P. 1
ki hajar 2

ki hajar 2

|Views: 2,612|Likes:
Published by kalacitra
educate
educate

More info:

Published by: kalacitra on Jun 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

Sections

Jumat, 26-06-2009

R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara,
Dua Tokoh Pendidikan Indonesia

Jumat, 01-05-2009 11:42:27 oleh: Sabjan Badio

Kanal: Opini

Kalau kita teliti, jejak perjuangan Kartini adalah perjuangan agar perempuan Indonesia bisa
mendapatkan pendidikan yang layak. Bukan perjuangan untuk emansipasi di segala bidang.
Kartini menyadari, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Agar dapat
menjalankan perannya dengan baik, perempuan harus mendapat pendidikan yang baik pula.

Dalam sebuah suratnya, kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902 Kartini menulis,
Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-
kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam
perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum
wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam
sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Atas kesadaran tersebut, Kartini berniat melanjutkan sekolah ke Belanda, Aku mau meneruskan
pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar
yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900).
Waktu itu, Kartini beranggapan
bahwa Eropa adalah tempat peradaban tertinggi dan paling sempurna di muka bumi. Namun,
rencana itu tak pernah berhasil. Kartini hanya mendapat kesempatan menempuh sekolah guru di
Betawi. Kesempatann ini pun batal dijalaninya karena dia harus menikah dengan R.M.A.A.
Singgih Djojo Adhiningrat.

Walaupun awalnya banyak menentang adat Jawa yang kaku dan kebiasaan bangsawannya
berpoligami, Kartini menerima pernikahan tersebut. Ada sebuah kesadaran di benaknya, dengan
menikah dia akan berkesempatan untuk mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra. Alasan
ini masuk akal karena suaminya adalah seorang bupati yang berkuasa dan mengizinkan bahkan
mendukungnya untuk mendirikan sekolah. Keputusan yang luar biasa dari seorang pahlawan
sejati.

Pada hari pernikahannya, seorang ustad dari Semarang, Haji Mohammad Sholeh bin Umar,
menghadiahkan beberapa juz al-Quran berbahasa Jawa. Kegelisahan Kartini terhadap agama

Islam pun terjawab. Sebelumnya, dalam kehidupan sehari-harinya Kartini hanya diajarkan
membaca al-Quran tanpa diizinkan untuk mengetahui artinya.

Setelah mempelajari al-Quran, pandangan Kartini terhadap beberapa hal pun berubah. Di
antaranya, pandangannya terhadap peradaban Eropa, “…, tadinya kami mengira bahwa
masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,
tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu
menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang
sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27
Oktober 1902).
Pandangan Kartini terhadap poligami pun berganti, jika awalnya menentang,
setelah mengenal ajaran Islam dia menerimanya.

Sayangnya, Haji Mohammad Sholeh meninggal sebelum sempat menyelesaikan seluruh
terjemahan al-Quran untuk Kartini. Kartini pun hanya mempelajari beberapa jus terjemahan
tersebut. Jika saja dia sempat mempelajari keseluruhan Al Quran, tidak mustahil ia akan
menerapkan semua kandungannya. Kartini berani berbeda dengan tradisi adatnya yang mapan,
dia juga memiliki ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukunya yang berjudul Habis
Gelap Terbitlah Terangmina dulumati ila nuur
. Kartini menyadari bahwa sumber pendidikan
terbaik justru ada di dekatnya, yaitu Al-Quran, bukan di Eropa. pun terinspirasi dari Surat Al-
Baqarah ayat 193:

13 Septembar 1904, Kartini meninggal pada usia yang masih muda, 25 tahun dan dimakamkan di
Rembang. Untuk menghormatinya, Van Deventer, seorang tokoh politik Etis, mendirikan
Yayasan Kartini (1912). Yayasan tersebut bertugas mengelola “Sekolah Kartini” yang didirikan
di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.

Ki Hajar Dewantara

Tokoh ini sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan
Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai
oleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun
karsa, ing ngarsa sungtulada
(di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang
untuk berprakarsa, di depan memberi teladan).

Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta (2 Mei 1889) dengan nama Raden Mas Soewardi
Soeryaningrat. Semasa kecilnya, RM Soewardi Soeryaningrat sekolah di ELS (SD Belanda).
Kemudian, ia melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter bumiputra), namun tidak tamat. Setelah
itu, dia bekerja sebagai wartawan di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,
Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisannya sangat tajam dan patriotik
sehingga membangkitkan semangat antipenjajahan.

Selain menjadi wartawan, RM Soerwardi Soeryaningrat juga aktif di organisasi sosial dan
politik. Tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Kemudian, bersama Douwes

Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (25 Desember 1912)
yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Namun partai ini ditolak oleh pemerintah Belanda.

Kemudian, ia dan kawan-kawannya membentuk Komite Bumipoetra (1913) untuk melancarkan
kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri
Belanda dari penjajahan Prancis. Untuk membiayai pesta tersebut Pemerintah Belanda menarik
uang dari rakyat jajahannya. RM Soewardi Soeryaningrat mengkritik lewat tulisannya “Als Ik
Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar Ook
Allen voor Een” (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).

Akibat tulisannya itu, RM Soerwardi Soeryaningrat dijatuhi hukuman buang ke Pulau Bangka
oleh Gubernur Jenderal Idenburg tanpa proses pengadilan. Douwes Dekker dan Cipto
Mangoenkoesoemo yang merasa rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil menerbitkan tulisan
untuk membela Soewardi. Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk
memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya, keduanya pun terkena hukuman buang,
Douwes Dekker ke Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo ke Banda.

Hukuman itu ditolak, mereka meminta untuk dibuang ke Negeri Belanda agar bisa belajar.
Keinginan tersebut diterima dan mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai
bagian dari pelaksanaan hukuman. Selama di negara kincir angin tersebut, Raden Mas Soewardi
Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte dan kembali ke tanah air pada 1918.

Sekembalinya ke tanah air, bersama rekan-rekannya, RM Soewardi Soeryaningrat mendirikan
Perguruan Nasional Tamansiswa (3 Juli 1922). Perguruan ini mendidik para siswanya untuk
memiliki nasionalisme sehingga mau berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Demi
memuluskan langkahnya-langkahnya, RM Soewardi Soeryaningrat pun berganti nama menjadi
Ki Hajar Dewantara. Sebagai seorang bangsawan yang berasal dari lingkungan Kraton
Yogyakarta dan dengan gelar RM di depan namanya, dia kurang leluasa bergerak.

Aktivitas Tamansiswa pun ditentang oleh Pemerintah Belanda melalui Ordonasi Sekolah Liar
pada 1932. Dengan gigih RM Soewardi Soeryaningrat pun berjuang hingga ordonansi itu
dicabut. Sambil mengelola Tamansiswa, RM Soewardi Soeryaningrat tetap rajin menulis. Namun
bukan lagi soal politik, melainkan soal pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan.
Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi
bangsa Indonesia.

Tahun 1943, ketika Jepang menduduki Indonesia, Ki Hajar Dewantara bergabung ke Pusat
Tenaga Rakyat (Putera). Di organisasi tersebut, dia menjadi salah seorang pimpinan bersama
Soekarno, Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Setelah Indonesia merdeka, ia pun
dipercaya menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama. Berbagai
aktivitasnya dalam memperjuangkan pendidikan di tanah air sebelum hingga Indonesia merdeka
tersebut, membuatnya dianugerahui gelar doktor kehormatan oleh Universitas Gadjah Mada
(1957).

Ki Hajar Dewantara meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Kampung
Celeban (Yogyakarta). Kemudian, atas jasa-jasanya, pendiri Tamansiswa itu ditetapkan sebagai

Pahlawan Pergerakan Nasional. Ki Hajar Dewantara pun mendapat gelar Bapak Pendidikan
Nasional dan tanggal kelahirannya, 02 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Itulah dia, R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara. Bangsa ini perlu mewarisi semangat mereka
dalam memajukan manusia Indonesia dengan sepenuh hati dan tanpa membeda-bedakan agama,
etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan jenis kelamin.***

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

By Citra Ayu Saputri on Juni 13th, 2009

Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar
Dewantara terlahir dalam keluarga kraton Yogyakarta. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar
Dewantara memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda.
Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA
(Sekolah Dokter Bumiputera), sayang sekali lantaran menderita sakit, ia tidak bisa meneruskan
pendidikannya di STOVIA.

Berjuang Lewat Tulisan

Tak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tak membuat Ki Hajar Dewantara
vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapa surat kabar sebagai wartawan muda. Selain itu
beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik. Sebagai seorang wartawan tulisan-
tulisan beliau dikenal sangat patriotik dan mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi
pembacanya. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal antara lain “Seandainya Aku Seorang
Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr.
Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda
untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum
merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Masa Pengasingan

Sindiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar menyulut
kemarahan Belanda, puncaknya Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar
Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas permintaan
kedua rekannya yang juga mengalami hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr.
Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan mereka dialihkan ke negeri Belanda. Masa pembuangan
di negeri Belanda tersebut tidak disia-siakan oleh Ki Hajar Dewantara untuk mendalami bidang
pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte.

Perguruan Nasional Taman Siswa

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di
bidang pendidikan sebagai salah satu bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-
rekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa
atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa
merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan
cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hajar
Dewantara tak hanya melalui Taman Siswa, sebagai penulis, Ki Hajar Dewantara tetap produktif
menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak bernuansa politik, namun
beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan Ki Hajar Dewantara berisi konsep-konsep
pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep-konsep itulah dia
berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai
semboyan yaitu Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan
dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus
menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus
memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia
pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.

Pahlawan Pendidikan Indonesia

Di Usia nya yang genap 40 tahun, Ki Hajar Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan
mengganti nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Hal
ini dimaksudkan agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati.
Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada
organisasi Putera bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas
Mansur. Dimasa kemerdekaan Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan
Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak
berlebihan pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional
untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiran-
pemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.

(Dilihat 19 kali)

Kategori: Penulisan Artikel
Tags: Indonesia Tercinta

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan
Nasional Indonesia

20
40
60
80
100
No votes yet

oleh admin

Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara terlahir dalam
keluarga kraton Yogyakarta. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara memperoleh hak
untuk mengenyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda. Setelah menamatkan ELS
(Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter
Bumiputera), sayang sekali lantaran menderita sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di
STOVIA.

Berjuang Lewat Tulisan

Tak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tak membuat Ki Hajar Dewantara
vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapa surat kabar sebagai wartawan muda. Selain itu
beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik. Sebagai seorang wartawan tulisan-
tulisan beliau dikenal sangat patriotik dan mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi
pembacanya. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal anatarlain "Seandainya Aku Seorang
Belanda" (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr.
Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda
untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum
merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Masa Pengasingan

Sindiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar menyulut
kemarahan Belanda, puncaknya Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar
Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas permintaan
kedua rekannya yang juga mengalami hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr.
Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan mereka dilaihkan ke negeri Belanda. Masa pembuangan
di negeri Belanda tersebut tidak disia-siakan oleh KI Hajar Dewantara untuk mendalami bidang
pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte.

Perguruan Nasional Taman Siswa

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di
bidang pendidikan sebagai salah satu bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-
rekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa
atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa
merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan
cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hajar
Dewantara tak hanya melalui Taman siswa, sebagai penulis, Ki Hajar Dewantara tetap produktif
menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak bernuansa politik, namun
beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan KI Hajar Dewantara berisi konsep-konsep
pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep-konsep itulah dia
berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai
Semboyan yaitu tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan
dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus
menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus
memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia
pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.

Pahlawan Pendidikan Indonesia

Di Usia nya yang genap 40 tahun, Ki Hajar Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan
mengganti nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal
ini dimaksudkan agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati.
Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada
organisasi Putera bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas
Mansur. Dimasa kemerdekaan Ki Hajar Dewantara dingkat sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan
Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak
berlebihan pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan Nasional
untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiran-
pemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.

(Dari Berbagai Sumber)

Ki Hadjar
Dewantara
Ditulis oleh Administrator
Thursday, 17 January 2008
Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889–26 April 1959) adalah seorang pelopor
pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau mendirikan perguruan Taman
Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan
seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli:
Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker,
tahun 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan
sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan
kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta
kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan
jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si
inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk
menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk
pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang
Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama
ialah kenyataan bahwa bangsa
inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan
yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun".

Beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya,
2 Mei, kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak
Pendidikan Indonesia dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000.

Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar
Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan
telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini
berasal dari ungkapan aslinya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat
umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang
guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di
antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan,
seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap
dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.

Recommend this article...
Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 17 January 2008 )

Ki Hajar Dewantara (1889-1959)

Bapak Pendidikan Nasional

Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2
Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal
ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah
menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia
meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana.

Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga
kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut
hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak
lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat
bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan
bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat
melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit.
Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden
Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya,
ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga
mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik.
Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan
menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan
kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto
Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran
nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia
merdeka.

Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada
pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral
Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada
tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat
membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang
pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut
membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite
tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite
Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan
seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat
jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens
Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor
Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang
Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain
berbunyi:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di
negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan
saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan
untuk dana perayaan itu.

Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita
garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda.
Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan
bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada
kepentingannya sedikitpun".

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg
menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang)
yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk
bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak
adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda
menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah
kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di
Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.

Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa
memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri
Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di
bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan
sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan

Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa
kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk
memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial
Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober
1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian
dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga
tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan
kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan
itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap
dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun
1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad
Hatta dan K.H. Mas Mansur.

Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan
sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal
kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan
Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28
November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari
Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28
April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti
Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara.
Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri
Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya
tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar
sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam
mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan
bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan,
status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai
kemerdekaan yang asasi. ► crs, dari berbagai sumber

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia

Profil Ki Hajar Dewantara (Tokoh Pendidikan RI)

Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara,
dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta.
Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah
Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Ia kemudian menulis untuk berbagai surat
kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express dan Utusan Hindia.

Ia tergolong penulis tangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat

antikolonial bagi pembacanya. Selain menjadi seorang wartawan muda RM Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan

politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Budi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang di seksi propaganda.

Perkenalannya dengan Dr. Danudirdja Setyabudhi (F.F.E Douwes Dekker), dr. Cipto Mangunkusumo dan Abdul Muis melahirkan

gagasan baru untuk mendirikan partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia, yakni Indische Partij. Partai yang

berdiri pada tahun 1912 ini memiliki keyakinan bahwa nasib masa depan penduduk Indonesia terletak di tangan mereka sendiri,

karena itu kolonialisme harus dihapuskan. Namun sayang, status badan hukumnya ditolak oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Mereka bertiga kemudian membentuk Komite Bumiputera, sebuah organisasi tandingan dari komite yang dibentuk oleh

Pemerintah Belanda. Bersamaan dengan itu, RM Suwardi kemudian membuat sebuah tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander

Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang menyindir ketumpulan perasaan Belanda ketika menyuruh rakyat Indonesia untuk

ikut merayakan pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis.

Tulisan yang dimuat dalam koran de Express milik Dr. Douwes Dekker ini dianggap menghina oleh Pemerintah Belanda

sehingga keluar keputusan hukuman bagi beliau untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Usaha pembelaan yang dilakukan Dr.

Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo tidak membawa hasil, bahkan mereka berdua terkena hukuman pengasingan juga.

Karena menganggap pengasingan di pulau terpencil tidak membawa manfaat banyak, mereka bertiga meminta kepada

Pemerintah Belanda untuk diasingkan ke negeri Belanda. Pada masa inilah kemudian RM Suwardi banyak mendalami masalah

pendidikan dan pengajaran di Belanda hingga mendapat sertifikasi di bidang ini.

Setelah pulang dari pengasingan, RM Suwardi bersama rekan-rekan seperjuangan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut atau

Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa

kebangsaan dalam jiwa anak didik. Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi 7 pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan

itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi

serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan

kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra

tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara. Dalam pendidikan ini nilai

rohani lebih tinggi dari nilai jasmani.

Pada tahun 1930 asas-asas ini dijadikan konsepsi aliran budaya, terutama berhubungan dengan polemik budaya dengan Pujangga

Baru. Selain mencurahkan dalam dunia pendidikan secara nyata di Tamansiswa, RM Suwardi juga tetap rajin menulis. Namun

tema tulisan-tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan. Tulisannya yang berisi konsep-konsep

pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan jumlahnya mencapai ratusan buah. Melalui konsep-konsep itulah dia

berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Pemerintah Belanda merintangi perjuangannya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi beliau

dengan gigih memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu dapat dicabut. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan

Tahun Caka, Raden Mas Suwardi Suyaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, dan semenjak saat itu beliau tidak lagi

menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik

secara fisik maupun hatinya. Dalam zaman Pendudukan Jepang, kegiatannya di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan.

Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) di tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang

pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki Hajar pernah

menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Pada tahun 1957, Ki Hajar menerima gelar Doctor Honoris

Causa dari Universitas Gajah Mada. Beliau meninggal dunia pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Guna menghormati nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan nasional, Pemerintah Republik

Indonesia pada tahun 1959 menetapkan beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dan tanggal kelahirannya kemudian

dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Pihak penerus Perguruan Taman Siswa, sebagai usaha untuk melestarikan warisan pemikiran

beliau, mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya di Yogyakarta. Dalam museum terdapat benda-benda atau karya-karya Ki

Hajar sebagai pendiri Taman Siswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau

konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hajar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan

sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Ki Hajar Dewantara memang tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan. Namun

telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil

meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia.

Diposkan oleh khamdan jam 16:26

Label: Profil Ki Hajar Dewantara (Tokoh Pendidikan RI)

KI HAJAR DEWANTARA DALAM POLA PIKIR PENDIDIKAN

oleh: Haris Zaky Mubarak Berbicara tentang Ki Hajar Dewantara, tentunya tidak lepas
relevansinya dari sejarah pemikirannya yang mendasari berdirinya Taman Siswa di 1922.
Terkait dengan hal itu sejarah pemikiran atau intellectual history dapat didefinisikan sebagai
usaha manusia untuk memahami pengalaman manusia dimasa lampau di dalam menganalisa
pemikiran-pemikiran yang hadir pada masa itu. Semua perbuatan manusia pasti dipengaruhi
pemikiran, karenanya sebagai sosok yang berpikir manusia tidak bisa lepas dari dunia
kontemplatif. Manusia selalu bercita-cita ingin maraih kehidupan yang sejahtera dan bahagia
dalam arti yang luas, baik lahiriah maupun batiniah, duniawi dan ukhrawi. Namun, cita-cita
demikian tidak mungkin dicapai jika manusia itu sendiri tidak berusaha keras meningkatkan
kemampuannya seoptimal mungkin melalui proses kependidikan karena di dalam proses
kependidikan terdapat suatu kegiatan secara bertahap berdasarkan perencanaan yang matang
untuk mencapai cita-citanya. Semakin tinggi ekspektasi manusia, semakin besar pula tuntutan
kepada progresivitas mutu pendidikan sebagai sarana untuk mencapai cita-cita tersebut. Untuk
itu, pendidikan menjadi refleksi dari cita-cita kelompok manusia, sekaligus menjadi lembaga
yang mampu mengubah dan meningkatkan cita-cita tersebut untuk tidak terbelakang dan statis.
Sadar akan hal itu, RM Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar
Dewantara telah mendekati proses pendidikan itu dalam sebuah pemikiran cerdas untuk
mendirikan sekolah taman siswanya, jauh sebelum Indonesia mengenal arti kemerdekaan.
Kembali pada faktual historis pada pendidikan kolonial sebelum masa pergerakan Nasional,
yang menjadi cikal bakal lahirnya taman siswa, tampak sekali bahwa Belanda belum
bersungguh-sungguh terhadap pengajaran rakyat. Pengajaran bagi bumi putera selalu
mengalami penundaan. Perluasan sekolah selalu mengalami hambatan dan tantangan.
Langkah demikian sengaja dilaksanakan oleh Belanda agar bangsa Indonesia tetap tidak
berpendidikan. Mereka menyadari bahwa perluasan sekolah-sekolah bagi rakyat merupakan
bahaya besar bagi kedudukannya sebagai penjajah. Sekolah yang mereka dirikan bukan untuk
mendidik bangsa Indonesia menjadi manusia cerdas dan terampil, akan tetapi tujuan utamanya
adalah memberi kemudahan bagi pemerintah Belanda untuk memenuhi kebutuhan akan
pegawai rendah . Konsepsi Taman Siswa pun coba dituangkan Ki Hajar Dewantara dalam
solusi menyikapi kegelisahan-kegelisahan rakyat terhadap kondisi pendidikan yang terjadi saat
itu. Kelahiran Taman Siswa 3 Juli 1922 dinilai sebagai titik balik dalam pergerakan Indonesia.
Kaum revolusioner yang mencoba menggerakkan rakyat dengan semboyan asing dan ajaran
marxis, terpaksa memberikan ruang untuk gerakan ini, benar-benar berasaskan kebangsaan
dan bersikap non kooperatif dengan pemerintah kolonial. Sebuah wujud ekspresivitas tinggi
dalam memberikan kesadaran kepada Bangsa Indonesia umumnya bahwa kita sebagai bangsa
haruslah memikirkan pendidikan agar dapat membentuk manusia susila yang bertanggung
jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah airnya yang bertanggung jawab terhadap
kesejahteraan masyarakat dan tanah airnya. Berangkat dari pemahaman itulah, perlunya kita
untuk mengetahui kembali pemikiran cerdas yang pernah digulirkan oleh Ki Hajar Dewantara
dalam upayanya tersebut, bagaimana asas dan dasar yang diterapkan Taman Siswa dalam
usaha untuk merintis pendidikan di Indonesia. Apakah pendidikan Indonesia sekarang sudah
menggambarkan pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Hal

menarik untuk dikaji secara mendalam lagi, karena bisa saja eksplanasi yang didapatkan dari
kajian ini menjadi carian solusi yang berguna untuk dunia pendidikan di Indonesia. Orientasi
Asas Dan Dasar Taman Siswa Dari Ki Hajar Dewantara Pernyataan asas Taman Siswa di tahun
1922 diupayakan sebagai asas perjuangan yang diperlukan pada waktu itu menjelaskan sifat
taman siswa pada umumnya. Asas yang memuat 7 pasal tersebut secara singkat dapat
diuraikan sebagai berikut. Pasal ke-1 dan 2 mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap
orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran maka hal
itu merupakan upaya di dalam mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan
bekerja merdeka demi pencapaian tujuannya. Pasal 1 juga menerangkan perlunya kemajuan
sejati untuk diperoleh dalam perkembangan kodrati. Dasar ini mewujudkan “sistem-among”
yang salah satu seginya ialah mewajibkan guru-guru sebagai pemimpin yang berdiri di
belakang tetapi mempengaruhi dengan memberi kesempatan anak didik untuk berjalan sendiri.
Inilah yang disebut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”. Pasal ke-3 menyinggung masalah
kepentingan sosial, ekonomi dan politik kecenderungan dari bangsa kita untuk menyesuaikan
diri dengan hidup dan penghidupan ke barat-baratan telah menimbulkan kekacauan. Sistem
pengajaran yang terlampau memikirkan kecerdasan pikiran yang melanggar dasar-dasar
kodrati yag terdapat dalam kebudayaan sendiri. Pasal ke-4 menyangkut tentang dasar
kerakyatan untuk memepertinggi pengajaran yang dianggap perlu dengan memperluas
pengajarannya. Pasal ke-5 memiliki pokok asas untuk percaya kepada kekuatan sendiri. Pasal
ke-6 berisi persyarat dalam keharusan untuk membelanjai sendiri segala usaha Taman Siswa.
Dan pasal ke-7 mengharuskan adanya keikhlasan lahir-batin bagi guru-guru untuk mendekati
anak didiknya. Pernyataan asas yang berisi 7 pasal tersebut, sesungguhnya merupakan
pengalaman dan pengetahuan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan barat yang
mengusahakan kebahagian diri, bangsa dan kemanusiaan. Adapun Dasar Taman Siswa di
tahun 1947 merupakan susunan dasar yang memuat perincian dasar-dasar yang terpakai di
dalam Taman Siswa sejak berdirinya di 1922 hingga seterusnya, baik yang terkandung di dalam
keterangan asas-asasnya maupun yang terdapat di dalam segala peraturannya. Dasar Taman
Siswa tahun 1947 terkenal dengan nama Panca Dharma yang memuat : 1. Dasar
Kemerdekaan 2. Dasar Kebangsaan 3. Dasar Kemanusiaan 4. Dasar Kebudayaan 5. Dasar
Kodrat Alam Kesemua dasar ini sama sekali tidak bertentangan dengan asas 1922 yang
menjadi pijakan awal Ki Hajar Dewantara dalam merintis pendidikan di Indonesia, karena poin-
poin penting yang termaktub dalam dasar Taman Siswa ini hanyalah mempertegas dari hal-hal
yang telah dikemukan dalam Asas Taman Siswa. Berkaca dari hal ini, mungkin kita bisa
mengakui kapabilitas seorang Ki Hajar Dewantara dalam merumuskan pemikiran-pemikiran
yang sejatinya belum dimiliki oleh sebagian kalangan pada saat itu. Pemikiran cerdas di dalam
memberikan tuntunan dasar akan pentingnya keteladanan, keuletan dan kesabaran di dalam
belajar telah menjadi esensi penting di dalam modal utama untuk memperbaiki kualitas
pendidikan saat ini. Apalagi kenyataan sekarang di dalam dunia pendidikan, sangatlah berbeda
jauh dengan apa yang diperlihatkan Ki Hajar Dewantara dahulu. Bahkan boleh dikatakan bahwa
pendidikan sekarang tidak bisa memaknai pola pikir pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar
Dewantara dahulu. Misalnya saja di dalam poin ke-7 di dalam asas Taman Siswa, yang sedikit
sekali diterapkan oleh kalangan pendidik. Keikhlasan lahir batin bagi pendidik untuk
meningkatkan kualitas pendidikan, kurang begitu ditanamkan dewasa ini, mengingat semua
pengabdian mesti tereprisalkan dalam bentuk materi (uang). Oleh karena itu, dalam era

sekarang eksistensi roh pendidikan seperti yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara hendaknya
tetap menjadi pola-pola pikir yang terus didayakan oleh generasi muda, karena bagaimanapun
juga mengubah Indonesia menjad

Sosok : Mata Pena Ki Hadjar Dewantara
05/04/2007 - 11:51:36 | Read 2,263 Time(s)

"" KI HADJAR DEWANTARA mengawali kiprahnya sebagai seorang wartawan muda yang ulet.
Tulisannya tajam, komunikatif sekaligus provokatif. ... ""

KI HADJAR DEWANTARA mengawali kiprahnya sebagai seorang wartawan muda yang ulet.
Tulisannya tajam, komunikatif sekaligus provokatif. Setiap orang yang membawa tulisannya,
semangat patriotiknya akan membuncah untuk mengisir penjajah. Ki Hadjar Dewantara pun
menjelma menjadi punulis handal pada zamannya Begitu memasuki bulan Mei, kita seperti
diajak bersua dengan orang tua kita yang telah menjadi klasik ini. Seorang pejuang sejati yang
mendedikasikan hidup untuk bangsanya.

Ki Hadjar Dewantara telahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari
lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Saat genap
berberusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara.
Sejak itu, ia tidak menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan
supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Dia mengalir seperti air. Kiprahnya berlanjut. Dia mendirikan Taman Siswa. Dedikasinya yang
luar biasa pada pendidikan menyebabkan dia dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Lahir di Yogyakarta 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang

memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk
berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di
Yogyakarta 28 April 1959 dan dimakamkan di sana.

Perjalanan hidupnya benarbenar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan
bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat
melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit.
Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden
Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Selain aktif
sebagai seorang wartawan muda, ia juga berkiprah dalam organisasi sosial dan politik.

Pada 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah
kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan
dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes

Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische
Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember
1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.

Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada
pemerintah kolonial Belanda. Tentu saja pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral

Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada
tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat
membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang
pemerintah kolonial Belanda.

Menusul ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk
Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari
Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu
melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun
bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis

dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens
Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor
Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).

Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik
Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan
menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas
kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas
untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk
menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula
kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang
menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa
inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya
sedikitpun.

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg
menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang)
yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk
bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak
adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda
menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah
kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di
Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki
dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada di
daerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai
bagian dari pelaksanaan hukuman.

Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Dia kembali ke
tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai
bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan
sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan
Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa
kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk
memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial
Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober
1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian
dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga
tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan
kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan
itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Di zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan.
Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar
duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir.Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H.
Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri
Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja
diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang
tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai
Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal
28 November 1959.

Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah
Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia
meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Pihak
penerus perguruan Taman Siswa, mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta.
Tujuannya untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam
museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan
kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan
risalah-risalah penting serta data suratmenyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis,
pendidik, budayawan dan seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan
Badan Arsip Nasional.

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya. Dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara tujuan
pendidikan adalah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis,
suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial serta didasarkan kepada nilai-nilai
kemerdekaan yang asasi.

Ki Hadjar Dewantara

From Ghabopedia

Kembali Ke>>KABINET INDONESIA>>PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA>>TOKOH
PEMERINTAHAN>>TOKOH DAERAH>>NASIONAL

BIODATA

Nama : Ki Hadjar Dewantara

Nama Asli : Raden Mas Soewardi Soeryaningrat

Lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889

Wafat : Yogyakarta, 28 April 1959

Pendidikan :

•Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda)
•STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tidak tamat
•Europeesche Akte, Belanda

Karir :

•Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem
Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara
•Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional
Tamansiswa), 3 Juli 1922
•Menteri Pengajaran Kabinet Presidensial, 19 Agustus 1945 – 14 November

1945

Organisasi :

•Boedi Oetomo, 1908
•Pendiri Indische Partij (partai politik pertama beraliran nasionalisme
Indonesia), 25 Desember 1912

Penghargaan :

•Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan

Nasional
•Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957

•Pahlawan Pergerakan Nasional (Surat Keputusan Presiden No. 305 Tahun
1959, tanggal 28 November 1959)

BIOGRAFI

Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889 – 26 April 1959) adalah seorang tokoh
pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar mendirikan perguruan
Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh
pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tulisan Ki Hajar yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli : Als ik
eens Nederlander was
) yang pernah dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker
tahun 1913. Artikel tersebut ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk
mengumpulkan sumbangan dari Indonesia.

Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata,
Yogyakarta. Tanggal lahirnya, (2 Mei) dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia dan
menjadi Bapak Pendidikan Indonesia. Nama Ki Hajar juga diabadikan sebagai nama kapal
perang Indonesia "KRI Ki Hajar Dewantara". Selain itu, perguruan Taman Siswa yang ia dirikan
telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah "tut wuri handayani". Semboyan ini
berasal dari ungkapan aslinya "ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani". Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita.

Air Mata Ki Hajar Dewantara

Dokumentasi
Hermawan Aksan
Selasa, 5 Mei 2009 | 03:17 WIB

DULU Hari Pendidikan Nasional, yang kita peringati setiap 2 Mei, disingkat Harpenas. Kini kita
mengenalnya sebagai Hardiknas, dengan kepanjangan yang sama. Kalau tidak salah, perubahan
itu terjadi seiring dengan perubahan Departemen P & K, sebagai kepanjangan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi Depdikbud—sekarang menjadi Depdiknas, dan pasti tak
ada hubungannya dengan pelesetan "departemen dikebut".
Tanggal 2 Mei diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889), seorang
pahlawan nasional yang juga merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Lelaki bernama
asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia. Ia tokoh pendiri Taman Siswa, sebuah sekolah kerakyatan di
Yogyakarta, dan gambarnya bisa dilihat pada uang kertas lama Rp 20.000.
Pekan lalu, saya bertemu dan berbincang hangat dengan seorang sepupu yang sudah lama
menjadi guru PNS. Kami sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena kami bertemu ketika anak-
anak SMP menghadapi UN, pembicaraan pun bergulir juga ke soal UN dan sistem pendidikan
yang lebih luas.
"Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan tipu-menipu," katanya.
Astaga, saya tentu saja kaget.
Tapi ia mengabaikan kekagetan saya. "Satu contohnya, ya, UN ini. Coba lihat nanti kalau sudah
diumumkan. Hampir semua sekolah akan mengumumkan kelulusan yang angkanya 99-100
persen. Semua akan menyambut gembira. Menteri Pendidikan akan bilang bahwa kualitas
pendidikan kita meningkat.
Betulkah demikian? Omong kosong besar!
Siapa pun yang bisa berpikir dengan logika sederhana pun tak akan percaya bahwa sebuah
sekolah bisa meluluskan seratus persen peserta UN."
"Tapi memang banyak sekolah yang siswanya lulus seratus persen, seperti tahun-tahun lalu,"
kata saya.
"Karena apa? Karena selalu terjadi pembocoran jawaban soal-soal!"
"Apa benar begitu? Bukankah pengawas UN SMA berasal dari perguruan tinggi?"

"Bullshit! Mereka akan menjadi bagian dari kecurangan secara menyeluruh. Kecurangan
sistemik yang rapi dan apik."
"Bagaimana terjadinya kecurangan?"
"Banyak cara. Salah satunya, contekan biasa seperti anak-anak dulu, cuma bedanya sekarang
lebih vulgar. Dulu hanya antar-anak, sekarang antarkelas, dengan pengawasan yang tidak ketat,
dan terkesan mempersilakan."
"Adakah kemungkinan guru dan sekolah sengaja memberikan jawaban?"
"Kemungkinan itu ada. Dulu empat tahun lalu aku sempat ribut dengan kepala sekolah karena
jawaban didikte di depan kami tanpa izin dulu. Dia anggap aku juga gampangan. Ya, mungkin
ada anggapan bahwa pengawas bisa diatur. Dan entah gimana, mereka hampir dikatakan lulus
semua. Sayang sekali pembuktian terhadap kecurangan itu sulit sekali. Kamu lihat juga para
siswa yang menyalin jawaban sebelum UN dimulai. Lalu juga beredarnya SMS jawaban. Siapa
yang menyebarkan?"
"Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan semua kecurangan itu?" tanya saya.
Wajah saudara saya itu seperti gemas melihat ketololan saya. "Kan Depdiknas ingin dana 20%
APBN. Sebaliknya, pemerintah otomatis menuntut prestasi anak. Pemerintah tahunya secarik
kertas dengan angka-angka. Biar cepat terealisasi. Kan tidak mudah anak jadi pintar begitu saja.
Maka dibuatlah sistem yang saling menguntungkan. Siswa untung, dinas pendidikan ke depan
untung, guru juga untung karena prestasi anak. Dapat uangnya bukan hari ini tapi ke depan. Bisa
dibayangkan berapa tambahan guru jika 20% APBN untuk pendidikan terealisasi."
Saya diam, mencoba memahami jalan pikirannya.
"Sudahlah," katanya. "Pendidikan di Indonesia itu penuh kebohongan. Memang susah
dibuktikan, tapi semuanya seperti gajah di pelupuk mata."
Saya masih diam, membayangkan air mata di wajah Ki Hajar Dewantara. (hermawan aksan)

KI HADJAR DEWANTARABy alasketu
Kamis, Juni 07, 2007 17:45:14

Clicks: 2418

Click to view another photos... Bapak Pendidikan Nasional

Indonesia (1889 - 1959)

tut wuri handayani,
ing madya mangun karsa,
ing ngarsa sung tulada.

Semboyan atau asas tersebut memiliki arti masing-masing sebagai berikut: tut wuri handayani
mempunyai arti dari belakang memberikan dorongan dan arahan, ing madya mangun karsa
berarti di depan memberi teladan dan ing ngarsa sung tulada diartikan ditengah menciptakan
peluang untuk berprakarsa. Buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan
bangsa secara keseluruhan yang di dalamnya banyak terdapat perbedaan-perbedaan dan dalam
pelaksanaan pendidikan tersebut tidak boleh membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat,
kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-
nilai kemerdekaan yang asasi. Karena Tuhan memberi manusia kemerdekaan untuk
mengembangkan diri dari ikatan alamiah menuju tingkatan budaya.

Jadi kemerdekaan mengembangkan diri adalah hakikat dari sebuah pendidikan sehingga
pendidikan itu tidak dapat dibatasi oleh tirani kekuasaan, politik atau kepentingan tertentu. Ini
dibuktikan dengan sejarah dimana tidak pernah ada pendidikan yang berhasil kalau tumbuh di

dalam alam keterkungkungan atau penjajahan. Pada masa pergerakan dan perjuangan mencapai
kemerdekaan, dia memiliki dasar pemikiran yang sangat tepat, bagaimana cara sebuah bangsa
dapat mencapai kemerdekaan yaitu dengan memajukan pedidikan bagi rakyatnya secara
menyeluruh. Sebenarnya pandangannya itu bukan hanya diterapkan pada masa perjuangan
mencapai kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan akan tetapi bisa juga diterapkan pada
konteks saat ini dalam mengisi kemerdekaan dengan hasil karya yang lebih gemilang bagi
bangsa dan negara. Karena bukan saja kemerdekaan secara politik yang diproklamasikan tahun
45 akan tetapi dengan pendidikan juga untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan dalam
bidang budaya, ekonomi, sosial, teknologi, pendidikan, lingkungan, keamanan, dan sebagainya
dari pihak lain.

Tokoh peletak dasar pendidikan nasional ini terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi
Soeryaningrat, dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari lingkungan
keluarga kraton Yogyakarta. Pendidikan dasarnya diperoleh di Sekolah Dasar dan setelah lulus ia
meneruskan ke Stovia di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian bekerja sebagai
wartawan dibeberapa surat kabar antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Oetoesan
Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia tergolong penulis tangguh pada
masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat
antikolonial bagi pembacanya.

Selain menjadi seorang wartawan muda RM Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan
politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Boedi Oetama dan mendapat tugas yang cukup
menantang di seksi propaganda.

Dalam seksi propaganda ini dia aktif untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran
masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya kesatuan dan persatuan dalam
berbangsa dan bernegara Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 dia mendirikan Indische
Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka, organisasi ini didirikan bersama dengan dr.
Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo. Organisasi ini berusaha didaftarkan status
badan hukumnya pada pemerintah kolonial Belanda tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, ,
dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara
jajahan. Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh penjajah saat itu dapat
membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk
menentangpemerintah kolonial Belanda!.

Ada sebuah tulisannya yang bertujuan mengkritik perayaan seratus tahun bebasnya Negeri
Belanda dari penjajahan Perancis pada bulan November 1913, dan dirayakan juga di tanah
jajahan Indonesia dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan
tersebut. Judul tulisannya adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang
Belanda) dan petikannya sebagai berikut:

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di
negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan
saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan
untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina
mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya.

Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda Apa yang menyinggung
perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander
diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya
sedikitpun.

Tulisan tersebut dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwess Dekker, dan tulisan lain
yang bernada protes pada pemerintah kolonial Belanda adalah Een voor Allen maar Ook Allen
voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Protes ini berkaitan dibentuknya
Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda, selain karya tulis sebenarnya
dibentuk juga sebuah orgarnisasi bernama Komite Boemipoetra sebagai komite tandingan dari
komite yang dibentuk oleh Idenburg. Komite Boemipoetra juga merupakan organisasi yang
dibentuk setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij.
Karena tulisan yang bernada menyindir secara keras terhadap pemerintah kolonial Belanda,
maka dalam hal ini Gubernur Jendral Idenburg memberikan hukuman -walau tanpa proses
pengadilan- pada Soewardi berupa hukuman internering yaitu sebuah hukuman dengan
menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal atau lebih
sering disebut hukum buang. Pulau Bangka sebagai tempat pembuangan Soewardi.

Merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil, dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto
Mangoenkoesoemo membuat tulisan yang bernada membela Soewardi, akan tetapi oleh pihak
Belanda dianggap menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah
kolonial pada saat itu. Akibatnya keduanya juag terkena hukuman internering, dr. Douwes
Dekker dibuang di Kupang dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun
mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena dianggap akan lebih bermanfaat yaitu
mereka bisa lebih banyak memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil, dan akhirnya
mereka diijinkan untuk menetap di Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari
pelaksanaan hukuman.
Dalam masa pembuangan itu tidak dia sia-siakan untuk mendalami masalah pendidikan dan
pengajaran, sehingga berhasil memperoleh Europeesche Akte. Setelah kembali ke tanah air di
tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan
meraih kemerdekaan. Diwujudnyatakan bersama rekan-rekan seperjuangan dengan mendirikan
Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional
Tamansiswa pada 3 Juli 1922, sebuah perguruan yang bercorak nasional.

Di Tamansiswa murid-murid sangat ditekankan pendidikan rasa kebangsaan agar mereka

mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Selain
mencurahkan dalam dunia pendidikan secara nyata di Tamansiswa Soewardi juga tetap rajin
menulis, namun tema tulisan-tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan
kebudayaan. Tulisannya yang berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang
berwawasan kebangsaan jumlahnya mencapai ratusan buah. Melalui konsep-konsep itulah dia
berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Banyak rintangan
yang dihadapi dalam membina Tamansiswa, antara lain adanya Ordonansi Sekolah Liar yang
dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, tetapi berkat perjuangannya, ordonansi itu
dicabut kembali.

Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka Raden Mas Soewardi Soeryaningrat
berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, dan semenjak saat itu Ki Hadjar tidak lagi
menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat
bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dalam zaman Pendudukan Jepang,
kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang
membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah
seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Jabatan yang pernah dipegang setelah Indonesia merdeka ialah sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.
Banyak kalangan sering menyejajarkan Ki Hadjar dengan Rabindranath Tagore, seorang pemikir,
pendidik, dan pujangga besar kelas dunia yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan
nasional India, karena mereka bersahabat dan memang memiliki kesamaan visi dan misi dalam
perjuangannya memerdekakan bangsanya dari keterbelakangan. Tagore dan Ki Hadjar sama-
sama dekat dengan rakyat, cinta kemerdekaan dan bangga atas budaya bangsanya sendiri. Tagore
pernah mengembalikan gelar kebangsawanan (Sir) pada raja Inggris sebagai protes atas
keganasan tentara Inggris dalam kasus Amritsar Affair. Tindakan Tagore itu dilatarbelakangi
kecintaannya kepada rakyat. Begitu juga halnya dengan ditanggalkannya gelar kebangsawanan
(Raden Mas) oleh Ki Hadjar. Tindakan ini dilatarbelakangi keinginan untuk lebih dekat dengan
rakyat dari segala lapisan. Antara Ki Hadjar dengan Tagore juga merupakan sosok yang sama-
sama cinta kemerdekaan dan budaya bangsanya sendiri. Dipilihnya bidang pendidikan dan
kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari strategi untuk melepaskan diri dari
belenggu penjajah. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana; apabila rakyat diberi pendidikan
yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa
dan raganya tentu akan semakin tinggi.

Sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan pendiri Tamansiswa, Ki Hadjar memang
tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan.
Namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan kepemimpinannya telah
menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional
Indonesia. Ki Hadjar bukan saja seorang tokoh dan pahlawan pendidikan ini tanggal
kelahirannya 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan hari Pendidikan Nasional, selain itu melalui

surat keputusan Presiden RI no. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 Ki Hadjar
ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oleh Ki
Hadjar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada di tahun
1957.

Dia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.
Sebagai wujud melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara oleh pihak
penerus perguruan Tamansiswa didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Dalam
museum terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan
kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan
risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis,
pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan
dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Uraian diatas adalah sekilas potongan sejarah
perjuangan Ki Hadjar dan terlihat jelas jiwa kebangsaannya telah tertanam sejak muda. Dan jiwa
kebangsaannya itu memberikan kontribusi dan dorongan kuat pada dirinya untuk melahirkan
konsep-konsep pendidikan yang berwawasan kebangsaan.

Sumber : http://www.bangfauzi.com

POKOK-POKOK GAGASAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MAJALAH WASITA
1928—1929

post info

By jangan-bungkamhendaru

Categories: Uncategorized

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->