Bab I Pengantar Hukum Kontrak Internasional

A. Pendahuluan
1. Bidang Hukum yang Penting dan Terus Berkembang Menurut Black‟s Law Dictionary kontrak adalah suatu perjanjian antara dua orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan tertentu. Dari sifat dan ruang lingkup hukum yang mengikatnya, kontrak dapat berupa kontrak nasional dan kontrak internasional. Kontrak nasional tidak lain adalah kontrak yang dibuat oleh dua individu (subjek hukum) dalam suatu wilayah negara yang tidak ada unsur asingnya sedangkan kontrak internasional adalah suatu kontrak yang didalamnya ada atau terdapat unsur asing (foreign element). Dalam bisnis internasional, kontrak memiliki peran yang juga penting. Peran ini tampak dari semakin meningkatnya transaksi dagang yang dewasa ini sudah lintas batas. Peran pemerintah dalam kontrak internasional juga sangat penting mengingat untuk kontrakkontrak internasional, perhatian dan kepentingan negara di dalamya sudah tentu sulit untuk dihindari. 2. Arti dan Definisi Hukum Kontrak Internasional Menurut Sudargo Gautama, kontrak internasional adalah kontrak nasional yang terdapat unsur luar negeri atau foreign element. Secara teoritis, unsur asing yang dimaksud antara lain: a. Kebangsaan yang berbeda b. Para pihak memiliki domisili hukum di negara yang berbeda

kontrak tidak lain adalah kesepakatan timbal balik para pihak (mutual compact) yang memiliki daya mengikat dari hukum alam. Pelaksanaan kontrak tersebut di luar negeri f. Digunakannya mata uang asing Hukum yang berlaku terhadap kontrak dapat berupa hukum antara lain: a. Istilah Kontrak Internasional dan Perjanjian Internasional Perlunya pembedaan pengertian antara istilah kontrak internasional dalam bidang komersial atau perniagaan dengan istilah perjanjian internasional dalam bidang publik yang bukan bersifat komersial atau perniagaan. Objek kontrak diluar negeri h. Mahzab Hukum a. Hukum nasional salah satu pihak atau hukum nasional pihak lainnya b. Hukum yang dipilih adalah hukum asing d. Hukum internasional Suatu kontrak juga tunduk pada aturan-aturan hukum yang sifatnya memaksa. Hakikat Mengikatnya Suatu Kontrak 1. yaitu hukum nasional. tekanan. Kontrak tersebut ditandatangani diluar negeri g. Disamping hukum yang memaksa juga ada unsur-unsur lain yang perlu diperhatikan misalnya unsur tidak adanya kekeliruan.c. kontrak melahirkan hak dan kewajiban pada kedua belah pihak. Hukum kebiasaan internasional c. Mahzab Hukum Alam Menurut hukum alam. Bahasa yang digunakan dalam kontrak adalah bahasa asing i. bahkan formalitas-formalitas yang disyaratkan ada pada suatu kontrak. 3. penipuan. B. Menurut Pufendorf. Penyelesaian sengketa kontrak dilangsungkan diluar negeri e. .

Pernyataan atau deklarasi semata tidaklah cukup untuk melahirkan suatu kontrak. b. Bila terdapat pelanggaran. c. Pertama: Transaksi Hukum sebagai tindakan yang menciptakan hukum dan yang menerapkan hukum. Konsekuensinya. Mahzab Wiena (Hans Kelsen) Disebut juga Doktrin Transaksi atau Tindakan Hukum (Legal Transaction atau Juristic Act). Teori Hukum a) Teori Kehendak (The Will Theory) Suatu kesepakatan mengikat karena itu memang merupakan keinginan para pihak yang menginginkan kesepakatan itu mengikat. c) Teori Kesetaraan (The Equivalent Theory) . maka “keadilan menuntut bahwa kedua pihak itu melaksanakan kontrak. kontrak tidak lain daripada janji (promise) yang memiliki kekuatan hukum. sebab hanya hukum inilah dapat dipastikan kenyataannya. b) Teori Persetujuan (The Bargain Theory) Dasar mengikatnya suatu kontrak bukanlah kehendak para pihak tapi persetujuan para pihak. hubungan bisnis hanya akan berlangsung diantara para pihak yang sudah benar-benar mengenal satu sama lain secara dekat saja. Kekuatan ini tidak berasal dari hal-hal diluar dari janji para pihak melainkan dari fungsi praktis daripada janji itu sendiri. hukuman menyusul”. Pernyataan ini merupakan syarat yang harus ada.Berdasarkan hal ini. Doktrin ini terbagi ke dalam dua bentuk. 2. Bentuk kedua: Transaksi Hukum adalah kontrak. Menurut Jhering. Mahzab Positivisme Yuridis (Rudolf von Jhering) Bahwa satu-satunya hukum yang diterima sebagai hukum merupakan tata hukum. Kontrak semata-mata adalah pernyataan kehendak dari dua atau lebih individu.

Sedangkan prinsip-prinsip hukum kontrak internasional terdiri atas: a. Prinsip Fundamental dan Prinsip-prinsip Hukum Kontrak Internasional Prinsip Fundamental terdiri atas: a. Prinsip Dasar Supremasi/Kedaulatan Hukum Nasional Hukum nasional tidak dapat diganggu-gugat keberadaannya. Memiliki pembatasan yaitu: teori kekuatan moral dari suatu janji oleh Hugo Grotius. Pelanggaran kesepakatan akan menimbulkan kerugian.Para pihak dalam kesepakatan tersebut telah memberikan kesetaraan (kesamaan) bagi para pihak. Pasal ini menyatakan. c. C. orang dengan perbuatan atau perjanjiannya tidak boleh menghilangkan kekuatan dari peraturan-peraturan hukum dari ketentuan umum atau kesusilaan. b. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak (Freedom of the Contract) Para pihak bebas untuk membuat kontrak. Otonomi disini termasuk didalamnya kewenangan untuk menentukan pilihan forum atau pilihan hukum. Prinsip Dasar Otonomi Para Pihak (the Party’s Autonomy) Para pihak dianggap memiliki kebebasan untuk mengadakan kontrak dan para pihak memiliki kebebasan atau kewenangan untuk menentukan muatan-muatan klausul dalam kontrak. Prinsip Pacta Sun Servanda . d) Teori Kerugian (The Injurious-Reliance Theory) Kesepakatan itu mengikat karena para pihak telah menyatakan diri untuk mengandalkan para ihak yang menerima janji dengan akibat adanya kerugian. Namun pada dasarnya mempunyai pembatasan yaitu: tidak boleh disimpanginya aturan-aturan hukum nasional (yang sifatnya publik) atau disebut juga sebagai prinsip pacta private juri public derogare non possunt. suatu janji secara moral adalah mengikat. Menurut teori ini.

Berdasarkan prinsip ini. D. Kewajiban menghormati dan melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam kontrak ini sifatnya mutlak karena kesepakatan tersebut intinya mengikat mereka dan berlaku seperti halnya sebagai UU. Selama kontrak belum ditandatangani. para pihak tidak terikat satu sama lain dan tidak memiliki kewajiban apapun terhadap pihak lainnya hingga kontrak tersebut akhirnya ditandatagani. Prinsip Timbal Balik (Resiprositas) Pihak dalam kontrak harus melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing secara timbal balik. Salah satu pihak tidak boleh semata-mata melakukan prestasi yang tidak seimbang. para pelaku harus melaksanakan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakatinya dan dituangkan dalam kontrak (agreements must be kept). Prinsip Itikad Baik (Good Faith) Prinsip ini penting karena dengan hanya adanya prinsip inilah rasa percaya yang sangat dibutuhkan dalam bisnis agar pembuatan dalam kontrak dapat direalisasikan. Pelaksanaan kontrak harus memberi „keuntungan‟ timbal balik. pelaksanaan kontraj tersebut pastilah akan sulit untuk berjalan dengan baik apabila prinsip ini tidak ada. tetapi juga sebelum kontrak ditutup. b. Adanya prestasi timbal balik ini timbul karena adanya kesepakatan timbal balik. Dalam Sistem Hukum Kontinental Hubungan ini mensyaratkan kewaiban itikad baik bukan saja ketika kontrak ditandatangani. Kalaupun kontrak sudah ditandatangani. Dalam Sistem Common Law Masuknya para pihak kedalam negosiasi tidak dengan serta merta melahirkan kewajiban itikad baik. Harmonisasi Hukum Kontrak Internasional 1. c. Tanpa adanya good faith. Upaya Harmonisasi . sangat sulit kontrak dapat dibuat.

Perkembangan Hukum Kontrak Internasional a. Seragam disini maksudnya: a) Seragam berarti aturan-aturan dan prinsip-prinsip hukum kontrak internasional yang paling tidak adalah sama atau hampir sama. para pihak sebelumnya telah mempersiapkan untuk mempergunakan kontrak-kontrak sejenis. mengeluarkan UU No. Hukum Kontrak Internasional yang Terwujud dalam Lex Mercatoria Lex Mercatoria adalah hukum para pedagang yaitu aturan-aturan hukum yang dibuat oleh para pedagang dan untuk para pedagang. yaitu: a) Peraturan perundangan nasional di bidang kontrak b) Penggunaan kontrak baku c) Penerapan hukum kebiasaan internasional d) Prinsip-prinsip hukum internasional e) Putusan pengadilan atau arbitrase f) Harmonisasi menurut panduan-panduan hukum dan doktrin hukum F. b) Seragam berarti penerapan aturan-aturan hukum kontrak internasional tidak menyebabkan hasil yang berbeda-beda. 2. mempunyai tiga bentuk. Hukum Kontrak Internasional dalam Hukum Nasional Karena sifat pembentukan Lex Mercatoria tidak memenuhi persyaratan (sulit diterima oleh sistem hukum negara-negara). maka pada abad ke-19 negara-negara mulai menyusun hukum nasionalnya di bidang kontrak. c. apa yang disebut . Cara Harmonisasi Honka berpendapat ada enam cara upaya harmonisasi.Menurut Honnu Honka maksud dari harmonisasi adalah penyeragaman aturan-aturan atau prinsip-prinsip substantif dari hukum kontrak. Hukum Kontrak Internasional dalam Bentuk Kontrak ‘Baku’ Menurut Perrot. Pertama. Kedua. 8/1999. b. Indonesia misalnya.

UNCITRAL juga telah membuat suatu konvensi terkait bernama the Convention on the Use of Electronic Communications in International Contracting. Permasalahan utama bentuk kontrak semacam ini adalah mengenai perlindungan dan keamanan transaksi serta keabsahan kontrak serta masalah yurisdiksi atau kompetensi pengadilan yang akan menangani sengketa yang lahir dari adanya e-contract ini. dibuatnya sebuah kontrak-kontrak standar atau model kontrak yang telah seragam dan telah diakui oleh sekelompok pedagang dan asosiasi yang kemudian dijadikan acuan bagi kontrak-kontrak lainnya. Transaksi dewasa ini dapat terjadi pada saat bersamaan tanpa harus bertemu dan dilakukan secara cepat. Hukum Kontrak Internasional dalam Dunia Maya (e-contract) Transaksi dagang tidak lagi dilakukan secara tradisional. Siapa saja yang dapat . termasuk penyelesaian sengketanya dilakukan melalui teknologi informasi. Baik transaksi. kesepakatan. Pada tahun 2005. 11/2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). dan dilakukan tanpa menggunakan dokumen tertulis (scriptless). d. Pengantar Para pihak yang dimaksud dalam kontrak internasional adalah subjek hukum yang dapat membuat dan menandatangani kontrak internasional (tertulis). Bentuk kontrak seperti ini dianggap perlu untuk mempersingkat waktu. Dan ketiga. Di Indonesia. tidak lagi terbatas oleh wilayah.dengan standard trade terms (syarat-syarat perdagangan yang telah baku). Bab II Para Pihak (Subjek Hukum) dalam Kontrak Internasional A. pemerintah Indonesia telah mengeluarkan UU No. Salah satu pengaturan hukum mengenai masalah transaksi melalui teknologi informasi ini adalah UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce.

Antara Negara dengan Perusahaan Asing Instrument hukum yang mengaturnya adalah Resolusi The Institute of International Law 1979. Salah satu instrument hukum yang mengaturnya adalah Resolusi The Istitute of International Law 1991. c. Para Pihak dalam Kontrak Internasional 1. Individu dalam kapasitasnya sebagai konsumen memang acapkali dikecualikan dari objek pengaturan berbagai perjanjian internasional di bidang kontrak. Masalahnya akan muncul apabila anak perusahaannya berada diluar negeri dan menutup kontrak dengan pihak negara tuan rumah.membuat dan menandatangani (menutup) suatu kontrak internasional sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bentuk kontrak. Permasalahan timbul manakala anak perusahaan ini bersengketa dengan negara tuan rumah. Resolusi tersebut berjudul the Proper Law of the Cntract in Agreements Between . Alasan yang dapat dipahami adalah transaksi-transaksi tersebut bersifat pemenuhan kebutuhan (hidup) sehari-hari dan transaksi tersebut umumnya tidak tertulis. b. Organisasi Internasional d. Individu Individu pada umumnya dapat digolongkan ke dalam transaksi konsumen. Badan hukum dalam pengertian publik dimaksudkan sebagai negara. 2. Subjek hukum yang dimaksud antara lain: a. Antara Perusahaan dengan Perusahaan (Asing) Lainnya Prinsip umum yang berlaku adalah badan hukum atau perusahaan asing tersebut tunduk pada hukum nasional dimana perusahaan tersebut didirikan. Negara (Badan Hukum Publik) B. Badan Hukum (dalam hal ini Perusahaan) Badan hukum disini yang dimaksud adalah badan hukum perdata. hukum yang akan dipilih dan forum penyelesaian sengketa yang akan mengadili sengketa kontrak.

Berbedanya kedudukan hukum kedua pihak . Masalah Kedudukan Para Pihak Berdasarkan prinsip jure gestiones suatu negara dianggap menanggalkan imunitasnya (waiver of immunity) sehubungan dengan tindakan negara tersebut di bidang bisnis. Penanggalan ini diperlukan agar kedudukan para pihak dalam suatu kontrak atau transaksi komersial dapat berada dalam kedudukan yang seimbang.a State and a Foreign Private Person. Ada yang dikenal dengan Dekolonisasi Kontrak (kecenderungan hukum pihak ketiga) dan Relokasi Kontrak (pemilihan hukum nasional dari negara yang menjadi para pihak dalam suatu kontrak dengan pihak lainnya). Menurut Bermann contoh kontrak yang diadakan antara negara dengan perusahaan asing adalah kontrak mengenai pembangunan ekonomi seperti kontrak di bidang pemanfaatan sumber daya alam dan kontrak pengadaan barang dan jasa bagi pemerintah. 3. Masalah Hukum yang Berlaku Manakala tidak ada piihan hukum. Antara Organisasi Internasional dengan Perusahaan Permasalahan yang timbul antara lain: a. b. Seringnya yang menjadi masalah karena negara adalah subjek hukum yang sempurna sedangkan perusahaan adalah subjek hukum yang terbatas. Antara Negara dengan Negara Untuk pilihan hukum yang digunakan biasanya dipilih hukum yang netral atau alternatif lainnya adalah tidak mengadakan pilihan hukum. 4. maka hukum yang akan berlaku ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip hukum perdata internasional. masalah yang sering timbul adalah: a. c. Masalah Penyelesaian Sengketa Kontrak Biasanya dalam penyelesaian sengketa kontrak negara para pihak cenderung untuk memilih badan arbitrase berdasarkan kesepakatan para pihak. contoh badan arbitrase misalnya ICSID.

b. Adanya masalah personalitas hukum Hukum yang berlaku terhadap kontrak Adanya forum penyelesaian sengketa manakala timbul sengketa. c. d. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful