Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

DAFTAR PUSTAKA Amerom, B. V. (2000). Arithmetic and algebra: Can history help to close the cognitive gap? A proposed learning trajectory on early algebra from an historical perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Becker, J.P & Shimada, S. (1997). The open-ended approach: A new proposal for teaching mathematics. Reston: NCTM Ben-Zeev, T. Dan Star, J.(2002). Intuitive Mathematics: Theoretical and Educational Implications. Michigan: University of Michigan Brouseau, G. (1997). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers Clarke, B., Clarke, D., & Sullivan, P. (1996).The mathematics teachers and curriculum development. In Alan J. Bishop et al. (eds.), International Handbook of Mathematics Education, 2 (1207-1234). Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. De Lange, J. (1987). Mathematics insight and meaning. Utrecht, the Netherlands: OW &OC, Dissertation. De Lange, J. (1996). Using and applying mathematics in education. In A.J. Bishop et al. (eds.). International Handbook of Mathematics Education. 1 (49-97). The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. Gravemeijer, K. (1994). Educational development and developmental research in mathematics education. In Journal for Research in Mathematics Education, 25 (5), 443-471. Gravemeijer, K.P.E (2000a). Developmental research: Fostering a dialectic relation between theory and practice. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Gravemeijer, K.P.E (2000b). Taking a different perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Kansanen, P. (2003). Studying-theRealistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29,No. 2/3, 221-232 Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Bandung: SPS UPI Toom, A. (2006). Tacit Pedagogical Knowing At the Core of Teacher’s Professionality. Helsinki: University of Helsinki Treffers, A. & Goffree, F. (1985). Rational analysis of realistic mathematics education-The Wiskobas program. In L. Streefland (Ed.), Proceedings of Ninth International Conference for the Psychology of Mathematics Education, (pp.97-121). Noordwijkerhout, July 22-29, 1985. Treffers, A. (1987). Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics education. Reidel, Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Treffers, A. (1991). Didactic background of a mathematics program for primary school. In L. Steefland (ed.), Realistic mathematics education in primary school: On the occasion of the opening Freudenthal Institute, (pp.21-56). Utrecht: Center for Science and Mathematics Education, Utrecht University. Turmudi (2006). Designing contextual Learning Strategies for Mathematics for Junior Secondary School in Indonesia. Ph.D. Thesis, Melbourne, Australia: La Trobe University. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (1996). Assessment and realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, Center for Science and Mathematics Education. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (2000). Mathematics education in the Netherlands: A guide tour. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

13

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

PENERAPAN BLENDED LEARNING PADA PERKULIAHAN DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (Studi Kasus: Mata Kuliah Dasar-dasar Matematika)
Imam Sujadi Program Studi Pendidikan Matematika UNS Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menerapan model blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memadukan antara pembelajaran tatap muka dan sistem e-learning. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika UNS. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Tahapan penelitian didahului dengan mengembangkan model pembelajaran blended learning untuk mata kuliah Dasar-dasar Matematika. Selanjutnya model tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tahap-tahap penelitian tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah dasar-dasar matematika pada semester gasal tahun akademik 2011/2012. Metode pengumpulan data dengan angket, observasi dan tes, pemberian tugas/kuis untuk mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Model pembelajaran blended learning terbukti berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan kompetensi kognitif mahasiswa. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas ini dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan mata kuliah yang berbeda dan kondisi yang berbeda pula. Kata kunci: blended learning, kemandirian belajar, peningkatan kompetensi

PENDAHULUAN E-learning saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang berkembang sangat pesat, sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi pendukungnya. Tujuan utama e-learning adalah mempermudah setiap orang untuk belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa e-learning memberikan cukup banyak manfaat bagi institusi pendidikan tinggi baik bagi dosen, mahasiswa, dan penyelenggara pendidikan. Manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pertemuaan tatap muka akan berkurang, sedangkan materi yang telah dikembangkan akan terus bisa digunakan. Dengan menggunakan e-learning, biaya yang digunakan untuk memberikan materi pembelajaran bisa dihemat. Mahasiswa yang bisa mengikuti perkuliahan dengan adanya e-learning juga bisa bertambah secara kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya e-learning tempat belajar tidak lagi menjadi kendala yang mendasar, karena mahasiswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dengan segala kelebihan pemanfaatan e-learning tersebut, oleh sebagian pihak elearning dianggap sebagai model pembelajaran masa depan (future learning). Namun dibalik kelebihan tersebut tersimpan beberapa kelemahan terutama pada instruktur, infrastruktur dan assessment. Salah satu proses penting dalam proses pembelajaran adalah proses membangun pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut bisa bersifat eksplisit maupun implisit. Beberapa kelemahan pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pengetahuan yang bersifat implisit sangat tidak mungkin untuk disebarkan menggunakan e-learning. Selain itu faktor emosional, gestur, seni, dan penilaian dari pembelajaran cenderung terkurangi dengan adanya e-learning. Selain beberapa kelemahan tersebut masalah penilaian (assesment) menjadi tantangan tersendiri pada penyelenggaraan e-learning. Pada pemanfaatan e-learning dosen tidak bisa mengetahui bagaimana kemampuan sebenarnya dari mahasiswanya, karena terjadi distorsi penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh dosen sangat bersifat kognitif, sehingga kemampuan afektif maupun motorik menjadi kurang terukur. Blended-learning, salah satu tipe pengembangan e-learning, merupakan alternatif jawaban atas kelemahan yang ada pada e-learning. Blended Learning adalah cara untuk mendidik dan belajar dengan ‘mengkombinasikan’ beberapa metode dan gaya pembelajaran

14

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

yang berbeda. Blended learning berbasis pada kombinasi antara pembelajaran yang bersifat online dan tatap muka. Cara belajar seperti ini memberikan beberapa keuntungan yang bersifat fleksibel bagi dosen dan mahasiswa. Dosen tidak kehilangan gesture dan seni dalam perkuliahan, demikian juga dengan mahasiswa tidak akan merasa ketinggalan ketika tidak bisa hadir pada perkuliahan (Arai, K: 2010). Penerapan blended-learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan penguasaan kompentensi mahasiswa pada standar yang terukur. Dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi pada perkuliahan dimungkinkan adanya remedial teaching yang harus dilakukan oleh dosen. Kendala yang dihadapi dosen dalam melaksanakan remedial teaching adalah bagaimana mengatur pengelompokan kelas dan pengaturan waktu, antara yang mengikuti remidial dan yang tidak. Penerapan blended-learning diharapkan bisa mengurangi banyak tatap muka yang harus dilakukan dosen, terutama kelompok yang harus mengikuti remedial teaching (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008) Sebagai ilustrasi pada perkuliahan dasar-dasar matematika tahun akademik 2009/2010, peserta mata kuliah dasar-dasar matematika ini adalah 28 mahasiswa. Pada ujian kelompok kompetensi dasar (KKD-1) mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 15 mahasiswa (54%), pada KKD-2 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 9 mahasiswa (32%), pada KKD-3 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 11 mahasiswa (39%), sedangkan pada KKD-4 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 4 mahasiswa (14%). Ketika dosen akan melakukan remedial teaching, kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengatur waktu untuk melakukan pembelajaran pada kelas remedial tersebut. Kendala yang lain mahasiswa secara afektif kurang mempunyai kemauan untuk belajar mandiri dan kurang mempunyai kemauan bekerja menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi kendala tersebut penerapan remedial teaching bagi mahasiswa dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, merupakan suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran di prodi pendidikan matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi ditinjau dari aspek dampak peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa, studi kasus pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Asumsi yang digunakan adalah semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan kemampuan akses yang sama terhadap materi perkuliahan yang disebarkan melalui website atau learning management system (LMS). Sebagai rencana cadangan materi juga disebarkan menggunakan media CDROM. Materi yang disampaikan melalui LMS atau CDROM bersifat pengetahuan eksplisit, sedangkan pengetahuan yang bersifat implisit disampaikan di kelas. Tatap muka di kelas lebih bersifat mediasi, review, dan diskusi terhadap materi yang diberikan. Media komunikasi yang digunakan adalah media chat melalui jejaring sosial selama jam kerja, email dan forum diskusi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian E-Learning E-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran (learning) dan pengajaran (teaching) secara online menggunakan jaringan teknologi. Saat ini telah banyak penelitian mengenai elearning, terutama pada dampak (outcomes) pembelajaran yang dihasilkan e-learning jika dibandingkan dengan pengajaran secara tradisional (Hrastinski, S: 2008). Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan e-learning sebagai suplemen terhadap materi yang disampaikan secara regular di kelas. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif perkuliahan bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan (Rahayu, T: 2007). Untuk bisa mempraktekkan dan mengimplementasikan e-learning dengan baik, harus diperhatikan mengenai keuntungan dan keterbatasan setiap metode dan teknik yang dikembangkan pada e-learning. Dua tipe dasar e-learning yang saat ini berkembang adalah asynchronous dan synchronous e-learning. Sampai saat ini, tipe asynchronous lebih banyak diandalkan untuk pengajaran dan pembelajaran. Namun, seiring dengan perkembangan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

15

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

teknologi dan peningkatan kapasitas bandwith koneksi internet, tipe synchronous menjadi pilihan tersendiri (Hrastinski, S: 2008), (Rahayu, T: 2007). Blended Learning Blended-learning merupakan salah satu pendakatan dari e-learning, yang mengkombinasikan berbagai komponen pembelajaran - seperti ruang kelas, konten online, email, forum diskusi, learning management system (LMS) - dan pengalaman belajar – seperti pembelajaran individual atau berbasis kelompok - untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Blended learning mengkombinasikan tipe asynchronous dan synchronous pada pelaksanaannya. Bahkan pada prakteknya sesi ‘tatap-muka’ tidak hanya dilaksanakan secara virtual melalui chat atau email saja namun dilaksanakan di dalam kelas yang notabene merupakan cara konvensional. Tentu saja hal ini meningkatkan fleksibilitas pada pelaksanaannya. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Sehingga secara umum, blended-learning menyediakan hampir semua kebutuhan dari mahasiswa yang antara lain berkaitan dengan apa saja isi pembelajaran, waktu pembelajaran, tempat pembelajaran dan bagaimana cara belajarnya. Disamping itu pengalaman belajar mahasiswa juga akan bertambah. Blended Learning pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasis kompetensi. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi dari perkuliahan. (Rahayu, T: 2007). Berdasarkan SK Mendiknas No 232/U/2000, struktur kurikulum harus berdasar pada tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Sehingga secara garis besar, KBK bisa diartikan sebagai kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama pada tahap pengembangan ide dipengaruhi oleh kemungkinankemungkinan pendekatan, sehingga kompetensi bisa menjawab tantangan yang muncul (Rahayu, T: 2007). Pada KBK, mahasiswa diberi kesempatan secara terbuka untuk bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Jika ternyata peserta didik gagal, maka dosen harus memberikan remedial teaching. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa namun membingungkan pengampu mata kuliah. Untuk melaksanakan remedial theacing, dosen harus membagi kelas menjadi dua bagian. Satu kelas, terdiri dari mahasiswa yang tidak remedial teaching, kelas lainnya yang mengikuti remedial teaching. Hal ini tentu saja merepotkan terlebih jika ternyata pada kompetensi berikutnya ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, sehingga perlu remedial teaching juga. Untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan remedial teaching tersebut tersebut, penggunaan blended learning sangat tepat digunakan. Skenarionya semua komponen blended learning dilaksanakan, selanjutnya jika terjadi remedial teaching digunakan komponen asynchronous, dengan mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan untuk kompetensi berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga ketika mahasiswa harus remedial maka ia tidak harus membuat kelas terpecah dalam kelas kecil. Sebagai gambaran, blended learning dilaksanakan seperti pada Gambar 1. (Arai, K: 2010). METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research) yang difokuskan pada proses pembelajaran remidial. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan partisipan karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Subjek, Objek, Waktu dan Tempat Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang pada tahun akademik 2011/2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika, khususnya mahasiswa

16

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Pada fase kedua mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. yang dilakukan adalah (1) menyusun RPP. perancangan tugas. menyusun handout. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. (2) mengembangkan media berbasis website atau learning management system (LMS). Pada fase pertama mengidentifikasi mahasiswa yang memerlukan remidial teaching pada KKD-1 dengan cara mahasiswa diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan. sedangkan objek penelitian ini adalah peningkatan afektif yang berupa peningkatan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dengan mencari informasi pengetahuan yang dibutuhkan. dan angket untuk mahasiswa. (2) melaksanakan penerapan blended learning pada perkuliahan remedial . Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi lapangan. tahap analisis dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut. (4) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. Mahasiswa diharapkan mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan hasil diskusi. karena sebagian besar data yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi. Pada tahap perencanaan peneliti menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan berupa lembar observasi dan angket. Sedangkan refleksi dilakukan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 17 . Peneliti memotivasi siswa untuk mau mencari informasi yang dibutuhkan dan mau mempelajarinya. dan atau menggunakan millis. (3) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan setelah tindakan dilakukan. tahap perencanaan atau penyusunan prototype. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/ tindakan hal-hal yang dilakukan adalah penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. sesuai dengan tugas yang telah dirancang oleh dosen. serta kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. Fokus pengamatan ditekankan pada peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan sebagai berikut: (1) membuat silabus yang dilengkapi dengan RPP. (5) Tanggapan mahasiswa tentang penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Waktu penelitian selama 6 (delapan) bulan dimulai bulan Juni sampai dengan Nopember 2011. dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati jalannya pelaksanaan penerapan blended learning pada perkuliahan. Tiap-tiap kelompok ditugaskan melakukan kegiatan diskusi menyelesaikan tugas baik secara langsung. dan menyusun rancangan tugas. langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan. Langkah-langkah Operasional Kegiatan Pelaksanaan Penelitian Secara umum. untuk memberikan materi dalam rangka remedial teaching. Pada tahap persiapan. Tahap observasi dan evaluasi. masing-masing kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. Tahap analisis dan refleksi dilakukan pada masing-masing siklus yaitu pada siklus 1. Tempat penelitian adalah di prodi pendidikan matematika JPMIPA FKIP UNS. Sedangkan pada fase ketiga memberi kesempatan mahasiswa untuk menanyakan hal yang belum jelas pada dosen. (2) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan sebelum tindakan dilakukan. baik secara langsung atau lewat email (dilakukan oleh ketua sebagai pengajar). mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya lewat millis apabila ada kesulitan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang mengalami remedial teaching. Analisis dilakukan dengan cara : peneliti mengumpulkan hasil observasi dan angket kemudian dianalisis bagian mana dari bahan yang belum dikuasai mahasiswa serta ditandai siapa saja mahasiswa yang belum tuntas dan tanggapan siswa (persepsi siswa) terhadap proses yang dilakukan. tahap pelaksanaan tindakan. Data dan Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi keseluruhan kegiatan pelaksanaan mulai awal sampai akhir sebagai berikut: (1) Proses kegiatan penyusunan handout. serta peningkatan kognitif berupa peningkatan kompetensi akibat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen.

lemma. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan pertama berisi konsep kuantifikasi. Instrumen Penelitian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk melihat aktifitas mahasiswa didalam kelas. Indikator keberhasilan dari siklus 1 ini dapat dilihat adanya peningkatan kemauan belajar mandiri dan kemauan menyelesaikan tugas yang ditandai dengan kenaikan prosentase sebelum tindakan. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini. serta lembar tugas yang akan diberikan mahasiswa.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dengan cara: data hasil analisis dikoreksi dan didiskusikan bersama untuk perbaikan siklus selanjutnya. definisi. bahan ajar. Untuk KKD-1 pertemuan kedua berisi fungsi dan perangkai logika. seperti : proposisi kata hubung logika dan pengembangan kata hubung. Perangkat Utama Perangkat Pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini adalah Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (B) Jika setuju . Perangkat penunjang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah mailing list yaitu suatu group dari email mahasiswa peserta kuliah dan dosen untuk digunakan mahasiswa agar bisa berdiskusi lewat dunia maya. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan ketiga berisi mengenal silogisma. 18 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pernyataan yang berkaitan dengan perkuliahan biasa terdiri dari 25 pernyataan. kontradiksi. teorema. HASIL PENELITIAN 1. b. Pada pernyataan no 1-25. Pada pernyataan no 26-40. serta pembuktian langsung dan tak langsung. hubungan kuantor. pembuktian dengan induksi matematika. hukum silogisma hipotetik dan berbagai macam modus. Lembar angket dibuat untuk menggali kemandirian mahasiswa dalam perkuliahan baik pada perkuliahan biasa atau perkuliahan dengan pendekatan blended learning. dan digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum dikuasai oleh mahasiswa. postulat. (B) Jika sering mengerjakan. (C) Jika tidak setuju. Bilamana kenaikannya belum mencapai angka 10 persen maka dikatakan belum ada peningkatan afektif dan kognitif dan perlu mengulang pada siklus II. seperti: bentuk umum kuantor. seperti: Pengertian hal-hal yang tak didefinisikan. Lembar observasi yang dibuat berisi indikator untuk mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Adapun materi angket difokuskan pada hal-hal berikut ini. Perangkat lain yang dikembangkan adalah email yang bisa digunakan mahasiswa untuk menanyakan materi atau tugas kepada dosen. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan kedua berisi penarikan kesimpulan dan pembuktian seperti : penarikan sahih dan tak sahih. Untuk KKD-1 pertemuan pertama bahan ajar pertemuan pertama berisi konsep aksiomatika dalam matematika. seperti argumen dan validitas. Bahan ajar tersebut disajikan dalam bentuk power point. adalah bahan ajar perkuliahan dasar-dasar matematika untuk KKD-1 dan KKD-2. kuantor dengan beberapa variabel dan proposisi berkuantor. Perangkat Pendukung Perangkat pendukung yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Blog untuk meng-upload bahan ajar dan tugas serta review hasil tugas maupun perkuliahan. mahasiswa akan memilih huruf: (A) Jika selalu mengerjakan. Sedangkan pernyataan yang berkaitan dengan model kuliah Blended Learning terdiri dari 15 pernyataan. dan (D) jika sangat tidak setuju dengan isi pernyataan tersebut. dan (D) Jika tidak pernah mengerjakan sebagaimana isi pernyataan tersebut. Instrumen bantu yang dikembangkan dalam penelitian ini selain lembar observasi adalah angket untuk melihat bagaimana aktivitas mahasiswa dan tanggapan mahasiswa dengan kuliah menggunakan pendekatan Blended learning. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran a. Pada setaiap akhir bahan ajar diberi lembar tugas. seperti : tautologi. dan kontingensi. aksioma. Mahasiswa diminta memilih huruf (A) Jika sangat setuju. Sedangkan KKD-1 pertemuan ketiga berisi negasi dan nilai kebenaran . (C) Jika jarang mengerjakan. Berdasar hasil analisis dan refleksi pada siklus I. tahap persiapan dan perencanaan pada siklus I diperbaiki untuk dilaksanakan pada siklus II.

mahasiswa dapat mendownload KD01-01). k) Remidial teaching dilakukan dengan cara memberi tugas untuk mempelajari materi yang sudah diupload. dengan ketentuan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 diberi kesempatan melakukan ujian kedua. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen. h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. Sedangkan sisanya yaitu 33 mahasiswa adalah mahasiswa pengulang. Berdasar hasil observasi tersebut dibuat perencanaan pembelajaran dengan metode Blended Learning. dengan sebelumnya dilakukan remidial teaching. c) Pada awal perkuliahan Dosen menanyakan pada mahasiswa apakah mereka sudah mendownload materi KD01-01? d) Dosen menanyakan apakah mahasiswa ada yang mengalami kesulitan materi yang sudah didownload. Siklus I 1) Tahapan Perencanaan Berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa yang mengikuti kuliah dasar-dasar matematika pada tahun akademik 2011/2012. l) Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen. Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. semuanya berjumlah 67 mahasiswa. e) Dosen menanyakan apakah materi yang susah dipahami. dengan urutan sebagai berikut: a) Mempersiapkan RPP. Untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. dengan rincian sebagai berikut : a. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. kemudian menyuruh mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapatan di dalam kelas. dan mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas dan dikumpulkan melalui email. untuk memperoleh data yang akurat. g) Dosen memberikan soal tambahan di kelas. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. Berdasarkan Hasil angket tentang kemandirian mahasiswa didapatkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar masih rendah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 2. dimana dari 67 mahasiawa tersebut 34 mahasiswa adalah mahasiswa baru angkatan 2011. Selain itu. b) Sebelum perkuliahan dilakukan. materi perkuliahan. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 19 . tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. lembar tugas yang akan dibicarakan. j) Pada pertemuan ke 4 dilakukan uji kompetensi dengan materi KD01. i) Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. sudah didiskusikan dengan teman yang lain? f) Dosen membahas materi atau tugas yang sudah diupload dan materi atau tugas tersebut dianggap sulit oleh mahasiswa. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. Hasil Penerapan Blended Learning Penelitian penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi studi kasus pada mahasiswa yang tahun akademik 2011-2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika terdiri dari 2 siklus. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen.

1) Tahapan Perencanaan 20 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .4% yang lulus UK01.1%. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 85. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 42. Tabel 1 Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus I Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 13 (19.5%. Adapun hasil dari observasi dan wawancara dapat dirangkum sebagai berikut ini. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. sehingga masalah mendownload juga masalah tersendiri bagi mahaisiswa. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga belum menggembirakan hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. dan peningkatan prosentase mahasiswa yang lulus tidak perlu remedial teaching. menjadi bentuk yang lain. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 19. (2) Terkadang Hot Spot di Kampus tidak berjalan dengan lancar. kemudian naik menjadi 34. mencari literature lain.6% pada pertemuan I. (4) Kalau tugas itu tidak dikumpulkan maka semangat mengerjakan tugas itu agak berkurang. b. Siklus II Pada siklus ini dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus I.6%) Peserta Uji Remidi 54 44 (81.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 peneliti juga melakukan wawancara tidak tersetruktur terhadap beberapa mahasiswa tentang materi yang dirasakan sulit oleh mahasiswa Berdasarkan hasil wawancara tidak tersruktur pada beberapa mahasiswa didapatkan tambahan informasi bahwa masalah perkuliahan KD01: (1) mahasiswa merasa masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.5%) Lulus KD01 57 dari 67 Peserta 85.5%.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil wawancara dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. kemampuan bertanya rendah.4% pada pertemuan ke II.4%) 54 (80. (1) Kemandirian mahasiswa masih rendah. Selain itu perlu ditinjau ulang tentang perlu tidaknya membangkitkan mahasiswa untuk mau mengerjakan tugas. Berdasarkan hasil UK KD01 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa adalah sebagai berikut ini. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 81. tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi) sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II. Meskipun demikian perlu dilakukan perbaikan khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar yaitu mengubah pola tanya jawab dosen mahasiswa lewat email. meskipun demikian dengan penerapan model pembelajaran yang dirancang rata-rata kemandirian mahasiswa meningkat untuk tiap perkuliahan yaitu dari 25. Adapun ukuran hasil tindakan pada siklus II ini dikaitkan dengan hasil tindakan pada siklus I apabila ada peningkatan kemandirian mahasiswa dalam belajar. (3) Untuk bertanya pada dosen melalui email memang agak tidak enak. keberanian untuk mengeluarkan pendapat juga masih rendah. dan meningkatkan lulusan mahasiswa yang mengikuti remedial teaching.5%) 10 (18.

dengan urutan sama seperti pada siklus I hanya diubah pada langkah b) yaitu cara menyampaikan materi tidak hanya lewat blog tetapi diemailkan ke mahasiswa dengan cara mahasiswa dibuatkan milling list.edu. Disamping itu pada langkah h). Materi akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. Tugas boleh didiskusikan melalui group maillist yang sudah dibuat. Selain itu. Berdasarkan hasil UK KD02 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa sudah meningkat sebagai berikut ini: (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen atau didiskusikan dengan teman melalui fun. Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus II Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 43 (64. mencari literature lain.uns@gmailgroup.com.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil angket yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. Pada siklus II ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. i) . sebagai berikut ini: (b) Sebelum perkuliahan dilakukan. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 21 .2%) 24 (35. dan (l). untuk memperoleh data yang akurat. (i) i. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga mengalami peningkatan.math.com sehingga semua mahasiswa sudah terkirim.8%) Peserta Uji Remidi 24 18 (75%) 6 (25%) Lulus KD01 61 dari 67 Peserta 91. demikian juga untuk bisa terjadi interaksi dengan sesama teman dan tidak hanya bertanya pada dosen maka dibuatkan forum diskusi lewat miilling list agar sesama mahasiswa dapat berdiskusi lewat internet. Tabel 2. dibuat perencanaan pembelajaran dengan model blended learning. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP.math. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. kemampuan bertanya. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen (untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen atau silahkan didiskusikan melalui milling list. keberanian untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai meningkat. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. mahasiswa dapat mendownload KD01-01) dan diemailkan ke fun.uns@gmailgroup.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir.edu. Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. peneliti juga melakukan pengambilan data melalui angket tentang pembelajaran dengan blended learning pada perkuliahan dasar-dasar matematika. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. (h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan memberi tugas untuk dikumpulkan. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. dan l) juga diubah bagaimana tugas itu harus dibuat oleh mahasiswa. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning.

Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar dan bekerja sama dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kognitif pada mata kuliah dasar-dasar matematika. 2008. 2007. media berupa blog.1%. B. C. 3.2%.7 Rahayu.2010. 2010. K. E dan Gerbic. 2002. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya.9% yang lulus UK02. Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika UNS 22 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Kapp. Disampaikan pada Workshop on e-Learning in Higher Education. Kurikulum Berbasis Kompetensi. PENUTUP Berdasarkan hasil maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut ini : 1. DAFTAR PUSTAKA Arai. email. Depdiknas. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 64. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 48. Dari dua siklus penerapan perkuliahan blended learning telah mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa dan kemampuan kognitif mahasiswa. Educause Quarterly.1 -22. Adapun peningkatan prosentase kemandirian karena penerapan model pembelajaran yang dirancang ratarata yaitu dari 41. Jakarta: Depdiknas. Volume 4 p. RPP. kemudian naik menjadi 46. Open Source Software for Blended Learning. 2002.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. T.H. Silabus Dasar-dasar matematika. Asynchronous and Synchronous E-Learning: A study of asynchronous and synchronous e-learning methods discovered that each supports different purposes.3% pada pertemuan ke II. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 91. Sebelas Maret University. Meskipun demikian masih perlu dilakukan perbaikan terus menerus diperkuliahan pada KD03 dan KD04. Blended Learning for Compliance Training Succes. bahan ajar. Bloomburg. Proceeding of International Conference on Open Source for Higher Education. _________ 2009. 2007.8% pada pertemuan I. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 75%. 2002. 51 – 55. (1) Kemandirian mahasiswa sudah mengalami peningkatan. Bina Widya Vol 18 p: 16-24 Stacey. P. 2. KM dan McKeague. Proceeding of Fourth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society. Pemanfaatan E-Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. dan mailing list . khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Benefits of Blended E-learning. Hrastinski. p:22. MK dan Suesawaluk. Eduneering. Jakarta: Depdiknas. p: 964 – 968 Depdiknas. Proceeding of Ascilite Melbourne. King Fahd University of Petroleum and Minerals. lembar tugas. Khan. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model blended learning dapat digunakan untuk melaksanakan remedial teaching untuk perkuliahan yang menerapkan kurikulum berbasisis kompetensi. 2008. Succes Factor for Blended Learning. S. Adapun hasil dari observasi dapat dirangkum sebagai berikut ini. Nayak. Advantages and Disadvantages of eLearning Management System. Perangkat pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini berupa silabus. P.

mengembangkan kemampuan berpikir kritis. dan kompetitif (BSNP. sistematis. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. tidak melakukan kesalahan. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. dan kemampuan bekerja sama. 2007). siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. pemecahan masalah matematika PENDAHULUAN Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis. karena tingkat kompleksitas dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi (I Gusti Putu Sudiarta. kritis dan kreatif. merencanakan penerapan ide. PGRI I Sonosewu Yogyakarta 2)Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam membangun ide. Artinya. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. matematika mempunyai peran yang sangat sentral dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama sehingga mereka siap menghadapi segala perubahan dalam segala bidang kehidupan. dan rutin. Dalam tahap merencanakan ide. Kata Kunci: proses berpikir kreatif. Selain itu. 2006: 416). analitis. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi: dalam tahap membangun ide. Kemampuan dasar dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. Dalam pembelajaran matematika. mensintesis ide. agar siswa memiliki kemampuan memperoleh. yakin dengan jawaban yang diberikan. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. mekanistik. dan jika melakukan kesalahan. Dalam tahap mensintesis ide. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya untuk menganalisis proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. yaitu berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. Imam Sujadi2 1) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPY Jl. kreatif. Kompetensi tersebut dikembangkan dalam diri siswa. kreatif. kemampuan berpikir kritis. dan menerapkan ide tersebut dalam pemecahan masalah matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR (SD) BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Abdul Aziz Saefudin1. tidak pasti. Adapun kemampuan berpikir tingkat tinggi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 23 . mengelola. dan produktif tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. konsep matematika. Dalam tahap menerapkan ide. dan produktif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kemampuan berpikir tingkat rendah (low order thinking) atau kemampuan dasar (basic skill). serta tidak menemui kesulitan. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas V SD berkemampuan matematika tinggi (skor ≥75) yang banyaknya minimal 1 orang subjek.

tetapi dapat menggunakan pendekatan masalah terbuka atau open-ended approach (Becker dan Shimada dalam Hashimoto. maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian. pembelajaran tidak hanya menekankan pada penyelesaian masalah tertutup atau mempunyai solusi tunggal. Kefasihan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan memberi jawaban yang beragam dan benar. dan verifikasi. Fleksibilitas ditunjukkan dengan kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. yaitu preparasi. kemampuan berpikir kreatif menurut Lee (2005) melibatkan kefasihan. Barak dan Doppelt (2000) mengemukakan bahwa berpikir kreatif merupakan sintesis antara berpikir vertikal dan berpikir lateral. Sementara pola berpikir lateral menggunakan berbagai fakta yang ada. 2007). 2007). yaitu menuntut aktivitas kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah matematika dari beragam perspektif. Dalam pola berpikir lateral. Pola berpikir vertikal terkait dengan bernalar dalam matematika sehingga lebih memfungsikan otak kiri yang bersifat logis. Beberapa jawaban dikatakan beragam jika jawaban-jawaban yang diberikan siswa tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu. kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah matematika terbuka. Sementara Krulik dan Rudnick (1995: 3) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif meliputi tahapan-tahapan membangun suatu ide. dan menerapkan ide tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang baru. divergen. 2009: 146. 2011). 1997). fleksibilitas. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika. Sementara kebaruan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa menjawab/menyelesaikan masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya. Oleh karena itu. mensintesis ide-ide. berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru (Ruggiero dan Evans dalam Tatag Yuli Eko Siswono. tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa sekolah 24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Secara khusus. Oleh karena itu. tidak hanya mencari jawaban yang benar dalam pemecahan masalah matematika. Selain itu. 2008: 445. sekuensial. sedangkan elaborasi merupakan bagian dari proses berpikir di mana ide/solusi original yang muncul dengan cepat harus direspon dengan cepat sehingga ide/solusi tersebut tidak menjadi lapuk. dan rasional. tidak teratur. fleksibilitas. dalam pemecahan masalah matematika. Rosnawati. dan elaborasi (penyempurnaan). Produk dari proses berpikir kreatif adalah berbagai kreativitas. fungsi otak yang digunakan menggunakan otak belahan kanan yang bersifat acak. Originalitas menunjukkan strategi pemecahan masalah yang baru dan berbeda dengan strategi yang biasa ia atau orang lain gunakan. tidak mengherankan jika banyak penemuan baru dan terobosan ilmu pengetahuan dari hasil pola berpikir lateral. 2007). Selanjutnya Pehkonen (1997) menyatakan. Wallas (dalam Oemar Hamalik. Kriteria kreativitas pemecahan masalah menurut Silver (1997) diindikasikan dengan kefasihan. dan holistik (R. Alhasil. Berpikir vertikal menurut Edward de Bono dalam Barak dan Doppelt (2000) merupakan pola berpikir yang dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. inkubasi. linier. iluminasi. Solso. originalitas. menentukan hasil akhir apa yang diinginkan. Beberapa jawaban tersebut dikatakan berbeda jika jawaban tersebut tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu (Tatag Yuli Eko Siswono. untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. Maksudnya. bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 bersifat divergen. Proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika mempunyai beberapa tahapan. Campbell. dan kebaruan. merencanakan penerapan ide. Sejalan dengan pendapat Silver tersebut. 1986: 18) mengemukakan empat tahap berpikir kreatif. intuitif. dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. tetapi juga cara mengonstruksi segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya (I Gusti Putu Sudiarta.

Dalam menyelesaikan soal kedua. Pertimbangannya bersifat konseptual. Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu instrumen utama dan instrumen bantu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dasar (SD) yang meliputi tahap membangun ide. cara bersusun. subjek merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Pada tahap mensintesis ide. Selanjutnya dalam tahap merencanakan penerapan ide. Selain itu. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Demangan Baru Sleman DIY yang pernah memperoleh materi pokok bilangan bulat dan dimungkinkan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga eksplorasi tentang proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui pada soal dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan. strategi. dan instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. subjek mensintesis ide dengan cara mencari KPK dua bilangan yang diketahui dan menggunakan cara grafik. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. khususnya dalam bidang psikologi kognitif berupa deskripsi proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika bagi siswa berkemampuan matematika tinggi. Jika terdapat kesalahan penyelesaian. Pertimbangan ide digunakan bersifat konseptual. sajian data dan penarikan kesimpulan sekaligus verifikasinya (Miles. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan peneliti sebagai instrumen utama. Selain itu. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengungkap proses berpikir kreatif siswa sekolah dasar dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar serta tidak menemui kesulitan. dan konsep grafik. pendekatan. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. merencanakan penerapan ide. Selain itu. Instrumen bantu berupa instrumen bantu pertama yaitu tes tertulis penentuan kemampuan matematika siswa. konsep KPK. setelah sebelumnya menggunakan metode tes. Dalam menyelesaikan soal pertama. instrumen bantu kedua yaitu tes tertulis pemecahan masalah bilangan bulat. Subjek menerapkan ide penyelesaian yang fasih dan fleksibel. mensintesis ide. Subjek melakukan tahap menerapkan ide dengan cara penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. dan menerapkan ide dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. Manfaat penelitian ini yang lain adalah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika baik bagi siswa maupun guru. Subjek mensintesis ide dengan cara menjumlahkan dua bilangan melalui kombinasi atau salah satu cara dari sifat pengelompokan. dan Spradley dalam Sugiyono. dan cara biasa. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui. Apabila terdapat kesalahan penyelesaian soal. 2008: 92-99). Subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 25 . Manfaat hasil penelitian adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap dunia pendidikan. dan metode pembelajaran yang tepat. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pewancara (peneliti sendiri). Wawancara dilakukan untuk menggali proses berpikir subjek dalam pemecahan masalah materi pokok bilangan bulat. hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru untuk menyusun model. tetapi tidak terdapat unsur kebaruan. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. subjek tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Huberman. Analisis data penelitian kualitatif menggunakan tiga komponen utama yaitu reduksi data.

Pada tahap mensintesis ide. menentukan KPK. Subjek merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. Subjek ini juga tidak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. dan cara biasa. Konseptual maksudnya berdasarkan konsep yang pernah dipelajari oleh siswa. Pada tahap penerapan ide. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan soal dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Subjek berkemampuan matematika tinggi merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. konsep matematika (pemfaktoran. sedangkan intuitif maksudnya berdasarkan perasaan siswa. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. konteks pertanyaan soal. Keyakinan atas kebenaran jawaban yang diberikan juga memberikan karakteristik yang khas pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaji bahwa pada tahap membangun ide. Kalaupun melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. tetapi kelompok kreatif juga menggunakan ide-ide yang jarang ditemui pada siswa kebanyakan. subjek berkemampuan matematika tinggi menyelesaikan soal dengan mengkaitkan bilangan-bilangan yang diketahui. subjek mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara baru secara fasih dan fleksibel. Jika siswa mengalami kesulitan maka mereka dapat segera mengatasinya. Subjek berkemampuan matematika tinggi beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian. Akibatnya. Ide-ide tersebut sangat beragam. Dalam tahap mensintesis ide. subjek berkemampuan matematika tinggi cenderung memunculkan ide dengan produktif dan lancar. konsep matematika (operasi penjumlahan dan pengurangan melalui sifat pengelompokan. konsep matematika. penjumlahan dan pembagian bilangan. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memperbaiki kesalahan tersebut dengan cepat dan tepat. subjek membangun ide penyelesaian dari konsep pemfaktoran. subjek berkemampuan matematika tinggi berusaha menyelesaikan soal dengan cara penyelesaian atau jawaban yang beragam sebanyak-banyaknya. Ide-Ide penyelesaian tersebut tidak hanya berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Oleh karena itu. Pada tahap merencanakan penerapan ide. subjek ini merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. subjek berkemampuan matematika tinggi membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. pertimbangan membangun ide tersebut cenderung bersifat konseptual dan intuitif. meski terkadang kurang tertantang pada soal-soal yang dianggap mudah diselesaikan. Pertimbangannya bersifat konseptual dan intuitif. Subjek selalu berusaha untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh dengan saksama. cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal umumnya dapat diterapkan untuk menghasilkan suatu solusi yang kreatif. konteks pertanyaan soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dalam menyelesaikan soal ketiga. pembagian) dan kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu (pengetahuan dari pengalaman sehari-hari). siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika 26 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Subjek mensintesis ide dengan cara pemfaktoran dari bilangan yang diketahui dan memperkirakan berat suatu benda. Selain itu. Ide bukan hanya dari apa yang diketahui dalam soal. misalnya dari pengalaman belajar di lingkungan sekitarnya. Subjek juga nampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. subjek berkemampuan matematika tinggi juga tidak menemui kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan soal. cara bersusun. Pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Selain itu. Oleh karena itu. akan tetapi juga berasal dari pengalaman yang pernah diamati atau dipelajari di lingkungan sekitar siswa. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan banyak cara. Dalam menerapkan ide. Ide penyelesaian diperoleh subjek dari pengalaman belajar di dalam kelas dan pengalamannya belajar di lingkungan sekitar. Cara-cara penyelesaian tersebut digunakan untuk mensintesis ide-ide yang telah dimunculkan pada langkah membangun ide. operasi bilangan). dapat disimpulkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut: dalam tahap membangun ide.

Berpikir Lateral dalam Pembelajaran Matematika. Volume 29. Silver. M. M.de/fiz/publication/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3. Program Studi Pendidikan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 27 .upi. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Juni 1997. 3. Hashimoto. 2009. diunduh pada 24 Juni 2010. Kimberly. Jakarta: Erlangga. DAFTAR PUSTAKA Barak. 1997. No. serta tidak menemui kesulitan. Edward A. Dalam tahap merencanakan ide.edu/wpcontent/uploads/2009/10/Thinking-Classroom-dalam-Pembelajaran-Matematika-diSekolah. dan Rudnick. Krulik. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan SD/MI. 2011.. didownload 24 Juni 2010. BSNP. dan Kreatif. I Gusti Putu Sudiarta.edu/ejournals. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. diunduh pada 24 Januari 2011. http:/scholar. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Thinking in Problem Posing. tidak melakukan kesalahan. Psikologi Kognitif. Bandung: Alfabeta. hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk kajian dalam pembelajaran dan pengembangan penelitian lanjutan yang sama temanya atau berbeda temanya. Stephen. (3) kepada para guru. dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam mengajar matematika. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). _____________________. ISSN 1443-1475. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. R. guru dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa dengan menggunakan strategi pemecahan masalah matematika. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. dosen. Sugiyono.karlsruhe. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Yaron. http://iej. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Universitas Negeri Yogyakarta. diunduh pada 24 Juni 2010. Number 2. 2008. Erkki.net. Rosnawati. dan jika melakukan kesalahan.pdf. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA: Menuju Profesionalitas Guru dan Tenaga Pendidik.wordpress. Berdasarkan kesimpulan. Lee. Moses & Doppelt. Jesse A. Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen. (2) dalam mengajar matematika.fiz. Edisi Kedelapan. No. Bandung: Sinar Baru Algensindo.de/fiz/publications/zdm. Pendidikan dan Penerapan MIPA. Using Portofolio to Enhance Creative Thinking.de/fiz/publications/zdm. guru hendaknya menekankan kemampuan berpikir kreatif siswa.sps. 2008.fiz. Mangunhardja. 2005. Tatag Yuli Eko Siswono. Dalam tahap menerapkan ide. 2007. Maclin. The Methods of Fostering Creativity through Mathematical Problem Solving. Fakultas MIPA. 2008. dan Maclin.lib. Kritis. 3. Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda.karlsruhe.fiz. diunduh pada 24 Juni 2010. Buletin Pendidikan Matematika.. http://math. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Robert L. yakin dengan jawaban yang diberikan. Solso. Yoshihiko. 2006. 1997. 14 Mei 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif.ejb.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. dan peneliti. Oemar Hamalik. disadur oleh A. 1995. Volume XXVI. Otto H. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian.karlsruhe. http://www. The State of Art in Mathematical Creativity. terj. http://www. 2000. Diunduh pada 24 Juni 2010. Volume 29. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Juni 1997. 1896. dalam International Education Journal. The Journal of Tecnology Studies Summer-Fall 2000. Artikel diunduh di http://suaraguru. Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. 1997. Campbell. 2004. Jakarta: Kemendiknas. Massachusetts: Allyn & Bacon.com pada tanggal 22 Desember 2009. http://www. Pehkonen. Mengembangkan Kreativitas.vt. Kyung-Hwa. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers.

_____________________. ISSN 1412-2278. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika. Volume 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Matematika FKIP Universitas Pattimura.com pada 23 Desember 2009. 2007. Oktober 2004. Ambon. _____________________.wordpress. 28 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 2007. diunduh pada 2 Juni 2010. Ringkasan disertasi diunduh dari http://suaraguru. 2. Makalah disampaikan pada ‘Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang Memanusiakan Manusia’ di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 28-30 Agustus 2007. No. Pembelajaran Matematika Humanistik yang Mengembangkan Kreativitas Siswa.

dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab. Karena itu diasumsikan bahwa aktivitas mental seseorang terdiri atas kognisi formal (formal cognition) dan kognisi intuitif (intuitive cognition) dari pengetahuan matematika. dalam membuat rencana penyelesaian. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi. Metode pengambilan data adalah wawancara berbasis tugas. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. dalam membuat rencana penyelesaian. mengejar ketepatan dan cara-cara formal hanyalah hasil akhir dari aktivitas matematika. gender. penafsiran data dan penarikan kesimpulan. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data. afirmatori. Sehingga dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. Walaupun proses berpikir analitik dan logik memainkan peranan penting dalam merepresentasikan struktur logika pengetahuan matematika. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Kata Kunci : Karakteristik intuisi. Kognisi formal merujuk kepada kognisi yang dikontrol oleh logika matematika dan bukti melalui induksi matematika atau deduksi (Fischbein. Dengan kondisi demikian. Kognisi formal juga perlu bagi matematikawan untuk berkomunikasi dengan sesama matematikawan dalam suatu asosiasi matematika. Proses membangun pengetahuan matematika tanpa disadari menghasilkan pengenalan tentang kepastian atau ketakpastian. tidak menggunakan intuisi. tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan masalah matematika bila telah dibeRikn caranya oleh Dosen. 1966). Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan masalah. Serupa dengan itu. Subyek penelitian sebanyak 2 siswa terdiri dari 1 siswa lakilaki dan 1 siswa perempuan. maka siswa seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. gender PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. persepsi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 29 . Akan tetapi. 1994). Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Kognisi formal menyediakan cara ketat memahami pengetahuan matematika. verifikasi atau penyangkalan tanpa pembuktian (Kossak. masalah matematika. (2) Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. antisipatori. Diantaranya adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika. berbagai dosen atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KARAKTERISTIK INTUISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH METEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya ditinjau dari perbedaan gender. pemaparan data.

solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung. self evident. 30 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . (4) Extrapolativeness. Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi. Lebih lanjut. Karena itu diduga bahwa ada aktivitas mental berbeda dengan kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematik. berurutan dan secara analitis.mcs. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika. (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. Siswa mungkin sangat yakin akan kemampuan logika dan penalaran dalam pembuktian matematik yang ketat. Karakteristik dari intuisi antisipatori adalah sebagai berikut: (1) intuisi tersebut muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. Fischbein juga mengemukkan karakteristik intuisi lain disebut karakteristik intuisi antisipatori. meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan.uk /Extras/ Poincare _Intuition. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik . Pernyataan tentang garis lurus di atas adalah subjektif. Lebih jauh. Akan tetapi kognisi formal tidak menjelaskan setiap langkah berpikir dalam aktivitas matematika. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat non intuitif. Selain karakteristik afirmatori. yaitu intuisi feeling tertentu dari kepastian intrinsik. Lima karakteristik intuisi yang dikemukakan Fischbein di atas merupakan karakteristik afirmatori yaitu karakteristik intuisi yang berupa pernyataan. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris). meniru seperti prosedur pengetahuan ekperimental (3) intuisi dari bilangan murni yang dapat mencapai berpikir matematika secara nyata. representasi. Hal tersebut disebut kognisi intuitif (intuitive cognition). interpretasi. dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling dari keyakinan. yaitu karakteristik intuisi yang berkaitan untuk memecahkan masalah. Tetapi kebenaran pernyataan jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus tanpa harus membuktikannya baik secara formal ataupun secara empiris.yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indra dan imajinasi. Karakteristik intuisi tersebut adalah (1) kognisi langsung. Konsep intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang self evident. global dan kecukupan secara instrinsik.st-andrews. holistik. dapat diterima langsung.html) membeRikn tiga jenis intuisi. kebenaran pernyataan bahwa jumlah sudut-sudut pada suatu segitiga adalah 1800 diyakini karena telah membuktikannya. (5) keseluruhan (globality) adalah intuisi yang berlawa-nan dengan kognisi yang diperoleh secara logika. bersifat memaksa dan ekstrapolatif. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya. Contoh. yaitu intuisi yang menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual dan pada seleksinya dari hipotesis dan penyelesaian. yaitu intuisi merupakan kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut . Pengembangan kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan formal tidak sama dengan kreativitas bermatematika yang sangat diperlukan dalam “doing” mathematics. (2) kepastian intrinsik (intrinsic certainty). self evident cognitions). seperti membuat dugaan atau klaim pengetahuan baru. Poincare (dalam http://www-history. Akan tetapi hanya sedikit siswa yang berhasil dengan baik dalam aktivitas menggunakan pengetahuan formal mereka dan mungkin sekali menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah matematika. terasa seperti sudah suatu ketentuan. tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. tidak jelas apakah dapat dikembangkan kreativitas matematika melalui pengembangan kognisi formal. kognisi self evident (direct.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 terhadap pengetahuan formal sangat perlu bagi siswa untuk maju ke tingkat pengetahuan matematika yang lebih tinggi. (3) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. (2) intuisi tersebut menyajikan karakter global. yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat nampak dari suatu kognisi intuitif.ac. (3) pemaksaan (coerciveness). yaitu intuisi yang kaitannya dengan kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris. Sebagai contoh: jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. atau intuisi (intuition).

self evident. Perbedaan dari sisi psikologis dan biologis tersebut secara teoritis dapat mempengaruhi proses konseptualisasi dalam belajar matematika (Keitel.”. (2) designing and planning a solution. Setelah itu beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda. (4) verifying a solution. dengan ciri-ciri menggunakan ketentuan pada matematika. yaitu: 1) Intuisi yang didasarkan oleh indera dan imajinasi dengan ciri-ciri antara lain dengan mengamati.. Dengan demikian intuisi berperan dalam proses konseptualisasi. b. dengan coba-coba atau contoh-contoh. Dari perbedaan psikologis dan biologis. perbedaan gender dalam mempelajari matematika dan sains dalam riset pendidikan di awal 1980-an menemukan bukti kuat dominasi laki-laki dalam matematika dan sains (Benbow & Stanley. Bagian kedua adalah jenis intuisi yang disampaikan oleh Poincare. proses pemecahan masalah matematika. 1986. M. membayangkan. Reis & Park. Di sisi lain. (3) explorating solutions to difficult problems. Keitel (1998) menyatakan. yang berupa intuisi afirmatori. yaitu : (1) analyzing and understanding problem. 1980.Adanya pengaruh faktor gender dalam proses konseptualisasi menunjukkan bahwa gender berpengaruh dalam memahami konsep-konsep matematika dan dalam memahami konsep-konsep matematika membutuhkan peran intuisi. 1998). Oleh karena proses konseptualisasi berpengaruh dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Sebagai contoh. Keitel (1998). dalam memahami fakta. maka intuisi berperan dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Polya (1973) menyusun prosedur memecahkan masalah dalam empat langkah. pasti secara intrinsik. Berdasarkan hal-hal tersebut dipandang penting untuk mengetahui penggunaan intuisi untuk menyelesaian masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor gender mempengaruhi intuisi siswa dalam mecahkan masalah matematika. dan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa berpengaruh pada pemecahan masalah matematika. Bagian pertama adalah jenis intuisi berdasarkan jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein. social. Ditemukan bahwa perbedaan gender tidak berperan dalam kesuksesan belajar. Di samping itu banyak fakta bahwa beberapa perempuan sukses dalam karir matematikanya. seperti prosedur pada ilmu pengetahuan eksperimental dengan ciri-ciri antara lain menggunakan pola pikir induktif. apakah laki-laki atau perempuan lebih baik dalam belajar matematika (Hightower. akan muncul ketika berusaha keras untuk memecahkan masalah yang berupa ide global. 2001).W. Halpern. Adanya perbedaan hasil temuan dari para peneliti mengenai peran gender dalam belajar matematika menunjukkan masih terbukanya ranah penelitian untuk mengungkap peran gender khususnya dalam mempelajari topik-topik tertentu dalam matematika.. yaitu: 1) Intuisi afirmatori dengan ciri-ciri sebagai berikut: langsung. sedangkan jenis intuisi yang disampaikan oleh Pincare berupa sesuatu yang mendasari adanya intuisi. Oleh karena itu pada penelitian ini jenis-jenis intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika meliputi dua bagian. 2003). dan intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. menunjukkan bahwa gender merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam proses konseptualisasi. Menurut Fischbein (1999). Di lain pihak. memberikan gambaran bahwa jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein berupa bentuk intuisi. konsep dan prinsip diperlukan intuisi. pemerkiraan atau global. 2) Intuisi antisipatori dengan ciri-ciri antara lain. Namun demikian tidak serta merta siswa yang menguasai langkah-langkah penyelesaian Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 31 . “Gender.. Hyde. Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika. mengukur. memanipulasi benda. 3) Intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara real. dan Susento (2006). 2) Intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. penggiringan. tampak bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan berbeda. a. Pinto (1998).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dari uraian tentang jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare di atas. tentunya berkaitan erat dengan tahap-tahap pemecahan masalah yang dilakukan. and cultural dimensions are very powerfully interacting in conceptualizations of mathematics education.

Walaupun siswa menguasai langkah-langkah penyelesaian masalah. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis tugas. Dengan tugas pemecahan masalahh sebagai berikut: Pada suatu kelas diadakan permainan memotong-motong kertas dengan gunting. METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. dan S2PR (siswa perempuan). Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dikaji karakteristik intuisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya. terkadang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah. Selain itu. maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda. Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam pemecahan masalah. (2) melakukan paparan data hasil wawancara-1. (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah2 (setara dengan lembar tugas pemecahan masalah-1) dengan subjek penelitian yang sama dan dalam waktu yang berbeda. yaitu dengan triangulasi waktu. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas. Subjek dipilih tidak secara acak. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan karakteristik intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan matematika. namun diambil berdasarkan pertimbangan guru matematikanya. Berkaitan dengan uraian di atas. maka subjek penelitian ini adalah S1LK (siswa laki-laki). Selanjutnya siswa ke-2 memotong-motong kertas menjadi 10 potong dan memberikan selembar kertas dari 10 potong kepada siswa ke-3. Langkah-langkah triangulasi waktu pada penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada subjek penelitian dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah-1. peneliti berada di sekolah dan mengamati kegiatan subjek dalam waktu yang cukup. kemudian siswa ke-3 juga memotong-motongnya menjadi 10 potongan dan memberikan selembar kertas dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-4. Permainan tersebut dimulai dengan salah seorang siswa (siswa ke-1) melakukan kegiatan memotong-motong selembar kertas menjadi 10 potong. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda. (5) melakukan pembandingan hasil paparan data wawancara pertama dan kedua. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Permainan memotong-motong kertas ini dilakukan sampai jumlah potongan kertas seluruhnya menjadi 352 potongan. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut hanyalah suatu sarana yang membantu untuk memudahkan dalam memecahkan masalah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah tersebut akan selalu mampu memecahkan masalah matematika. Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. yaitu peneliti mewawancarai subjek dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. (6) bila pembandingan 32 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . kemudian siswa ke-1tersebut memberikan satu potong dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-2. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. Dalam penelitian ini untuk memenuhi kredibilitas data dilakukan dengan wawancara secara tekun. (4) melakukan paparan data hasil wawancara-2. Tentukan banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan memotong-motong kertas tersebut! Data dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan subyek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sragen. Menurut Sugiono (2011) waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data.

Karakteritik Intuisi Subjek Laki-laki (S1LK) a. Ungkapan dari subjek memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan rumus barisan. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memahami masalah adalah subjek S1LK tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal. Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. dengan membuat gambar Dengan demikian subjek S1LK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal tanpa melakukan upaya tertentu untuk membantu memperjelas pemahaman masalah. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S1LK dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan lembar tugas pemecahan masalah yang setara. Selanjutnya. Karena munculnya pemikiran pada subjek S1LK menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. c. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 33 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama maka dikatakan data tersebut valid. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Hal ini terlihat dari jawaban S1LK yang langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tanpa melakukan misalnya. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi antisipatori. pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. d. misalnya dengan membuat ilustrasi atau gambar. Selain itu dari jawaban subjek menunjukkan bahwa subjek akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata yang tertulis dalam teks soal. maka intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah mencermati teks soal. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah dalam membuat rencana penyelesaian. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. Di samping itu. subjek S1LK mencoba akan menggunakan rumus. dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua hasil wawancara yang sama. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. sehingga subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. b. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan kognisi segera. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi. Hasil analisis wawancara akan digunakan untuk mengetahui karakteristik setiap tingkat berpikir kreatif siswa dan proses berpikirnya. b. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus.

Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam 34 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Selain itu. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. subjek S1LK tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dilakukan dengan langsung mengulangi cara menjawab. Subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara analitik. diperolehnya rumus barisan. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Subjek hanya mendasarkan dari teks soal. subjek S1LK langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya. Selain itu subjek tidak melakukan upaya lain. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut bukan merupakan kognisi segera. Dengan demikian subjek S2PR melakukan upaya tertentu untuk memperjelas dalam memahami soal. Hasil jawaban subjek S1LK menunjukkan langkah dan hasil yang benar. Dengan demikian subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran biasa yang dapat dikatakan sebagai kognisi formal. Subjek tidak terpancing dengan pertanyaan peneliti untuk melakukan cara lain. Di samping itu berdasarkan hasil wawancara memberikan penjelasan bahwa jawaban yang diberikan oleh subjek S1LK adalah benar. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. yaitu dengan membuat ilustrasi gambar. Intuisi yang digunakan untuk memeriksa jawaban Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan cara mengulangi dalam menjawab. bahwa dari soal kelihatan ada pola dan ada beda yang disimpulkan subjek sebagai rumus barisan. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Karakteristik Intuisi Subjek Perempuan (S2PR) a. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Subjek sudah cukup merasa yakin bahwa apa yang dilakukan sudah benar. namun subjek merasa bahwa gambar diperlukan dalam memperjelas pemahaman akan soal. Dari hasil wawancara. yaitu Un = a + (n-1)b. Walaupun subjek mengatakan sudah tahu maksud soal. tidak ada intuisi yang digunakan. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memahami masalah adalah dalam memahami masalah adalah tidak secara langsung dari teks.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 c. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana penyelesaian adalah langsung menggunakan rumus dan subjek S1LK sudah yakin akan rumus yang digunakan. ungkapan subjek S1LK dengan kalimat mengulangi dalam menjawab yang dimaksudkan adalah memeriksa jawaban langkah demi langkah. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek S2PR memerlukan upaya menggambar terlebih dahulu dalam memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. 2. nampak bahwa tidak ada pemikiran dari subjek S1LK yang berupa kognisi segera. Dari hasil wawancara. d. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut adalah menggunakan kognisi formal. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S1LK langsung menulis rumusnya.. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Hal tersebut dapat diperhatikan dari hasil wawancara bahwa subjek S1LK langsung mengerjakan berdasarkan rumus barisan.

Subjek S2PR dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu. Subjek menggunakan a = 1 sehingga diperoleh n = 40. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi antisipatori. subjek S2PR mencoba akan menggunakan rumus. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah menginterpretasi teks soal. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memahami masalah dilakukan dengan menggunakan gambar untuk memperjelas maksud soal. Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah. Disamping itu dan juga subjek merasakan pernah mendapati masalah serupa yang diselesaikan menggunakan rumus barisan. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal dan dari ingatan yang tidak penuh. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa jawaban subjek S2PR adalah benar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. Subjek S2PR tidak menjelaskan secara matematis diperolehnya rumus yang merupakan rumus barisan aritmetika. b. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. c.A10 memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan deret. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 35 . yaitu dengan mencermati gambar. karena subjek mencoba mencermati teks soal. karena dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Munculnya penggunaan rumus. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian masalah adalah begitu memahami soal maka terpikir menggunakan rumus dan penggunaan rumus barisan didasarkan pada apa yang telah pernah ia lakukan. sehingga subjek S2PR tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. Karena munculnya pemikiran pada subjek S2PR menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan kognisi segera. walaupun subjek S2PR merasa tidak begitu ingat seperti yang diungapkan . Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang bersifat global. Disamping itu. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memahami masalah tidak menggunakan intuisi. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. subjek hanya tahu bahwa rumus barisan diperoleh dengan mencermati teks soal. maka intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. namun dengan ingatan yang tidak penuh tersebut subjek S2PR memutuskan menggunakan rumus barisan untuk membuat rencana penyelesaian. Ungkapan dari subjek pada S2PR. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S2PR langsung menulis rumusnya. Selanjutnya. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S2PR dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. Dari hasil wawancara. yaitu Un = a + (n-1)b. pada subjek S2PR langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya dan sesuai dengan apa yang direncanakan. Dari uraian di atas memberikan penjelasan bahwa yang dilakukan subjek S2PR dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal.

subjek S2PR tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian.A. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S2PR dalam melaksanakan rencana. yaitu pada S2PR. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. 1. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan langsung mengulangi dalam menjawab. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S2PR dengan cara mengulangi dalam menjawab. Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Oleh karena itu guru matematika dalam membelajarkan pemecahan masalah matematika perlu memperhatikan perbedaan gender. Dari jawaban subjek S2PR. tidak menggunakan intuisi. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1.34 dan S2PR. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. SARAN Berdasarkan simpulan hasil penelitian maka direkomendasikan beberapa hal berikut. dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut. Subjek S2PR juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah. Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut bukan merupakan kognisi segera. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau perbedaan gender. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut adalah menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal. Saran-saran Untuk Perbaikan Pembelajaran Matematika a. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. nampak bahwa subjek S2PR langsung menulis rumusnya. sedangkan siswa perempuan tidak menggunakan dalam memahami masalah matematika. Sehingga tidak ada pemikiran dari subjek S2PR yang berupa kognisi segera. Subjek melakukan dengan mengamati kembali apa yang telah dilakukannya. 2. yaitu Un = a + (n1)b. Oleh karena itu guru perlu melatih siswa perempuan agar dapat menggunakan intuisinya dalam memecahkan masalah matematika. dalam membuat rencana penyelesaian. Selain itu. d. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Selain itu subjek S2PR tidak melakukan upaya lain.35 menunjukkan bahwa subjek S2PR sangat yakin akan apa yang dilakukan adalah benar. Misalnya dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki menggunakan intuisi dalam memahami masalah. tidak ada intuisi yang digunakan. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. dalam membuat rencana penyelesaian. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab.A. 36 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global.

2001. “Students’ Understanding of Real Analysis”. “An Introduction: Social Justice and Mathematics Education: Gender. Winkelmann (Eds. and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. E. “Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis. Vol 28. Scholz. The Ohio State University. Keitel. R.J.Educational Studies in Mathematics 34. 1997. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 37 .). K.S”. R.. Warwick University. Berlin Freie Universitat Berlin. E. Princeton and Oxford: Princeton University Press. 2005. Vol No.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 b. Disertasi tak Dipublikasikan. b.L. “Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning”. 1988.11–50. Polya. A New Aspect of Mathematical Method. Unpublished PhD Thesis.1996. dirasa masih kurang. Educational Studies in Mathematics. 38. M. 1997. Sugiyono. Perlu pembiasaan pembelajaran pemecahan masalah dengan menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah misalnya dengan menggunakan tahap pemecahan masalah dari Polya. 1994.. Penelitian ini dilihat dari kedalaman hasil. The Evolution With Age of Probabilistic. Song. 1988. How to Solve It. “The “Boy-Turn” in Research on Gender and Education”. Reis. & Richardson. Ethnicity and the Politics of Schooling”. misalnya hanya diteliti untuk salah satu tahap pemecahan masalah dari . (1999). Journal of American Educational Studies Association. 73. BI Norwegian School of Management. In Christine Keitel (Ed). 2006. ‘Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’. oleh sebab itu disarankan para peneliti lanjutan untuk mepertajam fokus penelitian. 25. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuaantitatif. 2003. Saran-saran Untuk Penelitian Relevan a. 2007. Gender differences in mathematical problem solving. 1973. Christine. DAFTAR PUSTAKA Ding.231245). Roh. Grossman. Biehler. S. Fischbein. 187-203. 2004. dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing”. 8(2). Metodologi Penelitian Kualitatif. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeksplorasi intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika. 1987. “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. “The Interaction between the Formal. “Do Mathematical Gender Differencess Continue? A Longitudinal Study of Gender Difference and Excellence in Mathematics Performance in The U. Reidel.S. 2007. 2011. Fischbein. Bandung: Alfabeta Susento.. Bandung: Remaja Rosdakarya Pinto. E. S. Class. Social Justice and Mathematics Education. “Gender Differences in High-Achieving Students in Math and Science”. Peneliti lanjutan hendaknya dapat menggunakan tinjauan teori intuisi selain yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare. Kualitatif dan R & D). G.K. & Schnarch. 27–47 Fischbein. L. E. 2. Dissertation. D. G. “College Students’ Intuitive Understanding of the Concept of Limit and Their Level of Reverse Thinking”. H. 279-295. Fischbein. Zheng Zhu 2007. E. & Park. UNESA Surabaya. Hightower. C. Journal for Reasearch in Teacher and Mathematics Education. 52-73. Proses Kognitif. 471-498. Journal For Education of The Gifted. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. M. A. 40. sehingga diperoleh karakteristik intuisi dalam memecahkan masalah yang lebih variatif dan lengkap. Dordrecht: D.I. In R. Moleong. Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. Intuition in Science and Mathematics. Intuitively based Misconseptions. Fischbein. International Education Journal. Review of Educational Research. Sträßer. Unpublished Dissertation. the Algorithmic. W. & B. Henden.W.

maka akan kesulitan untuk menentukan langkah serta penyelesaian masalah.com Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap tentang aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian dalam matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari kemampuan di bidang analisis. Namun pada tahap selanjutnya yaitu tahap melakukan evaluasi ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui: Aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. (1) Siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah secara umum tidak melakukan aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. (3) Melalui pengkajian mendalam akan disusun teori metakognisi yang terkait dengan masalah pembuktian ditinjau kemampuan dalam bidang analisis. Pembuktian 38 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . (2) Sedangkan mahasiswa yang berada pada tingkat kemampuan analisis sedang. Di pihak lain. (2) Dilakukan penelitian terhadap subyek terpilih dengan metode think aloud dan retrospeksi untuk mendapatkan data tentang aktivitas metakognisi. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian kualitatif eksploratif dengan tahapan sebagai berikut. Metakognisi. Pengetahuan mahasiswa tentang cara menganalisis suatu masalah tentu akan membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian yang dimulai dengan perencanaan yang baik. Mahasiswa yang menempati tingkat kemampuan analisis sedang atau tinggi sudah memahami konsep tentang pembuktian langsung. Pada ke tiga tahap selanjutnya ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. (1) Dilakukan pra penelitian dan penyusunan instrumen penelitian yang disertai validasi terhadap instrumen tersebut. merencanakan tindakan dan melaksanakan tindakan. Kata kunci: Aktivitas. pembuktian dengan kontraposisi. FKIP UNS Surakarta Email : gatutis_wahyudi@yahoo. (3) Pada mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini terlihat bahwa siswa yang kelompok kemampuan analisis rendah. dan pembuktian dengan kontradiksi. mereka mampu menggunakan dan menerapkan strategi generatif yang memungkinkan mendaftar secara lengkap data-data yang akan digunakan dalam memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara lebih spesifik. siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah pada saat menyelesaikan masalah pembuktian secara langsung walaupun tidak secara lengkap namun telah melakukan aktivitas metakognisi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AKTIVITAS METAKOGNISI MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PEMBUKTIAN Gatut Iswahyudi Prodi Pendidikan Matematika. aktivitas metakognisi muncul pada setiap tahap penyelesaian masalah Polya baik pada pemecahan masalah pembuktian langsung maupun pembuktian secara tidak langsung. Hasil Penelitian ini adalah. sehingga siswa akan mampu mendaftar secara lengkap semua hasil yang mungkin dari suatu masalah. aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah tingkat aktivitas metakognisis mereka berada pada tingkat kemampuan analisis kurang. melaksanakan rencana dan mengevaluasinya. Mahasiswa yang tidak memahami konsep pembuktian tidak langsung (pembuktian dengan kontradiksi). Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah hanya melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. Di pihak lain pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung tampak bahwa pada setiap tahap pemecahan masalah Polya muncul aktivitas metakognisi.

tetapi lebih kepada memungkinkan siswa berpikir tentang dirinya sendiri. Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 39 . O’Malley dan Spanos. dan merefleksikan proses pemecahan masalah matematika (Pearson Learning Group. Salah satu bentuk proses pembelajaran yang tepat adalah dengan memanfaatkan proses pemecahan masalah. Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas. 2005). Kemampuan analisis merupakan kemampuan tingkat ke-4 dalam taksonomi Bloom. Proses berpikir dalam pemecahan masalah merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian guru terutama untuk membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika. yang berturut-turut adalah kemampuan mengingat. dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot. Masalah membuktikan adalah masalah yang tujuannya sudah ditentukan tetapi prosesnya diperlukan. keterampilan dan membentuk sikap. memilih strategi yang digunakan untuk menemukan pemecahan. Sehingga meneliti karakteristik seseorang berdasarkan kemampuan analisis yang dimilikinya perlu dilakukan. 1979. dan bertanya kepada diri sendiri tentang masalah tersebut (Gartman dan Freiberg. Diantara masalah tersebut. Proses menyadari dan mengatur berpikir siswa sendiri tersebut. Terkait dengan masalah dalam matematika. dikenal sebagai metakognisi. Guru dalam hal ini dapat mendorong siswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. pemantauan. memecahkan masalah dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan matematika. 1992). Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam pemecahan masalah serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell. Panaoura dan Philippou. kemampuan memahami. Beberapa cara pembuktian lain dalam matematika adalah pembuktikan dengan induksi matematika. Jenis-jenis pembuktian yang termasuk pembuktian tidak langsung adalah pembuktian dengan kontradiksi dan pembuktian dengan kontraposisi. Dalam dimensi proses kognitif. menerapkan berbagai strategi yang diperlukan. kemampuan analisis seseorang mempunyai peran yang penting dalam menunjang keberhasilan belajar matematika. masalah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu masalah menemukan (to find) dan masalah membuktikan (to prove). ketrampilan dan terbentuknya sikap tersebut tentu hanya akan dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang tepat. pembuktian dalam matematika dapat dikelompokkan pembuktian langsung. proses belajar matematika merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan. Melalui pemecahan masalah matematika. dan pembuktian tidak langsung. khususnya dalam memecahkan masalah pembuktian. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya antara lain membangun pengetahuan matematika yang baru. 2008). guru sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah. termasuk didalamnya adalah berpikir tentang bagaimana siswa membuat pendekatan terhadap masalah. 1993). Berpikir tentang dirinya sendiri berkaitan dengan kesadaran siswa terhadap kemampuannya untuk mengembangkan berbagai cara yang mungkin ditempuh dalam memecahkan masalah. Masalah menemukan adalah suatu jenis masalah yang tujuannya akan dicari dan prosesnya diperlukan. Dale. kemampuan mengevaluasi dan kreativitas. Siswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan. Agar guru dapat membangkitkan kemampuan metakognisi siswa. kemampuan mengaplikasi. dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh siswa pada semua tingkat pendidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PENDAHULUAN Pada hakekatnya. masalah membuktikan merupakan bagian yang sangat penting dalam matematika Didasarkan pada metode yang digunakan. 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan pemecahan masalah dalam matematika adalah tidak untuk melengkapi siswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses. kemampuan menganalisis. pembuktian dengan contoh penyangkal.

Ini menunjukkan bahwa suatu tugas merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu. metode yang digunakan untuk mengatur proses kognisi seseorang dan suatu penguasaan terhadap bagaimana mengarahkan. tetapi bukan merupakan masalah lagi bagi orang itu pada saat berikutnya. yaitu “untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. 1992. Brown mendefinisikan metakognisi sebagai suatu kesadaran terhadap aktifitas kognisi seseorang. Bagian utama dari masalah menemukan antara lain: apa yang dicari? Apa saja data yang diketahui? bagaimana syaratnya? Sedangkan masalah membuktikan merupakan masalah untuk menunjukkan apakah suatu pernyataan benar atau salah. penulis mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan untuk menyadari kognisi sendiri dan kemampuan mengatur proses kognisi sendiri. pemantauan. Masalah untuk menemukan merupakan suatu masalah teoretis atau praktis. Sementara itu. Berdasarkan uraian di atas. Kirsh (2004) mengemukakan bahwa metakognisi khususnya dalam bidang pendidikan. metacognition as the ability to understand and monitor one’s own thoughts and the assumptions and implications of one’s activities (Lee dan Baylor. Flavell mendefinisikan: metakognisi sebagai kemampuan untuk mengerti dan memantau berpikir sendiri dan asumsi serta implikasi dari kegiatan seseorang. dan masalah membuktikan (problem to prove). metakognisi cakupannya dibatasi pada tiga komponen yaitu perencanaan. pemantauan. dan refleksi. Terdapat beberapa definisi tentang metakognisi yang berkembang dalam bidang psikologi kognitif. merencanakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dikemukakan di atas. Berdasarkan definisi di atas. Khusus dalam pemecahan masalah matematika. 2006). and a command of how one directs. evaluasi dan perbaikan kemampuan bekerja (performa). plans. 2006). Menurut Polya (1973). yang mengemukakan empat tahapan penting yang perlu dilakukan yaitu: 40 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . salah satu yang banyak dirujuk adalah pentahapan oleh Polya (1973). 1997. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan apakah pernyataan itu benar atau salah? Bagian utama dari masalah ini adalah hipotesis dan konklusi suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Gama. Pada penelitian ini. Demikian pula suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang pada suatu saat. Artinya suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Stanic & Kilpatrick (1988: 15) mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukan di waktu sebelumnya. maka diajukan pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana proses metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. diantaranya oleh Flavell dan Brown. Ketiga kompunen ini merupakan satu rangkaian dan saling terkait dalam aktivitas metakognisi. atau tidak keduanya. abstrak atau konkrit. dan memantau aktivitas kognitif metacognition as an awareness of one’s own cognitive activity. KAJIAN TEORI Pengertian Metakognisi Secara sederhana metakognisi didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi tentang kognisi seseorang (Nelson. Livingston. masalah terbagi menjadi dua. the methods employed to regulate one’s own cognitive processes.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 kepada para guru atau calon guru tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan dalam memecahkan masalah matematika secara umum dan secara khusus dalam memecahkan masalah pembuktian. 2004). and monitors cognitive activity (Lee dan Baylor. berkaitan dengan aktifitas dan keterampilan berhubungan dengan perencanaan. bila orang itu telah mengetahui cara atau proses mendapatkan pemecahan masalah tersebut. Pada penerapannya. tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi orang lain. yaitu masalah menemukan (problem to find).

Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematika Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat proses metakognisi dalam pemecahan masalah matematika. Memikirkan rencana (devising a plan) meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahui. Tahap ini merupakan tahap mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Tabel 1 Aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan dengan langkah yang diusulkan oleh Polya Pemecahan masalah menurut Polya Memahami masalah dengan mengidentifika si dan mengkla sifikasi masalah Aktivitas Metakognisi Kode Bagian Awal (Before) 1. Selanjutnya NCREL menyebut tiga tahap tersebut sebagai tahap sebelum. dan sebagainya. dan (3) refleksi (reflection). (2) tahap pemantauan (monitoring the plan of action). (2) bagian inti. dan sebagainya. Memikirkan tentang apa yang dipahami merupakan bagian yang penting dalam rangka memahami masalah 5. 3. Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) mengelompokkan aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah matematika terdiri atas (1) perencanaan (planning). Berikut ini disajikan tabel aktivitas metakognisi tersebut. Memahami masalah (understanding the problem) meliputi mengerti berbagai hal yang ada pada masalah seperti apa yang tidak diketahui. Tahap ini merupakan tahap memikirkan rencana tindakan. dan membangun alternatif penyelesaian. Demikian juga NCREL (1995) mengelompokkan metakognisi ke dalam tiga elemen dasar yaitu (1) tahap pengembangan rencana (developing a plan of action). Melaksanakan rencana (carrying out the plan) termasuk memeriksa setiap langkah pemecahan. Tahap ini merupakan tahap memahami masalah dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah. Memikirkan tentang lama waktu yang anda MMAW1 MMAW2 MMAW3 MMAW 4 MMWA Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 41 . Proses metakognisi dimaksudkan sebagai rangkaian aktifitas metakognisi yang dilakukan peserta didik ketika memecahkan masalah. Dalam penelitian ini. (2) pemantauan (monitoring). apakah syarat tersebut cukup untuk menentukan hal yang tidak diketahui. 2. apa saja data yang tersedia. apakah langkah yang dilakukan sudah benar atau dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 1. Memikirkan tentang pengetahuan yang dapat membantu dalam memahami masalah 2. apa syaratsyaratnya. Memeriksa kembali jawaban (looking back) meliputi pengujian terhadap pemecahan yang dihasilkan. selama dan sesudah. dan (3) tahap pemeriksaan (evaluation the plan action). Memikirkan tentang langkah-langkah dalam memahami masalah ( Memikirkan apa yang pertama kali harus dilakukan) 4. Pengkategorian aktivitas metakognisi didasarkan pada suatu tabel aktivitas metakognisi yang disusun dengan mengadopsi tabel serupa yang dikemukakan NCREL (1995) dipadukan dengan yang dikemukakan oleh Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) dengan melakukan modifikasi sesuai situasi pemecahan masalah yang dilaksanakan. 4. dan (3) bagian akhir. Memikirkan tentang arah/tujuan dalam memahami masalah 3. Tahap ini merupakan tahap melaksanakan tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. dengan memilih fokus pada proses metakognisi yang dilakukan mahasiswa calon guru ketika memecahkan masalah pembuktian. Sejalan dengan pandangan Brown. terkait dengan adanya istilah yang hampir sama maka tiga tahap aktivitas metakognisi ini disebut sebagai (1) bagian awal.

Merasa dapat menerapkan cara pemahaman masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar atas ketepatan cara dan langkah pemahaman masalah dilakukan 2. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah 5. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam memahami masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat MRIT1 merencanakan pemecahan masalah. Sadar tentang langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan pemahaman terhadap masalah yang diberikan 4. Sadar tentang arah dari apa yang direncanakan (telah menemukapaan hubungan antara data-data (konsepkonsep) yang tidak diketahui dengan data-data (konsep-konsep) yang diketahui 3. Merasa dapat melakukan langkah pemahaman terhadap masalah dengan cara berbeda 4. Sadar bahwa cara pemahaman masalah yang dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat 5. Memikirkan tentang apa yang dilakukan pada saat memahami masalah 2. Sadar tentang perlunya kembali pada tahap awal dalam memahami masalah Memikirkan rencana tindakan dan membangun alternatif penyelesaian Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum merencanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. 3. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang pengetahuan apa saja yang diperlukan dalam merencanakan pemecahan masalah ini 2. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan MRIT2 42 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam merencanakan pemecahan masalah 5 MMIT1 MMIT2 MMIT3 MMIT4 MMIT5 MMIT6 MMAK1 MMAK2 MMAK3 MMAK4 MMAK5 MRAW1 MRAW2 MRAW3 MRAW4 MRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam memahami masalah Bagian Akhir (After) 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pergunakan dalam memahami masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar bahwa dalam merencanakan pemecahan masalah harus ditemukan definisi-definisi maupun teorema-teorema yang terkait dengan masalah itu 2. Sadar bahwa sudah merasa berada pada jalan yang benar saat memahami masalah.

Sadar merasa telah melakukan langkah perencanaan pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. 2. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan pemecahan masalah MRIT3 MRIT4 MRIT5 MRIT6 MRAK1 MRAK2 MRAK3 MRAK4 MRAK5 PRAW1 PRAW2 PRAW3 PRAW4 PRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam merencanakan pemecahan masalah ini Melaksanakan Bagian Awal (Before) rencana tindakan 1. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat merencanakan pemecahan masalah 5. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan dengan memilih untuk membantu melaksanakan rencana tindakan strategi pemecahan masalah yang diberikan penyelesaian 2. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus PRIT3 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 43 . dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Sadar akan ketepatan langkah perencanaan pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. sadar sudah memperhitungkan atau melibatkan semua hal yang penting yang terkandung dalam masalah ini 3. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan setelah menemukan definisi-definisi maupun teoremateorema yang terkait dengan masalah itu 4. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan PRIT2 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam merencanakan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat PRIT1 melaksanakan rencana pemecahan masalah. Merasa dapat menerapkan cara perencanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5.

Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dilakukan 4. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan 4. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk membantu melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan 2. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah PRIT4 PRIT5 PRIT6 PRAK1 PRAK2 PRAK3 PRAK4 PRAK5 EPAW1 EPAW2 EPAW3 EPAW4 EPAW5 EPIT1 EPIT2 EPIT3 EPIT4 44 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Berpikir tentang hal lain yang terkait dengan evaluasi pelaksanaan pemecahan masalah 5. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar bahwa pada saat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar merasa telah melakukan langkah pelaksanaan rencana pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah Bagian Inti (During) 1. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan rencana pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5.

Penjenjangan Proses Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Kategori Proses Metakognisi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Indikator 80%X100% 60%X<80% 40%X<60% 20%X<40 0%X<20 Keterangan : X= Prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi dari subjek penelitian pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Sadar bahwa evaluasi dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. selanjutnya pada akhir tiap tahap dilakukan wawancara untuk mengungkap aktivitas metakognisi pada tahap tersebut. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Tabel 2. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan EPIT5 EPIT6 EPAK1 EPAK2 EPAK3 EPAK4 EPAK5 Berdasarkan deskripsi aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika dengan langkah yang diusulkan oleh Polya tersebut diatas disusun penjenjangan proses metakognisi pada pemecahan masalah pembuktian. Mahasiswa diberi soal tentang masalah pembuktian. Dalam mengerjakan soal. Dalam hal ini proses metakognisi dibagi dalam empat jenjang berdasarkan prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Sadar merasa dapat melakukan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Ungkapan-ungkapan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 45 . Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah Bagian Akhir(After) 1. Terkait dengan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Soal terdiri dari satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian langsung dan satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian tidak langsung.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal berdasarkan tahap-tahap pemecahan masalah Polya. METODE PENELITIAN Penelitian ini mendiskripsikan proses metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkahlangkah Polya dengan mengungkap secara mendalam respon siswa. Penjenjangan proses metakognisi yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah yang dilakukan 2.

MRIT2. MMAK3 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Tahap memikirkan rencana tindakan. pelaksana pengumpul data. MRIT4. 2003). HASIL PENELITIAN Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah adalah sebagai berikut. Pemecahan masalah menurut Polya Tahap memikirkan rencana tindakan. Instrumen lembar tugas ini divalidasi oleh ahli. Data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dan disusun transkip wawancara tersebut untuk selanjutnya dilakukan analisis terkait dengan aktivitas metakognisi yang dilakukan. MMIT3 . Mahasiswa yang dipilih sebagai subyek adalah mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Analisis real I. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran metakognisi siswa. memaparkan data (meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. MMIT1. dan pedoman wawancara. MRAK2. Sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif-eksploratif. MMAW4. dengan cara mereduksi data (yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. MMIT2 . MMAW2. MRIT1. pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan). MRAW6. Adapun kriteria kemampuan analisis tinggi adalah rataan skor prestasi belajar matakuliah kelompok analisis yang telah ditempuhnya lebih besar atau sama dengan 80 dalam skala 100. MRAW4. dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut (Moleong. MMAW5. MRAK1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang disampaikan berupa kata-kata. penyederhanaan. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut). 46 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . kemudian untuk setiap tahapan dalam meyelesaikan masalah berdasarkan tahapan Polya diadakan wawancara untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas penyelesaian masalah matematika. MMIT5. analisis. MRAW5. maka penelitian ini bersifat kualitatif. Subyek penelitian adalah Mahasiswa . Sehingga jika X menyatakan rataan skor prestasi belajar siswa berkemampuan analisi tinggi. penafsir data. maka 80  X  100 . MMAW3. MMIT4 . Dari hasil pekerjaan siswa. MRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian adalah sebagai berikut. pengamatan dan wawancara dapat dilihat karakteristik metakognisi siswa. Dalam hal ini peneliti merupakan perencana. membangun alternatif penyelesaian adalah sebagai berikut. Pemecahan Masalah Menurut Polya Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah Ciri yang teramati MMAW1. MMAK2. Prosedur pengumpulan data diakukan dengan cara subyek diberi lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. dan akhirnya sekaligus menjadi pelapor hasil penelitian. Analisis data penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil wawancara. membangun alternatif penyelesaian Ciri yang teramati MRAW1. yang terdiri atas satu orang ahli pendidikan matematika dan satu orang ahli dalam bidang matematika kelompok bidang analisis. Sedangkan instrumen lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika. pemusatan perhatian.

melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. 50%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. PRAW4. EPIT3. cukup memadai. cukup dan baik. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Pemecahan masalah menurut Polya Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik KESIMPULAN 1. adalah sebagai berikut.5%. EPIT6.77%.77%. cukup. EPAW2. cukup memadai. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. PRAW3. dan 62. sehingga berturut-turut berada pada karegori baik. dan 62. PRAK1. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 60. 4. dan 68%.5%.25%. 75%. sehingga berada pada kategori baik. sehingga masing-masing berada pada kategori baik.5%. sehingga berada pada kategori baik.94%.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pemecahan masalah menurut Polya Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian Ciri yang teramati PRAW1. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. cukup memadai. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. 56. 62.5%. Secara umum keterlaksanaan aktivitas metakognisi yang dilakukan mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi ketika memecahkan masalah pembuktian langsung. EPAK4. 3. EPAK5 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 47 .25%. PRIT1. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 69. sehingga berada pada kategori baik. Secara keseluruhan tahap pemecahan masalah diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian.19%. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. 62. cukup memadai. 2. EPIT5.75%. sehingga berada pada kategori baik. PRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik adalah sebagai berikut. dan 68%. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 68. Ciri yang teramati EPAW1. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. 62.5%. 75%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. sehingga masing-masing berada pada kategori baik.25%. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian langsung.

. Jakarta. (Ed). Young Pupils’ Metacognitive Abilities in Mathematics in Relation to Working Memory and Processing Efficiency.5%. 2000. A.5%. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian.edu/fos/shuel/ cep564/metacog. G. Problem Solving in School Mathematics. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian.. A.5%. C. D.5%. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Metacognition and Cognitive Monitoring. R. Princeton University Press. Metacognition. Yogyakarta Livingstone. Metacognition. 1980. Soedjadi. Polya. Download tanggal 12 November 2007 Panaoura. 2008. A. J. Boston. 1973. R. dalam Krulik S.. Intervention Research: A Tool for Bridging the Theory – Practice Gap in Mathematics Education.1 NCREL. 6. T. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian..5%. 2004. Flavell.buffalo.net.ucy. sehingga masing-masing berada pada kategori kurang.html Nelson. dan 37. Core Readings.25%. Brno Czech Republic. A. The Mathematics Education into the 21st Century Project. Metacognition . Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Allyn and Bacon. E. The Measurement of Young Pupils’ Metacognitive Ability in Mathematics: The Case of Self-Representation and Self-Evaluation. http://www...htm Panaoura. 2003. Metacognition: An Overview. belum memadai.5%. Schoenfeld.. 37. Download tanggal 12 November 2007. (Ed). dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. 1997.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. and Philippou. Phil Dissertation. www. Proceedings of the International Conference.iinet. and Philippou.ucy. How To Solve It. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. www.gse. sehingga berada pada kategori kurang.Learning to learn http://members. Metode Pembuktian dalam Matematika.. H. H. O. 31. DAFTAR PUSTAKA De Corte.. dan Reys. Virginia. sehingga seluruhnya berada pada kategori kurang. 1. dan 37. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 32. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 31. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. Integrating Metacognition Instruction in Interactive Learning Environment.Thinking about thinking . Gama. Princeton.cy. Boston. 1992. A New Area of Cognitive – Developmental Inquiry. A.. 48 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .81%. G. University of Sussex Julan Hernadi.ac. UAD. 2005. Allyn and Bacon. 1992. 31. T.ac. (1995). E. O. sehingga berada pada kategori kurang.. J. NCTM. 37.. belum memadai. in Nelson. 2004. New Jersey.. 1979. G. Heuristic in the Class Room.cy. Second Edition.au/metacognition. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian langsung.

Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. dan gaya kognitif. Suyono2 1) Program Studi Magister Pendidikan Matematika 2) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran. Dari 10. diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. Mardiyana2. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. pemerintah mendorong pelaksanaan inovasi pembelajaran matematika yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. angket keingintahuan.73) maupun nasional (7. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan awal matematika. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3x2. rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora (6. proses pembelajaran akan berpusat pada peserta didik dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. tes gaya kognitif (GEFT). pelaksanaan inovasi pembelajaran tersebut terganjal dengan masih lemahnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Selain itu. keingintahuan. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP di Kabupaten Blora.006 peserta ujian nasional SMP di Kabupaten Blora pada tahun pelajaran 2009/2010. keingintahuan.77%) yang memperoleh nilai matematika di bawah rerata. terdapat 3. Inovasi pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan tantangan belajar sesuai kemampuan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual peserta didik. yang akan membantu peserta didik dalam mengkonstruksi pemahamannya sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan. (2) Terdapat pengaruh keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. PENDAHULUAN Sejalan dengan paradigma baru pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. (6) Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Uji keseimbangan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal yang seimbang. Dengan demikian. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme pada pembelajaran matematika diduga berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. diperoleh simpulan bahwa (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika. serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika peserta didik.53) lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah (6. mata pelajaran matematika bagi peserta didik SMP di Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 49 .05.779 peserta didik (sekitar 37. (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. (3) Terdapat pengaruh gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. (7) Terdapat interaksi antara model pembelajaran.29). Hanya saja.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KEINGINTAHUAN DAN GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK SMP DI KABUPATEN BLORA Agung Putra Wijaya1. Dengan α = 0. Berdasarkan laporan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 tersebut. dan tes prestasi belajar matematika.

Selama kegiatan pembelajaran guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas. baik untuk kelompok tinggi. Di antara banyak model pembelajaran. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah dan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian di SMP yang telah terpilih. sebagian besar guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. diantaranya keingintahuan dan gaya kognitif. b. menentukan grafik dari persamaan suatu garis menunjukkan bahwa penguasaan konsep persamaan garis lurus oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora masih rendah. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai secara optimal. Melalui model pembelajaran kooperatif. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu. analisis daya serap hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 terhadap tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi pokok persamaan garis lurus. sedang. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. menentukan persamaan garis pada sebuah grafik. dan angket. sedangkan peserta didik hanya menyimak. Dengan mengetahui perbedaan kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif setiap peserta didik. mencatat. SMP Negeri 1 Cepu dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dua. dan Sampling Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik di 76 SMP yang ada di Kabupaten Blora. maupun rendah. peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya melalui diskusi kelompok. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus dimungkinkan karena konsep tersebut belum benar-benar dikuasai oleh peserta didik. c.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Kabupaten Blora ini merupakan mata pelajaran penyumbang angka ketidaklulusan terbesar kedua setelah mata pelajaran bahasa inggris. b. a. dan mengerjakan latihan soal. yakni menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 (a. salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian meliputi metode dokumentasi. Selain model pembelajaran. SMP Muhammadiyah 1 Blora dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dua. Selain itu. Populasi. Metode tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan 50 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Selain itu. terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. guru harus cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan. Sampling dilakukan menggunakan teknik stratified cluster random sampling sedemikian sehingga terpilih sampel penelitian sebagai berikut. SMP Negeri 2 Blora dengan kelas VIII 3 sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII 5 sebagai kelas eksperimen dua. Kesulitan-kesulitan tersebut hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan peserta didik lain atau guru matematika yang mengajar. diharapkan membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya terhadap konsep matematika sehingga prestasi belajar matematika peserta didik lebih optimal. tes. Sampel. c bilangan bulat selain satu).

Pemb. dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’. Data Kemampuan Awal Matematika dan Uji Keseimbangan Berikut disajikan deskripsi data kemampuan awal matematika peserta didik.2573 17 56 100 76. Berikut disajikan hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen.5000 10.7909 2274.5147 Ftabel 3. Tabel 3.4000 11.6924 9 72 96 83.9125 9.5238 66.2222 8. prestasi belajar matematika.5455 11. Mod.5556 8. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Keingintahuan Gaya Kog.8918 FI 6 84 100 94.0843 16. Tabel 2.1111 7.6667 9. B.5714 13.7909 4549. dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji-t.0828 15.9524 S 14.3533 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. dan gaya kognitif peserta didik.7462 27 52 100 75.6409 1279. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak.1132 Rendah FD 16 48 84 60. Data Penelitian dan Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pokok persamaan garis lurus. N Nilai Min N H Nilai Maks T S N S Nilai Min T Nilai Maks A D S Tinggi FD 12 72 100 91. Sebelumnya.6239 FI 18 76 100 88.6692 Fhit 9.0000 15. Hasil uji keseimbangan menggunakan uji-t terhadap data kemampuan awal matematika peserta didik diperoleh simpulan bahwa populasi mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang.9017 3.6753 Sedang FD 22 48 88 70. Deskripsi Data Kemampuan Awal Matematika Peserta Didik Kelas Eksperimen Satu Eksperimen Dua n 84 84 Nilai Min 40 40 Nilai Maks 96 96 67.0048 8 60 100 75.9017 Keputusan Uji H0A ditolak H0B ditolak H0C ditolak Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 51 . terhadap data kemampuan awal maupun data prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Tabel 1.2818 1279.6667 7.7283 14 44 84 64. Metode angket digunakan untuk memperoleh data keingintahuan peserta didik.4237 FI 10 52 88 72. HASIL PENELITIAN A.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 awal.6692 dk 1 2 1 RK 1221.0540 3.7207 9 56 80 67.8519 12. Rangkuman Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Sumber A B C JK 1221.4706 14.0132 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.

1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. d.5210 - 3.7845 2 1 2 2 156 167 2114.5074 1191.0362 134.5382 877. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0724 20981. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 5) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0540 3.5074 595.1191 811.0540 3.4280 6. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.2383 811. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.7190 6. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0540 - H0AB ditolak H0AC ditolak H0BC ditolak H0ABC ditolak - DESKRIPSI HASIL ANALISIS VARIANSI TIGA JALAN DENGAN SEL TAK SAMA Deskripsi hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dan uji komparasi rerata adalah sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 4) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. a. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AB AC BC ABC Galat Total 4228. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan peserta didik. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.0764 1754.4945 15. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. b. maupun rendah sama baiknya. sedang.1480 36016. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. c.0338 4. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif peserta didik. e. dengan deskripsi sebagai berikut.9017 3. dengan deskripsi sebagai berikut. 52 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .

4) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik diabndingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 5) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. maupun rendah sama baiknya. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 6) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 5) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. keingintahuan. 2) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 53 . dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. g. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. f.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 3) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. 3) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dengan deskripsi sebagai berikut. 1) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. dan gaya kognitif peserta didik. Terdapat interaksi antara model pembelajaran.

12) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 gaya kognitif field dependent. 10) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 7) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 17) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 15) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 14) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 54 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. 11) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 16) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 9) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 18) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 8) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 13) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent.

prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 26) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 21) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 24) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 27) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 29) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 22) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 25) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 28) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 19) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik diobandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 23) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 20) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 55 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi.

Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 30) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 31) 32) 33) 34) 35) 36) 37) 38) 39) 40) 41) 42) 56 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. maupun rendah sama baiknya. maupun rendah sama baiknya. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. maupun rendah sama baiknya. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah.

1997. f. 45) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. . E. Cognitive Style in Educational Perspective. 2010. R. Metodologi Penelitian Pendidikan. 44) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 2003. Remaja Rosdakarya. d. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. keingintahuan. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Srivastava. Asdi Mahasatya. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2010. Bandung: PT. Anita Lie. diperoleh simpulan bahwa: a. S. e. Statistik Untuk Penelitian (Edisi Kedua). prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2003. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Slavin. Riset. Jakarta: Grasindo. Priyamvada. 2009. DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. 2008. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Bandung: Nusa Media. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Desmita. Slameto. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. New Delhi: Anmol Publications Pvt Ltd. Jakarta: PT Bumi Aksara. SIMPULAN Berdasarkan analisis data menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 43) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 57 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jakarta: PT. (Edisi terjemahan oleh Narulita Yusron). Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. g. Nasution. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2009. 46) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. dan Praktik. Budiyono. Cooperative Learning: Teori. c. 2008. b.

Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh. Pada penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran berbasis SMART (spesific. Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan. Namun berbagai upaya tersebut belum mencapai prestasi yang optimal. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan teknik random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS SMART PADA MATERI PELUANG DENGAN MODEL ELICITING ACTIVITIES Aryo Andri Nugroho Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Lontar 1 (Sidodadi Timur) Semarang 50125. Kata Kunci : Peluang. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreatifitas peserta didik. measurable. Dalam pembelajaran konvensional guru bertindak sebagai pentransfer ilmu kepada peserta didiknya. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. (3) pembaharuan kurikulum. Banyak perangkat dimana para ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan sistem kompleks yang melibatkan cara pikir yang dinyatakan dalam bentuk model matematis. MEA. time bound). dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. (4) penerapan model atau metode pembelajaran baru. karena berbagai kendala di lapangan. 2001b: 1). mengembangkan karakter dan potensi yang dimiliki. achievable. Akibatnya. Selain itu peserta didik kurang diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif.com Abstrak Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide . serta memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities (MEA) yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena seperti pola dan interaksi.ide yang mendorong ke arah kesuksesan. e-mail : ndrie024mp@gmail. Penelitian ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik menggunakan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA. misalnya memusatkan pada karakteristik struktural 58 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model MEA akan mencapai efektif dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. mandiri dan berjiwa wirausaha (Sanjaya 2008: 2). Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sering informasi bercampur dan mungkin dapat dipertimbangkan sebagai hal yang kompleks. (2) kualifikasi pendidikan guru. inovatif. baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika di sekolah. Pembelajaran matematika yang masih menggunakan pembelajaran konvensional masih menempatkan guru sebagai sumber informasi utama yang berperan dominan dalam proses pembelajaran. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Berbagai upaya tersebut antara lain dalam bentuk: (1) penataran guru. peserta didik dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif (Suparman. Kreatifitas. realistic. sampai saat ini kualitas pembelajaran matematika di Indonesia masih rendah (Soedjadi. 1997:198). uji pengaruh. (5) penelitian tentang kesulitan dan kesalahan peserta didik dalam belajar matematika. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masih lemahnya proses pembelajaran. SMART.

Model Eliciting Activities mendorong aktivitas peserta didik dalam pengembangan model karena untuk memecahkannya diperlukan cara untuk menyatakan berpikir saat ini dalam bentuk yang diuji dan diperbaiki berulang kali setelah di uji. (2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). kelancaran representasional. Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide-ide dan proses kunci yang mendorong ke arah kesuksesan harus diberikan. achievable. proses. Pengembangan model biasanya melibatkan satu rangkaian siklus desain yang melibatkan cara yang berbeda terhadap penyaringan. adanya pengaruh yang positif antara variabel bebas dengan variabel terikat. 2003). Menurut Guskey (1982) pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya ketercapaian ketuntasan dalam prestasi belajar. 2004). time bound). dan penginterpretasian dari situasi masalah yang diberikan (Lesh & Yoon. Lebih dari itu banyak persamaan terjadi antara model dimana peserta didik mengembangkan sistem untuk bisa dipertimbangkan dalam pengalaman sehari-hari mereka sendiri dan model dimana para ilmuwan mengembangkannya (Lesh & Doerr. Sifat alami model tersebut dapat digambarkan dalam empat aspek. Sebuah nilai ekstra adalah bahwa model eliciting activities itu bisa mendorong ke arah bentuk belajar yang signifikan. Sementara dengan tidak menolak pentingnya pengalaman masalah yang ada. realistic. Amit & Schorr. mengidentifikasikan rintangan terhadap solusi. pola. pengorganisasian. a. measurable. Model ini adalah sistem konseptual yang digunakan untuk membangun. aksi. Artinya bahwa proses penafsiran untuk peserta didik telah diminimalisir atau dieliminasi. dan hubungan antara unsur-unsur) (Jones & Nisbet. 2004). dan memvisualisasikan serta mengevaluasi produk akhir yang mungkin. mereka tidak memahami secara baik pengetahuan matematika. berkenaan dengan informasi yang ambigu atau tidak lengkap. dan keteraturan serta membekali peserta didik dengan fondasi penalaran matematis yang dasar. Pengalaman pemecahan masalah peserta didik secara tradisional telah dibatasi masalah dimana peserta didik menerapkan satu prosedur yang diketahui atau mengikuti satu jalur yang jelas. b. Model eliciting activities biasanya melibatkan aktivitas-aktivitas yang mematematikakan (mathematizing) objek yang relevan. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena (seperti pola. Salah satu substansi yang menjadi penekanan KTSP adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran disini akan disusun perangkat pembelajaran yang meliputi: (1) Silabus. Dengan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 59 . Pemunculan masalah model ini adalah aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang mendorong ke arah pembentukan sebuah model eliciting activities (Lesh. interaksi. hubungan. adanya perbedaan prestasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Dalam proses pemecahan masalah menuntut peserta didik dengan perangkat baru untuk memecahkan permasalahan serupa di masa datang (Lesh & Yoon. Gagasan yang relevan dan sistem konseptual dapat diharapkan menjadi langkah-langkah intermediate dari pengembangan. Perangkat pembelajaran yang disusun adalah perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART (spesific. Model biasanya dinyatakan dengan menggunakan berbagai media representational yang saling berinteraksi. d. Model biasanya digambar dari berbagai disiplin atau area topik buku teks. menggambarkan. c. dan keterampilan sosial dimana peserta didik kita membutuhkannya (Steen. 2002). 1997). atau menjelaskan perilaku dari sistem lain. Materi yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang peluang karena pada materi peluang dibutuhkan suatu pemahaman yang abstrak dan mendorong kreatifitas peserta didik. Satu komponen penting dalam pemecahan masalah didalam dunia masa kini adalah menginterpretasikan situasi masalah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dari sistem yang relevan. dan (3) CD interaktif. Kesulitan bagi peserta didik adalah mengerjakan bagaimana cara untuk mendapatkan gambaran dari pernyataan yang diberikan pada tujuan yang diberikan. 2001). Ketika peserta didik diberikan suatu permasalahan maka permasalahan tersebut diterjemahkan dengan cara yang tunggal.

data prestasi belajar. Measurable Measurable berarti dapat mengukur apakah kita telah mencapai tujuan atau tidak (bilangan. baik dalam skala 1–10 ataupun dalam bentuk keberprestasian dan kegagalan. Pada perangkat pembelajaran matematika. persentase. SMART Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas programprogram yang diajukan dan dilaksanakan. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau 60 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pemenuhan pada suatu tujuan memerlukan kemampuan. Pengukuran membantu untuk mengetahui kapan tujuan sebuah program telah terpenuhi. Pengukuran mempunyai prestasi yang dapat dinilai. frekuensi. KAJIAN TEORI 1. kuantitas. detail. Dalam penelitian ini peneliti memaknai perlunya model eliciting activities dalam pembelajaran dengan perangkat pembelajaran berbasis SMART sehingga diharapkan pembelajaran menjadi efektif. measurable (dapat diukur). data kreatifitas peserta didik. untuk mencapai semuanya jelas dan prestasi dapat ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif dari pada sebelumnya (time bound). Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen jenis Quasi Experimental (Samsudi. perlengkapan dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. uang. seperti keterampilan. Prestasi dinyatakan dalam bilangan. Achievable Achievable menyangkut tujuan yang di himpun dapat dipenuhi dan dapat dicapai. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data dokumentasi. terfokus dan dapat didefinisikan dengan jelas. achievable (dapat dipenuhi). Realistic Realistic maksudnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang dikerjakan. a. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang dipilih harus terukur sesuai dengan materi yang dipilih. pengamatan. Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas program-program yang diajukan dan dilaksanakan. Specific Specific maksudnya bahwa tujuan itu konkret. Pada perangkat pembelajaran matematika dalam pemilihan indikator materi sesuai dengan kurikulum dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat serta instrumen pada penelitian ini terdiri dari lembar pengamatan kreatifitas peserta didik dan lembar tes prestasi belajar. b.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memperhatikan kekhususan materi peluang yang sesuai kurikulum dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (spesific). indikator yang terukur dari materi yang khusus jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi nantinya (achievable). Berdasarkan uraian ini maka muncul masalah apakah pembelajaran matematika berbasis SMART pada materi peluang dengan model elicting activities mencapai efektif. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses untuk dilaksanakan dan pada akhirnya alat ukurnya juga nyata jelas (realistic). dan perbandingan). Program menyatakan tujuan yang tepat. prestasi ilmiah dan lain lain. c. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang terukur dari materi yang jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi belajarnya. realistic (realistik). time-bound (batasan waktu). 2006: 75) yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi peluang yang memenuhi kriteria efektif. keterukuran indikator dari pemilihan materi yang khusus (measurable). d. SMART sebagai tujuan program yang berarti specific (spesifik).

d) Verifikasi (kegunaan dari aksi dan prediksi). peserta didik diarahkan untuk membuat klarifikasi dari aturan permainan apakah aturan tersebut adil atau tidak c) Translasi Pada tahap translasi peserta didik didik diminta untuk mencoba langsung dari aturan permainan. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses pembelajaran dan dapat dilaksanakan secara konkret. yaitu a) Deskripsi ( membangun model matematika dari permasalahan yang ada pada dunia nyata). c) Translasi (membawa prestasi yang diperoleh dan relevan untuk dikembalikan dengan kondisi sebenarnya). e. 2. 6. b) Manipulasi Pada tahap ini peserta didik diberi desempatan untuk membangkitkan prediksi atau tindakan yang berhubungan dengan situasi pemecahan masalah asli. Time Bound Time-bound berarti mengatur batasan waktu untuk memenuhi tujuan. 5. dan diarahkan untuk mengaitkan dengan prestasi manipulasi. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar yang membimbing siswa kearah MEA. Dalam kegiaan inti terdapat langkah-langkah pembelajaran yang memuat MEA yaitu: a) Deskripsi Pada tahap deskripsi peserta didik membaca bahan ajar yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang telah disusun berdasarkan MEA. 2. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 61 . Beberapa perwakilan kelompok diminta mempresenasikan prestasi diskusinya berserta prestasi penemuannya. Pertama. proses pembelajaran tatap muka dan evaluasi harus jelas dan ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif. b) Manipulasi (manipulasi model dengan tujuan untuk memprediksi atau melakukan aksi yang berhubungan dengan pemecahan masalah sebenarnya). Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. 4. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Setelah proses diskusi dan telah didapat aturan yang adil maka tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah yang ada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Batasan waktu diperlukan harus memenuhi aspek achievable dan realistic. MEA (Model Eliciting Activities) Menurut Lesh dan Doerr (2003) siklus Model Eliciting Activities adalah terdiri atas empat tahap. d) Prediksi dan Verifikasi Pada tahap Prediksi peserta didik diarahkan ke arah diskusi untuk meramalkan untuk usul operatif untuk membuat permainan adil disertai dengan alasan-alasan logis dan pada tahap verifikasi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari kegunaan dari prediksi. Pada perangkat pembelajaran matematika ketersediaan waktu dari penugasan. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut diprestasikan produk-produk kreatif yang bermakna. sehingga Aturan menjadi jelas bagi semua peserta didik. maka bisa dibuat langkahlangkah sebagai berikut: 1.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. Kreatifitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok. Berdasarkan teori tentang model eleciting activiies. 3. Setiap kelompok diberi bahan ajar 3.

Samsudi. diharapkan: 1) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang peserta didik dapat mencapai tuntas. C. 2008. Using “real-life” problems to prompt students to construct conceptual models for statistical reasoning. dan Raymond.. DAFTAR PUSTAKA Arikunto.. Sanjaya. 1982. Boise State University. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. (1999). disinilah akan lahir gagasan inspiratif. (2004). meliputi tahap persiapan. 65-83). Semarang : UNNES PRESS. (pp. Bandung: ITB. Jones. bertanya pada orang. KESIMPULAN Dalam kegiatan penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data kreatifitas peserta didik. Curcio (Eds. Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. S. Lesh. C. dalam arti dia tidak memikirkan masalahnya secara sadar. yang sampai sekarang masih diterapkan dalam pengembangan kreativitas. A. 2007. Beyond Constructivism: Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving. Amit. C. 2) terdapat pengaruh positif kreatifitas peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA (model eliciting activities) pada materi peluang .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Adapun langkah. http://hrs. Henn & W. Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya inspirasi atau gagasan baru.E. & Doerr. (pp. dan verivikasi. inkubasi. Foundations of a models and modeling perspective on mathematics teaching.. 2009. V. Disain Penelitian Pendidikan.. Guskey. & Schorr. Tingkat keberprestasian diukur melalui tiga uji statistika. Thornton.). and problem solving. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Amsterdam: IOS Press.. NJ: Erlbaum. H. Ronald. 146-155). Terbitan kedua. ICMI Study 14: Applications and Modeling in Mathematics Education. R.boisestate. 2003. 1986.edu/td/pdf/SMART goals. In Gal & Garfield (Eds. learning and teaching? In H. Doerr (Eds. (2003).. R. & Tarr. G. A. Pada tahap persiapan seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir. dkk.). Performance Management – Creating SMART Objectives: Participant Guide.).pdf download tanggal 18 Oktober 2009. & F. The Assessment Challenge in Statistics Education. (1997). dan sebagainya. National Council of Teachers of Mathematics' 1999 earbook (pp. W. Lesh. Understanding students' probabilistic reasoning. University Of Kentucky. 3–34). Pre-Conference Volume. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Dan tahap verivikasi atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas ( disertai dengan pemikiran kritis ). J. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. R. iluminasi. M. Reston VA: The Council. Jakarta: Bumi Aksara. learning. Lesh & H. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Blum (Eds. What’s distinctive in (our views about) models & modeling perspectives on mathematics problem solving. 3) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang lebih baik dari pembelajaran konvensional. In: L. Pada tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut.. Learning and Teaching. In R. uji pengaruh. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. R. & Yoon. mencari jawaban. H. Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities. The Effectiveness Of Mastery Learning Strategies In Undergraduate Education Courses. Stiff. Langrall.W. R. Lesh.). 2009:39). 62 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Mahwah. E.langkah proses kreatif menurut Wallas (Munandar.

pdf. Goal Setting Guide. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya. Sudjana.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Soedjadi. Juni 2001. Bandung: Alfa Beta Swinton. 2001 b. http://www. L.uncommon-knowledge. download 18 Oktober 2009 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 63 . Metoda Statistika.co. 2006. R. Desain Instruksional.uk /psychology_articles/Goal-Setting-Guide. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”. 1997. Suparman. 2002.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CREATIVE THINKING BERBANTUAN VIDEO DIKEMAS DALAM CD PEMBELAJARAN DAN WORKSHEET PADA MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII
FX. Didik Purwosetiyono Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 – Dr. Cipto Semarang, e-mail: fxdidik.purwosetiyono@gmail.com Abstrak
Pembelajaran yang bermakna memerlukan usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas siswa, sehingga akan menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Untuk melihat efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, diperlukan adanya instrumen yang berupa: 1) Rencana Pembelajaran (RPP), 2) worksheet, 3) Lembar Observasi. Juga harus didasari kajian-kajian teoritis dan juga penelitian-penelitian yang relevan untuk membangun suatu efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan kajian teoritis tersebut, diperlukan suatu penelitian, dimana penelitian tersebut merupakan jawaban atas kajian teori peneliti. Penelitian direncanakan dengan teknik claster sampling, dan akan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan dan satu kelas sebagai kelas kontrol.Variabel independen penelitian kreativitas siswa dan variabel dependen prestasi belajar. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran, juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan, 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM, dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM, b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square, c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol, dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Kata kunci : Efektivitas, creative thinking, Video, CD pembelajaran, worksheet.

PENDAHULUAN Pada proses pembelajaran guru meminta kepada siswa mengungkapkan pendapatnya tentang pembelajaran matematika, maka akan banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika sulit, sehingga pada prestasi belajar matematika yang kurang optimal. Sehingga karena asumsi tersebut membentuk pemikiran siswa yang kurang optimis dalam belajar matematika. Menurut Sierwalds (dalam Davasligil, 2005) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan prestasi belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan prestasi belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatvariasi media yang digunakan dalam pembelajaran keterbatasan yang ada pada guru maupun siswa. Pentingnya suatu penggunaan

64

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu salah satunya yaitu dengan pembelajaran matematika pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas CD pembelajaran dan berbantuan worksheet. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas (X) adalah kreativitas siswa, dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam bentuk CD Pembelajaran dan worksheet. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen (E) dan kelompok kontrol (K) pada kompetensi dasar kesebangunan. Variabel terikat ini akan diungkap dengan instrumen tes prestasi belajar menurut ranah kognitif. Jenis instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari: Lembar Pengamatan Kreativitas Siswa, lembar Pengamatan Keterlaksanaan pembelajaran, Lembar Angket Respon Siswa, lembar angket respon guru. Data yang telah dikumpulkan melalui instrumen-instrumen kemudian dianalisis. Data yang dianalisis adalah sebagai berikut. 1) Analisis Data Angket, 2) Analisis Data Tes Prestasi Belajar, meliputi; 3) Uji Hipotesis, meliputi; Uji homogenitas, uji normalitas, uji ketuntasan belajar, Uji perbedaan dua rata-rata uji pihak kanan dan uji proporsi, adalah sebagai berikut. Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang muncul dan akan dikaji adalah: 1) Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas? 2) Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional? 3)Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional? KAJIAN TEORITIS 1. Aktivitas Menurut Paul B. Diedrich ( dalam Sardiman, 2007 ) aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok sebagai berikut. a. Visual Activities, meliputi: memperhatikan dari gambar demonstrasi , membaca, percobaan dari pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik. d. Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan, membuat konstruksi, perangkat, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental Activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisa hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti: menaruh minat, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup, merasa bosan. Jadi klasifikasi aktivitas di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariatif. Jika berbagai aktivitas tersebut dapat dikondisikan selama proses pembelajaran maka pembelajaran lebih dinamis. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Pada Gambar 1 menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran Pasif dan Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa lebih mengingat (retention rate of knowledge) materi kuliah. Oleh sebab itu dalam pembelajaran engineering model pembelajaran aktif ini merupakan alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

65

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

ingin diperebaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tend to Remember about:

Level of Involment

10% of what we read 20% of what we hear 30% of what we see 30% of what we hear and see 70% of what we say

Reading

i.Hearing Words Looking at Pictures j. Watching a Movie k. Looking at an Exhibit l. Wacthing m. a Demonstration Seeing it Done on Location n.
Participation in a Discussion Giving a Talk

Verbal Receiving
PASSIVE

Visual Receiving

Paticipating
ACTIVE

90% of what we say and do

Performance/Dramatic Presentation Simulating the Real Experience Doing the Real Thing

Doing

Gambar 1. Model Pembelajaran Aktif dan Pasif (Sumaidi, 2008:52) 2. Kreativitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertamatama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif ( dalam Munandar, 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi, adalah: 1) Imajinatif, 2) Mempunyai prakarsa, 3) Mempunyai minat luas, 4) Mandiri dalam berfikir, 5) Melit, 6) Senang berpetualang ( senang mengeksplorasi), 7) Penuh energi (bersemangat), 8) Percaya diri, 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu), 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan ( teguh pendirian). Sehingga dari ke sepulih ciri-ciri tersebut akan dibuatlah rincian mengenai daftar angket yang akan dihunakan sebagai lembar observasi kreativitas siswa. 3. Video Video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan. Video ini berkaitan erat dengan audiovisual. 4. CD Pembelajaran. Levie dan Lentz (Arsyad, 2006:8) yang mereviu hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar, stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.

66

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

CD interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006:32) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa. Dipilihnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran berbantuan CD interaktif dengan perangkat komputer tidak lain karena media ini memiliki keunggulan sebagai media instruksional, antara lain: (a) dapat menunjukkan visualisasi yang menonjolkan gerak; (b) dapat dipercepat/diperlambat sehingga mudah diamati dan dimengerti (dapat diulang); (c) materi yang divisualisasikan mirip dengan objek aslinya; (d) dapat diberi efek suara sehingga efektifitas belajar lebih tinggi; (e) gambar bisa diperbesar sehingga dapat digunakan pada kelas yang besar; (f) dapat disimpan dan digandakan dalam CD atau di komputer; (g) software dapat digunakan berulang-ulang; dan (h) perangkat perekam relatif mudah dioperasikan. Dalam penelitian ini CD interaktif yang dimaksud adalah suatu alat dalam bentuk multimedia berupa keping CD yang memuat materi pembelajaran kompetensi dasar. Materi dikemas dengan program macromedia flash untuk 5 (lima) kali pertemuan berisi: (a) standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikatornya; (b) materi pendahuluan; (c) penanaman konsep dengan contoh soal dan latihan soal; dan (d) pada akhir pertemuan dilengkapi tes-uji kompetensi hasil belajar lengkap dengan skor yang diperoleh dari jawaban siswa. Berdasarkan pandangan beberapa ahli di atas maka media pembelajaran berbantuan CD interaktif audio visual merupakan media yang sangat cocok bagi siswa dalam membantu proses belajar diantaranya, (1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, (2) mampu memberikan keseragaman persepsi,(3) mampu menyajikan informasi yang konsisten dan dapat diulang, dan (4) mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat belajar. 5. Worksheet Lembar kerja siswa (worksheet) berupa lembaran-lembaran kertas berisi informasi maupun soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa, pada akhirnya siswa dapat menemukan suatu kesimpulan dari apa yang mereka pelajari. LKS ini sangat mendukung untuk meningkatkan keterlibatan siswa belajar, baik dalam penerapan metode penemuan terbimbing maupun memberikan latihan-latihan pengembangan (Depdiknas, 2004). 6. Prestasi Belajar Prestasi adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2003:76). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Depdiknas, 2003:26). Jadi prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh karena suatu usaha memperoleh ilmu sekaligus terjadi perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang diamati pada ranah pengetahuan dan pemahaman konsep atau kognitif yang datanya diambil dari metode tes (pencil paper test). 7. Kajian Penelitian yang relevan Pada penelitian ini, adapun kajian dari penelitian yang relevan dengan penelian ini adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Iman (2008), dan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2008). Menurut Imam (2008: 128) para guru matematika diharapkan dapat memilih pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar sehingga belajar siswa menjadi pembelajaran yang bermakna. Disinilah diperlukan suatu peranan seorang guru sebagai pembimbing siswa, sehingga bisa mengarahkan siswanya kearah pemahaman mengenai suatu konsep tertentu, sehingga bisa diarahkan pada aktivitas siswa. Menurut Arief (2008: 62) Semakin siswa kreatif dalam melaksanakan tugasnya, atau sudah mau belajar berfikir mandiri membuat siswa selalu aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa bisa dibentuk, dengan memberikan stimulus-stimulus pada siswa dalam suatu pembelajaran, dengan memberikan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

67

10) Berani dalam pendirian dan keyakinan (teguh pendirian). Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. dalam hal ini peranan media diperlukan. 3) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking 68 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . SIMPULAN Guru sebagai fasilitator. perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. Dari ciri-ciri pribadi kreatif tersebut dijadikan acuan untuk membentuk kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. dalam penelitian ini. Dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet. sehingga akhirnya siswa dapat menemukan jawabannya sendiri dari proses kreatif yang dilakukannya. Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. sehingga dengan bantuan media ini dapat memacu kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. kelebihan yang bisa dicapai antara lain (1) siswa diajak dalam suasana kebermaknaan berupa visual. dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. agar pelaksanaan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM. Pengetahuan baru itu akan dapat diserap dengan baik apabila siswa belajar dalam situasi yang penuh kebermaknaan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. 4) Mandiri dalam berfikir. (3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam hal ini difokuskan pada kreativitas siswa. Pertama. penggunaan CD pembelajaran sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar. 8) Percaya diri. juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Jika strategi pembelajaran sudah tepat. diharapkan. adalah: 1) Imajinatif. 7) Penuh energi (bersemangat). 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi. 6) Senang berpetualang (senang mengeksplorasi). Pada pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada strategi yang tepat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pola yang menuntut siswa untuk berfikir.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif (dalam Munandar. Menurut FX. 3) Mempunyai minat luas. (4) bimbingan guru dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh seorang guru untuk mengarahkan siswa menuju pada tujuan yang diharapkan. 2) Mempunyai prakarsa. b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square. Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. barulah ditambahkan media pembelajaran yang tepat. (2) terciptanya suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dan inivatif saat belajar matematika. 1) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas. 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu). 2) Terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional. memberikan bantuan di awal pembelajaran setelah siswa mampu maka bantuan dikurangi kemudian dilepaskan sehingga anak mandiri dalam membentuk pengetahuan baru yang berkembang terus sebagai milik mereka. 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM. 5) Melit. Didik (2010:102) Penggunaan dan pelaksanaan suatu strategi perlu diperhatikan arah pencapaian indikator dan tujuan pembelajaran.

Matematika untuk SMP Kelas VII. Departemen Pendidikan Nasional. S. Sukino & Wilson. 2003 . Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Dekdikbud. 2009. Semarang: Program Pascasarjana UNNES. DAFTAR PUSTAKA Arif. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto. 2007. 2009. Munandar. Mengajar Belajar Matematika. 1988. Evaluasi Program Pendidikan. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Berorientasi pada Pendekatan Problem Solving Berbantuan CD Pembelajaran Pembelajaran Materi Program Linear Kelas X. Jakarta: Balai Pustaka. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. challenge and Barriers The Case in Turkey. Jakarta: Rineka Cipta. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Tesis. Statistika Untuk Penelitian. Sugiyono. 2002. 2004.& Abdul J. 71: 88-97. Puskur Balitbang: Depdiknas. Metode Statistika. Jakarta: Bumi Aksara Davasligil. Arikunto.S. Hudoyo. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. 2005. Jakarta: Dekdikbud. Intercultural Aspect of Creativity. S.Istambul University. Vol. Jurnal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional. Nurhadi. Sudjana. Bandung: Alfabeta. 2003. 2008. Bandung: Erlangga Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 69 . 2006. K. Bandung: Tarsito. H.

lain. keadaan sosial. PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa matematika adalah kondisi siswa yang berbeda. Dari data analisis disimpulkan : (1) Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point menghasilkan prestasi yang lebih baik dibanding dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. dan 1 variabel terikat yaitu hasil prestasi siswa. uji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Pengumpulan datanya dilakukan melalui kajian dokumen sekolah. jumlah siswa yang banyak pada setiap kelas (35. kreatifitas dan lain. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent (4) untuk mengetahui pada masing. (2) Prestasi siswa yang memiliki gaya kognitif FD lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki gaya kognitif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. tetapi ada juga yang lambat mengerti bahkan kadang terdapat yang sangat lambat mengerti materi yang dipelajari.masing model pembelajaran. sehingga siswa bisa saling berdiskusi memecahkan masalah. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. Kontekstual. Diperlukan suatu model pembelajaran yang membuat siswa saling berinteraksi. Kesulitan ini karena waktu pertemuan yang tersedia terbatas. uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas). Dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat siswa yang cepat mengerti materi yang dipelajari. Gatut Iswahyudi3 1) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Matematika Pascasarjana UNS 2) Program Pascasarjana UNS 3) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point (2) untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gayakognitiffield dependent (3) untukmengetahui pada masing. Seringkali guru kesulitan untuk bisa mengontrol anak satu persatu apakah setiap anak sudah mengerti materi yang diajarkan. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. Analisis butir soal pada tes prestasi dan angket gaya kognitif terdiri dari analisis daya beda. Kata Kunci : STAD. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. bisa bekerja sama dan saling membantu.masing gaya kognitif. angket gaya kognitif dan tes pilihan ganda. tingkat kesukaran dan konsistensi internal. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu : uji keseimbangan. Analisis instrumen yang dilakukan pada tes yaitu validitas isi dan reliabilitas. Riyadi2. yang terdiri 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan gaya kognitif siswa.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN POWER POINTPADA MATERI PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK Dewi Risalah1.beda dalam satu kelas dalam daya pikir. (3) Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. power point dan Gaya Kognitif.40 anak) dan seringkali siswa yang mengalami kesulitan tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya. Siswa yang sudah memahami materi yang 70 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA kota Pontianak.

Menurut Balfakih (2003). saling bekerja sama. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Menurut Gagne dalam Winkle (1996:482). STAD is a cooperative teaching method which was developed as part of a student learning approach programme along with other cooperative methods. Untuk itu perlu dilakukan suatu pembelajaran dengan memodifikasikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point diharapkan bisa mengisi salah satu kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pada tahap presentasi guru. Serta diharapkan bantuan power point dalam pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pada tahap ini banyak guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan contoh. sebenarnya seorang guru harus kreatif menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.contoh dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta minimnya penggunaan media bantuan dalam pembelajaran. akan membuat pelajaran lebih efektif. sehingga pemahaman konsep matematika bisa lebih mudah diterima siswa. seringkali siswa mempertanyakan relevansi dari besarnya waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan pelajaran matematika.model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. tujuan pembelajaran serta metode pembelajaran. model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelemahan. Diharapkan dengan adanya hubungan antara gaya kognitif dengan model pembelajaran. hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin.kelebihan seperti yang disebutkan di atas. Sementara peserta yang mendapat persoalan bisa bertanya dan berdiskusi dengan siswa yang lain. yaitu siswa membuat saling berhubungan positif. Pembelajaran kontekstual juga berusaha membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan sehari. Kelebihan. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. Sehingga diharapkan dengan berinteraksi akan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.hari. Berdasarkan latar belakang masalah.hari. prestasi adalah kemampuan internal yang memuat kemampuan intelektual dalam hal informasi verbal. Selain memiliki kelebihan. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan oleh guru untuk memodifikasi materi pembelajaran.achievement divisions (STAD).kelemahan diantaranya adalah tahap presentasi yang dilakukkan oleh guru. Dalam pembelajaran matematika. contextual teaching and learning is defined as a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations. Salah satu model pembelajaran yang memenuhi hal-hal yang diuraikan ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe student teams. Menurut Smith (2006). Prestasi belajar adalah penguasaan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 71 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dipelajari bisa membantu siswa yang lain sepaya menjadi mengerti juga.masing model pembelajaran. Diharapkan dengan pembelajaran kontekstual pelajaran akan menjadi bermakna. Modifikasi dari model tersebut yang ditinjau dari gaya kognitif diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Siswa saling bekerja sama untuk memahami materi yang dipelajari dengan guru sebagai fasilitator.Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari.kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat pelajaran menjadi pengalaman yang nyata. Presentasi guru dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berdengan bantuan power point diharapkan akan membuat pelajaran lebih mudah dimengerti para siswa. Media bantuan yang dimaksud adalah power point. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent ? 4) Pada masing. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? 2) Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent? 3) Pada masing. Siswa sering merasa kesulitan mengaitkan pelajaran yang diterimanya dengan suatu yang nyata dalam hidup mereka.masing gaya kognitif.

dan penghargaan kelompok. kuis. yaitu tahappersiapan. penyampaian materi.kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Kerangka berpikir bahwa STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok.masing model pembelajaran. Waktu yang diperlukan pada tahap ini dua bulan yaitu bulan Oktober 2011 sampai November 2011. Menurut Broverman (1960:167) mengemukakan bahwa gaya kognitif menggambarkan cara seseorang memahami lingkungannya.Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan. Diharapkan dengan memadukan model pembelajaran tipe STAD kontekstual dengan kontekstual dengan bantuan power point disertai dengan gaya kognitif siswa akan meningkatkan prestasi belajar menjadi lebih baik. 3) Pada masing . Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2011 hingga bulan Oktober 2011 yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahap. STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. 72 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli 2011. Waktu yang dibutuhkan pada tahap ini adalah 5 bulan. sedangkan gaya kognitif FI adalah gaya belajar siswa yang tidak bergantung pada lingkungan belajarnya. METODE PENELITIAN Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri di Pontianak. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok. sehingga jika siswa mampu untuk tidak bergantung dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. kegiatan kelompok. dan konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data. menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menangapi berbagai jenis situasi lingkungannya. Subjek penelitian ini adalah siswa semester ganjil Kelas X tahun pelajaran 2011/2012. sehingga jika siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. Gaya kognitif adalah cara seseorang dalam memproses. permohonan ijin survei. siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. 4) Pada masing . Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas. Menurut Trianto (2007:42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keterampilan yang ditunjukkan dengan tes yang diberikan oleh guru yang biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu dan lingkungannya. 2) Siswa yang memiliki gaya belajar kognitif Field Independent memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent.masing gaya kognitif. Waktu yang diperlukan pada tahap ini adalah dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September2011. siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. tahap penelitian dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi pengajuan judul tesis. Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. Menurut Trianto (2007:10) pendekatan kontekstual (Contekstual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. sedangkan gaya kognitif FD adalah gaya belajar siswa yang bergantung pada lingkungan belajarnya.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. angket dan tes. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak tahun ajaran 2011/ 2012. c. terdapat 30 soal yang konsisten dan 10 soal yang tidak konsisten. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan rerata antar kelompok model pembelajaran atau dapat dikatakan bahwa antara kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran berbeda. Tahapan yang dilakukan adalah dalam pengambilan sampel yaitu dari seluruh SMA Negeri yang ada di kota Pontianak terlebih dahulu dikelompokkan menjadi tiga tingkatan. Adapun langkah dalam pengambilan sampel yaitu dengan stratified cluster random sampling. b. Pengelompokkan tersebut berdasarkan nilai rata . selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan metode uji beda rerata t. konsistensi internal. reliabilitas. Metode yang digunakan adalah dokumentasi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena peneliti tidak mungkin mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabelvariabel yang diteliti. Dari ketiga kelompok. Pengujian Hipotesis Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 73 . yaitu tinggi. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 X 2. gaya kognitif dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa.96 Karena nilai uji lebih kecil dari nilai tabel t maka H0 tidak ditolak. SMA Negeri 6 di Pontianak. pengujian data analisis. yaitu STADP dan STADKP mempunyai kemampuan matematika yang sama.masing terdiri dari dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. uju normalitas.masing dipilih secara acak satu sekolah yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian. SMA Negeri 9. Sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak. a. Pada gaya kognitif. Adapun hasil penelitian disajikan adalah hasil uji coba instrument.rata ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 mata pelajaran matematika. uji homogenitas. Sehingga diperolah tiga kelas ekperimen dan tiga kelas kontrol. Uji Persyaratan Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran dan faktor gaya kognitif siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata prestasi belajar matematika antara kelas STADP dan kelas STADKP berasal dari populasi yang homogen. Data penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah prestasi belajar matematika pada materi SPLDV yang dikatagorikan atas model pembelajaran dan kelompok gaya kognitif siswa. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. Indeks reliabilitas FI sebesar 0. masing. daya beda.827 dan FD sebesar 0. Uji yang digunakan adalah uji validitas. SMA Negeri 9 Pontianak. demikian juga antara kelompok siswa mempunyai gaya gaya kognitif FD dan gaya kognitif FI berasal dari populasi yang homogen. yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SMA Negeri 8 Pontianak. tingkat kesukaran. sedang dan rendah. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7.831. uji keseimbangan. pengujian hipotesis dan pembahasan penelitian. uji ANAVA dan uji lanjut ANAVA. deskripsi data. Setelah dilakukan uji prasyarat kemampuan awal siswa yakni uji normalitas dan homogenitas. Pada tingkat kesukaran terdapat 2 item soal yang tidak baik. Pada analisis daya beda terdapat 36 item soal diterima dan 4 item soal yang tidak diterima. yang masing.576 dengan nilai tabel t sebesar 1. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal Berdasarkan hasil uji normalitas kemampuan awal prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata kemampuan awal prestasi belajar matematika antara kelas STAD Power point dan kelas STAD kontekstual Power point berasal dari populasi yang homogen. SMA Negeri 8.776 yang berarti instrumen tes baik. SMA Negeri 6 Pontianak yang dipilih berdasarkan rangking. Indeks reliabilitas sebesar 0. pada penelitian ini uji keseimbangan uji t sebesar 1.

79 65.94 Ftabel 3. yang menunjukkan bahwa rerata model pembelajaran STAD Kontekstual Power point = 69. Rangkuman Analisis Variansi SP Model Gaya Kognitif Interaksi Galat Total dk 1 1 2 213 216 JK 4693. dapat dipastikan bahwa hipotesis nolnya juga akan ditolak.27 Rerata Marginal 60.1 295. Dari rerata marginalnya.9 73197. Hal ini berarti terdapat perbedaan rerataan antara model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point terhadap prestasi belajar matematika. H0 ditolak H0 ditolak H0 diterima Dari tabel di atas tampak bahwa H0A ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.11 64.9 5543.92 3.1 3.19 69.19.79.61 64.46 65.6 Fobs 14. karena anava telah menunjukkan H0A ditolak.50 8.92 lebih kecil dari nilai Fb = 8. cukup melihat rerata marginalnya. Komparasi Rerata Antar Baris Dari pembahasan di atas.27 lebih tinggi daripada gaya kognitif FI= 64.50. Komparasi itu menjadi tidak berguna.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan jumlah sel tak sama.0 10. Komparasi Rerata Antar Kolom Dari pembahasan di atas. karena variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai. Dari rerata marginalnya.5 1185. perlu dilakukan uji lanjut pasca anava.9 62957. Rerata Pada Masing .07 lebih besar dari nilai F ab = 0. Hasil pengujian ANAVA disajikan dalam tabel rangkuman analisis variansi dibawah ini : Tabel 1. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD Kontekstual Power point lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan model pembelajaran STAD Power point.07 Kep. maka untuk baris tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. Ini berarti terdapat perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point terhadap prestasi belajar matematika. maka ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.86 1.92 3. dapat 74 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .masing Sel Model Pembelajaran STAD power point tanpa Kontekstual STAD power point dengan Kontekstual Rerata Marginal Gaya Kognitif FI FD 54.86 lebih tinggi daripada rerata model pembelajaran STAD Power point = 60.92 lebih kecil dari nilai F a = 14.94. untuk itu perlu diperhatikan terlebih dahulu tabel rerata sebagai berikut : Tabel 2. karena variabel model pembelajaran hanya mempunyai dua nilai (yaitu model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point).04 0. d. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Dalam penelitian ini. tampak bahwa H0B ditolak. Uji Lanjut Anava Dari kesimpulan penelitian. Hal ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika dan H0AB diterima karena nilai uji Ftabel = 3. Kalau pun dilakukan komparasi ganda antar rerata model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point.04. tampak bahwa H0A ditolak.7 RK 4286. maka komparasi ganda tidak perlu dilakukan.93 75. 2. Sedangkan H0B ditolak karena nilai uji Ftabel = 3. yang menunjukkan bahwa rerata gaya kognitif FD = 65.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 disimpulkan bahwa gaya kognitif FD lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan gaya kognitif FI.86. Dari kenyataan bahwa tidak terdapat hubungan itu. sedangkan pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD sebesar 65.79.04 dengan nilai Ftabel = 3. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F ab = 0. Pembahasan Hasil Penelitian Hipotesis Pertama.27. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F a = 14. sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point sebesar 69. dapat disimpulkan bahwa karakteristik perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan model pembelajaran STAD kontekstual power point untuk setiap tipe gaya kognitif sama. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Jadi dapat dikatakan bahwa gaya kognitif FD memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada gaya kognitif FI. 3. tampak bahwa H0AB diterima. maka untuk antar kolom tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava.92. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih rendah dari pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD. sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point selalu lebih baik diterapkan pada setiap gaya kognitif jika dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran STAD Power point. Kedua gaya kognitif tersebut mempunyai nilai yang berbeda. Hipotesis Ketiga. maka tidak perlu dilakukan uji lanjut antar sel pada kolom yang sama.50 dengan nilai Ftabel = 3. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan faktor antara model pembelajaran dengan gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.92. maka kesimpulan dari hipotesis ketiga mengikuti kesimpulan hipotesis pertama dan kedua yaitu pada kategori gaya kognitif field independent. Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Dari pembahasan di atas. Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point.3) Tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. Hipotesis Kedua. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji Fb = 8. model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 75 . model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai (yaitu gaya kognitif FI dan FD). karena hubungan tidak ada. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. yaitu gaya kognitif FI sebesar 64. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan model tipe STAD Power point lebih rendah dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point. sedangkan pada kategori gaya kognitif field dependent.19.94 dengan nilai Ftabel = 3.07.Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran dan gaya kognitif siswa terhadap prestasi belajar matematika. Kedua model pembelajaran tersebut mempunyai nilai yang berbeda. Dalam penelitian ini. 2) Siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor model pembelajaran pada prestasi belajar matematika. yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point sebesar 60.

Contextual Teaching and Learning. 5. Springer Science+Business Media B. Vol. 2009. 29. 1998. 2008. Slavin. 24. 2009. Yogyakarta: kanisius. Riset dan Praktik. Bandung: MLC. A dan Cakan. Journal of Family and Consumer Sciences Education. D. MetodePenelitian.Field Dependent / Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers. Jakarta: Yudistira. 2. Journal of Social Studis Reseacrh. Hal. 2006. The Effectiveness of Student Team-Achievement Division (STAD) for Teaching High School Chemistry in The United Arab Emirates. Hal.A dan Ibraheem. Marwanta dkk. Hal.A. Spring/ Summer. 11. Jakarta: Apollo. R.2001. Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a Twelfth Grade Classroom : Effect On Student Achievement and Attitude.Tesis: UNS Surakarta. Hal. 9. Cetakan 3.). Altun.Jakarta: Rajawali Pers. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Dwi Titik Irdiyandi. Elaine B. Mandiri Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas VIII. Balfakih. Smith . 23.27. Terjemahan Cooperative Learning Teori. 1999.V. Diakses tanggal 22 Mei 2011. Vol. Psikologi Belajar. Blanchard. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical Kinetics. Dasar. Muhibin Syah. Jakarta: Erlangga. Hal. 2005. Depdiknas. Teori Perkembangan kognitif Jean Piaget. 2007. Jakarta: Erlangga Johnson.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point. 26. 4. 605-624. 5. Maclean. Hamzah Uno B. Budiyono. 1. Moh Nazir. Contextual Teaching and Learning Practices In The Family and Consumer Sciences Curriculum. Ibnu Hadjar. Jakarta: PT Bumi Aksara. PerkembanganIntelektualmenurut Piaget. Husein Tampomas. Vol.DasarMetodologiPenelitianKwantitatifdalamPendidikan. Bandung: Nusa Media. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada. 2009. Surabaya: CerdasPustaka. Scott. Daryanto. Elaine B. The Implications of Cognitive Style to Adult Distance Education. Spring. Nagib M. Diakses tanggal 22 Mei 2011. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif STAD DiModifikasikan dengan Kontekstual Pada Materi Lingkaran DiTinjau dari Tingkat Intelegensi Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2009/ 2010. Winter.1997. The Northwest Regional Education Laboratory USA. Johanes Supranto. 20. 2/6.A. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. 2008. 2001. MetodePenelitianBidangsosial.Hal.Vol. 25. Jakarta: Ghalia Indonesia. No. 2009. M. Bandung: MLC. Vol.2003. P Bettye. DAFTAR PUSTAKA Adesoji. 2009. 76 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 2009. Contextual Teaching and Learning.International Journal of Science Education. Kurniawan. Statistik Untuk Penelitian. 1985. F. Journal International Handbook of Education for the Changing World of Work. Vol. Amstrong. Bandung: University of Washington. XV. Johnson. 2006. No. Hadari Nawawi. 31. Journal of Educational Technology and Society. UNS Press. Wilson (eds. Paul Suparno. Yogyakarta: GajahMada University Press. No. 1. No. T. 289-297. StatistikTeoridanAplikasi. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 2009. Seribu Pena Matematika Jilid 1 Untuk SMA/ MA Kelas X. No. The Journal of International Social Research. 2010. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 2010.2005. Jakarta :Erlangga. KamusBesarBahasa Indonesia. 2000. Matematika SMA Kelas X. Undergraduated Students Academic Achievement.

Model.model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontstruktivistik.Progresif. StatistikUntukPenelitian. Jakarta: Bumi Aksara.2008. 2005. Jakarta: Prestasi Pustaka.Jakarta: Prenada Media.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Sudjana. MetodaStatistika. 2003. Tesis: UNS Surakarta. Bandung: CV. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 77 . Bandung: Tarsito. Dasar. 2005. Trianto. Alfabeta. Trianto. Jakarta: Raja GrafindoPersada. Suharsimi Arikunto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif. 2009.Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Sugiyono. MetodologiPenelitian. Trianto. 2004. Sumargiyani. MendesainPembelajaranKontekstual (Contextual Teaching and Learning). 2007. Jakarta: CerdasPustaka. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Matematika DiTinjau dari Intelegensi Siswa SLTP Muhammadiyah II Yogyakarta. 2005. SoemardiSuryabrata.

dan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guru keperluan pengajaran. laboratorium.25 dalam kategori sedang. kependidikan. oleh karena itu perencanaannya seharusnya dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara lengkap dan operasional. menguasai landasan-landasan kependidikan. bukan menjadi komponen utama sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pembelajaran. dan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tidak mengacu pada RPP yang sudah disusun. siklus I 67 dalam kategori baik dan siklus II 78 dalam kategori baik. Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP calon guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa calon profesi pendidik.52 dalam kategori baik dan siklus II 80. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan implementasi dari program pembelajaran yang tertuang di dalam silabus. mampu menyiapkan RPP yang inovatif. siklus I 73. kepribadian . Pengajaran mikro ini sebagai prasarat untuk menempuh PPL II. 78 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . mampu mengelola kelas. Rencana Pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatkan kemampuan menyusun RPP hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata pra tindakan 63.88 dalam kategori sangat baik. 4) Refleksi. atau lapangan. mampu mengelola interaksi belajar mengajar. yang langsung terjun mengajar di sekolah-sekolah tempat praktik dalam rangka penyiapan guru yang profesional. professional. Selanjutnya dari kompetensi tersebut. sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. 3) pertemuan balikan. FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST . Disamping itu kegiatan Pembelajaran dalam Pendidikan adalah kegiatan yang bersifat terencana dan sistematik. mampu melakukan evaluasi atau menilai prestasi siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. mampu menggunakan media atau sumber. dan social. yaitu praktik pengalaman lapangan. Oleh karena itu guru haruslah mempersiapkan RPP sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Keadaan ini dapat dipahami karena. Kata kunci: Supervisi Klinis. disempurnakan menjadi empat kompetensi yaitu. karena RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas. dengan materi matematika SLTA atau SLTP. Kemampuan Mengajar PENDAHULUAN Mata kuliah PPL I atau pengajaran mikro adalah mata kuliah kelompok kependidikan ( MKPK ) yang bertujuan melatih mahasiswa mengajar di dalam kelas dengan siswa temantemannya sendiri ( mahasiswa ). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif univariat . mampu mengelola program belajar mengajar. Kegiatan dalam setiap siklus sesuai dengan prosedur supervisi klinis yaitu meliputi: 1) Pertemuan perencanaan. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. calon guru belum terbiasa mengajar dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. Kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro juga menunjukkan adanya peningkatan dengan diperoleh nilai rata-rata untuk pra tindakan 63 dalam kategori sedang. 2) pengamatan mengajar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP DAN KEMAMPUAN MENGAJAR DALAM PENGAJARAN MIKRO MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UST Esti Harini Program Studi Pendidikan Matematika. Profil guru yang profesional antara lain adalah menguasai materi pengajaran. mengenal dan menyelanggarakan administrasi sekolah. Pada umumnya dalam Penyusunan RPP calon guru cenderung kering akan inovasi.

2. Telaah rencana pelajaran dan cermati tujuan pelajaran dan tujuan dari latihannya. Rancangan Penelitian : Dalam penelitian ini terdapat siklus-siklus dan banyaknya siklus tergantung dari tercapainya indikator kaberhasilan. dengan menggunakan instrumen yang telah disepakati 3) Pertemuan balikan . Namun jika indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus tersebut maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya. Berdasarkan target tsb supervisor menyakan kesan calon guru b) Supervisor menyajikan data berupa hasil rekaman kemudian bersama-sama menganalisis dan menafsirkan rekaman tsb. Usaha mennciptakan suasana yang hangat dan bebas antara calon guru dengan supervisor. Jika indikator keberhasilan sudah dicapai dengan dua siklus. Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Berdasarkan hasil kajian bersama atau hasil latihan tsb.scribd. Berdasarkan hasil kajian . Metode penelitian adalah metode eksperimen semu. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut (http://www. maka penelitian akan berhenti pada siklus tersebut. dan Obyeknya kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro dengan treatmen supervisi klinis. antara lain: 1) Pertemuan pendahuluan ( perencanaan )\ kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. supervisor kembali menanyakan . Siklus I Peneliti merancang tindakan/prosedur supervisi klinis yang akan dilaksanakan dalam penelitian . Secara rinci langkahlangkah dalam setiap siklus sebagai berikut: a. 3.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. Bersama-sama melihat kembali target kecakapan atau ketrampilan serta focus utama dalam latihan yang telah disepakati. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a) Supervisor menanyakan kepada calon guru bagaiman peranannya selama melakukan latihan mengajar. Subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan matematika yang pada semester genap 2010/2011 mengambil Praktek Pengalaman Lapangan I (PPL I).com/doc/23862850/supervise-klinik) Berdasarkan uraian di atas. mendiskusikan instrumen yang akan digunakan 2) Pengamatan mengajar meliputi pengamatan yang dilakukan supervisor dengan cara merekam focus kegiatan maupun interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data tentang kemampuan menyusun RPP mahasiswa saat akan melakukan praktek mengajar. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengajar.Waktu pelaksanaan adalah pada semester genap tahun akademik 2010/2011. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 79 . Supervisor bersama calon guru membandingkan target latihan dengan hasil latihan dan mendiskusikannya. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. supervisor membantu calon guru untuk merencanakan latihan yang akan datang. Telaah dan diskusikan ketrampilan yang akan dilatih. maka pelaksanaan supervisi klinis diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST. Demikian seterusnya sampai indikator keberhasilan dicapai. perasaan atau kesan calon guru.

Pemilhan metode pembelajaran. Teknik Analisis Data: Untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP – UST. f.0 ke atas : Sangat Baik 67. 3. terutama bahan pembelajaran. Siklus selanjutnya merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya. Adapun rumus dan kriteria yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: Rumus untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/68 x 100 Rumus untuk menganalisis kemampuanmengajar sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/100 x 100 Dengan kriteria sebagai berikut : 80. pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. dapat diharapkan dengan supervisi klinis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan Berdasarkan kerangka berpikir tersebut. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar. memutuskan tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. berupa lembar penilaian penyusunan RPP .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 4) Refleksi Pada tahap ini peneliti melakukan pengolahan data. penguasaan materi pembelajaran.0 – 56. validasi data. Pemilihan sumber belajar / media pembelajaran. b. Sedang fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. digunakan statistik deskriptif univariat yaitu dengan menggunakan rumus penilaian dan patokan yang telah ditetapkan. Disamping itu Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru/calon mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. Kegiatan pra pembelajaran.0 – 66. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran. 2. dan lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari : 1. (3) keterampilan dalam proses pembelajaran dan. dari tahap perencanaan yaitu penyiapan rencana pelaksanaan pembelaran sampai dengan proses pembelajarannya. 2. pendekatan /strategi pembelajaran. d.9 : Baik 57.9 : Belum Menguasai Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah.9 : Sedang 47. Perumusan tujuan pembelajaran. (4). 5. untuk perbaikan penampilan mengajar berikutnya. kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan. pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. 80 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .9 : Kurang Kurang 45. ketrampilan menyusun RPP yang inovatif Supervisi Klinis menuntut guru/calon guru untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran .0 – 79.yang terdiri dari lima indikator yaitu :1. c. Tahapan pelaksanaan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus sebelumnya. Dan calon guru akan selalu dapat mereview penampilan mengajar sebelumnya dan menganalisa kekurangan – kekurangannya. Dengan demikian . maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan supervisi klinis. Penggunaan bahasa. pengamatan dan analisis yang intensif terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran maupun penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. 4. penilaian proses dan hasil belajar. (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. Dan kegiatan penutup pembelajaran. e. Kerangka Berfikir Supervisi klinis memfokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan.

b. Hasil secara keseluruhan untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 1.33 68. dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 berada dalam kategori baik. Hasil selengkapnya untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 3. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. d. c.33 75 83. Pada saat penampilan pertama para mahasiswa mengajar peneliti mengobservasi dengan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal mengajar para mahasiswa. Kemampuan Mengajar Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari 6 indikator yaitu : a. Kemampuan Menyusun RPP Secara keseluruhan hasil evaluasi RPP para mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyusun RPP. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menyusun RPP adalah sedang dengan nilai rata-rata 63.5 Kurang Kurang Baik Sangat baik Sangat baik Sedang Sangat baik Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 81 . Pendekatan /strategi pembelajaran. dengan nilai ratarata 63.88 dalam kategori sangat baik pada siklus II. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran.25. dan 80. Penilaian proses dan hasil belajar f. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran Nilai 83.33 75 87. dengan diperoleh hasil sebagai berikut: siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 berada dalam kategori baik.5 66. e. Dan hasil ini hampir merata untuk semua aspek. Kemampuan Mengajar Mahasiswa dalam Pengajaran Mikro Secara keseluruhan dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam pengajaran mikro.52 dalam kategori baik pada siklus I. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mengajar para mahasiswa adalah sedang. peneliti melakukan evaluasi terhadap RPP yang para mahasiswa susun sebagai kemampuan awal. Penguasaan materi pembelajaran. Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 75 Kategori Baik 50 50 75 83. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan Pembelajaran Nilai 83.5 Kategori Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik 2.67 87.75 75 80 75 Kategori Sangat baik Sedang Baik Sangat Baik Baik Tabel 2.33 87. Hasil evaluasi secara keseluruhan kemampuan menyusun RPP diperoleh nilai 73. Setelah dilakukan tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan.

5 66.33 91. e.5 83. d. b.5 Kategori Sangat baik 62. Kemampuan mengajar pada pengajaran Mikro Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa FKIP UST. Saran Dari hasil penelitian disarankan agar mahasiswa masih harus banyak belajar materi matematika khususnya konsep-konsep dasar matematika.Pemanfaatansumberbelajar/media pembelajaran.5 Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3. 82 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya didalam proses pembelajaran. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru.52 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 80. Prosedur supervisi klinis meliputi : pertemuan pendahulun . Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik.Pendekatan/strategipembelajaran. khususnya penguasaan materi matematika. yaitu pra siklus diperoleh nilai rata-rata 63. tapi ada beberapa mahasiswa yang didalam menyusun RPP masih kering dan kurang inovatif oleh karena itu masih perlu untuk ditingkatkan lagi khususnya dalam aspek pemilihan dan pengorganisasian materi ajar dan pemilihan metode pembelajaran.Penguasaan materi pembelajaran b. Juga pemilihan strategi pembelajaran perlu untuk pemilihan yang tepat. dan pemahaman tentang strategi pembelajaran perlu ditingkatkan lagi.33 87.Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 87. c.67 83.Penilaian proses dan hasil belajar f. Kemampuan Mengajar Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. yaitu pra siklus diperoleh nilai ratarata 63 dalam kategori sedang .88 dalam kategori sangat baik. siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 dalam kategori baik.25 dalam kategori sedang . siklus I diperoleh nilai rata-rata 73. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar berikutnya.67 87. Pembahasan a. Kemampuan Menyusun RPP Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan menyusun RPP. Untuk penguasaan materi masih dalam kategori sedang.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 4. tapi para mahasiswa masih harus banyak berlatih dan belajar. pengamatan mengajar dan pertemuan balikan Ada peningkatan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik.Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa.

files. C. Jakarta: Rineka Cipta. 1989. Sahertian. http://ahmadsudrajat. Supervisi Pengajaran ( Teori dan Praktek ). 2000. KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya.A. Suharsimi Arikunto. 2001. Bandung: Remaja Karya. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Makmun Abin Syamsudin. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Proses Belajar Mengajar.com/doc/23862850/supervise-klinik diakses Februari 2011 Iim Waliman.com/2008/. Muhamad Joko Susilo./panduan_penyusunan_rpp. 1983.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 DAFTAR PUSTAKA Agus Taufiq. 1986. Bandung: Sinar Baru Nurtain. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 83 . 1988.Tentang Standar Nasional Pendidikan Rostijah..doc di download tanggal 14 April 2009 Glickman. Jakarta: Depdikbud. Boston: Allyn and Bacon Inc. Masalah-masalah ilmu keguruan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. dkk.wordpress. 2007. Nana Sudjana.wordpress. 1985. Kesiapan Lulusan SPG dalam Mengajarkan Matematika dan IPA di SD: Disertasi. Bandung edy010169.com/2008/03/01/supervisi-klinis/ diakses Februari 2011 http://www.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.D.1982. Supervision of Intruction.scribd. Psikologi Pendidikan. 2007.2001. Bandung: PT Remaja Kosta Karya. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole). P. Jakarta: Bina Aksara. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Hasibuan dan Moedjiono.

2%). memuat materi pokok peluang.41 % siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM.6%). Jika batas nilai KKM untuk Kompetensi Dasar Permutasi dan Kombinasi adalah 70. Hal ini dimungkinkan karena penyajian materi yang masih cenderung standar dan kurang inovatif dalam menyelesaikan soal-soal pada materi permutasi dan kombinasi. yang terdiri dari 37 siswa.3%).9% siswa belum mencapai KKM. kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita tentang penerapan permutasi dan kombinasi. Dari hasil ulangan 205 siswa kelas XI IPA RSBI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2010/2011. maka dari data tersebut tampak bahwa hanya 34. pada materi permutasi dan kombinasi diperoleh data nilai sebagai berikut : 15 siswa mendapat nilai  90 (7. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2011 /2012. Kata kunci : pembelajaran open-ended. penilaian autentik. yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes akhir siklus III sebagai berikut : 94.3%).81% berada pada tahap multistructural. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran opend-ended di kelas dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita dan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi Permutasi dan Kombinasi di RSMABI.59% siswa mendapat nilai di atas KKM (75) dan hanya 5. 60 siswa mendapat nilai antara 60 – 69 (29. dan proses pembelajaran berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan November 2011. dan selebihnya mendapat nilai kurang dari 60 (36. Pada materi pokok tersebut memuat tentang permutasi dan kombinasi. siswa dapat menyelesaikan soal cerita pada Permutasi dan Kombinasi dengan baik dan benar. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi pelajaran Matematika SMA kelas XI IPA Semester I. 30 siswa mendapat nilai antara 70 – 79 (14. kemampuan berpikir matematis. Sebagai gambaran jika diberikan soal cerita berikut: Empat pasang suami istri membeli tiket untuk suatu pertunjukan. Mereka belum bisa membedakan apakah suatu soal termasuk masalah permutasi atau kombinasi. dan sisanya 10.19% siswa berada pada tahap relational.6%). Inti masalah pada materi tersebut adalah bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan permutasi dan kombinasi.1% siswa yang mencapai nilai  KKM dan 65. Jika mereka harus duduk dengan aturan dua orang akan berdekatan hanya jika 84 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran open-ended. Berdasarkan pengalaman peneliti. Mereka ingin mengambil nomor duduk secara berjajar. dengan prosentase keaktifan 90% aktif dan hanya 10% kurang aktif. Penelitian dilaksanakan dengan Pendekatan Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang terbagi dalam 3 siklus. 25 siswa mendapat nilai antara 80 – 89 (12.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERMUTASI KOMBINASI MELALUI PEMBELAJARAN OPEN –ENDED DI RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL (RSMABI) Ira Kurniawati Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMABI). Sementara itu dilihat dari kemampuan berpikir matematis siswa didapat 89. keaktifan siswa.

pendekatan atau pun strategi dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. maka langkah penyelesaiannya dipastikan akan salah. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang terprogram agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang baik. siswa tidak bisa mengkombinasikan beberapa kejadian yang muncul. perlu adanya suatu pembelajaran yang tepat yaitu pembelajaran terbuka yang memberikan kesempatan dan kebebasan bagi siswa untuk menggunakan caranya masing-masing dalam menyelesaikan soal tersebut.P(4. ada berapa banyak susunan tempat duduk yang mungkin dibentuk? Masalah tersebut merupakan masalah terbuka. Kesalahan-kesalahan di atas terjadi di antaranya karena : siswa tidak memahami masalah dengan benar. jika siswa telah dapat membedakan masalah tersebut tergolong masalah permutasi atau kombinasi. sehingga kegiatan kreatif dan pola pikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. dan juga karena siswa tidak bisa mengaitkan beberapa konsep secara simultan dalam memecahkan masalah tersebut. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 85 . Dalam pembelajaran matematika tugas seorang guru sebagai pendidik adalah menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa. siswa tidak bisa mengklasifikasikan masalah dengan tepat. Penekanan pembelajaran matematika di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa seringkali salah dalam mengerjakannya karena salah dalam menafsirkan soal. agar pelajaran matematika yang diperoleh akan terasa manfaatnya. diharapkan guru sebagai pendidik berusaha untuk dapat memilih model. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 8! dan sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 2. artinya cara pemecahan masalah tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai cara. Oleh karena itu. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan memberikan kesempatan siswa menemukan idenya untuk memecahkan masalah dengan benar.4). Untuk dapat memecahkan masalah di atas. Pembelajaran open-ended adalah salah satu alternatif pembelajaran matematika dalam rangka mengoptimalkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi Permutasi dan Kombinasi melalui kegiatan aktif. Untuk menyelesaikan soal-soal cerita seperti itu biasanya siswa kurang bersemangat dan tidak mau berusaha keras untuk memahami soal itu. maka sudah seharusnya proses pembelajaran matematika ditangani lebih serius. sehingga siswa mencintai matematika. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus P(4.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keduanya adalah pasangan suami istri atau berjenis kelamin sama . Jika siswa salah dalam menggolongkan masalah yang ada. Jadi untuk dapat mengajar lebih efektif dan membuat anak didik merasa senang dan tidak bosan dalam belajar. Untuk itu pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasinal (RSBI) perlu mengembangkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan ide-idenya sehingga kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal. Pendidik perlu mempersiapkan suatu model. Selanjutnya siswa akan dapat menyelesaikan soal cerita tersebut dengan benar. kreatif dan kemampuan berpikir yang sistematis serta terorganisir. tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa pada sekolah-sekolah biasa. sebagian siswa ada yang menyelesaikannya dengan menggunakan rumus akhir permutasi 4 unsur dari 4 unsur yaitu P(4. Sebagai siswa pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). membentuk kepribadian serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diberikan kebebasan dalam menemukan ide dalam menyelesaikannya. padahal memahami masalah merupakan langkah awal dalam memecahkan masalah tersebut. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa. Soal cerita permutasi dan kombinasi bersifat terbuka. Untuk permasalahan soal cerita di atas sebagian besar siswa salah dalam menyelesaikannya. Hal ini akan berdampak positif dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Sehubungan dengan pentingnya peranan matematika.4). Dengan demikian siswa dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. pendidik harus selalu berusaha untuk memvariasikan model.4) x P(4. serta pendidik harus berusaha menanamkan kepada siswa bahwa pelajaran matematika dapat meningkatkan penalaran.4).

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Jawaban akhir bukanlah tujuan utama dalam pembelajaran open-ended. Oleh karena itu. Jika kemampuan berpikir matematis siswa dapat maksimal maka kemampuan siswa dalam memecahkan masalah akan meningkat sehingga prestasi belajar matematika siswa pun dapat meningkat pula. Pembelajaran ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan ideidenya sehingga kegiatan kreatif dan kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. permutasi. 2. Sebagai masukan bagi pengelola pendidikan untuk menerapkan pembelajaran openended sebagai alternatif pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dan perbaikan kualitas pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi. 3. METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di RSMABI Negeri 1 Sukoharjo pada siswa kelas XI IPA 3 semester 1 tahun pelajaran 2011/2012. dimana masing- 86 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. Sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. Materi pembelajaran sebagai fokus dalam penelitian ini adalah Permutasi dan Kombinasi yang terbagi atas beberapa sub-materi. peningkatan kualitas pembelajaran pada materi materi permutasi dan kombinas dilakukan dengan pendekatan pembelajaran open-ended melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research ). Meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA SMA RSBI dalam menyelesaikan soal cerita tentang permutasi dan kombinasi. tetapi lebih menekankan pada bagaimana sampai pada suatu jawaban. sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna karena lebih menekankan pada proses belajarnya. yaitu : kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Seperti telah disebutkan di muka. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. dalam hal alternatif model atau pendekatan pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika juga sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. sehingga pembelajaran open-ended memberikan kebebasan dalam menggunakan strategi dan cara dalam memecahkan suatu masalah. masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI?” Tujuan Penelitian Sejalan dengan itu. pembelajaran materi tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran open-ended dan pelaksanaan penelitiannya mengacu kepada prinsip-prinsip tindakan kelas. yang terdiri dari 37 siswa. tujuan umum penelitian adalah untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga pendidikan pada sekolah RSMA BI pada umumnya dan bagi guru matematika RSMABI pada khususnya. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. dan kombinasi. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 1 Sukoharjo sebagai RSMABI.

indikator tercapainya upaya peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan pembelajaran open-ended antara lain : (1) 94. (2) keaktifan siswa mencapai 90%. data yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan simpulan apakah pada siklus yang bersangkutan proses pembelajaran telah berlangsung baik dan apakah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran telah baik pula. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini. apakah pemahaman siswa dan kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi pembelajaran materi permutasi dan kombinasi khususnya dalam menyelesaikan soal cerita telah baik pula dan meningkat.32 Kuis Siklus 3 Frekuensi 6 18 8 % 16.22 48. Tabel 1. Sedangkan untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar matematika siswa pada materi permutasi dan kombinasi digunakan tugas dan kuis pada tiap akhir siklus. Penyimpulan dilakukan dengan melihat data-data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan kuis dikerjakan di kelas secara individual.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masing siklus terdiri dari 4 tahapan. Lembar pengamatan ini diisi oleh pengamat. ternyata dengan diterapkannya pembelajaran open-ended. Secara umum. baik pada tugas maupun kuis pada tiap akhir siklus. Hal ini ditandai antara lain pada waktu proses pembelajaran berlangsung tercipta komunikasi multi arah antara guru dan siswa. Dan untuk menentukan prosentase ketuntasan belajar siswa pada materi permutasi dan kombinasi ditandai dengan nilai tugas dan kuis pada tiap siklus sebesar 75 ke atas. Teknik Pengumpulan Data Untuk mencatat kejadian selama proses pembelajaran berlangsung digunakan lembar pengamatan.65 21.11 45. yaitu pada akhir siklus ketiga.94 24. (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan pada siklus berikutnya. Klasifikasi Nilai 100 90 . disimpulkan apakah proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik.59% dari jumlah siswa kelas tersebut telah mencapai KKM. Mengingat materi pembelajaran dalam penelitian ini hanya satu materi pokok saja. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Teknik Penyimpulan Pada akhir penelitian. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 siklus. peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari nilai-nilai siswa pada tiap kuis pada akhir proses pembelajaran. Pada akhirnya. Setiap tugas dan kuis pada akhir pembelajaran digunakan nilai dengan skala 100. (2) Siklus II menggunakan modul II tentang permutasi. (3) observasi dan interpretasi. maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat dari rangkaian kemajuan nilai yang diperoleh siswa. (2) pelaksanaan tindakan.24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 87 .62 Frekuensi 0 0 16 % 0 0 43. (3) 89.99 80 .89 Klasifikasi Nilai Kuis Materi Permutasi dan Kombinasi Kuis Siklus 1 Kuis Siklus 2 Frekuensi 3 17 9 % 8. Tugas berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual di luar jam pembelajaran. yaitu : (1) perencanaan. dan (3) Siklus III menggunakan modul III tentang kombinasi. kualitas pembelajaran berjalan semakin baik. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini. Teknik Analisis Data Sesuai dengan langkah penelitian tindakan kelas. pada tahapan analisis dan refleksi. antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah tinggi. Proses interaksi multi arah ini baru dapat dilakukan pada siklus III. Penyimpulan juga dilakukan secara kualitatif.19% siswa berada pada tahap kemampuan berpikir matematis relational. dengan rincian sebagai berikut : (1) Siklus I menggunakan modul I tentang kaidah pencacahan dan kaidah perkalian.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 70 . dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan siswa pada akhir siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan oleh peneliti dan telah mengalami peningkatan. Pembahasan Berdasarkan analisis dari tes akhir siklus pada setiap akhir siklus yaitu dari adanya tes akhir siklus I.11 5.71 100 3 2 0 37 8. Selain daripada itu berdasarkan observasi dari tim pengamat. semua siswa berusaha menyelesaikan dan beberapa siswa mengerjakannya di depan kelas dengan cara yang berbeda.71 100 4 3 1 37 10.00% 20. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung baik dan dipandang dari sisi prestasi belajar matematika pada materi yang memuat materi modul I sampai modul III.00% 80.59% 5.00% 70.40 0 100 Dari hasil tes siklus III pada akhir siklus III. Hal ini nampak pada waktu pembelajaran berlangsung. Setiap ada tugas pada akhir modul.46% 40.38% 21. maka kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir matematis akan meningkat dapat diterima.41% Adapun peningkatan ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.81 2.00% 30. 88 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .79 60 .00% Siklus I Siklus II Siklus III >=KKM <KKM Gambar 1 Perkembangan Ketercapaian KKM Sementara itu keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus juga meningkat.00% 90.69 < 60 Jumlah 16 4 1 37 43. meskipun terkadang disertai dengan diskusi kecil di antara para siswa tanpa menimbulkan suasana yang gaduh di kelas.54% Prosentase Siklus II 78.00% 0.00% 40. motivasi dan minat siswa dalam mempelajari permutasi dan kombinasi cukup tinggi.24 10.00% 60. semua siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan masing-masing siswa mengerjakan sendiri dengan seksama. 100.62% Siklus III 94. rangkuman keaktifan siswa dari siklus ke siklus dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut. dan tes akhir siklus III.11 2. ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. tes akhir siklus II. Rangkuman Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Ketercapaian KKM  KKM < KKM Siklus I 59.00% 10.81 8. apabila disuruh mengerjakan soal oleh guru. maka hipotesis tindakan yang mengatakan bahwa dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan openended dalam menyelesaikan soal cerita permutasi dan kombinasi. Tabel 2.00% 50.

38% 0% Siklus III 0% 0% 10.46% 0% Prosentase Siklus II 0% 5. keaktifan siswa mengalami kenaikan secara signifikan. Rangkuman Keaktifan Siswa Keaktifan Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Siklus I 65% 30% 5% Prosentase Siklus II 80% 17% 3% Siklus III 90% 10% 0% Jika dilihat secara keseluruhan.81% 29. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 89 .40% 16.81% 89.19% 0% Adapun perkembangan kemampuan berpikir matematis siswa dapat disajikan dengan diagram sebagai berikut.22% 78. Gambar 2 Peningkatan Keaktifan Siswa Kemampuan berpikir matematis siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.73% 59.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 3. Tabel 4 Rangkuman Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kemampuan Berpikir Matematis Prestructural Unistructural Multistructural Relational Extended Abstract Siklus I 0% 10.

melakukan generalisasi. dipandang dari sisi prestasi belajar pada materi permutasi dan kombinasi. Relational Pada tingkat ini siswa dapat menentukan hubungan antara tiap komponen. tetapi pemahaman terhadap masing–masing komponen terbatas. siswa telah mampu menyebutkan. c. siswa mampu mengemukakan teori. ketuntasan belajar siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Pemahaman di transfer dan digeneralisasikan dalam masalah yang berbeda. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. serta melakukan prosedur sederhana. tetapi belum mampu membuat hubungan yang luas. sebanyak 94. b. mengurutkan. siswa tidak mengerti penjelasan dari suatu informasi. Ide dan konsep tentang sebuah permasalahan belum diorganisasikan dan tidak ada hubungan satu sama lain. Pada tingkat ini. e. melakukan analisis. tetapi hubungan yang menyeluruh belum ditentukan. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Extended Abstract Pada tingkat ini siswa mampu memiliki pemahaman yang lebih luas dari apa yang sudah diperoleh dalam pembelajaran. Siswa menunjukkan pemahaman bahwa tiap bagian memiliki kontribusi terhadap keseluruhan. Siswa menunjukkan pemahaman komponen yang masing–masing bagiannya terintegrasi. Multi Structural Pada tingkat ini. Pada tingkat ini siswa telah mampu mengidentifikasi. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. (RMIT University. Uni Structural Pada tingkat ini siswa telah mampu membuat hubungan sederhana. 2008) Pada akhir siklus. Siswa dapat menerapkan konsep ke persoalan sehari–hari atau situasi kerja. menjelaskan sebab.59% siswa mendapat nilai di atas KKM. d. mengintegrasi. Pada tingkat ini. Pre Structural Pada tingkat ini. fakta dan teori. Dengan kata lain. dan menghasilkan sesuatu. menjelaskan hubungan dan menerapkan. mengajukan hipotesis. Sejumlah hubungan telah dibuat. Berdasarkan Taksonomi SOLO kemampuan berpikir matematis siswa di kategorikan sebagai berikut : a.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Gambar 3 Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcomes Taxonomy) dikembangkan oleh Biggs dan Colis (1982). mengingat. Prestasi belajar 90 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . mengkombinasikan dan melakukan algoritma. Pada level ini. maka dapat diartikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. kegiatan dan tujuan. Pada tingkat ini siswa dapat membandingkan. mengklasifikasikan. siswa dapat mengerti komponen secara umum. siswa kehilangan inti dari informasi yang diperoleh. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. memberikan reaksi.

serta dapat melatih siswa untuk berpikir dengan lebih cermat dan sistematis. minat dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan baik dan benar. akibatnya dapat mengganggu target pencapaian materi yang harus dicapai. Kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada kemampuan berpikir matematis siswa pada pembelajaran sebelumnya. sebanyak 89. Disamping itu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. dan kemampuan berpikir matematis. Begitu pula jika Pada akhir siklus. kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi juga meningkat daripada kemampuan berpikir matematis siswa sebelumnya. dapat menumbuhkan motivasi. Sebagai muaranya siswa dapat mencermati suatu kasus permutasi atau kombinasi pada suatu soal. namun dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bukti bahwa pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. Pada akhirnya. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. yang antara lain adalah kesulitan guru dalam pembuatan rancangan pembelajaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi juga meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. proses pembelajaran materi permutasi dan kombinasi pada kelas XI IPA 3 RSMABI Negeri 1 Sukoharjo telah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan proses pembelajaran pada tahuntahun sebelumnya. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. siswa akhirnya mudah membedakan suatu masalah itu sebagai permutasi atau kombinasi. Motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa dalam belajar materi permutasi dan kombinasi cukup tinggi. dipandang dari sisi kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Dengan peningkatan semua komponen. hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi. maka dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula.19% siswa telah berada pada tahap relational yang merupakan tahapan kemampuan berpikir siswa yang tertinggi. kepada para Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 91 . keaktifan. unistuctural dari siklus ke siklus menyusut karena kemampuan berpikir siswa cenderung meningkat ke tahap relational. dapat dikatakan bahwa pembelajaran open-ended dalam pembelajaran matematika di kelas dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. Sedangkan taha extended abstract sebagai tingkat tertinggi dari kemampuan berpikir matematis menurut SOLO tidak dicapai karena dikarenakan konstruksi desain pembelajaran ditekankan pada pendekatan open-ended sehingga fokus utama pada penelitian tindakan ini adalah pembelajaran. hai ini disebabkan pembelajaran open-ended meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kebebasan siswa dalam berpikir sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengkomunikasikan ide-idenya dalam pengerjaan soal permutasi dan kombinasi. sedangkan tahap multistructural. Dengan demikian. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Saran Terlepas dari kelemahannya. sedangkan kemampuan berpikir matematis merupakan salah satu hasil dari pembelajaran Dengan kata lain. kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. baik ditinjau dari prestasi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran open-ended. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Oleh karena itu. Dengan pembelajaran open-ended.

How to Solve It. DAFTAR PUSTAKA Arends. T. Jakarta: Prestasi Pustaka. P. The Significance of an Open-Ended Approach.U. New York: Mcraw-Hill. Dalam J. Dalam J. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Aktifitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Zamroni. 2000. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Strategi Pembelajaran Matematika. Rusyan. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. 2003. P. ___________. Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. R. Muhammad Nur. Strategi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya. 1992. R. U. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Trianto. Becker & S. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. 1997. Shimada (Ed. Bandung : Remaja Karya. 1995. Materi Pokok Pengajaran Matematika. Soekamto. E. Soedjadi. Suherman. Slameto. Pengajaran Berdasarkan Masalah. New Jersey : Princeton. Slavin. Usman. Jakarta : Rineka Cipta. Developing Mathematical Reasoning Grade K-12.). Yogyakarta. 2001. Bandung: JICA. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. 1996. R. D. 1999. George. Boston: Allyn & Bacon. Sardiman A. 1989. dan Kauchak. Boston: Allyn and Bacon. 1999. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. I. Zainal Arifin..M. 1994. 1997. Sawada. Muhammad Nur dan Wikandari. Sutrisman Murtado dan J. Jakarta: Kencana. Jakarta : Rajawali Press. Joyce. P. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembelajaran. 1987. 1995. 1997. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. dkk. 2003. M. Shimada (Ed. 2009. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. 2001.P. Developing Lesson Plan. Atang Kusnindar. Jakarta: Karunika. Shimada. Polya. 2007. E. S. Landasan dan Implementasinya pada KTSP. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Purwoto. T. Eggen. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics.D. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Wina Senjaya. 2008. R. Poppy. Becker & S. Surakarta : UNS Press. Strategies For Teacher Teaching Content And Thingking Skills. The OpenEnded Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. B and Weil. Tambunan. M. Winataputra dan Saripudin. Yogyakarta: Bigraf Publishi 92 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Surabaya : University Press. New Jersey : Prentice Hall. Surabaya : University Press UNESA Muhammad Nur dan Muhammad Ibrahim. 2004. (2000). Models of Teaching.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 guru matematika disarankan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk materi pelajaran matematika yang lain dengan menggunakan pendekatan pembelajaran openended. Educational Psychology Theory into Practice. Inc. 1973. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. Teori Belajar. Classroom Instruction and Management. NCTM. tanggal 28 – 29 Maret 2003. Muhibbin Syah. Menjadi Guru Profesional. 2001. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. 2000. Yaniawati. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep. Surabaya : PSMS Program PPS Unesa.). Reston : Virginia. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika. Bandung : Remaja Karya. 1997.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful