Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

DAFTAR PUSTAKA Amerom, B. V. (2000). Arithmetic and algebra: Can history help to close the cognitive gap? A proposed learning trajectory on early algebra from an historical perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Becker, J.P & Shimada, S. (1997). The open-ended approach: A new proposal for teaching mathematics. Reston: NCTM Ben-Zeev, T. Dan Star, J.(2002). Intuitive Mathematics: Theoretical and Educational Implications. Michigan: University of Michigan Brouseau, G. (1997). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers Clarke, B., Clarke, D., & Sullivan, P. (1996).The mathematics teachers and curriculum development. In Alan J. Bishop et al. (eds.), International Handbook of Mathematics Education, 2 (1207-1234). Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. De Lange, J. (1987). Mathematics insight and meaning. Utrecht, the Netherlands: OW &OC, Dissertation. De Lange, J. (1996). Using and applying mathematics in education. In A.J. Bishop et al. (eds.). International Handbook of Mathematics Education. 1 (49-97). The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. Gravemeijer, K. (1994). Educational development and developmental research in mathematics education. In Journal for Research in Mathematics Education, 25 (5), 443-471. Gravemeijer, K.P.E (2000a). Developmental research: Fostering a dialectic relation between theory and practice. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Gravemeijer, K.P.E (2000b). Taking a different perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Kansanen, P. (2003). Studying-theRealistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29,No. 2/3, 221-232 Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Bandung: SPS UPI Toom, A. (2006). Tacit Pedagogical Knowing At the Core of Teacher’s Professionality. Helsinki: University of Helsinki Treffers, A. & Goffree, F. (1985). Rational analysis of realistic mathematics education-The Wiskobas program. In L. Streefland (Ed.), Proceedings of Ninth International Conference for the Psychology of Mathematics Education, (pp.97-121). Noordwijkerhout, July 22-29, 1985. Treffers, A. (1987). Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics education. Reidel, Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Treffers, A. (1991). Didactic background of a mathematics program for primary school. In L. Steefland (ed.), Realistic mathematics education in primary school: On the occasion of the opening Freudenthal Institute, (pp.21-56). Utrecht: Center for Science and Mathematics Education, Utrecht University. Turmudi (2006). Designing contextual Learning Strategies for Mathematics for Junior Secondary School in Indonesia. Ph.D. Thesis, Melbourne, Australia: La Trobe University. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (1996). Assessment and realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, Center for Science and Mathematics Education. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (2000). Mathematics education in the Netherlands: A guide tour. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

13

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

PENERAPAN BLENDED LEARNING PADA PERKULIAHAN DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (Studi Kasus: Mata Kuliah Dasar-dasar Matematika)
Imam Sujadi Program Studi Pendidikan Matematika UNS Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menerapan model blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memadukan antara pembelajaran tatap muka dan sistem e-learning. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika UNS. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Tahapan penelitian didahului dengan mengembangkan model pembelajaran blended learning untuk mata kuliah Dasar-dasar Matematika. Selanjutnya model tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tahap-tahap penelitian tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah dasar-dasar matematika pada semester gasal tahun akademik 2011/2012. Metode pengumpulan data dengan angket, observasi dan tes, pemberian tugas/kuis untuk mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Model pembelajaran blended learning terbukti berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan kompetensi kognitif mahasiswa. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas ini dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan mata kuliah yang berbeda dan kondisi yang berbeda pula. Kata kunci: blended learning, kemandirian belajar, peningkatan kompetensi

PENDAHULUAN E-learning saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang berkembang sangat pesat, sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi pendukungnya. Tujuan utama e-learning adalah mempermudah setiap orang untuk belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa e-learning memberikan cukup banyak manfaat bagi institusi pendidikan tinggi baik bagi dosen, mahasiswa, dan penyelenggara pendidikan. Manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pertemuaan tatap muka akan berkurang, sedangkan materi yang telah dikembangkan akan terus bisa digunakan. Dengan menggunakan e-learning, biaya yang digunakan untuk memberikan materi pembelajaran bisa dihemat. Mahasiswa yang bisa mengikuti perkuliahan dengan adanya e-learning juga bisa bertambah secara kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya e-learning tempat belajar tidak lagi menjadi kendala yang mendasar, karena mahasiswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dengan segala kelebihan pemanfaatan e-learning tersebut, oleh sebagian pihak elearning dianggap sebagai model pembelajaran masa depan (future learning). Namun dibalik kelebihan tersebut tersimpan beberapa kelemahan terutama pada instruktur, infrastruktur dan assessment. Salah satu proses penting dalam proses pembelajaran adalah proses membangun pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut bisa bersifat eksplisit maupun implisit. Beberapa kelemahan pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pengetahuan yang bersifat implisit sangat tidak mungkin untuk disebarkan menggunakan e-learning. Selain itu faktor emosional, gestur, seni, dan penilaian dari pembelajaran cenderung terkurangi dengan adanya e-learning. Selain beberapa kelemahan tersebut masalah penilaian (assesment) menjadi tantangan tersendiri pada penyelenggaraan e-learning. Pada pemanfaatan e-learning dosen tidak bisa mengetahui bagaimana kemampuan sebenarnya dari mahasiswanya, karena terjadi distorsi penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh dosen sangat bersifat kognitif, sehingga kemampuan afektif maupun motorik menjadi kurang terukur. Blended-learning, salah satu tipe pengembangan e-learning, merupakan alternatif jawaban atas kelemahan yang ada pada e-learning. Blended Learning adalah cara untuk mendidik dan belajar dengan ‘mengkombinasikan’ beberapa metode dan gaya pembelajaran

14

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

yang berbeda. Blended learning berbasis pada kombinasi antara pembelajaran yang bersifat online dan tatap muka. Cara belajar seperti ini memberikan beberapa keuntungan yang bersifat fleksibel bagi dosen dan mahasiswa. Dosen tidak kehilangan gesture dan seni dalam perkuliahan, demikian juga dengan mahasiswa tidak akan merasa ketinggalan ketika tidak bisa hadir pada perkuliahan (Arai, K: 2010). Penerapan blended-learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan penguasaan kompentensi mahasiswa pada standar yang terukur. Dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi pada perkuliahan dimungkinkan adanya remedial teaching yang harus dilakukan oleh dosen. Kendala yang dihadapi dosen dalam melaksanakan remedial teaching adalah bagaimana mengatur pengelompokan kelas dan pengaturan waktu, antara yang mengikuti remidial dan yang tidak. Penerapan blended-learning diharapkan bisa mengurangi banyak tatap muka yang harus dilakukan dosen, terutama kelompok yang harus mengikuti remedial teaching (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008) Sebagai ilustrasi pada perkuliahan dasar-dasar matematika tahun akademik 2009/2010, peserta mata kuliah dasar-dasar matematika ini adalah 28 mahasiswa. Pada ujian kelompok kompetensi dasar (KKD-1) mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 15 mahasiswa (54%), pada KKD-2 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 9 mahasiswa (32%), pada KKD-3 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 11 mahasiswa (39%), sedangkan pada KKD-4 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 4 mahasiswa (14%). Ketika dosen akan melakukan remedial teaching, kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengatur waktu untuk melakukan pembelajaran pada kelas remedial tersebut. Kendala yang lain mahasiswa secara afektif kurang mempunyai kemauan untuk belajar mandiri dan kurang mempunyai kemauan bekerja menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi kendala tersebut penerapan remedial teaching bagi mahasiswa dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, merupakan suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran di prodi pendidikan matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi ditinjau dari aspek dampak peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa, studi kasus pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Asumsi yang digunakan adalah semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan kemampuan akses yang sama terhadap materi perkuliahan yang disebarkan melalui website atau learning management system (LMS). Sebagai rencana cadangan materi juga disebarkan menggunakan media CDROM. Materi yang disampaikan melalui LMS atau CDROM bersifat pengetahuan eksplisit, sedangkan pengetahuan yang bersifat implisit disampaikan di kelas. Tatap muka di kelas lebih bersifat mediasi, review, dan diskusi terhadap materi yang diberikan. Media komunikasi yang digunakan adalah media chat melalui jejaring sosial selama jam kerja, email dan forum diskusi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian E-Learning E-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran (learning) dan pengajaran (teaching) secara online menggunakan jaringan teknologi. Saat ini telah banyak penelitian mengenai elearning, terutama pada dampak (outcomes) pembelajaran yang dihasilkan e-learning jika dibandingkan dengan pengajaran secara tradisional (Hrastinski, S: 2008). Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan e-learning sebagai suplemen terhadap materi yang disampaikan secara regular di kelas. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif perkuliahan bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan (Rahayu, T: 2007). Untuk bisa mempraktekkan dan mengimplementasikan e-learning dengan baik, harus diperhatikan mengenai keuntungan dan keterbatasan setiap metode dan teknik yang dikembangkan pada e-learning. Dua tipe dasar e-learning yang saat ini berkembang adalah asynchronous dan synchronous e-learning. Sampai saat ini, tipe asynchronous lebih banyak diandalkan untuk pengajaran dan pembelajaran. Namun, seiring dengan perkembangan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

15

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

teknologi dan peningkatan kapasitas bandwith koneksi internet, tipe synchronous menjadi pilihan tersendiri (Hrastinski, S: 2008), (Rahayu, T: 2007). Blended Learning Blended-learning merupakan salah satu pendakatan dari e-learning, yang mengkombinasikan berbagai komponen pembelajaran - seperti ruang kelas, konten online, email, forum diskusi, learning management system (LMS) - dan pengalaman belajar – seperti pembelajaran individual atau berbasis kelompok - untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Blended learning mengkombinasikan tipe asynchronous dan synchronous pada pelaksanaannya. Bahkan pada prakteknya sesi ‘tatap-muka’ tidak hanya dilaksanakan secara virtual melalui chat atau email saja namun dilaksanakan di dalam kelas yang notabene merupakan cara konvensional. Tentu saja hal ini meningkatkan fleksibilitas pada pelaksanaannya. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Sehingga secara umum, blended-learning menyediakan hampir semua kebutuhan dari mahasiswa yang antara lain berkaitan dengan apa saja isi pembelajaran, waktu pembelajaran, tempat pembelajaran dan bagaimana cara belajarnya. Disamping itu pengalaman belajar mahasiswa juga akan bertambah. Blended Learning pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasis kompetensi. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi dari perkuliahan. (Rahayu, T: 2007). Berdasarkan SK Mendiknas No 232/U/2000, struktur kurikulum harus berdasar pada tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Sehingga secara garis besar, KBK bisa diartikan sebagai kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama pada tahap pengembangan ide dipengaruhi oleh kemungkinankemungkinan pendekatan, sehingga kompetensi bisa menjawab tantangan yang muncul (Rahayu, T: 2007). Pada KBK, mahasiswa diberi kesempatan secara terbuka untuk bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Jika ternyata peserta didik gagal, maka dosen harus memberikan remedial teaching. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa namun membingungkan pengampu mata kuliah. Untuk melaksanakan remedial theacing, dosen harus membagi kelas menjadi dua bagian. Satu kelas, terdiri dari mahasiswa yang tidak remedial teaching, kelas lainnya yang mengikuti remedial teaching. Hal ini tentu saja merepotkan terlebih jika ternyata pada kompetensi berikutnya ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, sehingga perlu remedial teaching juga. Untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan remedial teaching tersebut tersebut, penggunaan blended learning sangat tepat digunakan. Skenarionya semua komponen blended learning dilaksanakan, selanjutnya jika terjadi remedial teaching digunakan komponen asynchronous, dengan mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan untuk kompetensi berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga ketika mahasiswa harus remedial maka ia tidak harus membuat kelas terpecah dalam kelas kecil. Sebagai gambaran, blended learning dilaksanakan seperti pada Gambar 1. (Arai, K: 2010). METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research) yang difokuskan pada proses pembelajaran remidial. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan partisipan karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Subjek, Objek, Waktu dan Tempat Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang pada tahun akademik 2011/2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika, khususnya mahasiswa

16

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

serta peningkatan kognitif berupa peningkatan kompetensi akibat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. baik secara langsung atau lewat email (dilakukan oleh ketua sebagai pengajar). Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan sebagai berikut: (1) membuat silabus yang dilengkapi dengan RPP. (2) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan sebelum tindakan dilakukan. Pada fase kedua mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. tahap analisis dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut. Pada tahap perencanaan peneliti menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan berupa lembar observasi dan angket. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/ tindakan hal-hal yang dilakukan adalah penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. yang dilakukan adalah (1) menyusun RPP. dan atau menggunakan millis. tahap pelaksanaan tindakan. Data dan Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi keseluruhan kegiatan pelaksanaan mulai awal sampai akhir sebagai berikut: (1) Proses kegiatan penyusunan handout. masing-masing kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. (4) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang mengalami remedial teaching. Pada tahap persiapan. Sedangkan pada fase ketiga memberi kesempatan mahasiswa untuk menanyakan hal yang belum jelas pada dosen. Fokus pengamatan ditekankan pada peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa. sedangkan objek penelitian ini adalah peningkatan afektif yang berupa peningkatan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dengan mencari informasi pengetahuan yang dibutuhkan. menyusun handout. langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan. Langkah-langkah Operasional Kegiatan Pelaksanaan Penelitian Secara umum. perancangan tugas. (3) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan setelah tindakan dilakukan. Waktu penelitian selama 6 (delapan) bulan dimulai bulan Juni sampai dengan Nopember 2011. dan menyusun rancangan tugas. tahap perencanaan atau penyusunan prototype. Pada fase pertama mengidentifikasi mahasiswa yang memerlukan remidial teaching pada KKD-1 dengan cara mahasiswa diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan. untuk memberikan materi dalam rangka remedial teaching. sesuai dengan tugas yang telah dirancang oleh dosen. dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati jalannya pelaksanaan penerapan blended learning pada perkuliahan. Tahap observasi dan evaluasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi lapangan. Sedangkan refleksi dilakukan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 17 . serta kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya lewat millis apabila ada kesulitan. (2) melaksanakan penerapan blended learning pada perkuliahan remedial . Tahap analisis dan refleksi dilakukan pada masing-masing siklus yaitu pada siklus 1. Mahasiswa diharapkan mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan hasil diskusi. karena sebagian besar data yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi. (5) Tanggapan mahasiswa tentang penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Tiap-tiap kelompok ditugaskan melakukan kegiatan diskusi menyelesaikan tugas baik secara langsung. Tempat penelitian adalah di prodi pendidikan matematika JPMIPA FKIP UNS. (2) mengembangkan media berbasis website atau learning management system (LMS). Peneliti memotivasi siswa untuk mau mencari informasi yang dibutuhkan dan mau mempelajarinya. dan angket untuk mahasiswa. Analisis dilakukan dengan cara : peneliti mengumpulkan hasil observasi dan angket kemudian dianalisis bagian mana dari bahan yang belum dikuasai mahasiswa serta ditandai siapa saja mahasiswa yang belum tuntas dan tanggapan siswa (persepsi siswa) terhadap proses yang dilakukan.

serta lembar tugas yang akan diberikan mahasiswa. dan digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum dikuasai oleh mahasiswa. Perangkat Pendukung Perangkat pendukung yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Blog untuk meng-upload bahan ajar dan tugas serta review hasil tugas maupun perkuliahan. 18 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . seperti: Pengertian hal-hal yang tak didefinisikan. kuantor dengan beberapa variabel dan proposisi berkuantor. dan (D) jika sangat tidak setuju dengan isi pernyataan tersebut. Bahan ajar tersebut disajikan dalam bentuk power point. dan kontingensi. HASIL PENELITIAN 1. Instrumen bantu yang dikembangkan dalam penelitian ini selain lembar observasi adalah angket untuk melihat bagaimana aktivitas mahasiswa dan tanggapan mahasiswa dengan kuliah menggunakan pendekatan Blended learning. seperti argumen dan validitas. lemma. seperti : proposisi kata hubung logika dan pengembangan kata hubung. Perangkat Utama Perangkat Pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini adalah Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Adapun materi angket difokuskan pada hal-hal berikut ini. Bilamana kenaikannya belum mencapai angka 10 persen maka dikatakan belum ada peningkatan afektif dan kognitif dan perlu mengulang pada siklus II. teorema. dan (D) Jika tidak pernah mengerjakan sebagaimana isi pernyataan tersebut. Pada pernyataan no 1-25. adalah bahan ajar perkuliahan dasar-dasar matematika untuk KKD-1 dan KKD-2. Instrumen Penelitian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk melihat aktifitas mahasiswa didalam kelas. bahan ajar. Untuk KKD-1 pertemuan kedua berisi fungsi dan perangkai logika. Sedangkan KKD-1 pertemuan ketiga berisi negasi dan nilai kebenaran . Lembar angket dibuat untuk menggali kemandirian mahasiswa dalam perkuliahan baik pada perkuliahan biasa atau perkuliahan dengan pendekatan blended learning. hukum silogisma hipotetik dan berbagai macam modus. (B) Jika setuju . Untuk KKD-1 pertemuan pertama bahan ajar pertemuan pertama berisi konsep aksiomatika dalam matematika. aksioma. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan pertama berisi konsep kuantifikasi. kontradiksi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dengan cara: data hasil analisis dikoreksi dan didiskusikan bersama untuk perbaikan siklus selanjutnya. Sedangkan pernyataan yang berkaitan dengan model kuliah Blended Learning terdiri dari 15 pernyataan. (C) Jika jarang mengerjakan. definisi. Indikator keberhasilan dari siklus 1 ini dapat dilihat adanya peningkatan kemauan belajar mandiri dan kemauan menyelesaikan tugas yang ditandai dengan kenaikan prosentase sebelum tindakan. Berdasar hasil analisis dan refleksi pada siklus I. serta pembuktian langsung dan tak langsung. mahasiswa akan memilih huruf: (A) Jika selalu mengerjakan. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan ketiga berisi mengenal silogisma. tahap persiapan dan perencanaan pada siklus I diperbaiki untuk dilaksanakan pada siklus II. Mahasiswa diminta memilih huruf (A) Jika sangat setuju. pembuktian dengan induksi matematika. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan kedua berisi penarikan kesimpulan dan pembuktian seperti : penarikan sahih dan tak sahih. Pernyataan yang berkaitan dengan perkuliahan biasa terdiri dari 25 pernyataan. Lembar observasi yang dibuat berisi indikator untuk mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran a. Perangkat penunjang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah mailing list yaitu suatu group dari email mahasiswa peserta kuliah dan dosen untuk digunakan mahasiswa agar bisa berdiskusi lewat dunia maya. seperti: bentuk umum kuantor. (B) Jika sering mengerjakan. Pada pernyataan no 26-40. Perangkat lain yang dikembangkan adalah email yang bisa digunakan mahasiswa untuk menanyakan materi atau tugas kepada dosen. (C) Jika tidak setuju. postulat. hubungan kuantor. seperti : tautologi. Pada setaiap akhir bahan ajar diberi lembar tugas. b.

Berdasarkan Hasil angket tentang kemandirian mahasiswa didapatkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar masih rendah. kemudian menyuruh mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapatan di dalam kelas. e) Dosen menanyakan apakah materi yang susah dipahami. materi perkuliahan. dengan rincian sebagai berikut : a. Untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. Siklus I 1) Tahapan Perencanaan Berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa yang mengikuti kuliah dasar-dasar matematika pada tahun akademik 2011/2012. Berdasar hasil observasi tersebut dibuat perencanaan pembelajaran dengan metode Blended Learning. lembar tugas yang akan dibicarakan. Selain itu. semuanya berjumlah 67 mahasiswa. dengan urutan sebagai berikut: a) Mempersiapkan RPP. i) Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. c) Pada awal perkuliahan Dosen menanyakan pada mahasiswa apakah mereka sudah mendownload materi KD01-01? d) Dosen menanyakan apakah mahasiswa ada yang mengalami kesulitan materi yang sudah didownload. j) Pada pertemuan ke 4 dilakukan uji kompetensi dengan materi KD01.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 2. dengan sebelumnya dilakukan remidial teaching. k) Remidial teaching dilakukan dengan cara memberi tugas untuk mempelajari materi yang sudah diupload. Sedangkan sisanya yaitu 33 mahasiswa adalah mahasiswa pengulang. h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. dengan ketentuan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 diberi kesempatan melakukan ujian kedua. untuk memperoleh data yang akurat. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. b) Sebelum perkuliahan dilakukan. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen. mahasiswa dapat mendownload KD01-01). sudah didiskusikan dengan teman yang lain? f) Dosen membahas materi atau tugas yang sudah diupload dan materi atau tugas tersebut dianggap sulit oleh mahasiswa. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 19 . g) Dosen memberikan soal tambahan di kelas. dimana dari 67 mahasiawa tersebut 34 mahasiswa adalah mahasiswa baru angkatan 2011. Hasil Penerapan Blended Learning Penelitian penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi studi kasus pada mahasiswa yang tahun akademik 2011-2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika terdiri dari 2 siklus. dan mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas dan dikumpulkan melalui email. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen. l) Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen.

keberanian untuk mengeluarkan pendapat juga masih rendah.5%) 10 (18. menjadi bentuk yang lain. meskipun demikian dengan penerapan model pembelajaran yang dirancang rata-rata kemandirian mahasiswa meningkat untuk tiap perkuliahan yaitu dari 25.1%. Selain itu perlu ditinjau ulang tentang perlu tidaknya membangkitkan mahasiswa untuk mau mengerjakan tugas. Adapun ukuran hasil tindakan pada siklus II ini dikaitkan dengan hasil tindakan pada siklus I apabila ada peningkatan kemandirian mahasiswa dalam belajar. Meskipun demikian perlu dilakukan perbaikan khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar yaitu mengubah pola tanya jawab dosen mahasiswa lewat email. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. Siklus II Pada siklus ini dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus I.4% yang lulus UK01. (4) Kalau tugas itu tidak dikumpulkan maka semangat mengerjakan tugas itu agak berkurang. Berdasarkan hasil UK KD01 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa adalah sebagai berikut ini. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 42. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 85. sehingga masalah mendownload juga masalah tersendiri bagi mahaisiswa. (2) Terkadang Hot Spot di Kampus tidak berjalan dengan lancar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 peneliti juga melakukan wawancara tidak tersetruktur terhadap beberapa mahasiswa tentang materi yang dirasakan sulit oleh mahasiswa Berdasarkan hasil wawancara tidak tersruktur pada beberapa mahasiswa didapatkan tambahan informasi bahwa masalah perkuliahan KD01: (1) mahasiswa merasa masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 81. Adapun hasil dari observasi dan wawancara dapat dirangkum sebagai berikut ini. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga belum menggembirakan hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. 1) Tahapan Perencanaan 20 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. dan peningkatan prosentase mahasiswa yang lulus tidak perlu remedial teaching. (1) Kemandirian mahasiswa masih rendah.4% pada pertemuan ke II.6% pada pertemuan I. kemudian naik menjadi 34.5%. tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi) sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II.6%) Peserta Uji Remidi 54 44 (81.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil wawancara dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. b. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 19. (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok.4%) 54 (80. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. (3) Untuk bertanya pada dosen melalui email memang agak tidak enak.5%. kemampuan bertanya rendah.5%) Lulus KD01 57 dari 67 Peserta 85. dan meningkatkan lulusan mahasiswa yang mengikuti remedial teaching. Tabel 1 Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus I Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 13 (19. mencari literature lain.

masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. i) .8%) Peserta Uji Remidi 24 18 (75%) 6 (25%) Lulus KD01 61 dari 67 Peserta 91. demikian juga untuk bisa terjadi interaksi dengan sesama teman dan tidak hanya bertanya pada dosen maka dibuatkan forum diskusi lewat miilling list agar sesama mahasiswa dapat berdiskusi lewat internet. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. dan l) juga diubah bagaimana tugas itu harus dibuat oleh mahasiswa. Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen atau didiskusikan dengan teman melalui fun.com.uns@gmailgroup. Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. untuk memperoleh data yang akurat. sebagai berikut ini: (b) Sebelum perkuliahan dilakukan.math.edu. dan (l). Selain itu. Berdasarkan hasil UK KD02 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa sudah meningkat sebagai berikut ini: (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. kemampuan bertanya. (h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan memberi tugas untuk dikumpulkan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. mahasiswa dapat mendownload KD01-01) dan diemailkan ke fun.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil angket yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen (untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. peneliti juga melakukan pengambilan data melalui angket tentang pembelajaran dengan blended learning pada perkuliahan dasar-dasar matematika. hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini.math. Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus II Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 43 (64. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 21 . (i) i.uns@gmailgroup. Disamping itu pada langkah h). Tugas boleh didiskusikan melalui group maillist yang sudah dibuat. dengan urutan sama seperti pada siklus I hanya diubah pada langkah b) yaitu cara menyampaikan materi tidak hanya lewat blog tetapi diemailkan ke mahasiswa dengan cara mahasiswa dibuatkan milling list. mencari literature lain. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga mengalami peningkatan. dibuat perencanaan pembelajaran dengan model blended learning.edu.2%) 24 (35. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen atau silahkan didiskusikan melalui milling list. Tabel 2. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. keberanian untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai meningkat. Materi akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan.com sehingga semua mahasiswa sudah terkirim. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. Pada siklus II ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti.

Proceeding of International Conference on Open Source for Higher Education. 2002. Depdiknas. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model blended learning dapat digunakan untuk melaksanakan remedial teaching untuk perkuliahan yang menerapkan kurikulum berbasisis kompetensi. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Perangkat pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini berupa silabus. Kapp. Khan. Asynchronous and Synchronous E-Learning: A study of asynchronous and synchronous e-learning methods discovered that each supports different purposes. Succes Factor for Blended Learning. 2007. KM dan McKeague. 51 – 55. S. bahan ajar. B.1 -22. Proceeding of Fourth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society. Jakarta: Depdiknas.3% pada pertemuan ke II. PENUTUP Berdasarkan hasil maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut ini : 1. Pemanfaatan E-Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. RPP. King Fahd University of Petroleum and Minerals. 2008. Open Source Software for Blended Learning.1%. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar dan bekerja sama dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kognitif pada mata kuliah dasar-dasar matematika. DAFTAR PUSTAKA Arai. p: 964 – 968 Depdiknas. Adapun hasil dari observasi dapat dirangkum sebagai berikut ini. Disampaikan pada Workshop on e-Learning in Higher Education. Blended Learning for Compliance Training Succes. Proceeding of Ascilite Melbourne. Dari dua siklus penerapan perkuliahan blended learning telah mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa dan kemampuan kognitif mahasiswa. E dan Gerbic. khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. kemudian naik menjadi 46. Advantages and Disadvantages of eLearning Management System. _________ 2009. 2007. 2002. C. Volume 4 p. Eduneering.9% yang lulus UK02. Meskipun demikian masih perlu dilakukan perbaikan terus menerus diperkuliahan pada KD03 dan KD04. Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika UNS 22 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . P.2010. Silabus Dasar-dasar matematika. Adapun peningkatan prosentase kemandirian karena penerapan model pembelajaran yang dirancang ratarata yaitu dari 41. Bina Widya Vol 18 p: 16-24 Stacey. p:22. Benefits of Blended E-learning. Kurikulum Berbasis Kompetensi.8% pada pertemuan I. email. Educause Quarterly. 3. 2008. (1) Kemandirian mahasiswa sudah mengalami peningkatan. Nayak. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 75%. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 64. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 48. T.H. Jakarta: Depdiknas. Bloomburg.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target.2%. MK dan Suesawaluk. 2010. K. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 91. lembar tugas. Sebelas Maret University. P. 2.7 Rahayu. 2002. Hrastinski. media berupa blog. dan mailing list .

tidak pasti. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. karena tingkat kompleksitas dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi (I Gusti Putu Sudiarta. Kata Kunci: proses berpikir kreatif. matematika mempunyai peran yang sangat sentral dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama sehingga mereka siap menghadapi segala perubahan dalam segala bidang kehidupan. dan rutin. dan kompetitif (BSNP. merencanakan penerapan ide. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Adapun kemampuan berpikir tingkat tinggi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 23 . Kemampuan dasar dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. 2007). kemampuan berpikir kritis. dan menerapkan ide tersebut dalam pemecahan masalah matematika. dan jika melakukan kesalahan. 2006: 416). mengelola. analitis. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR (SD) BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Abdul Aziz Saefudin1. Dalam tahap merencanakan ide. konsep matematika. Dalam tahap mensintesis ide. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Kompetensi tersebut dikembangkan dalam diri siswa. yakin dengan jawaban yang diberikan. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Imam Sujadi2 1) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPY Jl. kreatif. Selain itu. kritis dan kreatif. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. PGRI I Sonosewu Yogyakarta 2)Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam membangun ide. kreatif. dan produktif tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global. yaitu berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya untuk menganalisis proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. sistematis. pemecahan masalah matematika PENDAHULUAN Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis. Dalam pembelajaran matematika. dan produktif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kemampuan berpikir tingkat rendah (low order thinking) atau kemampuan dasar (basic skill). mekanistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi: dalam tahap membangun ide. serta tidak menemui kesulitan. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas V SD berkemampuan matematika tinggi (skor ≥75) yang banyaknya minimal 1 orang subjek. tidak melakukan kesalahan. Dalam tahap menerapkan ide. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. agar siswa memiliki kemampuan memperoleh. mensintesis ide. Artinya. dan kemampuan bekerja sama. mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Secara khusus. 2008: 445. Sejalan dengan pendapat Silver tersebut. dalam pemecahan masalah matematika. Proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika mempunyai beberapa tahapan. mensintesis ide-ide. dan holistik (R. 2009: 146. Solso.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 bersifat divergen. linier. Sementara pola berpikir lateral menggunakan berbagai fakta yang ada. 2007). Oleh karena itu. fungsi otak yang digunakan menggunakan otak belahan kanan yang bersifat acak. merencanakan penerapan ide. tetapi dapat menggunakan pendekatan masalah terbuka atau open-ended approach (Becker dan Shimada dalam Hashimoto. Sementara Krulik dan Rudnick (1995: 3) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif meliputi tahapan-tahapan membangun suatu ide. Fleksibilitas ditunjukkan dengan kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. sekuensial. dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. iluminasi. dan kebaruan. menentukan hasil akhir apa yang diinginkan. dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. Selanjutnya Pehkonen (1997) menyatakan. untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. fleksibilitas. bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. intuitif. Originalitas menunjukkan strategi pemecahan masalah yang baru dan berbeda dengan strategi yang biasa ia atau orang lain gunakan. 2007). Selain itu. Oleh karena itu. Maksudnya. Beberapa jawaban tersebut dikatakan berbeda jika jawaban tersebut tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu (Tatag Yuli Eko Siswono. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika. Alhasil. Barak dan Doppelt (2000) mengemukakan bahwa berpikir kreatif merupakan sintesis antara berpikir vertikal dan berpikir lateral. yaitu preparasi. 2011). dan verifikasi. sedangkan elaborasi merupakan bagian dari proses berpikir di mana ide/solusi original yang muncul dengan cepat harus direspon dengan cepat sehingga ide/solusi tersebut tidak menjadi lapuk. kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah matematika terbuka. Berpikir vertikal menurut Edward de Bono dalam Barak dan Doppelt (2000) merupakan pola berpikir yang dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. dan rasional. yaitu menuntut aktivitas kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah matematika dari beragam perspektif. tidak hanya mencari jawaban yang benar dalam pemecahan masalah matematika. 1986: 18) mengemukakan empat tahap berpikir kreatif. 1997). tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa sekolah 24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Kefasihan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan memberi jawaban yang beragam dan benar. dan elaborasi (penyempurnaan). pembelajaran tidak hanya menekankan pada penyelesaian masalah tertutup atau mempunyai solusi tunggal. divergen. Kriteria kreativitas pemecahan masalah menurut Silver (1997) diindikasikan dengan kefasihan. originalitas. fleksibilitas. inkubasi. tidak teratur. Beberapa jawaban dikatakan beragam jika jawaban-jawaban yang diberikan siswa tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu. Wallas (dalam Oemar Hamalik. Dalam pola berpikir lateral. Pola berpikir vertikal terkait dengan bernalar dalam matematika sehingga lebih memfungsikan otak kiri yang bersifat logis. tidak mengherankan jika banyak penemuan baru dan terobosan ilmu pengetahuan dari hasil pola berpikir lateral. Sementara kebaruan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa menjawab/menyelesaikan masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya. dan menerapkan ide tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang baru. 2007). maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian. Produk dari proses berpikir kreatif adalah berbagai kreativitas. Campbell. berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru (Ruggiero dan Evans dalam Tatag Yuli Eko Siswono. tetapi juga cara mengonstruksi segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya (I Gusti Putu Sudiarta. Rosnawati. kemampuan berpikir kreatif menurut Lee (2005) melibatkan kefasihan.

Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Subjek mensintesis ide dengan cara menjumlahkan dua bilangan melalui kombinasi atau salah satu cara dari sifat pengelompokan. Apabila terdapat kesalahan penyelesaian soal. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Instrumen bantu berupa instrumen bantu pertama yaitu tes tertulis penentuan kemampuan matematika siswa. subjek tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Pada tahap mensintesis ide. Subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar. Jika terdapat kesalahan penyelesaian. Huberman. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengungkap proses berpikir kreatif siswa sekolah dasar dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. Manfaat penelitian ini yang lain adalah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika baik bagi siswa maupun guru. khususnya dalam bidang psikologi kognitif berupa deskripsi proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika bagi siswa berkemampuan matematika tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. 2008: 92-99). dan menerapkan ide dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. merencanakan penerapan ide. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Selain itu. strategi. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 25 . dan cara biasa. Wawancara dilakukan untuk menggali proses berpikir subjek dalam pemecahan masalah materi pokok bilangan bulat. Selain itu. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Selain itu. setelah sebelumnya menggunakan metode tes. tetapi tidak terdapat unsur kebaruan. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui pada soal dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan. hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru untuk menyusun model. Pertimbangan ide digunakan bersifat konseptual. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Demangan Baru Sleman DIY yang pernah memperoleh materi pokok bilangan bulat dan dimungkinkan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga eksplorasi tentang proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dasar (SD) yang meliputi tahap membangun ide. Selanjutnya dalam tahap merencanakan penerapan ide. Dalam menyelesaikan soal kedua. dan metode pembelajaran yang tepat. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan peneliti sebagai instrumen utama. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. mensintesis ide. Dalam menyelesaikan soal pertama. Subjek melakukan tahap menerapkan ide dengan cara penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. cara bersusun. dan Spradley dalam Sugiyono. Manfaat hasil penelitian adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap dunia pendidikan. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui. dan konsep grafik. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pewancara (peneliti sendiri). konsep KPK. subjek mensintesis ide dengan cara mencari KPK dua bilangan yang diketahui dan menggunakan cara grafik. Pertimbangannya bersifat konseptual. sajian data dan penarikan kesimpulan sekaligus verifikasinya (Miles. subjek merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu instrumen utama dan instrumen bantu. pendekatan. Analisis data penelitian kualitatif menggunakan tiga komponen utama yaitu reduksi data. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Subjek menerapkan ide penyelesaian yang fasih dan fleksibel. subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar serta tidak menemui kesulitan. instrumen bantu kedua yaitu tes tertulis pemecahan masalah bilangan bulat. dan instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara.

dan cara biasa. meski terkadang kurang tertantang pada soal-soal yang dianggap mudah diselesaikan. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). konteks pertanyaan soal. operasi bilangan). cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal umumnya dapat diterapkan untuk menghasilkan suatu solusi yang kreatif. Subjek berkemampuan matematika tinggi beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Oleh karena itu. konteks pertanyaan soal. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika 26 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memperbaiki kesalahan tersebut dengan cepat dan tepat. Ide penyelesaian diperoleh subjek dari pengalaman belajar di dalam kelas dan pengalamannya belajar di lingkungan sekitar. Selain itu. subjek berkemampuan matematika tinggi juga tidak menemui kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan soal. Pada tahap penerapan ide. subjek mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara baru secara fasih dan fleksibel. Keyakinan atas kebenaran jawaban yang diberikan juga memberikan karakteristik yang khas pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Konseptual maksudnya berdasarkan konsep yang pernah dipelajari oleh siswa. subjek berkemampuan matematika tinggi menyelesaikan soal dengan mengkaitkan bilangan-bilangan yang diketahui. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Dalam menerapkan ide. cara bersusun. tetapi kelompok kreatif juga menggunakan ide-ide yang jarang ditemui pada siswa kebanyakan. subjek membangun ide penyelesaian dari konsep pemfaktoran. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. Cara-cara penyelesaian tersebut digunakan untuk mensintesis ide-ide yang telah dimunculkan pada langkah membangun ide. Jika siswa mengalami kesulitan maka mereka dapat segera mengatasinya. Pertimbangannya bersifat konseptual dan intuitif. pertimbangan membangun ide tersebut cenderung bersifat konseptual dan intuitif. penjumlahan dan pembagian bilangan. misalnya dari pengalaman belajar di lingkungan sekitarnya. Ide-ide tersebut sangat beragam. subjek berkemampuan matematika tinggi berusaha menyelesaikan soal dengan cara penyelesaian atau jawaban yang beragam sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu. Kalaupun melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan banyak cara. Subjek juga nampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. sedangkan intuitif maksudnya berdasarkan perasaan siswa. Pada tahap mensintesis ide. Pada tahap merencanakan penerapan ide. subjek ini merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. dapat disimpulkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut: dalam tahap membangun ide. Pada subjek berkemampuan matematika tinggi. akan tetapi juga berasal dari pengalaman yang pernah diamati atau dipelajari di lingkungan sekitar siswa. Subjek merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. Subjek mensintesis ide dengan cara pemfaktoran dari bilangan yang diketahui dan memperkirakan berat suatu benda. Ide-Ide penyelesaian tersebut tidak hanya berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan soal dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). Selain itu. konsep matematika (operasi penjumlahan dan pengurangan melalui sifat pengelompokan. Subjek selalu berusaha untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh dengan saksama. konsep matematika (pemfaktoran. Subjek ini juga tidak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. konsep matematika. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian. Dalam tahap mensintesis ide. subjek berkemampuan matematika tinggi membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Ide bukan hanya dari apa yang diketahui dalam soal. subjek berkemampuan matematika tinggi cenderung memunculkan ide dengan produktif dan lancar. pembagian) dan kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu (pengetahuan dari pengalaman sehari-hari). menentukan KPK.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dalam menyelesaikan soal ketiga. Subjek berkemampuan matematika tinggi merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaji bahwa pada tahap membangun ide. subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Akibatnya.

siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel.fiz. 2004. Diunduh pada 24 Juni 2010. Jesse A. http://www. dan Kreatif. Electronic Edition ISSN 1615-679X. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. M.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.de/fiz/publication/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3. dan jika melakukan kesalahan. Universitas Negeri Yogyakarta. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). Electronic Edition ISSN 1615-679X. The Methods of Fostering Creativity through Mathematical Problem Solving.de/fiz/publications/zdm. 2000.fiz. hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk kajian dalam pembelajaran dan pengembangan penelitian lanjutan yang sama temanya atau berbeda temanya. Berpikir Lateral dalam Pembelajaran Matematika. 14 Mei 2011. terj. Psikologi Kognitif. Stephen. Robert L. Sugiyono. guru dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa dengan menggunakan strategi pemecahan masalah matematika. 1995. 1997. No. 2008. Moses & Doppelt. Buletin Pendidikan Matematika. Metodologi Penelitian Kualitatif. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School.karlsruhe. Volume 29. Oemar Hamalik. yakin dengan jawaban yang diberikan. Kritis. Jakarta: Kemendiknas. dosen.sps. Fakultas MIPA. dan Maclin. 2008. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. 2011. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan SD/MI.de/fiz/publications/zdm. 2008. Pehkonen.ejb. Mangunhardja. Using Portofolio to Enhance Creative Thinking. didownload 24 Juni 2010. http://www. Bandung: Sinar Baru Algensindo. guru hendaknya menekankan kemampuan berpikir kreatif siswa. Kyung-Hwa. Rosnawati. Krulik. Otto H. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. R. diunduh pada 24 Juni 2010. tidak melakukan kesalahan.vt. Kimberly. Solso..lib. Program Studi Pendidikan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 27 . Volume 29. Mengembangkan Kreativitas. Silver. BSNP. http:/scholar. http://math. DAFTAR PUSTAKA Barak. Massachusetts: Allyn & Bacon. Maclin. Number 2. Pendidikan dan Penerapan MIPA. diunduh pada 24 Juni 2010. dan peneliti. 1997. 2006. http://iej.upi. 3. Yaron.edu/wpcontent/uploads/2009/10/Thinking-Classroom-dalam-Pembelajaran-Matematika-diSekolah.fiz. dan Rudnick. M. disadur oleh A. 2005.net. 2007.. Volume XXVI. Dalam tahap menerapkan ide. Hashimoto. Lee. Juni 1997. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Edward A.pdf.karlsruhe. Berdasarkan kesimpulan.karlsruhe. serta tidak menemui kesulitan. Bandung: Alfabeta. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Campbell. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA: Menuju Profesionalitas Guru dan Tenaga Pendidik. http://www. No. ISSN 1443-1475. Artikel diunduh di http://suaraguru. Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian. The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers.wordpress. (3) kepada para guru. _____________________. Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda. diunduh pada 24 Januari 2011. The State of Art in Mathematical Creativity. 1997. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Edisi Kedelapan. Dalam tahap merencanakan ide. dalam International Education Journal. Tatag Yuli Eko Siswono. Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen.com pada tanggal 22 Desember 2009. 3. Erkki. Jakarta: Erlangga. 1896. diunduh pada 24 Juni 2010.edu/ejournals. (2) dalam mengajar matematika. The Journal of Tecnology Studies Summer-Fall 2000. 2009. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Thinking in Problem Posing. dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam mengajar matematika. I Gusti Putu Sudiarta. Juni 1997. Yoshihiko.

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika.com pada 23 Desember 2009. Oktober 2004. 2007. _____________________. Ringkasan disertasi diunduh dari http://suaraguru. _____________________. Volume 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Matematika FKIP Universitas Pattimura. 2007. Pembelajaran Matematika Humanistik yang Mengembangkan Kreativitas Siswa. ISSN 1412-2278. Makalah disampaikan pada ‘Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang Memanusiakan Manusia’ di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 28-30 Agustus 2007. No.wordpress. 2. 28 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Ambon. diunduh pada 2 Juni 2010.

Kognisi formal juga perlu bagi matematikawan untuk berkomunikasi dengan sesama matematikawan dalam suatu asosiasi matematika. Kognisi formal menyediakan cara ketat memahami pengetahuan matematika. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Diantaranya adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. verifikasi atau penyangkalan tanpa pembuktian (Kossak. tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. persepsi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 29 . antisipatori. penafsiran data dan penarikan kesimpulan. meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Kata Kunci : Karakteristik intuisi. pemaparan data. Akan tetapi. Subyek penelitian sebanyak 2 siswa terdiri dari 1 siswa lakilaki dan 1 siswa perempuan. dalam membuat rencana penyelesaian. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan masalah matematika bila telah dibeRikn caranya oleh Dosen. misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab. ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi. gender PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data. Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan masalah. namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. Kognisi formal merujuk kepada kognisi yang dikontrol oleh logika matematika dan bukti melalui induksi matematika atau deduksi (Fischbein.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KARAKTERISTIK INTUISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH METEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya ditinjau dari perbedaan gender. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. maka siswa seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. Sehingga dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. gender. Proses membangun pengetahuan matematika tanpa disadari menghasilkan pengenalan tentang kepastian atau ketakpastian. tidak menggunakan intuisi. dalam membuat rencana penyelesaian. Serupa dengan itu. Walaupun proses berpikir analitik dan logik memainkan peranan penting dalam merepresentasikan struktur logika pengetahuan matematika. Metode pengambilan data adalah wawancara berbasis tugas. afirmatori. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. (2) Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Karena itu diasumsikan bahwa aktivitas mental seseorang terdiri atas kognisi formal (formal cognition) dan kognisi intuitif (intuitive cognition) dari pengetahuan matematika. masalah matematika. mengejar ketepatan dan cara-cara formal hanyalah hasil akhir dari aktivitas matematika. 1994). Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. 1966). menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. Dengan kondisi demikian. berbagai dosen atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda.

yaitu intuisi yang kaitannya dengan kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris.st-andrews. dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling dari keyakinan.html) membeRikn tiga jenis intuisi. holistik. Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi. seperti membuat dugaan atau klaim pengetahuan baru. Karena itu diduga bahwa ada aktivitas mental berbeda dengan kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematik. Selain karakteristik afirmatori. Lima karakteristik intuisi yang dikemukakan Fischbein di atas merupakan karakteristik afirmatori yaitu karakteristik intuisi yang berupa pernyataan. Karakteristik dari intuisi antisipatori adalah sebagai berikut: (1) intuisi tersebut muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. (3) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. Siswa mungkin sangat yakin akan kemampuan logika dan penalaran dalam pembuktian matematik yang ketat. Akan tetapi kognisi formal tidak menjelaskan setiap langkah berpikir dalam aktivitas matematika. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat non intuitif. Contoh. Sebagai contoh: jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. (3) pemaksaan (coerciveness). yaitu intuisi merupakan kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut . self evident cognitions). representasi. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik . (2) kepastian intrinsik (intrinsic certainty).mcs.yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indra dan imajinasi. 30 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . meniru seperti prosedur pengetahuan ekperimental (3) intuisi dari bilangan murni yang dapat mencapai berpikir matematika secara nyata. (2) intuisi tersebut menyajikan karakter global. Akan tetapi hanya sedikit siswa yang berhasil dengan baik dalam aktivitas menggunakan pengetahuan formal mereka dan mungkin sekali menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah matematika. interpretasi. Karakteristik intuisi tersebut adalah (1) kognisi langsung. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris).ac. Fischbein juga mengemukkan karakteristik intuisi lain disebut karakteristik intuisi antisipatori. Konsep intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang self evident. yaitu karakteristik intuisi yang berkaitan untuk memecahkan masalah. tidak jelas apakah dapat dikembangkan kreativitas matematika melalui pengembangan kognisi formal. Pengembangan kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan formal tidak sama dengan kreativitas bermatematika yang sangat diperlukan dalam “doing” mathematics. kognisi self evident (direct. Pernyataan tentang garis lurus di atas adalah subjektif. berurutan dan secara analitis. (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. Hal tersebut disebut kognisi intuitif (intuitive cognition). dapat diterima langsung. tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. yaitu intuisi feeling tertentu dari kepastian intrinsik. yaitu intuisi yang menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual dan pada seleksinya dari hipotesis dan penyelesaian. (5) keseluruhan (globality) adalah intuisi yang berlawa-nan dengan kognisi yang diperoleh secara logika. Lebih jauh. (4) Extrapolativeness. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika. atau intuisi (intuition). Tetapi kebenaran pernyataan jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus tanpa harus membuktikannya baik secara formal ataupun secara empiris.uk /Extras/ Poincare _Intuition. bersifat memaksa dan ekstrapolatif. terasa seperti sudah suatu ketentuan. solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung. kebenaran pernyataan bahwa jumlah sudut-sudut pada suatu segitiga adalah 1800 diyakini karena telah membuktikannya. self evident. yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat nampak dari suatu kognisi intuitif. global dan kecukupan secara instrinsik. Lebih lanjut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 terhadap pengetahuan formal sangat perlu bagi siswa untuk maju ke tingkat pengetahuan matematika yang lebih tinggi. meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan. Poincare (dalam http://www-history.

yaitu: 1) Intuisi yang didasarkan oleh indera dan imajinasi dengan ciri-ciri antara lain dengan mengamati. Bagian kedua adalah jenis intuisi yang disampaikan oleh Poincare. 3) Intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara real. Oleh karena itu pada penelitian ini jenis-jenis intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika meliputi dua bagian.. sedangkan jenis intuisi yang disampaikan oleh Pincare berupa sesuatu yang mendasari adanya intuisi. Pinto (1998). and cultural dimensions are very powerfully interacting in conceptualizations of mathematics education. dengan coba-coba atau contoh-contoh. Di sisi lain. yaitu: 1) Intuisi afirmatori dengan ciri-ciri sebagai berikut: langsung. b. maka intuisi berperan dalam pemerolehan pengetahuan matematika. dengan ciri-ciri menggunakan ketentuan pada matematika. yang berupa intuisi afirmatori. Menurut Fischbein (1999). 2003). dalam memahami fakta.”. Berdasarkan hal-hal tersebut dipandang penting untuk mengetahui penggunaan intuisi untuk menyelesaian masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. “Gender. (2) designing and planning a solution. Halpern. pemerkiraan atau global. Oleh karena proses konseptualisasi berpengaruh dalam pemerolehan pengetahuan matematika. yaitu : (1) analyzing and understanding problem. 1986. seperti prosedur pada ilmu pengetahuan eksperimental dengan ciri-ciri antara lain menggunakan pola pikir induktif. tampak bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan berbeda. Polya (1973) menyusun prosedur memecahkan masalah dalam empat langkah. 2) Intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. memberikan gambaran bahwa jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein berupa bentuk intuisi. apakah laki-laki atau perempuan lebih baik dalam belajar matematika (Hightower.. penggiringan. Namun demikian tidak serta merta siswa yang menguasai langkah-langkah penyelesaian Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 31 .W. dan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa berpengaruh pada pemecahan masalah matematika. menunjukkan bahwa gender merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam proses konseptualisasi. Ditemukan bahwa perbedaan gender tidak berperan dalam kesuksesan belajar. Reis & Park. Adanya perbedaan hasil temuan dari para peneliti mengenai peran gender dalam belajar matematika menunjukkan masih terbukanya ranah penelitian untuk mengungkap peran gender khususnya dalam mempelajari topik-topik tertentu dalam matematika. a. Hyde. Sebagai contoh. (4) verifying a solution. Keitel (1998) menyatakan. 1980. Di lain pihak. dan intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. (3) explorating solutions to difficult problems. 2001). memanipulasi benda. akan muncul ketika berusaha keras untuk memecahkan masalah yang berupa ide global. Setelah itu beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda. Keitel (1998).. mengukur. M. Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dari uraian tentang jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare di atas. dan Susento (2006). konsep dan prinsip diperlukan intuisi. 2) Intuisi antisipatori dengan ciri-ciri antara lain. Bagian pertama adalah jenis intuisi berdasarkan jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein. pasti secara intrinsik. social. 1998). Perbedaan dari sisi psikologis dan biologis tersebut secara teoritis dapat mempengaruhi proses konseptualisasi dalam belajar matematika (Keitel. proses pemecahan masalah matematika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor gender mempengaruhi intuisi siswa dalam mecahkan masalah matematika. tentunya berkaitan erat dengan tahap-tahap pemecahan masalah yang dilakukan. Dengan demikian intuisi berperan dalam proses konseptualisasi.Adanya pengaruh faktor gender dalam proses konseptualisasi menunjukkan bahwa gender berpengaruh dalam memahami konsep-konsep matematika dan dalam memahami konsep-konsep matematika membutuhkan peran intuisi. self evident. membayangkan. Di samping itu banyak fakta bahwa beberapa perempuan sukses dalam karir matematikanya. Dari perbedaan psikologis dan biologis. perbedaan gender dalam mempelajari matematika dan sains dalam riset pendidikan di awal 1980-an menemukan bukti kuat dominasi laki-laki dalam matematika dan sains (Benbow & Stanley.

Walaupun siswa menguasai langkah-langkah penyelesaian masalah. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut hanyalah suatu sarana yang membantu untuk memudahkan dalam memecahkan masalah. (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah2 (setara dengan lembar tugas pemecahan masalah-1) dengan subjek penelitian yang sama dan dalam waktu yang berbeda. Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dikaji karakteristik intuisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya. (6) bila pembandingan 32 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda. observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda. Dalam penelitian ini untuk memenuhi kredibilitas data dilakukan dengan wawancara secara tekun. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara. Berkaitan dengan uraian di atas. namun diambil berdasarkan pertimbangan guru matematikanya. Selain itu. dan S2PR (siswa perempuan). maka subjek penelitian ini adalah S1LK (siswa laki-laki). Subjek dipilih tidak secara acak. Tentukan banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan memotong-motong kertas tersebut! Data dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan subyek penelitian. yaitu peneliti mewawancarai subjek dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam pemecahan masalah. Permainan memotong-motong kertas ini dilakukan sampai jumlah potongan kertas seluruhnya menjadi 352 potongan. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. (2) melakukan paparan data hasil wawancara-1. maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sragen. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis tugas. Dengan tugas pemecahan masalahh sebagai berikut: Pada suatu kelas diadakan permainan memotong-motong kertas dengan gunting. Menurut Sugiono (2011) waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. peneliti berada di sekolah dan mengamati kegiatan subjek dalam waktu yang cukup. (4) melakukan paparan data hasil wawancara-2. yaitu dengan triangulasi waktu. kemudian siswa ke-3 juga memotong-motongnya menjadi 10 potongan dan memberikan selembar kertas dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-4. Langkah-langkah triangulasi waktu pada penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada subjek penelitian dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah-1. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah tersebut akan selalu mampu memecahkan masalah matematika. kemudian siswa ke-1tersebut memberikan satu potong dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-2. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan karakteristik intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan matematika. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. Selanjutnya siswa ke-2 memotong-motong kertas menjadi 10 potong dan memberikan selembar kertas dari 10 potong kepada siswa ke-3. METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Permainan tersebut dimulai dengan salah seorang siswa (siswa ke-1) melakukan kegiatan memotong-motong selembar kertas menjadi 10 potong. (5) melakukan pembandingan hasil paparan data wawancara pertama dan kedua. terkadang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah.

maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. b. Hal ini terlihat dari jawaban S1LK yang langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tanpa melakukan misalnya. Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. subjek S1LK mencoba akan menggunakan rumus. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi antisipatori. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memahami masalah adalah subjek S1LK tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal. Karena munculnya pemikiran pada subjek S1LK menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global. b. Ungkapan dari subjek memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan rumus barisan. dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Karakteritik Intuisi Subjek Laki-laki (S1LK) a. Selain itu dari jawaban subjek menunjukkan bahwa subjek akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata yang tertulis dalam teks soal. pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. d. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 33 . Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah mencermati teks soal. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. Selanjutnya. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua hasil wawancara yang sama. sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan lembar tugas pemecahan masalah yang setara. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. maka intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. sehingga subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. dengan membuat gambar Dengan demikian subjek S1LK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal tanpa melakukan upaya tertentu untuk membantu memperjelas pemahaman masalah. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Hasil analisis wawancara akan digunakan untuk mengetahui karakteristik setiap tingkat berpikir kreatif siswa dan proses berpikirnya. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama maka dikatakan data tersebut valid. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah dalam membuat rencana penyelesaian. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan kognisi segera. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S1LK dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. c. Di samping itu. misalnya dengan membuat ilustrasi atau gambar.

tidak ada intuisi yang digunakan. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Dari hasil wawancara. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut bukan merupakan kognisi segera.. Dengan demikian subjek S2PR melakukan upaya tertentu untuk memperjelas dalam memahami soal. bahwa dari soal kelihatan ada pola dan ada beda yang disimpulkan subjek sebagai rumus barisan. 2. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Hasil jawaban subjek S1LK menunjukkan langkah dan hasil yang benar. yaitu Un = a + (n-1)b. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S1LK langsung menulis rumusnya. yaitu dengan membuat ilustrasi gambar. Walaupun subjek mengatakan sudah tahu maksud soal. Dengan demikian subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran biasa yang dapat dikatakan sebagai kognisi formal. Subjek tidak terpancing dengan pertanyaan peneliti untuk melakukan cara lain. subjek S1LK langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memahami masalah adalah dalam memahami masalah adalah tidak secara langsung dari teks. namun subjek merasa bahwa gambar diperlukan dalam memperjelas pemahaman akan soal. Selain itu. ungkapan subjek S1LK dengan kalimat mengulangi dalam menjawab yang dimaksudkan adalah memeriksa jawaban langkah demi langkah. Hal tersebut dapat diperhatikan dari hasil wawancara bahwa subjek S1LK langsung mengerjakan berdasarkan rumus barisan. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana penyelesaian adalah langsung menggunakan rumus dan subjek S1LK sudah yakin akan rumus yang digunakan. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. subjek S1LK tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek S2PR memerlukan upaya menggambar terlebih dahulu dalam memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. Dari hasil wawancara. d. Karakteristik Intuisi Subjek Perempuan (S2PR) a. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. diperolehnya rumus barisan. Di samping itu berdasarkan hasil wawancara memberikan penjelasan bahwa jawaban yang diberikan oleh subjek S1LK adalah benar. Subjek hanya mendasarkan dari teks soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 c. Subjek sudah cukup merasa yakin bahwa apa yang dilakukan sudah benar. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut adalah menggunakan kognisi formal. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara analitik. Intuisi yang digunakan untuk memeriksa jawaban Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan cara mengulangi dalam menjawab. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. nampak bahwa tidak ada pemikiran dari subjek S1LK yang berupa kognisi segera. Selain itu subjek tidak melakukan upaya lain. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam 34 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dilakukan dengan langsung mengulangi cara menjawab.

Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S2PR dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. c. subjek S2PR mencoba akan menggunakan rumus. Disamping itu. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian masalah adalah begitu memahami soal maka terpikir menggunakan rumus dan penggunaan rumus barisan didasarkan pada apa yang telah pernah ia lakukan. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. subjek hanya tahu bahwa rumus barisan diperoleh dengan mencermati teks soal. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 35 . Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. yaitu Un = a + (n-1)b. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa jawaban subjek S2PR adalah benar. Subjek S2PR tidak menjelaskan secara matematis diperolehnya rumus yang merupakan rumus barisan aritmetika. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memahami masalah tidak menggunakan intuisi. namun dengan ingatan yang tidak penuh tersebut subjek S2PR memutuskan menggunakan rumus barisan untuk membuat rencana penyelesaian. b. karena dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Ungkapan dari subjek pada S2PR. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. sehingga subjek S2PR tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. pada subjek S2PR langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya dan sesuai dengan apa yang direncanakan. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. maka intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. walaupun subjek S2PR merasa tidak begitu ingat seperti yang diungapkan . Dari uraian di atas memberikan penjelasan bahwa yang dilakukan subjek S2PR dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal. Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang bersifat global. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan kognisi segera. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi antisipatori. Karena munculnya pemikiran pada subjek S2PR menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. Dari hasil wawancara. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. karena subjek mencoba mencermati teks soal. Munculnya penggunaan rumus. Subjek menggunakan a = 1 sehingga diperoleh n = 40. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah menginterpretasi teks soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memahami masalah dilakukan dengan menggunakan gambar untuk memperjelas maksud soal. Selanjutnya. yaitu dengan mencermati gambar. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian. Subjek S2PR dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi.A10 memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan deret. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S2PR langsung menulis rumusnya. Disamping itu dan juga subjek merasakan pernah mendapati masalah serupa yang diselesaikan menggunakan rumus barisan. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal dan dari ingatan yang tidak penuh.

SARAN Berdasarkan simpulan hasil penelitian maka direkomendasikan beberapa hal berikut. tidak menggunakan intuisi. Oleh karena itu guru perlu melatih siswa perempuan agar dapat menggunakan intuisinya dalam memecahkan masalah matematika. tidak ada intuisi yang digunakan. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal. nampak bahwa subjek S2PR langsung menulis rumusnya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S2PR dalam melaksanakan rencana. 1. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Selain itu subjek S2PR tidak melakukan upaya lain.34 dan S2PR. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut bukan merupakan kognisi segera. Saran-saran Untuk Perbaikan Pembelajaran Matematika a. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S2PR dengan cara mengulangi dalam menjawab. Subjek melakukan dengan mengamati kembali apa yang telah dilakukannya. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. 36 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. d. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Dari jawaban subjek S2PR. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan langsung mengulangi dalam menjawab. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Oleh karena itu guru matematika dalam membelajarkan pemecahan masalah matematika perlu memperhatikan perbedaan gender.35 menunjukkan bahwa subjek S2PR sangat yakin akan apa yang dilakukan adalah benar. Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. dalam membuat rencana penyelesaian. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau perbedaan gender. subjek S2PR tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. dalam membuat rencana penyelesaian. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. yaitu pada S2PR. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera. sedangkan siswa perempuan tidak menggunakan dalam memahami masalah matematika. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung.A. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut adalah menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. Sehingga tidak ada pemikiran dari subjek S2PR yang berupa kognisi segera. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Subjek S2PR juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban. Misalnya dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki menggunakan intuisi dalam memahami masalah. yaitu Un = a + (n1)b. Selain itu. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah.A. 2. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 b. Warwick University. dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing”. sehingga diperoleh karakteristik intuisi dalam memecahkan masalah yang lebih variatif dan lengkap. Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. Scholz. 2001. b. 1997. Moleong. The Ohio State University. “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. “The Interaction between the Formal. “Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis. Metodologi Penelitian Kualitatif. K. In Christine Keitel (Ed). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Fischbein. Christine. Intuition in Science and Mathematics. Reidel. Ethnicity and the Politics of Schooling”.231245). “Do Mathematical Gender Differencess Continue? A Longitudinal Study of Gender Difference and Excellence in Mathematics Performance in The U. R. Biehler. & Park. 1973. “College Students’ Intuitive Understanding of the Concept of Limit and Their Level of Reverse Thinking”. 2011. 2004. 2007. Reis. W. Class.K. DAFTAR PUSTAKA Ding. Keitel. BI Norwegian School of Management. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeksplorasi intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika. How to Solve It. Perlu pembiasaan pembelajaran pemecahan masalah dengan menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah misalnya dengan menggunakan tahap pemecahan masalah dari Polya. Henden. Fischbein. “Students’ Understanding of Real Analysis”. The Evolution With Age of Probabilistic. 2007.. 279-295. H. 1994. S. 2. Saran-saran Untuk Penelitian Relevan a. Polya. Roh. Berlin Freie Universitat Berlin. Hightower. 52-73. 40. Journal of American Educational Studies Association. C. (1999). Winkelmann (Eds. 38. M. Dordrecht: D. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 37 . E. Unpublished PhD Thesis. & Schnarch. Fischbein. “Gender Differences in High-Achieving Students in Math and Science”. 1988. E. Sugiyono. Vol 28. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuaantitatif.11–50. 73. 187-203. A New Aspect of Mathematical Method.. R. Social Justice and Mathematics Education. “Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning”. Princeton and Oxford: Princeton University Press. Intuitively based Misconseptions.1996. 25. E.I. “An Introduction: Social Justice and Mathematics Education: Gender.W. Journal For Education of The Gifted. the Algorithmic. E. Educational Studies in Mathematics. Bandung: Alfabeta Susento. and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. dirasa masih kurang. G. Fischbein. Journal for Reasearch in Teacher and Mathematics Education. UNESA Surabaya. Disertasi tak Dipublikasikan. & Richardson. D. Vol No.Educational Studies in Mathematics 34. 8(2). 2005.S”. G. ‘Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’. A. Unpublished Dissertation. L. & B. Bandung: Remaja Rosdakarya Pinto. E.. S. In R. 1988. “The “Boy-Turn” in Research on Gender and Education”.S.). Kualitatif dan R & D). Zheng Zhu 2007. Song. Peneliti lanjutan hendaknya dapat menggunakan tinjauan teori intuisi selain yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare. 1987. 27–47 Fischbein. M. 2003. International Education Journal. Grossman. Sträßer. 2006. Penelitian ini dilihat dari kedalaman hasil. Dissertation. Gender differences in mathematical problem solving.J. 471-498. Review of Educational Research.L. 1997. oleh sebab itu disarankan para peneliti lanjutan untuk mepertajam fokus penelitian. Proses Kognitif. misalnya hanya diteliti untuk salah satu tahap pemecahan masalah dari .

(3) Pada mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi. FKIP UNS Surakarta Email : gatutis_wahyudi@yahoo. pembuktian dengan kontraposisi. maka akan kesulitan untuk menentukan langkah serta penyelesaian masalah. Pembuktian 38 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Berdasarkan hasil temuan penelitian ini terlihat bahwa siswa yang kelompok kemampuan analisis rendah. (2) Dilakukan penelitian terhadap subyek terpilih dengan metode think aloud dan retrospeksi untuk mendapatkan data tentang aktivitas metakognisi. siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah pada saat menyelesaikan masalah pembuktian secara langsung walaupun tidak secara lengkap namun telah melakukan aktivitas metakognisi. (3) Melalui pengkajian mendalam akan disusun teori metakognisi yang terkait dengan masalah pembuktian ditinjau kemampuan dalam bidang analisis. Di pihak lain pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung tampak bahwa pada setiap tahap pemecahan masalah Polya muncul aktivitas metakognisi. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah hanya melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. aktivitas metakognisi muncul pada setiap tahap penyelesaian masalah Polya baik pada pemecahan masalah pembuktian langsung maupun pembuktian secara tidak langsung. merencanakan tindakan dan melaksanakan tindakan. Metakognisi. (1) Dilakukan pra penelitian dan penyusunan instrumen penelitian yang disertai validasi terhadap instrumen tersebut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AKTIVITAS METAKOGNISI MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PEMBUKTIAN Gatut Iswahyudi Prodi Pendidikan Matematika. aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah tingkat aktivitas metakognisis mereka berada pada tingkat kemampuan analisis kurang. Mahasiswa yang menempati tingkat kemampuan analisis sedang atau tinggi sudah memahami konsep tentang pembuktian langsung. Hasil Penelitian ini adalah. Kata kunci: Aktivitas. Di pihak lain. Pengetahuan mahasiswa tentang cara menganalisis suatu masalah tentu akan membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian yang dimulai dengan perencanaan yang baik. sehingga siswa akan mampu mendaftar secara lengkap semua hasil yang mungkin dari suatu masalah. dan pembuktian dengan kontradiksi. (2) Sedangkan mahasiswa yang berada pada tingkat kemampuan analisis sedang. Pada ke tiga tahap selanjutnya ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. (1) Siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah secara umum tidak melakukan aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian tidak langsung.com Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap tentang aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian dalam matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari kemampuan di bidang analisis. Namun pada tahap selanjutnya yaitu tahap melakukan evaluasi ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. melaksanakan rencana dan mengevaluasinya. mereka mampu menggunakan dan menerapkan strategi generatif yang memungkinkan mendaftar secara lengkap data-data yang akan digunakan dalam memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun secara tidak langsung. Mahasiswa yang tidak memahami konsep pembuktian tidak langsung (pembuktian dengan kontradiksi). Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian kualitatif eksploratif dengan tahapan sebagai berikut. Secara lebih spesifik. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui: Aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian langsung.

1993). guru sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah. Agar guru dapat membangkitkan kemampuan metakognisi siswa. Kemampuan analisis merupakan kemampuan tingkat ke-4 dalam taksonomi Bloom. kemampuan memahami. Guru dalam hal ini dapat mendorong siswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. yang berturut-turut adalah kemampuan mengingat. Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 39 . dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot. 2008). pembuktian dalam matematika dapat dikelompokkan pembuktian langsung. Dalam dimensi proses kognitif. Berpikir tentang dirinya sendiri berkaitan dengan kesadaran siswa terhadap kemampuannya untuk mengembangkan berbagai cara yang mungkin ditempuh dalam memecahkan masalah. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam pemecahan masalah serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell. Sehingga meneliti karakteristik seseorang berdasarkan kemampuan analisis yang dimilikinya perlu dilakukan. menerapkan berbagai strategi yang diperlukan. Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas. Dale. dikenal sebagai metakognisi. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya antara lain membangun pengetahuan matematika yang baru. dan pembuktian tidak langsung. Salah satu bentuk proses pembelajaran yang tepat adalah dengan memanfaatkan proses pemecahan masalah. Proses menyadari dan mengatur berpikir siswa sendiri tersebut. Proses berpikir dalam pemecahan masalah merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian guru terutama untuk membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika. masalah membuktikan merupakan bagian yang sangat penting dalam matematika Didasarkan pada metode yang digunakan. Pengetahuan. Melalui pemecahan masalah matematika. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg. 2005). Terkait dengan masalah dalam matematika. O’Malley dan Spanos. pembuktian dengan contoh penyangkal. proses belajar matematika merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan. pemantauan. kemampuan mengevaluasi dan kreativitas. khususnya dalam memecahkan masalah pembuktian. Beberapa cara pembuktian lain dalam matematika adalah pembuktikan dengan induksi matematika. dan merefleksikan proses pemecahan masalah matematika (Pearson Learning Group. 1992). Masalah menemukan adalah suatu jenis masalah yang tujuannya akan dicari dan prosesnya diperlukan. ketrampilan dan terbentuknya sikap tersebut tentu hanya akan dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang tepat. tetapi lebih kepada memungkinkan siswa berpikir tentang dirinya sendiri. Jenis-jenis pembuktian yang termasuk pembuktian tidak langsung adalah pembuktian dengan kontradiksi dan pembuktian dengan kontraposisi. keterampilan dan membentuk sikap. kemampuan menganalisis. 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan pemecahan masalah dalam matematika adalah tidak untuk melengkapi siswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses. kemampuan mengaplikasi. Panaoura dan Philippou.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PENDAHULUAN Pada hakekatnya. masalah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu masalah menemukan (to find) dan masalah membuktikan (to prove). kemampuan analisis seseorang mempunyai peran yang penting dalam menunjang keberhasilan belajar matematika. 1979. memilih strategi yang digunakan untuk menemukan pemecahan. memecahkan masalah dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan matematika. Masalah membuktikan adalah masalah yang tujuannya sudah ditentukan tetapi prosesnya diperlukan. Diantara masalah tersebut. termasuk didalamnya adalah berpikir tentang bagaimana siswa membuat pendekatan terhadap masalah. dan bertanya kepada diri sendiri tentang masalah tersebut (Gartman dan Freiberg. dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh siswa pada semua tingkat pendidikan. Siswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan.

Brown mendefinisikan metakognisi sebagai suatu kesadaran terhadap aktifitas kognisi seseorang. Khusus dalam pemecahan masalah matematika. yaitu masalah menemukan (problem to find). pemantauan. tetapi bukan merupakan masalah lagi bagi orang itu pada saat berikutnya. diantaranya oleh Flavell dan Brown. the methods employed to regulate one’s own cognitive processes. and monitors cognitive activity (Lee dan Baylor. 2006). Kirsh (2004) mengemukakan bahwa metakognisi khususnya dalam bidang pendidikan. Berdasarkan definisi di atas. pemantauan. metakognisi cakupannya dibatasi pada tiga komponen yaitu perencanaan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 kepada para guru atau calon guru tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan dalam memecahkan masalah matematika secara umum dan secara khusus dalam memecahkan masalah pembuktian. dan masalah membuktikan (problem to prove). Artinya suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang. and a command of how one directs. merencanakan. Flavell mendefinisikan: metakognisi sebagai kemampuan untuk mengerti dan memantau berpikir sendiri dan asumsi serta implikasi dari kegiatan seseorang. maka diajukan pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana proses metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. masalah terbagi menjadi dua. 1992. Sementara itu. KAJIAN TEORI Pengertian Metakognisi Secara sederhana metakognisi didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi tentang kognisi seseorang (Nelson. salah satu yang banyak dirujuk adalah pentahapan oleh Polya (1973). yaitu “untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. Ketiga kompunen ini merupakan satu rangkaian dan saling terkait dalam aktivitas metakognisi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan apakah pernyataan itu benar atau salah? Bagian utama dari masalah ini adalah hipotesis dan konklusi suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dikemukakan di atas. Pada penelitian ini. metode yang digunakan untuk mengatur proses kognisi seseorang dan suatu penguasaan terhadap bagaimana mengarahkan. Livingston. Pada penerapannya. yang mengemukakan empat tahapan penting yang perlu dilakukan yaitu: 40 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 1997. penulis mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan untuk menyadari kognisi sendiri dan kemampuan mengatur proses kognisi sendiri. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Stanic & Kilpatrick (1988: 15) mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukan di waktu sebelumnya. 2006). tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi orang lain. Demikian pula suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang pada suatu saat. 2004). dan memantau aktivitas kognitif metacognition as an awareness of one’s own cognitive activity. Berdasarkan uraian di atas. abstrak atau konkrit. evaluasi dan perbaikan kemampuan bekerja (performa). Menurut Polya (1973). Gama. Bagian utama dari masalah menemukan antara lain: apa yang dicari? Apa saja data yang diketahui? bagaimana syaratnya? Sedangkan masalah membuktikan merupakan masalah untuk menunjukkan apakah suatu pernyataan benar atau salah. Terdapat beberapa definisi tentang metakognisi yang berkembang dalam bidang psikologi kognitif. dan refleksi. atau tidak keduanya. Masalah untuk menemukan merupakan suatu masalah teoretis atau praktis. berkaitan dengan aktifitas dan keterampilan berhubungan dengan perencanaan. plans. bila orang itu telah mengetahui cara atau proses mendapatkan pemecahan masalah tersebut. Ini menunjukkan bahwa suatu tugas merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu. metacognition as the ability to understand and monitor one’s own thoughts and the assumptions and implications of one’s activities (Lee dan Baylor.

dan (3) tahap pemeriksaan (evaluation the plan action). Memahami masalah (understanding the problem) meliputi mengerti berbagai hal yang ada pada masalah seperti apa yang tidak diketahui. 4. Dalam penelitian ini. Pengkategorian aktivitas metakognisi didasarkan pada suatu tabel aktivitas metakognisi yang disusun dengan mengadopsi tabel serupa yang dikemukakan NCREL (1995) dipadukan dengan yang dikemukakan oleh Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) dengan melakukan modifikasi sesuai situasi pemecahan masalah yang dilaksanakan. Memikirkan tentang pengetahuan yang dapat membantu dalam memahami masalah 2. Memeriksa kembali jawaban (looking back) meliputi pengujian terhadap pemecahan yang dihasilkan. dan (3) bagian akhir. apakah langkah yang dilakukan sudah benar atau dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar. apa saja data yang tersedia. Tahap ini merupakan tahap mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. (2) tahap pemantauan (monitoring the plan of action). Memikirkan tentang lama waktu yang anda MMAW1 MMAW2 MMAW3 MMAW 4 MMWA Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 41 . Tahap ini merupakan tahap memikirkan rencana tindakan. (2) pemantauan (monitoring). Tabel 1 Aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan dengan langkah yang diusulkan oleh Polya Pemecahan masalah menurut Polya Memahami masalah dengan mengidentifika si dan mengkla sifikasi masalah Aktivitas Metakognisi Kode Bagian Awal (Before) 1. Proses metakognisi dimaksudkan sebagai rangkaian aktifitas metakognisi yang dilakukan peserta didik ketika memecahkan masalah. dan sebagainya. 2. apa syaratsyaratnya. Melaksanakan rencana (carrying out the plan) termasuk memeriksa setiap langkah pemecahan. dengan memilih fokus pada proses metakognisi yang dilakukan mahasiswa calon guru ketika memecahkan masalah pembuktian. 3. Memikirkan rencana (devising a plan) meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahui. (2) bagian inti. dan sebagainya. selama dan sesudah. Memikirkan tentang langkah-langkah dalam memahami masalah ( Memikirkan apa yang pertama kali harus dilakukan) 4. dan membangun alternatif penyelesaian. Sejalan dengan pandangan Brown.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 1. dan (3) refleksi (reflection). Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) mengelompokkan aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah matematika terdiri atas (1) perencanaan (planning). terkait dengan adanya istilah yang hampir sama maka tiga tahap aktivitas metakognisi ini disebut sebagai (1) bagian awal. Selanjutnya NCREL menyebut tiga tahap tersebut sebagai tahap sebelum. Tahap ini merupakan tahap melaksanakan tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Tahap ini merupakan tahap memahami masalah dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah. Berikut ini disajikan tabel aktivitas metakognisi tersebut. apakah syarat tersebut cukup untuk menentukan hal yang tidak diketahui. Memikirkan tentang arah/tujuan dalam memahami masalah 3. Demikian juga NCREL (1995) mengelompokkan metakognisi ke dalam tiga elemen dasar yaitu (1) tahap pengembangan rencana (developing a plan of action). Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematika Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat proses metakognisi dalam pemecahan masalah matematika. Memikirkan tentang apa yang dipahami merupakan bagian yang penting dalam rangka memahami masalah 5.

Sadar tentang langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan pemahaman terhadap masalah yang diberikan 4. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam memahami masalah Bagian Akhir (After) 1. Memikirkan tentang apa yang dilakukan pada saat memahami masalah 2. Sadar bahwa cara pemahaman masalah yang dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Merasa dapat menerapkan cara pemahaman masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum merencanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pergunakan dalam memahami masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar atas ketepatan cara dan langkah pemahaman masalah dilakukan 2. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan MRIT2 42 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Merasa dapat melakukan langkah pemahaman terhadap masalah dengan cara berbeda 4. Sadar tentang pengetahuan apa saja yang diperlukan dalam merencanakan pemecahan masalah ini 2. Sadar tentang arah dari apa yang direncanakan (telah menemukapaan hubungan antara data-data (konsepkonsep) yang tidak diketahui dengan data-data (konsep-konsep) yang diketahui 3. Sadar bahwa sudah merasa berada pada jalan yang benar saat memahami masalah. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar bahwa dalam merencanakan pemecahan masalah harus ditemukan definisi-definisi maupun teorema-teorema yang terkait dengan masalah itu 2. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah 5. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat MRIT1 merencanakan pemecahan masalah. Sadar tentang perlunya kembali pada tahap awal dalam memahami masalah Memikirkan rencana tindakan dan membangun alternatif penyelesaian Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam merencanakan pemecahan masalah 5 MMIT1 MMIT2 MMIT3 MMIT4 MMIT5 MMIT6 MMAK1 MMAK2 MMAK3 MMAK4 MMAK5 MRAW1 MRAW2 MRAW3 MRAW4 MRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam memahami masalah dengan cara lain yang berbeda 6. 3. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat 5.

Sadar akan ketepatan langkah perencanaan pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat PRIT1 melaksanakan rencana pemecahan masalah. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam merencanakan pemecahan masalah ini Melaksanakan Bagian Awal (Before) rencana tindakan 1. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan setelah menemukan definisi-definisi maupun teoremateorema yang terkait dengan masalah itu 4. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam merencanakan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus PRIT3 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 43 . Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan pemecahan masalah MRIT3 MRIT4 MRIT5 MRIT6 MRAK1 MRAK2 MRAK3 MRAK4 MRAK5 PRAW1 PRAW2 PRAW3 PRAW4 PRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. sadar sudah memperhitungkan atau melibatkan semua hal yang penting yang terkandung dalam masalah ini 3. Sadar merasa telah melakukan langkah perencanaan pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan dengan memilih untuk membantu melaksanakan rencana tindakan strategi pemecahan masalah yang diberikan penyelesaian 2. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat merencanakan pemecahan masalah 5. 2. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan PRIT2 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Merasa dapat menerapkan cara perencanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu.

Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk membantu melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan 2. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan 4. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Berpikir tentang hal lain yang terkait dengan evaluasi pelaksanaan pemecahan masalah 5. Sadar bahwa pada saat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dilakukan 4. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar merasa telah melakukan langkah pelaksanaan rencana pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Bagian Awal (Before) 1. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan rencana pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah PRIT4 PRIT5 PRIT6 PRAK1 PRAK2 PRAK3 PRAK4 PRAK5 EPAW1 EPAW2 EPAW3 EPAW4 EPAW5 EPIT1 EPIT2 EPIT3 EPIT4 44 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah Bagian Inti (During) 1.

Dalam mengerjakan soal. Sadar merasa dapat melakukan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal berdasarkan tahap-tahap pemecahan masalah Polya. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan EPIT5 EPIT6 EPAK1 EPAK2 EPAK3 EPAK4 EPAK5 Berdasarkan deskripsi aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika dengan langkah yang diusulkan oleh Polya tersebut diatas disusun penjenjangan proses metakognisi pada pemecahan masalah pembuktian. Ungkapan-ungkapan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 45 . selanjutnya pada akhir tiap tahap dilakukan wawancara untuk mengungkap aktivitas metakognisi pada tahap tersebut. Penjenjangan proses metakognisi yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut. Terkait dengan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Mahasiswa diberi soal tentang masalah pembuktian. Sadar bahwa evaluasi dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah Bagian Akhir(After) 1. Soal terdiri dari satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian langsung dan satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian tidak langsung. METODE PENELITIAN Penelitian ini mendiskripsikan proses metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkahlangkah Polya dengan mengungkap secara mendalam respon siswa. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Dalam hal ini proses metakognisi dibagi dalam empat jenjang berdasarkan prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah yang dilakukan 2. Tabel 2. Penjenjangan Proses Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Kategori Proses Metakognisi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Indikator 80%X100% 60%X<80% 40%X<60% 20%X<40 0%X<20 Keterangan : X= Prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi dari subjek penelitian pada keseluruhan tahap pemecahan masalah.

penafsir data. dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut (Moleong. pengamatan dan wawancara dapat dilihat karakteristik metakognisi siswa. HASIL PENELITIAN Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah adalah sebagai berikut. MMAK2. MMAW5. 46 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . penyederhanaan. 2003). Dalam hal ini peneliti merupakan perencana. MMAK3 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Tahap memikirkan rencana tindakan. pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan). Pemecahan Masalah Menurut Polya Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah Ciri yang teramati MMAW1. MMAW4. dan akhirnya sekaligus menjadi pelapor hasil penelitian. Instrumen lembar tugas ini divalidasi oleh ahli. MRIT2. MRAW5. MRAW4. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas penyelesaian masalah matematika. MMIT2 . Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran metakognisi siswa. Sehingga jika X menyatakan rataan skor prestasi belajar siswa berkemampuan analisi tinggi. kemudian untuk setiap tahapan dalam meyelesaikan masalah berdasarkan tahapan Polya diadakan wawancara untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan. membangun alternatif penyelesaian adalah sebagai berikut. MMIT1. Sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif-eksploratif. membangun alternatif penyelesaian Ciri yang teramati MRAW1. MRAW6. Adapun kriteria kemampuan analisis tinggi adalah rataan skor prestasi belajar matakuliah kelompok analisis yang telah ditempuhnya lebih besar atau sama dengan 80 dalam skala 100. MMAW2. MMIT3 . Analisis data penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil wawancara. MRAK1. dengan cara mereduksi data (yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. MMAW3. MRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian adalah sebagai berikut. dan pedoman wawancara. memaparkan data (meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. MRAK2. Subyek penelitian adalah Mahasiswa . MRIT4. pemusatan perhatian. Dari hasil pekerjaan siswa. Sedangkan instrumen lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. analisis. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut). Mahasiswa yang dipilih sebagai subyek adalah mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Analisis real I. maka penelitian ini bersifat kualitatif. MMIT5. pelaksana pengumpul data.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang disampaikan berupa kata-kata. Prosedur pengumpulan data diakukan dengan cara subyek diberi lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. yang terdiri atas satu orang ahli pendidikan matematika dan satu orang ahli dalam bidang matematika kelompok bidang analisis. MMIT4 . Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika. MRIT1. Data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dan disusun transkip wawancara tersebut untuk selanjutnya dilakukan analisis terkait dengan aktivitas metakognisi yang dilakukan. maka 80  X  100 . Pemecahan masalah menurut Polya Tahap memikirkan rencana tindakan.

dan 68%.5%. EPAK5 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 47 . EPIT3. sehingga berada pada kategori baik. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 56.19%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. EPIT6.25%.25%. sehingga berada pada kategori baik. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian.25%. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian.94%.75%. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. adalah sebagai berikut. 3. 75%. 68. EPAK4. cukup memadai. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Secara umum keterlaksanaan aktivitas metakognisi yang dilakukan mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi ketika memecahkan masalah pembuktian langsung. cukup memadai. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. 50%. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. cukup dan baik. 4.77%.5%. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. cukup memadai. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. sehingga berada pada kategori baik. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 69. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 62. sehingga berada pada kategori baik. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. PRAK1. EPIT5. EPAW2. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 60. sehingga berturut-turut berada pada karegori baik. cukup. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. Pemecahan masalah menurut Polya Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik KESIMPULAN 1.5%. 62. cukup memadai. Secara keseluruhan tahap pemecahan masalah diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. Ciri yang teramati EPAW1. dan 62. PRAW4. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 75%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. PRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik adalah sebagai berikut. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. dan 62.77%. PRIT1. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. 62. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. PRAW3. dan 68%. 2.5%.5%.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pemecahan masalah menurut Polya Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian Ciri yang teramati PRAW1.

Yogyakarta Livingstone.5%. G.25%. Metacognition: An Overview. H. O. Flavell. Allyn and Bacon. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian langsung.html Nelson. sehingga seluruhnya berada pada kategori kurang. Metacognition and Cognitive Monitoring.. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. 31. and Philippou. and Philippou.5%. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. DAFTAR PUSTAKA De Corte.. NCTM. 2005. 2003. Problem Solving in School Mathematics. sehingga berada pada kategori kurang.Thinking about thinking .ucy. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 32. 37.. Proceedings of the International Conference. Virginia. UAD.. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian.1 NCREL. R. The Measurement of Young Pupils’ Metacognitive Ability in Mathematics: The Case of Self-Representation and Self-Evaluation. T. G. www. http://www. Gama. Boston. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Heuristic in the Class Room. 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. sehingga masing-masing berada pada kategori kurang. J.. H. Boston. 2004. Allyn and Bacon. Metacognition .htm Panaoura.edu/fos/shuel/ cep564/metacog.iinet.cy.81%. E. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah.buffalo. 31. Schoenfeld. Second Edition. Download tanggal 12 November 2007. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 31. J. 1980. Download tanggal 12 November 2007 Panaoura. 1992.cy..Learning to learn http://members.5%. 2000. 1992. 1. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. A. A New Area of Cognitive – Developmental Inquiry. 1979. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian... 37. 2004. Integrating Metacognition Instruction in Interactive Learning Environment.. A. Soedjadi. dan 37. www. (1995).5%. Metacognition. 1973.. belum memadai. Intervention Research: A Tool for Bridging the Theory – Practice Gap in Mathematics Education.ac. Core Readings. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.gse. R. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung.5%. (Ed).net. dan Reys.ac.ucy. University of Sussex Julan Hernadi. 2008. 48 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%.au/metacognition. Polya. dalam Krulik S. Princeton. E. Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Phil Dissertation. A. dan 37. D.. A. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. belum memadai. in Nelson. How To Solve It.5%. Young Pupils’ Metacognitive Abilities in Mathematics in Relation to Working Memory and Processing Efficiency. C. Metacognition.. The Mathematics Education into the 21st Century Project. Jakarta.. Brno Czech Republic. Princeton University Press. O. G. T. New Jersey. sehingga berada pada kategori kurang. Metode Pembuktian dalam Matematika. 1997. A. (Ed).

Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP di Kabupaten Blora. Dengan demikian. Mardiyana2.73) maupun nasional (7. PENDAHULUAN Sejalan dengan paradigma baru pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Dari 10. tes gaya kognitif (GEFT). dan tes prestasi belajar matematika. proses pembelajaran akan berpusat pada peserta didik dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. (6) Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Hanya saja. Berdasarkan laporan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 tersebut. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan awal matematika. Suyono2 1) Program Studi Magister Pendidikan Matematika 2) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran. terdapat 3. (2) Terdapat pengaruh keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. (7) Terdapat interaksi antara model pembelajaran.006 peserta ujian nasional SMP di Kabupaten Blora pada tahun pelajaran 2009/2010. keingintahuan.779 peserta didik (sekitar 37. keingintahuan. angket keingintahuan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme pada pembelajaran matematika diduga berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. yang akan membantu peserta didik dalam mengkonstruksi pemahamannya sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan. Uji keseimbangan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal yang seimbang. (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. Selain itu.77%) yang memperoleh nilai matematika di bawah rerata. mata pelajaran matematika bagi peserta didik SMP di Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 49 . diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. (3) Terdapat pengaruh gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. diperoleh simpulan bahwa (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika.05. Dengan α = 0.29). dan gaya kognitif. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. pelaksanaan inovasi pembelajaran tersebut terganjal dengan masih lemahnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. Inovasi pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan tantangan belajar sesuai kemampuan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual peserta didik. serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika peserta didik.53) lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah (6. pemerintah mendorong pelaksanaan inovasi pembelajaran matematika yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KEINGINTAHUAN DAN GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK SMP DI KABUPATEN BLORA Agung Putra Wijaya1. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3x2. rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora (6.

Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah dan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian di SMP yang telah terpilih. dan angket.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Kabupaten Blora ini merupakan mata pelajaran penyumbang angka ketidaklulusan terbesar kedua setelah mata pelajaran bahasa inggris. a. Selain itu. analisis daya serap hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 terhadap tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi pokok persamaan garis lurus. terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian meliputi metode dokumentasi. c. salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. guru harus cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan. diantaranya keingintahuan dan gaya kognitif. Sampling dilakukan menggunakan teknik stratified cluster random sampling sedemikian sehingga terpilih sampel penelitian sebagai berikut. Selain model pembelajaran. maupun rendah. menentukan persamaan garis pada sebuah grafik. yakni menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 (a. Di antara banyak model pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Dengan mengetahui perbedaan kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif setiap peserta didik. peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya melalui diskusi kelompok. b. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus dimungkinkan karena konsep tersebut belum benar-benar dikuasai oleh peserta didik. Kesulitan-kesulitan tersebut hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan peserta didik lain atau guru matematika yang mengajar. sedangkan peserta didik hanya menyimak. c bilangan bulat selain satu). Selama kegiatan pembelajaran guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas. Metode tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan 50 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Melalui model pembelajaran kooperatif. Sampel. SMP Negeri 1 Cepu dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dua. menentukan grafik dari persamaan suatu garis menunjukkan bahwa penguasaan konsep persamaan garis lurus oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora masih rendah. sedang. baik untuk kelompok tinggi. Selain itu. sebagian besar guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. dan mengerjakan latihan soal. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu. dan Sampling Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik di 76 SMP yang ada di Kabupaten Blora. mencatat. SMP Negeri 2 Blora dengan kelas VIII 3 sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII 5 sebagai kelas eksperimen dua. b. tes. SMP Muhammadiyah 1 Blora dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dua. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai secara optimal. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Populasi. diharapkan membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya terhadap konsep matematika sehingga prestasi belajar matematika peserta didik lebih optimal.

6667 9.0540 3. Data Kemampuan Awal Matematika dan Uji Keseimbangan Berikut disajikan deskripsi data kemampuan awal matematika peserta didik. Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen.0132 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.7909 2274. terhadap data kemampuan awal maupun data prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett.6239 FI 18 76 100 88.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 awal. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak. Metode angket digunakan untuk memperoleh data keingintahuan peserta didik. Rangkuman Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Sumber A B C JK 1221.6692 Fhit 9. Mod.0843 16.7462 27 52 100 75.1111 7.9017 Keputusan Uji H0A ditolak H0B ditolak H0C ditolak Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 51 .0048 8 60 100 75. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Keingintahuan Gaya Kog.6924 9 72 96 83.2573 17 56 100 76.6692 dk 1 2 1 RK 1221.7283 14 44 84 64.0828 15. prestasi belajar matematika.8918 FI 6 84 100 94.6409 1279. dan gaya kognitif peserta didik.9125 9. dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji-t. Tabel 3.6753 Sedang FD 22 48 88 70.4706 14.0000 15.7909 4549. N Nilai Min N H Nilai Maks T S N S Nilai Min T Nilai Maks A D S Tinggi FD 12 72 100 91. B.6667 7. Tabel 2.2222 8.5714 13.5238 66. dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’.9524 S 14.3533 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. HASIL PENELITIAN A.5000 10.2818 1279. Data Penelitian dan Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pokok persamaan garis lurus.9017 3.8519 12. Sebelumnya. Tabel 1.5455 11.1132 Rendah FD 16 48 84 60.5556 8. Berikut disajikan hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.4000 11.4237 FI 10 52 88 72. Pemb.5147 Ftabel 3. Deskripsi Data Kemampuan Awal Matematika Peserta Didik Kelas Eksperimen Satu Eksperimen Dua n 84 84 Nilai Min 40 40 Nilai Maks 96 96 67. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.7207 9 56 80 67. Hasil uji keseimbangan menggunakan uji-t terhadap data kemampuan awal matematika peserta didik diperoleh simpulan bahwa populasi mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang.

5074 1191. 4) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. b. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah.4945 15.0540 3. maupun rendah sama baiknya.1191 811. sedang. c. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.0540 3.0338 4.2383 811.1480 36016. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah.9017 3. a. 5) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.0764 1754. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif peserta didik. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.7845 2 1 2 2 156 167 2114. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0540 - H0AB ditolak H0AC ditolak H0BC ditolak H0ABC ditolak - DESKRIPSI HASIL ANALISIS VARIANSI TIGA JALAN DENGAN SEL TAK SAMA Deskripsi hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dan uji komparasi rerata adalah sebagai berikut.7190 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AB AC BC ABC Galat Total 4228. dengan deskripsi sebagai berikut.4280 6. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.5382 877.0724 20981. dengan deskripsi sebagai berikut. e.5210 - 3. 52 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.0362 134. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.5074 595. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan peserta didik. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. d.

keingintahuan. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 6) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik diabndingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 5) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 2) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. f. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 3) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dan gaya kognitif peserta didik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 3) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 5) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. maupun rendah sama baiknya. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 53 . 1) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. g. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 4) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 54 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 gaya kognitif field dependent. 11) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 14) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 10) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 12) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 9) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 17) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 13) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. 8) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 18) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 7) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 15) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 16) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.

20) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 25) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 22) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 26) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 29) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 27) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 21) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 23) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 55 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 28) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik diobandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 24) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 19) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi.

Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi. maupun rendah sama baiknya. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent. maupun rendah sama baiknya. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 30) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. maupun rendah sama baiknya. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. sedang. 31) 32) 33) 34) 35) 36) 37) 38) 39) 40) 41) 42) 56 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. sedang. sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah.

Riset. 2009. E. 2003. S. Bandung: Nusa Media. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Remaja Rosdakarya. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Yogyakarta: Pustaka Belajar. R. 46) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. (Edisi terjemahan oleh Narulita Yusron). e. diperoleh simpulan bahwa: a. Srivastava. Priyamvada. SIMPULAN Berdasarkan analisis data menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Slameto. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2003. . d. 2010. Budiyono. Metodologi Penelitian Pendidikan. 44) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Asdi Mahasatya. Cooperative Learning: Teori. New Delhi: Anmol Publications Pvt Ltd. f. Cognitive Style in Educational Perspective. Jakarta: PT. Nasution. Jakarta: PT Bumi Aksara. c. Slavin. Jakarta: Grasindo. Statistik Untuk Penelitian (Edisi Kedua). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 45) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Desmita. b. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. dan Praktik. 1997. 2009. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. g. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Anita Lie. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Bandung: PT. 2008. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 57 . 2008. keingintahuan. Surakarta: Sebelas Maret University Press.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 43) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent.

(5) penelitian tentang kesulitan dan kesalahan peserta didik dalam belajar matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS SMART PADA MATERI PELUANG DENGAN MODEL ELICITING ACTIVITIES Aryo Andri Nugroho Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Namun berbagai upaya tersebut belum mencapai prestasi yang optimal. (2) kualifikasi pendidikan guru. MEA. mengembangkan karakter dan potensi yang dimiliki. Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika. Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model MEA akan mencapai efektif dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. karena berbagai kendala di lapangan. Lontar 1 (Sidodadi Timur) Semarang 50125. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar.ide yang mendorong ke arah kesuksesan. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan teknik random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh. Kreatifitas. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities (MEA) yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena seperti pola dan interaksi. Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Selain itu peserta didik kurang diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masih lemahnya proses pembelajaran. Dalam pembelajaran konvensional guru bertindak sebagai pentransfer ilmu kepada peserta didiknya. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar. mandiri dan berjiwa wirausaha (Sanjaya 2008: 2). Kata Kunci : Peluang. realistic. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreatifitas peserta didik. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika di sekolah. (4) penerapan model atau metode pembelajaran baru. Akibatnya. achievable. (3) pembaharuan kurikulum. uji pengaruh. measurable. Pembelajaran matematika yang masih menggunakan pembelajaran konvensional masih menempatkan guru sebagai sumber informasi utama yang berperan dominan dalam proses pembelajaran. Berbagai upaya tersebut antara lain dalam bentuk: (1) penataran guru. serta memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup. SMART. Banyak perangkat dimana para ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan sistem kompleks yang melibatkan cara pikir yang dinyatakan dalam bentuk model matematis. sampai saat ini kualitas pembelajaran matematika di Indonesia masih rendah (Soedjadi. inovatif. Pada penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran berbasis SMART (spesific. 2001b: 1). Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. time bound). peserta didik dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif (Suparman. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sering informasi bercampur dan mungkin dapat dipertimbangkan sebagai hal yang kompleks. e-mail : ndrie024mp@gmail. Penelitian ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik menggunakan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA. misalnya memusatkan pada karakteristik struktural 58 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .com Abstrak Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide . 1997:198).

Artinya bahwa proses penafsiran untuk peserta didik telah diminimalisir atau dieliminasi. (2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). adanya perbedaan prestasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Pemunculan masalah model ini adalah aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang mendorong ke arah pembentukan sebuah model eliciting activities (Lesh. hubungan. Materi yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang peluang karena pada materi peluang dibutuhkan suatu pemahaman yang abstrak dan mendorong kreatifitas peserta didik. Menurut Guskey (1982) pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya ketercapaian ketuntasan dalam prestasi belajar. achievable. measurable. Model biasanya dinyatakan dengan menggunakan berbagai media representational yang saling berinteraksi. proses. Model Eliciting Activities mendorong aktivitas peserta didik dalam pengembangan model karena untuk memecahkannya diperlukan cara untuk menyatakan berpikir saat ini dalam bentuk yang diuji dan diperbaiki berulang kali setelah di uji. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran disini akan disusun perangkat pembelajaran yang meliputi: (1) Silabus. Lebih dari itu banyak persamaan terjadi antara model dimana peserta didik mengembangkan sistem untuk bisa dipertimbangkan dalam pengalaman sehari-hari mereka sendiri dan model dimana para ilmuwan mengembangkannya (Lesh & Doerr. d. pengorganisasian. Salah satu substansi yang menjadi penekanan KTSP adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif. Amit & Schorr. Sifat alami model tersebut dapat digambarkan dalam empat aspek. dan keterampilan sosial dimana peserta didik kita membutuhkannya (Steen. b. Ketika peserta didik diberikan suatu permasalahan maka permasalahan tersebut diterjemahkan dengan cara yang tunggal. kelancaran representasional. a. berkenaan dengan informasi yang ambigu atau tidak lengkap. Gagasan yang relevan dan sistem konseptual dapat diharapkan menjadi langkah-langkah intermediate dari pengembangan. Model ini adalah sistem konseptual yang digunakan untuk membangun. c. Satu komponen penting dalam pemecahan masalah didalam dunia masa kini adalah menginterpretasikan situasi masalah. 2002). 1997). Sebuah nilai ekstra adalah bahwa model eliciting activities itu bisa mendorong ke arah bentuk belajar yang signifikan. mengidentifikasikan rintangan terhadap solusi. dan (3) CD interaktif. Dalam proses pemecahan masalah menuntut peserta didik dengan perangkat baru untuk memecahkan permasalahan serupa di masa datang (Lesh & Yoon. mereka tidak memahami secara baik pengetahuan matematika. dan hubungan antara unsur-unsur) (Jones & Nisbet. time bound). Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena (seperti pola. Dengan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 59 . aksi. dan keteraturan serta membekali peserta didik dengan fondasi penalaran matematis yang dasar. atau menjelaskan perilaku dari sistem lain. adanya pengaruh yang positif antara variabel bebas dengan variabel terikat. dan memvisualisasikan serta mengevaluasi produk akhir yang mungkin. pola.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dari sistem yang relevan. 2001). Kesulitan bagi peserta didik adalah mengerjakan bagaimana cara untuk mendapatkan gambaran dari pernyataan yang diberikan pada tujuan yang diberikan. realistic. menggambarkan. Pengembangan model biasanya melibatkan satu rangkaian siklus desain yang melibatkan cara yang berbeda terhadap penyaringan. Perangkat pembelajaran yang disusun adalah perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART (spesific. Model biasanya digambar dari berbagai disiplin atau area topik buku teks. interaksi. dan penginterpretasian dari situasi masalah yang diberikan (Lesh & Yoon. 2003). 2004). 2004). Model eliciting activities biasanya melibatkan aktivitas-aktivitas yang mematematikakan (mathematizing) objek yang relevan. Pengalaman pemecahan masalah peserta didik secara tradisional telah dibatasi masalah dimana peserta didik menerapkan satu prosedur yang diketahui atau mengikuti satu jalur yang jelas. Sementara dengan tidak menolak pentingnya pengalaman masalah yang ada. Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide-ide dan proses kunci yang mendorong ke arah kesuksesan harus diberikan.

kuantitas. Measurable Measurable berarti dapat mengukur apakah kita telah mencapai tujuan atau tidak (bilangan. measurable (dapat diukur). Pada perangkat pembelajaran matematika dalam pemilihan indikator materi sesuai dengan kurikulum dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah. Pemenuhan pada suatu tujuan memerlukan kemampuan. Pada perangkat pembelajaran matematika. time-bound (batasan waktu). a. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang terukur dari materi yang jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi belajarnya. 2006: 75) yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi peluang yang memenuhi kriteria efektif. dan perbandingan). Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data dokumentasi. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau 60 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . pengamatan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memperhatikan kekhususan materi peluang yang sesuai kurikulum dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (spesific). SMART Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas programprogram yang diajukan dan dilaksanakan. Specific Specific maksudnya bahwa tujuan itu konkret. realistic (realistik). Berdasarkan uraian ini maka muncul masalah apakah pembelajaran matematika berbasis SMART pada materi peluang dengan model elicting activities mencapai efektif. Program menyatakan tujuan yang tepat. detail. data kreatifitas peserta didik. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang dipilih harus terukur sesuai dengan materi yang dipilih. keterukuran indikator dari pemilihan materi yang khusus (measurable). Realistic Realistic maksudnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang dikerjakan. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses untuk dilaksanakan dan pada akhirnya alat ukurnya juga nyata jelas (realistic). d. Achievable Achievable menyangkut tujuan yang di himpun dapat dipenuhi dan dapat dicapai. Pengukuran mempunyai prestasi yang dapat dinilai. achievable (dapat dipenuhi). perlengkapan dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas program-program yang diajukan dan dilaksanakan. baik dalam skala 1–10 ataupun dalam bentuk keberprestasian dan kegagalan. prestasi ilmiah dan lain lain. uang. indikator yang terukur dari materi yang khusus jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi nantinya (achievable). frekuensi. SMART sebagai tujuan program yang berarti specific (spesifik). Prestasi dinyatakan dalam bilangan. data prestasi belajar. c. terfokus dan dapat didefinisikan dengan jelas. b. seperti keterampilan. untuk mencapai semuanya jelas dan prestasi dapat ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif dari pada sebelumnya (time bound). persentase. Dalam penelitian ini peneliti memaknai perlunya model eliciting activities dalam pembelajaran dengan perangkat pembelajaran berbasis SMART sehingga diharapkan pembelajaran menjadi efektif. KAJIAN TEORI 1. Pengukuran membantu untuk mengetahui kapan tujuan sebuah program telah terpenuhi. Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen jenis Quasi Experimental (Samsudi. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat serta instrumen pada penelitian ini terdiri dari lembar pengamatan kreatifitas peserta didik dan lembar tes prestasi belajar.

b) Manipulasi (manipulasi model dengan tujuan untuk memprediksi atau melakukan aksi yang berhubungan dengan pemecahan masalah sebenarnya). Berdasarkan teori tentang model eleciting activiies. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. 2. yaitu a) Deskripsi ( membangun model matematika dari permasalahan yang ada pada dunia nyata). Pada perangkat pembelajaran matematika ketersediaan waktu dari penugasan. Setiap kelompok diberi bahan ajar 3. proses pembelajaran tatap muka dan evaluasi harus jelas dan ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses pembelajaran dan dapat dilaksanakan secara konkret. e. peserta didik diarahkan untuk membuat klarifikasi dari aturan permainan apakah aturan tersebut adil atau tidak c) Translasi Pada tahap translasi peserta didik didik diminta untuk mencoba langsung dari aturan permainan. b) Manipulasi Pada tahap ini peserta didik diberi desempatan untuk membangkitkan prediksi atau tindakan yang berhubungan dengan situasi pemecahan masalah asli.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Batasan waktu diperlukan harus memenuhi aspek achievable dan realistic. d) Prediksi dan Verifikasi Pada tahap Prediksi peserta didik diarahkan ke arah diskusi untuk meramalkan untuk usul operatif untuk membuat permainan adil disertai dengan alasan-alasan logis dan pada tahap verifikasi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari kegunaan dari prediksi. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok. Kreatifitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut diprestasikan produk-produk kreatif yang bermakna. MEA (Model Eliciting Activities) Menurut Lesh dan Doerr (2003) siklus Model Eliciting Activities adalah terdiri atas empat tahap. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar yang membimbing siswa kearah MEA. 4. 3. maka bisa dibuat langkahlangkah sebagai berikut: 1. d) Verifikasi (kegunaan dari aksi dan prediksi). Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. Beberapa perwakilan kelompok diminta mempresenasikan prestasi diskusinya berserta prestasi penemuannya. Time Bound Time-bound berarti mengatur batasan waktu untuk memenuhi tujuan. c) Translasi (membawa prestasi yang diperoleh dan relevan untuk dikembalikan dengan kondisi sebenarnya). dan diarahkan untuk mengaitkan dengan prestasi manipulasi. Dalam kegiaan inti terdapat langkah-langkah pembelajaran yang memuat MEA yaitu: a) Deskripsi Pada tahap deskripsi peserta didik membaca bahan ajar yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang telah disusun berdasarkan MEA. Setelah proses diskusi dan telah didapat aturan yang adil maka tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah yang ada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). 2. sehingga Aturan menjadi jelas bagi semua peserta didik. Pertama. 5. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 61 . 6.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Adapun langkah. 1986. Boise State University. Lesh. uji pengaruh. C. Stiff. 2007. iluminasi. inkubasi. H. bertanya pada orang. learning. V. C. (pp. Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities. 62 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Jakarta: Kencana Prenada Media Group. http://hrs.edu/td/pdf/SMART goals. S. dan sebagainya.. Jakarta: Bumi Aksara. Learning and Teaching. dkk. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Sanjaya. disinilah akan lahir gagasan inspiratif.). Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya inspirasi atau gagasan baru. diharapkan: 1) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang peserta didik dapat mencapai tuntas. In: L. (1999).. R. Ronald.W. M. Blum (Eds. Samsudi. Henn & W. KESIMPULAN Dalam kegiatan penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data kreatifitas peserta didik. Semarang : UNNES PRESS. Foundations of a models and modeling perspective on mathematics teaching.langkah proses kreatif menurut Wallas (Munandar. yang sampai sekarang masih diterapkan dalam pengembangan kreativitas.. The Effectiveness Of Mastery Learning Strategies In Undergraduate Education Courses. 146-155). and problem solving. 2008. Reston VA: The Council. Dan tahap verivikasi atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas ( disertai dengan pemikiran kritis ). A. (1997). 65-83). Mahwah. National Council of Teachers of Mathematics' 1999 earbook (pp. W. Lesh. 1982. & Schorr. & Tarr. (2004). Amsterdam: IOS Press. What’s distinctive in (our views about) models & modeling perspectives on mathematics problem solving. Tingkat keberprestasian diukur melalui tiga uji statistika. Pada tahap persiapan seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir. dalam arti dia tidak memikirkan masalahnya secara sadar. 2003. A.pdf download tanggal 18 Oktober 2009. Pre-Conference Volume.. & Doerr. NJ: Erlbaum.E. mencari jawaban. Pada tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. Disain Penelitian Pendidikan. ICMI Study 14: Applications and Modeling in Mathematics Education. R.). 2) terdapat pengaruh positif kreatifitas peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA (model eliciting activities) pada materi peluang .boisestate. C. Doerr (Eds. In Gal & Garfield (Eds. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. The Assessment Challenge in Statistics Education. H. Thornton. Terbitan kedua.. J. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Amit. dan Raymond. R.). Lesh & H. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. & Yoon. R. Guskey. (2003). dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Langrall. R. dan verivikasi. In R. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. 2009:39). 3) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang lebih baik dari pembelajaran konvensional. Curcio (Eds. Beyond Constructivism: Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving. meliputi tahap persiapan. & F. (pp. 3–34). Jones. Using “real-life” problems to prompt students to construct conceptual models for statistical reasoning.). 2009. learning and teaching? In H.. Lesh. E. Bandung: ITB.. G. Understanding students' probabilistic reasoning. Performance Management – Creating SMART Objectives: Participant Guide. University Of Kentucky.

uk /psychology_articles/Goal-Setting-Guide. Desain Instruksional. 2002. Juni 2001. http://www. R.uncommon-knowledge. Goal Setting Guide. Suparman. L. 2006. 1997. 2001 b.co.pdf. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Soedjadi. download 18 Oktober 2009 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 63 . Sudjana. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya. Bandung: Alfa Beta Swinton. Metoda Statistika.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CREATIVE THINKING BERBANTUAN VIDEO DIKEMAS DALAM CD PEMBELAJARAN DAN WORKSHEET PADA MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII
FX. Didik Purwosetiyono Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 – Dr. Cipto Semarang, e-mail: fxdidik.purwosetiyono@gmail.com Abstrak
Pembelajaran yang bermakna memerlukan usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas siswa, sehingga akan menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Untuk melihat efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, diperlukan adanya instrumen yang berupa: 1) Rencana Pembelajaran (RPP), 2) worksheet, 3) Lembar Observasi. Juga harus didasari kajian-kajian teoritis dan juga penelitian-penelitian yang relevan untuk membangun suatu efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan kajian teoritis tersebut, diperlukan suatu penelitian, dimana penelitian tersebut merupakan jawaban atas kajian teori peneliti. Penelitian direncanakan dengan teknik claster sampling, dan akan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan dan satu kelas sebagai kelas kontrol.Variabel independen penelitian kreativitas siswa dan variabel dependen prestasi belajar. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran, juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan, 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM, dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM, b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square, c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol, dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Kata kunci : Efektivitas, creative thinking, Video, CD pembelajaran, worksheet.

PENDAHULUAN Pada proses pembelajaran guru meminta kepada siswa mengungkapkan pendapatnya tentang pembelajaran matematika, maka akan banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika sulit, sehingga pada prestasi belajar matematika yang kurang optimal. Sehingga karena asumsi tersebut membentuk pemikiran siswa yang kurang optimis dalam belajar matematika. Menurut Sierwalds (dalam Davasligil, 2005) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan prestasi belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan prestasi belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatvariasi media yang digunakan dalam pembelajaran keterbatasan yang ada pada guru maupun siswa. Pentingnya suatu penggunaan

64

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu salah satunya yaitu dengan pembelajaran matematika pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas CD pembelajaran dan berbantuan worksheet. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas (X) adalah kreativitas siswa, dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam bentuk CD Pembelajaran dan worksheet. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen (E) dan kelompok kontrol (K) pada kompetensi dasar kesebangunan. Variabel terikat ini akan diungkap dengan instrumen tes prestasi belajar menurut ranah kognitif. Jenis instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari: Lembar Pengamatan Kreativitas Siswa, lembar Pengamatan Keterlaksanaan pembelajaran, Lembar Angket Respon Siswa, lembar angket respon guru. Data yang telah dikumpulkan melalui instrumen-instrumen kemudian dianalisis. Data yang dianalisis adalah sebagai berikut. 1) Analisis Data Angket, 2) Analisis Data Tes Prestasi Belajar, meliputi; 3) Uji Hipotesis, meliputi; Uji homogenitas, uji normalitas, uji ketuntasan belajar, Uji perbedaan dua rata-rata uji pihak kanan dan uji proporsi, adalah sebagai berikut. Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang muncul dan akan dikaji adalah: 1) Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas? 2) Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional? 3)Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional? KAJIAN TEORITIS 1. Aktivitas Menurut Paul B. Diedrich ( dalam Sardiman, 2007 ) aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok sebagai berikut. a. Visual Activities, meliputi: memperhatikan dari gambar demonstrasi , membaca, percobaan dari pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik. d. Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan, membuat konstruksi, perangkat, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental Activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisa hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti: menaruh minat, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup, merasa bosan. Jadi klasifikasi aktivitas di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariatif. Jika berbagai aktivitas tersebut dapat dikondisikan selama proses pembelajaran maka pembelajaran lebih dinamis. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Pada Gambar 1 menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran Pasif dan Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa lebih mengingat (retention rate of knowledge) materi kuliah. Oleh sebab itu dalam pembelajaran engineering model pembelajaran aktif ini merupakan alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

65

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

ingin diperebaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tend to Remember about:

Level of Involment

10% of what we read 20% of what we hear 30% of what we see 30% of what we hear and see 70% of what we say

Reading

i.Hearing Words Looking at Pictures j. Watching a Movie k. Looking at an Exhibit l. Wacthing m. a Demonstration Seeing it Done on Location n.
Participation in a Discussion Giving a Talk

Verbal Receiving
PASSIVE

Visual Receiving

Paticipating
ACTIVE

90% of what we say and do

Performance/Dramatic Presentation Simulating the Real Experience Doing the Real Thing

Doing

Gambar 1. Model Pembelajaran Aktif dan Pasif (Sumaidi, 2008:52) 2. Kreativitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertamatama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif ( dalam Munandar, 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi, adalah: 1) Imajinatif, 2) Mempunyai prakarsa, 3) Mempunyai minat luas, 4) Mandiri dalam berfikir, 5) Melit, 6) Senang berpetualang ( senang mengeksplorasi), 7) Penuh energi (bersemangat), 8) Percaya diri, 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu), 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan ( teguh pendirian). Sehingga dari ke sepulih ciri-ciri tersebut akan dibuatlah rincian mengenai daftar angket yang akan dihunakan sebagai lembar observasi kreativitas siswa. 3. Video Video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan. Video ini berkaitan erat dengan audiovisual. 4. CD Pembelajaran. Levie dan Lentz (Arsyad, 2006:8) yang mereviu hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar, stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.

66

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

CD interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006:32) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa. Dipilihnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran berbantuan CD interaktif dengan perangkat komputer tidak lain karena media ini memiliki keunggulan sebagai media instruksional, antara lain: (a) dapat menunjukkan visualisasi yang menonjolkan gerak; (b) dapat dipercepat/diperlambat sehingga mudah diamati dan dimengerti (dapat diulang); (c) materi yang divisualisasikan mirip dengan objek aslinya; (d) dapat diberi efek suara sehingga efektifitas belajar lebih tinggi; (e) gambar bisa diperbesar sehingga dapat digunakan pada kelas yang besar; (f) dapat disimpan dan digandakan dalam CD atau di komputer; (g) software dapat digunakan berulang-ulang; dan (h) perangkat perekam relatif mudah dioperasikan. Dalam penelitian ini CD interaktif yang dimaksud adalah suatu alat dalam bentuk multimedia berupa keping CD yang memuat materi pembelajaran kompetensi dasar. Materi dikemas dengan program macromedia flash untuk 5 (lima) kali pertemuan berisi: (a) standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikatornya; (b) materi pendahuluan; (c) penanaman konsep dengan contoh soal dan latihan soal; dan (d) pada akhir pertemuan dilengkapi tes-uji kompetensi hasil belajar lengkap dengan skor yang diperoleh dari jawaban siswa. Berdasarkan pandangan beberapa ahli di atas maka media pembelajaran berbantuan CD interaktif audio visual merupakan media yang sangat cocok bagi siswa dalam membantu proses belajar diantaranya, (1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, (2) mampu memberikan keseragaman persepsi,(3) mampu menyajikan informasi yang konsisten dan dapat diulang, dan (4) mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat belajar. 5. Worksheet Lembar kerja siswa (worksheet) berupa lembaran-lembaran kertas berisi informasi maupun soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa, pada akhirnya siswa dapat menemukan suatu kesimpulan dari apa yang mereka pelajari. LKS ini sangat mendukung untuk meningkatkan keterlibatan siswa belajar, baik dalam penerapan metode penemuan terbimbing maupun memberikan latihan-latihan pengembangan (Depdiknas, 2004). 6. Prestasi Belajar Prestasi adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2003:76). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Depdiknas, 2003:26). Jadi prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh karena suatu usaha memperoleh ilmu sekaligus terjadi perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang diamati pada ranah pengetahuan dan pemahaman konsep atau kognitif yang datanya diambil dari metode tes (pencil paper test). 7. Kajian Penelitian yang relevan Pada penelitian ini, adapun kajian dari penelitian yang relevan dengan penelian ini adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Iman (2008), dan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2008). Menurut Imam (2008: 128) para guru matematika diharapkan dapat memilih pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar sehingga belajar siswa menjadi pembelajaran yang bermakna. Disinilah diperlukan suatu peranan seorang guru sebagai pembimbing siswa, sehingga bisa mengarahkan siswanya kearah pemahaman mengenai suatu konsep tertentu, sehingga bisa diarahkan pada aktivitas siswa. Menurut Arief (2008: 62) Semakin siswa kreatif dalam melaksanakan tugasnya, atau sudah mau belajar berfikir mandiri membuat siswa selalu aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa bisa dibentuk, dengan memberikan stimulus-stimulus pada siswa dalam suatu pembelajaran, dengan memberikan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

67

tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan (teguh pendirian). adalah: 1) Imajinatif. b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square. Menurut FX. Pengetahuan baru itu akan dapat diserap dengan baik apabila siswa belajar dalam situasi yang penuh kebermaknaan. Dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet. penggunaan CD pembelajaran sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar. 6) Senang berpetualang (senang mengeksplorasi). dalam penelitian ini. Jika strategi pembelajaran sudah tepat. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. 2) Mempunyai prakarsa. 3) Mempunyai minat luas. SIMPULAN Guru sebagai fasilitator. 5) Melit. 2) Terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional. agar pelaksanaan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. (4) bimbingan guru dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh seorang guru untuk mengarahkan siswa menuju pada tujuan yang diharapkan. Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. barulah ditambahkan media pembelajaran yang tepat. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif (dalam Munandar. kelebihan yang bisa dicapai antara lain (1) siswa diajak dalam suasana kebermaknaan berupa visual. 1) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas. Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran. dalam hal ini peranan media diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. 8) Percaya diri. diharapkan. Didik (2010:102) Penggunaan dan pelaksanaan suatu strategi perlu diperhatikan arah pencapaian indikator dan tujuan pembelajaran. memberikan bantuan di awal pembelajaran setelah siswa mampu maka bantuan dikurangi kemudian dilepaskan sehingga anak mandiri dalam membentuk pengetahuan baru yang berkembang terus sebagai milik mereka. Pada pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada strategi yang tepat.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi. Pertama. (2) terciptanya suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dan inivatif saat belajar matematika. sehingga akhirnya siswa dapat menemukan jawabannya sendiri dari proses kreatif yang dilakukannya. 4) Mandiri dalam berfikir. 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM. dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu). 3) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking 68 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . sehingga dengan bantuan media ini dapat memacu kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan. dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM. Dari ciri-ciri pribadi kreatif tersebut dijadikan acuan untuk membentuk kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pola yang menuntut siswa untuk berfikir. (3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam hal ini difokuskan pada kreativitas siswa. 7) Penuh energi (bersemangat). Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif.

Bandung: Tarsito. Jakarta: Bumi Aksara Davasligil. Matematika untuk SMP Kelas VII. Dekdikbud. 2007. 2002. Bandung: Erlangga Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 69 . S. 2009. Puskur Balitbang: Depdiknas. 2009.& Abdul J.Istambul University. 1988. Jakarta: Balai Pustaka. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Dekdikbud. Metode Statistika. Intercultural Aspect of Creativity. 2008. Sukino & Wilson. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Jakarta: Rineka Cipta. 2005. 2003 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional. Bandung: Alfabeta. Tesis. 2003. S. Departemen Pendidikan Nasional. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jurnal. challenge and Barriers The Case in Turkey. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto. Vol. Semarang: Program Pascasarjana UNNES. 2006. Munandar. Hudoyo. Mengajar Belajar Matematika. Nurhadi. K. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Berorientasi pada Pendekatan Problem Solving Berbantuan CD Pembelajaran Pembelajaran Materi Program Linear Kelas X. Kurikulum Berbasis Kompetensi.S. 2005. DAFTAR PUSTAKA Arif. H. Statistika Untuk Penelitian. Arikunto. Sudjana. 71: 88-97. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Sugiyono.

manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. Kesulitan ini karena waktu pertemuan yang tersedia terbatas. sehingga siswa bisa saling berdiskusi memecahkan masalah. Kontekstual. Diperlukan suatu model pembelajaran yang membuat siswa saling berinteraksi. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu : uji keseimbangan. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik.masing gaya kognitif. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent (4) untuk mengetahui pada masing. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. dan 1 variabel terikat yaitu hasil prestasi siswa. Dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat siswa yang cepat mengerti materi yang dipelajari. Riyadi2. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN POWER POINTPADA MATERI PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK Dewi Risalah1. Siswa yang sudah memahami materi yang 70 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Kata Kunci : STAD. uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas).lain. jumlah siswa yang banyak pada setiap kelas (35. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Gatut Iswahyudi3 1) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Matematika Pascasarjana UNS 2) Program Pascasarjana UNS 3) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point (2) untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gayakognitiffield dependent (3) untukmengetahui pada masing. tingkat kesukaran dan konsistensi internal. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA kota Pontianak. Analisis butir soal pada tes prestasi dan angket gaya kognitif terdiri dari analisis daya beda. kreatifitas dan lain. Pengumpulan datanya dilakukan melalui kajian dokumen sekolah. Dari data analisis disimpulkan : (1) Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point menghasilkan prestasi yang lebih baik dibanding dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.40 anak) dan seringkali siswa yang mengalami kesulitan tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya. (2) Prestasi siswa yang memiliki gaya kognitif FD lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki gaya kognitif. keadaan sosial.beda dalam satu kelas dalam daya pikir. power point dan Gaya Kognitif. model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. yang terdiri 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. (3) Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.masing model pembelajaran. tetapi ada juga yang lambat mengerti bahkan kadang terdapat yang sangat lambat mengerti materi yang dipelajari. uji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. angket gaya kognitif dan tes pilihan ganda. PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa matematika adalah kondisi siswa yang berbeda. Analisis instrumen yang dilakukan pada tes yaitu validitas isi dan reliabilitas. Seringkali guru kesulitan untuk bisa mengontrol anak satu persatu apakah setiap anak sudah mengerti materi yang diajarkan. bisa bekerja sama dan saling membantu.

model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelemahan. Presentasi guru dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berdengan bantuan power point diharapkan akan membuat pelajaran lebih mudah dimengerti para siswa. Pembelajaran kontekstual juga berusaha membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan sehari. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? 2) Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent? 3) Pada masing. sebenarnya seorang guru harus kreatif menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. STAD is a cooperative teaching method which was developed as part of a student learning approach programme along with other cooperative methods.kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD.hari. Dalam pembelajaran matematika.model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. Siswa sering merasa kesulitan mengaitkan pelajaran yang diterimanya dengan suatu yang nyata dalam hidup mereka.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dipelajari bisa membantu siswa yang lain sepaya menjadi mengerti juga. Sehingga diharapkan dengan berinteraksi akan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari. Berdasarkan latar belakang masalah. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Menurut Gagne dalam Winkle (1996:482).masing gaya kognitif. Kelebihan. saling bekerja sama. Salah satu model pembelajaran yang memenuhi hal-hal yang diuraikan ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe student teams. Untuk itu perlu dilakukan suatu pembelajaran dengan memodifikasikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point diharapkan bisa mengisi salah satu kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pada tahap presentasi guru. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan oleh guru untuk memodifikasi materi pembelajaran.hari. Modifikasi dari model tersebut yang ditinjau dari gaya kognitif diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain memiliki kelebihan. sehingga pemahaman konsep matematika bisa lebih mudah diterima siswa. Diharapkan dengan pembelajaran kontekstual pelajaran akan menjadi bermakna. Serta diharapkan bantuan power point dalam pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.contoh dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta minimnya penggunaan media bantuan dalam pembelajaran. Media bantuan yang dimaksud adalah power point. Siswa saling bekerja sama untuk memahami materi yang dipelajari dengan guru sebagai fasilitator.kelemahan diantaranya adalah tahap presentasi yang dilakukkan oleh guru. yaitu siswa membuat saling berhubungan positif. Diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat pelajaran menjadi pengalaman yang nyata. Menurut Balfakih (2003). akan membuat pelajaran lebih efektif. Pada tahap ini banyak guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan contoh. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. contextual teaching and learning is defined as a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent ? 4) Pada masing. tujuan pembelajaran serta metode pembelajaran. prestasi adalah kemampuan internal yang memuat kemampuan intelektual dalam hal informasi verbal.achievement divisions (STAD). seringkali siswa mempertanyakan relevansi dari besarnya waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan pelajaran matematika.masing model pembelajaran. Sementara peserta yang mendapat persoalan bisa bertanya dan berdiskusi dengan siswa yang lain. Menurut Smith (2006). hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin. Diharapkan dengan adanya hubungan antara gaya kognitif dengan model pembelajaran. Prestasi belajar adalah penguasaan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 71 .kelebihan seperti yang disebutkan di atas.

Diharapkan dengan memadukan model pembelajaran tipe STAD kontekstual dengan kontekstual dengan bantuan power point disertai dengan gaya kognitif siswa akan meningkatkan prestasi belajar menjadi lebih baik.masing gaya kognitif. sehingga jika siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri.Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan. Tahap persiapan meliputi pengajuan judul tesis. Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas. STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. penyampaian materi. 4) Pada masing . siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. Waktu yang dibutuhkan pada tahap ini adalah 5 bulan. Kerangka berpikir bahwa STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. METODE PENELITIAN Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri di Pontianak. 2) Siswa yang memiliki gaya belajar kognitif Field Independent memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. sehingga jika siswa mampu untuk tidak bergantung dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. Menurut Broverman (1960:167) mengemukakan bahwa gaya kognitif menggambarkan cara seseorang memahami lingkungannya. dan konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. tahap penelitian dan tahap penyelesaian. Waktu yang diperlukan pada tahap ini dua bulan yaitu bulan Oktober 2011 sampai November 2011.kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. 72 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Menurut Trianto (2007:10) pendekatan kontekstual (Contekstual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2011 hingga bulan Oktober 2011 yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. Subjek penelitian ini adalah siswa semester ganjil Kelas X tahun pelajaran 2011/2012. kegiatan kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok. menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menangapi berbagai jenis situasi lingkungannya. sedangkan gaya kognitif FD adalah gaya belajar siswa yang bergantung pada lingkungan belajarnya. yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Trianto (2007:42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. permohonan ijin survei. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran. 3) Pada masing . Waktu yang diperlukan pada tahap ini adalah dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September2011.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keterampilan yang ditunjukkan dengan tes yang diberikan oleh guru yang biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu dan lingkungannya. sedangkan gaya kognitif FI adalah gaya belajar siswa yang tidak bergantung pada lingkungan belajarnya. kuis. yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli 2011.masing model pembelajaran. dan penghargaan kelompok. yaitu tahappersiapan. Gaya kognitif adalah cara seseorang dalam memproses.

masing terdiri dari dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 X 2.masing dipilih secara acak satu sekolah yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal Berdasarkan hasil uji normalitas kemampuan awal prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata kemampuan awal prestasi belajar matematika antara kelas STAD Power point dan kelas STAD kontekstual Power point berasal dari populasi yang homogen. uji homogenitas. Data penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah prestasi belajar matematika pada materi SPLDV yang dikatagorikan atas model pembelajaran dan kelompok gaya kognitif siswa. Adapun hasil penelitian disajikan adalah hasil uji coba instrument.776 yang berarti instrumen tes baik. terdapat 30 soal yang konsisten dan 10 soal yang tidak konsisten. Indeks reliabilitas sebesar 0.831.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena peneliti tidak mungkin mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabelvariabel yang diteliti. uju normalitas. b. pengujian hipotesis dan pembahasan penelitian. SMA Negeri 9 Pontianak. daya beda.827 dan FD sebesar 0. yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SMA Negeri 8 Pontianak. pengujian data analisis. angket dan tes. yang masing. Pada tingkat kesukaran terdapat 2 item soal yang tidak baik. Uji Persyaratan Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran dan faktor gaya kognitif siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata prestasi belajar matematika antara kelas STADP dan kelas STADKP berasal dari populasi yang homogen. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan rerata antar kelompok model pembelajaran atau dapat dikatakan bahwa antara kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran berbeda. Pada gaya kognitif. Pada analisis daya beda terdapat 36 item soal diterima dan 4 item soal yang tidak diterima. uji ANAVA dan uji lanjut ANAVA. SMA Negeri 6 Pontianak yang dipilih berdasarkan rangking. konsistensi internal. Sehingga diperolah tiga kelas ekperimen dan tiga kelas kontrol. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. a.576 dengan nilai tabel t sebesar 1. SMA Negeri 9. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7. uji keseimbangan. Pengujian Hipotesis Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 73 . Indeks reliabilitas FI sebesar 0. yaitu tinggi. reliabilitas. Uji yang digunakan adalah uji validitas. SMA Negeri 6 di Pontianak. gaya kognitif dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa. Metode yang digunakan adalah dokumentasi. Dari ketiga kelompok. masing. yaitu STADP dan STADKP mempunyai kemampuan matematika yang sama. deskripsi data. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak tahun ajaran 2011/ 2012. demikian juga antara kelompok siswa mempunyai gaya gaya kognitif FD dan gaya kognitif FI berasal dari populasi yang homogen. Tahapan yang dilakukan adalah dalam pengambilan sampel yaitu dari seluruh SMA Negeri yang ada di kota Pontianak terlebih dahulu dikelompokkan menjadi tiga tingkatan.rata ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 mata pelajaran matematika. c. sedang dan rendah. Pengelompokkan tersebut berdasarkan nilai rata .96 Karena nilai uji lebih kecil dari nilai tabel t maka H0 tidak ditolak. pada penelitian ini uji keseimbangan uji t sebesar 1. selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan metode uji beda rerata t. Setelah dilakukan uji prasyarat kemampuan awal siswa yakni uji normalitas dan homogenitas. Adapun langkah dalam pengambilan sampel yaitu dengan stratified cluster random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. SMA Negeri 8. tingkat kesukaran.

Dari rerata marginalnya. Komparasi itu menjadi tidak berguna. Rangkuman Analisis Variansi SP Model Gaya Kognitif Interaksi Galat Total dk 1 1 2 213 216 JK 4693. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.7 RK 4286. maka komparasi ganda tidak perlu dilakukan.61 64. karena anava telah menunjukkan H0A ditolak.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan jumlah sel tak sama.9 5543. Uji Lanjut Anava Dari kesimpulan penelitian. Hal ini berarti terdapat perbedaan rerataan antara model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point terhadap prestasi belajar matematika. 2.6 Fobs 14.9 73197.86 1. maka untuk baris tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. yang menunjukkan bahwa rerata gaya kognitif FD = 65.5 1185.86 lebih tinggi daripada rerata model pembelajaran STAD Power point = 60. Sedangkan H0B ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.04.92 3.92 lebih kecil dari nilai Fb = 8.9 62957.0 10. H0 ditolak H0 ditolak H0 diterima Dari tabel di atas tampak bahwa H0A ditolak karena nilai uji Ftabel = 3. Ini berarti terdapat perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point terhadap prestasi belajar matematika. yang menunjukkan bahwa rerata model pembelajaran STAD Kontekstual Power point = 69.11 64.93 75. Dalam penelitian ini. karena variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai. Hal ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika dan H0AB diterima karena nilai uji Ftabel = 3.07 Kep. tampak bahwa H0A ditolak. Komparasi Rerata Antar Kolom Dari pembahasan di atas. Komparasi Rerata Antar Baris Dari pembahasan di atas. Rerata Pada Masing .50.19. cukup melihat rerata marginalnya.46 65.94 Ftabel 3.1 295. tampak bahwa H0B ditolak.50 8.79 65.94.92 lebih kecil dari nilai F a = 14. dapat 74 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .27 Rerata Marginal 60. Dari rerata marginalnya.07 lebih besar dari nilai F ab = 0. Hasil pengujian ANAVA disajikan dalam tabel rangkuman analisis variansi dibawah ini : Tabel 1. untuk itu perlu diperhatikan terlebih dahulu tabel rerata sebagai berikut : Tabel 2. perlu dilakukan uji lanjut pasca anava.04 0.19 69. dapat dipastikan bahwa hipotesis nolnya juga akan ditolak. d.masing Sel Model Pembelajaran STAD power point tanpa Kontekstual STAD power point dengan Kontekstual Rerata Marginal Gaya Kognitif FI FD 54.79.92 3.27 lebih tinggi daripada gaya kognitif FI= 64. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD Kontekstual Power point lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan model pembelajaran STAD Power point. Kalau pun dilakukan komparasi ganda antar rerata model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point.1 3. karena variabel model pembelajaran hanya mempunyai dua nilai (yaitu model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point). maka ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.

Dari kenyataan bahwa tidak terdapat hubungan itu.07.50 dengan nilai Ftabel = 3. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Kedua model pembelajaran tersebut mempunyai nilai yang berbeda. variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai (yaitu gaya kognitif FI dan FD). 3. karena hubungan tidak ada.Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran dan gaya kognitif siswa terhadap prestasi belajar matematika. Kedua gaya kognitif tersebut mempunyai nilai yang berbeda. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor model pembelajaran pada prestasi belajar matematika.86. dapat disimpulkan bahwa karakteristik perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan model pembelajaran STAD kontekstual power point untuk setiap tipe gaya kognitif sama. Jadi dapat dikatakan bahwa gaya kognitif FD memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada gaya kognitif FI. Dalam penelitian ini.04 dengan nilai Ftabel = 3. yaitu gaya kognitif FI sebesar 64.94 dengan nilai Ftabel = 3. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas.79.92.92. model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 75 . Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F ab = 0. sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point selalu lebih baik diterapkan pada setiap gaya kognitif jika dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran STAD Power point.27. sedangkan pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD sebesar 65. Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point. Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Dari pembahasan di atas. tampak bahwa H0AB diterima. maka kesimpulan dari hipotesis ketiga mengikuti kesimpulan hipotesis pertama dan kedua yaitu pada kategori gaya kognitif field independent. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point sebesar 69.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 disimpulkan bahwa gaya kognitif FD lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan gaya kognitif FI. yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point sebesar 60. Hipotesis Kedua. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan model tipe STAD Power point lebih rendah dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F a = 14. maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. sedangkan pada kategori gaya kognitif field dependent.19. model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.3) Tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. maka untuk antar kolom tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. 2) Siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan faktor antara model pembelajaran dengan gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. Pembahasan Hasil Penelitian Hipotesis Pertama. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji Fb = 8. maka tidak perlu dilakukan uji lanjut antar sel pada kolom yang sama. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih rendah dari pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD. Hipotesis Ketiga.

Diakses tanggal 15 Juni 2011. Hal. Surabaya: CerdasPustaka.A. 1998. 1. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Terjemahan Cooperative Learning Teori. Matematika SMA Kelas X. Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical Kinetics. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. 2009. 2005. M. Cetakan 3. Ibnu Hadjar. Bandung: MLC.27. 9.DasarMetodologiPenelitianKwantitatifdalamPendidikan. 2008. Vol. The Northwest Regional Education Laboratory USA. DAFTAR PUSTAKA Adesoji.Jakarta: Rajawali Pers. Elaine B. 1. Smith . Yogyakarta: kanisius. Paul Suparno. Journal of Family and Consumer Sciences Education. The Effectiveness of Student Team-Achievement Division (STAD) for Teaching High School Chemistry in The United Arab Emirates. 2006.V.Hal. Journal International Handbook of Education for the Changing World of Work. Hamzah Uno B. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 4. Depdiknas.2005. Kurniawan. Maclean. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif STAD DiModifikasikan dengan Kontekstual Pada Materi Lingkaran DiTinjau dari Tingkat Intelegensi Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2009/ 2010. Altun. Bandung: MLC. Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media. 1985. Diakses tanggal 22 Mei 2011. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada. Daryanto. Dasar. Muhibin Syah. Johnson. UNS Press. No. No. Jakarta: PT Bumi Aksara. Diakses tanggal 22 Mei 2011. Contextual Teaching and Learning. Spring. Mandiri Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas VIII. Moh Nazir. Journal of Educational Technology and Society.2003. P Bettye. 605-624. Dwi Titik Irdiyandi.). 26. Undergraduated Students Academic Achievement. 2009. Marwanta dkk. Contextual Teaching and Learning. Journal of Social Studis Reseacrh. Winter. KamusBesarBahasa Indonesia. 23. Hal. Vol. Bandung: University of Washington. 20. MetodePenelitian.1997. No. Johanes Supranto. 2. 2001. 5. 31. StatistikTeoridanAplikasi. Husein Tampomas. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 2010. Jakarta: Apollo. A dan Cakan. Scott. 2009. Psikologi Belajar. Wilson (eds.International Journal of Science Education. Vol. Budiyono. Elaine B. Yogyakarta: GajahMada University Press. Teori Perkembangan kognitif Jean Piaget. Blanchard. Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a Twelfth Grade Classroom : Effect On Student Achievement and Attitude. 24. No. Jakarta: Erlangga. 2009. F. The Journal of International Social Research.Vol. Hal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point. MetodePenelitianBidangsosial. 289-297. The Implications of Cognitive Style to Adult Distance Education. Vol.2001. T.Field Dependent / Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers. 2009. D. Jakarta: Erlangga Johnson. No. 2006. Slavin. XV. 2010. Amstrong.A. PerkembanganIntelektualmenurut Piaget. Statistik Untuk Penelitian. 5. Contextual Teaching and Learning Practices In The Family and Consumer Sciences Curriculum. Nagib M.Tesis: UNS Surakarta. Jakarta :Erlangga. 2008. 2000. 2009. Spring/ Summer. 2007. Hadari Nawawi. 25. Jakarta: Yudistira. 29. Hal. Vol. 76 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . R. Jakarta: Ghalia Indonesia. Springer Science+Business Media B. Hal. 1999. Balfakih. 2009. Seribu Pena Matematika Jilid 1 Untuk SMA/ MA Kelas X. 11. 2/6.A dan Ibraheem.

Jakarta: Prestasi Pustaka. StatistikUntukPenelitian. Sugiyono. SoemardiSuryabrata. 2005.model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontstruktivistik. Trianto. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: CerdasPustaka. MendesainPembelajaranKontekstual (Contextual Teaching and Learning). Tesis: UNS Surakarta. Model. MetodaStatistika. MetodologiPenelitian. Alfabeta. Dasar. Suharsimi Arikunto. 2005. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Matematika DiTinjau dari Intelegensi Siswa SLTP Muhammadiyah II Yogyakarta.2008. Trianto. Bandung: CV. Trianto.Jakarta: Prenada Media. Bandung: Tarsito. 2004.Progresif. Jakarta: Raja GrafindoPersada. Sumargiyani. 2007. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 77 . 2005. 2009.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Sudjana. 2003. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif.Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi).

siklus I 73. sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda.25 dalam kategori sedang. kepribadian . Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif univariat . 4) Refleksi. mampu mengelola interaksi belajar mengajar. yaitu praktik pengalaman lapangan. laboratorium. dan social. menguasai landasan-landasan kependidikan. Kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro juga menunjukkan adanya peningkatan dengan diperoleh nilai rata-rata untuk pra tindakan 63 dalam kategori sedang. Disamping itu kegiatan Pembelajaran dalam Pendidikan adalah kegiatan yang bersifat terencana dan sistematik. Kegiatan dalam setiap siklus sesuai dengan prosedur supervisi klinis yaitu meliputi: 1) Pertemuan perencanaan. professional. atau lapangan. Keadaan ini dapat dipahami karena.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP DAN KEMAMPUAN MENGAJAR DALAM PENGAJARAN MIKRO MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UST Esti Harini Program Studi Pendidikan Matematika. kependidikan. Pada umumnya dalam Penyusunan RPP calon guru cenderung kering akan inovasi. mampu melakukan evaluasi atau menilai prestasi siswa. mampu mengelola program belajar mengajar. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan implementasi dari program pembelajaran yang tertuang di dalam silabus. Profil guru yang profesional antara lain adalah menguasai materi pengajaran. 78 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Kata kunci: Supervisi Klinis. mampu menyiapkan RPP yang inovatif. dengan materi matematika SLTA atau SLTP. mengenal dan menyelanggarakan administrasi sekolah. karena RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas.88 dalam kategori sangat baik. calon guru belum terbiasa mengajar dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. Rencana Pelaksanaan pembelajaran. mampu mengelola kelas. mampu menggunakan media atau sumber. FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST . Kemampuan Mengajar PENDAHULUAN Mata kuliah PPL I atau pengajaran mikro adalah mata kuliah kelompok kependidikan ( MKPK ) yang bertujuan melatih mahasiswa mengajar di dalam kelas dengan siswa temantemannya sendiri ( mahasiswa ). yang langsung terjun mengajar di sekolah-sekolah tempat praktik dalam rangka penyiapan guru yang profesional. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatkan kemampuan menyusun RPP hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata pra tindakan 63. 2) pengamatan mengajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Selanjutnya dari kompetensi tersebut. Pengajaran mikro ini sebagai prasarat untuk menempuh PPL II. dan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tidak mengacu pada RPP yang sudah disusun. Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP calon guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa calon profesi pendidik. disempurnakan menjadi empat kompetensi yaitu. dan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guru keperluan pengajaran. oleh karena itu perencanaannya seharusnya dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara lengkap dan operasional. 3) pertemuan balikan. bukan menjadi komponen utama sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pembelajaran.52 dalam kategori baik dan siklus II 80. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. siklus I 67 dalam kategori baik dan siklus II 78 dalam kategori baik. Oleh karena itu guru haruslah mempersiapkan RPP sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

perasaan atau kesan calon guru. antara lain: 1) Pertemuan pendahuluan ( perencanaan )\ kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. Berdasarkan hasil kajian bersama atau hasil latihan tsb.com/doc/23862850/supervise-klinik) Berdasarkan uraian di atas. 2. supervisor membantu calon guru untuk merencanakan latihan yang akan datang. maka pelaksanaan supervisi klinis diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST. Jika indikator keberhasilan sudah dicapai dengan dua siklus. Demikian seterusnya sampai indikator keberhasilan dicapai. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data tentang kemampuan menyusun RPP mahasiswa saat akan melakukan praktek mengajar. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a) Supervisor menanyakan kepada calon guru bagaiman peranannya selama melakukan latihan mengajar. Supervisor bersama calon guru membandingkan target latihan dengan hasil latihan dan mendiskusikannya. Metode penelitian adalah metode eksperimen semu. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut (http://www. Telaah rencana pelajaran dan cermati tujuan pelajaran dan tujuan dari latihannya. dan Obyeknya kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro dengan treatmen supervisi klinis.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. Berdasarkan hasil kajian . maka penelitian akan berhenti pada siklus tersebut. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengajar.Waktu pelaksanaan adalah pada semester genap tahun akademik 2010/2011. 3. supervisor kembali menanyakan . Telaah dan diskusikan ketrampilan yang akan dilatih. Subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan matematika yang pada semester genap 2010/2011 mengambil Praktek Pengalaman Lapangan I (PPL I). Secara rinci langkahlangkah dalam setiap siklus sebagai berikut: a. Berdasarkan target tsb supervisor menyakan kesan calon guru b) Supervisor menyajikan data berupa hasil rekaman kemudian bersama-sama menganalisis dan menafsirkan rekaman tsb. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 79 .scribd. Siklus I Peneliti merancang tindakan/prosedur supervisi klinis yang akan dilaksanakan dalam penelitian . dengan menggunakan instrumen yang telah disepakati 3) Pertemuan balikan . Namun jika indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus tersebut maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya. Rancangan Penelitian : Dalam penelitian ini terdapat siklus-siklus dan banyaknya siklus tergantung dari tercapainya indikator kaberhasilan. Usaha mennciptakan suasana yang hangat dan bebas antara calon guru dengan supervisor. mendiskusikan instrumen yang akan digunakan 2) Pengamatan mengajar meliputi pengamatan yang dilakukan supervisor dengan cara merekam focus kegiatan maupun interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa. Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Bersama-sama melihat kembali target kecakapan atau ketrampilan serta focus utama dalam latihan yang telah disepakati.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 4) Refleksi Pada tahap ini peneliti melakukan pengolahan data.0 – 56.9 : Baik 57. kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan. validasi data. terutama bahan pembelajaran. d. Sedang fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. dari tahap perencanaan yaitu penyiapan rencana pelaksanaan pembelaran sampai dengan proses pembelajarannya. (4). penguasaan materi pembelajaran. pengamatan dan analisis yang intensif terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran maupun penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Teknik Analisis Data: Untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP – UST.0 – 79. Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. Perumusan tujuan pembelajaran. Dan kegiatan penutup pembelajaran. dan lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari : 1. Adapun rumus dan kriteria yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: Rumus untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/68 x 100 Rumus untuk menganalisis kemampuanmengajar sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/100 x 100 Dengan kriteria sebagai berikut : 80. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan. f. Tahapan pelaksanaan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus sebelumnya. e. pendekatan /strategi pembelajaran.yang terdiri dari lima indikator yaitu :1. Kerangka Berfikir Supervisi klinis memfokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan. berupa lembar penilaian penyusunan RPP . Dan calon guru akan selalu dapat mereview penampilan mengajar sebelumnya dan menganalisa kekurangan – kekurangannya. 2. 3. maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan supervisi klinis. pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. (3) keterampilan dalam proses pembelajaran dan. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran. b. ketrampilan menyusun RPP yang inovatif Supervisi Klinis menuntut guru/calon guru untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran . Penggunaan bahasa. 2.9 : Sedang 47. pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar.0 ke atas : Sangat Baik 67. Kegiatan pra pembelajaran.9 : Belum Menguasai Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah. c. 80 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . penilaian proses dan hasil belajar. 4.9 : Kurang Kurang 45. Pemilhan metode pembelajaran.0 – 66. Disamping itu Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru/calon mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. Siklus selanjutnya merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya. untuk perbaikan penampilan mengajar berikutnya. memutuskan tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. Dengan demikian . dapat diharapkan dengan supervisi klinis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan Berdasarkan kerangka berpikir tersebut. Pemilihan sumber belajar / media pembelajaran. 5. digunakan statistik deskriptif univariat yaitu dengan menggunakan rumus penilaian dan patokan yang telah ditetapkan.

67 87. Dan hasil ini hampir merata untuk semua aspek. dengan nilai ratarata 63. Kemampuan Mengajar Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari 6 indikator yaitu : a.88 dalam kategori sangat baik pada siklus II. Hasil secara keseluruhan untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 1. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menyusun RPP adalah sedang dengan nilai rata-rata 63. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran.33 75 87. b. peneliti melakukan evaluasi terhadap RPP yang para mahasiswa susun sebagai kemampuan awal. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran Nilai 83.25. dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 berada dalam kategori baik. Penguasaan materi pembelajaran. Kemampuan Mengajar Mahasiswa dalam Pengajaran Mikro Secara keseluruhan dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam pengajaran mikro. Pada saat penampilan pertama para mahasiswa mengajar peneliti mengobservasi dengan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal mengajar para mahasiswa.33 68. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mengajar para mahasiswa adalah sedang. c. Penilaian proses dan hasil belajar f. Setelah dilakukan tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan Pembelajaran Nilai 83.52 dalam kategori baik pada siklus I.5 Kurang Kurang Baik Sangat baik Sangat baik Sedang Sangat baik Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 81 .75 75 80 75 Kategori Sangat baik Sedang Baik Sangat Baik Baik Tabel 2. dan 80. Hasil evaluasi secara keseluruhan kemampuan menyusun RPP diperoleh nilai 73. Hasil selengkapnya untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 3.5 Kategori Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik 2. d. Pendekatan /strategi pembelajaran. dengan diperoleh hasil sebagai berikut: siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 berada dalam kategori baik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan.5 66.33 87. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. e. Kemampuan Menyusun RPP Secara keseluruhan hasil evaluasi RPP para mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyusun RPP. Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 75 Kategori Baik 50 50 75 83.33 75 83.

Saran Dari hasil penelitian disarankan agar mahasiswa masih harus banyak belajar materi matematika khususnya konsep-konsep dasar matematika. Kemampuan Menyusun RPP Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan menyusun RPP.52 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 80. 82 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . tapi ada beberapa mahasiswa yang didalam menyusun RPP masih kering dan kurang inovatif oleh karena itu masih perlu untuk ditingkatkan lagi khususnya dalam aspek pemilihan dan pengorganisasian materi ajar dan pemilihan metode pembelajaran.Pemanfaatansumberbelajar/media pembelajaran. d. siklus I diperoleh nilai rata-rata 73.33 87. Untuk penguasaan materi masih dalam kategori sedang.Penilaian proses dan hasil belajar f.5 Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3. Juga pemilihan strategi pembelajaran perlu untuk pemilihan yang tepat. dan pemahaman tentang strategi pembelajaran perlu ditingkatkan lagi.67 87. Kemampuan Mengajar Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. yaitu pra siklus diperoleh nilai ratarata 63 dalam kategori sedang . khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar berikutnya.Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. b.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 4.33 91. Kemampuan mengajar pada pengajaran Mikro Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa FKIP UST.5 66. khususnya penguasaan materi matematika. siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 dalam kategori baik. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. c. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik.88 dalam kategori sangat baik.5 83. Pembahasan a.Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 87.25 dalam kategori sedang .Penguasaan materi pembelajaran b.Pendekatan/strategipembelajaran. pengamatan mengajar dan pertemuan balikan Ada peningkatan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. tapi para mahasiswa masih harus banyak berlatih dan belajar. hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya didalam proses pembelajaran. Prosedur supervisi klinis meliputi : pertemuan pendahulun .5 Kategori Sangat baik 62. yaitu pra siklus diperoleh nilai rata-rata 63.67 83. e.

1982.scribd./panduan_penyusunan_rpp. http://ahmadsudrajat. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. Muhamad Joko Susilo. Psikologi Pendidikan. 1988. Proses Belajar Mengajar. Supervision of Intruction. 2007. Jakarta: Bina Aksara. Bandung: Sinar Baru Nurtain. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole)..2001. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 83 . 1985. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dkk. Kesiapan Lulusan SPG dalam Mengajarkan Matematika dan IPA di SD: Disertasi. 1986..Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 DAFTAR PUSTAKA Agus Taufiq.com/doc/23862850/supervise-klinik diakses Februari 2011 Iim Waliman. 2001. Bandung: Remaja Karya. Sahertian. Nana Sudjana.D. 2000. Bandung: PT Remaja Kosta Karya. P.com/2008/03/01/supervisi-klinis/ diakses Februari 2011 http://www. Boston: Allyn and Bacon Inc. 1989. Hasibuan dan Moedjiono. 2007. KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Supervisi Pengajaran ( Teori dan Praktek ). Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Makmun Abin Syamsudin. Jakarta: Depdikbud. Suharsimi Arikunto. C. Jakarta: Rineka Cipta. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. 1983. Masalah-masalah ilmu keguruan.doc di download tanggal 14 April 2009 Glickman.com/2008/.Tentang Standar Nasional Pendidikan Rostijah.wordpress.files. Bandung edy010169.A.wordpress.

kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita tentang penerapan permutasi dan kombinasi. dengan prosentase keaktifan 90% aktif dan hanya 10% kurang aktif. yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes akhir siklus III sebagai berikut : 94. memuat materi pokok peluang. Mereka ingin mengambil nomor duduk secara berjajar. maka dari data tersebut tampak bahwa hanya 34.6%). keaktifan siswa.41 % siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. dan selebihnya mendapat nilai kurang dari 60 (36. dan sisanya 10. Sementara itu dilihat dari kemampuan berpikir matematis siswa didapat 89. Berdasarkan pengalaman peneliti. Dari hasil ulangan 205 siswa kelas XI IPA RSBI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2010/2011. 30 siswa mendapat nilai antara 70 – 79 (14.1% siswa yang mencapai nilai  KKM dan 65. 60 siswa mendapat nilai antara 60 – 69 (29. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2011 /2012.3%).3%). Kata kunci : pembelajaran open-ended. Jika mereka harus duduk dengan aturan dua orang akan berdekatan hanya jika 84 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dan proses pembelajaran berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan November 2011. kemampuan berpikir matematis. Jika batas nilai KKM untuk Kompetensi Dasar Permutasi dan Kombinasi adalah 70. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran opend-ended di kelas dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita dan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi Permutasi dan Kombinasi di RSMABI. siswa dapat menyelesaikan soal cerita pada Permutasi dan Kombinasi dengan baik dan benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran open-ended.59% siswa mendapat nilai di atas KKM (75) dan hanya 5. yang terdiri dari 37 siswa. 25 siswa mendapat nilai antara 80 – 89 (12.6%). pada materi permutasi dan kombinasi diperoleh data nilai sebagai berikut : 15 siswa mendapat nilai  90 (7.9% siswa belum mencapai KKM.81% berada pada tahap multistructural. Pada materi pokok tersebut memuat tentang permutasi dan kombinasi. Hal ini dimungkinkan karena penyajian materi yang masih cenderung standar dan kurang inovatif dalam menyelesaikan soal-soal pada materi permutasi dan kombinasi. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi pelajaran Matematika SMA kelas XI IPA Semester I. Penelitian dilaksanakan dengan Pendekatan Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang terbagi dalam 3 siklus. penilaian autentik. Inti masalah pada materi tersebut adalah bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan permutasi dan kombinasi.19% siswa berada pada tahap relational. Sebagai gambaran jika diberikan soal cerita berikut: Empat pasang suami istri membeli tiket untuk suatu pertunjukan. Mereka belum bisa membedakan apakah suatu soal termasuk masalah permutasi atau kombinasi.2%).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERMUTASI KOMBINASI MELALUI PEMBELAJARAN OPEN –ENDED DI RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL (RSMABI) Ira Kurniawati Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMABI).

Penekanan pembelajaran matematika di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari. Jika siswa salah dalam menggolongkan masalah yang ada. Untuk menyelesaikan soal-soal cerita seperti itu biasanya siswa kurang bersemangat dan tidak mau berusaha keras untuk memahami soal itu. ada berapa banyak susunan tempat duduk yang mungkin dibentuk? Masalah tersebut merupakan masalah terbuka. kreatif dan kemampuan berpikir yang sistematis serta terorganisir. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 85 . Dalam pembelajaran matematika tugas seorang guru sebagai pendidik adalah menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa. Sehubungan dengan pentingnya peranan matematika. Pendidik perlu mempersiapkan suatu model. sehingga kegiatan kreatif dan pola pikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. diharapkan guru sebagai pendidik berusaha untuk dapat memilih model. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. serta pendidik harus berusaha menanamkan kepada siswa bahwa pelajaran matematika dapat meningkatkan penalaran.P(4. maka sudah seharusnya proses pembelajaran matematika ditangani lebih serius. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus P(4. sehingga siswa mencintai matematika.4).4). tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa pada sekolah-sekolah biasa. Pembelajaran open-ended adalah salah satu alternatif pembelajaran matematika dalam rangka mengoptimalkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi Permutasi dan Kombinasi melalui kegiatan aktif. perlu adanya suatu pembelajaran yang tepat yaitu pembelajaran terbuka yang memberikan kesempatan dan kebebasan bagi siswa untuk menggunakan caranya masing-masing dalam menyelesaikan soal tersebut. Oleh karena itu. Jadi untuk dapat mengajar lebih efektif dan membuat anak didik merasa senang dan tidak bosan dalam belajar. Untuk permasalahan soal cerita di atas sebagian besar siswa salah dalam menyelesaikannya. Soal cerita permutasi dan kombinasi bersifat terbuka. pendidik harus selalu berusaha untuk memvariasikan model. Kesalahan-kesalahan di atas terjadi di antaranya karena : siswa tidak memahami masalah dengan benar. Sebagai siswa pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Dengan demikian siswa dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. artinya cara pemecahan masalah tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai cara. siswa tidak bisa mengklasifikasikan masalah dengan tepat. Selanjutnya siswa akan dapat menyelesaikan soal cerita tersebut dengan benar. dan juga karena siswa tidak bisa mengaitkan beberapa konsep secara simultan dalam memecahkan masalah tersebut. Untuk dapat memecahkan masalah di atas. maka langkah penyelesaiannya dipastikan akan salah. Hal ini akan berdampak positif dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Siswa diberikan kebebasan dalam menemukan ide dalam menyelesaikannya. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 8! dan sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 2. agar pelajaran matematika yang diperoleh akan terasa manfaatnya. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang terprogram agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang baik. siswa tidak bisa mengkombinasikan beberapa kejadian yang muncul. sebagian siswa ada yang menyelesaikannya dengan menggunakan rumus akhir permutasi 4 unsur dari 4 unsur yaitu P(4. padahal memahami masalah merupakan langkah awal dalam memecahkan masalah tersebut.4). pendekatan atau pun strategi dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk itu pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasinal (RSBI) perlu mengembangkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan ide-idenya sehingga kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal.4) x P(4. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan memberikan kesempatan siswa menemukan idenya untuk memecahkan masalah dengan benar. jika siswa telah dapat membedakan masalah tersebut tergolong masalah permutasi atau kombinasi. Siswa seringkali salah dalam mengerjakannya karena salah dalam menafsirkan soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keduanya adalah pasangan suami istri atau berjenis kelamin sama . membentuk kepribadian serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

tujuan umum penelitian adalah untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga pendidikan pada sekolah RSMA BI pada umumnya dan bagi guru matematika RSMABI pada khususnya. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. Pembelajaran ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan ideidenya sehingga kegiatan kreatif dan kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. permutasi. peningkatan kualitas pembelajaran pada materi materi permutasi dan kombinas dilakukan dengan pendekatan pembelajaran open-ended melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research ). dimana masing- 86 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Materi pembelajaran sebagai fokus dalam penelitian ini adalah Permutasi dan Kombinasi yang terbagi atas beberapa sub-materi. Oleh karena itu. sehingga pembelajaran open-ended memberikan kebebasan dalam menggunakan strategi dan cara dalam memecahkan suatu masalah. dan kombinasi. Jika kemampuan berpikir matematis siswa dapat maksimal maka kemampuan siswa dalam memecahkan masalah akan meningkat sehingga prestasi belajar matematika siswa pun dapat meningkat pula. 2. 3. Sebagai masukan bagi pengelola pendidikan untuk menerapkan pembelajaran openended sebagai alternatif pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dan perbaikan kualitas pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi. Sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. Meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA SMA RSBI dalam menyelesaikan soal cerita tentang permutasi dan kombinasi. METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di RSMABI Negeri 1 Sukoharjo pada siswa kelas XI IPA 3 semester 1 tahun pelajaran 2011/2012. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. pembelajaran materi tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran open-ended dan pelaksanaan penelitiannya mengacu kepada prinsip-prinsip tindakan kelas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Jawaban akhir bukanlah tujuan utama dalam pembelajaran open-ended. yang terdiri dari 37 siswa. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Seperti telah disebutkan di muka. masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI?” Tujuan Penelitian Sejalan dengan itu. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 1 Sukoharjo sebagai RSMABI. sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna karena lebih menekankan pada proses belajarnya. yaitu : kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. tetapi lebih menekankan pada bagaimana sampai pada suatu jawaban. dalam hal alternatif model atau pendekatan pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika juga sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI.

dengan rincian sebagai berikut : (1) Siklus I menggunakan modul I tentang kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. Teknik Pengumpulan Data Untuk mencatat kejadian selama proses pembelajaran berlangsung digunakan lembar pengamatan. pada tahapan analisis dan refleksi. Teknik Penyimpulan Pada akhir penelitian. dan (3) Siklus III menggunakan modul III tentang kombinasi. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 siklus. apakah pemahaman siswa dan kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi pembelajaran materi permutasi dan kombinasi khususnya dalam menyelesaikan soal cerita telah baik pula dan meningkat. Setiap tugas dan kuis pada akhir pembelajaran digunakan nilai dengan skala 100. antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah tinggi. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini. Sedangkan kuis dikerjakan di kelas secara individual. Dan untuk menentukan prosentase ketuntasan belajar siswa pada materi permutasi dan kombinasi ditandai dengan nilai tugas dan kuis pada tiap siklus sebesar 75 ke atas.65 21. Penyimpulan dilakukan dengan melihat data-data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. baik pada tugas maupun kuis pada tiap akhir siklus. Lembar pengamatan ini diisi oleh pengamat. Analisis data dilakukan secara kualitatif.24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 87 . Pada akhirnya.11 45. yaitu pada akhir siklus ketiga. Hal ini ditandai antara lain pada waktu proses pembelajaran berlangsung tercipta komunikasi multi arah antara guru dan siswa. kualitas pembelajaran berjalan semakin baik. yaitu : (1) perencanaan. Teknik Analisis Data Sesuai dengan langkah penelitian tindakan kelas. Penyimpulan juga dilakukan secara kualitatif. Sedangkan untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar matematika siswa pada materi permutasi dan kombinasi digunakan tugas dan kuis pada tiap akhir siklus. maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat dari rangkaian kemajuan nilai yang diperoleh siswa.89 Klasifikasi Nilai Kuis Materi Permutasi dan Kombinasi Kuis Siklus 1 Kuis Siklus 2 Frekuensi 3 17 9 % 8. (2) Siklus II menggunakan modul II tentang permutasi. data yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan simpulan apakah pada siklus yang bersangkutan proses pembelajaran telah berlangsung baik dan apakah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran telah baik pula. (3) observasi dan interpretasi.22 48. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini. peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari nilai-nilai siswa pada tiap kuis pada akhir proses pembelajaran.62 Frekuensi 0 0 16 % 0 0 43. Secara umum.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masing siklus terdiri dari 4 tahapan. Proses interaksi multi arah ini baru dapat dilakukan pada siklus III.59% dari jumlah siswa kelas tersebut telah mencapai KKM. (2) keaktifan siswa mencapai 90%. ternyata dengan diterapkannya pembelajaran open-ended. (2) pelaksanaan tindakan. Tugas berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual di luar jam pembelajaran. Mengingat materi pembelajaran dalam penelitian ini hanya satu materi pokok saja. Tabel 1.32 Kuis Siklus 3 Frekuensi 6 18 8 % 16.94 24.19% siswa berada pada tahap kemampuan berpikir matematis relational. (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan pada siklus berikutnya. indikator tercapainya upaya peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan pembelajaran open-ended antara lain : (1) 94. Klasifikasi Nilai 100 90 . (3) 89. disimpulkan apakah proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik.99 80 .

100.40 0 100 Dari hasil tes siklus III pada akhir siklus III. meskipun terkadang disertai dengan diskusi kecil di antara para siswa tanpa menimbulkan suasana yang gaduh di kelas. dan tes akhir siklus III.00% 40. Tabel 2.46% 40.00% 90.71 100 3 2 0 37 8. maka kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir matematis akan meningkat dapat diterima.00% 60.62% Siklus III 94. Rangkuman Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Ketercapaian KKM  KKM < KKM Siklus I 59. tes akhir siklus II. dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan siswa pada akhir siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan oleh peneliti dan telah mengalami peningkatan.00% 70.59% 5. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung baik dan dipandang dari sisi prestasi belajar matematika pada materi yang memuat materi modul I sampai modul III. 88 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .71 100 4 3 1 37 10.00% Siklus I Siklus II Siklus III >=KKM <KKM Gambar 1 Perkembangan Ketercapaian KKM Sementara itu keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus juga meningkat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 70 . motivasi dan minat siswa dalam mempelajari permutasi dan kombinasi cukup tinggi. Setiap ada tugas pada akhir modul.79 60 . Pembahasan Berdasarkan analisis dari tes akhir siklus pada setiap akhir siklus yaitu dari adanya tes akhir siklus I. ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. semua siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan masing-masing siswa mengerjakan sendiri dengan seksama.81 2.11 2.00% 0.41% Adapun peningkatan ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.00% 10.24 10. maka hipotesis tindakan yang mengatakan bahwa dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan openended dalam menyelesaikan soal cerita permutasi dan kombinasi. rangkuman keaktifan siswa dari siklus ke siklus dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut.69 < 60 Jumlah 16 4 1 37 43.00% 30.11 5. Hal ini nampak pada waktu pembelajaran berlangsung.00% 80.00% 20.38% 21.81 8. apabila disuruh mengerjakan soal oleh guru. Selain daripada itu berdasarkan observasi dari tim pengamat.00% 50. semua siswa berusaha menyelesaikan dan beberapa siswa mengerjakannya di depan kelas dengan cara yang berbeda.54% Prosentase Siklus II 78.

keaktifan siswa mengalami kenaikan secara signifikan.73% 59.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 3.81% 29.38% 0% Siklus III 0% 0% 10. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. Rangkuman Keaktifan Siswa Keaktifan Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Siklus I 65% 30% 5% Prosentase Siklus II 80% 17% 3% Siklus III 90% 10% 0% Jika dilihat secara keseluruhan.81% 89. Gambar 2 Peningkatan Keaktifan Siswa Kemampuan berpikir matematis siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.19% 0% Adapun perkembangan kemampuan berpikir matematis siswa dapat disajikan dengan diagram sebagai berikut.22% 78.40% 16. Tabel 4 Rangkuman Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kemampuan Berpikir Matematis Prestructural Unistructural Multistructural Relational Extended Abstract Siklus I 0% 10.46% 0% Prosentase Siklus II 0% 5. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 89 .

dan menghasilkan sesuatu. melakukan generalisasi. siswa telah mampu menyebutkan. Pada tingkat ini. mengajukan hipotesis. Pada tingkat ini. menjelaskan hubungan dan menerapkan. Relational Pada tingkat ini siswa dapat menentukan hubungan antara tiap komponen. Pada tingkat ini siswa dapat membandingkan. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. mengintegrasi. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan.59% siswa mendapat nilai di atas KKM. kegiatan dan tujuan. Berdasarkan Taksonomi SOLO kemampuan berpikir matematis siswa di kategorikan sebagai berikut : a. Siswa menunjukkan pemahaman komponen yang masing–masing bagiannya terintegrasi. Siswa dapat menerapkan konsep ke persoalan sehari–hari atau situasi kerja. mengurutkan. mengklasifikasikan. Multi Structural Pada tingkat ini. Pada tingkat ini siswa telah mampu mengidentifikasi. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Pemahaman di transfer dan digeneralisasikan dalam masalah yang berbeda. serta melakukan prosedur sederhana. c. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. siswa kehilangan inti dari informasi yang diperoleh. e. d. tetapi hubungan yang menyeluruh belum ditentukan. tetapi belum mampu membuat hubungan yang luas. melakukan analisis. Extended Abstract Pada tingkat ini siswa mampu memiliki pemahaman yang lebih luas dari apa yang sudah diperoleh dalam pembelajaran. ketuntasan belajar siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Uni Structural Pada tingkat ini siswa telah mampu membuat hubungan sederhana. siswa tidak mengerti penjelasan dari suatu informasi. siswa mampu mengemukakan teori. menjelaskan sebab. Sejumlah hubungan telah dibuat. mengkombinasikan dan melakukan algoritma. fakta dan teori. Dengan kata lain. b. 2008) Pada akhir siklus. tetapi pemahaman terhadap masing–masing komponen terbatas. Pre Structural Pada tingkat ini. memberikan reaksi. Ide dan konsep tentang sebuah permasalahan belum diorganisasikan dan tidak ada hubungan satu sama lain. mengingat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Gambar 3 Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcomes Taxonomy) dikembangkan oleh Biggs dan Colis (1982). Siswa menunjukkan pemahaman bahwa tiap bagian memiliki kontribusi terhadap keseluruhan. (RMIT University. sebanyak 94. siswa dapat mengerti komponen secara umum. dipandang dari sisi prestasi belajar pada materi permutasi dan kombinasi. Pada level ini. Prestasi belajar 90 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . maka dapat diartikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. sedangkan kemampuan berpikir matematis merupakan salah satu hasil dari pembelajaran Dengan kata lain. kepada para Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 91 . Prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi juga meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. akibatnya dapat mengganggu target pencapaian materi yang harus dicapai. dapat dikatakan bahwa pembelajaran open-ended dalam pembelajaran matematika di kelas dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. serta dapat melatih siswa untuk berpikir dengan lebih cermat dan sistematis. baik ditinjau dari prestasi. Sedangkan taha extended abstract sebagai tingkat tertinggi dari kemampuan berpikir matematis menurut SOLO tidak dicapai karena dikarenakan konstruksi desain pembelajaran ditekankan pada pendekatan open-ended sehingga fokus utama pada penelitian tindakan ini adalah pembelajaran. dan kemampuan berpikir matematis. yang antara lain adalah kesulitan guru dalam pembuatan rancangan pembelajaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Oleh karena itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. dapat menumbuhkan motivasi. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. Kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada kemampuan berpikir matematis siswa pada pembelajaran sebelumnya. minat dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan baik dan benar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian. Saran Terlepas dari kelemahannya. Disamping itu. sedangkan tahap multistructural. keaktifan. proses pembelajaran materi permutasi dan kombinasi pada kelas XI IPA 3 RSMABI Negeri 1 Sukoharjo telah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan proses pembelajaran pada tahuntahun sebelumnya. maka dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Dengan pembelajaran open-ended.19% siswa telah berada pada tahap relational yang merupakan tahapan kemampuan berpikir siswa yang tertinggi. Begitu pula jika Pada akhir siklus. siswa akhirnya mudah membedakan suatu masalah itu sebagai permutasi atau kombinasi. dipandang dari sisi kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi. kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi juga meningkat daripada kemampuan berpikir matematis siswa sebelumnya. kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa dalam belajar materi permutasi dan kombinasi cukup tinggi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran open-ended. Sebagai muaranya siswa dapat mencermati suatu kasus permutasi atau kombinasi pada suatu soal. hai ini disebabkan pembelajaran open-ended meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kebebasan siswa dalam berpikir sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengkomunikasikan ide-idenya dalam pengerjaan soal permutasi dan kombinasi. unistuctural dari siklus ke siklus menyusut karena kemampuan berpikir siswa cenderung meningkat ke tahap relational. Pada akhirnya. namun dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bukti bahwa pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. sebanyak 89. Dengan peningkatan semua komponen.

Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. Slavin. R. Rusyan. Eggen. Developing Mathematical Reasoning Grade K-12. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. tanggal 28 – 29 Maret 2003. 1994. Polya. Joyce. I. Dalam J. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya : University Press UNESA Muhammad Nur dan Muhammad Ibrahim. Models of Teaching. NCTM. 1999. Winataputra dan Saripudin. 1973. 2000. 1989. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya. Yogyakarta.D. Usman. Poppy. 2009. New Jersey : Prentice Hall.). How to Solve It. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Materi Pokok Pengajaran Matematika. Reston : Virginia. Purwoto. 1999. Bandung : Remaja Karya. Shimada (Ed. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. Muhibbin Syah. Menjadi Guru Profesional. Boston: Allyn and Bacon. Surakarta : UNS Press. Wina Senjaya. Trianto. 2001. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Bandung : Remaja Karya. Muhammad Nur dan Wikandari. dkk. M. D. dan Kauchak. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. ___________. 1997. R. 1995.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 guru matematika disarankan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk materi pelajaran matematika yang lain dengan menggunakan pendekatan pembelajaran openended. Atang Kusnindar. Strategies For Teacher Teaching Content And Thingking Skills. Yaniawati. 2008. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. George. 2007. 1987. Soedjadi. (2000). DAFTAR PUSTAKA Arends. Jakarta: Karunika. Sawada. P.. Jakarta : Rajawali Press. Zamroni. T. 1997. Boston: Allyn & Bacon. E. Sardiman A. 2003. New York: Mcraw-Hill. 2003. Inc. Zainal Arifin. Shimada. The Significance of an Open-Ended Approach. E. R. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Aktifitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. Bandung: JICA.U. Landasan dan Implementasinya pada KTSP. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Strategi Pembelajaran. Surabaya : PSMS Program PPS Unesa. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Educational Psychology Theory into Practice. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep.P.M. Strategi Pembelajaran Matematika. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. B and Weil. 1995.). Jakarta: Prestasi Pustaka. Suherman. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Tambunan. Teori Belajar. Soekamto. 1997. Classroom Instruction and Management. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Jakarta: Kencana. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2000. R. Dalam J. 1997. Jakarta : Rineka Cipta. P. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Sutrisman Murtado dan J. Surabaya : University Press. 2001. T. P. Muhammad Nur. U. 2001. 2004. M. S. Slameto. Shimada (Ed. Becker & S. 1992. Becker & S. Yogyakarta: Bigraf Publishi 92 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . The OpenEnded Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. 1996. New Jersey : Princeton. Developing Lesson Plan. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful