P. 1
Kebijakan Suku Bunga Kredit

Kebijakan Suku Bunga Kredit

3.0

|Views: 1,719|Likes:
Published by Imanuel More
Tingginya suku bunga kredit bank berdampak besar bagi perekenomian nasional. Bukan hanya debitur yang menjerit, perekonomian nasional pun ikut goyah karena macetnya sektor riil
Tingginya suku bunga kredit bank berdampak besar bagi perekenomian nasional. Bukan hanya debitur yang menjerit, perekonomian nasional pun ikut goyah karena macetnya sektor riil

More info:

Published by: Imanuel More on Jun 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $1.00 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/29/2014

$1.00

USD

pdf

text

original

Kebijakan Suku Bunga Kredit: Cara Bank Meraup Untung di tengah

Krisis Finansial
Banyak masyarakat kecil yang menjadi debitur bank terus meminta pertimbangan bank
untuk menurunkan suku bunga kredit, baik untuk modal kerja maupun KPR. Hal ini jelas
terbaca dalam rubrik surat pembaca media cetak maupun media online. Sayangnya, bank-
bank nasional merespons dengan enggan. Pertimbangan kesehatan bank, likuiditas,
tingginya angka NP, hingga kondisi !inansial dalam dan luar negeri, dijadikan alasan.
Bukan hanya masyarakat kecil. Kadin "ndonesia, #pindo, Hipmi, dan berbagai elemen
yang menaungi pengusaha menengah-atas pun ikut bersuara. #da apa dengan dunia
perbankan nasional$
Benar bah%a sebagian besar bank telah tiga kali menurunkan tingkat suku bunga masing-
masing. Penurunan tersebut juga diliput media nasional. &idak hanya itu, para petinggi
bank terus menerus mengeluarkan pernyataan bah%a penyesuaian terhadap B" rate
sebagai acuan akan terus diupayakan. 'asalahnya adalah, penyesuaian yang dilakukan
bank pada umumnya hanya berkisar ()-)* basis poin +bps, atau *,()--*,)*-. #lhasil,
tiga kali penurunan pun belum sebanding dengan kenaikan drastis suku bunga kredit yang
diberlakukan bank pada a%al krisis !inansial lalu. Kenaikan dari .--/*- menjadi /)--
(*- jelas memberatkan debitur maupun calon debitur. "mbasnya, berbagai sayap
ekonomi penggerak sektor riil turut tercekik.
Penurunan BI Rate Belum Berdampak
Suku bunga acuan B" +B" rate, telah kembali mengalami penyesuaian. Pemangkasan
terakhir +012, sebesar () basis poin +bps, menjadi 3,**- bahkan telah mencapai nilai
terendah sejak sistem perangkat moneter ini di!ormulasikan pada #gustus (**).
Sejumlah indikator rujukan B" mengarah positi!. "n!lasi mengalami penurunan dan nilai
tukar rupiah juga relati! menurun berkat dukungan peningkatan cadangan de4isa. B" juga
melaporkan likuiditas perbankan, termasuk likuiditas pasar uang antarbank, makin
membaik dan dana pihak ketiga +5PK, terus meningkat, meskipun kredit macet +non
per!orming loan1NP, sedikit meningkat.
alu, mengapa kalangan perbankan bergeming terhadap desakan berbagai pihak,
termasuk B" dan pemerintah$ Kalangan perbankan berdalih tingginya suku bunga kredit
tidak ada hubungan kausal dengan rendahnya permintaan kredit. Sigit Pramono, Ketua
6mum Perbanas, misalnya, menyatakan 7...justru permintaan kredit dari pengusaha
sendiri yang masih rendah89 +Kompas.com, :12,. Benarkah demikian$
Menangguk Laba dari Krisis Finansial
Sejumlah kalangan menengarai perbankan nasional berusaha mengeruk keutungan dari
krisis !inansial melalui peningkatan pendapatan bunga bersih1Net "nterest 'argin +N"',.
N"' yang merupakan selisih antara bunga simpanan dan bunga pinjaman dipastikan akan
meningkat jika tingkat suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman jomplang.
5engan nilai bunga pinjaman antara /)- - (*- sedangkan bunga simpanan berkisar )-
- 3-, bank-bank nasional dipastikan meraup keuntungan yang menggiurkan.
Kebanyakan bank-bank nasional juga menerapkan kebijakan suku bunga kredit yang
berbeda untuk debitur baru ; calon debitur di satu sisi, dan debitur lama di sisi yang lain.
Kebijakan penurunan bunga kredit hanya berlaku bagi debitur baru1calon debitur,
sedangkan bagi debitur lama tetap diberlakukan kebijakan lama dengan bunga yang lebih
tinggi. 'aksudnya, sudah pasti untuk meningkatkan penyaluran kredit. Namun, dampak
kebijakan ini justru bisa berimbas pada peningkatan kredit macet1NP.
Strategi meraup keuntungan melalui kebijakan suku bunga juga terlihat dalam penyaluran
kredit. Pembedaan bunga kredit yang diterapkan pada pengusaha menengah-atas dan
pengusaha kecil1mikro sudah jamak terlihat. Bunga pinjaman bagi pengusaha besar
biasanya lebih rendah, sementara bunga pinjaman bagi pengusaha mikro dan kecil lebih
tinggi. #sumsi pragmatis ini jelas mengarah pada pembatasan ruang gerak pelaku usaha
bermodal kecil.
Bukan hanya <permainan N"'= dan kebijakan bunga kredit. Permasalahan lainnya adalah
sikap saling menunggu dan mengintip antara bank dalam menerapkan kebijakan suku
bunga. Bank-bank nasional, sebagaimana diakui sendiri oleh para petingginya, enggan
mengambil risiko dengan menjadi pionir. ebih parah lagi, bank-bank kecil-menengah
acapkali tidak hanya menunggu kebijakan bank besar, tapi juga melihat dampaknya
terlebih dahulu. Hasilnya, untuk menurunkan suku bunga sebesar *,()- pun bank
cenderung bereaksi lamban.
"klim persaingan antarbank ini berdampak besar terhadap pelaku usaha dan konsumen
yang harus menanti dalam ketidakpastian. Para debitur lama bagai <sudah jatuh, tertimpa
tangga pula=. aju bisnis mereka yang tersendat karena terimbas krisis diperparah dengan
kenaikan setoran ke bank kreditur yang justru menerapkan bunga tinggi. Sementara para
calon pelaku usaha dan konsumen terus menanti dalam ketidakpastian

Efek Berantai Kebijakan Bunga Kredit Bank
'asalah tingginya suku bunga pinjaman layak membuat banyak pihak uring-uringan. &ak
dapat dipungkiri, sektor perbankan berperan penting demi menggerakkan perekonomian
nasional. Halim #lamsyah, direktur 5irektorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan B"
bahkan menyebutkan bah%a perbankan menguasai 3*- perekonomian +Bisnis "ndonesia,
/.12,. Saat penyaluran kredit seret akibat tingginya bunga pinjaman, roda ekonomi sektor
lain yang bergantung pada kucuran dana bank ikut terombang-ambing.
Ketika sektor riil macet maka ekonomi negara akan mengalami goncangan, termasuk di
dalamnya dunia perbankan sendiri. 'aka, ketika bank-bank tetap memberlakukan
kebijakan suku bunga tinggi untuk pinjaman dan berupaya terus mengais keuntungan di
tengah krisis, langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai tindakan bunuh diri dan
membunuh perekonomian negara.
5ominasi dan ketamakan satu pihak akan berimbas pada kehancuran elemen lainnya,
yang berujung pada kehancuran diri sendiri. 5engan kata lain, tindakan kompak bank-
bank nasional bukan hanya mengarah pada mandeknya sektor riil dan menurunnya
ekspor, tapi lebih jauh akan mengarah kepada penghancuran ekonomi nasional. "tu
artinya, keinginan mengeruk pro!it besar kalangan perbankan berpotensi mencelakakan
diri sendiri dan negara secara umum.
#tas Nama Prudential Banking
5i tengah krisis !inansial global, bank-bank yang beroperasi di "ndonesia layak
mengedepankan prinsip kehatihatian bank +prudential banking,, termasuk dalam
mencegah tingginya nilai NP. 6ntuk itu bank sangat selekti! dalam penyaluran kredit.
&olok ukur utama yang sering dipakai adalah aspek feasibility, yakni terkait potensi atau
peluang usaha, dan aspek bankable, yakni terkait kelayakan untuk menjadi debitur bank.
Bila benar-benar tegas dalam prinsip-prinsip tersebut, perbankan akan semakin enggan
memberikan pinjaman dan masyarakat sederhana di "ndonesia akan kesulitan
memperoleh kredit bank. 'asalahnya, rekam jejak pengusaha kecil sebagai debitur
seringkali masih kosong dan kapasitas kredit pun sulit diukur karena tingkat pendapatan
bulanan yang tidak jelas. #palagi, jika bank ketat menakar nilai ekonomis agunan,
prospek penyaluran kredit untuk usaha mikro dan kecil bakal semakin pelik.
Bank-bank juga beralasan minimnya penyaluran kredit lebih disebabkan rendahnya
permintaan. Rendahnya permohonan kredit sebagaimana dinyatakan kalangan perbankan
sebenarnya lebih mengarah pada kalangan pengusaha menengah-atas. 5engan hitungan-
hitungan besarnya peluang dan kondisi nasional yang di%arnai pilpres, kalangan tersebut
tentu lebih berhati-hati dalam berpikir dua kali untuk mengajukan aplikasi. Sementara,
permohonan kredit pelaku 6'K' sebenarnya tetap stabil. Buktinya, BR" sebagai bank
yang erat terlibat dalam penyaluran kredit mikro justru tahun ini sukses membukukan
laba besar dan melampaui B># sebagai bank terbesar ke-( di "ndonesia.
&etapi, dengan kondisi bunga pinjaman yang tetap tinggi, pengusaha kecil terpaksa
mengurungkan niat. Sandiaga 6no, %akil ketua K#5"N "ndonesia +Kompas.com, //12,
menjelaskan, justru seharusnya bank atau pemerintah memberikan suku bunga yang lebih
kecil kepada pelaku 6'K' dibanding pelaku bisnis besar yang hanya dikenai suku
bunga pada kisaran /* persen hingga /( persen.
Siapa 'otor Penggerak
'enyadari keengganan kalangan perbankan ini, diperlukan adanya motor pendorong
turunnya suku bunga dari luar kalangan bank. 'otor penggerak itu bisa berasal dari bank
sentral +B",, pemerintah, dan media massa. Ketiganya memiliki pengaruh dan kekuatan
khas yang bisa memberi e!ek pressure kepada kalangan perbankan.
Pemerintah tidak bisa secara langsung mencampuri kebijakan perbankan. ?ang berperan
utama dalam intermediasi perbankan adalah Bank "ndonesia sebagai bank sentral. Setelah
suku bungan acuan yang ditetapkan B" tidak bere!ek besar pada bank-bank nasional, B"
perlu menekan bank secara langsung maupun tidak langsung. Perangkat hukum bisa
diman!aatkan dalam kondisi ini.
Sebagai tekanan langsung, B" bisa merumuskan batas maksimal suku bunga kredit dalam
perbandingan dengan B" Rate sebagai standar. 5engan adanya ceiling ini, ruang gerak
perbankan untuk menetapkan bunga kredit yang tinggi dapat dibatasi. 5engan cara ini,
!luktuasi B" Rate benar-benar ber!ungsi sebagai nilai acuan dan langsung berdampak
pada kebijakan bunga tiap bank. Selain itu, B" pun memiliki hak untuk menjatuhkan
sanksi +right to impose sanction, bagi bank-bank yang melanggar ketetapan tersebut.
&ekanan tidak langsung dapat diberikan B", misalnya, dengan menetapkan batas dana
yang disimpan di Serti!ikat Bank "ndonesia +SB",. Sudah menjadi pengetahuan umum
bah%a dana kebanyakan bank dengan sengaja <ditidurkan= di SB". #danya pembatasan
dana di SB" bisa mempengaruhi perbankan secara tidak langsung untuk menyalurkan
<dana tidur= mereka sebagai pinjaman bagi pihak ketiga.
'engingat banyaknya bank s%asta terkemuka sudah dikuasai pihak asing, pemerintah
pun perlu mengeluarkan batasan prosentase kepemilikan saham perbankan yang jelas.
Pemilik asing tentu ingin meraup untung secepatnya dari apa yang diin4estasikan.
Hitung-hitungan soal ekonomi nasional kurang diperhitungkan. Karena itu, tidak heran
bila dorongan pemerintah dan B" serta keluhan berbagai kalangan untuk menurunkan
suku bunga tidak diindahkan. Penurunan B" Rate pun tidak berpengaruh besar karena
profit oriented & profit target yang dipegang erat oleh bank-bank s%asta tersebut
melampau kepentingan yang lain. Sudah saatnya B" memikirkan adanya aturan yang jelas
mengenai kepemilikan pihak asing, sebagaimana yang la@im diterapkan negara-negara
lain.
Pemerintah pun dapat berperan dengan memberikan berbagai insenti! bagi perbankan.
angkah yang sudah dilakukan dengan menyerahkan pengelolaan cash management
sejumlah kementerian beranggaran besar kepada sejumlah bank telah cukup membantu.
"nsenti! lain yang bisa dipertimbangkan pemerintah selama masa krisis adalah tidak
mengharuskan perbankan melaksanakan program >SR. Program-program sosial
dialihkan pada dukungan bagi pengusaha kecil. #palagi program >SR perbankan selama
ini lebih bertendensi promosi untuk menarik konsumen. Bank-bank seolah-olah
menerapkan prinsip rauplah keuntungan sebesar-besarnya dalam berbisnis, dengan cara
apapun, recehannya bisa ditebar melalui >SR. 5engan demikian >SR acapkali terlihat
sebagai penetral ketamakan bank.
6nsur ketiga yang dapat memberikan tekanan adalah media massa. Pemberitaan seputar
dampak kebijakan suku bunga kredit bagi perekonomian nasional serta dilansirnya
keluhan berbagai kalangan terkait tingginya bunga pinjaman bisa berdampak pada
luluhnya ketegaran hati pihak perbankan. &ekanan yang demikian sejauh ini masih
kurang dilakukan media. Bila dibandingkan dengan berita positi! tentang bank, berita
negati! terkait bank-bank di "ndonesia masih sangat kurang. Austru pandangan negati!
lebih sering tertunga melalui surat pembaca dan sebagian kecil artikel opini. Peran
sebagai kekuatan demokrasi keempat perlu di%ujudkan oleh kalangan media nasional
demi menyelamatkan ekonomi nasional.
Siapa yang akan menjadi motor penggerak$ Kita mengharapkan ketiga kekuatan yang
memiliki pengaruh langsung terhadap dunia perbankan tersebut untuk bersikap proakti!.
'eski demikian, harapan utama akan penurunan suku bunga tetap diletakkan pada bank-
bank nasional itu sendiri.

Bukan hanya ‘permainan NIM’ dan kebijakan bunga kredit. Maka. bank-bank kecil-menengah acapkali tidak hanya menunggu kebijakan bank besar. Laju bisnis mereka yang tersendat karena terimbas krisis diperparah dengan kenaikan setoran ke bank kreditur yang justru menerapkan bunga tinggi. Strategi meraup keuntungan melalui kebijakan suku bunga juga terlihat dalam penyaluran kredit. tertimpa tangga pula’. Tak dapat dipungkiri. Permasalahan lainnya adalah sikap saling menunggu dan mengintip antara bank dalam menerapkan kebijakan suku bunga. Bunga pinjaman bagi pengusaha besar biasanya lebih rendah. Kebijakan penurunan bunga kredit hanya berlaku bagi debitur baru/calon debitur. Maksudnya. sektor perbankan berperan penting demi menggerakkan perekonomian nasional. Pembedaan bunga kredit yang diterapkan pada pengusaha menengah-atas dan pengusaha kecil/mikro sudah jamak terlihat. Bank-bank nasional. . bank-bank nasional dipastikan meraup keuntungan yang menggiurkan.25% pun bank cenderung bereaksi lamban. Lebih parah lagi. Para debitur lama bagai ‘sudah jatuh. Halim Alamsyah. Kebanyakan bank-bank nasional juga menerapkan kebijakan suku bunga kredit yang berbeda untuk debitur baru & calon debitur di satu sisi. roda ekonomi sektor lain yang bergantung pada kucuran dana bank ikut terombang-ambing. Ketika sektor riil macet maka ekonomi negara akan mengalami goncangan. enggan mengambil risiko dengan menjadi pionir. sudah pasti untuk meningkatkan penyaluran kredit. ketika bank-bank tetap memberlakukan kebijakan suku bunga tinggi untuk pinjaman dan berupaya terus mengais keuntungan di tengah krisis. dampak kebijakan ini justru bisa berimbas pada peningkatan kredit macet/NPL. sedangkan bagi debitur lama tetap diberlakukan kebijakan lama dengan bunga yang lebih tinggi. langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai tindakan bunuh diri dan membunuh perekonomian negara. dan debitur lama di sisi yang lain. Iklim persaingan antarbank ini berdampak besar terhadap pelaku usaha dan konsumen yang harus menanti dalam ketidakpastian. direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI bahkan menyebutkan bahwa perbankan menguasai 70% perekonomian (Bisnis Indonesia. Namun. Hasilnya.20% sedangkan bunga simpanan berkisar 5% . termasuk di dalamnya dunia perbankan sendiri. Asumsi pragmatis ini jelas mengarah pada pembatasan ruang gerak pelaku usaha bermodal kecil. sebagaimana diakui sendiri oleh para petingginya.Dengan nilai bunga pinjaman antara 15% .7%. tapi juga melihat dampaknya terlebih dahulu. 19/6). sementara bunga pinjaman bagi pengusaha mikro dan kecil lebih tinggi. Saat penyaluran kredit seret akibat tingginya bunga pinjaman. Sementara para calon pelaku usaha dan konsumen terus menanti dalam ketidakpastian Efek Berantai Kebijakan Bunga Kredit Bank Masalah tingginya suku bunga pinjaman layak membuat banyak pihak uring-uringan. untuk menurunkan suku bunga sebesar 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->