P. 1
LOGIKA PROPOSIONAL

LOGIKA PROPOSIONAL

|Views: 187|Likes:
Published by Maulana Akhsan
224234234
224234234

More info:

Published by: Maulana Akhsan on Sep 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2013

pdf

text

original

LOGIKA INFORMATIKA

NAMA : MAULANA AKHSAN
NIM : 4611412010
PRODI : TEKNIK INFORMATIKA
JURUSAN : ILMU KOMPUTER



LOGIKA PROPOSIONAL
• Logika adalah suatu system berbasis proposisi.
• Suatu proposisi adalah suatu pernyataan (statement) yang dapat ber”nilai” Benar (true) atau
Salah (false) dan tidak keduanya.
• Dikatakan bahwa nilai kebenaran daripada suatu proposisi adalah salah satu dari benar (true
disajikan dengan T) atau salah (false disajikan dengan F).
• Dalam untaian digital (digital circuits) disajikan dengan 0 dan 1
• Variabel-variabel tersebut diatas dihubungkan dengan menggunakan penghubung logis yang
disebut operator atau functor.
Sebagai contoh :
1) Saya mempunyai uang dan saya lapar
2) J ika balok mempunyai berat jenis lebih besar dari 1 maka ia akan tenggelam diair.
3) Ir. Sukarno presiden pertama RI dan ia proklamator negara RI
4) Saya berangkat naik becat atau naik angkot.
5) Lampu mobil mati karena plentongnya mati atau kabelnya putus.
Perhatikan kalimat-kalimat sebagai berikut :
1) Tutuplah pintu itu
2) Dilarang merokok
3) Nilai daripada x terletak diantara nol dan satu Kalimat-kalimat tersebut tidak dimasukkan
dalam pembicaraan kita karena mereka tidak dapat ber “nilai” benar ataupun salah sedang yang
terakhir tidak dimasukkan disini tetapi masuk dalam logika predikat.
The Statement/Proposition Game
• “Gajah lebih besar daripada tikus.”
• Apakah ini suatu pernyataan? yes
• Apakah ini suatu proposisi? yes
• Apa nilai kebenaran daripada proposisi tersebut? True

The Statement/Proposition Game
• “520 < 111”
• Apakah ini suatu pernyataan ? yes
• Apakah ini suatu proposisi? yes
• Apa nilai kebenaran daripada proposisi tersebut? False
• “y > 5”
• Apakah ini suatu statement? Yes
• Apakah ini suatu proposisi? NO
• Nilai kebenarannya tergantung pada nilai daripada y , tetapi nilai ini tidak diberikan (not
specified).Kita sebut tipe pernyataan ini suatu fungsi proposisional atau kalimat terbuka.
Definisi . Proposisi adalah kalimat deklaratif (atau pernyata an) yang memiliki hanya satu nilai
kebenaran yaitu banar saja atau salah saja, akan tetapi tidak keduanya.
Proposisi yang bukan hasil kombinasi dari proposisi-propo sisi disebut atom.
Jika atom-atom akan dikombinasikan untuk memperoleh proposisi baru maka diperlukan
operator logika atau operator sambung yang dilambangkan dng simbol :
1). ÷ : “not”, atau “negasi”
2). . : “and”, atau “konjungsi”
3). v : “or” , atau “disjungsi” atau “inclusive or”
4). © : “xor”, atau “exclusive or”
5). ÷: “implies”, atau “Jika … maka…”, atau “implikasi kondisional”
6). ÷: “jika dan hanya jika”, atau “bikondisional”





Logika Proposisional
Penggandeng Logis (Logical Connectives)
1. Negasi (not)
Jika p sebarang proposisi, pernyataan “not p” atau “negasi dari pada p” akan bernilai F jika p
bernilai T dan sebaliknya.
Dan ditulis dengan :
÷p
( “÷” disebut operator unary/monadika)dan akan digambarkan dengan tabel kebenaran
sebagai berikut :


2. Konjungsi/conjunction (and)
Konjungsi adalah suatu operator binary atau diadika (diadic). Jika p dan q suatu proposisi,
pernyataan p and q akan bernilai kebenaran T jika dan hanya jika kedua p dan q mempunyai
nilai kebenaran T, dan ditulis dengan :
p . q
dimana operatornya terletak diantara kedua variabel (operand) tersebut dan mempunyai tabel
kebenaran seperti terlihat pada slide berikut :



Tabel kebenaran juga dapat disajikan dengan suatu
bentuk dua dimensi sebagai berikut :




P ÷p
T F
F T
p Q p^q
T T T
T F F
F T F
F F F
p ˄ q T F q
T T F
F F F
P

• Bentuk terakhir ini hanya dapat digunakan hanya untuk fungsi dua variabel
• Perhatikan bahwa untuk kalimat “Benda ini berwarna merah” dan “Benda ini berwarna
putih” jika digandeng dengan “and” maka berbunyi “Benda ini berwarna merah “and”
putih” yang artinya lain dengan “Benda ini berwarna merah and Benda ini berwarna
putih”, jelaskan !!
• Sifatnya : 1) Komutatif ( p . q = q . p)
2) Asosiatif ( (p.q).r = p.(q.r) )
• Operand daripada suatu kunjungsi juga disebut dengan conjunct.
3. Disjungsi (or)
Disjungsi yang juga ada yang menyebut dengan alternatif yang bersesuaian dengan bentuk
“Salah satu dari … atau ….” (“Either.. Or..) . Per nyataan “p or q” bernilai T jika dan hanya jika
salah satu p atau q (atau keduanya) bernilai T. Ditulis : p v q
dan mempunyai tabel kebenaran seperti berikut:
Sifat :
1) Komutatif ( p v q = q v p )
2) Asosiatif ( (p v q) v r = p v (q v r) )

Perhatikan bahwa terdapat dua pengertian or yaitu “inclusif or” dan “exclusive or”. Sebagai
contoh :
“Pintu rumah terbuka” or “jendela rumah terbuka”. Hal tersebut dapat keduanya
“Suta pergi kekantor naik becak” or “Suta pergi kekantor naik angkot”. Hal tersebut tidak
mungkin keduanya.
Contoh pertama “or inclusive” dan disimbolkan dengan v
Contoh kedua “or exclusive” atau “non-equivalen” dan disimbolkan dengan v
( atau XOR atau ÷)





P q pv q
T T T
T F T
F T T
F F F
4. Implikasi (Implication)
Arti daripada pernyataan “If p then q” atau “p implies q” atau “q if p” atau “p hanya jika q”
atau “q sarat perlu untuk p” atau “p sarat cukup untuk q” adalah T jika salah satu dari p bernilai
T dan q bernilai T atau jika p bernilai F. Jika tidak demikian, yaitu p bernilai T dan q bernilai F,
maka nilai F. Ditulis :
p ÷ q
dan tabel kebenarannya seperti pada slide berikut (ada yang menggunakan simbol ¬)




Untuk penjelasan ini maka perhatikan kalimat : “Jika Anita pergi keluar negeri maka ia
mempunyai passport”
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
1) Jika Anita keluar negeri ( T ) dan Ia mempunyai passport (T), maka legal (T)
2) Jika Anita keluar negeri (T) dan Ia tidak mempu nyai passport (F), maka illegal (F)
3) Jika Anita tidak keluar negeri (F) dan ia mempu nyai passport (T), maka legal (T)
4) Jika Anita tidak keluar negeri (F) dan ia tidak mempunyai passport (F), maka legal (T)
kondisional konversi inversi kontrapositif

P q p ÷ q q ÷ p ÷p ÷ ÷q ÷q ÷ ÷p

T T T T T T

T F F T T F
F T T F F T
F F T T T T

Perhatikan bahwa : pernyataan p ÷ q selalu mempunyai tabel kebenaran dng (÷p) v q dan juga
dengan ÷(p.÷q), (buat tabel kebe narannya)
Contoh penggunaannya : Buktikan bahwa jika x bilangan real maka jika x^2 bilangan gasal
maka x bilangan gasal.
Bukti andaikan x genap maka x = 2n dimana n sebarang bilangan real. X^2 = (2n)^2= 4n^2 =
2(2n^2) yang juga bilangan genap. Sehingga didapat, dengan kontraposistif, terbukti.
P Q p ÷q
T T T
T F F
F T T
F F T

5. Ekuivalensi
Pernyataan “ p ekuivalen dengan q” mempunyai nilai kebenaran T jika dan hanya jika p dan q
mempunyai nilai kebenaran yang sama ditulis dengan simbol :
p ÷ q
dan tabel kebenarannya seperti berikut ( ada yang menggunakan simbol ·)



Sifat :
1) Komutatif ; ( p ÷ q = q ÷ p)
2) Asosiatif ; ( (p ÷ q) ÷ r = p ÷ (q ÷ r) )
3) Pernyataan ÷(p ÷ q) mempunyai tabel kebenaran yang sama dengan pernyataan p v q
(Tunjukan)
Perhatikan bahwa ia juga dapat dipikirkan sebagai pernyataan “ p jika dan hanya jika q”
Pernyataan p ÷ q disebut juga dengan bikondisional daripada p dan q, sebab ia selalu
mempunyai tabel kebenaran sama-dng (p ÷ q ) . (q ÷ p) atau (p÷q) . (pq)
Ditulis dengan p ÷ q =T (p ÷ q) . (p ÷ q)
Notasi jumlahan dan produk Seperti pada aljabar maka didapat :

p q
p ÷ q
T T
T
T F
F
F T
F
F F
T
Prioritas Operator
• Terkuat monadika (÷)
• Untuk diadika terkuat (.), kemudian (v) dan berikutnya (÷) dan yang lainnya
berikutnya lagi seperti misalnya (÷)
• Contoh :
“Saya lapar . saya sedih v saya bahagia . saya telah kekenyangan” berarti
“(Saya lapar . saya sedih) v (saya bahagia . saya telah kekenyangan)”
Mana yang pernyataan dan mana yang bukan
1. Ngawi adalah ibukota propinsi Jawa Timur.(P)
2. Dilarang merokok(B)
3. 119 adalah bilangan bulat(P)
4. Buka pintu(B)
5. Logika informatika adalah mudah(P)
6. Yogya kota pelajar(P)
7. Makanlah yang banyak(B)
8. Sesama cabup tak boleh saling mendahului(B)
9. Buatlah daftar pernyataan sebanyak 50 buah(B)
Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika
a. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian
b. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima
c. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah TTS
Jawab :
a. P = saya berlibur ke Bali, Q = Saya lulus ujian Kalimatnya menjadi : P  Q
b. P = 273 habis dibagi 3, Q = 273 merupakan bilangan primaKalimatnya menjadi :
P  Q
c. P = Saya memberi Anda uang, Q = Saya lulus ujian, dan R = saya mendapat hadiah TTS
.Kalimatnya menjadi : P ÷ Q v R
Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini :
a. Jika Jakarta bukan ibukota RI, maka 9 juga bukan bilangan prima
b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0
c. 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3
jawaban :
a. Benar, karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu kota RI)
b. Salah, karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkan konsekuennya (2 = 0 ) salah
c. Benar, karena konsekuennya (2x2 <3x3) benar
3. Tentukan nilai kebenaran daripada :
a. Syarat perlu dan cukup agar 7 merupakan bilangan prima adalah Kebumen berada di Jawa
Timur B ↔ S =S
b. Apabila 12 habis dibagi 4 ekuivalen dengan 12 bilangan bilangan genap maka
(a+b)^2 = a^2 + 2ab +b^2 B → B = B
4. Tuliskan dengan simbol logika kalimat-kalimat dibawah ini :
a. Matahari sangat verah dan kelembabannya tidak tinggi p ^ q
b. Jika saya dapat menyelesaikan koreksi saya sebelum makan malam dan tidak hujan, maka
saya akan pergi nonton tonil (p ^ q) → r
c. Jika Anda tidak menjumpai saya besok, berarti saya sudah pergi ke Bandung.¬ p →q
d. Syarat perlu dan cukup agar bilangan a merupakan bilangan prima adalah a merupakan
bilangan gasal atau sama dengan 2 p ↔ (q ˅ r)




Buatlah table kebenaran!
1.(p ^ ¬ q) v r
P q r p˄¬q (p˄¬q)˅r
T T T F T
T T F F F
T F T F F
T F F T T
F T T F T
F T F F F
F F T F T
F F F F F

2. .(p ˅ ¬ q) ˄ (¬ p v q )
P Q R p˅¬q ¬p˅q (p˅¬q)˄(¬p˅q)
T T T T T T
T T F T T T
T F T T F F
T F F T F F
F T T F T F
F T F F T F
F F T T T T
F F F T T T

3.(p → q) ˄ r
P q r p→q (p→q)˄r
T T T T T
T T F T F
T F T F F
T F F F F
F T T T T
F T F T F
F F T T T
F F F T F




4.(¬ q→ ¬ p) ˄ r
P q r (¬q→¬p) (¬q→¬p)˄r
T T T T T
T T F T F
T F T F F
T F F F F
F T T T T
F T F T F
F F T T T
F F F T F


















Contoh :
1. Notasi Polandia : Epq
Disajikan dalam notasi yang lain.
a. p ÷ q b. p ÷ q c. p ~ q
2. Notasi Polandia : CKpqr
Disajikan dalam notasi yang lain.
C(p&q)r = (p&q)÷ r
3. Notasi Polandia : CpCpr
Disajikan dalam notasi yang lain.
Cp (p ÷ r) = p ÷(p ÷ r)
4. Notasi Polandia : E CKpqr CpCpr
Disajikan dalam notasi yang lain.
Cari tanda dominan : E yang sama dengan ÷
Ruas kiri : C Kpq r
Tanda dominan : C yang sm dng ÷
Tanda berikutnya : K yg sm dng . ( ada dengan &)
didapat : p . q C (p.q) r
didapat : (p.q) ÷ r
Ruas kanan : C p Cpr
didapat : C p (p ÷ r)
di dapat : p ÷ (p ÷ r)
Akhirnya didapat : ((p . q) ÷ r) ÷ (p ÷ (p ÷ r))




Contoh :
( ( p . q ) ÷r ) ÷ ( ( p . ~r ) ÷ ~q
( K p q ) ÷ r ) ÷ ( ( p . ~r ) ÷ ~q
C ( K p q ) r ÷ ( ( p . ~r ) ÷ ~q
C ( K p q ) r ÷ ( ( ( p . ( N r ) ) ÷ ~q )
C ( K p q ) r ÷ ( K p ( N r ) ÷ ~q )
C ( K p q ) r ÷ ( K p ( N r ) ÷ ( N q ) )
C ( K p q ) r ÷ ( C ( K p ( N r ) ( N q ) )
E ( C ( K p q ) r ( C ( K p ( N r ) ( N q ) ) )
E C Kpq r C Kp N r N q
Latihan
ubahlah menjadi notasi operator logika polandia
1. ¬(p˅q)→r menjadi : CNApqr
2. ((p˄¬q)˅r)→(¬p˄q)↔r menjadi : CAKpNqrENKpq
3. ((¬(p˅q)˄¬r))↔r)↔(p→(q˄r)) menjadi :EEKNApqNrrCpKqr
ubahlah menjadi notasi operator logika biasa
1. ECApqrNp menjadi : ((p˅q)→r)↔¬p
2. ECKprApNrq menjadi : (p˄r)→(p˅¬r)↔q
3. ECrACNKprqNpNq menjadi : r→(¬(p˄r)→q)˅¬p))↔¬q
contoh :
1) ¬(p˅q) =NApq
2) ((P˅q)→r)↔(p˄q) = ECApqrKpq
3) NCApqr = ¬((p˅q)→r
4) ECApqKqrNCApNrq =((p˅q)→(q˄r))↔¬((p˅¬r))




Prioritas dp Operator.
Seperti pd ungkapan dlm ilmu hitung, maka didalam operator logika pun terdapat prioritas
sebagai berikut :
1). Operator ÷ mempunyai prioritastertinggi
2). Operator . berprioritas berikutnya
3). Operator v berprioritas berikutnya
4). Operator ÷ berprioritas berikunya
5). Dan seterusnya operator yang lain termasuk ÷ dan seterusnya.
Contoh
1). p . q ÷ r v s dapat diinterpretasikan sebagai (p . q) ÷ (r v s)
2). ÷p . q akan diinterpretasikan dengan (÷p) . q
3). “Saya lapar” dan “saya malas” atau “Saya bahagia” dan“Saya telah makan enak” diartikan
sebagai ????
Operator yang mempunyai prioritas sama dilakukan dengan urutan dari kiri ke kakan seperti
terlihat dalam contoh dibawah ini >
Contoh
1). p ÷ q ÷ r ÷ s ÷ t ÷ u ÷ v
Diartikan sebagai :
(((((p ÷ q) ÷ r) ÷ s) ÷ t) ÷ u) ÷ v

Tabel kebenaran untuk bentuk yang komplek
1. ¬ (p ^ q) ↔ r
P ^ q ↔ r
2 1 3 1 4 1
F T F T F T
F T F T T F
F T F F F T
F T F F T F
T F T T T T
T F T T F F
T F F F F T
T F F F T F

2. ¬ (p ˅ q) ˄ (¬ p v ¬r )
¬ (p ˅ q) ˄ (¬ p ˅ ¬ r
4 1 3 1 5 2 1 3 2 1
F T T T F F T F F T
F T T T F F T T T F
F T T F F F T F F T
F T T F F F T T T F
F F T T T T F F F T
F F T T T T F T T F
T F T F T T F F F T
T F F F T T F T T F

3.p → q ¬ r
P → Q → ¬ r
1 3 1 4 2 1
T T T F F T
T T T T T F
T F F T F T
T F F T T F
F T T F F T
F T T T T F
F T F F F T
F T F F T F








4.¬ p ˄ ¬q v q ˄ ¬r







symbol “

” berarti bahwa pada table kebenaran dua formula mempunyai nilai kebenaran yang
sama (identik)
contoh :
1. p→q

¬p˅q
2. ¬(p→q)

p˄¬q
3. p˄(¬p˅q) = (p˄¬p)˅(p˄q)
= F ˅(p˄q)
= p˄q












¬ p ˄ ¬ q v q ^ ¬ r
2 1 3 2 1 4 1 3 2 1
F T F F T F T F F T
F T F T T T T T T F
T T F F F F F F F T
F T F T F F F F T F
F F T F T F T F F T
F F T T T T T T T F
T F T F F T F F F T
T F T T F T F F T F
Aljabar Proposisi

Aljabar proposisi adalah hukum-hukum aljabar yang dapat digunakan dalam proposisi.
Hukum-hukum tersebut adalah:
1. Idempoten 3. Distributif
p v p ÷ p p v (q . r) ÷ (p v q) . (p v r)
q . q ÷ q p . (q v r) ÷ (p . q) v (p . r)
2. Assosiatif 4. Komutatif
(p v q) v r ÷ p v (q v r) p v q ÷ q v p
(p . q) . r ÷ p . (q . r) p . q ÷ q . p
5. Identitas 7. Komplemen
p v f ÷ p p v ~p ÷ t
p v t ÷ t p . ~p ÷ f
p . f ÷ f ~t ÷ f
p . t ÷ p ~f ÷ t
6. Involution 8. De Morgan‟s
~~p ÷ p ~(p . q) ÷ ~pv ~q
~(p v q) ÷ ~p . ~q






Contoh pemakaian hukum aljabar proposisi
Sederhanakan proposisi berikut ini:
1. p . (p v q)
p . (p v q) ÷ (p v f) . (p v q) …( hk.identitas )
÷ p v (f . q) …( hk.distribusi )
÷ p v f …( hk.identitas )
÷ p …( hk.identitas )
2. p v (p . q)
p v (p . q) ÷ (p ˄ T) ˅ (p ˄ q) …( hk.identitas )
÷ p ˄ (t . q) …( hk.distribusi )
÷ p v t …( hk.identitas )
÷ p …( hk.identitas )














Interpretasi
Andaikan P adalah formula proposisi ( perhatikan disini digunakan huruf murda/capital untuk
menyajikan suatu formula sedang huruf kecil untuk variabel proposisi). Suatu interpretasi P
adalah suatu penugasan (assignment) nilai kebenaran pada semua variabel proposisi
( pemberian nilai kebenaran) yang muncul pada P. Perhatikan bahwa setiap baris pada tabel
kebenaran adalah suatu interpretasi.Untuk setiap interpretasi maka P mempunyai nilai
kebenaran(lihat bahwa setiap baris P mempunyai nilai T atau F)
Andaikan S suatu himpunan formula proposisi, suatu interpretasi disebut model S jika setiap
anggota S bernilai TRUE untuk interpretasi tersebut.
Contoh : Andaikan S adalah himpunan formula proposisi :
{ p . q , q v ÷r , r ÷ s }
dan interpretasi :
I
1
: {p=T,q=F,r=T,s=T} ; I
2
: { p=T, q=T,s =T , r=T} ;
I
3
: {p=T,q=T,r=F,s=F} ; I
4
: { p=T, q=T,r =T, s=F} ;
Interpretasi yang mana yang merupakan model S ?
Gambarkan tabel kebenarannya.
P Q r s
p . q q v ÷r r ÷ s

T F T T F F T

T T T T T T T

T T F F T T T

T T T F T T F
Dari tabel diatas maka interpretasi yang merupakan model S adalah I
2
dan I
3
. Perhatikan karena
I
1
sudah memberikan nilai kebenaran F untuk p . q maka dua yang lain tak perlu di evaluasi,
karena jelas bahwa I
1
bukan model.







TAUTOLOGI
• Sebarang formula yang selalu bernilai TRUE, tak tergantung pada nilai kebenaran dari
pada variabel-variabel proposisinya, disebut tautologi, dan dikatakan sebagai tautologis
atau valid.
• Suatu tautologi adalah suatu formula proposisional yang mengambil nilai T untuk setiap
interpretasi yang mungkin. Semua entri dalam kolom pada tabel kebenaran yang
merupakan kolom nilai formula tersebut bernilai kebenaran T.
Contoh : ÷p v p adalah Tautologi karena untuk
I
1
: p = T, maka ÷p v p = T
I
2
: p = F, maka ÷p v p = T
dan tak ada lagi interpretasi lain.
• Untuk menyatakan bahwa suatu formula adalah suatu tautologi/valid maka dituliskan
dengan menggunakan metasimbol ╞ , maka contoh diatas menjadi :
╞ (÷p v p)

Tabel dari kebenaran ÷p v p adalah :
p ¬p ¬p v p
T F T
F T T

Tabel dari kebenaran p ÷ (÷p v (q . ÷p)) adalah :
P ↔ ( ¬ P V (q ^ ¬ p
1 5 2 1 4 1 3 2 1
T F F T F T F F T
T F F F F F F F T
F F T T T T T T F
F F T F T F F T F



Perhatikan hubungan antara metasimbol =T dng ╞
Yang dapat dilihat pada contoh dibawah ini :
Menggunakan ╞ menggunakan =T
╞ p ÷ ÷(÷p) p =T ÷(÷p)
╞ (p v q) ÷ (q v p) p v q =T q v p
╞ ÷(p v q) ÷ (÷p).(÷q) ÷(p v q) =T (÷p) . (÷q)
╞ (÷(p .q )) ÷ ((÷p) v (÷q)) (÷(p . q)) =T (( ÷p) v (÷q))
Baris pertama kiri dibaca : p ÷ ÷(÷p) adalah suatu tautologi, kanan :
Formula p mempunyai tabel kebenaran sama dengan formula ÷(÷p)
¬ (p ˄ q) ↔ (¬ p ˅ ¬ q)
4 1 3 1 2 1 3 2 1
F T T T T F T F F T
T T F F T F T T T F
T F F T T T F T F T
T F F F T T F T T F

Dikatakan bahwa dua formula P dan Q adalah Ekuivalen Logis jika ekuivalen logisnya „ P ÷ Q‟
adalah suatu tautologi ( yang dapat dikatakan juga dengan bahwa mereka mempunyai tabel
kebenaran yang sama) Dikatakan bahwa suatu formula P implai logis suatu formula Q jika
implikasi logis mereka „ P ÷ Q‟ adalah tautologi.










Absurditi/Kontradiksi
Sebarang formula yang selalu bernilai kebenaran F, tak tergantung pada nilai kebenaran dari
pada variabel-variabel proposisinya, disebut Absurditi atau Kontradiksi atau Unsatisfiable dan
dikatakan sbg Absurditi atau Invalid. Suatu Absurditi adalah suatu formula proposisional yang
ber nilai F untuk setiap interpretasi yang mungkin. Semua entri dalam kolom pada tabel
kebenaran yang merupakan kolom nilai formula tersebut bernilai kebenaran F.
Contoh : ÷(÷p v p) dan (p . ÷p)
adalah absurditi/kontradiksi karena untuk :
I
1
: p = T, maka ÷(÷p v p) = F
I
2
: p = F, maka ÷(÷p v p) = F
dan tak ada lagi interpretasi lain.
Perhatikan bahwa suatu formula proposisional P yang adalah suatu absurditi, maka formula ÷P
adalah suatu Tautologi, begitu pula sebaliknya. Jika sebarang formula P adalah suatu absurditi,
maka ditulis :
╞ ÷P
FORMULA CAMPUR
• Sebarang formula yang, tergantung pada nilai kebenaran daripada variabel-variabelnya,
dapat bernilai baik nilai T maupun nilai F disebut suatu formula campur, atau ada yang
menyebut contingent.
Contoh :
• Tentukan mana yang merupakan tautologi, absurditi, atau formula campur :
a) p ÷ (÷q ÷ p) ;






P ↔ ( ¬ q → p
1 4 2 1 3 1
T T F T T T
T T T F T T
F F F T T F
F T T F F F
b) p ÷ (÷p v (q . ÷p) ;
P ↔ ( ¬ V (q ^ ¬ p
1 5 2 4 1 3 2 1
T F F F T F F T
T F F F F F F T
F F T T T T T F
F F T T F T T F

c) ÷p ÷ (÷p . (q ÷ ÷p)).
¬ P ↔ (¬ P ^ (q → ¬ P)
2 1 5 2 1 4 1 3 2 1
F T T F T F T F F T
F T T F T F F T F T
T F T T F T T T T F
T F T T F T F T T F

Definisi Valid, Satisfiable, Contradictory, Implies, Equivalent, Consistent
( Zohar Manna and Richard Waldinger)
Valid , Tautology, Satisfiable, dan Contradictory
- Suatu formula P dikatakan valid/benar jika ia true/benar untuk setiap interpretasi (I)
daripada P. Formula- formula valid daripada logika proposional disebut Tautologi.
- Suatu formula P dikatakan Satisfiable/Dapat-puas/Memuaskan jika ia true dibawah suatu
interpretasi (I) daripada P.
- Suatu formula P dikatakan kontradiksi/ contradictory ( unsatis fiable/ tak terpenuhi) jika ia
false dibawah setiap/ semua inter pretasi (I) daripada P.
Catatan : pada bukunya Zohar Manna and Richard Waldinger formula ditulis dengan
sentence/closed formula.
Implies, Equivalent, dan Consistent
- Suatu kalimat P implies suatu kalimat Q jika, untuk sebarang Interpretasi (I) daripada P
dan Q, jika P true untuk I maka Q true untuk I.
- Dua kalimat P dan G ekuivalen/ equivalent jika setiap interpre tasi (I) untuk P dan G , P
mempunyai nilai kebenaran yang sama dengan nilai kebenarannya G.
- Seperangkat kalimat P
1
,P
2
,P
3
,…. Dikatakan konsisten jika terdapat suatu interpretasi
untuk P
1
,P
2
,P
3
,…. dibawah setiap P
i
bernilai true.
Catatan : Kalimat/sentence adl formula tertutup/closed formula (buku Logic for Computer
Science, Arindama Singh, hal 59)






















Fungsi Kebenaran/Truth Functions
Fungsi Kebenaran (kadang disebut suatu operator logis) adalah suatu fungsi yang mengambil
nilai-kebenaran sebagai argumen dan selalu menghasilkan salah satu dari nilai T atau nilai F.
Suatu fungsi kebenaran dapat mempunyai sejumlah operand (kadang-kadang disebut argument
atau tempat).
Suatu fungsi dengan satu operand disebut suatu fungsi kebenaran monadika ( ÷).Jika
mempunyai dua operand disebut dengan fungsi kebenaran diadika (., v, ÷, ÷), jika tiga
triadika ( If… then … else … ) .

Teorema :
Sebarang fungsi kebenaran f(p
1
,p
2
, . . . p
n
) dari n variabel proposisional p
1
, p
2
. . . p
n
selalu
dapat diekspresikan dalam bentuk fungsi kebenaran diadika dan monadika. Pembuktiannya
dengan menggunakan induksi. Contoh dalam disjungsi terkondisi adalah :
















KESETARAAN LOGIS
Dua buah pernyataan yang berbeda dikatakan setara/equivalen bila nilai kebenarannya sama
Contoh:
1. Tidak benar bahwa aljabar linier adalah alat matematika dasar untuk disain logika.(benar)
2. Aljabar boole adalah alat matematika dasar untuk disain logika.(benar)
Contoh:
p= sistem bilangan biner dipergunakan dalam sistem digital (T)
q= sistem digital hanya dapat mengasumsikan nilai yang berlainan.(F)
1. ¬(p˅q)→F
2. ¬p˄¬q→F
¬(p˅q)

¬p˄¬q
























IMPLIKASI DAN BIIMPLIKASI


Implikasi
Jika memakai Ms Word maka windows adalah sistem operasinya
Artinya: Ms word tidak dapat digunakan tanpa windows tetapi windows dapat digunakan tanpa
Ms word.
Contoh pernyataan di atas disebut pernyataan beryarat (conditional statement)
Notasi: p ÷ q

Variasi Implikasi
Jika implikasi: p ÷ q
Maka: Konversnya : q ÷ p
Inversnya : ~ p ÷ ~ q
Kontrapositipnya : ~ q ÷ ~ p
Contoh:
Tentukan konvers,invers, dan kontrapositif dari proposisi berikut:
Jika Ms Word aplikatifnya maka windows sistem operasinya

Tabel kebenaran variasi implikasi:
p q ~p ~q p ÷ q ~ q ÷ ~ p q ÷ p ~ p ÷ ~ q
+ + – – + + + +
+ – – + – – + +
– + + – + + – –
– – + + + + + +

Kesimpulan:
Proposisi yang saling kontrapositif mempunyai nilai kebenaran yang sama(equivalen)
Contoh:
Buktikan bahwa:
Jika x
2
bilangan genap, maka x juga bilangan genap







Jawab:
Kontrapositif dari implikasi di atas adalah:
Jika x bukan bilangan genap, maka x
2
juga bukan bilangan genap
Setiap bilangan bulat bukan genap adalah ganjil, sehingga jika x ganjil ditulis sebagai
x = 2k + 1 (k bil. Bulat) akibatnya:
X
2
= (2k + 1)
2


= 4k
2
+ 4k + 1
= 2(2k
2
+ 2k) + 1
Karena kontrapositifnya benar akibatnya implikasinya juga benar.

Biimplikasi
Contoh pernyataan biimplikasi:
Ms word jika dan hanya jika ingin membuat dokumen
Notasi: p ÷ q
Kebenaran biimplikasi:
p Q p ÷ q
+ + +
+ – –
– + –
– – +
Argumentasi adalah kumpulan pernyataan – pernyataan atau premis-premis atau dasar pendapat
serta kesimpulan(konklusi)
Notasi:
P(p,q,…) P,Q,… masing-masing disebut premis
Q(p,q,…) {P,Q,..} bersama-sama disebut hipotesa

C(p,q,…) C adalah kesimpulan/konklusi.

Kebenaran/validitas Argumen
Nilai kebenaran argument tergantung dari nilai kebenaran masing-masing premis dan
kesimpulannya.
Suatu argumen dikatakan benar bila masing-masing premisnya benar dan kesimpulannya juga
benar.
Contoh 1:
Jika biner maka disain logika
Jika disain logika maka digital
Jika biner maka digital



Argumen tersebut dapat ditulis dengan notasi:
p ÷ q disebut premis 1
q ÷ r disebut premis 2
p ÷ r disebut konklusi



Semua premis dan konklusi benar sehingga argumentasi di atas valid.

Bentuk-bentuk dasar menarik kesimpulan

1. Conjunction 2. Addition
p p
q p v q
p v q

3. Construction Dilemma
( p ÷ q ) . ( r ÷ s )
p v r
q v s




4. Modus Ponens 5. Modus Tollens
p ÷ q p ÷ q
p ~ q
q ~ p
6. Hypothetical syllogism
p ÷ q
q ÷ r
p ÷ r

7. Simplification 8. Disjunctive syllogism
p . q p v q
p ~ p
q


9. Destructive Dilemma
( p ÷ q ) . ( r ÷ s )
~ q v ~ s
~ p v ~ r
10. Absorption
p ÷ q
p ÷ (p . q)








PEMBUKTIAN VALIDITAS KALIMAT LOGIKA
 ASUMSI SALAH
 Perlu pembuktian nilai True untuk semua interpretasi (2
n
)
 Membutuhkan langkah pembuktian yang panjang
 Akan lebih mudah membuktikan bahwa ada 1 interpretasi yang menyebabkan
nilai kalimat salah  Tidak valid
 Asumsi salah tidak mungkin terjadi  Valid
Contoh Soal 2.1
Buktikan validitas kalimat A : if ((not x) or (not y)) then (not(x and y))
Jawab :
A1: (not x) or (not y)
A2: not (x and y)
notasi : A1 : (¬ x v ¬ y)
A2 : ¬ (x . y)
A : A1 ÷ A2
 Misalkan A diasumsikan salah/tidak valid yang berarti :
 jika A bernilai F maka satu-satunya kemungkinan yang terjadi adalah A1= T, A2= F
Cara 1 : dimulai dari konklusi
A2=F
karena A2=F maka ¬ (x . y) = F
berarti x . y = T
karena x . y = T maka x=T, y=T
hipotesis A1: (¬ x v ¬ y) = F˅F=F (kontradiksi)
karena terjadi kontradiksi maka asumsi A tidak valid adalah salah seharusnya valid.

Contoh Soal :
1. Buktikan validitas kalimat B : (if x then y) if and only if ((not x) or y)
1) cara langsung :
(x→y)↔(¬x˅y)
x → y ↔ ¬ x ˅ y
1 2 1 4 2 1 3 1
T T T T F T T T
T F F T F T F F
F T T T T F T T
F T F T T F T F

Kesimpulan :
kalimat (if x then y ) if ((not x) or y) valid

2) cara tidak langsung:
Bentuk kalimat biimplikasi B: B1 ÷ B2 (x ÷ y) ÷ (¬x v y)
Misalkan B diasumsikan salah, maka ada 2 kemungkinan :
a). hipotesis B1 benar (x ÷ y) = T dan konklusi B2 salah (¬x v y) = F
b). hipotesis B1 salah (x ÷ y) = F dan konklusi B2 benar (¬x v y) = T

a1). Dimulai dari hipotesis dulu (x ÷ y) = T dan (¬x v y) = F
Hipotesis B1
(x ÷ y) = T
Akibatnya pada konklusi B2
(¬x v y) = F
Kondisi yang diperoleh dari asumsi salah Kontradiksi ?
Ya/tidak
x = T dan y = T T F Ya
x = F dan y = T T F Ya
x = F dan y = F T F Ya








a2). Dimulai dari konklusi dulu (x ÷ y) = T dan (¬x v y) = F
Konklusi B2
(~x v y) = F
Akibatnya pada hipotesis B1
(x ÷ y)
Kondisi yang diperoleh dari asumsi salah Kontradiksi ?
Ya/tidak
x = T dan y = F F T Ya

b1). Dimulai dari hipotesis dulu (x ÷ y) = F dan (¬x v y) = T








b2). Dimulai dari konklusi dulu (x ÷ y) = F dan (¬x v y) = T










 Jadi asumsi B = F tidak pernah terjadi  kalimat B valid







Hipotesis B1
(x ÷ y) = F
Akibatnya pada konklusi B2
(¬x v y) = F
Kondisi B2 yang diperoleh dari asumsi salah Kontradiksi ?
Ya/tidak
x = T dan y = F F T Ya
Konklusi B2
(¬x v y) = T
Akibatnya pada hipotesis B1
(x ÷ y)
Kondisi B1 yang diperoleh dari asumsi
salah
Kontradiksi ?
Ya/tidak
x = F dan y = T T F Ya
x = T dan y = T T F Ya
x = F dan y = F T F Ya



2. if(if x then y) then (if(not x) then(not y))
(x→y)→(¬x→¬y)

- cara langsung :
x → y → ¬ x → ¬ y
1 2 1 4 2 1 3 2 1
T T T T F T T F T
T F F T F T T T F
F T T F T F F F T
F T F T T F T T F
kesimpulan :
kalimat if(if x then y) then (if(not x) then(not y)) tidak valid
- cara tidak langsung :
Bentuk kalimat implikasi C : C1 ÷ C2 (x ÷ y) ÷ (¬x ÷ ¬y)
Misalkan C diasumsikan salah yang berarti :
hipotesis C1 benar (x ÷ y) = T
konklusi C2 salah (¬x ÷ ¬ y) = F
Dimulai dari hipotesis dulu : (x ÷ y) = T dan (¬x ÷ ¬ y) = F
Hipotesis C1
(x ÷ y) = T
Akibatnya pada
konklusi C2
(~x ÷ ¬ y)
Kondisi C2 yang diperoleh dari
asumsi salah
Kontradiksi
?
Ya/tidak
x = T dan y
= T
T F Ya
x = F dan y
= T
F F Tidak
x = F dan y
= F
T F Ya


Dimulai dari konklusi dulu : (x ÷ y) = T dan (¬x ÷ ¬y) = F
Konklusi C2
(¬x ÷ ¬y) = F
Akibatnya pada hipotesis
C1 (x ÷ y)
Kondisi C2 yang diperoleh dari asumsi salah Kontradiksi?
Ya/tidak
x = F dan y = T T F Ya

Jadi asumsi C = F dapat terjadi  kalimat C tidak valid
















Pohon Semantik
- Metode lain yang digunakan untuk pengujian validitas suatu kalimat adalah dengan
teknik pohon semantik (semantic tree technique)
- Misalkan suatu kalimat logika A terdiri dari 3 proposisi p, q dan r
- Pohon semantik dimulai dengan cabang tertinggi untuk proposisi pertama (p)
- Cabang tertinggi ini terdiri cabang kiri (T) dan cabang kanan (F)







 Perhatikan cabang kiri No. 2 :
• Bila dengan p = T nilai kebenaran dari A sudah dapat ditentukan (bernilai benar
atau salah), maka cabang No. 2 ini tidak bercabang, misalkan nilainya salah
• Bila belum dapat ditentukan, maka cabang ini akan bercabang lagi, yaitu cabang
kiri (T) dan cabang kanan (F) untuk proposisi kedua q
 Perhatikan cabang kiri No. 4 :
• Bila dengan p = T dan q = T nilai kebenaran dari A sudah dapat ditentukan
(bernilai benar atau salah), maka cabang No. 4 ini tidak bercabang, misalkan
nilainya benar
• Bila belum dapat ditentukan, maka cabang ini akan bercabang lagi, yaitu cabang
kiri (T) dan cabang kanan (F) untuk proposisi ketiga r



• Langkah-langkah tersebut di atas diulangi lagi untuk cabang-cabang lain
• Kalimat logika dikatakan valid bila semua cabangnya bernilai benar, bila ada
cabangnya yang bernilai salah, maka kalimat tsb dikatakan tidak valid
• Bila semua cabang bercabang lagi, maka pohon semantiknya menjadi :









Metoda pohon semantik dapat lebih efisien dari metoda tabel kebenaran
• Contoh Soal .
• Tentukan validitas kalimat G : if (if x then y) then (if (not x) then (not y))
G : (p ÷ q) ÷ (÷ p ÷ ÷ q)
Periksa cabang No. 2 :
Bila p = T, maka ÷ p = F
G2 : (÷ p ÷ ÷ q) = T apapun nilai q
Bila (÷ p ÷ ÷ q) = T, maka G = T apapun nilai G1 : (p ÷ q)
Nilai G sudah dapat ditentukan, yaitu bernilai T
Bentuk kalimat G implikasi :G1 ÷ G2
G : (p ÷ q) ÷ (÷ p ÷ ÷ q)

Periksa cabang No. 3 :
Bila p = F, maka G1: (p ÷ q) = T apapun nilai q
÷ p = T, nilai G2 : (÷ p ÷ ÷ q) tergantung pada nilai q
Bila ÷ q = T, maka G2 = T dan bila ÷ q = F, maka G2 = F
Bila G2 = T, maka G = T dan bila G2 = F, maka G = F
Jadi nilai G belum sudah dapat ditentukan, cabang No. 3 bercabang lagi






Karena ada cabang yang bernilai salah, maka kalimat G tidak valid
Bentuk kalimat G implikasi :G1 ÷ G2
G : (p ÷ q) ÷ (÷ p ÷ ÷ q)
 Periksa cabang No. 4 :
Bila p = F dan q = T, maka G1: (p ÷ q) = T dan G2 : (÷ p ÷ ÷ q) = F
Akibatnya G : G1 ÷ G2 bernilai salah (F)







 Periksa cabang No. 5 :
Bila p = F dan q = F, maka G1: (p ÷ q) = T dan G2 : (÷ p ÷ ÷ q) = T
Akibatnya G : G1 ÷ G2 bernilai benar (T)







Karena ada cabang yang bernilai salah, maka kalimat G tidak valid.

Contoh Soal.
Tentukan validitas kalimat B : [p ÷ (q ÷ r)] ÷ [(p . q) ÷ r]
Jawab :
Bentuk kalimat B biimplikasi : B1 ÷ B2









No p q R Nilai B1, B2 dan B Langkah berikut
2 T B1 tergantung pada nilai q, r
B belum dapat ditentukan
Bercabang 4 dan
5
3 F B1 = T dan B2 = T apapun nilai q,
r
B = T
4 T T Bila r = T, maka B1 = T dan B2 =
T
Bila r = F, maka B1 = F dan B2 = F
B = T
5 T F B1 = T dan B2 = T apapun nilai r B = T

Karena semua cabang nilainya benar, maka kalimat B valid
Lebih efisien dari tabel kebenaran



Latihan Soal.
Tentukan validitas kalimat B : [p ÷ (q ÷ r)] ÷ [(p . q) ÷ r]
Jawab :







Bentuk kalimat biimplikasi B1 ÷B2
B1 : [p ÷ (q ÷ r)] B2 : [(p . q) ÷ r]
No p q r Nilai B1, B2 dan
B
Langkah
berikut
2 T
3 F



Latihan Soal.
Periksalah validitas kalimat p © (p v q) dengan menggunakan pohon semantik
Jawab :
Bentuk kalimat OR Eksklusif A = A1 © A2
p q p © q
T T F
T F T
F T T
F F F




Soal-Soal Validitas
- Soal 1
 (If P then Q) or (if Q then P)
(p→q)˅(q→p)





 perntyataan diatas bernilai valid.
 (not Q) or not(if P then (not Q) and P)
(¬q)˅(p→(¬q)˄p)




 perntyataan diatas bernilai tidak valid
 (if P then (not Q)) if and only if not (P and Q)
p→(¬q)↔¬(p˄q)





 perntyataan diatas bernilai valid.
 [if (P or Q) then R] if and only if [(if P then R) and (if Q then R)]
[(p˅q)→r)]↔(p→r)˄(q→r)
[(p ˅ q) → r)] ↔ (p → r) ˄ (q → r)
1 2 1 3 1 4 1 2 1 3 1 2 1
T T T T T T T T T T T T T
T T T F F T T F F F T F F
T T F T T T T T T T F T T
T T F F F T T F F F F T F
F T T T T T F T T T T T T
F T T F F T F T F F T F F
F F F T T T F T T T F T T
F F F T F T F T F T F T F

 perntyataan diatas bernilai valid
cara ke dua :

















- Soal 2
 Andaikan dua pernyataan berikut adalah True
 Suprapto cinta Amanda atau Suprapto cinta Yulia
 Jika Suprapto cinta Amanda , maka Suprapto cinta Yulia
 Apakah bisa langsung diturunkan bahwa “Suprapto cinta Amanda ?”
 Apakah bisa langsung disimpulkan bawaha “Suprapto cinta Yulia?”
jawab :
p˅q
p→q
(p˅q)˄(p→q)→p
(p˅q)˄(p→q)→q
a) . (p˅q)˄(p→q)→p
(p ˅ q) ˄ (p → q) → p
1 2 1 3 1 2 1 4 1
T T T T T T T T T
T T F F T F F T T
F T T T F T T F F
F F F F F T F T F
 perntyataan diatas bernilai tidak valid.

b) (p˅q)˄(p→q)→q
(p ˅ q) ˄ (p → q) → q
1 2 1 3 1 2 1 4 1
T T T T T T T T T
T T F F T F F T F
F T T T F T T T T
F F F F F T F T F

 perntyataan diatas bernilai valid.

jadi tidak bisa langsung dikatakan bahwa suprapt cinta Amanda.
KUANTOR PERNYATAAN
Misalkan P(x) adalah pernyataan yang menyangkut variabel x dan D adalah sebuah himpunan,
maka P adalah fungsi proposisi jika untuk setiap xeD, berlaku P(x) adalah sebuah proposisi.
Contoh:
Misalkan P(x) merupakan pernyataan :
x adalah sebuah bilangan bulat genap.
Misalkan D = himpunan bilangan bulat positif
Maka fungsi proposisi P(x) dapat ditulis:
jika x = 1 maka proposisinya
1 adalah bilangan bulat genap. (F)
jika x = 2 maka proposisinya
2 adalah bilangan bulat genap. (T)
dst.
Untuk menyatakan kuantitas suatu objek dalam proposisi tersebut digunakan notasi-notasi yang
disebut kuantor
Macam-macam Kuantor
- Untuk setiap x, P(x)
disebut kuantor universal Simbol: ¬
- Untuk beberapa x, P(x)
disebut kuantor eksistensial Simbol: -
Contoh:
Misalkan x himpunan warga negara Indonesia, P predikat membayar pajak, R predikat membeli
Ms Word, Maka:
1. ¬x,P(x)
artinya: semua warga negara membayar pajak
2. -x,R(x),P(x)
artinya: ada beberapa warga negara membeli Ms word membayar pajak
3. ¬x,R(x)÷P(x)
artinya: semua warga negara jika membeli ms word maka membayar pajak
4. -x,R(x).P(x)
artinya: ada warga negara membeli ms word dan tidak membayar pajak Predikat &
Kuantifier.
5. ¬x,R(x)↔P(x)
artintya : semua warga Negara Indonesia memb eli ms.word jika dan hanya jika mem
banyar pajak
6. -x,P(x).P(x)
artintya : beberapa warga Negara Indonesia membanyar pajak dan tidak membanyar
pajak.
7. -x,(p(x).R(x))
artintya : ada warga Negara Indonesia mem banyar pajak atau membeli ms.word .
Pernyataan “x > 3” punya 2 bagian, yakni “x” sebagai subjek dan “ adalah lebih besar 3” sebagai
predikat P.
Kita dpt simbolkan pernyataan “x > 3” dengan P(x). Sehingga kita dapat mengevaluasi nilai
kebenaran dari P(4) dan P(1).
Subyek dari suatu pernyataan dapat berjumlah lebih dari satu.
Misalkan Q(x,y): x - 2y > x + y










Kuantor Universal
“P(x) benar untuk semua nilai x dalam domain pembicaraan”
¬x P(x).
Soal 1. Tentukan nilai kebenaran ¬x (x
2
> x) jika:
x bilangan real
x bilangan bulat
Untuk menunjukkan ¬x P(x) salah, cukup dengan mencari satu nilai x dalam domain shg P(x)
salah.
Nilai x tersebut dikatakan contoh penyangkal (counter example) dari pernyataan ¬x P(x).



Kuantor Eksistensi
“Ada nilai x dalam domain pembicaraan sehingga P(x) bernilai benar” -x P(x).
Soal .
Tentukan nilai kebenaran dari -x P(x) bila P(x) menyatakan “x
2
> 12” dan domain pembicaraan
meliputi semua bilangan bulat positif tidak lebih dari 4.

















Kuantifier Bersusun
(Nested Quantifier)
- ¬x ¬y (x+y = y+x)
berarti x+y = y+x berlaku untuk semua bilangan real x dan y.
- ¬x -y (x+y = 0)
berarti untuk setiap x ada nilai y sehingga x+y = 0.
- ¬x ¬y ¬z (x+(y+z) = (x+y)+z)
berarti untuk setiap x, y dan z berlaku hukum asosiatif x+(y+z) = (x+y)+z.
Soal :
1) Artikan kalimat ini dalam bhs Indonesia: ¬x (C(x) v -y ( C(y) . F(x,y))),
bila C(x) : “x mempunyai komputer”,
F(x,y): “x dan y berteman”,
dan domainnya adalah semua mhs di kampus.
jawab : semua mahasiswa dikampus x mempunyai komputer atau beberapa mahasiswa di
kampus y mempunyai komputer dan F bertem an dengan x.










Negasi Kuantor
~¬x = -x
~-x = ¬x
Sehingga:
~(¬x,P(x)) = -x,P(x)
~(-x,P(x)) = ¬x,P(x)
~(¬x,P(x)÷Q(x)) = -x,( P(x) ÷Q(x))
= -x, P(x) . Q(x)
negasi dari ~¬x(

>x) = -x(

≥2)

Negasi
“Setiap mhs dalam kelas ini telah mengambil Kalkulus I”
[¬x P(x)]
Apakah negasi dari pernyataan ini….?
“Ada seorang mhs dalam kelas ini yang belum mengambil Kalkulus I”
[ -x ÷ P(x)]
Jadi, ÷ ¬x P(x) ÷ -x ÷ P(x).
Perhatikan argumen matematik berikut ini:
1. P(n) :Jumlah bilangan bulat positif dari 1 sampai n adalah n(n + 1)/2 misal untuk n = 5 adalah
5(5+1)/2=15 terlihat: 1+2+3+4+5=15
2. P(n) : Jumlah dari n buah bilangan ganjil positif pertama adalah n
2
misal untuk n = 3 adalah
3
2
= 9 terlihat : 1 + 3 + 5 = 9



Induksi matematik merupakan teknik pembuktian yang baku dalam matematik, khususnya
menyangkut bilangan bulat positif.
Prinsip Induksi Sederhana
Misalkan P(n) adalah pernyataan perihal bilangan bulat positif dan kita ingin membuktikan
bahwa p(n) benar untuk semua bilangan bulat positif n. untuk membuktikan pernyataan ini, kita
hanya perlu membuktikan pernyataan ini, kita hanya perlu menunjukkan bahwa:
Bukti:
Basis induksi. Untuk n=1 kita peroleh 1 = 1(1+1)/2, ini jelas benar sebab
1 = 1 (1+1)/2
= 1 (2)/2
= 2/2
= 1
Langkah induksi. Andaikan untuk n > 1 pernyataan
1+2+3+…+n = n(n+1)/2 adalah benar (hipotesis induksi)
Kita harus menunjukkan bahwa:
1+2+3+…+n + (n+1) = (n+1)[(n+1)]/2 juga benar
Untuk membuktikan ini tunjukkan bahwa:
1+2+3+…+ n + (n+1) = (1+2+3+…+n )+(n+1)
= [n(n+1)/2]+(n+1)
= [ (n2+n)/2]+(n+1)
= [ (n2+n)/2]+[(2n+2)/2]
= (n2+3n+2)/2
= ( n+1)[(n+1)+1]/2
Karena langkah basis dan langkah induksi keduanya telah dibuktikan benar, maka untuk semua
bilangan bulat positif n, terbukti bahwa:
1+2+3+…+n = n(n+1)/2
Logika Predikat
• Logika predikat digunakan untuk merepresentasikan hal-hal yang tidak dapat
direpresentasikan dengan menggunakan logika proposisi.
• Pada logika predikat kita dapat merepresentasikan fakta-fakta sebagai
• suatu pernyataan yang disebut dengan wff (well-formed formula).
Misalkan diketahui fakta-fakta sebagai berikut:
• Andi adalah seorang laki-laki : A
• Ali adalah seorang laki-laki : B
• Amir adalah seorang laki-laki : C
• Anto adalah seorang laki-laki : D
• Agus adalah seorang laki-laki : E
• Pada contoh di atas, dapat dituliskan:
laki2(X)
• dimana X adalah variabel yang bisa disubstitusikan dengan Andi, Ali, Amir, Anto, Agus
dan laki-laki yang lain.
• Operator Logika Predikat
→ (implikasi),
⌐ (not),
∧ (and),
∨ (or),
∀ (untuk setiap),
∃ (terdapat)




Soal Latihan
1. Andi adalah seorang mahasiswa.
2. Andi masuk Jurusan Ilmu Komputer.
3. Setiap mahasiswa teknik informatika pasti mahasiswa ilmu komputer.
4. Kalkulus adalah matakuliah yang sulit.
5. Setiap mahasiswa teknik informatika pasti akan suka kalkulus atau akan membencinya.
6. Setiap mahasiswa pasti akan suka terhadap suatu matakuliah.
7. Mahasiswa yang tidak pernah hadir pada kuliah matakuliah sulit, maka mereka pasti
tidak suka terhadap matakuliah tersebut.
8. Andi tidak pernah hadir kuliah matakuliah kalkulus.
Jawaban
1. mahasiswa(Andi).
2. IlmuKomputer(Andi).
3. ∀x:TeknikInformatika(x)→IlmuKomputer(x).
4. sulit(Kalkulus).
5. ∀x:TeknikInformatika (x) → suka(x,Kalkulus) ∨ benci(x,Kalkulus).
6. ∀x:∃y:suka(x,y).
7. ∀x:∀y:mahasiswa(x)∧sulit(y) ∧ ¬hadir(x,y) →¬suka(x,y).
8. ¬hadir(Andi,Kalkulus).
• Andaikan kita akan menjawab pertanyaan:
“Apakah Andi suka matakuliah kalkulus?”
• maka dari pernyataan ke-7 kita akan membuktikan bahwa Andi tidak suka dengan
matakuliah kalkulus. Dengan menggunakan penalaran backward bisa dibuktikan bahwa:
¬suka(Andi,Kalkulus)

¬suka(Andi,Kalkulus)
↑ (7, substitusi)
mahasiswa(Andi) ∧ sulit(Kalkulus) ∧¬hadir(Andi,Kalkulus)
↑ (1)
sulit(Kalkulus) ∧ ¬hadir(Andi,Kalkulus)
↑ (4)
¬hadir(Andi,Kalkulus)
↑ (8)
• Dari penalaran tersebut dapat dibuktikan bahwa Andi tidak suka dengan matakuliah
kalkulus.















Aljabar Boolean

Pendahuluan
• Komputer digital modern dirancang, dipelihara, dan operasinya dianalisis dengan
memakai teknik dan simbologi dari bidang matematika yang dinamakan aljabar modern
atau aljabar Boolean
• pengetahuan mengenai aljabar boolean ini merupakan suatu keharusan dalam bidang
komputer.

KONSEP POKOK ALJABAR BOOLEAN
• Variabel – variabel yang dipakai dalam persamaan aljabar boolean memiliki karakteristik
• Variabel tersebut hanya dapat mengambil satu harga dari dua harga yang mungkin
diambil. Kedua harga ini dapat dipresentasikan dengan simbol “ 0 ” dan “ 1 ”.
Definisi Aljabar Boolean











Misalkan terdapat
- Dua operator biner: + dan ·
- Sebuah operator uner: ‟.
- B : himpunan yang didefinisikan pada operator +, ·, dan ‟
- 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B.
Tupel
(B, +, ·, ‟)
disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a, b, c e B berlaku
aksioma-aksioma atau postulat Huntington berikut:
1. Closure: (i) a + b e B
(ii) a · b e B
2. Identitas: (i) a + 0 = a
(ii) a · 1 = a








Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean, harus diperlihatkan:
1. Elemen-elemen himpunan B,
2. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner,
3. Memenuhi postulat Huntington.
Aljabar Boolean Dua-Nilai













3. Komutatif: (i) a + b = b + a
(ii) a · b = b . a
4. Distributif: (i) a · (b + c) = (a · b) + (a · c)
(ii) a + (b · c) = (a + b) · (a + c)
5. Komplemen
1
: (i) a + a‟ = 1
(ii) a · a‟ = 0

Aljabar Boolean dua-nilai:
- B = {0, 1}
- operator biner, + dan ·
- operator uner, ‟
- Kaidah untuk operator biner dan operator uner:

a b a · b a b a + b a a‟
0 0 0 0 0 0 0 1
0 1 0 0 1 1 1 0
1 0 0 1 0 1
1 1 1 1 1 1


Cek apakah memenuhi postulat Huntington:
1. Closure : jelas berlaku
2. Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa:
(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1
(ii) 1 · 0 = 0 · 1 = 0
3. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner.
4. Distributif: (i) a · (b + c) = (a · b) + (a · c) dapat ditunjukkan benar dari tabel operator biner
di atas dengan membentuk tabel kebenaran:

a b c b + c a · (b + c) a · b a · c (a · b) + (a · c)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
1 1 1 1 1 1 1 1


(ii) Hukum distributif a + (b · c) = (a + b) · (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan membuat
tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i).
5. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7.3 memperlihatkan bahwa:
(i) a + a„ = 1, karena 0 + 0‟= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1‟= 1 + 0 = 1
(ii) a · a = 0, karena 0 · 0‟= 0 · 1 = 0 dan 1 · 1‟ = 1 · 0 = 0
Karena kelima postulat Huntington dipenuhi, maka terbukti bahwa B = {0, 1} bersama-sama
dengan operator biner + dan · operator komplemen „ merupakan aljabar Boolean.

Ekspresi Boolean
- Misalkan (B, +, ·, ‟) adalah sebuah aljabar Boolean. Suatu ekspresi Boolean dalam (B, +,
·, ‟) adalah:
(i) setiap elemen di dalam B,
(ii) setiap peubah,
(iii) jika e
1
dan e
2
adalah ekspresi Boolean, maka e
1
+ e
2
, e
1
· e
2
, e
1
‟ adalah ekspresi
Boolean
Contoh: 0
1
a
b
a + b
a · b
a‟· (b + c)
a · b‟ + a · b · c‟ + b‟, dan sebagainya
Mengevaluasi Ekspresi Boolean
- Contoh: a‟· (b + c)
jika a = 0, b = 1, dan c = 0, maka hasil evaluasi ekspresi:
0‟· (1 + 0) = 1 · 1 = 1
- Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan „=‟) jika keduanya
mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n peubah.
Contoh:
a · (b + c) = (a . b) + (a · c)








Contoh. Perlihatkan bahwa a + a‟b = a + b .
Penyelesaian:
a b a‟ a‟b a + a‟b a + b
0 0 1 0 0 0
0 1 1 1 1 1
1 0 0 0 1 1
1 1 0 0 1 1

- Perjanjian: tanda titik (·) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean, kecuali jika
ada penekanan:
(i) a(b + c) = ab + ac
(ii) a + bc = (a + b) (a + c)
(iii) a · 0 , bukan a0

Prinsip Dualitas
- Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan
operator +, ·, dan komplemen, maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara mengganti
· dengan +
+ dengan ·
0 dengan 1
1 dengan 0
dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya, maka kesamaan S* juga benar.
S* disebut sebagai dual dari S.
Contoh.
(i) (a · 1)(0 + a‟) = 0 dualnya (a + 0) + (1 · a‟) = 1
(ii) a(a„ + b) = ab dualnya a + a„b = a + b





Hukum-hukum Aljabar Boolean
1. Hukum identitas:
(i) a + 0 = a
(ii) a · 1 = a

2. Hukum idempoten:
(i) a + a = a
(ii) a · a = a

3. Hukum komplemen:
(i) a + a‟ = 1
(ii) aa‟ = 0

4. Hukum dominansi:
(i) a · 0 = 0
(ii) a + 1 = 1

5. Hukum involusi:
(i) (a‟)‟ = a

6. Hukum penyerapan:
(i) a + ab = a
(ii) a(a + b) = a

7. Hukum komutatif:
(i) a + b = b + a
(ii) ab = ba

8. Hukum asosiatif:
(i) a + (b + c) = (a + b) + c
(ii) a (b c) = (a b) c

9. Hukum distributif:
(i) a + (b c) = (a + b) (a + c)
(ii) a (b + c) = a b + a c

10. Hukum De Morgan:
(i) (a + b)‟ = a‟b‟
(ii) (ab)‟ = a‟ + b‟

11. Hukum 0/1
(i) 0‟ = 1
(ii) 1‟ = 0



Contoh 7.3. Buktikan (i) a + a‟b = a + b dan (ii) a(a‟ + b) = ab
Penyelesaian:
(i) a + a‟b = (a + ab) + a‟b (Penyerapan)
= a + (ab + a‟b) (Asosiatif)
= a + (a + a‟)b (Distributif)
= a + 1 - b (Komplemen)
= a + b (Identitas)
(ii) adalah dual dari (i)
Fungsi Boolean
- Fungsi Boolean(disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari B
n
ke B melalui ekspresi
Boolean, kita menuliskannya sebagai
f : B
n
÷ B
yang dalam hal ini B
n
adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut ganda-n
(ordered n-tuple) di dalam daerah asal B.
- Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean.
- Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah
f(x, y, z) = xyz + x‟y + y‟z
Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3
(x, y, z) ke himpunan {0, 1}.
Contohnya, (1, 0, 1) yang berarti x = 1, y = 0, dan z = 1
sehingga f(1, 0, 1) = 1 · 0 · 1 + 1‟ · 0 + 0‟· 1 = 0 + 0 + 1 = 1 .

Contoh. Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain:
1. f(x) = x
2. f(x, y) = x‟y + xy‟+ y‟
3. f(x, y) = x‟ y‟
4. f(x, y) = (x + y)‟
5. f(x, y, z) = xyz‟

- Setiap peubah di dalam fungsi Boolean, termasuk dalam bentuk komplemennya, disebut
literal.

Contoh: Fungsi h(x, y, z) = xyz‟ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal, yaitu x, y,
dan z‟.







Contoh. Diketahui fungsi Booelan h(x, y, z) = xy z‟, nyatakan h dalam tabel kebenaran.
Penyelesaian:

X y z h(x, y, z) = xy z‟
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0

Komplemen Fungsi
1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan
Hukum De Morgan untuk dua buah peubah, x
1
dan x
2
, adalah
Contoh. Misalkan f(x, y, z) = x(y‟z‟ + yz), maka
f ‟(x, y, z) = (x(y‟z‟ + yz))‟
= x‟ + (y‟z‟ + yz)‟
= x‟ + (y‟z‟)‟ (yz)‟
= x‟ + (y + z) (y‟ + z‟)
2. Cara kedua: menggunakan prinsip dualitas.
Tentukan dual dari ekspresi Boolean yang merepresentasikan f, lalu komplemenkan setiap
literal di dalam dual tersebut.


Contoh. Misalkan f(x, y, z) = x(y‟z‟ + yz), maka
dual dari f: x + (y‟ + z‟) (y + z)
komplemenkan tiap literalnya: x‟ + (y + z) (y‟ + z‟) = f ‟
Jadi, f „(x, y, z) = x‟ + (y + z)(y‟ + z‟)
Bentuk Kanonik
- Ada dua macam bentuk kanonik:
1. Penjumlahan dari hasil kali (sum-of-product atau SOP)
2. Perkalian dari hasil jumlah (product-of-sum atau POS)

Contoh: 1. f(x, y, z) = x‟y‟z + xy‟z‟ + xyz  SOP
Setiap suku (term) disebut minterm
2. g(x, y, z) = (x + y + z)(x + y‟ + z)(x + y‟ + z‟)
(x‟ + y + z‟)(x‟ + y‟ + z)  POS
Setiap suku (term) disebut maxterm
- Setiap minterm/maxterm mengandung literal lengkap

Minterm Maxterm
x y Suku Lambang Suku Lambang
0
0
1
1
0
1
0
1
x‟y‟
x‟y
xy‟
x y
m
0

m
1
m
2

m
3

x + y
x + y‟
x‟ + y
x‟ + y‟
M
0

M
1

M
2
M
3










Minterm Maxterm
x y z Suku Lambang Suku Lambang
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
x‟y‟z‟
x‟y‟z
x„y z‟
x‟y z
x y‟z‟
x y‟z
x y z‟
x y z
m
0

m
1
m
2

m
3
m
4

m
5

m
6

m
7

x + y + z
x + y + z‟
x + y‟+z
x + y‟+z‟
x‟+ y + z
x‟+ y + z‟
x‟+ y‟+ z
x‟+ y‟+ z‟
M
0

M
1

M
2
M
3
M
4

M
5

M
6

M
7


Contoh: Nyatakan tabel kebenaran di bawah ini dalam bentuk kanonik SOP dan POS.
x y z f(x, y, z)
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
1
0
0
1





Penyelesaian:
(a) SOP
Kombinasi nilai-nilai peubah yang menghasilkan nilai fungsi sama dengan 1 adalah 001, 100,
dan 111, maka fungsi Booleannya dalam bentuk kanonik SOP adalah
f(x, y, z) = x‟y‟z + xy‟z‟ + xyz
atau (dengan menggunakan lambang minterm),
f(x, y, z) = m
1
+ m
4
+ m
7
= ¿ (1, 4, 7)
(b) POS
Kombinasi nilai-nilai peubah yang menghasilkan nilai fungsi sama dengan 0 adalah 000, 010,
011, 101, dan 110, maka fungsi Booleannya dalam bentuk kanonik POS adalah
f(x, y, z) = (x + y + z)(x + y‟+ z)(x + y‟+ z‟)
(x‟+ y + z‟)(x‟+ y‟+ z)
atau dalam bentuk lain,
f(x, y, z) = M
0
M
2
M
3
M
5
M
6
= [(0, 2, 3, 5, 6)
Contoh: Nyatakan fungsi Boolean f(x, y, z) = x + y‟z dalam bentuk kanonik SOP dan POS.
Penyelesaian:
(a) SOP
x = x(y + y‟)
= xy + xy‟
= xy (z + z‟) + xy‟(z + z‟)
= xyz + xyz‟ + xy‟z + xy‟z‟
y‟z = y‟z (x + x‟)
= xy‟z + x‟y‟z
Jadi f(x, y, z) = x + y‟z
= xyz + xyz‟ + xy‟z + xy‟z‟ + xy‟z + x‟y‟z
= x‟y‟z + xy‟z‟ + xy‟z + xyz‟ + xyz
atau f(x, y, z) = m
1
+ m
4
+ m
5
+ m
6
+ m
7
= E (1,4,5,6,7)
(b) POS
f(x, y, z) = x + y‟z
= (x + y‟)(x + z)
x + y‟ = x + y‟ + zz‟
= (x + y‟ + z)(x + y‟ + z‟)
x + z = x + z + yy‟
= (x + y + z)(x + y‟ + z)
Jadi, f(x, y, z) = (x + y‟ + z)(x + y‟ + z‟)(x + y + z)(x + y‟ + z)
= (x + y + z)(x + y‟ + z)(x + y‟ + z‟)
atau f(x, y, z) = M
0
M
2
M
3
= [(0, 2, 3)
















Konversi Antar Bentuk Kanonik
Misalkan
f(x, y, z) = E (1, 4, 5, 6, 7)
dan f ‟adalah fungsi komplemen dari f,
f ‟(x, y, z) = E (0, 2, 3) = m
0
+ m
2
+ m
3

Dengan menggunakan hukum De Morgan, kita dapat memperoleh fungsi f dalam bentuk POS:
f ‟(x, y, z) = (f ‟(x, y, z))‟ = (m
0
+ m
2
+ m
3
)‟
= m
0
‟ . m
2
‟ . m
3

= (x‟y‟z‟)‟ (x‟y z’)‟ (x‟y z)‟
= (x + y + z) (x + y‟ + z) (x + y‟ + z‟)
= M
0
M
2
M
3

= [ (0,2,3)

Jadi, f(x, y, z) = E (1, 4, 5, 6, 7) = [ (0,2,3).
Kesimpulan: m
j
‟ = M
j

Contoh. Nyatakan
f(x, y, z)= [ (0, 2, 4, 5) dan
g(w, x, y, z) = E(1, 2, 5, 6, 10, 15)
dalam bentuk SOP.
Penyelesaian:
f(x, y, z) = E (1, 3, 6, 7)
g(w, x, y, z) = [ (0, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14)


Contoh. Carilah bentuk kanonik SOP dan POS dari f(x, y, z) = y‟ + xy + x‟yz‟
Penyelesaian:
(a) SOP
f(x, y, z) = y‟ + xy + x‟yz‟
= y‟ (x + x‟) (z + z‟) + xy (z + z‟) + x‟yz‟
= (xy‟ + x‟y‟) (z + z‟) + xyz + xyz‟ + x‟yz‟
= xy‟z + xy‟z‟ + x‟y‟z + x‟y‟z‟ + xyz + xyz‟ + x‟yz‟

atau f(x, y, z) = m
0
+ m
1
+ m
2
+ m
4
+ m
5
+ m
6
+ m
7


(b) POS
f(x, y, z) = M
3
= x + y‟ + z‟
Bentuk Baku
• Tidak harus mengandung literal yang lengkap.
• Contohnya,
f(x, y, z) = y‟ + xy + x‟yz (bentuk baku SOP)
f(x, y, z) = x(y‟ + z)(x‟ + y + z‟) (bentuk baku POS)










Aplikasi Aljabar Boolean
1. Jaringan Pensaklaran (Switching Network)
Saklar: objek yang mempunyai dua buah keadaan: buka dan tutup.
Tiga bentuk gerbang paling sederhana:

1. a x b
Output b hanya ada jika dan hanya jika x dibuka ¬ x

2. a x y b
Output b hanya ada jika dan hanya jika x dan y dibuka ¬ xy

3. a x
c
b y
Output c hanya ada jika dan hanya jika x atau y dibuka ¬ x + y










Contoh rangkaian pensaklaran pada rangkaian listrik:

1. Saklar dalam hubungan SERI: logika AND

Lampu

A B

·
Sumber tegangan



2. Saklar dalam hubungan PARALEL: logika OR

A
Lampu

B

·
Sumber Tegangan




2. Rangkaian Logika

Gerbang AND Gerbang OR Gerbang NOT (inverter)

Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x‟y ke dalam rangkaian logika.

Jawab: (a) Cara pertama

(b) Cara kedua


y
x
xy
y
x
x+ y x'
x
x'
x
y
xy
x
y
x'y
xy+x'y
x'
xy
x
y
x'y
xy+x'y
(c) Cara ketiga
Gerbang turunan

Gerbang NAND Gerbang XOR

Gerbang NOR Gerbang XNOR





Penyederhanaan Fungsi Boolean
x'
xy
x y
x'y
xy+x'y
x
y
(xy)'
x
y
(x+y)'
x
y
+ x y
x
y
+
(x y)'
x'
y'
x'y'
ekivalen dengan
x
y
(x+y)'
x'
y'
x' + y'
ekivalen dengan
x
y
(xy)'
x
y
(x + y)'
ekivalen dengan
x
y
(x + y)'
x + y
Contoh. f(x, y) = x‟y + xy‟ + y‟

disederhanakan menjadi

f(x, y) = x‟ + y‟

Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara:
1. Secara aljabar
2. Menggunakan Peta Karnaugh
3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi)
1. Penyederhanaan Secara Aljabar
Contoh:
1. f(x, y) = x + x‟y
= (x + x‟)(x + y)
= 1 · (x + y )
= x + y

2. f(x, y, z) = x‟y‟z + x‟yz + xy‟
= x‟z(y‟ + y) + xy‟
= x‟z + xy‟

3. f(x, y, z) = xy + x‟z + yz = xy + x‟z + yz(x + x‟)
= xy + x‟z + xyz + x‟yz
= xy(1 + z) + x‟z(1 + y) = xy + x‟z





2. Peta Karnaugh
a. Peta Karnaugh dengan dua peubah
y
0 1

m
0
m
1
x 0 x‟y‟ x‟y

m
2
m
3
1 xy‟ xy


b. Peta dengan tiga peubah


yz
00

01

11

10

m
0
m
1
m
3
m
2
x 0 x‟y‟z‟ x‟y‟z x‟yz x‟yz‟

m
4
m
5
m
7
m
6
1 xy‟z‟ xy‟z xyz xyz‟

Contoh. Diberikan tabel kebenaran, gambarkan Peta Karnaugh.
x y z f(x, y, z)
0 0 0 0
0 0 1 0
0 1 0 1
0 1 1 0
1 0 0 0
1 0 1 0
1 1 0 1
1 1 1 1


yz
00

01

11

10
x 0 0 0 0 1
1 0 0 1 1



b. Peta dengan empat peubah


yz
00

01

11

10
m
0
m
1
m
3
m
2
wx 00 w‟x‟y‟z‟ w‟x‟y‟z w‟x‟yz w‟x‟yz‟
m
4
m
5
m
7
m
6
01 w‟xy‟z‟ w‟xy‟z w‟xyz w‟xyz‟
m
12
m
13
m
15
m
14
11 wxy‟z‟ wxy‟z wxyz wxyz‟
m
8
m
9
m
11
m
10
10 wx‟y‟z‟ wx‟y‟z wx‟yz wx‟yz‟



















Contoh. Diberikan tabel kebenaran, gambarkan Peta Karnaugh.
W x y z f(w, x, y, z)

0 0 0 0 0

0 0 0 1 1

0 0 1 0 0

0 0 1 1 0

0 1 0 0 0

0 1 0 1 0

0 1 1 0 1

0 1 1 1 1

1 0 0 0 0

1 0 0 1 0

1 0 1 0 0

1 0 1 1 0

1 1 0 0 0

1 1 0 1 0

1 1 1 0 1

1 1 1 1 0









yz
00

01

11

10
wx 00 0 1 0 1
01 0 0 1 1
11 0 0 0 1
10 0 0 0 0
Teknik Minimisasi Fungsi Boolean dengan Peta Karnaugh
1. Pasangan: dua buah 1 yang bertetangga

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 0 0 0
11 0 0 1 1
10 0 0 0 0


Sebelum disederhanakan: f(w, x, y, z) = wxyz + wxyz‟
Hasil Penyederhanaan: f(w, x, y, z) = wxy

Bukti secara aljabar:

f(w, x, y, z) = wxyz + wxyz‟
= wxy(z + z‟)
= wxy(1)
= wxy






2. Kuad: empat buah 1 yang bertetangga
yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 0 0 0
11 1 1 1 1
10 0 0 0 0


Sebelum disederhanakan: f(w, x, y, z) = wxy‟z‟ + wxy‟z + wxyz + wxyz‟
Hasil penyederhanaan: f(w, x, y, z) = wx
Bukti secara aljabar:
f(w, x, y, z) = wxy‟ + wxy
= wx(z‟ + z)
= wx(1)
= wx

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 0 0 0
11 1 1 1 1
10 0 0 0 0
Contoh lain:

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 0 0 0
11 1 1 0 0
10 1 1 0 0

Sebelum disederhanakan: f(w, x, y, z) = wxy‟z‟ + wxy‟z + wx‟y‟z‟ + wx‟y‟z
Hasil penyederhanaan: f(w, x, y, z) = wy‟

3. Oktet: delapan buah 1 yang bertetangga
yz
00

01

11

10
wx 00
0 0 0 0
01
0 0 0 0
11
1 1 1 1
10
1 1 1 1


Sebelum disederhanakan: f(a, b, c, d) = wxy‟z‟ + wxy‟z + wxyz + wxyz‟ +
wx‟y‟z‟ + wx‟y‟z + wx‟yz + wx‟yz‟
Hasil penyederhanaan: f(w, x, y, z) = w

Bukti secara aljabar:

f(w, x, y, z) = wy‟ + wy
= w(y‟ + y)
= w

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 0 0 0
11 1 1 1 1
10 1 1 1 1

Contoh 5.12. Andaikan suatu tabel kebenaran telah diterjemahkan ke dalam Peta Karnaugh.
Sederhanakan fungsi Boolean yang bersesuaian sesederhana mungkin.

yz
00

01

11

10
wx 00 0 1 1 1
01 0 0 0 1
11 1 1 0 1
10 1 1 0 1

Jawab: (lihat Peta Karnaugh) f(w, x, y, z) = wy‟ + yz‟ + w‟x‟z

Contoh 5.13. Minimisasi fungsi Boolean yang bersesuaian dengan Peta Karnaugh di bawah ini.
yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 1 0 0
11 1 1 1 1
10 1 1 1 1

Jawab: (lihat Peta Karnaugh) f(w, x, y, z) = w + xy‟z
Jika penyelesaian Contoh 5.13 adalah seperti di bawah ini:

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 1 0 0
11 1 1 1 1
10 1 1 1 1


maka fungsi Boolean hasil penyederhanaan adalah
f(w, x, y, z) = w + w‟xy‟z (jumlah literal = 5)
yang ternyata masih belum sederhana dibandingkan f(w, x, y, z) = w + xy‟z (jumlah literal = 4).


Contoh 5.14. (Penggulungan/rolling) Sederhanakan fungsi Boolean yang bersesuaian dengan
Peta Karnaugh di bawah ini.

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 1 0 0 1
11 1 0 0 1
10 0 0 0 0

Jawab: f(w, x, y, z) = xy‟z‟ + xyz‟ ==> belum sederhana
Penyelesaian yang lebih minimal:
yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 1 0 0 1
11 1 0 0 1
10 0 0 0 0

f(w, x, y, z) = xz‟ ===> lebih sederhana




Contoh 5.11. Sederhanakan fungsi Boolean f(x, y, z) = x‟yz + xy‟z‟ + xyz + xyz‟.
Jawab:
Peta Karnaugh untuk fungsi tersebut adalah:

yz
00

01

11

10
x 0 1
1 1 1 1

Hasil penyederhanaan: f(x, y, z) = yz + xz‟

Contoh 5.15: (Kelompok berlebihan) Sederhanakan fungsi Boolean yang bersesuaian dengan
Peta Karnaugh di bawah ini.

yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 1 0 0
11 0 1 1 0
10 0 0 1 0

Jawab: f(w, x, y, z) = xy‟z + wxz + wyz ÷ masih belum sederhana.



Penyelesaian yang lebih minimal:
yz
00

01

11

10
wx 00 0 0 0 0
01 0 1 0 0
11 0 1 1 0
10 0 0 1 0

f(w, x, y, z) = xy‟z + wyz ===> lebih sederhana
Contoh 5.16. Sederhanakan fungsi Boolean yang bersesuaian dengan Peta Karnaugh di bawah
ini.
cd
00

01

11

10
ab 00 0 0 0 0
01 0 0 1 0
11 1 1 1 1
10 0 1 1 1

Jawab: (lihat Peta Karnaugh di atas) f(a, b, c, d) = ab + ad + ac + bcd
Contoh 5.17. Minimisasi fungsi Boolean f(x, y, z) = x‟z + x‟y + xy‟z + yz
Jawab:
x’z = x‟z(y + y‟) = x‟yz + x‟y‟z
x‟y = x‟y(z + z‟) = x‟yz + x‟yz‟
yz = yz(x + x‟) = xyz + x‟yz

f(x, y, z) = x‟z + x‟y + xy‟z + yz
= x‟yz + x‟y‟z + x‟yz + x‟yz‟ + xy‟z + xyz + x‟yz
= x‟yz + x‟y‟z + x‟yz‟ + xyz + xy‟z

Peta Karnaugh untuk fungsi tersebut adalah:
yz
00

01

11

10
x 0 0 1 1 1
1 0 1 1 0

Hasil penyederhanaan: f(x, y, z) = z + x‟yz‟

Peta Karnaugh untuk lima peubah

000 001 011 010 110 111 101 100
00
m
0
m
1
m
3
m
2
m
6
m
7
m
5
m
4

01
m
8
m
9
m
11
m
10
m
14
m
15
m
13
m
12

11
m
24
m
25
m
27
m
26
m
30
m
31
m
29
m
28

10
m
16
m
17
m
19
m
18
m
22
m
23
m
21
m
20



Garis pencerminan


Contoh 5.21. (Contoh penggunaan Peta 5 peubah) Carilah fungsi sederhana dari f(v, w, x, y, z) =
E (0, 2, 4, 6, 9, 11, 13, 15, 17, 21, 25, 27, 29, 31)
Jawab:
Peta Karnaugh dari fungsi tersebut adalah:



xyz
00
0

00
1

01
1

01
0

11
0

11
1

10
1

10
0





vw
00

1

1

1

1





01

1

1

1

1







11

1

1

1

1





10

1

1


Jadi f(v, w, x, y, z) = wz + v‟w‟z‟ + vy‟z




Kondisi Don’t care
Tabel 5.16
w x y z desimal
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
don’t care
don’t care
don’t care
don’t care
don’t care
don’t care








Contoh 5.25. Diberikan Tabel 5.17. Minimisasi fungsi f sesederhana mungkin.
Tabel 5.17
a b c d f(a, b, c, d)
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
0
1
1
1
0
1
X
X
X
X
X
X
X
X





Jawab: Peta Karnaugh dari fungsi tersebut adalah:


cd
00

01

11

10
ab
00
1 0 1 0
01 1 1 1 0
11 X X X X
10 X 0 X X

Hasil penyederhanaan: f(a, b, c, d) = bd + c‟d‟ + cd
Contoh 5.26. Minimisasi fungsi Boolean f(x, y, z) = x‟yz + x‟yz‟ + xy‟z‟ + xy‟z. Gambarkan
rangkaian logikanya.
Jawab: Rangkaian logika fungsi f(x, y, z) sebelum diminimisasikan adalah seperti di bawah ini:






Minimisasi dengan Peta Karnaugh adalah sebagai berikut:
x y z
x'yz
x'yz'
xy'z'
xy'z
yz
00

01

11

10

x 0

0


0

1

1

1

1


1

0

0

Hasil minimisasi adalah f(x, y, z) = x‟y + xy‟.
Contoh 5.28. Berbagai sistem digital menggunakan kode binary coded decimal (BCD).
Diberikan Tabel 5.19 untuk konversi BCD ke kode Excess-3 sebagai berikut:
Tabel 5.19
Masukan BCD Keluaran kode Excess-3
w x Y z f
1
(w, x, y, z) f
2
(w, x, y,z) f
3
(w, x, y, z) f
4
(w, x, y, z)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0

(a) f
1
(w, x, y, z)
yz
00

01

11

10
wx 00
01 1 1 1
11 X X X X
10 1 1 X X

f
1
(w, x, y, z) = w + xz + xy = w + x(y + z)


(b) f
2
(w, x, y, z)
yz
00

01

11

10
wx 00 1 1 1
01 1
11 X X X X
10 1 X X

f
2
(w, x, y, z) = xy‟z‟ + x‟z + x‟y = xy‟z‟ + x‟(y + z)




(c) f
3
(w, x, y, z)
yz
00

01

11

10
wx 00 1 1
01 1 1
11 X X X X
10 1 X X

f
3
(w, x, y, z) = y‟z‟ + yz


(d) f
4
(w, x, y, z)
yz
00

01

11

10
wx 00 1 1
01 1 1
11 X X X X
10 1 X X

f
4
(w, x, y, z) = z‟












Contoh 7.43
Minimisasi fungsi Boolean berikut (hasil penyederhanaan dalam bentuk baku SOP dan bentuk
baku POS):
f(w, x, y, z) = E (1, 3, 7, 11, 15)
dengan kondisi don’t care adalah d(w, x, y, z) = E (0, 2, 5)
Penyelesaian:
Peta Karnaugh dari fungsi tersebut adalah:

00 01 11 10
00
01
11
10
X 1
1 X
0 X 1 0
0 0 1
0 0
1 0
0
yz
wx


Hasil penyederhanaan dalam bentuk SOP
f(w, x, y, z) = yz + w‟z (SOP) (garis penuh)
dan bentuk baku POS adalah
f(w, x, y, z) = z (w‟ + y) (POS) (garis putus2)
x y z w
f3
f4
f2
f1
Metode Quine-McCluskey
• Metode Peta Karnaugh tidak mangkus untuk jumlah peubah > 6 (ukuran peta semakin
besar).
• Metode peta Karnaugh lebih sulit diprogram dengan komputer karena diperlukan
pengamatan visual untuk mengidentifikasi minterm-minterm yang akan dikelompokkan.
• Metode alternatif adalah metode Quine-McCluskey . Metode ini mudah diprogram.

Contoh 7.46
Sederhanakan fungsi Boolean f(w, x, y, z) = E (0, 1, 2, 8, 10, 11, 14, 15).
Penyelesaian:
(i) Langkah 1 sampai 5:

(a) (b) (c)

term w x y z term w x y z term w x y z

0 0 0 0 0 \ 0,1 0 0 0 - 0,2,8,10 - 0 - 0
0,2 0 0 - 0 \ 0,8,2,10 - 0 - 0
1 0 0 0 1 \ 0,8 - 0 0 0 \
2 0 0 1 0 \ 10,11,14,15 1 - 1 -
8 1 0 0 0 \ 2,10 - 0 1 0 \ 10,14,11,15 1 - 1 -
8,10 1 0 - 0 \
10 1 0 1 0 \
10,11 1 0 1 - \
11 1 0 1 1 \ 10,14 1 - 1 0 \
14 1 1 1 0 \
11,15 1 - 1 1 \
15 1 1 1 1 \ 14,15 1 1 1 - \


(ii) Langkah 6 dan 7:

minterm

Bentuk prima 0 1 2 8 10 11 14 15

\ 0,1 × ×
\ 0,2,8,10 × × × ×
\ 10,11,14,15 × × × ×

* * * * * *
\ \ \ \ \ \ \ \


Bentuk prima yang terpilih adalah:

0,1 yang bersesuaian dengan term w‟x‟y
0, 2, 8, 10 yang bersesuaian dengan term x‟z‟
10, 11, 14, 15 yang bersesuaian dengan term wy

Semua bentuk prima di atas sudah mencakup semua minterm dari fungsi Boolean semula.
Dengan demikian, fungsi Boolean hasil penyederhanaan adalah f(w, x, y, z) = w‟x‟y‟ + x‟z‟ +
wy.






Contoh 7.47
Sederhanakan fungsi Boolean f(w, x, y, z) = E (1,4,6,7,8,9,10,11,15)

Penyelesaian:

(i) Langkah 1 sampai 5:

(a) (b) (c)

term w x y z term w x y z term w x y z

1 0 0 0 1 \ 1,9 - 0 0 1 8,9,10,11 1 0 - -
4 0 1 0 0 \ 4,6 0 1 - 0 8,10,9,11 1 0 - -
8 1 0 0 0 \ 8,9 1 0 0 - \
8,10 1 0 - 0 \
6 0 1 1 0 \
9 1 0 0 1 \ 6,7 0 1 1 -
10 1 0 1 0 \ 9,11 1 0 - 1 \
10,1 1 1 0 1 - \
7 0 1 1 1 \
11 1 0 1 1 \ 7,15 - 1 1 1
11,15 1 - 1 1
15 1 1 1 1 \








(ii) Langkah 6 dan 7

minterm

Bentuk prima 1 4 6 7 8 9 10 11 15

\ 1,9 × ×
\ 4,6 × ×
6,7 × ×
7,15 × ×
11,15 × ×
\ 8,9,10,11 × × × ×

* * * *
\ \ \ \ \ \ \


Sampai tahap ini, masih ada dua minterm yang belum tercakup dalam bentuk prima terpilih,
yaitu 7 dan 15. Bentuk prima yang tersisa (tidak terpilih) adalah (6,7), (7,15), dan (11, 15). Dari
ketiga kandidat ini, kita pilih bentuk prima (7,15) karena bentuk prima ini mencakup minterm 7
dan 15 sekaligus.






minterm

Bentuk prima 1 4 6 7 8 9 10 11 15

\ 1,9 × ×
\ 4,6 × ×
6,7 × ×
\ 7,15 × ×
11,15 × ×
\ 8,9,10,11 × × × ×

* * * *
\ \ \ \ \ \ \ \ \
Sekarang, semua minterm sudah tercakup dalam bentuk prima terpilih. Bentuk prima yang
terpilih adalah:
1,9 yang bersesuaian dengan term x‟y‟z
4,6 yang bersesuaian dengan term w‟xz‟
7,15 yang bersesuaian dengan term xyz
8,9,10,11 yang bersesuaian dengan term wx‟

Dengan demikian, fungsi Boolean hasil penyederhanaan adalah f(w, x, y, z) = x‟y‟z + w‟xz‟ + xyz
+ wx‟.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->