BAB 1 PENDAHULUAN

Remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada umumnya remaja bersifat emosional. Emosinya berubah menjadi labil. Menurut aliran tradisionil yang dipelopori oleh G. Stanley Hall, perubahan ini terutama disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada kelenjarkelenjar hor-monal. Namun penelitian-penelitian ilmiah selanjutnya menolak pendapat ini. Pada masa remaja, seseorang memasuki status sosial yang baru. Ia dianggap bukan lagi anak-anak. Karena pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang sangat cepat sehingga menyerupai orang dewasa, maka seorang remaja juga sering diharapkan bersikap dan bertingkahlaku seperti orang dewasa. Pada masa remaja, seseorang cenderung untuk menggabungkan diri dalam 'kelompok teman sebaya. Kelompok sosial yang baru ini merupakan tempat yang aman bagi remaja. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga sangat kuat, bahkan seringkali melebihi pengaruh keluarga. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

1

Ketika anak-anak sekolah menghadapi dunia sosial yang lebih luas. serta implikasinya dalam proses pembelajaran. Pada tahap ini Erikson melihat munculnya autonomy. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan). Semakin berhasil individu mengatasi krisis.BAB 2 PEMBAHASAN A. 2. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu. Berikut adalah tahap perkembangan menurut Erickson: 1. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas yang menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Tahap ini berlangsung pada masa oral. 2 . masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 1. tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan & peningkatan potensi. Tahap kedua ini adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages). 3. mereka lebih tertantang dan perlu mengembangkan perilaku yang bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. akan semakin sehat perkembangan mereka. 4. Perkembangan psikososial remaja menurut Erickson Teori Erikson (1902 – 1994) mengatakan bahwa kita berkembang dalam tahap-tahap psikososial. pada umur 0-1 tahun atau 1 ½ tahun (infancy) ialah tahap Psikososial pertama menurut Erikson yang dialami dalam tahun pertama kehidupan. Dalam teori Erikson. Kerajinan vs Inferioritas. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia. emosional dan sosial.3 tahun (Early Childhood). 8 tahap perkembangan terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. krisis ini bukanlah suatu bencana. Tahap ini dialami saat anak menginjak usia 4-5 tahun (preschool age). Termasuk integrasi perkembangan personal. Inisiatif vs Kesalahan.

inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas. 5. sehingga dia tertarik untuk mengembangkan teori perkembangan psikososisalnya Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting. karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego. teman harus menerima kehadirannya. Identitas ego merupakan puncak nilai-nilai ego sebelumnya yang merupakan ego sintesis. dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. sehingga semua aspek memiliki peran. tetapi juga dalam masyarakat yang ada di lingkungannya. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area keluarga dan sekolah. salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung secara baik. disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya. Pada tahap ini remaja dihadapkan pada temuan siapa mereka? Bagaimana mereka nantinya? atau Kemana tujuan mereka?. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap terakhir/tua. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Ego-Identity vs Role Confusion (Identitas Diri vs Kekacauan Peran) Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja). guru harus memberi perhatian. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. 3 .Tahap ini adalah tahap laten yang terjadi pada usia 6-12 tahun (school age)di tingkat ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah. Oleh karena itu. Fase ini sebenarnya adalah sumber utama Erikson dalam menjelaskan perkembangan remaja. ciri-ciri yang khas dari dirinya. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya. misalnya orang tua harus selalu mendorong.

cara maupun jalan terbaik. jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebutnya dengan sebutan pengingkaran. yaitu suatu kelegaan karena kita mengenal siapa diri kita. Ritualisasi yang nampak dalam tahap adolesen ini dapat menumbuhkan ediologi dan totalisme. dan ketidakkonsistennya. tempat kita dalam masyarakat dan kontribusi macam apa yang kita bisa sumbangkan untuk masyarakat. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat akibatnya mereka akan mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya. atau si penolak (mereka bisa menolak untuk punya identitas. mereka yang gagal memiliki suatu identitas diri akan gelisah karena tidak jelasnya identitas mereka. Mereka yang berhasil memperoleh identitas diri yang sehat mencapai suatu keadaan yang dinamai Fidelity oleh erikson. Sebaliknya. menolak definisi masyarakat tentang anggota masyarakat dll) dan mereka hidup sendiri bahkan ketika ada di tengah masyarakat. si pengembara. 4 . Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran. Orang-orang ini bisa menjadi "drifter". maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang hidup bersama dalam lingkungannya. Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini. yang mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan.Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas. jika antara identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang. Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. Sebaliknya. kelemahan.

Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. 7. Generativitas vs Stagnasi Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh. Pengetahuannya cukup luas. Sesuai dengan namanya masa dewasa. sehingga . pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala 5 kemampuannya. dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. kecakapannya cukup banyak. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair 6. Keintiman vs Isolasi Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui. Masa dewasa awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation.Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini: Developmental Stage Infancy (0-1 thn) Early childhood (1-3 thn) Preschool age (4-5 thn) School age (6-11 thn) Adolescence (12-20 thn) Young adulthood ( 21-40 thn) Adulthood (41-65 thn) Senescence (+65 thn) Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame.

apa yang dirasakan. komunikasi yang baik dan mencapai puncaknya menjelang periode ini berakhir. Emil Durkheim melihat makna dan perkembangan kemandirian dari sudut pandang yang berpusat pada masyarakat (Sunaryo dalam Muhammad Ali. B. 2009) kemandirian itu apa yang dipikirkan. Selain itu. 8. 2009). Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Pengertian Hurlock (1980) menyatakan minat pada kemandirian berkembang pada masa awal remaja. kasih sayang. 2006) dimana kemandirian itu adalah kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri untuk memilih dan memutuskan keputusan sendiri serta mampu melakukannya tanpa terlalu tergantung pada orang tua. tetap menjalin hubungan. 6 . mengabaikan atau memisahkan fisik dari anak mereka. dan keputusan yang dibuat adalah lebih berdasarkan pada diri sendiri daripada mengikuti apa yang orang lain percayai.perkembangan individu sangat pesat. saling pengertian. sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Menurut Steinberg (dalam Lewis. Kemandirian a. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Steinberg (dalam Newman. Memberikan kemandirian pada remaja bukan berarti orang tua menolak. Integritas vs Keputusasaan Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan. melainkan lebih pada kebebasan psikologis dimana orang tua dan remaja menerima perbedaan masing-masing namun remaja dan orang tua tetap merasakan cinta. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya.

membagi kemandirian emosional menjadi empat komponen. non dependency. b. 3. maksudnya tidak memandangnya sebagai orang yang idealis dan sempurna yang dapat melakukan kesalahan.b. seeing parents as people yaitu remaja mampu memandang orangtua mereka seperti orang dewasa lainnya yang dapat menempatkan posisinya sesuai situasi dan kondisi. seperti hubungan emosional antara remaja dengan ibunya dan hubungan emosional antara remaja dengan ayahnya. daripada membutuhkan bantuan pada orangtua mereka tetapi tidak sepenuhnya lepas dari pengaruh orangtuanya. individuated. ada tiga dimensi kemandirian yaitu: a. yaitu: 1. Behavioral Kemandirian perilaku berarti “bebas” untuk berbuat atau bertindak sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan orang lain. Emotional Kemandirian emosional menurut merupakan aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu. Steinberg dan Silverberg (1986). de-idealized yaitu remaja mampu memandang orangtuanya sebagaimana adanya. atau suatu tingkat dimana remaja lebih bersandar pada kemampuan dirinya sendiri. Kemandirian perilaku mencakup kemampuan untuk meminta pendapat orang lain jika diperlukan. menimbang berbagai pilihan yang ada dan pada akhirnya mampu mengambil kesimpulan untuk suatu 7 . Dimensi kemandirian Menurut Steinberg (2002). mampu dan memiliki kelebihan secara pribadi untuk mengatasi masalah didalam hubungannya dengan orang tua. 4. Remaja percaya bahwa ada sesuatu tentang remaja tersebut yang tidak diketahui oleh orangtuanya. 2.

c. remaja mampu mengekspresikan rasa percaya diri dalam tindakan-tindakannya. 1. (2002) menyatakan bahwa ada tiga domain kemandirian perilaku pada remaja. remaja mencapai kesimpulan dengan rasa percaya diri. remaja mengetahui secara tepat kapan harus meminta saran dari orang lain 3. political thinking dan religious belief pada masa remaja. teman. changes in susceptibility to the influence yaitu perubahan remaja dalam penyesuain terhadap kerentanan pengaruh-pengaruh dari luar. Moral development berkaitan dengan bagaimana individu berpikir tentang dilema moral yang sedang terjadi dan bagaimana mereka bertindak dalam situasi tersebut.keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Value Value autonomy menunjuk kemampuan seseorang untuk mengambil keputusankeputusan dan menetapkan pilihan yang lebih berpegang atas dasar prinsip-prinsip individual yang dimilikinya. (e) remaja menghargai dan berhati-hati terhadap saran yang diterimanya 2. remaja menghabiskan banyak waktu diluar keluarga sehingga nasehat dan pendapat dari teman dan orang dewasa lainnya sangat penting. atau ahli seagai konsultan. changes in decision-making abilities yaitu perubahan dalam kemampuan untuk mengambil keputusan. (c) remaja dapat menggunakan orangtua. yaitu: 1. dengan indikator meliputi: (a) remaja menyadari resiko yang timbul. (d) remaja dapat merubah pendapatnya karena ada informasi baru yang dianggap sesuai. tentang apa yang penting dan tidak penting. changes in feelings of self-reliance yaitu perubahan dalam rasa percaya diri. (b) remaja menyadari konsekuensi yang muncul kemudian. Perkembangan value autonomy dapat dilihat dari moral development. daripada mengambil prinsip-prinsip dari orang lain. Steinberg. remaja mampu mempertimbangkan alternatif dari tindakannya secara bertanggung jawab. 8 . Dengan kata lain bahwa value autonomy menggambarkan kemampuan remaja untuk bertahan pada tekanan apakah akan mengikuti seperti permintaan orang lain yang dalam arti ia memiliki seperangkat prinsip tentang benar atau salah.

individu bersedia menolong sesama. berkurangnya otoritas dan tidak kaku pada pihak yang berkuasa sehingga lebih bersifat fleksibel (ketika ditanya apa yang harus dilakukan saat hukum tidak bekerja sesuai dengan yang direncanakan. berkaitan dengan bagaimana remaja menjadi mampu berpikir lebih abstrak (misalnya pada saat ditanya apa tujuan hukum. Pada tahap perkembangan moral menurut Kohlberg (dalam Steinberg. persamaan hak. dan memberi kebebasan). akhirnya suami pun mencuri obat tersebut. Tak tahu lagi harus berbuat apa. 2. 2002). maka remaja akan menjawab bahwa hukum tersebut butuh kaji ulang dan jika perlu untuk diamanden tidak sebatas memaksa dengan keras pada hukum tersebut). Menyadari adanya konflik dengan moral standard yang berlaku dan dapat membuat penilaian berdasarkan pada kebenaran. remaja berada pada tahap postconventional moral reasoningdimana peraturan pada masyarakat dipandang lebih pada subjektif dan relative bukan yang absolut dan terdefenisi. remaja mungkin akan menjawab untuk memberi kenyamanan. Tingkah laku moral lebih dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri. misalnya seorang istri yang sakit kanker dan dapat ditolong dengan obat seharga $2000 tetapi sang suami hanya dapat mengumpulkan duit sebanyak $1000. Kepercayaan remaja menjadi lebih berorientasi pada spiritual dan ideologis tidak sebatas pada ritual biasa dan bukan hanya mengamati kebiasaan pada agama. serta meningkatnya penggunaan prinsip (seperti kebebasan mengemukakan pendapat. tetapi sebagian pihak akan menerima perbuatan sikap suaminya karena istrinya butuh dan melindungi hidup itu lebih penting. sama seperti moral dan political belief menjadi lebih abstrak. Political Thinking. mencuri). untuk menuntun orang sehingga tidak sebatas pada untuk membuat orang untuk tidak membunuh. 9 . 3. Postconventional thinking itu lebih luas tidak sebatas berorientasi pada peraturan yang berlaku pada masyarakat dan prinsip lebih abstrak.Apabila dikaitkan dengan perilaku menolong. lebih prinsip dan lebih bebas. Religious belief. kejujuran dan keadilan. Sebagian orang mungkin akan merespon bahwa sikap suaminya itu salah melanggar peraturan karena mencuri. dia minta keringanan kepada dokter tetapi dokter tidak bersedia menjual lebih murah.

usia 12 – 15 tahun dan pada usia 15 – 18 tahun. a. Pada tahap ini anak masih sangat bergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya. kemandirian pada diri seseorang tidak terlepas dari faktor bawaan dan faktor lingkungan. melompat. Pada masa ini pula anak mulai dikenalkan pada toilet training. Mereka mengembangkan otonominya seiring dengan bertambahnya berbagai kemampuan dan keterampilan seperti keterampilan berlari. Perkembangan kemandirian tersebut diidentifikasikan pada usia 0 – 2 tahun. b.c. Usia 0 sampai 2 tahun Sampai usia dua tahun. 2004) pada masa ini anak belajar untuk menjalankan kehidupan sehari-harinya secara mandiri dan bertanggung jawab. c. memegang. d. Tahap perkembangan kemandirian pada gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. usia 6 – 12 tahun. anak masih dalam tahap mengenal lingkungannya. Usia 2 sampai 6 tahun Pada masa ini anak mulai belajar untuk menajdi manusia sosial dan belajar bergaul. yaitu melatih anak dalam buang air kecil atau air besar. Terbentuknya kemandirian Kemandirian bukanlah kemampuan yang dibawa anak sejak lahir. usia 2 – 6 tahun. melainkan hasil dari proses belajar. mengembangkan gerak-gerik fisik dan memulai proses berbicara. Sebagai hasil belajar. Usia 6 sampai 12 tahun Menurut Erikson (dalam Lie & Prasasti. Beban pelajaran merupakan tuntutan agar anak belajar bertanggung jawab dan mandiri. Pada masa ini anak belajar di jenjang sekolah dasar. Lie & Prasasti (2004) memberikan gambaran perkembangan kemandirian dalam beberapa tahapan usia. memasang dan berkata-kata. Usia 12 sampai 15 tahun 10 .

atau justru menikah. Setiap tipe pola asuh mengakibatkan efek yang berbeda. Mereka sedang mempersiapkan diri menuju proses pendewasaan diri. Dan pada masa ini mereka diharapkan dapat membuat sendiri pilihan yang sesuai baginya tanpa terlalu tergantung pada orangtuanya. Pada masa ini orangtua hanya perlu mengarahkan dan membimbing anak untuk mempersiapkan diri dalam meniti perjalanan menuju masa depan. d. secara ideal perkembangan remaja akan optimal apabila mereka bersama keluarganya. Usia 15 sampai 18 tahun Pada usia ini anak sekolah di tingkat SMA.Pada usia ini anak menempuh pendidikan di tingkat menengah pertama (SMP). Dengan kata lain. Penerapan disiplin ini identik dengan pola asuh. Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya remaja. tentunya dengan disertai tanggung jawab. 2. Faktor yang mempengaruhi kemandirian Menurut Hurlock (dalam Lukman. Banyak sekali pilihan bagi mereka. berani membuat keputusan sendiri dan memperoleh kebebasan perilaku sesuai dengan keinginannya. Setelah melewati masa pendidikan dasar dan menengahnya mereka akan melangkah menuju dunia Perguruan Tinggi atau meniti karier. orangtualah yang berperan dalam mengasuh. 2000) terdapat lima faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu: 1. e.Sekolah 11 . membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Masa ini merupakan masa remaja awal di mana mereka sedang mengembangkan jati diri dan melalui proses pencarian identitas diri. Di dalam keluarga. Sehubungan dengan itu pula rasa tanggung jawab dan kemandirian mengalami proses pertumbuhan. Keluarga Setiap orang tua berbeda-beda dalam menerapkan disiplin pada anaknya.

menuntut sikap kita untuk mandiri dan dapat melakukannya sendiri. Definisi Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk berkomunikasi efektif dengan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu. salah satu contohnya adalah majalah. Tugas harian yang sederhana dapat diselesaikan sendiri tanpa harus ada bantuan. Keterampilan sosial 1. Agama Agama dapat mempengaruhi kemandirian seseorang misalnya sikap terhadap agama yang kuat. di mana keterampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari. 4. Pekerjaan atau tugas yang menuntut sikap pribadi tertentu Pekerjaaan seperti mengurus keperluan diri sendiri. 3. 5. Remaja dengan keterampilan sosial akan mampu mengungkapkan perasaan baik positif 12 . teman dapat juga mempengaruhi kemandirian seorang anak. Perlakuan guru. koran. Media komunikasi massa Jenis-jenis media komunikasi masa sekarang sangat bervariasi. Dari pencarian info dan yang terjadi di dunia melalui media dapat menambah wawasan para anak. Anak dapat mencari pengetahuan dan info dari kecanggihan teknologi sekarang. Pekerjaan atau tugas akan membiasakan seseorang untuk bertanggung jawab termasuk tugas yang menuntut tanggung jawab dalam mengambil keputusan. C.Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Dikatakan bahwa dengan anak yang mempunyai agama yang kuat dapat membantu anak dalam bersikap dan menjadikan anak lebih mandiri.

1998). menghargai diri sendiri dan orang lain. mengontrol kemarahan dan sebagainya. mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus menemukan penyelesaian yang adaptif. memahami perasaan orang lain. Keterampilanketerampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi. Ciri-ciri Keterampilan Sosial Gresham lain: 1. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. antara . sehingga mereka tidak mencari pelarian ke hal-hal lain yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Perilaku yang Berhubungan dengan Diri Sendiri Perilaku ini merupakan ciri dari seorang yang dapat mengatur dirinya sendiri dalam situasi sosial. Mu’tadin (2006) mengemukakan bahwa salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja madya dan remaja akhir adalah memiliki ketrampilan sosial (social skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. 2. & Dickson dalam Gimpel & Merrell. tanpa harus melukai orang lain (Hargie. 13 & Reschly (dalam Gimpel dan Merrell. Perilaku Interpersonal Perilaku interpersonal adalah perilaku yang menyangkut keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi sosial yang disebut dengan keterampilan menjalin persahabatan. Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan maksimal. menjalin hubungan dengan orang lain.maupun negatif dalam hubungan interpersonal. Keterampilan sosial membawa remaja untuk lebih berani berbicara. Saunders. bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku. mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain. memberi atau menerima kritik. seperti: keterampilan menghadapi stress. memberi atau menerima feedback. 1998) mengidentifikasikan keterampilan sosial dengan beberapa ciri. 2. dsb.

dan menjadi pendengar yang responsif. mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik. ditunjukkan melalui pemenuhan tugas secara mandiri. karena mereka tidak dapat bergaul dengan baik. dapat menangkap dengan tepat emosi orang lain. 14 . menjalankan arahan guru dengan baik. Kemampuan akademis (Academic).3. berupa pemberian umpan balik dan perhatian terhadap lawan bicara. Dimensi Keterampilan Sosial Caldarella dan Merrell (dalam Gimpel & Merrell. Perilaku yang Berhubungan dengan Kesuksesan Akademis Perilaku ini berhubungan dengan hal-hal yang mendukung prestasi belajar di sekolah. menawarkan bantuan kepada orang lain. menyelesaikan tugas individual. 5. merefleksikan remaja yang memiliki emosional yang baik. Beberapa bentuk perilaku yang dimaksud adalah: memberi dan menerima informasi. Manajemen diri (Self-management). dan sebagainya. 2. Penerimaan Teman Sebaya Hal ini didasarkan bahwa individu yang mempunyai keterampilan sosial yang rendah akan cenderung ditolak oleh teman-temannya. Keterampilan Berkomunikasi Keterampilan ini sangat diperlukan untuk menjalin hubungan sosial yang baik. seperti: mendengarkan guru. dapat menerima kritikan dengan baik. 3. mengikuti peraturan dan batasan-batasan yang ada. Hubungan dengan teman sebaya (Peer relation). dan bermain bersama orang lain. dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah. 4. ditunjukkan melalui perilaku yang positif terhadap teman sebaya seperti memuji atau menasehati orang lain. yaitu : 1. 3. 1998) mengemukakan 5 (lima) dimensi paling umum yang terdapat dalam keterampilan sosial. yang mampu untuk mengontrol emosinya.

5. dan membagikan sesuatu. Perilaku assertive (Assertion).4. Kepatuhan (Compliance). menggunakan waktu dengan baik. 15 . menunjukkan remaja yang dapat mengikuti peraturan dan harapan. didominasi oleh kemampuankemampuan yang membuat seorang remaja dapat menampilkan perilaku yang tepat dalam situasi yang diharapkan.

Kemampuan untuk bertenggangrasa dengan orang yang dicintainya. Rata-rata remaja memerlukan waktu yang singkat untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”. Perubahan emosi ini erat kaitannya dengan kemasakan hormon astrogen dan testosteron yang terjadi pada remaja. baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak. Salah satu tanda yang khas adalah tumbuh kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya. Ciri lainnya adalah berkembangnya “ego ideal” berupa cita-cita.BAB 3 PENUTUP Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Perkembangan emosi pada remaja ditandai dengan emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Pada masa ini sosialisasi anak lebih luas dan berkembang. tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. sebaliknya tumbuh perasaan saling memiliki. masa pencarian identitas diri dan ditandai dengan perkembangan fisik dan psikis anak. mereka mulai menjalin hubungan dengan temanteman laki-lakinya dan mengadakan kencan-kencan (dating). untuk ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh orang yang dicintainya. sementara orang dewasa memerlukan yang lebih lama untuk hal yang sama. idola dan sebagainya yang menggambarkan bagaimana wujud ego (diri sendiri) di masa depan. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Salah satu ciri-ciri remaja adalah berkurangnya egoisme. Perkembangan sosial pada masa remaja (pubertas) merupakan masa yang unik. Keterampilan sosial akan membantunya dalam pergaulan sosialnya. 16 . Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Mereka bukanlah anak-anak.

17 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful