TESIS

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

I MADE BRAM SARJANA

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2006

TESIS

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

I MADE BRAM SARJANA NIM 0213106110

PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI KAJIAN PARIWISATA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2006

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Kajian Pariwisata Program Pascasarjana Universitas Udayana

I MADE BRAM SARJANA NIM 0213106110

PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI KAJIAN PARIWISATA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2006

i

Lembar Pengesahan

TESIS INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL 18 JULI 2006

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. I Wayan Tjatera, M.Sc NIP 130369687

Dr. Ir. A.A.P. Agung Suryawan W., M.Sc NIP 131843096 Mengetahui

Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata Program Pascasarjana Universitas Udayana

Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana

Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH, MS NIP 130369678

Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc NIP 131475047

ii

Tesis ini Telah Diuji pada Tanggal 11 Juli 2006

Panitia Penguji Tesis, berdasarkan SK Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, No : 268/J14.4/HK.01.23/2006, tanggal 7 Juli 2006

Ketua : Dr. I Wayan Tjatera, M.Sc Sekretaris : Dr. Ir. A. A. P. Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc. Anggota : 1. Prof. Dr. I Nyoman Sirtha,SH, MS. 2. Prof. Dr. Dra. N.K. Mardani, MS. 3. Drs. I Nyoman Sunartha, M.Si.

iii

UCAPAN TERIMA KASIH

Perkenankan penulis menghaturkan angayu bagia ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kertha wara nugraha-Nya tesis ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para dosen pembimbing, Dr. I Wayan Tjatera, M.Sc dan Dr. Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc atas dukungan dan bimbingannya dalam proses penyusunan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM) dan Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan Program Magister di Universitas Udayana. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH, M.S. dan Dra. Henny Urmila Dewi, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana, serta para dosen penguji, Prof. Dr. Dra. N.K. Mardani, MS dan Drs. I Nyoman Sunartha, M.Si atas berbagai masukan yang konstruktif dalam rangka penyempurnaan tulisan ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh dosen atas pencerahan dan inspirasi yang diberikan selama masa-masa perkuliahan, serta para staf sekretariat program atas pelayanan administrasinya yang prima sehingga sangat membantu proses pendidikan penulis pada Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

iv

Tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Rony Yusianto dan Beni di Kediri, Ibu Eka Mahadewi dan Sri Sadjuni, Bapak Arcana dan Sukardi, serta rekan-rekan mahasiswa Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana khususnya angkatan 2002, Bapak Wayan Suambara, SH, MM, A.A.G. Raka Yuda, SE dan rekan-rekan pada Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Badung atas motivasi dan kebersamaan yang selalu diberikan, kakak I Gede Pram Sanjaya dan I Gusti Ayu Wisalawaty termasuk si kecil Jessy, serta Ketut Widya Purnawati (Tuti), yang senantiasa menjadi pemacu semangat bagi penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga Alm. Prof. Dr. I Wayan Bawa dan keluarga Drs. HA Maschut yang selalu memberikan dukungan dan dorongan kepada penulis. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, Alm. Drs. I Made Darsana dan Dra. Ni Ketut Suati, atas curahan kasih sayangnya yang teramat tulus dan berlimpah sejak penulis pertama kali melihat wajah dunia. Tanpa sentuhan tangan Tuhan melalui perantara mereka, penulis tidak akan pernah mencapai tahapan kehidupan seperti yang dirasakan saat ini. Kepada merekalah didedikasikan sepenuhnya. Proses pendidikan penulis ini juga dapat diselesaikan berkat dukungan dan kontribusi berbagai pihak lainnya secara langsung maupun tidak langsung. penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulisan ini

Kepada mereka

setinggi-tingginya. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita sekalian.

v

ABSTRACT STUDY ON TOURISM DEVELOPMENT POLICY OF KEDIRI CITY, EAST JAVA

Public policy is a product of a complex process connected with many aspects, wide concepts, and many parties involved. Various changes in local, national, and international level have driven the complexity of contemporary world. In accordance with the big changes of the three policy environment levels, tourism industry plays an important role and becomes a strategic instrument for the local government to develop local economy. The government of Kediri City, East Java also considers the tourism industry as a strategic aspect devised to support local economic development. However, because of the complexity of problems in those three levels, it seems very difficult to implement this effort. Based on the structure of problems, systemic approach was used, and it was completed with descriptive analysis. This study applied field research to find out the tourism policy development of Kediri City, some problems that might have existed, and some efforts that may be done for further development. The conclusion of this research shows that Kediri is a potential city for developing historical and spiritual tourism. Policy made by the local government has aimed to develop tourism resources, but they need to do some restructuring efforts for further development. Key words: policy, system, tourism development

vi

ABSTRAK

STUDI TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA KOTA KEDIRI PROVINSI JAWA TIMUR

Kebijakan publik merupakan sebuah produk dari proses yang bersifat kompleks karena hal itu terkait dengan banyak aspek, luasnya wawasan yang terpaut, serta banyaknya pihak yang terlibat. Kompleksitas dunia saat ini disebabkan oleh berbagai perubahan besar yang terjadi pada level lokal, nasional, dan internasional. Dalam konteks perubahan-perubahan besar pada ketiga level lingkungan kebijakan itu industri pariwisata menjadi media yang strategis bagi kepala daerah untuk memasarkan potensi-potensi ekonomi daerahnya. Pemerintah Kota Kediri di Provinsi Jawa Timur juga memandang itu sebagai aspek yang strategis, sehingga pengembangan pariwisata diupayakan untuk menunjang pembangunan ekonomi daerah. Upaya ini tidak mudah diwujudkan, karena adanya berbagai permasalahan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Berdasarkan struktur permasalahan, penulis menggunakan pendekatan sistem yang didukung oleh analisa deskriptif serta penelitian lapangan untuk mengetahui kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri, permasalahan yang dihadapi dalam upaya pengembangan pariwisata, serta upaya yang perlu dilakukan untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kota Kediri adalah kota yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata sejarah dan spiritual. Kebijakan yang ditempuh telah mengarah pada pengembangan potensi tersebut, namun Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan sejumlah upaya restrukturisasi untuk pengembangan pariwisata pada tahap lebih lanjut. Kata kunci: kebijakan, sistem, pengembangan pariwisata

vii

DAFTAR ISI

Halaman Prasyarat Gelar ...................................................................................................... i Lembar Pengesahan.............................................................................................. ii Penetapan Panitia Penguji .................................................................................. iii Ucapan Terima Kasih.......................................................................................... iv ABSTRACT.......................................................................................................... vi ABSTRAK ........................................................................................................... vii DAFTAR ISI....................................................................................................... viii DAFTAR TABEL ................................................................................................ xi DAFTAR GAMBAR........................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1 1.1 Latar Belakang ..................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................9 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................10 1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................................10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................11 2.1 Kerangka Konseptual.......................................................................................11 2.1.1 Kebijakan ................................................................................................12 2.1.2 Analisis kebijakan ..................................................................................15 2.1.3 Lingkungan kebijakan ............................................................................17 2.1.4 Pariwisata ................................................................................................18 2.1.5 Perencanaan pariwisata ...........................................................................25 2.1.6 Kebijakan pariwisata...............................................................................30 2.2 Landasan Teori.................................................................................................32 2.3 Model Penelitian ..............................................................................................35 BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................37 3.1 Rancangan Penelitian.......................................................................................37 viii

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................................39 3.3 Jenis dan Sumber Data.....................................................................................40 3.4 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data......................................41 3.5 Analisis Data ....................................................................................................42 3.6 Cara Penyajian Hasil Analisis Data .................................................................44 BAB IV GAMBARAN UMUM DAN DAYA TARIK WISATA KOTA KEDIRI .................................................................................................................45 4.1 Kondisi Geografis ............................................................................................45 4.2 Kependudukan dan Tenaga Kerja ....................................................................46 4.3 Perekonomian ..................................................................................................48 4.4 Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri......................................................51 4.4.1 Wisata budaya.........................................................................................51 4.4.1.1 Peninggalan bersejarah ...............................................................53 4.5.1.2 Kesenian dan budaya daerah.......................................................54 4.4.2 Wisata spiritual dan ziarah......................................................................59 4.4.3 Wisata alam.............................................................................................60 4.4.4 Wisata olah raga......................................................................................61 4.4.5 Wisata belanja .........................................................................................63 4.4.6 Wisata pendidikan...................................................................................65 4.4.7 Fasilitas akomodasi .................................................................................66 4.5 Pendapat Masyarakat Tentang Kepariwisataan Kota Kediri ...........................66 BAB V PEMBAHASAN ......................................................................................70 5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri ...........................................................77 5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata .......................................71 5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata....................................................72 5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata..........................................73 5.1.4 Promosi pariwisata..................................................................................76 5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri....................................81 5.2.1 Lingkungan internasional........................................................................81 5.2.2 Lingkungan nasional ...............................................................................86 5.2.3 Lingkungan lokal ....................................................................................88 ix

5.3 Kebijakan Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut ........................................95 BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .................................................................123 6.1 Simpulan ........................................................................................................123 6.2 Saran ..............................................................................................................125 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................126 LAMPIRAN........................................................................................................131

x

DAFTAR TABEL

Halaman 4.1 Jumlah Penduduk Kota Kediri Tahun 1997-2004............................................47 4.2 Mata Pencaharian Penduduk Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004 .............48 4.3 Kontribusi Sektor Pembangunan Terhadap PDRB Tahun 1999-2003 ............49 4.4 Pertumbuhan Ekonomi Kota Kediri Tahun 1999-2003 ...................................50 5.1 Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya...74 5.2 Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata 2000-2004.......................74 5.3 Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pariwisata Kota Kediri.........................95 5.4 Implementasi Konsep Inskeep Tentang Daya Tarik Wisata............................98 5.5 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng..............99 5.6 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng.................99 5.7 Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri.............................107 5.8 Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003 ...........................109

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman 2.1 Lingkungan Kebijakan.....................................................................................18 2.2 Pariwisata Sebagai Mobilitas Spasial ..............................................................22 2.3 Model Sistem Politik David Easton .................................................................34 2.4 Model Penelitian ..............................................................................................36 3.1 Model Interaktif Analisis Data Miles-Huberman ............................................43 5.1 Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota Kediri .....................................................................................97 5.2 Zonasi Aktivitas Kepariwisataan di Kota Kediri ...........................................103 5.3 Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri.................................122

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Tabel Jadwal Kegiatan Penelitian ....................................................131 Lampiran 2 Peta Jawa Timur ...............................................................................132 Lampiran 3 Peta Kota Kediri ...............................................................................133 Lampiran 4 Sketsa Site Plan Kawasan Wisata Selomangleng.............................134 Lampiran 5 Goa Selomangleng............................................................................135 Lampiran 6 Relief Pertapa di Goa Selomangleng................................................136 Lampiran 7 Museum Airlangga ...........................................................................137 Lampiran 8 Tumpeng Tosaren.............................................................................138 Lampiran 9 Kesenian Jaranan ..............................................................................139 Lampiran 10 Ritual Manusuk Sima .....................................................................140 Lampiran 11 Kirab Prasasti Kediri Jayati ............................................................141 Lampiran 12 Pentas Wayang Orang Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kediri........142 Lampiran 13 Festival Panji-Galuh .......................................................................143 Lampiran 14 Pura Dewi Sekartaji........................................................................144 Lampiran 15 Mesjid Agung Kota Kediri .............................................................145 Lampiran 16 Walikota Kediri Memantau Hutan Maskumambang......................146 Lampiran 17 Pawai Budaya Dalam Rangka Hari Jadi.........................................147 Lampiran 18 Taman Hiburan Pagora...................................................................148 Lampiran 19 Pertandingan Sepak Bola................................................................149 Lampiran 20 Wisata Olah Raga di Lebak Tumpang-Selomangleng ...................150 Lampiran 21 Pusat Penjualan Tahu Takwa di Kota Kediri .................................151 Lampiran 22 Objek Wisata Pendidikan di Pabrik Rokok Gudang Garam ..........152 Lampiran 23 Pedagang di Bibir Goa Selomangleng............................................153 Lampiran 24 Coretan di Dinding Goa Selomangleng..........................................154

xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Proses pembuatan kebijakan tidak terjadi dalam ruang sosial yang vakum. Para pembuat kebijakan politik maupun bisnis bekerja dalam lingkungan eksternal dan internal yang sangat kompleks dan saling terkait antara satu sama lainnya (Rosenau, 1980: 368). Kebijakan publik sendiri merupakan sebuah produk dari proses yang pada umumnya bersifat kompleks karena terkait dengan banyak aspek, luasnya wawasan yang terpaut, serta banyaknya pihak yang terlibat (Abidin, 2002: 75). Kompleksitas pada lingkungan kebijakan tersebut didorong oleh liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat sehingga arus informasi, modal, jasa, dan manusia bergerak secara bebas menembus batas-batas ruang dan waktu. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dunia telah terintegrasi menjadi suatu jaringan kerja tanpa batas, yang selalu berubah dengan sangat cepat (Ohmae, 1991: 20). Tidak ada satu masalah yang hanya bisa dilihat sebagai satu aspek yang berdiri sendiri. Berbagai aspek saling terkait dan mempengaruhi. Keterkaitan ini tidak terbatas dalam suatu lingkungan saja, namun juga bisa dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan yang lebih luas, menyangkut aspek yang berbeda, dan berlangsung dalam waktu yang sangat cepat (Abidin, 2002 : 14). Kondisi tersebut memunculkan berbagai peluang sekaligus tantangan, sehingga pembuat kebijakan harus benar-benar

1

2

memahami lingkungan kebijakannya (Abidin, 2002: 81) serta meresponsnya dengan membuat pilihan-pilihan secara konstan sepanjang waktu (Holsti, 1992: 271). Kompleksitas lingkungan kebijakan tersebut membuat masa depan menjadi semakin sulit diprediksi, sehingga para pembuat kebijakan harus memiliki kemampuan untuk mengenali tanda-tanda perubahan yang akan mempengaruhi kesuksesan mereka dan segera melakukan inovasi-inovasi (Stigson dalam WRI, 2002: 3). Dari perspektif pemasaran, Kartajaya (2005: 3) menjelaskan bahwa kompleksitas dunia saat ini disebabkan oleh berbagai perubahan besar yang terjadi pada level lokal, nasional, dan regional-internasional. Perubahan di tingkat lokal didorong oleh implementasi sistem otonomi daerah, yang berimplikasi pada menguatnya peran pemerintah kabupaten/kota dalam pembangunan wilayah.

Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undangundang No 34 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat merupakan kerangka kerja pelaksanaannya. Pada sistem ini urusan pemerintahan semakin didekatkan kepada rakyat, sehingga pemerintah menjadi lebih efektif dan efisien. Pemerintahan menjadi efektif karena penyelenggaraan pemerintahan berlangsung pada wilayah yang lebih kecil sehingga dapat lebih memudahkan penguasaan materi permasalahan dan penyerapan aspirasi masyarakat dalam proses perumusan kebijakan (Abidin, 2002 : 135). Perubahan yang terjadi di tingkat nasional adalah perubahan sistem politik yang ditandai dengan runtuhnya rezim orde baru oleh gerakan reformasi.

3

Akibatnya, terjadi penguatan peran masyarakat sipil pada setiap aspek kehidupan negara. Perubahan sistem ini menuntut pelaksana pemerintahan untuk mengubah kerangka berpikir dan cara kerjanya dari sentralistik-otoriter pada masa lalu menjadi desentralistik-partisipatif di masa kini. Sedangkan pada tingkat regional-global, telah terjadi pola-pola kerja sama ekonomi kawasan seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA) di kawasan Asia Tenggara, Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di kawasan Asia Pasifik, dan berbagai forum kerja sama ekonomi kawasan lainnya yang bertujuan melaksanakan liberalisasi ekonomi. Tren perubahan ekonomi-politik pada ketiga level itulah yang membuat kepala daerah di masa kini harus mendesain ulang pola pikir dan cara kerjanya menyerupai cara kerja wirausahawan. Hal ini bermakna bahwa kepala daerah haruslah inovatif, cerdas membaca tren perubahan, dan mampu membangun jaringan kerja pada berbagai level untuk membangun daerahnya. Potensi ekonomi lokal tidak lagi hanya berorientasi pada pasar lokal, namun dikelola untuk memiliki kemampuan menjangkau pasar global sehingga dapat memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar. Dalam konteks perubahan-perubahan besar pada ketiga level lingkungan kebijakan itulah industri pariwisata menjadi wahana yang strategis bagi kepala daerah untuk memasarkan potensi-potensi ekonomi daerahnya. Pada level global, industri pariwisata memberikan kontribusi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. World Tourism Organization (WTO) mencatat, pariwisata dan industri yang terkait dengannya membentuk 11 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dan menciptakan lapangan pekerjaan untuk

4

200 juta orang di seluruh dunia. Selain itu pariwisata juga membentuk 34 persen ekspor jasa dunia. Setiap tahunnya terdapat sekitar 700 juta orang yang diperkirakan melakukan perjalanan internasional (Williams, 2002: 1). Di masa

depan industri pariwisata juga diproyeksikan akan terus berkembang menjadi industri yang besar. Kenyataan itu membuat pariwisata menjadi salah satu sektor yang menjadi pilihan bagi banyak negara maju dan berkembang untuk membangun perekonomiannya. Demikian pula halnya pada tingkat nasional di Indonesia, pariwisata merupakan sektor ekonomi penyumbang devisa terbesar kedua setelah ekspor minyak dan gas (migas). Pada tahun 2002 misalnya, sektor pariwisata memberikan devisa sebesar 4,5 milyar dolar AS (Bali Post, 5 Juli 2004, hlm 14). Kontribusi sektor pariwisata yang cukup besar terhadap perekonomian nasional membuat pemerintah berupaya untuk mengembangkan sektor ini lebih lanjut, dan menjadikannya sebagai salah satu sektor ekonomi strategis. Kebijakan tersebut memang sangat beralasan bila melihat wilayah Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau, garis pantai sepanjang 81.000 km, luas laut 5,8 juta km², dan penduduk mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Sumber daya ekonomi yang ada menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan pariwisata domestik maupun internasional. Namun potensi tersebut belum dikelola secara optimal dan merata di berbagai daerah, sehingga kemajuan industri pariwisata terpusat di Provinsi Bali. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah dengan potensi pariwisata yang besar, namun belum mengalami perkembangan sepesat Provinsi

5

Bali. Menurut Sujana (2004:123), upaya pengembangan pariwisata di Jawa Timur tergolong tidak mudah, karena harus melalui sebuah proses transformasi budaya dari agraris menuju industri. Sekalipun pariwisata telah berkembang di beberapa tempat di Jawa Timur, perubahan ini belum dapat dilakukan secara efektif karena pariwisata menuntut dukungan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan kemampuan khusus untuk memberikan pelayanan secara profesional dengan standar tertentu. Ketersediaan SDM dengan kemampuan khusus ini menjadi salah satu kendala pengembangan pariwisata Jawa Timur. Masalah serupa juga dialami oleh Kota Kediri, salah satu kota sedang di Provinsi Jawa Timur. Kota ini memiliki sejumlah potensi wisata berupa bendabenda peninggalan bersejarah, kesenian daerah, dan objek alam. Namun terbatasnya dukungan SDM yang memiliki kemampuan dalam perencanaan dan pengelolaan pariwisata menjadi salah satu kendala dalam pengembangan pariwisata. Seperti lazimnya daerah-daerah lain yang mengembangkan sektor pariwisata, salah satu motif yang menjadi dasar pengembangan pariwisata di Kota Kediri adalah peningkatan ekonomi daerah. Selama ini perekonomian Kota

Kediri utamanya masih digerakkan oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan. Berdasarkan data Bappeda Kota Kediri, pada kurun waktu tahun 1998 hingga 2000, 78 persen lebih Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kota Kediri dibentuk oleh sektor industri pengolahan, terutama rokok kretek. Sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada peringkat kedua, dan menunjukkan adanya tren peningkatan.

6

Pada tahun 1998, sektor ini memberi kontribusi sebesar 17,09 persen. Pada tahun 1999 kontribusi sektor ini meningkat menjadi 17,53 persen dan selanjutnya pada tahun 2000 naik lagi menjadi 17,56 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor yang terkait dengan pariwisata memang berpotensi untuk ditingkatkan kontribusinya dalam upaya peningkatan perekonomian daerah. Sebagai pijakan dalam upaya pembangunan ekonomi kota, termasuk di dalamnya pengembangan sektor pariwisata, Walikota Kediri H.A. Maschut yang menjadi kepala daerah sejak tahun 1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan mulai tahun 2004 hingga 2009 untuk periode yang kedua, menetapkan visi Tri Bina Cita Kota. Melalui visi tersebut pemerintah berupaya mengembangkan Kota Kediri sebagai kota industri, perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pada visi ini upaya pengembangan sub sektor pariwisata termasuk ke dalam sektor perdagangan dan jasa. Pemerintah berupaya mengembangkan ketiga sektor ini secara simultan untuk meningkatkan kesejahteraaan masyarakat. Pengembangan ketiga potensi ekonomi lokal tersebut diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih besar, peningkatan investasi, perdagangan, kualitas SDM, serta peningkatan derajat hidup masyarakat. Langkah konkrit upaya pengembangan pariwisata Kota Kediri ditunjukkan pemerintah dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan strategis yang didukung anggaran cukup besar mulai tahun 2002, seperti perayaan hari jadi Kota Kediri yang selanjutnya ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, pembangunan dermaga di bantaran Sungai Brantas untuk menunjang wisata bahari, rehabilitasi, penataan, dan pengembangan objek wisata baru. Program prestisius yang ditempuh

7

pemerintah Kota Kediri adalah pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng yang diproyeksikan menjadi pusat kegiatan kepariwisataan di Kota Kediri, bahkan Provinsi Jawa Timur. Untuk merealisasikan megaproyek ini pemerintah telah mengalokasikan anggaran daerah mencapai Rp 19 milyar lebih. Megaproyek ini berupa pembangunan fasilitas kolam renang dan taman hiburan yang berdasarkan perencanaan dilengkapi dengan berbagai fasilitas permainan anak-anak, salah satunya berupa wahana permainan jetcoaster, menyerupai yang terdapat di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Walikota Maschut memandang bahwa taman hiburan dengan fasilitas seperti itu belum terdapat di wilayah Jawa Timur, sehingga Kota Kediri ingin mengambil peluang tersebut. Dengan demikian, wisatawan yang ingin menikmati suasana layaknya taman hiburan di Ancol tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jakarta, namun cukup datang ke Kota Kediri (Radar Kediri, 23 Desember 2002, hlm. 26). Di dalam kawasan ini juga terdapat objek-objek yang dapat menunjang aktivitas wisata spiritual, budaya, dan alam, sehingga pengembangan kawasan ini sebagai pusat kegiatan pariwisata di Kota Kediri dinilai sangat tepat. Namun di tengah upaya gencar pemerintah untuk mengembangkan pariwisata, berbagai masalah wisata kemudian bermunculan. masalah Pada terjadi program karena

pengembangan

kawasan

Selomangleng,

perencanaan pengembangan yang terlampau prestisius. Pengembangan taman hiburan di dalam kawasan wisata Selomangleng yang direncanakan semegah Ancol dan direncanakan tuntas pada tahun 2004, hingga tulisan ini dilaporkan ternyata belum dapat direalisasikan. Pemerintah juga belum mampu melakukan

8

penataan kawasan wisata secara memadai. Padahal di sisi lain antusiasme masyarakat kota untuk memanfaatkan kawasan tersebut sebagai wahana berwisata semakin tinggi. Hal ini terjadi karena lokasinya yang jauh dari pusat keramaian kota dan adanya bentangan alam berupa pegunungan. Sejak dahulu kawasan ini memang telah digunakan masyarakat Kota Kediri untuk berwisata. Akibatnya pada saat pengunjung yang selalu padat pada hari libur, terjadi kesemrawutan karena tidak adanya alokasi ruang yang terpisah antara pengunjung, pedagang, tempat parkir, dan jalur lalu lintas kendaraan. Upaya-upaya pemeliharaan lingkungan dan aset sejarah yang ada di dalam kawasan juga belum dilakukan dengan baik sehingga banyak yang terancam mengalami kerusakan. Sebagian benda-benda bersejarah yang ada terancam rusak akibat perilaku pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula dengan kondisi alamnya yang tergolong kering dan berbatu, sehingga saat musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan, dan di musim hujan terancam dari longsoran bebatuan yang terdapat di lereng pegunungan. Demikian pula halnya dengan perayaan hari jadi Kota Kediri yang ditetapkan setiap tanggal 27 Juli. Perayaan hari jadi yang dirancang sebagai program pengembangan pariwisata budaya sekaligus promosi tersebut

nampaknya belum dapat menarik minat wisatawan. Masyarakat sebenarnya sangat menantikan acara ini sebagai ajang untuk menyalurkan kreasi seninya dan mendapatkan hiburan secara murah-meriah. Namun biaya yang harus ditanggung pemerintah untuk melaksanakannya sangat besar. Pihak swasta belum ada yang berminat untuk berpartisipasi sebagai sponsor utama. Setelah dua kali

9

pelaksanaan secara besar-besaran dan meriah sejak tahun 2002, perayaannya mulai Juli 2004 lalu dibuat menjadi jauh lebih sederhana karena keterbatasan anggaran. Pencanangan wisata bahari di bantaran Sungai Brantas pun akhirnya mengalami kemacetan. Setelah dermaga berdiri, pemerintah tidak memiliki mekanisme pengelolaan yang jelas. Akibatnya dermaga dan perahu yang telah disediakan tidak terawat dan rusak. Perkembangan pariwisata di kota ini belum jelas arah dan sasarannya. Berbagai perkembangan yang kurang menggembirakan tersebut

menunjukkan bahwa pemerintah sudah selayaknya melakukan evaluasi terhadap perencanaan pengembangan pariwisata secara keseluruhan. Untuk melakukan analisis terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri tersebut penulis menggunakan pendekatan sistem dengan analisa deskriptif.

1.2 Rumusan Masalah Dari uraian di atas terdapat sejumlah masalah yang terkait dengan fenomena pengembangan dan perkembangan pariwisata di Kota Kediri, yang dikaji lebih lanjut melalui pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimanakah kebijakan kepariwisataan Kota Kediri pada umumnya? 2. Bagaimana peta permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam konteks perubahan di tingkat lokal, nasional, dan global yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam upaya pengembangan pariwisata?

10

3. Kebijakan apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk pengembangan pariwisata ke depan?

1.3 Tujuan Penelitian 1. Mendeskripsikan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri. 2. Memberikan gambaran umum tentang permasalahan yang dihadapi pemerintah Kota Kediri dalam upaya pengembangan pariwisata. 3. Memberikan rekomendasi kebijakan pengembangan pariwisata sesuai dengan potensi dan permasalahan yang ada.

1.4 Manfaat Penelitian Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam khasanah penelitian kajian pariwisata di Universitas Udayana melalui studi interdisipliner. Sedangkan dari sisi praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan-bahan masukan (input) untuk pengembangan pariwisata Kota Kediri lebih lanjut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Konseptual Analisis kebijakan merupakan disiplin ilmu sosial terapan yang interdisipliner, sehingga tidak hanya memanfaatkan perangkat keilmuan ilmu sosial dan perilaku, namun juga administrasi publik, hukum, etika, serta berbagai macam cabang analisis sistem dan matematika terapan. Analisis kebijakan bertujuan menghasilkan informasi yang bersifat deskriptif, evaluatif dan preskriptif/normatif tentang suatu kebijakan (Dunn, 2003 : 97). Praktek analisis kebijakan secara interdisipliner ini misalnya dilakukan oleh Hamel (1999) yang menggunakan pendekatan ekonomi-politik dalam mengkaji kebijakan pemberantasan kemiskinan di pedesaan Indonesia. Menurut Hamel, alasan yang mendasari pentingnya analisis dengan pendekatan ekonomipolitik adalah karena pendekatan ini lebih komprehensif, sehingga relatif mampu mengatasi kelemahan pada pendekatan uni dimensional dari segi ekonomi, pendekatan sosio-kultural, dan pendekatan kemanusiaan semata. Pendekatan ekonomi-politik akan dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada ilmu ekonomi, sekaligus kelemahan pada ilmu politik dalam melakukan analisis kebijakan ( Hamel, 1999 : 12).

11

12

2.1.1 Kebijakan Untuk tujuan ilmiah, kebijakan publik dapat dipandang sebagai variabel dependen maupun variabel independen. Kebijakan publik dikatakan sebagai variabel dependen bila perhatiannya tertuju pada faktor politik dan lingkungan yang mempengaruhi/menentukan isi kebijakan. Bila kebijakan publik dipandang sebagai variabel dependen maka kajian ditujukan kepada dampak kebijakan publik terhadap sistem politik dan lingkungannya (Agustino, 2006 : 5). Banyak definisi yang digunakan oleh para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan. Dye (1978, seperti dikutip dalam Abidin, 2002: 20) menyebutkan makna kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (whatever government chooses to do or not to do). Sedangkan Lasswell dan Kaplan yang menjelaskan bahwa kebijakan merupakan sarana untuk mencapai tujuan, menyebutkan kebijakan sebagai program yang diproyeksikan berdasarkan tujuan, nilai-nilai, dan praktek tertentu (a projected programs of goals, values, and practices). Ahli lainnya, Heglo, menjelaskan kebijakan sebagai a course of action intended to accomplish some end atau suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai tujuan tertentu. Kebijakan mencakup keterkaitan antara kehendak, tindakan, dan hasil. Pada level kehendak, kebijakan terefleksikan pada sikap pemerintah, misalnya pernyataan pemerintah tentang apa yang akan dilakukannya. Pada level tindakan, kebijakan terefleksikan pada perilaku pemerintah, yaitu apa yang benar-benar dilakukan pemerintah. Sedangkan pada level hasil, kebijakan terefleksikan pada konsekuensi dari tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah (Heywood, 1997:

13

382). Kebijakan juga mengandung makna sebuah manifestasi dari penilaian yang penuh pertimbangan, sehingga kebijakan adalah usaha untuk mendefinisikan dan menyusun basis rasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan (Parsons, 2001 : 15). Sedangkan kebijakan negara merupakan kebijakan yang dikembangkan atau dirumuskan oleh instansi-instansi serta pejabat-pejabat pemerintah. Aktor yang terlibat dan mempengaruhi proses pembuatan kebijakan tidak saja aktor negara, tetapi juga aktor-aktor non negara seperti LSM, pengusaha, kelompok mahasiswa, dan sebagainya (Wahab, 2002 : 5). Selanjutnya Young dan Quinn (1991, seperti dikutip dalam Suharto, 2005:44) merangkum beberapa konsep kunci tentang kebijakan publik, yaitu: a. Tindakan pemerintah yang berwenang. Kebijakan publik adalah tindakan yang dibuat dan diimplementasikan oleh badan pemerintah yang memiliki kewenangan hukum, politis, dan finansial untuk melakukannya b. Sebuah reaksi terhadap kebutuhan dan masalah dunia nyata. Kebijakan publik berupaya merespons masalah atau kebutuhan kongkrit yang berkembang di masyarakat c. Seperangkat tindakan yang berorientasi pada tujuan. Kebijakan publik biasanya bukanlah sebuah keputusan tunggal, melainkan terdiri dari beberapa pilihan tindakan atau strategi yang dibuat untuk mencapai tujuan tertentu demi kepentingan orang banyak d. Sebuah keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kebijakan publik pada umumnya merupakan tindakan kolektif untuk

14

memecahkan masalah sosial. Namun, kebijakan publik juga bisa dirumuskan berdasarkan keyakinan bahwa masalah sosial akan dapat dipecahkan oleh kerangka kebijakan yang sudah ada dan karenanya tidak memerlukan tindakan tertentu e. Sebuah justifikasi yang dibuat oleh seorang atau beberapa orang aktor. Kebijakan publik berisi pernyataan atau justifikasi terhadap langkahlangkah atau rencana tindakan yang telah dirumuskan, bukan sebuah maksud atau janji yang belum dirumuskan. Keputusan yang telah dirumuskan dalam kebijakan publik bisa dibuat oleh sebuah badan pemerintah, maupun oleh beberapa perwakilan lembaga pemerintah. Menurut Anderson (1984, seperti dikutip dalam Abidin, 2002 : 41), kebijakan publik merupakan strategi pemerintah untuk mencapai tujuannya. Tujuan dari tindakan pemerintah tersebut tidak mudah dirumuskan dan tidak selalu sama, namun secara umum kebijakan publik selalu menunjukkan sejumlah ciri tertentu, yaitu: a. Setiap kebijakan merupakan tindakan dan perilaku yang berorientasi pada tujuan yang jelas, bukan sekadar tindakan yang acak atau dilakukan karena ada kesempatan membuatnya. b. Kebijakan publik merupakan kesatuan dari beberapa tindakan. Kebijakan tidak berdiri sendiri, terpisah dari kebijakan yang lain, yang dilakukan oleh aparat pemerintah c. Kebijakan adalah sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah, bukan sesuatu yang dikatakan akan dilaksanakan atau ingin dilaksanakan.

15

d. Kebijakan dapat berupa larangan atau arahan dan anjuran untuk melaksanakan sesuatu. e. Kebijakan publik didasarkan pada hukum dan memiliki kewenangan untuk memaksa masyarakat mematuhinya.

2.1.2 Analisis kebijakan Kaplan (1971 seperti dikutip dalam Dunn, 2003 : 1) menerangkan analisis kebijakan sebagai aktivitas menciptakan pengetahuan tentang proses pembuatan kebijakan. Dalam menciptakan pengetahuan tentang proses pembuatan kebijakan, analis kebijakan meneliti sebab, akibat, kinerja kebijakan, dan program publik. Sedangkan menurut Quade (1975 seperti dikutip dalam Dunn, 2003 : 95), analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi yang dapat menjadi landasan bagi para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. Dalam analisis kebijakan, kata analisis digunakan dalam pengertian yang paling umum, termasuk penggunaan intuisi dan pengungkapan pendapat yang mencakup tidak hanya pengujian kebijakan dengan memilah-milahkannya ke dalam sejumlah komponen-komponen, tetapi juga perancangan dan sintesis alternatif-alternatif baru. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dapat direntangkan mulai dari penelitian untuk menjelaskan atau memberikan pandangan-pandangan terhadap isu-isu atau masalah-masalah yang terantisipasi sampai mengevaluasi suatu program yang lengkap. Beberapa analisis kebijakan ada yang bersifat informal, sehingga meliputi tidak lebih dari proses berpikir yang keras dan cermat,

16

sementara lainnya ada pula yang memerlukan pengumpulan data secara ekstensif disertai penghitungan teliti melalui proses matematis yang canggih. Tujuan analisis kebijakan lebih dari sekadar menghasilkan fakta-fakta, namun juga

mencari cara untuk menghasilkan informasi mengenai nilai-nilai dan arah tindakan yang lebih baik, sehingga analisis kebijakan meliputi evaluasi kebijakan dan anjurannya. Analis kebijakan dapat menghasilkan informasi dan argumen-argumen yang rasional mengenai tiga macam pertanyaan, yaitu : 1. Nilai, yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat apakah masalah telah teratasi 2. Fakta, yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan pencapaian nilai-nilai 3. Tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilainilai. Dalam menghasilkan informasi dan argumen tersebut, analis dapat menggunakan satu atau lebih pendekatan dalam analisis kebijakan, yaitu empiris, evaluatif, dan normatif. Pendekatan empiris berupaya menjelaskan sebab dan akibat dari kebijakan publik, sehingga pertanyaan yang berupaya dijawab adalah mengenai suatu fakta (apakah sesuatu itu ada dan akan ada). Pada pendekatan ini analis misalnya dapat menjelaskan atau meramal belanja publik untuk kesehatan, pendidikan, atau transportasi. Pada pendekatan evaluatif, kegiatan analis utamanya adalah menentukan nilai dari suatu kebijakan. Pada pendekatan ketiga, yaitu normatif, analis berupaya memberikan usulan mengenai arah-arah tindakan

17

untuk memecahkan suatu problem kebijakan, sehingga tipe pertanyaannya mengenai tindakan apa yang harus dilakukan dan tipe informasi yang dihasilkan bersifat anjuran.

2.1.3 Lingkungan kebijakan Lingkungan kebijakan merupakan konteks spesifik di mana peristiwaperistiwa di sekitar isu-isu kebijakan terjadi (Dunn, 2003: 133). Menurut Evan (1980, seperti dikutip dalam Abidin, 2002: 158), proses perumusan kebijakan dapat dipandang sebagai sebuah hubungan antarorganisasi (interorganizational relations). Lingkungan kebijakan yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan organisasi dibagi dalam tiga lapisan seperti dideskripsikan pada Gambar 2.1. Dari perspektif Evan, instansi pemerintah merupakan suatu organisasi yang berada dalam lingkup wawasan yang lebih luas, dan merupakan salah satu elemen dari suatu sistem nasional dan internasional. Lapisan pertama pada model Evan tersebut adalah lingkungan terdekat (intimate environment), yaitu lingkungan yang dibatasi oleh batasan unit organisasi. Pada lingkungan ini elemen-elemen dalam satu unit organisasi berintegrasi secara rutin di dalamnya. Pada lapisan berikutnya yang berada di luar organisasi terdapat unit-unit organisasi lain yang berinteraksi dalam lingkungan yang lebih luas, disebut dengan lingkungan antara (intermediate environment). Interaksi pada lingkungan ini tidak berlangsung secara rutin, hanya sewaktu-waktu. Berikutnya terdapat

18

lingkungan luar (external environment) yang meliputi lingkungan-lingkungan antara. Lingkungan ini berupa negara, kawasan, atau dunia secara menyeluruh.

Lingkungan Eksternal

Lingkungan Intermediate

Lingkungan Intim

Gambar 2.1 Lingkungan Kebijakan

Sumber: Abidin, 2002: 163.

2.1.4 Pariwisata World Tourism Oganization (WTO) mengembangkan definisi-definisi mendasar tentang konsep-konsep kunci yang terkait dengan kepariwisataan (Gee, 2000 : 267) yaitu: 1. Pariwisata : merupakan aktivitas perjalanan dan tinggal dari orangorang menuju ke luar lingkungan mereka yang biasa selama tidak lebih dari setahun untuk bersenang-senang, bisnis, atau tujuan lainnya

19

2. Wisatawan: merupakan pengunjung yang menginap sedikitnya selama satu malam pada fasilitas akomodasi di lokasi yang dikunjungi 3. Ekskursionis : pengunjung yang tidak menginap pada fasilitas akomodasi di lokasi yang dikunjungi 4. Pengunjung : setiap orang melakukan perjalanan ke luar lingkungan mereka yang biasa selama kurang dari 12 bulan secara berturut-turut yang tujuan kunjungannya tidak untuk bekerja pada tempat dikunjungi Sedangkan Soekadijo (2000 : 2) menyebutkan pariwisata sebagai segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Dalam pengertian tersebut wisatawan dimaknai sebagai orang yang mengadakan perjalanan dari tempat kediamannya tanpa menetap di tempat yang didatanginya. Sementara Burkart dan Medlik (1987, seperti dikutip dalam Soekadijo, 2000 : 3) menyebutkan pariwisata sebagai perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek, ke tujuan-tujuan di luar tempat di mana mereka biasanya hidup dan bekerja, termasuk kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempattempat itu. Bila merujuk pada Undang-Undang No 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang

wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta unsur-unsur yang terkait di bidang itu. Sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara suka rela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Sebaliknya, yang dimaksud daya

20

tarik wisata bisa berhubungan pada budaya atau lingkungan alam yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Lebih lanjut disebutkan bahwa kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Dengan memperhatikan pengertian pariwisata seperti uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pariwisata merupakan gejala sosial yang sangat kompleks, menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai aspek seperti sosiologis, budaya, politik, psikologis, ekonomis, dan ekologis. Pengembangan pariwisata di suatu daerah tentu memiliki tujuan-tujuan khusus dalam rangka meningkatkan tingkat kehidupan di daerah tersebut. Dalam UU No 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, tujuan pengembangan kepariwisataan disebutkan sebagai berikut: 1. Memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan, dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata. 2. Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antarbangsa. 3. Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha serta

memperluas lapangan kerja. 4. Meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. 5. Mendorong pendayagunaan produksi nasional. Dengan perspektif sistem, Soekadijo (2000) mengkaji pariwisata sebagai suatu mobilitas spasial. Dalam model mobilitas spasial tersebut Soekadijo menetapkan sejumlah variabel yang menjadi determinan mobilitas spasial yang

21

terdiri dari motif wisata, atraksi wisata, jasa wisata, dan transferabilitas. Walau demikian determinan tersebut masih berupa potensi, yang hanya dapat diaktualisasikan bila didukung oleh aktivitas pemasaran yaitu publikasi, promosi, dan penjualan seperti terdapat pada Gambar 2.3. Lebih lanjut Soekadijo (2000 : 34) menjelaskan, mobilitas spasial tersebut hanya akan terjadi bila ada kesesuaian antara atraksi wisata dan motif wisata. Manusia hanya dapat bergerak ke suatu tempat untuk mencari sesuatu bila ia memiliki gambaran bahwa yang dicarinya ada di tempat tersebut. Motif wisata setiap orang yang mendorong terjadinya perjalanan ini berbeda-beda menurut tingkat kebudayaannya. Semakin tinggi tingkat kebudayaannya, semakin beragam kebutuhan dan motifnya. McIntosh (1972, seperti dikutip dalam Soekadijo, 2000 : 37)

mengklasifikasikan motif-motif wisata sebagai berikut: a. Motif fisik, yaitu motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan badaniah seperti olah raga, istirahat, kesehatan, dan sebagainya. b. Motif budaya, yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa yang bersifat budaya itu motif wisatawan, bukan atraksinya yang dapat berupa pemandangan alam, flora dan fauna. Wisatawan dengan motif budaya sering datang ke tempat tujuan wisata ke tempat tujuan wisata untuk mempelajari atau sekadar mengenal atau memahami tata cara serta kebudayaan bangsa atau daerah lain yang mencakup kebiasaan, kehidupan sehari-hari, bangunan unik, musik, tarian, dan sebagainya

22

c. Motif interpersonal, yang berhubungan dengan keinginan untuk bertemu keluarga, teman, tetangga, atau berkenalan dengan orangorang tertentu, berjumpa atau sekadar dapat melihat tokoh-tokoh terkenal seperti penyanyi, penari, bintang film, tokoh-tokoh politik, dan sebagainya. d. Motif status atau prestise. Banyak orang beranggapan bahwa orang yang pernah mengunjungi tempat-tempat lain dengan sendirinya dapat melebihi sesamanya yang tidak pernah bepergian. Orang yang pernah bepergian ke daerah-daerah lain merasa naik gengsi atau statusnya.

Wisatawan

Motif Wisata Pemasaran Aktualisasi Perjalanan

Kebutuhan Wisata

Atraksi WIsata

Jasa Wisata

Daerah Tujuan Wisata
= Komplementaritas

Gambar 2.2 Pariwisata Sebagai Mobilitas Spasial

Sumber : Soekadijo ( 2000: 25).

Transferabilitas Angkutan

23

Berdasarkan uraian McIntosh tersebut Soekadijo (2000 : 38) membuat sejumlah subkelas motif wisata dan tipe aktivitas wisatanya, yaitu: 1. Motif bersenang-senang atau tamasya : wisatawan tipe ini ingin mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya, mendengarkan, dan menikmati apa saja yang menarik perhatiannya. 2. Motif rekreasi : kegiatan-kegiatannya dapat berupa olah raga, tamasya, atau sekadar bersantai menikmati hari libur. 3. Motif kebudayaan : dalam tipe wisata kebudayaan, orang tidak hanya menyaksikan dan menikmati atraksi, namun juga mengadakan penelitian tentang keadaan setempat. 4. Wisata Olah raga : merupakan pariwisata di mana wisatawan mengadakan perjalanan karena motif olah raga, baik untuk melaksanakan kegiatan berolah raga maupun untuk menyaksikan suatu event olah raga. 5. Wisata Bisnis : bentuknya berupa kunjungan, pertemuan, pameran, yang membuat kontak dalam kegiatan ini berkembang menjadi hubungan bisnis yang mantap. 6. Wisata Konvensi : bentuknya berupa pertemuan-pertemuan berskala nasional, global untuk membicarakan suatu masalah tertentu. Pertemuan ini ada yang diselenggarakan secara rutin oleh suatu organisasi profesi.

24

7. Motif Spiritual: merupakan tipe wisata yang tertua. Sebelum orang mengadakan perjalanan untuk rekreasi dan bisnis orang sudah mengadakan perjalanan untuk berziarah atau untuk keperluan keagamaan lainnya. Wisata ziarah merupakan bagian dari aktivitas wisata spiritual ini. 8. Motif Interpersonal: suatu aktivitas perjalanan wisata yang didorong oleh keinginan untuk bertemu orang lain 9. Motif Kesehatan : suatu bentuk perjalanan wisata yang berorientasi pada penyembuhan dari suatu penyakit Faktor mendasar yang mendorong wisatawan melakukan perjalanan wisata adalah daya tarik yang dimiliki suatu destinasi. Inskeep (1991: 77) mengelompokkan daya tarik wisata ke dalam tiga kategori yaitu : a. Daya tarik alam, yang berdasarkan pada kondisi lingkungan alam. b. Daya tarik budaya, yang berdasar pada aktivitas manusia. c. Daya tarik khusus, yang merupakan buatan manusia. Daya tarik alamiah tersebut seperti dijelaskan Inskeep, meliputi iklim, pemandangan indah seperti pantai dan lautan, flora dan fauna, bentangan alam khusus, taman nasional dan wilayah konservasi. Daya tarik budaya mencakup beberapa hal seperti situs arkeologis, situs bersejarah, budaya lokal yang khas, kesenian, kerajinan tangan, aktivitas ekonomi yang menarik, wilayah perkotaan yang bagus, museum, fasilitas budaya lainnya, festival budaya, dan keramahtamahan penduduk. Daya tarik khusus tersebut tidak terkait dengan daya tarik alam atau budaya, melainkan dirancang oleh manusia sehingga memiliki nilai

25

daya tarik. Yang termasuk dalam daya tarik khusus ini misalnya taman hiburan, sirkus, pusat perbelanjaan, pertemuan, konferensi dan pameran, acara-acara khusus, kasino, hiburan, rekreasi dan olah raga. Di samping berbagai daya tarik yang telah disebutkan tadi, fasilitasfasilitas penunjang aktivitas kepariwisataan juga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Fasilitas wisatawan yang khas dan luar biasa juga dapat menjadi sumber daya tarik, misalnya hotel dan resort dengan desain yang indah. Mode transportasi yang unik dan khas pun dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Selain itu, makanan juga termasuk faktor yang tidak dapat ditinggalkan sebagai daya tarik. Ini terjadi bila makanan tersebut disajikan dengan sangat baik dan bercita rasa tinggi. Tidak itu saja, masih ada banyak faktor lainnya yang perlu diperhitungkan sebagai sumber daya tarik suatu destinasi, seperti asosiasi keagamaan, suku bangsa, dan nostalgia. Di luar faktor-faktor tersebut, stabilitas politik, kesehatan dan keselamatan publik turut menjadi pertimbangan bagi daya tarik wisatawan. Yang tidak kalah penting, besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan perjalanan juga menjadi faktor penting.

2.1.5 Perencanaan pariwisata Terkait dengan penjelasan Soekadijo, Yoeti (1997:2) mengatakan bahwa pariwisata bukanlah kegiatan yang dapat diwujudkan secara spontan karena terdapat sejumlah aspek yang eksistensinya dibutuhkan, dan perlu menjadi bahan kajian dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata, yaitu:

26

1. Wisatawan: pengembangan pariwisata harus didahului dengan penelitian tentang karakteristik wisatawan yang diharapkan datang. Dari negara mana saja mereka datang, anak muda atau orang tua, pensiunan atau pegawai biasa, apa kesukaannya, dan pada musim apa saja mereka melakukan perjalanan. 2. Pengangkutan: penelitian selanjutnya adalah bagaimana fasilitas transportasi yang tersedia atau yang akan digunakan, baik untuk membawa wisatawan dari negara asal ke daerah tujuan wisata yang akan dituju. Selain itu, bagaimana pula transportasi lokal bila

melakukan perjalanan wisata di daerah tujuan wisata yang dikunjungi. 3. Atraksi/objek wisata: bagaimana objek dan atraksi yang akan dijual, apakah memenuhi tiga syarat seperti: apa yang dapat dilihat (something to see) apa yang dapat dilakukan (something to do) apa yang dapat dibeli (something to buy), di daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi 4. Fasilitas pelayanan: fasilitas apa saja yang tersedia di daerah tujuan wisata tersebut, bagaimana akomodasi, perhotelan, restoran, pelayanan umum seperti bank/money changer, kantor pos, telepon, faksimili, internet, di daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi wisatawan. 5. Informasi dan Promosi: calon wisatawan perlu memperoleh informasi tentang daerah tujuan wisata yang akan dikunjunginya. Untuk itu perlu dipikirkan cara-cara publikasi atau promosi yang akan dilakukan.

27

Kapan iklan harus dipasang, ke mana leaflets/brosur harus disebarkan, sehingga calon wisatawan mengetahui tiap paket wisata yang ada dan memudahkan calon wisatawan dalam mengambil keputusan. Agar perkembangan pariwisata di suatu daerah dapat berjalan sesuai harapan, maka sudah sewajarnya para pembuat kebijakan yang bermaksud mengembangkan pariwisata di wilayah kerjanya harus melakukan serangkaian kegiatan perencanaan. Pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut (Paturusi, 2003) : 1. Kegiatan pariwisata merupakan suatu kegiatan ekonomi yang relatif baru. Dengan demikian pemerintah dan pihak swasta memiliki informasi dan pengalaman yang terbatas tentang bagaimana

mengembangkan sektor ini dengan baik. Perencanaan pariwisata dapat menjadi arahan dan pedoman dalam mengembangkannya. 2. Kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang sangat kompleks, multisektoral, dan melibatkan berbagai bidang seperti pertanian, perikanan, manufakturing, kebudayaan, pertamanan, berbagai fasilitas pelayanan dan jasa, transportasi, dan infrastruktur lainnya.

Perencanaan dan koordinasi untuk memadukan unsur-unsur tersebut menjadi mutlak. 3. Pariwisata dapat mendatangkan keuntungan ekonomis baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan perencanaan yang baik, keuntungan ini dapat dioptimalkan.

28

Inskeep (1991:49) menjelaskan serangkaian tahapan yang harus ditempuh dalam proses perencanaan, sebagai berikut: 1. Persiapan Studi 2. Penentuan Tujuan 3. Survei 4. Analisis dan Sintesis 5. Formulasi Kebijakan dan Perencanaan 6. Rekomendasi 7. Implementasi dan Pengawasan. Ini merupakan tahap akhir dari seluruh proses perencanaan pengembangan pariwisata. Tentang perencanaan, strategi pengelolaan, dan evaluasi pariwisata, Spillane (1997: 28) memaparkan beberapa pendekatan yang dapat digunakan, yaitu: 1. Pendekatan advocacy: pendekatan ini mendukung pariwisata dan menekankan keuntungan ekonomis dari pariwisata. Potensi pariwisata bisa dipakai untuk mendukung bermacam-macam kegiatan ekonomis, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperoleh devisa asing yang dibutuhkan bagi pembangunan. Perkembangan pendekatan ini mencapai puncaknya pada tahun 1960-an dan terus menarik perhatian pengkaji dan pengembang pariwisata 2. Pendekatan cautionary: karena pariwisata baru dipandang dari satu sisi saja, ada dorongan untuk memunculkan pendekatan lain yang kemudian dikenal sebagai pendekatan cautionary. Pendekatan ini

29

muncul pada tahun 1970-an, baik yang mempertanyakan maupun yang menolak sama sekali pendekatan advocacy. Mereka yang berada pada sisi pendekatan cautionary menekankan bahwa pariwisata dapat

menyebabkan banyak kerugian (disbenefits) dalam berbagai aspek sosio-ekonomi, seperti menimbulkan lapangan kerja musiman dan kasar (rendahan), mengakibatkan kebocoran devisa, komersialisasi budaya, serta menyebabkan berbagai macam konflik. 3. Pendekatan adaptacy: karena kedua pendekatan tersebut saling

berlawanan, muncul bentuk pendekatan baru yang berpandangan bahwa pariwisata mempunyai unsur positif maupun negatif.

Pendekatan adaptacy menyebutkan bahwa pengaruh negatif pariwisata dapat dikontrol dengan mencari bentuk lain perkembangan pariwisata dari yang selama ini dikenal umum, atau dengan menyesuaikan pariwisata dengan kondisi di negara atau daerah tujuan wisata. Cara berpikir baru ini didasarkan pada pandangan bahwa alam dan budaya dapat digabungkan dalam satu konteks. Pendekatan ini mengusulkan strategi pembangunan pada skala kecil, pariwisata yang terkontrol, pariwisata yang dapat bertahan lama (sustainable), pariwisata dengan cara menikmati kehidupan masyarakat setempat, dan pariwisata yang berkaitan dengan ekologi (eco-tourism). Pendekatan ini membuat manusia sadar akan bahaya pariwisata massa (mass tourism). Karena itu pendekatan ini mengusulkan beraneka ragam bentuk alternatif untuk mengembangkan pariwisata. Contohnya adalah agrowisata,

30

community tourism, cottage tourism, rural tourism. Semua alternatif tersebut dikenal sebagai pendekatan developmental. Alternatif ini menganggap bahwa pariwisata dapat disesuaikan dengan keadaan

masyarakat tuan rumah dan peka akan selera masyarakat tuan rumah. 4. Pendekatan knowledge based: pendekatan ini adalah pandangan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dengan memanfaatkan beberapa hal yang positif dan negatif dari semua pandangan di atas, pendekatan ini menggunakan pandangan sistematis terhadap pariwisata. Selain itu, pendekatan ini juga menganggap bahwa pariwisata adalah bidang penelitian yang multidisipliner dan cenderung menerapkan teori dan metode dari berbagai bidang yang berkaitan dengan pariwisata.

Pendekatan ini menggabungkan beberapa bidang pengetahuan sebagai landasannya. Di samping itu, pendekatan ini tetap membuka diri

terhadap ketiga pendekatan lainnya. Pendekatan knowledge based ini secara selektif menggabungkan ketiga pendekatan lain dengan masingmasing memberikan kontribusinya sendiri.

2.1.6 Kebijakan pariwisata Kebijakan pariwisata umumnya dipandang sebagai bagian dari kebijakan ekonomi. Kebijakan ekonomi terkait dengan struktur dan pertumbuhan ekonomi yang biasanya diwujudkan dalam suatu perencanaan, misalnya berjangka waktu 10 tahun, yang memproyeksikan kondisi-kondisi yang ingin dicapai pada dekade mendatang, serta merencanakan pertumbuhan ekonomi pada kurun waktu

31

tersebut. Beberapa faktor kunci yang menjadi perhatian kebijakan ekonomi misalnya ketenagakerjaan, investasi dan keuangan, industri-industri yang penting, serta perdagangan (Gee, 2000 : 287). Berbagai kebijakan suatu negara sangatlah terkait dan merefleksikan kompleksitas dan dinamika kemajuan masyarakatnya. Perubahan pada satu area kebijakan akan mempengaruhi terjadinya perubahan pada area kebijakan lainnya. Karena itu, para pembuat kebijakan pariwisata harus mengadopsi suatu perspektif yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin terjadi, serta keterkaitan antara pariwisata dengan masyarakat. Lebih lanjut Gee menjelaskan bahwa formulasi kebijakan pariwisata merupakan tanggung jawab penting yang harus dilakukan oleh pemerintah yang ingin mengembangkan atau mempertahankan pariwisata sebagai bagian yang integral dalam perekonomian. Kebijakan pariwisata menunjukkan tujuan-tujuan dan arah, strategi dan sasaran yang dilakukan untuk mewujudkan kemajuankemajuan dan pembangunan yang diinginkan masyarakatnya. Hal tersebut membuat kebijakan pariwisata harus mempertimbangkan sejumlah isu kebijakan misalnya seperti (Gee, 2000 : 287) : Peran pariwisata dalam perekonomian (Seberapa penting peran pariwisata terhadap ekonomia secara keseluruhan?, Seberapa penting peran pariwisata terhadap industri lainnya?) Pengendalian pengembangan pariwisata. (Pengembangan

pariwisata seperti apa yang diinginkan dan sesuai denga kondisi yang ada? Di mana pengembangan harus dilakukan?)

32

-

Administrasi pariwisata. (Pada level mana pariwisata perlu diwakili pada struktur kelembagaan pemerintah?)

-

Dukungan pemerintah terhadap pariwisata. (Seberapa besar jumlah sumber daya pemerintah yang harus diarahkan untuk mendukung dan menumbuhkan pariwisata?)

-

Dampak pariwisata. (Dampak-dampak seperti apa, baik positif maupun negatif, yang akan ditimbulkan pariwisata terhadap masyarakat, kebudayaan, dan lingkungan?)

2.2 Landasan Teori Teori sistem dalam ilmu sosial merupakan pengembangan dari konsep sistem yang digunakan dalam ilmu biologi. Sistem sosial termasuk politik dipandang seperti sistem biologi, yang menjelaskan bahwa setiap sub-sistem saling memiliki keterkaitan antara satu sama lainnya. Perubahan pada satu

komponen akan mengakibatkan perubahan pada komponen lainnya. Tradisi ini berkembang pada sekitar abad ke-19, dengan menggunakan konsep-konsep biologi dalam ilmu politik sebagai pengganti penggunaan konsep fisika yang sempat banyak digunakan pada abad ke-18. Dalam pendekatan ini negara tidak lagi dipandang sebagai mesin, melainkan mahluk yang hidup dan berkembang biak. Karena itu negara harus dipahami dengan teori tentang kehidupan organik yang berakar dari pemikiran Darwin, bukan teori tentang jagad raya oleh Newton. (Roskin, et.al, 1994:20). Dengan cara pandang yang baru tersebut maka pemerintahan juga dipandang sebagai suatu entitas yang dipengaruhi dan diubah

33

oleh lingkungan. Seperti dijelaskan Bronowski (1970, dalam Mas’oed, 1994: 212), pemerintahan dibentuk untuk menjalankan fungsi-fungsi tertentu, dan fungsi-fungsi itu dijalankan karena desakan untuk hidup atau demi

mempertahankan eksistensinya. Easton mengadaptasi konsep sistem pada ilmu biologi tersebut menjadi pendekatan sistem yang intinya menjelaskan bahwa suatu kebijakan tidak mungkin terbentuk dalam suatu ruang sosial yang vakum, namun suatu kebijakan terbentuk karena interaksnya dengan lingkungan sekitar. Dalam model ini terdapat lima instrumen penting untuk memahami proses pengambilan keputusan sebuah kebijakan yaitu input, proses, output, feedback/umpan balik, dan lingkungan itu sendiri, seperti terdapat pada Gambar 2.3. Input dalam sistem politik mencakup tuntutan, dukungan, maupun sikap apatis yang berasal dari partai politik, warga negara, kelompok kepentingan dan berbagai komponen infrastruktur politik lainnya yang oleh pembuat kebijakan di pemerintahan selanjutnya diproses menjadi output berupa tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang otoritatif (Apter, 1987: 252). Output dari suatu sistem politik juga merupakan alokasi nilai-nilai yang otoritatif, dan alokasi-alokasi ini dinyatakan sebagai kebijakan publik (Thoha, 2002: 117). Pada tahap berikutnya output ini memberikan dampak kepada lingkungan ekonomi, politik, dan sosial, baik yang disukai atau tidak disukai masyarakat. Dampak tersebut selanjutnya menjadi umpan balik berupa input baru, yaitu tuntutan dan dukungan yang bisa membuat pembuat kebijakan akhirnya mengubah keputusan sebelumnya. Apa yang terjadi dalam elemen proses pada

34

model ini tidak diungkap, sehingga disebut dengan kotak hitam/black box. Menurut Easton apa yang terjadi di dalam black box jauh lebih rumit daripada sekadar pemrosesan tuntutan. Di dalamnya terjadi tarik-menarik kepentingan antara berbagai komponen di dalam pemerintahan (Roskin, et.al, 1994 : 21).

Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik Tuntutan Input Apatisme Dukungan

Keputusan dan tindakan

Proses konversi oleh Pembuat Kebijakan di Pemerintahan

Output

Umpan Balik

Gambar 2.3 Model Sistem Politik David Easton
Sumber: Roskin, et.al, 1994: 21

Teori sistem sangat membantu dalam mengorganisasikan variabel-variabel dalam analisis kebijakan, seperti bagaimana input lingkungan mempengaruhi kebijakan publik dan sifat sistem politik? Bagaimana kebijakan publik mempengaruhi lingkungan dan permintaan kegiatan selanjutnya? Kekuatan dan faktor lingkungan apakah yang bertindak dalam menimbulkan permintaan pada sistem politik? Bagaimana sistem politik dapat mengubah tuntutan dalam kebijakan publik dan mempertahankan dirinya sepanjang waktu? (Agustino, 2006 : 21).

35

2.3 Model Penelitian Kebijakan publik merupakan sebuah fenomena yang kompleks, sehingga untuk memahaminya perlu dilakukan penyederhanaan melalui pengorganisasian konsep dan ide melalui model-model dan pemetaan (Parsons, 2005 : 59). Model merupakan abstraksi dari fenomena, yang dibuat untuk memudahkan

memudahkan pemahaman. Dengan penggunaan model, pemikiran tentang fenomena yang dikaji menjadi lebih sederhana dan jelas, variabel-variabel penting dalam fenomena akan lebih mudah diidentifikasi, sehingga membantu mengarahkan penelitian (Mas’oed, 1994 : 217). Berdasarkan model sistem politik Easton tersebut, penulis selanjutnya mengkonstruksi model teoritik yang menjadi panduan dalam penelitian ini. Variabel yang dimasukan ke dalam komponen input adalah lingkungan kebijakan adalah pariwisata internasional, pariwisata nasional, dan kondisi kepariwisataan di tingkat lokal. Input tersebut selanjutnya menjalani proses yang menghasilkan output berupa kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri. Model yang dibangun tersebut digambarkan pada Gambar 2.4.

36

INPUT
PERKEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI TINGKAT INTERNASIONAL

OUTPUT
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA

PERKEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI TINGKAT NASIONAL

PROSES PEMBUATAN KEBIJAKAN

TUNTUTAN DAN DUKUNGAN TERHADAP PENGEMBANGAN PARIWISATA DI TINGKAT LOKAL

Umpan Balik

Gambar 2.4 Model Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif, yang didukung dengan penggunaan teknik-teknik pada studi literatur dan penelitian lapangan. Studi literatur dilakukan pada literatur teknis dan literatur non teknis berupa pengkajian terhadap data dan informasi yang relevan tentang kebijakan dan kepariwisataan Kota Kediri seperti peraturan daerah, dokumen perencanaan pembangunan daerah, buku profil Kota Kediri, buku laporan pertanggungjawaban walikota, laporan APBD, petikan data dan informasi dari buku-buku teks dan penelitian terkait, serta laporan media cetak lokal dan nasional yang terkait dengan masalah penelitian. Metode ini terutama sekali digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian no 1 dan 2 pada penelitian ini, yaitu kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri serta peta permasalahan kepariwisataan di tingkat internasional, nasional yang melingkupi kepariwisataan Kota Kediri. Teknik-teknik pada penelitian lapangan digunakan untuk memecahkan persoalan seperti terangkum pada pertanyaan penelitian no 3, yaitu kebijakan yang perlu ditempuh untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut. Merujuk pada pengertian penelitian lapangan menurut Unaradjan (2000 : 211), kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada penelitian lapangan ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi, bukan untuk menguji hipotesis tertentu. Sesuai

dengan penelitian lapangan pada umumnya, sasaran awal yang dituju tidak

37

38

diketahui sebelumnya (open ended), bahkan hasilnya dapat terus berkembang dari waktu ke waktu. Berdasarkan penjelasan Neuman (1997 : 344) tentang penelitian lapangan, maka pada penelitian ini penulis berinteraksi dengan kelompok sosial di Kota Kediri, seperti kalangan pemerintah, kelompok masyarakat, kalangan pers, untuk mengetahui dan mempelajari kondisi sosial ekonomi serta masalah-masalah kepariwisataan Kota Kediri. Selanjutnya tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian ini berpedoman pada Neuman (1997) di antaranya yaitu: 1. Membaca literatur-literatur terkait 2. Mencari akses/ijin masuk ke lokasi penelitian. 3. Masuk ke lokasi penelitian dan menjalin hubungan sosial dengan anggota kelompok sosial. 4. Mengamati, menyimak, dan mengumpulkan data-data penting. 5. Mulai menganalisa data, membangun kerangka pemikiran 6. Melakukan wawancara dengan anggota-anggota kelompok yang diteliti. 7. Meninggalkan lokasi penelitian. 8. Melengkapi analisis dan menulis laporan. Berdasarkan panduan Neuman (1997) pula, selama penelitian lapangan ini penulis melaksanakan sejumlah kegiatan sebagai berikut: 1. Mengamati kejadian-kejadian dan aktivitas harian pemerintahan serta masyarakat di Kota Kediri, termasuk kejadian-kejadian yang tidak umum.

39

2. Berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang menjadi objek penelitian dan mengalami secara langsung kehidupan sosial di Kota Kediri dengan menggunakan beragam teknik dan kemampuan bersosialisasi yang fleksibel sesuai tuntutan situasi di lingkungan pemerintah maupun masyarakat Kota Kediri. 3. Mengamati berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pengembangan kepariwisataan secara holistik. 4. Memperhatikan aspek eksplisit maupun implisit budaya masyarakat setempat. 5. Mengamati proses-proses sosial yang terjadi tanpa melakukan campur tangan. 6. Mengumpulkan data pendukung berupa catatan-catatan, termasuk diagram, peta, gambar, foto, untuk memberikan deskripsi yang rinci tentang kepariwisataan Kota Kediri.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Pengamatan dan pencarian data dilakukan di objek wisata yang dikembangkan oleh pemerintah Kota Kediri serta kantor-kantor pemerintahan seperti Kantor Walikota, Kantor Bappeda, Kantor Pariwisata, dan Perpustakaan Kota Kediri. Pra penelitian dilakukan pada Januari 2005. Pada tahap ini dilakukan pengamatan dan pengumpulan informasi-informasi awal, pendataan dokumendokumen yang perlu dicari untuk menunjang dengan penelitian. Selanjutnya

40

dilaksanakan tahap-tahap kegiatan penelitian yang meliputi penyusunan proposal, seminar proposal, penelitian lapangan, penyusunan laporan, hingga tahap pelaporan seperti terdapat pada Lampiran 1.

3.3 Jenis dan Sumber Data Untuk melaksanakan penelitian ini penulis memanfaatkan data primer, berupa informasi yang didapatkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara kepada informan-informan baik dari pembuat kebijakan maupun masyarakat, sehingga sebagian besar data yang didapatkan adalah data kualitatif berupa kumpulan kata-kata, bukan rangkaian angka. Selain itu penulis juga memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari literatur teknis seperti laporan tentang kajian penelitian dan karya tulis profesional yang terkait dengan topik penelitian, maupun literatur non teknis seperti laporan, kaset video, surat kabar, serta berupa dokumen-dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah Kota Kediri seperti Buku Kota Kediri Dalam Angka, Rencana Strategi Pemerintah Kota Kediri, Rencana Jangka Pendek dan Menengah (RPJM) Daerah Kota Kediri, Laporan Pertanggungjawaban Walikota Kediri 1999-2004 yang menjadi data pendukung dalam pengamatan lapangan. Sebagai bahan pendukung, penulis juga melakukan pencarian data dan informasi terkait melalui internet. Situs-situs yang dikunjungi guna mendapatkan data dimaksud di antaranya seperti situs resmi pemerintah Kota Kediri, yaitu www.kotakediri.go.id, serta pencarian (browsing) di situs-situs lainnya yang didapatkan dari mesin pencari (search engine) seperti www.google.com.

41

3.4 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Buku catatan dan tape recorder. Instrumen ini digunakan untuk mencatat data-data penting serta merekam wawancara kepada informan. 2. Kamera digital dan handycam, yang berguna untuk

mendokumentasikan kondisi lingkungan dan aktivitas sosial, dengan format foto (still image) maupun gambar bergerak (video). Ada pun jenis spesifikasi alat-alat tersebut sebagai berikut: 1) Kamera digital: a) Fujifilm FinePix seri 2800Z. Spesifikasi: 2.0 megapixels, 6 x optical zoom, lensa Fujinon Zoom Lens, 1: 2.8 – 3.0. f = 6 – 36 mm. b) Nikon D 100. Spesifikasi : 6.0 megapixels, lensa AF-S Nikkor 24-120 mm, 1:3.5-5.6. 2) Handycam, merk Sony seri TRV740E PAL. Spesifikasi: 420 x digital zoom, 15 x optical zoom, f = 3.6-54 mm, 1:1.6. Perangkat lunak editing video yang digunakan adalah Ulead Media Studio versi 7.0. Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian lapangan, maka sebagian besar kegiatan pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan. Penulis melakukan aktivitas penelitian seperti dijelaskan Neuman (1997: 361) yang sebagian besar berupa adalah mengamati, mendengarkan, dan

42

membuat catatan-catatan tentang berbagai kegiatan dan kebijakan pemerintah yang terkait dengan upaya pengembangan pariwisata. Dalam setiap pengamatan tersebut peneliti membuat catatan-catatan yang memuat peta, rekaman wawancara dalam bentuk kaset, hingga dokumentasi berupa foto dan video yang di antaranya tersaji dalam tulisan ini. Wawancara pada penelitian ini dilaksanakan secara tidak terstruktur sehingga penulis hanya berpedoman pada pertanyaan yang bersifat garis besar yang membuat pelaksanaan wawancara tidak kaku, dan dilakukan waktu dan konteks yang dianggap paling tepat. Pola wawancara yang dilakukan meliputi pengajuan pertanyaan, menyimak, mengekspresikan ketertarikan, dan merekam informasi yang disampaikan informan. Dengan demikian wawancara dilakukan dengan pertanyaan yang mengarah pada kedalaman informasi, serta tidak dilakukan secara formal terstruktur guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut. Saat menggali informasi tentang pandangan masyarakat misalnya, penulis memanfaatkan momentum hari minggu saat olah raga di dalam Kawasan Wisata Selomangleng. Teknik ini merujuk pada Neuman (1997: 371), Unaradjan (2000: 212), dan Sutopo (2003: 118).

3.5 Analisis Data Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data berpedoman pada penjelasan Miles dan Huberman (1992, seperti dikutip dalam Sutopo 2003: 171) yang meliputi 3 kegiatan, yaitu : reduksi data, penyajian data, dan penarikan

43

simpulan. Miles dan Huberman menyebut rangkaian kegiatan analisis data tersebut sebagai model interaktif seperti terdapat pada Gambar 3.1 berikut:
Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data

Penarikan Simpulansimpulan/verifikasi

Gambar 3.1 Model Interaktif Analisis Data Miles-Huberman
Sumber: Sutopo ( 2003 : 172)

Penjelasan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: a. Reduksi Data Pada tahap ini penulis melakukan proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanan serta pengabstraksian terhadap data yang diperoleh di lapangan, kemudian dicari tema atau polanya. Reduksi data dilakukan terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan,

mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. b. Penyajian Data

44

Penyajian data atau display data dimaksudkan agar memudahkan bagi peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Oleh karena itu penulis menyajikan data dalam bentuk matriks, grafik, bagan dan tabel. c. Menarik Simpulan Verifikasi data dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara terusmenerus sepanjang proses penelitian berlangsung. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu mencari pola, tema, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang bersifat tentatif, akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus-menerus maka diperoleh kesimpulan yang bersifat ”grounded”. Dengan kata lain pada setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.

3.6 Cara Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data-data tersebut selanjutnya disajikan melalui pemaparan secara naratif yang didukung dengan sajian data dan informasi berupa tabel, gambar, foto, serta didukung pula dengan cuplikan dokumentasi video objek penelitian dalam format mpeg/ PAL VCD yang didapatkan langsung oleh penulis selama proses penelitian di lapangan serta sumber sekunder.

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN DAYA TARIK WISATA KOTA KEDIRI

4.1 Kondisi Geografis Secara astronomis, Kota Kediri berada di antara 111º05´ - 112º03´ Bujur Timur dan 7º45´ - 7º55´ Lintang Selatan dengan luas 63,40 km². Seperti terdapat pada Lampiran 2, Kota Kediri terletak sekitar 125 km dari arah barat daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Letak Kota Kediri cukup strategis, karena dilintasi 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa Timur, salah satunya adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten Tulungagung. Kini Kota Kediri juga menjadi bagian penting dan salah satu pusat pengembangan wilayah Jawa Timur dan Indonesia pada umumya. Kota Kediri memiliki curah hujan rata-rata antara 1000-2500 mm/ tahun dengan jumlah hari hujan sekitar 97 hari per tahun. Adapun suhu udara rata-rata 28°C, dengan suhu minimum 24°C dan maksimum 34°C. Dari aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m di atas permukaan laut, dengan tingkat kemiringan bervariasi antara antara 0-40 persen. Struktur wilayah Kota Kediri yang terdiri dari 3 kecamatan terbagi menjadi wilayah timur dan barat Sungai Brantas, yang dideskripsikan pada Lampiran 3. Wilayah dataran rendah Kota Kediri terletak di bagian timur sungai, yang meliputi Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren. Sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mojoroto. Wilayah di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang

45

46

sebagian besar berada dalam kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m). Secara administratif wilayah Kota Kediri terdiri dari 3 wilayah kecamatan, yaitu: 1. Kecamatan Kota dengan luas wilayah 14,900 km² terdiri dari 17 kelurahan 2. Kecamatan Pesantren dengan luas wilayah 23,903 km² terdiri dari 15 kelurahan 3. Kecamatan Mojoroto dengan luas wilayah 24,601 km² terdiri dari 14 kelurahan

4.2 Kependudukan dan Tenaga Kerja Berdasarkan data registrasi penduduk dari tahun 1985 hingga tahun 1992, laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun untuk seluruh Kota Kediri adalah sebesar 1,08 persen. Selanjutnya pada periode tahun 1993 hingga 2004 laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,3 persen. Pada tahun 2004 penduduk Kota Kediri berjumlah 239.329 jiwa yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki sebanyak 117.563 jiwa dan perempuan sebanyak 121.766 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 3798 jiwa/ km². Bila dirinci per kecamatan, berdasarkan data tahun 2003 maka Kecamatan Kota mempunyai tingkat kepadatan penduduk tertinggi, yaitu sebesar 5754 jiwa per km² bila dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya. Kepadatan penduduk di Kecamatan Mojoroto mencapai 3502 jiwa per km² dan 2891 jiwa per km² di

47

Kecamatan Pesantren. Perkembangan jumlah penduduk Kota Kediri antara tahun 1997 hingga 2004 dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Kota Kediri Tahun 1997-2004 Tahun Laki-laki Perempuan (jiwa) Jumlah Kepadatan (jiwa) (jiwa) penduduk (jiwa/ km²) 1997 115.616 119.998 235.614 3716 1998 116.055 120.252 236.307 3727 1999 116.135 120.440 236.575 3731 2000 117.192 121.344 238.536 3762 2001 117.278 121.677 238.955 3769 2002 117.916 122.247 240.163 3788 2003 117.628 121.724 239.352 3775 2004* 117.563 121.766 239.329 3775
* pertengahan tahun 2004 Sumber: BPS Kota Kediri, 2004

Dari jumlah tersebut, penduduk yang terdaftar sebagai pencari kerja di Kota Kediri pada tahun 2002 sebanyak 2461 orang dan pada tahun 2003 terjadi peningkatan sebesar 6,95 persen menjadi 2632 orang. Tingkat kenaikan jumlah pencari kerja ini nampaknya tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan peluang kerja. Karena itulah pemerintah Kota Kediri berupaya mengembangkan lapanganlapangan usaha baru yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi masalah pengangguran. Bila dilihat dari struktur ketenagakerjaan yang ada, sebagian besar penduduk bermata pencaharian pada sektor industri pengolahan seperti terdapat pada Tabel 4.2. Berdasarkan data tahun 2004, jumlah penduduk yang bekerja pada sektor industri pengolahan paling mendominasi bila dibandingkan sektor lainnya, yaitu mencapai 30.488 jiwa (27,39 persen). Kondisi ini dipengaruhi oleh

48

keberadaan PT Gudang Garam, Tbk beserta anak perusahaannya yang menggerakkan hampir 98 persen perekonomian Kota Kediri. Mata pencaharian terbesar kedua di Kota Kediri adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebanyak 26.960 jiwa (24,22 persen). Tabel 4.2 Mata Pencaharian Penduduk Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah (Jiwa) Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan 4620 Pertambangan dan penggalian 309 Industri pengolahan 30.488 Listrik, gas, dan air minum 308 Bangunan konstruksi 4540 Perdagangan, hotel, dan restoran 26.960 Pengangkutan dan komunikasi 7944 Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 1408 Jasa-jasa lain 34.727 Lapangan Usaha % 4,15 0,28 27,39 0,28 4,02 24,22 7,14 1,26 31,20

Sumber: BPS Kota Kediri,2004

4.3. Perekonomian Struktur yang terbentuk pada lapangan usaha mempengaruhi struktur perekonomian Kota Kediri secara sektoral. Pada kurun waktu tahun 1999 hingga 2003, struktur ekonomi Kota Kediri Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mengalami pergeseran yang relatif kecil. Seperti terdapat pada Tabel 4.3, struktur perekonomian Kota Kediri pada periode tersebut didominasi oleh sektor industri pengolahan. Sektor ini memberi kontribusi sebesar 79,44 persen pada tahun 1999, 78,55 persen pada tahun 2000, 79,37 persen pada tahun 2001, selanjutnya mencapai 78,93 persen pada tahun 2002, dan 76,29 persen pada 2003 (Semester I, bulan Juni). Menyusul pada peringkat kedua adalah sektor perdagangan, hotel,

49

dan restoran yang memberikan kontribusi berturut-turut sebesar

17,53 persen

pada tahun 1999, 17,56 persen pada tahun 2000, 16,87 persen pada tahun 2001, 17,15 persen pada tahun 2002, dan 19,6 persen pada tahun 2003 (Semester I, bulan Juni). Tabel 4.3 Kontribusi Sektor Pembangunan (ADHB) Terhadap PDRB Kota Kediri Tahun 1999-2003 Kontribusi (%) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Lainnya 1999 0,20 0,01 79,44 0,17 0,22 17,53 0,67 1,99 0,76 2000 0,19 0,01 78,55 0,17 0,21 17,56 0,68 1,85 0,78 2001 0,18 0,01 79,37 0,17 0,19 16,87 0,68 1,78 0,75 2002 0,18 0,01 78,93 0,19 0,20 17,15 0,74 1,79 0,80 2003* 0,17 0,01 76,29 0,20 0,20 19,60 0,79 1,93 0,82

*Posisi Juni 2003 (PDRB Semester I) Sumber: BPS Kota Kediri, 2004

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Kediri Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) dari tahun 1999 hingga tahun 2003 mengalami tren peningkatan. Dalam Pidato Laporan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri Tahun 19992004 disebutkan bahwa tingkat kenaikan rata-rata PDRB pada kurun waktu tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. ADHB (tanpa PT Gudang Garam): 12,6 persen b. ADHB (dengan PT Gudang Garam): 18,63 persen c. ADHK (tanpa PT Gudang Garam): 4,04 persen

50

d. ADHK (dengan PT Gudang Garam): 5,57 persen Pertumbuhan ekonomi Kota Kediri pada tahun 1999 hingga 2003 juga cenderung mengalami peningkatan seperti terdapat pada Tabel 4.4. Tabel 4.4 Pertumbuhan Ekonomi Kota Kediri Tahun 1999-2003 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003

Tingkat Pertumbuhan 1,41% 5,8% 6,01% 4,94% 5,29%
Sumber: BPS Kota Kediri,2004

Pertumbuhan ekonomi yang progresif tersebut ditunjang oleh kondisi keamanan yang stabil pada kurun waktu 1999 hingga 2003. Karena itu berdasarkan penilaian Jawa Pos Institute of Pro Otonomi tahun 2001, Kota Kediri dinobatkan sebagai daerah teraman se-Jawa Timur. Berdasarkan hasil survei Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) dan Kadin Provinsi Jawa Timur berbagai perusahaan lokal, nasional, asing, dan sejumlah data sekunder, Kota Kediri masuk dalam kategori kota yang menarik untuk investasi, secara berturut-turut dari tahun 2002, 2003, dan 2004. Pada survei tahun 2002 Kota Kediri berada pada peringkat 5 untuk wilayah Jawa-Bali, dan peringkat 8 untuk tingkat nasional. Sedangkan pada survei tahun 2004 posisi Kota Kediri naik pada peringkat ke-1 sebagai kota dengan daya tarik investasi tinggi untuk tingkat nasional. Selanjutnya pada tahun 2005 kota Kediri ditetapkan menjadi salah satu kota tujuan investasi untuk kedua kalinya. Yakni sebagai kota dengan faktor tenaga kerja dan produktivitas terbaik tingkat nasional. Penilaian dan penghargaan itu diberikan oleh Komite Pemantau Penyelenggaraan Otonomi Daerah (KPPOD),

51

sebuah komite independen yang terdiri dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin), United States Aid for International Development (USAID) dan The Asia Foundation. 4.4 Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Kediri 2005-2009 disebutkan bahwa sasaran yang ingin dicapai melalui program tersebut mencakup peningkatan kajian seni budaya dan pengembangan pariwisata yang sesuai dengan potensi wisata di Kota Kediri, sehingga pengembangan pariwisata Kota Kediri dititikberatkan pada pariwisata budaya, sejarah dan spiritual. Wisata sejarah, budaya, dan spiritual tersebut keterkaitan sangat erat sehingga tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. Budaya-budaya lokal yang berkembang di masyarakat Kota Kediri merupakan produk perjalanan sejarah Kota Kediri mulai dari era Hindu hingga Islam. Budaya lokal dengan wujud kesenian serta sistem kepercayaan yang mewakili dua era kesejarahan Kediri tersebut masih terus hidup dan berlangsung hingga saat ini. Berikut diuraikan potensi-potensi wisata yang terdapat di Kota Kediri.

4.4.1 Wisata budaya Kota Kediri memiliki perjalanan sejarah yang sangat tua, karena kelahirannya yang menurut temuan pada sejumlah prasasti diperkirakan bersamaan dengan masa berdirinya Kerajaan Kadiri. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya peninggalan sejarah berupa situs maupun patung, yang pengelolaannya di masa kini dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata sejarah. Dalam

52

sebuah seminar tahun 2000 yang membahas temuan tim peneliti tentang penelusuran hari jadi Kota Kediri terungkap bahwa terdapat tiga prasasti yang dapat menjadi acuan tentang kelahiran Kota Kediri. Berdasarkan Prasasti Hantang, yang bila dikonversikan pada penanggalan Masehi menunjukkan tanggal 7 September 1135, disebutkan bahwa waktu masa tersebut merupakan era bersatunya Kerajaan Panjalu dan Jenggala yang mengantarkannya menuju masa kejayaannya (Panjalu Jayati). Persatuan tersebut diprakarsai oleh Jayabaya, yang sekaligus mengakhiri konflik berkepanjangan antara dua kerajaan tersebut. Prasasti lainnya adalah Prasasti Pamwatan yang bila dikonversikan ke dalam sistem kalender masehi maka kira-kira menunjukkan tanggal 19 Desember 1042. Prasasti ini menjelaskan tentang awal berdirinya Kerajaan Panjalu, suatu era yang menandakan telah terjadinya perpecahan Kerajaan Kadiri menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Sedangkan prasasti lainnya adalah Prasasti Kwak yang bila dikonversikan pada penanggalan sistem Masehi menunjukkan tanggal 27 Juli 879. Prasasti ini menuliskan bahwa pada masa itu di daerah sekitar Desa Ngadisimo, Kota Kediri (di masa kini) telah berkembang sebuah komunitas yang religius, mandiri, dan telah mengembangkan teknologi pertanian untuk membantu kehidupannya. Catatan sejarah pada Prasasti Kwak ini yang selanjutnya dijadikan dasar perayaan hari jadi Kota Kediri. Benda-benda peninggalan bersejarah

maupun kesenian daerah yang terdapat di Kota Kediri tersebut merupakan modal dasar dalam upaya pengembangan pariwisata budaya.

53

4.4.1.1 Peninggalan bersejarah Kota Kediri sangat kaya akan benda-benda peninggalan bersejarah, beberapa di antaranya seperti: 1. Goa Selomangleng, yang oleh penduduk setempat diyakini sebagai tempat petilasan Dewi Kilisuci yang memilih untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa, setelah ayahandanya Prabu Airlangga berniat mewariskan tahta kerajaan kepadanya. Di sepanjang dinding goa alam ini terdapat relief-relief yang nampaknya bercerita tentang kehidupan manusia, namun sejauh ini belum terungkap secara resmi maknanya. Sumber lain, yaitu Miksic (1997, seperti dikutip dalam Oey, 1997 : 279) menyebutkan bahwa Goa Selomangleng merupakan goa meditasi umat Budha. Goa ini terdiri dari 4 ruangan yang dindingnya dihiasi oleh relief Budha dan adegan-adegan pada kisah Jataka. Relief-relief pada goa menunjukkan penanggalan pada dua era yang berbeda, salah satunya pada abad ke-12, dan yang lainnya pada tahun 1431. Hingga saat ini Goa Selomangleng masih digunakan oleh sekelompok masyarakat untuk melaksanakan kegiatan ritual dan meditasi. Gambar Goa Selomangleng dan relief di sepanjang dindingnya terdapat pada Lampiran 5 dan 6. 2. Koleksi peninggalan sejarah masa Kerajaan Kadiri yang disimpan di Museum Airlangga. Selain itu, di museum yang diresmikan pada tahun 1993 ini terdapat gedung pameran etnografi sebagai pusat

54

pengumpulan dan restorasi benda-benda etnografis yang ditemukan di Kota Kediri seperti terdapat pada Lampiran 7.

4.4.1.2 Kesenian dan budaya daerah Sebagai daerah yang memiiki latar sejarah yang sangat tua, Kota Kediri juga mewarisi berbagai budaya-budaya lokal yang memiliki kaitan erat dengan konteks perjalanan sejarahnya. Budaya ini tercermin dalam gaya hidup masyarakatnya yang religius, serta berbagai bentuk seni budaya masyarakat yang masih ada. Berbagai kelompok masyarakat secara rutin melaksanakan kegiatan budaya sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rejeki Sang Pencipta berupa panen yang sukses, sekaligus mengharapkan berkah untuk kehidupan yang damai dan tentram, di antaranya Tumpeng Tosaren yang dilaksanakan masyarakat Kelurahan Tosaren pada setiap bulan Suro. Gambar budaya Tumpeng Tosaren ini terdapat pada Lampiran 8. Berbagai kesenian tradisional yang ada kini tengah berupaya dihidupkan kembali melalui program revitalisasi kelompok-kelompok kesenian. Keseniankesenian tradisional yang masih dikenal dan eksis di kehidupan sehari-hari masyarakat ini misalnya Jemblung, Jaranan, dan Ronda Thetek yang dijelaskan sebagai berikut: 1. Kesenian Jemblung. Kesenian Jemblung adalah kesenian daerah yang berbentuk teater tradisional, biasanya terdiri dari 7 orang, termasuk di dalamnya panjak sebagai pemukul alat musik dan seorang dalang sebagai orang yang mengantarkan cerita.

55

Pementasan

Jemblung

dilengkapi

dengan

alat-alat

musik

tradisional yang terbuat dari kulit dan kayu yang dipukul secara berirama. Perkembangan kesenian Jemblung di Kota Kediri terpusat di Desa Bandar dan Lirboyo. 2. Jaranan. Jaranan merupakan kesenian tradisional yang diangkat dari cerita rakyat. Cerita yang diangkat merupakan kisah berlatar zaman Kerajaan Ngurawan yang terletak di daerah Kediri, di bawah pemerintahan Prabu Lembu Amiseno. Kesenian Jaranan, yang terdapat pada Lampiran 9, dimainkan oleh beberapa orang dengan mengenakan topeng Singobarong, Celeng, dan sebagainya. Pada saat memainkan tarian ini, si pemain dapat masuk dalam kondisi intrans/kesurupan sehingga mereka memakan rumput atau bunga sesaji yang telah disediakan. Agar kembali ke kondisi normal, mereka disadarkan oleh pawang dengan jalan membaca mantra-mantra tertentu. 3. Kesenian Ronda Thethek. Kesenian Ronda Thethek bermula dari para penjaga kampung/peronda malam yang sedang menjaga kampungnya. Mereka membunyikan akat-alat bunyian dari bambu dengan irama tertentu yang dapat menarik siapa pun yang mendengarnya. Kesenian ini sampai sekarang masih hidup di beberapa desa di daerah Kota Kediri.

56

4. Kesenian Sendratari. Cerita yang diangkat dalam pentas sendaratari misalnya Ande-Ande Lumut. Cerita ini merupakan salah satu legenda yang telah berakar dalam kehidupan masyarakat Kediri. 5. Kethek Ogleng. Kesenian ini merupakan fragmen yang

mengisahkan petualangan Panji Asmoro yang pergi meninggalkan kerajaan secara diam-diam, ditemani dua orang abdinya. Sebagai upaya lebih lanjut untuk melestarikan dan mengembangkan budaya-budaya lokal, setiap tanggal 27 Juli sejak tahun 2002 pemerintah melaksanakan peringatan Hari Jadi Kota Kediri. Pada kesempatan tersebut digelar berbagai aktivitas seni budaya tradisional dan modern selama satu bulan penuh, seperti pentas kesenian jaranan, wayang kulit, wayang orang, hingga panggung musik. Perayaan hari jadi Kota Kediri yang ke-1123 pada 27 Juli 2002 dan perayaan hari jadi yang ke-1124 tahun 2003 pemerintah menggelar ritual Manusuk Sima yang menceritakan ritual pengorbanan hewan berwarna hitam sebagai simbol upaya menekan sifat-sifat keraksasaan manusia demi terciptanya kedamaian secara material dan spiritual yang dilanjutkan dengan pembacaan titah Raja Kediri serta pengarakan prasasti Kwak keliling Kota Kediri seperti terdapat pada Lampiran 10 dan 11. Selain itu pemerintah juga memprakarsasi Kirab budaya yang melibatkan berbagai kelompok kesenian dan kepercayaan, serta pagelaran musik di tiga kecamatan secara serentak. Pada tahun 2002 pemerintah juga sempat menggelar pagelaran musik selama 30 jam non stop di bantaran Sungai Brantas yang dihadiri puluhan ribu pengunjung, serta berbagai festival dan lomba yang melibatkan masyarakat luas.

57

Pemerintah bersama masyarakat juga sukses mencetak rekor penggelaran tumpeng terpanjang se-Indonesia di Jalan Dhoho, sehingga masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (Muri). Untuk menggali kembali warisan budaya lokal, pada peringatan hari jadi Kota Kediri tahun 2003, pemerintah juga melaksanakan festival busana khas Kediren untuk menggali kembali budaya leluhur, yang dirangkaikan pelaksanaan pemilihan Panji-Galuh sebagai duta pariwisata Kota Kediri. Pemilihan Panji-Galuh seperti terdapat pada Lampiran 13 ini selanjutnya menjadi kegiatan rutin pada setiap peringatan hari jadi Kota Kediri. Festival ini pada perkembangan berikutnya menjadi tonggak mempopulerkan kembali warna ungu, yang menjadi ciri khas Kota Kediri. Warna ungu tersebut diyakini sebagai warna busana yang sangat disukai Dewi Kilisuci yang menurut keyakinan masyarakat pula mencapai moksa di Goa Selomangleng. Karena itulah pada setiap peringatan hari jadi, Kota Kediri selalu disemarakkan dengan warna ungu di seluruh pelosok Kota. Popularitas warna khas Kota Kediri ini juga didukung oleh tim sepak bola Persik Kediri yang menggunakan warna ungu sebagai warna resmi kostum mereka. Reaktualisasi budaya-budaya khas daerah sebagai warisan leluhur tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan masyarakat terhadap daerahnya. Selanjutnya pada tahun 2004 dan 2005 peringatan hari jadi dilaksanakan secara lebih sederhana, lebih difokuskan pada pentas budaya tradisional, pelaksanaan kegiatan olah raga dan gerakan kebersihan Kota yang dikoordinir oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kediri. Pada peringatan hari jadi ke-1125 rasa cinta dan kebanggaan

58

tersebut, pemerintah menggelar pentas wayang kulit serta pentas Wayang Orang di halaman kantor Walikota yang melibatkan pejabat-pejabat Pemerintah Kota Kediri. Kegiatan lainnya lebih difokuskan pada pelaksanaan Pekan Olah Raga Daerah (Porda) Provinsi Jawa Timur mengingat Kota Kediri mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah. Perayaan hari jadi ini bertujuan tidak sekadar memberikan hiburan kepada masyarakat, namun juga untuk memberikan ruang berekspresi bagi kelompokkelompok kesenian yang ada di Kota Kediri serta menjadi media untuk pelestarian seni budaya. Kota Kediri juga memiliki Dewan Kesenian yang perannya dalam pengembangan seni budaya diupayakan dapat direvitalisasi melalui kegiatan ini. Target dari peringatan hari jadi juga untuk menambah minat dan perhatian masyarakat dari luar kota untuk datang ke Kota Kediri. Tujuan lainnnya tentu juga untuk menunjang wisata budaya di Kota Kediri, sehingga di kemudian hari diharapkan muncul citra bahwa pada bulan Juli Kota Kediri selalu semarak dengan berbagai kegiatan dan pentas seni budaya untuk menarik kedatangan wisatawan ke Kota Kediri. Dalam upaya ini pemerintah Kota Kediri telah mengambil inisiatif dengan terlibat langsung dalam pementasan wayang orang serangkaian perayaan hari jadi tersebut. Para pejabat berkolaborasi dengan seniman wayang orang dalam pentas tersebut ( gambar pada Lampiran 12). Karena dipandang memiliki peran strategis dalam upaya pengembangan pariwisata budaya, kegiatan ini ditetapkan menjadi kegiatan rutin tahunan yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kota Kediri Nomor 10 Tahun 2001 Tentang

59

Hari Jadi Kota Kediri. Pada pasal 3 Perda No 10 tahun 2001 disebutkan tujuan penetapan Hari Jadi Kota Kediri sebagai berikut: 1. Menetapkan agenda tahunan yang dapat diperingati dan dibanggakan oleh setiap warga Kota Kediri 2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kota Kediri 3. Mengembangkan potensi kepariwisataan dalam upaya

mempertahankan nilai budaya masyarakat Kota Kediri 4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Kediri

4.4.2 Wisata spiritual dan ziarah Kota Kediri memiliki beberapa objek wisata spiritual bernuansa Hindu dan Islam. Pura Agung Dewi Sekartaji, (lihat Lampiran 14) sangat menarik wisatawan untuk dikunjungi. Pura yang berlokasi di dalam Kawasan Wisata Selomangleng ini merupakan objek yang berpotensi dikembangkan menjadi objek wisata spiritual bagi umat Hindu. Pura ini memiliki keterkaitan sejarah dengan keberadaan Goa Selomangleng. Karena itulah pada setiap perayaan Tahun Baru Saka, umat Hindu Kota Kediri melaksanakan ritual tidak hanya di pura, melainkan juga di Goa Selomangleng, serta mencari air suci pada mata air yang terdapat di Gunung Klotok. Di samping objek wisata spiritual yang bernuansa Hindu, juga ada objek wisata spiritual dan ziarah bernuansa Islam, seperti Kompleks Pemakaman Setono Gedong, yang di dalamnya terdapat Makam Mbah Wasil yang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di Kota Kediri. Selain itu juga ada Masjid Agung

60

yang dibangun pada tahun 1814 (situasinya dapat dilihat pada Lampiran 15). Pada tahun 2002 Pemerintah Kota Kediri telah melakukan rehabilitasi objek Setono Gedong, yang merupakan kompleks pemakaman tokoh-tokoh penyebar Agama lslam di Kota Kediri. Rehabilitasi ini dilakukan untuk menjaga nilai historis serta mengantisipasi semakin banyaknya pengunjung dan masyarakat yang datang untuk melaksanakan ziarah dan ritual keagamaan. Pemugaran secara bertahap juga dilakukan terhadap Masjid Agung sejak tahun 2003 yang selesai pada tahun 2005. Di samping itu di Kota Kediri juga terdapat pondok-pondok pesantren dari berbagai aliran dalam Agama Islam. Pesantren ini merupakan tempat santri-santri dari berbagai daerah di luar Kota Kediri menimba ilmu agama. Pondok Pesantren yang terbesar adalah Pondok Pesantren Lirboyo di Kecamatan Mojoroto yang merupakan pusat pendidikan santri warga Nahdlatul Ulama (NU). Pada hari-hari suci tertentu banyak warga dari luar Kota Kediri yang datang untuk melaksanakan ibadah di pondok-pondok pesantren tersebut. Selain wisata sejarah, budaya, dan spiritual, Kota Kediri juga memiliki sejumlah objek yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata alam, olah raga, belanja, dan pendidikan.

4.4.3 Wisata alam Objek wisata alam yang berada di Kota Kediri misalnya Hutan Lindung di Gunung Klotok dan Maskumambang dan Sungai Brantas. Mengingat kondisi hutan di Gunung Klotok dan Maskumambang tersebut kurang lestari, pemerintah

61

secara bertahap melakukan gerakan penghijauan yang melibatkan berbagai komponen masyarakat seperti mulai penduduk setempat, mahasiswa / pelajar, organisasi kepemudaan/massa, dan pegawai pemerintah. Upaya penghijauan kembali hutan di dalam kawasan wisata Selomangleng ini pernah dilakukan pemerintah melalui Pekan Penghijauan Nasional (PPN) Kota Kediri pada Pebruari dan Maret 2003. Selanjutnya pada Januari tahun 2004 dilakukan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL). Pengecekan kondisi hutan di Gunung Maskumambang juga pernah dipimpin langsung Walikota Maschut pada 16 April 2004, seperti terdapat pada Lampiran 16. Bagi warga Kota Kediri, Sungai Brantas memiliki makna khusus karena dipandang telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Berdasarkan sejarah yang diyakini masyarakat setempat, Sungai Brantas muncul karena keinginan Raja Kediri, Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga

Anantawikramatunggadewa untuk membagi kerajaan Kadiri kepada kedua putranya menjadi dua bagian, yakni Kerajaan Janggala dan Panjalu pada sekitar 1042 Masehi. Pembagian tersebut dilakukan atas bantuan Mpu Bharada (Surya, 23 Juli 2004). Berdasarkan keyakinan maka pada setiap perayaan hari jadi Kota Kediri pemerintah dan masyarakat melakukan larung sesaji di sungai ini.

4.4.4 Wisata olah raga Objek-objek yang dapat menunjang pengembangan wisata olah raga di Kota Kediri misalnya:

62

a. Kolam Renang Kuwak, yang di dalamnya memiliki fasilitas berupa kolam renang rekreasi dan prestasi sehingga dapat digunakan untuk rekreasi keluarga, sekaligus untuk melaksanakan berbagai ajang pertandingan olah raga renang. Salah satu kegiatan lingkup luas yang pernah memanfaatkan fasilitas kolam renang ini adalah saat Kota Kediri menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olah Raga Daerah (Porda) Jawa Timur pada Juli 2004. b. Taman Wisata Tirtoyoso dan Pagora, gambar pada Lampiran 18. Pada objek yang terdapat di tengah kota ini terdapat fasilitas penunjang kegiatan rekreasi dan olah raga seperti kolam renang, panggung hiburan, alat-alat permainan untuk anak-anak, sehingga sangat cocok untuk menjadi tempat rekreasi keluarga. Pemerintah Kota Kediri tengah berupaya meningkatkan kualitas kegiatan wisata serta sarana dan prasarana yang ada di dalamnya sehingga dapat menarik perhatian masyarakat yang lebih luas. Kelengkapan tersebut berupa sarana hiburan bagi anak-anak dan remaja, tempat-tempat pameran dan pertunjukan kesenian daerah, termasuk di dalamnya peningkatan jaminan keamanan dan kebersihan lingkungan. Sebagai taman rekreasi warga kota, pada setiap hari libur pihak pengelola secara rutin melaksanakan hiburan berupa pentas musik dangdut atau kesenian tradisional. c. Pertandingan Sepak Bola Divisi Utama PSSI di Stadion Brawijaya. Pemerintah Kota Kediri menghidupkan kembali tim sepak bola Persik

63

Kediri (Macan Putih) mulai tahun 1999, yang

dibarengi dengan

renovasi Stadion Brawijaya berdaya tampung 20 ribu penonton. Kehadiran tim sepak bola dan stadion yang khusus difungsikan sebagai markas Persik Kediri tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya wisata olah raga. Apalagi stadion tersebut telah memenuhi standar nasional sebagai tempat pertandingan klub divisi utama Liga Indonesia, bahkan memenuhi persyaratan internasional sehingga pernah menjadi tempat pertandingan Liga Asian Football Confederation (AFC) pada tahun 2004 yang mendatangkan SeongNam Ilhwa FC dari Korea Selatan, Binh Dinh dari Vietnam, dan Yokohama F. Marinos dari Jepang untuk bertanding melawan Persik Kediri. Gambar terdapat pada Lampiran 19. d. Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng yang dibangun untuk menambah akses masuk ke dalam Kawasan Selomangleng pada perkembangannya juga menjadi objek untuk melaksanakan wisata olah raga seperti jogging dan bersepeda seperti terdapat pada Lampiran 20.

4.4.5 Wisata belanja Untuk meningkatkan dampak ekonomis dari pelaksanaan pertandingan sepak bola tersebut, di luar stadion juga dibangun ruko-ruko yang ditawarkan kepada pengusaha yang menggelar berbagai macam barang dagangan, seperti souvenir tim sepak bola Persik Kediri, makanan, dan sebagainya setiap pertandingan. Keberadaan ruko ini bertujuan agar pedagang ini dapat berjualan

64

secara lebih tertata dan tidak mengganggu lalu lintas. Ruko-ruko ini juga ditawarkan kepada pengusaha yang berminat mencoba peluang bisnis di Kota Kediri. Kawasan pertokoan Jalan Dhoho, pertokoan modern yang paling pertama ada di Kota Kediri juga menawarkan daya tarik tersendiri sebagai daerah wisata belanja. Aktivitas perekonomian di sepanjang kawasan jalan ini berjalan hampir selama 24 jam. Pada siang hari kawasan jalan ini merupakan daerah pertokoan yang sangat padat. Namun mulai malam hingga dini hari, kawasan ini menjadi pusat kegiatan bagi warga kota yang beminat menikmati nasi pecel, nasi liwet, tahu tek, dan berbagai makanan khas Kota Kediri lainnya yang dijual di sepanjang emper-emper toko jalan ini. Ketika berbelanja di kawasan ini konsumen akan dikondisikan pada suasana kesederhanaan, keakraban dan tidak formal karena mereka akan menikmati hidangannya sambil duduk lesehan. Namun bagi wisatawan yang lebih menyukai suasana bernuansa kosmopolitan, di Kota Kediri juga telah terdapat beberapa pusat perbelanjaan modern seperti Pasar Raya Sri Ratu, Plaza Golden, dan Swalayan Borobudur yang menjual beragam produk buatan lokal, nasional dan impor. Souvenir merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas wisata belanja. Kota Kediri menawarkan berbagai souvenir khas, yang paling terkenal adalah Tahu Takwa yang dapat dengan mudah ditemui di setiap sudut kota. Namun daerah yang terkenal sebagai pusat penjualan tahu takwa adalah kawasan Jalan Yos Sudarso seperti terdapat pada Lampiran 21. Tradisi usaha pembuatan tahu di Kota Kediri sudah sangat tua, di antaranya ada yang telah membuka

65

usahanya sejak tahun 1930-an dan masih berdiri hingga saat ini. Akibatnya Kota Kediri juga dikenal dengan sebutan sebagai Kota Tahu, karena keberadaan produksi tahu takwa yang khas tersebut. Oleh-oleh khas Kota Kediri lainnya

adalah beragam jenis kerupuk bumbu yang banyak dijual di daerah Alun-alun Kota Kediri. Kerupuk ini memiliki cita rasa yang khas karena proses pembuatannya yang tidak menggunakan minyak goreng, melainkan menggunakan pasir.

4.4.6 Wisata pendidikan Kegiatan-kegiatan industri yang terdapat di Kota Kediri seperti pabrik rokok Gudang Garam, (gambar terdapat pada Lampiran 22), serta pabrik gula yang tersebar di tiga kecamatan juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata pendidikan, untuk memberikan pemahaman kepada wisatawan yang berminat mengetahui proses produksi industri tersebut. Aktivitas industri dapat menjadi daya tarik tersendiri karena nuansa sejarah yang dimilikinya. Pabrik rokok gudang garam yang kini telah beroperasi dengan peralatan canggih dan produknya telah diekspor ke luar negeri, bermula dari pabrik kecil yang dirintis oleh warga Kota Kediri keturunan Tionghoa pada tahun 1940-an. Demikian pula dengan pabrik gula yang kini menjadi aset PTPN XI (BUMN) pada awalnya merupakan pabrik gula yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada masa kolonialisme. Aktivitas industri yang telah berumur sangat tua dan hingga kini masih berdiri tersebut memiliki aspek kesejarahan yang memiliki daya tarik tersendiri.

66

4.4.7 Fasilitas akomodasi Upaya-upaya pengembangan pariwisata tersebut juga diperkuat dengan penciptaan iklim investasi yang menarik bagi kalangan swasta untuk dapat turut berpartisipasi mendirikan berbagai usaha jasa pariwisata seperti hotel dan restoran, dan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas kepariwisataan untuk memberikan rasa nyaman dan betah kepada wisatawan selama berkunjung di Kota Kediri. Berdasarkan data BPS Kota Kediri tahun 2004, di Kota Kediri terdapat 21 hotel yang beroperasi dengan total jumlah kamar sebanyak 687. Dari jumlah tersebut klasifikasi yang tertinggi adalah hotel bintang 2. Tarif hotel di Kota Kediri berkisar dari Rp 60.000 hingga Rp 500.000 per kamar per malam. Sepanjang tahun 2003, jumlah tamu yang menginap di hotel-hotel di Kota Kediri tercatat sebanyak 124.182 orang. Antusiasme investor swasta untuk berinvestasi pada sektor ini juga semakin meningkat. Pada tahun 2005, jumlah hotel di Kota Kediri bertambah satu dengan pendirian Hotel Surya milik PT Gudang Garam yang berklasifikasi bintang 4. Hotel termegah yang ada saat ini di Kota Kediri tersebut berlokasi di tengah-tengah pusat perdagangan Kota Kediri, yaitu di Jalan Dhoho. Hal ini membuktikan bahwa dunia usaha juga mendukung pengembangan pariwisata di Kota Kediri.

4.5 Pendapat Masyarakat Tentang Kepariwisataan Kota Kediri Dari hasil penelusuran penulis, informan yang diminta pendapatnya menunjukkan sikap mendukung kebijakan pengembangan pariwisata pemerintah, termasuk di dalamnya program pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng.

67

Kebijakan ini dirasakan akan mendorong perbaikan infrastruktur dan penataan lingkungan kota dengan lebih baik. Selain itu pengembangan pariwisata juga dipandang akan dapat mendorong pertumbuhan peluang kerja. Terkait pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, warga juga mendukung karena kawasan ini memang telah menjadi tempat berwisata sejak dulu. Pengembangan yang dilakukan pemerintah membuat mereka lebih antusias berkunjung secara rutin, utamanya pada hari libur. Lokasi kawasan yang berada di luar kota membuat aktivitas wisatawan tidak mengganggu lalu lintas, sekalipun saat pengunjung cukup ramai. Mereka juga merasa bahwa pariwisata telah menjadi

salah satu kebutuhan untuk melepas kepenatan dari kesibukan sehari-hari. Namun mereka juga memandang ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan pemerintah seperti masalah kebersihan, penataan lokasi parkir dan pedagang, serta masalah perilaku pengunjung. Hal ini penting mengingat dalam kawasan ini juga terdapat objek tempat suci, yaitu Pura Sekartaji. Seperti dinyatakan oleh seorang informan yang ditemui di Kota Kediri, pengembangan kawasan wisata Selomangleng membuat masyarakat semakin antusias untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Ia sangat merasakan manfaat pengembangan wisata Selomangleng. Berikut ini penuturannya. “ Kegiatan di kawasan ini tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan raya. Berbeda halnya dengan kegiatan yang dilaksanakan di Kuwak yang berada di tengah kota, sehingga sering memacetkan arus lalu lintas. Lagi pula di kawasan Selomangleng udaranya lebih segar,” terangnya.

68

Ia memandang secara umum pemerintah cukup berhasil mengembangkan pariwisata. “ Kenyataannya stadion (Brawijaya) juga jadi. Drainase kota juga dibenahi, sehingga tidak ada banjir lagi. Pemerintah memang memperhatikan perkembangan pariwisata. Hanya saja katanya setiap tanggal 15 atau setiap bulan purnama akan dilaksanakan pentas seni di Selomangleng. Mengapa sampai saat ini belum ada realisasinya?,” ungkapnya mempertanyakan. Informan lainnya berpendapat bahwa kegiatan wisata di Selomangleng semakin semarak dengan keberadaan pura. “ Upacara adat keagamaan Hindu juga sudah ada di sini. Pura di sana (Pura Dewi Sekartaji), tidak hanya digunakan oleh umat Hindu di Kota Kediri, tapi juga dari Kabupaten Kediri, yang juga cukup banyak datang ke sini,” jelasnya. Pihaknya juga menyambut pengembangan kawasan wisata, karena merasa sangat membutuhkan adanya fasilitas wisata yang murah untuk sekadar berolah raga sekaligus berekreasi bersama keluarga. “Animo masyarakat berwisata ke sini cukup tinggi. Anda bisa lihat sekarang di sini. Apalagi kalau ada panggung hiburan,” ungkapnya. Menurutnya ada fasilitas yang perlu ditambahkan di Selomangleng untuk menunjang kenyamanan pengunjung, seperti tempat parkir yang rapi. Hal yang menurutnya perlu diperhatikan pemerintah adalah retribusi masuk kawasan, karena dipandang berganda. “ Untuk masuk kawasan harus bayar, selanjutnya masuk kolam harus bayar lagi. Kalau di Pagora kan hanya satu pintu. Kalau bisa pengunjung membayar satu kali saja,” harapnya.

69

Selanjutnya, pengempon Pura Dewi Sekartaji yang sekaligus menjadi informan mengungkapkan bahwa pihaknya juga menyambut baik pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng karena akan memajukan ekonomi masyarakat. “ Mengingat goa ini merupakan peninggalan sejarah yang tak ternilai dan masih digunakan sebagai tempat aktivitas spiritual, baik oleh penganut kejawen, Hindu, dan lainnya kami mengharapkan pengembangan pariwisata dilakukan secara terkendali agar tidak menimbulkan ekses yang mengganggu kesucian Goa

Selomangleng dan objek spiritual lainnya,” ungkapnya. Ia juga memandang perlu adanya pola pengaturan yang jelas untuk menciptakan kebersihan lingkungan dan tata perilaku pengunjung. Hal penting lain yang menurutnya perlu dilakukan adalah pengaturan lokasi yang tertib antara pedagang, panggung hiburan, serta akses pengunjung kawasan dan pengunjung pura agar tidak tercampur sehingga menimbulkan kondisi semrawut terutama saat hari-hari libur akibat jumlah pengunjung yang sangat banyak. Dari uraian di atas nampak bahwa masyarakat mendukung kebijakan pemerintah untuk mengembangkan pariwisata, termasuk di dalamnya

pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng.

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri Walikota H.A. Maschut yang melaksanakan pemerintahan sejak tahun 1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan 2004 hingga 2009 untuk periode yang kedua menetapkan Tri Bina Cita Kota sebagai pedoman umum pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan Kota Kediri. Dalam Tri Bina Cita Kota, disebutkan cita-cita untuk mengembangkan Kota Kediri sebagai kota industri, perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pengembangan pariwisata termasuk dalam poin perdagangan dan jasa tersebut. Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan dalam jangka waktu lima tahun, ditetapkan visi dan misi daerah. Visi Kota Kediri adalah ”Membangun Hari Esok yang Lebih Baik”. Selanjutnya untuk merealisasikan visi tersebut, dirumuskan Misi Kota Kediri yaitu: 1. Mewujudkan kota yang bersih dan masyarakat yang bertakwa melalui pendekatan kemanusiaan maupun manajemen yang efektif, efisien, dan berkelanjutan 2. Mewujudkan kota dan masyarakat yang sehat melalui pengaturan dan pengelolaan kawasan (industri, perdagangan, jasa, hunian dan fasilitas umum) serta peningkatan kesejahteraan 3. Mewujudkan kota dan masyarakat yang menarik, aman, dan damai baik bagi warga kota, dunia usaha maupun daerah sekitarnya

70

71

4. Mewujudkan kota dan masyarakat yang mandiri, indah, dan inovatif melalui pemberdayaan masyarakat maupun peningkatan kinerja aparatur pemerintah.

5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata Kebijakan strategis yang ditempuh dalam upaya pengembangan pariwisata sesuai misi dan visi Kota Kediri adalah: 2. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, dengan tahapan di antaranya meliputi: a. Pembangunan Taman Hiburan dan Kolam Renang di Kawasan Wisata Selomangleng b. Pembangunan Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng 3. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain 4. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002, yang selanjutnya ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, yang diperkuat dengan Peraturan daerah No 10 tahun 2001 5. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri 6. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri,

www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi pariwisata.

72

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2000 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Badan dan Kantor sebagai Lembaga Teknis Daerah, pemerintah Kota Kediri membentuk Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata (Inkoparta) sebagai institusi yang bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis bidang pengembangan komunikasi, informasi, dan

kepariwisataan sesuai dengan kebijakan umum pembangunan Kota Kediri. Pada perkembangan berikutnya sesuai tuntutan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka melalui Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Lembaga Teknis Daerah, pada tahun 2004 pemerintah melakukan restrukturisasi organisasi perangkat daerah. Berkenaan dengan fungsi pengembangan pariwisata, seni, dan budaya, pemerintah membentuk Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya sebagai lembaga yang berfungsi menyusun perencanaan dan melaksanakan kebijakan operasional di bidang pemberdayaan potensi pariwisata, seni dan budaya.

5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata Sasaran dan arah kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri adalah sebagai berikut: a. Sasaran 1) Berkembangnya potensi wisata, seni, dan kebudayaan daerah 2) Meningkatnya kepariwisataan peran serta masyarakat dalam mendukung

73

3) Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional 4) Meningkatnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya daerah b. Arah Kebijakan 1) Tersedia dan terpenuhinya kebutuhan wisata bagi masyarakat Kota Kediri dan sekitarnya termasuk aktualisasi, pengembangan, dan pelestarian seni budaya daerah 2) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan 3) Peningkatan kepariwisataan partisipasi masyarakat dalam mendukung

5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata Strategi pengembangan kepariwisataan dan pelestarian budaya terdapat pada poin 4 dan poin 6 dalam Rencana Strategis (Renstra) Kota Kediri tahun 2003-2005, seperti terdapat pada Tabel 5.1 Sedangkan komitmen pemerintah terhadap pengembangan pariwisata selanjutnya diwujudkan melalui dukungan dari sisi anggaran. Pemerintah mengalokasikan belanja pembangunan sektor pariwisata yang cukup besar pada APBD dari tahun 2000 hingga 2004. Jumlah belanja pembangunan untuk pengembangan sektor pariwisata cenderung meningkat seperti terdapat pada Tabel 5.2.

74

Tabel 5.1 Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya
Strategi Pembangunan
Peningkatan Kemampuan Pembiayaan Pembangunan

Program
3. Program Peningkatan Kepariwisataan

Pokok Kegiatan
1. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan 2. Peningkatan Kerja sama dengan pengusaha jasa wisata 3. Pemberdayaan potensi objek wisata, seni budaya, dan kerajinan daerah 4. Peningkatan promosi dan informasi atraksi wisata 5. Peningkatan kualitas SDM kepariwisataan 6. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung kepariwisataan 1. Memperluas penggalian peninggalan sejarah budaya lokal 2. Meningkatkan kajian budaya daerah dan kesenian budaya tradisional Kota Kediri 3. Meningkatkan apresiasi sejarah budaya di seluruh lapisan masyarakat dan Porseni

Indikator Kinerja
1. Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana pendukung 2. Terpenuhinya kerja sama dengan pengusaha jasa wisata 3. Berkembangnya potensi wisata dan kebudayaan daerah 4. Meningkatnya jumlah pengunjung/ wisatawan 5. Meningkatnya kemampuan SDM kepariwisataan 6. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam mendukung kepariwisataan

Memperluas Kesempatan Memperoleh Pendidikan dan Peningkatan Kualitas Produk Pendidikan

6. Pelestarian Warisan Budaya Lokal

1. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap budaya daerah 2. Terpeliharanya peninggalan budaya dan arkeologi 3. Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional 4. Meningkatnya apresiasi sejarah budaya di seluruh lapisan masyarakat

Sumber: Bappeda Kota Kediri, 2002

Tabel 5.2 Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata dan Telekomunikasi Daerah Tahun 2000-2004
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Realisasi Rp 72.500.000 Rp 316.250.000 Rp 2.886.696.250 Rp 9.160.000.000 Rp 2.400.000.000

Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri, 1999-2004

75

Anggaran tersebut diarahkan untuk melaksanakan dua upaya penting, yang pertama adalah pemeliharaan dan pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata, melalui pembangunan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan, serta infrastruktur seperti jalan tembus Lebak TumpangSelomangleng. Pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini dilakukan secara bertahap, dengan anggaran mencapai Rp 19 milyar dan luas area yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 25 hektar. Pembangunan objek baru ini bertujuan untuk menambah daya tarik serta mengembangkan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata yang diproyeksikan menjadi ikon pariwisata Kota Kediri. Pengembangan pada kawasan ini dipandang penting karena di dalamnya terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata sejarah, budaya, serta spiritual yang didukung oleh bentangan alam yang indah. Selain rekreasi, kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di dalam Kawasan Wisata Selomangleng adalah olah raga, pendidikan dan penelitian sejarah, perkemahan, villa, kios makanan, dan suvenir. Sketsa site plan Kawasan Wisata Selomangleng terdapat pada Lampiran 3. Upaya-upaya pengembangan dan pemeliharan objek wisata lain yang terdapat di luar Kawasan Selomangleng juga dilakukan untuk mendukung pengembangan pariwisata secara umum. Objek penunjang yang turut dibangun misalnya dermaga di Sungai Brantas untuk mendukung aktivitas wisata bahari, yang sekaligus dirancang sebagai taman hiburan serta restoran dengan pemandangan sungai. Pemerintah Kota Kediri juga melakukan rehabilitasi terhadap objek bersejarah yang terkait erat dengan sejarah perkembangan Agama

76

Islam di Kota Kediri, seperti Makam Setono Gedong yang merupakan makam para tokoh penyebar Agama Islam di kota ini, serta Masjid Agung Kota Kediri yang merupakan masjid tertua.

5.1.4 Promosi pariwisata Untuk mempromosikan daya tarik wisata Kota Kediri, pemerintah juga mencetak brosur-brosur wisata serta mengikuti festival dan pagelaran-pagelaran seni budaya di tingkat regional hingga nasional serta pengiriman tim kesenian pada perayaan hari jadi daerah lainnya. Salah satunya adalah pengiriman tim kesenian untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Negara, Jembrana, Bali pada 15 Agustus 2003. Namun karena keterbatasan anggaran, pengiriman misi kesenian tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan. Demikian pula dengan brosur pesona wisata Kota Kediri, jumlah cetakan dan penyebarannya amat terbatas. Upaya-upaya mempromosikan pariwisata Kota Kediri ini dilakukan secara terus-menerus, baik secara kelembagaan oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Kediri melalui program-program yang telah diuraikan di atas. Namun di samping itu pada berbagai acara terkait pariwisata baik yang resmi mapun tidak resmi, promosi bahkan dilakukan langsung oleh pucuk pemerintahan, yaitu oleh walikota Kediri, Wakil Walikota, serta jajaran pejabat melalui keterlibatan langsung pada aktivitas pariwisata. Walikota Kediri misalnya, pernah memberikan keterangan pers dari kolam renang pada suatu kesempatan arisan pejabat pemerintah Kota Kediri. Demikian pula Wakil Walikota dan pejabat lainnya yang turut berpartisipasi pada pementasan wayang orang di Balai Kota Kediri dalam

77

rangka perayaan hari jadi. Bentuk keterlibatan langsung dalam mempromosikan pariwisata ini juga pernah ditunjukkan saat pucuk pimpinan pemerintahan Kota Kediri dan jajarannya ini juga terlibat pada pawai budaya saat perayaan hari jadi Kota Kediri tahun 2002 dan 2003. Terhadap kebijakan strategis tersebut dapat disampaikan sejumlah evaluasi sebagai berikut: 1. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng. Terkait dengan upaya pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata ini pemerintah baru sebatas melakukan upaya berupa pengembangan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan serta infrastruktur jalan. Untuk pengembangan lebih lanjut menjadi sebuah kawasan wisata, idealnya pemerintah melaksanakannya berdasarkan kajian perencanaan yang matang dan terukur, yang mencakup sejumlah aspek di antaranya seperti pengembangan zonasi, tata kelola, standarisasi keamanan dan kenyamanan yang terkait dengan akses masuk ke dalam kawasan, dan sebagainya. Penataan ruang di dalam kawasan, sejauh ini belum dilakukan oleh pemerintah. Ini terlihat dengan bercampurnya lokasi pedagang, parkir kendaraan, lalu lintas pengunjung, hingga pentas kesenian. Di samping untuk melindungi objek peninggalan bersejarah dan lingkungan di dalam kawasan, penataan ruang juga perlu dilakukan untuk menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung, terlebih pemerintah berkeinginan untuk mengembangkan kawasan wisata ini menjadi ikon

78

kepariwisataan Kota Kediri. Pengembangan kawasan ini menjadi sebuah kawasan wisata dapat dilakukan dengan merujuk pada uraian Gee (2000 : 274) sebagai berikut: Menyusun perencanaan yang di dalamnya mencakup pengaturan pembangunan fasilitas wisata, di antaranya seperti pembuatan sistem zonasi yang membatasi akses masuk ke lokasi-lokasi yang sensitif dan mengurangi tekanan pada lokasi-lokasi yang digunakan secara intensif, membatasi jumlah pengunjung ke dalam lokasi tertentu, membatasi pelaksanaan pembangunan untuk mendorong penggunaan arsitektur tradisional, dan

mengembangkan pola pengelolaan limbah secara terpadu Membangun infrastruktur pendukung seperti pusat informasi dan taman Mengembangkan rute yang dapat mempermudah aliran

pengunjung di dalam kawasan serta mendorong pengunjung untuk mengikuti rute yang disarankan Mengembangkan program pengawasan untuk mendapatkan

pengetahuan yang tepat tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan dan dalam mengembangkan sumber daya yang ada secara rasional 2. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain. Sejauh ini upaya rehabilitasi telah dilakukan pada sejumlah objek. Namun upaya rehabilitasi ini perlu dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan hasil

79

yang

optimal. Rehabilitasi ini juga perlu dibarengi dengan upaya

pengelolaan baik sehingga dana yang dikeluarkan tidak terbuang percuma akibat rusaknya kembali objek yang telah direhabilitasi. Saat ini objek-objek inti seperti Goa Selomangleng dan Museum Airlangga tengah membutuhkan rehabilitasi. Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi kedua objek yang justru menjadi objek inti dalam pengembangan wisata sejarah ini sangatlah kurang, terlihat dari kondisi goa yang tidak bersih, adanya coretan di dinding goa, serta kondisi museum dan koleksi yang tidak terawat dan tertata dengan rapi. Upaya ini berarti harus dibarengi dengan dukungan anggaran yang memadai untuk objek bersejarah ini, termasuk objek-objek lainnya. 3. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002 sebagai agenda tahunan. Pelaksanaan hari jadi ini pada dasarnya juga ditujukan menjadi media menarik kedatangan wisatawan ke Kota Kediri. Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan ini, pemerintah nampaknya perlu membangun jaringan kerja dengan kalangan swasta tidak terlalu membebani anggaran daerah. Di samping itu pemerintah juga perlu menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaannya, sehingga budaya dan seni di tingkat masyarakat turut tergerak dalam acara ini, dan kegiatan yang dilaksanakan pada acara tahunan ini menjadi kian beragam dan tidak monoton.

80

4. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri. Semangat yang mendasari pendirian kantor pelayanan perijinan ini adalah pelayanan secara terpadu dan memangkas jalur birokrasi yang harus ditempuh. Upaya ini sangat sejalan dengan semangat perubahan pengelolaan pemerintahan dari yang sangat birokratis menjadi berorientasi kewirausahaan. Pengembangan pariwisata di Kota akan semakin didukung oleh keberadaan usaha dan jasa yang terkait dengan pariwisata seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, biro perjalanan, money changer, warung telekomunikasi/internet dan usaha lainnya. Keberadaan Kantor Pelayanan Perijinan sangat strategis dalam mendukung pengembangan pariwisata sehingga perlu dikelola dengan serius. 5. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri, www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi pariwisata. Media on line sebagai salah satu wujud implementasi electronic government (e-gov) ini sempat mati suri setelah pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 melalui pengelolaan oleh Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata. Namun sejak tahun 2005 situs resmi pemerintah Kota Kediri ini dihidupkan kembali yang dikelola oleh Bagian Humas. Sesuai dengan tujuan pembuatannya, yaitu sebagai media pelayanan informasi, promosi wisata dan peluang investasi, maka pengelolaan situs tersebut perlu dilakukan secara serius

81

oleh lembaga yang diberikan mandat untuk itu serta didukung SDM dan infrastruktur yang memadai. Pengelolaannya pun dilakukan melalui pendekatan pemasaran, artinya keberadaan situs resmi pemerintah ini benar-benar diarahkan dalam rangka pemasaran potensi-potensi ekonomi dan promosi objek-objek wisata serta seni budaya Kota Kediri. Aspek kelembagaan ini perlu dibangun, agar pengelolaan situs dapat berlangsung secara berkelanjutan.

5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri 5.2.1 Lingkungan internasional Dalam penyusunan kebijakan pengembangan pariwisata, pembuat kebijakan di Kota Kediri perlu menyadari adanya saling keterhubungan yang sangat erat antara lingkungan kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan internasional yang disebut dengan sistem global. Perkembangan global tersebut menuntut pembuat kebijakan kepariwisataan di Kota Kediri juga harus mencermati berbagai perkembangan di lingkungan tersebut, yang akan memunculkan peluang-peluang sekaligus tantangan dalam upaya pengembangan pariwisata. Sistem global mencerminkan adanya suatu interdependensi antara satu unit sosial politik dan unit lainnya di dunia, yang tidak selalu berada dalam kondisi yang simetris (Holsti, 1992 : 47). Keterhubungan tersebut disebabkan oleh liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang membuat kompetisi ekonomi semakin ketat dan dunia seolah menjadi tanpa batas,

82

menjadi suatu jaringan kerja yang saling tergantung. Karena itulah berbagai isu strategis di tingkat internasional seperti perdagangan bebas, keamanan global, Hak Asasi Manusia (HAM), pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, sistem informasi, dan sebagainya sangat mempengaruhi formulasi dan konstelasi kegiatan serta pengembangan kepariwisataan di suatu negara dalam sistem kepariwisataan dunia (Wacik, 2006 : 1 ). Kondisi ini menyebabkan berbagai destinasi wisata di Indonesia dihadapkan pada persaingan global yang sangat terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa upaya Kota Kediri dalam mengembangkan pariwisata tidak hanya akan menghadapi kompetisi dengan sesama destinasi pariwisata lainnya baik di lingkup Jawa Timur, Pulau Jawa, serta pulau lainnya. Lebih daripada itu, Kota Kediri juga akan berkompetisi dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan berbagai destinasi lainnya di dunia. Kompetisi akan sangat dirasakan Kota Kediri terutama bila berkeinginan untuk menarik kedatangan wisatawan asing. Berbagai perkembangan yang terjadi tersebut menuntut adanya perubahan pola pikir para pembuat kebijakan. Sebelumnya, kebijakan domestik dianggap sebagai suatu hal yang sangat terpisah dan tidak terkait dengan kebijakan luar negeri. Kebijakan domestik dianggap sebagai keputusan-keputusan yang hanya akan mempengaruhi kondisi di dalam batas-batas negara, sedangkan kebijakan luar negeri hanya mempengaruhi kondisi di luar batas negara. Kini pandangan tersebut sudah tidak tepat, karena kebijakan domestik suatu negara sebenarnya menimbulkan konsekuensi tertentu di negara lain, dan kebijakan luar negeri pun mempengaruhi kondisi internal negara. Karena itu menurut Stern (2000 : 31)

83

keduanya sudah tidak dapat lagi diperlakukan sebagai entitas yang terpisah. Pola interdependensi tersebut kini sangat berpengaruh besar dalam proses pembuatan kebijakan di tingkat domestik sekalipun. Dalam konteks kepariwisataan, bila merujuk tren tengah yang terjadi di tingkat internasional, aliran pemikiran dan semangat yang kini mendasari setiap upaya pengembangan pariwisata adalah pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah pengembangan pariwisata yang tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan atau degradasi lingkungan alam dan sosial, serta berorientasi untuk kepentingan generasi masa depan. Artinya, pengembangan pariwisata yang dilakukan mencerminkan adanya suatu keseimbangan antara motif-motif untuk mendapatkan keuntungan ekonomis, pelestarian budaya, dan lingkungan (Müller, 1997 : 29). Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata yang perlu dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata berkualitas, yang penekanannya tidak semata pada sisi jumlah wisatawan, melainkan kualitas wisatawan yang datang ke suatu daerah tujuan wisata. Pengertian kualitas tersebut merujuk pada daya beli dan tingkat apresiasi wisatawan terhadap seni budaya masyarakat lokal lingkungan, kekayaan flora dan fauna setempat. Salah satu bentuk dari pariwisata berkelanjutan ini adalah ekowisata. Penelitian yang dilakukan oleh Eagles dan Higgins (1998), Wearing dan Neil (1999), serta Weaver (2001) menjelaskan bahwa terdapat 12 negara yang menjadi sumber wisatawan yang menyukai ekowisata di kawasan Asia Tenggara. Kedua belas negara ini memberi kontribusi sebesar 27 persen dari seluruh

84

wisatawan yang datang ke daratan Asia Tenggara, dan jumlahnya cenderung terus bertambah. Di antara kedua belas negara tersebut, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Australia, and Prancis merupakan negara-negara utama yang menjadi sumber wisatawan tipe ini yang datang ke Asia Tenggara. Survei lainnya yang dilakukan oleh WTO menunjukkan bahwa wisatawan tipe ini tertarik dengan kegiatan mengamati spesies langka, mengunjungi warga lokal, mempelajari benda-benda peninggalan bersejarah, dan mengamati satwa burung. Selain itu wisatawan tipe ekowisata juga sangat menyukai tambahan wawasan-wawasan baru dari pemandu wisata yang berkualitas, serta juga menyukai kegiatan mengunjungi daerah-daerah terpencil yang tidak ramai. Dalam industri pariwisata, interdependensi antara ketiga lingkungan ini sangat nyata. Fenomena yang terjadi pada suatu negara di dunia, akan berimplikasi pada suatu daerah di negara lain yang telah berkembang menjadi destinasi pariwisata. Gejolak yang terjadi di negara-negara sumber wisatawan akan sangat mempengaruhi kepariwisataan di negara tujuan wisatawan. Liberalisasi ekonomi dunia juga membuat frekuensi perjalanan wisata semakin tinggi, destinasi dan produk-produk pariwisata menjadi kian beragam dan sangat kompetitif. Dari perspektif perkembangan ekonomi dunia, para ahli ekonomi memproyeksikan adanya perubahan paradigma ekonomi yang akan membuat industri pariwisata menjadi salah satu industri yang memiliki peran besar dalam ekonomi global. Industri ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di negaranegara maju, karena negara-negara berkembang pun banyak yang mengandalkan

85

ekonominya dari sektor pariwisata.

Pada awal abad ke-21, para ahli ekonomi

mikro yaitu Joseph Pine II dan James H. Gilmore menyebutkan bahwa negaranegara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy (ekonomi berbasiskan kesan/pengalaman). Experience adalah kegiatan ekonomi produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Dalam konteks kepariwisataan, kegiatan seperti diving, fishing, dolphin watching, parasailing, dan sebagainya masuk dalam kategori ini. Semua aktivitas tersebut merupakan kemasan pariwisata modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar 5,3 persen jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7% atau manufaktur yang hanya naik 0,5 persen dalam perekonomian Amerika Serikat antara tahun 1959-1996. Data tersebut menunjukkan pariwisata telah memiliki peran yang besar dalam perekonomian (Kasali, 2004). Tren perkembangan lainnya di tingkat internasional adalah kemajuan teknologi informasi yang berpengaruh erat dengan pola perilaku calon wisatawan. Capra (2005: 121) menjelaskan bahwa internet telah menjadi suatu jaringan

komunikasi global yang sangat kuat, dan banyak perusahaan memanfaatkan internet sebagai media penghubung antara jaringan pembeli dan penyalur. Kemajuan teknologi informasi tersebut membuat biro perjalanan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi tentang daerah tujuan. Calon wisatawan dapat mencari secara langsung berbagai informasi tentang objek wisata, fasilitas akomodasi, dan transportasi yang dibutuhkan untuk mengelola perjalanannya ke

86

suatu destinasi wisata tanpa melalui situs-situs yang memuat informasi pariwisata di internet. Menurut Santosa (2002), website telah menjadi saluran ideal dan alat yang sangat strategis untuk mempromosikan dan memasarkan daerah tujuan wisata dengan biaya yang sangat murah. Ketika suatu destinasi tidak terpublikasikan secara on line di internet, sebenarnya destinasi tersebut kehilangan peluang untuk mendapatkan perhatian jutaan calon wisatawan di berbagai pelosok dunia yang kini telah memiliki akses terhadap internet. Karena itulah menurutnya kualitas informasi yang disediakan dalam website juga sangat penting, karena wisatawan akan mendasarkan keputusannya untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata atau obyek wisata pada informasi tersebut. Negara-negara sumber wisatawan yang masyarakatnya telah memanfaatkan teknologi ini adalah Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris.

5.2.2 Lingkungan nasional Berikutnya, perkembangan kepariwisataan di tingkat nasional ditunjukkan dengan terjadinya berbagai gangguan keamanan terhadap wisatawan yang sangat merusak citra pariwisata Indonesia. Keterhubungan antara peristiwa yang terjadi di tingkat internasional dengan kondisi nasional dan lokal sangat terlihat di sini. Operasi militer AS dan sekutunya di Afghanistan dan Irak pascatragedi WTC pada 11 September 2001 ternyata juga memicu timbulnya sentimen anti AS dan bangsa asing lainnya di Indonesia yang selanjutnya merembet pada aksi-aksi terorisme di daerah. Peristiwa tersebut seperti ledakan bom di Bali sebanyak dua

87

kali, yaitu pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Kejadian tersebut belum termasuk berbagai ledakan bom di Jakarta yang seluruhnya menimbulkan dengan banyak korban jiwa baik warga lokal maupun warga asing. Akibatnya negaranegara sumber wisatawan mengeluarkan kebijakan mulai tingkat travel advisory hingga travel ban, yang membuat arus kedatangan wisatawan dari negara-negara tersebut ke Indonesia mengalami penurunan secara drastis. Target pemerintah untuk mendatangkan enam juta wisatawan mancanegara pada tahun 2005 tidak tercapai (Kompas, 5 September 2005). Ancaman terhadap keamanan wisatawan asing tersebut juga terus berlanjut dan meluas di berbagai tempat di Pulau Jawa seiring dengan kasus pemuatan karikatur Nabi Muhammad oleh sebuah harian di Denmark pada bulan Pebruari 2006. Aksi-aksi unjuk rasa tersebut selanjutnya merembet pada aksi perusakan kantor kedutaan besar Denmark dan AS oleh kelompok tertentu. Bagi pasar pariwisata di luar negeri, maraknya aksi unjuk rasa bernuansa politik tersebut merupakan ancaman yang tidak hanya ditujukan pada negara tertentu, namun juga negara-negara sumber wisatawan lainnya. Posisi Indonesia semakin terpuruk dalam pasar pariwisata internasional. Ketika masalah gangguan keamanan tersebut belum mereda, Indonesia juga dilanda wabah flu burung (avian influenza) yang sejak akhir tahun 2005 hingga Pebruari 2006 ini belum tertuntaskan. Angka kematian akibat flu burung di Indonesia bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dari berbagai kasus flu burung di seluruh dunia (Bali Post, 20 Pebruari 2006). Kondisi tersebut diperburuk lagi oleh bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi di Pulau Jawa dan beberapa

88

wilayah lainnya di Indonesia. Citra Indonesia sebagai destinasi wisata internasional menjadi semakin tidak meyakinkan. Perkembangan-perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut tentunya menuntut pemerintah untuk segera melakukan upaya-upaya terobosan untuk pemulihan pariwisata, mengingat industri pariwisata telah menjadi sektor ekonomi yang strategis dan menjadi sumber devisa nomor dua setelah minyak dan gas bumi. Kebijakan yang ditempuh pemerintah pusat dalam menghadapi masalah ini adalah mengembangkan pasar wisatawan nusantara yang selama ini belum dikelola secara optimal. Pemerintah berupaya menciptakan pertumbuhan rata-rata perjalanan wisatawan nusantara sebesar 1,4 persen per tahun, dan menargetkan jumlah pengeluarannya menjadi Rp 105,9 trilyun pada akhir tahun 2009. Jumlah kunjungan yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun tersebut sebesar 218,8 juta dan perjalanan wisatawan nusantara di setiap provinsi, kabupaten/kota juga ditargetkan terus meningkat (Wacik, 2006 : 2).

5.2.3 Lingkungan lokal Di tingkat lokal, implementasi sistem otonomi daerah membuat keterkaitan antara ketiga lingkungan tersebut bertambah erat. Di satu sisi sistem akan mendatangkan peluang, namun di sisi lain juga memunculkan hambatan tersendiri. Peluang ini muncul bila pemerintah daerah dapat memahami otonomi daerah secara benar, yaitu sebagai momentum untuk mengenali, mengembangkan, dan memberdayakan potensi-potensi ekonomi lokal secara jauh lebih leluasa tanpa adanya hambatan yang terlalu banyak oleh lingkungan nasional bila dibandingkan

89

era sebelum otonomi daerah. Pemilik modal asing dapat melakukan penetrasi langsung ke daerah tanpa terlalu banyak hambatan birokrasi di tingkat pemerintahan pusat. Demikian pula sebaliknya, dengan kemampuan komparatif dan kompetitif yang dimiliki, para pengelola pembangunan maupun pebisnis di daerah dapat menjangkau sumber daya-sumber daya ekonomi di tingkat internasional untuk disinergikan dengan proses pembangunan di daerah secara lebih mudah. Karena itulah penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah harus mulai menggunakan pemasaran strategis (strategic marketing approach) di mana konsep-konsep pemasaran seperti positioning, diferensiasi, dan branding yang selama ini hanya dikenal di dalam dunia bisnis harus mulai diadopsi. Kepala daerah juga harus memiliki gambaran mengenai kondisi terakhir maupun prediksi 3 hingga 5 tahun ke depan tentang kompetitornya, wisatawan-pebisnis-investor sebagai pelanggan daerah, dan kondisi internal daerah (Kartajaya, 2005). Kondisi ini menuntut kepala daerah harus tanggap dan dapat merespons berbagai perubahan besar di tingkat lokal, nasional, dan global yang sangat berpengaruh terhadap pengelolaan pemerintahan. Merujuk pada berbagai perkembangan yang terjadi di tingkat internasional dan nasional tersebut, maka pemerintah Kota Kediri nampaknya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah dilakukan. Bagi Pemerintah Kota Kediri, sistem ini memberikan peluang sekaligus tantangan untuk melaksanakan pembangunan daerahnya secara lebih baik. Dalam pengembangan daya tarik wisata di kawasan Selomangleng misalnya, pemerintah Kota Kediri perlu merujuk pada pola pariwisata

90

berkelanjutan. Sebagai kota berukuran kecil, yaitu 63,40 km² daya dukung lingkungan Kota Kediri tentu sangat terbatas. Ini berarti pariwisata yang layaknya dikembangkan di Kota Kediri bukanlah mass tourism, yang ditandainya dengan kedatangan wisatawan secara massal, karena akan berimplikasi pada beratnya tekanan terhadap lingkungan. Lebih lanjut seiring dengan program pemerintah pusat untuk

mengembangkan pariwisata domestik, pemerintah Kota Kediri pun nampaknya dapat berupaya untuk menyasar segmen ini. Dalam lingkup regional Kota Kediri memiliki peluang untuk menarik kedatangan wisatawan dari kabupaten/kota yang berbatasan langsung dan berdekatan dengan Kota Kediri seperti Kabupaten Kediri, Blitar, dan Nganjuk, maupun Kabupaten Jombang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Kota Surabaya, dan sebagainya. Hal ini sangat memungkinkan mengingat posisi Kota Kediri yang berada pada lintasan 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa Timur, salah satunya adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten Tulungagung. Sebuah studi yang dilakukan Yahya (2005), ahli statistik dari ITS,

menunjukkan bahwa pada setiap hari libur warga Kota Surabaya memiliki kecenderungan untuk berlibur ke luar kota. Ia memperkirakan, pada setiap hari libur terdapat sekitar 100 hingga 200 ribu kendaraan bergerak ke luar Kota Surabaya yang mengarah ke Kabupaten Sidoarjo dan daerah-daerah sekitarnya. Para pelancong ini berangkat pada pagi dan balik pada malam atau sore harinya (Jawa Pos, 7 Pebruari 2005). Jarak Kota Kediri yang cukup jauh dari Kota Surabaya sebagai titik distribusi menjadi salah satu persoalan dalam upaya

91

menarik kunjungan wisatawan dari ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Jarak sejauh 125 km, dengan kondisi lalu lintas yang selalu padat, sehingga membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 hingga 2,5 jam menuntut adanya upaya yang serius untuk meningkatkan daya tarik wisata Kota Kediri, karena harus bersaing dengan daerah lainnya yang berjarak lebih dekat dengan Kota Surabaya dan telah lebih memiliki infrastruktur penunjang aktivitas pariwisata yang memadai seperti Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, dan Kabupaten/Kota Pasuruan. Terkait dengan tren pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran pariwisata, pemerintah Kota Kediri nampaknya belum melakukan upaya-upaya terukur dan sistematis untuk memasarkan produk-produk pariwisata Kota Kediri. Idealnya pemerintah mulai memanfaatkan website resmi pemerintah yang telah dimiliki, yaitu www.kotakediri.go.id sebagai media untuk mempromosikan dan memasarkan produk-produk kepariwisataan sekaligus peluang-peluang investasi di Kota Kediri. Saat penelitian ini dilaksanakan, situs tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk memperkenalkan Kota Kediri dan menarik investor dan wisatawan. Dari segi tampilan website ini kurang menarik serta belum memuat informasi yang memadai untuk dapat menarik minat pengunjung situs untuk berwisata maupun untuk berinvestasi ke Kota Kediri. Informasi daya tarik wisata yang disajikan dalam situs dimaksud sangat terbatas, dan tidak didukung tampilan foto-foto objek setempat. Padahal foto-foto objek dan daya tarik yang dimiliki Kota Kediri amatlah banyak, yang sebagian di antaranya disajikan pada bagian lampiran tulisan ini.

92

Di masa kini peran situs internet untuk mempromosikan daya tarik pariwisata Kota Kediri menjadi kian strategis, mengingat internet merupakan merupakan wahana informasi yang dapat menjangkau seluruh pelosok dunia serta dapat diakses sepanjang waktu yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang tahun tanpa harus terikat dengan jam kerja. Media ini pun sangat penting menjadi salah satu basis promosi mengingat pariwisata sendiri merupakan sebuah aktivitas yang melintasi batas-batas wilayah negara. Informasi yang penting disajikan melalui media situs web pemerintah Kota Kediri ini misalnya apa dan bagaimana sejarah Kota Kediri sehingga layak dikunjungi, jenis objek wisata yang ditawarkan, lokasi dan akses menuju Kota Kediri, fasilitas hotel/restoran dan pendukung aktivitas wisatawan lainnya, potensi-potensi investasi dan

perdagangan, serta informasi dan foto-foto objek setempat yang menarik. Untuk menarik minat investor maupun pebisnis dari dalam dan luar negeri maka perlu juga disampaikan produk-produk khas Kota Kediri, syarat-syarat ijin investasi serta peraturan-peraturan terkait mulai dari tingkat undang-undang, hingga peraturan daerah setempat. Keinginan dan inisiatif untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam upaya mendongkrak arus kedatangan wisatawan juga menjadi keinginan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Instansi ini tengah berupaya membangun sebuah kios interaktif berbasis web yang memuat informasi tentang 120 tempat pariwisata di Provinsi Jawa Timur. Informasi pada website tersebut direncanakan dapat diperbarui seminggu sekali ( berdasarkan laporan Jawa Pos, 10 Maret 2005).

93

Namun sayangnya dari penelusuran penulis, hingga tulisan ini dilaporkan kiosk interactive dimaksud ternyata belum diimplementasikan. Dari sudut pandang kehumasan, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan dan pemasaran. Perspektif kehumasan yang berkembang seiring dengan maraknya komunikasi melalui media internet adalah cyber public relations, atau electronic public relations (e-pr). Pengertian konsep ini merujuk suatu upaya membangun reputasi dengan mengkomunikasikan informasi dan mendengarkan permintaan pelanggan melalui media internet (Onggo, 2004 : xiv) . Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menuntut para praktisi PR untuk membangun hubungan dengan publik melalui media internet. Onggo menyebutkan, ribuan one to one relations dapat dibangun secara simultan lewat media internet, sehingga media ini merupakan sarana yang ampuh untuk membangun relasi, karena sifatnya yang konstan, cepat, hemat, dan interaktif. Strategi e-pr ini dapat dimanfaatkan Bagian Humas untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan sosial

kemasyarakatan kepada publik dengan cepat dan efisien. Walau demikian, ini tidak berarti e-pr dapat menggantikan fungsi-fungsi offline pr, melainkan bersifat mendukung. Sisi hubungan kemanusiaan masih sangat berperan besar, dan e-pr selanjutnya berfungsi untuk memperkuatnya. Ini menunjukkan bahwa

implementasi teknologi informasi dan komunikasi memang sudah sangat sesuai dengan tantangan dan kebutuhan tugas-tugas kehumasan termasuk pemasaran pariwisata daerah di masa kini.

94

Dalam upaya mempromosikan pariwisata dan budaya, pemerintah melalui Kantor Pariwisata dan Seni Budaya telah memprogramkan berbagai bentuk kegiatan promosi pariwisata dan budaya, seperti pelaksanaan festival kesenian jaranan untuk menghidupkan kreativitas kelompok-kelompok kesenian di Kota Kota Kediri, maupun dengan mengikuti berbagai festival budaya yang dilaksanakan di berbagai kota di Jawa Timur hingga Jakarta, serta pengiriman misi kesenian ke Bali. Pemerintah Kota Kediri bahkan pernah mengirimkan tim kesenian pada hari ulang tahun Kota Negara, Jembrana, pada Agustus 2002 dan 2003. Sebagai penunjang promosi pariwisata, pemerintah juga telah mencetak brosur-brosur tentang kepariwisataan Kota Kediri. Biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk berbagai promosi tersebut sangat besar, namun keterbatasan tetap saja ada. Pengiriman misi kesenian ke luar daerah misalnya, memang akan dapat mempromosikan Kota Kediri namun jika dapat dilakukan didukung secara rutin dan didukung dengan publikasi yang gencar. Namun pada kenyataannya kemampuan anggaraan untuk melaksanakan promosi pariwisata ini sangat terbatas, serta dukungan publikasi yang ada tidak sebesar yang dibutuhkan. Begitu pula halnya dengan penyebaran brosur. Brosur ini tentu tidak dapat menjangkau seluruh daerah yang berpotensi untuk mendatangkan wisatawan. Berbagai masalah di setiap level lingkungan kebijakan yang memiliki keterhubungan yang erat dengan Kota Kediri dirangkum pada Tabel 5.3.

95

Tabel 5.3 Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota Kediri
No 1. Lingkungan Internasional Tren meningkatnya pendapatan dan pengisian waktu luang untuk berwisata, sehingga industri pariwisata kian berperan dalam ekonomi dunia Perkembangan pariwisata yang sangat pesat sebagai industri massal menimbulkan problemproblem lingkungan, sosial, dan budaya, sehingga kini paradigma bergeser ke pariwisata berkelanjutan Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mengubah pola pengelolaan perjalanan wisatawan Lingkungan Nasional Kontribusi pariwisata terhadap ekonomi nasional cukup besar, menjadi sumber penghasil devisa nomor 2 Lingkungan Lokal Sistem otonomi daerah mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembangunan yang inovatif Pembangunan ekonomi belum optimal, anggaran pembangunan masih tergantung pemerintah pusat

2.

Banyaknya gangguan, dan kondisi keamanan tidak kondusif sehingga arus kedatangan wisatawan asing menunjukkan pertumbuhan negatif

3.

Pemerintah berupaya mengembangkan potensi pasar pariwisata domestik yang belum tergarap maksimal

Ada potensi wisata yang belum terkelola, membutuhkan pemeliharaan

5.3 Kebijakan Untuk Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut Konsekuensi dari semakin eratnya keterkaitan tiga lingkungan tersebut adalah bahwa pemerintah Kota Kediri harus bekerja dengan kerangka berpikir yang lebih luas. Pembuat kebijakan dituntut tidak sekadar memiliki pemahaman terhadap perkembangan yang terjadi pada lingkungan domestik mereka, namun juga tren perubahan yang sedang terjadi pada lingkungan nasional dan internasional. Hal ini membuat proses pembuatan kebijakannya pun selayaknya dilakukan melalui analisis terhadap perkembangan yang terjadi pada ketiga level lingkungan kebijakan yang melingkupinya. Tujuannya adalah membangun peta permasalahan yang dapat membantu pemerintah dalam memahami persoalan-

96

persoalan yang dihadapi, beradaptasi dengan perkembangan lingkungannya, sehingga kebijakan yang dibuat pun akan berdaya guna dan tepat sasaran. Masalah-masalah di atas selanjutnya menjadi input dalam proses kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Penjabaran model sistem untuk menguraikan proses perumusan kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri diterangkan pada Gambar 5.1. Berdasarkan model perumusan kebijakan yang dibangun melalui pendekatan sistem tersebut, pemerintah perlu merumuskan kembali langkah-langkah perumusan kebijakan pengembangan pariwisatanya agar sesuai dengan lingkungan yang mengitarinya. Kebijakan tersebut secara garis besar mencakup pariwisata berkelanjutan, pengembangan pasar domestik, dan pendayagunaan teknologi informasi sebagai media promosi pariwisata dan budaya. Berdasarkan kajian penulis, persoalan yang terjadi dalam pengembangan pariwisata di Kota Kediri adalah lemahnya aspek perencanaan, mulai perencanaan awal dalam rangka pembangunan fisik hingga perencanaan bisnis. Sejauh ini dokumen perencanaan yang ada hanyalah sketsa site plan Kawasan Pariwisata Selomangleng. Padahal objek-objek lain yang berada di luar kawasan juga merupakan bagian integral yang turut menunjang pengembangan pariwisata. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun peta potensi wisata Kota Kediri. Dalam tulisan ini penulis menggunakan konsep Inskeep untuk mengenali potensi wisata yang ada.

97

INPUT
Tren Pariwisata Internasional : • Pariwisata internasional terus berkembang pesat sebagai industri yang dapat memajukan ekonomi negara/destinasi • Paradigma yang berkembang adalah pariwisata berkelanjutan • Kemajuan teknologi informasi bentuk segmen wisatawan khusus

( Lingkungan Eksternal )

OUTPUT
Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota Kediri: Pengelolaan potensi pariwisata untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan, Pengembangan pariwisata menitikberatkan pada pariwisata domestik Pemasaran pariwisata terpadu berbasis web

Tren Pariwisata Nasional: • Pariwisata sumber devisa nomor 2 • Pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan negatif Pemerintah berupaya lebih mengembangkan pariwisata domestik

( Lingkungan Intermediate )

PROSES

Kondisi Pariwisata dan Ekonomi Lokal: Sistem otonomi daerah mendorong daerah harus kreatif Pembangunan ekonomi belum optimal, anggaran pembangunan tergantung dari pemerintah pusat Ada potensi wisata yang belum terkelola dengan baik, butuh pemeliharaan

( Lingkungan Intim )

Umpan Balik

Gambar 5.1 Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pariwisata Kota Kediri Melalui implementasi konsep daya tarik wisata menurut Inskeep (1991:77) dihasilkan pemetaan daya tarik wisata Kota Kediri seperti dijabarkan pada Tabel

98

5.4 yang dapat terus dikembangkan sesuai pengembangan lebih lanjut oleh instansi terkait. Tabel 5.4 Implementasi Konsep Inskeep tentang Daya Tarik Wisata di Kota Kediri
Daya Tarik Alam a. Gunung Maskumbang b. Gunung Klotok c. Sungai Brantas Daya Tarik Budaya/Sejarah a. Goa Selomangleng b. Masjid Agung c. Pura Dewi Sekartaji d. Makam Mbah Boncolono & Tumenggung Mojoroto e. Koleksi Museum Airlangga f. Kesenian Jaranan g. Wayang kulit h. Festival Budaya Hari Jadi Kota Kediri i. Pemilihan PanjiGaluh j. Kompleks Makam Setono Gedong Daya Tarik Buatan a. Kolam Renang dan Taman Hiburan Selomangleng b. Taman Rekreasi Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso c. Jalan Tembus Lebak TumpangSelomangleng d. Pertandingan Sepak Bola di Stadion Brawijaya e. Mal Sri Ratu & Golden f. Kawasan pertokoan Jl.Dhoho g. Kawasan penjualan tahu takwa Jl. Yos Sudarso & Patimura h. Taman Sekartaji i. Pabrik Gula PTPN XI j. Pabrik Rokok Gudang Garam Mode Transportasi Khas Becak Makanan Khas a. Nasi Pecel Tumpang Kediri b. Nasi Rawon c. Tahu Takwa d. Nasi Liwet e. Minuman Sari Kelapa (Legen)

Sumber:Hasil pengamatan penulis

Selanjutnya untuk memudahkan identifikasi yang lebih dalam terhadap modal kepariwisataan Kota Kediri, penulis membagi objek wisata tersebut ke dalam dua kelompok, yaitu objek wisata di dalam dan di luar kawasan Selomangleng. Bila objek yang terdapat di setiap lokasi tersebut dikaitkan dengan tipe aktivitas wisata yang dapat dilaksanakan, maka dapat disusun pemetaan seperti terdapat pada Tabel 5.5 dan Tabel 5.6.

99

Tabel 5.5 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng
No
1 2 3 4 5 6

Nama Objek
Goa Selomangleng Koleksi Museum Airlangga Pura Dewi Sekartaji Gunung Klotok Bukit Maskumambang Jalan Tembus Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar Maskumambang Makam Mbah Boncolono dan Tumenggung Mojoroto Kolam Renang dan Taman Hiburan Selomangleng

Alam

Spiritual

Tipe Aktivitas Wisata Olah Sejarah Belanja Keluarga Raga
√ √

Pendidikan
√ √

√ √ √ √ √ √

7

8.

Tabel 5.6 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng
No
1 2 3 4 5

Nama Objek
Dermaga dan Sungai Brantas Kompleks Makam Setono Gedong Mal Sri Ratu dan Golden Pertokoan Jalan Dhoho Kawasan Penjualan Tahu Takwa Jl. Yos Sudarso dan Pattimura Taman Rekreasi Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso Masjid Agung Pertandingan

Alam

Spiritual

Olah Raga

Tipe Aktivitas Wisata Sejarah Belanja Keluarga

Pendidikan

√ √ √ √ √

6

7 8

√ √

100

9 10 11

Sepak Bola di Stadion Brawijaya Taman Sekartaji Pabrik gula PTPN XI Pabrik Rokok Gudang Garam

√ √ √

√ √ √

Sumber : Hasil pengamatan penulis

Merujuk pada penjelasan Soekadijo (2000 : 50), maka berdasarkan tabel di atas maka nampak bahwa Kota Kediri sebenarnya memiliki modal kepariwisataan yang cukup beragam untuk dikembangkan lebih lanjut. Bila setiap daya tarik tersebut telah dikelola dengan baik, maka berarti Kota Kediri memiliki banyak produk-produk pariwisata yang dapat ditawarkan kepada calon wisatawan melalui biro perjalanan wisata. Pemetaan terhadap tipe aktivitas kepariwisataan tersebut selanjutnya dapat dijabarkan dalam model zonasi pariwisata Kota Kediri seperti dijelaskan melalui Gambar 5.2. Gambar dimaksud memposisikan Goa Selomangleng sebagai objek inti dan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri sehingga berada dalam zona inti aktivitas wisata budaya. Ini berarti bahwa objek ini pula yang idealnya menjadi fokus pengelolaan pemerintah melalui upaya-upaya pelestarian, penelitian dan pemanfaatan daya tariknya. Upaya penggalian makna eksistensi kesejarahan goa ini yang perlu dieksploitasi sebagai daya tarik wisata sejarah dan budaya Kota Kediri. Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam dan sekitar Goa Selomangleng terdapat objek-objek berupa relief maupun patung yang memiliki makna sejarah tinggi, namun sejauh ini belum ada dokumen resmi yang menjelaskan makna dari setiap objek yang terdapat di dalam maupun di lingkungan sekitar goa tersebut. Untuk menjaga kelestarian Goa Selomangleng, maka intensitas pengunjung ke

101

dalam goa juga perlu diperhatikan, agar tidak menimbulkan dampak yang berpotensi merusak keaslian goa. Aktivitas wisata di objek-objek lainnya yang di dalam kawasan merupakan tambahan daya tarik untuk menahan wisatawan lebih lama berkunjung di dalam kawasan yang berada pada zona berikutnya. Objek pada zona ini seperti Museum Airlangga yang menyimpan benda-benda bersejarah era Hindu merupakan objek yang masih memiliki keterkaitan erat dengan Goa Selomangleng sebagai objek inti. Ragam aktivitas pada objek ini berupa wisata sejarah dan budaya, serta pendidikan seperti telah dipetakan melalui Tabel 5.5, merupakan objek yang ditujukan bagi wisatawan yang lebih berminat pada jenis aktivitas lainnya seperti wisata keluarga, alam, dan spiritual. Selanjutnya keberadaan objek-objek di luar kawasan Selomangleng seperti telah dijabarkan pada Tabel 5.6 juga dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk menahan wisatawan untuk berkunjung lebih lama di Kota Kediri. Bagi wisatawan yang berminat dengan aktivitas wisata belanja, aktivitas yang memang identik selalu ada dalam pariwisata, pemerintah dapat menawarkan kawasan pertokoan Jalan Dhoho, pertokoan penjual tahu takwa di Jl. Yos Sudarso, serta mal Sri Ratu dan Golden sebagai pemenuh kebutuhan tersebut. Demikian pula bagi wisatawan yang memiliki minat terhadap wisata olah raga, khususnya sepak bola, pemerintah dapat menawarkan pertandingan sepak bola di Stadion Brawijaya sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Dalam hal ini tentunya pemerintah perlu berkoordinasi dengan manajemen Persik Kediri mengenai jadwal dan ketersediaan tiket untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Pola-pola kerja sama antara pemerintah dan

102

kalangan swasta ini sebenarnya telah menjadi bagian dalam

program

pengembangan pariwisata, namun nampaknya belum banyak dilakukan. Pertandingan sepak bola ini misalnya, belum dikelola melalui kerangka pengelolaan wisata olah raga. Bila sudah, tentunya pihak hotel atau biro wisata tentunya dapat menawarkan pertandingan sepak bola ini sebagai salah satu produk pariwisata Kota Kediri kepada wisatawan. Dengan demikian wisatawan yang sedang berwisata ke Kota Kediri dapat sekaligus memesan tiket pertandingan melalui pihak hotel/biro perjalanan. Aktivitas lainnya yang merupakan pengembangan lebih lanjut dikembangkan dengan merujuk pada prinsip-prinsip pariwisata budaya khas Kota Kediri. Dengan demikian, pengembangan pariwisata Kota Kediri sesuai dengan potensi yang ada dapat dikelompokkan ke dalam lapisan-lapisan aktivitas wisata mulai dari zona inti, zona penunjang di dalam kawasan, dan zona penunjang di luar kawasan. Aktivitas wisata budaya yang dipadukan dengan wisata sejarah dan spiritual menjadi jiwa dari kepariwisataan Kota Kediri. Berdasarkan peta permasalahan yang terbangun tersebut, dalam upaya pengembangan pariwisata lebih lanjut Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan retrospeksi terhadap kebijakan pengembangan yang telah dilakukan selama ini. Merujuk pada tujuan pengembangan pariwisata, kebijakan tersebut dibuat dalam rangka peningkatan perekonomian daerah. Hal ini bermakna bahwa pembuat kebijakan perlu memperjelas target-target yang ingin dicapai melalui kebijakan tersebut.

103

Zona Inti Zona Penunjang

Zona Penunjang di Luar Kawasan

Gambar 5.2 Zonasi Aktivitas Kepariwisataan Kota Kediri Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam memproyeksikan hasil

pengembangan pariwisata terjadi karena sebelumnya pemerintah kurang mendapatkan input informasi yang memadai tentang kepariwisataan dalam lingkup lokal, regional, dan internasional. Hal ini terbukti dengan kenyataan tidak adanya studi-studi pendahuluan secara menyeluruh tentang perencanaan pariwisata, sebelum pemerintah memutuskan untuk melakukan pengembangan pariwisata. Kajian-kajian dan seminar ilmiah yang terkait dengan pengembangan pariwisata memang pernah dilakukan, namun sifatnya parsial karena hanya

104

membahas fakta-fakta sejarah yang dapat menjadi dasar penetapan hari jadi dan busana khas Kota Kediri. Penelitian ilmiah yang dilanjutkan hingga tahap seminar yang pernah dilakukan pada tahun 2002 hanyalah tentang penetapan hari Jadi Kota Kediri dan busana khas Kediri. Penelitian atau setidaknya survei lainnya seperti tipe wisatawan yang diharapkan datang ke Kota Kediri belum pernah dilakukan. Masalah yang terjadi akibat tidak memadainya survei pendahuluan terjadi pada proyek pengembangan kawasan wisata Selomangleng. proyek pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini jaraknya sangat berdekatan dengan Goa Selomangleng, sehingga menimbulkan protes dari Balai Penelitian Peninggalan Purbakala di Mojokerto. Proyek ini dikhawatirkan akan sangat berpotensi mengganggu dan merusak struktur fondasi situs bersejarah Goa Selomangleng. Protes ini bisa dipahami, mengingat keberadaan Goa Selomangleng sebagai situs bersejarah harus sangat dilindungi pemerintah sesuai dengan UU No 5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya. Secara eksplisit, amanat untuk melindungi benda cagar budaya tersebut disebutkan pada pasal 18 ayat 1 yang menyebutkan bahwa pengelolaan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab pemerintah. Pengembangan objek-objek wisata buatan di dalam suatu kawasan yang menyimpan banyak benda bersejarah tentunya harus dilakukan dengan sangat berhati-hati dan mengembangkan suatu sistem zonasi. Namun di sisi lain, pemerintah Kota Kediri nampaknya juga menghadapi dilema. Tanpa adanya pengembangan objek tambahan sebagai penambah daya tarik Goa Selomangleng sebagai objek inti, maka pengelolaannya objek wisata sejarah, budaya, dan

105

spiritual sulit dilakukan. Padahal selain Goa Selomangleng objek bersejarah lainnya di dalam kawasan yang harus dilestarikan sangat banyak, tidak seimbang dengan kemampuan anggaran pemerintah yang sangat minim. Sejak berlakunya sistem otonomi daerah, pengelolaan benda-benda bersejarah menjadi tidak jelas. Tanggung jawab pemeliharaan dan perlindungan masih oleh pemerintah pusat, termasuk anggaran pelestariannya. objek-objek yang secara fisik berada di wilayah daerah otonom ini akhirnya jarang mendapatkan perhatian dari instansi terkait. Pemerintah daerah tentu saja tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya. Sayangnya dari sisi anggaran dan SDM, kondisi pemerintah daerah pun tidak memungkinkan untuk melakukan pelestarian. Kondisi-kondisi mendesak ini yang nampaknya membuat pemerintah Kota Kediri mengambil langkah berani untuk mengembangkan kawasan ini dengan segera. Sekalipun gesekan antara pemerintah Kota Kediri dan pihak Balai Penelitian Peninggalan Purbakala ini dapat terselesaikan, ini merupakan suatu pelajaran betapa pentingnya kajian-kajian perencanaan dilakukan sebelum pemerintah mengambil langkah lebih jauh. Sebagian masalah yang terjadi pada sejumlah objek dan daya tarik wisata Kota Kediri saat penelitian ini dilakukan terangkum dalam Tabel 5.7. Pengembangan pariwisata di Kota Kediri masih berada pada tahap yang sangat dini, yaitu penyediaan infrastruktur penunjang. Biaya yang dikeluarkan juga sangat besar, namun berapa target pendapatannya belum dapat diketahui pasti. Namun secara politis, citra pemerintah dan kota ini menjadi terangkat. Dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan pariwisata sangat besar, namun

106

belum dapat diketahui dengan jelas, kapan dan berapa banyak pendapatan yang akan dihasilkan. Namun kondisi objektif menunjukkan bahwa masyarakat memang membutuhkan fasilitas untuk berwisata, dan sesuatu yang dapat dibanggakan di daerahnya. Bila pemerintah tidak berani mengambil keputusan untuk mengembangkan pariwisata, masyarakat akan beranggapan bahwa pemerintahan saat ini tidak banyak melakukan perubahan-perubahan, sehingga tidak jauh berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kebijakan berani untuk mengembangkan pariwisata tanpa suatu kajian perencanaan yang mendalam ini ternyata sangat ampuh mendongkrak citra pemerintah. Hal ini terbukti dengan terpilihnya kembali HA Maschut sebagai Walikota Kediri periode 2004-2009. Masalah-masalah lain juga muncul dari sisi lingkungan sosial dan fisik. Konsep wisata budaya dan spiritual yang sering dipromosikan pemerintah, oleh sebagian warga telah dibuat menyimpang, akibat sering menggunakan kawasan ini untuk memadu asmara yang cenderung menjurus ke arah hubungan seksual pra nikah. Akibatnya citra kawasan ini sebagai objek bagi pecinta alam, berubah menjadi objek bagi para penggemar “bercinta di alam”. Ini terjadi akibat masih minimnya fasilitas penerangan di sekitar kawasan, yang dimanfaatkan sejumlah muda-mudi untuk bermesraan di malam hari. Maraknya aktivitas bermesraan dalam kegelapan ini akhirnya membuka peluang terjadinya tindak kriminal berupa pemalakan. Warga masyarakat beberapa kali melaporkan kasus pemalakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap pasangan muda-mudi yang tengah

107

berpacaran di suasana keremangan malam. Faktor gangguan keamanan tentu sangat merugikan upaya pengembangan pariwisata yang sedang dilakukan. Tabel 5.7 Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri
No 1. Objek Goa Selomangleng 1. 2. 3. 2. Museum Airlangga 1. Masalah Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap objek bernilai sejarah tinggi Tidak adanya upaya konservasi terhadap goa sehingga aset tak ternilai ini terancam rusak akibat ulah tangan jahil yang melakukan pencoretan dan maupun pembuangan sampah Belum adanya upaya penggalian sejarah keberadaan goa yang dapat menjadi penambah daya tarik bagi wisatawan Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap objek bernilai sejarah tinggi. Koleksi museum hanya dipahami sebagai kumpulan patung, belum ada apresiasi terhadap nilai sejarahnya Tidak adanya informasi lengkap tentang latar belakang kesejarahan koleksi-koleksi museum Kurangnya perawatan sehingga museum terkesan kumuh dan tidak terawat Masih kurangnya upaya-upaya penghijauan secara berkelanjutan, sehingga fungsi objek sebagai wisata alam sekaligus konservasi belum optimal Belum adanya upaya perlindungan hutan sehingga masih ada praktek perladangan yang seringkali menyebabkan kebakaran Belum adanya kejelasan status pengelolaan, oleh pemerintah atau swasta Lokasi yang terlalu dekat dengan goa sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu struktur fondasi goa. Kurangnya pemeliharaan, sehingga kurang nyaman dan bersih bagi pengunjung

2. 3. 3. Gunung Klotok dan Maskumambang 1. 2. 4. Kolam Renang dan Taman Hiburan Selomangleng Kolam Renang Pagora 1. 2. 1.

5.

Sumber: Hasil pengamatan penulis

Masalah kebersihan juga muncul sebagai dampak aktivitas ekonomi yang belum terkelola baik di dalam kawasan. Pedagang keliling banyak bermunculan setiap hari libur untuk mengais rejeki. Sayangnya, mereka menjajakan dagangan di sembarang tempat. Mulai dari tangga menuju goa, bahkan hingga di pelataran goa, seperti gambar pada Lampiran 23. Akibatnya jelas, sampah menjadi berserakan mengotori lingkungan sekitar kawasan yang seharusnya selalu terjaga

108

kebersihan dan keasriannya karena menjadi objek wisata. Sebuah papan pengumuman yang mewajibkan pengunjung menjaga kelestarian lingkungan di Goa Selomangleng dan lingkungan sekitarnya sebenarnya sudah terpasang di dekat lokasi goa. Namun himbauan ini belum diperhatikan oleh pengunjung. Perkembangan-perkembangan ini akhirnya mengusik ketenangan masyarakat spiritual, yang sangat menghormati kesucian goa dan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi tersebut memang menimbulkan kesemrawutan, sehingga ketika pengunjung sedang ramai, situasi di sekitar goa menyerupai pasar. Goa, kolam renang, museum, panggung hiburan, dan pura terletak dalam jarak yang berdekatan. Ketika di panggung hiburan sedang dilaksanakan hiburan musik dangdut, maka jelas pengunjung Pura Sekartaji juga akan terganggu. Berbagai objek dengan tipe aktivitas yang berbeda terdapat dalam jarak yang berdekatan, namun hanya dihubungkan dengan satu akses. Objek wisata olah raga trekking di daerah pegunungan, Wisata spiritual dan sejarah di Goa Selomangleng, Makam Mbah Boncolono, dan Pura Dewi Sekartaji, serta wisata pendidikan di Museum Airlangga. Panggung hiburan yang terletak pada jarak yang dekat, sekali waktu mementaskan kesenian tradisional jaranan, atau musik dangdut. Akibatnya pada hari Minggu dan hari libur lain, kebisingan sangat terasa karena lalu lintas dan mobilitas wisatawan yang cukup padat dari satu objek ke objek lainnya bercampur dengan aktivitas pedagang yang berjualan di trotoar dan tepi jalan. Belum adanya konsep pengelolaan kawasan secara terpadu menjadi akar masalah ketidaknyamanan ini.

109

Problem lain yang kini muncul terkait dengan pembangunan kolam renang dan taman hiburan adalah belum jelasnya konsep pengelolaan, apakah akan dikelola oleh Kantor Pariwisata, perusahaan daerah, atau pihak swasta. Sehingga sangat disayangkan, kolam yang secara fisik sangat megah dan dibangun dengan biaya yang sangat mahal, namun pengelolaannya tidak dipersiapkan dengan matang untuk mencapai target pemasukan tertentu. Pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah menghabiskan biaya yang sangat besar. Bila dijumlahkan, biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan sektor pariwisata dan telekomunikasi melalui APBD tahun 2000 hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar Rp 11,9 milyar lebih. Di luar itu, khusus untuk pembangunan kolam dan pengadaan sarana penunjangnya telah dihabiskan dana sebesar Rp 19 milyar. Sayangnya hingga kini belum ada data yang jelas mengenai besarnya pendapatan pemerintah pada kurun waktu yang sama, sebagai hasil dari investasi dengan jumlah tersebut. Data yang ada terkait hal ini secara ringkas sempat terungkap dalam Lampiran II LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri Tahun 1999-2004. Jumlah pendapatan pemerintah dari sektor ini ternyata masih sangat rendah bila dibandingkan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Pendapatan asli daerah melalui retribusi seperti yang tertera dalam Tabel 5.8 Tabel 5.8 Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003
No Uraian Tahun Anggaran 2001 Rp 906.200 Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran Tahun 2003 (s.d. 31 Anggaran Oktober 2003) 2002 Rp 2.238.000 Rp 2.694.000 Rp 1.023.600 Rp 1.289.500

1 2

Retribusi kios kawasan wisata Goa Selomangleng Retribusi tempat khusus parkir di Selomangleng

110

Retribusi tempat rekreasi Rp 13.670.500 Rp 11.450.100 dan olah raga 4 Ganti rugi kios di Goa Rp 20.000.000 Rp 16.000.000 Selomangleng 5 Sewa Radio Jayabaya Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri tahun 1999-2004

3

Rp 11.173.100 Rp 16.500.000

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tentu memang tidak dapat segera mendatangkan hasil. Namun idealnya pemerintah juga memiliki target dan proyeksi, kapan bisa mencapai titik impas dan kapan dapat meraih profit atas investasi yang telah dilakukan. Keberadaan infrastruktur fisik, seperti kolam renang yang indah serta jalan tembus memang mampu mengangkat citra pariwisata yang sedang dikembangkan. Namun yang juga penting harus diperhitungkan ke depan adalah bagaimana agar investasi yang besar ini dapat mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dan daerah secara umum, bukan sekadar kepentingan mengejar prestise. Pariwisata harus dipandang sebagai suatu sistem perkaitan sosial (Soekadijo, 2000: 25), sehingga ada sejumlah aspek yang perlu dipelajari. Aspek pertama, yaitu wisatawan. Kajian mendalam terhadap aspek ini ternyata belum terpenuhi karena memang pemerintah belum pernah melakukan survei tipe wisatawan yang ingin didatangkan ke Kota Kediri. Saat ini memang sudah ada wisatawan yang datang, namun umumnya mereka adalah penduduk dari daerah di sekitar Kota Kediri, sebagian besar adalah penduduk dari daerah tetangga yaitu Kabupaten Kediri. Bila pemerintah mampu melakukan pengelolaan dengan baik, di masa depan kawasan ini dapat dikembangkan menjadi pusat wisata pada lingkup regional di sekitar eks karesidenan Kediri, yang meliputi Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kota Tulungagung, Kabupaten

111

Trenggalek, dan Kabupaten Blitar. Selama ini wisatawan yang sudah datang ke Kawasan Wisata Selomangleng dan objek-objek lain di Kota Kediri sebagian besar masih merupakan warga lokal atau warga dari wilayah tetangga tersebut. Untuk pengembangan lebih lanjut, pemerintah juga perlu mengkaji data-data terkait perkembangan pariwisata internasional dan nasional sebagai target segmen pasar pengembangan pariwisatanya. Kedua, yaitu daya tarik. Agar dampak ekonomi pengembangan pariwisata benar-benar optimal, daya tarik yang ada harus dapat menarik kedatangan wisatawan dari kota-kota besar, bahkan luar pulau. Daya tarik yang dapat dilihat dan aktivitas dilakukan adalah situs bersejarah Goa Selomangleng dan bendabenda bersejarah yang dihimpun di dengan kegiatan ini adalah Museum Airlangga. Segmen wisatawan yang berminat pada wisata

wisatawan

sejarah/pendidikan. Dari sisi sejarah, Kota Kediri sebenarnya juga berpotensi memasarkan produk wisata nostalgia, utamanya kepada wisatawan Belanda. Ini mengingat pada masa penjajahan, di Kota Kediri banyak didirikan infrastruktur penunjang kegiatan mereka. Infrastruktur tersebut misalnya pabrik gula dan jembatan lama Sungai Brantas yang umumnya berada dalam kondisi yang kurang terawat. Di dalam Kawasan Wisata Goa Selomangleng terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata dengan tipe kegiatan wisata yang berbeda dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, yaitu : 1. Goa Selomangleng

112

Goa Selomangleng merupakan objek inti yang terdapat di dalam kawasan ini. Karena di goa ini terdapat peninggalan bersejarah yang khas, yang tidak ditemukan di daerah lainnya di sekitar Kota Kediri. Namun hingga kini belum ada pemandu wisata yang memiliki pemahaman tentang sejarah goa, dan maknamakna relief yang terdapat di dalamnya. Akibatnya pengunjung memaknai goa tidak lebih dari goa yang berisi pahatan, tidak lebih dari itu. Tidak adanya cerita tentang goa ini membuatnya belum memiliki daya jual sebagai objek wisata. Untuk itulah Kantor Pariwisata perlu menggali sumber-sumber pustaka yang dapat memberikan penjelasan tentang serba-serbi goa ini. Keberadaan Goa

Selomangleng dan ratusan patung bersejarah lainnya yang terdapat di Museum Airlangga sebenarnya dapat menjadi potensi tersendiri untuk menarik kedatangan wisatawan asing dari segmen khusus. Wisatawan yang tertarik pada objek-objek bersejarah seperti ini umumnya berasal dari kalangan berpendidikan yang sangat menghargai kebudayaan dan produk-produk budaya negara yang dikunjungi. Objek ini selayaknya diposisikan sebagai objek inti, menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri. Untuk itu pemerintah perlu melakukan upaya-upaya penggalian sejarah keberadaan goa, makna dan hakekat goa tersebut. Keberadaan dokumentasi kesejarahan goa inilah yang dapat menjadi daya tarik dan meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap Goa Selomangleng. Sejauh ini pemerintah hanya menjual daya tarik goa secara “fisik”, tanpa adanya sejarah yang menjadi “jiwa” goa tersebut. 2. Museum Airlangga

113

Tema objek wisata museum ini masih merupakan kelanjutan dari Goa Selomangleng, yaitu tentang peninggalan-peninggalan bersejarah. Problemnya juga sama, harus ada pemandu yang mampu memberikan penjelasan tentang peninggalan-peninggalan tersebut. Tanpa disertai penjelasan, wisatawan tidak akan memiliki apresiasi yang lebih mendalam. Mereka hanya akan melihat koleksi benda bersejarah tersebut tidak lebih dari kumpulan batu-batu yang diukir.Untuk mengelola museum sebagai daya tarik wisata memang dibutuhkan ketrampilan dan kerja keras tersendiri. Museum-museum yang terdapat di negara-negara maju umumnya terawat dengan baik, dan menjadi kebutuhan masyarakat maupun wisatawan. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi museum di tanah air yang umumnya terbengkalai, sekalipun menyimpan koleksi-koleksi yang sangat berharga. Masalah ini nampaknya menjadi masalah yang rumit dan sistemik di Indonesia. Umumnya, keterbatasan dana yang selalu menjadi alasan

ditelantarkannya benda-benda bersejarah ini. Hingga kini Indonesia belum meratifikasi Konvensi Internasional UNESCO tahun 1972 tentang perlindungan aset budaya atau benda peninggalan sejarah. Tentu saja kondisi ini sangat ironis, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki aset budaya terbesar di dunia. Padahal bila pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi itu, Indonesia dapat mengajukan bantuan dana internasional untuk pemeliharaan warisan-warisan budaya (Media Indonesia, 25 September 2005, hlm. 1). 3. Pura Agung Dewi Sekartaji

114

Pura ini merupakan tempat persembahyangan umat Hindu di Kota Kediri dan sekitarnya. Namun pura ini tidak hanya dapat berfungsi sebagai tempat persembahyangan, melainkan juga objek wisata spiritual. Di kalangan umat hindu di Bali kini tengah berkembang kebiasaan untuk melaksanakan tirta yatra, yaitu perjalanan suci untuk melaksanakan persembahyangan. Tempat-tempat yang dituju oleh umat Hindu di Bali tidak hanya pura-pura di Bali, melainkan juga di luar daerah, termasuk di Jawa Timur. Pura-pura di Jawa Timur yang telah umum menjadi objek wisata spiritual umat Hindu misalnya Pura Blambangan dan Alas Purwo di Banyuwangi, Pura Mandara Giri di Lumajang, dan Pura Semeru di kaki Gunung Semeru. Bila Pura Dewi Sekartaji telah dikenal luas, para pelaku wisata spiritual ini akan menjadikannya sebagai salah satu objek yang perlu dikunjungi. Pura-pura di luar Bali yang telah dikenal luas dan menjadi tujuan tirta yatra tentu akan memunculkan dampak ekonomi lokal. Berdasarkan informasi dari

pemangku pura setempat, beberapa kali umat Hindu dari Bali telah mulai datang ke pura ini. Uniknya, informasi yang mereka dapatkan tidak diperoleh melalui publikasi resmi, melainkan dari wahyu. Selanjutnya informasi tentang keberadaan pura ini berkembang dari mulut ke mulut. Bila segmen wisata spiritual ini dikembangkan dengan baik, sebenarnya cukup banyak wisatawan yang bisa didatangkan, baik dari sekitar Kota Kediri, maupun dari luar pulau, seperti Bali. Sebagian bagian dari upaya mengembangkan pariwisata spiritual, Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan upaya-upaya untuk lebih mempopulerkan objek ini. 4. Gunung Klotok

115

Gunung selalu menjadi objek yang menarik, termasuk Gunung Klotok. Kondisi alamnya menunjukkan gunung ini dapat menjadi objek wisata alam, dengan kegiatan seperti trekking, atau pun pendakian. Masyarakat sebenarnya telah melakukan aktivitas wisata alam di gunung ini. Yang diperlukan adalah pembenahan objek ini, seperti reboisasi untuk meningkatkan keasriannya. Selain itu juga perlu dibuat jalur trekking/pendakian agar wisatawan yang baru datang pertama kali tidak kesulitan melakukan pendakian. 5. Bukit Maskumambang dan Makam Mbah Boncolono Bukit Maskumambang yang tidak terlalu tinggi, juga dapat menjadi objek wisata alam. Selain itu, di puncak bukit ini juga terdapat Makam Mbah Boncolono dan Tumenggung Mojoroto sehingga wisata spiritual juga dapat dilakukan pada objek ini. Jalan bertangga yang telah dibangun menuju makam akan semakin menarik minat masyarakat untuk mengunjungi objek ini. 6. Jalan Tembus Selomangleng-Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar Maskumambang Keberadaan jalan tembus ini tidak sekadar berfungsi sebagai akses tambahan bagi wisatawan untuk menuju Kawasan Wisata Selomangleng. Dengan topografinya yang melintasi perbukitan, jalan ini juga dapat menjadi jalur bagi olah raga bersepeda atau pun lintas alam. Pemandangan Kota Kediri dari kejauhan dapat terlihat dari jalan ini, sehingga merupakan daya tarik tersendiri. 7. Kolam Renang dan Taman Rekreasi Selomangleng Tidak semua orang tertarik dengan wisata sejarah. Ada pula yang ingin sekadar bersenang-senang. Kolam Renang dan Taman Rekreasi dapat menjadi daya tarik tambahan di kawasan ini. Ketika penelitian ini dilakukan objek Taman

116

Hiburan belum dibangun. Namun kemegahan kolam renang sudah terlihat, dan bila taman hiburan ini telah tuntas tentu akan terlihat lebih megah lagi. Di luar kawasan tersebut juga masih terdapat objek yang dapat menjadi daya tarik pendukung, seperti Jembatan Lama Sungai Brantas , Dermaga Sungai Brantas untuk wisata bahari, Makam Mbah Wasil untuk wisata spiritual, Mal Sri Ratu dan Golden serta kawasan Jalan Dhoho, Yos Sudarso, Pattimura dan Taman Sekartaji untuk wisata belanja. Objek lainnya, yang sudah ada dari dulu, yaitu Taman Hiburan Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso juga bisa dikembangkan menjadi objek wisata keluarga dan olah raga. Keberadaan Stadion Brawijaya dan klub Sepak Bola Persik sebenarnya juga bisa dikelola menjadi objek wisata olah raga. Keberadaan pabrik-pabrik industri pengolahan seperti pabrik Gula yang berada di tiga kecamatan, serta Pabrik Rokok Gudang Garam juga dapat dikembangkan menjadi objek wisata edukasi/pendidikan. Wisatawannya untuk objek pabrik ini misalnya para pelajar, untuk memberikan wawasan mengenai proses pengolahan suatu komoditi mentah hingga menjadi komoditi yang siap dipasarkan. Jembatan lama Sungai Brantas merupakan jembatan peninggalan masa penjajahan Belanda yang hingga saat ini masih digunakan sebagai sarana transportasi. Daya dukung jembatan ini jelas telah tidak memadai untuk kebutuhan mobilitas saat ini. Jembatan-jembatan lainnya memang sudah ada, seperti Jembatan Bandar dan Jembatan Semampir. Namun untuk di wilayah tengah kota, akses terdekat hanya melalui jembatan lama. Karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan jembatan tambahan lainnya untuk

117

menjaga kelestarian jembatan lama sebagai salah satu objek bersejarah. Untuk mengelola sungai ini sebagai objek wisata, pemerintah juga telah membangun Dermaga Jayabaya di Sungai Brantas pada tahun 2001. Namun sayangnya fasilitas yang dibangun untuk menghidupkan aktivitas wisata dan ekonomi seperti restoran apung dan pusat jual ikan tersebut belum dapat menarik investor (Kompas, 8 Maret 2002). Selain itu, yang selama ini nampaknya luput dari perhatian adalah keberadaan pabrik-pabrik gula di Kediri. Pabrik-pabrik yang dibangun pemerintah Belanda, dan kini ini menjadi aset pemerintah, dalam hal ini PT Perkebunan Negara (PTPN) XI. Mungkin saja ada bekas-bekas serdadu Belanda yang Sejauh ini

memiliki kenangan tersendiri ketika pernah ditugaskan di kota ini.

Kantor pariwisata dan Budaya belum memiliki data mengenai wisatawan minat khusus yang pernah berkunjung ke Kota Kediri. Aksesibilitas/transferabilitas juga menjadi bagian yang penting dalam menunjang keberhasilan objek wisata. Sebelum proyek pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng dilaksanakan, hanya terdapat 1 jalur yang menjadi jalan masuk menuju kawasan wisata Goa Selomangleng, yaitu dari Desa Sukorame, Kecamatan Mojoroto. Pada tahap awal, masalah aksesibibilitas ini diatasi dengan memasang lampu penerangan jalan terlebih dahulu di sepanjang jalan menuju kawasan wisata. Desa yang sebelumnya gelap gulita, kini telah terang-benderang. Kendaraan umum yang beroperasi pada jalur ini juga sudah ada, namun kondisi dan ketersediaannya belum teratur.

118

Keberadaan jalan tembus yang baru dari Desa Lebak Tumpang menuju Selomangleng yang kini telah tuntas 100% dapat menjadi akses alternatif bagi pengunjung yang akan mengunjungi kawasan wisata ini. Kondisi jalan yang melalui daerah perbukitan pada perkembanganya kemudian ternyata tidak hanya sekadar menjadi sarana jalan namun juga menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat menggunakan jalan tembus ini untuk olah raga bersepeda, jalan santai atau sekadar melihat-lihat pemandangan untuk menghirup udara yang segar. Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Kawasan

Selomangleng berupa Jalan Tembus Lebak Tumpang Selomangleng dan Kolam Renang mampu meningkatkan citra kawasan ini sebagai pusat kegiatan wisata di Kota Kediri. Kawasan ini menjadi kian populer, dan masyarakat semakin bergairah melaksanakan rekreasi di kawasan ini. Hampir setiap kegiatan yang melingkupi kota Kediri selalu dilaksanakan pada kawasan ini, seperti sepeda santai yang mengambil start di balai kota dan berakhir di Selomangleng. Maraknya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata di kawasan ini bahkan mampu mengundang partisipasi masyarakat dalam pengembangannya. Ahli waris Mbah Boncolono misalnya, secara swadaya mengeluarkan biaya untuk membangun jalan bertangga menuju makam yang terletak di puncak Bukit Maskumambang. Upaya yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengemas berbagai objek yang ada menjadi suatu daya tarik wisata, yang dipadukan dengan berbagai atraksi budaya lainnya. Dengan demikian antara objek-objek yang berada di dalam

Kawasan Selomangleng dan objek lainnya yang berada di Kota Kediri pada

119

dasarnya dapat saling mendukung satu sama lainnya, dan menarik berbagai tipe wisatawan. Karena itulah kawasan ini sebenarnya menawarkan daya tarik wisata yang beragam. Mulai dari wisata sejarah, dengan objek berupa Goa Selomangleng serta barang-barang purbakala yang disimpan di Museum Airlangga. Wisata spiritual yang ditawarkan misalnya dapat berupa tirta yatra di Pura Dewi Sekartaji atau berziarah ke Makam Mbah Boncolono. Wisata alam yang ditawarkan pegunungan dan perbukitan, cocok untuk aktivitas pendakian dan lintas alam, maupun rekreasi yang ditawarkan oleh kolam renang dan taman hiburan yang sedang dibangun, maupun yang telah rutin diadakan setiap hari Minggu oleh pengusaha setempat. Dampak ekonomi yang muncul karena pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah mulai terlihat. Pedagang mulai bermunculan di sekitar areal Goa Selomangleng, di sekitar Jalan Lingkar Maskumambang, dan sekitar Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng. Dengan pengelolaan yang lebih optimal dan padu, tentu dampak ekonomi pariwisata bagi Kota Kediri akan lebih besar. Konsekuensi berikutnya dari uraian tersebut terdapat pada pola promosi yang dilakukan. Sarana-sarana promosi yang dibuat pemerintah, baik berupa iklan, pencetakan brosur, maupun website, harus pula mengedepankan Goa

Selomangleng beserta sejarahnya sebagai ikon kepariwisataan Kota Kediri. Objek-objek lainnya menjadi objek pendukung yang juga tak terpisahkan dengan objek inti. Dengan demikian strategi yang dikembangkan kepada benak wisatawan adalah membentuk citra Goa Selomangleng merupakan objek wisata

120

yang identik dengan Kota Kediri, atau sebaliknya Kota Kediri merupakan daerah tujuan wisata identik dengan Goa Selomanglengnya. Kebijakan mencakup wawasan yang luas, menjangkau jangka waktu yang panjang, mengandung resiko yang besar dan melibatkan banyak pihak. Karena itu, dalam penerapan kebijakan diharapkan tidak terjadi kegagalan. Pembuatan kebijakan idealnya tidak dilakukan dengan cara trial and error (Abidin, 2002: 39). Demikian pula halnya dengan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri, idealnya tidak boleh terjadi kegagalan mengingat begitu besarnya tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan. Untuk pengembangan yang lebih lanjut, pemerintah Kota Kediri perlu melakukan penataan kembali (restrukturisasi) terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah ditempuh selama ini. Upaya ini dapat diawali dengan menginventarisasi dan mengidentifikasi kembali potensi-potensi wisata yang ada di Kota Kediri, yang selanjutnya dituangkan dalam sebuah dokumen resmi. Daftar inventarisasi inilah yang pada tahap berikutnya menjadi dasar dalam penyusunan dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Perencanaan tersebut akan sangat bermanfaat pada kegiatan tahap berikutnya, yaitu pengembangan maupun revitalisasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri. Setelah tahap pengembangan inilah, selanjutnya produk-produk pariwisata Kota Kediri telah siap untuk dipromosikan dan dipasarkan kepada wisatawan. Bagaimana strategi dan bentuk pemasaran pariwisata tersebut dipengaruhi oleh pengembangan yang dilakukan, sehingga citra kepariwisataan yang dipasarkan dapat sesuai atau tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua

121

tahapan dari awal, yaitu inventarisasi potensi wisata hingga tahap pemasaran tersebut tentunya perlu merujuk pada perkembangan kepariwisataan di tingkat lokal, nasional dan internasional untuk mendapatkan kejelasan, segmen wisatawan mana yang menjadi sasaran pengembangan pariwisata Kota Kediri. Terkait dengan segmen wisatawan bagi Kota Kediri ini, berdasarkan pengamatan penulis pemerintah nampaknya dapat lebih memfokuskan perhatian pada wisatawan wisatawan regional yang datang dari daerah di sekitar Kota Kediri seperti yang telah berkembang saat penelitian ini dilaksanakan. Selain itu potensi yang ada juga memungkinkan untuk menarik kedatangan wisatawan dari luar pulau bahkan mancanegara, melalui wisata budaya yang ada. Hal ini juga seiring dengan perkembangan kepariwisataan internasional saat ini yang ditandai dengan meningkatnya apresiasi terhadap benda-benda peninggalan bersejarah. Selanjutnya bagaimana tahap-tahap restrukturisasi kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri dapat dilakukan, telah disusun skemanya pada Gambar 5.3

Inventarisasi dan Identifikasi Objek Daya Tarik Wisata serta Tipe Aktivitas Wisata

Penyusunan Dokumen Perencanaan

Pengembangan dan Revitalisasi Objek dan Daya Tarik Wisata

Promosi dan Pemasaran Produk Pariwisata

Lingkungan Kebijakan Lokal, Nasional, Dan Internasional

Gambar 5.3 Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri

124

3. Untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut, Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan kepariwisataan saat ini, dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pola pengembangan pariwisata yang merujuk pada perkembangan-

perkembangan kepariwisataan di lingkungan internasional, nasional, dan lokal. Tahapan restrukturisasi tersebut meliputi: Inventarisasi dan identifikasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri serta tipe aktivitas kepariwisataan yang dapat dilakukan. Untuk menunjang pariwisata budaya dan spiritual Pemerintah Kota Kediri juga dapat mengembangkan tipe aktivitas kepariwisataan lainnya seperti wisata alam, wisata olah raga, wisata belanja, serta wisata pendidikan. Penyusunan dokumen perencanaan pariwisata, khususnya rencana pengembangan kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata yang akan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri Pengembangan serta revitalisasi objek dan daya tarik wisata yang ada sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki daya jual yang bersaing bila dibandingkan dengan objek di daerah lainnya Melakukan promosi dan pemasaran produk wisata secara berkelanjutan untuk mengaktualisasikan daya tarik wisata Kota Kediri. Situs resmi Pemerintah Kota Kediri yang ada, www.kotakediri.go.id perlu dioptimalkan pemanfaatannya untuk melakukan promosi pariwisata. Untuk itu dibutuhkan adanya tim teknis yang secara khusus diberikan

125

tugas dan tanggung jawab untuk menangani promosi pariwisata melalui media internet. Dalam melaksanakan tugasnya tim ini juga diarahkan untuk menjalin kerja sama berbagai instansi di dalam lingkungan pemerintah serta para pengusaha pariwisata, untuk kepentingan mendukung materi promosi di website, sehingga dapat menjadi media promosi yang terpadu. Media ini dapat dimanfaatkan untuk menarik kedatangan wisatawan minat khusus, yang umumnya merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk menarik kedatangan wisatawan regional/nusantara, pemasaran pariwisata dapat dilakukan instansi melalui pembentukan jaringan kerja dengan kalangan swasta, destinasi wisata di kabupaten/kota sekitar Kota Kediri, termasuk tentunya pemerintah Provinsi Jawa Timur.

6.2 Saran Pada penelitian ini penulis hanya melakukan studi secara makro dan umum terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Pada penelitian selanjutnya para peneliti lain kiranya dapat melakukan kajian-kajian terhadap kebijakan kepariwisataan secara mengkhusus, di antaranya seperti kajian

terhadap dampak ekonomi pengembangan industri pariwisata, upaya Pemerintah Kota Kediri dalam pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya promosi pariwisata, serta aspek-aspek lainnya pada level mikro sehingga dapat dihasilkan kajian yang mendalam.

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Kebijakan Kepariwisataan Kota Kediri Walikota H.A. Maschut yang melaksanakan pemerintahan sejak tahun 1999 hingga 2004 untuk periode pertama dan 2004 hingga 2009 untuk periode yang kedua menetapkan Tri Bina Cita Kota sebagai pedoman umum pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan Kota Kediri. Dalam Tri Bina Cita Kota, disebutkan cita-cita untuk mengembangkan Kota Kediri sebagai kota industri, perdagangan dan jasa, serta pendidikan. Pengembangan pariwisata termasuk dalam poin perdagangan dan jasa tersebut. Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan dalam jangka waktu lima tahun, ditetapkan visi dan misi daerah. Visi Kota Kediri adalah ”Membangun Hari Esok yang Lebih Baik”. Selanjutnya untuk merealisasikan visi tersebut, dirumuskan Misi Kota Kediri yaitu: 1. Mewujudkan kota yang bersih dan masyarakat yang bertakwa melalui pendekatan kemanusiaan maupun manajemen yang efektif, efisien, dan berkelanjutan 2. Mewujudkan kota dan masyarakat yang sehat melalui pengaturan dan pengelolaan kawasan (industri, perdagangan, jasa, hunian dan fasilitas umum) serta peningkatan kesejahteraan 3. Mewujudkan kota dan masyarakat yang menarik, aman, dan damai baik bagi warga kota, dunia usaha maupun daerah sekitarnya

70

71

4. Mewujudkan kota dan masyarakat yang mandiri, indah, dan inovatif melalui pemberdayaan masyarakat maupun peningkatan kinerja aparatur pemerintah.

5.1.1 Kebijakan strategis pengembangan pariwisata Kebijakan strategis yang ditempuh dalam upaya pengembangan pariwisata sesuai misi dan visi Kota Kediri adalah: 2. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng, dengan tahapan di antaranya meliputi: a. Pembangunan Taman Hiburan dan Kolam Renang di Kawasan Wisata Selomangleng b. Pembangunan Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng 3. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain 4. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002, yang selanjutnya ditetapkan sebagai acara rutin tahunan, yang diperkuat dengan Peraturan daerah No 10 tahun 2001 5. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri 6. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri,

www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi pariwisata.

72

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2000 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Badan dan Kantor sebagai Lembaga Teknis Daerah, pemerintah Kota Kediri membentuk Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata (Inkoparta) sebagai institusi yang bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis bidang pengembangan komunikasi, informasi, dan

kepariwisataan sesuai dengan kebijakan umum pembangunan Kota Kediri. Pada perkembangan berikutnya sesuai tuntutan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka melalui Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Lembaga Teknis Daerah, pada tahun 2004 pemerintah melakukan restrukturisasi organisasi perangkat daerah. Berkenaan dengan fungsi pengembangan pariwisata, seni, dan budaya, pemerintah membentuk Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya sebagai lembaga yang berfungsi menyusun perencanaan dan melaksanakan kebijakan operasional di bidang pemberdayaan potensi pariwisata, seni dan budaya.

5.1.2 Sasaran dan arah kebijakan pariwisata Sasaran dan arah kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri adalah sebagai berikut: a. Sasaran 1) Berkembangnya potensi wisata, seni, dan kebudayaan daerah 2) Meningkatnya kepariwisataan peran serta masyarakat dalam mendukung

73

3) Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional 4) Meningkatnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya daerah b. Arah Kebijakan 1) Tersedia dan terpenuhinya kebutuhan wisata bagi masyarakat Kota Kediri dan sekitarnya termasuk aktualisasi, pengembangan, dan pelestarian seni budaya daerah 2) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan 3) Peningkatan kepariwisataan partisipasi masyarakat dalam mendukung

5.1.3 Rencana strategis pengembangan pariwisata Strategi pengembangan kepariwisataan dan pelestarian budaya terdapat pada poin 4 dan poin 6 dalam Rencana Strategis (Renstra) Kota Kediri tahun 2003-2005, seperti terdapat pada Tabel 5.1 Sedangkan komitmen pemerintah terhadap pengembangan pariwisata selanjutnya diwujudkan melalui dukungan dari sisi anggaran. Pemerintah mengalokasikan belanja pembangunan sektor pariwisata yang cukup besar pada APBD dari tahun 2000 hingga 2004. Jumlah belanja pembangunan untuk pengembangan sektor pariwisata cenderung meningkat seperti terdapat pada Tabel 5.2.

74

Tabel 5.1 Rencana Strategi Program Peningkatan Pariwisata dan Pelestarian Budaya
Strategi Pembangunan
Peningkatan Kemampuan Pembiayaan Pembangunan

Program
3. Program Peningkatan Kepariwisataan

Pokok Kegiatan
1. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan 2. Peningkatan Kerja sama dengan pengusaha jasa wisata 3. Pemberdayaan potensi objek wisata, seni budaya, dan kerajinan daerah 4. Peningkatan promosi dan informasi atraksi wisata 5. Peningkatan kualitas SDM kepariwisataan 6. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung kepariwisataan 1. Memperluas penggalian peninggalan sejarah budaya lokal 2. Meningkatkan kajian budaya daerah dan kesenian budaya tradisional Kota Kediri 3. Meningkatkan apresiasi sejarah budaya di seluruh lapisan masyarakat dan Porseni

Indikator Kinerja
1. Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana pendukung 2. Terpenuhinya kerja sama dengan pengusaha jasa wisata 3. Berkembangnya potensi wisata dan kebudayaan daerah 4. Meningkatnya jumlah pengunjung/ wisatawan 5. Meningkatnya kemampuan SDM kepariwisataan 6. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam mendukung kepariwisataan

Memperluas Kesempatan Memperoleh Pendidikan dan Peningkatan Kualitas Produk Pendidikan

6. Pelestarian Warisan Budaya Lokal

1. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap budaya daerah 2. Terpeliharanya peninggalan budaya dan arkeologi 3. Meningkatnya kajian budaya dan kesenian tradisional 4. Meningkatnya apresiasi sejarah budaya di seluruh lapisan masyarakat

Sumber: Bappeda Kota Kediri, 2002

Tabel 5.2 Realisasi Belanja Pembangunan Sektor Pariwisata dan Telekomunikasi Daerah Tahun 2000-2004
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Realisasi Rp 72.500.000 Rp 316.250.000 Rp 2.886.696.250 Rp 9.160.000.000 Rp 2.400.000.000

Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri, 1999-2004

75

Anggaran tersebut diarahkan untuk melaksanakan dua upaya penting, yang pertama adalah pemeliharaan dan pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata, melalui pembangunan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan, serta infrastruktur seperti jalan tembus Lebak TumpangSelomangleng. Pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini dilakukan secara bertahap, dengan anggaran mencapai Rp 19 milyar dan luas area yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 25 hektar. Pembangunan objek baru ini bertujuan untuk menambah daya tarik serta mengembangkan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata yang diproyeksikan menjadi ikon pariwisata Kota Kediri. Pengembangan pada kawasan ini dipandang penting karena di dalamnya terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata sejarah, budaya, serta spiritual yang didukung oleh bentangan alam yang indah. Selain rekreasi, kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di dalam Kawasan Wisata Selomangleng adalah olah raga, pendidikan dan penelitian sejarah, perkemahan, villa, kios makanan, dan suvenir. Sketsa site plan Kawasan Wisata Selomangleng terdapat pada Lampiran 3. Upaya-upaya pengembangan dan pemeliharan objek wisata lain yang terdapat di luar Kawasan Selomangleng juga dilakukan untuk mendukung pengembangan pariwisata secara umum. Objek penunjang yang turut dibangun misalnya dermaga di Sungai Brantas untuk mendukung aktivitas wisata bahari, yang sekaligus dirancang sebagai taman hiburan serta restoran dengan pemandangan sungai. Pemerintah Kota Kediri juga melakukan rehabilitasi terhadap objek bersejarah yang terkait erat dengan sejarah perkembangan Agama

76

Islam di Kota Kediri, seperti Makam Setono Gedong yang merupakan makam para tokoh penyebar Agama Islam di kota ini, serta Masjid Agung Kota Kediri yang merupakan masjid tertua.

5.1.4 Promosi pariwisata Untuk mempromosikan daya tarik wisata Kota Kediri, pemerintah juga mencetak brosur-brosur wisata serta mengikuti festival dan pagelaran-pagelaran seni budaya di tingkat regional hingga nasional serta pengiriman tim kesenian pada perayaan hari jadi daerah lainnya. Salah satunya adalah pengiriman tim kesenian untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Negara, Jembrana, Bali pada 15 Agustus 2003. Namun karena keterbatasan anggaran, pengiriman misi kesenian tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan. Demikian pula dengan brosur pesona wisata Kota Kediri, jumlah cetakan dan penyebarannya amat terbatas. Upaya-upaya mempromosikan pariwisata Kota Kediri ini dilakukan secara terus-menerus, baik secara kelembagaan oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Kediri melalui program-program yang telah diuraikan di atas. Namun di samping itu pada berbagai acara terkait pariwisata baik yang resmi mapun tidak resmi, promosi bahkan dilakukan langsung oleh pucuk pemerintahan, yaitu oleh walikota Kediri, Wakil Walikota, serta jajaran pejabat melalui keterlibatan langsung pada aktivitas pariwisata. Walikota Kediri misalnya, pernah memberikan keterangan pers dari kolam renang pada suatu kesempatan arisan pejabat pemerintah Kota Kediri. Demikian pula Wakil Walikota dan pejabat lainnya yang turut berpartisipasi pada pementasan wayang orang di Balai Kota Kediri dalam

77

rangka perayaan hari jadi. Bentuk keterlibatan langsung dalam mempromosikan pariwisata ini juga pernah ditunjukkan saat pucuk pimpinan pemerintahan Kota Kediri dan jajarannya ini juga terlibat pada pawai budaya saat perayaan hari jadi Kota Kediri tahun 2002 dan 2003. Terhadap kebijakan strategis tersebut dapat disampaikan sejumlah evaluasi sebagai berikut: 1. Pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng. Terkait dengan upaya pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi sebuah kawasan wisata ini pemerintah baru sebatas melakukan upaya berupa pengembangan objek baru seperti kolam renang dan taman hiburan serta infrastruktur jalan. Untuk pengembangan lebih lanjut menjadi sebuah kawasan wisata, idealnya pemerintah melaksanakannya berdasarkan kajian perencanaan yang matang dan terukur, yang mencakup sejumlah aspek di antaranya seperti pengembangan zonasi, tata kelola, standarisasi keamanan dan kenyamanan yang terkait dengan akses masuk ke dalam kawasan, dan sebagainya. Penataan ruang di dalam kawasan, sejauh ini belum dilakukan oleh pemerintah. Ini terlihat dengan bercampurnya lokasi pedagang, parkir kendaraan, lalu lintas pengunjung, hingga pentas kesenian. Di samping untuk melindungi objek peninggalan bersejarah dan lingkungan di dalam kawasan, penataan ruang juga perlu dilakukan untuk menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung, terlebih pemerintah berkeinginan untuk mengembangkan kawasan wisata ini menjadi ikon

78

kepariwisataan Kota Kediri. Pengembangan kawasan ini menjadi sebuah kawasan wisata dapat dilakukan dengan merujuk pada uraian Gee (2000 : 274) sebagai berikut: Menyusun perencanaan yang di dalamnya mencakup pengaturan pembangunan fasilitas wisata, di antaranya seperti pembuatan sistem zonasi yang membatasi akses masuk ke lokasi-lokasi yang sensitif dan mengurangi tekanan pada lokasi-lokasi yang digunakan secara intensif, membatasi jumlah pengunjung ke dalam lokasi tertentu, membatasi pelaksanaan pembangunan untuk mendorong penggunaan arsitektur tradisional, dan

mengembangkan pola pengelolaan limbah secara terpadu Membangun infrastruktur pendukung seperti pusat informasi dan taman Mengembangkan rute yang dapat mempermudah aliran

pengunjung di dalam kawasan serta mendorong pengunjung untuk mengikuti rute yang disarankan Mengembangkan program pengawasan untuk mendapatkan

pengetahuan yang tepat tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan dan dalam mengembangkan sumber daya yang ada secara rasional 2. Rehabilitasi Objek-objek wisata lain. Sejauh ini upaya rehabilitasi telah dilakukan pada sejumlah objek. Namun upaya rehabilitasi ini perlu dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan hasil

79

yang

optimal. Rehabilitasi ini juga perlu dibarengi dengan upaya

pengelolaan baik sehingga dana yang dikeluarkan tidak terbuang percuma akibat rusaknya kembali objek yang telah direhabilitasi. Saat ini objek-objek inti seperti Goa Selomangleng dan Museum Airlangga tengah membutuhkan rehabilitasi. Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi kedua objek yang justru menjadi objek inti dalam pengembangan wisata sejarah ini sangatlah kurang, terlihat dari kondisi goa yang tidak bersih, adanya coretan di dinding goa, serta kondisi museum dan koleksi yang tidak terawat dan tertata dengan rapi. Upaya ini berarti harus dibarengi dengan dukungan anggaran yang memadai untuk objek bersejarah ini, termasuk objek-objek lainnya. 3. Perayaan Hari Jadi Kota Kediri sejak tahun 2002 sebagai agenda tahunan. Pelaksanaan hari jadi ini pada dasarnya juga ditujukan menjadi media menarik kedatangan wisatawan ke Kota Kediri. Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan ini, pemerintah nampaknya perlu membangun jaringan kerja dengan kalangan swasta tidak terlalu membebani anggaran daerah. Di samping itu pemerintah juga perlu menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaannya, sehingga budaya dan seni di tingkat masyarakat turut tergerak dalam acara ini, dan kegiatan yang dilaksanakan pada acara tahunan ini menjadi kian beragam dan tidak monoton.

80

4. Pendirian Kantor Pelayanan Perijinan, untuk mempercepat proses perijinan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi Kota Kediri. Semangat yang mendasari pendirian kantor pelayanan perijinan ini adalah pelayanan secara terpadu dan memangkas jalur birokrasi yang harus ditempuh. Upaya ini sangat sejalan dengan semangat perubahan pengelolaan pemerintahan dari yang sangat birokratis menjadi berorientasi kewirausahaan. Pengembangan pariwisata di Kota akan semakin didukung oleh keberadaan usaha dan jasa yang terkait dengan pariwisata seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, hotel, biro perjalanan, money changer, warung telekomunikasi/internet dan usaha lainnya. Keberadaan Kantor Pelayanan Perijinan sangat strategis dalam mendukung pengembangan pariwisata sehingga perlu dikelola dengan serius. 5. Peluncuran situs resmi pemerintah Kota Kediri, www.kotakediri.go.id sebagai media untuk menarik investasi dan melakukan promosi pariwisata. Media on line sebagai salah satu wujud implementasi electronic government (e-gov) ini sempat mati suri setelah pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 melalui pengelolaan oleh Dinas Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata. Namun sejak tahun 2005 situs resmi pemerintah Kota Kediri ini dihidupkan kembali yang dikelola oleh Bagian Humas. Sesuai dengan tujuan pembuatannya, yaitu sebagai media pelayanan informasi, promosi wisata dan peluang investasi, maka pengelolaan situs tersebut perlu dilakukan secara serius

81

oleh lembaga yang diberikan mandat untuk itu serta didukung SDM dan infrastruktur yang memadai. Pengelolaannya pun dilakukan melalui pendekatan pemasaran, artinya keberadaan situs resmi pemerintah ini benar-benar diarahkan dalam rangka pemasaran potensi-potensi ekonomi dan promosi objek-objek wisata serta seni budaya Kota Kediri. Aspek kelembagaan ini perlu dibangun, agar pengelolaan situs dapat berlangsung secara berkelanjutan.

5.2 Permasalahan yang Dihadapi Pemerintah Kota Kediri 5.2.1 Lingkungan internasional Dalam penyusunan kebijakan pengembangan pariwisata, pembuat kebijakan di Kota Kediri perlu menyadari adanya saling keterhubungan yang sangat erat antara lingkungan kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan internasional yang disebut dengan sistem global. Perkembangan global tersebut menuntut pembuat kebijakan kepariwisataan di Kota Kediri juga harus mencermati berbagai perkembangan di lingkungan tersebut, yang akan memunculkan peluang-peluang sekaligus tantangan dalam upaya pengembangan pariwisata. Sistem global mencerminkan adanya suatu interdependensi antara satu unit sosial politik dan unit lainnya di dunia, yang tidak selalu berada dalam kondisi yang simetris (Holsti, 1992 : 47). Keterhubungan tersebut disebabkan oleh liberalisasi ekonomi serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang membuat kompetisi ekonomi semakin ketat dan dunia seolah menjadi tanpa batas,

82

menjadi suatu jaringan kerja yang saling tergantung. Karena itulah berbagai isu strategis di tingkat internasional seperti perdagangan bebas, keamanan global, Hak Asasi Manusia (HAM), pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, sistem informasi, dan sebagainya sangat mempengaruhi formulasi dan konstelasi kegiatan serta pengembangan kepariwisataan di suatu negara dalam sistem kepariwisataan dunia (Wacik, 2006 : 1 ). Kondisi ini menyebabkan berbagai destinasi wisata di Indonesia dihadapkan pada persaingan global yang sangat terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa upaya Kota Kediri dalam mengembangkan pariwisata tidak hanya akan menghadapi kompetisi dengan sesama destinasi pariwisata lainnya baik di lingkup Jawa Timur, Pulau Jawa, serta pulau lainnya. Lebih daripada itu, Kota Kediri juga akan berkompetisi dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan berbagai destinasi lainnya di dunia. Kompetisi akan sangat dirasakan Kota Kediri terutama bila berkeinginan untuk menarik kedatangan wisatawan asing. Berbagai perkembangan yang terjadi tersebut menuntut adanya perubahan pola pikir para pembuat kebijakan. Sebelumnya, kebijakan domestik dianggap sebagai suatu hal yang sangat terpisah dan tidak terkait dengan kebijakan luar negeri. Kebijakan domestik dianggap sebagai keputusan-keputusan yang hanya akan mempengaruhi kondisi di dalam batas-batas negara, sedangkan kebijakan luar negeri hanya mempengaruhi kondisi di luar batas negara. Kini pandangan tersebut sudah tidak tepat, karena kebijakan domestik suatu negara sebenarnya menimbulkan konsekuensi tertentu di negara lain, dan kebijakan luar negeri pun mempengaruhi kondisi internal negara. Karena itu menurut Stern (2000 : 31)

83

keduanya sudah tidak dapat lagi diperlakukan sebagai entitas yang terpisah. Pola interdependensi tersebut kini sangat berpengaruh besar dalam proses pembuatan kebijakan di tingkat domestik sekalipun. Dalam konteks kepariwisataan, bila merujuk tren tengah yang terjadi di tingkat internasional, aliran pemikiran dan semangat yang kini mendasari setiap upaya pengembangan pariwisata adalah pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah pengembangan pariwisata yang tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan atau degradasi lingkungan alam dan sosial, serta berorientasi untuk kepentingan generasi masa depan. Artinya, pengembangan pariwisata yang dilakukan mencerminkan adanya suatu keseimbangan antara motif-motif untuk mendapatkan keuntungan ekonomis, pelestarian budaya, dan lingkungan (Müller, 1997 : 29). Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata yang perlu dikembangkan di Kota Kediri adalah pariwisata berkualitas, yang penekanannya tidak semata pada sisi jumlah wisatawan, melainkan kualitas wisatawan yang datang ke suatu daerah tujuan wisata. Pengertian kualitas tersebut merujuk pada daya beli dan tingkat apresiasi wisatawan terhadap seni budaya masyarakat lokal lingkungan, kekayaan flora dan fauna setempat. Salah satu bentuk dari pariwisata berkelanjutan ini adalah ekowisata. Penelitian yang dilakukan oleh Eagles dan Higgins (1998), Wearing dan Neil (1999), serta Weaver (2001) menjelaskan bahwa terdapat 12 negara yang menjadi sumber wisatawan yang menyukai ekowisata di kawasan Asia Tenggara. Kedua belas negara ini memberi kontribusi sebesar 27 persen dari seluruh

84

wisatawan yang datang ke daratan Asia Tenggara, dan jumlahnya cenderung terus bertambah. Di antara kedua belas negara tersebut, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Australia, and Prancis merupakan negara-negara utama yang menjadi sumber wisatawan tipe ini yang datang ke Asia Tenggara. Survei lainnya yang dilakukan oleh WTO menunjukkan bahwa wisatawan tipe ini tertarik dengan kegiatan mengamati spesies langka, mengunjungi warga lokal, mempelajari benda-benda peninggalan bersejarah, dan mengamati satwa burung. Selain itu wisatawan tipe ekowisata juga sangat menyukai tambahan wawasan-wawasan baru dari pemandu wisata yang berkualitas, serta juga menyukai kegiatan mengunjungi daerah-daerah terpencil yang tidak ramai. Dalam industri pariwisata, interdependensi antara ketiga lingkungan ini sangat nyata. Fenomena yang terjadi pada suatu negara di dunia, akan berimplikasi pada suatu daerah di negara lain yang telah berkembang menjadi destinasi pariwisata. Gejolak yang terjadi di negara-negara sumber wisatawan akan sangat mempengaruhi kepariwisataan di negara tujuan wisatawan. Liberalisasi ekonomi dunia juga membuat frekuensi perjalanan wisata semakin tinggi, destinasi dan produk-produk pariwisata menjadi kian beragam dan sangat kompetitif. Dari perspektif perkembangan ekonomi dunia, para ahli ekonomi memproyeksikan adanya perubahan paradigma ekonomi yang akan membuat industri pariwisata menjadi salah satu industri yang memiliki peran besar dalam ekonomi global. Industri ini tidak hanya tumbuh dan berkembang di negaranegara maju, karena negara-negara berkembang pun banyak yang mengandalkan

85

ekonominya dari sektor pariwisata.

Pada awal abad ke-21, para ahli ekonomi

mikro yaitu Joseph Pine II dan James H. Gilmore menyebutkan bahwa negaranegara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy (ekonomi berbasiskan kesan/pengalaman). Experience adalah kegiatan ekonomi produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Dalam konteks kepariwisataan, kegiatan seperti diving, fishing, dolphin watching, parasailing, dan sebagainya masuk dalam kategori ini. Semua aktivitas tersebut merupakan kemasan pariwisata modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar 5,3 persen jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7% atau manufaktur yang hanya naik 0,5 persen dalam perekonomian Amerika Serikat antara tahun 1959-1996. Data tersebut menunjukkan pariwisata telah memiliki peran yang besar dalam perekonomian (Kasali, 2004). Tren perkembangan lainnya di tingkat internasional adalah kemajuan teknologi informasi yang berpengaruh erat dengan pola perilaku calon wisatawan. Capra (2005: 121) menjelaskan bahwa internet telah menjadi suatu jaringan

komunikasi global yang sangat kuat, dan banyak perusahaan memanfaatkan internet sebagai media penghubung antara jaringan pembeli dan penyalur. Kemajuan teknologi informasi tersebut membuat biro perjalanan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi tentang daerah tujuan. Calon wisatawan dapat mencari secara langsung berbagai informasi tentang objek wisata, fasilitas akomodasi, dan transportasi yang dibutuhkan untuk mengelola perjalanannya ke

86

suatu destinasi wisata tanpa melalui situs-situs yang memuat informasi pariwisata di internet. Menurut Santosa (2002), website telah menjadi saluran ideal dan alat yang sangat strategis untuk mempromosikan dan memasarkan daerah tujuan wisata dengan biaya yang sangat murah. Ketika suatu destinasi tidak terpublikasikan secara on line di internet, sebenarnya destinasi tersebut kehilangan peluang untuk mendapatkan perhatian jutaan calon wisatawan di berbagai pelosok dunia yang kini telah memiliki akses terhadap internet. Karena itulah menurutnya kualitas informasi yang disediakan dalam website juga sangat penting, karena wisatawan akan mendasarkan keputusannya untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata atau obyek wisata pada informasi tersebut. Negara-negara sumber wisatawan yang masyarakatnya telah memanfaatkan teknologi ini adalah Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris.

5.2.2 Lingkungan nasional Berikutnya, perkembangan kepariwisataan di tingkat nasional ditunjukkan dengan terjadinya berbagai gangguan keamanan terhadap wisatawan yang sangat merusak citra pariwisata Indonesia. Keterhubungan antara peristiwa yang terjadi di tingkat internasional dengan kondisi nasional dan lokal sangat terlihat di sini. Operasi militer AS dan sekutunya di Afghanistan dan Irak pascatragedi WTC pada 11 September 2001 ternyata juga memicu timbulnya sentimen anti AS dan bangsa asing lainnya di Indonesia yang selanjutnya merembet pada aksi-aksi terorisme di daerah. Peristiwa tersebut seperti ledakan bom di Bali sebanyak dua

87

kali, yaitu pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Kejadian tersebut belum termasuk berbagai ledakan bom di Jakarta yang seluruhnya menimbulkan dengan banyak korban jiwa baik warga lokal maupun warga asing. Akibatnya negaranegara sumber wisatawan mengeluarkan kebijakan mulai tingkat travel advisory hingga travel ban, yang membuat arus kedatangan wisatawan dari negara-negara tersebut ke Indonesia mengalami penurunan secara drastis. Target pemerintah untuk mendatangkan enam juta wisatawan mancanegara pada tahun 2005 tidak tercapai (Kompas, 5 September 2005). Ancaman terhadap keamanan wisatawan asing tersebut juga terus berlanjut dan meluas di berbagai tempat di Pulau Jawa seiring dengan kasus pemuatan karikatur Nabi Muhammad oleh sebuah harian di Denmark pada bulan Pebruari 2006. Aksi-aksi unjuk rasa tersebut selanjutnya merembet pada aksi perusakan kantor kedutaan besar Denmark dan AS oleh kelompok tertentu. Bagi pasar pariwisata di luar negeri, maraknya aksi unjuk rasa bernuansa politik tersebut merupakan ancaman yang tidak hanya ditujukan pada negara tertentu, namun juga negara-negara sumber wisatawan lainnya. Posisi Indonesia semakin terpuruk dalam pasar pariwisata internasional. Ketika masalah gangguan keamanan tersebut belum mereda, Indonesia juga dilanda wabah flu burung (avian influenza) yang sejak akhir tahun 2005 hingga Pebruari 2006 ini belum tertuntaskan. Angka kematian akibat flu burung di Indonesia bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dari berbagai kasus flu burung di seluruh dunia (Bali Post, 20 Pebruari 2006). Kondisi tersebut diperburuk lagi oleh bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi di Pulau Jawa dan beberapa

88

wilayah lainnya di Indonesia. Citra Indonesia sebagai destinasi wisata internasional menjadi semakin tidak meyakinkan. Perkembangan-perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut tentunya menuntut pemerintah untuk segera melakukan upaya-upaya terobosan untuk pemulihan pariwisata, mengingat industri pariwisata telah menjadi sektor ekonomi yang strategis dan menjadi sumber devisa nomor dua setelah minyak dan gas bumi. Kebijakan yang ditempuh pemerintah pusat dalam menghadapi masalah ini adalah mengembangkan pasar wisatawan nusantara yang selama ini belum dikelola secara optimal. Pemerintah berupaya menciptakan pertumbuhan rata-rata perjalanan wisatawan nusantara sebesar 1,4 persen per tahun, dan menargetkan jumlah pengeluarannya menjadi Rp 105,9 trilyun pada akhir tahun 2009. Jumlah kunjungan yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun tersebut sebesar 218,8 juta dan perjalanan wisatawan nusantara di setiap provinsi, kabupaten/kota juga ditargetkan terus meningkat (Wacik, 2006 : 2).

5.2.3 Lingkungan lokal Di tingkat lokal, implementasi sistem otonomi daerah membuat keterkaitan antara ketiga lingkungan tersebut bertambah erat. Di satu sisi sistem akan mendatangkan peluang, namun di sisi lain juga memunculkan hambatan tersendiri. Peluang ini muncul bila pemerintah daerah dapat memahami otonomi daerah secara benar, yaitu sebagai momentum untuk mengenali, mengembangkan, dan memberdayakan potensi-potensi ekonomi lokal secara jauh lebih leluasa tanpa adanya hambatan yang terlalu banyak oleh lingkungan nasional bila dibandingkan

89

era sebelum otonomi daerah. Pemilik modal asing dapat melakukan penetrasi langsung ke daerah tanpa terlalu banyak hambatan birokrasi di tingkat pemerintahan pusat. Demikian pula sebaliknya, dengan kemampuan komparatif dan kompetitif yang dimiliki, para pengelola pembangunan maupun pebisnis di daerah dapat menjangkau sumber daya-sumber daya ekonomi di tingkat internasional untuk disinergikan dengan proses pembangunan di daerah secara lebih mudah. Karena itulah penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah harus mulai menggunakan pemasaran strategis (strategic marketing approach) di mana konsep-konsep pemasaran seperti positioning, diferensiasi, dan branding yang selama ini hanya dikenal di dalam dunia bisnis harus mulai diadopsi. Kepala daerah juga harus memiliki gambaran mengenai kondisi terakhir maupun prediksi 3 hingga 5 tahun ke depan tentang kompetitornya, wisatawan-pebisnis-investor sebagai pelanggan daerah, dan kondisi internal daerah (Kartajaya, 2005). Kondisi ini menuntut kepala daerah harus tanggap dan dapat merespons berbagai perubahan besar di tingkat lokal, nasional, dan global yang sangat berpengaruh terhadap pengelolaan pemerintahan. Merujuk pada berbagai perkembangan yang terjadi di tingkat internasional dan nasional tersebut, maka pemerintah Kota Kediri nampaknya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah dilakukan. Bagi Pemerintah Kota Kediri, sistem ini memberikan peluang sekaligus tantangan untuk melaksanakan pembangunan daerahnya secara lebih baik. Dalam pengembangan daya tarik wisata di kawasan Selomangleng misalnya, pemerintah Kota Kediri perlu merujuk pada pola pariwisata

90

berkelanjutan. Sebagai kota berukuran kecil, yaitu 63,40 km² daya dukung lingkungan Kota Kediri tentu sangat terbatas. Ini berarti pariwisata yang layaknya dikembangkan di Kota Kediri bukanlah mass tourism, yang ditandainya dengan kedatangan wisatawan secara massal, karena akan berimplikasi pada beratnya tekanan terhadap lingkungan. Lebih lanjut seiring dengan program pemerintah pusat untuk

mengembangkan pariwisata domestik, pemerintah Kota Kediri pun nampaknya dapat berupaya untuk menyasar segmen ini. Dalam lingkup regional Kota Kediri memiliki peluang untuk menarik kedatangan wisatawan dari kabupaten/kota yang berbatasan langsung dan berdekatan dengan Kota Kediri seperti Kabupaten Kediri, Blitar, dan Nganjuk, maupun Kabupaten Jombang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Kota Surabaya, dan sebagainya. Hal ini sangat memungkinkan mengingat posisi Kota Kediri yang berada pada lintasan 7 jalur lintasan primer di Provinsi Jawa Timur, salah satunya adalah jalur arteri primer Kota Surabaya-Kabupaten Tulungagung. Sebuah studi yang dilakukan Yahya (2005), ahli statistik dari ITS,

menunjukkan bahwa pada setiap hari libur warga Kota Surabaya memiliki kecenderungan untuk berlibur ke luar kota. Ia memperkirakan, pada setiap hari libur terdapat sekitar 100 hingga 200 ribu kendaraan bergerak ke luar Kota Surabaya yang mengarah ke Kabupaten Sidoarjo dan daerah-daerah sekitarnya. Para pelancong ini berangkat pada pagi dan balik pada malam atau sore harinya (Jawa Pos, 7 Pebruari 2005). Jarak Kota Kediri yang cukup jauh dari Kota Surabaya sebagai titik distribusi menjadi salah satu persoalan dalam upaya

91

menarik kunjungan wisatawan dari ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Jarak sejauh 125 km, dengan kondisi lalu lintas yang selalu padat, sehingga membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 hingga 2,5 jam menuntut adanya upaya yang serius untuk meningkatkan daya tarik wisata Kota Kediri, karena harus bersaing dengan daerah lainnya yang berjarak lebih dekat dengan Kota Surabaya dan telah lebih memiliki infrastruktur penunjang aktivitas pariwisata yang memadai seperti Kota Batu, Kabupaten/Kota Malang, dan Kabupaten/Kota Pasuruan. Terkait dengan tren pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran pariwisata, pemerintah Kota Kediri nampaknya belum melakukan upaya-upaya terukur dan sistematis untuk memasarkan produk-produk pariwisata Kota Kediri. Idealnya pemerintah mulai memanfaatkan website resmi pemerintah yang telah dimiliki, yaitu www.kotakediri.go.id sebagai media untuk mempromosikan dan memasarkan produk-produk kepariwisataan sekaligus peluang-peluang investasi di Kota Kediri. Saat penelitian ini dilaksanakan, situs tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk memperkenalkan Kota Kediri dan menarik investor dan wisatawan. Dari segi tampilan website ini kurang menarik serta belum memuat informasi yang memadai untuk dapat menarik minat pengunjung situs untuk berwisata maupun untuk berinvestasi ke Kota Kediri. Informasi daya tarik wisata yang disajikan dalam situs dimaksud sangat terbatas, dan tidak didukung tampilan foto-foto objek setempat. Padahal foto-foto objek dan daya tarik yang dimiliki Kota Kediri amatlah banyak, yang sebagian di antaranya disajikan pada bagian lampiran tulisan ini.

92

Di masa kini peran situs internet untuk mempromosikan daya tarik pariwisata Kota Kediri menjadi kian strategis, mengingat internet merupakan merupakan wahana informasi yang dapat menjangkau seluruh pelosok dunia serta dapat diakses sepanjang waktu yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu sepanjang tahun tanpa harus terikat dengan jam kerja. Media ini pun sangat penting menjadi salah satu basis promosi mengingat pariwisata sendiri merupakan sebuah aktivitas yang melintasi batas-batas wilayah negara. Informasi yang penting disajikan melalui media situs web pemerintah Kota Kediri ini misalnya apa dan bagaimana sejarah Kota Kediri sehingga layak dikunjungi, jenis objek wisata yang ditawarkan, lokasi dan akses menuju Kota Kediri, fasilitas hotel/restoran dan pendukung aktivitas wisatawan lainnya, potensi-potensi investasi dan

perdagangan, serta informasi dan foto-foto objek setempat yang menarik. Untuk menarik minat investor maupun pebisnis dari dalam dan luar negeri maka perlu juga disampaikan produk-produk khas Kota Kediri, syarat-syarat ijin investasi serta peraturan-peraturan terkait mulai dari tingkat undang-undang, hingga peraturan daerah setempat. Keinginan dan inisiatif untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam upaya mendongkrak arus kedatangan wisatawan juga menjadi keinginan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Instansi ini tengah berupaya membangun sebuah kios interaktif berbasis web yang memuat informasi tentang 120 tempat pariwisata di Provinsi Jawa Timur. Informasi pada website tersebut direncanakan dapat diperbarui seminggu sekali ( berdasarkan laporan Jawa Pos, 10 Maret 2005).

93

Namun sayangnya dari penelusuran penulis, hingga tulisan ini dilaporkan kiosk interactive dimaksud ternyata belum diimplementasikan. Dari sudut pandang kehumasan, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan dan pemasaran. Perspektif kehumasan yang berkembang seiring dengan maraknya komunikasi melalui media internet adalah cyber public relations, atau electronic public relations (e-pr). Pengertian konsep ini merujuk suatu upaya membangun reputasi dengan mengkomunikasikan informasi dan mendengarkan permintaan pelanggan melalui media internet (Onggo, 2004 : xiv) . Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menuntut para praktisi PR untuk membangun hubungan dengan publik melalui media internet. Onggo menyebutkan, ribuan one to one relations dapat dibangun secara simultan lewat media internet, sehingga media ini merupakan sarana yang ampuh untuk membangun relasi, karena sifatnya yang konstan, cepat, hemat, dan interaktif. Strategi e-pr ini dapat dimanfaatkan Bagian Humas untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan sosial

kemasyarakatan kepada publik dengan cepat dan efisien. Walau demikian, ini tidak berarti e-pr dapat menggantikan fungsi-fungsi offline pr, melainkan bersifat mendukung. Sisi hubungan kemanusiaan masih sangat berperan besar, dan e-pr selanjutnya berfungsi untuk memperkuatnya. Ini menunjukkan bahwa

implementasi teknologi informasi dan komunikasi memang sudah sangat sesuai dengan tantangan dan kebutuhan tugas-tugas kehumasan termasuk pemasaran pariwisata daerah di masa kini.

94

Dalam upaya mempromosikan pariwisata dan budaya, pemerintah melalui Kantor Pariwisata dan Seni Budaya telah memprogramkan berbagai bentuk kegiatan promosi pariwisata dan budaya, seperti pelaksanaan festival kesenian jaranan untuk menghidupkan kreativitas kelompok-kelompok kesenian di Kota Kota Kediri, maupun dengan mengikuti berbagai festival budaya yang dilaksanakan di berbagai kota di Jawa Timur hingga Jakarta, serta pengiriman misi kesenian ke Bali. Pemerintah Kota Kediri bahkan pernah mengirimkan tim kesenian pada hari ulang tahun Kota Negara, Jembrana, pada Agustus 2002 dan 2003. Sebagai penunjang promosi pariwisata, pemerintah juga telah mencetak brosur-brosur tentang kepariwisataan Kota Kediri. Biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk berbagai promosi tersebut sangat besar, namun keterbatasan tetap saja ada. Pengiriman misi kesenian ke luar daerah misalnya, memang akan dapat mempromosikan Kota Kediri namun jika dapat dilakukan didukung secara rutin dan didukung dengan publikasi yang gencar. Namun pada kenyataannya kemampuan anggaraan untuk melaksanakan promosi pariwisata ini sangat terbatas, serta dukungan publikasi yang ada tidak sebesar yang dibutuhkan. Begitu pula halnya dengan penyebaran brosur. Brosur ini tentu tidak dapat menjangkau seluruh daerah yang berpotensi untuk mendatangkan wisatawan. Berbagai masalah di setiap level lingkungan kebijakan yang memiliki keterhubungan yang erat dengan Kota Kediri dirangkum pada Tabel 5.3.

95

Tabel 5.3 Peta Masalah Lingkungan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota Kediri
No 1. Lingkungan Internasional Tren meningkatnya pendapatan dan pengisian waktu luang untuk berwisata, sehingga industri pariwisata kian berperan dalam ekonomi dunia Perkembangan pariwisata yang sangat pesat sebagai industri massal menimbulkan problemproblem lingkungan, sosial, dan budaya, sehingga kini paradigma bergeser ke pariwisata berkelanjutan Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mengubah pola pengelolaan perjalanan wisatawan Lingkungan Nasional Kontribusi pariwisata terhadap ekonomi nasional cukup besar, menjadi sumber penghasil devisa nomor 2 Lingkungan Lokal Sistem otonomi daerah mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembangunan yang inovatif Pembangunan ekonomi belum optimal, anggaran pembangunan masih tergantung pemerintah pusat

2.

Banyaknya gangguan, dan kondisi keamanan tidak kondusif sehingga arus kedatangan wisatawan asing menunjukkan pertumbuhan negatif

3.

Pemerintah berupaya mengembangkan potensi pasar pariwisata domestik yang belum tergarap maksimal

Ada potensi wisata yang belum terkelola, membutuhkan pemeliharaan

5.3 Kebijakan Untuk Pengembangan Pariwisata Lebih Lanjut Konsekuensi dari semakin eratnya keterkaitan tiga lingkungan tersebut adalah bahwa pemerintah Kota Kediri harus bekerja dengan kerangka berpikir yang lebih luas. Pembuat kebijakan dituntut tidak sekadar memiliki pemahaman terhadap perkembangan yang terjadi pada lingkungan domestik mereka, namun juga tren perubahan yang sedang terjadi pada lingkungan nasional dan internasional. Hal ini membuat proses pembuatan kebijakannya pun selayaknya dilakukan melalui analisis terhadap perkembangan yang terjadi pada ketiga level lingkungan kebijakan yang melingkupinya. Tujuannya adalah membangun peta permasalahan yang dapat membantu pemerintah dalam memahami persoalan-

96

persoalan yang dihadapi, beradaptasi dengan perkembangan lingkungannya, sehingga kebijakan yang dibuat pun akan berdaya guna dan tepat sasaran. Masalah-masalah di atas selanjutnya menjadi input dalam proses kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Penjabaran model sistem untuk menguraikan proses perumusan kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri diterangkan pada Gambar 5.1. Berdasarkan model perumusan kebijakan yang dibangun melalui pendekatan sistem tersebut, pemerintah perlu merumuskan kembali langkah-langkah perumusan kebijakan pengembangan pariwisatanya agar sesuai dengan lingkungan yang mengitarinya. Kebijakan tersebut secara garis besar mencakup pariwisata berkelanjutan, pengembangan pasar domestik, dan pendayagunaan teknologi informasi sebagai media promosi pariwisata dan budaya. Berdasarkan kajian penulis, persoalan yang terjadi dalam pengembangan pariwisata di Kota Kediri adalah lemahnya aspek perencanaan, mulai perencanaan awal dalam rangka pembangunan fisik hingga perencanaan bisnis. Sejauh ini dokumen perencanaan yang ada hanyalah sketsa site plan Kawasan Pariwisata Selomangleng. Padahal objek-objek lain yang berada di luar kawasan juga merupakan bagian integral yang turut menunjang pengembangan pariwisata. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun peta potensi wisata Kota Kediri. Dalam tulisan ini penulis menggunakan konsep Inskeep untuk mengenali potensi wisata yang ada.

97

INPUT
Tren Pariwisata Internasional : • Pariwisata internasional terus berkembang pesat sebagai industri yang dapat memajukan ekonomi negara/destinasi • Paradigma yang berkembang adalah pariwisata berkelanjutan • Kemajuan teknologi informasi bentuk segmen wisatawan khusus

( Lingkungan Eksternal )

OUTPUT
Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kota Kediri: Pengelolaan potensi pariwisata untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan, Pengembangan pariwisata menitikberatkan pada pariwisata domestik Pemasaran pariwisata terpadu berbasis web

Tren Pariwisata Nasional: • Pariwisata sumber devisa nomor 2 • Pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan negatif Pemerintah berupaya lebih mengembangkan pariwisata domestik

( Lingkungan Intermediate )

PROSES

Kondisi Pariwisata dan Ekonomi Lokal: Sistem otonomi daerah mendorong daerah harus kreatif Pembangunan ekonomi belum optimal, anggaran pembangunan tergantung dari pemerintah pusat Ada potensi wisata yang belum terkelola dengan baik, butuh pemeliharaan

( Lingkungan Intim )

Umpan Balik

Gambar 5.1 Implementasi Model Sistem Pada Perumusan Kebijakan Pariwisata Kota Kediri Melalui implementasi konsep daya tarik wisata menurut Inskeep (1991:77) dihasilkan pemetaan daya tarik wisata Kota Kediri seperti dijabarkan pada Tabel

98

5.4 yang dapat terus dikembangkan sesuai pengembangan lebih lanjut oleh instansi terkait. Tabel 5.4 Implementasi Konsep Inskeep tentang Daya Tarik Wisata di Kota Kediri
Daya Tarik Alam a. Gunung Maskumbang b. Gunung Klotok c. Sungai Brantas Daya Tarik Budaya/Sejarah a. Goa Selomangleng b. Masjid Agung c. Pura Dewi Sekartaji d. Makam Mbah Boncolono & Tumenggung Mojoroto e. Koleksi Museum Airlangga f. Kesenian Jaranan g. Wayang kulit h. Festival Budaya Hari Jadi Kota Kediri i. Pemilihan PanjiGaluh j. Kompleks Makam Setono Gedong Daya Tarik Buatan a. Kolam Renang dan Taman Hiburan Selomangleng b. Taman Rekreasi Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso c. Jalan Tembus Lebak TumpangSelomangleng d. Pertandingan Sepak Bola di Stadion Brawijaya e. Mal Sri Ratu & Golden f. Kawasan pertokoan Jl.Dhoho g. Kawasan penjualan tahu takwa Jl. Yos Sudarso & Patimura h. Taman Sekartaji i. Pabrik Gula PTPN XI j. Pabrik Rokok Gudang Garam Mode Transportasi Khas Becak Makanan Khas a. Nasi Pecel Tumpang Kediri b. Nasi Rawon c. Tahu Takwa d. Nasi Liwet e. Minuman Sari Kelapa (Legen)

Sumber:Hasil pengamatan penulis

Selanjutnya untuk memudahkan identifikasi yang lebih dalam terhadap modal kepariwisataan Kota Kediri, penulis membagi objek wisata tersebut ke dalam dua kelompok, yaitu objek wisata di dalam dan di luar kawasan Selomangleng. Bila objek yang terdapat di setiap lokasi tersebut dikaitkan dengan tipe aktivitas wisata yang dapat dilaksanakan, maka dapat disusun pemetaan seperti terdapat pada Tabel 5.5 dan Tabel 5.6.

99

Tabel 5.5 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Dalam Kawasan Selomangleng
No
1 2 3 4 5 6

Nama Objek
Goa Selomangleng Koleksi Museum Airlangga Pura Dewi Sekartaji Gunung Klotok Bukit Maskumambang Jalan Tembus Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar Maskumambang Makam Mbah Boncolono dan Tumenggung Mojoroto Kolam Renang dan Taman Hiburan Selomangleng

Alam

Spiritual

Tipe Aktivitas Wisata Olah Sejarah Belanja Keluarga Raga
√ √

Pendidikan
√ √

√ √ √ √ √ √

7

8.

Tabel 5.6 Objek dan Tipe Aktivitas Wisata di Luar Kawasan Selomangleng
No
1 2 3 4 5

Nama Objek
Dermaga dan Sungai Brantas Kompleks Makam Setono Gedong Mal Sri Ratu dan Golden Pertokoan Jalan Dhoho Kawasan Penjualan Tahu Takwa Jl. Yos Sudarso dan Pattimura Taman Rekreasi Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso Masjid Agung Pertandingan

Alam

Spiritual

Olah Raga

Tipe Aktivitas Wisata Sejarah Belanja Keluarga

Pendidikan

√ √ √ √ √

6

7 8

√ √

100

9 10 11

Sepak Bola di Stadion Brawijaya Taman Sekartaji Pabrik gula PTPN XI Pabrik Rokok Gudang Garam

√ √ √

√ √ √

Sumber : Hasil pengamatan penulis

Merujuk pada penjelasan Soekadijo (2000 : 50), maka berdasarkan tabel di atas maka nampak bahwa Kota Kediri sebenarnya memiliki modal kepariwisataan yang cukup beragam untuk dikembangkan lebih lanjut. Bila setiap daya tarik tersebut telah dikelola dengan baik, maka berarti Kota Kediri memiliki banyak produk-produk pariwisata yang dapat ditawarkan kepada calon wisatawan melalui biro perjalanan wisata. Pemetaan terhadap tipe aktivitas kepariwisataan tersebut selanjutnya dapat dijabarkan dalam model zonasi pariwisata Kota Kediri seperti dijelaskan melalui Gambar 5.2. Gambar dimaksud memposisikan Goa Selomangleng sebagai objek inti dan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri sehingga berada dalam zona inti aktivitas wisata budaya. Ini berarti bahwa objek ini pula yang idealnya menjadi fokus pengelolaan pemerintah melalui upaya-upaya pelestarian, penelitian dan pemanfaatan daya tariknya. Upaya penggalian makna eksistensi kesejarahan goa ini yang perlu dieksploitasi sebagai daya tarik wisata sejarah dan budaya Kota Kediri. Hal ini perlu dilakukan mengingat di dalam dan sekitar Goa Selomangleng terdapat objek-objek berupa relief maupun patung yang memiliki makna sejarah tinggi, namun sejauh ini belum ada dokumen resmi yang menjelaskan makna dari setiap objek yang terdapat di dalam maupun di lingkungan sekitar goa tersebut. Untuk menjaga kelestarian Goa Selomangleng, maka intensitas pengunjung ke

101

dalam goa juga perlu diperhatikan, agar tidak menimbulkan dampak yang berpotensi merusak keaslian goa. Aktivitas wisata di objek-objek lainnya yang di dalam kawasan merupakan tambahan daya tarik untuk menahan wisatawan lebih lama berkunjung di dalam kawasan yang berada pada zona berikutnya. Objek pada zona ini seperti Museum Airlangga yang menyimpan benda-benda bersejarah era Hindu merupakan objek yang masih memiliki keterkaitan erat dengan Goa Selomangleng sebagai objek inti. Ragam aktivitas pada objek ini berupa wisata sejarah dan budaya, serta pendidikan seperti telah dipetakan melalui Tabel 5.5, merupakan objek yang ditujukan bagi wisatawan yang lebih berminat pada jenis aktivitas lainnya seperti wisata keluarga, alam, dan spiritual. Selanjutnya keberadaan objek-objek di luar kawasan Selomangleng seperti telah dijabarkan pada Tabel 5.6 juga dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk menahan wisatawan untuk berkunjung lebih lama di Kota Kediri. Bagi wisatawan yang berminat dengan aktivitas wisata belanja, aktivitas yang memang identik selalu ada dalam pariwisata, pemerintah dapat menawarkan kawasan pertokoan Jalan Dhoho, pertokoan penjual tahu takwa di Jl. Yos Sudarso, serta mal Sri Ratu dan Golden sebagai pemenuh kebutuhan tersebut. Demikian pula bagi wisatawan yang memiliki minat terhadap wisata olah raga, khususnya sepak bola, pemerintah dapat menawarkan pertandingan sepak bola di Stadion Brawijaya sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Dalam hal ini tentunya pemerintah perlu berkoordinasi dengan manajemen Persik Kediri mengenai jadwal dan ketersediaan tiket untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Pola-pola kerja sama antara pemerintah dan

102

kalangan swasta ini sebenarnya telah menjadi bagian dalam

program

pengembangan pariwisata, namun nampaknya belum banyak dilakukan. Pertandingan sepak bola ini misalnya, belum dikelola melalui kerangka pengelolaan wisata olah raga. Bila sudah, tentunya pihak hotel atau biro wisata tentunya dapat menawarkan pertandingan sepak bola ini sebagai salah satu produk pariwisata Kota Kediri kepada wisatawan. Dengan demikian wisatawan yang sedang berwisata ke Kota Kediri dapat sekaligus memesan tiket pertandingan melalui pihak hotel/biro perjalanan. Aktivitas lainnya yang merupakan pengembangan lebih lanjut dikembangkan dengan merujuk pada prinsip-prinsip pariwisata budaya khas Kota Kediri. Dengan demikian, pengembangan pariwisata Kota Kediri sesuai dengan potensi yang ada dapat dikelompokkan ke dalam lapisan-lapisan aktivitas wisata mulai dari zona inti, zona penunjang di dalam kawasan, dan zona penunjang di luar kawasan. Aktivitas wisata budaya yang dipadukan dengan wisata sejarah dan spiritual menjadi jiwa dari kepariwisataan Kota Kediri. Berdasarkan peta permasalahan yang terbangun tersebut, dalam upaya pengembangan pariwisata lebih lanjut Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan retrospeksi terhadap kebijakan pengembangan yang telah dilakukan selama ini. Merujuk pada tujuan pengembangan pariwisata, kebijakan tersebut dibuat dalam rangka peningkatan perekonomian daerah. Hal ini bermakna bahwa pembuat kebijakan perlu memperjelas target-target yang ingin dicapai melalui kebijakan tersebut.

103

Zona Inti Zona Penunjang

Zona Penunjang di Luar Kawasan

Gambar 5.2 Zonasi Aktivitas Kepariwisataan Kota Kediri Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam memproyeksikan hasil

pengembangan pariwisata terjadi karena sebelumnya pemerintah kurang mendapatkan input informasi yang memadai tentang kepariwisataan dalam lingkup lokal, regional, dan internasional. Hal ini terbukti dengan kenyataan tidak adanya studi-studi pendahuluan secara menyeluruh tentang perencanaan pariwisata, sebelum pemerintah memutuskan untuk melakukan pengembangan pariwisata. Kajian-kajian dan seminar ilmiah yang terkait dengan pengembangan pariwisata memang pernah dilakukan, namun sifatnya parsial karena hanya

104

membahas fakta-fakta sejarah yang dapat menjadi dasar penetapan hari jadi dan busana khas Kota Kediri. Penelitian ilmiah yang dilanjutkan hingga tahap seminar yang pernah dilakukan pada tahun 2002 hanyalah tentang penetapan hari Jadi Kota Kediri dan busana khas Kediri. Penelitian atau setidaknya survei lainnya seperti tipe wisatawan yang diharapkan datang ke Kota Kediri belum pernah dilakukan. Masalah yang terjadi akibat tidak memadainya survei pendahuluan terjadi pada proyek pengembangan kawasan wisata Selomangleng. proyek pembangunan kolam renang dan taman hiburan ini jaraknya sangat berdekatan dengan Goa Selomangleng, sehingga menimbulkan protes dari Balai Penelitian Peninggalan Purbakala di Mojokerto. Proyek ini dikhawatirkan akan sangat berpotensi mengganggu dan merusak struktur fondasi situs bersejarah Goa Selomangleng. Protes ini bisa dipahami, mengingat keberadaan Goa Selomangleng sebagai situs bersejarah harus sangat dilindungi pemerintah sesuai dengan UU No 5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya. Secara eksplisit, amanat untuk melindungi benda cagar budaya tersebut disebutkan pada pasal 18 ayat 1 yang menyebutkan bahwa pengelolaan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab pemerintah. Pengembangan objek-objek wisata buatan di dalam suatu kawasan yang menyimpan banyak benda bersejarah tentunya harus dilakukan dengan sangat berhati-hati dan mengembangkan suatu sistem zonasi. Namun di sisi lain, pemerintah Kota Kediri nampaknya juga menghadapi dilema. Tanpa adanya pengembangan objek tambahan sebagai penambah daya tarik Goa Selomangleng sebagai objek inti, maka pengelolaannya objek wisata sejarah, budaya, dan

105

spiritual sulit dilakukan. Padahal selain Goa Selomangleng objek bersejarah lainnya di dalam kawasan yang harus dilestarikan sangat banyak, tidak seimbang dengan kemampuan anggaran pemerintah yang sangat minim. Sejak berlakunya sistem otonomi daerah, pengelolaan benda-benda bersejarah menjadi tidak jelas. Tanggung jawab pemeliharaan dan perlindungan masih oleh pemerintah pusat, termasuk anggaran pelestariannya. objek-objek yang secara fisik berada di wilayah daerah otonom ini akhirnya jarang mendapatkan perhatian dari instansi terkait. Pemerintah daerah tentu saja tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya. Sayangnya dari sisi anggaran dan SDM, kondisi pemerintah daerah pun tidak memungkinkan untuk melakukan pelestarian. Kondisi-kondisi mendesak ini yang nampaknya membuat pemerintah Kota Kediri mengambil langkah berani untuk mengembangkan kawasan ini dengan segera. Sekalipun gesekan antara pemerintah Kota Kediri dan pihak Balai Penelitian Peninggalan Purbakala ini dapat terselesaikan, ini merupakan suatu pelajaran betapa pentingnya kajian-kajian perencanaan dilakukan sebelum pemerintah mengambil langkah lebih jauh. Sebagian masalah yang terjadi pada sejumlah objek dan daya tarik wisata Kota Kediri saat penelitian ini dilakukan terangkum dalam Tabel 5.7. Pengembangan pariwisata di Kota Kediri masih berada pada tahap yang sangat dini, yaitu penyediaan infrastruktur penunjang. Biaya yang dikeluarkan juga sangat besar, namun berapa target pendapatannya belum dapat diketahui pasti. Namun secara politis, citra pemerintah dan kota ini menjadi terangkat. Dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan pariwisata sangat besar, namun

106

belum dapat diketahui dengan jelas, kapan dan berapa banyak pendapatan yang akan dihasilkan. Namun kondisi objektif menunjukkan bahwa masyarakat memang membutuhkan fasilitas untuk berwisata, dan sesuatu yang dapat dibanggakan di daerahnya. Bila pemerintah tidak berani mengambil keputusan untuk mengembangkan pariwisata, masyarakat akan beranggapan bahwa pemerintahan saat ini tidak banyak melakukan perubahan-perubahan, sehingga tidak jauh berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kebijakan berani untuk mengembangkan pariwisata tanpa suatu kajian perencanaan yang mendalam ini ternyata sangat ampuh mendongkrak citra pemerintah. Hal ini terbukti dengan terpilihnya kembali HA Maschut sebagai Walikota Kediri periode 2004-2009. Masalah-masalah lain juga muncul dari sisi lingkungan sosial dan fisik. Konsep wisata budaya dan spiritual yang sering dipromosikan pemerintah, oleh sebagian warga telah dibuat menyimpang, akibat sering menggunakan kawasan ini untuk memadu asmara yang cenderung menjurus ke arah hubungan seksual pra nikah. Akibatnya citra kawasan ini sebagai objek bagi pecinta alam, berubah menjadi objek bagi para penggemar “bercinta di alam”. Ini terjadi akibat masih minimnya fasilitas penerangan di sekitar kawasan, yang dimanfaatkan sejumlah muda-mudi untuk bermesraan di malam hari. Maraknya aktivitas bermesraan dalam kegelapan ini akhirnya membuka peluang terjadinya tindak kriminal berupa pemalakan. Warga masyarakat beberapa kali melaporkan kasus pemalakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap pasangan muda-mudi yang tengah

107

berpacaran di suasana keremangan malam. Faktor gangguan keamanan tentu sangat merugikan upaya pengembangan pariwisata yang sedang dilakukan. Tabel 5.7 Masalah Pada Objek dan Daya Tarik Wisata Kota Kediri
No 1. Objek Goa Selomangleng 1. 2. 3. 2. Museum Airlangga 1. Masalah Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap objek bernilai sejarah tinggi Tidak adanya upaya konservasi terhadap goa sehingga aset tak ternilai ini terancam rusak akibat ulah tangan jahil yang melakukan pencoretan dan maupun pembuangan sampah Belum adanya upaya penggalian sejarah keberadaan goa yang dapat menjadi penambah daya tarik bagi wisatawan Rendahnya apresiasi pemerintah dan pengunjung terhadap objek bernilai sejarah tinggi. Koleksi museum hanya dipahami sebagai kumpulan patung, belum ada apresiasi terhadap nilai sejarahnya Tidak adanya informasi lengkap tentang latar belakang kesejarahan koleksi-koleksi museum Kurangnya perawatan sehingga museum terkesan kumuh dan tidak terawat Masih kurangnya upaya-upaya penghijauan secara berkelanjutan, sehingga fungsi objek sebagai wisata alam sekaligus konservasi belum optimal Belum adanya upaya perlindungan hutan sehingga masih ada praktek perladangan yang seringkali menyebabkan kebakaran Belum adanya kejelasan status pengelolaan, oleh pemerintah atau swasta Lokasi yang terlalu dekat dengan goa sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu struktur fondasi goa. Kurangnya pemeliharaan, sehingga kurang nyaman dan bersih bagi pengunjung

2. 3. 3. Gunung Klotok dan Maskumambang 1. 2. 4. Kolam Renang dan Taman Hiburan Selomangleng Kolam Renang Pagora 1. 2. 1.

5.

Sumber: Hasil pengamatan penulis

Masalah kebersihan juga muncul sebagai dampak aktivitas ekonomi yang belum terkelola baik di dalam kawasan. Pedagang keliling banyak bermunculan setiap hari libur untuk mengais rejeki. Sayangnya, mereka menjajakan dagangan di sembarang tempat. Mulai dari tangga menuju goa, bahkan hingga di pelataran goa, seperti gambar pada Lampiran 23. Akibatnya jelas, sampah menjadi berserakan mengotori lingkungan sekitar kawasan yang seharusnya selalu terjaga

108

kebersihan dan keasriannya karena menjadi objek wisata. Sebuah papan pengumuman yang mewajibkan pengunjung menjaga kelestarian lingkungan di Goa Selomangleng dan lingkungan sekitarnya sebenarnya sudah terpasang di dekat lokasi goa. Namun himbauan ini belum diperhatikan oleh pengunjung. Perkembangan-perkembangan ini akhirnya mengusik ketenangan masyarakat spiritual, yang sangat menghormati kesucian goa dan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi tersebut memang menimbulkan kesemrawutan, sehingga ketika pengunjung sedang ramai, situasi di sekitar goa menyerupai pasar. Goa, kolam renang, museum, panggung hiburan, dan pura terletak dalam jarak yang berdekatan. Ketika di panggung hiburan sedang dilaksanakan hiburan musik dangdut, maka jelas pengunjung Pura Sekartaji juga akan terganggu. Berbagai objek dengan tipe aktivitas yang berbeda terdapat dalam jarak yang berdekatan, namun hanya dihubungkan dengan satu akses. Objek wisata olah raga trekking di daerah pegunungan, Wisata spiritual dan sejarah di Goa Selomangleng, Makam Mbah Boncolono, dan Pura Dewi Sekartaji, serta wisata pendidikan di Museum Airlangga. Panggung hiburan yang terletak pada jarak yang dekat, sekali waktu mementaskan kesenian tradisional jaranan, atau musik dangdut. Akibatnya pada hari Minggu dan hari libur lain, kebisingan sangat terasa karena lalu lintas dan mobilitas wisatawan yang cukup padat dari satu objek ke objek lainnya bercampur dengan aktivitas pedagang yang berjualan di trotoar dan tepi jalan. Belum adanya konsep pengelolaan kawasan secara terpadu menjadi akar masalah ketidaknyamanan ini.

109

Problem lain yang kini muncul terkait dengan pembangunan kolam renang dan taman hiburan adalah belum jelasnya konsep pengelolaan, apakah akan dikelola oleh Kantor Pariwisata, perusahaan daerah, atau pihak swasta. Sehingga sangat disayangkan, kolam yang secara fisik sangat megah dan dibangun dengan biaya yang sangat mahal, namun pengelolaannya tidak dipersiapkan dengan matang untuk mencapai target pemasukan tertentu. Pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah menghabiskan biaya yang sangat besar. Bila dijumlahkan, biaya yang telah dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan sektor pariwisata dan telekomunikasi melalui APBD tahun 2000 hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar Rp 11,9 milyar lebih. Di luar itu, khusus untuk pembangunan kolam dan pengadaan sarana penunjangnya telah dihabiskan dana sebesar Rp 19 milyar. Sayangnya hingga kini belum ada data yang jelas mengenai besarnya pendapatan pemerintah pada kurun waktu yang sama, sebagai hasil dari investasi dengan jumlah tersebut. Data yang ada terkait hal ini secara ringkas sempat terungkap dalam Lampiran II LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri Tahun 1999-2004. Jumlah pendapatan pemerintah dari sektor ini ternyata masih sangat rendah bila dibandingkan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Pendapatan asli daerah melalui retribusi seperti yang tertera dalam Tabel 5.8 Tabel 5.8 Realisasi Pendapatan Sektor Pariwisata Tahun 2001-2003
No Uraian Tahun Anggaran 2001 Rp 906.200 Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran Tahun 2003 (s.d. 31 Anggaran Oktober 2003) 2002 Rp 2.238.000 Rp 2.694.000 Rp 1.023.600 Rp 1.289.500

1 2

Retribusi kios kawasan wisata Goa Selomangleng Retribusi tempat khusus parkir di Selomangleng

110

Retribusi tempat rekreasi Rp 13.670.500 Rp 11.450.100 dan olah raga 4 Ganti rugi kios di Goa Rp 20.000.000 Rp 16.000.000 Selomangleng 5 Sewa Radio Jayabaya Sumber: LPJ Akhir Masa Jabatan Walikota Kediri tahun 1999-2004

3

Rp 11.173.100 Rp 16.500.000

Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tentu memang tidak dapat segera mendatangkan hasil. Namun idealnya pemerintah juga memiliki target dan proyeksi, kapan bisa mencapai titik impas dan kapan dapat meraih profit atas investasi yang telah dilakukan. Keberadaan infrastruktur fisik, seperti kolam renang yang indah serta jalan tembus memang mampu mengangkat citra pariwisata yang sedang dikembangkan. Namun yang juga penting harus diperhitungkan ke depan adalah bagaimana agar investasi yang besar ini dapat mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dan daerah secara umum, bukan sekadar kepentingan mengejar prestise. Pariwisata harus dipandang sebagai suatu sistem perkaitan sosial (Soekadijo, 2000: 25), sehingga ada sejumlah aspek yang perlu dipelajari. Aspek pertama, yaitu wisatawan. Kajian mendalam terhadap aspek ini ternyata belum terpenuhi karena memang pemerintah belum pernah melakukan survei tipe wisatawan yang ingin didatangkan ke Kota Kediri. Saat ini memang sudah ada wisatawan yang datang, namun umumnya mereka adalah penduduk dari daerah di sekitar Kota Kediri, sebagian besar adalah penduduk dari daerah tetangga yaitu Kabupaten Kediri. Bila pemerintah mampu melakukan pengelolaan dengan baik, di masa depan kawasan ini dapat dikembangkan menjadi pusat wisata pada lingkup regional di sekitar eks karesidenan Kediri, yang meliputi Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kota Tulungagung, Kabupaten

111

Trenggalek, dan Kabupaten Blitar. Selama ini wisatawan yang sudah datang ke Kawasan Wisata Selomangleng dan objek-objek lain di Kota Kediri sebagian besar masih merupakan warga lokal atau warga dari wilayah tetangga tersebut. Untuk pengembangan lebih lanjut, pemerintah juga perlu mengkaji data-data terkait perkembangan pariwisata internasional dan nasional sebagai target segmen pasar pengembangan pariwisatanya. Kedua, yaitu daya tarik. Agar dampak ekonomi pengembangan pariwisata benar-benar optimal, daya tarik yang ada harus dapat menarik kedatangan wisatawan dari kota-kota besar, bahkan luar pulau. Daya tarik yang dapat dilihat dan aktivitas dilakukan adalah situs bersejarah Goa Selomangleng dan bendabenda bersejarah yang dihimpun di dengan kegiatan ini adalah Museum Airlangga. Segmen wisatawan yang berminat pada wisata

wisatawan

sejarah/pendidikan. Dari sisi sejarah, Kota Kediri sebenarnya juga berpotensi memasarkan produk wisata nostalgia, utamanya kepada wisatawan Belanda. Ini mengingat pada masa penjajahan, di Kota Kediri banyak didirikan infrastruktur penunjang kegiatan mereka. Infrastruktur tersebut misalnya pabrik gula dan jembatan lama Sungai Brantas yang umumnya berada dalam kondisi yang kurang terawat. Di dalam Kawasan Wisata Goa Selomangleng terdapat sejumlah objek dan daya tarik wisata dengan tipe kegiatan wisata yang berbeda dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, yaitu : 1. Goa Selomangleng

112

Goa Selomangleng merupakan objek inti yang terdapat di dalam kawasan ini. Karena di goa ini terdapat peninggalan bersejarah yang khas, yang tidak ditemukan di daerah lainnya di sekitar Kota Kediri. Namun hingga kini belum ada pemandu wisata yang memiliki pemahaman tentang sejarah goa, dan maknamakna relief yang terdapat di dalamnya. Akibatnya pengunjung memaknai goa tidak lebih dari goa yang berisi pahatan, tidak lebih dari itu. Tidak adanya cerita tentang goa ini membuatnya belum memiliki daya jual sebagai objek wisata. Untuk itulah Kantor Pariwisata perlu menggali sumber-sumber pustaka yang dapat memberikan penjelasan tentang serba-serbi goa ini. Keberadaan Goa

Selomangleng dan ratusan patung bersejarah lainnya yang terdapat di Museum Airlangga sebenarnya dapat menjadi potensi tersendiri untuk menarik kedatangan wisatawan asing dari segmen khusus. Wisatawan yang tertarik pada objek-objek bersejarah seperti ini umumnya berasal dari kalangan berpendidikan yang sangat menghargai kebudayaan dan produk-produk budaya negara yang dikunjungi. Objek ini selayaknya diposisikan sebagai objek inti, menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri. Untuk itu pemerintah perlu melakukan upaya-upaya penggalian sejarah keberadaan goa, makna dan hakekat goa tersebut. Keberadaan dokumentasi kesejarahan goa inilah yang dapat menjadi daya tarik dan meningkatkan apresiasi pengunjung terhadap Goa Selomangleng. Sejauh ini pemerintah hanya menjual daya tarik goa secara “fisik”, tanpa adanya sejarah yang menjadi “jiwa” goa tersebut. 2. Museum Airlangga

113

Tema objek wisata museum ini masih merupakan kelanjutan dari Goa Selomangleng, yaitu tentang peninggalan-peninggalan bersejarah. Problemnya juga sama, harus ada pemandu yang mampu memberikan penjelasan tentang peninggalan-peninggalan tersebut. Tanpa disertai penjelasan, wisatawan tidak akan memiliki apresiasi yang lebih mendalam. Mereka hanya akan melihat koleksi benda bersejarah tersebut tidak lebih dari kumpulan batu-batu yang diukir.Untuk mengelola museum sebagai daya tarik wisata memang dibutuhkan ketrampilan dan kerja keras tersendiri. Museum-museum yang terdapat di negara-negara maju umumnya terawat dengan baik, dan menjadi kebutuhan masyarakat maupun wisatawan. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi museum di tanah air yang umumnya terbengkalai, sekalipun menyimpan koleksi-koleksi yang sangat berharga. Masalah ini nampaknya menjadi masalah yang rumit dan sistemik di Indonesia. Umumnya, keterbatasan dana yang selalu menjadi alasan

ditelantarkannya benda-benda bersejarah ini. Hingga kini Indonesia belum meratifikasi Konvensi Internasional UNESCO tahun 1972 tentang perlindungan aset budaya atau benda peninggalan sejarah. Tentu saja kondisi ini sangat ironis, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki aset budaya terbesar di dunia. Padahal bila pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi itu, Indonesia dapat mengajukan bantuan dana internasional untuk pemeliharaan warisan-warisan budaya (Media Indonesia, 25 September 2005, hlm. 1). 3. Pura Agung Dewi Sekartaji

114

Pura ini merupakan tempat persembahyangan umat Hindu di Kota Kediri dan sekitarnya. Namun pura ini tidak hanya dapat berfungsi sebagai tempat persembahyangan, melainkan juga objek wisata spiritual. Di kalangan umat hindu di Bali kini tengah berkembang kebiasaan untuk melaksanakan tirta yatra, yaitu perjalanan suci untuk melaksanakan persembahyangan. Tempat-tempat yang dituju oleh umat Hindu di Bali tidak hanya pura-pura di Bali, melainkan juga di luar daerah, termasuk di Jawa Timur. Pura-pura di Jawa Timur yang telah umum menjadi objek wisata spiritual umat Hindu misalnya Pura Blambangan dan Alas Purwo di Banyuwangi, Pura Mandara Giri di Lumajang, dan Pura Semeru di kaki Gunung Semeru. Bila Pura Dewi Sekartaji telah dikenal luas, para pelaku wisata spiritual ini akan menjadikannya sebagai salah satu objek yang perlu dikunjungi. Pura-pura di luar Bali yang telah dikenal luas dan menjadi tujuan tirta yatra tentu akan memunculkan dampak ekonomi lokal. Berdasarkan informasi dari

pemangku pura setempat, beberapa kali umat Hindu dari Bali telah mulai datang ke pura ini. Uniknya, informasi yang mereka dapatkan tidak diperoleh melalui publikasi resmi, melainkan dari wahyu. Selanjutnya informasi tentang keberadaan pura ini berkembang dari mulut ke mulut. Bila segmen wisata spiritual ini dikembangkan dengan baik, sebenarnya cukup banyak wisatawan yang bisa didatangkan, baik dari sekitar Kota Kediri, maupun dari luar pulau, seperti Bali. Sebagian bagian dari upaya mengembangkan pariwisata spiritual, Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan upaya-upaya untuk lebih mempopulerkan objek ini. 4. Gunung Klotok

115

Gunung selalu menjadi objek yang menarik, termasuk Gunung Klotok. Kondisi alamnya menunjukkan gunung ini dapat menjadi objek wisata alam, dengan kegiatan seperti trekking, atau pun pendakian. Masyarakat sebenarnya telah melakukan aktivitas wisata alam di gunung ini. Yang diperlukan adalah pembenahan objek ini, seperti reboisasi untuk meningkatkan keasriannya. Selain itu juga perlu dibuat jalur trekking/pendakian agar wisatawan yang baru datang pertama kali tidak kesulitan melakukan pendakian. 5. Bukit Maskumambang dan Makam Mbah Boncolono Bukit Maskumambang yang tidak terlalu tinggi, juga dapat menjadi objek wisata alam. Selain itu, di puncak bukit ini juga terdapat Makam Mbah Boncolono dan Tumenggung Mojoroto sehingga wisata spiritual juga dapat dilakukan pada objek ini. Jalan bertangga yang telah dibangun menuju makam akan semakin menarik minat masyarakat untuk mengunjungi objek ini. 6. Jalan Tembus Selomangleng-Lebak Tumpang dan Jalan Lingkar Maskumambang Keberadaan jalan tembus ini tidak sekadar berfungsi sebagai akses tambahan bagi wisatawan untuk menuju Kawasan Wisata Selomangleng. Dengan topografinya yang melintasi perbukitan, jalan ini juga dapat menjadi jalur bagi olah raga bersepeda atau pun lintas alam. Pemandangan Kota Kediri dari kejauhan dapat terlihat dari jalan ini, sehingga merupakan daya tarik tersendiri. 7. Kolam Renang dan Taman Rekreasi Selomangleng Tidak semua orang tertarik dengan wisata sejarah. Ada pula yang ingin sekadar bersenang-senang. Kolam Renang dan Taman Rekreasi dapat menjadi daya tarik tambahan di kawasan ini. Ketika penelitian ini dilakukan objek Taman

116

Hiburan belum dibangun. Namun kemegahan kolam renang sudah terlihat, dan bila taman hiburan ini telah tuntas tentu akan terlihat lebih megah lagi. Di luar kawasan tersebut juga masih terdapat objek yang dapat menjadi daya tarik pendukung, seperti Jembatan Lama Sungai Brantas , Dermaga Sungai Brantas untuk wisata bahari, Makam Mbah Wasil untuk wisata spiritual, Mal Sri Ratu dan Golden serta kawasan Jalan Dhoho, Yos Sudarso, Pattimura dan Taman Sekartaji untuk wisata belanja. Objek lainnya, yang sudah ada dari dulu, yaitu Taman Hiburan Pagora dan Kolam Renang Tirtoyoso juga bisa dikembangkan menjadi objek wisata keluarga dan olah raga. Keberadaan Stadion Brawijaya dan klub Sepak Bola Persik sebenarnya juga bisa dikelola menjadi objek wisata olah raga. Keberadaan pabrik-pabrik industri pengolahan seperti pabrik Gula yang berada di tiga kecamatan, serta Pabrik Rokok Gudang Garam juga dapat dikembangkan menjadi objek wisata edukasi/pendidikan. Wisatawannya untuk objek pabrik ini misalnya para pelajar, untuk memberikan wawasan mengenai proses pengolahan suatu komoditi mentah hingga menjadi komoditi yang siap dipasarkan. Jembatan lama Sungai Brantas merupakan jembatan peninggalan masa penjajahan Belanda yang hingga saat ini masih digunakan sebagai sarana transportasi. Daya dukung jembatan ini jelas telah tidak memadai untuk kebutuhan mobilitas saat ini. Jembatan-jembatan lainnya memang sudah ada, seperti Jembatan Bandar dan Jembatan Semampir. Namun untuk di wilayah tengah kota, akses terdekat hanya melalui jembatan lama. Karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan jembatan tambahan lainnya untuk

117

menjaga kelestarian jembatan lama sebagai salah satu objek bersejarah. Untuk mengelola sungai ini sebagai objek wisata, pemerintah juga telah membangun Dermaga Jayabaya di Sungai Brantas pada tahun 2001. Namun sayangnya fasilitas yang dibangun untuk menghidupkan aktivitas wisata dan ekonomi seperti restoran apung dan pusat jual ikan tersebut belum dapat menarik investor (Kompas, 8 Maret 2002). Selain itu, yang selama ini nampaknya luput dari perhatian adalah keberadaan pabrik-pabrik gula di Kediri. Pabrik-pabrik yang dibangun pemerintah Belanda, dan kini ini menjadi aset pemerintah, dalam hal ini PT Perkebunan Negara (PTPN) XI. Mungkin saja ada bekas-bekas serdadu Belanda yang Sejauh ini

memiliki kenangan tersendiri ketika pernah ditugaskan di kota ini.

Kantor pariwisata dan Budaya belum memiliki data mengenai wisatawan minat khusus yang pernah berkunjung ke Kota Kediri. Aksesibilitas/transferabilitas juga menjadi bagian yang penting dalam menunjang keberhasilan objek wisata. Sebelum proyek pengembangan Kawasan Wisata Selomangleng dilaksanakan, hanya terdapat 1 jalur yang menjadi jalan masuk menuju kawasan wisata Goa Selomangleng, yaitu dari Desa Sukorame, Kecamatan Mojoroto. Pada tahap awal, masalah aksesibibilitas ini diatasi dengan memasang lampu penerangan jalan terlebih dahulu di sepanjang jalan menuju kawasan wisata. Desa yang sebelumnya gelap gulita, kini telah terang-benderang. Kendaraan umum yang beroperasi pada jalur ini juga sudah ada, namun kondisi dan ketersediaannya belum teratur.

118

Keberadaan jalan tembus yang baru dari Desa Lebak Tumpang menuju Selomangleng yang kini telah tuntas 100% dapat menjadi akses alternatif bagi pengunjung yang akan mengunjungi kawasan wisata ini. Kondisi jalan yang melalui daerah perbukitan pada perkembanganya kemudian ternyata tidak hanya sekadar menjadi sarana jalan namun juga menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat menggunakan jalan tembus ini untuk olah raga bersepeda, jalan santai atau sekadar melihat-lihat pemandangan untuk menghirup udara yang segar. Pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Kawasan

Selomangleng berupa Jalan Tembus Lebak Tumpang Selomangleng dan Kolam Renang mampu meningkatkan citra kawasan ini sebagai pusat kegiatan wisata di Kota Kediri. Kawasan ini menjadi kian populer, dan masyarakat semakin bergairah melaksanakan rekreasi di kawasan ini. Hampir setiap kegiatan yang melingkupi kota Kediri selalu dilaksanakan pada kawasan ini, seperti sepeda santai yang mengambil start di balai kota dan berakhir di Selomangleng. Maraknya aktivitas masyarakat untuk melakukan kegiatan wisata di kawasan ini bahkan mampu mengundang partisipasi masyarakat dalam pengembangannya. Ahli waris Mbah Boncolono misalnya, secara swadaya mengeluarkan biaya untuk membangun jalan bertangga menuju makam yang terletak di puncak Bukit Maskumambang. Upaya yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengemas berbagai objek yang ada menjadi suatu daya tarik wisata, yang dipadukan dengan berbagai atraksi budaya lainnya. Dengan demikian antara objek-objek yang berada di dalam

Kawasan Selomangleng dan objek lainnya yang berada di Kota Kediri pada

119

dasarnya dapat saling mendukung satu sama lainnya, dan menarik berbagai tipe wisatawan. Karena itulah kawasan ini sebenarnya menawarkan daya tarik wisata yang beragam. Mulai dari wisata sejarah, dengan objek berupa Goa Selomangleng serta barang-barang purbakala yang disimpan di Museum Airlangga. Wisata spiritual yang ditawarkan misalnya dapat berupa tirta yatra di Pura Dewi Sekartaji atau berziarah ke Makam Mbah Boncolono. Wisata alam yang ditawarkan pegunungan dan perbukitan, cocok untuk aktivitas pendakian dan lintas alam, maupun rekreasi yang ditawarkan oleh kolam renang dan taman hiburan yang sedang dibangun, maupun yang telah rutin diadakan setiap hari Minggu oleh pengusaha setempat. Dampak ekonomi yang muncul karena pengembangan pariwisata di Kota Kediri telah mulai terlihat. Pedagang mulai bermunculan di sekitar areal Goa Selomangleng, di sekitar Jalan Lingkar Maskumambang, dan sekitar Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng. Dengan pengelolaan yang lebih optimal dan padu, tentu dampak ekonomi pariwisata bagi Kota Kediri akan lebih besar. Konsekuensi berikutnya dari uraian tersebut terdapat pada pola promosi yang dilakukan. Sarana-sarana promosi yang dibuat pemerintah, baik berupa iklan, pencetakan brosur, maupun website, harus pula mengedepankan Goa

Selomangleng beserta sejarahnya sebagai ikon kepariwisataan Kota Kediri. Objek-objek lainnya menjadi objek pendukung yang juga tak terpisahkan dengan objek inti. Dengan demikian strategi yang dikembangkan kepada benak wisatawan adalah membentuk citra Goa Selomangleng merupakan objek wisata

120

yang identik dengan Kota Kediri, atau sebaliknya Kota Kediri merupakan daerah tujuan wisata identik dengan Goa Selomanglengnya. Kebijakan mencakup wawasan yang luas, menjangkau jangka waktu yang panjang, mengandung resiko yang besar dan melibatkan banyak pihak. Karena itu, dalam penerapan kebijakan diharapkan tidak terjadi kegagalan. Pembuatan kebijakan idealnya tidak dilakukan dengan cara trial and error (Abidin, 2002: 39). Demikian pula halnya dengan kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Kediri, idealnya tidak boleh terjadi kegagalan mengingat begitu besarnya tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan. Untuk pengembangan yang lebih lanjut, pemerintah Kota Kediri perlu melakukan penataan kembali (restrukturisasi) terhadap kebijakan pengembangan pariwisata yang telah ditempuh selama ini. Upaya ini dapat diawali dengan menginventarisasi dan mengidentifikasi kembali potensi-potensi wisata yang ada di Kota Kediri, yang selanjutnya dituangkan dalam sebuah dokumen resmi. Daftar inventarisasi inilah yang pada tahap berikutnya menjadi dasar dalam penyusunan dokumen perencanaan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Perencanaan tersebut akan sangat bermanfaat pada kegiatan tahap berikutnya, yaitu pengembangan maupun revitalisasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri. Setelah tahap pengembangan inilah, selanjutnya produk-produk pariwisata Kota Kediri telah siap untuk dipromosikan dan dipasarkan kepada wisatawan. Bagaimana strategi dan bentuk pemasaran pariwisata tersebut dipengaruhi oleh pengembangan yang dilakukan, sehingga citra kepariwisataan yang dipasarkan dapat sesuai atau tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua

121

tahapan dari awal, yaitu inventarisasi potensi wisata hingga tahap pemasaran tersebut tentunya perlu merujuk pada perkembangan kepariwisataan di tingkat lokal, nasional dan internasional untuk mendapatkan kejelasan, segmen wisatawan mana yang menjadi sasaran pengembangan pariwisata Kota Kediri. Terkait dengan segmen wisatawan bagi Kota Kediri ini, berdasarkan pengamatan penulis pemerintah nampaknya dapat lebih memfokuskan perhatian pada wisatawan wisatawan regional yang datang dari daerah di sekitar Kota Kediri seperti yang telah berkembang saat penelitian ini dilaksanakan. Selain itu potensi yang ada juga memungkinkan untuk menarik kedatangan wisatawan dari luar pulau bahkan mancanegara, melalui wisata budaya yang ada. Hal ini juga seiring dengan perkembangan kepariwisataan internasional saat ini yang ditandai dengan meningkatnya apresiasi terhadap benda-benda peninggalan bersejarah. Selanjutnya bagaimana tahap-tahap restrukturisasi kebijakan

pengembangan pariwisata Kota Kediri dapat dilakukan, telah disusun skemanya pada Gambar 5.3

Inventarisasi dan Identifikasi Objek Daya Tarik Wisata serta Tipe Aktivitas Wisata

Penyusunan Dokumen Perencanaan

Pengembangan dan Revitalisasi Objek dan Daya Tarik Wisata

Promosi dan Pemasaran Produk Pariwisata

Lingkungan Kebijakan Lokal, Nasional, Dan Internasional

Gambar 5.3 Restrukturisasi Pengembangan Pariwisata Kota Kediri

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri diarahkan kepada pengembangan pariwisata sejarah dan spiritual. Hal ini terlihat dengan pengembangan-pengembangan yang dilakukan seperti rehabilitasi Makam Setono Gedong, Masjid Agung, pelaksanaan berbagai pagelaran kesenian khas pada perayaan hari jadi Kota Kediri. 2. Dalam upayanya mengembangkan pariwisata, Pemerintah Kota Kediri dihadapkan pada sejumlah persoalan di tingkat internasional, nasional, dan lokal yang perlu menjadi bahan pertimbangan. Di tingkat internasional masalah yang ada adalah implementasi paradigma pariwisata

berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk menunjang industri pariwisata. Di tingkat nasional, masalah yang penting dipertimbangkan adalah menurunnya jumlah kunjungan wisatawan asing sehingga kepariwisataan nasional tengah diarahkan kepada optimalisasi pasar wisatawan domestik. Sedangkan permasalahan di tingkat lokal adalah adanya kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan tempat untuk berwisata serta keberadaan benda-benda bersejarah yang tidak terkelola dengan baik.

123

124

3. Untuk pengembangan pariwisata lebih lanjut, Pemerintah Kota Kediri perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan kepariwisataan saat ini, dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan untuk merestrukturisasi pola pengembangan pariwisata yang merujuk pada perkembangan-

perkembangan kepariwisataan di lingkungan internasional, nasional, dan lokal. Tahapan restrukturisasi tersebut meliputi: Inventarisasi dan identifikasi objek dan daya tarik wisata Kota Kediri serta tipe aktivitas kepariwisataan yang dapat dilakukan. Untuk menunjang pariwisata budaya dan spiritual Pemerintah Kota Kediri juga dapat mengembangkan tipe aktivitas kepariwisataan lainnya seperti wisata alam, wisata olah raga, wisata belanja, serta wisata pendidikan. Penyusunan dokumen perencanaan pariwisata, khususnya rencana pengembangan kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata yang akan menjadi ikon kepariwisataan Kota Kediri Pengembangan serta revitalisasi objek dan daya tarik wisata yang ada sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki daya jual yang bersaing bila dibandingkan dengan objek di daerah lainnya Melakukan promosi dan pemasaran produk wisata secara berkelanjutan untuk mengaktualisasikan daya tarik wisata Kota Kediri. Situs resmi Pemerintah Kota Kediri yang ada, www.kotakediri.go.id perlu dioptimalkan pemanfaatannya untuk melakukan promosi pariwisata. Untuk itu dibutuhkan adanya tim teknis yang secara khusus diberikan

125

tugas dan tanggung jawab untuk menangani promosi pariwisata melalui media internet. Dalam melaksanakan tugasnya tim ini juga diarahkan untuk menjalin kerja sama berbagai instansi di dalam lingkungan pemerintah serta para pengusaha pariwisata, untuk kepentingan mendukung materi promosi di website, sehingga dapat menjadi media promosi yang terpadu. Media ini dapat dimanfaatkan untuk menarik kedatangan wisatawan minat khusus, yang umumnya merupakan wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk menarik kedatangan wisatawan regional/nusantara, pemasaran pariwisata dapat dilakukan instansi melalui pembentukan jaringan kerja dengan kalangan swasta, destinasi wisata di kabupaten/kota sekitar Kota Kediri, termasuk tentunya pemerintah Provinsi Jawa Timur.

6.2 Saran Pada penelitian ini penulis hanya melakukan studi secara makro dan umum terhadap kebijakan pengembangan pariwisata Kota Kediri. Pada penelitian selanjutnya para peneliti lain kiranya dapat melakukan kajian-kajian terhadap kebijakan kepariwisataan secara mengkhusus, di antaranya seperti kajian

terhadap dampak ekonomi pengembangan industri pariwisata, upaya Pemerintah Kota Kediri dalam pengembangan Kawasan Selomangleng menjadi suatu kawasan wisata, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya promosi pariwisata, serta aspek-aspek lainnya pada level mikro sehingga dapat dihasilkan kajian yang mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Said Zainal. 2002. Kebijakan Publik. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah. Agustino, Leo. 2006. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung : Alfabeta. Anonim. 1999. Perencanaan Pariwisata I. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali. ---------- 2005. Microsoft Encarta Encyclopedia. Microsoft Corporation. ----------. 2004. Undang-undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Departemen Dalam Negeri RI. Apter, David E. 1987. Pengantar Analisis Politik (terjemahan). Jakarta: LP3ES. Badan Pusat Statistik Kota Kediri. 2004. Kota Kediri Dalam Angka 2003. Bafadal, Ibrahim. 2003. Teknik Analisis Data Penelitian Kualitatif dalam Masykuri Bakri (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang dan Visipress. Bali Post, 5 Juli 2004. Pariwisata Nasional Belum Digarap Maksimal, hlm. 14, kol.7 Bali Post, 20 Pebruari 2006. Pasien Flu Burung Meningkat, hlm. 1, kol. 6. Bappeda Kota Kediri. 2000. Data Hasil Pelaksanaan Pembangunan Kota Kediri, Tahun Anggaran 1998/1999 sampai 2000. ------------------------- 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah 2005-2009. Bisnis Internasional. 2005. Harmoni Dalam Perbedaan. Edisi 15 April-15 Mei 2005, hlm. 7. Capra, Fritjof. 2005. The Hidden Connections: Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru (terjemahan). Yogyakarta: Jalasutra. Dunn, William N. 2003 Pengantar Analisis Kebijakan Publik (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Dwidjowijoto, Riant Nugroho. 2006. Kebijakan Publik Untuk Negara-Negara Berkembang. Jakarta : Gramedia.

126

127

Gee, Chuck Y. (ed.). 2000. International Tourism : A Global Perspective. Hawaii: WTO Education Network. Hamel, Victor A. 1999. Retrospeksi Ekonomi-Politik Kebijakan Pemberantasan Kemiskinan di Pedesaan. Universitas Gadjah Mada. Heywood, Andrew. 1997. Politics. Houndmills: Macmillan. Holsti, K.J. 1992. International Politics: A Framework for Analysis. New Jersey: Prentice-Hall. Iida, Akira. 2004. Paradigm Theory & Policy Making : Reconfiguring The Future. Singapore: Tuttle Publishing. Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold. Jawa Pos, 7 Pebruari 2005. Libur, 200 Ribu Kendaraan ke Luar Surabaya, hlm. 9, kol.1. Jawa Pos, 10 Maret 2005. Dispar Rilis Kiosk Interactive, hlm. 7, kol.1. Kartajaya, Hermawan & Yuswohady. 2005. Attracting Tourists Traders Investors: Strategi Memasarkan Daerah di Era Otonomi. Jakarta: Gramedia. ----------------. 2005. Kepala Daerah Adalah Marketer, Jawa Pos, 7 Juni 2005 halaman 1. Kasali, Rhenald. 2004. Jangan Abaikan Sektor Bisnis Pariwisata, Kompas, 23 Agustus 2004, hlm. 15. Kompas, 8 Maret 2002. Wisata Dermaga Jayabaya Akhirnya Mati Suri, hal. 32, kol. Kol 1. Kompas, 5 September 2005. Target Enam Juta Wisman Tak Tercapai, hal. 18, kol.5. Mas’oed, Mohtar. 1994. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES. Media Indonesia, 25 September 2005. Lemahnya Perlindungan Aset Budaya Indonesia, hlm. 1, kol.6. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Volume 3 Nomor 2. Yogyakarta : Program Magister Administrasi Publik

128

Metro, 18 Desember 2002. Wisata Goa Selomangleng Ancolnya Kediri, hal. 6, kol.2. Miksic, John. 1997. The Kediri-Blitar Area dalam Eric Oey (ed.). Java. Singapore: Periplus Editions. Müller, Hansruedi. 1997. The Thorny Path to Sustainable Tourism Development dalam Leslie France, (ed.). The Earthscan Reader in Sustainable Tourism. London: WWF-UK and International Institute for Environment dan Development. Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston: Allyn & Bacon. Ohmae, Kenichi. 1991. Dunia Tanpa Batas: Kekuatan dan Strategi di Dalam Ekonomi yang Saling Mengait (terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara. ----------------------. 2005. The Next Global Stage: Tantangan dan Peluang di Dunia yang Tidak Mengenal Batas Kewilayahan (terjemahan). Jakarta: Indeks. Onggo, Bob Julius. 2004. E-PR: Menggapai Publisitas di Era Interaktif Lewat Media Online, Yogyakarta: Andi. Otonomi, Media. Edisi No 7 Tahun I 2005. Parsons, Wayne. 2005. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan (terjemahan). Jakarta: Kencana. Paturusi, Syamsul Alam. 2003. Perencanaan Kawasan Pariwisata, bahan ajar Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana (tidak diterbitkan). Program Pascasarjana Universitas Udayana. 2003. Buku Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Tesis, dan Disertasi. Denpasar: Universitas Udayana Radar Kediri, 23 Desember 2002. Paduan Wisata Modern, Religi, Budaya, dan Alam, hal. 26, kol.2 Radar Kediri, 9 Desember 2003. Awas, Wisata Selomangleng Longsor, hlm. 30, kol.2. Radar Kediri, 31 Januari 2004, Hijaukan 100 Hektare Lahan, hal. 29, kol.2.

129

Rosenau, James N. 1980. The Scientific Study of Foreign Policy. London: Frances Pinter. Roskin, Michael G., Robert L. Cord, James A. Medeiros, Walter S. Jones. 1994. Poltical Science: An Introduction. New Jersey: Prentice Hall. Santosa, Setyanto P. 2002. Pengembangan Pariwisata Indonesia dalam http://kolom.pacific.net.id/ind/setyanto_p._santosa/artikel_setyanto_p._san tosa/pengembangan__pariwisata__indonesia.html, September 2005. Silalahi, Ulber. 1999. Metode dan Metodologi Penelitian. Bandung : Bina Budhaya. Soekadijo, R.G. 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata Sebagai Systemic Linkage. Jakarta: Gramedia. Spillane, James. 1997. Pariwisata Indonesia: Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan.Yogyakarta: Kanisius. Stern. Geoffrey. 2000. The Structure of International Society: An Introduction to the Study of International Relations. London: Pinter. Strauss, Anselm & Julia Corbin. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (terjemahan). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Suharto, Edi. 2005. Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial. Bandung: Alfabeta. Sujana, Naya. 2004. Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Industri Pariwisata di Jawa Timur. Dalam Ayu Sutarto & Setya Yuwana Sudikan (ed.). Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Provinsi Jawa Timur. Jember: Kompyawisda. hlm 123. Surya, 7 Pebruari 2003. Menanam 26.000 Pohon Untuk Selamatkan Selomangleng, hal. 17, kol.2. Surya, 23 Juli 2004. Buang Buceng Robyong Agar Kota Kediri Aman, hal. 18, kol. 1. Sutopo, H.B. 2003. Pengumpulan dan Pengolahan Data Dalam Penelitian Kualitatif dalam Masykuri Bakri (ed.). Metodologi Penelitian Kualitatif: diakses pada

130

Tinjauan Teoritis dan Praktis. Surabaya : Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang dan Visipress. Syaukani,HR, Affan Gaffar, Ryaas Rasyid. 2002. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Puskap. Thoha, Miftah. 2002. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Wacik, Jero. 2006. Rencana Strategik Pariwisata Indonesia-Bali dan Peran Swasta. Makalah pada seminar dan lokakarya nasional Kadin Provinsi Bali, 25 Pebruari 2006, tidak diterbitkan. Wahab, Solichin Abdul. 2002. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara. Warta Bali, 8 September 2005. Kendala Pariwisata Indonesia, hlm. 8, kol. 1. Williams, Mariama. 2002. The Political Economy of Tourism Liberalization, Gender, and the GATS . URL: http://www.genderandtrade.net/GATS/GATStourism.pdf, diakses pada Desember 2004. World Resources Institute (WRI), United Nations Environment Programme (UNEP), World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). 2002. Tomorrow’s Markets: Global Trends and Their Implications for Business. Baltimore: Hopkins Fulfillment Service. World Tourism Organization (WTO). 2004. National and Regional Tourism Planning: Methodologies and Case Studies. Madrid: WTO. Yoeti, Oka A. 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita. http://research.amnh.org/biodiversity/symposia/archives/tigerintheforest/highlight s/files/tiger_whtPaper02.htm, diakses pada September 2005. http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0115/wis02.html diakses pada September 2005. http://www.pata.org/patasite/index.php?id=95 diakses pada September 2005. www.kotakediri.go.id

131

Lampiran 1

Jadwal Kegiatan Penelitian Sept- Nop- Jan- Mar- MeiJan- Mar- Mei- JuliDes Peb April Juni Peb April Juni Agust Okt 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2006 2006 2006

Bulan Kegiatan Pra Penelitian Penyusunan Proposal Seminar Proposal Perbaikan Proposal Penelitian Lapangan Penyusunan Laporan Seminar Hasil Penelitian Perbaikan Sidang

132

Lampiran 2 Peta Jawa Timur

133

Lampiran 3 Peta Kota Kediri

134

Lampiran 4 Sketsa Site Plan Kawasan Wisata Selomangleng

135

Lampiran 5 Goa Selomangleng

136

Lampiran 6 Relief Pertapa di Dalam Goa Selomangleng

137

Lampiran 7 Museum Airlangga

138

Lampiran 8 Tumpeng Tosaren

139

Lampiran 9 Kesenian Jaranan

140

Lampiran 10 Ritual Manusuk Sima

141

Lampiran 11 Kirab Prasasti Kediri Jayati

142

Lampiran 12 Pentas Wayang Orang Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kediri

143

Lampiran 13 Festival Panji-Galuh

144

Lampiran 14 Pura Dewi Sekartaji

145

Lampiran 15 Mesjid Agung

146

Lampiran 16 Walikota, Pejabat, dan Masyarakat Memantau Hutan Maskumambang

147

Lampiran 17 Pawai Budaya Dalam Rangka Hari Jadi

148

Lampiran 18 Taman Hiburan Pagora

149

Lampiran 19 Pertandingan Sepak Bola di Stadion Brawijaya

150

Lampiran 20 Wisata Olah Raga di Jalan Tembus Lebak Tumpang-Selomangleng

151

Lampiran 21 Pusat Penjualan Tahu Takwa di Kota Kediri

152

Lampiran 22 Objek Wisata Pendidikan di Pabrik Rokok Gudang Garam

153

Lampiran 23 Pedagang di Bibir Goa Selomangleng

154

Lampiran 24 Coretan di Dinding Goa Selomangleng

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful