ABSTRAK Latar belakang : Setiap keluarga memimpikan dapat membangun keluarga harmonis, bahagia dan saling mencintai, namun

pada kenyataannya banyak keluarga yang merasa tidak nyaman, tertekan dan sedih karena terjadi kekerasan dalam keluarga, baik kekerasan yang bersifat fisik, psikologis, seksual, emosional, maupun penelantaran. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Kondisi yang demikian cenderung mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga mereka tidak bisa tumbuh dan berkembang secara natural, bahkan menghambat anak berprestasi di sekolahnya. Untuk dapat menyelamatkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, kiranya perlu dilakukan penanganan secara psikologis dan edukatif terhadap kasus KDRT, baik yang sifatnya kuratif maupun preventif, sehingga bukan saja berarti bagi pelaku KDRT, melainkan utamanya bagi kurban KDRT dan masyarakatnya secara lebih luas. Deskripsi Kasus : Seorang perempuan yang melaporkan tindak kekerasan fisik oleh suami dalam rumah tangga ke polres jakarta pusat, berupa dorongan terhadap badan istri (korban) sampai terjatuh dilantai dan menjambak rambutnya, sampai jilbabnya terlepas dan disaksikan oleh puterinya yang berusia 10 tahun. Diskusi : Istri memang sangat sering menjadi korban paling dalam kekerasan dalam rumah tangga, namun disini dampak yang terjadi tidak hanya fisik dari istri (korban), psikis pada istri dan anak pun terkena, apalagi anak tersebut menjadi saksi dalam kasus KDRT tersebut. Simpulan : Keharmonisan harus sangat dijaga dalam rumah tangga begitupun dengan kepercayaan yang diiringi dengan sebuah komunikasi yang baik akan mengurangi kasus KDRT.

1

perkawinan. psikologis. maupun penelantaran. kekerasan emosional. Berdasarkan Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT pada pasal 1 butir 1 menyebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. KDRT dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk. seksual. seksual. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. pengasuhan. isteri. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. sehingga bukan saja berarti bagi pelaku KDRT. Kondisi yang demikian cenderung mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. tertekan dan sedih karena terjadi kekerasan dalam keluarga. kekerasan seksual. yang menetap dalam rumah tangga (mertua. atau pasangan. penggunaan kekuatan fisik. namun pada kenyataannya banyak keluarga yang merasa tidak nyaman. psikologis. bahkan menghambat anak berprestasi di sekolahnya. di antaranya: Kekerasan fisik. kritik dan menjatuhkan yang terjadi terus menerus. dan mengendalikan untuk memperoleh uang dan menggunakannya. dan perwalian. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pengasuh. menantu. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. terlebih-lebih di era terbuka dan informasi yang kadangkala budaya kekerasan yang muncul lewat informasi tidak bisa terfilter pengaruh negatifnya terhadap kenyamanan hidup dalam rumah tangga. pemaksaan. sehingga mereka tidak bisa tumbuh dan berkembang secara natural. 2 . orangtua. persusuan.LATAR BELAKANG Setiap keluarga memimpikan dapat membangun keluarga harmonis. baik yang sifatnya kuratif maupun preventif. kiranya perlu dilakukan penanganan secara psikologis dan edukatif terhadap kasus KDRT. ipar dan besan). tindakan yang mencakup ancaman. (b) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah. melainkan utamanya bagi korban KDRT dan masyarakatnya secara lebih luas. setiap aktivitas seksual yang dipaksakan. Untuk dapat menyelamatkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. emosional. bahagia dan saling mencintai. dan/atau (c) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja Rumah Tangga). baik kekerasan yang bersifat fisik. Demikian juga pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa lingkup rumah tangga dalam UndangUndang ini meliputi (a) Suami. 4 dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri).

