P. 1
Masalah Gizi Kurang Dan Gizi Lebih Di Indonesia Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat

Masalah Gizi Kurang Dan Gizi Lebih Di Indonesia Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat

|Views: 326|Likes:
Published by Mimi Reredoo

More info:

Published by: Mimi Reredoo on Sep 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2015

pdf

text

original

Masalah gizi kurang dan gizi lebih di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Penyakit infeksi seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan campak masih merupakan 10 penyakit utama dan masih menjadi penyebab utama kematian. Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Namun di sisi lain masalah kesehatan masyarakat utama justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Masih tingginya prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan meningkatnya prevalensi obesitas menjadi beban masalah gizi ganda di Indonesia. Kedua masalah gizi ini perlu ditangani dengan cepat untuk mencegah penyebarluasan masalah ini kelak di masyarakat melalui identifikasi faktor-faktor penyebab dan akibat yang muncul oleh kelebihan dan kekurangan gizi pada kelompok rawan gizi seperti ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah, remaja puteri, dan lansia. Pengertian Surveilens Menurut WHO, Surveilans adalah kegiatan pengamatan berkelanjutan melalui proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi serta penyebarluasan informasi kepada unit yang membutuhkan untuk tindakan.Surveilens merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang memperbesar risiko terjadinya peningkatan dan penularan penyakit serta masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Surveilens adalah kegiatan perhatian yang terus menerus pada distribusi dan kecenderungan penyakit melalui sistematika pengumpulan data, konsolidasi, dan evaluasi laporan morbiditas serta mortalitas juga data lain yang sesuai, kemudian disebarkan kepada mereka yang ingin tahu (a) Pengumpulan data yang sistematik, (b) Konsolidasi dan evaluasi data, (c) Diseminasi awal pada mereka yg butuh informasi, terutama mereka yang berposisi pengambil keputusan. (Langmuir, 1963). Surveilens berfungsi sebagai otak dan sistem saraf untuk program pencegahan dan pemberantasan penyakit. (D.A. Henderson, 1976). Surveilens Gizi adalah mengamati keadaan gizi secara terus -menerus untuk pengambilan keputusan bagi upaya peningkatan dan pencegahan memburuknya keadaan gizi masyarakat (Morley, 1976; Foege,1976, Aranda Pastor 1983, Mason, 1984). Definisi lain surveilens gizi

ialah pengamatan yang rutin dan sistematis terhadap masalah gizi serta faktor risiko yang menyebabkannya, agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses analisis informasi dari kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta distribusi informasi. Tujuan dari surveilans adalah mendapatkan informasi tentang masalah kesehatan meliputi gambaran masalah kesehatan menurut waktu, tempat dan orang, diketahuinya determinan, faktor risiko dan penyebab langsung terjadinya masalah kesehatan tersebut. Berdasarkan SK Menkes no 1116/Menkes/SK/VIII/200, surveillens epidemiologi adalah pengamatan terus menerus dan dilaksanakan secara sistematis terhadap penyakit atau masalah kesehatan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya agar dapat dilakukan tindakan perbaikan atau penelitian melalui kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan analisis/ interpretasi data, diseminasi informasi dan komunikasi ke berbagai pihak terkait. (www.surveilans.org) Ruang lingkup surveilans epidemiologi ada 5, yaitu: Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku, Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan, dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. Surveilans gizi termasuk dalam ruang lingkup Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. Surveilans gizi adalah mengamati keadaan gizi secara terus menerus untuk pengambilan keputusan bagi upaya peningkatan dan pencegahan memburuknya keadaan gizi masyarakat (Morley, 1976; Foege , 1976, Aranda Pastor 1983, Mason, 1984). Surveilan gizi juga dapat berarti perlu pengumpulan data secara teratur, baik yang dilakukan secara khusus maupun dari data yang sudah ada atau keduanya (Lwanga , 1983). Berikut ini adalah indikataor surveilans gizi pada pada masalah gangguan pertumbuhan dan KEP pada Balita. (www.gizi.net) 1. Masalah Gangguan Pertumbuhan Balita Definisi : Gangguan pertumbuhan: bila BGM atau tiga kali penimbangan bulanan tidak naik berat badan (BB) Kegunaan: A. Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatmen a). Indikator b). Cut-off c). Sumber data : Pertumbuhan berat badan (SKDN) : 1. BGM (BB/U < -3SD) 2. 3T (3 kali penimbangan tidak naik BB) : Posyandu (Penimbangan bulanan)

d). Frekuensi e). Tujuan f). Pengguna

: Sekali sebulan : Screening balita yang memerlukan tindakan rujukan atau intervensi khusus (pengobatan dan atau PMT pemulihan) : Puskesmas

B. Gambaran keadaan pertumbuhan balita tingkat kecamatan a). Indikator : 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >= 80%). Bila D/S belum >=80% upayakan untuk ditingkatkan. 2. % BGM/D b). Trigger level : 1. % N/(D-O-B) < 60% 2. % BGM > 1% c). Sumber data d). Frekuensi e). Tujuan f). Pengguna : Puskesmas (Kompilasi laporan SKDN dari Puskesmas-2 yang ada di wilayah kecamatan bersangkutan) : Sekali sebulan : Evaluasi keadaaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif terhadap memburuknya keadaan gizi : Kecamatan

C. Gambaran keadaan pertumbuhan balita antar kecamatan dalam kabupaten a). Indikator : 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >= 80%). Bila D/S belum >=80% upayakan untuk ditingkatkan. 2. % BGM/D b). Trigger level : 1. % N/(D-O-B) < 60%, dan c). Sumber data d). Frekuensi e). Tujuan f). Pengguna 2. % BGM > 1% : Kecamatan (Kompilasi laporan SKDN dari Kecamatan-2 yang ada di wilayah kabupaten bersangkutan) : Sekali sebulan : Evaluasi keadaaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif terhadap memburuknya keadaan gizi : Kabupaten --- dan --- propinsi

2. Masalah KEP Balita Definisi: Gizi kurang bila BB/U < -2 SD dan Gizi buruk bila BB/U < -3 SD

dan opsional kegiatan bulan penimbangan) : Setiap ditemukan kasus (setiap saat) : Rujukan atau memberikan treatment khusus bagi penderita sesuai dengan “grade” kurang gizinya. kwasiorkor dan marasmus : Puskesmas (Pelacakan gizi buruk. Tujuan : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk : 1. Pengguna : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk : 1. Sumber data d).Pusat C. Tujuan g). Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatment a). Frekuensi e). Trigger level c). atau 2. Propinsi --. Indikator b). Frekuensi e).dan --. kunjungan pasien. Prevalensi gizi buruk > 1% : BPS (Susenas) : Sekali dalam 3 tahun : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan perumusan kebijakan . Sumber data d).Kegunaan: A. Prevalensi gizi kurang > 20%. Indikator b). Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita di kecamatan-2 dalam kabupaten a). Frekuensi e). Indikator b). Cut-off c). Pengguna : BB/U : BB/U <-2 SD (gizi kurang) dan BB/U < -3 SD (gizi buruk). : Puskesmas B. atau 2. Prevalensi gizi buruk > 1% : Pemantauan Status Gizi (PSG) : Sekali setahun : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan perumusan kebijakan : Kabupaten. Sumber data d). Trigger level c). Tujuan f). Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita tingkat Propinsi dan nasional a). Prevalensi gizi kurang > 20%.

Maka melalui kegiatan surveilens dan informasinya diharapkan tercapainya peningkatan sikap tanggap kesiapsiagaan.di tingkat nasional f). Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Besar situasi masalah penyakit dan gizi menurut daerah dan waktu Berdasarkan data Susenas. Namun penghitungan berat badan : Pusat . disusun strategi dan kebijakan yang pada umumnya melibatkan berbagai sektor terkait. otot mengecil disebut kwashiorkor. Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita telah berhasil diturunkan dari 33. Bila gizi buruk disertai dengan tanda-tanda klinis seperti : anak sangat kurus. Selain itu jika melihat pertumbuhan dan jumlah penduduk dan proporsi balita dari tahun ke tahun. kemerahan. Anak balita yang sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi. sebenarnya jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang cenderung meningkat. Upaya perbaikan gizi dengan ruang lingkup nasional dimulai pada tahun 1980.57% pada tahun 1992 menjadi 24. 2. Keberhasilan program perbaikan gizi dinilai berdasarkan laporan rutin dan juga survei berkala melalui survei khusus maupun diintegrasikan pada survei nasional seperti Susenas. anak disebut gizi baik. kulit keriput disebut marasmus. wajah seperti orang tua. mudah dicabut.2 SD atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus dan kwashiorkor. apabila jauh dibawah standar disebut gizi buruk. wajah membulat dan sembab. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar. Survei Kesehatan Rumah Tangga dan lainlain. rambut tipis. perut cekung. dilakukannya upaya pencegahan dan tindakan penanggulangan kejadian luar biasa yang cepat dan tepat. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Namun terdapat kecenderungan peningkatan kembali pada tahun-tahun berikutnya. Diawali dengan berbagai survei dasar. dan bila ada bengkak seluruh tubuh terutama pada kaki. Pengguna Pengertian Gizi Buruk Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak dengan indeks antropometri berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) < . 1. maka perlu diupayakan suatu sistem kewaspadaan terhadap ancaman terjadinya gizi buruk tersebut. Alasan melaksanakan surveilens Untuk menanggulangi terjadinya KLB atau kasus gizi terutama gizi buruk.66% pada tahun 2000.

Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang. makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. kulit keriput disebut marasmus. 1.3 SD atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus dan kwashiorkor. Bila gizi buruk disertai dengan tanda-tanda klinis seperti : wajah sangat kurus. a. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit / terkena infeksi. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang. pembengkakan hati. baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain : Tidak tersedianya makanan secara adekuat. dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Malnutrisi berkaitan dengan kemiskinan. perut cekung. manfaat . dan bila ada bengkak terutama pada kaki. Pola makan yang salah. terjadi pengurusan otot. dan berbagai gangguan yang lain seperti misalnya peradangan kulit. padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Pada fase lanjut (gizi buruk) akan rentan terhadap infeksi. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Robin B. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. gagal tumbuh sehingga kurangnya daya tahan tubuh yang dapat menimbulkan penyakit infeksi (Kanarek. Malnutrisi adalah keadaan gangguan gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupaN makanan dalam waktu yang lama. infeksi. Pengertian gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak dengan indeks antropometri berat badan terhadap tinggi badan (BB / TB) < . Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu. Suatu studi "positive deviance" mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk. 1991) Penyebab Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. muka seperti orang tua. mengerti soal pentingnya ASI.menurut panjang badan lebih memberi arti klinis. b. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. berat badan lahir rendah. Makin kecil pendapatan penduduk. c. apalagi ibunya berpendidikan. Malnutrisi merupakan masalah utama kesehatan di dunia. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. kelainan organ dan fungsinya (akibat atrophy / pengecilan organ tersebut). wajah membulat dan sembab disebut kwashiorkor.

jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada • Sering diC. kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi A. Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih. tinggal tulang terbungkus kulit • Wajah seperti orang tua • Cengeng. . yaitu : 1.posyandu dan kebersihan. protein maupun kalori yang cukup. Sering sakit (frequent infection) Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan. santan dll) . Klasifikasi Gizi buruk dibagi menjadi tiga. 2. Kebiasaan. telur. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. INDIKATOR PSG (PEMANTAUAN STATUS GIZI) DAN PKG (PEMANTAUAN KONSUMSI GIZI) BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH Definisi : berat badan lahir rendah adalah berat badan bayi lahir hidup di bawah 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak. berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging. Marasmus Tanda-tanda : • Anak tampak sangat kurus. meskipun sama-sama miskin. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI. memberikan makanan padat terlalu dini. ternyata anaknya lebih sehat. rewel • Perut cekung • Kulit keriput. mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak .

Sumber data yang bersangkutan) .Trigger level .Pengguna : berat badan lahir (BBL) : BBL < 2500 gr : bidan desa atau dukun terlatih (laporan kohort bayi) : setiap ada bayi lahir : penapisan bayi untuk diberi perawatan : Puskesmas b. terutama ibu dan anak : Puskesmas ( kompilasi laporan kohort bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari puskesmas –puskesmas di kecamatan kator gger level n una ikator gger level mber data kuensi uan gguna .Indicator .Tujuan .Kegunaan: a.Frekuensi . terutama ibu dan anak : kabupaten dan propinsi d.Frekuensi : prevalensi BBLR dalam periode tertentu : prevalensi BBLR > 15% : Tim Surkesnas (Badan Litbangkes + BPS) : Sekali dalam 3 tahun : sekali setahun (dihitung pada tengah tahun) : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat.Sumber data .Frekuensi : kecamatan c. Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak antar kecamatan dalam kabupaten : prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir hidup : prevalensi BBLR > 15% : kecamatan (kompilasi laporan kohort bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari kecamatan-kecamatan di kabupaten bersangkutan) : sekali setahun (dihitung pada tengah tahun) : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat. Untuk gambaran perkembangann keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat kecamatan : prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir hidup : prevalensi BBLR > 15% .Sumber data . Untuk screening (penapisan) individu .Indikator . Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat nasional .Cut-off .

Indikator . BGM (BB/U < -3SD) 2. 3T (3 kali penimbangan tidak naik BB) : Posyandu (penimbangan bulanan) : sekali setahun ujuan : Sreening balita yang memerlukan tindakan rujukan atau intervensi khusus (pengobatan dan atau PMT engguna ndikator rigger level umber data ekuensi ujuan engguna .juan : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat. %N/(D-O-B)<60% : pertumbuhan berat badan (SKDN) : 1. Bila D/S belum >= 80% upayakan untuk ditingkatkan 2.Pengguna : primer/pusat 1.Trigger level : 1. % BGM/D . Screening individu balitan untuk rujukan/perawatan/treatmen . terutama ibu dan anak secara nasional . %N/(D-O-B) dengan kondisi (D?S > = 80%).Frekuensi pemulihan) : Puskesmas b. % N/(D-O-B) < 60% 2.Sumber data . Bila D/S belum >=80% upayakan untuk ditingkatkan 2. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >=80%).Cut-off . %BGM>1% : Puskesmas (kompilasi laporan SKDN dari Puskesmas yang ada di wilayah kecamatan yang bersangkutan) : sekali sebulan : evaluasi keadaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif terhadap memburuknya keadaan gizi : kecamatan c. Gambaran keadaan pertumbuhan balita tingkat kecamatan : 1. Gambaran keadaan pertumbuhan balita antar kecamatan dalam kabupaten .Indikator : 1. % BGM/D : 1. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN BALITA Definisi : gangguan pertumbuhan bila BGM atau tiga kali penimbangan bulanan tidak naik berat badan Kegunaan : a.

Indikator . Propinsi dan Pusat c.2.Tujuan .Tujuan .Frekuensi . Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita tingkat Propinsi dan Nasional . kunjungan pasien dan opsional kegiatan bulan penimbangan ) : setiap ditemukan kasus (setiap saat) : Rujukan atau memberika treatment khusus bagi penderita sesuai dengan “grade” kurang gizinya.Pengguna : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk : 1.Sumber data . Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatment .Pengguna : kecamatan (kompilasi laporan SKDN dari kecamatan yang ada di wilayah kabupaten tersebut) : sekali sebulan : evaluasi keadaan pertumbuhan balita untuk tindakan Preventif terhadap memburuknya keadaan gizi : kabupaten dan propinsi 2.Frekuensi . %BGM>1% .Indikator : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk . MASALAH KEP BALITA Definisi : Gizi kurang bila BB/U<-2 SD dan Gizi buruk bila BB/U<-3 SD.Indikator : BB/U : BB/U<-2 SD (gizi kurang) dan BB/U : Puskesmas (Pelacakan gizi buruk. Prevalensi gizi kurang >20%. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita di kecamatan2 . Kegunaan : a. atau 2. Prevalensi gizi buruk >1% : Pemantauan Status Gizi (PSG) : Sekali setahun dalam kabupaten Cut-off umber data Frekuensi Tujuan engguna : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan pengambilan kebijakan : Kabupaten.Sumber data .Trigger level . : Puskesmas b.

Cut-off .Trigger level .Bidan Desa. Gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat c). Refleksi keadaan gizi masyarakat b).Indikato .45 TAHUN DAN IBU HAMIL Definisi : 1.Sumber data .5 cm 2.Pengguna 5.5 3. KEK WUS : IMT< 18.Sumber data . Screening ibu hamil yang memiliki resiko BBLR untuk diberikan treatment .. KEK ibu hamil : LILA<23. MASALAH KEK DAN RESIKO KEK WANITA USIA SUBUR (WUS) USIA 15. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK USIA MASUK SEKOLAH Definisi: Gangguan pertumbuhan anak usia masuk sekolah adalah pencapaian tinggi badan anak baru masuk sekolah (TBABS) Kegunaan : a). .Pengguna : 1. Resiko KEK WUS : LILA<23. keadaan social ekonomi masyarakat dan efektivitas upaya perbaikan keadaan gizi masa balita.Indikator . Prevalensi gizi buruk >1% : Surkesnas : Sekali dsalam tiga tahun ujuan : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan perumusan kebijakan di : Pusat 4.Puskesmas (penyuluhan) .Frekuensi Tujuan : Prevalensi pendek (TB/U<-2 SD : Prevalensi pendek >20% : Pemantauan TBABS-DepKes Kesos : Sekali dalam 5 tahun : Evaluasi perkembangan keadaan gizi masyarakat. Propinsi dan Pusat.Trigger level . atau 2.Sumber data : Lingkar lengan atas : LILA < 23.5 cm Kegunaan : a.Frekuensi tingkat Nasional . Gambaran efektivitas upaya perbaikan gizi masa balita . : Kabupaten.5 cm : Kohort ibu hamil. Prevalensi gizi kurang >20%.

Konsumsi garam beryodium : Susenas dan monitoring . KEK : IMT<18. Resiko KEK : LILA<23. MASALAH GAKY (GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM) Definisi GAKY : Defisiensi yodium Kegunaan : Memberikan gambaran besar dan sebaran masalah GAKY .Indikator .5 2.Tujuan .Frekuensi : TGR dan EYU : Sekali 5 tahun sekali setahun (monitoring garam beryodium oleh Kabupaten Konsumsi garam beryodium : Sekali 3 tahun (Susenas) dan .Sumber data : 1. Konsumsi garam beryodium (>=30ppm)<80% rumah tangga .Indikator : 1.Sumber data . Eksresi Yodium Urine (EYU) pada anak sekolah .Pengguna : Puskesmas : 1.Tujuan : Setiap ditemukan ibu hamil (setiap saat) : Screening ibu hamil KEK untuk diberikan penyuluhan dan intervensi (PMT ibu hamil) . KEK : Indeks massa tubuh (IMT) 2. Memberikan gambaran perkembangan status gizi WUS.Frekuensi .. 6. EYU 100 mcg/dl>50% 3.Frekuensi .Pengguna . TGR dann EYU : Survei nasional pemetaan 2. Prevalensi GAKY (Total Goiter Rate = TGR) anak sekolah) 2. TGR>5% 2.Cut-off .5 cm : Survei cepat dan surkesnas (KEK WUS) dan Susenas (Resiko KEK) : Sekali dalam 3 tahun : Evaluasi perkembangan keadaan gizi kelompok wanita usia Subur (WUS) : Resiko KEK : Propinsi dan Pusat KEK WUS : Pusat b.Trigger level : 1. Resiko KEK : Lingkar lengan atas (LILA) : 1.

Screening kasus Xerophtamia untuk perawatan . Prev.Tujuan 7.Trigger level .Trigger level: 1. Serum retinol (<20mcg/dl)>0. zat Besi.Indikator : Prevalensi XiB dan Prev.Trigger level: 1.Frekuensi -. Calsium dan Vitamin B1) . .Sumber data : Survei Vitamin A (SUVITA) – DepKes Kesos .Sumber data . Tujuan . .Frekuensi : Sekali dalam 10 tahun .5% . Prev. rumah tangga dengan konsumsi energi (<70%RDA) > 30% .Pengguna : Kabupaten-Propinsi-Pusat . Prev X1B>0.Indikator : Prevalensi deficit energi dan protein serta zat gizi mikro (Vit.Propinsi.Indikator . Kegunaan : Memberikan gambaran perkembangan konsumsi makro dan mikronutrien serta pola konsumsi masyarakat.Pusat Defisiensi vitamin A b.oleh kabupaten) : Memberikan gambaran tentang masalah GAKY untuk manajemen program perbaikan GAKY (distribusi kapsul dan garam beryodium). MASALAH KONSUMSI GIZI Definisi : Masalah defisiensi Intake Makro dan Mikro nutrient di masyarakat.Pengguna : kasus Xerophtalmia : Setiap ada kasus : Laporan kasus Puskesmas dan RS setempat : Setiap ada kasus (setiap saat) : Tindakan cepat penanganan masalah Xerophtalmia : Kabupaten.Serum Retinol <20 mcg/dl . MASALAH KVA (KURANG VITAMIN A) Definisi : Kegunaan : a.Pengguna : Propinsi dan Pusat 8.A. Untuk memberikan gambaran perkembangan masalah KVA .5% 2.

2. atau <12mg pada wanita tidak hamil Kegunaan : Memberikan gambaran perkembangan masalah anemia dan besarannya .Trigger level: Belum ada ketentuan . Surkesnas .Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun . perumusan kebijakan penanganannya . Prevalensi anemia pada WUS 5).Frekuensi .Propinsi.Pengguna: Pusat 10.Indikator : 1).Pusat 9. .rumah tangga dengan konsumsi protein (<70%RDA) > 30% 3.Sumber data : Badan Litbang Kes (+BPS).Sumber data : Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) Depkes Kesos .Pengguna : Kabupaten. Lainnya dengan melihat besaran dan perkembangan dari waktu ke waktu . Prevalensi anemia pada lansia 6). Prevalensi anemia pada Nakerwan . MASALAH ANEMIA GIZI Definisi : Defisiensi zat besi yang diindikasikan dengan kadar Hb darah < 11mg% (wanita hamil). Prev. Prevalensi anemia balita 3). Prevalensi anemia pada ibu hamil/ibu nifas 4). Prevalensi anemia pada bayi 2). dan juga memberikan masukan bagi instansi yang berhubungan dengan ketersediaan pangan. GIZI DARURAT .Tujuan : Evaluasi perkembangan masalah anemia gizi untuk perencanaan program.Tujuan : Sekali dalam 3 tahun : Evaluasi perkembangan masalah dan untuk analisa factor-faktor yang berkaitan.

bencana alam atau konflik lainnya yang mengakibatkan banyak penduduk keluar dari daerah tempat tinggalnya dan tinggal pada lokasi baru (tempat pengungsian) Kegunaan : Memberikan masukan dalam kaitannya dengan penanganan pangan dan gizi dalam keadaan darurat.Indikator: Prevalensi wasting (BB/TB) . MP-ASI adalah makanan tambahan dalam bentuk lunak maupun bentuk makanan dewasa selain ASI sampai anak usia 24 bulan. sekali saat terjadi pengungsian .Tujuan .Pusat International Agency-LSM 11. MASALAH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN MP-ASI Definisi : 1.Indikator . Frekuensi : 1.Pusat Kegunaan : Memberikan gambaran kecenderungan masalah gizi lebih terutama di daerah perkotaan. tergantung kebutuhan (sekali dalam 3 bulan atau sekali dalam 6 bulan) .000.Sumber data . atau antara 10-15% dengan angka kematian kasar 1/10. .Pengguna : Manajemen penanganan masalah gizi pada situasi darurat : Kabupaten-Propinsi. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan. 12.Definisi: Keadaan darurat yang dimaksud adalah situasi yang terjadi akibat konflik politik. Kegunaan : . 2. MASALAH GIZI LEBIH ORANG DEWASA Definisi : gizi lebih adalah mulai dari overweight sampai dengan obese .Trigger level . Survei cepat.Trigger level: Prevalensi BB/TB (<-2SD)>15%.Sumber data : Survei cepat dan monitoring keadaan gizi di lokasi darurat oleh propinsi ddan pusat (international agency) 2.Pengguna : Prevalensi IMT>25 : Prevalensi IMT (IMT>25)>10% : Survei cepat IMT Depkes dan Kesos : Sekali dalam 3 tahun : Manajemen penanganan masalah gizi lebih pada orang dewasa : Propinsi. atau angka kematian gizi buruk>1% -.Frekuensi .Tujuan . Monitoring.

Trigger level .a. Kwashiorkor Tanda-tanda : • Edema umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki (dorsum pedis) .Trigger level . indikator PSG dan PKG sertai diare kronik atau konstipasi serta penyakit kronik • Tekanan darah.Indikator. mudahnya pengukuran b. Nilai suatu indikator harus seimbang dengan pertimbangan praktis tertentu.Tujuan .Indikator.Frekuensi .Pusat .Tujuan: Manajemen penyuluhan dalam rangka peningkatan praktek pemberian ASI Eksklusif b.Pengguna : Tidak memberikan ASI Eksklusif : Kohort bayi.Sumber data . Penyuluhan individu ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah agar memberikan ASI Eksklusif . Memberikan gambaran tentang perkembangan praktek pemberian ASI eksklusif .Frekuensi .: Proporsi ibu memiliki bayi usia 4 bulan yang hanya memberikan ASI (ASI Eksklusif) .Bidan Desa/Kader Posyandu : Setiap ada ibu yang memiliki bayi 4 bulan ke bawah : Tindakan penyuluhan agar memberikan ASI Eksklusif : Puskesmas RANGKUMAN Indikator merupakan suatu alat yang dipaki untuk mengamati dan mendapatkan informasi. indikator SKPG b. kecepatan dan frekuensi tersedianya data c. biaya Jenis-jenis indikator dalam surveilans gizi : a.Sumber data . detak jantung dan pernapasan berkurang 2. yaitu : a. Ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah .Pengguna : Proporsi ASI Eksklusif tidak menurun : Badan Litbangkes (+BPS)--Surkesnas : Sekali dalam 3 tahun : Propinsi. indikator SIDI c.

Keadaan klinis gizi buruk dapat dibagi menjadi kondisi marasmus. Marasmus Kwashiorkor Tanda-tanda : merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor B. Diagnosis kurang gizi selain ditegakkan melalui pemeriksaan antropometri (penghitungan berat badan menurut umur /panjang badan) dapat juga melalui temuan klinis yang dijumpai. muka seperti orang tua. Apabila ditemukan balita dengan wajah sangat kurus. jika setelah diplot pada KMS ternyata BB anak berada di bawah garis merah (BGM). dan bila ada bengkak terutama pada kaki. anemia dan diare Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut • Gangguan kulit berupa bercak merah dan meluas dan berubah menjadi hitam dan terkelupas (Crazy Pavement Dermatosis) • Pandangan mata anak tampak sayu 3. TB/U dan BB/TB dengan baku antropometri yang digunakan di Indonesia yaitu baku WHO-NCHS. kwasiorkor dan bentuk campuran (marasmik kwasiorkor). lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk. anak berbaring terus menerus • • • • • Cengeng. rewel kadang apatis Anak sering menolak segala jenis makanan Pembesaran hati Sering disertai infeksi. perut cekung. Cara diagnosa Status gizi dapat ditentukan dengan empat cara yaitu: antropometri. kulit keriput disebut marasmus. jika ya maka dapat dikategorikan sebagai balita gizi buruk. Status gizi (gizi lebih. Penentuan status gizi buruk dapat dilakukan dengan cara melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita seperti yang tersebut diatas.3 SD. kurang atau buruk) dapat diketahui dengan membandingkan indeks BB/U. klinis. maka lihat kembali apakah BB/U atau BB/TB < . wajah membulat dan sembab disebut kwashiorkor. baik. riwayat gizi dan biokimia.• Wajah membulat dan sembab • Otot-otot mengecil. .

4% dan gizi buruk menjadi 7. Berdasarkan perkembangan masalah gizi. Di samping itu peningkatan jumlah kasus yang besar karena adanya kegiatan pencarian kasus baru secara aktif melalui operasi timbang dengan target semua balita ditimbang dan diukur status gizinya. Pada bulan Desember 2005 dilaporkan sebesar 3. Pada bulan Agustus tahun 2005.6 % pada tahun 1995 menjadi menjadi 6.754. yang memerlukan perawatan kesehatan yang intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit.5% pada tahun 2003. demikian pula prevalensi gizi buruk meningkat menjadi 8. total kasus gizi buruk sebanyak 76. kwashiorkor. 1.3 % pada tahun yang sama. Pada bulan Juli 2005 jumlah propinsi yang melapor meningkat menjadi 28 propinsi dengan total kasus yang dilaporkan sebanyak 1. terjadi sedikit penurunan prevalensi gizi kurang menjadi 25.355 anak. Semua anak gizi buruk mendapatkan penanganan berupa: perawatan di Puskesmas dan di Rumah Sakit serta dilakukan tindak lanjut paska perawatan berupa rawat jalan. propinsi yang melapor menjadi 29 propinsi dengan jumlah baru yang dilaporkan sebanyak 10.178 balita. Bulan September dan Oktober 2005 jumlah kasus yang dilaporkan menurun menjadi 471 anak dan 440 anak. . Berdasarkan hasil surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2005. dan marasmus-kwashiorkor.1 % pada tahun 2001.592 kasus. Prevalensi Keadaan status gizi balita mengalami perbaikan yaitu dengan menurunnya prevalensi gizi kurang dari 31. Pada balita gizi buruk harus dicari juga apakah ada penyakit penyerta lainnya yang dapat memperburuk kondisi status gizinya.4 juta di antaranya menderita gizi buruk. penjaringan kasus pada bulan ini dilakukan bersamaan dengan kampanye pemberian kapsul Vitamin A. Pada tahun 2004. demikian pula prevalensi gizi buruk mengalami penurunan dari 11.Marasmus kwashiorkor merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor. Kasus gizi buruk yang dilaporkan menurun setiap bulan.6 % pada tahun 1995 menjadi 26.000 menderita gizi buruk tingkat berat yang disebut marasmus.445 anak. Pada bulan Mei 2005. kasus gizi buruk dilaporkan dari propinsi NTB dan NTT dengan jumlah kasus sebanyak 9. pada Tahun 2004 diperkirakan sekitar 5 juta balita menderita gizi kurang (berat badan menurut umur). Pada bulan November 2005 kasus yang dilaporkan sebanyak 164 kasus. Selanjutnya terjadi peningkatan secara perlahan prevalensi gizi kurang menjadi 27.957 anak (Grafik 2). Dari balita yang menderita gizi buruk tersebut ada 140. dan melalui posyandu untuk dipantau kenaikan berat badan dan mendapatkan makanan tambahan. hal ini disebabkan jumlah propinsi yang melapor meningkat menjadi 26 propinsi.3% pada tahun 2001.2 %. C. Pada bulan Juni jumlah kasus gizi buruk yang dilaporkan meningkat 49.

Lampung 4 kasus. Salah satu keuntungan dari penggunaan titik putus adalah usaha system pengamatan gizi dapat memusatkan diri pada sumber pengukuran deretan variable yang jatuh bebas. Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan.Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal dunia dilaporkan dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2005 adalah 293 balita (Grafik 3). disebut titik putus bagi perorangan atau satuan data. INDIKATOR SURVEILANS GIZI Indikator merupakan suatu alat yang dipakai untuk mengamati dan mendapatkan informasi. diare. Titik Putus dan Titik Aksi Nilai yang menjadi batas keadaan yang masih diterima atau batas normal. a. Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal tertinggi terjadi pada bulan Juni sebanyak 107 kasus. Sulsel 13 kasus. serta Maluku dan Malut masing-masing 1 kasus. Indikator dirancang dari serangkaian pengukuran. TB.NTB 2 kasus. pola asuh kurang memadai dan sanitasi/kesehatan lingkungan kurang baik serta akses pelayanan kesehatan terbatas . tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga. dan kedua: anak menderita penyakit infeksi. Gorontalo 13 kasus. anak yang sakit. tetapi mempunyai arti yang lebih daripada hanya hasil pengukuran. campak dan malaria. . pertama: anak kurang mendapat asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama. asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat penyakit infeksi . Faktor Risiko / Gizi yang mempengaruhi Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk dan faktor tersebut saling berkaitan. Suatu indicator mungkin tersusun dari hasil pengukuran-pengukuran di antara suatu kelompok masyarakat atau suatu daerah. SIFAT-SIFAT UMUM INDIKATOR Prinsip indikator berdasar pengukuran. Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga. I. Secara langsung. selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya kasus gizi buruk yang meninggal cenderung menurun. NTT 6 kasus. Sulteng 2 kasus. Namun demikian pada bulan Desember 2005 kasus gizi buruk yang dilaporkan meninggal dunia sebanyak 56 kasus yang merupakan laporan dari 9 propinsi yaitu dari Jatim 14 kasus. Kasus gizi buruk yang meninggal tersebut pada umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti ISPA.

b. Sifat-sifat indikator sehubungan dengan sampel Struktur dan sifat-sifat sampel mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku indikator dan terhadap interpretasinya. maka indicator akan bersifat mempunyai sesivitas dan spesifitas optimum. akan berbeda nilainya bagi sistem surveilans gizi dalam situasi yang berbeda. Perkataan kunci yang penting dan menentukan disini adalah kritis. maka perubahan dalam prevalensi kadar hemoglobin rendah akan merupakan indicator baik bagi status gizi zat besi. c. yang berarti bahwa suatu perubahan dalam status gizi yang cukup besar sehingga memerlukan tindakan penanggulangan. Titik aksi yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk saat memulai tindakan penanggulangan. maka dapat diambil berbagai interpretasi dengan tingkat ketepatan tertentu dan diketahui bahwa mewakili populasi induknya dengan cukup. Bila hal ini tercapai. Sifat spesifik suatu indikator. yang menjadi syarat dimulainya suatu tindakan dapat disebut titik aksi. Namun hal ini tidaklah benar untuk daerah yang mempunyai penyakit malaria sebagai sebab utama timbulnya anemia tersebut.Pengamatan bagian populasi yang terdapat dibawah titik putus. Idealnya suatu sampel sebaiknya dipilih mewakili populasi yang sedang dilakukan usaha system pengamatan gizi terhadapnya. Tingkat ketepatan interpretasi dari perubahan itu tergantung pula pada teknik standar bagi pengukuran sampel dalam jangka waktu tertentu. haruslah jelas tercermin dalam perubahan dan pada indicator. Sifat-sifat Indikator Sehubungan dengan Pengukuran dan Arti Pentingnya Kecenderungan yang Terlihat Indikator harus bersifat peka terhadap perubahan-perubahan dalam status gizi masyarakat pada waktu sekarang ataupun waktu yang akan datang. Suatu perubahan dalam indicator atau dalam gambaran kecenderungannya. Demikian pula indicator bagi situasi bahan pangan di pasar perkotaan mungkin akan mempunyai manfaat kecil saja untuk memahami situasi di daerah pedesaan yang terpencil. . hanyalah bila perubahan atau kecenderungan itu terletak di luar daerah nilainilai normal atau di luar variasi yang biasa terdapat. yang secara praktis menghasilkan sendiri bahan pangan yang dikonsumsinya. bila defisiensi zat besi di suatu daerah merupakan sebab utama timbulnya anemia. serta dibagi dalam kelompok-kelompok yang bersifat relative homogen. akan merupakan tanda yang dapat dipercaya untuk memulai tindakan penanggulangan. dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi dan hal ini akan berpengaruh pada pemilihan dan penentuan indicator dan titik aksinya. Sebagai contoh.

data dari suatu sampel yang representative yang mungkin dikumpulkan secara berkesinambungan. Sifat-sifat Operasional Nilai suatu indikator atau gambaran haruslah seimbang dengan pertimbangan praktis tertentu.Kecepatan dan frekuensi tersedianya data. maka indikatornya mempunyai kelebihan dalam hal waktu. mungkin masih dapat dipergunakan bahkan mungkin sangat berarti tetapi sebaiknya tidak dipakai untuk ekstrapolasi kesimpulan secara umum. d. . disebabkan keterbatasan biaya atau sukarnya mencapai kelompok-kelompok masyarakat tertentu. tetapi hanyalah akan mempunyai arti bila seluruh sampelnya telah terkumpul. Nilai indicator dapat pula ditingkatkan dengan semakin besarnya frekuensi pengumpulan data.Biaya Biaya untuk usaha mendapatkan data merupakan kendala menyeluruh yang harus dipertimbangkan dalam menilai suatu indicator. dalam rangka keseimbangan anatara nilai data dan biaya untuk mencapainya. tetapi sebaliknya hal ini haruslah dipertimbangkan dengan tambahan biaya. Bila data dihasilkan secara berkesinambungan. Pengukuran yang dilakukan berkesinambungan tidaklah sinonim dengan tersedianya data untuk dipergunakan secara terus menerus. misalnya catatan suatu Klinik Kesehatan Ibu dan Anak. Karena itu. .Dalam pelaksanaannya. Namun ada beberapa keterangan akan lebih mudah didapat dengan pertolongan teknologi canggih. misalnya : dengan teknik fotogrametik udara.Mudahnya pengukuran Data yang dicapai dengan mudah dengan peralatan minimum dan sedikit memerlukan pengolahan jelas. Biaya mempunyai hubungan dengan semua pertimbangan pelaksanaan dan dipengaruhi oleh sifat-sifat yang telah dikemukakan terlebih dahulu. . keadaan yang ideal ini mungkin sulit dicapai. jika tidak dapat cepat masuk atau siap pakai. Sebagai contoh. diperlukan pengambilan keputusan besar dalam segi pelaksanaan dan mempertimbangkan sumber-sumber data yang tersedia. mempunyai kelebihan keuntungan terhadap yang memerlukan metode yang berliku-liku. sehingga hasilnya tidaklah mewakili secara representatif. yaitu : . atau dapat pula karena sumber-sumber data yang tersedia tidak mampu meliputi seluruh populasi yang dituju. Hal ini sangat penting bagi penemuan dini perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Maka tidaklah ada gunanya untuk mengusahakan tersedianya data lebih cepat ataupun lebih sering.

harga panen. Indikator yang bersifat spesifik lokal seperti meningkatnya penjualan aset rumah tangga. Indikator SKPG dapat dikelompokkan menurut sifat penerapannya yaitu : 1. perikanan. bahan bakar (energi) . tanah air. yaitu: 1. yaitu kejadian lokal (indikator lokal) yang dapat dipakai untuk mengamati ada tidaknya kejadian rawan pangan dan gizi B. Indikator yang bersifat universal (berlaku umum) seperti jumlah keluarga miskin. luas kerusakan. yaitu prevalensi KEP. demografi antrografi . Indikator dimaksud meliputi situasi produksi pangan dan faktor-faktor utama yang mepengaruhinya. Indikator SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi) Indikator yang digunakan dalam SKPG harus dapat menggambarkan perubahan situasi pangan dan gizi. meningkatkan jumlah pengangguran.II. luas kerusakan dan jumlah keluarga miskin 2. indikator SKPG dikategorikan dalam 3 kelompok utama.ekologi : meteorologi. peternakan.infrastruktur (prasarana : perhubungan. status gizi dan harga pangan pokok 2. tipe informasi yang kemudian dapat menghasilkan indikator. Indikator untuk peramalan produksi dan distribusi pangan. meningkatkan kriminalitas dan lain sebagainya. INDIKATOR SIDI ( SISTEM ISYARAT DINI DAN INTERVENSI) Penentuan indikator SIDI berkaitan dengan permasalahan pangan dan gizi. vegetasi. harga pangan pokok dan status gizi masyarakat 3. ekspor dan impor pangan. animalitas. luas panen. distribusi dan konsumsi pangan serta status gizi. cadangan pangan. Indikator spesifik lokal dapat dikembangkan oleh Tim Pangan dan Gizi (TPG) di masing-masing daerah Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Indikator untuk pengamatan kejadian rawan pangan dan gizi. Indikator untuk pemetaan situasi pangan dan gizi kecamatan. yaitu luas tanam. JENIS-JENIS INDIKATOR SURVEILANS GIZI A. dapat dikelompokkan berdasarkan urutan penyebabnya sebagai berikut : Tingkat A : . badan-badan pelayanan masyarakat Tingkat B : produksi dan sunberdaya : tanaman pangan.

Tujuan . pendapatan.Cut-off .Frekuensi .Pengguna b. Kegunaan: a. Indikator terlambat (late indicators) merupakan hasil intervensi sebelumnya. Untuk gambaran perkembangann keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat kecamatan indikator : prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir hidup Trigger level : prevalensi BBLR > 15% . Untuk screening (penapisan) individu : berat badan lahir (BBL) : BBL < 2500 gr : bidan desa atau dukun terlatih (laporan kohort bayi) : setiap ada bayi lahir : penapisan bayi untuk diberi perawatan : Puskesmas . INDIKATOR PSG (PEMANTAUAN STATUS GIZI) DAN PKG (PEMANTAUAN KONSUMSI GIZI) BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH Definisi : berat badan lahir rendah adalah berat badan bayi lahir hidup di bawah 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir. lapangan kerja. Tabel berikut menyajikan contoh keterkaitan antara indikator dengan intervensi dalam SIDI. Indikator kini ( concurrent indikator) yaitu memberi petunjuk mulai perlunya dilakukan tindakan segera.Sumber data yang bersangkutan) . terutama ibu dan anak c. pola penyakit Indikator dini (early indicators) adalah petunjuk untuk mulai bersiap-siap melakukan mobilisasi. C. yang termasuk didalamya indikator tingkat B.Tingkat C : pendapatan dan konsumsi : pasar. yang termasuk di dalammya indikator tingkat A. adalah indikator tingkat C dan tingkat D.Frekuensi : sekali setahun (dihitung pada tengah tahun) tujuan : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat. konsumsi pangan termasuk kuantitas dan kualitasnya Tingkat D : status kesehatan: status gizi. Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak antar kecamatan dalam kabupaten : Puskesmas ( kompilasi laporan kohort bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari puskesmas –puskesmas di kecamatan .Indicator .Sumber data .

Sumber data . Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat nasional .Frekuensi pemulihan) : Puskesmas b. %N/(D-O-B) dengan kondisi (D?S > = 80%).Trigger level . 3T (3 kali penimbangan tidak naik BB) : Posyandu (penimbangan bulanan) : sekali setahun ujuan : Sreening balita yang memerlukan tindakan rujukan atau intervensi khusus (pengobatan dan atau PMT engguna ndikator . Bila D/S belum >= 80% upayakan untuk ditingkatkan : pertumbuhan berat badan (SKDN) : 1. terutama ibu dan anak secara nasional 1.Indikator .Sumber data .Pengguna : prevalensi BBLR dalam periode tertentu : prevalensi BBLR > 15% : Tim Surkesnas (Badan Litbangkes + BPS) : Sekali dalam 3 tahun : primer/pusat gger level mber data kuensi uan gguna juan : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN BALITA Definisi : gangguan pertumbuhan bila BGM atau tiga kali penimbangan bulanan tidak naik berat badan Kegunaan : a. Gambaran keadaan pertumbuhan balita tingkat kecamatan : 1.Cut-off . Screening individu balitan untuk rujukan/perawatan/treatmen . BGM (BB/U < -3SD) 2.Indikator . terutama ibu dan anak : kabupaten dan propinsi d.Indikator : prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir hidup : prevalensi BBLR > 15% : kecamatan (kompilasi laporan kohort bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari kecamatan-kecamatan di kabupaten bersangkutan) : sekali setahun (dihitung pada tengah tahun) : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat.Frekuensi .

%BGM>1% : kecamatan (kompilasi laporan SKDN dari kecamatan yang ada di wilayah kabupaten tersebut) : sekali sebulan : evaluasi keadaan pertumbuhan balita untuk tindakan Preventif terhadap memburuknya keadaan gizi : kabupaten dan propinsi ekuensi ujuan engguna 2. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >=80%).Pengguna : 1. % BGM/D 2.Sumber data .Trigger level .2. Cut-off umber data Frekuensi Tujuan .Indikator : BB/U : BB/U<-2 SD (gizi kurang) dan BB/U : Puskesmas (Pelacakan gizi buruk. Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatment . % N/(D-O-B) < 60% Sumber data: Puskesmas (kompilasi laporan SKDN dari Puskesmas yang ada di wilayah kecamatan yang bersangkutan) : sekali sebulan : evaluasi keadaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif terhadap memburuknya keadaan gizi : kecamatan c. % BGM/D . %N/(D-O-B)<60% 2. Gambaran keadaan pertumbuhan balita antar kecamatan dalam kabupaten .Indikator : 1.Frekuensi . kunjungan pasien dan opsional kegiatan bulan penimbangan ) : setiap ditemukan kasus (setiap saat) : Rujukan atau memberika treatment khusus bagi penderita sesuai dengan “grade” kurang gizinya. Kegunaan : a. Bila D/S belum >=80% upayakan untuk ditingkatkan 2. %BGM>1% rigger level : 1.Tujuan . MASALAH KEP BALITA Definisi : Gizi kurang bila BB/U<-2 SD dan Gizi buruk bila BB/U<-3 SD.

Prevalensi gizi buruk >1% : Pemantauan Status Gizi (PSG) : Sekali setahun dalam kabupaten .engguna : Puskesmas b.Trigger level .Tujuan .Frekuensi : Prevalensi pendek (TB/U<-2 SD : Prevalensi pendek >20% : Pemantauan TBABS-DepKes Kesos : Sekali dalam 5 tahun : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk : 1.Indikator . atau 2.Indikato .Frekuensi tingkat Nasional . Propinsi dan Pusat c. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita tingkat Propinsi dan Nasional . Prevalensi gizi buruk >1% : Surkesnas : Sekali dsalam tiga tahun ujuan : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan perumusan kebijakan di .Indikator .Trigger level . Gambaran efektivitas upaya perbaikan gizi masa balita .Sumber data . Prevalensi gizi kurang >20%. Refleksi keadaan gizi masyarakat b).Sumber data .Trigger level . atau 2. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK USIA MASUK SEKOLAH Definisi: Gangguan pertumbuhan anak usia masuk sekolah adalah pencapaian tinggi badan anak baru masuk sekolah (TBABS) Kegunaan : a). Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita di kecamatan2 .Pengguna : Pusat 4.Frekuensi : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk : 1. Gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat c).Sumber data . Prevalensi gizi kurang >20%.Pengguna : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan pengambilan kebijakan : Kabupaten.

Puskesmas : Setiap ditemukan ibu hamil (setiap saat) (penyuluhan) .Pengguna : Puskesmas : 1. : Kabupaten.Pengguna 5. KEK : Indeks massa tubuh (IMT) 2.5 cm : Kohort ibu hamil.Tujuan : Evaluasi perkembangan keadaan gizi masyarakat.Frekuensi : Lingkar lengan atas : LILA < 23. keadaan social ekonomi masyarakat dan efektivitas upaya perbaikan keadaan gizi masa balita.Frekuensi .Cut-off .Pengguna .Tujuan . Resiko KEK : Lingkar lengan atas (LILA) : 1.Tujuan : Screening ibu hamil KEK untuk diberikan penyuluhan dan intervensi (PMT ibu hamil) . Resiko KEK : LILA<23.Indikator . MASALAH KEK DAN RESIKO KEK WANITA USIA SUBUR (WUS) USIA 15.5 cm 2. Memberikan gambaran perkembangan status gizi WUS.Indikator .Sumber data . KEK : IMT<18. .5 3.5 cm : Survei cepat dan surkesnas (KEK WUS) dan Susenas (Resiko KEK) : Sekali dalam 3 tahun : Evaluasi perkembangan keadaan gizi kelompok wanita usia Subur (WUS) : Resiko KEK : Propinsi dan Pusat KEK WUS : Pusat b. Propinsi dan Pusat. Resiko KEK WUS : LILA<23.5 2.Bidan Desa. .Sumber data .45 TAHUN DAN IBU HAMIL Definisi : 1. KEK ibu hamil : LILA<23.5 cm Kegunaan : a. KEK WUS : IMT< 18. Screening ibu hamil yang memiliki resiko BBLR untuk diberikan treatment .Cut-off .

Sumber data : 1. Screening kasus Xerophtamia untuk perawatan .Propinsi. MASALAH GAKY (GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM) Definisi GAKY : Defisiensi yodium Kegunaan : Memberikan gambaran besar dan sebaran masalah GAKY . Untuk memberikan gambaran perkembangan masalah KVA .Pusat Defisiensi vitamin A b. TGR dann EYU : Survei nasional pemetaan 2. Eksresi Yodium Urine (EYU) pada anak sekolah .Pengguna : kasus Xerophtalmia : Setiap ada kasus : Laporan kasus Puskesmas dan RS setempat : Setiap ada kasus (setiap saat) : Tindakan cepat penanganan masalah Xerophtalmia : Kabupaten. : Kabupaten-Propinsi-Pusat garam beryodium oleh Kabupaten Konsumsi garam beryodium : Sekali 3 tahun (Susenas) dan .Frekuensi -.Konsumsi garam beryodium : Susenas dan monitoring .Frekuensi : TGR dan EYU : Sekali 5 tahun sekali setahun (monitoring oleh kabupaten) : Memberikan gambaran tentang masalah GAKY untuk manajemen program perbaikan GAKY (distribusi kapsul dan garam beryodium). TGR>5% 2.Trigger level .Tujuan .6. Prevalensi GAKY (Total Goiter Rate = TGR) anak sekolah) 2.Trigger level : 1.Indikator . Tujuan . MASALAH KVA (KURANG VITAMIN A) Definisi : Kegunaan : a.Sumber data . EYU 100 mcg/dl>50% 3.Pengguna 7. Konsumsi garam beryodium (>=30ppm)<80% rumah tangga .Indikator : 1.

Prev.Indikator : Prevalensi XiB dan Prev.5% 2.Sumber data : Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) Depkes Kesos . MASALAH ANEMIA GIZI Definisi : Defisiensi zat besi yang diindikasikan dengan kadar Hb darah < 11mg% (wanita hamil). Calsium dan Vitamin B1) .Pengguna : Propinsi dan Pusat 8. . rumah tangga dengan konsumsi energi (<70%RDA) > 30% 2. . Prevalensi anemia balita . Prev. Prev X1B>0.Pusat 9. zat Besi..Indikator : 1).A.Indikator : Prevalensi deficit energi dan protein serta zat gizi mikro (Vit. Kegunaan : Memberikan gambaran perkembangan konsumsi makro dan mikronutrien serta pola konsumsi masyarakat. MASALAH KONSUMSI GIZI Definisi : Masalah defisiensi Intake Makro dan Mikro nutrient di masyarakat.Sumber data : Survei Vitamin A (SUVITA) – DepKes Kesos . Prev. Lainnya dengan melihat besaran dan perkembangan dari waktu ke waktu .rumah tangga dengan konsumsi protein (<70%RDA) > 30% 3. Prevalensi anemia pada bayi 2).Frekuensi : Sekali dalam 10 tahun .Frekuensi . Serum retinol (<20mcg/dl)>0.Serum Retinol <20 mcg/dl . atau <12mg pada wanita tidak hamil Kegunaan : Memberikan gambaran perkembangan masalah anemia dan besarannya .Tujuan : Sekali dalam 3 tahun : Evaluasi perkembangan masalah dan untuk analisa factor-faktor yang berkaitan.Propinsi.5% .Pengguna : Kabupaten.Trigger level: 1.Trigger level: 1. dan juga memberikan masukan bagi instansi yang berhubungan dengan ketersediaan pangan.

Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun .Indikator . sekali saat terjadi pengungsian .Trigger level : Prevalensi IMT>25 : Prevalensi IMT (IMT>25)>10% Kegunaan : Memberikan gambaran kecenderungan masalah gizi lebih terutama di daerah perkotaan.Indikator: Prevalensi wasting (BB/TB) . tergantung kebutuhan (sekali dalam 3 bulan atau sekali dalam 6 bulan) .3).Trigger level: Prevalensi BB/TB (<-2SD)>15%. Frekuensi : 1.000.Tujuan : Evaluasi perkembangan masalah anemia gizi untuk perencanaan program. Monitoring.Pengguna : Manajemen penanganan masalah gizi pada situasi darurat : Kabupaten-Propinsi. Surkesnas . GIZI DARURAT Definisi: Keadaan darurat yang dimaksud adalah situasi yang terjadi akibat konflik politik.Pusat International Agency-LSM 11. bencana alam atau konflik lainnya yang mengakibatkan banyak penduduk keluar dari daerah tempat tinggalnya dan tinggal pada lokasi baru (tempat pengungsian) Kegunaan : Memberikan masukan dalam kaitannya dengan penanganan pangan dan gizi dalam keadaan darurat. .Tujuan .Pengguna: Pusat 10.Sumber data : Badan Litbang Kes (+BPS). Prevalensi anemia pada lansia 6).Sumber data : Survei cepat dan monitoring keadaan gizi di lokasi darurat oleh propinsi ddan pusat (international agency) 2. atau antara 10-15% dengan angka kematian kasar 1/10.Trigger level: Belum ada ketentuan . Survei cepat. perumusan kebijakan penanganannya . MASALAH GIZI LEBIH ORANG DEWASA Definisi : gizi lebih adalah mulai dari overweight sampai dengan obese . Prevalensi anemia pada ibu hamil/ibu nifas 4). . Prevalensi anemia pada WUS 5). atau angka kematian gizi buruk>1% -. Prevalensi anemia pada Nakerwan .

yaitu : a. mudahnya pengukuran . 2..Pusat 12.Bidan Desa/Kader Posyandu : Setiap ada ibu yang memiliki bayi 4 bulan ke bawah : Tindakan penyuluhan agar memberikan ASI Eksklusif : Puskesmas RANGKUMAN Indikator merupakan suatu alat yang dipaki untuk mengamati dan mendapatkan informasi.Pengguna : Survei cepat IMT Depkes dan Kesos : Sekali dalam 3 tahun : Manajemen penanganan masalah gizi lebih pada orang dewasa : Propinsi.Frekuensi .Indikator : Proporsi ASI Eksklusif tidak menurun : Badan Litbangkes (+BPS)--Surkesnas : Sekali dalam 3 tahun : Propinsi.Frekuensi .Trigger level .Pengguna : Tidak memberikan ASI Eksklusif : Kohort bayi. Kegunaan : a.Sumber data . MASALAH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN MP-ASI Definisi : 1. Nilai suatu indikator harus seimbang dengan pertimbangan praktis tertentu.Pusat Tujuan : Manajemen penyuluhan dalam rangka peningkatan praktek pemberian ASI Eksklusif b. Memberikan gambaran tentang perkembangan praktek pemberian ASI eksklusif Indikator : Proporsi ibu memiliki bayi usia 4 bulan yang hanya memberikan ASI (ASI Eksklusif) .Sumber data .Pengguna .Trigger level .Tujuan . ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan.Tujuan .Sumber data . MP-ASI adalah makanan tambahan dalam bentuk lunak maupun bentuk makanan dewasa selain ASI sampai anak usia 24 bulan.Frekuensi . Penyuluhan individu ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah agar memberikan ASI Eksklusif : Ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah .

kecepatan dan frekuensi tersedianya data c.b. biaya Jenis-jenis indikator dalam surveilans gizi : a. indikator SKPG b. indikator PSG dan PKG . indikator SIDI c.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->