PERCOBAAN 5 ANALISIS KUANTITATIF BERDASARKAN WARNA LARUTAN : KOLORIMETRI

I.

TUJUAN I.1 Mampu membandingkan konsentrasi larutan berdasarkan kepekatan warnanya. I.2 I.3 Mampu menentukan konsentrasi larutan FeSCN2+. Mampu menentukan tetapan kesetimbangan reaksi pembentukan FeSCN2+.

II.

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Ilmu Kimia Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari komposisi, struktur, perubahan, dan energi yang terlibat dalam perubahan tersebut. Bila suatu zat atau beberapa dibiarkan atau dicampurkan maka dapat terjadi perubahan yang disebut dengan reaksi kimia. Persoalan yang timbul adalah bagaimana menentukan jumlah zat yang mengalami perubahan tersebut. Jumlah zat dapat langsung ditimbang bila zat awal adalah padat atau cair

dan zat hasil perubahan adalah gas. Jumlah zat juga dapat ditentukan melalui tekanan dan warna. Untuk menentukan jumlah zat melalui tekanan adalah dengan persamaan : PV = nRT Dengan : P = tekanan V = volume N = mol zat terlarut Cara lain untuk menentukan jumlah zat adalah dengan metode kolorimetri. Kolorimetri atau pengukuran jumlah zat dari warnanya adalah salah satu metode analisa kimia yang didapatkan pada perbandingan intensitas warna suatu larutan dengan warna larutan standar. Metode analisa ini merupakan bagian dari analisa kimia fotometri. (Damin, 1997) R = tetapan gas ideal T = temperatur

II.2

Kolorimetri Kolorimetri adalah suatu metode analisa kimia yang didasarkan pada perbandingan intensitas warna suatu larutan dengan warna larutan standar.

Metode analisa ini adalah bagian dari analisa fotometri. Pengukuran zat dan warnanya yaitu dengan melewatkan sinar melalui pelarutnya. Pengamatan dilakukan dengan memakai mata kita yang disebut fotosel. Cahaya masuk dari sebelah kiri.

larutanC

sensor mata

Cahaya masuk dari bawah Mata ( fotosel ) Cahaya yang diteruskan Larutan C Cahaya masuk Jika sinar, baik monokromatis maupun polikromatis, mengenai suatu media, maka intensitasnya akan berkurang. Berkurangnya intensitas sinar terjadi karena adanya serapan media tersebut dan sebagian kecil dipantulkan atau dihamburkan. I0 = I a + I f + I r Keterangan : I0 = intensitas mula-mula Ia = sinar yang diserap

apabila intensitas sinar yang digunakan adalah sinar UV.Ir = sinar yang dipantulkan If = sinar yang diteruskan (Underwood.3 Hukum Bougrer Lambert Apabila sinar monokromatis melalui media yang transparan. maka mengalami fluorensi. b. maka berkurangnya intensitas sebanding dengan bertambahnya tebal media yang dilewati. Analisa turbudimetri. apabila intensitas sinar yang diukur adalah sinar terusan. c. d. 1998) Analisis fotometrik dibagi menjadi empat metode : a. Analisa fluometri. Analisa nefelometri. apabila intensitas sinar yang diukur adalah sinar tampak. . 1997) II. (Damin. Analisa kolorimetri. apabila intensitas sinar yang diukur adalah sinar hambur koloid.

1990) II.4 Hukum Beer Menyelidiki suau hubungan antara intensitas serapan dan konsentrasi media berupa larutan pada tebak media tetap degan persamaan : Log (Po/P )= Σ bc = A Keterangan : A = absorbansi B = tebal media c = konsentrasi materi Σ = absorbansi edar Syarat – syarat untuk penggunaan hukum Beer adalah : a) Syarat konsentrasi .I.di Dengan : I = Intensitas sinar mula-mula K = koefisien senapan T = tebal media yang ditembus (Khopkar.DI = K.

(Khopkar. 1990) II. b) Syarat kimia Zat yang diukur harus stabil. d) Syarat kejernihan Larutan yang akan diukur harus jernih.Konsentrasi harus rendah karena hukum Beer baik pada larutan yang encer. c) Syarat cahaya Cahaya yang digunakan harus yang monokromatik.5 Hukum Lambert – Beer Hubungan antara jumlah zat / cahaya yang diserap olah larutan disebut absorban (ƒ) dengan jumlah zat – zat c dapat dinyatakan dengan : A = abc Keterangan : a = tetapan semua jenis zat b = tebal atau tinggi larutan yang dilalui sinar .

Ini adalah kekhasan ligan-ligan yang dapat menstabilkan keadaan oksidasi yang rendah. Pembentukan ini dengan berbagai molekul netral. fosfin tersubtitusi. karbon monoksida. 2.Dua jenis larutan dari zat yang sama dengan absorbannya akan tampak secara visual dengan kepekatan warna yang sama. dirumuskan : A1 = a1b1c1 A2 = a2b2c2 Bila kepekatan sama.10 fenantrolin.6 Senyawa Kompleks Keistimewaan yang khas dari atom-atom logam transisi grup d adalah kemampuannya untuk membentuk senyawa kompleks. nitrat oksida dan berbagai jenis molekul dengan orbital π yang terdelokalisasi. seperti piridin. atom logam berada dalam oksidasi formal yang positif rendah. Dalam banyak kompleks ini. isosianida. 1984) II. A1 = A2 maka : C2 = (Brady.2 hipiridin dan 1. aisin dan stibin. 1989) . (Cotton. nol atau bahkan negatif.

Metode ini sering digunakan untuk menentukan konsentrasi besi di dalam air minum.8 Metode Kolorimetri 2.1 Metode Deret Standar (Tabung Messier) Digunakan untuk penampung larutan berwarna dengan jumlah volume tertentu.7 Metode Kolorimetri Metode kolorimetri merupakan metode spektroskopi sinar tampak. (Damin. Lazimnya. hanya senyawa berwarna yang dapat ditentukan dengan metode ini. . kolorimetri dilakukan dengan membandingkan larutan standar dengan cuplikan yang dibuat pada keadaan yang sama dengan menggunakan tabung Messler atau kolorimetri Dubuscog. Senyawa tak berwarna dapat dibuat berwarna dengan pereaksi yang menghasilkan senyawa berwarnya. Pengukuran Messier bekerja berdasarkan prinsip perbandingan warna.menghasilkan larutan berwarna merah. Dengan kolorimetri elektronik. berdasarkan panjang sinar tampak oleh suatu larutan berwarna. misalnya ion Fe3+ dan SCN.II. jumlah cahaya yang diserap berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. 1997) II.8. Kemudian dibandingkan dengan larutan standar yang dibuat dari komponen yang sama dengan yang dianalisis tetapi konsentrasinya telah diketahui.

Cxby dijaga agar tetap dan konsentrasi larutan yang diukur adalah Cy.8. panjang jalan yang ditempuh sinar divariasikan hingga intensitas warna pada kedua tabung sama. bx = Cy . Larutan yang lebih pekat diencerkan sampai warnanya memiliki intensitas yang sama dengan yang lebih encer. dimana warna .2 Metode Pengenceran (Metode Silinder Hehner) Larutan sampel dan larutan standar dengan konsentrasi C x dan Cy ditempelkan pada tabung kaca dengan ukuran yang sama. (Sumardjo. 1997) II.9 Kolorimetri Visual Pada kolorimetri. Untuk memperoleh kesamaan intensitas tinggi larutan akan dihitung by(b2) dapat divariasikan sedemikian rupa sehingga : Cx .3 Metode Kesetimbangan (Kolorimetri Duboscq) Pada metode ini. Biasanya zat-zat yang bisa menimbulkan warna ialah ion-ion kompleks. by atau Cy = 2. suatu duplikasi warna dilakukan dengan larutan yang mengandung sejumlah zat yang sama pada kolom dengan acameter penampang yang sama serta tegak lurus dengan arah sinar.8.2.

b2.c1 A2 = a. Pada alat ini ditemui dua tabung yang dapat dinaikkan dan diturunkan. dimana salah satu larutan telah diketahui konsentrasinya untuk kedua larutan tersebut.c2 Keterangan : a = tetapan jenis zat b = tebal larutan yang disinar c = konsentrasi zat Bila kedua larutan tersebut memiliki kepekatan yang sama maka A1 = A2  a.b1.c2 . Cara menentukan konsentrasinya antara lain dengan menggunakan kolorimetri visual dubuscq dengan mengukur kepekatan melaui mata. Konsentrasi larutan berwarna dapat diperkirakan secara visual dengan membandingkan konsentrasinya cuplikan yang dengan sederet larutan yang diketahui disebut larutan standar. maka : A1 = a.tersebut timbul karena adanya elektron-elektron yang tidak berpasangan.c1 = a.b2.b1. Jumlah zat pada suatu sampel dapat ditentukan dengan “Hukum Leimber Beer”.

1983) II. Dengan menggunakan mata manusia dan dengan depektor.c1 = b2. karena umumnya indikator adalah asam atau basa yang sangat lemah. Dengan adanya protein dan asam amino. . Depektor lain dimungkinkan study adsorbs (serapan) di luar daerah spektrum tampak dan sering kali eksperimen spektrometri dilakukan secara autometik.11 Faktor yang Mempengaruhi Kolorimetri Pemakaian indikator tidak mempengaruhi pH kolorimetri. (Underwood. karena bersifat amfoter sehingga dapat bereaksi dengan indikator asam maupun basa.b1.10 Spektrofometri Spektrofometri dapat dibayangkan sebagai suatu perpanjangan dari visual suatu studi lebih mngenai penyerapan energy cahaya oleh spesies kimia yang memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam perincian dan pengukuran kuantitatif. Faktor lain yang mempengaruhi adalah pemakaian indikator yang tidak cocok dengan pH larutan. 1990) II.c2 = (Khopkar.

Semua metode ini memiliki keterbatasan dan tidak dapat digunakan untuk menentukan komposisi spesies berwarna. Aplikasi lain untuk spektrofometri adalah menentukan pH larutan dengan persamaan : pH = pKa + log .(Sukardjo. Pada metode job variasi kontinyu sederet larutan dengan berbagai fraksi mol logam atau pereaksi dimana jumlah antara keduanya tetap. 1986) II. Pada perbandingan mol adsorbansinya diukur pada deret larutan yang bervariasi konsentrasi salah satu konstituen baik logamnya maupun reagennya. sedangkan jumlah zat lain tetap. Metode yang biasa digunakan adalah metode perbandingan Molle Job.12 Komposisi dan Kompleks Berwarna Komposisi dan kompleks berwarna dapat ditentukan dengan spektrofometri.

1 Luas Permukaan Bidang Sentuh Pada reaksi kimia terjadi tumbukan antar partikel atom unsur atau antar partikel molekul-molekul senyawa. K = tetapan kesetimbangan (Underwood.(Khopkar. Reaksi itu berjalan pada seperangkat kondisikondisi yang diberikan konsentrasi keseimbangan menunjukkan kecenderungan intrinsik atom-atom berada pada molekul pereaksi atau hasil reaksi.14. Jika ada tumbukan terjadi . 1991) II.1996) 2.13 Tetapan Kesetimbangan Tetapan kesetimbangan adalah suatu reaksi untuk mendapatkan tetapan derajat lengkap.14 Faktor – faktor Kesetimbangan 2. Untuk mendapat reaksi umum dalam air : A(aq) + B(aq) C(aq) + D(aq) K= .

14. Semakin besar konsentrasi.maka ada bidang sentuh yang beraksi. Reaksi akan berlangsung cepat jika suhunya lebih tinggi dan oleh sebab itu tumbukan yang terjadi akan lebih sering.1990) 2.4 Suhu Kesetimbangan dapat juga dipercepat dengan mengubah suhunya. Luas permukaan sentuh makin besar maka makin besar pula kesetimbangannya.2 Konsentrasi Pereaksi Konsentrasi yang besar akan meningkatkan frekuensi tumbukan antar molekul karena molaritas semakin pekat. 1990) 2. kesetimbangan pun makin lambat. (Petrucci. (Keenan.14. (Keenan. Dengan demikian. Makin tinggi nilai aktifasi. .14. 1985) 2. makin kecil fraksi molnya. kesetimbangan makin besar.3 Katalis Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat kesetimbangan tetapi zat itu tidak mengalami perubahan yang tepat.

kelarutan lebih besar di air panas. 1985) 2. titik lebur 172OC.15. stabil di udara. titik didih 47OC. hijau. 1989) .1 Analisa Bahan Fe(NO3)3 Berbentuk kristal. menyebabkan iritasi bagi kulit.15. lembaran garamnya secara bergilir dari coklat.1993) 2. (Budaveri. (Parker. berwarna ungu tua sampai putih keabu-abuan. bergantung pada kelembaban suhu.15 2. (Budaveri. dalam bentuk kristal. dipakai untuk reagen dalam kimia analisa. 1989) 2. larutan bersifat alkali dengan pH ± 9. Digunakan dalam percetakan dan pencucian tekstil.8.3 Na2HPO4 Berupa bubuk higroskopis dalam udara terbuka. biru lalu kembali putih dalam keadaan pendinginan.(Petrucci.2 KSCN Berupa kristal berwarna.15. mampu menyerap 2-7 mol H2O.

titik didih 100 OC. METODE PERCOBAAN III. Corong III. pH netral = 7.15.4 Aquades (H2O) Tidak berwarna. Tabung reaksi 3. (Budaveri. Gelas kimia 2. Fe(NO3)3 2. titik beku 0OC. pelarut universal. Labu ukur 6. Pipet tetes 5. KSCN .2. 1989) III. jernih.2Bahan 1. Gelas ukur 4.1Alat 1.

Gelas kimia e. Pipet tetes f.002 M Gelas kimia . Aquades (H2O) III.1 Reaksi. Labu ukur g.3 Gambar Alat b.3.reaksi pendahuluan 10 mL KSCN 0. Corong III.4. Tabung reaksi a.4 Skema Kerja III. Gelas ukur c.

2 M Labu ukur Penambahan 0 mL KSCN 0.2 M hasil Na2HPO4 hasil pembanding Hasil Hasil 3.Campuran I Tabung reaksi Sebagai Campuran II Campuran III Campuran IV Tabung Tabung Tabung reaksi reaksi reaksi penambahan penambahan penambahan 1 tetes KSCN Pekat 3 tetes Fe(NO3)3 sebutir 0.002 M Penggojogan campuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi II Hasil .4.002 M Penggojogan campuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi I Hasil 5 mL Fe(NO3)3 0.2 Penentuan tetapan kesetimbangan reaksi pembentukan FeSCN2+ 5 mL Fe(NO3)3 0.2 M Labu ukur Penambahan 1 mL KSCN 0.

2 M Labu ukur Penambahan 3 mL KSCN 0.2 M Labu ukur Penambahan 4 mL KSCN 0.002 M Penggojogan campuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi III Hasil 5 mL Fe(NO3)3 0.002 M Penggojogan campuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi V .5 mL Fe(NO3)3 0.002 M Penggojog ancampuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi IV Hasil 5 mL Fe(NO3)3 0.2 M Labu ukur Penambahan 2 mL KSCN 0.

DATA PENGAMATAN IV.Hasil 5 mL Fe(NO3)3 0.002 M + 3mL lar Warna larutan merah Hasil .002 M Penggojogan campuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi VI Hasil 5 mL Fe(NO3)3 0.1 Reaksi – reaksi Pendahuluan Tabung Perlakuan Reaksi 1 10 mL KSCN 0.2 M Labu ukur Penambahan 5 mL KSCN 0.2 M Labu ukur Penambahan larutan x Penggojogan campuran Penambahan aquades Penggojogan hingga bercampur Penuangan dalam tabung reaksi VII Hasil IV.

4 Fe(NO3)3 0.002 M + 5 mL larutan Warna larutan merah tua.2 M + 3 tetes Fe(NO3)3 0. 10 mL KSCN 0.2 Tabung Penentuan Tetapan Kesetimbangan Reaksi Pembentukan FeSCN2+ Perlakuan Reaksi 1 Pengamatan 4 mL KSCN 0. 10 mL KSCN 0.2 M 4 mL KSCN 0. lebih encer. 2 M ) + aquades hingga 25 mL pembanding 3 dengan kalorimetri duboscq ). IV.002 M + 3mL lar Warna larutan kuning. hasil pengenceran ( 10 mL pengenceran sedikit lebih pekat dari .Fe(NO3)3 0.2 M pekat.002 M + 5 mL Fe(NO 3)3 Warna larutan kuning.002 M + 5 mL larutan Warna larutan merah tua.2 encer. dari pengenceran (10 mL Fe(NO3)3 0.002 M +3 mL lar Waran larutan merah Fe(NO3)3 0.002 M + 3mL lar Warna larutan merah 3 Fe(NO3)3 0.2 M + 1 tetes KSCN pekat 2 encer dari tabung reaksi sebelumnya. 4 mL KSCN 0.2 M + 1 butir Na2HPO4 encer dan terdapat pekat. 0. M 10 mL KSCN 0. sedikit lebih endapan putih.2 pekat.

2 M.2 + aquades hingga 25 mL pembanding tabung reaksi sebelumnya. V. . 4 mL KSCN 0. PEMBAHASAN V.002 M dan 3 mL Fe(NO3)3 0.002 M + 5 mL larutan Warna larutan merah tua hasil pengenceran ( 10 mL pengenceran dan semakin pekat. dengan kalorimetri duboscq ). hasil pengenceran ( 10 mL pengenceran lebih pekat. 4 3 + aquades hingga 25 mL pembanding dengan kalorimetri duboscq ). 4 mL KSCN 0.002 M + 5 mL larutan Warna larutan merah tua. 5 4 + aquades hingga 25 mL pembanding dengan kalorimetri duboscq ).1Reaksi – reaksi Pendahuluan Percobaan ini bertujuan untuk membandingkan konsentrasi larutan berdasarkan kepekatan warna yang dilakukan dengan menggunakan campuran bahan uji 10 mL KSCN 0.

tampak warna merah pekat. Tabung reaksi I digunakan sebagai pembanding. Tabung reaksi I digunakan sebagai pembanding. N1 = V2 . (Fatih. sesuai dengan persamaan : V1 . N2 Keterangan : V1 = volume larutan standar V2 = volume larutan sesudah N1 = normalitas asli N2 = normalitas yang diubah . 2008) Pada tabung reaksi II ditambahkan 1 tetes KSCN pekat. Hal ini disebabkan penambahan volume larutan yang mengakibatkan konsentrasi berubah dan mempengaruhi kepekatan. Reksi : KSCN + Fe(NO3)3 3KNO3 + Fe(SCN)2+ + 2SCN- Warna merah adalah warna ion Fe(SCN)2+.Larutan dibagi ke dalam 4 tabung reaksi. warna larutan tetap merah pekat namun lebih encer. Untuk tabung reaksi yang lain karena pada percobaan ini menggunakan metode deret standar yang mana larutan yang akan dianalisa dibandingkan warnanya dengan suatu larutan standar yang volume larutannya sama.

Selain itu. Kemudian masing – masing diisi dengan 5 mL larutan Fe(NO3)3 0.+ HPO42+ + V.2 M warna larutan tetap merah tua namun kepekatanya bertambah.2 M. Konsentrasi ion Fe3+ dapat dihitung : Fe(NO3)3 Fe3+ + 3NO3- Mol = M . 1990) Begitu juga pada tabung reaksi III yang ditambahkan 3 tetes Fe(NO3)3 0. muncul endapan berwarna putih yang merupakan Na. Sedangkan pada tabung reaksi IV yang ditambahkan sebongkah Na2HPO4 menunjukan warna larutan menjadi kuning dan sangat encer.2Penentuan Tetapan Kesetimbangan Reaksi Pembentukan (FeSCN)2+ Percobaan ini diawali dengan menyediakan 7 labu ukur ukuran 10 mL. Untuk labu ukur pertama.(Brady. V Keterangan : . Reaksi : Fe(NO3)3 + 3KSCN + Na2HPO4 2Na 3KNO3 + Fe(SCN)2+ + 2SCN. larutan berwarna kuning dan digunakan sebagai larutan pembanding.

1994) Fe(NO3)3 Fe3+ + 3NO3- 0. konsentrasi ion Fe3+ tersebut akan berubah menjadi : M2 = = M2 = 0. Mol sendiri berbanding lurus terhadap koefisien persamaan reaksi.1 M .M = konsentrasi larutan V = volume larutan Karena dalam hal ini volume larutan adalah 1 atau konstan sehingga mol ~M. Setelah ditambahkan air hingga 10 mL.2 M. maka : Perbandingan koefisien perbandingan mol perbandingan M (Chang.2 M Sehingga diperoleh konsentrasi ion Fe3+ sebesar 0.2 M 0.

warna yang dihasilkan adalah merah tua dan encer. Pada tabung reaksi sebelumnya (tabung reaksi I).1 M Keterangan : M1 = konsentrasi awal V1 = volume awal M2 = konsentrasi akhir V2 = volume akhir Sedangkan konsentrasi ion (FeSCN)2+ : Fe(NO3)3 + 3KSCN 3KNO3 + (FeSCN)2+ + 2SCN- . V2 M2 = = M2 = 0. Reaksi : Fe(NO3)3 + 3KSCN 3KNO3 + Fe(SCN)2+ + 2SCN- Konsentrasi ion Fe3+ : M1 .Pada tabung reaksi ditambahkan 1 mL larutan KSCN 0.002 M. V1 = M2 . larutan ditambahkan aquades hingga batas labu ukur 10 mL dan dilakukan penggojongan yang bertujuan agar larutan menjadi homogen.

007 mmol.38 0.0007 0.00011 M Sehingga konsentrasi (FeSCN)2+ dalm 10 mL larutan (ditambah aquades hingga batas labu ukur) adalah : M1 .002 Mol (FeSCN)2+ = 0.002 0. V2 M2 = = = .0007 0.002 0.Awal Bereaksi 1 0.002 0. M= M= M = 0.0007 0.002 Setimbang 0. konsentrasinya.0003 0.002 0. V1 = M2 .

1 M Konsentrasi ion (FeSCN)2+ adalah : Fe(NO3)3 + 3KSCN 3KNO3 + (FeSCN)2+ + 2SCN- Awal Bereaksi Setimbang 0.004 Mol (FeSCN)2+ = 0.004 0.004 0. Warna larutan yang diperoleh adalah merah agak pekat.01 0.0013 0.0013 0.002 M kemudian ditambahkan aquades hingga batas labu ukur. Konsentrasi ion Fe3+ : M1 .0013 0. V1 = M2 .0007 M Pada tabung reakdi III ditambahkan 3 mL larutan KSCN 0.0087 0.004 0.0013 mmol . V2 M2 = = M2 = 0.M2 = 0.004 0.004 - 0.

00013 M Tetapan kesetimbangan : Kc = Kc = Kc = 612. M= = M = 0.0013 mmol Konsentrasi (FeSCN)2+ dalam larutan : M1 . V2 M2 = = M2 = 0.0459 x 10-21 . V1 = M2 .Konsentrasinya.

Pada tabung reaksi V. larutan berwarna makin pekat dan pada tabung reaksi VI warna larutan paling pekat. Perubahan yang terjadi secara berurutan adalah warna pada tabung reaksi IV menjadi merah pekat.002 M. . 4 dan 5 mL larutan KSCN 0. Hali ini juga menunjukan bahwa konsentrasi (FeSCN) 2+ pada masing – masing tabung reaksi berubah.Pada tabung reaksi IV ditambahkan masing – masing 3. seperti pembuktian pada tabung reaksi II dan III. Seangkan pada tabung reaksi ke VII yang mana penambahan larutan KSCN belum diketahui. diperoleh warna larutan yang sama dengan tabung reaksi IV yang ditambahkan 3 mL larutan KSCN 0.002.

3 Menentukan tetapan kesetimbangan reaksi pembentukan FeSCN2+. VI. VI.2 Konsentrasi larutan FeSCN2+ dapat ditentukan dengan metode kolorimetri. . KESIMPULAN VI.1 Pembandingan konsentrasi larutan dilakukan dengan pengamatan sesuai dengan kepekatan warnanya.VI.

DAFTAR PUSTAKA Brady. Raymond. Chemistry Fifth Edition. 1989. 1994. United States : Wiley. . USA : The Merck Index Co. General Chemistry Principle and Structure. Susan. Budaveri. James E. USA : Mc Grawhill. 1990. The Merck Index Second Edition. Chang.

Fatih. 1990. Underwood. Analisa Kimia Kuantitatif. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar. Albert F. Petrucci. Sukardjo. 1997. Wood. Ahmad. Parker. Kimia Organik Dasar. 1998. Edisi Ke-6. 1989. Konsep Dasar Kimia Analitik. a. Semarang : UNDIP Press. 1998. A L. 1985. Encyclopedia of Chemistry. Graw Hill : USA. Damin. Kimia Anorganik. Kimia Universitas. Jakarta : UI Press. 1993. Kamus Kimia.M. Ralph H. Jakarta : Erlangga. Sybil P. Jakarta : Panji Pustaka. Jakarta : Erlangga.Cotton.. S. 1990. Sumarjo. General Chemistry. 2008. Khopkar. terjemahan oleh Saptoraharjo. Yogyakarta : Bina Aksara. Mc. . Jakarta : Erlangga. Jakarta : UI Press. 1985. Keenan.

16 Desember 2009 .LEMBAR PENGESAHAN Semarang.

Dewiana Purbosari J2C009039 Praktikan 5. Nike Septia Mayang Asri J2C009038 Praktikan 4. Perdana J2C006035 Okky Amelia Pratiwi J2C009036 Praktikan 2. Palupi Dyah Arumsari J2C009040 . M. Laksmi Dewi Paramitha J2C009037 Praktikan 3.Mengetahui Asisten. Praktikan 1.

Rakhman Nurmanto Pinkan Arin P (J2C009036) (J2C009037) (J2C009038) (J2C009039) (J2C009040) (J2C009041) (J2C009042) (J2C009043) .PERCOBAAN 5 ANALISIS KUANTITATIF BERDASARKAN WARNA LARUTAN : KOLORIMETRI LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I PERCOBAAN V ANALISIS KUANTITAIF BERDASARKAN WARNA LARUTAN : KOLOROMETRI Laporan ini dibuat untuk memenuhi nilai praktikum Kimia Dasar I Disusun oleh : Okky Amelia P Laksmi Dewi P Nike Septia MA Dewiana Purbosari Palupi Dyah A Indah Murtikarini A.

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS DIPONEGORO 2009 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful