P. 1
ki hajar 2

ki hajar 2

|Views: 2,612|Likes:
Published by kalacitra
educate
educate

More info:

Published by: kalacitra on Jun 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

Untuk memahami gagasan Ki Hajar Dewantara di Wasita sudah tentu saya harus mengetahui
siapa Ki Hajar Dewantara terlebih dahulu. Karena itulah bagian ini saya buat untuk menganalisis
tulisannya. Ki Hajar Dewantara adalah cucu Sri Paku Alam III. Ia awalnya memiliki nama R.M.
Suwardi Suryaningrat. Akan tetapi, setelah menjalani hukuman pengasingan di negeri Belanda ia
mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan meninggalkan nama lama dan gelar
kebangsawanannya. Hal ini menurutnya karena ia tidak ingin merasa terpisah dari rakyat banyak
dan selalu ingin berada bersama rakyat banyak berjuang bersama-sama. Pemahaman seperti ini
ia dapatkan dari dua kultur pendidikan yang berbeda yaitu Jawa dan Barat. Sejak kecil ia sudah
menerima dua kultur pendidikan tersebut. Ia bersekolah di sekolah Belanda, tetapi tetap
mendapatkan pendidikan nasional Jawa. Ki Hajar tampak seperti sosok yang mampu
memadukan unsur-unsur baik dari dua kultur tersebut.

Meskipun ia mendapat pendidikan Barat, ia tidak serta merta menjadi individualistik.
Sebaliknya, ia justru merupakan tokoh humanis. Paham-paham humanisme barat tampaknya
lebih dominan daripada paham-paham liberalisme barat. Sementara meskipun ia mendapat
pendidikan Jawa, ia juga tidak serta merta menjadi seorang Jawa kolot. Dengan dilepaskannya
gelar kebangsawanan dan nama Jawanya menjadi bukti ia bukanlah seorang Jawa yang kolot.
Pemahamannya bahwa seseorang haruslah bekerja keras untuk melayani dan bukan untuk
dilayani juga menjadi bukti lainnya bahwa ia adalah seorang sosok yang mengombinasikan nilai-
nilai luhur dua kultur, yaitu Barat dan Jawa.

Oleh karena persentuhan dua kultur itu, perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam Pergerakan
Nasional menjadi unik. Awalnya, ia berjuang dengan masuk organisasi gaya Barat. Ia melihat
organisasi sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajahan yang paling mungkin pada
awal 1910-an. Akan tetapi, setelah ia di asingkan ke negeri Belanda, ia belajar banyak bahwa
organisasi tanpa pencerdasan dan kesadaran rakyat adalah makna kosong. Dari sinilah arah
perjuangan Ki Hajar Dewantara berubah. Perubahan itu secara radikal ditunjukkan dengan
mendirikan sekolah bernama Taman Siswa pada 1922. Baginya, pendidikan lah yang dapat
membuat rakyat sadar akan adanya sebuah penindasan yang menimpa mereka. Dari periode
1920-an inilah kita dapat melihat gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pentingnya pendidikan.

4. POKOK-POKOK GAGASAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MAJALAH
WASITA 1928—1929

Dalam majalah Wasita terdapat rubrik pendidikan dan pengajaran. Rubrik ini merupakan rubrik
utama majalah Wasita karena di rubrik ini kita dapat menemukan tujuan dan misi yang diusung
Wasita. Dalam rubrik ini terdapat beberapa tulisan dari tokoh yang ahli di bidang pendidikan dan
pengajaran seperti Ki Hajar Dewantara. Rubrik inilah yang saya ambil sebagai bahan kajian
dalam makalah ini. Sementara tulisan yang saya ambil dalam rubrik ini adalah tulisan Ki Hajar
Dewantara. Adapun rentang waktu yang saya ambil berkaitan dengan masa-masa pergerakan
nasional memasuki masa baru, yaitu masa terobosan baru dengan adanya Sumpah Pemuda dan
Kongres Perempuan Indonesia di tahun 1928. Bahkan Ki Hajar Dewantara pun menyempatkan
menulis tulisan berkenaan dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia pada
Desember 1928. Masa ini juga menjadi masa awal tersebarnya gagasan Ki Hajar Dewantara

tentang pendidikan dan pengajaran ke-Timur-an yang lebih dulu diwujudkan dalam bentuk
Sekolah Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara memiliki konsep pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi (yakni yang
nonpemerintah dan non-Islam). Konsep pendidikan seperti itu berarti pendidikan yang
memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan seni-seni Jawa tradisional.[1] Ia
dengan tegas menolak pendidikan yang terlalu mengutamakan intelektualisme dan
mengorbankan aspek kerohanian atau jiwa para siswa. Menurutnya, pendidikan yang ditawarkan
oleh pemerintah kolonial hanya akan membuat pribumi lupa akan kebudayaannya dan membuat
pribumi menjadi tenaga terampil bagi kepentingan pemerintah kolonial. Berkaitan dengan itulah,
ia akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah sekolah yang menawarkan pendidikan
berorientasi kepada kebudayaan timur dan mengedepankan nilai-nilai kerohanian yang dibarengi
dengan kekuatan intelektual. Sekolah yang ia dirikan bernama Taman Siswa. Sekolah itu berdiri
pada Juli 1922. Enam tahun setelah sekolah itu berdiri, terbit majalah bernama Wasita. Majalah
ini merupakan majalah yang diterbitkan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara berperan sebagai
pengarang dan salah satu dewan redaksinya. Di majalah inilah kita dapat menemukan gagasan Ki
Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran yang ia coba terapkan di Taman Siswa dan
coba disebarkan kepada khalayak umum, khususnya masyarakat pribumi sebagai sarana
pencerahan pikiran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->