P. 1
Rehabilitasi Medik pada PPOK

Rehabilitasi Medik pada PPOK

|Views: 414|Likes:
patogenesis, diagnosis, dan pentalaksanaan termasuk aspek rehab medik PPOK
patogenesis, diagnosis, dan pentalaksanaan termasuk aspek rehab medik PPOK

More info:

Published by: Pramadya Vardhani Mustafiza on Sep 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/08/2015

pdf

text

original

REFRAT

TATA LAKSANA REHABILITASI PADA PPOK

Oleh: Santy Ayu Puspita Perdhana Febryla Wahyu Ari N Berty Denny H Devi Amara Devi Nurul Baeti Firman Adi P Muhammad Arif Nur Syahid Winda Suryani Allivia Firdahana Achmad Gozali Sartika Sari G0006022 G0006080 G0006057 G0006064 G0006065 G0006082 G0006120 G0006167 G0006176 G0006173 G0006153

Pembimbing : DR. Dr. Noer Rachma, Sp. RM

KEPANITERAAN KLINIK SMF REHABILITASI MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) kini mulai diperhitungkan sebagai salah satu masalah kesehatan yang menyebabkan tingginya angka kesakitan, kecacatan pada paru dan meningkatnya biaya pengobatan dan tahun ke tahun. Pada tahun 1986 lebih dan 20 juta penduduk AS menderita emfisema dan sekitar 11,2 juta menderita bronkitis kronis, terutama disebabkan oleh paparan asap rokok. Rerata angka kejadian PPOK di Jawa Timur 6,1%, perokok menunjukkan angka 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bukan perokok. Penderita PPOK kebanyakan berusia lanjut, terdapat gangguan mekanis dan pertukaran gas pada sistim pernapasan dan menurunnya aktivitas fisik pada kehidupan sehari-hari. Peningkatan volume paru dan tahanan aliran udara dalam saluran napas pada penderita emfisema akan meningkatkan kerja pernapasan. Penyakit ini bersifat kronis dan progresif, makin lama kemampuan penderita akan menurun bahkan penderita akan kehilangan stamina fisiknya.. Dalam mengelola penderita PPOK, di samping pemberian obat-obatan dan penghentian merokok juga diperlukan terapi tambahan yang ditujukan untuk mengatasi masalah tersebut yakni rehabilitasi medis, khususnya fisioterapi pernapasan. Fisioterapi pernapasan adalah suatu tindakan dalam rehabilitasi medis yang bertujuan mengurangi cacat atau ketidakmampuan penderita, dan diharapkan penderita merasa terbantu untuk mengatasi ketidak mampuannya sehingga mereka dapat mengurus diri sendiri tanpa banyak tergantung pada orang 1ain. Namun sayangnya upaya ini kurang diminati oleh para dokter Bahkan seringkali dilupakan orang.

BAB II PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

A. Definisi PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dirawat dengan beberapa gejala ekstrapulmonari yang signifikan, yang dapat mengakibatkan tingkat keparahan yang berbeda pada tiap individual. Penyakit paru kronik ini ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Gangguan ini dapat dicegah dan dapat diobati. Penyebab utama PPOK adalah rokok, asap polusi dari pembakaran, dan partikel gas berbahaya (GOLD, 2007). PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik) adalah penyakit paru kronik ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible atau irreversible. Hambatan aliran udara ini bersifat progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun atau berbahaya (PDPI, 2003). B. Epidemiologi Setiap orang dapat terpapar dengan berbagai macam jenis yang berbeda dari partikel yang terinhalasi selama hidupnya, oleh karena itu lebih bijaksana jika kita mengambil kesimpulan bahwa penyakit ini disebabkan oleh iritasi yang berlebihan dari partikel-partikel yang bersifat mengiritasi saluran pernapasan. Setiap partikel, bergantung pada ukuran dan komposisinya dapat memberikan kontribusi yang berbeda, dan dengan hasil akhirnya tergantung kepada jumlah dari partikel yang terinhalasi oleh individu tersebut ( PDPI, 2006 ). Insidensi pada pria > wanita. Namun akhir-akhir ini insiden pada wanita meningkat dengan semakin bertambahnya jumlah perokok wanita (Aditama, 2005).

gas beracun) 3. seperti umur orang tersebut mulai merokok. Sehingga IAP memiliki tanggung jawab besar jika dibandingkan dengan polusi di luar ruangan seperti gas buang kendaraan bermotor. 2003). Infeksi saluran nafas berulang . jumlah rokok yang dihisap per hari dan berapa lama orang tersebut merokok. Faktor Risiko Faktor resiko PPOK bergantung pada jumlah keseluruhan dari partikel-partikel iritatif yang terinhalasi oleh seseorang selama hidupnya (GOLD. Asap rokok Perokok aktif memiliki prevalensi lebih tinggi untuk mengalami gejala respiratorik. Polusi tempat kerja (bahan kimia. Polusi di luar ruangan. Resiko untuk menderita PPOK bergantung pada “dosis merokok” nya. Indoor Air Pollution atau polusi di dalam ruangan Hampir 3 milyar orang di seluruh dunia menggunakan batubara. Enviromental Tobacco Smoke (ETS) atau perokok pasif juga dapat mengalami gejala-gejala respiratorik dan PPOK dikarenakan oleh partikelpartikel iritatif tersebut terinhalasi sehingga mengakibatkan paru-paru “terbakar”. Merokok selama masa kehamilan juga dapat mewariskan faktor resiko kepada janin. bahkan mungkin juga dapat mengganggu sistem imun dari janin tersebut. 4. pemanas dan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya. Ini memungkinkan bahwa wanita di negara berkembang memiliki angka kejadian yang tinggi terhadap kejadian PPOK (Hansel and Barnes. abnormalitas fungsi paru dan mortalitas yang lebih tinggi daripada orang yang tidak merokok. arang. 1. 5. zat iritan. kayu bakar ataupun bahan bakar biomass lainnya sebagai penghasil energi untuk memasak. mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan paruparu dan perkembangan janin dalam kandungan. 2007 ).C. seperti gas buang kendaraan bermotor dan debu jalanan. 2.

2003) 7. kadangkadang berhubungan dengan peningkatan resiko terkena PPOK. parenkim paru sampai struktur vaskukler pulmonal. TNF yang mampu merusak struktur paru dan atau mempertahankan inflamasi neutrofilik. Disamping inflamasi ada 2 proses lain . Asma 9. E. Usia Onset usia dari PPOK ini adalah pertengahan 10. meskipun banyak penelitian terbaru menemukan bahwa vitamin C dan magnesium memiliki prioritas utama (Hansel and Bernes. Status sosioekonomi dan status nutrisi Rendahnya intake dari antioksidan seperti vitamin A. Di negara berkembang wanita lebih banyak terkena paparan polusi udara yang berasal dari asap saat mereka memasak ( Hansel and Bernes. maskipun beberapa penelitian mengatakan bahwa perokok wanita lebih rentan untuk terkena PPOK dibandingkan perokok pria. 2001). Jenis kelamin Dahulu. Namun hal tersebut masih kontoversial. 2003) 8. limfosit T (terutama CD8) dan neutrofil. PPOK lebih sering dijumpai pada laki-laki dibanding wanita. D. lebih banyak perokok laki-laki dibanding wanita. Faktor Genetik Faktor kompleks genetik dengan lingkungan menjadi salah satu penyebab terjadinya PPOK (Sandford et al. IL8. Diberbagai bagian paru dijumpai peningkatan makrofag.6. Tapi dewasa ini prevalensi pada laki-laki dan wanita seimbang. Sel-sel radang yang teraktivasi akan mengeluarkan berbagai mediator seperti Leukotrien B4. Hal ini dikarenakan oleh perubahan pola dari merokok itu sendiri. meskipun penelitian Framingham pada populasi umum menyebutkan bahwa faktor genetik memberi kontribusi yang rendah dalam penurunan fungsi paru (Gottlieb et al. Patofisiologi Karakteristik PPOK adalah keradangan kronis mulai dari saluran napas. C. Karena dahulu. 2002).

2004). Pada saluran napas besar dijumpai infiltrasi sel-sel radang pada permukaan epitel. Pada saluran napas kecil terjadi inflamasi kronis yang menyebabkan berulangnya siklus injury dan repair dinding saluran napas. Kelenjar-kelenjar yang mensekresi mukus membesar dan jumlah sel goblet meningkat. Pada parenkim paru terjadi destruksi yang khas terjadi pada emfisema sentrilobuler. saluran napas kecil (periperal airway). Jika penyakit bertambah lanjut jumlah otot polos. Perubahan vaskular pulmonal ditandai oleh penebalan dinding pembuluh darah yang dimulai sejak awal perjalanan ilmiah PPOK. Saluran napas besar juga menyempit karena hipertrofi dan hiperplasi kelenjar mukus. Penyempitan ini dapat mengakibatkan obstruksi dan menimbulkan sesak. Kelainan ini menyebabkan hipersekresi bronkus.yang juga penting yaitu imbalance proteinase dan anti proteinase di paru dan stres oksidatif (Alsaggaf dkk. Penyempitan ini terjadi karena metaplasi sel goblet. Pada bronkitis kronik. Perubahan patologis yang khas dari PPOK dijumpai disaluran napas besar (central airway). 2004). saluran pernapasan yang berdiameter kecil (< 2mm) menjadi lebih sempit dan berkelok-kelok. Perubahan struktur yang pertama kali terjadi adalah penebalan intima diikuti peningkatan otot polos dan infiltrasi dinding pembuluh darah oleh sel-sel radang. proteoglikan dan kolagen bertambah sehingga dinding pembuluh darah bertambah tebal (Alsaggaf dkk. penyempitan saluran napas disebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru (Sat Sharma. Kelainan ini lebih sering dibagian atas pada kasus ringan namun bila lanjut bisa terjadi diseluruh lapangan paru dan juga terjadi destruksi pulmonary capilary bed. Proses repair ini akan menghasilkan struktural remodeling dari dinding saluran napas dengan peningkatan kandungan kolagen dan pembentukan jaringan ikat yang menyebabkan penyempitan lumen dan obstruksi kronis saluran pernapasan. Pada bronkitis kronis maupun emfisema terjadi penyempitan saluran napas. parenkim paru dan vaskuler pulmonal. Pada emfisema paru. . 2006).

Batuk Kronis Batuk kronis biasanya berdahak kadang episodik dan memberat waktu pagi hari.Konsep Patogenesis PPOK E. 2. 3. Adapun gejala yang terlihat seperti : 1. Asal darah diduga dari saluran napas yang radang dan khasnya “blood streaked purulen sputum”. Mula-mula ringan lebih lanjut akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Batuk Darah Bisa dijumpai terutama waktu eksaserbasi. Bronkospasme bukan satun-satunya penyebab wheezing. 4. Gejala klinis PPOK Pasien biasanya mengeluhkan 2 keluhan utama yaitu sesak napas dan batuk. Sesak napas (wheezing) Riwayat wheezing tidak jarang ditemukan pada PPOK dan ini menunjukan komponen reversibel penyakitnya. . Wheezing pada PPOK terjadi saat pengerahan tenaga (exertion) mungkin karena udara lewat saluran napas yang sempit oleh radang atau sikatrik. Dahak biasanya mukoid tetapi bertambah purulen bila eksaserbasi. Sesak napas bertambah berat mendadak menandakan adanya eksaserbasi. Sesak Napas Timbul progresif secara gradual dalam beberapa tahun.

Anoreksia dan berat badan menurun Penurunan berat badan merupakan tanda progresif jelek (Alsaggaf dkk.Penggunaan otot bantu napas .Hipertropi otot bantu napas .Pursed . 2004) . Gambaran klinis : a. F.Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis i leher dan edema tungkai . infeksi saluran napas berulang.5. sela iga melebar . Diagnosis Diagnosis dibuat berdasarkan : 1.lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu) . misal berat badan lahir rendah (BBLR). lingkungan asap rokok dan polusi udara • Batuk berulang dengan atau tanpa dahak • Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi b.Pelebaran sela iga .Penampilan pink puffer atau blue bloater • Palpasi Pada emfisema fremitus melemah.Barrel chest (diameter antero . Anamnesis: • Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan • Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja • Riwayat penyakit emfisema pada keluarga • Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak. Pemeriksaan fisik PPOK dini umumnya tidak ada kelainan • Inspeksi .posterior dan transversal sebanding) .

Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik.lips breathing Adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi yang memanjang.suara napas berkurang.• Perkusi Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan rutin: . sianosis sentral dan perifer  Pursed . atau melemah . penderita gemuk sianosis.suara napas vesikuler normal. hepar terdorong ke bawah • Auskultasi .ekspirasi memanjang .. penderita kurus.terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa . Dari pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda: : .bunyi jantung terdengar jauh Keterangan :  Pink puffer Gambaran yang khas pada emfisema. letak diafragma rendah.fremitus taktil dada berkurang atau tidak ada . suara tambahan (ronkhi atau wheezing) 2. terdapat edema tungkai dan ronki basah di basal paru. ekspirasi memanjang. batas peru hati lebih rendah . kulit kemerahan dan pernapasan pursed – lips breathing  Blue bloater Gambaran khas pada bronkitis kronik.pasien biasanya tampak kurus dengan Barrel shaped chest .perkusi dada hipersonor.

Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop appearance) • Pada bronkitis kronik : . Radiologi • Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain. . Ht.Hiperlusen . KVP.Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan atau VEP1/KVP (%).Hiperinflasi . tidak lebih dari 20% Uji bronkodilator . Faal paru Spirometri (VEP1.Diafragma mendatar . perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai awal dan < 200 ml . • Pada emfisema terlihat gambaran : . APE meter walaupun kurang tepat. VEP1/KVP) .Dilakukan dengan menggunakan spirometri. leukosit c. Darah rutin Hb. 15 .Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil b. Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1% (VEP1/KVP) < 75 % . VEP1prediksi.Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan.VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit.20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE.Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan.Ruang retrosternal melebar . dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore. .a. bila tidak ada gunakan APE meter.

foto thoraks menunjukkan adanya hiperinflasi dengan gambaran diafragma yang rendah dan datar.Variabiliti Harian APE kurang dari 20 % b. Kapasiti Residu Fungsional (KRF). dan penambahan cortakan ke distal. lebih rendah dari normal c.Raw meningkat pada bronkitis kronik .Sepeda statis (ergocycle) .VR/KPT meningkat .. pada sebagian kecil PPOK terdapat hipereaktivitas bronkus derajat ringan. Normal Hyperinflation  Pemeriksaan khusus (tidak rutin) a.Sgaw meningkat .Jentera (treadmill) . Faal paru .Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus Pada bronkitis kronis. Uji latih kardiopulmoner . penciutan pembuluh darah pulmonal. Pada emfisema. Uji provokasi bronkus Untuk menilai derajat hipereaktiviti bronkus.DLCO menurun pada emfisema . VR/KRF.Volume Residu (VR). Kapasiti Paru Total (KPT). Uji coba kortikosteroid .Jalan 6 menit. d.Normal . foto thoraks memperlihatkan tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.

Gagal napas kronik stabil .CT . Analisis gas darah Terutama untuk menilai : .Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau metilprednisolon) sebanyak 30 . h. j. Ekokardiografi Menilai funfsi jantung kanan i. Pada PPOK umumnya tidak terdapat kenaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid e.50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan VEP1 pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml. defisiensi antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia. riwayat penyakit yang ditandai dengan gejala-gejala diatas. Kadar alfa-1 antitripsin Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda).Scan resolusi tinggi Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak terdeteksi oleh foto toraks polos .Scan ventilasi perfusi Mengetahui fungsi respirasi paru g. Infeksi saluran napas berulang merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita PPOK di Indonesia. .Gagal napas akut pada gagal napas kronik f. Elektrokardiografi Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan. Radiologi . Bakteriologi Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat.

Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di Indonesia.Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi mulai terasa pada latihan / kerja ringan (misal : berpakaian) . 2004) G.PPOK harus dipertimbangkan pada penderita dengan keluhan batuk dengan dahak atau sesak napas dan atau riwayat terpapar faktor resiko. Diagnosis Banding • Asma • SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis) adalah penyakit obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita pascatuberculosis denganlesi paru yang minimal.Gejala ringan pada istirahat .Gejala berat pada saat istirahat .Tidak ada gejala waktu istirahat atau bila exercise . karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena terapi dan prognosisnya berbeda.Tanda-tanda korpulmonal Spirometri VEP > 80% prediksi VEP/KVP < 75% Sedang VEP 30 . Diagnosis dipastikan dengan pemeriksaan obyektif adanya hambatan aliran udara (dengan spirometri) (Alsaggaf dkk. naik tangga) . destroyed lung. Klasifikasi Klasifikasi Penyakit Ringan Gejala .Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi gejala ringan pada latihan sedang (misal : berjalan cepat.Gejala sedang pada waktu istirahat . • Pneumotoraks • Gagal jantung kronik • Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lain misal : bronkiektasis. H.80% prediksi VEP/KVP < 75% VEP1<30% prediksi VEP1/KVP < 75% Berat .

medik. Meskipun demikian. Mengurangi gejala 3. 2. tiap usaha harus dilakukan untuk membawa penderita ke arah perbaikan fisik yang maksimal dan pemakaian energi yang optimal tetapi efisien. Mencegah atau meminimalkan efek samping obat 7. Menurunkan angka kematian  Penatalaksanaan PPOK meliputi 4 program tatalaksana: 1. emosional. mental. ekonomi sosial dan vokasional sepenuhnya menurut kemampuannya. sehingga penderita dapat melakukan pekerjaannya seharihari.  Tujuan Penatalaksanaan PPOK meliputi: 1. Evaluasi dan monitor penyakit 2. Maka jelaslah bahwa tingkat pemenuhan tujuan program rehabilitasi paru tergantung pada derajat insufisiensi pernapasan. Mencegah dan mengobati komplikasi 5. Mencegah progresivitas penyakit. Harus ditekankan agar penderita mempunyai percaya diri dan mengurangi ketergantungan pada keluarga dan masyarakat. Jika hal ini tidak mungkin. Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru 8. Meningkatkan toleransi latihan 4. dan tindakan yang ditempuh tergantung pula pada faktor-faktor yang berpengaruh pada penderita. Menurunkan faktor risiko . harus diusahakan latihan kerja yang lebih ringan. Mencegah dan mengobati eksaserbasi berulang 6.BAB III REHABILITASI MEDIK PARU TUJUAN REHABILITASI PARU Rehabilitasi didefinisikan sebagai sarana untuk memulihkan individu ke arah potensi fisik. Meningkatkan kualitas hidup penderita 9.

Menghindari faktor pencetus 3. penggunaan bronkodilator kerja lama (antikolinergik kerja lama). Terapi oksigen 4. dan obat simtomatik. Vaksinasi Influenza 4. Pada PPOK derajat sangat berat diberikan terapi oksigen 7.  Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi : 1. Tatalaksana PPOK eksaserbasi  Penatalaksanaan menurut derajat PPOK di antaranya adalah 1. 6. Edukasi Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil.3. Pemberian kortikosteroid dapat digunakan berdasarkan derajat PPOK. Pengobatan/medikamentosa di antaranya penggunaan bronkodilator kerja singkat antikolinergik kerja singkat). Reduksi volume paru secara pembedahan atau endoskopi (transbronkial). tatalaksana PPOK stabil 4. menghindari pencetus dan memperbaiki derajat adalah inti dari edukasi atau . Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif. inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktivitas dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Rehabilitasi paru 5. Berbeda dengan asma yang masih bersifat reversibel. Rehabilitasi 1. Edukasi 2. Berhenti merokok/mencegah pajanan gas/partikel berbahaya 2. Nutrisi 6. Ventilasi mekanik 5. Obat-obatan 3.

tujuan pengobatan dari asma.Segera berobat bila timbul gejala Sedang .Menghindari pencetus (merokok) .Menggunakan obat dengan tepat .Program latihan fisik dan pernapasan Berat . karena PPOK merupakan penyakit kronik progresif yang ireversibel. Bronkodilator Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan disesuaikan dengan klasifikasi berat derajat penyakit.Cara pencegahan perburukan penyakit . antara lain berhenti merokok . langsung ke pokok permasalahan yang ditemukan pada waktu itu. Obat-obatan a.Mencegah penyakit menjadi berat dengan menghindari pencetus. manfaat dan efek sampingnya . Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil.Mengenal dan mengatasi eksaserbasi dini . Edukasi berdasarkan derajat penyakit: Ringan .Informasi tentang komplikasi yang dapat terjadi . Pemberian edukasi sebaiknya diberikan berulang dengan bahan edukasi yang tidak terlalu banyak pada setiap kali pertemuan.Obat-obatan. Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah : . Pemilihan .Penggunaan oksigen di rumah 2.Penyesuaian aktifitas Edukasi diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima.Penyebab dan pola penyakit PPOK yang ireversibel .Pengetahuan dasar tentang PPOK .Penyesuaian aktiviti dengan keterbatasan .

Ini berfungsi untuk menekan inflamasi yang terjadi. Mukolitik (pengencer dahak) Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut. kuinolon dan makrolid baru. Digunakan N-asetilsistein. Macam-macam bronkodilator adalah : golongan antikolinergik. Terapi oksigen Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif dan berkepanjangan yang mengakibatkan kerusakan sel dan jaringan. golongan agonis beta-2. sefalosporin. Antibiotik yang digunakan untuk lini pertama adalah amoksisilin dan makrolid.bentuk obat diutamakan inhalasi (dihisap melalui saluran nafas). Antibiotika Hanya diberikan bila terdapat infeksi. . Tetapi obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang. e. b. dan dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering. c. karena akan mempercepat perbaikan eksaserbasi. tidak dianjurkan sebagai pemberian yang rutin. Dan untuk lini kedua diberikan d. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting). f. Dipilih golongan metilpradnisolon atau prednison. terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang kental. Antioksidan Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualitas hidup. Antitusif Diberikan dengan hati-hati 3. nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. kombinasi antikolinergik dan beta-2 dan golongan xantin. Pemberian terapi oksigen amoksisilin dikombinasikan dengan asam klavulanat. Anti inflamasi Digunakan apabila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral (diminum) atau injeksi intravena (ke dalam pembuluh darah).

Terapi fisik dada 1.3.merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan oksigenasi dalam sel dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya. disebabkan karena bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respiratorik yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperaapni menyebabkan terjadinya hipermetabolisme. Rehabilitasi psikososial dan vokasional. Latihan pernapasan 1. Ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara.2. 5. psikososial dan latihan pernapasan. 6. Ventilasi mekanik Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut. terdiri dari 2. Pendidikan perseorangan dan keluarga 2. Latihan meningkatkan kemampuan fisik 2. atau pada penderita PPOK derajat berat dengan gagal napas kronik. Rehabilitasi Rehabilitasi PPOK bertujuan untuk meningkatkan toleransi latihan dan memperbaiki kualitas hidup penderita dengan PPOK.  REHABILITASI PARU PADA PPOK Dalam mengelola penderita PPOK. Latihan pekerjaan . yaitu dengan intubasi atau tanpa intubasi. ahli gizi. Program ini dapat dilaksanakan baik di luar maupun di dalam Rumah Sakit oleh suatu tim multidisiplin yang terdiri dari dokter.4. Latihan relaksasi 1. 4.1.1. respiratori terapis dan psikolog.2. Program rehabilitasi ini terdiri dari latihan fisik. terdiri dari: 1. rehabilitasi medis pada paru (rehabilitasi pulmonal) mempunyai 2 aspek yakni: 1. Nutrisi Malnutrisi pada pasien PPOK sering terjadi. Rehabilitasi fisik.

2. Latihan merawat diri sendiri Kedua aspek rehabilitasi medis tersebut diterapkan dalam mengelola semua penderita PPOK tanpa memandang etiologi dan derajat penyakitnya. 2) Menghilangkan rasa cemas karena sesak napas.1 Latihan relaksasi Tujuan latihan relaksasi adalah: 1) Menurunkan tegangan otot pernapasan. Latihan relaksasi hendaknya dilakukan di ruangan yang tenang. latihan pernapasan). Penderita PPOK yang mengalami insufisiensi pernapasan selalu merasa tegang. Rehabilitasi Fisik Rehabilitasi fisik dapat dilakukan pada stadium dini atau stadiun lanjut dari penyakitnya. Penempatan tugas 2. Sikap ini selalu diambil setiap akan memulai rehabilitasi fisik (drainase postural. Penderita dilatih untuk memakai cadangan napasnya seefektif mungkin dengan mengubah pola bernapas untuk memperoleh potensi yang optimal bagi kegiatan fisiknya. Sikap ini dicapai dengan memutar bahu ke depan dan membungkukkan badan ke depan pula. Agar penderita memahami.3. . 1. 3) Memberikan sense of well being. terutama otot bantu pernapasan. latihan ini harus diperagakan.4. Untuk mengatasi keadaan ini penderita berusaha membuat posisi yang menguntungkan terutama bagi gerakan diafragmanya. rehabilitasi ditujukan untuk memberi kesempatan pada penderita untuk dapat melakukan kegiatan minimal termasuk mengurus diri sendiri. Bila pendidikan pada tingkat tersebut tidak mungkin. posisi yang nyaman yaitu telentag dengan bantal menyangga kepala dan guling di bawah lutut atau sambil duduk. 1.Rehabilitasi psikososial dan vokasional dipertimbangkan bila penderita tidak dapat mencapai keinginan fisik-psikologis untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. cemas dan takut mati tersumbat.

lobus yg akan di “drain” ditempatkan pd posisi yg lebih tinggi dari bronkus utama à sehingga posisi perlu disesuaikan dengan arah-arah “bronchial tree” • Tujuan : .Mengeluarkan sekret yang terkumpul di paru • Kontra indikasi : .CHF . hipertensi/hipotensi berat. Bila berlangsung terus sehingga mengganggu mekanisme batuk dan gerakan mukosilier. Infeksi mengakibatkan radang yang menambah obstruksi saluran napas.1.Cardiovascular instability (aritmia. dapat dilakukan dengan cara : a. Terapi fisik dada Timbunan sekret yang sangat kental jika tidak dikeluarkan akan menyumbat saluran napas dan merupakan media yang baik bagi pertumbuhan kuman. pakai ventilator. di dalam posisi tersebut. untuk suatu waktu tertentu. AMI) . Drainase Postural • Menggunakan prinsip hukum gravitasi • Pasien diletakkan dalam posisi sedemikian rupa.edem pulmo berat . sehingga oleh karena gaya berat à sekret dalam saluran nafas à mengalir & berkumpul di bronkus à dibatukkan keluar • Jadi.dan sebagainya) .2. maka timbunan sekret merupakan penyulit yang cukup serius Terapi fisik (fisioterapi) dada ditujukan untuk melepaskan dan membantu menggerakkan sekret dan saluran napas kecil ke trakea.Cegah penumpukan lendir pada pasien dengan risiko komplikasi pulmonal (contoh pasien tirah baring lama.Hemoptisis berat .efusi pleura masif .

Lobus Atas Kiri Segmen Anterior Tidur dengan satu bantal bawah kepala dan dan beberapa bantal .Recent neurosurgery à jika posisi kepala dibawah à TIK meningkat • Segmen Apikal Tidur dengan beberapa bantal. kepala letak tinggi. • tanpa bantal bawah lutut. • Lobus Atas Kanan Segmen Anterior Tidur dengan satu bantal bawah kepala dan satu bantal bawah lutut..

nyeri dada (contoh operasi rongga dada) .Melepaskan sekret di paru secara mekanis à mudah keluar .Unstable angina. ca paru.Dengan cupped hand diatas paru yang di drain . abses paru.Cara: mengetuk dinding dada à berulang dengan ujung jari à pada tiap segmen paru à 1-2 menit • Kontra Indikasi : .Tulang yang osteoporotik .dan lain-lain) . Perkusi dinding dada • Tujuan : .Batuk darah (contoh TB.Perdarahan (contoh trombositopeni) . .Peradangan paru akut dimana infeksi dapat menyebar ke daerah lain paru-paru.• Lobus Atas Segmen Posterior Tidur menelungkup pada bantal b.

Setelah tindakan vibrasi dapat dilakukan postural drainage.Nafas dalam. hendaknya diberikan setelah 5 – 6 nafas dalam. . . vibrasi diberikan saat ekspirasi . Vibrasi Dada • Gerakan cepat yang dilakukan pada dinding dada • Dapat dilakukan manual / dengan alat vibrator • Diberikan saat exhalasi / ekspirasi • Tujuannya sama dengan perkusi • Teknik : . tahan beberapa detik.Satu session latihan.c.

gagal napas.Mengatur frekuensi dan pola napas sehingga mengurangi air trapping .Memperbaiki fungsi diafragma . dan penderita PPOK dengan produksi sputum yang minimal (<30 ml/hari). dan atelektasis. bronkluektasis. bronkodilator perinhalasi untuk memudahkan pengal Iran secret. atau memakai rompi perkusi listrik serta latihan batuk akan memperbaiki mobilisasi dan klirens sekret bronkus dan fungsi paru terutama pada penderita PPOK dengan produksi sputum yang meningkat (>30 ml/ hari). fisioterapi dada tidak berefek dan bahkan membahayakan. Dalam melakukan drainase postural harus diperhatikan posisi penderita yang disesuaikan dengan anatomi percabangan bronkus.Perkusi dengan vibrasi cepat. Tujuan latihan pernapasan adalah untuk: . Pada penderita dengan serangan asma akut. 1. pneumonia akut. Tindakan ini dilakukan 2 kali sehani selama 5 menit. penderita yang memakai ventilator. fibrosis kistik.Memperbaiki mobilitas sangkar toraks .3 Latihan pernapasan Latihan pernapasan dilakukan setelah latihan relaksasi dikuasai penderita. Sebelum dilakukan drainase postural sebaiknya penderita minum banyak atau diberikan mukolitik. ketukan dengan telapak tangan (clapping).

Pada orang normal dalam keadaan istirahat. sternokleidomastoideus. pengaruh gerakan diafragma sebesar 65% dan volume tidal. Latihan pernapasan meliputi: a. Penderita dengan keadaan demikian mempunyai prognosis yang kurang baik. meningkatkan tekanan ekspirasi (PEmax) sekitar 37%. ini terjadi bila ventilasi melampaui 50 l/menit. otot penyangga tulang belakang). Bila ventilasi meningkat barulah digunakan otot-otot bantu pernapasan (seperti skalenus. Latihan pernapasan diafragma • Tujuan latihan pernapasan diafragma adalah menggunakan diafragma sebagai usaha pernapasan.Memperbaiki ventilasi alveoli untuk memperbaiki pertukaran gas tanpa meningkatkan kerja pernapasan . Selain itu pada penderita PPOM tendapat hambatan aliran udara terutama pada waktu ekspirasi.Mengatur dan mengkoordinir kecepatan pernapasan sehingga bernapas lebih efektif dan mengurangi kerja pernapasan. sementara otot-otot bantu pernapasan mengalami relaksasi. akibatnya penderita selalu menggunakan otot-otot bantu pernapasan. . • Manfaat pernapasan diafragma: .. Diafragma dan otot interkostal merupakan otot-otot pernapasan yang paling penting. Pada umumnya letak diafragma rendah dan posisi sangkar toraks sangat tinggi sehingga secara mekanis otot-otot pernapasan bekerja kurang efektif. Latihan otot-otot pernapasan akan meningkatkan kekuatan otot pernapasan. yaitu pada waktu akhir inspinasi tibatiba dinding perut bergerak ke dalam dan kemudian bergerak keluar waktu ekspirasi. Pada penderita PPOM sering kali terdapat pernapasan yang tidak sinkron gerakannya (panadoksal).Mengatur pernapasan pada waktu serangan sesak napas dan waktu melakukan pekerjaan/latihan. Pada umumnya fungsi diafragma penderita PPOM kurang dan 35% volume tidal.

bila terdapat obstruksi saluran napas yang reversibel dapat diberi bronkodilator. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Latihan ini dapat dilakukan dengan prosedur berikut 1) Sebelum melakukan latihan. Bila terdapat hipersekresi mukus dilakukan drainase postural dan latihan batuk. penununan kapasitas residu fungsional dan peningkatan ambilan oksigen optimal. selama inspirasi. diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. tidur miring ke kiri atau ke kanan. 3) Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah. Beban seberat 0. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah. . .. 5) Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi. setengah duduk. mendatar atau setengah duduk.Memperbaiki ventilasi ke arah basal paru. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. tangan yang lain di atas dada. 4) Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelanpelan melalui mulut (pursed lips breathing). 2) Posisi penderita bisa duduk. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka.Melepaskan sekret yang melalui saluran napas.51 kg dapat diletakkan di atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini. Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah. telentang. Dengan pernapasan diafragma maka akan terjadi peningkatan volume tidal.

kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus . kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut dengan posisi seperti bersiul.Perpanjangan ekspirasi: Menyebabkan pernapasan berikutnya tidak teratur dan tidak efisien.Ekspirasi paksa Hal ini akan memperberat obstruksi saluran napas. Selama PLB tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung.· . lamanya ekspirasi 23 kali lamanya inspirasi.Latihan pernapasan pernapasan diafragma sebaiknya dilakukan bersamaan dengan latihan berjalan atau naik tangga. b. karena terjadi elevasi involunter dari palatum molle yang menutup lubang nasofaring. meningkatkan tekanan intrapleura dan terjadi air trapping jika saluran napas yang rusak dan mudah kolaps ditekan oleh tekanan intrapleura. PLB dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi. penderita harus diawasi untuk mencegah kesalahan yang sering terjadi seperti : . Dengan pursed lips breathing (PLB) akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut. pola pernapasan kembali ke pernapasan dada bagian atas yang tidak teratur disertai dengan aktifnya otot bantu pernapasan. Penderita tidak diperkenankan mengeluarkan napas terlalu keras. . Selama latihan.Penggunaan dada bagian atas secara berlebihan Hal ini dapat mengganggu gerakan diafragma.Gerakan tipuan abdomen Otot perut berkontraksi dan relaksasi tetapi tidak ada perbaikan dan ventilasi. sekitar 46 detik. . Pursed lips breathing Pursed lips breathing (PLB) dilakukan dengan cara menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung (bukan menarik napas dalam) dengan mulut tertutup. kebutuhan O2 meningkat karena otot bantu pernapasan bekerja lebih keras.

meningkatkan volume tidal. Pursed lips breathing akan menjadi lebih efektif bila dilakukan bersama-sama dengan pernapasan diafragma. diistirahatkan dengan melakukan Iatihan pernapasan diantara dim latihan batuk. Ventilasi alveoler yang efektif terlihat setelah latihan berlangsung lebih dari 10 menit. PaO2 saturasi oksigen darah. Bila penderita tidak mampu batuk secara efektif. frekuensi napas. Latihan batuk Batuk merupakan cara yang efektif untuk membersihkan benda asing atau sekret dan saluran pernapasan. menurunkan PaCO2 dan memberikan keuntungan subjektif karena mengurangi rasa sesak napas pada penderita. disusul batuk dengan mengkontraksikan otot-otot dinding perut serta badan sedikit membungkuk kedepan. c. Selain itu PLB dapat menurunkan ventilasi semenit. lengan menyilang di depan perut. Latihan diulang sampai penderita menguasai. Batuk yang efektif harus memenuhui kriteria: 1) Kapasitas vital yang cukup untuk mendorong sekret. . Tungkai bawah fleksi pada paha dan lutut. kapasitas vital meningkat dan distribusi ventilasi merata pada paru sehingga dapat memperbaiki pertukaran gas di alveoli. 2) Mampu menimbulkan tekanan intra abdominal dan intratorakal yang cukup untuk mendorong udara pada fase ekspulsi. Penderita diminta menarik napas melalui hidung kemudian menahan napas sejenak. Cara ini diulangi dengan satu fase inspirasi dan dua tahap fase ekspulsi. Penderita yang mengeluh sesak napas saat latihan batuk.sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi. Cara melakukan batuk yang baik: Posisi badan membungkuk sedikit ke depan sehingga memberi kesempatan luas kepada otot dinding perut untuk berkontraksi sehingga menimbulkan tekanan intrathorak. Hal ini akan menurunkan volume residu.

yang kemudian secara bertahap ditingkatkan ke tingkat toleransi yang paling besar. sehingga penderita hidup lebih aktif dan lebih produktif. . setelah itu lambat laun dapat disapih. Latihan meningkatkan kemampuan fisik Bertujuan meningkatkan toleransi penderita terhadap aktivitas dan meningkatkan kemampuan fisik. Pengaturan tingkat latihan dimulai dengan tingkat berjalan yang disesuaikan dengan kemampuan awal tiap penderita secara individual. untuk mencegah retensi CO2 yang berlebihan. secara berkala gas darah arteri diukur tenutama pada penderita dengan hipoventilasi alveoler. Penderita harus diawasi dengan baik. Jarak maksimum dalam latihan berjalan yang dicapai oleh penderita merupakan batas untuk mulai meningkatkan latihan dengan menaiki tangga. 1. Pemberian oksigen selama latihan harus diteruskan sampai penderita mendapat manfaat yang maksimal. Selama latihan penderita harus dibantu dengan pemberian oksigen untuk menghindari penununan saturasi oksigen secara drastis yang dapat membahayakan jantung.dilakukan rangsangan dengan alat penghisap (refleks batuk akan terangsang oleh kateter yang masuk trakea) atau menekan trakea dari satu sisi ke sisi yang 1ain.4.

Terapi fisik (fisioterapi) dada dilakukan pada semua penderita PPOM dengan harapan dapat mengurangi rasa cemas. di samping pemberian obat-obatan. Sehingga tercapai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. dan menggunakan otot. Penderita yang berusia lanjut dengan gangguan pernapasan akibat obstruksi saluran napas karena sekret atau kolaps saluran napas bagian tepi serta pola napas paradoksal semuanya akan membuat pernapasan tidak efektif. Dengan demikian penderita akan terlatih untuk bernapas secara efektif dan tidak cemas pada saat terjadi serangan akut serta dapat melakukan tugasnya tanpa tergantung pada orang lain.PENUTUP Rehabilitasi medik paru (rehabilitasi pulmonal) merupakan salah satu tindakan penting dalam pengelolaan penderita PPOM. membersihkan saluran napas dan sekret.otot pernapasan secara optimal. .

P. R.. Bagian Ilmu Penyakit Paru FK Unair. 2005. 2004.com Sheety. Vol 1(1). 2001.D. Jakarta. Patofisiologi Batuk. Thomas L. Vol 17(2). Up To Date 12. Garisson Susan J. Obstructive Lung Disease. R. July 2003). Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia..Overview of Management of Acut Exacerbation of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. 2006. E. 2004. dkk. et al.emedicine. Departement of Physical Medicine and Rehabilitation. Current Consepts : management of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Surabaya. Petty. Department of Internal Medicine.. Aditama Tjandra Yoga. Pp:3-14 Sat Sharma. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Texas Pauwels.2004. IJPMR. Sachin. www.. J.1 Sutherland. Stoller. Division of Pulmonary Medicine. International Journal of COPD.2003. Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik . & Cherniak. 2006.M.Et al. B. Pocket Guide to COPD Diagnosis.K. A Low Cost Pulmonary Rehabilitation Programme for COPD Patients : Is it any Good? . In Rose.DAFTAR PUSTAKA Alsaggaf Hood. 2006. Pp: 26-32. Management and Prevention (Update. . University of Manitoba. N Engl J Med 2004:350: 268997. The History of COPD. Unit Paru RS Persahabatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->