P. 1
KepMen PU No. 11-KPTS-2000 (Manajemen Kebakaran Kota)

KepMen PU No. 11-KPTS-2000 (Manajemen Kebakaran Kota)

|Views: 153|Likes:
Published by deion29
KepMen PU No. 11-KPTS-2000 (Manajemen Kebakaran Kota)
KepMen PU No. 11-KPTS-2000 (Manajemen Kebakaran Kota)

More info:

Published by: deion29 on Sep 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM NOMOR: 11/KPTS/2000 TENTANG KETENTUAN TEKNIS MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI PERKOTAAN

MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan di perkotaan dewasa ini semakin kompleks baik dari segi intensitas, teknologi, maupun kebutuhan prasarana dan sarananya;

b. bahwa keselamatan masyarakat yang berada di dalam bangunan dan lingkungannya harus menjadi pertimbangan utama khususnya terhadap bahaya kebakaran, agar dapat melakukan kegiatannya, dan meningkatkan produktivitas serta kualitas hidupnya; c. bahwa untuk memberikan jaminan tersebut pada butir b perlu penerapan ketentuan-ketentuan teknis tentang manajemen penanggulangan kebakaran, baik pada bangunan gedungnya, lingkungannya, maupun keseluruhan kotanya; d. bahwa untuk itu dipandang perlu menerbitkan Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum yang menetapkan mengenai Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317); 2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469); 3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3501); 4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3839); 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 355/M Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabinet Persatuan Nasional; 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;

8. Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 01/KPTS/1999 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum. MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM TENTANG KETENTUAN TEKNIS MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI PERKOTAAN. BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri Negara ini yang dimaksud dengan: 1. Manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan adalah segala upaya yang menyangkut sistem organisasi, personel, sarana dan prasarana, serta tata laksana untuk mencegah, mengeliminasi serta meminimasi dampak kebakaran di bangunan, lingkungan dan kota. 2. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, di atas, atau di dalam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. 3. Lingkungan adalah kelompok beberapa gugus bangunan yang diikat oleh jalan kolektor, yang merupakan tingkatan ketiga yang menjadi obyek dalam penataan bangunan. 4. Kota adalah lingkungan binaan bukan pedesaan yang secara fisik merupakan bagian unit perkotaan wilayah/kawasan terbangun dan berperan dalam pengembangan perkotaan sesuai rencana tata ruang wilayah serta tata bangunan dan lingkungan. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung, lingkungan, dan kota yang aman terhadap bahaya kebakaran melalui penerapan manajemen penanggulangan bahaya kebakaran yang efektif dan efisien. (2) Pengaturan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk terwujudnya kesiapan, kesigapan dan

keberdayaan masyarakat, pengelola bangunan, serta dinas terkait dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran. BAB II PENGATURAN MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI PERKOTAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan meliputi ketentuan manajemen mengenai: a. Penanggulangan kebakaran di kota, b. Penanggulangan kebakaran di lingkungan, c. Penanggulangan kebakaran di bangunan gedung termasuk ketentuan mengenai satuan relawan kebakaran (SATLAKAR), serta pembinaan dan pengendaliannya. (2) Ketentuan teknis mengenai manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini yang dirinci lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara ini, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Keputusan Menteri Negara ini. (3) Setiap orang atau badan termasuk instansi pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan teknis manajemen penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4 Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan manajemen penanggulangan kebakaran di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuanketentuan dalam Keputusan Menteri Negara ini. (2) Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, maka terhadap penyelenggaraan manajemen penanggulangan kebakaran di Daerah diberlakukan ketentuan-ketentuan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang manajemen penanggulangan kebakaran sebelum Keputusan ini diterbitkan harus

lingkungan dan bangunan gedung. Penghentian sementara kegiatan pemanfaatan sampai dilakukannya pemenuhan ketentuan manajemen tersebut d.menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan kebakaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pemerintah Daerah wajib menggunakan ketentuan teknis manajemen penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan perizinan dan atau pemeriksaan yang diperlukan. BAB III PEMBINAAN TEKNIS Pasal 8 (1) Pembinaan pelaksanaan ketentuan teknis ini dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kemandirian Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam manajemen penanggulangan kebakaran kota. (3) Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian penanggulangan kebakaran yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Dalam melaksanakan pengendalian penanggulangan kebakaran. Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam memenuhi ketentuan teknis manajemen penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pencegahan dan penanggulangan kebakaran. di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan tersebut. Peringatan tertulis b. dapat berupa: a. Pembatasan kegiatan c. Pasal 6 manajemen penanggulangan (1) Dalam melaksanakan pembinaan penanggulangan kebakaran kota. Pencabutan ijin yang telah dikeluarkan untuk menyelenggarakan pemanfaatan bangunan gedung dan atau lingkungannya. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). . (2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan manajemen penanggulangan kebakaran yang melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri Negara ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1). lingkungan. dan bangunan gedung.

maka semua ketentuan manajemen penanggulangan kebakaran yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan ini masih tetap berlaku. pelatihan dan pengaturan. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 10 (1) Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Keputusan ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan DITETAPKAN DI : J A K A R T A PADA TANGGAL : 1 MARET 2000 MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM ROZIK B. BAB IV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan ini. penyuluhan. SOETJIPTO . sampai digantikan dengan yang baru.(2) Pembinaan dilakukan melalui pemberian bimbingan.

b. baik untuk tempat tinggal.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup dari pedoman teknis ini meliputi: 1. 4. penghuni dan Regu Pemadam Kebakaran terhadap kegiatan pemadaman yang terjadi pada suatu bangunan gedung. pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan. Tujuan Ketentuan teknis ini bertujuan untuk dapat terselenggaranya manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan secara tertib. Sarana dan Prasarana Kebakaran Kota. . 1. Manajemen penanggulangan kebakaran (MPK) perkotaan adalah bagian dari “Manajemen Perkotaan” untuk mengupayakan kesiapan: Instansi Pemadam Kebakaran. 2. termasuk dalam rangka proses perizinan. Bangunan gedung adalah konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan.Lampiran KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11/KPTS/2000 TANGGAL : 1 MARET 2000 BAB I KETENTUAN UMUM 1. Sedangkan mengenai klasifikasi bangunan gedung adalah sesuai dengan Keputusan Menteri PU No. maupun kegiatan sosial dan budaya. Manajemen Penanggulangan Kebakaran Kota a. melayang. aman dan selamat. penghuni dan masyarakat terhadap kegiatan pemadaman kebakaran yang terjadi pada “bangunan dan/atau lingkungan di dalam kota”. ataupun di bawah tanah/perairan. 441/ KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknik Bangunan Gedung. penghuni dan Regu Pemadam Kebakaran terhadap kegiatan pemadaman yang terjadi pada suatu lingkungan. Maksud Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan. Manajemen penanggulangan kebakaran (MPK) bangunan gedung adalah bagian dari “Manajemen Bangunan” untuk mengupayakan kesiapan pengelola. 1. serta pemeriksaan kelaikan dan keandalan fungsi sarana dan prasarana kebakaran kota. di atas tanah/perairan.2 Maksud Dan Tujuan 1. tempat manusia melakukan kegiatannya. Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK). berusaha. Manajemen penanggulangan kebakaran (MPK) lingkungan adalah bagian dari “Manajemen Estat” untuk mengupayakan kesiapan: pengelola. 2. 3.1 Pengertian 1. pengelola.

Peran serta masyarakat. Sumber Daya Manusia. Organisasi Penanggulangan Kebakaran Kota. d. b. Prasarana dan Sarana Penanggulangan Kebakaran dalam bangunan gedung. Sumber Daya Manusia. c. g. Wilayah Manajemen Kebakaran Lingkungan. Prasarana dan Sarana Penanggulangan Kebakaran Lingkungan.c. Organisasi Penanggulangan Kebakaran Bangunan Gedung. h. f. Tata Laksana Operasional Lingkungan. . f. Tata laksana operasional. e. Sumber daya manusia dan pendidikan latihan. Pengendalian Teknis. 2. 3. e. e. b. Proteksi Bahaya Kebakaran dalam bangunan Gedung. Pembinaan teknis. d. d. Organisasi Penanggulangan Kebakaran Lingkungan. Pembinaan dan Pelatihan. Manajemen Penanggulangan Kebakaran Lingkungan a. Tata Laksana Operasional. Manajemen Penanggulangan Kebakaran pada Bangunan Gedung a. c.

2. Tujuan Penerapan Analisis Resiko Kebakaran adalah untuk menentukan jumlah kebutuhan air yang diperlukan bagi keperluan pemadaman kebakaran di setiap WMK. pada bangunan tersebut ditentukan oleh tingkat resiko bahaya kebakaran tertinggi. b. Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran a. Perencanaan sistem proteksi kebakaran di perkotaan didasarkan kepada penentuan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK). (2Pasokan Air Total = ARK 1) dimana: V = Volume total bangunan dalam (m3) ARK = Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran AKK = Angka Klasifikasi Konstruksi Resiko Kebakaran FB = Faktor Bahaya dari bangunan yang berdekatan Contoh perhitungan dapat dilihat dalam lampiran 3. maka angka klasifikasi resiko bahaya kebakaran paling banyak yang digunakan untuk mewakili seluruh bangunan. 2.. menunjukkan antara lain peruntukan bangunan sesuai dengan angka klasifikasi resiko bahaya kebakaran dari angka 3 sampai dengan angka 7. Unsur utama yang penting dalam perencanaan ini adalah penentuan penyediaan air untuk pemadaman kebakaran di setiap WMK. c.1 Umum 1. 3.2 Analisis Resiko Kebakaran 1. 1. Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 3 1) Angka klasifikasi ini harus mempertimbangkan resiko bahaya kebakaran yang paling rawan. . Perencanaan harus dimulai dengan evaluasi terhadap tingkat resiko kebakaran dalam suatu WMK oleh instansi kebakaran setempat. harus dianggap sebagai bagian dari klasifikasi tersebut jika jaraknya 15 m atau kurang. Bila terdapat lebih dari satu jenis peruntukan dalam sebuah bangunan.BAB II MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN KOTA BAGIAN 1: WILAYAH MANAJEMEN KEBAKARAN (WMK) 1. Jumlah kebutuhan air minimum tersebut dinyatakan dengan rumus: V x AKK x FB ……. 2) Bangunan yang berdekatan dengan bangunan yang mempunyai angka klasifikasi resiko bahaya kebakaran 3. Daftar Bangunan pada tabel yang terdapat dalam lampiran. dimana jumlah dari isi bahan mudah terbakarnya sangat tinggi. Kebakaran dalam tingkat klasifikasi ini dapat diperkirakan berkembang sangat cepat dan mempunyai nilai pelepasan panas yang tinggi.

2) Bangunan yang berdekatan dengan bangunan yang mempunyai angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 4. Kebakaran dalam tingkat klasifikasi ini dapat diperkirakan berkembang rendah dan mempunyai nilai pelepasan panas relatif rendah. Kebakaran dalam tingkat klasifikasi ini dapat diperkirakan berkembang cepat dan mempunyai nilai pelepasan panas yang tinggi. 4. Umum 1) Instansi kebakaran dapat membuat kajian dan klasifikasi konstruksi bangunan di wilayah kerjanya.7 m. dimana kuantitas dan kandungan bahan mudah terbakarnya rendah. Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 6 1) Angka klasifikasi ini harus dipertimbangkan sebagai resiko bahaya rendah. f.5 m. dimana kuantitas dan kandungan bahan mudah terbakarnya sedang dan tinggi tumpukan bahan mudah terbakarnya tidak melebihi dari 3. d.Angka klasifikasi resiko bahaya kebakaran 3. antara lain ditunjukkan pada Tabel (2 – 2). antara lain seperti pada Tabel (2 – 5). dimana kuantitas dan kandungan bahan mudah terbakarnya tinggi. 2) Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 5. 2) Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 7. dimana kuantitas dan kandungan bahan mudah terbakarnya sedang dan tinggi tumpukan bahan mudah terbakarnya tidak lebih dari 2. antara lain seperti pada Tabel (2 – 4). Angka maksimum klasifikasi konstruksi bangunan rumah tinggal adalah 1. Klasifikasi Konstruksi a. 2) Konstruksi bangunan diklasifikasikan dalam angka.1). Kebakaran dalam tingkat klasifikasi ini dapat diperkirakan berkembang sedang dan mempunyai nilai pelepasan panas yang sedang. e. Kebakaran dalam tingkat klasifikasi ini dapat diperkirakan berkembang sedang dan mempunyai nilai pelepasan panas sedang. Angka klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 4. 2) Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 6. . Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 7 1) Angka dalam klasifikasi ini harus dipertimbangkan sebagai resiko bahaya rendah. harus dianggap sebagai bagian dari klasifikasi tersebut jika jaraknya 15 m atau kurang. antara lain ditunjukkan pada Tabel (2 – 3). antara lain ditunjukkan pada Tabel (2 . Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 5 1) Angka klasifikasi ini harus dipertimbangkan sebagai hunian bahaya sedang. g. Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 4 1) Angka klasifikasi ini harus dipertimbangkan sebagai Resiko Bahaya Kebakaran Tinggi.

bata dan lain-lain dengan bahan logam yang dilindungi) dengan struktur yang dibuat sedemikian. Sistem pemberitahuan kebakaran kota selanjutnya dapat dirancang untuk menjamin respon yang tepat terhadap berbagai masalah yang mungkin terjadi dalam setiap WMK. WMK dibentuk oleh pengelompokan hunian yang memiliki kesamaan kebutuhan proteksi kebakaran dalam batas wilayah yang ditentukan secara alamiah maupun buatan. tiang kayu 20.0. 1. 3. maka bangunan lain tersebut dipandang sebagai bangunan berdekatan yang mempunyai resiko ancaman kebakaran (exposure hazard) sehingga kebutuhan air untuk kebakaran pada bangunan induk ditentukan dengan perkalian 1.5. Tipe klasifikasi konstruksi 1) Resiko kebakaran konstruksi tipe I (konstruksi tahan api) Bangunan yang dibuat dengan bahan tahan api (beton. Apabila pemberitahuan kebakaran mengalami perubahan dan pos-pos pemadam kebakaran harus memberikan . lantai kayu 76 mm. b.3 Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) 1. ditetapkan mempunyai angka klasifikasi konstruksi 0.4 cm.2 x 25. 5) Jika terdapat bangunan lain dengan luas lebih besar dari 10 m2 dalam jarak tidak lebih dari 15 M.0. atap kayu 51 mm. Wilayah manajemen kebakaran ditentukan pula oleh “waktu tanggap” dari pos pemadam kebakaran yang terdekat. termasuk bangunan konstruksi kayu dengan dinding bata. 2.3 cm.8.5. balok kayu 15. lantai dan atap) terdiri dari bahan yang tidak mudah terbakar yang tidak termasuk sebagai bahan tahan api. 4) Resiko kebakaran konstruksi tipe IV (kerangka kayu) Bangunan (kecuali bangunan rumah tinggal) yang strukturnya sebagian atau seluruhnya terdiri dari kayu atau bahan mudah terbakar yang tidak tergolong dalam konstruksi biasa (tipe III) ditentukan mempunyai angka klasifikasi konstruksi 1. 2) Resiko kebakaran konstruksi tipe II dan IV (tidak mudah terbakar. 4) Dalam hal terdapat beberapa macam tipe konstruksi dalam satu bangunan yang diteliti maka angka klasifikasi ditentukan dari angka klasifikasi konstruksi tertinggi. sehingga tahan terhadap peruntukan dan perambatan api mempunyai angka klasifikasi 0. 3) Resiko kebakaran konstruksi tipe III (biasa) Bangunan dengan dinding luar bata atau bahan tidak mudah terbakar lainnya sedangkan bagian bangunan lainnya terdiri dari kayu atau bahan yang mudah terbakar ditentukan mempunyai angka klasifikasi konstruksi 1. konstruksi kayu berat) Bangunan yang seluruh bagian konstruksinya (termasuk dinding.3) Tidak diperkenankan memberikan angka klasifikasi konstruksi terhadap suatu bangunan yang tidak diteliti / dikaji.

Tipe layanan yang dilakukan oleh instansi penanggulangan kebakaran. 3. Waktu dimulai sejak diterimanya pemberitahuan adanya kebakaran di suatu tempat. Waktu gelar peralatan di lokasi sampai dengan siap operasi penyemprotan selama 5 menit. Kesadaran dan persepsi masyarakat terhadap waktu tanggap termasuk perjalanan yang diperlukan petugas dan sarana pemadam menuju lokasi kebakaran. 4. mengingat adanya jalan yang melingkar. Ukuran atau luasan wilayah yang dilayani termasuk potensi bahaya di lokasi WMK dan kapasitas kemampuan yang ada. dan waktu menggelar sarana pemadam kebakaran sampai siap untuk melaksanakan pemadaman. 8. Waktu perjalanan dari pos pemadam menuju lokasi selama 5 menit. Berdasarkan unsur-unsur di atas.5 km. Faktor-faktor yang menentukan waktu tanggap adalah: a. 7. Di luar daerah tersebut dikategorikan sebagai daerah yang tidak terlindungi (unprotected area). b. waktu perjalanan menuju lokasi kebakaran. Waktu tanggap terhadap pemberitahuan kebakaran (selanjutnya disebut waktu tanggap) adalah total waktu dari saat menerima berita/pengiriman pasukan dan sarana pemadam kebakaran ke lokasi kebakaran sampai dengan kondisi siap untuk melaksanakan pemadaman kebakaran.5 km dari sektor. Perencanaan lokasi Pos Pemadam Kebakaran dalam Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) ditentukan berdasarkan standar waktu tanggap (Responsetime) terhadap pemberitahuan kebakaran di wilayah tersebut. 2. Daerah layanan dalam setiap WMK tidak melebihi dari radius 7. 6. Perlu diperhatikan bahwa peta jangkauan layanan proteksi kebakaran tersebut secara geografis bisa kurang tepat. interpretasi penentuan lokasi kebakaran dan penyiapan pasukan serta sarana pemadaman selama 5 menit.respon terhadap pemberitahuan tersebut dikaitkan dengan jarak atau aksesibilitas. c. 4.5 km dan berjarak 3. 5. Waktu tanggap terhadap pemberitahuan kebakaran untuk kondisi di Indonesia tidak lebih dari 15 (lima belas) menit yang terdiri atas: a. . Daerah yang sudah terbangun harus mendapat perlindungan oleh mobil kebakaran yang pos terdekatnya berada dalam jarak 2. Waktu tanggap terdiri atas waktu pengiriman pasukan dan sarana pemadam kebakaran (dispatch time). selanjutnya dibuat peta jangkauan layanan penanggulangan kebakaran secara rinci yang menunjukkan lokasi dari setiap pos pemadam di dalam wilayah tersebut.4 Perencanaan Pos Pemadam Kebakaran 1. c. maka perencanaan wilayah manajemen kebakaranpun harus disesuaikan dengan perubahan tersebut. b. bukit-bukit dan batas-batas fisik lainnya. 1. sungai.

yang dinyatakan dalam volume bangunan yang terkena kebakaran. maka dapat ditentukan kebutuhan pos atau stasiun kebakaran yang memadai. maka dapat direncanakan jumlah dan kualifikasi personil. Untuk menunjang terciptanya unsur keamanan terhadap bahaya kebakaran pada suatu kota maka setiap kota perlu menyusun Rencana Induk Sistem Penanggulangan Kebakaran Kota. serta dengan memperhitungkan laju pengeluaran air (delivery rate) dan laju penerapan air efektif (application rate) untuk pemadaman kebakaran. kelas konstruksi bangunan dan faktor bahaya kebakaran. maupun buatan seperti. Pasokan air untuk keperluan pemadam kebakaran diperoleh dari sumber alam seperti. danau. mobil tangki dan titik-titik pengisapan air yang diperlukan untuk menjamin efektifitas pemadaman kebakaran. kelas bahaya hunian. b. sarana. peralatan dan kelengkapan penunjang lainnya.1. sungai. 3.5 Rencana Induk Sistem Penanggulangan Kebakaran Kota (City Fire Protection Master Plan) 1. Dalam hal pasokan tersebut berasal dari sumber alami maka harus dilengkapi dengan sistem penghisap air. Kelengkapan pada butir b.1 Prasarana Penanggulangan Kebakaran 1. tangki air. Perencanaan yang komprehensif untuk RISPK didasarkan atas penentuan persyaratan kebutuhan air untuk melindungi wilayah atau daerah yang perlu dilindungi melalui penerapan wilayah-wilayah Manajemen Kebakaran (WMK). Untuk lingkungan atau gugus bangunan yang berada dalam kelompok beberapa kepemilikan tertentu harus dianggap sebagai satu WMK tersendiri dan berlaku ketentuan-ketentuan bagi WMK. Setiap pemasangan dan pemeliharaan hidran menjadi tanggung jawab instansi pengelola air bersih kota dan dibawah pengawasan petugas . Pasokan air untuk pemadaman kebakaran a. 5.1. Dari volume kebutuhan ini. 7. Bagan alir proses perencanaan sistem Proteksi Kebakaran Kota ditunjukkan dalam lampiran pada Gambar 2. Selain untuk panduan perencanaan dan evaluasi kondisi yang ada. RISPK dapat pula digunakan sebagai perencanaan jangka panjang serta sebagai masukan bagi pertimbangan untuk penyelenggaraan pelatihan. Permukaan air pada sumber alami harus dijamin pada kondisi kemarau masih mampu dimanfaatkan. air mancur. reservoir. kolam renang. Dari kebutuhan air total yang dibutuhkan pada setiap WMK. sumur dalam dan saluran irigasi. kolam air. c. BAGIAN 2: PRASARANA DAN SARANA PENANGGULANGAN KEBAKARAN KOTA 2. 2. termasuk sarana hidran. Kebutuhan air untuk setiap WMK ditentukan dengan analisa resiko kebakaran dengan memperhitungkan potensi bahaya kebakaran yang terdapat dalam WMK. tersebut harus diberi tanda dan mudah terlihat serta dapat digunakan pada kondisi apapun. (RISPK). mobil tangki air dan hidran. 6. jeram. d. 4. tangki gravitasi.

Bangunan Pos Pemadam Kebakaran Pos pemadam kebakaran minimal membutuhkan lahan 200 m2. Bahan pemadam bukan air a.000 liter. e. Tanda petunjuk letak tiap sistem penyediaan air harus mudah terlihat dan terjangkau untuk penggunaan dalam keadaan darurat. yang mampu menampung: Garasi untuk 2 mobil pompa 4. g. f. . jalan penghubung. belokan. 2) Ruang administrasi. harus menetapkan batas pembebanan maksimum yang aman dari jalan.pengawas pasokan air (water supply officer) dari instansi pemadam kebakaran setempat. Perletakan lokasi hidran termasuk pemasangan dan pemeliharaannya sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku. bersinar atau reflektif.5 mm. b. 3) Ruang tunggu. meliputi kebutuhan ruang untuk: 1) Ruang siaga untuk 4 regu. Petugas pengawas pasokan air harus menjamin bahwa tanda-tanda petunjuk yang cepat telah terpasang pada setiap titik penyediaan air termasuk identifikasi nama serta nomor pasokan air. Penggunaan air hidran untuk pemadam kebakaran tidak dikenakan biaya. Aksesibilitas a. b. Bahan pemadam bukan air dapat berupa “foam” atau bahan kimia lain. 4. Angka dan nomor tersebut harus berukuran tinggi sedikitnya 75 mm dan lebar 12. Bangunan Pemadam Kebakaran a. h. 2. 5) Gudang peralatan. Setiap jalur masuk harus dikonstruksi sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku. 4) Ruang ganti pakaian dan kotak penitipan (locker). Penggunaan bahan pemadam bukan air harus disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan potensi bahaya kebakaran dan harus memenuhi ketentuan dan standar yang berlaku termasuk aman terhadap lingkungan. b. meliputi kebutuhan ruang untuk: 1) Ruang siaga untuk 2 regu (1 regu = 6 orang). 3. 7) Halaman untuk latihan rutin. 6) Tandon air 12.000 liter. Bangunan sektor pemadam kebakaran Sektor pemadam kebakaran minimal membutuhkan lahan 400 m2. jembatan serta menetapkan jalur masuk ke lokasi sumber air pada berbagai kondisi alam. Pasokan air untuk keperluan pemadam kebakaran harus dapat dijangkau oleh peralatan pemadam kebakaran setempat.

2) Bila diperlukan petugas pemadam kebakaran harus siap untuk bekerja. 8) Tandon air 24. lepas/libur dan cadangan. 3) Bangunan bengkel diperlakukan bila jumlah mobil telah mencapai 20 unit mobil pemadam kebakaran. d. meliputi kebutuhan ruang untuk: 1) Ruang siaga untuk 4 regu. maka harus diadakan pemeliharaan yang meliputi perawatan dan perbaikan. 2 perahu karet. Ruang ganti pakaian dan kotak penitipan (locker). 1 mobil tangga 17 meter. 1 mobil pemadam khusus. Bangunan Asrama 1) Petugas pemadam kebakaran bekerja dengan pola: tugas. perlu dijaga agar selalu dalam kondisi siap untuk digunakan. 7) Tandon air 24. 1 mobil tangga 17 m. Ruang rapat. 2) Untuk mendapatkan kondisi dalam butir 1. Gudang peralatan dan bahan pemadam kebakaran yang mampu menampung: Garasi untuk 2 mobil pompa 4. 2) Ruang administrasi. 6) Ruang ganti pakaian dan kotak penitipan (locker). Ruang tunggu. 2 mobil rescue/ambulans. diperlukan asrama untuk petugas di sekitar kompleks pemadam kebakaran. 8) Halaman tempat latihan rutin.600 m2. 5) Ruang komando. 3) Untuk mobilitas secara cepat. Bangunan Wilayah Pemadam Kebakaran Wilayah pemadam kebakaran minimal membutuhkan lahan 1. c. 3) Ruang tunggu. 1 mobil alat bantu pernafasan. Bangunan perbengkelan 1) Mobil pemadam kebakaran sebagai alat yang vital untuk memadamkan kebakaran.000 liter. 2 mobil tangga > 30 meter.000 liter. 9) Halaman tempat latihan rutin. 3 mobil tangga > 30 m.2) 3) 4) 5) 6) Ruang administrasi. 2 mobil alat bantu pernafasan. 2 mobil rescue/ambulans. . 7) Gudang peralatan dan bahan pemadam yang mampu menampung: Garasi untuk 2 mobil pompa 4. 2 mobil pemadam khusus. e. 4) Ruang rapat.000 liter. walaupun dalam keadaan lepas atau libur.000 liter. 4) Kemampuan bengkel disesuaikan dengan kebutuhan. 2 perahu karet.

i. g. Mobil pendobrak (Bridge squad). 2) Prasarana Diklat yang berupa bangunan. f. Dan lain-lain. b. Peralatan ventilasi. 2.4) Kemampuan asrama disesuaikan dengan kebutuhan. Kendaraan operasional lapangan antara lain: a. Mobil komando. k. baik untuk tingkat propinsi. peralatan teknik operasional dan kelengkapan perorangan. gergaji. linggis. antara lain: blower jinjing (portable blower) dan kelengkapannya.2 Sarana Penanggulangan Kebakaran 1. Mobil ambulans. f. e. antara lain: pompa jinjing (portable pump) dan kelengkapannya. Peralatan teknik operasional antara lain: a. b. atau beberapa propinsi maupun tingkat Nasional akan diatur dengan ketentuan lebih lanjut. Sarana penanggulangan kebakaran terdiri atas kendaraan operasional lapangan. Mobil tangki berikut kelengkapannya. 3. Mobil angkut pasukan pemadam kebakaran. 5. b. c. 2. Mobil tangga. Bangunan Pendidikan dan Latihan 1) Untuk mendapatkan tenaga yang terampil di lapangan secara operasional diharuskan mengikuti pendidikan dan latihan berkesinambungan. j. Mobil BA. d. spreader. h. dongkrak. Mobil pompa pengangkut air dan foam berikut kelengkapannya. Mobil rescue. kopling dan nozzle. Peralatan pendobrak antara lain: kapak. l. Telepon darurat kebakaran Setiap kota perlu menyediakan nomor telepon khusus untuk pelayanan pemadam kebakaran dan bencana. seperti selang. Peralatan pemadam. . Snorkel. Perahu karet. Pusat alarm kebakaran Untuk bangunan vital dan yang beresiko tinggi terhadap ancaman kebakaran sebaiknya memiliki Pusat Alarm Kebakaran yang terhubung secara langsung ke Kantor Wilayah Pemadam Kebakaran. Komunikasi a. c.

Peralatan penyelamat (rescue). serta informasi lapangan.2 Tugas Pokok Penanggulangan Pemadaman Kebakaran Tugas pokok penanggulangan pemadaman kebakaran terdiri dari: 1. Pencegahan Kebakaran Fungsi manajemen dalam pencegahan kebakaran adalah pada pemberian pelayanan untuk mengantisipasi ancaman bahaya kebakaran dalam bentuk: a. b. antara lain: a. 2) Penyusunan “Prefire Plan”. . sumber air pemadam. usungan. Alat pernafasan buatan jinjing (self contained breathing apparatus). Kelengkapan perorangan. dan 3) di atas bila memenuhi persyaratan diberikan dalam bentuk rekomendasi atau perizinan. harus sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku. davy escape. antara lain: sliding roll. hidran gedung. alat pernafasan buatan. dan akses untuk pemadam kebakaran. 3. c. d. Pencegahan dalam arti penyiagaan keandalan bangunan dan lingkungan terhadap bahaya kebakaran dalam bentuk kegiatan: 1) Pemeriksaan desain bangunan dan lingkungan khususnya peralatan proteksi kebakaran (antara lain: alat pemadam api ringan. 4) Hasil penilaian atas butir 1). Peralatan Komunikasi perorangan (HT). fire blanket. b. termasuk untuk ambulan. 4.d. 3) Penyiapan dan penyiagaan tenaga pemadam dan penyelamat. rencana mengkaji dan mengembangkan strategi dan taktik yang tepat untuk setiap bangunan atau lingkungan yang mempunyai potensi kebakaran tinggi dan vital. Topi (helm tahan api). Peralatan-peralatan dan kelengkapan tersebut diatas. Pakaian dan sepatu tahan panas. 2). 3) Pengawasan dan pengendalian bahan yang mudah terbakar. alarm kebakaran. BAGIAN 3: ORGANISASI PENANGGULANGAN KEBAKARAN 3. 2) Pemeriksaan berkala dalam rangka menjamin kesiagaan manajemen terhadap penanggulangan bahaya kebakaran bangunan dan lingkungan (tingkat keandalan peralatan dan kesiagaan tenaga). jalur evakuasi. sprinkler). Pencegahan dalam arti penyiagaan unit kerja penanggulangan kebakaran diantaranya meliputi: 1) Pendataan daerah rawan kebakaran.1 Umum Setiap kota dapat mempunyai lebih dari satu Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK). 5. peralatan teknis operasional. 4) Pembinaan SATLAKAR. bahan pemadam.

5) Pembinaan kepada pengelola bangunan dan lingkungan, dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan. 2. Pemadaman Kebakaran Fungsi manajemen dalam pemadaman kebakaran adalah pemberian pelayanan secara cepat, akurat dan efisien mulai dari informasi kebakaran diterima sampai api padam, kegiatannya berupa: a. Penerapan prefire plan yang telah disusun dan disimulasikan terhadap kejadian yang sebenarnya sesuai dengan strategi dan taktik yang harus digunakan. b. Menjalankan seluruh fungsi-fungsi pendukung yang diperlukan seperti: 1) Memudahkan jalur pencapaian lokasi kebakaran melalui koordinasi dengan Polisi Lalu Lintas dan DLLAJR, 2) Mengamankan lokasi kebakaran (oleh polisi atau hansip), 3) Memperbesar debit suplai air, melalui koordinasi dengan PDAM, 4) Mematikan listrik di sekitar lokasi, melalui koordinasi dengan PLN, 5) Menginformasikan Rumah Sakit (118), agar menyiapkan Ambulan untuk mengangkut korban dari lokasi kebakaran ke Rumah Sakit, 6) Mengatur/mengamankan jalur komunikasi radio (ORARI), 7) Meminta bantuan unit pemadam lainnya bila diperlukan. c. Fungsi pemadaman pada Daerah yang tidak tercakup oleh layanan instansi pemadam kebakaran dapat dilaksanakan oleh Masyarakat/ Satuan Relawan Kebakaran (Satlakar) yang telah dibentuk. d. Pelaksanaan tugas bantuan pemadaman kebakaran sesuai dengan permintaan dari Daerah yang bersebelahan, perlu didukung dengan adanya naskah kesepakatan bersama di antara dua atau lebih wilayah Kabupaten/Kota dalam bentuk (Memorandum Of Understanding/MOU). 3. Perlindungan jiwa, harta benda dari kebakaran dan bencana lain Fungsi manajemen dalam penyelamatan (rescue) adalah pemberian pelayanan untuk memperkecil korban dan kerugian harta benda akibat kebakaran dan bencana lainnya, dalam bentuk: a. Pelayanan evakuasi dan pertolongan pertama dari tempat kejadian, b. Bekerjasama dengan instansi terkait untuk melakukan pertolongan. Fungsi penyelamatan (rescue) pada Daerah yang tidak ada instansi pemadam kebakaran dapat dilaksanakan oleh Masyarakat/Satuan Relawan Kebakaran (Satlakar) yang telah dibentuk. Setiap pelaksanaan kegiatan tersebut di atas tertuju pada sasaran yaitu mempersiapkan penduduk, petugas termasuk tim medis serta instansi terkait, dan peralatannya untuk mencapai basis penyelamatan kebakaran yaitu: memindahkan orang dari lokasi bencana ke tempat yang aman, mencegah timbulnya kebakaran, mengurangi kerugian harta benda dan jiwa pada saat kebakaran dan bencana lain, melokalisasi penjalaran api dan memadamkan kebakaran.

4. Pembinaan Masyarakat. Melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat dalam mengatasi ancaman bahaya kebakaran. 3.3 Hirarki Layanan Kebakaran Hirarki organisasi Pemadam Kebakaran Kota/Kabupaten, dimulai dari tingkat paling bawah, terdiri dari: 1. Pos Pemadam Kebakaran a. 1(satu) Pos kebakaran melayani maksimum 3 (tiga) Kelurahan atau sesuai dengan wilayah layanan penanggulangan kebakaran. b. Pada pos kebakaran maksimal ditempatkan 2 (dua) regu jaga. c. Pos kebakaran dipimpin oleh seorang Kepala Pos (pemadam I) yang merangkap sebagai kepala regu (juru padam utama). d. Setiap regu jaga maksimal terdiri dari 6 orang: 1 (satu) orang kepala regu (juru padam utama) 1 (satu) orang operator mobil kebakaran (juru padam muda) 4 (empat) orang anggota dengan keahlian: - 2 (dua) orang anggota tenaga pemadam (juru padam muda dan madya) - 2 (dua) orang anggota tenaga penyelamat (juru padam muda) 2. Sektor Pemadam Kebakaran a. Sektor pemadam kebakaran membawahi maksimal 6 pos kebakaran. b. Setiap sektor pemadam kebakaran dipimpin oleh seorang kepala sektor pemadam kebakaran (Pemadam II). c. Setiap sektor pemadam kebakaran harus mampu melayani fungsi penyelamatan jiwa, perlindungan harta benda, pemadaman, operasi ventilasi, melindungi bangunan yang berdekatan. d. Tenaga teknis fungsional pencegahan terdiri dari instruktur muda, penilik muda dan madya, penyuluh muda, peneliti kebakaran muda. e. Tenaga teknis fungsional pemadaman terdiri dari: 1) Operator mobil (operator mobil muda dan madya), 2) Operator komunikasi (operator komunikasi muda dan madya), 3) Juru padam (juru padam muda), 4) Juru penyelamat (juru penyelamat muda dan madya), 5) Montir (montir muda). 3. Wilayah Pemadam Kebakaran a. Wilayah pemadam kebakaran, membawahi seluruh sektor pemadam kebakaran. b. Setiap wilayah pemadam kebakaran dipimpin oleh seorang kepala wilayah pemadam kebakaran (pemadam III).

c. Setiap wilayah pemadam kebakaran harus mampu melayani fungsi penyelamatan jiwa, perlindungan harta benda, pemadaman, operasi ventilasi, logistik, komando, sistem informasi, melindungi bangunan yang berdekatan. d. Tenaga teknis fungsional pencegahan terdiri dari inspektur muda, madya dan utama, penyuluh madya dan utama, peneliti kebakaran madya dan utama. e. Tenaga teknis fungsional pemadaman terdiri dari: 1) Operator mobil (operator mobil muda dan madya), 2) Operator komunikasi (operator komunikasi madya), 3) Juru padam (juru padam muda, madya, dan utama), 4) Juru penyelamat (juru penyelamat, muda, madya, dan utama), 5) Montir (montir muda dan madya). 4. Wilayah pemadam kebakaran propinsi a. Khusus untuk wilayah propinsi, tenaga teknis fungsional sebagaimana tercakup pada butir 3.d) di atas harus dipenuhi. b. Jabatan fungsional untuk pemadaman kebakaran dari jenis maupun tingkatannya dengan kualifikasi minimal sebagai berikut: 1) Kepala wilayah propinsi (pemadam IV), 2) Operator mobil (operator mobil madya dan utama), 3) Operator komunikasi (operator komunikasi madya dan utama), 4) Juru padam (juru padam madya dan utama), 5) Juru penyelamat (juru penyelamat madya dan utama), 6) Montir (montir utama). BAGIAN 4: TATA LAKSANA OPERASIONAL 4.1 Umum 1. Tata Laksana Operasional yang dimaksud di sini mencakup kegiatan pencegahan, pemadaman, pelaporan dan sistem informasi yang harus dilaksanakan dalam rangka peningkatan efektifitas penanggulangan kebakaran di perkotaan. 2. Pelaksanaan operasional penanggulangan kebakaran di perkotaan perlu memperhatikan kondisi dengan instansi terkait. 3. Sehubungan dengan meningkatnya kompleksitas permasalahan kebakaran yang dihadapi oleh kawasan perkotaan, maka perlu disusun prosedur operasi standar dengan melibatkan instansi terkait dan kelompok masyarakat melalui pelatihan terpadu, penyuluhan dan pembinaan. 4. Dalam rangka perencanaan jangka panjang yang menyangkut penanggulangan kebakaran di perkotaan secara nasional, perlu dilakukan pencatatan (recording) dan pendataan terhadap semua kejadian kebakaran selama ini, khususnya di perkotaan.

Tindakan Pemadaman dan Penyelamatan meliputi: a. Rencana operasi merupakan skenario yang disusun secara garis besar dan menggambarkan tindakan-tindakan yang dilakukan bila terjadi kebakaran pada suatu bangunan atau lingkungan. 4.3 Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan (Rescue) 1. sekurang-kurangnya berisi rencana darurat pemadam kebakaran (fire emergency plan). 2) Informasi sumber daya yang ada (SDM. dan P/S kota). Dalam perencanaan lingkungan harus mengikuti ketentuan persyaratan teknis tata bangunan dan lingkungan. Prasarana dan sarana penanggulangan kebakaran yang disediakan untuk melindungi WMK harus dirawat dan dipelihara secara berkala. (urban design guidelines). 7. . harus sudah memperhatikan sistem proteksi kebakaran baik aktif maupun pasif. Rencana operasi berisi: 1) Informasi bangunan dan/atau lingkungan yang berupa gambar denah bangunan. Dalam perencanaan. b. 6. Rencana operasi harus dibuat dalam bentuk yang fleksibel agar memungkinkan petugas pemadam kebakaran melakukan penyesuaian pada saat beroperasi. 2. termasuk penjadwalan penggantian sarana dan komponennya (apparatus replacement schedule).2 Pencegahan 1. c. 5. d. 3. khususnya menyangkut akses mobil dan ambulans kebakaran sesuai jalan keluar untuk penyelamatan pada sistem proteksi kebakaran. penyelamatan/pertolongan jiwa dan harta benda. Kesiapan bangunan dan lingkungannya terhadap ancaman bahaya kebakaran dilakukan dengan melengkapi peralatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Rekomendasi sesuai pada butir 5 di atas.4. dan beresiko tinggi. b. Rencana Operasi Pemadaman dan Penyelamatan (Rescue). harus mendapat rekomendasi dari instansi pemadam kebakaran. pencarian sumber api. c. Setiap perencana bangunan dan lingkungan sejak awal. instansi kebakaran dalam pelaksanaan tugasnya dapat membentuk tim ahli di bidang kebakaran. pelaksanaan dan pemanfaatan suatu bangunan kecuali untuk bangunan rumah tinggal tidak bertingkat. 3) Fungsi perintah dan pembagian tanggung jawab semua regu atau unit yang terlibat. 2. a. pengendalian penjalaran api. d. pemadaman api. Rencana operasi harus dibuat untuk bangunan vital. 4. Dalam rangka mengantisipasi perkembangan teknologi.

PLN. b. 7) Hubungan dengan instansi terkait. dan extinguish. Pelaksanaan Operasi Pemadaman dan Penyelamatan (Rescue) meliputi kegiatan: a. 4) Memberitahukan kepada Instansi Kebakaran. . Operasi Pemadaman 1) Operasi pemadaman dan penyelamatan merupakan pelaksanaan rencana operasi yang telah disiapkan. dan pusat komando. ini meliputi: 1) Menginformasikan kepada seluruh penghuni akan adanya kebakaran. e. (3) Perumusan strategi merupakan tanggung jawab komandan operasi pemadaman. 3) Operasi pemadaman mencakup tindakan size up. 6) Penempatan regu atau unit. 2) Komandan operasi pemadaman bertanggung jawab atas keselamatan anggotanya dalam suatu operasi. locate. 4) Dalam rangka melakukan operasi pemadaman diperlukan strategi. tindakan confine adalah mencari sumber api saat tindakan operasi pemadaman. a) Yang dimaksud dengan strategi pemadaman dan penyelamatan adalah: (1) Strategi pemadaman bukan suatu yang statis dan dapat dimodifikasi sesuai keadaan yang terjadi. 2) Membantu mengevakuasi penghuni. logistik. Rencana operasi harus diuji coba secara periodik dengan melibatkan instansi terkait. Tindakan awal kebakaran dan operasi pemadaman kebakaran Tindakan awal kebakaran merupakan upaya yang dilakukan oleh penghuni pada saat mulai terjadi kebakaran dengan maksud untuk mengurangi kerugian yang timbul. 5) Panduan yang menggambarkan prioritas taktik dan hubungan fungsi yang saling mendukung. 3. (4) Faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi adalah: (i) Pasokan air cukup banyak dan berkelanjutan. Tindakan size up adalah menaksir besarnya kebakaran saat operasi pemadaman berlangsung. tindakan locate ialah melokalisasikan api agar jangan menjalar ke berbagai tempat. sedangkan tindakan extinguish melakukan tindak pemadaman api. 3) Melakukan tindakan pemadaman kebakaran. dan taktik. (2) Strategi pemadaman dan penyelamatan adalah pengembangan dari rencana operasi yang ada untuk menghadapi situasi secara efektif.4) Keselamatan Operasi. dan Polisi adanya kebakaran. confine.

3. ventilasi. (iii)Pendistribusian dan penempatan peralatan dan personil yang efisien sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Perencanaan SDM sebagaimana yang dimaksud terdiri dari rencana kebutuhan pegawai dan pengembangan jenjang karir. 2. Sistem pembinaan prestasi kerja Instansi Kebakaran merupakan bagian integral dari sistem kepegawaian yang berlaku di wilayah Perkotaan. Kemampuan dan keahlian karyawan Instansi Kebakaran sebagaimana disebut dalam butir 5 dibawah merupakan: . dedikasi. 4. Penerimaan jumlah pegawai disesuaikan dengan kebutuhan atas Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) dan bencana lainnya yang mungkin terjadi pada wilayahnya dan juga memenuhi persyaratan Kesehatan. (2) Taktik akan menentukan peralatan. dan Psikologis. 3. BAGIAN 5: SUMBER DAYA MANUSIA DAN PENDIDIKAN PELATIHAN 5. (ii) Jenis hunian. lokasi.2 Sistem Pembinaan Prestasi Kerja 1. 2. b) Yang dimaksud dengan taktik pemadaman dan penyelamatan adalah: (1) Taktik adalah metoda untuk mengiplementasi-kan rencana strategi yang dibuat untuk melaksanakan pemadaman dan penyelamatan. dan disiplin. mengurangi kerugian harta benda (proteksi eksposur). dan overhaul. tugas dan personil secara spesifik.1 Perencanaan Sumber Daya Manusia 1. Sistem pembinaan prestasi kerja Instansi Kebakaran mencerminkan strata kemampuan dan keahlian karyawan Instansi Kebakaran. Fisik. (iii)Ketinggian bangunan. 5. (3) Taktik dapat dijabarkan dalam fungsi-fungsi taktis yaitu penyelamatan jiwa. mengendalikan perambatan api (confinement). pemadaman.(ii) Mengetahui secara pasti kemampuan peralatan dan personil yang ada. (4) Penyelamatan jiwa merupakan pertimbangan pertama pada setiap kejadian kebakaran dengan cara menjaga agar api tetap jauh dari korban dan semua penghuni yang terancam harus segera dapat ditemukan. Pembinaan jenjang karir diperlukan agar dapat memberikan motivasi. Setiap unit kerja penanggulangan kebakaran di perkotaan harus membuat perencanaan SDM. Faktor penentu atas keberhasilan operasi ini yaitu: (i) Informasi keberadaan dan jumlah korban di lokasi.

8. b. jenjang karir teknis fungsional sebagai persyaratan untuk mengukur ketrampilan dan penguasaan pengetahuan teknis di bidang pencegahan kebakaran dan pemadaman kebakaran dan penyelamatan dari bencana dalam rangka pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang akan diberikan. kepala sub wilayah (Kompi) kebakaran. Pimpinan Kebakaran harus mempunyai kemampuan menerapkan gaya kepemimpinan lini dan staf. Jabatan eselon II dapat diduduki setelah mengikuti dan lulus DIKLAT Pimpinan Kebakaran V dengan nilai sekurang-kurangnya baik. Jabatan eselon V dapat diduduki setelah mengikuti dan lulus DIKLAT Pimpinan Kebakaran II dengan nilai sekurang-kurangnya baik. Jabatan kepala Regu dapat diduduki setelah mengikuti dan lulus DIKLAT Pimpinan Kebakaran I dengan nilai sekurang-kurangnya baik. Jabatan eselon III dapat diduduki setelah mengikuti dan lulus DIKLAT Pimpinan Kebakaran IV dengan nilai sekurang-kurangnya baik. manajemen krisis. Penilaian pada jenjang karir teknis fungsional didasarkan atas kecakapan dan prestasi yang dicapai. Karyawan Instansi Kebakaran dalam menduduki jenjang karir struktural harus mengikuti ketentuan yang berlaku. 6. c. 5. a. kepala sektor (Pleton) kebakaran. dan ilmu hubungan antar manusia. persyaratan tambahan untuk menduduki jabatan struktural pada Instansi Kebakaran. serta mengikuti dan lulus DIKLAT Pimpinan Kebakaran sesuai dengan tingkat jabatan struktural yang akan dimasuki. b. 9. d. 7. teknis penanggulangan kebakaran. c. Jabatan eselon IV dapat diduduki setelah mengikuti dan lulus DIKLAT Pimpinan Kebakaran III dengan nilai sekurang-kurangnya baik. Setiap karyawan Instansi Kebakaran harus mengikuti dan lulus DIKLAT Dasar Pemadam I. menguasai peraturan perundangan. manajemen administrasi. Jenjang karir teknis fungsional terdiri dari 2 kelompok penjenjangan yaitu jenjang karir Pencegahan Kebakaran dan jenjang karir Pemadam dan Penyelamatan dari Bencana. Persyaratan tambahan untuk menduduki jenjang karir struktural harus memenuhi penjenjangan sebagai berikut: a. Jenjang karir pimpinan kebakaran pada organisasi komando terdiri dari 5 jenjang karir yaitu: kepala regu kebakaran. b. Kecakapan harus dibuktikan dengan kelulusan dalam ujian sesuai dengan tingkatannya dan prestasi dibuktikan secara nyata dalam pelaksanaan tugas minimal 2 tahun berturut-turut dengan penilaian minimal baik.a. 4. dan kepala wilayah kebakaran. Jabatan Teknis Fungsional dilakukan secara berjenjang karir sesuai dengan jabatan fungsional dan penugasan yang bersangkutan. e. .

10. 14. Instruktur Kebakaran ditentukan berdasarkan tingkat kemampuannya melatih dan menyusun program pelatihan kebakaran dan bencana. 13. Jenjang karir Pencegahan Kebakaran terdiri dari 4 kelompok yaitu jenjang karir inspektur kebakaran. Jenjang karir inspektur kebakaran terdiri dari 4 jenjang karir yaitu: penilik prasarana dan sarana kebakaran. 12. Jenjang karir penyuluh lapangan terdiri dari 2 jenjang karir yaitu: penyuluh lapangan muda dan penyuluh lapangan madya. operator mobil kebakaran. yaitu: montir mobil kebakaran. operator komunikasi. inspektur madya. Jenjang karir operator mobil kebakaran dinilai berdasarkan tingkat kemampuannya mengendarai mobil kebakaran. Peneliti/Investigator Kebakaran ditentukan berdasarkan tingkat kemampuannya dalam meneliti dan menguji penyebab kebakaran dan bahan yang terpasang pada bangunan dan lingkungan. serta peralatan yang digunakan oleh Instansi Kebakaran. Jenjang karir Inspektur Kebakaran merupakan salah satu persyaratan untuk menduduki jabatan fungsional yang diukur kemampuannya dalam memeriksa desain. jenjang karir peneliti kebakaran. pengoperasian dan pemeliharaan peralatan pada ruang kontrol dan data. 15. inspektur kebakaran madya. jenjang karir penyuluh lapangan. dan inspektur utama. Jenjang karir operator mobil kebakaran terdiri dari 2 jenjang karir yaitu operator mobil kebakaran I dan operator mobil kebakaran II. 24. . Jenjang karir montir mobil kebakaran dinilai berdasarkan tingkat kemampuannya memperbaiki dan merawat mobil kebakaran agar selalu dalam keadaan siap pakai. Jenjang karir montir mobil kebakaran terdiri dari 2 jenjang karir yaitu montir mobil kebakaran I dan montir mobil kebakaran II. 20. Jenjang karir inspektur kebakaran terdiri dari 3 jenjang karir yaitu: inspektur muda. 22. 17. 18. 21. Jenjang karir operator komunikasi kebakaran dinilai berdasarkan tingkat kemampuannya dalam penataan lalu lintas informasi. inspektur kebakaran muda. 16. dan inspektur kebakaran utama. Jenjang karir Pemadam Kebakaran dan Penyelamat terdiri dari 4 kelompok jenjang karir. 23. menanggulangi kerusakan ringan yang terjadi dan mengoperasikan peralatan yang ada pada mobil tersebut. Jenjang karir Penyuluh lapangan ditentukan berdasarkan tingkat kemampuannya memberikan penyuluhan dan pelatihan sesuai dengan jumlah penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat pada lingkungan tertentu. penguji dan memeriksa kondisi bangunan dan lingkungan yang akan atau telah dimanfaatkan dari bahaya kebakaran berdasarkan tingkat resiko kebakaran. dan juru padam. dan jenjang karir instruktur kebakaran. 19. Jenjang karir Peneliti/Investigator kebakaran terdiri dari 2 jenjang karir yaitu Peneliti Muda dan Peneliti Madya. 11.

caraka II dan operator komunikasi kebakaran. rumah susun. 2. dll.3 Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) 1. Pemberlakuan Satlakar Satlakar merupakan wadah partisipasi dan rasa tanggung jawab masyarakat dalam rangka mengatasi ancaman bahaya kebakaran. dan juru penyelamat (Rescue). Diklat Instruktur Kebakaran. 27. Diklat Perwira Pemadam Kebakaran. dan lingkungannya serta memberikan informasi kejadian kebakaran kepada Instansi Pemadam Kebakaran. harta. Ketentuan mengenai penyelenggaraan standarisasi diklat. Diklat Pemadam Kebakaran Tingkat Lanjut. e. c. b.25. Diklat Pemadam Kebakaran Tingkat Dasar. Meningkatkan mutu dan kemampuan baik dalam bidang substansi penanggulangan kebakaran maupun kepemimpinan yang berorientasi pada kesamaan pola pikir dan keterpaduan gerak yang dinamis dan bernalar. c. Pemadam Kebakaran dan Penyelamat ditentukan berdasarkan tingkat kemampuannya memadamkan api dan melakukan pertolongan kepada manusia dan harta benda dari ancaman bahaya kebakaran dan bencana lainnya. Diklat Inspektur Kebakaran. d. Satlakar menjadi bagian dari pelayanan pemadaman kebakaran. Diklat Manajemen Pemadam Kebakaran. 2. 5. Dapat melaksanakan tugasnya dengan semangat kerjasama dan tanggung jawab sesuai dengan fungsinya dalam organisasi instansi pemadam kebakaran. Organisasi Satlakar Pembentukan organisasi Satlakar sepenuhnya atas inisiatif masyarakat. dan pasar. f. Jenjang karir Pemadam Kebakaran dan Penyelamat terdiri dari 3 jenjang karir yaitu juru padam I. kualifikasi instruktur dan spesifikasi bangunan serta sarana diklat diatur dalam peraturan tersendiri. Tugas dan Fungsi Satlakar Satlakar mempunyai tugas membantu masyarakat dalam upaya menjaga bangunan. penghuni. Jenjang karir operator komunikasi kebakaran terdiri dari 3 jenjang karir yaitu caraka I. Jenis Diklat Pemadam Kebakaran antara lain terdiri dari: a. 26. 3. Tujuan DIKLAT teknis fungsional Penanggulangan Kebakaran (DIKLAT FPK) adalah: a.1 Satuan Relawan Kebakaran (Satlakar) 1. b. konseptual. . juru padam II. moral dan ketrampilan teknis pelaksanaan pekerjaan. Meningkatkan kemampuan teoritis. Satlakar sekurang-kurangnya diberlakukan pada suatu lingkungan padat hunian. 3. BAGIAN 6: PERAN SERTA SATLAKAR MASYARAKAT 6.

b. 3. c. Forum komunikasi adalah forum yang terdiri dari anggota yang berasal dari asosiasi profesi dan tokoh masyarakat. 4.Fungsi Satlakar melakukan pemadaman dini sebelum Instansi Pemadam Kebakaran datang ke tempat terjadinya kebakaran. Peralatan Pemadaman Peralatan baku pemadaman yang wajib dipergunakan oleh Satlakar adalah: pompa jinjing ringan. Memberikan rekomendasi atas pembentukan unit-unit Satlakar.2 Masyarakat Profesi dan Forum Komunikasi 1. 6. Pembinaan Satlakar Pembinaan personel Satlakar menjadi tanggung jawab Lurah. dan gaetan. 2. ember. sumberdaya. d. termasuk resiko selama menjalani kegiatan Diklat. Masyarakat profesi adalah orang perorangan dan atau badan yang mempunyai profesi terkait. 6. pemikiran. Kontribusi masyarakat profesi yaitu dalam bentuk tenaga bantuan. di mana hasil kajiannya menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk meningkatkan sarana dan prasarana lingkungan. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Satlakar Diklat Satlakar merupakan kewajiban Pemerintah Daerah. a. Lurah selaku Pembina Satlakar mendorong berfungsinya Satlakar di wilayah kelurahan masing-masing. Peran Masyarakat Profesi dan Forum Komunikasi. Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran perlu mengikutsertakan pihak swasta. b. dan atau pengawasan yang diberikan oleh masyarakat profesi dan atau forum komunikasi. sedangkan pembinaan kemampuan teknis pemadaman kebakaran ditangani oleh Pemerintah Daerah dan atau oleh Instansi Pemadam Kebakaran. pertimbangan dan jadual dalam hal pelaksanaan tugas Satlakar. Menyusun program kerja tahunan dan lima tahunan. goni basah. alat pemadam api ringan (APAR). Membantu terselenggaranya program pendidikan dan latihan anggota satlakar untuk meningkatkan ketrampilan anggota satlakar. 4. Memberi pengarahan. dalam hal ini yang berhubungan dengan disiplin pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Mengawasi kegiatan Satlakar di wilayah kelurahan masing-masing dalam pelaksanaan tugas. pasir. memberikan fasilitas keberadaan peran-serta masyarakat profesi dalam mengontrol dan mengendalikan hal teknis yang berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan kebakaran terutama . Memberikan saran teknis terutama untuk lingkungan hunian padat. c. dalam hal ini masyarakat profesi dan atau forum komunikasi. melalui program kegiatan: a. 5. e. Pemerintah wajib mendorong.

taktis dan tugas-tugas pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.1 Pengendalian teknis adalah upaya untuk menjaga dan menjamin agar setiap kegiatan pelaksanaan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan baik pada tahap pembangunan maupun tahap pemanfaatan dapat berlangsung secara aman dan selamat. 2. b. 7.3 Pengawasan Teknis adalah upaya pengawasan atas perencanaan dan pelaksanaan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan yang dilakukan oleh setiap instansi dan masyarakat profesi agar selalu memenuhi syarat-syarat dan ketentuan teknis yang berlaku. c. Pada bangunan yang beresiko kebakaran. mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan dan penerapan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan dan mempublikasikan hasil pengawasannya melalui forum komunikasi kebakaran. Pernyataan layak huni tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat profesi.2 Pengendalian teknis dilakukan melalui pengawasan teknis dan tindak turun tangan.mengenai persamaan persepsi dalam strategi. Inspeksi a. Peringatan Dini (Early Warning) a. 3. 7. Inspeksi bangunan gedung yang beresiko kebakaran dilakukan oleh masyarakat profesi untuk mendapatkan sertifikat layak huni. Penggunaan peralatan ini memberikan kontribusi subsidi kepada peralatan yang dipasang pada tempat-tempat fasilitas sosial dan umum. Pemerintah memonitor.3 Pola Kemitraan 1. Peringatan Dini dilakukan dengan menggunakan alat yang secara otomatis atau manual berhubungan langsung dengan Instansi Pemadam Kebakaran bilamana terjadi kebakaran. BAGIAN 7: PENGENDALIAN TEKNIS 7. Laboratorium Uji Api Dalam rangka memperoleh data dan informasi mengenai daya tahan bahan bangunan dan konstruksi terhadap bahaya kebakaran dimungkinkan adanya pola kemitraan antara masyarakat profesi dan institusi daerah yang bersangkutan. Hasil inspeksi menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk memberikan Ijin Perpanjangan Penggunaan Bangunan (IPPB) untuk bangunan gedung fungsi umum. Pemilik atau Pengelola bangunan dapat memasang/menggunakan peralatan yang dapat bekerja otomatis berhubungan dengan Instansi Pemadam Kebakaran.4 Pengawasan teknis dilaksanakan secara berjenjang dan atau secara paralel dengan penjelasan sebagai berikut: 1. . b. 6. 7. dengan tujuan mendapatkan sertifikasi bahan dan konstruksi tahan api.

5 Tindak turun tangan adalah upaya penertiban yang dilakukan Instansi Pemadam Kebakaran terhadap penyimpangan pelaksanaan manajemen penanggulangan kebakaran. Pemerintah dalam hal ini Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum melakukan pembinaan kepada Pemerintah Daerah khususnya instansi pemadam kebakaran/pembina penanggulangan kebakaran. 3. 7. pelatihan. dan penyuluhan. Instansi pemadam kebakaran melakukan peningkatan kemampuan dan pemberdayaan petugas pemadam kebakaran. dan masyarakat dalam melakukan dan berperan serta di dalam manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan. melakukan peningkatan kemampuan dan pemberdayaan masyarakat profesi. Sektor Pemadam Kebakaran memonitor dan melaporkan hasil pemantauan atas pelaksanaan manajemen penanggulangan kebakaran di lingkungannya kepada Instansi Pemadam Kebakaran. 4.2 Pembinaan dilaksanakan secara berjenjang dan paralel sebagai berikut: 1. . penyebarluasan standar teknis. pengelola gedung. 2. 8. BAGIAN 8: PEMBINAAN 8. Instansi Pemadam Kebakaran memonitor. 8. Petugas Pemadam Kebakaran memeriksa dan melaporkan hasil pemeriksaan atas pelaksanaan manajemen penanggulangan kebakaran di lingkungannya kepada Sektor Pemadam Kebakaran/Instansi Pemadam Kebakaran. masyarakat profesi dan masyarakat pada umumnya dalam melaksanakan urusan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan.3 Pembinaan dilakukan melalui pengaturan. mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan dan penerapan manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan serta melakukan tindak turun tangan atas penyimpangan yang terjadi di dalam pelaksanaan dan penerapan manajemen penanggulangan kebakaran. satlakar.1 Pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan dan memberdayakan kemampuan teknis setiap instansi.2.

2. 1. Lingkungan khusus. 3. Analisis Resiko Kebakarannya seperti dijelaskan pada Bab II. Wilayah Manajemen Kebakaran lingkungan yang mempunyai manajemen estat. Lingkungan beresiko kebakaran tinggi. merupakan bagian dari manajemen estat tersebut yang mempunyai tugas dan tanggung jawab khusus dalam penanggulangan kebakaran pada lingkungan yang bersangkutan.3 Wilayah Manajemen Kebakaran Lingkungan 1. b. hunian padat. Yang dimaksud dengan lingkungan beresiko kebakaran rendah adalah lingkungan yang berada dalam WMK beresiko rendah dan mempunyai bangunan-bangunan gedung yang juga beresiko kebakaran rendah. Bagian I (1. dan udara). 4. Lingkungan dianggap sebagai bagian atau sub bagian dari Wilayah Manajemen Kota (WMK). 3. Tujuan penerapan analisis resiko kebakaran adalah untuk menentukan jumlah kebutuhan air yang diperlukan pemadam kebakaran di lingkungan sebagai bagian atau sub bagian WMK. lingkungan dalam pangkalanpangkalan Militer (darat. Setiap lingkungan bangunan yang berada dalam satu lingkungan dengan kepemilikan yang sama dan dalam pengelolaan lingkungan yang sama diwajibkan menerapkan Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK). Lingkungan dimaksud meliputi lingkungan perdagangan. Klasifikasi Resiko bahaya kebakaran lingkungan. Lingkungan beresiko kebakaran rendah. seperti lingkungan industri. Untuk lingkungan yang tidak mempunyai manajemen estat harus dibentuk Tim SATLAKAR yang terlatih.2 Analisis Resiko kebakaran 1. 3. 2. superblok. Yang dimaksud dengan lingkungan beresiko kebakaran tinggi adalah lingkungan yang berada dalam WMK beresiko tinggi dan mempunyai bangunan-bangunan yang juga beresiko kebakaran tinggi. Sistem pemberitahuan kebakaran lingkungan selanjutnya dapat dirancang untuk menjamin respons yang tepat terhadap berbagai masalah yang mungkin terjadi dalam setiap Wilayah Manajemen Kebakaran Lingkungan.2). 2. dan hunian di atas air. diatur dalam Manajemen Penanggulangan Kebakaran khusus. a. 1.BAB III MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN LINGKUNGAN BAGIAN 1: WILAYAH MANAJEMEN KEBAKARAN 1. laut.1 Umum 1. .

Jalan lingkungan. sungai. 3. pasokan air diperoleh dari sumber alam (kolam air. Pembinaan pada masyarakat dan SATLAKAR. Mobil pompa.BAGIAN 2: PRASARANA DAN SARANA PENANGGULANGAN KEBAKARAN LINGKUNGAN 2.5 meter. 2.2 Sarana penanggulangan kebakaran Manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan harus juga dilengkapi dengan sarana penanggulangan kebakaran yang antara lain terdiri dari: 1. Alat Pemadam Api Ringan (APAR). sumur dalam) maupun buatan (tangki air. 3. BAGIAN 3: ORGANISASI 3.3 Alat pertolongan pertama pada kecelakaan Tersedianya alat pertolongan pertama pada kecelakaan. Rencana penanggulangan kebakaran (Fire plan). 3. Sarana Komunikasi. 2. 4. 2. kolam renang. Untuk keperluan pemadaman kebakaran. 2. Penanggulangan dini terhadap kebakaran. Terdiri dari telepon umum dan alat-alat lain yang dapat dipakai untuk pemberitahuan terjadinya kebakaran kepada Instansi Pemadam Kebakaran.1 Prasarana penanggulangan kebakaran Manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan ini harus dilengkapi dengan prasarana penanggulangan kebakaran yang antara lain terdiri dari: 1. Pelayanan darurat kesehatan korban kebakaran. danau. Terselenggaranya hubungan dengan instansi pemadam kebakaran. Mobil tangga. Pemeriksaan prasarana dan sarana penanggulangan bahaya kebakaran. 2. Jalan lingkungan dengan lebar jalan minimum 3. . yang pada saat terjadi kebakaran harus bebas dari segala hambatan apapun yang dapat mempersulit masuk keluarnya mobil pemadam kebakaran. reservoir air. APAR yang tersedia pada Pos Kebakaran Lingkungan minimal 10 (sepuluh) buah dengan isi bersih 10 (sepuluh) kg untuk setiap buahnya. Pasokan air. 5. khususnya kebakaran sebagai upaya pertolongan darurat bagi korban kebakaran.1 Struktur Organisasi Dalam organisasi manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan minimal harus terdiri dari unit-unit yang bertanggung jawab atas: 1. mobil tangki air dan hidran). 6.

4) Pelaksanaan bantuan teknis penanganan pasca kebakaran lingkungan. b. Sub Koordinator Pemadam Kebakaran. pemadaman dan pemeliharaan prasarana dan sarana penanggulangan kebakaran. 2. 3) Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana penanggulangan kebakaran lingkungan. b. a. 3) Melakukan penyuluhan tentang pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Sub Koordinator Operasi dan Pemeliharaan. b. Tugas: Melaksanakan koordinasi operasi dan pemeliharaan peralatan kebakaran lingkungan atas petunjuk dan arahan koordinator keselamatan lingkungan.2 Tugas dan fungsi 1. serta mengadakan prasarana dan sarana pemadam . Fungsi: Merencanakan kebakaran. 2) Meningkatkan dan mengembangkan sistem. 4. peralatan dan kemampuan personil dalam upaya pencegahan kebakaran. a. Fungsi: 1) Melaksanakan operasional pemadaman kebakaran.3. 2) Melaksanakan penyampaian informasi dan komunikasi saat kejadian kebakaran. 3) Melaksanakan bantuan teknis upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran. Fungsi: 1) Menyusun pola operasional pencegahan kebakaran dan pendataan gedung pada lingkungan yang bersangkutan yang rawan kebakaran. 3. Tugas: Melaksanakan koordinasi pemadaman kebakaran atas petunjuk koordinator keselamatan lingkungan. Tugas: Mengkoordinasikan pencegahan. a. Fungsi: 1) Pelaksanaan pencegahan kebakaran pada lingkungan. 2) Pelaksanaan pemadaman kebakaran pada lingkungan. Koordinator keselamatan lingkungan. metoda. Tugas: Melaksanakan koordinasi pencegahan kebakaran atas petunjuk koordinator keselamatan lingkungan. Sub koordinator pencegahan kebakaran. b. a.

Urusan sarana komunikasi. Mempunyai tugas melaksanakan penyampaian informasi kepada masyarakat dan melakukan komunikasi melalui telepon dan radio yang menyangkut kejadian kebakaran. Urusan penyuluhan. mempunyai tugas dan tanggung jawab khusus dalam penanggulangan kebakaran pada lingkungan yang bersangkutan. Urusan pendataan. Mempunyai tugas melaksanakan pemeliharaan terhadap sarana/ peralatan komunikasi untuk penanggulangan kebakaran yang dimiliki. 9. 11.Melakukan perawatan serta penanggulangan kebakaran. 3. peralatan dan kemampuan personil dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran. 5. Urusan sarana PPPK. Mempunyai tugas melaksanakan operasional pemadaman pada saat kebakaran. Urusan bantuan teknis. Urusan alat pemadam Mempunyai tugas melaksanakan pemeliharaan terhadap kebakaran yang dimiliki. 10. Urusan Komunikasi.3 Kedudukan Manajemen Manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan yang mempunyai Manajemen Estat. 13. Urusan Hidran dan Jalan lingkungan. pemeliharaan prasarana dan sarana Mempunyai tugas melaksanakan pendataan untuk penyusunan pola operasional dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran. Urusan operasional. Urusan pengembangan. 12. evakuasi. pemadaman. 14. tandon air yang ada pada lingkungan dan jalan masuk mobil pemadam kebakaran. Mempunyai tugas melaksanakan dan memberikan bantuan teknis dalam upaya pengamanan. Mempunyai tugas melaksanakan pengadaan dan pemeliharaan sarana PPPK. merupakan bagian dari manajemen estat tersebut. serta pemadaman kebakaran. 8. Mempunyai tugas melaksanakan peningkatan dan pengembangan sistem. 6. . Mempunyai tugas melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran. pencegahan. 7. Mempunyai tugas melaksanakan pemeliharaan terhadap instalasi hidran. metoda. upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran serta akibat yang ditimbulkannya.

2. Rencana penanggulangan kebakaran (fire plan). Dalam organisasi manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan minimal harus terdiri atas unit-unit yang bertanggung jawab atas: a. Pelayanan darurat kesehatan korban kebakaran. Akses masuk kendaraan pemadam kebakaran. Melakukan perencanaan dan pemasangan sistem proteksi kebakaran pada lingkungan yang memenuhi ketentuan yang berlaku dan . b. 4. e. Evakuasi pengguna/penghuni bangunan. e.1 Manajemen penanggulangan kebakaran lingkungan yang mempunyai Manajemen Estat. Jalan evakuasi pengguna dan penghuni bangunan. 3. f. d. Terselenggaranya hubungan dengan instansi kebakaran. Pemadaman dini pada saat mulai terjadi kebakaran: a. d. b.5 Hubungan dengan masyarakat dan instansi Melakukan koordinasi dengan masyarakat pengguna/penghuni serta instansi kebakaran setempat.2 Manajemen penanggulangan bahaya kebakaran yang sesuai dengan rencana strategi sistem pengamanan kebakaran (Fire Emergency Plan) pada lingkungan harus mengikuti ketentuan sebagai berikut: 1. Pembinaan pada masyarakat dan SATLAKAR. c. c. 2. BAGIAN 4: TATA LAKSANA OPERASIONAL LINGKUNGAN 4. Persediaan air. a. Ketentuan sebelum terjadi kebakaran. harus mempunyai prosedur tentang: 1. 3. Untuk lingkungan yang tidak mempunyai manajemen estat harus dibentuk Tim SATLAKAR yang terlatih.3.4 Tanggung Jawab 1. Penanggulangan dini terhadap kebakaran. Pemeriksaan sarana dan prasarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Sistem informasi dan komunikasi. Pemeriksaan berkala terhadap peralatan pemadam yang ada. Tempat aman (lantai gedung dan halaman). Alat pencegah kebakaran dalam bangunan. Manajemen estat. b. Pencegahan yang dilakukan terhadap: a. Non manajemen estat.

Keahlian di bidang penyelamatan darurat. serta mendokumentasikan dengan baik hasil pemeriksaan dan pengujian kinerja peralatan sistem proteksi yang ada. c. Menyusun dan melakukan penyuluhan prosedur penyelamatan kebakaran (Emergency Response Manual). Mempersiapkan akses bagi mobil pemadam kebakaran. antara lain: sistem dan prosedur notifikasi adanya kebakaran.1 Kualifikasi SDM pengamanan terhadap bahaya kebakaran lingkungan Manajemen ini harus didukung oleh tenaga yang mempunyai keahlian dibidang penanggulangan kebakaran. a. 2. b. Memberikan pertolongan darurat pada korban kebakaran. Melakukan pemadaman dini sesuai dengan Prosedur Operasi Standar (POS) yang telah ditetapkan. . e. e.mendokumentasikan data dan informasi kelompok bangunannya dengan baik serta menempatkannya di setiap Pos Kebakaran. BAGIAN 5: SUMBER DAYA MANUSIA 5. d. korban. Melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kondisi prasarana dan sarana penanggulangan bahaya kebakaran yang tersedia. d. Keahlian di bidang manajemen kebakaran. yang terkoordinasi bersama instansi pemadam kebakaran setempat. b. Melakukan pencatatan atas: lokasi. b. Keahlian di bidang pengamanan kebakaran (Fire Safety). Ketentuan saat terjadi kebakaran. Melakukan penyelamatan jiwa penghuni (evakuasi) sesuai prosedurnya dengan mengutamakan perlindungan terhadap keselamatan jiwa seluruh penghuni. pengguna/penghuni. Memberikan laporan kepada Instansi Pemadam Kebakaran Daerah terdekat atas terjadinya kebakaran sesuai catatan yang dilakukan. Memberikan laporan dan atau melakukan/komunikasi dengan Instansi pemadam kebakaran dalam rangka koordinasi tindakan pemadaman. Melakukan pemeliharaan prasarana dan sarana penanggulangan bahaya kebakaran yang tersedia. jenis bangunan. a. Melakukan program pelatihan kebakaran terpadu (integrated fire drill) secara berkala dalam penanggulangan bahaya kebakaran dan pengevakuasian penghuni pada kelompok bangunan yang sistimatis dan tertib. c. 2. Membantu Instansi berwenang dalam melakukan penelitian sebelum dilakukannya rehabilitasi dalam kelompok bangunan. alarm tahap awal dan prosedur komunikasi darurat. waktu dan perkiraan penyebab kebakaran. c. yang meliputi: 1. Ketentuan pasca kebakaran. 3. 3.

2 Pembinaan untuk masyarakat profesi Meningkatkan peran serta masyarakat profesi agar lebih mampu merancang kelompok bangunan yang aman dan andal terhadap bahaya kebakaran dengan memenuhi semua ketentuan yang berlaku. . 5. 5.Sumber daya manusia yang berada dalam manajemen ini secara berkala harus dilatih dan ditingkatkan kemampuannya. Kegiatan dalam rangka menunjang operasi pemadaman kebakaran. c.4 Perencanaan dan pengadaan SDM 1. Pelatihan teknis. Kegiatan dalam rangka pencegahan bahaya kebakaran. klasifikasi dan persyaratan tenaga pemadam yang telah ditentukan. Pelatihan mental.3 Persyaratan tenaga pemadam Persyaratan untuk tenaga pemadam kebakaran disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku pada instansi pemadam kebakaran daerah setempat. 2. 5. 5. sesuai dengan fungsi perkiraan resiko kebakaran pada bagian lingkungan yang berkembang tersebut. 6. d. Pembinaan personil a. Pelatihan administratif. 3.1 Pembinaan untuk masyarakat Meningkatkan peran serta masyarakat dalam rangka pencegahan kebakaran dalam bentuk: 1. Jumlah personil dalam pengadaan SDM berdasarkan pada fungsi perkiraan resiko kebakaran pada lingkungan yang bersangkutan. Pelatihan fisik.3 Kegiatan pembinaan dalam rangka penanggulangan bahaya kebakaran. b. 2.5 Pengembangan SDM Pengembangan SDM dapat dilakukan sejalan dengan pengembangan lingkungan tersebut. meliputi: 1. Harus memenuhi kualifikasi.2 Klasifikasi tenaga pemadam Klasifikasi tenaga pemadam kebakaran disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku pada instansi pemadam kebakaran daerah setempat. BAGIAN 6: PEMBINAAN DAN PELATIHAN 6. 6. Di setiap RW harus disediakan 4 sampai dengan 6 regu SATLAKAR yang tiap regunya minimal 5 (lima) orang dan tersedia pula sejumlah/semacam alat pemadam api yang memadai di setiap RT.

b. Bangunan pelatihan dan sarananya. Pembinaan peralatan a. b. Pelatihan akademis. Pos pemadam kebakaran. Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan pelindung pemadam. Pengoperasian dan pemeliharaan kendaraan pemadam. c. Garasi. 3. d. . d. Pembuatan brosur dan leaflets. b. Peralatan pemeliharaan. c. c.e. 4. d. e. Pembinaan masyarakat penghuni/pengguna bangunan a. Penyuluhan tentang bahaya kebakaran. Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan. Pembinaan prasarana dan sarana a. Penyuluhan pada masyarakat di lingkungan yang bersangkutan. Pusat komunikasi. Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Hidran lingkungan. 2. Pelatihan pasukan SATLAKAR.

Setiap bangunan umum termasuk apartemen yang berpenghuni minimal 500 orang. sumber daya manusia. 5.2 Proteksi Bahaya Kebakaran 1. . khususnya pada tahap awal kejadian kebakaran. mengandung ketentuan mengenai fungsi. 1. MPK. 6. diwajibkan menerapkan Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK). atau bangunan rumah sakit. 2.1 Prasarana Penanggulangan Kebakaran Prasarana penanggulangan bahaya kebakaran ditekankan pada: 1. 4. prasarana dan sarana. BAGIAN 2: PRASARANA DAN SARANA PENANGGULANGAN KEBAKARAN DALAM BANGUNAN GEDUNG 2.BAB IV MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN BANGUNAN GEDUNG BAGIAN 1: PROTEKSI KEBAKARAN DALAM BANGUNAN GEDUNG 1.1 Umum 1.000 m2. instalasi militer dan menara TV yang mempunyai resiko kebakaran tinggi diatur secara khusus. Bangunan gedung harus diproteksi terhadap kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran melalui penyediaan prasarana dan sarana proteksi kebakaran serta kesiagaan akan kesiapan pengelola.000 m2. atau terdapat bahan berbahaya yang mudah terbakar diwajibkan menerapkan Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK). serta kemampuan petugas menangani pengendalian kebakaran. serta tata laksana yang perlu dilaksanakan secara konsisten agar tujuan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung dapat dicapai secara efektif dan efisien. atau dengan beban hunian 500 orang. Cukup tersedianya sumber air sehingga memudahkan pemadaman api apabila terjadi kebakaran. Klasifikasi resiko bangunan terhadap kebakaran adalah seperti terlampir. 2. penghuni dan penyewa bangunan dalam mengantisipasi dan mengatasi kebakaran. Khusus bangunan industri yang memiliki luas bangunan minimal 5. sebelum bantuan dari instansi pemadam kebakaran tiba. Besar kecilnya organisasi MPK ditentukan oleh resiko bangunan terhadap bahaya kebakaran. 3. Bangunan gedung melalui penerapan MPK harus mampu mengatasi kemungkinan terjadinya kebakaran melalui kesiapan dan keandalan sistem proteksi yang ada. atau mempunyai ketinggian bangunan lebih dari 8 lantai. Untuk bangunan selain yang disebutkan di atas seperti instalasi nuklir. atau yang memiliki luas lantai minimal 5. atau dengan luas areal/site minimal 5. pola organisasi.000 m2.

Jumlah minimal anggota TPK didasarkan atas jumlah penghuni/ penyewa dan jenis bahan berbahaya atau mudah terbakar/meledak yang disimpan dalam gedung tersebut. Akses mobil kebakaran yang cukup sehingga memudahkan mobil pemadam kebakaran bersirkulasi tanpa hambatan. 4. Kepala Bagian Teknik Pemeliharaan. TPK dalam tugasnya menggunakan tanda-tanda khusus sebagai identitas diri yang dibuat untuk keperluan itu. membawahi: 1) Operator ruang monitor dan komunikasi. Sistem pemadam kebakaran dalam gedung terdiri dari Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Sistem deteksi dan alarm kebakaran yang digunakan mengacu pada ketentuan/SNI yang berlaku. 3. Setiap 10 karyawan/pengguna bangunan diwajibkan menunjuk 1 (satu) orang untuk menjadi anggota Kelompok dalam TPK. dan PABX. 5) Operator pompa. sistem hidran kebakaran. Bentuk struktur organisasi TPK tergantung pada klasifikasi resiko bangunan terhadap bahaya kebakarannya. TPK dibentuk oleh Pemilik/Pengelola bangunan gedung (dengan surat keputusan perusahaan yang tembusannya disampaikan kepada Instansi pemadam kebakaran setempat. serta diumumkan kepada seluruh penghuni/penyewa bangunan). dan lain-lain. Telepon Kebakaran (Fire Telephone). pemasangan dan pengoperasiannya mengacu pada ketentuan/SNI yang berlaku. 3) Operator listrik dan genset. Penanggung jawab TPK b. 2. Struktur organisasi TPK antara lain terdiri dari: a. Perencanaan. Jalan evakuasi dalam bangunan yang tidak terhalang. sehingga dalam keadaan darurat evakuasi dapat dilakukan tanpa hambatan. Berfungsinya alat komunikasi internal di dalam bangunan seperti PA (Public Address). 2) Operator lif.2 Struktur Organisasi. .2 Sarana Penanggulangan Kebakaran 1. sistem pengendalian asap. 4. 2.2. 4) Operator air conditioning dan ventilasi. 2. Sistem Pemadam Kebakaran. Sistem deteksi dan alarm kebakaran. 1. sistem sprinkler kebakaran. 2. BAGIAN 3: ORGANISASI PENANGGULANGAN KEBAKARAN 3. 3.1 Tim Penanggulangan Kebakaran (TPK) 1. 3.

2) Tim Penyelamat Kebakaran (TPK). (2) Sarana pemadam kebakaran dan alat bantunya. Tugas dan Fungsi TPK a. d) Melaksanakan kegiatan dengan tujuan diperoleh unsur keamanan total terhadap bahaya kebakaran. e) Pemeriksaan secara berkala ruang-ruang yang menyimpan bahanbahan berbahaya yang mudah terbakar dan mudah meledak. 2) Fungsi: a) Pelaksanaan pembentukan organisasi TPK. f) Melaksanakan penyusunan sistem dan prosedur untuk setiap tindakan pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan.c. pemeliharaan dan pengujian . b) Melaksanakan penyusunan program pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan secara berkesinam-bungan. f) Pelaksanaan evakuasi bagi penghuni atau pemakai bangunan pada waktu terjadi kebakaran. pemeriksaan. c) Melaksanakan penyusunan program peningkatan kemampuan personil. b) Pelaksanaan penyusunan rencana strategi sistem pengendalian kebakaran. Kepala Bagian Teknik Pemeliharaan 1) Tugas: Melaksanakan pemantauan. g) Pelaksanaan pengumpulan data dan informasi bangunan gedung. 3) Tim pengamanan. d) Pemeriksaan dan pemeliharaan sarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran. e) Melaksanakan koordinasi penanggulangan dan pengendalian kebakaran pada saat terjadi kebakaran. (3) Prosedur kebakaran. seperti: (1) Kondisi gedung secara fisik dan administrasi. membawahi: 1) Tim Pemadam Api (TPA). Penanggung Jawab TPK 1) Tugas: a) Mengkoordinasikan pelaksanaan MPK. b. h) Membuat kebijakan bagi penanggulangan menyeluruh terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran dan sekuriti pada bangunan. 3. Kepala Bagian Keamanan. c) Pelaksanaan pengadaan latihan pemadam kebakaran secara periodik dengan melibatkan seluruh penghuni gedung. g) Melaksanakan penyusunan dan pendokumentasian laporan mengenai pelaksanaan yang berkaitan dengan MPK pada bangunan.

7) Melakukan komunikasi dengan instansi pemadam kebakaran. 3) Menjaga agar listrik tetap berfungsi untuk mengoperasikan lif kebakaran. d. Operator Ruang Monitor dan Komunikasi Tugas: 1) Memeriksa dan memelihara peralatan pemantau agar selalu bekerja dengan baik. 8) Atas perintah Manajer TPK. 5) Melakukan komunikasi dengan petugas pemadam kebakaran lantai. 6) Melakukan komunikasi dengan petugas pemadam kebakaran lantai. 2) Bila terjadi kebakaran. Operator Lif Tugas: 1) Memeriksa fungsi lif terutama lif kebakaran harus dapat beroperasi dengan baik. pompa-pompa dan peralatan-peralatan kebakaran lainnya. 3) Pada saat terjadi kebakaran. 2) Melaksanakan pemantauan keadaan seluruh tempat di dalam gedung melalui peralatan pemantau. pompa-pompa kebakaran. listrik. 2) Fungsi: a) Pelaksanaan pemantauan keadaan seluruh gedung melalui peralatan kontrol dan penyampaian laporan tentang segala sesuatu yang terjadi kepada pejabat yang berwenang. menurunkan lif ke lantai dasar. Operator listrik dan genset Tugas: 1) Memeriksa fungsi peralatan listrik dan genset dengan baik. memberitahukan kepada seluruh penghuni bangunan bahwa terjadi kebakaran dan diharapkan tidak panik. hanya mengoperasikan lif kebakaran. fan pengendali . c. lift. ventilasi. genset. 3) Melaporkan keadaan terpantau tersebut setiap saat. e. b) Pemeriksaan keadaan jika terjadi alarm berbunyi dan mengambil tindakan seperlunya. fan penekan udara.peralatan seperti: peralatan monitor. 4) Jika terjadi alarm berbunyi. maka segera melaporkan kepada petugas keamanan dan meminta agar memeriksa keadaan serta mematikan alarm tersebut. terutama yang membutuhkan daya listrik yang besar seperti pengkondisian udara (air conditioning) dan ventilasi. 2) Mematikan listrik pada tempat di mana kebakaran terjadi. c) Pembersihan tangga darurat dari benda-benda yang menghalangi fungsinya sebagai sarana penyelamatan jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran. air conditioning. bila sangat perlu dan dimungkinkan. polisi dan rumah sakit terdekat untuk diminta bantuannya.

cacat. Tugas: 1) Memadamkan api dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan Hidran Kebakaran bangunan. Tim Pemadam Api (TPA). 5) Melaksanakan seluruh instruksi Manajer TPK dengan baik dan benar. sakit dan ibu-ibu hamil harus diberikan cara penyelamatan khusus. g. 2) Mematikan seluruh pengkondisian udara dan ventilasi pada lantai yang terbakar. 2) Memeriksa permukaan air di dalam reservoir air bawah. 3) Mencegah orang yang bukan petugas MPK atau petugas TPK mendekati daerah yang terbakar. 4) Melaksanakan seluruh instruksi manajer TPK dengan baik dan benar. f. Operator pengkondisian udara dan ventilasi Tugas: 1) Memastikan seluruh sistem pengkondisian udara dan ventilasi berfungsi dengan baik. 2) Menjaga terjadinya penjalaran kebakaran dengan cara melokalisasi daerah kebakaran dan menyingkirkan barang-barang yang mudah terbakar. 5) Melaksanakan seluruh instruksi Manajer TPK dengan baik dan benar.asap dan panel-panel lain yang diharuskan berfungsi walaupun terjadi kebakaran. i. Kepala Bagian Keamanan. 4) Pelaksanaan pengamanan lokasi kebakaran dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. memeriksa dan memastikan bahwa seluruh peralatan pompa dan instalasinya selalu berfungsi dengan baik. atau menutup pintu dan jendela. 4) Menghidupkan genset. 4) Mengoperasikan fan pengendali asap. Tugas: 1) Pelaksanaan pemadaman api sejak dini. . Operator pompa Tugas: 1) Memantau. 3) Mematikan seluruh sistem pengkondisian udara dan ventilasi bila kebakaran yang terjadi menjadi sangat berbahaya. 2) Pelaksanaan evakuasi penghuni/pengguna bangunan ke tempat aman dari bahaya kebakaran. h. 3) Mengoperasikan pompa jika terjadi kebakaran. 3) Pelaksanaan penyelamatan penghuni/pengguna bangunan yang terperangkap di daerah kebakaran ke tempat yang aman dan kepada orang-orang lanjut usia.

4) Menghubungi manajer TPK jika kebakaran diperkirakan tidak dapat diatasi lagi. 9) Melakukan evakuasi pada orang cacat. bersama dengan kelompok evakuasi setiap lantai. 4) Mengarahkan penghuni keluar melalui tangga darurat dengan jalan cepat. Tugas: 1) Mengamankan daerah kebakaran agar tidak dimasuki oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tim Pengaman (Sekuriti). 3) Melarang penghuni menggunakan Lif (kalau ada). 13) Menghitung jumlah karyawan pada lantai yang terbakar dan membuat laporan pelaksanaan tugas. j. dibawa ke Pos Keamanan untuk diperiksa dan selanjutnya diserahkan ke Polisi. 6) Memimpin evakuasi sampai menuju lantai dasar dan berkumpul di lokasi yang telah ditentukan. k. . 4) Membantu Tim Pemadam. 10) Menyelamatkan orang pingsan akibat kebakaran dengan tandu dan segera memberikan pertolongan pertama. 11) Menyelamatkan orang yang pakaiannya terbakar dengan selimut tahan api dan mengguling-gulingkan tubuhnya di atas lantai agar api cepat padam serta memberi pertolongan pertama. 8) Menjaga dengan ketat supaya jangan sampai ada yang berusaha untuk naik kembali ke gedung yang terbakar atau meninggalkan kelompok sebelum ada instruksi lebih lanjut. 2) Menangkap orang yang mencurigakan sesuai prosedur yang berlaku. 2) Memimpin pelaksanaan evakuasi lewat tangga darurat. 5) Menginstruksikan penghuni wanita untuk melepas sepatu dengan hak yang tinggi. brankas dan lain-lain. diturunkan lewat tangga darurat. wanita hamil. 12) Menghubungi Rumah Sakit terdekat/Ambulans/ Dokter. 7) Mengevaluasi jumlah yang dievakuasi. lanjut usia dan orang sakit melalui tangga darurat. 3) Mengamankan barang-barang berbahaya. Tim Penyelamat Kebakaran (TPK) Tugas: 1) Menginstruksikan semua penghuni/pengguna untuk segera keluar dari bangunan melalui tangga darurat dengan tertib pada saat terjadi kebakaran. seperti dengan borgol.

pusat belanja dan rumah sakit. pemeriksaan dan pemeliharaan peralatan proteksi kebakaran. Menyusun program peningkatan personil. khususnya bangunan gedung umum. pelaporan dan sistem informasi yang harus dilaksanakan dalam rangka peningkatan efektifitas penanggulangan kebakaran di bangunan gedung. b. Adapun ketentuan POS adalah sebagai berikut: a. f. POS harus dimiliki oleh setiap bangunan gedung. Dengan mengikuti ketentuan tersebut diharapkan tidak terjadi kebakaran atau kebakaran dapat diminimalkan. perkantoran. Setiap bangunan gedung harus memiliki kelengkapan POS. 2. secara periodik wajib mengikuti pelatihan . POS dapat diganti dan atau disempurnakan sesuai dengan kondisi saat ini dan antisipasi kondisi yang akan datang. d. Tim Penyelamat Kebakaran (TPK) dan Tim Pengamanan (TP) sebagai bagian dari TPK. pelaksanaan evakuasi. Melaksanakan kegiatan dengan tujuan diperolehnya unsur keamanan total terhadap bahaya kebakaran. Menyusun program penanganan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung secara berkesinambungan. 4. POS harus dikoordinasikan dengan instansi pemadam kebakaran. 2. Mengkoordinasikan pelaksanaan penanggulangan kebakaran pada saat terjadi kebakaran. d.1 Umum 1. Pelaksanaan operasional penanggulangan kebakaran di dalam gedung perlu memperhatikan kondisi instansi pemadam kebakaran setempat. Tim Pemadam Api (TPA). Menyusun Standar Operasi Prosedur untuk setiap tindakan pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Prosedur Operasional Standar (POS) POS adalah tata laksana minimal yang harus diikuti dalam rangka pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Tata Laksana Operasional yang dimaksud di sini mencakup kegiatan pencegahan. Rencana Strategi Tindakan Darurat/Fire Emergency Plan (FEP) a.BAGIAN 4: TATA LAKSANA OPERASIONAL 4. Menyusun dan mendokumentasikan laporan mengenai pelaksanaan MPK. Tim Evakuasi Kebakaran (TEK). Kepala Bagian Keamanan. b. Penanggung jawab TPK. dan sebagainya. pemadam kebakaran manual. c. Kepada Bagian Teknik Pemeliharaan. 3. antara lain mengenai: pemberitahuan awal. perhotelan. Pelatihan Personil a. minimal dengan Pos Kebakaran setempat.2 Pencegahan 1. c. pemadaman. dan pengendalian e.

b. minimal sekali dalam 3 (tiga) bulan menyelenggarakan pertemuan untuk mendiskusikan secara internal masalah-masalah yang menyangkut kesiapan seluruh anggota TPK dalam penanggulangan bahaya kebakaran. 1) Pengujian terhadap peralatan Sistem Proteksi Kebakaran dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. c. Pemeriksaan dan pemeliharaan sistem proteksi kebakaran. 4) Laporan pemeriksaan disampaikan setiap kali selesai dilakukan pemeriksaan.pemadaman kebakaran yang diselenggarakan oleh Diklat Instansi Pemadam Kebakaran setempat. e. disusun POS yang menyangkut tata cara komunikasi sehubungan dengan terjadinya kebakaran. Pemeriksaan dan Pemeliharaan Ruangan. Tim Penanggulangan Bahaya Kebakaran (TPBK). Setiap kegiatan latihan penyelamatan kebakaran harus mengikuti POS yang telah disusun oleh TPK. setiap penghuni/penyewa gedung wajib memeriksa ruangannya sebelum meninggalkan gedung. 2) Bagian Keamanan melalui Tim Pemadam Api (TPA) wajib memeriksa peralatan Sistem Proteksi Kebakaran secara berkala minimal 2 (dua) kali dalam seminggu. b. 1) Kegiatan pemeriksaan dan pemeliharaan harus dilakukan secara berkala sebagai bagian dari kegiatan Manajemen Penanggulangan Bahaya Kebakaran (MPBK). Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Instansi Pemadam Kebakaran. kecuali hari di mana pada ruangan tersebut tidak ada aktivitas. 4. 3) Laporan pemeriksaan diserahkan kepada Kepala Bagian Keamanan melalui Ketua Kelompok yang ditunjuk. Pengujian Peralatan Sistem Proteksi Kebakaran. f. minimal sekali dalam 6 (enam) bulan menyelenggarakan latihan penyelamatan kebakaran yang diikuti oleh seluruh penghuni bangunan. Dalam penyusunan POS Komunikasi selain melibatkan instansi pemadam kebakaran. 2) Pengujian dilakukan oleh Bagian Keamanan bersama-sama dengan Bagian Teknik Pemeliharaan. Dalam rangka keseragaman komunikasi yang menyangkut informasi penanggulangan kebakaran. dilibatkan juga TELKOM dan ORARI. TPK. harus mengikuti POS yang telah disusun oleh Diklat Instansi Pemadam Kebakaran setempat. . 2) Laporan pemeriksaan disampaikan setiap hari sesudah jam kerja. 1) Dalam rangka pencegahan terhadap kebakaran. d. dan hasilnya disampaikan kepada Manajer Pengelola Bangunan melalui Manajer MPK. 3) Laporan pemeriksaan diserahkan pada Manajer Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK). c.

Audit Terhadap Sarana Penanggulangan Kebakaran. atau 3) diinstruksikan oleh petugas kebakaran. Petugas TEK memandu semua penghuni atau penyewa gedung untuk segera berevakuasi dengan menggunakan tangga darurat terdekat menuju tempat berhimpun pada saat: 1) diumumkan untuk berevakuasi. 2) Audit Awal (Preliminary Audit) dilakukan setiap 1 (satu) tahun sekali dan dapat dilaksanakan oleh operator/teknisi setempat. Petugas TEK membimbing para tamu/pengunjung yang berada di lantai masing-masing untuk berevakuasi bersama melewati tangga darurat terdekat dengan tertib dan tidak panik. a. Evakuasi Orang dan Barang. b. c. b. Dilarang keras menggunakan Lif. Apabila bangunan gedung berada pada lingkungan permukiman. 2. b. TPK merupakan bagian (Sub Sistem) yang dikoordinasikan dengan instansi pemadam kebakaran kawasan. c. Apabila bangunan gedung berada dalam lingkungan kawasan. Rencana Aksi (Action Plan) a. 5. Informasi adanya Kebakaran dan Pemadaman Awal. TPK membantu instansi pemadam kebakaran dalam penyiapan anggota Satlakar. Laporan melalui telepon. . b. penyusunan brosur dan poster mengenai pengamanan terhadap bahaya kebakaran.3 Pemadaman Kebakaran 1. a. 1) Audit Keselamatan Sekilas (Walk Through) dilakukan setiap 6 bulan sekali oleh para operator/teknisi yang berpengalaman. Berusaha secara dini memadamkan kebakaran yang terjadi dengan menggunakan peralatan pemadam kebakaran yang tersedia. Hubungan Dengan Lingkungan. radio dan dari pemilik/ masyarakat adanya asap/api dari daerah kebakaran di dalam gedung. 2) diaktifkannya alarm kedua. Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK) perlu mengadakan Rencana Aksi dalam rangka meningkatkan budaya aman kebakaran melalui rencana aksi yang telah disusun. 6. 4. a. Seluruh staf/tamu/pengunjung dapat kembali ke dalam bangunan apabila telah diinstruksikan oleh petugas dari Instansi Pemadam Kebakaran. Rencana Aksi tersebut meliputi antara lain: penetapan minggu aman kebakaran pada bangunan gedung dan sekitarnya.d. 3) Audit lengkap (Complete Audit) perlu dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali oleh konsultan ahli yang ditunjuk. Penerima informasi segera membunyikan alarm kebakaran dengan cara mengaktifkan titik panggil manual.

meliputi: . 2. Yang dimaksud dengan Sumber Daya Manusia (SDM) disini adalah seluruh personil yang terlibat dalam kegiatan dan fungsi MPK bangunan gedung. jumlah kerugian jiwa dan taksiran kerugian materi. dan sebagainya. Pemeriksaan dan Penelitian Tingkat Keandalan Bangunan. Hasil pemeriksaan tersebut digunakan sebagai masukan pada perencanaan rehabilitasi. a. Selanjutnya diambil rangkaian tindakan sesuai dengan rencana strategi tindakan darurat penanggulangan kebakaran. penyebab dan jumlah obyek kebakaran. pengalaman dan keahlian di bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran.1 Umum 1. Tindakan ini dilakukan dalam rangka pemadaman dini agar api tidak cepat menjalar/berkembang. maka terlebih dahulu dilakukan tindakan pemeriksaan dan penelitian mengenai tingkat keandalan bangunan gedung tersebut setelah kejadian kebakaran sesuai dengan Pedoman Teknis yang berlaku. 4. 2. Pencarian sumber api dilakukan segera setelah mendapat informasi melalui alarm. Untuk mencapai hasil kerja yang efektif dan efisien harus didukung oleh tenaga-tenaga yang mempunyai dasar pengetahuan. awal dan akhir pemadaman. a. b. Laporan Kebakaran. sambil menunggu datangnya bantuan dari instansi pemadam kebakaran. telepon atau melihat asap. Pemadaman Api a. d. 4. waktu dan alamat kejadian. d. Laporan kebakaran antara lain meliputi: a. BAGIAN 5: SUMBER DAYA MANUSIA 5. Pemadaman api dilakukan segera agar tidak berkembang dan diupayakan dalam waktu sepuluh menit pertama saat terlihat adanya api.4 Pasca Kebakaran 1. Pelaksanaan pemeriksaan dan penelitian termasuk pengujian keandalan bangunan pasca kebakaran harus ditangani oleh ahli yang berkompeten. c.3. b. Sebelum dilakukan tindakan rehabilitasi pada bangunan. Hasil pemeriksaan bangunan tersebut merupakan persyaratan dalam memperoleh ijin rehabilitasi. b. tindakan yang harus dilakukan bila terperangkap asap. b. seperti misalnya tindakan saat mendengar suara tanda bahaya kebakaran (alarm). c. Pencarian Sumber Api.

3 Klasifikasi SDM.2. Klasifikasi SDM ditentukan berdasarkan struktur organisasi keadaan darurat sebagaimana diatur dalam pada butir 3. klasifikasi resiko bangunan terhadap kebakaran. c. b. 2. keahlian di bidang manajemen. 5.a.2 Kualifikasi SDM. . 5. Sumber Daya manusia (SDM) yang berada dalam MPK ini secara berkala harus dilatih dan ditingkatkan kemampuannya. Hal-hal lain yang menyangkut persyaratan SDM serta penyelenggaraan program diklat diatur tersendiri. keahlian di bidang penyelamatan kebakaran. keahlian di bidang penyelamatan darurat. Kualifikasi masing-masing jabatan dalam MPK sangat tergantung dari keahlian di atas dan tergantung juga kepada ketinggian dan fungsi bangunan. 1. lokasi dan kondisi infrastruktur sekeliling bangunan.

pengelola gedung. dan bangunan gedung terhadap kebakaran. Ketentuan Teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. lingkungan. dan instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran. ROZIK B. harus melakukan penyesuaian secara bertahap sesuai dengan situasi dan kondisi kabupaten/kota yang bersangkutan dan ditetapkan oleh Bupati/Walikota. MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM 2. terutama yang berhubungan dengan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung. SOETJIPTO . Bangunan gedung yang dibangun sebelum ketentuan ini ditetapkan. Disamping ketentuan teknis tersebut di atas dapat digunakan Pedoman/SNI terkait.BAB V PENUTUP 1. 3. guna menjamin keamanan dan keselamatan kota. instansi pemadam kebakaran.

2. auditorium dan bioskop Tempat penyimpanan Terminal pengangkutan Pertokoan Pemrosesan kertas Pelabuhan Bengkel Pabrik karet Gudang untuk: mebel.LAMPIRAN NO. 11. 13. Hangar pesawat terbang Pabrik gandum Pabrik kimia Pemintalan Penyulingan Pabrik/gudang bahan mudah terbakar Penggilingan lemak Gudang padi Penggilingan minyak pelicin Tempat penyimpanan kayu Penyulingan minyak Pabrik/gudang plastik Penggergajian kayu Pemisahan minyak pencuci logam Tempat penyimpanan jerami Pabrik pernis dan cat Tabel 2-2. umum. 1. 4. 16. 8. 7. 6. 3. 10. 10. 9. 14. 15. 11. 2. Bangunan dengan Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 4. 3. 8. PERUNTUKAN BANGUNAN Tabel 2-1. cat. 9. 1. 13. 6. Bangunan dengan Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 3. 12. 5. kertas dan minuman keras Industri kayu . 12. 5. 4. Kandang kuda Gudang bahan bangunan Pusat perbelanjaan Ruang pamer. 7.

17. 1. 16. 12. 10. 14. 6. 2. 3. 7. 9.NO. 21. 19. Bangunan dengan Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 5. Tempat hiburan Pabrik pakaian Gudang pendingin Gudang kembang gula Gudang hasil pertanian Ruang pamer dagang Binatu Pabrik penyamakan kulit Perpustakaan (dengan gudang buku yang besar) Kios sablon Toko mesin Toko besi Asrama perawat Pabrik farmasi Percetakan Rumah makan Pabrik tali Pabrik gula Pabrik perekat Pabrik tekstil Gudang tembakau Bangunan kosong . 4. 15. 13. 11. 20. 18. 8. PERUNTUKAN BANGUNAN Tabel 2-3. 22. 5.

Bangunan dengan Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 6. 3. 23. 21. Gudang minyak Parkir mobil Pabrik roti Tempat potong rambut Pabrik minuman Ruang boiler Pabrik bier Pabrik bata Pabrik kembang gula Pabrik semen Rumah ibadah Pabrik susu Tempat praktek dokter Pabrik elektronik Tungku / dapur Pabrik pakaian bulu hewan Pompa bensin Pabrik gelas Kamar mayat Gedung pemerintah Kantor pos Rumah pemotongan hewan Kantor telepon Pabrik arloji / perhiasan Pabrik anggur . 20. 11. 10. 8. 17. 4. 1. 15. 22. 18. 16. 9. 12. 6. 19.NO. 24. 25. 5. 7. 14. PERUNTUKAN BANGUNAN Tabel 2-4. 13. 2.

Apartemen Universitas Asrama Perumahan Pos kebakaran Asrama paroki Rumah sakit Hotel & motel Perpustakaan (tanpa gudang buku) Museum Rumah Perawatan Perkantoran Kantor polisi Penjara Sekolah .NO. 9. 13. 15. Bangunan Dengan Angka Klasifikasi Resiko Bahaya Kebakaran 7. 3. PERUNTUKAN BANGUNAN Tabel 2-5. 4. 7. 12. 14. 2. 6. 10. 5. 1. 8. 11.

Bagan Alir Untuk Menyusun Rencana Induk Sistem Pemadam Kebakaran Kota (RISPK) .1.IDENTIFIKASI LOKASI POS YANG ADA DAN PLOT AREA JANGKAUAN INVENTARISASI SARANA DAN PERALATAN–EVALUASI ORGANISASI DAN DANA PLOT AREA JANGKAUAN SISTEM HIDRAN YANG ADA EVALUASI DAN TENTUKAN TINGKAT KEMAMPUAN PERALATAN/KENDARAAN PASOKAN AIR PLOT AREA JANGKAUAN MOBIL TANGKI DAN TITIK PENGISAPANAIR YANG ADA LAKUKAN UJI POMPA DAN HIDRAN EVALUASI TINGKAT KEMAMPUAN PASOKAN AIR KESELURUHAN LAKUKAN ANALISIS UNTUK POTENSI BAHAYA KHUSUS TETAPKAN POS OPERASIONIL PEMADAMAN SIAPKAN/SUSUN RISPK DENGAN MENGEVALUASI KEKUATAN DAN KELEMAHAN SERTA REKOMENDASI MENYIAPKAN DANA JANGKA PANJANG DAN DANA OPERASI PENYIAPAN/PENYEDIAAN PELATIHAN UNTUK SEMUA PERSONIL Gambar 2.

849 37.459 9.999 10.700 atau lebih 2. Jumlah air yang diangkut secara terus menerus dan berulang kali.920 (galon/menit) 100 Laju pengaliran air maksimum sebesar 1. (liter/menit) ….000 (galon/menit).000 (galon/menit) sebagaimana tercantum pada Tabel – 1 hanya mampu memasok kira-kira separuh dari jumlah air yang diperlukan untuk menanggulangi kebakaran pada gedung tersebut.699 75. Laju penerapan air (dalam satuan liter) ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut: (Panjang x Lebar x Tinggi) meter = …. Selanjutnya bila dihitung kebutuhan air untuk bangunan yang berukuran lebih besar. Laju Pengeluaran Air pada pasokan air total yang diperlukan Pasokan air total yang diperlukan (liter) kurang dari 9.97 (liter/menit) 378 b. b.000 atau lebih Laju pengeluaran yang diperlukan (liter/menit) 946 1.839 3.460 – 37. tetapi kebutuhan air yang diperlukan tersebut (sesuai Tabel – 1) yang direkomendasikan adalah sebesar 1.999 20. maka aliran air yang diperlukan adalah: 80 x 60 x 20 = 960 (galon/menit) 100 Bila dalam perhitungan dengan satuan galon diperoleh nilai 960. Dua faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam penerapan pasokan air dengan tangki adalah: a.000 Laju Penerapan Air (Application rate) a.499 2. maka kebutuhan air total tersebut meningkat mencapai 192. Laju penerapan air (dalam satuan Galon) ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut: (Panjang x Lebar x Tinggi) feet = … (galon/menit)… (2) 100 Sebagai contoh bangunan berukuran 80ft x 60ft x 20ft. Laju Pengeluaran Air (Delivery rate) Laju pengeluaran air untuk pemadaman kebakaran dalam galon dan liter ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel – 1.000 galon.785 (galon/menit) 250 500 750 1. Menghitung Potensi Pengangkutan Air untuk Pemadaman.(1) 378 Sebagai contoh bangunan berukuran 80m x 60m x 20m.Lampiran Bab II. tersebut maka hasilnya adalah: 160 x 60 x 20 = 1. (galon) kurang dari 2.893 2. Bilamana ukuran panjang dilipatduakan sehingga menjadi 160 dengan ukuran lainnya dibuat tetap (160x60x20) ft. Bagian I Wilayah Manajemen Kebakaran CONTOH PERHITUNGAN PENENTUAN KEBUTUHAN AIR UNTUK PEMADAMAN KEBAKARAN 1.000 – 19. Contoh ini memberikan ilustrasi bahwa kebutuhan pasokan air diatas hanya maksimum yang ditentukan dalam standar. .850 – 75. Jumlah/kapasitas air yang diangkut oleh unit yang merespons pertama kali terhadap pemberitahuan kebakaran.500 – 9. Hal ini sering berlaku dalam melakukan operasi pemadaman kebakaran pada bangunan berukuran besar yang mengandung permasalahan spesifik. 3. maka aliran air yang diperlukan adalah: 80 x 60 x 20 = 253.

mengisi kendaraan pemasok air di sumber air dan kembali menempuh jarak 61 m (200 feet) ke lokasi kebakaran. 60 60 X= = = 1. (5) ( Lihat Tabel 2 ) B= Waktu dalam menit (untuk kendaraan pemasok air) untuk menempuh jarak 61 m (200 feet). Pada kondisi dimana kecepatan ini tidak diperbolehkan. maka kecepatan konstan yang aman sebesar 56. dihitung dengan rumus: T2 = 0.65 + X D1 T2= ………………………………….65 + X D2 ……………………………………. (3) Q= A + (T1 + T2) + B dimana: Q= V= A= kemampuan dalam mengeluarkan air secara terus menerus dan maksimum (liter/menit ) atau (galon/menit) kapasitas pasokan air oleh kendaraan pemadam dalam liter atau galon waktu dalam menit (untuk kendaraan pemasok air) dalam menempuh perjalanan sejarak 61 m (200 feet).3 km/jam (35 mph) secara umum dapat dipertahankan pada kondisi lalu lintas normal dan pada jalan umum. Pengurangan kepadatan di jalan akan memberikan operasi yang lebih aman dan meningkatkan jumlah air yang benar-benar diangkut.. -10 % Waktu pengisapan/penyedotan air (A) dan waktu pengisian/pengaliran air yang ditunjukkan dalam rumus (3) harus ditentukan lewat pengalaman praktek dan kajian mendalam terhadap sumbersumber air. terutama untuk meningkatkan faktor keselamatan dan efisiensi waktu. Jumlah pasokan air (dikaitkan dengan kapasitas kendaraan pemasok air) yang dianggap tidak ada atau hilang karena kebocoran.70 kecepatan konstan aman rata-rata 35 mph Nilai pra kalkulasi untuk harga X dengan memakai berbagai harga kecepatan dalam mph (km/jam) dengan dimasukkan ke rumus diatas (T=0. kecepatan konstan yang aman rata-rata harus dikurangi. Waktu dalam menit (untuk kendaraan pemasok air) untuk menempuh perjalanan dari lokasi kebakaran ke sumber air. Peralatan penunjang tidak perlu dioperasikan pada kondisi darurat untuk memperoleh waktu perjalanan (T).65 + 1.65 + XD) adalah sebagai berikut: Tabel – 2 Rumus (5) setelah dimasukkan harga X T = 0. sering instansi pemadam kebakaran mengirimkan kendaraan pengangkut air ke sumber air melalui satu rute jalan lainnya untuk kembali ke lokasi kebakaran. kekurangan dalam pengisian dan proses pengangkutan yang tidak cermat.10 % ………. (6) .65 + X D dimana : T = waktu dalam menit untuk menempuh perjalanan satu arah D = jarak yang ditempuh satu arah Bilamana sarana pemadam dilengkapi dengan mesin.65 + 2. sebagaimana dihitung dengan rumus berikut: T = 0.0 D kecepatan konstan kecepatan konstan 25 mph 30 mph …………………………………….Dalam operasi lapangan pemadaman kebakaran. waktu yang ditempuh oleh petugas pemadam untuk bergerak dari lokasi kebakaran ke sumber air (T1) dapat berbeda bila dibandingkan dengan waktu kembali ke lokasi kebakaran (T2). Rumus yang tepat untuk menghitung kapabilitas aliran maksimum yang terus menerus pada lokasi kebakaran adalah: V . (4) (Lihat Tabel 3 ) T1= Waktu dalam menit untuk kendaraan pemasok air yang sama untuk menempuh perjalanan dari lokasi kebakaran ke sumber air. Dengan menggunakan kecepatan konstan aman rata-rata sebesar 56. baffling dan rem yang cocok. dihitung dengan rumus: T1 = 0.3 km/jam (35 mph).7 D T = 0. chasis. dalam rangka menghisap air dari sumber air ke mobil tangki dan kembali 61 m (200 feet) ke titik awal atau lokasi kebakaran. Oleh karena itu.

84 2.77 23.96 25.30 8.00 5.50 1.80 6.JARAK (DALAM MILES) DENGAN MEMAKAI KECEPATAN.01 19.80 1.04 12.67 1.10 WAKTU (menit) (T) 21.34 10.88 4.00 1.40 12.80 14.70 6.10 5.97 17.80 10.20 14.07 5.16 1.14 17.75 22.65 0.33 1.20 8.70 14.80 WAKTU (menit) (T) 0.00 9.50 9.10 1.56 21.10 4.90 WAKTU (menit) (T) 7.20 1.81 8.90 11.56 4.00 6.90 2.70 1.20 9.13 25.12 16.60 10.65 17.678 liter (1.60 2.40 0.60 8.90 5.66 9.80 13.20 10. Sebagai contoh bagaimana menghitung air yang tersedia dari suatu sumber air dimana air tersebut harus diangkut ke lokasi kebakaran dengan memakai rumusrumus tersebut.35 JARAK (miles) (D) 12.83 10.65 + 1.24 5.43 23.50 2.30 0.30 8.90 6.38 JARAK (miles) (D) 8.41 JARAK (miles) (D) 4.10 0.09 23.50 6.60 1.80 0.00 2.0 D kecepatan konstan kecepatan konstan kecepatan konstan 25 mph 20 mph 15 mph Dengan rumus-rumus tersebut dapat dimungkinkan untuk merancang kapasitas air yang tersedia di setiap lokasi dalam suatu wilayah.60 12.18 2.94 24.24 22.60 9.00 14.93 15.54 3.60 14.80 5.32 9.50 18.41 22.70 9.30 14.20 5.20 0.62 7.22 4.90 15.30 9.70 8.02 11.33 18.82 0.90 13.47 25.79 24.00 15.52 2.28 24.26 23.00 0.68 10.50 8.90 10.70 13.35 2.79 7.73 4.90 14.60 0.46 16.63 16.10 9.50 14.51 10.20 2.90 9.64 25.KONSTAN AMAN RATA-RATA SEBAGAI T = 0.50 0.70 10.92 23.40 4.76 14.29 16.10 2.30 12.59 14.0 D T = 0.45 24.37 3.65 + 4.T = 0.27 15.48 17.40 2.47 8.90 5.40 5.71 3.70 D JARAK (miles) (D) 0.69 2.07 22.30 25.500 galon).20 6.80 4.50 4.30 13.13 8.98 9.50 10.58 22.80 12.40 14.36 11.39 4.62 24.10 10.30 2.18 19.4 D T = 0.16 18.10 15.50 12.20 4.80 16.40 9.64 8.32 .19 11.00 WAKTU (menit) (T) 14.60 4.78 15.44 15.70 5.30 5.95 16.96 8.67 18.50 5.65 + 3.40 13.15 9.60 6.99 18.30 10.05 4.49 9.80 9. TABEL -3 TABEL WAKTU .11 24.30 1.15 26.20 3.90 1.40 6.60 23.61 15.31 17.50 13.70 12.03 3.70 2.90 22. Bila kapasitas tangki (V) adalah 5.53 11.85 11.40 1.82 17.70 11.00 10.10 14.17 10.21 12.65 + 2.87 12.60 5.20 13.81 25.00 10.73 21.30 6.00 13.01 2.40 8.99 1. maka waktu pengisian ke kendaraan pemasok air (A) adalah 30 menit dan waktu persiapan (B) air ke tangki portable adalah 4 menit.30 4.40 10.10 6.98 26.70 0.80 8.86 3.70 4.84 19.10 13.50 1.60 13.

85 28.60 7.60 15.00 16.25 Menit .10 WAKTU (menit) (T) 12.9 Km (1.80 T2= 0.17 27.94 7. Penyelesaian Pertama-tama hitung T1.10 11.25 14.70 x 2.90 12.10 miles) saat kendaraan pemasok air kembali ke lokasi kebakaran melalui jalan yang berbeda.68 27.20 3.92 6. yaitu waktu yang diperlukan mobil pemasok air menempuh jarak dari lokasi kebakaran ke sumber air dan T2.20 16.36 Contoh Perhitungan Jarak dari lokasi kebakaran (D1) ke sumber air adalah 3.00 27.65 + 3.34 27.08 14.77 6.40 15.69 19.3 Km/jam (35 mph) kendaraan pemasok air menempuh jarak 3.00 WAKTU (menit) (T) 5. Oleh karena adanya lampu tanda lalu lintas dll. Karena kondisi cuaca dan kondisi jalan yang dilaluinya baik.37 20.51 27.80 miles).80 11.10 3. maka kecepatan rata-rata kendaraan pemasok air bergerak dari lokasi kebakaran ke sumber air adalah 56.57 13.90 16.80 7.75 5.70 7.50 3.39 JARAK (miles) (D) 15.38 Km (2.10 12.00 12.02 28.10) T1 = 0.60 6.88 21.23 13.65 + 2. Selanjutnya T= 0.20 15.80 3.10 16. Oleh karena itu.43 6.22 Menit.45 JARAK (miles) (D) 7.20 7.20 11.03 20.3 Km/jam (35 mph).00 7.40 7.52 19.70 11.55 12.06 13.60 T2= 4.70 15.90 3.70 3. maka T1 = 0. waktu untuk menempuh jarak dari sumber air kembali ke lokasi kebakaran.10 7.30 15.86 20.40 3.20 WAKTU (menit) (T) 19.65 + 1.50 11.65 + 3.54 20.65 + (1. maka kecepatan rata-rata kendaraan pemasok air yang bergerak antara lokasi kebakaran dengan sumber air adalah 48.72 12.05 21.22 21.90 8.30 WAKTU (menit) (T) 26.71 20.42 JARAK (miles) (D) 11.91 14.10 x 1.60 11.80 15.10 D2= 1.20 20.30 3.38 Km (2.57 T1 = 4.28 7.40 11.40 13.83 27.74 13.11 7.50 7.26 6.22 Menit (Lihat Tabel 3) Pada kecepatan konstan sebesar 56.00 3.30 11.70 D1 T1 = 0.90 4.89 13.66 26.58 5.80 Miles T2= 0.Lanjutan Tabel-3 JARAK (miles) (D) 2.1 mph) dan akan memakan waktu 4.50 15. jarak (D2) dari sumber air ke lokasi kebakaran adalah 2.30 7.19 28.00 8.09 6.65 + X D2 Pada 30 mph X= 2.60 3.49 26.3 Km/jam (30 mph).

10% V A + (T1 + T2) + B .500 15.47 = .Substitusi ke Rumus Q= Dimana: Q A = = kemampuan aliran kontinyu maksimum dalam gpm dengan V = 1.500 galon.22 + 4.500 gallon 3.0 4.500 3.22 4.10% T1 = T2 = B Q= Q= Q= Q 97 – 10% = 87 gpm kapasitas aliran maksimum yang tersedia dari kendaraan pemasok air berkapasitas 1.0 + (4. .25 = 4.0 + 8.0 1.0 1.10% .0 1.47 + 4.25) + 4.10% .500 3.

Fathoni Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Ir. Eddy Suharyo.TIM PENYUSUN KETENTUAN TEKNIS MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI PERKOTAAN Pembina Dr. Firdaus H. Ir. Eko Djuli Sasongko Ir. A.HE. Ir. MSc Kelompok Kerja Ir. Adjar Prayudi. Suprapto. MFK Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ir. Gembong Priyono. Imam S Ernawi. Peserta Konsensus KELOMPOK KERJA ASOSIASI PROFESI TEKNIK JASA KONSTRUKSI DAN LINGKUNGAN: Ir. Handoyo Tanjung. Sudadi H. Diat Drs. Amunullah Teng Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta Dinas Pemadam Kebakaran Medan Dinas Pemadam Kebakaran Palembang Dinas Pemadam Kebakaran Bandung Dinas Pemadam Kebakaran Tangerang Dinas Pemadam Kebakaran Bekasi Dinas Pemadam Kebakaran Semarang Dinas Pemadam Kebakaran Surakarta Dinas Pemadam Kebakaran Yogyakarta Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya Dinas Pemadam Kebakaran Ujung Pandang Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Puslitekim Dep. Kimbangwil Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Deputi Meneg PU Bidang Prasarana dan Sarana Kawasan Terbangun Sekretaris Menteri Negara Pekerjaan Umum Staf Ahli Menteri Negara PU Bidang Hukum Sekretaris Jenderal Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah Puslitekim Dep. Erry Saptaria A. SH Ir. A. Soetjipto Pengarah Ir. Himpunan Ahli Manajemen Konstruksi Indonesia (HAMKI) DINAS KEBAKARAN: Drs. Bustoni Drs. MM Ir. Syamsuir Burhan Ir. CES Ir. Nusa Setiani Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ir. Eko Widiatmo Ir. CES Ir. Sukartono. Zahri Zunaid. MCM. SH. IAI Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ir. SH. Ir. MSc Ir. Idrus. Ir. Aim Abdurachim Idris. Yayan Ardisuma Drs. Rozik B.MSc Ir. Yoessair Lubis. Hasan Achmad Suhofi Sukendar Drs. Sunaryo Sumadji Wibisono Setio Wibowo. Dalton Malik Ir. MA. IPM Ir. D a n i a l Russelina Sidik Umar. MSc Ir. MCM. Hasran Danal Ir.IPM Ir. Bambang Dwidjoworo. Nugroho Ir. BA Drs. MCM. Sentot Harsono Ir. Sumihar Simamora. SH. Andi Mulyadi Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah Dinas PU Propinsi Sumatera Barat Subdin Cipta Karya Propinsi Bengkulu Dinas PU-CK Propinsi Bengkulu Subdin Cipta Karya Propinsi Riau Subdin Cipta Karya Propinsi Jambi Subdin Tata Bangunan Propinsi Lampung Dinas PU-CK. Elsinus Hasugian Drs. H. Hario Sabrang. Utomo Sutopo. Propinsi Kalimantan Barat . Hari Sidharta. Aminudin Ir. Kimbangwil Puslitekim Dep. Dipl. Abdul Adjid. CES Eki Keristiawan. MTP Ir. Ariono Suprayogi Ikatan Ahli Sistem dan Konstruksi Mekanis Indonesia (IASMI) Ir. MSc Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Ir. MSc Pelaksana Ir. Suwarni Kabul Martobroto. H.R. Budiono. Edyson. Budiono. Manan. MCM Subiantoro. D. BE Ir. MSFE Ir. Kimbangwil Menteri Negara Pekerjaan Umum DEPARTEMEN/DINAS PU/CIPTA KARYA: Ir. MSc Drs. Bachrudin Yusuf S.

Faks: (021) 7235223 e-mail: taba@pu. Budiono.go. Sentot Harsono Perry Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum Jl. Telepon: (021) 7268203. A. Mundihat Ir. Erry Saptaria A. Penyelaras Akhir Ir.id . CES Ir. MCM Ir. Putu Darta. Eko Widiatmo Ir.CES Subdin Cipta Karya Propinsi Kalimantan Tengah Subdin Cipta Karya Propinsi Kalimantan Timur Dinas PU Propinsi Kalimantan Selatan Dinas PU Propinsi Sulawesi Tengah Subdin CK-PU Propinsi Bali Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber bidang tata bangunan dan lingkungan yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. CES Drs.Ir. Idham Ir. Raden Patah I/1 Lantai 4 Wing-IV Kebayoran Baru. Monica Puji Retnoningsih Ir. Syafruddin Basri Ir. Effendi Mansyur. Jakarta 12110 Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->