Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis, Vol.1, No.

2, Oktober 2010, 216-228

ISSN 2087-1090

Analisa Marketing Mix-7P (Produk, Price, Promotion, Place, Partisipant, Process, dan Physical Evidence) terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya
Hendri Sukotjo dan Sumanto Radix A. Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Abstract: The study, titled "An Analysis of Marketing Mix-7P (Product, Price, Promotion, Place, Partisipant, Process and Physical Evidence) The Beauty Clinic Products Buying Decision Teta in Surabaya" was designed to determine the effect of P-7 marketing mix of consumer decisions in Beauty Clinic Teta shop in Surabaya with testing hypotheses simultaneously (simultaneously) and partial (separate). This study takes an object of research on consumers / customers of Teta Beauty Clinic in Surabaya with a sample of 115 respondents with data collection through questionnaire instrument. The findings of this research is expected to be a platform for companies to increase product quality and quality of services provided to its customers. Key works: Marketing mix-7P, shopping decisions.

PENDAHULUAN Sejalan dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan sosial budaya sebagai akibat dari arus perubahan global yang mendorong transformasi pada seluruh aspek perilaku konsumen dan pemenuhan kebutuhannya yang terus berkembang, dewasa ini telah banyak bermunculan bermacam bentuk Klinik atau Salon yang menawarkan perawatan kecantikan mulai dari ujung kaki sampai dengan ujung rambut Surabaya sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta, merupakan lahan tersendiri bagi tumbuhnya bisnis layanan jasa seperti klinik-klinik kecantikan, dimana, sudah menjadi kebutuhan atau rutinitas masyarakat metro untuk melakukan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit. Dengan berkembangnya jasa layanan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, disatu sisi tentunya membawa keuntungan bagi konsumen karena akan lebih banyak alternatif pilihan tempat bagi mereka yang ingin melakukan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, akan tetapi disisi lain akan menimbulkan ancaman bagi pengelola klinik-klinik kecantikan itu sendiri, karena harus menghadapi persaingan yang sangat ketat dalam memperebutkan jumlah pelanggan/konsumen yang ada.. Dari fenomena tersebut sebagai konsekuensinya, pihak marketer atau pengelola klinik kecantikan harus senantiasa memahami perilaku konsumen secara keseluruhan agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan dapat merumuskan strategi pemasarannya dengan cepat dan tepat. Oleh karena klinik kecantikan merupakan perusahaan yang menghasilkan produk berupa jasa layanan maupun jasa penjualan yang harus dipasarkan kepada konsumen, maka dalam memilih sebuah klinik kecantikan sebagai tempat untuk perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, konsumen banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor

216

Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya marketing mix yang terdiri dari 7P (yang meliputi : produk. Definisi manajemen pemasaran itu sendiri menurut Kotler (2000 : 13) adalah: “Marketing managemen is the analysis. Sedangkan tinjauan dari aspek perilaku konsumen dalam pergeseran paradigma pemasaran menunjukan bahwa semua keputusan konsumen atau pelanggan dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan (Basu. dan physical evidence). Pergeseran paradigma dalam pemasaran tidak selalu menimbulkan perubahan pada definisi pemasaran yang ada sekarang. paradigma menjelaskan kepada kita tentang dunia dan dapat membantu untuk memprediksikan perilakunya. Kegiatan pemasaran haruslah dikoordinasikan dan dikelola dengan baik. price. and maintain beneficial exchange with target buyer for the purpose of achieving organizational objectifves” Pergesaran Paradigma Pemasaran Paradigma adalah bagaimana memandang dunia. partisipant. dan proses terhadap pengambilan keputusan pembelian produk Klinik kecantikan di Surabaya. implementation. TINJAUAN TEORITIS Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran Disebagian besar masyarakat. Aspek-aspek yang berkaitan dengan keputusan konsumen dari sudut pandang konsumen. 1997: 6) Definisi pemasaran yang dikemukakan oleh ahli tersebut dapat diketahui bahwa pemasaran merupakan suatu system dari kegiatan bisnis yang saling berhubungan dan ditujukan untuk merencanakan. pemasaran sering diartikan sebagai proses penjualan barang dan jasa. price. planning. tetapi apabila dilihat lebih mendalam pengertian pemasaran mempunyai aspek yang lebih luas dari pada pengertian tersebut. participant. 217 . maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan (bersama-sama) dan secara parsial antara variable-variabel dalam konsep marketing mix 7P yang terdiri dari : Produk. mendistribusikan dan mempromosikan barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. perencanaan. and control a program designed to creat. Mengacu pada latar belakang yang diajukan diatas. promotion. maka dikenal istilah manajemen pemasaran. Dan Variabel manakah dari marketing mix-7P yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap keputusan dalam pembelian produk klinik kecantikan di Surabaya. physical evidence (lingkungan fisik). proses. Pengambilan keputusan manajemen lebih memfokuskan kepada empat aspek tersebut. promosi. implementasi dan pengendalian dibidang pemasaran. build. 2000: 24). place (saluran distribusi). place. Berikut ini adalah pendapat ahli tentang pengertian pemasaran yaitu: “ Marketing is a social and managerial process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating and exchanging product value with others” (Kotler & Armtrong. Ditinjau dari aspek manajerial dalam pergeseran paradigma pemasaran menunjukkan suatu proses atau sebagai proses pengambilan keputusan manajemen yang mencakup analisis. seperti kepuasan dan antusiasme juga tercakup didalamnya.

Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang. harga atau tarif dari kegiatan promosi dan strategi penyampaian jasa tersebut. untuk dapat memperkenalkan dan mempromosikan jasa tersebut. kontak personal. Marketing mix (Bauran Pemasaran Jasa) Salah satu strategi yang berhubungan dengan kegiatan pemasaran perusahaan adalah marketing mix strategy yang didefinisikan oleh Kotler dan Armstrong (1997) yang menyatakan bahwa marketing mix as the set of controllable marketing variables that the firm bleads to produce the response it wants in the target market”. karena itu tenaga pemasaran jasa harus selalu dekat dan terus menerus memperhatikan konsumennya. Kepuasan pelanggan merupakan darah kehidupan perusahaan yang harus mengalir terus menerus. lingkungan fisik. karena memberikan beberapa manfaat (Tjiptono. mengkaji peluang-peluang pasar. misalnya antara produsen dengan konsumen. iklan. karena banyak elemen yang mempengaruhinya. Jasa baru terlihat bila dikaitkan dengan suatu hubungan langsung (interpersonal). janji untuk memberikan kepuasan pelanggan melalui bauran pemasarannya dapat menimbulkan akibat terpenuhinya tujuan laba jangka panjang meskipun kadang-kadang mengorbankan laba jangka pendek. (2000 : 469) menyatakan bahwa dalam konsep pemasaran jasa melibatkan beberapa unsur dalam pelaksanaan kegiatan pemasaran yakni tidak hanya dari sisi pemasaran eksternal tetapi juga pemasaran internal dan pemasaran interaktif. seperti system internal organisasi. Pemasaran interaktif menggambarkan interaksi antara pelanggan dan karyawan. Pemasaran internal menggambarkan tugas yang diemban perusahaan dalam rangka melatih dan memotivasi para karyawannya agar dapat melayani para pelanggan dengan baik. pelanggan. melakukan distribusi dan mempromosikan jasa kepada para pelanggan. Bisnis jasa sangat kompleks. tagihan dan pembayaran. Membangun reputasi perusahaan di mata pelanggan.Hendri S. Membentuk rekomendasi dari mulut kemulut yang menguntungkan perusahaan. Pemasaran jasa bersifat sensitive dalam menghayati kebutuhan konsumen-nya. dan Sumanto R. Kegiatan pemasaran jasa harus dapat mendekatkan konsumen. f. d. A. Hal ini terutama disebabkan para konsumen/pelanggannya berubah. dan sebagainya. Meningkatkan laba. Pemasaran Jasa Pemasaran jasa tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas gambaran produknya. keinginan serta perkembangan yang terdapat di lingkungannya. menetapkan posisi jasa segmen pasar dan pasar sasaran atas dasar kebutuhan jasa tersebut serta merumuskan bauran pemasaran (marketing mix). c. Pemasaran eksternal menggambarkan aktivitas normal yang dilakukan oleh perusahaan dalam mempersiapkan. Oleh karena itu Gronroos dalam Kotler. Bagi pemasar. Hubungan antara perusahaan dan pelanggannya menjadi harmonis. 2001) sebagai berikut. a. karena dapat dipengaruhi perasaan. menetapkan harga. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan. komentar dari mulut ke mulut. Peristiwa memberi dan menerima yang dilakukan kedua pihak ini lebih menekankan atau diukur pada kepuasan. 218 . b. e. yang meliputi mutu dan deversifikasi jasa.

Distribusi berkaitan dengan kemudahan memperoleh produk di pasar dan tersedia saat konsumen mencarinya. Dan Physical Evidence. Penentuan media promosi yang akan digunakan didasarkan pada jenis dan bentuk produk itu sendiri. Blackwell dan Miniard. 2000:7). televise dan direct mail (Baker. murah atau biasa-biasa saja dari setiap individu tidaklah harus sama. karena tergantung dari persepsi individu yang dilatar belakangi oleh lingkungan kehidupan dan kondisi individu (Schifman and Kanuk. People (Partisipan) Yang dimaksud partisipan disini adalah karyawan penyedia jasa layanan maupun penjualan. dan (4) Pemasaran langsung. Place (Saluran Distribusi) Kotler (2000: 96) menyatakan bahwa “Saluran distribusi terdiri dari seperangkat lembaga yang melakukan segala kegiatan (Fungsi) yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status pemiliknya dari produsen ke konsumen”. Promotion. Distribusi memperlihatkan berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk menjadikan produk atau jasa diperoleh dan tersedia bagi konsumen sasaran. Dan untuk usaha jasa terdapat 7 unsur marketing mix (Marketing Mix-7p) yaitu: Produk. Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa saluran distribusi suatu barang adalah keseluruhan kegiatan atau fungsi untuk memindahkan produk disertai dengan hak pemiliknya dari produsen ke konsumen akhir atau pemakai industri. tabloid. Melalui periklanan suatu perusahaan mengarahkan komunikasi persuasif pada pembeli sasaran dan masyarakat melalui media-media yang disebut dengan media massa seperti Koran. 1996). Selain itu harga salah satu faktor penting konsumen dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak (Engel. (2) Promosi penjualan. dokter. Promotion (promosi) Promosi adalah kegiatan mengkomunikasikan informasi dari penjual kepada konsumen atau pihak lain dalam saluran penjualan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. Harga dikatakan mahal. dan beauty therapis. (3) Publisitas dan hubungan masyarakat. Media promosi yang dapat digunakan pada bisnis ini antara lain (1) Periklanan. radio. Proses. diantaranya adalah para reception. Pembelian sebuah produk bukan hanya sekedar untuk memiliki produk tersebut tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. 219 . Strategi produk dapat mempengaruhi strategi pemasaran lainnya. Partisipant. Price. Place. Price (Harga) Menurut Monroe (2005) menyatakan bahwa harga merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan pelanggan untuk memperoleh produk atau jasa. majalah. Product (produk) Produk merupakan elemen penting dalam sebuah program pemasaran. 2001). atau orang-orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses layanan itu sendiri.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa bauran pemasaran merupakan variable-variabel terkendali yang digabungkan untuk menghasilkan tanggapan yang diharapkan dari pasar sasaran.

dan (5) Pemakai (user). Promotion/Promosi (X3). (4) Pembeli (buyer). dia akan menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi dan sebaliknya. konsumen seringkali lebih dari dua pihak yang terlibat dalam proses pertukaran atau membelinya. dekorasi. Price/Harga (X2). dan fasilitas lain pendukung kenyamanan konsumen didalam perawatan seperti ruangan dari ruang tunggu sampai dengan ruang perawatan yang sejuk dan bertata cahaya yang tepat. dan Sumanto R. aroma. Fasilitas jasa konsultasi dokter gratis. umumnya ada lima macam peranan yang dapat dilakukan oleh seseorang (Kotler 1998) yaitu : (1) Pencetus ide (initiator). lokasi yang strategis. A. (2) Pemberi pengaruh (influencer). pelatakan dan layout yang nampak atau lingkungan yang penting sebagai obyek stimuli (Belk 1974 dalam Assael 1992). credit card. (3) Pengambil keputusan (decider). ruangan. Proses keputusan pembelian menurut Kotler (1998) melalui lima tahap seperti terlihat pada Gambar 1. Adapun dimensi dari marketing mix yang terdiri dari 7P. card member dan fasilitas layanan yang berpengaruh pada image perusahaan. suara. Karakteristik lingkungan fisik merupakan segi paling nampak dalam kaitannya dengan situasi. Process (Proses) Proses adalah kegiatan yang menunjukkan bagaimana pelayanan diberikan kepada konsumen selama melakukan pembelian barang. Keputusan Pembelian Dalam keputusan membeli barang. Pengelola klinik melalui front liner sering menawarkan berbagai macam bentuk pelayanan untuk tujuan menarik konsumen. Physical evidence (Lingkungan fisik) Lingkungan fisik adalah keadaan atau kondisi yang di dalamnya juga termasuk suasana klinik yang merupakan tempat beroperasinya jasa layanan perawatan dan kecantikan kulit. yaitu : Product/Produk (X1). keramahan dan efektivitas pelayanan.Hendri S. Dari ketujuh elemen marketing mix tersebut yang merupakan kunci sukses bagi sebuah klinik diantaranya adalah kelengkapan produk layanan yang siap ditawarkan (one stop beauty service). cahaya. cuaca. Pengenalan Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif Keputusan Pembelian Perilaku setelah Pembelian Gambar 1. Place/Lokasi 220 . Kerangka Konseptual Berdasarkan teori pada tinjauan pustaka sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya. Yang dimaksud dengan situasi ini adalah situasi dan kondisi geografi dan lingkungan institusi. dapat disusun suatu kerangka konseptual untuk menganalisis pengaruh marketing mix terhadap keputusan pembelian. Jika konsumen merasa puas. Model Proses pembelian (Kotler 1998) Setelah pembelian suatu produk. tempat parkir yang memadai. pengiriman produk. konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu.

lokasi. 2002 : 63) terpilih sampel sebanyak 115 Orang 221 . lokasi. Kerangka konseptual pengaruh marketing mix terhadap keputusan pembelian di Klinik Kecantikan Teta di Kota Surabaya Hipotesis Penelitian H1: Bahwa variabel produk. partisipant (beauty therapist. Sampel Metode yang dipilih adalah simple random sampling. H2: Bahwa variabel produk. Product / Produk (X1) Price / Harga (X2) Promotion / Promosi (X3) Place / Lokasi (X4) Participant / Karyawan (X5) Physical Evidence / Lingkungan Fisik (X6) Process / Proses (X7) Keputusan Pembelian di Klinik kecantikan Teta di kota Surabaya (Y) Gambar 2. dimana menitikberatkan pada pengujian hipotesis dengan menggunakan data terukur sehingga diharapkan akan dapat ditarik suatu kesimpulan. proses. kondisi fisik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. yang merupakan salah satu dari teknik probability sampling yang sampelnya diambil secara acak. dan kondisi fisik. promosi. proses. promosi. berapa besarnya pengaruh. serta sejauhmana arah dari pengaruh tersebut. Pemilihan metode ini didasarkan atas homogenitas anggota/member Teta di Surabaya tiga tahun terakhir. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. kondisi fisik secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. dokter dan receptionist). proses. harga. promosi. H3: Dari ketujuh variable : produk. dan Process/Proses (X7) akan diteliti pengaruhnya terhadap keputusan pembelian di klinik kecantikan (Y). Jumlah sampel penelitian sekaligus menjadi responden diambil menurut table krejcie dengan tingkat kesalahan 5% (Sugiyono. Physical Evidence/ Lingkungan Fisik (X6). partisipant (beauty therapist. dokter dan receptionist). Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas yaitu penelitian yang berusaha untuk melihat apakah antara dua variabel atau lebih memiliki pengaruh atau tidak. partisipant (beauty therapist.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya (X4). harga. dokter dan receptionist). harga. Populasi Adapun populasi dalam penelitian ini adalah anggota/member card Teta sejumlah 436 orang di Surabaya. Participant/Karyawan (X5). lokasi. Variabel promosi adalah variabel yang paling dominan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya.

Faktor Lokasi (X4) adalah lokasi klinik yang merupakan tempat untuk menawarkan/ menjual barang-barang kepada konsumen. * Dekat pertokoan lain (X4. Faktor Harga (X2) adalah harga barang-barang yang ditawarkan / dijual di klinik. * Program member get member (X3.Hendri S.1).4).5).3) 2. Faktor Promosi (X3) adalah promosi yang dilakukan oleh klinik mengenai barangbarang yang ditawarkan/dijualnya kepada kosumen. 3. dan Sumanto R.2).4). Variabel bebas atau independent variable.5). * Produk yang berkualitas (X1. A. 6.5). * Media promosi dengan menggunakan media elektronik (X3. * Berada dilokasi yang cukup prestise (X4. Item-itemnya adalah: * Media promosi dengan menggunakan media cetak (X3. Definisi konsep dan Operasional Variabel Penelitian Variabel Penelitian 1. Item-itemnya adalah: 222 . * Dapat memberikan solusi pemecahan masalah (X5. * Penetapan harga untuk tindakan non laser (X2. * Simpatik dan ramah dalam pelayanan (X5. Item-itemnya adalah: * Penetapan harga (X2. * Dekat dengan rumah makan / restaurant (X4. Variabel partisipant diukur dengan indikatorindikator sebagai berikut : * Sedia dan siap membantu (X5.2).3). diberi symbol ‘X’ yaitu marketing mix. 5.4). Item-itemnya adalah: * Dekat dengan kediaman (X4.3). diberi symbol ‘Y’ yaitu keputusan pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya.1).3). Faktor Produk (X1) adalah semua barang-barang yang ditawarkan atau dijual di klinik kecantikan untuk dimiliki. Faktor Partisipant (X5) adalah orang-orang yang terlibat secara langsung dalam proses penjualan barang-barang di klinik. * Uniform yang dikenakan partisipan (X5.5). 4. * Pemberian voucher pembelian (X3. atau dikonsumsi oleh konsumen. * Dekat pusat keramaian / jantung kota (X4. Item-itemnya adalah: * Teknologi peralatan yang modern (X1.1). * Penetapan harga sebanding dengan hasil (X2. * Kelengkapan layanan (X1.1).1). Variabel terikat atau dependent variable.3). * Penetapan harga untuk tindakan laser (X2. Definisi Operasional Variabel A. Faktor Lingkungan Fisik (X6) adalah keadaan lingkungan fisik klinik sebagai tempat beroperasinya jasa penjualan barang-barang kepada konsumen. digunakan. 2.2). * Media promosi dengan menggunakan media luar ruangan (X3. * Keramahan dan kesediaan membantu (X5.2 ). * Potongan harga (X2.4).2). Variabel Bebas: 1.

6). * Kejelasan batas waktu setiap jenis layanan (X7.3). akan dilakukan dengan bantuan software SPSS 11. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Obyek Penelitian Awal kali pertama berdiri Teta Aesthetic clinic pada tahun 1997 yang berada di lokasi Jalan Nginden Intan Tengah F1/46 mengawali jasa layananan dibidang kecantikan dan aesthetic.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya Desain dan tata ruang klinik yang menarik (X6.5). Contoh skor untuk pertanyaan positif adalah sebagai berikut : Karyawan bagian layanan Teta Aesthetic Clinic selalu bersedia dan siap membantu pelanggan yang datang“ 5 4 3 2 1 Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju * * * * Demikian sebaliknya. Item-itemnya adalah: * Kecepatan pembayaran (X7. B. Dalam penelitian ini kuesioner disusun dalam kalimat-kalimat pertanyaan dan responden diminta untuk menjawabnya dengan memberikan tanda silang (X). * Tersedia sarana pengatur suhu ruangan (X6. * Kondisi kebersihan lingkungan (X6. * Jam buka klinik (X7.4).5). Tersedia sarana tempat parkir (X6. * Kondisi sarana sanitasi yang memadai (X6.8). Dekorasi ruangan (X6.1). Analisis Data Analisis dan pengolahan data yang akan dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensia. for Windows yang bertujuan mempermudah dan memperoleh akurasi hitungan yang tepat. Untuk menguji hipotesis penelitian secara statistik digunakan analisis regresi linier berganda karena penelitian bertujuan mengungkapkan hubungan kausalitas antara variable independent dan variable dependent.3).1) Desain tata ruang klinik yang mendukung terhadap layanan cepat (X6. Untuk mengukur jawaban responden tersebut digunakan Skala Tingkatan Point (Itimized Rating Scales) dalam bentuk Skala Likert. * Pembayaran dengan cek / giro / kartu kredit / ATM (X6. Variabel Tak Bebas: Keputusan Berbelanja (Y) diukur dari besarnya jumlah pembelanjaan setiap transaksi dan frekwensi perawatan yang dilakukan oleh konsumen di klinik yang bersangkutan. Faktor Proses (X7) adalah kegiatan yang menunjukkan bagaimana pelayanan diberikan kepada para konsumen selama melakukan pembelian barang. artinya hiasan ruangan klinik yang dapat menimbulkan suasana artistik. 7. untuk pertanyaan negatif diberi skor nilai secara terbalik.7).2) . * Memiliki jaminan purna layanan (X7.4). * Secara keseluruhan layanan yang diberikan cukup baik dan cepat (X7. 223 . Untuk analisis regresi dan pengujian hipotesis.2). dimana jawaban responden untuk pertanyaan positif maupun negatif dibedakan atas 5 skala.

pewarnaan rambut. Promosi (X3). Pengukuran reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan metode Alpha Cronbach (Gujarati. potong rambut. Dan nilai VIF semua variabel bebas lebih kecil dari 10.10. Salah satu cara untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya gejala 224 . Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai koefisien alpha > 0. dll. dengan tempat yang lebih besar seluas 720 m. Partisipant (X5). Dan sebagai tujuan dari pembukaan salon ini adalah untuk memenuhi keinginan konsumen mempercantik diri dari ujung kaki sampai ujung rambut. Harga (X2). dan Sumanto R. sehingga layak digunakan untuk analisis selanjutnya. kemudian setelah 5 tahun berikutnya Teta Aesthetic clinic pindah ketempat yang baru di Jalan Raya Dharmahusada Indah D6-79 Surabaya.6. Angka korelasi yang diperoleh (rhitung) harus dibandingkan dengan angka kritis tabel korelasi product moment (rtabel) pada taraf 5% pada derajat bebas n-2. karena selama ini yang kita ketahui bahwa salon biasanya hanya ada perawatan rambut seperti. Proses (X7). creambath. Lokasi (X4). Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Multikolinieritas Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk mengetahui adanya hubungan yang sempurna antar variabel dalam model regresi. Selengkapnya hasil uji reliabilitas instrumen penelitian disajikan dalam tabel berikut. Suatu atribut dikatakan valid jika nilai rhitung > rtabel dan bernilai positif. dan Keputusan Pembelian (Y) dinyatakan valid. Proses (X7). Uji Reliabilitas Pengujian reliabilitas ditujukan untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan dapat diterapkan berulangkali pada obyek yang sama. dan Keputusan Pembelian (Y) dinyatakan reliabel. yaitu analisis regresi linier berganda. Uji Heterokedastisitas Uji asumsi regresi berganda heteroskedisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual pada satu pengamatan ke pengamatan yang lainnya. A. Harga (X2). Lokasi (X4). yaitu analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil perhitungan Program SPSS menunjukkan bahwa semua aspek indikator dari Produk (X1). sehingga dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Partisipant (X5). Dari perhitungan estimasi korelasi matrik dengan program SPSS versi 11 menunjukkan bahwa nilai tolerance dari seluruh variabel dependen lebih besar dari 0. ini dimaksudkan agar dapat menampung konsumen yang semakin lama semakin bertambah. Lingkungan fisik (X6). Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dalam penelitian ini maka digunakan korelasi matriks.Hendri S. Berdasarkan berdasarkan hasil perhitungan program SPSS diketahui bahwa semua aspek indikator dari Produk (X1). Promosi (X3). Lingkungan Fisik (X6). Uji Prasyarat Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. sehingga tidak terjadi gejala korelasi antar variabel bebas. 1995).

054 0. dan hasil scatterplot dengan program SPSS tidak terjadi trend karena data titik-titik tersebar hampir secara merata. Error -0.061 0. Berdasarkan hasil perhitungan program SPSS menunjukkan bahwa Durbin Watson hitung adalah 1.058 Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diatas.529 dan dU = 1. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Model Constant Produk (X1) Harga (X2) Promosi (X3) Lokasi (X4) Partisipant (X5) Lingkungan Fisik (X6) Proses (X7) Sumber: data diolah Unstandardized Coefficients B Std.141 X1 + 0. Jika ada.169 X4 + 0. hasil perhitungan dengan bantuan program komputer SPSS.278 + 0.038 0.078 0.265 0. karena dw tes berada dalam dU < dW < 4 – dU.169 0.933. diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut: Y = -0. Dengan nilai N=115 dan k = 7. dilakukan uji F yang menunjukkan pengaruh secara simultan atau bersama-sama.278 0.184 X2 + 0.007 0.042 X7 + ei Pengujian Hipotesis Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji jF) Untuk menguji hipotesis 1. diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1.059 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model diatas tidak terjadi gejala heterokedastisitas Uji Autokorelasi Uji autokorelasi adalah untuk melihat apakah antara anggota pengamatan dalam variabelvariabel bebas yang sama memiliki keterkaitan satu sama lainnya.827. maka dari tabel Durbin Watson diperoleh nilai dL = 1.307 X6 + 0. maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi. Hasil uji F sesuai dengan perhitungan SPSS 11.307 0.265 X3 + 0.0 dapat dilihat pada lampiran seperti pada tabel berikut ini: 225 .184 0. maka model kurang akurat dalam memprediksi.053 0.141 0.042 0.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya tersebut adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada scatterplot antara residual versus fit.007 X5 + 0.307 0. Analisis Regresi Linier Berganda Teknik analisis pada penelitian ini menggunakan Regresi linier berganda.

sehingga secara simultan variabel Produk. digunakan uji t yang menunjukan pengaruh secara parsial dari masing-masing variabel.0963 Kesimpulan: Karena Fhitung = 35.063 F tabel 2. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t) Untuk menguji hipotesis 2.9824 1. Dibandingkan dengan kompetitor.935 0. Harga. Hasil Analisis Uji t Variabel Produk (X1) Harga (X2) Promosi (X3) Lokasi (X4) Partisipant (X5) Lingkungan Fisik (X6) Proses (X7) Sumber: Data Diolah tHitung 3. Variabel Partisipant dan Proses tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Keputusan Pembelian dikarenakan secara keseluruhan dari indikator yang merepresentasikan dianggap telah terpenuhi sebagai standar minimal atribut yang harus dipenuhi oleh suatu klinik kecantikan. Sehingga bila unsur dari variabel tersebut ditingkatkan akan berpengaruh secara signifikan terhadap Keputusan Pembelian.9824 1. Teta Aesthetic Clinic dianggap oleh pelanggan tidak jauh perbedaannya.747 0. Koefisien Korelasi Parsial Nilai koefisien korelasi parsial didapat dari output hasil perhitungan analisis regresi dengan program SPSS dan digunakan untuk menguji hipotesis 3.9824 1.731 tTabel 1. Lokasi.9824 1. dan justru variabel Produk. Lokasi. Lokasi dan Lingkungan Fisiklah yang merupakan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian.684 3. 226 . Promosi. dan Lingkungan Fisik.428 0. Sedangkan variabel Partisipant dan Proses tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian produk. Harga.379 4. maka hasil perhitungan uji t tampak dalam tabel berikut: Tabel 3.Hendri S. dan Proses mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Keputusan Pembelian produk pada Klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. Promosi. Hasil Perhitungan Uji F Model Anova Sum of Squares Regression 2.300 Sumber: Data Diolah df 7 107 114 Mean Square 0. A.995 Residual 1. Lingkungan Fisik.9824 1.305 Total 4. dan Sumanto R. Partisipant. Harga.504 2. Berdasarkan olah data dengan SPSS dan tabel t. Tabel 2.9824 1. Promosi. dan Teta Aesthetic Clinic telah memenuhi kondisi tersebut.063 > Ftabel maka Ho ditolak pada tingkat signifikansi 5% dengan df pembilang 7 dan df penyebut 107 yang berarti signifikan.012 F 35.9824 Kesimpulan Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Diterima Ho Ditolak Ho Diterima Berdasarkan tabel 3 di atas diketahui bahwa variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap Keputusan pembelian adalah variabel Produk.143 3.

Marketing Management. 227 . DAFTAR PUSTAKA Aaker. dan proses secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian produk Klinik kecantikan di Surabaya. harga. 3. place (saluran distribusi). 2002. terlihat bahwa nilai korelasi parsial (r2) terbesar adalah untuk variabel promosi (X3). 2000. seiring berjalanya waktu lingkup penelitian saat ini yang terbatas pada lingkup wilayah kota Surabaya. 2000. 2. promosi. David A. promosi. Liberty. Yogyakarta. Assael. pada kolom korelasi parsial. Dari ketujuh variable: produk. Consumer Behavior and Marketing Action. talk show informatif pada media elektronik radio dan penyelenggaraan member get member. Variabel promosi adalah variabel yang paling dominan terhadap keputusan pembelian pada klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa variable-variabel dalam konsep marketing mix 7P berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam berbelanja di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. Elex Media Komputindo. Variabel produk. physical evidence (lingkungan fisik). Demikian pula yang penulis harapkan pada penelitian-penelitian berikutnya. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Henry. Kent Publishing Company. dan lokasi secara parsial berpengaruh terhadap Keputusan pembelian pada klinik kecantikan Teta. partisipant (beauty therapist. Variabel-variabel dalam konsep marketing mix 7P yang terdiri dari : Produk. artinya secara parsial variabel promosi (X3) memberikan pengaruh yang paling dominan terhadap Keputusan Pembelian produk pada Klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. dokter dan receptionist). price. 2. aspek ini erat kaitannya dalam hal promosi yang bersifat edukatif dan persuasif seperti yang telah dilakukan dalam bentuk advetorial di media cetak. Inc. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil analisis dan pembahasan. New York: MC Graw Hill. kedepan dapat dikembangkan pada lingkup cabang-cabang klinik kecantikan Teta di kota lainnya. Baker. sehingga dari hal tersebut diharapkan ada peningkatan pada keputusan konsumen dalam berbelanja di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. harga. Manajemen Ekuitas Merek. promosi.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya Berdasarkan hasil print-out SPSS tersebut. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Jakarta. Gary. 1992. Fourth Edition. Basu Swasta DH & T. voucher pembelian serta promo pada media luar ruang yang memuat promo/event bulanan sangat efektif mempengaruhi keputusan pembelian pada klinik kecantikan Teta di kota Surabaya Saran Saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. lokasi. oleh karena itu pihak klinik kecantikan Teta lebih meningkatkan marketing mix yang diberikan kepada pelanggan dengan memotivasi kinerja karyawan agar lebih baik. Twelved Edition. partisipant. Diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk mengamati variabel lain atau menambahkan variabel selain variabel merketing mix 7P. Hani. dan lingkungan fisik. proses. Boston.

Perencanaan. Yakarta. New Jersey. Inc. Andi. Blackwell. Gary. 2000. Industrial Marketing Management (12) 841847. Alih Bahasa: Hendra Teguh. Manajemen Pemasaran: Analisis. 1997.D. X. X. Edisi Millenium. ------------. Edisi Bahasa Indonesia. Jilid 1. James F. Erlangga. Prenhallindo.. Dasar-dasar Pemasaran. Implementasi dan Control. Yogyakarta. 2002. Manajemen Pemasaran: Analisis. Manajemen Pemasaran: Analisis. Ph. Salemba Empat. Malhotra. Marketing Antecedent of Industrial Brand Equity: An Empirical Investigation in Spesialty Chemical. Mudrajad Kuncoro. jilid I. Strategi Pemasaran. Kotler. Ronny Antonius Rusli. 1996. Perilaku Konsumen. Seven Edition. Budiyanto. & Miniard.com). Penerbit Alfabeta. Jakarta. Alih Bahasa: F. Statistika Untuk Penelitian. Binarupa Aksara. 2005. Binarupa Aksara. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi: Bagaimana meneliti & menulis tesis. Penyunting: Agus Hasan Pura Anggawijaya. Jakarta. Sugiyono. Prenhallindo. Consumer Behavior. Teta Web Site (www. 228 . Engel. Philip.R.. Perencanaan. Second Edition. Jakarta. 2001. Allard C. Paul W. 1996. 1998. Prentice – Hall Inc. 2006. 2002. Fandy. Perencanaan. 2001. Jilid II. Alih bahasa: Alexander Sindoro. A. Edisi kedelapan. Roger D.dan Armstrong. Perilaku Konsumen. Jakarta. ---------------. dan Sumanto R. Bandung. Hamdani.tetaclinic@yahoo. Monroe. Terjemahan. A. Jakarta. Marketing Research: An Applied Orientation. Jakarta. ---------------. Schiffman. Leon G and Leslie Lazar Kanuk. --------------. Terjemahan. Tjiptono. Edisi Bahasa Indonesia. Prenhallindo. Rambat Lupiyoadi. Prenhallindo. Van Riel et al.Hendri S. Jilid I. Budiyanto. 2003. 1995. Implementasi dan Control. Penyunting: Benyamin Molan. New Jersey: Prentice Hall. Manajemen Pemasaran Jasa. Implementasi dan Control. Edisi 2. Naresh K. Alih Bahasa: F. Jakarta. jilid I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful