P. 1
ruu asn

ruu asn

|Views: 149|Likes:
Published by Iwan Kustiawan
PNS
PNS

More info:

Published by: Iwan Kustiawan on Sep 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA NO (1) 1.

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (2) RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ….. TAHUN …… TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, USUL PEMERINTAH (3) RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ….. TAHUN …… TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Draf 11 Januari 2013

CATATAN RAPAT (2)

2.

Menimbang: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita Menimbang: bangsa sebagaimana tercantum dalam a. bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita pembukaan Undang-Undang Dasar Negara bangsa dan mewujudkan tujuan negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu sebagaimana tercantum dalam pembukaan dibangun Aparatur Sipil Negara yang Undang-Undang Dasar Negara Republik profesional, bebas dari intervensi politik, bersih Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, Aparatur Sipil Negara yang profesional, netral serta mampu menyelenggarakan pelayanan dan bebas dari intervensi politik, bersih dari publik bagi masyarakat dan mampu praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta menjalankan peran sebagai unsur perekat mampu menyelenggarakan pelayanan publik persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan bagi masyarakat dan mampu menjalankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara peran sebagai unsur perekat persatuan dan Republik Indonesia Tahun 1945; kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa pelaksanaan manajemen aparatur sipil b. bahwa untuk mewujudkan aparatur sipil negara belum berdasarkan pada perbandingan negara sebagaimana dimaksud dalam huruf a, antara kompetensi dan kualifikasi yang perlu ditetapkan aparatur sipil negara sebagai diperlukan oleh jabatan dengan kompetensi profesi yang memiliki kewenangan mengelola dan kualifikasi yang dimiliki calon dalam dirinya dan wajib mempertanggungjawabkan rekrutmen, pengangkatan, penempatan, dan kinerjanya dan menerapkan prinsip merit promosi pada jabatan sejalan dengan tata dalam pelaksanaan manajemen aparatur sipil kelola pemerintahan yang baik; negara

3.

1

NO 4.

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR c. bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sudah tidak sesuai dengan penyelenggaraan kepegawaian sehingga perlu diganti; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk UndangUndang tentang Aparatur Sipil Negara; Mengingat: Pasal 20 ayat (1), ayat (2), dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang dengan: ini yang dimaksud

USUL PEMERINTAH c. bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sudah tidak sesuai dengan tuntutan nasional dan tantangan global sehingga perlu diganti; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara; Mengingat: Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang dengan: ini yang dimaksud

CATATAN RAPAT

5.

6.

7.

8.

9.

1. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang bekerja pada instansi dan perwakilan.

1. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang bekerja pada instansi pemerintah.

2

NO 10.

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR 2. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang.

USUL PEMERINTAH 2. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai tidak tetap pemerintah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. 3. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS, adalah mereka yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai pegawai ASN oleh Pejabat yang Berwenang secara permanen untuk menduduki jabatan pemerintahan. 4. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang selanjutnya disingkat PPPK, adalah pegawai ASN yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. 5. Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN unuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme 6. Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara adalah rangkaian informasi dan data mengenai pegawai Aparatur Sipil Negara yang disusun secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dengan berbasis teknologi. 7. Jabatan Pimpinan tinggi adalah sekelompok jabatan tinggi pada instansi 8. Pimpinan tinggi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan pimpinan tinggi

CATATAN RAPAT

11.

3. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS, adalah Warga Negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan diangkat oleh pejabat yang berwenang. 4. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah adalah warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan diangkat oleh pejabat yang berwenang sebagai Pegawai ASN.

12.

13.

5.

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara adalah rangkaian informasi dan data mengenai pegawai Aparatur Sipil Negara yang disusun secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dengan berbasis teknologi. Jabatan Eksekutif Senior adalah sekelompok jabatan tertinggi pada instansi dan perwakilan. Aparatur Eksekutif Senior adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Eksekutif Senior melalui seleksi secara nasional yang dilakukan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara dan diangkat oleh Presiden.

14.

6.

15.

7.

16.

8.

3

kesekretariatan lembaga negara. dan kesekretariatan lembaga non-struktural 16. lembaga pemerintah non-kementerian. Konsulat 24. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. dan kesekretariatan lembaga non-struktural. 15. sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 22. 9. Instansi Daerah adalah perangkat daerah provinsi dan perangkat daerah kabupaten/kota yang meliputi sekretariat daerah. 12. Pejabat Yang Berwenang adalah pejabat yang mempunyai kewenangan mengangkat. Instansi Pusat adalah kementerian. Pegawai Jabatan Administrasi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Administrasi pada instansi. Pegawai Jabatan Administrasi adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Administrasi pada instansi dan perwakilan. 10. 12. Instansi Daerah adalah perangkat daerah provinsi dan perangkat daerah kabupaten/kota yang meliputi sekretariat daerah. 25. 14. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. CATATAN RAPAT 18. 10. 16. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Jabatan Administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan pelayanan administrasi. 14. Instansi adalah instansi pusat dan instansi daerah. Pegawai Jabatan Fungsional adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Fungsional pada instansi dan perwakilan. Perwakilan adalah perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia. 11. 13. memindahkan. lembaga pemerintah non-kementerian. Instansi Pusat adalah kementerian. Pejabat yang Berwenang adalah pejabat karier tertinggi pada instansi dan perwakilan. dan pembangunan. dan memberhentikan Aparatur Sipil Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan. dinas daerah. 15. dan lembaga teknis daerah 17. dinas daerah. sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. kesekretariatan lembaga negara. 20. 17. 13. USUL PEMERINTAH Jabatan Administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisi tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan manajemen kebijakan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan administrasi. 11. dihapus 19. 4 . 21.NO 17. manajemen kebijakan pemerintahan. Instansi adalah instansi pusat dan instansi daerah. 23. 9. dan lembaga teknis daerah. Pegawai Jabatan Fungsional adalah Pegawai ASN yang menduduki Jabatan Fungsional pada instansi.

proporsionalitas. PRINSIP. 18. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pendayagunaan aparatur negara 19. Konsulat Republik Indonesia. NILAI-NILAI DASAR. Perutusan Tetap Republik Indonesia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa. profesionalitas. b. dan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 21. ASN dilakukan 20. Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat KASN adalah Lembaga Non Struktural yang mandiri. bebas dari intervensi politik. proporsionalitas. DAN KODE ETIK Pasal 2 Penyelenggaraan manajemen berdasarkan asas: a. 30. 21. Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat KASN adalah lembaga negara yang mandiri.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Jenderal Republik Indonesia. b. c. kepastian hukum. 31. 20. ASN dilakukan 5 . DAN KODE ETIK Pasal 2 Penyelenggaraan manajemen berdasarkan asas: a. dan diberi kewenangan untuk menetapkan regulasi mengenai profesi ASN. NILAI-NILAI DASAR. Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disingkat BKN adalah lembaga pemerintah non kementerian yang diberi kewenangan melakukan pembinaan dan menyelenggarakan manajemen ASN secara nasional sebagaimana diatur dalam undangundang ini. 19. Lembaga Administrasi Negara yang selanjutnya disingkat LAN adalah lembaga pemerintah non kementerian yang diberi kewenangan melakukan pengkajian dan diklat ASN sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 28. PRINSIP. Lembaga Administrasi Negara yang selanjutnya disingkat LAN adalah lembaga yang diberi kewenangan berdasarkan Undang-Undang ini. mengawasi Instansi dan Perwakilan dalam melaksanakan regulasi. c. kepastian hukum. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pendayagunaan aparatur negara. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 26. Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disingkat BKN adalah badan yang diberi kewenangan berdasarkan Undang-Undang ini. BAB II ASAS. dan Perwakilan Republik Indonesia yang bersifat sementara. BAB II ASAS. bebas dari intervensi politik untuk menjamin pemberlakuan sistem merit 27. profesionalitas. 29. 18.

komitmen. h. serta Pemerintahan yang sah. c. e. i. l. b. profesionalitas jabatan. j. kualifikasi akademik. e. h. f. d. kualifikasi akademik. e. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila. kode etik. e. m. dan kesejahteraan. integritas moral. netralitas. f. keterbukaan non-diskriminasi persatuan dan kesatuan. d. USUL PEMERINTAH keterpaduan. g. kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. e. c. setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945. delegasi. e. efektif dan efisien. dan kesejahteraan. kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. netralitas. f. g. d. k. Pasal 3 Aparatur Sipil Negara sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut: a. i. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian. Pasal 3 ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut: a. menciptakan lingkungan kerja yang non- CATATAN RAPAT 33. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR keterpaduan. f. delegasi. akuntabilitas. Pasal 4 Nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi: a. f. nilai dasar. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian. jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas. mengabdi kepada Negara dan Rakyat Indonesia. dan h. j. setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945. dan tanggung jawab pada pelayanan publik. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila. memelihara dan menjunjung tinggi standar 6 . kode etik. nilai dasar. c. menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak. 32. b. keadilan dan kesetaraan. menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak. d. g. b. menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif. d. kode perilaku. keadilan dan kesetaraan. profesionalitas jabatan. komitmen. k. jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas. b. akuntabilitas. Pasal 4 Nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi: a. keterbukaan non-diskriminasi persatuan dan kesatuan. dan g. c. dan tanggung jawab pada pelayanan publik. l. efektif dan efisien. m. integritas moral. f.NO d.

Pasal 5 (1) Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan tanpa tekanan. Pasal 5A CATATAN RAPAT 34. cepat. l. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai. cepat. k. sopan. berhasil guna. menghargai komunikasi. dan o. m. konsultasi. dan n. dan santun. tanggap. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan. i. mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik. akurat.NO g. dan kerjasama. dan santun. j. h. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi. memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir. akurat. tepat. (3) Pegawai ASN harus menjalankan tugasnya dengan hati-hati dan rajin. i. berhasil guna. 35. menghargai komunikasi. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir. Kode Perilaku Pegawai ASN (1) Pegawai ASN harus menjalankan tugasnya dengan jujur dan dengan integritas tinggi. k. (4) Pegawai ASN dalam menjalankan tugas pelayanan harus bersikap hormat. memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program Pemerintah. 36. mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik. l. memberikan layanan kepada publik secara jujur. g. 7 . dan kerjasama. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. m. konsultasi. tepat. berdaya guna. tanggap. Pasal 5 (1) Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR etika yang luhur. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi. memberikan layanan kepada publik secara jujur. j. h. berdaya guna. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai. USUL PEMERINTAH diskriminatif. memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program Pemerintah. n.

(6) Pegawai ASN dalam menjalankan tugasnya harus taat pada arahan dari atasan atau pejabat yang berwenang.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH (5) Pegawai ASN dalam menjalankan tugasnya harus tunduk pada peraturan perundangan yang berlaku. kekuasaan dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain. (9) Pegawai ASN harus menjaga agar tidak terjadi pertentangan kepentingan dalam melaksanakan tugasnya. Tugas. (8) Pegawai ASN harus menggunakan kekayaan dan barang milik Negara secara bertanggungjawab. dan dengan sebaik dan seefisien mungkin. dan kepala lembaga pemerintah non kementerian. (13) Pegawai ASN harus melaksanakan semua ketentuan peraturan perundangan tentang disiplin ASN. kepala lembaga Negara. b. (11) Pegawai ASN tidak boleh menyalahgunakan: a. menteri. CATATAN RAPAT 8 . (12) Dalam menjalankan tugasnya Pegawai ASN harus memegang teguh nilai-nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN. (7) Pegawai ASN harus menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijaksanaan Presiden. status. Informasi intern negara. (10) Pegawai ASN dilarang memberikan informasi yang salah dan/atau menyesatkan kepada fihak lain yang memerlukan informasi tentang kepegawaian pegawai ASN untuk kepentingan kedinasan.

BAB III JENIS. STATUS. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. PNS. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH Pasal 5B Pimpinan instansi harus mengenakan sanksi terhadap pegawai Aparatur Sipil Negara di bawah pimpinannya yang melakukan pelanggaran Kode Perilaku sesuai dengan peraturan perundangan. CATATAN RAPAT Pelanggaran Kode Perilaku 38. 42. PPPK Bagian Kedua Status Pasal 7 (1) PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh Pejabat Yang Berwenang dan memiliki Nomor Induk Pegawai secara nasional. . STATUS. 43. DAN KEDUDUKAN Bagian Kesatu Jenis Pasal 6 Pegawai ASN terdiri dari: a. dan b. (2) PPPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja sesuai keperluan instansi menurut ketentuan Peraturan Perundang-undang. b. PNS. 39. Bagian Ketiga Kedudukan 9 40. Bagian Ketiga Kedudukan 44. (2) Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b merupakan pegawai yang diangkat dengan perjanjian kerja dalam jangka waktu paling singkat 12 (dua belas) bulan pada Instansi dan Perwakilan. Bagian Kedua Status Pasal 7 (1) PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a merupakan pegawai yang berstatus pegawai tetap dan memiliki Nomor Induk Pegawai. DAN KEDUDUKAN Bagian Kesatu Jenis Pasal 6 Pegawai ASN terdiri dari: a. 41.NO 37. BAB III JENIS.

pelaksana kebijakan publik. Bagian Kedua Tugas Pokok Pasal 11 Pegawai ASN bertugas: a. dan Perwakilan merupakan satu kesatuan ASN. (2) Pegawai ASN yang bekerja pada Instansi Pusat. b. pelaksana kebijakan publik. dan 10 Pegawai ASN berfungsi sebagai: a. e. 52. Pegawai ASN melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Pimpinan Instansi dan Perwakilan. DAN PERAN Bagian Kesatu Fungsi Pasal 10 Bagian Kesatu Fungsi Pasal 10 Pegawai ASN berfungsi sebagai: d. DAN PERAN FUNGSI. b. 51. Instansi Daerah. USUL PEMERINTAH Pasal 8 Pegawai ASN berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. pemersatu bangsa. memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas. b. pelayan publik. dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara. dihapus CATATAN RAPAT 46. melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Negara. pelayan publik. 49. 48. pemerintahan. melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. adil. dan . (1) Pasal 9 (1) Pegawai ASN melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Pimpinan Instansi. TUGAS. intervensi semua golongan dan partai politik. dan perwakilan luar negeri. Pasal 9 47. memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas. daerah. TUGAS. dan c. (2) Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan (2) Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. jujur. BAB IV BAB IV FUNGSI. Bagian Kedua Tugas Pokok Pasal 11 Pegawai ASN bertugas: a.NO 45. dan f. perekat bangsa. 50. (1) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 8 Pegawai ASN berkedudukan di pusat. dan pembangunan. 53.

dan bersih dari praktik korupsi. dan bersih dari praktik korupsi. (2) (2) 62. Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Pegawai ASN berperan mewujudkan tujuan pembangunan nasional melalui pelayanan publik yang profesional.. jabatan administrator. b. dan c. Jabatan Pimpinan Tinggi. Jabatan Administrasi. USUL PEMERINTAH mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Pegawai ASN berperan selaku perencana. jabatan pengawas. dan c. jabatan pengawas.NO c. Jabatan Fungsional. jabatan pelaksana. 54. 60. BAB V JABATAN ASN Bagian Kesatu Umum Pasal 13 Jabatan ASN terdiri dari: a. Ketentuan mengenai klasifikasi Jabatan Administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. kolusi. dan c. dan nepotisme. ii. Jabatan Eksekutif Senior. jabatan pelaksana. pelaksana dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan. Jabatan Administrasi. bebas dari intervensi politik. b. jabatan administrator. Pasal 15 61. BAB V JABATAN ASN Bagian Kesatu Umum Pasal 13 Jabatan ASN terdiri dari: a. dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional. dan iii. 58. b. Pasal 15 CATATAN RAPAT 56. Ketentuan lebih lanjut mengenai Jabatan Administrasi diatur dengan Peraturan Pemerintah. 11 . c. (1) Bagian Kedua Jabatan Administrasi Pasal 14 Jabatan Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a terdiri dari: i. 55. Jabatan Fungsional. kolusi. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. bebas dari intervensi politik. Bagian Kedua Jabatan Administrasi Pasal 14 (1) Jabatan Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a terdiri dari: a. 57. 59. dan nepotisme.

(2) Penetapan kompetensi yang dibutuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 16 dihapus 64. (1) 68. (3) Jabatan administrator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf c bertanggung jawab memimpin pelaksanaan seluruh kegiatan pelayanan publik. Ahli pertama. 12 . dan pembangunan. fungsional keterampilan. dan c. 67. c. (2) Jabatan pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf b bertanggung jawab mengawasi pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pelaksana. Ahli madya. 66. Ahli muda. Ahli muda. Ahli utama. dan d. administrasi pemerintahan. a. Ahli utama. Ahli pertama. (2) Bagian Ketiga Jabatan Fungsional Pasal 17 Bagian Ketiga Jabatan Fungsional Pasal 17 Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri dari (1) Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri dari jabatan fungsional keahlian dan jabatan jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan. dihapus 65.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (1) Jabatan pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pelayanan publik. b. administrasi pemerintahan. dan pembangunan. Ahli madya. Pasal 16 dihapus (1) Setiap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) ditetapkan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. d. b. Jabatan fungsional keahlian sebagaimana (2) Jabatan fungsional keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. dihapus USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 63.

Jabatan Pimpinan Tinggi Utama. b. Ketentuan lebih lanjut mengenai jabatan (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan sebagaimana dimaksud pada keterampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. II : Direktur. 73. Terampil. Kelompok III (Pratama) : Pimpinan yang setingkat Es. Sesmen. staf ahli. dan Lembaga Pemerintah Non Kemeterian adalah Menteri dan Pimpinan Lembaga. Jabatan fungsional keterampilan (3) Jabatan fungsional keterampilan sebagaimana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: dari: a. (2) Pejabat yang Berwenang ditingkat Sekretariat Lembaga Negara. Bagian Ketiga A Pejabat yang Berwenang Pasal 17A (1) Pejabat yang Berwenang ditingkat Kementerian. dan b. dan pejabat lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Menteri. Pemula b.NO 69. analis kebijakan. dan c. 72. Mahir. Pemula a. Pemerintah Propinsi. (4) 71. Kepala Dinas/Badan Prov/Kab/Kota 13 . Sekda Kab/Kota. Lembaga Non Struktural. Sekda Provinsi. (3) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 70. Terampil. Mahir c. dan Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pejabat Karir Tertinggi. dan c. (1) Bagian Keempat Jabatan Pimpinan Tinggi Pasal 18 Jabatan Pimpinan Tinggi terdiri dari: a. (1) Bagian Keempat Jabatan Eksekutif Senior Pasal 18 Jabatan Eksekutif Senior terdiri dari pejabat struktural tertinggi. Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Catatan: Kelompok I (Utama) : Pimpinan tertinggi instansi seperti Kepala LPNK. Jabatan Pimpinan Tinggi Madya. I : Dirjen/Deputi. Kelompok II (Madya) : Pimpinan yang setingkat Es. dan Sesjen.

dan 3. Kepeloporan dalam bidang: 1. dan persyaratan lain yang dibutuhkan. dan persyaratan lain yang dibutuhkan Penetapan kompetensi. (6) (6) 14 . gaji. dan persyaratan lain yang dibutuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan jaminan sosial. Analisis dan rekomendasi kebijakan. integritas. Kepemimpinan manajemen. gaji. (5) (5) 78. Ketentuan lebih lanjut mengenai. Mengembangkan kerjasama dengan Instansi lain. dan 3. Setiap Jabatan Eksekutif Senior ditetapkan kompetensi. Setiap Jabatan Pimpinan Tinggi ditetapkan kompetensi. Keteladanan dalam mengamalkan nilainilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik ASN. dan persyaratan lain yang dibutuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. integritas. (4) (4) 77. kualifikasi. dan c. tunjangan dan jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Jabatan Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi memimpin dan mendorong setiap Pegawai ASN pada Instansi dan Perwakilan melalui: a. b. Keahlian profesional. tunjangan. Kepeloporan dalam bidang: 1. CATATAN RAPAT 75.NO 74. Kepemimpinan manajemen. Pejabat yang menduduki Jabatan Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak atas gaji. tunjangan. dan c. Analisis dan rekomendasi kebijakan. kualifikasi. Keteladanan dalam mengamalkan nilainilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik ASN. Penetapan kompetensi. Pejabat yang menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak atas gaji. 2. b. (2) USUL PEMERINTAH Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi memimpin dan mendorong setiap Pegawai ASN pada Instansi melalui: a. Ketentuan lebih lanjut mengenai. tunjangan dan jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. kualifikasi. Keahlian profesional. (3) (3) 76. dan jaminan sosial. Mengembangkan kerjasama dengan Instansi lain. kualifikasi. integritas. integritas. 2.

NO 79. Staf Ahli tertentu. Pasal 19A (1) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilakukan oleh Panitia Seleksi Instansi. (2) Pengisian Jabatan Eksekutif Senior. (4) Pengisian jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dilakukan secara kompetitif dan terbuka pada tingkat nasional. dan Analis Kebijakan tertentu. (1) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 19 Pengisian Jabatan Eksekutif Senior pada jabatan struktural tertinggi kementerian. propinsi. 15 . (3) Pengisian Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh KASN. lembaga pemerintah non kementerian. atau antar instansi dalam 1 (satu) kabupaten/kota. kesekretariatan lembaga negara. 81. (2) Panitia Seleksi Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan proses seleksi berdasarkan penilaian uji kompetensi melalui assesment center dan penelusuran jejak jabatan dan kinerja. CATATAN RAPAT 80. (3) Pengisian jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Madya dilakukan secara kompetitif dan terbuka pada tingkat nasional. 83. USUL PEMERINTAH Pasal 19 (1) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Madya pada kementerian. (2) Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi tertentu dapat berasal dari Non PNS apabila kompetensi yang dibutuhkan instansi tidak tersedia di kalangan PNS dan wajib mendapat persetujuan dari Presiden dan ditetapkan dalam Peraturan Presiden. staf ahli. dan analis kebijakan dapat berasal dari Non PNS yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. 82. staf ahli. lembaga non struktural. khusus pada jabatan struktural tertinggi lembaga pemerintah non kementerian. Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan pengisian Jabatan pimpinan Tinggi tertentu misalnya pada Lembaga Pemerintah Non Kemeterian. Penjelasan Pasal 19 ayat (7) Yang dimaksud dengan unsur eksternal adalah pihak-pihak yang memiliki independensi dan kompetensi dalam bidang Sumber Daya Manusia dan Pemerintahan. (4) Panitia Seleksi Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk untuk masa 84. dan analis kebijakan dilakukan melalui promosi dari PNS yang berasal dari seluruh Instansi dan Perwakilan. (3) Panitia Seleksi Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur internal maupun eksternal instansi yang bersangkutan yang dibentuk oleh Pejabat yang Berwenang. kesekretariatan lembaga negara. 85. 86. dan Pemerintah Daerah dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS.

Pasal 19C (1) Untuk pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Madya Panitia Seleksi Instansi menyampaikan 3 (tiga) nama calon kepada Presiden untuk setiap 1 (satu) jabatan. CATATAN RAPAT 87. Pasal 19B Ketentuan mengenai Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dan Pasal 19A dapat dikecualikan pada Instansi yang telah menerapkan sistem merit dalam pembinaan pegawai dengan persetujuan KASN. Pasal 19E (1) Jabatan Pimpinan Tinggi hanya dapat diduduki maksimal selama 5 (lima) tahun. (2) Presiden memilih dan menetapkan Pejabat Pimpinan Tinggi yang diajukan oleh Panitia Seleksi Instansi. 92. . (2) Pejabat Pimpinan Tinggi yang menduduki jabatannya selama 5 (lima) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kembali menduduki jabatan yang setelah mengikuti proses seleksi telah tahun dapat sama untuk 16 93. 90. 88. Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan sistem pembinaan pegawai dalam hal ini meliputi antara lain career path. talents pool.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH kerja 1 (satu) tahun dan menjalankan tugasnya untuk semua proses seleksi pengisian jabatan terbuka dalam waktu tersebut. (2) Penggantian Pejabat Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebelum 2 (dua) tahun dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pembentukan Panitia Seleksi Instansi diatur dalam Peraturan Menteri. succession plan. 89. Pasal 19D (1) Pejabat yang Berwenang tidak diperbolehkan mengganti Pejabat Pimpinan Tinggi selama 2 (dua) tahun sejak pelantikan Pejabat yang bersangkutan. performance appraisal. 91.

Pejabat Pimpinan Tinggi Madya adalah Sekretaris Daerah Propinsi. 96. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH pengisian jabatan tersebut. diberikan kesempatan selama 6 (enam) bulan untuk memperbaiki kinerjanya. (2) Pejabat Pimpinan Tinggi yang tidak memenuhi kinerja yang diperjanjikan dalam waktu 1 (satu) tahun pada suatu jabatan. KASN mengumumkan lowongan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ke seluruh Instansi dan Perwakilan disertai 100. 98. 99. dan Kepala SKPD Kabupaten/Kota. (4) Pejabat yang berwenang atau pimpinan Instansi dan Perwakilan mengajukan permintaan pengisian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan mengajukan kompetensi dan kualifikasi serta jabatan yang lowong kepada KASN. (5) dihapus 17 . (4) Berdasarkan hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pejabat Pimpinan Tinggi dimaksud dapat dipindahkan pada jabatan lain sesuai dengan kompetensi yang dimiliki atau ditempatkan pada jabatan yang lebih rendah. dihapus CATATAN RAPAT 95. Pasal 19F (1) Pejabat Pimpinan Tinggi harus memenuhi target kinerja tertentu yang diperjanjikan dengan Pejabat atasannya. Jabatan Tinggi Pratama adalah Kepala SKPD Propinsi. Pasal 19G Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di Propinsi dan Kabupaten/Kota yang akan mencalonkan diri menjadi Kepala Daerah wajib mengundurkan diri dari jabatanya 1 (satu) tahun sebelum pelaksanaan proses pemilihan umum kepala daerah. 97. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota.NO 94. (3) Dalam hal Pejabat Pimpinan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menunjukan perbaikan kinerja maka Pejabat yang bersangkutan harus mengikuti seleksi ulang uji kompetensi kembali.

cuti. gaji. pengembangan kompetensi. 107. f. (8) 104. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak Paragraf 1 Pegawai Negeri Sipil Pasal 20 Pegawai Negeri Sipil berhak memperoleh: (1) PNS berhak memperoleh gaji. pensiun bagi yang telah mengabdi kepada negara dan memenuhi persyaratan yang ditentukan. (7) 103. dan g. Sebelum menduduki jabatannya. d. dan persyaratan lain yang dibutuhkan berhak mengajukan lamaran kepada KASN. 106. 18 . e. tunjangan. dan a. tunjangan. dan kesejahteraan yang adil pendapatan lain-lain. calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (7) mengucapkan sumpah/janji di hadapan pimpinan Instansi atau Perwakilan. kualifikasi. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak Paragraf 1 Pegawai Negeri Sipil Pasal 20 dihapus (3) Sebelum menduduki jabatannya. uang duka. biaya perawatan. c. 105. Calon Pejabat Eksekutif Senior yang memenuhi kompetensi. kualifikasi. KASN melakukan seleksi untuk memilih 1 (satu) orang calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden. tunjangan bagi yang menderita cacat jasmani atau cacat rohani dalam dan sebagai akibat menjalankan tugas kewajibannya yang mengakibatkan tidak dapat bekerja lagi dalam jabatan apapun. dan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawabnya. (6) 102. b. calon Pejabat Pimpinan Tinggi mengucapkan sumpah/janji di hadapan pimpinan Instansi.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dengan kompetensi. persyaratan lain yang dibutuhkan dan dihapus USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 101.

dan pendapatan lain-lain. b. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak PPPK diatur dengan Peraturan Pemerintah. menaati semua ketentuan peraturan perundang-undangan. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Honorarium yang adil dan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawabnya.NO 108. dan pemerintah yang sah. 109. setia dan taat kepada Pancasila. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cuti. d. Tunjangan. Biaya kesehatan. setia dan taat kepada Pancasila. c. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. e. (1) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri Bagian Kedua Kewajiban Pasal 22 Pegawai ASN wajib: a. Paragraf 2 Pegawai Tidak Tetap Pemerintah Pasal 21 (1) Pegawai Tidak Tetap Pemerintah berhak memperoleh: a. CATATAN RAPAT 110. b. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak dan Kewajiban PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. melaksanakan kebijakan umum yang dirumuskan pejabat pemerintah yang 19 . c. Pengembangan kompetensi. 113. Bagian Kedua Kewajiban Pasal 22 Pegawai ASN wajib: a. Paragraf 2 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Pasal 21 (1) PPPK berhak memperoleh: Gaji. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH (2) Pegawai Negeri Sipil wajib bersedia ditempatkan dimanapun di wilayah Negara Republik Indonesia. Tunjangan. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. 112. Uang duka. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 114. c. b. 111. dan f. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

d. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap. perilaku. iii. menaati semua ketentuan peraturan perundang-undangan. dan ucapan kepada setiap orang baik di dalam maupun di luar kedinasan. 115. berkaitan dengan kewenangan perumusan kebijakan pembinaan profesi ASN dan pengawasan pelaksanaannya pada Instansi dan Perwakilan. dan tanggung jawab.NO d. dan tanggung jawab. LAN. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap. berkaitan dengan kewenangan 120. 20 . LAN. perilaku. 118. 121. USUL PEMERINTAH berwenang. 117. e. b. (2) Untuk melakukan pembinaan profesi dan pegawai ASN. Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaan pembinaan dan manajemen ASN kepada: a. KASN. 116. f. berkaitan dengan kewenangan perumusan dan penetapan kebijakan. 119. koordinasi dan sinkronisasi kebijakan. dan ucapan kepada setiap orang baik di dalam maupun di luar kedinasan. berkaitan dengan kewenangan CATATAN RAPAT e. tindakan. Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaan pembinaan dan manajemen ASN kepada: i. dan menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Menteri. tindakan. BAB VII KELEMBAGAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 23 (1) Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pembinaan dan manajemen ASN. berkaitan dengan kewenangan perumusan kebijakan umum pendayagunaan Pegawai ASN. BAB VII KELEMBAGAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 23 (1) Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pembinaan dan manajemen ASN. ii. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian. f. g. Menteri. kejujuran. dan menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. KASN berkaitan dengan Monitoring dan evaluasi kebijakan dan manajemen ASN untuk menjamin pemberlakuan sistem merit. kejujuran. kesadaran. c. kesadaran. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian. serta pengawasan atas pelaksanaan kebijakan ASN. (2) Untuk melakukan pembinaan profesi dan pegawai ASN.

(2) Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pengkajian kebijakan manajemen ASN. ASN dan USUL PEMERINTAH Penelitian. Pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN. pembinaan Pusat Penilaian Kinerja Pegawai ASN. BKN. penyusunan materi seleksi umum calon Pegawai ASN. berkaitan dengan kewenangan pembinaan manajemen Pegawai ASN. menetapkan sistem pensiun pegawai ASN. . d. c. Menetapkan analisis keperluan pegawai ASN untuk semua Instansi dan Perwakilan. skala penggajian dan tunjangan pegawai ASN. b. pembinaan pendidikan dan pelatihan Pegawai ASN. 21 131. menetapkan klasifikasi jabatan Pegawai ASN. klasifikasi jabatan Pegawai ASN. kebijakan reformasi birokrasi di bidang SDM. 125. e. antardaerah. kebijakan umum pembinaan profesi ASN. b. g. 123. melakukan pemindahan Pegawai antarjabatan. mengangkat kembali Pegawai ASN yang telah 130. dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan untuk penjenjangan Aparatur Sipil Negara. h. f. v. dan d. Pasal 24 Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a berwenang menetapkan kebijakan pendayagunaan pegawai ASN sebagai berikut: a. analisis keperluan pegawai ASN untuk semua Instansi berdasarkan struktur yang telah di evaluasi. c. sistem pensiun pegawai ASN. g. berkaitan dengan kewenangan Penyelenggaraan manajemen ASN Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Norma Standar Prosedur dan kriteria manajemen ASN. antarinstansi. kebijakan 124. 127. vi. Pasal 24 (1) Menteri berwenang menetapkan pendayagunaan pegawai ASN. memberhentikan sementara Pegawai ASN yang diangkat sebagai Pejabat Negara dari status kepegawaiannya. dan pembinaan pendidikan fungsional analis kepegawaian. 129. pemeliharaan dan pengembangan Sistem Informasi Pegawai ASN. klasifikasi jabatan dan standar kompetensi Pegawai ASN. 126. dan d. 128. iv.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR penelitian dan pengembangan administrasi pemerintahan negara. menetapkan skala penggajian dan tunjangan pegawai ASN. CATATAN RAPAT 122. mengaktifkan status kepegawaian Pegawai ASN yang telah menyelesaikan tugas sebagai Pejabat Negara. BKN.

antar daerah. dan mengoordinasi pelaksanaan tugas BKN dan LAN. Bagian Kedua Komisi Aparatur Sipil Negara Paragraf 1 Sifat Pasal 25 KASN merupakan Lembaga Non Struktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik untuk menjamin pemberlakuan sistem merit. penindakan Pejabat yang Berwenang dan penyelesaian penyimpangan terhadap tata cara manajemen ASN yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. pemberhentian sementara Pegawai ASN yang diangkat sebagai Pejabat Negara dari status kepegawaiannya. KASN bertujuan: a. 137. LAN dan BKN di bidang manajemen ASN. 136. menjamin pemberlakuan sistem merit dalam 22 .NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR menyelesaikan masa bakti sebagai Pejabat Negara pada jabatan ASN. 139. meningkatkan Paragraf 2 Tujuan Pasal 26 kekuatan dan kemampuan Bagian Kedua KASN pengaktifan status kepegawaian Pegawai ASN yang telah menyelesaikan tugas sebagai Pejabat Negara. dan antar instansi. Paragraf 2 Tujuan Pasal 26 KASN bertujuan: a. 135. 138. Paragraf 1 Sifat 140. j. l. rencana kinerja KASN. j. dan m. k. Pasal 25 KASN merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri yang dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. i. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 132. pengangkatan kembali Pegawai ASN yang telah menyelesaikan masa bakti sebagai Pejabat Negara pada jabatan ASN. h. 134. menindak Pejabat yang Berwenang atas penyimpangan terhadap tata cara manajemen Pegawai ASN yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. 142. pemindahan Pegawai ASN antar jabatan. i. 141. 133.

Pasal 28 KASN berfungsi menetapkan peraturan mengenai profesi ASN dan mengawasi pelaksanaan regulasi Paragraf 4 Fungsi . c. adil dan sejahtera. 148. CATATAN RAPAT 143. jujur. Membangun ASN yang professional. mewujudkan negara hukum yang demokratis. bersih dari praktik korupsi. d. 144. menjamin kebijakan dan sebagai pemersatu bangsa. menjamin terwujudnya imparsialitas ASN. 146. c. Paragraf 4 Fungsi Pasal 28 KASN memiliki fungsi monitoring. dan 145. manajemen ASN mendorong penyelenggaraan negara dan pemerintahan negara yang efektif. menjamin agar tangan politik. 151. menciptakan sistem kepegawaian sebagai perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. ASN bebas dari campur b. menjamin terwujudnya pembinaan profesi ASN dihapus 147. b. USUL PEMERINTAH kebijakan dan manajemen ASN. 149. pembinaan Paragraf 3 Kedudukan Pasal 27 Pejabat Eksekutif c. kolusi. dan melakukan Senior. 152. melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai tujuan negara. d. dan terdepan dalam manajemen kebijakan publik. berdedikasi. berkemampuan tinggi. f. terbuka. dihapus dihapus Paragraf 3 Kedudukan Pasal 27 KASN berkedudukan di ibukota negara.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR ASN dalam penyelenggaraan pelayanan publik. evaluasi dan rekomendasi mengenai kebijakan dan manajemen 23 KASN berkedudukan di ibukota negara. 150. e. dan nepotisme. efisien.

e. (2) Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan d. Teguran c. mempromosikan nilai-nilai dasar dan Kode Etik ASN. 156.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR tersebut oleh Instansi dan Perwakilan. (4) Terhadap keputusan yang dibuat oleh pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) 24 155. profesi ASN. 159. Khusus untuk pejabat politik dijatuhi sanksi sesuai dengan peraturan perundang-perundangan. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 153. mengusulkan calon Aparatur Eksekutif Senior terpilih pada Instansi dan Perwakilan kepada Presiden untuk ditetapkan. Perintah menerbitkan keputusan d. mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai dasar ASN oleh Instansi dan Perwakilan. Khusus untuk pejabat karier dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 154. Melaporkan Hasil monitoring dan evaluasi kepada Menteri. Melaporkan hasil monitoring dan evaluasi pemerintah daerah kepada Menteri Dalam Negeri. Paragraf 5 Tugas Pasal 29 KASN bertugas: a. . b. dan d. c. Paragraf 5 Tugas Pasal 29 (1) KASN bertugas: a. memberikan pertimbangan kepada Menteri dalam penetapan kebutuhan pegawai e. menjamin kebijakan dan manajemen ASN sebagai pemersatu bangsa. (3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa : a. BKN dan LAN sesuai dengan bidang tugas masing-masing. d. menjamin pemberlakuan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. 157. c. 160. pejabat yang membuat keputusan kepegawaian yang melanggar prinsip dan ketentuan sistem merit dapat dikenakan sanksi. 158. menyusun pedoman analisis keperluan pegawai. Peringatan b. b.

dan mengevaluasi kebijakan dan kinerja ASN pada Instansi dan Perwakilan. d. 163. dan f. meninjau ulang. a. mengevaluasi sistem dan mekanisme kerja Instansi dan Perwakilan untuk menjamin pelaksanaan peraturan perundangundangan mengenai disiplin ASN. Dihapus 166. 167. CATATAN RAPAT 161. dicabut dan dibatalkan. Paragraf 6 Wewenang Pasal 30 KASN berwenang: 164. e. Dihapus 165. melakukan tugas lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. menetapkan peraturan mengenai kebijakan a. (5) Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan pembatalan keputusan pada ayat (4) dilakukan oleh: a. harus di perbaiki. Paragraf 6 Wewenang Pasal 30 KASN berwenang: 168. menyusun. Presiden selaku pembina kepegawaian tertinggi terhadap keputusan yang ditetapkan oleh pejabat politik. dan dikembalikan pembayaran yang sudah dilakukan. Dihapus 162. (6) Presiden dapat mendelegasikan kewenangan penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a kepada Menteri dan Kepala BKN sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap 25 . Menteri terhadap keputusan yang ditetapkan oleh Pejabat Karier.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH berdasarkan rekomendasi KASN. b.

NO

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pembinaan profesi ASN;

USUL PEMERINTAH kebijakan dan manajemen ASN untuk menjamin pemberlakuan sistem merit ASN; b. Menyusun prosedur dan kriteria pelaksanaan seleksi dalam rangka promosi untuk pengisian jabatan pimpinan tinggi; dan c. Memonitor pelaksanaan proses seleksi promosi jabatan pimpinan tinggi yang dilaksanakan oleh instansi untuk menjamin sistem merit ASN berjalan. dihapus dihapus

CATATAN RAPAT

169. 170.

b. melakukan pengawasan pelaksanaan kebijakan pembinaan profesi ASN; c. melakukan penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran peraturan-peraturan pembinaan profesi ASN. d. melakukan manajemen kepegawaian Pejabat Eksekutif Senior; e. menerima pengaduan atau masukan dari kepala daerah mengenai kinerja Pejabat yang Berwenang f. melakukan mediasi antara kepala daerah dengan Pejabat yang Berwenang di daerah; dan Pejabat yang daerah apabila

171. 172.

173.

dihapus

174.

g. melakukan penggantian Berwenang pada Instansi diperlukan. Pasal 31

dihapus

175.

Pasal 31 KASN melaporkan pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya termasuk yang terkait dengan kebijakan dan kinerja ASN sekurang-kurangnya sekali pada akhir tahun kepada Presiden. Paragraf 7 Susunan Pasal 32 (1) KASN terdiri atas: a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota b. 1 (satu) orang wakil ketua merangkap anggota, dan c. 5 (lima) orang anggota.

KASN melaporkan pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenangnya termasuk yang terkait dengan kebijakan dan kinerja ASN pada setiap akhir tahun kepada Presiden. 176. 177. Paragraf 7 Susunan Pasal 32 (1) KASN terdiri atas: a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota b. 1 (satu) orang wakil ketua merangkap anggota, dan c. 5 (lima) orang anggota. 178. (2) Dalam hal Ketua KASN berhalangan, Wakil

(2) Dalam hal Ketua KASN berhalangan, Wakil 26

NO

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Ketua KASN menjalankan tugas dan wewenang Ketua KASN

USUL PEMERINTAH Ketua KASN menjalankan wewenang Ketua KASN. Pasal 33 dan tugas dan

CATATAN RAPAT

179.

Pasal 33

(1) KASN dalam melaksanakan tugas dan (1) KASN dalam melaksanakan tugas wewenangnya dibantu oleh asisten KASN. wewenangnya dibantu oleh asisten KASN. 180. (2) Asisten KASN diangkat dan diberhentikan oleh Ketua KASN berdasarkan persetujuan rapat anggota KASN. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian serta tugas dan tanggung jawab asisten KASN diatur dengan Peraturan KASN. Pasal 34 (1) KASN dibantu oleh sebuah sekretariat yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal. 183. 184. 185. (2) Sekretaris Ienderal diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul KASN. (3) Syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian Sekretaris Jenderal KASN dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kedudukan, susunan organisasi, fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab Sekretariat Jenderal diatur dengan Peraturan Presiden

(2) Asisten KASN diangkat dan diberhentikan oleh Ketua KASN berdasarkan persetujuan rapat anggota KASN. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian serta tugas dan tanggung jawab asisten KASN diatur dengan Peraturan KASN Pasal 34 (1) KASN dibantu oleh sebuah sekretariat yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekretariat. (2) Kepala Sekretariat dapat berasal dari PNS atau Non PNS. (3) Kepala Sekretariat diangkat dan diberhentikan oleh Ketua KASN. (4) KASN dibiayai oleh APBN.

181.

182.

186.

187. 188.

Paragraf 8 Keanggotaan Pasal 35 (1) Anggota KASN terdiri dari unsur sebagai

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kedudukan, susunan organisasi, fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab Sekretariat, tata kerja, sistem dan manajemen SDM, serta tanggung jawab dan pengelolaan keuangan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Paragraf 8 Keanggotaan Pasal 35 Anggota KASN terdiri dari unsur sebagai berikut : 27

NO

RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR berikut :

USUL PEMERINTAH

CATATAN RAPAT

189. 190. 191. 192. 193. 194.

a. wakil pemerintah sebanyak 1 (satu) orang; a. akademisi sebanyak 2 (dua) orang; b. tokoh masyarakat sebanyak 1 (satu) orang; c. wakil organisasi ASN sebanyak 1 (satu) orang; dan d. wakil daerah sebanyak 2 (dua) orang. (2) Anggota KASN harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Warga negara Indonesia; b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; c. berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan setinggi-tingginya berusia 60 (enam puluh) tahun; d. tidak menjadi anggota partai politik dan/atau tidak sedang menduduki jabatan politik; e. sehat jasmani dan rohani; f. memiliki kemampuan, pengalaman, dan/atau pengetahuan di bidang manajemen ASN; g. berpendidikan paling rendah pascasarjana (strata dua) di bidang administrasi negara, manajemen publik, ilmu hukum, dan/atau ilmu pemerintahan; dan h. tidak pemah dipidana penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

a. wakil pemerintah sebanyak 4 (empat) orang; dan b. akademisi atau praktisi sebanyak 3 (tiga) orang; dihapus dihapus dihapus (2) Anggota KASN harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Warga negara Indonesia; b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; c. berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun pada saat mendaftarkan diri sebagai calon anggota KASN; d. tidak menjadi anggota partai politik dan/atau tidak sedang menduduki jabatan politik; e. mampu secara jasmani dan rohani untuk melaksanakan tugas; f. memiliki kemampuan, pengalaman, dan/atau pengetahuan di bidang manajemen sumber daya manusia; g. berpendidikan paling rendah pascasarjana (strata dua) di bidang administrasi negara, manajemen publik, kebijakan publik, ilmu hukum, ilmu pemerintahan dan/atau strata dua bidang lain yang memiliki pegalaman di bidang manajemen sumber daya manusia; dan h. tidak pemah dipidana penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana 28

meninggal dunia.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun. Paragraf 9 Seleksi Anggota KASN Pasal 36 Paragraf 9 Seleksi Anggota KASN Pasal 36 197. dan dan Anggota KASN dari anggota KASN terpilih Anggota KASN dari anggota KASN terpilih yang yang diusulkan oleh tim seleksi sebagaimana diusulkan oleh tim seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4). (3) dan (4) diatur dengan Peraturan Menteri. untuk 1 (satu) kali masa jabatan. Wakil Ketua. (1) Presiden menetapkan Ketua. 204. Wakil Ketua. dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4). apabila: oleh Presiden pada masa jabatannya. Wakil Ketua. 203. 202. a. apabila: a. meninggal dunia. dibentuk oleh Menteri. dan anggota KASN ditetapkan dan diangkat oleh Presiden untuk ditetapkan dan diangkat oleh Presiden selaku masa jabatan selama 5 (lima) tahun dan Kepala Negara untuk masa jabatan selama 5 hanya dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali (lima) tahun dan hanya dapat diperpanjang masa jabatan. (2) Tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Menteri. 196. (1) dipimpin oleh Menteri (3) Anggota tim seleksi harus memiliki (3) Anggota tim seleksi harus memiliki pengalaman pengalaman dan pengetahuan di bidang ASN dan pengetahuan di bidang ASN (4) Tim seleksi menyampaikan 7 (tujuh) orang (4) Tim seleksi menyampaikan 3 (tiga) kali jumlah anggota KASN kepada Presiden. (1) Ketua. alt diambil dari UU BPJS: Diberhentikan sementara : 29 . (2) Anggota KASN berhenti atau diberhentikan (3) Anggota KASN berhenti atau diberhentikan oleh Presiden pada masa jabatannya. Paragraf 10 Pengangkatan dan Pemberhentian Pasal 37 Paragraf 10 Pengangkatan dan Pemberhentian Pasal 37 201. CATATAN RAPAT 195. 199. (1) Anggota KASN diseleksi dan diusulkan oleh (1) Anggota KASN diseleksi dan diusulkan oleh tim tim seleksi yang beranggotakan 5 (lima) orang seleksi yang beranggotakan 5 (lima) orang yang yang dibentuk oleh Menteri. dan anggota KASN (2) Ketua. Wakil Ketua. 200. anggota dari masing-masng unsur untuk dipilih dan ditetapkan oleh Presiden (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi dan tata cara pembentukan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 198. (1) Presiden menetapkan Ketua.

menjadi anggota partai politik dan/atau menduduki jabatan negara.tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai anggota KASN . (2) . - CATATAN RAPAT karena sakit terus menerus 3 bulan sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya ditetapkan menjadi tersangka dalam hal diberhentikan sementara.mengundurkan diri secara tertulis atas permintaan sendiri 205. c.melakukan perbuatan tercela . Tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh menteri.meninggal dunia . tidak sehat jasmani atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai anggota KASN. mengundurkan diri.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR b. c. d. dihukum penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 e. tidak mampu jasmani atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai anggota KASN d. Pasal 38 (1) Anggota KASN yang berhenti pada masa jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) digantikan oleh calon anggota yang diusulkan oleh tim seleksi. Diberhentikan tetap : . Menteri membentuk tim seleksi untuk menseleksi 30 206. USUL PEMERINTAH b. (lima) tahun. atau e.menjadi terdakwa karena melakukan tindak pidana kejahatan . dihukum penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan menjadi anggota partai politik dan/atau menduduki jabatan negara. Presiden menunjuk pejabat sementara anggota KASN dikembalikan ke dalam jabatannya apabila dinyatakan sehat kembali untuk menyelesaikan tugas atau bila status sebagai tersangka dicabut. (2) Dalam hal Presiden tidak menyetujui atau yang bersangkutan tidak bersedia.tidak menjalankan tugasnya sebagai anggota KASN secara terus-menerus lebih dari 3 bulan karena alasan selain karena sebagaimana dimaksud pada hutuf a .tidak mampu jasmani dan rohani selama 6 bulan sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya . mengundurkan diri. (1) Pasal 38 Anggota KASN yang berhenti pada masa jabatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) digantikan oleh calon anggota yang diusulkan oleh tim seleksi.

211. (4) Tim seleksi mengusulkan calon anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan unsur keanggotaan KASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) kepada Presiden Presiden mengesahkan anggota pengganti yang diusulkan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). fungsional dan penjenjangan tertentu serta pemberian akreditasi dan sertifikasi di bidangnya dengan melibatkan kementerian dan lembaga terkait. pengkajian kinerja kelembagaan dan sumber daya aparatur dalam rangka pembangunan administrasi negara dan peningkatan kualitas sumber daya aparatur. f. 212. LAN bertugas: a. pengkajian dan pengembangan manajemen kebijakan dan pelayanan di bidang pembangunan administrasi negara. d. pembinaan dan penyelenggaraaan pendidikan dan pelatihan aparatur negara. memberikan sertifikasi kelulusan peserta pendidikan dan pelatihan penjenjangan. Bagian Ketiga Lembaga Administrasi Negara Paragraf 1 Tugas dan Fungsi Pasal 39 LAN bertugas: a. Masa tugas anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meneruskan sisa masa kerja anggota yang berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. b. (3) 208. e. . d. e. (5) Masa tugas anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meneruskan sisa masa kerja anggota yang berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. melakukan pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN berbasis kompetensi. penelitian dan pengembangan administrasi pembangunan dan otomasi administrasi negara.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH calon pengganti. merencanakan dan mengawasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan ASN secara nasional. CATATAN RAPAT 207. b. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional tertentu di bidang administrasi negara. pelatihan teknis. Bagian Ketiga LAN Paragraf 1 Tugas dan Fungsi Pasal 39 (3) Tim seleksi mengusulkan calon anggota pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan unsur keanggotaan KASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) kepada Presiden (4) Presiden mengesahkan anggota pengganti yang diusulkan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian manajemen ASN sesuai kebutuhan kebijakan. koordinasi kegiatan dungsional dalam pelaksanaan tugas LAN. dan f. melakukan pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan analisis kebijakan 31 209. (5) 210. penyusunan standar dan pedoman penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan.

h. Paragraf 2 Kedudukan Pasal 41 LAN berkedudukan di ibukota negara. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang administrasi negara. penetapan sistem informasi di bidangnya.NO g. 215. melakukan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kompetensi manajerial pegawai ASN baik secara sendiri maupun bersama-sama lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 213. melakukan akreditasi lembaga pendidikan dan pelatihan pegawai ASN baik sendiri maupun bersama lembaga pemerintah lainnya. persandian. Paragraf 3 Kewenangan Paragraf 3 Kewenangan 32 . kearsipan. melakukan pembinaan pendidikan dan pelatihan kompetensi manajerial pegawai ASN. ketetausahaan. perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro. keuangan. kepegawaian. mengembangkan standar kualitas pendidikan dan pelatihan pegawai ASN b. dan c. d. c. organisasi dan tata laksana. 214. LAN memiliki fungsi: a. hukum. 217. perlengkapan dan rumah tangga. Pasal 40 publik. b. dan e. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai fungsi dan tugas LAN lainnya diatur dengan Peraturan Presiden. penyusunan rencana program nasional di bidangnya. melakukan kajian terkait dengan kebijakan dan manajemen ASN. 216. dan penyelenggaraaan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum. Pasal 40 LAN berfungsi: (1) berkaitan dengan kewenangan pembinaan manajemen ASN. dihapus dihapus LAN berfungsi: a.

dan b. melakukan kegiatan pengkajian. menyelenggarakan lembaga pendidikan Aparatur Sipil Negara. standar dan prosedur teknis pelaksanaan kebijakan manajemen ASN. 219. Bagian Keempat Badan Kepegawaian Negara Paragraf 1 Tugas dan Fungsi PasaI 43 BKN memiliki tugas : a. guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. dan e. melakukan pembinaan dan penyelenggaraan penilaian kompetensi dan penilaian kinerja Pegawai ASN. Pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan pengembangan kapasitas ASN. 220. Penelitian. d. d. menyimpan informasi yang telah dimutakhirkan oleh Instansi dan Perwakilan serta bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan SIstem Informasi Aparatur Sipil Negara. 33 221. mengelola dan mengembangkan Sistem Informasi Pegawai ASN berbasis kompetensi didukung oleh sistem informasi kearsipan yang komprehensif. penyusunan standard dan pedoman penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan. c. dan pembinaan pendidikan dan pelatihan untuk b. penyusunan norma. Bagian Keempat BKN Paragraf 1 Tugas dan Fungsi PasaI 43 BKN bertugas: a. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 42 USUL PEMERINTAH Pasal 42 CATATAN RAPAT LAN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 LAN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 berwenang: berwenang melakukan: a. membantu Presiden dalam penyelenggaraaan manajemen kepegawaian negara dalam rangka terciptanya sumber daya manusia Aparatur Negara yang profesional serta berkualitas dan bermoral tinggi. perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang administrasi negara.NO 218. dan pelatihan ASN. e. a. . b. melakukan pembinaan jabatan fungsional di bidang kepegawaian. c. pelatihan fungsional dan penjenjangan tertentu serta pemberian akreditasi dan sertifikasi di bidangnya. melakukan seleksi kompetensi dasar calon Pegawai ASN. pengkajian kebijakan manajemen b. merencanakan dan menyelenggarakan ASN.

pembangunan dan pengembangan sistem informasi kepegawaian negara. b. c. dihapus 230. pengelolaan dan pengolahan data dan penyajian informasi yang mendukung pengembangan sumber daya manusia Aparatur Negara. d. pengadaan. Pasal 44 BKN berfungsi: a. dan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan norma. perencanaan pengembangan kepegawaian negara. penyediaan calon pejabat struktural dan fungsional tertentu bagi semua instansi pemerintah termasuk untuk Daerah Otonom pengawasan dan pengendalian pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sumber daya manusia Aparatur Negara. penyusunan kebijakan penggajian penghargaan bagi Pegawai Negeri Sipil. penyimpanan informasi pegawai ASN yang telah dimutakhirkan oleh Instansi serta bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. dihapus 34 . pembinaan penyelenggaraan manajemen ASN. dihapus dihapus dihapus 223. 226. standar dan prosedur manajemen kepegawaian ASN. perpindahan antar instansi. b. penyelenggaraan manajemen ASN dalam bidang pertimbangan teknis formasi. penyusunan norma dan standar baik teknis maupun profesional bagi jabatan negeri. pensiun. penyusunan kebijakan teknis pengembangan kepegawaian negara. dan c. g. USUL PEMERINTAH menyelenggarakan administrasi kepegawaian ASN. penyelenggaraan administrasi sumber daya manusia Aparatur Pemerintah yang meliputi 228. f. 227. e. dihapus 229.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR f. persetujuan kenaikan pangkat. penyiapan penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian. 224. dan 225. a. h. BKN memiliki fungsi: a.. g. Pasal 43 CATATAN RAPAT 222.

NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pemberian pertimbangan. b. pelaksanaan dan koordinasi sistem pengawasan kepegawaian yang efektif dan efisien berdasarkan prinsip akuntabilitas. 238. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 231. Paragraf 2 Kedudukan Pasal 45 dihapus 232. persetujuan dan/atau penetapan mutasi kepegawaian dan pensiun. a. j. 234. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan Norma Standar Prosedur dan Kriteria manajemen ASN BKN berkedudukan di ibukota negara. c. dihapus dihapus Paragraf 2 Kedudukan dihapus Paragraf 3 Kewenangan Pasal 46 BKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 berwenang: a. perumusan. 240. menyelenggarakan pembinaan manajemen kepegawaian ASN. i. pemberian bimbingan teknis pelakasanaan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian kepada instansi pemerintah. koordinasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang kepegawaian dengan instansi pemerintah. 235. menyelenggarakan manajemen ASN b. dan penyelenggaraan administrasi kepegawaian pejabat negara dan mantan pejabat negara. menyusun materi seleksi umum Pegawai ASN. k. menyelenggarakan Pusat Penilaian Kinerja Pegawai ASN. dihapus 233. Paragraf 3 Kewenangan Pasal 46 BKN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 berwenang: 239. dan calon 241. h. 237. dihapus 35 . 236.

Bagian Kedua Manajemen PNS Pasal 48 (1) Manajemen PNS meliputi: a. d. 246. tunjangan.NO 242. c. g. penggajian. jabatan. 243. k. 248. i. pengadaan. pola karier. kesejahteraan. dan l. (2) Manajemen PNS di daerah dilaksanakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan (2) . dan n. penetapan kebutuhan dan pengendalian jumlah. penempatan. pemberhentian. pola karier. dan penataan administrasi Pegawai ASN. e. pemberian informasi data Pegawai ASN. penilaian kinerja. pemberhentian. disiplin dan sanksi. 247. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pembinaan pendidikan kepegawaian. perlindungan. BAB IX MANAJEMEN APARATUR SIPIL NEGARA Bagian Kesatu Umum Pasal 47 244. h. perlindungan Manajemen PNS pada pemerintah daerah dilaksanakan oleh pemerintah daerah sesuai 36 Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. penghargaan. 249. j. e. penggajian. d. penetapan kebutuhan dan pengendalian jumlah. tunjangan. pengadaan. f. Bagian Kedua Manajemen PNS Pasal 48 (1) Manajemen PNS meliputi: a. i. e. pensiun. b. d. b. dan fungsional analis dihapus dihapus USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT memelihara dan mengembangkan Sistem Informasi Pegawai ASN melalui pengumpulan data dan pencatatan informasi Pegawai ASN. c. l. kesejahteraan. sanksi. BAB IX MANAJEMEN APARATUR SIPIL NEGARA Bagian Kesatu Umum Pasal 47 Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK. g. 245. k. penghargaan. pengembangan dan pendidikan. m. j. h. f. pensiun.

jenis. jenis jabatan PNS. secara efektif dan efisien untuk mendukung beban kerja Instansi dan Perwakilan. menteri menetapkan setelah melakukan evaluasi dan verifikasi 252. ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah dihapus 37 255.penetapan kebutuhan pada pasal 49 dilakukan dalam rangka mengisi pegawai baru sedangkan penyesuaian jabatan yang lowong (mutasi dan promosi) dilakukan sesuai kebutuhan tanpa menunggu penetapan. (1) Pasal 50 Pejabat yang Berwenang pada Instansi mengusulkan kebutuhan PNS di Instansi masing-masing kepada Menteri serta mengirim tembusan kepada KASN. dan status PNS yang dan jenis jabatan PNS berdasarkan analisis diperlukan untuk melaksanakan tugas utama jabatan dan analisis beban kerja. USUL PEMERINTAH dengan ketentuan peraturan perundangundangan (3) Manajemen PNS pada pemerintah pusat dilaksanakan oleh pemerintah pusat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Bagian Kedua Penetapan Kebutuhan dan Pengendalian Jumlah Pasal 49 CATATAN RAPAT 217a. Kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebutuhan pegawai administrasi. (3) Pengusulan kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan analisis keperluan pegawai. Catatan: . dan ruang lingkup tugas setiap instansi secara nasional setelah memperhatikan pendapat menteri keuangan dan pertimbangan teknis dari kepala BKN. 253. . Bagian Kedua Penetapan Kebutuhan dan Pengendalian Jumlah Pasal 49 251.perlu diatur dalam penjelasan pasal bahwa setelah menerima usulan kebutuhan jumlah dan jenis PNS dari instansi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri menetapkan kebutuhan PNS secara nasional setelah mendapat pertimbangan (2) Penyusunan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang diperinci per 1 (satu) tahun berdasarkan prioritas kebutuhan dan sesuai dengan siklus anggaran. Penetapan kebutuhan PNS merupakan analisis (1) Setiap instansi menyusun kebutuhan jumlah keperluan jumlah. pegawai fungsional. maupun untuk mengisi jabatan Eksekutif Senior. (3) Berdasarkan penyusunan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri menetapkan kebutuhan jumlah.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR peraturan perundang-undangan. (2) 254. (4) . 250.

seleksi. pengumuman lowongan. Pengadaan calon PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. Paragraf 2 Pengadaan Pasal 51 Pengadaan calon PNS merupakan kegiatan untuk mengisi jabatan yang lowong sesuai kebutuhan pegawai. Pengadaan calon PNS di Instansi dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (3). Pasal 53 Setiap Instansi merencanakan pengadaan calon PNS Pasal 53 38 . Paragraf 2 Pengadaan Pasal 51 (1) (1) Pengadaan calon PNS merupakan kegiatan untuk mengisi jabatan yang lowong Pengadaan calon PNS di Instansi dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (4). pengumuman hasil seleksi. masa percobaan. pengumuman hasil seleksi. masa percobaan. (3) (3) 263. (2) 262. dan pengangkatan menjadi PNS. (3) dihapus 257. Pasal 52 pelaksanaan (2) USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 256.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dari KASN dan Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang keuangan. pengumuman lowongan. pelamaran. pelamaran. seleksi. 260. Pasal 52 pelaksanaan 261. (5) dihapus 258. Pengadaan calon PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. Penetapan kebutuhan PNS oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan sebagai wujud tanggung jawab pengendalian jumlah PNS dan menjaga proporsionalitas PNS antar Instansi. Menteri mengumumkan penetapan kebutuhan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (5) Ketentuan mengenai Pedoman penyusunan analisis keperluan pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan KASN. (6) dihapus 259. dan pengangkatan menjadi PNS. Setiap Instansi merencanakan pengadaan calon PNS 264.

seleksi umum. dan seleksi khusus. Pasal 54 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon PNS setelah memenuhi persyaratan. (3) dihapus 271. yaitu seleksi administrasi. USUL PEMERINTAH Setiap Instansi mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat adanya lowongan jabatan calon PNS. Seleksi calon PNS terdiri dari 3 (tiga) tahap. Pasal 55 (1) 266. obyektif kompetensi. dan persyaratan yang persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan. Seleksi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi atau (2) Seleksi calon PNS terdiri dari 3 (tiga) tahap. (2) 270. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri dengan pertimbangan KASN. dihapus 268. Seleksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi atau Perwakilan masing-masing untuk memeriksa kelengkapan persyaratan. yaitu seleksi administrasi. dan kualifikasi. dihapus CATATAN RAPAT 265. Pasal 55 Seleksi penerimaan calon PNS dilaksanakan (1) Seleksi penerimaan calon PNS dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan untuk oleh Instansi dengan melalui evaluasi secara mengevaluasi secara obyektif kompetensi. Instansi atau Perwakilan yang menerima pendaftaran calon PNS memberikan nomor peserta penyaringan bagi pelamar yang sudah lulu persyaratan administrasi. oleh pelamar. dan yang dimiliki yang dimiliki oleh pelamar. (4) dihapus 39 . (1) Pasal 54 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon PNS setelah memenuhi persyaratan. (2) 267. (1) 269.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Setiap Instansi mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat adanya lowongan jabatan calon PNS. kualifikasi. dan dibutuhkan oleh jabatan. dan seleksi khusus. seleksi umum.

dan informatif oleh Instansi masing-masing. tahun. (1) Pasal 58 (2) (3) Masa percobaan sebagaimana dimaksud (1) Masa percobaan sebagaimana dimaksud dalam dalam Pasal 57 bagi calon pegawai Pasal 57 bagi calon pegawai administrasi dan administrasi dan calon pegawai fungsional calon pegawai fungsional yang lulus seleksi yang lulus seleksi dilaksanakan melalui dilaksanakan melalui pendidikan dan pendidikan dan pelatihan selama 1 (satu) pelatihan selama 1 (satu) tahun. Pasal 56 dihapus 273. Pasal 56 Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi penerimaan calon PNS diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk pelatihan kerja di Instansi yang bersangkutan dan di instansi pembina jabatan fungsional bagi calon pegawai Jabatan Fungsional. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh pelamar. 40 . USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 272. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai masa Pendidikan sebagaimana dimaksud pada percobaan sebagaimana dimaksud pada Pasal ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk 57 dan 58 diatur dengan Peraturan pendidikan di dalam kelas oleh LAN atau Pemerintah. Instansi yang telah mendapat sertifikasi dari LAN.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR perwakilan masing-masing dengan materi yang disusun oleh BKN. luas. 274. (5) Seleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Instansi atau Perwakilan dilakukan dengan membandingkan secara obyektif kualifikasi dan kompetensi yang dipersyarakan oleh jabatan dengan kompetensi. kualifikasi. Pasal 57 Calon PNS yang lulus seleksi wajib menjalani masa percobaan Pasal 58 Pengumuman tahapan seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dilaksanakan secara terbuka. Pasal 57 Calon PNS yang lulus seleksi wajib menjalani masa percobaan 275.

akan selalu membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat Calon PNS yang telah memenuhi ketentuan menjadi PNS oleh Pejabat yang Berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada (2) Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut: ayat (1) berbunyi sebagai berikut: "Demi Allah. dan tanggung jawab. a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. saya bersumpah: Bahwa saya. diangkat menjadi PNS oleh Pejabat yang (3) Calon PNS yang tidak memenuhi ketentuan Berwenang sesuai dengan peraturan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) perundang-undangan. diusulkan oleh Pejabat yang (2) Calon PNS yang telah memenuhi ketentuan Berwenang. kesadaran. telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani. Bahwa saya. akan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. diusulkan oleh Pejabat yang Berwenang. dan tanggung jawab. akan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. (1) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 59 USUL PEMERINTAH Pasal 59 CATATAN RAPAT (2) (3) Calon PNS menjadi PNS dalam suatu (1) Calon PNS menjadi PNS dalam suatu jabatan jabatan didasarkan pada ketentuan sebagai didasarkan pada ketentuan sebagai berikut: berikut: d. akan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. akan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. Bahwa saya.NO 276. c. dan jasmani dan rohani. dan f. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara dan martabat Bahwa saya. telah memenuhi syarat kesehatan b. Instansi atau Perwakilan. saya bersumpah: "Demi Allah. Pasal 60 Pasal 60 277. dan ketentuan peraturan perundang-undangan. akan selalu membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara dan martabat 41 . telah lulus pendidikan dan pelatihan. (1) (2) Setiap calon pegawai PNS pada saat (1) Setiap calon pegawai PNS pada saat pengangkatannya wajib mengucapkan pengangkatannya wajib mengucapkan sumpah/janji dengan disaksikan oleh sumpah/janji dengan disaksikan oleh Pimpinan Pimpinan Instansi atau Perwakilan. kesadaran. Bahwa saya. dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Calon PNS yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberhentikan sebagai Calon PNS. Bahwa saya. e. telah lulus pendidikan dan pelatihan. Bahwa saya. Bahwa saya. diberhentikan sebagai Calon PNS.

” Pasal 61 CATATAN RAPAT 278. seseorang. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. dengan Pengangkatan calon PNS ditetapkan keputusan Pejabat yang Berwenang.. lembaga pemerintah non kementerian. Bahwa saya. akan bekerja dengan jujur. tidak akan menerima pemberian berupa hadiah dan/atau janjijanji baik langsung maupun tidak langsung yang ada kaitannya dengan pekerjaan saya. Pasal 62 Sudah diatur dalam Pasal 56 atau DIM No. Bahwa saya. dan dihapus 281. tertib. Bahwa saya. dengan 279. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat daripada kepentingan pribadi. staf ahli. khusus pada jabatan struktural tertinggi lembaga pemerintah non kementerian. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengadaan calon PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) diatur dengan Peraturan menteri setelah mendapat pertimbangan KASN. cermat dan bersemangat untuk kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. tidak akan menerima pemberian berupa hadiah dan/atau janjijanji baik langsung maupun tidak langsung yang ada kaitannya dengan pekerjaan saya. (1) Pasal 63 Pengisian Jabatan Eksekutif Senior pada jabatan struktural tertinggi kementerian. seseorang. Bahwa saya. cermat dan bersemangat untuk kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.. staf ahli. .NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Aparatur Sipil Negara. atau golongan. Pengisian Jabatan Eksekutif Senior. Bahwa saya. atau golongan. dan analis kebijakan dilakukan melalui promosi dari PNS yang berasal dari seluruh Instansi dan Perwakilan.” USUL PEMERINTAH Aparatur Sipil Negara. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat daripada kepentingan pribadi. kesekretariatan lembaga negara. 280. (2) dihapus 42 . Bahwa saya. tertib. akan bekerja dengan jujur. Pasal 61 Pengangkatan calon PNS ditetapkan keputusan Pejabat yang Berwenang.

Paragraf 3 Pangkat dan Jabatan Pasal 64 dihapus 283. KASN melakukan seleksi unuk memilih 1 (satu) orang calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ditetapkan dengan keputusan Presiden. (4) dihapus 284. dan persyaratan lain yang dibutuhkan berhak mengajukan lamaran kepada KASN. Calon Pejabat Eksekutif Senior yang memenuhi kompetensi. Sebelum menduduki jabatannya. calon Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (7) mengucapkan sumpah/janji di hadapan pimpinan Instansi atau Perwakilan. 290. dan persyaratan lain yang dibutuhkan.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR analis kebijakan dapat berasal dari Non PNS yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 282. kualifikasi. (3) Pengadaan Pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh KASN. Pejabat yang Berwenang atau pimpinan Instansi dan Perwakilan mengajukan permintaan pengisian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan mengajukan kompetensi dan kualifikasi serta jabatan yang lowong kepada KASN. 289. (6) dihapus 286. Paragraf 3 Pangkat dan Jabatan Pasal 64 Penjelasan pasal: 43 . (5) dihapus 285. (7) dihapus 287. (8) dihapus 288. KASN mengumumkan lowongan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ke seluruh Instansi dan Perwakilan disertai dengan kompetensi. kualifikasi.

Paragraf 4 Pola Karier Pasal 65 (1) Untuk menjamin keselarasan potensi PNS dengan kebutuhan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan perlu disusun pola karier PNS yang terintegrasi secara nasional. dan pola kerja. (3) Setiap jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam Klasifikasi Jabatan PNS yang menunjukkan kesamaan karakteristik. (2) 294. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola karir 44 293. kualifikasi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Klasifikasi Jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Ketentuan lebih lanjut mengenai pola karier USUL PEMERINTAH (1) PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada Instansi. dan persyaratan yang dimiliki oleh pegawai. Ketentuan lebih lanjut mengenai pangkat sebagaimana dimaksud pda ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Setiap Instansi dapat menyusun pola karier Aparaturnva secara khusus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pola karier nasional. Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan Klasifikasi Jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) . dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi. Paragraf 4 Pola Karier Pasal 65 (1) Untuk menjamin keselarasan potensi PNS dengan kebutuhan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan perlu disusun pola karier PNS yang terintegrasi secara nasional. mekanisme. 292. Pengangkatan dan penetapan PNS dalam jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayati (1) ditentukan berdasarkan perbandingan obyektif antara kompetensi. mekanisme. kualifikasi. dan pola kerja. Setiap jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam Klasifikasi Jabatan PNS yang menunjukkan kesamaan karakteristik. CATATAN RAPAT yang dimaksud dengan jabatan tertentu adalah jabatan administrasi atau jabatan fungsional (3) (4) (5) 291. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi. (2) Setiap Instansi dapat menyusun pola karier Aparaturnya secara khusus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pola karier nasional. dan persyaratan yang dimiliki oleh pegawai.NO (1) (2) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada Instansi atau Perwakilan. (2) Pengangkatan dan penetapan PNS dalam jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan perbandingan obyektif antara kompetensi. kualifikasi. kualifikasi.

NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Aparatur PNS secara nasional diatur dengan Peraturan Menteri setelah mendapat pertimbangan KASN. (1) 302. administrasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai kenaikan (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kenaikan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) diatur dengan Peraturan Menteri setelah diatur dengan atau berdasarkan Peraturan mendapat pertimbangan KASN. 45 299. kompetensi. . dan fungsional berdasarkan kualifikasi. dan penilaian kinerja. Pasal 67 dinaikkan jabatannya secara diatur dengan CATATAN RAPAT 295. dan penilaian kinerja. Pengembangan karier PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan integritas-dan moralitas. Pemerintah Paragraf 5 Pengembangan Karir Pasal 68 Paragraf 5 Pengembangan Karir Pasal 68 (1) (2) Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi. Pasal 66 (1) Setiap PNS direkrut untuk menduduki jabatan administrasi. kompetensi. 298. penilaian kinerja. Pengembangan karier PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan integritas-dan moralitas. dan penilaian kinerja. (2) (1) 297. dan penilaian kinerja. PNS dapat berpindah jalur antar jabatan eksekutif senior. kompetensi. kompetensi. dan Aparatur Fungsional yang lowong. kompetensi. 296. PNS dapat berpindah jalur antar jabatan eksekutif senior. dan Aparatur Fungsional yang lowong. USUL PEMERINTAH PNS secara nasional Peraturan Pemerintah. (2) Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi. (1) Pasal 66 Setiap PNS direkrut untuk menduduki jabatan administrasi. (2) Kenaikan jabatan secara kompetitif (2) Kenaikan jabatan secara kompetitif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kualifikasi. administrasi. dan dan penilaian kinerja. didasarkan pada kualifikasi. dan fungsional berdasarkan kualifikasi. 301. Pasal 67 (1) Setiap PNS dinaikkan jabatannya secara (1) Setiap PNS kompetitif. kompetitif. kompetensi. (3) 300.

dan c. pelatihan teknis fungsional. Paragraf 5A Pengembangan Kompetensi Pasal 68A (1) Setiap pegawai ASN berhak diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. dan sosial kemasyarakatan. (3) USUL PEMERINTAH Kompetensi sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi: a. CATATAN RAPAT 304. kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. dan penataran. dan sosial kemasyarakatan. dan c. pelatihan teknis fungsional. dan pengalaman kepemimpinan. . seminar. 273b. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan. pelatihan struktural/manajemen. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama. kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. budaya. (2) Pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain melalui pendidikan dan pelatihan. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan. 273c. b. (5) (5) 273a. dan pengalaman bekerja secara teknis. kemampuan bekerja sama dan pengabdian kepada masyarakat. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan. budaya. dan pengalaman bekerja secara teknis. dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari kejujuran. bangsa dan negara Moralitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari penerapan dan pengamalan nilai-nilai etika agama. pelatihan struktural/manajemen. (4) (4) 305. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama. bangsa dan negara Moralitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari penerapan dan pengamalan nilai-nilai etika agama.NO 303. dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dari kejujuran. kemampuan bekerja sama dan pengabdian kepada masyarakat. suku. b. kursus. workshop. suku. (3) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Kompetensi sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi: a. (3) Pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dievaluasi oleh pejabat yang berwenang dan dipergunakan sebagai 46 273d. dan pengalaman kepemimpinan. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan.

Paragraf 6 Promosi Pasal 69 (1) Promosi PNS dilaksanakan berdasarkan hasil penilaian kompetensi. penilaian atas prestasi kerja. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan. (2) 310. dan moralitas oleh Tim Penilai Kinerja PNS (2) Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh pimpinan Instansi masing-masing (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. 306. (1) 309. 308. 273f. 307. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan. Pasal 70 (6) Promosi dilakukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi. 47 . dan moralitas oleh Tim Penilai Kinerja PNS. penilaian atas prestasi kerja. integritas. kualifikasi. CATATAN RAPAT 273e. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan KASN. (4) Dalam rangka pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setiap instansi wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan yang tertuang dalam Rencana Kerja Anggaran Tahunan masing-masing instansi.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH salah satu dasar dalam pengangkatan jabatan dan pengembangan karir selanjutnya. Tim Penilai Kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh pimpinan Instansi masing-masing. kualifikasi. integritas. Paragraf 6 Promosi Pasal 69 (1) Promosi PNS dilaksanakan berdasarkan hasil penilaian kompetensi. kepemimpinan. (1) Pasal 70 Promosi dilakukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. kepemimpinan. kerjasama.

antar Instansi Daerah. ras. dan golongan. Promosi pegawai Jabatan Administrasi dan Pegawai Jabatan Fungsional dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang setelah mendapat pertimbangan Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masing-masing. agama. (3) Pembiayaan sebagai dampak dilakukannya mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk instansi pusat dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk instansi daerah. Penjelasan Pasal Yang dimaksud dengan memiliki hubungan tali perkawinan adalah suami-istri. (8) Promosi pegawai Jabatan Administrasi dan Pegawai Jabatan Fungsional dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang setelah mendapat pertimbangan Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masing-masing Pasal 71 (1) Setiap PNS dapat dipindahkan tugas dan/atau lokasi dalam satu Instansi Pusat. 48 . dan pertimbangan dari Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masingmasing. Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang dalam wilayah kewenanganya. ras. 316. USUL PEMERINTAH kerjasama. 314. CATATAN RAPAT 311. (7) Setiap PNS yang memenuhi syarat mempunyai hak yang sama untuk dipromosikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. antarInstansi Pusat. Pasal 71A Pegawai ASN yang memiliki hubungan tali perkawinan dan hubungan darah secara langsung dalam satu unit dimutasi pada unit yang berbeda berdasarkan keputusan Pejabat yang Berwenang. dan ipar. (3) Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan pembiayaan akibat mutasi antara lain adalah Rumah Dinas Jabatan. tanpa membedakan jender. antar Instansi Pusat. (3) 313. antar Instansi Daerah. kreativitas. Pembiayaan sebagai dampak dilakukannya mutasi dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. satu Instansi Daerah. dan pertimbangan dari Tim Penilai Kinerja PNS pada Instansi masingmasing. tanpa membedakan jender.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR kreativitas. agama. mertua-besan. kakak-adik kadung. dan golongan.antarInstansi Pusat dan Instansi Daerah dalam wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. (2) Setiap PNS yang memenuhi syarat mempunyai hak yang sama untuk dipromosikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. satu Instansi Daerah. Pasal 71 312. (1) Mutasi merupakan perpindahan tugas atau perpindahan lokasi dalam satu Instansi Pusat. (2) 315. paman-bibi. antar Instansi Pusat dan Instansi Daerah di dalam dan di luar wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. suku. (2) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat yang Berwenang dalam wilayah kewenangannya. Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan darah secara langsung adalah ayahibu-anak. suku.

Hasil penilaian kinerja PNS disampaikan kepada Tim Penilai Kinerja PNS. pemberian tunjangan dan sanksi. Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif. akuntabel. dan promosi. pemberian tunjangan dan sanksi. Penilaian kinerja PNS dapat juga dilakukan oleh bawahan kepada atasannya. Penilaian kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didelegasikan secara berjenjang kepada atasan langsung dari PNS. Pasal 72 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan mutasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 diatur dengan Peraturan Menteri Paragraf 7 Penilaian Kinerja Pasal 73 (1) (2) Penilaian kinerja PNS berada dibawah kewenangan Pejabat yang Berwenang pada Instansi masing-masing. hasil dan manfaat yang dicapai. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat unit/organisasi. Pasal 72 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan mutasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 diatur dengan Peraturan Menteri. Yang dimaksud dengan unit yang berbeda adalah setingkat Jabatan Pimpinan Tinggi Utama pada Instansi Pemerintah. sasaran. dan promosi. partisipasi. Penilaian kinerja PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didelegasikan secara berjenjang kepada atasan langsung dari PNS. Penilaian kinerja PNS dapat juga dilakukan oleh bawahan kepada atasannya. akuntabel. 319. Hasil penilaian kinerja PNS dimanfaatkan untuk menjamin objektivitas dalam pengembangan PNS. dan transparan. terukur. partisipasi. 49 318. dan transparan. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat unit/organisasi. mutasi. hasil dan manfaat yang dicapai. Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif. serta untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan. dan dijadikan sebagai persyaratan dalam pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat. (1) (2) Paragraf 7 Penilaian Kinerja Pasal 73 Penilaian kinerja PNS berada dibawah kewenangan Pejabat yang Berwenang pada Instansi masing-masing. terukur.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT kakek nenek dan cucu. Hasil penilaian kinerja PNS dimanfaatkan untuk menjamin objektivitas dalam pengembangan PNS. dan dijadikan sebagai persyaratan dalam pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat. 317. mutasi. dengan memperhatikan target. serta untuk mengikuti pendidikan dan (3) (4) (3) (4) (5) (6) (7) (5) (6) (7) . sasaran. Hasil penilaian kinerja PNS disampaikan kepada Tim Penilai Kinerja PNS. dengan memperhatikan target.

pemerintah pusat dapat memberikan tunjangan kemahalan kepada 50 321. Pasal 74 Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diatur dalam Peraturan KASN. Paragraf 8 Penggajian Pasal 75 (1) Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab PNS. (3) Gaji PNS yang bekerja pada pemerintah pusat dibebankan pada APBN. 328. 324. 322. PNS juga menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PNS juga menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (1) 323. (4) Gaji PNS yang bekerja pada pemerintah daerah dibebankan pada APBD. 326. (2) (1) Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. (2) Gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat memacu produktivitas. menjamin kesejahteraan PNS. dan berdasarkan pada kinerja.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pelatihan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Gaji PNS diatur dengan Peraturan Pemerintah. (1) Paragraf 9 Tunjangan Pasal 76 Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. (3) 325. Gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat memacu produktivitas dan menjamin kesejahteraan PNS. Pasal 74 Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tunjangan sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak boleh melebihi gaji. Paragraf 9 Tunjangan Pasal 76 Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 320. Pasal 77 pada 327. dihapus (1) Pasal 77 Selain gaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75. 291a. pemerintah daerah dapat . (2) Paragraf 8 Penggajian Pasal 75 Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawab PNS.

Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan daerah. kejujuran dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugasnya kedisiplinan. kejujuran dan pengabdian. (1) PNS yang telah menunjukkan kesetiaan. kecakapan. (4) (4) 331. (3) (3) 297a. Pemerintah memberikan jaminan sosial kepada PNS. Paragraf 11 Paragraf 11 Penghargaan Penghargaan Pasal 79 Pasal 79 (1) PNS yang telah menunjukkan kesetiaan. Paragraf 10 Kesejahteraan Pasal 78 CATATAN RAPAT 329. pemerintah daerah wajib mengukur tingkat kemahalan berdasarkan indeks harga yang berlaku di daerahnya masing-masing. penghargaan. (1) Selain gaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76. kecakapan. ayat (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan kemahalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 335. Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan PNS.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR memberikan tunjangan kepada PNS di daerah sesuai dengan tingkat kemahalan. (2) Dalam pemberian tunjangan kemahalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah memberikan jaminan sosial kepada PNS. 336. Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan PNS. dan ayat (3) diatur dengan atau berdasarkan dalam Peraturan Pemerintah. (1) Selain gaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dan Pasal 76. Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. pengabdian. pemerintah pusat wajib mengukur tingkat kemahalan berdasarkan indeks harga yang berlaku di masing-masing daerah. Paragraf 10 Kesejahteraan Pasal 78 330. 332. (2) Dalam pemberian tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). USUL PEMERINTAH PNS pusat yang bekerja pada instansi vertikal di daerah sesuai dengan tingkat kemahalan. (2) Tanda kehormatan sebagaimana dimaksud (2) penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat pada ayat (1) diberikan secara selektif hanya (1) diberikan secara selektif hanya kepada PNS 51 . (2) 334. 333. dan prestasi kerja dalam dianugerahkan tanda kehormatan melaksanakan tugasnya dapat diberikan Satyalencana.

Tanda Jasa. dan/atau e. pengangkatan atau kenaikan jabatan peraturan perundang-undangan. Pasal 82 Ketentuan lebih lanjut mengenai penghargaan terhadap PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Ketentuan lebih lanjut mengenai penghargaan terhadap PNS sebagaimana dimaksud dalam . kenaikan pangkat secara istimewa. Penghormatan dan penghargaan (2) Pengusulan dan Penetapan penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: dilaksanakan sesuai dengan ketentuan b. a. (2) dihapus 341. Pasal 82 PNS yang dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pemberhentian tidak dengan hormat dicabut haknya untuk memakai tanda kehormatan berdasarkan Undang-undang ini. b. d. Pasal 80 CATATAN RAPAT 337. 340. Pencabutan tanda kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden setelah mendengar pertimbangan Dewan Gelar. kesempatan prioritas untuk pengembangan diri. dan Tanda Kehormatan atas usul Pejabat yang Berwenang. tanda kehormatan. dan/atau hak protokol dalam acara resmi dan acara kenegaraan Pasal 81 Pasal 81 Hak memakai Satyalancana dicabut apabila PNS yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS atau tidak lagi memenuhi syarat-syarat yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. c. kesempatan menghadiri acara-acara resmi dan kenegaraan.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR kepada PNS yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketetentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 80 (1) USUL PEMERINTAH yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketetentuan peraturan perundang-undangan. pemberian sejumlah uang sekaligus atau berkala. 338. secara istimewa. (2) 339. (1) Setiap penerima tanda kehormatan berhak (1) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam atas penghormatan dan penghargaan dari Pasal 79 ayat (1) dapat berupa pemberian: negara. promosi jabatan secara istimewa berdasarkan kompetensi. c.

pelanggaran ringan. pelanggaran berat. 344. dan/atau c. Pasal 80. Paragraf 13 Pemberhentian Pasal 86 (1) PNS diberhentikan dengan hormat karena: a. 343. atau b. mencapai batas usia pensiun. mencapai batas usia pensiun. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai disiplin dan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. atas permintaan sendiri. dan/atau Pasal 81 diatur dengan Peraturan Pemerintah. perampingan organisasi. Pasal 84 Jenis pelanggaran yang dilakukan oleh PNS terdiri dari: a. tidak cakap jasmani dan/atau rohani Paragraf 13 Pemberhentian Pasal 86 (1) PNS diberhentikan dengan hormat karena: a. USUL PEMERINTAH 79. (2) Ketentuan Iebih lanjut mengenai mekanisme pemberian sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur dengan Peraturan Pemerintah.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 79. d. b. (2) Jenis sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. b. dan/atau Pasal 81 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. sanksi administratif ringan. 345. Paragraf 12 Sanksi Pasal 83 PNS yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi. meninggal dunia. atas permintaan sendiri. meninggal dunia. pelanggaran sedang. 346. sanksi administratif sedang. 347. disiplin dikenakan CATATAN RAPAT 342. sanksi administratif. 53 . b. dan/atau c. c. d. atau e. Pasal 80. Pasal 85 (1) Sanksi yang diberikan kepada PNS berupa: a. b. sanksi perdata. Paragraf 12 Sanksi Pasal 83 (1) PNS yang melanggar sanksi administratif. sanksi administratif berat. perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan pensiun dini. atau Penjelasan Pasal: tidak memiliki kompetensi dan tidak mencapai sasaran kerja selama 2 (dua) tahun akibat halhal diluar kemampuan ybs. c.

(2) PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena: a. b. merangkap jabatan lain baik dalam jabatan negara maupun jabatan politik. (4) PNS yang diberhentikan tidak dengan hormat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b tidak dapat diangkat kembali sebagai CATATAN RAPAT 348. melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tanpa ijin atasan yang berwenang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih (3) PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena: a. tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban. atau e. merangkap jabatan lain baik dalam jabatan negara maupun jabatan politik. f. b. tidak memiliki kompetensi dan tidak mencapai sasaran kerja selama 2 (dua) tahun. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. 350. atau e. tidak setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. d. (2) PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena: b. atau c. tidak setia kepada Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. USUL PEMERINTAH e. melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat. c. melanggar sumpah/janji dan sumpah/janji jabatan. c. melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban. 54 . d. c. melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat. atau d. (3) PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena: a. melanggar sumpah/janji dan sumpah/janji jabatan. 349. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. b. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan.

NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH pegawai ASN dan/atau menduduki jabatan ASN. sebagai hak dan sebagai penghargaan atas pengabdian PNS. (2) Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup jaminan pensiun dan jaminan hari tua yang diberikan dalam rangka program jaminan sosial nasional. 353. CATATAN RAPAT 351. 355. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku setelah Undangundang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial berlaku efektif. Pasal 89 Pasal 89 55 . 354. Paragraf 14 Pensiun Pasal 88 Pensiun PNS dan pensiun janda/duda PNS diberikan sebagai jaminan hari tua dan sebagai penghargaan atas pengabdian PNS. (4) Sebelum ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku maka ketentuan mengenai Pensiun dan Tabungan Hari Tua dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pensiun dan Tabungan Hari Tua. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang mengakibatkan pensiun dini diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 87 PNS diberhentikan sementara karena menjadi tersangka melakukan tindak pidana kejahatan sampai mendapat putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 87 PNS diberhentikan sementara karena menjadi tersangka melakukan tindak pidana kejahatan sampai mendapat putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap Paragraf 14 Pensiun Pasal 88 (1) Jaminan Pensiun PNS dan Jaminan Janda/Duda PNS dan Jaminan Hari Tua PNS diberikan sebagai perlindungan kesinambungan penghasilan hari tua. 352.

358. diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. (3) Usia pensiun bagi Jabatan Fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. CATATAN RAPAT 356. (2) Usia pensiun bagi Pejabat Administrasi adalah 56 (lima puluh enam) tahun. diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. (4) Usia pensiun bagi Jabatan Eksekutif Senior adalah 60 (enam puluh) tahun. USUL PEMERINTAH (1) PNS yang berhenti bekerja berhak atas jaminan pensiun dan jaminan hari tua PNS sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan. (5) Usia pensiun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Utama adalah 60 (enam puluh) tahun. 362. Pasal 89A (1) Ketentuan mengenai Batas Usia Pensiun sebagaimana dimaksud pada Pasal 89 ayat (2). 357. Pasal 90 (1) Sumber pembiayaan pensiun berasal dari iuran PNS yang bersangkutan dan pemerintah selaku pemberi kerja dengan perbandingan 1:2 (satu banding dua).NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (1) PNS yang berhenti dengan hormat berhak menerima pensiun apabila telah mencapai batas usia pensiun. (2) PNS yang pada saat berlakunya UndangUndang ini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum mencapai Batas Usia Pensiun dan sedang menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi dapat diperpanjang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini. 360. (4) Usia pensiun bagi Jabatan Fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (4) Usia pensiun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama adalah 58 (lima puluh delapan) tahun. Pasal 90 (1) Sumber pembiayaan Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua PNS berasal dari Pemerintah selaku pemberi kerja dan iuran PNS yang bersangkutan (2) Pengelolaan program Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua PNS dilakukan sesuai 56 359. . (4). 361. (3) Usia pensiun bagi Jabatan Administrasi adalah 58 (lima puluh delapan) tahun. (1) Pengelolaan dana pensiun diselenggarakan oleh pihak ketiga berdasarkan peraturan 363. (2) PNS yang telah mencapai batas usia pensiun. dan (5) mulai berlaku 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang ini. (2) PNS yang telah mencapai batas usia pensiun.

kesehatan lingkungan kerja. 369. USUL PEMERINTAH dengan ketentuan undangan dihapus Peraturan Perundang- CATATAN RAPAT 364. 371. dan/atau risiko lain Bagian Ketiga Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Paragraf 1 Umum Pasal 92 (1) Manajemen PPPK meliputi: a. (3) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja. 366. Paragraf 15 Perlindungan Pasal 91 (1) Pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum serta perlindungan keselamatan dan perlindungan kesehatan kerja terhadap PNS dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 365. Penetapan kebutuhan. Pengadaan Paragraf 15 Perlindungan Pasal 91 (1) Pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum serta perlindungan keselamatan dan perlindungan kesehatan kerja terhadap PNS dalam melaksanakan tugas dan fungsinya (2) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya dan memperoleh bantuan hukum terhadap kesalahan yang dilakukan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sampai putusan terhadap perkara tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. kecelakaan kerja. . kebakaran pada waktu kerja. 368. 57 367.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR perundang-undangan. dan/atau risiko lain Bagian Ketiga Manajemen Pegawai Tidak Tetap Pemerintah Paragraf 1 Umum Pasal 92 (1) Manajemen Pegawai Tidak Tetap Pemerintah meliputi: a. (3) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja. kebakaran pada waktu kerja. kesehatan lingkungan kerja. kecelakaan kerja. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pensiun PNS diatur dengan Peraturan Pemerintah. Honorarium. b. b. Penetapan kebutuhan. c. (2) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya dan memperoleh bantuan hukum terhadap kesalahan yang dilakukan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sampai putusan terhadap perkara tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. bencana alam. 370. Pengadaan. bencana alam.

jenis.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR c. Perlindungan. (2) Ketetentuan lebih lanjut mengenai manajemen Pegawai Tidak Tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri. (4) Jenis-jenis jabatan yang dapat diisi oleh PPPK untuk penetapan kebutuhan dan perencanaan pengadaanya diatur dalam Peraturan Presiden. dan Perlindungan. USUL PEMERINTAH d. Paragraf 2 Penetapan Kebutuhan Pasal 93 Penetapan kebutuhan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah merupakan analisis keperluan jumlah. (2) Ketetentuan lebih lanjut mengenai manajemen PPPK diatur dengan Peraturan Pemerintah. CATATAN RAPAT 372. Paragraf 3 Pengadaan Pasal 94 (3) Pengadaan calon PPPK merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pada instansi. f. dan status Pegawai Tidak Tetap Pemerintah yang diperlukan untuk melaksanakan tgas utama secara efektif dan efisien untuk mendukung beban kerja Instansi dan Perwakilan. jenis. Tunjangan. Paragraf 2 Penetapan Kebutuhan Pasal 93 (1) Penetapan kebutuhan PPPK merupakan analisis keperluan jumlah. 376. Kesejahteraan. Tunjangan. Honorarium. dan f. 377. e. Paragraf 3 Pengadaan Pasal 94 (5) Pengadaan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pada instansi dan . 373. 375. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat(1). Kesejahteraan. dan status PPPK yang diperlukan untuk melaksanakan tugas utama secara efektif dan efisien untuk mendukung beban kerja Instansi. d. e. (2) Penetapan kebutuhan PPPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan perencanaan kebutuhan 5 (lima) tahun dengan rincian pertahun. 374. 58 338a. dan ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri dengan memperhatikan pendapat Menteri Keuangan dan Pertimbangan BKN.

381. (2) Seleksi calon PPPK terdiri dari 3 (tiga) tahap. (5) Pengadaan calon PPPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. Seleksi calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah teriri dari 3 (tiga) tahap. pelamaran. USUL PEMERINTAH (4) Pengadaan calon PPPK di instansi dilakukan berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja instansi. (6) Pengadaan Calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah di Instansi dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh instansi dan Perwakilan. pengumuman lowongan. yaitu seleksi administrasi. pengumuman hasil seleksi. 380. seleksi umum. pengumuman hasil seleksi. Pasal 95 Setiap instansi mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat mengenai adanya lowongan PPPK. kualifikasi. pengumuman lowongan. (1) Pasal 97 Seleksi penerimaan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan untuk mengevaluasi secara obyektif kompetensi. yaitu seleksi administrasi. dan seleksi khusus Seleksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan masing-masing untuk memeriksa kelengkapan persyaratan 383. kualifikasi. (2) 384. dan seleksi khusus (3) Seleksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh instansi masing-masing untuk memeriksa kelengkapan persyaratan CATATAN RAPAT 379. 382.NO 378. (3) 59 . dan pengangkatan menjadi Pegawai Tidak Tetap Pemerintah Pasal 95 Setiap instansi dan perwakilan mengumumkan secara terbuka kepada masyarakat mengenai adanya lowongan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh instansi dan yang dimiliki oleh pelamar. seleksi. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh instansi dan yang dimiliki oleh pelamar. (7) Pengadaan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan perencanaan. Pasal 97 (1) Seleksi penerimaan calon PPPK dilaksanakan oleh instansi untuk mengevaluasi secara obyektif kompetensi. Pasal 96 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah setelah memenuhi persyaratan. seleksi umum. dan pengangkatan menjadi PPPK. Pasal 96 Setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi calon PPPK setelah memenuhi persyaratan. pelamaran. seleksi. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR perwakilan.

Pasal 99 Pengangkatan calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah ditetapkan dengan keputusan Pejabat yang Berwenang. dan informatif oleh instansi. Pengumuman lowongan PPPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilaksanakan secara terbuka. Pasal 99 Pengangkatan calon PPPK ditetapkan dengan keputusan Pejabat yang Berwenang dan berdasarkan Perjanjian Kerja.NO 385. kualifikasi. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh pelamar. Pengumuman lowongan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilaksanakan secara terbuka. dan persyaratan yang dibutuhkan oleh pelamar. Pasal 98 USUL PEMERINTAH (4) Instansi dan Perwakilan yang menerima pendaftaran calon PPPK memberikan nomor peserta penyaringan bagi pelamar yang sudah lulus persyaratan administrasi (5) Seleksi Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan masing-masing (6) Seleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Instansi dilakukan dengan membandingkan secara obyektif kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatan dengan kompetensi. luas. 352a. Pasal 98 CATATAN RAPAT 386. . (5) (6) 388. dan informatif oleh Instansi dan Perwakilan masingmasing. Paragraf 4 Paragraf 4 60 390. (2) PPPK yang berkeinginan pindah status menjadi PNS harus mengundurkan diri sebagai PPPK. 387. (4) RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Instansi dan Perwakilan yang menerima pendaftaran calon Pegawai Tidak Tetap Pemerintah memberikan nomor peserta penyaringan bagi pelamar yang sudah lulus persyaratan administrasi Seleksi Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Instansi dan Perwakilan masing-masing Seleksi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Instansi dan Perwakilan dilakukan dengan membandingkan secara obyektif kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatan dengan kompetensi. dan harus mengikuti semua proses serta memenuhi persyaratan untuk dapat diangkat menjadi PNS. kualifikasi. luas. Pasal 99A (1) PPPK tidak dapat diangkat menjadi PNS. 352b. 389.

Paragraf 6 Kesejahteraan Pasal 102 CATATAN RAPAT 391. Pemerintah memberikan jaminan sosial kepada Pegawai Tidak Tetap sosial kepada PPPK. 398. Pemerintah memberikan jaminan pasal 101. Pasal 100 (1) Pemerintah wajib membayar honorarium yang adil dan layak kepada Pegawai Tidak Tetap Pemerintah sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggung jawab. PPPK dapat menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 396. (4) HonorariumGaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Honorarium USUL PEMERINTAH Honorarium Gaji Pasal 100 (1) Pemerintah wajib membayar honorariumGaji yang adil dan layak kepada PPPK sesuai dengan beban pekerjaan sesuai perjanjian kerja. (2) Honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memacu produktivitas dan menjamin kesejahteraan Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. 395. 393. (2) HonorariumGaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memacu produktivitas dan menjamin kesejahteraan PPPK. Pegawai Tidak Tetap Pemerintah dapat menerima tunjangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemerintah. Paragraf 5 Tunjangan Pasal 101 Selain honorariumGaji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100. 392. (3) Honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Paragraf 5 Tunjangan Pasal 101 Selain honorarium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100. Paragraf 6 Kesejahteraan Pasal 102 (3) Selain honorarium dan tunjangan (3) Selain honorariumGaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 100 dan sebagaimana dimaksud dalam pasal 100 dan pasal 101. 397. (4) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada (4) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan ayat (1) bertujuan untuk menyejahterakan 61 . 394.

kebakaran pada waktu kerja. BAB IX PENCALONAN DAN PENGANGKATAN DALAM PEJABAT NEGARA Pasal 104 Pegawai ASN dapat menjadi pejabat Negara dan pimpinan atau anggota lembaga non struktural. kerja. tugas dan fungsinya. dan Kesejahteraan PPPK diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah wajib memberikan perlindungan (1) Pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum. dan/atau kesehatan lingkungan kerja. 405. perlindungan keselamatan. dan/atau risiko risiko lain. BAB IX PENCALONAN DAN PENGANGKATAN DALAM JABATAN NEGARA Pasal 104 Pegawai ASN dapat mencalonkan diri untuk jabatan Negara tertentu. kecelakaan gangguan keamanan kerja. Paragraf 7 Perlindungan Pasal 103 Pasal 102A Ketentuan lebih lanjut mengenai Gaji. dan perlindungan kesehatan kerja terhadap Pegawai perlindungan kesehatan kerja terhadap PPPK Tidak Tetap Pemerintah dalam melaksanakan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 62 403. kesehatan lingkungan kerja. 401. memperoleh kekuatan hukum tetap. (1) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud (1) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya dan dalam melaksanakan tugasnya dan memperoleh memperoleh bantuan hukum terhadap bantuan hukum terhadap kesalahan yang kesalahan yang dilakukan dalam dilakukan dalam pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas dan fungsinya sampai fungsinya sampai putusan terhadap penjara putusan terhadap penjara tersebut tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. bencana kebakaran pada waktu kerja.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pegawai Tidak Tetap Pemerintah. Paragraf 7 Perlindungan Pasal 103 402. (2) Perlindungan keselamatan dan perlindungan (2) Perlindungan keselamatan dan perlindungan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan terhadap ayat (1) meliputi perlindungan terhadap risiko risiko gangguan keamanan kerja. lain. dan hukum. (5) 400. bencana alam. Tunjangan. perlindungan keselamatan. . 404. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 399. kecelakaan kerja. PPPK. alam.

f. dan huruf k diberhentikan Sementara dari jabatan yang didudukinya dan tidak kehilangan status sebagai PNS. Wakil Ketua. g. Ketua. j. d. dan Anggota badan Pemeriksa Keuangan. d. dan n. h. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang-Undang. Ketua Muda dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung serta Ketua. c. m. Bupati/Walikota dan wakil Bupati/Wakil Walikota. Menteri dan Jabatan setingkat Menteri. Ketua. Wakil Ketua. Ketua Muda dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung serta Ketua. e. Wakil Ketua. Gubernur dan Wakil Gubernur. Wakil Ketua. Ketua. (1) Pasal 106 Pegawai ASN dari PNS yang diangkat pada Jabatan Negara dan pimpinan atau anggota lembaga non struktural sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 diberhentikan Sementara dari jabatan yang didudukinya dan tidak kehilangan status sebagai PNS kecuali ditetapkan lain dalam Undang63 . Pasal 106 (1) Pegawai ASN dari PNS yang diangkat pada Jabatan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 huruf f. j. huruf I. Kepala perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri yang berkedudukan sebagai Duta besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Ketua. Ketua. Ketua. dan Anggota Komisi Yudisial. Wakil Ketua. Presiden dan Wakil Presiden. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang-Undang. Wakil Ketua. Wakil Ketua. l. USUL PEMERINTAH Pasal 105 Jabatan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 adalah : a. Ketua. CATATAN RAPAT 407. dan Hakim pada semua Badan Peradilan. dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Wakil Ketua. dan Anggota Komisi Yudisial. Kepala perwakilan Repbulik Indonesia di Luar Negeri yang berkedudukan sebagai Duta besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Bupati/Walikota dan wakil Bupati/Wakil Walikota. g. Ketua. dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. f. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. huruf. i. Wakil Ketua. Menteri dan Jabatan setingkat Menteri. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Ketua. dan Anggota Komisi Pemilihan Umum. Ketua. Ketua. Ketua. g. dan l. dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. i. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 105 Jabatan Negara sebagaimana dimaksud dalam asal 104 adalah : a. k. Wakil Ketua. e. b. b. Wakil Ketua.NO 406. Presiden dan Wakil Presiden. Gubernur dan Wakil Gubernur. Ketua. Ketua. dan Anggota Mahkamah Konstitusi. c. Wakil Ketua. dan Anggota Mahkamah Konstitusi. huruf j. Wakil Ketua. huruf h. h. Wakil Ketua. dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. k. dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah.

huruf d. 410. (2) (3) Pegawai ASN dari PNS yang tidak menjabat lagi pada Jabatan Negara dan Lembaga non Struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaktifkan kembali sebagai PNS. BAB X ORGANISASI Pasal 109 412. Pegawai ASN dari PNS yang mencalonkan diri untuk jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 105 huruf c mengajukan permohonan berhenti sebagai Pegawai ASN sejak masa pencalonan. pengaktifan kembali dan hak-hak PNS yang diangkat menjadi pejabat negara dan pimpinan/anggota lembaga non struktural diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 108 Ketentuan lebih lanjut mengenai Pegawai ASN yang menduduki jabatan Negara diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Pegawai ASN dari PNS yang tidak menjabat lagi pada Jabatan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaktifkan kembali sebagai PNS. dihapus 411. mengajukan permohonan berhenti sebagai Pegawai ASN sejak masa pencalonan Pasal 107 Pejabat eksekutif senior berstatus Pegawai negeri Sipil yang tidak menjabat lagi pada jabatan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dapat menduduki jabatan eksekutif senior. pemberhentian.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Undang. 409. huruf c. bersifat non kedinasan untuk menyampaikan aspirasinya. 413. Pasal 108 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengangkatan. huruf b. (2) Pegawai ASN merupakan anggota Korps (1) Pegawai ASN berhimpun dalam wadah Korps Pegawai ASN Republik Indoneisa yang Profesi Pegawai ASN Republik Indonesia. dan huruf m. USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 408. huruf l. (1) BAB X ORGANISASI Pasal 109 414. Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi (2) Korps Profesi Pegawai ASN RI memiliki tujuan: Pegawai ASN diatur dengan Peraturan a. mewujudkan jiwa korps ASN sebagai pemersatu bangsa 64 . (3) Pegawai ASN dan PNS yang mencalonkan diri untuk jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 105 huruf a. jabatan administrasi atau jabatan fungsional. menjaga kode etik profesi dan standar Menteri pelayanan profesi ASN: dan b.

d. (3) Untuk menjamin keterpaduan dan akurasi data dalam Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. 416. Pasal 110 (1) Untuk menjamin efisiensi. dan akurasi pengambilan keputusan dalam manajemen asn diperlukan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. memberikan rekomendasi kepada Majelis Kode etik instansi terhadap pelanggaran kode etik profesi dan kode perilaku profesi. efektivitas. 419. pembinaan dan pengembangan profesi ASN. (2) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara nasional dan terintegrasi antar berbagai Instansi. BAB XI BAB XI SISTEM INFORMASI APARATUR SIPIL NEGARA SISTEM INFORMASI APARATUR SIPIL NEGARA Pasal 110 (1) Untuk menjamin efisiensi. setiap Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memutakhirkan data secara berkala dan menyampaikannya kepada BKN. menyelenggarakan usaha-usaha untuk peningkatan kesejahteraan anggota Korps Profesi ASN RI sesuai dengan peraturan perudang-undangan (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Korps Profesi Pegawai ASN diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Dalam rangka mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Korps Profesi ASN RI memiliki fungsi : a. dan akurasi pengambilan keputusan dalam manajemen ASN diperlukan Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. memberikan perlindungan hukum dan advokasi kepada anggota Korps Profesi ASN RI terhadap dugaan pelanggaran sistem merit dan mengalami masalah hukum dalam melaksanakan tugas. efektivitas. . (2) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara nasional dan terintegrasi antar berbagai Instansi. 417.NO 376a. c. b. 65 418. (3) Untuk menjamin keterpaduan dan akurasi data dalam Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara. setiap Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memutakhirkan data secara berkala dan menyampaikannya kepada BKN. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH CATATAN RAPAT 415.

daftar penilaian pekerjaan. f. USUL PEMERINTAH (4) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berbasiskan teknologi informasi yang mudah diaplikasikan. riwayat pendidikan formal dan non formal. riwayat pendidikan dan latihan.NO 420. riwayat pendidikan dan latihan. daftar penilaian pekerjaan. dan i. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR (4) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berbasiskan teknologi informasi yang mudah diaplikasikan. e. 425. Pasal 111 (2) Sistem informasi aparatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) memuat seluruh informasi dan data Pegawai ASN. data riwayat hidup. 424. Pasal 111 (1) Sistem informasi aparatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) memuat seluruh informasi dan data Pegawai ASN. riwayat gaji. riwayat jabatan dan kepangkatan. h. (5) Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara dapat diakses dan dipergunakan oleh BKN dan instansi terkait baik untuk keperluan pemutakhiran data maupun untuk pengambilan keputusan. g. b. riwayat penghargaan/tanda jasa/tanda kehormatan. h. 422. dan i. e. b. (2) Data Pegawai Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. riwayat pengalaman berorganisasi. riwayat jabatan dan kepangkatan. BAB XII PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 112 (1) Sengketa Pegawai ASN diselesaikan melalui upaya administratif dan Peradilan Tata Usaha Negara. data riwayat hidup. d. riwayat pendidikan formal dan non formal. mudah diakses dan memiliki sistem keamanan yang dipercaya. riwayat penghargaan/tanda jasa/tanda kehormatan. (3) Data Pegawai ASN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. surat keputusan. d. surat keputusan. CATATAN RAPAT 421. riwayat gaji. c. mudah diakses dan memiliki sistem keamanan yang dipercaya. f. BAB XII PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 112 (1) Sengketa Pegawai ASN diselesaikan melalui upaya administratif dan Peradilan Tata Usaha Negara. (2) Upaya administratif sebagaimana dimaksud 66 423. g. (2) Upaya administratif sebagaimana dimaksud . 426. c. riwayat pengalaman berorganisasi.

(3) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum dengan memuat alasan keberatan dan tembusannya disampaikan kepada pejabat yang berwenang menghukum. 432. 431. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah. USUL PEMERINTAH pada ayat (1) terdiri dari keberatan dan banding administratif. 429. (3) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum dengan memuat alasan keberatan dan tembusannya disampaikan kepada pejabat yang berwenang menghukum. Pasal 115 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN CATATAN RAPAT 427. (4) Banding administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada Badan Pertimbangan Aparatur Sipil Negara. Pasal 114 Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN dilarang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. BAB XIII LARANGAN Pasal 113 Setiap orang dilarang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. Pasal 114 Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN dilarang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. Pasal 115 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN 67 . (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah. (4) Banding administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada Badan Pertimbangan Aparatur Sipil Negara. 428. 430.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR pada ayat (1) terdiri dari keberatan dan banding administratif. BAB XIII LARANGAN Pasal 113 Setiap orang dilarang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN. 433.

437. Pasal 118 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon pejabat eksekutif senior dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 119 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dipidana dengan pidana penjara paling 68 Arahan wapres ketentuan pidana mengacu pada RUU KUHAP DAN RUU KUHP 436. Pasal 118 Setiap orang dilarang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Jabatan Pimpinan Tinggi dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 119 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai ASN atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dipidana dengan pidana penjara paling . Pasal 117 Pasal 117 Anggota KASN atau panitia seleksi penerimaan calon pejabat Eksekutif Senior dilarang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu. USUL PEMERINTAH secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. 435. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. membayar.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. dihapus CATATAN RAPAT 434. 438. membayar. Pasal 116 Setiap orang dilarang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada anggota KASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam seleksi pengisian pejabat Eksekutif Senior. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri Panitia seleksi penerimaan calon Jabatan Pimpinan Tinggi dilarang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu.

00 (seratus juta rupiah) CATATAN RAPAT 439. Pasal 121 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain sebagaimana dimksud dalam Pasal 115 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.00 (lima ratus juta rupiah) USUL PEMERINTAH singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 250. 50.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. Pasal 120 Pegawai atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN yang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 441. Pasal 122 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Panitia Seleksi agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam seleksi pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000. 50.000. 500.000.000.000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000. 100.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. 440.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000.000. Pasal 120 Pegawai atau panitia seleksi penerimaan calon Pegawai ASN yang menerima pemberian atau janji dalam seleksi penerimaan calon pegawai ASN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 250.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.000.000. Pasal 122 Setiap orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada anggota KASN agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam seleksi pengisian pejabat Eksekutif Senior sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.000.00 (lima ratus juta rupiah) Pasal 121 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Pegawai ASN secara melawan hukum dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain sebagaimana dimksud dalam Pasal 115 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 250.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000.000.000.00 (seratus juta rupiah) 69 . 50.000. 250. 100.000. 1000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. 50.000. 500.000. 1000.

000. Pasal 124 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon Jabatan Pimpinan Tinggi dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 350. 350.000. 444. 443.000. 500.000. USUL PEMERINTAH dan paling banyak Rp.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. membayar. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.00 (lima ratus juta rupiah).000.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). 100.00 (satu miliar rupiah). BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 Dihapus CATATAN RAPAT 442.000.000.000.000. 1. Pasal 123 Anggota KASN atau panitia seleksi penerimaan calon pejabat Eksekutif Senior yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu.000.000. 70 . 100. 500.00 (satu miliar rupiah).00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (lima ratus juta rupiah).000. membayar.000. Pasal 123 Panitia seleksi penerimaan calon jabatan Pimpinan Tinggi yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya agar seseorang memberikan sesuatu.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dan paling banyak Rp. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 Ketentuan mengenai pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 berlaku bagi Pegawai ASN yang diangkat sejak 1 Januari 2013. 445.000.000. 200.000. 1.000. atau menerima pembayaran dengan potongan untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 124 Setiap orang yang bertindak sebagai perantara dalam seleksi penerimaan calon pejabat Eksekutif Senior dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.

Pasal 128 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus sudah ditetaplam paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerah disebut sebagai Pegawai ASN. 448. daerah konflik. Pasal 130 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 127 Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 dan pasal 111 dilaksanakan secara nasional paling lambat tahun 2012. Pasal 127 Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 dan pasal 111 dilaksanakan secara nasional paling lambat tahun 2013. Pasal 129 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1974 Nomor 55. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1974 Nomor 55. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. daerah tertinggal. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.NO 446. tertentu. 451. Pasal 128 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus sudah ditetapkan paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Tim seleksi menyampaikan 7 (tujuh) orang KASN (1) Kebijakan dan Manajemen ASN yang diatur terpilih kepada Presiden untuk ditetapkan paling dalam Undang-Undang ini dilaksanakan dengan lambat 3 (tiga) bulan setelah Undang-undang ini memperhatikan kekhususan daerah-daerah diundangkan. Pasal 129 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 71 . Pasal 130 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 447. daerah terpencil. daerah istimewa dan lain-lain. Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerah disebut sebagai Pegawai ASN. Pasal 130A 449. 450. RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR Pasal 126 USUL PEMERINTAH Pasal 126 CATATAN RAPAT Penjelasan Pasal: Yang dimaksud dengan daerah-daerah tertentu misalnya: daerah yang memiliki otonomi khusus.

semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kepegawaian harus disesuaikan 72 453. Pasal 133 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. CATATAN RAPAT 452. 454. Pasal 132 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UndangUndang ini. Pasal 131 Ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kode etik dan penyelesaian pelanggaran terhadap kode etik bagi jabatan fungsional tertentu dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR USUL PEMERINTAH Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55. Pasal 131 Ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kode etik dan penyelesaian pelanggaran terhadap kode etik bagi jabatan fungsional tertentu dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Pasal 133 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 132 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kepegawaian harus disesuaikan . ketentuan tentang Kepegawaian Dearah yang diatur dalam Bab V Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125) dan peraturan pelaksananya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169. semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55. Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. USUL PEMERINTAH dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. REPUBLIK INDONESIA CATATAN RAPAT 455.NO RUU APARATUR SIPIL NEGARA draft DPR dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Disahkan di Jakarta pada tanggal. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA TAHUN . 456. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. . Agar setiap orang mengetahuinya.. Pasal 134 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . 73 .. NOMOR . Pasal 134 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. NOMOR . Agar setiap orang mengetahuinya. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ..... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal… MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal… MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA... Disahkan di Jakarta pada tanggal..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->