Tesis Pelaksanaan Supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam Pada Kegiatan Belajar Mengajar

TESIS PELAKSANAAN SUPERVISI PENGAWAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (PROGRAM STUDI : MANAJEMEN PENDIDIKAN

ISLAM) BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Di Indonesia perkembangan lembaga pendidikan madrasah sangat penting dan terkait dengan peran Departemen Agama. Lembaga Departemen Agama secara intensif memperjuangkan politik pendidikan Islam di Indonesia. Orientasi Departemen Agama dalam bidang pendidikan Islam bertumpu pada aspirasi umat Islam agar pendidikan agama diajarkan di sekolah-sekolah, di samping perkembangan madrasah itu sendiri. Madrasah adalah lembaga pendidikan yang berciri khas Islam. Lembaga ini selain sebagai pelaksana pendidikan umum juga pelaksana pendidikan agama. Lembaga pendidikan madrasah melaksanakan dua kajian materi ajar karena diharapkan selain memperoleh pengetahuan juga menanamkan nilai-nilai keislaman pada peserta didik. Oleh karena itu, lembaga pendidikan madrasah yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, harus diperhatikan untuk ditingkatkan mutunya, baik perbaikan tentang pelaksanaan pendidikan maupun perbaikan-perbaikan administrasi. Pentingnya perhatian khusus terhadap pelaksanaan pendidikan dan administrasi pada lembaga pendidikan madrasah, yang menurut H. Mudjia Rahardjo diyakini bahwa lembaga-lembaga pendidikan tersebut (madrasah) memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya sehingga diperlukan model pengelolaan secara khusus pula. Lebih rinci beliau menjelaskan keunikan kekhususan lembaga pendidikan madrasah itu adalah karena terdapatnya nilai-nilai ikhlas, barokah, tawadu, istiqamah, ijtihad dan sebagainya. Di dalam KMA No. 373 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi dan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota yakni pada pasal 2 dijelaskan tugas pokok dan fungsinya sebagai berikut : "Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi mempunyai tugas melaksanakan tugas pokok dan fungsi Departemen Agama dalam wilayah Provinsi berdasarkan Kebijakan Menteri Agama dan Peraturan perundang-undangan. Adapun tugas dan fungsi bidang yang mengurusi pendidikan adalah Mapenda sebagaimana disebut dalam pasal 31 yang menjelaskan sebagai berikut : Bidang Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada sekolah umum mempunyai tugas melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang penyelenggaraan pendidikan pada madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum dan serta sekolah luar biasa. Pengawas sekolah mata pelajaran agama Islam pada sekolah umum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 381 Tahun 1999 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan pengawas pendidikan agama ada dua macam yaitu pengawas mata pelajaran pendidikan agama Islam pada TK, SD, SLB serta pengawas sekolah mata pelajaran agama Islam SLTP, SMU/K. Adapun RA/BA, MI dan MD Awaliyah diawasi oleh pengawas sekolah mata pelajaran pendidikan agama RA/BA, MI, MDA, sedangkan pada MTS/MA MD Wustho dan MD Auliya diangkat pengawas sekolah rumpun mata pelajaran Al-Quran Hadits (Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Bahasa Arab), pengawas sekolah rumpun mata pelajaran Aqidah Akhlak (Keimanan, Akhlaq, Sejarah Kebudayaan Islam) dan pengawas sekolah rumpun mata pelajaran syariah (Fiqih, Ushul Fiqih).

karena di mana supervisi punya peran penting dalam memberikan bimbingan. kesesuaian dengan apa yang diharapkan oleh (stakeholder). pemenuhan janji yang telah diberikan. bantuan. guna perbaikan menuju profesionalisme dalam pembelajaran. bila dikaitkan dengan supervisi. petunjuk kepada guru. . Supervisi bertujuan memberikan bantuan secara teknis dan bimbingan kepada pendidik dan staf sekolah guna meningkatkan kualitas kinerja utamanya dalam melakukan KBM. akhlak serta ketrampilan untuk hidup mandiri. Departemen Agama punya tugas dalam rangka perkembangan dan peningkatan mutu madrasah. Nasution mengungkapkan bahwa (1) mengajar ialah menanamkan pengetahuan kepada murid. Jika demikian akan berpengaruh kepada peserta didik dan menjadi peserta didik yang berkualitas. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia No. standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran. memenuhi janji. penilaian. Bila dikaitkan dengan proses pembelajaran. S. Dalam Q. Tidak mengherankan. jika terdapat sekian banyak lembaga pendidikan madrasah yang kurang bermutu. maka tentunya pengembangan dan peningkatan mutu madrasah adalah bagian dari tanggung jawab Departemen Agama. Keputusan MENPAN Nomor 118/1996 bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. kepribadian. diperlukan adanya Pegawai Negeri Sipil yang bertugas secara penuh untuk melakukan pengawasan dan pendidikan di sekolah pada Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Sebagian besar problem mutu lembaga pendidikan madrasah terletak pada kurangnya profesionalisme pendidik dalam melakukan KBM (Kegiatan Belajar mengajar) dan berdampak pada citra dan mutu pendidikannya. (2) Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah. maka seorang supervisor adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap perbaikan-perbaikan ketrampilan mengajar guru. kesesuaian dengan harapan/permintaan stakeholder. KBM punya hubungan erat dengan supervisi (pengawasan). peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka“. atau sesuatu produk yang memenuhi persyaratan dan harapan. sifat mulia yang dimiliki bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan. Untuk itu. supervisor dengan segala sikap. Dengan demikian. sifat yang mulia serta profesional dalam pelaksanaan pembelajaran. di mana kontrol diri pribadi sebagai pimpinan atau cerminan pada orang lain. Ayat tersebut memberikan indikasi berupa penekanan tentang introspeksi diri. dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. 3 dan 4 disebutkan pada intinya bahwa standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan bertujuan meningkatkan kecerdasan. arahan terhadap pendidik guna perbaikan proses kegiatan belajar mengajar menjadi lebih baik dan lebih profesional. dan (3) aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan dengan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses belajar-mengajar. Selain itu pada Pasal 26 butir 1. Salah satu pola dalam mewujudkan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) madrasah tersebut tentunya diupayakan melalui peran guru dalam KBM. At-Tahrim ayat 6 Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman. Sebagaimana diungkapkan oleh Muhaimin bahwa mutu adalah kesesuaian dengan standar. maka seorang guru diharapkan untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. pengetahuan. Begitu pula. dan departemen lainnya.Merujuk tugas Departemen Agama dalam hal pendidikan. Yakni mampu menunjukkan sikap. semua karakteristik produk dan pelayanan yang memenuhi persyaratan dan harapan. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada Pasal 25 disebutkan bahwa (1) Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. (2) menyampaikan kebudayaan kepada anak. Mutu pendidikan merupakan standar yang perlu dicapai. Departemen Agama. arahan. 2.S.

Fenomena yang terjadi pada lembaga pendidikan madrasah tersebut di atas tentunya sangat berimbas kepada keberadaan dan ruang gerak lembaga pendidikan madrasah. dasar dan menengah. 2. Dengan tiga lokasi penelitian tersebut maka rancangan penelitian ini adalah studi multi kasus yaitu suatu studi yang menggabungkan beberapa studi kasus tunggal. (2) penduduk aslinya mayoritas beragama Kristen. dalam rangka menjamin peningkatan mutu lembaga pendidikan madrasah tentunya diperlukan pengawasan atau supervisi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan. Alasan dipilihnya tiga madrasah ibtidaiah itu karena ketiga . dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan pra sekolah. namun perkembangan dan peningkatan mutu pendidikan madrasah di Papua punya keunikan tersendiri. (1) bahwa umat Islam yang minoritas di Papua mampu mewujudkan ruh jihadnya dalam mengadakan. Supervisi/pengawasan yang baik akan menciptakan profesional guru dalam KBM. Tentu disadari demikian. Selain pilihan jenis lembaga pendidikan madrasah juga pembatasan terhadap lembaga pendidikan madrasah ibtidaiah yang dijadikan peneliti sebagai situs penelitian yakni lembaga pendidikan madrasah ibtidaiah Y. dan V. Papua adalah salah satu dari provinsi negara Indonesia yang berada dan identik dengan daerah keterbelakangan dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Madrasah Ibtidaiah sebagai lembaga pendidikan dasar mempunyai kedudukan yang sama dengan lembaga pendidikan dasar umum lainnya. Keunikannya itu. Keberadaan madrasah sebagaimana dijelaskan di atas adalah jumlah keseluruhan madrasah di kota X yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiah. Di antaranya (1) selain daerahnya masih terbelakang dalam pendidikan dan pembangunan. tetapi mutu pendidikannya sangat diperhitungkan 4. Dari keseluruhan madrasah itu yang dapat diambil sebagai sasaran kajian pada penelitian ini hanya madrasah ibtidaiah alasannya adalah : 1.Lanjut disebutkan. Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. 5. melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dan pengajaran madrasah di tengah-tengah masyarakat X. yakni selain memberikan pengetahuan umum juga menanamkan nilai-nilai dasar keislaman. tetapi sangat komitmen terhadap tugas pokoknya. tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah. karena pengawasan atau supervisi dalam sebuah lembaga pendidikan sangat diperlukan dalam rangka menjamin kualitas (quality assurance) agar sesuai dengan tujuan pendidikan. Z. (4) sulit dijangkau daerah satu dengan lainnya (5) sangat tinggi fanatisme dengan keyakinannya (6) kurang (sangat kecil) perhatian pemerintah daerah tentang fisik dan fasilitasnya maupun perhatian dalam rangka peningkatan mutu terhadap lembaga pendidikan madrasah ketimbang lembaga pendidikan umum. tetapi kurang diminati oleh masyarakat Islam dalam menyekolahkan anak padanya. Madrasah Ibtidaiah pada umumnya memiliki guru honorer. Madrasah Ibtidaiah memiliki guru yang berpendidikan rendah maupun kepala sekolah. (3) sakral dengan tradisinya. Madrasah Ibtidaiah sebagai lembaga pendidikan Islam punya peran ganda terhadap peserta didik. Lulusan Madrasah Ibtidaiah dapat diterima pada sekolah lanjutan yang dianggap unggul. 3. apabila proses KBM dilaksanakan secara profesionalisme maka akan menghasilkan prestasi belajar yang baik dan kemudian akan menghasilkan kompetensi lulusan yang baik pula. Untuk itu. bahwa dalam Keputusan MENPAN Nomor 118/1996 Bab I Pasal 1 butir 1 menyebutkan bahwa pengawas sekolah (madrasah) adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas.

Banyak faktor yang terjadi pada pelaksanaan supervisi yang menjadi tolak ukur terhadap rendahnya perkembangan dan peningkatan mutu lembaga pendidikan madrasah. B. Jika SDM kepala sekolah dan guru madrasah di X menunjukkan demikian tentu pula berpengaruh kepada kualitas KBM yang dilaksanakan. dan (9) merasa adanya kesamaan status pendidikan. Di antara faktor-faktor tersebut adalah (1) adanya sebagian pengawas yang sangat minim kemampuan mereka tentang sekian edukatif administrasi. dengan alasan dan penjelasan tersebut. (5) kurangnya pengetahuan pendidik terhadap ketrampilan dasar mengajar. karena selain keadaan daerah yang kurang bersahabat. (6) minimnya pendidik dalam mengelola kelas. fenomena tentang pelaksanaan supervisi di madrasah ibtidaiah didasarkan atas alasan (1) keahlian kepala sekolah masih di bawah standar. Eksisnya supervisi/pengawasan Departemen Agama dalam penanganan terhadap peningkatan mutu madrasah. (2) minimnya tenaga teknis. Selain diketahui pesatnya keberadaan dan perkembangan madrasah di X juga hal yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana peningkatan mutu pendidikan madrasah utamanya tentang pelaksanaan supervisi terhadap profesionalisme guru-guru dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Untuk itu. Mengapa ? Karena salah satu kriteria pencapaian mutu pendidikan adalah SDM kepala sekolah dan pendidik (guru). (3) pendidikan pendidik umumnya PGSD. (6) rendahnya perhatian birokrasi terhadap supervisi dan (7) lemahnya sistem rekrutmen. adanya rasa enggan untuk datang ke sekolah. Indikator yang dijadikan sebagai alasan majunya ketiga lembaga pendidikan madrasah tersebut adalah (1) diminati oleh masyarakat untuk menyekolahkan anaknya pada lembaga-lembaga tersebut. (3) mekanisme kepengawasan/supervisi kurang dipahami. tentu dapat diprediksi bahwa mutu pendidikan madrasah menjadi terabaikan. pelaksanaan supervisi/pengawasan di X tidak dilakukan oleh kepala sekolah. melainkan dilakukan oleh pengawas Dinas Pendidikan dan Pengajaran bagi sekolah umum dan pengawas Departemen Agama bagi madrasah. (2) lulusannya dapat diterima pada sekolah lanjutan yang unggul dan (3) memiliki sarana pendidikan yang memadai. Melihat fenomena yang terjadi sebagaimana dijelaskan di atas. Di antaranya adalah pelaksanaan perangkat persiapan mengajar terabaikan bahkan lebih-lebih 8 ketrampilan dasar mengajar pun tidak dipahami. (8) sebagian guru yang enggan terhadap supervisor. (4) tugas pokoknya belum sesuai dengan fungsi supervisi. Apabila pelaksanaan KMB tidak berkualitas. minimnya pendidikan guru dan kepala sekolah madrasah. (5) tidak memadai sarana prasarana. Salah satu tugas pokok dalam peningkatan mutu pendidikan madrasah adalah lewat bidang supervisi/pengawas. maka tentu berpengaruh kepada kualitas peserta didik dan akhirnya berpengaruh kepada kualitas pendidikan secara keseluruhan.lembaga pendidikan madrasah ibtidaiah tersebut eksisnya sudah berbeda dengan madrasah lainnya dan dianggap sudah maju. Sebagaimana dijelaskan dalam Keputusan MENPAN Nomor 118 Tahun 1996 Bab 1 Pasal 1 tersebut di atas. Untuk itu. dan Diploma. (2) supervisi dilaksanakan oleh Dinas P dan P dan Pengawas PAI bukan kepala sekolah. yakni pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap profesionalisme pendidik maupun kepala sekolah dalam peningkatan mutu madrasah melalui KBM pada madrasah khususnya madrasah dianggap logis dan unik untuk diteliti. Diploma dan honorer. (4) kurangnya perhatian membuat persiapan perangkat mengajar. PGSD. (7) minimnya pendidik dalam mengolah materi ajar. Faktor-faktor penghambat pelaksanaan supervisi sebagaimana disebutkan di atas memang selalu terjadi. Fokus Penelitian . berpendidikan setingkat PGA.

Memberikan pengetahuan kepada seluruh aktivis pendidikan X tentang pelaksanaan supervisi pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap KBM (persiapan atau perangkat KBM) di madrasah ibtidaiah Y. madrasah ibtidaiah Z. Tujuan Penelitian Dilihat dari rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini. Bagaimana pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di madrasah ibtidaiah X ? 2. Z dan V. 2. Memberikan pengetahuan kepada lembaga-lembaga pengelolaan pendidikan lainnya. b. yaitu : 1. Memberikan pengetahuan kepada pihak madrasah tentang pentingnya implikasi pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap KMB (persiapan atau perangkat KBM) di madrasah ibtidaiah Y. b.Berdasarkan konteks penelitian yang telah diuraikan di atas. Untuk mengetahui implikasi pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap KBM (persiapan atau perangkat KBM) di madrasah ibtidaiah Y. maka manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua aspek. madrasah ibtidaiah Z. madrasah ibtidaiah Z. Apa implikasi pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di madrasah ibtidaiah X ? C. maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. 2. aktivis pendidikan dan masyarakat pada umumnya tentang implikasi pelaksanaan supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam terhadap KBM (persiapan atau perangkat KBM) di madrasah ibtidaiah Y. Memberikan pengetahuan kepada lembaga pendidikan lain tentang pentingnya pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap KBM (persiapan atau perangkat KBM) di madrasah ibtidaiah Y. Manfaat secara Umum : a. dan madrasah ibtidaiah V. Z dan V. . Untuk mengetahui pelaksanaan supervisi pengawas pendidikan agama Islam terhadap KBM (persiapan atau perangkat KBM) di madrasah ibtidaiah Y. dan madrasah ibtidaiah V. Manfaat Secara Khusus : a. D. dan madrasah ibtidaiah V. maka fokus penelitian pada penelitian ini adalah : 1. tenaga pendidikan. Z dan V. Manfaat Penelitian Berdasarkan judul penelitian Pelaksanaan Supervisi Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap Kegiatan Belajar Mengajar di madrasah X.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.