P. 1
Pembahasan acidi alkalimetri.doc

Pembahasan acidi alkalimetri.doc

|Views: 24|Likes:
Published by Ummi Khairani Urfa

More info:

Published by: Ummi Khairani Urfa on Sep 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

Pembahasan Metode analisis pada percobaan ini adalah titrasi asam basa.

Disebut sebagai titrasi sebab dalam perlakuannya untuk mencapai titik ekivalen atau keseimbangan reaksi dilakukan peristiwa penambahan sedikit demi sedikit larutan pereaksi yang telah diketahui konsentrasinya ke dalam larutan analit dengan menggunakan buret yang dapat mengukur volume titran yang ditambahkan setiap saat. Sehingga volume pada waktu titik ekivalen dapat diketahui. Pada percobaan ini larutan standar yang dipakai adalah HCl 0.1 N. Hal ini karena HCl dalah suatu asam kuat sehingga reaksi berjalan sempurna, HCl tidak mudah terkontaminasi, tidak mudah menguap, stabil, bukan merupakan oksidator atau redutor kuat sehingga tidak merusak indikator yang dipakai. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa pada percobaan ini adalah indikator Phenolptaline ( pp ) dan methyl orange (mo). Kedua senyawa tersebut adalah suatu asam atau basa organik lemah yang dapat berubah warna apabila pH dilingkungannya berubah. Ketika dilakukan standarisasi HCl dengan larutan boraks,dan penentuan ammonia dalam garam ammonium digunakan indikator mo, hal ini karena indikator mo memiliki jangkauan pH 3.1 – 4.4 dan akan memberikan warna kuning bila direaksikan dengan larutan boraks ( dalam keadaan basa) dan akan berubah warna menjadi merah( jingga) dengan penambahan HCl ( dalam keadaan asam) yang berarti terjadi penurunan pH. Pada waktu titrasi penetapan campuran NaOH dan Na2CO3 dipakai indikator pp untuk titrasi yang pertama, hal ini karena NaOH dan Na2CO3 mempunyai pH diatas 7. Kemudian untuk titrasi pada tahap II dipakai indicator MO. Hal ini karena pada reaksi yang ke 2 terjadi penurunan pH, sehingga pH lebih kecil dari 7, sehingga MO cocok dipakai sebagai indikator pada reaksi yang ke II. Kecocokan indikator yang digunakan pada waktu titrasi dapat ditentukan dengan membuat grafik titrasi atau dengan menghitung pH pada waktu titik ekivalen terjadi. 25 40 21.55 25 40 18.15 Volume rata-rata 40 25.30 Pemakaian indikator hanya diijinkan untuk sedikit mungkin/ tetes demi tetes, hal ini disebabkan agar perubahan warnanya bisa teramati. Reaksi pada standarisasi HCl secara keseluruhan dapat dituliskan sebagai berikut ( dalam mmol): Na2B4O7.10H2O + 2HCl NaCl + H3BO3 + H2 Awal : 2,5 1,145 – Reaksi : 1,145 1,145 1,145 1,145 1,145 _ Akhir : 1,355 – 1,145 1,145 1,145 Dari perhitungan standarisasi HCl diperoleh hasil normalitas HCl adalah 0,0916 N. Hasil ini ternyata tidak sesuai dengan rencana awal yaitu HCl 0,1 N. Ini disebabkan oleh adanya ketidaktelitian praktikan pada waktu proses pengenceran sehingga terjadi kesalahan

5 1.5 1.8388 mg dan banyaknya Na2CO3 dalam 25 ml campuran adalah 304. Ketika titrasi dilakukan pada waktu larutan masih panas volume titran yang diperlukan lebih sedikit sedangkan ketika titrasi dilakukan pada keadaan yang lebih dingin volume titran yang dipakai lebih banyak. dilakukan titrasi dengan indikator pp ataupun mo. padahal seharusnya hal ini dihindari karena adanya penambahan sedikit saja zat pengencer akan menyebabkan berubahnya konsentrasi sehingga tidak sesuai dengan yang diharapkan. Setelah itu reaksi berlanjut dengan melepaskan Na+ dari NaHCO3 kemudian digantikan kedudukannya dengan kelebihan HCl sehingga terbentuk H2O + CO2 + NaCl .5 1.058 mgram. mol NH3 sama dengan mol NaOH yang bereaksi dan mol NaOH sisa setara dengan mol HCl. hal ini dimaksudkan untuk menguapkan ammonia. dan III.0 Reaksi :2.5 1. Titrasi ini harus berhenti pada waktu mulai terjadi perubahan warna dari indikator yang dipakai karena terjadinya perubahan warna indikator ekivalen dengan menunjukkan terjadinya . II.5 4. namun titrasi harus dihentikan pada waktu sesaat sebelum warna jadi bening hal ini untuk menghindari kelebihan volume titran yang digunakan.5 1.penambahan volume akuades.3959 mg. Titrasi dilakukan sesudah larutan mendidih dan bau ammonia hilang.5 2. Titik ekivalen pada tahap ini ditandai dengan perubahan warna dari merah muda menjadi bening. Reaksi keseluruhan pada penetapan campuran NaOH dan Na2CO3 dapat ditulis sebagai berikut: NaOH + HCl NaCl + H2O titik ekivalen I Na2CO3 + HCl NaHCO3 + NaCl NaHCO3 + HCl H2O + CO2 + NaCl titik ekivalen II Pada titik ekivalen I NaOH akan bereaksi sempurna dengan HCl membentuk NaCl dan H2O.5 1. Hal ini bisa disebabkan karena adanya faktor panas/suhu. Dan dari hasil titrasi ini dapat dihitung banyaknya NH3 dalam 25 ml larutan garam ammonium yaitu 25. Na2CO3 akan melepaskan satu ion Na+ dan diganti kedudukannya dengan atom H+ dari HCl dan membentuk NaHCO3. hasil ini dinilai kurang valid karena terjadi perbedaan volume titran yang cukup jauh antara titrasi I. reaksi pada tahap ini tercapai ekivalen dengan ditandai perubahan warna dari kuning menjadi orange atau jingga oleh indikator mo.5 1. Percobaan dilakukan dengan mendidihkan larutan yang berisi campuran antara ammonium dan NaOH. Reaksi keseluruhan pada penetapan ammonia dalam garam ammonium dapat dituliskan sebagai berikut : NH4+(l) + NaOH(l) NH3 (g)+ H2O + Na+ Awal : 2.5 _ Akhir : – 1.karena reaksi akan berjalan lebih cepat apabila suhu dinaikkan.5 2.5 NaOH (sisa) + HCl NaCl + H2O Awal : 1.5 _ Akhir : – 1. Perbedaan ini disebabkan karena terjadi perbedaan keadaan pada waktu titrasi.5 1.5 Dari reaksi tersebut. Titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan warna indikator mo dari kuning menjadi jingga.5 1. Dari percobaan dan perhitungan diperoleh bahwa NaOH yang ada dalam 25 ml campuran adalah sebesar 26.5 2.5 1. Namun.5 Reaksi :1.5 2. Dari reaksi keseluruhan.

tiba dari indikator yang dapat dilihat dengan perubahan warna. Jadi ketika titik ekivalen terlewati. .titik akhir titrasi. ada perubahan konsentrasi jumlah relatif yang tiba.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->