P. 1
Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga

|Views: 707|Likes:
Published by Namira Ahmed

More info:

Published by: Namira Ahmed on Sep 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2015

pdf

text

original

ABSTRAK Latar belakang : Setiap keluarga memimpikan dapat membangun keluarga harmonis, bahagia dan saling mencintai, namun

pada kenyataannya banyak keluarga yang merasa tidak nyaman, tertekan dan sedih karena terjadi kekerasan dalam keluarga, baik kekerasan yang bersifat fisik, psikologis, seksual, emosional, maupun penelantaran. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Kondisi yang demikian cenderung mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga mereka tidak bisa tumbuh dan berkembang secara natural, bahkan menghambat anak berprestasi di sekolahnya. Untuk dapat menyelamatkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, kiranya perlu dilakukan penanganan secara psikologis dan edukatif terhadap kasus KDRT, baik yang sifatnya kuratif maupun preventif, sehingga bukan saja berarti bagi pelaku KDRT, melainkan utamanya bagi kurban KDRT dan masyarakatnya secara lebih luas. Deskripsi Kasus : Seorang perempuan yang melaporkan tindak kekerasan fisik oleh suami dalam rumah tangga ke polres jakarta pusat, berupa dorongan terhadap badan istri (korban) sampai terjatuh dilantai dan menjambak rambutnya, sampai jilbabnya terlepas dan disaksikan oleh puterinya yang berusia 10 tahun. Diskusi : Istri memang sangat sering menjadi korban paling dalam kekerasan dalam rumah tangga, namun disini dampak yang terjadi tidak hanya fisik dari istri (korban), psikis pada istri dan anak pun terkena, apalagi anak tersebut menjadi saksi dalam kasus KDRT tersebut. Simpulan : Keharmonisan harus sangat dijaga dalam rumah tangga begitupun dengan kepercayaan yang diiringi dengan sebuah komunikasi yang baik akan mengurangi kasus KDRT.

1

psikologis. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri). baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Berdasarkan Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT pada pasal 1 butir 1 menyebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. emosional. bahagia dan saling mencintai. kiranya perlu dilakukan penanganan secara psikologis dan edukatif terhadap kasus KDRT. setiap aktivitas seksual yang dipaksakan. perkawinan. baik yang sifatnya kuratif maupun preventif. pemaksaan. (b) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah. kekerasan seksual. atau pasangan. ipar dan besan). dan/atau (c) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja Rumah Tangga). isteri. psikologis.LATAR BELAKANG Setiap keluarga memimpikan dapat membangun keluarga harmonis. dan mengendalikan untuk memperoleh uang dan menggunakannya. maupun penelantaran. penggunaan kekuatan fisik. orangtua. menantu. 2 . melainkan utamanya bagi korban KDRT dan masyarakatnya secara lebih luas. Untuk dapat menyelamatkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. dan perwalian. seksual. terlebih-lebih di era terbuka dan informasi yang kadangkala budaya kekerasan yang muncul lewat informasi tidak bisa terfilter pengaruh negatifnya terhadap kenyamanan hidup dalam rumah tangga. sehingga bukan saja berarti bagi pelaku KDRT. kritik dan menjatuhkan yang terjadi terus menerus. bahkan menghambat anak berprestasi di sekolahnya. sehingga mereka tidak bisa tumbuh dan berkembang secara natural. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pengasuh. kekerasan emosional. tertekan dan sedih karena terjadi kekerasan dalam keluarga. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. yang menetap dalam rumah tangga (mertua. persusuan. KDRT dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk. namun pada kenyataannya banyak keluarga yang merasa tidak nyaman. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. baik kekerasan yang bersifat fisik. tindakan yang mencakup ancaman. Demikian juga pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa lingkup rumah tangga dalam UndangUndang ini meliputi (a) Suami. di antaranya: Kekerasan fisik. seksual. pengasuhan. Kondisi yang demikian cenderung mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. 4 dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan.

pada tanggal 21 mei 1994 di KUA Kec. Ny. Bendungan asuhan no. ”R” menerangkan awal mula dari kejadian dalam rumah tangga tersebut pada hari jumat 10 Oktober 2008 korban ”R” menemui tersangka di jl. setelah itu ”R” menerangkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh ’I” telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 3 kali dan ”R” sudah tidak tinggal satu rumah dan sekarang ”R” tinggal dirumah kost daerah Pramuka Jakarta Pusat. diantaranya 1. 3. lalu tersangka langsung menanyakan dimana kunci mobil yang korban pegang kemudian korban menjawab kunci mobilnya dititpkan ke orang yang tidak tahu namanya kemudian tersangka berusaha ingin merebut tas korban namun tidak berhasil karena korban menarik tas kembali dan berusaha mempertahankan lalu korban marah dan mendorong korban hingga terjatuh ke lantai dan menarik jilbab korban gunakan dengan disaksikan puterinya Bubu yang berusia 10 tahun dan seoran pembantu rumah tangga. setelah itu sesampainya dirumah ”I” .irwan telah dikaruniai keturunan yaitu 4 orang anak. ”R” menerangkan bahwa tersangka ”I” melakukan kekerasan dalam rumah tangga dengan cara mendorong korban ”R” hingga terjatuh kemudian setelah jatuh jilbab korban ditarik oleh tersangka keudian menjambak rambut korban ”R” dengan tangannya. lalu ”I” melepas tangannya dan ”R” menuju kekamar anak-anak tetapi ”I” masih mengejarnya karena didalam kamar ada teman-teman dari Bubu lalu ”I” pergi dari rumah.rina menerangkan dari pernikahannya dengan Tn. Selanjutnya ”A” berusia 40 tahun (yang didalam rumah itu sebagai pembantu rumah tangga ) berusaha melerai tetapi tidak bisa melerainya.) Siti umur (2tahun).) Sita umur (13tahun). ”R” menjelaskan bahwa akibat dari peristiwa tersebut yaitu terdapat luka cakar pada bagian leher belakang siku setelah kanan dan lutut mengalami luka memar yang sesuai dengan visum dan kejadian tersebut dan yang melihat yaitu Bubu (anak mereka) dan ”A” (pembantu rumah tangga). 4. ”R” menerangkan pada saat ”I” melakukan kekerasan dalam rumah tangga tidak menggunakan alat apa-apa tetapi menggunakan tangan sebelah kanan dan pada saat terjadi kejadian tersebut posisinya ”R” dan ”I” sama-sama berdiri dengan jarak setengah meter. 2.Bendungan Hilir Tanah Abang Jakarta Pusat di rumah ”I” untuk membicarakan masalah kunci mobil sedan merk Nissan Theana yang dipegang dan pembayaran mobil phanter. selanjutnya ”I” masih mengejar ”R” ingin merebut tas yang dipegang ”R” dan ”R” pun berusaha lari keluar rumah dan menuju pintu tetapi pintunya dikunci oleh ”I” kemudian ”R” berlari menuju kamar anak-anak dari ”R” tetapi ”I” menarik kembali jilbab ”R” sampai terbuka kemudian ”I” menjambak kembali rambut ”R” dan Bubu sebagai anak mereka berteriak dan mengatakan ”bapak jangan bapak” .) Rahman umur (12tahun).Semarang selatan Kotamadya Semarang Jawa Tengah dan penikahan tersebut sah secara hukum dan agama serta terdapat buku nikah. setelah itu korban bangun dan lari ke kamar untuk mengambil jilbab lalu ”I” masuk kekamar melalui pintu belakang.11 Rt 06 / Rw 02 Kel.PRESENTASI KASUS Pada awalnya ”R” seorang perempuan berusia 41 tahun telah menikah dengan ”I” (tersangka). 3 .) Bubu umur (10 tahun).

”I” pun menjelaskan menurut keterangan ”R” adalah tidak benar yaitu mencakar leher korban. Dari kesaksian pembantu rumah tangga didapatkan ketika ”A” sedang masak di dapur ketika tiba-tiba dari ruang tengah ”R” memanggil ”A”. Setelah terlepas jilbabnya ”R” segera berlari menuju kekamarnya dan berusaha mengejar melalui pintu belakang kemudian setelah melihat tersangka masuk dalam kamar dan ”R” keluar dari kamar dan tersangka menyuruh ”A” untuk meminta kunci mobil tersebut karena ”A” bingung akhirnya ”A” balik kerumah. sini kuncinya” sambil menarik-narik tas yang sedang dipegang ”R” dan jilbab yang dipakai ”R” dipaksa ditarik oleh ”I”. dan ”A” berusaha menolong ”R” dengan cara melepas jilbabnya ”R” agar tidak kesakitan. ”I” menjelaskan bahwa keterangan dari ”R” adalah tidak benar dan yang benar adalah pada saat ”I” menarik tas yang dipegang ”R” dan terjadilah tarik-menarik antara ”R” kemudian ”R” memanggil ”A” lalu memisahkan mereka yang sedang tarik-menarik tas dan ”R” terjatuh kelantai di depan sofa yang ada diruang keluarga. yang benar adalah pada saat tersangka mengambil kunci yang dipegang ”R” karena tidak sengaja tubuh ”R” terjatuh ke lantai. ”I” pun menjelaskan bahwa jarak antara ”R” adalah 1. ”I” ingin mengambil kunci mobil nissan theana dari ”R” dan tersangka tidak mengetahui jilbab yang digunakan ”R” tertarik atau tidak. Kesaksian puteri ”R” menyebutkan bahwa kronologis kejadiannya adalah ”A” sedang bermain dikamar bersama teman-temannya dan keluar kamar setelah ”R” memanggil ”A” dan Bubu melihat ”R” dan saksi langsung bergegas keluar dan melihat ”I” sedang menjambak rambut ”R” dan memarahi sambil berteriak-teriak. 4 . kemudian setelah mendengar teriakan tersebut ”A” menghampiri ”R” dan melihat ”I” berkata ”sini kuncinya.”I” tidak pernah melakukan kekerasan fisik dalam rumah tangga yang dilaporkan oleh ”R”. namun sebenernya yang terjadi adalah pada hari jumat 10 Oktober 2008 pukul 10.5 meter dan ”R” sudah tidak tinggal satu rumah dengan ”I” semenjak 4 bulan yang lalu sampai sekarang.30 wib dirumah ”I”.

Lau dan Kosberg. penjagaan yang berlebihan. persusuan. pemisahan. membakar. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. seksual. dan penghinaan secara terus menerus. dan mengendalikan untuk memperoleh uang dan menggunakannya. Perilaku ini sungguh membuat anak-anak menjadi trauma dsalam hidupnya. menendang. penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang 5 . yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. kekerasan emosional. atau pasangan. sehingga mereka tidak merasa nyaman dan aman. dan violation of right. Keempat. Pertama. kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. menikam. psychological abuse. Berdasarkan Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT pada pasal 1 butir 1 menyebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. pemaksaan. kekerasan seksual. memutar tangan. material abuse or theft of money or personal property. perkawinan. ancaman untuk 5 melepaskan penjagaan anaknya. 4dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. dan/atau (c) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja Rumah Tangga). menggigit. isteri. dan membunuh. Adapun tindakan kekerasan psikis dapat ditunjukkan dengan perilaku yang mengintimidasi dan menyiksa. setiap aktivitas seksual yang dipaksakan. tindakan yang mencakup ancaman. Adapun kekerasan fisik dapat diwujudkan dengan perilaku di antaranya: menampar. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7). (b) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah. dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri).DISKUSI Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pengasuh. rasa tidak berdaya. Lebih jauh lagi bentuk-bentuk KDRT dapat dijelaskan secara detil. kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual. Ketiga. Demikian juga pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa lingkup rumah tangga dalam UndangUndang ini meliputi (a) Suami. jatuh sakit atau luka berat (Pasal 6). KDRT dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk. memiliki kekuatan yang lebih lemah. memberikan ancaman kekerasan. mencaci maki. Kekerasan seksual meliputi (pasal 8): (a) Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. (1984) melalui studinya menegaskan bahwa ada empat tipe kekerasan. Mereka cenderung menunjukkan tubuh yang lebih kecil. pengasuhan. hilangnya kemampuan untuk bertindak. mencekek. menantu. orangtua. pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. dan merasa tak berdaya terhadap tindakan agresif. kritik dan menjatuhkan yang terjadi terus menerus. hilangnya rasa percaya diri. pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai. psikologis. di antaranya: Kekerasan fisik. mengurung di rumah. Kedua. (b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. dan perwalian. kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. di antaranya: physical abuse. mengancam dengan suatu benda atau senjata. Berdasarkan studinya anak-anak yang menjadi korban KDRT cenderung memiliki ketidakberuntungan secara umum. yang menetap dalam rumah tangga (mertua. ipar dan besan). penggunaan kekuatan fisik.

dan mengontrol pemerolehan layanan kesehatan. Bentuk KDRT 1. kurang mampu mengkomunikasikan kebutuhan dan saling memahami sering menjadi pemicu munculnya kekerasan fisik. 2 : Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Sebelum menjelaskan lebih lanjut. dan sebagainya. Karena merasa jengkel dan tidak 6 . padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. • Menurut Kaplan. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. pekerjaan. 23 Th. • Menurut UU RI No. Hal ini terjadi karena salah satu pasangan kurang mampu mengendalikan emosi. bentakan serta ancaman dan lain-lain. pemaksaan. psikologis. pelecehan. secara verbal (kata-kata yang sinis. tindak kekerasan terhadap anak lebih dikenal dengan istilah penganiayaan anak. penolakan untuk memberikan bantuan yang bersifat finansial. memaki dan membentak) maupun fisik (melukai atau membunuh) atau merusak harta benda. penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9). penolakan terhadap pemberian makan dan kebutuhan dasar. Pasangan yang kurang matang secara emosional. Di masyarakat. Bentuknya dapat bermacam-macam. saya ingin menyampaikan dulu beberapa pengertian tentang tindak kekerasan agar diperoleh kesamaan pemahaman tentang pokok yang dimaksud. hal. tindak kekerasan adalah perilaku melukai orang lain. Kekerasan Psikis Bentuk kekerasan lain yang tidak kalah pentingnya adalah kekerasan psikis atau mental. Penelantaran rumah tangga dapat dikatakan dengan kekerasan ekonomik yang dapat diindikasikan dengan perilaku di antaranya seperti : penolakan untuk memperoleh keuangan. seksual. Kekerasan Fisik Bentuk kekerasan fisik adalah salah satu yang paling banyak terjadi dan paling mudah dilihat akibatnya. untuk menyalurkan perasaan agresinya maka terjadilah bentuk kekerasan fisik. perawatan. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. • Menurut Atkinson. 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Bisanya muncul dalam bentuk kata-kata penghinaan.menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. Hal yang kerap kali terjadi adalah salah satu pasangan memutuskan komunikasi. tindak kekerasan adalah tiap bentuk perilaku menyakiti atau melukai orang lain. mulai dari penganiayaan ringan hingga berat. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. 2. Selain itu.

Bagi istri yang memiliki pekerjaan mungkin tidak terlalu besar dampaknya. Pasal 45 (psikis) ancaman 3 tahun. namun tetap diminta untuk melayani keinginan pasangannya. Pasal 44 tentang penganiayaan dengan ancaman kurungan 5 tahun. seperti juga hewan. Penyebab terjadinya KDRT Ada tiga teori utama yang mampu menjelaskan terjadinya kekerasan. sebab merasa tidak tahu harus berbuat apa karena pasangannya tutup mulut. akan lain ceritanya jika istri hanya sebagai ibu rumah tangga. teori biologis menjelaskan bahwa manusia. adalah pasal psikis dan penelantaran. Bagi pelaku KDRT. Biasanya berbentuk tidak diberikan nafkah atau biaya hidup oleh suami. memiliki suatu instink agressif yang sudah dibawa sejak lahir. penyidik mengejar dan mendatangkan saksi ahli. Pasal 46 (seksual) ancaman 12 tahun dan Pasal 49 (penelantaran) dengan ancaman 3 tahun penjara. Ada keengganan dari salah satu pasangan untuk melaporkan pasangannya kepada pihak berwenang. “Yang paling sulit penyidik menindaklanjutinya. tersangka diancam UU No 23 Tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sering kali salah satu pihak (suami/istri) mengharapkan dimengerti oleh pasangannya dengan tindakan tutup mulut. Karena jika ia melaporkan pasangannya maka akan muncul masalah baru yakni masalah ekonomi. Hanya saja.mampu mengekspresikan perasaannya. Sigmund Freud menteorikan bahwa manusia mempunyai suatu keinginan akan kematian yang mengarahkan manusia-manusia itu untuk menikmati 6 tindakan melukai dan membunuh orang lain dan dirinya sendiri. 4. buktinya tidak ada dan sulit didapatkan. Masalah ekonomi sering menjadi penghambat dalam kasus penyelesaian KDRT. teori frustasiagresi. Salah satu pasangan mungkin saja tidak sedang dalam suasana hati yang nyaman untuk berhubungan. Kekerasan Seksual Bentuk kekerasan lain adalah kekerasan seksual. Kekerasan Ekonomi Pihak yang sering menjadi korban pada bentuk kekerasan ekonomi adalah istri. 3. Sebab. Walaupun teori frustasi-agresi sebagian besar dikembangkan oleh para 7 . dan teori kontrol. Sehingga tidak jarang ditemui korban yang sebelumnya melaporkan pasangannya pada akhirnya menarik kembali laporannya. Jika hal ini terjadi pemecahan masalah akan menjadi semakin lama. Salah satu bentuknya adalah pemaksaan keinginan untuk melakukan hubungan seksual kepada pasangan. biasanya salah satu pasangan akan memilih untuk tidak berbicara dengan pasangannya. yang sering mengarahkan pada perilaku konflik antar pribadi yang penuh kekerasan. Pertama. yaitu teori biologis. situasi ini mengakibatkan korban berada dalam posisi yang sangat lemah. Bentuk yang lebih ekstrim lagi adalah adanya eksploitasi secara seksual terhadap pasangan (biasanya istri) dengan motif tertentu. Sebagian pasangan akan merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Robert Ardery yang menyarankan bahwa manusia memiliki instink untuk menaklukkan dan mengontrol wilayah.

7 Mereka memperhatikan perkampungan miskin dan kotor di pusat kota dan dihuni oleh kaum minoritas telah menunjukkan angka kekerasan yang tinggi. diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. masa remaja tengah dan adolesen. Karakteristik Anak Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi memandang periode usia TK merupakan periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin. KDRT di Indonesia ternyata bukan sekedar masalah ketimpangan gender. Misalnya masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terlewati maka anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan berbahasa untuk periode selanjutnya. Ketidakharmonisan. serta masa usia lanjut. Perkembangan Psikologis Anak Psikologi Perkembangan merupakan salah satu cabang dari psikologi khusus yang mempelajari perilaku dan perubahan perilaku individu dalam berbagai tahap perkembangan. Tiap tahap masa perkembangan tersebut menjadi obyek studi dari psikologi sebab setiap masa memiliki ciri-ciri atau karakteristik perkembangan yang berbeda. dan juga Kondisi mabuk karena minuman keras dan narkoba. masa anak sekolah dasar. serta tak ada hak yang sah sedikitpun untuk menggunakannya. Hurlock.psikolog. beberapa sosiolog telah menarpkan teori untuk suatu kelompok besar. Alasan Ekonomi Ketidakmampuan mengendalikan emosi 8 Ketidakmampuan mencari solusi masalah rumah tangga apapun. mereka frustasi dan berusaha untuk menyerangnya. masa dewasa muda. serta 8 . Menurut hemat saya. lebih khususnya di Indonesia. Hal tersebut acapkali terjadi karena: Kurang komunikasi. masa kanakkanak. kekurangan kesmepatan. kiranya variasi kekerasan di masyarakat untuk sementara ini disebabkan oleh tiga faktor tersebut. Maria Montessori (Elizabeth B. Selain itu juga dinyatakan bahwa kekerasan mengalami jumlah yang lebih tinggi di antara para eks narapidana dan orang-orang lain yang terasingkan dari temanteman dan keluarganya daripada orang-orang Amerika pada umumnya. Demikian pula pembinaan karakter anak. Penduduk semua menginginkan semua banda yang mereka lihat dan dimiliki oleh orang lain. Travis Hirschi memberikan dukungan kepada teori ini melalu temuannya bahwa remaja putera yang memiliki sejarah prilaku agresif secara fisik cenderung tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain. perkembangan kepribadiannya akan menjadi terhambat. Setelah memperhatikan ketiga teori tersebut. Masa-masa sensitif mencakup sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan. masa remaja awal. Bagaimana dengan penyebab munculnya KDRT. Pada periode tersebut karakter anak harus dapat dibangun melalui kegiatan dan pekerjaan. dewasa dan dewasa tua. dan ketidakadilan lainnya di wilayah ini sangat membuat frustasi penduduknya. Teori ini memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap angka kekarasan yang tinggi bagi penduduk minoritas. sensitivitas untuk berjalan. masa bayi. sensitivitas terhadap obyek-obyek kecil dan detail. 1978 : 13) berpendapat bahwa usia 3 . masa anak kecil. mulai dari masa sebelum lahir (prenatal). Mereka berpendapat bahwa kemiskinan. sensitivitas untuk mengeksplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan. Jika pada periode ini anak tidak didorong aktivitasnya.6 tahun sebagai periode sensitive atau masa peka yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang. Akibatnya.

Dengan kata lain anak membangun dunianya dengan khayalan dan keinginannya. dengan kucing. Pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan inisiatifnya. Kartini Kartono (1986:113) mengemukakan bahwa ciri khas anak masa kanak-kanak adalah sebagai berikut : (1) bersifat egosentris naif. Kebutuhan anak untuk melakukan berbagai aktivitas sangat diperlukan. dengan kelinci dan sebagainya. Anak tidak bisa membedakan benda hidup dengan benda mati. anak usia sekitar lima tahun ini semakin berminat pada teman-temannya. tetapi juga dapat berpengaruh positif terhadap penumbuhan rasa harga diri anak dan bahkan perkembangan kognisi. Setiap benda dianggapnya berjiwa seperti dirinya. didengar dan dirasakan. Sejalan dengan perkembangan keterampilan fisiknya. Ia akan mulai menunjukkan hubungan dan kemampuan bekerja sama yang lebih intens dengan teman-temannya. dan senantiasa dialami oleh setiap anak dalam proses perkembangannya. Relasi sosial yang primitif merupakan akibat dari sifat egosentris yang naif tersebut. Pada fase ini terjamin tidaknya kesempatan untuk berprakarsa (dengan 7 adanya kepercayaan dan kemandirian yang memungkinkannya untuk berprakarsa). Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya. anak akan diliputi perasaan serba salah dan berdosa (guilty). Sebaliknya kalau terlalu banyak dilarang dan ditegur. Anak hanya memiliki minat terhadap benda-benda dan peristiwa yang sesuai dengan daya fantasinya. Guru yang selalu menolong. (2) mempunyai relasi sosial dengan benda-benda dan manusia yang sifatnya sederhana dan primitif. Ciri ini ditandai oleh kehidupan individual dan sosialnya masih belum terpisahkan. Gerakan-gerak fisik ini tidak sekedar penting untuk mengembangkan keterampilan fisik saja. maksudnya adalah anak belum dapat membedakan dunia batiniah dengan lahiriah. memberi nasehat. Erikson (Helms & Turner.8 Pertumbuhan fisik anak usia 4-5 masih memerlukan aktivitas yang banyak. Keberhasilan anak dalam menguasai keterampilanketerampilan motorik dapat membuat anak bangga akan dirinya. seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat. Rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu merupakan ciri lain yang menonjol pada anak usia 4-5 tahun. Sikap egosentris yang naif ini bersifat temporer. artinya secara langsung anak memberikan atribut pada setiap penghayatannya. Kartini Kartono menjelaskan bahwa seorang anak yang egosentris memandang dunia luar dari pandangannya sendiri. Anak bersikap fisiognomis terhadap dunianya. dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya. maka anak akan mampu mengembangkan inisiatif. dan daya kreatifnya. (3) kesatuan jasmani dan rohani yang hampir-hampir tidak terpisahkan sebagai satu totalitas.sensitivitas terhadap aspek-aspek sosial kehidupan. sehingga penghayatan anak diekspresikan secara spontan. baik untuk pengembangan otot-otot kecil maupun otot-otot besar. 1994 : 64) memandang periode ini sebagai fase sense of initiative. oleh karena itu anak sering bercakap-cakap dengan bonekanya. Anak akan banyak memperhatikan. Kesatuan jasmani dan rohani yang tidak terpisahkan. Anak memiliki sikap berpetualang (adventurousness) yang kuat. Isi lahiriah dan batiniah merupakan suatu kesatuan yang bulat. membicarakan atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. akan menumbuhkan inisiatif. mengerjakan sesuatu di mana anak dapat melakukan sendiri maka anak tidak mendapat kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan itu. 9 . dan (4) sikap hidup yang fisiognomis. sesuai dengan pengetahuan dan pemahamannyasendiri.

memiliki rasa malu yang serius. kebiasaan tidur yang jelek. bahkan sangat terkait dengan persoalan kelancaran dalam berkomunikasi. Kesulitan ini semakin menjadi lebih nampak. Selanjutnya ditegaskan bahwa ekspresi marah dapat menyebabkan bahaya atau kesulitan pada anak kecil. seperti seringnya sakit. Hal ini berkonsekuensi logis terhadap kebutuhan dasarnya yang diperoleh dari ibunya ketika mengalami gangguan yang sangat berarti. Pada tahun ketiga ditemukan bahwa anak-anak yang merespon dalam interaksinya dengan kemarahan. dan teriakan yang berlebihan. Adapun dampak KDRT secara rinci akan dibahas berdasarkan tahapan perkembangannya sebagai berikut: 1. maka yang ditimbulkannya adalah adanya sikap agresif terhadap teman sebayanya. Selanjutnya dapat dikemukakan pula bahwa dampak KDRT terhadap anak usia muda (anak kecil) sering digambarkan dengan problem perilaku. anak-anak mengembangkan upaya dasarnya untuk mengaitkan penyebab perilaku dengan ekspresi emosinya. Dampak terhadap anak kecil Dalam tahun kedua fase perkembangan. baik berkenaan dengan kemampuan kognitif. Bahkan kemungkinan juga anakanak itu menunjukkan penderitaan yang serius. Dampak terhadap Anak berusia bayi Usia bayi seringkali menunjukkan keterbatasannya dalam kaitannya dengan kemampuan kognitif dan beradaptasi. Yang menarik bahwa anak laki-laki cenderung lebih agresif daripada anak-anak perempuan selama simulasi. 2. dinamis. Anak sangat aktif. memiliki self-esteem yang 10 . maupun fungsi mengatasi masalah dan emosi. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. sebaliknya anak perempuan cenderung lebih distress daripada anak laki-laki. Senior Research pada Australian Institute of Criminology (1994). Anak usia TK adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. menegaskan bahwa KDRT memiliki dampak yang sangat berarti terhadap perilaku anak. Jaffe dkk (1990) menyatakan bahwa anak bayi yang menyaksikan terjadinya kekerasan antara pasangan bapak dan ibu sering dicirikan dengan anak yang memiliki kesehatan yang buruk. Kualitas lain dari anak usia ini adalah abilitas untuk memahami pembicaraan dan pandangan orang lain semakin meningkat sehingga keterampilan komunikasinya juga meningkat.Anak memilih teman berdasarkan kesamaan aktivitas dan kesenangan. antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya serta seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar. ketika ekspresi verbal dibarengi dengan serangan fisik oleh anggota keluarga lainnya. kemampuan pemecahan masalah. Kondisi ini pula berdampak lanjutan bagi ketidaknormalan dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang sering kali diwujudkan dalam problem emosinya. Penelitian Cummings dkk (1981) menilai terhadap expresi marah dan kasih sayang yang terjadi secara alamiah dan berpura-pura. Penguasaan akan keterampilan berkomunikasi ini membuat anak semakin senang bergaul dan berhubungan dengan orang lain. Bahkan banyak peneliti berhipotesis bahwa penampilan emosi yang kasar dapat mengancam rasa aman anak dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya. Dampak KDRT terhadap Anak Marianne James.

1986. Ketiga. Christopoulus et al. Berdasarkan pemeriksaan terhadap 77 anak. Sementara studi yang dilakukan terhadap anak-anak Australia. 46%-nya menunjukkan emosi negatif yang diwujudkan dengan perilaku marah yang diikuti setelahnya dengan rasa sedih dan berkeinginan untuk menghalangi atau campur tangan. 3. 11memiliki kemampuan membaca di bawah usia kronologisnya. lebih dari sepertiganya. tetapi setelah itu mereka marah. bahwa anak-anak dari keluarga yang mengalami kekerasan domistik cenderung memiliki problem prilaku lebih banyak dan kompetensi sosialnya lebih rendah daripada keluarga yang tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Disimpulkan bahwa kelompok yang menyaksikan KDRT menunjukkan tingkat distress yang jauh lebih tinggi. 17%-nya tidak menunjukkan emosi. mereka bahagia. tidak ingin pergi ke sekolah. terutama masalah sosial. Dampak terhadap Anak usia SD Jaffe dkk (1990) menyatakan bahwa pada usia SD. dan memiliki 11 . yang diwujudkan dengan prestasi akademik yang jelek. sekitar 5 atau 6 tahun. dan kesulitan dalam konsentrasi. bahkan tidak berkesempatan untuk berhubungan dengan kegiatan atau minat teman sebayanya juga. Kedua. Pertama. dan kelompok anak-anak TK menunjukkan perilaku distres yang lebih tinggi daripada anakanak non-TK. 4. Dampak terhadap Anak usia pra sekolah Cumming (1981) melakukan penelitian tentang KDRT terhadap anak-anak yang berusia TK.mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya berkenaan dengan perilaku orangtuanya. 1995) sebanyak 22 anak dari usia 6 sd 11 tahun menunjukkan bahwa kelompok anak-anak yang secara historis mengalami kekerasan dalam rumah tangganya cenderung mengalami problem perilaku pada tinggi batas ambang sampai tingkat berat. Ini dapat dijelaskan bahwa anak-anak prasekolah yang dipisahkan secara sosial dari teman sebayanya. orangtua merupakan suatu model peran yang sangat berarti. (Mathias et. pra sekolah. deLange (1986) melalui pengamatannya bahwa KDRT berdampak terhadap kompetensi perkembangan sosial-kognitif anak usia prasekolah. 1986: Jaffe et. Hughes (1986) menemukan bahwa anak-anak usia SD seringkali memiliki kesulitan tentang pekerjaan sekolahnya. Baik anak pria maupun wanita yang menyaksikan KDRT secara cepat belajar bahwa kekerasan adalah suatu cara yang paling tepat untuk menyelsaikan konflik dalam hubungan kemanusiaan. 1987 menguatkan melalui studinya.al. misalnya : memukul. dan suka mendebat. tetapi sebagian besar di antara mereka cenderung menunjukkan sikap agresif secara fisik dan verbal terhadap teman sebayanya. maka mereka cenderung memiliki beberapa masalah yang terkait dengan orang dewasa. memiliki kecakapan adaptif di bawah rata-rata. Wolfe et. Dilaporkannya bahwa Anakanak yang memperoleh rasa distress pada usia sebelumnya dapat diidentifikasi tiga tipe reaksi perilaku. Davis dan Carlson (1987) menemukan anak-anak TK yang menunjukkan perilaku reaksi agresif dan kesulitan makan pada pria lebih tinggi daripada wanita. menunjukkan perasaan emosional yang tinggi (baik positif maupun negatif) selama berargumentasi. menggigit.rendah.al.al. 10 baik dari kelompok yang tidak menyaksikan KDRT maupun yang menyaksikan KDRT. Keempat. Hughes (1988) melakukan penelitian terhadap ibu dan anak-anak yang usia TK dan non-TK. Mereka lebih mampu . dan memiliki masalah selama dalam pengasuhan.

Akibat kekerasan tidak sama pada semua anak. terutama anak remaja pria cenderung lebih agresif. Sebagian berusaha menghentikan tindakan ayah atau meminta bantuan orang lain. 5. lelaki penganiya memaksa anaknya menyaksikan pemukulan ibunya sebagian menggunakan perbuatan itu sebagai cara tambahan menyiksa dan menghina pasangannya. sebaliknya anak remaja wanita cenderung lebih dipresif Kehadiran anak dirumah tidak membuat laki-laki atau suami tidak menganiyaya istrinya. sementara itu Hughes dan Barad (1983) mengemukakan dari hasil studinya bahwa angka kejadian kekerasan yang tinggi dalam keluarga yang dilakukan oleh ayah cenderung dapat menimulkan korban kekerasan. Mereka seringkali diam terpaku. seperti kelompok teman sebaya dan pengaruh sekolah. tergantung ketahanan mental dan kekuatan pribadi anak remaja tersebut. merasa.kecemasan pada tingkat menengah sampai dengan tingkat tinggi. Menyaksikan kekerasan merupakan pengalaman yang sangat traumatis bagi anak-anak. anak-anak remaja sadar bahwa ada cara-cara yang berbeda dalam berpikir. ketakutan. Dampak terhadap Anak remaja Pada usia ini biasanya kecakapan kognitif dan kemampuan beradaptasi telah mencapai suatu fase perkembangan yang meliputi dinamika keluarga dan jaringan sosial di luar rumah. Dengan kata lain.Misalnya studi Davis dan Carlson (1987) menyimpulkan bahwa hidup dalam keluarga yang penuh kekarasan cenderung dapat meningkatkan kemungkinan menjadikan isteri yang tersiksa. Diantara ciri-ciri anak yang menyaksikan atau mengalami KDRT adalah : • Sering gugup • Suka menyendiri • Cemas • Sering mengompol • Gelisah • Gagap • Sering menderita gangguan perut • Sakit kepala dan asma • Kejam pada binatang • Ketika bermain meniru bahasa dan perilaku kejam • Suka memukul teman • Batterred child syndrome 12 . Dari banyak penelitian menunjukkan bahwa konflik antar kedua orangtua yang disaksikan oleh anak-anaknya yang sudah remaja cenderung berdampak yang sangat berarti. terutama anak-anaknya. dan tidak mampu berbuat sesuatu ketika sang ayah menyiksa ibu mereka. Menurut data yang terkumpul dari seluruh dunia ada anak-anak yang sudah besar akhirnya membunuh ayahnya setelah bertahun-tahun diperlakukan kejam. dan berperilaku dalam kehidupan di dunia ini. Bahkan dalam banyak kasus. Tetapi ditekankan pula oleh Rosenbaum dan O’Leary (1981) bahwa tidak semua anak yang hidup kesehariannya dalam hubungan yang penuh kekerasa akan mengulangi pengalaman itu. Artinya bahwa seberat apapun kekerasan yang ada dalam rumah tangga. tidak sepenuhnya kekerasan itu berdampak kepada semua anak remaja.

ketika banyak hal berbeda dengan apa yang ia temui sehari-hari di rumah. Pencetusnya dapat bermacam-macam.dll) Kekerasan dalam rumah tangga ternyata merupakan pelajaran kepada anak bahwa kekejaman dalam bentuk penganiyayaan adalah bagian yang wajar dari sebuah kehidupan. dan kurang percaya diri. dapat menyebabkan anak merasa asing dengan lingkungannya. drug abuse. Sehingga dampak yang ditimbulkan oleh adanya KDRT lebih banyak negatifnya. Ia akan bertingkah laku berdasarkan referensi yang telah dimilikinya. Pengaruhnya terhadap hubungan sosial anak dengan lingkungannya juga menjadi terganggu. tumbuh menjadi orang yang tertutup. Anak akan belajar bahwa menghadapi tekanan adalah dengan melakukan kekerasan. Mulai dari hal yang paling sepele hingga hal yang cukup berat. Anak dapat merasa tidak tenang dalam beraktivitas karena ia selalu mengingat dan mengkhawatirkan kondisi orang tuanya. 13 . kurang komunikatif. Oleh karena itu sangat penting kiranya kita semua secara bersama-sama meningkatkan kesadaran dan memperkuat komitmen untuk sedikit demi sedikit menghapuskan KDRT dari lingkungan yang paling dekat dengan kita. Di lingkungan luar rumah anak akan memperoleh berbagai macam model perilaku.• • • • • Gangguan tumbuh kembang anak PTSD pada anak Depresi pada anak Perilaku agresif-implusif Gangguan perilaku lainnya (gangguan perilaku sexual. Menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan adalah sesuatu yang biasa dan baik-baik saja. Pengalaman yang telah tertanam dalam dirinya tidak akan bisa hilang sampai kapanpun. anak dapat tumbuh menjadi orang yang kurang mampu dalam mengendalikan perasaannya. namun pengalaman tersebut akan tetap mengendap atau tersimpan dalam ketidaksadaran dan suatu saat dapat muncul kembali ke kesadaran. Anak akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses adaptasi dengan lingkungannya. Kekerasan dalam rumah tangga memberi pelajaran kepada anak lelaki untuk tidak menghormati kaum perempuan. Anak yang tumbuh dalam rumah tangga kurang harmonis akibat adanya tindak kekerasan akan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dalam dirinya. walaupun berusaha dilupakan. Tingkat kecemasan ini akan berpengaruh terhadap setiap aktivitas yang dilakukannya. Ia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

rujukan ahli • Pendampingan oleh konselor anak terlatih • Evaluasi keluarga dan terapi • Anak kembali pada keluarga harus masih dalam pengawasan lembaga khusus • Amati kondisi fisik.Penatalaksanaan • Jauhkan anak dari pelaku kekerasan • Evaluasi psikologik . pelaku dapat dilaporkan kepada pihak berwenang seperti kepolisian. atau panti dan yayasan yang merawat anak-anak terlantar. identifikasi problem mental. 14 . dan sosialnya. lembaga perlindungan anak. • Bila terpaksa. dan wanita. • Buat rujukan kepada tenaga ahli atau profesional untuk menangani anak tersebut. agar dapat di tolong dan dihindarkan dari perkembangan yang kurang sehat. • Mendidik dan menyadarkan keluarga dari akibat tindak kekerasan yang dilakukan. psikologis.

Hal inilah yang sering dilupakan oleh orang tua. Padahal mungkin masalah itu berkaitan dengan anak tersebut. sehingga tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif. kesuksesan maupun kegagalan banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua di masa kecil anak. dan membahagiakan. Mereka menganggap anaknya belum saatnya berbicara dan berdiskusi tentang suatu masalah dalam keluarga tersebut. para ahli. sehingga dapat segera menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak diinginkan. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Dasar pembinaan komunikasi adalah dengan menanamkan pengertian pada diri orang tua bahwa bayi adalah manusia sepenuhnya sejak kelahiran. Hal inilah yang sering menjadi penyebab terjadinya tindakan kekerasan pada anak dalam keluarganya 15 . Komunikasi yang dibina dengan semaksimal mungkin akan memberikan dasar terpenting dalam pendidikan anak. bahkan dapat menimbulkan korban kematian. dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam penanganan korban KDRT. Masa depan anak. Orang tua cenderung mengganggap anaknya tidak tahu apa-apa. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam bentuk yang 14 ringan sampai berat. secara proaktif masyarakat. sangatlah mungkin berkembang menjadi KDRT. seperti jangan bertengkar di depann nya apalagi sampai terjadi hal yang tidak diingkan. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi. Sebaliknya jika anggota keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT. Secara fitrah perbedaan individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan konflik. nyaman. Selain itu kita sebagai orang tua harus menjaga pola kehidupan sebaik mungkin apalagi klo di depan buah hati kita . sesuatu yang seharusnya dihindari. Orang tua merasa tidak perlu memberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan pikirannya kepada anak-anaknya.KESIMPULAN Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang aman. perlu sekali setiap anggota keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT.

Membiarkan anak tumbuh menjadi remaja yang dipenuhi dengan psikis yang baik tanpa hal – hal yang tidak diinginkan. agar terhindar dari tindak kekerasan yang tidak diinginkan. Membiarkan anak tumbuh dengan rasa sayang dan cinta kasih. Menjalin hubungan sebaik mungkin dengan pasangan hidup anak maupun pembantu rumah tangga jika ada. Orangtua sebagai jembatan anak-anak menuju proses pendewasaan juga harus memberika contoh-contoh yang baik dan berpendidikan. Selalu mendekatkan diri dengan tuhan sesuai dengan kepercayaan masingmasing . Jangann menyontohkan atau dengan sengaja membiarkan anak-anak dari buah hati mereka melihat suatu hal tindak kekerasan yang terjadi dalam keluarga tersebut.SARAN Dalam rumah tangga sebaiknya selalu terjalin komunikasi yang baik agar tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 16 .

Ibu Dr.Wb. Penulisan ini juga saya dedikasikan kepada kedua orang tua saya yang selalu mendukung. yang telah memberikan contoh kasus dan membimbing kami khususnya saya selama observasi untuk kelancaran penyelesaian tulisan ini. Susi Susilowati. Ibu Dr. MPd sebagai pembimbing yang telah membantu dan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan tulisan ini. Miranti Pusparini. Terwujudnya tugas ini adalah bantuan dan dorongan berbagai pihak. Dan kepada Rekan-rekan sejawat yang namanya tidak bisa saya sebutkan satu persatu khususnya kelompok 3 domestic violance atas kerjasamanya selama menjalankan tugas di lapangan sampai terselesaikannya penulisan ini. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada: • • • • Ibu Dr. memberi saran dan menyemangati saya dalam menyelesaikan tulisan ini. Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmatnya saya bisa menyelesaikan penulisan tugas blok elektif dengan kepeminatan Domestic Violence yang berjudul “ Pernikahan siri berdampak pada kekerasan fisik anak kandung yang menyebabkan mati dan hukumnya menurut agama dan hukum negara” Ada pun tugas ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai kelulusan pada blok elektif 2011-2012 Fakultas kedokteran YARSI. • • Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih khususnya pada pihak-pihak yang saya sebutkan di atas semoga case report ini dapat bermanfaat dan memuaskan berbagai pihak. 17 . Mkes sebagai koordinator pelaksana Blok Elektif 2011-2012. SpF sebagai dosen pakar dan pembimbing akademik. Polres Jakarta Pusat. Feriyal basbeth.UCAPAN TERIMAKASIH Bismillahirahmanirrahim Assalamualaikum Wr.

Fourth Edition. Singgih D. (1987). M. Children Today.278. C. 'Young children's responses to expressions of anger and affection by others in the family'. 611-19. deLange. Children's Today.15. Prof.. Research with children in shelters: implications for clinical services. Cummings.2. Sullivan-Hanson. A. Dr. Shaw. Cohn.3. 1981. Deaux. 'Children's observations of inter-parental violence' in: Battered Women and Their Families. H. Child Development.. and Carlson. Psikologi Pendidikan. L. J. Dr. Boston: Allen and Bacon Hughes. S.DAFTAR PUSTAKA • • • • • Dalyono. L. S.T.. no. Between parents and child. Psikologi Perkembangan anak dan Remaja Carlson. • • • • • • • 18 .52. (1995).Drs. Kay & Wrightsman. Roberts. Ross. J.2. Christopoulos.R. Yulia Singgih. Departemen Hukum dan Ham. New York. pp. 'Observation of spouse abuse: what happens to the children?'. Journal of Interpersonal Violence vol.21-5. C. Dra. E. pp. vol. dan Gunarsa.S.12-15.. 'The family place children's therapeutic program'. B. vol. (2004). (1984). Gramedia Pustaka Utama Gunarsa. pp. Davis. Joyce. M.E..M. no. 49. C. Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Halim G. Jakarta : P. (1984). The Family: An Introduction. (2001). D. and Emery. D. (1997). Rineka Cipta Ginott. Kraft.. vol. Springer. (1986). Social Psychology in the 80s. (1987). Fifth Edition. and Radke-Yarrow. California: Brooks Cole Publishing Company. Jakarta : P. pp.T.. 'Children of abused women: adjustmenet at time of shelter residence'. Journal of the Marriage and the Family.. pp. B.91.1274-82. (1986). (1988). ed. R. Jakarta: Eshlemen. Zahn-Waxler.

19 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->