Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

DAFTAR PUSTAKA Amerom, B. V. (2000). Arithmetic and algebra: Can history help to close the cognitive gap? A proposed learning trajectory on early algebra from an historical perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Becker, J.P & Shimada, S. (1997). The open-ended approach: A new proposal for teaching mathematics. Reston: NCTM Ben-Zeev, T. Dan Star, J.(2002). Intuitive Mathematics: Theoretical and Educational Implications. Michigan: University of Michigan Brouseau, G. (1997). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers Clarke, B., Clarke, D., & Sullivan, P. (1996).The mathematics teachers and curriculum development. In Alan J. Bishop et al. (eds.), International Handbook of Mathematics Education, 2 (1207-1234). Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. De Lange, J. (1987). Mathematics insight and meaning. Utrecht, the Netherlands: OW &OC, Dissertation. De Lange, J. (1996). Using and applying mathematics in education. In A.J. Bishop et al. (eds.). International Handbook of Mathematics Education. 1 (49-97). The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. Gravemeijer, K. (1994). Educational development and developmental research in mathematics education. In Journal for Research in Mathematics Education, 25 (5), 443-471. Gravemeijer, K.P.E (2000a). Developmental research: Fostering a dialectic relation between theory and practice. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Gravemeijer, K.P.E (2000b). Taking a different perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Kansanen, P. (2003). Studying-theRealistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29,No. 2/3, 221-232 Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Bandung: SPS UPI Toom, A. (2006). Tacit Pedagogical Knowing At the Core of Teacher’s Professionality. Helsinki: University of Helsinki Treffers, A. & Goffree, F. (1985). Rational analysis of realistic mathematics education-The Wiskobas program. In L. Streefland (Ed.), Proceedings of Ninth International Conference for the Psychology of Mathematics Education, (pp.97-121). Noordwijkerhout, July 22-29, 1985. Treffers, A. (1987). Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics education. Reidel, Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Treffers, A. (1991). Didactic background of a mathematics program for primary school. In L. Steefland (ed.), Realistic mathematics education in primary school: On the occasion of the opening Freudenthal Institute, (pp.21-56). Utrecht: Center for Science and Mathematics Education, Utrecht University. Turmudi (2006). Designing contextual Learning Strategies for Mathematics for Junior Secondary School in Indonesia. Ph.D. Thesis, Melbourne, Australia: La Trobe University. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (1996). Assessment and realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, Center for Science and Mathematics Education. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (2000). Mathematics education in the Netherlands: A guide tour. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

13

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

PENERAPAN BLENDED LEARNING PADA PERKULIAHAN DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (Studi Kasus: Mata Kuliah Dasar-dasar Matematika)
Imam Sujadi Program Studi Pendidikan Matematika UNS Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menerapan model blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memadukan antara pembelajaran tatap muka dan sistem e-learning. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika UNS. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Tahapan penelitian didahului dengan mengembangkan model pembelajaran blended learning untuk mata kuliah Dasar-dasar Matematika. Selanjutnya model tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tahap-tahap penelitian tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah dasar-dasar matematika pada semester gasal tahun akademik 2011/2012. Metode pengumpulan data dengan angket, observasi dan tes, pemberian tugas/kuis untuk mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Model pembelajaran blended learning terbukti berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan kompetensi kognitif mahasiswa. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas ini dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan mata kuliah yang berbeda dan kondisi yang berbeda pula. Kata kunci: blended learning, kemandirian belajar, peningkatan kompetensi

PENDAHULUAN E-learning saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang berkembang sangat pesat, sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi pendukungnya. Tujuan utama e-learning adalah mempermudah setiap orang untuk belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa e-learning memberikan cukup banyak manfaat bagi institusi pendidikan tinggi baik bagi dosen, mahasiswa, dan penyelenggara pendidikan. Manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pertemuaan tatap muka akan berkurang, sedangkan materi yang telah dikembangkan akan terus bisa digunakan. Dengan menggunakan e-learning, biaya yang digunakan untuk memberikan materi pembelajaran bisa dihemat. Mahasiswa yang bisa mengikuti perkuliahan dengan adanya e-learning juga bisa bertambah secara kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya e-learning tempat belajar tidak lagi menjadi kendala yang mendasar, karena mahasiswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dengan segala kelebihan pemanfaatan e-learning tersebut, oleh sebagian pihak elearning dianggap sebagai model pembelajaran masa depan (future learning). Namun dibalik kelebihan tersebut tersimpan beberapa kelemahan terutama pada instruktur, infrastruktur dan assessment. Salah satu proses penting dalam proses pembelajaran adalah proses membangun pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut bisa bersifat eksplisit maupun implisit. Beberapa kelemahan pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pengetahuan yang bersifat implisit sangat tidak mungkin untuk disebarkan menggunakan e-learning. Selain itu faktor emosional, gestur, seni, dan penilaian dari pembelajaran cenderung terkurangi dengan adanya e-learning. Selain beberapa kelemahan tersebut masalah penilaian (assesment) menjadi tantangan tersendiri pada penyelenggaraan e-learning. Pada pemanfaatan e-learning dosen tidak bisa mengetahui bagaimana kemampuan sebenarnya dari mahasiswanya, karena terjadi distorsi penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh dosen sangat bersifat kognitif, sehingga kemampuan afektif maupun motorik menjadi kurang terukur. Blended-learning, salah satu tipe pengembangan e-learning, merupakan alternatif jawaban atas kelemahan yang ada pada e-learning. Blended Learning adalah cara untuk mendidik dan belajar dengan ‘mengkombinasikan’ beberapa metode dan gaya pembelajaran

14

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

yang berbeda. Blended learning berbasis pada kombinasi antara pembelajaran yang bersifat online dan tatap muka. Cara belajar seperti ini memberikan beberapa keuntungan yang bersifat fleksibel bagi dosen dan mahasiswa. Dosen tidak kehilangan gesture dan seni dalam perkuliahan, demikian juga dengan mahasiswa tidak akan merasa ketinggalan ketika tidak bisa hadir pada perkuliahan (Arai, K: 2010). Penerapan blended-learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan penguasaan kompentensi mahasiswa pada standar yang terukur. Dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi pada perkuliahan dimungkinkan adanya remedial teaching yang harus dilakukan oleh dosen. Kendala yang dihadapi dosen dalam melaksanakan remedial teaching adalah bagaimana mengatur pengelompokan kelas dan pengaturan waktu, antara yang mengikuti remidial dan yang tidak. Penerapan blended-learning diharapkan bisa mengurangi banyak tatap muka yang harus dilakukan dosen, terutama kelompok yang harus mengikuti remedial teaching (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008) Sebagai ilustrasi pada perkuliahan dasar-dasar matematika tahun akademik 2009/2010, peserta mata kuliah dasar-dasar matematika ini adalah 28 mahasiswa. Pada ujian kelompok kompetensi dasar (KKD-1) mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 15 mahasiswa (54%), pada KKD-2 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 9 mahasiswa (32%), pada KKD-3 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 11 mahasiswa (39%), sedangkan pada KKD-4 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 4 mahasiswa (14%). Ketika dosen akan melakukan remedial teaching, kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengatur waktu untuk melakukan pembelajaran pada kelas remedial tersebut. Kendala yang lain mahasiswa secara afektif kurang mempunyai kemauan untuk belajar mandiri dan kurang mempunyai kemauan bekerja menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi kendala tersebut penerapan remedial teaching bagi mahasiswa dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, merupakan suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran di prodi pendidikan matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi ditinjau dari aspek dampak peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa, studi kasus pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Asumsi yang digunakan adalah semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan kemampuan akses yang sama terhadap materi perkuliahan yang disebarkan melalui website atau learning management system (LMS). Sebagai rencana cadangan materi juga disebarkan menggunakan media CDROM. Materi yang disampaikan melalui LMS atau CDROM bersifat pengetahuan eksplisit, sedangkan pengetahuan yang bersifat implisit disampaikan di kelas. Tatap muka di kelas lebih bersifat mediasi, review, dan diskusi terhadap materi yang diberikan. Media komunikasi yang digunakan adalah media chat melalui jejaring sosial selama jam kerja, email dan forum diskusi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian E-Learning E-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran (learning) dan pengajaran (teaching) secara online menggunakan jaringan teknologi. Saat ini telah banyak penelitian mengenai elearning, terutama pada dampak (outcomes) pembelajaran yang dihasilkan e-learning jika dibandingkan dengan pengajaran secara tradisional (Hrastinski, S: 2008). Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan e-learning sebagai suplemen terhadap materi yang disampaikan secara regular di kelas. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif perkuliahan bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan (Rahayu, T: 2007). Untuk bisa mempraktekkan dan mengimplementasikan e-learning dengan baik, harus diperhatikan mengenai keuntungan dan keterbatasan setiap metode dan teknik yang dikembangkan pada e-learning. Dua tipe dasar e-learning yang saat ini berkembang adalah asynchronous dan synchronous e-learning. Sampai saat ini, tipe asynchronous lebih banyak diandalkan untuk pengajaran dan pembelajaran. Namun, seiring dengan perkembangan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

15

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

teknologi dan peningkatan kapasitas bandwith koneksi internet, tipe synchronous menjadi pilihan tersendiri (Hrastinski, S: 2008), (Rahayu, T: 2007). Blended Learning Blended-learning merupakan salah satu pendakatan dari e-learning, yang mengkombinasikan berbagai komponen pembelajaran - seperti ruang kelas, konten online, email, forum diskusi, learning management system (LMS) - dan pengalaman belajar – seperti pembelajaran individual atau berbasis kelompok - untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Blended learning mengkombinasikan tipe asynchronous dan synchronous pada pelaksanaannya. Bahkan pada prakteknya sesi ‘tatap-muka’ tidak hanya dilaksanakan secara virtual melalui chat atau email saja namun dilaksanakan di dalam kelas yang notabene merupakan cara konvensional. Tentu saja hal ini meningkatkan fleksibilitas pada pelaksanaannya. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Sehingga secara umum, blended-learning menyediakan hampir semua kebutuhan dari mahasiswa yang antara lain berkaitan dengan apa saja isi pembelajaran, waktu pembelajaran, tempat pembelajaran dan bagaimana cara belajarnya. Disamping itu pengalaman belajar mahasiswa juga akan bertambah. Blended Learning pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasis kompetensi. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi dari perkuliahan. (Rahayu, T: 2007). Berdasarkan SK Mendiknas No 232/U/2000, struktur kurikulum harus berdasar pada tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Sehingga secara garis besar, KBK bisa diartikan sebagai kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama pada tahap pengembangan ide dipengaruhi oleh kemungkinankemungkinan pendekatan, sehingga kompetensi bisa menjawab tantangan yang muncul (Rahayu, T: 2007). Pada KBK, mahasiswa diberi kesempatan secara terbuka untuk bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Jika ternyata peserta didik gagal, maka dosen harus memberikan remedial teaching. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa namun membingungkan pengampu mata kuliah. Untuk melaksanakan remedial theacing, dosen harus membagi kelas menjadi dua bagian. Satu kelas, terdiri dari mahasiswa yang tidak remedial teaching, kelas lainnya yang mengikuti remedial teaching. Hal ini tentu saja merepotkan terlebih jika ternyata pada kompetensi berikutnya ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, sehingga perlu remedial teaching juga. Untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan remedial teaching tersebut tersebut, penggunaan blended learning sangat tepat digunakan. Skenarionya semua komponen blended learning dilaksanakan, selanjutnya jika terjadi remedial teaching digunakan komponen asynchronous, dengan mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan untuk kompetensi berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga ketika mahasiswa harus remedial maka ia tidak harus membuat kelas terpecah dalam kelas kecil. Sebagai gambaran, blended learning dilaksanakan seperti pada Gambar 1. (Arai, K: 2010). METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research) yang difokuskan pada proses pembelajaran remidial. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan partisipan karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Subjek, Objek, Waktu dan Tempat Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang pada tahun akademik 2011/2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika, khususnya mahasiswa

16

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

(2) melaksanakan penerapan blended learning pada perkuliahan remedial . Pada tahap perencanaan peneliti menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan berupa lembar observasi dan angket. serta peningkatan kognitif berupa peningkatan kompetensi akibat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. (3) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan setelah tindakan dilakukan. dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati jalannya pelaksanaan penerapan blended learning pada perkuliahan. Tiap-tiap kelompok ditugaskan melakukan kegiatan diskusi menyelesaikan tugas baik secara langsung. baik secara langsung atau lewat email (dilakukan oleh ketua sebagai pengajar). Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan sebagai berikut: (1) membuat silabus yang dilengkapi dengan RPP. tahap perencanaan atau penyusunan prototype. yang dilakukan adalah (1) menyusun RPP. Peneliti memotivasi siswa untuk mau mencari informasi yang dibutuhkan dan mau mempelajarinya. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/ tindakan hal-hal yang dilakukan adalah penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. sedangkan objek penelitian ini adalah peningkatan afektif yang berupa peningkatan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dengan mencari informasi pengetahuan yang dibutuhkan. menyusun handout. untuk memberikan materi dalam rangka remedial teaching. Tahap observasi dan evaluasi. dan menyusun rancangan tugas. masing-masing kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi lapangan. perancangan tugas. (2) mengembangkan media berbasis website atau learning management system (LMS). tahap analisis dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut. serta kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. sesuai dengan tugas yang telah dirancang oleh dosen. karena sebagian besar data yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi. Tahap analisis dan refleksi dilakukan pada masing-masing siklus yaitu pada siklus 1. Sedangkan refleksi dilakukan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 17 . (5) Tanggapan mahasiswa tentang penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya lewat millis apabila ada kesulitan. Analisis dilakukan dengan cara : peneliti mengumpulkan hasil observasi dan angket kemudian dianalisis bagian mana dari bahan yang belum dikuasai mahasiswa serta ditandai siapa saja mahasiswa yang belum tuntas dan tanggapan siswa (persepsi siswa) terhadap proses yang dilakukan. Data dan Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi keseluruhan kegiatan pelaksanaan mulai awal sampai akhir sebagai berikut: (1) Proses kegiatan penyusunan handout. Fokus pengamatan ditekankan pada peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa. Mahasiswa diharapkan mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan hasil diskusi. tahap pelaksanaan tindakan. dan atau menggunakan millis. (4) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. Pada fase pertama mengidentifikasi mahasiswa yang memerlukan remidial teaching pada KKD-1 dengan cara mahasiswa diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang mengalami remedial teaching. Pada fase kedua mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. dan angket untuk mahasiswa. Waktu penelitian selama 6 (delapan) bulan dimulai bulan Juni sampai dengan Nopember 2011. Langkah-langkah Operasional Kegiatan Pelaksanaan Penelitian Secara umum. (2) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan sebelum tindakan dilakukan. Pada tahap persiapan. langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Tempat penelitian adalah di prodi pendidikan matematika JPMIPA FKIP UNS. Sedangkan pada fase ketiga memberi kesempatan mahasiswa untuk menanyakan hal yang belum jelas pada dosen.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dengan cara: data hasil analisis dikoreksi dan didiskusikan bersama untuk perbaikan siklus selanjutnya. dan digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum dikuasai oleh mahasiswa. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran a. Sedangkan KKD-1 pertemuan ketiga berisi negasi dan nilai kebenaran . seperti: Pengertian hal-hal yang tak didefinisikan. dan (D) jika sangat tidak setuju dengan isi pernyataan tersebut. Pada setaiap akhir bahan ajar diberi lembar tugas. Untuk KKD-1 pertemuan kedua berisi fungsi dan perangkai logika. b. Pernyataan yang berkaitan dengan perkuliahan biasa terdiri dari 25 pernyataan. pembuktian dengan induksi matematika. (B) Jika setuju . Lembar angket dibuat untuk menggali kemandirian mahasiswa dalam perkuliahan baik pada perkuliahan biasa atau perkuliahan dengan pendekatan blended learning. lemma. serta lembar tugas yang akan diberikan mahasiswa. seperti: bentuk umum kuantor. aksioma. Instrumen Penelitian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk melihat aktifitas mahasiswa didalam kelas. (C) Jika tidak setuju. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan kedua berisi penarikan kesimpulan dan pembuktian seperti : penarikan sahih dan tak sahih. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan pertama berisi konsep kuantifikasi. 18 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Mahasiswa diminta memilih huruf (A) Jika sangat setuju. dan (D) Jika tidak pernah mengerjakan sebagaimana isi pernyataan tersebut. postulat. (B) Jika sering mengerjakan. Berdasar hasil analisis dan refleksi pada siklus I. adalah bahan ajar perkuliahan dasar-dasar matematika untuk KKD-1 dan KKD-2. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini. Lembar observasi yang dibuat berisi indikator untuk mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Bilamana kenaikannya belum mencapai angka 10 persen maka dikatakan belum ada peningkatan afektif dan kognitif dan perlu mengulang pada siklus II. Adapun materi angket difokuskan pada hal-hal berikut ini. teorema. hukum silogisma hipotetik dan berbagai macam modus. Pada pernyataan no 26-40. Perangkat penunjang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah mailing list yaitu suatu group dari email mahasiswa peserta kuliah dan dosen untuk digunakan mahasiswa agar bisa berdiskusi lewat dunia maya. kuantor dengan beberapa variabel dan proposisi berkuantor. Perangkat Utama Perangkat Pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini adalah Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). hubungan kuantor. dan kontingensi. definisi. Instrumen bantu yang dikembangkan dalam penelitian ini selain lembar observasi adalah angket untuk melihat bagaimana aktivitas mahasiswa dan tanggapan mahasiswa dengan kuliah menggunakan pendekatan Blended learning. Bahan ajar tersebut disajikan dalam bentuk power point. mahasiswa akan memilih huruf: (A) Jika selalu mengerjakan. Pada pernyataan no 1-25. HASIL PENELITIAN 1. seperti argumen dan validitas. bahan ajar. tahap persiapan dan perencanaan pada siklus I diperbaiki untuk dilaksanakan pada siklus II. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan ketiga berisi mengenal silogisma. kontradiksi. Indikator keberhasilan dari siklus 1 ini dapat dilihat adanya peningkatan kemauan belajar mandiri dan kemauan menyelesaikan tugas yang ditandai dengan kenaikan prosentase sebelum tindakan. Untuk KKD-1 pertemuan pertama bahan ajar pertemuan pertama berisi konsep aksiomatika dalam matematika. Perangkat lain yang dikembangkan adalah email yang bisa digunakan mahasiswa untuk menanyakan materi atau tugas kepada dosen. (C) Jika jarang mengerjakan. Perangkat Pendukung Perangkat pendukung yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Blog untuk meng-upload bahan ajar dan tugas serta review hasil tugas maupun perkuliahan. Sedangkan pernyataan yang berkaitan dengan model kuliah Blended Learning terdiri dari 15 pernyataan. seperti : proposisi kata hubung logika dan pengembangan kata hubung. serta pembuktian langsung dan tak langsung. seperti : tautologi.

sudah didiskusikan dengan teman yang lain? f) Dosen membahas materi atau tugas yang sudah diupload dan materi atau tugas tersebut dianggap sulit oleh mahasiswa. Berdasar hasil observasi tersebut dibuat perencanaan pembelajaran dengan metode Blended Learning. c) Pada awal perkuliahan Dosen menanyakan pada mahasiswa apakah mereka sudah mendownload materi KD01-01? d) Dosen menanyakan apakah mahasiswa ada yang mengalami kesulitan materi yang sudah didownload. Selain itu. Untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. materi perkuliahan. dengan urutan sebagai berikut: a) Mempersiapkan RPP. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen. dengan sebelumnya dilakukan remidial teaching. Hasil Penerapan Blended Learning Penelitian penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi studi kasus pada mahasiswa yang tahun akademik 2011-2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika terdiri dari 2 siklus.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 2. k) Remidial teaching dilakukan dengan cara memberi tugas untuk mempelajari materi yang sudah diupload. kemudian menyuruh mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapatan di dalam kelas. Siklus I 1) Tahapan Perencanaan Berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa yang mengikuti kuliah dasar-dasar matematika pada tahun akademik 2011/2012. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. g) Dosen memberikan soal tambahan di kelas. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. b) Sebelum perkuliahan dilakukan. dengan ketentuan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 diberi kesempatan melakukan ujian kedua. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. l) Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen. untuk memperoleh data yang akurat. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 19 . dimana dari 67 mahasiawa tersebut 34 mahasiswa adalah mahasiswa baru angkatan 2011. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. dengan rincian sebagai berikut : a. i) Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. dan mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas dan dikumpulkan melalui email. semuanya berjumlah 67 mahasiswa. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. Sedangkan sisanya yaitu 33 mahasiswa adalah mahasiswa pengulang. j) Pada pertemuan ke 4 dilakukan uji kompetensi dengan materi KD01. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. Berdasarkan Hasil angket tentang kemandirian mahasiswa didapatkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar masih rendah. lembar tugas yang akan dibicarakan. h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. mahasiswa dapat mendownload KD01-01). e) Dosen menanyakan apakah materi yang susah dipahami.

5%.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil wawancara dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. menjadi bentuk yang lain.5%. (1) Kemandirian mahasiswa masih rendah. b. meskipun demikian dengan penerapan model pembelajaran yang dirancang rata-rata kemandirian mahasiswa meningkat untuk tiap perkuliahan yaitu dari 25.5%) Lulus KD01 57 dari 67 Peserta 85. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. dan peningkatan prosentase mahasiswa yang lulus tidak perlu remedial teaching.4% yang lulus UK01. Berdasarkan hasil UK KD01 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa adalah sebagai berikut ini. Siklus II Pada siklus ini dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus I.6%) Peserta Uji Remidi 54 44 (81. (3) Untuk bertanya pada dosen melalui email memang agak tidak enak. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 81. Adapun ukuran hasil tindakan pada siklus II ini dikaitkan dengan hasil tindakan pada siklus I apabila ada peningkatan kemandirian mahasiswa dalam belajar. Adapun hasil dari observasi dan wawancara dapat dirangkum sebagai berikut ini.6% pada pertemuan I. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga belum menggembirakan hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini.4%) 54 (80. (2) Terkadang Hot Spot di Kampus tidak berjalan dengan lancar.1%.5%) 10 (18. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 19. mencari literature lain. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. kemampuan bertanya rendah. Selain itu perlu ditinjau ulang tentang perlu tidaknya membangkitkan mahasiswa untuk mau mengerjakan tugas. dan meningkatkan lulusan mahasiswa yang mengikuti remedial teaching. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 85.4% pada pertemuan ke II. kemudian naik menjadi 34. 1) Tahapan Perencanaan 20 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . (4) Kalau tugas itu tidak dikumpulkan maka semangat mengerjakan tugas itu agak berkurang. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. Tabel 1 Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus I Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 13 (19.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 peneliti juga melakukan wawancara tidak tersetruktur terhadap beberapa mahasiswa tentang materi yang dirasakan sulit oleh mahasiswa Berdasarkan hasil wawancara tidak tersruktur pada beberapa mahasiswa didapatkan tambahan informasi bahwa masalah perkuliahan KD01: (1) mahasiswa merasa masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi) sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 42. Meskipun demikian perlu dilakukan perbaikan khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar yaitu mengubah pola tanya jawab dosen mahasiswa lewat email. (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. keberanian untuk mengeluarkan pendapat juga masih rendah. sehingga masalah mendownload juga masalah tersendiri bagi mahaisiswa.

Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus II Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 43 (64. Tabel 2. Pada siklus II ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti.edu.com. mahasiswa dapat mendownload KD01-01) dan diemailkan ke fun. sebagai berikut ini: (b) Sebelum perkuliahan dilakukan. i) . sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir.uns@gmailgroup. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. dibuat perencanaan pembelajaran dengan model blended learning. peneliti juga melakukan pengambilan data melalui angket tentang pembelajaran dengan blended learning pada perkuliahan dasar-dasar matematika.com sehingga semua mahasiswa sudah terkirim. Materi akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. untuk memperoleh data yang akurat. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen (untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. mencari literature lain.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil angket yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. (i) i.math. dan l) juga diubah bagaimana tugas itu harus dibuat oleh mahasiswa. (h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan memberi tugas untuk dikumpulkan. Tugas boleh didiskusikan melalui group maillist yang sudah dibuat.8%) Peserta Uji Remidi 24 18 (75%) 6 (25%) Lulus KD01 61 dari 67 Peserta 91. Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen atau didiskusikan dengan teman melalui fun. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen atau silahkan didiskusikan melalui milling list. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. demikian juga untuk bisa terjadi interaksi dengan sesama teman dan tidak hanya bertanya pada dosen maka dibuatkan forum diskusi lewat miilling list agar sesama mahasiswa dapat berdiskusi lewat internet. Selain itu. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. dengan urutan sama seperti pada siklus I hanya diubah pada langkah b) yaitu cara menyampaikan materi tidak hanya lewat blog tetapi diemailkan ke mahasiswa dengan cara mahasiswa dibuatkan milling list. kemampuan bertanya. hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 21 .math.2%) 24 (35. Berdasarkan hasil UK KD02 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa sudah meningkat sebagai berikut ini: (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan.uns@gmailgroup.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. dan (l). masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. Disamping itu pada langkah h).edu. keberanian untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai meningkat. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga mengalami peningkatan.

MK dan Suesawaluk. dan mailing list . Pemanfaatan E-Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi.H.3% pada pertemuan ke II. lembar tugas. 51 – 55. Proceeding of International Conference on Open Source for Higher Education. Kurikulum Berbasis Kompetensi.2%. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 48. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model blended learning dapat digunakan untuk melaksanakan remedial teaching untuk perkuliahan yang menerapkan kurikulum berbasisis kompetensi. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. Eduneering. Sebelas Maret University. Open Source Software for Blended Learning. S. Jakarta: Depdiknas. PENUTUP Berdasarkan hasil maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut ini : 1. khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. 2007. Disampaikan pada Workshop on e-Learning in Higher Education.9% yang lulus UK02. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 75%. p: 964 – 968 Depdiknas. 2007. 2008. K. B. email. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar dan bekerja sama dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kognitif pada mata kuliah dasar-dasar matematika. T. C. King Fahd University of Petroleum and Minerals. E dan Gerbic. 2002. Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika UNS 22 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Bloomburg. (1) Kemandirian mahasiswa sudah mengalami peningkatan.2010. Benefits of Blended E-learning.8% pada pertemuan I. Jakarta: Depdiknas. Hrastinski. _________ 2009. Khan. DAFTAR PUSTAKA Arai. P. 2. Nayak. Proceeding of Ascilite Melbourne. bahan ajar. Silabus Dasar-dasar matematika. KM dan McKeague. P. Advantages and Disadvantages of eLearning Management System. Blended Learning for Compliance Training Succes. Asynchronous and Synchronous E-Learning: A study of asynchronous and synchronous e-learning methods discovered that each supports different purposes.1 -22. Perangkat pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini berupa silabus.7 Rahayu. RPP. Bina Widya Vol 18 p: 16-24 Stacey. 2002. 2002. media berupa blog. Educause Quarterly. Kapp.1%.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. Adapun peningkatan prosentase kemandirian karena penerapan model pembelajaran yang dirancang ratarata yaitu dari 41. Depdiknas. Adapun hasil dari observasi dapat dirangkum sebagai berikut ini. Proceeding of Fourth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society. 2010. Meskipun demikian masih perlu dilakukan perbaikan terus menerus diperkuliahan pada KD03 dan KD04. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 91. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 64. 3. kemudian naik menjadi 46. Volume 4 p. 2008. Succes Factor for Blended Learning. p:22. Dari dua siklus penerapan perkuliahan blended learning telah mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa dan kemampuan kognitif mahasiswa.

Imam Sujadi2 1) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPY Jl. merencanakan penerapan ide. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. serta tidak menemui kesulitan. mengembangkan kemampuan berpikir kritis. kritis dan kreatif. Dalam tahap menerapkan ide. tidak pasti. PGRI I Sonosewu Yogyakarta 2)Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam membangun ide. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. mekanistik. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Kompetensi tersebut dikembangkan dalam diri siswa. Adapun kemampuan berpikir tingkat tinggi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 23 . dan kompetitif (BSNP. mengelola. agar siswa memiliki kemampuan memperoleh. dan rutin. mensintesis ide. Dalam pembelajaran matematika. dan kemampuan bekerja sama. 2006: 416). dan produktif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kemampuan berpikir tingkat rendah (low order thinking) atau kemampuan dasar (basic skill). matematika mempunyai peran yang sangat sentral dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama sehingga mereka siap menghadapi segala perubahan dalam segala bidang kehidupan. 2007). karena tingkat kompleksitas dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi (I Gusti Putu Sudiarta. konsep matematika. yaitu berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas V SD berkemampuan matematika tinggi (skor ≥75) yang banyaknya minimal 1 orang subjek. sistematis. Artinya. Dalam tahap merencanakan ide. dan jika melakukan kesalahan. yakin dengan jawaban yang diberikan. tidak melakukan kesalahan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya untuk menganalisis proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. Kata Kunci: proses berpikir kreatif. dan produktif tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi: dalam tahap membangun ide. kreatif. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. kemampuan berpikir kritis. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. Dalam tahap mensintesis ide.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR (SD) BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Abdul Aziz Saefudin1. kreatif. Kemampuan dasar dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. Selain itu. analitis. dan menerapkan ide tersebut dalam pemecahan masalah matematika. pemecahan masalah matematika PENDAHULUAN Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal.

divergen. yaitu menuntut aktivitas kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah matematika dari beragam perspektif. Sementara Krulik dan Rudnick (1995: 3) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif meliputi tahapan-tahapan membangun suatu ide. iluminasi. intuitif. dan verifikasi. fleksibilitas. tetapi juga cara mengonstruksi segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya (I Gusti Putu Sudiarta. 2007). maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian. Campbell. merencanakan penerapan ide. tidak mengherankan jika banyak penemuan baru dan terobosan ilmu pengetahuan dari hasil pola berpikir lateral. sekuensial. Pola berpikir vertikal terkait dengan bernalar dalam matematika sehingga lebih memfungsikan otak kiri yang bersifat logis. Sejalan dengan pendapat Silver tersebut. 2009: 146. Produk dari proses berpikir kreatif adalah berbagai kreativitas. fleksibilitas. kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah matematika terbuka. dan kebaruan. linier. tidak hanya mencari jawaban yang benar dalam pemecahan masalah matematika. berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru (Ruggiero dan Evans dalam Tatag Yuli Eko Siswono. 1986: 18) mengemukakan empat tahap berpikir kreatif. Kriteria kreativitas pemecahan masalah menurut Silver (1997) diindikasikan dengan kefasihan. Barak dan Doppelt (2000) mengemukakan bahwa berpikir kreatif merupakan sintesis antara berpikir vertikal dan berpikir lateral. pembelajaran tidak hanya menekankan pada penyelesaian masalah tertutup atau mempunyai solusi tunggal. 2011).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 bersifat divergen. Sementara pola berpikir lateral menggunakan berbagai fakta yang ada. dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. dan elaborasi (penyempurnaan). Kefasihan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan memberi jawaban yang beragam dan benar. Maksudnya. dan rasional. Proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika mempunyai beberapa tahapan. 2008: 445. 2007). Selain itu. Oleh karena itu. Rosnawati. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika. yaitu preparasi. dalam pemecahan masalah matematika. dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. Originalitas menunjukkan strategi pemecahan masalah yang baru dan berbeda dengan strategi yang biasa ia atau orang lain gunakan. 1997). Solso. dan holistik (R. Fleksibilitas ditunjukkan dengan kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. Alhasil. Dalam pola berpikir lateral. menentukan hasil akhir apa yang diinginkan. bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. sedangkan elaborasi merupakan bagian dari proses berpikir di mana ide/solusi original yang muncul dengan cepat harus direspon dengan cepat sehingga ide/solusi tersebut tidak menjadi lapuk. tetapi dapat menggunakan pendekatan masalah terbuka atau open-ended approach (Becker dan Shimada dalam Hashimoto. Sementara kebaruan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa menjawab/menyelesaikan masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya. Selanjutnya Pehkonen (1997) menyatakan. dan menerapkan ide tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Secara khusus. Beberapa jawaban dikatakan beragam jika jawaban-jawaban yang diberikan siswa tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu. 2007). kemampuan berpikir kreatif menurut Lee (2005) melibatkan kefasihan. originalitas. Oleh karena itu. Berpikir vertikal menurut Edward de Bono dalam Barak dan Doppelt (2000) merupakan pola berpikir yang dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. Wallas (dalam Oemar Hamalik. inkubasi. mensintesis ide-ide. untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. fungsi otak yang digunakan menggunakan otak belahan kanan yang bersifat acak. Beberapa jawaban tersebut dikatakan berbeda jika jawaban tersebut tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu (Tatag Yuli Eko Siswono. tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa sekolah 24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . tidak teratur.

Subjek mensintesis ide dengan cara menjumlahkan dua bilangan melalui kombinasi atau salah satu cara dari sifat pengelompokan. sajian data dan penarikan kesimpulan sekaligus verifikasinya (Miles. strategi. 2008: 92-99). cara bersusun. dan instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara. dan menerapkan ide dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Manfaat penelitian ini yang lain adalah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika baik bagi siswa maupun guru. Instrumen bantu berupa instrumen bantu pertama yaitu tes tertulis penentuan kemampuan matematika siswa. subjek tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru untuk menyusun model. dan cara biasa. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Manfaat hasil penelitian adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap dunia pendidikan. instrumen bantu kedua yaitu tes tertulis pemecahan masalah bilangan bulat. Subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar. Selanjutnya dalam tahap merencanakan penerapan ide. Pertimbangannya bersifat konseptual. Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu instrumen utama dan instrumen bantu. mensintesis ide. merencanakan penerapan ide. setelah sebelumnya menggunakan metode tes. Selain itu. Selain itu. subjek mensintesis ide dengan cara mencari KPK dua bilangan yang diketahui dan menggunakan cara grafik. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Demangan Baru Sleman DIY yang pernah memperoleh materi pokok bilangan bulat dan dimungkinkan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga eksplorasi tentang proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan. Selain itu. Pertimbangan ide digunakan bersifat konseptual. Jika terdapat kesalahan penyelesaian.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dasar (SD) yang meliputi tahap membangun ide. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan peneliti sebagai instrumen utama. dan konsep grafik. Dalam menyelesaikan soal pertama. dan Spradley dalam Sugiyono. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Subjek melakukan tahap menerapkan ide dengan cara penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. subjek merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 25 . khususnya dalam bidang psikologi kognitif berupa deskripsi proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika bagi siswa berkemampuan matematika tinggi. Dalam menyelesaikan soal kedua. Subjek menerapkan ide penyelesaian yang fasih dan fleksibel. Pada tahap mensintesis ide. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. dan metode pembelajaran yang tepat. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui pada soal dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Huberman. Apabila terdapat kesalahan penyelesaian soal. Wawancara dilakukan untuk menggali proses berpikir subjek dalam pemecahan masalah materi pokok bilangan bulat. Analisis data penelitian kualitatif menggunakan tiga komponen utama yaitu reduksi data. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pewancara (peneliti sendiri). tetapi tidak terdapat unsur kebaruan. subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar serta tidak menemui kesulitan. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengungkap proses berpikir kreatif siswa sekolah dasar dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. pendekatan. konsep KPK.

subjek berkemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan soal dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika 26 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Subjek juga nampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dalam menyelesaikan soal ketiga. Oleh karena itu. dapat disimpulkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut: dalam tahap membangun ide. konsep matematika (pemfaktoran. operasi bilangan). siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Subjek berkemampuan matematika tinggi merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memperbaiki kesalahan tersebut dengan cepat dan tepat. Pada subjek berkemampuan matematika tinggi. meski terkadang kurang tertantang pada soal-soal yang dianggap mudah diselesaikan. subjek berkemampuan matematika tinggi menyelesaikan soal dengan mengkaitkan bilangan-bilangan yang diketahui. Akibatnya. akan tetapi juga berasal dari pengalaman yang pernah diamati atau dipelajari di lingkungan sekitar siswa. Kalaupun melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. konteks pertanyaan soal. sedangkan intuitif maksudnya berdasarkan perasaan siswa. subjek ini merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Keyakinan atas kebenaran jawaban yang diberikan juga memberikan karakteristik yang khas pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Jika siswa mengalami kesulitan maka mereka dapat segera mengatasinya. pertimbangan membangun ide tersebut cenderung bersifat konseptual dan intuitif. Dalam tahap mensintesis ide. tetapi kelompok kreatif juga menggunakan ide-ide yang jarang ditemui pada siswa kebanyakan. Selain itu. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). subjek berkemampuan matematika tinggi berusaha menyelesaikan soal dengan cara penyelesaian atau jawaban yang beragam sebanyak-banyaknya. subjek mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara baru secara fasih dan fleksibel. Ide bukan hanya dari apa yang diketahui dalam soal. Subjek ini juga tidak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. Pertimbangannya bersifat konseptual dan intuitif. Ide penyelesaian diperoleh subjek dari pengalaman belajar di dalam kelas dan pengalamannya belajar di lingkungan sekitar. Pada tahap penerapan ide. cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal umumnya dapat diterapkan untuk menghasilkan suatu solusi yang kreatif. subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. menentukan KPK. Subjek mensintesis ide dengan cara pemfaktoran dari bilangan yang diketahui dan memperkirakan berat suatu benda. Ide-ide tersebut sangat beragam. Cara-cara penyelesaian tersebut digunakan untuk mensintesis ide-ide yang telah dimunculkan pada langkah membangun ide. konsep matematika (operasi penjumlahan dan pengurangan melalui sifat pengelompokan. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). Pada tahap mensintesis ide. misalnya dari pengalaman belajar di lingkungan sekitarnya. Konseptual maksudnya berdasarkan konsep yang pernah dipelajari oleh siswa. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. konteks pertanyaan soal. Subjek merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. cara bersusun. subjek membangun ide penyelesaian dari konsep pemfaktoran. konsep matematika. Dalam menerapkan ide. Subjek selalu berusaha untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh dengan saksama. Pada tahap merencanakan penerapan ide. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaji bahwa pada tahap membangun ide. pembagian) dan kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu (pengetahuan dari pengalaman sehari-hari). Selain itu. subjek berkemampuan matematika tinggi juga tidak menemui kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan soal. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian. penjumlahan dan pembagian bilangan. Oleh karena itu. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan banyak cara. Subjek berkemampuan matematika tinggi beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. dan cara biasa. subjek berkemampuan matematika tinggi membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Ide-Ide penyelesaian tersebut tidak hanya berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. subjek berkemampuan matematika tinggi cenderung memunculkan ide dengan produktif dan lancar.

Rosnawati. Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. disadur oleh A. Juni 1997. 2005. Sugiyono. Tatag Yuli Eko Siswono. Maclin. 1995. dan Maclin. 1997. Psikologi Kognitif. 14 Mei 2011. 1997. Volume 29. Otto H.de/fiz/publications/zdm. Edward A. Solso. The State of Art in Mathematical Creativity. 2011. dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam mengajar matematika. Program Studi Pendidikan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 27 . Kyung-Hwa. 2008.vt. 2006. Erkki. http://www. Number 2. DAFTAR PUSTAKA Barak. Mangunhardja.edu/wpcontent/uploads/2009/10/Thinking-Classroom-dalam-Pembelajaran-Matematika-diSekolah. Lee. Kritis. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Robert L.de/fiz/publication/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3. (3) kepada para guru. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). Dalam tahap merencanakan ide. Pehkonen.karlsruhe. Stephen. Berdasarkan kesimpulan. diunduh pada 24 Juni 2010.karlsruhe. M. _____________________. http://www. guru hendaknya menekankan kemampuan berpikir kreatif siswa. dan jika melakukan kesalahan. Jesse A. serta tidak menemui kesulitan. 3. guru dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa dengan menggunakan strategi pemecahan masalah matematika. M. No. ISSN 1443-1475. Berpikir Lateral dalam Pembelajaran Matematika. Dalam tahap menerapkan ide. 2000. dan Kreatif.karlsruhe. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Campbell. Using Portofolio to Enhance Creative Thinking. dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian. http://math. http:/scholar. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA: Menuju Profesionalitas Guru dan Tenaga Pendidik.lib. dan Rudnick.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Juni 1997. Artikel diunduh di http://suaraguru..sps. The Journal of Tecnology Studies Summer-Fall 2000. dan peneliti. 2007. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen.net. 2009. 1997. diunduh pada 24 Juni 2010.ejb.pdf. tidak melakukan kesalahan. Hashimoto. Buletin Pendidikan Matematika. The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers. 3. 2008. Electronic Edition ISSN 1615-679X. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. dalam International Education Journal. Metodologi Penelitian Kualitatif. Diunduh pada 24 Juni 2010. I Gusti Putu Sudiarta. Electronic Edition ISSN 1615-679X. http://iej. BSNP. diunduh pada 24 Juni 2010. Universitas Negeri Yogyakarta. Oemar Hamalik.fiz. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Massachusetts: Allyn & Bacon.de/fiz/publications/zdm. Jakarta: Erlangga. Volume 29. Pendidikan dan Penerapan MIPA. (2) dalam mengajar matematika. 1896.upi. 2008. dosen. didownload 24 Juni 2010.fiz. Yaron.wordpress. Volume XXVI. 2004. hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk kajian dalam pembelajaran dan pengembangan penelitian lanjutan yang sama temanya atau berbeda temanya. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan SD/MI. Yoshihiko. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda. yakin dengan jawaban yang diberikan. Silver. diunduh pada 24 Januari 2011. No.com pada tanggal 22 Desember 2009. terj. R. Kimberly. Krulik. Fakultas MIPA. Bandung: Alfabeta. Edisi Kedelapan. http://www.. Moses & Doppelt. Jakarta: Kemendiknas. The Methods of Fostering Creativity through Mathematical Problem Solving. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel.edu/ejournals. Mengembangkan Kreativitas. mampu memperbaiki kesalahan tersebut.fiz. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Thinking in Problem Posing.

Volume 6. 28 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Matematika FKIP Universitas Pattimura.com pada 23 Desember 2009. 2. Oktober 2004.wordpress. diunduh pada 2 Juni 2010. ISSN 1412-2278. Pembelajaran Matematika Humanistik yang Mengembangkan Kreativitas Siswa. 2007. No. _____________________. Ringkasan disertasi diunduh dari http://suaraguru. 2007. Ambon. _____________________. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika. Makalah disampaikan pada ‘Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang Memanusiakan Manusia’ di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 28-30 Agustus 2007.

pemaparan data. meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. Metode pengambilan data adalah wawancara berbasis tugas. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. Walaupun proses berpikir analitik dan logik memainkan peranan penting dalam merepresentasikan struktur logika pengetahuan matematika. tidak menggunakan intuisi. Kognisi formal juga perlu bagi matematikawan untuk berkomunikasi dengan sesama matematikawan dalam suatu asosiasi matematika. dalam membuat rencana penyelesaian. Kognisi formal menyediakan cara ketat memahami pengetahuan matematika. Kognisi formal merujuk kepada kognisi yang dikontrol oleh logika matematika dan bukti melalui induksi matematika atau deduksi (Fischbein. namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. 1994). Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data. ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KARAKTERISTIK INTUISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH METEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya ditinjau dari perbedaan gender. Proses membangun pengetahuan matematika tanpa disadari menghasilkan pengenalan tentang kepastian atau ketakpastian. penafsiran data dan penarikan kesimpulan. gender PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. Sehingga dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. mengejar ketepatan dan cara-cara formal hanyalah hasil akhir dari aktivitas matematika. antisipatori. afirmatori. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. 1966). Diantaranya adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika. Akan tetapi. Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan masalah. maka siswa seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. masalah matematika. tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan masalah matematika bila telah dibeRikn caranya oleh Dosen. (2) Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Serupa dengan itu. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. persepsi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 29 . dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Karena itu diasumsikan bahwa aktivitas mental seseorang terdiri atas kognisi formal (formal cognition) dan kognisi intuitif (intuitive cognition) dari pengetahuan matematika. misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab. berbagai dosen atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Kata Kunci : Karakteristik intuisi. gender. dalam membuat rencana penyelesaian. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. verifikasi atau penyangkalan tanpa pembuktian (Kossak. Dengan kondisi demikian. Subyek penelitian sebanyak 2 siswa terdiri dari 1 siswa lakilaki dan 1 siswa perempuan.

Lebih jauh. (4) Extrapolativeness. dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling dari keyakinan. (2) kepastian intrinsik (intrinsic certainty). (3) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung. dapat diterima langsung. Selain karakteristik afirmatori. Hal tersebut disebut kognisi intuitif (intuitive cognition). Contoh. (5) keseluruhan (globality) adalah intuisi yang berlawa-nan dengan kognisi yang diperoleh secara logika. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika. Karakteristik intuisi tersebut adalah (1) kognisi langsung. holistik. yaitu intuisi merupakan kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut . yaitu karakteristik intuisi yang berkaitan untuk memecahkan masalah. kebenaran pernyataan bahwa jumlah sudut-sudut pada suatu segitiga adalah 1800 diyakini karena telah membuktikannya. 30 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . bersifat memaksa dan ekstrapolatif. Poincare (dalam http://www-history. interpretasi.st-andrews. tidak jelas apakah dapat dikembangkan kreativitas matematika melalui pengembangan kognisi formal. Konsep intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang self evident. Akan tetapi kognisi formal tidak menjelaskan setiap langkah berpikir dalam aktivitas matematika. terasa seperti sudah suatu ketentuan. yaitu intuisi feeling tertentu dari kepastian intrinsik. (3) pemaksaan (coerciveness). (2) intuisi tersebut menyajikan karakter global. Siswa mungkin sangat yakin akan kemampuan logika dan penalaran dalam pembuktian matematik yang ketat. yaitu intuisi yang kaitannya dengan kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris. kognisi self evident (direct. self evident. Fischbein juga mengemukkan karakteristik intuisi lain disebut karakteristik intuisi antisipatori. atau intuisi (intuition). self evident cognitions). Karena itu diduga bahwa ada aktivitas mental berbeda dengan kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematik. yaitu intuisi yang menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual dan pada seleksinya dari hipotesis dan penyelesaian. tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik . seperti membuat dugaan atau klaim pengetahuan baru.uk /Extras/ Poincare _Intuition. (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya. Karakteristik dari intuisi antisipatori adalah sebagai berikut: (1) intuisi tersebut muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. Lebih lanjut. representasi.ac. Lima karakteristik intuisi yang dikemukakan Fischbein di atas merupakan karakteristik afirmatori yaitu karakteristik intuisi yang berupa pernyataan. Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris). berurutan dan secara analitis. Pernyataan tentang garis lurus di atas adalah subjektif. Sebagai contoh: jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. Akan tetapi hanya sedikit siswa yang berhasil dengan baik dalam aktivitas menggunakan pengetahuan formal mereka dan mungkin sekali menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah matematika. meniru seperti prosedur pengetahuan ekperimental (3) intuisi dari bilangan murni yang dapat mencapai berpikir matematika secara nyata.yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indra dan imajinasi. Tetapi kebenaran pernyataan jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus tanpa harus membuktikannya baik secara formal ataupun secara empiris. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat non intuitif. yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat nampak dari suatu kognisi intuitif. global dan kecukupan secara instrinsik. meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan.html) membeRikn tiga jenis intuisi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 terhadap pengetahuan formal sangat perlu bagi siswa untuk maju ke tingkat pengetahuan matematika yang lebih tinggi.mcs. Pengembangan kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan formal tidak sama dengan kreativitas bermatematika yang sangat diperlukan dalam “doing” mathematics.

1980. 2001). dengan coba-coba atau contoh-contoh. 1986. mengukur.”. yaitu : (1) analyzing and understanding problem. 1998). tentunya berkaitan erat dengan tahap-tahap pemecahan masalah yang dilakukan. b. sedangkan jenis intuisi yang disampaikan oleh Pincare berupa sesuatu yang mendasari adanya intuisi. Setelah itu beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda.. 3) Intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara real. dalam memahami fakta. “Gender. pemerkiraan atau global. penggiringan. Halpern. 2) Intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. M. memberikan gambaran bahwa jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein berupa bentuk intuisi. Dari perbedaan psikologis dan biologis. Reis & Park. Adanya perbedaan hasil temuan dari para peneliti mengenai peran gender dalam belajar matematika menunjukkan masih terbukanya ranah penelitian untuk mengungkap peran gender khususnya dalam mempelajari topik-topik tertentu dalam matematika. Menurut Fischbein (1999). memanipulasi benda. Oleh karena itu pada penelitian ini jenis-jenis intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika meliputi dua bagian. social. Polya (1973) menyusun prosedur memecahkan masalah dalam empat langkah. maka intuisi berperan dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Keitel (1998). membayangkan. seperti prosedur pada ilmu pengetahuan eksperimental dengan ciri-ciri antara lain menggunakan pola pikir induktif. yaitu: 1) Intuisi yang didasarkan oleh indera dan imajinasi dengan ciri-ciri antara lain dengan mengamati. dan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa berpengaruh pada pemecahan masalah matematika. perbedaan gender dalam mempelajari matematika dan sains dalam riset pendidikan di awal 1980-an menemukan bukti kuat dominasi laki-laki dalam matematika dan sains (Benbow & Stanley. apakah laki-laki atau perempuan lebih baik dalam belajar matematika (Hightower. konsep dan prinsip diperlukan intuisi. dan intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. Di sisi lain. menunjukkan bahwa gender merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam proses konseptualisasi. Pinto (1998). and cultural dimensions are very powerfully interacting in conceptualizations of mathematics education. pasti secara intrinsik.. yang berupa intuisi afirmatori.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dari uraian tentang jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare di atas. 2) Intuisi antisipatori dengan ciri-ciri antara lain.. Sebagai contoh. (3) explorating solutions to difficult problems. tampak bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan berbeda. Bagian kedua adalah jenis intuisi yang disampaikan oleh Poincare. Oleh karena proses konseptualisasi berpengaruh dalam pemerolehan pengetahuan matematika. proses pemecahan masalah matematika. (2) designing and planning a solution. Dengan demikian intuisi berperan dalam proses konseptualisasi. self evident.W. Hyde. Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika. Keitel (1998) menyatakan. Namun demikian tidak serta merta siswa yang menguasai langkah-langkah penyelesaian Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 31 . Di samping itu banyak fakta bahwa beberapa perempuan sukses dalam karir matematikanya.Adanya pengaruh faktor gender dalam proses konseptualisasi menunjukkan bahwa gender berpengaruh dalam memahami konsep-konsep matematika dan dalam memahami konsep-konsep matematika membutuhkan peran intuisi. yaitu: 1) Intuisi afirmatori dengan ciri-ciri sebagai berikut: langsung. Berdasarkan hal-hal tersebut dipandang penting untuk mengetahui penggunaan intuisi untuk menyelesaian masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Ditemukan bahwa perbedaan gender tidak berperan dalam kesuksesan belajar. dengan ciri-ciri menggunakan ketentuan pada matematika. a. (4) verifying a solution. akan muncul ketika berusaha keras untuk memecahkan masalah yang berupa ide global. Perbedaan dari sisi psikologis dan biologis tersebut secara teoritis dapat mempengaruhi proses konseptualisasi dalam belajar matematika (Keitel. Di lain pihak. dan Susento (2006). 2003). Bagian pertama adalah jenis intuisi berdasarkan jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor gender mempengaruhi intuisi siswa dalam mecahkan masalah matematika.

yaitu peneliti mewawancarai subjek dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sragen. (4) melakukan paparan data hasil wawancara-2. Menurut Sugiono (2011) waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Subjek dipilih tidak secara acak. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut hanyalah suatu sarana yang membantu untuk memudahkan dalam memecahkan masalah. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda. namun diambil berdasarkan pertimbangan guru matematikanya. maka subjek penelitian ini adalah S1LK (siswa laki-laki). Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam pemecahan masalah. Tentukan banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan memotong-motong kertas tersebut! Data dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan subyek penelitian. Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah2 (setara dengan lembar tugas pemecahan masalah-1) dengan subjek penelitian yang sama dan dalam waktu yang berbeda. dan S2PR (siswa perempuan). (6) bila pembandingan 32 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis tugas. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dikaji karakteristik intuisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. Permainan tersebut dimulai dengan salah seorang siswa (siswa ke-1) melakukan kegiatan memotong-motong selembar kertas menjadi 10 potong. Walaupun siswa menguasai langkah-langkah penyelesaian masalah. Dengan tugas pemecahan masalahh sebagai berikut: Pada suatu kelas diadakan permainan memotong-motong kertas dengan gunting. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data. kemudian siswa ke-1tersebut memberikan satu potong dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-2. (5) melakukan pembandingan hasil paparan data wawancara pertama dan kedua. observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah tersebut akan selalu mampu memecahkan masalah matematika. Dalam penelitian ini untuk memenuhi kredibilitas data dilakukan dengan wawancara secara tekun. maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Berkaitan dengan uraian di atas. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara. Langkah-langkah triangulasi waktu pada penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada subjek penelitian dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah-1. Selanjutnya siswa ke-2 memotong-motong kertas menjadi 10 potong dan memberikan selembar kertas dari 10 potong kepada siswa ke-3. terkadang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. peneliti berada di sekolah dan mengamati kegiatan subjek dalam waktu yang cukup. (2) melakukan paparan data hasil wawancara-1. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan karakteristik intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan matematika. yaitu dengan triangulasi waktu. kemudian siswa ke-3 juga memotong-motongnya menjadi 10 potongan dan memberikan selembar kertas dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-4. Selain itu. maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. Permainan memotong-motong kertas ini dilakukan sampai jumlah potongan kertas seluruhnya menjadi 352 potongan.

Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. Di samping itu. Hasil analisis wawancara akan digunakan untuk mengetahui karakteristik setiap tingkat berpikir kreatif siswa dan proses berpikirnya. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua hasil wawancara yang sama. b. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Hal ini terlihat dari jawaban S1LK yang langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tanpa melakukan misalnya. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah dalam membuat rencana penyelesaian. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 33 . Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. Ungkapan dari subjek memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan rumus barisan. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi. Selanjutnya. pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi antisipatori. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan kognisi segera.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama maka dikatakan data tersebut valid. subjek S1LK mencoba akan menggunakan rumus. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. Karena munculnya pemikiran pada subjek S1LK menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Selain itu dari jawaban subjek menunjukkan bahwa subjek akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata yang tertulis dalam teks soal. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global. misalnya dengan membuat ilustrasi atau gambar. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah mencermati teks soal. d. sehingga subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. Karakteritik Intuisi Subjek Laki-laki (S1LK) a. c. b. dengan membuat gambar Dengan demikian subjek S1LK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal tanpa melakukan upaya tertentu untuk membantu memperjelas pemahaman masalah. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memahami masalah adalah subjek S1LK tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S1LK dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan lembar tugas pemecahan masalah yang setara. maka intuisinya berupa pemikiran matematika secara real.

Intuisi yang digunakan untuk memeriksa jawaban Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan cara mengulangi dalam menjawab. Subjek hanya mendasarkan dari teks soal. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Hasil jawaban subjek S1LK menunjukkan langkah dan hasil yang benar. subjek S1LK tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam 34 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . yaitu Un = a + (n-1)b. Karakteristik Intuisi Subjek Perempuan (S2PR) a. tidak ada intuisi yang digunakan. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut adalah menggunakan kognisi formal. Subjek sudah cukup merasa yakin bahwa apa yang dilakukan sudah benar. namun subjek merasa bahwa gambar diperlukan dalam memperjelas pemahaman akan soal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S1LK langsung menulis rumusnya. Hal tersebut dapat diperhatikan dari hasil wawancara bahwa subjek S1LK langsung mengerjakan berdasarkan rumus barisan. bahwa dari soal kelihatan ada pola dan ada beda yang disimpulkan subjek sebagai rumus barisan. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana penyelesaian adalah langsung menggunakan rumus dan subjek S1LK sudah yakin akan rumus yang digunakan. 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 c. Subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara analitik. ungkapan subjek S1LK dengan kalimat mengulangi dalam menjawab yang dimaksudkan adalah memeriksa jawaban langkah demi langkah. Dengan demikian subjek S2PR melakukan upaya tertentu untuk memperjelas dalam memahami soal. nampak bahwa tidak ada pemikiran dari subjek S1LK yang berupa kognisi segera. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Selain itu. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dilakukan dengan langsung mengulangi cara menjawab. Dari hasil wawancara. diperolehnya rumus barisan. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek S2PR memerlukan upaya menggambar terlebih dahulu dalam memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. subjek S1LK langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. Selain itu subjek tidak melakukan upaya lain. yaitu dengan membuat ilustrasi gambar. Di samping itu berdasarkan hasil wawancara memberikan penjelasan bahwa jawaban yang diberikan oleh subjek S1LK adalah benar. d. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Dari hasil wawancara. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memahami masalah adalah dalam memahami masalah adalah tidak secara langsung dari teks. Dengan demikian subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran biasa yang dapat dikatakan sebagai kognisi formal. Subjek tidak terpancing dengan pertanyaan peneliti untuk melakukan cara lain.. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut bukan merupakan kognisi segera. Walaupun subjek mengatakan sudah tahu maksud soal.

pada subjek S2PR langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya dan sesuai dengan apa yang direncanakan. b. Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah. namun dengan ingatan yang tidak penuh tersebut subjek S2PR memutuskan menggunakan rumus barisan untuk membuat rencana penyelesaian. Subjek menggunakan a = 1 sehingga diperoleh n = 40. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian. Dari uraian di atas memberikan penjelasan bahwa yang dilakukan subjek S2PR dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal. walaupun subjek S2PR merasa tidak begitu ingat seperti yang diungapkan . maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan kognisi segera. karena subjek mencoba mencermati teks soal. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian masalah adalah begitu memahami soal maka terpikir menggunakan rumus dan penggunaan rumus barisan didasarkan pada apa yang telah pernah ia lakukan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal dan dari ingatan yang tidak penuh. Munculnya penggunaan rumus. yaitu dengan mencermati gambar. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang bersifat global. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. c.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memahami masalah dilakukan dengan menggunakan gambar untuk memperjelas maksud soal. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 35 . Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S2PR langsung menulis rumusnya. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi antisipatori. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memahami masalah tidak menggunakan intuisi. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. Disamping itu. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. Subjek S2PR tidak menjelaskan secara matematis diperolehnya rumus yang merupakan rumus barisan aritmetika. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. Selanjutnya. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S2PR dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. yaitu Un = a + (n-1)b. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Ungkapan dari subjek pada S2PR. Subjek S2PR dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah menginterpretasi teks soal. subjek hanya tahu bahwa rumus barisan diperoleh dengan mencermati teks soal. karena dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Dari hasil wawancara. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Disamping itu dan juga subjek merasakan pernah mendapati masalah serupa yang diselesaikan menggunakan rumus barisan. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa jawaban subjek S2PR adalah benar. Karena munculnya pemikiran pada subjek S2PR menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. sehingga subjek S2PR tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. maka intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. subjek S2PR mencoba akan menggunakan rumus.A10 memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan deret.

A. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Oleh karena itu guru matematika dalam membelajarkan pemecahan masalah matematika perlu memperhatikan perbedaan gender. dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut. nampak bahwa subjek S2PR langsung menulis rumusnya. Dari jawaban subjek S2PR. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. sedangkan siswa perempuan tidak menggunakan dalam memahami masalah matematika. Sehingga tidak ada pemikiran dari subjek S2PR yang berupa kognisi segera. Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. yaitu pada S2PR. SARAN Berdasarkan simpulan hasil penelitian maka direkomendasikan beberapa hal berikut. Subjek melakukan dengan mengamati kembali apa yang telah dilakukannya. 2. tidak ada intuisi yang digunakan. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S2PR dengan cara mengulangi dalam menjawab. subjek S2PR tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S2PR dalam melaksanakan rencana. d. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global.35 menunjukkan bahwa subjek S2PR sangat yakin akan apa yang dilakukan adalah benar. dalam membuat rencana penyelesaian. Misalnya dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki menggunakan intuisi dalam memahami masalah. tidak menggunakan intuisi. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Selain itu subjek S2PR tidak melakukan upaya lain. Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah. 36 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .34 dan S2PR.A. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau perbedaan gender. yaitu Un = a + (n1)b. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut adalah menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. dalam membuat rencana penyelesaian. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Saran-saran Untuk Perbaikan Pembelajaran Matematika a. 1. Oleh karena itu guru perlu melatih siswa perempuan agar dapat menggunakan intuisinya dalam memecahkan masalah matematika. Selain itu. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut bukan merupakan kognisi segera. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan langsung mengulangi dalam menjawab. Subjek S2PR juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban.

R. DAFTAR PUSTAKA Ding. 2. Review of Educational Research. A New Aspect of Mathematical Method. “Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis. Vol 28.S. C. 279-295. In Christine Keitel (Ed). 40. Journal For Education of The Gifted. 25. 2007. 2003. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 37 .231245). Vol No. Winkelmann (Eds. Keitel. International Education Journal. Fischbein.I. “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. 38. Zheng Zhu 2007. Journal of American Educational Studies Association.K. Princeton and Oxford: Princeton University Press. Proses Kognitif.L.. Fischbein. E. 2007. 1988.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 b. ‘Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’.J. L. sehingga diperoleh karakteristik intuisi dalam memecahkan masalah yang lebih variatif dan lengkap. 2004. How to Solve It. b. Warwick University. “An Introduction: Social Justice and Mathematics Education: Gender. (1999). D. Scholz. “Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning”. A. Class. 73. 2006. Hightower. & Richardson. & Schnarch. “College Students’ Intuitive Understanding of the Concept of Limit and Their Level of Reverse Thinking”. the Algorithmic. E. Educational Studies in Mathematics. Sugiyono. E. K. 2001. 1988. 8(2). BI Norwegian School of Management. Polya. Henden. Song. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. The Ohio State University. Dordrecht: D. 471-498. M. “The Interaction between the Formal. Peneliti lanjutan hendaknya dapat menggunakan tinjauan teori intuisi selain yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare. dirasa masih kurang. & Park. Fischbein. R. oleh sebab itu disarankan para peneliti lanjutan untuk mepertajam fokus penelitian.1996. “Gender Differences in High-Achieving Students in Math and Science”. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuaantitatif.. 187-203.S”. Gender differences in mathematical problem solving. Reidel. “Do Mathematical Gender Differencess Continue? A Longitudinal Study of Gender Difference and Excellence in Mathematics Performance in The U. S. E. 52-73. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeksplorasi intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika. Sträßer. Unpublished Dissertation. Saran-saran Untuk Penelitian Relevan a. The Evolution With Age of Probabilistic. misalnya hanya diteliti untuk salah satu tahap pemecahan masalah dari . UNESA Surabaya. M. Penelitian ini dilihat dari kedalaman hasil. “The “Boy-Turn” in Research on Gender and Education”. 2011. Biehler. Social Justice and Mathematics Education. Ethnicity and the Politics of Schooling”. 1997.W.. Unpublished PhD Thesis. 2005. G. 1994. dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing”. Grossman. 1973. Moleong. H. Roh. Fischbein. 1997. Intuitively based Misconseptions. G. Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. Bandung: Alfabeta Susento. “Students’ Understanding of Real Analysis”.11–50. & B. 27–47 Fischbein. Dissertation. Perlu pembiasaan pembelajaran pemecahan masalah dengan menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah misalnya dengan menggunakan tahap pemecahan masalah dari Polya.Educational Studies in Mathematics 34. Bandung: Remaja Rosdakarya Pinto. Berlin Freie Universitat Berlin. S. and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. W. Disertasi tak Dipublikasikan. Reis. 1987. Kualitatif dan R & D). Intuition in Science and Mathematics.). Christine. Metodologi Penelitian Kualitatif. Journal for Reasearch in Teacher and Mathematics Education. E. In R.

com Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap tentang aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian dalam matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari kemampuan di bidang analisis. Pembuktian 38 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. maka akan kesulitan untuk menentukan langkah serta penyelesaian masalah. aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah tingkat aktivitas metakognisis mereka berada pada tingkat kemampuan analisis kurang. Pengetahuan mahasiswa tentang cara menganalisis suatu masalah tentu akan membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian yang dimulai dengan perencanaan yang baik. (1) Dilakukan pra penelitian dan penyusunan instrumen penelitian yang disertai validasi terhadap instrumen tersebut. Secara lebih spesifik. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian kualitatif eksploratif dengan tahapan sebagai berikut. tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui: Aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. (2) Sedangkan mahasiswa yang berada pada tingkat kemampuan analisis sedang. Di pihak lain pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung tampak bahwa pada setiap tahap pemecahan masalah Polya muncul aktivitas metakognisi. FKIP UNS Surakarta Email : gatutis_wahyudi@yahoo. Pada ke tiga tahap selanjutnya ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah pada saat menyelesaikan masalah pembuktian secara langsung walaupun tidak secara lengkap namun telah melakukan aktivitas metakognisi. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini terlihat bahwa siswa yang kelompok kemampuan analisis rendah. mereka mampu menggunakan dan menerapkan strategi generatif yang memungkinkan mendaftar secara lengkap data-data yang akan digunakan dalam memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun secara tidak langsung. Mahasiswa yang tidak memahami konsep pembuktian tidak langsung (pembuktian dengan kontradiksi). sehingga siswa akan mampu mendaftar secara lengkap semua hasil yang mungkin dari suatu masalah. Namun pada tahap selanjutnya yaitu tahap melakukan evaluasi ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. (3) Pada mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah hanya melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. Di pihak lain. melaksanakan rencana dan mengevaluasinya. (3) Melalui pengkajian mendalam akan disusun teori metakognisi yang terkait dengan masalah pembuktian ditinjau kemampuan dalam bidang analisis. (2) Dilakukan penelitian terhadap subyek terpilih dengan metode think aloud dan retrospeksi untuk mendapatkan data tentang aktivitas metakognisi. Metakognisi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AKTIVITAS METAKOGNISI MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PEMBUKTIAN Gatut Iswahyudi Prodi Pendidikan Matematika. (1) Siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah secara umum tidak melakukan aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. Hasil Penelitian ini adalah. dan pembuktian dengan kontradiksi. Mahasiswa yang menempati tingkat kemampuan analisis sedang atau tinggi sudah memahami konsep tentang pembuktian langsung. pembuktian dengan kontraposisi. Kata kunci: Aktivitas. merencanakan tindakan dan melaksanakan tindakan. aktivitas metakognisi muncul pada setiap tahap penyelesaian masalah Polya baik pada pemecahan masalah pembuktian langsung maupun pembuktian secara tidak langsung.

pembuktian dengan contoh penyangkal. Beberapa cara pembuktian lain dalam matematika adalah pembuktikan dengan induksi matematika. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam pemecahan masalah serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell. dikenal sebagai metakognisi. menerapkan berbagai strategi yang diperlukan. 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan pemecahan masalah dalam matematika adalah tidak untuk melengkapi siswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses. ketrampilan dan terbentuknya sikap tersebut tentu hanya akan dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang tepat. Guru dalam hal ini dapat mendorong siswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. proses belajar matematika merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan. Salah satu bentuk proses pembelajaran yang tepat adalah dengan memanfaatkan proses pemecahan masalah. pemantauan. khususnya dalam memecahkan masalah pembuktian. kemampuan mengevaluasi dan kreativitas. Dalam dimensi proses kognitif. dan merefleksikan proses pemecahan masalah matematika (Pearson Learning Group. Agar guru dapat membangkitkan kemampuan metakognisi siswa. kemampuan analisis seseorang mempunyai peran yang penting dalam menunjang keberhasilan belajar matematika. Masalah menemukan adalah suatu jenis masalah yang tujuannya akan dicari dan prosesnya diperlukan. Dale. kemampuan mengaplikasi. memecahkan masalah dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan matematika. masalah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu masalah menemukan (to find) dan masalah membuktikan (to prove). Terkait dengan masalah dalam matematika. 2005). siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya antara lain membangun pengetahuan matematika yang baru. 2008). Melalui pemecahan masalah matematika. pembuktian dalam matematika dapat dikelompokkan pembuktian langsung. dan bertanya kepada diri sendiri tentang masalah tersebut (Gartman dan Freiberg. O’Malley dan Spanos. keterampilan dan membentuk sikap. tetapi lebih kepada memungkinkan siswa berpikir tentang dirinya sendiri. Siswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan. Proses berpikir dalam pemecahan masalah merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian guru terutama untuk membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PENDAHULUAN Pada hakekatnya. Jenis-jenis pembuktian yang termasuk pembuktian tidak langsung adalah pembuktian dengan kontradiksi dan pembuktian dengan kontraposisi. Pengetahuan. Proses menyadari dan mengatur berpikir siswa sendiri tersebut. termasuk didalamnya adalah berpikir tentang bagaimana siswa membuat pendekatan terhadap masalah. memilih strategi yang digunakan untuk menemukan pemecahan. dan pembuktian tidak langsung. dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot. 1992). Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 39 . Berpikir tentang dirinya sendiri berkaitan dengan kesadaran siswa terhadap kemampuannya untuk mengembangkan berbagai cara yang mungkin ditempuh dalam memecahkan masalah. Masalah membuktikan adalah masalah yang tujuannya sudah ditentukan tetapi prosesnya diperlukan. 1993). Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas. dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh siswa pada semua tingkat pendidikan. 1979. yang berturut-turut adalah kemampuan mengingat. Diantara masalah tersebut. kemampuan memahami. Sehingga meneliti karakteristik seseorang berdasarkan kemampuan analisis yang dimilikinya perlu dilakukan. Panaoura dan Philippou. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg. Kemampuan analisis merupakan kemampuan tingkat ke-4 dalam taksonomi Bloom. kemampuan menganalisis. masalah membuktikan merupakan bagian yang sangat penting dalam matematika Didasarkan pada metode yang digunakan. guru sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah.

merencanakan. Berdasarkan definisi di atas. Artinya suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang. Menurut Polya (1973). 1997. Brown mendefinisikan metakognisi sebagai suatu kesadaran terhadap aktifitas kognisi seseorang. salah satu yang banyak dirujuk adalah pentahapan oleh Polya (1973). and monitors cognitive activity (Lee dan Baylor. Kirsh (2004) mengemukakan bahwa metakognisi khususnya dalam bidang pendidikan. evaluasi dan perbaikan kemampuan bekerja (performa). Sementara itu. berkaitan dengan aktifitas dan keterampilan berhubungan dengan perencanaan. Flavell mendefinisikan: metakognisi sebagai kemampuan untuk mengerti dan memantau berpikir sendiri dan asumsi serta implikasi dari kegiatan seseorang. Bagian utama dari masalah menemukan antara lain: apa yang dicari? Apa saja data yang diketahui? bagaimana syaratnya? Sedangkan masalah membuktikan merupakan masalah untuk menunjukkan apakah suatu pernyataan benar atau salah. 2006). metode yang digunakan untuk mengatur proses kognisi seseorang dan suatu penguasaan terhadap bagaimana mengarahkan. Berdasarkan uraian di atas. 2004). Pada penelitian ini. penulis mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan untuk menyadari kognisi sendiri dan kemampuan mengatur proses kognisi sendiri. plans. atau tidak keduanya. Gama. tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi orang lain. metakognisi cakupannya dibatasi pada tiga komponen yaitu perencanaan. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Stanic & Kilpatrick (1988: 15) mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukan di waktu sebelumnya. yaitu “untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan apakah pernyataan itu benar atau salah? Bagian utama dari masalah ini adalah hipotesis dan konklusi suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. dan masalah membuktikan (problem to prove). Ini menunjukkan bahwa suatu tugas merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu. maka diajukan pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana proses metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. Khusus dalam pemecahan masalah matematika. 2006). Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dikemukakan di atas. pemantauan. the methods employed to regulate one’s own cognitive processes. bila orang itu telah mengetahui cara atau proses mendapatkan pemecahan masalah tersebut. pemantauan. tetapi bukan merupakan masalah lagi bagi orang itu pada saat berikutnya. dan memantau aktivitas kognitif metacognition as an awareness of one’s own cognitive activity. Terdapat beberapa definisi tentang metakognisi yang berkembang dalam bidang psikologi kognitif. metacognition as the ability to understand and monitor one’s own thoughts and the assumptions and implications of one’s activities (Lee dan Baylor. abstrak atau konkrit. masalah terbagi menjadi dua. KAJIAN TEORI Pengertian Metakognisi Secara sederhana metakognisi didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi tentang kognisi seseorang (Nelson.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 kepada para guru atau calon guru tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan dalam memecahkan masalah matematika secara umum dan secara khusus dalam memecahkan masalah pembuktian. dan refleksi. yaitu masalah menemukan (problem to find). diantaranya oleh Flavell dan Brown. Pada penerapannya. Demikian pula suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang pada suatu saat. yang mengemukakan empat tahapan penting yang perlu dilakukan yaitu: 40 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . and a command of how one directs. Ketiga kompunen ini merupakan satu rangkaian dan saling terkait dalam aktivitas metakognisi. Livingston. Masalah untuk menemukan merupakan suatu masalah teoretis atau praktis. 1992.

Memikirkan tentang pengetahuan yang dapat membantu dalam memahami masalah 2. dan sebagainya. dengan memilih fokus pada proses metakognisi yang dilakukan mahasiswa calon guru ketika memecahkan masalah pembuktian. apa syaratsyaratnya. Memahami masalah (understanding the problem) meliputi mengerti berbagai hal yang ada pada masalah seperti apa yang tidak diketahui. 2. Memikirkan rencana (devising a plan) meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahui. 4. apa saja data yang tersedia. Tabel 1 Aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan dengan langkah yang diusulkan oleh Polya Pemecahan masalah menurut Polya Memahami masalah dengan mengidentifika si dan mengkla sifikasi masalah Aktivitas Metakognisi Kode Bagian Awal (Before) 1. Tahap ini merupakan tahap memahami masalah dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah. dan membangun alternatif penyelesaian. Berikut ini disajikan tabel aktivitas metakognisi tersebut. selama dan sesudah. Memikirkan tentang langkah-langkah dalam memahami masalah ( Memikirkan apa yang pertama kali harus dilakukan) 4. dan (3) refleksi (reflection). dan (3) bagian akhir. Memikirkan tentang lama waktu yang anda MMAW1 MMAW2 MMAW3 MMAW 4 MMWA Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 41 . Memikirkan tentang arah/tujuan dalam memahami masalah 3. Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematika Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat proses metakognisi dalam pemecahan masalah matematika. Pengkategorian aktivitas metakognisi didasarkan pada suatu tabel aktivitas metakognisi yang disusun dengan mengadopsi tabel serupa yang dikemukakan NCREL (1995) dipadukan dengan yang dikemukakan oleh Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) dengan melakukan modifikasi sesuai situasi pemecahan masalah yang dilaksanakan. Proses metakognisi dimaksudkan sebagai rangkaian aktifitas metakognisi yang dilakukan peserta didik ketika memecahkan masalah. Tahap ini merupakan tahap memikirkan rencana tindakan. Tahap ini merupakan tahap mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 1. terkait dengan adanya istilah yang hampir sama maka tiga tahap aktivitas metakognisi ini disebut sebagai (1) bagian awal. Memikirkan tentang apa yang dipahami merupakan bagian yang penting dalam rangka memahami masalah 5. apakah syarat tersebut cukup untuk menentukan hal yang tidak diketahui. Tahap ini merupakan tahap melaksanakan tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. dan (3) tahap pemeriksaan (evaluation the plan action). Selanjutnya NCREL menyebut tiga tahap tersebut sebagai tahap sebelum. apakah langkah yang dilakukan sudah benar atau dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar. Melaksanakan rencana (carrying out the plan) termasuk memeriksa setiap langkah pemecahan. Demikian juga NCREL (1995) mengelompokkan metakognisi ke dalam tiga elemen dasar yaitu (1) tahap pengembangan rencana (developing a plan of action). 3. (2) bagian inti. Sejalan dengan pandangan Brown. dan sebagainya. Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) mengelompokkan aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah matematika terdiri atas (1) perencanaan (planning). (2) pemantauan (monitoring). (2) tahap pemantauan (monitoring the plan of action). Memeriksa kembali jawaban (looking back) meliputi pengujian terhadap pemecahan yang dihasilkan. Dalam penelitian ini.

Merasa dapat menerapkan cara pemahaman masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Merasa dapat melakukan langkah pemahaman terhadap masalah dengan cara berbeda 4. Memikirkan tentang apa yang dilakukan pada saat memahami masalah 2. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam merencanakan pemecahan masalah 5 MMIT1 MMIT2 MMIT3 MMIT4 MMIT5 MMIT6 MMAK1 MMAK2 MMAK3 MMAK4 MMAK5 MRAW1 MRAW2 MRAW3 MRAW4 MRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum merencanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar tentang arah dari apa yang direncanakan (telah menemukapaan hubungan antara data-data (konsepkonsep) yang tidak diketahui dengan data-data (konsep-konsep) yang diketahui 3. Sadar tentang perlunya kembali pada tahap awal dalam memahami masalah Memikirkan rencana tindakan dan membangun alternatif penyelesaian Bagian Awal (Before) 1. Sadar bahwa sudah merasa berada pada jalan yang benar saat memahami masalah. Sadar tentang pengetahuan apa saja yang diperlukan dalam merencanakan pemecahan masalah ini 2. 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam memahami masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan MRIT2 42 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar tentang informasi penting yang harus diingat 5. Sadar atas ketepatan cara dan langkah pemahaman masalah dilakukan 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pergunakan dalam memahami masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam memahami masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar bahwa dalam merencanakan pemecahan masalah harus ditemukan definisi-definisi maupun teorema-teorema yang terkait dengan masalah itu 2. Sadar tentang langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan pemahaman terhadap masalah yang diberikan 4. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah 5. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar bahwa cara pemahaman masalah yang dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat MRIT1 merencanakan pemecahan masalah.

Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat merencanakan pemecahan masalah 5. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan pemecahan masalah MRIT3 MRIT4 MRIT5 MRIT6 MRAK1 MRAK2 MRAK3 MRAK4 MRAK5 PRAW1 PRAW2 PRAW3 PRAW4 PRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus PRIT3 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 43 . 2. Sadar akan ketepatan langkah perencanaan pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam merencanakan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Merasa dapat menerapkan cara perencanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar merasa telah melakukan langkah perencanaan pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. sadar sudah memperhitungkan atau melibatkan semua hal yang penting yang terkandung dalam masalah ini 3. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan PRIT2 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam merencanakan pemecahan masalah ini Melaksanakan Bagian Awal (Before) rencana tindakan 1. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan dengan memilih untuk membantu melaksanakan rencana tindakan strategi pemecahan masalah yang diberikan penyelesaian 2. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat PRIT1 melaksanakan rencana pemecahan masalah. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan setelah menemukan definisi-definisi maupun teoremateorema yang terkait dengan masalah itu 4. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu.

Berpikir tentang hal lain yang terkait dengan evaluasi pelaksanaan pemecahan masalah 5. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan 4. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk membantu melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan 2. Sadar merasa telah melakukan langkah pelaksanaan rencana pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan rencana pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dilakukan 4. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah PRIT4 PRIT5 PRIT6 PRAK1 PRAK2 PRAK3 PRAK4 PRAK5 EPAW1 EPAW2 EPAW3 EPAW4 EPAW5 EPIT1 EPIT2 EPIT3 EPIT4 44 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah 2. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar bahwa pada saat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik.

Mahasiswa diberi soal tentang masalah pembuktian. Penjenjangan Proses Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Kategori Proses Metakognisi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Indikator 80%X100% 60%X<80% 40%X<60% 20%X<40 0%X<20 Keterangan : X= Prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi dari subjek penelitian pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan EPIT5 EPIT6 EPAK1 EPAK2 EPAK3 EPAK4 EPAK5 Berdasarkan deskripsi aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika dengan langkah yang diusulkan oleh Polya tersebut diatas disusun penjenjangan proses metakognisi pada pemecahan masalah pembuktian. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah yang dilakukan 2. Penjenjangan proses metakognisi yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah Bagian Akhir(After) 1. Dalam hal ini proses metakognisi dibagi dalam empat jenjang berdasarkan prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. METODE PENELITIAN Penelitian ini mendiskripsikan proses metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkahlangkah Polya dengan mengungkap secara mendalam respon siswa. mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal berdasarkan tahap-tahap pemecahan masalah Polya. Sadar merasa dapat melakukan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Ungkapan-ungkapan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 45 . Soal terdiri dari satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian langsung dan satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian tidak langsung. Dalam mengerjakan soal. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar bahwa evaluasi dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. selanjutnya pada akhir tiap tahap dilakukan wawancara untuk mengungkap aktivitas metakognisi pada tahap tersebut. Terkait dengan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Tabel 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang disampaikan berupa kata-kata. dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut (Moleong. membangun alternatif penyelesaian Ciri yang teramati MRAW1. Data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dan disusun transkip wawancara tersebut untuk selanjutnya dilakukan analisis terkait dengan aktivitas metakognisi yang dilakukan. Sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif-eksploratif. Pemecahan masalah menurut Polya Tahap memikirkan rencana tindakan. penafsir data. Dari hasil pekerjaan siswa. Instrumen lembar tugas ini divalidasi oleh ahli. MRIT2. MMAK2. Sedangkan instrumen lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. MRAW6. MMIT5. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran metakognisi siswa. MMIT1. MMAW2. MRIT4. maka penelitian ini bersifat kualitatif. Prosedur pengumpulan data diakukan dengan cara subyek diberi lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. dengan cara mereduksi data (yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. MMAK3 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Tahap memikirkan rencana tindakan. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut). dan akhirnya sekaligus menjadi pelapor hasil penelitian. 2003). MRAK1. MMIT3 . membangun alternatif penyelesaian adalah sebagai berikut. MMAW4. MRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian adalah sebagai berikut. yang terdiri atas satu orang ahli pendidikan matematika dan satu orang ahli dalam bidang matematika kelompok bidang analisis. pengamatan dan wawancara dapat dilihat karakteristik metakognisi siswa. pelaksana pengumpul data. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas penyelesaian masalah matematika. penyederhanaan. analisis. MMAW5. kemudian untuk setiap tahapan dalam meyelesaikan masalah berdasarkan tahapan Polya diadakan wawancara untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan. Sehingga jika X menyatakan rataan skor prestasi belajar siswa berkemampuan analisi tinggi. Dalam hal ini peneliti merupakan perencana. Adapun kriteria kemampuan analisis tinggi adalah rataan skor prestasi belajar matakuliah kelompok analisis yang telah ditempuhnya lebih besar atau sama dengan 80 dalam skala 100. dan pedoman wawancara. MRAK2. Analisis data penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil wawancara. HASIL PENELITIAN Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah adalah sebagai berikut. 46 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . MMIT4 . Subyek penelitian adalah Mahasiswa . MRAW5. MRIT1. MMAW3. pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan). Mahasiswa yang dipilih sebagai subyek adalah mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Analisis real I. maka 80  X  100 . MMIT2 . Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika. memaparkan data (meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. Pemecahan Masalah Menurut Polya Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah Ciri yang teramati MMAW1. pemusatan perhatian. MRAW4.

Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 69. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pemecahan masalah menurut Polya Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian Ciri yang teramati PRAW1. EPAK5 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 47 .25%. Secara umum keterlaksanaan aktivitas metakognisi yang dilakukan mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi ketika memecahkan masalah pembuktian langsung. PRIT1.5%.77%.77%. 62. cukup memadai. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. EPIT3. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. dan 68%.25%. 50%. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. cukup memadai. dan 68%. PRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik adalah sebagai berikut. sehingga berturut-turut berada pada karegori baik.19%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. Pemecahan masalah menurut Polya Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik KESIMPULAN 1. PRAW4. cukup dan baik. EPIT5. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. dan 62. EPAW2. 56. dan 62.5%. 75%. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. sehingga berada pada kategori baik. EPIT6. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. PRAW3. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 75%.94%. Secara keseluruhan tahap pemecahan masalah diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. sehingga berada pada kategori baik. cukup memadai. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. Ciri yang teramati EPAW1. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. 62.5%. cukup. 2.75%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. PRAK1. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. sehingga berada pada kategori baik. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 60. sehingga berada pada kategori baik.5%.5%. 68. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. 4. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. 3. 62. EPAK4.25%. cukup memadai. adalah sebagai berikut.

. Download tanggal 12 November 2007 Panaoura. 2004.5%. Metacognition: An Overview. Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan.. Phil Dissertation. sehingga masing-masing berada pada kategori kurang. A. Virginia. Gama. O. How To Solve It. R. 1. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung..5%. Download tanggal 12 November 2007. Boston. and Philippou. 6. J. (Ed). R. 37. http://www. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. 2005.cy. Jakarta. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 31..5%.ucy. belum memadai. 31.25%.. sehingga berada pada kategori kurang. dan Reys. D. H.net..ac. 2008. www. 1980.Thinking about thinking . O. J. E.ucy. A. Metode Pembuktian dalam Matematika. (Ed).htm Panaoura. NCTM. 37. Core Readings. 2000. dalam Krulik S. Schoenfeld.edu/fos/shuel/ cep564/metacog. Metacognition. Boston.ac. Proceedings of the International Conference. Allyn and Bacon. 1997. A New Area of Cognitive – Developmental Inquiry. G.. Brno Czech Republic.cy. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 1973. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. A. Metacognition. 1979. H.gse. C. 2003. Princeton. Second Edition.buffalo. 2004. sehingga berada pada kategori kurang. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. G. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian.Learning to learn http://members. Integrating Metacognition Instruction in Interactive Learning Environment. Flavell.5%. 31. UAD. in Nelson. New Jersey. T. dan 37.5%. The Measurement of Young Pupils’ Metacognitive Ability in Mathematics: The Case of Self-Representation and Self-Evaluation. DAFTAR PUSTAKA De Corte.5%. University of Sussex Julan Hernadi. and Philippou. dan 37. www. Polya. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. Metacognition . Young Pupils’ Metacognitive Abilities in Mathematics in Relation to Working Memory and Processing Efficiency. T. A. Soedjadi. 48 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Heuristic in the Class Room. G. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. belum memadai.au/metacognition. (1995).... The Mathematics Education into the 21st Century Project.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 32. 1992. A. Problem Solving in School Mathematics. Yogyakarta Livingstone. sehingga seluruhnya berada pada kategori kurang.1 NCREL.. Intervention Research: A Tool for Bridging the Theory – Practice Gap in Mathematics Education.html Nelson.iinet.81%. Princeton University Press. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. E. Metacognition and Cognitive Monitoring. 1992... Allyn and Bacon.

rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora (6. serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. (2) Terdapat pengaruh keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. dan tes prestasi belajar matematika. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika.006 peserta ujian nasional SMP di Kabupaten Blora pada tahun pelajaran 2009/2010. keingintahuan. keingintahuan. mata pelajaran matematika bagi peserta didik SMP di Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 49 .05.779 peserta didik (sekitar 37. tes gaya kognitif (GEFT). terdapat 3.73) maupun nasional (7. diperoleh simpulan bahwa (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika. (7) Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme pada pembelajaran matematika diduga berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. Selain itu. dan gaya kognitif.53) lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah (6. PENDAHULUAN Sejalan dengan paradigma baru pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Dari 10. Hanya saja. (6) Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan laporan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 tersebut. proses pembelajaran akan berpusat pada peserta didik dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Mardiyana2.77%) yang memperoleh nilai matematika di bawah rerata. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan awal matematika. (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Suyono2 1) Program Studi Magister Pendidikan Matematika 2) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran. diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. pelaksanaan inovasi pembelajaran tersebut terganjal dengan masih lemahnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. pemerintah mendorong pelaksanaan inovasi pembelajaran matematika yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Uji keseimbangan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal yang seimbang.29). Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP di Kabupaten Blora. Inovasi pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan tantangan belajar sesuai kemampuan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual peserta didik. yang akan membantu peserta didik dalam mengkonstruksi pemahamannya sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan. Dengan α = 0. angket keingintahuan. (3) Terdapat pengaruh gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3x2. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Dengan demikian. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KEINGINTAHUAN DAN GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK SMP DI KABUPATEN BLORA Agung Putra Wijaya1.

SMP Muhammadiyah 1 Blora dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dua. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian meliputi metode dokumentasi. Melalui model pembelajaran kooperatif. c. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu. maupun rendah. Dengan mengetahui perbedaan kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif setiap peserta didik. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. sedang. a. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. b. tes. Kesulitan-kesulitan tersebut hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan peserta didik lain atau guru matematika yang mengajar. Di antara banyak model pembelajaran. salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. Selain model pembelajaran. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus dimungkinkan karena konsep tersebut belum benar-benar dikuasai oleh peserta didik. sedangkan peserta didik hanya menyimak. yakni menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 (a. Selain itu. Sampling dilakukan menggunakan teknik stratified cluster random sampling sedemikian sehingga terpilih sampel penelitian sebagai berikut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Kabupaten Blora ini merupakan mata pelajaran penyumbang angka ketidaklulusan terbesar kedua setelah mata pelajaran bahasa inggris. diantaranya keingintahuan dan gaya kognitif. SMP Negeri 2 Blora dengan kelas VIII 3 sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII 5 sebagai kelas eksperimen dua. Populasi. peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya melalui diskusi kelompok. Metode tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan 50 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dan Sampling Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik di 76 SMP yang ada di Kabupaten Blora. dan angket. SMP Negeri 1 Cepu dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dua. Sampel. terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. analisis daya serap hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 terhadap tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi pokok persamaan garis lurus. c bilangan bulat selain satu). guru harus cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan. baik untuk kelompok tinggi. Selain itu. menentukan grafik dari persamaan suatu garis menunjukkan bahwa penguasaan konsep persamaan garis lurus oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora masih rendah. menentukan persamaan garis pada sebuah grafik. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai secara optimal. sebagian besar guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. b. mencatat. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah dan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian di SMP yang telah terpilih. Selama kegiatan pembelajaran guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas. diharapkan membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya terhadap konsep matematika sehingga prestasi belajar matematika peserta didik lebih optimal. dan mengerjakan latihan soal.

4237 FI 10 52 88 72.4706 14. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak.0843 16.0828 15.0132 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.1111 7.0048 8 60 100 75.6667 7.9524 S 14. Tabel 3.2818 1279.6692 Fhit 9.6753 Sedang FD 22 48 88 70. Tabel 1. B.3533 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.0540 3. Hasil uji keseimbangan menggunakan uji-t terhadap data kemampuan awal matematika peserta didik diperoleh simpulan bahwa populasi mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang.8519 12.7909 2274. Data Kemampuan Awal Matematika dan Uji Keseimbangan Berikut disajikan deskripsi data kemampuan awal matematika peserta didik. Pemb.9017 Keputusan Uji H0A ditolak H0B ditolak H0C ditolak Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 51 .6924 9 72 96 83.6667 9. Sebelumnya.9125 9.0000 15. dan gaya kognitif peserta didik. N Nilai Min N H Nilai Maks T S N S Nilai Min T Nilai Maks A D S Tinggi FD 12 72 100 91.4000 11. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.5714 13. Rangkuman Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Sumber A B C JK 1221.2222 8.7462 27 52 100 75.7207 9 56 80 67. Data Penelitian dan Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pokok persamaan garis lurus. Berikut disajikan hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Keingintahuan Gaya Kog.5556 8.5455 11. dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji-t. terhadap data kemampuan awal maupun data prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett.9017 3. dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’. Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen.6239 FI 18 76 100 88.5238 66.6692 dk 1 2 1 RK 1221.5147 Ftabel 3. Deskripsi Data Kemampuan Awal Matematika Peserta Didik Kelas Eksperimen Satu Eksperimen Dua n 84 84 Nilai Min 40 40 Nilai Maks 96 96 67.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 awal. prestasi belajar matematika.7283 14 44 84 64.2573 17 56 100 76.8918 FI 6 84 100 94. Metode angket digunakan untuk memperoleh data keingintahuan peserta didik.1132 Rendah FD 16 48 84 60. Tabel 2.7909 4549. Mod.5000 10.6409 1279.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AB AC BC ABC Galat Total 4228. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT.4280 6. maupun rendah sama baiknya. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.0540 3.0338 4. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0724 20981. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.0764 1754. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.1191 811.5074 595. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan peserta didik. e. dengan deskripsi sebagai berikut. 5) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.1480 36016.0362 134. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.0540 3. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.2383 811.7845 2 1 2 2 156 167 2114. b.9017 3.5074 1191. 52 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . sedang. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.5382 877. c. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. dengan deskripsi sebagai berikut.0540 - H0AB ditolak H0AC ditolak H0BC ditolak H0ABC ditolak - DESKRIPSI HASIL ANALISIS VARIANSI TIGA JALAN DENGAN SEL TAK SAMA Deskripsi hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dan uji komparasi rerata adalah sebagai berikut.4945 15. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif peserta didik.7190 6. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. 4) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. d. a.5210 - 3.

dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik diabndingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. sedang. 3) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 5) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. maupun rendah sama baiknya. 5) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 6) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 4) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 3) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. keingintahuan. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. g. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 53 . prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. f. dan gaya kognitif peserta didik. 1) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent.

prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 9) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 10) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. 12) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 8) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 54 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 17) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 13) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. 15) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 11) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 14) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 16) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 7) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 18) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.

21) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 27) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 20) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 55 . 25) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 19) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 23) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 28) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 22) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 26) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 24) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 29) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik diobandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang.

sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 30) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent. 31) 32) 33) 34) 35) 36) 37) 38) 39) 40) 41) 42) 56 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. maupun rendah sama baiknya. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. sedang. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 43) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. SIMPULAN Berdasarkan analisis data menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Priyamvada. dan Praktik. 2003. Remaja Rosdakarya. Cooperative Learning: Teori. 2010. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Surakarta: Sebelas Maret University Press. c. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Statistik Untuk Penelitian (Edisi Kedua). Metodologi Penelitian Pendidikan. 46) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. b. Jakarta: PT Bumi Aksara. 45) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. Cognitive Style in Educational Perspective. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Riset. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Slameto. R. Desmita. Surakarta: Sebelas Maret University Press. DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. 2008. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. E. Nasution. f. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. 2009. Slavin. New Delhi: Anmol Publications Pvt Ltd. g. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2003. . 44) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. e. Bandung: PT. Anita Lie. Bandung: Nusa Media. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 57 . Srivastava. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Asdi Mahasatya. 2008. 1997. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Jakarta: Grasindo. Jakarta: PT. d. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. (Edisi terjemahan oleh Narulita Yusron). prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. 2009. diperoleh simpulan bahwa: a. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. S. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. keingintahuan. Budiyono. 2010.

time bound). Lontar 1 (Sidodadi Timur) Semarang 50125. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masih lemahnya proses pembelajaran. Banyak perangkat dimana para ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan sistem kompleks yang melibatkan cara pikir yang dinyatakan dalam bentuk model matematis. achievable. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreatifitas peserta didik. Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model MEA akan mencapai efektif dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. SMART. Pada penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran berbasis SMART (spesific. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan. serta memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup. inovatif. Namun berbagai upaya tersebut belum mencapai prestasi yang optimal. Kreatifitas. (2) kualifikasi pendidikan guru.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS SMART PADA MATERI PELUANG DENGAN MODEL ELICITING ACTIVITIES Aryo Andri Nugroho Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sering informasi bercampur dan mungkin dapat dipertimbangkan sebagai hal yang kompleks. 1997:198). Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. sampai saat ini kualitas pembelajaran matematika di Indonesia masih rendah (Soedjadi. Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Selain itu peserta didik kurang diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif. (5) penelitian tentang kesulitan dan kesalahan peserta didik dalam belajar matematika. 2001b: 1). mandiri dan berjiwa wirausaha (Sanjaya 2008: 2). realistic. MEA. karena berbagai kendala di lapangan. (4) penerapan model atau metode pembelajaran baru. mengembangkan karakter dan potensi yang dimiliki.ide yang mendorong ke arah kesuksesan.com Abstrak Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide . misalnya memusatkan pada karakteristik struktural 58 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dalam pembelajaran konvensional guru bertindak sebagai pentransfer ilmu kepada peserta didiknya. uji pengaruh. measurable. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan teknik random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar. Kata Kunci : Peluang. baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika di sekolah. e-mail : ndrie024mp@gmail. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. Berbagai upaya tersebut antara lain dalam bentuk: (1) penataran guru. peserta didik dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif (Suparman. Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Akibatnya. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities (MEA) yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena seperti pola dan interaksi. (3) pembaharuan kurikulum. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh. Pembelajaran matematika yang masih menggunakan pembelajaran konvensional masih menempatkan guru sebagai sumber informasi utama yang berperan dominan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik menggunakan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA.

Dengan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 59 . Materi yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang peluang karena pada materi peluang dibutuhkan suatu pemahaman yang abstrak dan mendorong kreatifitas peserta didik. 2003). menggambarkan. Model Eliciting Activities mendorong aktivitas peserta didik dalam pengembangan model karena untuk memecahkannya diperlukan cara untuk menyatakan berpikir saat ini dalam bentuk yang diuji dan diperbaiki berulang kali setelah di uji.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dari sistem yang relevan. Sementara dengan tidak menolak pentingnya pengalaman masalah yang ada. adanya perbedaan prestasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. interaksi. d. berkenaan dengan informasi yang ambigu atau tidak lengkap. Model eliciting activities biasanya melibatkan aktivitas-aktivitas yang mematematikakan (mathematizing) objek yang relevan. a. Salah satu substansi yang menjadi penekanan KTSP adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif. dan penginterpretasian dari situasi masalah yang diberikan (Lesh & Yoon. Dalam proses pemecahan masalah menuntut peserta didik dengan perangkat baru untuk memecahkan permasalahan serupa di masa datang (Lesh & Yoon. Lebih dari itu banyak persamaan terjadi antara model dimana peserta didik mengembangkan sistem untuk bisa dipertimbangkan dalam pengalaman sehari-hari mereka sendiri dan model dimana para ilmuwan mengembangkannya (Lesh & Doerr. 2001). pengorganisasian. pola. achievable. Pemunculan masalah model ini adalah aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang mendorong ke arah pembentukan sebuah model eliciting activities (Lesh. Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide-ide dan proses kunci yang mendorong ke arah kesuksesan harus diberikan. Perangkat pembelajaran yang disusun adalah perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART (spesific. Menurut Guskey (1982) pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya ketercapaian ketuntasan dalam prestasi belajar. Pengembangan model biasanya melibatkan satu rangkaian siklus desain yang melibatkan cara yang berbeda terhadap penyaringan. Gagasan yang relevan dan sistem konseptual dapat diharapkan menjadi langkah-langkah intermediate dari pengembangan. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran disini akan disusun perangkat pembelajaran yang meliputi: (1) Silabus. measurable. dan hubungan antara unsur-unsur) (Jones & Nisbet. aksi. Artinya bahwa proses penafsiran untuk peserta didik telah diminimalisir atau dieliminasi. mengidentifikasikan rintangan terhadap solusi. Model biasanya dinyatakan dengan menggunakan berbagai media representational yang saling berinteraksi. Ketika peserta didik diberikan suatu permasalahan maka permasalahan tersebut diterjemahkan dengan cara yang tunggal. time bound). proses. kelancaran representasional. Model biasanya digambar dari berbagai disiplin atau area topik buku teks. c. dan keterampilan sosial dimana peserta didik kita membutuhkannya (Steen. Sebuah nilai ekstra adalah bahwa model eliciting activities itu bisa mendorong ke arah bentuk belajar yang signifikan. dan memvisualisasikan serta mengevaluasi produk akhir yang mungkin. Amit & Schorr. Kesulitan bagi peserta didik adalah mengerjakan bagaimana cara untuk mendapatkan gambaran dari pernyataan yang diberikan pada tujuan yang diberikan. mereka tidak memahami secara baik pengetahuan matematika. 2002). Pengalaman pemecahan masalah peserta didik secara tradisional telah dibatasi masalah dimana peserta didik menerapkan satu prosedur yang diketahui atau mengikuti satu jalur yang jelas. Sifat alami model tersebut dapat digambarkan dalam empat aspek. 1997). dan (3) CD interaktif. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena (seperti pola. (2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). adanya pengaruh yang positif antara variabel bebas dengan variabel terikat. Model ini adalah sistem konseptual yang digunakan untuk membangun. atau menjelaskan perilaku dari sistem lain. 2004). 2004). b. Satu komponen penting dalam pemecahan masalah didalam dunia masa kini adalah menginterpretasikan situasi masalah. dan keteraturan serta membekali peserta didik dengan fondasi penalaran matematis yang dasar. hubungan. realistic.

measurable (dapat diukur). realistic (realistik). Program menyatakan tujuan yang tepat. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses untuk dilaksanakan dan pada akhirnya alat ukurnya juga nyata jelas (realistic). d. data prestasi belajar. time-bound (batasan waktu). Prestasi dinyatakan dalam bilangan. uang. Pada perangkat pembelajaran matematika dalam pemilihan indikator materi sesuai dengan kurikulum dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah. keterukuran indikator dari pemilihan materi yang khusus (measurable). Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data dokumentasi. a. dan perbandingan). achievable (dapat dipenuhi). Pemenuhan pada suatu tujuan memerlukan kemampuan. kuantitas. c. b. Specific Specific maksudnya bahwa tujuan itu konkret. 2006: 75) yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi peluang yang memenuhi kriteria efektif. data kreatifitas peserta didik. Pada perangkat pembelajaran matematika. seperti keterampilan. Berdasarkan uraian ini maka muncul masalah apakah pembelajaran matematika berbasis SMART pada materi peluang dengan model elicting activities mencapai efektif. persentase. terfokus dan dapat didefinisikan dengan jelas. Achievable Achievable menyangkut tujuan yang di himpun dapat dipenuhi dan dapat dicapai. SMART sebagai tujuan program yang berarti specific (spesifik). Pengukuran mempunyai prestasi yang dapat dinilai. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat serta instrumen pada penelitian ini terdiri dari lembar pengamatan kreatifitas peserta didik dan lembar tes prestasi belajar. frekuensi. Realistic Realistic maksudnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang dikerjakan. Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen jenis Quasi Experimental (Samsudi. Pengukuran membantu untuk mengetahui kapan tujuan sebuah program telah terpenuhi. perlengkapan dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. pengamatan. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang dipilih harus terukur sesuai dengan materi yang dipilih. untuk mencapai semuanya jelas dan prestasi dapat ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif dari pada sebelumnya (time bound). Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas program-program yang diajukan dan dilaksanakan. Dalam penelitian ini peneliti memaknai perlunya model eliciting activities dalam pembelajaran dengan perangkat pembelajaran berbasis SMART sehingga diharapkan pembelajaran menjadi efektif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memperhatikan kekhususan materi peluang yang sesuai kurikulum dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (spesific). materi terukur agar mencapai keberprestasian atau 60 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi ilmiah dan lain lain. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang terukur dari materi yang jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi belajarnya. Measurable Measurable berarti dapat mengukur apakah kita telah mencapai tujuan atau tidak (bilangan. baik dalam skala 1–10 ataupun dalam bentuk keberprestasian dan kegagalan. KAJIAN TEORI 1. detail. SMART Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas programprogram yang diajukan dan dilaksanakan. indikator yang terukur dari materi yang khusus jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi nantinya (achievable).

Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. maka bisa dibuat langkahlangkah sebagai berikut: 1. d) Verifikasi (kegunaan dari aksi dan prediksi). Setiap kelompok diberi bahan ajar 3. 6. peserta didik diarahkan untuk membuat klarifikasi dari aturan permainan apakah aturan tersebut adil atau tidak c) Translasi Pada tahap translasi peserta didik didik diminta untuk mencoba langsung dari aturan permainan. 2. 4. MEA (Model Eliciting Activities) Menurut Lesh dan Doerr (2003) siklus Model Eliciting Activities adalah terdiri atas empat tahap. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Kreatifitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. 3. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut diprestasikan produk-produk kreatif yang bermakna. Pertama. dan diarahkan untuk mengaitkan dengan prestasi manipulasi. Time Bound Time-bound berarti mengatur batasan waktu untuk memenuhi tujuan. 2. proses pembelajaran tatap muka dan evaluasi harus jelas dan ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif. Beberapa perwakilan kelompok diminta mempresenasikan prestasi diskusinya berserta prestasi penemuannya. yaitu a) Deskripsi ( membangun model matematika dari permasalahan yang ada pada dunia nyata). b) Manipulasi Pada tahap ini peserta didik diberi desempatan untuk membangkitkan prediksi atau tindakan yang berhubungan dengan situasi pemecahan masalah asli. e.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok. b) Manipulasi (manipulasi model dengan tujuan untuk memprediksi atau melakukan aksi yang berhubungan dengan pemecahan masalah sebenarnya). sehingga Aturan menjadi jelas bagi semua peserta didik. 5.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses pembelajaran dan dapat dilaksanakan secara konkret. Setelah proses diskusi dan telah didapat aturan yang adil maka tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah yang ada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar yang membimbing siswa kearah MEA. Berdasarkan teori tentang model eleciting activiies. Batasan waktu diperlukan harus memenuhi aspek achievable dan realistic. Dalam kegiaan inti terdapat langkah-langkah pembelajaran yang memuat MEA yaitu: a) Deskripsi Pada tahap deskripsi peserta didik membaca bahan ajar yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang telah disusun berdasarkan MEA. c) Translasi (membawa prestasi yang diperoleh dan relevan untuk dikembalikan dengan kondisi sebenarnya). d) Prediksi dan Verifikasi Pada tahap Prediksi peserta didik diarahkan ke arah diskusi untuk meramalkan untuk usul operatif untuk membuat permainan adil disertai dengan alasan-alasan logis dan pada tahap verifikasi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari kegunaan dari prediksi. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 61 . Pada perangkat pembelajaran matematika ketersediaan waktu dari penugasan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif.

dan sebagainya. In: L. Bandung: ITB. R. E. Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12.)..E. dan verivikasi. Learning and Teaching. Langrall. 2008. What’s distinctive in (our views about) models & modeling perspectives on mathematics problem solving. C.. 2009:39). ICMI Study 14: Applications and Modeling in Mathematics Education. G.pdf download tanggal 18 Oktober 2009. Guskey. diharapkan: 1) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang peserta didik dapat mencapai tuntas. http://hrs. inkubasi.. Amsterdam: IOS Press. & Schorr. R. 1982. W. Lesh & H. H. A. Sanjaya. iluminasi. C.. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Pre-Conference Volume. 2003. 1986. mencari jawaban. dkk. bertanya pada orang. R. NJ: Erlbaum. 2) terdapat pengaruh positif kreatifitas peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA (model eliciting activities) pada materi peluang .langkah proses kreatif menurut Wallas (Munandar. Lesh. R.. dalam arti dia tidak memikirkan masalahnya secara sadar.. learning and teaching? In H. Performance Management – Creating SMART Objectives: Participant Guide. University Of Kentucky. In R. Semarang : UNNES PRESS. In Gal & Garfield (Eds. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Lesh. & Doerr. R. Amit.). KESIMPULAN Dalam kegiatan penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data kreatifitas peserta didik. DAFTAR PUSTAKA Arikunto.). National Council of Teachers of Mathematics' 1999 earbook (pp. Jakarta: Bumi Aksara. Terbitan kedua.boisestate. 3) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang lebih baik dari pembelajaran konvensional. Blum (Eds. C. (2004). Ronald. Henn & W. (pp. A. Stiff. learning. disinilah akan lahir gagasan inspiratif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Adapun langkah. Mahwah. Thornton. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. M. The Effectiveness Of Mastery Learning Strategies In Undergraduate Education Courses. Beyond Constructivism: Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. Jones. (2003). dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Boise State University. 2007. Curcio (Eds. Lesh. (1997). Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya inspirasi atau gagasan baru. and problem solving. (1999). Pada tahap persiapan seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir. Doerr (Eds.edu/td/pdf/SMART goals. Dan tahap verivikasi atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas ( disertai dengan pemikiran kritis ). & F. dan Raymond. (pp. S. Tingkat keberprestasian diukur melalui tiga uji statistika. & Yoon. Understanding students' probabilistic reasoning.W. uji pengaruh. meliputi tahap persiapan. Reston VA: The Council. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. 62 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 2009. Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities. J.. Foundations of a models and modeling perspective on mathematics teaching. Using “real-life” problems to prompt students to construct conceptual models for statistical reasoning. 65-83). 3–34). yang sampai sekarang masih diterapkan dalam pengembangan kreativitas. 146-155).). & Tarr. Samsudi. Pada tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. H. V. The Assessment Challenge in Statistics Education. Disain Penelitian Pendidikan.

http://www. 2001 b. L. Metoda Statistika. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”.co. Suparman. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Goal Setting Guide.pdf. R. Bandung: Alfa Beta Swinton. Desain Instruksional.uncommon-knowledge.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Soedjadi. 1997. Juni 2001. Sudjana.uk /psychology_articles/Goal-Setting-Guide. download 18 Oktober 2009 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 63 . 2006. 2002.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CREATIVE THINKING BERBANTUAN VIDEO DIKEMAS DALAM CD PEMBELAJARAN DAN WORKSHEET PADA MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII
FX. Didik Purwosetiyono Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 – Dr. Cipto Semarang, e-mail: fxdidik.purwosetiyono@gmail.com Abstrak
Pembelajaran yang bermakna memerlukan usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas siswa, sehingga akan menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Untuk melihat efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, diperlukan adanya instrumen yang berupa: 1) Rencana Pembelajaran (RPP), 2) worksheet, 3) Lembar Observasi. Juga harus didasari kajian-kajian teoritis dan juga penelitian-penelitian yang relevan untuk membangun suatu efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan kajian teoritis tersebut, diperlukan suatu penelitian, dimana penelitian tersebut merupakan jawaban atas kajian teori peneliti. Penelitian direncanakan dengan teknik claster sampling, dan akan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan dan satu kelas sebagai kelas kontrol.Variabel independen penelitian kreativitas siswa dan variabel dependen prestasi belajar. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran, juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan, 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM, dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM, b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square, c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol, dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Kata kunci : Efektivitas, creative thinking, Video, CD pembelajaran, worksheet.

PENDAHULUAN Pada proses pembelajaran guru meminta kepada siswa mengungkapkan pendapatnya tentang pembelajaran matematika, maka akan banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika sulit, sehingga pada prestasi belajar matematika yang kurang optimal. Sehingga karena asumsi tersebut membentuk pemikiran siswa yang kurang optimis dalam belajar matematika. Menurut Sierwalds (dalam Davasligil, 2005) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan prestasi belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan prestasi belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatvariasi media yang digunakan dalam pembelajaran keterbatasan yang ada pada guru maupun siswa. Pentingnya suatu penggunaan

64

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu salah satunya yaitu dengan pembelajaran matematika pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas CD pembelajaran dan berbantuan worksheet. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas (X) adalah kreativitas siswa, dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam bentuk CD Pembelajaran dan worksheet. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen (E) dan kelompok kontrol (K) pada kompetensi dasar kesebangunan. Variabel terikat ini akan diungkap dengan instrumen tes prestasi belajar menurut ranah kognitif. Jenis instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari: Lembar Pengamatan Kreativitas Siswa, lembar Pengamatan Keterlaksanaan pembelajaran, Lembar Angket Respon Siswa, lembar angket respon guru. Data yang telah dikumpulkan melalui instrumen-instrumen kemudian dianalisis. Data yang dianalisis adalah sebagai berikut. 1) Analisis Data Angket, 2) Analisis Data Tes Prestasi Belajar, meliputi; 3) Uji Hipotesis, meliputi; Uji homogenitas, uji normalitas, uji ketuntasan belajar, Uji perbedaan dua rata-rata uji pihak kanan dan uji proporsi, adalah sebagai berikut. Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang muncul dan akan dikaji adalah: 1) Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas? 2) Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional? 3)Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional? KAJIAN TEORITIS 1. Aktivitas Menurut Paul B. Diedrich ( dalam Sardiman, 2007 ) aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok sebagai berikut. a. Visual Activities, meliputi: memperhatikan dari gambar demonstrasi , membaca, percobaan dari pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik. d. Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan, membuat konstruksi, perangkat, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental Activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisa hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti: menaruh minat, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup, merasa bosan. Jadi klasifikasi aktivitas di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariatif. Jika berbagai aktivitas tersebut dapat dikondisikan selama proses pembelajaran maka pembelajaran lebih dinamis. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Pada Gambar 1 menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran Pasif dan Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa lebih mengingat (retention rate of knowledge) materi kuliah. Oleh sebab itu dalam pembelajaran engineering model pembelajaran aktif ini merupakan alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

65

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

ingin diperebaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tend to Remember about:

Level of Involment

10% of what we read 20% of what we hear 30% of what we see 30% of what we hear and see 70% of what we say

Reading

i.Hearing Words Looking at Pictures j. Watching a Movie k. Looking at an Exhibit l. Wacthing m. a Demonstration Seeing it Done on Location n.
Participation in a Discussion Giving a Talk

Verbal Receiving
PASSIVE

Visual Receiving

Paticipating
ACTIVE

90% of what we say and do

Performance/Dramatic Presentation Simulating the Real Experience Doing the Real Thing

Doing

Gambar 1. Model Pembelajaran Aktif dan Pasif (Sumaidi, 2008:52) 2. Kreativitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertamatama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif ( dalam Munandar, 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi, adalah: 1) Imajinatif, 2) Mempunyai prakarsa, 3) Mempunyai minat luas, 4) Mandiri dalam berfikir, 5) Melit, 6) Senang berpetualang ( senang mengeksplorasi), 7) Penuh energi (bersemangat), 8) Percaya diri, 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu), 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan ( teguh pendirian). Sehingga dari ke sepulih ciri-ciri tersebut akan dibuatlah rincian mengenai daftar angket yang akan dihunakan sebagai lembar observasi kreativitas siswa. 3. Video Video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan. Video ini berkaitan erat dengan audiovisual. 4. CD Pembelajaran. Levie dan Lentz (Arsyad, 2006:8) yang mereviu hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar, stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.

66

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

CD interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006:32) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa. Dipilihnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran berbantuan CD interaktif dengan perangkat komputer tidak lain karena media ini memiliki keunggulan sebagai media instruksional, antara lain: (a) dapat menunjukkan visualisasi yang menonjolkan gerak; (b) dapat dipercepat/diperlambat sehingga mudah diamati dan dimengerti (dapat diulang); (c) materi yang divisualisasikan mirip dengan objek aslinya; (d) dapat diberi efek suara sehingga efektifitas belajar lebih tinggi; (e) gambar bisa diperbesar sehingga dapat digunakan pada kelas yang besar; (f) dapat disimpan dan digandakan dalam CD atau di komputer; (g) software dapat digunakan berulang-ulang; dan (h) perangkat perekam relatif mudah dioperasikan. Dalam penelitian ini CD interaktif yang dimaksud adalah suatu alat dalam bentuk multimedia berupa keping CD yang memuat materi pembelajaran kompetensi dasar. Materi dikemas dengan program macromedia flash untuk 5 (lima) kali pertemuan berisi: (a) standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikatornya; (b) materi pendahuluan; (c) penanaman konsep dengan contoh soal dan latihan soal; dan (d) pada akhir pertemuan dilengkapi tes-uji kompetensi hasil belajar lengkap dengan skor yang diperoleh dari jawaban siswa. Berdasarkan pandangan beberapa ahli di atas maka media pembelajaran berbantuan CD interaktif audio visual merupakan media yang sangat cocok bagi siswa dalam membantu proses belajar diantaranya, (1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, (2) mampu memberikan keseragaman persepsi,(3) mampu menyajikan informasi yang konsisten dan dapat diulang, dan (4) mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat belajar. 5. Worksheet Lembar kerja siswa (worksheet) berupa lembaran-lembaran kertas berisi informasi maupun soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa, pada akhirnya siswa dapat menemukan suatu kesimpulan dari apa yang mereka pelajari. LKS ini sangat mendukung untuk meningkatkan keterlibatan siswa belajar, baik dalam penerapan metode penemuan terbimbing maupun memberikan latihan-latihan pengembangan (Depdiknas, 2004). 6. Prestasi Belajar Prestasi adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2003:76). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Depdiknas, 2003:26). Jadi prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh karena suatu usaha memperoleh ilmu sekaligus terjadi perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang diamati pada ranah pengetahuan dan pemahaman konsep atau kognitif yang datanya diambil dari metode tes (pencil paper test). 7. Kajian Penelitian yang relevan Pada penelitian ini, adapun kajian dari penelitian yang relevan dengan penelian ini adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Iman (2008), dan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2008). Menurut Imam (2008: 128) para guru matematika diharapkan dapat memilih pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar sehingga belajar siswa menjadi pembelajaran yang bermakna. Disinilah diperlukan suatu peranan seorang guru sebagai pembimbing siswa, sehingga bisa mengarahkan siswanya kearah pemahaman mengenai suatu konsep tertentu, sehingga bisa diarahkan pada aktivitas siswa. Menurut Arief (2008: 62) Semakin siswa kreatif dalam melaksanakan tugasnya, atau sudah mau belajar berfikir mandiri membuat siswa selalu aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa bisa dibentuk, dengan memberikan stimulus-stimulus pada siswa dalam suatu pembelajaran, dengan memberikan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

67

memberikan bantuan di awal pembelajaran setelah siswa mampu maka bantuan dikurangi kemudian dilepaskan sehingga anak mandiri dalam membentuk pengetahuan baru yang berkembang terus sebagai milik mereka. diharapkan. Dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. agar pelaksanaan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. (4) bimbingan guru dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh seorang guru untuk mengarahkan siswa menuju pada tujuan yang diharapkan. 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. Pertama. barulah ditambahkan media pembelajaran yang tepat. 3) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking 68 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . kelebihan yang bisa dicapai antara lain (1) siswa diajak dalam suasana kebermaknaan berupa visual. Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square. Dari ciri-ciri pribadi kreatif tersebut dijadikan acuan untuk membentuk kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. dalam hal ini peranan media diperlukan. dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. 2) Terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional. 2) Mempunyai prakarsa. sehingga akhirnya siswa dapat menemukan jawabannya sendiri dari proses kreatif yang dilakukannya. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif (dalam Munandar. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. (3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam hal ini difokuskan pada kreativitas siswa. juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan. adalah: 1) Imajinatif. Menurut FX. dalam penelitian ini. penggunaan CD pembelajaran sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar. c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. SIMPULAN Guru sebagai fasilitator. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. 8) Percaya diri. 3) Mempunyai minat luas. 7) Penuh energi (bersemangat). dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM. perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran. Jika strategi pembelajaran sudah tepat. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Didik (2010:102) Penggunaan dan pelaksanaan suatu strategi perlu diperhatikan arah pencapaian indikator dan tujuan pembelajaran. Pengetahuan baru itu akan dapat diserap dengan baik apabila siswa belajar dalam situasi yang penuh kebermaknaan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pola yang menuntut siswa untuk berfikir. 4) Mandiri dalam berfikir. (2) terciptanya suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dan inivatif saat belajar matematika. sehingga dengan bantuan media ini dapat memacu kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada strategi yang tepat. 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi. 1) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas. 6) Senang berpetualang (senang mengeksplorasi). 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan (teguh pendirian). Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. 5) Melit. 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu).

challenge and Barriers The Case in Turkey. Evaluasi Program Pendidikan.Istambul University. 2005. Sudjana. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Matematika untuk SMP Kelas VII. S. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Erlangga Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 69 . Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. DAFTAR PUSTAKA Arif. Vol. Dekdikbud. Semarang: Program Pascasarjana UNNES. 2007. Puskur Balitbang: Depdiknas. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Munandar. Nurhadi. 71: 88-97. Jakarta: Rineka Cipta. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Dekdikbud. Hudoyo. 2005. Bandung: Alfabeta. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Berorientasi pada Pendekatan Problem Solving Berbantuan CD Pembelajaran Pembelajaran Materi Program Linear Kelas X. Metode Statistika. 1988. 2003 .& Abdul J. S. Tesis. Sugiyono. Jakarta: Balai Pustaka. Intercultural Aspect of Creativity. 2004. Jurnal. 2009. 2009.S.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. H. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto. K. Bandung: Tarsito. 2003. Jakarta: Bumi Aksara Davasligil. Statistika Untuk Penelitian. Sukino & Wilson. 2006. 2002. Arikunto.

Gatut Iswahyudi3 1) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Matematika Pascasarjana UNS 2) Program Pascasarjana UNS 3) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point (2) untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gayakognitiffield dependent (3) untukmengetahui pada masing. Dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat siswa yang cepat mengerti materi yang dipelajari. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu : uji keseimbangan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA kota Pontianak. angket gaya kognitif dan tes pilihan ganda. Kontekstual.masing gaya kognitif. Diperlukan suatu model pembelajaran yang membuat siswa saling berinteraksi. tingkat kesukaran dan konsistensi internal. tetapi ada juga yang lambat mengerti bahkan kadang terdapat yang sangat lambat mengerti materi yang dipelajari.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN POWER POINTPADA MATERI PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK Dewi Risalah1. jumlah siswa yang banyak pada setiap kelas (35.masing model pembelajaran. Analisis instrumen yang dilakukan pada tes yaitu validitas isi dan reliabilitas.beda dalam satu kelas dalam daya pikir. (2) Prestasi siswa yang memiliki gaya kognitif FD lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki gaya kognitif. Dari data analisis disimpulkan : (1) Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point menghasilkan prestasi yang lebih baik dibanding dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.lain. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. yang terdiri 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. bisa bekerja sama dan saling membantu. kreatifitas dan lain. uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas). sehingga siswa bisa saling berdiskusi memecahkan masalah. keadaan sosial.40 anak) dan seringkali siswa yang mengalami kesulitan tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya. PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa matematika adalah kondisi siswa yang berbeda. Analisis butir soal pada tes prestasi dan angket gaya kognitif terdiri dari analisis daya beda. Kesulitan ini karena waktu pertemuan yang tersedia terbatas. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent (4) untuk mengetahui pada masing. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. (3) Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Seringkali guru kesulitan untuk bisa mengontrol anak satu persatu apakah setiap anak sudah mengerti materi yang diajarkan. Riyadi2. uji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Pengumpulan datanya dilakukan melalui kajian dokumen sekolah. power point dan Gaya Kognitif. Kata Kunci : STAD. model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. Siswa yang sudah memahami materi yang 70 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. dan 1 variabel terikat yaitu hasil prestasi siswa. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik.

kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Sementara peserta yang mendapat persoalan bisa bertanya dan berdiskusi dengan siswa yang lain.model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point.hari. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. Kelebihan. Siswa saling bekerja sama untuk memahami materi yang dipelajari dengan guru sebagai fasilitator. Diharapkan dengan pembelajaran kontekstual pelajaran akan menjadi bermakna. Media bantuan yang dimaksud adalah power point. Selain memiliki kelebihan.kelemahan diantaranya adalah tahap presentasi yang dilakukkan oleh guru. akan membuat pelajaran lebih efektif. Diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat pelajaran menjadi pengalaman yang nyata.hari. Modifikasi dari model tersebut yang ditinjau dari gaya kognitif diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari. Menurut Balfakih (2003). manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent ? 4) Pada masing. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan oleh guru untuk memodifikasi materi pembelajaran. Berdasarkan latar belakang masalah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dipelajari bisa membantu siswa yang lain sepaya menjadi mengerti juga. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? 2) Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent? 3) Pada masing. tujuan pembelajaran serta metode pembelajaran. STAD is a cooperative teaching method which was developed as part of a student learning approach programme along with other cooperative methods. Serta diharapkan bantuan power point dalam pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. sehingga pemahaman konsep matematika bisa lebih mudah diterima siswa. saling bekerja sama. yaitu siswa membuat saling berhubungan positif. prestasi adalah kemampuan internal yang memuat kemampuan intelektual dalam hal informasi verbal. Pembelajaran kontekstual juga berusaha membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan sehari. Presentasi guru dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berdengan bantuan power point diharapkan akan membuat pelajaran lebih mudah dimengerti para siswa. Siswa sering merasa kesulitan mengaitkan pelajaran yang diterimanya dengan suatu yang nyata dalam hidup mereka.achievement divisions (STAD).contoh dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta minimnya penggunaan media bantuan dalam pembelajaran.masing gaya kognitif. model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelemahan. Untuk itu perlu dilakukan suatu pembelajaran dengan memodifikasikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point diharapkan bisa mengisi salah satu kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pada tahap presentasi guru. Diharapkan dengan adanya hubungan antara gaya kognitif dengan model pembelajaran. seringkali siswa mempertanyakan relevansi dari besarnya waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan pelajaran matematika. Menurut Smith (2006). sebenarnya seorang guru harus kreatif menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. contextual teaching and learning is defined as a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations.masing model pembelajaran. Sehingga diharapkan dengan berinteraksi akan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Menurut Gagne dalam Winkle (1996:482). Prestasi belajar adalah penguasaan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 71 . Pada tahap ini banyak guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan contoh. Dalam pembelajaran matematika. hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin. Salah satu model pembelajaran yang memenuhi hal-hal yang diuraikan ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe student teams.kelebihan seperti yang disebutkan di atas.

Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2011 hingga bulan Oktober 2011 yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahap. siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. sehingga jika siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menangapi berbagai jenis situasi lingkungannya. Waktu yang diperlukan pada tahap ini dua bulan yaitu bulan Oktober 2011 sampai November 2011. kuis. STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. dan penghargaan kelompok. 2) Siswa yang memiliki gaya belajar kognitif Field Independent memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. sedangkan gaya kognitif FI adalah gaya belajar siswa yang tidak bergantung pada lingkungan belajarnya. penyampaian materi. Gaya kognitif adalah cara seseorang dalam memproses.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keterampilan yang ditunjukkan dengan tes yang diberikan oleh guru yang biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu dan lingkungannya. sedangkan gaya kognitif FD adalah gaya belajar siswa yang bergantung pada lingkungan belajarnya. Kerangka berpikir bahwa STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok.kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. permohonan ijin survei. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok. Subjek penelitian ini adalah siswa semester ganjil Kelas X tahun pelajaran 2011/2012.Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. Tahap persiapan meliputi pengajuan judul tesis. Waktu yang diperlukan pada tahap ini adalah dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September2011. tahap penelitian dan tahap penyelesaian. dan konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli 2011. yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran. yaitu tahappersiapan. 3) Pada masing . Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. Menurut Trianto (2007:10) pendekatan kontekstual (Contekstual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. 4) Pada masing . sehingga jika siswa mampu untuk tidak bergantung dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri.masing model pembelajaran. METODE PENELITIAN Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri di Pontianak. Waktu yang dibutuhkan pada tahap ini adalah 5 bulan. Menurut Trianto (2007:42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. kegiatan kelompok. Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas. Menurut Broverman (1960:167) mengemukakan bahwa gaya kognitif menggambarkan cara seseorang memahami lingkungannya. 72 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .masing gaya kognitif. Diharapkan dengan memadukan model pembelajaran tipe STAD kontekstual dengan kontekstual dengan bantuan power point disertai dengan gaya kognitif siswa akan meningkatkan prestasi belajar menjadi lebih baik.

pengujian hipotesis dan pembahasan penelitian. sedang dan rendah. uji homogenitas.576 dengan nilai tabel t sebesar 1. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak tahun ajaran 2011/ 2012. Setelah dilakukan uji prasyarat kemampuan awal siswa yakni uji normalitas dan homogenitas. Pada gaya kognitif. c.776 yang berarti instrumen tes baik.96 Karena nilai uji lebih kecil dari nilai tabel t maka H0 tidak ditolak. Data penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah prestasi belajar matematika pada materi SPLDV yang dikatagorikan atas model pembelajaran dan kelompok gaya kognitif siswa. yaitu tinggi. a. konsistensi internal. Adapun hasil penelitian disajikan adalah hasil uji coba instrument. SMA Negeri 6 Pontianak yang dipilih berdasarkan rangking. Sehingga diperolah tiga kelas ekperimen dan tiga kelas kontrol. pengujian data analisis. b. Pengujian Hipotesis Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 73 .masing dipilih secara acak satu sekolah yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian. SMA Negeri 8. angket dan tes. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 X 2. terdapat 30 soal yang konsisten dan 10 soal yang tidak konsisten. uji ANAVA dan uji lanjut ANAVA. selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan metode uji beda rerata t. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan rerata antar kelompok model pembelajaran atau dapat dikatakan bahwa antara kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran berbeda. reliabilitas. yang masing. Pengelompokkan tersebut berdasarkan nilai rata .831. Uji Persyaratan Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran dan faktor gaya kognitif siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata prestasi belajar matematika antara kelas STADP dan kelas STADKP berasal dari populasi yang homogen.masing terdiri dari dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. Pada tingkat kesukaran terdapat 2 item soal yang tidak baik.827 dan FD sebesar 0. yaitu STADP dan STADKP mempunyai kemampuan matematika yang sama. demikian juga antara kelompok siswa mempunyai gaya gaya kognitif FD dan gaya kognitif FI berasal dari populasi yang homogen. SMA Negeri 9. deskripsi data. gaya kognitif dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa. SMA Negeri 6 di Pontianak. Indeks reliabilitas sebesar 0. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7. Tahapan yang dilakukan adalah dalam pengambilan sampel yaitu dari seluruh SMA Negeri yang ada di kota Pontianak terlebih dahulu dikelompokkan menjadi tiga tingkatan. Adapun langkah dalam pengambilan sampel yaitu dengan stratified cluster random sampling. tingkat kesukaran. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal Berdasarkan hasil uji normalitas kemampuan awal prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata kemampuan awal prestasi belajar matematika antara kelas STAD Power point dan kelas STAD kontekstual Power point berasal dari populasi yang homogen. uji keseimbangan. Dari ketiga kelompok. SMA Negeri 9 Pontianak. daya beda. pada penelitian ini uji keseimbangan uji t sebesar 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena peneliti tidak mungkin mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabelvariabel yang diteliti. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. masing. Metode yang digunakan adalah dokumentasi. Indeks reliabilitas FI sebesar 0. yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SMA Negeri 8 Pontianak. Uji yang digunakan adalah uji validitas.rata ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 mata pelajaran matematika. uju normalitas. Pada analisis daya beda terdapat 36 item soal diterima dan 4 item soal yang tidak diterima. Sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak.

cukup melihat rerata marginalnya. Dari rerata marginalnya. karena anava telah menunjukkan H0A ditolak.0 10.11 64.79 65.6 Fobs 14. yang menunjukkan bahwa rerata gaya kognitif FD = 65.86 lebih tinggi daripada rerata model pembelajaran STAD Power point = 60. Kalau pun dilakukan komparasi ganda antar rerata model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point.04. d.9 5543. Rangkuman Analisis Variansi SP Model Gaya Kognitif Interaksi Galat Total dk 1 1 2 213 216 JK 4693.27 lebih tinggi daripada gaya kognitif FI= 64. Hal ini berarti terdapat perbedaan rerataan antara model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point terhadap prestasi belajar matematika.92 3.1 295. tampak bahwa H0A ditolak.61 64. Sedangkan H0B ditolak karena nilai uji Ftabel = 3. dapat 74 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . H0 ditolak H0 ditolak H0 diterima Dari tabel di atas tampak bahwa H0A ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.9 73197. perlu dilakukan uji lanjut pasca anava.04 0. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Hal ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika dan H0AB diterima karena nilai uji Ftabel = 3. dapat dipastikan bahwa hipotesis nolnya juga akan ditolak. untuk itu perlu diperhatikan terlebih dahulu tabel rerata sebagai berikut : Tabel 2.92 lebih kecil dari nilai F a = 14. Hasil pengujian ANAVA disajikan dalam tabel rangkuman analisis variansi dibawah ini : Tabel 1.50 8.07 Kep. Dari rerata marginalnya.92 lebih kecil dari nilai Fb = 8.92 3. karena variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai.7 RK 4286.19.1 3. Komparasi Rerata Antar Kolom Dari pembahasan di atas. Uji Lanjut Anava Dari kesimpulan penelitian. maka komparasi ganda tidak perlu dilakukan.46 65.86 1. tampak bahwa H0B ditolak.5 1185.9 62957. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD Kontekstual Power point lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan model pembelajaran STAD Power point.masing Sel Model Pembelajaran STAD power point tanpa Kontekstual STAD power point dengan Kontekstual Rerata Marginal Gaya Kognitif FI FD 54. Dalam penelitian ini. 2.19 69. maka untuk baris tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. Komparasi itu menjadi tidak berguna.07 lebih besar dari nilai F ab = 0. maka ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.27 Rerata Marginal 60. karena variabel model pembelajaran hanya mempunyai dua nilai (yaitu model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point).50.93 75.79.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan jumlah sel tak sama. Komparasi Rerata Antar Baris Dari pembahasan di atas. Ini berarti terdapat perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point terhadap prestasi belajar matematika. Rerata Pada Masing .94 Ftabel 3.94. yang menunjukkan bahwa rerata model pembelajaran STAD Kontekstual Power point = 69.

Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point. maka kesimpulan dari hipotesis ketiga mengikuti kesimpulan hipotesis pertama dan kedua yaitu pada kategori gaya kognitif field independent. Dari kenyataan bahwa tidak terdapat hubungan itu. sedangkan pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD sebesar 65.04 dengan nilai Ftabel = 3. yaitu gaya kognitif FI sebesar 64. Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Dari pembahasan di atas. maka untuk antar kolom tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan faktor antara model pembelajaran dengan gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. sedangkan pada kategori gaya kognitif field dependent. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji Fb = 8. tampak bahwa H0AB diterima.19.92. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan model tipe STAD Power point lebih rendah dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F a = 14. Kedua gaya kognitif tersebut mempunyai nilai yang berbeda.3) Tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. Jadi dapat dikatakan bahwa gaya kognitif FD memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada gaya kognitif FI.79. Dalam penelitian ini.94 dengan nilai Ftabel = 3. yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point sebesar 60.27. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. dapat disimpulkan bahwa karakteristik perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan model pembelajaran STAD kontekstual power point untuk setiap tipe gaya kognitif sama. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih rendah dari pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor model pembelajaran pada prestasi belajar matematika. maka tidak perlu dilakukan uji lanjut antar sel pada kolom yang sama. maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran dan gaya kognitif siswa terhadap prestasi belajar matematika. 2) Siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent. 3.92. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F ab = 0. sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point sebesar 69. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas. karena hubungan tidak ada. model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 75 . Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.86. Hipotesis Kedua. sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point selalu lebih baik diterapkan pada setiap gaya kognitif jika dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran STAD Power point. Kedua model pembelajaran tersebut mempunyai nilai yang berbeda. Pembahasan Hasil Penelitian Hipotesis Pertama. Hipotesis Ketiga.50 dengan nilai Ftabel = 3.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 disimpulkan bahwa gaya kognitif FD lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan gaya kognitif FI. variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai (yaitu gaya kognitif FI dan FD).07.

Mandiri Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas VIII.Hal. Contextual Teaching and Learning Practices In The Family and Consumer Sciences Curriculum.A. Marwanta dkk. Wilson (eds. Vol. No. Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a Twelfth Grade Classroom : Effect On Student Achievement and Attitude. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2007. P Bettye. Contextual Teaching and Learning. 24. Jakarta: PT Bumi Aksara. Yogyakarta: kanisius. Surabaya: CerdasPustaka. PerkembanganIntelektualmenurut Piaget. 2005. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif STAD DiModifikasikan dengan Kontekstual Pada Materi Lingkaran DiTinjau dari Tingkat Intelegensi Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2009/ 2010. 1985. Journal of Educational Technology and Society. 31. Jakarta: Erlangga. 23. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 76 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Journal of Family and Consumer Sciences Education. 1. 2006.2003. R. Matematika SMA Kelas X. Elaine B. Vol. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 5. Balfakih. No. 2010. Hamzah Uno B. T. Amstrong. Vol. Jakarta: Erlangga Johnson. MetodePenelitian.A dan Ibraheem. 4. 1998. 2/6. Vol. Psikologi Belajar.2001.DasarMetodologiPenelitianKwantitatifdalamPendidikan. 2009. 2008. KamusBesarBahasa Indonesia. 9. 29. Contextual Teaching and Learning. Journal International Handbook of Education for the Changing World of Work. Seribu Pena Matematika Jilid 1 Untuk SMA/ MA Kelas X. Depdiknas.International Journal of Science Education. 2000. Jakarta: Apollo. Elaine B. Altun. Spring.Tesis: UNS Surakarta. No. Hal.A. Johnson. Hal. MetodePenelitianBidangsosial. Springer Science+Business Media B. Diakses tanggal 22 Mei 2011. Jakarta :Erlangga. F. Terjemahan Cooperative Learning Teori. Hal. Dwi Titik Irdiyandi. Vol. 2006. 20.Vol. 2009. Scott. Paul Suparno. Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical Kinetics. StatistikTeoridanAplikasi.). Hadari Nawawi. Undergraduated Students Academic Achievement. Bandung: MLC. 2. No.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point. Kurniawan. 26. A dan Cakan. Teori Perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: GajahMada University Press. Daryanto. 1. Bandung: University of Washington. 2009. The Effectiveness of Student Team-Achievement Division (STAD) for Teaching High School Chemistry in The United Arab Emirates. Blanchard. Winter. Moh Nazir.2005. M. 2009. Bandung: MLC. DAFTAR PUSTAKA Adesoji. Riset dan Praktik. 2001. The Northwest Regional Education Laboratory USA. No.Field Dependent / Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers.V. D. 2009. 2008. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. 289-297.1997. 11. 2010. Jakarta: Yudistira. Hal. Journal of Social Studis Reseacrh. 605-624. Diakses tanggal 22 Mei 2011. 25. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Hal. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada. Muhibin Syah. Husein Tampomas. Smith . UNS Press. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Nusa Media. Cetakan 3. 2009. The Journal of International Social Research. The Implications of Cognitive Style to Adult Distance Education. Ibnu Hadjar. Nagib M. XV.27. Johanes Supranto. Maclean. 2009. 5. Spring/ Summer. Dasar. Slavin.Jakarta: Rajawali Pers. Budiyono. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 1999.

MetodologiPenelitian. Dasar. Alfabeta. Jakarta: CerdasPustaka. Trianto. Tesis: UNS Surakarta.Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Bandung: Tarsito. 2007. 2003. MendesainPembelajaranKontekstual (Contextual Teaching and Learning). 2005. Model. StatistikUntukPenelitian.Progresif. Suharsimi Arikunto. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 77 .Jakarta: Prenada Media. Trianto. Sugiyono. 2005. Sumargiyani. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Matematika DiTinjau dari Intelegensi Siswa SLTP Muhammadiyah II Yogyakarta. 2009.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Sudjana. SoemardiSuryabrata. 2004. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif.model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontstruktivistik. MetodaStatistika. Bandung: CV. Jakarta: Raja GrafindoPersada.2008. 2005. Jakarta: Prestasi Pustaka. Jakarta: Bumi Aksara. Trianto.

Kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro juga menunjukkan adanya peningkatan dengan diperoleh nilai rata-rata untuk pra tindakan 63 dalam kategori sedang. mampu melakukan evaluasi atau menilai prestasi siswa.25 dalam kategori sedang. Kegiatan dalam setiap siklus sesuai dengan prosedur supervisi klinis yaitu meliputi: 1) Pertemuan perencanaan. Keadaan ini dapat dipahami karena. calon guru belum terbiasa mengajar dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan implementasi dari program pembelajaran yang tertuang di dalam silabus. Oleh karena itu guru haruslah mempersiapkan RPP sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatkan kemampuan menyusun RPP hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata pra tindakan 63. 4) Refleksi. Pada umumnya dalam Penyusunan RPP calon guru cenderung kering akan inovasi. yaitu praktik pengalaman lapangan. 2) pengamatan mengajar. Rencana Pelaksanaan pembelajaran. Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP calon guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa calon profesi pendidik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif univariat . professional.88 dalam kategori sangat baik. kepribadian . mampu menyiapkan RPP yang inovatif. dan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guru keperluan pengajaran. mampu mengelola interaksi belajar mengajar. Selanjutnya dari kompetensi tersebut. kependidikan. bukan menjadi komponen utama sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pembelajaran. siklus I 67 dalam kategori baik dan siklus II 78 dalam kategori baik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP DAN KEMAMPUAN MENGAJAR DALAM PENGAJARAN MIKRO MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UST Esti Harini Program Studi Pendidikan Matematika. FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST . Pengajaran mikro ini sebagai prasarat untuk menempuh PPL II. menguasai landasan-landasan kependidikan. Disamping itu kegiatan Pembelajaran dalam Pendidikan adalah kegiatan yang bersifat terencana dan sistematik. Profil guru yang profesional antara lain adalah menguasai materi pengajaran. laboratorium. atau lapangan. mampu mengelola kelas. 78 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . yang langsung terjun mengajar di sekolah-sekolah tempat praktik dalam rangka penyiapan guru yang profesional. Kemampuan Mengajar PENDAHULUAN Mata kuliah PPL I atau pengajaran mikro adalah mata kuliah kelompok kependidikan ( MKPK ) yang bertujuan melatih mahasiswa mengajar di dalam kelas dengan siswa temantemannya sendiri ( mahasiswa ). mampu menggunakan media atau sumber. 3) pertemuan balikan. oleh karena itu perencanaannya seharusnya dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara lengkap dan operasional. mengenal dan menyelanggarakan administrasi sekolah. Kata kunci: Supervisi Klinis.52 dalam kategori baik dan siklus II 80. mampu mengelola program belajar mengajar. dengan materi matematika SLTA atau SLTP. sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. karena RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas. dan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tidak mengacu pada RPP yang sudah disusun. disempurnakan menjadi empat kompetensi yaitu. dan social. siklus I 73.

Telaah rencana pelajaran dan cermati tujuan pelajaran dan tujuan dari latihannya.scribd. mendiskusikan instrumen yang akan digunakan 2) Pengamatan mengajar meliputi pengamatan yang dilakukan supervisor dengan cara merekam focus kegiatan maupun interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa. supervisor membantu calon guru untuk merencanakan latihan yang akan datang.com/doc/23862850/supervise-klinik) Berdasarkan uraian di atas. Demikian seterusnya sampai indikator keberhasilan dicapai. Subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan matematika yang pada semester genap 2010/2011 mengambil Praktek Pengalaman Lapangan I (PPL I). Rancangan Penelitian : Dalam penelitian ini terdapat siklus-siklus dan banyaknya siklus tergantung dari tercapainya indikator kaberhasilan. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengajar. Supervisor bersama calon guru membandingkan target latihan dengan hasil latihan dan mendiskusikannya. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. 3.Waktu pelaksanaan adalah pada semester genap tahun akademik 2010/2011. Secara rinci langkahlangkah dalam setiap siklus sebagai berikut: a. Bersama-sama melihat kembali target kecakapan atau ketrampilan serta focus utama dalam latihan yang telah disepakati. maka penelitian akan berhenti pada siklus tersebut. dan Obyeknya kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro dengan treatmen supervisi klinis. Jika indikator keberhasilan sudah dicapai dengan dua siklus. dengan menggunakan instrumen yang telah disepakati 3) Pertemuan balikan . 2. perasaan atau kesan calon guru. Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Usaha mennciptakan suasana yang hangat dan bebas antara calon guru dengan supervisor. supervisor kembali menanyakan . Kegiatan yang dilakukan meliputi: a) Supervisor menanyakan kepada calon guru bagaiman peranannya selama melakukan latihan mengajar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. Metode penelitian adalah metode eksperimen semu. antara lain: 1) Pertemuan pendahuluan ( perencanaan )\ kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut (http://www. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data tentang kemampuan menyusun RPP mahasiswa saat akan melakukan praktek mengajar. Telaah dan diskusikan ketrampilan yang akan dilatih. Berdasarkan hasil kajian . Berdasarkan hasil kajian bersama atau hasil latihan tsb. Siklus I Peneliti merancang tindakan/prosedur supervisi klinis yang akan dilaksanakan dalam penelitian . maka pelaksanaan supervisi klinis diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST. Namun jika indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus tersebut maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya. Berdasarkan target tsb supervisor menyakan kesan calon guru b) Supervisor menyajikan data berupa hasil rekaman kemudian bersama-sama menganalisis dan menafsirkan rekaman tsb. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 79 .

ketrampilan menyusun RPP yang inovatif Supervisi Klinis menuntut guru/calon guru untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran . Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran. Sedang fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. Penggunaan bahasa. Kerangka Berfikir Supervisi klinis memfokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan. untuk perbaikan penampilan mengajar berikutnya.9 : Belum Menguasai Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah. 4. dan lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari : 1.0 – 79.0 – 56. (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. validasi data. Kegiatan pra pembelajaran. Dengan demikian . (4). dari tahap perencanaan yaitu penyiapan rencana pelaksanaan pembelaran sampai dengan proses pembelajarannya.9 : Kurang Kurang 45. 5. d. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar. c. Pemilhan metode pembelajaran. Pemilihan sumber belajar / media pembelajaran. Disamping itu Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru/calon mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. Adapun rumus dan kriteria yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: Rumus untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/68 x 100 Rumus untuk menganalisis kemampuanmengajar sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/100 x 100 Dengan kriteria sebagai berikut : 80. Perumusan tujuan pembelajaran. kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan. 2. 3.9 : Baik 57. maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan supervisi klinis. Teknik Analisis Data: Untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP – UST.9 : Sedang 47. pengamatan dan analisis yang intensif terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran maupun penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Tahapan pelaksanaan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus sebelumnya. 80 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . terutama bahan pembelajaran. Dan kegiatan penutup pembelajaran.yang terdiri dari lima indikator yaitu :1. f. pendekatan /strategi pembelajaran. berupa lembar penilaian penyusunan RPP . pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. 2. Siklus selanjutnya merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya.0 ke atas : Sangat Baik 67.0 – 66. b. digunakan statistik deskriptif univariat yaitu dengan menggunakan rumus penilaian dan patokan yang telah ditetapkan. Dan calon guru akan selalu dapat mereview penampilan mengajar sebelumnya dan menganalisa kekurangan – kekurangannya. memutuskan tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. (3) keterampilan dalam proses pembelajaran dan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 4) Refleksi Pada tahap ini peneliti melakukan pengolahan data. e. Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. penilaian proses dan hasil belajar. penguasaan materi pembelajaran. dapat diharapkan dengan supervisi klinis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan Berdasarkan kerangka berpikir tersebut. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mengajar para mahasiswa adalah sedang. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan Pembelajaran Nilai 83. b. Penilaian proses dan hasil belajar f.88 dalam kategori sangat baik pada siklus II.5 Kategori Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik 2. peneliti melakukan evaluasi terhadap RPP yang para mahasiswa susun sebagai kemampuan awal. Hasil secara keseluruhan untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 1. Hasil selengkapnya untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 3.52 dalam kategori baik pada siklus I.67 87. c.25. Pendekatan /strategi pembelajaran. Kemampuan Mengajar Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari 6 indikator yaitu : a. Kemampuan Menyusun RPP Secara keseluruhan hasil evaluasi RPP para mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyusun RPP. Pada saat penampilan pertama para mahasiswa mengajar peneliti mengobservasi dengan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal mengajar para mahasiswa. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran.5 Kurang Kurang Baik Sangat baik Sangat baik Sedang Sangat baik Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 81 . dengan diperoleh hasil sebagai berikut: siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 berada dalam kategori baik.33 75 87.33 68. dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 berada dalam kategori baik. Penguasaan materi pembelajaran.33 87. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menyusun RPP adalah sedang dengan nilai rata-rata 63. dan 80. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. Dan hasil ini hampir merata untuk semua aspek. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran Nilai 83. d.5 66. dengan nilai ratarata 63.33 75 83. Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 75 Kategori Baik 50 50 75 83. Setelah dilakukan tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: 1.75 75 80 75 Kategori Sangat baik Sedang Baik Sangat Baik Baik Tabel 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan. e. Hasil evaluasi secara keseluruhan kemampuan menyusun RPP diperoleh nilai 73. Kemampuan Mengajar Mahasiswa dalam Pengajaran Mikro Secara keseluruhan dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam pengajaran mikro.

Juga pemilihan strategi pembelajaran perlu untuk pemilihan yang tepat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 4. yaitu pra siklus diperoleh nilai ratarata 63 dalam kategori sedang .67 83.33 87. pengamatan mengajar dan pertemuan balikan Ada peningkatan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST. siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 dalam kategori baik.88 dalam kategori sangat baik.5 66. Kemampuan Mengajar Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar berikutnya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru.Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 87. khususnya penguasaan materi matematika.Penilaian proses dan hasil belajar f. Kemampuan Menyusun RPP Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan menyusun RPP. d. Prosedur supervisi klinis meliputi : pertemuan pendahulun . dan pemahaman tentang strategi pembelajaran perlu ditingkatkan lagi. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. Untuk penguasaan materi masih dalam kategori sedang.33 91. c.Penguasaan materi pembelajaran b.5 Kategori Sangat baik 62.Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. 82 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Saran Dari hasil penelitian disarankan agar mahasiswa masih harus banyak belajar materi matematika khususnya konsep-konsep dasar matematika.25 dalam kategori sedang . Pembahasan a.Pemanfaatansumberbelajar/media pembelajaran. siklus I diperoleh nilai rata-rata 73. e.52 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 80. tapi para mahasiswa masih harus banyak berlatih dan belajar. tapi ada beberapa mahasiswa yang didalam menyusun RPP masih kering dan kurang inovatif oleh karena itu masih perlu untuk ditingkatkan lagi khususnya dalam aspek pemilihan dan pengorganisasian materi ajar dan pemilihan metode pembelajaran.5 83.Pendekatan/strategipembelajaran. hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya didalam proses pembelajaran.5 Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3. Kemampuan mengajar pada pengajaran Mikro Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa FKIP UST. yaitu pra siklus diperoleh nilai rata-rata 63.67 87. b.

KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. 1988.. Boston: Allyn and Bacon Inc. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). P. dkk. 2007. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Makmun Abin Syamsudin. Sahertian. Bandung: Remaja Karya.wordpress.scribd. Supervisi Pengajaran ( Teori dan Praktek ).com/2008/.com/doc/23862850/supervise-klinik diakses Februari 2011 Iim Waliman. Supervision of Intruction. Jakarta: Bina Aksara. Suharsimi Arikunto. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. C./panduan_penyusunan_rpp. Bandung: PT Remaja Kosta Karya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 DAFTAR PUSTAKA Agus Taufiq.wordpress.A. 2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1983.doc di download tanggal 14 April 2009 Glickman. Jakarta: Depdikbud. 1986. Jakarta: Rineka Cipta. Hasibuan dan Moedjiono. Kesiapan Lulusan SPG dalam Mengajarkan Matematika dan IPA di SD: Disertasi.Tentang Standar Nasional Pendidikan Rostijah.1982.com/2008/03/01/supervisi-klinis/ diakses Februari 2011 http://www. Nana Sudjana.files. 2001. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Muhamad Joko Susilo. 1985. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. Bandung edy010169. http://ahmadsudrajat. Proses Belajar Mengajar.D. 2000. Bandung: Sinar Baru Nurtain. Masalah-masalah ilmu keguruan. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 83 .. Psikologi Pendidikan.2001. 1989.

6%). dan sisanya 10. Hal ini dimungkinkan karena penyajian materi yang masih cenderung standar dan kurang inovatif dalam menyelesaikan soal-soal pada materi permutasi dan kombinasi. Dari hasil ulangan 205 siswa kelas XI IPA RSBI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2010/2011. kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita tentang penerapan permutasi dan kombinasi.3%). Penelitian dilaksanakan dengan Pendekatan Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang terbagi dalam 3 siklus. Jika batas nilai KKM untuk Kompetensi Dasar Permutasi dan Kombinasi adalah 70.9% siswa belum mencapai KKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran open-ended.2%). Pada materi pokok tersebut memuat tentang permutasi dan kombinasi.6%). dengan prosentase keaktifan 90% aktif dan hanya 10% kurang aktif. Mereka belum bisa membedakan apakah suatu soal termasuk masalah permutasi atau kombinasi.81% berada pada tahap multistructural. kemampuan berpikir matematis. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran opend-ended di kelas dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita dan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi Permutasi dan Kombinasi di RSMABI. Mereka ingin mengambil nomor duduk secara berjajar. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi pelajaran Matematika SMA kelas XI IPA Semester I.41 % siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM.59% siswa mendapat nilai di atas KKM (75) dan hanya 5. dan selebihnya mendapat nilai kurang dari 60 (36. Berdasarkan pengalaman peneliti. maka dari data tersebut tampak bahwa hanya 34. siswa dapat menyelesaikan soal cerita pada Permutasi dan Kombinasi dengan baik dan benar. Sementara itu dilihat dari kemampuan berpikir matematis siswa didapat 89. Kata kunci : pembelajaran open-ended. Jika mereka harus duduk dengan aturan dua orang akan berdekatan hanya jika 84 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . penilaian autentik. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2011 /2012.19% siswa berada pada tahap relational.3%). 30 siswa mendapat nilai antara 70 – 79 (14. Inti masalah pada materi tersebut adalah bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan permutasi dan kombinasi. yang terdiri dari 37 siswa. 25 siswa mendapat nilai antara 80 – 89 (12. yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes akhir siklus III sebagai berikut : 94. memuat materi pokok peluang. keaktifan siswa. 60 siswa mendapat nilai antara 60 – 69 (29. dan proses pembelajaran berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan November 2011.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERMUTASI KOMBINASI MELALUI PEMBELAJARAN OPEN –ENDED DI RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL (RSMABI) Ira Kurniawati Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMABI).1% siswa yang mencapai nilai  KKM dan 65. pada materi permutasi dan kombinasi diperoleh data nilai sebagai berikut : 15 siswa mendapat nilai  90 (7. Sebagai gambaran jika diberikan soal cerita berikut: Empat pasang suami istri membeli tiket untuk suatu pertunjukan.

4) x P(4. sehingga siswa mencintai matematika. Siswa seringkali salah dalam mengerjakannya karena salah dalam menafsirkan soal. Dengan demikian siswa dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 8! dan sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 2. pendekatan atau pun strategi dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. maka langkah penyelesaiannya dipastikan akan salah. Soal cerita permutasi dan kombinasi bersifat terbuka. Untuk itu pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasinal (RSBI) perlu mengembangkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan ide-idenya sehingga kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal.4). Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. pendidik harus selalu berusaha untuk memvariasikan model. Oleh karena itu. padahal memahami masalah merupakan langkah awal dalam memecahkan masalah tersebut. Jika siswa salah dalam menggolongkan masalah yang ada. Sebagai siswa pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). siswa tidak bisa mengkombinasikan beberapa kejadian yang muncul. serta pendidik harus berusaha menanamkan kepada siswa bahwa pelajaran matematika dapat meningkatkan penalaran. sehingga kegiatan kreatif dan pola pikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan memberikan kesempatan siswa menemukan idenya untuk memecahkan masalah dengan benar.4). Untuk menyelesaikan soal-soal cerita seperti itu biasanya siswa kurang bersemangat dan tidak mau berusaha keras untuk memahami soal itu. ada berapa banyak susunan tempat duduk yang mungkin dibentuk? Masalah tersebut merupakan masalah terbuka. Hal ini akan berdampak positif dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 85 . pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang terprogram agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang baik. Untuk dapat memecahkan masalah di atas. sebagian siswa ada yang menyelesaikannya dengan menggunakan rumus akhir permutasi 4 unsur dari 4 unsur yaitu P(4. kreatif dan kemampuan berpikir yang sistematis serta terorganisir. Pendidik perlu mempersiapkan suatu model. siswa tidak bisa mengklasifikasikan masalah dengan tepat. Pembelajaran open-ended adalah salah satu alternatif pembelajaran matematika dalam rangka mengoptimalkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi Permutasi dan Kombinasi melalui kegiatan aktif. perlu adanya suatu pembelajaran yang tepat yaitu pembelajaran terbuka yang memberikan kesempatan dan kebebasan bagi siswa untuk menggunakan caranya masing-masing dalam menyelesaikan soal tersebut. Untuk permasalahan soal cerita di atas sebagian besar siswa salah dalam menyelesaikannya. Dalam pembelajaran matematika tugas seorang guru sebagai pendidik adalah menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keduanya adalah pasangan suami istri atau berjenis kelamin sama . agar pelajaran matematika yang diperoleh akan terasa manfaatnya. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus P(4. Siswa diberikan kebebasan dalam menemukan ide dalam menyelesaikannya. diharapkan guru sebagai pendidik berusaha untuk dapat memilih model. maka sudah seharusnya proses pembelajaran matematika ditangani lebih serius. membentuk kepribadian serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.P(4. Penekanan pembelajaran matematika di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya siswa akan dapat menyelesaikan soal cerita tersebut dengan benar. dan juga karena siswa tidak bisa mengaitkan beberapa konsep secara simultan dalam memecahkan masalah tersebut.4). tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa pada sekolah-sekolah biasa. artinya cara pemecahan masalah tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai cara. Sehubungan dengan pentingnya peranan matematika. jika siswa telah dapat membedakan masalah tersebut tergolong masalah permutasi atau kombinasi. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa. Kesalahan-kesalahan di atas terjadi di antaranya karena : siswa tidak memahami masalah dengan benar. Jadi untuk dapat mengajar lebih efektif dan membuat anak didik merasa senang dan tidak bosan dalam belajar.

Meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA SMA RSBI dalam menyelesaikan soal cerita tentang permutasi dan kombinasi. Jika kemampuan berpikir matematis siswa dapat maksimal maka kemampuan siswa dalam memecahkan masalah akan meningkat sehingga prestasi belajar matematika siswa pun dapat meningkat pula. peningkatan kualitas pembelajaran pada materi materi permutasi dan kombinas dilakukan dengan pendekatan pembelajaran open-ended melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research ). Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. tujuan umum penelitian adalah untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga pendidikan pada sekolah RSMA BI pada umumnya dan bagi guru matematika RSMABI pada khususnya. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Jawaban akhir bukanlah tujuan utama dalam pembelajaran open-ended. Pembelajaran ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan ideidenya sehingga kegiatan kreatif dan kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. Materi pembelajaran sebagai fokus dalam penelitian ini adalah Permutasi dan Kombinasi yang terbagi atas beberapa sub-materi. dimana masing- 86 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . tetapi lebih menekankan pada bagaimana sampai pada suatu jawaban. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 1 Sukoharjo sebagai RSMABI. sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna karena lebih menekankan pada proses belajarnya. permutasi. yaitu : kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Seperti telah disebutkan di muka. 2. 3. yang terdiri dari 37 siswa. METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di RSMABI Negeri 1 Sukoharjo pada siswa kelas XI IPA 3 semester 1 tahun pelajaran 2011/2012. Sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI?” Tujuan Penelitian Sejalan dengan itu. pembelajaran materi tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran open-ended dan pelaksanaan penelitiannya mengacu kepada prinsip-prinsip tindakan kelas. dalam hal alternatif model atau pendekatan pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika juga sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. dan kombinasi. Sebagai masukan bagi pengelola pendidikan untuk menerapkan pembelajaran openended sebagai alternatif pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dan perbaikan kualitas pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi. Oleh karena itu. sehingga pembelajaran open-ended memberikan kebebasan dalam menggunakan strategi dan cara dalam memecahkan suatu masalah.

baik pada tugas maupun kuis pada tiap akhir siklus. dan (3) Siklus III menggunakan modul III tentang kombinasi.24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 87 . (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan pada siklus berikutnya. Penyimpulan juga dilakukan secara kualitatif. kualitas pembelajaran berjalan semakin baik. Dan untuk menentukan prosentase ketuntasan belajar siswa pada materi permutasi dan kombinasi ditandai dengan nilai tugas dan kuis pada tiap siklus sebesar 75 ke atas. Pada akhirnya. antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah tinggi. indikator tercapainya upaya peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan pembelajaran open-ended antara lain : (1) 94. (3) 89. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini. data yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan simpulan apakah pada siklus yang bersangkutan proses pembelajaran telah berlangsung baik dan apakah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran telah baik pula. Analisis data dilakukan secara kualitatif.19% siswa berada pada tahap kemampuan berpikir matematis relational.94 24. Mengingat materi pembelajaran dalam penelitian ini hanya satu materi pokok saja.99 80 . (2) pelaksanaan tindakan. Proses interaksi multi arah ini baru dapat dilakukan pada siklus III. dengan rincian sebagai berikut : (1) Siklus I menggunakan modul I tentang kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. Lembar pengamatan ini diisi oleh pengamat.22 48. Sedangkan kuis dikerjakan di kelas secara individual.89 Klasifikasi Nilai Kuis Materi Permutasi dan Kombinasi Kuis Siklus 1 Kuis Siklus 2 Frekuensi 3 17 9 % 8.59% dari jumlah siswa kelas tersebut telah mencapai KKM.32 Kuis Siklus 3 Frekuensi 6 18 8 % 16. Sedangkan untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar matematika siswa pada materi permutasi dan kombinasi digunakan tugas dan kuis pada tiap akhir siklus. yaitu pada akhir siklus ketiga. Hal ini ditandai antara lain pada waktu proses pembelajaran berlangsung tercipta komunikasi multi arah antara guru dan siswa. maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat dari rangkaian kemajuan nilai yang diperoleh siswa. pada tahapan analisis dan refleksi. yaitu : (1) perencanaan. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 siklus. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini. Teknik Penyimpulan Pada akhir penelitian. Teknik Analisis Data Sesuai dengan langkah penelitian tindakan kelas. Klasifikasi Nilai 100 90 . (2) keaktifan siswa mencapai 90%.11 45. Penyimpulan dilakukan dengan melihat data-data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan.62 Frekuensi 0 0 16 % 0 0 43. (3) observasi dan interpretasi. disimpulkan apakah proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik. apakah pemahaman siswa dan kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi pembelajaran materi permutasi dan kombinasi khususnya dalam menyelesaikan soal cerita telah baik pula dan meningkat.65 21. ternyata dengan diterapkannya pembelajaran open-ended. Teknik Pengumpulan Data Untuk mencatat kejadian selama proses pembelajaran berlangsung digunakan lembar pengamatan. peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari nilai-nilai siswa pada tiap kuis pada akhir proses pembelajaran. Secara umum. Tabel 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masing siklus terdiri dari 4 tahapan. Tugas berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual di luar jam pembelajaran. (2) Siklus II menggunakan modul II tentang permutasi. Setiap tugas dan kuis pada akhir pembelajaran digunakan nilai dengan skala 100.

maka kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir matematis akan meningkat dapat diterima.41% Adapun peningkatan ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.71 100 3 2 0 37 8.54% Prosentase Siklus II 78. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung baik dan dipandang dari sisi prestasi belajar matematika pada materi yang memuat materi modul I sampai modul III.79 60 .24 10.62% Siklus III 94.46% 40. tes akhir siklus II. ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Hal ini nampak pada waktu pembelajaran berlangsung. Tabel 2.11 2. semua siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan masing-masing siswa mengerjakan sendiri dengan seksama.71 100 4 3 1 37 10.00% 30.11 5. apabila disuruh mengerjakan soal oleh guru. Selain daripada itu berdasarkan observasi dari tim pengamat.00% 50.40 0 100 Dari hasil tes siklus III pada akhir siklus III.00% 20.00% 0.00% Siklus I Siklus II Siklus III >=KKM <KKM Gambar 1 Perkembangan Ketercapaian KKM Sementara itu keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus juga meningkat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 70 . rangkuman keaktifan siswa dari siklus ke siklus dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut.00% 80. motivasi dan minat siswa dalam mempelajari permutasi dan kombinasi cukup tinggi. maka hipotesis tindakan yang mengatakan bahwa dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan openended dalam menyelesaikan soal cerita permutasi dan kombinasi. dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan siswa pada akhir siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan oleh peneliti dan telah mengalami peningkatan.69 < 60 Jumlah 16 4 1 37 43. meskipun terkadang disertai dengan diskusi kecil di antara para siswa tanpa menimbulkan suasana yang gaduh di kelas.38% 21. Pembahasan Berdasarkan analisis dari tes akhir siklus pada setiap akhir siklus yaitu dari adanya tes akhir siklus I. Setiap ada tugas pada akhir modul.81 2. dan tes akhir siklus III. 88 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 100.00% 60.00% 10.59% 5.00% 70. semua siswa berusaha menyelesaikan dan beberapa siswa mengerjakannya di depan kelas dengan cara yang berbeda. Rangkuman Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Ketercapaian KKM  KKM < KKM Siklus I 59.81 8.00% 40.00% 90.

81% 29.81% 89. keaktifan siswa mengalami kenaikan secara signifikan.73% 59.38% 0% Siklus III 0% 0% 10. Rangkuman Keaktifan Siswa Keaktifan Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Siklus I 65% 30% 5% Prosentase Siklus II 80% 17% 3% Siklus III 90% 10% 0% Jika dilihat secara keseluruhan. Gambar 2 Peningkatan Keaktifan Siswa Kemampuan berpikir matematis siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.22% 78.40% 16. Tabel 4 Rangkuman Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kemampuan Berpikir Matematis Prestructural Unistructural Multistructural Relational Extended Abstract Siklus I 0% 10. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 89 .19% 0% Adapun perkembangan kemampuan berpikir matematis siswa dapat disajikan dengan diagram sebagai berikut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 3.46% 0% Prosentase Siklus II 0% 5.

Dengan kata lain. serta melakukan prosedur sederhana.59% siswa mendapat nilai di atas KKM. Pada tingkat ini. e. mengingat. melakukan generalisasi. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. melakukan analisis. dan menghasilkan sesuatu. tetapi pemahaman terhadap masing–masing komponen terbatas. fakta dan teori. siswa telah mampu menyebutkan. Relational Pada tingkat ini siswa dapat menentukan hubungan antara tiap komponen. c. d. mengklasifikasikan. tetapi belum mampu membuat hubungan yang luas. maka dapat diartikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Pemahaman di transfer dan digeneralisasikan dalam masalah yang berbeda. kegiatan dan tujuan. mengajukan hipotesis. mengintegrasi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Gambar 3 Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcomes Taxonomy) dikembangkan oleh Biggs dan Colis (1982). Siswa menunjukkan pemahaman bahwa tiap bagian memiliki kontribusi terhadap keseluruhan. Pre Structural Pada tingkat ini. menjelaskan sebab. sebanyak 94. Berdasarkan Taksonomi SOLO kemampuan berpikir matematis siswa di kategorikan sebagai berikut : a. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Multi Structural Pada tingkat ini. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. Extended Abstract Pada tingkat ini siswa mampu memiliki pemahaman yang lebih luas dari apa yang sudah diperoleh dalam pembelajaran. Pada tingkat ini siswa telah mampu mengidentifikasi. siswa mampu mengemukakan teori. Siswa dapat menerapkan konsep ke persoalan sehari–hari atau situasi kerja. dipandang dari sisi prestasi belajar pada materi permutasi dan kombinasi. Siswa menunjukkan pemahaman komponen yang masing–masing bagiannya terintegrasi. ketuntasan belajar siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. (RMIT University. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Pada level ini. Sejumlah hubungan telah dibuat. siswa dapat mengerti komponen secara umum. b. menjelaskan hubungan dan menerapkan. Pada tingkat ini siswa dapat membandingkan. siswa kehilangan inti dari informasi yang diperoleh. siswa tidak mengerti penjelasan dari suatu informasi. Ide dan konsep tentang sebuah permasalahan belum diorganisasikan dan tidak ada hubungan satu sama lain. mengurutkan. Prestasi belajar 90 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pada tingkat ini. mengkombinasikan dan melakukan algoritma. Uni Structural Pada tingkat ini siswa telah mampu membuat hubungan sederhana. tetapi hubungan yang menyeluruh belum ditentukan. 2008) Pada akhir siklus. memberikan reaksi.

sedangkan tahap multistructural. dapat dikatakan bahwa pembelajaran open-ended dalam pembelajaran matematika di kelas dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Dengan demikian. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. Disamping itu. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Pada akhirnya. maka dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa dalam belajar materi permutasi dan kombinasi cukup tinggi. kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Sedangkan taha extended abstract sebagai tingkat tertinggi dari kemampuan berpikir matematis menurut SOLO tidak dicapai karena dikarenakan konstruksi desain pembelajaran ditekankan pada pendekatan open-ended sehingga fokus utama pada penelitian tindakan ini adalah pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan peningkatan semua komponen. akibatnya dapat mengganggu target pencapaian materi yang harus dicapai. keaktifan. Oleh karena itu. unistuctural dari siklus ke siklus menyusut karena kemampuan berpikir siswa cenderung meningkat ke tahap relational. kepada para Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 91 . hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi. Begitu pula jika Pada akhir siklus. sebanyak 89. sedangkan kemampuan berpikir matematis merupakan salah satu hasil dari pembelajaran Dengan kata lain. Kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada kemampuan berpikir matematis siswa pada pembelajaran sebelumnya. Saran Terlepas dari kelemahannya. proses pembelajaran materi permutasi dan kombinasi pada kelas XI IPA 3 RSMABI Negeri 1 Sukoharjo telah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan proses pembelajaran pada tahuntahun sebelumnya.19% siswa telah berada pada tahap relational yang merupakan tahapan kemampuan berpikir siswa yang tertinggi. siswa akhirnya mudah membedakan suatu masalah itu sebagai permutasi atau kombinasi. dan kemampuan berpikir matematis. kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi juga meningkat daripada kemampuan berpikir matematis siswa sebelumnya. serta dapat melatih siswa untuk berpikir dengan lebih cermat dan sistematis. dipandang dari sisi kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. hai ini disebabkan pembelajaran open-ended meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kebebasan siswa dalam berpikir sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengkomunikasikan ide-idenya dalam pengerjaan soal permutasi dan kombinasi. Prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi juga meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. namun dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bukti bahwa pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran open-ended. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. Dengan pembelajaran open-ended. baik ditinjau dari prestasi. dapat menumbuhkan motivasi. Sebagai muaranya siswa dapat mencermati suatu kasus permutasi atau kombinasi pada suatu soal. yang antara lain adalah kesulitan guru dalam pembuatan rancangan pembelajaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama. minat dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan baik dan benar.

Sutrisman Murtado dan J. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Surakarta : UNS Press. 1987. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 1997. I. Models of Teaching. Developing Lesson Plan. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. D. Sardiman A. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Slavin. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas.). How to Solve It. 1995. New Jersey : Princeton. Shimada (Ed. B and Weil. Suherman. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Shimada (Ed. New Jersey : Prentice Hall. Bandung : Remaja Karya. Becker & S.M. Dalam J. ___________.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 guru matematika disarankan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk materi pelajaran matematika yang lain dengan menggunakan pendekatan pembelajaran openended. E. 2009. U. 1992. Soedjadi. Boston: Allyn and Bacon. Menjadi Guru Profesional. Wina Senjaya. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. E. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. Sawada. Jakarta : Rajawali Press. 1995. 1997. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Aktifitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. 2003. 2000.P. Strategies For Teacher Teaching Content And Thingking Skills. dkk. Yogyakarta: Bigraf Publishi 92 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Surabaya : University Press UNESA Muhammad Nur dan Muhammad Ibrahim. Materi Pokok Pengajaran Matematika. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Zainal Arifin. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. 1994. Winataputra dan Saripudin. Developing Mathematical Reasoning Grade K-12. 2000. 1997. Boston: Allyn & Bacon. Jakarta : Rineka Cipta. Inc. Muhammad Nur. 2001. R. Strategi Pembelajaran Matematika. Joyce. Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. Bandung: JICA. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Surabaya : University Press. S. The Significance of an Open-Ended Approach. Yogyakarta. P. dan Kauchak. 1973. Bandung : Remaja Karya. 2001. Soekamto. T. Shimada. The OpenEnded Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Poppy. Tambunan. 1999. 2008.. 1999. M. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembelajaran. Yaniawati. Muhibbin Syah. Trianto.D. Eggen. 2004. Polya. R. 1989. 1997. Zamroni. George. 2003. R. P. T. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Surabaya : PSMS Program PPS Unesa. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Atang Kusnindar. Educational Psychology Theory into Practice. M. Slameto.). 2007. (2000). Rusyan. Landasan dan Implementasinya pada KTSP. Teori Belajar. Strategi Pembelajaran. tanggal 28 – 29 Maret 2003. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika. 2001. P. Jakarta: Prestasi Pustaka. Jakarta: Kencana. Dalam J. Purwoto. 1996. R. Reston : Virginia. Bandung : Remaja Rosdakarya.U. Usman. Muhammad Nur dan Wikandari. Becker & S. DAFTAR PUSTAKA Arends. New York: Mcraw-Hill. NCTM. Classroom Instruction and Management. Jakarta: Karunika.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful