P. 1
Tutor Teman Sebaya

Tutor Teman Sebaya

|Views: 73|Likes:
Published by Saim Hidayat

More info:

Published by: Saim Hidayat on Sep 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2014

pdf

text

original

1. JUDUL PENELITIAN http://waskitamandiribk.files.wordpress.com/2009/09/metode-tutor-sebaya-proposaljadi.

doc PENDEKATAN KOOPERATIF TUTORIAL TEMAN SEBAYA UNTUK

MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 3 SUDIMORO SEMESTER GENAP TAHUN 2009 2. PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi begitu pesat sehingga menimbulkan banyak perubahan yang besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia dengan kompleksitas yang kian meninggi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya berdampak pada kemudahan akses pemenuhan kebutuhan hidup manusia, namun juga membawa dampak pergeseran tata nilai budaya masyarakat. Informasi menyebar sangat cepat, organisasi birokratis bergeser ke organisasi jaringan (network organization) yang beroperasi melampaui batas negara dan kawasan. Pada sisi lain, perubahan tersebut mempengaruhi dan mengubah berbbagai macam aturan pranata yang sudah ada, cara-cara pekerjaan yang seharusnya dilakukan, ketrampilan, keahlian yang dibutuhkan, tatanan teritorial kenegaraan, hubungan antar bangsa, antar wilayah dan pola interaksi antar manusia. Dewasa ini dunia pendidikan juga mengalami lompatan kemajuan yang luar biasa pesatnya, hal itu dibuktikan dengan banyaknya paradigma baru dalam pendidikan, mulai dari konstruktivieme, quantum teaching, quantum learning, kooperativ learning, konstekstual teaching and learning, pembelajaran autentik, pakem dan masih banyak lagi deretan revolusi pembelajaran yang memberikan warna dan semangat baru terhadap dunia pendidikan. Sejalan dengan kemajuan tersebut di atas, maka perlu adanya pengembangan kualitas layanan pendidikan di sekolah. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuannya sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama metode pembelajaran. Untuk itu diperlukan strategi dan metode belajar baru yang lebih memberdayakan siswa, yakni sebuah metode belajar yang mendorong siswa untuk lebih dinamis, aktif, dan kreatif dalam menemukan, menyusun dan mengkomunikan hasil belajarnya. Dengan model pembelajaran ini siswa akan berada pada proses penerapan antara

1

konsep dan realitas yang ada, sehingga siswa dengan mudah dapat mengingat konsep yang diperoleh untuk kemudian diterapkan. Paradigma baru dalam belajar di samping siswa menemukan sendiri pengetahuannya dan menyusunnya kembali, terdapat satu hal yang menarik bahwa keberhasilan belajar bukan sebagai hasil kerja individu melainkan hasil kerjasama dalam satu komunitas belajar (kooperatif) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi saling menguntungkan antar subyek belajar. Pola pembelajaran kooperatif ini akan lebih efektif jika masing-masing kelompok individu belajar ditempatkan sebagai subyek yang punya keahlian sesuai dengan potensinya, sehingga peran, kontribusi dan partisipasi belajarnya dalam kelompok akan semakin meningkat. Berangkat dari paparan di atas, maka dipandang perlu dilakukan uji coba pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan kelas tentang “Pendekatan Kooperatif Tutorial Teman Sebaya untuk meningkatkan Kedisiplinan Siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Sudimoro Semester Genap.Tahun 2009 ”

3.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan

kelas ini adalah: 3.1 Apakah pendekatan kooperatif tutorial teman sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan siswa di kelas VII A SMP Negeri 3 Sudimoro Semester Genap.Tahun 2009 ? 4. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: 4.1. Untuk mengetahui pelaksanaan pendekatan kooperatif tutorial teman sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan siswa di kelas VII A SMP Negeri 3 Sudimoro Semester Genap.Tahun 2009. 5. KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS TINDAKAN Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

2

1 Memberikan informasi kepada guru mengenai situasi peningkatan kedisiplinan siswa.2. Sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam peningkatan kedisiplinan siswa. 6.2. Memberikan informasi tentang kemampuan guru dalam memvariasikan bentuk pelayanan pembelajaran kepada siswa.1.1. Bagi Guru 6. 6. 6.2.2 Sebagai bahan evaluasi bagi guru dalam usahanya untuk meningkatkan keberhasilan usahanya dalam mengajar Bimbingan Konseling. Pelaksanaan pendekatan kooperatif tutorial teman sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan siswa di kelas VII A SMP Negeri 3 Sudimoro Semester Genap. 6.2.Tahun 2009. Memberikan informasi tentang profil guru dan profil siswa dalam belajar..3.1.3.3 Memberikan informasi kepada guru mengenai kesiapan dan daya kritis serta keberhasilan belajar siswa. 6. MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas tentang pendekatan kooperatif tutorial teman sebaya pada peningkatan kedisiplinan siswa ini adalah sebagai berikut: 6.2.2. 6. 6.1. 3 .5.1.3. 6. 6.3. Sebagai umpan balik terhadap kemajuan belajar siswa.1.3 Bagi Siswa 6.1. Memperoleh metode pembelajaran yang memiliki keberpihakan kepada siswa secara lebih dibanding metode belajar yang lain.3. Sebagai upaya untuk meningkatkan kecerdasan dan kemampuan berfikir yang kompleks. Bagi Sekolah 6.

Pendekatan Kooperatif Tutorial Teman Sebaya Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif) yaitu pembelajaran yang mengacu pada tiga tujuan interaksional yakni hasil belajar akademik. 7. karena pembelajaran kooperatif menekankan pembelajaran dalam kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerjasama untuk mencapai tujuan yang optimal. KAJIAN PUSTAKA 7.1. 2000: 6). Kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar. bekerja dan bertanggungjawab secara sungguh-sungguh untuk mencapa tujuan yang telah ditetapkan. 2. 5. Pembelajaran kooperatif meletakkan tanggungjawab individu sekaligus kelompok. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membuthkan ketrampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode diskusi yang biasanya dilaksanakan di kelas. Dalam Dirjen Dikdasmen (2005: 46) ciri-ciri pembelajaran menggunakan model kooperatif adalah sebagai berikut: 4 . 4. 3. penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial (Mustanin. Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri. Menurut Muslimin Ibrahim (2000: 6) unsur-unsur pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: 1. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. 6. sehingga diri siswa tumbuh dan berkembang sikap dan perilaku saling ketergantungan secara optimal. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.7. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.

1. siswa secara bergiliran dengan cara diacak menyampaikan hasil wawancara dengan teman pasangannya. 2. 3) Untuk mengetahui daya serap siswa. operan conditioning ini cukup efektif karena melalui proses pengulangan yang terus menerus antar pasangan dihadapkan pada masalah yang sama dan pengalaman temporal yang terus menerus maka mereka akan lebih mudah untuk mengenal dan mengingat. dibentuk kelompok berpasangan dua orang. 7) Setelah itu. Pembelajaran Cooperative Learning dengan metode Tutorial teman sebaya akan memberikan hasil yang sangat memuaskan karena proses belajar terjadi berulang-ulang (operant conditioning). Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. Menurut Ekowati (2004) langkah-langkah pembelajaran kooperatif tutorial teman sebaya adalah sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. jenis kelamin berbeda-beda. dilakukan evaluasi untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa. Metode tutorial teman sebaya adalah metode pembelajaran dimana siswa berkelompok berpasangan dua orang. pasangan yang mendengarkan membuat catatan-catatan kecil. seorang dari pasangan itu mengulangi menjelaskan materi pelajaran yang diterima dari sajian guru kepada pasangannya. 2) Guru menyajikan materi pembelajaran. Menurut Skiner. budaya. sedang dan rendah. 4) Kemudian. 5) Kemudian. 4. 6) Guru mengulangi lagi/menjelaskan kembal materi yang belum dipahami siswa. 5 . kemudian bergantian peran sampai keduanya jelas dan memahami materi pembelajaran (Ekowati. karena ada ketergantungan positif antara siswa yang pandai. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi. 2004). kemudian pasangan yang mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil. suku. sedang dan kurang. kemudian berganti peran. 3. Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu. seorang dari pasangan itu menceritakan kembali materi yan baru diterima kepada pasangannya.

pertentangan dan persaingan. karena peserta didik belajar bukan untuk memperoleh hadiah atau pujian tersebut. (2) Motivasi dilihat sebagai petunjukpetunjuk tingkah laku seseorang. Motivasi Belajar Mengenai pengertian motivasi ini beraneka ragam. Mc Donald (1959) merumuskan motivasi sebagai perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. 3. Motivasi ekstrinsik tetap diperlukan oleh 6 . Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. mula-mula berupa ketegangan psikologis lalu berupa suasana emosi. hukuman. tingkatan. seperti akredit. 2003: 112-119). yaitu motivasi intstrinsik. hadiah. motivasi ini berpengaruh secara fungsional dalam diri peserta didik yang tidak memerlukan hadiah atau pujian. Motivasi ditandai oleh timbulnya perasaan. Perubahan pribadi tersebut disebabkan oleh perubahan tertentu pada system neurofisiologis dalam organisme manusia. Susana emosi ini menimbulkan tingkah laku yang bermotif yang dapat diamati dari perbuatannya. yaitu (1) motivasi dipandang sebagai suatu proses. sarkasme dan beraneka ragam dorongan lain baik yang positif atau negatif dari luar diri peserta didik. 2. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk meninjau dan memahami motivasi ini. Motivasi ini timbul tanpa pengaruh dari luar. sehingga pribadi memberikan respon kearah pencapain tujuan tersebut. ijazah. Motivasi belajar pada prinsipnya ada dua macam. ialah sebagai berikut: 1. Sehingga motivasi dapat dijadikan alat untuk menjelaskan tingkah laku dan tingkah laku berikutnya akan akan terjadi pada individu. Dalam rumusan tersebut ada tiga unsure yang saling berkaitan. medali. Sedangkan motivasi ekstrinsik atau motivasi dari luar adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar. Respon tersebut berfungsi untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh adanya perubahan energi dalam dirinya. Petunjuk tersebut dapat dipercaya apabila tampak kegunaannya untuk meramalkan dan menjelaskan tingkah laku lainnya.7. dan motivasi ekstrinsik (Hamalik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan siswa sendiri. Motivasi ini sering disebut motivasi murni atau motivasi yang sebenarnya karena timbul dari dalam diri peserta didik (individu).2.

sebab pembelajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat. bila pengaruh kelompok siswa ini lebih kuat maka akan lebih memungkinkan terjadinya motivasi ekstrinsik. atau motivasi yang mana yang paling efektif. 7 . baik motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh beberapa faktor. 4. Dalam kondisi seperti inilah arti pentingnya motivasi ekstrinsik. dimana guru berupaya membangkitkan motivasi belajar peserta didik sesuai dengan keadaan peserta didik itu sendiri. 2. karena masing-masing memainkan peranan yang sama dalam mendorong minat. 7.siswa dan sekolah.3. Sikap guru terhadap kelas. atau sesuai dengan kebutuhan siswa sebagai peserta didik. Prestasi Belajar Proses belajar yang dialami oleh murid menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pemahaman. perhatian dan pencurahan segala potensi peserta didik dalam kegiatan belajar di kelas maupun di luar kelas. Pengaruh kelompok siswa. Sangat dimungkinkan pada suatu kondisi atau obyek tertentu peserta belum menyadari betapa pentingnya obyek atau kondisi tersebut bagi kehidupan dan kebutuhan peserta didik. Tingkat kesadaran diri siswa atas kebutuhan yang mendorong tingkah laku/perbuatan dan kesadaran atas tujuan belajar yang hendak dicapai. Oleh karena itu tidak dapat disimpulkan mana yang paling dominan pengaruhnya. secara individu maupun kelompok. Kemunculan sifat motivasi. 3. dalam bidang nilai dan sikap. Motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik dalam konteks kegiatan pembelajaran bagi peserta merupakankomponen penting yang memberikan konstribusi sangat berarti dalam mencapai derajat keberhasilan belajar tertentu. Suasana kelas juga berpengaruh terhadap munculnya sifat tertentu pada motivasi belajar siswa. guru hendaknya bersikap bijak dan selalu mendorong partisipasi kelas dalam berbuat untuk mencapai tujuan belajar yang jelas dan bermakna bagi kelas. Suasana kebebasan yang bertanggung jawab tentunya lebih merangsang munculnya motivasi instrinsik dibandingkan dengan suasana penuh tekanan dan paksaan. dalam bidang ketrampilan. yaitu: 1.

termasuk pengukuran hasil belajar. Prestasi belajar dapat dijadikan sebagai indikator atau ukuran terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik. Mussen (1984: 195) menyatakan bahwa prestasi (performance) adalah penggunaan yang tepat dari pengetahun serta kemampuan untuk memecahkan masalah. Pengajaran di sekolah meliputi tiga bidang tujuan belajar. Dalam rangka evaluasi produk. 1989: 315). yaitu (a) faktor lingkungan yang meliputi lingkungan alami. Menurut Mahmud dalam Mukayatun (1994) nilai mengkomunikasikan harga prestasi siswa di dalam kelasnya. biasanya digunakan ukuran-ukuran tertentu dan angka-angka (Winkel. Dalam pengukuran. persoalan. 2. Prestasi belajar siswa dibentuk dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. afektif. Faktor eksternal terbagi menjadi dua hal. misalnya 8 . Sedangkan menurut Suryabrata (1985: 5) mengemukakan bahwa untuk mengetahui bahwa suatu proses belajar telah terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya. Menurut Suryabrata (1989) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah sebagai berikut: 1. yaitu apa yang dapat dilakukan oleh orang tersebut setelah ia melakukan kegiatan belajar. pengukuran tentang prestasi yang diberikan oleh seseorang siswa memegang peranan penting. menutu Bloom yaitu kognitif.Adanya perubahan itu tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh murid terhadap pertanyaan. Selain itu nilai hendaknya juga menginformasikan harga dari standar bahan pelajaran suatu mata pelajaran. artinya prestasi belajar seorang siswa dalam suatu bidang studi lain yang lebih kompleks. dan psikomotorik (Winkel. Faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari luar individu. yang diberikan oleh guru (Winkel. tugas. Untuk melihat prestasi belajar yang mencakup tiga ranah atau bidang tujuan belajar tersebut dilakukan pengukuran atau evaluasi. Prestasi belajar dilihat sebagai indikator kualitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik. Winkel (1984: 78) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah suatu rangkaian. Pengukuran berupa suatu deskripsi kuantitatif tentang prestasi yang diberikan oleh seorang siswa. 1984: 102). Menurut Arifin dalam Mukayatun (1994) fungsi utama dari prestasi belajar adalah sebagai berikut: 1. 1984: 102).

Alat – Alat dan Teknik Pengumpulan Data Data hasil penelitian tindakan kelas (PTK) dikumpulkan dengan menggunakan teknik sebagai berikut: 1. action observation (pengamatan). dan reflection (refleksi). yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. dan lain-lain.Setting Penelitian Penelitian tindakan ini dilakukan di SMP Negeri 3 Sudimoro Kabupaten Pacitan dengan mengambil subyek penelitian kelas VII semester Genap tahun pelajaran 2008/2009 peningkatan kedisiplinan siswa 8. dan refleksi. bakat. Tes. motivasi dan kemampuan kognitif. Rancangan Penelitian Penelitian tindakan ini merupakan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto. misalnya minat. Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan penggunaannya direncanakan sesuai dedngan hasil belajar yang diharapkan. 2.2. Setiap siklus meliputi planning (rencana).keadaan suhu dan kelembaban udara. 8. Misalnya ruang kelas. Faktor internal meliputi dua hal. misalnya kesehatan jasmani. hiruk pikuk lalu lintas. tindakan. program. Suharsimi. yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu. METODE PENELITIAN 8. Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi. yakni (a) faktor fisiologis. Faktor internal. pedoman belajar dan sebagainya. pengamatan.3. 3. (b) faktor psikologis ialah faktor yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan individu. kurikulum. misalnya suara mesin pabrik. sikap. 2002: 83). (tindakan). untuk memonitor partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar kooperatif dengan metode tutorial teman sebaya. kecerdasan. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi 9 . kecukupan gizi. 2. untuk mengetahui hasil belajar siswa 8. kenormalan panca indra. alat-lat praktikum. dan keramaian orang-orang disekitarnya. Observasi. (b) lingkungan social.1.

sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah. meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pendekatan kooperatif model Cooperative tutor sebaya. termasuk di dalamnya instrument penelitian dan perangkat pembelajaran. melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. Refleksi. 10 . peneliti mengkaji. tujuan dan membuat rencana tindakan.1. Kegiatan dan pengamatan.permasalahan. 2. Rancangan/ rencana awal. Alur PTK Penjelasan alur diatas adalah : 1. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut : Putar an 1 Refleksi Rencana Rencana awal/rancanga awal/rancanga nn nn Putar an 2 Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Putar an 3 Gambar 3.

1994). Analisi ini dihitung dengan menggunakan 11cenario11 sederhana yaitu : 1. yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65. Analisis Data Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dengan teknik analisis prosentase.8. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa. Untuk lembar observasi 11 . dan kelas disebut tuntas belajar baik dikelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan : X= Σ x Σ Ν Dengan :X ∑X ∑N = Nilai rata-rata = Jumla semua nilai siswa = Jumlah siswa 2. yang. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secaraa perorangan dan secaraa klasikal. Untuk menganalisi tingkat keberhasilan atau presentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Untuk menghitung presentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut : P= ΣSiswa.4.tuntas.belajar x 100% ΣSiswa 3.

Lembar observasi aktifitas guru dan siswa Untuk menghitung lembar observasi aktifitas guru dan siswa digunakan rumus sebagai berikut : %= X= x x 100 % dengan Σ x Jumah. Sri Maryuni 12 .a. Untuk menghitung lembar observasi pengelolaan metode pembelajaran kooperatif model Bertukar pasangan digunakan rumus sebagai berikut : X= P1 + P 2 2 Dimana P1 = Pengamat 1 dan P2 = Pengamat 2 b. pengama tan = P1 + P 2 2 Dimana : % X ∑x P1 P2 = Presentase pengamatan = Rata-rata = Jumlah rata-rata = Pengamat 1 = Pengamat 2 9. Dra. PERSONALIA Penelitian ini dilaksanakan oleh team berangggotakan : 1. II III IV X X X 10.JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada bulan Juni 2009 dengan alokasi waktu 4 x 40 menit. pengama tan Jumlah. Jadwal pelaksanaan PTK No 1 2 3 Kegiatan Persiapan Skenario pembelajaran PTK Pelaksanaan PTK Penyusunan laporan hasil PTK I X Minggu ke …. dengan perincian sebagai berikut: Tabel 3.hasil .2. Lembar observasi pengelola metode pembelajarn koooperatif model Bertukar pasangan.

Makalah Workshop Rencana Program dan Implementasi Life Skill SMA Jawa Timur tahun 2004.H.LAMPIRAN – LAMPIRAN 1. 1988. S. W.C. J. Psikologi Pendidikan. Narbuko. Endang. 2000.S. New York: Appleton Century Crofts.2. A.000. Suryabrata. Muslimin. Jakarta: CV. 1985. Jakarta: Bumi Aksara.H. 1984. Inc.Pd. Umar. 1959.00 900. Lilik Indrawati 8. 1994. Model-Model Pembelajaran Inovatif Sebagai Solusi Mengakhiri Dominasi Pembelajaran Guru. W. Ekowati. Pembelajaran Kooperatif.Pd. Winkel. The Gidence of Lerning Activities. No 1 2 3 RENCANA BIAYA PENELITAN Rincian Kegiatan Penelitian Transport Honorarium ATK Jumlah Biaya ( Rp ) 450. Ibrahim. Hamalik. Educational Psychology. 1989. Rajawali. P. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar.00 1. S. S. 1952.00 2. .500. Jakarta: Erlangga. Kagan. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi.J. Yogyakarta: Andi Offset. Donald.000. Sri Utami. Drs. 2000. Conger. dan Huston. Mussen. Sahrul Rahma Murdiana 11. Terjemahan oleh Meitasari Tjandrasa. 1984. 3. Surabaya: University Press. .P. S. Supriyono 5.000.000.00 12. Suryabrata. J. Drs. 13 . Mustanin. Nur. Inc.850. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Agus Samiaji 6. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Kurikulum dan Pembelajaran. Mc. 7. Surabaya: University Press. 4. San Francisco: Wardsworth Publishing. Eko Budy Susetya. Jakarta: Gramedia. DAFTAR PUSTAKA Burton. S. 2004.

: Terlambat CHEKLIST KEDISIPLINAN SISWA Kelas : VII A Semester : Genap KERAPIAN SERAGAM ATRIBUT L T L T Minggu Ke 2. L : Lengkap 2.TR. T: Tidak 3.CHEKLIST KEDISIPLINAN SISWA Kelas : VII A Semester : Genap KERAPIAN SERAGAM ATRIBUT L T L T Minggu Ke 1. KELAKUAN KEHADIRAN BERDO’A TW TR YA TDK Bulan : Juni 2009 KERAJINAN PERALATAN SEKOLAH TUGAS SEKOLAH L T L T NO 1 NAMA SISWA A 14 . TW : Tepat Waktu 4. KELAKUAN KEHADIRAN BERDO’A TW TR YA TDK Bulan : Juni 2009 KERAJINAN PERALATAN SEKOLAH TUGAS SEKOLAH L T L T NO 1 NAMA SISWA A B C D E 2 3 4 5 dst Keterangan : 1.

TW : Tepat Waktu 4. : Terlambat CHEKLIST KEDISIPLINAN SISWA Kelas : VII A Semester : Genap KERAPIAN SERAGAM ATRIBUT L T L T Minggu Ke 3. TR. L : Lengkap 15 .2 3 4 5 dst Keterangan : 1. KELAKUAN KEHADIRAN BERDO’A TW TR YA TDK Bulan : Juni 2009 KERAJINAN PERALATAN SEKOLAH TUGAS SEKOLAH L T L T NO 1 NAMA SISWA A B C D E 2 3 4 5 dst Keterangan : 1. T: Tidak B C D E 3. L : Lengkap 2.

TR. : Terlambat 16 . T: Tidak 3. TW : Tepat Waktu 4.2.

Narbuko. ( SMP N 1 Ngadirojo ) 4. Pd. Sri Maryuni ( SMA N 1 Ngadirojo ) : 1. S. ( SMP N 1 Arjosari ) 6. Drs.PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN BIMBINGAN KONSELING PENDEKATAN KOOPERATIF TUTORIAL TEMAN SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 3 SUDIMORO SEMESTER GENAP TAHUN 2009 OLEH : KELOMPOK 9 Ketua Anggota : Dra. S. Pd. Agus Samiaji ( SMA N 1 Pacitan ) 5. S. Supriyono ( SMP N 1 Kebonagung ) 3.P ( SMP N 3 Sudimoro ) 2. Sri Utami. Drs. Sahrul Rahma Murdiana ( STKIP PGRI Pacitan ) MUSYAWARAH GURU PEMBIMBING ( MGP ) KABUPATEN PACITAN . Eko Budy Susetya.

2 .

Perencanaan Peneliti/guru menyiapkan materi tentang kedisiplinan siswa Langkah selanjutnya. Apersepsi 2 menit 2. Hasil Penelitian 4. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai 3 menit 3.1. b.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Siklus Pertama 1.1. Guru menjelaskan tentang materi kedisiplinan siswa 20 menit 3 . Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan kooperatif learning menggunakan metode tutorial teman sebaya adalah sebagai berikut: 1. setiap kelompok beranggotakan 6 orang. kelas dibagi menjadi 6 kelompok.1.

Tabel 4. Langkah berikutnya. guru menunjuk siswa secara acak untuk menjelaskan hasil wawancaranya dengan teman satu kelompok selama 20 menit. selama 40 menit. Siswa dibagi menjadi 10 kelompok. 6.4. Keadaan aktifitas belajar siswa siklus I No 1 2 3 4 5 Keadaan Siswa Siswa yang aktif dalam kegiatan kelompok Siswa yang memperhatikan penjelasan guru Siswa yang tidak memperhatikan penjelasan teman dalam kelompok Siswa yang tidak dapat menjelaskan materi kepada teman Siswa yang dapat menjelaskan materi kepada teman Siklus 1 Jml % 24 66 24 20 12 24 66 56 34 66 4 .1. Pengamatan Hasil pengamatan kolaborator dengan menggunakan instrumen observasi dan berdasarkan catatan lapangan terjadi peningkatan motivasi belajar siswa dalam belajar yang dapat digambarkan pada tabel berikut ini. siswa yang mendengarkan membuat catatan kecil dilakukan secara bergantian sampai jelas. salah satu siswa menjelaskan kembali materi yang disampaikan guru kepada siswa lain dalam kelompoknya. masing-masing kelompok beranggotakan 2 orang. c. Setelah selesai. 5.

sebagian besar siswa telah dapat memahami: 1) Kedisiplinan berseragam Berdasarkan hasil pengamatan. juga terjadi peningkatan walaupun peningkatan tersebut relatif sedikit. namun seudah menampakkan suatu kemajuan yang berarti. dengan alas an: 1) Kegiatan belajar sangat manyenangkan 2) Penjelasan lebih kuat dan lebih jelas 3) Kemampuan daya ingatan menjadi lebih baik 4) Selalu konsentrasi pada materi pelajaran Sebagian siswa tidak senang terhadap metode tutorial teman sebaya. sebagian siswa senang terhadap mentode tutorial teman sebaya ini. yaitu: 5 .2. Refleksi Setelah perjalanan siklus pertama dilalui dengan satu kali pertemuan (2 x 40 menit). maka terlihat adanya peningkatan hasil belajar. Gambaran hasil tes proses pada siklus I sebagai berikut: Tabel 4. ada yang lancar ada yang lambat Setelah berkolaborasi dengan teman sejawat diperoleh masukan untuk perbaikan pada siklus berikutnya. karena: ii. iii. Prosentase ketuntasan belajar siswa siklus I No Perolehan Siswa 1 Prosentase siswa yang tuntas belajar 2 Prosentase siswa yang belum tuntas belajar Jumlah Siklus 1 60 % (21 siswa) 40 % (15 siswa) 100 d. Keberhasilan belajar siswa pada siklus I. Suasana belajar tidak santai Kemampuan komunikasi siswa tidak sama. Kendala yang ditemui pada siklus ini adalah penggunaan waktu yang kurang efektif dan kesiapan belajar siswa yang kurang.Berdasarkan hasil tes proses yang dilakukan.

3. Guru menjelaskan tentang materi kasus pelanggaran HAM 25 menit 4. Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan kooperatif learning menggunakan metode tutorial teman sebaya adalah sebagai berikut: 1. 2. setiap kelompok beranggotakan 6 orang. Siklus Kedua 1. Apersepsi 2 menit 2. 4.1. Perencanaan Peneliti/guru menyiapkan materi tentang kedisiplinan mengikuti pelajaran Langkah selanjutnya. 5. siswa yang mendengarkan membuat catatan kecil dilakukan secara bergantian sampai jelas.1. Langkah berikutnya. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok. Mengulang kembali penjelasan cara belajar dan tugas yang harus diselesaikan serta pemanfaatan waktu yang efektif. Keadaan aktifitas belajar siswa siklus II 6 . masing-masing kelompok beranggotakan 6 orang. Merubah komposisi kelompok siswa dengan menyebarkan siswa yang telah tuntas pada siklus pertama. 2.3. Pengamatan Hasil pengamatan kolaborator dengan menggunakan instrumen observasi dan berdasarkan catatan lapangan terjadi peningkatan motivasi belajar siswa dalam belajar yang dapat digambarkan pada tabel berikut ini. guru menunjuk siswa secara acak untuk menjelaskan hasil wawancaranya dengan teman satu kelompok selama 20 menit. Tabel 4. selama 40 menit. salah satu siswa menjelaskan kembali materi yang disampaikan guru kepada siswa lain dalam kelompoknya. kelas dibagi menjadi 6 kelompok. Setelah selesai. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai 3 menit 3.2.

maka masalah yang muncul pada siklus pertama dapat diatasi dengan memuaskan terutama pada respon siswa dalam mengikuti pembelajaran.2. namun seudah menampakkan suatu kemajuan yang berarti. Prosentase ketuntasan belajar siswa siklus II No Perolehan Siswa 1 Prosentase siswa yang tuntas belajar 2 Prosentase siswa yang belum tuntas belajar Jumlah Refleksi Setelah dilakukan perubahan pada siklus kedua.No 1 2 3 4 5 Keadaan Siswa Siswa yang aktif dalam kegiatan kelompok Siswa yang memperhatikan penjelasan guru Siswa yang tidak memperhatikan penjelasan teman dalam kelompok Siswa yang tidak dapat menjelaskan materi kepada teman Siswa yang dapat menjelaskan materi kepada teman Siklus 2 Jml % 32 90 32 4 4 32 90 10 10 90 Berdasarkan hasil tes proses yang dilakukan. Gambaran hasil tes proses pada siklus I sebagai berikut: Tabel 4. dan terjadi interaksi multi arah.4. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa yang meningkat secara berarti seperti terlihat pada table di atas. dinamika kelas belajar tinggi. 7 . juga terjadi peningkatan walaupun peningkatan tersebut relatif sedikit. Pembahasan Pembelajaran kooperatif dengan metode tutorial teman sebaya menunjukkan adanya aktivitas belajar yang dinamis. Dengan metode tutorial teman sebaya minat siswa dalam kedisiplinan siswa meningkat sebagaimana terlihat pada tabel hasil siklus pertama dan siklus kedua. hal tersebut terjadi karena setelah siswa menerima penjelasam guru kemudian menjelaskan keanggota kelompoknya secara bergantian sampai jelas. 4. Siklus 2 90 % (32 siswa) 10 % (4 siswa) 100 4.

dan siswa yang belum tuntas 4 siswa atau 10%. siswa yang tidak memperhatikan penjelasan teman dalam kelompok 4 siswa atau 10%. siswa yang memperhatikan penjelasan guru 24 siswa atau 66%. siswa yang dapat menjelaskan materi kepada teman 24 siswa atau 66%. siswa yang dapat menjelaskan materi kepada teman 32 siswa atau 90%. siswa yang tidak dapat menjelaskan materi kepada teman 4 siswa atau 10%. 8 . BAB V PENUTUP 5. 5. maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan metode tutorial teman sebaya efektif untuk meningktakan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada peningkatan kedisiplinan siswa kelas IX SMP Negeri 3 Sudimoro. dan siswa yang belum tuntas 15 siswa atau 40%. Metode tutorial teman sebaya dapat diterapkan lebih lanjut pada mata pelajaran sejenis atau yang lain dengan mengambil tema yang berbeda. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dipaparkan di atas. siswa yang tidak memperhatikan penjelasan teman dalam kelompok 20 siswa atau 56%.Pada siklus pertama siswa yang aktif dalam kegiatan kelompok 24 siswa atau 66%.1. siswa yang telah tuntas 21 siswa 60%. Saran Berdasarkan temuan hasil penelitian tindakan kelas tentang pembelajaran kooperatif dengan metode tutorial teman sebaya pada peningkatan kedisiplinan siswa disarankan sebagai berikut: 1.2. Pada siklus kedua siswa yang aktif dalam kegiatan kelompok 32 siswa atau 90%. siswa yang telah tuntas 32 siswa 90%. siswa yang tidak dapat menjelaskan materi kepada teman 12 siswa atau 34%. siswa yang memperhatikan penjelasan guru 32 siswa atau 90%.

1984. 2000. Model-Model Pembelajaran Inovatif Sebagai Solusi Mengakhiri Dominasi Pembelajaran Guru. S. W. San Francisco: Wardsworth Publishing.H. 1984.S. Suryabrata. Jakarta: Bumi Aksara. 1989. 1985. Umar. Surabaya: University Press. Pembelajaran Kooperatif. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Jakarta: Erlangga. . Winkel. Ibrahim. Educational Psychology. DAFTAR PUSTAKA Burton. Jakarta: Gramedia. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Agar hasil belajar lebih baik disarankan kesiapan belajar siswa ditingkatkan lagi. Endang. Psikologi Pendidikan. Makalah Workshop Rencana Program dan Implementasi Life Skill SMA Jawa Timur tahun 2004. A.J. Mc. The Gidence of Lerning Activities. Mussen.H. Conger. J. Ekowati. Suryabrata. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Surabaya: University Press. dan Huston. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Rajawali. 1959. Terjemahan oleh Meitasari Tjandrasa. 2000. 1952. Jakarta: CV. New York: Appleton Century Crofts.2. 2004. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Donald. P. Inc. Inc.C. W. Hamalik. 1988. Nur. J. Kagan. Mustanin. 9 . Muslimin. S. Yogyakarta: Andi Offset.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->