P. 1
TUJUAN DAKWAH

TUJUAN DAKWAH

|Views: 47|Likes:
Published by Sidik Nur Irfan

More info:

Published by: Sidik Nur Irfan on Sep 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2013

pdf

text

original

TUJUAN DAKWAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sertifikasi IV
Dosen Pengampu : Wawan Gunawan













Di susun oleh :

Ndaru Asmara 11A06007
Putra Aji Almujtahid 11A060008
Sidik Nur Irfan 11A06017



Program Studi PG MIPA Unggulan Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Ahmad Dahlan
2013

Kata Pengantar

Daftar Isi
Halaman Judul ............................................................................ i
Kata Pengantar ........................................................................... ii
Daftar Isi ...................................................................................... iii
Pendahuluan ................................................................................ 1
Latar Belakang ................................................................... 1
Tujuan .................................................................................
Manfaat ...............................................................................
Pembahasan .................................................................................
A. Tujuan Dakwah dan Filsafat tujuan .......................................
B. Filsafat Tujuan ............................................................................
C. Fungsi Tujuan ............................................................................
D. Tahapan-tahapan Dakwah ..........................................................
Kesimpulan
A. Saran .............................................................................
B. Kritik .............................................................................
Daftar Pustaka .............................................................................

Pendahuluan
A. Latar belakang
Islam, merupakan satu-satunya ajaran agama yang hakekatnya adalah
untuk keselamatan umat manusia. Hal ini dibuktikan dalam konteks ajarannya
yang mengandung nilai-nilai Rahmatan lil alamin, artinya ajarannya bersifat
universal, tidak hanya dikhususkan kepada umat Islam, sebaliknya dapat
meletakkan dasar-dasar dan pola hidup yang tepat untuk dilaksanakan oleh
segenap umat manusia.
Dalam rangka pengaktualisasian konsep-konsep ajarannya itulah Islam
mengembangkan strategi dakwah, hal ini secara historis telah diteladankan oleh
Rasulullah ketika ajaran Islam pertama kali disyiarkan kepada kaum Quraiys saat
itu. Dakwah pertama kali dilakukan oleh Rasulullah dalam lingkungan keluarga
secara bertahap telah membentuk pola pikir, pola hidup dan keyakinan mereka
tentang keesaan Allah swt., yang kemudian berlanjut pada lingkungan sahabat dan
masyarakat umum. Demikianlah tahapan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah
dalam membesarkan ajaran Islam di tengah-tengah kaum yang bobrok akhlaknya
serta dangkal aqidahnya. Namun dilandasi oleh semangat juang untuk
menegakkan kebenaran dan keesaan Sang Pencipta, seluruhnya itu dapat berubah
hanya dalam jangka waktu  23 tahun.
Berangkat dari kenyataan yang ditunjukkan oleh Rasulullah dalam
dakwahnya tersebut, jika ditelaah secerna mungkin, maka dakwah merupakan
lapangan yang sangat penting dan utama sekali, baik dilihat dari pandangan
agama maupun dari segi pertumbuhan bangsa yang sedang membangun saat ini
dan masa yang akan datang. Makin banyak masyarakat membicarakan
pembangunan makin terasa sekali bagaimana ketergantungannya pada manusia,
faktor insan yang amat menentukan apakah akan berhasil ataukah tidak.
Dalam hal inilah diperlukan ajaran agama Islam yang dapat
memberingan sumbangan berharga, sebagaimana konsep ajarannya yang
menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sosialisasi
ajaran agama Islam ditengah-tengah masyarakat pembangun itu menggunakan
strategi dakwah baik yang dilakukan secara lisan, maupun fiil, dan dapat
dilakukan oleh setiap muslim. Dengan demikian, maka tujuan dakwah secara
umum dapat dikatakan membangun masyarakat yang maslahat dunia dan akhirat
melalui pengetahuan mendalam terhadap pokok-pokok syariahnya.
Salah satu kekeliruan banyak orang dalam memahami Islam sebagai
agama adalah bahwa Islam dari awal telah berjalan dengan baik dan berkembang
dengan pesat berbagai penjuru dunia, namun pada sisi lain, masih ditemukan
ketidak samaan visi dan persepsi umat Islam itu dalam memperjuangkan masa
depannya. Ketidak samaan visi tersebut sekaligus membawa kepada sikap skeptis,
yaitu merasa ragu dan curiga kepada kebenaran hakiki yang terkandung dalam
ajarannya.Antisipasi terhadap kemungkinan adanya sikap skeptis terhadap ajaran
Islam dan mengetahui arah tujuan dakwah Islam serta menjawab berbagai
persoalan yang muncul dalam Islam, diperlukan adanya pemikiran yang
mendalam dan kembali kepada prinsip-prinsip dakwah yang tertinggal selama ini.
Maka pada makalah ini akan dibahas tentang Hakikat Tujuan Dakwah, Meliputi :
Filsafat Tujuan , Fungsi Tujuan, Tahap-Tahap Dalam Mencapai Tujuan.

B. Tujuan
Tujuan dalam penulisan ini adalah adanya tolak ukur dalam melihat
keberhasilan atau kegagalan dalam aktivitas dakwah yang merujuk pada ketidak
sia-sian dalam melakukan kegiatan dakwah, serta menjadi cita-cita yang ingin
dicapai dalam berdakwah.

C. Manfaat
Manfaat penulisan ini adalah supaya dalam penyampaian dakwah lebih
terarah dan tersusun dengan baik.








Pembahasan
Hakikat Tujuan Dakwah, meliputi : Filsafat Tujuan, Fungsi Tujuan, Tahap-tahap
Dalam Mencapai Tujuan.
A. Tujuan Dakwah dan Filsafat tujuan
Tujuan dakwah sebagai komunikasi adalah memberi informasi tentang
agama islam. Tujuian ini bukanlah tujuan final. Perkembangan antar tabligh dan
dakwah tidaklah berakhir dengan wafatnya nabi saw. Tabligh dan dakwah itu
berlansung terus selama masih berdiri langit dan bumi, untuk menyampaikan
informasi mengenai agama islam, agar semua orang memperoleh pengetahuan
tentang agama islam dan mengerti tentang islam. Sebagai bukti mengerti tidaknya
umat ini dengan islam adalah akan terlihat mereka melakukan kebaikan dan itu
sekaligus juga akan mengimbas kepada keluarga dan masyarakat. Untuk hal ini
diperlukan dakwah yang tidak ada henti-hentinya. Hal ini dilakukan oleh para
ulama dan ilmuan sesuai dengan kemampuaanya. Inilah tujuan pada tahap
kewajiban menyampaikan.
Adapun tujuan final dari dakwah itu untuk mencapai keselamatan dan
kesentosaan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti. Maksudnya ialah
memperoleh kebahagian di dalam kehidupan ini dan kehidupan lain dalam dunia
yang kekal dan abadi, sesudah kehidupan di dunia ini.
Tujuan dakwah tidak ini identik dengan tujuan ilmu dakwah. Bilamana
tujuan dakwah untuk menyampaikan informasi tentang agama islam dan
memperkenalkannya kepada semua umat manusia. Maka ilmu dakwah bertujuan
melihat alternatif-alternatif yang lebih berdaya guna dalam menyebarkan
informasi tersebut. Ilmu berguna untuk mengetahui dan menyediakan jalan, cara-
cara untuk pelaksanan alternatif itu. Dengan kata lain ilmu dakwah
mempersoalkan metode dan sitem terlibat dalam penelitian tentang proses dakwah
serta dalam hal penerapannya dalam kehidupan manusia .
Menurut Syaikh Hasan Al-Banna bahwa tujuan dakwah dibagi kepada
dua: pertama tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.
1. Tujuan jangka Pendek : partisipasi dalam pengabdian masyarakat dan
pelayan sosial. pertama. Perbaikan individu : memperbaiki dirinya sendiri
hinga menjadi orang yang kuat fisiknya, kukuh akhlanya, luas
wawasannya, mampu berusaha , selamat akidahnya, benar ibadahnya ,
berjihad melawan dirinya sendiri, disiplin dengan waktunya , teratur
dalamurusannya,dan bermanfaat bagi orang lain. Kedua. Membangun
keluarga: pembentukan keluarga muslim, yaitu dengan mengkondisikan
anggota keluarganya agar menghormati fikrahnya, menjaga etika islam
dalamsetiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik
dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak
dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka
dengan prinsp-prinsipislam, juga merupakan kewajiban masing-masing
kita secara pribadi., ketiga : membimbing Masyarakat : membimbing
masyarakat dengan menyebarkan dakwah, memerangi sifat-sifat tercela
kemungkaran , mendorong sifat-sifat utama , amar ma’ruf, bersegera
mengerjakankebaikan , mengiring opini umum kepada fikrah islamiyah ,
dan selalu mewarnai praktek kehidupan dengannya, adalah kewajiban
yang harus ditunaikan olh setiap kita sebagai pribadi , merupakan
kewajiban jamaah sebagai lembaga aktif .
2. Tujuan Jangka Panjang: Reformasi dan perubahan total. Adapun tujuan
pokok daripada dakwah itu sendiri yang dikehendaki dan diperjuangkan
perwujudannya adalah perubahan secara total dan integral , yang unsur
kekuatan seluruh umatnya bahu-membahu, memberikan perhatian
berusaha melakukan perombakan di berbagai sektor kehidupan secara total
berusaha program ini didukung oleh para penguasa . agar negara islam
hidup kembali , agar hukumnya tegak kembali , agar berdiri pemerintahan
islam yang didukung sepenuhnya oleh umat islam, yang diatur
kehidupannya oleh syariat islam yang Allah perintahkan kepada Nabi-Nya
untuk diwujudkan Allah swt berfirman :
O¦¬¦ ElE4·UE¬E_ _OÞ>4N
lOE¬C)Oº= =}g)` @O^`·-
E_u¬)lE>·· ºº4Ò ;7)l4©·>
47.-4Ou-Ò¡ 4ׯg~-.- ºº
4pO÷©ÞU;¬4C ^¯g÷
18. kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan
(agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui. (Q.S : Al-Jatsiyah : 18)

a. Perbaikan pemerintahan dan penegakkan daulah di atas prinsip Islam
memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah islam
yang sesungguhnya, dengan memainkan perannya sebagai pelayan
umat dan pekerja demi kemaslahatan mereka.bagaimana pemerintah
islamitu ? menurut ustad Hasan Al-Banna terdiri dari kaum muslimin
yang menunaikan kewajiban-kewajiban islam, tidak terang-terangan
berbuat maksiat dan konsisten menerapkan hukum serta ajarn islam.
b. Mengembalikan Kekhalifaan (penyatuan Umat Islam): umat islam
berkeyakinan bahwa khilafah adalah simbol kesatuan islam dan
fenomena ikatan antar bangsa Muslim. Ia merupakan identitas islam
yang kaum muslimin harus memikirkannya dan menaruh perhatian
untuk merealisasikannya.
c. Perwujudan Kepemimpinan: untuk mewujudkan tujuan ini perlunya
membebaskan umat. Akan tetapi ingatlah selalu bahwa disana ada dua
tujuan pokok yakni agar negara Muslim terbebas dari setiap
penjajahan asing dan di negeri yang bebas ini tegak sebuah
pemerintahan islam yang merdeka.
d. Proklamasi Kepemimpinan Dunia.: tentang penyebaran cahaya Islam
dan petunjuknya bagi manusia kepada kabajikan dan kebenaran. Dan
penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah islam di
seluruh negeri sehingga Allah swt berfirman :
¯ª¬-O¬Ug-·~4Ò _/4®EO ºº
4pO7¯·> ¬OE4ug· 4pO7¯4C4Ò
÷ׯg].- *. W .....
Sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah belaka
(Q.S. Al-Baqarah : 193)


.... ©O.·4C4Ò +.- ·º)³ pÒ¡
O¦gNC +Þ4OO+^ .....
Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya
(Q.S. At-Taubah :32)

B. Filsafat Tujuan
Tujuan filsafat Dakwah adalah dapat memberikan pemahaman yang
bersifat universal tentang suatu unit ajaran islam secara mendalam, mendasar
dan radikal sampai keakar-akarnya, sehingga akhirnya dapat membawa kepada
kebenaran yang hakiki.
Kebenaran hakiki tersebut terimplementasi dalam sikap kesehariannya
sebagai seorang Islam. Lebih jauh bertujuan memberikan kepuasan bagi
seseorang yang sekaligus dapat membawa seseorang kepada kebahagian jiwa
yang amat berharga. Juga mengantarkan sesorang sampai kepada kepercayaan
keagamaan benar yang , yang kalau sebelumnya hanya diterima secara
dogmatis dan obsolut, maka pada akhirnya bukan hanya mitologis semata,
tetapi juga diterima melalui kerangka fikiran yang rasional dan juga akan
memberi arti penting dalam menyadari otoritas dirinya sebagai makhluk yang
berdimensi dalam memahami diri dan miliknya.
Pendapat lain juga mengatakan filsafat tujuan dari dakwah itu untuk
mengajar seluruh kemanusiaan kepada sistem islam, membimbing kepada cara
hidup Islam , kepada ajaran yang baik, karena tanpa Islam manusia tidak
mungkin mendapatkan kebahagian. Tugasi ini bukan tugas juz’iyah, bukan
tugas sampingan dan bukan sebahagia-sebahagian, bukan hanya untuk
mencapai tujuan-tujuan terbatas dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi saja,
bukan saja terbatas pada daerah, bangsa tertentu, akan tetapi tugas ini
merupakan meliputi segenap sisi kehidupan demi kebaikan seluruh manusia
sejagat yang paling sempurna dan bermanfaat. Bukankah Rasululah saw.
Diutus untuk membawa rahmat ke seluruh alam.
C. Fungsi Tujuan
Merupakan satu kesatuan antara yang satu dengan yang saling
membutuhkan/terkait dan merupakan komponen dakwah . Sebagaiman kalau
kita lihat fungsi tujuan dalam proses dakwah merupakan faktor yang paling
penting dan sentral dimana tujuan itulah dilandaskan segenap tindakan dalam
rangka usaha kerja sama, tujuan adalah merupakan landasan utama , bahkan
sesuatu yang senantiasa memberikan inspirasi dan motivasi yang
memyebabkan mereka bersedia melakukan tugas-tugas yang diserahkan
kepada mereka, begitu pula dalam tindakan-tindakan kontrol dan evaluasi,
pendek kata adalah kompas pedoman yang tidak boleh diabaikan dalam proses
penyelenggaraan dakwah.
Prosesing dakwah untuk mencapai dan mewujudkan tujuan utama,
sebagaimana telah disampaikan sebelumnya yang mencakup aktivitas yang
sangat luas. Segenap segi atau bidang kehidupan tidak ada satupun yang
terlepas dari aktivitas dakwah , agar aktivitas/kegiatan dakwah dalam segala
segi kehidupan itu dapat dilakukan secara efektif perlulah ditetapkan dan
dirumuskan nilai-nilai atau hasil-hasil yang harus dicapai oleh aktivitas dakwah
pada masing-masing segi atau bidang itu. Inilah yang disebut sebagai fungsi
tujuan.

D. Tahapan-tahapan Dakwah
Setiap dakwah harus melalui tiga tahap (marhalah), yaitu :
1. Tahap penerangan (ta’rif) atau tahap propaganda, memperkenalkan,
menggambarkan ide (fikrah) dan menyampaikannya kepada khalayak
ramai dan setiap lapisan masyarakat .
2. Tahap pembinaan dan pembentukan (Takwin) yaitu tahap pembentukan,
memilih pendukung, menyiapkan pasukan, mujahid dan mujahidah
dakwah serta mendidiknya. Mereka dipilih dari orang-orang yang telah
menyambut seruan dakwah.
3. Tahap pelaksanaan (tanfidz) yaitu tahap beramal, berusaha dan bergerak
mencapai tujuan

Ketiga tahapan tersebut selalu bergandengan dan harus disesuaikan satu
sama lainnya, karena kekuatan dan kesatuan dakwah bergantung pada
kekompakn seluruh tahap tersebut. Oleh karena itu para pendukung dakwah
dalammelancarkan dakwahnya harus memilikh dan membentuk anggota
dakwah, dan dalam waktu yang sama dia bergerak melaksanakan apa yang
dapat dilaksanakan.
Tahapan ini tidak akan terwujud dengan sempurna, kecuali harus mlalui
sususnan yang tgertib. Sebab suatu pembentukan misalnya tidak akan
berjalan secara sempurna tanpa lebih dahulu malalui tahapan pengenalan dan
pemahaman yang baik dan benar. Begitu juga suatu pelaksanan tidak
mungkin lengkap dan sempurna tanpa melalui prosestahao pembentukan
(pembinaan) dasar pendidikan yang sempurna pula.
1. Pengenalan (At-Ta’rif) dakwah/penerangan/penyebaran ide
Tahap pengenalan ini sangat mendasar , sebab merupakan langkah awal
dalam perjalanan dakwah. Setiap kesalahan atau penyimpangan yang
terjadi dalam peringkat pengenalan dan pemahaman ini akan membawa
akibat buruk dan menjadikan perjalanan dakwah terpeleset jauh dan garis
edarnya. Allah berfirman dalam surat Al-An’am : 153
EpÒ¡4Ò -EOE- OgC4O´·
V©1´³4-¯ON` +ÞON¬)lE>·· W
ºº4Ò W-ON¬)l+·> º+:OO¯-
·-·OE¼4-·· ¯ª7¯) }4N
·g¡)-O)lEc _ ¯ª7¯g¯·O
ª7¯´O4Ò ·gO) ¯ª¬:^UE¬·¯
4pO¬³+-·> ^¯)@÷
artinya :
“Ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena
jalan-jaln itu mencerai-beraikan kamu dari jaln-Nya yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-An’am :
153) .

Pada masa Rasulullah saw. Islam telah disempurnakan perkembangan dan
penyampaiannya menurut bentuknya yang baik dan benar, bersih dari
segala campuran, kekurangan dan penyelewengan. Jibril membawa turun
wahyu Allah kepada umat manusia dengan amanah danbenar. Akhirnya
islammenjadi sempurna dalambentuk orisinal dan suci.
Walau islam dalam sejarahnya terus menerus dihadapkan kepada berbagai
tantangan, tipu daya dan gangguan yang mencoba membutruhkan,
menghapuskan dan mencerai-beraikannya dari satu bagian ke bagian yang
lain yang dilakukan oleh musuh-musuh islam, atau berupa
penyelewengan-penyelewengan dari para ekstrimis-ektrimis dari kalangan
kaum mmuslimin sendiri. Namun Allah tetap memelihat kitab (Al-quran)
dan menjaminnya dengan pasti. Disamping itu banyak sekali ulama-ulama
yang menulis mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah saw. Yang menulis
dan menepisnya dari segala macam pemalsuan. Maka Ta’rif yang
merupakan salah satu tahapan dakwah yang menjadi sasaran adalah
Totalitas dakwah dan menjadi seorang Dai yang berpegang pada uslub
dakwah.
a. Totalitas Dakwah
Ketika menyampaikan Dakwah dan peringatan, kita harus
mengemukakan keuniversalan islam dengan lengkap, utuh, total dan
menyeluruh tanpa memisah-misahkan antara satu bagian dengan bagian
lainnya, atau menghapuskan satu bagian dari keseluruhannya, sebab
islama dalah penutup segala agama.
Islam adalah agama yang istimewa, universal, lengkap, sempurna
dan mencakup seluruh persoalan hidup manusia duniawi dan ukhrawi
dalam keselarasan dan keharmonisan yang unik.
b. Da’i dan uslub Dakwah
Untuk mewujudkan cita-cita dalam memperkenalkan dan
mengembangkan dakwah, seorang dai harus memiliki sifat-sifat asasi
dan ia harus berpegang pada uslub atau cara yang benar dan baik dalam
melaksanakan dakwahnya.
Diantara sifat utama dan asasi bagi seseorang pendakwah ialah
harus menjadi contoh, teladan dan model yang baik bagi islam yang
didakwahkannya. Dia harus melaksanakan semua rukun islam,
mengikuti sunnah dan cara hidup Rasulullah saw, menjahui segala
macam subhat dan yang meragukan, menjahui segala yang haram,
senantiasa mengingat Allah dalam suatu persoalan kecil atau besar.
Dalam rumah tangganya, semua anggota keluarganya harus turut
komitmen dengan seluruh ajaran islam dan menjaga serta
melaksanankan ajaran islam dan tatakaramnya.
Dan salah satu faktot terpenting didalam dakwah adalah
keikhlasan dan kebulatan tekad seseorang dai semata-mata karena Allah
dan dakwah Allah, seorang muslim yang bergerak di bidang dakwah
harus mempunyai bacaan luas, mengikuti segala macam peristiwa dan
pergolakan yang terjadi, mmengikuti perkembangan kondisi dan situasi,
dan mengetahui berbagai aliran dan ideolagi modern. Dan juga seorang
dai harus memahami tingkat dan kedudukan mad’u (orang yang diseru)
berbicara dengan mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya, karena
dengan itu akan memudahkan mereka untuk menyambut apa yang
diserukannya dan mereka tidak bosan mendengar ucapan seorang da’i

2. Tahap (Takwin) Pembentukan dan Pembinaan
Tahap penerangan dan proganda atau tahap perkenalan ide, jika
tidak diiringi dengan tahap pembentukan dan pembinaan (takwin) atau
pemilihan pendukung dan pembela seperti gologan Ansar dan
Hawariyun, dan mempersiapkan pasukan atau laskar serta mengatur
taktik barisan dari kalangan orang-orang yang diseru (mad’u),
kemungkinan akan menjadikan segala usaha yang telah dikorbankan
pada tahap penerangan dan pengenalan ide dakwah akan menjadi sia-sia,
bahkan akan hilang tanpa bekas.
Banyak dikalangan kaum muslimin yang diseru sekarang ini akan
dilahirkan dan dibesarkan dalam suatu masyarakat yang jauh dari jiwa
Islam, menjadikan suatu masyarakat yang akan dikuasi oleh adt istiadat
dan tradisi yang telah hancur , yang telah meresap dan bersatu dalam diri
dan kehidupan mereka. Jadi bagi seorang da’I yang menyeru manusia
kejalanAllah, memanggil manusia untuk hidup secara islami, harus
memperhatikan dengan serius dan bereusaha sunguh-sunguh dalam
membersihkan diri mereka dari segala tradisi Islam yang suci, akhlak
Islam dan membentuk hidup manusia menurut karakter Islam , serta
mengembalikan kehidupan mereka menurut cara-cara kehidupan yang
islami.
1. Individu Muslim yang dikehendaki
Umat islam dewasa ini jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya
sangat rendah dibanding dengan kulitas umat Islam generasi pertama
di zaman Rasulullah saw. Umat Islam dewasa ini tidak mampu
mengubah bentuk dan suasana yang telah rusak. Oleh karena itu
mereka tidak mampu membangun dan mendirikan daulah Islamiyah.
Kualitas manusia muslim sekarang tidak mampu menghapus
kebathilan dan mewujudkan kebenaran melainkan dengan pertolongan
Allah swt.sebagaimana dalam surat Ar-Ra’du :17
_.... Elg¯EOE C·)O;×EC
+.- E-E·^¯-
ºgC4l^¯-4Ò _ E`Ò··
÷³4EO¯- CUE-'O41··
w7.E¼N_ W E`Ò¡4Ò 4`
÷7E¼L4C "EEL¯- ÷+7¯;©4O··
O)× ^·¯O·- _ Elg¯EOE
C·)O;×EC +.- 4··1^`·-
^¯_÷
“Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan
yang bathil. Ada pun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada
harganya ada pun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di
bumi demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (Q.S. Ar-
Ra’du 17).
Mempersiapkan seorang kader yang ideal dalam mutu, kualitas
dan penampilannya memrlukan usaha-usaha yang serius, tekun dan
kontiniu, penuh kesabaran dan ketabahan yang utuh. Umat Islam
demikianlah yang sangup dan mampu membangun rumah tangga.
Oleh karena itu Imam Syahid Hasan Al-Banna telah memberiakan
perhatian sewajarnya kepada individu muslim dan berusaha
mempersiapkannya. Langkah-langkah ini jelas mengikuti sunnah
Rasulullah saw. Yang telah mempersiapkan angkatan mukmin
pertama yang dikader dalam madrasah Rasullullah saw. Sebagai cikal
bakal angkatan mukmin yang dapat membangun Daulah Islamiyah
yang kuat, teguh dan agung.
2. Ciri utama seorang Da’i
Seorang da’i harus memiliki tingkat pemahaman yang tinggi
terhadap agamanya, pemahamanya yang menyeluruh, lengkap dan
orisinil terhadap kitabullah dan sunnahturrasul. Dan ia harus memiliki
keikhlasan yang besar untuk menjadi laskar dakwah, aqidah dan
ideologi, bukan laskar yang mengejar keuntungan dan tujuan dari
materi semata-mata, dan bukan pula angkatan yang semata-mata
mengejar kepentingan diri sendiri. Ia akan mengutamakan kerja dari
pada berbicara. Apa yang dikatakannya itulah yang ia kerjakan setelah
lebih dahulu mengenal secara pasti jalannya dan mengikhlaskan
niatnya karena Allah semata-mata.
3. Perkataan, perbuatan dan amal
Ada pula orang yang hanya berbicara, tetapi ia bukan seorang
pekerja, dan pemimpin kerja, bukanpula sebagai seorang dai, dan
seorang dai saja bukan berarti ia sebagai dai yang bijaksana serta
mampu menelurkan kemenangan dengan pengorbanan sedikit.
Ini sesuai apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh Imam syahid
Hasan Al-Banna : “sesungguhnya banyak orang yang mampu berkata,
tetapi sedikit dari mereka yang mampu bertahan dalam beramal dan
bekerja. Banyak pula dari sedikit itu yang mampu bertahan pada
waktu beramal, tetapi sedikit dianatara mereka yang mampu memikul
beban dakwah yang berat dan sukar. Para dai inilah meruapakan
angkatan pilihan yang sedikit jumlahnya, tetapi menjadi pembela dan
menjadi ansarullah.

3. Tahap Pelaksanaan (tanfidz) yaitu tahap beramal, berusaha dan bergerak
mencapai tujuan.
Pada tahap ini seorang kader dakwah sudah mampu
melakswanakan dan mengamalkan nilai-nilai islam secara total. Dakwah
dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus-
menerus untuk mengapai tujuan akhir, dan kesiapan dalam menanggung
cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-
orang yang tulus. Menurut Syaikh Hasan al-Banna menyebutkan bahwa
dakwah ini terdiri dari bebrapa tahap, yakni : ta’rif, Takwin, dan tanfidz.
Dengan inilah kita mengantarkan umat islamdari satu tahap ke tahapan
lain dari satu kondisi ke kondisi lain, sehingga dapat mengantarkan
mereka ke tujuan.


Kesimpulan



Daftar Pustaka

Thontowi, dkk.2012.Pengantar Ilmu Dakwah.Yogyakarta:LPSI UAD.

Defrinal.2009. Hakikat Tujuan Dakwah. Diakses pada tanggal 25 Maret 2013
pada situs http://defrinal-karuniaillahi.blogspot.com/2009/11/hakikat-
tujuan-dakwah.html
Pasisingi, Hamdi.2009. TUJUAN DAKWAH DALAM ISLAM. Diakses pada
tanggal 25 Maret 2013 pada situs
http://adheecreative.blogdetik.com/2009/06/06/tujuan-dakwah-dalam-
islam/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->