Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

DAFTAR PUSTAKA Amerom, B. V. (2000). Arithmetic and algebra: Can history help to close the cognitive gap? A proposed learning trajectory on early algebra from an historical perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Becker, J.P & Shimada, S. (1997). The open-ended approach: A new proposal for teaching mathematics. Reston: NCTM Ben-Zeev, T. Dan Star, J.(2002). Intuitive Mathematics: Theoretical and Educational Implications. Michigan: University of Michigan Brouseau, G. (1997). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers Clarke, B., Clarke, D., & Sullivan, P. (1996).The mathematics teachers and curriculum development. In Alan J. Bishop et al. (eds.), International Handbook of Mathematics Education, 2 (1207-1234). Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. De Lange, J. (1987). Mathematics insight and meaning. Utrecht, the Netherlands: OW &OC, Dissertation. De Lange, J. (1996). Using and applying mathematics in education. In A.J. Bishop et al. (eds.). International Handbook of Mathematics Education. 1 (49-97). The Netherlands: Kluwer Academics Publishers. Gravemeijer, K. (1994). Educational development and developmental research in mathematics education. In Journal for Research in Mathematics Education, 25 (5), 443-471. Gravemeijer, K.P.E (2000a). Developmental research: Fostering a dialectic relation between theory and practice. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Gravemeijer, K.P.E (2000b). Taking a different perspective. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Kansanen, P. (2003). Studying-theRealistic Bridge Between Instruction and Learning. An Attempt to a Conceptual Whole of the Teaching-Studying-Learning Process. Educational Studies, Vol. 29,No. 2/3, 221-232 Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Bandung: SPS UPI Toom, A. (2006). Tacit Pedagogical Knowing At the Core of Teacher’s Professionality. Helsinki: University of Helsinki Treffers, A. & Goffree, F. (1985). Rational analysis of realistic mathematics education-The Wiskobas program. In L. Streefland (Ed.), Proceedings of Ninth International Conference for the Psychology of Mathematics Education, (pp.97-121). Noordwijkerhout, July 22-29, 1985. Treffers, A. (1987). Three dimensions: A model of goal and theory description in mathematics education. Reidel, Dordrecht, The Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Treffers, A. (1991). Didactic background of a mathematics program for primary school. In L. Steefland (ed.), Realistic mathematics education in primary school: On the occasion of the opening Freudenthal Institute, (pp.21-56). Utrecht: Center for Science and Mathematics Education, Utrecht University. Turmudi (2006). Designing contextual Learning Strategies for Mathematics for Junior Secondary School in Indonesia. Ph.D. Thesis, Melbourne, Australia: La Trobe University. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (1996). Assessment and realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, Center for Science and Mathematics Education. Van den Heuvel-Panhuizen , M. (2000). Mathematics education in the Netherlands: A guide tour. CD-Rom of the RME materials, produced for the ICME9 Congress in Japan, July 2000. Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

13

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

PENERAPAN BLENDED LEARNING PADA PERKULIAHAN DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (Studi Kasus: Mata Kuliah Dasar-dasar Matematika)
Imam Sujadi Program Studi Pendidikan Matematika UNS Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menerapan model blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memadukan antara pembelajaran tatap muka dan sistem e-learning. Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika UNS. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Tahapan penelitian didahului dengan mengembangkan model pembelajaran blended learning untuk mata kuliah Dasar-dasar Matematika. Selanjutnya model tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tahap-tahap penelitian tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah dasar-dasar matematika pada semester gasal tahun akademik 2011/2012. Metode pengumpulan data dengan angket, observasi dan tes, pemberian tugas/kuis untuk mengetahui kualitas proses dan hasil pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Model pembelajaran blended learning terbukti berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan kompetensi kognitif mahasiswa. Dengan demikian, dirasa perlu dilakukan penelitian tindakan kelas ini dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan mata kuliah yang berbeda dan kondisi yang berbeda pula. Kata kunci: blended learning, kemandirian belajar, peningkatan kompetensi

PENDAHULUAN E-learning saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang berkembang sangat pesat, sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi pendukungnya. Tujuan utama e-learning adalah mempermudah setiap orang untuk belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa e-learning memberikan cukup banyak manfaat bagi institusi pendidikan tinggi baik bagi dosen, mahasiswa, dan penyelenggara pendidikan. Manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pertemuaan tatap muka akan berkurang, sedangkan materi yang telah dikembangkan akan terus bisa digunakan. Dengan menggunakan e-learning, biaya yang digunakan untuk memberikan materi pembelajaran bisa dihemat. Mahasiswa yang bisa mengikuti perkuliahan dengan adanya e-learning juga bisa bertambah secara kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya e-learning tempat belajar tidak lagi menjadi kendala yang mendasar, karena mahasiswa bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dengan segala kelebihan pemanfaatan e-learning tersebut, oleh sebagian pihak elearning dianggap sebagai model pembelajaran masa depan (future learning). Namun dibalik kelebihan tersebut tersimpan beberapa kelemahan terutama pada instruktur, infrastruktur dan assessment. Salah satu proses penting dalam proses pembelajaran adalah proses membangun pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut bisa bersifat eksplisit maupun implisit. Beberapa kelemahan pemanfaatan e-learning diantaranya adalah pengetahuan yang bersifat implisit sangat tidak mungkin untuk disebarkan menggunakan e-learning. Selain itu faktor emosional, gestur, seni, dan penilaian dari pembelajaran cenderung terkurangi dengan adanya e-learning. Selain beberapa kelemahan tersebut masalah penilaian (assesment) menjadi tantangan tersendiri pada penyelenggaraan e-learning. Pada pemanfaatan e-learning dosen tidak bisa mengetahui bagaimana kemampuan sebenarnya dari mahasiswanya, karena terjadi distorsi penilaian. Penilaian yang dilakukan oleh dosen sangat bersifat kognitif, sehingga kemampuan afektif maupun motorik menjadi kurang terukur. Blended-learning, salah satu tipe pengembangan e-learning, merupakan alternatif jawaban atas kelemahan yang ada pada e-learning. Blended Learning adalah cara untuk mendidik dan belajar dengan ‘mengkombinasikan’ beberapa metode dan gaya pembelajaran

14

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

yang berbeda. Blended learning berbasis pada kombinasi antara pembelajaran yang bersifat online dan tatap muka. Cara belajar seperti ini memberikan beberapa keuntungan yang bersifat fleksibel bagi dosen dan mahasiswa. Dosen tidak kehilangan gesture dan seni dalam perkuliahan, demikian juga dengan mahasiswa tidak akan merasa ketinggalan ketika tidak bisa hadir pada perkuliahan (Arai, K: 2010). Penerapan blended-learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan penguasaan kompentensi mahasiswa pada standar yang terukur. Dengan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi pada perkuliahan dimungkinkan adanya remedial teaching yang harus dilakukan oleh dosen. Kendala yang dihadapi dosen dalam melaksanakan remedial teaching adalah bagaimana mengatur pengelompokan kelas dan pengaturan waktu, antara yang mengikuti remidial dan yang tidak. Penerapan blended-learning diharapkan bisa mengurangi banyak tatap muka yang harus dilakukan dosen, terutama kelompok yang harus mengikuti remedial teaching (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008) Sebagai ilustrasi pada perkuliahan dasar-dasar matematika tahun akademik 2009/2010, peserta mata kuliah dasar-dasar matematika ini adalah 28 mahasiswa. Pada ujian kelompok kompetensi dasar (KKD-1) mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 15 mahasiswa (54%), pada KKD-2 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 9 mahasiswa (32%), pada KKD-3 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 11 mahasiswa (39%), sedangkan pada KKD-4 mahasiswa yang harus mengikuti remedial teaching berjumlah 4 mahasiswa (14%). Ketika dosen akan melakukan remedial teaching, kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengatur waktu untuk melakukan pembelajaran pada kelas remedial tersebut. Kendala yang lain mahasiswa secara afektif kurang mempunyai kemauan untuk belajar mandiri dan kurang mempunyai kemauan bekerja menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi kendala tersebut penerapan remedial teaching bagi mahasiswa dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, merupakan suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran di prodi pendidikan matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi ditinjau dari aspek dampak peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa, studi kasus pada mata kuliah dasar-dasar matematika. Asumsi yang digunakan adalah semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan kemampuan akses yang sama terhadap materi perkuliahan yang disebarkan melalui website atau learning management system (LMS). Sebagai rencana cadangan materi juga disebarkan menggunakan media CDROM. Materi yang disampaikan melalui LMS atau CDROM bersifat pengetahuan eksplisit, sedangkan pengetahuan yang bersifat implisit disampaikan di kelas. Tatap muka di kelas lebih bersifat mediasi, review, dan diskusi terhadap materi yang diberikan. Media komunikasi yang digunakan adalah media chat melalui jejaring sosial selama jam kerja, email dan forum diskusi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian E-Learning E-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran (learning) dan pengajaran (teaching) secara online menggunakan jaringan teknologi. Saat ini telah banyak penelitian mengenai elearning, terutama pada dampak (outcomes) pembelajaran yang dihasilkan e-learning jika dibandingkan dengan pengajaran secara tradisional (Hrastinski, S: 2008). Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan e-learning sebagai suplemen terhadap materi yang disampaikan secara regular di kelas. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif perkuliahan bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan (Rahayu, T: 2007). Untuk bisa mempraktekkan dan mengimplementasikan e-learning dengan baik, harus diperhatikan mengenai keuntungan dan keterbatasan setiap metode dan teknik yang dikembangkan pada e-learning. Dua tipe dasar e-learning yang saat ini berkembang adalah asynchronous dan synchronous e-learning. Sampai saat ini, tipe asynchronous lebih banyak diandalkan untuk pengajaran dan pembelajaran. Namun, seiring dengan perkembangan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

15

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

teknologi dan peningkatan kapasitas bandwith koneksi internet, tipe synchronous menjadi pilihan tersendiri (Hrastinski, S: 2008), (Rahayu, T: 2007). Blended Learning Blended-learning merupakan salah satu pendakatan dari e-learning, yang mengkombinasikan berbagai komponen pembelajaran - seperti ruang kelas, konten online, email, forum diskusi, learning management system (LMS) - dan pengalaman belajar – seperti pembelajaran individual atau berbasis kelompok - untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Blended learning mengkombinasikan tipe asynchronous dan synchronous pada pelaksanaannya. Bahkan pada prakteknya sesi ‘tatap-muka’ tidak hanya dilaksanakan secara virtual melalui chat atau email saja namun dilaksanakan di dalam kelas yang notabene merupakan cara konvensional. Tentu saja hal ini meningkatkan fleksibilitas pada pelaksanaannya. (Stacey, E dan Gerbic, P: 2008), (Kapp, KM dan McKeague, C: 2002), (Khan, B.H: 2010). Sehingga secara umum, blended-learning menyediakan hampir semua kebutuhan dari mahasiswa yang antara lain berkaitan dengan apa saja isi pembelajaran, waktu pembelajaran, tempat pembelajaran dan bagaimana cara belajarnya. Disamping itu pengalaman belajar mahasiswa juga akan bertambah. Blended Learning pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Implikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasis kompetensi. Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, dan penilaian menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi dari perkuliahan. (Rahayu, T: 2007). Berdasarkan SK Mendiknas No 232/U/2000, struktur kurikulum harus berdasar pada tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Sehingga secara garis besar, KBK bisa diartikan sebagai kurikulum yang pada tahap perencanaan, terutama pada tahap pengembangan ide dipengaruhi oleh kemungkinankemungkinan pendekatan, sehingga kompetensi bisa menjawab tantangan yang muncul (Rahayu, T: 2007). Pada KBK, mahasiswa diberi kesempatan secara terbuka untuk bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Jika ternyata peserta didik gagal, maka dosen harus memberikan remedial teaching. Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa namun membingungkan pengampu mata kuliah. Untuk melaksanakan remedial theacing, dosen harus membagi kelas menjadi dua bagian. Satu kelas, terdiri dari mahasiswa yang tidak remedial teaching, kelas lainnya yang mengikuti remedial teaching. Hal ini tentu saja merepotkan terlebih jika ternyata pada kompetensi berikutnya ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, sehingga perlu remedial teaching juga. Untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan remedial teaching tersebut tersebut, penggunaan blended learning sangat tepat digunakan. Skenarionya semua komponen blended learning dilaksanakan, selanjutnya jika terjadi remedial teaching digunakan komponen asynchronous, dengan mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan untuk kompetensi berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga ketika mahasiswa harus remedial maka ia tidak harus membuat kelas terpecah dalam kelas kecil. Sebagai gambaran, blended learning dilaksanakan seperti pada Gambar 1. (Arai, K: 2010). METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Action Research) yang difokuskan pada proses pembelajaran remidial. Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan partisipan karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Subjek, Objek, Waktu dan Tempat Penelitian Subjek penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan matematika yang pada tahun akademik 2011/2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika, khususnya mahasiswa

16

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Peneliti memotivasi siswa untuk mau mencari informasi yang dibutuhkan dan mau mempelajarinya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi lapangan. tahap pelaksanaan tindakan. Pada fase kedua mahasiswa diminta membentuk kelompok kecil. langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan. tahap analisis dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut. serta peningkatan kognitif berupa peningkatan kompetensi akibat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang mengalami remedial teaching. baik secara langsung atau lewat email (dilakukan oleh ketua sebagai pengajar). dan angket untuk mahasiswa. untuk memberikan materi dalam rangka remedial teaching. masing-masing kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. Tiap-tiap kelompok ditugaskan melakukan kegiatan diskusi menyelesaikan tugas baik secara langsung. sesuai dengan tugas yang telah dirancang oleh dosen. tahap perencanaan atau penyusunan prototype. sedangkan objek penelitian ini adalah peningkatan afektif yang berupa peningkatan kemauan mahasiswa untuk belajar mandiri dengan mencari informasi pengetahuan yang dibutuhkan. Data dan Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi keseluruhan kegiatan pelaksanaan mulai awal sampai akhir sebagai berikut: (1) Proses kegiatan penyusunan handout. Analisis dilakukan dengan cara : peneliti mengumpulkan hasil observasi dan angket kemudian dianalisis bagian mana dari bahan yang belum dikuasai mahasiswa serta ditandai siapa saja mahasiswa yang belum tuntas dan tanggapan siswa (persepsi siswa) terhadap proses yang dilakukan. Pada fase pertama mengidentifikasi mahasiswa yang memerlukan remidial teaching pada KKD-1 dengan cara mahasiswa diminta mempelajari materi yang sudah disiapkan. dan atau menggunakan millis. (2) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan sebelum tindakan dilakukan. (3) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi yang dibutuhkan setelah tindakan dilakukan. (2) melaksanakan penerapan blended learning pada perkuliahan remedial . Tahap analisis dan refleksi dilakukan pada masing-masing siklus yaitu pada siklus 1. Fokus pengamatan ditekankan pada peningkatan afektif dan kognitif mahasiswa. (2) mengembangkan media berbasis website atau learning management system (LMS). karena sebagian besar data yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang kemauan mahasiswa belajar mandiri mencari informasi. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. yang dilakukan adalah (1) menyusun RPP. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan sebagai berikut: (1) membuat silabus yang dilengkapi dengan RPP. menyusun handout. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/ tindakan hal-hal yang dilakukan adalah penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Tempat penelitian adalah di prodi pendidikan matematika JPMIPA FKIP UNS. mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya lewat millis apabila ada kesulitan. Langkah-langkah Operasional Kegiatan Pelaksanaan Penelitian Secara umum. Waktu penelitian selama 6 (delapan) bulan dimulai bulan Juni sampai dengan Nopember 2011. Pada tahap perencanaan peneliti menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan berupa lembar observasi dan angket. dilakukan oleh peneliti dengan cara mengamati jalannya pelaksanaan penerapan blended learning pada perkuliahan. Sedangkan pada fase ketiga memberi kesempatan mahasiswa untuk menanyakan hal yang belum jelas pada dosen. Sedangkan refleksi dilakukan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 17 . (4) Data tentang tingkat kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. perancangan tugas. Mahasiswa diharapkan mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan hasil diskusi. serta kemauan mahasiswa menyelesaikan tugas yang dirancang oleh dosen. dan menyusun rancangan tugas. (5) Tanggapan mahasiswa tentang penerapan blended learning pada perkuliahan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Tahap observasi dan evaluasi. Pada tahap persiapan.

bahan ajar. Indikator keberhasilan dari siklus 1 ini dapat dilihat adanya peningkatan kemauan belajar mandiri dan kemauan menyelesaikan tugas yang ditandai dengan kenaikan prosentase sebelum tindakan. Pada pernyataan no 1-25. Lembar angket dibuat untuk menggali kemandirian mahasiswa dalam perkuliahan baik pada perkuliahan biasa atau perkuliahan dengan pendekatan blended learning. Instrumen Penelitian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk melihat aktifitas mahasiswa didalam kelas. kuantor dengan beberapa variabel dan proposisi berkuantor. Sedangkan pernyataan yang berkaitan dengan model kuliah Blended Learning terdiri dari 15 pernyataan. pembuktian dengan induksi matematika. (C) Jika tidak setuju. Adapun materi angket difokuskan pada hal-hal berikut ini. tahap persiapan dan perencanaan pada siklus I diperbaiki untuk dilaksanakan pada siklus II. Sedangkan KKD-1 pertemuan ketiga berisi negasi dan nilai kebenaran . HASIL PENELITIAN 1. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan kedua berisi penarikan kesimpulan dan pembuktian seperti : penarikan sahih dan tak sahih. aksioma. serta pembuktian langsung dan tak langsung. Perangkat lain yang dikembangkan adalah email yang bisa digunakan mahasiswa untuk menanyakan materi atau tugas kepada dosen. Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran a. postulat. dan kontingensi. Pada setaiap akhir bahan ajar diberi lembar tugas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dengan cara: data hasil analisis dikoreksi dan didiskusikan bersama untuk perbaikan siklus selanjutnya. Berdasar hasil analisis dan refleksi pada siklus I. Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan ketiga berisi mengenal silogisma. dan digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang belum dikuasai oleh mahasiswa. Perangkat Pendukung Perangkat pendukung yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Blog untuk meng-upload bahan ajar dan tugas serta review hasil tugas maupun perkuliahan. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini. (B) Jika sering mengerjakan. hukum silogisma hipotetik dan berbagai macam modus. seperti: Pengertian hal-hal yang tak didefinisikan. mahasiswa akan memilih huruf: (A) Jika selalu mengerjakan. seperti: bentuk umum kuantor. teorema. b. seperti : tautologi. Perangkat Utama Perangkat Pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini adalah Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 18 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Bahan ajar untuk KKD-2 pertemuan pertama berisi konsep kuantifikasi. (C) Jika jarang mengerjakan. lemma. seperti argumen dan validitas. kontradiksi. adalah bahan ajar perkuliahan dasar-dasar matematika untuk KKD-1 dan KKD-2. Lembar observasi yang dibuat berisi indikator untuk mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Instrumen bantu yang dikembangkan dalam penelitian ini selain lembar observasi adalah angket untuk melihat bagaimana aktivitas mahasiswa dan tanggapan mahasiswa dengan kuliah menggunakan pendekatan Blended learning. Untuk KKD-1 pertemuan pertama bahan ajar pertemuan pertama berisi konsep aksiomatika dalam matematika. hubungan kuantor. Bahan ajar tersebut disajikan dalam bentuk power point. definisi. Pernyataan yang berkaitan dengan perkuliahan biasa terdiri dari 25 pernyataan. (B) Jika setuju . dan (D) Jika tidak pernah mengerjakan sebagaimana isi pernyataan tersebut. Pada pernyataan no 26-40. dan (D) jika sangat tidak setuju dengan isi pernyataan tersebut. Mahasiswa diminta memilih huruf (A) Jika sangat setuju. seperti : proposisi kata hubung logika dan pengembangan kata hubung. Perangkat penunjang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah mailing list yaitu suatu group dari email mahasiswa peserta kuliah dan dosen untuk digunakan mahasiswa agar bisa berdiskusi lewat dunia maya. serta lembar tugas yang akan diberikan mahasiswa. Bilamana kenaikannya belum mencapai angka 10 persen maka dikatakan belum ada peningkatan afektif dan kognitif dan perlu mengulang pada siklus II. Untuk KKD-1 pertemuan kedua berisi fungsi dan perangkai logika.

lembar tugas yang akan dibicarakan. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen. b) Sebelum perkuliahan dilakukan. Siklus I 1) Tahapan Perencanaan Berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa yang mengikuti kuliah dasar-dasar matematika pada tahun akademik 2011/2012. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. c) Pada awal perkuliahan Dosen menanyakan pada mahasiswa apakah mereka sudah mendownload materi KD01-01? d) Dosen menanyakan apakah mahasiswa ada yang mengalami kesulitan materi yang sudah didownload. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 19 . mahasiswa dapat mendownload KD01-01). tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. dengan sebelumnya dilakukan remidial teaching. Selain itu. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. dengan urutan sebagai berikut: a) Mempersiapkan RPP. Sedangkan sisanya yaitu 33 mahasiswa adalah mahasiswa pengulang. dan mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan tugas dan dikumpulkan melalui email. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. g) Dosen memberikan soal tambahan di kelas. dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen. materi perkuliahan. dengan rincian sebagai berikut : a. Untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. Hasil Penerapan Blended Learning Penelitian penerapan blended learning pada perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi studi kasus pada mahasiswa yang tahun akademik 2011-2012 mengikuti mata kuliah dasar-dasar matematika terdiri dari 2 siklus. untuk memperoleh data yang akurat. Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. e) Dosen menanyakan apakah materi yang susah dipahami. dengan ketentuan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 diberi kesempatan melakukan ujian kedua. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. kemudian menyuruh mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapatan di dalam kelas. h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan. Berdasarkan Hasil angket tentang kemandirian mahasiswa didapatkan bahwa kemandirian mahasiswa dalam belajar masih rendah. dimana dari 67 mahasiawa tersebut 34 mahasiswa adalah mahasiswa baru angkatan 2011. sudah didiskusikan dengan teman yang lain? f) Dosen membahas materi atau tugas yang sudah diupload dan materi atau tugas tersebut dianggap sulit oleh mahasiswa. k) Remidial teaching dilakukan dengan cara memberi tugas untuk mempelajari materi yang sudah diupload.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 2. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. l) Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen. j) Pada pertemuan ke 4 dilakukan uji kompetensi dengan materi KD01. semuanya berjumlah 67 mahasiswa. Berdasar hasil observasi tersebut dibuat perencanaan pembelajaran dengan metode Blended Learning. i) Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 peneliti juga melakukan wawancara tidak tersetruktur terhadap beberapa mahasiswa tentang materi yang dirasakan sulit oleh mahasiswa Berdasarkan hasil wawancara tidak tersruktur pada beberapa mahasiswa didapatkan tambahan informasi bahwa masalah perkuliahan KD01: (1) mahasiswa merasa masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. (3) Untuk bertanya pada dosen melalui email memang agak tidak enak. tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi) sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II. menjadi bentuk yang lain. Berdasarkan hasil UK KD01 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa adalah sebagai berikut ini. dan meningkatkan lulusan mahasiswa yang mengikuti remedial teaching. (4) Kalau tugas itu tidak dikumpulkan maka semangat mengerjakan tugas itu agak berkurang.4% pada pertemuan ke II. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi. (2) Terkadang Hot Spot di Kampus tidak berjalan dengan lancar.6%) Peserta Uji Remidi 54 44 (81. keberanian untuk mengeluarkan pendapat juga masih rendah. b. (1) Kemandirian mahasiswa masih rendah. meskipun demikian dengan penerapan model pembelajaran yang dirancang rata-rata kemandirian mahasiswa meningkat untuk tiap perkuliahan yaitu dari 25. (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok. Meskipun demikian perlu dilakukan perbaikan khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar yaitu mengubah pola tanya jawab dosen mahasiswa lewat email. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga belum menggembirakan hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini.5%) 10 (18. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 85.5%.6% pada pertemuan I. 1) Tahapan Perencanaan 20 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . kemudian ujian remedial yang lulus adalah 81.4% yang lulus UK01. Adapun hasil dari observasi dan wawancara dapat dirangkum sebagai berikut ini. dan peningkatan prosentase mahasiswa yang lulus tidak perlu remedial teaching. kemudian naik menjadi 34.1%. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 19. Selain itu perlu ditinjau ulang tentang perlu tidaknya membangkitkan mahasiswa untuk mau mengerjakan tugas.5%. kemampuan bertanya rendah.4%) 54 (80. Tabel 1 Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus I Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 13 (19. mencari literature lain. Adapun ukuran hasil tindakan pada siklus II ini dikaitkan dengan hasil tindakan pada siklus I apabila ada peningkatan kemandirian mahasiswa dalam belajar.5%) Lulus KD01 57 dari 67 Peserta 85. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 42.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil wawancara dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. sehingga masalah mendownload juga masalah tersendiri bagi mahaisiswa. Siklus II Pada siklus ini dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus I.

untuk kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan dan atau kelemahan yang telah terjadi.math.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. Berdasarkan hasil UK KD02 dapat dilihat kemandirian dan pencapaian kompetensi untuk 67 mahasiswa sudah meningkat sebagai berikut ini: (1) kemandirian mahasiswa prodi pendidikan matemaika untuk belajar sendiri dan atau kelompok.uns@gmailgroup. Pada siklus II ini pembelajaran dilakukan oleh ketua peneliti. keberanian untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai meningkat. Selain itu. sedangkan kolaborator melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kepada beberapa siswa secara acak sebelum pembelajaran berakhir. mahasiswa dapat mendownload KD01-01) dan diemailkan ke fun. dengan urutan sama seperti pada siklus I hanya diubah pada langkah b) yaitu cara menyampaikan materi tidak hanya lewat blog tetapi diemailkan ke mahasiswa dengan cara mahasiswa dibuatkan milling list. (h) Diakhir perkuliahan dosen memberitahukan tentang materi yang akan dibahas dan memberi tugas untuk dikumpulkan.com sehingga semua mahasiswa sudah terkirim. Peningkatan kualitas proses pembelajaran akan dilihat dengan menggunakan lembar observasi dengan mengacu pada proses pembelajaran blended learning. Hasil Pencapaian Kompetensi Siklus II Banyaknya Peserta Lulus Tidak Lulus Peserta Ujian 67 43 (64.uns@gmailgroup. mencari literature lain.com. Disamping itu pada langkah h). dan bila belum jelas bisa ditanyakan pada perkuliahan yang akan datang atau menanyakan kesulitan melalui email ke Dosen atau silahkan didiskusikan melalui milling list. Tugas boleh didiskusikan melalui group maillist yang sudah dibuat. Dalam proses mempelajari materi ulang dan mengerjakan tugas mahasiswa dapat menanyakan ke dosen dengan cara menulis email ke dosen atau didiskusikan dengan teman melalui fun. (i) i. masingmasing 3 x 50 menit sesuai dengan skenario pembelajaran pada RPP. 2) Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan. dibuat perencanaan pembelajaran dengan model blended learning. (2) Hasil pencapaian kompetensi juga mengalami peningkatan. Dosen memberitahukan bahawa materi yang sudah didownload dipelajari dan didiskusikan dengan teman. demikian juga untuk bisa terjadi interaksi dengan sesama teman dan tidak hanya bertanya pada dosen maka dibuatkan forum diskusi lewat miilling list agar sesama mahasiswa dapat berdiskusi lewat internet. tim peneliti memantau proses dan dampak dari langkah-langkah perbaikan. hal ini dapat dilihat dari prosentase mahasiswa yang lulus ujian KD01 sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini. dan (l). i) .edu. kemampuan bertanya. sekurang-kurangnya 2 hari sebelumnya Dosen mengupload materi perkuliahan di blok dosen (untuk mendapatkan materi kuliah tatap muka 1 pada KD 1. peneliti juga melakukan pengambilan data melalui angket tentang pembelajaran dengan blended learning pada perkuliahan dasar-dasar matematika.math. untuk memperoleh data yang akurat. dan l) juga diubah bagaimana tugas itu harus dibuat oleh mahasiswa.1 % 4) Tahap analisis dan refleksi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahapan observasi dan hasil angket yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh tim peneliti. 3) Tahap Observasi Pada tahapan observasi dan interpretasi. tim peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat yaitu satu siklus ada 3 tatap muka. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan pada tahap mana yang perlu diperbaiki Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 21 .edu. sebagai berikut ini: (b) Sebelum perkuliahan dilakukan. Materi akan diupload selambat-lambatnya 2 hari sebelum perkuliahan.2%) 24 (35.8%) Peserta Uji Remidi 24 18 (75%) 6 (25%) Lulus KD01 61 dari 67 Peserta 91. Tabel 2.

kemudian ujian remedial yang lulus adalah 75%. P. Open Source Software for Blended Learning. E dan Gerbic. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model blended learning dapat digunakan untuk melaksanakan remedial teaching untuk perkuliahan yang menerapkan kurikulum berbasisis kompetensi. Benefits of Blended E-learning. P.1 -22. Adapun peningkatan prosentase kemandirian karena penerapan model pembelajaran yang dirancang ratarata yaitu dari 41. Blended Learning for Compliance Training Succes. Kapp. 2. khususnya tentang bagaimana meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. Volume 4 p. T.3% pada pertemuan ke II. K. Jakarta: Depdiknas. Proceeding of International Conference on Open Source for Higher Education. media berupa blog. Nayak. Depdiknas. email. Disampaikan pada Workshop on e-Learning in Higher Education. kemudian naik menjadi 46. DAFTAR PUSTAKA Arai. PENUTUP Berdasarkan hasil maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut ini : 1. Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika UNS 22 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Meskipun demikian masih perlu dilakukan perbaikan terus menerus diperkuliahan pada KD03 dan KD04. S. Proceeding of Ascilite Melbourne. Adapun hasil dari observasi dapat dirangkum sebagai berikut ini. dan setelah mahasiswa melakukan ujian remidi yang sebelumnya diberi kegiatan remidial teaching peserta ujian yang lulus mencapai 91. Silabus Dasar-dasar matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 atau disempurnakan dan tahap mana yang telah memenuhi target. 2007.2010. Proceeding of Fourth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society. 2007. Sebelas Maret University. C. Perangkat pembelajaran yang dikembangakan dalam penelitian ini berupa silabus. 2002.7 Rahayu.1%. Jakarta: Depdiknas.9% yang lulus UK02. 3. 2010. bahan ajar. Hrastinski. (1) Kemandirian mahasiswa sudah mengalami peningkatan.H. 2002. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihinya. KM dan McKeague. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran blended learning dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar dan bekerja sama dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kognitif pada mata kuliah dasar-dasar matematika. 2008. Bloomburg. RPP. Eduneering. Dari dua siklus penerapan perkuliahan blended learning telah mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa dan kemampuan kognitif mahasiswa. 2002. 51 – 55. Asynchronous and Synchronous E-Learning: A study of asynchronous and synchronous e-learning methods discovered that each supports different purposes. Khan. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Advantages and Disadvantages of eLearning Management System. 2008.8% pada pertemuan I. p:22. dan pada pertemuan ke 3 menjadi 48. MK dan Suesawaluk. p: 964 – 968 Depdiknas. _________ 2009. Educause Quarterly. B. Bina Widya Vol 18 p: 16-24 Stacey. Succes Factor for Blended Learning. Pemanfaatan E-Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. dan mailing list . King Fahd University of Petroleum and Minerals.2%. Sedangkan dari pencapaian kompetensi penerapan model pembelajaran blended learning telah mampu meningkatkan pencapaian kompetensi mahasiswa dari 64. lembar tugas. Kurikulum Berbasis Kompetensi.

mampu memperbaiki kesalahan tersebut. dan menerapkan ide tersebut dalam pemecahan masalah matematika. dan rutin. Kompetensi tersebut dikembangkan dalam diri siswa. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. PGRI I Sonosewu Yogyakarta 2)Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam membangun ide. dan kompetitif (BSNP. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya untuk menganalisis proses berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. dan produktif tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global. mengembangkan kemampuan berpikir kritis. kritis dan kreatif. agar siswa memiliki kemampuan memperoleh. kemampuan berpikir kritis. Artinya. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. analitis. yakin dengan jawaban yang diberikan. tidak pasti. Selain itu. pemecahan masalah matematika PENDAHULUAN Mata pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis. mensintesis ide. karena tingkat kompleksitas dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi (I Gusti Putu Sudiarta. dan produktif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kemampuan berpikir tingkat rendah (low order thinking) atau kemampuan dasar (basic skill). tidak melakukan kesalahan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA SEKOLAH DASAR (SD) BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Abdul Aziz Saefudin1. Adapun kemampuan berpikir tingkat tinggi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 23 . Dalam tahap merencanakan ide. Dalam tahap mensintesis ide. dan kemampuan bekerja sama. Kemampuan dasar dalam pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. Imam Sujadi2 1) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UPY Jl. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. dan jika melakukan kesalahan. kreatif. serta tidak menemui kesulitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi: dalam tahap membangun ide. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. Kata Kunci: proses berpikir kreatif. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas V SD berkemampuan matematika tinggi (skor ≥75) yang banyaknya minimal 1 orang subjek. merencanakan penerapan ide. Dalam pembelajaran matematika. yaitu berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik. matematika mempunyai peran yang sangat sentral dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama sehingga mereka siap menghadapi segala perubahan dalam segala bidang kehidupan. 2006: 416). Dalam tahap menerapkan ide. konsep matematika. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. mekanistik. mengelola. 2007). sistematis. kreatif.

dan kemudian secara kreatif (seringkali tidak dengan cara berpikir tahap demi tahap) mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. dan holistik (R. Dalam pola berpikir lateral. Alhasil. dan rasional. 2007). fleksibilitas. yaitu preparasi. bahwa berpikir kreatif sebagai kombinasi dari berpikir logis dan berpikir divergen yang berdasarkan pada intuisi dalam kesadaran. intuitif. fungsi otak yang digunakan menggunakan otak belahan kanan yang bersifat acak. Rosnawati. berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan baru (Ruggiero dan Evans dalam Tatag Yuli Eko Siswono. 1986: 18) mengemukakan empat tahap berpikir kreatif. Oleh karena itu. Wallas (dalam Oemar Hamalik. kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah matematika terbuka. Beberapa jawaban dikatakan beragam jika jawaban-jawaban yang diberikan siswa tampak berlainan dan mengikuti pola tertentu. Sejalan dengan pendapat Silver tersebut. inkubasi. dan elaborasi (penyempurnaan). Kefasihan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan memberi jawaban yang beragam dan benar. fleksibilitas. tidak hanya mencari jawaban yang benar dalam pemecahan masalah matematika. pembelajaran tidak hanya menekankan pada penyelesaian masalah tertutup atau mempunyai solusi tunggal. tetapi juga cara mengonstruksi segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya (I Gusti Putu Sudiarta. Sementara pola berpikir lateral menggunakan berbagai fakta yang ada. untuk mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. Maksudnya. 2009: 146. divergen. 1997). maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian. originalitas. Beberapa jawaban tersebut dikatakan berbeda jika jawaban tersebut tampak berlainan dan tidak mengikuti pola tertentu (Tatag Yuli Eko Siswono. tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa sekolah 24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Fleksibilitas ditunjukkan dengan kemampuan siswa memecahkan/menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. Campbell. yaitu menuntut aktivitas kritis dan kreatif dalam pemecahan masalah matematika dari beragam perspektif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 bersifat divergen. tetapi dapat menggunakan pendekatan masalah terbuka atau open-ended approach (Becker dan Shimada dalam Hashimoto. 2011). Proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika mempunyai beberapa tahapan. Barak dan Doppelt (2000) mengemukakan bahwa berpikir kreatif merupakan sintesis antara berpikir vertikal dan berpikir lateral. mensintesis ide-ide. Selain itu. 2007). dan kebaruan. 2008: 445. dan verifikasi. merencanakan penerapan ide. Sementara Krulik dan Rudnick (1995: 3) menyatakan bahwa proses berpikir kreatif meliputi tahapan-tahapan membangun suatu ide. sekuensial. Kriteria kreativitas pemecahan masalah menurut Silver (1997) diindikasikan dengan kefasihan. Secara khusus. 2007). Pola berpikir vertikal terkait dengan bernalar dalam matematika sehingga lebih memfungsikan otak kiri yang bersifat logis. dan akhirnya memilih alternatif yang paling mungkin menurut logika normal. Solso. Oleh karena itu. dalam pemecahan masalah matematika. tidak mengherankan jika banyak penemuan baru dan terobosan ilmu pengetahuan dari hasil pola berpikir lateral. kemampuan berpikir kreatif menurut Lee (2005) melibatkan kefasihan. sedangkan elaborasi merupakan bagian dari proses berpikir di mana ide/solusi original yang muncul dengan cepat harus direspon dengan cepat sehingga ide/solusi tersebut tidak menjadi lapuk. Produk dari proses berpikir kreatif adalah berbagai kreativitas. Berpikir vertikal menurut Edward de Bono dalam Barak dan Doppelt (2000) merupakan pola berpikir yang dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. menentukan hasil akhir apa yang diinginkan. linier. Sementara kebaruan dalam pemecahan masalah didasarkan pada kemampuan siswa menjawab/menyelesaikan masalah dengan beberapa jawaban yang berbeda-beda tetapi bernilai benar atau satu jawaban yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya. tidak teratur. iluminasi. Selanjutnya Pehkonen (1997) menyatakan. Originalitas menunjukkan strategi pemecahan masalah yang baru dan berbeda dengan strategi yang biasa ia atau orang lain gunakan. dan menerapkan ide tersebut untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika.

dan Spradley dalam Sugiyono. Dalam menyelesaikan soal pertama. konsep KPK. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pewancara (peneliti sendiri). dan konsep grafik. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui. merencanakan penerapan ide. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 25 . subjek merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Dalam menyelesaikan soal kedua. hasil penelitian ini dapat memberi manfaat bagi guru untuk menyusun model. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. subjek mensintesis ide dengan cara mencari KPK dua bilangan yang diketahui dan menggunakan cara grafik. Subjek melakukan tahap menerapkan ide dengan cara penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. 2008: 92-99). Selain itu. Instrumen bantu berupa instrumen bantu pertama yaitu tes tertulis penentuan kemampuan matematika siswa. subjek tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Manfaat hasil penelitian adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap dunia pendidikan. Subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar. mensintesis ide. dan menerapkan ide dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. setelah sebelumnya menggunakan metode tes. dan cara biasa. dan instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara. Manfaat penelitian ini yang lain adalah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika baik bagi siswa maupun guru. khususnya dalam bidang psikologi kognitif berupa deskripsi proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika bagi siswa berkemampuan matematika tinggi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dasar (SD) yang meliputi tahap membangun ide. Huberman. pendekatan. subjek membangun ide penyelesaian dari bilanganbilangan yang diketahui pada soal dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Demangan Baru Sleman DIY yang pernah memperoleh materi pokok bilangan bulat dan dimungkinkan mampu mengomunikasikan pemikirannya secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga eksplorasi tentang proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan. Selain itu. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. subjek merencanakan ide dengan produktif dan lancar serta tidak menemui kesulitan. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. Subjek menerapkan ide penyelesaian yang fasih dan fleksibel. Pertimbangannya bersifat konseptual. Jika terdapat kesalahan penyelesaian. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu instrumen utama dan instrumen bantu. Pertimbangan ide digunakan bersifat konseptual. Ide penyelesaian tersebut berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengungkap proses berpikir kreatif siswa sekolah dasar dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. sajian data dan penarikan kesimpulan sekaligus verifikasinya (Miles. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan peneliti sebagai instrumen utama. Subjek mensintesis ide dengan cara menjumlahkan dua bilangan melalui kombinasi atau salah satu cara dari sifat pengelompokan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika materi pokok bilangan bulat. cara bersusun. Selain itu. tetapi tidak terdapat unsur kebaruan. Wawancara dilakukan untuk menggali proses berpikir subjek dalam pemecahan masalah materi pokok bilangan bulat. instrumen bantu kedua yaitu tes tertulis pemecahan masalah bilangan bulat. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan beragam cara. Selanjutnya dalam tahap merencanakan penerapan ide. Analisis data penelitian kualitatif menggunakan tiga komponen utama yaitu reduksi data. dan metode pembelajaran yang tepat. subjek mampu memperbaikinya dengan cepat dan tepat. Apabila terdapat kesalahan penyelesaian soal. Pada tahap mensintesis ide. strategi.

Ide bukan hanya dari apa yang diketahui dalam soal. Oleh karena itu. subjek berkemampuan matematika tinggi cenderung memunculkan ide dengan produktif dan lancar. menentukan KPK. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian. Subjek juga merasa tertantang untuk menyelesaikan soal dengan banyak cara. subjek berkemampuan matematika tinggi juga tidak menemui kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan soal. subjek berkemampuan matematika tinggi berusaha menyelesaikan soal dengan cara penyelesaian atau jawaban yang beragam sebanyak-banyaknya. Pertimbangannya bersifat konseptual dan intuitif. dapat disimpulkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tinggi dalam pemecahan masalah matematika adalah sebagai berikut: dalam tahap membangun ide. operasi bilangan). Subjek mensintesis ide dengan cara pemfaktoran dari bilangan yang diketahui dan memperkirakan berat suatu benda. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memperbaiki kesalahan tersebut dengan cepat dan tepat. Pada subjek berkemampuan matematika tinggi. konsep matematika. misalnya dari pengalaman belajar di lingkungan sekitarnya. Subjek ini juga tidak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. Selain itu. dan cara biasa. Subjek berkemampuan matematika tinggi merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. Keyakinan atas kebenaran jawaban yang diberikan juga memberikan karakteristik yang khas pada subjek berkemampuan matematika tinggi. subjek merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. konsep matematika (operasi penjumlahan dan pengurangan melalui sifat pengelompokan. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). tetapi kelompok kreatif juga menggunakan ide-ide yang jarang ditemui pada siswa kebanyakan. siswa membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. konsep matematika (pemfaktoran. pembagian) dan kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu (pengetahuan dari pengalaman sehari-hari). konteks pertanyaan soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dalam menyelesaikan soal ketiga. siswa mensintesis ide dengan mengkaitkan konsep matematika 26 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Selain itu. Cara-cara penyelesaian tersebut digunakan untuk mensintesis ide-ide yang telah dimunculkan pada langkah membangun ide. sedangkan intuitif maksudnya berdasarkan perasaan siswa. Subjek selalu berusaha untuk memeriksa kembali jawaban yang telah diperoleh dengan saksama. subjek berkemampuan matematika tinggi membangun ide penyelesaian dari bilangan-bilangan yang diketahui pada soal. Kalaupun melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal. Oleh karena itu. Dalam menerapkan ide. Pada tahap penerapan ide. Ide-ide tersebut sangat beragam. pertimbangan membangun ide tersebut cenderung bersifat konseptual dan intuitif. dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dengan pertimbangan yang cenderung bersifat konseptual dan intuitif. cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal umumnya dapat diterapkan untuk menghasilkan suatu solusi yang kreatif. Subjek juga nampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Jika siswa mengalami kesulitan maka mereka dapat segera mengatasinya. penjumlahan dan pembagian bilangan. Subjek merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. akan tetapi juga berasal dari pengalaman yang pernah diamati atau dipelajari di lingkungan sekitar siswa. Pada tahap mensintesis ide. subjek mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara baru secara fasih dan fleksibel. konteks pertanyaan soal. Subjek berkemampuan matematika tinggi beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. Ide-Ide penyelesaian tersebut tidak hanya berasal dari konsep yang dipelajari di dalam kelas. cara bersusun. dan kemampuan memperkirakan (estimasi). subjek membangun ide penyelesaian dari konsep pemfaktoran. Konseptual maksudnya berdasarkan konsep yang pernah dipelajari oleh siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaji bahwa pada tahap membangun ide. subjek berkemampuan matematika tinggi mampu menyelesaikan soal dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. meski terkadang kurang tertantang pada soal-soal yang dianggap mudah diselesaikan. subjek berkemampuan matematika tinggi menyelesaikan soal dengan mengkaitkan bilangan-bilangan yang diketahui. Pada tahap merencanakan penerapan ide. Akibatnya. Ide penyelesaian diperoleh subjek dari pengalaman belajar di dalam kelas dan pengalamannya belajar di lingkungan sekitar. subjek ini merasa yakin dengan jawaban yang diberikan. Dalam tahap mensintesis ide.

hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk kajian dalam pembelajaran dan pengembangan penelitian lanjutan yang sama temanya atau berbeda temanya. http://www. diunduh pada 24 Januari 2011. Berpikir Lateral dalam Pembelajaran Matematika. Oemar Hamalik. Stephen. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA: Menuju Profesionalitas Guru dan Tenaga Pendidik. 14 Mei 2011. dan Maclin. Silver. Jakarta: Kemendiknas.. Sugiyono. Hashimoto. 3. Jesse A.upi. Pehkonen. No. guru hendaknya menekankan kemampuan berpikir kreatif siswa. BSNP. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS).com pada tanggal 22 Desember 2009. diunduh pada 24 Juni 2010. M. Psikologi Kognitif. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosnawati. siswa merencanakan penerapan ide dengan produktif dan lancar. 1896. siswa menerapkan ide dengan penyelesaian yang baru secara fasih dan fleksibel. 1997. serta tidak menemui kesulitan. http://math.de/fiz/publications/zdm. ISSN 1443-1475. beranggapan bahwa mencari jawaban yang beragam lebih mudah daripada mencari cara penyelesaian yang beragam. 1997. Volume 29. No.. Kimberly.karlsruhe. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. 2009. Erkki. Juni 1997.net. dan Rudnick.ejb.fiz. Dalam tahap menerapkan ide. Krulik. 1997. didownload 24 Juni 2010. DAFTAR PUSTAKA Barak. dalam International Education Journal. Tatag Yuli Eko Siswono.karlsruhe. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Fakultas MIPA. dan peneliti.sps. Mengembangkan Kreativitas. yakin dengan jawaban yang diberikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo. R. Using Portofolio to Enhance Creative Thinking. 2007. _____________________.karlsruhe.lib. Maclin. Diunduh pada 24 Juni 2010. Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen.vt. Jakarta: Erlangga. http:/scholar. The Methods of Fostering Creativity through Mathematical Problem Solving. 2008. (2) dalam mengajar matematika. Universitas Negeri Yogyakarta. Volume 29. Solso. Number 2. 2011. Electronic Edition ISSN 1615-679X. http://iej. 2006. dan jika melakukan kesalahan. disadur oleh A. 3.de/fiz/publication/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3.edu/wpcontent/uploads/2009/10/Thinking-Classroom-dalam-Pembelajaran-Matematika-diSekolah. guru dapat mengembangkan proses berpikir kreatif siswa dengan menggunakan strategi pemecahan masalah matematika. (3) kepada para guru. dosen. Otto H. Dalam tahap merencanakan ide. diunduh pada 24 Juni 2010. mampu memperbaiki kesalahan tersebut. Edisi Kedelapan. Yoshihiko. Kyung-Hwa. merasa tertantang untuk menemukan cara penyelesaian dan jawaban yang beragam. dan Kreatif. http://www. The State of Art in Mathematical Creativity. Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. terj. Kritis. 2004.fiz. Program Studi Pendidikan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 27 . 1995. I Gusti Putu Sudiarta. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Thinking in Problem Posing. Buletin Pendidikan Matematika. Berdasarkan kesimpulan. Lee.de/fiz/publications/zdm. Robert L. tidak melakukan kesalahan.pdf. dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian. Massachusetts: Allyn & Bacon. http://www. Edward A.wordpress. Mangunhardja. 2005. diunduh pada 24 Juni 2010. Yogyakarta: Pustaka Kaum Muda.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. M. Pendidikan dan Penerapan MIPA. Volume XXVI. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Artikel diunduh di http://suaraguru. Yaron. 2000. dapat disarankan sebagai berikut: (1) dalam mengajar matematika. Campbell. Juni 1997. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. 2008. Bandung: Alfabeta.fiz. The Relationship between Creative Thinking Ability and Creative Personality of Preschoolers.edu/ejournals. 2008. The Journal of Tecnology Studies Summer-Fall 2000. Moses & Doppelt. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan SD/MI.

_____________________. Ambon. Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Identifikasi Tahap Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan dan Mengajukan Masalah Matematika.wordpress.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Matematika FKIP Universitas Pattimura. 2. diunduh pada 2 Juni 2010. ISSN 1412-2278. _____________________.com pada 23 Desember 2009. 2007. Oktober 2004. Makalah disampaikan pada ‘Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang Memanusiakan Manusia’ di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 28-30 Agustus 2007. No. Ringkasan disertasi diunduh dari http://suaraguru. 2007. 28 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Volume 6. Pembelajaran Matematika Humanistik yang Mengembangkan Kreativitas Siswa.

Kognisi formal juga perlu bagi matematikawan untuk berkomunikasi dengan sesama matematikawan dalam suatu asosiasi matematika. Kognisi formal merujuk kepada kognisi yang dikontrol oleh logika matematika dan bukti melalui induksi matematika atau deduksi (Fischbein. Subyek penelitian sebanyak 2 siswa terdiri dari 1 siswa lakilaki dan 1 siswa perempuan. misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan masalah yang diberikan atau bila telah dapat memulai menjawab. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. 1966). Kata Kunci : Karakteristik intuisi. Metode pengambilan data adalah wawancara berbasis tugas. Dengan kondisi demikian. gender PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. antisipatori. meskipun sebenarnya telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. persepsi Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 29 . Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. masalah matematika. mengejar ketepatan dan cara-cara formal hanyalah hasil akhir dari aktivitas matematika. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. tanpa memberikan kesempatan banyak pada siswa untuk berusaha menemukan sendiri penyelesaiannya. dalam membuat rencana penyelesaian. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Walaupun proses berpikir analitik dan logik memainkan peranan penting dalam merepresentasikan struktur logika pengetahuan matematika. dalam membuat rencana penyelesaian. Sehingga dengan cara demikian siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah. Diantaranya adalah dengan selalu memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan suatu masalah matematika. afirmatori. berbagai dosen atau pendidik matematika mempunyai cara yang berbeda-beda. Karena itu diasumsikan bahwa aktivitas mental seseorang terdiri atas kognisi formal (formal cognition) dan kognisi intuitif (intuitive cognition) dari pengetahuan matematika. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Serupa dengan itu. tidak menggunakan intuisi. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. gender. maka siswa seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. verifikasi atau penyangkalan tanpa pembuktian (Kossak. Dalam mengajarakan bagaimana memecahkan masalah. namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. Kognisi formal menyediakan cara ketat memahami pengetahuan matematika. pemaparan data.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KARAKTERISTIK INTUISI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH METEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya ditinjau dari perbedaan gender. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. 1994). Akan tetapi. (2) Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data. penafsiran data dan penarikan kesimpulan. ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi. Akibatnya siswa hanya mampu memecahkan masalah matematika bila telah dibeRikn caranya oleh Dosen. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Proses membangun pengetahuan matematika tanpa disadari menghasilkan pengenalan tentang kepastian atau ketakpastian.

Lima karakteristik intuisi yang dikemukakan Fischbein di atas merupakan karakteristik afirmatori yaitu karakteristik intuisi yang berupa pernyataan. (2) kepastian intrinsik (intrinsic certainty). (5) keseluruhan (globality) adalah intuisi yang berlawa-nan dengan kognisi yang diperoleh secara logika. Konsep intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang self evident. Siswa mungkin sangat yakin akan kemampuan logika dan penalaran dalam pembuktian matematik yang ketat. tidak jelas apakah dapat dikembangkan kreativitas matematika melalui pengembangan kognisi formal. Akan tetapi hanya sedikit siswa yang berhasil dengan baik dalam aktivitas menggunakan pengetahuan formal mereka dan mungkin sekali menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah matematika. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya. (4) Extrapolativeness. Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi. dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling dari keyakinan. Tetapi kebenaran pernyataan jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus tanpa harus membuktikannya baik secara formal ataupun secara empiris. Contoh. yaitu intuisi yang kaitannya dengan kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris. (3) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. interpretasi. self evident. tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. Sebagai contoh: jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika. solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung. Karakteristik dari intuisi antisipatori adalah sebagai berikut: (1) intuisi tersebut muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. atau intuisi (intuition).st-andrews. yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat nampak dari suatu kognisi intuitif. kebenaran pernyataan bahwa jumlah sudut-sudut pada suatu segitiga adalah 1800 diyakini karena telah membuktikannya. meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan.yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indra dan imajinasi. (3) pemaksaan (coerciveness). meniru seperti prosedur pengetahuan ekperimental (3) intuisi dari bilangan murni yang dapat mencapai berpikir matematika secara nyata. Fischbein juga mengemukkan karakteristik intuisi lain disebut karakteristik intuisi antisipatori. Pernyataan tentang garis lurus di atas adalah subjektif.mcs. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris).uk /Extras/ Poincare _Intuition. terasa seperti sudah suatu ketentuan. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat non intuitif. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik . Selain karakteristik afirmatori. self evident cognitions).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 terhadap pengetahuan formal sangat perlu bagi siswa untuk maju ke tingkat pengetahuan matematika yang lebih tinggi. berurutan dan secara analitis. Karena itu diduga bahwa ada aktivitas mental berbeda dengan kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematik.html) membeRikn tiga jenis intuisi. dapat diterima langsung. yaitu intuisi feeling tertentu dari kepastian intrinsik. yaitu karakteristik intuisi yang berkaitan untuk memecahkan masalah. 30 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . holistik. (2) intuisi tersebut menyajikan karakter global. Karakteristik intuisi tersebut adalah (1) kognisi langsung. kognisi self evident (direct.ac. yaitu intuisi yang menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual dan pada seleksinya dari hipotesis dan penyelesaian. seperti membuat dugaan atau klaim pengetahuan baru. Lebih jauh. Poincare (dalam http://www-history. representasi. yaitu intuisi merupakan kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut . Hal tersebut disebut kognisi intuitif (intuitive cognition). (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. Pengembangan kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan formal tidak sama dengan kreativitas bermatematika yang sangat diperlukan dalam “doing” mathematics. Akan tetapi kognisi formal tidak menjelaskan setiap langkah berpikir dalam aktivitas matematika. global dan kecukupan secara instrinsik. bersifat memaksa dan ekstrapolatif. Lebih lanjut.

menunjukkan bahwa gender merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam proses konseptualisasi. 3) Intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara real.. yaitu: 1) Intuisi yang didasarkan oleh indera dan imajinasi dengan ciri-ciri antara lain dengan mengamati. dalam memahami fakta.. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor gender mempengaruhi intuisi siswa dalam mecahkan masalah matematika. 2) Intuisi antisipatori dengan ciri-ciri antara lain. self evident. Adanya perbedaan hasil temuan dari para peneliti mengenai peran gender dalam belajar matematika menunjukkan masih terbukanya ranah penelitian untuk mengungkap peran gender khususnya dalam mempelajari topik-topik tertentu dalam matematika. dan intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya. dengan ciri-ciri menggunakan ketentuan pada matematika. Hyde. yaitu: 1) Intuisi afirmatori dengan ciri-ciri sebagai berikut: langsung. Di samping itu banyak fakta bahwa beberapa perempuan sukses dalam karir matematikanya. 1998). “Gender. proses pemecahan masalah matematika. Bagian kedua adalah jenis intuisi yang disampaikan oleh Poincare. Dengan demikian intuisi berperan dalam proses konseptualisasi. Keitel (1998). sedangkan jenis intuisi yang disampaikan oleh Pincare berupa sesuatu yang mendasari adanya intuisi. Polya (1973) menyusun prosedur memecahkan masalah dalam empat langkah. dengan coba-coba atau contoh-contoh. Dari perbedaan psikologis dan biologis. 1986. 1980. Perbedaan dari sisi psikologis dan biologis tersebut secara teoritis dapat mempengaruhi proses konseptualisasi dalam belajar matematika (Keitel. Di lain pihak. M. konsep dan prinsip diperlukan intuisi. penggiringan. (4) verifying a solution. yaitu : (1) analyzing and understanding problem. 2001). tampak bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan berbeda. Halpern.”. Reis & Park. maka intuisi berperan dalam pemerolehan pengetahuan matematika. Pinto (1998). Berdasarkan hal-hal tersebut dipandang penting untuk mengetahui penggunaan intuisi untuk menyelesaian masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. dan Susento (2006). and cultural dimensions are very powerfully interacting in conceptualizations of mathematics education. tentunya berkaitan erat dengan tahap-tahap pemecahan masalah yang dilakukan. Keitel (1998) menyatakan. pemerkiraan atau global. Bagian pertama adalah jenis intuisi berdasarkan jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein. memberikan gambaran bahwa jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein berupa bentuk intuisi. Di sisi lain. perbedaan gender dalam mempelajari matematika dan sains dalam riset pendidikan di awal 1980-an menemukan bukti kuat dominasi laki-laki dalam matematika dan sains (Benbow & Stanley. (3) explorating solutions to difficult problems.. Sebagai contoh. memanipulasi benda. social.Adanya pengaruh faktor gender dalam proses konseptualisasi menunjukkan bahwa gender berpengaruh dalam memahami konsep-konsep matematika dan dalam memahami konsep-konsep matematika membutuhkan peran intuisi. Menurut Fischbein (1999). Setelah itu beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda. Ditemukan bahwa perbedaan gender tidak berperan dalam kesuksesan belajar. dan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa berpengaruh pada pemecahan masalah matematika. membayangkan. Namun demikian tidak serta merta siswa yang menguasai langkah-langkah penyelesaian Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 31 . b. yang berupa intuisi afirmatori. (2) designing and planning a solution. 2) Intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi. 2003). akan muncul ketika berusaha keras untuk memecahkan masalah yang berupa ide global.W. mengukur. pasti secara intrinsik. apakah laki-laki atau perempuan lebih baik dalam belajar matematika (Hightower. seperti prosedur pada ilmu pengetahuan eksperimental dengan ciri-ciri antara lain menggunakan pola pikir induktif. a.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dari uraian tentang jenis-jenis intuisi yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare di atas. Oleh karena itu pada penelitian ini jenis-jenis intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika meliputi dua bagian. Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa faktor gender mempengaruhi cara memperoleh pengetahuan matematika. Oleh karena proses konseptualisasi berpengaruh dalam pemerolehan pengetahuan matematika.

maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah. (4) melakukan paparan data hasil wawancara-2. Selanjutnya siswa ke-2 memotong-motong kertas menjadi 10 potong dan memberikan selembar kertas dari 10 potong kepada siswa ke-3. (2) melakukan paparan data hasil wawancara-1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah tersebut akan selalu mampu memecahkan masalah matematika. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut hanyalah suatu sarana yang membantu untuk memudahkan dalam memecahkan masalah. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda. peneliti berada di sekolah dan mengamati kegiatan subjek dalam waktu yang cukup. yaitu dengan triangulasi waktu. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara berbasis tugas. Dalam penelitian ini untuk memenuhi kredibilitas data dilakukan dengan wawancara secara tekun. (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah2 (setara dengan lembar tugas pemecahan masalah-1) dengan subjek penelitian yang sama dan dalam waktu yang berbeda. Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan karakteristik intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan matematika. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda. maka subjek penelitian ini adalah S1LK (siswa laki-laki). Berkaitan dengan uraian di atas. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. dan S2PR (siswa perempuan). (5) melakukan pembandingan hasil paparan data wawancara pertama dan kedua. yaitu peneliti mewawancarai subjek dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Dengan tugas pemecahan masalahh sebagai berikut: Pada suatu kelas diadakan permainan memotong-motong kertas dengan gunting. namun diambil berdasarkan pertimbangan guru matematikanya. Subjek dipilih tidak secara acak. Selain itu. METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sragen. Permainan memotong-motong kertas ini dilakukan sampai jumlah potongan kertas seluruhnya menjadi 352 potongan. Menurut Sugiono (2011) waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Langkah-langkah triangulasi waktu pada penelitian ini sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada subjek penelitian dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah-1. Walaupun siswa menguasai langkah-langkah penyelesaian masalah. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara. maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Tentukan banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan memotong-motong kertas tersebut! Data dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan subyek penelitian. terkadang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam pemecahan masalah. Permainan tersebut dimulai dengan salah seorang siswa (siswa ke-1) melakukan kegiatan memotong-motong selembar kertas menjadi 10 potong. kemudian siswa ke-1tersebut memberikan satu potong dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-2. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dikaji karakteristik intuisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas. kemudian siswa ke-3 juga memotong-motongnya menjadi 10 potongan dan memberikan selembar kertas dari 10 potongan tersebut kepada siswa ke-4. (6) bila pembandingan 32 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .

Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global. sehingga subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah mencermati teks soal. Selain itu dari jawaban subjek menunjukkan bahwa subjek akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata yang tertulis dalam teks soal. b. c. b. Di samping itu. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S1LK dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. subjek S1LK mencoba akan menggunakan rumus. d. Ungkapan dari subjek memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan rumus barisan. misalnya dengan membuat ilustrasi atau gambar. Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah dalam membuat rencana penyelesaian. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Hasil analisis wawancara akan digunakan untuk mengetahui karakteristik setiap tingkat berpikir kreatif siswa dan proses berpikirnya. Karakteritik Intuisi Subjek Laki-laki (S1LK) a.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama maka dikatakan data tersebut valid. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. dengan membuat gambar Dengan demikian subjek S1LK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal tanpa melakukan upaya tertentu untuk membantu memperjelas pemahaman masalah. maka intuisinya berupa pemikiran matematika secara real. Hal ini terlihat dari jawaban S1LK yang langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tanpa melakukan misalnya. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memahami masalah adalah subjek S1LK tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 33 . Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. Selanjutnya. Karena munculnya pemikiran pada subjek S1LK menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan kognisi segera. maka dikatakan bahwa subjek S1LK menggunakan intuisi antisipatori. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua hasil wawancara yang sama. sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan lembar tugas pemecahan masalah yang setara.

Subjek hanya mendasarkan dari teks soal. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian masalah Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S1LK langsung menulis rumusnya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 c. Subjek tidak terpancing dengan pertanyaan peneliti untuk melakukan cara lain. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana penyelesaian adalah langsung menggunakan rumus dan subjek S1LK sudah yakin akan rumus yang digunakan. Intuisi yang digunakan untuk memahami masalah Data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memahami masalah adalah dalam memahami masalah adalah tidak secara langsung dari teks. Hal tersebut dapat diperhatikan dari hasil wawancara bahwa subjek S1LK langsung mengerjakan berdasarkan rumus barisan. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dilakukan dengan langsung mengulangi cara menjawab. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian.. tidak ada intuisi yang digunakan. yaitu Un = a + (n-1)b. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. yaitu dengan membuat ilustrasi gambar. Subjek S1LK tidak dapat menjelaskan secara analitik. Dengan demikian subjek S2PR melakukan upaya tertentu untuk memperjelas dalam memahami soal. Hasil jawaban subjek S1LK menunjukkan langkah dan hasil yang benar. Subjek sudah cukup merasa yakin bahwa apa yang dilakukan sudah benar. Selain itu subjek tidak melakukan upaya lain. subjek S1LK langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. namun subjek merasa bahwa gambar diperlukan dalam memperjelas pemahaman akan soal. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut bukan merupakan kognisi segera. Intuisi yang digunakan untuk memeriksa jawaban Dari data hasil wawancara pada subjek S1LK yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan cara mengulangi dalam menjawab. Dengan demikian subjek S1LK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran biasa yang dapat dikatakan sebagai kognisi formal. Dari hasil wawancara. diperolehnya rumus barisan. Di samping itu berdasarkan hasil wawancara memberikan penjelasan bahwa jawaban yang diberikan oleh subjek S1LK adalah benar. Dari hasil wawancara. Selain itu. d. Walaupun subjek mengatakan sudah tahu maksud soal. bahwa dari soal kelihatan ada pola dan ada beda yang disimpulkan subjek sebagai rumus barisan. 2. nampak bahwa tidak ada pemikiran dari subjek S1LK yang berupa kognisi segera. Jadi yang dilakukan subjek S1LK tersebut adalah menggunakan kognisi formal. ungkapan subjek S1LK dengan kalimat mengulangi dalam menjawab yang dimaksudkan adalah memeriksa jawaban langkah demi langkah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek S1LK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Karakteristik Intuisi Subjek Perempuan (S2PR) a. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S1LK dalam melaksanakan rencana. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam 34 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek S2PR memerlukan upaya menggambar terlebih dahulu dalam memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. subjek S1LK tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian.

Intuisi yang digunakan untuk membuat rencana penyelesaian. Dari uraian di atas memberikan penjelasan bahwa yang dilakukan subjek S2PR dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal. c. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. Karena munculnya pemikiran pada subjek S2PR menggunakan rumus barisan adalah sesaat setelah mencermati informasi pada teks soal. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memahami masalah tidak menggunakan intuisi. Subjek S2PR tidak menjelaskan secara matematis diperolehnya rumus yang merupakan rumus barisan aritmetika. Dengan demikian intuisi yang digunakan subjek dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang besifat global dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. Subjek juga tidak kesulitan dalam menggunakan rumus. karena subjek mencoba mencermati teks soal. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi antisipatori. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 35 . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. b. subjek hanya tahu bahwa rumus barisan diperoleh dengan mencermati teks soal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memahami masalah dilakukan dengan menggunakan gambar untuk memperjelas maksud soal.A10 memberikan indikasi bahwa dalam mengerjakan soal aljabar akan menggunakan deret. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek S2PR dalam membuat rencana akan menggunakan rumus karena melihat kata-kata pada teks soal. maka intuisinya didasarkan dari pemikiran matematika secara real. Dengan demikian dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan intuisi. Subjek menggunakan a = 1 sehingga diperoleh n = 40. yaitu dengan mencermati gambar. Selanjutnya. maka munculnya pemikiran penggunaan rumus barisan bersifat global. maka dikatakan bahwa subjek S2PR menggunakan kognisi segera. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. Oleh karena munculnya intuisi setelah berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal. sehingga subjek S2PR tidak dapat menjelaskan secara rinci mengapa digunakannya rumus barisan. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa jawaban subjek S2PR adalah benar. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan melaksanakan rencana penyelesaian adalah subjek S2PR langsung menulis rumusnya. karena pemikiran penggunaan rumus muncul begitu saja yang didasarkan dari informasi yang ditangkap secara sepintas dari teks soal dan dari ingatan yang tidak penuh. Munculnya penggunaan rumus. Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan membuat rencana penyelesaian adalah. pada subjek S2PR langsung menggunakan rumus yang sudah diyakininya dan sesuai dengan apa yang direncanakan. karena dalam membuat rencana penyelesaian subjek berpikir menggunakan rumus. Disamping itu. Karena tidak dapat menjelaskan secara rinci. yaitu Un = a + (n-1)b. Ungkapan dari subjek pada S2PR. namun dengan ingatan yang tidak penuh tersebut subjek S2PR memutuskan menggunakan rumus barisan untuk membuat rencana penyelesaian. Oleh sebab itu intuisi yang digunakan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian adalah intuisi antisipatori yang bersifat global. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian masalah adalah begitu memahami soal maka terpikir menggunakan rumus dan penggunaan rumus barisan didasarkan pada apa yang telah pernah ia lakukan. Disamping itu dan juga subjek merasakan pernah mendapati masalah serupa yang diselesaikan menggunakan rumus barisan. subjek S2PR mencoba akan menggunakan rumus. walaupun subjek S2PR merasa tidak begitu ingat seperti yang diungapkan . Subjek S2PR dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus barisan muncul setelah menginterpretasi teks soal. Dari hasil wawancara.

sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek S2PR dalam melaksanakan rencana. Selain itu subjek S2PR tidak melakukan upaya lain. Oleh karena tidak ada kognisi segera yang digunakan dalam melaksanakan rencana penyelesaian masalah. Intuisi yang digunakan untuk melaksanakan rencana penyelesaian Dari data hasil wawancara pada subjek S2PR yang berkaitan dengan memeriksa jawaban nampak bahwa subjek S2PR dengan cara mengulangi dalam menjawab. Subjek S2PR juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban. yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. maka dapat dikatakan bahwa tidak ada intuisi yang digunakan. Selain itu subjek tidak menggunakan cara yang lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. nampak bahwa subjek S2PR langsung menulis rumusnya. Misalnya dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa laki-laki menggunakan intuisi dalam memahami masalah. d.34 dan S2PR. dalam membuat rencana penyelesaian. 36 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . sedangkan siswa perempuan tidak menggunakan dalam memahami masalah matematika. Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global dan intuisinya berupa pemikiran matematika real. Selain itu. Saran-saran Untuk Perbaikan Pembelajaran Matematika a. subjek S2PR tidak menemui permasalahan dalam melaksanakan rencana penyelesaian. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1.A. Subjek melakukan dengan mengamati kembali apa yang telah dilakukannya. menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global. dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut. tidak menggunakan intuisi. sehingga tidak timbul pemikiran lain yang mungkin dapat berupa kognisi segera. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut bukan merupakan kognisi segera. Jadi yang dilakukan subjek S2PR tersebut adalah menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. Dari jawaban subjek S2PR. Karakteristik intuisi siswa perempuan dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah. yaitu pada S2PR. 2. 1. SARAN Berdasarkan simpulan hasil penelitian maka direkomendasikan beberapa hal berikut. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. sehingga dapat dikatakan bahwa subjek S2PR dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi.35 menunjukkan bahwa subjek S2PR sangat yakin akan apa yang dilakukan adalah benar. dalam melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. Oleh karena itu guru matematika dalam membelajarkan pemecahan masalah matematika perlu memperhatikan perbedaan gender. Sehingga tidak ada pemikiran dari subjek S2PR yang berupa kognisi segera. Dengan demikian apa yang dilakukan subjek S2PR dalam memeriksa jawaban dengan langsung mengulangi dalam menjawab. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau perbedaan gender. dalam membuat rencana penyelesaian. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera. dan intuisinya berupa pemikiran matematika real.A. menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung. Oleh karena itu guru perlu melatih siswa perempuan agar dapat menggunakan intuisinya dalam memecahkan masalah matematika. tidak ada intuisi yang digunakan. yaitu Un = a + (n1)b. Karakteristik intuisi siswa laki-laki dalam memecahkan masalah matematika sebagai berikut: dalam memahami masalah.

Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. M. Henden. 2005. “Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning”. In Christine Keitel (Ed). UNESA Surabaya. “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. & Schnarch. dan Topangan dalam Reinvensi Terbimbing”. 38. 1987. A. “An Introduction: Social Justice and Mathematics Education: Gender. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeksplorasi intuisi siswa dalam memecahkan masalah matematika. 1973. “College Students’ Intuitive Understanding of the Concept of Limit and Their Level of Reverse Thinking”. 187-203. E.S. Princeton and Oxford: Princeton University Press. G. and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. M. “Do Mathematical Gender Differencess Continue? A Longitudinal Study of Gender Difference and Excellence in Mathematics Performance in The U. R. Biehler. Bandung: Alfabeta Susento.1996. Warwick University. E.W. G. Vol No. E. DAFTAR PUSTAKA Ding.Educational Studies in Mathematics 34. In R. “Gender Differences in High-Achieving Students in Math and Science”. Unpublished PhD Thesis. 1994. E. dirasa masih kurang. (1999). H. Berlin Freie Universitat Berlin.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 b. C. The Ohio State University. Class. S. Scholz. Vol 28.J. 27–47 Fischbein. Journal For Education of The Gifted. Educational Studies in Mathematics. 279-295. & B. 2007. Intuitively based Misconseptions. Fischbein. Fischbein.. R. International Education Journal. ‘Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’. b. “The “Boy-Turn” in Research on Gender and Education”. & Park. Zheng Zhu 2007.). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuaantitatif. Song. Unpublished Dissertation.231245).L. Perlu pembiasaan pembelajaran pemecahan masalah dengan menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah misalnya dengan menggunakan tahap pemecahan masalah dari Polya. Bandung: Remaja Rosdakarya Pinto.K. 25. The Evolution With Age of Probabilistic. E. A New Aspect of Mathematical Method. the Algorithmic. 40. 2007. K. sehingga diperoleh karakteristik intuisi dalam memecahkan masalah yang lebih variatif dan lengkap. Sugiyono. Journal for Reasearch in Teacher and Mathematics Education. misalnya hanya diteliti untuk salah satu tahap pemecahan masalah dari . “The Interaction between the Formal.. Roh. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 37 . 2003. “Mekanisme Interaksi Antara Pengalaman Kultural-Matematis. BI Norwegian School of Management. & Richardson. oleh sebab itu disarankan para peneliti lanjutan untuk mepertajam fokus penelitian. Journal of American Educational Studies Association. How to Solve It. 471-498. Sträßer. Fischbein. 1997. Intuition in Science and Mathematics.11–50. Moleong. Dordrecht: D. Proses Kognitif. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Social Justice and Mathematics Education. L. D. Disertasi tak Dipublikasikan. S. Christine. 1988. 52-73. 2004. Polya. Review of Educational Research. Reis. W. 2001. Peneliti lanjutan hendaknya dapat menggunakan tinjauan teori intuisi selain yang disampaikan oleh Fischbein dan Poincare. 1988. Hightower. 2.. Kualitatif dan R & D). Dissertation. Gender differences in mathematical problem solving. 2011.S”.I. 8(2). Winkelmann (Eds. “Students’ Understanding of Real Analysis”. Fischbein. Penelitian ini dilihat dari kedalaman hasil. Grossman. Ethnicity and the Politics of Schooling”. Keitel. Saran-saran Untuk Penelitian Relevan a. 1997. Reidel. 73.

mereka mampu menggunakan dan menerapkan strategi generatif yang memungkinkan mendaftar secara lengkap data-data yang akan digunakan dalam memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun secara tidak langsung. dan pembuktian dengan kontradiksi. (2) Sedangkan mahasiswa yang berada pada tingkat kemampuan analisis sedang. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini terlihat bahwa siswa yang kelompok kemampuan analisis rendah. aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung maupun tidak langsung berada di bawah tingkat aktivitas metakognisis mereka berada pada tingkat kemampuan analisis kurang. Metakognisi. Di pihak lain.com Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap tentang aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian dalam matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari kemampuan di bidang analisis. maka akan kesulitan untuk menentukan langkah serta penyelesaian masalah. Kata kunci: Aktivitas. (1) Dilakukan pra penelitian dan penyusunan instrumen penelitian yang disertai validasi terhadap instrumen tersebut. melaksanakan rencana dan mengevaluasinya. FKIP UNS Surakarta Email : gatutis_wahyudi@yahoo. Secara lebih spesifik. (1) Siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah secara umum tidak melakukan aktivitas metakognisi pada saat memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. Pada ke tiga tahap selanjutnya ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. (3) Pada mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi. tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui: Aktivitas metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. Mahasiswa yang tidak memahami konsep pembuktian tidak langsung (pembuktian dengan kontradiksi). Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah hanya melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian kualitatif eksploratif dengan tahapan sebagai berikut. aktivitas metakognisi muncul pada setiap tahap penyelesaian masalah Polya baik pada pemecahan masalah pembuktian langsung maupun pembuktian secara tidak langsung. Namun pada tahap selanjutnya yaitu tahap melakukan evaluasi ternyata tidak melakukan aktivitas metakognisi. Mahasiswa yang menempati tingkat kemampuan analisis sedang atau tinggi sudah memahami konsep tentang pembuktian langsung. siswa yang menempati tingkat kemampuan analisis rendah pada saat menyelesaikan masalah pembuktian secara langsung walaupun tidak secara lengkap namun telah melakukan aktivitas metakognisi. Pengetahuan mahasiswa tentang cara menganalisis suatu masalah tentu akan membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian yang dimulai dengan perencanaan yang baik. Pembuktian 38 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah melakukan aktivitas metakognisi pada tahap memahami masalah. merencanakan tindakan dan melaksanakan tindakan. Hasil Penelitian ini adalah. pembuktian dengan kontraposisi. sehingga siswa akan mampu mendaftar secara lengkap semua hasil yang mungkin dari suatu masalah. (3) Melalui pengkajian mendalam akan disusun teori metakognisi yang terkait dengan masalah pembuktian ditinjau kemampuan dalam bidang analisis.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AKTIVITAS METAKOGNISI MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PEMBUKTIAN Gatut Iswahyudi Prodi Pendidikan Matematika. Di pihak lain pada saat memecahkan masalah pembuktian secara langsung tampak bahwa pada setiap tahap pemecahan masalah Polya muncul aktivitas metakognisi. (2) Dilakukan penelitian terhadap subyek terpilih dengan metode think aloud dan retrospeksi untuk mendapatkan data tentang aktivitas metakognisi.

khususnya dalam memecahkan masalah pembuktian. dan pembuktian tidak langsung. guru sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah. proses belajar matematika merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan. 1979. menerapkan berbagai strategi yang diperlukan. memecahkan masalah dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan matematika. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam pemecahan masalah serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell. keterampilan dan membentuk sikap. Jenis-jenis pembuktian yang termasuk pembuktian tidak langsung adalah pembuktian dengan kontradiksi dan pembuktian dengan kontraposisi. Agar guru dapat membangkitkan kemampuan metakognisi siswa. Berpikir tentang dirinya sendiri berkaitan dengan kesadaran siswa terhadap kemampuannya untuk mengembangkan berbagai cara yang mungkin ditempuh dalam memecahkan masalah. termasuk didalamnya adalah berpikir tentang bagaimana siswa membuat pendekatan terhadap masalah. Proses berpikir dalam pemecahan masalah merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian guru terutama untuk membantu siswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika. 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan pemecahan masalah dalam matematika adalah tidak untuk melengkapi siswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses. ketrampilan dan terbentuknya sikap tersebut tentu hanya akan dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang tepat. tetapi lebih kepada memungkinkan siswa berpikir tentang dirinya sendiri. Guru dalam hal ini dapat mendorong siswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. pembuktian dengan contoh penyangkal. Diantara masalah tersebut. Terkait dengan masalah dalam matematika. Pengetahuan. dan merefleksikan proses pemecahan masalah matematika (Pearson Learning Group. Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 39 . 1992). Dalam dimensi proses kognitif. dan bertanya kepada diri sendiri tentang masalah tersebut (Gartman dan Freiberg. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg. 2005). dikenal sebagai metakognisi. masalah membuktikan merupakan bagian yang sangat penting dalam matematika Didasarkan pada metode yang digunakan. Dale. Kemampuan analisis merupakan kemampuan tingkat ke-4 dalam taksonomi Bloom. Masalah menemukan adalah suatu jenis masalah yang tujuannya akan dicari dan prosesnya diperlukan. kemampuan memahami. Proses menyadari dan mengatur berpikir siswa sendiri tersebut. 2008). kemampuan menganalisis. Beberapa cara pembuktian lain dalam matematika adalah pembuktikan dengan induksi matematika. siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya antara lain membangun pengetahuan matematika yang baru. masalah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu masalah menemukan (to find) dan masalah membuktikan (to prove). memilih strategi yang digunakan untuk menemukan pemecahan. Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas. kemampuan mengevaluasi dan kreativitas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 PENDAHULUAN Pada hakekatnya. Melalui pemecahan masalah matematika. pembuktian dalam matematika dapat dikelompokkan pembuktian langsung. dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh siswa pada semua tingkat pendidikan. yang berturut-turut adalah kemampuan mengingat. Masalah membuktikan adalah masalah yang tujuannya sudah ditentukan tetapi prosesnya diperlukan. kemampuan analisis seseorang mempunyai peran yang penting dalam menunjang keberhasilan belajar matematika. Panaoura dan Philippou. 1993). O’Malley dan Spanos. pemantauan. dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot. Salah satu bentuk proses pembelajaran yang tepat adalah dengan memanfaatkan proses pemecahan masalah. Siswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan. Sehingga meneliti karakteristik seseorang berdasarkan kemampuan analisis yang dimilikinya perlu dilakukan. kemampuan mengaplikasi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dikemukakan di atas. the methods employed to regulate one’s own cognitive processes. maka diajukan pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana proses metakognisi mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. masalah terbagi menjadi dua. dan memantau aktivitas kognitif metacognition as an awareness of one’s own cognitive activity. bila orang itu telah mengetahui cara atau proses mendapatkan pemecahan masalah tersebut. yang mengemukakan empat tahapan penting yang perlu dilakukan yaitu: 40 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pada penerapannya. pemantauan. yaitu “untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkah-langkah Polya”. and monitors cognitive activity (Lee dan Baylor. diantaranya oleh Flavell dan Brown. 1992. Sementara itu. metakognisi cakupannya dibatasi pada tiga komponen yaitu perencanaan. tetapi bukan merupakan masalah lagi bagi orang itu pada saat berikutnya. Berdasarkan definisi di atas. and a command of how one directs. Gama. Livingston. KAJIAN TEORI Pengertian Metakognisi Secara sederhana metakognisi didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi tentang kognisi seseorang (Nelson. 2004).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 kepada para guru atau calon guru tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan dalam memecahkan masalah matematika secara umum dan secara khusus dalam memecahkan masalah pembuktian. plans. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan apakah pernyataan itu benar atau salah? Bagian utama dari masalah ini adalah hipotesis dan konklusi suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. dan refleksi. atau tidak keduanya. metode yang digunakan untuk mengatur proses kognisi seseorang dan suatu penguasaan terhadap bagaimana mengarahkan. Pada penelitian ini. Demikian pula suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang pada suatu saat. yaitu masalah menemukan (problem to find). Masalah untuk menemukan merupakan suatu masalah teoretis atau praktis. Bagian utama dari masalah menemukan antara lain: apa yang dicari? Apa saja data yang diketahui? bagaimana syaratnya? Sedangkan masalah membuktikan merupakan masalah untuk menunjukkan apakah suatu pernyataan benar atau salah. salah satu yang banyak dirujuk adalah pentahapan oleh Polya (1973). Kirsh (2004) mengemukakan bahwa metakognisi khususnya dalam bidang pendidikan. Khusus dalam pemecahan masalah matematika. metacognition as the ability to understand and monitor one’s own thoughts and the assumptions and implications of one’s activities (Lee dan Baylor. penulis mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan untuk menyadari kognisi sendiri dan kemampuan mengatur proses kognisi sendiri. Menurut Polya (1973). Terdapat beberapa definisi tentang metakognisi yang berkembang dalam bidang psikologi kognitif. evaluasi dan perbaikan kemampuan bekerja (performa). abstrak atau konkrit. Brown mendefinisikan metakognisi sebagai suatu kesadaran terhadap aktifitas kognisi seseorang. 2006). dan masalah membuktikan (problem to prove). Artinya suatu tugas merupakan masalah bagi seseorang. berkaitan dengan aktifitas dan keterampilan berhubungan dengan perencanaan. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Stanic & Kilpatrick (1988: 15) mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukan di waktu sebelumnya. pemantauan. merencanakan. 2006). Flavell mendefinisikan: metakognisi sebagai kemampuan untuk mengerti dan memantau berpikir sendiri dan asumsi serta implikasi dari kegiatan seseorang. Ketiga kompunen ini merupakan satu rangkaian dan saling terkait dalam aktivitas metakognisi. Ini menunjukkan bahwa suatu tugas merupakan masalah bergantung kepada individu dan waktu. 1997. Berdasarkan uraian di atas. tetapi mungkin bukan merupakan masalah bagi orang lain.

dengan memilih fokus pada proses metakognisi yang dilakukan mahasiswa calon guru ketika memecahkan masalah pembuktian. dan sebagainya. apa syaratsyaratnya. Memikirkan tentang lama waktu yang anda MMAW1 MMAW2 MMAW3 MMAW 4 MMWA Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 41 . dan sebagainya. dan (3) tahap pemeriksaan (evaluation the plan action). apakah langkah yang dilakukan sudah benar atau dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar. Tahap ini merupakan tahap memahami masalah dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah. dan membangun alternatif penyelesaian. (2) bagian inti. Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematika Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat proses metakognisi dalam pemecahan masalah matematika. Melaksanakan rencana (carrying out the plan) termasuk memeriksa setiap langkah pemecahan. (2) pemantauan (monitoring). Memahami masalah (understanding the problem) meliputi mengerti berbagai hal yang ada pada masalah seperti apa yang tidak diketahui. dan (3) refleksi (reflection). Tahap ini merupakan tahap memikirkan rencana tindakan. 2. Berikut ini disajikan tabel aktivitas metakognisi tersebut. Selanjutnya NCREL menyebut tiga tahap tersebut sebagai tahap sebelum. selama dan sesudah. (2) tahap pemantauan (monitoring the plan of action). Demikian juga NCREL (1995) mengelompokkan metakognisi ke dalam tiga elemen dasar yaitu (1) tahap pengembangan rencana (developing a plan of action). 3. Memikirkan rencana (devising a plan) meliputi berbagai usaha untuk menemukan hubungan masalah dengan masalah lainnya atau hubungan antara data dengan hal yang tidak diketahui. Tabel 1 Aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan dengan langkah yang diusulkan oleh Polya Pemecahan masalah menurut Polya Memahami masalah dengan mengidentifika si dan mengkla sifikasi masalah Aktivitas Metakognisi Kode Bagian Awal (Before) 1. Tahap ini merupakan tahap mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Memikirkan tentang apa yang dipahami merupakan bagian yang penting dalam rangka memahami masalah 5. apakah syarat tersebut cukup untuk menentukan hal yang tidak diketahui. Sejalan dengan pandangan Brown. Dalam penelitian ini. Memikirkan tentang langkah-langkah dalam memahami masalah ( Memikirkan apa yang pertama kali harus dilakukan) 4. Memikirkan tentang pengetahuan yang dapat membantu dalam memahami masalah 2. terkait dengan adanya istilah yang hampir sama maka tiga tahap aktivitas metakognisi ini disebut sebagai (1) bagian awal. Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) mengelompokkan aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah matematika terdiri atas (1) perencanaan (planning). Memikirkan tentang arah/tujuan dalam memahami masalah 3. Pengkategorian aktivitas metakognisi didasarkan pada suatu tabel aktivitas metakognisi yang disusun dengan mengadopsi tabel serupa yang dikemukakan NCREL (1995) dipadukan dengan yang dikemukakan oleh Cohors-Fresenborg & Kaune (2007) dengan melakukan modifikasi sesuai situasi pemecahan masalah yang dilaksanakan. Memeriksa kembali jawaban (looking back) meliputi pengujian terhadap pemecahan yang dihasilkan. 4. dan (3) bagian akhir. Tahap ini merupakan tahap melaksanakan tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. apa saja data yang tersedia. Proses metakognisi dimaksudkan sebagai rangkaian aktifitas metakognisi yang dilakukan peserta didik ketika memecahkan masalah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 1.

Memikirkan tentang apa yang dilakukan pada saat memahami masalah 2. Sadar atas ketepatan cara dan langkah pemahaman masalah dilakukan 2. Sadar tentang arah dari apa yang direncanakan (telah menemukapaan hubungan antara data-data (konsepkonsep) yang tidak diketahui dengan data-data (konsep-konsep) yang diketahui 3. Sadar tentang pengetahuan apa saja yang diperlukan dalam merencanakan pemecahan masalah ini 2. Merasa dapat menerapkan cara pemahaman masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah 5. Sadar bahwa dalam merencanakan pemecahan masalah harus ditemukan definisi-definisi maupun teorema-teorema yang terkait dengan masalah itu 2. 3. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum merencanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar bahwa cara pemahaman masalah yang dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Merasa dapat melakukan langkah pemahaman terhadap masalah dengan cara berbeda 4. Sadar tentang perlunya kembali pada tahap awal dalam memahami masalah Memikirkan rencana tindakan dan membangun alternatif penyelesaian Bagian Awal (Before) 1. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat MRIT1 merencanakan pemecahan masalah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pergunakan dalam memahami masalah Bagian Inti (During) 1. Sadar bahwa sudah merasa berada pada jalan yang benar saat memahami masalah. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam memahami masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Sadar tentang langkah-langkah selanjutnya setelah melakukan pemahaman terhadap masalah yang diberikan 4. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam merencanakan pemecahan masalah 5 MMIT1 MMIT2 MMIT3 MMIT4 MMIT5 MMIT6 MMAK1 MMAK2 MMAK3 MMAK4 MMAK5 MRAW1 MRAW2 MRAW3 MRAW4 MRAW5 Bagian Inti (During) 1. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan MRIT2 42 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam memahami masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat 5.

Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. sadar sudah memperhitungkan atau melibatkan semua hal yang penting yang terkandung dalam masalah ini 3. Berpikir tentang data lain yang mungkin sesuai untuk menentukan konsep-konsep tak diketahui yang dapat digunakan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan setelah menemukan definisi-definisi maupun teoremateorema yang terkait dengan masalah itu 4. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam merencanakan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. 2. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam merencanakan pemecahan masalah ini Melaksanakan Bagian Awal (Before) rencana tindakan 1. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan dengan memilih untuk membantu melaksanakan rencana tindakan strategi pemecahan masalah yang diberikan penyelesaian 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar bahwa pada saat merencanakan pemecahan PRIT2 masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat merencanakan pemecahan masalah 5. Merasa dapat menerapkan cara perencanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar merasa telah melakukan langkah perencanaan pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan pemecahan masalah MRIT3 MRIT4 MRIT5 MRIT6 MRAK1 MRAK2 MRAK3 MRAK4 MRAK5 PRAW1 PRAW2 PRAW3 PRAW4 PRAW5 Bagian Inti (During) 1. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat PRIT1 melaksanakan rencana pemecahan masalah. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus PRIT3 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 43 . Sadar akan ketepatan langkah perencanaan pemecahan masalah yang dilakukan.

Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan rencana pemecahan masalah 5. Bagian Awal (Before) 1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dilakukan 4. Sadar bahwa semua data yang diketahui sudah sudah dipergunakan untuk memecahkan masalah 2. Sadar tentang hal-hal yang dipikirkan sebelum melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah tersebut akan mengarah pada suatu tindakan tertentu. Sadar tentang informasi penting yang harus diingat pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah PRIT4 PRIT5 PRIT6 PRAK1 PRAK2 PRAK3 PRAK4 PRAK5 EPAW1 EPAW2 EPAW3 EPAW4 EPAW5 EPIT1 EPIT2 EPIT3 EPIT4 44 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik. Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah Bagian Akhir (After) 1. Sadar tentang apa yang harus dilakukan pada saat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah 2. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dilakukan. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Berpikir tentang hal lain yang terkait dengan evaluasi pelaksanaan pemecahan masalah 5. dan telah dapat diperoleh sesuatu yang bermanfaat dari data yang diketahui untuk memecahkan masalah ini 4. Sadar tentang lama waktu yang dipergunakan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah Bagian Inti (During) 1. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan rencana pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar bahwa pada saat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah sudah merasa berada pada jalan yang benar 3. Sadar bahwa pemahaman masalah dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar tentang pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk membantu melaksanakan evaluasi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan 2. Sadar merasa telah melakukan langkah pelaksanaan rencana pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Sadar tentang arah dari apa yang dilakukan dalam pelaksanaan pemecahan masalah 3. Sadar tentang langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan 4.

Terkait dengan hal tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Ungkapan-ungkapan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 45 . Sadar perlunya melakukan penyesuaian langkah pada saat mengalami kesulitan dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah Bagian Akhir(After) 1. Sadar bahwa evaluasi dilakukan akan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan 3. Sadar merasa dapat melakukan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pemecahan terhadap masalah tersebut dengan cara berbeda 4. Mahasiswa diberi soal tentang masalah pembuktian. mahasiswa diminta untuk mengerjakan soal berdasarkan tahap-tahap pemecahan masalah Polya. Dalam hal ini proses metakognisi dibagi dalam empat jenjang berdasarkan prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Merasa dapat menerapkan cara pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah seperti ini pada masalah yang lain 5. Sadar tentang perlunya melakukan penyesuaian langkah dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara lain yang berbeda 6. Penjenjangan Proses Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Kategori Proses Metakognisi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Indikator 80%X100% 60%X<80% 40%X<60% 20%X<40 0%X<20 Keterangan : X= Prosentase kemunculan indikator aktivitas metakognisi dari subjek penelitian pada keseluruhan tahap pemecahan masalah. Soal terdiri dari satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian langsung dan satu soal yang penyelesaiannya dilakukan dengan metode pembuktian tidak langsung. selanjutnya pada akhir tiap tahap dilakukan wawancara untuk mengungkap aktivitas metakognisi pada tahap tersebut. Sadar akan ketepatan langkah pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah yang dilakukan 2.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5. Penjenjangan proses metakognisi yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut. Tabel 2. Dalam mengerjakan soal. METODE PENELITIAN Penelitian ini mendiskripsikan proses metakognisi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam memecahkan masalah pembuktian pada matakuliah analisis real berdasarkan langkahlangkah Polya dengan mengungkap secara mendalam respon siswa. Sadar perlunya kembali pada tahap awal dalam melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pemecahan masalah untuk memenuhi kekurangan yang dirasakan EPIT5 EPIT6 EPAK1 EPAK2 EPAK3 EPAK4 EPAK5 Berdasarkan deskripsi aktivitas metakognisi dalam pemecahan masalah matematika dengan langkah yang diusulkan oleh Polya tersebut diatas disusun penjenjangan proses metakognisi pada pemecahan masalah pembuktian.

penafsir data. dengan cara mereduksi data (yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan. MRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian adalah sebagai berikut. MRIT2. Dalam hal ini peneliti merupakan perencana. Subyek penelitian adalah Mahasiswa . Mahasiswa yang dipilih sebagai subyek adalah mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Analisis real I. pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan). MMAW5. MMIT3 . Instrumen lembar tugas ini divalidasi oleh ahli. MRAW4. MMAK3 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Tahap memikirkan rencana tindakan. Prosedur pengumpulan data diakukan dengan cara subyek diberi lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. Pemecahan masalah menurut Polya Tahap memikirkan rencana tindakan. yang terdiri atas satu orang ahli pendidikan matematika dan satu orang ahli dalam bidang matematika kelompok bidang analisis. dan akhirnya sekaligus menjadi pelapor hasil penelitian. membangun alternatif penyelesaian Ciri yang teramati MRAW1. Sehingga penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif-eksploratif. maka penelitian ini bersifat kualitatif. analisis. yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut). Penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan matematika. Dari hasil pekerjaan siswa. pelaksana pengumpul data. MRAK1. Data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dan disusun transkip wawancara tersebut untuk selanjutnya dilakukan analisis terkait dengan aktivitas metakognisi yang dilakukan. penyederhanaan. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran metakognisi siswa. dan menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut (Moleong. pemusatan perhatian. MMIT1. 2003). membangun alternatif penyelesaian adalah sebagai berikut. HASIL PENELITIAN Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah adalah sebagai berikut. Adapun kriteria kemampuan analisis tinggi adalah rataan skor prestasi belajar matakuliah kelompok analisis yang telah ditempuhnya lebih besar atau sama dengan 80 dalam skala 100.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 yang disampaikan berupa kata-kata. Pemecahan Masalah Menurut Polya Tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi & mengkasifikasi masalah Ciri yang teramati MMAW1. MMAW3. MMIT2 . MMAK2. MRIT4. Sedangkan instrumen lembar tugas yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen lembar tugas pemecahan masalah pembuktian. MMAW2. kemudian untuk setiap tahapan dalam meyelesaikan masalah berdasarkan tahapan Polya diadakan wawancara untuk mengetahui aktivitas metakognisi yang dilakukan. memaparkan data (meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data. 46 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . MMAW4. maka 80  X  100 . pengamatan dan wawancara dapat dilihat karakteristik metakognisi siswa. MMIT5. MRIT1. MRAW5. Analisis data penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil wawancara. Sehingga jika X menyatakan rataan skor prestasi belajar siswa berkemampuan analisi tinggi. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dipandu dengan instrumen lembar tugas penyelesaian masalah matematika. MRAW6. dan pedoman wawancara. MRAK2. MMIT4 .

dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. PRAK4 Keterlaksanaan Aktivitas Metakognisi pada Pemecahan Masalah Pembuktian Tidak langsung (Kontradiksi) pada Tahap Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik adalah sebagai berikut. 56. 68. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. dan 62. PRAK1.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pemecahan masalah menurut Polya Melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian Ciri yang teramati PRAW1. cukup dan baik. 75%. cukup memadai. cukup.5%. sehingga berada pada kategori baik. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. PRIT1. sehingga masing-masing berada pada kategori baik. adalah sebagai berikut.5%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. sehingga berturut-turut berada pada karegori baik. 50%. EPAW2. dan 62.5%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. EPAK4. 62.94%. dan 68%.25%. 62. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. 4. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung.77%. 62. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. dan 68%. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 75%. cukup memadai. Secara keseluruhan tahap pemecahan masalah diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. 2.75%. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian.25%. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. EPAK5 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 47 . memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. sehingga berada pada kategori baik. Secara umum keterlaksanaan aktivitas metakognisi yang dilakukan mahasiswa dengan kemampuan analisis tinggi ketika memecahkan masalah pembuktian langsung. Pemecahan masalah menurut Polya Mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik KESIMPULAN 1. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 60.5%. Ciri yang teramati EPAW1. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. EPIT3.77%. 75%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. EPIT5.19%. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis sedang dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung. PRAW4.5%. sehingga berada pada kategori baik.25%. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 70. PRAW3. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. EPIT6. cukup memadai. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 69. 3. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 81. cukup memadai. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. sehingga berada pada kategori baik.

UAD. Metode Pembuktian dalam Matematika. sehingga masing-masing berada pada kategori kurang.ac. New Jersey.au/metacognition. 2000..5%.cy. Metacognition. H.html Nelson. J. Gama. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Soedjadi. 31.5%. A. Jakarta. dan 37.Learning to learn http://members. Metacognition. T. 6. belum memadai. belum memadai. E. Metacognition .. Download tanggal 12 November 2007. (1995).. in Nelson. Virginia. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian langsung. 37. Princeton. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 31. G. T. R. 1979. Metacognition and Cognitive Monitoring. The Measurement of Young Pupils’ Metacognitive Ability in Mathematics: The Case of Self-Representation and Self-Evaluation. O. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia.ac. and Philippou. and Philippou. H. Integrating Metacognition Instruction in Interactive Learning Environment.gse. Sedangkan pada masing-masing tahap memahami masalah dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi masalah. Brno Czech Republic. Download tanggal 12 November 2007 Panaoura. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. 2005. Schoenfeld.. http://www.1 NCREL.. Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. G. 31. Flavell.Thinking about thinking . 1. Intervention Research: A Tool for Bridging the Theory – Practice Gap in Mathematics Education. 37.ucy. sehingga berada pada kategori kurang.edu/fos/shuel/ cep564/metacog.5%. Heuristic in the Class Room. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. O.buffalo. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. dan mengevaluasi dan meneliti kembali bagaimana penyelesaian terbaik diperoleh prosentase keterlaksanaan metakognisi berturut-turut sebesar 25%. Young Pupils’ Metacognitive Abilities in Mathematics in Relation to Working Memory and Processing Efficiency. E. Boston. Second Edition. University of Sussex Julan Hernadi. melaksanakan rencana tindakan dengan memilih strategi penyelesaian. Phil Dissertation.25%. A. dan Reys.. www. 48 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .. 1992. Boston. NCTM. Problem Solving in School Mathematics. 1973.htm Panaoura. memikirkan rencana tindakan dalam membangun alternatif penyelesaian. dan 37. A New Area of Cognitive – Developmental Inquiry. Allyn and Bacon. How To Solve It.ucy. 1997. Secara keseluruhan tahap diperoleh prosentase keterlaksanaan aktivitas metakognisi sebesar 32. sehingga berada pada kategori kurang.5%. C. Proceedings of the International Conference. Allyn and Bacon.5%.iinet. DAFTAR PUSTAKA De Corte. sehingga seluruhnya berada pada kategori kurang.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 5.. www. The Mathematics Education into the 21st Century Project. A. 2004. D..cy. Core Readings. 1992. A. Proses metakognisi mahasiswa dengan kemampuan analisis rendah dalam memecahkan masalah pembuktian tidak langsung.5%..81%. J. Yogyakarta Livingstone. 2008. (Ed). A.. Princeton University Press. 1980. Polya. R.net.. G. 2003. 2004. (Ed).. dalam Krulik S. Metacognition: An Overview.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. tes gaya kognitif (GEFT). Mardiyana2. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Dari 10. (2) Terdapat pengaruh keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. (5) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. dan tes prestasi belajar matematika. (6) Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. (3) Terdapat pengaruh gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. angket keingintahuan. Suyono2 1) Program Studi Magister Pendidikan Matematika 2) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran.779 peserta didik (sekitar 37.29). keingintahuan. Inovasi pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan tantangan belajar sesuai kemampuan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual peserta didik. diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.05. Berdasarkan laporan hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 tersebut. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan awal matematika. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling.77%) yang memperoleh nilai matematika di bawah rerata. (7) Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran konstruktivisme pada pembelajaran matematika diduga berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. Uji keseimbangan menggunakan uji-t diperoleh simpulan bahwa kedua kelas eksperimen mempunyai kemampuan awal yang seimbang. pemerintah mendorong pelaksanaan inovasi pembelajaran matematika yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dengan α = 0. yang akan membantu peserta didik dalam mengkonstruksi pemahamannya sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan. Dengan demikian. diperoleh simpulan bahwa (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika. serta interaksinya terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. dan gaya kognitif. mata pelajaran matematika bagi peserta didik SMP di Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 49 . Hanya saja.006 peserta ujian nasional SMP di Kabupaten Blora pada tahun pelajaran 2009/2010.73) maupun nasional (7. Selain itu. (4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika. PENDAHULUAN Sejalan dengan paradigma baru pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. pelaksanaan inovasi pembelajaran tersebut terganjal dengan masih lemahnya pemahaman dan kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme. rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di Kabupaten Blora (6. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3x2.53) lebih rendah dibandingkan rerata prestasi belajar matematika peserta didik SMP di tingkat Propinsi Jawa Tengah (6. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP di Kabupaten Blora.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DITINJAU DARI KEINGINTAHUAN DAN GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK SMP DI KABUPATEN BLORA Agung Putra Wijaya1. terdapat 3. keingintahuan. proses pembelajaran akan berpusat pada peserta didik dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Dengan mengetahui perbedaan kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif setiap peserta didik. dan angket. Selain model pembelajaran. Sampel. salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. yakni menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 (a. b. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. dan Sampling Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik di 76 SMP yang ada di Kabupaten Blora. terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Melalui model pembelajaran kooperatif. Selain itu. c. Metode tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan 50 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Sampling dilakukan menggunakan teknik stratified cluster random sampling sedemikian sehingga terpilih sampel penelitian sebagai berikut. dan mengerjakan latihan soal. peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya melalui diskusi kelompok. c bilangan bulat selain satu). Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah dan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian di SMP yang telah terpilih. b. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu. SMP Negeri 1 Cepu dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dua. analisis daya serap hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 terhadap tiga kemampuan yang berkaitan dengan materi pokok persamaan garis lurus.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Kabupaten Blora ini merupakan mata pelajaran penyumbang angka ketidaklulusan terbesar kedua setelah mata pelajaran bahasa inggris. sebagian besar guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. Kesulitan-kesulitan tersebut hanya diorganisir sendiri tanpa dikomunikasikan dengan peserta didik lain atau guru matematika yang mengajar. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. SMP Negeri 2 Blora dengan kelas VIII 3 sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII 5 sebagai kelas eksperimen dua. maupun rendah. Selama kegiatan pembelajaran guru aktif menyampaikan informasi di depan kelas. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian meliputi metode dokumentasi. baik untuk kelompok tinggi. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus dimungkinkan karena konsep tersebut belum benar-benar dikuasai oleh peserta didik. sedang. SMP Muhammadiyah 1 Blora dengan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen satu dan kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dua. menentukan persamaan garis pada sebuah grafik. Populasi. guru harus cermat dalam memilih suatu model pembelajaran yang akan diterapkan. tes. Di antara banyak model pembelajaran. a. menentukan grafik dari persamaan suatu garis menunjukkan bahwa penguasaan konsep persamaan garis lurus oleh peserta didik SMP di Kabupaten Blora masih rendah. diharapkan membantu guru dalam membimbing peserta didik untuk mengkonstruksi pemahamannya terhadap konsep matematika sehingga prestasi belajar matematika peserta didik lebih optimal. Selain itu. sedangkan peserta didik hanya menyimak. diantaranya keingintahuan dan gaya kognitif. mencatat. Kondisi ini menyebabkan tujuan pembelajaran cenderung tidak tercapai secara optimal.

0843 16.7283 14 44 84 64. Rangkuman Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Sumber A B C JK 1221.9017 Keputusan Uji H0A ditolak H0B ditolak H0C ditolak Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 51 . Hasil uji keseimbangan menggunakan uji-t terhadap data kemampuan awal matematika peserta didik diperoleh simpulan bahwa populasi mempunyai kemampuan awal matematika yang seimbang.6692 Fhit 9.6409 1279.7909 4549. dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe’.2222 8.1132 Rendah FD 16 48 84 60.0132 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen. Tabel 3.2573 17 56 100 76.5238 66.0540 3.9524 S 14.0000 15. N Nilai Min N H Nilai Maks T S N S Nilai Min T Nilai Maks A D S Tinggi FD 12 72 100 91.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 awal.5147 Ftabel 3.6692 dk 1 2 1 RK 1221. prestasi belajar matematika.9017 3.3533 Hasil uji prasyarat diperoleh simpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen.8918 FI 6 84 100 94.5455 11.4237 FI 10 52 88 72. B. Berikut disajikan hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama.6924 9 72 96 83. dilakukan uji keseimbangan terhadap kemampuan awal matematika menggunakan uji-t.7207 9 56 80 67. Metode angket digunakan untuk memperoleh data keingintahuan peserta didik.6667 9.1111 7. Mod. terhadap data kemampuan awal maupun data prestasi belajar dilakukan uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Data prestasi belajar matematika dianalisis menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak. Data Penelitian dan Analisis Variansi Tiga Jalan dengan Sel Tak Sama Data yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar matematika peserta didik pada materi pokok persamaan garis lurus. Tabel 2.0048 8 60 100 75. HASIL PENELITIAN A.9125 9. Data Kemampuan Awal Matematika dan Uji Keseimbangan Berikut disajikan deskripsi data kemampuan awal matematika peserta didik.4706 14.4000 11. Pemb. Sebelumnya. Teknik Analisis Data Sebelum melakukan eksperimen.7909 2274. Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Keingintahuan Gaya Kog.6753 Sedang FD 22 48 88 70.7462 27 52 100 75.6667 7.2818 1279.5000 10. Deskripsi Data Kemampuan Awal Matematika Peserta Didik Kelas Eksperimen Satu Eksperimen Dua n 84 84 Nilai Min 40 40 Nilai Maks 96 96 67. Tabel 1.5556 8.8519 12.0828 15. dan gaya kognitif peserta didik.6239 FI 18 76 100 88.5714 13.

prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.7190 6.0540 - H0AB ditolak H0AC ditolak H0BC ditolak H0ABC ditolak - DESKRIPSI HASIL ANALISIS VARIANSI TIGA JALAN DENGAN SEL TAK SAMA Deskripsi hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dan uji komparasi rerata adalah sebagai berikut. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.0540 3. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. maupun rendah sama baiknya. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT.7845 2 1 2 2 156 167 2114. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. e. 52 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 5) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.0362 134.1191 811.0724 20981. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. dengan deskripsi sebagai berikut. d. b. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif peserta didik.5074 1191. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 AB AC BC ABC Galat Total 4228. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT.4280 6.0338 4.0764 1754. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan peserta didik.1480 36016. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.5210 - 3. c.9017 3. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.2383 811.5382 877.5074 595. a. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. 4) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. sedang. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.0540 3. dengan deskripsi sebagai berikut.4945 15.

5) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 1) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. dengan deskripsi sebagai berikut. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 4) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. dan gaya kognitif peserta didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik diabndingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 4) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. f. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 2) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. g. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 53 . 6) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 5) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 2) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. sedang. dengan deskripsi sebagai berikut. 3) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. keingintahuan. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. 3) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. maupun rendah sama baiknya. 1) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 3) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.

7) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. 18) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. 10) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. 9) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 14) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 15) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. 17) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang. 16) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. 11) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 13) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. 12) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. 8) Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 54 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .

25) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 23) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 29) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. 28) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 55 .Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 19) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 20) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik diobandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. 22) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 26) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. 21) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. 24) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. 27) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent.

sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan rendah. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 30) Pada peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah. maupun rendah sama baiknya. 31) 32) 33) 34) 35) 36) 37) 38) 39) 40) 41) 42) 56 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . maupun rendah sama baiknya. sedang. prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan tinggi. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field dependent. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki keingintahuan rendah sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki keingintahuan sedang. Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi dan gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field dependent. maupun rendah sama baiknya. dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan memiliki gaya kognitif field independent. Pada peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan memiliki gaya kognitif field independent.

prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Bandung: Nusa Media. 2003. Jakarta: PT Bumi Aksara. Bandung: PT. Yogyakarta: Pustaka Belajar. b. Desmita. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2008. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Asdi Mahasatya. SIMPULAN Berdasarkan analisis data menggunakan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. g. Slameto. dan Praktik. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. diperoleh simpulan bahwa: a. 2010. Nasution. 1997. keingintahuan. dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 2010. R. 45) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field dependent. f. Anita Lie. . Metodologi Penelitian Pendidikan. 2009. Srivastava. Terdapat perbedaan pengaruh antar masing-masing kategori model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. 44) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field independent. 2008. d. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Terdapat interaksi antara model pembelajaran. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Slavin. (Edisi terjemahan oleh Narulita Yusron). Surakarta: Sebelas Maret University Press. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. e. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 57 . Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. 46) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah dan gaya kognitif field independent. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. DAFTAR PUSTAKA Agus Suprijono. Jakarta: PT. E. 2009. Statistik Untuk Penelitian (Edisi Kedua). New Delhi: Anmol Publications Pvt Ltd. Priyamvada. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baiknya dengan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD. c. Riset. Terdapat interaksi antara keingintahuan dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika peserta didik. S. Budiyono.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 43) Pada peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang dan gaya kognitif field dependent. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Remaja Rosdakarya. Cooperative Learning: Teori. Jakarta: Grasindo. Cognitive Style in Educational Perspective. 2003. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan keingintahuan terhadap prestasi belajar matematika peserta didik.

Pembelajaran matematika yang masih menggunakan pembelajaran konvensional masih menempatkan guru sebagai sumber informasi utama yang berperan dominan dalam proses pembelajaran. baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika di sekolah. SMART. serta memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup. achievable. e-mail : ndrie024mp@gmail. sampai saat ini kualitas pembelajaran matematika di Indonesia masih rendah (Soedjadi. Penelitian ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar matematika peserta didik menggunakan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan teknik random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol.com Abstrak Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide . 2001b: 1). Dalam proses pembelajaran peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. 1997:198). Selain itu peserta didik kurang diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif. Kata Kunci : Peluang. mandiri dan berjiwa wirausaha (Sanjaya 2008: 2). (3) pembaharuan kurikulum. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masih lemahnya proses pembelajaran. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol. inovatif. measurable. Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika. mengembangkan karakter dan potensi yang dimiliki. Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model MEA akan mencapai efektif dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik. MEA. peserta didik dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif (Suparman. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari sering informasi bercampur dan mungkin dapat dipertimbangkan sebagai hal yang kompleks. uji pengaruh. (2) kualifikasi pendidikan guru. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh. Akibatnya. Berbagai upaya tersebut antara lain dalam bentuk: (1) penataran guru. (5) penelitian tentang kesulitan dan kesalahan peserta didik dalam belajar matematika. (4) penerapan model atau metode pembelajaran baru.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS SMART PADA MATERI PELUANG DENGAN MODEL ELICITING ACTIVITIES Aryo Andri Nugroho Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. realistic. Banyak perangkat dimana para ilmuwan menggunakannya untuk menjelaskan sistem kompleks yang melibatkan cara pikir yang dinyatakan dalam bentuk model matematis. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik (X) sebagai variabel bebas dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan. Pada penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran berbasis SMART (spesific. misalnya memusatkan pada karakteristik struktural 58 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . yaitu uji ketuntasan prestasi belajar. Namun berbagai upaya tersebut belum mencapai prestasi yang optimal. Dalam pembelajaran konvensional guru bertindak sebagai pentransfer ilmu kepada peserta didiknya. karena berbagai kendala di lapangan. Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities (MEA) yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena seperti pola dan interaksi. Kreatifitas. Lontar 1 (Sidodadi Timur) Semarang 50125.ide yang mendorong ke arah kesuksesan. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreatifitas peserta didik. time bound).

adanya perbedaan prestasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Model Eliciting Activities mendorong aktivitas peserta didik dalam pengembangan model karena untuk memecahkannya diperlukan cara untuk menyatakan berpikir saat ini dalam bentuk yang diuji dan diperbaiki berulang kali setelah di uji. 2003). Model eliciting activities biasanya melibatkan aktivitas-aktivitas yang mematematikakan (mathematizing) objek yang relevan. dan penginterpretasian dari situasi masalah yang diberikan (Lesh & Yoon. dan (3) CD interaktif. measurable. hubungan. Materi yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu tentang peluang karena pada materi peluang dibutuhkan suatu pemahaman yang abstrak dan mendorong kreatifitas peserta didik. aksi. c. kelancaran representasional. Salah satu substansi yang menjadi penekanan KTSP adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang efektif. 2004). dan keteraturan serta membekali peserta didik dengan fondasi penalaran matematis yang dasar. pola. Menurut Guskey (1982) pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya ketercapaian ketuntasan dalam prestasi belajar. b. Dalam proses pemecahan masalah menuntut peserta didik dengan perangkat baru untuk memecahkan permasalahan serupa di masa datang (Lesh & Yoon. interaksi. dan keterampilan sosial dimana peserta didik kita membutuhkannya (Steen. atau menjelaskan perilaku dari sistem lain. Ketika peserta didik diberikan suatu permasalahan maka permasalahan tersebut diterjemahkan dengan cara yang tunggal. Perangkat pembelajaran yang disusun adalah perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART (spesific. achievable. realistic. d. Peserta didik harus memulai sebuah pengembangan yang bermakna dari proses dan keterampilan serta ide-ide dan proses kunci yang mendorong ke arah kesuksesan harus diberikan. Pengembangan model biasanya melibatkan satu rangkaian siklus desain yang melibatkan cara yang berbeda terhadap penyaringan. Sifat alami model tersebut dapat digambarkan dalam empat aspek. Pengalaman pemecahan masalah peserta didik secara tradisional telah dibatasi masalah dimana peserta didik menerapkan satu prosedur yang diketahui atau mengikuti satu jalur yang jelas. Sementara dengan tidak menolak pentingnya pengalaman masalah yang ada. dan memvisualisasikan serta mengevaluasi produk akhir yang mungkin. berkenaan dengan informasi yang ambigu atau tidak lengkap. menggambarkan. time bound). Disini kita memperkenalkan Model Eliciting Activities yang berfokus pada karakteristik struktural dari fenomena (seperti pola. Dengan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 59 . Gagasan yang relevan dan sistem konseptual dapat diharapkan menjadi langkah-langkah intermediate dari pengembangan. Model biasanya digambar dari berbagai disiplin atau area topik buku teks. Artinya bahwa proses penafsiran untuk peserta didik telah diminimalisir atau dieliminasi. Amit & Schorr. mereka tidak memahami secara baik pengetahuan matematika. dan hubungan antara unsur-unsur) (Jones & Nisbet. a. Sebuah nilai ekstra adalah bahwa model eliciting activities itu bisa mendorong ke arah bentuk belajar yang signifikan. 2002). (2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Model biasanya dinyatakan dengan menggunakan berbagai media representational yang saling berinteraksi. 2004). Kesulitan bagi peserta didik adalah mengerjakan bagaimana cara untuk mendapatkan gambaran dari pernyataan yang diberikan pada tujuan yang diberikan. pengorganisasian. mengidentifikasikan rintangan terhadap solusi.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dari sistem yang relevan. Lebih dari itu banyak persamaan terjadi antara model dimana peserta didik mengembangkan sistem untuk bisa dipertimbangkan dalam pengalaman sehari-hari mereka sendiri dan model dimana para ilmuwan mengembangkannya (Lesh & Doerr. 2001). Selain itu dalam kegiatan pembelajaran disini akan disusun perangkat pembelajaran yang meliputi: (1) Silabus. 1997). Pemunculan masalah model ini adalah aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang mendorong ke arah pembentukan sebuah model eliciting activities (Lesh. Satu komponen penting dalam pemecahan masalah didalam dunia masa kini adalah menginterpretasikan situasi masalah. adanya pengaruh yang positif antara variabel bebas dengan variabel terikat. Model ini adalah sistem konseptual yang digunakan untuk membangun. proses.

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data dokumentasi. kuantitas. data kreatifitas peserta didik. Pengukuran mempunyai prestasi yang dapat dinilai. untuk mencapai semuanya jelas dan prestasi dapat ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif dari pada sebelumnya (time bound). Jenis penelitian ini yaitu penelitian eksperimen jenis Quasi Experimental (Samsudi. a. 2006: 75) yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik pada materi peluang yang memenuhi kriteria efektif. uang. Specific Specific maksudnya bahwa tujuan itu konkret. Pemenuhan pada suatu tujuan memerlukan kemampuan. baik dalam skala 1–10 ataupun dalam bentuk keberprestasian dan kegagalan. detail. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses untuk dilaksanakan dan pada akhirnya alat ukurnya juga nyata jelas (realistic). Achievable Achievable menyangkut tujuan yang di himpun dapat dipenuhi dan dapat dicapai. Pada perangkat pembelajaran matematika dalam pemilihan indikator materi sesuai dengan kurikulum dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah. pengamatan. indikator yang terukur dari materi yang khusus jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi nantinya (achievable). achievable (dapat dipenuhi). Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang dipilih harus terukur sesuai dengan materi yang dipilih. perlengkapan dan lain-lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan. b. keterukuran indikator dari pemilihan materi yang khusus (measurable). persentase. frekuensi. Pengukuran membantu untuk mengetahui kapan tujuan sebuah program telah terpenuhi. seperti keterampilan. realistic (realistik). Measurable Measurable berarti dapat mengukur apakah kita telah mencapai tujuan atau tidak (bilangan. Prestasi dinyatakan dalam bilangan. Program menyatakan tujuan yang tepat. Variabel dalam penelitian ini yaitu kreatifitas peserta didik sebagai variabel bebas dan prestasi belajar sebagai variabel terikat serta instrumen pada penelitian ini terdiri dari lembar pengamatan kreatifitas peserta didik dan lembar tes prestasi belajar. Pada perangkat pembelajaran matematika indikator yang terukur dari materi yang jelas dapat dicapai dengan ditunjukkan oleh ketuntasan prestasi belajarnya. Pada perangkat pembelajaran matematika. Realistic Realistic maksudnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi yang dikerjakan. time-bound (batasan waktu). KAJIAN TEORI 1. prestasi ilmiah dan lain lain. materi terukur agar mencapai keberprestasian atau 60 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Dalam penelitian ini peneliti memaknai perlunya model eliciting activities dalam pembelajaran dengan perangkat pembelajaran berbasis SMART sehingga diharapkan pembelajaran menjadi efektif. data prestasi belajar. c. SMART Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas programprogram yang diajukan dan dilaksanakan. Boise State University (2007) dan Swinton (2006) menyatakan SMART dikembangkan berkenaan dengan tujuan penting sedemikian hingga dapat sangat membantu dalam menulis tujuan yang dapat dijadikan modal dalam mengevaluasi kualitas program-program yang diajukan dan dilaksanakan. dan perbandingan). SMART sebagai tujuan program yang berarti specific (spesifik). Berdasarkan uraian ini maka muncul masalah apakah pembelajaran matematika berbasis SMART pada materi peluang dengan model elicting activities mencapai efektif. d. terfokus dan dapat didefinisikan dengan jelas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memperhatikan kekhususan materi peluang yang sesuai kurikulum dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik (spesific). measurable (dapat diukur).

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 61 .tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. e. Kreatifitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. dan diarahkan untuk mengaitkan dengan prestasi manipulasi. d) Prediksi dan Verifikasi Pada tahap Prediksi peserta didik diarahkan ke arah diskusi untuk meramalkan untuk usul operatif untuk membuat permainan adil disertai dengan alasan-alasan logis dan pada tahap verifikasi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari kegunaan dari prediksi. tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut diprestasikan produk-produk kreatif yang bermakna. peserta didik diarahkan untuk membuat klarifikasi dari aturan permainan apakah aturan tersebut adil atau tidak c) Translasi Pada tahap translasi peserta didik didik diminta untuk mencoba langsung dari aturan permainan. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar yang membimbing siswa kearah MEA. Dalam kegiaan inti terdapat langkah-langkah pembelajaran yang memuat MEA yaitu: a) Deskripsi Pada tahap deskripsi peserta didik membaca bahan ajar yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang telah disusun berdasarkan MEA. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Setiap kelompok diberi bahan ajar 3. Setelah proses diskusi dan telah didapat aturan yang adil maka tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan konsep tersebut dalam pemecahan masalah yang ada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Berdasarkan teori tentang model eleciting activiies. 4. Pada perangkat pembelajaran matematika ketersediaan waktu dari penugasan. yaitu a) Deskripsi ( membangun model matematika dari permasalahan yang ada pada dunia nyata). Beberapa perwakilan kelompok diminta mempresenasikan prestasi diskusinya berserta prestasi penemuannya. 2. Time Bound Time-bound berarti mengatur batasan waktu untuk memenuhi tujuan. b) Manipulasi (manipulasi model dengan tujuan untuk memprediksi atau melakukan aksi yang berhubungan dengan pemecahan masalah sebenarnya). Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. Batasan waktu diperlukan harus memenuhi aspek achievable dan realistic. b) Manipulasi Pada tahap ini peserta didik diberi desempatan untuk membangkitkan prediksi atau tindakan yang berhubungan dengan situasi pemecahan masalah asli. 5. 6. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok. sehingga Aturan menjadi jelas bagi semua peserta didik. c) Translasi (membawa prestasi yang diperoleh dan relevan untuk dikembalikan dengan kondisi sebenarnya). proses pembelajaran tatap muka dan evaluasi harus jelas dan ditunjukkan dengan menggunakan batas waktu tertentu yang lebih efisien dan efektif.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 ketercapaian harus dihantarkan oleh suatu langkah yang jelas yaitu kejelasan skenario dari awal proses hingga akhir proses pembelajaran dan dapat dilaksanakan secara konkret. 3. Pertama. MEA (Model Eliciting Activities) Menurut Lesh dan Doerr (2003) siklus Model Eliciting Activities adalah terdiri atas empat tahap. d) Verifikasi (kegunaan dari aksi dan prediksi). dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. 2. maka bisa dibuat langkahlangkah sebagai berikut: 1.

yang sampai sekarang masih diterapkan dalam pengembangan kreativitas. Lesh.. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 2) terdapat pengaruh positif kreatifitas peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika berbasis SMART dengan MEA (model eliciting activities) pada materi peluang . 2003. In: L. 1986. 3–34). Thornton. The Effectiveness Of Mastery Learning Strategies In Undergraduate Education Courses. R. Terbitan kedua. Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities.edu/td/pdf/SMART goals. (2003). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Amsterdam: IOS Press. NJ: Erlbaum.).E. Jakarta: Bumi Aksara. yaitu uji ketuntasan prestasi belajar.pdf download tanggal 18 Oktober 2009. meliputi tahap persiapan. University Of Kentucky.. Lesh & H. Tingkat keberprestasian diukur melalui tiga uji statistika. dan Raymond. iluminasi. H. & F. Understanding students' probabilistic reasoning. Samsudi. A. Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya inspirasi atau gagasan baru. dalam arti dia tidak memikirkan masalahnya secara sadar. dan sebagainya. What’s distinctive in (our views about) models & modeling perspectives on mathematics problem solving. uji pengaruh.. R. (1999). dkk. Lesh. disinilah akan lahir gagasan inspiratif. H. A. Guskey. and problem solving. Disain Penelitian Pendidikan. R. M. Blum (Eds. 65-83). Performance Management – Creating SMART Objectives: Participant Guide. Dan tahap verivikasi atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas ( disertai dengan pemikiran kritis ). & Yoon.). Bandung: ITB. Curcio (Eds. mencari jawaban. Ronald.. Sanjaya. 62 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . 146-155). 2007.W. Langrall. Lesh. V. Developing Mathematical Reasoning in Grades K-12.). & Doerr. & Tarr. J. (pp. Amit. dan verivikasi. Foundations of a models and modeling perspective on mathematics teaching. R. Pada tahap persiapan seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir. S. inkubasi. (2004). Doerr (Eds. 2008. (pp. bertanya pada orang. Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan. C. E. 3) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang lebih baik dari pembelajaran konvensional. Using “real-life” problems to prompt students to construct conceptual models for statistical reasoning. W. dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Henn & W. 2009:39). learning and teaching? In H. R. Boise State University. In R. In Gal & Garfield (Eds. Stiff. G. C. Jones.. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. & Schorr.boisestate. Reston VA: The Council. Pada tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. KESIMPULAN Dalam kegiatan penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data kreatifitas peserta didik.).langkah proses kreatif menurut Wallas (Munandar. http://hrs. diharapkan: 1) pembelajaran matematika berbasis SMART dengan model eliciting activities pada materi peluang peserta didik dapat mencapai tuntas. C. Mahwah. Semarang : UNNES PRESS. learning. 2009. National Council of Teachers of Mathematics' 1999 earbook (pp. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen dan kelas kontrol.. Beyond Constructivism: Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving. Pre-Conference Volume..Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Adapun langkah. Learning and Teaching. ICMI Study 14: Applications and Modeling in Mathematics Education. 1982. (1997). The Assessment Challenge in Statistics Education.

1997. http://www.uk /psychology_articles/Goal-Setting-Guide.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Soedjadi. Juni 2001. Desain Instruksional. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”. Sudjana. Goal Setting Guide. 2001 b.co.pdf. 2002. Bandung: Alfa Beta Swinton. Metoda Statistika. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya. download 18 Oktober 2009 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 63 . 2006.uncommon-knowledge. L. Suparman. R.

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CREATIVE THINKING BERBANTUAN VIDEO DIKEMAS DALAM CD PEMBELAJARAN DAN WORKSHEET PADA MATERI SEGITIGA SISWA KELAS VII
FX. Didik Purwosetiyono Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Nomor 24 – Dr. Cipto Semarang, e-mail: fxdidik.purwosetiyono@gmail.com Abstrak
Pembelajaran yang bermakna memerlukan usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas siswa, sehingga akan menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Untuk melihat efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, diperlukan adanya instrumen yang berupa: 1) Rencana Pembelajaran (RPP), 2) worksheet, 3) Lembar Observasi. Juga harus didasari kajian-kajian teoritis dan juga penelitian-penelitian yang relevan untuk membangun suatu efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan kajian teoritis tersebut, diperlukan suatu penelitian, dimana penelitian tersebut merupakan jawaban atas kajian teori peneliti. Penelitian direncanakan dengan teknik claster sampling, dan akan memilih satu kelas sebagai kelas eksperimen dan dan satu kelas sebagai kelas kontrol.Variabel independen penelitian kreativitas siswa dan variabel dependen prestasi belajar. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet, perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran, juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan, 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM, dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM, b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square, c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol, dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. Kata kunci : Efektivitas, creative thinking, Video, CD pembelajaran, worksheet.

PENDAHULUAN Pada proses pembelajaran guru meminta kepada siswa mengungkapkan pendapatnya tentang pembelajaran matematika, maka akan banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika sulit, sehingga pada prestasi belajar matematika yang kurang optimal. Sehingga karena asumsi tersebut membentuk pemikiran siswa yang kurang optimis dalam belajar matematika. Menurut Sierwalds (dalam Davasligil, 2005) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan prestasi belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari kreativitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan prestasi belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran matematika menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatvariasi media yang digunakan dalam pembelajaran keterbatasan yang ada pada guru maupun siswa. Pentingnya suatu penggunaan

64

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu salah satunya yaitu dengan pembelajaran matematika pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas CD pembelajaran dan berbantuan worksheet. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas (X) adalah kreativitas siswa, dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam bentuk CD Pembelajaran dan worksheet. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen (E) dan kelompok kontrol (K) pada kompetensi dasar kesebangunan. Variabel terikat ini akan diungkap dengan instrumen tes prestasi belajar menurut ranah kognitif. Jenis instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran. Instrumen untuk pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari: Lembar Pengamatan Kreativitas Siswa, lembar Pengamatan Keterlaksanaan pembelajaran, Lembar Angket Respon Siswa, lembar angket respon guru. Data yang telah dikumpulkan melalui instrumen-instrumen kemudian dianalisis. Data yang dianalisis adalah sebagai berikut. 1) Analisis Data Angket, 2) Analisis Data Tes Prestasi Belajar, meliputi; 3) Uji Hipotesis, meliputi; Uji homogenitas, uji normalitas, uji ketuntasan belajar, Uji perbedaan dua rata-rata uji pihak kanan dan uji proporsi, adalah sebagai berikut. Dari uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang muncul dan akan dikaji adalah: 1) Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas? 2) Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional? 3)Apakah pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional? KAJIAN TEORITIS 1. Aktivitas Menurut Paul B. Diedrich ( dalam Sardiman, 2007 ) aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok sebagai berikut. a. Visual Activities, meliputi: memperhatikan dari gambar demonstrasi , membaca, percobaan dari pekerjaan orang lain. b. Oral Activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik. d. Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan, membuat konstruksi, perangkat, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. g. Mental Activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisa hubungan, mengambil keputusan. h. Emotional Activities, seperti: menaruh minat, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup, merasa bosan. Jadi klasifikasi aktivitas di atas menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariatif. Jika berbagai aktivitas tersebut dapat dikondisikan selama proses pembelajaran maka pembelajaran lebih dinamis. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktivitas didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, aktivitas didominasi oleh siswa. Pada Gambar 1 menunjukkan dua kelompok model pembelajaran yaitu pembelajaran Pasif dan Pembelajaran Aktif. Gambaran tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok pembelajaran aktif cenderung membuat siswa lebih mengingat (retention rate of knowledge) materi kuliah. Oleh sebab itu dalam pembelajaran engineering model pembelajaran aktif ini merupakan alternatif yang harus diperhatikan jika kualitas lulusan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

65

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

ingin diperebaiki. Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif baik sepenuhnya atau sebagai pelengkap cara-cara belajar tradisional akan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tend to Remember about:

Level of Involment

10% of what we read 20% of what we hear 30% of what we see 30% of what we hear and see 70% of what we say

Reading

i.Hearing Words Looking at Pictures j. Watching a Movie k. Looking at an Exhibit l. Wacthing m. a Demonstration Seeing it Done on Location n.
Participation in a Discussion Giving a Talk

Verbal Receiving
PASSIVE

Visual Receiving

Paticipating
ACTIVE

90% of what we say and do

Performance/Dramatic Presentation Simulating the Real Experience Doing the Real Thing

Doing

Gambar 1. Model Pembelajaran Aktif dan Pasif (Sumaidi, 2008:52) 2. Kreativitas Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Pertamatama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif ( dalam Munandar, 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi, adalah: 1) Imajinatif, 2) Mempunyai prakarsa, 3) Mempunyai minat luas, 4) Mandiri dalam berfikir, 5) Melit, 6) Senang berpetualang ( senang mengeksplorasi), 7) Penuh energi (bersemangat), 8) Percaya diri, 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu), 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan ( teguh pendirian). Sehingga dari ke sepulih ciri-ciri tersebut akan dibuatlah rincian mengenai daftar angket yang akan dihunakan sebagai lembar observasi kreativitas siswa. 3. Video Video adalah suatu perangkat yang berfungsi sebagai penerima gambar dan suara. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Karena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan. Video ini berkaitan erat dengan audiovisual. 4. CD Pembelajaran. Levie dan Lentz (Arsyad, 2006:8) yang mereviu hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar, stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.

66

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011

CD interaktif merupakan salah satu sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dimana di dalamnya telah diinstal program yang disiapkan untuk tujuan pembelajaran tertentu. Arsyad (2006:32) menyebutnya sebagai media mutahir berbasis komputer yang diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih ”hidup” dan melibatkan interaktifitas siswa. Dipilihnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran berbantuan CD interaktif dengan perangkat komputer tidak lain karena media ini memiliki keunggulan sebagai media instruksional, antara lain: (a) dapat menunjukkan visualisasi yang menonjolkan gerak; (b) dapat dipercepat/diperlambat sehingga mudah diamati dan dimengerti (dapat diulang); (c) materi yang divisualisasikan mirip dengan objek aslinya; (d) dapat diberi efek suara sehingga efektifitas belajar lebih tinggi; (e) gambar bisa diperbesar sehingga dapat digunakan pada kelas yang besar; (f) dapat disimpan dan digandakan dalam CD atau di komputer; (g) software dapat digunakan berulang-ulang; dan (h) perangkat perekam relatif mudah dioperasikan. Dalam penelitian ini CD interaktif yang dimaksud adalah suatu alat dalam bentuk multimedia berupa keping CD yang memuat materi pembelajaran kompetensi dasar. Materi dikemas dengan program macromedia flash untuk 5 (lima) kali pertemuan berisi: (a) standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikatornya; (b) materi pendahuluan; (c) penanaman konsep dengan contoh soal dan latihan soal; dan (d) pada akhir pertemuan dilengkapi tes-uji kompetensi hasil belajar lengkap dengan skor yang diperoleh dari jawaban siswa. Berdasarkan pandangan beberapa ahli di atas maka media pembelajaran berbantuan CD interaktif audio visual merupakan media yang sangat cocok bagi siswa dalam membantu proses belajar diantaranya, (1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret, (2) mampu memberikan keseragaman persepsi,(3) mampu menyajikan informasi yang konsisten dan dapat diulang, dan (4) mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat belajar. 5. Worksheet Lembar kerja siswa (worksheet) berupa lembaran-lembaran kertas berisi informasi maupun soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa, pada akhirnya siswa dapat menemukan suatu kesimpulan dari apa yang mereka pelajari. LKS ini sangat mendukung untuk meningkatkan keterlibatan siswa belajar, baik dalam penerapan metode penemuan terbimbing maupun memberikan latihan-latihan pengembangan (Depdiknas, 2004). 6. Prestasi Belajar Prestasi adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2003:76). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Depdiknas, 2003:26). Jadi prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh karena suatu usaha memperoleh ilmu sekaligus terjadi perubahan tingkah laku. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang diamati pada ranah pengetahuan dan pemahaman konsep atau kognitif yang datanya diambil dari metode tes (pencil paper test). 7. Kajian Penelitian yang relevan Pada penelitian ini, adapun kajian dari penelitian yang relevan dengan penelian ini adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Iman (2008), dan penelitian yang dilakukan oleh Arif (2008). Menurut Imam (2008: 128) para guru matematika diharapkan dapat memilih pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar sehingga belajar siswa menjadi pembelajaran yang bermakna. Disinilah diperlukan suatu peranan seorang guru sebagai pembimbing siswa, sehingga bisa mengarahkan siswanya kearah pemahaman mengenai suatu konsep tertentu, sehingga bisa diarahkan pada aktivitas siswa. Menurut Arief (2008: 62) Semakin siswa kreatif dalam melaksanakan tugasnya, atau sudah mau belajar berfikir mandiri membuat siswa selalu aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa bisa dibentuk, dengan memberikan stimulus-stimulus pada siswa dalam suatu pembelajaran, dengan memberikan

Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1

67

juga dilaksanakan observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan. (4) bimbingan guru dalam pembelajaran adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh seorang guru untuk mengarahkan siswa menuju pada tujuan yang diharapkan. dengan hal itu diharapkan akan dicapai pembelajaran yang efektif. 6) Senang berpetualang (senang mengeksplorasi). Pengetahuan baru itu akan dapat diserap dengan baik apabila siswa belajar dalam situasi yang penuh kebermaknaan. dan secara klasikal lebih dari 85% siswa memperoleh nilai diatas KKM. SIMPULAN Guru sebagai fasilitator. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif. dalam hal ini peranan media diperlukan. Menurut FX. 2) Terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dengan pembelajaran konvensional. 1) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa dapat mencapai tuntas. 2) Mempunyai prakarsa. Dengan demikian dapat diketahui efektivitas suatu pembelajaran. dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Berdasarkan kajian teori tersebut di atas. Dalam hal ini yang penting adalah memberi kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. barulah ditambahkan media pembelajaran yang tepat.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 pola yang menuntut siswa untuk berfikir. 3) Mempunyai minat luas. sehingga akhirnya siswa dapat menemukan jawabannya sendiri dari proses kreatif yang dilakukannya. Dari ciri-ciri pribadi kreatif tersebut dijadikan acuan untuk membentuk kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. (2) terciptanya suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dan inivatif saat belajar matematika. Pada pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada strategi yang tepat. Adapun peringkat 10 ciri-ciri pribadi kreatif (dalam Munandar. 9) Bersedia mengambil resiko (berani memulai sesuatu). tanpa perlu atau terlalu cepat menuntut dihasilkan produk-produk kreatif yang bermakna. 3) Pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking 68 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . agar pelaksanaan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. Menurut Munandar (2009:46) Untuk mengembangkan kreativitas anak perlu diberikan kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. 8) Percaya diri.tama yang perlu adalah proses bersibuk diri secara kreatif. penggunaan CD pembelajaran sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Dengan pembelajaran matematika dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet. (3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam hal ini difokuskan pada kreativitas siswa. b) Pengaruh kreativitas terhadap prestasi belajar yang ditunjukkan dengan R Square. 7) Penuh energi (bersemangat). 4) Mandiri dalam berfikir. Pertama. sehingga dengan bantuan media ini dapat memacu kreativitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Didik (2010:102) Penggunaan dan pelaksanaan suatu strategi perlu diperhatikan arah pencapaian indikator dan tujuan pembelajaran. memberikan bantuan di awal pembelajaran setelah siswa mampu maka bantuan dikurangi kemudian dilepaskan sehingga anak mandiri dalam membentuk pengetahuan baru yang berkembang terus sebagai milik mereka. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan efektivitas pembelajaran matematika materi segitiga kelas VII dengan pendekatan creative thinking berbantuan video dikemas CD Pembelajaran dan worksheet. 2009: 36) yang diperoleh dari kelompok pakar psikologi. adalah: 1) Imajinatif. 5) Melit. kelebihan yang bisa dicapai antara lain (1) siswa diajak dalam suasana kebermaknaan berupa visual. diharapkan. Jika strategi pembelajaran sudah tepat. 2) Pembelajaran mencapai efektif yang akan ditunjukkan oleh: a) Rataan kreativitas dan prestasi belajar siswa secara individu melebihi KKM. perlu dilakukan: 1) observasi terhadap respon guru dan respon siswa terhadap pembelajaran. c) Rataan kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. 10) Berani dalam pendirian dan keyakinan (teguh pendirian). dalam penelitian ini.

Jakarta: Rineka Cipta. Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Berorientasi pada Pendekatan Problem Solving Berbantuan CD Pembelajaran Pembelajaran Materi Program Linear Kelas X. 2002. Intercultural Aspect of Creativity. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto. Statistika Untuk Penelitian. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Balai Pustaka. Metode Statistika. Munandar.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 berbantuan video yang dikemas dalam CD Pembelajaran dan worksheet pada materi segitiga kelas VII siswa lebih baik dari pembelajaran konvensional. 2005. DAFTAR PUSTAKA Arif. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Mengajar Belajar Matematika. Sudjana. S. 2007. Hudoyo. Bandung: Tarsito. 2009. 71: 88-97. Bandung: Erlangga Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 69 . Arikunto. challenge and Barriers The Case in Turkey. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Matematika untuk SMP Kelas VII. 2006. Nurhadi. S. Jurnal.S. Sukino & Wilson. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Dekdikbud. 2009. H. Dekdikbud. Puskur Balitbang: Depdiknas. Vol. Departemen Pendidikan Nasional. Semarang: Program Pascasarjana UNNES. K. 2003. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Sugiyono.Istambul University. Jakarta: Bumi Aksara Davasligil. 2005. Tesis.& Abdul J. Evaluasi Program Pendidikan. 2008. 2003 . 2004. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. 1988.

manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. sehingga siswa bisa saling berdiskusi memecahkan masalah. Seringkali guru kesulitan untuk bisa mengontrol anak satu persatu apakah setiap anak sudah mengerti materi yang diajarkan. bisa bekerja sama dan saling membantu. uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas). Dari data analisis disimpulkan : (1) Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point menghasilkan prestasi yang lebih baik dibanding dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. power point dan Gaya Kognitif. Gatut Iswahyudi3 1) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Matematika Pascasarjana UNS 2) Program Pascasarjana UNS 3) Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Penelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point (2) untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gayakognitiffield dependent (3) untukmengetahui pada masing.masing gaya kognitif. Analisis butir soal pada tes prestasi dan angket gaya kognitif terdiri dari analisis daya beda. (3) Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. tingkat kesukaran dan konsistensi internal. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent (4) untuk mengetahui pada masing.beda dalam satu kelas dalam daya pikir. Diperlukan suatu model pembelajaran yang membuat siswa saling berinteraksi. tetapi ada juga yang lambat mengerti bahkan kadang terdapat yang sangat lambat mengerti materi yang dipelajari. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu : uji keseimbangan. angket gaya kognitif dan tes pilihan ganda. yang terdiri 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan gaya kognitif siswa.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN POWER POINTPADA MATERI PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA SMA NEGERI KOTA PONTIANAK Dewi Risalah1.40 anak) dan seringkali siswa yang mengalami kesulitan tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya. model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Kata Kunci : STAD. manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. Siswa yang sudah memahami materi yang 70 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Riyadi2. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. dan 1 variabel terikat yaitu hasil prestasi siswa. keadaan sosial. uji hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. (2) Prestasi siswa yang memiliki gaya kognitif FD lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki gaya kognitif.masing model pembelajaran. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA kota Pontianak. jumlah siswa yang banyak pada setiap kelas (35. Kesulitan ini karena waktu pertemuan yang tersedia terbatas. Kontekstual. PENDAHULUAN Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa matematika adalah kondisi siswa yang berbeda. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. kreatifitas dan lain. Pengumpulan datanya dilakukan melalui kajian dokumen sekolah. Dalam suatu proses pembelajaran sering kali terdapat siswa yang cepat mengerti materi yang dipelajari.lain. Analisis instrumen yang dilakukan pada tes yaitu validitas isi dan reliabilitas.

hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin. akan membuat pelajaran lebih efektif. Salah satu model pembelajaran yang memenuhi hal-hal yang diuraikan ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe student teams. contextual teaching and learning is defined as a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situations. Sehingga diharapkan dengan berinteraksi akan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD. STAD is a cooperative teaching method which was developed as part of a student learning approach programme along with other cooperative methods. Siswa sering merasa kesulitan mengaitkan pelajaran yang diterimanya dengan suatu yang nyata dalam hidup mereka. Kelebihan.hari. Pada tahap ini banyak guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan contoh. Diharapkan dengan pembelajaran kontekstual pelajaran akan menjadi bermakna.contoh dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta minimnya penggunaan media bantuan dalam pembelajaran.kelemahan diantaranya adalah tahap presentasi yang dilakukkan oleh guru. prestasi adalah kemampuan internal yang memuat kemampuan intelektual dalam hal informasi verbal.kelebihan seperti yang disebutkan di atas. Berdasarkan latar belakang masalah. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan oleh guru untuk memodifikasi materi pembelajaran. Sementara peserta yang mendapat persoalan bisa bertanya dan berdiskusi dengan siswa yang lain.model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point. Siswa saling bekerja sama untuk memahami materi yang dipelajari dengan guru sebagai fasilitator. sebenarnya seorang guru harus kreatif menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Untuk itu perlu dilakukan suatu pembelajaran dengan memodifikasikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point diharapkan bisa mengisi salah satu kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu pada tahap presentasi guru. tujuan pembelajaran serta metode pembelajaran.hari.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 dipelajari bisa membantu siswa yang lain sepaya menjadi mengerti juga. Serta diharapkan bantuan power point dalam pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. yaitu siswa membuat saling berhubungan positif. Prestasi belajar adalah penguasaan Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 71 . manakah yang mempunyai prestasi yang lebih baik. saling bekerja sama. Diharapkan dengan adanya hubungan antara gaya kognitif dengan model pembelajaran. Presentasi guru dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan kontekstual berdengan bantuan power point diharapkan akan membuat pelajaran lebih mudah dimengerti para siswa.masing model pembelajaran. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Apakah prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? 2) Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent lebih baik prestasinya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent? 3) Pada masing. Menurut Balfakih (2003). Selain memiliki kelebihan. Media bantuan yang dimaksud adalah power point. atau model pembelajaran STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point ? TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Menurut Gagne dalam Winkle (1996:482). Modifikasi dari model tersebut yang ditinjau dari gaya kognitif diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Dalam pembelajaran matematika. model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kelemahan. sehingga pemahaman konsep matematika bisa lebih mudah diterima siswa.achievement divisions (STAD).Pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari. Diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat pelajaran menjadi pengalaman yang nyata.masing gaya kognitif. siswa dengan gaya kognitif field independent atau field dependent ? 4) Pada masing. seringkali siswa mempertanyakan relevansi dari besarnya waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan pelajaran matematika. Pembelajaran kontekstual juga berusaha membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan penerapan dalam kehidupan sehari. manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik. Menurut Smith (2006).

Waktu yang diperlukan pada tahap ini dua bulan yaitu bulan Oktober 2011 sampai November 2011. Menurut Broverman (1960:167) mengemukakan bahwa gaya kognitif menggambarkan cara seseorang memahami lingkungannya.Tahap penelitian meliputi semua kegiatan yang berlangsung di lapangan. dan konsultasi instrumen penelitian pada pembimbing. sehingga jika siswa mampu untuk tidak bergantung dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. dan penghargaan kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok. 3) Pada masing . 2) Siswa yang memiliki gaya belajar kognitif Field Independent memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. tahap penelitian dan tahap penyelesaian. permohonan ijin survei. Tahap persiapan meliputi pengajuan judul tesis.kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. sehingga jika siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajarnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. kuis. Waktu yang diperlukan pada tahap ini adalah dua bulan yaitu bulan Agustus sampai September2011. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran. penyampaian materi. 4) Pada masing . METODE PENELITIAN Tempat pelaksanaan penelitian ini di SMA Negeri di Pontianak. Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. Kerangka berpikir bahwa STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point. Waktu yang dibutuhkan pada tahap ini adalah 5 bulan. STAD adalah model pembelajaran yang melibatkan kerjasama antar siswa secara berkelompok. 72 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas. yaitu tahappersiapan. hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kontekstual berbantuan power point lebih baik dibanding model pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa pendekatan kontekstual berbantuan power point.masing gaya kognitif. siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent. Gaya kognitif adalah cara seseorang dalam memproses. menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menangapi berbagai jenis situasi lingkungannya. kegiatan kelompok. yaitu uji coba instrumen dan pengambilan data. sedangkan gaya kognitif FD adalah gaya belajar siswa yang bergantung pada lingkungan belajarnya. Diharapkan dengan memadukan model pembelajaran tipe STAD kontekstual dengan kontekstual dengan bantuan power point disertai dengan gaya kognitif siswa akan meningkatkan prestasi belajar menjadi lebih baik.masing model pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa semester ganjil Kelas X tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2011 hingga bulan Oktober 2011 yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahap. yaitu dari bulan Februari sampai bulan Juli 2011. Menurut Trianto (2007:42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. sedangkan gaya kognitif FI adalah gaya belajar siswa yang tidak bergantung pada lingkungan belajarnya.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keterampilan yang ditunjukkan dengan tes yang diberikan oleh guru yang biasanya dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu dan lingkungannya. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Trianto (2007:10) pendekatan kontekstual (Contekstual teaching and learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan rerata antar kelompok model pembelajaran atau dapat dikatakan bahwa antara kelompok siswa yang dikenai model pembelajaran berbeda. Metode yang digunakan adalah dokumentasi. pada penelitian ini uji keseimbangan uji t sebesar 1. Sehingga diperolah tiga kelas ekperimen dan tiga kelas kontrol. Setelah dilakukan uji prasyarat kemampuan awal siswa yakni uji normalitas dan homogenitas.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena peneliti tidak mungkin mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabelvariabel yang diteliti. Pada analisis daya beda terdapat 36 item soal diterima dan 4 item soal yang tidak diterima.96 Karena nilai uji lebih kecil dari nilai tabel t maka H0 tidak ditolak.576 dengan nilai tabel t sebesar 1. SMA Negeri 9. uji homogenitas. SMA Negeri 6 Pontianak yang dipilih berdasarkan rangking. terdapat 30 soal yang konsisten dan 10 soal yang tidak konsisten. gaya kognitif dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa.rata ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 mata pelajaran matematika. Data penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah prestasi belajar matematika pada materi SPLDV yang dikatagorikan atas model pembelajaran dan kelompok gaya kognitif siswa. Pengelompokkan tersebut berdasarkan nilai rata . Pada tingkat kesukaran terdapat 2 item soal yang tidak baik. Pengujian Hipotesis Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 73 . Sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak.827 dan FD sebesar 0. uji keseimbangan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri di kota Pontianak tahun ajaran 2011/ 2012. SMA Negeri 9 Pontianak. uji ANAVA dan uji lanjut ANAVA. pengujian hipotesis dan pembahasan penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan faktorial sederhana 2 X 2. c. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7. sedang dan rendah. uju normalitas. Adapun langkah dalam pengambilan sampel yaitu dengan stratified cluster random sampling. Dari ketiga kelompok. yang masing. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. a.masing dipilih secara acak satu sekolah yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian.776 yang berarti instrumen tes baik. Uji Persyaratan Analisis Berdasarkan hasil uji normalitas prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran dan faktor gaya kognitif siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata prestasi belajar matematika antara kelas STADP dan kelas STADKP berasal dari populasi yang homogen.masing terdiri dari dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. yaitu STADP dan STADKP mempunyai kemampuan matematika yang sama. masing. SMA Negeri 8. Uji yang digunakan adalah uji validitas. yaitu tinggi.831. Adapun hasil penelitian disajikan adalah hasil uji coba instrument. tingkat kesukaran. Indeks reliabilitas FI sebesar 0. deskripsi data. daya beda. Pada gaya kognitif. selanjutnya dilakukan uji keseimbangan dengan metode uji beda rerata t. Satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. konsistensi internal. Tahapan yang dilakukan adalah dalam pengambilan sampel yaitu dari seluruh SMA Negeri yang ada di kota Pontianak terlebih dahulu dikelompokkan menjadi tiga tingkatan. Indeks reliabilitas sebesar 0. SMA Negeri 6 di Pontianak. yang terdiri dari tiga sekolah yaitu SMA Negeri 8 Pontianak. Uji Keseimbangan Kemampuan Awal Berdasarkan hasil uji normalitas kemampuan awal prestasi belajar matematika untuk faktor model pembelajaran siswa berasal dari populasi normal dan berdasarkan uji homogenitas ternyata kemampuan awal prestasi belajar matematika antara kelas STAD Power point dan kelas STAD kontekstual Power point berasal dari populasi yang homogen. b. demikian juga antara kelompok siswa mempunyai gaya gaya kognitif FD dan gaya kognitif FI berasal dari populasi yang homogen. angket dan tes. pengujian data analisis. reliabilitas.

Dalam penelitian ini. karena anava telah menunjukkan H0A ditolak.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan jumlah sel tak sama.7 RK 4286. Ini berarti terdapat perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point terhadap prestasi belajar matematika.6 Fobs 14. d.9 73197.9 5543.94 Ftabel 3.19 69.19. Rangkuman Analisis Variansi SP Model Gaya Kognitif Interaksi Galat Total dk 1 1 2 213 216 JK 4693. H0 ditolak H0 ditolak H0 diterima Dari tabel di atas tampak bahwa H0A ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.46 65. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD Kontekstual Power point lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan model pembelajaran STAD Power point. maka untuk baris tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava.04 0.9 62957. maka komparasi ganda tidak perlu dilakukan.27 lebih tinggi daripada gaya kognitif FI= 64.50 8.79 65. Dari rerata marginalnya. Komparasi itu menjadi tidak berguna.92 lebih kecil dari nilai Fb = 8.27 Rerata Marginal 60.86 1.11 64. Kalau pun dilakukan komparasi ganda antar rerata model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point. karena variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai.07 lebih besar dari nilai F ab = 0.masing Sel Model Pembelajaran STAD power point tanpa Kontekstual STAD power point dengan Kontekstual Rerata Marginal Gaya Kognitif FI FD 54. yang menunjukkan bahwa rerata model pembelajaran STAD Kontekstual Power point = 69.1 3.92 lebih kecil dari nilai F a = 14.04. Hal ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika dan H0AB diterima karena nilai uji Ftabel = 3. maka ini berarti terdapat pengaruh faktor gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Hasil pengujian ANAVA disajikan dalam tabel rangkuman analisis variansi dibawah ini : Tabel 1. Hal ini berarti terdapat perbedaan rerataan antara model pembelajaran STAD Power point dan STAD Kontekstual Power point terhadap prestasi belajar matematika.92 3. untuk itu perlu diperhatikan terlebih dahulu tabel rerata sebagai berikut : Tabel 2.93 75. dapat dipastikan bahwa hipotesis nolnya juga akan ditolak. tampak bahwa H0B ditolak.79. karena variabel model pembelajaran hanya mempunyai dua nilai (yaitu model pembelajaran STAD power point dan STAD Kontekstual power point).86 lebih tinggi daripada rerata model pembelajaran STAD Power point = 60. dapat 74 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Rerata Pada Masing .92 3. Sedangkan H0B ditolak karena nilai uji Ftabel = 3.61 64. Dari rerata marginalnya. Uji Lanjut Anava Dari kesimpulan penelitian. 2. perlu dilakukan uji lanjut pasca anava. Komparasi Rerata Antar Baris Dari pembahasan di atas.0 10.07 Kep.94.50. yang menunjukkan bahwa rerata gaya kognitif FD = 65. cukup melihat rerata marginalnya.1 295. tampak bahwa H0A ditolak. Komparasi Rerata Antar Kolom Dari pembahasan di atas.5 1185.

sedangkan pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD sebesar 65. Hipotesis Kedua. Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Dari pembahasan di atas. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F a = 14. Hipotesis Ketiga. 2) Siswa yang mempunyai gaya kognitif field dependent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mempunyai gaya kognitif field independent. maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point mempunyai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point.04 dengan nilai Ftabel = 3. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor model pembelajaran pada prestasi belajar matematika. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan faktor antara model pembelajaran dengan gaya kognitif pada prestasi belajar matematika.3) Tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan gaya kognitif siswa.19. model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point. maka kesimpulan dari hipotesis ketiga mengikuti kesimpulan hipotesis pertama dan kedua yaitu pada kategori gaya kognitif field independent. Kedua model pembelajaran tersebut mempunyai nilai yang berbeda. dapat disimpulkan bahwa karakteristik perbedaan antara model pembelajaran STAD power point dan model pembelajaran STAD kontekstual power point untuk setiap tipe gaya kognitif sama. Dari kenyataan bahwa tidak terdapat hubungan itu. maka untuk antar kolom tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji F ab = 0.79. Dalam penelitian ini. Pembahasan Hasil Penelitian Hipotesis Pertama. model pembelajaran kooperatif tipe STAD power point Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 75 . Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point.07. 3. variabel gaya kognitif hanya mempunyai dua nilai (yaitu gaya kognitif FI dan FD). Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih rendah dari pada siswa yang memiliki gaya kognitif FD. Kedua gaya kognitif tersebut mempunyai nilai yang berbeda. sedangkan pada kategori gaya kognitif field dependent.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 disimpulkan bahwa gaya kognitif FD lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan gaya kognitif FI.Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran dan gaya kognitif siswa terhadap prestasi belajar matematika. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan faktor gaya kognitif pada prestasi belajar matematika.92.94 dengan nilai Ftabel = 3. sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual Power point sebesar 69. Berdasarkan rerata marginal nampak bahwa rerata prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan model tipe STAD Power point lebih rendah dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point.86. yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD Power point sebesar 60.92. yaitu gaya kognitif FI sebesar 64. tampak bahwa H0AB diterima.50 dengan nilai Ftabel = 3. Jadi dapat dikatakan bahwa gaya kognitif FD memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada gaya kognitif FI. sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran tipe STAD kontekstual Power point selalu lebih baik diterapkan pada setiap gaya kognitif jika dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran STAD Power point. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas.27. maka tidak perlu dilakukan uji lanjut antar sel pada kolom yang sama. karena hubungan tidak ada. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh nilai uji Fb = 8.

1.V. 24. UNS Press. Jakarta: PT Bumi Aksara. Budiyono. 2009. 2010. Blanchard. T. Yogyakarta: GajahMada University Press. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Vol. Journal International Handbook of Education for the Changing World of Work. 1985. The Northwest Regional Education Laboratory USA. MetodePenelitian. 26. Dasar. Bandung: Nusa Media. Riset dan Praktik. Contextual Teaching and Learning Practices In The Family and Consumer Sciences Curriculum. Jakarta: Yudistira. Dwi Titik Irdiyandi. 4. Vol. 2005. Johnson. Jakarta: Erlangga. F. 9. Matematika SMA Kelas X. Journal of Educational Technology and Society. Surabaya: CerdasPustaka. Johanes Supranto. Undergraduated Students Academic Achievement. Contextual Teaching and Learning. Cetakan 3. Diakses tanggal 15 Juni 2011. Marwanta dkk. 2001. 605-624. XV. 2009. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 2009. Diakses tanggal 22 Mei 2011. 2009. Vol. The Implications of Cognitive Style to Adult Distance Education. Kurniawan. Maclean. 2009. 2007. 11.A. Elaine B. Hamzah Uno B. 25. Balfakih. Effects of Student Teams Achievement Divisions Strategy and Mathematics Knowledge on Learning Outcomes in Chemical Kinetics. The Journal of International Social Research. Nagib M. 2. 2010. MetodePenelitianBidangsosial. Hal. Jakarta :Erlangga. P Bettye. StatistikTeoridanAplikasi. Depdiknas. Smith . Hal. Moh Nazir.A dan Ibraheem. 289-297. Contextual Teaching and Learning. Diakses tanggal 22 Mei 2011. 1.2005. Yogyakarta: kanisius. No.2001. Altun. Spring/ Summer. Springer Science+Business Media B.Jakarta: Rajawali Pers. No.27.2003. PerkembanganIntelektualmenurut Piaget. Ibnu Hadjar. Jakarta: Ghalia Indonesia.Hal. Scott. Spring.DasarMetodologiPenelitianKwantitatifdalamPendidikan. Jakarta: Erlangga Johnson. Statistik Untuk Penelitian. Hal. 20.A. Teori Perkembangan kognitif Jean Piaget.1997. 2006. 2006. Hal. Hal.Tesis: UNS Surakarta. Jakarta: Apollo. 5.). Wilson (eds. No. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Kooperatif STAD DiModifikasikan dengan Kontekstual Pada Materi Lingkaran DiTinjau dari Tingkat Intelegensi Siswa Kelas VIII SMP Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2009/ 2010.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kontekstual power point. Muhibin Syah. Vol. 5. Slavin. Bandung: MLC.Field Dependent / Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers. Seribu Pena Matematika Jilid 1 Untuk SMA/ MA Kelas X. 2008. Husein Tampomas. 2009. No. Student Teams Achievement Divisions (STAD) in a Twelfth Grade Classroom : Effect On Student Achievement and Attitude. 1999. D. Vol. Paul Suparno. M. 23. Journal of Family and Consumer Sciences Education. Diakses tanggal 15 Juni 2011. 2008. 76 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Journal of Social Studis Reseacrh. Amstrong.Vol. Elaine B. KamusBesarBahasa Indonesia. 31. DAFTAR PUSTAKA Adesoji. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. No. Bandung: MLC. The Effectiveness of Student Team-Achievement Division (STAD) for Teaching High School Chemistry in The United Arab Emirates. 29. 2/6. Bandung: University of Washington. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada. Daryanto. Hadari Nawawi.International Journal of Science Education. A dan Cakan. 2000. Mandiri Matematika Untuk SMP/ MTs Kelas VIII. R. Winter. 1998. 2009. Psikologi Belajar. Terjemahan Cooperative Learning Teori.

MendesainPembelajaranKontekstual (Contextual Teaching and Learning).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Sudjana. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 77 .Jakarta: Prenada Media. Bandung: Tarsito. Jakarta: Raja GrafindoPersada. Trianto. Sumargiyani.Progresif. Tesis: UNS Surakarta. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Matematika DiTinjau dari Intelegensi Siswa SLTP Muhammadiyah II Yogyakarta. Bandung: CV. Dasar. 2009. Suharsimi Arikunto. 2003. 2005. Model. 2005. StatistikUntukPenelitian.2008. Jakarta: Bumi Aksara. MetodaStatistika. Alfabeta. Jakarta: CerdasPustaka. 2004.model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontstruktivistik. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif.Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). 2005. Trianto. Trianto. Jakarta: Prestasi Pustaka. SoemardiSuryabrata. Sugiyono. 2007. MetodologiPenelitian.

mampu mengelola program belajar mengajar.52 dalam kategori baik dan siklus II 80. dan kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tidak mengacu pada RPP yang sudah disusun. Disamping itu kegiatan Pembelajaran dalam Pendidikan adalah kegiatan yang bersifat terencana dan sistematik. oleh karena itu perencanaannya seharusnya dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara lengkap dan operasional. Selanjutnya dari kompetensi tersebut.88 dalam kategori sangat baik. dan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guru keperluan pengajaran. laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatkan kemampuan menyusun RPP hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata pra tindakan 63. mampu menggunakan media atau sumber. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan implementasi dari program pembelajaran yang tertuang di dalam silabus. 3) pertemuan balikan. mengenal dan menyelanggarakan administrasi sekolah. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif univariat . menguasai landasan-landasan kependidikan. mampu mengelola interaksi belajar mengajar. kependidikan. 4) Refleksi. siklus I 67 dalam kategori baik dan siklus II 78 dalam kategori baik. Pada umumnya dalam Penyusunan RPP calon guru cenderung kering akan inovasi. Kemampuan Mengajar PENDAHULUAN Mata kuliah PPL I atau pengajaran mikro adalah mata kuliah kelompok kependidikan ( MKPK ) yang bertujuan melatih mahasiswa mengajar di dalam kelas dengan siswa temantemannya sendiri ( mahasiswa ). yang langsung terjun mengajar di sekolah-sekolah tempat praktik dalam rangka penyiapan guru yang profesional. disempurnakan menjadi empat kompetensi yaitu. 78 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST . Kata kunci: Supervisi Klinis. mampu menyiapkan RPP yang inovatif. bukan menjadi komponen utama sebagai acuan kegiatan pelaksanaan pembelajaran. kepribadian .25 dalam kategori sedang. yaitu praktik pengalaman lapangan. Keadaan ini dapat dipahami karena. dan social. Oleh karena itu guru haruslah mempersiapkan RPP sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. calon guru belum terbiasa mengajar dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. Kegiatan dalam setiap siklus sesuai dengan prosedur supervisi klinis yaitu meliputi: 1) Pertemuan perencanaan.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP DAN KEMAMPUAN MENGAJAR DALAM PENGAJARAN MIKRO MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UST Esti Harini Program Studi Pendidikan Matematika. mampu melakukan evaluasi atau menilai prestasi siswa. Profil guru yang profesional antara lain adalah menguasai materi pengajaran. atau lapangan. Rencana Pelaksanaan pembelajaran. siklus I 73. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. dengan materi matematika SLTA atau SLTP. karena RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas. Kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro juga menunjukkan adanya peningkatan dengan diperoleh nilai rata-rata untuk pra tindakan 63 dalam kategori sedang. Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP calon guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa calon profesi pendidik. professional. mampu mengelola kelas. 2) pengamatan mengajar. Pengajaran mikro ini sebagai prasarat untuk menempuh PPL II. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus.

Secara rinci langkahlangkah dalam setiap siklus sebagai berikut: a. Observasi merupakan proses perekaman dengan mengamati semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Telaah dan diskusikan ketrampilan yang akan dilatih.Waktu pelaksanaan adalah pada semester genap tahun akademik 2010/2011. Berdasarkan hasil kajian bersama atau hasil latihan tsb. mendiskusikan instrumen yang akan digunakan 2) Pengamatan mengajar meliputi pengamatan yang dilakukan supervisor dengan cara merekam focus kegiatan maupun interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa. perasaan atau kesan calon guru. dan Obyeknya kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro dengan treatmen supervisi klinis. supervisor membantu calon guru untuk merencanakan latihan yang akan datang. Telaah rencana pelajaran dan cermati tujuan pelajaran dan tujuan dari latihannya. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a) Supervisor menanyakan kepada calon guru bagaiman peranannya selama melakukan latihan mengajar. 3. Jika indikator keberhasilan sudah dicapai dengan dua siklus. Usaha mennciptakan suasana yang hangat dan bebas antara calon guru dengan supervisor. maka penelitian akan berhenti pada siklus tersebut. Supervisor bersama calon guru membandingkan target latihan dengan hasil latihan dan mendiskusikannya. maka pelaksanaan supervisi klinis diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP–UST. Bersama-sama melihat kembali target kecakapan atau ketrampilan serta focus utama dalam latihan yang telah disepakati. Berdasarkan target tsb supervisor menyakan kesan calon guru b) Supervisor menyajikan data berupa hasil rekaman kemudian bersama-sama menganalisis dan menafsirkan rekaman tsb. Subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan matematika yang pada semester genap 2010/2011 mengambil Praktek Pengalaman Lapangan I (PPL I). 2. Metode penelitian adalah metode eksperimen semu. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 79 . antara lain: 1) Pertemuan pendahuluan ( perencanaan )\ kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. Berdasarkan hasil kajian . Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data tentang kemampuan menyusun RPP mahasiswa saat akan melakukan praktek mengajar. Demikian seterusnya sampai indikator keberhasilan dicapai.com/doc/23862850/supervise-klinik) Berdasarkan uraian di atas. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang kemampuan mengajar. Rancangan Penelitian : Dalam penelitian ini terdapat siklus-siklus dan banyaknya siklus tergantung dari tercapainya indikator kaberhasilan. supervisor kembali menanyakan . Namun jika indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus tersebut maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya.scribd. dengan menggunakan instrumen yang telah disepakati 3) Pertemuan balikan . METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut (http://www. Siklus I Peneliti merancang tindakan/prosedur supervisi klinis yang akan dilaksanakan dalam penelitian .

(4). dan lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran terdiri dari : 1. f. pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. Kegiatan pra pembelajaran. validasi data. ketrampilan menyusun RPP yang inovatif Supervisi Klinis menuntut guru/calon guru untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran . 5. 2.9 : Sedang 47. Teknik Analisis Data: Untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP – UST. Perumusan tujuan pembelajaran.0 – 56.9 : Kurang Kurang 45. kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan. 3. dapat diharapkan dengan supervisi klinis kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST dapat ditingkatkan Berdasarkan kerangka berpikir tersebut. e.9 : Baik 57.0 – 79. Pemilhan metode pembelajaran. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan. Siklus selanjutnya merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya. terutama bahan pembelajaran. berupa lembar penilaian penyusunan RPP .yang terdiri dari lima indikator yaitu :1. Adapun rumus dan kriteria yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut: Rumus untuk menganalisis kemampuan menyusun RPP sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/68 x 100 Rumus untuk menganalisis kemampuanmengajar sebagai berikut : Nilai = (Jumlah Skor)/100 x 100 Dengan kriteria sebagai berikut : 80.0 – 66. pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. Tahapan pelaksanaan pada siklus selanjutnya sama dengan siklus sebelumnya. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar. penilaian proses dan hasil belajar. dari tahap perencanaan yaitu penyiapan rencana pelaksanaan pembelaran sampai dengan proses pembelajarannya. (3) keterampilan dalam proses pembelajaran dan. memutuskan tindakan yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. pendekatan /strategi pembelajaran. Sedang fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. Disamping itu Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru/calon mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a. Dengan demikian .0 ke atas : Sangat Baik 67.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 4) Refleksi Pada tahap ini peneliti melakukan pengolahan data. Dan calon guru akan selalu dapat mereview penampilan mengajar sebelumnya dan menganalisa kekurangan – kekurangannya. maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan supervisi klinis. Penggunaan bahasa. b. digunakan statistik deskriptif univariat yaitu dengan menggunakan rumus penilaian dan patokan yang telah ditetapkan. 80 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Kerangka Berfikir Supervisi klinis memfokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan. pengamatan dan analisis yang intensif terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran maupun penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.9 : Belum Menguasai Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah. penguasaan materi pembelajaran. 2. c. Pemilihan sumber belajar / media pembelajaran. Dan kegiatan penutup pembelajaran. d. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran. 4. untuk perbaikan penampilan mengajar berikutnya.

52 dalam kategori baik pada siklus I. Dan hasil ini hampir merata untuk semua aspek. dan 80.33 68. Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 75 Kategori Baik 50 50 75 83. Pada saat penampilan pertama para mahasiswa mengajar peneliti mengobservasi dengan pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal mengajar para mahasiswa.33 75 87. d. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan mengajar para mahasiswa adalah sedang.67 87. Kemampuan Mengajar Mahasiswa dalam Pengajaran Mikro Secara keseluruhan dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa dalam pengajaran mikro.88 dalam kategori sangat baik pada siklus II. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran Nilai 83. Kemampuan Menyusun RPP Secara keseluruhan hasil evaluasi RPP para mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyusun RPP.75 75 80 75 Kategori Sangat baik Sedang Baik Sangat Baik Baik Tabel 2. Penilaian proses dan hasil belajar f. Kemampuan Mengajar Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran terdiri dari 6 indikator yaitu : a.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan.5 Kurang Kurang Baik Sangat baik Sangat baik Sedang Sangat baik Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 81 . Pendekatan /strategi pembelajaran. dengan nilai ratarata 63.5 Kategori Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik 2. Hasil evaluasi secara keseluruhan kemampuan menyusun RPP diperoleh nilai 73. e. b. dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 berada dalam kategori baik. Setelah dilakukan tindakan diperoleh hasil sebagai berikut: 1.33 75 83. Kemampuan Menyusun RPP Pada Siklus I Aspek Yang Diamati Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran Metode pembelajaran Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan Pembelajaran Nilai 83.25. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran. Hasil secara keseluruhan untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 1. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menyusun RPP adalah sedang dengan nilai rata-rata 63. c. Hasil selengkapnya untuk setiap aspeknya sebagai berikut: Tabel 3.5 66. peneliti melakukan evaluasi terhadap RPP yang para mahasiswa susun sebagai kemampuan awal. Penguasaan materi pembelajaran. dengan diperoleh hasil sebagai berikut: siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 berada dalam kategori baik. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa.33 87.

c. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru. siklus I diperoleh nilai rata-rata 73. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. Saran Dari hasil penelitian disarankan agar mahasiswa masih harus banyak belajar materi matematika khususnya konsep-konsep dasar matematika.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 4. dan pemahaman tentang strategi pembelajaran perlu ditingkatkan lagi. Meskipun secara keseluruhan sudah dalam kategori baik. Kemampuan mengajar pada pengajaran Mikro Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro mahasiswa FKIP UST. khususnya penguasaan materi matematika.Penguasaan materi pembelajaran b.Penggunaan bahasa Penutup pembelajaran Nilai 87.5 83.33 91. Juga pemilihan strategi pembelajaran perlu untuk pemilihan yang tepat. yaitu pra siklus diperoleh nilai ratarata 63 dalam kategori sedang . b.Penilaian proses dan hasil belajar f. Prosedur supervisi klinis meliputi : pertemuan pendahulun .5 66. siklus I diperoleh nilai rata-rata 67 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 78 dalam kategori baik. Kemampuan Menyusun RPP Berdasar hasil penelitian bahwa ada peningkatan kemampuan menyusun RPP.Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa. pengamatan mengajar dan pertemuan balikan Ada peningkatan kemampuan menyusun RPP dan kemampuan mengajar dalam pengajaran mikro melalui supervisi klinis mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP UST.67 83. tapi ada beberapa mahasiswa yang didalam menyusun RPP masih kering dan kurang inovatif oleh karena itu masih perlu untuk ditingkatkan lagi khususnya dalam aspek pemilihan dan pengorganisasian materi ajar dan pemilihan metode pembelajaran.88 dalam kategori sangat baik. Kemampuan Mengajar Pada Siklus II Aspek Yang Diamati Kegiatan pra pembelajaran Kegiatan inti pembelajaran yang terdiri dari 6 indikator yaitu : a.Pendekatan/strategipembelajaran.Pemanfaatansumberbelajar/media pembelajaran. 82 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .5 Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3. d. Pembahasan a.67 87.33 87. Untuk penguasaan materi masih dalam kategori sedang.52 dalam kategori baik dan siklus II diperoleh nilai rata-rata 80. e.25 dalam kategori sedang . yaitu pra siklus diperoleh nilai rata-rata 63. hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya didalam proses pembelajaran. khususnya dalam penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) maupun dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar berikutnya.5 Kategori Sangat baik 62. tapi para mahasiswa masih harus banyak berlatih dan belajar.

com/doc/23862850/supervise-klinik diakses Februari 2011 Iim Waliman.. Supervisi Pengajaran ( Teori dan Praktek ). C. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. Sahertian. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar./panduan_penyusunan_rpp. Jakarta: Rineka Cipta.A. Masalah-masalah ilmu keguruan.wordpress. Suharsimi Arikunto. 2007. http://ahmadsudrajat. KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Proses Belajar Mengajar.wordpress. Boston: Allyn and Bacon Inc. Muhamad Joko Susilo.com/2008/03/01/supervisi-klinis/ diakses Februari 2011 http://www. 1985. Nana Sudjana. 1983. dkk. Bandung: PT Remaja Kosta Karya. Supervision of Intruction. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Makmun Abin Syamsudin. Bandung: Remaja Karya.2001. P. Bandung edy010169. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. 1988.scribd. Hasibuan dan Moedjiono. 1989. Jakarta: Depdikbud.1982. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole). 2007.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 DAFTAR PUSTAKA Agus Taufiq. Bandung: Sinar Baru Nurtain.files. Psikologi Pendidikan. 1986. 2000.com/2008/.Tentang Standar Nasional Pendidikan Rostijah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Bina Aksara. 2001.. Kesiapan Lulusan SPG dalam Mengajarkan Matematika dan IPA di SD: Disertasi.doc di download tanggal 14 April 2009 Glickman.D. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 83 .

Jika mereka harus duduk dengan aturan dua orang akan berdekatan hanya jika 84 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . keaktifan siswa. Jika batas nilai KKM untuk Kompetensi Dasar Permutasi dan Kombinasi adalah 70. 60 siswa mendapat nilai antara 60 – 69 (29. dan sisanya 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran open-ended. penilaian autentik.6%). PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Materi pelajaran Matematika SMA kelas XI IPA Semester I. Penelitian dilaksanakan dengan Pendekatan Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang terbagi dalam 3 siklus. Sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran opend-ended di kelas dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita dan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi Permutasi dan Kombinasi di RSMABI.9% siswa belum mencapai KKM. Hal ini dimungkinkan karena penyajian materi yang masih cenderung standar dan kurang inovatif dalam menyelesaikan soal-soal pada materi permutasi dan kombinasi. Mereka belum bisa membedakan apakah suatu soal termasuk masalah permutasi atau kombinasi.3%).6%).Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERMUTASI KOMBINASI MELALUI PEMBELAJARAN OPEN –ENDED DI RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL (RSMABI) Ira Kurniawati Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMABI).81% berada pada tahap multistructural. dan selebihnya mendapat nilai kurang dari 60 (36. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2011 /2012. Sebagai gambaran jika diberikan soal cerita berikut: Empat pasang suami istri membeli tiket untuk suatu pertunjukan. Berdasarkan pengalaman peneliti. siswa dapat menyelesaikan soal cerita pada Permutasi dan Kombinasi dengan baik dan benar. 25 siswa mendapat nilai antara 80 – 89 (12. yang terdiri dari 37 siswa. kemampuan berpikir matematis. Pada materi pokok tersebut memuat tentang permutasi dan kombinasi. Inti masalah pada materi tersebut adalah bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan permutasi dan kombinasi. Sementara itu dilihat dari kemampuan berpikir matematis siswa didapat 89.41 % siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM.2%). 30 siswa mendapat nilai antara 70 – 79 (14. dengan prosentase keaktifan 90% aktif dan hanya 10% kurang aktif. dan proses pembelajaran berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan November 2011. kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita tentang penerapan permutasi dan kombinasi. pada materi permutasi dan kombinasi diperoleh data nilai sebagai berikut : 15 siswa mendapat nilai  90 (7. maka dari data tersebut tampak bahwa hanya 34.19% siswa berada pada tahap relational. Kata kunci : pembelajaran open-ended.59% siswa mendapat nilai di atas KKM (75) dan hanya 5.1% siswa yang mencapai nilai  KKM dan 65. memuat materi pokok peluang. Mereka ingin mengambil nomor duduk secara berjajar.3%). Dari hasil ulangan 205 siswa kelas XI IPA RSBI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2010/2011. yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes akhir siklus III sebagai berikut : 94.

Pembelajaran open-ended adalah salah satu alternatif pembelajaran matematika dalam rangka mengoptimalkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi Permutasi dan Kombinasi melalui kegiatan aktif. membentuk kepribadian serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Penekanan pembelajaran matematika di sekolah harus relevan dengan kehidupan sehari-hari.P(4. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan siswa. Oleh karena itu.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 keduanya adalah pasangan suami istri atau berjenis kelamin sama . Untuk itu pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasinal (RSBI) perlu mengembangkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan ide-idenya sehingga kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal. Dengan demikian siswa dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. sehingga siswa mencintai matematika. serta pendidik harus berusaha menanamkan kepada siswa bahwa pelajaran matematika dapat meningkatkan penalaran. tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa pada sekolah-sekolah biasa. diharapkan guru sebagai pendidik berusaha untuk dapat memilih model. perlu adanya suatu pembelajaran yang tepat yaitu pembelajaran terbuka yang memberikan kesempatan dan kebebasan bagi siswa untuk menggunakan caranya masing-masing dalam menyelesaikan soal tersebut. Hal ini akan berdampak positif dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. maka langkah penyelesaiannya dipastikan akan salah.4) x P(4. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu pendekatan atau strategi pembelajaran yang akan memberikan kesempatan siswa menemukan idenya untuk memecahkan masalah dengan benar. Dalam pembelajaran matematika tugas seorang guru sebagai pendidik adalah menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa. dan juga karena siswa tidak bisa mengaitkan beberapa konsep secara simultan dalam memecahkan masalah tersebut. artinya cara pemecahan masalah tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai cara. padahal memahami masalah merupakan langkah awal dalam memecahkan masalah tersebut. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. pendidik harus selalu berusaha untuk memvariasikan model. Soal cerita permutasi dan kombinasi bersifat terbuka. ada berapa banyak susunan tempat duduk yang mungkin dibentuk? Masalah tersebut merupakan masalah terbuka. Sebagai siswa pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). jika siswa telah dapat membedakan masalah tersebut tergolong masalah permutasi atau kombinasi. sehingga kegiatan kreatif dan pola pikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. agar pelajaran matematika yang diperoleh akan terasa manfaatnya. Jika siswa salah dalam menggolongkan masalah yang ada. Untuk permasalahan soal cerita di atas sebagian besar siswa salah dalam menyelesaikannya. Untuk menyelesaikan soal-soal cerita seperti itu biasanya siswa kurang bersemangat dan tidak mau berusaha keras untuk memahami soal itu. kreatif dan kemampuan berpikir yang sistematis serta terorganisir. Jadi untuk dapat mengajar lebih efektif dan membuat anak didik merasa senang dan tidak bosan dalam belajar. pendekatan atau pun strategi dalam proses pembelajaran sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. siswa tidak bisa mengklasifikasikan masalah dengan tepat. Untuk dapat memecahkan masalah di atas. Selanjutnya siswa akan dapat menyelesaikan soal cerita tersebut dengan benar. maka sudah seharusnya proses pembelajaran matematika ditangani lebih serius. pendekatan atau pun strategi pembelajaran yang terprogram agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang baik. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 8! dan sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus 2. siswa tidak bisa mengkombinasikan beberapa kejadian yang muncul. Sehubungan dengan pentingnya peranan matematika. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 85 .4).4). Siswa diberikan kebebasan dalam menemukan ide dalam menyelesaikannya. Pendidik perlu mempersiapkan suatu model. sebagian siswa ada yang menyelesaikannya dengan menggunakan rumus akhir permutasi 4 unsur dari 4 unsur yaitu P(4. sebagian lagi menyelesaikannya dengan rumus P(4. Kesalahan-kesalahan di atas terjadi di antaranya karena : siswa tidak memahami masalah dengan benar.4). Siswa seringkali salah dalam mengerjakannya karena salah dalam menafsirkan soal.

permutasi. Sebagai masukan bagi pengelola pendidikan untuk menerapkan pembelajaran openended sebagai alternatif pembelajaran matematika dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dan perbaikan kualitas pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi. Sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. dan kombinasi. sehingga pembelajaran open-ended memberikan kebebasan dalam menggunakan strategi dan cara dalam memecahkan suatu masalah. Materi pembelajaran sebagai fokus dalam penelitian ini adalah Permutasi dan Kombinasi yang terbagi atas beberapa sub-materi. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di RSMABI Negeri 1 Sukoharjo pada siswa kelas XI IPA 3 semester 1 tahun pelajaran 2011/2012. pembelajaran materi tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran open-ended dan pelaksanaan penelitiannya mengacu kepada prinsip-prinsip tindakan kelas. dalam hal alternatif model atau pendekatan pembelajaran yang dapat memecahkan masalah pembelajaran matematika dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika juga sebagai salah satu acuan bagi dosen-dosen pengampu kelas SBI LPTK dalam rangka pengembangan program PGSMABI. Jika kemampuan berpikir matematis siswa dapat maksimal maka kemampuan siswa dalam memecahkan masalah akan meningkat sehingga prestasi belajar matematika siswa pun dapat meningkat pula.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Jawaban akhir bukanlah tujuan utama dalam pembelajaran open-ended. Pembelajaran ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan ideidenya sehingga kegiatan kreatif dan kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dengan maksimal. tujuan umum penelitian adalah untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga pendidikan pada sekolah RSMA BI pada umumnya dan bagi guru matematika RSMABI pada khususnya. yaitu : kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. 3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. dimana masing- 86 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Pendekatan dan Prosedur Penelitian Seperti telah disebutkan di muka. peningkatan kualitas pembelajaran pada materi materi permutasi dan kombinas dilakukan dengan pendekatan pembelajaran open-ended melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research ). masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI?” Tujuan Penelitian Sejalan dengan itu. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan kegiatan kreatif dan interaktif membangun melalui penerapan pembelajaran open-ended sebagai perbaikan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 1 Sukoharjo sebagai RSMABI. sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna karena lebih menekankan pada proses belajarnya. Meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA SMA RSBI dalam menyelesaikan soal cerita tentang permutasi dan kombinasi. khususnya dalam penerapan inovasi pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran matematika dan system pengelolaan program guna pengembangan institusi dan perbaikan kualitas lulusan. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. yang terdiri dari 37 siswa. 2. tetapi lebih menekankan pada bagaimana sampai pada suatu jawaban. Oleh karena itu.

Setiap tugas dan kuis pada akhir pembelajaran digunakan nilai dengan skala 100.24 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 87 .19% siswa berada pada tahap kemampuan berpikir matematis relational. Pada akhirnya. Penyimpulan dilakukan dengan melihat data-data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilihat dari nilai-nilai siswa pada tiap kuis pada akhir proses pembelajaran.59% dari jumlah siswa kelas tersebut telah mencapai KKM. dengan rincian sebagai berikut : (1) Siklus I menggunakan modul I tentang kaidah pencacahan dan kaidah perkalian. Secara umum.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 masing siklus terdiri dari 4 tahapan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini.11 45. (3) 89. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 siklus. maka peningkatan prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat dari rangkaian kemajuan nilai yang diperoleh siswa. (2) Siklus II menggunakan modul II tentang permutasi.99 80 . Tugas berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual di luar jam pembelajaran. Hal ini ditandai antara lain pada waktu proses pembelajaran berlangsung tercipta komunikasi multi arah antara guru dan siswa.22 48. indikator tercapainya upaya peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi dengan pembelajaran open-ended antara lain : (1) 94. Dan untuk menentukan prosentase ketuntasan belajar siswa pada materi permutasi dan kombinasi ditandai dengan nilai tugas dan kuis pada tiap siklus sebesar 75 ke atas. Mengingat materi pembelajaran dalam penelitian ini hanya satu materi pokok saja. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini. baik pada tugas maupun kuis pada tiap akhir siklus. data yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan simpulan apakah pada siklus yang bersangkutan proses pembelajaran telah berlangsung baik dan apakah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran telah baik pula. kualitas pembelajaran berjalan semakin baik. antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah tinggi. Sedangkan untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar matematika siswa pada materi permutasi dan kombinasi digunakan tugas dan kuis pada tiap akhir siklus. Klasifikasi Nilai 100 90 . (2) pelaksanaan tindakan. yaitu : (1) perencanaan.32 Kuis Siklus 3 Frekuensi 6 18 8 % 16. Sedangkan kuis dikerjakan di kelas secara individual. Teknik Analisis Data Sesuai dengan langkah penelitian tindakan kelas. Proses interaksi multi arah ini baru dapat dilakukan pada siklus III. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Penyimpulan juga dilakukan secara kualitatif. ternyata dengan diterapkannya pembelajaran open-ended.65 21. apakah pemahaman siswa dan kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi pembelajaran materi permutasi dan kombinasi khususnya dalam menyelesaikan soal cerita telah baik pula dan meningkat. Lembar pengamatan ini diisi oleh pengamat. pada tahapan analisis dan refleksi. Teknik Penyimpulan Pada akhir penelitian.62 Frekuensi 0 0 16 % 0 0 43. (3) observasi dan interpretasi. (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan pada siklus berikutnya. dan (3) Siklus III menggunakan modul III tentang kombinasi. Teknik Pengumpulan Data Untuk mencatat kejadian selama proses pembelajaran berlangsung digunakan lembar pengamatan. (2) keaktifan siswa mencapai 90%.89 Klasifikasi Nilai Kuis Materi Permutasi dan Kombinasi Kuis Siklus 1 Kuis Siklus 2 Frekuensi 3 17 9 % 8. Tabel 1.94 24. disimpulkan apakah proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik. yaitu pada akhir siklus ketiga.

rangkuman keaktifan siswa dari siklus ke siklus dapat disajikan dengan tabel sebagai berikut. Pembahasan Berdasarkan analisis dari tes akhir siklus pada setiap akhir siklus yaitu dari adanya tes akhir siklus I.81 8.00% 30.46% 40.81 2. Tabel 2.11 5.00% 0.00% 40. maka hipotesis tindakan yang mengatakan bahwa dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan openended dalam menyelesaikan soal cerita permutasi dan kombinasi. tes akhir siklus II.00% Siklus I Siklus II Siklus III >=KKM <KKM Gambar 1 Perkembangan Ketercapaian KKM Sementara itu keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus juga meningkat. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung baik dan dipandang dari sisi prestasi belajar matematika pada materi yang memuat materi modul I sampai modul III.38% 21.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 70 .71 100 3 2 0 37 8.00% 60. semua siswa berusaha menyelesaikan dan beberapa siswa mengerjakannya di depan kelas dengan cara yang berbeda.40 0 100 Dari hasil tes siklus III pada akhir siklus III.00% 90. dan tes akhir siklus III. apabila disuruh mengerjakan soal oleh guru. 100.41% Adapun peningkatan ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.11 2. Hal ini nampak pada waktu pembelajaran berlangsung.71 100 4 3 1 37 10.54% Prosentase Siklus II 78. Selain daripada itu berdasarkan observasi dari tim pengamat. dapat dilihat bahwa tingkat kemampuan siswa pada akhir siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan oleh peneliti dan telah mengalami peningkatan.59% 5.69 < 60 Jumlah 16 4 1 37 43.62% Siklus III 94. meskipun terkadang disertai dengan diskusi kecil di antara para siswa tanpa menimbulkan suasana yang gaduh di kelas.24 10. Setiap ada tugas pada akhir modul.00% 20.00% 80. maka kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir matematis akan meningkat dapat diterima.00% 70. Rangkuman Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) Ketercapaian KKM  KKM < KKM Siklus I 59.79 60 .00% 50. motivasi dan minat siswa dalam mempelajari permutasi dan kombinasi cukup tinggi. 88 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 .00% 10. semua siswa mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan masing-masing siswa mengerjakan sendiri dengan seksama. ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

19% 0% Adapun perkembangan kemampuan berpikir matematis siswa dapat disajikan dengan diagram sebagai berikut. Tabel 4 Rangkuman Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kemampuan Berpikir Matematis Prestructural Unistructural Multistructural Relational Extended Abstract Siklus I 0% 10. keaktifan siswa mengalami kenaikan secara signifikan.81% 29. Gambar 2 Peningkatan Keaktifan Siswa Kemampuan berpikir matematis siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Tabel 3. Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 89 .46% 0% Prosentase Siklus II 0% 5.81% 89.40% 16. Rangkuman Keaktifan Siswa Keaktifan Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Siklus I 65% 30% 5% Prosentase Siklus II 80% 17% 3% Siklus III 90% 10% 0% Jika dilihat secara keseluruhan.22% 78.38% 0% Siklus III 0% 0% 10. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam materi permutasi dan kombinasi dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.73% 59.

c. siswa telah mampu menyebutkan. maka dapat diartikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula. Siswa menunjukkan pemahaman bahwa tiap bagian memiliki kontribusi terhadap keseluruhan. Berdasarkan Taksonomi SOLO kemampuan berpikir matematis siswa di kategorikan sebagai berikut : a. mengklasifikasikan. siswa kehilangan inti dari informasi yang diperoleh. Prestasi belajar 90 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . siswa tidak mengerti penjelasan dari suatu informasi. Pre Structural Pada tingkat ini. Sejumlah hubungan telah dibuat. mengkombinasikan dan melakukan algoritma. melakukan analisis. 2008) Pada akhir siklus. Dengan kata lain. b. ketuntasan belajar siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. memberikan reaksi. dipandang dari sisi prestasi belajar pada materi permutasi dan kombinasi. Pada tingkat ini siswa telah mampu mengidentifikasi. dan menghasilkan sesuatu. Extended Abstract Pada tingkat ini siswa mampu memiliki pemahaman yang lebih luas dari apa yang sudah diperoleh dalam pembelajaran. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. Multi Structural Pada tingkat ini. (RMIT University. mengajukan hipotesis. sebanyak 94. Pada level ini. Ide dan konsep tentang sebuah permasalahan belum diorganisasikan dan tidak ada hubungan satu sama lain. mengurutkan. tetapi belum mampu membuat hubungan yang luas. mengintegrasi. Pada tingkat ini. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. Pada tingkat ini siswa dapat membandingkan. e. tetapi hubungan yang menyeluruh belum ditentukan. serta melakukan prosedur sederhana. Siswa dapat menerapkan konsep ke persoalan sehari–hari atau situasi kerja. Pada tingkat ini. Relational Pada tingkat ini siswa dapat menentukan hubungan antara tiap komponen. tetapi pemahaman terhadap masing–masing komponen terbatas.59% siswa mendapat nilai di atas KKM. kegiatan dan tujuan. siswa dapat mengerti komponen secara umum.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 Gambar 3 Perkembangan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcomes Taxonomy) dikembangkan oleh Biggs dan Colis (1982). menjelaskan hubungan dan menerapkan. mengingat. siswa mampu mengemukakan teori. fakta dan teori. d. Uni Structural Pada tingkat ini siswa telah mampu membuat hubungan sederhana. Pemahaman di transfer dan digeneralisasikan dalam masalah yang berbeda. Siswa menunjukkan pemahaman komponen yang masing–masing bagiannya terintegrasi. melakukan generalisasi. menjelaskan sebab.

Dengan demikian. Dengan peningkatan semua komponen. Oleh karena itu. Dengan pembelajaran open-ended. Saran Terlepas dari kelemahannya. Begitu pula jika Pada akhir siklus. hai ini disebabkan pembelajaran open-ended meningkatkan keaktifan siswa dan memberikan kebebasan siswa dalam berpikir sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengkomunikasikan ide-idenya dalam pengerjaan soal permutasi dan kombinasi. Sedangkan taha extended abstract sebagai tingkat tertinggi dari kemampuan berpikir matematis menurut SOLO tidak dicapai karena dikarenakan konstruksi desain pembelajaran ditekankan pada pendekatan open-ended sehingga fokus utama pada penelitian tindakan ini adalah pembelajaran. kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi juga meningkat daripada kemampuan berpikir matematis siswa sebelumnya. siswa akhirnya mudah membedakan suatu masalah itu sebagai permutasi atau kombinasi. maka dapat diartikan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi berada pada kategori baik pula.19% siswa telah berada pada tahap relational yang merupakan tahapan kemampuan berpikir siswa yang tertinggi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran open-ended. minat dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan baik dan benar. Pada akhirnya. kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi baik. dan kemampuan berpikir matematis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi juga meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. namun dari hasil penelitian ini dapat diperoleh bukti bahwa pembelajaran open-ended dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. sedangkan tahap multistructural. baik ditinjau dari prestasi. Jika output diasumsikan sebagai wujud dari kemampuan berpikir matematis siswa terhadap materi permutasi dan kombinasi yang disajikan dalam proses pembelajaran. kepada para Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 91 . proses pembelajaran materi permutasi dan kombinasi pada kelas XI IPA 3 RSMABI Negeri 1 Sukoharjo telah berjalan lebih baik bila dibandingkan dengan proses pembelajaran pada tahuntahun sebelumnya. maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik pula. sebanyak 89. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran menggunakan pendekatan open-ended telah dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. dipandang dari sisi kemampuan berpikir matematis siswa pada materi permutasi dan kombinasi. Motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa dalam belajar materi permutasi dan kombinasi cukup tinggi. keaktifan. dapat dikatakan bahwa pembelajaran open-ended dalam pembelajaran matematika di kelas dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal cerita pada materi permutasi dan kombinasi. Disamping itu. akibatnya dapat mengganggu target pencapaian materi yang harus dicapai.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada prestasi siswa pada tahun-tahun sebelumnya. Jika output itu juga diasumsikan karena pengaruh proses pembelajaran. Hasil tersebut sangatlah menggembirakan. dapat menumbuhkan motivasi. Sebagai muaranya siswa dapat mencermati suatu kasus permutasi atau kombinasi pada suatu soal. sedangkan kemampuan berpikir matematis merupakan salah satu hasil dari pembelajaran Dengan kata lain. hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa untuk materi permutasi dan kombinasi. yang antara lain adalah kesulitan guru dalam pembuatan rancangan pembelajaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama. serta dapat melatih siswa untuk berpikir dengan lebih cermat dan sistematis. unistuctural dari siklus ke siklus menyusut karena kemampuan berpikir siswa cenderung meningkat ke tahap relational. Kemampuan berpikir matematis siswa untuk materi permutasi dan kombinasi meningkat lebih baik daripada kemampuan berpikir matematis siswa pada pembelajaran sebelumnya.

M. 2003.). P. 2009. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. Wina Senjaya. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. S. Jakarta: Karunika. Bandung : Remaja Karya. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Jakarta: Prestasi Pustaka. Classroom Instruction and Management. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 1999. Reston : Virginia. Muhammad Nur dan Wikandari.M. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. 2000. NCTM. 1994. Surakarta : UNS Press. dkk. Suherman. Bandung: JICA. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. P. 1992. Muhibbin Syah. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. 2007. Becker & S. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. T. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Purwoto.Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UNS 2011 guru matematika disarankan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran untuk materi pelajaran matematika yang lain dengan menggunakan pendekatan pembelajaran openended. Jakarta : Rineka Cipta. R. Bandung : Remaja Karya. Shimada (Ed. Educational Psychology Theory into Practice. 1987. The OpenEnded Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Eggen. 1997.P. New Jersey : Prentice Hall. 1995. Surabaya : PSMS Program PPS Unesa. 1989. E. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika. D. Materi Pokok Pengajaran Matematika. New Jersey : Princeton. Jakarta : Rajawali Press. 2008. Menjadi Guru Profesional. Sardiman A.D. Surabaya : University Press. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Poppy. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep. Slavin. Dalam J. Zainal Arifin. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Aktifitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. Joyce. R. Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. 1997. Tambunan. 1997. Yogyakarta. Jakarta: Kencana.). (2000). 2003. Shimada (Ed. Usman. 2001. 1996. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Rusyan.U. The Significance of an Open-Ended Approach. Boston: Allyn & Bacon. How to Solve It. 2001. 1995. 2004. Landasan dan Implementasinya pada KTSP. Strategies For Teacher Teaching Content And Thingking Skills. Soedjadi. Dalam J. R. Developing Mathematical Reasoning Grade K-12. Strategi Pembelajaran. Strategi Pembelajaran Matematika. 2001. I. Zamroni. Sutrisman Murtado dan J. Bandung : Remaja Rosdakarya. R. Developing Lesson Plan.. Inc. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics. T. 1973. B and Weil. Models of Teaching. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Diknas. Boston: Allyn and Bacon. dan Kauchak. 1997. U. M. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Pembelajaran. P. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishi 92 Makalah Pendamping: Pendidikan Matematika 1 . Slameto. Teori Belajar. Atang Kusnindar. 2000. DAFTAR PUSTAKA Arends. Sawada. Shimada. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. E. Yaniawati. Winataputra dan Saripudin. 1999. Becker & S. ___________. George. Muhammad Nur. Surabaya : University Press UNESA Muhammad Nur dan Muhammad Ibrahim. Polya. Trianto. Soekamto. New York: Mcraw-Hill. tanggal 28 – 29 Maret 2003.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful