BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sangat disayangkan apabila cara penilaian dengan model pembelajaran inovatif dilakukan dengan biasa-biasa saja, karena jika dengan cara tersebut cenderung hanya mengukur kemampuan kognitif siswa saja dan terkadang dengan hasil tes yang tidak murni (menyontek). Padahal dalam pembelajaran inovatif siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses belajar. Menurut Sudjana (1990:31) evaluasi adalah “proses pemberian atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu”. Sedangkan menurut Rusli (1990:22) bahwa yang dimaksud evaluasi adalah “suatu proses sistematik untuk menentukan sampai berapa jauh tujuan intruksional dapat dicapai oleh siswa”. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa pengertian evaluasi? 1.2.2 Apa tujuan evaluasi? 1.2.3 Apa fungsi evaluasi? 1.2.4 Apa manfaat evaluasi? 1.2.5 Apa macam-macam evaluasi? 1.2.6 Bagaiamana prinsip evaluasi? 1.2.7 Bagaimana pendekatan evaluasi?

1

atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. hal. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S.1 Pengertian Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi. sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. pengukuran dan testing. dan evaluasi. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang. Ralph W. yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Tyler. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior” Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. penilaian. Penilaian bersifat kualitatif. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses 2 . Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating. yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai.

menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. motivasi. sarana dan prasarana.4 Manfaat Evaluasi Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran. evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi. 4. Selektif Diagnostik Penempatan Pengukur keberhasilan Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran. Remedial Umpan balik Memotivasi dan membimbing anak Perbaikan kurikulum dan program pendidikan Pengembangan ilmu 2. yaitu fungsi: 1.3 Fungsi Evaluasi Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. diantaranya adalah fungsi: 1. 4. dan kondisi dosen 2. 3. dll). evaluasi dilaksanakan dengan tujuan: 1. 5. Jelek. 4. 2. 2. Mengetahui tingkat keberhasilan PBM Menentukan tindak lanjut hasil penilaian Memberikan pertanggung jawaban (accountability) 2. Membuat keputusan : kelanjutan program. dll 3 .2 Tujuan Evaluasi Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu bahwa evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Sedang. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa. Khusus terkait dengan pembelajaran. 3. yaitu : 1. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules” 2. 2. Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior. 3. penanganan “masalah”. seperti Baik .

Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. 2. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin 4 . 3. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan. Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan Bagi Guru 1. Ketepatan materi yang diberikan : jenis. agar siswa dan guru memperoleh informasi(feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. dan kepala sekolah. dll. Bagi Siswa 1. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. remedial atau pengayaan 2. Ketepatan metode yang digunakan Bagi Sekolah 1. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages. for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik. 3. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. guru. seperti siswa. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan testes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung. Mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan.3. Hasil belajar cermin kualitas sekolah Membuat program sekolah Pemenuhan standar 2. dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. lingkup.5 Macam-macam Evaluasi 1. tingkat kesulitan. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran.

bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi. 3. baik pada tahap awal. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. Tes Formatif. sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Perbandingan Tes Diagnostik. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya. yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu. selama proses. yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihankelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. maupun akhir pembelajaran.dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial. 2. Sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. dan Tes Sumatif Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannyamenentukan kesulitan belajar yang dialami Umpan 5 . Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai.

gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif. mental dan perasaan Mengukur semua tujuan instruksional khusus Mengukur tujuan instruksional umum. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan guru 2. Sejalan dengan uraian di atas. patokan : alat penilaian. guru maupun program untuk menilai pelaksanaan suatu unit program Memberi tanda telah mengikuti suatu program. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian (grading) Hendaknya disadari betul tujuan penggunaan pendekatan penilaian (PAP dan PAN) 4. 6. diantaranya: 1 Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai. standar dan juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Skoring (cara menyekor) menggunakan standar mutlak dan relatif menggunakan standar mutlak menggunakan standar relative 2. Kurikulum/silabi. 4 Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.6 Prinsip Evaluasi Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi. dan interpretasi hasil penilaian. yaitu pengukuran acuan norma (NRM) yang berusaha menetapkan 6 .7 Pendekatan Evaluasi Ada dua jenis pendekatan penilaian yang dapat digunakan untuk menafsirkan sekor menjadi nilai. Penilaian harus bersifat komparabel. Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar. James Popham menyatakan bahwa terdapat dua strategi pengukuran yang mengarah pada dua perbedaan tujuan substansial. 2. 3. 5. Penilaian hendaknya didasarkan pada hasil pengukuran yang komprehensif. Agar hasil penilaian obyektif. 2 3 Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar. Kedua pendekatan itu adalah Pendekatan Acuan Norma (PAN) dan Pendekatan Acuan Patokan (PAP). Kedua pendekatan ini memiliki tujuan. Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto adalah: 1. materi penilaian.balik bagi siswa. agar mendapat informasi yang akurat. dan menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan anggota kelompoknya cara memilih tujuan yang dievaluasi memilih tiap-tiap keterampilan prasarat memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik. Glaser (1963) yang dikutip oleh W. proses.

Salah satu kelemahan dalam menggunakan standar absolut adalah sekor siswa bergantung pada tingkat kesulitan tes yang mereka terima. Joesmani menyebutnya dengan didasarkan pada kriteria atau standard khusus. maka kemungkinan untuk mendapat nilai A atau B menjadi sangat kecil. Criterionreferenced interpretation is an absolut rather than relative interpetation. Sejalan dengan pendapat Glaser. standar performan yang digunakan adalah standar absolut. dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan. Criterion Reference Test (CRT) Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut dibandingkan dengan performan yang lain. menggunakan konsep pengukuran acuan kriteria (Criterion Reference Measurement). Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memperhatikan secara ketat tujuan yang akan diukur tingkat pencapaiannya. Dalam standar ini penentuan tingkatan (grade) didasarkan pada sekor-sekor yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk persentase. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Penilaian Acuan Patokan (PAP). Dengan kata lain tes acuan kriteria digunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan (mengenai) domain perilaku yang ditetapkan / dirumuskan dengan baik. Untuk mendapatkan nilai A atau B. Sedangkan untuk mengukur tes yang mengidentifikasi ketuntasan / ketidaktuntasan absolut siswa atas perilaku spesifik. maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan. Dalam menginterpretasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP. seorang siswa harus mendapatkan sekor tertentu sesuai dengan batas yang telah ditetapkan tanpa terpengaruh oleh performan (sekor) yang diperoleh siswa lain dalam kelasnya. Wiersma menyatakan norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual’s position with respect to some group. referenced to a defined body of learner behaviors. Glaser menggunakan konsep pengukuran acuan norma (Norm Reference Measurement / NRM) untuk menggambarkan tes prestasi siswa dengan menekankan pada tingkat ketajaman suatu pemahaman relatif siswa. 1. Artinya apabila tes yang diterima siswa mudah akan sangat mungkin para siswa mendapatkan nilai A atau B. dan pengukuran acuan kriteria (CRM) yang berusaha menetapkan status absolut.status relatif. Pada pendekatan acuan patokan.Umumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut: Rentang Skor Nilai 7 .

80% s. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa. 35. Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. 69% C 45% s. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan. 8. 8. 7. 40. 9. karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi.d. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah (1) dianggap tidak adil. 35. misalnya 10. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya. 8. 45. 30 Dengan menggunakan pendekatan PAN. Penilaian Acuan Norma (PAN). harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B.d. sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional. 8 . 7. 40. karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya. 6 Penentuan nilai dengan skor di atas dapat juga dihitung terlebih dahulu persentase jawaban benar. (2) standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa. 79% B 60% s. 100% A 70% s. 59% D < 44% E / Tidak lulus 2. yaitu 9. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti.d. Norm Reference Test (NRT) Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Kemudian kepada persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi. 45. Contoh: Satu kelompok peserta tes terdiri dari 9 orang mendapat skor mentah: 50.d. 40.

5 49 adalah (49/55) x 10 = 9.0 52 1 9.2 15 33 2 6.0 16 32 2 5.8 Jumlah Mahasiswa 40 Jika skor mentah yang paling tinggi (55) diberi nilai 10 maka nilai untuk : 52 adalah (52/55) x 10 = 9.0 20 21 1 3.9 11 37 5 6.5 13 35 3 6.3 39 2 7.8 42 1 7.Sekelompok mahasiswa terdiri dari 40 orang dalam satu ujian mendapat nilai mentah sebagai berikut: 55 43 39 38 37 35 34 32 52 43 40 37 36 35 34 30 49 43 40 37 36 35 34 28 48 42 40 37 35 34 33 22 46 39 38 37 36 34 32 21 Penyebaran skor tersebut dapat ditulis sebagai berikut: No Skor Mentah Jumlah Mahasiswa Jika 55 diberi nilai 10 maka 1 2 3 4 5 6 7 8 9 55 1 10.7 12 36 4 6.1 10 38 2 6.1 19 22 1 4.5 49 1 9.4 43 3 7.5 18 28 1 5.4 14 34 4 6.0 dan seterusnya 9 .0 48 1 8.7 46 1 8.8 17 30 1 5.6 40 3 7.

Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. penilaian. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior” 10 .. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing. hal. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang. atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Pengukuran bersifat kuantitatif. pengukuran dan testing. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran. sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.BAB III PENUTUP 3. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Penilaian bersifat kualitatif. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai.1 Kesimpulan Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi. yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. dan evaluasi. Tyler. Ralph W. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing. menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating. yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai.

2 Saran Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran.3. harus dilakukan proses evaluasi yang benar. 11 .