P. 1
2.-MAKALAH-PENDAMPING-1

2.-MAKALAH-PENDAMPING-1

|Views: 815|Likes:
Published by Elfidayani Fida

More info:

Published by: Elfidayani Fida on Sep 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2014

pdf

text

original

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

DAFTAR PUSTAKA Amerom, B. V. (2000). Arithmetic and algebra: Can history help to close the cognitive gap? A proposed learning trajectory on early algebra from an historical perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Becker, J.P & Shimada, S. (1997). The open-ended approach: A new proposal for teaching mathematics. Reston: NCTM Ben-Zeev, T. Dan Star, J.(2002). Intuitive Mathematics: Theoretical and Educational Implications. Michigan: University of Michigan Brouseau, G. (1997). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers Clarke, B., Clarke, D., & Sullivan, P. (1996).The mathematics teachers and curriculum development. In Alan J. Bishop et al. (eds.), International Handbook of Mathematics Education, 2 (1207-1234). Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. De Lange, J. (1987). Mathematics insight and meaning. Utrecht, the Netherlands: OW &OC, Dissertation. De Lange, J. (1996). Using and applying mathematics in education. In A.J. Bishop et al. (eds.). International Handbook of Mathematics Education. 1 (49-97). The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. Gravemeijer, K. (1994). Educational development and developmental research in mathematics education. In Journal for Research in Mathematics Education, 25 (5), 443-471. Gravemeijer, K.P.E (2000a). Developmental research: Fostering a dialectic relation between theory and practice. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Gravemeijer, K.P.E (2000b). Taking a different perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Kansanen, P. (2003). Studying-theRealistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29,No. 2/3, 221-232 Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Bandung: SPS UPI Toom, A. (2006). Tacit Pedagogical Knowing At the Core of Teacher’s Professionality. Helsinki: University of Helsinki Treffers, A. & Goffree, F. (1985). Rational analysis of realistic mathematics education-The Wiskobas program. In L. Streefland (Ed.), Proceedings of Ninth International Conference for the Psychology of Mathematics Education, (pp.97-121). Noordwijkerhout, July 22-29, 1985. Treffers, A. (1987). Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics education. Reidel, Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Treffers, A. (1991). Didactic background of a mathematics program for primary school. In L. Steefland (ed.), Realistic mathematics education in primary school: On the occasion of the opening Freudenthal Institute, (pp.21-56). Utrecht: Center for Science and Mathematics Education, Utrecht University. Turmudi (2006). Designing contextual Learning Strategies for Mathematics for Junior Secondary School in Indonesia. Ph.D. Thesis, Melbourne, Australia: La Trobe University. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (1996). Assessment and realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, Center for Science and Mathematics Education. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (2000). Mathematics education in the Netherlands: A guide tour. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

13

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

PENERAPAN BLENDED LEARNING PADA PERKULIAHAN DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (Studi Kasus: Mata Kuliah Dasar-dasar Matematika)
Imam Sujadi Program Studi Pendidikan Matematika UNS Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menerapan model blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memadukan antara pembelajaran tatap muka dan sistem e-learning. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika UNS. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Tahapan penelitian didahului dengan mengembangkan model pembelajaran blended learning untuk mata kuliah Dasar-dasar Matematika. Selanjutnya model tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tahap-tahap penelitian tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah dasar-dasar matematika pada semester gasal tahun akademik 2011/2012. Metode pengumpulan data dengan angket, observasi dan tes, pemberian tugas/kuis untuk mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Model pembelajaran blended learning terbukti berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan kompetensi kognitif mahasiswa. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas ini dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan mata kuliah yang berbeda dan kondisi yang berbeda pula. Kata kunci: blended learning, kemandirian belajar, peningkatan kompetensi

PENDAHULUAN E-learning saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang berkembang sangat pesat, sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi pendukungnya. Tujuan utama e-learning adalah mempermudah setiap orang untuk belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa e-learning memberikan cukup banyak manfaat bagi institusi pendidikan tinggi baik bagi dosen, mahasiswa, dan penyelenggara pendidikan. Manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pertemuaan tatap muka akan berkurang, sedangkan materi yang telah dikembangkan akan terus bisa digunakan. Dengan menggunakan e-learning, biaya yang digunakan untuk memberikan materi pembelajaran bisa dihemat. Mahasiswa yang bisa mengikuti perkuliahan dengan adanya e-learning juga bisa bertambah secara kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya e-learning tempat belajar tidak lagi menjadi kendala yang mendasar, karena mahasiswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dengan segala kelebihan pemanfaatan e-learning tersebut, oleh sebagian pihak elearning dianggap sebagai model pembelajaran masa depan (future learning). Namun dibalik kelebihan tersebut tersimpan beberapa kelemahan terutama pada instruktur, infrastruktur dan assessment. Salah satu proses penting dalam proses pembelajaran adalah proses membangun pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut bisa bersifat eksplisit maupun implisit. Beberapa kelemahan pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pengetahuan yang bersifat implisit sangat tidak mungkin untuk disebarkan menggunakan e-learning. Selain itu faktor emosional, gestur, seni, dan penilaian dari pembelajaran cenderung terkurangi dengan adanya e-learning. Selain beberapa kelemahan tersebut masalah penilaian (assesment) menjadi tantangan tersendiri pada penyelenggaraan e-learning. Pada pemanfaatan e-learning dosen tidak bisa mengetahui bagaimana kemampuan sebenarnya dari mahasiswanya, karena terjadi distorsi penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh dosen sangat bersifat kognitif, sehingga kemampuan afektif maupun motorik menjadi kurang terukur. Blended-learning, salah satu tipe pengembangan e-learning, merupakan alternatif jawaban atas kelemahan yang ada pada e-learning. Blended Learning adalah cara untuk mendidik dan belajar dengan ‘mengkombinasikan’ beberapa metode dan gaya pembelajaran

14

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

yang berbeda. Blended learning berbasis pada kombinasi antara pembelajaran yang bersifat online dan tatap muka. Cara belajar seperti ini memberikan beberapa keuntungan yang bersifat fleksibel bagi dosen dan mahasiswa. Dosen tidak kehilangan gesture dan seni dalam perkuliahan, demikian juga dengan mahasiswa tidak akan merasa ketinggalan ketika tidak bisa hadir pada perkuliahan (Arai, K: 2010). Penerapan blended-learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan penguasaan kompentensi mahasiswa pada standar yang terukur. Dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi pada perkuliahan dimungkinkan adanya remedial teaching yang harus dilakukan oleh dosen. Kendala yang dihadapi dosen dalam melaksanakan remedial teaching adalah bagaimana mengatur pengelompokan kelas dan pengaturan waktu, antara yang mengikuti remidial dan yang tidak. Penerapan blended-learning diharapkan bisa mengurangi banyak tatap muka yang harus dilakukan dosen, terutama kelompok yang harus mengikuti remedial teaching (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008) Sebagai ilustrasi pada perkuliahan dasar-dasar matematika tahun akademik 2009/2010, peserta mata kuliah dasar-dasar matematika ini adalah 28 mahasiswa. Pada ujian kelompok kompetensi dasar (KKD-1) mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 15 mahasiswa (54%), pada KKD-2 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 9 mahasiswa (32%), pada KKD-3 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 11 mahasiswa (39%), sedangkan pada KKD-4 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 4 mahasiswa (14%). Ketika dosen akan melakukan remedial teaching, kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengatur waktu untuk melakukan pembelajaran pada kelas remedial tersebut. Kendala yang lain mahasiswa secara afektif kurang mempunyai kemauan untuk belajar mandiri dan kurang mempunyai kemauan bekerja menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi kendala tersebut penerapan remedial teaching bagi mahasiswa dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, merupakan suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran di prodi pendidikan matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi ditinjau dari aspek dampak peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa, studi kasus pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Asumsi yang digunakan adalah semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan kemampuan akses yang sama terhadap materi perkuliahan yang disebarkan melalui website atau learning management system (LMS). Sebagai rencana cadangan materi juga disebarkan menggunakan media CDROM. Materi yang disampaikan melalui LMS atau CDROM bersifat pengetahuan eksplisit, sedangkan pengetahuan yang bersifat implisit disampaikan di kelas. Tatap muka di kelas lebih bersifat mediasi, review, dan diskusi terhadap materi yang diberikan. Media komunikasi yang digunakan adalah media chat melalui jejaring sosial selama jam kerja, email dan forum diskusi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian E-Learning E-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran (learning) dan pengajaran (teaching) secara online menggunakan jaringan teknologi. Saat ini telah banyak penelitian mengenai elearning, terutama pada dampak (outcomes) pembelajaran yang dihasilkan e-learning jika dibandingkan dengan pengajaran secara tradisional (Hrastinski, S: 2008). Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan e-learning sebagai suplemen terhadap materi yang disampaikan secara regular di kelas. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif perkuliahan bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan (Rahayu, T: 2007). Untuk bisa mempraktekkan dan mengimplementasikan e-learning dengan baik, harus diperhatikan mengenai keuntungan dan keterbatasan setiap metode dan teknik yang dikembangkan pada e-learning. Dua tipe dasar e-learning yang saat ini berkembang adalah asynchronous dan synchronous e-learning. Sampai saat ini, tipe asynchronous lebih banyak diandalkan untuk pengajaran dan pembelajaran. Namun, seiring dengan perkembangan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

15

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

teknologi dan peningkatan kapasitas bandwith koneksi internet, tipe synchronous menjadi pilihan tersendiri (Hrastinski, S: 2008), (Rahayu, T: 2007). Blended Learning Blended-learning merupakan salah satu pendakatan dari e-learning, yang mengkombinasikan berbagai komponen pembelajaran - seperti ruang kelas, konten online, email, forum diskusi, learning management system (LMS) - dan pengalaman belajar – seperti pembelajaran individual atau berbasis kelompok - untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Blended learning mengkombinasikan tipe asynchronous dan synchronous pada pelaksanaannya. Bahkan pada prakteknya sesi ‘tatap-muka’ tidak hanya dilaksanakan secara virtual melalui chat atau email saja namun dilaksanakan di dalam kelas yang notabene merupakan cara konvensional. Tentu saja hal ini meningkatkan fleksibilitas pada pelaksanaannya. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Sehingga secara umum, blended-learning menyediakan hampir semua kebutuhan dari mahasiswa yang antara lain berkaitan dengan apa saja isi pembelajaran, waktu pembelajaran, tempat pembelajaran dan bagaimana cara belajarnya. Disamping itu pengalaman belajar mahasiswa juga akan bertambah. Blended Learning pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasis kompetensi. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi dari perkuliahan. (Rahayu, T: 2007). Berdasarkan SK Mendiknas No 232/U/2000, struktur kurikulum harus berdasar pada tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Sehingga secara garis besar, KBK bisa diartikan sebagai kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama pada tahap pengembangan ide dipengaruhi oleh kemungkinankemungkinan pendekatan, sehingga kompetensi bisa menjawab tantangan yang muncul (Rahayu, T: 2007). Pada KBK, mahasiswa diberi kesempatan secara terbuka untuk bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Jika ternyata peserta didik gagal, maka dosen harus memberikan remedial teaching. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa namun membingungkan pengampu mata kuliah. Untuk melaksanakan remedial theacing, dosen harus membagi kelas menjadi dua bagian. Satu kelas, terdiri dari mahasiswa yang tidak remedial teaching, kelas lainnya yang mengikuti remedial teaching. Hal ini tentu saja merepotkan terlebih jika ternyata pada kompetensi berikutnya ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, sehingga perlu remedial teaching juga. Untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan remedial teaching tersebut tersebut, penggunaan blended learning sangat tepat digunakan. Skenarionya semua komponen blended learning dilaksanakan, selanjutnya jika terjadi remedial teaching digunakan komponen asynchronous, dengan mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan untuk kompetensi berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga ketika mahasiswa harus remedial maka ia tidak harus membuat kelas terpecah dalam kelas kecil. Sebagai gambaran, blended learning dilaksanakan seperti pada Gambar 1. (Arai, K: 2010). METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research) yang difokuskan pada proses pembelajaran remidial. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan partisipan karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Subjek, Objek, Waktu dan Tempat Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang pada tahun akademik 2011/2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika, khususnya mahasiswa

16

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Data dan Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi keseluruhan kegiatan pelaksanaan mulai awal sampai akhir sebagai berikut: (1) Proses kegiatan penyusunan handout. tahap perencanaan atau penyusunan prototype. Pada fase kedua mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. (5) Tanggapan mahasiswa tentang penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi lapangan. Pada tahap persiapan. baik secara langsung atau lewat email (dilakukan oleh ketua sebagai pengajar). perancangan tugas. serta kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. masing-masing kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan sebagai berikut: (1) membuat silabus yang dilengkapi dengan RPP. (2) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan sebelum tindakan dilakukan. mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya lewat millis apabila ada kesulitan. Tahap analisis dan refleksi dilakukan pada masing-masing siklus yaitu pada siklus 1. Waktu penelitian selama 6 (delapan) bulan dimulai bulan Juni sampai dengan Nopember 2011. (2) melaksanakan penerapan blended learning pada perkuliahan remedial . Sedangkan refleksi dilakukan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 17 . serta peningkatan kognitif berupa peningkatan kompetensi akibat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. karena sebagian besar data yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi. Peneliti memotivasi siswa untuk mau mencari informasi yang dibutuhkan dan mau mempelajarinya. menyusun handout. tahap pelaksanaan tindakan. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. dan atau menggunakan millis. langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan. sedangkan objek penelitian ini adalah peningkatan afektif yang berupa peningkatan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dengan mencari informasi pengetahuan yang dibutuhkan. Analisis dilakukan dengan cara : peneliti mengumpulkan hasil observasi dan angket kemudian dianalisis bagian mana dari bahan yang belum dikuasai mahasiswa serta ditandai siapa saja mahasiswa yang belum tuntas dan tanggapan siswa (persepsi siswa) terhadap proses yang dilakukan. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/ tindakan hal-hal yang dilakukan adalah penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati jalannya pelaksanaan penerapan blended learning pada perkuliahan. Fokus pengamatan ditekankan pada peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa. Sedangkan pada fase ketiga memberi kesempatan mahasiswa untuk menanyakan hal yang belum jelas pada dosen. Tiap-tiap kelompok ditugaskan melakukan kegiatan diskusi menyelesaikan tugas baik secara langsung. Tahap observasi dan evaluasi. Langkah-langkah Operasional Kegiatan Pelaksanaan Penelitian Secara umum. dan angket untuk mahasiswa. dan menyusun rancangan tugas. Pada tahap perencanaan peneliti menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan berupa lembar observasi dan angket. tahap analisis dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut. sesuai dengan tugas yang telah dirancang oleh dosen. Tempat penelitian adalah di prodi pendidikan matematika JPMIPA FKIP UNS.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang mengalami remedial teaching. Pada fase pertama mengidentifikasi mahasiswa yang memerlukan remidial teaching pada KKD-1 dengan cara mahasiswa diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan. untuk memberikan materi dalam rangka remedial teaching. (3) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan setelah tindakan dilakukan. (4) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. Mahasiswa diharapkan mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan hasil diskusi. (2) mengembangkan media berbasis website atau learning management system (LMS). yang dilakukan adalah (1) menyusun RPP.

Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan pertama berisi konsep kuantifikasi. dan (D) jika sangat tidak setuju dengan isi pernyataan tersebut. Lembar angket dibuat untuk menggali kemandirian mahasiswa dalam perkuliahan baik pada perkuliahan biasa atau perkuliahan dengan pendekatan blended learning. adalah bahan ajar perkuliahan dasar-dasar matematika untuk KKD-1 dan KKD-2. Mahasiswa diminta memilih huruf (A) Jika sangat setuju. Berdasar hasil analisis dan refleksi pada siklus I. serta lembar tugas yang akan diberikan mahasiswa. Sedangkan KKD-1 pertemuan ketiga berisi negasi dan nilai kebenaran . definisi. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan ketiga berisi mengenal silogisma. dan (D) Jika tidak pernah mengerjakan sebagaimana isi pernyataan tersebut. teorema. hubungan kuantor. seperti argumen dan validitas. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran a. hukum silogisma hipotetik dan berbagai macam modus. serta pembuktian langsung dan tak langsung. Instrumen Penelitian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk melihat aktifitas mahasiswa didalam kelas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dengan cara: data hasil analisis dikoreksi dan didiskusikan bersama untuk perbaikan siklus selanjutnya. Pernyataan yang berkaitan dengan perkuliahan biasa terdiri dari 25 pernyataan. Perangkat penunjang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah mailing list yaitu suatu group dari email mahasiswa peserta kuliah dan dosen untuk digunakan mahasiswa agar bisa berdiskusi lewat dunia maya. bahan ajar. lemma. (C) Jika jarang mengerjakan. Untuk KKD-1 pertemuan kedua berisi fungsi dan perangkai logika. Sedangkan pernyataan yang berkaitan dengan model kuliah Blended Learning terdiri dari 15 pernyataan. (B) Jika setuju . Lembar observasi yang dibuat berisi indikator untuk mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini. postulat. kuantor dengan beberapa variabel dan proposisi berkuantor. seperti: Pengertian hal-hal yang tak didefinisikan. Pada pernyataan no 1-25. 18 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . (B) Jika sering mengerjakan. dan kontingensi. Perangkat Pendukung Perangkat pendukung yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Blog untuk meng-upload bahan ajar dan tugas serta review hasil tugas maupun perkuliahan. mahasiswa akan memilih huruf: (A) Jika selalu mengerjakan. Instrumen bantu yang dikembangkan dalam penelitian ini selain lembar observasi adalah angket untuk melihat bagaimana aktivitas mahasiswa dan tanggapan mahasiswa dengan kuliah menggunakan pendekatan Blended learning. Untuk KKD-1 pertemuan pertama bahan ajar pertemuan pertama berisi konsep aksiomatika dalam matematika. HASIL PENELITIAN 1. Bilamana kenaikannya belum mencapai angka 10 persen maka dikatakan belum ada peningkatan afektif dan kognitif dan perlu mengulang pada siklus II. seperti : proposisi kata hubung logika dan pengembangan kata hubung. tahap persiapan dan perencanaan pada siklus I diperbaiki untuk dilaksanakan pada siklus II. Perangkat lain yang dikembangkan adalah email yang bisa digunakan mahasiswa untuk menanyakan materi atau tugas kepada dosen. Pada setaiap akhir bahan ajar diberi lembar tugas. Indikator keberhasilan dari siklus 1 ini dapat dilihat adanya peningkatan kemauan belajar mandiri dan kemauan menyelesaikan tugas yang ditandai dengan kenaikan prosentase sebelum tindakan. Adapun materi angket difokuskan pada hal-hal berikut ini. Perangkat Utama Perangkat Pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini adalah Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). kontradiksi. seperti : tautologi. aksioma. pembuktian dengan induksi matematika. (C) Jika tidak setuju. b. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan kedua berisi penarikan kesimpulan dan pembuktian seperti : penarikan sahih dan tak sahih. dan digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum dikuasai oleh mahasiswa. seperti: bentuk umum kuantor. Pada pernyataan no 26-40. Bahan ajar tersebut disajikan dalam bentuk power point.

dan mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas dan dikumpulkan melalui email. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. i) Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 19 . dengan sebelumnya dilakukan remidial teaching. Hasil Penerapan Blended Learning Penelitian penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi studi kasus pada mahasiswa yang tahun akademik 2011-2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika terdiri dari 2 siklus. j) Pada pertemuan ke 4 dilakukan uji kompetensi dengan materi KD01. Untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. Berdasar hasil observasi tersebut dibuat perencanaan pembelajaran dengan metode Blended Learning. l) Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen. Selain itu. dengan ketentuan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 diberi kesempatan melakukan ujian kedua. h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. b) Sebelum perkuliahan dilakukan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 2. semuanya berjumlah 67 mahasiswa. kemudian menyuruh mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapatan di dalam kelas. g) Dosen memberikan soal tambahan di kelas. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. materi perkuliahan. Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. lembar tugas yang akan dibicarakan. dengan urutan sebagai berikut: a) Mempersiapkan RPP. sudah didiskusikan dengan teman yang lain? f) Dosen membahas materi atau tugas yang sudah diupload dan materi atau tugas tersebut dianggap sulit oleh mahasiswa. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. e) Dosen menanyakan apakah materi yang susah dipahami. Sedangkan sisanya yaitu 33 mahasiswa adalah mahasiswa pengulang. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. Berdasarkan Hasil angket tentang kemandirian mahasiswa didapatkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar masih rendah. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. Siklus I 1) Tahapan Perencanaan Berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa yang mengikuti kuliah dasar-dasar matematika pada tahun akademik 2011/2012. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen. k) Remidial teaching dilakukan dengan cara memberi tugas untuk mempelajari materi yang sudah diupload. mahasiswa dapat mendownload KD01-01). dimana dari 67 mahasiawa tersebut 34 mahasiswa adalah mahasiswa baru angkatan 2011. untuk memperoleh data yang akurat. dengan rincian sebagai berikut : a. c) Pada awal perkuliahan Dosen menanyakan pada mahasiswa apakah mereka sudah mendownload materi KD01-01? d) Dosen menanyakan apakah mahasiswa ada yang mengalami kesulitan materi yang sudah didownload.

b. Adapun hasil dari observasi dan wawancara dapat dirangkum sebagai berikut ini. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga belum menggembirakan hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. kemudian naik menjadi 34.6%) Peserta Uji Remidi 54 44 (81. menjadi bentuk yang lain. Berdasarkan hasil UK KD01 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa adalah sebagai berikut ini. keberanian untuk mengeluarkan pendapat juga masih rendah. (2) Terkadang Hot Spot di Kampus tidak berjalan dengan lancar.5%) 10 (18. sehingga masalah mendownload juga masalah tersendiri bagi mahaisiswa. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil wawancara dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti.5%) Lulus KD01 57 dari 67 Peserta 85. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 19. dan meningkatkan lulusan mahasiswa yang mengikuti remedial teaching.4%) 54 (80. (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi.5%. Tabel 1 Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus I Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 13 (19. dan peningkatan prosentase mahasiswa yang lulus tidak perlu remedial teaching. kemudian ujian remedial yang lulus adalah 81. Meskipun demikian perlu dilakukan perbaikan khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar yaitu mengubah pola tanya jawab dosen mahasiswa lewat email. Siklus II Pada siklus ini dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus I.6% pada pertemuan I. 1) Tahapan Perencanaan 20 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . mencari literature lain. (1) Kemandirian mahasiswa masih rendah. Adapun ukuran hasil tindakan pada siklus II ini dikaitkan dengan hasil tindakan pada siklus I apabila ada peningkatan kemandirian mahasiswa dalam belajar. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 85. Selain itu perlu ditinjau ulang tentang perlu tidaknya membangkitkan mahasiswa untuk mau mengerjakan tugas.1%.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 peneliti juga melakukan wawancara tidak tersetruktur terhadap beberapa mahasiswa tentang materi yang dirasakan sulit oleh mahasiswa Berdasarkan hasil wawancara tidak tersruktur pada beberapa mahasiswa didapatkan tambahan informasi bahwa masalah perkuliahan KD01: (1) mahasiswa merasa masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 42.4% pada pertemuan ke II. kemampuan bertanya rendah. (4) Kalau tugas itu tidak dikumpulkan maka semangat mengerjakan tugas itu agak berkurang. meskipun demikian dengan penerapan model pembelajaran yang dirancang rata-rata kemandirian mahasiswa meningkat untuk tiap perkuliahan yaitu dari 25.4% yang lulus UK01. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi) sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II.5%. (3) Untuk bertanya pada dosen melalui email memang agak tidak enak.

uns@gmailgroup. Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen atau didiskusikan dengan teman melalui fun. Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus II Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 43 (64. dengan urutan sama seperti pada siklus I hanya diubah pada langkah b) yaitu cara menyampaikan materi tidak hanya lewat blog tetapi diemailkan ke mahasiswa dengan cara mahasiswa dibuatkan milling list. Tabel 2. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga mengalami peningkatan. Pada siklus II ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen atau silahkan didiskusikan melalui milling list. (h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan memberi tugas untuk dikumpulkan. hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. sebagai berikut ini: (b) Sebelum perkuliahan dilakukan.math. kemampuan bertanya. Selain itu.edu. demikian juga untuk bisa terjadi interaksi dengan sesama teman dan tidak hanya bertanya pada dosen maka dibuatkan forum diskusi lewat miilling list agar sesama mahasiswa dapat berdiskusi lewat internet. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. Tugas boleh didiskusikan melalui group maillist yang sudah dibuat. mahasiswa dapat mendownload KD01-01) dan diemailkan ke fun.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil angket yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 21 .com sehingga semua mahasiswa sudah terkirim. Materi akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. dan l) juga diubah bagaimana tugas itu harus dibuat oleh mahasiswa. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. Disamping itu pada langkah h).com. i) .2%) 24 (35. peneliti juga melakukan pengambilan data melalui angket tentang pembelajaran dengan blended learning pada perkuliahan dasar-dasar matematika. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. Berdasarkan hasil UK KD02 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa sudah meningkat sebagai berikut ini: (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok.8%) Peserta Uji Remidi 24 18 (75%) 6 (25%) Lulus KD01 61 dari 67 Peserta 91. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. dibuat perencanaan pembelajaran dengan model blended learning. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. mencari literature lain. keberanian untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai meningkat.math.uns@gmailgroup. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. (i) i. dan (l).edu. untuk memperoleh data yang akurat. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen (untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning.

kemudian ujian remedial yang lulus adalah 75%. 3. B.7 Rahayu. 2007. Nayak. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 48. Adapun peningkatan prosentase kemandirian karena penerapan model pembelajaran yang dirancang ratarata yaitu dari 41.H. 2008. Khan. p:22. Succes Factor for Blended Learning. Dari dua siklus penerapan perkuliahan blended learning telah mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa dan kemampuan kognitif mahasiswa.1 -22. Perangkat pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini berupa silabus. Benefits of Blended E-learning. Hrastinski. bahan ajar. Advantages and Disadvantages of eLearning Management System. Blended Learning for Compliance Training Succes. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 91. dan mailing list . Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika UNS 22 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 2008. 2. lembar tugas. Depdiknas. Kapp. Volume 4 p. 2007. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Silabus Dasar-dasar matematika. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 64. khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. Open Source Software for Blended Learning. Adapun hasil dari observasi dapat dirangkum sebagai berikut ini. DAFTAR PUSTAKA Arai. Asynchronous and Synchronous E-Learning: A study of asynchronous and synchronous e-learning methods discovered that each supports different purposes. KM dan McKeague. P. Jakarta: Depdiknas. Educause Quarterly. Proceeding of International Conference on Open Source for Higher Education. Proceeding of Fourth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society. PENUTUP Berdasarkan hasil maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut ini : 1.8% pada pertemuan I.3% pada pertemuan ke II. p: 964 – 968 Depdiknas. E dan Gerbic. T. kemudian naik menjadi 46. 2002. Meskipun demikian masih perlu dilakukan perbaikan terus menerus diperkuliahan pada KD03 dan KD04.2010. (1) Kemandirian mahasiswa sudah mengalami peningkatan. 2002. email. Proceeding of Ascilite Melbourne. RPP. C. K. Bloomburg. P. Pemanfaatan E-Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi.9% yang lulus UK02. Disampaikan pada Workshop on e-Learning in Higher Education. _________ 2009. Sebelas Maret University. MK dan Suesawaluk. Jakarta: Depdiknas. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar dan bekerja sama dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kognitif pada mata kuliah dasar-dasar matematika. 2010. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. media berupa blog. Kurikulum Berbasis Kompetensi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. S. 51 – 55.2%. King Fahd University of Petroleum and Minerals. Bina Widya Vol 18 p: 16-24 Stacey. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model blended learning dapat digunakan untuk melaksanakan remedial teaching untuk perkuliahan yang menerapkan kurikulum berbasisis kompetensi. 2002. Eduneering.1%.

siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. 2007). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya untuk menganalisis proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Imam Sujadi2 1) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPY Jl. PGRI I Sonosewu Yogyakarta 2)Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam membangun ide. serta tidak menemui kesulitan. Selain itu. agar siswa memiliki kemampuan memperoleh. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. kemampuan berpikir kritis. Kompetensi tersebut dikembangkan dalam diri siswa. mensintesis ide. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. analitis. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi: dalam tahap membangun ide. tidak pasti. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. mekanistik. mengembangkan kemampuan berpikir kritis. kritis dan kreatif. mengelola. Artinya. kreatif. Dalam tahap merencanakan ide. Dalam tahap mensintesis ide. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR (SD) BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Abdul Aziz Saefudin1. dan kompetitif (BSNP. konsep matematika. merencanakan penerapan ide. Adapun kemampuan berpikir tingkat tinggi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 23 . Dalam tahap menerapkan ide. dan produktif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kemampuan berpikir tingkat rendah (low order thinking) atau kemampuan dasar (basic skill). tidak melakukan kesalahan. dan menerapkan ide tersebut dalam pemecahan masalah matematika. yakin dengan jawaban yang diberikan. karena tingkat kompleksitas dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi (I Gusti Putu Sudiarta. dan jika melakukan kesalahan. sistematis. Dalam pembelajaran matematika. dan rutin. dan kemampuan bekerja sama. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. 2006: 416). matematika mempunyai peran yang sangat sentral dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama sehingga mereka siap menghadapi segala perubahan dalam segala bidang kehidupan. yaitu berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik. pemecahan masalah matematika PENDAHULUAN Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis. kreatif. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas V SD berkemampuan matematika tinggi (skor ≥75) yang banyaknya minimal 1 orang subjek. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Kemampuan dasar dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. dan produktif tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global. Kata Kunci: proses berpikir kreatif.

Dalam pola berpikir lateral. tidak hanya mencari jawaban yang benar dalam pemecahan masalah matematika. bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. Secara khusus. merencanakan penerapan ide.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 bersifat divergen. Selain itu. Kriteria kreativitas pemecahan masalah menurut Silver (1997) diindikasikan dengan kefasihan. dan holistik (R. dan kebaruan. Sejalan dengan pendapat Silver tersebut. Beberapa jawaban dikatakan beragam jika jawaban-jawaban yang diberikan siswa tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu. Alhasil. maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian. dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. Barak dan Doppelt (2000) mengemukakan bahwa berpikir kreatif merupakan sintesis antara berpikir vertikal dan berpikir lateral. tetapi dapat menggunakan pendekatan masalah terbuka atau open-ended approach (Becker dan Shimada dalam Hashimoto. Rosnawati. Berpikir vertikal menurut Edward de Bono dalam Barak dan Doppelt (2000) merupakan pola berpikir yang dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. fleksibilitas. Sementara kebaruan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa menjawab/menyelesaikan masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya. 2011). yaitu menuntut aktivitas kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah matematika dari beragam perspektif. Originalitas menunjukkan strategi pemecahan masalah yang baru dan berbeda dengan strategi yang biasa ia atau orang lain gunakan. mensintesis ide-ide. Campbell. tidak teratur. 2009: 146. Oleh karena itu. untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. 2008: 445. 1997). dan elaborasi (penyempurnaan). 2007). tidak mengherankan jika banyak penemuan baru dan terobosan ilmu pengetahuan dari hasil pola berpikir lateral. Oleh karena itu. originalitas. menentukan hasil akhir apa yang diinginkan. tetapi juga cara mengonstruksi segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya (I Gusti Putu Sudiarta. divergen. Pola berpikir vertikal terkait dengan bernalar dalam matematika sehingga lebih memfungsikan otak kiri yang bersifat logis. inkubasi. Selanjutnya Pehkonen (1997) menyatakan. 2007). linier. sedangkan elaborasi merupakan bagian dari proses berpikir di mana ide/solusi original yang muncul dengan cepat harus direspon dengan cepat sehingga ide/solusi tersebut tidak menjadi lapuk. 1986: 18) mengemukakan empat tahap berpikir kreatif. Beberapa jawaban tersebut dikatakan berbeda jika jawaban tersebut tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu (Tatag Yuli Eko Siswono. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika. fleksibilitas. kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah matematika terbuka. Proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika mempunyai beberapa tahapan. Kefasihan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan memberi jawaban yang beragam dan benar. dan menerapkan ide tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang baru. dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa sekolah 24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Solso. 2007). dan verifikasi. pembelajaran tidak hanya menekankan pada penyelesaian masalah tertutup atau mempunyai solusi tunggal. berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru (Ruggiero dan Evans dalam Tatag Yuli Eko Siswono. Maksudnya. Fleksibilitas ditunjukkan dengan kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. yaitu preparasi. iluminasi. dalam pemecahan masalah matematika. Sementara pola berpikir lateral menggunakan berbagai fakta yang ada. dan rasional. Wallas (dalam Oemar Hamalik. kemampuan berpikir kreatif menurut Lee (2005) melibatkan kefasihan. fungsi otak yang digunakan menggunakan otak belahan kanan yang bersifat acak. Sementara Krulik dan Rudnick (1995: 3) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif meliputi tahapan-tahapan membangun suatu ide. Produk dari proses berpikir kreatif adalah berbagai kreativitas. intuitif. sekuensial.

dan instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara. Subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar. Pada tahap mensintesis ide. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. 2008: 92-99). Subjek menerapkan ide penyelesaian yang fasih dan fleksibel. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Demangan Baru Sleman DIY yang pernah memperoleh materi pokok bilangan bulat dan dimungkinkan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga eksplorasi tentang proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan. Instrumen bantu berupa instrumen bantu pertama yaitu tes tertulis penentuan kemampuan matematika siswa. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. dan menerapkan ide dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. Manfaat penelitian ini yang lain adalah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika baik bagi siswa maupun guru. konsep KPK. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. subjek mensintesis ide dengan cara mencari KPK dua bilangan yang diketahui dan menggunakan cara grafik. mensintesis ide. strategi. Selanjutnya dalam tahap merencanakan penerapan ide. sajian data dan penarikan kesimpulan sekaligus verifikasinya (Miles. hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru untuk menyusun model. subjek tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Huberman. setelah sebelumnya menggunakan metode tes. tetapi tidak terdapat unsur kebaruan. instrumen bantu kedua yaitu tes tertulis pemecahan masalah bilangan bulat. merencanakan penerapan ide. Subjek mensintesis ide dengan cara menjumlahkan dua bilangan melalui kombinasi atau salah satu cara dari sifat pengelompokan. Subjek melakukan tahap menerapkan ide dengan cara penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. dan konsep grafik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dasar (SD) yang meliputi tahap membangun ide. Manfaat hasil penelitian adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap dunia pendidikan. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 25 . Analisis data penelitian kualitatif menggunakan tiga komponen utama yaitu reduksi data. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui pada soal dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan. Selain itu. dan cara biasa. Selain itu. cara bersusun. Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu instrumen utama dan instrumen bantu. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan peneliti sebagai instrumen utama. dan Spradley dalam Sugiyono. subjek merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pewancara (peneliti sendiri). Dalam menyelesaikan soal pertama. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Pertimbangan ide digunakan bersifat konseptual. subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar serta tidak menemui kesulitan. pendekatan. Apabila terdapat kesalahan penyelesaian soal. Selain itu. Pertimbangannya bersifat konseptual. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengungkap proses berpikir kreatif siswa sekolah dasar dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. dan metode pembelajaran yang tepat. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Jika terdapat kesalahan penyelesaian. Dalam menyelesaikan soal kedua. khususnya dalam bidang psikologi kognitif berupa deskripsi proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika bagi siswa berkemampuan matematika tinggi. Wawancara dilakukan untuk menggali proses berpikir subjek dalam pemecahan masalah materi pokok bilangan bulat.

Pada tahap merencanakan penerapan ide. Jika siswa mengalami kesulitan maka mereka dapat segera mengatasinya. Pada tahap mensintesis ide. Selain itu. konteks pertanyaan soal. Subjek berkemampuan matematika tinggi merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. pertimbangan membangun ide tersebut cenderung bersifat konseptual dan intuitif. misalnya dari pengalaman belajar di lingkungan sekitarnya. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. menentukan KPK. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memperbaiki kesalahan tersebut dengan cepat dan tepat. operasi bilangan). konsep matematika (pemfaktoran. Pada tahap penerapan ide. subjek berkemampuan matematika tinggi juga tidak menemui kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan soal. Kalaupun melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. meski terkadang kurang tertantang pada soal-soal yang dianggap mudah diselesaikan. Oleh karena itu. dapat disimpulkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut: dalam tahap membangun ide. Pada subjek berkemampuan matematika tinggi. Dalam menerapkan ide. Subjek juga nampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. subjek berkemampuan matematika tinggi membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Selain itu. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan banyak cara. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. cara bersusun. akan tetapi juga berasal dari pengalaman yang pernah diamati atau dipelajari di lingkungan sekitar siswa. Subjek mensintesis ide dengan cara pemfaktoran dari bilangan yang diketahui dan memperkirakan berat suatu benda. Ide penyelesaian diperoleh subjek dari pengalaman belajar di dalam kelas dan pengalamannya belajar di lingkungan sekitar. penjumlahan dan pembagian bilangan. Subjek ini juga tidak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. Subjek merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. Akibatnya. sedangkan intuitif maksudnya berdasarkan perasaan siswa. subjek mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara baru secara fasih dan fleksibel. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika 26 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Ide bukan hanya dari apa yang diketahui dalam soal. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaji bahwa pada tahap membangun ide. Keyakinan atas kebenaran jawaban yang diberikan juga memberikan karakteristik yang khas pada subjek berkemampuan matematika tinggi. subjek ini merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Oleh karena itu. subjek berkemampuan matematika tinggi menyelesaikan soal dengan mengkaitkan bilangan-bilangan yang diketahui. cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal umumnya dapat diterapkan untuk menghasilkan suatu solusi yang kreatif. konsep matematika (operasi penjumlahan dan pengurangan melalui sifat pengelompokan. Konseptual maksudnya berdasarkan konsep yang pernah dipelajari oleh siswa. dan cara biasa. pembagian) dan kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu (pengetahuan dari pengalaman sehari-hari). Cara-cara penyelesaian tersebut digunakan untuk mensintesis ide-ide yang telah dimunculkan pada langkah membangun ide. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan soal dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Pertimbangannya bersifat konseptual dan intuitif. Ide-Ide penyelesaian tersebut tidak hanya berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. subjek membangun ide penyelesaian dari konsep pemfaktoran. tetapi kelompok kreatif juga menggunakan ide-ide yang jarang ditemui pada siswa kebanyakan. konsep matematika. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). Dalam tahap mensintesis ide. Subjek selalu berusaha untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh dengan saksama. konteks pertanyaan soal. Subjek berkemampuan matematika tinggi beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. subjek berkemampuan matematika tinggi berusaha menyelesaikan soal dengan cara penyelesaian atau jawaban yang beragam sebanyak-banyaknya. Ide-ide tersebut sangat beragam. dan kemampuan memperkirakan (estimasi).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dalam menyelesaikan soal ketiga. subjek berkemampuan matematika tinggi cenderung memunculkan ide dengan produktif dan lancar.

Massachusetts: Allyn & Bacon. http://www. 1997. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Thinking in Problem Posing. Fakultas MIPA. http://iej.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. R. Volume 29. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel.karlsruhe. Kyung-Hwa. Kimberly. Stephen. Berdasarkan kesimpulan. http:/scholar. guru dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa dengan menggunakan strategi pemecahan masalah matematika.fiz.com pada tanggal 22 Desember 2009. dan peneliti. dan Rudnick. 3. disadur oleh A. dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam mengajar matematika. Jakarta: Kemendiknas. Edisi Kedelapan. Metodologi Penelitian Kualitatif. tidak melakukan kesalahan.. dosen. 2004. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. M. Berpikir Lateral dalam Pembelajaran Matematika. The Methods of Fostering Creativity through Mathematical Problem Solving.de/fiz/publication/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3. 2000. dan Maclin. Bandung: Alfabeta. diunduh pada 24 Juni 2010. Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. Using Portofolio to Enhance Creative Thinking.de/fiz/publications/zdm. _____________________. dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian. (3) kepada para guru.sps. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. 1995. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA: Menuju Profesionalitas Guru dan Tenaga Pendidik.karlsruhe. Program Studi Pendidikan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 27 . Artikel diunduh di http://suaraguru. 1896.edu/wpcontent/uploads/2009/10/Thinking-Classroom-dalam-Pembelajaran-Matematika-diSekolah. 2008. Rosnawati.upi. diunduh pada 24 Juni 2010. Juni 1997. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Krulik.fiz. Lee. Silver. dan Kreatif. Universitas Negeri Yogyakarta.pdf. The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers. Edward A. Kritis. Psikologi Kognitif. Diunduh pada 24 Juni 2010. Bandung: Sinar Baru Algensindo. diunduh pada 24 Januari 2011.vt. 3. dan jika melakukan kesalahan. Robert L. Hashimoto. 1997. Yaron. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Mangunhardja. Oemar Hamalik. http://math. The State of Art in Mathematical Creativity. 14 Mei 2011.net. Yoshihiko.karlsruhe. 2008. Pehkonen. Erkki. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. 1997.wordpress. Juni 1997. Volume 29. DAFTAR PUSTAKA Barak. 2005. The Journal of Tecnology Studies Summer-Fall 2000. Buletin Pendidikan Matematika. Solso. terj. Campbell. 2007. yakin dengan jawaban yang diberikan.. Mengembangkan Kreativitas. ISSN 1443-1475. Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda. Maclin. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Volume XXVI. Number 2. Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen. diunduh pada 24 Juni 2010.fiz. Tatag Yuli Eko Siswono. Dalam tahap merencanakan ide. (2) dalam mengajar matematika. guru hendaknya menekankan kemampuan berpikir kreatif siswa. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan SD/MI. http://www.ejb. I Gusti Putu Sudiarta.lib. serta tidak menemui kesulitan.edu/ejournals. Moses & Doppelt. Pendidikan dan Penerapan MIPA. Dalam tahap menerapkan ide. 2006. Jesse A. 2008. M. 2011. http://www. Jakarta: Erlangga.de/fiz/publications/zdm. Sugiyono. 2009. No. didownload 24 Juni 2010. Otto H. BSNP. Electronic Edition ISSN 1615-679X. dalam International Education Journal. hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk kajian dalam pembelajaran dan pengembangan penelitian lanjutan yang sama temanya atau berbeda temanya. No.

2007. diunduh pada 2 Juni 2010. 2007. No. Oktober 2004.wordpress. 28 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Ringkasan disertasi diunduh dari http://suaraguru. Ambon. _____________________. _____________________. Pembelajaran Matematika Humanistik yang Mengembangkan Kreativitas Siswa. Volume 6. ISSN 1412-2278. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Matematika FKIP Universitas Pattimura. Makalah disampaikan pada ‘Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang Memanusiakan Manusia’ di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 28-30 Agustus 2007.com pada 23 Desember 2009. 2.

menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. antisipatori. Sehingga dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. dalam membuat rencana penyelesaian. berbagai dosen atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda. dalam membuat rencana penyelesaian. Kognisi formal menyediakan cara ketat memahami pengetahuan matematika. maka siswa seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. tidak menggunakan intuisi. gender PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. penafsiran data dan penarikan kesimpulan. Subyek penelitian sebanyak 2 siswa terdiri dari 1 siswa lakilaki dan 1 siswa perempuan. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Karena itu diasumsikan bahwa aktivitas mental seseorang terdiri atas kognisi formal (formal cognition) dan kognisi intuitif (intuitive cognition) dari pengetahuan matematika. persepsi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 29 . Serupa dengan itu. 1966). Kognisi formal juga perlu bagi matematikawan untuk berkomunikasi dengan sesama matematikawan dalam suatu asosiasi matematika. tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data. misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab. masalah matematika. mengejar ketepatan dan cara-cara formal hanyalah hasil akhir dari aktivitas matematika. Diantaranya adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika. Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan masalah. pemaparan data. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. (2) Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Akan tetapi. Kognisi formal merujuk kepada kognisi yang dikontrol oleh logika matematika dan bukti melalui induksi matematika atau deduksi (Fischbein. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Walaupun proses berpikir analitik dan logik memainkan peranan penting dalam merepresentasikan struktur logika pengetahuan matematika. afirmatori. namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. verifikasi atau penyangkalan tanpa pembuktian (Kossak. Metode pengambilan data adalah wawancara berbasis tugas. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Proses membangun pengetahuan matematika tanpa disadari menghasilkan pengenalan tentang kepastian atau ketakpastian. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan masalah matematika bila telah dibeRikn caranya oleh Dosen. Dengan kondisi demikian.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KARAKTERISTIK INTUISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH METEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya ditinjau dari perbedaan gender. meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Kata Kunci : Karakteristik intuisi. 1994). gender.

Lima karakteristik intuisi yang dikemukakan Fischbein di atas merupakan karakteristik afirmatori yaitu karakteristik intuisi yang berupa pernyataan. Akan tetapi hanya sedikit siswa yang berhasil dengan baik dalam aktivitas menggunakan pengetahuan formal mereka dan mungkin sekali menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah matematika. kognisi self evident (direct. Akan tetapi kognisi formal tidak menjelaskan setiap langkah berpikir dalam aktivitas matematika. dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling dari keyakinan. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat non intuitif. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya. global dan kecukupan secara instrinsik. (3) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. berurutan dan secara analitis. representasi. Poincare (dalam http://www-history. self evident.yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indra dan imajinasi.st-andrews. tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi. yaitu intuisi merupakan kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut . Tetapi kebenaran pernyataan jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus tanpa harus membuktikannya baik secara formal ataupun secara empiris. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris). Karakteristik dari intuisi antisipatori adalah sebagai berikut: (1) intuisi tersebut muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. atau intuisi (intuition). (2) kepastian intrinsik (intrinsic certainty).html) membeRikn tiga jenis intuisi. Karena itu diduga bahwa ada aktivitas mental berbeda dengan kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematik. 30 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Lebih jauh. seperti membuat dugaan atau klaim pengetahuan baru. yaitu intuisi yang menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual dan pada seleksinya dari hipotesis dan penyelesaian. Hal tersebut disebut kognisi intuitif (intuitive cognition). Pengembangan kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan formal tidak sama dengan kreativitas bermatematika yang sangat diperlukan dalam “doing” mathematics. kebenaran pernyataan bahwa jumlah sudut-sudut pada suatu segitiga adalah 1800 diyakini karena telah membuktikannya. Fischbein juga mengemukkan karakteristik intuisi lain disebut karakteristik intuisi antisipatori. (4) Extrapolativeness. Contoh. interpretasi. yaitu intuisi feeling tertentu dari kepastian intrinsik. bersifat memaksa dan ekstrapolatif. Lebih lanjut. Pernyataan tentang garis lurus di atas adalah subjektif. meniru seperti prosedur pengetahuan ekperimental (3) intuisi dari bilangan murni yang dapat mencapai berpikir matematika secara nyata. self evident cognitions).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 terhadap pengetahuan formal sangat perlu bagi siswa untuk maju ke tingkat pengetahuan matematika yang lebih tinggi. (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi.mcs. (5) keseluruhan (globality) adalah intuisi yang berlawa-nan dengan kognisi yang diperoleh secara logika. yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat nampak dari suatu kognisi intuitif. Selain karakteristik afirmatori.uk /Extras/ Poincare _Intuition. solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung. Karakteristik intuisi tersebut adalah (1) kognisi langsung. holistik. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik . (3) pemaksaan (coerciveness). yaitu karakteristik intuisi yang berkaitan untuk memecahkan masalah.ac. Sebagai contoh: jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. dapat diterima langsung. Siswa mungkin sangat yakin akan kemampuan logika dan penalaran dalam pembuktian matematik yang ketat. meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika. terasa seperti sudah suatu ketentuan. tidak jelas apakah dapat dikembangkan kreativitas matematika melalui pengembangan kognisi formal. (2) intuisi tersebut menyajikan karakter global. yaitu intuisi yang kaitannya dengan kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris. Konsep intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang self evident.

seperti prosedur pada ilmu pengetahuan eksperimental dengan ciri-ciri antara lain menggunakan pola pikir induktif. Di lain pihak. dengan coba-coba atau contoh-contoh. mengukur. konsep dan prinsip diperlukan intuisi. Berdasarkan hal-hal tersebut dipandang penting untuk mengetahui penggunaan intuisi untuk menyelesaian masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. yaitu: 1) Intuisi yang didasarkan oleh indera dan imajinasi dengan ciri-ciri antara lain dengan mengamati. tentunya berkaitan erat dengan tahap-tahap pemecahan masalah yang dilakukan. a. self evident. Di samping itu banyak fakta bahwa beberapa perempuan sukses dalam karir matematikanya. Perbedaan dari sisi psikologis dan biologis tersebut secara teoritis dapat mempengaruhi proses konseptualisasi dalam belajar matematika (Keitel. memanipulasi benda. proses pemecahan masalah matematika. Adanya perbedaan hasil temuan dari para peneliti mengenai peran gender dalam belajar matematika menunjukkan masih terbukanya ranah penelitian untuk mengungkap peran gender khususnya dalam mempelajari topik-topik tertentu dalam matematika.”. pasti secara intrinsik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dari uraian tentang jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare di atas. 2001). dan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa berpengaruh pada pemecahan masalah matematika. Oleh karena proses konseptualisasi berpengaruh dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Ditemukan bahwa perbedaan gender tidak berperan dalam kesuksesan belajar. dengan ciri-ciri menggunakan ketentuan pada matematika. Keitel (1998). Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika. yaitu : (1) analyzing and understanding problem. Dengan demikian intuisi berperan dalam proses konseptualisasi. Polya (1973) menyusun prosedur memecahkan masalah dalam empat langkah. 2) Intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. Reis & Park.. menunjukkan bahwa gender merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam proses konseptualisasi. dalam memahami fakta. Pinto (1998). perbedaan gender dalam mempelajari matematika dan sains dalam riset pendidikan di awal 1980-an menemukan bukti kuat dominasi laki-laki dalam matematika dan sains (Benbow & Stanley. 3) Intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara real. Setelah itu beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda. 1998). membayangkan. social. sedangkan jenis intuisi yang disampaikan oleh Pincare berupa sesuatu yang mendasari adanya intuisi. penggiringan. maka intuisi berperan dalam pemerolehan pengetahuan matematika. and cultural dimensions are very powerfully interacting in conceptualizations of mathematics education..W. Dari perbedaan psikologis dan biologis. memberikan gambaran bahwa jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein berupa bentuk intuisi. apakah laki-laki atau perempuan lebih baik dalam belajar matematika (Hightower. 1986. Di sisi lain.Adanya pengaruh faktor gender dalam proses konseptualisasi menunjukkan bahwa gender berpengaruh dalam memahami konsep-konsep matematika dan dalam memahami konsep-konsep matematika membutuhkan peran intuisi. Hyde. Menurut Fischbein (1999). “Gender. 1980. Keitel (1998) menyatakan. dan Susento (2006). Namun demikian tidak serta merta siswa yang menguasai langkah-langkah penyelesaian Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 31 . pemerkiraan atau global. 2) Intuisi antisipatori dengan ciri-ciri antara lain. (4) verifying a solution. (2) designing and planning a solution. M. Bagian pertama adalah jenis intuisi berdasarkan jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein.. yang berupa intuisi afirmatori. Oleh karena itu pada penelitian ini jenis-jenis intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika meliputi dua bagian. akan muncul ketika berusaha keras untuk memecahkan masalah yang berupa ide global. Halpern. Sebagai contoh. (3) explorating solutions to difficult problems. b. 2003). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor gender mempengaruhi intuisi siswa dalam mecahkan masalah matematika. dan intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. tampak bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan berbeda. Bagian kedua adalah jenis intuisi yang disampaikan oleh Poincare. yaitu: 1) Intuisi afirmatori dengan ciri-ciri sebagai berikut: langsung.

METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sragen. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah2 (setara dengan lembar tugas pemecahan masalah-1) dengan subjek penelitian yang sama dan dalam waktu yang berbeda. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dikaji karakteristik intuisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya. (4) melakukan paparan data hasil wawancara-2. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. (5) melakukan pembandingan hasil paparan data wawancara pertama dan kedua.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah tersebut akan selalu mampu memecahkan masalah matematika. Walaupun siswa menguasai langkah-langkah penyelesaian masalah. Selain itu. Menurut Sugiono (2011) waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. maka subjek penelitian ini adalah S1LK (siswa laki-laki). Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara. yaitu peneliti mewawancarai subjek dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda. kemudian siswa ke-1tersebut memberikan satu potong dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-2. Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut hanyalah suatu sarana yang membantu untuk memudahkan dalam memecahkan masalah. namun diambil berdasarkan pertimbangan guru matematikanya. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Dengan tugas pemecahan masalahh sebagai berikut: Pada suatu kelas diadakan permainan memotong-motong kertas dengan gunting. Tentukan banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan memotong-motong kertas tersebut! Data dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan subyek penelitian. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas. maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Permainan memotong-motong kertas ini dilakukan sampai jumlah potongan kertas seluruhnya menjadi 352 potongan. Subjek dipilih tidak secara acak. Langkah-langkah triangulasi waktu pada penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada subjek penelitian dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah-1. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan karakteristik intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan matematika. peneliti berada di sekolah dan mengamati kegiatan subjek dalam waktu yang cukup. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data. maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah. Selanjutnya siswa ke-2 memotong-motong kertas menjadi 10 potong dan memberikan selembar kertas dari 10 potong kepada siswa ke-3. Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam pemecahan masalah. Berkaitan dengan uraian di atas. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. terkadang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. kemudian siswa ke-3 juga memotong-motongnya menjadi 10 potongan dan memberikan selembar kertas dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-4. Permainan tersebut dimulai dengan salah seorang siswa (siswa ke-1) melakukan kegiatan memotong-motong selembar kertas menjadi 10 potong. (2) melakukan paparan data hasil wawancara-1. (6) bila pembandingan 32 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dalam penelitian ini untuk memenuhi kredibilitas data dilakukan dengan wawancara secara tekun. dan S2PR (siswa perempuan). Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis tugas. yaitu dengan triangulasi waktu.

Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Hasil analisis wawancara akan digunakan untuk mengetahui karakteristik setiap tingkat berpikir kreatif siswa dan proses berpikirnya. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi antisipatori. c. subjek S1LK mencoba akan menggunakan rumus. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 33 . Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi. Karena munculnya pemikiran pada subjek S1LK menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. misalnya dengan membuat ilustrasi atau gambar. pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. sehingga subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama maka dikatakan data tersebut valid. d. Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal. dengan membuat gambar Dengan demikian subjek S1LK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal tanpa melakukan upaya tertentu untuk membantu memperjelas pemahaman masalah. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan kognisi segera. Di samping itu. Selanjutnya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. maka intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua hasil wawancara yang sama. b. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah dalam membuat rencana penyelesaian. Karakteritik Intuisi Subjek Laki-laki (S1LK) a. b. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S1LK dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. Hal ini terlihat dari jawaban S1LK yang langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tanpa melakukan misalnya. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah mencermati teks soal. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memahami masalah adalah subjek S1LK tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal. sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan lembar tugas pemecahan masalah yang setara. Ungkapan dari subjek memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan rumus barisan. Selain itu dari jawaban subjek menunjukkan bahwa subjek akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata yang tertulis dalam teks soal.

Selain itu. Subjek hanya mendasarkan dari teks soal. ungkapan subjek S1LK dengan kalimat mengulangi dalam menjawab yang dimaksudkan adalah memeriksa jawaban langkah demi langkah. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana. tidak ada intuisi yang digunakan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 c. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana penyelesaian adalah langsung menggunakan rumus dan subjek S1LK sudah yakin akan rumus yang digunakan. Dengan demikian subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran biasa yang dapat dikatakan sebagai kognisi formal. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Intuisi yang digunakan untuk memeriksa jawaban Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan cara mengulangi dalam menjawab. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S1LK langsung menulis rumusnya. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Dengan demikian subjek S2PR melakukan upaya tertentu untuk memperjelas dalam memahami soal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. namun subjek merasa bahwa gambar diperlukan dalam memperjelas pemahaman akan soal. nampak bahwa tidak ada pemikiran dari subjek S1LK yang berupa kognisi segera. Hal tersebut dapat diperhatikan dari hasil wawancara bahwa subjek S1LK langsung mengerjakan berdasarkan rumus barisan. Subjek tidak terpancing dengan pertanyaan peneliti untuk melakukan cara lain. Hasil jawaban subjek S1LK menunjukkan langkah dan hasil yang benar. Karakteristik Intuisi Subjek Perempuan (S2PR) a. subjek S1LK langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut adalah menggunakan kognisi formal. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. yaitu Un = a + (n-1)b. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memahami masalah adalah dalam memahami masalah adalah tidak secara langsung dari teks. 2. yaitu dengan membuat ilustrasi gambar. Selain itu subjek tidak melakukan upaya lain. Dari hasil wawancara. bahwa dari soal kelihatan ada pola dan ada beda yang disimpulkan subjek sebagai rumus barisan. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam 34 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut bukan merupakan kognisi segera. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek S2PR memerlukan upaya menggambar terlebih dahulu dalam memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dilakukan dengan langsung mengulangi cara menjawab. Walaupun subjek mengatakan sudah tahu maksud soal. subjek S1LK tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara analitik. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. diperolehnya rumus barisan. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah.. Subjek sudah cukup merasa yakin bahwa apa yang dilakukan sudah benar. Dari hasil wawancara. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Di samping itu berdasarkan hasil wawancara memberikan penjelasan bahwa jawaban yang diberikan oleh subjek S1LK adalah benar. d.

Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. walaupun subjek S2PR merasa tidak begitu ingat seperti yang diungapkan . Subjek S2PR tidak menjelaskan secara matematis diperolehnya rumus yang merupakan rumus barisan aritmetika. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi antisipatori. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal.A10 memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan deret. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang bersifat global. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. b. yaitu Un = a + (n-1)b. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan kognisi segera. Dari uraian di atas memberikan penjelasan bahwa yang dilakukan subjek S2PR dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal. Disamping itu. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S2PR dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa jawaban subjek S2PR adalah benar. subjek S2PR mencoba akan menggunakan rumus. Munculnya penggunaan rumus. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal dan dari ingatan yang tidak penuh. subjek hanya tahu bahwa rumus barisan diperoleh dengan mencermati teks soal. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah menginterpretasi teks soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memahami masalah dilakukan dengan menggunakan gambar untuk memperjelas maksud soal. Subjek menggunakan a = 1 sehingga diperoleh n = 40. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. Subjek S2PR dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu. pada subjek S2PR langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya dan sesuai dengan apa yang direncanakan. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. Ungkapan dari subjek pada S2PR. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memahami masalah tidak menggunakan intuisi. yaitu dengan mencermati gambar. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S2PR langsung menulis rumusnya. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian. Dari hasil wawancara. namun dengan ingatan yang tidak penuh tersebut subjek S2PR memutuskan menggunakan rumus barisan untuk membuat rencana penyelesaian. sehingga subjek S2PR tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. c. maka intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. karena dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian masalah adalah begitu memahami soal maka terpikir menggunakan rumus dan penggunaan rumus barisan didasarkan pada apa yang telah pernah ia lakukan. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi. Selanjutnya. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 35 . Disamping itu dan juga subjek merasakan pernah mendapati masalah serupa yang diselesaikan menggunakan rumus barisan. Karena munculnya pemikiran pada subjek S2PR menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. karena subjek mencoba mencermati teks soal. Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah.

2. Dari jawaban subjek S2PR. 1. subjek S2PR tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan langsung mengulangi dalam menjawab. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera. Subjek S2PR juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban. dalam membuat rencana penyelesaian. Selain itu subjek S2PR tidak melakukan upaya lain. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. nampak bahwa subjek S2PR langsung menulis rumusnya. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. tidak ada intuisi yang digunakan. Subjek melakukan dengan mengamati kembali apa yang telah dilakukannya. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. yaitu pada S2PR. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Oleh karena itu guru matematika dalam membelajarkan pemecahan masalah matematika perlu memperhatikan perbedaan gender. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Selain itu. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah.A. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut adalah menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut bukan merupakan kognisi segera. Saran-saran Untuk Perbaikan Pembelajaran Matematika a. Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah.A. Misalnya dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki menggunakan intuisi dalam memahami masalah. 36 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah. sedangkan siswa perempuan tidak menggunakan dalam memahami masalah matematika. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S2PR dengan cara mengulangi dalam menjawab. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S2PR dalam melaksanakan rencana. Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah.35 menunjukkan bahwa subjek S2PR sangat yakin akan apa yang dilakukan adalah benar. SARAN Berdasarkan simpulan hasil penelitian maka direkomendasikan beberapa hal berikut. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera.34 dan S2PR. Sehingga tidak ada pemikiran dari subjek S2PR yang berupa kognisi segera. dalam membuat rencana penyelesaian. tidak menggunakan intuisi. Oleh karena itu guru perlu melatih siswa perempuan agar dapat menggunakan intuisinya dalam memecahkan masalah matematika. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau perbedaan gender. dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut. d. yaitu Un = a + (n1)b. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global.

1987. Hightower. Journal for Reasearch in Teacher and Mathematics Education. 52-73. Journal of American Educational Studies Association. Fischbein. Princeton and Oxford: Princeton University Press. “Students’ Understanding of Real Analysis”. Metodologi Penelitian Kualitatif. “The Interaction between the Formal. Unpublished PhD Thesis. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 37 . 25. “College Students’ Intuitive Understanding of the Concept of Limit and Their Level of Reverse Thinking”. Sträßer. Berlin Freie Universitat Berlin. Unpublished Dissertation. Fischbein. sehingga diperoleh karakteristik intuisi dalam memecahkan masalah yang lebih variatif dan lengkap. A. W. The Evolution With Age of Probabilistic. Grossman. “An Introduction: Social Justice and Mathematics Education: Gender. Review of Educational Research. Intuitively based Misconseptions. Class. 2003. Proses Kognitif. Kualitatif dan R & D). b. 279-295. “Gender Differences in High-Achieving Students in Math and Science”. (1999). 2007. 1994. In Christine Keitel (Ed). “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. E. “Do Mathematical Gender Differencess Continue? A Longitudinal Study of Gender Difference and Excellence in Mathematics Performance in The U. 471-498. 38. Gender differences in mathematical problem solving. Keitel. & Richardson. 2006. Vol No. Saran-saran Untuk Penelitian Relevan a.I. G. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeksplorasi intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika. Vol 28. 2. ‘Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’. Polya.S”.1996. Disertasi tak Dipublikasikan. Henden. Fischbein. Penelitian ini dilihat dari kedalaman hasil. 187-203. Peneliti lanjutan hendaknya dapat menggunakan tinjauan teori intuisi selain yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare.. H. Biehler. E.S. 1997. 2007. oleh sebab itu disarankan para peneliti lanjutan untuk mepertajam fokus penelitian. E.11–50. Scholz. M.W.231245).L. DAFTAR PUSTAKA Ding. M..K. dirasa masih kurang. & Schnarch. 8(2). Roh. R. D. dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing”. Warwick University. Bandung: Alfabeta Susento. Journal For Education of The Gifted. 27–47 Fischbein. Sugiyono. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. misalnya hanya diteliti untuk salah satu tahap pemecahan masalah dari .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 b. Reidel. BI Norwegian School of Management. Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. 2004. C.J. “The “Boy-Turn” in Research on Gender and Education”. The Ohio State University. A New Aspect of Mathematical Method. Intuition in Science and Mathematics. Fischbein. UNESA Surabaya. G.). R. Educational Studies in Mathematics. Bandung: Remaja Rosdakarya Pinto. Dissertation. “Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis. 2001. L. K. 1988. Song. 73. S. How to Solve It. 40. Social Justice and Mathematics Education. S. & Park. 1988. Perlu pembiasaan pembelajaran pemecahan masalah dengan menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah misalnya dengan menggunakan tahap pemecahan masalah dari Polya. 1997. Reis. In R. 1973. 2005. Ethnicity and the Politics of Schooling”.Educational Studies in Mathematics 34. and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. “Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning”. E. & B. Moleong.. International Education Journal. Dordrecht: D. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuaantitatif. 2011. Christine. the Algorithmic. Zheng Zhu 2007. E. Winkelmann (Eds.

Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah hanya melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian kualitatif eksploratif dengan tahapan sebagai berikut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AKTIVITAS METAKOGNISI MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PEMBUKTIAN Gatut Iswahyudi Prodi Pendidikan Matematika. aktivitas metakognisi muncul pada setiap tahap penyelesaian masalah Polya baik pada pemecahan masalah pembuktian langsung maupun pembuktian secara tidak langsung. Pembuktian 38 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah tingkat aktivitas metakognisis mereka berada pada tingkat kemampuan analisis kurang. Kata kunci: Aktivitas. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini terlihat bahwa siswa yang kelompok kemampuan analisis rendah. Di pihak lain. melaksanakan rencana dan mengevaluasinya. siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah pada saat menyelesaikan masalah pembuktian secara langsung walaupun tidak secara lengkap namun telah melakukan aktivitas metakognisi. Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. merencanakan tindakan dan melaksanakan tindakan. dan pembuktian dengan kontradiksi. Di pihak lain pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung tampak bahwa pada setiap tahap pemecahan masalah Polya muncul aktivitas metakognisi. (3) Melalui pengkajian mendalam akan disusun teori metakognisi yang terkait dengan masalah pembuktian ditinjau kemampuan dalam bidang analisis. (1) Siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah secara umum tidak melakukan aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. Metakognisi. Hasil Penelitian ini adalah.com Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap tentang aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian dalam matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari kemampuan di bidang analisis. sehingga siswa akan mampu mendaftar secara lengkap semua hasil yang mungkin dari suatu masalah. Mahasiswa yang menempati tingkat kemampuan analisis sedang atau tinggi sudah memahami konsep tentang pembuktian langsung. (1) Dilakukan pra penelitian dan penyusunan instrumen penelitian yang disertai validasi terhadap instrumen tersebut. (3) Pada mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi. Namun pada tahap selanjutnya yaitu tahap melakukan evaluasi ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. maka akan kesulitan untuk menentukan langkah serta penyelesaian masalah. Mahasiswa yang tidak memahami konsep pembuktian tidak langsung (pembuktian dengan kontradiksi). FKIP UNS Surakarta Email : gatutis_wahyudi@yahoo. tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui: Aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. (2) Dilakukan penelitian terhadap subyek terpilih dengan metode think aloud dan retrospeksi untuk mendapatkan data tentang aktivitas metakognisi. Pengetahuan mahasiswa tentang cara menganalisis suatu masalah tentu akan membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian yang dimulai dengan perencanaan yang baik. mereka mampu menggunakan dan menerapkan strategi generatif yang memungkinkan mendaftar secara lengkap data-data yang akan digunakan dalam memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun secara tidak langsung. pembuktian dengan kontraposisi. Pada ke tiga tahap selanjutnya ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. (2) Sedangkan mahasiswa yang berada pada tingkat kemampuan analisis sedang. Secara lebih spesifik.

Proses menyadari dan mengatur berpikir siswa sendiri tersebut. masalah membuktikan merupakan bagian yang sangat penting dalam matematika Didasarkan pada metode yang digunakan. Diantara masalah tersebut. memilih strategi yang digunakan untuk menemukan pemecahan. ketrampilan dan terbentuknya sikap tersebut tentu hanya akan dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang tepat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PENDAHULUAN Pada hakekatnya. Masalah menemukan adalah suatu jenis masalah yang tujuannya akan dicari dan prosesnya diperlukan. termasuk didalamnya adalah berpikir tentang bagaimana siswa membuat pendekatan terhadap masalah. Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas. khususnya dalam memecahkan masalah pembuktian. dan bertanya kepada diri sendiri tentang masalah tersebut (Gartman dan Freiberg. Guru dalam hal ini dapat mendorong siswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. Agar guru dapat membangkitkan kemampuan metakognisi siswa. tetapi lebih kepada memungkinkan siswa berpikir tentang dirinya sendiri. dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh siswa pada semua tingkat pendidikan. O’Malley dan Spanos. dan merefleksikan proses pemecahan masalah matematika (Pearson Learning Group. kemampuan menganalisis. Siswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan. memecahkan masalah dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan matematika. masalah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu masalah menemukan (to find) dan masalah membuktikan (to prove). kemampuan analisis seseorang mempunyai peran yang penting dalam menunjang keberhasilan belajar matematika. Sehingga meneliti karakteristik seseorang berdasarkan kemampuan analisis yang dimilikinya perlu dilakukan. pemantauan. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg. pembuktian dengan contoh penyangkal. kemampuan memahami. Terkait dengan masalah dalam matematika. proses belajar matematika merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan. guru sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah. dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot. Masalah membuktikan adalah masalah yang tujuannya sudah ditentukan tetapi prosesnya diperlukan. kemampuan mengaplikasi. Jenis-jenis pembuktian yang termasuk pembuktian tidak langsung adalah pembuktian dengan kontradiksi dan pembuktian dengan kontraposisi. Panaoura dan Philippou. 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan pemecahan masalah dalam matematika adalah tidak untuk melengkapi siswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses. dikenal sebagai metakognisi. Pengetahuan. kemampuan mengevaluasi dan kreativitas. Beberapa cara pembuktian lain dalam matematika adalah pembuktikan dengan induksi matematika. 1993). keterampilan dan membentuk sikap. Proses berpikir dalam pemecahan masalah merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian guru terutama untuk membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika. Melalui pemecahan masalah matematika. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam pemecahan masalah serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell. Salah satu bentuk proses pembelajaran yang tepat adalah dengan memanfaatkan proses pemecahan masalah. 1992). Berpikir tentang dirinya sendiri berkaitan dengan kesadaran siswa terhadap kemampuannya untuk mengembangkan berbagai cara yang mungkin ditempuh dalam memecahkan masalah. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya antara lain membangun pengetahuan matematika yang baru. pembuktian dalam matematika dapat dikelompokkan pembuktian langsung. Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 39 . menerapkan berbagai strategi yang diperlukan. Dale. 2005). Kemampuan analisis merupakan kemampuan tingkat ke-4 dalam taksonomi Bloom. yang berturut-turut adalah kemampuan mengingat. dan pembuktian tidak langsung. 2008). 1979. Dalam dimensi proses kognitif.

tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi orang lain. masalah terbagi menjadi dua. salah satu yang banyak dirujuk adalah pentahapan oleh Polya (1973). Artinya suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang. atau tidak keduanya. KAJIAN TEORI Pengertian Metakognisi Secara sederhana metakognisi didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi tentang kognisi seseorang (Nelson. 1992.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 kepada para guru atau calon guru tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan dalam memecahkan masalah matematika secara umum dan secara khusus dalam memecahkan masalah pembuktian. bila orang itu telah mengetahui cara atau proses mendapatkan pemecahan masalah tersebut. Berdasarkan definisi di atas. tetapi bukan merupakan masalah lagi bagi orang itu pada saat berikutnya. Flavell mendefinisikan: metakognisi sebagai kemampuan untuk mengerti dan memantau berpikir sendiri dan asumsi serta implikasi dari kegiatan seseorang. metacognition as the ability to understand and monitor one’s own thoughts and the assumptions and implications of one’s activities (Lee dan Baylor. Kirsh (2004) mengemukakan bahwa metakognisi khususnya dalam bidang pendidikan. abstrak atau konkrit. maka diajukan pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana proses metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. 2006). metakognisi cakupannya dibatasi pada tiga komponen yaitu perencanaan. and monitors cognitive activity (Lee dan Baylor. metode yang digunakan untuk mengatur proses kognisi seseorang dan suatu penguasaan terhadap bagaimana mengarahkan. 2004). Brown mendefinisikan metakognisi sebagai suatu kesadaran terhadap aktifitas kognisi seseorang. Ini menunjukkan bahwa suatu tugas merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu. penulis mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan untuk menyadari kognisi sendiri dan kemampuan mengatur proses kognisi sendiri. Bagian utama dari masalah menemukan antara lain: apa yang dicari? Apa saja data yang diketahui? bagaimana syaratnya? Sedangkan masalah membuktikan merupakan masalah untuk menunjukkan apakah suatu pernyataan benar atau salah. diantaranya oleh Flavell dan Brown. and a command of how one directs. yang mengemukakan empat tahapan penting yang perlu dilakukan yaitu: 40 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . evaluasi dan perbaikan kemampuan bekerja (performa). yaitu “untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. pemantauan. Gama. dan refleksi. pemantauan. Pada penerapannya. dan memantau aktivitas kognitif metacognition as an awareness of one’s own cognitive activity. Terdapat beberapa definisi tentang metakognisi yang berkembang dalam bidang psikologi kognitif. Berdasarkan uraian di atas. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan apakah pernyataan itu benar atau salah? Bagian utama dari masalah ini adalah hipotesis dan konklusi suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Menurut Polya (1973). dan masalah membuktikan (problem to prove). 2006). the methods employed to regulate one’s own cognitive processes. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dikemukakan di atas. Sementara itu. berkaitan dengan aktifitas dan keterampilan berhubungan dengan perencanaan. Ketiga kompunen ini merupakan satu rangkaian dan saling terkait dalam aktivitas metakognisi. merencanakan. plans. Khusus dalam pemecahan masalah matematika. yaitu masalah menemukan (problem to find). Livingston. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Stanic & Kilpatrick (1988: 15) mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukan di waktu sebelumnya. Pada penelitian ini. Masalah untuk menemukan merupakan suatu masalah teoretis atau praktis. 1997. Demikian pula suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang pada suatu saat.

dengan memilih fokus pada proses metakognisi yang dilakukan mahasiswa calon guru ketika memecahkan masalah pembuktian. Tahap ini merupakan tahap mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. apakah langkah yang dilakukan sudah benar atau dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar. Memikirkan rencana (devising a plan) meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahui. Pengkategorian aktivitas metakognisi didasarkan pada suatu tabel aktivitas metakognisi yang disusun dengan mengadopsi tabel serupa yang dikemukakan NCREL (1995) dipadukan dengan yang dikemukakan oleh Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) dengan melakukan modifikasi sesuai situasi pemecahan masalah yang dilaksanakan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 1. Tahap ini merupakan tahap melaksanakan tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Memikirkan tentang arah/tujuan dalam memahami masalah 3. Memikirkan tentang apa yang dipahami merupakan bagian yang penting dalam rangka memahami masalah 5. selama dan sesudah. Demikian juga NCREL (1995) mengelompokkan metakognisi ke dalam tiga elemen dasar yaitu (1) tahap pengembangan rencana (developing a plan of action). dan (3) tahap pemeriksaan (evaluation the plan action). Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) mengelompokkan aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah matematika terdiri atas (1) perencanaan (planning). Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematika Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat proses metakognisi dalam pemecahan masalah matematika. Memahami masalah (understanding the problem) meliputi mengerti berbagai hal yang ada pada masalah seperti apa yang tidak diketahui. Memeriksa kembali jawaban (looking back) meliputi pengujian terhadap pemecahan yang dihasilkan. 2. Proses metakognisi dimaksudkan sebagai rangkaian aktifitas metakognisi yang dilakukan peserta didik ketika memecahkan masalah. Memikirkan tentang lama waktu yang anda MMAW1 MMAW2 MMAW3 MMAW 4 MMWA Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 41 . apa saja data yang tersedia. (2) bagian inti. (2) pemantauan (monitoring). dan sebagainya. Memikirkan tentang langkah-langkah dalam memahami masalah ( Memikirkan apa yang pertama kali harus dilakukan) 4. 4. Sejalan dengan pandangan Brown. (2) tahap pemantauan (monitoring the plan of action). dan membangun alternatif penyelesaian. apa syaratsyaratnya. Tahap ini merupakan tahap memikirkan rencana tindakan. Tabel 1 Aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan dengan langkah yang diusulkan oleh Polya Pemecahan masalah menurut Polya Memahami masalah dengan mengidentifika si dan mengkla sifikasi masalah Aktivitas Metakognisi Kode Bagian Awal (Before) 1. 3. Memikirkan tentang pengetahuan yang dapat membantu dalam memahami masalah 2. Dalam penelitian ini. apakah syarat tersebut cukup untuk menentukan hal yang tidak diketahui. terkait dengan adanya istilah yang hampir sama maka tiga tahap aktivitas metakognisi ini disebut sebagai (1) bagian awal. Tahap ini merupakan tahap memahami masalah dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah. Berikut ini disajikan tabel aktivitas metakognisi tersebut. dan (3) bagian akhir. Selanjutnya NCREL menyebut tiga tahap tersebut sebagai tahap sebelum. Melaksanakan rencana (carrying out the plan) termasuk memeriksa setiap langkah pemecahan. dan sebagainya. dan (3) refleksi (reflection).

3. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat MRIT1 merencanakan pemecahan masalah. Sadar tentang langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan pemahaman terhadap masalah yang diberikan 4. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat 5. Merasa dapat menerapkan cara pemahaman masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar tentang perlunya kembali pada tahap awal dalam memahami masalah Memikirkan rencana tindakan dan membangun alternatif penyelesaian Bagian Awal (Before) 1. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar bahwa sudah merasa berada pada jalan yang benar saat memahami masalah. Merasa dapat melakukan langkah pemahaman terhadap masalah dengan cara berbeda 4. Memikirkan tentang apa yang dilakukan pada saat memahami masalah 2. Sadar tentang pengetahuan apa saja yang diperlukan dalam merencanakan pemecahan masalah ini 2. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum merencanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam memahami masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang arah dari apa yang direncanakan (telah menemukapaan hubungan antara data-data (konsepkonsep) yang tidak diketahui dengan data-data (konsep-konsep) yang diketahui 3. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam memahami masalah dengan cara lain yang berbeda 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pergunakan dalam memahami masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar bahwa cara pemahaman masalah yang dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam merencanakan pemecahan masalah 5 MMIT1 MMIT2 MMIT3 MMIT4 MMIT5 MMIT6 MMAK1 MMAK2 MMAK3 MMAK4 MMAK5 MRAW1 MRAW2 MRAW3 MRAW4 MRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar bahwa dalam merencanakan pemecahan masalah harus ditemukan definisi-definisi maupun teorema-teorema yang terkait dengan masalah itu 2. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah 5. Sadar atas ketepatan cara dan langkah pemahaman masalah dilakukan 2. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan MRIT2 42 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .

Merasa dapat menerapkan cara perencanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. sadar sudah memperhitungkan atau melibatkan semua hal yang penting yang terkandung dalam masalah ini 3. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat PRIT1 melaksanakan rencana pemecahan masalah. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus PRIT3 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 43 . Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan pemecahan masalah MRIT3 MRIT4 MRIT5 MRIT6 MRAK1 MRAK2 MRAK3 MRAK4 MRAK5 PRAW1 PRAW2 PRAW3 PRAW4 PRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat merencanakan pemecahan masalah 5. 2. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan setelah menemukan definisi-definisi maupun teoremateorema yang terkait dengan masalah itu 4. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan PRIT2 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam merencanakan pemecahan masalah ini Melaksanakan Bagian Awal (Before) rencana tindakan 1. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan dengan memilih untuk membantu melaksanakan rencana tindakan strategi pemecahan masalah yang diberikan penyelesaian 2. Sadar akan ketepatan langkah perencanaan pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam merencanakan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar merasa telah melakukan langkah perencanaan pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah 5.

Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan 4. Berpikir tentang hal lain yang terkait dengan evaluasi pelaksanaan pemecahan masalah 5. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah 2. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk membantu melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan 2. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah Bagian Inti (During) 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dilakukan 4. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan rencana pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar merasa telah melakukan langkah pelaksanaan rencana pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah PRIT4 PRIT5 PRIT6 PRAK1 PRAK2 PRAK3 PRAK4 PRAK5 EPAW1 EPAW2 EPAW3 EPAW4 EPAW5 EPIT1 EPIT2 EPIT3 EPIT4 44 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar bahwa pada saat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3.

Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah yang dilakukan 2. mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal berdasarkan tahap-tahap pemecahan masalah Polya. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah Bagian Akhir(After) 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Soal terdiri dari satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian langsung dan satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian tidak langsung. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan EPIT5 EPIT6 EPAK1 EPAK2 EPAK3 EPAK4 EPAK5 Berdasarkan deskripsi aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika dengan langkah yang diusulkan oleh Polya tersebut diatas disusun penjenjangan proses metakognisi pada pemecahan masalah pembuktian. METODE PENELITIAN Penelitian ini mendiskripsikan proses metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkahlangkah Polya dengan mengungkap secara mendalam respon siswa. Penjenjangan Proses Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Kategori Proses Metakognisi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Indikator 80%X100% 60%X<80% 40%X<60% 20%X<40 0%X<20 Keterangan : X= Prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi dari subjek penelitian pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Dalam hal ini proses metakognisi dibagi dalam empat jenjang berdasarkan prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Tabel 2. selanjutnya pada akhir tiap tahap dilakukan wawancara untuk mengungkap aktivitas metakognisi pada tahap tersebut. Sadar merasa dapat melakukan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar bahwa evaluasi dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Ungkapan-ungkapan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 45 . Terkait dengan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Mahasiswa diberi soal tentang masalah pembuktian. Penjenjangan proses metakognisi yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut. Dalam mengerjakan soal.

MMIT2 . membangun alternatif penyelesaian Ciri yang teramati MRAW1. Sedangkan instrumen lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. MRAW5. Pemecahan masalah menurut Polya Tahap memikirkan rencana tindakan. Analisis data penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil wawancara. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran metakognisi siswa. analisis. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas penyelesaian masalah matematika. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika. dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut (Moleong. dan pedoman wawancara. memaparkan data (meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. MMAW3. maka penelitian ini bersifat kualitatif. Prosedur pengumpulan data diakukan dengan cara subyek diberi lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. MRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian adalah sebagai berikut. 46 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dalam hal ini peneliti merupakan perencana. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut). HASIL PENELITIAN Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah adalah sebagai berikut. Mahasiswa yang dipilih sebagai subyek adalah mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Analisis real I. Sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif-eksploratif. Instrumen lembar tugas ini divalidasi oleh ahli. kemudian untuk setiap tahapan dalam meyelesaikan masalah berdasarkan tahapan Polya diadakan wawancara untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan. 2003). yang terdiri atas satu orang ahli pendidikan matematika dan satu orang ahli dalam bidang matematika kelompok bidang analisis. MRAK2. penafsir data. Sehingga jika X menyatakan rataan skor prestasi belajar siswa berkemampuan analisi tinggi. MRIT2. MRAW4. MRIT4. membangun alternatif penyelesaian adalah sebagai berikut. dengan cara mereduksi data (yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. Data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dan disusun transkip wawancara tersebut untuk selanjutnya dilakukan analisis terkait dengan aktivitas metakognisi yang dilakukan. pelaksana pengumpul data. MMAW2. MMAK2. MRAW6. pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan). penyederhanaan. Adapun kriteria kemampuan analisis tinggi adalah rataan skor prestasi belajar matakuliah kelompok analisis yang telah ditempuhnya lebih besar atau sama dengan 80 dalam skala 100. maka 80  X  100 . MMIT3 . MMAK3 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Tahap memikirkan rencana tindakan. Dari hasil pekerjaan siswa. MMIT1. MMAW5. MMIT4 . pemusatan perhatian. pengamatan dan wawancara dapat dilihat karakteristik metakognisi siswa. MMAW4. Pemecahan Masalah Menurut Polya Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah Ciri yang teramati MMAW1. MRIT1. Subyek penelitian adalah Mahasiswa .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang disampaikan berupa kata-kata. MMIT5. MRAK1. dan akhirnya sekaligus menjadi pelapor hasil penelitian.

memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70.25%. PRAW3. 2. sehingga berada pada kategori baik. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian.19%.5%. adalah sebagai berikut. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. PRAW4. EPAK4. Secara umum keterlaksanaan aktivitas metakognisi yang dilakukan mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi ketika memecahkan masalah pembuktian langsung.77%.75%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 69. dan 62. cukup memadai. EPIT5. dan 62. sehingga berada pada kategori baik. 62.25%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. EPAW2. 62. 75%. EPAK5 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 47 . memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. EPIT6. sehingga berada pada kategori baik. EPIT3. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung.5%. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Secara keseluruhan tahap pemecahan masalah diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. Ciri yang teramati EPAW1. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah.5%. 62. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. PRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik adalah sebagai berikut. cukup dan baik. dan 68%. 75%.5%.94%. sehingga berada pada kategori baik. 56.5%. PRAK1. 68. 3. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pemecahan masalah menurut Polya Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian Ciri yang teramati PRAW1. cukup memadai. cukup memadai. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. dan 68%.25%. PRIT1.77%. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 60. 50%. 4. cukup. sehingga berturut-turut berada pada karegori baik. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. cukup memadai. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Pemecahan masalah menurut Polya Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik KESIMPULAN 1. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian.

.html Nelson. Boston.. 2005.cy. C. dalam Krulik S. E. Phil Dissertation. R. 1973. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. G. belum memadai. A New Area of Cognitive – Developmental Inquiry. A. Soedjadi. Princeton University Press. Young Pupils’ Metacognitive Abilities in Mathematics in Relation to Working Memory and Processing Efficiency. Metacognition. 2004. D. Problem Solving in School Mathematics. A. University of Sussex Julan Hernadi. Princeton.5%. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.5%.. (Ed). T.edu/fos/shuel/ cep564/metacog. O. J.81%. Allyn and Bacon. UAD. NCTM.. 6.. Download tanggal 12 November 2007.5%.ac. O. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. sehingga berada pada kategori kurang. dan 37. dan Reys. How To Solve It. 1979.. Yogyakarta Livingstone.. 2004. G. in Nelson. and Philippou.ucy. The Mathematics Education into the 21st Century Project. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian langsung.Learning to learn http://members. Gama. 1992. 2008. sehingga masing-masing berada pada kategori kurang. A. Metacognition: An Overview. 31. Metode Pembuktian dalam Matematika.htm Panaoura.1 NCREL. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. http://www.5%. and Philippou. sehingga berada pada kategori kurang. A. Intervention Research: A Tool for Bridging the Theory – Practice Gap in Mathematics Education. dan 37. Heuristic in the Class Room. Download tanggal 12 November 2007 Panaoura. Proceedings of the International Conference. Brno Czech Republic..buffalo. H. 2000. Integrating Metacognition Instruction in Interactive Learning Environment. www.25%.ucy. Metacognition and Cognitive Monitoring. 1997. Core Readings. Jakarta. Flavell. Polya. 1. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. The Measurement of Young Pupils’ Metacognitive Ability in Mathematics: The Case of Self-Representation and Self-Evaluation.5%.gse. Metacognition . 2003. E.Thinking about thinking . Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. G. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. New Jersey.5%.ac. Virginia.net. Second Edition. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 32. 48 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .au/metacognition. sehingga seluruhnya berada pada kategori kurang. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah.. (Ed).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Schoenfeld. Metacognition.. 1980. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 31. belum memadai. 1992.. 37. T. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian..cy. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. www. A.. R. H. 31. J.iinet. Boston. (1995). Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. 37. Allyn and Bacon. DAFTAR PUSTAKA De Corte.

Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett.006 peserta ujian nasional SMP di Kabupaten Blora pada tahun pelajaran 2009/2010. tes gaya kognitif (GEFT). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme pada pembelajaran matematika diduga berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. (2) Terdapat pengaruh keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. pelaksanaan inovasi pembelajaran tersebut terganjal dengan masih lemahnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. Hanya saja. Suyono2 1) Program Studi Magister Pendidikan Matematika 2) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran. keingintahuan. proses pembelajaran akan berpusat pada peserta didik dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. angket keingintahuan. (7) Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Berdasarkan laporan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 tersebut. terdapat 3. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. dan gaya kognitif. diperoleh simpulan bahwa (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika. diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. mata pelajaran matematika bagi peserta didik SMP di Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 49 . (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KEINGINTAHUAN DAN GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK SMP DI KABUPATEN BLORA Agung Putra Wijaya1. Dengan α = 0. dan tes prestasi belajar matematika.29). dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. (6) Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. pemerintah mendorong pelaksanaan inovasi pembelajaran matematika yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.77%) yang memperoleh nilai matematika di bawah rerata. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP di Kabupaten Blora. Mardiyana2. Dengan demikian. Selain itu. PENDAHULUAN Sejalan dengan paradigma baru pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Uji keseimbangan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal yang seimbang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan awal matematika. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3x2.05.73) maupun nasional (7.779 peserta didik (sekitar 37. (3) Terdapat pengaruh gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora (6.53) lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah (6. yang akan membantu peserta didik dalam mengkonstruksi pemahamannya sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan. keingintahuan. Inovasi pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan tantangan belajar sesuai kemampuan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Dari 10.

dan Sampling Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik di 76 SMP yang ada di Kabupaten Blora. diharapkan membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya terhadap konsep matematika sehingga prestasi belajar matematika peserta didik lebih optimal. tes. guru harus cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan. menentukan persamaan garis pada sebuah grafik. Metode tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan 50 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dengan mengetahui perbedaan kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif setiap peserta didik. Selain itu. Melalui model pembelajaran kooperatif. baik untuk kelompok tinggi. terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. sebagian besar guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. Sampling dilakukan menggunakan teknik stratified cluster random sampling sedemikian sehingga terpilih sampel penelitian sebagai berikut. diantaranya keingintahuan dan gaya kognitif. sedangkan peserta didik hanya menyimak. salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. Selain itu. a. peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya melalui diskusi kelompok. b. dan mengerjakan latihan soal. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah dan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian di SMP yang telah terpilih. SMP Muhammadiyah 1 Blora dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dua. Di antara banyak model pembelajaran. b. dan angket. menentukan grafik dari persamaan suatu garis menunjukkan bahwa penguasaan konsep persamaan garis lurus oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora masih rendah. c. maupun rendah. Populasi. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. sedang. SMP Negeri 2 Blora dengan kelas VIII 3 sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII 5 sebagai kelas eksperimen dua. mencatat. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus dimungkinkan karena konsep tersebut belum benar-benar dikuasai oleh peserta didik. Selain model pembelajaran. analisis daya serap hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 terhadap tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi pokok persamaan garis lurus. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai secara optimal. SMP Negeri 1 Cepu dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dua. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian meliputi metode dokumentasi. Kesulitan-kesulitan tersebut hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan peserta didik lain atau guru matematika yang mengajar. c bilangan bulat selain satu).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Kabupaten Blora ini merupakan mata pelajaran penyumbang angka ketidaklulusan terbesar kedua setelah mata pelajaran bahasa inggris. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu. yakni menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 (a. Sampel. Selama kegiatan pembelajaran guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas.

4237 FI 10 52 88 72.5714 13.6667 9.5000 10. Tabel 3.6667 7. Deskripsi Data Kemampuan Awal Matematika Peserta Didik Kelas Eksperimen Satu Eksperimen Dua n 84 84 Nilai Min 40 40 Nilai Maks 96 96 67.9017 Keputusan Uji H0A ditolak H0B ditolak H0C ditolak Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 51 . Hasil uji keseimbangan menggunakan uji-t terhadap data kemampuan awal matematika peserta didik diperoleh simpulan bahwa populasi mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang. HASIL PENELITIAN A. Data Kemampuan Awal Matematika dan Uji Keseimbangan Berikut disajikan deskripsi data kemampuan awal matematika peserta didik.2818 1279. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Rangkuman Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Sumber A B C JK 1221.7462 27 52 100 75.9125 9. dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji-t.4000 11.6239 FI 18 76 100 88. dan gaya kognitif peserta didik.5455 11.7909 2274. Sebelumnya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 awal. Pemb.0843 16.6692 Fhit 9. Berikut disajikan hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.0048 8 60 100 75.3533 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.6753 Sedang FD 22 48 88 70. Tabel 2.8918 FI 6 84 100 94.0000 15.0540 3.1111 7.9017 3.5147 Ftabel 3. Tabel 1. Mod.8519 12. prestasi belajar matematika.6924 9 72 96 83.9524 S 14. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Keingintahuan Gaya Kog. N Nilai Min N H Nilai Maks T S N S Nilai Min T Nilai Maks A D S Tinggi FD 12 72 100 91.0828 15.7207 9 56 80 67.2573 17 56 100 76.6409 1279.7283 14 44 84 64.6692 dk 1 2 1 RK 1221. Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen. Data Penelitian dan Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pokok persamaan garis lurus. B.5556 8.2222 8.1132 Rendah FD 16 48 84 60.7909 4549. dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’.0132 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.4706 14. terhadap data kemampuan awal maupun data prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett.5238 66. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak. Metode angket digunakan untuk memperoleh data keingintahuan peserta didik.

Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. d.7190 6. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah.0540 - H0AB ditolak H0AC ditolak H0BC ditolak H0ABC ditolak - DESKRIPSI HASIL ANALISIS VARIANSI TIGA JALAN DENGAN SEL TAK SAMA Deskripsi hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dan uji komparasi rerata adalah sebagai berikut. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan peserta didik.5074 595.1191 811. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. a. dengan deskripsi sebagai berikut. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.7845 2 1 2 2 156 167 2114.5210 - 3.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AB AC BC ABC Galat Total 4228. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah.1480 36016.0724 20981. dengan deskripsi sebagai berikut.5382 877. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.4280 6. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.0362 134. b. maupun rendah sama baiknya. 52 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .2383 811.0540 3. c. sedang. e. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi.4945 15. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif peserta didik.0540 3. 5) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0338 4. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 4) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang.0764 1754.9017 3.5074 1191. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. g. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. f. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik diabndingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 1) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. maupun rendah sama baiknya. sedang. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 5) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 4) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 3) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 3) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 5) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 2) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. dan gaya kognitif peserta didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 53 . keingintahuan. dengan deskripsi sebagai berikut. 6) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.

prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 16) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 8) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 14) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. 54 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 10) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 12) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 15) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 18) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 11) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 7) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 9) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. 17) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 13) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent.

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 55 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 29) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 23) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 28) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 26) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 22) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik diobandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 24) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 25) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 19) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 21) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 20) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 27) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang.

prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 30) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 31) 32) 33) 34) 35) 36) 37) 38) 39) 40) 41) 42) 56 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. maupun rendah sama baiknya. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. sedang. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. maupun rendah sama baiknya. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent.

Bandung: PT. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. (Edisi terjemahan oleh Narulita Yusron). Asdi Mahasatya. . 2008. 2009. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. 2010. Slameto. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Anita Lie. Riset. 2003. Budiyono. dan Praktik. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. S. Desmita. Slavin.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 43) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. Nasution. Cognitive Style in Educational Perspective. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. b. Remaja Rosdakarya. Yogyakarta: Pustaka Belajar. e. Jakarta: PT. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 57 . 46) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 2008. New Delhi: Anmol Publications Pvt Ltd. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 44) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. Metodologi Penelitian Pendidikan. diperoleh simpulan bahwa: a. 1997. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. c. keingintahuan. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Jakarta: Grasindo. Statistik Untuk Penelitian (Edisi Kedua). prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jakarta: PT Bumi Aksara. f. 2009. Bandung: Nusa Media. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. Priyamvada. 2010. E. Srivastava. R. Cooperative Learning: Teori. 2003. d. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 45) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. g. Surakarta: Sebelas Maret University Press. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. SIMPULAN Berdasarkan analisis data menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masih lemahnya proses pembelajaran. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan. Kata Kunci : Peluang. sampai saat ini kualitas pembelajaran matematika di Indonesia masih rendah (Soedjadi. achievable. (2) kualifikasi pendidikan guru.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS SMART PADA MATERI PELUANG DENGAN MODEL ELICITING ACTIVITIES Aryo Andri Nugroho Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. 1997:198). Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh.ide yang mendorong ke arah kesuksesan. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. uji pengaruh. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities (MEA) yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena seperti pola dan interaksi. serta memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sering informasi bercampur dan mungkin dapat dipertimbangkan sebagai hal yang kompleks. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. e-mail : ndrie024mp@gmail. mandiri dan berjiwa wirausaha (Sanjaya 2008: 2). time bound). misalnya memusatkan pada karakteristik struktural 58 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Namun berbagai upaya tersebut belum mencapai prestasi yang optimal. Dalam pembelajaran konvensional guru bertindak sebagai pentransfer ilmu kepada peserta didiknya. (5) penelitian tentang kesulitan dan kesalahan peserta didik dalam belajar matematika. Akibatnya. realistic. Banyak perangkat dimana para ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan sistem kompleks yang melibatkan cara pikir yang dinyatakan dalam bentuk model matematis.com Abstrak Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide . inovatif. karena berbagai kendala di lapangan. Selain itu peserta didik kurang diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif. Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model MEA akan mencapai efektif dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. (4) penerapan model atau metode pembelajaran baru. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. measurable. peserta didik dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif (Suparman. Penelitian ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik menggunakan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA. Berbagai upaya tersebut antara lain dalam bentuk: (1) penataran guru. Pembelajaran matematika yang masih menggunakan pembelajaran konvensional masih menempatkan guru sebagai sumber informasi utama yang berperan dominan dalam proses pembelajaran. MEA. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreatifitas peserta didik. mengembangkan karakter dan potensi yang dimiliki. (3) pembaharuan kurikulum. SMART. Lontar 1 (Sidodadi Timur) Semarang 50125. 2001b: 1). Kreatifitas. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar. baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika di sekolah. Pada penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran berbasis SMART (spesific. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan teknik random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Dengan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 59 . Satu komponen penting dalam pemecahan masalah didalam dunia masa kini adalah menginterpretasikan situasi masalah. Model biasanya dinyatakan dengan menggunakan berbagai media representational yang saling berinteraksi. Sifat alami model tersebut dapat digambarkan dalam empat aspek. Sebuah nilai ekstra adalah bahwa model eliciting activities itu bisa mendorong ke arah bentuk belajar yang signifikan. aksi. Model biasanya digambar dari berbagai disiplin atau area topik buku teks. Lebih dari itu banyak persamaan terjadi antara model dimana peserta didik mengembangkan sistem untuk bisa dipertimbangkan dalam pengalaman sehari-hari mereka sendiri dan model dimana para ilmuwan mengembangkannya (Lesh & Doerr. Menurut Guskey (1982) pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya ketercapaian ketuntasan dalam prestasi belajar. realistic. interaksi. measurable. pola. (2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Salah satu substansi yang menjadi penekanan KTSP adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif. Gagasan yang relevan dan sistem konseptual dapat diharapkan menjadi langkah-langkah intermediate dari pengembangan. pengorganisasian. achievable. Amit & Schorr. adanya perbedaan prestasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. 2004). Artinya bahwa proses penafsiran untuk peserta didik telah diminimalisir atau dieliminasi. 2003). Model Eliciting Activities mendorong aktivitas peserta didik dalam pengembangan model karena untuk memecahkannya diperlukan cara untuk menyatakan berpikir saat ini dalam bentuk yang diuji dan diperbaiki berulang kali setelah di uji. a. berkenaan dengan informasi yang ambigu atau tidak lengkap. mereka tidak memahami secara baik pengetahuan matematika. kelancaran representasional. Pengalaman pemecahan masalah peserta didik secara tradisional telah dibatasi masalah dimana peserta didik menerapkan satu prosedur yang diketahui atau mengikuti satu jalur yang jelas. 1997). c. atau menjelaskan perilaku dari sistem lain. dan hubungan antara unsur-unsur) (Jones & Nisbet. Pemunculan masalah model ini adalah aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang mendorong ke arah pembentukan sebuah model eliciting activities (Lesh. time bound). Ketika peserta didik diberikan suatu permasalahan maka permasalahan tersebut diterjemahkan dengan cara yang tunggal. adanya pengaruh yang positif antara variabel bebas dengan variabel terikat. 2001). dan penginterpretasian dari situasi masalah yang diberikan (Lesh & Yoon. dan keterampilan sosial dimana peserta didik kita membutuhkannya (Steen. Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide-ide dan proses kunci yang mendorong ke arah kesuksesan harus diberikan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dari sistem yang relevan. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena (seperti pola. b. Dalam proses pemecahan masalah menuntut peserta didik dengan perangkat baru untuk memecahkan permasalahan serupa di masa datang (Lesh & Yoon. 2004). menggambarkan. Kesulitan bagi peserta didik adalah mengerjakan bagaimana cara untuk mendapatkan gambaran dari pernyataan yang diberikan pada tujuan yang diberikan. Perangkat pembelajaran yang disusun adalah perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART (spesific. Materi yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang peluang karena pada materi peluang dibutuhkan suatu pemahaman yang abstrak dan mendorong kreatifitas peserta didik. hubungan. d. dan keteraturan serta membekali peserta didik dengan fondasi penalaran matematis yang dasar. proses. mengidentifikasikan rintangan terhadap solusi. Sementara dengan tidak menolak pentingnya pengalaman masalah yang ada. 2002). Model eliciting activities biasanya melibatkan aktivitas-aktivitas yang mematematikakan (mathematizing) objek yang relevan. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran disini akan disusun perangkat pembelajaran yang meliputi: (1) Silabus. dan memvisualisasikan serta mengevaluasi produk akhir yang mungkin. Pengembangan model biasanya melibatkan satu rangkaian siklus desain yang melibatkan cara yang berbeda terhadap penyaringan. Model ini adalah sistem konseptual yang digunakan untuk membangun. dan (3) CD interaktif.

Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang terukur dari materi yang jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi belajarnya. Pengukuran mempunyai prestasi yang dapat dinilai. prestasi ilmiah dan lain lain. SMART Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas programprogram yang diajukan dan dilaksanakan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memperhatikan kekhususan materi peluang yang sesuai kurikulum dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (spesific). uang. perlengkapan dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. Achievable Achievable menyangkut tujuan yang di himpun dapat dipenuhi dan dapat dicapai. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data dokumentasi. realistic (realistik). c. Pada perangkat pembelajaran matematika. Program menyatakan tujuan yang tepat. achievable (dapat dipenuhi). Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang dipilih harus terukur sesuai dengan materi yang dipilih. indikator yang terukur dari materi yang khusus jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi nantinya (achievable). Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat serta instrumen pada penelitian ini terdiri dari lembar pengamatan kreatifitas peserta didik dan lembar tes prestasi belajar. measurable (dapat diukur). Specific Specific maksudnya bahwa tujuan itu konkret. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses untuk dilaksanakan dan pada akhirnya alat ukurnya juga nyata jelas (realistic). persentase. dan perbandingan). baik dalam skala 1–10 ataupun dalam bentuk keberprestasian dan kegagalan. detail. Pengukuran membantu untuk mengetahui kapan tujuan sebuah program telah terpenuhi. 2006: 75) yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi peluang yang memenuhi kriteria efektif. kuantitas. data kreatifitas peserta didik. data prestasi belajar. time-bound (batasan waktu). Pada perangkat pembelajaran matematika dalam pemilihan indikator materi sesuai dengan kurikulum dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah. Dalam penelitian ini peneliti memaknai perlunya model eliciting activities dalam pembelajaran dengan perangkat pembelajaran berbasis SMART sehingga diharapkan pembelajaran menjadi efektif. Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen jenis Quasi Experimental (Samsudi. keterukuran indikator dari pemilihan materi yang khusus (measurable). terfokus dan dapat didefinisikan dengan jelas. Berdasarkan uraian ini maka muncul masalah apakah pembelajaran matematika berbasis SMART pada materi peluang dengan model elicting activities mencapai efektif. b. KAJIAN TEORI 1. Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas program-program yang diajukan dan dilaksanakan. Pemenuhan pada suatu tujuan memerlukan kemampuan. d. Prestasi dinyatakan dalam bilangan. a. Measurable Measurable berarti dapat mengukur apakah kita telah mencapai tujuan atau tidak (bilangan. untuk mencapai semuanya jelas dan prestasi dapat ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif dari pada sebelumnya (time bound). frekuensi. seperti keterampilan. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau 60 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . SMART sebagai tujuan program yang berarti specific (spesifik). pengamatan. Realistic Realistic maksudnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang dikerjakan.

c) Translasi (membawa prestasi yang diperoleh dan relevan untuk dikembalikan dengan kondisi sebenarnya). Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar yang membimbing siswa kearah MEA. yaitu a) Deskripsi ( membangun model matematika dari permasalahan yang ada pada dunia nyata). sehingga Aturan menjadi jelas bagi semua peserta didik. Setiap kelompok diberi bahan ajar 3. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. e. Setelah proses diskusi dan telah didapat aturan yang adil maka tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah yang ada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). MEA (Model Eliciting Activities) Menurut Lesh dan Doerr (2003) siklus Model Eliciting Activities adalah terdiri atas empat tahap. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 61 . b) Manipulasi Pada tahap ini peserta didik diberi desempatan untuk membangkitkan prediksi atau tindakan yang berhubungan dengan situasi pemecahan masalah asli. Beberapa perwakilan kelompok diminta mempresenasikan prestasi diskusinya berserta prestasi penemuannya. d) Prediksi dan Verifikasi Pada tahap Prediksi peserta didik diarahkan ke arah diskusi untuk meramalkan untuk usul operatif untuk membuat permainan adil disertai dengan alasan-alasan logis dan pada tahap verifikasi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari kegunaan dari prediksi. 2. Dalam kegiaan inti terdapat langkah-langkah pembelajaran yang memuat MEA yaitu: a) Deskripsi Pada tahap deskripsi peserta didik membaca bahan ajar yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang telah disusun berdasarkan MEA. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. dan diarahkan untuk mengaitkan dengan prestasi manipulasi. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut diprestasikan produk-produk kreatif yang bermakna. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok. Time Bound Time-bound berarti mengatur batasan waktu untuk memenuhi tujuan. maka bisa dibuat langkahlangkah sebagai berikut: 1. proses pembelajaran tatap muka dan evaluasi harus jelas dan ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif. Berdasarkan teori tentang model eleciting activiies. 4. 6.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses pembelajaran dan dapat dilaksanakan secara konkret. b) Manipulasi (manipulasi model dengan tujuan untuk memprediksi atau melakukan aksi yang berhubungan dengan pemecahan masalah sebenarnya). Kreatifitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. peserta didik diarahkan untuk membuat klarifikasi dari aturan permainan apakah aturan tersebut adil atau tidak c) Translasi Pada tahap translasi peserta didik didik diminta untuk mencoba langsung dari aturan permainan. 5. 2. Pada perangkat pembelajaran matematika ketersediaan waktu dari penugasan. Batasan waktu diperlukan harus memenuhi aspek achievable dan realistic. Pertama. 3. d) Verifikasi (kegunaan dari aksi dan prediksi).

In R. W. Doerr (Eds. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.. & F. Sanjaya. 146-155).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Adapun langkah. mencari jawaban. 2008. meliputi tahap persiapan. NJ: Erlbaum. Jakarta: Bumi Aksara.edu/td/pdf/SMART goals. C. Stiff. Amit. 2003. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Pada tahap persiapan seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir. 65-83).langkah proses kreatif menurut Wallas (Munandar. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. Boise State University. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. 3) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang lebih baik dari pembelajaran konvensional. (2003). M. Henn & W. Langrall. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya inspirasi atau gagasan baru. dan Raymond. Samsudi. The Effectiveness Of Mastery Learning Strategies In Undergraduate Education Courses. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. A.). Performance Management – Creating SMART Objectives: Participant Guide. Bandung: ITB.. A. Lesh & H.W. J. Tingkat keberprestasian diukur melalui tiga uji statistika. dan verivikasi.). H. (2004). Lesh. G. Pada tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut.boisestate. Pre-Conference Volume. Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12. (pp. H. R. R. Blum (Eds. learning. Guskey. dkk. Terbitan kedua. Jones. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. (1997). National Council of Teachers of Mathematics' 1999 earbook (pp. and problem solving. In Gal & Garfield (Eds. yang sampai sekarang masih diterapkan dalam pengembangan kreativitas. 2009.. What’s distinctive in (our views about) models & modeling perspectives on mathematics problem solving. http://hrs. Amsterdam: IOS Press. S. Learning and Teaching. diharapkan: 1) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang peserta didik dapat mencapai tuntas. Lesh.. inkubasi. Semarang : UNNES PRESS.. E. & Yoon. The Assessment Challenge in Statistics Education. R. 2009:39). 2) terdapat pengaruh positif kreatifitas peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA (model eliciting activities) pada materi peluang . dalam arti dia tidak memikirkan masalahnya secara sadar. 1986. Disain Penelitian Pendidikan. 3–34). KESIMPULAN Dalam kegiatan penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data kreatifitas peserta didik. & Tarr. C. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Mahwah. 1982. uji pengaruh. & Doerr. 2007. Reston VA: The Council. learning and teaching? In H. 62 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .E.). V. Using “real-life” problems to prompt students to construct conceptual models for statistical reasoning. In: L. Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities. & Schorr.. R. University Of Kentucky. dan sebagainya. Foundations of a models and modeling perspective on mathematics teaching. disinilah akan lahir gagasan inspiratif. Thornton. Understanding students' probabilistic reasoning. Lesh. (pp. Dan tahap verivikasi atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas ( disertai dengan pemikiran kritis ). iluminasi.). (1999).pdf download tanggal 18 Oktober 2009. Curcio (Eds.. Beyond Constructivism: Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving. R. ICMI Study 14: Applications and Modeling in Mathematics Education. Ronald. bertanya pada orang. C.

Sudjana.uk /psychology_articles/Goal-Setting-Guide. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”. Bandung: Alfa Beta Swinton. L. 2006. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas.co. Goal Setting Guide. 1997. 2001 b. download 18 Oktober 2009 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 63 .pdf. http://www. Desain Instruksional.uncommon-knowledge.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Soedjadi. Metoda Statistika. Suparman. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya. Juni 2001. 2002. R.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CREATIVE THINKING BERBANTUAN VIDEO DIKEMAS DALAM CD PEMBELAJARAN DAN WORKSHEET PADA MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII
FX. Didik Purwosetiyono Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 – Dr. Cipto Semarang, e-mail: fxdidik.purwosetiyono@gmail.com Abstrak
Pembelajaran yang bermakna memerlukan usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas siswa, sehingga akan menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Untuk melihat efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, diperlukan adanya instrumen yang berupa: 1) Rencana Pembelajaran (RPP), 2) worksheet, 3) Lembar Observasi. Juga harus didasari kajian-kajian teoritis dan juga penelitian-penelitian yang relevan untuk membangun suatu efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan kajian teoritis tersebut, diperlukan suatu penelitian, dimana penelitian tersebut merupakan jawaban atas kajian teori peneliti. Penelitian direncanakan dengan teknik claster sampling, dan akan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan dan satu kelas sebagai kelas kontrol.Variabel independen penelitian kreativitas siswa dan variabel dependen prestasi belajar. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran, juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan, 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM, dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM, b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square, c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol, dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Kata kunci : Efektivitas, creative thinking, Video, CD pembelajaran, worksheet.

PENDAHULUAN Pada proses pembelajaran guru meminta kepada siswa mengungkapkan pendapatnya tentang pembelajaran matematika, maka akan banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika sulit, sehingga pada prestasi belajar matematika yang kurang optimal. Sehingga karena asumsi tersebut membentuk pemikiran siswa yang kurang optimis dalam belajar matematika. Menurut Sierwalds (dalam Davasligil, 2005) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan prestasi belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan prestasi belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatvariasi media yang digunakan dalam pembelajaran keterbatasan yang ada pada guru maupun siswa. Pentingnya suatu penggunaan

64

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu salah satunya yaitu dengan pembelajaran matematika pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas CD pembelajaran dan berbantuan worksheet. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas (X) adalah kreativitas siswa, dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam bentuk CD Pembelajaran dan worksheet. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen (E) dan kelompok kontrol (K) pada kompetensi dasar kesebangunan. Variabel terikat ini akan diungkap dengan instrumen tes prestasi belajar menurut ranah kognitif. Jenis instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari: Lembar Pengamatan Kreativitas Siswa, lembar Pengamatan Keterlaksanaan pembelajaran, Lembar Angket Respon Siswa, lembar angket respon guru. Data yang telah dikumpulkan melalui instrumen-instrumen kemudian dianalisis. Data yang dianalisis adalah sebagai berikut. 1) Analisis Data Angket, 2) Analisis Data Tes Prestasi Belajar, meliputi; 3) Uji Hipotesis, meliputi; Uji homogenitas, uji normalitas, uji ketuntasan belajar, Uji perbedaan dua rata-rata uji pihak kanan dan uji proporsi, adalah sebagai berikut. Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang muncul dan akan dikaji adalah: 1) Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas? 2) Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional? 3)Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional? KAJIAN TEORITIS 1. Aktivitas Menurut Paul B. Diedrich ( dalam Sardiman, 2007 ) aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok sebagai berikut. a. Visual Activities, meliputi: memperhatikan dari gambar demonstrasi , membaca, percobaan dari pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik. d. Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan, membuat konstruksi, perangkat, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental Activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisa hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti: menaruh minat, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup, merasa bosan. Jadi klasifikasi aktivitas di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariatif. Jika berbagai aktivitas tersebut dapat dikondisikan selama proses pembelajaran maka pembelajaran lebih dinamis. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Pada Gambar 1 menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran Pasif dan Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa lebih mengingat (retention rate of knowledge) materi kuliah. Oleh sebab itu dalam pembelajaran engineering model pembelajaran aktif ini merupakan alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

65

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

ingin diperebaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tend to Remember about:

Level of Involment

10% of what we read 20% of what we hear 30% of what we see 30% of what we hear and see 70% of what we say

Reading

i.Hearing Words Looking at Pictures j. Watching a Movie k. Looking at an Exhibit l. Wacthing m. a Demonstration Seeing it Done on Location n.
Participation in a Discussion Giving a Talk

Verbal Receiving
PASSIVE

Visual Receiving

Paticipating
ACTIVE

90% of what we say and do

Performance/Dramatic Presentation Simulating the Real Experience Doing the Real Thing

Doing

Gambar 1. Model Pembelajaran Aktif dan Pasif (Sumaidi, 2008:52) 2. Kreativitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertamatama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif ( dalam Munandar, 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi, adalah: 1) Imajinatif, 2) Mempunyai prakarsa, 3) Mempunyai minat luas, 4) Mandiri dalam berfikir, 5) Melit, 6) Senang berpetualang ( senang mengeksplorasi), 7) Penuh energi (bersemangat), 8) Percaya diri, 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu), 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan ( teguh pendirian). Sehingga dari ke sepulih ciri-ciri tersebut akan dibuatlah rincian mengenai daftar angket yang akan dihunakan sebagai lembar observasi kreativitas siswa. 3. Video Video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan. Video ini berkaitan erat dengan audiovisual. 4. CD Pembelajaran. Levie dan Lentz (Arsyad, 2006:8) yang mereviu hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar, stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.

66

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

CD interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006:32) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa. Dipilihnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran berbantuan CD interaktif dengan perangkat komputer tidak lain karena media ini memiliki keunggulan sebagai media instruksional, antara lain: (a) dapat menunjukkan visualisasi yang menonjolkan gerak; (b) dapat dipercepat/diperlambat sehingga mudah diamati dan dimengerti (dapat diulang); (c) materi yang divisualisasikan mirip dengan objek aslinya; (d) dapat diberi efek suara sehingga efektifitas belajar lebih tinggi; (e) gambar bisa diperbesar sehingga dapat digunakan pada kelas yang besar; (f) dapat disimpan dan digandakan dalam CD atau di komputer; (g) software dapat digunakan berulang-ulang; dan (h) perangkat perekam relatif mudah dioperasikan. Dalam penelitian ini CD interaktif yang dimaksud adalah suatu alat dalam bentuk multimedia berupa keping CD yang memuat materi pembelajaran kompetensi dasar. Materi dikemas dengan program macromedia flash untuk 5 (lima) kali pertemuan berisi: (a) standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikatornya; (b) materi pendahuluan; (c) penanaman konsep dengan contoh soal dan latihan soal; dan (d) pada akhir pertemuan dilengkapi tes-uji kompetensi hasil belajar lengkap dengan skor yang diperoleh dari jawaban siswa. Berdasarkan pandangan beberapa ahli di atas maka media pembelajaran berbantuan CD interaktif audio visual merupakan media yang sangat cocok bagi siswa dalam membantu proses belajar diantaranya, (1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, (2) mampu memberikan keseragaman persepsi,(3) mampu menyajikan informasi yang konsisten dan dapat diulang, dan (4) mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat belajar. 5. Worksheet Lembar kerja siswa (worksheet) berupa lembaran-lembaran kertas berisi informasi maupun soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa, pada akhirnya siswa dapat menemukan suatu kesimpulan dari apa yang mereka pelajari. LKS ini sangat mendukung untuk meningkatkan keterlibatan siswa belajar, baik dalam penerapan metode penemuan terbimbing maupun memberikan latihan-latihan pengembangan (Depdiknas, 2004). 6. Prestasi Belajar Prestasi adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2003:76). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Depdiknas, 2003:26). Jadi prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh karena suatu usaha memperoleh ilmu sekaligus terjadi perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang diamati pada ranah pengetahuan dan pemahaman konsep atau kognitif yang datanya diambil dari metode tes (pencil paper test). 7. Kajian Penelitian yang relevan Pada penelitian ini, adapun kajian dari penelitian yang relevan dengan penelian ini adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Iman (2008), dan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2008). Menurut Imam (2008: 128) para guru matematika diharapkan dapat memilih pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar sehingga belajar siswa menjadi pembelajaran yang bermakna. Disinilah diperlukan suatu peranan seorang guru sebagai pembimbing siswa, sehingga bisa mengarahkan siswanya kearah pemahaman mengenai suatu konsep tertentu, sehingga bisa diarahkan pada aktivitas siswa. Menurut Arief (2008: 62) Semakin siswa kreatif dalam melaksanakan tugasnya, atau sudah mau belajar berfikir mandiri membuat siswa selalu aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa bisa dibentuk, dengan memberikan stimulus-stimulus pada siswa dalam suatu pembelajaran, dengan memberikan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

67

Pada pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada strategi yang tepat. Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. 1) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas. 7) Penuh energi (bersemangat). SIMPULAN Guru sebagai fasilitator. perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran. dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM. Pengetahuan baru itu akan dapat diserap dengan baik apabila siswa belajar dalam situasi yang penuh kebermaknaan. dalam hal ini peranan media diperlukan. (3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam hal ini difokuskan pada kreativitas siswa. 3) Mempunyai minat luas. agar pelaksanaan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu). 5) Melit. 6) Senang berpetualang (senang mengeksplorasi). Didik (2010:102) Penggunaan dan pelaksanaan suatu strategi perlu diperhatikan arah pencapaian indikator dan tujuan pembelajaran. (2) terciptanya suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dan inivatif saat belajar matematika. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. memberikan bantuan di awal pembelajaran setelah siswa mampu maka bantuan dikurangi kemudian dilepaskan sehingga anak mandiri dalam membentuk pengetahuan baru yang berkembang terus sebagai milik mereka. 3) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking 68 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dalam penelitian ini. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. kelebihan yang bisa dicapai antara lain (1) siswa diajak dalam suasana kebermaknaan berupa visual. barulah ditambahkan media pembelajaran yang tepat. sehingga dengan bantuan media ini dapat memacu kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan. 2) Terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional. dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pola yang menuntut siswa untuk berfikir. Menurut FX. (4) bimbingan guru dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh seorang guru untuk mengarahkan siswa menuju pada tujuan yang diharapkan. 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM. b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square. penggunaan CD pembelajaran sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Pertama. diharapkan. 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan (teguh pendirian). adalah: 1) Imajinatif. sehingga akhirnya siswa dapat menemukan jawabannya sendiri dari proses kreatif yang dilakukannya. Jika strategi pembelajaran sudah tepat. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif (dalam Munandar. 2) Mempunyai prakarsa. Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Dari ciri-ciri pribadi kreatif tersebut dijadikan acuan untuk membentuk kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi. 8) Percaya diri. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. 4) Mandiri dalam berfikir. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna.

Jakarta: Balai Pustaka. Bandung: Tarsito. 2008.S. Vol. Intercultural Aspect of Creativity. 2009. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto.Istambul University. 2004. Arikunto. DAFTAR PUSTAKA Arif. Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2005. Dekdikbud. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Mengajar Belajar Matematika. Sukino & Wilson. 2003 . 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sugiyono. 2002. Metode Statistika. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Munandar. 2006. Hudoyo. 2007. Jakarta: Bumi Aksara Davasligil. Nurhadi. Jurnal. Evaluasi Program Pendidikan. Sudjana. 2009. Departemen Pendidikan Nasional. Tesis. 71: 88-97. S. K. 1988.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Berorientasi pada Pendekatan Problem Solving Berbantuan CD Pembelajaran Pembelajaran Materi Program Linear Kelas X. H. Matematika untuk SMP Kelas VII.& Abdul J. 2003. Bandung: Erlangga Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 69 . Statistika Untuk Penelitian. S. Jakarta: Dekdikbud. Semarang: Program Pascasarjana UNNES. Puskur Balitbang: Depdiknas. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Rineka Cipta. challenge and Barriers The Case in Turkey.

bisa bekerja sama dan saling membantu.masing gaya kognitif. PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa matematika adalah kondisi siswa yang berbeda. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. Seringkali guru kesulitan untuk bisa mengontrol anak satu persatu apakah setiap anak sudah mengerti materi yang diajarkan. Kontekstual. Dari data analisis disimpulkan : (1) Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point menghasilkan prestasi yang lebih baik dibanding dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. Analisis instrumen yang dilakukan pada tes yaitu validitas isi dan reliabilitas. (3) Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. keadaan sosial. tingkat kesukaran dan konsistensi internal. Kesulitan ini karena waktu pertemuan yang tersedia terbatas. Gatut Iswahyudi3 1) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Matematika Pascasarjana UNS 2) Program Pascasarjana UNS 3) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point (2) untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gayakognitiffield dependent (3) untukmengetahui pada masing. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik.40 anak) dan seringkali siswa yang mengalami kesulitan tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN POWER POINTPADA MATERI PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK Dewi Risalah1.beda dalam satu kelas dalam daya pikir. angket gaya kognitif dan tes pilihan ganda. uji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Riyadi2. kreatifitas dan lain. Siswa yang sudah memahami materi yang 70 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . power point dan Gaya Kognitif.lain.masing model pembelajaran. uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas). dan 1 variabel terikat yaitu hasil prestasi siswa. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent (4) untuk mengetahui pada masing. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA kota Pontianak. yang terdiri 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. jumlah siswa yang banyak pada setiap kelas (35. Diperlukan suatu model pembelajaran yang membuat siswa saling berinteraksi. Pengumpulan datanya dilakukan melalui kajian dokumen sekolah. Analisis butir soal pada tes prestasi dan angket gaya kognitif terdiri dari analisis daya beda. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu : uji keseimbangan. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. (2) Prestasi siswa yang memiliki gaya kognitif FD lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki gaya kognitif. tetapi ada juga yang lambat mengerti bahkan kadang terdapat yang sangat lambat mengerti materi yang dipelajari. Dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat siswa yang cepat mengerti materi yang dipelajari. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. sehingga siswa bisa saling berdiskusi memecahkan masalah. Kata Kunci : STAD.

maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? 2) Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent? 3) Pada masing. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent ? 4) Pada masing. Siswa saling bekerja sama untuk memahami materi yang dipelajari dengan guru sebagai fasilitator. STAD is a cooperative teaching method which was developed as part of a student learning approach programme along with other cooperative methods. seringkali siswa mempertanyakan relevansi dari besarnya waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan pelajaran matematika. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. tujuan pembelajaran serta metode pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dipelajari bisa membantu siswa yang lain sepaya menjadi mengerti juga. Berdasarkan latar belakang masalah.achievement divisions (STAD). Diharapkan dengan adanya hubungan antara gaya kognitif dengan model pembelajaran. Modifikasi dari model tersebut yang ditinjau dari gaya kognitif diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. saling bekerja sama. Menurut Balfakih (2003). Pada tahap ini banyak guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan contoh. yaitu siswa membuat saling berhubungan positif.masing model pembelajaran.hari.contoh dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta minimnya penggunaan media bantuan dalam pembelajaran. Selain memiliki kelebihan. Prestasi belajar adalah penguasaan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 71 . Kelebihan. Diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat pelajaran menjadi pengalaman yang nyata. Untuk itu perlu dilakukan suatu pembelajaran dengan memodifikasikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point diharapkan bisa mengisi salah satu kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pada tahap presentasi guru.Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari. sehingga pemahaman konsep matematika bisa lebih mudah diterima siswa. Serta diharapkan bantuan power point dalam pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. contextual teaching and learning is defined as a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations. sebenarnya seorang guru harus kreatif menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin. akan membuat pelajaran lebih efektif.kelemahan diantaranya adalah tahap presentasi yang dilakukkan oleh guru. Presentasi guru dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berdengan bantuan power point diharapkan akan membuat pelajaran lebih mudah dimengerti para siswa. Salah satu model pembelajaran yang memenuhi hal-hal yang diuraikan ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe student teams. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Menurut Gagne dalam Winkle (1996:482).kelebihan seperti yang disebutkan di atas. Sehingga diharapkan dengan berinteraksi akan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelemahan. Diharapkan dengan pembelajaran kontekstual pelajaran akan menjadi bermakna. Sementara peserta yang mendapat persoalan bisa bertanya dan berdiskusi dengan siswa yang lain. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan oleh guru untuk memodifikasi materi pembelajaran.hari. Menurut Smith (2006). manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. Media bantuan yang dimaksud adalah power point. Siswa sering merasa kesulitan mengaitkan pelajaran yang diterimanya dengan suatu yang nyata dalam hidup mereka. Pembelajaran kontekstual juga berusaha membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan sehari.masing gaya kognitif. prestasi adalah kemampuan internal yang memuat kemampuan intelektual dalam hal informasi verbal. Dalam pembelajaran matematika.

Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran. Waktu yang diperlukan pada tahap ini adalah dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September2011. Diharapkan dengan memadukan model pembelajaran tipe STAD kontekstual dengan kontekstual dengan bantuan power point disertai dengan gaya kognitif siswa akan meningkatkan prestasi belajar menjadi lebih baik.Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan. Waktu yang diperlukan pada tahap ini dua bulan yaitu bulan Oktober 2011 sampai November 2011. dan konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. Gaya kognitif adalah cara seseorang dalam memproses. 3) Pada masing . Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data. sedangkan gaya kognitif FI adalah gaya belajar siswa yang tidak bergantung pada lingkungan belajarnya. Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas. menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menangapi berbagai jenis situasi lingkungannya. Tahap persiapan meliputi pengajuan judul tesis. sehingga jika siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. 4) Pada masing .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keterampilan yang ditunjukkan dengan tes yang diberikan oleh guru yang biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu dan lingkungannya. Menurut Trianto (2007:42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.masing gaya kognitif. 72 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2011 hingga bulan Oktober 2011 yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahap. METODE PENELITIAN Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri di Pontianak. Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. sehingga jika siswa mampu untuk tidak bergantung dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. kegiatan kelompok. yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli 2011. kuis. STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. Menurut Broverman (1960:167) mengemukakan bahwa gaya kognitif menggambarkan cara seseorang memahami lingkungannya. tahap penelitian dan tahap penyelesaian. Subjek penelitian ini adalah siswa semester ganjil Kelas X tahun pelajaran 2011/2012. Waktu yang dibutuhkan pada tahap ini adalah 5 bulan. Kerangka berpikir bahwa STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok.kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. yaitu tahappersiapan. 2) Siswa yang memiliki gaya belajar kognitif Field Independent memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. dan penghargaan kelompok. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. sedangkan gaya kognitif FD adalah gaya belajar siswa yang bergantung pada lingkungan belajarnya. Menurut Trianto (2007:10) pendekatan kontekstual (Contekstual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. permohonan ijin survei. siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent.masing model pembelajaran. penyampaian materi. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok.

sedang dan rendah. uji keseimbangan. Metode yang digunakan adalah dokumentasi. Pada analisis daya beda terdapat 36 item soal diterima dan 4 item soal yang tidak diterima. Adapun hasil penelitian disajikan adalah hasil uji coba instrument.831. uji homogenitas. reliabilitas. Indeks reliabilitas sebesar 0. Pengelompokkan tersebut berdasarkan nilai rata .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena peneliti tidak mungkin mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabelvariabel yang diteliti.827 dan FD sebesar 0. SMA Negeri 9 Pontianak. pada penelitian ini uji keseimbangan uji t sebesar 1. SMA Negeri 8. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan rerata antar kelompok model pembelajaran atau dapat dikatakan bahwa antara kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran berbeda. yaitu STADP dan STADKP mempunyai kemampuan matematika yang sama. Indeks reliabilitas FI sebesar 0. SMA Negeri 6 Pontianak yang dipilih berdasarkan rangking. Data penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah prestasi belajar matematika pada materi SPLDV yang dikatagorikan atas model pembelajaran dan kelompok gaya kognitif siswa.masing terdiri dari dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak. uji ANAVA dan uji lanjut ANAVA. uju normalitas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7. yang masing. SMA Negeri 9. yaitu tinggi. Setelah dilakukan uji prasyarat kemampuan awal siswa yakni uji normalitas dan homogenitas. b. tingkat kesukaran. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak tahun ajaran 2011/ 2012. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal Berdasarkan hasil uji normalitas kemampuan awal prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata kemampuan awal prestasi belajar matematika antara kelas STAD Power point dan kelas STAD kontekstual Power point berasal dari populasi yang homogen. Pada tingkat kesukaran terdapat 2 item soal yang tidak baik.576 dengan nilai tabel t sebesar 1. Uji Persyaratan Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran dan faktor gaya kognitif siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata prestasi belajar matematika antara kelas STADP dan kelas STADKP berasal dari populasi yang homogen. masing. yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SMA Negeri 8 Pontianak. Tahapan yang dilakukan adalah dalam pengambilan sampel yaitu dari seluruh SMA Negeri yang ada di kota Pontianak terlebih dahulu dikelompokkan menjadi tiga tingkatan. Pada gaya kognitif. demikian juga antara kelompok siswa mempunyai gaya gaya kognitif FD dan gaya kognitif FI berasal dari populasi yang homogen. selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan metode uji beda rerata t. c. Sehingga diperolah tiga kelas ekperimen dan tiga kelas kontrol. Pengujian Hipotesis Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 73 . Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran.rata ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 mata pelajaran matematika.96 Karena nilai uji lebih kecil dari nilai tabel t maka H0 tidak ditolak.masing dipilih secara acak satu sekolah yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian.776 yang berarti instrumen tes baik. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 X 2. a. Uji yang digunakan adalah uji validitas. terdapat 30 soal yang konsisten dan 10 soal yang tidak konsisten. konsistensi internal. gaya kognitif dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa. Dari ketiga kelompok. Adapun langkah dalam pengambilan sampel yaitu dengan stratified cluster random sampling. angket dan tes. pengujian hipotesis dan pembahasan penelitian. pengujian data analisis. SMA Negeri 6 di Pontianak. deskripsi data. daya beda.

yang menunjukkan bahwa rerata model pembelajaran STAD Kontekstual Power point = 69. Dari rerata marginalnya.11 64.1 295. Dalam penelitian ini.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan jumlah sel tak sama.79. Uji Lanjut Anava Dari kesimpulan penelitian.07 lebih besar dari nilai F ab = 0. Hal ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika dan H0AB diterima karena nilai uji Ftabel = 3.94. Dari rerata marginalnya.19.04 0. d.0 10. Sedangkan H0B ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.86 lebih tinggi daripada rerata model pembelajaran STAD Power point = 60. Hal ini berarti terdapat perbedaan rerataan antara model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point terhadap prestasi belajar matematika.9 73197.92 3. perlu dilakukan uji lanjut pasca anava.79 65. H0 ditolak H0 ditolak H0 diterima Dari tabel di atas tampak bahwa H0A ditolak karena nilai uji Ftabel = 3. Ini berarti terdapat perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point terhadap prestasi belajar matematika.92 lebih kecil dari nilai Fb = 8. tampak bahwa H0A ditolak.masing Sel Model Pembelajaran STAD power point tanpa Kontekstual STAD power point dengan Kontekstual Rerata Marginal Gaya Kognitif FI FD 54.86 1.7 RK 4286. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD Kontekstual Power point lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan model pembelajaran STAD Power point.9 5543. Kalau pun dilakukan komparasi ganda antar rerata model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point.07 Kep.46 65.50 8.27 Rerata Marginal 60. dapat dipastikan bahwa hipotesis nolnya juga akan ditolak.9 62957. Rerata Pada Masing . 2. maka ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. yang menunjukkan bahwa rerata gaya kognitif FD = 65. Rangkuman Analisis Variansi SP Model Gaya Kognitif Interaksi Galat Total dk 1 1 2 213 216 JK 4693.93 75.92 3. Hasil pengujian ANAVA disajikan dalam tabel rangkuman analisis variansi dibawah ini : Tabel 1.5 1185.1 3. Komparasi itu menjadi tidak berguna. dapat 74 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .6 Fobs 14.94 Ftabel 3.61 64. maka komparasi ganda tidak perlu dilakukan.92 lebih kecil dari nilai F a = 14. Komparasi Rerata Antar Kolom Dari pembahasan di atas. karena anava telah menunjukkan H0A ditolak.19 69.50. Komparasi Rerata Antar Baris Dari pembahasan di atas. karena variabel model pembelajaran hanya mempunyai dua nilai (yaitu model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point). cukup melihat rerata marginalnya. untuk itu perlu diperhatikan terlebih dahulu tabel rerata sebagai berikut : Tabel 2.27 lebih tinggi daripada gaya kognitif FI= 64. tampak bahwa H0B ditolak.04. maka untuk baris tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. karena variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai.

Hipotesis Kedua. Dari kenyataan bahwa tidak terdapat hubungan itu. Pembahasan Hasil Penelitian Hipotesis Pertama. Kedua model pembelajaran tersebut mempunyai nilai yang berbeda. model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. karena hubungan tidak ada. Dalam penelitian ini.3) Tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif siswa. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji Fb = 8. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F ab = 0. sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point sebesar 69. maka tidak perlu dilakukan uji lanjut antar sel pada kolom yang sama.94 dengan nilai Ftabel = 3.92.50 dengan nilai Ftabel = 3. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan faktor antara model pembelajaran dengan gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 75 . sedangkan pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD sebesar 65.04 dengan nilai Ftabel = 3. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan model tipe STAD Power point lebih rendah dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point.Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran dan gaya kognitif siswa terhadap prestasi belajar matematika. Hipotesis Ketiga. dapat disimpulkan bahwa karakteristik perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan model pembelajaran STAD kontekstual power point untuk setiap tipe gaya kognitif sama. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih rendah dari pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD. Kedua gaya kognitif tersebut mempunyai nilai yang berbeda.86.92. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas. Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Dari pembahasan di atas. sedangkan pada kategori gaya kognitif field dependent. yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point sebesar 60. maka kesimpulan dari hipotesis ketiga mengikuti kesimpulan hipotesis pertama dan kedua yaitu pada kategori gaya kognitif field independent. maka untuk antar kolom tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor model pembelajaran pada prestasi belajar matematika. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor gaya kognitif pada prestasi belajar matematika. Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point. variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai (yaitu gaya kognitif FI dan FD).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 disimpulkan bahwa gaya kognitif FD lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan gaya kognitif FI.79. 3. maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. 2) Siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent. yaitu gaya kognitif FI sebesar 64. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika.27.19. tampak bahwa H0AB diterima.07. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F a = 14. Jadi dapat dikatakan bahwa gaya kognitif FD memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada gaya kognitif FI. sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point selalu lebih baik diterapkan pada setiap gaya kognitif jika dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran STAD Power point.

Dasar. Vol. Slavin. The Northwest Regional Education Laboratory USA. Journal of Family and Consumer Sciences Education. Vol. Hal. 2009. 76 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Seribu Pena Matematika Jilid 1 Untuk SMA/ MA Kelas X. 5. Spring/ Summer. 2010. 26. StatistikTeoridanAplikasi. 2009. Diakses tanggal 22 Mei 2011. 1985. Journal of Social Studis Reseacrh. 11. No. 24. 2009. Johanes Supranto. Paul Suparno. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Contextual Teaching and Learning Practices In The Family and Consumer Sciences Curriculum. P Bettye. The Journal of International Social Research. Wilson (eds. Diakses tanggal 22 Mei 2011. Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a Twelfth Grade Classroom : Effect On Student Achievement and Attitude. Jakarta: Erlangga Johnson. 2006. 2008. Kurniawan. Hal. Teori Perkembangan kognitif Jean Piaget. The Effectiveness of Student Team-Achievement Division (STAD) for Teaching High School Chemistry in The United Arab Emirates. Contextual Teaching and Learning. 2. Journal International Handbook of Education for the Changing World of Work. No. Riset dan Praktik. Surabaya: CerdasPustaka. Statistik Untuk Penelitian.). Springer Science+Business Media B. Hadari Nawawi. No.A. Bandung: Nusa Media.2001. Journal of Educational Technology and Society.V. Psikologi Belajar.1997. Mandiri Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas VIII. Ibnu Hadjar. Vol. PerkembanganIntelektualmenurut Piaget. M. MetodePenelitian. 2010. Altun. 20.Vol. Yogyakarta: GajahMada University Press. Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical Kinetics. R. 5. Contextual Teaching and Learning. Vol. Depdiknas. 2005.27. Daryanto. 1.DasarMetodologiPenelitianKwantitatifdalamPendidikan. XV. 1. Maclean. 2000. Jakarta: Yudistira. 1998. Undergraduated Students Academic Achievement. Bandung: MLC. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 2001.Hal. 9. Elaine B. Blanchard. KamusBesarBahasa Indonesia. Johnson. 2009. Bandung: MLC. Cetakan 3. The Implications of Cognitive Style to Adult Distance Education. Hal. UNS Press. 29. Husein Tampomas.A. T. 2/6. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2008. Scott. Nagib M. Elaine B. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 1999. Muhibin Syah. Dwi Titik Irdiyandi. Jakarta: Erlangga.A dan Ibraheem. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 23.International Journal of Science Education. 31. Vol.Jakarta: Rajawali Pers. MetodePenelitianBidangsosial. Winter. 289-297. 2009. 2006. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif STAD DiModifikasikan dengan Kontekstual Pada Materi Lingkaran DiTinjau dari Tingkat Intelegensi Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2009/ 2010. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2009. Jakarta: Apollo. Bandung: University of Washington. 25. No. Hal.2003.Field Dependent / Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers. 605-624. Yogyakarta: kanisius. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada. Amstrong.2005. Moh Nazir.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point. 4.Tesis: UNS Surakarta. Balfakih. Budiyono. Smith . Marwanta dkk. F. 2009. A dan Cakan. DAFTAR PUSTAKA Adesoji. Hamzah Uno B. Spring. Terjemahan Cooperative Learning Teori. 2007. Matematika SMA Kelas X. Diakses tanggal 15 Juni 2011. D. Jakarta :Erlangga. Hal. No.

Jakarta: Prestasi Pustaka.2008. Sugiyono. Model.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Sudjana. Jakarta: Bumi Aksara. Tesis: UNS Surakarta.Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Suharsimi Arikunto. 2004. 2007. Sumargiyani. 2009. SoemardiSuryabrata. Bandung: Tarsito. StatistikUntukPenelitian.Jakarta: Prenada Media. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Matematika DiTinjau dari Intelegensi Siswa SLTP Muhammadiyah II Yogyakarta. Bandung: CV. MendesainPembelajaranKontekstual (Contextual Teaching and Learning). Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 77 . Jakarta: CerdasPustaka. Jakarta: Raja GrafindoPersada. Dasar. MetodologiPenelitian. 2005.model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontstruktivistik.Progresif. Trianto. Trianto. 2005. Trianto. 2005. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif. 2003. MetodaStatistika. Alfabeta.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP DAN KEMAMPUAN MENGAJAR DALAM PENGAJARAN MIKRO MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UST Esti Harini Program Studi Pendidikan Matematika. siklus I 67 dalam kategori baik dan siklus II 78 dalam kategori baik. Kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro juga menunjukkan adanya peningkatan dengan diperoleh nilai rata-rata untuk pra tindakan 63 dalam kategori sedang. 4) Refleksi. sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. Kemampuan Mengajar PENDAHULUAN Mata kuliah PPL I atau pengajaran mikro adalah mata kuliah kelompok kependidikan ( MKPK ) yang bertujuan melatih mahasiswa mengajar di dalam kelas dengan siswa temantemannya sendiri ( mahasiswa ). Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP calon guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa calon profesi pendidik. dengan materi matematika SLTA atau SLTP. bukan menjadi komponen utama sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan implementasi dari program pembelajaran yang tertuang di dalam silabus. mampu mengelola kelas. mampu melakukan evaluasi atau menilai prestasi siswa. 3) pertemuan balikan. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. yang langsung terjun mengajar di sekolah-sekolah tempat praktik dalam rangka penyiapan guru yang profesional. mampu menyiapkan RPP yang inovatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif univariat . siklus I 73. dan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tidak mengacu pada RPP yang sudah disusun. dan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guru keperluan pengajaran. Oleh karena itu guru haruslah mempersiapkan RPP sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. karena RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas. mengenal dan menyelanggarakan administrasi sekolah. calon guru belum terbiasa mengajar dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. Pengajaran mikro ini sebagai prasarat untuk menempuh PPL II. Rencana Pelaksanaan pembelajaran.88 dalam kategori sangat baik. menguasai landasan-landasan kependidikan. Selanjutnya dari kompetensi tersebut. Kegiatan dalam setiap siklus sesuai dengan prosedur supervisi klinis yaitu meliputi: 1) Pertemuan perencanaan. kependidikan. oleh karena itu perencanaannya seharusnya dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara lengkap dan operasional. 2) pengamatan mengajar. dan social.52 dalam kategori baik dan siklus II 80. professional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. kepribadian . FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST . Disamping itu kegiatan Pembelajaran dalam Pendidikan adalah kegiatan yang bersifat terencana dan sistematik. Profil guru yang profesional antara lain adalah menguasai materi pengajaran. mampu mengelola interaksi belajar mengajar. mampu mengelola program belajar mengajar.25 dalam kategori sedang. yaitu praktik pengalaman lapangan. laboratorium. disempurnakan menjadi empat kompetensi yaitu. 78 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pada umumnya dalam Penyusunan RPP calon guru cenderung kering akan inovasi. mampu menggunakan media atau sumber. Keadaan ini dapat dipahami karena. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatkan kemampuan menyusun RPP hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata pra tindakan 63. Kata kunci: Supervisi Klinis. atau lapangan.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengajar. Berdasarkan hasil kajian bersama atau hasil latihan tsb. supervisor membantu calon guru untuk merencanakan latihan yang akan datang. 3. perasaan atau kesan calon guru. Demikian seterusnya sampai indikator keberhasilan dicapai.Waktu pelaksanaan adalah pada semester genap tahun akademik 2010/2011.scribd. Namun jika indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus tersebut maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. maka penelitian akan berhenti pada siklus tersebut. maka pelaksanaan supervisi klinis diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST. Rancangan Penelitian : Dalam penelitian ini terdapat siklus-siklus dan banyaknya siklus tergantung dari tercapainya indikator kaberhasilan. Supervisor bersama calon guru membandingkan target latihan dengan hasil latihan dan mendiskusikannya. supervisor kembali menanyakan . antara lain: 1) Pertemuan pendahuluan ( perencanaan )\ kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. Berdasarkan target tsb supervisor menyakan kesan calon guru b) Supervisor menyajikan data berupa hasil rekaman kemudian bersama-sama menganalisis dan menafsirkan rekaman tsb. Telaah rencana pelajaran dan cermati tujuan pelajaran dan tujuan dari latihannya. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 79 . 2. Jika indikator keberhasilan sudah dicapai dengan dua siklus.com/doc/23862850/supervise-klinik) Berdasarkan uraian di atas. Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Berdasarkan hasil kajian . Telaah dan diskusikan ketrampilan yang akan dilatih. dengan menggunakan instrumen yang telah disepakati 3) Pertemuan balikan . dan Obyeknya kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro dengan treatmen supervisi klinis. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut (http://www. Subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan matematika yang pada semester genap 2010/2011 mengambil Praktek Pengalaman Lapangan I (PPL I). mendiskusikan instrumen yang akan digunakan 2) Pengamatan mengajar meliputi pengamatan yang dilakukan supervisor dengan cara merekam focus kegiatan maupun interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa. Metode penelitian adalah metode eksperimen semu. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a) Supervisor menanyakan kepada calon guru bagaiman peranannya selama melakukan latihan mengajar. Secara rinci langkahlangkah dalam setiap siklus sebagai berikut: a. Siklus I Peneliti merancang tindakan/prosedur supervisi klinis yang akan dilaksanakan dalam penelitian . Usaha mennciptakan suasana yang hangat dan bebas antara calon guru dengan supervisor. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data tentang kemampuan menyusun RPP mahasiswa saat akan melakukan praktek mengajar. Bersama-sama melihat kembali target kecakapan atau ketrampilan serta focus utama dalam latihan yang telah disepakati.

f. pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa.9 : Kurang Kurang 45. dari tahap perencanaan yaitu penyiapan rencana pelaksanaan pembelaran sampai dengan proses pembelajarannya. c. e. berupa lembar penilaian penyusunan RPP . Kerangka Berfikir Supervisi klinis memfokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan. kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan. 80 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .0 – 56. Siklus selanjutnya merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya. 4. memutuskan tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. d. terutama bahan pembelajaran. Pemilihan sumber belajar / media pembelajaran. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan. 2.9 : Baik 57. 2.0 – 79. pendekatan /strategi pembelajaran. pengamatan dan analisis yang intensif terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran maupun penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Adapun rumus dan kriteria yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: Rumus untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/68 x 100 Rumus untuk menganalisis kemampuanmengajar sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/100 x 100 Dengan kriteria sebagai berikut : 80. Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran.0 – 66. b. dapat diharapkan dengan supervisi klinis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan Berdasarkan kerangka berpikir tersebut. Disamping itu Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru/calon mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. Dan calon guru akan selalu dapat mereview penampilan mengajar sebelumnya dan menganalisa kekurangan – kekurangannya.9 : Sedang 47. Tahapan pelaksanaan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus sebelumnya. Sedang fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. Dengan demikian . (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. digunakan statistik deskriptif univariat yaitu dengan menggunakan rumus penilaian dan patokan yang telah ditetapkan. Teknik Analisis Data: Untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP – UST. maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan supervisi klinis. pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. Pemilhan metode pembelajaran. 3. (3) keterampilan dalam proses pembelajaran dan. dan lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari : 1. Dan kegiatan penutup pembelajaran. ketrampilan menyusun RPP yang inovatif Supervisi Klinis menuntut guru/calon guru untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran . penguasaan materi pembelajaran. penilaian proses dan hasil belajar. (4). untuk perbaikan penampilan mengajar berikutnya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 4) Refleksi Pada tahap ini peneliti melakukan pengolahan data. Kegiatan pra pembelajaran.9 : Belum Menguasai Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah.0 ke atas : Sangat Baik 67. validasi data. Penggunaan bahasa. Perumusan tujuan pembelajaran.yang terdiri dari lima indikator yaitu :1. 5.

75 75 80 75 Kategori Sangat baik Sedang Baik Sangat Baik Baik Tabel 2.88 dalam kategori sangat baik pada siklus II. dan 80. c.5 Kurang Kurang Baik Sangat baik Sangat baik Sedang Sangat baik Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 81 . dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 berada dalam kategori baik.33 75 87.25. Pendekatan /strategi pembelajaran. dengan diperoleh hasil sebagai berikut: siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 berada dalam kategori baik. d. Penguasaan materi pembelajaran. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan Pembelajaran Nilai 83.33 87.67 87. Kemampuan Mengajar Mahasiswa dalam Pengajaran Mikro Secara keseluruhan dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam pengajaran mikro.5 Kategori Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik 2.33 68.5 66. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mengajar para mahasiswa adalah sedang. e. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. dengan nilai ratarata 63. Hasil secara keseluruhan untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 1. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran Nilai 83. Kemampuan Mengajar Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari 6 indikator yaitu : a. Hasil selengkapnya untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 3. Pada saat penampilan pertama para mahasiswa mengajar peneliti mengobservasi dengan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal mengajar para mahasiswa. Penilaian proses dan hasil belajar f.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan. peneliti melakukan evaluasi terhadap RPP yang para mahasiswa susun sebagai kemampuan awal. Dan hasil ini hampir merata untuk semua aspek. Setelah dilakukan tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Hasil evaluasi secara keseluruhan kemampuan menyusun RPP diperoleh nilai 73. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menyusun RPP adalah sedang dengan nilai rata-rata 63. Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 75 Kategori Baik 50 50 75 83. b.52 dalam kategori baik pada siklus I.33 75 83. Kemampuan Menyusun RPP Secara keseluruhan hasil evaluasi RPP para mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyusun RPP.

e.67 87.5 83.25 dalam kategori sedang . c.5 Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3.Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 87.67 83. Juga pemilihan strategi pembelajaran perlu untuk pemilihan yang tepat.Penilaian proses dan hasil belajar f. siklus I diperoleh nilai rata-rata 73. Saran Dari hasil penelitian disarankan agar mahasiswa masih harus banyak belajar materi matematika khususnya konsep-konsep dasar matematika. tapi para mahasiswa masih harus banyak berlatih dan belajar. Pembahasan a. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. Kemampuan mengajar pada pengajaran Mikro Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa FKIP UST.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 4. Kemampuan Menyusun RPP Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan menyusun RPP. yaitu pra siklus diperoleh nilai ratarata 63 dalam kategori sedang . Kemampuan Mengajar Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a.33 87. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. yaitu pra siklus diperoleh nilai rata-rata 63.5 66.Penguasaan materi pembelajaran b. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar berikutnya.Pendekatan/strategipembelajaran. b. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. dan pemahaman tentang strategi pembelajaran perlu ditingkatkan lagi. tapi ada beberapa mahasiswa yang didalam menyusun RPP masih kering dan kurang inovatif oleh karena itu masih perlu untuk ditingkatkan lagi khususnya dalam aspek pemilihan dan pengorganisasian materi ajar dan pemilihan metode pembelajaran. d. pengamatan mengajar dan pertemuan balikan Ada peningkatan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST.Pemanfaatansumberbelajar/media pembelajaran. 82 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .52 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 80. hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya didalam proses pembelajaran. khususnya penguasaan materi matematika.5 Kategori Sangat baik 62.88 dalam kategori sangat baik. siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 dalam kategori baik. Untuk penguasaan materi masih dalam kategori sedang.Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa.33 91. Prosedur supervisi klinis meliputi : pertemuan pendahulun .

P. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Makmun Abin Syamsudin. 1985. Supervisi Pengajaran ( Teori dan Praktek ). Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. Psikologi Pendidikan. Nana Sudjana.com/2008/03/01/supervisi-klinis/ diakses Februari 2011 http://www. KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. 2007. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole). Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Bandung: Sinar Baru Nurtain. 1988. dkk.doc di download tanggal 14 April 2009 Glickman. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 83 . Sahertian./panduan_penyusunan_rpp. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia.A. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bandung: PT Remaja Kosta Karya. C. Jakarta: Depdikbud. 2001. Jakarta: Rineka Cipta. 1983. Jakarta: Bina Aksara.files. Suharsimi Arikunto. Muhamad Joko Susilo.wordpress... 1986. 2007.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 DAFTAR PUSTAKA Agus Taufiq.D. Bandung: Remaja Karya. Proses Belajar Mengajar. Supervision of Intruction. http://ahmadsudrajat.scribd. 2000. 1989.Tentang Standar Nasional Pendidikan Rostijah.1982.com/doc/23862850/supervise-klinik diakses Februari 2011 Iim Waliman. Boston: Allyn and Bacon Inc. Hasibuan dan Moedjiono. Bandung edy010169.com/2008/. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.wordpress. Kesiapan Lulusan SPG dalam Mengajarkan Matematika dan IPA di SD: Disertasi. Masalah-masalah ilmu keguruan.2001.

2%).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERMUTASI KOMBINASI MELALUI PEMBELAJARAN OPEN –ENDED DI RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL (RSMABI) Ira Kurniawati Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMABI). keaktifan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran open-ended. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi pelajaran Matematika SMA kelas XI IPA Semester I. memuat materi pokok peluang. Kata kunci : pembelajaran open-ended. 30 siswa mendapat nilai antara 70 – 79 (14. Berdasarkan pengalaman peneliti. kemampuan berpikir matematis. siswa dapat menyelesaikan soal cerita pada Permutasi dan Kombinasi dengan baik dan benar. Sementara itu dilihat dari kemampuan berpikir matematis siswa didapat 89. maka dari data tersebut tampak bahwa hanya 34.1% siswa yang mencapai nilai  KKM dan 65. yang terdiri dari 37 siswa. Hal ini dimungkinkan karena penyajian materi yang masih cenderung standar dan kurang inovatif dalam menyelesaikan soal-soal pada materi permutasi dan kombinasi. Inti masalah pada materi tersebut adalah bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan permutasi dan kombinasi. Penelitian dilaksanakan dengan Pendekatan Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang terbagi dalam 3 siklus.6%). dan proses pembelajaran berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan November 2011.19% siswa berada pada tahap relational.81% berada pada tahap multistructural. Jika mereka harus duduk dengan aturan dua orang akan berdekatan hanya jika 84 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita tentang penerapan permutasi dan kombinasi. Mereka ingin mengambil nomor duduk secara berjajar.3%). Jika batas nilai KKM untuk Kompetensi Dasar Permutasi dan Kombinasi adalah 70.41 % siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. Sebagai gambaran jika diberikan soal cerita berikut: Empat pasang suami istri membeli tiket untuk suatu pertunjukan.59% siswa mendapat nilai di atas KKM (75) dan hanya 5. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran opend-ended di kelas dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita dan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi Permutasi dan Kombinasi di RSMABI. Dari hasil ulangan 205 siswa kelas XI IPA RSBI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2010/2011. dan selebihnya mendapat nilai kurang dari 60 (36. 60 siswa mendapat nilai antara 60 – 69 (29. pada materi permutasi dan kombinasi diperoleh data nilai sebagai berikut : 15 siswa mendapat nilai  90 (7.9% siswa belum mencapai KKM. yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes akhir siklus III sebagai berikut : 94. Pada materi pokok tersebut memuat tentang permutasi dan kombinasi. Mereka belum bisa membedakan apakah suatu soal termasuk masalah permutasi atau kombinasi. dengan prosentase keaktifan 90% aktif dan hanya 10% kurang aktif. 25 siswa mendapat nilai antara 80 – 89 (12.6%).3%). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2011 /2012. penilaian autentik. dan sisanya 10.

Siswa diberikan kebebasan dalam menemukan ide dalam menyelesaikannya. Soal cerita permutasi dan kombinasi bersifat terbuka. pendidik harus selalu berusaha untuk memvariasikan model. sebagian siswa ada yang menyelesaikannya dengan menggunakan rumus akhir permutasi 4 unsur dari 4 unsur yaitu P(4. Sebagai siswa pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan memberikan kesempatan siswa menemukan idenya untuk memecahkan masalah dengan benar. Penekanan pembelajaran matematika di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 8! dan sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 2. Pembelajaran open-ended adalah salah satu alternatif pembelajaran matematika dalam rangka mengoptimalkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi Permutasi dan Kombinasi melalui kegiatan aktif. Untuk itu pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasinal (RSBI) perlu mengembangkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan ide-idenya sehingga kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal. artinya cara pemecahan masalah tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai cara. Untuk menyelesaikan soal-soal cerita seperti itu biasanya siswa kurang bersemangat dan tidak mau berusaha keras untuk memahami soal itu. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang terprogram agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang baik. serta pendidik harus berusaha menanamkan kepada siswa bahwa pelajaran matematika dapat meningkatkan penalaran. Untuk permasalahan soal cerita di atas sebagian besar siswa salah dalam menyelesaikannya. Jadi untuk dapat mengajar lebih efektif dan membuat anak didik merasa senang dan tidak bosan dalam belajar. maka sudah seharusnya proses pembelajaran matematika ditangani lebih serius. Untuk dapat memecahkan masalah di atas. Kesalahan-kesalahan di atas terjadi di antaranya karena : siswa tidak memahami masalah dengan benar. perlu adanya suatu pembelajaran yang tepat yaitu pembelajaran terbuka yang memberikan kesempatan dan kebebasan bagi siswa untuk menggunakan caranya masing-masing dalam menyelesaikan soal tersebut. dan juga karena siswa tidak bisa mengaitkan beberapa konsep secara simultan dalam memecahkan masalah tersebut.4). Dalam pembelajaran matematika tugas seorang guru sebagai pendidik adalah menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa. agar pelajaran matematika yang diperoleh akan terasa manfaatnya. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus P(4.4) x P(4. sehingga siswa mencintai matematika. kreatif dan kemampuan berpikir yang sistematis serta terorganisir. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan.4). padahal memahami masalah merupakan langkah awal dalam memecahkan masalah tersebut. ada berapa banyak susunan tempat duduk yang mungkin dibentuk? Masalah tersebut merupakan masalah terbuka. sehingga kegiatan kreatif dan pola pikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. siswa tidak bisa mengklasifikasikan masalah dengan tepat. Dengan demikian siswa dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. jika siswa telah dapat membedakan masalah tersebut tergolong masalah permutasi atau kombinasi. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 85 .P(4. Pendidik perlu mempersiapkan suatu model. siswa tidak bisa mengkombinasikan beberapa kejadian yang muncul. pendekatan atau pun strategi dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa.4). membentuk kepribadian serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa pada sekolah-sekolah biasa. Jika siswa salah dalam menggolongkan masalah yang ada. Siswa seringkali salah dalam mengerjakannya karena salah dalam menafsirkan soal. Selanjutnya siswa akan dapat menyelesaikan soal cerita tersebut dengan benar. maka langkah penyelesaiannya dipastikan akan salah. Hal ini akan berdampak positif dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa. diharapkan guru sebagai pendidik berusaha untuk dapat memilih model. Sehubungan dengan pentingnya peranan matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keduanya adalah pasangan suami istri atau berjenis kelamin sama . Oleh karena itu.

Jika kemampuan berpikir matematis siswa dapat maksimal maka kemampuan siswa dalam memecahkan masalah akan meningkat sehingga prestasi belajar matematika siswa pun dapat meningkat pula. dimana masing- 86 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. yang terdiri dari 37 siswa. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Seperti telah disebutkan di muka. Pembelajaran ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan ideidenya sehingga kegiatan kreatif dan kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. yaitu : kaidah pencacahan dan kaidah perkalian.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Jawaban akhir bukanlah tujuan utama dalam pembelajaran open-ended. dan kombinasi. Sebagai masukan bagi pengelola pendidikan untuk menerapkan pembelajaran openended sebagai alternatif pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dan perbaikan kualitas pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. sehingga pembelajaran open-ended memberikan kebebasan dalam menggunakan strategi dan cara dalam memecahkan suatu masalah. permutasi. Meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA SMA RSBI dalam menyelesaikan soal cerita tentang permutasi dan kombinasi. Sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. peningkatan kualitas pembelajaran pada materi materi permutasi dan kombinas dilakukan dengan pendekatan pembelajaran open-ended melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research ). masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI?” Tujuan Penelitian Sejalan dengan itu. Oleh karena itu. 3. tujuan umum penelitian adalah untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga pendidikan pada sekolah RSMA BI pada umumnya dan bagi guru matematika RSMABI pada khususnya. pembelajaran materi tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran open-ended dan pelaksanaan penelitiannya mengacu kepada prinsip-prinsip tindakan kelas. METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di RSMABI Negeri 1 Sukoharjo pada siswa kelas XI IPA 3 semester 1 tahun pelajaran 2011/2012. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 1 Sukoharjo sebagai RSMABI. 2. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. tetapi lebih menekankan pada bagaimana sampai pada suatu jawaban. sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna karena lebih menekankan pada proses belajarnya. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. dalam hal alternatif model atau pendekatan pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika juga sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. Materi pembelajaran sebagai fokus dalam penelitian ini adalah Permutasi dan Kombinasi yang terbagi atas beberapa sub-materi.

(2) pelaksanaan tindakan.62 Frekuensi 0 0 16 % 0 0 43.59% dari jumlah siswa kelas tersebut telah mencapai KKM. Secara umum. Teknik Analisis Data Sesuai dengan langkah penelitian tindakan kelas.32 Kuis Siklus 3 Frekuensi 6 18 8 % 16. Teknik Pengumpulan Data Untuk mencatat kejadian selama proses pembelajaran berlangsung digunakan lembar pengamatan. antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah tinggi.19% siswa berada pada tahap kemampuan berpikir matematis relational. dengan rincian sebagai berikut : (1) Siklus I menggunakan modul I tentang kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. dan (3) Siklus III menggunakan modul III tentang kombinasi. Hal ini ditandai antara lain pada waktu proses pembelajaran berlangsung tercipta komunikasi multi arah antara guru dan siswa. pada tahapan analisis dan refleksi. Klasifikasi Nilai 100 90 . ternyata dengan diterapkannya pembelajaran open-ended. (3) observasi dan interpretasi.94 24. Analisis data dilakukan secara kualitatif. (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan pada siklus berikutnya. yaitu : (1) perencanaan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masing siklus terdiri dari 4 tahapan. Sedangkan untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar matematika siswa pada materi permutasi dan kombinasi digunakan tugas dan kuis pada tiap akhir siklus. data yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan simpulan apakah pada siklus yang bersangkutan proses pembelajaran telah berlangsung baik dan apakah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran telah baik pula.22 48. Penyimpulan dilakukan dengan melihat data-data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. (2) Siklus II menggunakan modul II tentang permutasi. Lembar pengamatan ini diisi oleh pengamat. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 siklus. Penyimpulan juga dilakukan secara kualitatif. disimpulkan apakah proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik. Sedangkan kuis dikerjakan di kelas secara individual.11 45. kualitas pembelajaran berjalan semakin baik. maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat dari rangkaian kemajuan nilai yang diperoleh siswa. Pada akhirnya. yaitu pada akhir siklus ketiga.99 80 . (3) 89. Mengingat materi pembelajaran dalam penelitian ini hanya satu materi pokok saja. apakah pemahaman siswa dan kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi pembelajaran materi permutasi dan kombinasi khususnya dalam menyelesaikan soal cerita telah baik pula dan meningkat. Tugas berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual di luar jam pembelajaran. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini. Setiap tugas dan kuis pada akhir pembelajaran digunakan nilai dengan skala 100.89 Klasifikasi Nilai Kuis Materi Permutasi dan Kombinasi Kuis Siklus 1 Kuis Siklus 2 Frekuensi 3 17 9 % 8.24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 87 . Proses interaksi multi arah ini baru dapat dilakukan pada siklus III. peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari nilai-nilai siswa pada tiap kuis pada akhir proses pembelajaran. indikator tercapainya upaya peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan pembelajaran open-ended antara lain : (1) 94. baik pada tugas maupun kuis pada tiap akhir siklus. Tabel 1. (2) keaktifan siswa mencapai 90%.65 21. Dan untuk menentukan prosentase ketuntasan belajar siswa pada materi permutasi dan kombinasi ditandai dengan nilai tugas dan kuis pada tiap siklus sebesar 75 ke atas. Teknik Penyimpulan Pada akhir penelitian.

11 2.38% 21.00% 80.40 0 100 Dari hasil tes siklus III pada akhir siklus III.00% 60. 100.54% Prosentase Siklus II 78. semua siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan masing-masing siswa mengerjakan sendiri dengan seksama.00% Siklus I Siklus II Siklus III >=KKM <KKM Gambar 1 Perkembangan Ketercapaian KKM Sementara itu keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus juga meningkat.00% 90. apabila disuruh mengerjakan soal oleh guru.71 100 4 3 1 37 10. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung baik dan dipandang dari sisi prestasi belajar matematika pada materi yang memuat materi modul I sampai modul III. tes akhir siklus II. 88 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan siswa pada akhir siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan oleh peneliti dan telah mengalami peningkatan. dan tes akhir siklus III.00% 10.00% 20. semua siswa berusaha menyelesaikan dan beberapa siswa mengerjakannya di depan kelas dengan cara yang berbeda. rangkuman keaktifan siswa dari siklus ke siklus dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut. Tabel 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 70 . motivasi dan minat siswa dalam mempelajari permutasi dan kombinasi cukup tinggi. ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.00% 0. maka hipotesis tindakan yang mengatakan bahwa dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan openended dalam menyelesaikan soal cerita permutasi dan kombinasi.69 < 60 Jumlah 16 4 1 37 43.00% 30.00% 70.46% 40.41% Adapun peningkatan ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.00% 50.00% 40.81 2. Hal ini nampak pada waktu pembelajaran berlangsung.11 5. Setiap ada tugas pada akhir modul.24 10. Rangkuman Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Ketercapaian KKM  KKM < KKM Siklus I 59.62% Siklus III 94. Pembahasan Berdasarkan analisis dari tes akhir siklus pada setiap akhir siklus yaitu dari adanya tes akhir siklus I.81 8. meskipun terkadang disertai dengan diskusi kecil di antara para siswa tanpa menimbulkan suasana yang gaduh di kelas.79 60 . Selain daripada itu berdasarkan observasi dari tim pengamat.59% 5.71 100 3 2 0 37 8. maka kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir matematis akan meningkat dapat diterima.

Rangkuman Keaktifan Siswa Keaktifan Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Siklus I 65% 30% 5% Prosentase Siklus II 80% 17% 3% Siklus III 90% 10% 0% Jika dilihat secara keseluruhan.81% 89.22% 78. Gambar 2 Peningkatan Keaktifan Siswa Kemampuan berpikir matematis siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.19% 0% Adapun perkembangan kemampuan berpikir matematis siswa dapat disajikan dengan diagram sebagai berikut. Tabel 4 Rangkuman Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kemampuan Berpikir Matematis Prestructural Unistructural Multistructural Relational Extended Abstract Siklus I 0% 10.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 3. keaktifan siswa mengalami kenaikan secara signifikan.46% 0% Prosentase Siklus II 0% 5. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.81% 29.38% 0% Siklus III 0% 0% 10.40% 16.73% 59. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 89 .

Sejumlah hubungan telah dibuat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Gambar 3 Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcomes Taxonomy) dikembangkan oleh Biggs dan Colis (1982). ketuntasan belajar siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. memberikan reaksi. Siswa menunjukkan pemahaman bahwa tiap bagian memiliki kontribusi terhadap keseluruhan. d. Extended Abstract Pada tingkat ini siswa mampu memiliki pemahaman yang lebih luas dari apa yang sudah diperoleh dalam pembelajaran. menjelaskan sebab. fakta dan teori. Prestasi belajar 90 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . mengingat. Pada tingkat ini siswa telah mampu mengidentifikasi. tetapi belum mampu membuat hubungan yang luas. Pada tingkat ini. menjelaskan hubungan dan menerapkan. mengkombinasikan dan melakukan algoritma. melakukan analisis. Uni Structural Pada tingkat ini siswa telah mampu membuat hubungan sederhana. c. siswa dapat mengerti komponen secara umum. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Siswa dapat menerapkan konsep ke persoalan sehari–hari atau situasi kerja. melakukan generalisasi. siswa telah mampu menyebutkan. Pada level ini. Pre Structural Pada tingkat ini. dan menghasilkan sesuatu. tetapi pemahaman terhadap masing–masing komponen terbatas. siswa mampu mengemukakan teori. dipandang dari sisi prestasi belajar pada materi permutasi dan kombinasi. Relational Pada tingkat ini siswa dapat menentukan hubungan antara tiap komponen. Pemahaman di transfer dan digeneralisasikan dalam masalah yang berbeda. maka dapat diartikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Ide dan konsep tentang sebuah permasalahan belum diorganisasikan dan tidak ada hubungan satu sama lain. tetapi hubungan yang menyeluruh belum ditentukan. Pada tingkat ini siswa dapat membandingkan. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. (RMIT University. Pada tingkat ini. Siswa menunjukkan pemahaman komponen yang masing–masing bagiannya terintegrasi. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. kegiatan dan tujuan. serta melakukan prosedur sederhana.59% siswa mendapat nilai di atas KKM. siswa kehilangan inti dari informasi yang diperoleh. 2008) Pada akhir siklus. siswa tidak mengerti penjelasan dari suatu informasi. sebanyak 94. b. mengajukan hipotesis. Berdasarkan Taksonomi SOLO kemampuan berpikir matematis siswa di kategorikan sebagai berikut : a. mengklasifikasikan. mengintegrasi. Multi Structural Pada tingkat ini. mengurutkan. Dengan kata lain. e.

dipandang dari sisi kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. Begitu pula jika Pada akhir siklus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa dalam belajar materi permutasi dan kombinasi cukup tinggi. yang antara lain adalah kesulitan guru dalam pembuatan rancangan pembelajaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama. dapat dikatakan bahwa pembelajaran open-ended dalam pembelajaran matematika di kelas dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. minat dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan baik dan benar. akibatnya dapat mengganggu target pencapaian materi yang harus dicapai. kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi juga meningkat daripada kemampuan berpikir matematis siswa sebelumnya. siswa akhirnya mudah membedakan suatu masalah itu sebagai permutasi atau kombinasi. kepada para Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 91 . kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Pada akhirnya. Kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada kemampuan berpikir matematis siswa pada pembelajaran sebelumnya. sedangkan tahap multistructural.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. dapat menumbuhkan motivasi. Dengan demikian. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran open-ended.19% siswa telah berada pada tahap relational yang merupakan tahapan kemampuan berpikir siswa yang tertinggi. serta dapat melatih siswa untuk berpikir dengan lebih cermat dan sistematis. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. Prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi juga meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. baik ditinjau dari prestasi. sedangkan kemampuan berpikir matematis merupakan salah satu hasil dari pembelajaran Dengan kata lain. namun dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bukti bahwa pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. sebanyak 89. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Sedangkan taha extended abstract sebagai tingkat tertinggi dari kemampuan berpikir matematis menurut SOLO tidak dicapai karena dikarenakan konstruksi desain pembelajaran ditekankan pada pendekatan open-ended sehingga fokus utama pada penelitian tindakan ini adalah pembelajaran. hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi. dan kemampuan berpikir matematis. Dengan pembelajaran open-ended. Saran Terlepas dari kelemahannya. keaktifan. hai ini disebabkan pembelajaran open-ended meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kebebasan siswa dalam berpikir sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengkomunikasikan ide-idenya dalam pengerjaan soal permutasi dan kombinasi. maka dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Oleh karena itu. proses pembelajaran materi permutasi dan kombinasi pada kelas XI IPA 3 RSMABI Negeri 1 Sukoharjo telah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan proses pembelajaran pada tahuntahun sebelumnya. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Sebagai muaranya siswa dapat mencermati suatu kasus permutasi atau kombinasi pada suatu soal. unistuctural dari siklus ke siklus menyusut karena kemampuan berpikir siswa cenderung meningkat ke tahap relational. Dengan peningkatan semua komponen. Disamping itu.

M. Wina Senjaya. B and Weil.D. 1994. 1996. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. 1989. Winataputra dan Saripudin. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Bandung: JICA. New Jersey : Princeton. Boston: Allyn and Bacon. Bandung : Remaja Rosdakarya. Teori Belajar. P. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. M. Jakarta : Rineka Cipta. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Shimada. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. 1995.M. 1997. 2009. Bandung : Remaja Karya. 1995. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembelajaran. 1992. Dalam J. Landasan dan Implementasinya pada KTSP. Jakarta: Karunika. 1997. Joyce. Classroom Instruction and Management. NCTM. Zamroni. Zainal Arifin. dkk. Yaniawati. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. New Jersey : Prentice Hall.. 1999. Surabaya : PSMS Program PPS Unesa. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep. 2001. E.U. Menjadi Guru Profesional. Surabaya : University Press UNESA Muhammad Nur dan Muhammad Ibrahim.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 guru matematika disarankan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk materi pelajaran matematika yang lain dengan menggunakan pendekatan pembelajaran openended. Yogyakarta. George. R. Bandung : Remaja Karya. Developing Mathematical Reasoning Grade K-12.). R. Paradigma Pendidikan Masa Depan. dan Kauchak. 2007. Yogyakarta: Bigraf Publishi 92 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Strategi Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Press. Inc. D. Boston: Allyn & Bacon. S.P. ___________. P. Suherman. Dalam J. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. 2001. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. 1999. Slavin. 1973. T. Purwoto. Usman. Educational Psychology Theory into Practice. Trianto. E. R. Polya. Reston : Virginia. Jakarta: Kencana. The OpenEnded Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. DAFTAR PUSTAKA Arends. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. Eggen.). U. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. (2000). Surabaya : University Press. How to Solve It. Strategi Pembelajaran Matematika. 2000. 2004. Soedjadi. Becker & S. 1997. Materi Pokok Pengajaran Matematika. Models of Teaching. 2001. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2008. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika. P. 2003. Sawada. Tambunan. The Significance of an Open-Ended Approach. Muhibbin Syah. 2003. Slameto. Rusyan. 1997. Muhammad Nur dan Wikandari. Becker & S. T. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. Surakarta : UNS Press. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Shimada (Ed. Muhammad Nur. I. Soekamto. 1987. New York: Mcraw-Hill. Sutrisman Murtado dan J. Atang Kusnindar. Poppy. Shimada (Ed. Strategies For Teacher Teaching Content And Thingking Skills. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Aktifitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Sardiman A. R. Developing Lesson Plan. tanggal 28 – 29 Maret 2003.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->