P. 1
Studi Kebijakan Pariwisata Kota Kediri Jatim

Studi Kebijakan Pariwisata Kota Kediri Jatim

5.0

|Views: 6,986|Likes:
Published by made bram
Studi ini membahas tentang potensi pariwisata Kota Kediri Provinsi Jawa Timur Indonesia serta kajian tentang kebijakan pengembangannya. Berdasarkan studi ini aktivitas kepariwisataan yang berpotensi dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata budaya, wisata kuliner, wisata belanja, dan wisata olah raga. Pemanfaatan teknologi informasi dapat digunakan untuk mempromosikan objek-objek wisata tersebut.
Studi ini membahas tentang potensi pariwisata Kota Kediri Provinsi Jawa Timur Indonesia serta kajian tentang kebijakan pengembangannya. Berdasarkan studi ini aktivitas kepariwisataan yang berpotensi dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata budaya, wisata kuliner, wisata belanja, dan wisata olah raga. Pemanfaatan teknologi informasi dapat digunakan untuk mempromosikan objek-objek wisata tersebut.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: made bram on Jun 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

Sections

Lingkungan
Kebijakan Lokal,
Nasional, Dan
Internasional

Promosi dan
Pemasaran
Produk
Pariwisata

Pengembangan
dan Revitalisasi
Objek dan Daya
Tarik Wisata

Penyusunan
Dokumen
Perencanaan

Inventarisasi dan
Identifikasi Objek
Daya Tarik
Wisata serta Tipe
Aktivitas Wisata

124

3. Untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut, Pemerintah Kota Kediri

perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan kepariwisataan saat ini,

dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pola

pengembangan pariwisata yang merujuk pada perkembangan-

perkembangan kepariwisataan di lingkungan internasional, nasional, dan

lokal. Tahapan restrukturisasi tersebut meliputi:

- Inventarisasi dan identifikasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri

serta tipe aktivitas kepariwisataan yang dapat dilakukan. Untuk

menunjang pariwisata budaya dan spiritual Pemerintah Kota Kediri

juga dapat mengembangkan tipe aktivitas kepariwisataan lainnya

seperti wisata alam, wisata olah raga, wisata belanja, serta wisata

pendidikan.

- Penyusunan dokumen perencanaan pariwisata, khususnya rencana

pengembangan kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata

yang akan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri

- Pengembangan serta revitalisasi objek dan daya tarik wisata yang ada

sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki daya jual yang bersaing

bila dibandingkan dengan objek di daerah lainnya

- Melakukan promosi dan pemasaran produk wisata secara berkelanjutan

untuk mengaktualisasikan daya tarik wisata Kota Kediri. Situs resmi

Pemerintah Kota Kediri yang ada, www.kotakediri.go.id perlu

dioptimalkan pemanfaatannya untuk melakukan promosi pariwisata.

Untuk itu dibutuhkan adanya tim teknis yang secara khusus diberikan

125

tugas dan tanggung jawab untuk menangani promosi pariwisata

melalui media internet. Dalam melaksanakan tugasnya tim ini juga

diarahkan untuk menjalin kerja sama berbagai instansi di dalam

lingkungan pemerintah serta para pengusaha pariwisata, untuk

kepentingan mendukung materi promosi di website, sehingga dapat

menjadi media promosi yang terpadu. Media ini dapat dimanfaatkan

untuk menarik kedatangan wisatawan minat khusus, yang umumnya

merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk menarik

kedatangan wisatawan regional/nusantara, pemasaran pariwisata dapat

dilakukan instansi melalui pembentukan jaringan kerja dengan

kalangan swasta, destinasi wisata di kabupaten/kota sekitar Kota

Kediri, termasuk tentunya pemerintah Provinsi Jawa Timur.

6.2 Saran

Pada penelitian ini penulis hanya melakukan studi secara makro dan

umum terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Pada penelitian

selanjutnya para peneliti lain kiranya dapat melakukan kajian-kajian terhadap

kebijakan kepariwisataan secara mengkhusus, di antaranya seperti kajian

terhadap dampak ekonomi pengembangan industri pariwisata, upaya Pemerintah

Kota Kediri dalam pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi suatu

kawasan wisata, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya

promosi pariwisata, serta aspek-aspek lainnya pada level mikro sehingga dapat

dihasilkan kajian yang mendalam.

70

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri

Walikota H.A. Maschut yang melaksanakan pemerintahan sejak tahun

1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan 2004 hingga 2009 untuk periode

yang kedua menetapkan Tri Bina Cita Kota sebagai pedoman umum pelaksanaan

pembangunan dan pemerintahan Kota Kediri. Dalam Tri Bina Cita Kota,

disebutkan cita-cita untuk mengembangkan Kota Kediri sebagai kota industri,

perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pengembangan pariwisata termasuk

dalam poin perdagangan dan jasa tersebut.

Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan dalam jangka waktu

lima tahun, ditetapkan visi dan misi daerah. Visi Kota Kediri adalah ”Membangun

Hari Esok yang Lebih Baik”. Selanjutnya untuk merealisasikan visi tersebut,

dirumuskan Misi Kota Kediri yaitu:

1. Mewujudkan kota yang bersih dan masyarakat yang bertakwa

melalui pendekatan kemanusiaan maupun manajemen yang efektif,

efisien, dan berkelanjutan

2. Mewujudkan kota dan masyarakat yang sehat melalui pengaturan

dan pengelolaan kawasan (industri, perdagangan, jasa, hunian dan

fasilitas umum) serta peningkatan kesejahteraan

3. Mewujudkan kota dan masyarakat yang menarik, aman, dan damai

baik bagi warga kota, dunia usaha maupun daerah sekitarnya

71

4. Mewujudkan kota dan masyarakat yang mandiri, indah, dan

inovatif melalui pemberdayaan masyarakat maupun peningkatan

kinerja aparatur pemerintah.

5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata

Kebijakan strategis yang ditempuh dalam upaya pengembangan pariwisata

sesuai misi dan visi Kota Kediri adalah:

2. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, dengan tahapan di

antaranya meliputi:

a. Pembangunan Taman Hiburan dan Kolam Renang di Kawasan

Wisata Selomangleng

b. Pembangunan Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng

3. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain

4. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002, yang selanjutnya

ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, yang diperkuat dengan

Peraturan daerah No 10 tahun 2001

5. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses

perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota

Kediri

6. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri,

www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan

melakukan promosi pariwisata.

72

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2000 tentang Struktur

Organisasi dan Tata Kerja Badan dan Kantor sebagai Lembaga Teknis Daerah,

pemerintah Kota Kediri membentuk Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata

(Inkoparta) sebagai institusi yang bertugas merumuskan dan melaksanakan

kebijakan teknis bidang pengembangan komunikasi, informasi, dan

kepariwisataan sesuai dengan kebijakan umum pembangunan Kota Kediri. Pada

perkembangan berikutnya sesuai tuntutan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun

2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka melalui Peraturan

Daerah Nomor 4 tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Lembaga Teknis Daerah, pada tahun 2004 pemerintah melakukan restrukturisasi

organisasi perangkat daerah. Berkenaan dengan fungsi pengembangan pariwisata,

seni, dan budaya, pemerintah membentuk Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya

sebagai lembaga yang berfungsi menyusun perencanaan dan melaksanakan

kebijakan operasional di bidang pemberdayaan potensi pariwisata, seni dan

budaya.

5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata

Sasaran dan arah kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri adalah

sebagai berikut:

a. Sasaran

1) Berkembangnya potensi wisata, seni, dan kebudayaan daerah

2) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam mendukung

kepariwisataan

73

3) Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional

4) Meningkatnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap

budaya daerah

b. Arah Kebijakan

1) Tersedia dan terpenuhinya kebutuhan wisata bagi masyarakat Kota

Kediri dan sekitarnya termasuk aktualisasi, pengembangan, dan

pelestarian seni budaya daerah

2) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan

3) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung

kepariwisataan

5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata

Strategi pengembangan kepariwisataan dan pelestarian budaya terdapat

pada poin 4 dan poin 6 dalam Rencana Strategis (Renstra) Kota Kediri tahun

2003-2005, seperti terdapat pada Tabel 5.1 Sedangkan komitmen pemerintah

terhadap pengembangan pariwisata selanjutnya diwujudkan melalui dukungan

dari sisi anggaran. Pemerintah mengalokasikan belanja pembangunan sektor

pariwisata yang cukup besar pada APBD dari tahun 2000 hingga 2004. Jumlah

belanja pembangunan untuk pengembangan sektor pariwisata cenderung

meningkat seperti terdapat pada Tabel 5.2.

74

Tabel 5.1
Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya

Strategi
Pembangunan

Program

Pokok Kegiatan

Indikator Kinerja

Peningkatan
Kemampuan
Pembiayaan
Pembangunan

3. Program
Peningkatan
Kepariwisataan

1. Peningkatan sarana
dan prasarana
pendukung
kepariwisataan
2. Peningkatan Kerja
sama dengan
pengusaha jasa
wisata
3. Pemberdayaan
potensi objek
wisata, seni budaya,
dan kerajinan daerah
4. Peningkatan
promosi dan
informasi atraksi
wisata
5. Peningkatan kualitas
SDM
kepariwisataan
6. Peningkatan
partisipasi
masyarakat dalam
mendukung
kepariwisataan

1. Terpenuhinya kebutuhan
sarana dan prasarana
pendukung
2. Terpenuhinya kerja sama
dengan pengusaha jasa
wisata
3. Berkembangnya potensi
wisata dan kebudayaan
daerah
4. Meningkatnya jumlah
pengunjung/
wisatawan
5. Meningkatnya
kemampuan SDM
kepariwisataan
6. Meningkatnya peran serta
masyarakat dalam
mendukung
kepariwisataan

Memperluas
Kesempatan
Memperoleh
Pendidikan dan
Peningkatan Kualitas
Produk Pendidikan

6. Pelestarian
Warisan Budaya
Lokal

1. Memperluas
penggalian
peninggalan sejarah
budaya lokal
2. Meningkatkan
kajian budaya
daerah dan kesenian
budaya tradisional
Kota Kediri
3. Meningkatkan
apresiasi sejarah
budaya di seluruh
lapisan masyarakat
dan Porseni

1. Meningkatnya kesadaran
masyarakat terhadap
budaya daerah
2. Terpeliharanya
peninggalan budaya dan
arkeologi
3. Meningkatnya kajian
budaya dan kesenian
tradisional
4. Meningkatnya apresiasi
sejarah budaya di
seluruh lapisan
masyarakat

Sumber: Bappeda Kota Kediri, 2002

Tabel 5.2
Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata dan Telekomunikasi
Daerah Tahun 2000-2004

Tahun

Realisasi

2000

Rp 72.500.000

2001

Rp 316.250.000

2002

Rp 2.886.696.250

2003

Rp 9.160.000.000

2004

Rp 2.400.000.000

Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri, 1999-2004

75

Anggaran tersebut diarahkan untuk melaksanakan dua upaya penting, yang

pertama adalah pemeliharaan dan pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi

sebuah kawasan wisata, melalui pembangunan objek baru seperti kolam renang

dan taman hiburan, serta infrastruktur seperti jalan tembus Lebak Tumpang-

Selomangleng. Pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini dilakukan

secara bertahap, dengan anggaran mencapai Rp 19 milyar dan luas area yang

dibutuhkan diperkirakan mencapai 25 hektar. Pembangunan objek baru ini

bertujuan untuk menambah daya tarik serta mengembangkan Kawasan

Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata yang diproyeksikan menjadi ikon

pariwisata Kota Kediri. Pengembangan pada kawasan ini dipandang penting

karena di dalamnya terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata sejarah, budaya,

serta spiritual yang didukung oleh bentangan alam yang indah. Selain rekreasi,

kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di dalam Kawasan Wisata

Selomangleng adalah olah raga, pendidikan dan penelitian sejarah, perkemahan,

villa, kios makanan, dan suvenir. Sketsa site plan Kawasan Wisata Selomangleng

terdapat pada Lampiran 3.

Upaya-upaya pengembangan dan pemeliharan objek wisata lain yang

terdapat di luar Kawasan Selomangleng juga dilakukan untuk mendukung

pengembangan pariwisata secara umum. Objek penunjang yang turut dibangun

misalnya dermaga di Sungai Brantas untuk mendukung aktivitas wisata bahari,

yang sekaligus dirancang sebagai taman hiburan serta restoran dengan

pemandangan sungai. Pemerintah Kota Kediri juga melakukan rehabilitasi

terhadap objek bersejarah yang terkait erat dengan sejarah perkembangan Agama

76

Islam di Kota Kediri, seperti Makam Setono Gedong yang merupakan makam

para tokoh penyebar Agama Islam di kota ini, serta Masjid Agung Kota Kediri

yang merupakan masjid tertua.

5.1.4 Promosi pariwisata

Untuk mempromosikan daya tarik wisata Kota Kediri, pemerintah juga

mencetak brosur-brosur wisata serta mengikuti festival dan pagelaran-pagelaran

seni budaya di tingkat regional hingga nasional serta pengiriman tim kesenian

pada perayaan hari jadi daerah lainnya. Salah satunya adalah pengiriman tim

kesenian untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Negara, Jembrana, Bali pada 15

Agustus 2003. Namun karena keterbatasan anggaran, pengiriman misi kesenian

tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan. Demikian pula dengan brosur pesona

wisata Kota Kediri, jumlah cetakan dan penyebarannya amat terbatas.

Upaya-upaya mempromosikan pariwisata Kota Kediri ini dilakukan secara

terus-menerus, baik secara kelembagaan oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan

Kota Kediri melalui program-program yang telah diuraikan di atas. Namun di

samping itu pada berbagai acara terkait pariwisata baik yang resmi mapun tidak

resmi, promosi bahkan dilakukan langsung oleh pucuk pemerintahan, yaitu oleh

walikota Kediri, Wakil Walikota, serta jajaran pejabat melalui keterlibatan

langsung pada aktivitas pariwisata. Walikota Kediri misalnya, pernah memberikan

keterangan pers dari kolam renang pada suatu kesempatan arisan pejabat

pemerintah Kota Kediri. Demikian pula Wakil Walikota dan pejabat lainnya yang

turut berpartisipasi pada pementasan wayang orang di Balai Kota Kediri dalam

77

rangka perayaan hari jadi. Bentuk keterlibatan langsung dalam mempromosikan

pariwisata ini juga pernah ditunjukkan saat pucuk pimpinan pemerintahan Kota

Kediri dan jajarannya ini juga terlibat pada pawai budaya saat perayaan hari jadi

Kota Kediri tahun 2002 dan 2003.

Terhadap kebijakan strategis tersebut dapat disampaikan sejumlah evaluasi

sebagai berikut:

1. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng. Terkait dengan upaya

pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan

wisata ini pemerintah baru sebatas melakukan upaya berupa

pengembangan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan

serta infrastruktur jalan. Untuk pengembangan lebih lanjut menjadi

sebuah kawasan wisata, idealnya pemerintah melaksanakannya

berdasarkan kajian perencanaan yang matang dan terukur, yang

mencakup sejumlah aspek di antaranya seperti pengembangan zonasi,

tata kelola, standarisasi keamanan dan kenyamanan yang terkait

dengan akses masuk ke dalam kawasan, dan sebagainya. Penataan

ruang di dalam kawasan, sejauh ini belum dilakukan oleh pemerintah.

Ini terlihat dengan bercampurnya lokasi pedagang, parkir kendaraan,

lalu lintas pengunjung, hingga pentas kesenian. Di samping untuk

melindungi objek peninggalan bersejarah dan lingkungan di dalam

kawasan, penataan ruang juga perlu dilakukan untuk menciptakan

kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung, terlebih pemerintah

berkeinginan untuk mengembangkan kawasan wisata ini menjadi ikon

78

kepariwisataan Kota Kediri. Pengembangan kawasan ini menjadi

sebuah kawasan wisata dapat dilakukan dengan merujuk pada uraian

Gee (2000 : 274) sebagai berikut:

- Menyusun perencanaan yang di dalamnya mencakup pengaturan

pembangunan fasilitas wisata, di antaranya seperti pembuatan

sistem zonasi yang membatasi akses masuk ke lokasi-lokasi yang

sensitif dan mengurangi tekanan pada lokasi-lokasi yang

digunakan secara intensif, membatasi jumlah pengunjung ke dalam

lokasi tertentu, membatasi pelaksanaan pembangunan untuk

mendorong

penggunaan

arsitektur

tradisional,

dan

mengembangkan pola pengelolaan limbah secara terpadu

- Membangun infrastruktur pendukung seperti pusat informasi dan

taman

- Mengembangkan rute yang dapat mempermudah aliran

pengunjung di dalam kawasan serta mendorong pengunjung untuk

mengikuti rute yang disarankan

- Mengembangkan program pengawasan untuk mendapatkan

pengetahuan yang tepat tentang perubahan-perubahan yang terjadi

pada lingkungan dan dalam mengembangkan sumber daya yang

ada secara rasional

2. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain. Sejauh ini upaya rehabilitasi

telah dilakukan pada sejumlah objek. Namun upaya rehabilitasi ini

perlu dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan hasil

79

yang optimal. Rehabilitasi ini juga perlu dibarengi dengan upaya

pengelolaan baik sehingga dana yang dikeluarkan tidak terbuang

percuma akibat rusaknya kembali objek yang telah direhabilitasi. Saat

ini objek-objek inti seperti Goa Selomangleng dan Museum Airlangga

tengah membutuhkan rehabilitasi. Berdasarkan pengamatan penulis,

kondisi kedua objek yang justru menjadi objek inti dalam

pengembangan wisata sejarah ini sangatlah kurang, terlihat dari

kondisi goa yang tidak bersih, adanya coretan di dinding goa, serta

kondisi museum dan koleksi yang tidak terawat dan tertata dengan rapi.

Upaya ini berarti harus dibarengi dengan dukungan anggaran yang

memadai untuk objek bersejarah ini, termasuk objek-objek lainnya.

3. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002 sebagai agenda

tahunan. Pelaksanaan hari jadi ini pada dasarnya juga ditujukan

menjadi media menarik kedatangan wisatawan ke Kota Kediri.

Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan

kegiatan ini, pemerintah nampaknya perlu membangun jaringan kerja

dengan kalangan swasta tidak terlalu membebani anggaran daerah. Di

samping itu pemerintah juga perlu menggerakkan partisipasi

masyarakat dalam pelaksanaannya, sehingga budaya dan seni di

tingkat masyarakat turut tergerak dalam acara ini, dan kegiatan yang

dilaksanakan pada acara tahunan ini menjadi kian beragam dan tidak

monoton.

80

4. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses

perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri.

Semangat yang mendasari pendirian kantor pelayanan perijinan ini

adalah pelayanan secara terpadu dan memangkas jalur birokrasi yang

harus ditempuh. Upaya ini sangat sejalan dengan semangat perubahan

pengelolaan pemerintahan dari yang sangat birokratis menjadi

berorientasi kewirausahaan. Pengembangan pariwisata di Kota akan

semakin didukung oleh keberadaan usaha dan jasa yang terkait dengan

pariwisata seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, biro

perjalanan, money changer, warung telekomunikasi/internet dan usaha

lainnya. Keberadaan Kantor Pelayanan Perijinan sangat strategis dalam

mendukung pengembangan pariwisata sehingga perlu dikelola dengan

serius.

5. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri, www.kotakediri.go.id

sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi

pariwisata. Media on line sebagai salah satu wujud implementasi

electronic government (e-gov) ini sempat mati suri setelah pertama kali

diluncurkan pada tahun 2002 melalui pengelolaan oleh Dinas

Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata. Namun sejak tahun 2005 situs

resmi pemerintah Kota Kediri ini dihidupkan kembali yang dikelola

oleh Bagian Humas. Sesuai dengan tujuan pembuatannya, yaitu

sebagai media pelayanan informasi, promosi wisata dan peluang

investasi, maka pengelolaan situs tersebut perlu dilakukan secara serius

81

oleh lembaga yang diberikan mandat untuk itu serta didukung SDM

dan infrastruktur yang memadai. Pengelolaannya pun dilakukan

melalui pendekatan pemasaran, artinya keberadaan situs resmi

pemerintah ini benar-benar diarahkan dalam rangka pemasaran

potensi-potensi ekonomi dan promosi objek-objek wisata serta seni

budaya Kota Kediri. Aspek kelembagaan ini perlu dibangun, agar

pengelolaan situs dapat berlangsung secara berkelanjutan.

5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri

5.2.1 Lingkungan internasional

Dalam penyusunan kebijakan pengembangan pariwisata, pembuat

kebijakan di Kota Kediri perlu menyadari adanya saling keterhubungan yang

sangat erat antara lingkungan kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan

internasional yang disebut dengan sistem global. Perkembangan global tersebut

menuntut pembuat kebijakan kepariwisataan di Kota Kediri juga harus

mencermati berbagai perkembangan di lingkungan tersebut, yang akan

memunculkan peluang-peluang sekaligus tantangan dalam upaya pengembangan

pariwisata.

Sistem global mencerminkan adanya suatu interdependensi antara satu unit

sosial politik dan unit lainnya di dunia, yang tidak selalu berada dalam kondisi

yang simetris (Holsti, 1992 : 47). Keterhubungan tersebut disebabkan oleh

liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang

membuat kompetisi ekonomi semakin ketat dan dunia seolah menjadi tanpa batas,

82

menjadi suatu jaringan kerja yang saling tergantung. Karena itulah berbagai isu

strategis di tingkat internasional seperti perdagangan bebas, keamanan global, Hak

Asasi Manusia (HAM), pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, sistem

informasi, dan sebagainya sangat mempengaruhi formulasi dan konstelasi

kegiatan serta pengembangan kepariwisataan di suatu negara dalam sistem

kepariwisataan dunia (Wacik, 2006 : 1 ).

Kondisi ini menyebabkan berbagai destinasi wisata di Indonesia

dihadapkan pada persaingan global yang sangat terbuka. Hal ini menunjukkan

bahwa upaya Kota Kediri dalam mengembangkan pariwisata tidak hanya akan

menghadapi kompetisi dengan sesama destinasi pariwisata lainnya baik di lingkup

Jawa Timur, Pulau Jawa, serta pulau lainnya. Lebih daripada itu, Kota Kediri juga

akan berkompetisi dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan berbagai

destinasi lainnya di dunia. Kompetisi akan sangat dirasakan Kota Kediri terutama

bila berkeinginan untuk menarik kedatangan wisatawan asing.

Berbagai perkembangan yang terjadi tersebut menuntut adanya perubahan

pola pikir para pembuat kebijakan. Sebelumnya, kebijakan domestik dianggap

sebagai suatu hal yang sangat terpisah dan tidak terkait dengan kebijakan luar

negeri. Kebijakan domestik dianggap sebagai keputusan-keputusan yang hanya

akan mempengaruhi kondisi di dalam batas-batas negara, sedangkan kebijakan

luar negeri hanya mempengaruhi kondisi di luar batas negara. Kini pandangan

tersebut sudah tidak tepat, karena kebijakan domestik suatu negara sebenarnya

menimbulkan konsekuensi tertentu di negara lain, dan kebijakan luar negeri pun

mempengaruhi kondisi internal negara. Karena itu menurut Stern (2000 : 31)

83

keduanya sudah tidak dapat lagi diperlakukan sebagai entitas yang terpisah. Pola

interdependensi tersebut kini sangat berpengaruh besar dalam proses pembuatan

kebijakan di tingkat domestik sekalipun.

Dalam konteks kepariwisataan, bila merujuk tren tengah yang terjadi di

tingkat internasional, aliran pemikiran dan semangat yang kini mendasari setiap

upaya pengembangan pariwisata adalah pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini,

yang dimaksudkan adalah pengembangan pariwisata yang tidak mengakibatkan

terjadinya kerusakan atau degradasi lingkungan alam dan sosial, serta berorientasi

untuk kepentingan generasi masa depan. Artinya, pengembangan pariwisata yang

dilakukan mencerminkan adanya suatu keseimbangan antara motif-motif untuk

mendapatkan keuntungan ekonomis, pelestarian budaya, dan lingkungan (Müller,

1997 : 29).

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata yang perlu

dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata berkualitas, yang penekanannya

tidak semata pada sisi jumlah wisatawan, melainkan kualitas wisatawan yang

datang ke suatu daerah tujuan wisata. Pengertian kualitas tersebut merujuk pada

daya beli dan tingkat apresiasi wisatawan terhadap seni budaya masyarakat lokal

lingkungan, kekayaan flora dan fauna setempat. Salah satu bentuk dari pariwisata

berkelanjutan ini adalah ekowisata.

Penelitian yang dilakukan oleh Eagles dan Higgins (1998), Wearing dan

Neil (1999), serta Weaver (2001) menjelaskan bahwa terdapat 12 negara yang

menjadi sumber wisatawan yang menyukai ekowisata di kawasan Asia Tenggara.

Kedua belas negara ini memberi kontribusi sebesar 27 persen dari seluruh

84

wisatawan yang datang ke daratan Asia Tenggara, dan jumlahnya cenderung terus

bertambah. Di antara kedua belas negara tersebut, Amerika Serikat, Inggris,

Jerman, Australia, and Prancis merupakan negara-negara utama yang menjadi

sumber wisatawan tipe ini yang datang ke Asia Tenggara. Survei lainnya yang

dilakukan oleh WTO menunjukkan bahwa wisatawan tipe ini tertarik dengan

kegiatan mengamati spesies langka, mengunjungi warga lokal, mempelajari

benda-benda peninggalan bersejarah, dan mengamati satwa burung. Selain itu

wisatawan tipe ekowisata juga sangat menyukai tambahan wawasan-wawasan

baru dari pemandu wisata yang berkualitas, serta juga menyukai kegiatan

mengunjungi daerah-daerah terpencil yang tidak ramai.

Dalam industri pariwisata, interdependensi antara ketiga lingkungan ini

sangat nyata. Fenomena yang terjadi pada suatu negara di dunia, akan

berimplikasi pada suatu daerah di negara lain yang telah berkembang menjadi

destinasi pariwisata. Gejolak yang terjadi di negara-negara sumber wisatawan

akan sangat mempengaruhi kepariwisataan di negara tujuan wisatawan.

Liberalisasi ekonomi dunia juga membuat frekuensi perjalanan wisata semakin

tinggi, destinasi dan produk-produk pariwisata menjadi kian beragam dan sangat

kompetitif.

Dari perspektif perkembangan ekonomi dunia, para ahli ekonomi

memproyeksikan adanya perubahan paradigma ekonomi yang akan membuat

industri pariwisata menjadi salah satu industri yang memiliki peran besar dalam

ekonomi global. Industri ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di negara-

negara maju, karena negara-negara berkembang pun banyak yang mengandalkan

85

ekonominya dari sektor pariwisata. Pada awal abad ke-21, para ahli ekonomi

mikro yaitu Joseph Pine II dan James H. Gilmore menyebutkan bahwa negara-

negara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi

manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy

(ekonomi berbasiskan kesan/pengalaman). Experience adalah kegiatan ekonomi

produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Dalam konteks kepariwisataan,

kegiatan seperti diving, fishing, dolphin watching, parasailing, dan sebagainya

masuk dalam kategori ini. Semua aktivitas tersebut merupakan kemasan

pariwisata modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar

5,3 persen jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7% atau manufaktur yang hanya

naik 0,5 persen dalam perekonomian Amerika Serikat antara tahun 1959-1996.

Data tersebut menunjukkan pariwisata telah memiliki peran yang besar dalam

perekonomian (Kasali, 2004).

Tren perkembangan lainnya di tingkat internasional adalah kemajuan

teknologi informasi yang berpengaruh erat dengan pola perilaku calon wisatawan.

Capra (2005: 121) menjelaskan bahwa internet telah menjadi suatu jaringan

komunikasi global yang sangat kuat, dan banyak perusahaan memanfaatkan

internet sebagai media penghubung antara jaringan pembeli dan penyalur.

Kemajuan teknologi informasi tersebut membuat biro perjalanan tidak lagi

menjadi satu-satunya sumber informasi tentang daerah tujuan. Calon wisatawan

dapat mencari secara langsung berbagai informasi tentang objek wisata, fasilitas

akomodasi, dan transportasi yang dibutuhkan untuk mengelola perjalanannya ke

86

suatu destinasi wisata tanpa melalui situs-situs yang memuat informasi pariwisata

di internet.

Menurut Santosa (2002), website telah menjadi saluran ideal dan alat yang

sangat strategis untuk mempromosikan dan memasarkan daerah tujuan wisata

dengan biaya yang sangat murah. Ketika suatu destinasi tidak terpublikasikan

secara on line di internet, sebenarnya destinasi tersebut kehilangan peluang untuk

mendapatkan perhatian jutaan calon wisatawan di berbagai pelosok dunia yang

kini telah memiliki akses terhadap internet. Karena itulah menurutnya kualitas

informasi yang disediakan dalam website juga sangat penting, karena wisatawan

akan mendasarkan keputusannya untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata

atau obyek wisata pada informasi tersebut. Negara-negara sumber wisatawan yang

masyarakatnya telah memanfaatkan teknologi ini adalah Amerika Serikat, Jerman,

Jepang, dan Inggris.

5.2.2 Lingkungan nasional

Berikutnya, perkembangan kepariwisataan di tingkat nasional ditunjukkan

dengan terjadinya berbagai gangguan keamanan terhadap wisatawan yang sangat

merusak citra pariwisata Indonesia. Keterhubungan antara peristiwa yang terjadi

di tingkat internasional dengan kondisi nasional dan lokal sangat terlihat di sini.

Operasi militer AS dan sekutunya di Afghanistan dan Irak pascatragedi WTC

pada 11 September 2001 ternyata juga memicu timbulnya sentimen anti AS dan

bangsa asing lainnya di Indonesia yang selanjutnya merembet pada aksi-aksi

terorisme di daerah. Peristiwa tersebut seperti ledakan bom di Bali sebanyak dua

87

kali, yaitu pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Kejadian tersebut belum

termasuk berbagai ledakan bom di Jakarta yang seluruhnya menimbulkan dengan

banyak korban jiwa baik warga lokal maupun warga asing. Akibatnya negara-

negara sumber wisatawan mengeluarkan kebijakan mulai tingkat travel advisory

hingga travel ban, yang membuat arus kedatangan wisatawan dari negara-negara

tersebut ke Indonesia mengalami penurunan secara drastis. Target pemerintah

untuk mendatangkan enam juta wisatawan mancanegara pada tahun 2005 tidak

tercapai (Kompas, 5 September 2005).

Ancaman terhadap keamanan wisatawan asing tersebut juga terus berlanjut

dan meluas di berbagai tempat di Pulau Jawa seiring dengan kasus pemuatan

karikatur Nabi Muhammad oleh sebuah harian di Denmark pada bulan Pebruari

2006. Aksi-aksi unjuk rasa tersebut selanjutnya merembet pada aksi perusakan

kantor kedutaan besar Denmark dan AS oleh kelompok tertentu. Bagi pasar

pariwisata di luar negeri, maraknya aksi unjuk rasa bernuansa politik tersebut

merupakan ancaman yang tidak hanya ditujukan pada negara tertentu, namun juga

negara-negara sumber wisatawan lainnya. Posisi Indonesia semakin terpuruk

dalam pasar pariwisata internasional.

Ketika masalah gangguan keamanan tersebut belum mereda, Indonesia

juga dilanda wabah flu burung (avian influenza) yang sejak akhir tahun 2005

hingga Pebruari 2006 ini belum tertuntaskan. Angka kematian akibat flu burung di

Indonesia bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dari berbagai kasus flu burung di

seluruh dunia (Bali Post, 20 Pebruari 2006). Kondisi tersebut diperburuk lagi oleh

bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi di Pulau Jawa dan beberapa

88

wilayah lainnya di Indonesia. Citra Indonesia sebagai destinasi wisata

internasional menjadi semakin tidak meyakinkan.

Perkembangan-perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut

tentunya menuntut pemerintah untuk segera melakukan upaya-upaya terobosan

untuk pemulihan pariwisata, mengingat industri pariwisata telah menjadi sektor

ekonomi yang strategis dan menjadi sumber devisa nomor dua setelah minyak dan

gas bumi. Kebijakan yang ditempuh pemerintah pusat dalam menghadapi masalah

ini adalah mengembangkan pasar wisatawan nusantara yang selama ini belum

dikelola secara optimal. Pemerintah berupaya menciptakan pertumbuhan rata-rata

perjalanan wisatawan nusantara sebesar 1,4 persen per tahun, dan menargetkan

jumlah pengeluarannya menjadi Rp 105,9 trilyun pada akhir tahun 2009. Jumlah

kunjungan yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun tersebut sebesar 218,8 juta

dan perjalanan wisatawan nusantara di setiap provinsi, kabupaten/kota juga

ditargetkan terus meningkat (Wacik, 2006 : 2).

5.2.3 Lingkungan lokal

Di tingkat lokal, implementasi sistem otonomi daerah membuat

keterkaitan antara ketiga lingkungan tersebut bertambah erat. Di satu sisi sistem

akan mendatangkan peluang, namun di sisi lain juga memunculkan hambatan

tersendiri. Peluang ini muncul bila pemerintah daerah dapat memahami otonomi

daerah secara benar, yaitu sebagai momentum untuk mengenali, mengembangkan,

dan memberdayakan potensi-potensi ekonomi lokal secara jauh lebih leluasa tanpa

adanya hambatan yang terlalu banyak oleh lingkungan nasional bila dibandingkan

89

era sebelum otonomi daerah. Pemilik modal asing dapat melakukan penetrasi

langsung ke daerah tanpa terlalu banyak hambatan birokrasi di tingkat

pemerintahan pusat. Demikian pula sebaliknya, dengan kemampuan komparatif

dan kompetitif yang dimiliki, para pengelola pembangunan maupun pebisnis di

daerah dapat menjangkau sumber daya-sumber daya ekonomi di tingkat

internasional untuk disinergikan dengan proses pembangunan di daerah secara

lebih mudah. Karena itulah penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah harus

mulai menggunakan pemasaran strategis (strategic marketing approach) di mana

konsep-konsep pemasaran seperti positioning, diferensiasi, dan branding yang

selama ini hanya dikenal di dalam dunia bisnis harus mulai diadopsi. Kepala

daerah juga harus memiliki gambaran mengenai kondisi terakhir maupun prediksi

3 hingga 5 tahun ke depan tentang kompetitornya, wisatawan-pebisnis-investor

sebagai pelanggan daerah, dan kondisi internal daerah (Kartajaya, 2005).

Kondisi ini menuntut kepala daerah harus tanggap dan dapat merespons

berbagai perubahan besar di tingkat lokal, nasional, dan global yang sangat

berpengaruh terhadap pengelolaan pemerintahan. Merujuk pada berbagai

perkembangan yang terjadi di tingkat internasional dan nasional tersebut, maka

pemerintah Kota Kediri nampaknya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian

terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah dilakukan. Bagi

Pemerintah Kota Kediri, sistem ini memberikan peluang sekaligus tantangan

untuk melaksanakan pembangunan daerahnya secara lebih baik.

Dalam pengembangan daya tarik wisata di kawasan Selomangleng

misalnya, pemerintah Kota Kediri perlu merujuk pada pola pariwisata

90

berkelanjutan. Sebagai kota berukuran kecil, yaitu 63,40 km² daya dukung

lingkungan Kota Kediri tentu sangat terbatas. Ini berarti pariwisata yang layaknya

dikembangkan di Kota Kediri bukanlah mass tourism, yang ditandainya dengan

kedatangan wisatawan secara massal, karena akan berimplikasi pada beratnya

tekanan terhadap lingkungan.

Lebih lanjut seiring dengan program pemerintah pusat untuk

mengembangkan pariwisata domestik, pemerintah Kota Kediri pun nampaknya

dapat berupaya untuk menyasar segmen ini. Dalam lingkup regional Kota Kediri

memiliki peluang untuk menarik kedatangan wisatawan dari kabupaten/kota yang

berbatasan langsung dan berdekatan dengan Kota Kediri seperti Kabupaten Kediri,

Blitar, dan Nganjuk, maupun Kabupaten Jombang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo,

Kota Surabaya, dan sebagainya. Hal ini sangat memungkinkan mengingat posisi

Kota Kediri yang berada pada lintasan 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa

Timur, salah satunya adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten

Tulungagung.

Sebuah studi yang dilakukan Yahya (2005), ahli statistik dari ITS,

menunjukkan bahwa pada setiap hari libur warga Kota Surabaya memiliki

kecenderungan untuk berlibur ke luar kota. Ia memperkirakan, pada setiap hari

libur terdapat sekitar 100 hingga 200 ribu kendaraan bergerak ke luar Kota

Surabaya yang mengarah ke Kabupaten Sidoarjo dan daerah-daerah sekitarnya.

Para pelancong ini berangkat pada pagi dan balik pada malam atau sore harinya

(Jawa Pos, 7 Pebruari 2005). Jarak Kota Kediri yang cukup jauh dari Kota

Surabaya sebagai titik distribusi menjadi salah satu persoalan dalam upaya

91

menarik kunjungan wisatawan dari ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Jarak

sejauh 125 km, dengan kondisi lalu lintas yang selalu padat, sehingga

membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 hingga 2,5 jam menuntut adanya upaya

yang serius untuk meningkatkan daya tarik wisata Kota Kediri, karena harus

bersaing dengan daerah lainnya yang berjarak lebih dekat dengan Kota Surabaya

dan telah lebih memiliki infrastruktur penunjang aktivitas pariwisata yang

memadai seperti Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, dan Kabupaten/Kota

Pasuruan.

Terkait dengan tren pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran

pariwisata, pemerintah Kota Kediri nampaknya belum melakukan upaya-upaya

terukur dan sistematis untuk memasarkan produk-produk pariwisata Kota Kediri.

Idealnya pemerintah mulai memanfaatkan website resmi pemerintah yang telah

dimiliki, yaitu www.kotakediri.go.id sebagai media untuk mempromosikan dan

memasarkan produk-produk kepariwisataan sekaligus peluang-peluang investasi

di Kota Kediri. Saat penelitian ini dilaksanakan, situs tersebut belum

dimanfaatkan secara optimal untuk memperkenalkan Kota Kediri dan menarik

investor dan wisatawan. Dari segi tampilan website ini kurang menarik serta

belum memuat informasi yang memadai untuk dapat menarik minat pengunjung

situs untuk berwisata maupun untuk berinvestasi ke Kota Kediri. Informasi daya

tarik wisata yang disajikan dalam situs dimaksud sangat terbatas, dan tidak

didukung tampilan foto-foto objek setempat. Padahal foto-foto objek dan daya

tarik yang dimiliki Kota Kediri amatlah banyak, yang sebagian di antaranya

disajikan pada bagian lampiran tulisan ini.

92

Di masa kini peran situs internet untuk mempromosikan daya tarik

pariwisata Kota Kediri menjadi kian strategis, mengingat internet merupakan

merupakan wahana informasi yang dapat menjangkau seluruh pelosok dunia serta

dapat diakses sepanjang waktu yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang

tahun tanpa harus terikat dengan jam kerja. Media ini pun sangat penting menjadi

salah satu basis promosi mengingat pariwisata sendiri merupakan sebuah aktivitas

yang melintasi batas-batas wilayah negara. Informasi yang penting disajikan

melalui media situs web pemerintah Kota Kediri ini misalnya apa dan bagaimana

sejarah Kota Kediri sehingga layak dikunjungi, jenis objek wisata yang

ditawarkan, lokasi dan akses menuju Kota Kediri, fasilitas hotel/restoran dan

pendukung aktivitas wisatawan lainnya, potensi-potensi investasi dan

perdagangan, serta informasi dan foto-foto objek setempat yang menarik. Untuk

menarik minat investor maupun pebisnis dari dalam dan luar negeri maka perlu

juga disampaikan produk-produk khas Kota Kediri, syarat-syarat ijin investasi

serta peraturan-peraturan terkait mulai dari tingkat undang-undang, hingga

peraturan daerah setempat.

Keinginan dan inisiatif untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam

upaya mendongkrak arus kedatangan wisatawan juga menjadi keinginan Dinas

Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Instansi ini tengah berupaya membangun sebuah

kios interaktif berbasis web yang memuat informasi tentang 120 tempat pariwisata

di Provinsi Jawa Timur. Informasi pada website tersebut direncanakan dapat

diperbarui seminggu sekali ( berdasarkan laporan Jawa Pos, 10 Maret 2005).

93

Namun sayangnya dari penelusuran penulis, hingga tulisan ini dilaporkan kiosk

interactive dimaksud ternyata belum diimplementasikan.

Dari sudut pandang kehumasan, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai

media untuk melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan dan pemasaran. Perspektif

kehumasan yang berkembang seiring dengan maraknya komunikasi melalui media

internet adalah cyber public relations, atau electronic public relations (e-pr).

Pengertian konsep ini merujuk suatu upaya membangun reputasi dengan

mengkomunikasikan informasi dan mendengarkan permintaan pelanggan melalui

media internet (Onggo, 2004 : xiv) .

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menuntut para praktisi PR

untuk membangun hubungan dengan publik melalui media internet. Onggo

menyebutkan, ribuan one to one relations dapat dibangun secara simultan lewat

media internet, sehingga media ini merupakan sarana yang ampuh untuk

membangun relasi, karena sifatnya yang konstan, cepat, hemat, dan interaktif.

Strategi e-pr ini dapat dimanfaatkan Bagian Humas untuk mempublikasikan

kegiatan-kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan sosial

kemasyarakatan kepada publik dengan cepat dan efisien. Walau demikian, ini

tidak berarti e-pr dapat menggantikan fungsi-fungsi offline pr, melainkan bersifat

mendukung. Sisi hubungan kemanusiaan masih sangat berperan besar, dan e-pr

selanjutnya berfungsi untuk memperkuatnya. Ini menunjukkan bahwa

implementasi teknologi informasi dan komunikasi memang sudah sangat sesuai

dengan tantangan dan kebutuhan tugas-tugas kehumasan termasuk pemasaran

pariwisata daerah di masa kini.

94

Dalam upaya mempromosikan pariwisata dan budaya, pemerintah melalui

Kantor Pariwisata dan Seni Budaya telah memprogramkan berbagai bentuk

kegiatan promosi pariwisata dan budaya, seperti pelaksanaan festival kesenian

jaranan untuk menghidupkan kreativitas kelompok-kelompok kesenian di Kota

Kota Kediri, maupun dengan mengikuti berbagai festival budaya yang

dilaksanakan di berbagai kota di Jawa Timur hingga Jakarta, serta pengiriman

misi kesenian ke Bali. Pemerintah Kota Kediri bahkan pernah mengirimkan tim

kesenian pada hari ulang tahun Kota Negara, Jembrana, pada Agustus 2002 dan

2003.

Sebagai penunjang promosi pariwisata, pemerintah juga telah mencetak

brosur-brosur tentang kepariwisataan Kota Kediri. Biaya yang telah dikeluarkan

pemerintah untuk berbagai promosi tersebut sangat besar, namun keterbatasan

tetap saja ada. Pengiriman misi kesenian ke luar daerah misalnya, memang akan

dapat mempromosikan Kota Kediri namun jika dapat dilakukan didukung secara

rutin dan didukung dengan publikasi yang gencar. Namun pada kenyataannya

kemampuan anggaraan untuk melaksanakan promosi pariwisata ini sangat terbatas,

serta dukungan publikasi yang ada tidak sebesar yang dibutuhkan. Begitu pula

halnya dengan penyebaran brosur. Brosur ini tentu tidak dapat menjangkau

seluruh daerah yang berpotensi untuk mendatangkan wisatawan.

Berbagai masalah di setiap level lingkungan kebijakan yang memiliki

keterhubungan yang erat dengan Kota Kediri dirangkum pada Tabel 5.3.

95

Tabel 5.3
Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota
Kediri

No

Lingkungan Internasional

Lingkungan Nasional

Lingkungan Lokal

1. Tren meningkatnya pendapatan
dan pengisian waktu luang untuk
berwisata, sehingga industri
pariwisata kian berperan dalam
ekonomi dunia

Kontribusi pariwisata
terhadap ekonomi nasional
cukup besar, menjadi sumber
penghasil devisa nomor 2

Sistem otonomi
daerah
mengharuskan
pemerintah
mengeluarkan
kebijakan
pembangunan yang
inovatif

2. Perkembangan pariwisata yang
sangat pesat sebagai industri
massal menimbulkan problem-
problem lingkungan, sosial, dan
budaya, sehingga kini paradigma
bergeser ke pariwisata
berkelanjutan

Banyaknya gangguan, dan

kondisi keamanan tidak
kondusif
sehingga arus
kedatangan wisatawan asing
menunjukkan pertumbuhan
negatif

Pembangunan
ekonomi belum
optimal
, anggaran
pembangunan masih
tergantung pemerintah
pusat

3. Kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK) yang
mengubah pola pengelolaan
perjalanan wisatawan

Pemerintah berupaya
mengembangkan potensi
pasar pariwisata domestik
yang belum tergarap
maksimal

Ada potensi wisata
yang belum terkelola,
membutuhkan
pemeliharaan

5.3 Kebijakan Untuk Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut

Konsekuensi dari semakin eratnya keterkaitan tiga lingkungan tersebut

adalah bahwa pemerintah Kota Kediri harus bekerja dengan kerangka berpikir

yang lebih luas. Pembuat kebijakan dituntut tidak sekadar memiliki pemahaman

terhadap perkembangan yang terjadi pada lingkungan domestik mereka, namun

juga tren perubahan yang sedang terjadi pada lingkungan nasional dan

internasional. Hal ini membuat proses pembuatan kebijakannya pun selayaknya

dilakukan melalui analisis terhadap perkembangan yang terjadi pada ketiga level

lingkungan kebijakan yang melingkupinya. Tujuannya adalah membangun peta

permasalahan yang dapat membantu pemerintah dalam memahami persoalan-

96

persoalan yang dihadapi, beradaptasi dengan perkembangan lingkungannya,

sehingga kebijakan yang dibuat pun akan berdaya guna dan tepat sasaran.

Masalah-masalah di atas selanjutnya menjadi input dalam proses kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri. Penjabaran model sistem untuk

menguraikan proses perumusan kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri

diterangkan pada Gambar 5.1. Berdasarkan model perumusan kebijakan yang

dibangun melalui pendekatan sistem tersebut, pemerintah perlu merumuskan

kembali langkah-langkah perumusan kebijakan pengembangan pariwisatanya agar

sesuai dengan lingkungan yang mengitarinya. Kebijakan tersebut secara garis

besar mencakup pariwisata berkelanjutan, pengembangan pasar domestik, dan

pendayagunaan teknologi informasi sebagai media promosi pariwisata dan budaya.

Berdasarkan kajian penulis, persoalan yang terjadi dalam pengembangan

pariwisata di Kota Kediri adalah lemahnya aspek perencanaan, mulai perencanaan

awal dalam rangka pembangunan fisik hingga perencanaan bisnis. Sejauh ini

dokumen perencanaan yang ada hanyalah sketsa site plan Kawasan Pariwisata

Selomangleng. Padahal objek-objek lain yang berada di luar kawasan juga

merupakan bagian integral yang turut menunjang pengembangan pariwisata. Salah

satu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun peta potensi wisata Kota Kediri.

Dalam tulisan ini penulis menggunakan konsep Inskeep untuk mengenali potensi

wisata yang ada.

97

Melalui implementasi konsep daya tarik wisata menurut Inskeep (1991:77)

dihasilkan pemetaan daya tarik wisata Kota Kediri seperti dijabarkan pada Tabel

INPUT

( Lingkungan Eksternal )

Tren
Pariwisata Internasional
:
• Pariwisata internasional
terus berkembang pesat
sebagai industri yang dapat
memajukan ekonomi
negara/destinasi
• Paradigma yang
berkembang adalah
pariwisata berkelanjutan
• Kemajuan teknologi
informasi bentuk segmen
wisatawan khusus

( Lingkungan
Intermediate )

Tren Pariwisata Nasional:

• Pariwisata sumber
devisa nomor 2
• Pariwisata Indonesia
mengalami pertumbuhan
negatif
Pemerintah berupaya
lebih mengembangkan
pariwisata domestik

( Lingkungan Intim )

Kondisi Pariwisata dan
Ekonomi Lokal:

Sistem otonomi daerah
mendorong daerah harus
kreatif
Pembangunan ekonomi
belum optimal, anggaran
pembangunan
tergantung dari
pemerintah pusat
Ada potensi wisata yang
belum terkelola dengan
baik, butuh pemeliharaan

OUTPUT

Kebijakan
Pengembangan
Pariwisata Kota Kediri:

Pengelolaan potensi
pariwisata untuk
mengembangkan
pariwisata
berkelanjutan,
Pengembangan
pariwisata
menitikberatkan
pada pariwisata
domestik
Pemasaran
pariwisata terpadu
berbasis web

PROSES

Umpan Balik

Gambar 5.1
Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pariwisata
Kota Kediri

98

5.4 yang dapat terus dikembangkan sesuai pengembangan lebih lanjut oleh

instansi terkait.

Tabel 5.4
Implementasi Konsep Inskeep tentang Daya Tarik Wisata di Kota Kediri

Daya Tarik Alam Daya Tarik
Budaya/Sejarah

Daya Tarik Buatan

Mode
Transportasi
Khas

Makanan Khas

a. Gunung
Maskumbang
b. Gunung Klotok
c. Sungai Brantas

a. Goa Selomangleng
b. Masjid Agung
c. Pura Dewi
Sekartaji
d. Makam Mbah
Boncolono &
Tumenggung
Mojoroto
e. Koleksi Museum
Airlangga
f. Kesenian Jaranan
g. Wayang kulit
h. Festival Budaya
Hari Jadi Kota
Kediri
i. Pemilihan Panji-
Galuh
j. Kompleks Makam
Setono Gedong

a. Kolam Renang dan
Taman Hiburan
Selomangleng
b. Taman Rekreasi
Pagora dan Kolam
Renang Tirtoyoso
c. Jalan Tembus
Lebak Tumpang-
Selomangleng
d. Pertandingan Sepak
Bola di Stadion
Brawijaya
e. Mal Sri Ratu &
Golden
f. Kawasan pertokoan
Jl.Dhoho
g. Kawasan penjualan
tahu takwa Jl. Yos
Sudarso & Patimura
h. Taman Sekartaji
i. Pabrik Gula PTPN
XI
j. Pabrik Rokok
Gudang Garam

Becak

a. Nasi Pecel
Tumpang
Kediri
b. Nasi Rawon
c. Tahu Takwa
d. Nasi Liwet
e. Minuman
Sari Kelapa
(Legen)

Sumber:Hasil pengamatan penulis

Selanjutnya untuk memudahkan identifikasi yang lebih dalam terhadap

modal kepariwisataan Kota Kediri, penulis membagi objek wisata tersebut ke

dalam dua kelompok, yaitu objek wisata di dalam dan di luar kawasan

Selomangleng. Bila objek yang terdapat di setiap lokasi tersebut dikaitkan dengan

tipe aktivitas wisata yang dapat dilaksanakan, maka dapat disusun pemetaan

seperti terdapat pada Tabel 5.5 dan Tabel 5.6.

99

Tabel 5.5
Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng

Tipe Aktivitas Wisata

No

Nama Objek Alam Spiritual Olah

Raga Sejarah Belanja Keluarga

Pendidikan

1 Goa

Selomangleng

2 Koleksi
Museum
Airlangga

3 Pura Dewi
Sekartaji

4 Gunung Klotok

5 Bukit

Maskumambang

6 Jalan Tembus
Lebak Tumpang
dan Jalan
Lingkar
Maskumambang

7 Makam Mbah
Boncolono dan
Tumenggung
Mojoroto

8. Kolam Renang
dan Taman
Hiburan
Selomangleng

Tabel 5.6
Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng

Tipe Aktivitas Wisata

No

Nama Objek

Alam Spiritual Olah

Raga Sejarah Belanja Keluarga

Pendidikan

1 Dermaga dan
Sungai Brantas

2 Kompleks
Makam Setono
Gedong

3 Mal Sri Ratu
dan Golden

4 Pertokoan Jalan
Dhoho

5 Kawasan
Penjualan Tahu
Takwa Jl. Yos
Sudarso dan
Pattimura

6 Taman
Rekreasi
Pagora dan
Kolam Renang
Tirtoyoso

7 Masjid Agung

8 Pertandingan

100

Sepak Bola di
Stadion
Brawijaya
9 Taman
Sekartaji

10 Pabrik gula
PTPN XI

11 Pabrik Rokok
Gudang Garam

Sumber : Hasil pengamatan penulis

Merujuk pada penjelasan Soekadijo (2000 : 50), maka berdasarkan tabel di

atas maka nampak bahwa Kota Kediri sebenarnya memiliki modal kepariwisataan

yang cukup beragam untuk dikembangkan lebih lanjut. Bila setiap daya tarik

tersebut telah dikelola dengan baik, maka berarti Kota Kediri memiliki banyak

produk-produk pariwisata yang dapat ditawarkan kepada calon wisatawan melalui

biro perjalanan wisata.

Pemetaan terhadap tipe aktivitas kepariwisataan tersebut selanjutnya dapat

dijabarkan dalam model zonasi pariwisata Kota Kediri seperti dijelaskan melalui

Gambar 5.2. Gambar dimaksud memposisikan Goa Selomangleng sebagai objek

inti dan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri sehingga berada dalam zona inti

aktivitas wisata budaya. Ini berarti bahwa objek ini pula yang idealnya menjadi

fokus pengelolaan pemerintah melalui upaya-upaya pelestarian, penelitian dan

pemanfaatan daya tariknya. Upaya penggalian makna eksistensi kesejarahan goa

ini yang perlu dieksploitasi sebagai daya tarik wisata sejarah dan budaya Kota

Kediri. Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam dan sekitar Goa Selomangleng

terdapat objek-objek berupa relief maupun patung yang memiliki makna sejarah

tinggi, namun sejauh ini belum ada dokumen resmi yang menjelaskan makna dari

setiap objek yang terdapat di dalam maupun di lingkungan sekitar goa tersebut.

Untuk menjaga kelestarian Goa Selomangleng, maka intensitas pengunjung ke

101

dalam goa juga perlu diperhatikan, agar tidak menimbulkan dampak yang

berpotensi merusak keaslian goa.

Aktivitas wisata di objek-objek lainnya yang di dalam kawasan merupakan

tambahan daya tarik untuk menahan wisatawan lebih lama berkunjung di dalam

kawasan yang berada pada zona berikutnya. Objek pada zona ini seperti Museum

Airlangga yang menyimpan benda-benda bersejarah era Hindu merupakan objek

yang masih memiliki keterkaitan erat dengan Goa Selomangleng sebagai objek

inti. Ragam aktivitas pada objek ini berupa wisata sejarah dan budaya, serta

pendidikan seperti telah dipetakan melalui Tabel 5.5, merupakan objek yang

ditujukan bagi wisatawan yang lebih berminat pada jenis aktivitas lainnya seperti

wisata keluarga, alam, dan spiritual.

Selanjutnya keberadaan objek-objek di luar kawasan Selomangleng seperti

telah dijabarkan pada Tabel 5.6 juga dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk

menahan wisatawan untuk berkunjung lebih lama di Kota Kediri. Bagi wisatawan

yang berminat dengan aktivitas wisata belanja, aktivitas yang memang identik

selalu ada dalam pariwisata, pemerintah dapat menawarkan kawasan pertokoan

Jalan Dhoho, pertokoan penjual tahu takwa di Jl. Yos Sudarso, serta mal Sri Ratu

dan Golden sebagai pemenuh kebutuhan tersebut. Demikian pula bagi wisatawan

yang memiliki minat terhadap wisata olah raga, khususnya sepak bola, pemerintah

dapat menawarkan pertandingan sepak bola di Stadion Brawijaya sebagai jawaban

atas kebutuhan tersebut. Dalam hal ini tentunya pemerintah perlu berkoordinasi

dengan manajemen Persik Kediri mengenai jadwal dan ketersediaan tiket untuk

menyaksikan pertandingan tersebut. Pola-pola kerja sama antara pemerintah dan

102

kalangan swasta ini sebenarnya telah menjadi bagian dalam program

pengembangan pariwisata, namun nampaknya belum banyak dilakukan.

Pertandingan sepak bola ini misalnya, belum dikelola melalui kerangka

pengelolaan wisata olah raga. Bila sudah, tentunya pihak hotel atau biro wisata

tentunya dapat menawarkan pertandingan sepak bola ini sebagai salah satu produk

pariwisata Kota Kediri kepada wisatawan. Dengan demikian wisatawan yang

sedang berwisata ke Kota Kediri dapat sekaligus memesan tiket pertandingan

melalui pihak hotel/biro perjalanan. Aktivitas lainnya yang merupakan

pengembangan lebih lanjut dikembangkan dengan merujuk pada prinsip-prinsip

pariwisata budaya khas Kota Kediri. Dengan demikian, pengembangan pariwisata

Kota Kediri sesuai dengan potensi yang ada dapat dikelompokkan ke dalam

lapisan-lapisan aktivitas wisata mulai dari zona inti, zona penunjang di dalam

kawasan, dan zona penunjang di luar kawasan. Aktivitas wisata budaya yang

dipadukan dengan wisata sejarah dan spiritual menjadi jiwa dari kepariwisataan

Kota Kediri.

Berdasarkan peta permasalahan yang terbangun tersebut, dalam upaya

pengembangan pariwisata lebih lanjut Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan

retrospeksi terhadap kebijakan pengembangan yang telah dilakukan selama ini.

Merujuk pada tujuan pengembangan pariwisata, kebijakan tersebut dibuat dalam

rangka peningkatan perekonomian daerah. Hal ini bermakna bahwa pembuat

kebijakan perlu memperjelas target-target yang ingin dicapai melalui kebijakan

tersebut.

103

Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam memproyeksikan hasil

pengembangan pariwisata terjadi karena sebelumnya pemerintah kurang

mendapatkan input informasi yang memadai tentang kepariwisataan dalam

lingkup lokal, regional, dan internasional. Hal ini terbukti dengan kenyataan tidak

adanya studi-studi pendahuluan secara menyeluruh tentang perencanaan

pariwisata, sebelum pemerintah memutuskan untuk melakukan pengembangan

pariwisata. Kajian-kajian dan seminar ilmiah yang terkait dengan pengembangan

pariwisata memang pernah dilakukan, namun sifatnya parsial karena hanya

Zona
Penunjang

Zona Penunjang di Luar Kawasan

Gambar 5.2
Zonasi Aktivitas Kepariwisataan Kota Kediri

Zona Inti

104

membahas fakta-fakta sejarah yang dapat menjadi dasar penetapan hari jadi dan

busana khas Kota Kediri. Penelitian ilmiah yang dilanjutkan hingga tahap seminar

yang pernah dilakukan pada tahun 2002 hanyalah tentang penetapan hari Jadi

Kota Kediri dan busana khas Kediri. Penelitian atau setidaknya survei lainnya

seperti tipe wisatawan yang diharapkan datang ke Kota Kediri belum pernah

dilakukan.

Masalah yang terjadi akibat tidak memadainya survei pendahuluan terjadi

pada proyek pengembangan kawasan wisata Selomangleng. proyek pembangunan

kolam renang dan taman hiburan ini jaraknya sangat berdekatan dengan Goa

Selomangleng, sehingga menimbulkan protes dari Balai Penelitian Peninggalan

Purbakala di Mojokerto. Proyek ini dikhawatirkan akan sangat berpotensi

mengganggu dan merusak struktur fondasi situs bersejarah Goa Selomangleng.

Protes ini bisa dipahami, mengingat keberadaan Goa Selomangleng sebagai situs

bersejarah harus sangat dilindungi pemerintah sesuai dengan UU No 5 tahun 1992

tentang Cagar Budaya. Secara eksplisit, amanat untuk melindungi benda cagar

budaya tersebut disebutkan pada pasal 18 ayat 1 yang menyebutkan bahwa

pengelolaan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab pemerintah.

Pengembangan objek-objek wisata buatan di dalam suatu kawasan yang

menyimpan banyak benda bersejarah tentunya harus dilakukan dengan sangat

berhati-hati dan mengembangkan suatu sistem zonasi. Namun di sisi lain,

pemerintah Kota Kediri nampaknya juga menghadapi dilema. Tanpa adanya

pengembangan objek tambahan sebagai penambah daya tarik Goa Selomangleng

sebagai objek inti, maka pengelolaannya objek wisata sejarah, budaya, dan

105

spiritual sulit dilakukan. Padahal selain Goa Selomangleng objek bersejarah

lainnya di dalam kawasan yang harus dilestarikan sangat banyak, tidak seimbang

dengan kemampuan anggaran pemerintah yang sangat minim. Sejak berlakunya

sistem otonomi daerah, pengelolaan benda-benda bersejarah menjadi tidak jelas.

Tanggung jawab pemeliharaan dan perlindungan masih oleh pemerintah pusat,

termasuk anggaran pelestariannya. objek-objek yang secara fisik berada di

wilayah daerah otonom ini akhirnya jarang mendapatkan perhatian dari instansi

terkait. Pemerintah daerah tentu saja tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya.

Sayangnya dari sisi anggaran dan SDM, kondisi pemerintah daerah pun tidak

memungkinkan untuk melakukan pelestarian.

Kondisi-kondisi mendesak ini yang nampaknya membuat pemerintah Kota

Kediri mengambil langkah berani untuk mengembangkan kawasan ini dengan

segera. Sekalipun gesekan antara pemerintah Kota Kediri dan pihak Balai

Penelitian Peninggalan Purbakala ini dapat terselesaikan, ini merupakan suatu

pelajaran betapa pentingnya kajian-kajian perencanaan dilakukan sebelum

pemerintah mengambil langkah lebih jauh. Sebagian masalah yang terjadi pada

sejumlah objek dan daya tarik wisata Kota Kediri saat penelitian ini dilakukan

terangkum dalam Tabel 5.7.

Pengembangan pariwisata di Kota Kediri masih berada pada tahap yang

sangat dini, yaitu penyediaan infrastruktur penunjang. Biaya yang dikeluarkan

juga sangat besar, namun berapa target pendapatannya belum dapat diketahui pasti.

Namun secara politis, citra pemerintah dan kota ini menjadi terangkat. Dana yang

dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan pariwisata sangat besar, namun

106

belum dapat diketahui dengan jelas, kapan dan berapa banyak pendapatan yang

akan dihasilkan. Namun kondisi objektif menunjukkan bahwa masyarakat

memang membutuhkan fasilitas untuk berwisata, dan sesuatu yang dapat

dibanggakan di daerahnya. Bila pemerintah tidak berani mengambil keputusan

untuk mengembangkan pariwisata, masyarakat akan beranggapan bahwa

pemerintahan saat ini tidak banyak melakukan perubahan-perubahan, sehingga

tidak jauh berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kebijakan

berani untuk mengembangkan pariwisata tanpa suatu kajian perencanaan yang

mendalam ini ternyata sangat ampuh mendongkrak citra pemerintah. Hal ini

terbukti dengan terpilihnya kembali HA Maschut sebagai Walikota Kediri periode

2004-2009.

Masalah-masalah lain juga muncul dari sisi lingkungan sosial dan fisik.

Konsep wisata budaya dan spiritual yang sering dipromosikan pemerintah, oleh

sebagian warga telah dibuat menyimpang, akibat sering menggunakan kawasan

ini untuk memadu asmara yang cenderung menjurus ke arah hubungan seksual pra

nikah. Akibatnya citra kawasan ini sebagai objek bagi pecinta alam, berubah

menjadi objek bagi para penggemar “bercinta di alam”. Ini terjadi akibat masih

minimnya fasilitas penerangan di sekitar kawasan, yang dimanfaatkan sejumlah

muda-mudi untuk bermesraan di malam hari. Maraknya aktivitas bermesraan

dalam kegelapan ini akhirnya membuka peluang terjadinya tindak kriminal berupa

pemalakan. Warga masyarakat beberapa kali melaporkan kasus pemalakan oleh

orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap pasangan muda-mudi yang tengah

107

berpacaran di suasana keremangan malam. Faktor gangguan keamanan tentu

sangat merugikan upaya pengembangan pariwisata yang sedang dilakukan.

Tabel 5.7
Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri

No

Objek

Masalah

1. Goa Selomangleng

1. Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap
objek bernilai sejarah tinggi
2. Tidak adanya upaya konservasi terhadap goa sehingga aset
tak ternilai ini terancam rusak akibat ulah tangan jahil yang
melakukan pencoretan dan maupun pembuangan sampah
3. Belum adanya upaya penggalian sejarah keberadaan goa
yang dapat menjadi penambah daya tarik bagi wisatawan

2. Museum Airlangga

1. Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap
objek bernilai sejarah tinggi. Koleksi museum hanya
dipahami sebagai kumpulan patung, belum ada apresiasi
terhadap nilai sejarahnya
2. Tidak adanya informasi lengkap tentang latar belakang
kesejarahan koleksi-koleksi museum
3. Kurangnya perawatan sehingga museum terkesan kumuh dan
tidak terawat

3. Gunung Klotok dan
Maskumambang

1. Masih kurangnya upaya-upaya penghijauan secara
berkelanjutan, sehingga fungsi objek sebagai wisata alam
sekaligus konservasi belum optimal
2. Belum adanya upaya perlindungan hutan sehingga masih ada
praktek perladangan yang seringkali menyebabkan
kebakaran

4. Kolam Renang dan
Taman Hiburan
Selomangleng

1. Belum adanya kejelasan status pengelolaan, oleh pemerintah
atau swasta
2. Lokasi yang terlalu dekat dengan goa sehingga
dikhawatirkan dapat mengganggu struktur fondasi goa.

5. Kolam Renang
Pagora

1. Kurangnya pemeliharaan, sehingga kurang nyaman dan
bersih bagi pengunjung

Sumber: Hasil pengamatan penulis

Masalah kebersihan juga muncul sebagai dampak aktivitas ekonomi yang

belum terkelola baik di dalam kawasan. Pedagang keliling banyak bermunculan

setiap hari libur untuk mengais rejeki. Sayangnya, mereka menjajakan dagangan

di sembarang tempat. Mulai dari tangga menuju goa, bahkan hingga di pelataran

goa, seperti gambar pada Lampiran 23. Akibatnya jelas, sampah menjadi

berserakan mengotori lingkungan sekitar kawasan yang seharusnya selalu terjaga

108

kebersihan dan keasriannya karena menjadi objek wisata. Sebuah papan

pengumuman yang mewajibkan pengunjung menjaga kelestarian lingkungan di

Goa Selomangleng dan lingkungan sekitarnya sebenarnya sudah terpasang di

dekat lokasi goa. Namun himbauan ini belum diperhatikan oleh pengunjung.

Perkembangan-perkembangan ini akhirnya mengusik ketenangan masyarakat

spiritual, yang sangat menghormati kesucian goa dan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi tersebut memang menimbulkan

kesemrawutan, sehingga ketika pengunjung sedang ramai, situasi di sekitar goa

menyerupai pasar. Goa, kolam renang, museum, panggung hiburan, dan pura

terletak dalam jarak yang berdekatan. Ketika di panggung hiburan sedang

dilaksanakan hiburan musik dangdut, maka jelas pengunjung Pura Sekartaji juga

akan terganggu. Berbagai objek dengan tipe aktivitas yang berbeda terdapat dalam

jarak yang berdekatan, namun hanya dihubungkan dengan satu akses. Objek

wisata olah raga trekking di daerah pegunungan, Wisata spiritual dan sejarah di

Goa Selomangleng, Makam Mbah Boncolono, dan Pura Dewi Sekartaji, serta

wisata pendidikan di Museum Airlangga. Panggung hiburan yang terletak pada

jarak yang dekat, sekali waktu mementaskan kesenian tradisional jaranan, atau

musik dangdut. Akibatnya pada hari Minggu dan hari libur lain, kebisingan sangat

terasa karena lalu lintas dan mobilitas wisatawan yang cukup padat dari satu objek

ke objek lainnya bercampur dengan aktivitas pedagang yang berjualan di trotoar

dan tepi jalan. Belum adanya konsep pengelolaan kawasan secara terpadu menjadi

akar masalah ketidaknyamanan ini.

109

Problem lain yang kini muncul terkait dengan pembangunan kolam renang

dan taman hiburan adalah belum jelasnya konsep pengelolaan, apakah akan

dikelola oleh Kantor Pariwisata, perusahaan daerah, atau pihak swasta. Sehingga

sangat disayangkan, kolam yang secara fisik sangat megah dan dibangun dengan

biaya yang sangat mahal, namun pengelolaannya tidak dipersiapkan dengan

matang untuk mencapai target pemasukan tertentu.

Pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah menghabiskan biaya yang

sangat besar. Bila dijumlahkan, biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk

pengembangan sektor pariwisata dan telekomunikasi melalui APBD tahun 2000

hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar Rp 11,9 milyar lebih. Di luar itu, khusus

untuk pembangunan kolam dan pengadaan sarana penunjangnya telah dihabiskan

dana sebesar Rp 19 milyar. Sayangnya hingga kini belum ada data yang jelas

mengenai besarnya pendapatan pemerintah pada kurun waktu yang sama, sebagai

hasil dari investasi dengan jumlah tersebut. Data yang ada terkait hal ini secara

ringkas sempat terungkap dalam Lampiran II LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota

Kediri Tahun 1999-2004. Jumlah pendapatan pemerintah dari sektor ini ternyata

masih sangat rendah bila dibandingkan dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Pendapatan asli daerah melalui retribusi seperti yang tertera dalam Tabel 5.8

Tabel 5.8
Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003

Realisasi Pendapatan

No

Uraian

Tahun
Anggaran
2001

Tahun
Anggaran
2002

Tahun Anggaran
2003 (s.d. 31
Oktober 2003)

1 Retribusi kios kawasan
wisata Goa Selomangleng -

Rp 2.238.000

Rp 2.694.000

2 Retribusi tempat khusus
parkir di Selomangleng

Rp 906.200

Rp 1.023.600

Rp 1.289.500

110

3 Retribusi tempat rekreasi
dan olah raga

Rp 13.670.500 Rp 11.450.100 Rp 11.173.100

4 Ganti rugi kios di Goa
Selomangleng

Rp 20.000.000 Rp 16.000.000 Rp 16.500.000

5 Sewa Radio Jayabaya

Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri tahun 1999-2004

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tentu memang tidak

dapat segera mendatangkan hasil. Namun idealnya pemerintah juga memiliki

target dan proyeksi, kapan bisa mencapai titik impas dan kapan dapat meraih

profit atas investasi yang telah dilakukan. Keberadaan infrastruktur fisik, seperti

kolam renang yang indah serta jalan tembus memang mampu mengangkat citra

pariwisata yang sedang dikembangkan. Namun yang juga penting harus

diperhitungkan ke depan adalah bagaimana agar investasi yang besar ini dapat

mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dan daerah secara umum, bukan

sekadar kepentingan mengejar prestise.

Pariwisata harus dipandang sebagai suatu sistem perkaitan sosial

(Soekadijo, 2000: 25), sehingga ada sejumlah aspek yang perlu dipelajari. Aspek

pertama, yaitu wisatawan. Kajian mendalam terhadap aspek ini ternyata belum

terpenuhi karena memang pemerintah belum pernah melakukan survei tipe

wisatawan yang ingin didatangkan ke Kota Kediri. Saat ini memang sudah ada

wisatawan yang datang, namun umumnya mereka adalah penduduk dari daerah di

sekitar Kota Kediri, sebagian besar adalah penduduk dari daerah tetangga yaitu

Kabupaten Kediri. Bila pemerintah mampu melakukan pengelolaan dengan baik,

di masa depan kawasan ini dapat dikembangkan menjadi pusat wisata pada

lingkup regional di sekitar eks karesidenan Kediri, yang meliputi Kota Kediri,

Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kota Tulungagung, Kabupaten

111

Trenggalek, dan Kabupaten Blitar. Selama ini wisatawan yang sudah datang ke

Kawasan Wisata Selomangleng dan objek-objek lain di Kota Kediri sebagian

besar masih merupakan warga lokal atau warga dari wilayah tetangga tersebut.

Untuk pengembangan lebih lanjut, pemerintah juga perlu mengkaji data-data

terkait perkembangan pariwisata internasional dan nasional sebagai target segmen

pasar pengembangan pariwisatanya.

Kedua, yaitu daya tarik. Agar dampak ekonomi pengembangan pariwisata

benar-benar optimal, daya tarik yang ada harus dapat menarik kedatangan

wisatawan dari kota-kota besar, bahkan luar pulau. Daya tarik yang dapat dilihat

dan aktivitas dilakukan adalah situs bersejarah Goa Selomangleng dan benda-

benda bersejarah yang dihimpun di Museum Airlangga. Segmen wisatawan

dengan kegiatan ini adalah wisatawan yang berminat pada wisata

sejarah/pendidikan. Dari sisi sejarah, Kota Kediri sebenarnya juga berpotensi

memasarkan produk wisata nostalgia, utamanya kepada wisatawan Belanda. Ini

mengingat pada masa penjajahan, di Kota Kediri banyak didirikan infrastruktur

penunjang kegiatan mereka. Infrastruktur tersebut misalnya pabrik gula dan

jembatan lama Sungai Brantas yang umumnya berada dalam kondisi yang kurang

terawat.

Di dalam Kawasan Wisata Goa Selomangleng terdapat sejumlah objek dan

daya tarik wisata dengan tipe kegiatan wisata yang berbeda dan berpotensi untuk

dikembangkan lebih lanjut, yaitu :

1. Goa Selomangleng

112

Goa Selomangleng merupakan objek inti yang terdapat di dalam kawasan

ini. Karena di goa ini terdapat peninggalan bersejarah yang khas, yang tidak

ditemukan di daerah lainnya di sekitar Kota Kediri. Namun hingga kini belum ada

pemandu wisata yang memiliki pemahaman tentang sejarah goa, dan makna-

makna relief yang terdapat di dalamnya. Akibatnya pengunjung memaknai goa

tidak lebih dari goa yang berisi pahatan, tidak lebih dari itu. Tidak adanya cerita

tentang goa ini membuatnya belum memiliki daya jual sebagai objek wisata.

Untuk itulah Kantor Pariwisata perlu menggali sumber-sumber pustaka yang

dapat memberikan penjelasan tentang serba-serbi goa ini. Keberadaan Goa

Selomangleng dan ratusan patung bersejarah lainnya yang terdapat di Museum

Airlangga sebenarnya dapat menjadi potensi tersendiri untuk menarik kedatangan

wisatawan asing dari segmen khusus. Wisatawan yang tertarik pada objek-objek

bersejarah seperti ini umumnya berasal dari kalangan berpendidikan yang sangat

menghargai kebudayaan dan produk-produk budaya negara yang dikunjungi.

Objek ini selayaknya diposisikan sebagai objek inti, menjadi ikon kepariwisataan

Kota Kediri. Untuk itu pemerintah perlu melakukan upaya-upaya penggalian

sejarah keberadaan goa, makna dan hakekat goa tersebut. Keberadaan

dokumentasi kesejarahan goa inilah yang dapat menjadi daya tarik dan

meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap Goa Selomangleng. Sejauh ini

pemerintah hanya menjual daya tarik goa secara “fisik”, tanpa adanya sejarah

yang menjadi “jiwa” goa tersebut.

2. Museum Airlangga

113

Tema objek wisata museum ini masih merupakan kelanjutan dari Goa

Selomangleng, yaitu tentang peninggalan-peninggalan bersejarah. Problemnya

juga sama, harus ada pemandu yang mampu memberikan penjelasan tentang

peninggalan-peninggalan tersebut. Tanpa disertai penjelasan, wisatawan tidak

akan memiliki apresiasi yang lebih mendalam. Mereka hanya akan melihat koleksi

benda bersejarah tersebut tidak lebih dari kumpulan batu-batu yang diukir.Untuk

mengelola museum sebagai daya tarik wisata memang dibutuhkan ketrampilan

dan kerja keras tersendiri. Museum-museum yang terdapat di negara-negara maju

umumnya terawat dengan baik, dan menjadi kebutuhan masyarakat maupun

wisatawan. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi museum di tanah air

yang umumnya terbengkalai, sekalipun menyimpan koleksi-koleksi yang sangat

berharga. Masalah ini nampaknya menjadi masalah yang rumit dan sistemik di

Indonesia. Umumnya, keterbatasan dana yang selalu menjadi alasan

ditelantarkannya benda-benda bersejarah ini.

Hingga kini Indonesia belum meratifikasi Konvensi Internasional

UNESCO tahun 1972 tentang perlindungan aset budaya atau benda peninggalan

sejarah. Tentu saja kondisi ini sangat ironis, mengingat Indonesia merupakan

negara yang memiliki aset budaya terbesar di dunia. Padahal bila pemerintah

Indonesia meratifikasi konvensi itu, Indonesia dapat mengajukan bantuan dana

internasional untuk pemeliharaan warisan-warisan budaya (Media Indonesia, 25

September 2005, hlm. 1).

3. Pura Agung Dewi Sekartaji

114

Pura ini merupakan tempat persembahyangan umat Hindu di Kota Kediri

dan sekitarnya. Namun pura ini tidak hanya dapat berfungsi sebagai tempat

persembahyangan, melainkan juga objek wisata spiritual. Di kalangan umat hindu

di Bali kini tengah berkembang kebiasaan untuk melaksanakan tirta yatra, yaitu

perjalanan suci untuk melaksanakan persembahyangan. Tempat-tempat yang

dituju oleh umat Hindu di Bali tidak hanya pura-pura di Bali, melainkan juga di

luar daerah, termasuk di Jawa Timur. Pura-pura di Jawa Timur yang telah umum

menjadi objek wisata spiritual umat Hindu misalnya Pura Blambangan dan Alas

Purwo di Banyuwangi, Pura Mandara Giri di Lumajang, dan Pura Semeru di kaki

Gunung Semeru. Bila Pura Dewi Sekartaji telah dikenal luas, para pelaku wisata

spiritual ini akan menjadikannya sebagai salah satu objek yang perlu dikunjungi.

Pura-pura di luar Bali yang telah dikenal luas dan menjadi tujuan tirta yatra tentu

akan memunculkan dampak ekonomi lokal. Berdasarkan informasi dari

pemangku pura setempat, beberapa kali umat Hindu dari Bali telah mulai datang

ke pura ini. Uniknya, informasi yang mereka dapatkan tidak diperoleh melalui

publikasi resmi, melainkan dari wahyu. Selanjutnya informasi tentang keberadaan

pura ini berkembang dari mulut ke mulut. Bila segmen wisata spiritual ini

dikembangkan dengan baik, sebenarnya cukup banyak wisatawan yang bisa

didatangkan, baik dari sekitar Kota Kediri, maupun dari luar pulau, seperti Bali.

Sebagian bagian dari upaya mengembangkan pariwisata spiritual, Pemerintah

Kota Kediri perlu melakukan upaya-upaya untuk lebih mempopulerkan objek ini.

4. Gunung Klotok

115

Gunung selalu menjadi objek yang menarik, termasuk Gunung Klotok.

Kondisi alamnya menunjukkan gunung ini dapat menjadi objek wisata alam,

dengan kegiatan seperti trekking, atau pun pendakian. Masyarakat sebenarnya

telah melakukan aktivitas wisata alam di gunung ini. Yang diperlukan adalah

pembenahan objek ini, seperti reboisasi untuk meningkatkan keasriannya. Selain

itu juga perlu dibuat jalur trekking/pendakian agar wisatawan yang baru datang

pertama kali tidak kesulitan melakukan pendakian.

5. Bukit Maskumambang dan Makam Mbah Boncolono

Bukit Maskumambang yang tidak terlalu tinggi, juga dapat menjadi objek

wisata alam. Selain itu, di puncak bukit ini juga terdapat Makam Mbah Boncolono

dan Tumenggung Mojoroto sehingga wisata spiritual juga dapat dilakukan pada

objek ini. Jalan bertangga yang telah dibangun menuju makam akan semakin

menarik minat masyarakat untuk mengunjungi objek ini.

6. Jalan Tembus Selomangleng-Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar
Maskumambang
Keberadaan jalan tembus ini tidak sekadar berfungsi sebagai akses

tambahan bagi wisatawan untuk menuju Kawasan Wisata Selomangleng. Dengan

topografinya yang melintasi perbukitan, jalan ini juga dapat menjadi jalur bagi

olah raga bersepeda atau pun lintas alam. Pemandangan Kota Kediri dari kejauhan

dapat terlihat dari jalan ini, sehingga merupakan daya tarik tersendiri.

7. Kolam Renang dan Taman Rekreasi Selomangleng

Tidak semua orang tertarik dengan wisata sejarah. Ada pula yang ingin

sekadar bersenang-senang. Kolam Renang dan Taman Rekreasi dapat menjadi

daya tarik tambahan di kawasan ini. Ketika penelitian ini dilakukan objek Taman

116

Hiburan belum dibangun. Namun kemegahan kolam renang sudah terlihat, dan

bila taman hiburan ini telah tuntas tentu akan terlihat lebih megah lagi.

Di luar kawasan tersebut juga masih terdapat objek yang dapat menjadi

daya tarik pendukung, seperti Jembatan Lama Sungai Brantas , Dermaga Sungai

Brantas untuk wisata bahari, Makam Mbah Wasil untuk wisata spiritual, Mal Sri

Ratu dan Golden serta kawasan Jalan Dhoho, Yos Sudarso, Pattimura dan Taman

Sekartaji untuk wisata belanja. Objek lainnya, yang sudah ada dari dulu, yaitu

Taman Hiburan Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso juga bisa dikembangkan

menjadi objek wisata keluarga dan olah raga. Keberadaan Stadion Brawijaya dan

klub Sepak Bola Persik sebenarnya juga bisa dikelola menjadi objek wisata olah

raga. Keberadaan pabrik-pabrik industri pengolahan seperti pabrik Gula yang

berada di tiga kecamatan, serta Pabrik Rokok Gudang Garam juga dapat

dikembangkan menjadi objek wisata edukasi/pendidikan. Wisatawannya untuk

objek pabrik ini misalnya para pelajar, untuk memberikan wawasan mengenai

proses pengolahan suatu komoditi mentah hingga menjadi komoditi yang siap

dipasarkan.

Jembatan lama Sungai Brantas merupakan jembatan peninggalan masa

penjajahan Belanda yang hingga saat ini masih digunakan sebagai sarana

transportasi. Daya dukung jembatan ini jelas telah tidak memadai untuk

kebutuhan mobilitas saat ini. Jembatan-jembatan lainnya memang sudah ada,

seperti Jembatan Bandar dan Jembatan Semampir. Namun untuk di wilayah

tengah kota, akses terdekat hanya melalui jembatan lama. Karena itu pemerintah

perlu mempertimbangkan pembangunan jembatan tambahan lainnya untuk

117

menjaga kelestarian jembatan lama sebagai salah satu objek bersejarah. Untuk

mengelola sungai ini sebagai objek wisata, pemerintah juga telah membangun

Dermaga Jayabaya di Sungai Brantas pada tahun 2001. Namun sayangnya fasilitas

yang dibangun untuk menghidupkan aktivitas wisata dan ekonomi seperti

restoran apung dan pusat jual ikan tersebut belum dapat menarik investor

(Kompas, 8 Maret 2002).

Selain itu, yang selama ini nampaknya luput dari perhatian adalah

keberadaan pabrik-pabrik gula di Kediri. Pabrik-pabrik yang dibangun pemerintah

Belanda, dan kini ini menjadi aset pemerintah, dalam hal ini PT Perkebunan

Negara (PTPN) XI. Mungkin saja ada bekas-bekas serdadu Belanda yang

memiliki kenangan tersendiri ketika pernah ditugaskan di kota ini. Sejauh ini

Kantor pariwisata dan Budaya belum memiliki data mengenai wisatawan minat

khusus yang pernah berkunjung ke Kota Kediri.

Aksesibilitas/transferabilitas juga menjadi bagian yang penting dalam

menunjang keberhasilan objek wisata. Sebelum proyek pengembangan Kawasan

Wisata Selomangleng dilaksanakan, hanya terdapat 1 jalur yang menjadi jalan

masuk menuju kawasan wisata Goa Selomangleng, yaitu dari Desa Sukorame,

Kecamatan Mojoroto. Pada tahap awal, masalah aksesibibilitas ini diatasi dengan

memasang lampu penerangan jalan terlebih dahulu di sepanjang jalan menuju

kawasan wisata. Desa yang sebelumnya gelap gulita, kini telah terang-benderang.

Kendaraan umum yang beroperasi pada jalur ini juga sudah ada, namun kondisi

dan ketersediaannya belum teratur.

118

Keberadaan jalan tembus yang baru dari Desa Lebak Tumpang menuju

Selomangleng yang kini telah tuntas 100% dapat menjadi akses alternatif bagi

pengunjung yang akan mengunjungi kawasan wisata ini. Kondisi jalan yang

melalui daerah perbukitan pada perkembanganya kemudian ternyata tidak hanya

sekadar menjadi sarana jalan namun juga menjadi daya tarik tersendiri.

Masyarakat menggunakan jalan tembus ini untuk olah raga bersepeda, jalan santai

atau sekadar melihat-lihat pemandangan untuk menghirup udara yang segar.

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Kawasan

Selomangleng berupa Jalan Tembus Lebak Tumpang Selomangleng dan Kolam

Renang mampu meningkatkan citra kawasan ini sebagai pusat kegiatan wisata di

Kota Kediri. Kawasan ini menjadi kian populer, dan masyarakat semakin

bergairah melaksanakan rekreasi di kawasan ini. Hampir setiap kegiatan yang

melingkupi kota Kediri selalu dilaksanakan pada kawasan ini, seperti sepeda

santai yang mengambil start di balai kota dan berakhir di Selomangleng.

Maraknya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata di kawasan ini

bahkan mampu mengundang partisipasi masyarakat dalam pengembangannya.

Ahli waris Mbah Boncolono misalnya, secara swadaya mengeluarkan biaya untuk

membangun jalan bertangga menuju makam yang terletak di puncak Bukit

Maskumambang.

Upaya yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengemas berbagai objek

yang ada menjadi suatu daya tarik wisata, yang dipadukan dengan berbagai atraksi

budaya lainnya. Dengan demikian antara objek-objek yang berada di dalam

Kawasan Selomangleng dan objek lainnya yang berada di Kota Kediri pada

119

dasarnya dapat saling mendukung satu sama lainnya, dan menarik berbagai tipe

wisatawan. Karena itulah kawasan ini sebenarnya menawarkan daya tarik wisata

yang beragam. Mulai dari wisata sejarah, dengan objek berupa Goa Selomangleng

serta barang-barang purbakala yang disimpan di Museum Airlangga. Wisata

spiritual yang ditawarkan misalnya dapat berupa tirta yatra di Pura Dewi Sekartaji

atau berziarah ke Makam Mbah Boncolono. Wisata alam yang ditawarkan

pegunungan dan perbukitan, cocok untuk aktivitas pendakian dan lintas alam,

maupun rekreasi yang ditawarkan oleh kolam renang dan taman hiburan yang

sedang dibangun, maupun yang telah rutin diadakan setiap hari Minggu oleh

pengusaha setempat.

Dampak ekonomi yang muncul karena pengembangan pariwisata di Kota

Kediri telah mulai terlihat. Pedagang mulai bermunculan di sekitar areal Goa

Selomangleng, di sekitar Jalan Lingkar Maskumambang, dan sekitar Jalan

Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng. Dengan pengelolaan yang lebih optimal

dan padu, tentu dampak ekonomi pariwisata bagi Kota Kediri akan lebih besar.

Konsekuensi berikutnya dari uraian tersebut terdapat pada pola promosi

yang dilakukan. Sarana-sarana promosi yang dibuat pemerintah, baik berupa iklan,

pencetakan brosur, maupun website, harus pula mengedepankan Goa

Selomangleng beserta sejarahnya sebagai ikon kepariwisataan Kota Kediri.

Objek-objek lainnya menjadi objek pendukung yang juga tak terpisahkan dengan

objek inti. Dengan demikian strategi yang dikembangkan kepada benak

wisatawan adalah membentuk citra Goa Selomangleng merupakan objek wisata

120

yang identik dengan Kota Kediri, atau sebaliknya Kota Kediri merupakan daerah

tujuan wisata identik dengan Goa Selomanglengnya.

Kebijakan mencakup wawasan yang luas, menjangkau jangka waktu yang

panjang, mengandung resiko yang besar dan melibatkan banyak pihak. Karena itu,

dalam penerapan kebijakan diharapkan tidak terjadi kegagalan. Pembuatan

kebijakan idealnya tidak dilakukan dengan cara trial and error (Abidin, 2002: 39).

Demikian pula halnya dengan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri,

idealnya tidak boleh terjadi kegagalan mengingat begitu besarnya tenaga, waktu,

dan biaya yang dikeluarkan.

Untuk pengembangan yang lebih lanjut, pemerintah Kota Kediri perlu

melakukan penataan kembali (restrukturisasi) terhadap kebijakan pengembangan

pariwisata yang telah ditempuh selama ini. Upaya ini dapat diawali dengan

menginventarisasi dan mengidentifikasi kembali potensi-potensi wisata yang ada

di Kota Kediri, yang selanjutnya dituangkan dalam sebuah dokumen resmi. Daftar

inventarisasi inilah yang pada tahap berikutnya menjadi dasar dalam penyusunan

dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Perencanaan

tersebut akan sangat bermanfaat pada kegiatan tahap berikutnya, yaitu

pengembangan maupun revitalisasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri.

Setelah tahap pengembangan inilah, selanjutnya produk-produk pariwisata Kota

Kediri telah siap untuk dipromosikan dan dipasarkan kepada wisatawan.

Bagaimana strategi dan bentuk pemasaran pariwisata tersebut dipengaruhi oleh

pengembangan yang dilakukan, sehingga citra kepariwisataan yang dipasarkan

dapat sesuai atau tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua

121

tahapan dari awal, yaitu inventarisasi potensi wisata hingga tahap pemasaran

tersebut tentunya perlu merujuk pada perkembangan kepariwisataan di tingkat

lokal, nasional dan internasional untuk mendapatkan kejelasan, segmen wisatawan

mana yang menjadi sasaran pengembangan pariwisata Kota Kediri. Terkait

dengan segmen wisatawan bagi Kota Kediri ini, berdasarkan pengamatan penulis

pemerintah nampaknya dapat lebih memfokuskan perhatian pada wisatawan

wisatawan regional yang datang dari daerah di sekitar Kota Kediri seperti yang

telah berkembang saat penelitian ini dilaksanakan. Selain itu potensi yang ada

juga memungkinkan untuk menarik kedatangan wisatawan dari luar pulau bahkan

mancanegara, melalui wisata budaya yang ada. Hal ini juga seiring dengan

perkembangan kepariwisataan internasional saat ini yang ditandai dengan

meningkatnya apresiasi terhadap benda-benda peninggalan bersejarah.

Selanjutnya bagaimana tahap-tahap restrukturisasi kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri dapat dilakukan, telah disusun skemanya

pada Gambar 5.3

Gambar 5.3
Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri

Lingkungan
Kebijakan Lokal,
Nasional, Dan
Internasional

Promosi dan
Pemasaran
Produk
Pariwisata

Pengembangan
dan Revitalisasi
Objek dan Daya
Tarik Wisata

Penyusunan
Dokumen
Perencanaan

Inventarisasi dan
Identifikasi Objek
Daya Tarik
Wisata serta Tipe
Aktivitas Wisata

123

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai

berikut:

1. Kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri diarahkan kepada

pengembangan pariwisata sejarah dan spiritual. Hal ini terlihat dengan

pengembangan-pengembangan yang dilakukan seperti rehabilitasi Makam

Setono Gedong, Masjid Agung, pelaksanaan berbagai pagelaran kesenian

khas pada perayaan hari jadi Kota Kediri.

2. Dalam upayanya mengembangkan pariwisata, Pemerintah Kota Kediri

dihadapkan pada sejumlah persoalan di tingkat internasional, nasional, dan

lokal yang perlu menjadi bahan pertimbangan. Di tingkat internasional

masalah yang ada adalah implementasi paradigma pariwisata

berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk

menunjang industri pariwisata. Di tingkat nasional, masalah yang penting

dipertimbangkan adalah menurunnya jumlah kunjungan wisatawan asing

sehingga kepariwisataan nasional tengah diarahkan kepada optimalisasi

pasar wisatawan domestik. Sedangkan permasalahan di tingkat lokal

adalah adanya kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan tempat untuk

berwisata serta keberadaan benda-benda bersejarah yang tidak terkelola

dengan baik.

124

3. Untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut, Pemerintah Kota Kediri

perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan kepariwisataan saat ini,

dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pola

pengembangan pariwisata yang merujuk pada perkembangan-

perkembangan kepariwisataan di lingkungan internasional, nasional, dan

lokal. Tahapan restrukturisasi tersebut meliputi:

- Inventarisasi dan identifikasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri

serta tipe aktivitas kepariwisataan yang dapat dilakukan. Untuk

menunjang pariwisata budaya dan spiritual Pemerintah Kota Kediri

juga dapat mengembangkan tipe aktivitas kepariwisataan lainnya

seperti wisata alam, wisata olah raga, wisata belanja, serta wisata

pendidikan.

- Penyusunan dokumen perencanaan pariwisata, khususnya rencana

pengembangan kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata

yang akan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri

- Pengembangan serta revitalisasi objek dan daya tarik wisata yang ada

sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki daya jual yang bersaing

bila dibandingkan dengan objek di daerah lainnya

- Melakukan promosi dan pemasaran produk wisata secara berkelanjutan

untuk mengaktualisasikan daya tarik wisata Kota Kediri. Situs resmi

Pemerintah Kota Kediri yang ada, www.kotakediri.go.id perlu

dioptimalkan pemanfaatannya untuk melakukan promosi pariwisata.

Untuk itu dibutuhkan adanya tim teknis yang secara khusus diberikan

125

tugas dan tanggung jawab untuk menangani promosi pariwisata

melalui media internet. Dalam melaksanakan tugasnya tim ini juga

diarahkan untuk menjalin kerja sama berbagai instansi di dalam

lingkungan pemerintah serta para pengusaha pariwisata, untuk

kepentingan mendukung materi promosi di website, sehingga dapat

menjadi media promosi yang terpadu. Media ini dapat dimanfaatkan

untuk menarik kedatangan wisatawan minat khusus, yang umumnya

merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk menarik

kedatangan wisatawan regional/nusantara, pemasaran pariwisata dapat

dilakukan instansi melalui pembentukan jaringan kerja dengan

kalangan swasta, destinasi wisata di kabupaten/kota sekitar Kota

Kediri, termasuk tentunya pemerintah Provinsi Jawa Timur.

6.2 Saran

Pada penelitian ini penulis hanya melakukan studi secara makro dan

umum terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Pada penelitian

selanjutnya para peneliti lain kiranya dapat melakukan kajian-kajian terhadap

kebijakan kepariwisataan secara mengkhusus, di antaranya seperti kajian

terhadap dampak ekonomi pengembangan industri pariwisata, upaya Pemerintah

Kota Kediri dalam pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi suatu

kawasan wisata, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya

promosi pariwisata, serta aspek-aspek lainnya pada level mikro sehingga dapat

dihasilkan kajian yang mendalam.

126

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Said Zainal. 2002. Kebijakan Publik. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.
Agustino, Leo. 2006. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung : Alfabeta.
Anonim. 1999. Perencanaan Pariwisata I. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.
---------- 2005. Microsoft Encarta Encyclopedia. Microsoft Corporation.
----------. 2004. Undang-undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan
Daerah
. Departemen Dalam Negeri RI.
Apter, David E. 1987. Pengantar Analisis Politik (terjemahan). Jakarta: LP3ES.
Badan Pusat Statistik Kota Kediri. 2004. Kota Kediri Dalam Angka 2003.
Bafadal, Ibrahim. 2003. Teknik Analisis Data Penelitian Kualitatif dalam
Masykuri Bakri (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis
dan Praktis. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang dan
Visipress.
Bali Post, 5 Juli 2004. Pariwisata Nasional Belum Digarap Maksimal, hlm. 14,
kol.7
Bali Post, 20 Pebruari 2006. Pasien Flu Burung Meningkat, hlm. 1, kol. 6.
Bappeda Kota Kediri. 2000. Data Hasil Pelaksanaan Pembangunan Kota Kediri,
Tahun Anggaran 1998/1999 sampai 2000
.
------------------------- 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
Daerah
2005-2009.
Bisnis Internasional. 2005. Harmoni Dalam Perbedaan. Edisi 15 April-15 Mei
2005, hlm. 7.
Capra, Fritjof. 2005. The Hidden Connections: Strategi Sistemik Melawan
Kapitalisme Baru
(terjemahan). Yogyakarta: Jalasutra.
Dunn, William N. 2003 Pengantar Analisis Kebijakan Publik (terjemahan).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dwidjowijoto, Riant Nugroho. 2006. Kebijakan Publik Untuk Negara-Negara
Berkembang
. Jakarta : Gramedia.

127

Gee, Chuck Y. (ed.). 2000. International Tourism : A Global Perspective. Hawaii:
WTO Education Network.
Hamel, Victor A. 1999. Retrospeksi Ekonomi-Politik Kebijakan Pemberantasan
Kemiskinan di Pedesaan.
Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik
Volume 3 Nomor 2. Yogyakarta : Program Magister Administrasi Publik
Universitas Gadjah Mada.
Heywood, Andrew. 1997. Politics. Houndmills: Macmillan.
Holsti, K.J. 1992. International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey:
Prentice-Hall.
Iida, Akira. 2004. Paradigm Theory & Policy Making : Reconfiguring The Future.
Singapore: Tuttle Publishing.
Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable
Development Approach.
New York: Van Nostrand Reinhold.
Jawa Pos, 7 Pebruari 2005. Libur, 200 Ribu Kendaraan ke Luar Surabaya, hlm. 9,
kol.1.
Jawa Pos, 10 Maret 2005. Dispar Rilis Kiosk Interactive, hlm. 7, kol.1.
Kartajaya, Hermawan & Yuswohady. 2005. Attracting Tourists Traders Investors:
Strategi Memasarkan Daerah di Era Otonomi
. Jakarta: Gramedia.
----------------. 2005. Kepala Daerah Adalah Marketer, Jawa Pos, 7 Juni 2005
halaman 1.
Kasali, Rhenald. 2004. Jangan Abaikan Sektor Bisnis Pariwisata, Kompas, 23
Agustus 2004, hlm. 15.
Kompas, 8 Maret 2002. Wisata Dermaga Jayabaya Akhirnya Mati Suri, hal. 32,
kol. Kol 1.
Kompas, 5 September 2005. Target Enam Juta Wisman Tak Tercapai, hal. 18,
kol.5.
Mas’oed, Mohtar. 1994. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.
Jakarta: LP3ES.
Media Indonesia, 25 September 2005. Lemahnya Perlindungan Aset Budaya
Indonesia,
hlm. 1, kol.6.

128

Metro, 18 Desember 2002. Wisata Goa Selomangleng Ancolnya Kediri, hal. 6,
kol.2.
Miksic, John. 1997. The Kediri-Blitar Area dalam Eric Oey (ed.). Java. Singapore:
Periplus Editions.
Müller, Hansruedi. 1997. The Thorny Path to Sustainable Tourism Development
dalam Leslie France, (ed.). The Earthscan Reader in Sustainable Tourism.
London: WWF-UK and International Institute for Environment dan
Development.
Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods: Qualitative and
Quantitative Approaches
, Boston: Allyn & Bacon.
Ohmae, Kenichi. 1991. Dunia Tanpa Batas: Kekuatan dan Strategi di Dalam
Ekonomi yang Saling Mengait
(terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara.
----------------------. 2005. The Next Global Stage: Tantangan dan Peluang di
Dunia yang Tidak Mengenal Batas Kewilayahan
(terjemahan). Jakarta:
Indeks.
Onggo, Bob Julius. 2004. E-PR: Menggapai Publisitas di Era Interaktif Lewat
Media Online
, Yogyakarta: Andi.
Otonomi, Media. Edisi No 7 Tahun I 2005.
Parsons, Wayne. 2005. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis
Kebijakan
(terjemahan). Jakarta: Kencana.
Paturusi, Syamsul Alam. 2003. Perencanaan Kawasan Pariwisata, bahan ajar
Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana (tidak
diterbitkan).
Program Pascasarjana Universitas Udayana. 2003. Buku Pedoman Penulisan
Usulan Penelitian, Tesis, dan Disertasi.
Denpasar: Universitas Udayana
Radar Kediri, 23 Desember 2002. Paduan Wisata Modern, Religi, Budaya, dan
Alam
, hal. 26, kol.2
Radar Kediri, 9 Desember 2003. Awas, Wisata Selomangleng Longsor, hlm. 30,
kol.2.
Radar Kediri, 31 Januari 2004, Hijaukan 100 Hektare Lahan, hal. 29, kol.2.

129

Rosenau, James N. 1980. The Scientific Study of Foreign Policy. London: Frances
Pinter.
Roskin, Michael G., Robert L. Cord, James A. Medeiros, Walter S. Jones. 1994.
Poltical Science: An Introduction. New Jersey: Prentice Hall.
Santosa, Setyanto P. 2002. Pengembangan Pariwisata Indonesia dalam
http://kolom.pacific.net.id/ind/setyanto_p._santosa/artikel_setyanto_p._san
tosa/pengembangan__pariwisata__indonesia.html,

diakses

pada

September 2005.
Silalahi, Ulber. 1999. Metode dan Metodologi Penelitian. Bandung : Bina
Budhaya.
Soekadijo, R.G. 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata Sebagai
Systemic Linkage.
Jakarta: Gramedia.
Spillane, James. 1997. Pariwisata Indonesia: Siasat Ekonomi dan Rekayasa
Kebudayaan
.Yogyakarta: Kanisius.
Stern. Geoffrey. 2000. The Structure of International Society: An Introduction to
the Study of International Relations
. London: Pinter.
Strauss, Anselm & Julia Corbin. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif
(terjemahan). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Suharto, Edi. 2005. Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji
Masalah dan Kebijakan Sosial.
Bandung: Alfabeta.
Sujana, Naya. 2004. Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Industri
Pariwisata di Jawa Timur. Dalam Ayu Sutarto & Setya Yuwana Sudikan
(ed.). Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Provinsi Jawa Timur.
Jember: Kompyawisda. hlm 123.
Surya, 7 Pebruari 2003. Menanam 26.000 Pohon Untuk Selamatkan
Selomangleng
, hal. 17, kol.2.
Surya, 23 Juli 2004. Buang Buceng Robyong Agar Kota Kediri Aman, hal. 18, kol.
1.
Sutopo, H.B. 2003. Pengumpulan dan Pengolahan Data Dalam Penelitian
Kualitatif dalam Masykuri Bakri (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif:

130

Tinjauan Teoritis dan Praktis. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas
Islam Malang dan Visipress.
Syaukani,HR, Affan Gaffar, Ryaas Rasyid. 2002. Otonomi Daerah Dalam Negara
Kesatuan
. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Puskap.
Thoha, Miftah. 2002. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
Wacik, Jero. 2006. Rencana Strategik Pariwisata Indonesia-Bali dan Peran
Swasta
. Makalah pada seminar dan lokakarya nasional Kadin Provinsi Bali,
25 Pebruari 2006, tidak diterbitkan.
Wahab, Solichin Abdul. 2002. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke
Implementasi Kebijaksanaan Negara.
Jakarta: Bumi Aksara.
Warta Bali, 8 September 2005. Kendala Pariwisata Indonesia, hlm. 8, kol. 1.
Williams, Mariama. 2002. The Political Economy of Tourism Liberalization,
Gender, and the GATS
. URL:
http://www.genderandtrade.net/GATS/GATStourism.pdf, diakses pada
Desember 2004.
World Resources Institute (WRI), United Nations Environment Programme
(UNEP), World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).
2002. Tomorrow’s Markets: Global Trends and Their Implications for
Business
. Baltimore: Hopkins Fulfillment Service.
World Tourism Organization (WTO). 2004. National and Regional Tourism
Planning: Methodologies and Case Studies
. Madrid: WTO.
Yoeti, Oka A. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta:
Pradnya Paramita.
http://research.amnh.org/biodiversity/symposia/archives/tigerintheforest/highlight
s/files/tiger_whtPaper02.htm, diakses pada September 2005.
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0115/wis02.html diakses pada
September 2005.
http://www.pata.org/patasite/index.php?id=95 diakses pada September 2005.

www.kotakediri.go.id

131

Lampiran 1

Jadwal Kegiatan Penelitian

Bulan

Kegiatan

Jan-
Peb
2005

Mar-
April
2005

Mei-
Juni
2005

Juli-
Agust
2005

Sept-
Okt
2005

Nop-
Des
2005

Jan-
Peb
2006

Mar-
April
2006

Mei-
Juni
2006

Pra
Penelitian
Penyusunan
Proposal
Seminar
Proposal
Perbaikan
Proposal
Penelitian
Lapangan
Penyusunan
Laporan

Seminar
Hasil
Penelitian
Perbaikan
Sidang

132

Lampiran 2

Peta Jawa Timur

133

Lampiran 3
Peta Kota Kediri

134

Lampiran 4

Sketsa Site Plan Kawasan Wisata Selomangleng

135

Lampiran 5
Goa Selomangleng

136

Lampiran 6
Relief Pertapa di Dalam Goa Selomangleng

137

Lampiran 7
Museum Airlangga

138

Lampiran 8
Tumpeng Tosaren

139

Lampiran 9
Kesenian Jaranan

140

Lampiran 10
Ritual Manusuk Sima

141

Lampiran 11
Kirab Prasasti Kediri Jayati

142

Lampiran 12
Pentas Wayang Orang Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kediri

143

Lampiran 13
Festival Panji-Galuh

144

Lampiran 14
Pura Dewi Sekartaji

145

Lampiran 15
Mesjid Agung

146

Lampiran 16
Walikota, Pejabat, dan Masyarakat Memantau Hutan Maskumambang

147

Lampiran 17
Pawai Budaya Dalam Rangka Hari Jadi

148

Lampiran 18
Taman Hiburan Pagora

149

Lampiran 19
Pertandingan Sepak Bola di Stadion Brawijaya

150

Lampiran 20
Wisata Olah Raga di Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng

151

Lampiran 21
Pusat Penjualan Tahu Takwa di Kota Kediri

152

Lampiran 22
Objek Wisata Pendidikan di Pabrik Rokok Gudang Garam

153

Lampiran 23
Pedagang di Bibir Goa Selomangleng

154

Lampiran 24
Coretan di Dinding Goa Selomangleng

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->