”R” menerangkan pada saat ”I” melakukan kekerasan dalam rumah tangga tidak menggunakan alat apa-apa tetapi menggunakan tangan sebelah kanan dan pada saat terjadi kejadian tersebut posisinya ”R” dan ”I” sama-sama berdiri dengan jarak setengah meter.irwan telah dikaruniai keturunan yaitu 4 orang anak. pada tanggal 21 mei 1994 di KUA Kec.Semarang selatan Kotamadya Semarang Jawa Tengah dan penikahan tersebut sah secara hukum dan agama serta terdapat buku nikah.PRESENTASI KASUS Pada awalnya ”R” seorang perempuan berusia 41 tahun telah menikah dengan ”I” (tersangka).) Rahman umur (12tahun). 4. setelah itu sesampainya dirumah ”I” . lalu tersangka langsung menanyakan dimana kunci mobil yang korban pegang kemudian korban menjawab kunci mobilnya dititpkan ke orang yang tidak tahu namanya kemudian tersangka berusaha ingin merebut tas korban namun tidak berhasil karena korban menarik tas kembali dan berusaha mempertahankan lalu korban marah dan mendorong korban hingga terjatuh ke lantai dan menarik jilbab korban gunakan dengan disaksikan puterinya Bubu yang berusia 10 tahun dan seoran pembantu rumah tangga. 3 . ”R” menjelaskan bahwa akibat dari peristiwa tersebut yaitu terdapat luka cakar pada bagian leher belakang siku setelah kanan dan lutut mengalami luka memar yang sesuai dengan visum dan kejadian tersebut dan yang melihat yaitu Bubu (anak mereka) dan ”A” (pembantu rumah tangga).) Siti umur (2tahun). 2. Bendungan asuhan no. ”R” menerangkan awal mula dari kejadian dalam rumah tangga tersebut pada hari jumat 10 Oktober 2008 korban ”R” menemui tersangka di jl. selanjutnya ”I” masih mengejar ”R” ingin merebut tas yang dipegang ”R” dan ”R” pun berusaha lari keluar rumah dan menuju pintu tetapi pintunya dikunci oleh ”I” kemudian ”R” berlari menuju kamar anak-anak dari ”R” tetapi ”I” menarik kembali jilbab ”R” sampai terbuka kemudian ”I” menjambak kembali rambut ”R” dan Bubu sebagai anak mereka berteriak dan mengatakan ”bapak jangan bapak” . lalu ”I” melepas tangannya dan ”R” menuju kekamar anak-anak tetapi ”I” masih mengejarnya karena didalam kamar ada teman-teman dari Bubu lalu ”I” pergi dari rumah.) Sita umur (13tahun).Bendungan Hilir Tanah Abang Jakarta Pusat di rumah ”I” untuk membicarakan masalah kunci mobil sedan merk Nissan Theana yang dipegang dan pembayaran mobil phanter. 3. Ny. setelah itu korban bangun dan lari ke kamar untuk mengambil jilbab lalu ”I” masuk kekamar melalui pintu belakang. Selanjutnya ”A” berusia 40 tahun (yang didalam rumah itu sebagai pembantu rumah tangga ) berusaha melerai tetapi tidak bisa melerainya.11 Rt 06 / Rw 02 Kel.rina menerangkan dari pernikahannya dengan Tn.) Bubu umur (10 tahun). diantaranya 1. setelah itu ”R” menerangkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh ’I” telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 3 kali dan ”R” sudah tidak tinggal satu rumah dan sekarang ”R” tinggal dirumah kost daerah Pramuka Jakarta Pusat. ”R” menerangkan bahwa tersangka ”I” melakukan kekerasan dalam rumah tangga dengan cara mendorong korban ”R” hingga terjatuh kemudian setelah jatuh jilbab korban ditarik oleh tersangka keudian menjambak rambut korban ”R” dengan tangannya.

5 meter dan ”R” sudah tidak tinggal satu rumah dengan ”I” semenjak 4 bulan yang lalu sampai sekarang. dan ”A” berusaha menolong ”R” dengan cara melepas jilbabnya ”R” agar tidak kesakitan.”I” tidak pernah melakukan kekerasan fisik dalam rumah tangga yang dilaporkan oleh ”R”. Kesaksian puteri ”R” menyebutkan bahwa kronologis kejadiannya adalah ”A” sedang bermain dikamar bersama teman-temannya dan keluar kamar setelah ”R” memanggil ”A” dan Bubu melihat ”R” dan saksi langsung bergegas keluar dan melihat ”I” sedang menjambak rambut ”R” dan memarahi sambil berteriak-teriak. yang benar adalah pada saat tersangka mengambil kunci yang dipegang ”R” karena tidak sengaja tubuh ”R” terjatuh ke lantai. ”I” pun menjelaskan menurut keterangan ”R” adalah tidak benar yaitu mencakar leher korban. kemudian setelah mendengar teriakan tersebut ”A” menghampiri ”R” dan melihat ”I” berkata ”sini kuncinya. namun sebenernya yang terjadi adalah pada hari jumat 10 Oktober 2008 pukul 10. ”I” pun menjelaskan bahwa jarak antara ”R” adalah 1. ”I” menjelaskan bahwa keterangan dari ”R” adalah tidak benar dan yang benar adalah pada saat ”I” menarik tas yang dipegang ”R” dan terjadilah tarik-menarik antara ”R” kemudian ”R” memanggil ”A” lalu memisahkan mereka yang sedang tarik-menarik tas dan ”R” terjatuh kelantai di depan sofa yang ada diruang keluarga. ”I” ingin mengambil kunci mobil nissan theana dari ”R” dan tersangka tidak mengetahui jilbab yang digunakan ”R” tertarik atau tidak. Setelah terlepas jilbabnya ”R” segera berlari menuju kekamarnya dan berusaha mengejar melalui pintu belakang kemudian setelah melihat tersangka masuk dalam kamar dan ”R” keluar dari kamar dan tersangka menyuruh ”A” untuk meminta kunci mobil tersebut karena ”A” bingung akhirnya ”A” balik kerumah. Dari kesaksian pembantu rumah tangga didapatkan ketika ”A” sedang masak di dapur ketika tiba-tiba dari ruang tengah ”R” memanggil ”A”. 4 .30 wib dirumah ”I”. sini kuncinya” sambil menarik-narik tas yang sedang dipegang ”R” dan jilbab yang dipakai ”R” dipaksa ditarik oleh ”I”.

mencaci maki. kekerasan seksual. seksual. dan violation of right. atau pasangan. mencekek. psychological abuse. Lebih jauh lagi bentuk-bentuk KDRT dapat dijelaskan secara detil. sehingga mereka tidak merasa nyaman dan aman. isteri. KDRT dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk. menggigit. dan penghinaan secara terus menerus. memiliki kekuatan yang lebih lemah. Ketiga. Lau dan Kosberg. Kekerasan seksual meliputi (pasal 8): (a) Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. material abuse or theft of money or personal property. dan/atau (c) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja Rumah Tangga). ipar dan besan). perkawinan. membakar. pemaksaan. orangtua. (1984) melalui studinya menegaskan bahwa ada empat tipe kekerasan. Pertama. Adapun tindakan kekerasan psikis dapat ditunjukkan dengan perilaku yang mengintimidasi dan menyiksa. Adapun kekerasan fisik dapat diwujudkan dengan perilaku di antaranya: menampar. dan membunuh. penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang 5 . Keempat. kekerasan emosional.DISKUSI Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat diartikan sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pengasuh. Perilaku ini sungguh membuat anak-anak menjadi trauma dsalam hidupnya. penggunaan kekuatan fisik. pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. rasa tidak berdaya. hilangnya kemampuan untuk bertindak. memberikan ancaman kekerasan. dan merasa tak berdaya terhadap tindakan agresif. menikam. kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual. kritik dan menjatuhkan yang terjadi terus menerus. menantu. penjagaan yang berlebihan. di antaranya: physical abuse. (b) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah. dan perwalian. pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7). kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. Berdasarkan Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang PKDRT pada pasal 1 butir 1 menyebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. ancaman untuk 5 melepaskan penjagaan anaknya. di antaranya: Kekerasan fisik. Mereka cenderung menunjukkan tubuh yang lebih kecil. Kedua. setiap aktivitas seksual yang dipaksakan. jatuh sakit atau luka berat (Pasal 6). 4dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. dan mengendalikan untuk memperoleh uang dan menggunakannya. (b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. psikologis. hilangnya rasa percaya diri. yang menetap dalam rumah tangga (mertua. tindakan yang mencakup ancaman. pengasuhan. memutar tangan. mengancam dengan suatu benda atau senjata. mengurung di rumah. pemisahan. Berdasarkan studinya anak-anak yang menjadi korban KDRT cenderung memiliki ketidakberuntungan secara umum. menendang. dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri). Demikian juga pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa lingkup rumah tangga dalam UndangUndang ini meliputi (a) Suami. persusuan.

perawatan. mulai dari penganiayaan ringan hingga berat. Pasangan yang kurang matang secara emosional. Penelantaran rumah tangga dapat dikatakan dengan kekerasan ekonomik yang dapat diindikasikan dengan perilaku di antaranya seperti : penolakan untuk memperoleh keuangan. • Menurut Atkinson. untuk menyalurkan perasaan agresinya maka terjadilah bentuk kekerasan fisik. Di masyarakat. dan mengontrol pemerolehan layanan kesehatan. 2 : Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. bentakan serta ancaman dan lain-lain. kurang mampu mengkomunikasikan kebutuhan dan saling memahami sering menjadi pemicu munculnya kekerasan fisik. 2. tindak kekerasan terhadap anak lebih dikenal dengan istilah penganiayaan anak. Bisanya muncul dalam bentuk kata-kata penghinaan. Kekerasan Fisik Bentuk kekerasan fisik adalah salah satu yang paling banyak terjadi dan paling mudah dilihat akibatnya. pelecehan. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. tindak kekerasan adalah perilaku melukai orang lain. seksual. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. saya ingin menyampaikan dulu beberapa pengertian tentang tindak kekerasan agar diperoleh kesamaan pemahaman tentang pokok yang dimaksud. psikologis.menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. Kekerasan Psikis Bentuk kekerasan lain yang tidak kalah pentingnya adalah kekerasan psikis atau mental. Bentuk KDRT 1. dan sebagainya. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. pemaksaan. 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Bentuknya dapat bermacam-macam. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. hal. pekerjaan. Sebelum menjelaskan lebih lanjut. secara verbal (kata-kata yang sinis. • Menurut UU RI No. Karena merasa jengkel dan tidak 6 . penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9). • Menurut Kaplan. memaki dan membentak) maupun fisik (melukai atau membunuh) atau merusak harta benda. tindak kekerasan adalah tiap bentuk perilaku menyakiti atau melukai orang lain. penolakan untuk memberikan bantuan yang bersifat finansial. 23 Th. Hal ini terjadi karena salah satu pasangan kurang mampu mengendalikan emosi. penolakan terhadap pemberian makan dan kebutuhan dasar. Selain itu. Hal yang kerap kali terjadi adalah salah satu pasangan memutuskan komunikasi.

Sigmund Freud menteorikan bahwa manusia mempunyai suatu keinginan akan kematian yang mengarahkan manusia-manusia itu untuk menikmati 6 tindakan melukai dan membunuh orang lain dan dirinya sendiri.mampu mengekspresikan perasaannya. penyidik mengejar dan mendatangkan saksi ahli. “Yang paling sulit penyidik menindaklanjutinya. Kekerasan Seksual Bentuk kekerasan lain adalah kekerasan seksual. seperti juga hewan. Salah satu bentuknya adalah pemaksaan keinginan untuk melakukan hubungan seksual kepada pasangan. Penyebab terjadinya KDRT Ada tiga teori utama yang mampu menjelaskan terjadinya kekerasan. Bentuk yang lebih ekstrim lagi adalah adanya eksploitasi secara seksual terhadap pasangan (biasanya istri) dengan motif tertentu. Ada keengganan dari salah satu pasangan untuk melaporkan pasangannya kepada pihak berwenang. tersangka diancam UU No 23 Tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. namun tetap diminta untuk melayani keinginan pasangannya. Bagi pelaku KDRT. Sehingga tidak jarang ditemui korban yang sebelumnya melaporkan pasangannya pada akhirnya menarik kembali laporannya. Pasal 44 tentang penganiayaan dengan ancaman kurungan 5 tahun. Kekerasan Ekonomi Pihak yang sering menjadi korban pada bentuk kekerasan ekonomi adalah istri. Pertama. Pasal 46 (seksual) ancaman 12 tahun dan Pasal 49 (penelantaran) dengan ancaman 3 tahun penjara. teori frustasiagresi. akan lain ceritanya jika istri hanya sebagai ibu rumah tangga. Robert Ardery yang menyarankan bahwa manusia memiliki instink untuk menaklukkan dan mengontrol wilayah. Walaupun teori frustasi-agresi sebagian besar dikembangkan oleh para 7 . 4. teori biologis menjelaskan bahwa manusia. dan teori kontrol. Sering kali salah satu pihak (suami/istri) mengharapkan dimengerti oleh pasangannya dengan tindakan tutup mulut. Pasal 45 (psikis) ancaman 3 tahun. 3. Karena jika ia melaporkan pasangannya maka akan muncul masalah baru yakni masalah ekonomi. yang sering mengarahkan pada perilaku konflik antar pribadi yang penuh kekerasan. Bagi istri yang memiliki pekerjaan mungkin tidak terlalu besar dampaknya. Sebagian pasangan akan merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. sebab merasa tidak tahu harus berbuat apa karena pasangannya tutup mulut. yaitu teori biologis. adalah pasal psikis dan penelantaran. buktinya tidak ada dan sulit didapatkan. biasanya salah satu pasangan akan memilih untuk tidak berbicara dengan pasangannya. Masalah ekonomi sering menjadi penghambat dalam kasus penyelesaian KDRT. Jika hal ini terjadi pemecahan masalah akan menjadi semakin lama. Sebab. memiliki suatu instink agressif yang sudah dibawa sejak lahir. Salah satu pasangan mungkin saja tidak sedang dalam suasana hati yang nyaman untuk berhubungan. Biasanya berbentuk tidak diberikan nafkah atau biaya hidup oleh suami. Hanya saja. situasi ini mengakibatkan korban berada dalam posisi yang sangat lemah.

Perkembangan Psikologis Anak Psikologi Perkembangan merupakan salah satu cabang dari psikologi khusus yang mempelajari perilaku dan perubahan perilaku individu dalam berbagai tahap perkembangan. 1978 : 13) berpendapat bahwa usia 3 . Hal tersebut acapkali terjadi karena: Kurang komunikasi. Mereka berpendapat bahwa kemiskinan. Selain itu juga dinyatakan bahwa kekerasan mengalami jumlah yang lebih tinggi di antara para eks narapidana dan orang-orang lain yang terasingkan dari temanteman dan keluarganya daripada orang-orang Amerika pada umumnya. diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Akibatnya. Demikian pula pembinaan karakter anak. masa kanakkanak. Travis Hirschi memberikan dukungan kepada teori ini melalu temuannya bahwa remaja putera yang memiliki sejarah prilaku agresif secara fisik cenderung tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain. dan ketidakadilan lainnya di wilayah ini sangat membuat frustasi penduduknya. serta 8 . kekurangan kesmepatan. Jika pada periode ini anak tidak didorong aktivitasnya.6 tahun sebagai periode sensitive atau masa peka yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang. masa anak sekolah dasar. Hurlock. beberapa sosiolog telah menarpkan teori untuk suatu kelompok besar. masa bayi. serta tak ada hak yang sah sedikitpun untuk menggunakannya. dewasa dan dewasa tua. Pada periode tersebut karakter anak harus dapat dibangun melalui kegiatan dan pekerjaan. kiranya variasi kekerasan di masyarakat untuk sementara ini disebabkan oleh tiga faktor tersebut. sensitivitas terhadap obyek-obyek kecil dan detail. masa anak kecil. Tiap tahap masa perkembangan tersebut menjadi obyek studi dari psikologi sebab setiap masa memiliki ciri-ciri atau karakteristik perkembangan yang berbeda. Misalnya masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terlewati maka anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan berbahasa untuk periode selanjutnya. serta masa usia lanjut.psikolog. Setelah memperhatikan ketiga teori tersebut. Ketidakharmonisan. Bagaimana dengan penyebab munculnya KDRT. Penduduk semua menginginkan semua banda yang mereka lihat dan dimiliki oleh orang lain. KDRT di Indonesia ternyata bukan sekedar masalah ketimpangan gender. mulai dari masa sebelum lahir (prenatal). Karakteristik Anak Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi memandang periode usia TK merupakan periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin. lebih khususnya di Indonesia. masa remaja tengah dan adolesen. Menurut hemat saya. Masa-masa sensitif mencakup sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan. sensitivitas untuk mengeksplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan. mereka frustasi dan berusaha untuk menyerangnya. Alasan Ekonomi Ketidakmampuan mengendalikan emosi 8 Ketidakmampuan mencari solusi masalah rumah tangga apapun. 7 Mereka memperhatikan perkampungan miskin dan kotor di pusat kota dan dihuni oleh kaum minoritas telah menunjukkan angka kekerasan yang tinggi. masa dewasa muda. sensitivitas untuk berjalan. Teori ini memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap angka kekarasan yang tinggi bagi penduduk minoritas. masa remaja awal. Maria Montessori (Elizabeth B. perkembangan kepribadiannya akan menjadi terhambat. dan juga Kondisi mabuk karena minuman keras dan narkoba.

maka anak akan mampu mengembangkan inisiatif. Relasi sosial yang primitif merupakan akibat dari sifat egosentris yang naif tersebut. Guru yang selalu menolong. Pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan inisiatifnya. (3) kesatuan jasmani dan rohani yang hampir-hampir tidak terpisahkan sebagai satu totalitas. 9 . Anak memiliki sikap berpetualang (adventurousness) yang kuat. Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya. anak akan diliputi perasaan serba salah dan berdosa (guilty). Erikson (Helms & Turner. Gerakan-gerak fisik ini tidak sekedar penting untuk mengembangkan keterampilan fisik saja. mengerjakan sesuatu di mana anak dapat melakukan sendiri maka anak tidak mendapat kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan itu. baik untuk pengembangan otot-otot kecil maupun otot-otot besar. Ciri ini ditandai oleh kehidupan individual dan sosialnya masih belum terpisahkan. dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya. Anak bersikap fisiognomis terhadap dunianya. memberi nasehat. akan menumbuhkan inisiatif. Sikap egosentris yang naif ini bersifat temporer. Anak tidak bisa membedakan benda hidup dengan benda mati. didengar dan dirasakan. Kebutuhan anak untuk melakukan berbagai aktivitas sangat diperlukan. dengan kucing. Kartini Kartono (1986:113) mengemukakan bahwa ciri khas anak masa kanak-kanak adalah sebagai berikut : (1) bersifat egosentris naif. Sejalan dengan perkembangan keterampilan fisiknya. Kesatuan jasmani dan rohani yang tidak terpisahkan. 1994 : 64) memandang periode ini sebagai fase sense of initiative. Sebaliknya kalau terlalu banyak dilarang dan ditegur. Anak akan banyak memperhatikan. anak usia sekitar lima tahun ini semakin berminat pada teman-temannya. Ia akan mulai menunjukkan hubungan dan kemampuan bekerja sama yang lebih intens dengan teman-temannya. Rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu merupakan ciri lain yang menonjol pada anak usia 4-5 tahun. oleh karena itu anak sering bercakap-cakap dengan bonekanya. membicarakan atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. Isi lahiriah dan batiniah merupakan suatu kesatuan yang bulat. dengan kelinci dan sebagainya. Kartini Kartono menjelaskan bahwa seorang anak yang egosentris memandang dunia luar dari pandangannya sendiri. (2) mempunyai relasi sosial dengan benda-benda dan manusia yang sifatnya sederhana dan primitif. sehingga penghayatan anak diekspresikan secara spontan. artinya secara langsung anak memberikan atribut pada setiap penghayatannya. seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat.8 Pertumbuhan fisik anak usia 4-5 masih memerlukan aktivitas yang banyak. dan daya kreatifnya. dan senantiasa dialami oleh setiap anak dalam proses perkembangannya.sensitivitas terhadap aspek-aspek sosial kehidupan. Anak hanya memiliki minat terhadap benda-benda dan peristiwa yang sesuai dengan daya fantasinya. dan (4) sikap hidup yang fisiognomis. Dengan kata lain anak membangun dunianya dengan khayalan dan keinginannya. Setiap benda dianggapnya berjiwa seperti dirinya. tetapi juga dapat berpengaruh positif terhadap penumbuhan rasa harga diri anak dan bahkan perkembangan kognisi. Pada fase ini terjamin tidaknya kesempatan untuk berprakarsa (dengan 7 adanya kepercayaan dan kemandirian yang memungkinkannya untuk berprakarsa). maksudnya adalah anak belum dapat membedakan dunia batiniah dengan lahiriah. sesuai dengan pengetahuan dan pemahamannyasendiri. Keberhasilan anak dalam menguasai keterampilanketerampilan motorik dapat membuat anak bangga akan dirinya.

bahkan sangat terkait dengan persoalan kelancaran dalam berkomunikasi. maupun fungsi mengatasi masalah dan emosi. Adapun dampak KDRT secara rinci akan dibahas berdasarkan tahapan perkembangannya sebagai berikut: 1. memiliki rasa malu yang serius. Yang menarik bahwa anak laki-laki cenderung lebih agresif daripada anak-anak perempuan selama simulasi. Bahkan kemungkinan juga anakanak itu menunjukkan penderitaan yang serius. maka yang ditimbulkannya adalah adanya sikap agresif terhadap teman sebayanya. dinamis. sebaliknya anak perempuan cenderung lebih distress daripada anak laki-laki. Selanjutnya ditegaskan bahwa ekspresi marah dapat menyebabkan bahaya atau kesulitan pada anak kecil. Dampak terhadap Anak berusia bayi Usia bayi seringkali menunjukkan keterbatasannya dalam kaitannya dengan kemampuan kognitif dan beradaptasi. 2. anak-anak mengembangkan upaya dasarnya untuk mengaitkan penyebab perilaku dengan ekspresi emosinya. menegaskan bahwa KDRT memiliki dampak yang sangat berarti terhadap perilaku anak. Penelitian Cummings dkk (1981) menilai terhadap expresi marah dan kasih sayang yang terjadi secara alamiah dan berpura-pura. ketika ekspresi verbal dibarengi dengan serangan fisik oleh anggota keluarga lainnya. Dampak terhadap anak kecil Dalam tahun kedua fase perkembangan. Selanjutnya dapat dikemukakan pula bahwa dampak KDRT terhadap anak usia muda (anak kecil) sering digambarkan dengan problem perilaku. Kualitas lain dari anak usia ini adalah abilitas untuk memahami pembicaraan dan pandangan orang lain semakin meningkat sehingga keterampilan komunikasinya juga meningkat. Pada tahun ketiga ditemukan bahwa anak-anak yang merespon dalam interaksinya dengan kemarahan. Kesulitan ini semakin menjadi lebih nampak. Anak usia TK adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. baik berkenaan dengan kemampuan kognitif. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Hal ini berkonsekuensi logis terhadap kebutuhan dasarnya yang diperoleh dari ibunya ketika mengalami gangguan yang sangat berarti. antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya serta seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar. Bahkan banyak peneliti berhipotesis bahwa penampilan emosi yang kasar dapat mengancam rasa aman anak dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya. Penguasaan akan keterampilan berkomunikasi ini membuat anak semakin senang bergaul dan berhubungan dengan orang lain. memiliki self-esteem yang 10 . kemampuan pemecahan masalah. Jaffe dkk (1990) menyatakan bahwa anak bayi yang menyaksikan terjadinya kekerasan antara pasangan bapak dan ibu sering dicirikan dengan anak yang memiliki kesehatan yang buruk. seperti seringnya sakit.Anak memilih teman berdasarkan kesamaan aktivitas dan kesenangan. dan teriakan yang berlebihan. Senior Research pada Australian Institute of Criminology (1994). kebiasaan tidur yang jelek. Kondisi ini pula berdampak lanjutan bagi ketidaknormalan dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang sering kali diwujudkan dalam problem emosinya. Anak sangat aktif. Dampak KDRT terhadap Anak Marianne James.

10 baik dari kelompok yang tidak menyaksikan KDRT maupun yang menyaksikan KDRT. 1987 menguatkan melalui studinya. tidak ingin pergi ke sekolah. Ketiga. Dilaporkannya bahwa Anakanak yang memperoleh rasa distress pada usia sebelumnya dapat diidentifikasi tiga tipe reaksi perilaku. Kedua. Dampak terhadap Anak usia SD Jaffe dkk (1990) menyatakan bahwa pada usia SD. dan kesulitan dalam konsentrasi. Ini dapat dijelaskan bahwa anak-anak prasekolah yang dipisahkan secara sosial dari teman sebayanya.al. tetapi setelah itu mereka marah. Disimpulkan bahwa kelompok yang menyaksikan KDRT menunjukkan tingkat distress yang jauh lebih tinggi.al. maka mereka cenderung memiliki beberapa masalah yang terkait dengan orang dewasa.mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya berkenaan dengan perilaku orangtuanya. Dampak terhadap Anak usia pra sekolah Cumming (1981) melakukan penelitian tentang KDRT terhadap anak-anak yang berusia TK. mereka bahagia. 11memiliki kemampuan membaca di bawah usia kronologisnya. Hughes (1988) melakukan penelitian terhadap ibu dan anak-anak yang usia TK dan non-TK. 17%-nya tidak menunjukkan emosi. Baik anak pria maupun wanita yang menyaksikan KDRT secara cepat belajar bahwa kekerasan adalah suatu cara yang paling tepat untuk menyelsaikan konflik dalam hubungan kemanusiaan. Keempat. Berdasarkan pemeriksaan terhadap 77 anak. lebih dari sepertiganya. deLange (1986) melalui pengamatannya bahwa KDRT berdampak terhadap kompetensi perkembangan sosial-kognitif anak usia prasekolah. terutama masalah sosial. 4. tetapi sebagian besar di antara mereka cenderung menunjukkan sikap agresif secara fisik dan verbal terhadap teman sebayanya. sekitar 5 atau 6 tahun.al. 3. 1995) sebanyak 22 anak dari usia 6 sd 11 tahun menunjukkan bahwa kelompok anak-anak yang secara historis mengalami kekerasan dalam rumah tangganya cenderung mengalami problem perilaku pada tinggi batas ambang sampai tingkat berat. yang diwujudkan dengan prestasi akademik yang jelek. dan memiliki masalah selama dalam pengasuhan. Sementara studi yang dilakukan terhadap anak-anak Australia. 1986. Davis dan Carlson (1987) menemukan anak-anak TK yang menunjukkan perilaku reaksi agresif dan kesulitan makan pada pria lebih tinggi daripada wanita. dan memiliki 11 . orangtua merupakan suatu model peran yang sangat berarti. menunjukkan perasaan emosional yang tinggi (baik positif maupun negatif) selama berargumentasi. Mereka lebih mampu . misalnya : memukul. dan suka mendebat. Hughes (1986) menemukan bahwa anak-anak usia SD seringkali memiliki kesulitan tentang pekerjaan sekolahnya. 1986: Jaffe et. menggigit. 46%-nya menunjukkan emosi negatif yang diwujudkan dengan perilaku marah yang diikuti setelahnya dengan rasa sedih dan berkeinginan untuk menghalangi atau campur tangan. Wolfe et. (Mathias et. bahwa anak-anak dari keluarga yang mengalami kekerasan domistik cenderung memiliki problem prilaku lebih banyak dan kompetensi sosialnya lebih rendah daripada keluarga yang tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga. pra sekolah. memiliki kecakapan adaptif di bawah rata-rata. Christopoulus et al. dan kelompok anak-anak TK menunjukkan perilaku distres yang lebih tinggi daripada anakanak non-TK.rendah. bahkan tidak berkesempatan untuk berhubungan dengan kegiatan atau minat teman sebayanya juga. Pertama.

5. merasa. dan berperilaku dalam kehidupan di dunia ini. anak-anak remaja sadar bahwa ada cara-cara yang berbeda dalam berpikir. lelaki penganiya memaksa anaknya menyaksikan pemukulan ibunya sebagian menggunakan perbuatan itu sebagai cara tambahan menyiksa dan menghina pasangannya. tidak sepenuhnya kekerasan itu berdampak kepada semua anak remaja. Tetapi ditekankan pula oleh Rosenbaum dan O’Leary (1981) bahwa tidak semua anak yang hidup kesehariannya dalam hubungan yang penuh kekerasa akan mengulangi pengalaman itu. dan tidak mampu berbuat sesuatu ketika sang ayah menyiksa ibu mereka. Artinya bahwa seberat apapun kekerasan yang ada dalam rumah tangga. Mereka seringkali diam terpaku. Dampak terhadap Anak remaja Pada usia ini biasanya kecakapan kognitif dan kemampuan beradaptasi telah mencapai suatu fase perkembangan yang meliputi dinamika keluarga dan jaringan sosial di luar rumah. ketakutan. sebaliknya anak remaja wanita cenderung lebih dipresif Kehadiran anak dirumah tidak membuat laki-laki atau suami tidak menganiyaya istrinya. seperti kelompok teman sebaya dan pengaruh sekolah. Sebagian berusaha menghentikan tindakan ayah atau meminta bantuan orang lain. Diantara ciri-ciri anak yang menyaksikan atau mengalami KDRT adalah : • Sering gugup • Suka menyendiri • Cemas • Sering mengompol • Gelisah • Gagap • Sering menderita gangguan perut • Sakit kepala dan asma • Kejam pada binatang • Ketika bermain meniru bahasa dan perilaku kejam • Suka memukul teman • Batterred child syndrome 12 . Menurut data yang terkumpul dari seluruh dunia ada anak-anak yang sudah besar akhirnya membunuh ayahnya setelah bertahun-tahun diperlakukan kejam. Menyaksikan kekerasan merupakan pengalaman yang sangat traumatis bagi anak-anak. Dengan kata lain. Dari banyak penelitian menunjukkan bahwa konflik antar kedua orangtua yang disaksikan oleh anak-anaknya yang sudah remaja cenderung berdampak yang sangat berarti.kecemasan pada tingkat menengah sampai dengan tingkat tinggi. Akibat kekerasan tidak sama pada semua anak. Bahkan dalam banyak kasus. sementara itu Hughes dan Barad (1983) mengemukakan dari hasil studinya bahwa angka kejadian kekerasan yang tinggi dalam keluarga yang dilakukan oleh ayah cenderung dapat menimulkan korban kekerasan. terutama anak-anaknya. terutama anak remaja pria cenderung lebih agresif.Misalnya studi Davis dan Carlson (1987) menyimpulkan bahwa hidup dalam keluarga yang penuh kekarasan cenderung dapat meningkatkan kemungkinan menjadikan isteri yang tersiksa. tergantung ketahanan mental dan kekuatan pribadi anak remaja tersebut.

tumbuh menjadi orang yang tertutup. Ia akan bertingkah laku berdasarkan referensi yang telah dimilikinya. Kekerasan dalam rumah tangga memberi pelajaran kepada anak lelaki untuk tidak menghormati kaum perempuan. Ia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Mulai dari hal yang paling sepele hingga hal yang cukup berat. kurang komunikatif. Tingkat kecemasan ini akan berpengaruh terhadap setiap aktivitas yang dilakukannya. Anak yang tumbuh dalam rumah tangga kurang harmonis akibat adanya tindak kekerasan akan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dalam dirinya. 13 . ketika banyak hal berbeda dengan apa yang ia temui sehari-hari di rumah. walaupun berusaha dilupakan. dan kurang percaya diri. Pengaruhnya terhadap hubungan sosial anak dengan lingkungannya juga menjadi terganggu. Anak akan belajar bahwa menghadapi tekanan adalah dengan melakukan kekerasan. Anak akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses adaptasi dengan lingkungannya. Menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan adalah sesuatu yang biasa dan baik-baik saja. Di lingkungan luar rumah anak akan memperoleh berbagai macam model perilaku. Anak dapat merasa tidak tenang dalam beraktivitas karena ia selalu mengingat dan mengkhawatirkan kondisi orang tuanya. Pengalaman yang telah tertanam dalam dirinya tidak akan bisa hilang sampai kapanpun. namun pengalaman tersebut akan tetap mengendap atau tersimpan dalam ketidaksadaran dan suatu saat dapat muncul kembali ke kesadaran. anak dapat tumbuh menjadi orang yang kurang mampu dalam mengendalikan perasaannya. Sehingga dampak yang ditimbulkan oleh adanya KDRT lebih banyak negatifnya. drug abuse. dapat menyebabkan anak merasa asing dengan lingkungannya.• • • • • Gangguan tumbuh kembang anak PTSD pada anak Depresi pada anak Perilaku agresif-implusif Gangguan perilaku lainnya (gangguan perilaku sexual. Oleh karena itu sangat penting kiranya kita semua secara bersama-sama meningkatkan kesadaran dan memperkuat komitmen untuk sedikit demi sedikit menghapuskan KDRT dari lingkungan yang paling dekat dengan kita.dll) Kekerasan dalam rumah tangga ternyata merupakan pelajaran kepada anak bahwa kekejaman dalam bentuk penganiyayaan adalah bagian yang wajar dari sebuah kehidupan. Pencetusnya dapat bermacam-macam.

agar dapat di tolong dan dihindarkan dari perkembangan yang kurang sehat. 14 . identifikasi problem mental. • Buat rujukan kepada tenaga ahli atau profesional untuk menangani anak tersebut. pelaku dapat dilaporkan kepada pihak berwenang seperti kepolisian. psikologis.Penatalaksanaan • Jauhkan anak dari pelaku kekerasan • Evaluasi psikologik . • Bila terpaksa. dan wanita. dan sosialnya. • Mendidik dan menyadarkan keluarga dari akibat tindak kekerasan yang dilakukan. lembaga perlindungan anak. rujukan ahli • Pendampingan oleh konselor anak terlatih • Evaluasi keluarga dan terapi • Anak kembali pada keluarga harus masih dalam pengawasan lembaga khusus • Amati kondisi fisik. atau panti dan yayasan yang merawat anak-anak terlantar.

sangatlah mungkin berkembang menjadi KDRT. Selain itu kita sebagai orang tua harus menjaga pola kehidupan sebaik mungkin apalagi klo di depan buah hati kita . para ahli. Dasar pembinaan komunikasi adalah dengan menanamkan pengertian pada diri orang tua bahwa bayi adalah manusia sepenuhnya sejak kelahiran. kesuksesan maupun kegagalan banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua di masa kecil anak. Mereka menganggap anaknya belum saatnya berbicara dan berdiskusi tentang suatu masalah dalam keluarga tersebut. Komunikasi yang dibina dengan semaksimal mungkin akan memberikan dasar terpenting dalam pendidikan anak.KESIMPULAN Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang aman. Hal inilah yang sering dilupakan oleh orang tua. Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif. bahkan dapat menimbulkan korban kematian. Padahal mungkin masalah itu berkaitan dengan anak tersebut. secara proaktif masyarakat. Masa depan anak. nyaman. dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam penanganan korban KDRT. perlu sekali setiap anggota keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT. sehingga tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam bentuk yang 14 ringan sampai berat. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Orang tua cenderung mengganggap anaknya tidak tahu apa-apa. Sebaliknya jika anggota keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT. seperti jangan bertengkar di depann nya apalagi sampai terjadi hal yang tidak diingkan. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi. Hal inilah yang sering menjadi penyebab terjadinya tindakan kekerasan pada anak dalam keluarganya 15 . sehingga dapat segera menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak diinginkan. Orang tua merasa tidak perlu memberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan pikirannya kepada anak-anaknya. sesuatu yang seharusnya dihindari. Secara fitrah perbedaan individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan konflik. dan membahagiakan.

16 . Jangann menyontohkan atau dengan sengaja membiarkan anak-anak dari buah hati mereka melihat suatu hal tindak kekerasan yang terjadi dalam keluarga tersebut.SARAN Dalam rumah tangga sebaiknya selalu terjalin komunikasi yang baik agar tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Orangtua sebagai jembatan anak-anak menuju proses pendewasaan juga harus memberika contoh-contoh yang baik dan berpendidikan. Membiarkan anak tumbuh dengan rasa sayang dan cinta kasih. Menjalin hubungan sebaik mungkin dengan pasangan hidup anak maupun pembantu rumah tangga jika ada. agar terhindar dari tindak kekerasan yang tidak diinginkan. Membiarkan anak tumbuh menjadi remaja yang dipenuhi dengan psikis yang baik tanpa hal – hal yang tidak diinginkan. Selalu mendekatkan diri dengan tuhan sesuai dengan kepercayaan masingmasing .

Miranti Pusparini.Wb. • • Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih khususnya pada pihak-pihak yang saya sebutkan di atas semoga case report ini dapat bermanfaat dan memuaskan berbagai pihak. memberi saran dan menyemangati saya dalam menyelesaikan tulisan ini. Feriyal basbeth. 17 . Mkes sebagai koordinator pelaksana Blok Elektif 2011-2012. Ibu Dr. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada: • • • • Ibu Dr. Susi Susilowati. SpF sebagai dosen pakar dan pembimbing akademik. MPd sebagai pembimbing yang telah membantu dan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan tulisan ini. Polres Jakarta Pusat. Dan kepada Rekan-rekan sejawat yang namanya tidak bisa saya sebutkan satu persatu khususnya kelompok 3 domestic violance atas kerjasamanya selama menjalankan tugas di lapangan sampai terselesaikannya penulisan ini. yang telah memberikan contoh kasus dan membimbing kami khususnya saya selama observasi untuk kelancaran penyelesaian tulisan ini. Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmatnya saya bisa menyelesaikan penulisan tugas blok elektif dengan kepeminatan Domestic Violence yang berjudul “ Pernikahan siri berdampak pada kekerasan fisik anak kandung yang menyebabkan mati dan hukumnya menurut agama dan hukum negara” Ada pun tugas ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai kelulusan pada blok elektif 2011-2012 Fakultas kedokteran YARSI. Ibu Dr. Penulisan ini juga saya dedikasikan kepada kedua orang tua saya yang selalu mendukung.UCAPAN TERIMAKASIH Bismillahirahmanirrahim Assalamualaikum Wr. Terwujudnya tugas ini adalah bantuan dan dorongan berbagai pihak.

278. Kay & Wrightsman. Ross. vol. (1986). D. (1984). 49. pp. (1987).Drs. J.3. Deaux.S. B. (1997).91. Shaw.T. Cohn. A. Joyce.12-15. C. no. Psikologi Pendidikan. and Emery. Zahn-Waxler. Jakarta : P. Kraft. 'The family place children's therapeutic program'.T. California: Brooks Cole Publishing Company. (2004). pp. E. Jakarta : P. 1981. dan Gunarsa. Child Development. Rineka Cipta Ginott.DAFTAR PUSTAKA • • • • • Dalyono. (1987).. Children's Today. vol. Cummings. S. C.. Research with children in shelters: implications for clinical services..21-5. 611-19.1274-82. 'Observation of spouse abuse: what happens to the children?'. Yulia Singgih. B. M.. L. Fifth Edition. J. Christopoulos. Fourth Edition. deLange. Roberts. (2001). Davis. (1984).2. Departemen Hukum dan Ham.. pp. pp. R. Jakarta: Eshlemen. Dr.. Dra. no. ed.15. Singgih D. Sullivan-Hanson. Dr. S.2.. 'Children of abused women: adjustmenet at time of shelter residence'. Boston: Allen and Bacon Hughes. Children Today.M. D. M. vol. and Radke-Yarrow. The Family: An Introduction.E. Springer. C. Gramedia Pustaka Utama Gunarsa. (1988). (1995). 'Children's observations of inter-parental violence' in: Battered Women and Their Families.R. Journal of Interpersonal Violence vol. Halim G. • • • • • • • 18 . pp. and Carlson. L. Psikologi Perkembangan anak dan Remaja Carlson. Social Psychology in the 80s. 'Young children's responses to expressions of anger and affection by others in the family'. (1986).. Journal of the Marriage and the Family. Between parents and child. New York. H.52. Prof. Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).

19 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful