Denver Development Screening Test (DDST II

)
Posted by evanjh on December 10, 2010 0

DDST adalah salah satu dari metode screening terhadap kelainan perkembangan anak, test ini bukanlah test diagnosa atau test IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode screening yang aik. Test ini mudah dan cepat (15-20menit), dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang baik. Dari beberapa pelitian yang pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan 85-100% bayi dan anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan pada follow up selanjutnya ternyata 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan disekolah 5-6 tahun kemudian. Tetapi dari penelitian Borrowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat mengidentifikasikan lebih dari separuh anak dengan kelainan bicara. Frankenburg melakukan revisi dan standarisasi kembali DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor bahasa ditambah, yang kemudian hasil revisi DDST yang dinamakan Denver II. DDST II terdiri atas 125 butir, yang terbagi atas 4 bagian yaitu 1. Personal Sosial 2. Kemanpuan Motorik halus, yaitu koordinasi mata dan tangan, dalam memanipulasi atau benda-benda kecil atau pemecahan masalah. 3. Bahasa, pendengaran, pemahaman dan penggunaan bahasa. 4. Motorik kasar, duduk, berjalan, melompat, dan gerakan lain yang melibatkan otot besar. Semua peralatan dimasukan ke dalam wadah, kecuali kertas kosong. Selain itu perlu menyiapkan meja dan kursi untuk menguji, pengasuh dan anak yang diatur jaraknya, agar dapat melakuka gerakan pada pengujian motor kasar.Untuk memeriksa bayi, diperlukan diperlukan meja atau tempat untuk membaringkan bayi tersebut. FORMAT TEST Format test terrdiri atas 125 item test yang dapat dilakukan pada usia 0 hingga 6 tahun. Setiap item ditampilkan dalam bentuk batang yang memanjang menirut usia, dengan prpsetasi 25%, 50%, 75% dan 90% standar pencapaian oleh sample, seperti digambarkan di bawah ini. 6 9 12 15 25% 50% 75% 90% Berjalan dengan baik Presentasi anak yang dapat melakukan

Pada gambar diatas terlihat bahwa anak dapat berjalan dengan baik terdapat pada 25% anak berusia lebih dari 11 bukan, 50% anak berusia 12 ½ bulan, 75 %anak berusia 13 ½ bulan, dan berusia sedikit kurang dari 15 bulan. R N 1 Huruf R pada kotak diatas memperhatikan bahwa untuk pemeriksaan tersebut memerlukan laporan dari orang tua. Angka dibawahnya. Anda diminta untuk melihat petunjuk pelaksanaan, sesuai dengan nomor yng tertera pada kotak. Menghitung Usia Anak 1. Instruksi umum - Usia anak didapat dari tanggal pengetesan dikurangi tanggal lahir, Bila penambahan, maka 1 tahun = 12 bulan =30 hari - Contoh : tanggal test 15 September 2004, anak lahir tanggal 10 maret 2000 maka usianya. THN BLN TGL Tanggal test 2004 9 15 Tanggal lahir 2000 3 10 Umur anak 4 thn 6 bln 5 hr Contoh tanggal test ; 15 September 2004,anak lahir tanggal 25 Oktober maka usianya: THN BLN TGL 2003(2004-1)20(8+12) 45(15-30) Tanggal test 2004 9(9-1) 15 Tanggal lahir 2000 3 10 Umur anak 3 thn 10 bln 20 hr 2. Anak yang premature Anak yang lahir lbih daei 2 minggu sebelum atau setelah HPL, maka usia anak harus disesuiakan. Minggu premature diubah menjadi bulan dengan 4 minggu= 1bulan dan 7 hari = 1 minggu. Misal: THN BLN TGL Tanggal test 2004 8 20 Tanggal lahir 2004 – 6 -1 Umur anak 2 19 Premature 6 mggu -1 -14 Usia anak yg disesuaikan 1 5 3. Mengganbar garis umur 6 9 12 15 Pelaksanaan test 1.Instruksi umum Pemeriksaan DDST IIdapat dilaksanakan berulang kali dari usia 0 hingga 6 tahun. Gunakan lembar yang sama untuk pemeriksaan selanjutnya pada satu anak, untuk membedakannya, dapat menggunakan warna pensil yang berbeda. 2. Laporan Saat test dilakukan, usahakan anak dalam keadaan terbaiknya dan pengasuh memberkan lapora yang akurat, sehingga saat dilakukan test ,anak harus di dampingi oleh orang tua maupun penagasuhnya. Anak dapat duduk dipangku pengasuhnya, sedangkanyang sudah

Normal : ada 9 item yang ada .Hitung usia anak. Item Scoring INTERPRETASI PENILAIAN 1. Test 5. . Jelaskan tentang tujuan dari pemeriksaan ini . apakah sesuia HPL atau premature.dimana ada7 item berhasil dilakukan dan ada item yang gagal dilakukan oleh anak / menolak. ada 2 item (caution) yang gagal dilaksanakan oleh anak dan ada 1 item (delay) dimana anak menolak untuk melakukannya. Evaluasi : Anak kooperatif pada saat dilaksanakan screening DDST II. ada 2 Item (coution) yang gagal dilaksanakan oleh anak dan ada 1 item (delay)dimana anak manolak untuk melaksakan Saran untuk orang tua : Untuk anjurkan untuk memperhatikan tumbuh kembang selanjutnya. No opportunity : tidak terdapat Catatan: anak kooperatif saat dilaksanakan DDST II Interprestasi hasil akhir : Suspect. Scoring 7. motorik kasar dengan memberikan contoh item-itemnya. 3.besar dapat duduk sendiri.Posisi anak sedapat mungkin dapat meraih benda-benda yabg digunakan 3. Delay : terdapat 1 item dimana anak menolak untuk melakukannya. diperoleh intepretasi hasil akhir sbb: Suspect. Advence :terdapat 7 item yang harus dilakukan anak disebelah kanan garis umur 2. 5. Saran untuk orang tua : agar merangsang perkembangan anaknya baik perkembangan social. Dari test yang telah dilakukan. Caution : ada 4 item dimana ada 2 item berhasil dilaksanakan dan ada2 item yang yang gagal dilaksanakan oleh anak 4. Jumlah 6. orang tua dianjurkan untuk menjaga jarak sementara dan dilarang membantu anak selama test berlangsung.Introduction Pelasanaan menayakan kapan anak lahir. bahwa DDST II buykan lah IQ test dan tidak harus melalui semua butir yang ditest kan 4. motorik halus.bahasa.

organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih. 1997). Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh.PERKEMBANGAN MENURUT DENVER II (DDST II) Pengertian Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan. . Termasuk juga perkembangan emosi. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. sebagai hasil dari proses pematangan. bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. a. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri. Perkembangan Menurut Denver II Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Aspek Perkembangan yang dinilai Terdiri dari 125 tugas perkembangan. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. jaringan tubuh.

kubus warna merahkuning-hijau-biru. jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.  Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. kartu/ permainan ular tangga. Penilaian Jika Lulus (Passed = P). yaitu: 1) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan 9-12 bulan 18-24 3-24 bln 3 tahun 4 tahun 5 tahun 2) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama.  Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. buku gambar/ kertas.  Lembar formulir DDST II  Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. d. CARA PEMERIKSAAN DDST II  Tetapkan umur kronologis anak. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. kismis/ manik-manik. pensil. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap. ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). . pakaian. peralatan gosok gigi.  Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor. kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). gagal (Fail = F). c. berapa yang P dan berapa yang F.b. Alat yang digunakan  Alat peraga: benang wol merah. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Peralatan makan.

Abnormal. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun: Contoh perhitungan anak dengan prematur: An. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Prematur : 32 minggu Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. Lula lahir prematur pada kehamilan 32 minggu. Meragukan dan tidak dapat dites. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . Lula? Jawab: . Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. Hitung usia kronologis An. Berdasarkan pedoman. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. Pada anak-anak yang lahir prematur.

Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah:  1 tahun 7 bulan 26 hari – 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari Atau 1 tahun 7 bulan atau 19 bulan Interpretasi dari nilai Denver II  Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)  OK Melewati. Lula prematur 32 minggu 2006 – 8 – 5 Aterm = 37 minggu _________ – Maka 37 – 32 = 5 minggu 1 – 7 -26  Jadi usia An. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan.2008 – 4 – 1 An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7 hari = 35 hari. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75  Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90  Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. gagal. karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu Interpretasi tes  Normal . sehingga usia kronologis An.

dengan puncak insiden antara 3-4 tahun. demam (jika disertai infeksi) bisa juga disertai dengan sakit kepala. Keluhan Utama Nyeri tulang sering terjadi.Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan  Suspect Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan  Untestable Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90% Rekomendasi untuk rujukan tes Suspect dan Untestable: Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer SKEP LEUKEMIA PADA ANAK Posted on Januari 21. 2. II. lemah nafsu makan menurun. Penderita kebanyakan laki-laki dengan rasio 5:4 jika dibandingkan dengan perempuan. Riwayat Keperawatan 1. 2009 by PRO-HEALTH 0 ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIAGNOSA LEUKIMIA LIMFOSITIK AKUT PENGKAJIAN I. Riwayat Perawatan Sebelumnya Riwayat kelahiran anak : . Biodata Leukemia Limfositik Akut (LLA) paling sering menyerang anak-anak di bawah umur 15 tahun.

3. Makanan : Biasanya terjadi mual. Pola tidur : Mengalami gangguan karena nyeri sendi. adakah ketidaknormalan pada masa pertumbuhan dan kelainan lain ataupun sering sakit-sakitan. Aktivitas : Mengalami intoleransi aktivitas karena kelemahan tubuh. IV. dan nyeri tekan perianal. Cairan : Terjadi deficit cairan dan elektrolit karena muntah dan diare. Pemeriksaan Kepala Leher . III. b. b. Keadaan Umum tampak lemah Kesadaran composmentis selama belum terjadi komplikasi. anorexia ataupun alergi makanan. e. takhipneu c. Kebutuhan Dasar a. Eliminasi : Pada umumnya diare. c. Tanda-Tanda Vital Tekanan darah : dbn Nadi : Suhu : meningkat jika terjadi infeksi RR : Dispneu. Riwayat keluarga Insiden LLA lebih tinggi berasal dari saudara kandung anak-anak yang terserang terlebih pada kembar monozigot (identik). Pemeriksaan Fisik a. muntah. Berat badan menurun. d. Prenatal  Natal  Post natal Riwayat Tumbuh Kembang Bagaimana pemberian ASI.

Pemeriksaan Ekstremitas Adakah cyanosis kekuatan otot.Tranfusi untuk mengatasi anemia DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN RENCANA TINDAKAN . g. terdapat bayangan vena. Pemeriksaan Dada dan Thorax . II.Antibiotik untuk mencegah infeksi .Inspeksi bentuk thorax.Rongga mulut : apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri). Pemeriksaan Integumen Adakah ulserasi ptechie. . tekanan turgor menurun jika terjadi dehidrasi. bunyi jantung I. adanya retraksi intercostae.Kemoterapi dengan banyak obat .Inspeksi bentuk abdomen apakah terjadi pembesaran. perdarahan gusi Konjungtiva : anemis atau tidak.Perkusi untuk menentukan batas jantung dan batas paru. dan III jika ada . d.Auskultasi suara nafas.Palpasi denyut apex (Ictus Cordis) . * Penatalaksanaan . . Terjadi gangguan penglihatan akibat infiltrasi ke SSP.Perkusi tanda asites bila ada. adakah ronchi (terjadi penumpukan secret akibat infeksi di paru). Pemeriksaan Abdomen . f. o Pemeriksaan sumsum tulang memperlihatkan proliferasi klonal dan penimbunan sel darah. palpasi nyeri tekan bila ada pembesaran hepar dan limpa. ekimosis. V. e. Informasi Lain * Perangkat Diagnostik o Temuan laboratorium berupa perubahan hitung sel darah spesifik. auskultasi peristaltic usus.

napas dalam. hiertensi Rasional : Hipertermi lanjut terjadi pada beberapa tipe infeksi dan demam terjadi pada kebanyakan pasien leukaemia. Gnakan sikat gigi halus untuk perawatan mulut. Mencegah statis secret pernapasan. Rasional . darah lengkap Rasional : Penurunan jumlah WBC normal / matur dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapo. Perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan chemoterapi. . Melindungi anak dari sumber potensial patogen / infeksi 2) Berikan protocol untuk mencuci tangan yang baik untuk semua staf petugas Rasional : mencegah kontaminasi silang / menurunkan risiko infeksi 3) Awasi suhu. batuk. Rencana tindakan : 1) Tempatkan anak pada ruang khusus. Bersihkan mulut secara periodic. Observasi demam sehubungan dengan tachicardi. 4) Dorong sering mengubah posisi. Batasi pengunjung sesuai indikasi Rasional . 5) Inspeksi membran mukosa mulut. Rasional : Rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme patogen 6) Awasi pemeriksaan laboratorium : WBC.1. menurunkan resiko atelektasisi/ pneumonia. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan : 1) Tidak adekuatnya pertahanan sekunder 2) Gangguan kematangan sel darah putih 3) Peningkatan jumlah limfosit imatur 4) Imunosupresi 5) Penekanan sumsum tulang ( efek kemoterapi 0 Hasil yang Diharapkan : Infeksi tidak terjadi.

aspirin dapat menyebabkan perdarahan lambung atau penurunan jumlah trombosit lanjut 2. haluaran urine.7) Berikan obat sesuai indikasi. pengiisian kapiler dan kondisi umum membran mukosa. darah warn karat atau samar pada feces atau urine. Rasional : Mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai fungsi ginjal. Dapat diberikan secara profilaksis atau mengobati infeksi secara khusus. Hindari antipiretik yang mengandung aspirin Rasional . ditandai dengan TTV dbn. . Rasional . perhatikan perdarahan gusi. Penurunan sirkulasi sekunder terhadap sel darah merah dan pencetusnya pada tubulus ginjal dan / atau terjadinya batu ginjal (sehubungan dengan peningkatan kadar asam urat) dapat menimbulkan retensi urine atau gagal ginjal. Hitung pengeluaran tak kasat mata dan keseimbangan cairan. perdarahan 2) Penurunan pemasukan cairan : mual. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan : 1) Kehilangan berlebihan. misalnya Antibiotik Rasional . 3) Awasi TD dan frekuensi jantung Rasional : Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemik (perdarahan/dehidrasi) 4) Inspeksi kulit / membran mukosa untuk petike. Rencana Tindakan : 1) Awasi masukan dan pengeluaran. stabil. Perhatikan penurunan urine pada pemasukan adekuat. muntah. dbn. Pemasukan lebih dari keluaran dapat mengindikasikan memperburuk / obstruksi ginjal. 2) Timbang BB tiap hari. nadi teraba. area ekimotik. Ukur berat jenis urine dan pH Urine. Hasil Yang Diharapkan :Volume cairan tubuh adekuat. Supresi sumsum dan produksi trombosit menempatkan pasien pada resiko perdarahan spntan tak terkontrol. BJ dan PH urine. mis . Rasional . 5) Evaluasi turgor kulit. perdarahan lanjut dari sisi tusukan invesif. anoreksia.

ex : sikat gigi atau gusi dengan sikat yang halus. Menurunkan ketidak nyamanan tulang/ sensi 4) Ubah posisi secara periodic dan berikan latihan rentang gerak lembut. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan : Agen fiscal . Rasional . Rencana Tindakan . perhatikan petunjuk nonverbal. 3) Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi. gelisah Rasional . Meingkatkan istirahat. Rasional : Dapat membantu menurunkan iritasi gusi. Agen kimia . 7) Berikan diet halus. Indikator langsung status cairan / dehidrasi. 9) Berikan sel darah Merah. Jaringan rapuh dan gangguan mekanis pembekuan meningkatkan resiko perdarahan meskipun trauma minor. pengobatan antileukemia. cengeng.Rasional . Dapat membantu mengevaluasi pernyatan verbal dan ketidakefektifan intervensi. sumsum tulang yang dikmas dengan sel leukaemia. . menurunkan risiko komplikasi ginjal. ekstremitas denganan bantal Rasional . trombosit atau factor pembekuan Raional : Memperbaiki jumlah sel darah merah dan kapasitas O2 untuk memperbaiki anemia.rewel. Berikan cairan IV sesuai indikasi Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan / elektrolit pada tak adanya pemasukan melalui oral. pembesaran organ / nodus limfe. 1) Awasi tanda-tanda vital. 2) Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stress Rasional . Berguna mencegah / mengobati perdarahan. 6) Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan / perdarahan. 3.

mis : pijatan.Thermometer rektal . Intoleransi aktivitas sehubungan deengan transport O2 karena berkurangnya jumlah sel darah merah 1) Kaji / tekanan darah dan ritme sekurang-kurangnya 4 jam sekali 2) Diskusikan dengan orang tua / anak tentang gejala dan tanda anemia serta pilihan perawatan yang dapat dilakukan 3) Berikan PRBC sesuai dengan perintah 4) Atur tindakan untuk memberikan waktu istirahat 5. IV.Gunakan sikat gigi yang lembut untuk oral care .Sediakan kompres dingin untuk diletakkan setelah dan sebelum tinakan punctur . urine dan feses 3) Minimmalkan / hindari tindakan invasive .Ubah tempat / daerah untuk tourniquet dan cuff tekanan darah .Berikan tekanan selama 5 menit . emesis. puncture . Resiko tinggi terhadap injuri (internal) sehubungan dengan inadequat faktor penggumpalan (platelet) 1) Monitor jumlah platelet setiap hari 2) Amati sekresi hidung.Injeksi IM. 5) Berikan tindakan ketidaknyamanan. kompres Rasional .Gunakan fibrin atau foam gelatin untuk mengatasi perdarahan .Hindari tahanan . SC.Rasional : Memperbaiki sirkulasi jaringan dan mobilisasi sendi. 6) Berikan obat sesuai indikasi. 4.Koordinasi tindakan invasive yang penting dengan IV . sputum. Meminimalkan kebutuhan atau meningkatkan efek obat.

(terjemahan). Lynda Juall. (1999). (terjemahan). Rencana Asuhan Keperawatan. jauhkan dari hal-hal yang mengganggu 6) Instruksikan pasien untuk memperhatikan perubahan aktifittas yang tepat (sesuai usia) untuk meminimalkan resiko trauma 6. Doenges. Anxietas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang diagnosa baru dan rencana perawatan 1) Beritahu informasi kepada orang tua mengenai diagnosa dan perawatan yang akan diberikan 2) Perkenalkan keluarga pada keluarga yang lain yang memiliki anak dengan terapi dan diagnosa yang sama 3) Sediakan instruksi secara lisan dan tertulis tentang : .Kemungkinan atau alasan-alasan untuk memberitahu tim kesehatan DAFTAR PUSTAKA Carpenito. . Penerbit buku Kedokteran EGC. Marilynn E. Barbara.Menganjurkan anak memakai sepatu saat melakukan ambulasi . Penerbit buku Kedokteran EGC. (1999).Tindakan pencegahan yang dilakukan dirumah . Edisi 2. (terjemahan). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta. Volume 2. Edisi 3. Engram. Jakarata. Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.4) Cegah konstipasi 5) Ciptakan lingkungan yang aman dan tenang . Penerbit Buku Kedokteran EGC.Sediakan mainan yang lembut dan aktivitas yang menyenangkan . (1998).Jaga kebersihan lingkungan.

Jakarta. Jakarta. Volume I. (1996). Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan 3. (1987). Penerbit buku Kedokteran EGC. Soetjiningsih. Bandung. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul 1. . Soeparman. (terjemahan). Arif & Suprohaita. Perawatan Medikal Bedah. Jakarta. (2000). Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Penerbit buku Kedokteran EGC. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Ngastiyah (1997). Jakarta. (1995). Perawatan Anak Sakit. metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi.Long. Penerbit FKUI. Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit 4. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Mansjoer. Tumbuh Kembang Anak. Barbara C. kalsium. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru 2.

Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru Tujuan : Pola nafas yang efektif Kriteria Hasil : * Kebutuhan oksigen menurun * Nafas spontan. adekuat * Tidak sesak. kedalaman dan frekuensi pernafasan Diagnosa Keperawatan 2 : Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan . * Tidak ada retraksi Intervensi * Berikan posisi kepala sedikit ekstensi * Berikan oksigen dengan metode yang sesuai * Observasi irama.

Tujuan : Pertukaran gas adekuat Kriteria : * Tidak sianosis. Intervensi : * Lakukan isap lendir kalau perlu * Berikan oksigen dengan metode yang sesuai * Observasi warna kulit * Ukur saturasi oksigen * Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan * Lapor dokter apabila terdapat tanda-tanda perburukan pernafasan * Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah * Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan Diagnosa Keperawatan 3 : Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Tujuan : Hidrasi baik . * Analisa gas darah normal * Saturasi oksigen normal.

Kriteria: * Turgor kulit elastik * Tidak ada edema * Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam * Elektrolit darah dalam batas normal Intervensi : * Observasi turgor kulit. kalsium. * Catat intake dan output * Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit * Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah. metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat Tujuan : Nutrisi adekuat Kriteria : * Berat badan naik 10-30 gram / hari . Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi.

* Tidak ada edema * Protein dan albumin darah dalam batas normal Intervensi : * Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat * Observasi dan catat toleransi minum * Timbang berat badan setiap hari * Catat intake dan output * Kolaborasi dalam pemberian total parenteral nutrition kalau perlu. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful