Jumat, 26-06-2009

R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara, Dua Tokoh Pendidikan Indonesia
Jumat, 01-05-2009 11:42:27 oleh: Sabjan Badio Kanal: Opini Kalau kita teliti, jejak perjuangan Kartini adalah perjuangan agar perempuan Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Bukan perjuangan untuk emansipasi di segala bidang. Kartini menyadari, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Agar dapat menjalankan perannya dengan baik, perempuan harus mendapat pendidikan yang baik pula. Dalam sebuah suratnya, kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902 Kartini menulis, ‘Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekalikali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Atas kesadaran tersebut, Kartini berniat melanjutkan sekolah ke Belanda, Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900). Waktu itu, Kartini beranggapan bahwa Eropa adalah tempat peradaban tertinggi dan paling sempurna di muka bumi. Namun, rencana itu tak pernah berhasil. Kartini hanya mendapat kesempatan menempuh sekolah guru di Betawi. Kesempatann ini pun batal dijalaninya karena dia harus menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat. Walaupun awalnya banyak menentang adat Jawa yang kaku dan kebiasaan bangsawannya berpoligami, Kartini menerima pernikahan tersebut. Ada sebuah kesadaran di benaknya, dengan menikah dia akan berkesempatan untuk mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra. Alasan ini masuk akal karena suaminya adalah seorang bupati yang berkuasa dan mengizinkan bahkan mendukungnya untuk mendirikan sekolah. Keputusan yang luar biasa dari seorang pahlawan sejati. Pada hari pernikahannya, seorang ustad dari Semarang, Haji Mohammad Sholeh bin Umar, menghadiahkan beberapa juz al-Quran berbahasa Jawa. Kegelisahan Kartini terhadap agama

Islam pun terjawab. Sebelumnya, dalam kehidupan sehari-harinya Kartini hanya diajarkan membaca al-Quran tanpa diizinkan untuk mengetahui artinya. Setelah mempelajari al-Quran, pandangan Kartini terhadap beberapa hal pun berubah. Di antaranya, pandangannya terhadap peradaban Eropa, “…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). Pandangan Kartini terhadap poligami pun berganti, jika awalnya menentang, setelah mengenal ajaran Islam dia menerimanya. Sayangnya, Haji Mohammad Sholeh meninggal sebelum sempat menyelesaikan seluruh terjemahan al-Quran untuk Kartini. Kartini pun hanya mempelajari beberapa jus terjemahan tersebut. Jika saja dia sempat mempelajari keseluruhan Al Quran, tidak mustahil ia akan menerapkan semua kandungannya. Kartini berani berbeda dengan tradisi adatnya yang mapan, dia juga memiliki ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terangmina dulumati ila nuur. Kartini menyadari bahwa sumber pendidikan terbaik justru ada di dekatnya, yaitu Al-Quran, bukan di Eropa. pun terinspirasi dari Surat AlBaqarah ayat 193: 13 Septembar 1904, Kartini meninggal pada usia yang masih muda, 25 tahun dan dimakamkan di Rembang. Untuk menghormatinya, Van Deventer, seorang tokoh politik Etis, mendirikan Yayasan Kartini (1912). Yayasan tersebut bertugas mengelola “Sekolah Kartini” yang didirikan di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.

Ki Hajar Dewantara Tokoh ini sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai oleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sungtulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan). Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta (2 Mei 1889) dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Semasa kecilnya, RM Soewardi Soeryaningrat sekolah di ELS (SD Belanda). Kemudian, ia melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter bumiputra), namun tidak tamat. Setelah itu, dia bekerja sebagai wartawan di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisannya sangat tajam dan patriotik sehingga membangkitkan semangat antipenjajahan. Selain menjadi wartawan, RM Soerwardi Soeryaningrat juga aktif di organisasi sosial dan politik. Tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Kemudian, bersama Douwes

Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (25 Desember 1912) yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Namun partai ini ditolak oleh pemerintah Belanda. Kemudian, ia dan kawan-kawannya membentuk Komite Bumipoetra (1913) untuk melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Untuk membiayai pesta tersebut Pemerintah Belanda menarik uang dari rakyat jajahannya. RM Soewardi Soeryaningrat mengkritik lewat tulisannya “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Akibat tulisannya itu, RM Soerwardi Soeryaningrat dijatuhi hukuman buang ke Pulau Bangka oleh Gubernur Jenderal Idenburg tanpa proses pengadilan. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo yang merasa rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil menerbitkan tulisan untuk membela Soewardi. Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya, keduanya pun terkena hukuman buang, Douwes Dekker ke Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo ke Banda. Hukuman itu ditolak, mereka meminta untuk dibuang ke Negeri Belanda agar bisa belajar. Keinginan tersebut diterima dan mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Selama di negara kincir angin tersebut, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte dan kembali ke tanah air pada 1918. Sekembalinya ke tanah air, bersama rekan-rekannya, RM Soewardi Soeryaningrat mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (3 Juli 1922). Perguruan ini mendidik para siswanya untuk memiliki nasionalisme sehingga mau berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Demi memuluskan langkahnya-langkahnya, RM Soewardi Soeryaningrat pun berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Sebagai seorang bangsawan yang berasal dari lingkungan Kraton Yogyakarta dan dengan gelar RM di depan namanya, dia kurang leluasa bergerak. Aktivitas Tamansiswa pun ditentang oleh Pemerintah Belanda melalui Ordonasi Sekolah Liar pada 1932. Dengan gigih RM Soewardi Soeryaningrat pun berjuang hingga ordonansi itu dicabut. Sambil mengelola Tamansiswa, RM Soewardi Soeryaningrat tetap rajin menulis. Namun bukan lagi soal politik, melainkan soal pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Tahun 1943, ketika Jepang menduduki Indonesia, Ki Hajar Dewantara bergabung ke Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Di organisasi tersebut, dia menjadi salah seorang pimpinan bersama Soekarno, Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Setelah Indonesia merdeka, ia pun dipercaya menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama. Berbagai aktivitasnya dalam memperjuangkan pendidikan di tanah air sebelum hingga Indonesia merdeka tersebut, membuatnya dianugerahui gelar doktor kehormatan oleh Universitas Gadjah Mada (1957). Ki Hajar Dewantara meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Kampung Celeban (Yogyakarta). Kemudian, atas jasa-jasanya, pendiri Tamansiswa itu ditetapkan sebagai

Pahlawan Pergerakan Nasional. Ki Hajar Dewantara pun mendapat gelar Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal kelahirannya, 02 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Itulah dia, R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara. Bangsa ini perlu mewarisi semangat mereka dalam memajukan manusia Indonesia dengan sepenuh hati dan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan jenis kelamin.***

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
By Citra Ayu Saputri on Juni 13th, 2009

Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara terlahir dalam keluarga kraton Yogyakarta. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), sayang sekali lantaran menderita sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di STOVIA.

Berjuang Lewat Tulisan Tak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tak membuat Ki Hajar Dewantara vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapa surat kabar sebagai wartawan muda. Selain itu beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik. Sebagai seorang wartawan tulisantulisan beliau dikenal sangat patriotik dan mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal antara lain “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Masa Pengasingan Sindiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar menyulut kemarahan Belanda, puncaknya Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas permintaan kedua rekannya yang juga mengalami hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan mereka dialihkan ke negeri Belanda. Masa pembuangan di negeri Belanda tersebut tidak disia-siakan oleh Ki Hajar Dewantara untuk mendalami bidang pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte. Perguruan Nasional Taman Siswa

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai salah satu bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekanrekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hajar Dewantara tak hanya melalui Taman Siswa, sebagai penulis, Ki Hajar Dewantara tetap produktif menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak bernuansa politik, namun beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan Ki Hajar Dewantara berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai semboyan yaitu Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa. Pahlawan Pendidikan Indonesia Di Usia nya yang genap 40 tahun, Ki Hajar Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan mengganti nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Hal ini dimaksudkan agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati. Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada organisasi Putera bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Dimasa kemerdekaan Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak berlebihan pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiranpemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.
(Dilihat 19 kali)

Kategori: Penulisan Artikel Tags: Indonesia Tercinta

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
20 40 60 80 100 No votes yet oleh admin

Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara terlahir dalam keluarga kraton Yogyakarta. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), sayang sekali lantaran menderita sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di STOVIA. Berjuang Lewat Tulisan Tak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tak membuat Ki Hajar Dewantara vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapa surat kabar sebagai wartawan muda. Selain itu beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik. Sebagai seorang wartawan tulisantulisan beliau dikenal sangat patriotik dan mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal anatarlain "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Masa Pengasingan Sindiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar menyulut kemarahan Belanda, puncaknya Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas permintaan kedua rekannya yang juga mengalami hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan mereka dilaihkan ke negeri Belanda. Masa pembuangan di negeri Belanda tersebut tidak disia-siakan oleh KI Hajar Dewantara untuk mendalami bidang pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte. Perguruan Nasional Taman Siswa Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai salah satu bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekanrekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hajar Dewantara tak hanya melalui Taman siswa, sebagai penulis, Ki Hajar Dewantara tetap produktif menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak bernuansa politik, namun beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan KI Hajar Dewantara berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai Semboyan yaitu tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa. Pahlawan Pendidikan Indonesia Di Usia nya yang genap 40 tahun, Ki Hajar Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan mengganti nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal ini dimaksudkan agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati. Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada organisasi Putera bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Dimasa kemerdekaan Ki Hajar Dewantara dingkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak berlebihan pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan Nasional untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiranpemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia. (Dari Berbagai Sumber)

Ki Hadjar Dewantara Ditulis oleh Administrator Thursday, 17 January 2008 Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889–26 April 1959) adalah seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun". Beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, 2 Mei, kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000. Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa. Recommend this article... Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 17 January 2008 )

Ki Hajar Dewantara (1889-1959)

Bapak Pendidikan Nasional
Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun". Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan

Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut. Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi. ► crs, dari berbagai sumber

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia

Profil Ki Hajar Dewantara (Tokoh Pendidikan RI)

Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Ia kemudian menulis untuk berbagai surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express dan Utusan Hindia. Ia tergolong penulis tangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Selain menjadi seorang wartawan muda RM Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Budi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang di seksi propaganda. Perkenalannya dengan Dr. Danudirdja Setyabudhi (F.F.E Douwes Dekker), dr. Cipto Mangunkusumo dan Abdul Muis melahirkan gagasan baru untuk mendirikan partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia, yakni Indische Partij. Partai yang berdiri pada tahun 1912 ini memiliki keyakinan bahwa nasib masa depan penduduk Indonesia terletak di tangan mereka sendiri, karena itu kolonialisme harus dihapuskan. Namun sayang, status badan hukumnya ditolak oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Mereka bertiga kemudian membentuk Komite Bumiputera, sebuah organisasi tandingan dari komite yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda. Bersamaan dengan itu, RM Suwardi kemudian membuat sebuah tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang menyindir ketumpulan perasaan Belanda ketika menyuruh rakyat Indonesia untuk ikut merayakan pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Tulisan yang dimuat dalam koran de Express milik Dr. Douwes Dekker ini dianggap menghina oleh Pemerintah Belanda sehingga keluar keputusan hukuman bagi beliau untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Usaha pembelaan yang dilakukan Dr.

Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo tidak membawa hasil, bahkan mereka berdua terkena hukuman pengasingan juga. Karena menganggap pengasingan di pulau terpencil tidak membawa manfaat banyak, mereka bertiga meminta kepada Pemerintah Belanda untuk diasingkan ke negeri Belanda. Pada masa inilah kemudian RM Suwardi banyak mendalami masalah pendidikan dan pengajaran di Belanda hingga mendapat sertifikasi di bidang ini. Setelah pulang dari pengasingan, RM Suwardi bersama rekan-rekan seperjuangan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa anak didik. Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi 7 pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara. Dalam pendidikan ini nilai rohani lebih tinggi dari nilai jasmani. Pada tahun 1930 asas-asas ini dijadikan konsepsi aliran budaya, terutama berhubungan dengan polemik budaya dengan Pujangga Baru. Selain mencurahkan dalam dunia pendidikan secara nyata di Tamansiswa, RM Suwardi juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisan-tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan. Tulisannya yang berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan jumlahnya mencapai ratusan buah. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Pemerintah Belanda merintangi perjuangannya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi beliau dengan gigih memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu dapat dicabut. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Suwardi Suyaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, dan semenjak saat itu beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dalam zaman Pendudukan Jepang, kegiatannya di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) di tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki Hajar pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Pada tahun 1957, Ki Hajar menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Beliau meninggal dunia pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Guna menghormati nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan nasional, Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1959 menetapkan beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dan tanggal kelahirannya kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Pihak penerus Perguruan Taman Siswa, sebagai usaha untuk melestarikan warisan pemikiran beliau, mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya di Yogyakarta. Dalam museum terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hajar sebagai pendiri Taman Siswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau

konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hajar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Ki Hajar Dewantara memang tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan. Namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia.

Diposkan oleh khamdan jam 16:26 Label: Profil Ki Hajar Dewantara (Tokoh Pendidikan RI)

KI HAJAR DEWANTARA DALAM POLA PIKIR PENDIDIKAN
oleh: Haris Zaky Mubarak Berbicara tentang Ki Hajar Dewantara, tentunya tidak lepas relevansinya dari sejarah pemikirannya yang mendasari berdirinya Taman Siswa di 1922. Terkait dengan hal itu sejarah pemikiran atau intellectual history dapat didefinisikan sebagai usaha manusia untuk memahami pengalaman manusia dimasa lampau di dalam menganalisa pemikiran-pemikiran yang hadir pada masa itu. Semua perbuatan manusia pasti dipengaruhi pemikiran, karenanya sebagai sosok yang berpikir manusia tidak bisa lepas dari dunia kontemplatif. Manusia selalu bercita-cita ingin maraih kehidupan yang sejahtera dan bahagia dalam arti yang luas, baik lahiriah maupun batiniah, duniawi dan ukhrawi. Namun, cita-cita demikian tidak mungkin dicapai jika manusia itu sendiri tidak berusaha keras meningkatkan kemampuannya seoptimal mungkin melalui proses kependidikan karena di dalam proses kependidikan terdapat suatu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan yang matang untuk mencapai cita-citanya. Semakin tinggi ekspektasi manusia, semakin besar pula tuntutan kepada progresivitas mutu pendidikan sebagai sarana untuk mencapai cita-cita tersebut. Untuk itu, pendidikan menjadi refleksi dari cita-cita kelompok manusia, sekaligus menjadi lembaga yang mampu mengubah dan meningkatkan cita-cita tersebut untuk tidak terbelakang dan statis. Sadar akan hal itu, RM Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara telah mendekati proses pendidikan itu dalam sebuah pemikiran cerdas untuk mendirikan sekolah taman siswanya, jauh sebelum Indonesia mengenal arti kemerdekaan. Kembali pada faktual historis pada pendidikan kolonial sebelum masa pergerakan Nasional, yang menjadi cikal bakal lahirnya taman siswa, tampak sekali bahwa Belanda belum bersungguh-sungguh terhadap pengajaran rakyat. Pengajaran bagi bumi putera selalu mengalami penundaan. Perluasan sekolah selalu mengalami hambatan dan tantangan. Langkah demikian sengaja dilaksanakan oleh Belanda agar bangsa Indonesia tetap tidak berpendidikan. Mereka menyadari bahwa perluasan sekolah-sekolah bagi rakyat merupakan bahaya besar bagi kedudukannya sebagai penjajah. Sekolah yang mereka dirikan bukan untuk mendidik bangsa Indonesia menjadi manusia cerdas dan terampil, akan tetapi tujuan utamanya adalah memberi kemudahan bagi pemerintah Belanda untuk memenuhi kebutuhan akan pegawai rendah . Konsepsi Taman Siswa pun coba dituangkan Ki Hajar Dewantara dalam solusi menyikapi kegelisahan-kegelisahan rakyat terhadap kondisi pendidikan yang terjadi saat itu. Kelahiran Taman Siswa 3 Juli 1922 dinilai sebagai titik balik dalam pergerakan Indonesia. Kaum revolusioner yang mencoba menggerakkan rakyat dengan semboyan asing dan ajaran marxis, terpaksa memberikan ruang untuk gerakan ini, benar-benar berasaskan kebangsaan dan bersikap non kooperatif dengan pemerintah kolonial. Sebuah wujud ekspresivitas tinggi dalam memberikan kesadaran kepada Bangsa Indonesia umumnya bahwa kita sebagai bangsa haruslah memikirkan pendidikan agar dapat membentuk manusia susila yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah airnya yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah airnya. Berangkat dari pemahaman itulah, perlunya kita untuk mengetahui kembali pemikiran cerdas yang pernah digulirkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam upayanya tersebut, bagaimana asas dan dasar yang diterapkan Taman Siswa dalam usaha untuk merintis pendidikan di Indonesia. Apakah pendidikan Indonesia sekarang sudah menggambarkan pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Hal

menarik untuk dikaji secara mendalam lagi, karena bisa saja eksplanasi yang didapatkan dari kajian ini menjadi carian solusi yang berguna untuk dunia pendidikan di Indonesia. Orientasi Asas Dan Dasar Taman Siswa Dari Ki Hajar Dewantara Pernyataan asas Taman Siswa di tahun 1922 diupayakan sebagai asas perjuangan yang diperlukan pada waktu itu menjelaskan sifat taman siswa pada umumnya. Asas yang memuat 7 pasal tersebut secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut. Pasal ke-1 dan 2 mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran maka hal itu merupakan upaya di dalam mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka demi pencapaian tujuannya. Pasal 1 juga menerangkan perlunya kemajuan sejati untuk diperoleh dalam perkembangan kodrati. Dasar ini mewujudkan “sistem-among” yang salah satu seginya ialah mewajibkan guru-guru sebagai pemimpin yang berdiri di belakang tetapi mempengaruhi dengan memberi kesempatan anak didik untuk berjalan sendiri. Inilah yang disebut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”. Pasal ke-3 menyinggung masalah kepentingan sosial, ekonomi dan politik kecenderungan dari bangsa kita untuk menyesuaikan diri dengan hidup dan penghidupan ke barat-baratan telah menimbulkan kekacauan. Sistem pengajaran yang terlampau memikirkan kecerdasan pikiran yang melanggar dasar-dasar kodrati yag terdapat dalam kebudayaan sendiri. Pasal ke-4 menyangkut tentang dasar kerakyatan untuk memepertinggi pengajaran yang dianggap perlu dengan memperluas pengajarannya. Pasal ke-5 memiliki pokok asas untuk percaya kepada kekuatan sendiri. Pasal ke-6 berisi persyarat dalam keharusan untuk membelanjai sendiri segala usaha Taman Siswa. Dan pasal ke-7 mengharuskan adanya keikhlasan lahir-batin bagi guru-guru untuk mendekati anak didiknya. Pernyataan asas yang berisi 7 pasal tersebut, sesungguhnya merupakan pengalaman dan pengetahuan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan barat yang mengusahakan kebahagian diri, bangsa dan kemanusiaan. Adapun Dasar Taman Siswa di tahun 1947 merupakan susunan dasar yang memuat perincian dasar-dasar yang terpakai di dalam Taman Siswa sejak berdirinya di 1922 hingga seterusnya, baik yang terkandung di dalam keterangan asas-asasnya maupun yang terdapat di dalam segala peraturannya. Dasar Taman Siswa tahun 1947 terkenal dengan nama Panca Dharma yang memuat : 1. Dasar Kemerdekaan 2. Dasar Kebangsaan 3. Dasar Kemanusiaan 4. Dasar Kebudayaan 5. Dasar Kodrat Alam Kesemua dasar ini sama sekali tidak bertentangan dengan asas 1922 yang menjadi pijakan awal Ki Hajar Dewantara dalam merintis pendidikan di Indonesia, karena poinpoin penting yang termaktub dalam dasar Taman Siswa ini hanyalah mempertegas dari hal-hal yang telah dikemukan dalam Asas Taman Siswa. Berkaca dari hal ini, mungkin kita bisa mengakui kapabilitas seorang Ki Hajar Dewantara dalam merumuskan pemikiran-pemikiran yang sejatinya belum dimiliki oleh sebagian kalangan pada saat itu. Pemikiran cerdas di dalam memberikan tuntunan dasar akan pentingnya keteladanan, keuletan dan kesabaran di dalam belajar telah menjadi esensi penting di dalam modal utama untuk memperbaiki kualitas pendidikan saat ini. Apalagi kenyataan sekarang di dalam dunia pendidikan, sangatlah berbeda jauh dengan apa yang diperlihatkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Bahkan boleh dikatakan bahwa pendidikan sekarang tidak bisa memaknai pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Misalnya saja di dalam poin ke-7 di dalam asas Taman Siswa, yang sedikit sekali diterapkan oleh kalangan pendidik. Keikhlasan lahir batin bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kurang begitu ditanamkan dewasa ini, mengingat semua pengabdian mesti tereprisalkan dalam bentuk materi (uang). Oleh karena itu, dalam era

sekarang eksistensi roh pendidikan seperti yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara hendaknya tetap menjadi pola-pola pikir yang terus didayakan oleh generasi muda, karena bagaimanapun juga mengubah Indonesia menjad

Sosok : Mata Pena Ki Hadjar Dewantara 05/04/2007 - 11:51:36 | Read 2,263 Time(s) "" KI HADJAR DEWANTARA mengawali kiprahnya sebagai seorang wartawan muda yang ulet. Tulisannya tajam, komunikatif sekaligus provokatif. ... "" KI HADJAR DEWANTARA mengawali kiprahnya sebagai seorang wartawan muda yang ulet. Tulisannya tajam, komunikatif sekaligus provokatif. Setiap orang yang membawa tulisannya, semangat patriotiknya akan membuncah untuk mengisir penjajah. Ki Hadjar Dewantara pun menjelma menjadi punulis handal pada zamannya Begitu memasuki bulan Mei, kita seperti diajak bersua dengan orang tua kita yang telah menjadi klasik ini. Seorang pejuang sejati yang mendedikasikan hidup untuk bangsanya. Ki Hadjar Dewantara telahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Saat genap berberusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sejak itu, ia tidak menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dia mengalir seperti air. Kiprahnya berlanjut. Dia mendirikan Taman Siswa. Dedikasinya yang luar biasa pada pendidikan menyebabkan dia dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta 28 April 1959 dan dimakamkan di sana. Perjalanan hidupnya benarbenar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Selain aktif sebagai seorang wartawan muda, ia juga berkiprah dalam organisasi sosial dan politik. Pada 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tentu saja pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral

Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda. Menusul ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun. Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada di daerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Dia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut. Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Di zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir.Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Pihak penerus perguruan Taman Siswa, mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Tujuannya untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data suratmenyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya. Dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial serta didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Ki Hadjar Dewantara
From Ghabopedia

Kembali Ke>>KABINET INDONESIA>>PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA>>TOKOH PEMERINTAHAN>>TOKOH DAERAH>>NASIONAL BIODATA Nama : Ki Hadjar Dewantara Nama Asli : Raden Mas Soewardi Soeryaningrat Lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889 Wafat : Yogyakarta, 28 April 1959 Pendidikan :
• • •

Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tidak tamat Europeesche Akte, Belanda

Karir :
• • •

Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa), 3 Juli 1922 Menteri Pengajaran Kabinet Presidensial, 19 Agustus 1945 – 14 November 1945

Organisasi :
• •

Boedi Oetomo, 1908 Pendiri Indische Partij (partai politik pertama beraliran nasionalisme Indonesia), 25 Desember 1912

Penghargaan :
• •

Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957

Pahlawan Pergerakan Nasional (Surat Keputusan Presiden No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

BIOGRAFI Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889 – 26 April 1959) adalah seorang tokoh pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tulisan Ki Hajar yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli : Als ik eens Nederlander was) yang pernah dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker tahun 1913. Artikel tersebut ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Indonesia. Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, (2 Mei) dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia dan menjadi Bapak Pendidikan Indonesia. Nama Ki Hajar juga diabadikan sebagai nama kapal perang Indonesia "KRI Ki Hajar Dewantara". Selain itu, perguruan Taman Siswa yang ia dirikan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah "tut wuri handayani". Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya "ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita.

Air Mata Ki Hajar Dewantara

Dokumentasi Hermawan Aksan Selasa, 5 Mei 2009 | 03:17 WIB DULU Hari Pendidikan Nasional, yang kita peringati setiap 2 Mei, disingkat Harpenas. Kini kita mengenalnya sebagai Hardiknas, dengan kepanjangan yang sama. Kalau tidak salah, perubahan itu terjadi seiring dengan perubahan Departemen P & K, sebagai kepanjangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi Depdikbud—sekarang menjadi Depdiknas, dan pasti tak ada hubungannya dengan pelesetan "departemen dikebut". Tanggal 2 Mei diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889), seorang pahlawan nasional yang juga merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Lelaki bernama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Ia tokoh pendiri Taman Siswa, sebuah sekolah kerakyatan di Yogyakarta, dan gambarnya bisa dilihat pada uang kertas lama Rp 20.000. Pekan lalu, saya bertemu dan berbincang hangat dengan seorang sepupu yang sudah lama menjadi guru PNS. Kami sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena kami bertemu ketika anakanak SMP menghadapi UN, pembicaraan pun bergulir juga ke soal UN dan sistem pendidikan yang lebih luas. "Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan tipu-menipu," katanya. Astaga, saya tentu saja kaget. Tapi ia mengabaikan kekagetan saya. "Satu contohnya, ya, UN ini. Coba lihat nanti kalau sudah diumumkan. Hampir semua sekolah akan mengumumkan kelulusan yang angkanya 99-100 persen. Semua akan menyambut gembira. Menteri Pendidikan akan bilang bahwa kualitas pendidikan kita meningkat. Betulkah demikian? Omong kosong besar! Siapa pun yang bisa berpikir dengan logika sederhana pun tak akan percaya bahwa sebuah sekolah bisa meluluskan seratus persen peserta UN." "Tapi memang banyak sekolah yang siswanya lulus seratus persen, seperti tahun-tahun lalu," kata saya. "Karena apa? Karena selalu terjadi pembocoran jawaban soal-soal!" "Apa benar begitu? Bukankah pengawas UN SMA berasal dari perguruan tinggi?"

"Bullshit! Mereka akan menjadi bagian dari kecurangan secara menyeluruh. Kecurangan sistemik yang rapi dan apik." "Bagaimana terjadinya kecurangan?" "Banyak cara. Salah satunya, contekan biasa seperti anak-anak dulu, cuma bedanya sekarang lebih vulgar. Dulu hanya antar-anak, sekarang antarkelas, dengan pengawasan yang tidak ketat, dan terkesan mempersilakan." "Adakah kemungkinan guru dan sekolah sengaja memberikan jawaban?" "Kemungkinan itu ada. Dulu empat tahun lalu aku sempat ribut dengan kepala sekolah karena jawaban didikte di depan kami tanpa izin dulu. Dia anggap aku juga gampangan. Ya, mungkin ada anggapan bahwa pengawas bisa diatur. Dan entah gimana, mereka hampir dikatakan lulus semua. Sayang sekali pembuktian terhadap kecurangan itu sulit sekali. Kamu lihat juga para siswa yang menyalin jawaban sebelum UN dimulai. Lalu juga beredarnya SMS jawaban. Siapa yang menyebarkan?" "Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan semua kecurangan itu?" tanya saya. Wajah saudara saya itu seperti gemas melihat ketololan saya. "Kan Depdiknas ingin dana 20% APBN. Sebaliknya, pemerintah otomatis menuntut prestasi anak. Pemerintah tahunya secarik kertas dengan angka-angka. Biar cepat terealisasi. Kan tidak mudah anak jadi pintar begitu saja. Maka dibuatlah sistem yang saling menguntungkan. Siswa untung, dinas pendidikan ke depan untung, guru juga untung karena prestasi anak. Dapat uangnya bukan hari ini tapi ke depan. Bisa dibayangkan berapa tambahan guru jika 20% APBN untuk pendidikan terealisasi." Saya diam, mencoba memahami jalan pikirannya. "Sudahlah," katanya. "Pendidikan di Indonesia itu penuh kebohongan. Memang susah dibuktikan, tapi semuanya seperti gajah di pelupuk mata." Saya masih diam, membayangkan air mata di wajah Ki Hajar Dewantara. (hermawan aksan)

KI HADJAR DEWANTARABy alasketu Kamis, Juni 07, 2007 17:45:14

Clicks: 2418

Click to view another photos... Bapak Pendidikan Nasional Indonesia (1889 - 1959) tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada. Semboyan atau asas tersebut memiliki arti masing-masing sebagai berikut: tut wuri handayani mempunyai arti dari belakang memberikan dorongan dan arahan, ing madya mangun karsa berarti di depan memberi teladan dan ing ngarsa sung tulada diartikan ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa. Buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan yang di dalamnya banyak terdapat perbedaan-perbedaan dan dalam pelaksanaan pendidikan tersebut tidak boleh membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilainilai kemerdekaan yang asasi. Karena Tuhan memberi manusia kemerdekaan untuk mengembangkan diri dari ikatan alamiah menuju tingkatan budaya. Jadi kemerdekaan mengembangkan diri adalah hakikat dari sebuah pendidikan sehingga pendidikan itu tidak dapat dibatasi oleh tirani kekuasaan, politik atau kepentingan tertentu. Ini dibuktikan dengan sejarah dimana tidak pernah ada pendidikan yang berhasil kalau tumbuh di

dalam alam keterkungkungan atau penjajahan. Pada masa pergerakan dan perjuangan mencapai kemerdekaan, dia memiliki dasar pemikiran yang sangat tepat, bagaimana cara sebuah bangsa dapat mencapai kemerdekaan yaitu dengan memajukan pedidikan bagi rakyatnya secara menyeluruh. Sebenarnya pandangannya itu bukan hanya diterapkan pada masa perjuangan mencapai kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan akan tetapi bisa juga diterapkan pada konteks saat ini dalam mengisi kemerdekaan dengan hasil karya yang lebih gemilang bagi bangsa dan negara. Karena bukan saja kemerdekaan secara politik yang diproklamasikan tahun 45 akan tetapi dengan pendidikan juga untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan dalam bidang budaya, ekonomi, sosial, teknologi, pendidikan, lingkungan, keamanan, dan sebagainya dari pihak lain. Tokoh peletak dasar pendidikan nasional ini terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Pendidikan dasarnya diperoleh di Sekolah Dasar dan setelah lulus ia meneruskan ke Stovia di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia tergolong penulis tangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Selain menjadi seorang wartawan muda RM Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Boedi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang di seksi propaganda. Dalam seksi propaganda ini dia aktif untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya kesatuan dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 dia mendirikan Indische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka, organisasi ini didirikan bersama dengan dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo. Organisasi ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada pemerintah kolonial Belanda tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, , dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh penjajah saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentangpemerintah kolonial Belanda!. Ada sebuah tulisannya yang bertujuan mengkritik perayaan seratus tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis pada bulan November 1913, dan dirayakan juga di tanah jajahan Indonesia dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Judul tulisannya adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan petikannya sebagai berikut:

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun. Tulisan tersebut dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwess Dekker, dan tulisan lain yang bernada protes pada pemerintah kolonial Belanda adalah Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Protes ini berkaitan dibentuknya Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda, selain karya tulis sebenarnya dibentuk juga sebuah orgarnisasi bernama Komite Boemipoetra sebagai komite tandingan dari komite yang dibentuk oleh Idenburg. Komite Boemipoetra juga merupakan organisasi yang dibentuk setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij. Karena tulisan yang bernada menyindir secara keras terhadap pemerintah kolonial Belanda, maka dalam hal ini Gubernur Jendral Idenburg memberikan hukuman -walau tanpa proses pengadilan- pada Soewardi berupa hukuman internering yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal atau lebih sering disebut hukum buang. Pulau Bangka sebagai tempat pembuangan Soewardi. Merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil, dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo membuat tulisan yang bernada membela Soewardi, akan tetapi oleh pihak Belanda dianggap menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial pada saat itu. Akibatnya keduanya juag terkena hukuman internering, dr. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena dianggap akan lebih bermanfaat yaitu mereka bisa lebih banyak memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil, dan akhirnya mereka diijinkan untuk menetap di Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Dalam masa pembuangan itu tidak dia sia-siakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga berhasil memperoleh Europeesche Akte. Setelah kembali ke tanah air di tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Diwujudnyatakan bersama rekan-rekan seperjuangan dengan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922, sebuah perguruan yang bercorak nasional. Di Tamansiswa murid-murid sangat ditekankan pendidikan rasa kebangsaan agar mereka

mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Selain mencurahkan dalam dunia pendidikan secara nyata di Tamansiswa Soewardi juga tetap rajin menulis, namun tema tulisan-tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan. Tulisannya yang berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan jumlahnya mencapai ratusan buah. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Banyak rintangan yang dihadapi dalam membina Tamansiswa, antara lain adanya Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, tetapi berkat perjuangannya, ordonansi itu dicabut kembali. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, dan semenjak saat itu Ki Hadjar tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dalam zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Jabatan yang pernah dipegang setelah Indonesia merdeka ialah sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Banyak kalangan sering menyejajarkan Ki Hadjar dengan Rabindranath Tagore, seorang pemikir, pendidik, dan pujangga besar kelas dunia yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional India, karena mereka bersahabat dan memang memiliki kesamaan visi dan misi dalam perjuangannya memerdekakan bangsanya dari keterbelakangan. Tagore dan Ki Hadjar samasama dekat dengan rakyat, cinta kemerdekaan dan bangga atas budaya bangsanya sendiri. Tagore pernah mengembalikan gelar kebangsawanan (Sir) pada raja Inggris sebagai protes atas keganasan tentara Inggris dalam kasus Amritsar Affair. Tindakan Tagore itu dilatarbelakangi kecintaannya kepada rakyat. Begitu juga halnya dengan ditanggalkannya gelar kebangsawanan (Raden Mas) oleh Ki Hadjar. Tindakan ini dilatarbelakangi keinginan untuk lebih dekat dengan rakyat dari segala lapisan. Antara Ki Hadjar dengan Tagore juga merupakan sosok yang samasama cinta kemerdekaan dan budaya bangsanya sendiri. Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari strategi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana; apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi. Sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan pendiri Tamansiswa, Ki Hadjar memang tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan. Namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia. Ki Hadjar bukan saja seorang tokoh dan pahlawan pendidikan ini tanggal kelahirannya 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan hari Pendidikan Nasional, selain itu melalui

surat keputusan Presiden RI no. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 Ki Hadjar ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oleh Ki Hadjar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada di tahun 1957. Dia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Sebagai wujud melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara oleh pihak penerus perguruan Tamansiswa didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Dalam museum terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Uraian diatas adalah sekilas potongan sejarah perjuangan Ki Hadjar dan terlihat jelas jiwa kebangsaannya telah tertanam sejak muda. Dan jiwa kebangsaannya itu memberikan kontribusi dan dorongan kuat pada dirinya untuk melahirkan konsep-konsep pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Sumber : http://www.bangfauzi.com

POKOK-POKOK GAGASAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MAJALAH WASITA 1928—1929

post info
By jangan-bungkamhendaru Categories: Uncategorized

1. PENDAHULUAN Pendidikan adalah jembatan emas menuju perubahan. Melalui pendidikan, seseorang diajarkan untuk jangan mau didikte keadaan, ia juga diajari bagaimana cara merubah keadaan sehingga dapat merubah keadaannya dan keadaan orang lain. Dalam lintasan sejarah Indonesia, pendidikan telah terbukti berperan dalam proses kelahiran sebuah bangsa dan negara bernama Indonesia. Pendidikan berperan dalam menghasilkan elit-elit pribumi baru yang sadar akan ketertinggalan dan ketertindasan yang dialami oleh pribumi. Oleh karena itu, mereka bertekad untuk mengubah keadaan, dari ketertinggalan dan ketertindasan menuju kemajuan dan kebebasan. Hal ini terwujud dalam sebuah cita-cita yang bernama kemerdekaan Indonesia. Pendidikan di Hindia Belanda dilaksanakan dalam bentuk sekolah-sekolah. Sejak pemerintah kolonial menerapkan politik etis awal abad ke-20, sekolah-sekolah mulai banyak dibuka di Hindia Belanda. Sekolah yang dibuka itu juga diperuntukan bagi pribumi. Dengan demikian, kesempatan mendapat pendidikan menjadi terbuka bagi pribumi, Meskipun demikian, pemerintah kolonial menerapkan perlakuan diskriminatif bagi pribumi. Hal ini terlihat dari adanya peraturan yang mengharuskan pribumi sekolah di sekolah yang diperuntukan bagi pribumi dan orang Eropa sekolah di sekolah yang diperuntukan bagi orang Eropa. Walaupun aturan itu tidak diterapkan secara ketat, tetap saja aturan itu menunjukkan adanya usaha segregasi pribumi dan Eropa dalam bidang pendidikan. Kebijakan pemerintah kolonial dalam bidang pendidikan mulai mendapat kritikan dari elit-elit pribumi yang lebih dulu mencicipi pendidikan sebelum diterapkannya politik etis. Salah satu kebijakan yang dikritik adalah kurikulum pendidikan bagi pribumi. Kurikulum pendidikan bagi pribumi dianggap hanya menekankan aspek kognitif intelektual semata yang berorientasi pada nilai-nilai Barat dan pragmatisme. Salah satu tokoh pribumi yang mengajukan kritik itu adalah Ki Hajar Dewantara. Melihat sistem dan kurikulum pendidikan yang tidak sesuai dengan jiwa ke-Timur-an itu, membuat Ki Hajar Dewantara berinisiatif mendirikan sekolah yang bernama Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Untuk mendukung diseminasi gagasannya dan misi Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara memutuskan untuk menulis di beberapa media massa di Hindia Belanda. Pada Oktober 1928 di Yogyakarta, terbit sebuah majalah pendidikan bernama Wasita. Majalah itu diterbitkan oleh Taman Siswa Yogyakarta. Dalam majalah itu, Ki Hajar Dewantara—juga sebagai pengarang majalah Wasita—banyak menuliskan gagasannya tentang pengajaran dan pendidikan. Beberapa pokok gagasan Ki Hajar Dewantara di majalah Wasita telah menarik saya untuk mengkajinya. Dalam tulisan ini saya mencoba menyajikan pokok-pokok gagasan Ki Hajar Dewantara di

majalah Wasita dari 1928—1929. Tidak lupa pula saya sertakan informasi tentang majalah Wasita sebagai sarana penyebar utama gagasan Ki Hajar Dewantara. 2. TENTANG WASITA Majalah pendidikan Wasita pertama kali terbit pada tahun 1928 di bulan yang sama dengan deklarasi para pemuda pribumi tentang bangsa, bahasa, dan tanah air yang satu, yaitu bulan Oktober. Wasita diterbitkan oleh Sekolah Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922. Artinya, Wasita terbit enam tahun setelah didirikan Taman Siswa. Wasita terbit pertama kali di Yogyakarta dan terbit sedikitnya sekali dalam sebulan. Dengan mengusung citra sebagai majalah untuk kaum pendidik dan ibu-bapak, Wasita memang bertujuan memberikan informasi kepada orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan dan orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah. Dalam Wasita edisi pertama, redaksi majalah ini jelas sekali menuliskan tujuan diterbitkannya majalah ini. “Adapoen Wasita itoe berkehendak mendjadi balai soeara dan panggoeng tamasja (balairoeng=siti inggil) oentoek segala kaoem pendidik dan pengadjar, kaoem iboe-bapa dan sekalian orang, jang ingin mengetahoei atau toeroet memperhatikan roepa-roepa daja oepaja goena kesehatan roh dan toeboeh anak, ialah anak-anak kita, jang kelak akan mengganti kita djadi ra’iat Indonesia.” Dengan demikian, jelaslah tujuan diterbitkannya Wasita adalah sebagai referensi atau sumber informasi pendidikan dan pengajaran bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kemajuan pendidikan dan pengajaran anak-anak pribumi. Seperti pers sezaman pada umumnya, Wasita mengundang khalayak umum untuk ikut menyumbangkan gagasan. Sebab, Wasita sendiri juga menginginkan tersebarnya pengetahuan pada khalayak umum. Hal ini jelas sejalan dengan tujuan Wasita seperti yang disebutkan di atas. Akan tetapi, Wasita juga membuat definisi ilmu dan pengetahuan apa yang layak dikonsumsi pembacanya. Menurut redaksi Wasita, pada dasarnya segala ilmu dan pengetahuan itu berguna dan wajib diketahui oleh para pembacanya. Hal ini berkaitan dengan rasa ingin tahu anak-anak pribumi. Jika ada anak-anak pribumi yang menanyakan sesuatu kepada orang tuanya, namun jika orang tua si anak tersebut tidak dapat menjawabnya maka akan berkuranglah rasa hormat si anak terhadap orang tuanya. Oleh karena itulah, redaksi Wasita berpendapat semua ilmu dan pengetahuan itu berguna dan pembaca diharapkan memiliki banyak ilmu dan pengetahuan dari membaca Wasita. Dari pemahaman itulah kemudian redaksi Wasita membagi majalahnya kedalam beberapa rubrik, yaitu ; 1. Pendidikan dan Pengadjaran, 2. Babad dan Tjeritera, 3. Pengetahoean Oemoem,

4. Archief Nasional, 5. Kesehatan dan Sport, 6. Sastra Lan Gending, dan 7. Feuilleton Rubrik pertama akan membicarakan hal yang menyangkut pendidikan dan pengajaran, termasuk agama dan gambaran pendidikan dan pengajaran di luar negeri seperti di Eropa, Amerika, dan Asia. Rubrik ini juga menyertakan tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh yang ahli di bidang pendidikan dan pengajaran. Rubrik kedua jelas merupakan rubrik yang membicarakan sejarah dan cerita, terutama sejarah dan cerita yang berkembang di masyarakat Jawa. Rubrik ketiga merupakan rubrik yang membicarakan rupa-rupa pengetahuan umum seperti staatrecht (pengetahuan negara), falak, hukum, dan pengetahuan lainnya yang berguna bagi perkembangan anak-anak. Rubrik keempat merupakan rubrik yang berisi informasi tentang sekolah-sekolah di Hindia Belanda. Rubrik kelima jelas membicarakan olahraga dan kesehatan. Rubrik keenam merupakan rubrik yang berisi tulisan-tulisan tentang bahasa, lagu, seni, dan kehalusan budi pekerti. Rubrik terakhir yang namanya diambil dari bahasa Perancis, merupakan rubrik yang berisi tulisan yang berkonsentrasi kepada kajian buku-buku atau kitab nasional yang dianggap cukup berpengaruh bagi perkembangan masyarakat di Hindia Belanda. Dalam menyampaikan informasi kepada pembacanya, Wasita menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Bahasa Melayu digunakan untuk menyampaikan gagasan yang dianggap berguna dan disukai segenap bangsa di seluruh Indonesia. Sementara bahasa Jawa, digunakan untuk menyampaikan gagasan yang dianggap hanya untuk kepentingan dan keperluan bangsa Jawa. Meskipun begitu, jika dianggap perlu, Wasita juga menerjemahkan tulisan dalam bahasa Jawa ke dalam bahasa Melayu ataupun sebaliknya, dalam bahasa Melayu ke dalam bahasa Jawa. Secara keseluruhan, Wasita jelas merupakan majalah yang mengkhususkan liputannya di bidang pendidikan dan pengajaran. Dan seperti halnya pers pribumi sezaman, Wasita juga menjadi corong pergerakan kaum nasionalis. Hal ini tampak dalam pilihan kata yang digunakan redaksi Wasita. Misalnya, dalam pemilihan kata Indonesia daripada Hindia Belanda. Apalagi dengan misi yang diusung Wasita, yaitu penyebaran pengetahuan untuk masyarakat pribumi. Dengan tersebarnya pengetahuan diharapkan masyarakat pribumi akan semakin tercerahkan dan mampu lepas dari belenggu ketertinggalan dan ketertindasan. Hal ini jelas menunjukan adanya cita-cita kemerdekaan atau pemerintahan sendiri dari redaksinya yang salah satunya adalah Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pergerakan nasional melalui bidang pendidikan. Sayangnya, saya tidak mendapat informasi siapa saja redaksi lengkap Wasita, berapa harga Wasita, dan seberapa besar oplah Wasita pada waktu 1928—1929. Saya baru menemui dewan redaksi Wasita, harga, dan oplahnya pada saat wilden scholen ordonantie diterapkan (1932). Hal ini tentu tidak dapat menjadi acuan untuk informasi redaksi, harga, dan oplah Wasita di masa 1928—1929.

3. TENTANG KI HAJAR DEWANTARA Untuk memahami gagasan Ki Hajar Dewantara di Wasita sudah tentu saya harus mengetahui siapa Ki Hajar Dewantara terlebih dahulu. Karena itulah bagian ini saya buat untuk menganalisis tulisannya. Ki Hajar Dewantara adalah cucu Sri Paku Alam III. Ia awalnya memiliki nama R.M. Suwardi Suryaningrat. Akan tetapi, setelah menjalani hukuman pengasingan di negeri Belanda ia mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan meninggalkan nama lama dan gelar kebangsawanannya. Hal ini menurutnya karena ia tidak ingin merasa terpisah dari rakyat banyak dan selalu ingin berada bersama rakyat banyak berjuang bersama-sama. Pemahaman seperti ini ia dapatkan dari dua kultur pendidikan yang berbeda yaitu Jawa dan Barat. Sejak kecil ia sudah menerima dua kultur pendidikan tersebut. Ia bersekolah di sekolah Belanda, tetapi tetap mendapatkan pendidikan nasional Jawa. Ki Hajar tampak seperti sosok yang mampu memadukan unsur-unsur baik dari dua kultur tersebut. Meskipun ia mendapat pendidikan Barat, ia tidak serta merta menjadi individualistik. Sebaliknya, ia justru merupakan tokoh humanis. Paham-paham humanisme barat tampaknya lebih dominan daripada paham-paham liberalisme barat. Sementara meskipun ia mendapat pendidikan Jawa, ia juga tidak serta merta menjadi seorang Jawa kolot. Dengan dilepaskannya gelar kebangsawanan dan nama Jawanya menjadi bukti ia bukanlah seorang Jawa yang kolot. Pemahamannya bahwa seseorang haruslah bekerja keras untuk melayani dan bukan untuk dilayani juga menjadi bukti lainnya bahwa ia adalah seorang sosok yang mengombinasikan nilainilai luhur dua kultur, yaitu Barat dan Jawa. Oleh karena persentuhan dua kultur itu, perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam Pergerakan Nasional menjadi unik. Awalnya, ia berjuang dengan masuk organisasi gaya Barat. Ia melihat organisasi sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajahan yang paling mungkin pada awal 1910-an. Akan tetapi, setelah ia di asingkan ke negeri Belanda, ia belajar banyak bahwa organisasi tanpa pencerdasan dan kesadaran rakyat adalah makna kosong. Dari sinilah arah perjuangan Ki Hajar Dewantara berubah. Perubahan itu secara radikal ditunjukkan dengan mendirikan sekolah bernama Taman Siswa pada 1922. Baginya, pendidikan lah yang dapat membuat rakyat sadar akan adanya sebuah penindasan yang menimpa mereka. Dari periode 1920-an inilah kita dapat melihat gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pentingnya pendidikan. 4. POKOK-POKOK GAGASAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MAJALAH WASITA 1928—1929 Dalam majalah Wasita terdapat rubrik pendidikan dan pengajaran. Rubrik ini merupakan rubrik utama majalah Wasita karena di rubrik ini kita dapat menemukan tujuan dan misi yang diusung Wasita. Dalam rubrik ini terdapat beberapa tulisan dari tokoh yang ahli di bidang pendidikan dan pengajaran seperti Ki Hajar Dewantara. Rubrik inilah yang saya ambil sebagai bahan kajian dalam makalah ini. Sementara tulisan yang saya ambil dalam rubrik ini adalah tulisan Ki Hajar Dewantara. Adapun rentang waktu yang saya ambil berkaitan dengan masa-masa pergerakan nasional memasuki masa baru, yaitu masa terobosan baru dengan adanya Sumpah Pemuda dan Kongres Perempuan Indonesia di tahun 1928. Bahkan Ki Hajar Dewantara pun menyempatkan menulis tulisan berkenaan dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia pada Desember 1928. Masa ini juga menjadi masa awal tersebarnya gagasan Ki Hajar Dewantara

tentang pendidikan dan pengajaran ke-Timur-an yang lebih dulu diwujudkan dalam bentuk Sekolah Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara memiliki konsep pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi (yakni yang nonpemerintah dan non-Islam). Konsep pendidikan seperti itu berarti pendidikan yang memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan seni-seni Jawa tradisional.[1] Ia dengan tegas menolak pendidikan yang terlalu mengutamakan intelektualisme dan mengorbankan aspek kerohanian atau jiwa para siswa. Menurutnya, pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial hanya akan membuat pribumi lupa akan kebudayaannya dan membuat pribumi menjadi tenaga terampil bagi kepentingan pemerintah kolonial. Berkaitan dengan itulah, ia akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah sekolah yang menawarkan pendidikan berorientasi kepada kebudayaan timur dan mengedepankan nilai-nilai kerohanian yang dibarengi dengan kekuatan intelektual. Sekolah yang ia dirikan bernama Taman Siswa. Sekolah itu berdiri pada Juli 1922. Enam tahun setelah sekolah itu berdiri, terbit majalah bernama Wasita. Majalah ini merupakan majalah yang diterbitkan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara berperan sebagai pengarang dan salah satu dewan redaksinya. Di majalah inilah kita dapat menemukan gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran yang ia coba terapkan di Taman Siswa dan coba disebarkan kepada khalayak umum, khususnya masyarakat pribumi sebagai sarana pencerahan pikiran. 4.1 TENTANG AZAS TAMAN SISWA Dalam Wasita jilid kesatu nomor dua edisi November 1928, Ki Hajar Dewantara menyumbang sebuah artikel yang berjudul “Azas Taman Siswo”. Artikel ini sebenarnya merupakan pidato Ki Hajar Dewantara dalam kongres Taman Siswa yang pertama di Yogyakarta pada 20 Oktober 1923. Dalam artikelnya itu, Ki Hajar Dewantara menyebutkan tujuh azas Taman Siswa. Azas pertama adalah mengatur diri sendiri (Zelfbeschikkingsrecht). Hak mengatur diri sendiri berdiri bersama dengan tertib dan damai (orde en vrede) dan bertumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei). Ketiga hal ini merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut among metode. Azas kedua adalah kemerdekaan batin, pikiran, dan tenaga bagi anak-anak. Maka pengajaran berarti mendidik anak untuk mencari sendiri ilmu pengetahuan yang perlu dan baik untuk lahir, batin, dan umum. Oleh karena itu, guru tidak dibenarkan untuk selalu memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus diusahakan bahwa guru mampu mendidik anak-anak untuk mandiri dan merdeka. Azas ketiga adalah kebudayaan sendiri. Kebudayaan sendiri dimaksudkan sebagai penunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat bangsa dan yang akan dapat memberi kedamaian dalam hidup bangsa. Pada azas ketiga juga terkandung makna pendidikan yang tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari rakyatnya. Azas keempat adalah pendidikan yang merakyat. Pendidikan dan pengajaran harus mengena rakyat secara luas. Sebab, hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan. Azas kelima adalah percaya pada kekuatan sendiri. Ini adalah azas yang penting bagi semua orang yang ingin mengejar ketertinggalannya dan meraih kemerdekaan hidup. Dan itu dapat terwujud melalui kerja yang berasal dari kekuatan sendiri. Azas keenam adalah zelfbedruipingssysteem atau membelanjai diri sendiri. Azas ini sangat dekat dengan azas kelima.

Pada azas ini segala usaha untuk perubahan harus menggunakan biaya sendiri. Sementara azas terakhir adalah keikhlasan dari para pendidik dan pengajar dalam mendidik anak-anak. Hanya dengan kesucian hati dan keterikatan lahir dan batinlah usaha pendidikan dan pengajaran dapat berhasil. 4.2 TENTANG PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN Dalam Wasita jilid satu nomor tiga edisi Desember 1928, Ki Hajar Dewantara menulis artikel yang semuanya mengulas perempuan. Dari enam artikelnya pada edisi Desember 1928 ini, Ki Hajar membahas persoalan perempuan terutama peran perempuan dalam pendidikan dan pengajaran. Mengapa Ki Hajar Dewantara sampai perlu membuat enam artikel yang semuanya membahas perempuan? Rupanya pada Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta. Berkaitan dengan itulah Ki Hajar Dewantara memberi perhatian khusus pada masalah perempuan di edisi Wasita bulan Desember 1928. Dalam artikelnya yang berjudul “Chodrat Perempuan”, Ki Hajar Dewantara mengutarakan ketidaksetujuannya pada jenis persamaan hak perempuan yang berkembang di Eropa. Menurutnya, persamaan hak hendaknya tidak melupakan kodrat perempuan yang berbeda dengan laki-laki baik dari fisik maupun psikologis. Sekilas pandangannya ini terkesan diskriminatif, akan tetapi kita akan kaget jika membaca artikel selanjutnya yang berjudul “Pematah Isteri” dan “Perempoean dan Sport”. Rupanya perbedaan perlakuan ditujukan untuk melindungi perempuan dari penjajahan dan penindasan laki-laki. Ki Hajar sendiri sangat mendukung partisipasi perempuan dalam pendidikan dan pengajaran. Ia juga mendukung perempuan yang melakukan olahraga. Asalkan dalam berolahraga perempuan tidak melupakan kodratnya berdasarkan fisik dan psikologisnya. Dalam artikel selanjutnya, “Perempoean dalam doenia Pendidikan”, Ki Hajar Dewantara mengajak kaum perempuan untuk turut serta dalam usaha mencerdaskan anak-anak bangsa. Ia menganggap guru perempuan adalah guru yang tepat untuk dijadikan pendidik bagi anak-anak karena ikatan emosional anak dengan ibu lebih kuat daripada anak dengan bapak. Oleh karena itu, lebih mudah mendidik anak pada usia dini melalui guru perempuan daripada guru laki-laki. Ia juga tidak lupa menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan. Akan tetapi, dalam mendidik dan mengajar anak perempuan ada beberapa petunjuk khusus. Hal ini terungkap dalam artikelnya yang berjudul “Co-educatie dan Co-instructie atau mendidik dan mengadjar anak-anak perempoean dan laki-laki bersama-sama”. Dalam artikel ini, ia melihat laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang tarik menarik. Keduanya sama-sama mempunyai ketertarikan pada lawan jenisnya. Oleh karena itu, laki-laki dan perempuan harus dipisah dalam kelas ketika mereka memasuki masa birahi atau masa pubertas. Namun, itu tidak berarti bentuk diskriminasi perlakuan terhadap perempuan. Sebab, perempuan tetap dapat bergaul dengan teman laki-laki sekolahnya dan begitu pula sebaliknya. Ki Hajar Dewantara melihat perempuan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pendidikan. Ia mencontohkan suatu kelas yang sedikit atau bahkan tidak ada murid perempuannya dan didominasi oleh murid laki-laki akan berakibat kelas itu memiliki murid yang berperilaku kasar dan tidak sopan. Tetapi sebaliknya, jika dalam sebuah kelas murid perempuannya memadai, maka besar kemungkinan murid-murid kelas itu dapat berperilaku halus, sopan, dan baik. Menurutnya, hal ini karena kehadiran perempuan yang membawa suasana berbeda di dalam

kelas. Oleh karena itu, ia tidak setuju pemisahan kelas dan sekolah khusus perempuan. Selain mengakibatkan sempitnya pandangan dan pengetahuan murid perempuan, sistem itu juga mengecilkan peran perempuan dalam pendidikan. Akan tetapi, jika sudah sampai pendidikan tingkat menengah dan lanjut, pemisahan kelas dapat saja dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi murid dalam belajar. Gagasan ini dapat kita temukan dalam artikelnya yang berjudul “Pengaroeh Perempoean pada barang dan tempat koelilingnja”. Di akhir artikel itu, Ki Hajar Dewantara menyerukan kaum perempuan untuk memahami hak dan kewajibannya sebagai perempuan. Hal ini ia utarakan untuk memompa semangat kaum perempuan dalam perjuangan demi kemuliaan rakyat dan keselamatan dunia. 4.3 TENTANG HIS Kekecewaan Ki Hajar Dewantara terhadap sistem pendidikan dan cara pengajaran yang ada di Hindia Belanda dapat kita temukan dalam artikelnya yang berjudul “Koerangnja dan Ketjewanja Onderwijs bagi Ra’jat kita” pada Wasita jilid satu nomor lima edisi Februari 1929. Dalam artikel itu, terlihat jelas kekecewaan Ki Hajar Dewantara terhadap sistem pendidikan dan cara pengajaran yang dijalankan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, ia mengkritiknya. Ia mengkritik pelaksanaan pendidikan dan pengajaran pemerintah yang ternyata tidak dapat mengangkat derajat masyarakat pribumi. Bahkan ternyata, apa yang telah dilakukan pemerintah justru makin menenggelamkan masyarakat pribumi menjadi budak bangsa lain. Ia melihat masyarakat pribumi hanya memberikan manfaat dari pendidikan dan pengajaran untuk bangsa lain, bukan untuk bangsanya sendiri. Kebijakan pemerintah kolonial yang hanya memberikan pendidikan rendah juga tak luput dari kritik Ki Hajar Dewantara. Baginya, masyarakat pribumi hanya mendapat pendidikan yang sangat rendah dan karena itu ia menilai pendidikan yang diberikan amatlah kurang. Meskipun akhirnya pemerintah kolonial mencoba meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat pribumi dengan membuka HIS pada 1914, hal itu tidak serta merta membuat Ki Hajar Dewantara puas. Ia justru mengkritik HIS karena terlalu kebarat-baratan. Ki Hajar merumuskan hasil yang keluar dari HIS sebagai berikut; kurang rasa sosial, egois, dan individualis. Oleh karena itu, ia merumuskan tiga formula untuk memperbaiki sistem pendidikan dan cara pengajaran bagi masyarakat pribumi, yaitu dengan memperbanyak sekolah, memperbaiki pelajarannya, dan mendidik anak supaya puas menjadi rakyat Indonesia. Lebih dari itu, ia juga menawarkan konsep pendidikan dengan sistem nasional dan menolak sistem Eropa. Akan tetapi di sisi lain, ia sebenarnya mendukung usaha perluasan sekolah bagi masyarakat pribumi yang salah satunya dilakukan dengan membuka HIS. Walaupun memang ia tidak setuju dengan sistem pendidikan dan cara pengajaran yang diterapkan HIS, ia tetap menganggap HIS juga mempunyai manfaat yang cukup besar untuk masa itu. Sebab, masyarakat pribumi sendiri masih memerlukan banyak sekolah. Oleh karena itu, ketika ada rencana dari pemerintah kolonial untuk menghentikan pertambahan HIS, Ki Hajar Dewantara secara tegas menolaknya. Hal ini terlihat pada artikelnya yang berjudul “H.I.S.” pada Wasita di edisi yang sama. Satu hal yang cukup menarik dari artikel ini adalah kalimat penutupnya. Kalimat penutupnya berbunyi “Hidoeplah Ra’jat Indonesia!”. Menjadi menarik karena kalimat ini berarti semakin menandakan watak dari majalah Wasita yang memiliki cita-cita kemerdekaan Indonesia.

4.4 TENTANG PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN NASIONAL Gagasan Ki Hajar Dewantara tentang sistem pendidikan dan cara pengajaran semakin terlihat jelas dalam artikel-artikelnya yang terbit di majalah Wasita setelah Februari 1929. Dalam artikelnya di Wasita jilid satu nomor enam edisi Maret 1929, Ki Hajar Dewantara mengajukan konsep pendidikan dan pengajaran yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak dan kebangsaan. Dalam artikelnya tersebut, Ki Hajar membagi pendidikan kedalam dua hubungan, yaitu pendidikan dan penghidupan rakyat dan pendidikan dan kebangsaan. Dalam hubungan yang pertama, antara pendidikan dan penghidupan rakyat, terdapat sembilan poin penting yang ia ajukan. Kesembilan poin penting itu antara lain, kekuatan rakyat, mendidik anak adalah mendidik rakyat, sistem pengajaran kerakyatan, penerimaan perbedaan, kemerdekaan manusia, bersandar pada kekuatan sendiri, tugas sebagai rakyat, tidak diperintah, dan persatuan pengajaran. Sementara itu, dalam hubungan yang kedua, yaitu antara pendidikan dan kebangsaan, ia mengajukan tujuh poin penting yang antara lain, pendidikan nasional yang selaras dengan kehidupan dan penghidupan bangsa, pendidikan nasional adalah hak dan kewajiban bangsa, tidak menerima subsidi pemerintah, tidak terikat lahir dan batin, sistem mengongkosi diri sendiri, adanya badan pembantu umum, dan adanya Steunfonds umum. Dengan demikian, Ki Hajar Dewantara telah merumuskan konsep dan arah pendidikan nasional. Dalam artikel-artikel selanjutnya, Ki Hajar Dewantara mengajukan usul-usul yang lebih praktis. Hal itu dapat terlihat di beberapa artikel selanjutnya. Dalam artikel yang berjudul “Orde, Regering dan Tucht, Faham Toea dan Baharoe”. Ki Hajar Dewantara menulis tentang bagaimana cara menjatuhkan hukuman bagi anak-anak. Dalam menjatuhkan hukuman itu hendaknya tidaklah dilupakan makna hukuman sebagai salah satu alat untuk mendidik. Di sini Ki Hajar menghendaki tidak hilangnya makna mendidik dengan hukuman yang diberikan kepada anak-anak. Selain di artikel tersebut, Ki Hajar Dewantara juga mengajukan beberapa panduan praktis dalam mendidik anak. Seperti yang terlihat pada dua artikelnya pada Wasita jilid satu nomor delapan edisi Mei 1929 dan Wasita jilid satu nomor sembilan dan sepulu edisi Juni—Juli 1929. Dalam artikelnya yang pertama yang berjudul “Excursie”, Ki Hajar Dewantara menulis tentang panduan melaksanakan perjalanan wisata dan studi para murid yang ditemani dengan gurunya. Ia menamakan hal tersebut sebagai excursie. Menurutnya, pendidikan dan pengajaran itu tidak melulu harus di kelas. Para murid juga harus dikenalkan terhadap lingkungan nyata dan pada akhirnya dapat bergaul dengan masyarakat. Dalam artikel yang kedua yang berjudul “Nationale Frobelschool. Cursus oentoek mempeladjari permainan dan njanjian anak”, Ki Hajar Dewantara melihat pentingnya pelajaran permainan dan nyanyian bagi para murid. Menurutnya, perlu beberapa langkah dalam mengajarkan permainan dan nyanyian bagi para murid. Oleh karena itulah, Ki Hajar Dewantara menulis hal ini. Dengan langkah yang tepat, ia mengharapkan kegunaan pelajaran permainan dan nyanyian seperti mendidik kebatinan murid, dapat terwujud. Ki Hajar Dewantara tampil kembali sebagai teoritikus pendidikan dalam artikel berikutnya yang berjudul “Pergoroean Ra’jat di Betawi dan tentang mendirikan Mulo-Kweekschool”. Dalam artikelnya ini, ia mengajukan saran kepada pemerintah kolonial untuk memperbanyak sekolah guru menengah pertama di Betawi (Batavia). Menurutnya, sekolah seperti itu sangatlah kurang jika dibandingkan dengan luas kota dan minat penduduknya dalam pendidikan. Sebelumnya, di

awal tulisan ia dengan tegas menyatakan azas pengajaran yang bersifat nasional Indonesia. Di sini pengajaran dimaksudkan untuk menanamkan bibit kecintaan dalam hati murid kepada bangsa dan tanah airnya. Dapatlah kita simpulkan, Ki Hajar Dewantara mencoba membangkitkan rasa nasionalisme Indonesia di kalangan rakyat banyak melalui pendidikan dan pengajaran. Melihat perkembangan para murid-murid pribumi yang sepertinya kehilangan kepribadian pribuminya membuat Ki Hajar Dewantara menulis artikel mengenai asosiasi antara Timur dan Barat. Pada Wasita jilid satu nomor sebelas dan dua belas edisi Agustus dan September, ia menulis artikel yang berjudul “Associatie antara Timoer dan Barat. Kita haroes bersiap dengan adab Nasional”. Dalam artikel ini, ia tampak jelas khawatir terhadap perkembangan para murid yang diajar dan dididik dalam cara yang lebih berat ke Barat. Akibatnya, para murid merasa minder dengan kebudayaan pribumi dan menganggap kebudayaan Barat-lah yang lebih tinggi dan baik. Ia menolak cara mengajar dan mendidik yang tidak mengindahkan dasar-dasar kehidupan bangsa. Menurutnya, pendidikan dan pengajaran itu haruslah menghasilkan orangorang yang cinta akan kebudayaan sendiri sehingga dengan demikian akan tumbuh rasa bangga akan jati dirinya sebagai sebuah bangsa yang unik, otonom, dan satu. Tampaknya, apa yang diajukan Ki Hajar Dewantara di majalah ini merupakan gagasannya tentang pembangunan nasionalisme di kalangan rakyat kebanyakan. Ia sadar bahwa nasionalisme dapat terbentuk hanya dengan kesadaran akan adanya sebuah bangsa yang merdeka. Dan kesadaran itu hanya dapat dibentuk melalui pendidikan dan pengajaran, dua kata yang selalu ia sertakan dalam artikelartikelnya. 5. KESIMPULAN Pendidikan telah merubah arah sejarah bangsa dan negeri ini. Hal itu terlihat dalam perjalanan sejarah bangsa dan negeri ini. Pendidikan melahirkan elit-elit yang sadar akan adanya sebuah bangsa dan negara yang merdeka. Elit-elit ini pun sadar bahwa pendidikan juga mampu mengangkat bangsa ini menuju kebahagiaan. Salah satu elit pribumi yang menyadari hal itu adalah Ki Hajar Dewantara. Ia melihat pendidikan mampu mengubah watak dan sikap bangsa ini untuk menjadi bangsa yang mempunyai derajat yang tinggi dan sejajar dengan bangsa lain. Namun, untuk mewujudkan itu pendidikan yang dijalankan haruslah pendidikan yang berorientasi kepada kepentingan bangsa dan berjiwa Timur. Ia menolak pendidikan yang hanya mengajarkan masyarakat pribumi menjadi masyarakat mekanis yang lupa akan tujuan hidup. Oleh karena itu, ia berusaha mengenalkan konsep pendidikan dan pengajaran yang mampu membuat masyarakat pribumi menjadi manusia seutuhnya. Gagasannya itu ia perkenalkan melalui majalah Wasita. Sebelumnya, ia telah mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1922. Namun, ia memandang hal itu tidaklah cukup. Ia ingin gagasannya diketahui masyarakat luas untuk kemudian dapat mencerahkan masyarakat yang membacanya. Lewat beberapa pokok penting gagasannya yang terdiri dari perempuan dan pendidikan, HIS, dan pendidikan dan pengajaran nasional, ia merumuskan konsep, makna, dan arah pendidikan dan pengajaran untuk bangsa Indonesia. Lebih penting lagi, ia juga berusaha menanamkan kesadaran akan rasa kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Disini ia mencoba menanamkan nasionalisme. Akan tetapi, hal itu hanyalah menjadi angin lalu tanpa diketahui orang banyak. Maka, Wasita tampil sebagai media penyampai gagasan Ki Hajar Dewantara. Dan

itulah arti penting media massa bagi penyebaran ide-ide kebangsaan kaum nasionalis. Di sini, kita juga dapat melihat hubungan antara kaum terpelajar pribumi dengan kelahiran pers-pers pribumi. DAFTAR PUSTAKA Ingleson, John. (1988). Road to Exiles (Terj. Zamakhsyari Dhofier). (Ed. Ke-2). Jakarta : LP3ES Kahin, George Mc Turnan. (1995). Nationalism and Revolution in Indonesia (Terj. Nin Bakdi Soemanto). (Ed. Ke-2). Jakarta : Sinar Harapan Nasution, S. (1995). Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara. Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. (1984). Sejarah Nasional Indonesia V. (Ed. Ke-4). Jakarta : Balai Pustaka. —————–. (1984). Sejarah Nasional Indonesia VI. (Ed. Ke-4). Jakarta Balai Pustaka. Pringgodigdo, A.K. (1994). Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. (Ed. Ke-14). Jakarta : Dian Rakyat. Ricklefs, M.C. (2005). A History of Modern Indonesia since 1200 (Terj. Tim Serambi). Jakarta : Serambi. Soeratman, Darsiti. (1989). Ki Hajar Dewantara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta. Koran Dewantara, Ki Hajar. Azas Taman Siswo. (1928, November). Wasita. ————————-. Chodrat Perempoean. (1928, Desember). Wasita. ————————-. Pematah Isteri. (1928, Desember). Wasita. ————————-. Perempoean dan Sport. (1928, Desember). Wasita. ————————-. Perempoean dalam doenia Pendidikan. (1928, Desember). Wasita. ————————-. Co-educatie dan Co-instructie atau mendidik dan mengadjar anak-anak perempoean dan laki-laki bersama-sama. (1928, Desember). Wasita. ————————-. Pengaroeh Perempoean pada barang-barang dan tempat koelilingnja. (1928, Desember). Wasita.

————————-. Koerangnja dan Ketjewanja Onderwijs bagi Ra’jat kita. (1929, Februari). Wasita. ————————-. HIS. (1929, Februari). Wasita. ————————-. Persatoean Nasional Onderwijs. (1929, Maret). Wasita. ————————-. Orde, Regeering dan Tucht, Faham toea dan faham baharoe. (1929, Mei). Wasita. ————————-. Excursie. (1929, Mei). Wasita. ————————-. Nationale Frobelschool, Cursus Oentoek mempeladjari permainan dan njanjian anak-anak. (1929, Juni—Juli). Wasita. ————————-. Pergoeroean Ra’jat di Betawi dan tentang mendirikan Mulo-Kweekschool. (1929, Juni—Juli). Wasita.

[1] Lihat M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200—2004, hal 367, Jakarta : Serambi, 2005.

Merekonstruksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Totok Amin Soefijanto BANGSA Indonesia selalu tidur. Dalam mimpi yang seperti berulang- ulang terjadi itu, mereka melihat persoalan yang nyaris sama. Setiap bertemu masalah, mereka berpikir kalau jalan keluarnya juga ditemukan di tempat yang sama, yaitu pendidikan. Pada awal perjuangan kemerdekaan di awal abad ke20, tokoh masyarakat seperti dokter Wahidin Sudirohusodo menyebut pendidikan sebagai cara ampuh untuk mengentaskan bangsa Indonesia dari keterbelakangan dan kemelaratan. Apakah benar pendidikan bisa menjadi obat mujarab untuk semua penyakit yang ada di masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama yang harus dilakukan sebagai bangsa Indonesia adalah membuka mata dan bangun dari tidur yang panjang. Kita tidur sejak tahun 1913, ketika seorang pemuda terdidik dan dari lingkungan keraton Jawa bernama Soewardi Soerjaningrat dengan lugas menulis di media Belanda De Express berjudul "ls Ik Nederlander was". Dalam tulisan yang menggegerkan negeri penjajah itu, pemuda yang lalu lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara itu berandai-andai menjadi orang Belanda dan berniat memberikan kemerdekaan kepada tanah jajahannya: Hindia Belanda alias Indonesia. Kita dengan takjub mendengarkan petuah Ki Hajar tentang pendidikan yang seolah dengan rapi dikemas ke dalam konsep sederhana "Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani". Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, dan di belakang mengawasi. Amat disayangkan bila konsep ini tidak pernah dijabarkan dengan lebih rinci, meski kemudian ajarannya dijadikan dasar gerakan pendidikan Taman Siswa yang memiliki jaringan sekolah di Tanah Air. Ki Hajar sendiri lalu disebut Bapak Pendidikan. Lebih jauh lagi bahkan pemerintah menggunakan semboyannya untuk logo departemen yang mengurusi pendidikan. Kita kian lelap tertidur. Persoalan masyarakat, khususnya pendidikan, pasti beres. YANG salah di sini bukan Ki Hajar yang dengan susah payah berpikir, menulis, dan pertama kali mengampanyekan idenya di depan rekan-rekan sejawat dalam gerakan Boedi Oetomo. Yang salah adalah kita yang cepat terkesima dengan jalan keluar yang tampak siap pakai dan siap berhasil. Karena Indonesia adalah bangsa majemuk, maka sistem pendidikan Ki Hajar yang "netral" terhadap semua perbedaan mestinya yang paling cocok. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Bagaimana dengan pendidikan tradisional pesantren di desa-desa, sekolah-sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan Belanda yang didirikan tokoh Islam perkotaan, sekolah-sekolah swasta yang berangkat dari inisiatif kelompok masyarakat Kristen dan agama non-Islam lain, dan sekolah yang dimulai dari inisiatif lokal kedaerahan? Konsep Ki Hajar tentu tidak bisa begitu saja mewadahi atau menyapu semangat masyarakat untuk mengembangkan pendidikan sesuai aspirasi masing-masing. Setelah triliunan rupiah, miliaran dollar AS, jutaan murid lulus, dan empat presiden, kita masih juga berkutat dengan persoalan sama. Konsep Ki Hajar tetap ada, meski terasa seperti buah simalakama. Apa pun yang kita lakukan terhadap konsep ini akan menghasilkan malapetaka. Bila ditinggalkan, konsepnya masih relevan untuk bangsa Indonesia yang majemuk dan sedang dalam proses transisi menuju negara demokrasi di tengah era globalisasi. Kita merasa bila rasa nasionalisme diperlukan untuk membendung pengaruh luar, misalnya Barat dan ide terorisme yang menggunakan jargon keagamaan. Repotnya, bila mau diterapkan, konsep Ki Hajar ini harus digali lebih dalam dan diuji secara ilmiah lewat berbagai penelitian agar jelas sosoknya dan memudahkan penerapan di lapangan.

Salah satu masalah dari konsep Ki Hajar adalah terpusatnya proses pendidikan di tangan guru. Seolah, bila gurunya baik semuanya akan berjalan baik. Kata guru, dalam bahasa Jawa bisa dijabarkan menjadi digugu lan ditiru (didengar dan dijadikan contoh). Penerapan ide di lapangan bisa dilihat di banyak tempat, misalnya kenaikan gaji guru, anggaran pendidikan ditambah, dan manajemen berbasis sekolah (MBS). Padahal, pendidikan bukan cuma berisi guru. Kita bisa lihat banyaknya unsur selain guru, seperti murid (anak didik), kurikulum, dan lingkungan. SISTEM pendidikan kita hingga kini memperlakukan anak didik sebagai penampung atau meminjam istilah Freire, depositor, yang menampung semua ucapan dan ajaran guru di depan kelas. Umpan balik dari murid amat jarang terjadi. Seringkali ini bukan karena gurunya yang gagal merangsang anak didik untuk bertanya, tetapi karena itulah kebiasaan sejak lama (lingkungan), dan guru harus mengejar target setiap mata pelajaran (kurikulum) seperti sopir bus kota yang mengejar setoran yang dalam beberapa kesempatan mesti mengabaikan rambu-rambu lalu-lintas dan kadang-kadang keselamatan dirinya dan penumpang. Yang mengenaskan, proses pendidikan semacam ini tidak hanya terjadi di SD, tetapi juga di perguruan tinggi yang muridnya lebih dewasa dan gurunya lebih terdidik. Soalnya, bahan baku atau calon mahasiswanya sejak TK sudah dibiasakan menjadi penampung. Barulah bila mereka keluar negeri dan bersekolah di universitas Barat yang maju, terasalah betapa mahasiswa Indonesia terkenal dengan "duduk, diam, dan mendengarkan dengan baik". Seorang profesor dengan bercanda bilang, “Sit, relax, and enjoy the ride" (duduk, santai, dan nikmatilah perjalanan ini). Kita harus mulai melihat persoalan pendidikan secara sistematis dan menyeluruh. Tidak hanya berkonsentrasi ke satu guru, cuma melihat kurikulum, atau berfokus ke lingkungan saja. Yang terlibat juga bukan hanya para pejabat, mantan pejabat, atau "orang-orang penting" saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat termasuk orangtua dan dunia usaha. Sebagai contoh, Rancangan UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional yang ramai dibicarakan kelak akan berujung ke penyusunan kurikulum nasional dan daerah. Bila saat penyusunan undang-undangnya begitu ramai dan banyak pihak terlibat, banyak pihak pesimistis bila pemerintah bersedia mendengarkan kritik dan usul masyarakat saat penyusunan kurikulum nanti. Sebab, berbeda dengan undang-undang yang mesti melibatkan DPR, penyusunan kurikulum sudah sepenuhnya menjadi porsi pemerintah. Penyusunan kurikulum pendidikan kita selama ini tidak merangsang adanya umpan balik. Jangankan dari murid, dari masyarakat dan orangtua pun, pemerintah yang secara legal memiliki wewenang menciptakan kurikulum nasional tak pernah sekalipun membuka kesempatan untuk itu. Kita sudah merdeka 58 tahun, tetapi mentalitas penyelenggara dan birokrasi pemerintahan yang mengurusi pendidikan masih mengandalkan pendekatan formal, seolah merekalah yang paling tahu. Kita bisa melihatnya dari penempatan pikiran Ki Hajar Dewantara yang nyaris tanpa koreksi. Yang terus dipakai hanyalah ’ing ngarso sung tulodho’ (di depan memberi contoh, memimpin), bukan ’ing madyo mangun karso’, apalagi ’tut wuri handayani’. Totok Amin Soefijanto Kandidat doktor bidang pendidikan, di Boston University

KI HADJAR DEWANTARA: MENEROBOS DISTORSI DAN MENYAMBUNG BENANG MERAH PERADABAN Sabtu, 2 Mei 2009, 7:00 am Diarsipkan di bawah: Pandangan Tokoh

Saya mempunyai keyakinan, Saudara Ketua, bahwa seandainya bangsa kita tidak keputusan naluri atau tradisi, tidak kehilangan “garis kontinu” dengan zaman yang lampau, maka sistem pendidikan dan pengajaran di negeri kita… pasti akan mempunyai bentuk serta isi dan irama, yang lain daripada yang kita lihat sekarang… (Ki Hadjar Dewantara). Tulisan di atas adalah pendapat Ki Hadjar Dewantara yang disampaikan dalam Pidato Penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada 7 November 1956. Tulisan ini secara jelas memperlihatkan refleksi Ki Hadjar Dewantara tentang keadaan bangsa Indonesia yang mengalami distorsi atau penyimpangan jalannya sejarah peradaban pada masa silam selama 350-an tahun sebagai akibat penjajahan Belanda. Situasi penjajahan ini membawa akibat terputusnya tradisi dan budaya, termasuk di dalamnya sistem pendidikan bangsa Indonesia. Akibatnya, bangsa Indonesia sangat lama mengalami kevakuman dan “terpaksa” harus berkiblat ke Barat dalam bentuk, isi, dan irama sistem pendidikan dan pengajaran. Seandainya tidak ada penjajahan, bangsa Indonesia pasti akan mempunyai sistem pendidikan yang bentuk, isi, dan iramanya lain. Ki Hadjar Dewantara melihat bahwa pendidikan ala Belanda yang muncul sebagai Ethische Politiek pada permulaan abad ke-20 tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia karena hanya mementingkan aspek intelektual, individual, material, dan kepentingan kolonial serta tidak mengandung cita-cita kebudayaan nasional. Sistem pendidikan yang berkembang sesudah era itu masih memperlihatkan pengaruh yang kuat sistem pendidikan ala Belanda. Padahal dalam tradisi bangsa Indonesia, menurut Ki Hadjar, kita mengenal istilah pendidik seperti pujangga, dalang, dwidjawara, hadjar, pendita, wiku, begawan, wali, kyai, dan juga istilah anak didik seperti mentrik, sontrang, dahyang, cantrik, dan santri. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah memiliki sejarah pendidikan yang panjang, yang berakar dari budaya bangsa sendiri, namun terputus karena penjajahan Belanda yang berlangsung selama 350 tahun. Masa penjajahan Belanda adalah masa terdistorsinya tradisi, budaya, dan pendidikan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang pernah mengalami masa kejayaan dalam berbagai ilmu, misalnya ketatanegaraan, sastra, budaya, teknologi, pelayaran, pertanian, seperti yang terlhat pada masa Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur (abad IV), Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat (abad V), Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah (abad VI), Kerajaan Sriwijaya di Sumatra

(abad VII), dan Kerajaan Majapahit (abad XIV); mengalami masa-masa pembodohan, pemiskinan, dan pengkerdilan sebagai bangsa terjajah pada era sesudahnya. Berbagai ilmu khas yang ada di Nusantara banyak yang diambil dan dipelajari oleh kaum penjajah sehingga di Belanda berkembang apa yang disebut Indology, yakni studi tentang budaya, bahasa, dan kesusasteraan nusantara. Sementara itu, bangsa Indonesia sebagai kaum terjajah selama beberapa generasi mengalami titik nadir dalam berbagai aspek itu. Faktanya adalah tidak ada upaya untuk mengembangkan pendidikan. Kalau akhirnya ada, itupun terbatas bagi kalangan priyayi dan tidak untuk rakyat kebanyakan atau demi memenuhi kebutuhan pemerintahan kolonial di bumi nusantara pada waktu itu. Menyambung Benang Merah Masa generasi yang hilang pernah dialami bangsa Indonesia. Masa sulit itu terjadi pada waktu Kerajaan Mataram di era pasca Sultan Agung hingga era Kebangkitan Nasional. Dalam kurun waktu selama itu, bangsa Indonesia mengalami penetrasi dalam segala hal, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya oleh Veerenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan pemerintah Hindia Belanda. Masa-masa itu terjadi pembodohan, pemiskinan, dan pengkerdilan yang luar biasa yang mengakibatkan hilangnya harkat dan martabat sebagai bangsa besar. Banyak upaya fisik dan non-fisik yang telah dilakukan oleh putera-puteri terbaik bangsa mulai dari perlawanan Sultan Agung, Amangkurat, Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa, Pangeran Mangkubumi, Pattimura, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan sebagainya, hingga perlawanan dengan jalur politik seperti Indische Partij, Budi Utomo, Sarekat Dagang Islam (SDI), serta perlawanan melalui jalur pendidikan dengan munculnya sekolah keagamaan dan kebangsaan seperti Perguruan Nasional Taman Siswa atau Nationaal Onderwijs Instituut. Adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara, putera dari Pakualaman Yogyakarta, yang secara intens berupaya menyambung kembali garis tradisi bangsa Indonesia yang terputus dengan kejayaan masa lampau melalui jalur pendidikan. Ki Hadjar dengan perguruan Taman Siswa, yang didirikannya pada tahun 1922, berupaya meletakkan dasar-dasar kebudayaan bangsa dan semangat kebangsaan di dalam gerakan pendidikan yang dilakukan di Jawa, Sumatra, Borneo, Sulawesi, Sunda Kecil, dan Maluku. Semua itu didedikasikan untuk memulihkan harkat dan martabat bangsa dan menghilangkan kebodohan, kekerdilan, dan feodalisme sebagai akibat nyata dari penjajahan. Dalam hal ini, Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu di antara sekian putera-puteri terbaik bangsa Indonesia yang telah berupaya menyambung benang merah peradaban bangsa Indonesia yang sempat terputus sekian lama. Beberapa Butir Pemikiran Ki Hadjar Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan memberikan harapan baru untuk kemajuan bangsa Indonesia, bukan hanya pada masa awal kemerdekaan, masa kemerdekaan, dan masa pasca kemerdekaan; tetapi juga ketika bangsa ini mengalami carut-marut pendidikan pada masa reformasi dan globalisasi.

Pertama, Ki Hadjar Dewantara melihat pendidikan dengan perspektif antropologis, yaitu bagaimana warga masyarakat meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya dan mempertahankan tatanan sosial. Tentang hal ini Ki Hadjar menyatakan bahwa “pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan”. Dengan demikian, segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya dan dapat diteruskan kepada anak cucu yang akan datang. Ki Hadjar Dewantara bukanlah seorang yang terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu yang hanya memikirkan pewarisan budaya melalui pendidikan. Kalaupun aspek ini ditekankan oleh Ki Hadjar, penyebabnya adalah anak-anak bangsa ini pernah mengalami dan merasakan sebagai generasi yang hilang. Ki Hadjar memandang penting pewarisan budaya ini sebagai cara menyambung kembali peradaban bangsa yang pernah terdistorsi. Ki Hadjar juga nemikirkan kemajuan budaya bangsa yang harus selalu bertumbuh. Menurut Ki Hadjar, pendidikan merupakan proses akulturasi, dalam oengertian, masyarakat tidak hanya menyerap warisan budaya tetapi juga memadu-kan berbagai unsur budaya tanpa menghancurkan unsur inti atau tema utama kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan nasional (Cultureel Nationalisme). Ki Hadjar Dewantara (1964:19) memunculkan Asas Tri-Kon, bahwa pertukaran kebudayaan dengan dunia luar harus dilakukan secara Kontinuitet dengan alam kebudayaannya sendiri, lalu Konvergensi dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada, dan akhirnya, jika sudah bersatu dalam alam universal, bersama-sama mewujudkan persatuan dunia dan manusia yang Konsentris. Konsentris berarti bertitik pusat satu dengan alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi masih tetap memiliki garis lingkaran sendiri-sendiri. Inilah suatu bentuk dari sifat Bhinneka Tunggal Ika. Ki Hadjar Dewantara sangat arif dalam menyikapi pengaruh budaya Barat, dia menganjurkan untuk bersikap selektif terhadap unsur budaya Barat. Dia menyadari bahwa dia pernah mengenyam pendidikan Barat, baik ketika di ELS (Sekolah Dasar untuk orang Eropa) maupun ketika mengalami masa pembuangan di Belanda bersama dua sahabat karibnya, Dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo. Bahkan menurut kesaksian Bambang Sukawati Dewantara, dalam bukunya yang berjudul “Mereka yang Selalu Hidup: Ki Hadjar Dewantara dan Nyi Hadjar Dewantara”, dituliskan bahwa Ki Hadjar Dewantara, yang pada waktu itu bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, sangat senang ketika mendengar kabar dari ayahnya, Suryaningrat, bahwa dia diperbolehkan masuk ELS atas ijin dari Meester Abendanon. Kedua, Ki Hadjar Dewantara memiliki pemikiran bahwa pendidikan nasional harus berdasarkan pada garis hidup bangsanya dan ditujukan untuk keperluan peri kehidupan, yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya, sehingga bersamaan kedudukan dan pantas bekerjasama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Pemikiran ini menunjukkan bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah seorang yang sangat menghargai pluralisme atau kemajemukan. Dia juga seorang yang berpikiran futuristik. Sistem pendidikan nasional yang digagas Ki Hadjar Dewantara 50-an tahun yang lalu adalah sistem pendidikan yang tanggap dan mampu menjawab tatanan dunia yang mengglobal, yang dipacu oleh proses pemisahan waktu dari ruang. Pembebasan waktu dan ruang yang oleh Giddens (1990) dan Sastrapratedja (2001) disebut sebagai disembedding merupakan faktor dari

proses modernisasi dan membawa implikasi pada universalisasi yang memungkinkan jaringan global berbagai hubungan antarbangsa melintasi ruang dan waktu. Apa yang terjadi pada masa sekarang ini tampaknya sudah diprediksikan oleh Ki Hadjar Dewantara sehingga dalam konsep pendidikan nasional yang digagasnya diusulkan asas Tri-Kon, yakni kontinuitet, konvergensi, dan konsentris. Asas ini dimaksudkan sebagai cara untuk mengubah paradigma dan pola berpikir dalam menyikapi kemajemukan budaya nasional maupun internasional melalui pendidikan dan pengajaran. Wawasan kemajemukan ini membuka peluang bagi berkembangnya sikap toleran, inklusivisme, dan non-sektarianisme yang merupakan wujud konkret dari Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, Ki Hadjar Dewantara juga memandang penting pendidikan budi pekerti. Menurut dia, pendidikan ala Barat yang hanya berorientasi pada segi intelektualisme, individualisme, dan materialisme tidak sepenuhnya sesuai dengan corak budaya dan kebutuhan bangsa Indonesia. Warisan nilai-nilai luhur budaya dan religiusitas bangsa Indonesia yang masih dihidupi dan dijadikan pedoman hidup keluarga-keluarga di masyarakat Indonesia harus dikembangkan dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai luhur tersebut memperlihatkan kearifan budi pekerti yang memperlihatkan harkat dan martabat bangsa. Pendidikan dalam konteks pemikiran Ki Hadjar tidak cukup hanya membuat anak menjadi pintar atau unggul dalam aspek kognitifnya. Pendidikan haruslah mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak seperti daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Pendidikan juga harus mampu mengembangkan anak menjadi mandiri dan sekaligus memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain, bangsa, dan kemanusiaan. Dengan demikian, pendidikan akan mampu membawa anak menjadi seorang yang humanis dan lebih berbudaya. Kembali ke Ki Hadjar Dewantara Sebagai suatu bangsa, Indonesia memiliki sejarah yang sangat tua, bahkan lebih tua dari bangsa adi daya seperti Amerika dan Australia. Peradaban bangsa Indonesia telah mulai bertumbuh semenjak pada Abad ke-4 sesudah Masehi. Bangsa Indonesia dalam perspektif historis pernah mengalami distorsi peradaban selama 350 tahun akibat penjajahan Belanda sehingga mengalami kemunduran dalam berbagai segi. Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Suwardi Suryaningrat, putra dari Pangeran Suryaningrat, cucu dari KGPAA Paku Alam III, adalah satu di antara putera terbaik bangsa yang berupaya menjalin dan menyambung kembali peradaban bangsa Indonesia melalui gerakan pendidikan dengan Perguruan Nasional Taman Siswa atau Nationaal Onderwijs Instituut. Ki Hadjar Dewantara melalui pemikiran-pemikirannya, meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional yang bercirikan kebangsaan dan kebudayaan nasional. Dia berupaya membangun kembali kesadaran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bermartabat, dan berperadaban tinggi setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dialah Bapak Pendidikan Nasional yang pemikiranpemikirannya patut dipertimbangkan kembali untuk mengatasi carut-marut pendidikan nasional pada era reformasi dan globaklisasi sekarang ini. (***) -o0o-

Tulisan ini adalah karya KGPAA Sri Paku Alam IX yang dimuat dalam rubrik Opini harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Kamis Wage 5 Juni 2008 (1 Jumadilakir 1941 S). Termuat atas kerjasama Panitia Bedah Buku Nasional Pura Pakualaman dengan PT BP Kedaulatan Rakyat menyambut 202 Taun Adeging Negari Pakualaman. 16 Komentar 16 Komentar sejauh ini Tinggalkan komentar

hahaha dan selama ini yang banyak kita ketahui adalah devide et impera… Kang Nur: dan mem-besar2kan bahwa kita menjadi terjajah adalah akibat ‘devide et impera’-nya penjajah, adalah seperti melemparkan kesalahan semata kepada pihak penjajah.. padahal kebanyakan karena kebodohan kita sendiri.. pelajaran sejarah semestinya mampu mmbangkitkan semangat, bukannya me-nyalah2kan nasib.. he..he bukan hapalan kosong dan olok-olok Komentar oleh ardianzzz Kamis, 7 Mei 2009 @ 1:53 pm

mampir… dah lama tidak ke sini. [...] Pendidikan haruslah mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak seperti daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Biasanya banyak yang dikenal di dunia pendidikan adalah kognitif, afektif, dan motorik. Ketiganya harus seimbang agar sukses di dunia akhirat. salam superhangat. Kang Nur: gak tahu ya? nyatanya seperti itu kok yg saya kutip. ..tapi ‘kemauan’ itu mmg ‘kan juga sangat penting, jadi bukan sekedar fisik Komentar oleh cenya95 Kamis, 7 Mei 2009 @ 6:26 pm

sungguh luhur nggak kayak diriku Kang Nur: Komentar oleh suwung Kamis, 7 Mei 2009 @ 7:54 pm

Memang layak kalau Ki Hajar menjadi pahlawan nasional di bidang pendidikan Kang Nurr: yes Komentar oleh annosmile Kamis, 7 Mei 2009 @ 7:54 pm

suwe g mampir nang kang nur..heuehue tak polow wes biar ndak ketinggalan..yup…idealnya memang seperti itu konsep nya..hennah trus prakteknya? Kang Nur: ya, konsep Ki Hadjar memang juga lebih menonjolkan kearifan lokal, ..lha di jaman sekarang (globalisasi katanya ini) model2 bahkan institusi pendidikan malah banyak yg dari luar di-”cangkok” di sini.. katanya itu ‘unggulan’, qta perlu meng-adopsi-nya, biar maju gak ketinggalan.. saya gak tahu dech lha kalo globalisasi ini juga ‘menyerbu’ bidang pendidikan, apa ya nilai-nilai budaya yg mau dimiliki anak2 kita itu juga nilai2 budaya dari luar? Komentar oleh cebong ipiet Kamis, 7 Mei 2009 @ 8:06 pm

Ki hadjar dewantoro melegenda ya Kang Nur: legendaris ya?, tapi jarang dikaji serius Komentar oleh buwel Jumat, 8 Mei 2009 @ 12:02 am

top

Kang Nur: mar ko Topp Komentar oleh ciwir Jumat, 8 Mei 2009 @ 2:35 am

Masih adakah semangat Ki Hajar Dewantara pada pendidikan kita sekarang ini di mana guru dan murid sama2 ingin meraih tujuan dengan cara sesingkat2nya namun tidak terpuji seperti membocorkan soal2 ujian nasional?? Walahualam…. Kang Nur: wah gak tahu lah Bang.. kebanyakan orang mmg ingin cari untung dg cara se-singkat2nya ya? trmasuk bidang pendidikan pun begitu.. he.. Komentar oleh Yari NK Jumat, 8 Mei 2009 @ 6:00 am

hehe…dah lama gak pernah baca Sejarah Perjuangan Bangsa neh… Jadi inget lagi… Kang Nur: apa juga iingin mendapat Penataran P4 lagii? boleh Komentar oleh HumorBendol Jumat, 8 Mei 2009 @ 7:03 pm

Dear Kang Nurdayat.. Salam kenal, salam persahabatan, dan salam persaudaraan dari saya mas, Upasaka Ratana Kumaro… Terimakasih mas , sudah mampir ke blog saya… . Semoga Anda Semuanya Berbahagia Peace & Love Kang Nur: Terima kasih kembali. Sama-sama, pak. Komentar oleh upasakaratanakumaro Senin, 11 Mei 2009 @ 9:11 am

kenapa warisan luhur Ki Hadjar tidak diteruskan dalam dunia pendidikan kita sekarang ya? malah pendidikan dijadikan komoditas dengan UU BHP *keluh* terima kasih Mas atas postingannya, referensi mencerahkan tentang pendidikan bangsa Kang Nur: gak tau tu.. pendidikan sekarang, acuan n rujukannya apa ya? ;( Komentar oleh tomy Senin, 11 Mei 2009 @ 10:41 am

Pendidikan itu jangan hanya agar manusia menjadi kaya, atau makmur dunianya, bukan agar manusia bisa senang-senang di dunia foya-foya. Tapi pendidikan itu agar manusia itu menjadi baik, tau tujuan hidupnya, tabah menjalani hidupnya, bahagia dunia dan akhiratnya, bagaimanapun kondisi fisik/ekonomi/dsb dunianya. Kang Nur: tul. stuju Komentar oleh danang Minggu, 17 Mei 2009 @ 1:04 am

jadi tahu maksud kakekku kenapa kasih nama belakangku sama dengan nama belakangnya Beliau… ada banyak harapan rupanya terima kasih sudah berkenan berkunjung di blogku Kang Nur : Berarti nama belakang situ = Dewantara? Bagus lho, semoga sesuai memenuhi harapan kakek. Komentar oleh wh Senin, 18 Mei 2009 @ 6:32 pm

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani… ingkang kula apal*

*halah, mung menika

Kang Nur : ya sudah lumayan ada yg dihapal Komentar oleh frozen Senin, 18 Mei 2009 @ 9:55 pm

Orang2 yang ikhlas dalam memperjuangkan pendidikan bangsanya, merekalah pahlawannya para pahlawan… Kang Nur: Sekarang ini masih ada yg ikhlas ataukah tidak ya Tengku? Jangan2 kebanyakan minta imbalan saat-ini-juga? Komentar oleh tengkuputeh Kamis, 21 Mei 2009 @ 5:22 pm

salah satu tokoh yang saya kagumi Komentar oleh echochamber Jumat, 29 Mei 2009 @ 4:03 am

Rindu pada Ide Ki Hajar
Gagasan Pendidikan Tamansiswa Saling Mengisi dengan Muhammadiyah
Jakarta, Kompas, 25 Agustus 2006 - Kerinduan untuk membicarakan ide-ide pendidikan Ki Hajar Dewantara dari Tamansiswa dan Muhammad Sjafei dari INS Kayutanam muncul kembali setelah sekian lama ditinggalkan. Seminar tentang gagasan pendidikan Tamansiswa dan INS Kayutanam yang diselengggarakan Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis (24/8), mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Fasli Djalal mengemukakan, selama ini banyak pihak sibuk mencari perbandingan ke negara-negara lain untuk mencari ide-ide pendidikan. Padahal ada berbagai ide pendidikan monumental yang lahir dalam sejarah pendidikan nasional. Bahkan ide-ide pendidikan yang disampaikan oleh UNESCO sekalipun, ada yang merujuk pada gagasan pendidikan yang dikembangkan di Indonesia sejak 85 tahun silam. Menurut Fasli, Tamansiswa dan INS Kayutanam merupakan dua pilar pemikiran pendidikan di Indonesia yang bisa dikembangkan untuk menciptakan pendidikan yang bermutu dan kompetitif sekaligus berbasis pada kultur Indonesia. Ketua III Majelis Luhur Perguruan Tamansiswa Ki Supriyoko mengemukakan, pendidikan Tamansiswa tidak hanya mengagung-agungkan kecerdasan. Tamansiswa mengajarkan keseimbangan antara pengembangan pribadi dan kecerdasan. Pendidikan Tamansiswa tidak hanya bertujuan mengembangkan kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga bertujuan membangun anak didik menjadi manusia yang beriman, berakal budi luhur, dan bertanggug jawab atas bangsa, tanah air, dan manusia pada umumnya. Gagasan pendidikan Tamansiswa saling mengisi dengan pemikiran pendidikan Muhammad Syafei yang mendirikan INS Kayutanam. Mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek mengatakan, Muhammad Sjafei mengajarkan pendidikan merupakan alat untuk menjadi diri sendiri. Salah satu pepatah-petitih yang disampaikan Sjafei adalah jangan minta buah mangga kepada pohon rambutan, tetapi jadikanlah tiap pohon menghasilkan buah yang manis. "Kalau jadi dokter jadilah dokter yang baik. Kalau jadi pedagang jadilah pedagang yang baik. Akan tetapi jangan dokter jadi pedagang," kata Moeloek. Pengamat pendidikan HAR Tilaar menambahkan, gagasan pendidikan Tamansiswa maupun INS Kayutanam memiliki unsur- unsur penting yang dikenal dalam ilmu pendidikan modern. INS Kayutanam tumbuh dalam konteks kebudayaan Indonesia-Minang. Ini sesuai pemikiran pendidikan modern yang selalu melihat pendidikan dalam konteks pendidikan. Pendidikan INS Kayutanam juga sangat kental dengan nasionalisme. Roh semacam ini, kata Tilaar, hilang dalam pendidikan Indonesia saat ini. Mantan Rektor IKIP Jakarta Winarno Surakhmad mengatakan, bila gagasan pendidikan Tamansiswa dan Kayutanam hidup pada zaman Belanda, gagasan mereka justru mati dalam zaman republik.(wis)

Ki Hadjar Dewantara
Diposting oleh Rudianto pada 6/18/2009 10:54:00 AM

Thursday,Jun

Mengapa saya ingin mempostingkan tentang tokoh ini? Karena saya merasa sangat kagum pada perjuangan beliau dan juga karena jasa beliaulah bangsa kita dapat mengenyam pendidikan lebih baik dan lebih mudah daripada di zaman penjajahan Belanda. Yang ingin saya ceritakan tentang beliau dari Ensiklopedia Bebas, Wikipedia. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – wafat di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah. Masa muda dan awal karier

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan

kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula. Als ik eens Nederlander was

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik eens Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, tahun 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut. "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian. Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Dalam pengasingan

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri. Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa. Pengabdian di masa Indonesia merdeka

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari

Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959. Catatan kaki

1.^ Ini adalah versi Perguruan Tamansiswa, tokohindonesia.com menyebutkan 28 April 1959 sebagai tanggal wafat.

Masa muda dan awal karier

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful