Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

DAFTAR PUSTAKA Amerom, B. V. (2000). Arithmetic and algebra: Can history help to close the cognitive gap? A proposed learning trajectory on early algebra from an historical perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Becker, J.P & Shimada, S. (1997). The open-ended approach: A new proposal for teaching mathematics. Reston: NCTM Ben-Zeev, T. Dan Star, J.(2002). Intuitive Mathematics: Theoretical and Educational Implications. Michigan: University of Michigan Brouseau, G. (1997). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers Clarke, B., Clarke, D., & Sullivan, P. (1996).The mathematics teachers and curriculum development. In Alan J. Bishop et al. (eds.), International Handbook of Mathematics Education, 2 (1207-1234). Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. De Lange, J. (1987). Mathematics insight and meaning. Utrecht, the Netherlands: OW &OC, Dissertation. De Lange, J. (1996). Using and applying mathematics in education. In A.J. Bishop et al. (eds.). International Handbook of Mathematics Education. 1 (49-97). The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. Gravemeijer, K. (1994). Educational development and developmental research in mathematics education. In Journal for Research in Mathematics Education, 25 (5), 443-471. Gravemeijer, K.P.E (2000a). Developmental research: Fostering a dialectic relation between theory and practice. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Gravemeijer, K.P.E (2000b). Taking a different perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Kansanen, P. (2003). Studying-theRealistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29,No. 2/3, 221-232 Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Bandung: SPS UPI Toom, A. (2006). Tacit Pedagogical Knowing At the Core of Teacher’s Professionality. Helsinki: University of Helsinki Treffers, A. & Goffree, F. (1985). Rational analysis of realistic mathematics education-The Wiskobas program. In L. Streefland (Ed.), Proceedings of Ninth International Conference for the Psychology of Mathematics Education, (pp.97-121). Noordwijkerhout, July 22-29, 1985. Treffers, A. (1987). Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics education. Reidel, Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Treffers, A. (1991). Didactic background of a mathematics program for primary school. In L. Steefland (ed.), Realistic mathematics education in primary school: On the occasion of the opening Freudenthal Institute, (pp.21-56). Utrecht: Center for Science and Mathematics Education, Utrecht University. Turmudi (2006). Designing contextual Learning Strategies for Mathematics for Junior Secondary School in Indonesia. Ph.D. Thesis, Melbourne, Australia: La Trobe University. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (1996). Assessment and realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, Center for Science and Mathematics Education. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (2000). Mathematics education in the Netherlands: A guide tour. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

13

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

PENERAPAN BLENDED LEARNING PADA PERKULIAHAN DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (Studi Kasus: Mata Kuliah Dasar-dasar Matematika)
Imam Sujadi Program Studi Pendidikan Matematika UNS Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menerapan model blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memadukan antara pembelajaran tatap muka dan sistem e-learning. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika UNS. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Tahapan penelitian didahului dengan mengembangkan model pembelajaran blended learning untuk mata kuliah Dasar-dasar Matematika. Selanjutnya model tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tahap-tahap penelitian tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah dasar-dasar matematika pada semester gasal tahun akademik 2011/2012. Metode pengumpulan data dengan angket, observasi dan tes, pemberian tugas/kuis untuk mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Model pembelajaran blended learning terbukti berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan kompetensi kognitif mahasiswa. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas ini dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan mata kuliah yang berbeda dan kondisi yang berbeda pula. Kata kunci: blended learning, kemandirian belajar, peningkatan kompetensi

PENDAHULUAN E-learning saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang berkembang sangat pesat, sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi pendukungnya. Tujuan utama e-learning adalah mempermudah setiap orang untuk belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa e-learning memberikan cukup banyak manfaat bagi institusi pendidikan tinggi baik bagi dosen, mahasiswa, dan penyelenggara pendidikan. Manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pertemuaan tatap muka akan berkurang, sedangkan materi yang telah dikembangkan akan terus bisa digunakan. Dengan menggunakan e-learning, biaya yang digunakan untuk memberikan materi pembelajaran bisa dihemat. Mahasiswa yang bisa mengikuti perkuliahan dengan adanya e-learning juga bisa bertambah secara kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya e-learning tempat belajar tidak lagi menjadi kendala yang mendasar, karena mahasiswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dengan segala kelebihan pemanfaatan e-learning tersebut, oleh sebagian pihak elearning dianggap sebagai model pembelajaran masa depan (future learning). Namun dibalik kelebihan tersebut tersimpan beberapa kelemahan terutama pada instruktur, infrastruktur dan assessment. Salah satu proses penting dalam proses pembelajaran adalah proses membangun pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut bisa bersifat eksplisit maupun implisit. Beberapa kelemahan pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pengetahuan yang bersifat implisit sangat tidak mungkin untuk disebarkan menggunakan e-learning. Selain itu faktor emosional, gestur, seni, dan penilaian dari pembelajaran cenderung terkurangi dengan adanya e-learning. Selain beberapa kelemahan tersebut masalah penilaian (assesment) menjadi tantangan tersendiri pada penyelenggaraan e-learning. Pada pemanfaatan e-learning dosen tidak bisa mengetahui bagaimana kemampuan sebenarnya dari mahasiswanya, karena terjadi distorsi penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh dosen sangat bersifat kognitif, sehingga kemampuan afektif maupun motorik menjadi kurang terukur. Blended-learning, salah satu tipe pengembangan e-learning, merupakan alternatif jawaban atas kelemahan yang ada pada e-learning. Blended Learning adalah cara untuk mendidik dan belajar dengan ‘mengkombinasikan’ beberapa metode dan gaya pembelajaran

14

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

yang berbeda. Blended learning berbasis pada kombinasi antara pembelajaran yang bersifat online dan tatap muka. Cara belajar seperti ini memberikan beberapa keuntungan yang bersifat fleksibel bagi dosen dan mahasiswa. Dosen tidak kehilangan gesture dan seni dalam perkuliahan, demikian juga dengan mahasiswa tidak akan merasa ketinggalan ketika tidak bisa hadir pada perkuliahan (Arai, K: 2010). Penerapan blended-learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan penguasaan kompentensi mahasiswa pada standar yang terukur. Dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi pada perkuliahan dimungkinkan adanya remedial teaching yang harus dilakukan oleh dosen. Kendala yang dihadapi dosen dalam melaksanakan remedial teaching adalah bagaimana mengatur pengelompokan kelas dan pengaturan waktu, antara yang mengikuti remidial dan yang tidak. Penerapan blended-learning diharapkan bisa mengurangi banyak tatap muka yang harus dilakukan dosen, terutama kelompok yang harus mengikuti remedial teaching (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008) Sebagai ilustrasi pada perkuliahan dasar-dasar matematika tahun akademik 2009/2010, peserta mata kuliah dasar-dasar matematika ini adalah 28 mahasiswa. Pada ujian kelompok kompetensi dasar (KKD-1) mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 15 mahasiswa (54%), pada KKD-2 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 9 mahasiswa (32%), pada KKD-3 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 11 mahasiswa (39%), sedangkan pada KKD-4 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 4 mahasiswa (14%). Ketika dosen akan melakukan remedial teaching, kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengatur waktu untuk melakukan pembelajaran pada kelas remedial tersebut. Kendala yang lain mahasiswa secara afektif kurang mempunyai kemauan untuk belajar mandiri dan kurang mempunyai kemauan bekerja menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi kendala tersebut penerapan remedial teaching bagi mahasiswa dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, merupakan suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran di prodi pendidikan matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi ditinjau dari aspek dampak peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa, studi kasus pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Asumsi yang digunakan adalah semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan kemampuan akses yang sama terhadap materi perkuliahan yang disebarkan melalui website atau learning management system (LMS). Sebagai rencana cadangan materi juga disebarkan menggunakan media CDROM. Materi yang disampaikan melalui LMS atau CDROM bersifat pengetahuan eksplisit, sedangkan pengetahuan yang bersifat implisit disampaikan di kelas. Tatap muka di kelas lebih bersifat mediasi, review, dan diskusi terhadap materi yang diberikan. Media komunikasi yang digunakan adalah media chat melalui jejaring sosial selama jam kerja, email dan forum diskusi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian E-Learning E-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran (learning) dan pengajaran (teaching) secara online menggunakan jaringan teknologi. Saat ini telah banyak penelitian mengenai elearning, terutama pada dampak (outcomes) pembelajaran yang dihasilkan e-learning jika dibandingkan dengan pengajaran secara tradisional (Hrastinski, S: 2008). Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan e-learning sebagai suplemen terhadap materi yang disampaikan secara regular di kelas. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif perkuliahan bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan (Rahayu, T: 2007). Untuk bisa mempraktekkan dan mengimplementasikan e-learning dengan baik, harus diperhatikan mengenai keuntungan dan keterbatasan setiap metode dan teknik yang dikembangkan pada e-learning. Dua tipe dasar e-learning yang saat ini berkembang adalah asynchronous dan synchronous e-learning. Sampai saat ini, tipe asynchronous lebih banyak diandalkan untuk pengajaran dan pembelajaran. Namun, seiring dengan perkembangan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

15

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

teknologi dan peningkatan kapasitas bandwith koneksi internet, tipe synchronous menjadi pilihan tersendiri (Hrastinski, S: 2008), (Rahayu, T: 2007). Blended Learning Blended-learning merupakan salah satu pendakatan dari e-learning, yang mengkombinasikan berbagai komponen pembelajaran - seperti ruang kelas, konten online, email, forum diskusi, learning management system (LMS) - dan pengalaman belajar – seperti pembelajaran individual atau berbasis kelompok - untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Blended learning mengkombinasikan tipe asynchronous dan synchronous pada pelaksanaannya. Bahkan pada prakteknya sesi ‘tatap-muka’ tidak hanya dilaksanakan secara virtual melalui chat atau email saja namun dilaksanakan di dalam kelas yang notabene merupakan cara konvensional. Tentu saja hal ini meningkatkan fleksibilitas pada pelaksanaannya. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Sehingga secara umum, blended-learning menyediakan hampir semua kebutuhan dari mahasiswa yang antara lain berkaitan dengan apa saja isi pembelajaran, waktu pembelajaran, tempat pembelajaran dan bagaimana cara belajarnya. Disamping itu pengalaman belajar mahasiswa juga akan bertambah. Blended Learning pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasis kompetensi. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi dari perkuliahan. (Rahayu, T: 2007). Berdasarkan SK Mendiknas No 232/U/2000, struktur kurikulum harus berdasar pada tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Sehingga secara garis besar, KBK bisa diartikan sebagai kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama pada tahap pengembangan ide dipengaruhi oleh kemungkinankemungkinan pendekatan, sehingga kompetensi bisa menjawab tantangan yang muncul (Rahayu, T: 2007). Pada KBK, mahasiswa diberi kesempatan secara terbuka untuk bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Jika ternyata peserta didik gagal, maka dosen harus memberikan remedial teaching. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa namun membingungkan pengampu mata kuliah. Untuk melaksanakan remedial theacing, dosen harus membagi kelas menjadi dua bagian. Satu kelas, terdiri dari mahasiswa yang tidak remedial teaching, kelas lainnya yang mengikuti remedial teaching. Hal ini tentu saja merepotkan terlebih jika ternyata pada kompetensi berikutnya ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, sehingga perlu remedial teaching juga. Untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan remedial teaching tersebut tersebut, penggunaan blended learning sangat tepat digunakan. Skenarionya semua komponen blended learning dilaksanakan, selanjutnya jika terjadi remedial teaching digunakan komponen asynchronous, dengan mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan untuk kompetensi berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga ketika mahasiswa harus remedial maka ia tidak harus membuat kelas terpecah dalam kelas kecil. Sebagai gambaran, blended learning dilaksanakan seperti pada Gambar 1. (Arai, K: 2010). METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research) yang difokuskan pada proses pembelajaran remidial. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan partisipan karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Subjek, Objek, Waktu dan Tempat Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang pada tahun akademik 2011/2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika, khususnya mahasiswa

16

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Pada fase pertama mengidentifikasi mahasiswa yang memerlukan remidial teaching pada KKD-1 dengan cara mahasiswa diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan. tahap analisis dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut. serta kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. Tahap analisis dan refleksi dilakukan pada masing-masing siklus yaitu pada siklus 1. menyusun handout. Pada fase kedua mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. (2) melaksanakan penerapan blended learning pada perkuliahan remedial . Peneliti memotivasi siswa untuk mau mencari informasi yang dibutuhkan dan mau mempelajarinya. yang dilakukan adalah (1) menyusun RPP. Sedangkan refleksi dilakukan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 17 . Waktu penelitian selama 6 (delapan) bulan dimulai bulan Juni sampai dengan Nopember 2011. masing-masing kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. Tiap-tiap kelompok ditugaskan melakukan kegiatan diskusi menyelesaikan tugas baik secara langsung. serta peningkatan kognitif berupa peningkatan kompetensi akibat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. perancangan tugas. tahap pelaksanaan tindakan. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. (3) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan setelah tindakan dilakukan. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/ tindakan hal-hal yang dilakukan adalah penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Analisis dilakukan dengan cara : peneliti mengumpulkan hasil observasi dan angket kemudian dianalisis bagian mana dari bahan yang belum dikuasai mahasiswa serta ditandai siapa saja mahasiswa yang belum tuntas dan tanggapan siswa (persepsi siswa) terhadap proses yang dilakukan. Data dan Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi keseluruhan kegiatan pelaksanaan mulai awal sampai akhir sebagai berikut: (1) Proses kegiatan penyusunan handout. Sedangkan pada fase ketiga memberi kesempatan mahasiswa untuk menanyakan hal yang belum jelas pada dosen.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang mengalami remedial teaching. tahap perencanaan atau penyusunan prototype. karena sebagian besar data yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi. Pada tahap persiapan. Tahap observasi dan evaluasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi lapangan. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan sebagai berikut: (1) membuat silabus yang dilengkapi dengan RPP. Langkah-langkah Operasional Kegiatan Pelaksanaan Penelitian Secara umum. dan atau menggunakan millis. mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya lewat millis apabila ada kesulitan. sedangkan objek penelitian ini adalah peningkatan afektif yang berupa peningkatan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dengan mencari informasi pengetahuan yang dibutuhkan. baik secara langsung atau lewat email (dilakukan oleh ketua sebagai pengajar). Pada tahap perencanaan peneliti menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan berupa lembar observasi dan angket. untuk memberikan materi dalam rangka remedial teaching. (2) mengembangkan media berbasis website atau learning management system (LMS). dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati jalannya pelaksanaan penerapan blended learning pada perkuliahan. (5) Tanggapan mahasiswa tentang penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. dan menyusun rancangan tugas. Tempat penelitian adalah di prodi pendidikan matematika JPMIPA FKIP UNS. dan angket untuk mahasiswa. (4) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan. Mahasiswa diharapkan mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan hasil diskusi. (2) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan sebelum tindakan dilakukan. Fokus pengamatan ditekankan pada peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa. sesuai dengan tugas yang telah dirancang oleh dosen.

seperti argumen dan validitas. kuantor dengan beberapa variabel dan proposisi berkuantor. Pada pernyataan no 26-40. serta lembar tugas yang akan diberikan mahasiswa. serta pembuktian langsung dan tak langsung. definisi. Pernyataan yang berkaitan dengan perkuliahan biasa terdiri dari 25 pernyataan. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan ketiga berisi mengenal silogisma. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini. (C) Jika tidak setuju. Lembar angket dibuat untuk menggali kemandirian mahasiswa dalam perkuliahan baik pada perkuliahan biasa atau perkuliahan dengan pendekatan blended learning. kontradiksi. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan kedua berisi penarikan kesimpulan dan pembuktian seperti : penarikan sahih dan tak sahih. HASIL PENELITIAN 1. seperti : tautologi. Berdasar hasil analisis dan refleksi pada siklus I. seperti: bentuk umum kuantor. mahasiswa akan memilih huruf: (A) Jika selalu mengerjakan. Bilamana kenaikannya belum mencapai angka 10 persen maka dikatakan belum ada peningkatan afektif dan kognitif dan perlu mengulang pada siklus II.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dengan cara: data hasil analisis dikoreksi dan didiskusikan bersama untuk perbaikan siklus selanjutnya. dan (D) Jika tidak pernah mengerjakan sebagaimana isi pernyataan tersebut. postulat. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran a. pembuktian dengan induksi matematika. tahap persiapan dan perencanaan pada siklus I diperbaiki untuk dilaksanakan pada siklus II. (B) Jika sering mengerjakan. hubungan kuantor. Instrumen bantu yang dikembangkan dalam penelitian ini selain lembar observasi adalah angket untuk melihat bagaimana aktivitas mahasiswa dan tanggapan mahasiswa dengan kuliah menggunakan pendekatan Blended learning. seperti : proposisi kata hubung logika dan pengembangan kata hubung. dan (D) jika sangat tidak setuju dengan isi pernyataan tersebut. (B) Jika setuju . Sedangkan KKD-1 pertemuan ketiga berisi negasi dan nilai kebenaran . Indikator keberhasilan dari siklus 1 ini dapat dilihat adanya peningkatan kemauan belajar mandiri dan kemauan menyelesaikan tugas yang ditandai dengan kenaikan prosentase sebelum tindakan. Perangkat Utama Perangkat Pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini adalah Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (C) Jika jarang mengerjakan. Untuk KKD-1 pertemuan kedua berisi fungsi dan perangkai logika. bahan ajar. Pada pernyataan no 1-25. Untuk KKD-1 pertemuan pertama bahan ajar pertemuan pertama berisi konsep aksiomatika dalam matematika. Perangkat lain yang dikembangkan adalah email yang bisa digunakan mahasiswa untuk menanyakan materi atau tugas kepada dosen. Bahan ajar tersebut disajikan dalam bentuk power point. teorema. Sedangkan pernyataan yang berkaitan dengan model kuliah Blended Learning terdiri dari 15 pernyataan. dan digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum dikuasai oleh mahasiswa. Mahasiswa diminta memilih huruf (A) Jika sangat setuju. b. Lembar observasi yang dibuat berisi indikator untuk mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. aksioma. Instrumen Penelitian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk melihat aktifitas mahasiswa didalam kelas. adalah bahan ajar perkuliahan dasar-dasar matematika untuk KKD-1 dan KKD-2. Adapun materi angket difokuskan pada hal-hal berikut ini. Pada setaiap akhir bahan ajar diberi lembar tugas. Perangkat Pendukung Perangkat pendukung yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Blog untuk meng-upload bahan ajar dan tugas serta review hasil tugas maupun perkuliahan. lemma. dan kontingensi. Perangkat penunjang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah mailing list yaitu suatu group dari email mahasiswa peserta kuliah dan dosen untuk digunakan mahasiswa agar bisa berdiskusi lewat dunia maya. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan pertama berisi konsep kuantifikasi. hukum silogisma hipotetik dan berbagai macam modus. 18 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . seperti: Pengertian hal-hal yang tak didefinisikan.

dimana dari 67 mahasiawa tersebut 34 mahasiswa adalah mahasiswa baru angkatan 2011. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. Sedangkan sisanya yaitu 33 mahasiswa adalah mahasiswa pengulang. k) Remidial teaching dilakukan dengan cara memberi tugas untuk mempelajari materi yang sudah diupload. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 19 . kemudian menyuruh mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapatan di dalam kelas. Siklus I 1) Tahapan Perencanaan Berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa yang mengikuti kuliah dasar-dasar matematika pada tahun akademik 2011/2012. Hasil Penerapan Blended Learning Penelitian penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi studi kasus pada mahasiswa yang tahun akademik 2011-2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika terdiri dari 2 siklus. dengan ketentuan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 diberi kesempatan melakukan ujian kedua. i) Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. Berdasarkan Hasil angket tentang kemandirian mahasiswa didapatkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar masih rendah. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. dengan urutan sebagai berikut: a) Mempersiapkan RPP. Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. untuk memperoleh data yang akurat. dan mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas dan dikumpulkan melalui email. Selain itu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 2. mahasiswa dapat mendownload KD01-01). masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. l) Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen. j) Pada pertemuan ke 4 dilakukan uji kompetensi dengan materi KD01. semuanya berjumlah 67 mahasiswa. dengan sebelumnya dilakukan remidial teaching. sudah didiskusikan dengan teman yang lain? f) Dosen membahas materi atau tugas yang sudah diupload dan materi atau tugas tersebut dianggap sulit oleh mahasiswa. e) Dosen menanyakan apakah materi yang susah dipahami. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. materi perkuliahan. Untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. Berdasar hasil observasi tersebut dibuat perencanaan pembelajaran dengan metode Blended Learning. lembar tugas yang akan dibicarakan. dengan rincian sebagai berikut : a. b) Sebelum perkuliahan dilakukan. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. c) Pada awal perkuliahan Dosen menanyakan pada mahasiswa apakah mereka sudah mendownload materi KD01-01? d) Dosen menanyakan apakah mahasiswa ada yang mengalami kesulitan materi yang sudah didownload. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. g) Dosen memberikan soal tambahan di kelas.

b. 1) Tahapan Perencanaan 20 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . (3) Untuk bertanya pada dosen melalui email memang agak tidak enak. tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi) sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II.6%) Peserta Uji Remidi 54 44 (81. menjadi bentuk yang lain. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 85. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 19. Tabel 1 Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus I Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 13 (19. Siklus II Pada siklus ini dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus I.4% yang lulus UK01.4%) 54 (80. kemudian naik menjadi 34. keberanian untuk mengeluarkan pendapat juga masih rendah. (1) Kemandirian mahasiswa masih rendah. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga belum menggembirakan hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. dan meningkatkan lulusan mahasiswa yang mengikuti remedial teaching. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 81.5%. (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. Meskipun demikian perlu dilakukan perbaikan khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar yaitu mengubah pola tanya jawab dosen mahasiswa lewat email.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 peneliti juga melakukan wawancara tidak tersetruktur terhadap beberapa mahasiswa tentang materi yang dirasakan sulit oleh mahasiswa Berdasarkan hasil wawancara tidak tersruktur pada beberapa mahasiswa didapatkan tambahan informasi bahwa masalah perkuliahan KD01: (1) mahasiswa merasa masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. meskipun demikian dengan penerapan model pembelajaran yang dirancang rata-rata kemandirian mahasiswa meningkat untuk tiap perkuliahan yaitu dari 25. sehingga masalah mendownload juga masalah tersendiri bagi mahaisiswa. mencari literature lain. (4) Kalau tugas itu tidak dikumpulkan maka semangat mengerjakan tugas itu agak berkurang.5%.4% pada pertemuan ke II. dan peningkatan prosentase mahasiswa yang lulus tidak perlu remedial teaching.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil wawancara dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. kemampuan bertanya rendah.1%. Adapun ukuran hasil tindakan pada siklus II ini dikaitkan dengan hasil tindakan pada siklus I apabila ada peningkatan kemandirian mahasiswa dalam belajar.5%) Lulus KD01 57 dari 67 Peserta 85. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 42. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. Adapun hasil dari observasi dan wawancara dapat dirangkum sebagai berikut ini. Berdasarkan hasil UK KD01 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa adalah sebagai berikut ini.6% pada pertemuan I. (2) Terkadang Hot Spot di Kampus tidak berjalan dengan lancar. Selain itu perlu ditinjau ulang tentang perlu tidaknya membangkitkan mahasiswa untuk mau mengerjakan tugas.5%) 10 (18.

Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. Tugas boleh didiskusikan melalui group maillist yang sudah dibuat. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 21 . dibuat perencanaan pembelajaran dengan model blended learning. dan l) juga diubah bagaimana tugas itu harus dibuat oleh mahasiswa. dan (l). kemampuan bertanya.edu. Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus II Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 43 (64. i) . sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen (untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. mencari literature lain.math. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi.8%) Peserta Uji Remidi 24 18 (75%) 6 (25%) Lulus KD01 61 dari 67 Peserta 91. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. sebagai berikut ini: (b) Sebelum perkuliahan dilakukan. peneliti juga melakukan pengambilan data melalui angket tentang pembelajaran dengan blended learning pada perkuliahan dasar-dasar matematika. demikian juga untuk bisa terjadi interaksi dengan sesama teman dan tidak hanya bertanya pada dosen maka dibuatkan forum diskusi lewat miilling list agar sesama mahasiswa dapat berdiskusi lewat internet. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen atau silahkan didiskusikan melalui milling list. Selain itu. Pada siklus II ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi.uns@gmailgroup.com.2%) 24 (35.math. keberanian untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai meningkat. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. (h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan memberi tugas untuk dikumpulkan. (i) i. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. mahasiswa dapat mendownload KD01-01) dan diemailkan ke fun. Materi akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir.edu. Tabel 2.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil angket yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. untuk memperoleh data yang akurat. Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen atau didiskusikan dengan teman melalui fun. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan.com sehingga semua mahasiswa sudah terkirim. hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga mengalami peningkatan.uns@gmailgroup. Disamping itu pada langkah h). dengan urutan sama seperti pada siklus I hanya diubah pada langkah b) yaitu cara menyampaikan materi tidak hanya lewat blog tetapi diemailkan ke mahasiswa dengan cara mahasiswa dibuatkan milling list. Berdasarkan hasil UK KD02 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa sudah meningkat sebagai berikut ini: (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok.

Dari dua siklus penerapan perkuliahan blended learning telah mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa dan kemampuan kognitif mahasiswa. Meskipun demikian masih perlu dilakukan perbaikan terus menerus diperkuliahan pada KD03 dan KD04. Jakarta: Depdiknas. Adapun peningkatan prosentase kemandirian karena penerapan model pembelajaran yang dirancang ratarata yaitu dari 41. p: 964 – 968 Depdiknas.1%. Kurikulum Berbasis Kompetensi. C. kemudian naik menjadi 46. Khan. S. Silabus Dasar-dasar matematika. Hrastinski. Kapp. Depdiknas. lembar tugas. Blended Learning for Compliance Training Succes.H. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. P. KM dan McKeague. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 48. Adapun hasil dari observasi dapat dirangkum sebagai berikut ini. Volume 4 p. 3. p:22. 2002. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar dan bekerja sama dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kognitif pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Proceeding of Ascilite Melbourne. 2007.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. Pemanfaatan E-Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Eduneering.2%.7 Rahayu. Jakarta: Depdiknas. Succes Factor for Blended Learning. Benefits of Blended E-learning. media berupa blog.8% pada pertemuan I. Nayak. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Open Source Software for Blended Learning. 2010. 2007. B.3% pada pertemuan ke II. K. bahan ajar. Perangkat pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini berupa silabus. (1) Kemandirian mahasiswa sudah mengalami peningkatan. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 91. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 75%. _________ 2009. DAFTAR PUSTAKA Arai.2010. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 64. dan mailing list . 2002. 51 – 55. Proceeding of Fourth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society. Bloomburg. RPP. T. 2008. 2. Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika UNS 22 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Disampaikan pada Workshop on e-Learning in Higher Education. MK dan Suesawaluk. 2008. khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. Sebelas Maret University. E dan Gerbic.9% yang lulus UK02. Proceeding of International Conference on Open Source for Higher Education. PENUTUP Berdasarkan hasil maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut ini : 1. Bina Widya Vol 18 p: 16-24 Stacey. email. Educause Quarterly.1 -22. P. Advantages and Disadvantages of eLearning Management System. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model blended learning dapat digunakan untuk melaksanakan remedial teaching untuk perkuliahan yang menerapkan kurikulum berbasisis kompetensi. Asynchronous and Synchronous E-Learning: A study of asynchronous and synchronous e-learning methods discovered that each supports different purposes. 2002. King Fahd University of Petroleum and Minerals.

mampu memperbaiki kesalahan tersebut. Adapun kemampuan berpikir tingkat tinggi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 23 . matematika mempunyai peran yang sangat sentral dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama sehingga mereka siap menghadapi segala perubahan dalam segala bidang kehidupan. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Imam Sujadi2 1) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPY Jl. Dalam tahap merencanakan ide. Selain itu. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. dan produktif tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global. Kompetensi tersebut dikembangkan dalam diri siswa. Artinya. dan menerapkan ide tersebut dalam pemecahan masalah matematika. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. yakin dengan jawaban yang diberikan. kemampuan berpikir kritis. konsep matematika. kreatif. mengelola. sistematis. Kata Kunci: proses berpikir kreatif. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas V SD berkemampuan matematika tinggi (skor ≥75) yang banyaknya minimal 1 orang subjek. Dalam tahap mensintesis ide. karena tingkat kompleksitas dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi (I Gusti Putu Sudiarta. serta tidak menemui kesulitan. Dalam pembelajaran matematika. agar siswa memiliki kemampuan memperoleh. mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan dasar dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya untuk menganalisis proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR (SD) BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Abdul Aziz Saefudin1. kreatif. mekanistik. merencanakan penerapan ide. dan kemampuan bekerja sama. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. mensintesis ide. dan kompetitif (BSNP. pemecahan masalah matematika PENDAHULUAN Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis. PGRI I Sonosewu Yogyakarta 2)Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam membangun ide. dan jika melakukan kesalahan. 2007). analitis. yaitu berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. tidak melakukan kesalahan. 2006: 416). siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. tidak pasti. kritis dan kreatif. dan produktif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kemampuan berpikir tingkat rendah (low order thinking) atau kemampuan dasar (basic skill). dan rutin. Dalam tahap menerapkan ide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi: dalam tahap membangun ide.

kemampuan berpikir kreatif menurut Lee (2005) melibatkan kefasihan. dan holistik (R. Rosnawati. 2007). tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa sekolah 24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . iluminasi. 1997). dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. yaitu menuntut aktivitas kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah matematika dari beragam perspektif. Kriteria kreativitas pemecahan masalah menurut Silver (1997) diindikasikan dengan kefasihan. Barak dan Doppelt (2000) mengemukakan bahwa berpikir kreatif merupakan sintesis antara berpikir vertikal dan berpikir lateral. 2007). tidak hanya mencari jawaban yang benar dalam pemecahan masalah matematika. Fleksibilitas ditunjukkan dengan kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. merencanakan penerapan ide. tidak teratur. Proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika mempunyai beberapa tahapan. Berpikir vertikal menurut Edward de Bono dalam Barak dan Doppelt (2000) merupakan pola berpikir yang dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. originalitas. Selain itu. maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian. berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru (Ruggiero dan Evans dalam Tatag Yuli Eko Siswono. Beberapa jawaban dikatakan beragam jika jawaban-jawaban yang diberikan siswa tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu. Kefasihan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan memberi jawaban yang beragam dan benar. 2009: 146. Dalam pola berpikir lateral. Oleh karena itu. bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. Alhasil. dan verifikasi. Oleh karena itu. Sementara pola berpikir lateral menggunakan berbagai fakta yang ada.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 bersifat divergen. intuitif. dan elaborasi (penyempurnaan). kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah matematika terbuka. pembelajaran tidak hanya menekankan pada penyelesaian masalah tertutup atau mempunyai solusi tunggal. sekuensial. divergen. dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. dalam pemecahan masalah matematika. sedangkan elaborasi merupakan bagian dari proses berpikir di mana ide/solusi original yang muncul dengan cepat harus direspon dengan cepat sehingga ide/solusi tersebut tidak menjadi lapuk. tetapi juga cara mengonstruksi segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya (I Gusti Putu Sudiarta. 2007). Originalitas menunjukkan strategi pemecahan masalah yang baru dan berbeda dengan strategi yang biasa ia atau orang lain gunakan. tetapi dapat menggunakan pendekatan masalah terbuka atau open-ended approach (Becker dan Shimada dalam Hashimoto. linier. Solso. fungsi otak yang digunakan menggunakan otak belahan kanan yang bersifat acak. dan kebaruan. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika. Produk dari proses berpikir kreatif adalah berbagai kreativitas. Secara khusus. Beberapa jawaban tersebut dikatakan berbeda jika jawaban tersebut tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu (Tatag Yuli Eko Siswono. 2008: 445. fleksibilitas. dan menerapkan ide tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang baru. menentukan hasil akhir apa yang diinginkan. dan rasional. mensintesis ide-ide. 2011). Sementara Krulik dan Rudnick (1995: 3) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif meliputi tahapan-tahapan membangun suatu ide. Maksudnya. Pola berpikir vertikal terkait dengan bernalar dalam matematika sehingga lebih memfungsikan otak kiri yang bersifat logis. inkubasi. untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. Sementara kebaruan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa menjawab/menyelesaikan masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya. tidak mengherankan jika banyak penemuan baru dan terobosan ilmu pengetahuan dari hasil pola berpikir lateral. 1986: 18) mengemukakan empat tahap berpikir kreatif. Sejalan dengan pendapat Silver tersebut. yaitu preparasi. Campbell. Wallas (dalam Oemar Hamalik. Selanjutnya Pehkonen (1997) menyatakan. fleksibilitas.

Subjek melakukan tahap menerapkan ide dengan cara penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. 2008: 92-99). Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu instrumen utama dan instrumen bantu. cara bersusun. subjek tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. instrumen bantu kedua yaitu tes tertulis pemecahan masalah bilangan bulat. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui pada soal dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan. Subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar. konsep KPK. Huberman. Manfaat hasil penelitian adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap dunia pendidikan. Selanjutnya dalam tahap merencanakan penerapan ide. dan menerapkan ide dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar serta tidak menemui kesulitan. subjek mensintesis ide dengan cara mencari KPK dua bilangan yang diketahui dan menggunakan cara grafik. Subjek mensintesis ide dengan cara menjumlahkan dua bilangan melalui kombinasi atau salah satu cara dari sifat pengelompokan. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui. Wawancara dilakukan untuk menggali proses berpikir subjek dalam pemecahan masalah materi pokok bilangan bulat. Dalam menyelesaikan soal pertama. pendekatan. dan cara biasa. Instrumen bantu berupa instrumen bantu pertama yaitu tes tertulis penentuan kemampuan matematika siswa. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pewancara (peneliti sendiri). dan konsep grafik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dasar (SD) yang meliputi tahap membangun ide. khususnya dalam bidang psikologi kognitif berupa deskripsi proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika bagi siswa berkemampuan matematika tinggi. setelah sebelumnya menggunakan metode tes. Analisis data penelitian kualitatif menggunakan tiga komponen utama yaitu reduksi data. Selain itu. Selain itu. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru untuk menyusun model. strategi. dan Spradley dalam Sugiyono. Jika terdapat kesalahan penyelesaian. merencanakan penerapan ide. tetapi tidak terdapat unsur kebaruan. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. subjek merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Pertimbangannya bersifat konseptual. dan instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara. dan metode pembelajaran yang tepat. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 25 . sajian data dan penarikan kesimpulan sekaligus verifikasinya (Miles. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengungkap proses berpikir kreatif siswa sekolah dasar dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. Dalam menyelesaikan soal kedua. mensintesis ide. Selain itu. Pertimbangan ide digunakan bersifat konseptual. Subjek menerapkan ide penyelesaian yang fasih dan fleksibel. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan peneliti sebagai instrumen utama. Manfaat penelitian ini yang lain adalah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika baik bagi siswa maupun guru. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Pada tahap mensintesis ide. Apabila terdapat kesalahan penyelesaian soal. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Demangan Baru Sleman DIY yang pernah memperoleh materi pokok bilangan bulat dan dimungkinkan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga eksplorasi tentang proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat.

konteks pertanyaan soal. Dalam menerapkan ide. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memperbaiki kesalahan tersebut dengan cepat dan tepat. penjumlahan dan pembagian bilangan. Selain itu. konsep matematika (pemfaktoran. Konseptual maksudnya berdasarkan konsep yang pernah dipelajari oleh siswa. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan banyak cara. operasi bilangan). Pada tahap merencanakan penerapan ide. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaji bahwa pada tahap membangun ide. Ide-ide tersebut sangat beragam. Selain itu. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan soal dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Pada tahap penerapan ide. konteks pertanyaan soal. Subjek juga nampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. subjek membangun ide penyelesaian dari konsep pemfaktoran. Kalaupun melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. Pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Oleh karena itu. Akibatnya. Ide-Ide penyelesaian tersebut tidak hanya berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. subjek berkemampuan matematika tinggi menyelesaikan soal dengan mengkaitkan bilangan-bilangan yang diketahui. subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Ide bukan hanya dari apa yang diketahui dalam soal. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). subjek berkemampuan matematika tinggi juga tidak menemui kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan soal. subjek mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara baru secara fasih dan fleksibel. pembagian) dan kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu (pengetahuan dari pengalaman sehari-hari). meski terkadang kurang tertantang pada soal-soal yang dianggap mudah diselesaikan. Dalam tahap mensintesis ide. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian. tetapi kelompok kreatif juga menggunakan ide-ide yang jarang ditemui pada siswa kebanyakan. Subjek berkemampuan matematika tinggi beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Ide penyelesaian diperoleh subjek dari pengalaman belajar di dalam kelas dan pengalamannya belajar di lingkungan sekitar. cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal umumnya dapat diterapkan untuk menghasilkan suatu solusi yang kreatif. akan tetapi juga berasal dari pengalaman yang pernah diamati atau dipelajari di lingkungan sekitar siswa. Subjek merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. konsep matematika (operasi penjumlahan dan pengurangan melalui sifat pengelompokan. Subjek selalu berusaha untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh dengan saksama. Subjek berkemampuan matematika tinggi merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Cara-cara penyelesaian tersebut digunakan untuk mensintesis ide-ide yang telah dimunculkan pada langkah membangun ide. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). subjek berkemampuan matematika tinggi membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Subjek ini juga tidak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dalam menyelesaikan soal ketiga. subjek berkemampuan matematika tinggi berusaha menyelesaikan soal dengan cara penyelesaian atau jawaban yang beragam sebanyak-banyaknya. Subjek mensintesis ide dengan cara pemfaktoran dari bilangan yang diketahui dan memperkirakan berat suatu benda. pertimbangan membangun ide tersebut cenderung bersifat konseptual dan intuitif. sedangkan intuitif maksudnya berdasarkan perasaan siswa. misalnya dari pengalaman belajar di lingkungan sekitarnya. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. cara bersusun. subjek ini merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. menentukan KPK. Jika siswa mengalami kesulitan maka mereka dapat segera mengatasinya. Pada tahap mensintesis ide. dan cara biasa. subjek berkemampuan matematika tinggi cenderung memunculkan ide dengan produktif dan lancar. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika 26 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Keyakinan atas kebenaran jawaban yang diberikan juga memberikan karakteristik yang khas pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Pertimbangannya bersifat konseptual dan intuitif. konsep matematika. Oleh karena itu. dapat disimpulkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut: dalam tahap membangun ide.

de/fiz/publications/zdm. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. 2004. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan SD/MI. Massachusetts: Allyn & Bacon. 2011. 2008. hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk kajian dalam pembelajaran dan pengembangan penelitian lanjutan yang sama temanya atau berbeda temanya. Robert L. Campbell. diunduh pada 24 Juni 2010. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. Psikologi Kognitif. Moses & Doppelt. The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers. 1997. diunduh pada 24 Januari 2011. Bandung: Sinar Baru Algensindo. dan Kreatif. Metodologi Penelitian Kualitatif. Dalam tahap menerapkan ide. Solso.lib. Volume XXVI.vt. 2005. 2000. guru dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa dengan menggunakan strategi pemecahan masalah matematika. disadur oleh A.karlsruhe. Erkki. http://www. Juni 1997. Pendidikan dan Penerapan MIPA. Artikel diunduh di http://suaraguru. Universitas Negeri Yogyakarta. yakin dengan jawaban yang diberikan. ISSN 1443-1475. Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda. Oemar Hamalik. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Silver. didownload 24 Juni 2010. http://www. The Methods of Fostering Creativity through Mathematical Problem Solving. Stephen. terj. Electronic Edition ISSN 1615-679X. DAFTAR PUSTAKA Barak.karlsruhe. dan jika melakukan kesalahan. _____________________. Berpikir Lateral dalam Pembelajaran Matematika. dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam mengajar matematika. Volume 29. Dalam tahap merencanakan ide. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. 1997. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Thinking in Problem Posing. Volume 29. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Edward A. M. Krulik. Sugiyono. Using Portofolio to Enhance Creative Thinking. dosen.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Lee. Kritis. 3. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. Number 2. diunduh pada 24 Juni 2010.ejb. guru hendaknya menekankan kemampuan berpikir kreatif siswa. 1896. Hashimoto. (3) kepada para guru.edu/ejournals. BSNP.com pada tanggal 22 Desember 2009. The Journal of Tecnology Studies Summer-Fall 2000. (2) dalam mengajar matematika. dalam International Education Journal.sps. Kimberly. Edisi Kedelapan. http://www. M. dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian. Jesse A.karlsruhe. Berdasarkan kesimpulan. Pehkonen. diunduh pada 24 Juni 2010.fiz. Jakarta: Erlangga. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA: Menuju Profesionalitas Guru dan Tenaga Pendidik. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Otto H. I Gusti Putu Sudiarta.pdf. 2007. 1997.wordpress. http:/scholar. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Diunduh pada 24 Juni 2010.net.edu/wpcontent/uploads/2009/10/Thinking-Classroom-dalam-Pembelajaran-Matematika-diSekolah. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). 14 Mei 2011. Program Studi Pendidikan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 27 . No. Juni 1997. serta tidak menemui kesulitan. Mangunhardja. Bandung: Alfabeta. 2009. tidak melakukan kesalahan. Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen. Tatag Yuli Eko Siswono. 2008. Yaron. Maclin. R. Buletin Pendidikan Matematika. Fakultas MIPA. http://iej. Jakarta: Kemendiknas. 1995. 3. No.. http://math.de/fiz/publications/zdm. dan Maclin.de/fiz/publication/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3. Mengembangkan Kreativitas. 2006. Yoshihiko.. Kyung-Hwa.upi. Rosnawati.fiz. dan Rudnick. 2008. The State of Art in Mathematical Creativity. dan peneliti.fiz.

Ringkasan disertasi diunduh dari http://suaraguru. 2007. ISSN 1412-2278. Makalah disampaikan pada ‘Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang Memanusiakan Manusia’ di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 28-30 Agustus 2007.com pada 23 Desember 2009.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Matematika FKIP Universitas Pattimura. No. diunduh pada 2 Juni 2010. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika. Pembelajaran Matematika Humanistik yang Mengembangkan Kreativitas Siswa. 2007. Ambon. 2.wordpress. Volume 6. 28 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . _____________________. _____________________. Oktober 2004.

dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. tidak menggunakan intuisi. Akan tetapi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KARAKTERISTIK INTUISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH METEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya ditinjau dari perbedaan gender. Sehingga dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. penafsiran data dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Karena itu diasumsikan bahwa aktivitas mental seseorang terdiri atas kognisi formal (formal cognition) dan kognisi intuitif (intuitive cognition) dari pengetahuan matematika. meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. verifikasi atau penyangkalan tanpa pembuktian (Kossak. Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan masalah. persepsi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 29 . Dengan kondisi demikian. Diantaranya adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika. afirmatori. Kognisi formal juga perlu bagi matematikawan untuk berkomunikasi dengan sesama matematikawan dalam suatu asosiasi matematika. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Walaupun proses berpikir analitik dan logik memainkan peranan penting dalam merepresentasikan struktur logika pengetahuan matematika. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan masalah matematika bila telah dibeRikn caranya oleh Dosen. Kognisi formal menyediakan cara ketat memahami pengetahuan matematika. gender PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. masalah matematika. dalam membuat rencana penyelesaian. Kata Kunci : Karakteristik intuisi. Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data. Serupa dengan itu. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. antisipatori. maka siswa seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab. Proses membangun pengetahuan matematika tanpa disadari menghasilkan pengenalan tentang kepastian atau ketakpastian. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. pemaparan data. Kognisi formal merujuk kepada kognisi yang dikontrol oleh logika matematika dan bukti melalui induksi matematika atau deduksi (Fischbein. dalam membuat rencana penyelesaian. (2) Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. berbagai dosen atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda. ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. 1966). Metode pengambilan data adalah wawancara berbasis tugas. gender. mengejar ketepatan dan cara-cara formal hanyalah hasil akhir dari aktivitas matematika. Subyek penelitian sebanyak 2 siswa terdiri dari 1 siswa lakilaki dan 1 siswa perempuan. 1994). menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung.

tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. kognisi self evident (direct. Fischbein juga mengemukkan karakteristik intuisi lain disebut karakteristik intuisi antisipatori. Lima karakteristik intuisi yang dikemukakan Fischbein di atas merupakan karakteristik afirmatori yaitu karakteristik intuisi yang berupa pernyataan. Selain karakteristik afirmatori.ac. Karakteristik intuisi tersebut adalah (1) kognisi langsung. (2) kepastian intrinsik (intrinsic certainty). Contoh. solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung. self evident cognitions). Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi.st-andrews.uk /Extras/ Poincare _Intuition. yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat nampak dari suatu kognisi intuitif. yaitu intuisi yang menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual dan pada seleksinya dari hipotesis dan penyelesaian. (4) Extrapolativeness.html) membeRikn tiga jenis intuisi. dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling dari keyakinan.mcs. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris). Karena itu diduga bahwa ada aktivitas mental berbeda dengan kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematik. Sebagai contoh: jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. Karakteristik dari intuisi antisipatori adalah sebagai berikut: (1) intuisi tersebut muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. dapat diterima langsung. meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan. Lebih jauh. Pernyataan tentang garis lurus di atas adalah subjektif. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya.yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indra dan imajinasi. Tetapi kebenaran pernyataan jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus tanpa harus membuktikannya baik secara formal ataupun secara empiris. bersifat memaksa dan ekstrapolatif. representasi. 30 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Lebih lanjut. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat non intuitif. Konsep intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang self evident. atau intuisi (intuition). berurutan dan secara analitis. Poincare (dalam http://www-history. (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. Hal tersebut disebut kognisi intuitif (intuitive cognition). (5) keseluruhan (globality) adalah intuisi yang berlawa-nan dengan kognisi yang diperoleh secara logika. global dan kecukupan secara instrinsik. seperti membuat dugaan atau klaim pengetahuan baru. (2) intuisi tersebut menyajikan karakter global. yaitu intuisi feeling tertentu dari kepastian intrinsik. terasa seperti sudah suatu ketentuan. (3) pemaksaan (coerciveness). meniru seperti prosedur pengetahuan ekperimental (3) intuisi dari bilangan murni yang dapat mencapai berpikir matematika secara nyata. yaitu intuisi yang kaitannya dengan kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris. tidak jelas apakah dapat dikembangkan kreativitas matematika melalui pengembangan kognisi formal. Akan tetapi kognisi formal tidak menjelaskan setiap langkah berpikir dalam aktivitas matematika. holistik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 terhadap pengetahuan formal sangat perlu bagi siswa untuk maju ke tingkat pengetahuan matematika yang lebih tinggi. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika. yaitu intuisi merupakan kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut . interpretasi. Pengembangan kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan formal tidak sama dengan kreativitas bermatematika yang sangat diperlukan dalam “doing” mathematics. (3) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. Siswa mungkin sangat yakin akan kemampuan logika dan penalaran dalam pembuktian matematik yang ketat. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik . yaitu karakteristik intuisi yang berkaitan untuk memecahkan masalah. Akan tetapi hanya sedikit siswa yang berhasil dengan baik dalam aktivitas menggunakan pengetahuan formal mereka dan mungkin sekali menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah matematika. self evident. kebenaran pernyataan bahwa jumlah sudut-sudut pada suatu segitiga adalah 1800 diyakini karena telah membuktikannya.

1998). dan intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya..Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dari uraian tentang jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare di atas. pemerkiraan atau global. 2) Intuisi antisipatori dengan ciri-ciri antara lain. maka intuisi berperan dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Di sisi lain. yaitu: 1) Intuisi yang didasarkan oleh indera dan imajinasi dengan ciri-ciri antara lain dengan mengamati. (4) verifying a solution. tampak bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan berbeda. Menurut Fischbein (1999). Dengan demikian intuisi berperan dalam proses konseptualisasi. Halpern. seperti prosedur pada ilmu pengetahuan eksperimental dengan ciri-ciri antara lain menggunakan pola pikir induktif. “Gender. Reis & Park. dalam memahami fakta. Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika.. memberikan gambaran bahwa jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein berupa bentuk intuisi. sedangkan jenis intuisi yang disampaikan oleh Pincare berupa sesuatu yang mendasari adanya intuisi. Setelah itu beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda. membayangkan. yang berupa intuisi afirmatori. 2003). social. (2) designing and planning a solution. dan Susento (2006). konsep dan prinsip diperlukan intuisi. Keitel (1998). perbedaan gender dalam mempelajari matematika dan sains dalam riset pendidikan di awal 1980-an menemukan bukti kuat dominasi laki-laki dalam matematika dan sains (Benbow & Stanley. pasti secara intrinsik. Adanya perbedaan hasil temuan dari para peneliti mengenai peran gender dalam belajar matematika menunjukkan masih terbukanya ranah penelitian untuk mengungkap peran gender khususnya dalam mempelajari topik-topik tertentu dalam matematika. Polya (1973) menyusun prosedur memecahkan masalah dalam empat langkah. dengan ciri-ciri menggunakan ketentuan pada matematika. mengukur. b. penggiringan. Bagian pertama adalah jenis intuisi berdasarkan jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein. Perbedaan dari sisi psikologis dan biologis tersebut secara teoritis dapat mempengaruhi proses konseptualisasi dalam belajar matematika (Keitel. 2001). Di lain pihak. Hyde. 1980. Oleh karena itu pada penelitian ini jenis-jenis intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika meliputi dua bagian. M. Namun demikian tidak serta merta siswa yang menguasai langkah-langkah penyelesaian Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 31 . a. yaitu : (1) analyzing and understanding problem. (3) explorating solutions to difficult problems. 1986.”. yaitu: 1) Intuisi afirmatori dengan ciri-ciri sebagai berikut: langsung. memanipulasi benda. menunjukkan bahwa gender merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam proses konseptualisasi. apakah laki-laki atau perempuan lebih baik dalam belajar matematika (Hightower. Oleh karena proses konseptualisasi berpengaruh dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Pinto (1998). Keitel (1998) menyatakan. Bagian kedua adalah jenis intuisi yang disampaikan oleh Poincare. and cultural dimensions are very powerfully interacting in conceptualizations of mathematics education. Ditemukan bahwa perbedaan gender tidak berperan dalam kesuksesan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor gender mempengaruhi intuisi siswa dalam mecahkan masalah matematika. dan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa berpengaruh pada pemecahan masalah matematika. Berdasarkan hal-hal tersebut dipandang penting untuk mengetahui penggunaan intuisi untuk menyelesaian masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. tentunya berkaitan erat dengan tahap-tahap pemecahan masalah yang dilakukan. akan muncul ketika berusaha keras untuk memecahkan masalah yang berupa ide global. 2) Intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. self evident.W. 3) Intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara real. dengan coba-coba atau contoh-contoh. Dari perbedaan psikologis dan biologis. proses pemecahan masalah matematika. Di samping itu banyak fakta bahwa beberapa perempuan sukses dalam karir matematikanya.Adanya pengaruh faktor gender dalam proses konseptualisasi menunjukkan bahwa gender berpengaruh dalam memahami konsep-konsep matematika dan dalam memahami konsep-konsep matematika membutuhkan peran intuisi. Sebagai contoh..

yaitu peneliti mewawancarai subjek dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas. (2) melakukan paparan data hasil wawancara-1. terkadang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. kemudian siswa ke-1tersebut memberikan satu potong dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-2. (5) melakukan pembandingan hasil paparan data wawancara pertama dan kedua. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sragen. Tentukan banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan memotong-motong kertas tersebut! Data dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan subyek penelitian. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut hanyalah suatu sarana yang membantu untuk memudahkan dalam memecahkan masalah. kemudian siswa ke-3 juga memotong-motongnya menjadi 10 potongan dan memberikan selembar kertas dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-4. observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dikaji karakteristik intuisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya. Walaupun siswa menguasai langkah-langkah penyelesaian masalah. Permainan memotong-motong kertas ini dilakukan sampai jumlah potongan kertas seluruhnya menjadi 352 potongan. Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam pemecahan masalah. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda. yaitu dengan triangulasi waktu. Langkah-langkah triangulasi waktu pada penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada subjek penelitian dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah-1. Dengan tugas pemecahan masalahh sebagai berikut: Pada suatu kelas diadakan permainan memotong-motong kertas dengan gunting. Dalam penelitian ini untuk memenuhi kredibilitas data dilakukan dengan wawancara secara tekun. (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah2 (setara dengan lembar tugas pemecahan masalah-1) dengan subjek penelitian yang sama dan dalam waktu yang berbeda. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah tersebut akan selalu mampu memecahkan masalah matematika. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. Berkaitan dengan uraian di atas. (4) melakukan paparan data hasil wawancara-2. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis tugas. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. dan S2PR (siswa perempuan). maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah. maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan karakteristik intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan matematika. Selain itu. Menurut Sugiono (2011) waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. maka subjek penelitian ini adalah S1LK (siswa laki-laki). Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. peneliti berada di sekolah dan mengamati kegiatan subjek dalam waktu yang cukup. METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. namun diambil berdasarkan pertimbangan guru matematikanya. (6) bila pembandingan 32 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Selanjutnya siswa ke-2 memotong-motong kertas menjadi 10 potong dan memberikan selembar kertas dari 10 potong kepada siswa ke-3. Subjek dipilih tidak secara acak. Permainan tersebut dimulai dengan salah seorang siswa (siswa ke-1) melakukan kegiatan memotong-motong selembar kertas menjadi 10 potong.

Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Selanjutnya. Hal ini terlihat dari jawaban S1LK yang langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tanpa melakukan misalnya. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah dalam membuat rencana penyelesaian. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi antisipatori. Selain itu dari jawaban subjek menunjukkan bahwa subjek akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata yang tertulis dalam teks soal. Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. d. b. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah mencermati teks soal. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. sehingga subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi. c. sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan lembar tugas pemecahan masalah yang setara. Di samping itu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama maka dikatakan data tersebut valid. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memahami masalah adalah subjek S1LK tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. Ungkapan dari subjek memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan rumus barisan. dengan membuat gambar Dengan demikian subjek S1LK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal tanpa melakukan upaya tertentu untuk membantu memperjelas pemahaman masalah. maka intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Karakteritik Intuisi Subjek Laki-laki (S1LK) a. Karena munculnya pemikiran pada subjek S1LK menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. subjek S1LK mencoba akan menggunakan rumus. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S1LK dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 33 . dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. b. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan kognisi segera. dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua hasil wawancara yang sama. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. misalnya dengan membuat ilustrasi atau gambar. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil analisis wawancara akan digunakan untuk mengetahui karakteristik setiap tingkat berpikir kreatif siswa dan proses berpikirnya.

Karakteristik Intuisi Subjek Perempuan (S2PR) a. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memahami masalah adalah dalam memahami masalah adalah tidak secara langsung dari teks. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 c. Hal tersebut dapat diperhatikan dari hasil wawancara bahwa subjek S1LK langsung mengerjakan berdasarkan rumus barisan. subjek S1LK tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. tidak ada intuisi yang digunakan. Selain itu subjek tidak melakukan upaya lain. Dengan demikian subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran biasa yang dapat dikatakan sebagai kognisi formal. Di samping itu berdasarkan hasil wawancara memberikan penjelasan bahwa jawaban yang diberikan oleh subjek S1LK adalah benar. Subjek sudah cukup merasa yakin bahwa apa yang dilakukan sudah benar. subjek S1LK langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya. bahwa dari soal kelihatan ada pola dan ada beda yang disimpulkan subjek sebagai rumus barisan. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana penyelesaian adalah langsung menggunakan rumus dan subjek S1LK sudah yakin akan rumus yang digunakan. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut bukan merupakan kognisi segera. Walaupun subjek mengatakan sudah tahu maksud soal. Hasil jawaban subjek S1LK menunjukkan langkah dan hasil yang benar. diperolehnya rumus barisan. Dari hasil wawancara. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana. yaitu Un = a + (n-1)b. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. yaitu dengan membuat ilustrasi gambar. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut adalah menggunakan kognisi formal. ungkapan subjek S1LK dengan kalimat mengulangi dalam menjawab yang dimaksudkan adalah memeriksa jawaban langkah demi langkah. Subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara analitik. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Subjek tidak terpancing dengan pertanyaan peneliti untuk melakukan cara lain. nampak bahwa tidak ada pemikiran dari subjek S1LK yang berupa kognisi segera. Dari hasil wawancara. Selain itu.. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek S2PR memerlukan upaya menggambar terlebih dahulu dalam memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. Dengan demikian subjek S2PR melakukan upaya tertentu untuk memperjelas dalam memahami soal. Subjek hanya mendasarkan dari teks soal. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam 34 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . namun subjek merasa bahwa gambar diperlukan dalam memperjelas pemahaman akan soal. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. d. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S1LK langsung menulis rumusnya. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dilakukan dengan langsung mengulangi cara menjawab. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Intuisi yang digunakan untuk memeriksa jawaban Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan cara mengulangi dalam menjawab. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian.

Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. Disamping itu dan juga subjek merasakan pernah mendapati masalah serupa yang diselesaikan menggunakan rumus barisan. walaupun subjek S2PR merasa tidak begitu ingat seperti yang diungapkan . yaitu dengan mencermati gambar. subjek hanya tahu bahwa rumus barisan diperoleh dengan mencermati teks soal. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. c. Subjek S2PR tidak menjelaskan secara matematis diperolehnya rumus yang merupakan rumus barisan aritmetika. sehingga subjek S2PR tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Selanjutnya. pada subjek S2PR langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya dan sesuai dengan apa yang direncanakan. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 35 . Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah menginterpretasi teks soal.A10 memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan deret. karena subjek mencoba mencermati teks soal. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. Subjek S2PR dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu. Dari uraian di atas memberikan penjelasan bahwa yang dilakukan subjek S2PR dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S2PR dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. Disamping itu. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. subjek S2PR mencoba akan menggunakan rumus. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian. yaitu Un = a + (n-1)b. maka intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian masalah adalah begitu memahami soal maka terpikir menggunakan rumus dan penggunaan rumus barisan didasarkan pada apa yang telah pernah ia lakukan. Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah. Munculnya penggunaan rumus. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi antisipatori. Dari hasil wawancara. namun dengan ingatan yang tidak penuh tersebut subjek S2PR memutuskan menggunakan rumus barisan untuk membuat rencana penyelesaian. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang bersifat global. Subjek menggunakan a = 1 sehingga diperoleh n = 40. b. karena dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal dan dari ingatan yang tidak penuh. Karena munculnya pemikiran pada subjek S2PR menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan kognisi segera.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memahami masalah dilakukan dengan menggunakan gambar untuk memperjelas maksud soal. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memahami masalah tidak menggunakan intuisi. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa jawaban subjek S2PR adalah benar. Ungkapan dari subjek pada S2PR. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S2PR langsung menulis rumusnya.

Dari jawaban subjek S2PR. dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. tidak ada intuisi yang digunakan.A. dalam membuat rencana penyelesaian. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S2PR dengan cara mengulangi dalam menjawab. 2.A. Selain itu. 1. yaitu pada S2PR. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Oleh karena itu guru matematika dalam membelajarkan pemecahan masalah matematika perlu memperhatikan perbedaan gender. Oleh karena itu guru perlu melatih siswa perempuan agar dapat menggunakan intuisinya dalam memecahkan masalah matematika. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Misalnya dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki menggunakan intuisi dalam memahami masalah. d. Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah. Saran-saran Untuk Perbaikan Pembelajaran Matematika a. nampak bahwa subjek S2PR langsung menulis rumusnya. 36 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau perbedaan gender. sedangkan siswa perempuan tidak menggunakan dalam memahami masalah matematika. tidak menggunakan intuisi.35 menunjukkan bahwa subjek S2PR sangat yakin akan apa yang dilakukan adalah benar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S2PR dalam melaksanakan rencana. Subjek melakukan dengan mengamati kembali apa yang telah dilakukannya. Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal. SARAN Berdasarkan simpulan hasil penelitian maka direkomendasikan beberapa hal berikut. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah.34 dan S2PR. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut adalah menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. dalam membuat rencana penyelesaian. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera. Selain itu subjek S2PR tidak melakukan upaya lain. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. subjek S2PR tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Sehingga tidak ada pemikiran dari subjek S2PR yang berupa kognisi segera. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan langsung mengulangi dalam menjawab. Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut bukan merupakan kognisi segera. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. yaitu Un = a + (n1)b. Subjek S2PR juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah.

Unpublished Dissertation. Intuitively based Misconseptions. E. C. 2004. b. W. 1988. 1997. 1987.L.S”. 2001. Polya. Proses Kognitif. Song. Bandung: Alfabeta Susento. M.1996. Winkelmann (Eds. Christine. 1988. sehingga diperoleh karakteristik intuisi dalam memecahkan masalah yang lebih variatif dan lengkap. Disertasi tak Dipublikasikan. 25. Warwick University. E. Class. 1997. 52-73. & Schnarch. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. dirasa masih kurang. R. & B. Intuition in Science and Mathematics. Sugiyono. 2005. Kualitatif dan R & D). Fischbein. Bandung: Remaja Rosdakarya Pinto. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 37 . Princeton and Oxford: Princeton University Press. “The Interaction between the Formal. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeksplorasi intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika.. “Students’ Understanding of Real Analysis”.J. K.). “College Students’ Intuitive Understanding of the Concept of Limit and Their Level of Reverse Thinking”. 187-203. Keitel. The Ohio State University. “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. Saran-saran Untuk Penelitian Relevan a.. “An Introduction: Social Justice and Mathematics Education: Gender. How to Solve It.. S. Scholz. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuaantitatif. Zheng Zhu 2007. Reidel. ‘Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’. “Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis. 1994. M. Reis. E. “Gender Differences in High-Achieving Students in Math and Science”.11–50. 2007. H. In Christine Keitel (Ed). 8(2). 38. BI Norwegian School of Management. 2003. Perlu pembiasaan pembelajaran pemecahan masalah dengan menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah misalnya dengan menggunakan tahap pemecahan masalah dari Polya. “Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning”. Ethnicity and the Politics of Schooling”. 2011. & Richardson. Grossman. E. Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. L. Penelitian ini dilihat dari kedalaman hasil. 2.K. UNESA Surabaya. 73. Metodologi Penelitian Kualitatif. In R. Henden. S. Review of Educational Research. “Do Mathematical Gender Differencess Continue? A Longitudinal Study of Gender Difference and Excellence in Mathematics Performance in The U.231245). Biehler. Dordrecht: D. International Education Journal. Dissertation. Educational Studies in Mathematics. A. & Park. R. Hightower. Vol No. 1973. (1999). 2007. Peneliti lanjutan hendaknya dapat menggunakan tinjauan teori intuisi selain yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare. Journal for Reasearch in Teacher and Mathematics Education.S. A New Aspect of Mathematical Method. oleh sebab itu disarankan para peneliti lanjutan untuk mepertajam fokus penelitian. Social Justice and Mathematics Education. 40. Journal For Education of The Gifted. dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing”. E. Berlin Freie Universitat Berlin. “The “Boy-Turn” in Research on Gender and Education”. 279-295. 27–47 Fischbein. 2006. Moleong. misalnya hanya diteliti untuk salah satu tahap pemecahan masalah dari .W. Journal of American Educational Studies Association. Fischbein.Educational Studies in Mathematics 34. Roh. D.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 b. Gender differences in mathematical problem solving. The Evolution With Age of Probabilistic. Fischbein. Sträßer.I. 471-498. Vol 28. Unpublished PhD Thesis. DAFTAR PUSTAKA Ding. G. Fischbein. the Algorithmic. G.

Pada ke tiga tahap selanjutnya ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian kualitatif eksploratif dengan tahapan sebagai berikut. Pembuktian 38 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah tingkat aktivitas metakognisis mereka berada pada tingkat kemampuan analisis kurang. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. Kata kunci: Aktivitas.com Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap tentang aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian dalam matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari kemampuan di bidang analisis. Mahasiswa yang tidak memahami konsep pembuktian tidak langsung (pembuktian dengan kontradiksi). siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah pada saat menyelesaikan masalah pembuktian secara langsung walaupun tidak secara lengkap namun telah melakukan aktivitas metakognisi. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah hanya melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. maka akan kesulitan untuk menentukan langkah serta penyelesaian masalah. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini terlihat bahwa siswa yang kelompok kemampuan analisis rendah. Secara lebih spesifik. tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui: Aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. dan pembuktian dengan kontradiksi. (2) Sedangkan mahasiswa yang berada pada tingkat kemampuan analisis sedang. pembuktian dengan kontraposisi. Mahasiswa yang menempati tingkat kemampuan analisis sedang atau tinggi sudah memahami konsep tentang pembuktian langsung.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AKTIVITAS METAKOGNISI MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PEMBUKTIAN Gatut Iswahyudi Prodi Pendidikan Matematika. merencanakan tindakan dan melaksanakan tindakan. Metakognisi. (2) Dilakukan penelitian terhadap subyek terpilih dengan metode think aloud dan retrospeksi untuk mendapatkan data tentang aktivitas metakognisi. Di pihak lain. (1) Dilakukan pra penelitian dan penyusunan instrumen penelitian yang disertai validasi terhadap instrumen tersebut. Hasil Penelitian ini adalah. Namun pada tahap selanjutnya yaitu tahap melakukan evaluasi ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. aktivitas metakognisi muncul pada setiap tahap penyelesaian masalah Polya baik pada pemecahan masalah pembuktian langsung maupun pembuktian secara tidak langsung. FKIP UNS Surakarta Email : gatutis_wahyudi@yahoo. mereka mampu menggunakan dan menerapkan strategi generatif yang memungkinkan mendaftar secara lengkap data-data yang akan digunakan dalam memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun secara tidak langsung. melaksanakan rencana dan mengevaluasinya. (1) Siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah secara umum tidak melakukan aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. sehingga siswa akan mampu mendaftar secara lengkap semua hasil yang mungkin dari suatu masalah. Di pihak lain pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung tampak bahwa pada setiap tahap pemecahan masalah Polya muncul aktivitas metakognisi. (3) Pada mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi. Pengetahuan mahasiswa tentang cara menganalisis suatu masalah tentu akan membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian yang dimulai dengan perencanaan yang baik. (3) Melalui pengkajian mendalam akan disusun teori metakognisi yang terkait dengan masalah pembuktian ditinjau kemampuan dalam bidang analisis.

siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya antara lain membangun pengetahuan matematika yang baru. Diantara masalah tersebut. kemampuan mengaplikasi. 2008). 1979. kemampuan memahami. pemantauan. keterampilan dan membentuk sikap. Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 39 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PENDAHULUAN Pada hakekatnya. Sehingga meneliti karakteristik seseorang berdasarkan kemampuan analisis yang dimilikinya perlu dilakukan. guru sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah. Terkait dengan masalah dalam matematika. khususnya dalam memecahkan masalah pembuktian. dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh siswa pada semua tingkat pendidikan. Jenis-jenis pembuktian yang termasuk pembuktian tidak langsung adalah pembuktian dengan kontradiksi dan pembuktian dengan kontraposisi. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam pemecahan masalah serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell. Proses berpikir dalam pemecahan masalah merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian guru terutama untuk membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika. masalah membuktikan merupakan bagian yang sangat penting dalam matematika Didasarkan pada metode yang digunakan. memecahkan masalah dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan matematika. 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan pemecahan masalah dalam matematika adalah tidak untuk melengkapi siswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses. Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas. kemampuan analisis seseorang mempunyai peran yang penting dalam menunjang keberhasilan belajar matematika. dan pembuktian tidak langsung. Berpikir tentang dirinya sendiri berkaitan dengan kesadaran siswa terhadap kemampuannya untuk mengembangkan berbagai cara yang mungkin ditempuh dalam memecahkan masalah. dan merefleksikan proses pemecahan masalah matematika (Pearson Learning Group. Kemampuan analisis merupakan kemampuan tingkat ke-4 dalam taksonomi Bloom. O’Malley dan Spanos. Pengetahuan. pembuktian dalam matematika dapat dikelompokkan pembuktian langsung. dan bertanya kepada diri sendiri tentang masalah tersebut (Gartman dan Freiberg. Panaoura dan Philippou. Dale. Dalam dimensi proses kognitif. 1992). kemampuan mengevaluasi dan kreativitas. yang berturut-turut adalah kemampuan mengingat. Melalui pemecahan masalah matematika. menerapkan berbagai strategi yang diperlukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg. kemampuan menganalisis. Guru dalam hal ini dapat mendorong siswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. 1993). dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot. ketrampilan dan terbentuknya sikap tersebut tentu hanya akan dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang tepat. tetapi lebih kepada memungkinkan siswa berpikir tentang dirinya sendiri. memilih strategi yang digunakan untuk menemukan pemecahan. Beberapa cara pembuktian lain dalam matematika adalah pembuktikan dengan induksi matematika. Agar guru dapat membangkitkan kemampuan metakognisi siswa. Salah satu bentuk proses pembelajaran yang tepat adalah dengan memanfaatkan proses pemecahan masalah. dikenal sebagai metakognisi. proses belajar matematika merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan. Proses menyadari dan mengatur berpikir siswa sendiri tersebut. pembuktian dengan contoh penyangkal. termasuk didalamnya adalah berpikir tentang bagaimana siswa membuat pendekatan terhadap masalah. Masalah menemukan adalah suatu jenis masalah yang tujuannya akan dicari dan prosesnya diperlukan. 2005). Masalah membuktikan adalah masalah yang tujuannya sudah ditentukan tetapi prosesnya diperlukan. Siswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan. masalah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu masalah menemukan (to find) dan masalah membuktikan (to prove).

Livingston. bila orang itu telah mengetahui cara atau proses mendapatkan pemecahan masalah tersebut. 2006). 2004). 2006). Demikian pula suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang pada suatu saat. pemantauan. dan memantau aktivitas kognitif metacognition as an awareness of one’s own cognitive activity. metakognisi cakupannya dibatasi pada tiga komponen yaitu perencanaan. pemantauan. Berdasarkan definisi di atas. Brown mendefinisikan metakognisi sebagai suatu kesadaran terhadap aktifitas kognisi seseorang. metode yang digunakan untuk mengatur proses kognisi seseorang dan suatu penguasaan terhadap bagaimana mengarahkan. diantaranya oleh Flavell dan Brown. 1992. Berdasarkan uraian di atas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dikemukakan di atas. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Stanic & Kilpatrick (1988: 15) mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukan di waktu sebelumnya. Pada penerapannya. abstrak atau konkrit. Terdapat beberapa definisi tentang metakognisi yang berkembang dalam bidang psikologi kognitif. penulis mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan untuk menyadari kognisi sendiri dan kemampuan mengatur proses kognisi sendiri. Ini menunjukkan bahwa suatu tugas merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu. Ketiga kompunen ini merupakan satu rangkaian dan saling terkait dalam aktivitas metakognisi. maka diajukan pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana proses metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. plans. tetapi bukan merupakan masalah lagi bagi orang itu pada saat berikutnya. Khusus dalam pemecahan masalah matematika. Bagian utama dari masalah menemukan antara lain: apa yang dicari? Apa saja data yang diketahui? bagaimana syaratnya? Sedangkan masalah membuktikan merupakan masalah untuk menunjukkan apakah suatu pernyataan benar atau salah. berkaitan dengan aktifitas dan keterampilan berhubungan dengan perencanaan. Masalah untuk menemukan merupakan suatu masalah teoretis atau praktis. Artinya suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang. salah satu yang banyak dirujuk adalah pentahapan oleh Polya (1973).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 kepada para guru atau calon guru tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan dalam memecahkan masalah matematika secara umum dan secara khusus dalam memecahkan masalah pembuktian. masalah terbagi menjadi dua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan apakah pernyataan itu benar atau salah? Bagian utama dari masalah ini adalah hipotesis dan konklusi suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Menurut Polya (1973). and a command of how one directs. evaluasi dan perbaikan kemampuan bekerja (performa). dan masalah membuktikan (problem to prove). tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi orang lain. KAJIAN TEORI Pengertian Metakognisi Secara sederhana metakognisi didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi tentang kognisi seseorang (Nelson. 1997. atau tidak keduanya. Kirsh (2004) mengemukakan bahwa metakognisi khususnya dalam bidang pendidikan. Flavell mendefinisikan: metakognisi sebagai kemampuan untuk mengerti dan memantau berpikir sendiri dan asumsi serta implikasi dari kegiatan seseorang. dan refleksi. metacognition as the ability to understand and monitor one’s own thoughts and the assumptions and implications of one’s activities (Lee dan Baylor. yaitu “untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. merencanakan. yang mengemukakan empat tahapan penting yang perlu dilakukan yaitu: 40 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sementara itu. yaitu masalah menemukan (problem to find). and monitors cognitive activity (Lee dan Baylor. the methods employed to regulate one’s own cognitive processes. Pada penelitian ini. Gama.

Pengkategorian aktivitas metakognisi didasarkan pada suatu tabel aktivitas metakognisi yang disusun dengan mengadopsi tabel serupa yang dikemukakan NCREL (1995) dipadukan dengan yang dikemukakan oleh Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) dengan melakukan modifikasi sesuai situasi pemecahan masalah yang dilaksanakan. Proses metakognisi dimaksudkan sebagai rangkaian aktifitas metakognisi yang dilakukan peserta didik ketika memecahkan masalah. 2. Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) mengelompokkan aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah matematika terdiri atas (1) perencanaan (planning). apa saja data yang tersedia. Memikirkan tentang pengetahuan yang dapat membantu dalam memahami masalah 2. Selanjutnya NCREL menyebut tiga tahap tersebut sebagai tahap sebelum. Tabel 1 Aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan dengan langkah yang diusulkan oleh Polya Pemecahan masalah menurut Polya Memahami masalah dengan mengidentifika si dan mengkla sifikasi masalah Aktivitas Metakognisi Kode Bagian Awal (Before) 1. Tahap ini merupakan tahap melaksanakan tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. 3.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 1. Melaksanakan rencana (carrying out the plan) termasuk memeriksa setiap langkah pemecahan. Tahap ini merupakan tahap memahami masalah dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah. Berikut ini disajikan tabel aktivitas metakognisi tersebut. apa syaratsyaratnya. Dalam penelitian ini. (2) pemantauan (monitoring). (2) bagian inti. dan (3) tahap pemeriksaan (evaluation the plan action). Sejalan dengan pandangan Brown. Memikirkan tentang lama waktu yang anda MMAW1 MMAW2 MMAW3 MMAW 4 MMWA Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 41 . Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematika Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat proses metakognisi dalam pemecahan masalah matematika. (2) tahap pemantauan (monitoring the plan of action). selama dan sesudah. Tahap ini merupakan tahap mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. dan membangun alternatif penyelesaian. dengan memilih fokus pada proses metakognisi yang dilakukan mahasiswa calon guru ketika memecahkan masalah pembuktian. Memahami masalah (understanding the problem) meliputi mengerti berbagai hal yang ada pada masalah seperti apa yang tidak diketahui. dan sebagainya. Memikirkan rencana (devising a plan) meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahui. terkait dengan adanya istilah yang hampir sama maka tiga tahap aktivitas metakognisi ini disebut sebagai (1) bagian awal. 4. Memikirkan tentang arah/tujuan dalam memahami masalah 3. dan sebagainya. Memeriksa kembali jawaban (looking back) meliputi pengujian terhadap pemecahan yang dihasilkan. dan (3) bagian akhir. Memikirkan tentang apa yang dipahami merupakan bagian yang penting dalam rangka memahami masalah 5. Demikian juga NCREL (1995) mengelompokkan metakognisi ke dalam tiga elemen dasar yaitu (1) tahap pengembangan rencana (developing a plan of action). Memikirkan tentang langkah-langkah dalam memahami masalah ( Memikirkan apa yang pertama kali harus dilakukan) 4. apakah langkah yang dilakukan sudah benar atau dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar. Tahap ini merupakan tahap memikirkan rencana tindakan. dan (3) refleksi (reflection). apakah syarat tersebut cukup untuk menentukan hal yang tidak diketahui.

Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam merencanakan pemecahan masalah 5 MMIT1 MMIT2 MMIT3 MMIT4 MMIT5 MMIT6 MMAK1 MMAK2 MMAK3 MMAK4 MMAK5 MRAW1 MRAW2 MRAW3 MRAW4 MRAW5 Bagian Inti (During) 1. Merasa dapat menerapkan cara pemahaman masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar bahwa cara pemahaman masalah yang dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang pengetahuan apa saja yang diperlukan dalam merencanakan pemecahan masalah ini 2. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum merencanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar bahwa sudah merasa berada pada jalan yang benar saat memahami masalah. Sadar atas ketepatan cara dan langkah pemahaman masalah dilakukan 2. 3. Sadar tentang langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan pemahaman terhadap masalah yang diberikan 4. Memikirkan tentang apa yang dilakukan pada saat memahami masalah 2. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam memahami masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar tentang perlunya kembali pada tahap awal dalam memahami masalah Memikirkan rencana tindakan dan membangun alternatif penyelesaian Bagian Awal (Before) 1. Sadar bahwa dalam merencanakan pemecahan masalah harus ditemukan definisi-definisi maupun teorema-teorema yang terkait dengan masalah itu 2. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat MRIT1 merencanakan pemecahan masalah. Sadar tentang arah dari apa yang direncanakan (telah menemukapaan hubungan antara data-data (konsepkonsep) yang tidak diketahui dengan data-data (konsep-konsep) yang diketahui 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam memahami masalah Bagian Akhir (After) 1. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah 5. Merasa dapat melakukan langkah pemahaman terhadap masalah dengan cara berbeda 4.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pergunakan dalam memahami masalah Bagian Inti (During) 1. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan MRIT2 42 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar tentang informasi penting yang harus diingat 5.

Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan setelah menemukan definisi-definisi maupun teoremateorema yang terkait dengan masalah itu 4. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus PRIT3 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 43 . Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan pemecahan masalah MRIT3 MRIT4 MRIT5 MRIT6 MRAK1 MRAK2 MRAK3 MRAK4 MRAK5 PRAW1 PRAW2 PRAW3 PRAW4 PRAW5 Bagian Inti (During) 1. 2. sadar sudah memperhitungkan atau melibatkan semua hal yang penting yang terkandung dalam masalah ini 3. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan PRIT2 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar akan ketepatan langkah perencanaan pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat merencanakan pemecahan masalah 5. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam merencanakan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan dengan memilih untuk membantu melaksanakan rencana tindakan strategi pemecahan masalah yang diberikan penyelesaian 2. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar merasa telah melakukan langkah perencanaan pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam merencanakan pemecahan masalah ini Melaksanakan Bagian Awal (Before) rencana tindakan 1. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat PRIT1 melaksanakan rencana pemecahan masalah. Merasa dapat menerapkan cara perencanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5.

Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah 2. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar merasa telah melakukan langkah pelaksanaan rencana pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Berpikir tentang hal lain yang terkait dengan evaluasi pelaksanaan pemecahan masalah 5. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk membantu melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dilakukan 4. Sadar bahwa pada saat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah PRIT4 PRIT5 PRIT6 PRAK1 PRAK2 PRAK3 PRAK4 PRAK5 EPAW1 EPAW2 EPAW3 EPAW4 EPAW5 EPIT1 EPIT2 EPIT3 EPIT4 44 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan 4. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan rencana pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu.

Penjenjangan Proses Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Kategori Proses Metakognisi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Indikator 80%X100% 60%X<80% 40%X<60% 20%X<40 0%X<20 Keterangan : X= Prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi dari subjek penelitian pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah Bagian Akhir(After) 1. Ungkapan-ungkapan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 45 . Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah yang dilakukan 2. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan EPIT5 EPIT6 EPAK1 EPAK2 EPAK3 EPAK4 EPAK5 Berdasarkan deskripsi aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika dengan langkah yang diusulkan oleh Polya tersebut diatas disusun penjenjangan proses metakognisi pada pemecahan masalah pembuktian. Dalam hal ini proses metakognisi dibagi dalam empat jenjang berdasarkan prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Terkait dengan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal berdasarkan tahap-tahap pemecahan masalah Polya. METODE PENELITIAN Penelitian ini mendiskripsikan proses metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkahlangkah Polya dengan mengungkap secara mendalam respon siswa. Tabel 2. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Mahasiswa diberi soal tentang masalah pembuktian. Soal terdiri dari satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian langsung dan satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian tidak langsung. Sadar merasa dapat melakukan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. selanjutnya pada akhir tiap tahap dilakukan wawancara untuk mengungkap aktivitas metakognisi pada tahap tersebut. Dalam mengerjakan soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Penjenjangan proses metakognisi yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut. Sadar bahwa evaluasi dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3.

MMIT5. Prosedur pengumpulan data diakukan dengan cara subyek diberi lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. MMIT4 . pemusatan perhatian. pengamatan dan wawancara dapat dilihat karakteristik metakognisi siswa. MRAW5. MMIT1. penyederhanaan. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas penyelesaian masalah matematika. Dari hasil pekerjaan siswa. MMAW3. dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut (Moleong. MRIT2. analisis. Pemecahan Masalah Menurut Polya Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah Ciri yang teramati MMAW1. Data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dan disusun transkip wawancara tersebut untuk selanjutnya dilakukan analisis terkait dengan aktivitas metakognisi yang dilakukan. kemudian untuk setiap tahapan dalam meyelesaikan masalah berdasarkan tahapan Polya diadakan wawancara untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan. maka 80  X  100 . Analisis data penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil wawancara. Subyek penelitian adalah Mahasiswa . 46 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang disampaikan berupa kata-kata. MRAW4. MRAW6. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut). MRAK2. penafsir data. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika. Instrumen lembar tugas ini divalidasi oleh ahli. MRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian adalah sebagai berikut. MMAW5. pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan). pelaksana pengumpul data. Adapun kriteria kemampuan analisis tinggi adalah rataan skor prestasi belajar matakuliah kelompok analisis yang telah ditempuhnya lebih besar atau sama dengan 80 dalam skala 100. MRAK1. memaparkan data (meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. Sehingga jika X menyatakan rataan skor prestasi belajar siswa berkemampuan analisi tinggi. HASIL PENELITIAN Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah adalah sebagai berikut. MRIT1. dan pedoman wawancara. dan akhirnya sekaligus menjadi pelapor hasil penelitian. MMAK3 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Tahap memikirkan rencana tindakan. Pemecahan masalah menurut Polya Tahap memikirkan rencana tindakan. yang terdiri atas satu orang ahli pendidikan matematika dan satu orang ahli dalam bidang matematika kelompok bidang analisis. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran metakognisi siswa. maka penelitian ini bersifat kualitatif. MMIT3 . Mahasiswa yang dipilih sebagai subyek adalah mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Analisis real I. MMAW2. Sedangkan instrumen lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. dengan cara mereduksi data (yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. membangun alternatif penyelesaian Ciri yang teramati MRAW1. Dalam hal ini peneliti merupakan perencana. MMIT2 . MRIT4. Sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif-eksploratif. MMAK2. membangun alternatif penyelesaian adalah sebagai berikut. 2003). MMAW4.

Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. 56. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian.25%. dan 62. dan 68%. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 60. Secara umum keterlaksanaan aktivitas metakognisi yang dilakukan mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi ketika memecahkan masalah pembuktian langsung.77%. sehingga berada pada kategori baik. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah.19%.5%.5%. PRIT1. 62.25%. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. cukup dan baik. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. EPIT6. cukup memadai. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. 75%. 50%. EPIT5. 68. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. 4. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%.5%. cukup memadai. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. PRAW3. sehingga berada pada kategori baik. EPIT3. EPAK5 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 47 . sehingga berada pada kategori baik.5%. 3. dan 68%. cukup memadai. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. dan 62.25%. 75%.5%. 2. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. 62.75%.94%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. sehingga berada pada kategori baik. cukup memadai. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. 62. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 69.77%. PRAW4. cukup. EPAK4. Ciri yang teramati EPAW1. Pemecahan masalah menurut Polya Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik KESIMPULAN 1. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. PRAK1. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. PRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik adalah sebagai berikut. Secara keseluruhan tahap pemecahan masalah diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pemecahan masalah menurut Polya Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian Ciri yang teramati PRAW1. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. sehingga berturut-turut berada pada karegori baik. adalah sebagai berikut. EPAW2.

buffalo. Metacognition.cy.htm Panaoura. 2005. Second Edition.net.. Flavell. A. The Measurement of Young Pupils’ Metacognitive Ability in Mathematics: The Case of Self-Representation and Self-Evaluation. Virginia. www. 2003..5%. dan 37. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Yogyakarta Livingstone. 2008. (Ed). A. in Nelson. How To Solve It. T. 37.iinet..gse. sehingga seluruhnya berada pada kategori kurang.. E.5%. Download tanggal 12 November 2007 Panaoura. Soedjadi.. Proceedings of the International Conference. A. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. and Philippou.ucy. R. G. J. UAD. O.5%.. G. 31. 2004.. Young Pupils’ Metacognitive Abilities in Mathematics in Relation to Working Memory and Processing Efficiency. Integrating Metacognition Instruction in Interactive Learning Environment... Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah.. A. University of Sussex Julan Hernadi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Metacognition and Cognitive Monitoring. 1973. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. The Mathematics Education into the 21st Century Project. 1980. Problem Solving in School Mathematics.81%. R. 2004.1 NCREL. 1992. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung.. http://www. Intervention Research: A Tool for Bridging the Theory – Practice Gap in Mathematics Education. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian langsung.ucy. sehingga berada pada kategori kurang. New Jersey.25%. 2000. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. DAFTAR PUSTAKA De Corte. and Philippou.Learning to learn http://members. belum memadai.5%. belum memadai. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 31.ac. 1997. 1979. H.5%. Schoenfeld.5%.au/metacognition. dan Reys.Thinking about thinking . Metacognition . Gama. sehingga berada pada kategori kurang. dalam Krulik S. Metacognition: An Overview.ac. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Metode Pembuktian dalam Matematika. G. Download tanggal 12 November 2007. T. NCTM. 37. (1995). 31. E. Polya. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 32. Boston. Heuristic in the Class Room. Brno Czech Republic. sehingga masing-masing berada pada kategori kurang.cy. Core Readings.. H. www. Boston. Metacognition. Allyn and Bacon. Allyn and Bacon. 6. O. Jakarta. A. A New Area of Cognitive – Developmental Inquiry. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 48 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . D. J. dan 37. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.html Nelson. Phil Dissertation. (Ed). C. Princeton University Press. 1992. Princeton. 1. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%..edu/fos/shuel/ cep564/metacog.

(2) Terdapat pengaruh keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika.53) lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah (6. proses pembelajaran akan berpusat pada peserta didik dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dari 10. (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora (6. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. keingintahuan. pemerintah mendorong pelaksanaan inovasi pembelajaran matematika yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. keingintahuan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KEINGINTAHUAN DAN GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK SMP DI KABUPATEN BLORA Agung Putra Wijaya1. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP di Kabupaten Blora. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme pada pembelajaran matematika diduga berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan awal matematika.77%) yang memperoleh nilai matematika di bawah rerata.29). terdapat 3. tes gaya kognitif (GEFT). Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett.006 peserta ujian nasional SMP di Kabupaten Blora pada tahun pelajaran 2009/2010. diperoleh simpulan bahwa (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika. Mardiyana2. dan tes prestasi belajar matematika. (3) Terdapat pengaruh gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. mata pelajaran matematika bagi peserta didik SMP di Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 49 . yang akan membantu peserta didik dalam mengkonstruksi pemahamannya sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan. Berdasarkan laporan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 tersebut.779 peserta didik (sekitar 37. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3x2. Inovasi pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan tantangan belajar sesuai kemampuan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual peserta didik.73) maupun nasional (7. Hanya saja. dan gaya kognitif. diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. Dengan α = 0.05. (6) Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. PENDAHULUAN Sejalan dengan paradigma baru pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Dengan demikian. Suyono2 1) Program Studi Magister Pendidikan Matematika 2) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran. angket keingintahuan. Uji keseimbangan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal yang seimbang. Selain itu. (7) Terdapat interaksi antara model pembelajaran. (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. pelaksanaan inovasi pembelajaran tersebut terganjal dengan masih lemahnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.

Metode tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan 50 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. Selain itu. diantaranya keingintahuan dan gaya kognitif. a. b. Kesulitan-kesulitan tersebut hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan peserta didik lain atau guru matematika yang mengajar. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. sebagian besar guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. Sampel. maupun rendah. guru harus cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah dan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian di SMP yang telah terpilih. Sampling dilakukan menggunakan teknik stratified cluster random sampling sedemikian sehingga terpilih sampel penelitian sebagai berikut. sedang. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian meliputi metode dokumentasi. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu. c bilangan bulat selain satu). mencatat. SMP Negeri 2 Blora dengan kelas VIII 3 sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII 5 sebagai kelas eksperimen dua. Populasi. dan Sampling Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik di 76 SMP yang ada di Kabupaten Blora. salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. yakni menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 (a. SMP Negeri 1 Cepu dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dua. peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya melalui diskusi kelompok. Selain model pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Kabupaten Blora ini merupakan mata pelajaran penyumbang angka ketidaklulusan terbesar kedua setelah mata pelajaran bahasa inggris. b. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. baik untuk kelompok tinggi. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai secara optimal. analisis daya serap hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 terhadap tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi pokok persamaan garis lurus. c. Melalui model pembelajaran kooperatif. Selama kegiatan pembelajaran guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas. menentukan persamaan garis pada sebuah grafik. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. diharapkan membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya terhadap konsep matematika sehingga prestasi belajar matematika peserta didik lebih optimal. dan mengerjakan latihan soal. SMP Muhammadiyah 1 Blora dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dua. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus dimungkinkan karena konsep tersebut belum benar-benar dikuasai oleh peserta didik. tes. sedangkan peserta didik hanya menyimak. Dengan mengetahui perbedaan kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif setiap peserta didik. menentukan grafik dari persamaan suatu garis menunjukkan bahwa penguasaan konsep persamaan garis lurus oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora masih rendah. Di antara banyak model pembelajaran. dan angket. Selain itu.

Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Keingintahuan Gaya Kog.6409 1279.0000 15.7462 27 52 100 75. Tabel 3. Tabel 1. Pemb.6924 9 72 96 83. Data Penelitian dan Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pokok persamaan garis lurus. Hasil uji keseimbangan menggunakan uji-t terhadap data kemampuan awal matematika peserta didik diperoleh simpulan bahwa populasi mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang.7283 14 44 84 64.5556 8.2818 1279.9017 3. B. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak.4706 14. Deskripsi Data Kemampuan Awal Matematika Peserta Didik Kelas Eksperimen Satu Eksperimen Dua n 84 84 Nilai Min 40 40 Nilai Maks 96 96 67.8519 12. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.9524 S 14.5714 13. Data Kemampuan Awal Matematika dan Uji Keseimbangan Berikut disajikan deskripsi data kemampuan awal matematika peserta didik.5000 10.0132 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.5147 Ftabel 3.0843 16.5238 66. N Nilai Min N H Nilai Maks T S N S Nilai Min T Nilai Maks A D S Tinggi FD 12 72 100 91. Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen.6239 FI 18 76 100 88. prestasi belajar matematika.0828 15.6692 dk 1 2 1 RK 1221.6692 Fhit 9.9017 Keputusan Uji H0A ditolak H0B ditolak H0C ditolak Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 51 .4000 11.4237 FI 10 52 88 72.8918 FI 6 84 100 94. terhadap data kemampuan awal maupun data prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett.2573 17 56 100 76.9125 9. Rangkuman Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Sumber A B C JK 1221. Mod.5455 11.0540 3.7207 9 56 80 67. Tabel 2. dan gaya kognitif peserta didik.1132 Rendah FD 16 48 84 60.7909 4549. HASIL PENELITIAN A. dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’.6667 9.0048 8 60 100 75. Sebelumnya. Metode angket digunakan untuk memperoleh data keingintahuan peserta didik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 awal.1111 7.6667 7. Berikut disajikan hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.3533 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji-t.7909 2274.2222 8.6753 Sedang FD 22 48 88 70.

4) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. c.9017 3. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. e.0540 3. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.0540 3. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.0724 20981. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. b. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 52 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dengan deskripsi sebagai berikut.0764 1754. d. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AB AC BC ABC Galat Total 4228. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.0338 4.0362 134.1480 36016.0540 - H0AB ditolak H0AC ditolak H0BC ditolak H0ABC ditolak - DESKRIPSI HASIL ANALISIS VARIANSI TIGA JALAN DENGAN SEL TAK SAMA Deskripsi hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dan uji komparasi rerata adalah sebagai berikut. a.4945 15.7190 6.5382 877.2383 811. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan peserta didik.5074 1191.7845 2 1 2 2 156 167 2114. 5) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif peserta didik.5074 595.5210 - 3.4280 6. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.1191 811. dengan deskripsi sebagai berikut.

f. 5) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 6) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik diabndingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. 4) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. dengan deskripsi sebagai berikut. dan gaya kognitif peserta didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. g. sedang. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 3) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. 2) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. keingintahuan. 1) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 5) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 53 . 3) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. dengan deskripsi sebagai berikut.

54 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 10) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 11) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 17) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 18) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 13) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. 8) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 9) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 15) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 16) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 gaya kognitif field dependent. 7) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 12) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. 14) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang.

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 55 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 19) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 20) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 26) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik diobandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 29) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 28) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 24) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 25) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 27) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 22) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 23) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 21) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.

prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. sedang. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang. sedang. maupun rendah sama baiknya. sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 30) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 31) 32) 33) 34) 35) 36) 37) 38) 39) 40) 41) 42) 56 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.

Slameto. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Nasution. 2010. Jakarta: Grasindo. 45) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. E. Cognitive Style in Educational Perspective. Bandung: PT. b. Riset. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Budiyono. S. g. 1997. Cooperative Learning: Teori. f. Remaja Rosdakarya. Asdi Mahasatya. 2003. Desmita. New Delhi: Anmol Publications Pvt Ltd. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. . 2009. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 43) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2008. Statistik Untuk Penelitian (Edisi Kedua). Metodologi Penelitian Pendidikan. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Priyamvada. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Anita Lie. 2010. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Bandung: Nusa Media. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. e. Slavin. d. 44) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 57 . Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jakarta: PT. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2008. DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. (Edisi terjemahan oleh Narulita Yusron). Jakarta: PT Bumi Aksara. Srivastava. dan Praktik. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. R. 2003. 2009. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. SIMPULAN Berdasarkan analisis data menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. 46) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. c. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. keingintahuan. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. diperoleh simpulan bahwa: a.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS SMART PADA MATERI PELUANG DENGAN MODEL ELICITING ACTIVITIES Aryo Andri Nugroho Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika di sekolah. (5) penelitian tentang kesulitan dan kesalahan peserta didik dalam belajar matematika. (2) kualifikasi pendidikan guru. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan. misalnya memusatkan pada karakteristik struktural 58 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sering informasi bercampur dan mungkin dapat dipertimbangkan sebagai hal yang kompleks. mandiri dan berjiwa wirausaha (Sanjaya 2008: 2). sampai saat ini kualitas pembelajaran matematika di Indonesia masih rendah (Soedjadi. Kreatifitas. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan teknik random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar. peserta didik dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif (Suparman. 1997:198). Banyak perangkat dimana para ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan sistem kompleks yang melibatkan cara pikir yang dinyatakan dalam bentuk model matematis. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreatifitas peserta didik. Namun berbagai upaya tersebut belum mencapai prestasi yang optimal. serta memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup. uji pengaruh. (4) penerapan model atau metode pembelajaran baru. SMART. Pada penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran berbasis SMART (spesific. Selain itu peserta didik kurang diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif. achievable. MEA. Berbagai upaya tersebut antara lain dalam bentuk: (1) penataran guru. karena berbagai kendala di lapangan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik menggunakan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masih lemahnya proses pembelajaran. realistic. Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. mengembangkan karakter dan potensi yang dimiliki. Pembelajaran matematika yang masih menggunakan pembelajaran konvensional masih menempatkan guru sebagai sumber informasi utama yang berperan dominan dalam proses pembelajaran. Akibatnya. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities (MEA) yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena seperti pola dan interaksi. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh. Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model MEA akan mencapai efektif dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. e-mail : ndrie024mp@gmail. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Dalam pembelajaran konvensional guru bertindak sebagai pentransfer ilmu kepada peserta didiknya. inovatif.com Abstrak Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide . Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. 2001b: 1). Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. Kata Kunci : Peluang. measurable.ide yang mendorong ke arah kesuksesan. time bound). Lontar 1 (Sidodadi Timur) Semarang 50125. (3) pembaharuan kurikulum.

2004). Pengembangan model biasanya melibatkan satu rangkaian siklus desain yang melibatkan cara yang berbeda terhadap penyaringan. Sementara dengan tidak menolak pentingnya pengalaman masalah yang ada. dan (3) CD interaktif. time bound). dan keterampilan sosial dimana peserta didik kita membutuhkannya (Steen. mereka tidak memahami secara baik pengetahuan matematika. Model ini adalah sistem konseptual yang digunakan untuk membangun. Satu komponen penting dalam pemecahan masalah didalam dunia masa kini adalah menginterpretasikan situasi masalah. realistic. 2002). 2004). mengidentifikasikan rintangan terhadap solusi. a. Amit & Schorr. Materi yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang peluang karena pada materi peluang dibutuhkan suatu pemahaman yang abstrak dan mendorong kreatifitas peserta didik. interaksi. Kesulitan bagi peserta didik adalah mengerjakan bagaimana cara untuk mendapatkan gambaran dari pernyataan yang diberikan pada tujuan yang diberikan. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena (seperti pola.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dari sistem yang relevan. dan hubungan antara unsur-unsur) (Jones & Nisbet. Menurut Guskey (1982) pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya ketercapaian ketuntasan dalam prestasi belajar. Model biasanya dinyatakan dengan menggunakan berbagai media representational yang saling berinteraksi. menggambarkan. dan keteraturan serta membekali peserta didik dengan fondasi penalaran matematis yang dasar. dan penginterpretasian dari situasi masalah yang diberikan (Lesh & Yoon. Dalam proses pemecahan masalah menuntut peserta didik dengan perangkat baru untuk memecahkan permasalahan serupa di masa datang (Lesh & Yoon. berkenaan dengan informasi yang ambigu atau tidak lengkap. Lebih dari itu banyak persamaan terjadi antara model dimana peserta didik mengembangkan sistem untuk bisa dipertimbangkan dalam pengalaman sehari-hari mereka sendiri dan model dimana para ilmuwan mengembangkannya (Lesh & Doerr. Sifat alami model tersebut dapat digambarkan dalam empat aspek. d. 2003). 2001). adanya pengaruh yang positif antara variabel bebas dengan variabel terikat. Salah satu substansi yang menjadi penekanan KTSP adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif. achievable. Pengalaman pemecahan masalah peserta didik secara tradisional telah dibatasi masalah dimana peserta didik menerapkan satu prosedur yang diketahui atau mengikuti satu jalur yang jelas. dan memvisualisasikan serta mengevaluasi produk akhir yang mungkin. pola. Sebuah nilai ekstra adalah bahwa model eliciting activities itu bisa mendorong ke arah bentuk belajar yang signifikan. proses. atau menjelaskan perilaku dari sistem lain. Model Eliciting Activities mendorong aktivitas peserta didik dalam pengembangan model karena untuk memecahkannya diperlukan cara untuk menyatakan berpikir saat ini dalam bentuk yang diuji dan diperbaiki berulang kali setelah di uji. Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide-ide dan proses kunci yang mendorong ke arah kesuksesan harus diberikan. Perangkat pembelajaran yang disusun adalah perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART (spesific. Gagasan yang relevan dan sistem konseptual dapat diharapkan menjadi langkah-langkah intermediate dari pengembangan. hubungan. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran disini akan disusun perangkat pembelajaran yang meliputi: (1) Silabus. pengorganisasian. b. Artinya bahwa proses penafsiran untuk peserta didik telah diminimalisir atau dieliminasi. c. Pemunculan masalah model ini adalah aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang mendorong ke arah pembentukan sebuah model eliciting activities (Lesh. Dengan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 59 . 1997). aksi. adanya perbedaan prestasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Model eliciting activities biasanya melibatkan aktivitas-aktivitas yang mematematikakan (mathematizing) objek yang relevan. measurable. kelancaran representasional. (2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Model biasanya digambar dari berbagai disiplin atau area topik buku teks. Ketika peserta didik diberikan suatu permasalahan maka permasalahan tersebut diterjemahkan dengan cara yang tunggal.

Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen jenis Quasi Experimental (Samsudi. data prestasi belajar. c. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data dokumentasi. Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas program-program yang diajukan dan dilaksanakan. Berdasarkan uraian ini maka muncul masalah apakah pembelajaran matematika berbasis SMART pada materi peluang dengan model elicting activities mencapai efektif. Pada perangkat pembelajaran matematika. Program menyatakan tujuan yang tepat. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau 60 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dalam penelitian ini peneliti memaknai perlunya model eliciting activities dalam pembelajaran dengan perangkat pembelajaran berbasis SMART sehingga diharapkan pembelajaran menjadi efektif. a. dan perbandingan). kuantitas. uang. seperti keterampilan. Pengukuran membantu untuk mengetahui kapan tujuan sebuah program telah terpenuhi. frekuensi. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat serta instrumen pada penelitian ini terdiri dari lembar pengamatan kreatifitas peserta didik dan lembar tes prestasi belajar. perlengkapan dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. Prestasi dinyatakan dalam bilangan. pengamatan. d. achievable (dapat dipenuhi). Pengukuran mempunyai prestasi yang dapat dinilai. Specific Specific maksudnya bahwa tujuan itu konkret. Pemenuhan pada suatu tujuan memerlukan kemampuan. baik dalam skala 1–10 ataupun dalam bentuk keberprestasian dan kegagalan. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang terukur dari materi yang jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi belajarnya. Achievable Achievable menyangkut tujuan yang di himpun dapat dipenuhi dan dapat dicapai. Realistic Realistic maksudnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang dikerjakan. 2006: 75) yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi peluang yang memenuhi kriteria efektif. SMART sebagai tujuan program yang berarti specific (spesifik). Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang dipilih harus terukur sesuai dengan materi yang dipilih. untuk mencapai semuanya jelas dan prestasi dapat ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif dari pada sebelumnya (time bound). b. Measurable Measurable berarti dapat mengukur apakah kita telah mencapai tujuan atau tidak (bilangan. measurable (dapat diukur). prestasi ilmiah dan lain lain. KAJIAN TEORI 1. time-bound (batasan waktu). realistic (realistik). SMART Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas programprogram yang diajukan dan dilaksanakan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memperhatikan kekhususan materi peluang yang sesuai kurikulum dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (spesific). keterukuran indikator dari pemilihan materi yang khusus (measurable). detail. terfokus dan dapat didefinisikan dengan jelas. data kreatifitas peserta didik. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses untuk dilaksanakan dan pada akhirnya alat ukurnya juga nyata jelas (realistic). Pada perangkat pembelajaran matematika dalam pemilihan indikator materi sesuai dengan kurikulum dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah. persentase. indikator yang terukur dari materi yang khusus jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi nantinya (achievable).

4. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar yang membimbing siswa kearah MEA. dan diarahkan untuk mengaitkan dengan prestasi manipulasi. Time Bound Time-bound berarti mengatur batasan waktu untuk memenuhi tujuan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses pembelajaran dan dapat dilaksanakan secara konkret. e. proses pembelajaran tatap muka dan evaluasi harus jelas dan ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif. 3. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. MEA (Model Eliciting Activities) Menurut Lesh dan Doerr (2003) siklus Model Eliciting Activities adalah terdiri atas empat tahap. Batasan waktu diperlukan harus memenuhi aspek achievable dan realistic. peserta didik diarahkan untuk membuat klarifikasi dari aturan permainan apakah aturan tersebut adil atau tidak c) Translasi Pada tahap translasi peserta didik didik diminta untuk mencoba langsung dari aturan permainan. Berdasarkan teori tentang model eleciting activiies. d) Prediksi dan Verifikasi Pada tahap Prediksi peserta didik diarahkan ke arah diskusi untuk meramalkan untuk usul operatif untuk membuat permainan adil disertai dengan alasan-alasan logis dan pada tahap verifikasi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari kegunaan dari prediksi. Setelah proses diskusi dan telah didapat aturan yang adil maka tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah yang ada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Pertama. Dalam kegiaan inti terdapat langkah-langkah pembelajaran yang memuat MEA yaitu: a) Deskripsi Pada tahap deskripsi peserta didik membaca bahan ajar yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang telah disusun berdasarkan MEA. c) Translasi (membawa prestasi yang diperoleh dan relevan untuk dikembalikan dengan kondisi sebenarnya). sehingga Aturan menjadi jelas bagi semua peserta didik. 5. Kreatifitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. 6. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diberi bahan ajar 3. Pada perangkat pembelajaran matematika ketersediaan waktu dari penugasan. d) Verifikasi (kegunaan dari aksi dan prediksi). 2. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 61 . tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut diprestasikan produk-produk kreatif yang bermakna. Beberapa perwakilan kelompok diminta mempresenasikan prestasi diskusinya berserta prestasi penemuannya. b) Manipulasi (manipulasi model dengan tujuan untuk memprediksi atau melakukan aksi yang berhubungan dengan pemecahan masalah sebenarnya). maka bisa dibuat langkahlangkah sebagai berikut: 1. yaitu a) Deskripsi ( membangun model matematika dari permasalahan yang ada pada dunia nyata).tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. b) Manipulasi Pada tahap ini peserta didik diberi desempatan untuk membangkitkan prediksi atau tindakan yang berhubungan dengan situasi pemecahan masalah asli. 2.

& Yoon. In: L. Doerr (Eds. dan Raymond. KESIMPULAN Dalam kegiatan penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data kreatifitas peserta didik. Samsudi.E. 2009. 146-155). ICMI Study 14: Applications and Modeling in Mathematics Education. A. & Tarr. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. E. 1982. Using “real-life” problems to prompt students to construct conceptual models for statistical reasoning. Jakarta: Bumi Aksara. C. disinilah akan lahir gagasan inspiratif. R. The Effectiveness Of Mastery Learning Strategies In Undergraduate Education Courses.. Terbitan kedua. Performance Management – Creating SMART Objectives: Participant Guide. 3) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang lebih baik dari pembelajaran konvensional. Guskey. learning and teaching? In H. Ronald. Disain Penelitian Pendidikan.. (2004). Pada tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. J. Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya inspirasi atau gagasan baru.). dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Mahwah.edu/td/pdf/SMART goals. R. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. W. Henn & W. Lesh & H. Amsterdam: IOS Press. mencari jawaban. Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. Stiff. The Assessment Challenge in Statistics Education. Pada tahap persiapan seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir. What’s distinctive in (our views about) models & modeling perspectives on mathematics problem solving. Pre-Conference Volume. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. S. Jones. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Sanjaya. bertanya pada orang. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. 2) terdapat pengaruh positif kreatifitas peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA (model eliciting activities) pada materi peluang . & Schorr. R. V. C. Foundations of a models and modeling perspective on mathematics teaching. Amit. 65-83). Lesh. & F.). A. 2009:39). and problem solving. Beyond Constructivism: Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving. G. Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12. dan verivikasi.W. Curcio (Eds. R. 2007. NJ: Erlbaum. learning.. yang sampai sekarang masih diterapkan dalam pengembangan kreativitas. Learning and Teaching. Understanding students' probabilistic reasoning. H. Tingkat keberprestasian diukur melalui tiga uji statistika. Reston VA: The Council.boisestate. Semarang : UNNES PRESS.. Langrall. inkubasi. uji pengaruh. (1999). & Doerr. iluminasi. Bandung: ITB. University Of Kentucky. diharapkan: 1) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang peserta didik dapat mencapai tuntas. R. In Gal & Garfield (Eds. Dan tahap verivikasi atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas ( disertai dengan pemikiran kritis ).. meliputi tahap persiapan. National Council of Teachers of Mathematics' 1999 earbook (pp. 2008.langkah proses kreatif menurut Wallas (Munandar. http://hrs. Lesh. (1997). In R. dkk. 62 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Boise State University. 1986.. 2003. H.).. M.pdf download tanggal 18 Oktober 2009. dalam arti dia tidak memikirkan masalahnya secara sadar. (2003). (pp. Thornton. Lesh. Blum (Eds. (pp.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Adapun langkah.). dan sebagainya. 3–34). C.

Sudjana. Juni 2001. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”. Suparman. Goal Setting Guide.pdf. Desain Instruksional. download 18 Oktober 2009 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 63 . 1997. http://www.uncommon-knowledge.uk /psychology_articles/Goal-Setting-Guide. 2006. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. 2002. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya. R. Bandung: Alfa Beta Swinton. L.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Soedjadi. Metoda Statistika.co. 2001 b.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CREATIVE THINKING BERBANTUAN VIDEO DIKEMAS DALAM CD PEMBELAJARAN DAN WORKSHEET PADA MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII
FX. Didik Purwosetiyono Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 – Dr. Cipto Semarang, e-mail: fxdidik.purwosetiyono@gmail.com Abstrak
Pembelajaran yang bermakna memerlukan usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas siswa, sehingga akan menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Untuk melihat efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, diperlukan adanya instrumen yang berupa: 1) Rencana Pembelajaran (RPP), 2) worksheet, 3) Lembar Observasi. Juga harus didasari kajian-kajian teoritis dan juga penelitian-penelitian yang relevan untuk membangun suatu efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan kajian teoritis tersebut, diperlukan suatu penelitian, dimana penelitian tersebut merupakan jawaban atas kajian teori peneliti. Penelitian direncanakan dengan teknik claster sampling, dan akan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan dan satu kelas sebagai kelas kontrol.Variabel independen penelitian kreativitas siswa dan variabel dependen prestasi belajar. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran, juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan, 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM, dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM, b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square, c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol, dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Kata kunci : Efektivitas, creative thinking, Video, CD pembelajaran, worksheet.

PENDAHULUAN Pada proses pembelajaran guru meminta kepada siswa mengungkapkan pendapatnya tentang pembelajaran matematika, maka akan banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika sulit, sehingga pada prestasi belajar matematika yang kurang optimal. Sehingga karena asumsi tersebut membentuk pemikiran siswa yang kurang optimis dalam belajar matematika. Menurut Sierwalds (dalam Davasligil, 2005) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan prestasi belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan prestasi belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatvariasi media yang digunakan dalam pembelajaran keterbatasan yang ada pada guru maupun siswa. Pentingnya suatu penggunaan

64

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu salah satunya yaitu dengan pembelajaran matematika pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas CD pembelajaran dan berbantuan worksheet. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas (X) adalah kreativitas siswa, dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam bentuk CD Pembelajaran dan worksheet. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen (E) dan kelompok kontrol (K) pada kompetensi dasar kesebangunan. Variabel terikat ini akan diungkap dengan instrumen tes prestasi belajar menurut ranah kognitif. Jenis instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari: Lembar Pengamatan Kreativitas Siswa, lembar Pengamatan Keterlaksanaan pembelajaran, Lembar Angket Respon Siswa, lembar angket respon guru. Data yang telah dikumpulkan melalui instrumen-instrumen kemudian dianalisis. Data yang dianalisis adalah sebagai berikut. 1) Analisis Data Angket, 2) Analisis Data Tes Prestasi Belajar, meliputi; 3) Uji Hipotesis, meliputi; Uji homogenitas, uji normalitas, uji ketuntasan belajar, Uji perbedaan dua rata-rata uji pihak kanan dan uji proporsi, adalah sebagai berikut. Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang muncul dan akan dikaji adalah: 1) Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas? 2) Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional? 3)Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional? KAJIAN TEORITIS 1. Aktivitas Menurut Paul B. Diedrich ( dalam Sardiman, 2007 ) aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok sebagai berikut. a. Visual Activities, meliputi: memperhatikan dari gambar demonstrasi , membaca, percobaan dari pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik. d. Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan, membuat konstruksi, perangkat, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental Activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisa hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti: menaruh minat, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup, merasa bosan. Jadi klasifikasi aktivitas di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariatif. Jika berbagai aktivitas tersebut dapat dikondisikan selama proses pembelajaran maka pembelajaran lebih dinamis. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Pada Gambar 1 menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran Pasif dan Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa lebih mengingat (retention rate of knowledge) materi kuliah. Oleh sebab itu dalam pembelajaran engineering model pembelajaran aktif ini merupakan alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

65

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

ingin diperebaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tend to Remember about:

Level of Involment

10% of what we read 20% of what we hear 30% of what we see 30% of what we hear and see 70% of what we say

Reading

i.Hearing Words Looking at Pictures j. Watching a Movie k. Looking at an Exhibit l. Wacthing m. a Demonstration Seeing it Done on Location n.
Participation in a Discussion Giving a Talk

Verbal Receiving
PASSIVE

Visual Receiving

Paticipating
ACTIVE

90% of what we say and do

Performance/Dramatic Presentation Simulating the Real Experience Doing the Real Thing

Doing

Gambar 1. Model Pembelajaran Aktif dan Pasif (Sumaidi, 2008:52) 2. Kreativitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertamatama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif ( dalam Munandar, 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi, adalah: 1) Imajinatif, 2) Mempunyai prakarsa, 3) Mempunyai minat luas, 4) Mandiri dalam berfikir, 5) Melit, 6) Senang berpetualang ( senang mengeksplorasi), 7) Penuh energi (bersemangat), 8) Percaya diri, 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu), 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan ( teguh pendirian). Sehingga dari ke sepulih ciri-ciri tersebut akan dibuatlah rincian mengenai daftar angket yang akan dihunakan sebagai lembar observasi kreativitas siswa. 3. Video Video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan. Video ini berkaitan erat dengan audiovisual. 4. CD Pembelajaran. Levie dan Lentz (Arsyad, 2006:8) yang mereviu hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar, stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.

66

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

CD interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006:32) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa. Dipilihnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran berbantuan CD interaktif dengan perangkat komputer tidak lain karena media ini memiliki keunggulan sebagai media instruksional, antara lain: (a) dapat menunjukkan visualisasi yang menonjolkan gerak; (b) dapat dipercepat/diperlambat sehingga mudah diamati dan dimengerti (dapat diulang); (c) materi yang divisualisasikan mirip dengan objek aslinya; (d) dapat diberi efek suara sehingga efektifitas belajar lebih tinggi; (e) gambar bisa diperbesar sehingga dapat digunakan pada kelas yang besar; (f) dapat disimpan dan digandakan dalam CD atau di komputer; (g) software dapat digunakan berulang-ulang; dan (h) perangkat perekam relatif mudah dioperasikan. Dalam penelitian ini CD interaktif yang dimaksud adalah suatu alat dalam bentuk multimedia berupa keping CD yang memuat materi pembelajaran kompetensi dasar. Materi dikemas dengan program macromedia flash untuk 5 (lima) kali pertemuan berisi: (a) standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikatornya; (b) materi pendahuluan; (c) penanaman konsep dengan contoh soal dan latihan soal; dan (d) pada akhir pertemuan dilengkapi tes-uji kompetensi hasil belajar lengkap dengan skor yang diperoleh dari jawaban siswa. Berdasarkan pandangan beberapa ahli di atas maka media pembelajaran berbantuan CD interaktif audio visual merupakan media yang sangat cocok bagi siswa dalam membantu proses belajar diantaranya, (1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, (2) mampu memberikan keseragaman persepsi,(3) mampu menyajikan informasi yang konsisten dan dapat diulang, dan (4) mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat belajar. 5. Worksheet Lembar kerja siswa (worksheet) berupa lembaran-lembaran kertas berisi informasi maupun soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa, pada akhirnya siswa dapat menemukan suatu kesimpulan dari apa yang mereka pelajari. LKS ini sangat mendukung untuk meningkatkan keterlibatan siswa belajar, baik dalam penerapan metode penemuan terbimbing maupun memberikan latihan-latihan pengembangan (Depdiknas, 2004). 6. Prestasi Belajar Prestasi adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2003:76). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Depdiknas, 2003:26). Jadi prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh karena suatu usaha memperoleh ilmu sekaligus terjadi perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang diamati pada ranah pengetahuan dan pemahaman konsep atau kognitif yang datanya diambil dari metode tes (pencil paper test). 7. Kajian Penelitian yang relevan Pada penelitian ini, adapun kajian dari penelitian yang relevan dengan penelian ini adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Iman (2008), dan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2008). Menurut Imam (2008: 128) para guru matematika diharapkan dapat memilih pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar sehingga belajar siswa menjadi pembelajaran yang bermakna. Disinilah diperlukan suatu peranan seorang guru sebagai pembimbing siswa, sehingga bisa mengarahkan siswanya kearah pemahaman mengenai suatu konsep tertentu, sehingga bisa diarahkan pada aktivitas siswa. Menurut Arief (2008: 62) Semakin siswa kreatif dalam melaksanakan tugasnya, atau sudah mau belajar berfikir mandiri membuat siswa selalu aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa bisa dibentuk, dengan memberikan stimulus-stimulus pada siswa dalam suatu pembelajaran, dengan memberikan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

67

c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan (teguh pendirian). Dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet. (3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam hal ini difokuskan pada kreativitas siswa. SIMPULAN Guru sebagai fasilitator. Pertama. dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM. 2) Terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu). Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Jika strategi pembelajaran sudah tepat. sehingga akhirnya siswa dapat menemukan jawabannya sendiri dari proses kreatif yang dilakukannya. b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan. 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM. Dari ciri-ciri pribadi kreatif tersebut dijadikan acuan untuk membentuk kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pola yang menuntut siswa untuk berfikir. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Didik (2010:102) Penggunaan dan pelaksanaan suatu strategi perlu diperhatikan arah pencapaian indikator dan tujuan pembelajaran. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. dalam penelitian ini. memberikan bantuan di awal pembelajaran setelah siswa mampu maka bantuan dikurangi kemudian dilepaskan sehingga anak mandiri dalam membentuk pengetahuan baru yang berkembang terus sebagai milik mereka. (4) bimbingan guru dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh seorang guru untuk mengarahkan siswa menuju pada tujuan yang diharapkan. Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi. 7) Penuh energi (bersemangat). 5) Melit. penggunaan CD pembelajaran sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar. 3) Mempunyai minat luas. 3) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking 68 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pengetahuan baru itu akan dapat diserap dengan baik apabila siswa belajar dalam situasi yang penuh kebermaknaan. Menurut FX. 1) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas. diharapkan. dalam hal ini peranan media diperlukan. kelebihan yang bisa dicapai antara lain (1) siswa diajak dalam suasana kebermaknaan berupa visual. 6) Senang berpetualang (senang mengeksplorasi). barulah ditambahkan media pembelajaran yang tepat. adalah: 1) Imajinatif. (2) terciptanya suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dan inivatif saat belajar matematika. Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. 8) Percaya diri. sehingga dengan bantuan media ini dapat memacu kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pada pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada strategi yang tepat. 4) Mandiri dalam berfikir. 2) Mempunyai prakarsa. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif (dalam Munandar. perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran. agar pelaksanaan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA Arif. Puskur Balitbang: Depdiknas. 2007. 2002. 2003 . 2006. H. Sudjana. Munandar. Bandung: Alfabeta. Dekdikbud. Statistika Untuk Penelitian. 2005.S. Vol. Mengajar Belajar Matematika. Semarang: Program Pascasarjana UNNES. Jakarta: Bumi Aksara Davasligil. 2008. Matematika untuk SMP Kelas VII. Hudoyo. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta. 2009. Jakarta: Dekdikbud. Metode Statistika. S. Sugiyono. Nurhadi. Evaluasi Program Pendidikan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional. 2003. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Berorientasi pada Pendekatan Problem Solving Berbantuan CD Pembelajaran Pembelajaran Materi Program Linear Kelas X. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jurnal. Jakarta: Balai Pustaka. challenge and Barriers The Case in Turkey.& Abdul J. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto. S. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Bandung: Tarsito. Kurikulum Berbasis Kompetensi. 71: 88-97. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bandung: Erlangga Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 69 . 1988. K. Sukino & Wilson. Tesis. 2004. 2009.Istambul University. Intercultural Aspect of Creativity. Arikunto. 2005.

PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa matematika adalah kondisi siswa yang berbeda. Gatut Iswahyudi3 1) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Matematika Pascasarjana UNS 2) Program Pascasarjana UNS 3) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point (2) untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gayakognitiffield dependent (3) untukmengetahui pada masing. Kata Kunci : STAD. model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. Analisis instrumen yang dilakukan pada tes yaitu validitas isi dan reliabilitas. tingkat kesukaran dan konsistensi internal. Seringkali guru kesulitan untuk bisa mengontrol anak satu persatu apakah setiap anak sudah mengerti materi yang diajarkan.masing model pembelajaran. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA kota Pontianak.masing gaya kognitif. bisa bekerja sama dan saling membantu. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent (4) untuk mengetahui pada masing. Kesulitan ini karena waktu pertemuan yang tersedia terbatas. sehingga siswa bisa saling berdiskusi memecahkan masalah. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. dan 1 variabel terikat yaitu hasil prestasi siswa.beda dalam satu kelas dalam daya pikir. power point dan Gaya Kognitif. (3) Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. angket gaya kognitif dan tes pilihan ganda. Riyadi2. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas). keadaan sosial. Diperlukan suatu model pembelajaran yang membuat siswa saling berinteraksi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN POWER POINTPADA MATERI PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK Dewi Risalah1. Dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat siswa yang cepat mengerti materi yang dipelajari. yang terdiri 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. jumlah siswa yang banyak pada setiap kelas (35.lain. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu : uji keseimbangan. Pengumpulan datanya dilakukan melalui kajian dokumen sekolah. Kontekstual. Analisis butir soal pada tes prestasi dan angket gaya kognitif terdiri dari analisis daya beda.40 anak) dan seringkali siswa yang mengalami kesulitan tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya. kreatifitas dan lain. tetapi ada juga yang lambat mengerti bahkan kadang terdapat yang sangat lambat mengerti materi yang dipelajari. Dari data analisis disimpulkan : (1) Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point menghasilkan prestasi yang lebih baik dibanding dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. Siswa yang sudah memahami materi yang 70 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . uji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. (2) Prestasi siswa yang memiliki gaya kognitif FD lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki gaya kognitif. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik.

contextual teaching and learning is defined as a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations. Diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat pelajaran menjadi pengalaman yang nyata. hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin.Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari. Prestasi belajar adalah penguasaan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 71 . Kelebihan. Menurut Balfakih (2003). yaitu siswa membuat saling berhubungan positif. Sehingga diharapkan dengan berinteraksi akan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. Siswa saling bekerja sama untuk memahami materi yang dipelajari dengan guru sebagai fasilitator.hari. Modifikasi dari model tersebut yang ditinjau dari gaya kognitif diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. akan membuat pelajaran lebih efektif. Sementara peserta yang mendapat persoalan bisa bertanya dan berdiskusi dengan siswa yang lain. Untuk itu perlu dilakukan suatu pembelajaran dengan memodifikasikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point diharapkan bisa mengisi salah satu kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pada tahap presentasi guru. model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelemahan.kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. sebenarnya seorang guru harus kreatif menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dipelajari bisa membantu siswa yang lain sepaya menjadi mengerti juga. Berdasarkan latar belakang masalah. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent ? 4) Pada masing. sehingga pemahaman konsep matematika bisa lebih mudah diterima siswa. saling bekerja sama. prestasi adalah kemampuan internal yang memuat kemampuan intelektual dalam hal informasi verbal. seringkali siswa mempertanyakan relevansi dari besarnya waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan pelajaran matematika. Siswa sering merasa kesulitan mengaitkan pelajaran yang diterimanya dengan suatu yang nyata dalam hidup mereka. STAD is a cooperative teaching method which was developed as part of a student learning approach programme along with other cooperative methods.contoh dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta minimnya penggunaan media bantuan dalam pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan oleh guru untuk memodifikasi materi pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika. Diharapkan dengan pembelajaran kontekstual pelajaran akan menjadi bermakna.hari. Presentasi guru dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berdengan bantuan power point diharapkan akan membuat pelajaran lebih mudah dimengerti para siswa. Media bantuan yang dimaksud adalah power point. Serta diharapkan bantuan power point dalam pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.kelemahan diantaranya adalah tahap presentasi yang dilakukkan oleh guru. Pada tahap ini banyak guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan contoh. Selain memiliki kelebihan.kelebihan seperti yang disebutkan di atas. Menurut Smith (2006). tujuan pembelajaran serta metode pembelajaran. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Menurut Gagne dalam Winkle (1996:482). Pembelajaran kontekstual juga berusaha membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan sehari.masing model pembelajaran. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik.achievement divisions (STAD). Salah satu model pembelajaran yang memenuhi hal-hal yang diuraikan ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe student teams. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? 2) Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent? 3) Pada masing. Diharapkan dengan adanya hubungan antara gaya kognitif dengan model pembelajaran.masing gaya kognitif.

menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menangapi berbagai jenis situasi lingkungannya.masing model pembelajaran. yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli 2011. Menurut Trianto (2007:42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. kuis. 2) Siswa yang memiliki gaya belajar kognitif Field Independent memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. penyampaian materi. siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. METODE PENELITIAN Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri di Pontianak. siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent.kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data. dan penghargaan kelompok. 4) Pada masing . sedangkan gaya kognitif FI adalah gaya belajar siswa yang tidak bergantung pada lingkungan belajarnya. Tahap persiapan meliputi pengajuan judul tesis. kegiatan kelompok. Subjek penelitian ini adalah siswa semester ganjil Kelas X tahun pelajaran 2011/2012. Waktu yang dibutuhkan pada tahap ini adalah 5 bulan. Waktu yang diperlukan pada tahap ini dua bulan yaitu bulan Oktober 2011 sampai November 2011. STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. 72 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. sedangkan gaya kognitif FD adalah gaya belajar siswa yang bergantung pada lingkungan belajarnya.Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan. 3) Pada masing . Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok. Menurut Broverman (1960:167) mengemukakan bahwa gaya kognitif menggambarkan cara seseorang memahami lingkungannya. sehingga jika siswa mampu untuk tidak bergantung dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. tahap penelitian dan tahap penyelesaian. Gaya kognitif adalah cara seseorang dalam memproses. yaitu tahappersiapan. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.masing gaya kognitif. Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2011 hingga bulan Oktober 2011 yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahap. Menurut Trianto (2007:10) pendekatan kontekstual (Contekstual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Diharapkan dengan memadukan model pembelajaran tipe STAD kontekstual dengan kontekstual dengan bantuan power point disertai dengan gaya kognitif siswa akan meningkatkan prestasi belajar menjadi lebih baik. Kerangka berpikir bahwa STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. sehingga jika siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. dan konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keterampilan yang ditunjukkan dengan tes yang diberikan oleh guru yang biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu dan lingkungannya. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. Waktu yang diperlukan pada tahap ini adalah dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September2011. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran. permohonan ijin survei.

Pada gaya kognitif. uju normalitas. yang masing. Sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak. pada penelitian ini uji keseimbangan uji t sebesar 1. gaya kognitif dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa.96 Karena nilai uji lebih kecil dari nilai tabel t maka H0 tidak ditolak. uji keseimbangan. Adapun hasil penelitian disajikan adalah hasil uji coba instrument. sedang dan rendah. Indeks reliabilitas sebesar 0. SMA Negeri 6 Pontianak yang dipilih berdasarkan rangking. selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan metode uji beda rerata t. konsistensi internal. yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SMA Negeri 8 Pontianak. daya beda. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan rerata antar kelompok model pembelajaran atau dapat dikatakan bahwa antara kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran berbeda. pengujian data analisis. Setelah dilakukan uji prasyarat kemampuan awal siswa yakni uji normalitas dan homogenitas. pengujian hipotesis dan pembahasan penelitian. a. angket dan tes. Pada tingkat kesukaran terdapat 2 item soal yang tidak baik. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal Berdasarkan hasil uji normalitas kemampuan awal prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata kemampuan awal prestasi belajar matematika antara kelas STAD Power point dan kelas STAD kontekstual Power point berasal dari populasi yang homogen. terdapat 30 soal yang konsisten dan 10 soal yang tidak konsisten. masing. yaitu STADP dan STADKP mempunyai kemampuan matematika yang sama. SMA Negeri 6 di Pontianak. Sehingga diperolah tiga kelas ekperimen dan tiga kelas kontrol. uji homogenitas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7. Pada analisis daya beda terdapat 36 item soal diterima dan 4 item soal yang tidak diterima. Dari ketiga kelompok.masing dipilih secara acak satu sekolah yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian. SMA Negeri 8.576 dengan nilai tabel t sebesar 1. SMA Negeri 9 Pontianak. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. Tahapan yang dilakukan adalah dalam pengambilan sampel yaitu dari seluruh SMA Negeri yang ada di kota Pontianak terlebih dahulu dikelompokkan menjadi tiga tingkatan. Indeks reliabilitas FI sebesar 0. Metode yang digunakan adalah dokumentasi.776 yang berarti instrumen tes baik. demikian juga antara kelompok siswa mempunyai gaya gaya kognitif FD dan gaya kognitif FI berasal dari populasi yang homogen. Uji Persyaratan Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran dan faktor gaya kognitif siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata prestasi belajar matematika antara kelas STADP dan kelas STADKP berasal dari populasi yang homogen. tingkat kesukaran. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak tahun ajaran 2011/ 2012.rata ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 mata pelajaran matematika.masing terdiri dari dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah prestasi belajar matematika pada materi SPLDV yang dikatagorikan atas model pembelajaran dan kelompok gaya kognitif siswa. uji ANAVA dan uji lanjut ANAVA. Pengelompokkan tersebut berdasarkan nilai rata . yaitu tinggi. SMA Negeri 9. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. Pengujian Hipotesis Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 73 . Adapun langkah dalam pengambilan sampel yaitu dengan stratified cluster random sampling. Uji yang digunakan adalah uji validitas. c. reliabilitas. b. deskripsi data.831. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 X 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena peneliti tidak mungkin mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabelvariabel yang diteliti.827 dan FD sebesar 0.

94 Ftabel 3.1 3.92 3. Rerata Pada Masing . dapat dipastikan bahwa hipotesis nolnya juga akan ditolak. tampak bahwa H0B ditolak.92 lebih kecil dari nilai F a = 14. perlu dilakukan uji lanjut pasca anava. Dari rerata marginalnya.50. yang menunjukkan bahwa rerata gaya kognitif FD = 65.1 295.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan jumlah sel tak sama.6 Fobs 14.07 lebih besar dari nilai F ab = 0. karena variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai. Sedangkan H0B ditolak karena nilai uji Ftabel = 3. Hal ini berarti terdapat perbedaan rerataan antara model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point terhadap prestasi belajar matematika. H0 ditolak H0 ditolak H0 diterima Dari tabel di atas tampak bahwa H0A ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.92 3.50 8.61 64.7 RK 4286.27 lebih tinggi daripada gaya kognitif FI= 64.9 73197. untuk itu perlu diperhatikan terlebih dahulu tabel rerata sebagai berikut : Tabel 2. maka untuk baris tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava.27 Rerata Marginal 60. karena variabel model pembelajaran hanya mempunyai dua nilai (yaitu model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point). Ini berarti terdapat perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point terhadap prestasi belajar matematika.0 10. Hasil pengujian ANAVA disajikan dalam tabel rangkuman analisis variansi dibawah ini : Tabel 1. Komparasi Rerata Antar Baris Dari pembahasan di atas.04 0. Uji Lanjut Anava Dari kesimpulan penelitian. Komparasi itu menjadi tidak berguna.07 Kep.93 75.5 1185. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.86 lebih tinggi daripada rerata model pembelajaran STAD Power point = 60.masing Sel Model Pembelajaran STAD power point tanpa Kontekstual STAD power point dengan Kontekstual Rerata Marginal Gaya Kognitif FI FD 54.9 62957. Kalau pun dilakukan komparasi ganda antar rerata model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point. Dari rerata marginalnya. Hal ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika dan H0AB diterima karena nilai uji Ftabel = 3. tampak bahwa H0A ditolak. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD Kontekstual Power point lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan model pembelajaran STAD Power point.04.94.19 69. Dalam penelitian ini. dapat 74 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .11 64. 2. cukup melihat rerata marginalnya.79 65.9 5543. d. Komparasi Rerata Antar Kolom Dari pembahasan di atas. yang menunjukkan bahwa rerata model pembelajaran STAD Kontekstual Power point = 69. karena anava telah menunjukkan H0A ditolak. maka ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.92 lebih kecil dari nilai Fb = 8. Rangkuman Analisis Variansi SP Model Gaya Kognitif Interaksi Galat Total dk 1 1 2 213 216 JK 4693.19. maka komparasi ganda tidak perlu dilakukan.86 1.79.46 65.

tampak bahwa H0AB diterima. model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 75 . model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. Dari kenyataan bahwa tidak terdapat hubungan itu. 3.50 dengan nilai Ftabel = 3. karena hubungan tidak ada. yaitu gaya kognitif FI sebesar 64. sedangkan pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD sebesar 65. Jadi dapat dikatakan bahwa gaya kognitif FD memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada gaya kognitif FI. maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point selalu lebih baik diterapkan pada setiap gaya kognitif jika dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran STAD Power point.86.92.79.3) Tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih rendah dari pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD. Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Dari pembahasan di atas. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan faktor antara model pembelajaran dengan gaya kognitif pada prestasi belajar matematika.92. maka tidak perlu dilakukan uji lanjut antar sel pada kolom yang sama. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan model tipe STAD Power point lebih rendah dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point. yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point sebesar 60. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor gaya kognitif pada prestasi belajar matematika.04 dengan nilai Ftabel = 3.07. dapat disimpulkan bahwa karakteristik perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan model pembelajaran STAD kontekstual power point untuk setiap tipe gaya kognitif sama. Hipotesis Kedua. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F a = 14. Pembahasan Hasil Penelitian Hipotesis Pertama. Dalam penelitian ini. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor model pembelajaran pada prestasi belajar matematika.94 dengan nilai Ftabel = 3. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F ab = 0.27.19.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 disimpulkan bahwa gaya kognitif FD lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan gaya kognitif FI. maka kesimpulan dari hipotesis ketiga mengikuti kesimpulan hipotesis pertama dan kedua yaitu pada kategori gaya kognitif field independent. maka untuk antar kolom tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. Kedua gaya kognitif tersebut mempunyai nilai yang berbeda.Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran dan gaya kognitif siswa terhadap prestasi belajar matematika. sedangkan pada kategori gaya kognitif field dependent. sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point sebesar 69. Kedua model pembelajaran tersebut mempunyai nilai yang berbeda. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas. variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai (yaitu gaya kognitif FI dan FD). Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point. Hipotesis Ketiga. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji Fb = 8. 2) Siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent.

Contextual Teaching and Learning. 2008. DAFTAR PUSTAKA Adesoji. Cetakan 3. 2. Altun. PerkembanganIntelektualmenurut Piaget. Hal. StatistikTeoridanAplikasi. 1998. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Hamzah Uno B. Blanchard. No. Bandung: MLC. Jakarta: Erlangga Johnson. 4. 2009. 2000. XV. 2010. 1. 20. 2006. MetodePenelitianBidangsosial. Husein Tampomas. Springer Science+Business Media B. Journal of Educational Technology and Society.DasarMetodologiPenelitianKwantitatifdalamPendidikan. 605-624.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point. Vol. Marwanta dkk. Terjemahan Cooperative Learning Teori. The Journal of International Social Research. Spring. Slavin. 76 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .). Seribu Pena Matematika Jilid 1 Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.Tesis: UNS Surakarta. Johanes Supranto. 5. 2007. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif STAD DiModifikasikan dengan Kontekstual Pada Materi Lingkaran DiTinjau dari Tingkat Intelegensi Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2009/ 2010. Bandung: MLC. 289-297. KamusBesarBahasa Indonesia. No. Teori Perkembangan kognitif Jean Piaget. Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a Twelfth Grade Classroom : Effect On Student Achievement and Attitude. Journal International Handbook of Education for the Changing World of Work. Jakarta: Ghalia Indonesia. Journal of Family and Consumer Sciences Education. 11. Jakarta: PT Bumi Aksara. Vol. Hal. Hal. Jakarta: Yudistira. 2009. Daryanto. Diakses tanggal 22 Mei 2011. 29. Smith . Mandiri Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas VIII. Yogyakarta: GajahMada University Press. The Implications of Cognitive Style to Adult Distance Education.2003. 2006.V. Dwi Titik Irdiyandi. 2009. Moh Nazir. 2009. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Undergraduated Students Academic Achievement. Scott. No.Jakarta: Rajawali Pers. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. 2009. Jakarta :Erlangga. 23.International Journal of Science Education. 9. No. Depdiknas. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada. 2/6. P Bettye. Vol. Hal. Wilson (eds. Hal. A dan Cakan. Riset dan Praktik. Ibnu Hadjar. T. Johnson. 2005. 25. Yogyakarta: kanisius.27. Spring/ Summer. Vol. 1999. M. Elaine B. No. F. 1. Balfakih.Field Dependent / Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers. Journal of Social Studis Reseacrh. Diakses tanggal 22 Mei 2011. 2009. Diakses tanggal 15 Juni 2011.1997.A dan Ibraheem. The Northwest Regional Education Laboratory USA. 2009.2005. Contextual Teaching and Learning. Elaine B. Dasar. Jakarta: Apollo. Psikologi Belajar. Contextual Teaching and Learning Practices In The Family and Consumer Sciences Curriculum. Kurniawan. 1985. Bandung: University of Washington. Budiyono. Hadari Nawawi. Statistik Untuk Penelitian. Diakses tanggal 15 Juni 2011.Hal. Muhibin Syah.Vol. MetodePenelitian.A. 2001. 2010. Vol. 26. 24. The Effectiveness of Student Team-Achievement Division (STAD) for Teaching High School Chemistry in The United Arab Emirates. UNS Press. 31. 2008. D. Nagib M. Winter. R. Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical Kinetics. Surabaya: CerdasPustaka.A. Bandung: Nusa Media. 5. Maclean. Paul Suparno.2001. Matematika SMA Kelas X. Amstrong.

2007. Trianto. 2009. 2004. MendesainPembelajaranKontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: CerdasPustaka. StatistikUntukPenelitian. 2005. Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar. MetodaStatistika.model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka. MetodologiPenelitian.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Sudjana. Sumargiyani. SoemardiSuryabrata. Bandung: Tarsito. Tesis: UNS Surakarta. Model. Alfabeta. 2005.Jakarta: Prenada Media. Sugiyono.Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Matematika DiTinjau dari Intelegensi Siswa SLTP Muhammadiyah II Yogyakarta.Progresif. Bandung: CV. Trianto. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 77 . Mendesain Model Pembelajaran Inovatif.2008. Trianto. Jakarta: Raja GrafindoPersada. 2005. Jakarta: Bumi Aksara.

disempurnakan menjadi empat kompetensi yaitu. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan implementasi dari program pembelajaran yang tertuang di dalam silabus. Disamping itu kegiatan Pembelajaran dalam Pendidikan adalah kegiatan yang bersifat terencana dan sistematik. Selanjutnya dari kompetensi tersebut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP DAN KEMAMPUAN MENGAJAR DALAM PENGAJARAN MIKRO MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UST Esti Harini Program Studi Pendidikan Matematika. dan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tidak mengacu pada RPP yang sudah disusun. Profil guru yang profesional antara lain adalah menguasai materi pengajaran.52 dalam kategori baik dan siklus II 80. Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP calon guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa calon profesi pendidik. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.25 dalam kategori sedang. mampu menggunakan media atau sumber. calon guru belum terbiasa mengajar dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. karena RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas. Pada umumnya dalam Penyusunan RPP calon guru cenderung kering akan inovasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif univariat . Rencana Pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatkan kemampuan menyusun RPP hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata pra tindakan 63. 3) pertemuan balikan. Kegiatan dalam setiap siklus sesuai dengan prosedur supervisi klinis yaitu meliputi: 1) Pertemuan perencanaan. mampu mengelola interaksi belajar mengajar. Kata kunci: Supervisi Klinis. bukan menjadi komponen utama sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pembelajaran. mengenal dan menyelanggarakan administrasi sekolah. sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. dengan materi matematika SLTA atau SLTP. laboratorium. yaitu praktik pengalaman lapangan. mampu mengelola kelas. Keadaan ini dapat dipahami karena. Kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro juga menunjukkan adanya peningkatan dengan diperoleh nilai rata-rata untuk pra tindakan 63 dalam kategori sedang. mampu mengelola program belajar mengajar. mampu melakukan evaluasi atau menilai prestasi siswa. siklus I 67 dalam kategori baik dan siklus II 78 dalam kategori baik. oleh karena itu perencanaannya seharusnya dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara lengkap dan operasional. Pengajaran mikro ini sebagai prasarat untuk menempuh PPL II. siklus I 73. 2) pengamatan mengajar. atau lapangan. professional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. yang langsung terjun mengajar di sekolah-sekolah tempat praktik dalam rangka penyiapan guru yang profesional. Oleh karena itu guru haruslah mempersiapkan RPP sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. 4) Refleksi. FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST . kepribadian .88 dalam kategori sangat baik. dan social. Kemampuan Mengajar PENDAHULUAN Mata kuliah PPL I atau pengajaran mikro adalah mata kuliah kelompok kependidikan ( MKPK ) yang bertujuan melatih mahasiswa mengajar di dalam kelas dengan siswa temantemannya sendiri ( mahasiswa ). mampu menyiapkan RPP yang inovatif. kependidikan. menguasai landasan-landasan kependidikan. 78 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guru keperluan pengajaran.

Telaah rencana pelajaran dan cermati tujuan pelajaran dan tujuan dari latihannya. Demikian seterusnya sampai indikator keberhasilan dicapai. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data tentang kemampuan menyusun RPP mahasiswa saat akan melakukan praktek mengajar.com/doc/23862850/supervise-klinik) Berdasarkan uraian di atas. Rancangan Penelitian : Dalam penelitian ini terdapat siklus-siklus dan banyaknya siklus tergantung dari tercapainya indikator kaberhasilan. Berdasarkan hasil kajian bersama atau hasil latihan tsb. 3. Usaha mennciptakan suasana yang hangat dan bebas antara calon guru dengan supervisor. Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Berdasarkan hasil kajian . maka penelitian akan berhenti pada siklus tersebut. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut (http://www. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengajar. Secara rinci langkahlangkah dalam setiap siklus sebagai berikut: a. 2. maka pelaksanaan supervisi klinis diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST. Bersama-sama melihat kembali target kecakapan atau ketrampilan serta focus utama dalam latihan yang telah disepakati. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 79 . dengan menggunakan instrumen yang telah disepakati 3) Pertemuan balikan . supervisor membantu calon guru untuk merencanakan latihan yang akan datang.Waktu pelaksanaan adalah pada semester genap tahun akademik 2010/2011. Berdasarkan target tsb supervisor menyakan kesan calon guru b) Supervisor menyajikan data berupa hasil rekaman kemudian bersama-sama menganalisis dan menafsirkan rekaman tsb. Siklus I Peneliti merancang tindakan/prosedur supervisi klinis yang akan dilaksanakan dalam penelitian . Subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan matematika yang pada semester genap 2010/2011 mengambil Praktek Pengalaman Lapangan I (PPL I).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru.scribd. Supervisor bersama calon guru membandingkan target latihan dengan hasil latihan dan mendiskusikannya. antara lain: 1) Pertemuan pendahuluan ( perencanaan )\ kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. Telaah dan diskusikan ketrampilan yang akan dilatih. perasaan atau kesan calon guru. Metode penelitian adalah metode eksperimen semu. Jika indikator keberhasilan sudah dicapai dengan dua siklus. mendiskusikan instrumen yang akan digunakan 2) Pengamatan mengajar meliputi pengamatan yang dilakukan supervisor dengan cara merekam focus kegiatan maupun interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa. supervisor kembali menanyakan . Namun jika indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus tersebut maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya. dan Obyeknya kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro dengan treatmen supervisi klinis. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a) Supervisor menanyakan kepada calon guru bagaiman peranannya selama melakukan latihan mengajar.

4. memutuskan tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. penguasaan materi pembelajaran. Penggunaan bahasa. Adapun rumus dan kriteria yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: Rumus untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/68 x 100 Rumus untuk menganalisis kemampuanmengajar sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/100 x 100 Dengan kriteria sebagai berikut : 80. Disamping itu Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru/calon mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. ketrampilan menyusun RPP yang inovatif Supervisi Klinis menuntut guru/calon guru untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran . c. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar. 3. Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. berupa lembar penilaian penyusunan RPP . digunakan statistik deskriptif univariat yaitu dengan menggunakan rumus penilaian dan patokan yang telah ditetapkan.0 – 79. Dan calon guru akan selalu dapat mereview penampilan mengajar sebelumnya dan menganalisa kekurangan – kekurangannya. dari tahap perencanaan yaitu penyiapan rencana pelaksanaan pembelaran sampai dengan proses pembelajarannya. 2. terutama bahan pembelajaran. penilaian proses dan hasil belajar. Kegiatan pra pembelajaran. Tahapan pelaksanaan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus sebelumnya. (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. f. untuk perbaikan penampilan mengajar berikutnya. e. 80 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . (3) keterampilan dalam proses pembelajaran dan.9 : Sedang 47. pengamatan dan analisis yang intensif terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran maupun penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. dan lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari : 1.0 – 66. Kerangka Berfikir Supervisi klinis memfokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan. Pemilhan metode pembelajaran. d.9 : Baik 57. dapat diharapkan dengan supervisi klinis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan Berdasarkan kerangka berpikir tersebut.yang terdiri dari lima indikator yaitu :1. pendekatan /strategi pembelajaran. b.9 : Kurang Kurang 45.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 4) Refleksi Pada tahap ini peneliti melakukan pengolahan data. 2.9 : Belum Menguasai Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah. maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan supervisi klinis. Dan kegiatan penutup pembelajaran. Siklus selanjutnya merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya. (4). Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran. kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan.0 – 56.0 ke atas : Sangat Baik 67. Dengan demikian . Pemilihan sumber belajar / media pembelajaran. Teknik Analisis Data: Untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP – UST. validasi data. Perumusan tujuan pembelajaran. pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. 5. Sedang fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan.

Hasil secara keseluruhan untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 1. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran Nilai 83. Dan hasil ini hampir merata untuk semua aspek. Setelah dilakukan tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa.67 87.5 Kategori Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik 2. dengan diperoleh hasil sebagai berikut: siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 berada dalam kategori baik.33 87.33 68. Penilaian proses dan hasil belajar f.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan.75 75 80 75 Kategori Sangat baik Sedang Baik Sangat Baik Baik Tabel 2. dengan nilai ratarata 63.25. peneliti melakukan evaluasi terhadap RPP yang para mahasiswa susun sebagai kemampuan awal. c. e. Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 75 Kategori Baik 50 50 75 83. d.33 75 83.5 Kurang Kurang Baik Sangat baik Sangat baik Sedang Sangat baik Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 81 . Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mengajar para mahasiswa adalah sedang. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menyusun RPP adalah sedang dengan nilai rata-rata 63.5 66. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. Pendekatan /strategi pembelajaran. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan Pembelajaran Nilai 83. Pada saat penampilan pertama para mahasiswa mengajar peneliti mengobservasi dengan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal mengajar para mahasiswa. Kemampuan Mengajar Mahasiswa dalam Pengajaran Mikro Secara keseluruhan dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam pengajaran mikro.33 75 87. Penguasaan materi pembelajaran.52 dalam kategori baik pada siklus I. dan 80. dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 berada dalam kategori baik. Hasil evaluasi secara keseluruhan kemampuan menyusun RPP diperoleh nilai 73. Hasil selengkapnya untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 3. Kemampuan Menyusun RPP Secara keseluruhan hasil evaluasi RPP para mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyusun RPP. b. Kemampuan Mengajar Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari 6 indikator yaitu : a.88 dalam kategori sangat baik pada siklus II.

Kemampuan Menyusun RPP Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan menyusun RPP. pengamatan mengajar dan pertemuan balikan Ada peningkatan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST.5 83.67 87. hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya didalam proses pembelajaran. yaitu pra siklus diperoleh nilai rata-rata 63. siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 dalam kategori baik. dan pemahaman tentang strategi pembelajaran perlu ditingkatkan lagi.Pendekatan/strategipembelajaran. khususnya penguasaan materi matematika.25 dalam kategori sedang .Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa.88 dalam kategori sangat baik. Untuk penguasaan materi masih dalam kategori sedang.5 Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik.52 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 80.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 4. Kemampuan mengajar pada pengajaran Mikro Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa FKIP UST.Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 87. d. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik.Penilaian proses dan hasil belajar f.67 83. b.Pemanfaatansumberbelajar/media pembelajaran. Prosedur supervisi klinis meliputi : pertemuan pendahulun . Kemampuan Mengajar Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a.33 87. 82 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . tapi para mahasiswa masih harus banyak berlatih dan belajar.5 66. Saran Dari hasil penelitian disarankan agar mahasiswa masih harus banyak belajar materi matematika khususnya konsep-konsep dasar matematika. siklus I diperoleh nilai rata-rata 73. Juga pemilihan strategi pembelajaran perlu untuk pemilihan yang tepat.5 Kategori Sangat baik 62. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar berikutnya. Pembahasan a.Penguasaan materi pembelajaran b. e. tapi ada beberapa mahasiswa yang didalam menyusun RPP masih kering dan kurang inovatif oleh karena itu masih perlu untuk ditingkatkan lagi khususnya dalam aspek pemilihan dan pengorganisasian materi ajar dan pemilihan metode pembelajaran. c.33 91. yaitu pra siklus diperoleh nilai ratarata 63 dalam kategori sedang . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru.

wordpress. Kesiapan Lulusan SPG dalam Mengajarkan Matematika dan IPA di SD: Disertasi. Muhamad Joko Susilo. 1989. Boston: Allyn and Bacon Inc. Sahertian.doc di download tanggal 14 April 2009 Glickman. http://ahmadsudrajat. Hasibuan dan Moedjiono.scribd.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 DAFTAR PUSTAKA Agus Taufiq. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Makmun Abin Syamsudin. Masalah-masalah ilmu keguruan.1982. 2007. 2007. 1988. dkk. C. P. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). 1986. Supervision of Intruction. Jakarta: Bina Aksara. Nana Sudjana. KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Bandung edy010169. 1983.com/2008/...Tentang Standar Nasional Pendidikan Rostijah.com/doc/23862850/supervise-klinik diakses Februari 2011 Iim Waliman. 1985. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole). Psikologi Pendidikan. Supervisi Pengajaran ( Teori dan Praktek ). Proses Belajar Mengajar. 2001.wordpress.A. Bandung: Sinar Baru Nurtain.com/2008/03/01/supervisi-klinis/ diakses Februari 2011 http://www./panduan_penyusunan_rpp. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Suharsimi Arikunto. Jakarta: Rineka Cipta.D. Bandung: PT Remaja Kosta Karya. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005.files. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 83 . 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2001. Jakarta: Depdikbud. Bandung: Remaja Karya.

Mereka belum bisa membedakan apakah suatu soal termasuk masalah permutasi atau kombinasi. memuat materi pokok peluang.3%).6%).19% siswa berada pada tahap relational.81% berada pada tahap multistructural. Hal ini dimungkinkan karena penyajian materi yang masih cenderung standar dan kurang inovatif dalam menyelesaikan soal-soal pada materi permutasi dan kombinasi.6%). dan sisanya 10. Jika batas nilai KKM untuk Kompetensi Dasar Permutasi dan Kombinasi adalah 70. kemampuan berpikir matematis.9% siswa belum mencapai KKM. Penelitian dilaksanakan dengan Pendekatan Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang terbagi dalam 3 siklus.41 % siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi pelajaran Matematika SMA kelas XI IPA Semester I. 30 siswa mendapat nilai antara 70 – 79 (14.3%).2%). dengan prosentase keaktifan 90% aktif dan hanya 10% kurang aktif. dan selebihnya mendapat nilai kurang dari 60 (36. siswa dapat menyelesaikan soal cerita pada Permutasi dan Kombinasi dengan baik dan benar. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran opend-ended di kelas dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita dan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi Permutasi dan Kombinasi di RSMABI.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERMUTASI KOMBINASI MELALUI PEMBELAJARAN OPEN –ENDED DI RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL (RSMABI) Ira Kurniawati Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMABI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran open-ended. Kata kunci : pembelajaran open-ended. Jika mereka harus duduk dengan aturan dua orang akan berdekatan hanya jika 84 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . penilaian autentik. dan proses pembelajaran berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan November 2011. kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita tentang penerapan permutasi dan kombinasi. Sementara itu dilihat dari kemampuan berpikir matematis siswa didapat 89. maka dari data tersebut tampak bahwa hanya 34. 25 siswa mendapat nilai antara 80 – 89 (12. 60 siswa mendapat nilai antara 60 – 69 (29. Sebagai gambaran jika diberikan soal cerita berikut: Empat pasang suami istri membeli tiket untuk suatu pertunjukan. Dari hasil ulangan 205 siswa kelas XI IPA RSBI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2010/2011. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2011 /2012.1% siswa yang mencapai nilai  KKM dan 65. yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes akhir siklus III sebagai berikut : 94. Mereka ingin mengambil nomor duduk secara berjajar. yang terdiri dari 37 siswa. Berdasarkan pengalaman peneliti. Pada materi pokok tersebut memuat tentang permutasi dan kombinasi. Inti masalah pada materi tersebut adalah bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan permutasi dan kombinasi.59% siswa mendapat nilai di atas KKM (75) dan hanya 5. pada materi permutasi dan kombinasi diperoleh data nilai sebagai berikut : 15 siswa mendapat nilai  90 (7. keaktifan siswa.

4). Pendidik perlu mempersiapkan suatu model.P(4. Dengan demikian siswa dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Jika siswa salah dalam menggolongkan masalah yang ada. padahal memahami masalah merupakan langkah awal dalam memecahkan masalah tersebut. agar pelajaran matematika yang diperoleh akan terasa manfaatnya. tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa pada sekolah-sekolah biasa. Soal cerita permutasi dan kombinasi bersifat terbuka. perlu adanya suatu pembelajaran yang tepat yaitu pembelajaran terbuka yang memberikan kesempatan dan kebebasan bagi siswa untuk menggunakan caranya masing-masing dalam menyelesaikan soal tersebut. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa. Pembelajaran open-ended adalah salah satu alternatif pembelajaran matematika dalam rangka mengoptimalkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi Permutasi dan Kombinasi melalui kegiatan aktif. Dalam pembelajaran matematika tugas seorang guru sebagai pendidik adalah menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa. kreatif dan kemampuan berpikir yang sistematis serta terorganisir. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus P(4. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. Oleh karena itu. dan juga karena siswa tidak bisa mengaitkan beberapa konsep secara simultan dalam memecahkan masalah tersebut. Untuk permasalahan soal cerita di atas sebagian besar siswa salah dalam menyelesaikannya. siswa tidak bisa mengklasifikasikan masalah dengan tepat. Kesalahan-kesalahan di atas terjadi di antaranya karena : siswa tidak memahami masalah dengan benar. Untuk itu pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasinal (RSBI) perlu mengembangkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan ide-idenya sehingga kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal. Siswa seringkali salah dalam mengerjakannya karena salah dalam menafsirkan soal. Sehubungan dengan pentingnya peranan matematika.4). maka sudah seharusnya proses pembelajaran matematika ditangani lebih serius. siswa tidak bisa mengkombinasikan beberapa kejadian yang muncul. Penekanan pembelajaran matematika di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari. sebagian siswa ada yang menyelesaikannya dengan menggunakan rumus akhir permutasi 4 unsur dari 4 unsur yaitu P(4. artinya cara pemecahan masalah tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai cara. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan memberikan kesempatan siswa menemukan idenya untuk memecahkan masalah dengan benar. Siswa diberikan kebebasan dalam menemukan ide dalam menyelesaikannya.4). pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang terprogram agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang baik. Jadi untuk dapat mengajar lebih efektif dan membuat anak didik merasa senang dan tidak bosan dalam belajar.4) x P(4. sehingga siswa mencintai matematika. Selanjutnya siswa akan dapat menyelesaikan soal cerita tersebut dengan benar. ada berapa banyak susunan tempat duduk yang mungkin dibentuk? Masalah tersebut merupakan masalah terbuka.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keduanya adalah pasangan suami istri atau berjenis kelamin sama . jika siswa telah dapat membedakan masalah tersebut tergolong masalah permutasi atau kombinasi. Sebagai siswa pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). sehingga kegiatan kreatif dan pola pikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. Untuk dapat memecahkan masalah di atas. pendidik harus selalu berusaha untuk memvariasikan model. pendekatan atau pun strategi dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. membentuk kepribadian serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 8! dan sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 2. diharapkan guru sebagai pendidik berusaha untuk dapat memilih model. maka langkah penyelesaiannya dipastikan akan salah. Hal ini akan berdampak positif dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 85 . serta pendidik harus berusaha menanamkan kepada siswa bahwa pelajaran matematika dapat meningkatkan penalaran. Untuk menyelesaikan soal-soal cerita seperti itu biasanya siswa kurang bersemangat dan tidak mau berusaha keras untuk memahami soal itu.

pembelajaran materi tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran open-ended dan pelaksanaan penelitiannya mengacu kepada prinsip-prinsip tindakan kelas. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. dimana masing- 86 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 1 Sukoharjo sebagai RSMABI. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. Sebagai masukan bagi pengelola pendidikan untuk menerapkan pembelajaran openended sebagai alternatif pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dan perbaikan kualitas pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Jawaban akhir bukanlah tujuan utama dalam pembelajaran open-ended. sehingga pembelajaran open-ended memberikan kebebasan dalam menggunakan strategi dan cara dalam memecahkan suatu masalah. Meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA SMA RSBI dalam menyelesaikan soal cerita tentang permutasi dan kombinasi. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Seperti telah disebutkan di muka. peningkatan kualitas pembelajaran pada materi materi permutasi dan kombinas dilakukan dengan pendekatan pembelajaran open-ended melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research ). dalam hal alternatif model atau pendekatan pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika juga sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. Sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. Oleh karena itu. yaitu : kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI?” Tujuan Penelitian Sejalan dengan itu. 2. 3. tujuan umum penelitian adalah untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga pendidikan pada sekolah RSMA BI pada umumnya dan bagi guru matematika RSMABI pada khususnya. tetapi lebih menekankan pada bagaimana sampai pada suatu jawaban. sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna karena lebih menekankan pada proses belajarnya. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. yang terdiri dari 37 siswa. permutasi. dan kombinasi. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. Pembelajaran ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan ideidenya sehingga kegiatan kreatif dan kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. Jika kemampuan berpikir matematis siswa dapat maksimal maka kemampuan siswa dalam memecahkan masalah akan meningkat sehingga prestasi belajar matematika siswa pun dapat meningkat pula. Materi pembelajaran sebagai fokus dalam penelitian ini adalah Permutasi dan Kombinasi yang terbagi atas beberapa sub-materi. METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di RSMABI Negeri 1 Sukoharjo pada siswa kelas XI IPA 3 semester 1 tahun pelajaran 2011/2012.

19% siswa berada pada tahap kemampuan berpikir matematis relational.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masing siklus terdiri dari 4 tahapan. Proses interaksi multi arah ini baru dapat dilakukan pada siklus III.11 45. yaitu : (1) perencanaan. Dan untuk menentukan prosentase ketuntasan belajar siswa pada materi permutasi dan kombinasi ditandai dengan nilai tugas dan kuis pada tiap siklus sebesar 75 ke atas. Secara umum. Teknik Pengumpulan Data Untuk mencatat kejadian selama proses pembelajaran berlangsung digunakan lembar pengamatan.99 80 . Hal ini ditandai antara lain pada waktu proses pembelajaran berlangsung tercipta komunikasi multi arah antara guru dan siswa. (3) 89.65 21. yaitu pada akhir siklus ketiga. data yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan simpulan apakah pada siklus yang bersangkutan proses pembelajaran telah berlangsung baik dan apakah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran telah baik pula. peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari nilai-nilai siswa pada tiap kuis pada akhir proses pembelajaran. Lembar pengamatan ini diisi oleh pengamat.62 Frekuensi 0 0 16 % 0 0 43. dan (3) Siklus III menggunakan modul III tentang kombinasi. Teknik Analisis Data Sesuai dengan langkah penelitian tindakan kelas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini. Sedangkan kuis dikerjakan di kelas secara individual. (2) Siklus II menggunakan modul II tentang permutasi. kualitas pembelajaran berjalan semakin baik. Setiap tugas dan kuis pada akhir pembelajaran digunakan nilai dengan skala 100. Analisis data dilakukan secara kualitatif. (2) keaktifan siswa mencapai 90%. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 siklus. (3) observasi dan interpretasi. Pada akhirnya. Tabel 1. ternyata dengan diterapkannya pembelajaran open-ended. Klasifikasi Nilai 100 90 . apakah pemahaman siswa dan kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi pembelajaran materi permutasi dan kombinasi khususnya dalam menyelesaikan soal cerita telah baik pula dan meningkat. pada tahapan analisis dan refleksi. antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah tinggi. Mengingat materi pembelajaran dalam penelitian ini hanya satu materi pokok saja. Tugas berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual di luar jam pembelajaran. (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan pada siklus berikutnya.89 Klasifikasi Nilai Kuis Materi Permutasi dan Kombinasi Kuis Siklus 1 Kuis Siklus 2 Frekuensi 3 17 9 % 8. Sedangkan untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar matematika siswa pada materi permutasi dan kombinasi digunakan tugas dan kuis pada tiap akhir siklus. Teknik Penyimpulan Pada akhir penelitian.94 24. Penyimpulan juga dilakukan secara kualitatif. (2) pelaksanaan tindakan. indikator tercapainya upaya peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan pembelajaran open-ended antara lain : (1) 94.32 Kuis Siklus 3 Frekuensi 6 18 8 % 16. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini.22 48.59% dari jumlah siswa kelas tersebut telah mencapai KKM. maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat dari rangkaian kemajuan nilai yang diperoleh siswa. dengan rincian sebagai berikut : (1) Siklus I menggunakan modul I tentang kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. baik pada tugas maupun kuis pada tiap akhir siklus.24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 87 . Penyimpulan dilakukan dengan melihat data-data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. disimpulkan apakah proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik.

11 2. rangkuman keaktifan siswa dari siklus ke siklus dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut. semua siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan masing-masing siswa mengerjakan sendiri dengan seksama.00% 0.00% Siklus I Siklus II Siklus III >=KKM <KKM Gambar 1 Perkembangan Ketercapaian KKM Sementara itu keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus juga meningkat.24 10.71 100 3 2 0 37 8.11 5.81 2.00% 80.59% 5. 88 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Hal ini nampak pada waktu pembelajaran berlangsung. tes akhir siklus II. Tabel 2. meskipun terkadang disertai dengan diskusi kecil di antara para siswa tanpa menimbulkan suasana yang gaduh di kelas.38% 21.00% 40.81 8. Rangkuman Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Ketercapaian KKM  KKM < KKM Siklus I 59. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung baik dan dipandang dari sisi prestasi belajar matematika pada materi yang memuat materi modul I sampai modul III. maka hipotesis tindakan yang mengatakan bahwa dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan openended dalam menyelesaikan soal cerita permutasi dan kombinasi.00% 70.46% 40. semua siswa berusaha menyelesaikan dan beberapa siswa mengerjakannya di depan kelas dengan cara yang berbeda. dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan siswa pada akhir siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan oleh peneliti dan telah mengalami peningkatan.62% Siklus III 94.69 < 60 Jumlah 16 4 1 37 43.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 70 .41% Adapun peningkatan ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.00% 60. maka kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir matematis akan meningkat dapat diterima.40 0 100 Dari hasil tes siklus III pada akhir siklus III.54% Prosentase Siklus II 78. Selain daripada itu berdasarkan observasi dari tim pengamat. ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. dan tes akhir siklus III. motivasi dan minat siswa dalam mempelajari permutasi dan kombinasi cukup tinggi.71 100 4 3 1 37 10.79 60 . Pembahasan Berdasarkan analisis dari tes akhir siklus pada setiap akhir siklus yaitu dari adanya tes akhir siklus I.00% 10.00% 30. Setiap ada tugas pada akhir modul.00% 90.00% 50. apabila disuruh mengerjakan soal oleh guru.00% 20. 100.

46% 0% Prosentase Siklus II 0% 5.38% 0% Siklus III 0% 0% 10.73% 59.22% 78. Rangkuman Keaktifan Siswa Keaktifan Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Siklus I 65% 30% 5% Prosentase Siklus II 80% 17% 3% Siklus III 90% 10% 0% Jika dilihat secara keseluruhan. Tabel 4 Rangkuman Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kemampuan Berpikir Matematis Prestructural Unistructural Multistructural Relational Extended Abstract Siklus I 0% 10.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 3. Gambar 2 Peningkatan Keaktifan Siswa Kemampuan berpikir matematis siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.40% 16. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 89 .81% 29. keaktifan siswa mengalami kenaikan secara signifikan. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.19% 0% Adapun perkembangan kemampuan berpikir matematis siswa dapat disajikan dengan diagram sebagai berikut.81% 89.

serta melakukan prosedur sederhana. Prestasi belajar 90 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pada tingkat ini. 2008) Pada akhir siklus. menjelaskan hubungan dan menerapkan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Gambar 3 Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcomes Taxonomy) dikembangkan oleh Biggs dan Colis (1982). melakukan analisis. siswa telah mampu menyebutkan. tetapi belum mampu membuat hubungan yang luas. e. Pada level ini. siswa mampu mengemukakan teori. tetapi pemahaman terhadap masing–masing komponen terbatas. Pada tingkat ini siswa telah mampu mengidentifikasi. fakta dan teori. Multi Structural Pada tingkat ini. Pre Structural Pada tingkat ini. dipandang dari sisi prestasi belajar pada materi permutasi dan kombinasi. mengintegrasi. maka dapat diartikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. memberikan reaksi. melakukan generalisasi. siswa tidak mengerti penjelasan dari suatu informasi. Extended Abstract Pada tingkat ini siswa mampu memiliki pemahaman yang lebih luas dari apa yang sudah diperoleh dalam pembelajaran. siswa dapat mengerti komponen secara umum. (RMIT University. mengajukan hipotesis. Siswa menunjukkan pemahaman bahwa tiap bagian memiliki kontribusi terhadap keseluruhan. ketuntasan belajar siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. dan menghasilkan sesuatu. Pemahaman di transfer dan digeneralisasikan dalam masalah yang berbeda. Relational Pada tingkat ini siswa dapat menentukan hubungan antara tiap komponen. mengurutkan. c. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. menjelaskan sebab. Siswa menunjukkan pemahaman komponen yang masing–masing bagiannya terintegrasi. sebanyak 94. Sejumlah hubungan telah dibuat. siswa kehilangan inti dari informasi yang diperoleh. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. b. Berdasarkan Taksonomi SOLO kemampuan berpikir matematis siswa di kategorikan sebagai berikut : a. Pada tingkat ini siswa dapat membandingkan. Siswa dapat menerapkan konsep ke persoalan sehari–hari atau situasi kerja. Uni Structural Pada tingkat ini siswa telah mampu membuat hubungan sederhana. mengingat. Dengan kata lain. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. kegiatan dan tujuan. mengkombinasikan dan melakukan algoritma. mengklasifikasikan. Pada tingkat ini. tetapi hubungan yang menyeluruh belum ditentukan. d.59% siswa mendapat nilai di atas KKM. Ide dan konsep tentang sebuah permasalahan belum diorganisasikan dan tidak ada hubungan satu sama lain.

kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi juga meningkat daripada kemampuan berpikir matematis siswa sebelumnya. Kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada kemampuan berpikir matematis siswa pada pembelajaran sebelumnya. Dengan pembelajaran open-ended. kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. dan kemampuan berpikir matematis.19% siswa telah berada pada tahap relational yang merupakan tahapan kemampuan berpikir siswa yang tertinggi. hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi. serta dapat melatih siswa untuk berpikir dengan lebih cermat dan sistematis. keaktifan. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. sebanyak 89. Disamping itu. Oleh karena itu. baik ditinjau dari prestasi. Prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi juga meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. dapat dikatakan bahwa pembelajaran open-ended dalam pembelajaran matematika di kelas dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. sedangkan tahap multistructural. minat dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan baik dan benar. sedangkan kemampuan berpikir matematis merupakan salah satu hasil dari pembelajaran Dengan kata lain. namun dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bukti bahwa pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. yang antara lain adalah kesulitan guru dalam pembuatan rancangan pembelajaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. Dengan peningkatan semua komponen. kepada para Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 91 . dapat menumbuhkan motivasi. siswa akhirnya mudah membedakan suatu masalah itu sebagai permutasi atau kombinasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Pada akhirnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Saran Terlepas dari kelemahannya. hai ini disebabkan pembelajaran open-ended meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kebebasan siswa dalam berpikir sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengkomunikasikan ide-idenya dalam pengerjaan soal permutasi dan kombinasi. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran open-ended. akibatnya dapat mengganggu target pencapaian materi yang harus dicapai. unistuctural dari siklus ke siklus menyusut karena kemampuan berpikir siswa cenderung meningkat ke tahap relational. proses pembelajaran materi permutasi dan kombinasi pada kelas XI IPA 3 RSMABI Negeri 1 Sukoharjo telah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan proses pembelajaran pada tahuntahun sebelumnya. dipandang dari sisi kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Dengan demikian. Motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa dalam belajar materi permutasi dan kombinasi cukup tinggi. Sebagai muaranya siswa dapat mencermati suatu kasus permutasi atau kombinasi pada suatu soal. Begitu pula jika Pada akhir siklus. maka dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Sedangkan taha extended abstract sebagai tingkat tertinggi dari kemampuan berpikir matematis menurut SOLO tidak dicapai karena dikarenakan konstruksi desain pembelajaran ditekankan pada pendekatan open-ended sehingga fokus utama pada penelitian tindakan ini adalah pembelajaran.

Bandung: JICA. 1997. New Jersey : Prentice Hall. Eggen.P. Developing Mathematical Reasoning Grade K-12. M. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Sutrisman Murtado dan J. U. Shimada. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Surabaya : PSMS Program PPS Unesa. Educational Psychology Theory into Practice. Muhammad Nur dan Wikandari.U. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta: Kencana. Dalam J. Soedjadi. P. 2000. Models of Teaching. Bandung : Remaja Rosdakarya. Jakarta : Rajawali Press. 2001.M. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. I. 1995. Winataputra dan Saripudin. Surakarta : UNS Press. R. Becker & S. 1999. Tambunan. Surabaya : University Press. 1994. T. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Teori Belajar. 2001. Landasan dan Implementasinya pada KTSP. P. M. T. (2000). Yogyakarta: Bigraf Publishi 92 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . tanggal 28 – 29 Maret 2003. Poppy. 1992. Slavin. S. Shimada (Ed. Developing Lesson Plan. George. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Materi Pokok Pengajaran Matematika. Usman. Trianto. B and Weil.). Polya. Wina Senjaya. Boston: Allyn and Bacon. 2009. New York: Mcraw-Hill. dan Kauchak. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. 2001. R. R. DAFTAR PUSTAKA Arends. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Strategi Pembelajaran.. Yaniawati. Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. 2000. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. dkk. How to Solve It. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembelajaran. Dalam J. NCTM. New Jersey : Princeton. Bandung : Remaja Karya. 1987. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika. ___________. 2003. The Significance of an Open-Ended Approach. R. 1997. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Joyce. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Inc. Boston: Allyn & Bacon. 2008. P. Classroom Instruction and Management. D. E. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bandung : Remaja Karya. Jakarta: Karunika. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep. Rusyan. Jakarta : Rineka Cipta. 1997. Zainal Arifin. Sawada. 1973. 1989. Reston : Virginia. Surabaya : University Press UNESA Muhammad Nur dan Muhammad Ibrahim. Shimada (Ed. 1996. Jakarta: Prestasi Pustaka. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 guru matematika disarankan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk materi pelajaran matematika yang lain dengan menggunakan pendekatan pembelajaran openended. Soekamto. Sardiman A. Atang Kusnindar. Purwoto. 1997. Zamroni. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Aktifitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas.). Slameto. The OpenEnded Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. 2003. 1995.D. Suherman. Muhammad Nur. 2004. Muhibbin Syah. Becker & S. Yogyakarta. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. E. Menjadi Guru Profesional. 1999. Strategies For Teacher Teaching Content And Thingking Skills. 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful