P. 1
Puasa Sunnah Dalam Setahun

Puasa Sunnah Dalam Setahun

|Views: 5|Likes:
Published by Yesi Ihdina
Puasa Sunnah
Puasa Sunnah

More info:

Published by: Yesi Ihdina on Sep 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2014

pdf

text

original

PUASA SUNNAH DALAM SETAHUN

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadits berikut, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta‟ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim no. 1151). Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun). Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506). Pada kesempatan kali ini, Kajian Muslimah mencoba membahas materi tentang puasa sunnah yang bisa diamalkan sesuai tuntunan Nabi Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.

Perbedaan Puasa Sunnah dan Puasa Wajib Puasa Sunnah Puasa Wajib

Waktu pelaksanaan

Beragam tergantung jenis

Bulan Ramadhan saja dan

puasa sunnah yang dijalankan pada waktu tertentu untuk dan tidak boleh diqada. Pembacaan Niat Pembatalan Hingga sebelum fajar naik. Boleh dibatalkan. Misalnya menerima jamuan makan dari kerabat untuk menghormatinya. Misalnya datang bulan, sakit dsb. puasa nazzar dan qada. Sebelum waktu sahur selesai. Dilarang dibatalkan, kecuali darurat.

Pengertian Puasa Sunnah Puasa Sunnah adalah puasa yang tidak diwajibkan untuk dikerjakan oleh umat islam tetapi jika dilakukan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Banyak macam puasa sunnah dalam Islam, semua puasa dalam islam dimulai pada waktu Subuh dan diakhiri dengan berbuka puasa di waktu magrib. Islam tidak mengenal puasa ngebleng yaitu puasa beberapa hari sekaligus tanpa berbuka puasa. Puasa dalam islam sangat dianjurkan untuk bersahur agar tetap menjaga stamina dan kondisi tubuh. Dan dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa setelah adzan maghrib dengan makanan yang manis dan mentah seperti kurma dan meminum air yang bersifat mensucikan. Puasa mempunyai manfaat yang sangat bagus bagi kesehatan tubuh dan kesehatan jiwa. Dengan puasa yang sesuai dengan tuntunan Islam, insya Allah akan mendapat ridho dari-Nya dan pahala yang akan kita dapat di samping manfaat kesehatan yang kita dapat secara langsung. Ada banyak macam puasa sunnah dalam Islam, apa saja? Yuk kita bahas!

Macam-macam Puasa Sunnah Macam-macam puasa Sunnah yang telah dituntunkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW adalah sebagai berikut: 1. Puasa Senin Kamis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya). Dari „Aisyah radhiyallahu „anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih) 2. Puasa Daud Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159) Puasa Daud dikerjakan dengan cara selang-seling yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak. Dalam pelaksanaan boleh dipotong (tidak terus menerus), misalnya dipotong 1 bulan. Syaikh Muhammad bin Sholih Al „Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari‟atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.” 3. Puasa Tiga Hari di Bulan Hijriyah (Ayyamul Bidh) Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Mu‟adzah bertanya pada „Aisyah, “Apakah Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” „Aisyah menjawab, “Iya.” Mu‟adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” „Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada

hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih) Namun, hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul bidh. Dari Ibnu „Abbas radhiyallahu „anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan). Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda padanya, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan) 4. Puasa ‘Asyura Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaikbaik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” Keutamaan puasa „Asyura adalah sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Abu Qotadah di atas. Puasa „Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam telah berucap dan bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa „Asyura tidak bersendirian, namun juga diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya yaitu 9 Muharram yang disebut puasa Tasu‟a. Tujuannya pengikutsertaan tanggal 9 Muharram adalah untuk menyelisihi puasa „Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab (Yahudi). Ibnu Abbas radhiyallahu ‟anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam melakukan puasa hari ‟Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam sudah lebih dulu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

5. Puasa di Bulan Sya’ban „Aisyah radhiyallahu „anha mengatakan, “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya‟ban. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya‟ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156). Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya (bukan seluruh harinya) sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir. Para ulama berkata bahwa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. Puasa Sya‟ban bertujuan untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan namun tidak hanya dengan puasa saja tapi juga disertai dengan amalan-amalan ibadah yang lainnya. 6. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Nabi Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164) Namun dalam pelaksanaannya harus lebih didahulukan puasa wajib, misalnya puasa qada baru setelahnya boleh melakukan puasa syawal. 7. Puasa di Awal Dzulhijah Dari Ibnu „Abbas, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu „alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih). Keutamaan sepuluh hari di awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur‟an, dan amalan sholih lainnya. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasa berpuasa pada

sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari „Asyura‟ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih). 8. Puasa ‘Arofah Puasa „Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa „Arofah. Beliau menjawab, ”Puasa „Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ‟Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ‟Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162). Dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa yang bisa dihapus (kecil) dan bukan dosa-dosa besar seperti membunuh dan musyrik yang hanya bisa dihapus dengan taubat nasuha. Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa „Arofah. Dari Ibnu „Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah Pertama Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar. Dari „Aisyah radhiyallahu „anha, ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin, dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya

melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ” Kedua Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits „Aisyah di atas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi‟i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut. Ketiga Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026) An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi‟iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan”. Beliau rahimahullah menjelaskan pula, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.”

Hari-Hari Makruh Berpuasa 1. Khusus Hari Jum’at kecuali kalau telah berpuasa sejak hari sebelumnya.

Dari Abi Hurairah ra., Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mengistimewakan malam Jum‟at untuk sembahyang daripada malammalam lainnya, dan jangan kalian mengistimewakan hari Jum‟at untuk berpuasa dan pada hari-hari lainnya, kecuali bagi seseorang di antara kalian yang kebetulan harus berpuasa di hari itu”. (HR. Muslim) Bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kamu berpuasa di hari Jum‟at, kecuali ia berpuasa pula satu hari sebelumnya atau sesudahnya”. (Muttafaq „Alaih) 2. Puasa Wishal yaitu seorang yang melakukan puasa, tidak berbuka puasa hingga waktu sahur. Dari Abi Hurairah ra., ia berkata Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam telah melarang berpuasa tidak berbuka (wishal), maka berkata seorang laki-laki dari kaum muslimin, “Tapi engkau berwishal ya Rasulullah”. Beliau menjawab, ”Siapa di antara kamu yang seperti aku, di waktu malam aku diberi makan dan minum oleh Allah”. Ketika mereka enggan berhenti dari wishal, beliau ajak mereka berwishal satu hari, kemudian satu hari lagi, kemudian mereka melihat hilal, lalu beliau bersabda, “Kalaulah hilal itu lambat datangnya, aku akan tambah wishal buat kamu”, sebagai pemberani pelajaran kepada mereka tatkala mereka enggan berhenti dari wishal. (Muttafaq „alaih) 3. Puasa Dahriya yaitu puasa yang terus-menerus. Dari Abdullah bin „Umar ra. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap berpuasa orang yang berpuasa selama-lamanya”. (Muttafaq „alaih) 4. Isteri Yang Puasa Sunnah tidak dengan izin suaminya Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di rumah, kecuali dengan seizinnya”. (Muttafaq „alaih dan lafadz ini dalam riwayat Bukhari; Abu Dawud menambah: “Kecuali puasa Ramadlan”.

Hari-Hari Diharamkan Untuk Berpuasa 1. Hari Raya ’Idul Fitri (1 Syawal) Dari Abi Sa‟id Al-Khudlriyyi ra.: Bahwasanya Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam telah melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fithri dan hari Idul Adha (Muttafaq‟alaih). 2. Hari raya Idul Adha (10 Dzul Hiiiah) Lihat dalil di atas. 3. Hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzul Hijjah) Dari Nubaitsah Al-Hudzali ra. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Hari-hari tasyriq itu adalah hari makan dan minum, dan hari dzikir kepada Allah „Azza wa Jalla”. (HR. Muslim). An Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Idul Adha. Hari tasyriq tersebut dimasukkan dalam hari „ied. Hukum yang berlaku pada hari „ied juga berlaku mayoritasnya pada hari tasyriq, seperti hari tasyriq memiliki kesamaan dalam waktu pelaksanaan penyembelihan qurban, diharamkannya puasa dan dianjurkan untuk bertakbir ketika itu.” Dari dalil hari-hari haram berpuasa ini, maka jelaslah bahwa kita diperbolehkan puasa kapan saja (dengan memperhatikan hari/hal-hal yang dimakruhkan), kecuali pada hari-hari yang diharamkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->