P. 1
Propsl Revital Ins Ksman r

Propsl Revital Ins Ksman r

|Views: 60|Likes:
Published by Lestari Agustina

More info:

Published by: Lestari Agustina on Sep 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2014

pdf

text

original

PROPOSAL DISERTASI

REVITALISASI
SISTEM RUANG PENDIDIK INS KAYUTANAM

Oleh :

PARIADI
NIM. 1104311

KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PROGRAM DOKTOR ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2012

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Fokus Penelitian C. Pertanyaan Penelitian D. Tujuan Penelitian E. Kegunaan Penelitian 1 14 14 14 15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Teori Sistem 1. Pengertian Sistem 2. Pentingnya Pendekatan Sistem 3. Macam-macam sistem 4. Karakteristik Sistem 5. Berpikir Sistem 6. Pendekatan Sistem 7. Pendekatan Sistem dalam Pemecahan Masalah 8. Model-model Pendekatan Sistem B. Pendidikan sebagai Suatu Sistem 1. Arti dan Makna Pendidikan 2. Tujuan Pendidikan 3. Fungsi Pendidikan 4. Komponen Inti Ilmu Pendidikan 5. Sistem Pendidikan Nasional 6. Pendidikan sebagai Suatu Sistem C. Komponen-komponen dalam Sistem Pendidikan D. Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam 1. Dasar Filosofi INS Kayutanam 2. Ruh Ajaran Engkoe Mohammad Sjafe'i 3. Dasar-dasar pendidikan INS Kayutanam 4. Ruang Pendidik INS Kayutanam sebagai sebuah sistem 51 52 53 54 39 40 42 42 45 47 48 17 20 21 22 23 26 28 29

i

E. Penelitian yang Relevan F. Kerangka Berpikir

59

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian B. Definisi Operasional C. Situasi Sosial Penelitian D. Langkah-langkah Penelitian E. Lokasi Penelitian F. Informan Penelitian G. Teknik dan Alat Pengumpul Data H. Validasi Data I. Analisis Data 62 64 65 67 69 69 71 75 76

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD ’45 yang diamandemen) diamanatkan agar “Pemerintah mengusahakan dan

menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selain itu juga ditegaskan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi sesuai dengan tuntutan

perubahan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah/lembaga. Pendidikan memegang peranan penting untuk menciptakan generasi muda menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui pendidikan diharapkan dapat menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan akan dapat membuka pintu menuju dunia modern, karena hanya dengan pendidikan dapat dilakukan perubahan sosial budaya yaitu perkembangan ilmu pengetahuan, penyesuaian nilai-nilai dan sikap yang mendukung pembangunan dan penguasaan berbagai keterampilan dan menggunakan teknologi maju untuk mempercepat proses pembangunan (Manan, 1989).

1

2

Kemudian dalam Bab I Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 (UUSPN, 2003:4) disebutkan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada hakikatnya tidak mengembangkan satu potensi kognitif saja. Lebih dari itu hasil pendidikan dikehendaki agar potensi yang ada dalam diri peserta didik dapat dimunculkan dan dikembangkan. Hal ini sejalan dengan fungsi dan tujuan sistem pendidikan nasional menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003; sistem pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Bab II, Pasal 3) Hal ini merupakan gambaran dari sekolah yang bermutu sebagaimana yang dikemukakan oleh Sagala (2004:145) yaitu: “sekolah dikatakan bermutu apabila siswa menunjukkan prestasi yang tinggi dalam : 1) akademik, yaitu nilai rapor, kejujuran, ketakwaan, kesopanan, 2) mengapresiasi nilai-nilai budaya, dan 3) tanggung jawab dan kemampuan yang diujudkan dalam

3

bentuk keterampilan sesuai dasar ilmu yang diterimanya di sekolah. Pemerataan mutu sekolah harus diupayakan agar terbentuk mutu pendidikan nasional yang tinggi”. Sejauh ini mutu pendidikan nasional Indonesia masih belum seperti yang diharapkan. Irmawita (2006:1) menggambarkan sebagai berikut: Diukur dari berbagai aspek, mutu pendidikan di Indonesia tampak belum menggembirakan: indek pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) tahun 2004 Indonesia menduduki peringkat ke-111 dari 173 negara. Kualitas SDM dalam melaksanakan IPTEK juga rendah, belum ada teknologi modern yang dihasilkan. Moral bangsa juga rendah karena terbukti banyak koruptor, kejahatan, pencurian, saling berantam sesama warga, tuding menuding kesalahan dan sebagainya. Pendidikan nasional mempunyai visi terujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa. Dengan demikian untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia masa depan, masing-masing diri diharapkan dapat berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah (UUSPN, 2003:38). Manusia yang berkualitas akan mampu menghadapi tantangan yang semakin meningkat dan kompetitif terutama di zaman modern yang penuh dengan arus globalisasi. Secara lebih jelas misi pendidikan nasional dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 adalah sebagai berikut: 1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; 2) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; 3) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian

4

yang bermoral; 4) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan 5) membudayakan peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan berdasarkan prinsip ekonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Visi dan misi pendidikan nasional Indonesia seperti dikatakan di atas, mengisyaratkan pentingnya pembentukan manusia yang utuh secara mental, spiritual dan intelektual sehingga mampu dan handal dalam mengarungi arus globalisasi. Untuk mewujudkan harapan itu tentu diperlukan lembaga pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang berkualitas. Namun pada kenyataannya mutu pendidikan Indonesia masih jauh dari yang diharapkan hal ini terlihat dari peringkat kemajuan pendidikan di Asia dimana Indonesia berada di bawah Vietnam (UNDP dalam Agustiar, 2001:2) Rendahnya mutu pendidikan banyak dikaitkan dengan lembaga pendidikan seperti halnya sekolah. Karena itu sekolah sering dijadikan kambing hitam. Sekolah sering dijadikan sorotan karena fungsinya sebagai tempat pembelajaran dan pendidikan. Sekolah merupakan salah satu unit dari keseluruhan sistem pendidikan nasional. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Karena itu rendahnya mutu pendidikan

menunjukkan betapa sekolah belum lagi berhasil melakukan perannya dengan baik. Penyelenggara pendidikan bukan hanya pemerintah saja. Masyarakat juga dapat menyelenggarakannya. Penyelenggaran pendidikan formal oleh masyarakat dikenal dengan sebutan sekolah swasta. Banyak sekolah swasta

5

yang telah didirikan di berbagai bidang dan berbagai tingkatan, mulai dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi. Disayangkan bahwa kebanyakan sekolah swasta di Sumatera Barat belum mampu bersaing sebaik sekolah negeri, walaupun ada jumlahnya belum seberapa. Namun kenyataannya masyarakat lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri. Apabila anaknya tidak diterima di sekolah negeri maka sekolah swasta menjadi pilihan berikutnya. Alhasil sekolah swasta memperoleh calon dari sisa calon yang tidak diterima di sekolah negeri. Ruang Pendidik INS Kayutanam merupakan salah satu lembaga pendidikan tingkat SLTP dan SLTA yang pengelolaannya di bawah Yayasan Badan Wakaf Ruang Pendidik INS Kayutanam. Sebagai salah satu sekolah swasta di Kabupaten Padang Pariaman, Ruang Pendidik INS Kayutanam tetap menyelenggarakan kurikulum formal pemerintah terutama pada bidang akademik di samping kurikulum sendiri sebagai ciri khas pendidikannya. Navis (1996:106) menegaskan “Untuk keperluan formal program pendidikan akademik pada Ruang Pendidik INS Kayutanam disesuaikan dengan program sekolah umum negeri, seperti SMP dan SMA. Sedangkan tiga komponen lainnya yang disebut kurikulum plus berfungsi untuk mengembangkan sikap mental murid agar mampu mengembangkan kewajiban sebagai bangsa yang bernegara merdeka serta pemegang amanah Tuhan agar menjadi khalifah-Nya di bumi. Pendidikan yang terprogram dengan tepat dapat merubah watak bangsa”.

6

Perguruan Ruang Pendidikan INS Kayutanam selanjutnya disebut INS Kayutanam didirikan oleh Engkoe Mohammad Sjafe’i pada tanggal 31 Oktober 1926 di Nagari Kayutanam, Kecamatan 2X11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Pada era pemerintahan Belanda INS merupakan singkatan dari Indonesisch Nederlandsc School, dan ketika Jepang berkuasa berubah menjadi Indonesisch Nippon School. Pada era kemerdekaan lebih populer dengan nama INS Kayutanam dan Institut Nasional Sjafe’i. Seiring dengan kemajuan zaman, maka dilakukan revitalisasi konsep Ruang Pendidik INS Kayutanam 1926, sebagai upaya mambangkik batang tarandam, mengasah intan tersimpan, maka lahirlah Institut Talenta Indonesia INS Kayutanam 1926 pada pertengahan tahun 2006. Namun secara prinsip dan hakekat tetap pada nilai-nilai dan konsep pendidikan Engkoe Mohammad Sjafe’i. Pendirian perguruan ini sebagai ujud nyata cita-cita besar Bangsa Indonesia seperti yang terungkap dalam gubahan lagu Indonesia Subur tahun 1925 setelah beliau kembali dari Belanda tahun 1924. Beliau diutus belajar ke Belanda oleh Inyiak Marah Sutan orang tua angkat beliau pada tanggal 31 Mei 1922. Tanggal keberangkatan ini dijadikan sebagai hari cita-cita INS. Konsep pendidikan INS merupakan konsep pendidikan yang relatif ideal dan diyakini relevan dengan konsep pendidikan nasional Bangsa Indonesia. Berikut beberapa pernyataan tokoh penting tentang keberadaan dan kebenaran konsep pendidikan INS tersebut. Kolusi antara Ki Hadjar Dewantara dengan Mohammad Sjafe’i: “Kami berusaha menarik rakyat

7

sebanyak mungkin ke pihak kita, supaya kita kuat kebangsaannya. Tugas saudara Sjafe’i di sebelah sana menarik pemuda mencari suatu bentuk pendidikan yang selaras dengan bangsa kita di kemudian hari”. (Ki Hadjar Dewantara, 1932 dalam Farid Anfasa Moeloek, 2009:2). Berikut pernyataan Wakil Presiden Republik Indonesia Bung Hatta tanggal 27 Oktober 1966 yang dibacakan pengganti Deputy Mentri P dan K, M. Said tokoh Taman Siswa, isinya antara lain: “Tidak saja Engkoe Mohammad Sjafe’i yang merasa lega dengan tindakan-tindakan bekas muridmuridnya itu, melainkan setiap orang yang paham akan arti pendidikan yang membangun tenaga dan pikiran yang kreatif. INS mempunyai sifat istimewa, tidak saja pengetahuan umum yang diberikan kepada murid-muridnya tetapi juga mereka didik menjadi orang yang pandai berbuat”. Di akhir pernyataannya Bung Hatta menambahkan : “Engkoe Mohammad Sjafe’i boleh merasa lega dan gembira pada hari tuanya bahwa tidak sia-sia ia sekian lama menunaikan tugas dalam bidang pendidikan yang diciptakannya sendiri”. Selanjutnya Mashuri, Menteri Departemen P dan K saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) di Padang bulan April 1968 menegaskan: “Sistem pendidikan Negara Republik Indonesia akan menjalankan ala Indonesisch Nederland School (INS), dipimpin oleh Mohammad Sjafe’i di Kayutanam di zaman Hindia Belanda dahulu”. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Azwar Anas (2008) yang menjelaskan bahwa salah satu keberhasilan Negara Malaysia bila

8

dibandingkan dengan Indonesia ialah karena mereka menerapkan konsep dan sistem pendidikan INS Kayutanam. Winarno (2007:1) mengemukakan sebagai berikut: Engkoe Mohammad Sjafe’i merupakan seorang pendidik yang religius, nasionalis, visioner, intuitif dan inovatif yang pemikirannya tidak jarang mendahului zamannya. Pemikiran yang terlalu maju untuk kebijakan pemerintah yang sampai saat sekarang cenderung konservatif, birokratis, statis dan bertahan. Beliau bukan saja pelopor tetapi sekaligus adalah pahlawan pendidikan yang menekankan pada kewajaran dan kebermaknaan. Hal ini sejalan dengan pendapat yang ditulis Harian Singgalang 11 Februari 2008 halaman 2: “Konsep pendidikan Engkoe Mohammad Sjafe’i melalui Institut Nasional Sjafe’i (INS) Kayutanam tahun 1926 lebih menonjolkan kebermaknaan pendidikan ketimbang mutu pendidikan itu sendiri”. Dari pendapat-pendapat di atas jelas terlihat bahwa konsep dan sistem pendidikan INS Kayutanam adalah salah satu alternatif konsep pendidikan yang dinilai cocok untuk bangsa Indonesia sekarang dan masa yang akan datang. Namun dalam kenyataan implementasinya masih jauh dari harapan. Agar INS dapat implementatif, maka dilakukanlah revitalisasi sistemnya yang sesuai dengan zaman kekinian. Sistem pendidikan INS pada dasarnya adalah gabungan antara sistem sekolah umum dan sistem sekolah kejuruan yang memadukan antara tiga aspek pokok manusia yakni otak, tangan dan hati. Dalam pandangan INS tidak ada satu yang lebih penting dari yang lainnya, melainkan sama pentingnya. Sistem pendidikan ini berbeda dengan sekolah pemerintah lainnya. Namun

9

tidak banyak orang yang tahu, termasuk pendidik dan tokoh pendidikan lainnya. INS Kayutanam memiliki fasilitas fisik yang relatif memadai. Fasilitas tersebut antara lain: “Gedung belajar akademik, ruang praktek keterampilan dan sanggar, asrama siswa putra dan putri, masjid, amphi teater, ruang pertunjukan, ruang pameran, lapangan basket, lapangan volley, lapangan takraw, lapangan sepak bola, lapangan tenis, fasilitas diklat, gedung utama, kolam ikan, areal pertanian dan perkebunan, fasilitas peternakan, pustaka, laboratorium IPA, ruang komputer, tungku pembakaran keramik dan asrama atau rumah dinas guru”. Selain itu kampusnya relatif strategis karena mudah dijangkau dari beberapa pusat kota di Sumatera Barat. INS Kayutanam juga memiliki lahan ± 18 Ha dan kampus yang relatif aman dan nyaman yang sangat sesuai untuk suasana belajar. Disamping itu juga terjalin kerjasama dan dukungan oleh pemerintah provinsi dan daerah kabupaten kota se-Sumatera Barat. Namun dalam kenyataannya perkembangan sekolah relatif lambat dan cenderung statis. Mungkin terdapat sejumlah kendala dan permasalahan dalam pengelolaannya yang harus dianalisis untuk dapat direvitalisasi agar dapat berfungsi kembali. INS Kayutanam pernah eksis dan sukses di zamannya dan melahirkan tokoh hebat. Tercatat beberapa nama besar sebagai ahli politik, ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli kepemerintahan, ahli ekonomi, seniman, pelukis, pemain tonil, sastrawan, budayawan, enterpreneur, termasuk mereka sebagai pejuang-pejuang kemerdekaan Bangsa Indonesia. Fakta menunjukkan

10

bahwa akhir-akhir ini terjadi kemunduran dalam perkembangannya, tidak sebagus pada awal berdirinya perguruan. Apa yang salah dalam

pengelolaannya, menjadi tanda tanya besar yang harus dijawab melalui penelitian ini. Walaupun mengalami pasang surut, namun INS Kayutanam masih tetap dapat bertahan. Tentu ada sejumlah cara atau alternatif kebijakan yang diambil pihak pengelola sehingga masih bisa bertahan sampai sekarang, walaupun mengalami masa-masa yang sulit. Penelitian ini ingin mengungkap lebih jauh tentang alternatif pemecahan dan kebijakan yang diambil oleh pengelola, sehingga perguruan INS dapat bertahan sampai saat ini. Agustiar (2008:8) menjelaskan sistem pendidikan INS Kayutanam mengandung karakteristik yang hampir sama dengan pendidikan nasional. Yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana mengimplementasikan nilainilai tersebut dalam kegiatan pendidikan pada setiap jenjang, jenis, lokasi dan budaya yang variatif. Kalau nilai tersebut dibiarkan tidak tergali dan tidak termanfaatkan dengan efektif, maka nilai-nilai INS Kayutanam Engkoe Mohammad Sjafe’i akan tetap tinggal menjadi mutiara yang terpendam saja. Agar konsep dan nilai pendidikan yang ada di INS Kayutanam dapat di implementasikan sesuai zaman kekinian tentu perlu dilakukan revitalisasi terhadap Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam. Hampir tidak ada jawaban yang pasti mengapa INS Kayutanam tidak berkembang. Fakta mengungkapkan INS Kayutanam memiliki konsep yang hebat, fasilitas yang relatif memadai, letak yang strategis, adanya dukungan

11

Pemda Provinsi dan Kabupaten Kota, pengurus yayasan yang representatif tokoh-tokoh nasional. Namun kenyataannya sekolah tidak berkembang, sekolah tidak populer, sekolah hanya menjadi mutiara terpendam dan hampir tidak dikenal. Kenyataan lain menunjukkan bahwa konsep pendidikan INS diyakini relevan dengan pendidikan sekarang dan merupakan salah satu alternatif sistem pendidikan yang tepat untuk bangsa yang sedang mengalami krisis saat ini. Hal-hal inilah yang menjadi latar belakang penulis melakukan penelitian di INS Kayutanam. Dari permasalahan dan kenyataan di atas, memberi inspirasi dan motivasi yang kuat kepada penulis untuk mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana sistem pendidikan INS Kayutanam dan

pengimplementasiannya. Untuk itu penulis melakukan grand tour sejak Januari sampai dengan September 2012. Dari beberapa kali observasi yang dilakukan selama grand tour di INS Kayutanam dan informasi yang didapat melalui wawancara dengan pimpinan, guru, karyawan, siswa dan alumni dapat diidentifikasi beberapa gejala umum sebagai berikut: 1. Kondisi lingkungan sekolah relatif kurang terawat, hal ini ditandai dengan hampir seluruh lingkungan sekolah ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. 2. Sebagian lapangan olah raga rusak dan tidak terawat, sehingga tidak dapat difungsikan. 3. Sebagian peralatan praktek di workshop rusak dan tidak dapat dipergunakan. 4. Beberapa bagian asrama siswa rusak dan kurang terawat.

12

5. Pasokan air bersih di asrama tidak memadai dibandingkan dengan kebutuhan dan jumlah siswa. 6. Belum semua guru memahami kurikulum INS yang berbasis talenta. 7. Siswa merasa beban kurikulum antara 72 sampai 78 jam perminggu terlalu berat. 8. Masyarakat belum dilibatkan dalam penyusunan kurikulum. 9. Kurikulum yang dijalankan cenderung tidak konsisten dan berubah-ubah. 10. Warga sekolah (guru, karyawan dan siswa) relatif kurang memahami konsep pendidikan Engkoe Mohammad Sjafe’i INS Kayutanam. 11. Sering terjadi mutasi guru di INS Kayutanam. 12. Kesejahteraan guru belum sepenuhnya terealisasi. 13. Belum semua guru berkualifikasi sarjana (S1) dan belum memiliki akta mengajar. 14. Tingkat kepuasan kerja guru relatif rendah. 15. Hubungan dan kerjasama antar guru kurang baik. 16. Tingginya tingkat putus sekolah dan mutasi siswa di INS. 17. Siswa cenderung kurang disiplin, hal ini ditandai dengan banyaknya siswa yang tidak mengikuti kegiatan pembelajaran dan banyaknya pelanggaran tata tertib. 18. Tidak semua siswa yang belajar di INS atas kemauan sendiri. 19. Siswa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan pihak sekolah. 20. Rendahnya tingkat kepercayaan siswa terhadap penyelenggara pendidikan. 21. Kondisi siswa yang belajar di INS sangat heterogen.

13

22. Proses belajar mengajar sering terganggu karena kekurangan dan tidak lengkapnya bahan praktek. 23. Proses belajar mengajar sering terganggu karena banyaknya acara serimonial dan formalitas. 24. Proses belajar mengajar belum menerapkan team teaching, terutama pada pembelajaran life skill di workshop. 25. INS termasuk sekolah yang banyak meliburkan siswanya dalam setahun. 26. Masyarakat relatif kurang peduli terhadap sekolah. 27. Rendahnya partisipasi masyarakat dan orang tua dalam pendidikan 28. Kepala sekolah kurang peduli dan kurang dekat dengan bawahan. 29. Pengambilan keputusan oleh yayasan dan kepala sekolah cenderung otoriter. 30. Sistem komunikasi antara atasan dan bawahan cenderung tidak lancar. 31. Yayasan terlalu ikut campur dengan urusan pendidikan. Jika diamati dari fenomena dan permasalahan di atas, sepertinya sekolah mengalami masalah dalam hal fasilitas fisik, sistem komunikasi, manajemen, pengambilan keputusan, sistem pendidikan yang belum efektif meliputi antara lain: kurikulum, guru, siswa, proses belajar mengajar dan peran serta masyarakat dalam pendidikan. Karena keterbatasan peneliti dari biaya dan waktu, maka yang dijadikan fokus penelitian ini adalah sistem pendidikan INS Kayutanam yang meliputi aspek tujuan pendidikan, program pendidikan, kurikulum, guru, siswa dan asrama dan dalam bentuk revitalisasi yang sesuai dengan zaman agar sistemnya dapat efektif.

14

Penelitian ini selanjutnya diberi judul “Revitalisasi Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam . Untuk memudahkan kita dalam memahami penelitian ini, maka judul penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Revitalisasi Kata revitalisasi mengandung makna proses atau cara menghidupkan atau memfungsikan kembali. Revitalisasi dalam kontek penelitian ini

mengandung arti penataan Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam yang meliputi upaya untuk mengaktifkan, mengefektifkan, mengefisienkan dengan tidak menambah fungsi yang ada, tetapi lebih berupaya optimalisasi fungsi sub komponen sisitem yang ada. 2. Sistem Menurut Sagala (2007: 272) sistem adalah suatu keseluruhan yang terbentuk dari bahagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan. Dalam konteks penelitian ini hubungan keseluruhan fungsional yang dimaksud meliputi filosofi, kurikulum, proses belajar mengajar, guru, siswa, dan asrama sebagai sistem pendidikan INS Kayutanam dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sistem ini selanjutnya dikenal sebagai sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam. 3. Ruang Pendidik Makna ruang pendidik dalam penelitian ini ialah suatu tempat yang luas yang digunakan untuk belajar dan mengajar, bukan hanya terbatas pada

15

adanya guru dan murid, tetapi belajar dari pengalaman dan kehadiran alam di sekitarnya (M.Sjafe’i, dalam Executive Summary, 2006) 4. INS Kayutanam INS Kayutanam adalah salah satu lembaga pendidikan swasta setingkat SLTP, SLTA dan community college yang pengelolaannya berada di bawah Yayasan Badan Wakaf. Dalam penelitian ini INS yang dimaksudkan adalah SMA INS Kayutanam

B. Fokus Penelitian Sesuai identifikasi masalah terdahulu maka fokus penelitian ini adalah: Pengkajian sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam dan Bentuk

RevitalisasiSistemnya agar efektif.

C. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yang perlu dicari jawabannya melalui penelitian ini yaitu :

1) Apakah konsep pendidikan Engkoe Mohammad Sjafe’i ? 2) Bagaimanakah bentuk sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam ? 3) Faktor-faktor penghambat dan pendukung apakah yang ditemui dalam pengimplementasian konsep Ruang Pendidik INS Kayutanam?

16

4) Upaya-upaya apakah yang dilakukan Ruang Pendidik INS Kayutanam, dalam meneruskan, meningkatkan kualitas mutu dan layanan

pendidikannya ? 5) Kebijakan dan strategi apakah yang dilkukan dalam menata Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam? 6) Apakah Bentuk Pokok-pokok Program Revitalisasi Ruang Pendidik INS Kayutanam?

D. Tujuan Penelitian Mengacu pada upaya mencari jawaban atas pertanyaan penelitian seperti yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian terjadap:

1. Konsep pendidikan Engkoe Mohammad Sjafe’i 2. Bagaimanakah bentuk sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam 3. Faktor-faktor penghambat dan pendukung apakah yang ditemui dalam pengimplementasian konsep Ruang Pendidik INS Kayutanam 4. Upaya-upaya yang dilakukan Ruang Pendidik INS Kayutanam, dalam meneruskan, meningkatkan kualitas mutu dan layanan pendidikannya 5. Kebijakan dan strategi apakah yang dilkukan dalam menata Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam 6. Bentuk Pokok-pokok Program Revitalisasi Ruang Pendidik INS Kayutanam

17

E. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan akan berguna bagi berbagai pihak antara lain: 1. Pihak INS Kayutanam dalam hal ini adalah pengurus yayasan, kepala sekolah beserta staf dan guru sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas layanan dan mutu pendidikan terutama dalam mengantisipasi faktor-faktor yang menjadi penghambat dan kendala kemajuan INS Kayutanam ke depan. 2. Pemda Provinsi Sumatera Barat, sebagai bahan masukan guna menentukan arah kebijakan yang tepat dalam kerjasama antara INS Kayutanam dengan pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Karena selain aset Padang Pariaman, INS Kayutanam juga aset bersejarah Sumatera Barat dan Indonesia. 3. Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat sebagai bahan masukan untuk menentukan kebijakan yang tepat dalam upaya mendorong percepatan terealisasinya Institut Talenta Indonesia sebagai bentuk revitalisasi konsep Ruang Pendidik INS Kayutanam yang sesuai dengan zaman kekinian. 4. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dan kabupaten kota lainnya yang turut memberi dukungan beasiswa bagi siswa berbakat yang belajar di Ruang Pendidik INS Kayutanam. 5. Program Doktor Ilmu Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Padang sebagai bahan kajian akademik dan dasar penelitian lanjutan yang relevan. 6. Bagi peneliti sendiri sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Doktor Pendidikan (Dr) pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Teori Sistem 1. Pengertian Sistem Kata sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang berarti “serangkaian obyek-obyek yang digabung oleh suatu kerangka interaksi yang teratur atau saling bergantung” (Billy, 2007:17). Menurut Richard A. Johnson dkk (1980:4) suatu sistem adalah “Suatu kebulatan keseluruhan yang komplek atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang komplek (utuh). Pendapat lain dikemukakan oleh Ibnu Syamsi (1994:8) bahwa yang dimaksud dengan sistem yaitu suatu rangkaian prosedur yang merupakan suatu kebulatan untuk melaksanakan suatu fungsi. Berikut dikemukakan beberapa pengertian sistem menurut para ahli (dalam Billy, 2007:17-19) sebagai berikut : a. Menurut Immegart (1972) menyatakan bahwa sistem juga dapat dipahami sebagai berbagai bentuk dari struktur atau operasi, konsep atau fungsi yang terdiri dari bagian-bagian yang bersatu dan terintegrasi”. Sistem mempunyai tujuan dan merupakan totalitas yang terdiri dari bagian-bagian yang terstruktur dan saling berkaitan dalam wadah transformasi serta berintegrasi secara teratur dan dipengaruhi oleh aspek-aspek lingkungan.

18

19

b. Menurut Mc Dermott (1997) mengemukakan bahwa sistem adalah suatu entitas yang mempertahankan eksistensi dan fungsinya secara keseluruhan melalui interaksi antar bagian-bagiannya. c. Sistem menurut Ackoff (1999) satu set dari dua atau lebih elemen yang memenuhi tiga kondisi berikut : 1) perilaku dari setiap elemen yang mempunyai pengaruh kepada perilaku dari keseluruhannya; 2) perilaku dari elemen-elemennya dan pengaruh dari elemen-elemen itu terhadap keseluruhannya mempunyai saling ketergantungan; 3) elemen-elemen yang ada dalam satu sistem sedemikian berkaitan satu dengan yang lainnya, sehingga tidak mungkin ada sekelompok elemen yang bisa bebas sepenuhnya dari pengaruh keseluruhannya. Jadi sistem sebagai suatu kumpulan yang kompleks, dalam fungsinya tergantung kepada bagian-bagiannya. Dengan demikian jika kita ingin memahami suatu sistem dan ingin memprediksi perilaku dari sistem, maka perlu dikaji sistemnya secara keseluruhan. d. Menurut General Systems Theory dinyatakan bahwa kita tidak dapat memahami sesuatu dengan benar bila kita melihatnya secara berdiri sendiri atau terisolasi, jadi harus melihatnya sebagai bagian dari suatu keseluruhan. Menurut teori umum sistem tersebut, dunia dianggap sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai sub sistem yang saling bergantung dan berhubungan, membentuk satu kesatuan yang utuh atau merupakan sistem yang holistik.

20

e. Menurut Sagala (2007:272) sistem adalah suatu keseluruhan yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan. Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang saling bergantung atau berinteraksi secara teratur dan membentuk suatu kesatuan yang utuh (holistik). Sistem biasanya terdiri dari beberapa subsistem yang satu sama lainnya saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Setiap sistem dianggap terdiri dari sejumlah subsistem, sedangkan setiap subsistem dapat dibagi lagi dalam jumlah sub-subsistem (Winardi, 1989:3). Setiap subsistem mempunyai peranan atau fungsi tertentu terhadap sistemnya. Semua komponen dari sistem harus ada dan berfungsi sebagaimana mestinya agar sistem dapat bekerja secara optimal dan sesuai peranannya. Dalam konteks penelitian ini makna sistem yang dimaksud adalah Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam berupa sejumlah bagian-bagian yang saling terkait dan berintegrasi secara teratur dalam pendidikan INS mulai dari kurikulum, guru, proses belajar mengajar, siswa, asrama dan komponen lain yang relevan. Semua komponen atau bagian-bagian ini dianggap saling berpengaruh dan satu kesatuan yang utuh dalam penyelenggaraan sistem pendidikan INS.

21

2. Pentingnya Pendekatan Sistem Mengingat hampir tidak ada suatu masalah yang berdiri sendiri, maka semua pimpinan atau manejer yang bertanggung jawab dalam suatu organisasi diharapkan perlu menggunakan pendekatan yang menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, dan membuat perencanaan. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan harus memperhatikan semua faktor yang terkait dan keputusan yang diambil harus ditekankan kepada upaya untuk penilaian kinerja dari keseluruhan (sistem) organisasi bukan hanya kinerja dari salah satu bagiannya (subsistem) saja (Billy, 2007:5). Peter Senge (1990) berkaitan dengan masalah ini pernah mengingatkan bahwa “kita harus dapat melihat hutannya jangan hanya pohon ke pohon saja”. Artinya dalam menghadapi suatu persoalan kita jangan hanya memperhatikan detailnya tetapi juga kedudukan

persoalannya dalam perspektif yang lebih luas. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan suatu metodologi yang akan dapat menjawab kebutuhan tersebut (Billy, 2007:6) Selanjutnya Winardi (1989:12) menyarankan; “sekalipun saudara merupakan seorang pembuat keputusan yang cukup baik, sebaiknya saudara membiasakan diri menggunakan sebuah sistem. Kebaikan menggunakan sebuah sistem adalah bahwa kita dapat memperbaiki pekerjaan kita. Apabila kita ingin mengajarkan orang lain tentang bagaimana membuat keputusan-keputusan yang lebih baik, maka kita

22

perlu mengajarkan mereka cara-cara menggunakan sebuah sistem”. Demikian pentingnya pendekatan sistem.

3. Macam-macam Sistem Menurut Billy (2007:20-21) secara umum dan karakteristiknya sistem dapat dibedakan menjadi berbagai macam antara lain: a. Sistem alam dan sistem buatan manusia. Sistem buatan manusia diciptakan untuk keperluan tertentu atau mempunyai tujuan tertentu bagi manusia sedangkan sistem alam tidak mempunyai tujuan tertentu tetapi mempunyai peranan atau fungsi tertentu bagi manusia. b. Sistem mekanik dan sistem organisnik. Contoh: mobil dan mesin adalah sistem mekanik, sedangkan sistem biologis dan sistem masyarakat adalah sistem organisnik. c. Sistem konsep atau sistem abstrak, dan sistem yang kongkrit. Contoh: sistem pengadilan adalah sistem konsep dan organisasi adalah sistem kongkrit. d. Sistem terbuka dan sistem tertutup. Menurut Winardi (1989:10) sebuah sistem terbuka adalah sistem yang mempunyai hubungan-hubungan dengan lingkungannya. Sebaliknya sebuah sistem tertutup tidak mempunyai relasi dengan lingkungannya. Dengan demikian dapat dipertegas bahwa sistem yang tertutup, dalam proses kegiatannya tidak berhubungan dengan lingkungannya atau sistem di luarnya. Sistem terbuka adalah sebuah sistem yang berhubungan dengan sistem lain

23

atau lingkungannya dalam melakukan proses kegiatannya. Sistem terbuka ini mengambil input dari luar sistem atau lingkungannya dan mengeluarkan output kepada lingkungannya.

4. Karakteristik Sistem Dari perspektif aliran kesisteman, semua sistem apakah sistem terbuka atau tertutup pada umumnya mempunyai karakteristik universal, antara lain sebagai berikut : a. Tendensi ke arah entropi semua sistem tanpa melihat hakekat, ukuran, atau macamnya cenderung mengarah ke keadaan tidak beraturan. (intertia) atau pengakhiran. Semua sistem seperti organisme, mekanikal atau konseptual dapat berubah dari keadaan bisa digunakan atau berfungsi, menjadi keadaan rusak atau tidak berfungsi. b. Semua sistem mempunyai batas (boundary), yang membedakan dia dengan yang lainnya. Garis batasnya memang tidak begitu jelas terlihat. Jadi sistem dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dimana di luar batas tersebut, aspek-aspek yang unik dari sistem yang bersangkutan tidak lagi dapat dibedakan. c. Lingkungan (environment). Lingkungan sistem adalah semua yang diluar batas (boundary) sistem. Lingkungan sistem terdiri dari faktorfaktor yang dapat mempengaruhi kinerja sistem yang berbeda di luar kemampuan pengambilan keputusan (dari sistem yang bersangkutan) untuk mengendalikannya karena pengaruh lingkungan itu sangat

24

signifikan bagi suatu sistem (terutama sistem terbuka) maka sistem perlu pengetahuan yang komprehensif tentang semua aspek yang terkait dengan lingkungannya. d. Subsistem. Sistem mempunyai subsistem-subsistem. Seperti sistem, maka subsistem adalah suatu unit terbatas yang terdiri dari bagianbagian dan atribut. e. Suprasistem; ciri sistem yang terakhir adalah sistem keseluruhan yang merupakan suprasistem. Sistem berada di bawah suprasistem. Suprasistem dapat dibagi-bagi secara analitis dan praktis menjadi beberapa sistem. Jadi suprasistem adalah sistem yang lebih besar dan lebih komplek (Immegart dalam Billy, 2007:21-23)

5. Berfikir Sistem Berfikir sistem merupakan kerangka berfikir yang menekankan melihat keterkaitan-keterkaitan yang ada dari suatu entitas atau suatu masalah daripada melihatnya sebagai suatu yang berdiri sendiri; mengamati pola-pola perubahan yang ada padanya daripada sebagai kejadian-kejadian yang terpisah; dan memperhatikan strukturnya yang mendasari terjadinya kompleksitas situasi yang dihadapi. Jadi berfikir kesisteman memfokuskan perhatiannya kepada keterkaitan dan dinamika dari komponen yang ada pada sistem itu, dimana hubungan sebab akibat dilihat dalam konteks ruang dan waktu yang berlaku. Dengan kata lain berfikir kesisteman adalah suatu cara pandang yang luas yang melihat

25

individu-individu dan organisasi sebagai suatu bagian dari sistem yang lebih besar, jadi tidak berdiri sendiri (Billy, 2007:36). Berikut dikemukakan beberapa konsep tentang berfikir sistem yang dikemukakan oleh para ahli : a. Menurut Senge (1990), berfikir sistem adalah suatu kerangka dasar konseptual yang telah dikembangkan lebih dari lima puluh tahun yang lalu, untuk dapat memahami suatu pola secara utuh dan jelas dan untuk membantu kita dalam melihat bagaimana melakukan perubahan suatu sistem secara efektif. b. Menurut Checkland (1999), merupakan suatu epistomologi yang bila diterapkan kepada masalah kegiatan manusia, adalah didasarkan kepada pertimbangan terhadap empat karakteristik pokok dari sistem; 1) bahwa prilaku suatu sistem secara keseluruhan muncul dari hasil resultan prilaku-prilaku dari bagian-bagiannya, 2) bahwa sistem mempunyai hierarkis, 3) bahwa bahagian-bahagian dari sistem saling berkait dan berhubungan, dan 4) bahwa sistem mempunyai kemampuan pengendalian. c. Suriasumantri (1981) (dalam Billy, 2007:39) mengemukakan bahwa dalam berfikir kesisteman, fakta dan kejadian perlu dilihat dalam konteks keseluruhan yang membentuk kumpulan aset yang terintegrasi yang mempunyai sifat. d. Sherwood (2003) juga menyatakan bahwa: 1) bila kita ingin memakai suatu sistem, termasuk untuk bisa memprediksi perilakunya maka kita

26

perlu mempelajari sistem secara keseluruhan. Bila kita pelajari bagian demi bagiannya secara terpisah, ini sama saja mengabaikannya dari bagian-bagiannya yang ada dalam sistem itu, akibatnya kita tidak akan dapat memahami perilaku dari sistem itu secara utuh. 2) Demikian pula bila kita ingin mempengaruhi atau mengendalikan perilaku suatu sistem, maka kita harus bertindak di atas sistem secara keseluruhan, karena sistem terdiri dari bagian yang saling berkaitan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berfikir kesisteman merupakan cara berfikir yang menyeluruh (holistik) untuk dapat menghadapi situasi-situsi yang komplek. Berfikir kesisteman akan dapat memberikan kemampuan melihat kejadian individu dalam konteks yang lebih besar dimana kejadian tadi merupakan salah satu bagian dari suatu permasalahan yang lebih besar dan memahami hubungan antar kejadiankejadian yang satu dengan yang lain yang hakikatnya terpisah dalam ruang dan waktunya. Berfikir kesisteman menuntut kita untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pemikiran kita, dengan cara kita pertama-tama mempertimbangkan dahulu konteks dari permasalahan sebelum

memecahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Jadi berfikir kesisteman bukan meniadakan analisis, tetapi melengkapinya dengan pemikiran yang lebih menyeluruh dan utuh.

27

6. Pendekatan Sistem Pendekatan sistem adalah suatu cara untuk menangani suatu masalah. Pendekatan sistem (system approach) merupakan cara untuk menangani suatu masalah berdasarkan cara berfikir kesisteman.

Pendekatan sistem terhadap satu masalah, adalah suatu cara untuk menangani suatu masalah dengan mempertimbangkan semua aspek yang terkait dengan masalah itu, dan mengkonsentrasikan perhatiannya kepada interaksi antara aspek-aspek yang terkait dari permasalahan tersebut. Jadi pendekatan sistem adalah suatu pendekatan pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis dan menyeluruh (sistematik). Dalam hal ini yang dimaksud sistematik buat analisis dan evaluasi yang memperhatikan seluruh faktor yang berhubungan dengan masalah itu termasuk keterkaitan antara faktor yang bersangkutan. Dengan pendekatan sistem pemecahan masalah akan dapat dilakukan secara efektif, komprehensif, dan terpadu dengan memperhatikan dan mempertimbangkan semua faktor yang mempengaruhinya termasuk kesaling-terkaitannya secara menyeluruh (Billy : 2007 : 45). Menurut Billy (2007 : 45) istilah sistem mengandung dua konotasi penting yang bersifat implisif. Yaitu yang pertama, sistem berkonotasi sebagai entitas atau sesuatu yang mempunyai susunan tertentu. Yang kedua, berkonotasi sebagai rencana metoda, alat, atau prosedur untuk mencapai sesuatu. Pendekatan yang berkonotasi pada yang pertama disebut pendekatan deskriptif, sedangkan pendekatan yang berkonotasi

28

pada yang kedua disebut pendekatan preskriptif. Dalam pendekatan sistem, kedua pendekatan tersebut digunakan bersama-sama, karena untuk dapat memahami suatu masalah dengan baik kita harus mengetahui struktur dari masalahnya dan juga pola serta proses yang ada dalam masalah itu. Sejalan dengan itu Capra (dalam Billy : 2007 : 46) menyatakan bahwa untuk memakai suatu sistem perlu kita lakukan dua macam pendekatan yang terpadu, yaitu pendekatan substansi guna mengetahui struktur atau susunan komponen dari sistem itu, dan pendekatan pola (patterns) untuk mengetahui hubungan yang ada atau berlaku dari komponen-komponen pada sistem yang bersangkutan. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Immegart bahwa untuk memahami atau bekerja dengan suatu sistem kita tidak hanya harus tahu komponen-komponen yang ada pada sistem itu tetapi juga harus mengetahui bagaimana keterkaitan fungsi dari komponen-komponen itu dan juga kesaling bergantungannya satu sama lain. Suriasumantri (1981) mengemukakan bahwa pendekatan sistem merupakan pendekatan interdisipliner, namun bukan merupakan fusi antara berbagai disiplin keilmuan yang menimbulkan anarki keilmuan, melainkan suatu federasi yang diikat oleh suatu pendekatan tertentu, dimana tiap disiplin keilmuan dengan otonominya masing-masing, saling menyumbangkan analisisnya dalam mengkaji objek yang menjadi telaah bersama.

29

Menurut Stuter pendekatan sistem berlandaskan bahwa dunia merupakan sistem berlandaskan dari beberapa subsistem yang semuanya saling bergantung dan berhubungan membentuk suatu sistem yang holistik. Berdasarkan anggapan ini, maka tidak ada sistem yang berdiri sendiri atau dapat berdiri sendiri. Setiap sistem bergantung pada sistem lainnya agar semuanya dalam keadaan seimbang. Disamping itu pendekatan sistem juga memandang dunia sebagai sesuatu yang teratur. Mereka menganggap keteraturan adalah ilmiah, dan dari sudut pandang etika keteraturan itu baik, atau paling tidak adalah lebih baik dari ketidak aturan. Oleh karena itu, ahli sistem menginginkan dunia itu teratur. Dalam konteks ini, mereka bersifat deterministik, mereka menganjurkan agar upaya-upaya perlu dilakukan untuk membuat dunia itu teratur

(Billy : 2007:46).

7. Pendekatan Sistem Dalam Pemecahan Masalah Pendekatan sistem dalam pemecahan suatu masalah adalah suatu upaya pemecahan masalah yang didasarkan pertimbangan bahwa masalah yang dihadapi itu diasumsi sebagai suatu sistem sehingga dengan memahami struktur, proses, umpan balik dan karakteristik dari sistem yang dihadapi itu kita akan dapat memecahkan secara lebih sistematis, sistematik dan efektif (Billy, 2007 : 55). Dalam hal ini semua karakteristik sistem dan konsep-konsep yang berkaitan dengan pendekatan sistem

30

seperti yang telah diutarakan sebelum dipakai sebagai pertimbangan secara saling melengkapi. Menurut Smith (dalam Billy, 2007 : 55-56) asumsi yang digunakan dalam pendekatan sistem dalam menangani suatu masalah adalah sebagai berikut: a. Bahwa suatu masalah timbul oleh karena lebih dari satu sebab (situasi) b. Bahwa oleh karena adanya berbagai alternatif pemecahan yang potensial yang perlu dipertimbangkan. c. Bahwa setiap pemecahan disamping mendukung tercapainya tujuan yang diinginkan, juga mempunyai dampak samping yang juga harus dipertimbangkan. d. Bahwa oleh karena itu, hasil pemecahan suatu masalah harus dievaluasi baik terhadap pencapaian tujuan yang diinginkan maupun dampak sampingan yang diakibatkannya. e. Bahwa pemecahan suatu masalah bersifat sementara atau tidak langsung, karena akan timbul lagi permasalahan baru bila situasi berubah.

8. Model-Model Pendekatan Sistem Model adalah suatu abstraksi dari dunia nyata yang disederhanakan sehingga hanya parameter-parameter dan variabel- variabel yang penting saja yang muncul dalam bentuknya. Sebuah model adalah pencerminan atau abstraksi dari sebuah objek, proses, peristiwa, situasi atau sistem.

31

Secara lebih luas, sebuah model adalah suatu yang mengungkap dan menjelaskan tentang hubungan dari berbagai komponen, aksi dan reaksi serta sebab akibat (Billy, 2007 : 63). Dalam rangka melakukan pemecahan masalah dengan

menggunakan pendekatan sistem diperlukan model-model sistem yang tepat. Semakin cocok model yang dipilih semakin efektif pula langkahlangkah pemecahan yang akan diambil, dan pada gilirannya akan dapat menghasilkan situasi yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Model-model yang digunakan dalam pemecahan suatu masalah ada yang diilustrasikan dalam bentuk diagram, gambar, tabel, matriks, hingga bentuk hubungan matematis. Berikut akan dikemukakan beberapa model pendekatan sistem menurut para ahli (dalam Billy, 2007: 64-84) sebagai berikut: a. Model Venn Diagram dan Tree Diagram Diagram-diagram sederhana seperti berikut ini akan dapat membantu memahami sistem yang sedang diselidiki. Misalnya untuk mendapatkan gambaran dimana kedudukan dari sistem yang sedang dikaji relatif terhadap sistem-sistem lainnya dan suprasistemnya dapat digunakan “Venn diagram”. Diagram ini banyak digunakan dalam pembahasan teori kelompok atau set theory. Dengan menggunakan venn diagram seperti terlihat pada gambar 1 ini akan terlihat suprasistem dan subsistem dari sistem yang bersangkutan, sehingga dengan demikian dapat diketahui kedudukan

32

dari sistem yang dipelajari dan apa yang mempengaruhi sistem itu (subsistem-subsistemnya). Misalnya sistem universitas adalah di bawah pendidikan nasional sebagai suprasistemnya, dan sistem universitas membawahi atau mempunyai fakultas-fakultas sebagai subsistem-subsistemnya. Gambar 1. Venn Diagram

Keterangan : 1. Suprasistem 2. Sistem 3. Subsistem 4. Sistem lain

Disamping diagram Venn, adapula tree diagram seperti diagram-diagram relevance tree, infuence tree, dan objective tree, yang juga sangat membantu dalam mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan masalah/sistem yang dibahas. Melalui tree diagram seperti yang terlihat pada gambar 2, kita dapat menjelaskan subsistem-subsistem angkutan apa saja yang menjadi bagian dari sistem yang menjadi transportasi atau angkutan pada umumnya.

33

Gambar 2. Tree Diagram

b. Model Kotak Hitam (Black Box) Model lain yang sangat populer dalam mendeskripsikan konseptualisasi dari suatu sistem berdasarkan hubungan proses masukan-keluaran adalah model kotak hitam (black box model) atau model masukan keluaran. Model kotak hitam adalah model yang banyak digunakan pada pendekatan sistem dalam bidang cybernetis. Model ini dikembangkan berdasarkan pertimbangan bahwa pada kenyataannya, dasar dari sebahagian besar berfikir kesisteman berlandaskan pada hubungan proses masukan dan keluaran

(input-output-proses). Sesungguhnya model black box dalam arti sebenarnya adalah benar-benar kotak hitam artinya kita menganggap proses transformasi dari sistem yang kita bahas adalah sebagai suatu kotak hitam yang isi dan kegiatan di dalamnya kita tidak tahu sama sekali (atau kita memang sengaja tidak mau tahu), jadi yang diamati/diperhatikan

34

hanyalah bila kondisi input berubah maka kondisi outputnya juga berubah. Dalam hal ini kita tidak mau tahu dengan sistem prosesnya. Model klasik “Kotak Hitam” yang digunakan untuk mengilustrasikan hubungan input – proses – output secara sederhana dapat diperhatikan pada gambar 3 berikut ini, :

Gambar 3. Model Black Box Dari Suatu Sistem

Dalam suatu sistem, seperti sebuah organisasi, misalnya sebagaimana kita ketahui terdapat subsistem-subsistem masukankeluaran yang sangat banyak yang semuanya esensial bagi keutuhan struktur dan proses dari sistem secara keseluruhan. Jadi ada lebih dari satu sistem yang dipergunakan untuk melakukan transformasi masukan menjadi keluaran. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui subsistemsubsistem apa saja yang ada dalam sistem itu, sebaiknya model kotak hitam dikembangkan menjadi model kotak yang transparan seperti gambar 4 berikut ini:

35

Gambar 4. Keterkaitan masukan keluaran antar subsistem yang ada dalam suatu sistem pengambilan keputusan.

Gambar 4. Menunjukkan bagaimana beberapa subsistem tertentu terhubung dalam suatu kegiatan organisasi, seperti dalam pengambilan keputusan. Terlihat bahwa setiap subsistem proses dalam kenyataannya mempunyai masukan dan keluaran sendiri. Semua kegiatan sistem, kegiatan sistem yang terbatas, pada umumnya saling berhubungan. Semua keluaran subsistem terhubung langsung sebagai masukan bagi subsistem atau sistem yang lainnya.

c. Model Sistem Versi Kaufman atau Organizational Element Model Model yang disampaikan oleh Kaufman (1983) ini

menggambarkan hubungan antar parameter sistem dari suatu sistem organisasi dengan menggunakan model aliran seperti terlihat pada gambar. Dalam model ini input merupakan bahan mentah atau sumber

36

daya.

Proses

adalah

subsistem-subsistem

organisasi

yang

mentransformasikan input menjadi produk. Produk merupakan hasil transformasi dari input yang masih berupa output tahap awal. Output adalah hasil akhir dari proses. Outcome adalah dampak yang diterima oleh sistem dan outputnya, atau tanggapan atau reaksi pengguna atau lingkungannya kepada output dari sistem. Contoh outcome tersebut dapat berupa rasa puas atau kecewa pelanggan, manfaat atau kerugian kepada masyarakat dan keuntungan atau kerugian perusahaan akibat outputnya. Model sistem versi Kaufman dapat dilihat dari gambar 5 berikut ini: Gambar 5. Model Sistem Versi Kaufman

d. Model Sistem Versi August W. Smith Smith (1982) memberikan alternatif lain dalam model pendekatan sistem bagi organisasi dan manajemen. Dalam hal ini semua parameter penting dari sistem dijelaskan. Parameter tersebut mencakup: Sumber (source), masukan (input), prosesor

(transformation process), keluaran (output), pengguna output (receiver utilities), dan umpan balik (feedback). Umpan balik dari kegiatan sistem dapat dibagi dalam dua jenis, unpan balik internal yang terjadi masih dalam sistem umpan balik eksternal yang datang dari hasil evaluasi lingkungan sistem. Kedua umpan balik ini mempengaruhi

37

kegiatan sistem mendatang dalam bentuk masukan kepada struktur sistem atau subsistem proses. Model Smith ini akan memudahkan kita dalam memahami dan mengidentifikasi komponen-komponen dan faktor-faktor apa saja yang terkait dengan sistem organisasi yang sedang kita selidiki. Gambar 6 berikut ini mengilustrasikan sesuatu sistem organisasi berikut kedua jenis umpan balik yang ada padanya.

Gambar 6. Model Sistem Versi August W Smith (The Basic Systems Framework)

38

e. Model Sistem Versi Haines Model yang dibuat Stephen G. Haines yang mengacu dari General System Theory juga merupakan model input – proses – output namun substansi dari parameter sistem agak berbeda. Gambar 7 memperlihatkan model Haines mengenal bagaimana pola pikir kesisteman kita dalam upaya memperbaiki keadaan yang diinginkan di masa depan. Pendekatan yang dilakukan berdasarkan backward thinking dimana dimulai dengan fokus kepada visi atau outcome apa yang ingin kita capai di masa depan bagi organisasi kita, kemudian berfikir ke belakang tentang keadaan kita saat ini, lalu berdasarkan perbedaan antara apa yang kita inginkan dengan apa yang ada sekarang, kita menentukan tindakan/strategi apa yang akan kita lakukan untuk membawa kondisi yang ada mencapai kondisi yang diinginkan.

Gambar 7. Model Input – Proses – Output Versi Haines

39

Gambar 7, memperlihatkan tahapan langkah yang bisa ditempuh dalam memecahkan masalah berdasarkan pendekatan sistem yaitu: 1. Tahap A: pertama adalah berkonsentrasi untuk merumuskan tujuan, sasaran, output, outcome yang diinginkan. Yaitu upayaupaya untuk menjawab pertanyaan kita, ingin apa atau kita mau kemana? 2. Tahap B: membuat sistem umpan balik yang dapat diukur, yang dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana organisasi telah mencapai apa yang diinginkan. Yaitu suatu upaya untuk menjawab pertanyaan bagaimana kita bisa mengetahui bahwa tujuan kita telah tercapai atau kebutuhan pelanggan kita telah terpenuhi? 3. Tahap C: menentukan sekarang kita dimana. Yaitu suatu upaya untuk menjawab kondisi kita sekarang seperti apa atau ada dimana? 4. Tahap D: menentukan tindakan-tindakan apa yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan itu. Yaitu suatu upaya untuk menjawab pertanyaan bagaimana caranya kita mencapai tujuan? 5. Tahap E: sementara itu secara terus-menerus kita mengamati perkembangan lingkungan sekitar kita. Yaitu suatu upaya untuk menjawab pertanyaan perubahaan apa yang akan atau bisa terjadi di masa datang.

40

B. Pendidikan Sebagai Suatu Sistem 1. Arti dan Makna Pendidikan Pendidikan adalah karya bersama yang berlangsung dalam suatu pola kehidupan insan tertentu. Menurut Websters New World Dictionary, 1992 (dalam Sagala, 2007:1) Pendidikan adalah “proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, karakter dan

seterusnya, khususnya lewat persekolahan formal”. Pemahaman mengenai pendidikan mengacu pada konsep tersebut menggambarkan bahwa pendidikan memiliki sifat dan sasarannya yaitu manusia. Manusia itu sendiri mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat komplek. Karena itu tidak ada batasan yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan pendidikan yang dibuat oleh para ahli tampak begitu beragam dan kandungannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Menurut Sagala (2007:270) pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk membantu peserta didik mendewasakan dirinya sebagai pribadi bermoral dan bertanggung jawab sehingga terjadi proses-proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan sebagai layanan belajar. Dalam Bab I Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 (UUSPN, 2003: 4) disebutkan: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

41

peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Untuk mewujudkan pendidikan dibutuhkan ilmu pendidikan, yaitu ilmu yang secara sistematis dan sistematik mempelajari interaksi sosial budaya antara peserta didik sebagai subjek didik dan pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Interaksi antara peserta didik dan pendidik ditandai dengan: 1) berlangsung secara sadar, 2) terwujud melalui media tertentu, situasi dan lingkungan tertentu, di sekolah maupun di luar sekolah secara berkesinambungan, 3) dapat ditinjau dari aspek mikro dan makro, dan 4) selalu sarat makna, yaitu subyek dan objeknya tidak dapat dilihat terpisah satu dengan yang lainnya dalam menjelaskan realitas pendidikan (Billy, 2007:2-3). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada hakikatnya tidak hanya mengembangkan satu aspek kognitif saja, melainkan mencakup ketiga aspek vital manusia yaitu kognitif, afektif, dan psikomotrik. Oleh karena itu, akan sangat keliru jika pendidikan yang dimaksud hanya mampu mengembangkan salah satu dari aspek belajar tersebut.

2. Tujuan Pendidikan Dalam arti luas tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan tidak

42

hanya pertumbuhan, dan tidak terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup. Dalam arti yang lebih sempit tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan- kemampuan tertentu. Karena itu tujuan pendidikan adalah mempersiapkan hidup (Mudhyaharjo dalam Sagala, 2007:7). Menurut Sagala, (2007:7) tujuan pendidikan adalah

mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya untuk menguasai ilmu pengetahuan, dengan sasaran untuk menjangkau segenap peserta didik dari semua jenis dan kategori umur (sepanjang hayat). Tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui interaksi belajar mengajar menuntut pengembangan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor secara terpadu. Interaksi dinamis itu menggambarkan bahwa penyusunan tujuan pendidikan dilaksanakan bertingkat: 1) tujuan pendidikan nasional yang hendak dicapai dalam sistem pendidikan yang berskala nasional. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) oleh UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratif serta bertanggung jawab; 2) tujuan institusional yaitu tujuan yang hendak dicapai oleh suatu lembaga pendidikan atau satuan pendidikan tertentu; 3) tujuan kurikulum yaitu tujuan yang hendak dicapai oleh satu bidang ilmu atau program studi, bidang studi, mata pelajaran dan suatu ajaran yang disusun

43

berdasarkan tujuan instruksional; 4) tujuan instruksional pengajaran yaitu tujuan yang hendak dicapai

atau tujuan selesai

setelah

diselenggarakan suatu proses pembelajaran disusun berdasarkan tujuan kurikulum sesuai dengan pokok bahasan dan subpokok bahasan yang dituangkan dalam alokasi waktu tertentu. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa, tujuan pendidikan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya dan menguasai ilmu pengetahuan, dengan sasaran menjangkau segenap peserta didik dari semua jenis dan kategori umur atau sepanjang hayat (Sagala, 2007: 7).

3. Fungsi Pendidikan Menurut UUSPN No.20 tahun 2003 pada Bab II pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi pendidikan membimbing anak ke arah satu tujuan yang kita nilai tinggi. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik kepada tujuan itu.

4. Komponen Inti Ilmu Pendidikan Menurut konsersium ilmu pendidikan yang membentuk batang tubuh ilmu pendidikan bertitik tolak pada landasan filosofis, psikologis, dan sosial budaya menggambarkan rincian dan objek studi ilmu

44

pendidikan. Ada lima komponen inti ilmu pendidikan (dalam Sagala, 2007: 9) sebagai berikut: a. Kurikulum yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Pada prinsipnya

kurikulum mengandung arti sebagai: 1) program pelajaran, 2) isi pelajaran, 3) pengalaman belajar yang direncanakan, 4) sebagai pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah, dan 5) rencana tertulis untuk dilaksanakan. Dilihat dari sisi peran, bahwa peran kurikulum adalah: 1) konservatif yaitu mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi muda, 2) kritis atau evaluatif, yaitu aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menekankan unsur berfikir kritis, dan 3) kreatif, yaitu menciptakan dan menyusun suatu yang baru sesuai kebutuhan sekarang dan masa datang dalam masyarakat. Kompetensi yang dikembangkan dalam kurikulum adalah: 1) kompetensi akademik, yaitu penguasaan ilmu pengetahuan, 2) keterampilan hidup termasuk wirausaha, 3) pengembangan moral dan semangat untuk lebih baik dan memenangkan persaingan dengan sportif, 4) pembentukan karakter yang kuat, 5) kebiasaan hidup sehat, 6) semangat bekerjasama dan sama-sama bekerja, dan 7) apresiasi etika terhadap dunia sekitarnya. Kurikulum merupakan komponenkomponen pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi baik yang bersifat eskplisit maupun implisit/tersembunyi.

45

Teori-teori yang dikembangkan dalam komponen ini meliputi antara lain meliputi tentang tujuan pendidikan, organisasi kurikulum dan model pengembangan kurikulum. b. Belajar yang merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan proses pelaksanaan interaksi ditinjau dari sudut peserta didik. Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eskplisit maupun implisit/tersembunyi. Sejalan dengan itu, belajar dapat dipahami sebagai usaha atau berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Dalam implementasinya, belajar adalah suatu kegiatan individu memperoleh pengetahuan, prilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. c. Mendidik dan mengajar, yang merupakan komponen ilmu pendidikan berkenaan dengan proses pelaksanaan interaksi ditinjau dari sudut pendidik. Menyampaikan bahan pelajaran berarti melaksanakan beberapa kegiatan, tetapi kegiatan itu tidak akan ada gunanya jika tidak mengarah pada tujuan tertentu. Seorang pengajar harus mempunyai tujuan dalam kegiatan pengajarannya. d. Lingkungan pendidikan yang merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan situasi yaitu interaksi tersebut berlangsung beserta unsur-unsur penunjangnya. Institusi tempat interaksi

pendidikan berlangsung secara formal di ruang kelas, di laboratorium,

46

perpustakaan dan tempat lain yang ditentukan yang ada di satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang persekolahan. e. Penilaian, yang merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan cara mengetahui tujuan yang ingin dicapai melalui interaksi tersebut telah terwujud dalam diri peserta didik.

5. Sistem Pendidikan Nasional Sistem adalah sebagai satu keseluruhan yang utuh yang hidup dan sengaja dirancang dengan komponen-komponennya yang berkaitan perkiraan untuk berfungsi secara terpadu demi tercapainya tujuan yang sebelumnya telah ditetapkan, yaitu tujuan akan menentukan makna dari sistem. Sehubungan dengan itu Sistem Pendidikan Nasional adalah alat dan tujuan untuk mencapai cita-cita pendidikan nasional. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan nasional adalah suatu keseluruhan terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional (Sagala, 2007: 13 dan 272). Ciri sistem pendidikan nasional berakar pada kebudayaan nasional berdasarkan pancasila, merupakan suatu kebulatan yang dikembangkan dalam usaha mencapai tujuan nasional mencakup jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Sistem dapat dipahami sebagai suatu model berfikir atau suatu cara memandang, yaitu sekolah dipandang sebagai satu kesatuan tempat belajar para siswa yang mempunyai kaitan dengan lingkungannya.

47

Sistem menurut Immegart (dalam sagala, 2007: 14) merupakan satu kesatuan yang utuh dengan bagian yang tersusun secara sistematis yang mempunyai relasi satu dengan yang lainnya sesuai dengan konteknya. Sedangkan pendekatan sistem adalah cara berfikir dan bekerja menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relevan dalam

memecahkan masalah (Pidarta, dalam sagala, 2007:14). Menurut pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional dapat dikemukakan unsur-unsur penting dalam pendidikan nasional sebagai berikut: 1) sistem pendidikan mempunyai satuan kegiatan merupakan alat dan tujuan yang sangat penting dalam mencapai cita-cita nasional. Satuan pendidikan sebagai alat dan kegiatan untuk mencapai tujuan suatu pendidikan adalah lembaga kegiatan belajar mengajar yang dapat mempunyai wujud sekolah, kursus, kelompok belajar, ataupun kelompok lain yang berlangsung dalam bangunan tertentu atau tidak. Dengan kegiatan pendidikan semua usaha dan kegiatan yang menyangkut semua usah ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, 2) sistem pendidikan nasional dilaksanakan secara semesta, menyeluruh dan terpadu, dan 3) sistem pendidikan nasional harus dilihat secara keseluruhan unsur atau komponen dan kegiatan pendidikan yang ada di nusantara yang saling berkaitan satu sama lain dan saling menunjang dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. UUSPN No.20 tahun 2003 menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait

48

secara terpadu untuk mencapai pendidikan nasional. Keseluruhan komponen itu dilihat dari desain organisasinya terdiri dari komponen sekolah sebagai penyelenggara pelayanan belajar, komponen pemerintah sebagai pihak yang memberikan dan menyediakan fasilitas serta anggaran pendidikan, komponen legistatif sebagai pihak yang menentukan aturan main di bidang pendidikan, dan masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan, dalam sistem pendidikan nasional daerah kabupaten kota dapat melaksanakan kewenangan di bidang pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Karena itu pemerintah daerah/kota perlu memberikan pedoman penyusunan standar pelayanan minimal penyelenggaraan sekolah.

6. Pendidikan Sebagai Suatu Sistem Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sekolah merupakan bagian yang terpenting dalam sistem itu. Sekolah sebagai satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan (UUSPN No.20 Tahun 2003). Pendidikan sebagai suatu sistem dapat digambarkan dalam bentuk model dasar input-output. Segala sesuatu yang masuk (input) dalam sistem

49

dan berperan dalam proses pendidikan disebut masukan pendidikan (Sagala, 2007:16). P. H. Coombs dan W. J. Platt (dalam Sagala, 2007:16)

mengemukakan tiga macam sumber masukan pendidikan yang terdiri atas: 1) pengetahuan, nilai-nilai dan cita-cita yang terdapat dalam masyarakat, 2) pendidik dan persediaan layanan belajar dan lukisan sebagai output berupa tenaga kerja yang memenuhi persyaratan dan juga tenaga ahli di berbagai bidang keahlian, dan 3) hasil produksi pendidikan dan penghasilan berupa outcome. Gambar 8 berikut ini memperlihatkan model input-output pendidikan: Gambar 8 Model Input-Output Pendidikan

C. Komponen-Komponen Dalam Sistem Pendidikan Menurut P. H. Coombs (dalam Sagala, 2007:18-19) terdapat dua belas komponen utama sistem pendidikan sebagai berikut: 1. Tujuan dan prioritas. Komponen ini bertumpu pada sumber masukan pendidikan pertama, dan merupakan informasi tentang apa yang hendak

50

dicapai oleh sistem pendidikan serta urutan pelaksanaannya. Komponen ini berfungsi memandu kegiatan-kegiatan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. 2. Pelajar atau peserta didik. Komponen ini berasal dari penduduk, dan merupakan orang yang turut serta dalam proses pendidikan sesuai jenjang, jenis, dan permintaannya. Fungsi komponen ini adalah benar, sehingga mengalami proses perubahan kualitas tingkah laku seperti yang diharapkan oleh sistem dan tujuan pendidikan. 3. Manajemen. Bersumber pada sistem nilai atau budaya dan cita-cita. Hal ini merupakan informasi tentang pola kepemimpinan pengelolaan sistem pendidikan. Komponen ini mempunyai dan fungsi merencanakan, penilaian atau

mengorganisasikan,

melaksanakan,

memberi

memberikan pengawasan terhadap sistem pendidikan. 4. Struktur dan jadwal waktu. Komponen ini bertumpu pada sumber masukan pendidikan pertama, dan merupakan informasi tentang pengaturan pembagian waktu dan kegiatan dalam proses pendidikan. Fungsinya mengatur pembagian waktu dan arus kegiatan yang terprogram dengan baik. 5. Isi bahan belajar. Komponen ini juga bersumber dari sumber masukan pendidikan pertama dan merupakan hal-hal pokok yang harus dipelajari. Isi bahan ajar berfungsi menggambarkan luas dan dalamnya bahan ajar. Dengan demikian mengarahkan dan mempolakan kegiatan-kegiatan dalam proses pendidikan.

51

6. Guru dan pelaksanaan. Komponen ini bersumber dari tenaga kerja yang tersedia dalam masyarakat (sumber masukan pendidikan), dan merupakan tenaga penggerak utama sistem pendidikan. Guru membantu terciptanya kesempatan belajar dan memperlancar proses pendidikan menunjang tercapainya sistem pendidikan. 7. Alat bantu belajar. Komponen ini terutama bersumber pada barang-barang hasil produksi, yang antara lain berupa buku pelajaran, papan tulis, peta, alat-alat praktikum, film, laboratorium, dan modul belajar. Komponen ini berfungsi memungkinkan terjadinya proses pendidikan yang lebih lengkap, menarik, bervariasi, dan menyenangkan. 8. Fasilitas. Komponen ini terutama bersumber pada barang-barang hasil produksi, yang antara lain berupa gedung, ruang kelas, fasilitas belajar dan perlengkapannya proses pendidikan. 9. Teknologi. Komponen ini diambil dari sumber masukan yang pertama dan berupa cara-cara yang dipergunakan menggiatkan kerja dalam sistem yang berfungsi menyediakan tempat berlangsungnya

pendidikan. Fungsinya memperlancar, memperkaya dan meningkatkan hasil guna proses pendidikan. 10. Pengawasan mutu. Komponen ini bersumber pada sistem nilai dan merupakan informasi tentang pengaturan kualitas sistem pendidikan, yang berfungsi pendidikan. membina peraturan-peraturan pendidikan dan standar

52

11. Penelitian. Komponen ini bersumber pada pengetahuan yang ada dalam masyarakat, dan kegiatannya menghasilkan informasi mengenai faktafakta yang berguna untuk memperbaiki pengetahuan dan penampilan sistem pendidikan. 12. Ongkos pendidikan. Komponen ini merupakan satuan biaya yang dipergunakan untuk memperlancar proses pendidikan dan bersumber dari penghasilan masyarakat maupun bantuan pemerintah. Ongkos pendidikan berfungsi menjadi petunjuk tentang tingkat efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan sistem pendidikan.

D. Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam 1. Dasar Filosofi INS Kayutanam a. Filsafat Budaya Dasar filosofi INS Kayutanam berangkat dari falsafah alam yang menjadi filsafat budaya. Filsafat budaya sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam adalah : “Alam Takambang Menjadi Guru”. Filsafat ini menggambarkan ekspresi lahir bathin akan keagungan, kecintaan, akan kemahaagungan Allah dan hasrat untuk menggali sebanyak mungkin pengetahuan-Nya. (M. Sjafe’i dalam Farid. A, 2008:2). Selanjutnya Engkoe Mohammad Sjafe'i menjelaskan bahwa segala fenomena di alam ini dipenuhi oleh gerak yang ditamsilkan juga sebagai kerja. Dengan kata lain dapat dikatakan alam ini penuh dengan dinamika. Dinamika alam memberikan dampak negatif dan dampak

53

positif,

dan

keterkaitan

satu

sama

lainnya.

Kesemuaannya

menimbulkan keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan di alam ini. demikianlah gerak dalam alam diciptakan Tuhan secara teratur yang dikenal dengan hukum-hukum alam yang berlaku tetap. Bahwa di alam terdapat realitas bantu-membantu, gerak alam juga dipenuhi dengan perjuangan yang memerlukan sikap kerja keras untuk mempertahankan hidup. (M. Ansjar, tt : 10-11). b. Karakter Selain filsafat budaya, terkenal pula filosofi “Jadilah engkau menjadi engkau”. Sekolah berfungsi mengasah kecerdasan dan akal budi murid, bukan membentuk manusia lain dari dirinya sendiri. Terkenal betul ungkapan Engkoe Mohammad Sjafe'i “Jangan minta buah mangga kepada pohon rambutan, tapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis”. 2. Ruh Ajaran Engkoe Mohammad Sjafe'i Ruh ajaran Engkoe Mohammad Sjafe'i adalah mendidik muridmuridnya untuk memberdayakan potensi diri dan berkembang pada aspekaspek berikut ini : a. Logika, etika, estetika dan talenta / bakat b. Akhla mulia c. Etos kerja d. Kemandirian dan enterpreneurship e. Kebangsaan

54

Tentang etos kerja kita kenal nasehat Engkoe Mohammad Sjafe'i kepada muridnya yang telah menamatkan kuliah di Fakultas Ekonomi. “Bagus, kamu dapat ilmu; Cina yang mempunyai ekonomi. Kamu tahu mengapa bisa begitu, Karena cina itu mau bekerja keras.” (M. Sjafe’i dalam Farid. A, 2008 : 3). 3. Dasar-dasar pendidikan INS Kayutanam Menurut Engkoe Hamid (dalam Navis, 1996: 238) pendidikan hendaklah dapat menanamkan dan memupuk sifat-sifat berikut ini : a. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Kemampuan untuk mengembangkan bakat c. Percaya kepada diri sendiri d. Berakhlak e. Bertanggung jawab atas keselamatan nusa dan bangsa f. Berwatak aktif g. Mempunyai daya cipta h. Cerdas, logis dan rasional i. Berperasaan tajam dan kritis j. Gigih dan ulet k. Ketekunan berusaha l. Percaya diri m. Kejujuran n. Sikap hidup Pancasilais

55

Dasar-dasar inilah yang melahirkan konsep pendidikan aktif kreatif, inovatif, kerja keras dan pantang menyerah. Engkoe Mohammad Sjafe'i menegaskan mengeluh berarti kalah. 4. Ruang Pendidik INS Kayutanam sebagai Sebuah Sistem Mengacu pada judul penelitian tentang konsep pendidikan INS Kayutanam, Navis (1996: 102-143) mengemukakan beberapa komponen pendidikan yang terkait dengan Ruang Pendidik INS Kayutanam sebagai sebuah sistem yaitu: a. Tujuan pendidikan Merujuk Pancasila dan UUD 1945, tujuan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia sudah jelas dan gamblang, yaitu menyempurnakan kehidupan bangsa agar setara dengan bangsa-bangsa yang maju di bidang ilmu dan teknologi, sosial dan ekonomi serta seni dan budaya. Perangkat untuk mencapai tujuan itu tidak lain menjadikan bangsa Indonesia agar memiliki otak yang cerdas, mental yang kuat dan budi luhur serta kemauan dan ketangkasan yang terampil dan etos kerja yang tinggi. Bangsa yang memiliki etos kerja akan dapat menjadi bangsa yang dinamis, aktif, kreatif, dan produktif sebagaimana yang dimiliki oleh budaya yang maju.

b. Program pendidikan Berdasarkan filsafat dan tujuan pendidikan, konsep pendidikan INS membagi program atas empat kelompok, yaitu pendidikan

56

akademik, keterampilan, kerohanian, dan kesiswaan. Dalam konsep dan program pendidikan di sekolah umum yang diakui pemerintah, posisi pendidikan keterampilan, kerohanian dan kesiswaan dinamakan ekstrakurikuler yang boleh diadakan juga boleh ditiadakan. Akan tetapi, dalam konsep pendidikan INS ke empat kelompok pendidikan itu sama nilai dan sama pentingnya.

c. Kurikulum Menurut UUSPN No.20 tahun 2003 kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Pada pendidikan INS kurikulum dikelompokkan pada empat bidang, yakni bidang akademik, keterampilan, kerohanian dan kesiswaan. Bidang akademik terdiri dari ilmu-ilmu eksakta, sosial, dan bahasa sesuai dengan program pendidikan di sekolah negeri. Bidang keterampilan terdiri dari kerajinan tangan, keteknikan dan bengkel kerja. Bidang kerohanian terdiri dari pendidikan kesenian, olahraga, dan keagamaan. Bidang kesiswaan terdiri dari pengorganisasian, kegiatan kemasyarakatan di dalam dan di luar kampus.

57

d. Guru Yang dimaksud dengan guru adalah semua tenaga-tenaga yang karena tugasnya akan berhadapan langsung dengan murid, termasuk di dalamnya para pembina asrama. Dalam istilah sekarang sebutan guru lebih dikenal dengan istilah pendidik. Menurut UUSPN No. 20 tahun 2003 pendidik adalah tenaga kependidikan yang yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor instruktur, fasilitator, serta dan sebutan lain yang sesuai dengan

kekhususannya, pendidikan.

berpartisipasi

dalam

menyelenggarakan

Guru yang bertahan lama ialah mereka yang memiliki dedikasi dan menghayati tujuan dan sistem pendidikan INS kayutanam. Guru yang berwatak seperti priayi atau orang gajian, datang, mengajar, lalu pulang dan selanjutnya tidak hirau lagi dengan murid dan sekolah. Lebih-lebih yang berjiwa pedagang yang menjadikan sekolah sebagai ajang mencari keuntungan pribadi dengan mengekploitasi program atau murid adalah guru yang tidak cocok mengajar di INS. Achar dan Hudaya (2008: 90-97) mengemukakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengajar dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Profesionalisme seorang guru akan dicirikan oleh tanggung jawab yang jelas dalam tugasnya, antara lain: 1) tanggung jawab

58

pribadi; 2) tanggung jawab sosial; 3) tanggung jawab intelektual; 4) tanggung jawab spiritual dan moral; dan 5) tanggung jawab. Kualitas profesional seorang guru akan tercermin melalui sikap: 1) keinginan untuk selalu menampilkan prilaku yang mendekati standar adab; 2) selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi; 3) selalu mengejar kesempatan untuk mengembangkan diri; 4) mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi; dan 5) memiliki kebanggaan terhadap profesi.

e. Siswa Fungsi utama pendidikan kesiswaan di INS Kayutanam ialah untuk mendidik dan sekaligus melatih murid untuk hidup

bermasyarakat, baik selaku pribadi maupun fungsional. Apabila di bidang lain murid secara individual atau kelompok dipacu agar berprestasi secara aktif dan kreatif, pendidikan kesiswaan ini melatih murid untuk menempatkan diri secara integratif dalam lingkungan yang lebih menyeluruh. Murid, guru dan karyawan harus sampai pada perasaan bahwa mereka hidup dalam satu rukun tetangga dengan melepas atribut maupun status sosial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:1077) siswa dapat diartikan “murid” terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah, atau pelajar tingkat SMU. Sedangkan siswa sebagai peserta didik menurut UUSPN No. 20 tahun 2003 adalah anggota masyarakat

59

yang

berusaha

mengembangkan

potensi

diri

melalui

proses

pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Siswa INS adalah peserta didik yang sedang belajar untuk mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang ada di SMA INS Kayutanam.

f. Asrama Menurut M. Sjafe’i (dalam Navis, 1996:160) karena

keterbatasan orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anakanaknya di rumah dalam keluarga, maka ada baiknya diadakan asrama untuk anak-anak yang memberikan pendidikan yang beraturan pada mereka. Lebih jelas M. Sjafe’i menjelaskan bahwa asrama berguna untuk mengajarkan anak agar mampu mengurus dirinya sendiri, terbiasa mengatasi kesulitan, tidak enggan bekerja keras, yang nantinya akan bermanfaat dalam menempuh hidup di masyarakat. Dalam asrama anak diajarkan menjalankan pikirannya sendiri, bukan atas pikiran orang lain. Di sekolah mereka diajar mengasah otak, di asrama mengasah budi, tenaga dan bakat. Oleh karena itu peranan asrama sangat penting dalam sistem pendidikan INS Kayutanam. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:72) asrama adalah bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala

60

asrama. Dalam konteks penelitian ini, asrama yang dimaksud adalah bangunan yang ditempati oleh sejumlah siswa selama mengikuti pendidikan INS Kayutanam terdiri dari asrama siswa putra dan siswa putri di bawah asuhan pembina asrama dan kepala asrama.

E. Penelitian yang Relevan Berikut dikemukakan penelitian yang relevan yang diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap penelitian ini, yakni sebagai berikut : 1. Penelitian yang dilakukan oleh Syafwandi (2001) tentang Seni Rupa dalam Falsafah Pendidikan M. Sjafe’i dan Sejarah Pendidikan INS Kayutanam serta Relevansinya bagi Pendidikan di Masa Depan. Dari penelitian tersebut disimpulkan beberapa temuan antara lain: a. INS memiliki falsafah pendidikan yang berorientasi kepada bakat serta sifat aktif, kreatif dan produktif yang berlandaskan kepada alam takambang jadi guru. b. Program seni rupa di INS bertujuan untuk menciptakan manusia yang mandiri, aktif, kreatif dan produktif sesuai bakat serta kemampuan. c. Sistem pendidikan sebagaimana yang telah dikembangkan oleh INS Kayutanam kiranya dapat dijadikan bahan rujukan dalam menata sistem pendidikan nasional dan dinyatakan relevan dengan sistem pendidikan saat ini. d. Bahwa sesungguhnya seni rupa hendaklah ditempatkan menjadi bagian yang penting dalam sistem pendidikan kita.

61

Temuan yang dinyatakan relevan dengan penelitian ini adalah temuan pertama dan temuan ketiga. Temuan pertama berkenaan dengan konsep pendidikan dan falsafah pendidikan yang akan diungkap secara lebih tajam dan lebih jelas. Sedangkan temuan ketiga berkenaan dengan sistem pendidikan INS sebagai bahan rujukan dalam menata sistem pendidikan nasional dan dinyatakan relevan dengan sistem pendidikan saat ini. Dari temuan tersebut peneliti ingin melihat lebih jauh dan mendalam tentang bagaimana sistem pendidikan INS Kayutanam tersebut secara utuh menyeluruh, terutama berdasarkan komponen sistem pendidikan yang ada di INS antara lain tujuan pendidikan, program pendidikan, kurikulum, guru, siswa dan asrama. 2. Jurnal pendidikan dan pembelajaran yang ditulis oleh Agustiar (2008) tentang Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan INS Kayutanam dengan Konsep Pembangunan Pendidikan Nasional. Salah satu kesimpulan isi jurnal adalah apabila dilihat dan dikaji secara cermat dalam konteks pendidikan baik pada landasan filsafat, landasan berpikir, konsep dan nilai-nilai INS Engkoe M. Sjafe’i Kayutanam dan sistem pendidikan nasional mengandung karakteristik yang hampir sama (relevan). Temuan ini memberi inspirasi dan lebih menguatkan peneliti untuk melihat lebih tajam tentang sistem pendidikan INS Kayutanam yang sebenarnya dalam sebuah penelitian ilmiah yang berjudul Sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam : Antara Idealisme dan Realita. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Agustiar pada bagian akhir jurnal “yang perlu menjadi

62

perhatian

kita

ialah

bagaimana

mengimplementasikan

nilai-nilai

pendidikan INS tersebut dalam setiap kegiatan pendidikan pada setiap jenjang, jenis, lokasi dan budaya yang variatif”. Atas dasar hal di atas, maka penelitian ini selain mengungkap tentang sistem pendidikan Ruang Pendidik INS juga melihat bagaimana pengimplementasiannya.

63

F. Kerangka Berpikir

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sistem pendidikan INS Kayutanam dan implementasinya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode penelitian kualitatif yang sering disebut dengan pendekatan naturalistik. Penelitian dengan pendekatan naturalistik menurut Lincoln dan Guba (1985) peneliti berperan sebagai human instrument dan secara menyeluruh menyesuaikan diri ke dalam situasi yang wajar sesuai dengan natural setting berdasarkan lingkungan yang dimasuki. Pendekatan naturalistik dipandang cocok dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, dengan alasan bahwa data gejala-gejala yang akan diperoleh dari lapangan lebih banyak menyangkut perbuatan dan kata-kata dari responden. Data dari responden tersebut sedapat mungkin tidak dipengaruhi dari luar sehingga bersifat alami sesuai dengan apa adanya. Bogdan dan Taylor (1992) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku yang dapat diamati dari responden itu sendiri. Hal yang sama dikemukakan oleh Nasution (1992) bahwa penelitian kualitatif pada hakikatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya berintegrasi dengan mereka berusaha memahami bahasa, dan tafsiran mereka dengan dunia sekitar.

64

65

Pemilihan metode ini berdasarkan pertimbangan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam menurut konsep ideal dan kenyataan implementasiannya, dan berusaha memahami makna yang mendasarinya. Makna ini tentunya dapat dipahami melalui para aktor yang terlibat di dalamnya. Faisal (1990) mengemukakan bahwa: 1) manusia itu berbuat atas dasar makna yang melekat pada tujuan yang diperbuatnya, 2) makna yang berkembang dari atau melalui interaksi antar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Artinya makna itu dapat dipelajari, direvisi, dipelihara dan diberi batasan-batasan dalam konteks interaksi manusia, dan 3) makna itu dipegang, dijadikan acuan, dan diinterpretasikan oleh seseorang dalam hubungan dengan sesuatu yang

dihadapinya. Jadi inti penelitian ini adalah memahami makna suatu tindakan dan peristiwa yang terjadi dalam latar sosial yang menjadi objek penelitian. Selain itu pendekatan kualitatif dalam penelitian ini memungkinkan peneliti dapat membuat dan menyusun konsep yang hakiki yang dialami oleh masyarakat secara riil dalam kehidupan mereka (Bogdan dan Taylor, 1992:31). Peneliti meyakini bahwa dengan menggunakan pendekatan kualitatif ini akan sangat membantu peneliti dalam mengkaji sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam dan implementasinya. Di samping berusaha menemukan makna perilaku dalam latar sosial yang diteliti dan menyusun konsep-konsep hakiki yang dialami oleh masyarakat secara rill dalam kehidupan mereka. Pendekatan kualitatif juga memiliki 11 (sebelas) karakteristik. Karakterisitik pendekatan kualitatif

66

menurut Moleong (2007: 4-8) adalah sebagai berikut: 1) Latar alamiah, 2) manusia sebagai alat (instrumen), 3) metode kualitatif, 4) analisis data secara induktif, 5) teori dari dasar (grounded theory), 6) deskriptif, 7) lebih mementingkan proses daripada hasil, 8) adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, 9) desain bersifat sementara, dan 10) hasil penelitian dirundingkan dan disepakati antara peneliti dan instrumen.

B. Situasi Sosial Penelitian Sebagaimana yang dikemukakan oleh banyak ahli penelitian kualitatif seperti Bogdan, Taylor, Spradley, Mails, Huber, Lincoln dan Guba (dalam Agustiar, 2002:12) setidaknya terdapat tiga elemen utama pada sebuah situasi sosial yang diteliti; 1) ada tempat atau lokasi (place) dimana ada orang yang melakukan aktivitas, 2) ada pelaku (actors) kegiatan di tempat tertentu, dan 3) ada aktivitas (activities) yang dilakukan oleh aktor pada tempat tertentu. Situasi sosial dimaksud terjadi di sekolah, dimana personil Ruang Pendidik INS Kayutanam dan masyarakat terkait sebagai aktor-aktor yang akan diteliti sebagai pelaksana pendidikan. Bogdan dan Taylor (1992: 63-64) mengemukakan bahwa dalam pemilihan situasi penelitian (tempat riset) sering ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: 1) adanya orang yang bisa bertindak sebagai gate keeper yaitu semacam penerima yang dapat membantu pelaksanaan penelitian, 2) tempat penelitian tersebut mudah dikunjungi dan sering dikunjungi, 3) sambutannya terhadap peneliti, dan 4) terdapat pokok-pokok masalah yang menarik dan belum pernah dipecahkan dengan pengetahuan dan kemampuan

67

profesional. Sesuai dengan faktor penelitian yang dikemukakan terdahulu, maka setting sosial yang dipilih untuk penelitian ini adalah Ruang Pendidik INS Kayutanam, Kecamatan 2X11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman. Peneliti memilih setting sosial penelitian pada sekolah ini dengan pertimbangan sebagai berikut: 1) sekolah tersebut saat ini sedang mengalami masalah kemerosotan pendidikan dan perkembangannya cenderung statis, 2) sekolah merupakan sekolah bersejarah di Indonesia dan sekaligus menjadi aset dan kebanggaan daerah dan nasional, 3) peneliti adalah salah satu pendidik yang telah mengabdi di INS sejak tahun 1997 sampai sekarang, 4) keyakinan akan kebenaran konsep pendidikannya, dan 5) pemberdayaan fasilitas yang dimiliki INS dalam rangka perbaikan mutu kualitas dan layanan pendidikan kepada masyarakat.

C. Langkah-Langkah Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sebagaimana langkah yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1990: 56) yaitu: 1) merumuskan masalah fokus penelitian, 2) menyusun kerangka teoritis, 3) melaksanakan penelitian dan pengumpulan data, 4) melakukan analisis data, dan 5) menyusun laporan penelitian. 1. Merumuskan Fokus Masalah Penelitian Untuk merumuskan fokus masalah penelitian, peneliti mengadakan grand tour. Hasil grand tour dirumuskan dalam bentuk beberapa masalah yang layak diteliti. Untuk itu penelitian ini fokus tentang kajian Sistem Ruang

68

Pendidik

INS

Kayutanam

menurut

konsep

ideal

dan

kenyataan

implementasinya saat ini. Langkah di atas sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suharsimi (1997) bahwa dengan dipahaminya masalah yang menjadi fokus penelitian, maka penulis dapat: 1) mengetahui dengan pasti masalah yang akan diteliti, 2) mengetahui dimana dan dari siapa informasi atau data dapat diperoleh, 3) menentukan bagaimana cara memperoleh informasi yang diperlukan, 4) menentukan dengan cepat cara untuk menganalisis data, dan 5) merumuskan kesimpulan atau menyusun laporan penelitian. Dengan demikian penulis yakin bahwa penelitian yang dilakukan penting dan dapat dilaksanakan. 2. Menyusun Kerangka Teori Kerangka teori dalam penelitian ini disusun berdasarkan teori-teori yang relevan dengan masalah yang diteliti, antara lain diperoleh melalui bukubuku di perpustakaan dan studi literatur lainnya yang berhubungan dengan cara yang dilaksanakan dalam meneliti masalah ini. Penyusunan kerangka teoritis dan kerangka berfikir ini dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan penelitian dalam mengumpulkan data penelitian. Kerangka teoritis diperlukan untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial atau gejala yang diamati. 3. Pengumpulan Data Secara kongkrit penelitian ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data lapangan yang berpatokan pada fokus penelitian yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan berdasarkan tahap penelitian ini, antara lain:

69

1) memahami situasi sosial yang menjadi objek penelitian, yaitu bagaimana sistem pendidikan INS Kayutanam dan implementasinya dengan keterlibatan semua komponen yang terkait, 2) mengumpulkan data termasuk pengolahan data (Suharsimi, 1989). Penelitian ini menggambarkan kondisi sebenarnya atas objek yang diteliti. 4. Melakukan Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga langkah yaitu: Pertama, mereduksi data, yang meliputi proses memilih, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksi dan mengubah data kasar kedalam catatan lapangan. Kedua, menyajikan data, yakni merangkai data dalam suatu organisasi data, sehingga memudahkan untuk menarik kesimpulan atau merumuskan tindakan yang diusulkan berdasarkan temuan penelitian. Ketiga, memverifikasi data atau menyimpulkan data, yakni menjelaskan tentang makna data dalam suatu konfigurasi, sehingga dapat menunjukkan alur kausalnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Miles dan Huberman (1990:16-20) bahwa analisis data dapat dilakukan melalui: 1) mengumpulkan data, 2) menyajikan data, dan 3) menyimpulkan serta melakukan verifikasi. 5. Menyusun Laporan Penelitian Penyusunan laporan penelitian merupakan tahap akhir dalam suatu kegiatan penelitian. Laporan penelitian di samping sebagai media untuk mengkomunikasikan hasil temuan penelitian juga merupakan bahan pertanggungjawaban dari kegiatan penelitian yang dilakukan. Sedangkan bagi

70

penulis merupakan persyaratan untuk menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

D. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kampus Ruang Pendidik INS Kayutanam, Jalan Raya Padang – Bukittinggi Km. 53, Desa Palabihan Kayutanam, Kecamatan 2X11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

E. Informan Penelitian Salah satu masalah utama dalam kegiatan kualitatif adalah masalah cara memperoleh informasi yang akurat dan objektif. Hal ini sangat penting artinya karena kesimpulan penelitian hanya akan dapat dipercaya apabila yang menjadi sumber informasi juga dapat dipercaya (Saifuddin, 1997: 1). Kesalahan dalam memilih informan akan membawa dampak terhadap validitas dan reabilitas suatu temuan penelitian. Dalam penelitian ini informan ditetapkan dengan teknik sampling. Pemilihan teknik ini didasarkan atas pertimbangan tidak mungkin meneliti seluruh jumlah populasi yang ada di lapangan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pemilihan informan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2007: 300). Dalam hal ini yang menjadi pertimbangan adalah “ketahuan dan pengalaman” tentang permasalahan yang akan diteliti. Sehubungan dengan teknik purposive sampling ini peneliti memilih informan berdasarkan keterwakilan dan pengetahuannya tentang objek

71

penelitian tidak diragukan lagi. Informan yang peneliti gunakan adalah orangorang yang terkait dengan sistem pendidikan INS Kayutanam dan pengimplementasiannya yaitu: 1. Pengurus Yayasan 2. Kepala Sekolah 3. Wakil Kepala Sekolah 4. Koordinator-koordinator Bidang 5. Kepala Asrama dan Pembina Asrama 6. Guru/Instruktur 7. Karyawan dan Pegawai Lapangan 8. Alumni 9. Siswa-Siswi 10. Mantan Pengelola / Mantan Pimpinan Informasi yang berkenaan dengan konsep dan sistem Ruang Pendidik INS Kayutanam, informannya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator bidang, guru, pengurus yayasan dan alumni. Informasi yang berkenaan dengan faktor-faktor penghambat dan pendukung yang ditemui di INS Kayutanam informannya adalah pengurus yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator bidang, kepala asrama, pembina asrama, guru/instruktur, karyawan, alumni, siswa-siswi dan mantan pengelola/mantan pimpinan. Informasi yang berkenaan dengan upaya-upaya yang dilakukan Ruang Pendidik INS Kayutanam dalam meneruskan dan meningkatkan kualitas mutu pendidikannya, informannya adalah pengurus yayasan, kepala

72

sekolah,

wakil

kepala

sekolah,

koordinator

bidang

dan

mantan

pengelola/mantan pimpinan. Informasi yang berkenaan dengan bagaimana cara menerapkan konsep pendidikan Engkoe Mohammad Sjafe’i dalam Ruang Pendidik INS Kayutanam, informannya adalah pengurus yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinator bidang, kepala dan pembina asrama, guru/instruktur, alumni dan mantan pengelola/mantan pimpinan. Selain itu penetapan informan juga memperhatikan pendapat Spradley (dalam Faisal, 1990) yang menjelaskan bahwa kriteria yang dapat dijadikan dalam pemilihan informan adalah sebagai berikut : 1. Informan telah cukup dan menyatu dengan aktivitas yang menjadi sasaran penelitian. 2. Informan masih terlibat secara penuh/aktif pada lingkungan yang menjadi sasaran penelitian. 3. Informan masih memiliki cukup banyak waktu/kesempatan untuk diminta kesediaannya memberikan informasi. 4. Diperkirakan informan dianggap jujur dan mau memberi data apa adanya. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya ialah bahwa informan yang dipilih dan ditetapkan betul-betul memiliki pengalaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (1992) yang menyatakan bahwa informan haruslah orangorang yang mempunyai banyak pengalaman tentang masalah yang berkaitan dengan fokus penelitian.

73

F. Teknik dan Alat Pengumpul Data Dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang menjadi instrumen atau alat pengumpul data dan informasi. Peneliti merupakan instrumen kunci dalam penelitian kualitatif (the researcher is the key instrument) (Sugiono: 2007). Dalam usaha mengumpulkan data dan informasi di lapangan, peneliti kualitatif menggunakan jenis kegiatan utama yaitu observasi dan interviu (dialog). Kedua teknik ini oleh banyak para ahli dinamakan dengan “participant observation” atau observasi partisipan. Guna mendapatkan data yang diharapkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik yang dianjurkan dalam pendekatan kualitatif seperti diuraikan di bawah ini: 1. Observasi Teknik observasi dilakukan dalam dua tahapan yaitu: 1) melalui kegiatan observasi pendahuluan atau grand tour, dan 2) hasil deskripsi lanjutan yang dilakukan secara lebih mendalam dan terfokus sesuai dengan pokok masalah yang diteliti. Alasan penggunaan metode ini adalah : 1) observasi dapat mengoptimalkan kemampuan peneliti baik dari segi motif, kepercayaan, perhatian, maupun perilaku lainnya, 2) observasi memungkinkan peneliti untuk dapat mengidentifikasi apa yang dirasakan dan dihayati oleh subyek penelitian, dan 3) observasi memungkinkan pembentukan pengetahuan yang diketahui bersama baik dari pihak peneliti maupun dari subyek penelitian (Moleong, 2002).

74

Kegiatan observasi dalam penelitian ini menggunakan observasi tak berstruktur dan dilakukan berulang-ulang sampai memperoleh semua data yang dibutuhkan. Menurut Marjono (2004: 158) observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek diteliti. Menurut Bogdan dan Taylor (1993: 31) penelitian kualitatif merupakan observasi partisipan yang menuntut peneliti sendiri yang melakukan observasi atau menceburkan diri dalam kehidupan masyarakat dan situasi tempat melakukan penelitian. 2. Wawancara Selain teknik observasi yang dipaparkan di atas, penelitian ini juga menggunakan teknik wawancara atau interviu. Menurut Esterberg (dalam Sugiono, 2007: 317) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat

dikonstruksikan makna dalam satu topik tertentu. Wawancara yang digunakan dapat berupa wawancara terstruktur maupun tidak terstruktur. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data yang lengkap dan mendalam. Menurut Lincoln dan Guba (1985: 266) tujuan wawancara adalah untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain. Dalam wawancara diusahakan menjalin hubungan yang harmonis, akrab, dan saling percaya antara peneliti dengan informan untuk dapat menggali informasi yang diperlukan. Menurut Miles dan Huberman (dalam Agustiar, 2002: 14-15) untuk menjaga suasana dengan informan agar selalu akrab dan santai,

75

wawancara dapat dilakukan secara formal ataupun informal, demikian pula dengan waktu dan tempat pelaksanaan wawancara disesuaikan dengan situasi (situasional). Wawancara dilakukan dengan orang-orang yang dianggap potensial, dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi tentang keadaan dan permasalahan yang sedang diteliti. (Faisal, 1990). Dalam hubungannya dengan penelitian ini, orang yang dianggap memiliki potensi memberi informasi adalah pengurus yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, koordinatorkordinator bidang, kepala asrama dan pembina asrama, guru/instruktur, karyawan dan pegawai lapangan. 3. Studi Dokumentasi Selain observasi dan wawancara, studi dokumentasi dapat digunakan untuk melengkapi data penelitian. Hal ini sesuai dengan pendapat Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2002) yang menjelaskan bahwa dokumen pribadi maupun dokumen resmi dapat digunakan sebagai sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk meramalkan. Selanjutnya Guba dan Lincoln menyatakan bahwa dokumen dapat berupa bahan tertulis atau film. Studi dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini untuk melengkapi informasi yang diperoleh pada teknik observasi dan wawancara. Adapun informasi yang ingin dicari melalui studi dokumentasi antara lain berkaitan dengan data guru dan karyawan, data siswa, dokumen kurikulum, foto-foto sejarah, prestasi sekolah, data pengurus yayasan, data

76

tentang inventaris dan fasilitas sekolah, data tentang peraturan dan tata tertib, data alumni dan data lain yang relevan.

G. Validasi Data Untuk menguji kevalidan data menurut Lincoln dan Guba (1985) dan Moleong (2002) ada beberapa cara: 1) perpanjang keterlibatan, 2) ketekunan pengamatan, 3) triangulasi (sumber, metode, peneliti dan teori), 4)

pengecekan responden, dan 5) penggalian data pada agen lainnya (kelompok sebaya, guru, karyawan, alumni, masyarakat yang relevan dan siswa). Pada penelitian ini, pengecekan validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi , diskusi dengan teman sejawat dan analisis kasus negatif (negative case analysis). Ketiga teknik pengujian kesahihan data tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Teknik Triangulasi Teknik triangulasi dilakukan sesuai dengan yang dikemukakan Denzin (dalam Patton, 1987) yaitu triangulasi dengan sumber, metode dan teori. Triangulasi dengan sumber yaitu pengujian kesahihan data dengan

membandingkan informasi yang sama pada waktu dan alat yang berbeda. Teknik ini dilakukan dengan: 1) membandingkan hasil pengamatan dan wawancara, 2) membandingkan apa yang dikatakan aktor yang pertama

dengan apa yang dikatakan aktor kedua, 3) membandingkan informasi dari responden dengan informasi yang bukan responden, dan 4) membandingkan perspektif orang dalam dengan pandangan orang luar, seperti orang tua dan

77

masyarakat sekitar. Teknik triangulasi

dengan metode, dengan cara

membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengamatan dan dokumentasi. Triangulasi dengan teori, yaitu mencari dan mempelajari teori-teori yang

diperlukan untuk mendukung dan menginterpretasikan data. 2. Diskusi dengan Teman Sejawat Diskusi dengan teman sejawat dilakukan setelah mendapat informasi dan data dari pengamatan, wawancara dan studi dokumentasi. Diskusi dilakukan untuk pengujian kesahihan data. Data yang telah dikumpulkan didiskusikan dengan teman-teman sesama unsur pimpinan INS, sesama guru, sesama mahasiswa pascasarjana dan dosen pembimbing. 3. Analisis Kasus Negatif (Negative Case Analysis) Salah satu standar keabsahan data yang disarankan oleh Guba dan Lincoln (1985: 307) adalah keterpercayaan (credibility). Analisis kasus negatif merupakan salah satu cara untuk mendapatkan keterpercayaan data penelitian. Analisis kasus negatif sangat dibutuhkan untuk validasi data. Dalam penelitian ini peneliti menganalisis dan mencari kasus atau keadaan yang menyanggah temuan, menganalisis, mempelajari dan mengambil kesimpulan.

H. Analisis Data Menganalisis data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian karena memungkinkan peneliti memberi makna terhadap data yang dikumpulkan. Menganalisis data sejak awal harus dilakukan dengan tujuan bahwa apabila data yang diperoleh masih belum memadai, maka sedini

78

mungkin dapat segera dilengkapi. Hal ini akan terus berlanjut sampai akhir penelitian. Patton (1987) mengemukakan bahwa analisis data adalah proses mengatur data, mengorganisasikan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat menganalisis data penelitian ini, penulis mengikuti langkah-langkah yang disarankan oleh Miles dan Huberman (1990) yaitu sebagai berikut: 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) kesimpulan. SKEMA TEKNIK ANALISIS DATA

1. Reduksi Data Data yang didapat harus segera direduksi agar tidak terlalu bertumpuktumpuk, serta memudahkan dalam pencarian data dan memudahkan dalam menyimpulkannya. Miles dan Huberman (1990) mendefinisikan reduksi data

79

sebagai suatu proses pemulihan, memfokuskan pada penyederhanaan, pengabsahan dan transformasi data “mentah/kasar” yang muncul dari catatan tertentu di lapangan. Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menonjolkan hal-hal yang penting, menggolongkan,

mengarahkan, membuang yang tidak dibutuhkan dan mengorganisasikan data agar lebih sistematis, sehingga didapat kesimpulan yang bermakna. Data yang telah direduksi akan dapat memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan.

2. Penyajian Data Penyajian data merupakan proses pemberian sekumpulan informasi yang sudah disusun dimana memungkinkan untuk pencarian kesimpulan dan pengambilan tindakan (Miles dan Huberman, 1990). Penyajian data merupakan gambaran secara keseluruhan dari sekelompok data yang diperoleh agar mudah dibaca secara menyeluruh. Penyajian data dapat berupa matriks, grafik, jaringan kerja dan lainnya. Dengan adanya penyajian data maka peneliti dapat memahami apa yang sedang terjadi dalam kancah penelitian dan apa yang akan dilakukan peneliti dalam mengantisipasinya.

3. Kesimpulan Data awal yang berwujud kata-kata tulisan, tingkah laku sosial di Kampus Ruang Pendidik INS Kayutanam yang didapat dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi, kemudian diproses/dianalisis agar menjadi

80

data yang siap disajikan. Dari hasil proses dan analisis, data disajikan untuk selanjutnya dibuat suatu kesimpulan hasil penelitian. Kesimpulan pada awalnya masih longgar, namun kemudian meningkat menjadi lebih rinci dan mendalam dengan bertambahnya data. Miles dan Huberman (1990) menyatakan kesimpulan merupakan suatu konfigurasi yang utuh.

DAFTAR RUJUKAN

Anas, Azwar. (2008). “Institut Talenta Indonesia INS Kayutanam”. Makalah disajikan pada Sarasehan dengan Tokoh Rantau, Pengusaha, Pejabat, Politikus dan Eksekutif Alumni SMA se-Sumatera Barat. Padang, 19 Oktober. Anfasa Moeloek, Farid. (2008). “Institut Talenta Indonesia 2020 INS Kayutanam Revitalisasi Konsep Ruang Pendidik INS Kayutanam”. Disajikan pada Lokakarya Pendidikan Menuju Institut Talenta Indonesia 2020 INS Kayutanam. Jakarta, 9 Februari. Ansjar M. (Ed). (tt). Dasar-dasar Pendidikan Mohammad Sjafei – Suatu Pemahaman. Tidak diterbitkan. Arikunto, Suharsimi. (1997). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Bogdan R.C dan Taylor, SJ. (1992). Pengantar Metodologi Penelitian Kualitatif. Alih Bahasa Arief Furchan. Surabaya: PN Usaha Nasional. Chalil Achjar dan Hudaya L. (2008). Pembelajaran Berbasis Fitrah. Jakarta : PT. Balai Pustaka (Persero). Departemen Depdiknas. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta PT. Balai Pustaka. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. (2003). Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Faisal, Sanafiah. (1990). Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh. Ibrahim Thalib. (1978). Pendidikan Mohd. Sjafei INS Kayutanam (cetakan kedua). Jakarta: Mahabudi. INS Kayutanam. (2006). Institut Talenta Indonesia 2020. Executive Summary. INS. (tt). Ruang Pendidik INS Kayutanam: “SMP-SMA Plus”. Irmawita. (2006). “Standarisasi Kompetensi Pamong Belajar SKB dan BPKB”. Makalah disampaikan pada Semiloka Nasional Standarisasi Kompetensi Profesi PTK-PNF, Padang, Juli.

Lincold, Y.S dan Guba E. E. (1985). Naturalistic Inquiry. California: Stage Publication. Manan, Imran. (1989). Dasar-dasar Budaya Pendidikan. Jakarta : PPLPTK Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Miles, MB and Huberman, A.M. (1990) Qualitative Data Analysis. Terjemahan Thetjep Rohendi. Jakarta: UI Press. Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nasution, S. (1992). Metode Penelitian Naturalistik. Bandung: Tarsito. Navis, A.A. (1996) Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei Ruang Pendidik INS Kayutanam. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Nur, Agustiar Syah. (1978). Penelitian Kualitatif: Penentuan Responden dan Instrumen. Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang. _____. (2001). “Peralihan Manajemen Pendidikan dari Sistem Sentralisasi ke Desentralisasi”. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Universitas Negeri Padang, Padang, 2 Mei. _____. (2008). “Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan INS Kayutanam dengan Konsep Pembangunan Pendidikan Nasional”. Jurnal Wawasan Pendidikan dan Pembelajaran, 3 (2) : 161-167. Patton, Q. (1987). Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills: Sage Publication. Sagala, Syaiful. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat Strategi Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta : PT. Nimas Multima. _____. (2007). Manajemen Strategik dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Singgalang. (2008). 11 Februari. INS Lebih Menonjolkan Kebermaknaan Pendidikan. Hlm. 2. Sjafei, Mohammad. (1976). Dasar-Dasar Pendidikan. Diterbitkan oleh Alumni INS Kayutanam. _____. (1979). Dasar-dasar Pendidikan. Jakarta: CSIS.

Surachmad, Winarno. (2008). “Menanggapi Gagasan Talenta dalam Pendidikan INS Kayutanam”. Makalah disajikan dalam Lokakarya Pendidikan Menuju ITI-INS Kayutanam 2020, Jakarta, 9 Februari. Syafwandi. (2001). “Seni Rupa dalam Falsafah Pendidikan M. Sjafei dan Sejarah Pendidikan INS Kayutanam serta Relevansinya bagi Pendidikan di Masa Depan”. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: Program Pascasarjana ITB. Tunas, Billy. (2007). Memahami dan Memecahkan Masalah dengan Pendekatan Sistem. Jakarta : PT. Nimas Multima. Winardi. (1989). Pengantar tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem. Bandung : Mandar Maju.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->