikan bimbingan dan bantuan guru. & ) .

RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH) Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pemanfaatan Bahan Limbah Anorganik Pada Anak Kelompok B2 Di RA/TK Al-Mu‟minin Kecamatan Kambu Kota Kendari Kelompok Semester Tema / Sub Tema Bidang Pengembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan Kegiatan Capaian Perkembangan : Kelompok B2 : II : Lingkungan / Peralatan Dalam Rumah : Motorik Halus : Melakukan Eksplorasi dengan Berbagai Media dan : Bereksplorasi dengan Berbagai Media .% P= Total banyaknya anak didik dalam kelas (B2) X100% P = Perolehan nilai klasikal Jika : Hasil hitungan berada pada persentase 95% .100% Hasil hitungan berada pada persentase 85% .84% = MB Hasil hitungan berada pada persentase di bawah 75% = BB Lampiran 4.94% = BSB = BSH Hasil hitungan berada pada persentase 75% .

Metode : Penugasan dan Hasil Karya b. Materi. teh gelas. meja. B. Tujuan Khusus Anak dapat atau mampu mengembangkan kecerdasan visual-spasialnya untuk membuat bentuk kursi. : …………………………………… 2012 : ± 60 Menit I. dan lain sejenisnya. Media. Tujuan Umum Anak dengan kecerdasan visual-spasialnya dapat memanfaatkan bahan limbah anorganik yang terbuat dari plastik yang banyak berserakan di lingkungan sekitarnya. Tujuan A. Media . II. juice gelas. dan Metode a. c. Materi : Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak : Bahan Limbah Anorganik(aqua gelas.: Menggunting dan Menempel. Sumber Data : Kurikulum berdasarkan Permen 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini d. Hari / Tanggal Waktu Membuat Mainan dengan Teknik Melipat. dan mata angin mainan dengan memanfaatkan limbah plastik. Sumber Data.

meja.III. karton. 5. dalam rumah. mengarahkan dan memotivasi anak untuk bermain sambil belajar membuat sesuatu dengan memperlihatkan atau memperagakan bagaimana mempergunakan alat (gunting) dan bahan-bahan limbah plastik yang telah dipersiapkan dengan hati-hati dan benar untuk membuat sesuatu (kursi. Kegiatan Pembelajaran  Pendahuluan (± 10 Menit) 1.  Kegiatan Inti (± 40 Menit) 1. . 2. 4. Guru mengajak dan meminta anak untuk memperhatikan guru mengerjakan atau membuat bentuk kursi. dan membimbing/menuntun anak bagaimana menggunting secara hati-hati dengan menggunkan gunting agar hasil guntingan juga baik (menggunting lurus. Anak mendengarkan penjelasan guru dan perhatian tertuju pada proses pembelajaran. Guru menjelaskan jenis dan fungsi alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan menggunting. Membelajarkan. menggunting dengan irisan kecilkecil. menggunting dari arah berlawanan. membelokan guntingan. Guru memberi penjelasan sambil bercerita tentang macam-macam peralatan memperlihatkan dan memperagakan serta memberi contoh-contoh konkrit bagaimana mengolah bahan limbah anorganik menjadi suatu hasil karya sesuai indikator yang dinilai dan menghubungkan materi pembelajaran (tema dan sub tema) dengan tindakan penelitian. bernyanyi dan 2. dan mata angin. memegang bahan-bahan limbah seperti kertas. mengucapkan salam. Guru mengajak. Guru membimbing anak untuk berdo‟a sebelum belajar. plastik lalu mengguntingnya. mebuat pola-pola bentuk kursi. memotivasi. dan sebagainya). meja dan mata angin). dan mata angin dari bahan limbah plastik hingga selesai menjadi hasil karya. 3. meja.

hingga waktu istrahat tiba. 9. Guru membimbing anak untuk bernyanyi. lalu berdoa. menanggapi permintaan dan pertanyaan-pertanyaan anak. Alat Evaluasi : = (BSB) Berkembang Sangat Baik. memotivasi. 10. Dua orang guru keliling ruangan mengamati dan memperhatikan aktifitas anak-anak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (karena anak memengang gunting dalam bermain sambil belajar) dan membantu anak yang mengalami kesulitan. anak untuk membersikan diri. 7. Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam proses pembelajaran. Guru terus berkeliling kelas.  Kegiatan Penutup (± 10 Menit) 1. dan ucapkan salam. Guru mengajak dan mengarahkan anak untuk istrahat dan bermain bebas diluar kelas.6. Guru mengajak. memberikan bantuan seperlunya. dan meminta anak untuk melakukanya sendiri seperti contoh dan cara yang telah diperlihatkan guru. Kegiatan Evaluasi a. mengarahkan dan meminta. memotivasi dan menstimulasi kecerdasan visualspasial anak dalam memberdayakan alat dan bahan-bahan limbah anorganik untuk membuat sesuatu. kemudian menikmati bekalnya. duduk tertib. jika anak mampu menunjukkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator tanpa bantuan guru. Guru mengajak. 8. . berdoa pulang. Guru mendiskusikan kegiatan anak yang telah dilaksanakan seharian. b. 2. menyantuni anak. IV.

Perolehan (Jml nilai BSB x 4) + (Jml nilai BSH x 3) + (Jml nilai MB x 2) + (Jml nilai BB x 1) Nilai Akhir = Anak Didik Jumlah Seluruh Indikator = 10 c. = (MB) Mulai Berkembang. Hasil evaluasi tercantum pada format penilaian.= (BSH) Berkembang Sesuai Harapan. yakni jika anak telah mampu menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun masih sering dibimbing dan dibantu langsung oleh guru. = (BB) Belum Berkembang. . jika anak menunjukkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator namun terkadang masih harus diberikan bimbingan dan bantuan guru. yakni jika anak belum menampakkan kecerdasan visual-spasial sesuai tagihan indikator pencapaian perkembangan kecerdasan visual-spasial karena dalam melakukannya harus selalu dibimbing dan dibantu secara langsung dari awal oleh guru.

Guru Kelompok B2 Peneliti .Kendari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.