P. 1
Hukum Islam Sukri

Hukum Islam Sukri

|Views: 33|Likes:
Published by Jeff Arif Hardy

More info:

Published by: Jeff Arif Hardy on Sep 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2014

pdf

text

original

KEDUDUKAN DAN FUNGSI HUKUM ISLAM DALAM SISTEM HUKUM

INDONESIA
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Hukum Di Indonesia
Negara Republik Indonesia menganut berbagai sistem hukum, yaitu sistem hukum adat,
sistem hukum islam, dan sistem hukum eks barat. Ketiga sistem hukum di maksud, berlaku di
negara Indonesia sebelum Indonesia merdeka. Namun demikian, sesudah indonesia merdeka
ketiga sistem hukum dimaksud akan menjadi bahan baku dalam pembentukan sistem hukum
nasional di Indonesia. Demikian asumsi penulis berdasarkan pendekatan yuridis normatif.
Lain halnya bila di amati ketiga sistem hukum tersebut dalam pendekatan yuridis empiris,
yaitu di sana sini masih tetap berlaku ketiga sistem hukum tersebut.
Ketiga sistem hukum yang di sebutkan di atas, merupakan pencerminan dari sistem hukum
yang berlaku di beberapa negara di dunia. Di dunia ini sekurang-kurangnya ada lima sistem
hukum yang besar yang hidup dan berkembang, yaitu
1) Sistem common law yang di anut di Inggris dan bekas jajahannya yang saat ini pada
umumnya, bergabung dalam negara persemakmuran,
2) Sistem civil law yang berasal dari hukum Romawi, yang di anut di Eropa Barat kontinental
dan di bawa ke negara jajahan atau bekas jajahannya oleh pemerintah Kolonial Barat dahulu,
3) Sistem hukum adat di negara Asia dan Afrika,
4) Sistem hukum islam yang di anut oleh orang islam di manapun mereka berada, baik di
negara islam maupun di negara lain yang penduduknya beragama Islam,
5) Sistem hukum komunis / sosialis yang di laksanakan di negara-negara komunis / sosialis
seperti Uni Soviet dan kroninya atau satelitnya
Kalau membicarakan sistem hukum di Indonesia perlu mengetahui dan memahami bahwa
sistem hukum di maksud adalah yang berasaskan pancasila. Pancasila sebagai asas yang
menjadi pedoman dan bintang pemandu terhadap Undang-Undang dasar 1945, Undang-
Undang dan peraturan lainnya. Oleh karena itu, pancasila sebagai norma fundamental negara
membentuk norma-norma hukum bawahannya secara berjenjang. Norma hukum yang di
bawah terbentuk berdasar dan bersumber pada norma hukum yang lebih tinggi, sehingga
tidak terdapat pertentangan antara norma hukum yang lebih tinggi dan yang lebih rendah,
begitu juga sebaliknya. Hal itu, menunjukkan bahwa pancasila sebagai cita hukum dalam
kehidupan hukum bangsa Indonesia di satu pihak lain sebagai sistem norma hukum yang
menjadi norma fundamental negara dan aturan tertulisnya terdapat dalam pembukaan dan
Batang tubuh UUD 1945, menunjukkan bahwa cita hukum menjadi bintang pemandu dan
sistem norma hukum yang terdiri atas berbagai jenjang norma hukum yang secara riil dan
konkrit perilaku kehidupan hukum rakyat indonesia. Keduanya di lahirkan bersamaan dan
dari satu induk pula, yaitu konsensus para pendiri negara Republik Indonesia pada tanggal 17
agustus 1945. Hukum indonesia sebagai suatu sistem yang berlaku di negara republik
indonesia sebelum Indonesia merdeka. Namun, sesudah Indonesia merdeka ketiga sistem
tersebut, akan menjadi bahan baku dalam pembentukan sistem hukum nasional di Indonesia.

B. Perbandingan Antara Sistem Hukum Islam Dengan Sistem Hukum Lainnya
Perbandingan antara sistem Hukum Islam dengan sistem Hukum Adat dan eks Barat. Ketiga
sistem hukum di maksud, akan di bandingkan mengenai apa yang kelihatan dan berlaku di
Indonesia. Caranya adalah melihat hal-hal sama dengan menyebut hal yang agama itu, akan
kelihatan perbedaannya sebagai berikut :
1. Keadaanya
Ketiga sistem hukum yang berlaku di Indonesia yang di maksud, walaupun keadaan dan saat
mulai berlakunya tidaklah sama baik pendekatan yuridis normatif maupun pendekatan yuridis
empiris.
Hukum adat telah lama berlaku di Nusantara ini. Namun, keberlakuannya tidak dapat di
ketahui secara pasti, melainkan dapat si katakan bahwa jika di bandingkan dengan kedua
hukum lainnya, hukum adatlah yang tertua umurnya. Sebelum tahun 1972 kadaannya biasa
saja, hidup dan berkembang dalam masayarakat Indonesia.
Hukum islam mulai di kenal oleh penduduk yang mendiami Nusantara ini setelah agama
islam di sebarkan di Indonesia. Namun, belum ada kesepakatan para ahli sejarah Indonesia
mengenai waktu mulainya masuk agama islam ke Indonesia. Ada yang berpendapat pada
abad ke-1 Hijriyah/7 Masehi, islam baru masuk ke Nusantara. Selain itu, ada yang
berpendapat abad ke-13 masehi. Walaupun para ahli berbeda pendapat mengenai masuknya
islam ke Indonesia. Namun, dapat di katakan bahwa setelah penduduk yang mendiami
Nusantara ini memeluk agama Islam, hukum islam telah di ikuti dan di laksanakan oleh
pemeluknya. Hal ini dapat di lihat dari studi para pujangga yang hidup pada zaman itu
mengenai hukum Islam dan perannya dalam menyelesakan perkara-perkara yang timbul
dalam masyarakat. Setelah Belanda menjajah nusantara ini, perkembangan hukum Islam
”dikendalikan” dan sesudah tahun 1927, tatkala teori resepsi mendapat landasan peaturan
perundang-undangan (IS 1925), menurut Hazairin yang di kutip oleh Muhammad Daud Ali,
perkembangan hukum Islam di hambat di wilayah Nusantara.
Hukum eks barat adalah hukum yang berasal dari hukum Romawi yang di anut oleh orang
eropa barat kontinental. Hukum dimaksud diperkenalkan pemerintah Kolonial Belanda ketika
berdagang di Indonesia. Hukum Barat mula-mula hanya diberlakukan kepada orang Belanda
dan orang Eropa saja, lambat laun melalui berbagai upaya peraturan perundang-undangan
(pernyataan penundukan dengan sukarela, pemilihan hukum, dan sebagainya), hukum barat
itu di nyatakan berlaku juga bagi mereka yang di samakan dengan orang Timur Asing
(terutama orang Cina), dan orang Indonesia. Sebagai hukum bagi golongan yang berkuasa
pada waktu itu di Nusantara ini keadaan hukum Barat jauh lebih baik dan menguntungkan
dari keadaan kedua sistem hukum di atas (Adat dan Islam) bagi pemerintah kolonial Belanda.
Hukum Adat dan hukum Islam adalah hukum bagi orang-orang Indonesia asli (Bumiputra)
dan mereka yang di samakan dengan penduduk Bumi putra. Keadaan itu di atur oleh
pemerintah Hindia Belanda dahulu sejak tahun 1854 sampai dengan mereka meninggalkan
Nusantara ini pada tahun 1942


2. Bentuknya
Pada dasarnya hukum Adat adalah hukum yang tidak tertulis. Ia tumbuh dan berkembang dan
hilang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Pada zaman itu, sedang
di adakan usaha-usaha untuk mengangkat Hukum Adat menjadi hukum perundang-undangan
dan dengan begitu di usahakan memperoleh bentuk tertulis. Sebagai contoh Undang-Undang
Pokok Agraria tahun 1960. namun, hukum Adat yang telah menjadi hukum tertulis menjadi
lain bentuknya dari Hukum Adat sebelumnya. Ia menjadi hukum dalam bentuk perundang-
undangan.
Hukum Islam dalam bentuknya :
1) Hukum islam dalam hal tertentu dapat bermakna syariat islam
2) Hukum islam dalam hal lain dapat bermakna fikih yang biasa di sebut hukum fikih
3) Hukum islam dalam hal lain lagi dapat bermakna tidak tertulis dalam pengertian tidak
tertulis dalam peraturan perundang-undangan seperti halnya Hukum Adat.
Hukum Islam dalam pengertian syariah,fikih, dan tidak tertulis dipatuhi oleh sebagian besar
umat Islam Indonesia berdasarkan kesadaran dan keyakinan mereka bahwa Hukum Islam itu
adalah hukum yang bersumber dari wahyu dan hadist Nabi sehingga wajib di jadikan
pedoman oleh umat Islam.
Hukum eks Barat, yang di bandingkan dalam hal ini adalah aspek keperdataan, hukum
tertulis dalam bahasa Belanda di dalam perundang-undangan atau Kitab Undang-Undang
seperti misalnya Burgelijk Wetboek (BW). Namun, karena bahasa yang di pakai oleh hukum
tersebut telah menjadi rintangan bagi berlakunya hukum yang tertulis dalam perundang-
undangan aslinya, maka hukum eks Barat itu, kini di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia.,
misalnya BW dengan nama Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Terjemahan di maksud
merupakan karya pribadi seseorang dan tidak mempunyai kekuatan mengikat seperti Undang-
Undang, maka sesungguhnya di dalam praktik di indonesia hukum perdata eks barat itu telah
berubah menjadi hukum tidak tertulis secara tidak di nyatakan dengan sadar. Suasana
kehidupan hukum di Indonesia telah menjadikan hukum eks barat itu sebagai hukum yang
semu tertulis. Selain itu, terjemahannya yang di konsep atau pengertian semula. Selain dari
keadaan, bentuk hukum adat, hukum islam, dan hukum eks Barat yang telah di kemukakan
secara singkat di atas, ketiga sistem hukum itu mempunyai tujuan masing-masing.
C. Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia
1) Teori Receptio in Complexu
Hukum Islam di Indonesia telah lama hidup dalam kesadaran hukum masayarakat islam di
Indonesia, seiring dengan pertumbuhan agama Islam. Ini dapat di telusuri pada masa awal-
awal Islam masuk Indonesia. Sebelum Islam masuk, dalam masyarakat membudaya
kepercayaan animisme dan dinamisme. Kemudian, lahir kerajaan-kerajaan, yang masing-
masing di bangun atas dasar agama yang di anut mereka, Hindhu Budha, dan di susul
kerajaan-kerajaan, yang di dukung para wali pembawa dan penyiar agama Islam. Antara lain
berdirilah kerajaan Demak di pesisir utara Jawa Tengah. Praktis sejak saat itu islam tidak saja
berfungsi sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai paduan amaliah praktis. Raja pada waktu itu
mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:
1. Pemerintahan umum
2. Pertahanan dan keamanan
3. Penata bidang agama
Oleh karena itu, gelar Raja pada saat itu antara lain adalah :
1. Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun
2. Sinopati Hing Halogo, yakni panglima tertinggi angkatan perang
3. Sayidin Panatagama Khalifatullah, yaitu Khalifah Allah pengatur bidang Agama
Simbolisasi dari ketiga fungsi tersebut di gambarkan dalam tata letak, antara alun-alun,
kraton (sekarang kabupaten ), dan masjid dalam kerajaan- kerajaan islam di jawa yang hingga
sekarang masih bisa di jumpai sisa-sisa peninggalannya. Adanya jabatan kanjeng penghulu,.
Penghulu tuanku Mufti, tuanku Kadi di samping para raja dan bupati, sampai jabatan lebai,
modin, kaum, dan sebagainya di samping lurah, kepala negara / kampung, tidak lain
menunjukkan adanya pengaruh dan watak ketatanegaraan dari pelaksanaan syariat Islam di
Indonesia.
Hukum Islam pernah di terima oleh masyarakat dan berlaku di Indonesia, kendatipun di
dominasi oleh fiqh Syafi‟iyah.masalah ini mengundang kontroversi di kalangan sarjana barat
G.W.J.Drewes mengemukakan perdebatan seputar masalah tersebut dalam tema ”
pemahaman baru tentang kedatangan Islam di Indonesia ?” sementara pendapat yang lain
mengatakan bahwa pastilah orang- orang Arab itu berasal dari sebuah negri yang memegang
madzab tersebut.
Hukum adat setempat dalam keyataannya sering menyesuaikan diri dengan Hukum Islam.
Misalnya, di Banten pada kekusaan Sultan Agung Tirtayasa, Hukum Adat dan Hukum
Agama tidak ada bedanya. Di Sulawesi, di Wajo, hukum waris di selesaikan dengan
menggunakan Hukum Islam dan Hukum Adat. Keduaanya menyatu dan Hukum Adat
menyesuaikan diri dengan Hukum Islam. Dengan kata lain, sosialisasi Hukum Islam pada
waktu itu berjalan sangat hebat. Sultan agung menyebut dirinya sebagai Abdul Rahman
Khaalifatullah Sayidi Panatagama. Atas dasar penerimaan Hukum Islam sebagai norma
hukum yang berlaku dalam masayarakat, muncullah teori Receptio in Complexu yang di
introdusir oleh Van den Berg.
Kenyataan ini dapat di dukung oleh bukti-bukti historis berikut ini :
a. Di daerah bone dan goa sulawesi selatan, di pergunakan kitab muharram dan Pepaken
Cirebon serta peraturan lain yang di buat B.J.D. Cloowijk. Jadi selama VOC berkuasa selama
dua abad (1602-1800 M), kedudukan Hukum Islam tetap seperti semula, berlaku dan
berkembang di kalangan kaum Muslimin Indonesia.
b. Dalam status Batavia 1642 m di sebutkan bahwa :
” sengketa warisan antara orang peribumi yang beragama islam harus diselesaikan dengan
mempergunakan Hukum Islam, yakni hukum yang dipakai oleh rakyat sehari- hari.”
menindaklanjuti klausa tersebut, D.W.Freijer menyusun compendium (buku ringkasan )
mengenai hukum perkawinan dan kewarisan islam, setelah direvisi dan disempurnakan oleh
para penghulu, diberlakukan di daerah jajahan VOC, yang kelak dikenal dengan Compedium
Freijer.
c. Tanggal 25 mei 1760 M, VOC mengeluarkan peraturan senada yang di sebut dengan
resolutie der indiscase regeering untuk di berlakukan.
d. Salomon Keyzer (1823-1868M) dan Cristian Van De Berg (1845-1927M) membiarkan
Hukum Islam berlaku bagi masyarakat islam. Mereka menyatakan bahwa hukum mengikuti
agama yang diikuti seseorang.
Sebenarnya pada awal abad ke-19 telah muncul sikap- sikap curiga dari sebagian pejabat
kolonia. Ketua mahkama agung Belanda, Scholten Van out Harlem misalnya, menasehati
para pejabat di Hindia Belanda agar berhati- hati. Namun sejauh itu, ia tetap menegaskan agar
bagi kaum muslimin tetap di berlakukan hukum agamanya (pasal 75, regeering reglement,
1854).
Untuk kepentingan ini, pemerintah Belanda melakukan pengawasan dengan di keluarkannya
peraturan-peraturan sebagaimana di jelaskan Munawir Sjadzali:
1. Bulan september 1808 M ada sebuah instruksi dari pemerintah Hindia Belanda kepada para
bupati yang berbunyi : ” terhadap urusan – urusan agama orang-orang Jawa tidak akan di
lakukan ganguan-gangguan, sedangkan pemuka-pemuka agama mereka di biarkan untuk
memutuskan perkara-perkara tertentu dalam bidang perkawinan dan kewarisan dengan syarat
tidak ada penyalah gunaan, dan banding dapat dimintakan kepada hakim banding.
2. Tahun 1820 M melalui Staatblad No. 22 pasal 13 di tentukan bahwa Bupati wajib
memperhatikan soal-soal agama dapat melakukan tugas mereka sesuai dengan adat kebiasaan
orang Jawa seperti soal perkawinan, pembagian pusaka, dan yang sejenis. Dari istilah bupati,
dalam ketentuan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peradilan agama telah ada
diseluruh pulau Jawa.
3. Tahun 1823 dengan resolusi gubernur jendral tanggal 3 juni 1823 No. 12 diresmikan
pengadilan agama di kota Palembang yang di ketuai oleh pangeran penghulu. Adapun
banding dapat di mintakan kepada sultan. Wewenang pengadilan agama Palembang meliputi
: (a) perkawinan, (b) perceraian, (c) pembagian harta, (d) kepada siapa di serahkan anak
apabila orang tua bercerai, (e) apa hak masing-masing orang tua terhadap anak tersebut, (f)
pusaka dan wasiat, (g) perwalian, dan(h) perkara-perkara lain yang menyangkut agama.
4. Tahun 1835M melalui resolusi tanggal 7 desember 1835, stbl. 1835 No. 58 pemerintah
mengeluarkan penjelasan tentang pasal 13 stbl. 1820 No. 20 yang isinya sebagai berikut : “
apabila terjadi sengketa antara orang-orang Jawa satu sama lain mengenai soal-soal
perkawinan, pembagian harta, dan sengketa-sengketa sejenis, yang harus di putus menurut
hukum Islam, para pemuka agama memberi keputusan, tetapi gugatan untuk mendapat
pembayaran yang timbul dari keputusan para pemuka agama itu harus di ajukan kepada
pengadilan-pengadilan biasa.”
5. Klimaksnya, melalui stbl, 1882 No. 152 karena pemerintah belanda tidak mampu
menerapkan undang-undang agama bagi kaum Bumi putera, dibentuklah pengadilan agama
dengan nama yang salah, priessteraad atau pengadilan negeri. Wewenangnya meliputi
perkara-perkara yang terjadi antara orang-orang Islam dan diselesaikan menurut hokum
Islam.

2) Teori Receptie
Masuknya pemerintah kolonia Belanda ke Indonesia, membawa perubahan-perubahan dalam
pelaksanaan hokum Islam, meskipun secara formal hokum Islam tetap di berlakukan. Hal ini
di dasari oleh adanya kecurigaan dari sebagian pejabat Belanda pada awal abad ke – 19,
meskipun mereka relative berhati-hati membuat peryataan. Menurut Daniel S.Lev,
ketegangan ini adalah bagian ”politisasi” kekuatan islam menghadapi penguasa-penguasa
Non-Islam. Selanjutnya ia mengganbarkan sebagai berikut:
“Sejak mula-mula islam melebarkan sayabnya di Indonesia, telah timbul ketegangan-
ketegangan, kadang-kadang tampak samar-samar dan tertahan, dan terkadang pula nyata dan
kasar, yaitu antara tuntutan ke arah kekuasaan yang kenyataan ke dalam bersifat Non-Islam,
maupun yang bersifat sinkretis keagamaan”
Kompetisi dari wujud kecurigaan tersebut, pemerintah colonial mengintrodusir istilah het
indische adatrecht atau hokum Adat Indonesia. gagasan ini di sponsori oleh Cornelis Van
Vollenhoven (1874-1933). Kemudian di kembangkan oleh seorang penasihat pemerintah
Hindia Belanda tentang soal-soal Islam dan anak negeri jajahan.
Dalam gagasan mereka, intinya bahwa hokum yang berlaku bagi orang Islam adalah hukum
Adat mereka masing-masing. Hukum Islam dapat berlaku apabila telah di resepsi atau di
terima oleh Hukum Adat. Jadi, hukum adatlah yang menentukan ada tidaknya Hukum Islam.
Dari sinilah kemudian lahir teori Receptie.
Muatan politik teori Receptie ini ada prinsip divide et impera yang bertujuan untuk
menghambat dan menghentikan meluasnya hukum Islam dan membentuk konsep hukum
tandingan yang mendukung politik pecah belah pemerintah kolonial. Musuh kolonialisme,
menurutnya bukanlah Islam sebagai Agama., melainkan Islam sebagai doktrin politik. Ia
melihat kenyataan bahwa Islam seringkali menimbulkan bahaya terhadap kekuasaan Belanda.
Seperti kata Daniel s Lev, meskipun ia tahu bahwa islam di indonesia banyak bercampur
dengan kepercayaan animisme dan Hindu, ia tahu bahwa orang Islam negeri ini memandang
agamanya sebagai alat pengikat kuat yang membedakan diri dari orang lain.
Melalui usaha-usaha terus menerus dan sistematis, Hurgronje berhasil mengganti teori
Receptio in Complexu menjadi teori Receptie.
Dalam wujud peraturan, teori ini mulai di terapkan pada pasal 134 ayat 2 IS yang sama
bunyinya dengan artikel pasal 78 R.R. 1855 dan R.R 19076 dan R.R 1919, yang berbunyi:
”Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang islam akan di selesaikan oleh hakim
agama Islam apabila keadaan tersebut telah di terimah oleh Hukum Adat mereka dan sejauh
tidak di tentukan lain oleh ordonasi.”
Dalam teori Receptie, yang ada adalah Hukum Adat sementara Hukum Islam di anggap tidak
ada. Hukum Islam di anggap eksis, berarti, dan bermanfaat bagi kepentingan pemeluknya,
apabila Hukum Islam tesebut telah di resepsi oleh Hukum Adat.
Menindak lanjuti pasal 134 ayat 2 IS tersebut, pada tahun 1929 pasal 134 ayat 2 di ubah
menjadi : ” dalam hal ini terjadi perkara perdata antara sesama orang Islam akan di selesaikan
oleh hakim agama Islam apabila Hukum Adat merka menghendakinya, dan sejauh tidak di
tentukan lain dengan suatu ordonasi.” dalam Stbl. 1937 No. 116 di nyatakan bahwa : ”
pengadilan agama di Jawa dan madura hanya berwenang memeriksa perkara perkawinan saja,
sedangkan perkara waris yang selama beabad-abad menjadi kewenangannya yang di serahkan
kepada pengadilan negeri.”
Gerakan awal ini setidaknya di dasari oleh anggapan bahwa pusat kekuatan Islam sebagai
kekuatan politok, adalah di Jawa dan Madura. Karena itu jika peradilan Agama di Jawa dan
Madura telah berhasil dipaksa dengan ”dikebiri” sebagian wewenangnya, maka untuk
wilayah luar Jawa dan Madura akan lebih muda di laksanakan.
Setelah Jawa dan Madura berhasil ”di jinakkan” pada tahun yang sama serta melalui Stbl.
1937 No. 638 dan 639 .yang formalnya membentuk kerapatan qadhi dan qadhi besar untuk
wilayah Kalimantan Selatan, kewenangannya dibatasi sebagaimana peradilan agama di jawa
dan madura. Apabila dirinci, kewenangan pengadilan agama Dijawa dan Madura serta
Kalimantan selatan berdasarkan stbl.1937 No. 116 adalah :
1. Perselisihan antara suami dan istri yang beragama islam
2. Perkara-perkara tentang (a) nikah, (b) talak , (c) cerai rujuk, (d) perceraian antara orang-
orang yang beragama islam yang memerlukan perantaraan hakim agama Islam
3. memberi keputusan perceraian
4. menyatakan bahwa syarat untuk jatuhnya talak yang digantung (taklik talak) sudah ada
5. perkara mahar
6. perkara tentang keperluan kehidupan istri yang wajib di adakan oleh suami
Masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah kebendaan seperti masalah wakaf, waris,
wasiat, hibah, hadhanah, sedekah, baitul mal, menjadi wewenang peradilan umum sementara
untuk wilayah luar jawa-madura dan kalimantan selatan tetap berlaku hukum islam tanpa ada
pembatasan.
Di sisi lain, pada tahun 1937 juga dalam stbl. No. 610 di bentuk hof voor islamietische zaken
(mahkama islam tinggi), sebagai pengadilan tingkat banding untuk pengadilan agama. Boleh
jadi, ini ditempuh sebagai langkah persuasi–untuk tidak mengatakan hati-hati agar tidak
terlalu drastis dan mengundang kecurigaan.
Kendatipun demikian, kebijakan hurgronje dengan politik islamnya, melalui teori receptie
memicu timbulnya reaksi keras dari umat islam Indonesia. Prof. Hazairin misalnya,
menyebutnya sebagai teori iblis. Menurut dia teori ini tidak sejalan dengan iman orang islam.
Dengan teori ini orang islam diajak untuk tidak mematuhi al-quran dan sunnah rasulnya.
Karena jelas sekali tujuan teori receptie adalah merintangi kemajuan Islam Indonesia.
Pengaruh teori receptie cukup besar, untuk tidak mengatakan sangat besar. Bukan saja pada
para sarjana yang hidup pada masa-masa sebelum kemerdekaan dan di berlakukannya
Undang-Undang dasar 1945 yang secara formal menghapus teori tersebut, tetapi juga hingga
pertengahan dekade 70-an banyak hakim dalam lingkungan peradilan umum yang diminta
menyelesaikan kasus warisan orang islam, diselesaikan menurut Hukum Adat.

3) Teori Receptio a Contrario
Gaung dan teori reseptie dalam masyarakat ternyata berjalan cukup ramah dan telah
menguasai Hukum Indonesia teori yang menurut Sajuti Tholib, secara formal lahir melalui
I.S 1929 pasal 134, hemat menulis bukan saja menguasai pikiran hingga masa-masa
menjelang di undangkannya Undang-Undang dasar 1945 , tetapi bahkan hingga akhir dekade
90 an kecenderungan tersebut masih sangat di rasakan dan kelihatan jelas. Memang dalam
waktu yang sama telah mulai muncul kesadaran di dalam sebagian masyarakat muslim,
bahwa kelahiran UUD 1945 Seharusnya telah menggantikan UU negara jajahan Hindia
Belanda.
Pada saat BPUPKI merumuskan dasar negara , para pemimipin islam berusaha memulihkan
dan memdudukkan Hukum Islam dalam negara Islam yang merdeka. Dalam piagam jakarta
22 juni 1945, disepkati bahwa negara berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syari‟at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun demikian atas desakan pihak Kristen atau
versi lain menyebut utusan dari wilayah negara Indonasia bagian timur dengan alasan
kesatuan dan persatuan, panitia sembilan akhirnya mengeluarkan tujuh kalimat tersebut dari
pembukaan UUD 45 dan diganti dengan kata ”Yang Maha Esa” yang menurt Daud Ali
mengandung norma dan garis hukum.

Pada Tahun 1950 Dalam Konfrensi Departemen Kehakiman Di SalaTiga Prof. Hazairin telah
mengalah suatu analisis dan pandangan agar Hukum Islam itu berlaku di Indonesia , tidak
berdasar pada Hukum Adat. Berlakunya Hukum Islam menuru Hazairin, supaya di sandarkan
pada penunjukkan peraturan perundang-undangan sendiri. Sama seperti Hukum Adat selama
ini yang dasar memperlakukan Hukum Adat itu sendiri ialah berdasar sokongan peraturan
perundang-undangan. Karena itu, haruslah di persiapkan dan di sebutkan perundang-
undangan untuk itu.
Pada bagian lain, mengomentari pasal 29 UUD 1945 ayat 1 hanya mungkin di tafsirkan, di
antaranya sebagai berikut:
1. Dalam negara Indonesia tidak boleh terjadi atau berlaku sesuatu yang bertentngan dengan
kaidah-kaidah Islam bagi Islam, atau bertentangan dengan kaidah-kaidah Nasrani bagi umat
Nasrani, atau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Hindu Budha bagi orang-orang
Hindu-Bali, atau yang bertentangan dengan kesusilaan agama Budha bagi orang Budha.
2. Negara Republik Indonesia wajib menjalankan syari‟at Islam bagi orang Islam, syariat
Nasrani bagi orang Nasrani, dan syari‟at Hindu Bali bagi orang Hindhu Bali. Sekedar
menjalankan syariat tersbut memerlukan perantaraan kekuasaan negara.
3. Syariat yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara untuk menjalankannya, dan
karena itu dapat di jalankan sendiri oleh setiap pemeluk agama yang bersangkutan, menjadi
kewajiban pribadi terhadap Allah bagi setiap orang menjalankannya sendiri menurut
agamanya masing-masing.
Boleh jadi karena gigihnya perjuangan Hazairin dalam usaha memberlakukan hukum Islam
di Indonesia, maka oleh Daniel s. Lev ia dianggap tokoh yang menginginkan pembaharuan di
Indonesia secara spektakuler dan radikal untuk melaksanakan ijtihad dalam rangka
mengembangkan mazhab Indonesia sendiri. .
Tidak informasi yang jelas, mengapa masih ada saja orang-orang islam yang belum
menerima dan menyadari kenyataan sejarah tersebut. Ada yang secara terang-terangan ingin
mempertahankan teori iblis itu. Bahkan seperti akan dijelaskan nanti, hingga menjelang
kelahiran Undang-Undang No 7 tahun 1989 tentang peradialan agama, mereka juga
menentang habis-habisan, meskipun pada akirnya harus menerima fakta sejarah yang
menginginkanya sejak lama
Meskipun harus diakui bahwa kendati hukum Islam telah di terima sebagai sistem yang
berlaku sepenuhnya bagi umat islam dengan mengeluarkan Hukum Adat,atau dengan kata
lain Hukum Adat baru berlaku apabila tidak bertentangn dengan Hukum Islam, wacana
materiilnya terbatas pada hukum-hukum yang diatur dalam perundang-undangan. Dari sinilah
dengan teori receptie excit atau receptio a contrario.
Pada tahun 1970 keluar Undang-Undang No14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan
pokok kekuasaan kehakiman. Dalam pasal 10 UU tersebut di jelaskan bahwa dalam negara
Republik Indonesia terdapat empat lingkungan peradilan, yaitu (a) peradilan umum, (b)
peradialan agama, (c) peradilan tata usaha, dan peradilan militer
Secara yuridis formal, klausur tersebut memberikan konsenci hukum bahwa Hukum Islam
menjadi dasar hukum materil bagi kaum muslimin yang berurusan di pengadilan Agama.
Menindak lanjuti amanat UU no 14 tahun 1970 tersebut, setelah empat tahun lahir Undang-
Undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Menurut Prof Mahadi, sejak berlakunya UU
No 1/1970 tersebut berarti telah sampailah ajal teori iblis tersebut. Pasal 2 ayat 1
menyartakan bahwa :” perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-
masing agama dan kepercayaannya itu”. Praktis dengan mengacu pada pasal tersebut,
ketentuan Hukum Agama, ukur sah tidaknya suatu perkawinan dan segala akibat hukumnya.
Dengan kata lain, Hukum Islam, secara langsung berlaku tanpa harus melalui diresipil oleh
Hukum adat.
Memang Undang-Undang perkawinan tersebut dalam konteks pelaksanaa hukum perkawinan
Islam masih punya ”ganjalan”. Pasal 63 UU no 1/1974 menegaskan pengadilan agama baru
dapat di eksekusi setelah ada siap eksekusi dari pengadila negeri. Secara teoristis fiat
eksekusi tersebut lebih bersifat administratif, tetapi dalam pelaksaanya tidak jarang terjadi
pelampauan kewenangan dari pengadilan negeri. Sehingga berakibat menurunkan nilai
sebuah keputusan hakim yang berkekuatan Hukum tetap. Artinya, eksekusi terhadap putusan
pengadilan agama tidak dapat dijalankan.

D. Kedudukan Hukum Islam dalam Ketatanegaraan Indonesia
Kedudukan Hukum Islam dalam Ketatanegaraan Indonesia dalan ketatanegaraan Indonesia
dibagi dalam dua periode :
1. periode penerimaan hukum islam sebagai sumber persuasif
2. periode penerimaan hukum islam sebagai sumber autoritatif
1) dalam hukum konstitusi di kenal persuasive-source dan authotive source. Sumber
persuasive ialah sumber yang orang harus di yakinkan untuk menerimanya, sedangkan
sumber yang autoritatif ialah sumber yang mempunyai kekuatan (authority).
Dengan proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 dan berlakunya UUD 1945, walaupun
tanpa memuat ketujuh kata dari Piagam Jakarta, teori resepsi yang dasar hukumnya IS dengan
tidak berlakunya UUD 1945, teori resepsi kehilangan dasar hukumnya.
Dengan berlakunya UUD 1945 yang aturan peralihannya pasal 11-nya menetapkan, ” segala
badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum di adakan yang
baru menurut Undang-Undang Dasar ini. ” tidak dengan sendirinya pasal 134 (2) IS itu tetap
berlaku karena dasar hokum yang di tetapkan oleh suatu undang-undang dasar yang tidak
berlaku lagi tidak dapat di jadikan dasar hokum bagi suatu Undang-Undang Dasar baru yang
sama sekali tidak mengatur soal itu.
Setelah berlakunya UUD 1945, hokum islam berlaku bagi bangsa Indonesia yang beragama
islam karena kedudukan hokum islam itu sendiri, bukan karena ia telah di terima olh hokum
adapt. Pasal 29 UUD 1945 mengenai agama menetapkan :
1) Negara berdasar atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadatmenurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Selama 14 tahun, dari tanggal 22 juni 1945 waktu di tandatangani gentlement agrement
antara pemimpin-pemimpin nasionalis sekuler dan nasionalis islam sampai tanggal 5 juli
1959, sebelum Dekrit Presiden RI di undangkan, kedudukan ketentuan ” kewajiban
menjalankan syari‟at islam bagi pemeluk-pemeluknya” adalah persuasiei source.
Sebagaimana semua hasil sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
adalah persuasive source bagi grondwet interpretatie dari UUD 1945 maka piagam Jakarta
sebagai salah satu dari sidang badan penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan juga
merupakan persuasive source dari UUD 1945.
2) barulah dengan di tempatkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden RI tanggal 5 Juli
1959, Piagam Jakarta atau penerimaan hukum Islam telah menjadi authotive source, sumber
autoratif dalam hukum tata negara Indonesia, bukan sekedar persuasive source atau sumber
hukum persuasif.
Untuk mengetahui dasar hukum Piagam Jakarta dalam konsiderans Dekrit Presiden RI
tanggal 15 Juli 1959, perlu di pelajari dasar hukum pendahuluan atau preambule dalam suatu
konstitusi dan konsiderans atau timbangan dari suatu peraturan perundangan.
Sebagaimana kita ketahui, Piagam Jakarta itu semula merupakan pembukaan dari Rancangan
UUD 1945 yang di buat oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan. Kemudian
dalam konsiderans Dekrit Presiden di tetapkan : ” bahwa kami berkenyakinan bahwa Piagam
Jakarta tertanggal 22 juni 1945 menjiwai UUD 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian
kesatuan dalam konstitusi tersebut.”
Menurut hukum tata negara Indonesia, preambule atau konsiderans, bahkan penjelasan
peraturan perundangan, mempunyai kedudukan UUD adalah rangkaian kesatuan dari suatu
konstitusi. Begitu pula, konsiderans dan penjelasan peraturan perundangan adalah bagian
integral dari suatu peraturan perundangan. Sebelum adanya UU No. 3/1975 tentang partai
politik dan golongan karya, semata-mata merupakan pendapat para sarjana. Dengan
penjelasan pasal demi pasal dari pasal 3 UU No.3/1975 di jelaskan :
1) a. yang di maksud dengan UUD 1945 dalam huruf a pasal ini meliputi Pembukaan, Batang
Tubuh dan penjelasannya. ” dengan demikian maka preambule atau konsiderans dari UUD
dan peraturan perundangan adalah mempunyai kekuatan hukum.
Dalam Dekrit Presiden RI 15 Juli 1959 itu, selain di tetapkan Piagam Jakarta dalam
konsiderans, dalam diktum di tetapkan pula ” menetapkan UUD 1945 berlaku lagi”. Dengan
demikian dasar hukum Piagam Jakarta dalam konsiderans dan dasar hukum UUD 1945 dan
peraturan perundangan yang di namakan Dekrit Presiden. Keduanya menurut hukum tata
negara indonesia mempunyai kedudukan hukum yang sama.
Dengan demikian Presiden RI berkenyakinan, jadi bukan hanya Ir.soekarno pribadi, bahwa
Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dalam
konstitusi tersebut. Dan karena perbedaan Piagam Jakarta dengan pembukaan UUD 1945
hanyalah tujuh kata ” dengan kewajiban menjalankan syari‟at islam bagi pemeluk-
pemeluknya”, maka itu berarti bahwa ketujuh kata itulah yang menjiwahi UUD 1945 dan
merupakan auatu rangkaian kesatuan dalam UUD 1945 itu.
Kata ”menjiwai” secara negatif berarti bahwa tidak boleh di buat peraturan perundangan
dalam negara RI yang bertentangan dengan syari‟at islam bagi pemeluk-pemeluknya. Dan
secara positif berarti bahwa pemeluk-pemeluk islam di wajibkan menjalankan syari‟at islam.
Untuk itu harus di buat undang-undang yang akan memberlakukan hukum islam dalam
hukum nasional. Pendapat ini sesuai dengan keterangan perdana mentri juanda pada tahun
1959.: ” pengakuan adanya Piagam Jakarta sebagai dokumen historis, bagi pemerintah berarti
pengakuan pula akan pengaruhnya terhadap UUD 1945. jadi pengakuan tersebut tidak
mengenai Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Jadi pengakuan tersebut tidak mengenai
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, pasal mana selanjutnya harus menjadi dasar bagi
kehidupan di bidang keagamaan.
Politik hukum ini terlihat pula pada ketetapan MPRS No. 11/MPRS‟1960 di mana dinyatakan
dalam persempurnaan hukum perkawinan dan hukum waris supaya di perhatikan adanya
faktor-faktor agama.
Sampai tidak berlakunya lagi ketetapan MPRS No. 11/MPRS‟1960 pada 27 maret 1968 tidak
satupun undang-undang muncul di bidang hukum perkawinan dan hukum waris walaupu oleh
Lembaga Pembinaan Hukum Nasional telah di siapkan RUU Peraturan Pelengkap Pencatatan
Perkawinan, RUU Hukum Perkawinan, dan RUU Hukum Waris. Sebaliknya, di
yurispundensi dengan Keputusan-keputusan Mahkamah Agung sejak tahun 1959 telah di
ciptakan beberapa keputusan dalam bidang hukum waris nasional menurut sistem bilateral
secara judge made law. Disini terlihat di bidang hukum waris, nasional yang bilateral lebih
mendekakati hukum islam daripada hukum adat.

BAB III
KESIMPULAN

Negara Republik Indonesia menganut berbagai sistem hukum, yaitu sistem hukum adat,
sistem hukum islam, dan sistem hukum eks barat. Ketiga sistem hukum di maksud, berlaku di
negara Indonesia sebelum Indonesia merdeka.
Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia:
1. Teori Receptio in Complexu Hukum adat setempat dalam keyataannya sering
menyesuaikan diri dengan Hukum Islam. Misalnya, di Banten pada kekusaan Sultan Agung
Tirtayasa, Hukum Adat dan Hukum Agama tidak ada bedanya. Di Sulawesi, di Wajo, hukum
waris di selesaikan dengan menggunakan Hukum Islam dan Hukum Adat. Keduaanya
menyatu dan Hukum Adat menyesuaikan diri dengan Hukum Islam. Dengan kata lain,
sosialisasi Hukum Islam pada waktu itu berjalan sangat hebat. Sultan agung menyebut
dirinya sebagai Abdul Rahman Khaalifatullah Sayidi Panatagama. Atas dasar penerimaan
Hukum Islam sebagai norma hukum yang berlaku dalam masayarakat
2. Teori Receptie bahwa hokum yang berlaku bagi orang Islam adalah hukum Adat mereka
masing-masing. Hukum Islam dapat berlaku apabila telah di resepsi atau di terima oleh
Hukum Adat. Jadi, hukum adatlah yang menentukan ada tidaknya Hukum Islam.
3. Teori Receptio a Contrario bahwa hukum Islam telah di terima sebagai sistem yang
berlaku sepenuhnya bagi umat islam dengan mengeluarkan Hukum Adat,atau dengan kata
lain Hukum Adat baru berlaku apabila tidak bertentangn dengan Hukum Islam, wacana
materiilnya terbatas pada hukum-hukum yang diatur dalam perundang-undangan.
Kedudukan Hukum Islam dalam Ketatanegaraan Indonesia
Kedudukan Hukum Islam dalam Ketatanegaraan Indonesia dalan ketatanegaraan Indonesia
dibagi dalam dua periode :
1. periode penerimaan hukum islam sebagai sumber persuasif
2. periode penerimaan hukum islam sebagai sumber autoritatif

DAFTAR PUSTAKA

Daud ali, hokum islam: peradilan agama dan masalahnya, dalam tjun surdjaman. Op.cit hal
74
Drs. H. Halim, Abdul, M.A. 2005, Politik Hukum Islam, Ciputat Press.
Dr. Rofiq, Ahmad, M.A., 2001, Pembaruan Hukum Islam di Indonesia, Yogyakarta :Gema
Indonesia
Rofiq, Ahmad, 1995, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
Dr, Praja, Juhaya, 1994, Hukum Islam di Indinesia, Bandung: Remaja Resda
Sunny, Ismail,S.H.M.C.I Hukum Islam dalam Hukum Nasional
Dr. Saqaf, Salim, 2004, Penerapan Syari‟at Islam di Indonesia, Jakarta: Global Media
Sumitro, Warkum, S.H.,M.H, 2005, Perkembangan Hukum Islam, Malang: Bayu Media
Drs, H. Wardi Muslich, Ahmad, 2005, Hukum Politik Islam, Jakarta: Sinar Grafika
H . Z. A. Noeh, Kerukunan Umat Beragama, hal. 20
Ditbinbapera, laporan hasil prnelitian. Bagian proyek pengadilan agama . jakarta, tt., 37
Daniel s.lev, 1964., hokum kewarisan bilateral menurut quran dan hadist Jakarta : Tinta Mas ,





Sistem Hukum di Indonesia

Setiap negara di dunia memiliki sistem hukum yang berbeda - beda. Hal ini menentukan juga
jalannya pemerintahan dan hubungan negara tersebut ke negara lain. Indonesia memakai
sistem hukum positif, yaitu hukum yang berlaku di suatu wilayah dan waktu tertentu. hukum
yang berlaku di Indonesia hampir pasti tidak ada yang menyamai secara keseluruhan, karena
Indonesia memiliki sistem hukum yang hanya bisa dterapkan di Indonesia. Begitu juga
tergantung pada masa pemerintahan presiden tertentu. memang dasar - dasar dari hukum
Indonesia tidak berubah namun penerapannya kan berbeda - beda. Sumber hukum formal
pada umumnya dibedakan menjadi lima bagian, yaitu : Undang - Undang, Kebiasaan dan
Adat, Traktat, Yurispudensi, dan Doktrin.
Hukum positif di Indonesia terdiri atas hukum tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis
adalah Undang - Undang dan peraturan - peraturan yang tertulis dan diterapkan. Hukum
tertulis ini seaakan menjadi pattern dalam melaksanakan sistem hukum di Indonesia, seperti
UUD 1945 yang menjadi sumber dari segala sumber hukum. Selain itu, Kitab Undang -
Undang Hukum Perdata maupun Pidana juga merupakan contoh dari hukum tertulis di
Indonesia. Hukum tidak tertulis merupakan hukum kebiasaan atau hukum ada yang sudah
berlaku turun temurun. Hukum ini tidak pernah ditulis dan diarsipkan sebagaimana hukum
tertulis, namun berlaku dan menjadi paten di tengah - tengah kehidupan masyarakat. Selain
berlangsungnya hukum tertulis maupun tidak tertulis, di tengah - tengah masyarakat juga
berlakui norma - norma yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Norma - norma yang
berlaku adalah : Norma Agama, Norma Kesusilaan, Norma Kesopanan, dan Norma
Hukum[1]. Namun, masyarakat juga menjadi aspek penting dalam pembahasan sistem hukum
di Indonesia. Hal ini dikarenakan keperluan dari masyarakat agar menemui tujuan masyarakat
yang tentram dan sejahtera adalah berlakunya norma dan hukum yang tepat dan cocok
dengan keadaan masyarakat itu. Hukum itu sendiri muncul karena adanya komunitas itu
sendiri.
Sebagai masyarakat Indonesia, mempelajari hukum Indonesia merupakan salah satu bentuk
kepedulian terhadap negaranya sendiri dan mengetahui bagaimana hukum yang berlaku
sekarang. Dalam kehidupan bernegara, kita tidak mungkin lepas dari tata aturan hukum yang
berlaku dan segala perilaku kita harus disandarkan pada aturan - aturan tersebut. Pada
awalnya, di Indonesia sebelum datangnya Belanda, sudah berlaku hukum adat yang berlaku
di masyarakat dan tidak tertulis. Setelah Belanda datang, penduduk asli Indonesia berlaku
hukum adat di daerah masing - masing, begitu juga bangsa timur asing (Asia). Namun
penduduk Eropa yang tinggal di Indonesia berlaku hukum di negara Belanda[2]. Setelah
kemerdekaan 1945, di Indonesia berlaku lima kontitunsi, yaitu : UUD 1945, Konstitusi RIS,
UUDS 1950, UUD 1945, dan UUD 1945 yang mengalami amandemen sebanyak empat kali.
Sumber hukum dasar di Indonesia adalah Pancasila sebagaimana tercantum dalam
pembukaan UUD 1945 paragraf keempat, karena merupakan dasar fundamental bagi bangsa
Indonesia. Dalam TAP MPR No. III/MPR/200 ditentukan urutan - urutan sumber hukum di
Indonesia dari atas ke bawah, yaitu :
1. Undang - Undang Dasar 1945
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
3. Undang - Undang yang dibuat oleh DPR bersama Presiden
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - Undang
5. Peraturan Pemerintah
6. Keputusan Presiden
7. Peraturan Daerah

Seiring berjalannya waktu, tata urutan ini berubah dengan dikeluarkannya UU no. 10 tahun
2004 dimana hal yang cukup menarik adalah tidak disebutkannya lagi TAP MPR yang
memiliki kedudukan sangat tinggi, yaitu tepat di bawah UUD 1945.
Apabila membicarakan sistem, maka kita tidak akan lepas dari syarat - syarat yang berlaku.
Menurut Fuler dalam bukunya yang berjudul The Morality of Law berisi 8 asas yang harus
dipenuhi suatu sistem hukum, asas - asas tersebut adalah : Suatu sistem hukum harus
mengandung peraturan - peraturan, tidak boleh sekadar mengandung keputusan ad hoc ;
Peraturan - peraturan yang dibuat harus diuumkan ; Peraturan - peraturan tidak bokeh ada
yang berlaku surut ; Peraturan - peraturan harus disusun dalam rumusan yang dapat
dimengerti ; Suatu sistem tidak boleh menganding peraturan peraturan yang bertentangan
satu dengan yang lain ; Peraturan - peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi
apa yang dapat dilakukan ; Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah - ubah
peraturan sehingga menyebabkan orang kehilangan orientasi ; Harus ada kecocokan antara
peraturan yang diundang - undangkan dengan pelaksanaan sehari - hari.
Eric L. Richard mengatakan bahwa beberapa sistem hukum yang berlaku di dunia antara lain
: Civil Law yang merupakan hukum yang berdasar pada kode - kode sipil ; Common Law
merupakan hukum yang berdasarkan pada kebiasaan ; Islamic Law ; Socialist Law ; Sub -
Sahara African Law ; Far East Law yaitu perpaduan antara Civil Law, Common Law, dan
Islamic Law. Dan sistem hukum yang berlaku di Indonesia adalah Far East Law. Sistem
hukum Civil atau sistem hukum barat yang diterapkan di Indonesia sejatinya adalah warisan
dari masa kolonial Belanda. Peraturan perundang - undangan dari jaman Belanda yang masih
dipakai sampai saat ini adalah Burgerlijk Wetboek atau BW yang mengatur hukum perdata
dan Wetboek van Strafrecht atau hukum pidana yang masih kental pengaruhnya sampai kini.
Sistem adat yang berlangsung juga sedikit terpengaruh pada masa penjajahan, terutama
penjajahan Belanda, karena pada masa itu juga sistem - sistem hukum mulai dikenalkan pada
masyarakat luas dan diterapkan di daerah masing - masing dengan sajian yang berbeda.
Selain itu, akibat dari perdagangan dari daerah jazirah Arab melahirkan sistem - sistem
hukum Islam yang masuk ke Indonesia, baik secera asimilasi dan akulturasi.
Walaupun kedatangan Belanda pada awalnya tidak ada hubungannya dengan agama, tidak
dapat dipungkiri bahwa ada pergesekan kepentingan dengan para pribumi dalam
permasalahan agama. Dengan berlakunya hukum adat, muncul beberapa teori seperti teori
Receptio in Complex, Receptie, Receptie Exit, Receptio A Contrario, dan Eksistensi. Teori
Receptio in Complex mengatakan bahwa berlaku hukum agamanya masing - masing. Setiap
agama berhak untuk menjalankan hukum - hukum yang ada di setiap agamannya masing -
masing. Teori Receptie merupakan tentangan terhadap teori sebelumnya, yaitu teori Receptio
in Complex. Teori ini mengatakan bahwa hukum Islam tidak hanya berlaku bagi umat Islam
saja. Hukum Islam boleh dijalankan apabila telah diterima menjadi hukum adat mereka.
Namun teori Receptie ini juga mendapat pertentangan dari ulama Islam, bahwa hukum Islam
tidak hanya bisa dijalankan ketika sudah diterima menjadi hukum adat saja. Pertentangan
para pemimpin Islam ini memunculkan Piagam Jakarta. Selain pertentangan, teori
Receptio juga memiliki kebalikan, yaitu teori Receptio A Contratio yang mengatakan bahwa
hukum adatlah yang tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam dalam pelaksanaannya.
Namun, ada pula teori Eksistensi yang menegaskan bahwa hukum Islam merupakan bagian
dari tatanan hukun Nasional Indonesia. Keadaan ini merupakan keadaan yang tidak dapat
terelakkan lagi, karena mayoritas penduduk Indonesia yang Islam, dan juga banyak sekali
hubungan erat antara hukum Islam dengan hukum Nasional Indonesia.





Pengertian Mujtahid
Pengertian mujtahid secara bahasa
Secara bahasa mujtahid adalah orang yang melakukan ijtihad. Dan ijtihad secara bahasa yaitu
mencurahkan segenap kemampuan dan usaha untuk melakukan sesuatu.
Imam Al-Ghazali berkata:

:

:

.

“Ijtihad yaitu mengerahkan segenap kemampuan dan mengeluarkan seluruh usaha untuk
melakukan sesuatu. Namun kata ijtihad ini hanya digunakan untuk pekerjaan yang berat dan
menguras energi. Misalnya: “Dia berijtihad mengangkat batu penggilingan.” Bukan: “Dia
berijtihad mengangkat biji sawi.”1
Dengan demikian, mujtahid adalah orang yang mengerahkan segenap kemampuan dan
mengeluarkan seluruh usaha demi melakukan sesuatu yang tidak ringan.
Pengertian mujtahid secara istilah
Secara istilah mujtahid adalah orang yang berkompeten untuk melakukan ijtihad. Dan ijtihad
secara istilah yaitu:

.

“Mengerahkan segenap kemampuan untuk melepaskan diri dari sikap ragu-ragu (setengah
mantap dan setengah tidak), hingga mencapai tingkat dhann atau dugaan (75% mantap dan
25% tidak) atau yang lebih tinggi.”2
Sementara Imam Al-Ghazali mendefinisikan kata ijtihad dengan:

.

“Aktivitas seorang mujtahid yang mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengetahui
hukum-hukum syariat.”3
Lalu dia menambahkan:

.
“Dan ijtihad yang sempurna yaitu mengerahkan segenap usaha untuk mengetahui (hukum-
hukum syariat), sehingga mujtahid itu merasa bahwa dirinya tidak sanggup lagi untuk
melakukan lebih dari itu.”4
Dengan demikian ketika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu permasalahan, dia tidak
tergesa-gesa mengeluarkan fatwa sebelum dia mengerahkan segenap kemampuannya untuk
memahami permasalahan tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‟i:
“Seorang mujtahid tidak tergesa-gesa mengeluarkan pendapat dalam suatu permasalahan
dengan berkata, “Aku tidak tahu.” Sehingga dia mengerahkan segenap kemampuannya dalam
menyelami permasalahan itu, dan tidak berhenti begitu saja. (Maksudnya hingga mujtahid
tersebut mengetahui hukum permasalahan itu). Sebagaimana dia pun tidak tergesa-gesa
berkata, “Aku tahu.” Lalu mujtahid itu menjelaskan pendapatnya, sebelum dia mengerahkan
segenap kemampuannya dan mengetahui hukumnya.”5
Beberapa kata yang berhubungan dengan mujtahid
- Faqih
- Ulama
1 Al-Mustashfa, Vol. 2 hal. 363.
2 Mu‟jam Lughah al-Fuqaha‟, Vol. I hal. 43.
3 Al-Mustashfa, Vol. 2 hal. 363.
4 Al-Mustashfa, Vol. 2 hal. 363.
5 Al-Ijtihad fi asy-Syari‟ah al-Islamiyah, hal. 12.
Diposkan oleh Kuliah Hadits Ahkam di 03:04 Tidak ada komentar:
Beranda


ijma adalah kesepakatan para ulama untuk menentukan / istinbat suatu hukum untuk suatu
urusan/perihal yang belum pernah ditemukan saat Nabi SAW hidup.

Contoh Ijma saat masih para sahabat utama hidup dilakukan saat penentuan khalifah pengganti Nabi
SAW setelah kewafatannya.
Selanjutnya ijma menjadi tradisi dengan cara musyawarah para sahabat yg alim, dan dilanjutkan oleh
para alimulama hingga saat ini.

Qiyas adalah upaya unutk menganalogikan/membandingkan sesuatu dengan obyek yg telah
ditentukan dalam Quran dan hadits dan kesepakatan Sahabat2. Misal, penentuan jumlah nasab
zakat beras, maka diqiyaskan dengan jumlah nasab pada gandum.


- IJMA‟ dan QIYAS ( ) Presented by : Rikza Adhia N R Jahid Murtadho A
- 2. Landasan HukumLandasan hukum dalam Islam :• Al-Qur‟an• Hadits• Ijma‟ (yang tidak
bertentangan dengan Al- qur‟an dan hadits)• Qiyas (yang tidak bertentangan dengan Al-
qur‟an dan hadits)
- 3. Ijma‟
- 4. Ijma‟Ijma‟ menurut bahasa mengandung dua arti :• Pengertian pertama : berupaya
(tekad) terhadap sesuatu. disebutkan berarti berupaya di atasnya.Seperti firman Allah SWT :
... ...“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. (Qs.10:71)•
Pengertian kedua, berarti kesepakatan.Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini
bahwa artipertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang.
- 5. Ijma‟• Ijma‟ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum
muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasulullah SAW atas hukum syara.Adapun
pengertian Ijma‟ dalam istilah teknis hukumatau istilah syar‟i terdapat perbedaan rumusan
yangmana terletak pada segi siapa yang melakukankesepakatan itu.
- 6. Kehujjahan ijmaIjma menjadi hujah (pegangan) dengan sendirinya ditempat yang tidak
didapati dalil (nash),yakni Al-Qur- an dan Al-Hadist. Dan tidak menjadi ijma kecuali telah
disepakati oleh segala ulama Islam,dan selama tidak menyalahi nash yang qathi (Kitabullah
dan hadist mutawatir).Kebanyakan ulama berpendapat bahwa nilai kehujahan ijma ialah
dzanni, bukan qathi. Oleh karena nilai ijma itu dzanni, maka ijma itu dapat dijadikan hujjah
(pegangan) dalam urusan amal, bukan dalam urusan itiqad, sebab urusan itiqad itu mesti
dengan dalil yang qathi.
- 7. Pembagian ijma• Ijma ummat itu dibagi menjadi dua:1. Ijma qauli (ucapan); yaitu ijma
dimana para Ulama ijtihad menetapkan pendapatnya baik dengan lisan maupun tulisan yang
menerangkan persetujuannya atas pendapat mujtahid lain dimasanya.Ijma ini disebut juga
ijma qathi.2. Ijma sukuti (diam); ialah ijma dimana para Ulama ijtihad berdiam diri tiada
mengeluarkan pendapatnya atas mujtahid lain dan diamnya itu bukan karena takut atau malu.
Ijma ini disebut juga ijma dzanni. Sebagian ulama berpendapat,bahwa suatu penetapan jika
yang menetapkan hakim yang berkuasa dan didiamkan oleh para Ulama, belum dapat
dijadikan hujjah. Tetapi sesuatu pendapat yang ditetapkan oleh seorang Faqih, lalu didiamkan
para Ulama yang lain maka dapat dipandang ijma.Disamping ijma ummat tersebut,masih ada
macam-macam ijma yang lain, yaitu (1). Ijma sahabat, (2). Ijma Ulama Medinah, (3). Ijma
Ulama Kufah, (4). Ijma Khulafa yang empat, (5). Ijma Abu Bakar dan Umar, dan (6). Ijma
itrah, yakni ahli bait= golongan syiah.
- 8. Ijma‟ dalam rumusan Al-GhozaliKesepakatan umat Muhammad SAW secara khusus
atas suatu urusan agamaPandangan Imam Al-Ghozali ini mengikuti pandanganImam Syafi‟i
yang menetapkan Ijma‟ itu sebagaikesepakatan umat. Yang mana di dasarkan padakeyakinan
bahwa yang terhindar dari kesalahanhanyalah umat secara keseluruhan bukan
perorangan.Namun pendapat Imam Syafi‟i ini mengalamiperubahan dan perkembangan
ditangan pengikutnya dikemudian hari.
- 9. Rukun Ijma‟• Adapun rukun ijma‟ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para
mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara‟ .„Kesepakatan‟ itu dapat
dikelompokan menjadi empat hal:1. Tidak cukup ijma‟ dikeluarkan oleh seorang mujtahid
apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. Karena „kesepakatan‟
dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain.2.
Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara‟ dalam suatu masalah, dengan
melihat negeri, jenis dan kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara‟ hanya
para mujtahid haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid
ahli Syiah, maka secara syara‟ kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma‟. Karena ijma‟ tidak
terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam
suatu masa.
- 10. Rukun Ijma‟3. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang
mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan, fatwa atau
perbuatan.4. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. Jika
sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kespekatan yang „banyak‟ secara
ijma‟ sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka
tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syar‟i yang pasti dan mengikat.
- 11. Syarat Mujtahid- Para Mujtahid hendaknya sminimal memiliki 3 syarat:• Syarat
pertama, memiliki pengetahuan sebagai berikut:a) Memiliki pengetahuan tentang Al
Qur‟an.b) Memiliki pengetahuan tentang Sunnah.c) Memiliki pengetahuan tentang masalah
Ijma‟ sebelumnya.• Syarat kedua, memiliki pengetahuan tentang ushul fiqh.• Syarat ketiga,
Menguasai ilmu bahasa.
- 12. Syarat MujtahidAs-syatibi menambahkan syarat selain yang disebutdi atas, yaitu
memiliki pengetahuan tentangmaqasid al-Syariah (tujuan syariat).Karena menurutnya,
seseorang tidak dapatmencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasaidua hal:1. ia harus
mampu memahami maqasid al-syariah secara sempurna.2. ia harus memiliki kemampuan
menarik kandungan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-
Syariah.
- 13. Qiyas
- 14. Qiyas• Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada
nashnya dalam Al Qur‟an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang
ditetapkan hukumnya berdasarkan nash.• Para ulama ushul juga membuat definisi lain, Qiyas
adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash
hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.
- 15. Contoh :• hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur‟an
yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah Swt:“Hai orang-orang yang beriman,
Sesungguhnya (meminum)khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi
nasibdengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Makajauhilah perbuatan-perbuatan
itu agar kamu mendapatkeberuntungan. (Qs.5:90)“Haramnya meminum khamr berdasar illat
hukumnya adalahmemabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnyaillat sama
dengan khamar dalam hukumnya maka minumantersebut adalah haram.
- 16. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok:1. Kelompok
jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas
nashnya baik dalam Al Qur‟an, hadits, pendapat shahabat maupun ijma ulama.2. Mazhab
Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab
Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan
nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang
sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.3.
Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena
persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas
sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur‟an dan hadits.
- 17. Kehujjahan Qiyas• Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan
hujjah syar‟i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain.
Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma‟ dan yang
kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah
hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar‟i. Diantara ayat Al Qur‟an yang dijadikan
dalil dasar hukum qiyas adalah firman Allah:“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir
di antara ahli Kitab dari kampungkampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu
tidak menyangka, bahwamereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng
mereka dapatmempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan
kepadamereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan
Allahmelemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumahmereka
dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Makaambillah (Kejadian itu)
untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyaiwawasan. (Qs.59:2)
- 18. Rukun QiyasQiyas memiliki rukun yang terdiri dari empat hal:1. Asal (pokok). Yaitu,
apa yang terdapat dalam hukum nashnya. Disebut dengan al-maqis alaihi.2. Fara‟ (cabang),
yaitu sesuatu yang belum terdapat nash hukumnya, disebut pula al-maqîs.3. Hukm al-asal,
yaitu hukum syar‟i yang terdapat dalam dalam nash dalam hukum asalnya. Yang kemudian
menjadi ketetapan hukum untuk fara‟.4. Illat, adalah sifat yang didasarkan atas hukum asal
atau dasar qiyas yang dibangun atasnya.
- 19. SELESAI . . . . !! Wassalam . . .


Maslahah berarti menjaga tujuan syara‟ dengan jalan menolak mafsadah (kerusakan) atau
mudarat dari makhluuk. Sedangkan mursalah berartti terlepas dari daili yang menganggapnya
atau dalil yang mengabaikannya. Jadi masalih mursalah yaitu manfaat bagi manusia atau
menolak kemudaratan atau kesempitan dari mereka kalau diteliti dalil syara‟ maka tidak ada
yang menunjukan ada/tidak adanya hukum tersebut
Maslahah itu bersifat umum, bukan untuk kepentingan pribadi artinya penetapan hukum itu
memberi manfaat kepada manusia terbanyak atau menolak mudarat dari mereka, bukan untuk
kepentingan perorangan.
PEMBAHASAN Al Maslahah Al Mursalah
1. Pengertian Al Maslahah Al Mursalah
Masalahah Mursalah ialah maslahah yang tidak diisyari‟atkan hukum oleh syariat untuk
mewujudkannya dan tidak ada dalil syara‟ yang menganggapnya atau mengabaikannya
Maslahah berarti menjaga tujuan syara‟ dengan jalan menolak mafsadah (kerusakan) atau
mudarat dari makhluuk. Sedangkan mursalah berartti terlepas dari daili yang menganggapnya
atau dalil yang mengabaikannya. Jadi masalih mursalah yaitu manfaat bagi manusia atau
menolak kemudaratan atau kesempitan dari mereka kalau diteliti dalil syara‟ maka tidak ada
yang menunjukan ada/tidak adanya hukum tersebut







Nov
22

makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Munculnya berbagai masalah di zaman yang modern ini menyebabkan ijtihad dalam
menentukan hukum merupakan suatu hal yang manjadi suatu keharusan untuk dilakukan.
Permasalahannya, di zaman sekarang, siapa yang berhak untuk berijtihad? Apakah semua orang
boleh berijtihad untuk menentukan hukum syar'I
Al-Qur'an telah mengajarkan agar umat Islam berijtihad, berupaya menarik kesimpulan hukum
serta menerima pengarahan para ulama dan ahli-ahli pikir mereka. Allah SWT berfirman : "Dan
apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu
menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka,
tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari
mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah
kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." [Q.S. al-Nisa':83]. Ayat ini jelas
berisi anjuran yang cukup tegas, untuk beristinbath dan berijtihad, yakni mengambil kesimpulan dan
berusaha mencari hukum dengan mengadakan perbandingan dan lain sebagainya.
Sejarah juga telah menceritakan kapada kita, bagaimana Rasulullah SAW melatih para
sahabatnya dalam memutuskan suatu hukum dan mendorong mereka agar mengerahkan segala
kemampuan daya fikirnya untuk berijtihad. Beliau menenangkan hati para sahabat agar tidak ragu
atau takut salah dalam usaha ijtihadnya. Karena seorang mujtahid yang benar dalam ijtihadnya akan
diberi dua pahala. Dan bagi yang salah dalam ijtihadnya akan memperoleh satu pahala. Allah SWT
berfirman: "Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada
dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." [QS.Al-Ahzab:5]
Untuk lebih jelasnya mengenai ijtihad akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu ijtihad?
2. Bagaimanakah syarat menjadi mujtahid?
3. Apakah pintu ijtihad masih terbuka atau sudah tertutup?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian ijtihad, syarat menjadi mujtahid dan memahami pintu ijtihad.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah kajian kepustakaan dari media atau library research.

BAB II
TERBUKA DAN TERTUTUPNYA PINTU IJTIHAD

A. Pengertian Ijtihad
Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara
yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan
pertimbangan matang.
1

Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan
para ahli agama Islam.
Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam
beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
Secara harfiah, Ijtihad yang berasal dari kata kerja jahada dapat diartikan dengan kerja keras,
sungguh-sungguh, dan pengetahuan mengenai hukum atau yurisprudensi. Secara terminologi ijtihad
diartikan sebagai mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan atas hukum-
hukum syara' dengan jalan menggali dari sumbernya (al-ishtinbâth) yang berupa Al-quran Al-sunah.
Adapun isim fâ'il (pelaku/orang yang melakukan) dari ijtihad adalah mujtahid.
2

Ijithad telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW fiqih mengandung “pengertian tentag
hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf”
3
maka Ijtihad akan terus berkembang
perkembangan ini berkaitan dengan berbuatan manusia yang selalu berubah-ubah baik bentuk
maupun macamnya, dalam hubungan ini, menurut Asy syahstani bahwa keadian dan kasus dalam
peribadatan dan muamalah (tindakan manusia) secara pasti dapat diketahui bahwa tidak setiap
kasus ada nashnya apabila nashnya sudah berakhir sedangkan kejadiannya berlansung terus tanpa
batas ketika sesuatu yang tidak terbatas maka qiyas wajib dipakai sehingga setiap kasus ada ijtihad
mengenainya.
Menurut al Gahzali dalam kitabnya Al Mustasfa jus I : 137 “Istihsan adalah semua hal yang
dianggap baik oleh Mujtahid menurut Akalnya” dlam hal kehujjahannya para ulama berbeda
pendapat, ada yang menggunakan istihsan dan ada yang tidak mengakui adanya istihsan

B. Pensyari'atan Ijtihad
Ijtihad merupakan salah satu pilar pokok tegaknya syari'at islam. Terdapat banyak dalil yang
menganjurkan untuk melaksanakannya, diantaranya adalah firman Allah QS. Al-nisâ' 105.

)e9o.7¢ &µPt9.Zu-! )eP+-! /e--9.o¢,o #-9.3©It~=, #-9Z+-+© /t¹|¸t 9eIto(3'N,
µue 4 #-!+ &µu17¢ 3eo-! 9¢e=(¢-!÷_Ze¹¸t ?o3' e_· ,¢·©0ç-

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran,
supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah allah wahyukan kepadamu, dan
janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang
yang khianat.
Pada ayat ini mengandung ketetapan ijtihad dengan menggunakan metode Qiyas. dan QS. Al-rūm
21.
&µ|| 'u#t~Ieµe÷ µuBe( &µP^T©3'N| Bie( 9o3'/ {¢=v,t 9¢eutT(3'Z©u)#(
&µ.µu÷|° /t|Zu6^N µu¸¢\¢~ )e9o.¸¢- )e|+ 4 µuuµ(0¢t÷ B+uu+oZ 9¢e)ou|O5
¢Yt~M; o÷9e7¢ ¸e _.· tItç3v©µ|t
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan dari al-sunah ialah hadits dari Amr ibn al-'Âsh , ia mendengar utusan Allah bersabda :
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian benar,
maka bginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah, maka baginya satu
pahala. "HR. Bukhari dan Muslim".
Hadis ini secara implisit menunjukkan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah, tapi baik
yang benar maupun yang salah tetap mendapatkan pahala, dalam artian keduanya mendapat
legitimasi hukum dari syâri' (yang mempunyai syari'at). Oleh karena itu perbedaan pendapat dari
masing-masing imam yang telah mencapai kapasitas untuk berijtihad harus disikapi dengan benar,
jangan dijadikan perpecahan. Karena itu adalah rahmat bagi kita. Nabi SAW bersabda "perbedaan
pendapat umatku adalah suatu rahmat". Dan juga hadits yang diriwayatkan Muazd bin Jabal ketika
mendapat pembekalan oleh nabi sebelum hijrah ke Yaman untuk menjadi qodhi (hakim) di daerah
yaman. Ketika Nabi bertanya, dengan apa kamu memberi keputusan? Muazd menjawab, dengan
kitabullah (Al-quran). Kemudian Nabi berkata, kalau kamu tidak menemukan didalam al-quran? Aku
akan menghukumi dengan sunah Rasul-Nya nabi berkata lagi, kalau dalam sunah tidak kamu
temukan? Aku akan berijtihad dengan ro'yu. Adapun pengertian ijtihad dengan ro'yu dikalangan
sahabat ialah sama artinya dengan ijtihad dalam istilah yang dipakai ushuliyin (ulama' ahli usul).

C. Syarat-Syarat Menjadi Mujtahid
Dalam menentukan kriteria-kriteria seorang mujtahid, para mushonif (pengarang) kitab
berbeda-beda pendapat, namun dari ihktilaf tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat
seseorang bisa dikatakan mujtahid ketika sudah menguasai delapan bidang pengetahuan.
1. Faham dengan makna ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at, baik secara
lughot (etimologis) atau secara syara' (epistemologis), dan tidak disyaratkan menghafal ayat al-
ahkâm (ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum) apalagi ayat-ayat Al-qurân secara keseluruan.
Cukup hanya mampu merujuknya kembali ketika membutuhkan . Adapun kadar-kadar ayat-ayat
hukum yang dalam Al-qurân menurut Al-ghazali, Al-razi, dan Ibn al-Arabi adalah 500 ayat, kemudian
Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa yang dikehendaki oleh Al-ghazali, Al-razi, dan Ibn al-Arabi hanyalah
ayat-ayat yang zhahirnya bermuatan hukum praktis. Lebih dari itu banyak ayat yang apabila digali
akan menghasilkan sintesa hukum, tergantung pada kepiawaian dalam menganalisa dalil
4

2. Mengetahui hadits-hadits tentang hukum, secara lughot ataupun syara' seperti yang telah
disebutkan dalam penalaran ayat-ayat Al-qurân. Tidak diharuskan menghafal semua hadits yang
berkaitan dengan hukum dan hadits secara keseluruan.
3. Menguasai persoalan-persoalan yang telah menjadi consensus ulama' terdahulu (ijma'). dalam hal
ini, mujtahid tidak harus hafal permasalahan secara keseluruan yang telah disepakai oleh ulama'
(ijma'). Cukup hanya memastikan bahwa hukum yang dicetuskan tidak melanggar kesepakatan
ulama'.
4. Memahami qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum
5. Menguasai disiplin ilmu logika (manthiq).
6. Menguasai bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti ilmu nahwu, sharaf, balaghoh
dan lain sebagainya.
7. Mengetahui nasikh (dalil nash yang menyalin hukum) dan mansukh (dalil nash yang disalin) dari Al-
qurân dan Al-sunah, sehingga tidak akan mencetuskan hukum tidak didasarkan pada nash yang telah
tersalin hukumnya. Untuk persyaratan ini Wahbah al-Zuhaili memberi solusi untuk merujuk pada
kitab-kitab yang menerangkan nasikh dan mansukh. Karena seorang yang akan berijtihad tidak
disyaratkan mengetahui secara keseluruan nasikh dan mansukh, yang menjadi keharusan ialah
mengetahui bahwa yang menja di pijakan hukumnya bukan termasuk dalil- dalil yang di nasikh oleh
nash yang lain.
8. Mengetahui kepribadian para râwi (yang meriwayatkan), sehingga dapat memastikan status
periwayatannya, kuat atau lemah, shahih atau tidak, diterima atau tidak. Dalam hal ini cukup dengan
merujuk pada pendapat imam-imam muhadditsin seperti imam Bukhâri dan Muslim.
Kedelapan syarat ini adalah yang diajukan oleh jumhur ulama', sebenarnya masih terdapat sejumlah
persyaratan yang masih diperdebatkan, diantaranya menguasai usul fiqh, syarat ini diajukan Al-
ghazali, Mengetahui maqâsid al-syari'ah (tujuan-tujuan syariat), persyaratan ini diajukan oleh Al-
syatibiy. Memiliki kedalaman pemahaman teologi (ilmu kalam), Abu Ishaq meriwayatkan bahwa
syarat ini diajukan oleh golongan Qadariyyah. Al-ustazd Abu Mansyur mensyaratkan untuk
mengetahui detil-detil cabangan fikih.

D. Stratifikasi Mujtahid
Ijtihad menempati derajat paling tinggi dalam bidang keilmuan syariat islam, sudah pasti
persyaratan untuk mencapainya sangat ketat. Adapun syarat yang telah kami paparkan dimuka
adalah untuk kualifikasi mujtahid mutlaq. Seiring dengan melemahnya gairah keilmuan islami akhir-
akhir ini, muncullah term ijtihad dengan sandaran-sandaran tertentu, sebagaimana yang akan kami
paparkan dibawah ini.
Pertama, mujtahid mustaqil, yaitu seorang yang mampu menggali hukum langsung dari Al-qurân dan
Al-hadits dengan menggunakan teori usul dan kaidah ciptaan sendiri. seperti qiyas, ihtisan dan
lainnya. Masuk dalam kategori ini yaitu para fuqahâ' sahabat, sebagian tabi'in seperti Sa'id bin al-
Musayyab dan Ibrahim al-Nakha'i, dan imam-imam madzhab seperti Al-auzâ'i, Laits bin Sa'id, Abu
Hanifah, Malik bin Anas, Al-syâfi'i, dan Ahmad bin Hambal. Mereka adalah mujtahid mustaqil
(independen) meskipun banyak pendapat pendapat dari mereka tidak terkodifikasi secara khusus.
Mujtahid mustaqil ini menurut Ibn al-Qayyim sudah terputus semenjak abad ke 4 H. namun Al-suyuti
menyangga asumsi tersebut, ia mengklaim bahwa mujtahid mustaqil tetap wujud sampai akhir
zaman dengan disandarkan pada hadits:
Artinya: Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini (islam) pada penghujung
setiap seratus tahun orang-orang yang akan memperbaharui permasalahan agamanya. "HR. Abu
Dâwud dari Abi Hurairah ra."
Kedua, mujtahid mutlaq ghairu mustaqil al-muntasib, yaitu seseorang yang padanya telah
ditemukan syarat-syarat untuk berijtihad, namun belum mampu menciptakan kaidah-kaidah sendiri
dan masih berpegang pada kaidah dan usul imam mazdhabnya. Masuk dalam klasifikasi ini dari
kalangan Hanafiyah yaitu Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Zâfr, dari Mâlikiyah seperti Abd al-
Rahman bin Qâsim, dan dari Syafi'iyah seperti Al-Buwaithi, Za'farâni, dan Al-Muzani.
Ketiga, mujtahid muqoyyad al-mazdhab atau mujtahid takhrij, yaitu seseorang yang menggali
hukum dari persoalan-persoalan yang belum pernah dibahas oleh imam mujtahidnya. Dengan
memakai kaidah-kaidah dan usul imamnya. Seperti Abu Ishaq al-Syairâzi dan Al-Mawardi.
Keempat, mujtahid tarjih, yaitu seseorang yang mampu melakukan tarjih (penguatan)
terhadap pendapat imam mazdhab dan para muridnya. Seperti Hasan al-Quduriy, Al-Marghinâni
pengarang kitab Al-hidayah dari kalangan Hanafiyah.
Kelima, mujtahid fatwa, yaitu seseorang yang yang peduli akan kelangsungan mazdhab
imamnya, turut melestarikan, mengutip dan mengkaji pendapat imamnya, akan tetapi belum bisa
men-tarjih dan memberikan penilaian kuat dan lemah.

E. Metode Ijtihad
Langkah awal yang harus dilakukan ketika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu
permasalahan ialah melakukan akumulasi macam-macam disiplin ilmu yang berkaitan dengan obyek
permasalahan, seperti gramatika arab, ayat-ayat Al-qurân, hadits-hadits Nabi, pendapat ulama'
terdahulu, dan metode-metode qiyas. Kemudian, tanpa terikat dengan fanatisme mazdhab,
dilakukan analisa dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama-tama seorang mujtahid harus terlebih dahulu meneliti nash-nash Al-qurân. Tatkala
ditemukan ayat-ayat yang menjelaskannya baik secara nash atau zhahir, maka itulah yang harus
dijadikan sebagai sandaran hukumnya. Dan ketika tidak ditemukan didalam Al-qurân, maka beranjak
pada penelitian sunah Rasulullah, meliputi perkataan, tindakan atau penetapan dan persetujuan
Rasulullah. Bila ditemukan penjelasan didalamnya, maka itulah yang harus di adopsi dan dijadikan
sebagai keputusan hukum. Kemudian meneliti hasil-hasil ijma' yang valid dari para mujtahid
terdahulu. Lalu beralih pada qiyas, dengan menggali illat hukumnya. Sesuai dengan ijtihadnya,
diterapkanlah illat-illat tersebut sesuai dengan masâlik al-illat-nya. secara ringkas inilah pilar-pilar
penunjang ijtihad, yakni Al-qurân, hadits, ijma' dan qiyas, sebagaimana dikemukakan oleh imam Al-
syafi'i. sebagian ulama' menambahkan adanya pengamalan secara kontekstual sesuai dengan ruh
syari'at islam.
Adapun metode-metode yang digunakan oleh para mujtahid secara khusus ialah qiyas, maslahah
mursalah, urf' (adat), istishab, ihtisan, syar'u man qoblana, qoul sahabat, dan lainnya.

F. Terbuka Dan Tertutupnya Pintu Ijtihad
Beberapa ulama banyak yang telah berkomentar mengenai terbuka dan tertutupnya pintu ijtihad.
Pendapat mereka dapat kita lihat seperti dibawah ini dengan menjawab beberapa pertanyaan
tentang keingin tahuan kita terhadap ijtihad.
1. Benarkah pintu ijtihad masih terbuka?
Permasalahan ini sangat menarik untuk kita bahas, karena sebagaian ulama telah mengklaim
bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan untuk saat ini seorang mujtahid sudah tidak bisa lagi
ditemukan. Pendapat ini muncul karena di zaman sekarang ini, sebagaimana penuturan Syeikh Yusuf
bin Ismail al-Nabhani dipicu karena banyaknya orang yang mengklaim dirinya sebagai seorang
mujtahid. Bahkan yang lebih heran lagi, mereka mengklaim bahwa dirinya sama seperti Imam Syafi'I,
Malik, Ahmad dan Abu Hanifah al-Nu'man. Padahal syarat-syarat untuk berijtihad sebagaimana yang
telah diuraikan oleh para ulama tidak terpenuhi dalam diri mereka.
Fatwa tertutupnya pintu itihad ini dilontarkan oleh beberapa ulama, di antaranya adalah al-
Imam Ibnu HaJar al-Haitamy, al-Imam al-Sya'rani, al-Imam al-Manawi dan yang lainnya. Mereka
mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak bebarapa ratus tahun yang lalu berdasarkan
kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab. Imam al-Manawi dalam komentarnya atas kitab al-
Jami' al-Shoghir mengatakan bahwa al-Allamah al-Shihab Ibnu Hajar al-Haitamy berkata: "Ketika al-
Imam al-Suyuthi mendakwakkan ijtihad, maka orang-orang yang semasa dengan beliau bangkit
untuk menulis dan menanyakan kepada beliau beberapa pertanyaan tentang beberapa masalah
yang diglobalkan oleh para murid imam madzhab menjadi dua versi.
Mereka meminta Imam Suyuthi, jika beliau merupakan mujtahid yang paling rendah yakni
mujtahid fatwa untuk mentarjih dari beberapa versi pendapat tersebut mana pendapat yang lebih
unggul berdasarkan dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para mujtahid. Maka Imam
suyuthi mengembalikan pertanyan-pertanyaan itu tanpa menulis sesuatu. Beliau mengemukakan
alasan bahwa dirinya mempunyai kesibukan yang menghalangi beliau untuk meneliti masalah-
masalah itu." Selanjutnya Ibnu Hajar berkata: "Renungkanlah kesulitan ijtihad pada tingkatan ini
yakni ijtihad fatwa yang merupakan tingkat ijtihad yang paling rendah, sehingga jelaslah bagimu
bahwa orang yang mendakwakkan ijtihad lebih-lebih ijtihad mutlak sebenarnya pada hakekatnya
mereka sedang dalam kebingungan dan kerancauan dalam cara berfikirnya.
Bahkan Ibnu Sholah dan para pengikutnya mengatakan bahwa Ijtihad telah tertutup sejak tiga
ratus tahun yang lalu." Jadi kalau kita hitung-hitung, pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar abad
ke-3 H, karena Imam Ibnu Sholah hidup pada abad ke-6 H. Imam Ibnu Sholah juga mengutip
pernyataan dari sebagian ulama ushul bahwasanya setelah masa Imam Syafi'i sudah tidak terdapat
lagi seorang Mujtahid Mutstaqil. Lebih lanjut Ibnu Hajar mengatakan bahwa ketika para imam terjadi
pertentangan yang panjang mengenai kedudukan Imam Haramain dan Hujjataul Islam al-Ghazali
apakah keduanya lebih utama dikatakan sebagai Ashahbul Wujuh? Lalu bagaimana dengan selain
mereka berdua? Para imam yang berkomentar tentang Imam al-Ruyani (pengarang kitab al-Bahr)
mengatakan bahwasanya beliau bukanlah termasuk dalam kategori Ashhabul Wujuh, padahal beliau
mengatakan seandainya teks-teks tulisan kitab Imam Syafi'i hilang maka sungguh akan aku diktekan
dari dadaku. Dan ketika mereka sebagai para pembesar madzhab Syafi'i tidak layak untuk
menempati derajat ijtihad al-madzhab, maka bagaimana diperkenankan bagi orang yang tidak faham
sebagian besar istilah mereka mendakwakan diri lebih tinggi dari ijtihad al-madzhab (yakni ijtihad
mutlak). Maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar.
Di dalam kitab al-Anwar, Imam Rafi'I al-Syafi'I (w. 623) mengatakan bahwa para ulama
sepertinya telah sepakat bahwa pada hari ini tidak ada seorang mujtahid. Ibnu Abi al-Dam setelah
menguraikan syarat-syarat ijtihad mengatakan bahwa syarat-syarat ini jarang sekali ditemukan pada
seorang ulama di zaman kita ini, bahkan sudah tidak ditemukan lagi pada zaman ini seorang
mujtahid mutlak, bahkan mujtahid madzhab sekalipun. Imam al-Qafal ketika menjelaskan tentang
masalah fatwa menyatakan bahwa orang yang telah memenuhi persyaratn ijtihad sudah tidak
ditemukan lagi pada zamanya.
Akan tetapi nampaknya klaim yang mengatakan bahwa tertutupnya pintu ijtihad telah
disepakati oleh para ulama dari berbagai madzhab perlu untuk kita teliti. Buktinya para ulama dari
Madzhab Hanbali menyatakan bahwa suatu zaman tidak boleh sepi dari seorang mujtahid baik itu
mutlak maupuan muqoyyad. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sekelompok umatku tidak
akan pernah berhenti menampakkan kebenaran sehingga datang urusan Allah SWT (hari kiamat)."
[H.R. Muslim]. Mereka juga mengatakan bahwa ijtihad merupakan fardhu kifayah sehingga
ketiadaanya menyebabkan kaum muslimin untuk sepakat pada sesuatu yang bathil. Bahkan
mengenai hal itu, Ibnul Qayyim mengatakan bahwa mereka (para mujtahid) adalah orang-orang
yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT akan mengutus bagi umat ini
setiap seratus tahun orang untuk memperbaharui urusan agama mereka." [H.R. Abu Dawud dan
yang lainnya]. Mereka adalah orang-orang yang telah diungkapkan oleh Sayidina Ali RA bahwa dunia
ini tidak akan sepi dari orang yang menegakkan hujjah Allah SWT. Para ulama dari madzhab Hanbali
menyatakan bahwa pintu ijtihad dengan berbagai tingkatannya masih terbuka.

2. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup
Ada yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar abad ke-2 atau ke-3 H.
jika kita mengatakan bahwa semua pintu ijtihad dengan berbagai macam tingkatan telah tertutup
sejak masa itu, maka hal itu tidak bisa diterima. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap masa tidak
akan pernah sepi dari mujaddid. Para ulama mengatakan bahwa mujaddid-mujaddid itu adalah para
mujtahid. Kita ketahui pada abad pertama muncul Umar bin Abdul Azis, sebagaimana pernyataan al-
Imam al-Dzahabi, beliau telah mencapai tingkatan ijtihad. Kemudian pada abad ke-2 muncul Imam
Syafi'i, lalu disusul Ibnu Suraij pada abad ke-3, beliau termasuk pembesar mujtahid dan termasuk
dalam kelompok Ashhab al-Wujuh, sedangkan pada abad ke-4 terdapat Imam Abu Thayib Sahl bin
Muhammad al-Sha'aluki atau Syeikh Abu Hamid sebagai imam penduduk Irak. Keduanya termasuk
mujtahid dan Ashhabal-Wujuh. Selanjutnya pada abad ke-5 terdapat Imam al-Ghazali, sebagaimana
fatwa Ibnu Sholah, beliau termasuk mujtahid. Lalu pada abad ke-6 terdapat Imam Rafi'i, pada abad
ke-7 Syeikh Ibnu Daqiq al-'Id, abad ke-8 Imam al-Bulqini. Kemudian pada generasi selanjutnya
muncul Imam Suyuthi beliau mendakwakan diri telah mencapai tingkat mujtahid, beliau berkata:
"Telah sempurna pada diriku kriteria untuk berijtihad dengan berkat pertolongan Allah SWT,
seandainya aku menghendaki untuk menulis satu karya tentang suatu masalah yang disertai dengan
komentar-komentar, dalil-dali baik secara naqli maupun qiyas dan perbedaan pendapat di antara
madzhab, maka sungguh aku akan mampu untuk melakukannya berkat anugerah Allah SWT."
Dari kedua pendapat yang telah dikemukakan di atas sebenarnya kita bisa mengambil jalan
tengah dari keduanya. Ulama yang memfatwakan bahwa ijtihad telah tertutup dan sudah tidak ada
lagi mujtahid pada zaman ini yang dimaksud mereka adalah ijtihad dan mujtahid muthlak baik yang
mutstaqil maupun ghairu mutstaqil. Sedangkan para ulama yang mengatakan bahwa pintu ijtihad
masih terbuka dan setiap masa tidak boleh sepi dari seorang mujtahid adalah mujtahid yang
tingkatannya berada di bawah mujtahid mutlak. Hal itu dapat kita tinjau dari beberapa hal:
a. Para Ulama yang dianggap sebagai mujtahid mutlak oleh kelompok kedua (yang berpendapat bahwa
pintu ijtihad dengan segala macamnya masih terbuka) telah menyatakan sendiri bahwa mujtahid
mutlak pada zaman mereka sudah tidak ada lagi. Hal itu sebagaimana pernyataan Imam al-Ghazali
sendiri bahwa pada zaman beliau sudah tidak terdapat seorang mujtahid mutlak. Dalam kitabnya al-
Wasith beliau berkata: "Syarat-syarat ini yakni syarat ijtihad (ijtihad mutlak) yang layak disandang
oleh seorang Qadli sungguh sulit ditemukan pada zaman kita sekarang ini." Selain Imam Ghazali,
Imam Rafi'i dan Nawawi juga menyatakan hal yang sama bahwa para ulama sepertinya telah sepakat
bahwa pada masa ini sudah tidak ada lagi seorang mujtahid (mujtahid mutlak).
b. Imam Suyuthi sendiri yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mutlak ternyata tidak bisa
memenuhi persyaratan mujtahid mutlak yang beliau ajukan sendiri. Mengenai syarat ijtihad Imam
Suyuthi mengajukan sekitar lima belas syarat yang harus dipenuhi. Pada syarat kedua belas beliau
menyebutkan bahwa syarat bagi seorang mujtahid mutlak haruslah menguasai ilmu hisab.
Sedangkan beliau sendiri mengakui bahwa beliau tidak menguasai ilmu hisab. Hal itu sebagaimana
penuturan beliau sendiri: "Ilmu hisab (ilmu hitung) adalah ilmu yang sangat sulit bagiku dan paling
jauh dari penalaranku."
Dari uraian di atas dapat kita fahami, betapa sulit dan rumitnya persyaratan yang harus
dipenuhi oleh seorang mujtahid sehingga ia diperbolehkan untuk berijtihad. Sehingga setiap orang
tidak dibenarkan untuk mengkliam dirinya telah berijtihad sedangkan ia sendiri tidak mnguasai alat-
alat yang digunakan sebagai media untuk menggali hukum dari al-Kitab dan al-Sunnah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh
siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas
dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang
dan orang yang berijtihat disebut mujtahid.
2. Tidak semua orang yang memahami Agama disebut mujtihad, ada syarat/kriteria yang menyatakan
sah nya menjadi seorang mujtihad.
3. Dalam menentukan terbuka atau tertutupnya pintu ijtihad, sebagian ulama menyatakan bahwa
pintu ijtihad telah tertutup dan sebagian lagi menyatakan pintu ijtihad masih terbuka meski berbeda
dalam tingkatanya.
B. Saran
Diharapkan kepada dosen dan pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi perbaikan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad,

Sukabul, http://kabulkhan.blogspot.com/2010/02/ijtihad-dalam-islam-makalah-disusun-dan.html


Posted 22nd November 2012 by junaidi fina

JUNAIDI

1.
Nov
22

makalah sejarah isalam

BABI
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejarah peradaban Islam merupakan salah satu bidang kajian studi Islam yang banyak
menarik perhatian para peneliti baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim. Dengan
mempelajari sejarah Islam, kita memungkinkan mengetahui masa-masa atau zaman kejayaan
Islam, sehingga memungkinkan kita untuk bangga dan percaya diri sebagai umat Islam dan
mengambil I‟tibar. Demikian pula masa-masa kemunduran Islam dapat kita ketahui, dan kita
dapat mengambil pelajaran dan pengalaman agar tidak terulang kembali (al muhafadzah ala
qadim ash shalih wal ahdzu bi al jadid al ashlah) serta kita dapat menentukan langkah ke
depan demi menemukan jalan alternatif demi kejayaan Islam. Kita semua sadar tentunya
bahwa al-Islam ya‟lu wala yu‟la „alaihi.
Menyadari hal di atas, bidang kajian sejarah peradaban Islam merupakan suatu
bidang kajian yang cukup signifikan untuk dipelajari. Untuk itu sebagai kerangka awal di
paper ini dicoba dibahas tentang beberapa konsepsi dasar dari sejarah peradaban Islam, disini
diuraikan tentang relasi islam sebagai wahyu ilahiyyah disatu sisi dan peradaban yang
didalamnya juga termasuk kebudayaan, pada sisi yang lain dan itu merupakan ranah
kemanusiaan (insaniyah).

B. Rumussan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka kami memberi batasan-batasan dalam
makalah kaimi ini diantaranya adalah:
1. Bagaimanakah konsep sejarah Islam?
2. Seperti apakah peradaban Islam?
3. Bagaimana alur peradaban dalam Islam?




BABA II
PEMBAHASAN

A. Konsepsi Sejarah Islam
Sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang
lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi1[1]. Definisi ini lebih menekankan
pada materi peristiwa tanpa mengaitkan dengan aspek yang lainnya. Sedangkan dalam
pengertian yang lebih luas, sejarah adalah gambaran masa lalu tentang aktivitas kehidupan
manusia sebagai makhluk sosial yang disusun berdasarkan fakta dan interpretasi terhadap
objek peristiwa masa lampau2[2].
Dari sisi epistimologis sejarah yang dalam bahasa arabnya disebut tarikh,
mengandung arti ketentuan masa atau waktu. Ada pula sebagian orang yang mengajukan
pendapat bahwa sejarah sepadan dengan kata syajarah yang berarti pohon (kehidupan),
riwayat, atau kisah, tarikh, ataupun history dalam bahasa Inggris. Dengan demikian sejarah
berarti gambaran masa lalu tentang aktivitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang
disusun berdasarkan fakta dan interpretasi terhadap obyek peristiwa masa lampau , yang
kemudian itu disebut sejarah kebudayaan. 3[3]
Sedangkan secara terminologi sejarah diartikan sebagai sejumlah keadaan dan
peristiwa yang terjadi dimasa lampau dan yang benar-benar terjadi pada individu dan
masyarakat. Adapun inti pokok dari persoalan sejarah pada dasarnya selalu berhubungan
dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan
keadaan masyarakat. Untuk itu sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa itu sendiri melainkan
tafsiran-tafsiran dari peristiwa, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak
nyata yang menjadi seluruh bagian serta memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat
tertentu. 4[4]

1[1] Poerwadarminto,Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1992)887
2[2] Sidi Gazalba,Azas Kebudayaan Islam,(Jakarta; Bulan Bintang 1978) 2
3[3] Dudung abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah,(Jakarta; LOGos, 1999),2-3
4[4] Sayyid Quthub, Konsepsi Sejarah dalam Islam,(Jakarta;Pedoman ilmu Jaya , 1992, cet II,)
40-55, Terjemahan Tarikhuna fi dzou’il al Islam, penerjemah Nabhan Husein
Sejarah Islam adalah peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang sungguh terjadi
pada masa lampau yang seluruhnya berkaitan dengan agama Islam. Agama Islam terlalu luas
cakupannya, maka sejarah Islam pun menjadi luas cakupannya. Di antaranya berkaitan
dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran Islam, tokoh-tokoh yang
melakukan perkembangan dan penyebaran agama Islam, sejarah kemajuan dan kemunduran
yang dicapai umat Islam dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan
agama dan umum, kebudayaan, arsitektur, politik, pemerintahan, peperangan, pendidikan,
ekonomi, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, sejarah Islam adalah berbagai peristiwa atau kejadian yang benar-
benar terjadi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam dalam berbagai
aspek. Dalam kaitan ini, maka muncullah berbagai istilah yang biasanya digunakan untuk
sejarah itu, di antaranya: Sejarah Islam, Sejarah Kebudayaan Islam dan Sejarah Peradaban
Islam .

B. Identitas Kebudayaan Islam
Dalam ilmu antropologi, kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat yang
mendalam dari suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi dari kemajuan mekanis
dari teknologi hal demikian lebih berkaitan dengan konsepsi peradaban. Kalau kebudayaan
lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, agama dan moral, maka peradaban terefleksi
dalam politik, ekonomi dan teknologi. Kebudayaan mempunyai tiga wujud: Pertama, Wujud
ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu komplek individu, gagasan, nilai-nilai, norma-
norma, peraturan dan sebagainya. Kedua, Wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai
suatu komplek aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, Wujud
benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.
Para pakar sepakat bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, karsa dan cipta
masyarakat. Karya masyarakat akan menghasilkan tekhnologi dan kebudayaan kebendaan
yang diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya
dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat. Karsa merupakan daya penggerak (Drive)
untuk memotivasi manusia dalam memikirkan segala sesuatu yang ada dihadapan dan
lingkungannya. Disamping itu Karsa masyarakat dapat merlahirkan norma dan nilai-nilai
yang sangat perlu untuk tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Untuk menghadapi
kekuatan-kekuatan buruk, manusia terpaksa melindungi diri dengan cara menciptakan kaidah-
kaidah yang pada hakekatnya merupakan petunjuk-petunjuk tentang cara bertindak dan
berlaku dalam pergaulan hidup.
Kebudayaan pada setiap bangsa atau masyarakat terdiri atas unsur-unsur besar dan
unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan.
Menurut Selo Soemarjan dan Soelaiman unsur-unsur kebudayaan meliputi: alat-alat
teknologi, sistem ekonomi, keluarga dan kekuasaan politik. Sedang unsur-unsur kebudayaan
menurut C. Kluckhon, sebagaimana dikutip oleh Koentjaraningrat adalah:
- Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, rumah, alat-alat transportasi)
- Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
- Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi, politik, hukum)
- Bahasa (lisan dan tulisan)
- Kesenian (seni rupa, seni suara, dan seni gerak)
- Sistem pengetahuan
- Religi (sistem kepercayaan).
Effat al-Sharqawi mengatakan bahwa kebudayaan adalah bentuk ungkapan semangat
mendalam dari sebuah nilai yang terdapat dan mendarah daging pada suatu masyarakat.
Sedangkan manifestasimanifestasi kemajuan mekanis dan tekhnologi lebih berkait dengan
peradaban. Selanjutnya Sharqowi berpendapat bahwa kebudayaan adalah apa yang kita
rindukan (ideal), sedangkan peradaban adalah apa yang kita pergunakan (real). Dengan kata
lain, kebudayaan terefleksi dalam seni, sastra, religi dan moral. Sedangkan peradaban
terefleksi dalam politik, ekonomi, dan tekhnologi.
Dalam kajian anthropologi, kita mengenal pengertian kebudayaan secara khusus dan
secara umum. Menurut pengertian khusus, kebudayaan adalah produk manusia di bidang
kesenian dan adat istiadat yang unik. Sedangkan kebudayaan dalam pengertian umum adalah
produk semua aspek kehidupan manusia yang meliputi: sosial, ekonomi, politik, pengetahuan
filosofi, seni dan agama.
Taylor seorang ilmuwan Inggris, merumuskan kebudayaan sebagai keseluruhan yang
kompleks yang meliputi pengetahuan, dogma seni, nilai-nilai moral, hukum, tradisi, sosial,
dan semua produk manusia dalam kedudukannya sebagai anggota-anggota masyarakat,
termasuk dalam realitas ini adalah agama.
Adapun yang dimaksud dengan Kebudayaan Islam adalah cara berpikir dan merasa
Islam yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang
membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu inilah pemahaman
integralistik, menempatkan Islam sebagai sumber nilai dan motivasi bagi tumbuhnya
kebudayaan Islam. Dengan demikian yang dimaksud Sejarah Kebudayaan Islam adalah
gambaran produk aktivitas kehidupan ummat Islam pada masa lampau yang bersumberkan
pada nilai–nilai Islam. Hanya saja dalam berbagai risalah teks-teks literatur yang ada
seringkali penulisnya memberi narasinya dari segi politik. Ini diasumsikan bahwa secara
konseptual, dari sisi politik inilah sumber kebudayaan Islam berputar.

C. Makna Peradaban Islam
Asumsi dasar yang bisa kita bangun, bahwa peradaban berasal dari kata adab yang
dalam pengertian ini mengandung pengertian tata krama, perilaku atau sopan santun. Dengan
demikian peradaban adalah segenap prilaku sopan santun dan tata krama yang diwujudkan
oleh umat Muslim dari waktu ke waktu baik dalam realitas politik, ekonomi dan sosial
lainnya.
Secara harfiah peradaban Islam itu terjemahan dari bahasa Arab al-khadlarah al-
Islamiyah, atau al-madaniyah al Islamiyah5[5] atau al-tsaqofah al Islamiyah, yang sering
juga diterjemahkan dengan kebudayaan Islam. Dalam bahasa Inggris ini disebut culture,
adapula yang menyebutnya civilization. Di Indonesia, Arab dan Barat masih banyak yang
mensinonimkan antara peradaban dengan kebudayaan.
Disisi yang lain, akar kata madana lahir kata benda tamaddun yang secara literal
berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base
culture) atau kebudayaan kota (cultural of the city). Di kalangan penulis Arab,
sendiri.perkataan tamaddun digunakan-kalau tidak salah-untuk pertama kalinya oleh Jurji
Zaydan dalam sebuah judul buku Tarikh al-Tamaddun al-Islami (Sejarah Peradaban Islam),

5[5] Ahmad Syalaby, Tarikh al Islamiyah al hadzarah al islamiyah,(Kairo; …. cetakan ke IV,
1978), 10
terbit tahun 1902-1906. Sejak itu perkataan tamaddun digunakan secara luas dikalangan umat
islam.6[6]
Di dunia Melayu tamaddun digunakan untuk pengertian peradaban. Di Iran orang
dengan sedikit berbeda menggunakan istilah tamaddon dan madaniyat. Namun di Turki orang
dengan menggunakan akar madinah atau madana atau madaniyyah menggunakan istilah
medeniyet dan medeniyeti. Orang-orang Arab sendiri pada masa sekarang ini menggunakan
kata hadharah untuk peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima umat Islam non-
Arab yang kebanyaan lebih menyukai istilah tamaddun. Di benua Indo-Pakistan tamaddun
digunakan hanya untuk pengetian kultur, sedangkan peradaban menggunakan istilah tahdhib.
Kata peradaban sering kali dikaitkan dengan kebudayaan, bahkan banyak penulis
barat yang mengidentikan “kebudayaan” dan “peradaban” islam. Sering kali peradaban islam
dihubungkan dengan peradaban Arab, meskipun sebenarnya antara Arab dan Islam tetap bisa
dibedakan. Adapun yang membedakan antara kebudayaan tersebut adalah dengan adanya
peningkatan peradaban pada masa jahiliyah yang berasal dari kebodohan. Hal ini pada
akhirnya berubah ketika Islam datang yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW di Arab.
Sehingga pada masanya kemudian islam berkembang menjadi suatu peradaban yang menyatu
dengan bangsa Arab, bahkan berkembang pesat kebagian belahan dunia yang lainnya, Islam
tidak hanya sekedar agama yang sempurna melainkan sumber peradaban islam.Peradaban
merupakan kebudayaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dimana kebudayaan tersebut tidak hanya berpengaruh di daerah asalnya, tapi juga
mempengaruhi daerah-daerah lain yang menjadikan kebudayaan tersebut berkembang
Dengan merujuk pada narasi diatas, maka dapat dikonsepsikan bahwa Sejarah
Peradaban Islam adalah gambaran produk aktivitas kehidupan umat Islam pada masa lampau
yang benar-benar terjadi dalam aspek politik, ekonomi, dan tekhnologi yang bersumberkan
pada nilai-nilai ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Peradaban Islam
merupakan identitas ummat Islam sejak masa lampu.

C. Islam sebagai Sumber Budaya dan Peradaban

6[6] Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi islam;dari klasik hingga modern,
(Yakarta;Rajagrafindo, 2004), VII - IX
Sejumlah pihak mengatakan bahwa agama Islam setingkat dengan kebudayaan
Islam. Dalam frame tertentu ini dinilai para pakar Muslim hal yang dapat menyesatkan dan
mengacaukan citra dan kemurnian Islam. Dengan menyetingkatkan antara Agama Islam
dengan Kebudayaan Islam, maka ini berarti mereka telah menyetingkatkan antara agama
(yang berasal dari Allah) dengan kebudayaan (yang merupakan hasil cipta orang Islam), yang
berarti pula menyetingkatkan antara wahyu dengan akal. Berpendapat bahwa kebudayaan
Islam merupakan bagian dari din Islam ini berarti menunjukkan bahwa ia telah memasukkan
unsur-unsur yang aqli (hasil cipta orang Islam) ke dalam din Islam, dan ini berarti pula bahwa
mereka telah mencampur adukkan antara wahyu dengan akal manusia.
Dalam pandangan kelompok fundamentalis, pola pemikiran dan ide demikian
dianggap sangat berbahaya dan menyesatkan, karena dalam akidah Islam telah dijelaskan
bahwa Islam seluruhnya adalah wahyu, tidak ada bagian-bagian kebudayaan Islam
didalamnya. Agama atau wahyu tidak setingkat dengan kebudayaan Islam, karena agama atau
wahyu berasal dari Allah sedangkan kebudayaan Islam merupakan hasil cipta, rasa dan karsa
manusia. Oleh karena itu, pemikiran dan ide itu harus ditolak dan tidak dapat dibenarkan.
Sementara itu, para pemikir Barat juga memandang Islam sebagai produk
kebudayaan, misalnya disampaikan oleh H.A.R. Gibb yang mengatakan bahwa “Islam is
indeed much more than a sistem of theology it is a complete civilization” .(Islam
sesungguhnya lebih dari satu sistem teologi. Ia adalah satu peradaban yang lengkap).
Pendapat Gibb ini patut apabila dikemukakan oleh kelompok orientalis, tetapi apabila begitu
saja ditelan mentah–mentah oleh ilmuan Islam akan melahirkan pemahaman yang cukup
rancu,
Memang diakui bahwa antara agama dan budaya adalah dua bidang yang
berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, akan tetapi keduanya berbeda. Agama bernilai
mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya , sekalipun
berdasarkan agama dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sebagian
besar budaya didasarkan pada agama, namun tidak pernah terjadi sebaliknya, agama
berdasarkan pada budaya. Oleh karena itu bisa dikatakan agama adalah primer dan budaya
adalah sekunder. Budaya bisa merupakan ekspresi hidup keagamaan, karena itu kebudayaan
sub ordinat terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya.
Agama pada hakekatnya mengandung dua kelompok ajaran yaitu:
- Ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para Rasulnya kepada manusia yang ajarannya
terdapat dalam kitab-kitab suci. Karena merupakan wahyu dari Tuhan, maka ajaran tersebut
bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah.
- Ajaran yang berupa penjelasan dari kitab suci (baik mengenai arti maupun cara pelaksanaan)
yang dilakukan oleh pemuka atau ahli agama. Karena merupakan penjelasan dan hasil
pemikiran pemuka atau ahli agama, maka ajarannya bersifat relatif, nisbi, berubah dan dapat
diubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam Islam, kelompok pertama terdapat dalam Al-Qur‟an dan Hadist Mutawatir.
AlQur‟an terdiri dari 6.300 ayat, tetapi yang mengatur tentang keimanan, ibadah, muamalah
dan hidup kemasyarakatan manusia, menurut penelitian ulama tidak lebih dari 500 ayat.
Ajaran dasar Islam (al-Qur‟an dan al-Sunnah yang periwayatannya shahih) bukan termasuk
budaya, tetapi pemahaman ulama terhadap ajaran dasar agama merupakan hasil karsa ulama.
Oleh karena itu ia merupakan bagian dari kebudayaan. Akan tetapi umat Islam meyakini
bahwa kebudayaan yang merupakan hasil upaya ulama dalam memahami ajaran dasar agama
Islam, dituntun dan memperoleh petunjuk dari Tuhan, yaitu al-Qur‟an dan Sunnah. Hal inilah
yang kemudian disebut sebagai kebudayaan Islam.
Islam dikemukakan oleh Bassam Tibi 7[7] yaitu bahwa Islam merupakan sistem
budaya. Menurutnya Islam sebagai sistem budaya terdiri atas berbagai simbol yang
berkorespondensi dan bergabung untuk membentuk suatu model untuk realitas. Meski
demikian dalam posisi tersebut agama tidak dapat dipenetrasikan secara eksperimental, tetapi
hanya sebatas interpretatif. Dalam agama, konsepsi manusia mengenai realitas tidak
didasarkan pada pengetahuan tetapi pada keyakinan terhadap suatu otoritas ketuhanan yang
terkonsepsikan dalam kitab suci (Al-Qur‟an). Al-Qur‟an inilah yang mendasari semua bentuk
realitas. Selanjutnya konsep– konsep realitas yang dihasilkan manusia ini mengalami
perubahan yang paralel. Adaptasi dari konsep–konsep religiokultural dengan realitas yang
berubah kemudian membentuk suatu komponen sentral dalam asimilasi budaya untuk
perubahan. Dengan cara itulah perubahan terarah, karena orang tidak begitu saja memberikan
reaksi terhadap proses perubahan dengan menggunakan inovasi budaya.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa hakekat agama memiliki aspek ganda
yakni :

7[7] Basssam Tibu, Islam Budaya dan Perubahan Sosial, (Jakarta, Tiara Wacana,…..)….
- Memberikan arti terhadap berbagai aspek realitas sosial dan psikologis bagi para penganut-
penganutnya, sehingga mendapatkan suatu bentuk konseptual yang obyektif.
- Agama dapat berwujud oleh realitas dan pada saat yang sama membentuk realitas yang sesuai
dengan realitas. Artinya interpretasi simbol-simbol religiokultural membentuk bagian realitas,
karena simbol–simbol tersebut juga mempengaruhi realitas. Pada saat yang sama perwujudan
(pengamalan) dari simbol–simbol kepada realitas empirik membentuk sebuah pola yang
terstruktur dalam bentuknya yang biasa dikenal dengan kebudayaan dan peradaban.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam adalah sumber dari kebudayaan
dan peradaban Islam yang ada. Landasan Peradaban Islam adalah Kebudayaan Islam,
terutama wujud idealnya. Jadi, Islam bukanlah kebudayaan akan tetapi dapat melahirkan
kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka Islam
adalah realitas pewahyuan dari Tuhan.
Dengan mengambil tema Peradaban Islam bukan berarti masalah Kebudayaan Islam
menjadi tidak penting dalam studi Islam (Dirosah Islamiyyah). Masalah Kebudayaan Islam
penting sekali, karena ia merupakan landasannya. Oleh karenanya mengkaji Peradaban Islam
sama halnya juga mengakaji tentang Kebudayaan Islam.
Banyak penulis (Barat ataupun Timur) mengidentikkan antara Kebudayaan dan
Peradaban Islam dengan Kebudayaan dan Peradaban Arab. Pada masa klasik, pendapat
tersebut dapat dibenarkan, meskipun sebenarnya antara Arab dan Islam berbeda. Pada masa
Klasik, pusat pemerintahan hanya satu (yaitu bangsa Arab) dan untuk beberapa abad sangat
kuat. Peran bangsa Arab sangat dominan, sehingga ungkapan budaya yang ada semuanya
diekspresikan melalui Bahasa Arab, pada akhirnya terwujud kesatuan budaya Islam.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, muncullah periode pertengahan dan periode
modern, dimana bangsa non Arab mulai berpartisipasi dan membina suatu kebudayaan dan
peradaban. Walaupun pada masa tersebut ummat Islam masih memandang wilayah kekuasaan
Islam adalah sebagai tanah airnya. Agama Islam masih dilihat sebagai tanah air dan
kekuasaan.
Berpartisipasinya bangsa non Arab dalam membina kebudayaan dan peradaban,
bukan disebabkan karena terjadinya disintegrasi antara kekuatan politik Islam dengan
beberapa kerajaan di dalam wilayah yang sangat luas, akan tetapi karena ungkapanungkapan
kebudayaan dan peradaban tidak lagi diekspresikan melalui satu bangsa. Bahasa administratif
pemerintahan Islam mulai berbeda-beda, seperti Persia, Turki, bahkan peran orang Arab
sudah menurun. Tiga kerajaan besar Islam pada periode pertengahan tidak satupun yang
dikuasai oleh bangsa Arab. Apalagi Islam sangat toleran memperlakukan kebudayaan
masyarakat setempat. Sejauh tidak menyimpang dari prinsipprinsip ajaran Islam yang telah
ada.8[8]
Orang Islam dalam proses menciptakan dan mengembangkan kebudayaan harus
mampu mempelopori dan membimbing terwujudnya kebudayaan yang belandaskan Islam.
Memelihara dan mempertahankan kebudayaan yang sudah ada selama menunjukkan nilai
yang positif dan berguna bagi kehidupan manusia, membuang nilai-nilai yang bertentangan
dengan ajaran Islam dan menggantikannya dengan yang baru yang sesuai dengan ajaran Islam
(al-muhafadzah „ala al-qadim as-shalih, wal akhdzu bil jadid al–Ashlah). Inilah nilai dasar
yang cukup signifikan untuk dipedomani bagi seorang Muslim yang menaruh simpatik
terhadap kajian Sejarah Islam.
Sejarah Peradaban Islam diartikan sebagai perkembangan atau kemajuan kebudayaan
islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban islam mempunyai berbagai macam
pengertian lain diantaranya, pertama: sejarah peradaban islam merupakan kemajuan dan
tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam satu periode nabi Muhammad SAW sampai
perkembangan kekuasaan islam sekarang. Kedua: sejarah peradaban islam merupakan hasil-
hasil yang dicapai oleh umat islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan dan
kesenian. Ketiga: sejarah peradaban islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan islam
yang berperan melindungi pandangan hidup islam terutama dalam hubungannya dengan
ibadah-ibadah, penggunaan bahasa dan kebiasaan hidup masyarakat.

E. Budaya Islam Vs Budaya Arab
Pada dasrnya agama dan tradisi adalah dua dunia yang berbeda, masing-masing
mempunyai independensi. Memang terkadang wilayah tradisi dan agama tumpang tindih, satu
sisi, wilayah agama berasal dari “ normatifitas wahyu “ dan tradisi berasal dari “buatan
manusia”, oleh sebab itu tradisi cenderung berubah sesuai dengan perkembangan waktu dan
perubahan zaman. Nah, hal ini yang memungkinkan untuk ada asimilasi perilaku beragama
dalam kehidupan sehari – hari yang disesuaikan dengan tradisi yang berlaku.

8[8] Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta;Rajagrafindo,1993):7
Banyak hal yang harus kita pertimbangkan dalam hal memposisikan nash dengan
kebudayaan atau tradisi yang berkembang. Bagaimanapun harus ada rekonsiliasi antara
wahyu Tuhan dengan mempertimbangkan faktor budaya, atau yang sifatnya kontekstual. Ini
yang nantinya diperlukan pribumisasi islam – meminjam istilah Gus Dur--. Karena, selain
berkaitan dengan tata sosial masyarakat budaya juga banyak yang bersinggungan dengan
perilaku beragama, khususnya yang berkenan dengan fikih.
Banyak penulis yang mengidentikkan kebudayaan dan peradaban islam dengan
kebudayaan dan peradaban Arab. Pendapat itu mungkin dapat dibenarkan meskipun
sebenarnya antara Arab dan Islam tetap bisa dibedakan. Pada masa klasik pusat pemerintahan
hanya satu dan peran Arab di dalamnya sangat dominan. Semua wilayah kekuasaan Islam
menggunakan bahasa bahasa Arab. Semua ungkapan – ungkapan budaya yang diekspresikan
melalui bahasa Arab. Meskipun ketika itu bangsa- bangsa non Arab juga sudah mulai
berpartisipasi dalam membina suatu kebudayaan & peradaban. apalagi orang – orang non
muslim juga banyak menyumbangkan karya budayanya.
Akhir-akhir ini ada semacam gerakan yang cukup masip dan radikal dengan, Adanya
kecenderungan sejumlah pihak yang mengedepankan konstruksi syari‟at islam dalam wajah
Arab sambil menafikan realitas tradisi yang lain. Padahal islam bukanlah identik dengan Arab
sebagaimana Indonesia bukanlah Arab secara sosiokultural dan politisinya. Walaupun diakui
sebenarnya tidak ada yang salah bila menggunakan kebudayaan Arab dalam mengekspresikan
keberagamaan seseorang, dengan syarat tidak melahirkan sebuah konflik di tengah
masyarakat yang dibingkai dalam pemahaman konseptual yang kokoh..
Tetapi yang menjadi masaalah adalah manakala penggunaan asumsi bahwa ”warna
arab”tersebut merupakan bentuk keberagamaan tunggal yang dianggap paling absah dan
muthlak. Sehingga hukumnya wajib diterapakan pada semua kondisi dan situasi secara paten.
Hal tersebut tentunya berimbas pada keadaan dimana ekspresi Arab menjadi dominan, bahkan
menghegemoni budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat lokal. Hal yang lebih
menggelisakan lagi adalah munculnya justifikasi-justifikasi seperti ebelum/tidak kaffah
(sempurna), sesat, bid‟ah atau musyrik kepada orang-orang yang tidak menggunakan ekspresi
”warna arab” tersebut. Soal penggunaan Jilbab misalnya, sebagaian orang yang berjilbab
memandang bahwa perempuan yang belum menggunakan jilbab atau jilbabnya berbeda
dengan jilbab yang biasa dipakai di Arab, berarti Islamnya belum Kaffah.
Fenomena tersebut merupakan bagian dari berbagai macam fenomena yang
menggambarkan adanya konflik dan ketegangan antara hukum Islam dan budaya. Muncul
satu hal yang menjadi persoalan, yaitu apakah budaya yang berkembang dalam masyarakat
harus tunduk dalam ekspresi hukum islam dalam corak Arab seperti di atas?

F. Islam Normatif dan Islam Historis
Untuk membedakan wilayah budaya arab dan budaya Islam dapat ditinjau dengan
mengambil sebuah konsep bahwa dalam islam terdapat kumpulan dogma normatifitas dan
Islam pada faktanya merupakan realitas Historis. Disinilah sehingga Budi munawar rahman
dalam (---bukunya Islam dan peradaban--) mengatakan bahwa islam itu terdapat dua
macam nilai yakni islam berdimensi normatif dan islam berdimensi historis. Kedua aspek
ini terdapat hubungan yang menyatu, tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan.
Pertama; aspek normatif yakni wahyu harus diterima sebagaimana adanya, mengikat semua
pihak dan berlaku universal.Kedua; aspek historis yakni, kekhalifahan senantiasa dapat
berubah, menerinma diskusi karena produk zaman tertentu, dan hal itu bukan hal yang
saklar.
Pengertiaan dari Islam Normatif yakni, Islam dalam dimensi saklar yang diakui
adanya realitas transendemental yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan
waktu atau sering disebut sebagai realitas ke-Tuhan-an. Sedangkan pengertian dari Islam
Historis yakni, islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia
yang berada dalam ruang dan waktu, Islam yang terangkat oleh konteks kehidupan
pemeluknya, berada di bawah realita ke-Tuhan-an.
Disamping konsepsi normatif dan hostoris untuk menentukan budaya arab dan
budaya Islam memungkinkan juga menggunakan konsepsi Ushul dan furu’. Hal Dogma
agama yang bersifat Ushul adalah normatif yang universal sehingga ini merupakan ruh
ajaran islam . Sementara aspek furu’ adalah nilai – nilai tradisi yang mengandung hal hal
yang bersifat furu’(Cabang) yang tidak bisa diterima secara mentah, akan tetapi harus
diambil nilai substansi yang meliputinya.

G. Babakan Sejarah Peradaban Islam
Di kalangan sejarawan terdapat perbedaan pendapat tentang saat dimulainya sejarah
Islam. Secara umum perbedaan itu dapat dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, sejarah
umat Islam dimulai sejak Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali. Menurut
pendapat ini, selama tiga belas tahun Nabi di Makkah telah lahir masyarakat Muslim,
meskipun belum berdaulat. Kedua, sejarah umat Islam dimulai sejak Nabi Muhammad SAW
hjrah ke Madinah, karena umat Islam baru berdaulat di Madinah. Ketiga, Peradaban Islam
dimulai sejak Nabi Adam karena semua Nabi yang diutus oleh Tuhan kepada manusia,
semuanya adalah Islam (Muslim).
Di samping perbedaan pendapat itu, sejarawan juga berbeda pendapat dalam
menentukan fase-fase atau periodesasi sejarah Islam yang dibuat oleh ulama Indonesia.
Menurut A. Hasjmy membagi periodesasi sejarah Islam adalah sebagai berikut :9[9]
. Permulaan Islam (610-661 M)
. Daulah Amawiyah (661-750 M)
. Daulah Abbasiyyah I (740-857 M)
. Daulah Abbasiyyah II (847-946 M)
. Daulah Abbasiyyah III (946-1075 M)
. Daulah Mughol (1261-1520 M)
. Daulah Utsmaniyyah (1520-1801 M)
. Kebangkitan (1801–sekarang).
Berbeda dengan A. Hasjmy, Harun Nasution membagi sejarah Islam menjadi tiga
periode Yaitu masa Klasik (650-1250 M), Pertengahan(1250-1800 M) dan Modern(1800-
sekarang) 10[10] :
1. Periode Klasik (650-1250 M)

9[9] A. Hasjmy Sejarah Kebudayan Islam di Indonesia,(Jakarta: Bulan Bintang, 1993) 55
10[10] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam,;Sejarah Pemikiran dan Gerakan
((Jakarta:Bulan Bintang,1982) 12 - 14
Periode klasik antara tahun 650 -1250 M. Ini diawali dengan persoalan dalam negeri
Arab sendiri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak
mau tunduk lagi terhadap pemerintahan Madinah. Hal tersebut disebabkan Karena orang Arab
menganggap bahwa perjanjian yang telah dibuat dengan Nabi Muhammad telah batal, setelah
wafatnya Rasulullah SAW. Setelah persoalan dalam negeri selesai, maka Abu Bakar
mengirim kekuatan keluar Arabia. Pada masa kepemimpinan Umat Bin Khattab wilayah
kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syiria dan Mesir.
Periode klasik yang berlangsung sejak 650-1250 M. Ini dapat dibagi lagi menjadi
dua: pertama, Masa kemajuan Islam I, Masa kemajuan Islam I dimulai sejak tahun 650-1000
M. Masa kemajuan Islam I itu tercatat sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dari tahun
570–632 M. Khulafaur Rasyidin dari tahun 632-661 M, Bani Umayyah dari tahun 661-750
M., Bani Abbas dari tahun 750-1250 M. Dan Kedua,Masa disintegrasi yaitu tahun 1000-1250.
2. Periode Pertengahan (1250-1800 M)
Periode pertengahan ini berkisar antara tahun 1250-1800 M. pada masa periode ini
merupakan masa kemunduran, dengan diawali jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa
Spanyol, setelah Khilafah Abasyiah runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik
Islam mengalami kemunduran secara drastis.
Pada tahun 1500-1800 M keadaan politik ummat Islam secara keseluruhan mengalami
kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan
Utsmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Pada tahun
1700-1800 M, terjadilah kemunduran dari tiga kerajaan tersebut.
Selanjutnya periode pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250-1800 M, dapat
dibagi ke dalam dua masa, yaitu:
Pertama, Masa kemunduran I,
Masa kemunduran I berlangsung tahun 1250-1500 M. Di zaman ini desentralisasi dan
disintegrasi serta perbedaan antara Sunni dengan Syi‟ah begitupun juga antara Arab dan
Persia sangat mencolok. Dunia Islam terbagi menjadi dua, pertama, Arab. Bagian Arab terdiri
dari Arabia, Irak, Suria, Palestina, Afrika Utara, dan Mesir sebagai pusatnya. Kedua, Persia.
Kebudayaan Persia mengambil bentuk internasional dan dengan demikian mendesak lapangan
kebudayaan Arab.
Pendapat bahwa pintu ijtihad sudah tertutup makin meluas di kalangan umat Islam.
Demikian juga tarekat dengan pengaruh negatifnya. Perhatian terhadap ilmu pengetahuan
kurang sekali. Umat Islam di Spanyol dipaksa masuk KRISTEN atau keluar dari daerah itu.
Dan Kedua, Masa tiga kerajaan besar
Masa Tiga Kerajaan Besar berlangsung tahun 1500-1800 M yang dimulai dengan
zaman kemajuan tahun 1500-1700 M dan zaman kemunduran II tahun 1700-1800 M. Tiga
kerajaan yang dimaksud adalah Kerajaan Ustmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan
kerajaan Mughal di India. Pada masa kemajuan tiga kerajaan besar tersebut, masingmasing
kerajaan mempunyai kejayaan, terutama dalam bentuk literatur-literatur dan arsitek.
Di zaman kemunduran, kerajaan Ustmani terpukul oleh kekuatan Eropa, kerajaan
Safawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afghan, sedangkan daerah
kekuasaan kerajaan Mughal diperkecil oleh pukulan-pukulan raja-raja India. Umat Islam
dalam keadaan menurun drastis. Akhirnya, Napoleon di tahun 1798 M, dapat menduduki
Mesir, yang pada saat itu sebagai salah satu peradaban Islam yang terpenting.
3. Periode Modern (1800-sekarang)
Periode Modern dalam sejarah Islam bermula dari tahun 1800 M dan berlangsung
sampai sekarang. Diawal periode ini kondisi Dunia Islam secara politis berada di bawah
penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M Dunia Islam bangkit
memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat.
Periode ini memang merupakan kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami
kemunduran di periode pertengahan. Pada periode ini dimulai bermunculan pemikiran
pembaharuan dalam Islam. Gerakan pembaharuan itu muncul karena dua hal yaitu:
- Timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran-ajaran asing yang masuk dan
diterima sebagai ajaran Islam.
- Barat mendominasi Dunia di bidang politik dan peradaban, karena itu mereka berusaha
bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk
menciptakan balance of power.
Periode modern tahun 1800 M dan seterusnya merupakan zaman kebangkitan umat
Islam. Jatuhnya Mesir ke tangan Barat menginsyafkan Dunia Islam akan kelemahan dan
menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah tumbuh peradaban baru yang lebih tinggi dan
merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana
meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Di periode Modern inilah timbulnya
ide-ide pembaharuan dalam Islam.Ulama umumnya memakai periodenisasi yang digunakan
oleh Harun Nasution dalam membagi periodenisasi sejarah umat Islam (Atang, Hakim dan
Mubarok, 2000:139). Harun Nasution memulai periodenisasi tahun 650 atau pada zaman
Ustman karena pada pemerintahan Ustman timbul berbagai macam pertentangan baik teologi
maupun pertentangan politik.
Berkaitan dengan babakan sejarah diatas ada beberapa catatan yang perlu dicermati
Masalah keterputusan periode klasik dengan masa Rasulullah. Harun memulai periode klasik
dari tahun 650 M, yang terkenal dengan masa Khalifah Usman (644–656 M). Pertanyaannya
adalah mengapa tidak mulai sejak zaman Rasulullah (611–634) dan tidak juga pada masa
Khalifah Abu Bakar (632–634) dan Umar ibn Khattab (634–644 M).
Padahal oleh banyak peneliti sejarah khususnya dari kalangan ummat Islam sendiri
dikatakan bahwa Rasulullah sampai masa Abu Bakar dan Umar merupakan masa keemasan
yang hakiki dari sudut komitmen ummatnya kepada Islam, bukankah komitmen ke Islaman
itulah yang melahirkan produk–produk kebudayaan Islam. Harun memulai babakan itu dari
masa Ustman, karena ia menitik beratkan pada saat dimana pertentangan teologis dan politik
mulai tumbuh dan mewarnai masa berikutnya. Karena itu periodenisasi yang dirumuskan
dimuka cocok bila titik berat diberikan sejarah perkembangan pemikiran Islam.
BAB III
PENUTUP

I. KESIMPULAN

Sejarah peradaban Islam merupakan salah satu bidang kajian studi Islam yang banyak
sangat penting . Sejarah Islam adalah peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang
sungguh terjadi pada masa lampau yang seluruhnya berkaitan dengan agama Islam. Agama
Islam terlalu luas cakupannya, maka sejarah Islam pun menjadi luas cakupannya. Di
antaranya berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran
Islam, tokoh-tokoh yang melakukan perkembangan dan penyebaran agama Islam, sejarah
kemajuan dan kemunduran yang dicapai umat Islam dalam berbagai bidang, seperti dalam
bidang ilmu pengetahuan agama dan umum, kebudayaan, arsitektur, politik, pemerintahan,
peperangan, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya. Sejarah Peradaban Islam adalah
gambaran produk aktivitas kehidupan ummat Islam pada masa lampau yang bersumberkan
pada nilai–nilai Islam.
Pada masa Klasik, pusat pemerintahan hanya satu (yaitu bangsa Arab) dan untuk
beberapa abad sangat kuat. Peran bangsa Arab sangat dominan, sehingga ungkapan budaya
yang ada semuanya diekspresikan melalui Bahasa Arab, pada akhirnya terwujud kesatuan
budaya Islam yang semuanya dalam dokumentasinya berbentuk bahasa arab.
Untuk membedakan wilayah budaya arab dan budaya Islam dapat ditinjau dengan
mengambil sebuah konsep bahwa dalam islam terdapat kumpulan dogma normatifitas dan
Islam pada faktanya merupakan realitas Historis. Disamping konsepsi normatif dan hostoris
untuk menentukan budaya arab dan budaya Islam memungkinkan juga menggunakan
konsepsi Ushul dan furu‟.
Di kalangan sejarawan terdapat perbedaan pendapat tentang saat dimulainya sejarah
Islam. Yang umum digunakan dalam periodesisasi sejarah peradaban islam dibagi menjadi
tiga masa yakni, klasik, pertengahan dan modern.




Daftar Pustaka

A. Hasjmy Sejarah Kebudayan Islam di Indonesia,Jakarta: Bulan Bintang, 1993
Ahmad Syalaby, Tarikh al Islamiyah al hadzarah al islamiyah,Kairo; …. cetakan ke IV, 1978
Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,Jakarta;Rajagrafindo,1993
Basssam Tibu, Islam Budaya dan Perubahan Sosial, Jakarta, Tiara Wacana,…..,
Dudung abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah,Jakarta; LOGos, 1999
Harun Nasution
Poerwadarminto,Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1992
Sayyid Quthub, Konsepsi Sejarah dalam Islam,Jakarta;Pedoman ilmu Jaya , 1992, cet II,
Terjemahan Tarikhuna fi dzou‟il al Islam, penerjemah Nabhan Husein
Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi islam;dari klasik hingga modern,
Yakarta;Rajagrafindo, 2004




Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
2.
Nov
22

ISLAM SEBAGAI DOKTRIN DAN ISLAM SEBAGAI PERADABAN




ISLAM SEBAGAI DOKTRIN DAN ISLAM SEBAGAI PERADABAN

Menurut Amin Abdullah, pangkal tolak kesulitan pengembangan skop wilayah kajian
Islamic Studies atau Dirasah Islamiyah berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk
membedakan antara normativitas dan historisitas. Pada dataran normativitas kelihatannya
Islam kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historisitas
tampaknya tidak salah.
Ia melanjutkan, pada dataran normativitas studi Islam agaknya masih banyak terbebani
oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis dan apologis, sehingga kadar muatan
analisis, kritis, metodologis, historis, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau
naskah keagamaaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam
lingkungan para peneliti tertentu yang masih terbatas.[1]
Cara melihat Islam sebagai sebuah norma dapat kita jumpai pada pemikiran Mahmud
Syaltout yang membagi Islam pada urusan akidah dan Muamalah dalam bukunya berjudul
al-Islam Aqidah wa Syari’ah, dan pada pemikiran Maulana Muhammad Ali dalam bukunya
berjudul Dienul Islam yang mengatakan bahwa Islam terdiri dari ajaran keimanan yang
merupakan pokok dan ajaran ibadah yang merupakan cabang.[2]
Di antara tokoh yang melihat Islam dari sudut historis adalah Harun Nasution dan Fajlur
Rahman. dalam bukunya berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Harun Nasution
mengatakan: Islam berlainan dengan apa yang umum diketahui, bukan hanya mempunyai
satu dua aspek, tetapi mempunyai berbagai aspek. Sebenarnya mempunyai aspek teologi,
aspek ibadat, aspek moral, aspek mistisme, aspek moral, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek
kebudayaan dan lain sebagainya. Sementara itu, dalam bukunya berjudul Islam, Fajlur
Rahman mengemukakan bahwa: Islam memiliki aspek hukum, teologi, syari’ah, filsafat,
tasawuf dan pendidikan.[3]
Oleh karena itu dilihat dari segi normatif sebagaimana yang terdapat dalam al-Quran
dan al-Hadis, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak bisa diberlakukan kepadanya
paradigma ilmu pengetahuan, yaitu paradigma analitis, kritis, metodologis, historis dan
empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis, dan subjektif.
Sedangkan jika dilihat dari aspek historis, yaitu Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh
manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam
dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau Islam Studies.[4]




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. 1996. Studi Agama; Normativitas atau Historisitas?”. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ali, Maulana Muhammad. Islamologi (Dienul Islam). (terj.) R. Kaelani dan H.M. Bachrun,
(Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1980).
Nasution, Harun. 1979. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press.
Nata, Abuddin. 2006. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Rahman, Fajlur. Islam. (terj.) Senoaji Saleh, (Jakarta: Bina Aksara, 1979).
Syaltout, Mahmud. Al-Islam Aqidah wa Syari’ah.





[1] Amin Abdullah. 1996. Studi Agama; Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. Hlm.106.
[2] Abuddin Nata. 2006. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Hlm.151.
[3] Ibid., hlm.151.
[4] Ibid., hlm.150-151.

Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
3.
Nov
22

Kondisi Keagamaan Pada Masa Awal Islam

Kondisi Keagamaan Pada Masa Awal Islam

In Depth
Episode 8


Sebetulnya ada banyak agama di Jazirah Arab pada waktu itu, seperti paganisme, yaitu
penyembahan berhala; Hunafa yang mengklaim sebagai penganut agama Ibrahim; Sabea
yang menyembah planet-planet; Yudaisme; dan Nusraneya (tidak sama dengan Nasrani).
Itulah agama-agama yang ada pada waktu itu yang sangat berpengaruh pada kehidupan
Mohamad.
Host:
Para pemirsa TV El Hayat, selamat datang di program “In Depth”. Kami mendapat
kehormatan dengan kehadiran Bapak Zakariah Botros. Selamat datang Bapak Botros.
Priest Zakariah Botros: Selamat datang pemirsa.
Host:
Program yang kami sajikan disertai bukti dan fakta yang tidak bisa dibantah. Pak Botros akan
melanjutkan episode berikutnya dengan isu-isu yang sangat sensitive. Mari kita teruskan
episode yang lalu. Pada episode yang lalu Bapak telah membicarakan hal-hal yang
mempengaruhi kehidupan Mohamad, tentang pribadinya, sukunya, dan keadaan politik di
sekitarnya. Maukah Bapak kali ini membicarakan keadaan agama di Jazirah Arab secara
umum?
Priest Zakaria Botros:
Ya, ini sesuatu yang harus kita pikirkan. Kita harus memberikan perhatian pada hal-hal ini,
yaitu situasi agama secara umum di Jazirah Arab yang telah mempengaruhi kehidupan
Mohamad. Itu sebabnya, kalau kita mau mempelajari kehidupan Mohamad, kita perlu
mengetahui secara umum agama-agama di Jazirah Arab. Sebetulnya ada banyak agama di
Jazirah Arab pada waktu itu, seperti paganisme, yaitu penyembahan berhala; Hunafa yang
mengklaim sebagai penganut agama Ibrahim; Sabea yang menyembah planet-planet;
Yudaisme; dan Nusraneya (tidak sama dengan Nasrani). Itulah agama-agama yang ada pada
waktu itu yang sangat berpengaruh pada kehidupan Mohamad.
Host:
Tolong jelaskan bagaimana para penyembah berhala (Pagan) pada waktu itu menyembah
dewa-dewa mereka?
Priest Zakaria Botros:
Ya, pada waktu itu di Jazirah Arab penuh dengan agama penyembah berhala. Sebelum saya
lanjutkan, saya ingin memberitahukan beberapa referensi supaya kalau pemirsa ingin
mengetahui lebih banyak bisa mempelajarinya sendiri.
Host: Amin.
Priest Zakaria Botros:
Ada sumber, ada juga referensi. Sumber yang dipakai adalah buku-buku tradisi zaman dulu,
dan referensinya adalah tulisan-tulisan masa kini tentang tradisi dan zaman waktu itu yang
bersumber pada buku-buku kuno itu. Tentang sumber-sumber kuno, ada buku “Elasnam”,
ditulis oleh Elkelby, direvisi oleh Profesor Ahmed Zaki Pasha, diterbitkan oleh Dar Elkotob
Press; buku “Elasnam” yang ditulis oleh Ekjahez; buku “Ketab Nehayet Elerab”, ditulis oleh
Elnouwery; itulah buku-buku kuno sebagai sumber yang memberikan gambaran tentang
dewa-dewa di Jasirah Arab pada waktu itu. Referensi masa kini yang ada adalah; “Sejarah
Islam” oleh Profesor Hasan Ibrahim Hasan, Direktur Universitas Assiut dan Profesor Sejarah
Islam di Universitas Kairo; “Elmufassal fe Adyan Elarab Kabl Elislam” oleh Profesor Gawad
Aly. Itulah sumber dan referensi yang ada. Para pemirsa bisa menggunakannya untuk
informasi lebih lanjut.
Host:
Bagus sekali Pak Botros. Mari kita mulai diskusi kita tentang dewa-dewa orang Pagan di
Jazirah Arab.
Priest Zakaria Botros:
Professor Hasan Ibrahim dalam bukunya, “Fareekh Elislam” jilid satu, halaman 60 berkata,
“Orang-orang Quraish mempunyai banyak berhala yang ditempatkan di dalam Kaabah, dan
juga di sekitar Kaabah. Berhala-berhala itu lebih dari 360 jumlahnya.” Jumlah itu bukan
berarti mereka menyembah dewa yang berbeda-beda setiap hari. Dewa-dewa itu banyak
sekali karena setiap suku punya berhalanya sendiriyang disimpan di dalam Kaabah itu.
Professor Hasan menambahkan, “Alasan mereka
menempatkan dewa-dewa itu di Kaabah adalah karena orang-orang Quraish ingin
mengambil manfaat dari para kafilah yang datang ke Mekkah untuk berdagang, karena
Mekkah memang pusat perdagangan pada waktu itu. Jadi mereka menempatkan berhala-
berhala setiap suku di Kaabah supaya musim haji dan perdagangan terjadi pada waktu yang
sama. Mereka mengaitkan perdagangan dengan agama, karena agama adalah faktor dalam
kehidupan manusia yang sangat penting dan sangat kuat. Untuk alasan inilah mereka
membuat banyak berhala. Professor Gawad Aly dalam bukunya “Elmufassal fe Adyan Elarab”
– kita sudah melihat buku ini.– pada halaman 196-291 berbicara tentang dewa-dewa
sebelum Islam, yang disembah oleh orang-orang Arab. Pertama-tama ia berbicara tentang
Ellat, Eluzza dan Menat – mereka adalah dewa-dewa yang baik dan sangat terkenal, karena
itu mereka disebutkan di dalam Quran. Dewa-dewa lainnya adalah Hubl, Wood, Asef, Naela
dan seterusnya sampai 360 nama dewa-dewa yang ada di sana.
Host: Tolong jelaskan berhala-berhala itu, dan apa reaksi Mohamad terhadap berhala-
berhala itu.
Priest Zakaria Botros:
Ya, akan saya jelaskan satu per satu berhala-berhala atau allah-allah itu menurut pandangan
mereka. Dalam buku “Elmufassal” halaman 199, berbicara tentang allah yang namanya
“Ellat”. Apa yang dikatakan di sana? “Kata Ellat berasal dari kata Allah. Ellat artinya Allah
perempuan. Jadi, Ellat sama dengan Nyonya Allah, atau Bu Allah. Jadi, yang mereka
maksudkan adalah ada Allah dan ada istri Allah juga. Juga di halaman 197 dijelaskan bahwa
Ellat tinggal di tempat yang sekarang dibangun sebuah Masjid yang diberi nama Eltaef. Ini
berarti Masjid Eltaef dibangun di tempat yang sama di mana dulu orang-orang menyembah
Ellat. Dikatakan pula bahwa yang mendirikan masjid di lokasi itu adalah orang-orang pagan
yang menerima Islam hanya di mulut saja bukan di dalam hati. Hal ini dimaksudkan untuk
mengingat dewa Ellat yang dulu tinggal di lokasi itu.. Mereka mengaku Muslim tetapi
sebetulnya hatinya tidak. Mereka merasa senang dengan adanya mesjid di lokasi itu. Jadi
sampai sekarang masjid itu hanya sekedar monumen yang mengingatkan pada berhala
nenek moyang mereka
yaitu Ellat. Rencana yang sangat bagus, ya. Ini artinya, ada banyak orang yang percaya
hanya di mulut. Mereka berkata seolah-olah mereka percaya, mereka kompromi karena
takut, tetapi hati mereka sebetulnya tidak percaya sama sekali. Dia ingin menyenangkan
mereka untuk menjaga hubungan dengan mereka jadi ia datang ke tempat yang sama yang
dulunya dipakai untuk menyembah Ellat dan mengubahnya menjadi masjid untuk
menunjukkan kepada mereka bahwa dia peduli terhadap tempat ibadah mereka, dengan
demikian orang-orang itu merasa disenangkan. Allah dan Ellat keduanya baik, mereka
berhubungan satu sama lain. Dari semua ini kita tahu bahwa Mohamad ingin melakukan
sesuatu untuk menyenangkan para Pagan agar bisa memenangkan mereka. Disebutkan juga
dalam Quran dewa bernama Eluzza. Professor Gawad dalam bukunya, halaman 206-213
berkata, “Eluzza adalah allah perempuan. Juga ada di Taef.” Ia berkata di halaman 208
bahwa nabi Allah mempersembahkan domba putih kepada Eluzza. Ia berkata begini, “Aku
telah mempersembahkan seekor domba putih kepada Eluzza.” Apa artinya ini?
Host: Artinya ia penyembah berhala.
Priest Zakaria Botros:
Ya, seorang penyembah berhala. Apa yang dipersembahkan kepada Eluzza?
Host: Persembahan kurban.
Priest Zakaria Botros:
Mohamad mengurbankan seekor domba. Sangat aneh dan sulit dipercaya. Saya rasa para
pemirsa tidak tahu hal ini. Jelas di sini bahwa Mohamad dulunya adalah penyembah berhala
dan ia mempersembahkan kurban kepada berhala. Ini ditulis dengan sangat jelas, dan saya
bingung sekali waktu membaca ini.
Host: Mengapa Bapak bingung?
Priest Zakaria Botros:
Mengapa saya bingung? Inilah kebingungan saya. Mohamad dikelilingi oleh aura kesucian
dari sejak semula. Maksud saya, buku-buku tradisi memberi tahu bahwa he was light in
Adam’s back before creation.
Host: Ada hadits yang berkata, ”I was a first of light in Adam’s back.”
Priest Zakaria Botros:
Mereka juga berkata bahwa Mohamad disebutkan di dalam Kitab Taurat dan Kitab Injil.
Dikatakan, namanya adalah Ahmad. Dan cahaya keluar dari tubuh ibunya ketika sedang
mengandung dia. Cahaya itu mencapai daerah Sham dan Basra. Ini terjadi ketika ia ada di
dalam rahim ibunya. Banyak lagi cerita yang lain seperti cerita tentang dua malaikat yang
membuka dada dan perutnya untuk mengambil hatinya.
Host: Gumpalan hitam dari dalam dadanya.
Priest Zakaria Botros:
Ya, betul, gumpalan darah berwarna hitam. Cerita ini ditulis dalam buku Seera Ibn Hesham
halaman 168, bagian satu. Kalau memang ia sudah dikenal sejak semula, dan bahwa ada
cahaya dalam rahim ibunya, dan bahwa ia disebutkan dalam Kitab Taurat, dan cahaya keluar
dari perut ibunya—dan malaikat mengeluarkan gumpalan darah berwarana hitam dari
dalam hatinya. Mengapa setelah semua itu ia menyembah berhala-berhala? Lebih dari itu,
bahkan sesudah itu, ia makan daging domba yang ia persembahkan kepada berhala-berhala
itu. Pada waktu yang sama, ada seseorang dari kelompok Hunafa yang tidak mau makan
domba yang sudah dipersembahkan kepada berhala-berhala itu. Omaya Ibn Aby Elsalt, ia
juga tidak mau makan domba kurban itu. Tidak juga Zeid Ibn Nofel mau makan domba
persembahan itu, tetapi aneh, Mohamad kok mau makan daging domba yang sudah
dipersembahkan kepada berhala. Semua cerita ini ada di buku Ibn Hesham, bagian satu,
halaman 218. Ini betul, betul sangat aneh! Bagaimana Allah telah menolong Zeid untuk
tidak makan daging bekas kurban persembahan tetapi tidak menolong Mohamad.” Aneh?
Mengapa? Kalau ia sudah terkenal sejak semula dan disebutkan dalam Kitab Taurat dan
Kitab Injil, dan ada cahaya yang keluar dari rahim ibunya, yang memancar jauh sampai ke
Elsham, tetapi mengapa dia hidup sebagai seorang penyembah berhala? Mengapa Allah
membiarkan dia menjadi
penyembah berhala? Bagaimana ia sampai makan makanan bekas persembahan berhala?
Suatu hal yang sangat membingungkan. Saya harap ada salah satu dari sarjana-sarjana
Elazhar yang mau memberi penerangan kepada kita tentang isu ini. Saya tunggu
jawabannya.
Host:
Anda telah mendengar pertanyaan kami, Anda telah mendengar kebingungan kami. Mudah-
mudahan Anda akan menjawab pertanyaan kami. Baiklah, Pak Botros, saya setuju ini
memang membingungkan, tetapi kita tidak akan berhenti sampai di sini. Ada berhala yang
lainnya?
Priest Zakaria Botros: Ya, pasti ada.
Host: Tolong ceritakan kepada kami.
Priest Zakaria Botros:
Baiklah. Ada berhala yang bernama Menat yang juga disebutkan dalam Quran. “Sudahkah
kau lihat Ellat, Eluzza, dan juga Menat?” Professor Hasan Ibrahim Hasan berkata dalam
bukunya “Sejarah Islam” bagian satu, halaman 62; seperti dikatakan oleh Professor Gawad
Aly dalam buku ini, halaman 207, “Orang-orang Quraish sudah biasa mengelilingi Kaabah –
Sambil mengelilingi Kaabah orang-orang Quraish meneriakkan kata-kata Ellat, Eluzza, dan
Menat, mereka berdoa dan mohon sesuatu kepada ketiga dewa ini.” Semua ini ada di
halaman 207.
Host: Saya ingin melihatnya.
Priest Zakaria Botros:
Di dalam Quran, Surat ELnejm disebutkan juga bahwa ketika orang-orang mengelilingi
Kaabah mereka juga meneriakkan kata-kata yang sama yaitu Ellat, Eluzza dan Menat. Apa
yang dikatakan dalam Surat Elnejm dalam buku “Asbab Elnezoul” oleh Elwahedy, buku
“Eltabakat Elkubra” oleh Ibn Saad bagian satu, halaman 205, dan Hadits tentang
“Elgharaneek Eloula” (Lofty Cranes)? Inilah yang dikatakannya, ”Nabi melihat para
pengikutnya pergi menjauhi dia, lalu ia duduk sendirian, dan berkata dalam hati, “Aku
berharap sesuatu akan dinyatakan kepadaku sehingga mereka tidak bisa menolakku.
Kemudian ia pergi mendekati para pengikutnya, begitu pula para pengikutnya mendekati
dia, dan dia tinggal satu hari di rumah salah satu sahabatnya, di sekitar Kaabah dan
membaca untuk mereka; “Pernahkah Anda melihat Ellat,Eluzza dan Menat ketiga juga? And
the star when it falls until it rests, kemudian si Iblis menaruh dua kata di mulutnya, those
lofty cranes, mereka berdoa kepada tiga dewa.” Apa ini? Sama saja!. Jadi, ini kata-kata iblis?
Apakah ini kata-kata yang diucapkan peziarah ketika mereka melakukan ritual ziarah?
Sungguh cerita yang aneh, sangat aneh. Memang sesudah itu ia berkata bahwa malaikat
Jibril menampakkan diri kepadanya dan memberi tahu bahwa ia tidak menaruh kata-kata itu
di mulut Mohamad. Dari mana kau dapatkan itu?, Ia berkata, “Si Iblis yang memberikan
kata-kata itu kepadaku.” Apapun alasannya, ia tidak bisa membedakan antara kata-kata
malaikat dengan kata-kata Iblis. Tetapi, ia berkata bahwa ia memberi tahu dia, jangan sedih,
karena setiap nabi yang memberitahukan sesuatu kepada para pengikutnya, si Iblis akan
selalu menaruh bisikan di mulutnya. Sungguh sesuatu yang sangat aneh. Sungguh saya heran
dengan kata-kata ini.
Host: Apa komentar Bapak tentang cerita ini?
Priest Zakaria Botros:Pemirsa. apa artinya ini, Iblis akan menaruh kalimat di dalam mulutnya.
Kalimat ini adalah kalimat yang biasa digunakan orang Arab, setiap orang Arab tahu kalimat
ini. Dari mana kalimat ini? Dari iblis atau hanya dari pikiran dia? Inilah pertanyaan kami yang
harus mereka jawab. Apakah ini yang dia hafal karena seringnya diucapkan ketika kali
mempersembahkan kurban kepada Eluzza. Atau ini dari iblis? Saya tidak mengerti, saya
betul-betul bingung. Dan, bagaimana ia bisa berkata dalam cerita ini bahwa Setan menunggu
sampai sore untuk mendatanginya dan bertanya mengapa kau lakukan itu? Ketika malam
tiba damai Jibril meliputinya dan berkata, “Apa yang sudah kau lakukan? Kau telah
mengatakan kepada orang-orang tentang apa yang tidak kuberikan kepadamu.” Bagaimana
ia menunggu sampai malam tiba? Jibrilkah ia? Mengapa nabi tidak menerima wahyu dan
langsung mengucapkannya? Mengapa hanya untuk bertanya kepada nabi Jibril harus
menunggu sampai malam? Mengapa ia tidak langsung saja menghentikan nabi? Saya harap
ada jawaban untuk masalah-masalah seperti ini dan juga masalah-masalah lainnya yang
sungguh-sungguh serius. Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Pemirsa, di sini ia
berkata bahwa iblis menaruh kata-kata di dalam mulutnya. Ini berarti si Iblislah yang
menyuruh dia berbicara. Saya ingin membandingkan ini dengan Surat Elnahl ayat 100.
Begini bunyinya, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan iblis (Elshaytan Elrageem) yang
tidak punya kuasa atas orang-orang yang percaya dan bersandar kepada Allah, dan yang
berserah kepada Allah; Ia tidak berkuasa atas orang-orang yang menyerahkan diri kepada
Tuhan.” Ibn Katheer menjelaskan, mereka adalah orang yang menaati dia, atau menuhankan
dia selain Allah, dan juga mereka yang menyembah allah-allah lain. Jadi, bagaimana iblis
berbicara melalui mulut nabi kalau iblis tidak punya kuasa atasnya. Apakah dalam hal ini nabi
taat kepada dia? Atau, apakah dia menyembah allah lain selain Allah? Ada dua kemungkinan
di sini. Ia taat kepada iblis, atau ia menyembah lebih dari satu allah. Bagaimana ini bisa
terjadi? Sementara iblis tidak punya kuasa atas mereka yang percaya kepada Allah. Jadi,
bagaimana si Iblis bisa punya kuasa untuk menggunakan lidah nabi. Ini pertanyaan yang
sangat penting. Saya bertanya langsung kepada para sarjana yang baik untuk menjawabnya.
Host: Betul, Pak. Memang membingungkan. Mari kita kembali ke berhala-berhala
itu. Orang Arab menyembah berhala. Ini dijelaskan di dalam Hadits di mana Mohamad juga
menyembah berhala. Apa pengaruh paganisme pada diri Mohamad?
Priest Zakaria Botros:
Dia dewa bulan! Pengaruhnya luar biasa. Ada dewa yang sangat mengagumkan yang
bernama Woud. Inilah yang dikatakan “Elmufasal” tentang Wood pada halaman 222-275.
Begini, “Woud adalah dewa bulan, dewa yang paling besar.” Sesuatu yang sangat aneh di
halaman 222.
Host: Ia Dewa Bulan.
Priest Zakaria Botros: Dan dia dewa yang paling besar.
Host: Paling besar?
Priest Zakaria Botros: Ya, dia yang paling besar.
Host: Pemirsa, saya harap Anda mencatat hal ini karena kita akan kembali ke sini nanti.
Priest Zakaria Botros:
Woud adalah dewa bulan dan dewa besar. Professor Aly menambahkan berkata, “Bulan
sabit dipakai sebagai lambang dewa ini.” Lihat halaman 260. Bulan sabit adalah lambangnya.
Sulit dipercaya!
Host: Ya, Allah!
Priest Zakaria Botros:
Dewa bulan, dewa yang besar, dan lambangnya adalah bulan sabit. Mohamad mengambil
bulan sabit ini sebagai lambang, dan berseru-seru, “Allah u Akbar (Allah mahabesar). Apakah
yang dia maksud dewa Woud? Ini pertanyaan saya. Tolong dijawab.
Host: Saya tidak tahu, Pak? Lanjutkan saja, Pak.
Priest Zakaria Botros:
Topik ini sangat penting. Dari buku-buku kita bisa melihat kata-kata “Allah yang penuh
Rahmat”. Ini dulunya dewa. Professor Gawad Ali dalam bukunya, halaman 267 berkata,
”Dalam naskah-naskah di Arab bagian selatan ada nama untuk dewa baru yaitu dewa yang
penuh rahmat.” Nama dewa baru itu adalah Rahman Baal Saman. Rahman artinya rahmat,
dewa surga. Bukankah rahman adalah salah satu dari 99 sifat Allah?
Host: Betul, Pak.
Priest Zakaria Botros:
Allah Elrahim. Professor Gawad Ali berkata dalam bukunya, halaman 283 dan 287, “Allah
Rahim seperti Elrahman, dua dari sifat-sifat Allah yang semula adalah nama dewa yaitu
Elraouf, Elrahim, dsb. Saya heran mengapa Mohamad mengambil nama dewa-dewa itu, dan
menggabungkannya sebagai sifat-sifat Allah khususnya Rahman dan Rahim dan bagaimana
keduanya bisa ada di dalam Quran.
Host:
Saya tidak bisa membayangkan apa yang Bapak katakan. Baiklah, Pak, pemirsa sudah
menunggu untuk cerita selanjutnya.
Priest Zakaria Botros:
Ya, mari kita lanjutkan. Orang itu menyebutkan ada 360 dewa. Pada halaman 280 disebutkan
ada dewa yang bernama Allahum. Luar biasa, tidak masuk akal. Dia berkata bahwa kata
Helah disebutkan di Lehyaneya yang artinya Allahum. Dan pada halaman 285 ia berkata,
“Helah, kata ini menunjukkan bahwa nama Allah sudah dikenal oleh orang-orang Arab
sebelum Islam.” Sangat aneh, Allahum, dan Mohamad menggunakan kata Allahum. Saya
yakin dia melakukan hal ini untuk meyakinkan orang-orang agar mereka tertarik
kepadanya. Dewa yang lain bernama Rab Elalameen (tuhan semua orang). Gawad Ali, di
halaman 286 juga menyebutkan nama Rab Elalameen. Pada halaman 265 dan 290 ia
menyebutkan dewa yang sangat aneh namanya Yasin. Dia berkata bahwa nama Yasin
disebut-sebut dalam naskah-naskah di Arab bagian selatan yaitu nama dewa besar
Hadramout.
Host: Yasin?
Priest Zakaria Botros:
Yasin. Bukankah ini menjelaskan hubungannya dengan surat Yasin? Dewa Yasin dan Surat
Yasin. Maksud saya ia memberi tahu orang-orang, inilah dewa Yasin. Apakah ia memberi
tahu kita sesuatu? Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya bertanya. Sekali lagi saya
tidak punya maksud apa-apa. Ada banyak sekali nama dalam buku “Elmufassal” yang
seharusnya kita pelajari dengan sungguh-sungguh, dan merevisinya dengan aksioma yang
kita punya.
Host: Apakah buku itu ada di pasaran?
Priest Zakaria Botros: Ya, ada.
Host:
Sebelum kita akhiri diskusi ini masih adakah tambahan yang lain sebelum kita teruskan ke
pelajaran rohani?
Priest Zakaria Botros:
Tidak ada. Mari kita teruskan pada pelajaran rohani saja. Anda yang masih penasaran bisa
membeli buku “Elmufassal” dan mempelajarinya sendiri.
Host: Baiklah, Pak. Kami sudah siap dengan pelajaran rohani.
Priest Zakaria Botros:
Kitab Suci mengatakan sesuatu yang sangat indah yang berkaitan dengan yang kita
diskusikan sekarang, yaitu dalam surat Korintus yang pertama. Begini, “Mereka berbicara
tentang kami bagaimana kami datang kepadamu, dan bagaimana kamu telah berbalik
kepada Allah dari penyembahan berhala kepada penyembahan kepada Allah yang benar dan
hidup.” Kamu berbalik dari penyembah berhala kepada penyembahan kepada Allah surgawi,
dari meyembah berhala-berhala, sekarang menyembah Allah yang benar dan hidup. Dialah
Allah yang penuh kasih, yang menyatakan rahmat-Nya kepada kita, Allah yang telah
menyelamatkan kita dari kuasa dosa, Allah yang hidup yang mengasihi kita, mempedulikan,
memelihara kita, Allah yang hidup yang terus memandang kita sepanjang tahun, dari awal
sampai akhir, Allah yang akan menyelamatkan kita dari hukuman neraka untuk
mendapatkan berkat-berkat surgawi. Ini pertanyaan saya untuk para pemirsa, adakah
berhala dalam hidup Anda? Allah melarang penyembahan berhala. Apakah kita masih
memiliki berhala dan menyembahnya? Kalau Anda mencintai sesuatu lebih dari Anda
mengasihi Allah maka sesuatu yang Anda miliki dan cintai itu adalah berhala. Saya harap
Anda akan meninggalkan cinta yang aneh ini, dan berbalik kepada kasih Allah. Katakan
kepada Tuhan bahwa Anda akan mengasihi Dia lebih dari yang lain, dan panggilah Dia
sebagai Bapamu. Kami mengasihi-Mu karena Engkau lebih dulu mengasihi kami. Jangan
biarkan kasih yang lain mengambil hati kami, juga berhala-berhala modern masa kini dalam
bentuk kekayaan, nafsu, seks, dsb. Berilah kami hati hanya untuk mengasihi-Mu. Sekarang
aku mau menerima Engkau sebagai Allah dan Rajaku dan Tuhan dalam hidupku. Engkaulah
yang telah mengeluarkan aku dari kegelapan dan membawa ke dalam terang-Mu, dan dari
penyembahan berhala ke pengetahuan akan pengenalan diri-Mu. Amin.
Host:
Amin. Terima kasih Pak Botros atas topik yang sangat menarik hari ini. Para pemirsa, Anda
telah mendengar apa yang dikatakan Pak Botros. Ketika Iblis datang kepada Isa Almasih, Isa
Almasih berkata, “Enyahlah kau Setan!” Isa Almasih tidak mau mendengarkan si Iblis, dan
Iblis tidak berhasil mencobai Isa Almasih. Kirimlah surat kepada kami kalau masih ada
pertanyaan. Kalau Anda perlu Kitab Suci kunjungi website kami, alamatnya ada di layar ini.
Kalau ada klarifikasi atau komentar dari para imam Muslim, kami undang Anda datang ke
studio, atau bisa telepon kami. Terima kasih, sampai jumpa di episode yang akan datang.
Mari!

Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
4.
Nov
22

sejarah islam

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam buku Ensiklopedi Islam, Jilid 2 (Jakarta, Ichtar Baru Van Hoeve) dijelaskan
bahwa sejarah Islam telah melalui tiga periode, yaitu periode klasik (650-1250), periode
pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern(1800-sekarang).
Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan. Hal ini ditandai
dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antarwilayah Islam, dan
adanya kemajuan di bidang ilmu dan sains.
Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran. Hal ini ditandai dengan
tidak adanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang meliputi seluruh wilayah Islam, dan
terpecahnya. Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah. Kerajaan-kerajaan itu antara
lain:
a. Kerajaan Ottoman di Turki
Kerajaan Ottoman didirikan dan diproklamasikan kemerdekaannya oleh Utsman I
dari bangsa Turki Utsmani, setelah Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk meniggal dunia tahun
1300 M.
Utsman I dinobatkan sebagai raja (sultan) pertama dari kerajaan Ottoman, yang disusul
derngan raja-raja berikutnya. Kerajaan Ottoman mengalami kemajuan pada masa
pemerintahan Sultan Muhammad II (1451-1481 M). Sultan ini berjasa besar, karena telah
menyebarluaskan Islam ke Benua Eropa, melalui penaklukan kota Benteng Konstantinopel
ibukota Romawi Timur pada tahun 1453 M. Karena keberhasilannya ini, kemudian Sultan
Muhammad II mendapat julukan Al-Fatih yang artinya Sang Penakluk.
Kerajaan Ottoman mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan
Sulaeman I (1520-1566 M), yang bergelar Sulaeman Agung dan Sulaeman Al-Qanuni. Pada
masa pemerintahannya kerajaan Ottoman memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas,
yaitu: Afrika Utara, Mesir, Hedzjaz, Irak, Armenia, Asia kecil, Krimea, Balkan, Yunani,
Bulgaria, Bosnia, Hongaria, Rumania, sampai ke batas Sungai Danube dengan tiga lautan,
yaitu Laut Merah, Laut Tengah, dan Laut Hitam.
Namun, setelah Sulaeman Agung meninggal dunia, kerajaan Ottoman Turki
mengalami kemunduransehingga satu demi satu wilayah kekuasaannya melepaskan diri.
b. Kerajaan Mogul di India
Peranan umat Islam India dalam penyebarluasan agama Islam dapat dilihat dalam empat
periode, yaitu periode sebelum kerajaan Mogul (705-1526 M), periode Moghul (1526-1858
M), periode masa penjajahan Inggris (1858-1947 M), dan periode negara India Sekuler
(1947-sekarang).
Kerajaan Mogul didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, keturunan Jengiz Khan
bangsa Mongol, pada tahun 1526 M. Kerajaan Mogul berputar di Delhi (India).
Kerajaan Mogul diperintah secara silih berganti oleh 15 orang raja (sultan). Sultan Kerajaan
Mogul bernama Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 M) dan sultan terakhirnya
bernama Sultan Bahadur Syah II (1837-1858 M). Kerajaan Mogul mencapai puncak
kejayaannya tatkala diperintah oleh Akbar Syah I (1556-1605 M), Jahangir atau Nuruddin
Muhammad Jahangir (1605-1627 M), Syah Jihan (1627-1658 M), dan Aurangzeb atau
Alamgir I (1658-1707 M).
Wilayah kekuasaan Mogul meliputi Kabul, Lahore, Multan, Delhi, Agra, Oud, Allahabad,
Ajmer, Guzarat, Melwa, Bihar, Bengal, Khandes, Berar, Ahmad Negar, Ousra, Kashmir,
Bajipur, Galkanda, Tajore, dan Trichinopoli.
c. Kerajaan Safawi di Persia (sekarang Iran)
Umat Islam menguasai Persia sejak tahun 641 M. Setelah iyu, bangsa Persia yang semula
beragama Zoroaster berbondong-bondong masuk Islam. Dinasti atau kerajaan Islam silih
berganti memerintah Persia, sampai dengan bangsa Mongol merebutnya pada abad ke-12
M. Selama tiga abad bangsa Mongol menguasai Persia, hingga pada tahun 1501 M muncul
dinasti baru, yaitu dinasti atau Kerajaan Safawi.
Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail Syafawi (Ismai I) pada tahun 907 H (1501 M)
di Tabriz. Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah oleh Syah Abbas
(1`585-1628 M). Beliau berjasa mempersatukan seluruh Persia, mengusir Portugis dari
kepulauan Hormuz, dan nama pelabuhan Gumran diubah menjadi Bandar Abbas (sampai
sekarang). Syah Abbas juga memindahkan ibukota kerajaan dari Qizwan ke Isfahan.
Setelah pemerintahan Syah Ismail Safawi berakhir, silih berganti sultan-sultan Dinasti
Safawi melanjutkan pemerintahannya hingga sebanyak 17 sultan. Sultan terakhir kerajaan
Safawi bernama Sultan Muhammad.
Tujuan penjajahan bangsa Eropa ada tiga, yaitu: J Gold yang maksudnya agar
memperoleh keuntungan besar, khususnya di bidang perdagangan bangsa Eropa, membeli
bahan-bahan industri dari wilayah jajahannya dengan harga murah, kemudian menjual hasil
industrinya ke wilayah jajahannya dengan harga mahal.
J Glory yang maksudnya untuk mencapai kejayaan di bidang kekuasaan. J Gospel yang
artinya usaha menyebarluaskan agama Kristen. Agar meraih keuntungan besar, bangsa
Eropa melakukan usaha monopoli di bidang perdagangan, antara lain dengan cara merebut
dan menguasai pusat-pusat perdagangan yang semula dikuasai umat Islam. Pusapusat
perdagangan itu misalnya: Kota Goa di pantai barat India direbut pada tahun 1510 M dan
dijadikannya benteng pangkalan, untuk menyaingi perdagangan umat Islam dengan Afrika
Timur.
\ Pelabuhan Malaka pada tahun 1511 M dikuasai dan dijadikan sebagai benteng pangkalan
untuk menyaingi perdagangan umat Islam di luar Indonesia dengan Indonesia.
Akhirnya, setelah bangsa Eropa bertambah kuat, sedangkan kerajaan-kerajaan Islam dan
umat Islam semakin lemah terutama di bidang ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan,
maka kerajaan-kerajaan Islam dan umat Islam di berbagai wilayah Asia-Afrika dijadikan
negara jajahan oleh bangsa Eropa.
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah perkembangan ajaran islam pada abad pertengahan?
2. Bagaimanakah perkembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan?
3. Bagaimanakah perkembangan kebudayaan Islam pada abad pertengahan?
4. Apakah hikmah sejarah perkembangan Islam pada abad pertengahan?





BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Ajaran Islam pada Abad Pertengahan (1250-1800)
Perkembangan Islam pada abad pertengahan ini dilakukan melalui tiga jalan yang dilalui
untuk memperkenalkan Islam pada masyarakat Eropa. Ketiga jalan tersebut adalah :
- Jalan Barat
Proses melalui jalan barat dimulai dari kawasan Afrika Utara dengan melewati Semenanjung
Iberia. Para pejuang Islam yang melalui jalan ini dipimpin oleh Thariq bin Ziyad dan dimulai
pada tahun 711 M. Perjalanan Thariq dan rombongannya ini dikenal lantaran prestasinya
yang mampu melewati Pegunungan Pirenia yang pada waktu itu terkenal sangat
menakutkan. Namun, di kota Poitiers, Thariq dan rombongannya ditahan oleh tentara
Prancis yang dipimpin oleh Karel Martel pada 732 M. Akhirnya, rombongan Thariq ini
dibebaskan oleh Khalifah Umayyah yang berkuasa di semenanjung Iberia.

- Jalan Tengah
Rute jalan tengah ini dimulai dari kawasan Tunisia. Rombongan yang melewati jalan tengah
ini menuju Apenina dengan melalui Sisilia. Sisilia serta Italia Selatan sempat dikuasai oleh
pejuang Islam meski tidak terlalu lama. Sebab, pada abad 11, kedua kawasan tersebut
berhasil direbut oleh bangsa Nordia.

- Jalan Tiimur
Pada 1453, Turki yang dipimpin Sultan Muhammad II mampu mengalahkan Byzantium.
Caranya dengan menyerang Konstantinopel melalui laut Hitam yang merupakan bagian
belakang Konstantinopel. Hal ini tidak diduga oleh tentara Byzantium sehingga dengan
mudah mampu ditundukkan.
Setelah menundukkan Byzantium, tentara Turki melanjutkan perjalanan hingga Wina,
Austria. Perjalanan dilanjutkan menuju Semenanjung Balkan. Kawasan Balkan sempat
dikuasai tentara Islam selama empat abad hingga abad 19. Meski demikian, konstantinopel
tetap berada dalam kekuasaan dinasti Umayyah dan berganti nama menjadi Istambul.
Perkembangan Islam, mengalami dua fase yaitu fase kemajuan dan fase kemunduran. Fase
kemajuan terjadi pada tahun 650 -1250 M yang ditandai dengan sangat luasnya kekuasaan
Islam, ilmu dan sain mengalami kemajuan dan penyatuan antar wilayah Islam dan fase
kemunduran terjadi pada tahun 1250 – 1500 M. yang ditandai dengan kekuasaan Islam
terpecah-pecah dan menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah pisah. Kemunduran Islam pada
abad pertengahan, pada umumnya yang menjadi penyebab diantaranya adalah sebagai
berikut:
- Tidak menjaga dengan baik Wilayah kekuasaan yang luas
- Penduduknya sangat heteregin sehingga mengalami kendala dalam penyatuan
- Para penguasanya lemah dalam kepemimpinannya
- Krisis ekonomi
- Dekadensi moral yang tidak terkendali
- Apatis dan stagnasi dalam dunia iptek
- Konflik antar kerajaan Islam
Terlebih lagi setelah, pasukan Mughal yang dipimpin oleh Hulagu Khan berhasil
membumihanguskan Baghdad yang merupakan pusat kebudayaan dan peradaban Islam
yang kaya dengan ilmu pengetahuan, hal ini terjadi pada tahun 1258 M. Saat itu
kekhalifahannya dipimpin oleh khalifah Al Mu’tashim, penguasa terakhir Bani Abbas di
Baghdad.
Setelah Baghdad ditaklukkan Hulagu, umat islam dikuasai oleh Hulagu Khan yang beragama
Syamanism tersebut, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran yang sangat luar biasa.
Wilayah kekuasaannya terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil yang tidak bisa
bersatu, satu dan lainnya saling memerangi. Peninggalan-peninggalan budaya dan
peradaban Islam hancur ditambah lagi kehancurannya setelah diserang oleh pasukan yang
dipimpin oleh Timur Lenk.

Masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800)
Keadaan perkembangan Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali
walaupun tidak sebanding dengan masa sebelumnya ( klasik) setelah berkembangnya tiga
kerajaan besar yaitu kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Mughal di India dan kerajaan Safawi
di Persia. Diantara ketiga kerajaan tersebut yang terbesar dan paling lama bertahan adalah
kerajaan Usmani.
1. Kerajaan Usmani
Kerajaan Utsmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah
Mongol dan daerah utara negeri Cina yang bernama Usmani atau Usmani I dan
memproklamirkan diri sebagai Padisyah al Usman atau raja besar keluarga Usman tahun
1300 M (699 H). Kerajaan yang didirikan oleh Usmani ini selanjutnya memperluas
wilayahnya ke bagian Benua Eropa. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan
menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M sehingga tahun 1326 M dijadikan sebagai Ibukota
Negara.
Pada masa pemerintahan Orkhan, kerajaan Usmani menaklukkan Azmir tahun 1327 M,
Thawasyannly tahun 1330 M, uskandar tahun 1338 M, Ankara 1354 M dan Gallipoli tahun
1356 M. Daerah-daerah tersebut adalah bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki
kerajaan Usmani.
Kerajaan Usmani untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai Negara yang kuat
terutama dalam bidang militer. Kemajuan-kemajuan kerajaan Usmani yaitu dalam bidang
pemerintahan dan kemiliteran, bidang ilmu pengetahuan dan budaya misalnya kebudayaan
Persia, Bizantium dan arab, pembangunan Masjid-Masjid Agung, sekolah-sekolah, rumah
sakit, gedung, jembatan, saluran air villa dan pemandian umum dan di bidang
keagamaan.misalnya seperti fatwa ulama yang menjadi hukum yang berlaku.
Kerajaan Usmani sepeninggal Sultan Al Qanuni, mengalami kemunduran yang disebabkan
oleh berbagai problema sebagai berikut:
1. Penduduknya sangat heterogen
2. Tidak dapat menguasai wilayah yang luas
3. Kepemimpinannya lemah
4. Terjadinya dekadensi moral
5. Krisis ekonomi dan
6. Ilmu dan tekhnologi stagnan

2. Kerajaan Safawi Di Persia
Kerajaan Syafawi, mulanya adalah sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil
(Azerbaijan). Tarekatnya bernama tarekat Safawiyah, nama ini diambil dari nama pendirinya
yang bernama Safi-Al Din dan nama Syafawi dilestarikan setelah gerakannya berhasil
mendirikan kerajaan.
Jalan hidup yang ditempuh Al Din adalah jalan sufi dan mengembangkan tasawuf
Safawiyah menjadi gerakan keagamaan yang sangat berpengaruh di Persia, Syiria dan
Anatolia. Yang semula bertujuan memerangi orang-orang yang ingkar dan memerangi orang-
orang yang ahli bid’ah. Lama kelamaan pengikut tarekat Syafawiyah berubah menjadi
tentara dan fanatik dalam kepercayaan dan menentang keras terhadap orang selain Syiah.
Dalam perkembangannya, kerajaan Syafawi selanjutnya dipimpin oleh Ismail yang
baru berusia tujuh tahun. Ismail beserta pasukannya yang bermarkas di Gilan selama
limabelas tahunmempersiapkan kekuatannya dan mengadakan hubungan dengan para
pengikutnya di Azerbeijan, Syiria dan Anatolia dan pasukan tersebut dinamai Qizilbash atau
baret merah.
Saat kepemimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukannya dapat mengalahkan AK
Koyunlu di Sharur dan Tabriz sehingga Ismail memproklairkan dirinya menjadi raja pertama
dinasti Syafawi dan berkuasa selama 23 tahun.
Masa keemasan kerajaan Syafawi terjadi pada masa kepemimpinan Abbas I yaitu di
bidang pilitik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan bidang pembangunan fisik dan seni.
Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan Syafawi menjadi salah satu dari tiga kerajaan
besar Islam yang diperhitungkan oleh lawan-lawannya terutama dibidang politik dan militer.
Setelah mengalami kejayaan, kerajaan Safawi tidak lama kemudian mengalami
kemunduran penyebabnya adalah antara lain:
a. Kemerosotan moral para pemimpin kerajaan
b. Konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani dan
c. Pasukan yang dibentuk Raja Abbas I yaitu pasukan Ghulam tidak memiliki jiwa pratirotik

3. Kerajaan Mughal di Indi
Kerajaan Mughal adalah kerajaan yang termuda diantara tiga kerajaan besar Islam.
Kerajaan ini didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530). Babur dengan bantuan Raja Safawi
dapat menaklukkan Samarkhad tahun 1494 M. Tahun 1504 M dapat menduduki Kabul
ibukota Afganistan. Setelah itu, Raja Babur mengadakan ekspansi terus-menerus.
Kemajuan – kemajuan kerajaan mughal diantaranya:
1. Di bidang Ekonomi, mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan.
Masalah sumber keuangan Negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian
2. Di bidang seni dan budaya misalnya karya sastra gubahan penyair istana, penyair yang
terkenal yaitu Malik Muhammad Jayazi dengan karyanya padmavat (karya yang
mengandung pesan kebajikan jiwa manusia), karya-karya arsitektur seperti istana fatpur Sikri
di Sikri, vila dan masjid-masjid
Pada tahun 1858 M kerajaan Mughal juga mengalami kemerosotan, penyebabnya
antara lain:
1. Kemerosotan moral dan para pejabatnya bermewah-mewahan
2. Pewaris kerajaan dalam kepemimpinannya sangat lemah dan
3. Kekuatan mililernya juga lemah
4. Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Abad Pertengahan
Salah satu hasil yang bisa dilihat dan dirasakan dalam proses perkembangan Islam di
Abad pertengahan ini di antaranya adalah majunya ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Diakui atau tidak, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Eropa memiliki basis dari Islam. Hal ini
terjadi dalam proses masuknya Islam ke kawasan Eropa, baik melalui proses perdagangan
maupun dalam peristiwa besar sejarah seperti perang salib.
Ada beberapa sektor penting yang muncul sebagai pengaruh perkembangan Islam di
abad pertengahan. Beberapa sektor tersebut diantaranya :

- Bidang Politik
Di bidang politik, kawasan Eropa sempat mengalami balance of power pada tahun
750 M. Hal ini terjadi baik di kawasan barat maupun timur. Di kawasan barat, muncul
permusuhan antara bani Umayyah II yang berkuasa di Andalusia dengan kekaisaran Karolong
dari Prancis. Sementara di kawasan timur, muncul pula perseteruan antara Bani Abbasyah
dengan kekaisaran Byzantium di kawasan Balkan. Di sisi lain, bani Abbasyah juga memiliki
perseteruan dengan bani Umayyah. Pun, kekaisaran Karoling berseteru dengan Byzanium
timur dalam masalah perebutan wilayah Italia. Akhirnya, muncullah perseketuan pada
keempat pihak tersebut. dimana bani Abbasyah bersekutu dengan kekaisaran Karoling.
Sedangkan bani Umayyah II menjalin hubungan baik dengan Byzantium timur. Proses
persektutuan ini sendiri pecah, pada saat terjadinya perang salib yang terjadi pada tahun
1096-1291.

- Bidang Ekonomi Sosial
Andalusia yang sudah dikuasai Islam pada 711 M dan konstantinopel pada 1453 M,
menjadikan sektor perdagangan Eropa banyak dikuasai oleh pedagang Islam. Hal ini karena
kawasan tersebut kemudian dijadikan sebagai salah satu jalur perdagangan Asia ke Eropa.
Kondisi ini menjadikan negara Islam memiliki dominasi dalam sistem perdagangan yang
diterapkan di kawasn tersebut.

- Bidang Kebudayaan
Dengan masuknya bangsa Arab ke kawasan Eropa, menjadikan bangsa Eropa mampu
memahami pemikiran kuno yang banyak didominasi dari bangsa Yunani serta Babilonia. Ada
beberapa tokoh dari kedua kawasan tersebut yang dianggap sebagai tokoh-tokoh yang
mampu mengubah pemikiran dunia. Diantaranya adalah :

- Al Farabi (780-863)
Al Farabi merupakan tokoh yang mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku
karya Aristoteles. Oleh karenanya, Al Farabi juga dijuluki sebagai guru kedua, sementara
julukan guru pertama diberikan kepada Aristoteles. Selain itu, Al Farabi juga banyak menulis
buku yang terkait dengan masalah filsafat dasar yang tidak kalah hebat dengan Aristoteles.

- Ibnu Rusyd (1120-1198)
Dikenal juga dengan nama Averoos. Pemikirannya di kawasan Eropa dikenal dengan
nama Averoisme yang mengajarkan tentang kebebasan berfikir. Inilah yang menjadi dasar
munculnya reformasi pada abad 16 M serta terjadinya gerakan rasionalisme pada abad 17
M. Buku-buku karya Ibnu Rusyd ini bisa ditemukan di perpustakaan Eropa serta Amerika.
Karya dari Ibnu Rusyd banyak disebut dengan nama Bidayatul Mujtahid serta Tahafutut
Tahaful.

- Ibnu Sina (980-1060)
Merupakan tokoh yang banyak mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang
kesehatan. Hal ini karen Ibnu Sina yang dikenal juga dengan Avecia adalah dokter yang
berasal dari kota Hamzan Persia. Ide Ibnu Sina yang paling terkenal adalah wahdatul wujud
atau paham yang memperkenalkan tentang segala sesuatu serba wujud. Bukunya yang
banyak berpengaruh dalam ilmu kedokteran dunia adalah Al Qanun fi At Tibb.

- Bidang Pendidikan
Banyak pemuda Eropa yang belajar di universitas-unniversitas Islam di Spanyol seprti
Cordoba, Sevilla, Malaca, Granada dan Salamanca. Selama belajar di universitas-universitas
tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya ilmuwan muslim. Pusat
penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka mendirikan
seklah dan universitas yang sama. Universitas yang pertama kali berada di Eropa ialah
Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1213 M dan pada akhir zaman pertengahan di
Eropa baru berdiri 18 universitas. Pada universitas tersebut diajarkan ilmu-ilmu yang mereka
peroleh dari universitas Islam seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti dan ilmu filsafat.
Banyak gambaran berkembangnya Eropa pada saat berada dalam kekuasaan Islam,
baik dalm bidang ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan, ekonomi maupun politik. Hal-
hal tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Seorang sarjana Eropa, petrus Alfonsi (1062 M) belajar ilmu kedokteran pada salah satu
fakultas kedokteran di Spanyol dan ketika kembali ke negerinya Inggris ia diangkat menjadi
dokter pribadi oleh Raja Henry I (1120 M).
2. Cordoba mempunyai perpustakaan yang berisi 400.000 buku dalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan
3. Seorang pendeta kristen Roma dari Inggris bernama Roger Bacon (1214-1292 M)
mempelajari bahasa Arab di Paris (1240-1268 M).
4. Seorang sarjana berkebangsaan Perancis bernama Gerbert d’Aurignac (940-1003 M) dan
pengikutnya, Gerard de Cremona (1114-1187 M) yang lahir di Cremona, Lombardea, Italia
Utara, pernah tinggal di Toledo, Spanyol.
5. Apabila kerajaan-kerajaan non muslim mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam, maka yang
terjadi adalah pembumihangusan kebudayaan Islam dan pembantaian kaum muslim.
6. Banyak sarjana-sarjana muslim yang berjasa karena telah meneliti dan mengembangkan
ilmu pengetahuan, bahkan karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa meskipun
ironisnya diakui sebagai karya mereka sendiri.
Akibat atau pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan Islam ini menimbulkan
kajian filsafat Yunani di Eropa secara besar-besaran dan akhirnya menimbulkan gerakan
kebangkitan atau renaissans pada abad ke-14. berkembangnya pemikiran yunani ini melalui
karya-karya terjemahan berbahasa arab yang kemudian diterjemahkan kembali ke dalam
bahasa latin. Disamping itu, Islam juga membidani gerakan reformasi pada abad ke-16 M,
rasionalisme pada abad ke-17 M, dan aufklarung atau pencerahan pada abad ke-18 M.
Nasib kaum muslim di Spanyol sepeninggal Abu Abdullah Muhammad dihadapakan
pada beberapa pilihan antara lain masuk ke dalam kristen atau meninggalkan spanyol.
Bangunan-bangunan bersejarah yang dibangun oleh Islam diruntuhkan dan ribuan muslim
mati terbunuh secara tragis. Pada tahun 1609 M, Philip III mengeluarkan undang-undang
yang berisi pengusiran muslim secara pakasa dari spanyol. Dengan demikian, lenyaplah Islam
dari bumi Andalusia, khusunya Cordoba yang menjadi pusat kebudayaan dan ilmu
pengetahuan di barat sehingga hanya menjadi kenangan.

A. Perkembangan Kebudayaan Islam Pada Abad Pertengahan
Perkembangan kebudayaan Islam timbul setelah diawali sederetan kebudayaan manusia
dan seiring dengan sederetan kebudayaan setelahnya. Kebudayaan-kebudayaan Islam pada
abad pertengahan yang menonjol diantaranya:
Dalam perkembangan arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan Masjid yang indah
seperti Masjid Al Muhammadi, Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub Al Anshari
dengan hiasan-hiasan kaligrafi yang indah. Selain itu terdapat 235 bangunan dibangun dan
dikoordinasi oleh Sinan, arsitek yang berasal dari Anatolia. Perkembangan kebudayaan Islam
tersebut terjadi pada masa kerajaan Usmani.
Pada masa kerajaan Safawi telah berhasil membuat Isfahan menjadi ibukota dan kota
yang indah yang terdiri dari bangunan-bangunan seperti masjid, rumah-rumah sakit,
sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan Istana Chihil Sutun, taman-taman
wisata yang ditata dengan indah. Di Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802
penginapan dan 273 pemandian umum. Dalam bidang seni, gaya arsitek bangunan-
bangunannya sangat kentara, misalnya masjid Shah (1611 M dan masjid Syaikh Lutf Allah
(1603 M. Unsur seni lainnya seperti kerajinan tangan, karpet, permadani, pakaian,
keramik,tenunan, mode, tembikar, dan seni lukis.
Selain yang tersebut, perkembangan budaya Islam juga berkembang di kerajaan Mongol
misalnya karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang
berbahasaPersia maupun India. Malik Muhammad Jayazi adalah penyair India yang terkenal
dan menghasilkan karya besar “Padmavat”, Abu Fadl dengan karyanya Akhbar nama dan
Aini Akhbari yang memaparkan sejarah kerajaan Mongol dengan figure kepemimpinannya.
Dalam hal seni terdapat karya-karya arsitektur yang indah seperti Istana Fatpur Sikri di Sikri,
vila dan masjid-masjid yang megah nan indah seperti masjid yang berlapiskan mutiara dan
Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.
Pada abad pertengahan muncul nama-nama yang terkenal yaitu para sastrawan yang
hidup pada abad pertengahan yaitu diantaranya:
b. Fuzuli dengan karyanya yang berjudul Shikeyetname atau pengasuan. Ia tinggal di Irak dan
wafat tahun 1556
c. Jalaluddin Ar Rumi yang mendapat gelar Maulana atau tuan kami dengan karyanya Diwan
Syams-I Tabriz yaitu kumpulan puisi yang terdiri dari 33.000 bait dan Masnawi yang terdiri
dari 26.660 dan dibuat dalam waktu 10 tahun. Ia lahir di Afganistan tahun 1207 M dan wafat
di Turki tahun 1273 M
d. Sa’adi Syiraj yaitu sastrawan dari Persia dengan karyanya yang berjudul Bustan atau kebun
buah dan Gulistan yang berisi tentang kata-kata mutiara, kisah-kisah, nasehat-nasehat,
renungan dan humor.
e. Fariduddin Al Attar dengan karyanya Mantiq At Tair atau musyawarah bunga, Tadzkiratul
Auliya dan Pend Namah atau kitab nasihat.
f. Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri dan Syamsudin Pasai, sunan kalijaga, sunan Bonang dan
Kiageng Selo. Karya-karya mereka berisi tentang nasehat-nasehat agama

B. Hikmah Sejarah Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan
Ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari sejarah perkembangan Islam pada
abad pertengahan, diantaranya sebagai berikut.
1. Meskipun Bani Umayyah telah dihancurkan oleh Bani Abbasyah, perluasan wilayah Islam
masih terus dilanjutkan sehingga dengan demikian kebudayaan Islam tetap berkembang di
Eropa. Hal tersebut menandakan bahwa semangat kaum muslim dalam meraih cita-cita
sangat tinggi sehingga melahirkan persatuan dan kesatuan yang sangat dibutuhkan dalam
mewujudkan hal tersebut. Hal ini terbukti dalam setiap perluasan wilayah, kaum muslim
mampu menguasai Spanyol dalam waktu sekitar delapan abad (711-1492 M) dan menguasai
Semenanjung Balkan sekitar 4 abad (1453-1918 M)
2. Niat yang tulus ketika melakukan sesuatu karena Allah sangat dibutuhkan, ketika niat telah
berubah menjadi orientasi terhadap kekuasaan atau harta, maka dengan cepat kehancuran
akan menimpa. Hal tersebut telah banyak dibuktikan pada peristiwa-peristiwa runtuhnya
daulah bani Umayyah, bani Abbasyah, dan bani Umayyah II di Andalusia serta kerajaan atau
pemerintahan lain dimanapun berada
3. Penaklukan wilayah yang demikian luas dilakukan oleh kaum muslim saat itu berdasarkan
pada permintaan penduduk suatu negara yang ditindas oleh pemimpin mereka sendiri. Hal
tersebut dikarenakan penduduknya berada dibawah pemerintahan yang zalim atau karena
kerajaan tersebut telah mengganggu wilayah-wilayah Islam. Oleh karena itu, kaum muslim
telah bertindak sebagai pembebas masyarakat suatu negara dari tindakan pemerintah
mereka yang sewenag-wenang dan bukan bertindak sebagai penjajah atas suatu negara.
Penduduk yang dibebaskan tetap diberikan keleluasan untuk menjalankan agama atau
kepercayaan mereka masing-masing meskipun upaya penyebaran agama Islam senantiasa
dilakukan.
4. Islam memiliki kontribusi yang sangat besar dalam upaya menyebarkan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi. Eropa memiliki kemajuan saat ini salah satunya disebabkan jasa sarjana-
sarjana muslim yang telah menjadi mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan kepada
masyarakat Eropa saat itu.






BAB III
PENUTUP


- Kesimpulan

Perkembangan Islam pada abad pertengahan ini dilakukan melalui tiga jalan yang dilalui
untuk memperkenalkan Islam pada masyarakat Eropa. Ketiga jalan tersebut adalah Jalan
Barat , Jalan Tengah , Jalan Tiimur. Perkembangan Islam, mengalami dua fase yaitu fase
kemajuan dan fase kemunduran. Keadaan perkembangan Islam secara keseluruhan baru
mengalami kemajuan kembali walaupun tidak sebanding dengan masa sebelumnya ( klasik)
setelah berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Mughal
di India dan kerajaan Safawi di Persia.
Ada beberapa sektor penting yang muncul sebagai pengaruh perkembangan Islam di
abad pertengahan. Beberapa sektor tersebut diantaranya bidang Politik, bidang Ekonomi
Sosial, bidang Kebudayaan, bidang Pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
http://deniz.ucoz.com/news/perkembangan_islam_pada_abad_pertengahan/2009-10-27-
22
Diposkan oleh Young Komputer Sindangbarang di 21:03
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
5.
Nov
22

sejarah islam

Permolaan islam
Bencana ummat islam pada masa awal islam, dimana sudah terjadi perselisihan dan
perpecahan antar kekuatan, terutama sekali yang berkaitan dengan politik dan keinginan
berkuasa salah satu pihak. Ada yang mengatakan bahwa kejadian-kejadian perselisihan dan
perang saudara pada masa awal islam (setelah rasul wafat) membuktikan bahwa islam tidak
bisa menjadi pegangan untuk keselamatan pengikutnya apalagi untuk rahmatan lil’alamin.
Dengan alasan ini pula para pembenci islam berusaha menjatuhkan citra islam dengan
berbagai trik dan pemutarbalikan fakta untuk mendukung misi mereka merontokkkan
keyakinan islam.
Beberapa hal yang perlu dicermati dari perselisihan umat islam di masa-masa awal adalah:
1. Banyak pihak asing (non-islam) yang bersekutu dengan orang islam munafiq yang
berusaha menyelewengkan ajaran dan aqidah islam. Mereka ini bahkan telah ada
semenjak masa rasul masih hidup. Mereka biasa menghasut (provokasi), merusak
tatanan yang telah diperintahkan nabi, dan lain sebagainya, sehingga muncul
ketidaktentraman sosial yang selanjutnya dengan stabilitas kurang tertata, mereka
sedikit demi sedikit membelokkan Alquran dan Sunnah dengan dalih untuk
menyelesaikan masalah-masalah baru yang semakin kompleks. Usaha ini banyak
mencapai keberhasilan karena sang pemersatu pemikiran umat islam yaitu
Muhammad saw telah wafat. Pemikiranpun berkembang kemana-mana susah untuk
diarahkan dan dikendalikan. (Keadaan Indonesia sekarang serupa dengan masa-
masa awal islam tersebut, banyak konflik ditambah adanya provokator yang mengail
di air keruh).
2. Mulai adanya perubahan tatanan sosial dari islam sederhana ke islam yang kaya,
megah dan berwilayah luas. Berkaitan dengan hal ini banyak peraturan yang
dimunculkan dengan maksud menyelesaikan masalah tapi selalu saja ada yang
menunggangi dan seringkali bermuatan politis. Diantaranya:
a). Khilafah bil intikhab dirubah sepihak menjadi khilafah bil waratsah.
b). Khalifah memakai jasa pengawal (pasukan khusus) bahkan di dalam Masjid.
c). Khalifah menggunakan singgasana dan baju kebesaran.
d). Muncul pembesar-pembesar egois memaksakan kehendak/kewenangannya.
e). dan lain sebagainya (bagi para ahli sejarah silahkan beri contoh lainnya).
Hal-hal tersebut banyak memicu kontroversi bagi umat, ada yang diam, setuju, dan ada yang
menolak. Tatanan baru yang dimunculkan dan menjauhi tatanan islam itulah yang memberi
celah bagi pihak-pihak tertentu (provokator) untuk mengembangbiakkan konflik dan
menjauhkan pola pikir islami. Maka dengan menjauh dari aturan islam itulah yang merusak
islam, bukan karena dijalankannya syariat islam.
3. Manusia adalah tempat salah dan lupa. Begitupun orang-orang islam yang dekat
dengan masa awal islam. Sebagian ada yang tersilap, terdorong nafsu, dan lain
sebagainya, tidak tertutup kemungkinan berbuat salah dan dosa. Ketika manusia
yang salah itu tidak mau kembali lagi kepada ketetapan Alquran dan Sunnah maka
muncullah anak-turun dan pengikut-pengikut generasi berikutnya yang juga terdidik
dengan salah, apalagi didorong rasa cinta yang berlebihan kepada pendahulunya
akhirnya memunculkan aliran sempalan baru dan semakin melenceng. Bukan karena
menjalankan syariat terjadi perpecahan, tapi karena tidak mengikuti syariat itulah
yang menambah keruh permasalahan.


Poin-poin penting yang harus diperhatikan:
1. Perbedaan dalam islam diperbolehkan dan bahkan menjadi rahmat, apabila kita
mengerti ilmunya.
2. Islam terpecah karena menjauhi syariat, bukan karena menjalankan syariat.
3. Perusak dan pemecah belah islam pada masa awal islam bukan dimunculkan oleh
para sahabat nabi, tapi karena adanya dorongan dari para penghasut (provokator)
dari munafiq maupun dari non islam.
4. Komunitas-komunitas islam banyak muncul sempalan adalah dikarenakan
kebodohan umat yang mendapat pendidikan dan pengajaran oleh orang-orang
sesat.
5. Ketidaktegasan pemimpin umat dalam meredam kegiatan-kegiatan orang-orang dan
kelompok sesat dalam menyebarkan ideologi menyimpang mereka.

Semoga bermanfaat.
Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
6.
Nov
22

makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Munculnya berbagai masalah di zaman yang modern ini menyebabkan ijtihad dalam
menentukan hukum merupakan suatu hal yang manjadi suatu keharusan untuk dilakukan.
Permasalahannya, di zaman sekarang, siapa yang berhak untuk berijtihad? Apakah semua
orang boleh berijtihad untuk menentukan hukum syar'I
Al-Qur'an telah mengajarkan agar umat Islam berijtihad, berupaya menarik
kesimpulan hukum serta menerima pengarahan para ulama dan ahli-ahli pikir mereka. Allah
SWT berfirman : "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan
ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah
karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali
sebahagian kecil saja (di antaramu)." [Q.S. al-Nisa':83]. Ayat ini jelas berisi anjuran yang
cukup tegas, untuk beristinbath dan berijtihad, yakni mengambil kesimpulan dan berusaha
mencari hukum dengan mengadakan perbandingan dan lain sebagainya.
Sejarah juga telah menceritakan kapada kita, bagaimana Rasulullah SAW melatih para
sahabatnya dalam memutuskan suatu hukum dan mendorong mereka agar mengerahkan
segala kemampuan daya fikirnya untuk berijtihad. Beliau menenangkan hati para sahabat
agar tidak ragu atau takut salah dalam usaha ijtihadnya. Karena seorang mujtahid yang
benar dalam ijtihadnya akan diberi dua pahala. Dan bagi yang salah dalam ijtihadnya akan
memperoleh satu pahala. Allah SWT berfirman: "Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa
yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS.Al-Ahzab:5]
Untuk lebih jelasnya mengenai ijtihad akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu ijtihad?
2. Bagaimanakah syarat menjadi mujtahid?
3. Apakah pintu ijtihad masih terbuka atau sudah tertutup?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian ijtihad, syarat menjadi mujtahid dan memahami pintu
ijtihad.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah kajian kepustakaan dari media atau library
research.

BAB II
TERBUKA DAN TERTUTUPNYA PINTU IJTIHAD

A. Pengertian Ijtihad
Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang.
1

Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya
dilakukan para ahli agama Islam.
Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup
dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
Secara harfiah, Ijtihad yang berasal dari kata kerja jahada dapat diartikan dengan kerja
keras, sungguh-sungguh, dan pengetahuan mengenai hukum atau yurisprudensi. Secara
terminologi ijtihad diartikan sebagai mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan
pengetahuan atas hukum-hukum syara' dengan jalan menggali dari sumbernya (al-
ishtinbâth) yang berupa Al-quran Al-sunah. Adapun isim fâ'il (pelaku/orang yang melakukan)
dari ijtihad adalah mujtahid.
2

Ijithad telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW fiqih mengandung “pengertian
tentag hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf”
3
maka Ijtihad akan terus
berkembang perkembangan ini berkaitan dengan berbuatan manusia yang selalu berubah-
ubah baik bentuk maupun macamnya, dalam hubungan ini, menurut Asy syahstani bahwa
keadian dan kasus dalam peribadatan dan muamalah (tindakan manusia) secara pasti dapat
diketahui bahwa tidak setiap kasus ada nashnya apabila nashnya sudah berakhir sedangkan
kejadiannya berlansung terus tanpa batas ketika sesuatu yang tidak terbatas maka qiyas
wajib dipakai sehingga setiap kasus ada ijtihad mengenainya.
Menurut al Gahzali dalam kitabnya Al Mustasfa jus I : 137 “Istihsan adalah semua hal
yang dianggap baik oleh Mujtahid menurut Akalnya” dlam hal kehujjahannya para ulama
berbeda pendapat, ada yang menggunakan istihsan dan ada yang tidak mengakui adanya
istihsan

B. Pensyari'atan Ijtihad
Ijtihad merupakan salah satu pilar pokok tegaknya syari'at islam. Terdapat banyak dalil yang
menganjurkan untuk melaksanakannya, diantaranya adalah firman Allah QS. Al-nisâ' 105.

)e9o.7¢ &µPt9.Zu-! )eP+-! /e--9.o¢,o #-9.3©It~=, #-9Z+-+© /t¹|¸t
9eIto(3'N, µue 4 #-!+ &µu17¢ 3eo-! 9¢e=(¢-!÷_Ze¹¸t ?o3' e_·
,¢·©0ç-

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah allah wahyukan
kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena
(membela) orang-orang yang khianat.
Pada ayat ini mengandung ketetapan ijtihad dengan menggunakan metode Qiyas. dan QS.
Al-rūm 21.
&µ|| 'u#t~Ieµe÷ µuBe( &µP^T©3'N| Bie( 9o3'/ {¢=v,t
9¢eutT(3'Z©u)#( &µ.µu÷|° /t|Zu6^N µu¸¢\¢~ )e9o.¸¢- )e|+ 4
µuuµ(0¢t÷ B+uu+oZ 9¢e)ou|O5 ¢Yt~M; o÷9e7¢ ¸e _.·
tItç3v©µ|t
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan dari al-sunah ialah hadits dari Amr ibn al-'Âsh , ia mendengar utusan Allah
bersabda :
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian
benar, maka bginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah,
maka baginya satu pahala. "HR. Bukhari dan Muslim".
Hadis ini secara implisit menunjukkan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah,
tapi baik yang benar maupun yang salah tetap mendapatkan pahala, dalam artian keduanya
mendapat legitimasi hukum dari syâri' (yang mempunyai syari'at). Oleh karena itu
perbedaan pendapat dari masing-masing imam yang telah mencapai kapasitas untuk
berijtihad harus disikapi dengan benar, jangan dijadikan perpecahan. Karena itu adalah
rahmat bagi kita. Nabi SAW bersabda "perbedaan pendapat umatku adalah suatu rahmat".
Dan juga hadits yang diriwayatkan Muazd bin Jabal ketika mendapat pembekalan oleh nabi
sebelum hijrah ke Yaman untuk menjadi qodhi (hakim) di daerah yaman. Ketika Nabi
bertanya, dengan apa kamu memberi keputusan? Muazd menjawab, dengan kitabullah (Al-
quran). Kemudian Nabi berkata, kalau kamu tidak menemukan didalam al-quran? Aku akan
menghukumi dengan sunah Rasul-Nya nabi berkata lagi, kalau dalam sunah tidak kamu
temukan? Aku akan berijtihad dengan ro'yu. Adapun pengertian ijtihad dengan ro'yu
dikalangan sahabat ialah sama artinya dengan ijtihad dalam istilah yang dipakai ushuliyin
(ulama' ahli usul).

C. Syarat-Syarat Menjadi Mujtahid
Dalam menentukan kriteria-kriteria seorang mujtahid, para mushonif (pengarang)
kitab berbeda-beda pendapat, namun dari ihktilaf tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat-
syarat seseorang bisa dikatakan mujtahid ketika sudah menguasai delapan bidang
pengetahuan.
1. Faham dengan makna ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at, baik
secara lughot (etimologis) atau secara syara' (epistemologis), dan tidak disyaratkan
menghafal ayat al-ahkâm (ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum) apalagi ayat-ayat Al-
qurân secara keseluruan. Cukup hanya mampu merujuknya kembali ketika membutuhkan .
Adapun kadar-kadar ayat-ayat hukum yang dalam Al-qurân menurut Al-ghazali, Al-razi, dan
Ibn al-Arabi adalah 500 ayat, kemudian Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa yang dikehendaki
oleh Al-ghazali, Al-razi, dan Ibn al-Arabi hanyalah ayat-ayat yang zhahirnya bermuatan
hukum praktis. Lebih dari itu banyak ayat yang apabila digali akan menghasilkan sintesa
hukum, tergantung pada kepiawaian dalam menganalisa dalil
4

2. Mengetahui hadits-hadits tentang hukum, secara lughot ataupun syara' seperti yang telah
disebutkan dalam penalaran ayat-ayat Al-qurân. Tidak diharuskan menghafal semua hadits
yang berkaitan dengan hukum dan hadits secara keseluruan.
3. Menguasai persoalan-persoalan yang telah menjadi consensus ulama' terdahulu (ijma').
dalam hal ini, mujtahid tidak harus hafal permasalahan secara keseluruan yang telah
disepakai oleh ulama' (ijma'). Cukup hanya memastikan bahwa hukum yang dicetuskan tidak
melanggar kesepakatan ulama'.
4. Memahami qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum
5. Menguasai disiplin ilmu logika (manthiq).
6. Menguasai bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti ilmu nahwu, sharaf,
balaghoh dan lain sebagainya.
7. Mengetahui nasikh (dalil nash yang menyalin hukum) dan mansukh (dalil nash yang disalin)
dari Al-qurân dan Al-sunah, sehingga tidak akan mencetuskan hukum tidak didasarkan pada
nash yang telah tersalin hukumnya. Untuk persyaratan ini Wahbah al-Zuhaili memberi solusi
untuk merujuk pada kitab-kitab yang menerangkan nasikh dan mansukh. Karena seorang
yang akan berijtihad tidak disyaratkan mengetahui secara keseluruan nasikh dan mansukh,
yang menjadi keharusan ialah mengetahui bahwa yang menja di pijakan hukumnya bukan
termasuk dalil- dalil yang di nasikh oleh nash yang lain.
8. Mengetahui kepribadian para râwi (yang meriwayatkan), sehingga dapat memastikan status
periwayatannya, kuat atau lemah, shahih atau tidak, diterima atau tidak. Dalam hal ini cukup
dengan merujuk pada pendapat imam-imam muhadditsin seperti imam Bukhâri dan Muslim.
Kedelapan syarat ini adalah yang diajukan oleh jumhur ulama', sebenarnya masih terdapat
sejumlah persyaratan yang masih diperdebatkan, diantaranya menguasai usul fiqh, syarat ini
diajukan Al-ghazali, Mengetahui maqâsid al-syari'ah (tujuan-tujuan syariat), persyaratan ini
diajukan oleh Al-syatibiy. Memiliki kedalaman pemahaman teologi (ilmu kalam), Abu Ishaq
meriwayatkan bahwa syarat ini diajukan oleh golongan Qadariyyah. Al-ustazd Abu Mansyur
mensyaratkan untuk mengetahui detil-detil cabangan fikih.

D. Stratifikasi Mujtahid
Ijtihad menempati derajat paling tinggi dalam bidang keilmuan syariat islam, sudah
pasti persyaratan untuk mencapainya sangat ketat. Adapun syarat yang telah kami paparkan
dimuka adalah untuk kualifikasi mujtahid mutlaq. Seiring dengan melemahnya gairah
keilmuan islami akhir-akhir ini, muncullah term ijtihad dengan sandaran-sandaran tertentu,
sebagaimana yang akan kami paparkan dibawah ini.
Pertama, mujtahid mustaqil, yaitu seorang yang mampu menggali hukum langsung dari Al-
qurân dan Al-hadits dengan menggunakan teori usul dan kaidah ciptaan sendiri. seperti
qiyas, ihtisan dan lainnya. Masuk dalam kategori ini yaitu para fuqahâ' sahabat, sebagian
tabi'in seperti Sa'id bin al-Musayyab dan Ibrahim al-Nakha'i, dan imam-imam madzhab
seperti Al-auzâ'i, Laits bin Sa'id, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-syâfi'i, dan Ahmad bin
Hambal. Mereka adalah mujtahid mustaqil (independen) meskipun banyak pendapat
pendapat dari mereka tidak terkodifikasi secara khusus. Mujtahid mustaqil ini menurut Ibn
al-Qayyim sudah terputus semenjak abad ke 4 H. namun Al-suyuti menyangga asumsi
tersebut, ia mengklaim bahwa mujtahid mustaqil tetap wujud sampai akhir zaman dengan
disandarkan pada hadits:
Artinya: Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini (islam) pada
penghujung setiap seratus tahun orang-orang yang akan memperbaharui permasalahan
agamanya. "HR. Abu Dâwud dari Abi Hurairah ra."
Kedua, mujtahid mutlaq ghairu mustaqil al-muntasib, yaitu seseorang yang padanya
telah ditemukan syarat-syarat untuk berijtihad, namun belum mampu menciptakan kaidah-
kaidah sendiri dan masih berpegang pada kaidah dan usul imam mazdhabnya. Masuk dalam
klasifikasi ini dari kalangan Hanafiyah yaitu Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Zâfr, dari
Mâlikiyah seperti Abd al-Rahman bin Qâsim, dan dari Syafi'iyah seperti Al-Buwaithi,
Za'farâni, dan Al-Muzani.
Ketiga, mujtahid muqoyyad al-mazdhab atau mujtahid takhrij, yaitu seseorang yang
menggali hukum dari persoalan-persoalan yang belum pernah dibahas oleh imam
mujtahidnya. Dengan memakai kaidah-kaidah dan usul imamnya. Seperti Abu Ishaq al-
Syairâzi dan Al-Mawardi.
Keempat, mujtahid tarjih, yaitu seseorang yang mampu melakukan tarjih (penguatan)
terhadap pendapat imam mazdhab dan para muridnya. Seperti Hasan al-Quduriy, Al-
Marghinâni pengarang kitab Al-hidayah dari kalangan Hanafiyah.
Kelima, mujtahid fatwa, yaitu seseorang yang yang peduli akan kelangsungan
mazdhab imamnya, turut melestarikan, mengutip dan mengkaji pendapat imamnya, akan
tetapi belum bisa men-tarjih dan memberikan penilaian kuat dan lemah.

E. Metode Ijtihad
Langkah awal yang harus dilakukan ketika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu
permasalahan ialah melakukan akumulasi macam-macam disiplin ilmu yang berkaitan
dengan obyek permasalahan, seperti gramatika arab, ayat-ayat Al-qurân, hadits-hadits Nabi,
pendapat ulama' terdahulu, dan metode-metode qiyas. Kemudian, tanpa terikat dengan
fanatisme mazdhab, dilakukan analisa dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama-tama seorang mujtahid harus terlebih dahulu meneliti nash-nash Al-qurân.
Tatkala ditemukan ayat-ayat yang menjelaskannya baik secara nash atau zhahir, maka itulah
yang harus dijadikan sebagai sandaran hukumnya. Dan ketika tidak ditemukan didalam Al-
qurân, maka beranjak pada penelitian sunah Rasulullah, meliputi perkataan, tindakan atau
penetapan dan persetujuan Rasulullah. Bila ditemukan penjelasan didalamnya, maka itulah
yang harus di adopsi dan dijadikan sebagai keputusan hukum. Kemudian meneliti hasil-hasil
ijma' yang valid dari para mujtahid terdahulu. Lalu beralih pada qiyas, dengan menggali illat
hukumnya. Sesuai dengan ijtihadnya, diterapkanlah illat-illat tersebut sesuai dengan masâlik
al-illat-nya. secara ringkas inilah pilar-pilar penunjang ijtihad, yakni Al-qurân, hadits, ijma'
dan qiyas, sebagaimana dikemukakan oleh imam Al-syafi'i. sebagian ulama' menambahkan
adanya pengamalan secara kontekstual sesuai dengan ruh syari'at islam.
Adapun metode-metode yang digunakan oleh para mujtahid secara khusus ialah qiyas,
maslahah mursalah, urf' (adat), istishab, ihtisan, syar'u man qoblana, qoul sahabat, dan
lainnya.

F. Terbuka Dan Tertutupnya Pintu Ijtihad
Beberapa ulama banyak yang telah berkomentar mengenai terbuka dan tertutupnya pintu
ijtihad. Pendapat mereka dapat kita lihat seperti dibawah ini dengan menjawab beberapa
pertanyaan tentang keingin tahuan kita terhadap ijtihad.
1. Benarkah pintu ijtihad masih terbuka?
Permasalahan ini sangat menarik untuk kita bahas, karena sebagaian ulama telah
mengklaim bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan untuk saat ini seorang mujtahid sudah
tidak bisa lagi ditemukan. Pendapat ini muncul karena di zaman sekarang ini, sebagaimana
penuturan Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dipicu karena banyaknya orang yang
mengklaim dirinya sebagai seorang mujtahid. Bahkan yang lebih heran lagi, mereka
mengklaim bahwa dirinya sama seperti Imam Syafi'I, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah al-
Nu'man. Padahal syarat-syarat untuk berijtihad sebagaimana yang telah diuraikan oleh para
ulama tidak terpenuhi dalam diri mereka.
Fatwa tertutupnya pintu itihad ini dilontarkan oleh beberapa ulama, di antaranya
adalah al-Imam Ibnu HaJar al-Haitamy, al-Imam al-Sya'rani, al-Imam al-Manawi dan yang
lainnya. Mereka mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak bebarapa ratus tahun
yang lalu berdasarkan kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab. Imam al-Manawi
dalam komentarnya atas kitab al-Jami' al-Shoghir mengatakan bahwa al-Allamah al-Shihab
Ibnu Hajar al-Haitamy berkata: "Ketika al-Imam al-Suyuthi mendakwakkan ijtihad, maka
orang-orang yang semasa dengan beliau bangkit untuk menulis dan menanyakan kepada
beliau beberapa pertanyaan tentang beberapa masalah yang diglobalkan oleh para murid
imam madzhab menjadi dua versi.
Mereka meminta Imam Suyuthi, jika beliau merupakan mujtahid yang paling rendah
yakni mujtahid fatwa untuk mentarjih dari beberapa versi pendapat tersebut mana
pendapat yang lebih unggul berdasarkan dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh
para mujtahid. Maka Imam suyuthi mengembalikan pertanyan-pertanyaan itu tanpa menulis
sesuatu. Beliau mengemukakan alasan bahwa dirinya mempunyai kesibukan yang
menghalangi beliau untuk meneliti masalah-masalah itu." Selanjutnya Ibnu Hajar berkata:
"Renungkanlah kesulitan ijtihad pada tingkatan ini yakni ijtihad fatwa yang merupakan
tingkat ijtihad yang paling rendah, sehingga jelaslah bagimu bahwa orang yang
mendakwakkan ijtihad lebih-lebih ijtihad mutlak sebenarnya pada hakekatnya mereka
sedang dalam kebingungan dan kerancauan dalam cara berfikirnya.
Bahkan Ibnu Sholah dan para pengikutnya mengatakan bahwa Ijtihad telah tertutup
sejak tiga ratus tahun yang lalu." Jadi kalau kita hitung-hitung, pintu ijtihad telah tertutup
sejak sekitar abad ke-3 H, karena Imam Ibnu Sholah hidup pada abad ke-6 H. Imam Ibnu
Sholah juga mengutip pernyataan dari sebagian ulama ushul bahwasanya setelah masa
Imam Syafi'i sudah tidak terdapat lagi seorang Mujtahid Mutstaqil. Lebih lanjut Ibnu Hajar
mengatakan bahwa ketika para imam terjadi pertentangan yang panjang mengenai
kedudukan Imam Haramain dan Hujjataul Islam al-Ghazali apakah keduanya lebih utama
dikatakan sebagai Ashahbul Wujuh? Lalu bagaimana dengan selain mereka berdua? Para
imam yang berkomentar tentang Imam al-Ruyani (pengarang kitab al-Bahr) mengatakan
bahwasanya beliau bukanlah termasuk dalam kategori Ashhabul Wujuh, padahal beliau
mengatakan seandainya teks-teks tulisan kitab Imam Syafi'i hilang maka sungguh akan aku
diktekan dari dadaku. Dan ketika mereka sebagai para pembesar madzhab Syafi'i tidak layak
untuk menempati derajat ijtihad al-madzhab, maka bagaimana diperkenankan bagi orang
yang tidak faham sebagian besar istilah mereka mendakwakan diri lebih tinggi dari ijtihad al-
madzhab (yakni ijtihad mutlak). Maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang
besar.
Di dalam kitab al-Anwar, Imam Rafi'I al-Syafi'I (w. 623) mengatakan bahwa para ulama
sepertinya telah sepakat bahwa pada hari ini tidak ada seorang mujtahid. Ibnu Abi al-Dam
setelah menguraikan syarat-syarat ijtihad mengatakan bahwa syarat-syarat ini jarang sekali
ditemukan pada seorang ulama di zaman kita ini, bahkan sudah tidak ditemukan lagi pada
zaman ini seorang mujtahid mutlak, bahkan mujtahid madzhab sekalipun. Imam al-Qafal
ketika menjelaskan tentang masalah fatwa menyatakan bahwa orang yang telah memenuhi
persyaratn ijtihad sudah tidak ditemukan lagi pada zamanya.
Akan tetapi nampaknya klaim yang mengatakan bahwa tertutupnya pintu ijtihad telah
disepakati oleh para ulama dari berbagai madzhab perlu untuk kita teliti. Buktinya para
ulama dari Madzhab Hanbali menyatakan bahwa suatu zaman tidak boleh sepi dari seorang
mujtahid baik itu mutlak maupuan muqoyyad. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sekelompok umatku tidak akan pernah berhenti menampakkan kebenaran sehingga datang
urusan Allah SWT (hari kiamat)." [H.R. Muslim]. Mereka juga mengatakan bahwa ijtihad
merupakan fardhu kifayah sehingga ketiadaanya menyebabkan kaum muslimin untuk
sepakat pada sesuatu yang bathil. Bahkan mengenai hal itu, Ibnul Qayyim mengatakan
bahwa mereka (para mujtahid) adalah orang-orang yang telah disabdakan oleh Rasulullah
SAW: "Sesungguhnya Allah SWT akan mengutus bagi umat ini setiap seratus tahun orang
untuk memperbaharui urusan agama mereka." [H.R. Abu Dawud dan yang lainnya]. Mereka
adalah orang-orang yang telah diungkapkan oleh Sayidina Ali RA bahwa dunia ini tidak akan
sepi dari orang yang menegakkan hujjah Allah SWT. Para ulama dari madzhab Hanbali
menyatakan bahwa pintu ijtihad dengan berbagai tingkatannya masih terbuka.

2. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup
Ada yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar abad ke-2 atau
ke-3 H. jika kita mengatakan bahwa semua pintu ijtihad dengan berbagai macam tingkatan
telah tertutup sejak masa itu, maka hal itu tidak bisa diterima. Sejarah telah membuktikan
bahwa setiap masa tidak akan pernah sepi dari mujaddid. Para ulama mengatakan bahwa
mujaddid-mujaddid itu adalah para mujtahid. Kita ketahui pada abad pertama muncul Umar
bin Abdul Azis, sebagaimana pernyataan al-Imam al-Dzahabi, beliau telah mencapai
tingkatan ijtihad. Kemudian pada abad ke-2 muncul Imam Syafi'i, lalu disusul Ibnu Suraij
pada abad ke-3, beliau termasuk pembesar mujtahid dan termasuk dalam kelompok Ashhab
al-Wujuh, sedangkan pada abad ke-4 terdapat Imam Abu Thayib Sahl bin Muhammad al-
Sha'aluki atau Syeikh Abu Hamid sebagai imam penduduk Irak. Keduanya termasuk mujtahid
dan Ashhabal-Wujuh. Selanjutnya pada abad ke-5 terdapat Imam al-Ghazali, sebagaimana
fatwa Ibnu Sholah, beliau termasuk mujtahid. Lalu pada abad ke-6 terdapat Imam Rafi'i,
pada abad ke-7 Syeikh Ibnu Daqiq al-'Id, abad ke-8 Imam al-Bulqini. Kemudian pada generasi
selanjutnya muncul Imam Suyuthi beliau mendakwakan diri telah mencapai tingkat
mujtahid, beliau berkata: "Telah sempurna pada diriku kriteria untuk berijtihad dengan
berkat pertolongan Allah SWT, seandainya aku menghendaki untuk menulis satu karya
tentang suatu masalah yang disertai dengan komentar-komentar, dalil-dali baik secara naqli
maupun qiyas dan perbedaan pendapat di antara madzhab, maka sungguh aku akan mampu
untuk melakukannya berkat anugerah Allah SWT."
Dari kedua pendapat yang telah dikemukakan di atas sebenarnya kita bisa mengambil
jalan tengah dari keduanya. Ulama yang memfatwakan bahwa ijtihad telah tertutup dan
sudah tidak ada lagi mujtahid pada zaman ini yang dimaksud mereka adalah ijtihad dan
mujtahid muthlak baik yang mutstaqil maupun ghairu mutstaqil. Sedangkan para ulama yang
mengatakan bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan setiap masa tidak boleh sepi dari
seorang mujtahid adalah mujtahid yang tingkatannya berada di bawah mujtahid mutlak. Hal
itu dapat kita tinjau dari beberapa hal:
a. Para Ulama yang dianggap sebagai mujtahid mutlak oleh kelompok kedua (yang
berpendapat bahwa pintu ijtihad dengan segala macamnya masih terbuka) telah
menyatakan sendiri bahwa mujtahid mutlak pada zaman mereka sudah tidak ada lagi. Hal itu
sebagaimana pernyataan Imam al-Ghazali sendiri bahwa pada zaman beliau sudah tidak
terdapat seorang mujtahid mutlak. Dalam kitabnya al-Wasith beliau berkata: "Syarat-syarat
ini yakni syarat ijtihad (ijtihad mutlak) yang layak disandang oleh seorang Qadli sungguh sulit
ditemukan pada zaman kita sekarang ini." Selain Imam Ghazali, Imam Rafi'i dan Nawawi juga
menyatakan hal yang sama bahwa para ulama sepertinya telah sepakat bahwa pada masa ini
sudah tidak ada lagi seorang mujtahid (mujtahid mutlak).
b. Imam Suyuthi sendiri yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mutlak ternyata tidak bisa
memenuhi persyaratan mujtahid mutlak yang beliau ajukan sendiri. Mengenai syarat ijtihad
Imam Suyuthi mengajukan sekitar lima belas syarat yang harus dipenuhi. Pada syarat kedua
belas beliau menyebutkan bahwa syarat bagi seorang mujtahid mutlak haruslah menguasai
ilmu hisab. Sedangkan beliau sendiri mengakui bahwa beliau tidak menguasai ilmu hisab. Hal
itu sebagaimana penuturan beliau sendiri: "Ilmu hisab (ilmu hitung) adalah ilmu yang sangat
sulit bagiku dan paling jauh dari penalaranku."
Dari uraian di atas dapat kita fahami, betapa sulit dan rumitnya persyaratan yang
harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sehingga ia diperbolehkan untuk berijtihad. Sehingga
setiap orang tidak dibenarkan untuk mengkliam dirinya telah berijtihad sedangkan ia sendiri
tidak mnguasai alat-alat yang digunakan sebagai media untuk menggali hukum dari al-Kitab
dan al-Sunnah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang dan orang yang berijtihat disebut mujtahid.
2. Tidak semua orang yang memahami Agama disebut mujtihad, ada syarat/kriteria yang
menyatakan sah nya menjadi seorang mujtihad.
3. Dalam menentukan terbuka atau tertutupnya pintu ijtihad, sebagian ulama menyatakan
bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan sebagian lagi menyatakan pintu ijtihad masih terbuka
meski berbeda dalam tingkatanya.
B. Saran
Diharapkan kepada dosen dan pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad,

Sukabul, http://kabulkhan.blogspot.com/2010/02/ijtihad-dalam-islam-makalah-disusun-dan.html


Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
7.
Nov
22

makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Munculnya berbagai masalah di zaman yang modern ini menyebabkan ijtihad dalam
menentukan hukum merupakan suatu hal yang manjadi suatu keharusan untuk dilakukan.
Permasalahannya, di zaman sekarang, siapa yang berhak untuk berijtihad? Apakah semua
orang boleh berijtihad untuk menentukan hukum syar'I
Al-Qur'an telah mengajarkan agar umat Islam berijtihad, berupaya menarik
kesimpulan hukum serta menerima pengarahan para ulama dan ahli-ahli pikir mereka. Allah
SWT berfirman : "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan
ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah
karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali
sebahagian kecil saja (di antaramu)." [Q.S. al-Nisa':83]. Ayat ini jelas berisi anjuran yang
cukup tegas, untuk beristinbath dan berijtihad, yakni mengambil kesimpulan dan berusaha
mencari hukum dengan mengadakan perbandingan dan lain sebagainya.
Sejarah juga telah menceritakan kapada kita, bagaimana Rasulullah SAW melatih para
sahabatnya dalam memutuskan suatu hukum dan mendorong mereka agar mengerahkan
segala kemampuan daya fikirnya untuk berijtihad. Beliau menenangkan hati para sahabat
agar tidak ragu atau takut salah dalam usaha ijtihadnya. Karena seorang mujtahid yang
benar dalam ijtihadnya akan diberi dua pahala. Dan bagi yang salah dalam ijtihadnya akan
memperoleh satu pahala. Allah SWT berfirman: "Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa
yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS.Al-Ahzab:5]
Untuk lebih jelasnya mengenai ijtihad akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu ijtihad?
2. Bagaimanakah syarat menjadi mujtahid?
3. Apakah pintu ijtihad masih terbuka atau sudah tertutup?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian ijtihad, syarat menjadi mujtahid dan memahami pintu
ijtihad.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah kajian kepustakaan dari media atau library
research.

BAB II
TERBUKA DAN TERTUTUPNYA PINTU IJTIHAD

A. Pengertian Ijtihad
Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang.
1

Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya
dilakukan para ahli agama Islam.
Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup
dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
Secara harfiah, Ijtihad yang berasal dari kata kerja jahada dapat diartikan dengan kerja
keras, sungguh-sungguh, dan pengetahuan mengenai hukum atau yurisprudensi. Secara
terminologi ijtihad diartikan sebagai mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan
pengetahuan atas hukum-hukum syara' dengan jalan menggali dari sumbernya (al-
ishtinbâth) yang berupa Al-quran Al-sunah. Adapun isim fâ'il (pelaku/orang yang melakukan)
dari ijtihad adalah mujtahid.
2

Ijithad telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW fiqih mengandung “pengertian
tentag hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf”
3
maka Ijtihad akan terus
berkembang perkembangan ini berkaitan dengan berbuatan manusia yang selalu berubah-
ubah baik bentuk maupun macamnya, dalam hubungan ini, menurut Asy syahstani bahwa
keadian dan kasus dalam peribadatan dan muamalah (tindakan manusia) secara pasti dapat
diketahui bahwa tidak setiap kasus ada nashnya apabila nashnya sudah berakhir sedangkan
kejadiannya berlansung terus tanpa batas ketika sesuatu yang tidak terbatas maka qiyas
wajib dipakai sehingga setiap kasus ada ijtihad mengenainya.
Menurut al Gahzali dalam kitabnya Al Mustasfa jus I : 137 “Istihsan adalah semua hal
yang dianggap baik oleh Mujtahid menurut Akalnya” dlam hal kehujjahannya para ulama
berbeda pendapat, ada yang menggunakan istihsan dan ada yang tidak mengakui adanya
istihsan

B. Pensyari'atan Ijtihad
Ijtihad merupakan salah satu pilar pokok tegaknya syari'at islam. Terdapat banyak dalil yang
menganjurkan untuk melaksanakannya, diantaranya adalah firman Allah QS. Al-nisâ' 105.

)e9o.7¢ &µPt9.Zu-! )eP+-! /e--9.o¢,o #-9.3©It~=, #-9Z+-+© /t¹|¸t
9eIto(3'N, µue 4 #-!+ &µu17¢ 3eo-! 9¢e=(¢-!÷_Ze¹¸t ?o3' e_·
,¢·©0ç-

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah allah wahyukan
kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena
(membela) orang-orang yang khianat.
Pada ayat ini mengandung ketetapan ijtihad dengan menggunakan metode Qiyas. dan QS.
Al-rūm 21.
&µ|| 'u#t~Ieµe÷ µuBe( &µP^T©3'N| Bie( 9o3'/ {¢=v,t
9¢eutT(3'Z©u)#( &µ.µu÷|° /t|Zu6^N µu¸¢\¢~ )e9o.¸¢- )e|+ 4
µuuµ(0¢t÷ B+uu+oZ 9¢e)ou|O5 ¢Yt~M; o÷9e7¢ ¸e _.·
tItç3v©µ|t
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan dari al-sunah ialah hadits dari Amr ibn al-'Âsh , ia mendengar utusan Allah
bersabda :
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian
benar, maka bginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah,
maka baginya satu pahala. "HR. Bukhari dan Muslim".
Hadis ini secara implisit menunjukkan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah,
tapi baik yang benar maupun yang salah tetap mendapatkan pahala, dalam artian keduanya
mendapat legitimasi hukum dari syâri' (yang mempunyai syari'at). Oleh karena itu
perbedaan pendapat dari masing-masing imam yang telah mencapai kapasitas untuk
berijtihad harus disikapi dengan benar, jangan dijadikan perpecahan. Karena itu adalah
rahmat bagi kita. Nabi SAW bersabda "perbedaan pendapat umatku adalah suatu rahmat".
Dan juga hadits yang diriwayatkan Muazd bin Jabal ketika mendapat pembekalan oleh nabi
sebelum hijrah ke Yaman untuk menjadi qodhi (hakim) di daerah yaman. Ketika Nabi
bertanya, dengan apa kamu memberi keputusan? Muazd menjawab, dengan kitabullah (Al-
quran). Kemudian Nabi berkata, kalau kamu tidak menemukan didalam al-quran? Aku akan
menghukumi dengan sunah Rasul-Nya nabi berkata lagi, kalau dalam sunah tidak kamu
temukan? Aku akan berijtihad dengan ro'yu. Adapun pengertian ijtihad dengan ro'yu
dikalangan sahabat ialah sama artinya dengan ijtihad dalam istilah yang dipakai ushuliyin
(ulama' ahli usul).

C. Syarat-Syarat Menjadi Mujtahid
Dalam menentukan kriteria-kriteria seorang mujtahid, para mushonif (pengarang)
kitab berbeda-beda pendapat, namun dari ihktilaf tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat-
syarat seseorang bisa dikatakan mujtahid ketika sudah menguasai delapan bidang
pengetahuan.
1. Faham dengan makna ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at, baik
secara lughot (etimologis) atau secara syara' (epistemologis), dan tidak disyaratkan
menghafal ayat al-ahkâm (ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum) apalagi ayat-ayat Al-
qurân secara keseluruan. Cukup hanya mampu merujuknya kembali ketika membutuhkan .
Adapun kadar-kadar ayat-ayat hukum yang dalam Al-qurân menurut Al-ghazali, Al-razi, dan
Ibn al-Arabi adalah 500 ayat, kemudian Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa yang dikehendaki
oleh Al-ghazali, Al-razi, dan Ibn al-Arabi hanyalah ayat-ayat yang zhahirnya bermuatan
hukum praktis. Lebih dari itu banyak ayat yang apabila digali akan menghasilkan sintesa
hukum, tergantung pada kepiawaian dalam menganalisa dalil
4

2. Mengetahui hadits-hadits tentang hukum, secara lughot ataupun syara' seperti yang telah
disebutkan dalam penalaran ayat-ayat Al-qurân. Tidak diharuskan menghafal semua hadits
yang berkaitan dengan hukum dan hadits secara keseluruan.
3. Menguasai persoalan-persoalan yang telah menjadi consensus ulama' terdahulu (ijma').
dalam hal ini, mujtahid tidak harus hafal permasalahan secara keseluruan yang telah
disepakai oleh ulama' (ijma'). Cukup hanya memastikan bahwa hukum yang dicetuskan tidak
melanggar kesepakatan ulama'.
4. Memahami qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum
5. Menguasai disiplin ilmu logika (manthiq).
6. Menguasai bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti ilmu nahwu, sharaf,
balaghoh dan lain sebagainya.
7. Mengetahui nasikh (dalil nash yang menyalin hukum) dan mansukh (dalil nash yang disalin)
dari Al-qurân dan Al-sunah, sehingga tidak akan mencetuskan hukum tidak didasarkan pada
nash yang telah tersalin hukumnya. Untuk persyaratan ini Wahbah al-Zuhaili memberi solusi
untuk merujuk pada kitab-kitab yang menerangkan nasikh dan mansukh. Karena seorang
yang akan berijtihad tidak disyaratkan mengetahui secara keseluruan nasikh dan mansukh,
yang menjadi keharusan ialah mengetahui bahwa yang menja di pijakan hukumnya bukan
termasuk dalil- dalil yang di nasikh oleh nash yang lain.
8. Mengetahui kepribadian para râwi (yang meriwayatkan), sehingga dapat memastikan status
periwayatannya, kuat atau lemah, shahih atau tidak, diterima atau tidak. Dalam hal ini cukup
dengan merujuk pada pendapat imam-imam muhadditsin seperti imam Bukhâri dan Muslim.
Kedelapan syarat ini adalah yang diajukan oleh jumhur ulama', sebenarnya masih terdapat
sejumlah persyaratan yang masih diperdebatkan, diantaranya menguasai usul fiqh, syarat ini
diajukan Al-ghazali, Mengetahui maqâsid al-syari'ah (tujuan-tujuan syariat), persyaratan ini
diajukan oleh Al-syatibiy. Memiliki kedalaman pemahaman teologi (ilmu kalam), Abu Ishaq
meriwayatkan bahwa syarat ini diajukan oleh golongan Qadariyyah. Al-ustazd Abu Mansyur
mensyaratkan untuk mengetahui detil-detil cabangan fikih.

D. Stratifikasi Mujtahid
Ijtihad menempati derajat paling tinggi dalam bidang keilmuan syariat islam, sudah
pasti persyaratan untuk mencapainya sangat ketat. Adapun syarat yang telah kami paparkan
dimuka adalah untuk kualifikasi mujtahid mutlaq. Seiring dengan melemahnya gairah
keilmuan islami akhir-akhir ini, muncullah term ijtihad dengan sandaran-sandaran tertentu,
sebagaimana yang akan kami paparkan dibawah ini.
Pertama, mujtahid mustaqil, yaitu seorang yang mampu menggali hukum langsung dari Al-
qurân dan Al-hadits dengan menggunakan teori usul dan kaidah ciptaan sendiri. seperti
qiyas, ihtisan dan lainnya. Masuk dalam kategori ini yaitu para fuqahâ' sahabat, sebagian
tabi'in seperti Sa'id bin al-Musayyab dan Ibrahim al-Nakha'i, dan imam-imam madzhab
seperti Al-auzâ'i, Laits bin Sa'id, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-syâfi'i, dan Ahmad bin
Hambal. Mereka adalah mujtahid mustaqil (independen) meskipun banyak pendapat
pendapat dari mereka tidak terkodifikasi secara khusus. Mujtahid mustaqil ini menurut Ibn
al-Qayyim sudah terputus semenjak abad ke 4 H. namun Al-suyuti menyangga asumsi
tersebut, ia mengklaim bahwa mujtahid mustaqil tetap wujud sampai akhir zaman dengan
disandarkan pada hadits:
Artinya: Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini (islam) pada
penghujung setiap seratus tahun orang-orang yang akan memperbaharui permasalahan
agamanya. "HR. Abu Dâwud dari Abi Hurairah ra."
Kedua, mujtahid mutlaq ghairu mustaqil al-muntasib, yaitu seseorang yang padanya
telah ditemukan syarat-syarat untuk berijtihad, namun belum mampu menciptakan kaidah-
kaidah sendiri dan masih berpegang pada kaidah dan usul imam mazdhabnya. Masuk dalam
klasifikasi ini dari kalangan Hanafiyah yaitu Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Zâfr, dari
Mâlikiyah seperti Abd al-Rahman bin Qâsim, dan dari Syafi'iyah seperti Al-Buwaithi,
Za'farâni, dan Al-Muzani.
Ketiga, mujtahid muqoyyad al-mazdhab atau mujtahid takhrij, yaitu seseorang yang
menggali hukum dari persoalan-persoalan yang belum pernah dibahas oleh imam
mujtahidnya. Dengan memakai kaidah-kaidah dan usul imamnya. Seperti Abu Ishaq al-
Syairâzi dan Al-Mawardi.
Keempat, mujtahid tarjih, yaitu seseorang yang mampu melakukan tarjih (penguatan)
terhadap pendapat imam mazdhab dan para muridnya. Seperti Hasan al-Quduriy, Al-
Marghinâni pengarang kitab Al-hidayah dari kalangan Hanafiyah.
Kelima, mujtahid fatwa, yaitu seseorang yang yang peduli akan kelangsungan
mazdhab imamnya, turut melestarikan, mengutip dan mengkaji pendapat imamnya, akan
tetapi belum bisa men-tarjih dan memberikan penilaian kuat dan lemah.

E. Metode Ijtihad
Langkah awal yang harus dilakukan ketika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu
permasalahan ialah melakukan akumulasi macam-macam disiplin ilmu yang berkaitan
dengan obyek permasalahan, seperti gramatika arab, ayat-ayat Al-qurân, hadits-hadits Nabi,
pendapat ulama' terdahulu, dan metode-metode qiyas. Kemudian, tanpa terikat dengan
fanatisme mazdhab, dilakukan analisa dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama-tama seorang mujtahid harus terlebih dahulu meneliti nash-nash Al-qurân.
Tatkala ditemukan ayat-ayat yang menjelaskannya baik secara nash atau zhahir, maka itulah
yang harus dijadikan sebagai sandaran hukumnya. Dan ketika tidak ditemukan didalam Al-
qurân, maka beranjak pada penelitian sunah Rasulullah, meliputi perkataan, tindakan atau
penetapan dan persetujuan Rasulullah. Bila ditemukan penjelasan didalamnya, maka itulah
yang harus di adopsi dan dijadikan sebagai keputusan hukum. Kemudian meneliti hasil-hasil
ijma' yang valid dari para mujtahid terdahulu. Lalu beralih pada qiyas, dengan menggali illat
hukumnya. Sesuai dengan ijtihadnya, diterapkanlah illat-illat tersebut sesuai dengan masâlik
al-illat-nya. secara ringkas inilah pilar-pilar penunjang ijtihad, yakni Al-qurân, hadits, ijma'
dan qiyas, sebagaimana dikemukakan oleh imam Al-syafi'i. sebagian ulama' menambahkan
adanya pengamalan secara kontekstual sesuai dengan ruh syari'at islam.
Adapun metode-metode yang digunakan oleh para mujtahid secara khusus ialah qiyas,
maslahah mursalah, urf' (adat), istishab, ihtisan, syar'u man qoblana, qoul sahabat, dan
lainnya.

F. Terbuka Dan Tertutupnya Pintu Ijtihad
Beberapa ulama banyak yang telah berkomentar mengenai terbuka dan tertutupnya pintu
ijtihad. Pendapat mereka dapat kita lihat seperti dibawah ini dengan menjawab beberapa
pertanyaan tentang keingin tahuan kita terhadap ijtihad.
1. Benarkah pintu ijtihad masih terbuka?
Permasalahan ini sangat menarik untuk kita bahas, karena sebagaian ulama telah
mengklaim bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan untuk saat ini seorang mujtahid sudah
tidak bisa lagi ditemukan. Pendapat ini muncul karena di zaman sekarang ini, sebagaimana
penuturan Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dipicu karena banyaknya orang yang
mengklaim dirinya sebagai seorang mujtahid. Bahkan yang lebih heran lagi, mereka
mengklaim bahwa dirinya sama seperti Imam Syafi'I, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah al-
Nu'man. Padahal syarat-syarat untuk berijtihad sebagaimana yang telah diuraikan oleh para
ulama tidak terpenuhi dalam diri mereka.
Fatwa tertutupnya pintu itihad ini dilontarkan oleh beberapa ulama, di antaranya
adalah al-Imam Ibnu HaJar al-Haitamy, al-Imam al-Sya'rani, al-Imam al-Manawi dan yang
lainnya. Mereka mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak bebarapa ratus tahun
yang lalu berdasarkan kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab. Imam al-Manawi
dalam komentarnya atas kitab al-Jami' al-Shoghir mengatakan bahwa al-Allamah al-Shihab
Ibnu Hajar al-Haitamy berkata: "Ketika al-Imam al-Suyuthi mendakwakkan ijtihad, maka
orang-orang yang semasa dengan beliau bangkit untuk menulis dan menanyakan kepada
beliau beberapa pertanyaan tentang beberapa masalah yang diglobalkan oleh para murid
imam madzhab menjadi dua versi.
Mereka meminta Imam Suyuthi, jika beliau merupakan mujtahid yang paling rendah
yakni mujtahid fatwa untuk mentarjih dari beberapa versi pendapat tersebut mana
pendapat yang lebih unggul berdasarkan dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh
para mujtahid. Maka Imam suyuthi mengembalikan pertanyan-pertanyaan itu tanpa menulis
sesuatu. Beliau mengemukakan alasan bahwa dirinya mempunyai kesibukan yang
menghalangi beliau untuk meneliti masalah-masalah itu." Selanjutnya Ibnu Hajar berkata:
"Renungkanlah kesulitan ijtihad pada tingkatan ini yakni ijtihad fatwa yang merupakan
tingkat ijtihad yang paling rendah, sehingga jelaslah bagimu bahwa orang yang
mendakwakkan ijtihad lebih-lebih ijtihad mutlak sebenarnya pada hakekatnya mereka
sedang dalam kebingungan dan kerancauan dalam cara berfikirnya.
Bahkan Ibnu Sholah dan para pengikutnya mengatakan bahwa Ijtihad telah tertutup
sejak tiga ratus tahun yang lalu." Jadi kalau kita hitung-hitung, pintu ijtihad telah tertutup
sejak sekitar abad ke-3 H, karena Imam Ibnu Sholah hidup pada abad ke-6 H. Imam Ibnu
Sholah juga mengutip pernyataan dari sebagian ulama ushul bahwasanya setelah masa
Imam Syafi'i sudah tidak terdapat lagi seorang Mujtahid Mutstaqil. Lebih lanjut Ibnu Hajar
mengatakan bahwa ketika para imam terjadi pertentangan yang panjang mengenai
kedudukan Imam Haramain dan Hujjataul Islam al-Ghazali apakah keduanya lebih utama
dikatakan sebagai Ashahbul Wujuh? Lalu bagaimana dengan selain mereka berdua? Para
imam yang berkomentar tentang Imam al-Ruyani (pengarang kitab al-Bahr) mengatakan
bahwasanya beliau bukanlah termasuk dalam kategori Ashhabul Wujuh, padahal beliau
mengatakan seandainya teks-teks tulisan kitab Imam Syafi'i hilang maka sungguh akan aku
diktekan dari dadaku. Dan ketika mereka sebagai para pembesar madzhab Syafi'i tidak layak
untuk menempati derajat ijtihad al-madzhab, maka bagaimana diperkenankan bagi orang
yang tidak faham sebagian besar istilah mereka mendakwakan diri lebih tinggi dari ijtihad al-
madzhab (yakni ijtihad mutlak). Maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang
besar.
Di dalam kitab al-Anwar, Imam Rafi'I al-Syafi'I (w. 623) mengatakan bahwa para ulama
sepertinya telah sepakat bahwa pada hari ini tidak ada seorang mujtahid. Ibnu Abi al-Dam
setelah menguraikan syarat-syarat ijtihad mengatakan bahwa syarat-syarat ini jarang sekali
ditemukan pada seorang ulama di zaman kita ini, bahkan sudah tidak ditemukan lagi pada
zaman ini seorang mujtahid mutlak, bahkan mujtahid madzhab sekalipun. Imam al-Qafal
ketika menjelaskan tentang masalah fatwa menyatakan bahwa orang yang telah memenuhi
persyaratn ijtihad sudah tidak ditemukan lagi pada zamanya.
Akan tetapi nampaknya klaim yang mengatakan bahwa tertutupnya pintu ijtihad telah
disepakati oleh para ulama dari berbagai madzhab perlu untuk kita teliti. Buktinya para
ulama dari Madzhab Hanbali menyatakan bahwa suatu zaman tidak boleh sepi dari seorang
mujtahid baik itu mutlak maupuan muqoyyad. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sekelompok umatku tidak akan pernah berhenti menampakkan kebenaran sehingga datang
urusan Allah SWT (hari kiamat)." [H.R. Muslim]. Mereka juga mengatakan bahwa ijtihad
merupakan fardhu kifayah sehingga ketiadaanya menyebabkan kaum muslimin untuk
sepakat pada sesuatu yang bathil. Bahkan mengenai hal itu, Ibnul Qayyim mengatakan
bahwa mereka (para mujtahid) adalah orang-orang yang telah disabdakan oleh Rasulullah
SAW: "Sesungguhnya Allah SWT akan mengutus bagi umat ini setiap seratus tahun orang
untuk memperbaharui urusan agama mereka." [H.R. Abu Dawud dan yang lainnya]. Mereka
adalah orang-orang yang telah diungkapkan oleh Sayidina Ali RA bahwa dunia ini tidak akan
sepi dari orang yang menegakkan hujjah Allah SWT. Para ulama dari madzhab Hanbali
menyatakan bahwa pintu ijtihad dengan berbagai tingkatannya masih terbuka.

2. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup
Ada yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar abad ke-2 atau
ke-3 H. jika kita mengatakan bahwa semua pintu ijtihad dengan berbagai macam tingkatan
telah tertutup sejak masa itu, maka hal itu tidak bisa diterima. Sejarah telah membuktikan
bahwa setiap masa tidak akan pernah sepi dari mujaddid. Para ulama mengatakan bahwa
mujaddid-mujaddid itu adalah para mujtahid. Kita ketahui pada abad pertama muncul Umar
bin Abdul Azis, sebagaimana pernyataan al-Imam al-Dzahabi, beliau telah mencapai
tingkatan ijtihad. Kemudian pada abad ke-2 muncul Imam Syafi'i, lalu disusul Ibnu Suraij
pada abad ke-3, beliau termasuk pembesar mujtahid dan termasuk dalam kelompok Ashhab
al-Wujuh, sedangkan pada abad ke-4 terdapat Imam Abu Thayib Sahl bin Muhammad al-
Sha'aluki atau Syeikh Abu Hamid sebagai imam penduduk Irak. Keduanya termasuk mujtahid
dan Ashhabal-Wujuh. Selanjutnya pada abad ke-5 terdapat Imam al-Ghazali, sebagaimana
fatwa Ibnu Sholah, beliau termasuk mujtahid. Lalu pada abad ke-6 terdapat Imam Rafi'i,
pada abad ke-7 Syeikh Ibnu Daqiq al-'Id, abad ke-8 Imam al-Bulqini. Kemudian pada generasi
selanjutnya muncul Imam Suyuthi beliau mendakwakan diri telah mencapai tingkat
mujtahid, beliau berkata: "Telah sempurna pada diriku kriteria untuk berijtihad dengan
berkat pertolongan Allah SWT, seandainya aku menghendaki untuk menulis satu karya
tentang suatu masalah yang disertai dengan komentar-komentar, dalil-dali baik secara naqli
maupun qiyas dan perbedaan pendapat di antara madzhab, maka sungguh aku akan mampu
untuk melakukannya berkat anugerah Allah SWT."
Dari kedua pendapat yang telah dikemukakan di atas sebenarnya kita bisa mengambil
jalan tengah dari keduanya. Ulama yang memfatwakan bahwa ijtihad telah tertutup dan
sudah tidak ada lagi mujtahid pada zaman ini yang dimaksud mereka adalah ijtihad dan
mujtahid muthlak baik yang mutstaqil maupun ghairu mutstaqil. Sedangkan para ulama yang
mengatakan bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan setiap masa tidak boleh sepi dari
seorang mujtahid adalah mujtahid yang tingkatannya berada di bawah mujtahid mutlak. Hal
itu dapat kita tinjau dari beberapa hal:
a. Para Ulama yang dianggap sebagai mujtahid mutlak oleh kelompok kedua (yang
berpendapat bahwa pintu ijtihad dengan segala macamnya masih terbuka) telah
menyatakan sendiri bahwa mujtahid mutlak pada zaman mereka sudah tidak ada lagi. Hal itu
sebagaimana pernyataan Imam al-Ghazali sendiri bahwa pada zaman beliau sudah tidak
terdapat seorang mujtahid mutlak. Dalam kitabnya al-Wasith beliau berkata: "Syarat-syarat
ini yakni syarat ijtihad (ijtihad mutlak) yang layak disandang oleh seorang Qadli sungguh sulit
ditemukan pada zaman kita sekarang ini." Selain Imam Ghazali, Imam Rafi'i dan Nawawi juga
menyatakan hal yang sama bahwa para ulama sepertinya telah sepakat bahwa pada masa ini
sudah tidak ada lagi seorang mujtahid (mujtahid mutlak).
b. Imam Suyuthi sendiri yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mutlak ternyata tidak bisa
memenuhi persyaratan mujtahid mutlak yang beliau ajukan sendiri. Mengenai syarat ijtihad
Imam Suyuthi mengajukan sekitar lima belas syarat yang harus dipenuhi. Pada syarat kedua
belas beliau menyebutkan bahwa syarat bagi seorang mujtahid mutlak haruslah menguasai
ilmu hisab. Sedangkan beliau sendiri mengakui bahwa beliau tidak menguasai ilmu hisab. Hal
itu sebagaimana penuturan beliau sendiri: "Ilmu hisab (ilmu hitung) adalah ilmu yang sangat
sulit bagiku dan paling jauh dari penalaranku."
Dari uraian di atas dapat kita fahami, betapa sulit dan rumitnya persyaratan yang
harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sehingga ia diperbolehkan untuk berijtihad. Sehingga
setiap orang tidak dibenarkan untuk mengkliam dirinya telah berijtihad sedangkan ia sendiri
tidak mnguasai alat-alat yang digunakan sebagai media untuk menggali hukum dari al-Kitab
dan al-Sunnah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang dan orang yang berijtihat disebut mujtahid.
2. Tidak semua orang yang memahami Agama disebut mujtihad, ada syarat/kriteria yang
menyatakan sah nya menjadi seorang mujtihad.
3. Dalam menentukan terbuka atau tertutupnya pintu ijtihad, sebagian ulama menyatakan
bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan sebagian lagi menyatakan pintu ijtihad masih terbuka
meski berbeda dalam tingkatanya.
B. Saran
Diharapkan kepada dosen dan pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad,

Sukabul, http://kabulkhan.blogspot.com/2010/02/ijtihad-dalam-islam-makalah-disusun-dan.html


Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
8.
Nov
22

makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Munculnya berbagai masalah di zaman yang modern ini menyebabkan ijtihad dalam
menentukan hukum merupakan suatu hal yang manjadi suatu keharusan untuk dilakukan.
Permasalahannya, di zaman sekarang, siapa yang berhak untuk berijtihad? Apakah semua
orang boleh berijtihad untuk menentukan hukum syar'I
Al-Qur'an telah mengajarkan agar umat Islam berijtihad, berupaya menarik
kesimpulan hukum serta menerima pengarahan para ulama dan ahli-ahli pikir mereka. Allah
SWT berfirman : "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan
ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah
karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali
sebahagian kecil saja (di antaramu)." [Q.S. al-Nisa':83]. Ayat ini jelas berisi anjuran yang
cukup tegas, untuk beristinbath dan berijtihad, yakni mengambil kesimpulan dan berusaha
mencari hukum dengan mengadakan perbandingan dan lain sebagainya.
Sejarah juga telah menceritakan kapada kita, bagaimana Rasulullah SAW melatih para
sahabatnya dalam memutuskan suatu hukum dan mendorong mereka agar mengerahkan
segala kemampuan daya fikirnya untuk berijtihad. Beliau menenangkan hati para sahabat
agar tidak ragu atau takut salah dalam usaha ijtihadnya. Karena seorang mujtahid yang
benar dalam ijtihadnya akan diberi dua pahala. Dan bagi yang salah dalam ijtihadnya akan
memperoleh satu pahala. Allah SWT berfirman: "Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa
yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS.Al-Ahzab:5]
Untuk lebih jelasnya mengenai ijtihad akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu ijtihad?
2. Bagaimanakah syarat menjadi mujtahid?
3. Apakah pintu ijtihad masih terbuka atau sudah tertutup?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian ijtihad, syarat menjadi mujtahid dan memahami pintu
ijtihad.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah kajian kepustakaan dari media atau library
research.

BAB II
TERBUKA DAN TERTUTUPNYA PINTU IJTIHAD

A. Pengertian Ijtihad
Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang.
1

Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya
dilakukan para ahli agama Islam.
Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup
dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
Secara harfiah, Ijtihad yang berasal dari kata kerja jahada dapat diartikan dengan kerja
keras, sungguh-sungguh, dan pengetahuan mengenai hukum atau yurisprudensi. Secara
terminologi ijtihad diartikan sebagai mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan
pengetahuan atas hukum-hukum syara' dengan jalan menggali dari sumbernya (al-
ishtinbâth) yang berupa Al-quran Al-sunah. Adapun isim fâ'il (pelaku/orang yang melakukan)
dari ijtihad adalah mujtahid.
2

Ijithad telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW fiqih mengandung “pengertian
tentag hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf”
3
maka Ijtihad akan terus
berkembang perkembangan ini berkaitan dengan berbuatan manusia yang selalu berubah-
ubah baik bentuk maupun macamnya, dalam hubungan ini, menurut Asy syahstani bahwa
keadian dan kasus dalam peribadatan dan muamalah (tindakan manusia) secara pasti dapat
diketahui bahwa tidak setiap kasus ada nashnya apabila nashnya sudah berakhir sedangkan
kejadiannya berlansung terus tanpa batas ketika sesuatu yang tidak terbatas maka qiyas
wajib dipakai sehingga setiap kasus ada ijtihad mengenainya.
Menurut al Gahzali dalam kitabnya Al Mustasfa jus I : 137 “Istihsan adalah semua hal
yang dianggap baik oleh Mujtahid menurut Akalnya” dlam hal kehujjahannya para ulama
berbeda pendapat, ada yang menggunakan istihsan dan ada yang tidak mengakui adanya
istihsan

B. Pensyari'atan Ijtihad
Ijtihad merupakan salah satu pilar pokok tegaknya syari'at islam. Terdapat banyak dalil yang
menganjurkan untuk melaksanakannya, diantaranya adalah firman Allah QS. Al-nisâ' 105.

)e9o.7¢ &µPt9.Zu-! )eP+-! /e--9.o¢,o #-9.3©It~=, #-9Z+-+© /t¹|¸t
9eIto(3'N, µue 4 #-!+ &µu17¢ 3eo-! 9¢e=(¢-!÷_Ze¹¸t ?o3' e_·
,¢·©0ç-

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah allah wahyukan
kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena
(membela) orang-orang yang khianat.
Pada ayat ini mengandung ketetapan ijtihad dengan menggunakan metode Qiyas. dan QS.
Al-rūm 21.
&µ|| 'u#t~Ieµe÷ µuBe( &µP^T©3'N| Bie( 9o3'/ {¢=v,t
9¢eutT(3'Z©u)#( &µ.µu÷|° /t|Zu6^N µu¸¢\¢~ )e9o.¸¢- )e|+ 4
µuuµ(0¢t÷ B+uu+oZ 9¢e)ou|O5 ¢Yt~M; o÷9e7¢ ¸e _.·
tItç3v©µ|t
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan dari al-sunah ialah hadits dari Amr ibn al-'Âsh , ia mendengar utusan Allah
bersabda :
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian
benar, maka bginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah,
maka baginya satu pahala. "HR. Bukhari dan Muslim".
Hadis ini secara implisit menunjukkan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah,
tapi baik yang benar maupun yang salah tetap mendapatkan pahala, dalam artian keduanya
mendapat legitimasi hukum dari syâri' (yang mempunyai syari'at). Oleh karena itu
perbedaan pendapat dari masing-masing imam yang telah mencapai kapasitas untuk
berijtihad harus disikapi dengan benar, jangan dijadikan perpecahan. Karena itu adalah
rahmat bagi kita. Nabi SAW bersabda "perbedaan pendapat umatku adalah suatu rahmat".
Dan juga hadits yang diriwayatkan Muazd bin Jabal ketika mendapat pembekalan oleh nabi
sebelum hijrah ke Yaman untuk menjadi qodhi (hakim) di daerah yaman. Ketika Nabi
bertanya, dengan apa kamu memberi keputusan? Muazd menjawab, dengan kitabullah (Al-
quran). Kemudian Nabi berkata, kalau kamu tidak menemukan didalam al-quran? Aku akan
menghukumi dengan sunah Rasul-Nya nabi berkata lagi, kalau dalam sunah tidak kamu
temukan? Aku akan berijtihad dengan ro'yu. Adapun pengertian ijtihad dengan ro'yu
dikalangan sahabat ialah sama artinya dengan ijtihad dalam istilah yang dipakai ushuliyin
(ulama' ahli usul).

C. Syarat-Syarat Menjadi Mujtahid
Dalam menentukan kriteria-kriteria seorang mujtahid, para mushonif (pengarang)
kitab berbeda-beda pendapat, namun dari ihktilaf tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat-
syarat seseorang bisa dikatakan mujtahid ketika sudah menguasai delapan bidang
pengetahuan.
1. Faham dengan makna ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at, baik
secara lughot (etimologis) atau secara syara' (epistemologis), dan tidak disyaratkan
menghafal ayat al-ahkâm (ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum) apalagi ayat-ayat Al-
qurân secara keseluruan. Cukup hanya mampu merujuknya kembali ketika membutuhkan .
Adapun kadar-kadar ayat-ayat hukum yang dalam Al-qurân menurut Al-ghazali, Al-razi, dan
Ibn al-Arabi adalah 500 ayat, kemudian Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa yang dikehendaki
oleh Al-ghazali, Al-razi, dan Ibn al-Arabi hanyalah ayat-ayat yang zhahirnya bermuatan
hukum praktis. Lebih dari itu banyak ayat yang apabila digali akan menghasilkan sintesa
hukum, tergantung pada kepiawaian dalam menganalisa dalil
4

2. Mengetahui hadits-hadits tentang hukum, secara lughot ataupun syara' seperti yang telah
disebutkan dalam penalaran ayat-ayat Al-qurân. Tidak diharuskan menghafal semua hadits
yang berkaitan dengan hukum dan hadits secara keseluruan.
3. Menguasai persoalan-persoalan yang telah menjadi consensus ulama' terdahulu (ijma').
dalam hal ini, mujtahid tidak harus hafal permasalahan secara keseluruan yang telah
disepakai oleh ulama' (ijma'). Cukup hanya memastikan bahwa hukum yang dicetuskan tidak
melanggar kesepakatan ulama'.
4. Memahami qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum
5. Menguasai disiplin ilmu logika (manthiq).
6. Menguasai bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti ilmu nahwu, sharaf,
balaghoh dan lain sebagainya.
7. Mengetahui nasikh (dalil nash yang menyalin hukum) dan mansukh (dalil nash yang disalin)
dari Al-qurân dan Al-sunah, sehingga tidak akan mencetuskan hukum tidak didasarkan pada
nash yang telah tersalin hukumnya. Untuk persyaratan ini Wahbah al-Zuhaili memberi solusi
untuk merujuk pada kitab-kitab yang menerangkan nasikh dan mansukh. Karena seorang
yang akan berijtihad tidak disyaratkan mengetahui secara keseluruan nasikh dan mansukh,
yang menjadi keharusan ialah mengetahui bahwa yang menja di pijakan hukumnya bukan
termasuk dalil- dalil yang di nasikh oleh nash yang lain.
8. Mengetahui kepribadian para râwi (yang meriwayatkan), sehingga dapat memastikan status
periwayatannya, kuat atau lemah, shahih atau tidak, diterima atau tidak. Dalam hal ini cukup
dengan merujuk pada pendapat imam-imam muhadditsin seperti imam Bukhâri dan Muslim.
Kedelapan syarat ini adalah yang diajukan oleh jumhur ulama', sebenarnya masih terdapat
sejumlah persyaratan yang masih diperdebatkan, diantaranya menguasai usul fiqh, syarat ini
diajukan Al-ghazali, Mengetahui maqâsid al-syari'ah (tujuan-tujuan syariat), persyaratan ini
diajukan oleh Al-syatibiy. Memiliki kedalaman pemahaman teologi (ilmu kalam), Abu Ishaq
meriwayatkan bahwa syarat ini diajukan oleh golongan Qadariyyah. Al-ustazd Abu Mansyur
mensyaratkan untuk mengetahui detil-detil cabangan fikih.

D. Stratifikasi Mujtahid
Ijtihad menempati derajat paling tinggi dalam bidang keilmuan syariat islam, sudah
pasti persyaratan untuk mencapainya sangat ketat. Adapun syarat yang telah kami paparkan
dimuka adalah untuk kualifikasi mujtahid mutlaq. Seiring dengan melemahnya gairah
keilmuan islami akhir-akhir ini, muncullah term ijtihad dengan sandaran-sandaran tertentu,
sebagaimana yang akan kami paparkan dibawah ini.
Pertama, mujtahid mustaqil, yaitu seorang yang mampu menggali hukum langsung dari Al-
qurân dan Al-hadits dengan menggunakan teori usul dan kaidah ciptaan sendiri. seperti
qiyas, ihtisan dan lainnya. Masuk dalam kategori ini yaitu para fuqahâ' sahabat, sebagian
tabi'in seperti Sa'id bin al-Musayyab dan Ibrahim al-Nakha'i, dan imam-imam madzhab
seperti Al-auzâ'i, Laits bin Sa'id, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-syâfi'i, dan Ahmad bin
Hambal. Mereka adalah mujtahid mustaqil (independen) meskipun banyak pendapat
pendapat dari mereka tidak terkodifikasi secara khusus. Mujtahid mustaqil ini menurut Ibn
al-Qayyim sudah terputus semenjak abad ke 4 H. namun Al-suyuti menyangga asumsi
tersebut, ia mengklaim bahwa mujtahid mustaqil tetap wujud sampai akhir zaman dengan
disandarkan pada hadits:
Artinya: Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini (islam) pada
penghujung setiap seratus tahun orang-orang yang akan memperbaharui permasalahan
agamanya. "HR. Abu Dâwud dari Abi Hurairah ra."
Kedua, mujtahid mutlaq ghairu mustaqil al-muntasib, yaitu seseorang yang padanya
telah ditemukan syarat-syarat untuk berijtihad, namun belum mampu menciptakan kaidah-
kaidah sendiri dan masih berpegang pada kaidah dan usul imam mazdhabnya. Masuk dalam
klasifikasi ini dari kalangan Hanafiyah yaitu Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Zâfr, dari
Mâlikiyah seperti Abd al-Rahman bin Qâsim, dan dari Syafi'iyah seperti Al-Buwaithi,
Za'farâni, dan Al-Muzani.
Ketiga, mujtahid muqoyyad al-mazdhab atau mujtahid takhrij, yaitu seseorang yang
menggali hukum dari persoalan-persoalan yang belum pernah dibahas oleh imam
mujtahidnya. Dengan memakai kaidah-kaidah dan usul imamnya. Seperti Abu Ishaq al-
Syairâzi dan Al-Mawardi.
Keempat, mujtahid tarjih, yaitu seseorang yang mampu melakukan tarjih (penguatan)
terhadap pendapat imam mazdhab dan para muridnya. Seperti Hasan al-Quduriy, Al-
Marghinâni pengarang kitab Al-hidayah dari kalangan Hanafiyah.
Kelima, mujtahid fatwa, yaitu seseorang yang yang peduli akan kelangsungan
mazdhab imamnya, turut melestarikan, mengutip dan mengkaji pendapat imamnya, akan
tetapi belum bisa men-tarjih dan memberikan penilaian kuat dan lemah.

E. Metode Ijtihad
Langkah awal yang harus dilakukan ketika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu
permasalahan ialah melakukan akumulasi macam-macam disiplin ilmu yang berkaitan
dengan obyek permasalahan, seperti gramatika arab, ayat-ayat Al-qurân, hadits-hadits Nabi,
pendapat ulama' terdahulu, dan metode-metode qiyas. Kemudian, tanpa terikat dengan
fanatisme mazdhab, dilakukan analisa dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama-tama seorang mujtahid harus terlebih dahulu meneliti nash-nash Al-qurân.
Tatkala ditemukan ayat-ayat yang menjelaskannya baik secara nash atau zhahir, maka itulah
yang harus dijadikan sebagai sandaran hukumnya. Dan ketika tidak ditemukan didalam Al-
qurân, maka beranjak pada penelitian sunah Rasulullah, meliputi perkataan, tindakan atau
penetapan dan persetujuan Rasulullah. Bila ditemukan penjelasan didalamnya, maka itulah
yang harus di adopsi dan dijadikan sebagai keputusan hukum. Kemudian meneliti hasil-hasil
ijma' yang valid dari para mujtahid terdahulu. Lalu beralih pada qiyas, dengan menggali illat
hukumnya. Sesuai dengan ijtihadnya, diterapkanlah illat-illat tersebut sesuai dengan masâlik
al-illat-nya. secara ringkas inilah pilar-pilar penunjang ijtihad, yakni Al-qurân, hadits, ijma'
dan qiyas, sebagaimana dikemukakan oleh imam Al-syafi'i. sebagian ulama' menambahkan
adanya pengamalan secara kontekstual sesuai dengan ruh syari'at islam.
Adapun metode-metode yang digunakan oleh para mujtahid secara khusus ialah qiyas,
maslahah mursalah, urf' (adat), istishab, ihtisan, syar'u man qoblana, qoul sahabat, dan
lainnya.

F. Terbuka Dan Tertutupnya Pintu Ijtihad
Beberapa ulama banyak yang telah berkomentar mengenai terbuka dan tertutupnya pintu
ijtihad. Pendapat mereka dapat kita lihat seperti dibawah ini dengan menjawab beberapa
pertanyaan tentang keingin tahuan kita terhadap ijtihad.
1. Benarkah pintu ijtihad masih terbuka?
Permasalahan ini sangat menarik untuk kita bahas, karena sebagaian ulama telah
mengklaim bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan untuk saat ini seorang mujtahid sudah
tidak bisa lagi ditemukan. Pendapat ini muncul karena di zaman sekarang ini, sebagaimana
penuturan Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dipicu karena banyaknya orang yang
mengklaim dirinya sebagai seorang mujtahid. Bahkan yang lebih heran lagi, mereka
mengklaim bahwa dirinya sama seperti Imam Syafi'I, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah al-
Nu'man. Padahal syarat-syarat untuk berijtihad sebagaimana yang telah diuraikan oleh para
ulama tidak terpenuhi dalam diri mereka.
Fatwa tertutupnya pintu itihad ini dilontarkan oleh beberapa ulama, di antaranya
adalah al-Imam Ibnu HaJar al-Haitamy, al-Imam al-Sya'rani, al-Imam al-Manawi dan yang
lainnya. Mereka mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak bebarapa ratus tahun
yang lalu berdasarkan kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab. Imam al-Manawi
dalam komentarnya atas kitab al-Jami' al-Shoghir mengatakan bahwa al-Allamah al-Shihab
Ibnu Hajar al-Haitamy berkata: "Ketika al-Imam al-Suyuthi mendakwakkan ijtihad, maka
orang-orang yang semasa dengan beliau bangkit untuk menulis dan menanyakan kepada
beliau beberapa pertanyaan tentang beberapa masalah yang diglobalkan oleh para murid
imam madzhab menjadi dua versi.
Mereka meminta Imam Suyuthi, jika beliau merupakan mujtahid yang paling rendah
yakni mujtahid fatwa untuk mentarjih dari beberapa versi pendapat tersebut mana
pendapat yang lebih unggul berdasarkan dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh
para mujtahid. Maka Imam suyuthi mengembalikan pertanyan-pertanyaan itu tanpa menulis
sesuatu. Beliau mengemukakan alasan bahwa dirinya mempunyai kesibukan yang
menghalangi beliau untuk meneliti masalah-masalah itu." Selanjutnya Ibnu Hajar berkata:
"Renungkanlah kesulitan ijtihad pada tingkatan ini yakni ijtihad fatwa yang merupakan
tingkat ijtihad yang paling rendah, sehingga jelaslah bagimu bahwa orang yang
mendakwakkan ijtihad lebih-lebih ijtihad mutlak sebenarnya pada hakekatnya mereka
sedang dalam kebingungan dan kerancauan dalam cara berfikirnya.
Bahkan Ibnu Sholah dan para pengikutnya mengatakan bahwa Ijtihad telah tertutup
sejak tiga ratus tahun yang lalu." Jadi kalau kita hitung-hitung, pintu ijtihad telah tertutup
sejak sekitar abad ke-3 H, karena Imam Ibnu Sholah hidup pada abad ke-6 H. Imam Ibnu
Sholah juga mengutip pernyataan dari sebagian ulama ushul bahwasanya setelah masa
Imam Syafi'i sudah tidak terdapat lagi seorang Mujtahid Mutstaqil. Lebih lanjut Ibnu Hajar
mengatakan bahwa ketika para imam terjadi pertentangan yang panjang mengenai
kedudukan Imam Haramain dan Hujjataul Islam al-Ghazali apakah keduanya lebih utama
dikatakan sebagai Ashahbul Wujuh? Lalu bagaimana dengan selain mereka berdua? Para
imam yang berkomentar tentang Imam al-Ruyani (pengarang kitab al-Bahr) mengatakan
bahwasanya beliau bukanlah termasuk dalam kategori Ashhabul Wujuh, padahal beliau
mengatakan seandainya teks-teks tulisan kitab Imam Syafi'i hilang maka sungguh akan aku
diktekan dari dadaku. Dan ketika mereka sebagai para pembesar madzhab Syafi'i tidak layak
untuk menempati derajat ijtihad al-madzhab, maka bagaimana diperkenankan bagi orang
yang tidak faham sebagian besar istilah mereka mendakwakan diri lebih tinggi dari ijtihad al-
madzhab (yakni ijtihad mutlak). Maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang
besar.
Di dalam kitab al-Anwar, Imam Rafi'I al-Syafi'I (w. 623) mengatakan bahwa para ulama
sepertinya telah sepakat bahwa pada hari ini tidak ada seorang mujtahid. Ibnu Abi al-Dam
setelah menguraikan syarat-syarat ijtihad mengatakan bahwa syarat-syarat ini jarang sekali
ditemukan pada seorang ulama di zaman kita ini, bahkan sudah tidak ditemukan lagi pada
zaman ini seorang mujtahid mutlak, bahkan mujtahid madzhab sekalipun. Imam al-Qafal
ketika menjelaskan tentang masalah fatwa menyatakan bahwa orang yang telah memenuhi
persyaratn ijtihad sudah tidak ditemukan lagi pada zamanya.
Akan tetapi nampaknya klaim yang mengatakan bahwa tertutupnya pintu ijtihad telah
disepakati oleh para ulama dari berbagai madzhab perlu untuk kita teliti. Buktinya para
ulama dari Madzhab Hanbali menyatakan bahwa suatu zaman tidak boleh sepi dari seorang
mujtahid baik itu mutlak maupuan muqoyyad. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sekelompok umatku tidak akan pernah berhenti menampakkan kebenaran sehingga datang
urusan Allah SWT (hari kiamat)." [H.R. Muslim]. Mereka juga mengatakan bahwa ijtihad
merupakan fardhu kifayah sehingga ketiadaanya menyebabkan kaum muslimin untuk
sepakat pada sesuatu yang bathil. Bahkan mengenai hal itu, Ibnul Qayyim mengatakan
bahwa mereka (para mujtahid) adalah orang-orang yang telah disabdakan oleh Rasulullah
SAW: "Sesungguhnya Allah SWT akan mengutus bagi umat ini setiap seratus tahun orang
untuk memperbaharui urusan agama mereka." [H.R. Abu Dawud dan yang lainnya]. Mereka
adalah orang-orang yang telah diungkapkan oleh Sayidina Ali RA bahwa dunia ini tidak akan
sepi dari orang yang menegakkan hujjah Allah SWT. Para ulama dari madzhab Hanbali
menyatakan bahwa pintu ijtihad dengan berbagai tingkatannya masih terbuka.

2. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup
Ada yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar abad ke-2 atau
ke-3 H. jika kita mengatakan bahwa semua pintu ijtihad dengan berbagai macam tingkatan
telah tertutup sejak masa itu, maka hal itu tidak bisa diterima. Sejarah telah membuktikan
bahwa setiap masa tidak akan pernah sepi dari mujaddid. Para ulama mengatakan bahwa
mujaddid-mujaddid itu adalah para mujtahid. Kita ketahui pada abad pertama muncul Umar
bin Abdul Azis, sebagaimana pernyataan al-Imam al-Dzahabi, beliau telah mencapai
tingkatan ijtihad. Kemudian pada abad ke-2 muncul Imam Syafi'i, lalu disusul Ibnu Suraij
pada abad ke-3, beliau termasuk pembesar mujtahid dan termasuk dalam kelompok Ashhab
al-Wujuh, sedangkan pada abad ke-4 terdapat Imam Abu Thayib Sahl bin Muhammad al-
Sha'aluki atau Syeikh Abu Hamid sebagai imam penduduk Irak. Keduanya termasuk mujtahid
dan Ashhabal-Wujuh. Selanjutnya pada abad ke-5 terdapat Imam al-Ghazali, sebagaimana
fatwa Ibnu Sholah, beliau termasuk mujtahid. Lalu pada abad ke-6 terdapat Imam Rafi'i,
pada abad ke-7 Syeikh Ibnu Daqiq al-'Id, abad ke-8 Imam al-Bulqini. Kemudian pada generasi
selanjutnya muncul Imam Suyuthi beliau mendakwakan diri telah mencapai tingkat
mujtahid, beliau berkata: "Telah sempurna pada diriku kriteria untuk berijtihad dengan
berkat pertolongan Allah SWT, seandainya aku menghendaki untuk menulis satu karya
tentang suatu masalah yang disertai dengan komentar-komentar, dalil-dali baik secara naqli
maupun qiyas dan perbedaan pendapat di antara madzhab, maka sungguh aku akan mampu
untuk melakukannya berkat anugerah Allah SWT."
Dari kedua pendapat yang telah dikemukakan di atas sebenarnya kita bisa mengambil
jalan tengah dari keduanya. Ulama yang memfatwakan bahwa ijtihad telah tertutup dan
sudah tidak ada lagi mujtahid pada zaman ini yang dimaksud mereka adalah ijtihad dan
mujtahid muthlak baik yang mutstaqil maupun ghairu mutstaqil. Sedangkan para ulama yang
mengatakan bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan setiap masa tidak boleh sepi dari
seorang mujtahid adalah mujtahid yang tingkatannya berada di bawah mujtahid mutlak. Hal
itu dapat kita tinjau dari beberapa hal:
a. Para Ulama yang dianggap sebagai mujtahid mutlak oleh kelompok kedua (yang
berpendapat bahwa pintu ijtihad dengan segala macamnya masih terbuka) telah
menyatakan sendiri bahwa mujtahid mutlak pada zaman mereka sudah tidak ada lagi. Hal itu
sebagaimana pernyataan Imam al-Ghazali sendiri bahwa pada zaman beliau sudah tidak
terdapat seorang mujtahid mutlak. Dalam kitabnya al-Wasith beliau berkata: "Syarat-syarat
ini yakni syarat ijtihad (ijtihad mutlak) yang layak disandang oleh seorang Qadli sungguh sulit
ditemukan pada zaman kita sekarang ini." Selain Imam Ghazali, Imam Rafi'i dan Nawawi juga
menyatakan hal yang sama bahwa para ulama sepertinya telah sepakat bahwa pada masa ini
sudah tidak ada lagi seorang mujtahid (mujtahid mutlak).
b. Imam Suyuthi sendiri yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mutlak ternyata tidak bisa
memenuhi persyaratan mujtahid mutlak yang beliau ajukan sendiri. Mengenai syarat ijtihad
Imam Suyuthi mengajukan sekitar lima belas syarat yang harus dipenuhi. Pada syarat kedua
belas beliau menyebutkan bahwa syarat bagi seorang mujtahid mutlak haruslah menguasai
ilmu hisab. Sedangkan beliau sendiri mengakui bahwa beliau tidak menguasai ilmu hisab. Hal
itu sebagaimana penuturan beliau sendiri: "Ilmu hisab (ilmu hitung) adalah ilmu yang sangat
sulit bagiku dan paling jauh dari penalaranku."
Dari uraian di atas dapat kita fahami, betapa sulit dan rumitnya persyaratan yang
harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sehingga ia diperbolehkan untuk berijtihad. Sehingga
setiap orang tidak dibenarkan untuk mengkliam dirinya telah berijtihad sedangkan ia sendiri
tidak mnguasai alat-alat yang digunakan sebagai media untuk menggali hukum dari al-Kitab
dan al-Sunnah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang dan orang yang berijtihat disebut mujtahid.
2. Tidak semua orang yang memahami Agama disebut mujtihad, ada syarat/kriteria yang
menyatakan sah nya menjadi seorang mujtihad.
3. Dalam menentukan terbuka atau tertutupnya pintu ijtihad, sebagian ulama menyatakan
bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan sebagian lagi menyatakan pintu ijtihad masih terbuka
meski berbeda dalam tingkatanya.
B. Saran
Diharapkan kepada dosen dan pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad,

Sukabul, http://kabulkhan.blogspot.com/2010/02/ijtihad-dalam-islam-makalah-disusun-dan.html


Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
9.
Nov
22

makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Munculnya berbagai masalah di zaman yang modern ini menyebabkan ijtihad dalam
menentukan hukum merupakan suatu hal yang manjadi suatu keharusan untuk dilakukan.
Permasalahannya, di zaman sekarang, siapa yang berhak untuk berijtihad? Apakah semua
orang boleh berijtihad untuk menentukan hukum syar'I
Al-Qur'an telah mengajarkan agar umat Islam berijtihad, berupaya menarik
kesimpulan hukum serta menerima pengarahan para ulama dan ahli-ahli pikir mereka. Allah
SWT berfirman : "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan
ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada
Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah
karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali
sebahagian kecil saja (di antaramu)." [Q.S. al-Nisa':83]. Ayat ini jelas berisi anjuran yang
cukup tegas, untuk beristinbath dan berijtihad, yakni mengambil kesimpulan dan berusaha
mencari hukum dengan mengadakan perbandingan dan lain sebagainya.
Sejarah juga telah menceritakan kapada kita, bagaimana Rasulullah SAW melatih para
sahabatnya dalam memutuskan suatu hukum dan mendorong mereka agar mengerahkan
segala kemampuan daya fikirnya untuk berijtihad. Beliau menenangkan hati para sahabat
agar tidak ragu atau takut salah dalam usaha ijtihadnya. Karena seorang mujtahid yang
benar dalam ijtihadnya akan diberi dua pahala. Dan bagi yang salah dalam ijtihadnya akan
memperoleh satu pahala. Allah SWT berfirman: "Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa
yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS.Al-Ahzab:5]
Untuk lebih jelasnya mengenai ijtihad akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu ijtihad?
2. Bagaimanakah syarat menjadi mujtahid?
3. Apakah pintu ijtihad masih terbuka atau sudah tertutup?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian ijtihad, syarat menjadi mujtahid dan memahami pintu
ijtihad.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah kajian kepustakaan dari media atau library
research.

BAB II
TERBUKA DAN TERTUTUPNYA PINTU IJTIHAD

A. Pengertian Ijtihad
Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang.
1

Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya
dilakukan para ahli agama Islam.
Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup
dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
Secara harfiah, Ijtihad yang berasal dari kata kerja jahada dapat diartikan dengan kerja
keras, sungguh-sungguh, dan pengetahuan mengenai hukum atau yurisprudensi. Secara
terminologi ijtihad diartikan sebagai mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan
pengetahuan atas hukum-hukum syara' dengan jalan menggali dari sumbernya (al-
ishtinbâth) yang berupa Al-quran Al-sunah. Adapun isim fâ'il (pelaku/orang yang melakukan)
dari ijtihad adalah mujtahid.
2

Ijithad telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW fiqih mengandung “pengertian
tentag hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf”
3
maka Ijtihad akan terus
berkembang perkembangan ini berkaitan dengan berbuatan manusia yang selalu berubah-
ubah baik bentuk maupun macamnya, dalam hubungan ini, menurut Asy syahstani bahwa
keadian dan kasus dalam peribadatan dan muamalah (tindakan manusia) secara pasti dapat
diketahui bahwa tidak setiap kasus ada nashnya apabila nashnya sudah berakhir sedangkan
kejadiannya berlansung terus tanpa batas ketika sesuatu yang tidak terbatas maka qiyas
wajib dipakai sehingga setiap kasus ada ijtihad mengenainya.
Menurut al Gahzali dalam kitabnya Al Mustasfa jus I : 137 “Istihsan adalah semua hal
yang dianggap baik oleh Mujtahid menurut Akalnya” dlam hal kehujjahannya para ulama
berbeda pendapat, ada yang menggunakan istihsan dan ada yang tidak mengakui adanya
istihsan

B. Pensyari'atan Ijtihad
Ijtihad merupakan salah satu pilar pokok tegaknya syari'at islam. Terdapat banyak dalil yang
menganjurkan untuk melaksanakannya, diantaranya adalah firman Allah QS. Al-nisâ' 105.

)e9o.7¢ &µPt9.Zu-! )eP+-! /e--9.o¢,o #-9.3©It~=, #-9Z+-+© /t¹|¸t
9eIto(3'N, µue 4 #-!+ &µu17¢ 3eo-! 9¢e=(¢-!÷_Ze¹¸t ?o3' e_·
,¢·©0ç-

Artinya: Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah allah wahyukan
kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena
(membela) orang-orang yang khianat.
Pada ayat ini mengandung ketetapan ijtihad dengan menggunakan metode Qiyas. dan QS.
Al-rūm 21.
&µ|| 'u#t~Ieµe÷ µuBe( &µP^T©3'N| Bie( 9o3'/ {¢=v,t
9¢eutT(3'Z©u)#( &µ.µu÷|° /t|Zu6^N µu¸¢\¢~ )e9o.¸¢- )e|+ 4
µuuµ(0¢t÷ B+uu+oZ 9¢e)ou|O5 ¢Yt~M; o÷9e7¢ ¸e _.·
tItç3v©µ|t
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dan dari al-sunah ialah hadits dari Amr ibn al-'Âsh , ia mendengar utusan Allah
bersabda :
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad kemudian
benar, maka bginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan ternyata salah,
maka baginya satu pahala. "HR. Bukhari dan Muslim".
Hadis ini secara implisit menunjukkan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah,
tapi baik yang benar maupun yang salah tetap mendapatkan pahala, dalam artian keduanya
mendapat legitimasi hukum dari syâri' (yang mempunyai syari'at). Oleh karena itu
perbedaan pendapat dari masing-masing imam yang telah mencapai kapasitas untuk
berijtihad harus disikapi dengan benar, jangan dijadikan perpecahan. Karena itu adalah
rahmat bagi kita. Nabi SAW bersabda "perbedaan pendapat umatku adalah suatu rahmat".
Dan juga hadits yang diriwayatkan Muazd bin Jabal ketika mendapat pembekalan oleh nabi
sebelum hijrah ke Yaman untuk menjadi qodhi (hakim) di daerah yaman. Ketika Nabi
bertanya, dengan apa kamu memberi keputusan? Muazd menjawab, dengan kitabullah (Al-
quran). Kemudian Nabi berkata, kalau kamu tidak menemukan didalam al-quran? Aku akan
menghukumi dengan sunah Rasul-Nya nabi berkata lagi, kalau dalam sunah tidak kamu
temukan? Aku akan berijtihad dengan ro'yu. Adapun pengertian ijtihad dengan ro'yu
dikalangan sahabat ialah sama artinya dengan ijtihad dalam istilah yang dipakai ushuliyin
(ulama' ahli usul).

C. Syarat-Syarat Menjadi Mujtahid
Dalam menentukan kriteria-kriteria seorang mujtahid, para mushonif (pengarang)
kitab berbeda-beda pendapat, namun dari ihktilaf tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat-
syarat seseorang bisa dikatakan mujtahid ketika sudah menguasai delapan bidang
pengetahuan.
1. Faham dengan makna ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at, baik
secara lughot (etimologis) atau secara syara' (epistemologis), dan tidak disyaratkan
menghafal ayat al-ahkâm (ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum) apalagi ayat-ayat Al-
qurân secara keseluruan. Cukup hanya mampu merujuknya kembali ketika membutuhkan .
Adapun kadar-kadar ayat-ayat hukum yang dalam Al-qurân menurut Al-ghazali, Al-razi, dan
Ibn al-Arabi adalah 500 ayat, kemudian Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa yang dikehendaki
oleh Al-ghazali, Al-razi, dan Ibn al-Arabi hanyalah ayat-ayat yang zhahirnya bermuatan
hukum praktis. Lebih dari itu banyak ayat yang apabila digali akan menghasilkan sintesa
hukum, tergantung pada kepiawaian dalam menganalisa dalil
4

2. Mengetahui hadits-hadits tentang hukum, secara lughot ataupun syara' seperti yang telah
disebutkan dalam penalaran ayat-ayat Al-qurân. Tidak diharuskan menghafal semua hadits
yang berkaitan dengan hukum dan hadits secara keseluruan.
3. Menguasai persoalan-persoalan yang telah menjadi consensus ulama' terdahulu (ijma').
dalam hal ini, mujtahid tidak harus hafal permasalahan secara keseluruan yang telah
disepakai oleh ulama' (ijma'). Cukup hanya memastikan bahwa hukum yang dicetuskan tidak
melanggar kesepakatan ulama'.
4. Memahami qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum
5. Menguasai disiplin ilmu logika (manthiq).
6. Menguasai bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti ilmu nahwu, sharaf,
balaghoh dan lain sebagainya.
7. Mengetahui nasikh (dalil nash yang menyalin hukum) dan mansukh (dalil nash yang disalin)
dari Al-qurân dan Al-sunah, sehingga tidak akan mencetuskan hukum tidak didasarkan pada
nash yang telah tersalin hukumnya. Untuk persyaratan ini Wahbah al-Zuhaili memberi solusi
untuk merujuk pada kitab-kitab yang menerangkan nasikh dan mansukh. Karena seorang
yang akan berijtihad tidak disyaratkan mengetahui secara keseluruan nasikh dan mansukh,
yang menjadi keharusan ialah mengetahui bahwa yang menja di pijakan hukumnya bukan
termasuk dalil- dalil yang di nasikh oleh nash yang lain.
8. Mengetahui kepribadian para râwi (yang meriwayatkan), sehingga dapat memastikan status
periwayatannya, kuat atau lemah, shahih atau tidak, diterima atau tidak. Dalam hal ini cukup
dengan merujuk pada pendapat imam-imam muhadditsin seperti imam Bukhâri dan Muslim.
Kedelapan syarat ini adalah yang diajukan oleh jumhur ulama', sebenarnya masih terdapat
sejumlah persyaratan yang masih diperdebatkan, diantaranya menguasai usul fiqh, syarat ini
diajukan Al-ghazali, Mengetahui maqâsid al-syari'ah (tujuan-tujuan syariat), persyaratan ini
diajukan oleh Al-syatibiy. Memiliki kedalaman pemahaman teologi (ilmu kalam), Abu Ishaq
meriwayatkan bahwa syarat ini diajukan oleh golongan Qadariyyah. Al-ustazd Abu Mansyur
mensyaratkan untuk mengetahui detil-detil cabangan fikih.

D. Stratifikasi Mujtahid
Ijtihad menempati derajat paling tinggi dalam bidang keilmuan syariat islam, sudah
pasti persyaratan untuk mencapainya sangat ketat. Adapun syarat yang telah kami paparkan
dimuka adalah untuk kualifikasi mujtahid mutlaq. Seiring dengan melemahnya gairah
keilmuan islami akhir-akhir ini, muncullah term ijtihad dengan sandaran-sandaran tertentu,
sebagaimana yang akan kami paparkan dibawah ini.
Pertama, mujtahid mustaqil, yaitu seorang yang mampu menggali hukum langsung dari Al-
qurân dan Al-hadits dengan menggunakan teori usul dan kaidah ciptaan sendiri. seperti
qiyas, ihtisan dan lainnya. Masuk dalam kategori ini yaitu para fuqahâ' sahabat, sebagian
tabi'in seperti Sa'id bin al-Musayyab dan Ibrahim al-Nakha'i, dan imam-imam madzhab
seperti Al-auzâ'i, Laits bin Sa'id, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-syâfi'i, dan Ahmad bin
Hambal. Mereka adalah mujtahid mustaqil (independen) meskipun banyak pendapat
pendapat dari mereka tidak terkodifikasi secara khusus. Mujtahid mustaqil ini menurut Ibn
al-Qayyim sudah terputus semenjak abad ke 4 H. namun Al-suyuti menyangga asumsi
tersebut, ia mengklaim bahwa mujtahid mustaqil tetap wujud sampai akhir zaman dengan
disandarkan pada hadits:
Artinya: Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini (islam) pada
penghujung setiap seratus tahun orang-orang yang akan memperbaharui permasalahan
agamanya. "HR. Abu Dâwud dari Abi Hurairah ra."
Kedua, mujtahid mutlaq ghairu mustaqil al-muntasib, yaitu seseorang yang padanya
telah ditemukan syarat-syarat untuk berijtihad, namun belum mampu menciptakan kaidah-
kaidah sendiri dan masih berpegang pada kaidah dan usul imam mazdhabnya. Masuk dalam
klasifikasi ini dari kalangan Hanafiyah yaitu Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Zâfr, dari
Mâlikiyah seperti Abd al-Rahman bin Qâsim, dan dari Syafi'iyah seperti Al-Buwaithi,
Za'farâni, dan Al-Muzani.
Ketiga, mujtahid muqoyyad al-mazdhab atau mujtahid takhrij, yaitu seseorang yang
menggali hukum dari persoalan-persoalan yang belum pernah dibahas oleh imam
mujtahidnya. Dengan memakai kaidah-kaidah dan usul imamnya. Seperti Abu Ishaq al-
Syairâzi dan Al-Mawardi.
Keempat, mujtahid tarjih, yaitu seseorang yang mampu melakukan tarjih (penguatan)
terhadap pendapat imam mazdhab dan para muridnya. Seperti Hasan al-Quduriy, Al-
Marghinâni pengarang kitab Al-hidayah dari kalangan Hanafiyah.
Kelima, mujtahid fatwa, yaitu seseorang yang yang peduli akan kelangsungan
mazdhab imamnya, turut melestarikan, mengutip dan mengkaji pendapat imamnya, akan
tetapi belum bisa men-tarjih dan memberikan penilaian kuat dan lemah.

E. Metode Ijtihad
Langkah awal yang harus dilakukan ketika seorang mujtahid dihadapkan pada suatu
permasalahan ialah melakukan akumulasi macam-macam disiplin ilmu yang berkaitan
dengan obyek permasalahan, seperti gramatika arab, ayat-ayat Al-qurân, hadits-hadits Nabi,
pendapat ulama' terdahulu, dan metode-metode qiyas. Kemudian, tanpa terikat dengan
fanatisme mazdhab, dilakukan analisa dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama-tama seorang mujtahid harus terlebih dahulu meneliti nash-nash Al-qurân.
Tatkala ditemukan ayat-ayat yang menjelaskannya baik secara nash atau zhahir, maka itulah
yang harus dijadikan sebagai sandaran hukumnya. Dan ketika tidak ditemukan didalam Al-
qurân, maka beranjak pada penelitian sunah Rasulullah, meliputi perkataan, tindakan atau
penetapan dan persetujuan Rasulullah. Bila ditemukan penjelasan didalamnya, maka itulah
yang harus di adopsi dan dijadikan sebagai keputusan hukum. Kemudian meneliti hasil-hasil
ijma' yang valid dari para mujtahid terdahulu. Lalu beralih pada qiyas, dengan menggali illat
hukumnya. Sesuai dengan ijtihadnya, diterapkanlah illat-illat tersebut sesuai dengan masâlik
al-illat-nya. secara ringkas inilah pilar-pilar penunjang ijtihad, yakni Al-qurân, hadits, ijma'
dan qiyas, sebagaimana dikemukakan oleh imam Al-syafi'i. sebagian ulama' menambahkan
adanya pengamalan secara kontekstual sesuai dengan ruh syari'at islam.
Adapun metode-metode yang digunakan oleh para mujtahid secara khusus ialah qiyas,
maslahah mursalah, urf' (adat), istishab, ihtisan, syar'u man qoblana, qoul sahabat, dan
lainnya.

F. Terbuka Dan Tertutupnya Pintu Ijtihad
Beberapa ulama banyak yang telah berkomentar mengenai terbuka dan tertutupnya pintu
ijtihad. Pendapat mereka dapat kita lihat seperti dibawah ini dengan menjawab beberapa
pertanyaan tentang keingin tahuan kita terhadap ijtihad.
1. Benarkah pintu ijtihad masih terbuka?
Permasalahan ini sangat menarik untuk kita bahas, karena sebagaian ulama telah
mengklaim bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan untuk saat ini seorang mujtahid sudah
tidak bisa lagi ditemukan. Pendapat ini muncul karena di zaman sekarang ini, sebagaimana
penuturan Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dipicu karena banyaknya orang yang
mengklaim dirinya sebagai seorang mujtahid. Bahkan yang lebih heran lagi, mereka
mengklaim bahwa dirinya sama seperti Imam Syafi'I, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah al-
Nu'man. Padahal syarat-syarat untuk berijtihad sebagaimana yang telah diuraikan oleh para
ulama tidak terpenuhi dalam diri mereka.
Fatwa tertutupnya pintu itihad ini dilontarkan oleh beberapa ulama, di antaranya
adalah al-Imam Ibnu HaJar al-Haitamy, al-Imam al-Sya'rani, al-Imam al-Manawi dan yang
lainnya. Mereka mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak bebarapa ratus tahun
yang lalu berdasarkan kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab. Imam al-Manawi
dalam komentarnya atas kitab al-Jami' al-Shoghir mengatakan bahwa al-Allamah al-Shihab
Ibnu Hajar al-Haitamy berkata: "Ketika al-Imam al-Suyuthi mendakwakkan ijtihad, maka
orang-orang yang semasa dengan beliau bangkit untuk menulis dan menanyakan kepada
beliau beberapa pertanyaan tentang beberapa masalah yang diglobalkan oleh para murid
imam madzhab menjadi dua versi.
Mereka meminta Imam Suyuthi, jika beliau merupakan mujtahid yang paling rendah
yakni mujtahid fatwa untuk mentarjih dari beberapa versi pendapat tersebut mana
pendapat yang lebih unggul berdasarkan dalil dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh
para mujtahid. Maka Imam suyuthi mengembalikan pertanyan-pertanyaan itu tanpa menulis
sesuatu. Beliau mengemukakan alasan bahwa dirinya mempunyai kesibukan yang
menghalangi beliau untuk meneliti masalah-masalah itu." Selanjutnya Ibnu Hajar berkata:
"Renungkanlah kesulitan ijtihad pada tingkatan ini yakni ijtihad fatwa yang merupakan
tingkat ijtihad yang paling rendah, sehingga jelaslah bagimu bahwa orang yang
mendakwakkan ijtihad lebih-lebih ijtihad mutlak sebenarnya pada hakekatnya mereka
sedang dalam kebingungan dan kerancauan dalam cara berfikirnya.
Bahkan Ibnu Sholah dan para pengikutnya mengatakan bahwa Ijtihad telah tertutup
sejak tiga ratus tahun yang lalu." Jadi kalau kita hitung-hitung, pintu ijtihad telah tertutup
sejak sekitar abad ke-3 H, karena Imam Ibnu Sholah hidup pada abad ke-6 H. Imam Ibnu
Sholah juga mengutip pernyataan dari sebagian ulama ushul bahwasanya setelah masa
Imam Syafi'i sudah tidak terdapat lagi seorang Mujtahid Mutstaqil. Lebih lanjut Ibnu Hajar
mengatakan bahwa ketika para imam terjadi pertentangan yang panjang mengenai
kedudukan Imam Haramain dan Hujjataul Islam al-Ghazali apakah keduanya lebih utama
dikatakan sebagai Ashahbul Wujuh? Lalu bagaimana dengan selain mereka berdua? Para
imam yang berkomentar tentang Imam al-Ruyani (pengarang kitab al-Bahr) mengatakan
bahwasanya beliau bukanlah termasuk dalam kategori Ashhabul Wujuh, padahal beliau
mengatakan seandainya teks-teks tulisan kitab Imam Syafi'i hilang maka sungguh akan aku
diktekan dari dadaku. Dan ketika mereka sebagai para pembesar madzhab Syafi'i tidak layak
untuk menempati derajat ijtihad al-madzhab, maka bagaimana diperkenankan bagi orang
yang tidak faham sebagian besar istilah mereka mendakwakan diri lebih tinggi dari ijtihad al-
madzhab (yakni ijtihad mutlak). Maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang
besar.
Di dalam kitab al-Anwar, Imam Rafi'I al-Syafi'I (w. 623) mengatakan bahwa para ulama
sepertinya telah sepakat bahwa pada hari ini tidak ada seorang mujtahid. Ibnu Abi al-Dam
setelah menguraikan syarat-syarat ijtihad mengatakan bahwa syarat-syarat ini jarang sekali
ditemukan pada seorang ulama di zaman kita ini, bahkan sudah tidak ditemukan lagi pada
zaman ini seorang mujtahid mutlak, bahkan mujtahid madzhab sekalipun. Imam al-Qafal
ketika menjelaskan tentang masalah fatwa menyatakan bahwa orang yang telah memenuhi
persyaratn ijtihad sudah tidak ditemukan lagi pada zamanya.
Akan tetapi nampaknya klaim yang mengatakan bahwa tertutupnya pintu ijtihad telah
disepakati oleh para ulama dari berbagai madzhab perlu untuk kita teliti. Buktinya para
ulama dari Madzhab Hanbali menyatakan bahwa suatu zaman tidak boleh sepi dari seorang
mujtahid baik itu mutlak maupuan muqoyyad. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sekelompok umatku tidak akan pernah berhenti menampakkan kebenaran sehingga datang
urusan Allah SWT (hari kiamat)." [H.R. Muslim]. Mereka juga mengatakan bahwa ijtihad
merupakan fardhu kifayah sehingga ketiadaanya menyebabkan kaum muslimin untuk
sepakat pada sesuatu yang bathil. Bahkan mengenai hal itu, Ibnul Qayyim mengatakan
bahwa mereka (para mujtahid) adalah orang-orang yang telah disabdakan oleh Rasulullah
SAW: "Sesungguhnya Allah SWT akan mengutus bagi umat ini setiap seratus tahun orang
untuk memperbaharui urusan agama mereka." [H.R. Abu Dawud dan yang lainnya]. Mereka
adalah orang-orang yang telah diungkapkan oleh Sayidina Ali RA bahwa dunia ini tidak akan
sepi dari orang yang menegakkan hujjah Allah SWT. Para ulama dari madzhab Hanbali
menyatakan bahwa pintu ijtihad dengan berbagai tingkatannya masih terbuka.

2. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup
Ada yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar abad ke-2 atau
ke-3 H. jika kita mengatakan bahwa semua pintu ijtihad dengan berbagai macam tingkatan
telah tertutup sejak masa itu, maka hal itu tidak bisa diterima. Sejarah telah membuktikan
bahwa setiap masa tidak akan pernah sepi dari mujaddid. Para ulama mengatakan bahwa
mujaddid-mujaddid itu adalah para mujtahid. Kita ketahui pada abad pertama muncul Umar
bin Abdul Azis, sebagaimana pernyataan al-Imam al-Dzahabi, beliau telah mencapai
tingkatan ijtihad. Kemudian pada abad ke-2 muncul Imam Syafi'i, lalu disusul Ibnu Suraij
pada abad ke-3, beliau termasuk pembesar mujtahid dan termasuk dalam kelompok Ashhab
al-Wujuh, sedangkan pada abad ke-4 terdapat Imam Abu Thayib Sahl bin Muhammad al-
Sha'aluki atau Syeikh Abu Hamid sebagai imam penduduk Irak. Keduanya termasuk mujtahid
dan Ashhabal-Wujuh. Selanjutnya pada abad ke-5 terdapat Imam al-Ghazali, sebagaimana
fatwa Ibnu Sholah, beliau termasuk mujtahid. Lalu pada abad ke-6 terdapat Imam Rafi'i,
pada abad ke-7 Syeikh Ibnu Daqiq al-'Id, abad ke-8 Imam al-Bulqini. Kemudian pada generasi
selanjutnya muncul Imam Suyuthi beliau mendakwakan diri telah mencapai tingkat
mujtahid, beliau berkata: "Telah sempurna pada diriku kriteria untuk berijtihad dengan
berkat pertolongan Allah SWT, seandainya aku menghendaki untuk menulis satu karya
tentang suatu masalah yang disertai dengan komentar-komentar, dalil-dali baik secara naqli
maupun qiyas dan perbedaan pendapat di antara madzhab, maka sungguh aku akan mampu
untuk melakukannya berkat anugerah Allah SWT."
Dari kedua pendapat yang telah dikemukakan di atas sebenarnya kita bisa mengambil
jalan tengah dari keduanya. Ulama yang memfatwakan bahwa ijtihad telah tertutup dan
sudah tidak ada lagi mujtahid pada zaman ini yang dimaksud mereka adalah ijtihad dan
mujtahid muthlak baik yang mutstaqil maupun ghairu mutstaqil. Sedangkan para ulama yang
mengatakan bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan setiap masa tidak boleh sepi dari
seorang mujtahid adalah mujtahid yang tingkatannya berada di bawah mujtahid mutlak. Hal
itu dapat kita tinjau dari beberapa hal:
a. Para Ulama yang dianggap sebagai mujtahid mutlak oleh kelompok kedua (yang
berpendapat bahwa pintu ijtihad dengan segala macamnya masih terbuka) telah
menyatakan sendiri bahwa mujtahid mutlak pada zaman mereka sudah tidak ada lagi. Hal itu
sebagaimana pernyataan Imam al-Ghazali sendiri bahwa pada zaman beliau sudah tidak
terdapat seorang mujtahid mutlak. Dalam kitabnya al-Wasith beliau berkata: "Syarat-syarat
ini yakni syarat ijtihad (ijtihad mutlak) yang layak disandang oleh seorang Qadli sungguh sulit
ditemukan pada zaman kita sekarang ini." Selain Imam Ghazali, Imam Rafi'i dan Nawawi juga
menyatakan hal yang sama bahwa para ulama sepertinya telah sepakat bahwa pada masa ini
sudah tidak ada lagi seorang mujtahid (mujtahid mutlak).
b. Imam Suyuthi sendiri yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid mutlak ternyata tidak bisa
memenuhi persyaratan mujtahid mutlak yang beliau ajukan sendiri. Mengenai syarat ijtihad
Imam Suyuthi mengajukan sekitar lima belas syarat yang harus dipenuhi. Pada syarat kedua
belas beliau menyebutkan bahwa syarat bagi seorang mujtahid mutlak haruslah menguasai
ilmu hisab. Sedangkan beliau sendiri mengakui bahwa beliau tidak menguasai ilmu hisab. Hal
itu sebagaimana penuturan beliau sendiri: "Ilmu hisab (ilmu hitung) adalah ilmu yang sangat
sulit bagiku dan paling jauh dari penalaranku."
Dari uraian di atas dapat kita fahami, betapa sulit dan rumitnya persyaratan yang
harus dipenuhi oleh seorang mujtahid sehingga ia diperbolehkan untuk berijtihad. Sehingga
setiap orang tidak dibenarkan untuk mengkliam dirinya telah berijtihad sedangkan ia sendiri
tidak mnguasai alat-alat yang digunakan sebagai media untuk menggali hukum dari al-Kitab
dan al-Sunnah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ijtihad (داهتجا) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang dan orang yang berijtihat disebut mujtahid.
2. Tidak semua orang yang memahami Agama disebut mujtihad, ada syarat/kriteria yang
menyatakan sah nya menjadi seorang mujtihad.
3. Dalam menentukan terbuka atau tertutupnya pintu ijtihad, sebagian ulama menyatakan
bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan sebagian lagi menyatakan pintu ijtihad masih terbuka
meski berbeda dalam tingkatanya.
B. Saran
Diharapkan kepada dosen dan pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad,

Sukabul, http://kabulkhan.blogspot.com/2010/02/ijtihad-dalam-islam-makalah-disusun-dan.html


Posted 22nd November 2012 by junaidi fina
10.
Nov
20

IMAM MALIK DAN KITABNYA AL-MUWATTHA

Imam Malik adalah seorang ulama besar yang dikenal sebagai pendiri mazhab Maliki yang
merupakan salah satu mazhab fikih terbesar di dunia Islam. Keahliannya dalam bidang fikih,
tidak diragukan lagi, demikian pula keahliannya di bidang Hadis. Karya monumentalnya
dalam bidang Hadis adalah kitabnya yang berjudul al-Muwattha. Kitab ini sangat sarat
dengan Hadis-Hadis hukum, karena secara definisi ilmu Hadis, al-Muwattha adalah kitab
Hadis yang disusun berdasarkan bab fiqih dan masih bercampur dengan qaul sahabat dan
tabi‟in. Bercampurnya Hadis Rasulullah dengan qaul sahabat dan tabi‟in ini membuat
keshahihan Hadis dalam kitab al-Muwattha menjadi diragukan.
Para ahli Hadis banyak yang melakukan penelitian tentang keshahihan Hadis yang
ada dalam kitab al-Muwattha ini. Salah satunya adalah Ibnu Abdi al-Barr, seorang ulama
Hadis yang bermazhab Maliki. Dari hasil penelitiannya, ia menyimpulkan bahwa Hadis-Hadis
dha‟if yang tercantum dalam kitab al-Muwattha termasuk qaul sahabat dan tabi‟‟in-nya
adalah bersambung sanadnya dari jalur lain. Maka, seluruh Hadis yang ada dalam kitab al-
Muwattha karya imam Malik ini adalah shahih.
Pendahuluan
Imam Malik adalah salah seorang ulama fiqih yang terkenal sebagai pendiri mazhab
Maliki dalam bidang fiqih. Mazhab ini cukup berkembang di dunia internasional, terutama di
Andalusia. Selain sebagai ulama fiqih, ia pun dikenal sebagai ahli Hadis. Salah satu karyanya
yang monumental dalam bidang Hadis adalah al–Muwattha. Kitab ini merupakan kitab Hadis
yang sangat klasik, sehingga menarik untuk dikaji.
Keahlian imam Malik dalam meriwayatkan Hadis dapat kita lihat dalam kitabnya ini. Apakah
sistem periwayatannya memenuhi kriteria kesahihan Hadis menurut jumhur muhadditsin atau
tidak. Kitab ini pun sangat sarat dengan qaul sahabat dan tabi‟in, sehingga sebagian orang
mengkategorikan kitab ini sebagai kitab fiqih, bukan kitab Hadis. Meskipun demikian,
jumhur muhadditsin berpendapat bahwa kitab ini dipandang sebagai kitab Hadis karena
metode penyusunannya berdasarkan sistem periwayatan Hadis.
Tetapi, sebagai kitab Hadis, kitab ini perlu diteliti keshahihannya. Karenanya, penulis
mencoba mengkaji seberapa jauh keshahihan Hadis dalam kitab al-Muwattha ini. Keshahihan
sebuah Hadis dapat kita lihat dari metode periwayatan yang digunakan Imam Malik dalam
kitabnya, sanad yang digunakannya, serta ketelitian redaksi matannya. Dalam hal ini, penulis
hanya akan mengkaji sistem periwayatan dan sanad yang dipakai oleh imam Malik dalam al-
Muwattha-nya.
PEMBAHASAN
A. Biografi Imam Malik ibn Anas al-Asbuhy
1. Nasabnya
Ia adalah Imam Dar al-hijrah Abu Abdillah Malik ibn Anas ibn Malik ibn Abi Amir
ibn „Amr ibn al-Harits ibn Ghaiman ibn Khutsail ibn „Amr ibn al-Harits. Nasabnya terhenti
pada Ya‟kub ibn Yasyjub ibn Qahthan al-Asbuhy.[1] Banyak perbedaan pandangan dalam
nasab asbuhynya. Al-Qadhi „Iyadh, dalam kitabnya “al- Madarik” mengutip banyak pendapat
tentang hal ini. Ia berpendapat bahwa tidak ada pertentangan dalam nasabnya ke Qahthan,
karenanya Imam Malik adalah orang Arab asli dari Arab Yaman, bukan orang Taimiy
sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ishaq, tetapi keluarga Imam Malik memang bermitra
dengan Utsman ibn Ubaidillah at-Taimiy, saudara Thalhah.[2]
Kakeknya Abu Amir adalah sahabat Rasulullah SAW. dan ikut berjihad pada semua
peperangan bersama beliau kecuali perang Badar. Malik, kakeknya yang lain, termasuk ulama
tabi‟in dan salah seorang yang membawa Utsman RA. ke pemakaman pada malam hari.
Ayah Imam Malik, yaitu Anas ibn Malik bukanlah pembantu Rasulullah SAW. yang
terkenal itu. Ayahnya tidak dikenal sebagai seorang yang tekun dalam menuntut ilmu,
meskipun ia punya keinginan yang kuat untuk melakukannya dan ia mengetahui beberapa
Hadis. Sedangkan ibu Imam Malik bernama „Aliyah binti Syarik al-Ajdiah. Dan paman-
pamannya adalah Abu Suhail, Nafi‟, Uwais, al-Rabi, al-Nadhr, dan anak-anak Abi Amir.
Keluarga Imam Malik semuanya menekuni Hadis dan fatwa.[3]
2. Perjalanan Hidup dan Sifatnya
Menurut pendapat yang paling dapat dipercaya, Imam Malik dilahirkan pada tahun 93 H.
yaitu tahun wafatnya Anas, pembantu Rasulullah SAW., setelah dikandung ibunya selama
tiga tahun.[4]
Di masa kecilnya, ia sudah menghafal al-Qur‟an, al-Hadis, mempelajari fatwa
sahabat, fikih, dan menolak orang-orang yang mengikuti hawa nafsu. Ia rajin menuntut ilmu,
dan Allah telah mengaruniainya kekuatan hafalan. Pada awalnya ia dikenal sebagai orang
yang miskin, kemudian setelah itu ia dikaruniai rizki yang melimpah oleh Allah SWT.
Imam Malik belajar fikih dari Rabi‟ah. Rabi‟ah adalah seorang tabi‟in yang cerdas. Nama
aslinya adalah Abu Utsman Rabi‟ah ibn Abi Abd al-Rahman al-Qurashi, ia disebut juga
dengan Rabi‟ah al-Ra‟yi, karena ia terkenal dalam argumentasi dan analoginya, dan ia juga
dikenal sebagai orang yang dapat menyelesaikan masalah yang sulit di kalangan orang
Madinah di samping juga sebagai ketua tim fatwa. Para ulama juga bersepakat tentang ke-
tsiqah-an dan ketinggian ilmunya. Karena ketinggian ilmunya itulah, maka Imam Malik
sampai berkata : “Manisnya fikih hilang setelah meninggalnya Rabi‟ah”. Rabi‟ah wafat di
Madinah -ada juga yang mengatakan di Irak- pada tahun 136 H.[5] Setelah wafatnya Rabi‟ah,
Imam Malik menuntut ilmu dari banyak guru sehingga al-Nawawi berpendapat bahwa guru
Imam Malik berjumlah 900 orang, 300 di antaranya dari kalangan tabi‟in dan 600 dari
kalangan tabi‟it tabi‟in. Di antara gurunya yang paling cerdas adalah Abdurrahman ibn
Hurmuz al-A‟raj dan Nafi‟ Maula Abdillah ibn Umar.
Imam Malik belajar dari sejak muda yaitu sekitar umur 17 tahun. Ia memilih masjid
Rasulullah SAW. (Masjid Nabawi) di Madinah sebagai tempat belajarnya, tepatnya di tempat
yang biasa diduduki khalifah Umar ibn al-Khatab sebagaimana juga biasa diduduki oleh
Rasulullah SAW. juga. Dalam perjalanan menuntut ilmu ini, ia tidak pindah belajar ke
rumahnya sampai ia terkena sakit. Imam Malik sangat tekun dalam menuntut ilmu sehingga ia
sangat cerdas. Oleh karena itu, banyak orang berduyun-duyun mendatanginya untuk menimba
ilmu darinya. Bahkan ia mempunyai martabat yang tinggi di kalangan banyak orang.[6]
Dasar-dasar mazhabnya sama dengan Imam yang lain: al-Qur‟an, al-Sunnah, ijma‟, qiyas,
„amal ahli Madinah, dan al-Mashalih al-Mursalah. Menurut Imam Malik, „amal ahli Madinah
lebih kuat daripada Hadis ahad, jika Hadis ahad bertentangan dengan „amal ahli Madinah
maka „amal ahli Madinah lebih didahulukan.[7]
Imam Malik menikah dengan gadis budak. Ia sangat mencintai istri dan anak-
anaknya. Dari pernikahannya ia dikaruniai tiga putera dan satu puteri yaitu Muhammad,
Hammad, Yahya, dan Fatimah. Fatimah hafal dan menguasai kitab ayahnya al-Muwattha,
karena ia suka ikut dan mendengarkan orang yang belajar kepada bapaknya. Puterinya inilah
yang mencapai martabat keilmuan yang tinggi yang kemudian disusul oleh anaknya yang
lain.[8]
Imam Malik berkulit putih kemerah-merahan, berbadan tinggi, kepala dan jenggotnya
beruban, dan bermata biru. Ia suka mengenakan pakaian yang bagus dan sopan serta memakai
wewangian.[9] Imam Malik sering shalat di masjid, baik shalat wajib, shalat Jum‟at, maupun
shalat jenazah. Ia juga sering menjenguk orang yang sakit, menunaikan segala kewajibannya,
dan bergaul bersama para sahabatnya.
Majelis Imam Malik adalah majelis yang penuh khidmat. Ia adalah orang yang mulia,
sehingga dalam majelisnya tidak ada sedikitpun perdebatan dan suara yang keras. Banyak
orang asing yang belajar kepadanya. Ia juga mempunyai seorang sekretaris yang mencetak
buku-bukunya, sekretarisnya itu bernama Abu Muhammad Habib ibn Abi Habib. Habib inilah
yang suka membacakan Hadis kepada murid-murid Imam Malik.
Imam Malik terkena mihnah pada tahun 147 H. yang menyebabkannya terkena
siksaan fisik. Mengenai sebab terjadinya mihnah ini terdapat perberbedaan pendapat, ada
yang mengatakan karena ia berfatwa tentang tidak adanya talak mukrah karena mereka
membenci orang yang bersumpah talak ketika bai‟at sehingga mereka berpendapat bahwa
fatwa Imam Malik membuat orang-orang menghalalkan orang yang membatalkan bai‟at. Ada
juga yang mengatakan bahwa sebabnya berawal dari pertanyaan ibn al-Qasim kepada Imam
Malik tentang kebolehan dibunuhnya orang yang membangkang. Imam Malik menjawab
pembangkang itu boleh dibunuh jika mereka keluar seperti Umar bn Abdi al-Aziz. Jika tidak
demikian, biarkanlah mereka diazab Allah. Fatwa inilah yang menyebabkan terjadinya
mihnah kepada Imam Malik dengan mendapat 70 pukulan oleh algojo khalifah al-Manshur di
Madinah. Tetapi mihnah ini terjadi tanpa sepengetahuan khalifah al-Manshur, maka ketika
berita ini sampai kepada khalifah, ia sangat marah kepada algojonya.[10]
Imam Malik menghasilkan fatwanya setelah penelitian yang lengkap dan ijtihad yang
dalam. Ia tidak menganggap fatwanya itulah yang paling benar, bahkan ia menyuruh orang-
orang untuk mengecek kembali kebenaran pendapatnya itu, seperti yang dikatakan Abu
Nu‟aim di bawah ini :
ٗن ذٓش ٗرح ديرفأاي " : لٕمي سَأ ٍت كناي دعًس : لٕمي ٖذُجنا ذًحي ٍت مضفًنا دعًس : لال ىصاع ٍت ذًحي ٌاثذح
[".ٍيُميرسًت ٍحَ ائ اُظ لإ ٍظَ ٌإ " : كناي وايلا لٕمئ " .كنزن مْأ َٗأ ٌٕعثس 11 ]
“ Diceritakan pada kami oleh Muhammad ibn „Ashim, ia berkata: saya mendengar al-
Mufaddhal ibn Muhammad al-Jundi berkata: saya mendengar Imam Malik ibn Anas berkata:
Aku tidak berfatwa sampai tujuh puluh orang mengakui kalau aku orang yang ahli dalam hal
itu. Kemudian Imam Malik membaca ayat: “ yang kami kira ini hanyalah prasangka dan kami
bukanlah orang yang dapat diyakini.”
Imam Malik sakit selama 22 hari, kemudian wafat pada hari Ahad tanggal 10 -ada juga yang
mengatakan tanggal 14 -Rabi‟ul Awal tahun 179 H., dan dimakamkan di al-Baqi.[12]

3. Guru dan Muridnya
Imam Malik belajar dari banyak guru, yaitu sekitar 900 orang. Di antara mereka
adalah: Rabi‟ah al-Ra‟yi ibn Abi Abdi al-Rahman (wafat 136 H.) yang dikenal keahliannya
dalam fikih dan Hadis, Abdurrahman ibn Hurmuz Abu Bakar ibn Abdillah ibn Yazid (wafat
148 H.), Ibnu Syihab al-Zuhri (wafat 124 H.) yang dianggap sebagai tokoh yang
mengkodifikasi Hadis, Nafi‟ ibn Sarj Abu Abdillah al-Dailami Maula Abdillah ibn Umar,
Ja‟far ibn Muhammad ibn Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib al-Madani (wafat 148
H.)[13], Ibnu al-Munkadir, dan lain-lain.
Murid Imam Malik berjumlah sekitar 1000 orang yang mangambil Hadits darinya. Di
antaranya Ahmad ibn Ismail Abu Huzafah al-Sahmi al-Madani, Hamad ibn Salamah, Khalid
ibn Makhlad al-Gatfani, Daud ibn Abdullah al-Ja‟fari, Sufyan al-Tsauri, sufyan ibn „Uyainah,
Syu‟bah ibn al-Hajaz, Abdullah ibn al-Mubarok, al-Laits ibn Sa‟ad, Muhammad ibn Idris al-
Syafi‟i, Abu Hanifah al-Nu‟man ibn Tsabit, Waqi‟ ibn al-Jarah, Yahya ibn Sa‟id al-Anshari,
anaknya Yahya, Yahya ibn Sa‟id al-Qatthan, Abu „Urwah al-Zubairi, dan putri Imam Malik
yang bernama Ummu al-Banin, dan lain-lain.[14]

4. Perhatiannya Terhadap Hadis Nabi
Para ulama bersepakat akan keahlian dan keagungan Imam Malik dalam Hadis,
meneliti perawi, dan menetapkan hukum dari al-Qur‟an dan al-Sunnah. Bahkan sanadnya
dalam periwayatan Hadis dianggap sebagai ashahhu al-asanid (sanad yang paling shahih)
menurut ulama Hadis, sehingga ia dijuluki dengan silsilah al-dzahab (jalur emas), mereka
juga bersepakat bahwa Imam malik adalah seorang perawi yang tsiqah, „adil, dhabit, dan teliti
dalam menerima Hadis.
Imam Malik teguh dalam memegang Hadis, mengetahui rijal Hadis, sehingga banyak
guru dan teman-temannya yang menerima Hadis darinya. Ia tinggal di Madinah sebagai
tempat bersumbernya Hadis dan wahyu sehingga Imam Malik tidak melakukan rihlah ke
negara lain. Oleh karena itu, kita akan menemukan kebanyakan riwayatnya dari ahli al-Hijaz
dan sedikit sekali dari negeri lain. Orang-orang dari segala penjuru dunia banyak yang
mendatangi Imam Malik untuk belajar Hadis dan menanyakan berbagai masalah kepadanya
karena kecerdasannya dalam ilmu Hadis dan fikih.
Salah satu indikasi kecintaannya kepada Hadis Rasulullah SAW. adalah makruhnya
meninggikan suara ketika belajar Hadis. Ia berdalil dengan firman Allah pada surat al-Hujurat
ayat 2 sebagai berikut:
ٗثُنا خٕص قٕف ىكذإصأ إعفشذ ل إُيا ٍيزنا آيأ اي
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau tinggikan suaramu di hadapan nabi”
Kecintaan Imam Malik kepada Hadis mencakup kecintaannya kepada para sahabat Rasulullah
SAW.
Berikut ini komentar para ulama tentang ketinggian dan kecerdasan Imam Malik:
1. Ibnu Mahdi berkata: “tidak ada seorangpun yang lebih tinggi dari Imam malik dalam
keshahihan Hadis”.
2. Imam Syafi‟i berkata: “Jika datang Hadis, maka Imam Maliklah bintangnya”. Ia juga berkata:
“Jika disebut para ulama, maka Imam Maliklah bintangnya.”
3. Al-Bukhari berkata: “Sanad yang paling shahih adalah Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar”.[18]
Imam Malik sangat tawadhu dan sangat mencintai Rasulullah SAW. hingga ia tidak
pernah mengendarai atau menunggang kuda di Madinah sebagai penghormatan kepada tanah
tempat dikuburkannya jasad Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan kecintaan dan
penghormatannya kepada Rasulullah SAW. Salah satu contoh aplikatif perhatiannya terhadap
Hadis nabi adalah karyanya yang monumental dalam bidang Hadis yaitu kitab al-Muwattha
yang menghimpun Hadis-Hadis Rasulullah SAW.

5. Karya-Karyanya
Imam Jalaluddin al-Suyuthi menyebutkan dalam kitabnya Tazyin al-Mamalik, bahwa
Imam Malik mengarang beberapa kitab, di antaranya kitab al-Muwattha dalam bidang Hadis
dan fikih, kitab tafsir Gharib al-Qur‟an al-Karim, kitab al-Surur, Risalah Fi al-fatwa , Risalah
Fi al-Nujum, Risalah Fi al-Aqdhiyah, Risalah Fi al-Qadar Wa al-Raddu ‟ala al-Qadariyah,
risalah fi al-Wa‟zhi ila al-Khalifah Harun al-Rasyid. Tetapi karya-karya Imam Malik ini
masih diragukan kebenarannya kecuali kitab al-Muwattha.

B. Mengenal Kitab Al-Muwattha
1. Definisi al-Muwattha
Al-Muwattha secara etimologi berarti yang dipermudah dan dipersiapkan. Dikatakan
dalam kamus :
ّهٓسٔ حثيدٔ ِأيْ : ِأطٔٔ.
“Disiapkan dan dimudahkan”.
Lafaz al-Muwattha juga bermakna yang dibentangkan dan diperbaiki (dibetulkan).
Sedangkan al-Muwattha secara terminologi di kalangan ahli Hadis berarti:
ٌأ اياًذ "فُصًناك" ٕٓف ,حعٕطمًنأ حفٕل ًٕنأ حعٕفشًنا ثيداحلا مع مًرشئ ,حيٓمفنا بإتلا مع ةذشًنا باركنا
حيًسرنا دفهرخا.
“Kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fikih, dan mencakup Hadis-Hadis marfu, mauquf
dan maqthu‟. Istilah ini sama dengan istilah al-mushannaf meskipun namanya berbeda.”[22]

2. Sebab Penyusunannya
Sebab penamaan kitab ini dengan “al-Muwattha” karena pengarangnya
memudahkannya untuk orang-orang. Adapula yang mengatakan bahwa sebab Imam Malik
menamakan kitabnya dengan al-muwattha sebagaimana yang diriwayatkan darinya
bahwasanya ia berkata :
" ّيهع َٗأطأ ىٓهكف .حُيذًنا ءآمف ٍي آيمف ٍيعثس ٗهع ازْ ٗتارك دضشع - ّيهع ُٗمفأ ٖأ - أطًٕنا ّريًسف, "
“Saya sampaikan kitabku ini kepada tujuh puluh fuqaha Madinah, kemudian mereka semua
menyetujuiku, kemudian aku menamakannya “al-Muwattha”.[23]
Di samping itu, Abu Ja‟far al-Mansur, salah seorang khalifah Abbasiyah, meminta
Imam Malik untuk menghimpun Hadis-Hadis yang ada padanya, agar menyusunnya pada satu
buku, dan menyampaikannya kepada orang-orang. Kemudian Imam Malik menyusun
kitabnya yang kemudian diberi nama “al-Muwattha”.
Di samping sebab-sebab di atas, kondisi pada masa Imam Malik hidup itu
menuntutnya untuk menyusun Hadis dalam sebuah buku, tidak dalam lembaran yang
dikhawatirkan tercecer seperti pada abad I Hijriyah. Pada saat yang bersamaan, banyak ulama
lain di belahan dunia Islam seperti Mesir, Syam, Irak, Yaman, Khurasan, dan lain-lain juga
melakukan hal yang sama dengan Imam Malik.
Imam Malik sangat bersungguh-sungguh dalam menyusun kitabnya ini, sampai ada
yang mengatakan ia menyusunnya selama empat puluh tahun sebagaimana yang diriwayatkan
Ibnu Abdi al-Barr dari Umar ibn Abdi al-Wahid al-Auza‟i, katanya:
كناي ٗهع اُضشع ّيف ٌٕٓمفذ اي ملأ اي ايٕي ٍيعتسأ ٗف ًِٕذزخأ حُس ٍيعتسأ ٗف ّرفنأ بارك :لامف ايٕي ٍيعتسأ ٗف أطًٕنا .
“Kami belajar kitab al-Muwattha kepada Imam Malik selama empat puluh hari, lalu Imam
Malik berkata: “Kitab yang saya susun selama empat puluh tahun hanya akan engkau pelajari
selama empat puluh hari. Betapa sedikit yang kalian kuasai darinya.”

3. Jumlah Hadis al-Muwattha
Para ulama berbeda pendapat dalam menghitung jumlah Hadis dalam kitab al-
Muwattha. Ibnu al-Habbab berpendapat bahwa Imam Malik meriwayatkan seratus ribu Hadis,
sepuluh ribu di antaranya dihimpun dalam al-Muwattha, kemudian disesuaikan dengan al-
Qur‟an, al-Sunnah dan atsar sehingga tinggal lima ratus Hadis. Abu Bakar al-Abhari
berpendapat bahwa jumlah atsar Nabi, sahabat, dan tabi‟in dalam al-Muwattha, seluruhnya
seribu tujuh ratus dua puluh Hadis. Dari jumlah tersebut, yang musnad ada enam ratus Hadis,
dua ratus dua puluh dua Hadis mursal, enam ratus tiga belas Hadis mauquf, dan dua ratus
delapan puluh lima qaul tabi‟in.
Sementara itu, Ibnu Hazm berpendapat bahwa ia menghitung Hadis dalam al-
Muwattha dan Hadis Sufyan ibn „Uyainah jumlahnya lima ratus Hadis musnad pada setiap
kitab tersebut, tiga ratus lebih Hadis mursal, tujuh puluh Hadis lebih yang tidak diamalkan
oleh Imam Malik sendiri, dan ada juga Hadis yang dianggap dha‟if oleh para ulama.
Perbedaan pendapat ulama dalam menghitung Hadis al-Muwattha ini karena
perbedaan perawinya. Ulama yang menghitung Hadis tersebut menghitung sesuai dengan
riwayat yang ia terima. Oleh karena itu, al-Suyuthi dalam kitab Tadrib al-Rawi mengutip
perkataan al-Hafiz Shalahuddin al-„Alai sebagai berikut:
حيأس خادايص اْشثكأ ٍئ صمَٔ جدايصٔ شيخأذٔ ىيذمذ ٍي فلرخا ىٓذايأس ٍيتٔ جشيثك خاعاًج كناي ٍع أطًٕنا ٖٔس
ٍسحنا ٍت ذًحي حيأس ٗف كنزك .ثيذح حئاي ٕحَ ُٗعي ةعصي ٍتا كيشط شيغ ٍي اْداص اثيذح ٌٕعثسٔ حسًخٔ حئاي
ذع ٗف ساُنا لإلا دفهرخا كنر ٍئ .اًْشيغ ٍع ٗلاثنأ فسٕي ٗتأ ٍع حعتسأ ٔ حفيُح ٗتأ ٍع ششع حثلث آُي كناي
أطًٕنا ثيداحأ.
“Banyak orang yang meriwatkan al-Muwattha dari Imam Malik, dan terdapat perbedaan
dalam periwayatan mereka tersebut seperti ada yang dimajukan, diakhirkan, tambahan, dan
pengurangan. Riwayat yang paling banyak tambahannya adalah riwayat Ibnu Mus‟ab, yaitu
sekitar seratus Hadis. Begitu juga dengan riwayat Muhammad ibn al-Hasan ada sekitar 175
Hadis yang ditambahkan bukan lewat jalur Imam Malik, di antaranya 13 dari Abu Hanifah, 4
dari Abu Yusuf, dan sisanya selain dari keduanya. Oleh karena itu, orang-orang berbeda
pendapat dalam menghitung Hadis-hadis al-Muwattha.

4. Riwayat-Riwayat al-Muwattha
Terdapat banyak naskah al-Muwattha, dan yang terkenal mencapai sekitar 30 naskah
dengan berbagai perbedaan tambahan dan pengurangan sesuai dengan perawinya. Imam Al-
Suyuthi menyebutkan ada 14 naskah yang terkenal, di antaranya: naskah Yahya ibn Yahya al-
Laitsi al-Andalusi, Naskah Abi Mus‟ab Ahmad ibn Abi Bakr al-Qasim Qadhi Madinah,
naskah Imam Muhammad ibn al-Hasan al-Syaibani pengikut Abi Hanifah, naskah Ibnu
Wahab, Naskah Ibnu Bakir, naskah Muhammad ibn Mubarak al-Shuri, dan lain-lain.
Dari naskah-naskah al-Muwattha tersebut di atas, riwayat Yahya ibn Yahya ibn
Katsir al-Laitsi al-Andalusi lah yang dianggap paling shahih dan paling masyhur. Kitab al-
Muwattha yang ada sekarang adalah riwayat Yahya tersebut. Riwayat yang paling besar
adalah riwayat Abdullah ibn Muslim al-Qa‟nabi, dan riwayat yang paling banyak
tambahannya adalah riwayat Abi Mus‟ab Ahmad ibn Abi Bakr al-Qurasyi al-Zuhri Qadhi
Madinah. Jumlah Hadis yang paling banyak terdapat pada riwayat Muhammad ibn al-Hasan
al-Syaibani, dan pada riwayat ini banyak Hadis-Hadis mudah yang diriwayatkan bukan dari
Imam Malik serta tambahan dari riwayat yang masyhur tetapi juga tidak mencantumkan
beberapa Hadis yang jelas termaktub pada riwayat lain.

5. Syarah al-Muwattha
Para ulama banyak yang men-syarah-kan (memberikan penjelasan) kitab al-
Muwattha, di antaranya:
a. al-Hafiz Abu Umar ibn Abdi al-Barr al-Namiri al-Qurthubi (wafat 463 H.) yang mengarang
dua syarah, yaitu “al-Tamhid Lima fi al-Muwattha min al-Ma‟ani Wa al-Asanid” yang
disusun berdasarkan nama guru (syekh) Imam Malik secara abjad. Dan yang kedua berjudul
“Kitab al-Istidzkar fi Syarh Madzahib „Ulama al-Amshor”.
b. Jalaluddin al-Suyuthi (wafat 911 H.) yang mensyarah dengan judul “Kasyf al-Mughattha fi
Syarh al-Muwattha” yang kemudian diringkasnya dalam “Tanwir al-Hawalik”.
c. Muhammad ibn Abd al-Baqi al-Zarqani al-Mishri al-Maliki (wafat 1014 H.) yang mensyarah
dalam tiga jilid buku yang cukup besar.
d. Abu al-Walid Sulaiman ibn Khalaf al-Baji al-Andalusi yang menamakan syarahnya dengan
“al-Istifa”.
6. Sanad dan Perawi dalam al-Muwattha
Sanad yang digunakan Imam Malik dalam meriwayatkan Hadis musnad yang
terdapat pada kitab al-Muwattha adalah:
a. Hadis Ibnu Umar dari Nabi SAW., biasanya ia riwayatkan dari Nafi‟, Abdullah ibn Dinar,
dan terkadang Ibnu Umar meriwayatkan dari ayahnya dari Nabi SAW.
b. Hadis Aisyah dari Nabi SAW. -biasanya diriwayatkan melalui jalur Ibnu Syihab dari „Urwah,
atau melalui Qasim dari Aisyah, dari Hisyam ibn „Urwah dari ayahnya, dari Aisyahnya
sendiri, atau melalui Yahya ibn Sa‟id dari „Amrah dari Aisyah.
c. Hadis Abu Hurairah dari Nabi SAW. diriwayatkannya dari beberapa guru, di antaranya: Ibnu
Syihab dari Sa‟id ibn al-Musayyab dari Abi Hurairah, Ibnu Syihab dari Abi Salamah dari Abi
Hurairah, Abu al-Zanad dari al-A‟raj dari Abi Hurairah, al-„A‟la ibn Abdirrahman dari
ayahnya dari Abi Hurairah, Yahya ibn Sa‟id dari Sa‟id ibn al-Musayyab dari Abi Hurairah,
Suhail ibn Abi Shalih dari ayahnya dari Abi Hurairah, Sumayya dari Abi Shalih dari Abu
Hurairah, dan Sa‟id ibn Abi Sa‟id dari ayahnya dari Abi Hurairah.
d. Hadis Anas dari Nabi SAW. diriwayatkannya dari Ibnu Syihab al-Zuhri, Ishaq ibn Abdillah
ibn Abi Thalhah, dan Humaid.
e. Hadis Jabir dari Nabi SAW. diriwayatkan melalui tiga orang tanpa perantara, mereka itu
adalah Abu al-Zubair, Wahab ibn Kaisan, dan Humaid al-Thawil, semuanya langsung dari
Jabir. Di samping itu, Imam Malik juga meriwayatkan dari Ja‟far ibn Muhammad dari
ayahnya dari Jabir.
f. Hadis Abi Sa‟id al-Khudri dari Nabi SAW. diriwayatkan melalui Abdurrahman ibn Abdullah
al-Mazini dari ayahnya dari Abi Sa‟id, „Amr ibn Yahya al-Mazini dari ayahnya dari Abi
Sa‟id, dan Muhammad ibn Abdillah ibn Abi Sha‟sha‟ah dari ayahnya dari Abi Sa‟id.
g. Hadis Sahl ibn Sa‟ad dari Nabi SAW. biasanya diriwayatkan dari Abi Hazim dari Sahl ibn
Sa‟ad.
Hampir lima ratus Hadis yang diriwayatkan Imam Malik dengan sanad di atas. Hadis-
Hadis tersebut merupakan Hadis yang paling shahih di segala penjuru dunia. Adapun riwayat
Imam Malik dari Ali ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Abbas jumlahnya sangat sedikit. Hal
ini karena mereka berdua tidak menetap di kota Imam Malik dan ia juga tidak pernah bertemu
rijal Hadisnya. Meskipun demikian, ia telah meriwayatkan beberapa Hadisnya.
Imam Malik biasanya meriwayatkan Hadis Ali ibn Abi Thalib melalui Ibnu Syihab dari
Abdullah dan al-Hasan, keduanya anak Muhammad ibn al-Hanafiyah dari ayah mereka
berdua. Adapun Hadis Ibnu Abbas dari Nabi SAW. biasa diriwayatkan melalui Ibnu Syihab
dari Ubaidillah ibn Abdillah ibn „Utbah dari ibn Abbas.
Al-Muwattha juga memuat banyak sanad yang disebut “Ashahhu al-Asanid” (Sanad
yang paling shahih) oleh para ulama. Beberapa sanad itu adalah:
a. Malik dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Dalam al-Muwattha, sanad ini berjumlah sekitar enam
puluh lima Hadis.
b. Malik dari Abi al-Zanad dari al-A‟raj dari Abi Hurairah. Dalam al-Muwattha, sanad ini
tertulis sekitar lima puluh empat Hadis.
c. Malik dari al-Zuhri dari Salim ibn Abdillah ibn Umar dari ayahnya. Sanad ini berjumlah
sekitar enam Hadis.
d. Malik dari al-Zuhri dari Ibnu al-Musayyab dari Abi Hurairah. Sanad ini kira-kira ada
sembilan Hadis.
e. Malik dari al-Zuhri dari „Urwah ibn al-Zubair dari Aisyah. Sanad ini sekitar dua belas Hadis.
f. Malik dari al-Zuhri dari Anas sekitar lima Hadis.[31]

7. Derajat Hadis al-Muwattha
Imam Malik hanya meriwayatkan Hadis dari orang yang „adil dan terpercaya dalam
sikap, akidahnya, kecerdasan, dan tingkah lakunya. Imam Malik pernah berpesan agar jangan
menimba ilmu dari empat golongan, yaitu: dari orang yang dikenal bodoh meskipun
terpandang, orang yang sering berdusta meskipun tidak dituduh berdusta kepada Rasulullah
SAW., orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga mengajak orang lain untuk menuruti
hawa nafsunya, dan juga dari seorang guru meskipun dikenal rajin ibadah dan keagungannya
jika ia tidak mengetahui apa yang ia ucapkan.
Di antara kehati-hatiannya dalam menyeleksi perawi yang tsiqah adalah bahwa Imam
Malik pernah menemukan tujuh puluh perawi yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW.
bersabda demikian, dan mereka adalah orang yang amanah (dapat dipercaya) sehingga jika
salah satu dari mereka dipercaya untuk menjaga bait al-mal pasti mereka amanah. Tetapi
tidak boleh menimba ilmu dari mereka karena mereka bukan orang yang ahli di bidang Hadis
dan fatwa. Dalam bidang Hadis dan fatwa ini dibutuhkan orang yang bertakwa, wara‟,
profesional, cerdas dan pintar, sehingga mengetahui secara jelas.[32]
Imam Malik dikenal sebagai seorang yang tasyaddud (teliti dan ketat) dalam
meriwayatkan Hadis, sehingga ia mensyaratkan perawi Hadis haruslah dapat menghafal kitab
sampai dia meyakini bahwa yang ada dalam kitab itu adalah Hadisnya. Banyak metode dalam
meriwayatkan Hadis, tetapi dari beberapa metode itu ada kemungkinan terjadi perubahan
Hadis atau kurang teliti. Oleh karena itu, Imam Malik hanya menggunakan beberapa metode
saja dalam meriwayatkan Hadis. Di antaranya adalah metode sima‟, qira‟ah kepada syekh
(guru), mukatabah, dan munawalah. Semua metode ini yang baik dalam periwayatan Hadis.
Tetapi Imam Malik tidak membolehkan metode ijazah, yaitu guru mempersilahkan muridnya
untuk meriwayatkan semua atau sebagian Hadisnya secara detail tanpa terjadi perubahan. Ia
menolak metode ijazah ini karena ia memberikan syarat agar si al-mujaz lah (murid) yang
menerima hadis ini merupakan orang yang menguasai Hadis sehingga tidak mungkin terjadi
perubahan atau penyimpangan. Di samping itu, ia juga mensyaratkan supaya Hadis yang
diriwayatkan dari kitab syekhnya sesuai dengan yang dimiliki gurunya seolah sama persis.
Syarat ketiga yaitu guru yang memberikan ijazah hendaklah orang yang menguasai Hadis
yang diriwayatkannya, tsiqah dalam agama dan periwayatannya, serta dikenal mahir.
Setelah mengetahui ketelitian Imam Malik dalam meriwayatkan Hadis di atas, tak
heran jika para ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa semua Hadis dalam al-Muwattha
adalah shahih, semua sanadnya bersambung, dan semua Hadis mursal dan munqathi‟ di
dalamnya, sanadnya bersambung dari jalur lain.
Ibn Abdi al-Barr mengarang kitab yang menyambungkan Hadis-Hadis mursal,
munqathi‟ dan mu‟addhal dalam al-Muwattha. Ia berkata:
لإ كناي كيشط شيغ ٍي جذُسي آهك اثيذح ٌٕرسٔ ذحأ ِذُسي ىن اًي ِذُع "حمثنا ٍع" ّنٕل ٍئ " ُٗغهت" ّنٕل ٍي ّيف اي
فشعذ ل حعتسأ:
ٗسَأ ل َٗإ : اْذحأ ثيذح ،ٕٓسنا بارك ٗف ّجشخأ( ٍسل ٗسَأ ٍكنٔ 2 )
ل ٌأ ّريأ ساًعأ شصامذ َّأكف ،كنر ٍي ا ءاش اي ٔأ ،ّهثل ساُنا ساًعأ ٖسأ ىهسٔ ّيهع ا ٗهص ا لٕسس ٌأ :َٗاثنأ
ٗف ّجشخأ( شٓش فنأ ٍي شيخ سذمنا حهين ا ِاطعأف ،شًعنا لٕط ٗف ىْشيغ غهت ٖزنا مثي مًعنا ٍي إغهثي بارك
ثيذح ،فاكرعلا 11 )
لال ٌأ صشغنا ٗف ٗهجس دعضٔ ٍيح ىهسٔ ّيهع ا ٗهص ا لٕسس ّت َٗاصٔأ اي شخآ :لال مثج ٍت راعي ٌأ :ثناثنأ
ثيذح ،كهخنا ٍسح بارك ٗف ّجشخأ( مثج ٍت راعي اي ،ساُهن كمهخ ٍسحأ" 1 ).
ّجشخأ( حميذغ ٍيع كهرف ديءاشذ ىث حيشحت خأشَأ ارإ : عتاشنأ ثيذح ،ءامسرسلا بارك ٗف 1 [.) 33 ]
“Semua perkatan Imam Malik seperti “balaghani” (telah sampai kepadaku) dan “„an al-
tsiqah” yang tidak disambungkan ada 61 Hadis, semuanya bersambung bukan lewat jalur
Imam Malik kecuali empat Hadis yang tidak diketahui, yaitu:
Pertama, Sesungguhnya Aku tidak lupa, tetapi Aku lupa ..... (diriwayatkan dalam Bab Sahwi,
Hadis kedua)
Kedua, Sesungguhnya Rasulullah SAW. diperlihatkan umur orang-orang
sebelumnya, apapun yang Allah kehendaki terhadap hal itu, seolah Allah mengurangi umur
umatnya sehingga tidak dapat mencapai amal seperti orang-orang lain yang berumur panjang.
Kemudian Allah memberikan lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan kepada
Rasulullah SAW. (diriwayatkan dalam bab i‟tikaf, Hadis kelima belas)
Ketiga, Mu‟adz Ibn Jabal berkata: Pesan terakhir yang diwasiatkan Rasulullah SAW.
kepadaku ketika aku meyimpan kakiku ke kaki beliau bersabda: “Baguskanlah akhlakmu
kepada semua orang, hai Mu‟az Ibn Jabal. (diriwayatkan dalam kitab Husn al-khuluq, Hadis
pertama)
Keempat, Jika menggumpal di laut, kemudian malang, maka itu adalah hujan lebat
(diriwayatkan dalam kitab al-Istisqa, Hadis kelima).”
Akan tetapi, keempat Hadis di atas sudah disambungkan sanadnya oleh Imam ibn al-Shalah,
sehingga semua Hadis dalam al-Muwattha shahih. Oleh karena itu, jumhur muhadditsin
berpendapat bahwa kedudukan al-Muwattha berada setelah shahihain atau setelah Shahih
Bukhari dan Muslim.

PENUTUP
Al-Muwattha sebagai kitab Hadis, perlu diteliti keshahihannya. Keshahihan sebuah
Hadis dapat kita lihat dari metode periwayatan yang digunakan Imam Malik dalam kitabnya,
sanad yang digunakannya, serta ketelitian redaksi matannya.
Imam Malik hanya meriwayatkan Hadis dari orang yang „adil dan terpercaya dalam sikap,
akidahnya, kecerdasan, dan tingkah lakunya. Di antara kehati-hatiannya dalam menyeleksi
perawi, ia hanya menerima perawi dengan derajat tsiqah.
Imam Malik dikenal sebagai seorang yang tasyaddud (teliti dan ketat) dalam meriwayatkan
Hadis, sehingga ia mensyaratkan perawi Hadis haruslah dapat menghafal kitab sampai dia
meyakini bahwa yang ada dalam kitab itu adalah Hadisnya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Baqi, Muhammad Fuad, Ta‟liq dan Takhrij al-Muwattha (Kitab al-Syu‟ab),
Abdullah ibn Muslim ibn Qutaibah Al-Dainuri, Abu Muhammad, al-Ma‟arif, Beirut: Dar al-
Kutub al-„Ilmiyah, 1407 H./1987 M., Cet. 1
Ahmad ibn Abdullah al-Asfahany, Abu Nuaim, Hilyah al-Aulia Wa Thabaqat al-Ashfiya,
Beirut: Dar al-Fikr, tt., Juz VI
Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani, Al-Hafiz, Taqrib al-Tahdzib, Beirut: Dar al-Kutub al-
„Ilmiyah, 1413 H./1993 M., Cet. 1, Jil. II
Posted 20th November 2012 by junaidi fina

Loading
Send feedback

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->