P. 1
Fenomena Syuzuz Dan 'Illah Dalam Hadis

Fenomena Syuzuz Dan 'Illah Dalam Hadis

|Views: 536|Likes:
Published by faylasufa

More info:

Published by: faylasufa on Jun 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

FENOMENA ‘ILLAH DAN SYUZ|U<Z| DALAM HADIS (Klasifikasi Hadis Berdasarkan Teori al-‘Illah dan asy-Syuz\u>z) Oleh: Kamran As’at Irsyady, Lc (I) PENDAHULUAN
Masalah otentisitas hadis1 menjadi perhatian dan kajian utama para ulama hadis, bahkan sejak zaman Nabi saw. dan shahabat. Mereka tidak serta-merta menerima suatu berita, informasi, atau pernyataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw., melainkan melalui proses verifikasi yang cukup ketat dan berliku-liku. Mereka berangkat dari asumsi bahwa tidak semua hadis yang diriwayatkan memenuhi unsur-unsur ‘ada>lah dan d}abt}}, dan bisa diambil, sebab dalam proses periwayatan dan tranmisi sangat dimungkinkan adanya human error (lupa, lalai, atau waham), baik yang disengaja maupun tidak sengaja. Sejumlah perangkat ilmu hadis2 pun disusun dan dibukukan guna keperluan tersebut, sehingga mereka bisa mengetahui tingkat keabsahan setiap hadis.3 Secara garis besar, hadis berdasarkan tranmisi; kesampaiannya ke tangan kita dan kwantitas perawinya bisa dibedakan menjadi hadis mutawa>tir dan hadis ah}ad.4 Karena diriwayatkan oleh orang banyak yang tidak mungkin melakukan kesepakatan konspiratif untuk berbohong, maka hadis mutawatir
Dalam tulisan ini, penulis tidak memperdebatkan lagi perbedaan hadis dan Sunnah sebagai verbal tradition, practical tradition, atau living tradition, melainkan menganggapnya sebagai dua hal yang identik, yaitu sebagai informasi yang dinisbatkan pada Nabi saw. baik yang berbentuk ucapan, perbuatan, sifat, dan penetapan (pengakuan).
1

Rumpun disiplin ilmu hadis antara lain: Ilmu jarh} wa ta‘di>l, ma’rifah as}-s}ah}a>bah, ilmu ta>ri>kh ar-ruwwa>h (sejarah para perawi), ilmu ma’rifah al-asma>’ wa al-kuna> wa al-alqa>b, ilmu ta’wi>l musykil alh}adi>s\, ma’rifah ghari>b al-h}adi>s, ilmu ‘ilal al-h}adi>s, al-masyikhat (para guru), at}-t{abaqa>t, riwa>yah al-aka>bir ‘an al-as}a>ghi>r wa alaba>’ ‘an al-abna>’. Lihat Dr. Ah}mad Umar Hasyi>m, Qawa>‘id Us\u>l alH{adi>s\, (Beirut: Da>r al-Fikr, t.t.), hlm. 28-34.
2

T{a>hir ibnu S{alih} ibnu Ah}mad al-Jaza>’iri ad-Dimasyqi>, Tauji>h an-Naz}ar ila Us}u>l al-As\ar, Madinah: Al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, hlm. 19-20.
3

Lihat pengertian hadis mutawa>tir dan ah}a>d dalam Dr. Mah}mu>d at}-T{ah}h}a>n, Taisi>r Mus}t}alah} al-H{adi>s\, cet. VII, (Riya>d}: Maktabah al-Ma'a>rif li an-Nasyr wa at-Tauzi>', 1985), hlm. 19-27.
4

(1)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

bersifat "qat}‘i> al-wuru>d" (bisa dipastikan penisbatannya pada Rasulullah saw.), namun jumlah hadis seperti relatif sedikit. Kebalikannya adalah hadis ah}ad yang diriwayatkan oleh satu atau beberapa orang yang tidak mencapai tingkat mutawatir. Hadis ini bersifat "z\anni> al-wuru>d" (penisbatannya kepada Rasulullah saw. masih spekulatif) dan ini menjadi ciri umum sebagian besar hadis nabawi.5 Lebih lanjut dari segi kualitasnya, hadis ah}a>d bisa dikelompokkan menjadi dua: Maqbu>l (diterima) dan mardu>d (ditolak). Maqbu>l adalah hadis yang diunggulkan kebenaran dan kejujuran orang yang menginformasikannya; sehingga bisa dijadikan sebagai h}ujjah (dasar hukum) dan wajib diberlakukan. Hadis s}ah}i>h} dan h}asan merupakan kategori hadis ini.6 Sedangkan mardu>d adalah hadis yang tidak diunggulkan kebenaran informannya; sehingga tidak bisa dijadikan h}ujjah (dasar hukum) dan tidak wajib diberlakukan. Para ulama menginventarisir deretan hadis yang termasuk dalam khabar mardu>d, bahkan sebagian kalangan di antara mereka menghitungnya hingga 43 jenis. Beberapa di antaranya mereka beri istilah khusus, meski banyak pula yang masih tanpa nama, namun secara umum hadis-hadis mardu>d terpayungi dalam satu nama besar: hadis d}a‘i>f, 7 yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis shahih maupun hasan, yaitu sanadnya bersambunug8, perawinya adil9 dan d}a>bit}10, bebas dari syuz\u>z\ dan
Prof. Dr. S{ala>h} ad-Di>n ibnu Ah}mad al-Adlabi, Manhaj Naqd alMatan 'inda ‘Ulama>’ al-H{adis\ an-Nabawi>, (Beirut: Da>r al-Afa>q alJadi>d, 1983), hlm. 9.
5

Masing-masing hadis s}ah}i>h} dan h}asan lebih lanjut terbagi menjadi dua: Li z\a>tihi dan li ghairihi. Mengenai definisi hadis s}ah}i>h} dan h}asan dengan segala rinciannya, silakan rujuk At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r Mus}t}alah}, hlm. 30-50. Lihat juga Al-H{a>fiz\ Ibnu Kas\i>r, Al-Ba>'is\ alH{as\i>s\ Syarh} Ikhtis}a>r 'Ulu>m al-H{adi>s\, tah}qi>q Ah}mad Muh}ammad Sya>kir, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1996), hlm. 17-33.
6 7 8

At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 52.

Maksudnya setiap perawi atau rijal al-isnad meriwayatkan dari perawi sebelumnya sejak awal isnad hingga akhir sampai pada Rasulullah saw. tanpa ada yang digugurkan dari mata rantai tersebut. Maksudnya si perawi merupakan orang yang bisa dipercaya komitmen agamanya, dalam artian ia seorang muslim, akil baligh, dan bebas dari unsurunsur fasik dan penoda muruah.
9

Maksudnya si perawi bisa dipercaya riwayatnya, dalam artian ia seorang yang kuat hapalannya (jika hadis tersebut dihapalnya), akurat
10

(2)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

‘illah di dalamnya, serta periwayatan hadis dari jalur lain selama di dalam rangkaian sanadnya ada perawi mastu>r (kurang popular) yang tidak terstigma suka bohong dan banyak melakukan kekeliruan.11 Dengan bahasa lain, setiap hadis yang tidak memenuhi satu atau beberapa syarat di atas, maka ia disebut hadis d}a‘i>f. Berdasarkan definisi di atas, hadis d}a‘i>f, meminjam kategorisasi Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim –Guru Besar Hadis di Universitas al-Azhar Cairo-, bisa dielaborasikan berdasarkan ketiadaan syarat-syarat hadis s}ah}i>h} dan h}asan di dalamnya sebagai berikut:12 a- Berdasarkan ketiadaan syarat ketersambungan sanad: Al-mu‘allaq, almunqat}i‘,al-mu‘d}al, al-mursal, dan al-mudallas. b- Berdasarkan ketiadaan syarat keadilan perawi: Al-maud}u>‘, almatru>k, al-munkar, al-mat}ru>h}, al-mud}a‘‘af, dan almajhu>l. c- Berdasarkan ketiadaan syarat keadilan ke-d}a>bit}-an perawi: Almudraj, al-maqlu>b, al-mud}t}arib, al-mus}ah}h}af, dan almuh}arraf. d- Berdasarkan ketiadaan syarat bebas dari syuz\u>z\: Asy-sya>z\z. e- Berdasarkan ketiadaan syarat bebas dari ‘illah: Al-mu‘all. Kategorisasi lainnya dikemukakan oleh Prof. Dr. Mah}mu>d at}T{ah}h}a>n, Guru Besar Hadis di Universitas Kuwait, bahwa faktor pelemah yang menyebabkan tertolaknya suatu hadis secara garis besar bisa dipetakan menjadi dua kategori: Pertama, distorsi pada sanad (saqt} fi as-sanad)13; dan kedua, kecaman terhadap perawi (t}a‘n fi ar-ra>wi)14. Distorsi dalam sanad
tulisannya (jika ditulisnya), maknanya.
11 12 13

dan sadar saat meriwayatkan, memahami

Umar Hasyi>m, Qawa>‘id Us\u>l al-H{adi>s\, hlm. 86. Ibid., hlm. 97-137.

Yaitu adanya keterputusan mata rantai sanad dengan menghilangkan satu perawi atau lebih secara sengaja maupun tidak sengaja, pada awal sanad, akhir, atau di sela-sela keduanya, baik jelas maupun samar-samar. Yaitu kecaman terhadap perawi dan pemersalahan personalitas dirinya dari segi keadilan dan komitmen agamanya, dan dari segi ked}abit}an, hapalan, dan kesadarannya.
14

(3)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

ada kalanya bersifat jelas (bisa diketahui oleh kalangan imam ahli hadis maupun kalangan lain yang menekuni ‘ulu>m al-hadis\) dan samar (hanya bisa diidentifikasi oleh kalangan ahli yang biasa meneliti jalur-jalur periwayatan dan ‘illah-’illah sanad. Hadis mardu>d akibat dirtorsi yang jelas dalam sanadnya antara lain: Al-mu‘allaq, al-mursal, al-mu‘d}al, dan almunqat}i‘. Sedangkan hadis mardud akibat distorsi yang samar antara lain: Al-mudallas dan al-mursal al-khafiy.15 Sementara itu, kecaman terhadap personalitas diri perawi yang bisa memardu>d-kan suatu hadis setidaknya ada sepuluh item; Lima item berkaitan dengan keadilan diri perawi dan lima item sisanya berkaitan dengan ked}abit}-an dirinya. Kesepuluh faktor tersebut antara lain: Dusta, tertuding bohong, fasik, bid’ah, kemisteriusan status/jati diri, kekeliruan fatal, keburukan hapalan, kelalaian, kebanyakan waham (berilusi), dan penyelisihian para perawi lain yang s\iqah.16 Adapun hadis-hadis yang termasuk dalam kategori ini (menjadi d}a‘i>f dan tertolak karena adanya satu atau beberapa faktor dari kesepuluh item kecaman tersebut) antara lain: Al-maud}u>‘, al-matru>k, al-munkar, al-mukha>lifah li as\-s\iqa>t, al-mudraj, al-maqlu>b, al-mazi>d fi muttashal al-asa>ni>d, al-mud}t}arib, almus}ah}h}af, al-mu’allal, dan asy-sya>z\z\.17 Kedua hadis yang disebut terakhir inilah yang akan menjadi bahasan utama dalam tulisan ini. Perlu diisyaratkan bahwa sebagian ulama menyamakan antara ‘illah dan syuz\u>z\ sebagai faktor yang menciderai kemaqbu>lan suatu hadis.18 Namun dalam tulisan ini, penulis mengikuti pandangan jumhur yang mendikotomi keduanya sebagai faktor pe-mardu>d yang berdiri sendiri, meski saling terkait; sehingga pembahasan dalam makalah ini secara garis besar terbagi
Lihat At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r al-Mus}t}alah} \, hlm. 55-73. Lihat juga Muh}ammad Jama>l ad-Di>n al-Qa>simi, Qawa>'id at-Tah}di>s\ min Funu>n Must}alah} al-H{adi>s\, (t.t.t.: Isa al-Haji, t.t.), hlm. 129.
15 16 17

At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 73-74.

Mengenai definisi masing-masing hadis ini, lihat At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 75-102. Dr. H{amzah ‘Abdulla>h al-Mali>ba>ri>, al-H{adi>s\ al-Ma’lu>l: Qawa>’id wa D{awa>bit}, (Beirut: Da>r Ibnu H{azm dan Makkah: AlMaktabah al-Makkiyyah, 1996), hlm. 7.
18

(4)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

dalam dua pembahasan besar: Fenomena ‘illah dan syuz\u>z; dengan elaborasi pembahasan: Apa itu ‘illah dan syuz\u>z\? Jenis-jenis dan polapolanya? Metode para ahli hadis dalam mengidentifikasinya? Status hadis yang terinfeksi ‘illah dan syuz\u>z\? Fenomena dan contoh-contoh hadis yang terinfeksi ‘illah dan syuz\u>z\?

(II) TEORI ‘ILLAH DAN FENOMENA HADIS MA‘LU<L
Kalangan ahli hadis setidaknya memiliki tiga istilah untuk menyebut hadis yang tidak memenuhi syarat bebas dari 'illah (‫ )العل ّة‬dengan alasan masingmasing:19

ُّ َّ a. Ma‘lu>l (‫ ;)المعلول‬Adalah isim maf'ul dari akar kata “‫ .”ع َل يَعِل‬Istilah ini
terkenal di kalangan ahli hadis dan dipakai antara lain oleh al-Bukha>ri, at-Tirmiz\i, ad-Da>ruqut}ni, Ibnu ‘Addi, al-H{a>kim, dan Abu> Ya‘la> al-Khali>li. Secara kebahasaan, meski ada yang memandangnya rendah, namun Ibnu Sayyidihi dan Abu> Ish}a>q, bahkan Sibawaih dan al-Jauhari membenarkan penggunaan istilah ini secara kebahasaan. Adapun kalangan ahli hadis modern yang menggunakan istilah ini adalah Prof. Dr. H{amzah ‘Abdulla>h al-Mali>ba>ri>, Guru Besar Hadis di alJami’ah al-Islamiyyah Qasnat}i>nah.20

ُّ َّ ّ ُ b. Mu'all (‫ ;)المعَل‬Adalah versi lain dari isim maf’u>l “‫ .”أع َل يُعِل‬Istilah ini
diunggulkan oleh Ibnu H{ajar dan al-H{afiz} al-‘Ira>qi, serta banyak juga digunakan oleh kalangan ahli bahasa dan hadis. Pakar hadis modern yang menggunakan istilah ini adalah Prof. Dr. Ah}mad ‘Umar Hasyi>m – Guru Besar Hadis di Universitas al-Azhar Cairo.21 َ ُ َ c. Mu'allal (‫ ;)المعل ّل‬Adalah isim maf’u>l dari “‫ .”ع َل ّل يُعَل ِّل تَعْلِيْل‬Ini adalah versi yang kurang popular di kalangan ahli hadis dan bahasa; serta merupakan
19 20 21

Lihat T{a>hir ad-Dimasyqi>, Tauji>h an-Naz}ar, hlm. 264-267. H{amzah al-Mali>ba>ri>, al-H{adi>s\ al-Ma’lu>l, hlm. 9-10. Umar Hasyi>m, Qawa>‘id, hlm. 132.

(5)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

isti’arah, karena artinya adalah melenakan seseorang dengan sesuatu. Di antara pakar hadis modern yang menggunakan istilah ini adalah Prof. Dr. Mah}mu>d at}-T{ah}h}a>n, Guru Besar Hadis di Universitas Kuwait.22 Dalam tulisan ini, penulis lebih cenderung menggunakan istilah “alma‘lu>l” mengingat kepopuleran istilah ini di kalangan ahli hadis.

Definisi 'Illah dan Hadis Ma’lu>l:
‘Illah (‫ )العل ّة‬secara bahasa memiliki banyak makna, antara lain: Sakit, melenakan seseorang dengan sesuatu, dan meminumi lagi dan lagi.23 Sedangkan dari segi terminologis, 'illah digunakan oleh kalangan ahli hadis (al-muh}addis\u>n) dengan sejumlah pengertian berikut:24 1- Pengertian yang dominan; yaitu sebab laten dan indistingtif (gha>mid}) yang menginfiltrasi hadis, lalu menciderai kesahihannya, padahal secara zahir ia tampak bersih. 2- Faktor yang men-d}a‘if-kan hadis akibat adanya tudingan cacat terhadap diri salah satu perawinya, antara lain tudingan kebohongan, kelalaian, keburukan hapalan, dan sejenisnya. Dari sini, pendukung pengertian ini mengatakan: Hadis ini ma‘lu>l karena si Fulan. 3- Sebab yang mencegah pemberlakuan hadis. Definisi ini dikemukakan oleh atTirmi>z\i. 4- Al-Mali>ba>ri> mengemukakan terminologi yang lebih lengkap, bahwa ‘illah adalah “sebab laten yang menunjukkan waham si perawi, baik perawi tersebut s\iqah maupun d}a‘i>f, lepas dari apakah waham tersebut berhubungan dengan sanad atau matan.”25

22 23 24

At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 83. Al-Mali>ba>ri>, al-H{adi>s\ al-Ma’lu>l, hlm. 9. al-‘Illah ‘inda al-

Rid}a> Ah}mad S{amadi, Naz}ariyyah Muh}addis\i>n, (Makalah tidak diterbitkan), hlm. 2.
25

Al-Mali>ba>ri>, al-H{adi>s\ al-Ma’lu>l, hlm. 10.

(6)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

5- Istilah ‘illah juga kadang digunakan untuk menyebut kebohongan perawi, kelalaiannya, keburukan hapalannya, dan sebab-sebab minor lain yang kentara.26 Dalam hal ini, penulis lebih cenderung pada pendapat jumhur ahli hadis yang mendefinisikan hadis ma‘lu>l sebagai “hadis yang secara kasat mata bebas dari ‘illah, namun setelah diteliti ternyata ditemukan cacat yang menciderai kesahihannya (al-qa>dih}).”27 Merujuk definisi ini, ‘illah dalam hadis ma’lu>l haruslah cacat yang bersifat laten (khafi), bukan cacat z}a>hir yang membuat perawi ter-jarh}, misalnya kelemahan hapalannya atau kebohongannya. Dengan bahasa lain, adanya sebab zhahir yang melemahkan hadis menghalangi penyebutannya sebagai hadis ma’lu>l, sebab ‘illah dalam hadis ma’lu>l musti bersifat laten dan indistingtif (kabur).28 Hadis ma’lu>l dengan demikian tidak meliputi semua hadis yang tertolak (mardu>d). Hadis munqat}i‘ misalnya bukanlah hadis ma’lu>l. Hadis yang di dalam rangkaian sanadnya ada perawi yang majhul atau did}a'i>fkan juga tidak bisa disebut secara serampangan sebagai hadis ma’lu>l. Akan tetapi suatu hadis disebut ma’lu>l jika statusnya di luar hal tersebut. Al-H{a>kim mengatakan: Suatu hadis dianggap ma’lu>l jika dipandang dari segi yang tidak ada kesempatan melakukan jarh} di dalamnya, sebab hadis perawi majru>h} merupakan hadis yang sudah jelas-jelas lemah dan gugur, sementara ‘illah hadis banyak ditemukan dalam hadis-hadis para perawi s\iqah yang meriwayatkan hadis ber-’illah yang masih samar dalam pengetahuan mereka, sehinggga hadis tersebut disebut ma’lu>l.29

Perkembangan Teori dan Disiplin Ilmu ‘Illah Hadis:
Muhammad ibnu ‘Alawi al-Maliki al-Hasani, Al-Manhal al-Lat}i>f fi Us}u>l al-H{adi>s\ asy-Syari>f, cet. IV, (T.t.t: Mat}a>bi‘ Sah}ar, 1982), hlm. 136.
26 27 28

Al-Qa>simi, Qawa>'id at-Tah}di>s\, hlm. 130.

Dr. S{ubh}i as}-S{a>lih}, Ulu>m al-Hadi>s\ wa Mus}t}alah}uhu, (Beirut: Da>r al-'Ilm li al-Mala>yi>n, 1977), hlm. 185. Al-H{a>kim an-Naisaburi, Ma‘rifah ‘Ulu>m al-H{adi>s\, tahqiq asSayyid Mu’az}z}am H{usain, (Cairo: Maktabah al-Mutanabbi, t.t.), hlm. 112.
29

(7)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Sebagai sebuah istilah, ‘illah tentu saja memiliki awal mula, namun tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menggunakannya, meskipun ia sudah dikenal luas di kalangan ahli hadis sejak masa Syu’bah, Yah}ya> ibnu Sa’i>d al-Qat}t}a>n (w. 198 H) dan ‘Abdurrah}ma>n ibnu Mahdi.30 Hal ini bisa dipahami mengingat pengetahuan tentang ‘illah-’illah hadis hanya dikuasai oleh segilintir kalangan yang memiliki pemahaman yang brilian, hapalan yang kuat, dan wawasan yang luas mengenai kondisi-kondisi sanad, matan, dan status para perawi.31 Identifikasi ‘illah hadis membutuhkan penelaahan yang luas, memori ingatan yang bagus, dan pemahaman yang njlimet (akurat), karena ‘illah sendiri merupakan virus laten (sabab gha>mid}) yang bersifat samar-samar, baik di mata kalangan yang intens mengkaji disiplin ilmu-ilmu hadis sekalipun. Sehingga muncul satu disipin varian dari ulum al-hadis yang disebut "Ilm ‘ilal alh}adi>s\"; yaitu ilmu yang membahas mengenai sebab-sebab laten dan samar dari segi implikasinya dalam menciderai kesahihan hadis.32 Ia berbeda dengan ilmu jarh} wa ta‘di>l yang membahas tentang perawi dari segi data empirik yang memuji mereka atau mengecam mereka.33 Dengan perangkat disiplin ilmu ‘ilal al-h}adi>s\, kita bisa mengetahui mana hadis yang sah}i>h} dan saqim (tidak s}ah}i>h}), serta mana yang ter-jarh} dan yang ter-ta‘di>l sekaligus.34 Ibnu H{ajar mengatakan bahwa ia merupakan jenis disiplin ilmu hadis yang paling kabur (samar) dan paling njlimet, dan tidak ada yang mengaksesnya kecuali orang yang dianugerahi oleh Allah pemahaman yang tajam, kapabilitas yang luas, dan pengetahuan yang sempurna mengenai tingkatan-tingkatan perawi dan kompetensi yang mumpuni mengenai sanad-sanad dan matan-matan.35

30 31 32 33 34

S{amadi, Naz}ariyyah al-‘Illah, hlm. 3. T{a>hir, Tauji>h an-Naz}ar, hlm. 264. Al-Qa>simi, Qawa>'id at-Tah}di>s, hlm. 112. Umar Hasyi>m, Qawa>‘id Us\u>l hlm. 28. Al-H{a>kim, Ma‘rifah ‘Ulu>m al-H{adi>s\, hlm. 112. S{ubh}i as}-S{a>lih}, Ulu>m al-Hadi>s\, hlm. 180.

35

(8)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Ke-njlimetan disiplin ilmu ini dan kesulitannya serta peniscayaannya akan proses penelitian yang panjang (lama) merupakan salah satu faktor terpenting minimnya karya tulis dalam bidang ini. Adapun karya tulis (kitab) yang paling monumental dalam disiplin ini adalah: "Kitab al-‘Ilal" karya 'Ali ibnu al-Madini, syaikh atau guru Imam alBukha>ri>, disusul kemudian oleh kitab dengan judul serupa karya alKhallal. “‘Ilal al-H{adi>s\” karya Ibnu Abi H{a>tim. Kitab yang terakhir dicetak di Mesir dan diberi syarah oleh Ibnu Rajab al-H{anbali>. Konon, Ibnu H{anbal memiliki sebuah kitab mengenai illat-illat yang masih berupa manuskrip dengan judul “Al-‘Ilal wa Ma‘rifah ar-Rija>l”. “Al-‘Ilal al-Kubra>” dan “al-‘Ilal as}-S{aghir” karya atTirmi>z\i. “Al-‘Ilal al-Wa>ridah fi al-Ah}a>di>s\ an-Nabawiyyah” karya AdDa>ruqut}ni>. Ini merupakan kitab ‘ilal yang paling lengkap dan luas pembahasannya, namun kitab tersebut bukan karya pribadinya, melainkan disunting dan dibukukan oleh muridnya, al-H{a>fiz} Abu> Bakr alBarqa>ni. Sejumlah kitab ‘illah juga dinisbatkan masing-masing pada al-Bukha>ri, Imam Muslim, Ibnu Abi> Syaibah, as-Sa>ji, Ibnu al-Jauzi, dan Ibnu H{ajar.36

Metode Pengidentifikasian ‘Illah
‘Illah hadis dapat diidentifikasi dengan mengamati indikator-indikator berikut dalam suatu hadis: a. Kesendirian perawi dalam meriwayatkan suatu hadis (yang tidak diikuti oleh perawi lain). b. Perbedaan riwayatnya dengan riwayat perawi lain yang lebih h}afiz} dan lebih d}a>bit}, atau lebih banyak jumlahnya.

36

Ibid., hlm. 181. Lihat juga At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 85.

(9)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

c. Qari>nah-qari>nah (bukti indikatif) lain yang mengindikasikan pemursalan hadis maus}u>l, pemauqu>fan hadis marfu>‘, penyusupan hadis dalam hadis lain, pelibatan waham perawi dengan selain hal tersebut, misalnya penggantian rawi yang d}a'i>f dengan yang s\iqah dan lain-lain.37 Adapun metode dan langkah-langkah yang ditempuh kalangan ahli hadis dalam mengetahui ‘illah-’illah hadis adalah: 1) Menghimpun seluruh jalur periwayatan. 2) Meneliti keragamaan para perawi dan menimbang-nimbang tingkat ked}abit}an dan akurasi mereka. Dari sini bisa diketahui kesendirian perawi dalam meriwayatkan suatu hadis dan perbedaannya dengan versi perawi lain yang lebih h}a>fiz} dan lebih d}a>bit}, atau adanya qari>nah-qari>nah lain. 3) Baru kemudian menjatuhkan penilaian berdasarkan tiga indikator di atas bahwa hadis yang diteliti adalah hadis ma‘lu>l.38 Jika peneliti ragu-ragu, maka ia bisa mengambil sikap abstain (tidak memberikan vonis atas shahih tidaknya hadis tersebut), meskipun zhahirnya bersih dari ‘illah.39 Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa kalangan ahli hadis sudah mengenai metodologi kritik sejak lama. Namun ada metode lain yang digunakan dalam men-ta‘li>l hadis, yaitu dengan menggunakan pendekatan intuitif yang didasarkan pada insting atau ilham. ‘Abdurrah}ma>n ibnu Mahdi, sebagaimana kutip al-H{a>kim, mengatakan: “Pengetahuan hadis merupakan ilham. Jika Anda bilang pada orang ‘alim yang menta‘li>l suatu hadis; darimana ia bisa mengatakan demikian, maka ia tidak memiliki h}ujjah (dasar hukum).”40 Hal ini kemudian disalah-pahami oleh banyak kalangan bahwa penilaian kalangan ahli hadis atas para perawi dan riwayat tidak didasari sebuah metode ilmiah maupun studi dan penelitian. Padahal ilham demikian tidak mereka peroleh secara

T{a>hir, Tauji>h, hlm. 265. Lihat juga Al-Qa>simi, Qawa>'id, hlm. 131, dan At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r\, hlm. 84.
37 38 39

S{ubh}i, Ulu>m al-Hadi>s, hlm. 183.

Al-Qa>simi, Qawa>'id, hlm. 131. Lihat juga Ibnu Kas\i>r, Al-Ba>'is\ al-H{as\i>s\, hlm. 48.
40

Al-H{a>kim, Ma‘rifah, hlm. 113.

(10)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

singkat, melainkan setelah melalui proses interaksi yang cukup lama dan pengalaman yang sangat panjang.41

Posisi ‘Illah dalam Hadis dan Pengaruhnya
Kalangan ulama must}alah} al-h}adi>s\ menyebutkan bahwa ‘illah pada umumnya menyusup dalam rangkaian sanad yang orang-orang kelihatannya s\iqah dan memenuhi syarat-syarat s}ah}i>h}.42 Namun tidak jarang pula, ia ditemukan dalam matan. ‘illah yang menyusup ke dalam isna>d kadang menciderai kesahihan sanad dan matan sekaligus, atau hanya menciderai kesahihan sanad tanpa mempengaruhi matan. Sedangkan ‘illah yang ditemukan dalam matan bisa menciderai sanad dan matan sekaligus.43 Dengan demikian, ‘illah bisa diklasifikasikan menjadi enam macam menurut tempat identifikasi dan pengaruhnya, sebagai berikut:44 Pertama, ‘illah yang ada dalam sanad dan tidak berefek sama sekali, baik terhadap sanad maupun matan. Contoh, hadis yang diriwayatkan seorang mudallis45 dengan model perwayatan ‘an‘anah (menggunakan kata ‘an dalam periwayatannya). Hadis seperti ini wajib di-pending status kemaqbu>lannya; dan jika ditemukan riwayat yang sama dari jalur lain dengan menggunakan model periwayatan sima>‘ (menggunakan kata sami‘tu dalam periwayatannya), maka semakin jelaslah bahwa ‘illah yang ada dalam hadis pertama bersifat tidak menciderai. Kedua, ‘illah yang ada dalam sanad dan menciderai sanad saja, tanpa menciderai matannya. Contoh, hadis yang diriwayatkan oleh Ya’la> ibnu ‘Ubaid
41

S{amadi, Naz}ariyyah, hlm. 4.

42 Mah}mu>d At}-T{ah}h}a>n, Us}u>l at-Takhri>j wa Dira>sah alAsa>ni>d, cet. II, (Riya>d}: Maktabah al-Ma’a>rif, 1991), hlm. 197. 43 44

Umar Hasyi>m, Qawa>‘id Us\u>l, hlm. 133.

S{amadi, Naz}ariyyah, hlm. 8. Lihat juga az-Zarka>syi, Badruddi>n, an-Nukat ‘ala Muqaddimah Ibn as}-S{ala>h}, Riya>d}:Ad}wa> as-Salaf, 1419 H/1988 M), II/214-215, dan as-Suyu>t}i>, Tadri>b ar-Ra>wi, I/254.
45 Perawi meriwayatkan hadis dari orang yang sebenarnya tidak ia dengar langsung riwayatnya, namun ia berlagak seolah-olah mendengar hadis tersebut darinya, dengan redaksi yang mengandung unsur sima’ dan lainnya, misalnya: “Qa>la” atau “‘an” untuk memberikan kesan bahwa ia mendengarnya langsung dari orang tersebut. Lihat At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 66.

(11)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

dari at}-T{ana>fisi dari as\-S|aur dari ‘Amru> ibnu Di>na>r dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah saw.; beliau bersabda: “ْ‫( ” بَيِّعَان بِال ْخيَار‬Penjual dan ِ ِ ِ pembeli memiliki hak khiyar). Di sini, Ya’la keliru dalam menyebut ‘Amru ibnu Dinar, sebab yang tepat adalah ‘Abdullah ibnu Dinar. Ralat ini merujuk pada riwayat yang dilansir oleh para imam yang merupakan sahabat/murid as\-S| auri>, seperti al-Fad}l ibnu Dukain, Muh}ammad ibnu Yu>suf alFirya>ni, dan lain-lain. Ketiga, ‘illah yang ada dalam sanad dan menciderai sanad sekaligus matannya. Contoh, apa yang menimpa Abu> Usa>mah H{amma>d ibnu Usa>mah al-Ku>fi>, salah seorang perawi s\iqah dari ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Ja>bir –salah seorang perawi s\iqah dari Syam-. Konon ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Ja>bir datang ke Kufah dan menyampaikan hadis di sana, namun Abu> Usa>mah tidak mendengar hadis ini langsung dari ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Ja>bir. Beberapa waktu kemudian, datang ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Tami>m – salah seorang perawi da‘if dari Syam juga. Abu> Usa>mah mendengarkan hadis darinya, lalu ia bertanya tentang namanya, dan dijawab: ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d (saja tanpa menyebutkan nama belakangnya lagi). Abu> Usa>mah mengira bahwa ia adalah ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Ja>bir, maka ia menyatakan diri mendapat hadis darinya dan menisbatkannya apa yang disampaikan ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Tami>m pada ‘Abdurrah}ma>n ibnu Yazi>d ibnu Ja>bir. Sehingga terdapat banyak kemunkaran pada riwayat Usa>mah dari Ibnu Jabir, padahal keduanya s\iqah. Hal seperti ini hanya bisa diketahui oleh kalangan kritikus hadis yang kemudian melakukan pemilahan dan menjelaskannya, misalnya al-Bukha>ri>, Ibnu Abi Hatim, dan lainnya. Keempat, ‘illah yang ada dalam matan dan tidak menciderai matan maupun sanadnya. Contoh, perbedaan redaksi dalam hadis-hadis S{ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S{ah}i>h} Muslim. Jika semuanya bisa dikembalikan pada satu makna (pengertian), maka unsur pencideranya menjadi hilang.

(12)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Misalnya, riwayat Umar yang bercerita bahwa pada masa Jahiliyyah dulu ia pernah bernaz\ar untuk melakukan i’tikaf selama sehari di Masjidil Haram, maka dalam satu versi Nabi saw. bersabda: “Pergi dan i’tikaflah sehari!” Namun dalam versi lain, Nabi saw. bersabda, “Pergi dan i’tikaflah semalam!” Perbedaan redaksi matan “sehari” dan “semalam” menurut Imam an-Nawawi tidak sampai menciderai matan maupun sanad, karena barangkali Umar bertanya pada Nabi tentang i’tikaf sehari dan ia ditanya tentang i’tikaf semalam.46 Kelima, ‘illah yang ada dalam matan dan menciderai matan maupun sanadnya. Contoh, hadis yang diriwayatkan bi al-ma‘na> oleh seorang perawi, namun spekulasinya salah, sebab yang dimaksud oleh lafal hadis bukan seperti yang ia tulis. Hal tersebut tentu saja berimplikasi pada kecacatan matan maupun sanad riwayat tersebut. Misalnya, hadis dari Jari>r ibnu Yazi>d dari Anas ibnu Ma>lik, dan Ibnu Abi> Laila> dari Abdul Kari>m dari Anas ibnu M>alik bahwa Rasulullah saw. berwudhu dengan menggunakan dua liter air. Ini adalah riwayat bi al-ma‘na yang salah dan d}a’i>f sanadnya, sebab yang shahih dari Anas adalah Rasulullah saw. berwudhu dengan satu mud.47 Keenam, ‘illah yang ada dalam matan dan hanya menciderai matannya minus sanadnya. Contoh, hadis yang diriwayatkan tunggal oleh Muslim dari narasi Anas dengan redaksi lugas yang menafikan “Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m”. 48
46

Bâzmal, Ahmad ibnu Umar ibnu Salim, Al-Muqtarib fi> Baya>n al-Mud}t}arib,

I/110. Lihat al-Baihaqi, Ah}mad ibnu al-H{usain, Sunan al-Baihaqi al-Kubra>, tahqiq Muh}ammad ‘Abdul Qa>dir ‘At}a>, (Makkah: Maktabah Da>r al-Ba>z, 1414 H/1994 H), IV/171, hadis no. 7513.
47 48

َ َ َ َ ‫ع َن أَن َس ب ْن مال ِك قَال صل ّي ْت خل ْف النَّب ِي صل ّى الل ّه عَلَي ْهِ و َسل ّم وَأَب ِي‬ َ َ ُ َ َ ٍ َ ِ ِ َ َ َُ َ ِّ ْ َ‫بَكْرٍ وَعُمر وَعُث ْما ن فَكَانُوا ي ََستَفْت ِحون ب ال ْح مد لِل َّهِ ر ب الْعَال َمي ن ل‬ ِ َّ َ َ ُ ََ َ ْ َْ َ َ ِ َِ ََ َ َ َ ‫يَذ ْك ُرون ب ِسم ِ الل ّهِ الرحمن الرحيم ِ فِي أَوَل قِراءَةٍ وَل فِي آخرِهَا‬ ِ ِ َّ ِ َ ْ َّ ْ َ ُ َ ِ ّ
“Dari Anas ibnu Malik, ia berkata: Aku shalat di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, dan Utsman; dan mereka langsung mengawali bacaan dengan “Alhamdulillahi rabbi al-‘alamin” tanpa membaca “Bismillahirrahmanirrahim” di awal bacaan maupun di akhirnya.” (Shahih Muslim, Kitab as}-S{ala>h, Bab H{ujjah Man Qa>la La> Yajhar bi alBasmalah, hadis nomor 606).

Redaksi lengkap hadis tersebut adalah:

(13)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Para kritikus hadis menilai hadis dengan redaksi tersebut ma‘lu>l mengingat mayoritas ulama’ menyatakan keabsahan membaca basmalah di awal surah al-Fatihah. Menurut mereka, Muslim atau salah seorang perawi dalam sanadnya memahami hadis yang sudah menjadi kesepakatan bersama alBukha>ri> dan Muslim: “‫”فَكَانُوا ي َستَفْت ِحون ب ال ْحمد لِل ّهِ رب الْعال َمين‬ ْ ْ َ ِّ َ ِ َ ُ َ ِ َ ini dengan pemahaman bahwa mereka tidak membaca basmalah, lalu ia meriwayatkannya menurut pemahamannya, dan salah, sebab arti sebenarnya hadis tersebut adalah bahwa surah yang mereka baca pertama adalah surah al-Fatihah dan tidak ada hubungannya dengan dibaca tidaknya basmalah.49 Dari paparan di atas, bisa kita catat satu kebiasaan penting yang berlaku luas di kalangan ahli hadis, bahwa mereka kadang menta‘li>l hadis berdasarkan ‘illah yang tidak menciderai (‘illah ghair qa>dih}ah), sehingga sebagian kalangan menyangka bahwa semua hadis yang dinyatakan ma‘lu>l oleh kalangan ahli hadis pasti d}a‘i>f, padahal kenyataannya tidak musti demikian.

َ

Fenomena-Fenomena Hadis Ma‘lu>l
Al-H{a>kim an-Naisabu>ri> menginventarisir fenomena-fenomena hadis yang terinfeksi ‘illah ke dalam sepuluh kategori dalam kitabnya, Ma'rifah 'Ulu>m al-H{adi>s\, sebagai berikut:50 1) Sanad hadis kelihatan s}ah}i>h}, namun di dalamnnya ada orang yang diketahui tidak pernah mendengar langsung dari orang yang ia riwayatkan hadisnya. Contoh: Hadis doa kaffarah al-majlis:

َّ ُّ ‫حدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ ب ْن أَبِي السفَرِ الْكُوفِي وَاسمه أ َحمد ُ ب ْن‬ َ َ ْ ُ ُ ْ ُ ُ َ َّ َ ُ ُ ُ َّ َ َ َ ‫عَبْد ِ الل ّهِ الْهَمدَان ِي حدَّثَنَا ال ْحجاج ب ْن محمد ٍ قَال قَال اب ْن‬ َ ُّ ْ ُ
49 50

Lihat Umar Hasyi>m, Qawa>‘id, hlm. 134.

Al-H{a>kim, Ma‘rifah, hlm. 113-119. Lihat juga S{ubh}i}, Ulu>m alHadi>s, hlm. 183-185, dan Umar Hasyi>m, Qawa>‘id, hlm. 134-137.

(14)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

‫جري ْج أ َخب َرنِي موسى ب ْن عقب َة عن سهي ْل ب ْن أَبِي‬ َ ُ ِ َ ُ ْ َ َ ْ ُ ُ َ ْ ٍ َ ُ ِ َ ُ َ َ َ ِ‫صال ِح ع َن أبِيهِ ع َن أبِي هُري ْرةَ قَال قَال رسول الل ّه‬ ُ َ َ َ َ ْ ْ ٍ َ َ َ َ ِ‫صل ّى الل ّه عَلَيْهِ وَسل ّم من جل َس فِي مجل ِس فَكَث ُر فِيه‬ ْ َ َ ْ َ َ َ ُ َ َ َ ٍ َ َ ُ َ َ ‫لَغَط ُه فَقَال قَب ْل أ َن يَقُوم من مجل ِسهِ ذَل ِك سب ْحان َك‬ ِ ْ َ ْ ِ َ ْ َ ُ َّ َ ْ َ ُ َّ َ ْ َ ْ َ ‫الل ّهُم وَب ِحمدِك أ َشهَد ُ أ َن ل إِل َه إ ِل أَن ْت أ َستَغْفِرك وَأَتُوب‬ ُ ْ َ َ َّ َ 51 َ ‫إِلَي ْك إ ِل غُفر ل َه ما كَان فِي مجل ِسهِ ذَل ِك‬ ِ ْ َ َ َ ُ َ ِ
Di dalam rangkaian sanad hadis ini, Musa ibnu ‘Uqbah seolah-olah mendapat hadis langsung dari Suhail ibnu Abi S{a>lih}, meski tanpa menyebut “Sami‘tu” atau “h}addas\ana>” dan sejenisnya, padahal ia tidak pernah mendengarkannya langsung dari Suhail. 2) Hadis diriwayatkan secara mursal52 dari jalur para perawi yang s\iqah dan h}a>fiz\, namun disanadkan dengan gaya yang kelihatannya s}ah}i>h}. Contoh, hadis Qubais}ah ibnu ‘Uqbah dari Sufya>n dari Kha>lid al-H{az\z\a>’ dan ‘A<s}im dari Abu> Qila>bah secara marfu>’:

َ َّ ُ َ ْ َّ َ ‫أ َرحم أ ُمتِي بِأ ُمتِي أَبُو بَكْرٍ وَأ َشدُّهُم فِي دِين الل ّهِ عُمر‬ ْ ُ َ ِ

Andai kata sanad hadis ini s}ah}i>h}, tentu ia akan dimasukkan dalam S{ah}i>h} al-Bukha>ri> atau Muslim. Namun nyatanya tidak, karena Kha>lid al-H{az\z\a> meriwayatkannya dari Abu> Qila>bah secara mursal. 3) Hadis diriwayatkan secara mahfu>z}53 dari seorang sahabat (s}ah}a>bi>), namun kemudian diriwayatkan dari selain s}ah}a>bi> -yang lebih rendah tingkat kesiqahannya, berdasarkan perbedaan domisili para perawinya, misalnya riwayat orang-orang Madinah lebih unggul daripada riwayat orang-orang Kufah.
Sunan at-Tirmi>z\i>, (Kitab ad-Da’awa>t, Bab Ma> Yaqu>lu Iz\a> Qa>ma min al-Majlis, Hadis nomor 3355).
51 52 53

Para perawi setelah tabi’i dalam rangkaian sanadnya dihilangkan.

Hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih s\iqah berbeda dengan riwayat perawi lain yang s\iqah.

(15)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Contoh, hadis Mu>sa> ibnu ‘Uqbah dari Abu> Ish}a>q dari ayahnya secara marfu>’:

َ َ َ َ َ َ ‫أ َن رسول الل ّهِ صل ّى الل ّه عَلَيْهِ وَسل ّم قَال إِنِّي ل َستَغْفِر‬ ُ َ َّ ْ َ َ َ ُ َ ُ َ َ َّ َ َ ِ ٍ‫الل ّه وَأتُوْب إِلَيْهِ فِي الْيَوْم ِ مائ َة مرة‬ ُ َ

Hadis ini ma’lu>l, karena ada versi lain yang diriwayatkan secara mah}fu>z} dari jalur Abu> Burdah dari al-Agharr al-Muzani al-Madani. 4) Suatu hadis sudah mah}fu>z} dari seorang sahabi, namun kemudian diriwayatkan dari seorang tabi’i yang terjerembab waham dengan memberikan pernyataan lugas yang mengesankan kesahihan riwayatnya, padahal hadis tersebut tidak dikenal dari jalurnya. Contoh, hadis Zuhair ibnu Muh}ammad dari ‘Usman ibnu Sulaiman dari ayahnya, bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw. membaca surah at}-T{u>r saat shalat maghrib. Hadis ini ma‘lu>l, karena ayah ‘Us\ma>n tidak pernah mendengar maupun melihat langsung Rasulullah saw., akan tetapi ia meriwayatkannya dari Na>fi‘ ibnu Jubair dari Mut}‘im dari ayahnya. 5) Suatu hadis diriwayatkan dengan model “‘an‘anah” namun ada satu perawi yang digugurkan. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat hadis tersebut dari jalur lain yang mah}fu>z}. Contoh, hadis Yu>nus dari Syiha>b dari ‘Ali ibnu al-H{usain dari beberapa orang Ans}a>r bahwa mereka pernah bersama Rasulullah saw., lalu beliau menunjuk sebuah bintang, dan bintang tersebut langsung bersinar terang. Hadis ini ma‘lu>l karena Yu>nus meringkas sanadnya, sebab hadis tersebut sebenarnya dari Ibnu ‘Abba>s: “Saya diceritai oleh beberapa orang…” Versi terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Uyainah, Syu’aib dan lain-lain dari az-Zuhairi. 6) Adanya perbedaan versi dalam menyebut seseorang pada rangkaian sanad, sementara dalam versi lain ia sudah diriwayatkan secara mah}fu>z} darinya. Contoh, hadis Ali ibnu al-H{usain ibnu al-Wa>qid dari ayahnya dari ‘Abdullah ibnu Buraidah dari ayahnya dari ‘Umar, bahwasanya ia berkata… (dan seterusnya). Hadis ini ma‘lu>l, karena adanya riwayat mah}fu>z}ah yang bersanad dari ‘Ali ibnu Khasyram: Kami diberi hadis

(16)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

oleh Ali ibnu al-H{usain ibnu al-Wa>qid: Aku mendapat informasi bahwa Umar berkata…(dan seterusnya). 7) Adanya perbedaan versi dalam menyebut nama guru atau meng-anonimkannya. Contoh, hadis:

ٌّ ِ ُ ِ ٌّ ِ ُ ِ ُ ‫ال ْمؤْمن غر كَرِيم وَالْفَاجر خب لَئِيم‬ ٌ ٌ
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu> Syiha>b dari as\-S|auri> dari H{ajja>j ibnu Fara>fisah dari Yah}ya> ibnu Abi Kas\i>r dari Abu> Salamah dari Abu> Hurairah secara marfu>‘. Dalam versi lain, Muh}ammad ibnu Kas\i>r meriwayatkannya dengan sanad berbeda, yakni dengan meng-anonim-kan Yah}ya> ibnu Abi Kas\i>r dan menyebutnya dengan “seorang laki-laki”. Hadis dengan riwayat Muh}ammad ibnu Kas\i>r ini dengan demikian ma‘lu>l. 8) Perawi menjumpai seseorang dan mendengarkan hadis darinya, namun ia tidak mendengar beberapa hadis tertentu darinya. Jika ia mengklaim meriwayatkan hadis-hadis yang tidak didengarnya tersebut tanpa perantara orang lain, maka hadis tersebut ma‘lu>l. Contoh hadis:

‫أ َخب َرنَا يَزِيد ُ ب ْن هَارون أ َخب َرنَا هِشام الد َّستَوَائ ِى ع َن ي َحيَى‬ ُّ ْ ْ ٌ َ ْ ُ َ ْ َ ْ َ ُ َّ ٍ َ ِ ِ ‫ب ْن أَبِى كَثِيرٍ ع َن أَن َس ب ْن مال ِك أ َن النَّب ِى -صلى الله عليه‬ َّ ْ ِ َ ‫وسلم- كَان إِذ َا أَفْط َر عنْد َ أُنَاس قَال: أَفْط َر عنْدَك ُم‬ ِ َ ِ َ َ ُ ٍ َ ‫الصائ ِمون، وَأَك َل طَعَامك ُم الَب ْرار، وَتَن َزل َت ع َلَيْك ُم‬ َ ُ َّ ُ ْ َّ ُ َ ُ َ ‫ال ْملَئِك َة‬ ُ َ
Hadis ini dinyatakan shahih sanadnya oleh ad-Darimi54, namun jika diteliti lebih lanjut, Yahya ibnu Abi Kasir ternyata tidak pernah mendengar langsung hadis ini dari Anas ibnu Malik, meskipun ia pernah berinteraksi dengannya. Hal ini dibuktikan dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dari Hisyam dari Yahya, ia berkata: “H|uddis\tu ‘an Anas” (Aku diberi hadis dari Anas), dan seterusnya.
Ad-Da>rimi, Abdullah ibnu Abdurrah}ma>n, Sunan ad-Da>rimi, tahqiq Fu’ad Ahmad Zumarli dkk, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1407 H), II/40, hadis no. 1772.
54

(17)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

9) Suatu hadis sudah memiliki jalur periwayatan yang makruf, lalu seorang perawi dalam sanad tersebut meriwayatkannya dari jalur lain, sehingga ia terjebak dalam waham. Misalnya, hadis al-Munz\ir ibnu Abdulla>h alH{iza>mi dari Abdul Aziz ibnu al-Majisyu>n dari Abdulla>h ibnu Di>na>r dari Ibnu Umar:

َّ َّ َ ‫أ َن النَّب ِى -صلى الله عليه وسلم- كَان إِذ َا افْتَت َح الصلَة َ قَال‬ َّ َ َ َّ َ َ َ ُ … ‫سب ْحان َك الل ّهُم‬
Al-Hakim mengatakan: Hadis ini memiliki ‘illah, karena al-Munz\ir sebenarnya mendapatkan hadis ini dari Abdul Aziz ibnu alMajisyu>n dari Abdullah ibnu al-Fad}l dari al-A‘raj dari ‘Ubaidillah ibnu Abi Ra>fi‘ dari Ali. 10) Suatu hadis di satu sisi diriwayatkan secara marfu>‘ dan di sisi lain diriwayatkan secara mauqu>f. Misalnya hadis pengulangan shalat karena tertawa tanpa perlu berwudhu lagi. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Farwah ar-Ra>ha>wi> dari ayahnya dari kakeknya dari al-A‘masy dari Abu> Sufya>n dari Ja>bir dari Rasulullah saw. secara marfu‘. Sementara Waki>‘ meriwayatkannya secara mauquf (berhenti pada Ja>bir).55 Perlu diingat, bahwa kesepuluh fenomena yang dipaparkan al-H{a>kim di atas hanyalah sampel belaka, dan masih banyak lagi fenomena hadis ma‘lu>l yang hanya diketahui oleh kalangan ahli hadis yang benar-benar pakar di bidangnya.

(III) TEORI SYUZ|UZ| DAN FENOMENA HADIS SYA<Z|Z|
Kajian disiplin ilmu hadis lainnya yang tak kalah penting adalah kajian tentang fenomena syuz\u>z\. Ia bahkan lebih utama untuk diberi perhatian khusus, karena ia berhubungan erat dengan teori ‘illah dan proses pen-ta‘li>l-an hadis. Mengkaji fenomena ini berarti kita juga mengkaji fenomena hadis-hadis
Lebih lanjut mengenai contoh item 8-10, silakan rujuk: Al-H{a>kim, Ma‘rifah, hlm. 113-119; S{ubh}i, Ulu>m al-Hadi>s, hlm. 183-185; dan Umar Hasyi>m, Qawa>‘id, hlm. 134-137..
55

(18)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

munkar, mursal khafiy, mud}t}arib, dan ma‘lu>l. Sehingga bisa dikatakan bahwa ia merupakan “inti” ilmu hadis atau must}alah} al-hadi>s\.56

Definisi Sya>z\z\

ُ َ Menurut arti bahasa, sya>z\z\ adalah isim fa’il dari akar kata “ ُّ‫شذ َّ ي َشذ‬ ُ ‫ ”شذ ُوْذ‬berarti infarad (menyendiri). Sehingga sya>z\z\ berarti oknum yang
menyebal dari mayoritas (al-munfarid ‘an al-jumhu>r).57 Sementara itu, dari sisi terminologis, para ulama hadis berbeda pandangan dalam mendefinisikan hadis sya>z\z58, namun ada dua unsur penting yang menjiwai keseluruhan definisi yang dikemukakan oleh para ahli hadis; yaitu al-infira>d (kesendirian) dan al-mukha>lafah (penyimpangan). Dalam pengertian umum yang selama ini dijadikan pegangan, hadis sya>z\z\ didefinisikan sebagai “hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi s\iqah yang berbeda dengan riwayat para perawi s\iqah lainnya.” Namun alH{afiz\ Ibnu H{ajar meragukan efektifitas definisi ini dalam mendekatkan jurang perbedaan antara dua istilah sya>z\z\ yang dinisbatkan pada asySya>fi'i dan al-H{a>kim.59 Ia pun mengajukan definisi yang menurutnya paling otoritatif berdasarkan istilah, bahwa hadis sya>z\z\ adalah “hadis yang diriwayatkan oleh perawi maqbu>l yang berbeda dengan orang yang lebih otoritatif dari dirinya.”60 Terkait dengan definisi sya>z\z\, Imam asy-Syafi'i sebagaimana lansir Ibnu Abu> Hatim dalam kitab “Adab asy-Sya>fi‘i”, mengatakan: “Hadis sya>z\z\ adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi s\iqah yang berbeda dengan apa yang diriwayatkan oleh orang-orang.” Ia
Syaikh Muh}ammad ِAbd al-‘Azi>z ibnu Muh}ammad as-Sa‘i>d, Silsilah Ta‘li>m Mus}t}alah} al-H{adi>s\, (Kumpulan makalah ulumul hadis tidak diterbitkan), Pembahasan: Definisi asy-Sya>z\z\ dan al-Munkar.
56 57 58

At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r al-Mus}t}alah} \, hlm. 97.

Lihat perdebatan lebih lanjut pada Al-Mali>ba>ri>, al-H{adi>s\ alMa’lu>l, hlm. 52-54.
59
60

S{ubh}i, Ulu>m al-Hadi>s, hlm. 196. At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r al-Mus}t}alah} \, hlm. 97.

(19)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

lebih lanjut menjelaskan: "Sya>z\z\ dalam hadis bukanlah hadis yang diriwayatkan oleh perawi s\iqah yang bertentangan dengan apa yang tidak diriwayatkan oleh selainnya, akan tetapi hadis sya>z\z\ adalah jika seorang perawi s\iqah meriwayatkan hadis yang berbeda dengan apa yang diriwayatkan oleh para perawi lain."61 Dalam hal ini, asy-Sya>fi'i tidak menekankan unsur infira>d (kesendirian), melainkan juga menekankan unsur infira>d dan mukha>lafah sekaligus. Definisi ini dipegang oleh jumhur ulama dan diunggulkan oleh Ibnu as}-S{ala>h}. Dari sini, Ibnu Kas\i>r mengambil konklusi bahwa jika seorang perawi s\iqah meriwayatkan hadis yang tidak diriwayatkan oleh perawi lain, maka hadisnya tetap bisa diterima selama ia meang a>dil, d}a>bit}, dan h}a>fiz\. Sebab jika hadis seperti ini ditolak, maka akan banyak sekali hadis model demikian yang tertolak, dan konsekuensinya akan muncul banyak sekali permasalahan yang terlepas dari dalil-dalilnya (baca: tidak memiliki dasar hukum). Hal ini dipertegas lagi oleh Ibnu al-Qayyim bahwa syuz\u>z\ adalah jika para perawi s\iqah meriwayatkan hadis yang berbeda dengan yang lain, sementara jika ia meriwayatkan hadis sendirian dan tidak ada perawi s\iqah lain yang meriwayatkan hadis sebaliknya, maka hadis demikian tidak bisa disebut sya>z\z\.62 Sementara itu, al-H{a>kim berpandangan bahwa sya>z\z\ adalah “hadis yang diriwayatkan sendirian oleh seorang s\iqah dan hadis tersebut tidak memiliki dasar (al-as}l) yang bisa dirunut pada perawi s\iqah tersebut.”63 Bisa dilihat di sini, al-H{a>kim lebih menekankan unsur kesendirian daripada unsur penyimpangan, meskipun ia menyebutkannya secara ekplisit dengan ungkapan: "dan hadis tersebut tidak memiliki dasar (al-as}l) yang bisa dirunut pada perawi s\iqah tersebut". Al-H{a>kim kemudian memberikan contoh hadis Abu> Bakr Muh}ammad ibnu Ahmad ibnu Baluwaih dari al-Lais\ ibnu Sa'ad dari Yazi>d ibnu Abu> H{abi>b, dari Abu> at}-T{ufail dari
61 62 63

S{ubh}i }, Ulu>m al-Hadi>s, hlm. 196. Ibid., hlm. 197.

Al-H{a>kim, Ma‘rifah, hlm. 119.

(20)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Mu'a>z\ ibnu Jabal bahwasanya sewaktu Perang Tabuk jika Nabi saw. pergi sebelum condong matahari, maka beliau mengakhirkan shalat Dhuhur dan menjamaknya dengan Asar, lalu melaksanakan keduanya sekaligus, sementara jika beliau berangkat setelah matahari condong, beliau shalat Dhuhur dan Ashar bersama-sama (di waktu Dhuhur), lalu berangkat. Begitu juga jika beliau berangkat sebelum maghrib, maka beliau mengakhirkan shalat maghrib dan melaksanakannya bersama Isya`, sementara jika berangkat setelah maghrib, beliau mendahulukan shalat Isya` dan melaksanakannya bersama-sama shalat maghrib." Hadis ini menurut al-H{a>kim berstatus sya>z\z\ dari segi sanad maupun matan. Ia mengatakan: "Kami tidak menjumpai matan seperti ini dalam sahabatsahabat/murid-murid Ibnu at}-T{ufail atau pada seorangpun dari orang-orang yang meriwayatkannya dari Mu'a>z\ ibnu Jabal dari Ibnu at}-T{ufail, sehingga kami menyatakannya sebagai hadis sya>z\z\."64 Definisi al-H{a>kim ini dinyatakan lemah oleh Ibnu as}-S{ala>h} dan dibantahnya dengan mengemukakan hadis "Innama> al-a'ma>l bi anniya>t". Hadis ini diriwayatkan seorang diri oleh ‘Umar, kemudian diceritakannya pada ‘Alqamah, lalu pada Muh}ammad ibnu Ibrahim at-Taimi, lalu Yah\ya> ibnu Sa'ad al-Ans}a>ri. Meski diriwayatkan tunggal (sendirian) oleh ‘Umar, hadis ini tetap dinyatakan shahih, dan hadis s}ah}i>h} tentu saja bebas dari syuz\u>z\.65 Di samping dua definisi di atas, para kritikus hadis juga menyebutkan sebuah definisi lagi yang dikemukakan oleh Abu> Ya'la al-Khalili, bahwa hadis sya>z\z\ adalah “hadis yang hanya memiliki satu isna>d, baik perawinya s\iqah maupun tidak; dengan pengertian bahwa jika perawinya tidak s\iqah, maka hadis tersebut adalah hadis matru>k yang tidak diterima, sementara jika diriwayatkan perawi s\iqah hadis tersebut di-pending (tawaqquf) status kesahihannya dan tidak bisa dijadikan h}ujjah.”66 Jika definisi sya>z\z\ versi Abu> Ya'la> al-Khali>li> ini diterima, maka ia akan memberikan implikasi
64 65 66

S{ubh}i, Ulu>m al-Hadi>s\, hlm. 197-198. Ibid., hlm. 199-200. Ibnu as}-S{ala>h, Muqaddimah Ibn as}-S{ala>h, I/14.

(21)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

yang membahayakan dalam disiplin must}alah} al-h}adi>s\, sebab definisi ini dalam beberapa kondisi mentolerir penyematan syuz\u>z\ pada hadis-hadis s}ah}i>h}.67 Dari paparan di atas, pendapat yang rajih menurut penulis adalah pendapat jumhur yang membatasi sya>z\z\ dengan unsur kesendirian perawi s\iqah dan unsur perbedaannya dengan para perawi s\iqah lainnya. Dengan bahasa simpul, sya>z\z\ adalah apa yang diriwayatkan sendirian oleh seorang perawi s\iqah yang berbeda dengan riwayat para perawi s\iqah yang lain. Riwayat pertama yang menyimpang dan marju>h}ah disebut “sya>z\z\”, sementara riwayat kedua yang rajih disebut “mah}fu>z}}”.68

Fenomena Syuz\u>z\ dalam Hadis dan Hukumnya
Sebagaimana halnya ‘illah, kasus syuz\u>z\ juga bisa terjadi pada sanad maupun matan hadis.69 Jika matan atau sanad suatu hadis terinfeksi syuz\u>z\, maka hadis tersebut mardu>d dan tidak bisa dijadikan h}ujjah. Sebagai gantinya, kita bisa menggunakan hadis yang sama yang diriwayatkan dengan matan atau sanad versi lain yang bebas dari syuz\u>z\, atau yang sering disebut dengan hadis mah}fu>z}. a) Fenomena syuz\u>z\ dalam sanad: Contoh, hadis yang yang diriwayatkan oleh at-Tirmi>z\i, an-Nasa>’i, dan Ibnu Ma>jah dari jalur Ibnu ‘Uyainah dari ‘Amru> ibnu Di>na>r dari ‘Ausajah –maula Ibnu ‘Abba>s- dari Ibnu ‘Abba>s ra.:

‫حدَّثَنَا سفْيَان بن عُيَيْنَة ع َن عَمرِو ب ْن دِينَارٍ ع َن عَوْسجة ع َن‬ َ َ َ َ ُ ْ ْ ْ ْ ُ ُ ِ َ َ َ ‫اب َْن عَبَّا سٍَ أ ََن رجل ما ت ع َلَى عَهْد ِ ر سول الل َّهِ صل ّى الل َّه‬ ُ ََ َ ً ُ َ َّ ََ ِ َُ َ ِ

67 68 69

S{ubh}i, Ulu>m al-Hadi>s, hlm. 201. Umar Hasyi>m, Qawa>‘id, hlm. 130.

Ibid. Lihat juga Muh}ammad ibnu ‘Alawi, Al-Manhal al-Lat}i>f, hlm. 124 dan At}-T{ah}h}a>n, Taisi>r, hlm. 97.

(22)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

ُّ ‫عَبْدًا هُوَ أَعْتَق َه فَأَعْطَا هُ النَّب ِي‬ ُ

َّ َ ‫عَلَي ْهِ و َسل ّم وَل َم يَد َع ْ وَارِث ًا إ ِل‬ ْ َ َ َ َ َ 70 ‫صل ّى الل ّه عَلَيْهِ وَسل ّم ميراث َه‬ ُ َ ِ َ َ ُ َ

Hadis ini diriwayatkan secara maus}u>l oleh Ibnu ‘Uyainah dengan menyebut Ibnu ‘Abba>s. Langkah ini diikuti oleh Ibnu Juraij dan para perawi lain. Namun H{amma>d ibnu Zaid mengambil langkah berbeda dengan meriwayatkannya secara mursal dari ‘Amru> ibnu Di>na>r dari ‘Ausajah tanpa menyebut Ibnu ‘Abba>s. Hammad ibnu Zaid adalah perawi yang s\iqah dan d}abit}, namun karena sanadnya berbeda dengan sanad para perawi lain yang meriwayatkan hadis ini, maka hadis disebut “hadis sya>z\z\ al-isna>d” (hadis yang sanadnya sya>z\z\) dan tidak bisa diterima sebagai dalil, sementara riwayat Ibnu ‘Uyainah adalah hadis yang mah}fu>z} dan menurut at-Tirmizi ia merupakan hadis hasan yang bisa diterima. b) Fenomena syuz\u>z\ dalam matan: Contoh, hadis yang diriwayatkan oleh Abu> Dawud dan at-Tirmizi dari hadis ‘Abd al-Wa>h}id ibnu Ziyad dari al-A‘masy dari Abu> S{a>lih} dari Abu> Hurairah ra. secara marfu>‘:

‫حدَّثَنَا عَبْد ُ الْوَاحدِ ب ْن زِيَادٍ حدَّثَنَا الَعْمش ع َن أَبِي صال ِح ع َن‬ ِ َ َ ُ َ ْ ْ ْ ُ ٍ َ َ َ َ َ ُ َ ‫أَب َِي هُري ْرةَ قَال قَال ر سول الل َّهِ صل ّى الل َّه عَلَي َْهِ وََسل ّم إِذ َا‬ َُ َ َ َ َ ُ ََ َ َ َ .71ِ‫صل ّى أ َحدُك ُم ركْعَت َي الْفجرِ فَلْي َضط َجعْ عَلَى ي َمينِه‬ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ْ َ َ
Di sini, Abd al-Wa>h}id meriwayatkan hadis tersebut sebagai sabda dan anjuran Nabi saw., padahal para perawi lain melansirnya sebagai perbuatan Nabi saw. misalnya riwayat Sufya>n ibnu ‘Uyainah dari ‘A<’isyah yang dilansir oleh al-Bukha>ri> dan diisyaratkan oleh at-Tirmi>z\i> setelah meriwayatkan hadis di atas:
Sunan at-Tirmi>z\i> (Kitab al-Fara>’id}, Bab Fi Mi>ra>s\ al-Maula> al-Asfal, Hadis no. 2252, Juz VIII/hlm. 209.
70

Sunan Abi Dawud, Kitab at-Tat}awwu‘, Bab Id}t}ija‘ ba‘daha Sunnah, Juz IV/Hlm. 207, hadis no. 1263; dan Sunan at-Tirmi>z\i>, Kitab as}-S{ala>h, Bab Ma Ja>’a fi al-Id}t}ija‘, Juz II/Hlm. 235, hadis no. 422.
71

(23)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

‫حدَّثَن ََا سفْيَان قَال حدَّثَن َِى سال ِم أَب َُو الن َّضرِ ع ََن أَب َِى سل َمة ع ََن‬ َ َ ََ َ َ ُ َ ْ َُ ٌ ََ ْ ْ َ َ َ َّ ‫ع َائ ِشة - رضى الله عنها - أ َن النَّب ِى صل ّى الل ّه عَلَي ْهِ و َسل ّم كَا ن إِذ َا‬ َ َ َ َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ ْ ‫صل ّى سن َّة الْفجرِ فَإ َِن كُن َْت م ستَيْقِظ َة حدَّثَن َِى وَإِل َّ اضط َجعَ حت َّى‬ َ ً ْ ْ َ َ َُ َْ ُ ُ ََ
72

َّ ِ‫يُؤْذ َن بِالصلَة‬ َ

Dengan demikian, hadis Abd al-Wa>h}id merupakan “hadis sya>z\z\ al-matan” (hadis yang matannya sya>z\z\), sehingga tidak bisa diambil sebagai h}ujjah. Dalam hal ini, kita tetap bisa menggunakan hadis ini sebagai dalil dengan memakai riwayat versi para perawi lain, misalnya riwayat Sufya>n ibnu ‘Uyainah di atas. c) Fenomena syuz\u>z\ dalam matan sekaligus sanad: Al-H{a>kim an-Naisaburi menyebutkan sederet fenomena syuz\u>z\ lainnya yang terjadi dalam matan sekaligus sanad73, di antaranya:

‫حدثنَا أبَو العباس محمَد بَن أحمَد المحبوبَي بمرو الثقَة‬ ‫المأمون مَن أصَل كتابَه قال حدثنَا أبَو الحسَن أحمَد بَن‬ ‫سيار قال ثنا محمد بن كثير العبدي قال ثنا سفيان الثوري‬ ‫قال حدثنََي أبََو الزبيََر عََن جابر النصََاري قال : رأَي ََْت‬ ُ َ ُ َ َ َ َ َُ َ ُ‫ر سوْل الل َّهِ صل ّى الل َّه عَلَي َْهِ وََسل ّم فَِي صََلةِ الظ ّهْرِ ي َرفََع‬ َ َ ُ ََ ْ ْ ُّ َ ِ ُ َ َ ‫يَدَيْهِ إِذ َا كَب َّر وَإِذ َا ركِعَ وَإِذ َا رفَعَ رأ ْسه من الركُوْع‬ َ َ َ ِ
Hadis ini menurut al-H{a>kim “sya>z\z\ al-isna>d wa matn” (sanad dan matannya sama-sama sya>z\z\), sebab para perawi lain yang meriwayatkan soal mengangkat tangan saat takbir tidak menyebut kata-kata “dalam shalat Dhuhur”, melainkan menyebutnya secara umum dalam keseluruhan shalat.74 Kemudian tidak ada seorangpun yang meriwayatkan hadis dari Abu> az-Zubair
S{ah}i>h} al-Bukha>ri, Kitab at-Tahajjud, Bab Man Tah}addas\a Ba‘da Rak‘atain, IV/448, Hadis no. 1141.
72

Lebih lanjut mengenai contoh-contoh hadis sya>z\z\, lihat alH{a>kim, Ma‘rifah, hlm. 119-122.
73

Hadis mengenai masalah ini tanpa penyebutan salat Z}uhu>r antara lain ditemukan dalam: Sunan Abi Da>wud: III/11/745, Sunan an-Nasa>’i: III/6/1181, Sunan Ibn Ma>jah: III/160/905.
74

(24)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

selain Ibrahim ibnu T{ahman saja, sehingga sanad as\-S|auri> dari Abu> Zubair dinilai sya>z\z\.75

(IV) PENUTUP
Sebagai penutup, secara obyetif perlu penulis kemukakan bahwa sulit sekali membedakan antara sya>z\z\ dan ma‘lu>l, sebab ‘illah adalah perbedaan riwayat seorang perawi s\iqah dengan riwayat para perawi s\iqah lainnya, begitu juga dengan sya>z\z\? Lalu apa perbedaan mendasar antara keduanya? Al-H{a>kim an-Naisaburi menjawab dengan tegas bahwa hadis sya>z\z\ berbeda dengan hadis ma‘lul. Hadis ma‘lu>l menurutnya bisa ditelusuri ‘illahnya melalui indikasi masuknya suatu hadis dalam hadis lain, adanya waham seorang perawi di dalamnya, atau pemaus>u>lan perawi wa>him atas hadis yang dimursalkan perawi lain, dan indikasi-indikasi lain. Sementara sya>z\z\ adalah hadis yang diriwayatkan sendirian oleh seorang perawi siqah yang berbeda dengan riwayat para perawi s\iqah lainnya dan ia tidak memiliki “as}l bi muta>bi’ li z\alika as\s\iqah”.76 Diferensiasi ini didukung oleh al-H{a>fiz} Ibnu H{ajar. Dalam Nuzhah an-Naz}ar, ia berkomentar: “Berdasarkan hal ini, hadis sya>z\z\ jauh lebih njlimet (rumit) daripada ma’lu>l, sehingga ia tidak bisa ditetapkan statusnya kecuali oleh praktisi hadis yang telah piawai menggeluti bidang ini, memiliki pemahaman kelas tinggi, dan memiliki kredibilitas.”77 Hal senada dikemukakan oleh as-Sakhawi.78
75 76 77

Ibid., hlm. 121. Dikutip dari Rid}a>, Naz}ariyyah, hlm. 7. Ibid.

Lihat As-Sakhawi, Fath al-Mughi>s\, tahqiq Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali, (India: Ida>rah al-Buh}u>s\ al-Islamiyyah, 1407 H), I/232.

78

(25)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Dari sini, penulis berkesimpulan bahwa kedua istilah ini sebenarnya memiliki unsur pertautan dan tidak mengandung perbedaan yang signifikan. Pembedaan dilakukan oleh para teoretisi ilmu hadis, karena menghormati vonis para kritikus hadis bahwa ini adalah hadis ma‘lu>l dan ini hadis sya>z\z\. Karena itu, hemat penulis, keduanya sama-sama bisa dikerucutkan sebagai bentuk kesalahan pada diri perawi, karena kesendirian perawi dalam meriwayatkan hadis dan perbedaan riwayatnya dengan riwayat perawi lain, baik yang s\iqah maupun tidak, merupakan jenis ‘illah rancu yang dan membuat tidak bisa hadis yang diriwayatkannya menjadi dipastikan

statusnya kecuali melalui penelitian yang mendalam. Walla>hu a‘lam bi as}-s}awa>b. Sekarsuli, 12 Januari 2009

*** DAFTAR PUSTAKA
Ah}mad ‘Umar Hasyi>m, Prof. Dr., Qawa>‘id Us\u>l al-H{adi>s\, Beirut: Da>r al-Fikr, t.t. al-Baihaqi, Ah}mad ibnu al-H{usain, Sunan al-Baihaqi al-Kubra>, tahqiq Muh}ammad ‘Abdul Qa>dir ‘At}a>, (Makkah: Maktabah Da>r al-Ba>z, 1414 H. H{amzah ‘Abdulla>h al-Mali>ba>ri>, Prof. Dr., al-H{adi>s\ alMa’lu>l: Qawa>’id wa D{awa>bit}, Beirut: Da>r Ibnu H{azm dan Makkah: Al-Maktabah al-Makkiyyah, 1996. Ibnu Kas\i>r, Al-H{a>fiz\, Al-Ba>'is\ al-H{as\i>s\ Syarh} Ikhtis}a>r 'Ulu>m al-H{adi>s\, tah}qi>q Ah}mad Muh}ammad Sya>kir, Beirut: Da>r al-Fikr, 1996.

(26)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

Mah}mu>d at}-T{ah}h}a>n, Prof. Dr., Taisi>r Mus}t}alah} alH{adi>s\, cet. VII, Riya>d}: Maktabah al-Ma'arif li an-Nasyr wa at-Tauzi>', 1985. _____, Us}u>l at-Takhri>j wa Dira>sah al-Asa>ni>d, cet. II, Riya>d}: Maktabah al-Ma’a>rif, 1991. Muh}ammad ِAbd al-‘Azi>z ibnu Muh}ammad as-Sa‘i>d, asySyaikh, Silsilah Ta‘li>m Mus}t}alah} al-H{adi>s\, (Kumpulan makalah ulumul hadis tidak diterbitkan). Muh}ammad ibnu ‘Alawi al-Maliki al-H{asani, Al-Manhal alLat}i>f fi Us}u>l al-H{adi>s\ asy-Syari>f, cet. IV, T.t.t: Mat}a>bi‘ Sah}ar, 1982. Muh}ammad Jama>l ad-Di>n al-Qa>simi, Qawa>'id at-Tah}di>s\ min Funu>n Must}alah} al-H{adi>s\, T.t.t.: Isa al-Haji, t.t.. Rid}a> Ah}mad S{amadi, Naz}ariyyah al-’illah ‘inda al-

Muh}addis\i>n, (Makalah tidak diterbitkan). as-Sakhawi, Fath} al-Mughi>s\, tahqiq Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali, India: Ida>rah al-Buh}u>s\ al-Isla>miyyah, 1407 H, I/232. S}ala>h} ad-Di>n ibnu Ahmad al-Adlabi, Prof. Dr., Manhaj Naqd al-Matan 'inda 'Ulama>’ al-H{adis\ an-Nabawi>, Beirut: Da>r al-Afa>q al-Jadi>d, 1983. T{a>hir ibnu S{alih} ibnu Ah}mad al-Jaza>’iri ad-Dimasyqi>, Tauji>h an-Naz}ar ila Us}u>l al-As\ar, Madinah: AlMaktabah al-‘Ilmiyyah, t.t. az-Zarka>syi, Badruddi>n, an-Nukat ‘ala Muqaddimah Ibn as}S{ala>h}, Riya>d}:Ad}wa> as-Salaf, 1419 H/1988 M Software Program: Harf IT Company, Mausu’ah al-Hadith asy-Syarif, Versi 2.1.

(27)

Fenomena ‘Illah dan Syuz\u>z\ dalam Hadis

-

Website www.shamela.ws, Al-Maktabah asy-Sya>milah, Versi. 3.15.79

Rujukan dalam catatan kaki tanpa keterangan penulis maupun nama kota, penerbit, dan tahun terbit, semuanya diambil dari al-Maktabah asy-Syamilah.

79

(28)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->