KOMPETENSI MANAJERIAL

KEPALA SEKOLAH PENDIDIKAN MENENGAH

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PERENCANAAN PARTISIPATORI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BERBASIS SEKOLAH

DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2007

PENGANTAR

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu: Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Dalam rangka pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah untuk menguasai lima dimensi kompetensi tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun naskah materi diklat pembinaan

kompetensi untuk calon kepala sekolah/kepala sekolah. Naskah materi diklat pembinaan kompetensi ini disusun bertujuan untuk memberikan acuan bagi stakeholder di daerah dalam

melaksanakan pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah/kepala sekolah agar dapat dihasilkan standar lulusan diklat yang sama di setiap daerah. Kami mengucapkan terimakasih kepada tim penyusun materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah ini atas dedikasi dan kerja kerasnya sehingga naskah ini dapat diselesaikan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam meningkatkan mutu tenaga kependidikan.

Jakarta, November 2007 Direktur Tenaga Kependidikan

Surya Dharma, MPA, Ph.D NIP. 130 783 511

i

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ............................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................... DAFTAR TABEL ....................................................................... BAB I PENDAHULUAN ............................................................ A. Latar Belakang ........................................................ B. Dimensi Kompetensi ............................................... C. Kompetensi ............................................................. D. Indikator Pencapaian Kompetensi ........................... E. Pendekatan dan Penilaian Hasil Diklat .................... F. Alokasi Waktu.......................................................... BAB II LANDASAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKOLAH ................................... A. Visi Pendidikan Nasional ......................................... B. Misi Pendidikan Nasional......................................... C. Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Nasional ..... D. Sistem Pengelolaan Pendidikan .............................. E. Peran Serta Masyarakat .......................................... F. Standar Nasional Pendidikan .................................. BAB III PENGERTIAN DAN MODEL-MODEL PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKOLAH ...... A. Pengertian Perencanaan Pengembangan Sekolah . B. Kerangka Umum Perencanaan Pengembangan Sekolah ................................................................... C. Model-Model Alternatif Perencanaan Pengembangan Sekolah ......................................... D. Menumbuhkan Budaya Pengembangan Berencana Di Sekolah ............................................................... ii ii iv v 1 1 3 3 4 4 6

7 8 8 9 9 10 11

15 15 19 23 31

.................. Visi...................... Rencana Implementasi Pengembangan (RIP) .... Penyusunan Kerangka Acuan atau Term of Reference (TOR) Kegiatan .. 36 36 47 61 64 64 64 77 77 94 102 iii ............................... Komponen-Komponen Renop ... C...... BAB VI PENYUSUNAN PROPOSAL DAN KERANGKA ACUAN KEGIATAN .........BAB IV MENYUSUN RENCANA STRATEGIS SEKOLAH/ MADRASAH ....... dan Tujuan Sekolah/Madrasah ........................ A......... A........ Pengertian Rencana Operasional ........................................ Evaluasi Diri ............................... BAB V RENCANA OPERASIONAL ..... A...... Misi.................................................................................. Penyusunan Proposal Pengembangan Sekola ........ B.............................................. DAFTAR RUJUKAN .............. B........... B...................................

.. 3....1...... Kerangka Umum Proses Perencanaan.................. dan Rencana ...2.................... Hubungan antara Premis..... Model Dasar Perencanaan Pengembangan Sekolah .. The Three-Strand Concurrent Model untuk Perencanaan Pengembangan Sekolah ......... 3..............5..........DAFTAR GAMBAR hal Gambar Gambar Gambar Gambar 3. iv .3....... 18 20 26 28 29 Gambar 3. 3. Model Perencanaan-Tindakan Tahap Permulaan bagi Perencanaan Pengembangan Sekolah .........4. Tujuan..............

.. Rekapitulasi Kebutuhan Anggaran menurut Komponen Anggaran dan Tahun Realisasi Contoh-contoh rumusan tujuan dan hasil yang diharapkan .. Matrik permasalahan........... Sumber Daya dan Sumber Dana Contoh Jadwal Kagiatan dalam Renop ....... Pertanyaan Khusus......DAFTAR TABEL hal Tabel 3..1........ Contoh Uraian Ruang Lingkup Untuk Beberapa Komponen Anggaran .5........1......... 6.......1...... Cotoh Penyajian Indikator Kinerja.......9. Rekapitulasi Anggaran Biaya Berdasarkan Program/Sub-Program ......4.6.. dan program yang diusulkan Indikator Keberhasilan ........ 5............. Matrik MacMillan..................................... Pertanyaan Pokok...... 6.............4.........3... 6. 6. 6. Contoh Uraian Anggaran Pelatihan Guru Contoh Jadwal Persiapan Pelatihan ........7.....3...........2... alternatif pemecahaan...2... Contoh Kegiatan dan Investasi . 6. v ....1...8. 5. 5........... 6.... dan Tugas dalam Proses Perencanaan Pengembanga ..... Keterkaitan Antara Kegiatan...... 20 61 71 73 75 76 87 89 91 92 93 97 98 99 100 Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 4.. 5........ Program dan Penjadwalan ...... SubKegiatan. Langkah-langkah.... 6..... 6..

Sedangkan 1 . beberapa hal penting yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tersebut meliputi bidangbidang pengambilan keputusan. Pasal 49 ayat (1) pada Peraturan pendidikan Pemerintah pada ini menyatakan: pendidikan “Pengelolaan dasar dan satuan jenjang menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian. Pengambilan keputusan bidang akademik dilakukan melalui rapat Dewan Pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah. Latar Belakang UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan manajemen berbasis sekolah (school based managemen) sebagai prinsip utama yang harus dipegang taguh dalam pengelolaan semua satuan pendidikan. Ketentuan ini kemudian dipertegas dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. partisipasi. prosedur pengambilan keputusan dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan itu. keterbukaan.” Untuk menjamin terimplementasikannya manajemen berbasis sekolah. kemitraan. PP nomor 19/2005 tersebut juga menetapkan bahwa proses pengambilan keputusan di tingkat satuan pendidikan juga harus sejalan dengan nafas manajemen berbasis sekolah. Terkait dengan Pengambilan Keputusan.BAB I PENDAHULUAN A. dan akuntabilitas. Pada intinya pengambilan keputusan harus dilakukan dengan melibatkan pihakpihak pemangku kepentingan (stakeholders) yang terwadahi dalam Dewan Pendidik dan Komite Sekolah.

Kewenangan yang begitu luas yang diberikan kepada sekolah tersebut pada gilirannya menuntut setiap sekolah mereformasi dirinya. 2 . wewenang dan tanggung jawab yang sangat strategis dan jauh lebih luas di bandingkan masa sebelumnya. Rencana kerja yang harus dibuat oleh satuan pendidikan meliputi Rencana Kerja Jangka Menengah (4 tahun) dan Rencana Kerja Tahunan. lebih mampu membangun hubungan kemitraan dengan dan memperkuat partisipasi semua pemangku kepentingan (stakeholders). kemandirian dan akuntabilitas sebagai instrumen utama dalam proses pengembangan sekolah. bersikap lebih terbuka dan akuntabel. Rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah dilaksanakan atas dasar prinsip musyawarah mufakat yang berorientasi pada peningkatan mutu satuan pendidikan. Setiap sekolah harus beralih dari budaya dan manajemen yang bersifat “menunggu dan bertindak sesuai kebijakan atas” yang bersifat konvensional kepada sebuah budaya dan manajemen baru yang menempatkan hasil evaluasi diri sebagai titik awal usaha pengembangan. Beberapa standar pengelolaan yang dikemukakan di atas mengisyaratkan bahwa sejak saat ini sekolah sebagai satuan pendidikan memiliki peran. Rencana Kerja Satuan Pendidikan dasar dan Menengah harus harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah/Madrasah.bidang non-akademik pengambilan keputusan dilakukan oleh komite sekolah/madrasah yang dihadiri oleh kepala sekolah. Sekolah dituntut untuk lebih mandiri. dan peningkatan mutu sebagai muara dan tujuan utama dari setiap usaha pengembangan itu.

keterbukaan. partisipasi. sistem perencanaan pengembangan lembaga yang diterapkan pada setiap sekolah harus mampu memfasilitasi dan mengakomodasi lima pilar utama yang digariskan dalam standar pengelolaan itu—kemandirian. proses perencanaan akan menjadi perangkat yang esensial dalam pengelolaan sekolah. Kompetensi kepala sekolah di bidang perencanaan dan pengambilan berbagai keputusan strategis menjadi prasyarat keberhasilan pengembangan sekolah. para peserta. yang diproyeksikan akan mengemban tugas sebagai kepala sekolah. B. Melalui pendidikan dan pelatihan ini. Untuk itu kepala sekolah harus mampu membangun kemandirian sekolah melalui penguatan kompetensinya di bidang perencanaan pengembangan sekolah. Dimensi Kompetensi Dimensi kompetensi yang akan dicapai melalui pendidikan dan pelatihan ini adalah Dimensi Kompetensi Manajerial C. diharapkan akan mampu mengembangkan kompetensi yang strategis yang dibutuhkan oleh setiap kepala sekolah itu.1 Permendiknas nomor 13 tahun 2007) 3 .Dalam pengelolaan yang demikian itu. Kompetensi Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan ini para peserta diharapkan mampu menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan (Kompetensi 2. dan akuntabilitas. Dalam kaitannya dengan standar pengelolaan satuan pendidikan. Kepala terwujudnya sekolah berbagai adalah standar sosok kunci yang satuan menentukan pendidikan pengelolaan sebagaimana disebutkan di atas. kemitraan.

Pelatihan 4 . Pendekatan dan Penilaian Hasil Diklat Program Diklat ini dirancang bagi guru-guru yang telah berpengalaman dan bercita-cita untuk berkarir menjadi tenaga kependidikan sebagai kepala sekolah atau pemimpin kependidikan pada satuan pendidikan dasar dan menengah lainnya. strategi. menyusun Rencana Operasional (Renop) pengembangan sekolah berlandaskan kepada keseluruhan rencana strategis yang telah disusun. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan ini peserta diharapkan mampu: 1. melalui pendekatan. dan proses penyusunan perencanaan operasional yang memegang teguh prinsip-prinsip penyusunan rencana operasional yang baik. 4. 5. menguasai kebijakan pendidikan tingkat nasional. 3. menguasai pengertian dan model-model perencanaan pengembangan sekolah. dan proses penyusunan perencanaan strategis yang memegang teguh prinsip-prinsip penyusunan rencana strategis yang baik. Paket pendidikan dan pelatihan ini menggunakan pendekatan pelatihan berbasis komptensi (competency-based training). propinsi maupun kabupaten/kota sebagai landasan dalam perencanaan pengembangan sekolah. menyusun rencana strategis (Renstra) pengembangan sekolah berlandaskan kepada keseluruhan kebijakan pendidikan nasional. strategi. menyusun penyusunan proposal pengembangan sekolah dan kerangka acuan kegiatan E. 2.D. melalui pendekatan.

pendekatan kontekstual juga digunakan dalam proses pelatihan. Pada setiap kompetensi ditetapkan kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai oleh peserta. prinsip belajar tuntas untuk orang dewasa diterapkan dalam pelatihan ini. sekolah asal peserta juga dijadikan dasar dalam penentuan strategi kegiatan pelatihan. Sangat diharapkan bahwa para fasilitator memiliki pemahaman yang seksama terhadap kedua konteks tersebut. dengan prinsip tut wuri handayani. dan disposisi profesional. Selama proses pelatihan berlangsung harus tercipta suasana hubungan peserta dan fasilitator yang saling menerima dan menghargai. Pedoman kegiatan dan lembar-lembar kerja yang dilampirkan dalam bahan ini akan sangat membantu dalam pengembangan berbagai pengalaman praktis dan pengalaman lapangan peserta peserta pendidikan dan pelatihan. akrab. Penilaian acuan patokan digunakan untuk menilai kinerja peserta pelatihan. sosial budaya setempat. terbuka. Kompetensi-kompetensi inilah yang kemudian digunakan sebagai kriteria keberhasilan peserta dalam mengikuti diklat ini. Pelatihan juga harus dilaksanakan dengan mengedepankan pendekatan multi metode. Untuk itu. Konteks kepribadian seperti pengalaman dan latar belakang pendidikan dipertimbangkan selama proses pelatihan. Konteks lingkungan dan sosial seperti karakteristik daerah. keterampilan. Pada setiap mata diklat ditetapkan sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta. dan hangat.dilaksanakan dengan memadukan kompetensi-kompetensi yang terdiri dari pengetahuan. 5 . Selain itu. kinerja.

penyelesaian tugas akhir (Renstra Sekolah).Beberapa teknik berikut dapat digunakan oleh fasilitator atau pihak yang berkewenangan melaksanakan sertifikasi dapat untuk mengevaluasi kompetensi peserta pelatihan. • • • • penguasaan materi pelatihan. Alokasi Waktu Alokasi waktu yang digunakan untuk pelatihan ini adalah 40 x 50 menit. 6 . partisipasi/aktivitas belajar di kelas penyelesaian tugas-tugas dan studi kasus di kelas. F.

seorang kepala sekolah harus mendasarkan semua kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan di sekolah pada semua kebijakan pendidikan yang berlaku baik secara nasional. kemudian mewujudkannya dalam tindakan-tindakan nyata pada tingkat satuan pendidikan yang dipimpinnya. setiap langkah dan kebijakan yang dilakukan di sekolah benar-benar terilhami dan didasari oleh kebijakan nasional di bidang pendidikan dan akan mengarah pada cita-cita pendidikan nasional yang dituangkan dalam visi. Untuk berbagai memberikan kebijakan pemahaman berikut yang secara umum dua mengenai peraturan dengan tersebut. propinsi. Adalah suatu keharusan bagi setiap pemimpin satuan pendidikan untuk memahami dengan seksama setiap kebijakan yang berlaku di bidang pendidikan itu. Uraian difokuskan pada hal-hal pokok yang diatur dalam dua peraturan perundang-undangan itu yang berkaitan dengan 7 . Dengan demikian. misi. Pemahaman ini akan sangat membantu kepala sekolah untuk memiliki wawasan dalam skala nasional maupun regional dan lokal. dan tujuan pendidikan nasional.BAB II LANDASAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKOLAH Sebagai pengelola satuan pendidikan. maupun kebupaten/kota. Peraturan perundang-undangan dimaksud meliputi Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. pokok diuraikan erat perundang-undangan kaitannya perencanaan pengembangan sekolah dan sedang banyak digunakan sebagai landasan bagi penentuan kebijakan pendidikan lainnya.

3) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. B. Namun demikian. Pemahaman terhadap dua kebijakan tersebut pasti belum cukup bagi setiap pemimpin pendidikan untuk mampu menentukan segala kebijakan tingkat satuan pendidikan yanng benar-benar sejalan dengan cita-cita pendidikan nasional. Misi Pendidikan Nasional 1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. propinsi. Visi Pendidikan Nasional Visi adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. terus para masih diharapkan mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan lainnya baik dalam skala nasional. 8 .perencanaan pemimpin pengembangan pendidikan sekolah. 2) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. 4) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. A. maupun kabupaten/kota.

sikap. dan 5) memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI. berilmu. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 51 ayat (1) UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 merupakan pasal penting yang harus dijadikan pijakan dalam perencanaan pengembangan sekolah. Fungsi. cakap. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. berakhlak mulia. D. Dasar. pengalaman. sehat. dan Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan nasional diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kreatif. hal-hal yang perlu dijadikan acuan dalam perencanaan pengembangan sekolah adalah pasal-pasal dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 yang mengatur tentang pendidik dan tenaga kependidikan (pasal 39 sampai dengan pasal 44). C. Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri.keterampilan. dan pendanaan pendidikan (pasal 46 sampai dengan pasal 49). Pasal ini menentukan bahwa pengelolaan 9 . sarana dan prasarana pendidikan (pasal 45). Sistem Pengelolaan Pendidikan Berkaitan dengan sumber daya pendidikan. dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.

Pasal 55 UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 mengatur prinsipprinsip pendidikan berbasis masyarakat.” E. dan 56. 55. pendidikan dasar. sebagai berikut: 1. Peran Serta Masyarakat Berkenaan dengan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan. dan pengguna hasil pendidikan. hal-hal penting yang harus dipahami oleh perencana pengembangan sekolah meliputi ketentuan- ketentuan yang diatur dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 54. kelompok. dan keluarga. Dalam pasal ini ditetapkan bahwa: 1. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. 10 . pengusaha. Pasal 54 mengatur bentuk dan ruang lingkup peran serta masyarakat. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber. dan budaya untuk kepentingan masyarakat.sekolah harus menerapkan manajemen berbasis sekolah. pengendalian pelayanan 2. pelaksana. sebagaimana ditegaskan: “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. organisasi profesi. dalam organisasi dan kemasyarakatan mutu penyelenggaraan pendidikan. lingkungan sosial.

3. 4. Peraturan Pemerintah ini menetapakan arah reformasi pendidikan nasional dalam rangka 11 . sumber lain Pemerintah. F. Standar Nasional Pendidikan Sasaran minimal pengembangan sekolah yang dituangkan dalam setiap rencana pengembangan sekolah haruslah menggunakan standar penyelenggaraan pendidikan yang berlaku secara nasional. dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan ketentuan rinci mengenai standarstandar nasional pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. para perencana pengembangan sekolah juga perlu untuk mengkaji dan memahami secaha komprehensif ketentuan-kentuntuan lain yang diatur dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 agar setiap keputusan yang dimbil tidak bertentangan dengan kebijakan nasional di bidang pendidikan. yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan. daerah dan/atau masyarakat. serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan. subsidi dana. Selain hal-hal pokok yang diuraikan di atas. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber pemerintah dari penyelenggara.2. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis.

rencana kerja. Di antara standar-standar tersebut. dan pelaporan. pemantauan. PP nomor 19/2005 tersebut menetapkan sejumlah standar pengelolaan yang mencakup pengambilan keputusan. standar pengelolaan pada tingkat satuan pendidikan merupakan standar terpenting yang harus djadikan acuan dalam perencanaan pengembangan sekolah. standar proses. PP nomor 19 tahun 2005 menetapkan delapan standar yang meliputi: a. dan tujuan pendidikan nasional. 12 . pengawasan. supervisi. standar pengelolaan. pedoman pendidikan. d. standar pembiayaan. standar isi. g. dan akuntabilitas. keterbukaan. standar pendidik dan tenaga kependidikan. standar kompetensi lulusan. f. Secara ringkas standarstandar pengelolaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. partisipasi. b.mencapai visi. standar sarana dan prasarana. prinsipprinsip dasar pengelolaan satuan pendidikan. kemitraan. c. Untuk itu berikut diuraikan kententuan-ketentuan yang berkaitan dengan standar pengelolaan dan pengambilan keputusan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 49 sampai dengan pasal 58 PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 49 ayat (1) pada Peraturan Pemerintah ini menyatakan: “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian.” Berkaitan dengan penerapan manajemen berbasis sekolah itu di tingkat satuan pendidikan. misi. e.dan h. standar penilaian pendidikan.

Sedangkan bidang non-akademik pengambilan keputusan dilakukan oleh komite sekolah/madrasah yang dihadiri oleh kepala sekolah. efektivitas. dan tindak lanjut hasil pengawasan. Terkait dengan Pengambilan Keputusan. 13 . prosedur pengambilan keputusan dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan itu. supervisi.Pengelolaan satuan pendidikan harus berpegang pada prinsipprinsip kemandirian. Rencana kerja yang harus dibuat oleh satuan pendidikan meliputi Rencana Kerja Jangka Menengah (4 tahun) dan Rencana Kerja Tahunan. efisiensi. Pengambilan keputusan bidang akademik dilakukan melalui rapat Dewan Pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah. evaluasi. pelaporan. beberapa hal penting yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tersebut meliputi bidangbidang pengambilan keputusan. Pemantauan dilakukan oleh pimpinan satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi. Rencana Kerja Satuan Pendidikan dasar dan Menengah harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah/Madrasah. dan akuntabilitas. Rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah dilaksanakan atas dasar prinsip musyawarah mufakat yang berorientasi pada peningkatan mutu satuan pendidikan. Pengawasan penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan mencakup pemantauan. Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan rapat dewan oleh pendidik kepala dan satuan komite pendidikan kepada sekolah/madrasah.

dan akuntabilitas satuan pendidikan. 14 .efektivitas. bersikap lebih terbuka dan akuntabel. lebih mampu membangun partisipasi hubungan semua kemitraan pemangku dengan dan memperkuat kepentingan (stakeholders). Sekolah dituntut untuk lebih mandiri. Supervisi yang meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh pengawas atau penilik satuan pendidikan dan kepala satuan pendidikan. wewenang dan tanggung jawab yang sangat strategis dan jauh lebih luas di bandingkan masa sebelumnya. Setiap sekolah harus beralih dari budaya dan manajemen yang bersifat “menunggu dan bertindak sesuai kebijakan atas” yang bersifat konvensional kepada sebuah budaya dan manajemen baru yang menempatkan hasil evaluasi diri sebagai titik awal usaha pengembangan. Standar pengelolaan tersebut mengisyaratkan bahwa sejak saat ini sekolah sebagai satuan pendidikan memiliki peran. kemandirian dan akuntabilitas sebagai instrumen utama dalam proses pengembangan dirinya. dan peningkatan mutu sebagai muara dan tujuan utama dari setiap usaha pengembangan itu. Kewenangan yang begitu luas yang diberikan kepada sekolah pada gilirannya menuntut setiap sekolah mereformasi dirinya.

15 . the other management functions can be done well. Apapun yang dilakukan berikutnya dalam proses manajemen bermula dari perencanaan. dan tindakan-tindakan lain yang diperlukan dalam rangka pencapaian tujuan.BAB III PENGERTIAN DAN MODEL-MODEL PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKOLAH A. dan atau pengendalian (controlling) merupakan fungsi-fungsi yang harus dijalankan dalam proses manajemen. Daft (1988:100) menyatakan: “When planning is done well. Pengertian Perencanaan Pengembangan Sekolah Perencanaan menggerakkan (planning). leading).” Perencanaan pada intinya merupakan upaya pendefinisian kemana sebuah organisasi akan menuju di masa depan dan bagaimana sampai pada tujuan itu. Jika digambarkan dalam sebuah siklus. Dengan kata lain. perencanaan berarti pendefinisian tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dan pembuatan keputuan mengenai tugas-tugas dan penggunaan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. jadwal. Perencanaan dapat dikatakan sebagai fungsi terpenting diantara fungsi-fungsi manajemen lainnya. perencanaan merupakan langkah pertama dari keseluruhan proses manajemen tersebut. memimpin pengorganisasian (actuating atau (organizing). Sedangkan rencana (plan) adalah hasil dari proses perencenaan yang berupa sebuah cetak biru (blueprint) mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan.

misalnya. Dalam organisasi sekolah. tujuan strategis merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai pada tingkat sekolah. Tujuan taktis dan tujuan operasional masing-masing merupakan tujuan-tujuan yang 16 . Tujuantujuan taktis merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh-oleh bagian-bagian utama organisasi sekolah. dapat dikategorikan sebagai tujuan operasional. sedangkan tujuan taktis dan tujuan operasional adalah tujuan jangka pendek yang berupa sasaran-sasaran yang terukur. tujuan ini terdiri dari beberapa jenis dan tingkatan. kemudian berturut-turut di bawahnya dijabarkan menjadi tujuan taktis (tactical objective) kemudian tujuan operasional (operational objective).Dalam pengertian tersebut. Tujuan pada tingkat yang tertinggi disebut dengan tujuan strategis (strategic goal). tujuan dan alokasi sumber daya merupakan dua kata kunci dalam sebuah rencana. kesiswaan. atau kerja sama dengan masyarakat. Tujuan mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. misalnya bidang kurikulum. Tujuan ini bersifat umum dan biasanya tidak dapat diukur secara langsung. Dalam organisasi. Sedangkan tujuan operasional merupakan tujuan yang harus dicapai pada bagian-bagian yang secara struktur yang lebih rendah dari bagian-bagian utama sekolah tersebut. Untuk SMK tujuantujuan taktis ini dapat berupa tujuan-tujuan yang harus dicapai pada tingkat jurusan atau program keahlian. Masing-masing tingkatan tujuan tersebut terkait dengan proses perencanaan. Tujuan strategis merupakan tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang. Tujuan strategis merupakan tujuan yang harus dicapai pada tingkat rencana strategis (strategic plan). Tujuan (goal) dapat diartikan sebagai kondisi masa depan yang ingin diwujudkan oleh organisasi.

Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan yang tertuang dalam rencana harus berada dalam kerangka premis-premis itu. sedangkan misi adalah tujuan utama dan sasaran kinerja dari lembaga. Keduanya harus dirumuskan dalam kerangka filosofis. Premis-premis tersebut harus menjadi titik-tolak dalam perencanaan. Untuk memudahkan pemahaman. Dalam kaitannya dengan perencanaan. dan bentuk rencana sebagaimana diuraikan di atas. Gambar 3. dan nilai-nilai fundamental organisasi. sistem nilai dan mandat tertentu. Secara formal permis-premis perencanaan itu biasanya disajikan dalam bentuk rumusan visi. Visi dapat dipandang sebagai alasan atas keberadaan lembaga dan merupakan keadaan “ideal” yang hendak dicapai oleh lembaga.harus dicapai pada rencana taktis (tactical plan) dan rencana operasional (operational plan). dasar-dasar keberadaan ini disebut dengan premis organisasi. keyakinan dan nilai-nilai dasar yang dianut oleh organisasi yang bersangkutan dan digunakan sebagai konteks pengembangan dan evaluasi atas strategi yang diinginkan. herarkhi tujuan. misi. Perlu dicatat bahwa semua organisasi.1 mengilustrasikan hubungan antara premis organisasi. keyakinan. ada atau diadakan atas dasar asumsi. 17 . apapun bentuknya.

Misi. dan NilaiNilai Dasar (Premis Organisasi) Tujuan (hasil) Rencana (alat) Manajemen Puncak (Tingkat Sekolah) Tujuan Strategis Rencana Strategis (Jurusan.1 Hubungan antara Premis. Sedangkan herarkhi tujuan dan rencana 18 . Prog. Tujuan. Keahlian) Manajemen Menengah Tujuan Taktis Rencana Taktis (Mapel. Individu Guru) Manajemen Bawah Tujuan Operasional Rencana Operasional Gambar 3. Perbedaan pokok rencana pengembangan dengan rencana lainnya terletak pada tujuan. dan Rencana Perencanaan pengembangan sekolah (school development planning) merupakan proses pengembangan sebuah rencana untuk meningkatkan kinerja sebuah sekolah secara berkesinambungan.Visi.

dan evaluasi. Kerangka tersebut dapat diilustrasikan dalam diagram sebagai Gambar 3. B. Siklus itu terdiri dari empat langkah kunci: Telaah (Review) atau evaluasi diri (self evaluation). Tujuan yang akan dicapai dalam rencana pengembangan merupakan hasil-hasil yang lebih baik dari apa yang selama ini telah dicapai oleh sekolah.2. Pertanyaan-pertanyaan khusus ini 19 . dan Tujuan. Implementasi (Implementation). Kerangka Umum Perencanaan Pengembangan Sekolah Kerangka umum proses perencanaan pengembangan sekolah sebenarnya dapat digambarkan sebagai sebuah siklus yang bergerak mengelilingi sebuah titik pusat. perencanaan pengembangan harus didasarkan atas pemahaman yang mendalam tentang keberadaan dan kondisi sekolah pada saat rencana pengembangan itu disusun. Pemahaman semacam ini dapat dilakukan melalui kajian dan telaah mendalam terhadap kondisi internal maupun lingkungan eksternal dimana sekolah itu berada. Oleh karena itu. Rancangan Strategi (Strategy Design). Untuk mengoperasionalkan siklus tersebut. langkah-langkah dalam proses perencanaan dapat diubah menjadi sejumlah pertanyaan pokok. Rencana pengembangan sekolah disusun agar sekolah terus-menerus meningkatkan kinerjanya. Sedangkan titik pusatnya terdiri dari: Visi. Misi. Masing-masing langkah dapat direpresentasikan dengan sebuah pertanyaan pokok yang dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan khusus. selain didasarkan pada visi dan misi sekolah.sebagaimana telah diuraikan di atas juga berlaku dalam rencana pengembangan.

Pertanyaan Khusus. dan Tugas dalam Proses Perencanaan Pengembangan LANGKAH PERENCANAAN TELAAH (REVIEW) PERTANYAAN POKOK Dimanakah posisi sekolah kita sekarang? PERTANYAAN KHUSUS Sejauh mana kita melakukan hal-hal yang berkaitan dengan: • pencapaian visi. misi. dan tujuan kita? • kinerja kita sebelumnya? • praktik-praktik terbaik (best practices)? • pemenuhan kebutuhan siswa? • pemenuhan kebutuhan orang tua dan masyarakat? • tindak lanjut terhadap tujuan pendidikan nasional? • pengelolaan perubahan (baik internal 20 .1 merangkum operasionalisasi siklus tersebut. Pertanyaan Pokok. Uraian lebih rinci mengenai langkah-langkah pelaksanaan dari masing-masing operasi tersebut disajikan pada bab-bab selajutnya dalam bahan pelatihan ini.1 Langkah-langkah. Gambar 3.kemudian digunakan untuk menentukan tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam proses perencanaan pengembangan. Kerangka Umum Proses Perencanaan Tabel 3. Tabel 3.2.

apakah rentang Monitoring dan Selama implemenTelaah Formatif tasi. dan rencana sekolah diketahui dan didukung oleh semua warga sekolah? IMPLEMENTASI Apa yang (IMPLEMENseharusnya kita TAION) kerjakan untuk menghantarkan sekolah sampai pada apa yang kita inginkan? Bagaimana seharusnya usaha kita seharihari mencerminkan visi.LANGKAH PERENCANAAN PERTANYAAN POKOK Kemana kita akan • membawa sekolah ini pada akhir • siklus • perencanaan? PERTANYAAN KHUSUS maupun eksternal)? Apa yang dapat kita raih lebih dari apa yang kita capai sekarang? Perubahan apa yang harus kita lakukan? Apakah prioritas pengembangan kita? RANCANGAN (DESIGN) Bagaimana kita akan membawa sekolah agar mencapai apa yang kita inginkan? Bagaimana kita akan melakukan perubahan?       Apa persisnya yang ingin kita capai? Tindakan-tindakan apa yang tersedia dan dapat kita pilih untuk memampukan kita mencapai tujuan kita? Tindakan terbaik mana yang sesuai untuk mencapai tujuan? Sumber daya apa yang kita butuhkan? Siapa yanng akan melaksanakan tindakan-tindakan itu? Bagaimana kemajuan tindakan akan diukur? Bagaimana kita memastikan bahwa tujuan. kebijakan. prioritas. dan tujuan sekolah? Bagaimana kita dapat mendorong kemajuan yang terkait dengan prioritas sekolah? Apa yang harus kita lakukan untuk menjamin keberhasilan implementasi Rencana implementasi program pengembanganan? Kemajuan apa yang kita capai untuk mencapai tujuan kita? Apakah tujuan khusus masih tepat dalam kaitannya dengan tujuan umum dan prioritas kita? Apakah tugas-tugas kita:  Fisibel  Tepat  Tersedia sumber daya yang memadai? Apakah biaya yang dianggarkan:  termanfaatkan?  mampu memanfaatkan? Berdasarkan pengalaman. bagaimana kita akan mengecek apakah kita telah membawa sekolah ke arah yang kita inginkan? 21 . misi.

LANGKAH PERENCANAAN PERTANYAAN POKOK PERTANYAAN KHUSUS waktu yang ditetapkan dapat diterima/cukup beralasan? Penyesuaian-penyesuaian apa yang dibutuhkan untuk menjamin keberhasilan Rencana Sekolah Kita? Telaah dampak (outcomes) Pada akhir siklus perencanaan. dan tujuan kita?  Kebijakan kita?  Prioritas pengembangan kita?  Sasaran-sasaran (objectives) kita? Apakah kita telah menggunakan metode terbaik untuk sampai ditujuan?  Seberapa sesuaikah model proses perencanaan yang kita pilih?  Seberapa efektifkah kita mengimplementaiskan model itu?  Apa sajakah yang membantu dan mengemhambat kemajuan? Tujuan Umum (Purpose) Dengan cara apa kita kelak mengetahui bahwa kita telah memilih arah yang benar? Proses Bagaimana kelak kita akan mengetahui bahwa kita telah memilih kendaraan yang paling sesuai? Rekomendasi Kemana Berdasarkan pengalaman kita: hendaknya kita  Perubahan apa yang seharusnya kita menuju dari kondisi lakukan terkait dengan model proses sekarang ini? perencanaan kita?  Aspek kehidupan sekolah yang mana yang harus menjadi focus pada siklus perencanaan kita berikutnya? 22 . visi. bagaimana kita akan mengetahui apakah kita telah membawa sekolah ke tempat yang kita inginkan? Sampai dimana yang telah kita capai? Sejauh mana kita telah:  Mencapai tujuan (objectives) dari rencana implementasi program pengembanganan yang kita buat?  Mengembangkan prioritas yang kita tetapkan?  Mengimplementasikan kebijakan yang kita tetapkan?  Memperluas misi. dan tujuan sekolah kita? Apakah kita telah berjalan pada jalur yang benar? Dalam kaitannya dengan perubahan social budaya. sejauh mana ketepatan:  Misi. visi.

secara terus-menerus memantau pelaksanaan rencana itu. Model-Model Alternatif Perencanaan Pengembangan Sekolah Standar nasional pendidikan sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya menunjukkan bahwa proses perencanaan menjadi perangkat yang esensial dalam pengelolaan sekolah. keterbukaan. dan secara teratur melakukan pengkajian dan perbaikan untuk menjaga agar perencanaan yang dibuat tetap relevan terhadap berbagai kondisi yang terus berkembang (Nickols dan Thirunamachandran. Model perencanaan strategis (strategic planning) hingga saat ini dipandang sebagai proses perencanaan yang demikian itu. Sekolah diharapkan akan menyediakan waktu untuk mentelaah dan menganalisis dirinya sendiri dan lingkungannya. Dalam kaitannya dengan standar pengelolaan satuan pendidikan. diharapkan sekolah akan terdorong untuk melakukan perencanaan secara sistematis.C. Perencanaan strategis merupakan bagian dari proses managemen strategis yang terkait dengan proses identifikasi tujuan 23 . sistem perencanaan pengembangan lembaga yang diterapkan pada setiap sekolah harus mampu memfasilitasi dan mengakomodasi lima pilar utama yang digariskan dalam standar pengelolaan itu—kemandirian. mengidentifikasi kebutuhannya untuk mendapatkan keunggulan terhadap yang lain. dan akuntabilitas. kemitraan. partisipasi. Dengan menerapkan pendekatan perencanaan strategis. dan melakukan komunikasi dan konsultasi secara terus-menerus dengan berbagai pihak baik dari dalam maupun luar lingkungan lembaga selama berlangsungnya proses perencanaan. 2000). Di samping itu perencanaan strategis juga diharapkan akan mendorong sekolah untuk menyusun langkah-langkah dalam rangka mencapai tujuan strategis.

penggalian gagasan dan pilihan-pilihan. Saat mana lembagalembaga pendidikan dipaksa harus berhadapan dengan berbagai perubahan baik di dalam maupun di luar lingkungan lembaga. dan tertinggalnya program-program akademik. Sebagai dampak dari kondisi ini. pengambilan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Lujan. pesatnya perkembangan teknologi. dan dipaksa harus tanggap terhadap berbagai tantangan yang timbul seperti halnya menurunnya dukungan keuangan. dan Model Tiga-Unsur Sejajar (The Three-Strand Concurrent 24 . perencanaan strategis bermula dari dunia militer." Penerapan perencanaan strategis di dunia pendidikan baru berkembang sekitar satu dekade yang lalu. dan berubahnya struktur kependudukan. Secara historis. dan berkembang kembali tahun 1990-an Mintzberg (1994) sebagai "process with particular benefits in particular contexts. Diantara model-model perencanaan strategis yang berkembang. Perkembangan selanjutnya. perencanaan strategis diadopsi oleh dunia usaha pada tahun 1950-an dan berkembang pesat dan sangat populer pada tahun 1960 hingga 1970an. Perencanaan Tindakan Tahap Permulaan (Early Action Planning Model).jangka panjang dari sebuah lembaga atau organisasi. 2000). dan pemantauan (monitoring) kemajuan atau kegagalan dalam rangka menentukan strategi di masa depan (Nickols dan Thirunamachandran. yang hingga saat ini masih banyak diterapkan pada lembaga pendidikan antara lain: Model Dasar (Foundational Model). sejumlah lembaga pendidikan kemudian menggunakan perencanaan strategis sebagai alat untuk “meraih manfaat dan perubahan strategis untuk menyesuaikan diri dengan pesatnya perubahan liungkungan (Rowley. 1997). & Dolence.

Perumuskan/pembaharuan rumusan visi. seperti kedisiplinan. kesehatan dan keselatan. kelompokkelompok lintas kurikulum. Perumuskan/pembaharuan Kebijakan Umum Sekolah yang terkait dengan bidang-bidang kunci kehidupan sekolah. Model tersebut terdiri dari urutan kegiatan sebagai berikut: a. dan pemeliharaan kehidupan beragama. 1. jurusan. misi. d. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing model yang tersebut. Perumuskan/pembaharuan kebijakan dan prosedur yang terkait dengan perencanaan terkoordinasi dalam bidang belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Model ini didasarkan pada premis bahwa perencanaan pengembangan akan terlaksana lebih efektif apabila tujuan dan nilai-nilai fundamental sekolah telah diklarifikasi sehinga dapat menjadi kerangka acuan. Pembentukan/pengkajian struktur kolaborasi dan konsultasi dalam tahap persiapan. b. model dasar ini pertama-tama difokuskan pada peletakan landasan-landasan yang diperlukan dalam perencanaan pengembangan dan pengembangan prasarana yang tepat. dan tujuan. dan bila perlu memampukan tersusunnya struktur rencana pengembangan. Model Dasar (Foundational Model) Sesuai dengan namanya. sebelum melangkah pada perencanaan pengembangan pada skala yang menyeluruh. Pada bagian akhir bab ini diurai sebuah model perencanaan pengembangan sekolah yang pernah diterapkan di Indonesia dalam kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. 25 . c.Model).

g. rancang. Merancang dan adaptasi model perencanaan pengembangan sekolah. Model Dasar Perencanaan Pengembangan Sekolah 26 . kembali ke langkah pertama dan ulangi proses Gambar 3. f.3. Evaluasi/revisi kebijakan dan prosedur yang terkait dengan anggaran serta spesifikasi dan pengalokasian sumber daya. dan evaluasi. Penerapan model perencanaan pengembangan. Penerapan struktur umum dan prosedur yang sistematis dari operasi dasar perencanaan pengembangan: kaji. implementasi termonitor. h.e.Setelah evaluasi.

Model dasar itu dapat diilustrasikan dalam bentuk diagram sebagaimana Gambar 3. Pengalaman berhasil pada tahap permulaan ini akan menjadi bukti kemanfaatan perencanaan pengembangan sekolah. karena kemungkinan hanya memerlukan sekedar perubahan-perubahan minor terhadap apa-apa yang sudah ada. untuk menyelesaikan langkah a sampai dengan e di atas kemungkinan diperlukan waktu selama 18 bulan. akan tetapi tidak ada yang menjadi kenyataan dan tidak pernah terjadi perubahan”. Model Perencanaan Tindakan Tahap Permulaan (Early Action Planning Model) Model Perencanaan Tindakan Tahap Awal (Early Action Planning Model) pertama-tama menitik beratkan pada identifikasi cepat sejumlah kecil prioritas jangka pendek dan inisiatif rencana implementasi program pengembanganan untuk mencapai prioritas itu. langkah a sampai dengan e dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang sangat singkat.Bagi sekolah yang baru pertama kali melaksanakan perencanaan stratsgis. 2.3. langkahlangkah itu tidak dapat diabaikan begitu saja. Namun demikian. Akan tetapi apabila sekolah telah memiliki rencana strategis dan hanya perlu melakukan penyesuaian atau perubahan-perubahan. 27 . akan terjadi penguatan yang dapat mengurangi kecenderungan munculnya berbagai keluhan seperti: “kita hanya bicara dan bicara. Dengan demikian. Model ini didasarkan pada premis bahwa cara terbaik untuk mendorong keberterimaan (acceptance) dan penyatuan Perencanaan Pengembangan Sekolah adalah memastikan kelancaran tindakan dan capaian pada tahap permulaan sebagai penguatan yang positif bagi partisipan dalam proses perencanaan.

dan (3) Perencanaan Terelaborasi. dan jangka pendek. jangka menengah. Model Perencanaan-Tindakan Tahap Permulaan bagi Perencanaan Pengembangan Sekolah Selain itu juga akan memperkuat komitmen terhadap proses perencanaan dan menjadi insentif bagi keteribatan dalam prosedur perencanaan yang lebih kompleks. 3. Model ini mengakui bahwa pengembangan sekolah memiliki dimensi-dimensi jangka panjang. (2) Refleksi. Model permulaan tersebut dapat mencakup tahap-tahap kegiatan (1) Perencanaan Tindakan Awal.Gambar 3. Model itu didasarkan pada premis bahwa tiga 28 . Model Tiga-Unsur Sejajar (The Three-Strand Concurrent Model) The Three-Strand Concurrent Model memfokus pada kerangka waktu perencanaan.4.

dimensi waktu itu harus dicapai secara bersama-sama oleh sekolah jika sekolah memang memberikan respon yang efektif terhadap kebutuhan lingkungan yang dinamis. 29 . Model itu menyarankan sebuah kerangka yang terdiri dari tiga langkah kegiatan perencanaan yang saling terkait namun berbeda-beda yang memampukan sekolah untuk mengatasi perubahan-perubatah yang rumit dan tidak dapat diprediksikan. dan Perencanaan Operasional untuk mengatasi dimensi jangka pendek (1-3 tahun).5. (2) Niatan Strategis dan Tujuan Strategis untuk mengatasi dimensi jangka menengah (3-5 tahun). The Three-Strand Concurrent Model untuk Perencanaan Pengembangan Sekolah Model itu meliputi unsur-unsur: (1) Berfikir Masa Depan untuk mengatasi dimensi jangka panjang dalam perencanaan sekolah (5-15 tahun). Gambar 3.5. Three-Strand Concurrent Model tersebut dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagaimana Gambar 3.

4. Sekolah harus mampu menterjemahkan dan menangkap esensi kebijakan makro pendidikan serta memahami kindisi lingkunganya (kelebihan dan kekurangannya) untuk kemudian melalui proses perencanaan. 30 . Konsep manajemen ini menawarkan kerjasama yang erat antara sekolah. memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan masyarakat (Umaedi. berkembang didasarkan kepada suatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber daya sekolah yang ada. Kemiripan MPMBS dengan perencanaan strategis sebagaimana diuraikan sebelumnya sangat tampak pada strategi pelaksanaan yang digariskan pada tingkat sekolah. Model Perencanaan Pengembangan Sekolah di Indonesia Digulirkannya konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) pada tahun 1999 sebenarnya merupakan rintisan diterapkannya perencanaan strategis di lembaga pendidikan menengah di Indonesia. 1999). masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing . Sekolah harus menentukan target mutu untuk tahun berikutnya. Dengan demikian sekolah secara mandiri tetapi masih dalam kerangka acuan kebijakan nasional dan ditunjang dengan penyediaan input yang memadai. sekolah harus memformulasikannya ke dalam kebijakan mikro dalam bentuk program-program prioritas yang harus dilaksanakan dan dievaluasi oleh sekolah yang bersangkutan sesuai dengan visi dan misinya masing .masing ini.masing. Secara singkat langkah-langkah yang ditetapkan itu diuraikan sebagai berikut.

Melakukan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan g. Bagi sekolah pada umumnya. Misi. perencanaan pengembangan yang sistematis akan memerlukan perubahan mendasar dari kondisi yang ada sekarang. Tujuan. Bab ini memaparkan tantangan inovatif yang harus diatasi dengan cermat untuk menjamin keberhasilan pengintegrasian perencanaan pengembangan ke dalam kehidupan sekolah. bukan merupakan kegiatan “sekali jadi”. Mengembangkan Langkah Pemecahan Persoalan e.a. Menumbuhkan Budaya Pengembangan Berencana Di Sekolah Perencanaan pengembangan sekolah pada dasarnya merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Merumuskan Sasaran Mutu Baru Fungsi-Fungsi yang Diperlukan untuk D. Melakukan Analisis SWOT d. Mengidentifikasi Mencapai Sasaran c. dan Sasaran Sekolah (Tujuan Situasional Sekolah) b. Merumuskan Visi. Melaksanakan Rencana Peningkatan Mutu f. perencanaan pengembangan harus menjadi “modus operandi” normal bagi setiap sekolah. sehingga perencanaan akan menjadi budaya dalam manajemen sekolah. Berdasarkan penelitian internasional terhadap perubahan pendidikan pada umumnya. penumbuhan budaya perencanaan pengembangan sekolah dibagi menjadi tiga tahap: 31 . Agar perencanaan pengembangan itu efektif dalam memampukan (enabling) sekolah untuk menghadapi tantangan ganda yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dan pengelolaan perubahan.

1.  Penyatuan (Embedding): tahap ini terjadi ketika perencanaan pengembangan sekolah telah menjadi bagian pola kehidupan sekolah sehari-hari dalam melaksanakan segala sesuatu. Mereka harus benar-benar memahami hal-hal pokok berkaitan dengan apa.  Pembiasaan (Familirialisation): tahap ini mencakup siklus awal dari perencanaan pengembangan sekolah. Pemulaan (Inisiation): tahapan ini meliputi penetapan keputusan untuk memulai perencanaan pengembangan sekolah. menumbuhkan komitmen terhadap proses perencanaan. inisiatif itu pada umumnya diambil oleh kepala sekolah atau komite sekolah. Guru-guru harus disadarkan tentang peran yang harus mereka ambil dalam proses perencanaan dan manfaat apa yang dapat mereka peroleh dari proses itu. dan penyiapan partisipan. Komitmen guru terhadap inovasi sekolah merupakan hal yang esensial bagi keberhasilan dalam inovasi sekolah. mengapa. sehingga relevansi proses perencanaan dan kebutuhan sekolah dapat disampaikan dengan 32 . Tahap Pemulaan (Inisiasi) Secara formal semua pengelola sekolah bertanggung jawab atas inisiatif perencanaan pengembangan sekolah untuk menjamin bahwa keputusan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah benarbenar terlaksana dan terwujud. dan bagaimana perencanaan pengembangan sekolah dilakukan. pada praktiknya. Pemahaman mereka harus difokuskan pada keterkaitan antara proses dengan isu-isu yang penting bagi guru pada umumnya. Akan tetapi. dimana masyarakat sekolah belajar bagaimana melaksanakan proses perencanaan pengembangan itu.

a. komite sekolah. masukan dan dukungan dari lembagalembaga yang peduli terhadap pendidikan yang ada di sekitar sekolah. buku-buku pegangan dan laporan-laporan hasil penelitian mengenai perencanaan pengembangan sekolah. Mengundang pembicara dari luar untuk menyajikan paparan tentang perencanaan pengembangan sekolah di hadapan guru. Menghadiri seminar-seminar atau pelatihan-pelatihan yang relevan dengan perencanaan pengembangan sekolah. Mencari saran-saran. c. Membaca berbagai panduan. d. 33 . baik secara bersama-sama atau terpisah. dan orang tua. Memanfaatkan fasilitator dari luar untuk membantu memulai dan mengimplementasikan perencanaan pengembangan sekolah.jelas. Penjelasan serupa juga harus dilakukan kepada semua mitra kerja yang ada di lingkungan sekolah agar proses perencanaan pengembangan sekolah memperoleh dukungan dari mereka. Menghubungi sekolah-sekolah lain yang dipandang lebih maju di bidang perencanaan pengembangan sekolah untuk menggali dan belajar dari pengalaman yang mereka miliki. b. g. Mengundang tokoh-tokoh kunci di lingkungan sekolah untuk memaparkan pentingnya perencanaan pengembangan sekolah dan mendorong partisipasi semua pihak. e. f. Kegiatan-kegiatan berikut merupakan cara-cara yang dapat membantu warga sekolah untuk mempersiapkan partisipasinya dalam proses perencanaan pengembangan sekolah. pengelola sekolah.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan tumbuh berdasarkan pengalaman dan struktur kolaborasi yang berkembang. Semua guru memiliki pemahaman yang benar mengenai perencanaan pengembangan sekolah dan memiliki komitmen terhadap proses itu. akan sangat membantu keberhasilan proses perencanaan. Perhatian khusus harus diberikan agar timbul penguatan yang positif di kalangan guru. Telah dibuatnya keputusan untuk mengawali (mengintroduksi) perencanaan pengembangan sekolah. Semua mitra sekolah telah diberi penjelasan pada tahap awal proses tersebut. Terpilihnya fasilitator untuk membantu melaksanakan proses tersebut. b. Hasil dari tahapan ini adalah terkonsolidasikannya dan menguatnya komitmen terhadap proses perencanaan. Selama berlangsungnya tahap ini. 34 . d. Tahap Pembiasaan (Familirialisation) Pada tahap pembiasaan—biasanya merupakan langkah pertama dari siklus perencanaan pengembangan sekolah secara utuh— masyarakat sekolah berada dalam proses belajar dari pengalaman bagaimana melaksanakan proses perencanaan tersebut. 2. termasuk di dalamnya pelatihan dalam jabatan. fasilitator yang terampil. dan dukungan yang cukup dan berkelanjutan. c.Keluaran yang dicapai dari tahap pemulaan meliputi: a. koordinasi yang cermat.

dan menjadi bagian dari pola prilaku yang berterima (acceptable) bagi semua pihak. Terdapat begitu luas ragam penggunaan rencana implementasi program pengembanganan oleh guru. Penyatuan (Embedding) Tahap penyatuan terjadi ketika perencanaan pengembangan telah menjadi bagian dari cara-cara yang biasa dilakukan sekolah dalam melaksanakan segala sesuatu." 35 .3. Seluruh proses tersebut pada saat itu telah menjadi “cara kita melakukan segala sesuatu di sekolah ini” atau "the way we do things around here. dan dampaknya akan tampak pada praktikpraktik pembelajaran dalam kelas. Dalam hal ini rencana pengembangan sekolah harus berfungsi sebagai kerangka acuan bagi perencanaan-perencanaan yang terkoordinasi yang dilakukan oleh guru secara individual. Tatanan manajemen sekolah telah berkembang menjadi pendukung yang baik terhadap pengembangan maupun pemeliharaan sekolah yang bersangkutan. timtim lintas kurikulum. unit-unit yang ada sekolah.

dan 36 . d. dan bagaimana sekolah mengetahui keinginan yang mereka harapkan dari sekolah. dan Tujuan Visi. Misi. ketiganya menjadi kerangka acuan dari semua langkah dalam siklus perencanaan dan berfungsi sebagai (1) konteks saat melakukan telaah. misi dan tujuan merupakan titik sentral dalam siklus perencanaan pengembangan sekolah. bagaimana sekolah merespon kebutuhan para stakeholder itu. sosok lembaga macam apa yang diinginkan di masa depan. Ketiganya mensarikan apa yang menjadi dasar keberadaan sekolah dan apa yang ingin dicapai oleh sekolah. Misi. justifikasi sosial atas keberadaan sekolah yang diwujudkan dalam isu-isu pendidikan apa yang harus ditangani oleh sekolah atau masalah-masalah pendidikan mana yang akan diatasi oleh sekolah. diantisipasi. dan Tujuan Sekolah/Madrasah 1. (2) arah dari rancangan dan implementasi. b. Oleh karena itu. dan dijawab oleh sekolah berkaitan dengan kebutuhan dan masalah-masalah tersebut.BAB IV MENYUSUN RENCANA STRATEGIS SEKOLAH/MADRASAH A. Visi sekolah merupakan representasi masa depan sekolah yang diinginkan. siapa stakeholder utama sekolah ini. Pengertian Visi. Visi. apa yang harus diakui. Visi mensarikan prinsip-prinsip umum dan bersifat aspirasional. dan (3) tolok ukur dalam proses telaah. c. Rumusan visi sekolah hendaknya mencakup: a.

e. dan mendorong warga sekolah lainnya untuk menyesuaikan visi pribadi masingmasing dengan visi sekolah. (2) nilai-nilai yang dianut dan 37 . Kepala sekolah bertanggung jawab untuk terus-menerus mengkomunikasikan visi sekolah. Selain itu. Misi sekolah merepresentasikan raison d’etre atau alasan mendasar mengapa sebuah sekolah didirikan. visi sekolah harus terasimilasi kedalam budaya sekolah. bertindak sebagai rolemodel dengan cara menjadi simbol visi. realistis dan dapat dicapai Selaras dengan nilai-nilai. apa yang membuat sekolah tersebut unik atau berbeda dengan yang lain. Rumusan misi mencakup pesan-pesan pokok tentang (1) tujuan asal-muasal (original purpose) didirikannya sekolah. apa yang membuat sekolah ini memiliki keunggulan kompetitif. agar benar-benar efektif. menciptakan arahan dan bimbingan yang mengarah pada visi. merumuskan tujuan-tujuan jangka pendek yang sesuai dengan visi sekolah. dan karena itu. sebaiknya kurang dari sepuluh kata Inspiratif dan menantang Disepakati oleh semua stakeholder sekolah Menyatakan dengan jelas esensi dari apa yang seharusnya dicapai oleh sekolah • Fleksibel dan menumbuhkan kreativitas. dan cara pandang sekolah Berjangka waktu Singkat. Visi yang efektif harus memenuhi karakteristik berikut: • • • • • • • • • Jelas dan tidak membingungkan Menarik dan mudah diingat Aspiratif. budaya.

melandasi pendirian dan operasionalisasi sekolah, dan (3) alasan mengapa sekolah itu harus tetap dipertahankan keberadaannya. Banyak orang memiliki pemahaman yang salah terhadap visi dan misi sekolah/madrasah. Visi menyatakan identitas masa depan sekolah sedangkan misi menjelaskan mengapa visi akan dicapai. Visi sekolah terkonsentrasi ke masa depan.Visi bersifat lebih spesifik terkait dengan tujuan dan masa depan. Visi merupakan sebuah bentuk prestasi yang ingin dicapai. Visi sekolah dapat menstimulasi warga sekolah untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Visi sekolah menjadi sumber aspirasi dan menjadi kriteria utama dalam setiap pengambilan keputusan. Sedangkan misi sekolah mendefinisikan tujuan yang bersifat umum dan luas dari eksistensi sekokah yang bersangkutan. Misi merupakan panduan keberlangsungan sekolah yang tak berbatas waktu. Misi sekolah dapat tetap diberlakukan dalam jangka waktu yang lama. Misi sekolah menyediakan jalan menuju terwujudnya visi sekolah. Mana yang lebih dulu? Visi atau misi? Berbagai referensi menyajikannya secara berbeda-beda. Bagi sekolah yang baru atau sedang memulai sebuah upaya perubahan, visi akan menjadi panduan dalam merumuskan misi sekolah berikut semua kegiatan perencanaan pengembangan sekolah lainnya. Jika sekolah telah memiliki dan menjalankan misinya secara mapan maka misi akan menjadi pemandu perumusan visi dan seluruh kegiatan perencanaan strategis lainnya. Oleh karena itu, perencana pengembangan sekolah harus benar-benar memahami dimana sekolah sekarang telah berada dalam konteks pelaksanaan misinya, sumberdaya yang telah dimiliki,

38

hambatan-hambatan yang sedang dihadapi, dan kemana arah pengembangan sekolah akan dibawa. Tujuan sekolah merupakan pernyataan umum tentang tujuan pendidikan di sekolah itu. Tujuan-tujuan itu harus berkait dengan usaha mendorong perkembangan semua siswa baik secara

intelektual, fisikal, sosial, personal, spiritual, moral, kinestetikal, maupun estetikal. Tujuan sekolah harus memberikan fokus yang jelas bagi sekolah. Tujuan sekolah harus dirumuskan dalam kerangka visi dan misi sekolah. Aspirasi semua stakeholder harus terwadahi dalam konteks yang lebih luas dari rumusan visi dan misi sekolah. Selain ketentuan yang bersifat umum tersebut visi, misi, dan tujuan strategis sekolah harus juga dirumuskan dalam kerangka visi, misi, dan tujuan pendidikan baik pada skala nasional, regional (propinsi) maupun, daerah (kabupaten/kota). Untuk mengingat

kembali rumusan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional dianjurkan untuk membaca kembali Bab II materi diklat ini.

2. Mengapa Sekolah Perlu Merumuskan Visi, Misi, dan Tujuan? Di era perubahan sekarang ini, pengembangan rumusan visi, misi dan tujuan sebuah sekolah merepresentasikan kesiapan dan kemauan sekolah untuk bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya dan untuk mengelola perubahan dengan cara-cara yang positif dalam kaitannya dengan visinya. Rumusan misi sekolah merupakan dasar bagi kebijakan dan raktik-praktik yang berlangsung di sekolah. Tidak diragukan lagi bahwa nilai-nilai dan keyakinan yang membimbing kehidupan sekolah memiliki implikasi yang penting bagi semua pilihan dan keputusan yang harus dibuat dalam

pengembangan rencana sekolah.

39

Maksud dirumuskannya visi dan misi sekolah adalah: a. untuk memberikan arah yang jelas bagi usaha-usaha yang dilakukan sekolah; b. untuk mengilhami masyarakat sekolah dengan sebuah tujuan yang bersifat umum; c. untuk memberikan kerangka yang bagi penentuan kebijakan dan prioritas; d. untuk membangun pusat acuan (reference point) yang digunakan sekolah dalam mentelaah keberhasilan kegiatan-kegiatannya. Visi dan misi sekolah tidak dapat dipindah tangankan dengan mudah dari satu pihak ke pihak yang lain. Keduanya harus dikembangkan dan diklarifikasi melalui sebuah proses refleksi bersama atas nilai-nilai, keyakinan, dan aspirasi dari warga sekolah. Visi dan misi harus mencerminkan usaha sekolah untuk memadukan nilai-nilai yang sering saling bertentangan di kalangan warga sekolah. Kesadaran atas nilai-nilai personal di kalangan warga sekolah merupakan hal yang sangat penting. Sekolah akan dapat

mengakomodasi sejumlah nilai asalkan terdapat nilai-nilai yang didukukung oleh setiap individu warga sekolah. Nilai-nilai, apakah disadari atau tidak, merupakan inti dari tindakan yang kita lakukan. Waktu yang diluangkan khusu untuk mengeksplorasi nilai-nilai individual dan nilai-nilai kolektif kita sendiri merupakan waktu yang sangat berharga dan kelak akan berpengaruh terhaap segala sesuatu yang kita kerjakan di sekolah.

3. Langkah-Langkah Merumuskan Visi dan Misi Pengembangan rumusan visi dan misi merupakan proses yang sangat menantang bagi sekolah karena proses itu harus mampu

40

h. Merumuskan kembali rancangan rumusan visi dan misi terkait dengan respon yang diberikan oleh semua pihak tersebut. Pebuatan kesepakatan terhadap nilai-nilai pokok dari kalangan staf sekolah. bila perlu.mencapai sebuah kesepakatan di antara warga sekolah terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar yang dianut dan diyakini di lingkungan sekolah. g. Langkahlangkah kunci dalam pengembangan Rumusan Visi dan Misi meliputi: a. baru dapat dikatakan bahwa rumusan visi dan misi telah selesai. 2 dan 3 merupakan kegiatan Pengembangan Rumusan Misi. kebijakan pemerintah pemerintah di bidang pendidikan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. di kalangan warga 41 . Membuat rancangan (draft) rumusan bersama komite sekolah. b. dilakukan dirancang ulang. e. f. diikuti dengan konsultasi lebih lanjut dan. Lampiran 1 menguraikan pilihan kegiatan-kegiatan pokok dan sejumlah contoh Lembar Kerja yang dapat membantu sekolah dalam proses Pengembangan Rumusan visi dan misi sekolah. d. Ketika kesepakatan itu telah dicapai. c. Identifikasi nilai-nilai personal bersama semua staf sekolah. Pembahasan nilai-nilai tersebut dalam kaitannya dengan filosofi pendidikan. Penjaminan bahwa visi dan misi diwujudkan dalam tindakan. Kegiatan Pokok 1. Sekolah dapat menggunakan salah satu dari tiga kegiatan itu yang dipandang paling sesuai dengan kebutuhannya. Pencapaian kesepakan yang ditekankan pada tumbuhnya rasa memiliki terhadap rumusan visi dan misi sekolah. Mentelaah kembali rumusan visi dan misi setelah kurun waktu tertentu.

Sejauh mana kebijakan dan dokumentasi sekolah menceminkan visi dan misi tersebut? e. ditambahkan. Telaah Rumusan Visi dan Misi Telaah terhadap rumusan visi dan misi adalah penentuan relevansi dan validitas rumusan visi dan misi yang ada sekarang. Aspek-aspek mana dari rumusan visi dan misi yang ada masih relevan? b.4. atau dihilangkan dari rumusan visi dan misi tersebut? c. Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan terdahulu dapat menjadi titik tolak untuk mengeksplorasi 42 . Bagaimana visi dan misi tersebut dapat dipertahankan dalam masyarakat sekolah? d. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam telaah ini antara lain: a. Sejauh mana kurikulum merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam visi dan misi sekolah? f. apa yang perlu duperbarui. Dalam kaitannya dengan kebutuhan akan perubahan masyarakat yang berlangsung saat ini. Sejauhmana hubungan di lingkungan internal sekolah dan antara berbagai pihak di kalangan warga sekolah merefleksikan rumusan visi tersebut? h. Sejauh mana manajemen sekolah merefleksikan nilai-nilai dan keyakinan yang dinyatakan dalam rumusan visi dan misi? g. Sejauhmana rumusan visi dan misi merefleksikan kebutuhan sebuah masyarakat multi-kultural yang kompleks? Telaah tersebut dapat dilakukan melalui survei sederhana dangan meminta warga sekolah untuk memberikan tanggapan atas rumusan visi dan misi sekolah yang telah ada.

Dari segi karakteristiknya. 43 . Kriteria keefektifan tujuan dapat dilihat dari karakteristik tujuan itu sendiri dan prilaku dalam proses tujuan itu dirumuskan.persepsi warga sekolah terhadap rumusan vsi dan misi yang ada dan untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan perubahan dan pengembangan. yakni tujuan yang dirumuskan untuk dicapai oleh sekolah secara keseluruhan. Kegiatan 2 dan 3 pada lampiran menguraikan pilihan kegiatankegiatan pokok dan sejumlah contoh Lembar Kerja yang dapat membantu sekolah dalam proses Eksplorasi dan Telaah terhadap Visi dan Misi dalam tindakan sehari-hari. Lembar Kerja 2. Sekolah dapat menggunakan salah satu dari dua kegiatan itu yang dipandang paling sesuai dengan kebutuhannya. tujuan strategis merupakan pernyataan umum tentang arah kemana kelak organisasi akan menuju di masa depan. dan tujuan operasional. Agar tujuan benar-benar efektif dan cukup punya peluang untuk dicapai. Tujuan Yang Efektif Pada Bab II Bahan Diklat ini telah dikemukakan herarkhi tujuan yang meliputi tujuan strategis. Tujuan yang maksud pada bagian ini adalah tujuan pada tingkat strategis. menantang namun tetap realistis. 5.1d pada Lampiran dapat membantu proses perumusan visi dan misi tersebut. sebuah tujuan yang efektif harus memenuhi lima kriteria: spesifik dan terukur. Sesuai dengan sifatnya.1a sampai dengan 3. Kegiatan 2 dan 3 merupakan kegiatan Eksplorasi dan Telaah terhadap Visi dan Misi. maka rumusan tujuan harus memenuhi sejumlah kriteria keefektifan. mencakup dimensi-dimensi kunci. terbatasi oleh kurun waktu tertentu. tujuan taktis.

Di sekolah dimensi-dimensi kunci itu dapat dibedakan menurut fungsi-fungsi organisatoris sekolah atau ranah kompetensi atau kualifikasi lulusan. maka rumusan tujuan dapat dinyatakan secara kualitatif. meningkatkan skor keefaktivan mengajar guru dari 3. Jika dimungkikan sedapat mungkin tujuan dirumuskan dalam terminologi kuantitatif. Mencakup Dimensi-Dimensi Kunci. penurunan siswa yang putus sekolah sampai dengan 0%. dimensi-dimensi yang dicakup dalam tujuan strategis hendaknya cukup pada dimensi-dimensi yang bersifat pokok atau kunci saja. Dari sisi fungsi organisatoris sekolah dimensi-dimensi kunci itu dapat dibedakan menjadi kurikulum. 44 . Apabila tujuan sulit atau tidak dapat dinyatakan dalam rumusan yang bersifat kuantitatif.dan terkait dengan imbalan atau ganjaran. Akan tetapi. rumusan tujuan hendaknya disertai indikator-indikator yang spesifik dan bersifat kuantitatif. apabila ini dilakukan. sebuah tujuan akan efektif apabila mampu membangun kebersamaan diantara bagian-bagian dalam struktur organisasi sekolah dan adanya partisipasi dari semua unsur warga sekolah untuk mengadopsi dan mengimplementasi tujuan tersebut. kesiswaan. Dari segi prilaku dalam proses perumusannya.95. Oleh karena itu.72 menjadi 3. atau kerja sama dengan masyarakat. Uraian berikut memaparkan secara rinci kriteria keefektifan tujuan tersebut.  Karakteristik Tujuan Spesifik dan Terukur. Tujuan strategis tidak mungkin dirumuskan secara rinci untuk setiap unsur terkecil dari organisasi sekolah. misalnya peningkatan jumlah siswa yang diterima pada perguruan tinggi unggulan sebesar 5% dari kondisi tahun sebelumnya.

Rumusan tujuan harus menetapkan jangka waktu pencapaiannya. Siapa saja yang berhasil mencapai tujuan harus mendapatkan ganjaran. Menantang tapi Realistis. Tujuan yang terlalu sulit dapat berdampak pada timbulnya keputus-asaan di kalangan staf. misalnya. dan imbalan lainnya didasarkan pada prestasi terkait dengan pencapaian tujuan. Selain dua perspektif itu. kompetensi sosial. SDM. kompetensi personal. dimensi-dimensi kunci tersebut dapat dibedakan menjadi kompetensi itelektual. maupun teknologi. Ganjaran dapat memberi makna dan signifikansi terhadap 45 . sarana dan pra-sarana. Dampak akhir dari tujuan bergantung pada sejauh mana peningkatan gaji. kompetensi moral dan spiritual. Kurun waktu itu biasanya dijadikan batas waktu (deadline) mengenai kapan pencapaian tujuan tersebut akan diukur.Sedangkan dari dimensi ranah kompetensi lulusan. dapat menetapkan tujuan pada tahun 20XX. siswa harus telah tesebar dari seluruh negara-negara di kawasan ASEAN. baik yang berkaitan dengan waktu. Rumusan tujuan strategis hendaknya terjamin bahwa tujuan itu dirumuskan dalam lingkup sumber daya yang tersedia dan tidak jauh di luar jangkauan sumber daya yang tersedia di sekolah. tapi jika terlalu mudah para staf itu akan kurang merasa termotivasi. dan kompetensi kinestetikal. delapan tipe tujuan sebagaimana dikemukakan di atas juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi kunci yang perlu dicakup dalam rumusan tujuan strategis sekolah. keuangan. promosi. Terkait dengan Imbalan atau Ganjaran. Sebuah sekolah berstandar internasional (SBI). Dibatasi Dalam Kurun Waktu Tertentu. informasi. Tujuan harus menantang namun bukan berarti terlalu sulit untuk dicapai. kompetensi estetikal.

komitmen semua pihak terhadap tujuan menjadi faktor yang esensial. 46 . Bangunan koalisi sering terjadi pada tingkat pimpinan dimana ketidakpastian sangat tinggi. Tanpa adanya koalisi. Akan tetapi jika tujuan-tujuan yang lebih rendah tersebut bersifat preskriptif dari pihak atasan. semua pendidik dan tenaga kependidikan. Pembangunan koalisi dapat memberi kesempatan kepada para tokoh tersebut untuk berdiskusi dan berkontribusi dalam proses perumusan tujuan. setiap pimpinan atau individu. Dua teknik untuk mendapatkan komitmen ini meliputi mambangun koalisi dan partisipasi. Partisipasi. Koalisi merupakan sebuah aliansi informal antara pihak-pihak yang mendukung tujuan tertentu. yang berdampak pada peningkatan komitmen mereka terhadap tujuan yang pada akhirnya akan ditetapkan. agar tujuan efektif. dari atas ke bawah (top-down). individu atau kelompok-kelompok yang berpengaruh di sekolah dapat menghambat proses perumusan tujuan. Pembangunan koalisi mencakup negosiasi dan tawar-menawar. Oleh karena itu.tujuan dan akan membantu memberikan suntikan enerji kepada staf untuk berlomba-lomba mencapai tujuan. Membangun koalisi merupakan proses pembentukan aliansi di kalangan pimpinan dari berbagai unsur warga sekolah.  Prilaku Perumusan Tujuan Konflik sering muncul ketika tujuan sedang dirumuskan karena ada beberapa unsur organisasi sekolah yang tidak sepakat dengan rumusan tujuan yang sedang dikembangkan. Pada struktut organisasi yeng lebih rendah. seharusnya mengadopsi tujuan yang sejalan dengan tujuan strategis. Pembangunan Koalisi (Coalition Building).

dan menentukan apakah tujuan telah sejalan dengan tujuan organisasi. Melalui komunikasi dua arah. didukung sumber daya yang memadai (resources supported) . B. mendiskusikan apakah tujuan itu realistis dan spesifik. dapat dikelola pencapaiannya (manageable). dan (3) mengidentifikasi perubahan-perubahan yang harus dilakukan. Untuk memudahkan kita mengingat. Dalam hal ini kepala sekolah dapat bertindak sebagai konselor yang membantu warga sekolah lainnya merumuskan berbagai macam pilihan tujuan. dan terdapat batasan waktu (time-bound). Proses yang efektif untuk mencegah hal ini adalah dengan mendorong bawahan untuk berpartisipasi dalam proses perumusan tujuan. tujuh kriteria tujuan yang efektif tersebut dapat diringkas menjadi lima kriteria yang disingkat SMART. Kelima kriteria itu meliputi: spesifik (spesific). disepakati (agreed upon) oleh semua warga sekolah.kemungkinan besar para pendidik dan tenaga kependidikan tersebut tidak manganggap tujuan tersebut sebagai miliknya. Uraian berikut ini menyajikan garis-garis besar sejumlah 47 . (2) menganalisis kondisi saat ini dalam kaitannya dengan bagaimana dan seperti apa sekolah kelak diinginkan di masa depan. Evaluasi diri dapat dilakukan dengan berbagai cara yang berbedabeda. Diskusi itu harus mempertimbangkan minat dan kemampuan bawahan. diharapkan tujuan yang dirumuskan konsisten dengan tujuan strategis sekolah dan semua warga sekolah memiliki komitmen yang tinggi terhadap tujuan itu. Evaluasi Diri Tujuan evaluasi diri adalah untuk memampukan (enabling) warga sekolah: (1) mendefinisikan kondisi dari sekolah saat ini.

evaluasi diri dapat berupa pemberian energi pengalaman. bukan pada pribadi-pribadi. bukan pada pribadi-pribadi Anggota staf yang tidak terbiasa dengan proses evaluasi diri yang sistematis dapat merasa tidak nyaman. Pengakuan terhadap adanya sensitifitas semacam itu dan pengarahan berbagai bentuk ekspresi atas dasar kesadaran membuka diri merupakan hal yang penting. Selain itu pembahasan mengenai keterbatasan yang ada di sekolah hendaknya dilakukan secara santun dan dalam niatan untuk membangun. Pastikan bahwa evaluasi diri difokuskan pada isu-isu yang berkembang. b. Keefektifan evaluasi diri diukur 48 . Pastikan bahwa proses evaluasi diri memiliki orientasi positif Dalam rangka memperkuat moral. 1. manfaatkan peluang yang ada untuk membangkitkan kesadaran mengenai kekuatan sekolah dan untuk mengakui prestasi yang dicapai sekolah. perlu ditekankan sejak awal bahwa fokus evaluasi diri adalah pada isu yang berkembang. c. Arahkan ruang lingkup evaluasi diri pada kondisi sekolah secara utuh Perlu diingat bahwa evaluasi diri bukan merupakan akhir dari segalanya akan tetapi merupakan alat untuk memperjelas jalan menuju masa depan yang lebih baik. Jika fokusnya terletak pada bagaimana membuat sekolah yang baik menjadi lebih baik. Merencanakan Evaluasi diri a. Dengan demikian.pendekatan yang dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi yang beragam.

Mekanisme itu memerlukan bongkar-pasang secara periodik yang dapat mencakup pemasangan bagian-bagian baru dalam rangka membuatnya mampu memenuhi standar-standar baru. Dan semakin lengkap telaah tersebut dipisah-pisahkan. sekolah dapat diibaratkan sebagai organisme hidup yang rumit. Dengan demikian. yang dapat berakibat pada tidak adanya daya untuk bertindak yang mengarah pada pencapaian dampaknya. Untuk menjamin kesehatannya agar selalu optimal. Namun demikian. ruang lingkup evaluasi diri harus memadai dalam memampukan warga sekolah untuk melakukan penilaian yang realistis terhadap kebutuhan dan peluang sekolah sebagai dasar perencanaan yang akan dilakukan.dari apa yang terjadi berikutnya. Apabila dikehendaki agar kegiatan dan dinamikanya terus jaga. Akan tetapi apabila Anda memisah-misahkannya untuk mengetahui apa yang membuatnya muncul. Jika Anda memecah-belah sekolah untuk memahami struktur dan prosesnya. evaluasi diri dengan sendirinya akan terhenti. Atau. sekolah memerlukan asupan gizi dan pemeliharaan secara terus-menerus. evaluasi diri hendaknya tidak terlalu luas sehingga menguras energi warga sekolah secara berlebihan. 49 . berarti Anda membunuhnya. Mekanisme itu memerlukan pemeliharaan secara teratur untuk menjamin kesinambungan kinerja yang optimal. semakin sulit untuk memulainya lagi. Akan sangat membantu apabila kita berfikir bahwa sekolah merupakan sebuah mekanisme yang terdiri dari ratusan bagian yang sama-sama bergerak. sekolah memerlukan perlakukan periodik untuk mencegah terjadinya luka dan sakit.

d. Evaluasi kegiatan pendidikan dan pembelajaran. kepemimpinan. kultur dan budaya. b. Aspek-aspek yang dievaluasi meliputi organisasi dan tata kelola sekolah. kebutuhan stakeholders dan pasar kerja (industri. siswa. baik pada tingkat lokal. sistem pendidikan). ilmu pengetahuan. nasional. serta budaya dan iklim sekolah. a. Analisis dilakukan terhadap kondisi dan situasi diluar sekolah. dan kemungkinan bagi lulusan untuk menciptakan pasar kerja). Aspek-aspek yang dievaluasi terkait dengan kecenderungan perubahan (ideologi. kurikulum. Namun demikian komponen-komponen pokok berikut harus tercantum dalam setiap evaluasi diri. program layanan khusus. kegiatan ekstra kurikuler. pemerintah. sistem informasi. Struktur Evaluasi Diri Struktur dan format evaluasi diri sebenarnya sangat beragam bergantung pada kebutuhan masing-masing sekolah.2. Sumber daya yang dievaluasi meliputi sumberdaya manusia (pendidik dan tenaga karakter. Manajemen dan kepemimpinan sekolah. pembangunan sebagainya. Evaluasi sumber daya pendidikan. Analisis lingkungan eksternal yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi sekolah. dan keuangan. dan international. Aspek-aspek yang dievaluasi meliputi kekuatan dan/atau kelemahan lulusan. c. dan kependidikan). proses pembelajaran. politik. masyarakat. sarana dan prasarana sekolah. 50 .

kita dapat membedakan dua aspek yang dievaluasi secara umum: penelitian dokumen (desk research) dan penelitian lapang (field research). Kegiatan ini mencakup penataan dan penyajian data dalam bentuk-bentuk yang dapat memfasilitasi  dilakukannya penilaian terhadap pola-pola yang bermakna. 51 . a. Evaluasi diri harus menjamin bahwa proses telaah memberikan hasil penilaian yang realistis mengenai kebutuhan pengembangan sekolah. Oleh karena itu. Dengan demikian.3.  data yang masih harus dikumpulkan secara khusus dalam rangka kepentingan Telaah tersebut. guru dan staf sekolah. penelitian ini dapat mencakup: tabulasi data yang diambil dari rekaman absensi untuk menunjukkan pola-pola absensi pada hari Senin dan Sabtu. dan (b) pandangan-pandangan warga sekolah. orang tua terhadap aspek-aspek tertentu dalam kehidupan sekolah. Sebagai misal. dan data-data keuangan. Penelitian Dokumen (Desk Research) Penelitian ini meliputi pelacakan dan pengorganisasian data dan informasi yang telah tersedia di sekolah. hasil-hasil ujian.  analisis dan interpretasi data. dalam kaitannya dengan bidang-bidang kehidupan sekolah yang sedang ditelaah. proses evaluasi diri harus mencakup pengumpulan. seperti catatan kehadiran siswa. nilai rapor. pengorganisasian. Kita dapat mebedakan data-data itu kedalam dua kategori: data yang siap terekam di sekolah. Pengumpulan Data Evaluasi diri harus mampu menyajikan (a) fakta. misalnya data mengenai pandangan staf sekolah. siswa.

Penelitian Lapang (Field Research) Penelitian lapang meliputi pengumpulan dan pengorganisasian informasi yang secara khusus diperlukan untuk keperluan evaluasi diri. Penelitian dokumen akan lebih mudah dilakukan apabila pencatatan yang ada di sekolah terekam dan tersedia dengan lengkap dan reliabel. yaitu (1) data profil (profile data) dan (2) data kinerja (performance data). b. daftar cek. Dengan perkataan lain. Data profil adalah data yang diambil saat itu. pedoman wawancara. Penelitian ini memerlukan pemilihan dan rancangan instrumen yang tepat untuk mengumpulkan data-data yang relevan. Masalah ini harus benar-benar disadari dan mendapat perhatian khusus. data 52 . format-format terstandar. Analisis Data Pada dasarnya data hanya ada 2 katagori. karena berbagai alasan ada kalanya rekaman data di sekolah tidak lengkap atau tidak tertata-tata rapi. dan jika sekolah menggunakan format-format standar untuk merekam semua jenis informasi mengenai kegiatan yang bersifat rutin. 4. seperti pekerjaan atau tingkat pendidikan orangtua. dan log. sedangkan data kinerja adalah data yang diambil dalam kurun waktu tertentu. tabulasi hasil-hasil ulangan untuk menunjukkan kecenderungan dari tahun ketahun atau antara satu mata pelajaran dengan yang lain. Instrumeninstrumen pengumpulan data yang dapat digunakan oleh sekolah antara lain: kuesioner.  membangun populasi siswa dalam kaitannya dengan karakterisktik tertentu. Akan tetapi dalam kenyataannya.

yang harus dicermati adalah kecenderungan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.kinerja adalah terdiri dari sederetan data profil yang disusun berdasarkan waktu pengambilan data profil tersebut. 53 . baik untuk perbaikan masalah dan kelemahan yang berhasil di identifikasi maupun untuk mendapat keunggulan kompetitif (competitive advantage). Untuk data profil. ringkas dan jelas tentang rencana pengembangan sekolah. 5. demikian juga sebaiknya. Analisis SWOT merupakan metode yang bermanfaat untuk mengumpulkan data mengenai persepsi terhadap situasi sekolah: kekuatan dan kelemahan internal dan peluang dan ancaman dari faktor-faktor eksternal. umumnya adalah gradasi buruk sampai dengan baik. Strategi Pengembangan Strategi Pengembangan adalah rencana pengembangan yang secara ringkas disampaikan pada akhir laporan evaluasi diri. Setelah tahapan ini selesai dilaksanakan. baru melakukan SWOT Analysis. Untuk data kinerja. interpretasi dilakukan dengan membandingkan antara data tersebut dengan indikator kinerja sekolah yang dapat dianggap standar yang ingin di capai. Dikatakan baik. Kesimpulan dari interpretasi tersebut. SWOT Analysis terkategorisasi dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber sacara bersama-sama dalam rangka membangun gambaran komposisi yang koheren mengenai situasi sekolah. Interpretasi adalah sejauhnya jarak atau gap antara data profil dengan standar. Rencana pengembangan tersebut adalah gambaran secara global. apabila data profile sesuai atau melebihi standar yang diacu. Perlu di prediksi kelanjutan kecenderungan tersebut dimasa mendatang.

garis besar program pengembangan yang diusulkan. analitis serta konseptual mengenai hal-hal penting atau prioritas (baik dalam jangka panjang. Strategi adalah “suatu pertimbangan dan pemikiran yang logis. Dari hasil analisa SWOT. dapat diketahui secara cepat kondisi institusi pada saat ini (current condition) dan arah pengembangan institusi dimasa mendatang. Prioritas-prioritas itu dapat dinyatakan sebagai strategi. a. yang dijadikan acuan untuk menetapkan langkah-langkah. dan cara-cara (taktik) ataupun kiat (jurus-jurus) yang harus dilakukan secara terpadu untuk terlaksananya kegiatan operasional dan penunjang dalam menghadapi tantangan yang harus ditangani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan ataupun sasaran-sasaran dan hasil (out put) yang harus dicapai serta kebijaksanaan yang sudah ditetapkan sebelumnya. pendek maupun mendesak).Strategi pengembangan pada evaluasi diri harus ada keterkaitan yang logis dan runut (“benang merah”) mulai dari masalah yang berhasil di identifikasi. Pengertian Strategi Hasil dari tahapan evaluasi diri adalah serangkaian keputusan tentang prioritas pengembangan sekolah selama kurun waktu siklus perencanaan yang disusun. tindakan. solusi alternatif. Keputusan tidak akan berdampak apapun jika tidak diwujudkan dalam tindakan yang bersifat strategis. Selain itu rencana pengembangan pada laporan evaluasi diri juga memiliki keterkaitan yang logis dan runut (“benang merah”) mulai dari proses identifikasi kekuatan yang dimiliki dan peluang yang dapat dimanfaatkan (analisa SWOT) sampai program unggulan yang diusulkan. Strategi paling baik didefinisikan sebagai ”melakukan hal yang benar” sementara taktik adalah “melakukan segalanya dengan 54 .

dan (5) model Matriks MacMillan 1) Strategi Berbasis SWOT Analysis SWOT Analysis merupakan sebuah metode untuk menguji strategi-strategi yang potensial yang dikembangkan atas dasar kekuatan. Melalui pengombinasian masing-masing unsur dan data yang luas yang telah 55 . Dalam mengembangkan strategi. Pada level tertinggi dalam sebuah struktur organisasi. Beberapa tipologi strategi tersebut dapat dikategorikan menurut (1) strategi berbasis SWOT analysis. (2) kategorisasi grant strategy. Strategi yang baik datang dari cara berfikir yang benar. peluang dan ancaman. strategi yang digunakan disebut dengan grand strategy. Macam-Macam Strategi Namun demikian. b. kelemahan. yaitu: 1) Apa yang harus dilakukan? 2) Bagaimana melakukannya? Daft (1988) mendefinisikan strategi sebagai rencana implementasi program pengembanganan yang berupa penentuan alokasi sumber daya dan kegiatan untuk bergelut dengan lingkungan dan membantu organisasi mencapai tujuannya. Strategi ini diartikan sebagai rencana umum mengenai tindakan utama malalui mana sebuah organisasi berniat untuk mencapai tujuan jangka panjangnya. tingkat sekolah misalnya. (4) Strategi Kompetitif dari Porterdan. (3) Tipologi Strategi Adaptif dari Miles dan Snow. dua pertanyaan mendasar harus dijawab. di bidang manajemen strategis dikenal berbagai opsi strategi yang dapat dipilih oleh sekolah dalam rangka mencapai tujuan strategisnya.benar”.

56 .trekumpul sebagai hasil analisis dapat berfungsi sebagai pemicu diskusi dan perbaikan strategi yang selama ini telah digunakan atau mengembangkan strategi-strategi baru. Strategi ini merupakan pemanfaatan peluang berdasarkan kekuatan yang dimiliki. Strengths (S) dan Threats (T). baru dapat dilaksanakan apabila (1) Kekuatan (Strengths) yang di miliki institusi jauh lebih banyak (baik jumlah dan intensitasnya) jika dibandingkan dengan kelemahan (weaknesses) yang dimilikinya dan (2) Peluang (opportunities) yang berhasil di identifikasi jauh lebih banyak (baik jumlah dan intensitasnya) jika dibandingkan dengan ancaman (threats) yang dihadapinya. Matrik SWOT dapat membantu pengembangan strategi dengan menggunakan alat SWOT Analysis ini. Strategi berbasis SWOT analysis merupakan strategi yang banyak digunakan dalam perencanaan pengembangan sekolah.  Strategi competition diterapkan apabila sekolah berada dalam posisi yang kuat dan banyak peluang yang teridentifikasi (S-O). Weaknesses (W) dan Opportunities (O). Terdapat empat pilihan strategi dalam matrik SWOT: competition. mobilization. ancaman. dan damage control. serta kombinasi dari Strengths (S) dan Opportunities (O). Matrik SWOT pada dasarnya merupakan daftar dari kekuatan. peluang. Arah pengembangan yang sifatnya ekspansi. yaitu (1) arah pengembangan yang sifatnya ekspansi dan (2) arah pengembangan yang sifatnya konsolidasi. ada dua strategi pengembangan sekolah yang didasarkan atas hasil analisa SWOT. Pada dasarnya. Weaknesses (W) dan Threats (T). kelemahan. investment/divestemen.

Dengan kata lain. …………………… WEAKNESS 1. …………………… 2. …………………… 3. …………………… 2. organisasi harus menanggulangi ancaman dengan memanfaatkan kekuatan yang ada. …………………… 4. …………………… 3. …………………… 2. …………………… 4. Dengan strategi ini organisasi harus menekan kelemahan dan ancaman secara bersama-sama. …………………… 2. …………………… ST Mobilization WO Investment/Divestmen WT Damage control 57 . …………………… 4. …………………… 4. …………………… STRENGTH 1.  Strategi damage control dipakai apabila organsasi berada pada kondisi lemah dan harus banyak menghadapi ancaman (W-T). Dengan strategi ini organisasi memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan kekuatannya. …………………… 3.  Strategi investment/divestment diambil apabila organisasi dalam kondisi yang lemah akan tetapi banyak peluang yang tersedia (WO). Format matrik SWOT dimaksud adalah sebagai berikut: Matrik SWOT OPPORTUNITIES 1. …………………… SO Competition THREATS 1. Strategi mobilization dipilih apabila organisasi memiliki kekuatan yang cukup. …………………… 3. tetapi diluar sana banyak ancaman yang harus dihadapi (S-T).

Penghematan berarti bahwa sekolah melakukan pengurangan layanan pendidikan dengan mempersempit jenis program pendidikan yang diberikan. kadang-kadang disebut strategi berhenti sesaat (pause strategy). untuk merumuskan strategi organisasi. berarti bahwa sekolah ingin tetap berada pada kondisinya sekarang atau tumbuh perlahan-lahan dan tetap terkendali. yang dikembangkan oleh Dr.2) Kategorisasi Grant Strategy Grant strategy dibedakan menjadi tiga kategori: pertumbuhan. Hal ini tentu akan berdampak pada pengurangan sumber daya yang diinvestasikan. sekolah itu biasanya memfokuskan diri pada strategi stabilitas untuk mengintegrasikan semua unit yang ada agar berada pada kondisi puncak itu dengan terus meningkatkan efisiensi. Terdapat tiga asumsi 58 . stabilitas. Penghematan. Pertumbuhan atau growth dapat didorong dari dalam dengan cara meningkatkan investasi dalam bentuk peningkatan kesempatan akses masyarakat atau meningkatkan difersifikasi layanan pendidikan atau meningkatkan standar kualitas layanan di atas standar yang berlaku umum. dan penghematan atau retrenchment. seperti sekolah. Ketika sebuah sekolah telah mengalami pertumbuhan yang pesat dan berhasil mencapai puncak visi yang diinginkan. 3) Matriks MacMillan Kisi-kisi strategi ini. Stabilitas. baik SDM maupun sumberdaya lainnya. dirancang khusus untuk membantu organisasi nir-laba. Cara ini dapat dilakukan dengan menutup sejumlah program keahlian yang tidak diminati masyarakat atau mengurangi jumlah siswa yang diterima. Ian Macmillan. Pertumbuhan. Stabilitas.

dan/atau tidak memampukan sekolah untuk melakukan koordinasi kegiatan lintas program sebaiknya dikurangi. dan tujuan.yang menjadi dasar pendekatan ini: (1) kebutuhan sumber daya pada dasarnya bersifat kompetitif dan semua organisasi yang ingin bertahan hidup harus menyadari dinamika itu. Asumsi-asumsi ini memberi implikasi yang sulit dan menyakitkan bagi kebanyakan sekolah. 59 . (2) oleh karena sumber daya yang tersedia itu sangat terbatas. (3) layanan jasa yang berkualitas rendah atau biasa-biasa saja dan diberikan kepada kahlayak luas kurang disukai dibandingkan dengan jasa berkualitas tinggi dan diberikan kepada khalayak khusus. memberikan program-program dan khalayak sasaran yang lebih efisien dan efektif. atau berkompetisi secara agresif melalui program-program yang tingkat efesiensi dan efektifitasnya rendah. Matrik MacMillan menguji empat dimensi program yang dapat membantu penempatan dalam kisi-kisi strategi tersebut dan mengindikasikan strategi yang dapat dipilih. tidak memampukan sekolah untuk melakukan penggunaan sumber daya bersama. maka tidak ada ruang untuk duplikasi layanan jasa kepada satu konstituen karena hal ini dipandang sebagai pemborosan dan tidak efisien. misi. dan tujuan Program-program sekolah yang tidak sejalan dengan visi. misi.  Kesesuaian dengan visi. Hal ini dapat ditindak lanjuti dengan penghentian program-program tertentu untuk meningkatkan jasa dan kompetensi utama. tidak dapat sekolah mampu didukung oleh pengetahuan dan keterampilan organisasi.

60 .1) terdiri dari sepuluh sel untuk menempatkan program-program yang telah ditelaah atas dasar empat dimensi tersebut. Matrik MacMillan (Tabel 4. mengalami pertumbuhan layanan berbasis klien.” Level kemenarikan program juga mencakup perespektif ekonomi atau telaah terhadap peluang investasi sekarang dan masa yang akan datang.  Cakupan Alternatif Cakupan alternatif adalah banyaknya organisasi lain yang berusaha untuk memberikan atau ingin berhasil melaksanakan program yang sama di wilayah yang sama dan kepada konstituen yang sama pula. mudah keluar dari hambatan yang dihadapi. Program-program dengan penolakan yang rendah dari klien. dan didukung sumber daya keuangan yang stabil merupakan program yang sederhana dan “mudah dikelola. Posisi Kompetitif Posisi kompetitif mengacu pada sejauh mana sekolah memiliki kekuatan dan potensi yang lebih kuat untuk mendanai program dan memberikan layanan berbasis klien dibandingkan dengan sekolahsekolah lain di sekitarnya. Masing-masing sel digunakan untuk menetapkan strategi yang mengarahkan langkah ke depan dari program-program yang tercantum dalam sel itu.  Kemenarikan Program Kemenarikan program dilihat dari kompleksitasnya terkait dengan pengelolaan porgram itu sendiri.

Divestasi Agresif (aggressive divestment) 10. Membangun Kekuatan atau berhenti (build up strength or get out) Kemenarikan Program Rendah: Program "Sulit" Cakupan Alternatif Tinggi 5. "Soul of the Agency" Posisi Kompetitif Lemah 8. Divestasi Agresif (aggressive divestment) Cakupan Alternatif Rendah 2. Divestasi dengan Teratur (orderly disvestment) Cakupan Alternatif Rendah 6. Misi.Tabel 4. & Tjuan Rendah 9. Kompetisi Agresif (Aggressive competition) 3. Masalah utama yang sering muncul saat proses perencanaan sampai pada tahap penyusunan RIP ini antara lain pihak perencana telah mengalami kelelahan setelah menyelesaikan tahap-tahap 61 . Matrik MacMillan Kemenarikan Program Tinggi: Program "Mudah" Cakupan Alternatif Tinggi Kesesuaian dengan Visi. Divestasi Dengan Teratur (orderly disvestment) C. "Bantuan dari Luar" (Foreign Aid) atau Kerja Sama Kesesuaian dengan Visi. Meniru pesaing yang terbaik (Build up the best competitor) 7.1. & Tjuan Baik Posisi Kompetitif Kuat 1. Pertumbuhan Agresif (Aggressive growth) 4. Misi. Rencana Implementasi Pengembangan (RIP) Komitmen sekolah untuk melaksanakan perencanaan strategis terkait dengan sejauh mana: (1) sekolah mewujudkannya dalam rencana implementasi pengembangan untuk mencapai strategi yang dirumuskan dan (2) melaksanakan berbagai metode untuk memverifikasi dan mengevaluasi implementasi nyata dari rencana implementasi program pengembangan itu.

Langkahlangkah penting yang telah dilakukan dalam perencanaan strategis itu menjadi sama sekali tidak berguna. Rancangan dan implementasi perencanaan implementasi bergantung pada sifat dan kebutuhan masing-masing sekolah. perencana harus telah menuntaskan tugastugas: perumusan atau telaah ulang visi. RIP secara khusus mencakup pembuatan keputusan tentang siapa yang akan mengerjakan apa dan kapan dan dengan langkah-langkah bagaimana untuk mencapai tujuan-tujuan strategis. misi. Struktur RIP Penyusunan RIP merupakan proses yang memampukan sekolah: (1) mengidentifikasi secara tepat apa yang diinginkan atau apa yang dibutuhkan untuk mencapai hal-hal yang terkait dengan masingmasing prioritas. (2) merencanakan dan mendokumentasikan sejumlah tindakan untuk mencapainya. penyusunan RIP sering terabaikan. Oleh karena itu. Pada saat penyusunan RIP. analisis SWOT. a. RIP merupakan bagian dari proses perencanaan strategis. 62 . dan membiarkan hasil-hasil yang diperoleh pada tahap-tahap sebelumnya lebih sebagai “lamunan”— pernyataan-pernyataan filosofis yang tidak bermanfaat dan tidak membumi pada realitas kegiatan sekolah sehari-hari. dan (3) melakukan monitoring dan evaluasi agar praktik-praktik tersebut dapat diperbaiki seiring dengan berkembangnya pengalaman. dan penetapan strategi.perencanaan sebelumnya. identifikasi isu-isu strategis. dan tujuan serta analisis strategis yang meliputi evaluasi diri. Penyusunan RIP terasa lebih njelimet dan membosankan dibandingkan tahap-tahap perencanaan strategis sebelumnya yang terkesan lebih besifat kreatif.

finansial. organisasi. Rencana implementasi program pengembangan mencakup: a) Strategi Pengembangan b) Tujuan c) Kegiatan strategi yang terkait dengan RIP yang akan disusun : apa yang akan dicapai : jenis dan tahap-tahap pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mencapai sasaran itu. Pendelegasian : siapa mengerjakan apa Jadwal Kegiatan : kapan pekerjaan sesungguhnya dilaksanakan. fasilitas fisik yang dibutuhkan dalam implementasi.Sebuah RIP harus difokuskan pada kebijakan tertentu. batas waktu tugas harus diselesaikan Kriteria Keberhasilan : hasil yang akan menjadi indikator bahwa rencana tersebut sedang atau telah mencapai sasara yang diinginkan. Dalam kaitannya dengan kebijakan ini. Sumber Daya : sumber daya manusia. Prosedur Monitoring dan Evaluasi : d) e) f) g) h) 63 .

Komponen-komponen Renop meliputi: 64 . Perbedaan pokok antara keduanya terletak pada kurun waktu kegiatan dan rincian dari masing-masing komponen itu.BAB V RENCANA OPERASIONAL A. Renop berisi langkah-langkah operasional yang akan ditempuh selama satu tahun oleh sekolah. Pengertian Rencana Operasional Rencana Operasional (Renop) sekolah merupakan rencana implementasi Rencana Strategis sekolah dalam kurun waktu satu tahun. (2) pedoman pelaksanaan kegiatan semesteran. dan/atau individu-individu staf dalam rangka mencapai tujuan operasional. mingguan. Komponen-Komponen Renop Komponen-komponen Renop sebenarnya tidak jauh berbeda dengan RIP yang dirumuskan dalam dokumen Renstra. dan (3) justifikasi rinci penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja tahunan. Renop berfungsi sebagai alat yang digunakan oleh masing-masing unit penyusunnya sebagai: (1) penjamin bahwa rencana strategis akan terwujud dalam kegiatan operasional sehari-hari sekolah. dan harian. bulanan. unit-unit. Renop disusun oleh unit-unit atau individu staf yang dalam struktur organisasi sekolah yang mengacu pada rencana implementasi program pengembanganan yang relevan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Tujuan operasional merupakan jabaran dan tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan strategis. Renop sering juga disebut Rencana Tahunan. B.

Sumber Daya dan Dana Yang dibutuhkan 7. saranaprasarana. pemeliharaan. Rancangan Kegiatan 6. Latar Belakang dan Rasional Latar Belakang dan Rasional ini menguraikan secara ringkas dan padat mengenai alas atau argumentasi yang mendasari kegiatan 65 . : hasil yang akan peroleh pada akhir kegiatan operasional : tolok ukur kuantitatif pencapaian sasaran : jenis dan tahap-tahap pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan operasional selama satu tahun. Jadwal Kegiatan 8. 1.1. peningkatan kualitas. Penanggung Jawab Kegiatan : judul disesuaikan dengan strategi yang dikembangkan dalam Renstra : alasan atau argumentasi yang mendasari kegiatan yang diusulkan.  jumlah dan sumber dana yang dibutuhkan untuk pengadaan. Sasaran 4. Indikator Kinerja 5. Latar Belakang dan Rasional 3. dan informasi yang dibutuhkan dalam implementasi kegiatan. Judul 2. dan pengoperasian sumber daya yang dibutuhkan. : kapan pekerjaan sesungguhnya dilaksanakan dan batas waktu tugas harus diselesaikan : Pejabat atau staf yang bertanggung jawab keterlaksanaan Renop Berikut diuraikan penjelasan rinci masing-masing komponen Renop tersebut. :  jenis dan kualifikasi sumber daya manusia.

3) Praktik-praktik baik (good practices) yang diperoleh pada tahun sebelumnya dan perlu dipertahankan pada Renop yang sedang disusun d. 66 . Beberapa hal yang perlu diuraikan dalam bagian ini meliputi: a. 2) Masalah dan kendala yang dihadapi yang belum terselesaikan pada tahun sebelumnya. dalam permasalahan tersebut Argumen/alasan tersebut dapat didasarkan pada pembenahan faktor-faktor yang berpengaruh pada akar permasalahan tersebut atau dapat berdasarkan teori ilmiah dan pengalaman dalam menghadapi akar permasalahan tersebut.yang diusulkan. b. sehingga tergambar permasalahan tersebut secara utuh dan menyeluruh (termasuk cakupannya. Argumentasi (alasan) tentang mengapa uraian Renop yang akan dilaksanakan menyelesaikan adalah akar pilihan yang paling tepat untuk diatas. Kebijakan dan tujuan yang dirumuskan dalam RIP dokumen Renstra c. Masalah tersebut harus dielaskan sedemikian rupa. yang akan diselesaikan dengan melaksanakan Renop ini. faktor-faktor yg berpengaruh pada permsalahan tersebut). berat/ringannya. dalam latar belakang juga perlu dikemukakan: 1) capaian-capaian tujuan jangka panjang tang telah diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya. Apabila Renop yang disusun untuk tahun kedua dan seterusnya dari siklus implementasi Renstra. Penjelasan mengenai akar permasalahan yang telah berhasil diidentifikasi pada evaluasi diri saat menyusun Renstra.

b.2. d. 67 . a. Rumusan sasaran yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut. propinsi. terukur. Sasaran harus dapat dijabarkan ke dalam sejumlah indikator kinerja. Setiap sasaran disertai target masing-masing. Sasaran adalah hasil yang akan dicapai secara nyata oleh sekolah atau unit yang ada di sekolah dalam rumusan yang lebih spesifik. Sasaran ditetapkan mengacu pada dan merupakan mailstone pancapaian visi. tujuan sekolah. Sasaran harus sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku setta sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah pusat. strategi. Sasaran harus mengacu pada masalah-masalah yang teridentifikasi dalam evaluasi diri dan merupakan upaya yang dikembangkan untuk menjawab isu-isu strategis. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu/tahunan secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan. Sasaran harus merupakan tindak lanjut dari pengalaman atau permasalahan yang teridentifikasi pada tahun sebelumnya. maupun kabupaten/kota. e. Sasaran (Objective) Sasaran merupakan penjabaran atau diturunkan dari tujuan. dalam kurun waktu satu tahun. misi. Sasaran adalah penggambaran hal yang ingin diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang diambil sekolah guna mencapai tujuan (target terukur). serta kebijakan dan tujuan yang dituangkan dalam Renstra Sekolah. yaitu ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran untuk diwujudkan pada tahun bersangkutan. Dalam sasaran dirancang pula indikator sasaran. c.

Dapat dinilai dan terukur. tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi. Tanpa indikator kinerja sulit bagi kita untuk menilai kinerja (keberhasilan atau ketidakberhasilan) sekolah atau unit kerja yang ada di bawahnya. Secara umum indikator kinerja memiliki fungsi: a. tetapi tidak boleh mengandung target yang tidak layak. berapa dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan. Spesifik. Indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan. b. i. sasaran harus mensepesifikasikan hasil yang ingin dicapai. 68 . Memperjelas tentang apa. Menantang namun dapat dicapai. sasaran harus terukur dan dapat digunakan untuk memastikan apa dan kapan pencapaiannya.f. pelaksanaan. h. j. Indikator Kinerja Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. g. 3. serta untuk meyakinkan bahwa kinerja hari demi hari organisasi/unit kerja yang bersangkutan menunjukkan kemajuan dalam rangka dan atau menuju tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. dan bukan cara pencapaiannya. sasaran menggambarkan hasil spesifik yang diinginkan. Dapat dicapai dalam waktu tahun tertentu. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kebijakan/program/ kegiatan. Berorientasi pada hasil.

dan sebagainya. f. Indikator masukan (input): segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan pendidikan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan. Dapat dicapai. Relevan. 69 . c. d. kualitas Renstra yang disusun sekolah. Dapat diukur secara obyektif baik secara kuantitatif maupun kualitatif. yaitu : a. Terdapat enam jenis indikator kinerja yang sering digunakan dalam pengukuran kinerja sekolah. Contoh indikator ini antara lain. e. manfaat.c. indikator kinerja harus menangani aspek-aspek obyektif yang relevan dengan sasaran yang ingin dicapai. dan evaluasi kinerja sekolah atau unit kerja yang ada di dalamnya. Indikator ini dapat berupa kualitas siswa baru. b. dan harus berguna untuk menunjukan keberhasilan masukan. dampak. Indikator proses (process): merupakan gambaran mengenai perkembangan atau aktivitas yang terjadi atau dilakukan dalam proses pendidikan di sekolah. data/informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja yang bersangkutan dapat dikumpulkan dan dianalisis. Harus cukup fleksibel dan sensitif terhadap perubahan. Indikator kinerja yang baik hendaknya memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: a. sehingga dapat dipahami dan tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi b. Efektif. dan proses. analisis. kekekatan persaingan dalam seleksi siswa baru. Membangun dasar bagi pengukuran. Spesifik dan jelas. relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. penting. keluaran. hasil.

tingkat kehadiran siswa. cepatnya promosi atau perkembangan karir lulusan di dunia kerja merupakan contoh-contoh indikator akibat tersebut. semakin pendeknya masa tunggu siswa untuk mendapatkan pekerjaan pertama setelah mereka lulus. Indikator akibat (impact): segala sesutu yang merupakan akibat dari outcomes. jumlah siswa yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. adalah contoh-contoh indikator outcome. atau peningkatan jumlah siswa yang lulus UN. Jumlah siswa yang diterima di jurusan faforit du perguruan tinggi ternama. Peningkatan popularitas sekolah akibat banyaknya siswa cepat mendapatkan pekerjaan. penerapan PAKEM dalam pembelajaran. Untuk mengukur keberhasilan capaian Indikator Kinerja. dan sebagainya. e. tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Indikator keluaran (output): sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari kegiatan pendidikan. Indikator dampak (outcome): segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung). Indikator-indikator seperti peningkatan rata-rata NUN. Inikator ini biasanya sulit dicapai dalam kurun waktu Renop (1 tahun). c. jumlah siswa yang berkunjung ke perpustakaan. dapat digolongkan sebagai indikator output. maka dalam Renop harus dicantumkan kondisi saat disusunnya Renop dan 70 . d. meningkatnya jumlah siswa yang mendaftar sebagai siswa baru akibat dari banyak nya siswa yang diterima di peruguruan tinggi unggulan. tingkat pemanfaatan laboratorium. akan tetapi harus sudah terukur setelah masa siklus Renstra (4-5 tahun) selesai atau hampir selesai. peningkatan peringkat rata-rata NUN di tingkat kabupaten/kota.

kondisi yang diharapkan dicapai setelah kegiatan dilaksanakan. tahapan. jika indikator bersifat spesifik maka perlu dijelaskan bagaimana dan kapan indikator itu akan diukur. Rancangan Kegiatan Jumlah yang lulus dibagi jumlah peserta uji kompetensi Studi sampling setelah mereka lulus Rancangan kegiatan menjabarkan rincian.00 Metode Pengukuran Rata-rata nilai semua peserta uji kompetensi Jumlah siswa 65% 100% yang lolos Uji Kompetensi oleh Asosiasi Profesi (output) • Jumlah Tidak 100% lulusan yang diketahui bekerja di bidang TIK (outcomes) 4.75 relevansi hasil Uji kompetensi Kompetensi siswa di bidang yang TIK dengan dilakukan kebutuhan Asosiasi dunia kerja Profesi (output) Sasaran Indikator • Target 8. 71 . dan langkahlangkah kegiatan (sub-kegiatan) yang akan dilaksanakan dalam satu tahun. maksud dan tujuannya yang ingin dicapai secara ringkas dan jelas. Selain itu. Tabel 5.1 Cotoh Penyajian Indikator Kinerja Baseline Meningkatnya • Rata-rata nilai 6. Kondisi saat disusunnya Renop digunakan sebagai baseline. Pada setiap langkah (sub-kegiatan) harus dijelaskan.

Kegiatan tersebut dapat diukur tingkat keberhasilannya. Keterkaitan antar bagian kegiatan/sub-kegiatan harus terlihat dengan jelas. Namun harus berupa dampak dari investasi atau upaya pemanfaatan investasi. indikator keberhasilan d. b. Kegiatan dapat berlangsung terusmenerus sementara investasi merupakan implikasi dan hanya merupakan tahap paling awal dari sebuah kegiatan. Cakupan kegiatan tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit. umumnya berupa indikator keluaran (output). Kegiatan tersebut bukan merupakan investasi atau pengadaan sumberdaya. f. a. karena cakupan ini akan berkaitan dengan beban kerja seorang penanggung jawab. Kegiatan tersebut tidak kompleks. sehingga dapat dipahami dengan mudah dan dapat dilaksanakan dengan baik. g.Rancangan kegiatan yang efektif harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut. namun dimungkinkan dampak untuk (impact/ mencantumkan outcomes). Keluaran (output) maupun dampak (impact/outcomes) kegiatan mempunyai kontribusi yang cukup bermakna (significant) terhadap rencana pengembangan sekolah secara keseluruhan. Indikator keberhasilan kegiatan. Cakupan kegiatan yang terlalu luas akan meningkatkan beban kerja penanggungjawab. Keberlangsung kegiatan tergambarkan dengan jelas. 72 . c. Untuk itu perlu ditetapkan indikator keberhasilan pelaksanaan kegiatan yang dapat diukur. e.

Tabel 5. pra-sarana dan sarana pendidikan. Tabel 5. Konsultan pengembangan KTSP dan RPP Pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru TIK di bidang jaringan.    5.2 Contoh Kegiatan dan Investasi Kegiatan Peningkatan kualitas penelitian tindakan kelas (output) • • Investasi Pelatian penelitian tindakan kelas untuk. 73 .2 memberikan contoh keduanya. dalam Prakerin (impact). Sumberdaya yang Dibutuhkan Sumber daya yang dicantumkan dalam Renop merupakan uraian rinci mengenai jenis. kualifikasi. Penyediaan karya ilmiah siswa sekolah lain yang telah berhasil memenangi LKIR Penyesuaian peralatan lab dengan standar industri. d.Untuk memudahkan kita dalam merancang kegiatan dan membedakannya dengan investasi. Peningkatan relevansi antara RPP yang disusun guru dengan SKL dan SI (output) Peningkatan keefektifan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi c. b. Perluasan daya tampung laboratorium komputer Peningkatan peringkat dalam a. Kabupaten (outcome) Peningkatan keberterimaan siswa a. Penambahan peralatan laboratorium. Penyediaan jumlah referensi penunjang PTK Pelatihan pembimbingan LKIR bagi guru. Peningkatan Networking dengan DU/DI Lokakarya penyusunan RPP di sekolah. Sumber daya ini dapat meliputi SDM. kejuaraan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) di tingkat b. dan kuantitas sumber daya yang dibutuhkan agar kegiatan/sub-kegiatan yang direncanakan dapat dilaksanakan dan dijaga keberlangsungannya (sustainability).

teknologi. Harus dijelaskan asal sumberdaya tersebut. f. tentang jenis. peraturan di bidang tertentu. g. informasi. e. jenis informasi. tetapi menggunakan sumberdaya yang sudah ada. sehingga pada bagian ini tidak ada sumberdaya yang dibutuhkan. keahlian. manajemen. Mencantumkan jumlah dana yang dibutuhkan untuk mengadakan. kualifikasi. b. konsultan di bidang tertentu). namun juga bisa didapatkan dari sumber lain. Dimungkinkan adanya juga kegiatan yang tidak membutuhkan penambahan sumberdaya baru. termasuk sumber dana yang berasal dari non-pemerintah. c. meminjam. a. Sumberdaya tidak hanya dapat diperoleh melalui siswa atau orang tua siswa. Uraian harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan untuk melaksanakan kegiatan. perbaikan. sistem manajemen. bahan habis pakai untuk kegiatan hendaknya memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut. guru atau staf dengan kompetensi tertentu. Pemilihan dan penetapan sumber daya yang dibutuhkan networking. alat laboratorium. Setiap kegiatan atau sub-kegiatan dimungkinkan membutuhkan lebih dari satu sumber daya. atau meningkatkan kapasitas. spesifikasi. dan jumlah masing-masing sumberdaya yang diperlukan (contoh: komputer dengan spesifikasi tertenu. memperbaiki yang telah ada. peningkatan kapasitas sumberdaya tersebut. menyewa. 74 .buku-buku perpustakaan. misal: membeli. Pada bagian ini harus disebutkan secara ringkas. d.

Peningkat an Rancang an pembelaj aran TIK 1. 2 orang guru yang kompeten dalam penyusunan Silabus dan RPP TIK yang efektif 2. 40.3 berikut.000. Peningkat an keefektifa n kegiatan praktikum 4.3 Keterkaitan Antara Kegiatan. Silabus dan RPP Pembelajaran TIK yang efektif Lokakarya Rp.000 DIK 2.500.h. Kerjasama dengan asosiasi profesi Supervisi Penyusuna n Silabus/RP P Pelatihan - - Rp. 10.000 Pemkab - - - 75 . Tabel 5. 2. Apabila sumber daya diusulkan kepada donor atau pemerintah. Evaluasi kompeten si berskala industri 1. Sumber Daya dan Sumber Dana Sumber Daya Yang dibutuhkan Investasi Jumlah Biaya Sumber Dana Kegiatan/Subkegiatan Peningkatan keefektifan pembelajaran TIK 1. sub-kegiatan. Jaringan. Sub-Kegiatan. asal sumberdana yang akan digunakan harus sesuai dengan Komponen Pembiayaan Yang Boleh Diusulkan (Eligible Cost Component).000 Blockgr ant Rp. 10.000 DPP Perbaikan yang sudah komputer Pengadaan Barang Rp. 15 Unit Komputer berkecepatan tinggi dan jaringan 3.000. 20 set Komponen PC untuk kegiatan praktikum 5. 2 orang guru yang kompeten di bidang Web Master.000. dan PC Hardware 2. sumber daya dan sumber dana yang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 5. Keterkaitan antara kegiatan.

Contoh Jadwal Kagiatan dalam Renop Kegiatan/Sub-kegiatan 1. Untuk contoh kegiatan “Peningkatan keefektifan pembelajaran TIK” di atas. Tabel 5. Evaluasi kompetensi berskala industri Bulan Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des 76 . jadwal pelaksanaannya dapat disajikan sebagai berikut. dalam bentuk tabel (bar diagram). Sub kegiatan atau tahapan kegiatan yang dicantumkan pada bagian ini.6. Jadwal Pelaksanaan Bagian ini berisi uraian ringkas tentang jadwal pelaksanaan kegiatan selama satu tahun.4. Peningkatan keefektifan pembelajaran TIK 2. harus sama dengan sub kegiatan atau tahapan kegiatan yang diuraikan pada bagian Rancangan Kegiatan. Peningkatan Rancangan pembelajaran TIK 3. Peningkatan keefektifan kegiatan praktikum 4.

BAB VI PENYUSUNAN PROPOSAL DAN KERANGKA ACUAN KEGIATAN A. Peningkatan pembelajaran berbasis satuan pendidikan merupakan contoh sebuah program. Proyek pada prinsipnya sama dengan program. Program memiliki ruang lingkup yang luas dan terdiri dari atau terkait dengan sejumlah proyek. Program dirancan untuk melaksanakan sejumlah kegiatan untuk kepentingan organisasi sekolah. pengembangan silabus muatan lokal. Program merupakan kegiatan-kegiatan yang bersifat pokok. proyek merupakan serangkaian tujuan jangka pendek dan rencana dalam ruang lingkup yang sempit untuk mencapai satu tujuan yang dipandang penting dan bersifat sekali capai (one-time goal). Proyek seringkali merupakan bagian dari program. Pengembangan KTSP. akan tetapi memiliki jangka waktu yang lebih pendek dan ruang lingkup yang lebih spesifik. Proposal pada umumnya berisi rencana yang bersifat sekali pakai (single-use plan) yang dikembangkan untuk mencapai serangkaian tujuan yang tidak mungkin diulang-ulang di masa depan. dan identifikasi kearifan lokal untuk diadopsi menjadi nilai-nilai yang dikembangkan dalam interaksi 77 . Penyusunan Proposal Pengembangan Sekolah Proposal berasal dari kata to propose artinya mengusulkan. serta sering memerlukan dibentuknya organisasi yang terpisah. Usulan kegiatan dalam proposal dapat berupa program atau proyek. Yang dimaksud program dalam hal ini adalah serangkaian sasaran (objectives) dan rencana untuk mencapai satu tujuan yang dipandang penting dan bersifat sekali capai (one-time goal). Dengan kata lain. yang kadang kala memerlukan waktu beberapa tahun untuk menyelesaikannya.

Porposal yang dibuat atas dasar permintaan pihak lain biasanya telah disertai ketentuan mengenai substansi dan format yang harus diikuti oleh sekolah pengusul. tesis. Dalam hal yang demikian ini. Proposal penelitian mahasiswa.belajar-mengajar merupakan proyek-proyek yang menjadi bagian dari program tersebut. komite sekolah. Sekolah tidak banyak mengalami kesulitan berkaitan dengan isi dan format yang harus dituangkan dalam proposal. Persoalan sering muncul apabila sebuah kegiatan yang dituangkan dalam proposal murni atas inisiatif sekolah itu sendiri atau oleh pihak lain akan tetapi tidak disertai panduan yang rinci tentang cara-cara menyusun proposal. Kegiatan untuk pengembangan sekolah biasanya diusulkan kepada pemerintah. persetujuan misalnya. yayasan. Proposal diajukan atas dasar permintaan pihak lain (penyedia dana) atau atas inisiatif dari pembuat proposal itu sendiri. atau pihak donor yang lain untuk disetujui dan untuk mendapatkan pendanaan. sekolah harus mampu menuangkan gagasan pengembangannya kedalam 78 . Proposal sebenarnya merupakan dokumen yang berisi paparan tertulis yang dimaksudkan untuk meyakinkan pihak lain sehingga bersedia memberikan dukungan (biasanya berupa dana) terhadap implementasi program atau kegiatan yang diusulkan. dari biasanya diajukan atau untuk dosen peningkatan pembelajaran berbasis satuan pendidikan mendapatkan pimpinan jurusan pembimbing untuk kemudian menjadi proyek penelitian dalam rangka menyelesalaikan skripsi. atau disertasi. Disamping untuk mendapatkan persetjuan. proposal juga diajukan untuk mendapatkan pendanaan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan kegiatan yang diusulkan.

Kedua. sistematika proposal.50. Dari 79 . Kegiatan yang diusulkan dalam sebuah proposal harus bersifat urgen atau mendesak. Prinsip-Prinsip Penyusunan Proposal Urgensi. dapat diartikan bahwa sekolah menghadapi masalah. dan proses penyunanan proposal yang efektif.50 namun dalam kenyataannya angka yang dicapai di bawah 7. Kemendesakan ini dapat dilihat dari dua hal. Pertama. Peluang ada ketika sekolah memandang adanya potensi sekolah untuk mencapai hal-hal yang lebih dari apa yang telah ditetapkan dalam tujuan. Masalah terjadi ketika sekolah gagal mencapai apa tujuan yang telah dirumuskan. relevansi. Uraian difokuskan pada prinsip-prinsip penyusunan proposal yang baik. Kinerja sekolah tidak memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan. Ketika sekolah menetapkan sasaran pengembangan adalah untuk mencapai ratarata NUN sebesar 7. kegiatan dikatakan mendesak untuk dilaksanakan apabila kegiatan itu benar-benar dimaksudkan untuk mengatasi masalah yang sangat penting dan mendesak untuk dipecahkan oleh sekolah. adanya peluang untuk pengembangan. Uraian berikut ini memberikan pemahaman bagaimana menuangkan inisiatif pengembangan sebuah sekolah dituangkan dalam bentuk proposal sehingga dapat meyakinkan pihak lain yang berkepentingan agar bersedia mendukung implementasi kegiatan yang diusulkan itu.sebuah proposal yang mampu meyakinkan pihak lain bahwa kegiatan yang diusulkan benar-benar dibutuhkan oleh sekolah dan layak untuk diberi dukungan. dan fisibilitas merupakan tiga prinsip penting yang harus dipegang teguh dalam dalam penyusunan proposal pengembangan sekolah. 1.

Visi. sekolah dapat dikatakan memiliki peluang apabila sekolah berhasil mencapai rata-rata NUN 7. dan rencana anggaran. kebijakan dan program pengembangan yang tertuang dalam Rencana Strategis Sekolah harus menjadi rujukan utama dalam penyusunan proposal pengembangan skeolah.50. Dengan 80 . tujuan. Tujuan dan kegiatan yang diusulkan dalam sebuah proposal harus menerminkan kebutuhan sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan strategis sekolah tersebut. Prinsip kedua untuk menghasilkan proposal yang baik adalah adanya relevansi eksternal dan internal kegiatan yang diusulkan.50 akan tetapi dilihat dari potensi yang dimiliki. deskripsi kegiatan. kebijakan dan program pengembangan yang tertuang dalam Rencana Strategis Sekolah. Setiap proposal pengembangan sekolah sekurang-kurangnya harus mencakup komponen-komponen: identifikasi masalah atau peluang. Relevansi internal adalah relevansi antar komponen-komponen dalam proposal itu. sebenarnya sekolah itu mampu mencapai rata-rata NUN di atas 7. tujuan pengembangan. Relevansi eksternal adalah relevansi kegiatan yang diusulkan dengan visi. misi. Apapun yang diupayakan dalam rangka pengembangan sekolah harus tetap dalam kerangka pencapaian tujuan strategis sekolah. tujuan. Tujuan-tujuan strategis sekolah tersebut harus digunakan sebagai pijakan dan tolok ukur (benchmark) utama dalam identifikasi dan analisis masalah atau peluang yang merupakan cikal-bakal disusunnya sebuah proposal pengembangan. Relevansi internal sebuah proposal pengembangan dapat dilihat dari adanya hubungan fungsional dan sistematis antar komponen yang disajikan dalam proposal. rancangan implementasi. misi.contoh tentang NUN di atas.

Susunan kepanitiaan atau satgas berikut jumlah personalia. Prinsip ketiga dalam penyusunan proposal adalah prinsip keterlaksanaan. Sekolah dapat saja mengusulkan kegiatan untuk mencapai tujuan dalam tingkatan yang paling ideal.  Tujuan kegiatan harus mencerminkan apa yang ingin dicapai untuk memecahkan masalah atau memanfaatkan peluang yang teridentifikasi.  Deskripsi kegiatan harus sesuai dan terkait dengan tujuan yang akan dicapai dan harus merupakan pilihan terbaik dari sekian alternatif kegiatan yang mungkin dapat dilaksanakan. Oleh karena itu. Tujuan harus juga berdampak pada pemberian manfaat yang sebesar-besarnya bagi belajar siswa. dan prosedur serta teknis evaluasi dan monitoring yang akan diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan harus sesuai dengan ruang lingkup cakupan kegiatan yang diusulkan. jadwal kegiatan. sasaran dan indikator keberhasilan yang dirumuskan harus merupakan penjabaran rinci dari tujuan yang ingin dicapai sehingga keduanya merupakan tolok ukur yang tampak dari pencapaian tujuan. waktu yang dialokasikan.demikian sebuah proposal yang memiliki relevansi internal yang baik dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. Komponen-komponen pembiayaan yang diusulkan diusulkan. Akan tetapi harus sesuai dengan kebutuhan kegiatan yang 81 .  Pencapaian tujuan harus terukur.  Anggaran pembiayaan yang diusulkan harus mempertimbangkan prinsip-prinsip efisiensi. dan rancangan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang tertuang dalam rancangan implementasi kegiatan harus terkait dengan deskripsi kegiatan yang diusulkan.  Organisasi pelaksana kegiatan.

Indikator keberhasilan 5. sebuah kegiatan yang baik harus terjamin keterlaksanaannya melalui dukungan sumber daya yang mampu disediakan. kapan. Namun demikian. informasi maupun dana. pada umumnya setiap proposal pengembangan selalu mencakup bagian-bagian pokok sebagai berikut. Informasi umum tentang sekolah 2. 1. bagaimana. Rencana implementasi program 6. waktu. Keterbatasan sumber daya yang tersedia akan menentukan keterlaksanaan kegiatan yang diusulkan dan keberhasilan pencapaian tujuan yang diinginkan. fasilitas. oleh siapa. Oleh karena itu. Struktur Proposal Pengembangan Sekolah Sebenarnya tidak ada format baku dalam penyusunan proposal pengembangan. Sekolah kegiatan harus mengembangkan sendiri proposal sedemikian rupa sehingga proposal dapat memberikan informasi yang lengkap mengenai mengapa. 2.sekolah harus tetap memperhatikan kemampuan sumber daya yang dimiliki baik yang berupa SDM. untuk apa. 82 . dan dengan sumber daya apa sebuah kegiatan akan dilaksanakan. Lampiran-lampiran Berikut diuraikan secara singkat ruang lingkup dari komponenkomponen proposal tersebut. Rangkuman kebutuhan sumber daya dan anggaran biaya 7. Rancangan program pengembangan 4. Telaah situasi dalam rangka identifikasi masalah yang dihadapi oleh sekolah 3.

Hal-hal yang perlu dipaparkan dalam bagian ini antara lain meliputi:  Visi.  Kebijakan/rencana operasional yang telah dan akan diambil untuk mewujudkan rencana strategis tersebut. Uraian menunjukkan akan keterkaitan dalam antara rencana yang diuraikan proposal bersangkutan dengan rencana pengembangan sekolah secara keseluruhan sebagaimana diuraikan dalam Renstra sekolah. rencana pengembangan sekolah . yang meliputi nama. nama kepala sekolah.  Jumlah siswa. Rencana merupakan dimaksudkan pengembangan pengembangan ringkasan untuk yan sekolah yang disajikan harus ini Rencana Strategis Sekolah. tujuan dan strategi yang ditetapkan oleh sekolah.  Jumlah guru.a.  Sejarah singkat sekolah. dan perkembangan sekolah selaman beberapa tahun terakhir. misi. Bagian terakhir dari komponen proposal ini adalah uraian singkat mengenai kemajuan atau prestasi yang dicapai sekolah terkait dengan implementasi Renstra selama kurun waktu tertentu (misal 3 tahun). Hal-hal yang diuraikan dalam bagian ini sekurang-kurangnya harus mencakup: 83 . Profil sekolah yang dipaparkan dapat mencakup  Identitas sekolah. dan lain-lain.  Strategi dan prioritas yang akan dikembangkan. alamat lengkap. Informasi Umum Bagian ini dimaksudkan untuk menyampaikan informasi kepada pihak ke mana proposal yang diajukan mengenai profil sekolah.  Status akreditasi.

program. 3) Dampak dari hasil tersebut terhadap proses dan hasil pembelaran serta terhadap kualitas dan daya saing lulusan untuk melanjutkan studi atau mendapatkan pekerjaan. 3) Analisis dilakukan secara mendalam sehingga mampu mengidentifikasi akar penyebab timbulnya berbagai masalah di sekolah. kegiatan yang belum atau masih harus dilanjutkan. b. Prinsip-prinsip telaah situasi yang baik meliputi: 1) Pelaksanaannya melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dengan sekolah. Karena itu peningkatan kemampuan dan komitmen untuk melakukan analisis secara benar dan terus menerus merupakan budaya yang harus dimiliki oleh setiap organisasi. atau kegiatan yang telah dilaksanakan. 2) Didukung dengan data-data yang akurat. 2) Hasil-hasil (output) yang dicapai melalui pelaksanaan Strategi. Telaah Situasi Sekolah Telaah situasi pada dasarnya sama dengan evaluasi diri. lengkap dan mutakhir. 5) Kebijakan.1) Strategi. Telaah Situasi merupakan titik tolak semua kemajuan. program. dan 84 . atau kegiatan tersebut. Tatacara telaah situasi yang baik dan benar sama dengan tata cara evaluasi diri yang telah diuraikan pada Bab III bahan diklat ini yang pelaksanaannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan sekolah dan jenis Program yang diusulkan. 4) Praktik-praktik baik (good practices) yang perlu dipertahankan untuk memelihara kesinambungan pengembangan sekolah. serta masalah-masalah yang timbul dan perlu penanganan dengan segera. program.

4) Program Pembelajaran Penjelasan bagian ini perlu difokuskan pada analisis tentang seberapa besar efisiensi. termasuk penjelasan tentang bagaimana berbagai sumber data dan informasi diidentifikasi dan data serta informasi yang diperoleh dari sumber-sumber itu digunakan. 1) Latar Belakang Berisi penjelasan tentang proses pelaksanaan Telaah Situasi. program produktivitas pembelajaran dan yang efektivitas ada. 2) Kondisi Eksternal Berisi penjelasan tentang kondisi eksternal (peluang dan tantangan) yang berpengaruh terhadap eksistensi sekolah. serta penyelenggaraan kelemahan dan keunggulannya. atau instansi lain yang relevan. 85 . yayasan.4) Telaah bersifat komprehensif menyangkut semua aspek keberlangsungan sekolah. Uraian tentang mengapa Sekolah ini harus ada dari sudut pandang stakeholders sangat diharapkan untuk dikemukakan. Perlu dijelaskan tentang berbagai kelemahan dan keunggulan sistem tata kerja yang diterapkan tersebut. Telaah Situasi untuk pengembangan sekolah perlu dimulai dengan mengemukakan secara benar hal-hal sebagai berikut. serta seberapa besar keterlibatan dan kontribusi dari semua warga sekolah dalam penyusunan Telaah Situasi. 3) Kondisi Organisasi dan Kelembagaan Bagian ini menjelaskan tentang bagaimana sistem organisasi dan tata kerja yang diterapkan di Sekolah serta bagaimana keterkaitannya dengan komite sekolah.

1. finansial/uang. rencana dan target peningkatan kualitas dan perbaikan kelemahan yang ada. semua program yang sedang berjalan maupun yang sedang diusulkan untuk dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu ke depan harus menyertakan sumber daya yang dibutuhkan. sehingga pada akhirnya dapat memperbaiki kinerja dan kualitas dari program pembelajaran. harus dapat memanfaatkan potensi dan peluang yang telah di identifikasi. dibawah ini dan harus mempunyai hubungan yang jelas antara permasalahan yang diidentifikasi. 6) Permasalahan dan Alternatif Penyelesaiannya Bagian ini harus menjelaskan hubungan antara isu strategis. akar permasalahan yang sudah teridentifikasi. Perlu dijelaskan tentang analisis berbagai kelemahan dan keunggulan sistem manajemen sumberdaya yang diterapkan tersebut. solusi alternatif. Tiap program dapat ditabulasi seperti terlihat pada Tabel 6.5) Manajemen Sumberdaya Bagian ini berisi telaah tentang ketersediaan dan pengelolaan sumberdaya (manusia. alternatif penyelesaikan masalah. dan kegiatan perencanaan beberapa tahun ke depan 86 . fasilitas fisik) yang ada di Sekolah. Dengan demikian. program yang diusulkan tersebut. sesuai dengan hasil analisis situasi. Pada sisi lain. Dalam hal ini sekolah harus memilih program yang paling tepat yang akan dilakukan dari berbagai penyelesaian alternatif yang ada. pengembangan potensi-potensi yang ada.

(4) sumber daya dana yang dibutuhkan. donor.Tabel 6. dan (7) rancangan keberlanjutan. Kolom 4 diisi sumber pembiyaan untuk mendukung program terpilih. dan program yang diusulkan Masalah 1 Alternatif Pemecahan 2 Program Yang Diusulkan 3 Sumber Keterangan Pembiayaan 4 5 Keterangan: Kolom 1 diisi masalah-masalah yang teridentifikasi dalam telaah situasi.1 Matrik permasalahan. (5) jadwal pelaksanaan. BPP. Penjabaran masing-masing usulan program itu sekurang-kurangnya mencakup: (1) latar belakang dan rasional. misalnya komite sekolah. Rancangan Program Pengembangan Komponen proposal ini sebenarnya merupakan penjabaran lebih rinci dari usulan program yang telah diidentifikasi pada bagian akhir telaah situasi. SPP. Kolom 3 diisi solusi yang dipilih untuk mengatasi masalah denan mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah atau yang sedang diusulkan melalui proposal yang disusun. c. Oleh karena itu. Hal yang membedakan keduanya adalah pijakan yang dijadikan rujukan dalam 87 . rincian dan ruang lingkup masing-masing bagian tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penjelasan pada Bab 5 tersebut. (6) indikator keberhasilan. (2) tujuan. (3) mekanisme dan rancangan kegiatan. atau yang lain. Kolom 2 diisi kemungkinan solusi yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah. alternatif pemecahaan. Bagian-bagian proporsal tersebut pada dasarnya tidak berbeda dengan bagian-bagian Renop yang diuraikan pada Bab 5 yang diuraikan pada awal bahan diklat ini.

misalnya. tingkat kunjungan siswa ke perpustakaan. Kedua hasil telaah tersebut dimungkinkan berbeda karena dilaksanakan pada waktu dan fokus yang berbeda. penyusun proposal perlu menyajikan sejumlah indikator keberhasilan program secara keseluruhan. sedangkan dasar dalam pengembangan proposal adalah hasil telaah situasi yang dilakukan saat proposal itu di kembangkan. dan sulit dicapai oleh program-program yang diusulkan secara terpisah-pisah. Indikator keberhasilan Untuk memudahkan pembaca mengetahui apa yang menjadi tolok ukur pencapaian tujuan semua program yang diusulkan. d. Indikator keberhasilan ini dapat berupa indikator kunci (key performance indicator) dan indikator pendukung atau indikator tambahan. Oleh 88 . Peningkatan persentase atau jumlah siswa yang lulus UNAS. dan sebagainya adalah faktor-faktor yang dapat dicapai oleh program-program pengembangan khusus. Indikator-indikator seperti tingkat kehadiran siswa di kelas. tingkat penggunaan laboratorium untuk. tingkat keberhasilan siswa diterima pada jurusan favorit di perguruan tinggi ternama. transaksi bahan pustaka dengan siswa. Dasar pengembangan Renop adalah hasil telaah yang dilakukan untuk penyusunan Renstra.pengembangan program atau kegiatan. selain untuk pada masing-masing program yang diusulkan. hanya dapat dicapai melalui berbagai program pengembangan sekolah yang dilaksanakan secara terintegrasi. Oleh karena itu angka-angka yang menunjukkan parameter-paremeter tersebut dapat dijadikan sebagai indikator kunci pengembangan sekolah. kecepatan siswa mendapatkan pekerjaan. Indikator kunci biasanya merupakan indikator keberhasilan kegiatan secara keseluruhan.

karena itu indikator-indikator semacam ini dapat digunakan sebagai tambahan atau pendukung pencapaian indikator kunci. 89 . Rentang waktu yang biasa dipakai adalah saat awal (sebelum program yang diusulkan dalam proposal dilaksanakan) yang digunakan sebagai landasan awal atau baseline. Tabel 6. dan saat program telah berakhir atau final.2. Penyajian itu dapat dilakukan dalam bentuk tabel sebagaimana Tabel 6. Untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi kemajuan yang dicapai sekolah secara bertahap. dianjurkan indikator keberhasilan tersebut disajikan secara serial dalam rentang waktu tertentu.2 Indikator Keberhasilan Indikator Idikator Kunci  Kelulusan Ujian akhir (%)  Rata-Rata NUN  Jumlah Siswa yang diterima di PT Favorit  Persentase Kenaikan kelas (%)  Lama tunggu mendapatkan pekerjaan pertama (bulan)  dst. Awal Program (Baseline) Capaian Tengah (Mid) Akhir Program (Final) Indikator Pendukung/Tambahan  Penggunaan laboratorium IPA untuk per minggu (jam)  Tingkat kehadiran siswa dalam kelas (%)  Rata-rata transaksi bahan pustaka dengan siswa (per hari)  dst e. saat pertengahan implementasi program atau midterm. Rencana Implementasi Kegiatan Bagian ini terdiri dari tiga bagian sebagai berikut.

Organisasi ini harus sesuai dengan struktur organisasi yang ada di sekolah. misalny) curiculum vitae masing-masing pelaksana. serta daftar nama pelaksana yang terkait (Ketua Pelaksana. Untuk lebih meyakinkan pihak-pihak yang terkait. memonitor dan mengevaluasi pelaksanaannya. 2) Program dan Penjadwalan Jadwal implementasi keseluruhan program/kegiatan perlu dibuat tersendiri agar memudahkan pelaksanaannya dan juga memberi pemahaman kepada pembaca proposal kapan setiap program yang diusulkan akan dilaksanakan. Dalam organisasi ini harus tampak juga keterkaitannya dengan struktur organisasi yang ada di sekolah.1) Organisasi Program Organisasi ini harus dibentuk untuk melaksanakan program yang diusulkan. Jadwal dalam bentuk bagan seperti tabel di bawah ini (Tabel 6. Akan lebih baik jika disertakan juga bagan organisasinya. Wakil Ketua Bidang A. deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing. artinya struktur yang dibangun tidak saling tumpangtindih atau bertentangan dengan struktur organisasi sekolah. dsb. perlu disertakan (dalam lampiran. Wakil Ketua Bidang B. dan penanggung jawab masing-masing program). 90 .3) akan lebih memudahkan mehamai jadwal pelaksanaan tersebut.

f.3 Sub-Program 1.1 2. Catatan: TW = Triwulan *) = Bila kegiatan dilaksanakan dalam setahun. Program 2 2.2 Sub-Program 2.2 1. 91 .1 Sub-Program 1. Jelaskan mekanisme monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan.5 merupakan contoh rekapitulasi sumber daya dan anggaran dimaksud.1 1.3.1 Sub-Program 2.3 Sub-Program 2. Rangkuman Kebutuhan Sumber Daya dan Anggaran Biaya Selain jadwal. Rangkuman ini mencakup semua kebutuhan sumber daya dan anggaran yang telah diuraikan pada masing-masing program yang diusulkan. jika kegiatan dilaksanakan dalam 6 bulan atau kurang.2 Sub-Program 1. dst. Program dan Penjadwalan Program Sub-Program atau Kegiatan Jadwal Pelaksanaan* Tahun 2008 Tahun 2009 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 1. 2. dst.Tabel 6. jadwal dapat dibuat bulanan. jadwal dibuat dalam mingguan 3) Mekanisme Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi adalah bagian yang penting dari manajemen program agar implementasi program dapat berjalan dan dapat mencapai target yang sudah ditetapkan.3. Program 1 1. kebutuhan sumber daya dan anggaran pendukung pelaksanaan program juga harus dirangkum menjadi satu.4 dan Tabel 6.3.2 2. Tabel 6.

1 Pemb. Gedung baru 2.1.2 Pembelian alat lab 1.2.2 Jumlah Komite Pemda Lain-lain Dari Tabel 6.2 Kegiatan 2 3.000 Pemda Komite Program 2 SubProgram 1.1 Subprogram 2.1 Pelatihan guru 1.3 Seminar 1.2 Bahan pustaka 2.1.000 10.3 Studi banding 1.3 Subprogram 2.1 Lokakarya dengan komite 1.000 12.5.1 Renovasi gedung 2.4 di atas.4 Rekapitulasi Anggaran Biaya Berdasarkan Program/Sub-Program Kebutuhan Sumber Daya (Komponen Anggaran) 1.800.000.000 7 1.000 3.1.000 Total Biaya Sumber Biaya Komite Program 1 Oranghari (OH) Unit 15 1.2. 92 .000 6. anggaran perlu dikelompokkan menurut komponen anggaran dan jadwal realisasi anggaran sebagaimana Tabel 6.000.000.2.000.000 200.1.250.1 Satuan Volume Biaya Satuan 120.750.000 Pemda SubProgram 1.3.2.000.1.1 Program SubProgram SubProgram 1.Tabel 6.000 Pemda Kegiatan OH 1 50 3.3 2.

Tabel 6.5 Rekapitulasi Kebutuhan Anggaran menurut Komponen Anggaran dan Tahun Realisasi
Komponen Anggaran Satuan 1 2 1. Pelatihan Guru OH 2. Pengadaan alat paket lab 3. Renovasi gedung 4. Pemb. Gedung baru 5. Lokakarya Kegiatan 6. Bahan pustaka Eksemplar 7. Peralatan kantor Paket 8. 9. dst Manajemen Program paket Total Tahun 1 Volume Volume Biaya 3 4 5 Tahun 2 Volume Biaya 6 7 Jumlah Biaya 8

Keterangan:
Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 Kolom 4 dan 6 Kolom 5 dan 7 : : : : : diisi komponen anggaran yang diajukan diisi satuan yang dipakai diisi jumlah volume komponen yang bersngkutan dari masing masing program yang diusulkan diisi volume yang akan direalisasikan pada tahun yang bersangkutan diisi jumlah biaya yang dibutuhkan pada tahun yang bersangkutan

g. Lampiran-Lampiran Untuk lebih meyakinkan pembaca, proposal harus benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Untuk itu setiap proposal pengembangan sekolah harus didukung dengan data atau informasi yang relevan, sahih, mutakhir, dan dalam takaran yang cukup. Datadata yang demikian ini biasanya tidak mungkin disertakan dalam dokumen inti proposal. Oleh karena itu data atau informasi ini dapat dikumpulkan dalam lampiran proposal. Data atau informasi yang dilampirkan itu dapat meliputi: 1. Dokmen resmi pendukung penyelenggaraan sekolah: piagam pendirian sekolah, piagam akreditasi, sertifikat tanah;

93

2.

Data tentang keberhasilan selama beberapa tahun terakhir terkait dengan implementasi Renstra Sekolah;

3.

Dokumen

dan

data

pendukung

telaah

situasi

sekolah:

perkembangan jumlah, jumlah guru, tingkat kehadiran siswa, tingkat kehadiran guru, jenis dan jumlah sarana pembelajaran, nilai hasil ujian siswa, dan data-data lain yang dibutuhkan untuk memperkuat hasil analisis dalam analisis situasi; 4. Data pendukung justifikasi anggaran biaya: spesifikasi rinci komponen anggaran yang diusulkan, spesifikasi barang atau jasa yang diadakan, atau kerangka acuan kegiatan yang menjabarkan secara rinci komponen anggaran tertentu seperti pelatihan guru, lokakarya dan seminar, studi banding, dan sebagainya.

B. Penyusunan Kerangka Acuan atau Term of Reference (TOR) Kegiatan Kerangka Acuan atau Term of Reference disingkat TOR dibutuhkan saat sekolah akan mulai mengimplementasikan semua kegiatan yang dirancang dalam Renop dan RAPBS atau Proposal Pengembangan Sekolah. TOR ini dibutuhkan agar realisasi setiap komponen anggaran yang dituangkan dalam RAPBS atau Proposal Pengembangan dapat berjalan efisien dan efektif. TOR pada intinya berisi jabaran rinci dan sangat teknis mengenai mengapa, untuk apa, oleh siapa, bagaimana, kapan, dan dimana sebuah mata anggaran akan direalisasikan. TOR berfungsi sebagai pedoman teknis dan pengendali yang digunakan oleh tim atau panitia untuk melaksanakan sebuah even atau kegiatan. Beberapa mata anggaran yang memerlukan TOR antara lain:

94

1. Pengembangan

kompetensi

staf:

pelatihan,

penataran,

permagangan, seminar, lokakarya, studi banding. 2. Pengembangan kebijakan atau dokumen-dokumen pendukung pendidikan seperti KTSP, Kebijakan Disiplin Siswa, Kebijakan

Kesehatan Lingkungan, dan sebagainya. 3. Kegiatan-kegiatan seremonial atau seperti peringatan hari-hari besar, Masa Orientasi Siswa (MOS), pelatihan kepemimpinan siswa. 4. Kegiatan-kegiatan lain yang dipandang memerlukan penjelasan rinci. Sebenarnya tidak ada format baku dalam penyusunan TOR. Penanggung jawab kegiatan harus mengembangkan sendiri TOR untuk masing-masing kegiatan sedemikian rupa sehingga siapapun yang diberi tugas melaksanakan kegiatan akan merealisaikan kegiatan sesuai dengan apa yang diharapkan. Secara umum TOR berisi komponen-komponen sebagai berikut. 1. Judul 2. Latar Belakang dan Rasional 3. Tujuan 4. Hasil yang diharapkan 5. Ruang lingkup kegiatan 6. Rincian anggaran biaya 7. Jadwal kegiatan 8. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 9. Pelaksana/penangung jawab kegiatan Berikut ini diuraikan secara singkat komponen-kompoenen TOR tersebut.

95

............. c...........1.............................. berat/ringannya...... Judul TOR KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE) Nama Program/Kegiatan Mata Anggaran Kode Anggaran dalam RAPBS Tahun Anggaran : ..... Latar Belakang dan Rasional Pada bagian ini perlu uraikan hal-hal sebagai berikut: a.................................................... Masalah tersebut harus dijelaskan sedemikian rupa.................. : .... : ................. faktor-faktor yg berpengaruh pada permsalahan tersebut)... sehingga tergambar secara utuh dan menyeluruh (termasuk cakupannya. permasalahan tersebut 96 ...... 2.................... yang akan diselesaikan dengan melaksanakan komponen anggaran ini... Pemarapan kemendesakan atau pentingnya pemecahan masalah diatas yang mencakup dampak negatif yang akan timbul jika tidak dipecahkan dan dampak positif yang diperoleh jika sebalikya..... : ....... Semua keterangan dalam judul tersebut dikutip langsung dari Renop atau Proposal yang menjadi dasar disusunnya TOR yang bersangkutan................... b.. Penjelasan permasalahan yang telah berhasil diidentifikasi pada evaluasi diri/situasi saat menyusun Renstra dan Renop atau Proposal Pengembangan........................... Argumentasi (alasan) tentang mengapa kegiatan yang akan dilaksanakan menyelesaikan adalah akar pilihan yang paling tepat untuk diatas......

yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh lembaga/instansi . Tujuan dan karakteristik Sekolah Lokakarya KTSP 1. Hasil Yang Diharapkan Hasil atau output kegiatan merupakan uraian rinci mengenai yang mencakup jumlah. Tabel 6.. Tujuan Pada bagian ini diuraikan tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan komponen anggaran dimaksud.. Hasil Yang diharapkan Tiga orang guru memiliki kompetensi di bidang .. dan karakteristik Sekolah 97 . Misi. Misi. Mengembangkan KTSP sesuai dengan Visi. 3.. Dihasilkannya KTSP beserta semua perangkat pendukungnya (Silabus. Kalender Pendidikan. RPP.Argumen/alasan tersebut dapat didasarkan pada pembenahan faktor-faktor yang berpengaruh pada akar permasalahan tersebut atau dapat berdasarkan teori ilmiah dan pengalaman dalam menghadapi akar permasalahan tersebut.6 Contoh-contoh rumusan tujuan dan hasil yang diharapkan Komponen Anggaran Pelatihan Guru Tujuan Meningkatkan kompetensi guru di bidang . 4. Tabel 9... atau karakteristik keluaran yang diharapkan diperoleh melalui anggaran yang bersangkutan.6 menyajikan contoh tujuan dan hasil yang diharapkan dari beberapa komponen mata anggaran yang biasa diusulkan dalam RAPBS atau Proposal Pengembangan Sekolah.. kualifikasi. dsb) yang sesuai dengan Visi. Tujuan. Meningkatkan pemahaman warga sekolah terhadap KTSP 2.

5) Lamanya kegiatan Lokakarya/Seminar Studi Banding 6. Jumlah dan kualifikasi nara sumber e. 98 . dan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Setiap mata anggaran memiliki ruang lingkup yang berbeda-beda. Lamanya kegiatan (hari atau jam) f. magang. Jumlah dan spesifikasi/kualifikasi peserta d. waktu. 2) Jumlah. Biaya Biaya yang dicantumkan dalam TOR harus cukup rinci dan sesuai dengan ruang lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan.7 menyajikan contoh hal-hal yang perlu diuraikan dalam Ruang Lingkup Kegiatan. Estimasi anggaran biaya harus diperhitungkan secara cermat dan detail sehingga tidak ada satupun kebutuhan yang terlewatkan sehingga akan mengganggu tercapainya tujuan dan hasil yang diharapkan.5. kualifikasi. 1) Jumlah dan karakteristik tujuan studi 2) Pokok-pokok materi dan kegiatan yang dikaji di tempat studi. Tabel 6. Pokok-pokok Kegiatan c. Tempat pelatihan (jika diperlukan tempat khusus) disertai justifikasi pemilihan tempat.7 Contoh Uraian Ruang Lingkup Untuk Beberapa Komponen Anggaran Komponen Anggaran Pengembangan staf Uraian Dalam Ruang Lingkup Kegiatan 1) Bentuk kegiatan: pelatihan. Tabel 6. 3) Pihak-pihak yang ditemui di tempat studi 4) Jumlah dan kualifikasi peserta. dan prosedur seleksi calon peserta pelatihan 3) Pokok-pokok materi atau kompetensi pelatihan 4) Lamanya pelaksanaan pelatihan 5) Nama dan kualifikasi tempat/lembaga pelatih a. Ruang Lingkup Kegiatan Yang dimaksud ruang lingkup kegiatan dalam bagian ini adalah batasan-batasan mengenai orang. substansi. Pokok materi b.

000 Keterangan: PP = Pergi-pulang OH= Orang Hari 99 . Pelatihan dilaksanakan di Surabaya selama 2 minggu.8 Contoh Uraian Anggaran Pelatihan Guru Uraian Kebutuhan Biaya 1) Perjalanan negosiasi: 1) Transport Malang-SBY 2) Lumpsum 2) Biaya pelatihan 3) Biaya Perjalanan: 3) Transport 4) Uang saku/lumpsum (3 org @ 2 hari) 4) Biaya Hidup (3 Org @ 13 hari) 5) Bahan pelatihan 6) Perjalanan Biaya: 5) Transport Malang-SBY 6) Lumpsum 7) Penggandaan Laporan Jumlah Satuan PP OH Paket PP OH OH Paket PP OH Paket Volume 1 1 3 3 6 39 3 1 1 1 Biaya Satuan 100.000 100.000 250.700. Agar dapat melakukan estimasi anggaran yang demikian itu.000 100. Paparan ruang lingkup kegiatan yang cermat dan rinci dan diskusi dengan sesama anggota tim penyusun TOR akan sangat membantu memudahkan estimasi biaya ini.Namun demikian.000 10.000 3.800.000. penyusun TOR harus cermat dalam mengidentifikasi jenis kebutuhan serta biaya yang diperlukan untuk masing-masing kebutuhan.000 3. Tabel 6.000 300.000 300.000 300. Tabel 9.8 menyajikan contoh uraian biaya untuk komponen anggaran Pelatihan Guru yang bertugas di sebuah SMA di Malang.000 750.000. prinsip efisien penggunaan anggaran harus tetap diperhatikan.000 100.000 150.000 300.900.000 150.000 1.000 300.000 1.000 100.000 Total Biaya 100.000 300.

Jadwal Kegiatan Terdapat dua macam jadwal yang disajikan dalam TOR: Persiapan hingga pelaporan dan jadwal pelaksanaan kegiatan. Monitoring dan Evaluasi Bagian ini memuat prosedur dan teknik moniroting dan evaluasi yang akan dilaksanakan selama dan setelah kegiatan dilalksanakan. 100 . Dengan demikian setiap hambatan yang timbul dapat segera diatasi sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.7. Tabel 6. Selain jadwal ini.9 menyajikan contoh Jadwal Kegiatan Pelatihan. pihak pelaksana pelatihan juga harus memberikan jadwal kegiatan yang harus diikuti peserta selama pelatihan berlangsung. Tabel 9. Monev dilakukan untuk menjamin bahwa kegiatan berjalan sebagaimana rencana yang telah dibuat. Monitoring dilakukan untuk mengidentifikasi kemajuan pelaksanaan kegiatan dan kendalakendala yang timbul mungkin selama berlangsungnya kegiatan.9 Contoh Jadwal Persiapan Pelatihan Waktu No 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Kegiatan 1 Penyusunan TOR Persetujuan TOR oleh Kepala Sekolah Seleksi peserta pelatihan Negosiasi dengan tempat penyelenggara pelatihan Kontrak Pelaksanaan pelatihan Monitoring pelatihan Pelaporan oleh peserta Pelaporan oleh penangung jawab kepada kepala sekolah Agustus 2 3 4 1 September 2 3 4 8.

Kegiatan evaluasi dilakukan terhadap dua hal. Pertama, evaluasi dilakukan terhadap seluruh kegiatan, sejak dari persiapan sampai dengan berakhirnya kegiatan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mengidentifikasi apakah semua target kegiatan telah tercapai sesuai dengan rencana dan juga untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang tidak teratasi untuk digunakan sebagai dasar penentuan langkah pada kegiatan serupa di lain waktu. Evaluasi ini dapat dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan atau oleh pihak lain yang ditunjuk untuk itu. Kedua, evaluasi terhadap kesesuaian hasil yang dicapai dengan yang direncanakan. Untuk kegiatan pelatihan, misalnya, evaluasi ini dapat dilakukan oleh pihak pelaksana pelatihan. Laporan tertulis merupakan sumber informasi yang efektif untuk kepentingan evaluasi kegiatan.

101

DAFTAR RUJUKAN

Arismunandar. 2007. Rencana Strategis Sekolah. Makalah disajikan pada Pendidikan dan pelatihan Kemitaraan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependikan, Ditjen PMPTK, Depdiknas di Jakarta, Juli 2007. Brodjonegoro, S.S. (2003). Higher Education Long Term Strategy 2003-2010. Directorat General of Higher Education, Ministry of National Education Republic of Indonesia. Bryson, J. M. (1995). Strategic Planning For Public and Nonprofit Organizations. San Francisco: Jossey-Bass Publishers Canavan, N. & Monahan, L. (2000). School Culture and Ethos: Releasing the Potential. A resource pack to enable schools to access articulate and apply ethos values. Dublin: Marino Institute of Education, Collins U. (1996). Developing a School Plan: A Step by Step Approach. Dublin: Marino Institute of Education. Colman H.& Waddington D. (1996). Synergy. Australia: Catholic Education Office. Daft, Richard L. (1988). Management. Chicago: The Dryden Press. Directorat General of Higher Education. (2003). Technological and Professional Skills Development Sector Project (TPSDP) Batch III: Guidelines for Sub-Project Proposal Submission. Jakarta: Directorat General of Higher Education, Ministery of National Education. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2006). Panduan Penyusunan Proposal Program Hibah Kompetisi. Jakarta: Ditjen Dikti, Depdikas Duke, Daniel L. & Canady, Robert L. (1991). School Policy. New York: MacGraw-Hill, Inc.

102

Dwyer, B. 1986. Catholic Schools at the Crossroads.Victoria: Dove Communications, Furlong, C. & Monahan L. 2000. School Culture and Ethos. Dublin: Marino Institute of Education Gorton, Richard A. & Schneider, Gail T. (1991). School-Based Leadership: Callenges and Opportunities. Dubuque, IA: Wm. C. Brown Publishers Government of Ireland. (1999). School Development Planning – An Introduction for Second Level Schools. Dublin: Department of Education & Science, Hargreaves, A. & Hopkins, D. The Empowered School: the Management and Practice of Developmental Planning. London: Cassell, 1991 Hargreaves, D. and Hopkins, D. (1993). School Effectiveness, School Improvement and Development Planning, in Margaret Preedy (ed.) Managing the Effective School, London: Paul Chapman Publishing. Hope A., Timmel S. (1999). Training for Transformation. London: The Intermediate Technology Group. Kavanagh, A. (1993). Secondary Education in Ireland: Aspects of Changing Paradigm. Tullow: Patrician Brothers Generalate. Lerner, A.L. (1999). A Strategic Planning Primer for Higher Education. Northridge. California: College of Business Administration and Economics, California State University. Lyddon, J. W. (1999). Strategic Planning In Smaller Nonprofit Organizations: A Practical Guide for the Process. Michigan: W.K. Kellogg Foundation Youth Initiative Partnerships (in Website: http://www.wmich.edu/ nonprofit/Resource/index.html) Mintzberg, H. (1994). The Rise and Fall of Strategic Planning. New York, NY: The Free Press.

103

(1997). San Francisco: Jossey-Bass Publisher Morrison. Ditjen PMPTK. (2000). S. Joko. and Boucher. 1984.A. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. D. Makalah disajikan pada Pendidikan dan pelatihan Kemitaraan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependikan. (1999).).S. Futures Research And The Strategic Planning Process: Implications for Higher Education. (1994).hefce. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departeman Pendidikan Nasional. Depdiknas di Jakarta. K. School Based Management: Organizing High Performance. J.I Umaedi.T. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. and Thirunamachandran. D. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah. (Ed. CA: Jossey-Bass Publishers. (1997). 2005.. School Development Planning: Draft Guidelines for Second Level Schools. Senior Managers and Members of Governing Bodies. Rencana Strategis. & Dolence.. Strategic Planning in Higher Education: A Guide for Heads of Institutions. School Leadership and Strategic Planning. Wayne I. James L. R. Dublin: A.Mohrman.. Rowley. Prayogo. ASHE-ERIC Higher Education Research Reports Nickols.. H. 104 .ac. M. and Wohlstetter. D. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Sebuah Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Sekolah Untuk Peningkatan Mutu. Dublin: SDPI.uk.G. 2007. Strategic Change in Colleges and Unviversities. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah. Depdiknas. Lujan. San Francisco. In Website: . P.. (1999). Juli 2007. Tuohy. Renfro. William L. School Development Planning Initiative.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. 105 .

106 .1b) Prosedur: Refleksi Individual 1: (10 menit) Masing-masing peserta melakukan refleksi dengan menggunakan Lembar Kerja 1. Respon-respon kelompok terhadap Lembar Kerja 1.1a (Kuesioner Tujuan Awal Sekolah) Masing-masing mencatat respon mereka Diskusi Kelompok No. Kuesener untuk staf sekolah tentang Tujuan Awal Pendirian Sekolah/Madrasah: Pertanyaan Jawaban Terbuka (Lembar Kerja 1.LAMPIRAN 1 LAMPIRAN KEGIATAN 1 PENGEMBANGAN VISI DAN MISI SEKOLAH PETUNJUK Instrumen: 1. 1: (20 menit) Staf dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan respon individual mereka dan membuat kesepakatan dalam bentuk respon kelompok.1a) 2. Kuesener untuk staf sekolah tentang Tujuan Sekolah/Madrasah Saat Ini: Pertanyaan Jawaban Terbuka (Lembar Kerja 1.1a yang disampaikan pada diskusi pleno direkam pada flip-chart.

Respon-rspon yang berlaku umum diidentifikasi dan direkam. persamaan dan perbedaan tujuan awal dan tujuan masa kini sekolah diidentifikasi. Diskusi Pleno 2: Balikan terhadap flip-chart dari masing-masing kelompok dibaca dengan suara keras oleh seorang anggota kelompok kemudian dipajang di dinding.Diskusi Pleno 1: Balikan terhadap flip-chart dari masing-masing kelompok dibaca dengan suara keras oleh seorang anggota kelompok kemudian dipajang di dinding.1b (Kuesener Tujuan Sekolah Saat ini) Masing-masing individu mencatat respon mereka Diskusi Kelompok No. 2: (20 menit) Staf dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan respon individual mereka dan membuat kesepakatan dalam bentuk respon kelompok.1b yang disampaikan pada diskusi pleno direkam pada flip-chart. Berdasarkan perbandingan itu nilai-nilai kunci yang mengarahkan sekolah di masa depan diidentifikasi dan direkam pada flip-chart. Respon-respon kelompok terhadap Lembar Kerja 1. Balikan dari dua pertanyaan tersebut dibandingkan. Refleksi Individual 2: (10 menit) Masing-masing orang melakukan refleksi dengan menggunakan Lembar Kerja 1. 107 .

Saran-saran dicatat pada flip-chart. TINDAK LANJUT Pada akhir Kegiatan 1 dibuat rancangan untuk pengembangan rumusan visi dan misi sekolah: Pembentukan komisi khusus untuk menyusun visi dan misi sekolah berdasarkan nilai-nilai dasar yang terdentifikasi. 108 .Staf kemudian ditana bagaimana mereka dapat menguatkan dan mengembangkan lebih jauh nilai-nilai yang teridentifikasi tersebut. Kerangka waktu dan telaah lebih lanjut terhadap rumusan visi dan misi yang telah berhasil dirumuskan. Komisi mengkonsultasikan rancangan tersebut kepada komite melanjutkan sekolah atau pihak terkait lainnya. Komisi tersebut mengajukan rancangan rumusan visi dan misi untuk mendapatkan respon dari mereka. Membuat kesepakatan yang mengarah pada penguatan rasa memiliki tarhadap visi da misi sekolah. dan melakukan konsultasi ulang bila diperlukan. Merevisi rancangan berdasarkan masukan dari komite. Pengembangan langkah-langkah mencapai visi dan misi sekolah. Komisi merevisi rancangan visi dan misi berdasarkan respon yang diberikan oleh staf dan menyajikannya kepada semua staf.

Mengapa di daerah ini membutuhkan sebuah sekolah? Siapa yang akan dididik oleh sekolah ini? Pendidikan macam apa yang akan diberikan oleh sekolah ini? Bagaimana layanan pendidikan itu akan diberikan? Apa yang menjadi idealisme. terdapat beberapa pertanyaan berikut mungkin mengemuka. Tulislah jawaban yang menurut Anda diberikan oleh para pendiri sekolah ini saat itu.1a KUESENER UNTUK STAF TENTANG TUJUAN AWAL PENDIRIAN SEKOLAH Nama Sekolah : __________________________________________________ Pada saat sekolah ini didirikan. keyakinan dan nilai-nilai yang akan menjadi dasar penyelenggaraan sekolah ini? Apa yang kelak akan membedaan sekolah ini dengan sekolah lain dan apa yang membuat sekolah ini unik? 109 .LEMBAR KERJA 1.

1b KUESENER UNTUK STAF TENTANG TUJUAN SEKOLAH SAAT SEKARANG Tulislah jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut terkait dengan keberadaan sekolah kita saat ini Mengapa di daerah ini membutuhkan sebuah sekolah? Siapa yang dididik oleh sekolah ini? Pendidikan macam apa yang diberikan oleh sekolah ini? Bagaimana layanan pendidikan itu diberikan? Apa yang menjadi idealisme.LEMBAR KERJA 1. keyakinan dan nilai-nilai yang akan menjadi dasar penyelenggaraan sekolah ini? Apa yang membedaan sekolah ini dengan sekolah lain dan apa yang membuat sekolah ini unik? 110 .

111 . Prosedur: Diskusi kelompok: Staf dibagi kedalam kelompok-kelompok untuk mengkaji dokumendokumen yang rekevan dengan masyarakat sekolah pada umumnya dan dengan masing-masing bidang untuk melihat apakah dokumendokumen itu mencerminkan nilai-nilai dan keyakinan yang tertuang dalam rumusan visi dan misi sekolah.2) Eksplorasi Bidang Manajemen (Lembar Kerja 2.3) Eksplorasi Bidang Kerjasama dengan Masyarakat (Lembar Kerja 2.1) Eksplorasi Bidang Kurikulum (Lembar Kerja 2. (masing-masing kelompok diberi tugas untuk membahas satu dari 4 bidang di atas dengan menggunakan instrumen yang tersedia) Kelompok mengidentifikasi bukti-bukti kongkret mengenai nilai-nilai yang terekspresikan pada visi dan misi dalam dokumen-dokumen kebijakan sekolah.KEGIATAN 2 EKSPLORASI PELAKSANAAN VISI DAN MISI SEKOLAH (Kuesener Terbuka) PETUNJUK Eksplorasi Bidang Atmosfer Kerjasama Di Lingkungan Sekolah (Lembar Kerja 2.4) Dokumen-dokumen sekolah: Rumusan kebijakan berbagai bidang di sekolah Dokumen-dokumen pendukung yang dimiliki sekolah.

visi atau dan misi yang memerlukan terkait dengan perubahan perubahan pengembangan Diskusi Pleno: Balikan kelompok dilaporakan Identfikasi dan prioritisasi bidang-bidang kunci yang menjadi perhatian terkait dengan (1) rumusan visi dan misi sekolah. (2) kebijakan sekolah.Kelompok mengidentifikasi berbagai penyimpangan antara nilai-nilai yang terekspresikan dalam visi dan misi. 112 . Rancangan ini dapat mencakup pembentukan sebuah Satgas khusus. dan (3) praktik-praktik sekolah. TINDAK LANJUT Di akhir Kegiatan 5. serta nilai-nilai yang tersirat dalam dokumen-dokumen sekolah yang ada. Kelompok tersebut melakukan refleksi terhadap pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan lembar kerja yang sesuai dan mempersiapkan jawaban yang merupakan kesepakatan kelompok yang menekankan pada: Aspek-aspek dalam visi dan misi yang tidak terefleksikan dalam kehiudpan sekolah. Maisng-masing kelompok mencermati pelaksanaan visi dan misi sekolah sesuai dengan bidang yang menjadi tugasnya. dibuat rancangan untuk menyelesaikan bidangbidang yang menjadi prioritas. Aspek-aspek (amandemen) kebutuhan.

Lembar Kerja 2.1: Eksplorasi Bidang Atmosfer Kerjasama Di Lingkungan Sekolah Pertanyaan Kunci: Apakah nilai-nilai dan keyakinan yang tercantum dalam visi dan misi sekolah mendorong hubungan kehidupan sekolah yang sehat? Eksplorasi: Adakah bukti-bukti bahwa hubungan disekolah mengakui keistimewaan dan nilai-nilai individu? Apakah program-program pengembangan kepribadian di sekolah ini membantu siswa memahami hakekat hubungan dan memperoleh keterampilan yang mereka perlukan untuk membangun hubungan yang efektif? Apakah terdapat bukti-bukti bahwa nilai dan keyakinan yang terdapat dalam visi dan misi sekolah mempengaruhi prilaku dan pola pikir peserta didik? 113 .

2: Eksplorasi Bidang Kurikulum Pertanyaan Kunci: Apakah kurikulum mencerminkan nilai-nilai dan keyakinan yang unik sebagaimana tercantum dalam visi dan misi? Eksplorasi: Apakah sekolah memberikan akses kurikulum yang sama terhadap semua siswa? Apakah masing-masing mata pelajaran dilengkapi kebijakan yang memiliki acuan yang jelas terhadap visi dan misi sekolah atau yang secara jelas merefleksikan nilai-nilai yang tercantum dalam rumusan visi dan misi? Adakah bukti-bukti bahwa struktur organisasi sejalan dengan visi dan misi sekolah? 114 .Lembar Kerja 2.

misi.3: Eksplorasi Bidang Manajemen Pertanyaan Kunci: Apakah nilai-nilai dan keyakinan yang dianut sekolah tercermin pada manajemen sekolah? Eksplorasi: Apakah proses komunikasi dan pengambilan keputusan sejalan dengan visi dan misi sekolah? Adaah bukti-bukti bahwa kebutuhan dan kompetensi staf didukung melalui kebijakan dan program-program pengembangan staf? Adakah bukti-bukti bahwa sekolah melaksanakan proses untuk memonitor kemajuan yang mengarah pada pencapaian visi. dan tujuan sekolah? Adakah bukti-bukti bahwa visi dan misi sekolah menjadi prioritas dalam pengelolaan dan operasionalisasi sekolah? 115 .Lembar Kerja 2.

4: Eksplorasi Bidang Kerjasama dengan Masyarakat Pertanyaan Kunci: Apakah nilai dan keyakinan sekolah mendorong kerjasama yang efektif antara sekolah dengan masyarakat? Eksplorasi: Bukti-bukti apa yang tersedia bahwa sekolah berinteraksi secara efektif dengan: Orang tua Masyarakat sekitar Pihak-pihak lain yang relevan? 116 .Lembar Kerja 2.

dipilih kuesener yang sesuai dengan aspek yang menjadi kepedulian sekolah saat ini.2) Kuesener Bidang Manajemen (Lembar Kerja 6.KEGIATAN 3 EKSPLORASI PELAKSANAAN VISI DAN MISI SEKOLAH (Kuesener Tertutup) PETUNJUK Instrumen: Kuesener Bidang Atmosfer Kerjasama Di Lingkungan Sekolah (Lembar Kerja 3. Masing-masing kelompok mengidentifikais berbagai penyimpangan antara visi dan misi (idealisme) dengan nilai-nilai yang tersirat pada jawaban terhadap kuesener (kenyataan). Kuesener yang terpilih terlebih dahulu diserahkan untuk diisi oleh staf sehingga jawaban mereka telah siap saat dilaksanakan Rapat Guru.3) Kuesener Bidang Kerjasama dengan Masyarakat (Lembar Kerja 6.1) Kuesener Bidang Kurikulum (Lembar Kerja 3. Diskusi Kelompok: Staf mendiskuisikan jawaban yang terkumpul dalam kelompokkelompok kecil.4) Prosedur: Persiapan Rapat Guru: Dari sekian bahan yang tersedia. Kelompok menggaris bawahi: 117 .

rancangan dibuat untuk mengatasi bidangbidang yang telah diprioritaskan. Rancangan ini dapat mencakup pembentukan Satgas khusus. Aspek-aspek dalam rumusan visi dan misi yang memerlukan perubahan kebutuhan. Masing-masing kelompok membuat tiga hal prioritas yang perlu mendapatkan perhatian berdasarkan refleksi terhadap jawaban kuesener.Aspek-aspek dari visi dan misi yang terefleksikan dalam kehidupan sekokah. atau pengembangan sesuai dengan perubahan Diskusi Pleno: Balikan dari masing-masing kelompok dibagi bersama. 118 . Prioritas kelompok dikumpulkan pada flip-chart untuk dibahas agar dicapai kesepakatan bidang-bidang pengembangan yang diusulkan. TINDAK LANJUT Pada akhir kegiatan 6. Bidang-bidang yang perlu perhatian khusus dipilih dari sejumlah usulan yang disekapakati tersebut.

Kepastian kebijakan yang mendorong pengembangan personal dan profesional baik untuk pejabat sekolah maupun guru Bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah di dalam kelas.1 KUESENER BIDANG KERJASAMA DI LINGKUNGAN SEKOLAH Berilah penilaian terhadap pernyataan-pernyataan berikut dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 5 dengan memberi tanda centang pada kotak yang sesuai di samping kanan masing-masing pernyataan. Dukungan kebijakan tentang disiplin dan layanan khusus siswa terhadap suasana yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran Pengakuan kemampuan dan kebutuhan semua siswa dalam kurikulum Harapan terhadap prestasi akademik siswa Komunikasi dengan orang tua dan keberadaan laporan antara sekolah dengan orang tua.LEMBAR KERJA 3. 5     4     2     1                                                 119 . Nilai : 5 = Unggul (Exscellent) 1 = Sangat Tidak Memuaskan Indikator keefektifan sekolah Kepemimpinan Pemahaman dan rasa kepemilikan terhadap tujuan sekolah Penggunaan prinsip-prinsip demokrasi dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan hal-hal penting Pengembangan prosedur dan praktik-praktik penting dan koherensi pendekatan dalam implementasi Kejelasan peran staf dan pemahamannya. Pembagian tanggungjawab dalam penyelenggaraan skeolah secara umum Rasa saling percaya dan keterbukaan antara pimpinan dengan staf dan antara sesama staf Kejelasan dan keefektifan metode komunikasi sedemikian hingga staf mengetahui apa yang sedang berlangsung di sekolah Inkulusivitas suasana sosial diantara staf Komitmen dan profesionalisme staf pengajar.

Nilai : 5 = Unggul (Exscllent) 1 = Sangat Tidak Memuaskan 5              4              2              1              Indikator keefektivan sekolah Pengakuan terhadap kebutuhan semua siswa dalam KTSP Upaya pengembangan bakat-bakat yang beragam dalam KTSP Sensitivitas KTSP terhadap tingkat kesiapan setiap individu atau kelompok siswa.2 KUESENER BIDANG KURIKULUM Berilah penilaian terhadap pernyataan-pernyataan berikut dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 5 dengan memberi tanda centang pada kotak yang sesuai di samping kanan masing-masing pernyataan. Upaya mendorong kepercayaan diri siswa pada prosedur evaluasi dan pelaporan Keadilan dan konsistensi penerapan prosedur evaluasi dan asesmen di seluruh sekolah Keharmonisan pelaksanaan kurikulum dengan dokumen tertulis kurikulum dan landasan fiosofis sekolah Upaya menampung pendapat siswa dalam mengkaji KTSP Keyakinan siswa bahwa kurikulum yang ditawarkan mempersiapkan mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja Ketersediaan sumber daya dan fasilitas untuk membuat siswa mampu belajar di bidang yang dipilihnya     120 . Refleksi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan dalam sistem nilai yang mendasari penyusunan KTSP Orientasi kurikulum terhadap keberpusatan pada siswa (student-centered) Dorongan untuk bercita-cita mencapai keberhasilan dalam implementasi kurikulum Keberadaan kebijakan dan praktik untuk mendiagnosis dan mengatasi kesulitan belajar khusus bagi siswa Kepastian kebijakan dan program remidiasi dan pengayaan.LEMBAR KERJA 3.

3 KUESENER BIDANG MANAJEMEN Berilah penilaian terhadap pernyataan-pernyataan berikut dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 5 dengan memberi tanda centang pada kotak yang sesuai di samping kanan masing-masing pernyataan.LEMBAR KERJA 3. Nilai : 5 = Unggul (Exscllent) 1 = Sangat Tidak Memuaskan Indikator keefektivan sekolah Kesadaran anggota pimpinan sekolah terhadap kewenangan dan tanggungjawabnya Kesadaran anggota pimpinan sekolah terhadap masalah-masalah terkait dengan fungsi pimpinan sekolah dalam kaitannya peran kepala sekolah Pemberitahuan dan penjelasan kepada pimpinan sekolah mengenai bahan-bahan yang dibahas dalam rapat Ketepatan agenda rapat-rapat dengan pimpinan sekolah. Regularitas pembahasan kebijakan dan isu-isu pengembangan dalam agenda pimpinan sekolah Kesempatan anggota untuk berpartisipasi dalam rapat-rapat pimpinan sekolah Upaya pimpinan sekolah menerapkan musyawarah untuk mufakat dalam pengambilan keputusan mengenai hal-hal penting Penerapan keputusan-keputusan pimpinan sekolah secara umum Jaminan keadilan distribusi dalam pengadministrasian keuangan untuk memenuhi berbagai kebutuhan oleh pimpinan sekolah Pengakuan pentingnya pengembangan staf bagi keefektifan sekolah oleh pimpinan sekolah Pemahaman pimpinan sekolah terhadap etos kerja sekolah dan upaya-upaya mendorong etos kerja Pemahaman dan kerjasama antara pimpinan sekolah dengan komite sekolah Keaktivan pimpinan sekolah untuk mendorong pelaporan yang baik antara orang tua dan sekolah Kemampuan pimpinan sekolah untuk berfikir strategis dan mengembangnkan kebijakan dan rencana yang sesuai Peran pimpinan sekolah sebagai pelayan manajemen dan kepemimpinan sekolah. 5                4                2                1                121 .

4 KUESENER KERJASAMA SEKOLAH-ORANGTUA-MASYARAKAT Berilah penilaian terhadap pernyataan-pernyataan berikut dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 5 dengan memberi tanda centang pada kotak yang sesuai di samping kanan masing-masing pernyataan. Nilai : 5 = Unggul (Excellent) 1 = Sangat Tidak Memuaskan 5            4            2            1            Indikator keefektivan sekolah Penentuan prioritas pada komunikasi yang baik antara orang tua dan sekolah Usaha untuk membangun hubungan yang baik dengan orang tua Kesiapan berinisiatif untuk menghubungi orang tua ketika putra/putrinya terlibat prilaku menyimpang Usaha memahami kondisi keluarga yang dapat berpengaruh negatif terhadap prilaku siswa. bila perlu.LEMBAR KERJA 3. Kesadaran bahwa ada orang tua yang kurang mendukung belajar siswa Usaha untuk tetap akrab dengan kebiasaankebiasaan sosial di lingkungan rumah siswa Dorongan kepada siswa untuk mengikuti mengikuti kegiatan-kegiatan ditempat tinggalnya yang mendorong penggunaan waktu secara positif Pengakuan berbagai peristiwa isitimewa di masyarakat dan. upaya mengkaitkan kegiatan masyarakat dengan sekolah Fasilitasi dan layanan khusus kunjungan sekolah oleh pejabat setempat Upaya membangun citra baik sekolah melalui penggunaan media lokal dan newsletter Penyampaian informasi kepada orang tua mengenai kehidupan sekolah secara umum dan isu-isu mengenai hal-hal khusus yang penting melalui newsletter dan surat khusus Ketersediaan peluang formal untuk memampukan orang tua siswa baru untuk mempelajari kebijakan umum sekolah dan untuk bertemu guru atau kepala sekolah Format pertemuan orang tua dengan sekolah yang mampu mendorong terjadinya dialog dan kepercayaan orang tua Pencantuman jadwal khusus interaksi antara orang tua dan guru dalam kalender pendidikan             122 .

misalnya HUT sekolah Pelibatan orang tua pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler Upaya menjaring input dan reaksi orang tua dalam pengembangan kebijakan Keberadaan organisasi orang tua untuk memformalkan interaksi dan kemitraan orang tuasekolah 5     4     2     1     123 .Indikator keefektivan sekolah Kebiasaan mengundang orang tua dalam acaraacara khusus sekolah.