P. 1
eBook Tiga Tahun Pertama Yang Menentukan Bagi Anak

eBook Tiga Tahun Pertama Yang Menentukan Bagi Anak

4.75

|Views: 6,166|Likes:
Published by Bunny01

More info:

Published by: Bunny01 on Jun 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2012

pdf

text

original

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

3 TAHUN PERTAMA YANG MENENTUKAN Tulisan ini berisi tentang hasil penemuan terbaru di bidang perkembangan otak bayi, memberikan gambaran kepada anda bagaimana otak bayi anda tumbuh dan berkembang pada 3 tahun pertama kehidupannya. Selain itu di dalam buku ini dijelaskan pula mengenai tindakan dan stimulasi apa saja yang perlu anda lakukan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak anda secara maksimal. Untuk menggambarkan salah satu isi buku ini ke dalam satu kalimat, saya bisa mengatakan : "Sebuah penemuan terbaru dan terbesar yang akan memberikan terobosan penting bagi anda dalam mengasuh anak anda menjadi anak yang mandiri dan bertanggung-jawab. Dengan menerapkan petunjuk-petunjuk di dalam buku ini, Dijamin anak anda akan tumbuh menjadi lebih cerdas secara fisik, mental dan sosial."Sulit dipercaya? Baca terus tulisan ini. Akan saya tunjukkan lebih jauh tentang maksud saya ini. Penemuan terbesar yang harus benar-benar anda resapi dan anda masukkan ke dalam hati yang paling dalam adalah : Tiga tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa yang paling sensitif, yang akan sangat menentukan perkembangan otak dan kehidupannya di masa mendatang. Mengapa anda perlu membaca buku ini? Dengan satu buku ini saja anda akan memperoleh pengetahuan terpenting tentang perkembangan anak, sehingga anda akan menjadi orang tua efektif yang lebih bermutu, dan anda akan mampu mengasuh anak anda dengan baik dan benar. Anda akan menghemat banyak waktu dan uang anda dalam mencari sumber-sumber informasi yang kualitasnya sebaik buku ini. Bayangkan, untuk melakukan satu kali konsultasi saja dengan dokter/psikiater tentang masalah perilaku disiplin anak anda misalnya, anda akan dikenai biaya paling sedikit Rp. 100.000,- hanya untuk waktu 30 menit atau kurang. Padahal, dengan menerapkan cara mengajarkan disiplin kepada anak yang ada di buku ini saja, Dijamin anda tidak akan mengalami kesulitan menghadapi perilaku anak anda yang satu ini. Belum lagi informasi penting lainnya yang sangat sulit diperoleh di toko-toko buku di Indonesia. Pengalaman langsung kami dalam menerapkannya kepada anak kami selama 3 tahun lebih ini juga akan memberikan gambaran yang lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semua yang telah kami lakukan pasti dapat anda lakukan pula, karena kami bukan manusia
Hal. 1 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

super, tetapi manusia biasa yang sama seperti anda. Informasi yang akan anda peroleh di dalam buku ini antara lain adalah : 1. Bagaimana otak bayi anda dibentuk, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhannya, dan pada umur berapa otak anak anda mencapai sebuah periode yang sangat menentukan bagi kehidupannya selanjutnya. 2. Bagaimana tiap-tiap bagian otak bekerja dan fungsi apa yang dikendalikannya, serta hal-hal apa yang perlu anda lakukan dan perhatikan untuk membantu perkembangannya. 3. Otak berkembang dengan urutan waktu yang sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, ada periode-periode penting yang apabila kita tepat memberikan stimulasinya, maka otak anak anda tersebut akan tumbuh dengan sangat mengagumkan. Periode ini dikenal dengan istilah periode peka pada pertumbuhan anak. Apa saja dan kapan periode tersebut muncul? 4. 10 (sepuluh) tindakan penting yang akan merangsang perkembangan otak anak dan membuat anak anda berkembang dengan sehat, baik secara fisik maupun mental dan sosial. 10 tindakan yang kelihatannya sepele dan sederhana ini akan mengejutkan anda, karena sebenarnya anda tahu mengenai hal ini tetapi anda tidak pernah menyadarinya. Mengapa? Karena kebanyakan orang tua tidak tahu manfaat dari tindakan tersebut yang ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa pada perkembangan otak anak.Disiplin. Begitu pentingnya masalah perilaku ini sehingga hampir seluruh buku tentang perkembangan anak membahasnya. Sayangnya, hampir semua buku itu menyarankan hal yang sama, dan ironisnya, justru tidak memberikan hasil yang memuaskan. Di e-Book ini, anda akan menemukan sebuah cara sederhana tetapi sangat efektif yang mana cara ini tidak pernah ditulis di sebuah bukupun dari begitu banyak buku yang sudah saya baca. 6. Metode untuk memonitor seluruh kegiatan anak anda bersama pengasuhnya. Untuk para orang tua yang kedua-duanya bekerja, tahukah anda secara detail tentang apa yang dilakukan anak anda selama anda bekerja? Di dalam buku ini kami berikan sebuah metode simpel untuk memonitor seluruh kegiatan anak anda, tepat seperti yang anda inginkan.Daftar lengkap stimulasistimulasi yang perlu anda berikan kepada anak anda sesuai dengan usianya, sejak 0 bulan s.d. 36 bulan (3 tahun). Stimulasi ini mencakup stimulasi untuk perkembangan emosi, kebiasaan/rutinitas, indera, koordinasi gerakan dan kemampuan bahasa. 8. 9 (sembilan) Kategori Kemampuan Anak dalam Kesiapannya untuk Sekolah. Ketika anak anda menginjak usia 3 tahun keatas,
Hal. 2 dari 46

biasanya anak anda mulai tertarik dengan sekolah. Untuk mengetahui apakah anak anda sudah siap untuk sekolah atau belum, kami sediakan pula daftar tentang 9 (sembilan) kategori tersebut. 9. 3 (tiga) hal untuk melindungi kepala dan otak anak anda. Anda akan mendapatkan informasi tentang apa saja yang perlu anda lakukan untuk melindungi kepala dan otak anak anda. Sekali anda melakukan kesalahan sehingga kepala dan otak anak anda terganggu perkembangannya, maka hanya penyesalan yang akan anda peroleh. Periode Peka pada Pertumbuhan Anak Periode peka perkembangan otak terjadi pada saat bayi belum lahir dan sesudah lahir. Panjang periode peka tersebut bisa lama, dan bisa juga sangat pendek. Dr. Montessori telah banyak melakukan penelitian tentang periode peka pada perkembangan anak, jauh sebelum para ahli syaraf mengetahui tentang cara kerja bagian-bagian otak. Ternyata, periode peka yang ditemukan oleh Dr. Montessori itu berhubungan erat dengan periode dimana jaringan otak yang mengendalikan fungsi-fungsi tubuh itu sedang tumbuh dan berkembang. Munculnya periode peka ini bisa berlainan pada tiap-tiap anak, tergantung pada faktor keturunan dan terlebih lagi pada stimulasi yang pernah diterima oleh anak. Pada periode peka ini, anda akan lebih mudah mengajarkan halhal yang sedang peka itu daripada setelah periode peka ini berakhir. Hubungan anda dengan anak anda akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya anak anda menerima stimulasi, yang pada akhirnya menentukan bagaimana jaringan otak anak anda akan dibentuk. Di dalam e-Book ini dibahas dengan detail tentang perkembangan apa saja dan kapan periode peka itu muncul, stimulasi dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan oleh orang tua. Perkembangan Otak Anak Hubungan antar sel-sel otak dibentuk dengan adanya saling kirim dan terima signal. Signal yang berupa getaran aliran listrik ini mengalir dari sel yang satu ke sel yang lainnya, dan dengan bantuan zat kimia seperti serotonin, terbentuklah hubungan antara sel-sel otak tersebut. Rangsangan yang terus-menerus, yang anda berikan melalui bentuk kegiatan yang berulang-ulang, akan semakin memperkuat hubungan antar sel-sel otak. Satu sel otak mampu membuat 15.000 hubungan dengan sel otak yang lain. Hubungan yang sangat rumit inilah yang membentuk jaringan antar sel-sel otak. Pengalaman yang diterima oleh bayilah yang akan menentukan bentuk jaringan di dalam otak.
Hal. 3 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Sejak bayi lahir, jaringan ini akan dibentuk dengan cepat sekali, dan pada usia anak mencapai 3 tahun, otak anak anda akan membuat kira-kira 1000 trilyun hubungan, dimana jumlah ini adalah 2 kali lipat dari jumlah hubungan jaringan otak pada orang dewasa. Hubungan otak yang densitas/kerapatannya sangat tinggi ini akan tetap dipertahankan sampai dengan umur 10 tahun. Setelah itu, apa yang akan terjadi? Setelah anak menginjak usia 11 tahun, hubungan antar sel-sel otak tersebut akan diseleksi secara alami, dimana hubungan yang sering digunakan akan semakin diperkuat dan menjadi permanen, sedangkan hubungan yang tidak pernah digunakan akan diputus/dibuang. Disinilah pentingnya pengalaman pada usia awal/dini. Disinilah peran orang tua akan sangat menentukan. Stimulasi yang anda berikan kepada anak anda akan sangat menentukan apakah hubungan antar selsel otak anak akan diperkuat atau justru diputus dan dibuang.

Mengapa Anak Harus Mampu Membaca Ekspresi Wajah oleh : Taufan Surana "Di sebuah keluarga, Adi (usia 5 tahun) tiba-tiba melemparkan mainan yang sedang dipegangnya, sehingga adiknya yang terkena lemparan menangis keras. Mama Adi yang melihat hal ini langsung menunjukkan ekspresi wajah yang sedih bercampur marah di depan Adi tanpa mengatakan sepatah katapun. Tetapi Adi sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya, dan tetap melemparkan mainannya kesana-kemari." Apakah anda pernah melihat kejadian yang mirip dengan cerita diatas? Mengapa Adi bersikap seperti itu? Ternyata Adi tidak bisa memahami dengan baik apa maksud dari ekspresi wajah Mamanya. Pertanyaannya, perlukah anak seusia Adi mengerti apa maksud dari setiap ekspresi wajah orang lain? Sebuah group di Universitas Delaware mengadakan penelitian panjang terhadap anak usia pra-sekolah (usia 5 tahun) selama 4 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu memahami ekspresi wajah orang lain dengan baik ternyata lebih jarang mengalami masalah dalam perilaku sosial maupun gangguan belajarnya. Inti dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman emosional dan kemampuan anak dalam mengatur emosinya sangat penting bagi anak dalam menghadapi lingkungan sosialnya di masa depan. Istilah populernya adalah, di samping IQ, EQ (Emotional Quotient/Kecerdasan Emosi) juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung kesuksesan anak di masa depan. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mengajarkan kepada anak kita tentang cara mengungkapkan perasaan yang sedang dialami oleh anak, dan mengenal nama dari perasaan tersebut. Dengan demikian anak akan menjadi mengerti perasaan orang lain dari ekspresi wajahnya. Anak yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya cenderung untuk berperilaku kasar dalam bentuk kekerasan seperti memukul, melempar, dan sebagainya. Bagaimana cara mengajarkan hal ini kepada anak sejak dini? Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya adalah : 1. Bercerita/mendongeng kepada anak tentang cerita yang berisi berbagai ekspresi perasaan dari para pemeran dongeng tersebut. Dalam bercerita ini anda perlu menunjukkan ekspresi tersebut dengan sungguh-sungguh, sehingga anak dapat menangkap perasaan yang ada di balik ekspresi wajah anda. 2. Jika anda bisa menggambar berbagai ekspresi wajah seperti tertawa, sedih, marah, dan sebagainya, anda bisa menggambarkannya di setiap muka ujung jari, dan ketika mau tidur, anda bisa bercerita sambil menunjukkan gambar tersebut. Setelah itu, anda tanyakan
Hal. 5 dari 46

Hal. 4 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

kepada anak anda, misalnya, "Adi hari ini mengalami gambar yang ada di jari mana?". 3. Dan masih banyak lagi... Bagi yang belum pernah menerapkannya... Selamat Mencoba! Membesarkan anak yang kreatif Ibu dan ayah yang ingin membesarkan Michel Angelo baru mungkin perlu sedikit menahan diri. Riset baru mengatakan bahwa anak-anak yang orang tuanya benar-benar membiarkan mereka akan menjadi lebih kreatif dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreatifitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam pertemuan tahunan American Psychological Society. Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anakanak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreatifitas si anak. Biarkan kreatifitas mereka berkembang Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas? Semakin banyak ataupun semakin asing jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif. Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak mereka saat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orang tua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan memungkinkan, akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. "Memungkinkan berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu," Grubb menjelaskan. Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang memungkinkan bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreatifitas tertentu dari anak, akan tetapi justru –meskipun tidak besar- cenderung menyebabkan berkurangnya kreatifitas. "Malah gaya memungkinkan ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap memaksa, yang membuat orang tua sering berkata: "Jangan begitu, lakukan seperti ini", dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya," kata Grubb.
Hal. 6 dari 46

Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orang tua menghargai kreatifitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak ? Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreatifitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambargambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi. Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubahubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas. Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yang telah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.

Hal. 7 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Intelejensi dan IQ Oleh Staff IQEQ Menurut David Wechsler, intelejensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa intelejensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelejensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelejensi adalah : 1. Faktor bawaan atau keturunan Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQ-nya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal. 2. Faktor lingkungan Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelejensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. 3. Intelejensi dan IQ Orang seringkali menyamakan arti intelejensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti intelejensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan,
Hal. 8 dari 46

tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan. Pengukuran Intelejensi Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911. Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford-Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa intelejensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat. Intelejensi dan Bakat Intelejensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes intelejensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes intelejensi. Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic
Hal. 9 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey. Intelejensi dan Kreatifitas Kreatifitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang intelligent karena kreatifitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreatifitas dan intelejensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreatifitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan intelejensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreatifitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreatifitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreatifitas. Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreatifitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes intelejensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Masa-Masa Penting Pertumbuhan Anak oleh: Emmy Soekresno, S.Pd. Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orang tua anakanak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Saat si kecil tumbuh dan berkembang, ia begitu lincah dan memikat. Anda begitu mencintai dan bangga kepadanya. Namun mungkin banyak dari kita para orang tua yang belum menyadari bahwa sesungguhnya dalam diri si kecil terjadi perkembangan potensi yang kelak akan berharga sebagai sumber daya manusia. Dalam lima tahun pertama yang disebut The Golden Years, seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Pada usia ini 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Karena itu, di masa-masa inilah anak-anak seyogyanya mulai diarahkan. Karena saatsaat keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, sebagai orang tua yang proaktif kita harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan sang buah hati, amanah Allah. Urgensi mendidik anak sejak dini juga banyak disebutkan dalam Al Qur'an dan Al Hadits antara lain : 1. Terjemahan QS. At Tahrim (66) ayat 6 Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang... Memelihara, menurut sayyidina Ali : didik dan ajarilah, sedangkan menurut sayyidina Umar : melarang mereka dari apa yang dilarang Allah dan memerintahkan mereka apa yang diperintahkan Allah. 2. Terjemahan Al Hadits Setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadits: seorang bayi mengencingi Rasulullah. Di dalam buku "Pendidikan Anak Dalam Islam" karangan Abdullah Nashih Ulwan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi dalam mendidik anak, yaitu : 1. Segi Keimanan a. Menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan pondasi iman. b. Mencari teman yang baik. c. Memperhatikan kegiatan anak. 2. Segi Moral a. Kejujuran, tidak munafik. b. Menjaga lisan dan berakhlak mulia. 3. Segi Mental dan Intelektual a. Mempelajari fardhu 'ain dan fardhu kifayah. b. Mempelajari sejarah Islam. c. Menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri. d. Menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal.
Hal. 11 dari 46

Hal. 10 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

4. Segi Jasmani a. Menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani. 5. Segi Psikologis a. Gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah. 6. Segi Sosial a. Menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan. b. Etika sosial anak. 7. Segi Spiritual a. Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan. b. Memperhatikan khusu', taqwa dan ibadah Jika begitu banyak yang harus kita ajarkan pada anak, kapan waktu terbaik untuk memulai pendidikan kepada buah hati? Simaklah beberapa hasil penelitian baru berikut ini : 1. Fakta tentang otak : a. Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Pada usia 0-3 tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antar sel). Pada saat inilah anak-anak bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang : Memperdengarkan bacaan Al Qur' an. Bahasa Asing seperti bahasa Inggris. Memperkenalkan nama-nama benda dengan cara bermain dan menunjukkan gambar. Memperkenalkan warna dengan menunjukkan kepadanya dalam bentuk benda yang dia kenal, warna-warna cerah di kamarnya dan gambar. Memperkenalkan aroma buah melalui buku. Membacakan cerita atau dongeng. Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang (mengalami pengulangan-pengulangan) akan menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dipangkas alias dibuang. Oleh karenanya, usia sebelum 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan daya serap otak anak agar tidak terpangkas percuma. b. Otak yang belum matang rentan terhadap trauma, baik terhadap ucapan yang keras maupun tindakan yang menyakitkan. Susunan otak terbentuk dari pengalaman. Jika pengalaman anak takut dan stress, maka respon otak terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat mengubah struktur fisik otak. Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan, sebaiknyalah kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Kita
Hal. 12 dari 46

dapat mencontoh bagaimana Rasulullah saw. bersikap sangat penuh kasih sayang terhadap anak-anak. c. Otak terdiri dari dua belahan yaitu kanan dan kiri yang memiliki fungsi yang berbeda namun saling mendukung. Pekerjaan otak kiri berhubungan dengan fungsi verbal, temporal, logis, analitis, rasional serta kegiatan berpola. Pekerjaan otak kanan berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja dengan gambaran (visual) dan berpikir intuitif, abstrak dan non-verbal serta kemampuan taktil/motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan akhlak dan moral. Sistem pendidikan kita maupun ilmu pengetahuan pada umumnya cenderung kurang memperhatikan kepandaian yang tak terucapkan. Jadi, masyarakat modern cenderung menganaktirikan belahan otak kanan. Menurut Bob Eberle, seorang ahli pendidikan, prestasi pikiran manusia memerlukan kerja yang terpadu antara belahan kiri dan otak kanan. Kalau tujuan kita adalah mengembangkan pribadi yang sehat dan jika kita ingin menumbuhkan kreatifitas secara penuh, maka diperlukan pengajaran untuk menuju keseimbangan antara fungsi kedua belahan otak itu. 2. Fakta tentang stress a. Anak yang mengalami stress pada usia kritis 0-3 tahun akan menjadi anak yang hiperaktif, cemas dan bertingkah laku seenaknya. b. Anak dari lingkungan stress tinggi mengalami kesulitan konsentrasi dan kendali diri. c. Cara orang tua berinteraksi dengan anak di awal kehidupan akan membuat dampak pada perkembangan emosional, kemampuan belajar dan bagaimana berfungsi di kehidupan yang akan datang. 3. Ciri-ciri anak pada milenium kedua : a. Mampu berpikir cepat. b. Mampu beradaptasi dengan cepat dan benar. c. Memiliki keimanan kuat sebagai filter. d. Menguasai bahasa dunia. e. Mampu menyelesaikan masalah dengan cepat. f. Orang tua mempunyai 7 (tujuh) kebiasaan efektif. Dilihat dari berbagai hasil penelitian di atas dapat diperoleh gambaran tentang waktu terbaik dalam memulai mendidik anak yaitu sedini mungkin. Juga bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi anak agar otaknya tidak mengalami trauma, serta dapat lebih meyakinkan kita lagi sebagai orang tua untuk terus menerus menambah ilmu agar dapat membantu anak mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.
Hal. 13 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Satu pesan sederhana dalam mendidik anak, yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya. Betapa banyak yang dapat kita ajarkan kepada anak kita tiap hari, hanya dengan berada di dekatnya. Dengan mengasuh, bermain dan bercakap-cakap dengan bayi kita yang mungil, kita bisa menjadi guru pertama bagi si kecil. Jangan lupa anak tumbuh dan berkembang sangat pesat, pakailah prinsip it's now or never (kalau tidak sekarang berarti tidak sama sekali) dalam mendidik anak. Wallahu a'lam bi showwab. Ya Allah berikanlah berkat dan kemampuan kepada kami untuk mendidik, merawat dan mengasuh anak-anak kami. Amiin.

Meningkatkan Kecerdasan Anak Balita dengan Cepat dan Pasti! Tips Ampuh untuk Orang Tua yang Keduanya Bekerja oleh : Taufan Surana Jika anda masih ingat dengan hasil penelitian terbaru yang dimuat di website www.balitacerdas.com, disitu ditulis : "Tiga Tahun Pertama dalam kehidupan anak merupakan masa yang paling sensitif, yang akan sangat menentukan perkembangan otak dan kehidupannya di masa mendatang." Mengapa begitu? Bagian terpenting tubuh kita, yaitu otak, tumbuh dengan sangat pesat pada awal kehidupan, dan akan mencapai 70-80% pada 3 tahun pertama! Bayangkan! Otak yang begitu penting ini ternyata sebagian besar ditentukan pada awal kehidupan kita. Saya sempat SHOCK membaca hasil penelitian ini! Artinya, jika anda menginginkan anak anda tumbuh dengan kondisi yang terbaik, maka anda harus menginvestasikan waktu dan apapun pada 3 tahun pertama ini, lebih dari waktu yang lain. Jika anda mengabaikan begitu saja rentang waktu 3 tahun pertama ini, maka anak anda tidak akan berkembang dengan maksimal, dan anak anda akan menjadi anak yang biasa-biasa saja. Apakah itu yang anda inginkan? Tentu saja tidak! Jika kita sebagai orang tua bisa melakukan yang terbaik bagi anak, maka itulah kewajiban kita untuk memberikan hak anak kita. Di buku berbahasa Jepang yang berjudul "Anak Cerdas dengan IQ 200 Ditentukan oleh Ibunya", dicantumkan hasil interview terhadap banyak sekali ibu yang berhasil mendidik anaknya menjadi sangat cerdas sekali. Intinya, peran ibu yang benar pada 3 tahun pertama akan sangat menentukan kecerdasan anaknya. Maksud kata yang "benar" disini, tidak ada hubungannya apakah sang ibu tersebut bekerja ataukah sebagai ibu rumah tangga secara full-time. Disini saya akan sampaikan tips yang sangat ampuh yang harus dilakukan oleh ibu, terutama ibu yang bekerja karena waktu bersama dengan anak sangat terbatas. Tetapi sebenarnya juga perlu diperhatikan oleh ibu rumah tangga yang full-time, karena biasanya, karena merasa punya waktu banyak dengan anak, tetapi justru tidak segera dilakukan dengan konsisten. Apa saja tips tersebut? Pertama Berikan waktu 1 jam khusus setiap harinya, tanpa boleh diganggu gugat oleh kegiatan lain, untuk anak anda untuk berinteraksi dengan kegiatan yang efektif bagi perkembangan kecerdasannya.

Hal. 14 dari 46

Hal. 15 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Untuk memberikan gambaran yang nyata, saya terjemahkan saja garis besar salah satu hasil wawancara di buku yang saya sebutkan diatas tadi. Seorang ibu yang sekaligus wanita karir yang bernama Sakane berhasil mendidik anaknya, Akio (3 tahun 5 bulan) mencapai IQ 198. (catatan : IQ rata-rata anak pada umumnya adalah 90 s.d. 109). Sebagai seorang wanita karir, Ms. Sakane terpaksa harus menitipkan Akio di TPA (Tempat Penitipan Anak) sejak usia 3 bulan, dari pagi dan dijemput jam 5:30 sore. Tiba di rumah biasanya sekitar jam 6 lebih. Setelah itu, sebelum menyiapkan makan malam pada jam 7:30, Ms. Sakane memberikan waktu khusus selama 1 JAM kepada Akio untuk melakukan program pendidikan anak. Ms. Sakane bercerita : ----------"Karena saya bekerja, waktu 30 menit sebelum membawa Akio ke TPA dan 1 JAM setelah pulang ke rumah merupakan waktu yang sangat berharga. Waktu 1 jam ini, jika saya melakukan hal-hal lain yang bermacam-macam akan menjadi waktu yang hilang begitu saja. Tetapi waktu 1 jam ini saya tentukan khusus untuk Akio, tanpa melakukan hal lain apapun juga. Saya gunting gambar-gambar binatang dan gambar yang menarik lainnya dari buku/majalah, kemudian saya buat kartu bergambar dan saya tunjukkan kepada Akio satu per satu. Pada awalnya saya berpikir, apakah ada artinya saya mengajarkan hal-hal kecil ini. Tapi, karena saya pernah mendengar bahwa hal ini sangat baik untuk olah raga otak, maka saya teruskan juga. Anak saya sepertinya sangat senang sekali melihat gambar yang berubah dengan cepat dan terus-menerus, dia melihatnya dengan sungguh-sungguh. Pada awalnya saya khawatir apakah hal ini ada hasilnya, tetapi begitu Akio mulai bisa bicara, saya menjadi yakin dan berpikir, "Oo... ternyata dia mengerti!". Setelah itu saya perkenalkan dengan "Dots Card" (kartu untuk belajar berhitung), dan menjadi mahir berhitung tambah-kurang-kalibagi. Sekarang Akio sudah mulai bisa perhitungan "akar" dan persamaan tingkat tinggi. Sayapun menjadi bangga kepada diri saya sendiri. Sekarang, jika saya pulang, dia langsung membawa dots card dan berkata, "Mainan ini yoook..." ---------Dari situ kita bisa melihat bahwa jika waktu yang sebentar itu hanya untuk bermain yang tidak jelas, maka waktu tersebut akan hilang begitu saja. Dengan hal-hal seperti diatas, akan besar sekali manfaat yang diperoleh oleh anak kita. Pengalaman saya sendiri, setelah beberapa bulan menerapkan hal yang sama kepada kedua anak saya, Rihan (4 tahun) dan Afi (1 tahun 4 bulan), hasilnya cukup mulai kelihatan.
Hal. 16 dari 46

Rihan sudah sangat lancar membaca Bahasa Jepang (huruf Hiragana dan Katakana) sejak usia 3 tahun. Untuk Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, kelihatan berkembang dengan lebih baik berkat penerapan kartu bergambar tersebut (istilah populer dalam pendidikan anak adalah Flash Card). Sedangkan Afi, walaupun belum bisa berbicara, sudah kelihatan sekali senang dengan huruf dan buku. Bangun tidur pagi, dia biasanya langsung mengambil bukunya untuk minta dibacakan ataupun dia lihatlihat sendiri. Kelihatan sangat lucu sekali melihat anak seusia Afi "membaca" buku sendiri sambil kadang-kadang mengeluarkan suara yang bermacam-macam). Jadi, jika anda belum melakukan hal yang sama, segera anda lakukan permainan ini kepada anak anda. Cukup hanya 1 jam sehari, tetapi pengaruhnya sangat luar biasa dan ini sudah terbukti! Di buku yang saya sebutkan di atas dikatakan bahwa saat ini di Jepang sedang terjadi "Revolusi Secara Diam-Diam" dalam pembelajaran anak usia dini (0 s.d. 3 Tahun). Dan sayapun merasakannya dengan melihat semakin banyaknya masalah pembelajaran usia dini dibahas di media massa. Selain itu, di group 4 tahun sekolah-nya Rihan (selevel TK A di Indonesia (?)), semuanya sudah lancar membaca. Jika kita tidak segera melakukan hal yang sama kepada anakanak kita, akan semakin tertinggallah bangsa kita ini! Marilah kita ikut mencerdaskan generasi masa depan kita dengan dimulai dari keluarga kita sendiri. Kedua Untuk para orang tua yang bekerja, anda perlu memonitor dan memberikan pengarahan yang benar kepada baby sitter atau siapa saja yang mengasuh anak anda tentang kegiatan yang perlu dilakukan oleh anak anda selama anda tidak di rumah. Buatlah daftar kegiatan anak anda dengan jelas, sehingga baby sitter anda tahu apa yang harus dilakukan setiap harinya dalam hal kegiatan yang mampu memberikan stimulasi pada perkembangan kecerdasan anak, baik kecerdasan intelektual, emosi maupun perkembangan fisik dan sosialnya. Jangan sampai baby sitter anda hanya bertugas menjaga saja, tanpa memberikan stimulasi-stimulasi yang sangat diperlukan oleh anak anda. Akan sangat kasihan sekali anak anda nantinya, jika lingkungannya di masa yang sangat haus akan stimulasi ini ternyata tidak memberikan hak-nya yang akan menjadi harta yang paling berharga di masa depan. Cara yang pernah kami lakukan ternyata sangat efektif dan mudah diikuti oleh baby sitter kami dulu. Sayangnya, cara pembuatan
Hal. 17 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

daftar tersebut tidak bisa dijelaskan dengan baik melalui news letter ini, karena diperlukan gambar tabel kegiatan. Jika anda mempunyai e-Book "3 Tahun Pertama yang Menentukan", saya anjurkan sekali untuk segera menerapkan cara kami tersebut, seperti yang dijelaskan di bagian "Memilih Pengasuh Anak yang Berkualitas", yang merupakan salah satu dari "10 Tindakan Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak Anak". Jika anda belum punya e-Book "3 Tahun Pertama yang Menentukan", saya anjurkan sekali untuk segera mendapatkannya, karena informasi yang tersedia sangat penting untuk diterapkan demi masa depan anak anda. Ingatlah selalu, waktu terpenting dalam kehidupan anak anda terus berjalan dengan cepat. It's now or never! Selamat menerapkan tips diatas dengan konsisten setiap harinya.

Bagaimana Flash cards dan Dot cards Mampu Meningkatkan Kecerdasan Anak oleh : Taufan Surana Setelah saya menulis artikel yang berjudul Meningkatkan Kecerdasan Anak Balita dengan Cepat dan Pasti! di news letter Baby Brain eZine edisi Bulan Mei 2002 (artikel selengkapnya bisa dilihat di www.balitacerdas.com), banyak sekali yang memberikan response dengan pertanyaan, "Bagaimana mungkin flash cards dan dot cards bisa meningkatkan kecerdasan anak?" Pertanyaan yang sangat wajar tentunya, karena penerapan permainan flash cards/dot cards di Indonesia masih di lingkungan yang sangat terbatas. (catatan : untuk selanjutnya, flash cards dan dot cards ditulis dengan "F/D") Jawaban langsung dan singkatnya adalah : Permainan F/D yang dilakukan dengan menunjukkan gambar secara cepat (1 gambar per detik) akan men-trigger otak kanan untuk aktif menerima informasi yang muncul di hadapan mata. Mengapa harus otak kanan? Untuk menjawabnya, kita perlu tahu dulu apa perbedaan fungsi otak kiri dan otak kanan. Tahun 1968, Dr. Roger Sperry pertama kali menemukan perbedaan fungsi otak yang berbeda antara belahan kiri dan kanan. Secara garis besarnya, fungsi yang dikendalikan oleh masing-masing belahan otak adalah sebagai berikut : Otak Kiri mengendalikan : Pikiran sadar. Analisa, logika, rasional. Bahasa. Otak Kanan mengendalikan : Pikiran bawah sadar. Emosi. Kreatif, intuitif. Mungkin anda pernah mendengar dimana para ahli mengatakan bahwa kita hanya menggunakan 3% dari seluruh kemampuan otak. Mengapa? Karena sebagian besar kemampuan otak terkunci di dalam pikiran bawah sadar, yang merupakan bagian dari otak kanan. Jika dijabarkan lebih lanjut, otak kanan akan mengendalikan fungsi : Photographic memory. Speed reading, listening. Automatic mental processing. Mass-memory. Multiple language acquisition. Computer-like math calculation. Creativity in movement, music and art. Intuitive insight.
Hal. 19 dari 46

Hal. 18 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Anda lihat, betapa powerful-nya kemampuan yang tersimpan di otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupan kita, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanya menekankan pada kemampuan otak kiri. Artinya, sistem pendidikan dan masyarakat saat ini hanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu anak masuk Sekolah Dasar. Anda lihat, begitu masuk SD, anak selalu dituntut untuk selalu berpikir logis, rasional, dan seterusnya, yang merupakan sifat dari fungsi berpikir otak kiri. Jangan salah paham! Saya tidak mengatakan bahwa perkembangan otak kiri itu tidak diperlukan. Kemampuan otak kiri yang baik sangat diperlukan. Tetapi, perkembangan otak kanan jangan sampai ditinggalkan! Artinya, kita perlu menyeimbangkan kemampuan kedua belahan otak, supaya kecerdasan anak berkembang dengan maksimal. Dan sebelum anak-anak kita terlanjur terjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti, maka tugas kita untuk mengembangkan otak kanan anak. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perkembangan otak kanan, antara lain yaitu image training (latihan imajinasi), visualisasi, dll., termasuk juga permainan F/D. Mengenai permainan dot cards, ada sebuah pertanyaan yang sangat sering ditanyakan, yaitu, "Kita orang tua saja tidak bisa mengerti berapa jumlah dot yang diatur secara acak itu. Bagaimana mungkin anak balita bisa menerima dan mengerti?" Disitulah perbedaan orang dewasa dengan anak balita. Kita orang dewasa sangat cenderung menggunakan otak kiri untuk menerima segala informasi, sedangkan anak balita sangat mudah menerima informasi dengan menggunakan otak kanannya. Contohnya, jika saya katakan no. telp. saya adalah 89678524, apakah anda langsung ingat sekarang? Saya yakin sebagian besar dari kita tidak akan ingat. Mengapa? Karena kita menerima informasi tersebut dengan otak kiri yang kemampuan menyimpan memorinya sangat terbatas. Dr. Makoto Shichida, seorang spesialis perkembangan anak balita, dalam bukunya "Right Brain Education in Infancy" menjelaskan sebuah hasil studi di Nippon Medical Center oleh Prof. Shinagawa terhadap seorang anak yang bernama Yuka Hatano. Yuka Hatano adalah seorang juara dunia menghitung cepat, yang mampu menghitung 16 digit soal lebih cepat daripada kalkulator! Ketika Yuka melakukan perhitungan tersebut, melalui "PET scan" terlihat bahwa yang mengendalikan fungsi otaknya adalah otak kanan
Hal. 20 dari 46

bagian belakang. Itulah kehebatan dari otak kanan yang telah berkembang. Di sekolah Shichida, saya melihat bagaimana anak-anak SD mampu membaca 1 jilid buku hanya dalam waktu 3-5 menit saja, dan dia tahu persis apa isi buku yang dibacanya. Menurutnya, dia seperti memotret tiap-tiap halaman buku tersebut, dan ketika ditanya, dia akan membuka tiap-tiap halaman bukunya di dalam otaknya untuk mencari jawabannya dengan cepat. Jadi, mari kita berikan stimulasi-stimulasi kepada anak-anak kita sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang. Untuk mengembangkan otak kanan, selain F/D, permainan image training atau visualisasi seperti apa yang cukup efektif? Juga, bagaimana sikap dan suasana untuk melakukan permainan F/D supaya memberikan hasil seperti yang diharapkan?

Hal. 21 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Pukulan vs. Time-out Manakah yang lebih efektif? oleh : Taufan Surana Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya banyak muncul di media TV maupun koran di Jepang. Hampir setiap hari, ada saja berita yang memuat tentang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan luka berat, bahkan sampai meninggal gara-gara dihukum oleh orang tuanya. Dari bayi yang berusia beberapa bulan sampai anak SD harus mengalami hukuman dari orang tuanya. Bayangkan, ada seorang bayi berusia 7 bulan meninggal karena tidak diberi makan oleh orang tuanya selama beberapa hari. Uniknya, pada saat ditangkap polisi dan diinterogasi, alasan para orang tua tersebut semua sama, yaitu memberikan hukuman karena anaknya tidak mau mengikuti apa yang dikatakan orang tua. Atau menurut mereka, "mengajarkan disiplin kepada anaknya". Di negara maju seperti Jepang saja (dimana telah diterapkan Undang-Undang Perlindungan Anak) masih banyak kejadian penyiksaan terhadap anak. Bagaimana dengan kita di Indonesia? atau dengan lingkungan kecil di sekitar kita sendiri? Dari hal-hal diatas tersebut, kita semua semakin menyadari bahwa masih banyak orang tua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orang tua tersebut tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Jika melihat hal ini, saya begitu salut dan hormat kepada anda yang sangat peduli terhadap perkembangan buah hati anda. Saya dan anda tentunya sudah menyadari sekali bahwa betapa sulitnya menjadi orang tua yang baik itu. Hal yang paling sulit adalah bagaimana kita sebagai orang tua bisa mengendalikan emosi kita dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori kita sudah banyak belajar melalui buku-buku ataupun seminar tentang perkembangan anak, tetapi begitu menghadapi anak kita yang nakal, hilanglah semua teori itu dari kepala kita. Apakah anda pernah mengalaminya? Saya masih mengalaminya, apalagi dengan semakin meningkatnya usia anak. Ketidakmampuan kita mengendalikan emosi ini akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak kita. Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik dalam melakukannya. Memang, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Jika anda sudah membaca e-Book kami "3 Tahun Pertama yang Menentukan", tentunya tahu bagaimana pengalaman saya terhadap
Hal. 22 dari 46

anak saya dalam hal hukuman fisik ini. Hukuman fisik justru bisa menjadi permainan menarik bagi anak, dan tidak mampu mendisiplinkan anak. Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa anak balita masih belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang nakal (menurut orang tua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa kok dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan nakal-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri! Jadi, Jangan Pernah Memukul!!! Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, kecuali hanya memuaskan emosi orang tua. Anda setuju? Dalam menghadapi sikap anak yang nakal dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan time-out kepada anak. Time-out disini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman tetapi bukan hukuman fisik. Time-out ini biasanya dalam bentuk menyuruh anak untuk duduk di sebuah kursi atau masuk ruangan tertentu dalam waktu tertentu. Panjang waktu yang paling efektif adalah disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, waktu time-out untuk anak usia 2 tahun adalah 2 menit, untuk anak usia 3 tahun adalah 3 menit. Jangan terlalu lama! Time-out ini sangat efektif untuk menghukum anak yang suka memukul, merusak barang atau berkelakuan di luar batas sopan santun yang telah ditentukan oleh orang tua. Setelah waktu time-out selesai, orang tua harus menjelaskan kenapa dia dikenai time-out, dan kemudian menasehati tentang perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh anak. Menasehati pada saat anak sudah tenang ini akan memberikan hasil yang sangat efektif, dibandingkan dengan nasehat pada saat setelah anak dipukul, apalagi pada saat anak menangis. Jadi, untuk menasehati anak yang efektif itu memang perlu waktu yang tepat, yaitu pada saat emosi anak sedang tenang. Menasehati (memarahi?) anak sambil berteriak, ditambah lagi pada saat emosi anak tinggi (misalnya sedang menangis), sama sekali tidak akan membuahkan hasil apapun! Kembali lagi ke masalah time-out, yang perlu diingat adalah bahwa time-out menjadi tidak efektif bila dilakukan terlalu sering atau untuk kelakuan anak seperti misalnya hanya karena anak tidak mau membereskan mainannya, dan sejenisnya.
Hal. 23 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Untuk mengajarkan disiplin tentang kelakuan anak seperti hal diatas, atau mencegah ledakan kemarahan (temper tantrum) dan sejenisnya, pemberian signal awal kepada anak merupakan cara yang paling efektif dari berbagai cara yang ada. Hal inilah yang selalu kami terapkan kepada anak kami. (untuk detail masalah signal awal dan permasalahan disiplin ini dapat anda baca lebih lanjut di e-Book 3 Tahun Pertama yang Menentukan). Untuk orang tua yang terlanjur mempunyai kebiasaan memukul, cara yang cukup efektif untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini adalah dengan sesering mungkin membaca tulisan tentang tidak baiknya memukul anak itu. Saya sendiri seminggu sekali selalu membaca artikel yang sama tentang hal ini tanpa bosan-bosannya. Untuk yang tidak punya artikel khusus, mungkin artikel ini bisa dimanfaatkan). Dengan membaca artikel seperti itu, kita akan diingatkan terus akan keburukan memberikan hukuman fisik. Letakkan saja buku/artikel tentang hal ini di atas meja kerja anda, dan pada saat waktu luang, lihat-lihat sebentar sambil refreshing). Mudah 'kan? Terakhir kali, mari kita galakkan upaya untuk selalu menghindari kekerasan di dalam rumah tangga, demi masa depan buah hati kita tercinta dan masa depan bangsa Indonesia! Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa remaja yang nakal dan sering mengganggu orang lain ternyata sebagian besar mempunyai latar belakang dimana pada masa kecilnya mereka sering mendapatkan hukuman fisik dari orang tuanya. Gaya Asuh dan Empati pada Anak Orang tua yang menggunakan hukuman keras sebagai bagian dari disiplin dalam mendidik anak mereka memiliki kemungkinan untuk menyebabkan masalah yang lebih dari sekedar hubungan orang tuaanak yang kurang mesra. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa para ibu yang terlalu keras dapat mempengaruhi kemampuan anak-anak mereka dalam menunjukkan empati. "Hasil penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa ibu yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan, yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, dan yang secara keterlaluan memarahi anak-anak mereka ataupun menunjukkan kekecewaan mereka terhadap si anak cenderung menghalangi perkembangan pra-sosial si anak", demikian ditulis Dr. Paul D. Hastings, dari National Institute of Mental Health. Penelitian yang hanya memfokuskan diri pada gaya orang tua mengasuh anaknya tersebut menyimpulkan bahwa anak-anak mengartikan perilaku keras tersebut sebagai tidak adanya kasih sayang
Hal. 24 dari 46

dari orang tua mereka. Hasil penelitian ini telah diterbitkan pada edisi September jurnal Developmental Psychology. Kebalikannya, para ibu yang hangat, yang menggunakan penjelasan dan tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak-anak, mereka cenderung menumbuhkan rasa empati dalam diri anak-anak mereka. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat bagaimana gaya asuh ayah mempengaruhi kepedulian anak kepada sesama. Kelompok peneliti mengobservasi perkembangan tiga kelompok anak-anak, tingkat keagresifan atau perilaku mengganggu yang berbeda-beda mulai dari pra sekolah sampai sekolah dasar. Sementara ketiga kelompok menunjukkan tingkat kepedulian terhadap sesama yang sama pada masa pra sekolah, seiring dengan bergulirnya waktu rasa empati anak-anak yang memiliki masalah perilaku semakin berkurang. Untuk mengukur kadar rasa empati, para peneliti melihat bagaimana anak-anak tersebut bereaksi terhadap sandiwara dimana seorang peneliti wanita atau ibu dari si anak mengalami kecelakaan kaki. Si orang dewasa yang mengalami kecelakaan meringis, mengekspresikan rasa sakitnya secara verbal dan menggosok-gosok tempat yang sakit. Pada pra sekolah (sekitar usia 4-5 tahun) anak-anak yang agresif dan perusuh menunjukkan rasa peduli yang sama dengan temanteman mereka. Beberapa tahun kemudian anak-anak dengan masalah perilaku baru menunjukkan kepedulian yang kurang terhadap si orang dewasa yang terluka. Pada usia mendekati 7 tahun, mayoritas dari anakanak bermasalah ini telah kehilangan hampir seluruh dari rasa peduli mereka. Lebih tragis lagi, anak-anak ini juga dideskripsikan sebagai pribadi yang anti sosial oleh guru mereka, dan diri mereka sendiri. Anakanak yang disebut agresif menunjukkan ketidakpedulian mereka terhadap sesama melalui kemarahan, kekerasan, dan menertawakan ketidakberuntungan orang lain, khususnya terhadap ibu mereka. Peneliti mengatakan bahwa respon ini adalah reaksi terhadap gaya asuh ibu-ibu mereka. "Anak-anak laki-laki tersebut cenderung mengalami kesakitan secara emosional dan, kemungkinan, fisik, dalam hubungan mereka dengan ibu mereka", demikian Hastings dan rekan mengatakan. "Kemarahan mereka dan ketidakacuhan mereka pada saat ibu mereka membutuhkan pertolongan kemungkinan merupakan usaha mereka untuk memberikan jarak atau mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan dalam interaksi dengan ibu mereka". Para peneliti memperhatikan bahwa anak-anak pra sekolah dengan masalah perilaku menjadi berkurang sikap agresifnya jika mereka diajarkan untuk peduli terhadap sesama. Menanamkan rasa kepedulian kepada anak-anak adalah cara yang baik untuk
Hal. 25 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

menghilangkan masalah perilaku pada anak-anak yang cenderung agresif atau perusuh pada usia dini, demikian peneliti menyimpulkan.

Anak Anda Agresif? oleh : Taufan Surana Jika anda mempunyai buah hati berusia 2 s.d. 3 tahun, anda mungkin sering dibikin pusing karena anak anda agresif, suka memukul, menggigit, atau jenis kekerasan yang lain. Anda mungkin sedikit shock jika saya katakan bahwa perilaku agresif anak anda itu adalah perilaku normal dalam perkembangan anak. Mengapa? Usia 2 s.d. 3 tahunan bisa dikatakan sebagai usia transisi awal pada perkembangan anak, dimana anak sedang mengalami keinginan yang sangat besar untuk menjadi mandiri. Di lain pihak, kemampuan bahasa anak masih belum mencapai tahap yang cukup untuk bisa berkomunikasi dengan sempurna. Gap terhadap kedua kemampuan yang sedang berkembang ini akan dilepaskan oleh anak dalam bentuk tindakan fisik seperti bertindak agresif dan sejenisnya. Memang hanya itulah cara yang paling mudah dilakukan oleh anak untuk mengungkapkan emosinya. Untuk itu, sebagai orang tua kita harus memahami bahwa sikap agresif seperti memukul atau menggigit pada level tertentu adalah sangat normal, karena anak masih terfokus pada pemikiran saya atau milik saya. Dengan mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri anak anda ini, andapun menjadi lebih tenang dan tidak perlu terlalu khawatir melihat perilaku agresif anak anda (tentunya perilaku agresif yang tidak terlalu kelewatan). Jadi, jangan sampai perilaku agresif anak anda membuat anda menjadi panik, yang berakibat pada perlakuan kekerasan anda terhadap anak. Ingat! Kemampuan anda untuk mengendalikan emosi/rasa marah anda merupakan langkah pertama yang akan menentukan apakah anda akan bisa mengendalikan anak anda atau tidak. Bagaimana mungkin anda meminta anak anda tidak boleh memukul dengan cara anda memukulnya. Padahal anak seusia ini melakukan segala sesuatunya dengan cara meniru lingkungannya. Iya 'kan...? Yang penting dan harus selalu diingat, anda harus selalu menasehati anak anda bahwa perilaku agresif tersebut tidak baik dan tidak dapat anda terima. Selain itu, anda harus membantu anak anda dengan menunjukkan cara lain untuk mengungkapkan perasaan atau emosi anak. Anda setuju dengan saya tentang hal diatas? Saya tahu, anda masih memendam sebuah pertanyaan besar, yaitu :

Hal. 26 dari 46

Hal. 27 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Langkah kongkret seperti apa yang bisa saya lakukan untuk menasehati ataupun menunjukkan cara pengungkapan emosi anak? Ada beberapa hal yang telah kami terapkan dengan hasil yang cukup efektif. 1. Peringatan Awal/Dini dan Batasan yang Jelas Hmmm itu lagi! Mungkin begitu komentar langsung dari anda yang telah membaca e-Book 3 Tahun Pertama yang Menentukan. Betul! Dari pengalaman saya, cara inilah yang paling efektif untuk mengendalikan dan mencegah perilaku anak sebelum dia terlanjur melakukan tindakan agresif. Dengan peringatan awal ini, anak menjadi tahu dan siap secara mental terhadap apa yang akan terjadi jika dia berbuat sesuatu yang diluar batasan yang telah anda tetapkan. (Catatan : Keterangan lebih detail tentang Peringatan Awal ini dapat anda baca di e-Book 3 Tahun Pertama yang Menentukan). Anda harus dengan jelas dan singkat menyampaikan kepada anak anda hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukannya di setiap kegiatan/permainan bersama dengan orang lain. Dan yang penting, anda harus secara konsisten menjalankan apa yang telah anda sampaikan kepada anak anda. Misalnya, jika anak anda senang bermain mandi bola di taman bermain, sebelum anak anda mulai bermain, anda bisa mengatakan bahwa dia boleh bermain dengan teman-temannya, tetapi jika melemparkan bolanya ke anak lain, maka dia akan segera diminta berhenti. Jika ternyata anak anda kelihatan agresif dengan melemparkan bola ke anak lain, maka anda harus segera membawa anak anda keluar dari tempat mandi bola tersebut. jangan ditunggu sampai dia melakukannya 2 atau 3 kali, baru anda bereaksi! Anak anda perlu tahu segera bahwa tindakannya tidak bisa anda terima, dan apa yang anda katakan sebelumnya memang berlaku. 2. Cooling-Down Cooling-down disini pada dasarnya hampir sama dengan time-out yang telah dibahas di edisi beberapa bulan yang lalu. Untuk contoh mandi bola diatas, begitu anak anda bersikap agresif, anda segera membawa anak anda keluar dari tempat mandi bola, kemudian ajaklah dia duduk bersama anda untuk melihat anak lain bermain mandi bola. Kemudian jelaskan bahwa dia boleh bermain lagi jika dia berjanji tidak akan mengulangi tindakan agresifnya. Cara ini jauh lebih efektif daripada anda berteriak-teriak atau bahkan memukul anak anda. Ini merupakan sebuah time-out sekaligus cooling-down bagi anak anda. Dengan cara ini, anak anda akan menyadari bahwa tindakannya berhubungan dengan konsekuensi yang akan dihadapinya. 3. Mengajarkan Tindakan Alternatif Setelah anak anda sudah tenang, anda bisa membicarakan secara baik-baik dengan anak anda apa yang telah membuat dia marah. tekankan bahwa dia boleh marah, tetapi tidak boleh
Hal. 28 dari 46

melampiaskannya dengan melempar, memukul ataupun menggigit. Anda bisa mengajarkan alternatif lain seperti misalnya dengan berteriak, menendang bola, atau yang lain. Anak saya, Rihan, lebih senang berteriak jika sedang marah. Kalau di rumah, Rihan kami belikan bola khusus bergambar power ranger yang bisa ditendang dan dipukul tapi bolanya tidak mental jauh (ada pemberatnya). Bola tersebut yang akan menjadi sasaran ungkapan kemarahannya. 4. Memberikan Pujian Ini merupakan cara yang sangat efektif pula untuk mencegah anak bertindak agresif. Janganlah kita hanya memperhatikan perilaku anak yang tidak baik saja, tetapi harus memperhatikan tindakannya yang baik dan dengan tulus memberikan pujian. Contohnya, jika dia sedang bermain perosotan dengan temantemannya dan anak anda tidak mendorong temannya tetapi bisa sabar menunggu giliran, maka pujilah bahwa tindakannya itu sangat bagus. Dengan begitu dia merasa mendapatkan perhatian lebih baik dengan emosi yang positif daripada merasa diperhatikan setelah berbuat kesalahan. Hal ini kelihatan sepele, tetapi saya perhatikan jarang sekali orang tua yang dengan aktif dan sungguh-sungguh melakukannya. Masih banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan, tetapi 4 hal di atas merupakan tindakan terpenting yang cukup efektif untuk mencegah dan mengatasi anak bertindak agresif. Tetapi yang harus selalu diingat adalah bahwa tidak ada resep khusus yang 100% bisa diterapkan kepada semua anak! Setiap anak mempunyai ciri khasnya masing-masing. Anda bisa mencoba cara yang telah saya lakukan, tetapi belum tentu cocok diterapkan ke anak anda. Selamat Mencoba!

Hal. 29 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Ajari Anak Jangan Sambil Emosi Dong! (sumber : satumed.com) Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak -yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia- sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang. Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua. Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan. Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan tindakan disiplin tersebut. Dari survei itu, 90% mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dan 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orang tua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak. Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa. Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak. Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakuan anak yang salah seharusnya diperbaiki, bukan dibentak-bentak dan dimarahi. Kalau mengajari anak, sebaiknya emosi orang tua dijagalah!

Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak Dikutip dari: Temu Ilmiah Tumbuh Kembang Jiwa Anak dan Remaja Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak : 1. Kesehatan Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anakanak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi. 2. Intelejensi Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual. 3. Jenis kelamin Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus. 4. Lingkungan Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang. 5. Status sosial ekonomi Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah. Pengaruh bermain bagi perkembangan anak : 1. Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak. 2. Bermain dapat digunakan sebagai terapi. 3. Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak.
Hal. 30 dari 46 Hal. 31 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

4. Bermain mempengaruhi perkembangan kreatifitas anak. 5. Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak. 6. Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak. Macam-Macam Permainan Dan Manfaatnya Bagi Perkembangan Jiwa Anak A. Permainan Aktif 1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anakakan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru. 2. Drama Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media. 3. Bermain musik Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik. 4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing. 5. Permainan olah raga Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif. B. Permainan Pasif 1. Membaca Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreatifitas dan kecerdasannya. 2. Mendengarkan radio
Hal. 32 dari 46

Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya. 3. Menonton televisi Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

Hal. 33 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Gemar Membaca (sumber : kak-seto.com) Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca. Nah, bagaimana caranya membuat anak kita gemar membaca? 1. Kenalkan buku sejak dini Buku cerita yang cocok untuk balita adalah yang memiliki banyak gambar dengan tulisan yang sedikit. Gambar yang berwarna akan lebih menarik daripada gambar yang hitam putih. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya, sehingga ia lebih antusias dalam membaca. 2. Bacakan buku cerita dengan menarik Dalam membaca cerita, usahakan sehidup mungkin sehingga anak dapat merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut. Atur nada suara dan bumbui dengan gerakan-gerakan tubuh yang berekspresi untuk membangun suasana yang hidup. Bahkan bayi pun dapat menikmati buku yang dibacakan, yaitu dari irama suara dan kehangatan tubuh pembaca yang memangkunya. 3. Model orang tua Orang tua harus menjadi contoh yang baik. Bila orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan yang memadai dan mengatur suasana rumah yang mendukung untuk membaca, maka niscaya anak akan ikut gemar membaca.

Ibu Bekerja & Dampaknya bagi Perkembangan Anak Oleh M. Ninik Handayani, S.Psi. Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya hargaharga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga... akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun ikut bekerja. Ibu yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Jika ibu memilih bekerja di luar rumah maka ibu harus pandaipandai mengatur waktu untuk keluarga karena pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pekerjaanpekerjaan tersebut. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu maka orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan pekerjaannya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian. Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja. Kadang-kadang hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik. Untuk itu maka ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya meskipun
Hal. 35 dari 46

Hal. 34 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil. Sedangkan untuk ibu yang bekerja di dalam rumahpun tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana. Tetapi tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu saja tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapan akan tetap terjaga dengan baik.

Mengajarkan Matematika pada Anak Balita Dengan Dot Cards (Metode Glenn Doman) 1. Bahan yang digunakan : Pertama. Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada dots atau bola merah dengan garis tengah 2 cm. Bola-bola ini berjumlah dari satu hingga seratus pada kartu terakhir. Dibalik kartu terdapat angka yang menyatakan jumlah bola yang ada. Dots/bola digambarkan secara acak di atas kertas tersebut. Kedua, Seratus potong kartu yang lebih ringan 14 x 14 cm bertuliskan sebuah angka merah setinggi 12,5 cm mulai dari angka 1 hingga 100 pada kartu terakhir. Warna merah dipakai karena memang menarik bagi seorang anak. 2. Cara mengajarkan : Ambillah kartu yang ada satu bola merahnya saja, Sekarang angkatlah kartu tersebut di luar jangkauan tangannya dan katakan kepadanya, "Ini Satu". (Jangan sampai si anak melihat benda-benda lain). Tunjukkan kepadanya sesingkat mungkin. Dua atau tiga detik. Kemudian letakkan kartu tersebut terbalik di pangkuan kita. Pada mulanya anda akan merasa janggal. Namun demikian, semakin kita mahir menggunakan kartu-kartu itu, semakin cepat anak kita dapat memahaminya. Perlu diingat bahwa angka hanyalah simbol yang mewakili nilai dari bilangan. Sekarang angkatlah kartu kedua, dan katakan, "Ini Dua". Lakukan seterusnya hingga kartu berjumlah sepuluh bola. Seluruh proses ini kurang lebih memakan waktu kurang dari satu menit. Lakukanlah setiap hari. Dalam waktu lima hari ia telah mengetahui fakta-fakta nyata dari angka satu sampai sepuluh, tetapi jangan menyuruhnya untuk membuktikan hal itu lebih dahulu. Pada hari keenam, kita singkirkan kartu 1 dari kesepuluh kartu di pangkuan dan menambahkan kartu 11. Pada hari ketujuh, kita singkirkan kartu 2 dan menambahkan kartu 12. Terus lakukan seperti itu hingga angka 100. Kegiatan ini kurang lebih akan memakan waktu tiga bulan. Yakinlah, kegiatan ini akan menghasilkan kemampuan anak yang luar biasa. Kini ia akan dengan cepat dapat membedakan empat puluh lima bola dan empat puluh enam. Langkah Berikutnya Penjumlahan Pada hari ke-30, anda telah memperlihatkan hingga 35 bola. Semakin banyak yang diperlihatkan bola-bola kepada anak berarti anda mulai mengajarkan penjumlahan.

Hal. 36 dari 46

Hal. 37 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Mulai kita melangkah mengajarkan penjumlahan dengan meletakkan bola-bola merah berjumlah dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, hingga sepuluh di pangkuan anda. Semuanya menghadap ke bawah dan kartu berbola dua diletakkan paling atas di tumpukan itu. Dengan semangat katakanlah, "satu tambah satu sama dengan dua". Kemudian kita perlihatkan kartu berbola dua. Perlihatkan tidak lebih dari satu detik. Jangan menjelaskan arti kata-kata "tambah" atau "sama dengan". Katakanlah "Satu tambah dua sama dengan." Jangan katakan "satu tambah dua menjadi..." Jika kita mengajarkan fakta-fakta kepada anak-anak, mereka akan menarik kesimpulan tentang hukum-hukumnya lebih tepat dan cepat. Kemudian katakana "Satu tambah dua sama dengan tiga" hingga "satu tambah sembilan sama dengan sepuluh" yang kemudian kita perlihatkan hasilnya. Lakukanlah tiga kali pada hari pertama, sambil kita meneruskan untuk memperlihatkan kartu-kartu berbola sebanyak tiga kali sehari. Sebaiknya anda mengatur keenam waktu secara merata saat daya tangkap anak sedang memuncak. Pada hari ke-31 anda mengajarkan dua tambah dua, tambah tiga, dan seterusnya hingga tambah delapan. Apa yang kita ajarkan adalah arti dari bunyi kata "tambah" dan "sama dengan". Percaya atau tidak, pada saat kita bertanya "dua tambah empat sama dengan enam" kepada seorang dewasa maka akan terlintas 2 + 4 = 6. Tetapi pada seorang anak akan terlintas dua bola tambah empat bola sama dengan enam bola. Sampai hari ke-31 ia sudah mengenal jumlah yang sebenarnya sampai dengan 40 dan telah dapat menambah dalam setiap kombinasi yang ada sampai dengan 10. Tahap ini yang terpenting adalah bahwa ia telah mengerti "tambah" dan "sama dengan" walaupun kita tidak memberitahu. Mulai hari ke-36 dan seterusnya kita tidak perlu mengajarkan dengan urutan tertentu lagi. Ia sudah memahami. Berikanlah ia sekarang soal penjumlahan maka dengan cepat ia akan bisa menjawab. Langkah Berikutnya PENGURANGAN. Pola ini sama dengan pola penjumlahan. Katakan "sepuluh kurang satu sama dengan sembilan" Dan perlihatkan sejenak kartu berbola sembilan. Kemudian katakan "sepuluh kurang sembilan sama dengan satu". Pada hari ke-41 anda dapat mengajarkan mulai dari duapuluh kurang satu sampai dengan duapuluh kurang sembilan belas.
Hal. 38 dari 46

Maka ia sekarang sedang menerima sembilan waktu belajar yang sangat ringkas setiap harinya dengan urut-urutan sebagai berikut : Kartu-kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan. Di hari ke-42 mulailah dengan tigapuluh kurang satu hingga tigapuluh kurang duapuluh sembilan. Pada hari ke-43 mulailah dengan soal-soal pengurangan dalam bentuk dan urutan yang tidak teratur sampai jumlah empatpuluh delapan. Langkah Berikutnya Memecahkan Soal. Apabila apa yang kita sampaikan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang, Insya Allah akan menghasilkan buah yang "harum" baunya dan nikmat rasanya. Kini kita siap mengajarkan memecahkan soal, ingat bukan mengujinya. Mulailah dengan bilangan-bilangan. Berlututlah di lantai menghadap anak. Ambillah kartu dengan 18 bola dan 25 bola. Kemudian mintalah si anak untuk menunjuk pada 25. Permintaan ini diajukan sambil lalu dan riang. Jangan suruh dia mengucapkan duapuluh lima, sebab kita tidak sedang mengajar berbicara, tetapi sedang mengajarkan matematika. Jika ia tidak cukup cepat, katakana dengan gembira, "Yang ini, bukan?" sambil mengangkat kartu 25 bola. Inilah cara mengajar yang jujur. Ulangi lagi hingga anak dapat menunjukkan dengan benar. Jika ia dapat mengetahuinya, pujilah dan peluklah. Bahwa ia adalah seorang anak yang terpandai yang pernah kita kenal. Hal ini memang betul bukan? Begitu kita meluapkan kegembiraan dia akan secepatnya menaruh minat pada matematika untuk selamanya. Ia menjadi yakin bahwa matematika lebih menyenangkan daripada "gula-gula". Terus lakukan seperti itu, maka anak kita akan lebih cepat menunjukkannya. Lakukan setelah itu pengurangan. Sebagai catatan jangan memberikan waktu khusus untuk memecahkan soal-soal, tetapi campuradukkan atau sewaktu-waktu saja. Hingga anak kita merasakan kesenangan. Toh tidak ada tekanan yang kita berikan kepada anak kita. Langkah Berikutnya Perkalian. Katakan kepadanya kita mengajarkan perkalian. Lakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Mulailah dengan mengatakan "dua kali dua sama dengan empat" sambil memperlihatkan kartu berbola empat. Teruskan sampai "dua kali lima sama dengan sepuluh".
Hal. 39 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Pada hari ke-51, mulai dengan "tiga kali tiga sama dengan sembilan". Akhirnya "tiga kali delapanbelas sama dengan limapuluh empat". Sampai hari ke 58 kita sampai pada "sepuluh kali enam sama dengan enampuluh". Pada waktu mengajarkan perkalian kita bisa menyelipkan satu persoalan perkalian. Langkah Berikutnya Pembagian. Pada hari ke-60 kita mengajarkan pembagian. Sampai langkah ini ia telah mengetahui nilai sebenarnya hingga enampuluh lima. Mulailah dengan mengatakan "empat dibagi dua sama dengan dua" hingga enampuluh empat dibagi dua sama dengan tigapuluhdua". Pada hari ke-68 kita sampai pada "tujuhpuluh dibagi sepuluh sama dengan tujuh". Sewaktu-waktu kita selingi dengan soal pembagian. Langkah Berikutnya Persamaan. Pada hari ke-70 kita sudah menjadi seorang ahli matematika. Katakanlah kita sedang mengajarkan persamaan dengan riang gembira. Sebetulnya ia sudah mengetahui semua persamaan dua langkah. Sebab, memang dua tambah tiga sama dengan lima, tujuhpuluh dikurangi tigapuluhsatu sama dengan tigapuluh sembilan, delapan kali delapan sama dengan enampuluh empat. Sekarang berikanlah soal persamaan tiga langkah. Katakanlah "tujuh tambah tigabelas kali tiga sama dengan." Kemudian perlihatkanlah kartu berbola enampuluh. Setelah kita mengajarkan tiga langkah persamaan maka lanjutkanlah dengan langkah-langkah yang lain. Yakinlah apa yang kita ajarkan akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Langkah Selanjutnya Angka-Angka. Langkah ini amat mudah. Sekarang kita mengambil kartukartu yang bertuliskan angka (kartu dg ukuran 14 x 14 cm). Angkatlah kartu yang bertuliskan 1 berwarna merah, dan katakan "ini satu". Lakukan seterusnya hingga hari ke-99 ia akan mengetahui semuanya. Selamat Mencoba! (sumber : Drajat, penulis buku "Bersahabat dengan Matematika")

Mengajar Bayi Anda Membaca (Metode Glenn Doman) Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya. Tahun 1961 satu tim ahli dunia yang terdiri atas, dokter, spesialis membaca, ahli bedah otak dan psikolog mengadakan penelitian "Bagaimana otak anak-anak berkembang?" Hal ini kemudian berkembang menjadi satu informasi yang mengejutkan mengenai bagaimana anak-anak belajar, apa yang dipelajari anak-anak, dan apa yang bisa dipelajari anak-anak. Hasil penelitian juga mendapatkan, ternyata anak yang cedera otak-pun dapat membaca dengan baik pada usia tiga tahun atau lebih muda lagi. Jelaslah bahwa ada sesuatu yang salah pada apa yang sedang terjadi, pada anak-anak sehat, jika di usia ini belum bisa membaca. Penelitian tentang Otak Anak Bagi otak tidak ada bedanya apakah dia 'melihat' atau 'mendengar' sesuatu. Otak dapat mengerti keduanya dengan baik. Yang dibutuhkan adalah suara itu cukup kuat dan cukup jelas untuk didengar telinga, dan perkataan itu cukup besar dan cukup jelas untuk dilihat mata sehingga otak dapat menafsirkan. Kalau telinga menerima rangsang suara, baik sepatah kata atau pesan lisan, maka pesan pendengaran ini diuraikan menjadi serentetan impuls-impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang bisa melihat untuk disusun dan diartikan menjadi kata-kata yang dapat dipahami. Begitu pula kalau mata melihat sebuah kata atau pesan tertulis. Pesan visual ini diuraikan menjadi serentetan impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang tidak dapat melihat, untuk disusun kembali dan dipahami. Baik jalur penglihatan maupun jalur pendengaran sama-sama menuju ke otak dimana kedua pesan ditafsirkan otak dengan proses yang sama. Dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak : 1. Sikap dan pendekatan orang tua Syarat terpenting adalah, bahwa di antara orang tua dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan, karena belajar membaca merupakan permainan yang bagus sekali. Belajar adalah : a. Hadiah, bukan hukuman. b. Permainan yang paling menggairahkan, bukan bekerja.
Hal. 41 dari 46

Hal. 40 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

c. d.

Bersenang-senang, bukan bersusah payah. Suatu kehormatan, bukan kehinaan.

2. Membatasi waktu untuk melakukan permainan ini sehingga betul-betul singkat. Hentikan permainan ini sebelum anak itu sendiri ingin menghentikannya. Bahan yang sesuai : a. Bahan-bahan dibuat dari kertas putih yang agak kaku (karton poster). b. Kata-kata yang dipakai ditulis dengan spidol besar. c. Tulisannya harus rapi dan jelas, model hurufnya sederhana dan konsisten. Tahap-tahap mengajar : Tahap Pertama : (Perbedaan Penglihatan) Mengajarkan anak anda membaca dimulai menggunakan hanya lima belas kata saja. Jika anak anda sudah mempelajari 15 kata ini, dia sudah siap untuk melangkah ke perbendaharaan katakata lain. 1. Ukuran karton : tinggi 15 cm, panjang 60 cm. 2. Ukuran huruf, tinggi 12,5 cm dan lebar 10 cm, serta setiap huruf berjarak kira-kira 1,25 cm. 3. Huruf berwarna merah. 4. Gunakan huruf kecil (bukan huruf kapital). 5. Buatlah hanya 15 kata, misal ibu (ummi/mama/bunda), bapak (abi/papa/ayah). 6. Ke-15 kata-kata pertama harus terdiri dari kata-kata yang paling dikenal dan paling dekat dengan lingkungannya yaitu namanama anggauta keluarga, binatang peliharaan, makanan kesukaan, atau sesuatu yang dianggap penting untuk diketahui oleh sang anak. Hari Pertama Gunakan tempat bagian rumah yang paling sedikit terdapat benda-benda yang dapat mengalihkan perhatian, baik pendengarannya maupun penglihatannya. Misalnya, jangan ada radio yang dibunyikan. 1. Tunjukkan kartu bertuliskan ibu/ayah atau yang lainnya. 2. Jangan sampai ia dapat menjangkaunya. 3. Katakan dengan jelas 'ini bacaannya ibu/ayah'. 4. Jangan jelaskan apa-apa. 5. Biarkan dia melihatnya tidak lebih dari 1 detik. 6. Tunjukkan 4 kartu lainnya dengan cara yang sama.
Hal. 42 dari 46

7. Jangan meminta anak mengulang apa yang anda ucapkan. 8. Setelah kata ke-5, peluk, cium dengan hangat dan tunjukkan kasih sayang dengan cara yang menyolok. 9. Ulangi 3 kali dengan jarak paling sedikit 1,5 jam. Hari Kedua 1. Ulangi pelajaran dasar hari pertama 3 kali. 2. Tambahkan lima kata baru yang harus diperlihatkan 3 kali sepanjang hari kedua. Jadi ada 6 pelajaran. 3. Jangan lupa menunjukkan rasa bangga anda. 4. Jangan lakukan test, belum waktunya! Hari Ketiga 1. Lakukan seperti hari ke-2. 2. Tambahkan lima kata baru seperti hari kedua sehingga menjadi 9 pelajaran. 3. Hari keempat, kelima, keenam ulangi seperti hari ketiga tanpa menambah kata-kata baru. Hari Ketujuh Beri kesempatan pada anak untuk memperlihatkan kemajuannya : 1. Pilih kata kesukaannya. 2. Tunjukkan kepadanya dan ucapkan dengan jelas 'ini apa?' 3. Hitung dalam hati sampai sepuluh. Jika anak anda mengucapkan, pastikan anda gembira dan tunjukkan kegembiraan anda. Jika anak anda tidak memberikan jawaban atau salah, katakan dengan gembira apa bunyi kata itu dan teruskan pelajarannya. Ancaman Kebosanan adalah satu-satunya ancaman. Jangan sampai anak menjadi bosan. "Mengajarnya terlalu lambat akan lebih cepat membuatnya bosan daripada mengajarnya terlalu cepat". Pada tahap pertama ini, dua hal luar biasa telah anda lakukan : 1. Dia sudah melatih indera penglihatan, dan yang lebih penting : dia telah melatih otaknya cukup baik untuk dapat membedakan bentuk tulisan yang satu dengan yang lainnya. 2. Dia sudah menguasai salah satu bentuk abstraksi yang paling luar biasa dalam hidupnya : dia dapat membaca kata-kata. Hanya ada satu lagi abstraksi besar harus dikuasainya, yaitu huruf-huruf dalam abjad. Tahap Kedua : (Kata-Kata Diri)

Hal. 43 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

Kita mulai mengajarkan anak membaca dengan menggunakan kata-kata 'diri' karena anak memang mula-mula mempelajari badannya sendiri. 1. Ukuran karton 12,5 tinggi dan 60 cm panjang. 2. Ukuran huruf 10 cm tinggi dan 7,5 cm lebar dengan jarak 1 cm. 3. Huruf dan warna seperti tahap pertama. 4. Buat 20 kata-kata tentang dirinya, misalnya: tangan kaki gigi jari kuku lutut mata perut lidah pipi kuping dagu dada leher paha siku hidung jempol rambut bibir. 5. Dari 3 kelompok kata masing-masing 5 kata di tahap awal, ambil masing-masing 1 kata lama dan tambahkan dengan 1 kata baru di tahap kedua. 6. Dari 20 kata baru pada tahap kedua, ambil 10 kata dan jadikan 2 kelompok kata masing-masing 5 kata. 7. Jadi sekarang anda memiliki : a. 3 kelompok kata dari tahap pertama yang sudah ditambah katakata baru. b. 2 kelompok kata baru dari tahap kedua. c. Total 5 kelompok kata = 25 kata. 8. Lakukan seperti tahap pertama. 9. Setelah 5 hari ganti 1 kata dari masing-masing kelompok dengan kata baru, sehingga anak mempelajari 5 kata baru. 10. Setelah itu setiap hari ganti 1 kata lama dari masing-masing kelompok data dengan 1 kata baru. Dengan demikian setiap hari anak belajar 5 kata baru masing-masing dadu dalam setiap kelompok kata, dan 5 kata lama diambil setiap harinya. Tips : 1. Usahakan jangan ada 2 kata yang dimulai dengan yang sama secara berurutan, misalnya 'lidah' dengan 'lutut'. 2. Anak-anak usia 6 bulan sudah bisa diajarkan. Lakukan dengan cara yang persis sama kalau anda mengajarnya berbicara. 3. Ingat, membaca bukan berbicara. 4. Usaha mengajar bayi membaca dapat membaca dapat mempercepat berbicara dan memperluas perbendaharaan kata. Tahap Ketiga : (Kata-Kata Rumah) Sampai tahap ini, baik orang tua maupun anak harus melakukan permainan membaca ini dengan kesenangan dan minat besar. Ingatlah bahwa anda sedang menanamkan cinta belajar dalam diri anak anda, dan kecintaan ini akan berkembang terus sepanjang hidupnya. Lakukan permainan ini dengan gembira dan penuh semangat. 1. Ukuran karton 7,5 cm tinggi dan 30 cm panjang. 2. Ukuran huruf 5 cm tinggi dan 3,5 cm lebar dengan jarak lebih dekat. 3. Huruf dan warna seperti tahap-tahap kedua.
Hal. 44 dari 46

4. Terdiri dari nama-nama benda di sekeliling anak serta lebih dari 2 suku kata, misalnya: kursi, meja, dinding, lampu, pintu, tangga, jendela, dan lain-lain. 5. Gunakan cara pada tahap kedua dengan setiap hari menambah 5 kata baru dari tahap ke tiga. 6. Setelah kata benda, masukkan kata milik, misalnya: piring, gelas, topi, baju, jeruk, celana, sepatu, dan lain-lain. 7. Setelah itu masukkan kata perbuatan, misalnya: duduk, berdiri, tertawa, melompat, membaca, dan lain-lain. 8. Pada tahap kata perbuatan, agar lebih menarik, sambil menunjukkan kata tersebut, anda praktekkan sambil katakan 'Ibu melompat', 'kakak melompat', dan sebagainya. Tahap Keempat : 1. Ukuran kartu 4 cm tinggi dan 20 cm panjang. 2. Ukuran huruf 5 cm. 3. Huruf kecil, warna hitam. 4. Tunjukkan kata demi kata seperti tahap sebelumnya lalu gabungkan misalnya 'ini' dan kata 'bola' menjadi 'ini bola'. 5. Lakukan beberapa kata beberapa kali setiap hari. Tahap Kelima : (Susunan Kata dalam Kalimat) 1. Pilihkan buku sederhana dengan syarat : Perbendaharaan kata tidak lebih dari 150 kata. Jumlah kata dalam 1 halaman tidak lebih dari 15-20 kata. Tinggi huruf tidak kurang dari 5 mm. Sedapat mungkin teks dan gambar terpisah. Carilah yang mendekati persyaratan tersebut. 2. Salinlah kata-kata yang ada setiap halaman tersebut ke dalam satu kartu kira-kira ukuran 1 kertas A4. Huruf hitam, ukuran tinggi huruf 2,5 cm. Jumlah kartu 'susunan kata-kata' sama dengan jumlah halaman buku. Ukuran kartu harus sama walaupun jumlah kata tidak sama. Sekarang anda sudah mempunyai kartu-kartu dengan katakata yang ada dalam setiap halaman buku yang akan dibaca anak. Lubangi sisi kartu-kartu untuk dijilid menjadi sebuah buku yang isinya sama namun ukurannya lebih besar. 3. Bacakan kartu demi kartu pelan-pelan, sehingga anak belajar kalimat demi kalimat. 4. Bacakan dengan ekspresi sesuai dengan kalimat bacaan. 5. Lakukan secara rutin, minimal 5 kartu sebanyak 3 kali selama 5 hari. 6. Ketika membaca kartu pada hari lainnya, kartu yang lama sebaiknya diulang. Setelah selesai kartu-kartu dibaca, simpanlah berurutan di dalam sebuah map atau di-binding seperti buku.

Hal. 45 dari 46

Tiga Tahun Pertama yang Menentukan

7. Pada saat selesai 1 buku, berilah ijazah yang ditandatangani ibu, yang menyatakan bahwa pada hari ini, tanggal ini, pada usia anak sekian, telah selesai dibaca buku ini. Tahap Keenam : (Susunan Kata dalam Kalimat) Pada tahap ini, anak sudah siap membaca buku yang sebenarnya, karena dia sudah 2 kali melakukan hal itu. Perbedaan ukuran huruf dari 5 cm (tahap 4), 2,5 cm (tahap 5) dan 5 mm (tahap 6 ini) adalah sangat berarti khususnya bagi anak yang masih sangat muda, karena itu juga berarti anda membantu mendewasakan dan memperbaiki indera penglihatannya. Kunci Keberhasilan 1. Jangan membosankan anak. 2. Jangan memaksa anak. 3. Jangan tegang. 4. Jangan mengajarkan abjad terlebih dahulu. 5. Bergembiralah. 6. Ciptakan cara baru. 7. Jawablah semua pertanyaan anak. 8. Berilah buku bacaan yang bermutu. Penutup Pada dasarnya anak memiliki kemampuan yang luar biasa, khususnya pada usia yang semakin kecil. Hanya diperlukan perhatian, kemauan, ketekunan serta yang utama kasih sayang orang tua untuk membuatnya mampu mengeluarkan potensinya yang luar biasa tersebut. Keinginan orang tua pada umumnya adalah : 1. Menginginkan anak mereka bahagia di dalam hidupnya dengan menjadikan anak mereka tangguh dan siap bersaing. 2. Untuk itu dibutuhkan anak yang cerdas baik rasional maupun emosional serta rasa ingin tahu yang besar. 3. Anak dapat diketahui rasa ingin tahunya yang besar dari banyaknya pertanyaan yang diajukannya. 4. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, anak harus dibimbing supaya suka membaca. 5. Agar anak suka membaca, dibutuhkan kemampuan membaca dan sarana untuk membaca yang tidak lepas dari buku. Jadi, dengan buku yang merupakan "Jendela Ilmu", anak akan mampu membuka cakrawala kehidupan masa depannya dengan keceriaan. "Selamat berkarya untuk anak-anak tercinta!" Sumber: Buku "Mengajar Bayi Membaca" - Glenn Doman.

Hal. 46 dari 46

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->